TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Adikku Erna.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Bapak. Ibu. Istriku beserta keluarga besarnya. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Haris. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. terima kasih atas doa dan dukungannya. iii .

bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Ir. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. H. bapak. Bapak Faisol AM. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. ST. H. 5.WB. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. 4. 3. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 2. iv . Bapak Zaenal Arifin. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Alhamdulillah. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Bapak Tadjuddin BM Aris. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. Ir. Ibu.

Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. 7.6. v .

SNI dan Lapangan/Kontraktor. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. RAB penawaran kontraktor. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek. vi .594.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.32 dan untuk Lapangan Rp 9.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.18 dan 71.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. tenaga kerja. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. SNI dan Lapangan.727.35 dan 1. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.44 dan 58.26 sedangkan metode SNI Rp 4.696.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. pelayanan maupun waktu.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.120. RKS.859. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.804. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.40. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.33. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.

.......18 3.....................................24 Analisa Harga Satuan..........1 Estimasi Biaya...............1 3.............................................................................................................................................................................................................................................................................................3 1........................................................................3...........27 vii .5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya....................................19 3.........15 3.......................2 3.............................2 Biaya Langsung.........4 1..................11 3......14 Biaya Konstruksi Proyek…...5 Latar Belakang...1 3................2 Jenis Anggaran Proyek...............................................................................vi DAFTAR ISI.............................................................2 3.............................................................................3 3..1......................................3.........................................................vii DAFTAR GAMBAR....................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..................................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan.....................2 1...........3 Tujuan Penelitian....................................1..........................................3 Manfaat Penelitian.....................17 Biaya Tidak Langsung………......xi DAFTAR TABEL...................................2....................1 3.............................iii KATA PENGANTAR.....1 Rumusan Masalah..............................................13 Metode Perkiraan Biaya.........1 2................................................3 Rencana Anggaran Biaya…..............2......2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan.............................3............................9 BAB III LANDASAN TEORI 3.........................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...23 Harga Satuan Pekerjaan...................i HALAMAN PENGESAHAN....12 Kualitas Perkiraan Biaya……..................1 1.........................................................1.......ii HALAMAN PERSEMBAHAN.iv ABSTRAKSI........................................................4 Batasan Masalah...................xiii BAB I PENDAHULUAN 1.

..3............6 Subjek Penelitian……....36 3..3.........6 Rencana Pekerjaan…….......2 Bahan – Bahan...............................28 Metode Perhitungan..1 3......3 Analisa Harga Satuan Metode BOW..3...3 3....2 4..2 3.......................................42 BAB V ANALISA DATA 5.......5 4......2 3.48 Analisa Metode Lapangan......1 3............3.....2........41 Data yang Diperlukan…….....................1 5................................................41 Cara Pengumpulan Data……............42 Tahapan Penelitian……....................................................................37 Pekerjaan Beton Bertulang..................4.............................................................27 Analisa Harga Satuan Alat..............40 Pekerjaan Bekisting............52 Komparasi Harga Satuan.32 3.......37 3....................................................5 5.......4..7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI......................4..................4 5.......4....2.................................. Lapangan................1 3....3.....3............39 Pekerjaan Pembesian..............4......................44 Analisa Metode BOW. Pekerjaan Beton Bertulang.................4 Analisa Harga Satuan Material..............60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio....44 Analisa Metode SNI.........................3.....................................................64 5..........................69 viii ..................................................4..............................27 Analisa Harga Satuan Upah......................4 4...40 BAB IV METODE PENELITIAN 4......41 Objek Penelitian…............................4..1 3......................2...................2 5..41 Pengolahan Data……........................3 5..................3.....................1 4................................................................2 3... Harga Satuan...............3 Pekerjaan Adukan Beton...........3..34 Analisa Harga Satuan Metode.4 Beton Bertulang…......39 3.3 4...................4....3....................3...........

..............98 Selisih Harga Satuan Bahan......8....................8 BAB VI Indeks BOW.................................................................5 6...................................7.................103 6.............2......3 6.........................105 6......................................................5................96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang....86 PEMBAHASAN 6...94 6.81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks...............................75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..............4 6................92 6.....................3 5...............2 6.....2 6....................1 Harga Satuan Bahan...6 6..........................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton................2.....................7.....................89 Bahan Bekisting..............................................................8................105 Selisih Upah Pembesian.............................3 Upah Adukan Beton..............................................10 6.............2 Bahan Adukan Beton...1...1 5.........................92 Upah Pembesian...............1.................................109 6...........104 Selisih Harga Satuan Upah............9 6.1 6..................103 6..2 5..7.3 6....2 Selisih Bahan Pembesian............91 Harga Satuan Upah.....................................................4 5....3 Selisih Upah Adukan Beton.......................106 6............109 ix .................72 Indeks Lapangan.........88 6......1 6................7..........2 6......107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....................96 Harga Satuan Upah Beton................2........8..1 Rasio Bahan Adukan Beton...................11 6...............7......69 Indeks SNI....................108 Rasio Harga Satuan Bahan..........1 Selisih Bahan Adukan Beton..93 Upah Bekisting.....8 Selisih Bahan Bekisting...........……...107 Selisih Harga Satuan Upah Beton........105 Selisih Upah Bekisting.........12..103 6............7..................7 Harga Satuan Bahan Beton..........3 6.7............1......................1 6...........................................................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………...........…...88 Bahan Pembesian.

