P. 1
Studi Analisia Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Bangunan Dengan Metode BOW, SNI, Dan Lapangan

Studi Analisia Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Bangunan Dengan Metode BOW, SNI, Dan Lapangan

|Views: 1,499|Likes:
Published by Yogie Juansyah
ok bgt
ok bgt

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Yogie Juansyah on Feb 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2013

pdf

text

original

TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

terima kasih atas doa dan dukungannya. iii . Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Adikku Erna. Haris. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Istriku beserta keluarga besarnya. Ibu.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Bapak.

H. Ir. Alhamdulillah. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. 2. Bapak Zaenal Arifin. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Bapak Tadjuddin BM Aris. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat.WB. Ibu. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. iv . 4. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. Ir.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. 5. H. Bapak Faisol AM. ST. 3. bapak. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan.

Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. v .6. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. 7.

55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50. SNI dan Lapangan/Kontraktor.696. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. vi .64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. RKS. pelayanan maupun waktu.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. SNI dan Lapangan.32 dan untuk Lapangan Rp 9. RAB penawaran kontraktor.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39.40.594. tenaga kerja. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.18 dan 71.727. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.33. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.120.35 dan 1.44 dan 58.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.26 sedangkan metode SNI Rp 4.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.859.804. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.

...........1 Rumusan Masalah.......................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...........................3 Tujuan Penelitian.............................1 3...............1.....5 Latar Belakang.ii HALAMAN PERSEMBAHAN..................................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan....................................9 BAB III LANDASAN TEORI 3....................................................1 3.................................................1 3...............................................19 3.....3..2....3 Rencana Anggaran Biaya…............................................................................4 1...................................................................3 Manfaat Penelitian.............1 1......4 Batasan Masalah...........................................................................18 3..........................2..........................14 Biaya Konstruksi Proyek….........................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya.....................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2...2 3...iv ABSTRAKSI...............................................3 3.........................................2 Jenis Anggaran Proyek...........................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan...........................................2 3......................................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN......1..........................................12 Kualitas Perkiraan Biaya……..............................1 2.........................................................24 Analisa Harga Satuan.iii KATA PENGANTAR....................................................2 1...................................................................2 Biaya Langsung................11 3.................xi DAFTAR TABEL............vii DAFTAR GAMBAR...............................15 3...........xiii BAB I PENDAHULUAN 1......................................................27 vii .............1 Estimasi Biaya..................................vi DAFTAR ISI..1................17 Biaya Tidak Langsung………..................................3.......13 Metode Perkiraan Biaya....3 1.23 Harga Satuan Pekerjaan................3..............................

..........................41 Data yang Diperlukan……...........4...............................................3...40 BAB IV METODE PENELITIAN 4....3....2..................................2....................................39 3....3.........42 Tahapan Penelitian…….......... Lapangan.....2 4..... Harga Satuan..2 3........1 3......4.......................27 Analisa Harga Satuan Alat..44 Analisa Metode BOW.........................................4......37 3.....................5 4......................................................................3....................................34 Analisa Harga Satuan Metode.................................3............44 Analisa Metode SNI..............3 Pekerjaan Adukan Beton.............................32 3........1 4.....2 3............33 Analisa Harga Satuan Metode SNI.................................2................41 Objek Penelitian…...1 3.3 3.............................................60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio...........................3.......1 5................1 3......69 viii .52 Komparasi Harga Satuan..........42 BAB V ANALISA DATA 5....... Pekerjaan Beton Bertulang............37 Pekerjaan Beton Bertulang...........2 Bahan – Bahan..............4.........39 Pekerjaan Pembesian....4 Beton Bertulang…..............3 Analisa Harga Satuan Metode BOW.....................................................3 4..............3.......4 5....................4.....28 Metode Perhitungan............4 4..................3......4 Analisa Harga Satuan Material....6 Subjek Penelitian……...41 Pengolahan Data……..........................2 3...3...........7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen....................................41 Cara Pengumpulan Data…….2 5.......................5 5...................64 5....4........................................................................36 3..1 3..48 Analisa Metode Lapangan............3...........4...................3 5.....27 Analisa Harga Satuan Upah......4.......................6 Rencana Pekerjaan……................40 Pekerjaan Bekisting.3................

.......................7.....................8 BAB VI Indeks BOW......11 6..............................................104 Selisih Harga Satuan Upah.....92 6...92 Upah Pembesian..........................94 6............106 6..7.1 Rasio Bahan Adukan Beton..9 6...3 6..............8.................1 Selisih Bahan Adukan Beton...........................4 6..................................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………............5 6.............8 Selisih Bahan Bekisting.........................10 6.2 Bahan Adukan Beton...................................108 Rasio Harga Satuan Bahan......................103 6..91 Harga Satuan Upah................88 Bahan Pembesian........3 6.........3 6.......75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja........................103 6..2...96 Harga Satuan Upah Beton.......109 6......86 PEMBAHASAN 6..............................69 Indeks SNI.105 6...............1 6........................7....................81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks...............4 5.7.103 6................105 Selisih Upah Bekisting............5............................................................1 5.............1...72 Indeks Lapangan.............................................8.......................................3 Upah Adukan Beton...109 ix .............3 5.............2.......................7..........................…...........7................................89 Bahan Bekisting....2..........6 6............12........8........107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........1 Harga Satuan Bahan......107 Selisih Harga Satuan Upah Beton..........................96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.............2 6..........................................2 6.......2 6...1.1.2 Selisih Bahan Pembesian...…….....................3 Selisih Upah Adukan Beton.....................98 Selisih Harga Satuan Bahan............93 Upah Bekisting..12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton..................................................................................7..............88 6...............2 5....7 Harga Satuan Bahan Beton....................................105 Selisih Upah Pembesian..............................1 6.....1 6..............

....13................109 6........................................................................................2 Indeks Tenaga Kerja............113 Rasio Harga Satuan Upah Beton...................3 Rasio Bahan Bekisting……………………........................................16 6........................111 6...................12.17..13 Rasio Harga Satuan Upah..................................................6......................116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7......................1 Rasio Upah Adukan Beton.......115 6...............110 6.........................3 Rasio Upah Bekisting.112 6..111 6..............12..........13...........LAMPIRAN Kesimpulan……......111 6.113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........….15 6..............................120 x ...............................118 Saran......1 Indeks Bahan..............14 6....13...17........................................17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.114 Indeks.............2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ...1 7.........2 Rasio Upah Pembesian...115 6..................2 Rasio Bahan Pembesian……................................

.......2 Gambar 6.... Gambar 3.........17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton...............9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)...................................26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir...19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton....3 Gambar 6....................................................16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton........................91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.......................................................11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian.....106 Gambar 6..20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci...................... Gambar 4.............. Gambar 3............................1 Gambar 6.110 Gambar 6..................12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting..97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan....14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian................107 Gambar 6..7 Gambar 6.......DAFTAR GAMBAR Gambar 3..108 Gambar 6................109 Gambar 6...............90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting....111 xi ....3......18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...................4 Gambar 6.......88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.............96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.........................105 Gambar 6................103 Gambar 6.106 Gambar 6..........110 Gambar 6......................13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.......13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar.92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian..................................93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting..........................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting..............1 Gambar 6......10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..5 Gambar 6....................1 Gambar 3.......22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....5.....6 Gambar 6...2..............8 Gambar 6........95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton............. Gambar 3.104 Gambar 6...........21 Skema Harga Satuan Pekerjaan.........108 Gambar 6..98 Gambar 6.............104 Gambar 6................................................................................................................................4........

.................115 Gambar 6....................................................................................113 Gambar 6..25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton.......28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.....................Gambar 6.....................116 xii ...23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian....114 Gambar 6................114 Gambar 6.....................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang............112 Gambar 6.....112 Gambar 6..26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton.........24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting...29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian.....

.........62 Tabel 5...66 Tabel 5.....................53 Tabel 5......................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.............................2 Analisa Harga Satuan Bahan.......... Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record...............................................................................12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.....................71 Tabel 5....3 Analisa Harga Satuan Bahan.........1.63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.....67 Tabel 5....................................................DAFTAR TABEL Tabel 3..............................................................................67 Tabel 5...........5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton..68 Tabel 5...14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton................6 Tabel 5......................................................................68 Tabel 5..13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting....16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.........................15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW............ Pembesian Dan Bekisting..................4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton..8 Tabel 5.............66 Tabel 5.................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.... Pembesian Dan Bekisting.............11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..............................................................61 Tabel 5...........16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...49 Tabel 5......7 Tabel 5... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW....................74 xiii ......................45 Tabel 5.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton...........1 Analisa Harga Satuan Bahan.............................68 Tabel 5...........15 Tabel 5.....66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian........................................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI...............................67 Tabel 5.....63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton....................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton..........................

................82 Tabel 5........100 Tabel 6..................................3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton..................................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan......19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian..Tabel 5....................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.........................................87 Tabel 6................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton........1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.......4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....................................102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ......................................................101 Tabel 6.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting........ Pembesian Dan Bekisting..................................................... Pembesian Dan Bekisting...... Pembesian Dan Bekisting........................................................100 Tabel 6..................84 Tabel 5.....21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.........................22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.................85 Tabel 5..................83 Tabel 5....................... Pembesian Dan Bekisting.........6 Total Selisih Harga Satuan................78 Tabel 5............101 Tabel 6..................................5 Tabel 6.................

Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. tenaga kerja. 1 . Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. pelayanan maupun waktu. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.BAB I PENDAHULUAN 1. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan.

maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . baik bahan maupun upah tenaga kerja. Pada tahun 1987 sampai 1991. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. konsultan. namun hanya untuk perumahan sederhana. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Agar lebih luas cakupannya. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan.

3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. SNI dan penawaran kontraktor. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. Pada saat ini. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI.3 kekalahan. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. 1. SNI dan penawaran kontraktor. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. 2. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. 3. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Apakah ada selisih harga satuan material. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. . Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan.

Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. Biaya tidak langsung seperti overhead. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. 7. 5. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.4 1. 3. 2. Dapat menjadi referensi bagi penulis. . tahun 2007. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. profit dan pajak tidak diperhitungkan. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. 1. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. 2. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 4.4 Manfaat Penelitian 1. 6. 3.

metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW.40. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.90. 15.39 %. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.232.344.706.23 %.218. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. 103. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. 5 . Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.

terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. . Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan.

bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. waktu.7 2. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. bahan dan biaya. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. 3. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.

Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. produktivitas pekerja.23 % = 63. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek.8 Karyaan. Pekerjaan Bekisting Balok 3. Interview. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat.16 % 5. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom.26 % = 44. 4. . Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Metode yang digunakan : Data primer a. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. Pekerjaan Bekisting Kolom 2.

jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.00. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.14 2.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 78.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.207.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.217.013.10. dengan nilai penghematan 0.00.184. 11. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 2.87.437.50.214. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .508. dengan nilai penghematan 1. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 0.025.348. 99.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.21. 31. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 53.10.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.206.930.655. 39. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 2. dengan nilai penghematan 1.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.

pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. . sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. balok dan tribun menggunakan metode BOW. SNI dan Lapangan. sloof. kolom. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. SNI dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW.

dan lain-lain. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. peralatan.BAB III LANDASAN TEORI 3. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. 1995). Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. material. Dengan kata lain. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan.

1. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Perencanaan Biaya Bangunan. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. . sesuai dengan fungsinya. ukuran. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian.12 proyek seperti jenis.1. 3. lokasi. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. 1995. 1994). Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap).

yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. kemudian . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.13 Tenaga kerja .Overhead .1.Eskalasi .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . 1995) 3.Standar jam orang .Penawaran dari paket MR/PO .“Quantity take-off” . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Satuan harga material curah .Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Harga peralatan .Produktivitas . 1995.

berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. 3. 1995.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. dan bila telah diberi beban biaya. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. Pada metode elemental analysis cost estimating. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). Hal ini memerlukan kecakapan. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. pengalaman serta judgment dari estimator.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya.1. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh.

15 gedung. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Persiapan site .Sistem HVAC . Means Engineering News Record .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Pondasi . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Sistem pemipaan .1. Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Dinding interior .Lantai .Atap .Pekerjaan lahan (site) . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Pintu .Sistem HVAC . Jenis dan intensitas kegiatan .Interior .Listrik .Glazed opening .Dinding eksterior .Fixed equipment .Pemipaan .Pondasi .Listrik .Eksterior .Kontigensi . 1995) 3. Tabel 3.Sistem conveying .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Substruktur .Kolom interior .Super struktur .Sistem conveying .

supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. Bila hal ini terjadi. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. atau yang langka tersedia di pasaran. terutama bagi long delivery items. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. 1995). lengkapkah peralatan. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . grader. pengeruk tanah (back-hoe). dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. truk. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. (Iman Soeharto. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. berlumpur atau berdebu. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. jenis keterampilan. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. Terutama untuk daerah rawa. dan lain-lain. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. kompresor udara. Ini dapat berupa crane. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Bertolak dari kenyataan tersebut. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. scraper.

mencari sumber sampai kepada membayar harganya. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. mulai dari membuat spesifikasi. alat-alat tangan (tools). keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. memotong dan . biaya menaikkan dan menurunkan.2. penyimpanan sementara di gudang. (Iman Soeharto. jadi sudah termasuk biaya angkutan. pengepakkan. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. 3. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. mesin-mesin. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. 1995). Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan.

telepon. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. biaya-biaya notaris. alat angkut dan lain sebagainya. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. air. membongkar dan biaya operasi. bunga uang. misalnya sewa kantor. 3. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. pemasangan alat. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. telepon yang dipasang di proyek. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya.2. asuransi. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. pengukuran (survey). Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. . peralatan kantor dan alat tulismenulis. listrik. asuransi. surat-surat ijin dan lain sebagainya. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. memindahkan. pengangkutan.18 membengkokkan baja-baja tulangan. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. pajak. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu.

PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. cermat dan memenuhi syarat. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. . Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. 1992. 1993. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. 1984. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. 3. Menurut Sugeng Djojowirono. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. Adapun menurut John W.

dapat dilihat pada gambar 3.2. A.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Soedradjat Sastraatmadja (1984). bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. Soedradjat Sastraatmadja. Secara sistematisnya. Analisa Anggaran Pelaksanaan. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan .2. A. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir.

kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Secara sistematisnya. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. Menurut Bachtiar Ibrahim. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung.3. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. Pajak Gambar 3. daftar harga bahan. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan.3. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. buku analisis. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. . dapat dilihat pada Gambar 3. 1993. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. Mukomoko. daftar upah. A. daftar susunan rencana biaya. Profit. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan.

Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( .Rencana halaman . . hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas.00. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. nok reng balok/muurplat.Rencana garis batas tanah dan roylen. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi.Rencana saluran pembuangan air hujan. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. tinggi langit-langit. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 .Rencana letak bangunan. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. letak tinggi jendela dan pintu.Rencana jalan dan pagar.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya.00 m dari lantai. . sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1.). . 2) Gambar denah PU 1 : 100. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. misalnya : dasar pondasi.

usuk/kasau dan konstruksi penahan. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. RENCANA KAP =H =I =J 11. TAMPAK MUKA 3.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. DENAH LISTRIK =L =M 14. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. nok gording. Gambar saluran pembuangan air hujan. dengan jelas. DENAH KUSEN 13. hooker. TAMPAK SAMPING KIRI 6. T. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . Jadi volume (kubikasi) . Jakarta. SAMPING KANAN 5. RENCANA SANITASI = N 3. 2007. RENCANA PLAFOND = K 12.Gambar konstruksi baja. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Gambar saluran pembuangan air kotor. 7) Gambar pelengkap.Gambar konstruksi kayu.3. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. TAMPAK BELAKANG 4. DENAH 2. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1.Gambar konstruksi beton bertulang. POTONGAN III-III 10. keilkeper. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. cetakan keempat. muurplat/reng balok. DENAH PONDASI 7. . . . talang air. POTONGAN II – II 9.

Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. trapezium. c. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. d. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. persegipanjang. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). yaitu jumlah panjang angker x berat/m. Harga bahan didapat di pasaran.3. . kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan.Volume atap dihitung berdasarkan luas. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. b.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. seperti segitiga. atap 140 m2. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. dan sebagainya.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. . Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. . . lisplank 28 m.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. yaitu panjang x luas penampang yang sama. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. e. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari .24 suatu pekerjaan. 3.

Upah + H. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. Alat Secara sistematisnya. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. dan gambar 3. .4.S. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan.S. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.25 pemerintah. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. dapat dilihat pada gambar 3. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H.S. Bahan + H. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.5.

Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Manajemen Konstruksi.4. Yogyakarta.5. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. 1984) .

Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3.3. upah tenaga kerja.3. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material.3.3. 3. volume pekerjaan yang akan dikerjakan.27 3. (Bachtiar Ibrahim.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. kecepatan . 1 m2.3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. 3. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. 2004). 1994 dalam Dani Kurniawan. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. 1993). (Bachtiar Ibrahim.

1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . c. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. Pekerja. 3.3. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. Tukang batu. d. selain bertugas sebagai tukang batu. b. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. 1993). Mandor. (Bachtiar Ibrahim.3. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). 2004).28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. Kepala tukang. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan.

bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli.002 x B = 0. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. Bagi peralatan yang bertugas sedang.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. maka . W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . D = Faktor angsuran / pengembalian modal. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). ongkos angkut. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. = 0. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. maka . yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. biaya sewa gudang.

penggantian batere / accu dan perbaikan alat. pelumas power steering. saringan/filter udara dan lain sebagainya. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. pelumas transmisi. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). saringan agregat untuk stone crusher / AMP. grease. e. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). dan lain sebagainya. b.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. c. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. . Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. pelumas hidrolik. d. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan.

31 3. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power . Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Karena rumus sifatnya pendekatan. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.5 s/d 17. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.5% = untuk alat yang bertugas berat b. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12.5) % x HP Dimana .

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

875. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.5. SK SNI-06-1989-F. 239. = Rp.250. 203. 50.39 Jumlah (1) 5.00 x @ Rp.250 Oh = 0. 59.650 Oh = 0.chipping/split .777.547.00 10.10 = Rp. 187. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. 934.00 x @ Rp.pasir beton . Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.pekerja .00 73.84 x @ Rp. 45.00 kg x @ Rp.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.00 1.750.61 .080 Oh = 0.000. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6. = Rp.kepala tukang x @ Rp. 35. 43.02 = Rp.892. = Rp.697.600.tukang batu . Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.780 m3 = 0. 30. 421. 57.000.964. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5. SK SNI S-04-1989-F.mandor .115.475.00 Jumlah (2) = Rp.5.1 5. SK SNI S-05-1989. = Rp.025 Oh 3 .500.000. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.00 3.Semen Portland = Rp.00 x @ Rp.75 = Rp.2 Tenaga : = 1.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.60 x @ Rp. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.520 m3 = 218.

perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. 3. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja.4. = Rp.04 .61 73.00 3.955.475.000 kg x @ Rp. 421. 2. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).semen portland = 336.36 = Rp. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.3. 313. Menghitung harga satuan bahan dengan cara . Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. 4. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .777.39 = Rp.252. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. 934.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . 495.61 + Rp.

3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.000. 285. = Rp..000.000. 45.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.60 540.00 45.pekerja .mandor = 2. 58. b. = Rp.00 1.kepala tukang .540 m3 = 0.750. 70.000. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.000.810 m 3 x @ Rp. 344.00 = Rp.34 x @ Rp.00 15.koral beton = 0. 35.37 .00 x @ Rp.70 194.225.15.60 = Rp.035 Oh = 1.265. Tenaga kerja : . 50.000 Oh = 0.000 Oh x @ Rp.547.975. Jumlah (1) = Rp.500.00 = Rp.423.00 Jumlah (2) = Rp.00 3.350 Oh = 0. 43. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.950. 1991.892. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.pasir beton .4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .tukang batu . 2) analisis dengan computer. 131.155.00 + Rp.10 = Rp. 59. = Rp. 239. 32.00 x @ Rp.312.00 x @ Rp.

yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut.38 a. semen alumina. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. semen tahan sulfat. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. 3. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini.5 Beton Bertulang J. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu.5. c.I. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). 3. – 2.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. tanggung jawab atas penyimpangan. dan . penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. b. lanjutan atau tambahan. 1971 N. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. Bila perlu. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. 1985. A. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. Beton adalah campuran antara PC (semen).

c. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. garam-garam.063 mm.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Untuk beton mutu Bo. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. e. seperti terik matahari dan hujan. d. maka agregat halus harus dicuci.39 lain-lain. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. b. dapat juga dipakai semen tras kapur. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. 3 atau 4 batang yang . Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. asam. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. alkali.

Jika digunakan concrete mixer. misalnya mesin pengaduk. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. Satuan beton yang dipakai adalah m3. berarti campuran basah. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan.40 sejajar. 3. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. alat timbang bahan.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). Dalam perencanaan campuran beton. mengaduk adukan. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. Kekuatan beton. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. . Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan.5.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). kereta dorong. dan lain-lain. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. mengangkut. maka tempat penyimpanan. kran dengan alat penyodok (bucket). memadatkan pengecoran.2. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. merawat pengerasan. Campuran beton terdiri dari semen. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. air.5. maka campuran bersifat kental.

pelat lantai dan tangga.2. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring.5. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. kolom. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.5. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm.50 m3 untuk setiap 10 m2. 1996. Menurut Dipohusodo.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.10 – 0. Sebanyak 50 % . balok. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). . pondasi. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. kawat pengikat. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. yaitu .2. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. sloof. digunakan tabel berat besi material.41 3. minyak pelapis.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. 3. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton.

4. SNI dan Lapangan. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). 6. Berita acara penjelasan pekerjaan.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. 4. 7. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 42 .4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 8. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. 2. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 5. 3. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 4.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 9. 4.

f. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. b. 4. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. c. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. dan g. e. d.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. upah dan pekerjaan. .43 4. Menghitung harga satuan bahan.

H.H.A.A.Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .Analisa Harga Satuan Upah . Upah .Analisa Harga Satuan Bahan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.A.Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .Gambar proyek . Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Upah .S.Analsis Harga Satuan Bahan .S.Analisa Harga Satuan Peralatan . Bahan .Analisa Harga Satuan Peralatan .1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .S.44 Mulai Data Proyek : .H.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Analisa Harga Satuan Bahan .