.................................LAMPIRAN Kesimpulan……..........................12.....................................120 x .............113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......................2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ....1 Rasio Upah Adukan Beton.17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton........................111 6.................17............3 Rasio Upah Bekisting.............................115 6.....13...............15 6..115 6.................13.............114 Indeks.........................116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.....17..........................110 6....6......................................2 Rasio Upah Pembesian.............118 Saran...................13 Rasio Harga Satuan Upah..............3 Rasio Bahan Bekisting……………………....12.........113 Rasio Harga Satuan Upah Beton....1 7.111 6.................16 6.…....2 Indeks Tenaga Kerja.....111 6.....................................................................112 6..........................14 6..................109 6..2 Rasio Bahan Pembesian…….................13............1 Indeks Bahan.........................

92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.107 Gambar 6. Gambar 3.13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar...110 Gambar 6...98 Gambar 6...........................................104 Gambar 6..............10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.....................105 Gambar 6..13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton...................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting........111 xi .18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..........DAFTAR GAMBAR Gambar 3........15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.......95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton...1 Gambar 6...5 Gambar 6.....43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton......................2..........106 Gambar 6......12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.....93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.........................1 Gambar 6. Gambar 3.........9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)..........96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.....6 Gambar 6.7 Gambar 6..........4..110 Gambar 6............108 Gambar 6.........5....21 Skema Harga Satuan Pekerjaan....................................................3 Gambar 6.................................16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton....................................8 Gambar 6....20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...........109 Gambar 6....................................................................................26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan.........14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian...................103 Gambar 6..11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian..............91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton......20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci......................................... Gambar 4......................................................106 Gambar 6.....4 Gambar 6....97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........3.........................2 Gambar 6........88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian..108 Gambar 6...... Gambar 3.......104 Gambar 6.............................17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton.................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting...........1 Gambar 3..................................22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..........26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir...............19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton......

28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.......116 xii ..23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian...........................114 Gambar 6.115 Gambar 6.....24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.................................................29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian...............Gambar 6..............112 Gambar 6......................25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton...........113 Gambar 6.......112 Gambar 6.......27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....................................................26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton..114 Gambar 6..........

.................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton..............................12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian..........15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.................7 Tabel 5...............2 Analisa Harga Satuan Bahan.........62 Tabel 5.............................71 Tabel 5......53 Tabel 5...........................................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting...................67 Tabel 5.........................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..........61 Tabel 5.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....................66 Tabel 5.....................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI...........1................67 Tabel 5........5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton......................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton....1 Analisa Harga Satuan Bahan....................15 Tabel 5.................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...45 Tabel 5..................68 Tabel 5..........13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting......66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...........................DAFTAR TABEL Tabel 3....................8 Tabel 5.............................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton...49 Tabel 5.......................................................3 Analisa Harga Satuan Bahan....................................68 Tabel 5..................66 Tabel 5................................................. Pembesian Dan Bekisting.........................................................74 xiii .....14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton........................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW....6 Tabel 5..........................................4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton...................... Pembesian Dan Bekisting................68 Tabel 5...... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.........67 Tabel 5..............................

.................................100 Tabel 6..........101 Tabel 6...................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting..87 Tabel 6..............83 Tabel 5....18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.....................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan........2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton...102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ..22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..84 Tabel 5.......................................6 Total Selisih Harga Satuan......................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton............ Pembesian Dan Bekisting......3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton..........1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..................5 Tabel 6.......21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja................... Pembesian Dan Bekisting................................................................. Pembesian Dan Bekisting....................78 Tabel 5...................Tabel 5.........................................................85 Tabel 5.................................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.................................100 Tabel 6...........................................................101 Tabel 6..82 Tabel 5............ Pembesian Dan Bekisting.................................................

Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi.BAB I PENDAHULUAN 1. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. tenaga kerja. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. 1 . Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. pelayanan maupun waktu. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi.

Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. konsultan. Agar lebih luas cakupannya. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Pada tahun 1987 sampai 1991. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. namun hanya untuk perumahan sederhana.

3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. . 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1.3 kekalahan. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. SNI dan penawaran kontraktor. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. SNI dan penawaran kontraktor. 3. 2. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. Apakah ada selisih harga satuan material. Pada saat ini. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. SNI dan penawaran kontraktor ? 2.

profit dan pajak tidak diperhitungkan. Biaya tidak langsung seperti overhead.4 1. . Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. 3. Dapat menjadi referensi bagi penulis. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. 5. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. tahun 2007.4 Manfaat Penelitian 1. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. 1. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. 2. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 7.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 2. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. 3. 6. 4.

Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.39 %.344. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16. 103.706. 5 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 15.40.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.90. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.232. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.23 %.218.

perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. . berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah.

2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . waktu. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. bahan dan biaya. 3. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja.7 2. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja.

Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. produktivitas pekerja.16 % 5.23 % = 63. Interview. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat.26 % = 44.8 Karyaan. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. . yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. 4. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. Metode yang digunakan : Data primer a. Pekerjaan Bekisting Balok 3.

dengan nilai penghematan 2. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.437.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.013.207.00.00.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.348.87. dengan nilai penghematan 2.10.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.50. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 1.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10.184.217. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.655. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW.508. 78. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW. dengan nilai penghematan 1.025. dengan nilai penghematan 0. 11. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.930. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan . 39.206. dengan nilai penghematan 0. 99.14 2.214. 31.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.21. 53.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.

4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. SNI dan Lapangan.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. sloof. . pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. kolom. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. balok dan tribun menggunakan metode BOW. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. SNI dan Lapangan. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor.

Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased).BAB III LANDASAN TEORI 3. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. dan lain-lain. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. peralatan. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. material. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . 1995). Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Dengan kata lain.