45 .

sloof. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. balok dan tribun.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. 5. 45 .1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.BAB V ANALISA DATA 5.1 Analisa Harga Satuan Bahan. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. kolom. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5.

Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.2 Analisa Harga Satuan Bahan.48 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. .

52 5. .4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.3 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. .1.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan.2 dan Tabel 5. 3.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.60 5. Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. 2. Tabel 5.3.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting. 4.

21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % . 3.602. 3.223. 1.602.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton. 1.197.629.64 5.58 = Rp.197.602.223.223. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.S.197.629.20 Rasio perbandingan = Rp. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan. Dari Tabel 5.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.197. 3.20 .58 = 2. bahan tertinggi Rp. upah dan pekerjaan BOW. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. 1.602.629. bahan tertinggi – H.20 = 54. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar. Material = H.S. bahan terendah Selisih H.S. 3.S.Rp.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.

14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. 8. 2. Tabel 5. 7. 6.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. 4.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. 9. Tabel 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. Tabel 5. Tabel 5.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 3. Tabel 5. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. . 5.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.

paku biasa = 0.400 m3 = 4.kepala tukang batu . G.7.000 Oh = 1.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).tukang batu .00 kg = 110.kepala tukang besi = 6.mandor 5).7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.100 Oh = 0.300 Oh .pasir beton .540 m3 = 0.kayu terentang (papan) .250 Oh = 6.000 Oh = 0.pekerja .semen portland .pekerja .750 Oh = 6. G.41) : .41) : .000 kg = 2. G.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan. G.tukang besi . 5. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.820 m3 4).41) : .41) : . Bahan Bekisting (An.69 5. Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.koral beton 2). Bahan Pembesian (An.41) : .750 Oh = 2. Upah Pembesian (An.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.000 kg = 0.besi beton .kawat beton 3). G.

tukang kayu . .mandor 6). G.41) : .500 Oh = 0. Upah Bekisting (An.kepala tukang kayu . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.000 Oh = 0.000 Oh = 5.15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.70 .mandor = - = 6.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.pekerja .

38.mandor = 0.0003 Oh x 150 = 0.650 m3 4).2 ) dan ( An.1 ) : .kayu terentang (papan) .000 Oh = 1. Upah Pembesian ( An.1 ) : .pasir beton .2 ) untuk tukang kayu : .tukang besi .28.0007 Oh x 150 .2 ) untuk tukang besi : .045 Oh 6). 6.pekerja . Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.250 kg = 388.tukang batu .kep. tukang = 0.pekerja .38. 6. 6.400 ltr = 150.105 Oh = 0.200 m3 = 1.minyak bekisting = 0.25.paku biasa .7.000 Oh = 0.38.500 kg = 0.050 Oh = 1.35.300 Oh = 1.1 ) : .300 Oh 5).semen portland .000 kg = 2.72 5.kepala tukang batu .050 Oh = 0.35. 6.besi beton .040 Oh = 0.kawat beton 3).koral beton 2). tukang = 0. Upah Bekisting ( An. 6. Bahan Bekisting ( An.kep.100 Oh = 0.026 Oh .000 kg = 0.2 ) dan ( An.007 Oh x 150 = 1.38.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).650 m3 = 0. 6. 6. Bahan Pembesian ( An.mandor = 6.1 ) : . Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.pekerja .tukang kayu . 6.

73 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. .mandor = 0.

Upah Bekisting : .7. tukang = 0.520 m3 = 0.59 . Bahan Adukan Beton : .63 = 0.minyak bekis = 0.tukang batu .000 kg = 0.kep.mandor = 0.63 kg/m3 + 3.005 Oh x 3.mandor 6).63 = 111.63 = 0.032 Oh .746 Oh .mandor 5).250 Oh = 0.075 Oh .pasir beton .962 kg = 232.077 Oh = 0.05 kg x 106.007 Oh x 106.359 ltr .pekerja = 0.59 .besi beton = 1.kayu (papan) = 0.kep.kepala tukang batu .75 5.300 Oh x 3.pekerja = 0. Upah Adukan Beton : .260 Oh x 3.tukang besi = 0.59 4).007 Oh x 106.59 .kawat beton = 0.63 = 0.746 Oh = 1.077 kg = 0. Upah Pembesian : .59 .0003 Oh x 106.tukang kayu = 0. Bahan Pembesian : .300 kg x 3.080 Oh = 0.018 Oh = 0.63 = 1.144 m3 = 1.780 m3 .040 m3 x 3.59 m2 Bekisting) 1).650 Oh = 0.koral beton 2).3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.59 = 1.015 kg x 106. tukang = 0.093 Oh = 0.026 Oh x 3.599 kg 3).100 ltr x 3.paku biasa = 0.025 Oh = 0.933 Oh = 0.59 .pekerja .semen portland . Bahan Bekisting : .0007 Oh x 106.63 = 0.

mandor 5).000 kg = 0.koral beton 2). Bahan Adukan Beton : .kep.semen portland . Bahan Pembesian : .448 ltr .005 Oh x 4.64 = 1.100 ltr x 4.64 kg/m3 + 4.520 m3 = 0.mandor = 0.300 Oh x 4.122 kg = 232.907 Oh = 1.0007 Oh x 129.907 Oh .48 .780 m3 .945 kg 3). tukang = 0.025 Oh = 0.007 Oh x 129.48 = 1.kayu (papan) = 0. Upah Pembesian : .040 m3 x 4.tukang batu .minyak bekis = 0.paku biasa = 0.250 Oh = 0. Upah Adukan Beton : .tukang besi = 0. Bahan Bekisting : .kep.260 Oh x 4.48 .64 = 0.026 Oh x 4.64 = 0.007 Oh x 129.64 = 0.300 kg x 4.48 m2 Bekisting) 1).kepala tukang batu .pekerja = 0.344 Oh = 1.080 Oh = 0.48 .64 = 136.039 Oh .344 kg = 0.64 = 0.tukang kayu = 0.besi beton = 1.48 4). Upah Bekisting : .48 .mandor 6).022 Oh = 0.091 Oh .kawat beton = 0.48 .pasir beton .165 Oh = 0.pekerja .166 Oh = 0.650 Oh = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.0003 Oh x 129. tukang = 0.015 kg x 129.179 m3 = 1.05 kg x 129.pekerja = 0.