12 proyek seperti jenis. lokasi. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. sesuai dengan fungsinya. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. 3. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. 1995. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). Perencanaan Biaya Bangunan. ukuran. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif.1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. . Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). proses penyusunan aggaran biaya definitif. 1994). Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal.1. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3.

kemudian .Eskalasi .1. yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.Harga peralatan .1. 1995) 3. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Satuan harga material curah .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.Standar jam orang .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3. kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. 1995. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Penawaran dari paket MR/PO .13 Tenaga kerja .Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .Produktivitas .Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .“Quantity take-off” . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Overhead .

pengalaman serta judgment dari estimator. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. Pada metode elemental analysis cost estimating. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. 1995. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar.1. 3. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. dan bila telah diberi beban biaya. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Hal ini memerlukan kecakapan.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.

Pintu .Pemipaan .Kolom interior .Pondasi .Pondasi .Substruktur .1. Tabel 3. salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. 1995) 3.Listrik .Atap . Means Engineering News Record .Fixed equipment .Lantai .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Sistem pemipaan . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Listrik . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Kontigensi .Persiapan site .Sistem HVAC .Interior .Pekerjaan lahan (site) .Sistem conveying .Dinding interior . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Glazed opening .Super struktur .Sistem conveying .15 gedung.Dinding eksterior .Eksterior .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Sistem HVAC . Jenis dan intensitas kegiatan .

Bertolak dari kenyataan tersebut. 1995). sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. Bila hal ini terjadi. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Sama halnya dengan sumber daya manusia. jenis keterampilan. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. atau yang langka tersedia di pasaran. dan lain-lain. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. grader. kompresor udara. berlumpur atau berdebu. scraper. Terutama untuk daerah rawa. truk. (Iman Soeharto. pengeruk tanah (back-hoe). maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. terutama bagi long delivery items. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. lengkapkah peralatan. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. Ini dapat berupa crane. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya.

Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. mesin-mesin.2. biaya menaikkan dan menurunkan. alat-alat tangan (tools).17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. jadi sudah termasuk biaya angkutan. pengepakkan. 3.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. mulai dari membuat spesifikasi. 1995). pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. penyimpanan sementara di gudang. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. (Iman Soeharto. memotong dan .

biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. biaya-biaya notaris. pengangkutan. misalnya sewa kantor. alat angkut dan lain sebagainya. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. pengukuran (survey). asuransi. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. memindahkan. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu.2. telepon yang dipasang di proyek. surat-surat ijin dan lain sebagainya. pemasangan alat. membongkar dan biaya operasi. bunga uang. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. pajak. air.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. 3. telepon. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya.18 membengkokkan baja-baja tulangan. listrik. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. peralatan kantor dan alat tulismenulis. asuransi. .

cermat dan memenuhi syarat. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. . disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. 1984. Menurut Sugeng Djojowirono.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. 1993. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. 1992. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 3. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Adapun menurut John W.

Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. Soedradjat Sastraatmadja (1984).20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. Analisa Anggaran Pelaksanaan. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir.2. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. Secara sistematisnya. A. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . A. Soedradjat Sastraatmadja. dapat dilihat pada gambar 3. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar.2.

Menurut Bachtiar Ibrahim. Mukomoko. Profit. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. . dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. daftar harga bahan. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. daftar susunan rencana biaya. buku analisis. A. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. 1993.3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja.3. Secara sistematisnya. daftar upah. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. dapat dilihat pada Gambar 3. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Pajak Gambar 3. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek.

sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. 2) Gambar denah PU 1 : 100.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. tinggi langit-langit. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1.00. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. letak tinggi jendela dan pintu. .Rencana letak bangunan.Rencana saluran pembuangan air hujan. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap.Rencana halaman . misalnya : dasar pondasi.Rencana garis batas tanah dan roylen. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.).00 m dari lantai. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . . Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. nok reng balok/muurplat.Rencana jalan dan pagar. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. .

RENCANA KAP =H =I =J 11. .3. TAMPAK SAMPING KIRI 6.Gambar konstruksi beton bertulang. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. 7) Gambar pelengkap. Jakarta. keilkeper. POTONGAN III-III 10. DENAH KUSEN 13. RENCANA SANITASI = N 3. muurplat/reng balok. TAMPAK BELAKANG 4. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. POTONGAN II – II 9.Gambar konstruksi baja. nok gording. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. DENAH PONDASI 7.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. TAMPAK MUKA 3. T. RENCANA PLAFOND = K 12. DENAH LISTRIK =L =M 14. DENAH 2. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Gambar saluran pembuangan air hujan.Gambar konstruksi kayu.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. Gambar saluran pembuangan air kotor. SAMPING KANAN 5.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. hooker. . Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. Jadi volume (kubikasi) . . 2007. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. talang air. cetakan keempat. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . dengan jelas. usuk/kasau dan konstruksi penahan.

seperti volume pondasi batu kali 25 m3.Volume atap dihitung berdasarkan luas.24 suatu pekerjaan. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. Harga bahan didapat di pasaran. 3. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. . yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. persegipanjang. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. atap 140 m2.3. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. e. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . trapezium. lisplank 28 m. .2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. d. . bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). dan sebagainya.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. seperti segitiga.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. . Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. yaitu panjang x luas penampang yang sama. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. b. c. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan.

Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat.S. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.4. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan.S. Bahan + H. dan gambar 3. Alat Secara sistematisnya.S. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.5. . Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi.25 pemerintah. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. dapat dilihat pada gambar 3. Upah + H. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.

4. Manajemen Konstruksi. Yogyakarta. 1984) .26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.5.

3. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan.3. 1993). ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. 1994 dalam Dani Kurniawan.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah.3.3. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. kecepatan .3. (Bachtiar Ibrahim. upah tenaga kerja. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. (Bachtiar Ibrahim. 3.27 3. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. 2004). Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim.3.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. 1 m2.

c. b. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. Kepala tukang. 1993). Pekerja. d. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. 2004). jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. selain bertugas sebagai tukang batu.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan.3. 3.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Mandor. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. (Bachtiar Ibrahim. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : .3. Tukang batu.

002 x B = 0. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. maka . maka . dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. Bagi peralatan yang bertugas sedang. ongkos angkut. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat).003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. = 0. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. biaya sewa gudang. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat.

saringan agregat untuk stone crusher / AMP. grease. pelumas transmisi. e. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. saringan/filter udara dan lain sebagainya. pelumas power steering. d. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. . biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. dan lain sebagainya. pelumas hidrolik. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). b.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. c. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin.

5% = untuk alat yang bertugas berat b.5) % x HP Dimana . Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5% = untuk alat yang bertugas ringan 17.5 s/d 17. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan.31 3. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Karena rumus sifatnya pendekatan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

000. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4. 43.875.964.5.000.00 1. 35.02 = Rp.080 Oh = 0.mandor .00 3.10 = Rp.Semen Portland = Rp.000. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. 239. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.750.00 10. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.475.5.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1. = Rp.892.777. 50.pasir beton . = Rp.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.025 Oh 3 . = Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5. = Rp.520 m3 = 218.00 Jumlah (2) = Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6. 59.00 73. SK SNI-06-1989-F.697.39 Jumlah (1) 5. 203.780 m3 = 0.600.00 x @ Rp.61 .250. SK SNI S-04-1989-F. 45. 30.tukang batu . 934.00 kg x @ Rp.pekerja .kepala tukang x @ Rp. 57. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991. 187.250 Oh = 0.547. SK SNI S-05-1989. 421.84 x @ Rp.2 Tenaga : = 1.60 x @ Rp.650 Oh = 0.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .75 = Rp.chipping/split .00 x @ Rp.00 x @ Rp.1 5. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.115.500.

Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. 313.955. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.61 73.36 = Rp.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A.61 + Rp. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).00 3.04 .3. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. 4.4.252. 934. 3.39 = Rp.000 kg x @ Rp. 495. 2. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .semen portland = 336. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1.777. 421.475. = Rp. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : .

000. 45.00 15. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran. 70. 344. = Rp. 239. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .34 x @ Rp.000 Oh = 0.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.pekerja .810 m 3 x @ Rp. 50..225.kepala tukang . Tenaga kerja : .350 Oh = 0.37 .547.00 = Rp. 35. 2) analisis dengan computer.035 Oh = 1.15.10 = Rp.000.70 194.975.mandor = 2. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.000.00 x @ Rp. 43.00 45.00 x @ Rp. 285. = Rp.60 = Rp.koral beton = 0.00 x @ Rp.00 = Rp.000.265.000. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.892.00 3. 131.pasir beton .00 Jumlah (2) = Rp.00 + Rp.00 1. 59.000 Oh x @ Rp. 58.60 540.750.312. 32.500. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.423. Jumlah (1) = Rp.950.155.tukang batu .4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. = Rp. b.540 m3 = 0. 1991.

5 Beton Bertulang J. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). 3. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. Beton adalah campuran antara PC (semen). penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. 1985.38 a. 3. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. A. b. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. semen tahan sulfat.I. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan.5. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. 1971 N. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bila perlu. lanjutan atau tambahan. semen alumina. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. dan . – 2. c. tanggung jawab atas penyimpangan.

Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. 3 atau 4 batang yang . Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). asam.063 mm. b. e. dapat juga dipakai semen tras kapur. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. c. d. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. Untuk beton mutu Bo. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. seperti terik matahari dan hujan. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. garam-garam. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. alkali. maka agregat halus harus dicuci.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras.39 lain-lain.

Dalam perencanaan campuran beton. mengaduk adukan. . kran dengan alat penyodok (bucket).2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). Bila slump campuran kurang dari 5 cm. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. merawat pengerasan. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. kereta dorong. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. air. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan.5. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. maka tempat penyimpanan.5. berarti campuran basah.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis.2. dan lain-lain. Jika digunakan concrete mixer. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Kekuatan beton. Satuan beton yang dipakai adalah m3. Campuran beton terdiri dari semen. alat timbang bahan. maka campuran bersifat kental. misalnya mesin pengaduk. 3. mengangkut. memadatkan pengecoran.40 sejajar. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio).

pelat lantai dan tangga. Sebanyak 50 % . Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. kolom. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm.5. balok. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.50 m3 untuk setiap 10 m2.2.10 – 0. 1996. kawat pengikat. .41 3.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. Menurut peraturan beton Indonesia (1997).2. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. Menurut Dipohusodo.5. minyak pelapis.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. yaitu . pondasi. sloof.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. 3. digunakan tabel berat besi material.

Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). SNI dan Lapangan. 6. 9. 4. 2. 4. 3.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 5. 8. 7. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 42 . Berita acara penjelasan pekerjaan. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS).BAB IV METODE PENELITIAN 4. 4.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 4. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian.

5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. . terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait.43 4. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. Menghitung harga satuan bahan. f. dan g. d. upah dan pekerjaan. c. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. e. 4.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. b. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur.

44 Mulai Data Proyek : .S.Analisa Harga Satuan Upah .Harga Satuan Pekerjaan .Harga Satuan Pekerjaan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.A.A.H.Analisa Harga Satuan Upah .A.Analisa Harga Satuan Peralatan .1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir . Bahan .Analisa Harga Satuan Bahan .Gambar proyek .Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Peralatan . Upah .H.Analsis Harga Satuan Bahan .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .H.S. Peralatan .Analisa Harga Satuan Peralatan .S.Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .

45 .

2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.1 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. balok dan tribun.BAB V ANALISA DATA 5. 5. sloof. kolom. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. 45 . Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.

3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI. . upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.2 Analisa Harga Satuan Bahan.48 5.

4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. . Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.3 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.52 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.

6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. Tabel 5.3. Pembesian Dan Bekisting.60 5. 3. Pembesian Dan Bekisting. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. 2. Tabel 5. 4. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. Tabel 5.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.1.2 dan Tabel 5. Tabel 5. .

pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp. 1.629.S.223.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.602. 3.602.S.58 = 2.64 5.S.602. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan. 3.223. bahan tertinggi Rp. Dari Tabel 5. 1.S.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton. 3.20 . 1.Rp.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H. bahan tertinggi – H.197.20 = 54. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.602.20 Rasio perbandingan = Rp.197.58 = Rp. bahan terendah Selisih H.197. 3. Material = H.629.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .223.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.197. upah dan pekerjaan BOW.629.

10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. 4. 8.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. .11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5. 6. 3.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5. 7. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5. 5. Tabel 5. Tabel 5. 2. 9. Tabel 5. Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Tabel 5. Tabel 5.

41) : .540 m3 = 0.semen portland .paku biasa = 0.000 Oh = 0.kepala tukang batu .41) : .pasir beton .kepala tukang besi = 6. G.41) : .tukang batu .250 Oh = 6.000 kg = 0.300 Oh . Bahan Bekisting (An.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan. G. G.besi beton .mandor 5).7.tukang besi .00 kg = 110.pekerja .41) : .000 Oh = 1.750 Oh = 6. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.750 Oh = 2.kawat beton 3).820 m3 4).1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).400 m3 = 4. Bahan Pembesian (An.000 kg = 2.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.kayu terentang (papan) . G. Upah Pembesian (An.100 Oh = 0.pekerja . 5. Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.koral beton 2). G.69 5.41) : .

. G.mandor = - = 6.kepala tukang kayu .tukang kayu . Upah Bekisting (An.000 Oh = 0.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.000 Oh = 5.41) : .70 .mandor 6).15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.500 Oh = 0.pekerja .

35.2 ) dan ( An.105 Oh = 0.kep.300 Oh 5).1 ) : .650 m3 = 0. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.kawat beton 3).1 ) : . tukang = 0.2 ) untuk tukang kayu : .1 ) : .000 Oh = 1.35.28.040 Oh = 0.tukang besi .semen portland .pekerja .besi beton .72 5. tukang = 0.tukang kayu . Upah Bekisting ( An.mandor = 6.026 Oh .050 Oh = 0.koral beton 2).2 ) untuk tukang besi : .pasir beton .25.250 kg = 388.kepala tukang batu .000 kg = 0.045 Oh 6).650 m3 4). Bahan Pembesian ( An.200 m3 = 1. 6. Upah Pembesian ( An.300 Oh = 1.minyak bekisting = 0.mandor = 0.tukang batu .7.007 Oh x 150 = 1. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An. 6.0003 Oh x 150 = 0.500 kg = 0.000 kg = 2.pekerja .2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).100 Oh = 0. 6.38.2 ) dan ( An. 6.400 ltr = 150.paku biasa .0007 Oh x 150 .050 Oh = 1. Bahan Bekisting ( An.kayu terentang (papan) .kep.pekerja . 6. 6.000 Oh = 0. 6.38. 6.38.38.1 ) : .

73 .005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0.

kepala tukang batu . Upah Adukan Beton : .59 .746 Oh .paku biasa = 0.0003 Oh x 106.000 kg = 0.300 kg x 3. tukang = 0.63 = 1.093 Oh = 0.520 m3 = 0.63 = 0.mandor 6).260 Oh x 3.59 = 1.kayu (papan) = 0.63 = 0.59 4).746 Oh = 1.63 kg/m3 + 3.933 Oh = 0.040 m3 x 3. Upah Bekisting : . Upah Pembesian : .63 = 0.koral beton 2).599 kg 3).tukang kayu = 0.962 kg = 232.pekerja = 0.650 Oh = 0.tukang batu .75 5.015 kg x 106.63 = 0.077 Oh = 0.pekerja = 0.59 . tukang = 0.59 m2 Bekisting) 1). Bahan Bekisting : .080 Oh = 0.minyak bekis = 0.59 .pekerja .007 Oh x 106.100 ltr x 3.075 Oh .300 Oh x 3.005 Oh x 3.mandor 5).besi beton = 1.tukang besi = 0.59 .026 Oh x 3.semen portland .025 Oh = 0.032 Oh .mandor = 0.pasir beton .05 kg x 106.kep.kawat beton = 0.007 Oh x 106.250 Oh = 0. Bahan Adukan Beton : .kep.144 m3 = 1.59 .780 m3 .077 kg = 0.63 = 111. Bahan Pembesian : .359 ltr .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.0007 Oh x 106.018 Oh = 0.7.