007 Oh x 156. Upah Bekisting : .pekerja .260 Oh x 7.kep.520 m3 = 0. tukang = 0.080 Oh = 0.856 Oh = 0.040 m3 x 7.142 kg = 0.300 Oh x 7.pasir beton . Bahan Adukan Beton : .tukang batu .32 = 164.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.32 = 0. tukang = 0.100 ltr x 7.05 kg x 156.026 Oh x 7.14 = 2.32 = 1.780 m3 .094 Oh = 1.714 ltr .14 .mandor 6).besi beton = 1. Bahan Pembesian : .32 kg/m3 + 7.kep.14 .650 Oh = 0.mandor 5).kepala tukang batu .109 Oh .32 = 2.minyak bekis = 0.tukang kayu = 0.14 .14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.000 kg = 0. Upah Adukan Beton : .32 = 1.025 Oh = 0.32 = 0.paku biasa = 0.286 m3 = 2.kawat beton = 0.pekerja = 0.tukang besi = 0.047 Oh .345 kg 3).14 4).300 kg x 7.250 Oh = 0.007 Oh x 156.kayu (papan) = 0. Bahan Bekisting : .036 Oh = 0.14 m2 Bekisting) 1).14 .015 kg x 156.094 Oh . Upah Pembesian : .0003 Oh x 156.0007 Oh x 156.005 Oh x 7.186 Oh = 0.mandor = 0.semen portland .koral beton 2). .17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.136 kg = 232.pekerja = 0.142 Oh = 1.

. 2. 4. Tabel 5.15. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.17.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5. 3.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. Tabel 5.81 5.7.16 dan Tabel 5.

.00.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.86 5. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.00 = 26.00 = 1. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.00 .36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00 = 150.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 dan SNI = 150. Dari Tabel 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.110. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.00 Rasio perbandingan = 110.

171.76 1.00 557.59 594.739.38 594.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000. 6. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.575. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.38 dan pada SNI adalah Rp 579.286.82 557.00 0. 1.500.14.821.00 2.632.000.085.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.500.178.434. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.1.628. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.130. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.35 1.000.643.304.628.304.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.858.464.717.000.285.336.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.19 869. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.000.76 1.78 H.411.464.21 594.285.285.178.S.1.BAB VI PEMBAHASAN 6.80.78 2.442.00 1.00 1.1 di atas.000.42 1.82 1.61 .76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.35 542.575.00 500.

. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. balok dan plat (tribun).4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.1. 6.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. poer P2 dan poer P3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.

121.223.200.297.00 2.558.90 7. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.197.298.23 4.000.258.000.95 4.172.000. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.000.197. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.000.000.000.60 8.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.629.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.601.929.472.2 di atas.183.447.00 3.000.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.S.24 dan pada SNI adalah Rp 2.74 .298.904.58 1. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi. pada pekerjaan sloof. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.00 6.757.000.172. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.14 H.401. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.602.000.000.176.314.10.629.23 1.000.00 1.00 5.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1. Bahan Pembesian (Rp) 3.522.00 2.00 0. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.223.15 4.00 4.58 1.20 7.20 3.80 2. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.732.40 2.472.191.802.10 3.464.880.602.000.298.172.00 6.

936.726.211.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.000.44 1.53 2.911.72 3.600.425.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.350.87 dan pada SNI adalah Rp 872.000.000.000.70 Pondasi Poer 285.617.00 1.86 Sloof 385.00 6.576. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.131.000.00 3.278.487.00 H.098.781.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.307.58 871.88 1.72 Tribun 963. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.3 di atas. 575. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.S.300.000.16 1.480.052.000.000.000.66 6.681.00 2.98 .16 5. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.758. Bahan Bekisting (Rp) 7.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. 8.301.03 544.000.000.495.000. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.00 1.953. 6.402.000.42.00 1.00 4.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.150.70 1.726.052.881.000.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.1.701.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.

000.4 di atas.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja. Upah Adukan Beton (Rp) 1.00 272. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.475.00 272.00 272.00 816.00 220.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.950.088.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. H. 6.00 146.2. 6.S.000.00 800.200.00 544.000.000.00 200.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.00 .00 816.00 0.00 1. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. Harga rata-rata harga satuan 73.000.000.000.00 1.000.00 600. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.000.425.00 293.00 272. Sebanyak 50 % .00 272.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.00 220. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.900.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.425.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 272.000.000.00 400.000.

Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.749.00 2.60 89.00 234.000.2. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.927.00 0.500.284.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.000.84 354. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.000. 3.00 119. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. 6.30 179. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 1. Dimana harga rata-rata satuan 61.00 1.00 642.889.125.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.000.00 500.000.00.S.00 1.125.927.5 dibuat suatu grafik perbandingan.000.00 394.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6. sedangkan Lapangan adalah Rp 191. Upah Pembesian (Rp) 2.569.00 1.000.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.00.700.00 234.762.00 104.00 1.035.600. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.48 .2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.82 89.500.700.000.733.500.5 di atas.200.925.00 H.768.750.00 dan pada SNI adalah Rp 272.375.00 2.400.

. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. 6.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.665. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.180. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.175.2.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. sedangkan SNI adalah Rp 116. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.81. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.670.

828. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.000.51 dan pada SNI adalah Rp 108.000. 113.S.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6. Pada tenaga kerja pekerja.00 1. Upah Bekisting (Rp) 1.00 914.800.00 1.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.599. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.000.000.00 600.25 .200.000.20 155.188.00 615.000.000.00 2.00 1.75 354.458.000.000.000.128.00 1.200.000.00 1.600. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.400.00 1.00 326.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.95 1.970.00.00 800.35 457.000.242.000.814. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.00 400.170. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.000.00 Sloof 79.00 200.00 198.00 H.885.371.291.00 Pondasi Poer 57.371.00 1.265.925. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.920.00 134.825.000.6 di atas.00 0.00.

7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.26 dan pada SNI adalah Rp 3. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.618. Dari Tabel 5.333.523.000.14 4.000.730.450.956.000.130.637. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.000.000.91 3.000.61.32.86 18.989.96 6.000.63 9.78 3.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.275.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.00 10.952.33 .4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.000.000.904.318. 6.86 6.00 2.000.809.000.00 6.00 12.937.029. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.00 0.019.055.640.000.14 5.56 2.272.257.19 8.71 Tribun 3.000.160.00 8.152. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.472.692.000. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.000.003.714.7 di atas.00 6.00 6.000.000.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 16.714.369. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.99 15.956.623.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.212.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.70 3.43 14.278. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.523. Dari Tabel 5.000.648.115.

095.000.012.73 . 461.00 5.653.000. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.750.370. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.371.000.375.000.500.00.907.00 2.119.352.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.004.00 607.485.00 1.000.125.000.00.565.00 1. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.00 0.575.674.50 471.000.17 740.00 5.00 4.00 1.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.620.940.114.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.00 1.8 di atas.00 4.97 perbandingan.742.000.125.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.000. 4. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. 6.32 dan pada SNI adalah Rp 496.00 418.000.071.35 810.00 3.00 2.00 490.485.233. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.000.965.84 496.000.114.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.

690. Pembesian Dan Bekisting. 3.00 16.000.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000. 3.885.804.06 .000.71 Tribun 3.586. 2.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.000.32.859. sedangkan pada BOW adalah Rp 9. Tabel 6. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.86 20.279.594.866.126.00 18.00 4.54 17.000.98 14.000.830. 6. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.63 10.54 4.390.756.703.118.000.220.761.000. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9. Pembesian Dan Bekisting.000.742. Tabel 6.43 9.123.120.000.000.070.26 dan pada SNI adalah Rp 4.000.00 12.00 10.00 14.16 7. Pembesian Dan Bekisting.000.020.609.9 di atas.984.36 5. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.00 0.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.78 Sloof 3.559.653. Selisih dan rasio harga satuan bahan.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.458.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.000.255.727. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.000.380.000.625.000.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.00 8.56 Pondasi Poer 2.890.070. upah dan pekerjaan beton bertulang.93.696.839.000.91 4.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 11.00 6.14 11.00 2.677.000.839. Tabel 6.

Tabel 6. 5.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.99 4. Tabel 6. 6.5 Total Selisih Harga Satuan.6 Total Rasio Harga Satuan. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting. .

100 .

101 .

102 .

75 % dibandingkan SNI.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.S.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.7 6.94% 60. Bahan Adukan Beton 48.00% 58. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.7. .00% 50.00% 0.00% (%) 40.94 % dibandingkan SNI dan 19.89% 20. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 30.103 6.00% Selisih H.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 10. 70.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.10 di atas.00% 19.

00% 20. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% Selisih H.42% (%) 30.03% 55.104 60. Bahan Pembesian 36.11 di atas.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.49 % dibandingkan SNI dan 36.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 70.00% 50.00% 30.00% 0.00% 10.00% 50.00% 10. Bahan Bekisting 41. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.00% Selisih H.00% 30. 6.42 % dibandingkan SNI.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .00% 20.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.S. 80.00% (%) 40.00% 60.00% 40.S.7.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 0.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.21% 67.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.69% 44.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.

54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.69 % dibandingkan SNI.00% 60.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.00% 10.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.8.47 % dibandingkan SNI dan 44.00% 50.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. 6.S.00% 30. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67. 6. Upah Adukan Beton 29.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.77% 61. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan.105 Dari Gambar 6.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% (%) 40.00% 20.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.8.12 di atas. 80.00% Selisih H. .99 % dibandingkan Lapangan dan 61.00% 70.54% 72.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.13 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 0.

46 % dibandingkan SNI.00% 40. 6.00% 70.S.00% 30.00% Selisih H.00% 80.8.00% 60.00% 0.00% 20.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 10.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Upah Bekisting 90.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.00% 90.00% 20.00% 90.00% 40.46% Selisih H.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 10.00% (%) 50.14 di atas.58% 53.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.00% 93.01% 84. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.00% 0.00% 60.00% (%) 50.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.01 % dibandingkan SNI dan 84.S.66% 54. 100.00% 70.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 30.106 100.00% 80.89% 80.

89% (%) 40.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.00% 50. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.64% 58. 6. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.S. .00% Selisih H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.89 % dibandingkan SNI.00% 10.107 Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 20.31 % dibandingkan SNI dan 30. 70.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.89 % dibandingkan SNI dan 53.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. 6.00% 39.00% 60.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Beton 30.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.16 di atas.00% 30.00% 0.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.15 di atas.58 % dibandingkan SNI.

00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 60. 6.00% (%) 50.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00% 10.00% 40.05% 57.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.06% 71.17 di atas.00% 70.00% 20.00% 90.108 100. 70.54 % dibandingkan SNI.54% Selisih H.00% 30.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang . Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30.00% 0.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.05% 57.S.00% (%) 40.00% 0.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.00% 50.00% 80.00% 10.00% 20.00% 60. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 86.82% 50.

00 Rasio H. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.95. .19 di atas.12.50 1.25 2.50 0.109 Dari Gambar 6.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.44 1.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 2.18 di atas.24 dan 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.05 % dibandingkan SNI. 6.12.50 % dibandingkan SNI dan 1.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5. 3.00 Ratio 1.00 2.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S. 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Bahan Adukan Beton 1.

44 1.00 1.00 0. 3.20 di atas.72 1.50 1.00 Rasio H.50 1.44. 6.50 2. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.S.25 dan 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00 0.S.12.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 2. Bahan Bekisting 1.50 0.00 1.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 Rasio H.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Pembesian 1.79 3.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.56 2.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.110 2.50 Ratio 2.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.50 0.50 3.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.

.50 Ratio 2. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.00 Rasio H.50 1. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 3. 6.00 1.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.13.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.111 Dari Gambar 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.42 2.07 dan 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.21 di atas.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.00 0.Upah Adukan Beton 1.S.13.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.22 di atas.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 2.50 0.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.42.60 3.50 3.60 dan 3.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.72. 6. 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.

24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .15 10.00 10. 12.13 2.52 2.Upah Bekisting 5.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 2.00 4.00 0.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.S.32 dan 6.00 8.00 14.20.13.00 4.23 di atas.00 2.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 Rasio H. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.20 Rasio H.00 Ratio 6.00 0.00 10.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.32 6.00 Ratio 8.00 12.00 6.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.112 16.00 14.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.S.

66. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.25 di atas.50 1.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.50 2.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.66 1.00 0.44 2. 3.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.24 di atas.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.Bahan Beton 1.50 0.113 Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 Ratio 1.00 Rasio H. 6.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.15.00 2.S. .40 dan 1.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.98 dan 2.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.

18 dan 3.50 1.00 0.00 Ratio 4.00 6.50 2.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.00 1.02 Rasio H.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00 3. 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 2.01 1.00 0.00 5.50 0.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang . 6.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.55 2.00 1.18 3.00 7.02.114 8.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.33 2.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.26 di atas.00 7.S.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.

27 di atas. Indeks bahan kawat beton pada .28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.33.13 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.17.115 Dari Gambar 6.75 dan 3.36 1. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 6. 6.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.00 2.00 0.94 2.00 1.35 dan 1.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1. 4.75 2.50 Ratio 2.75 3.50 3. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.28 di atas.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 3.50 0.36.50 1. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Lain halnya dengan analisa SNI. . Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Dengan demikian baik dari segi biaya. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian.

25) dan Lapangan > SNI (1. e. c.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.20).47 % dibandingkan dengan SNI dan 44. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.07) dan BOW > SNI (1.70) dan SNI > Lapangan (1.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.60).1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. Lapangan > SNI (2.25) dan BOW > SNI (1.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. b.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. BOW > Lapangan (1.52) dan Lapangan > SNI (2.56).01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. f.79).08 % dibandingkan dengan 120 . Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72. Lapangan > SNI (3. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.44). Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.72).32). maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36. BOW > Lapangan (6.95). d.42). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.44). BOW > Lapangan (3.

50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.35) dan BOW > SNI (2. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2.02). terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.40) dan BOW > SNI (1. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.01). Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Rasio perbandingan indeks a.13) dan Lapangan > SNI (5.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.75). b. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.36).98). Lapangan > BOW (3. 3.15). Lapangan > SNI (2. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.55) dan Lapangan > SNI (2. 2.18). i.66). SNI dan Lapangan. Lapangan > SNI (2. h. g.44).33).05 % dibandingkan dengan BOW dan 57. . BOW > Lapangan (3. BOW > Lapangan (2. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.75) dan SNI > BOW (1.

indeks tukang besi BOW > SNI (6.46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (8. indeks kepala tukang BOW > SNI (21. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. pembesian dan bekisting.43). BOW > Lapangan (2.62).2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. . BOW > Lapangan (2.43). dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.122 b.62).43).46) dan Lapangan > SNI (2.62).19) dan Lapangan > SNI (2. 7. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62). dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6.

Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 2003. cetakan kesembilan. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. J. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional / BSN. 1984. 2006. Jakarta. Asona.DAFTAR PUSTAKA Ir. – 2. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Soedradjat Sastraatmadja. W. Bachtiar Ibrahim. 1995. 2006. Sugeng Djojowirono. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Niron John. Penerbit Nova. Dani Kurniawan. Bandung. 2005. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya.I. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan.A. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). A. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Penerbit Bumi Aksara. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Joko Waluyo. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Jakarta. Mukomoko. Cet. Yogyakarta. 1985. 1993. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Jakarta. 2004. 2001. 1991. Penerbit Erlangga. 1971 N. 1992. Manajemen Konstruksi. Departemen Pekerjaan Umum . CV. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. PT. Rencana dan Estimate Real of Cost. SNI Edisi Revisi. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. 9. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. 1984. Iman Soeharto. 2002. Bumi Aksara. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI).

892.000.00 105.40 934.00 10.000. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.719.00 43.00 10.00 .500.000.28 17.226.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.60 10.785.500.70 1.000. Juli 2007) 35.10 59.547.00 50.605.500.39 239.337. III (Papan) Kayu Kls.000.052.000.115.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 43.80 1. Wajo.500.00 45.00 43.00 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->