48 .022 Oh = 0.005 Oh x 4.166 Oh = 0. tukang = 0.pekerja .64 = 136.tukang kayu = 0.007 Oh x 129. Upah Adukan Beton : .026 Oh x 4.48 m2 Bekisting) 1).besi beton = 1.250 Oh = 0.kayu (papan) = 0.48 . Upah Pembesian : .64 = 1.kawat beton = 0. Bahan Adukan Beton : .mandor 6).300 kg x 4.344 kg = 0.015 kg x 129.179 m3 = 1.007 Oh x 129.minyak bekis = 0.koral beton 2).64 = 0.344 Oh = 1. Upah Bekisting : .650 Oh = 0.907 Oh .mandor = 0.05 kg x 129.080 Oh = 0.000 kg = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.48 = 1.mandor 5).945 kg 3).780 m3 .64 = 0.pekerja = 0.0003 Oh x 129.907 Oh = 1.kep.039 Oh .520 m3 = 0.260 Oh x 4.paku biasa = 0.pasir beton .kep.semen portland .kepala tukang batu .64 = 0.448 ltr .025 Oh = 0. tukang = 0.48 .0007 Oh x 129.pekerja = 0.tukang batu .165 Oh = 0.64 = 0.48 .300 Oh x 4.122 kg = 232.100 ltr x 4. Bahan Bekisting : . Bahan Pembesian : .091 Oh .48 .040 m3 x 4.tukang besi = 0.48 4).64 kg/m3 + 4.

0007 Oh x 156.32 = 164.kepala tukang batu .047 Oh .14 .14 = 2.32 = 2.14 .17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.kep.tukang besi = 0.100 ltr x 7.005 Oh x 7.000 kg = 0. Upah Bekisting : .koral beton 2). .besi beton = 1.186 Oh = 0.14 4).300 Oh x 7.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.109 Oh . Upah Adukan Beton : .14 .260 Oh x 7.015 kg x 156.paku biasa = 0.520 m3 = 0. Upah Pembesian : .14 m2 Bekisting) 1).mandor 5). Bahan Adukan Beton : . tukang = 0.142 Oh = 1. Bahan Pembesian : .32 = 1.300 kg x 7.kayu (papan) = 0.142 kg = 0. Bahan Bekisting : .pekerja = 0.780 m3 .025 Oh = 0.14 .345 kg 3).32 = 0.kawat beton = 0.250 Oh = 0.32 kg/m3 + 7.026 Oh x 7.080 Oh = 0.0003 Oh x 156.kep.05 kg x 156.mandor 6). tukang = 0.pekerja = 0.136 kg = 232.094 Oh .094 Oh = 1.32 = 0.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.pasir beton .tukang batu .tukang kayu = 0.286 m3 = 2.007 Oh x 156.007 Oh x 156.856 Oh = 0.semen portland .minyak bekis = 0.714 ltr .mandor = 0.036 Oh = 0.32 = 1.pekerja .650 Oh = 0.040 m3 x 7.

Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.7. 2. . 3.16 dan Tabel 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.17.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.15.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton. 4. Tabel 5. Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.81 5.

00 = 1.00 = 26.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan. .86 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 . Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.00 dan SNI = 150.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.00 = 150. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. Dari Tabel 5.110.00 Rasio perbandingan = 110.

739.000.38 dan pada SNI adalah Rp 579.00 1.000.411.464.S.1.336.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000.285.38 594. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.304.285.00 0. 6.1.000. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.500.464.1 di atas.76 1.000.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.BAB VI PEMBAHASAN 6.130.61 .19 869.78 2.628.80.78 H.76 1.21 594. 1.632.59 594.858.000.178.82 557.085.442. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.35 1.00 2.286.00 557.304.717. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.575.14.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.821.575.178. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.285. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.00 1.171.000.42 1.434.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.82 1.643.628. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.35 542.500.00 500.

Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. 6.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.1. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. balok dan plat (tribun). . poer P2 dan poer P3.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5.

172.000.00 5.200.183.00 0.S.58 1.00 2.197.2 di atas. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.58 1.223. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.80 2.929.74 .15 4.000.176.401. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.197.40 2.558.000.880.000.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.472.000.00 3.10 3.629.60 8.314.000. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.20 3.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.602.00 4.172.191.447.472.24 dan pada SNI adalah Rp 2.172. pada pekerjaan sloof.00 1.802.298.298.10.000.602.757.000.121. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.20 7.000.000. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.000.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.732.00 6.601.298.00 6.000.464.23 1.95 4.223.000. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.23 4.297. Bahan Pembesian (Rp) 3.00 2.14 H.90 7.522. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.000.629.000.258. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.904. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.000.

000.98 .911. Bahan Bekisting (Rp) 7.70 1.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00 1.131.617. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.881.000.00 1.00 1.S. 575.576.150.350. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.487.402.000.726.00 4.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.425.000.480.88 1.000. 8.16 1.58 871.307.300.278.000.16 5. 6.44 1.953.72 Tribun 963.000.000. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.052.00 0.70 Pondasi Poer 285.00 2.052.00 3. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.000.3 di atas.72 3.42. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.495.098.00 H.726.000.758.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.1.701.000.781.000.53 2.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.211.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.86 Sloof 385.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.681.00 6.66 6.87 dan pada SNI adalah Rp 872.000.000.03 544.936.301.600.

S.000.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.000. H.00 272.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.00 272.000.900.00 272.00 272.000.00 816.000.000.000.00 146.4 di atas.000.2. Harga rata-rata harga satuan 73.00 220.475. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 816. 6.00 400.000.000. Sebanyak 50 % .00 293.00 272.00 600.000.425.00 272.00 .000.000. Upah Adukan Beton (Rp) 1.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.00 1. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.00 544. 6.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 1.200.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 800.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.000.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.00 200.425. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.088.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.950.00 220.

93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.00 1. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.125.00 234.30 179.569.00 1.00 394.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.60 89.500.768.889.700.00 119.00 234.000.00.000.000. Upah Pembesian (Rp) 2.200.00 104.749.762.00 1.00 1.927.925.000.00 2. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.700.733.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.000.00 2.00 500.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 H. 3.125.00 1. 6.035.500.82 89.000.2. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.000.5 dibuat suatu grafik perbandingan.84 354.48 .400. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.927.00 dan pada SNI adalah Rp 272.000. Dimana harga rata-rata satuan 61. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.600.375.00 0.5 di atas.00.284.500.S.750.00 642. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.

175.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.2. 6.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.670.81.180. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. . sedangkan SNI adalah Rp 116.665. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.00. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

970.S.00 198.600.000. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.000.170.000.95 1.828. 113.188.00 326.00 1.000.51 dan pada SNI adalah Rp 108.000.000.35 457.200. Upah Bekisting (Rp) 1.000.000. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.00 400.000.599.00 2.00 134. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. Pada tenaga kerja pekerja.291.00 600.00 Sloof 79.000.000.000.00 615.000. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.242.00 Pondasi Poer 57.00 1.25 . Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.925.200.814.00 1. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.00 1.000.00 800.400.128.00.000.00 200.00 1.920.00.265.6 di atas.800.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 1.000.371.00 1.00 0.000.20 155.371.885.825.458.00 H.75 354.00 914.

956. 6.000.00 4.000.257.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.333.278.000.618.86 6. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.86 18.00 10.692.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.00 6.33 .000. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.275.714.714.14 5.730.809.029.523.000. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.000.000.00 6.472.000.00 8.000.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.115.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Dari Tabel 5.000.648.71 Tribun 3.26 dan pada SNI adalah Rp 3.952.56 2.956.623.369.937.19 8.61.637.130.272.00 12.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.000. Dari Tabel 5.152.00 0.000.003. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.91 3.160.000.000.14 4.00 16.000.000.989.000.7 di atas.055.99 15.96 6.43 14. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.904.32. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.00 6.318. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.640.000.523.212.00 2.019.70 3.78 3.63 9.450. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.

071.00 607.004.500.00 0.485.375.00 4. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.907. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.000.000.97 perbandingan. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 5.84 496.00 2.00 5.940.73 .575.485.000.00.742.00.8 di atas.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.000.000. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.00 1.17 740. 6. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.00 2.000.50 471.00 4.00 418.00 490. 461.965.000.620.371.674.32 dan pada SNI adalah Rp 496.352.000. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.35 810.114.233. 4.00 3.00 1.000.012.370.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.000.653.750.565.125.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.095.125.00 1.114.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.119.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.

000.984.000.00 10.118.00 11.93.000. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.06 .000.761.26 dan pada SNI adalah Rp 4.756.000.839. upah dan pekerjaan beton bertulang.000.00 0.696.91 4.677.000.32.78 Sloof 3.00 16.625.000. Tabel 6.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.458.000. 2.54 4.690. Selisih dan rasio harga satuan bahan.9 di atas.000.390.000.000. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.00 8.86 20.00 12.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.98 14.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.00 4.866.000.123. Tabel 6.000.16 7.890. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.703. Pembesian Dan Bekisting.000.653.126. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.594.000.71 Tribun 3. Pembesian Dan Bekisting.220.43 9. 3.00 2.380. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.000.120.279.609.255.020.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.56 Pondasi Poer 2.859.070.839.885.000.559.36 5.727. 3.00 6.00 14. Tabel 6.070.14 11.54 17.804.830.586.00 18. Pembesian Dan Bekisting.000.742.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan. 6.63 10.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.

Pembesian Dan Bekisting.99 4. Tabel 6. Tabel 6.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.5 Total Selisih Harga Satuan. Tabel 6. . 6. 5.6 Total Rasio Harga Satuan.

100 .

101 .

102 .

Bahan Adukan Beton 48.7. . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 10.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.89% 20.00% 50.00% 58.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 0.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.7.75 % dibandingkan SNI.00% 19.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.94% 60.10 di atas.S.00% (%) 40.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.103 6.94 % dibandingkan SNI dan 19.00% 30.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.7 6.00% Selisih H. 70.

00% 70.7. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.42% (%) 30.11 di atas.00% 60.00% 10. Bahan Bekisting 41.21% 67.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% Selisih H.69% 44.104 60.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% 30.00% 30.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.S.00% 50.00% 40.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting . Bahan Pembesian 36.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0.00% 50.00% 10.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.03% 55. 6.00% Selisih H.00% 0. 80.00% 20.00% 20.S.00% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.42 % dibandingkan SNI.

54% 72. 80.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00% 20.00% 60.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.00% Selisih H.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.47 % dibandingkan SNI dan 44.12 di atas.00% 30.105 Dari Gambar 6.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.77% 61.8.00% 10.00% 0.69 % dibandingkan SNI.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.13 di atas.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.00% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. . Upah Adukan Beton 29. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.00% 70.00% 50.99 % dibandingkan Lapangan dan 61. 6.8. 6.

00% 0.00% (%) 50.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .46% Selisih H.01% 84.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 93.00% 60.106 100.00% 20.66% 54.00% 80.8. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 20.00% Selisih H.58% 53.01 % dibandingkan SNI dan 84.00% 60.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 10. Upah Bekisting 90.46 % dibandingkan SNI.00% 30.00% 90.00% 10.00% 90. 6.00% 0. 100.00% 70.00% 40.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.S.14 di atas. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.S.00% (%) 50.89% 80.00% 40.00% 70.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% 30.00% 80.

. Bahan Beton 30.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.S.31 % dibandingkan SNI dan 30. 70.89% (%) 40.107 Dari Gambar 6.64% 58.00% 10.16 di atas.00% 39.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.89 % dibandingkan SNI.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton. 6.00% Selisih H.00% 60.00% 50.89 % dibandingkan SNI dan 53.58 % dibandingkan SNI.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 30.00% 20.15 di atas.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.00% 0.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.

6.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.82% 50.00% (%) 50.00% 60.06 % dibandingkan SNI dan 71.54% Selisih H.00% 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.05% 57.00% 20.00% 20.00% 80.00% 60.108 100.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 10.05% 57.00% 70.00% 50.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.00% 0.00% (%) 40. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 10.00% 90.54 % dibandingkan SNI.17 di atas.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 70.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00% 30.S.00% 0.00% 30.06% 71.00% 86.

2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.109 Dari Gambar 6.50 2.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.12. 6.50 1. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 0.S.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.18 di atas. 3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. .12.00 2.95.05 % dibandingkan SNI. Bahan Adukan Beton 1.24 dan 1.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.44 1.00 Ratio 1.50 % dibandingkan SNI dan 1.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.19 di atas.00 Rasio H.

20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00 0.00 0.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .72 1.50 0.00 1.50 3.110 2.00 1.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 0. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 Rasio H.50 1.S.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 Ratio 2.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.44.50 2.56 2.20 di atas. 6.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 Rasio H.00 2.79 3.25 dan 1.12.44 1.50 1. Bahan Pembesian 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Bahan Bekisting 1. 3.S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.

70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.13. 6. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 3.S.00 Rasio H.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.22 di atas.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.111 Dari Gambar 6.50 Ratio 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.42 2.13.60 3.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.50 3. .21 di atas.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.50 1.07 dan 1.60 dan 3. 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.72. 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.42.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.50 0.Upah Adukan Beton 1.00 2.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.00 0. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.00 1.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

00 10.32 6.20 Rasio H.S.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.52 2.00 0.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.13 2.00 Ratio 8.Upah Bekisting 5.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 8.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 Rasio H.00 10.00 4.13.00 2.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 Ratio 6.00 14.15 10.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.32 dan 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.00 6.00 2.00 4.112 16.23 di atas.S.00 14.20. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 12. 12. 6.

24 di atas.66 1.25 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.00 Ratio 1.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 0. 6.98 dan 2.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.00 Rasio H.50 0.50 1.00 2.S.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. .15.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.Bahan Beton 1.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.50 2. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.44 2.113 Dari Gambar 6.66. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10. 3.40 dan 1.

18 3.02 Rasio H.00 5.50 0. 6.00 0.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.33 2.18 dan 3.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .S.00 2.114 8.00 0.50 1.01 1.00 Ratio 4.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.02.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 1. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00 6.00 7.50 2.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 3.26 di atas.00 7. 2.00 1.55 2.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 3. Indeks bahan kawat beton pada .75 dan 3. 4.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.17.50 0.36. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.35 dan 1.75 3.00 0.00 2. 6.75 2.13 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.33.28 di atas.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.50 Ratio 2.36 1.50 3.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.115 Dari Gambar 6.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 1.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.50 1.94 2.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.27 di atas. 6.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. . Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Lain halnya dengan analisa SNI. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Dengan demikian baik dari segi biaya. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif.

d.44).44).89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. Lapangan > SNI (2.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.60). Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a. f.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.32). Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58.08 % dibandingkan dengan 120 .56). c. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.72).47 % dibandingkan dengan SNI dan 44. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93. Lapangan > SNI (3.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.70) dan SNI > Lapangan (1.79). e.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.95).52) dan Lapangan > SNI (2. b.42).21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.07) dan BOW > SNI (1.25) dan BOW > SNI (1. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.25) dan Lapangan > SNI (1. BOW > Lapangan (3. BOW > Lapangan (1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.20). BOW > Lapangan (6.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.

44). .33). Lapangan > SNI (2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.75) dan SNI > BOW (1.40) dan BOW > SNI (1. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. i.98). Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW. SNI dan Lapangan. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.36).35) dan BOW > SNI (2. Rasio perbandingan indeks a. 2. h.55) dan Lapangan > SNI (2. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.18). Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. b.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10. BOW > Lapangan (3.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.02). Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2.01). pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. BOW > Lapangan (2. Lapangan > SNI (2. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.75). terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.13) dan Lapangan > SNI (5. 3. g.66).15). Lapangan > BOW (3.

46) dan Lapangan > SNI (2. pembesian dan bekisting. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.43). BOW > Lapangan (2.43). indeks kepala tukang BOW > SNI (21.62). . BOW > Lapangan (2.46) dan Lapangan > SNI (2.43).62).62). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja. 7. indeks tukang besi BOW > SNI (6.122 b.19) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (8. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton.62).

1993. Jakarta. 1984. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Bandung. 1991. Penerbit Bumi Aksara. 2006. 1992.DAFTAR PUSTAKA Ir. CV. Joko Waluyo. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Yogyakarta. Penerbit Erlangga. Jakarta. – 2. Manajemen Konstruksi. Jakarta. Bumi Aksara. Cet. Jakarta. A. W. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Bachtiar Ibrahim. Rencana dan Estimate Real of Cost. 1985. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Departemen Pekerjaan Umum . Asona. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Penerbit Nova. J. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Dani Kurniawan. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. 2001. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW).I. 2003. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman.A. Sugeng Djojowirono. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. 2002. PT. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Iman Soeharto. 2005. Soedradjat Sastraatmadja. 1995. 2004. SNI Edisi Revisi. 1984. Mukomoko. 9. 2006. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. cetakan kesembilan. Niron John. 1971 N.

00 43.00 43. Wajo.000.892.00 10.785.547.000.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 50. Juli 2007) 35.500.719.00 10.000.80 1.500.000.500.000.70 1. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.337. III (Papan) Kayu Kls.10 59.39 239.052.00 43.00 105.40 934.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.28 17.500.605.00 45.60 10.000.00 7.115.226.00 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful