TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Haris. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Istriku beserta keluarga besarnya. Adikku Erna. Ibu. terima kasih atas doa dan dukungannya. iii .HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Bapak. terima kasih atas doa dan kerjasamanya.

bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. 3. Bapak Tadjuddin BM Aris. Bapak Faisol AM. 2. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Alhamdulillah. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. iv . bapak. Ibu. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. Ir. ST. 4. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. H. Bapak Zaenal Arifin. Ir. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat.WB. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. 5. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. H. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW.

7.6. v . Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta.

02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.26 sedangkan metode SNI Rp 4.35 dan 1.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.33. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. SNI dan Lapangan. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.804.120. pelayanan maupun waktu.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. RKS. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.696. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.44 dan 58. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. tenaga kerja.32 dan untuk Lapangan Rp 9. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.18 dan 71. vi . Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian.859. SNI dan Lapangan/Kontraktor.727. RAB penawaran kontraktor.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.40.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.594. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.

...2 Biaya Langsung...........24 Analisa Harga Satuan...........14 Biaya Konstruksi Proyek…......................................................................1 1..........................................................................................................4 1..........................3 Manfaat Penelitian........5 Latar Belakang.............18 3........................................1......................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2......11 3.2 Jenis Anggaran Proyek..........23 Harga Satuan Pekerjaan......iv ABSTRAKSI........2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan...................................................19 3.............................vii DAFTAR GAMBAR...........1 Rumusan Masalah......................................................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan.....3 Tujuan Penelitian.................27 vii .....................3 Rencana Anggaran Biaya…..............................................3 1...........iii KATA PENGANTAR...............................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya.........2 3..........................12 Kualitas Perkiraan Biaya…….........15 3................1........................................................................3........17 Biaya Tidak Langsung………....9 BAB III LANDASAN TEORI 3................................................2........xi DAFTAR TABEL........................................................................................................................2 1........vi DAFTAR ISI.......................................2 3........1 3........................................................................................................................1 3......1 3..........................................13 Metode Perkiraan Biaya...........................................i HALAMAN PENGESAHAN...................3...................3.................................3 3........4 Batasan Masalah..........................................................................................1................................................................1 Estimasi Biaya.........xiii BAB I PENDAHULUAN 1...................1 2.............................2.............................ii HALAMAN PERSEMBAHAN............................

.............................3 Pekerjaan Adukan Beton.......3..................3.................42 BAB V ANALISA DATA 5................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI...3 Analisa Harga Satuan Metode BOW...34 Analisa Harga Satuan Metode.......3.........2.......2 3.........................................6 Subjek Penelitian……...............3..............3.27 Analisa Harga Satuan Upah............................................... Pekerjaan Beton Bertulang..40 Pekerjaan Bekisting............................................2..............4............2 3.27 Analisa Harga Satuan Alat..................36 3........1 5.......40 BAB IV METODE PENELITIAN 4........3..4 4....39 3..........4......32 3.....................................2 3........1 3..................2.3 3............2 4............4..4........................................................................3 4...............3......3.........39 Pekerjaan Pembesian..........48 Analisa Metode Lapangan...............41 Data yang Diperlukan……........1 4............69 viii ....... Lapangan......................3................7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen..................................4...........4................................4 5................3..........42 Tahapan Penelitian…….............................................28 Metode Perhitungan..............................................................2 5............................52 Komparasi Harga Satuan.............................3.............41 Pengolahan Data……..................................60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio......6 Rencana Pekerjaan……... Harga Satuan..44 Analisa Metode SNI................4 Analisa Harga Satuan Material..........3 5.....4.........4 Beton Bertulang…....................5 5..............2 Bahan – Bahan..........1 3.................41 Cara Pengumpulan Data……...........................................................................1 3.5 4......41 Objek Penelitian…..64 5....4...37 3....................44 Analisa Metode BOW.........1 3...37 Pekerjaan Beton Bertulang...........

.........3 5...7.................8 BAB VI Indeks BOW.....89 Bahan Bekisting............105 6.8 Selisih Bahan Bekisting.................................103 6..105 Selisih Upah Pembesian.....104 Selisih Harga Satuan Upah..........…….............94 6.................2.....103 6.......2.........93 Upah Bekisting.72 Indeks Lapangan..............................................................6 6.....2 6.......2 Selisih Bahan Pembesian....................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton....7......1 Rasio Bahan Adukan Beton.............5 6.......2 Bahan Adukan Beton.3 6...............98 Selisih Harga Satuan Bahan.......81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks...................7..........1............1 6.........................7...................8...........109 ix ..............1.........105 Selisih Upah Bekisting........................106 6.......................7....75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja....97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan………….......69 Indeks SNI...............86 PEMBAHASAN 6.......................................................................................................1 6.........3 Upah Adukan Beton............2 6.........................1 5.........................2...92 Upah Pembesian............................................................109 6.................107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........8.....96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...........................9 6...........3 6.............103 6..........1 Selisih Bahan Adukan Beton.........................7................................3 Selisih Upah Adukan Beton.....91 Harga Satuan Upah........88 Bahan Pembesian......4 6...............8.......10 6.96 Harga Satuan Upah Beton................1 6......................88 6...............................3 6.........................11 6...................................................108 Rasio Harga Satuan Bahan......................................4 5.............1.............107 Selisih Harga Satuan Upah Beton.....................92 6.....................12............….............1 Harga Satuan Bahan..2 6....7 Harga Satuan Bahan Beton.......7......2 5.....................................5.......

........3 Rasio Upah Bekisting.......................16 6........................................................115 6..........................2 Indeks Tenaga Kerja.....................14 6.......12.....................110 6.....LAMPIRAN Kesimpulan…….............................….13 Rasio Harga Satuan Upah.......................................111 6......3 Rasio Bahan Bekisting…………………….111 6..........2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ..1 Rasio Upah Adukan Beton.............15 6......1 Indeks Bahan.....................114 Indeks....17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.....109 6....118 Saran..116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7............6...2 Rasio Upah Pembesian..........................13.........................................1 7.....................120 x ..13...113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........................................13..................................................................111 6......................115 6.....................17......2 Rasio Bahan Pembesian……....113 Rasio Harga Satuan Upah Beton..........17.............112 6....12........................

4 Gambar 6.............................13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.106 Gambar 6.........95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton........15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting......................8 Gambar 6.......... Gambar 3...... Gambar 3......14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian..DAFTAR GAMBAR Gambar 3.................107 Gambar 6.....18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian..........................................................98 Gambar 6.................104 Gambar 6..........................111 xi .............................110 Gambar 6...........2 Gambar 6..................................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting................106 Gambar 6.....96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton......104 Gambar 6...........2.................11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian... Gambar 4.....6 Gambar 6.....................93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting...9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)............ Gambar 3...17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton......21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting..........20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci....97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........1 Gambar 3.............12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting..................................................4.........................105 Gambar 6.............21 Skema Harga Satuan Pekerjaan..................................1 Gambar 6..3 Gambar 6........103 Gambar 6..........................................108 Gambar 6..........91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton..................................108 Gambar 6...............................22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar...........10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.....3.............5...........................7 Gambar 6.........110 Gambar 6..................43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.....109 Gambar 6............1 Gambar 6........26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir...............5 Gambar 6.........16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton.26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan.......88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.......19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...

28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian....................24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.................115 Gambar 6...........................112 Gambar 6.............29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian...........26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.......114 Gambar 6....................................................Gambar 6....113 Gambar 6.114 Gambar 6....116 xii .............23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.................................25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton.......................112 Gambar 6......

......49 Tabel 5.63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton...45 Tabel 5....2 Analisa Harga Satuan Bahan...........14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton..........1.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting....................................................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton...............12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian..74 xiii ....................................................................71 Tabel 5..68 Tabel 5......67 Tabel 5.............. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW............................................................................62 Tabel 5..4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton............. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record........................7 Tabel 5...66 Tabel 5.......3 Analisa Harga Satuan Bahan....61 Tabel 5.........................DAFTAR TABEL Tabel 3......67 Tabel 5.....13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting......................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI...66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.............68 Tabel 5.. Pembesian Dan Bekisting......................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI............68 Tabel 5..............................................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton....................66 Tabel 5...................................................................8 Tabel 5........ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan....................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton..................1 Analisa Harga Satuan Bahan...53 Tabel 5.................................................................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang............................5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton...............67 Tabel 5..........................................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton...................15 Tabel 5..............6 Tabel 5...................................................... Pembesian Dan Bekisting..........15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW..............

................................................87 Tabel 6..19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.............102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ... Pembesian Dan Bekisting..............................................................22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja....................................100 Tabel 6..................83 Tabel 5..........................78 Tabel 5.......17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.....................6 Total Selisih Harga Satuan....................5 Tabel 6..85 Tabel 5................. Pembesian Dan Bekisting.......3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton............................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton...........82 Tabel 5.............18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton........................................................................... Pembesian Dan Bekisting...................100 Tabel 6..........21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.......................101 Tabel 6.84 Tabel 5........................................................................101 Tabel 6...........20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.......Tabel 5..................1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting.....................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton........

yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. 1 . diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. tenaga kerja. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.BAB I PENDAHULUAN 1. pelayanan maupun waktu. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.

melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Pada tahun 1987 sampai 1991. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. baik bahan maupun upah tenaga kerja. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. namun hanya untuk perumahan sederhana. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. konsultan. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. Agar lebih luas cakupannya. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan.

akan mengalami kesulitan dibelakang hari.3 kekalahan. . SNI dan penawaran kontraktor ? 2. SNI dan penawaran kontraktor. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. 3. Pada saat ini. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. Apakah ada selisih harga satuan material. 2. upah dan pekerjaan antara metoda BOW.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. 1. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. SNI dan penawaran kontraktor. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

profit dan pajak tidak diperhitungkan. 3. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. 4. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 3. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. Dapat menjadi referensi bagi penulis. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Biaya tidak langsung seperti overhead. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 2. 6. 5. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah.4 Manfaat Penelitian 1. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. 2. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 1. tahun 2007. . 7. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda.4 1.

Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.39 %.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. 15.90.218.232.344.706. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. 103. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.40.23 %. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 5 . Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.

berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. . serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan.

bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. 3. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW.7 2. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. bahan dan biaya. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. waktu. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.

16 % 5. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. Metode yang digunakan : Data primer a. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan.8 Karyaan.23 % = 63. Interview. produktivitas pekerja. 4. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Pekerjaan Bekisting Balok 3. . Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau.26 % = 44.

82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 0.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 11. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.87. dengan nilai penghematan 1. 39.10.184. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW.013.00.508. 78. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. 31.217. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .930.207. dengan nilai penghematan 2. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.025. dengan nilai penghematan 0. 53.655.206.14 2. 99.348. dengan nilai penghematan 2.437.50. dengan nilai penghematan 1.214.21.00.

sloof. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. kolom. SNI dan Lapangan. . balok dan tribun menggunakan metode BOW. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. SNI dan Lapangan. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi.

1995). Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. dan lain-lain. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. peralatan.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. material.BAB III LANDASAN TEORI 3. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Dengan kata lain. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan.

sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. 1994). Perencanaan Biaya Bangunan. . maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. 1995. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian.1. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. ukuran.12 proyek seperti jenis.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. 3. sesuai dengan fungsinya.1. lokasi. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap).

Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.13 Tenaga kerja .Eskalasi . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.“Quantity take-off” . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. 1995.Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.Harga peralatan .Penawaran dari paket MR/PO .Satuan harga material curah .Standar jam orang .Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .1. kemudian . 1995) 3.Produktivitas . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.1.Overhead .

berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . 3. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Pada metode elemental analysis cost estimating. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Hal ini memerlukan kecakapan. pengalaman serta judgment dari estimator. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. dan bila telah diberi beban biaya. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama.1. 1995. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu.

1.Pintu .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Persiapan site . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Interior .Pemipaan .Lantai .Pondasi .Substruktur . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record. Jenis dan intensitas kegiatan .Sistem conveying .Atap .Sistem pemipaan .Pekerjaan lahan (site) . Means Engineering News Record .Sistem HVAC .Eksterior .Sistem HVAC .Dinding interior .Kontigensi .15 gedung.Listrik .Kolom interior . Tabel 3.Dinding eksterior . 1995) 3.2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Fixed equipment .Glazed opening . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Sistem conveying .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Pondasi .Super struktur .Listrik .

maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. jenis keterampilan. berlumpur atau berdebu. lengkapkah peralatan. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. Bertolak dari kenyataan tersebut. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. pengeruk tanah (back-hoe).16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. Sama halnya dengan sumber daya manusia. 1995). Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . Terutama untuk daerah rawa. atau yang langka tersedia di pasaran. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. (Iman Soeharto. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Ini dapat berupa crane. terutama bagi long delivery items. truk. grader. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. Bila hal ini terjadi. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. dan lain-lain. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. scraper. kompresor udara.

penyimpanan sementara di gudang.2. 1995). alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. memotong dan . mulai dari membuat spesifikasi. mesin-mesin. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. biaya menaikkan dan menurunkan. pengepakkan.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. (Iman Soeharto. 3.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. alat-alat tangan (tools). Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. jadi sudah termasuk biaya angkutan. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari.

upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. air. telepon. memindahkan. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek.18 membengkokkan baja-baja tulangan. bunga uang. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. pajak. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. telepon yang dipasang di proyek. . biaya-biaya notaris. pengangkutan. surat-surat ijin dan lain sebagainya. asuransi. misalnya sewa kantor. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. pengukuran (survey). membongkar dan biaya operasi. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. peralatan kantor dan alat tulismenulis. asuransi. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. alat angkut dan lain sebagainya. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. 3. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. pemasangan alat. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen.2. listrik.

Menurut Sugeng Djojowirono. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. 3. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. 1984. Adapun menurut John W. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. 1993. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. . cermat dan memenuhi syarat. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 1992.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.

dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. A. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. Analisa Anggaran Pelaksanaan. A. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. Soedradjat Sastraatmadja (1984). 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Soedradjat Sastraatmadja. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar.2. dapat dilihat pada gambar 3. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih.2. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. Secara sistematisnya.

dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. daftar upah. Mukomoko. Pajak Gambar 3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja.3. Profit. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. daftar harga bahan. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. A. daftar susunan rencana biaya. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. 1993. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Menurut Bachtiar Ibrahim. .3. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. dapat dilihat pada Gambar 3. buku analisis.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Secara sistematisnya.

Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. . Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas.Rencana garis batas tanah dan roylen.Rencana jalan dan pagar.Rencana halaman . 2) Gambar denah PU 1 : 100. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.Rencana saluran pembuangan air hujan. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 .22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi.Rencana letak bangunan. tinggi langit-langit. . sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus.00.00 m dari lantai. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. . letak tinggi jendela dan pintu. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. nok reng balok/muurplat.). Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. misalnya : dasar pondasi. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.

3. 7) Gambar pelengkap. hooker. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. DENAH 2.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. RENCANA KAP =H =I =J 11. . SAMPING KANAN 5. TAMPAK SAMPING KIRI 6. DENAH KUSEN 13. keilkeper. POTONGAN II – II 9. 2007. muurplat/reng balok. usuk/kasau dan konstruksi penahan.Gambar konstruksi baja. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. TAMPAK MUKA 3. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . RENCANA PLAFOND = K 12. DENAH LISTRIK =L =M 14. DENAH PONDASI 7.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. .1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. POTONGAN III-III 10. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. cetakan keempat. talang air.Gambar konstruksi beton bertulang. nok gording. Jakarta. . TAMPAK BELAKANG 4. Gambar saluran pembuangan air kotor. T. Jadi volume (kubikasi) . dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost.Gambar konstruksi kayu. Gambar saluran pembuangan air hujan. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. dengan jelas. RENCANA SANITASI = N 3.

3. seperti segitiga. b. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. . Harga bahan didapat di pasaran. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). yaitu jumlah luas bidang-bidang atap.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. . dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. .24 suatu pekerjaan. persegipanjang. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. lisplank 28 m. dan sebagainya. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. seperti volume pondasi batu kali 25 m3.3. d. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . c. e. trapezium. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. atap 140 m2. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. .Volume atap dihitung berdasarkan luas.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. yaitu panjang x luas penampang yang sama.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci.

Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Upah + H. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. dapat dilihat pada gambar 3. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat.4. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.S.5. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. . Alat Secara sistematisnya.S. Bahan + H.S. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.25 pemerintah. dan gambar 3.

Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.4. Yogyakarta. Manajemen Konstruksi. 1984) . Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono.5.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3.

1 m2. 3.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI.3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. 1993). menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. kecepatan . Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan.3. 3.3.3. upah tenaga kerja. (Bachtiar Ibrahim.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah.27 3. 1994 dalam Dani Kurniawan. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. (Bachtiar Ibrahim.3. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. 2004).

selain bertugas sebagai tukang batu. 2004). 3. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. d. Kepala tukang. 1993). Mandor. Pekerja.3. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . b. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. (Bachtiar Ibrahim.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). c. Tukang batu. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.3.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah.

G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat).003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. = 0.002 x B = 0. ongkos angkut. maka . maka . biaya sewa gudang. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. Bagi peralatan yang bertugas sedang.

biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. pelumas hidrolik. dan lain sebagainya. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. . pelumas transmisi. e. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. saringan/filter udara dan lain sebagainya. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). d. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. saringan agregat untuk stone crusher / AMP. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). b. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. pelumas power steering. grease. c.

HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power . Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17.31 3. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan.5) % x HP Dimana .5 s/d 17.5% = untuk alat yang bertugas berat b. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Karena rumus sifatnya pendekatan. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . SK SNI S-04-1989-F.00 x @ Rp.1 5.780 m3 = 0.080 Oh = 0.520 m3 = 218.00 10.84 x @ Rp. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.650 Oh = 0.tukang batu . 421.2 Tenaga : = 1. 35.Semen Portland = Rp.mandor .600.00 3. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3. 45. = Rp.5.750. = Rp.697.892. = Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.10 = Rp.000.875.75 = Rp.250. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.00 1.60 x @ Rp. 59.00 73.000.777. 50.115.02 = Rp.00 x @ Rp. 187.00 kg x @ Rp.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.00 Jumlah (2) = Rp. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.5.250 Oh = 0. 239.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5. SK SNI S-05-1989.39 Jumlah (1) 5. 203.pasir beton . 934.pekerja .547. = Rp.000. 43.964.00 x @ Rp. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.kepala tukang x @ Rp.61 .475. SK SNI-06-1989-F.500.chipping/split . 57.025 Oh 3 . 30. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.

Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). 3.36 = Rp. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1.61 73.252. 2. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . 934.3.955. 495.4.475. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. 4.777. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .000 kg x @ Rp. = Rp.61 + Rp.04 .00 3. 421.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.semen portland = 336. 313.39 = Rp. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost). perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan.

423.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.kepala tukang . 70.000. 344. = Rp.15.810 m 3 x @ Rp.225.892. = Rp. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .mandor = 2.000.00 x @ Rp.000. 43.00 = Rp.10 = Rp.265.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp..00 Jumlah (2) = Rp. 50.975.00 15.350 Oh = 0.34 x @ Rp. 35. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.koral beton = 0.tukang batu .00 = Rp. 59.00 1.500. 58.950. Tenaga kerja : . 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya. 239.00 x @ Rp. 32. 45.70 194. 1991.000. = Rp. 285.155.000 Oh = 0.00 x @ Rp.035 Oh = 1.750. 131.547. 2) analisis dengan computer.000.60 540.60 = Rp.00 3. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.pasir beton .00 + Rp.312.37 . b.00 45.pekerja . Jumlah (1) = Rp. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.000 Oh x @ Rp.540 m3 = 0.

I. dan . maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. – 2. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. tanggung jawab atas penyimpangan. 3. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. Beton adalah campuran antara PC (semen).5 Beton Bertulang J. Bila perlu. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan.38 a. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a.5. semen tahan sulfat. b.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. A. lanjutan atau tambahan. semen alumina. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. 1971 N. 3. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. 1985. c. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang.

dapat juga dipakai semen tras kapur.39 lain-lain. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2.063 mm. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. b. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. 3 atau 4 batang yang . d. maka agregat halus harus dicuci. garam-garam. asam. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). seperti terik matahari dan hujan. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. e. Untuk beton mutu Bo. alkali.Butir-butir agregat harus bersifat kekal.

5. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. Jika digunakan concrete mixer. Satuan beton yang dipakai adalah m3. mengaduk adukan. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.40 sejajar. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). air. . mengangkut.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg).5. maka campuran bersifat kental. memadatkan pengecoran. merawat pengerasan. Campuran beton terdiri dari semen. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. Kekuatan beton. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). berarti campuran basah.2. alat timbang bahan. kran dengan alat penyodok (bucket). 3. maka tempat penyimpanan. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. Dalam perencanaan campuran beton. misalnya mesin pengaduk. kereta dorong. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. dan lain-lain.

2.5. kolom. Sebanyak 50 % . kawat pengikat.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. balok.10 – 0.41 3. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. 3. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.50 m3 untuk setiap 10 m2.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. digunakan tabel berat besi material. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. 1996.5. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. pondasi. Menurut Dipohusodo. yaitu .2. .2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. minyak pelapis. pelat lantai dan tangga. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. sloof.

7. Berita acara penjelasan pekerjaan. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. 42 . Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan.BAB IV METODE PENELITIAN 4. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 6. 2. 3. SNI dan Lapangan. 4.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 4. 4. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 8.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 5.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 9. 4.

upah dan pekerjaan. 4.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. c. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. d. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait.43 4. . Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. Menghitung harga satuan bahan. dan g. b. f. e. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti.

Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.Analisa Harga Satuan Upah .A. Upah .H.A.S.44 Mulai Data Proyek : .Analsis Harga Satuan Bahan .H. Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .A.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .Analisa Harga Satuan Upah .S.Gambar proyek .Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Peralatan . Bahan .S.Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .H.

45 .

upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.BAB V ANALISA DATA 5. kolom. 45 . sloof. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.1 Analisa Harga Satuan Bahan. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. 5. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. balok dan tribun.

2 Analisa Harga Satuan Bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.48 5. .3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.

3 Analisa Harga Satuan Bahan. . Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.52 5.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan.

Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. 3. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.60 5.3. Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. 4.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. 2. Tabel 5. . Tabel 5.2 dan Tabel 5.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan.1. Tabel 5.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.

58 = 2.629.602. 3.602. upah dan pekerjaan BOW.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp. bahan tertinggi Rp. 3. 3.Rp. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.S. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.602.58 = Rp.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. Dari Tabel 5. 1.197.197. 1. bahan tertinggi – H.S.602.223.S.223.223. bahan terendah Selisih H.629. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar. Material = H.20 = 54.64 5.197.197. 1.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.629. 3.20 Rasio perbandingan = Rp.S.20 .

9.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. 7. 4. 8.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. Tabel 5. 2. .14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. 3. Tabel 5.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 5. 6.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.

000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.000 kg = 2.100 Oh = 0. 5.pasir beton .7.400 m3 = 4. G. Upah Pembesian (An.00 kg = 110.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.300 Oh .7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.tukang batu .kawat beton 3). G.kepala tukang batu .besi beton .41) : .kepala tukang besi = 6.540 m3 = 0. G.000 Oh = 1.820 m3 4).semen portland .tukang besi .koral beton 2). G.750 Oh = 2.kayu terentang (papan) . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.paku biasa = 0.69 5. Bahan Bekisting (An. Bahan Pembesian (An.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).41) : .41) : .250 Oh = 6.750 Oh = 6.pekerja .41) : .mandor 5).pekerja . G.000 Oh = 0.000 kg = 0.41) : . Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.

G. .kepala tukang kayu .41) : .000 Oh = 5. Upah Bekisting (An.tukang kayu . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.000 Oh = 0.mandor = - = 6.pekerja .mandor 6).100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.500 Oh = 0.70 .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.

000 Oh = 1.2 ) dan ( An.050 Oh = 0.kep.1 ) : .kawat beton 3).mandor = 6.045 Oh 6). Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.minyak bekisting = 0.mandor = 0.besi beton .pekerja .pekerja .2 ) dan ( An.500 kg = 0.kep.38.28.000 kg = 2.026 Oh .0003 Oh x 150 = 0.7. tukang = 0. Upah Pembesian ( An.0007 Oh x 150 . Bahan Bekisting ( An.koral beton 2).050 Oh = 1. 6.tukang kayu .200 m3 = 1.000 Oh = 0.400 ltr = 150.250 kg = 388.38. 6.2 ) untuk tukang kayu : .650 m3 = 0.72 5.35.tukang besi .38.pekerja . Bahan Pembesian ( An.38.100 Oh = 0.650 m3 4). 6. Upah Bekisting ( An.semen portland .25. 6.kepala tukang batu .paku biasa .1 ) : .007 Oh x 150 = 1.kayu terentang (papan) . 6.1 ) : .1 ) : .300 Oh = 1. 6.000 kg = 0.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1). 6.105 Oh = 0. 6.35.2 ) untuk tukang besi : .pasir beton . tukang = 0. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.040 Oh = 0.300 Oh 5).tukang batu .

16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0.73 . .005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.

kawat beton = 0.144 m3 = 1.pasir beton .59 .59 .besi beton = 1.077 kg = 0.780 m3 .pekerja = 0. Bahan Bekisting : .63 kg/m3 + 3.koral beton 2).kayu (papan) = 0.semen portland .650 Oh = 0. Bahan Pembesian : .007 Oh x 106. tukang = 0.100 ltr x 3.63 = 0.018 Oh = 0. Upah Adukan Beton : .tukang batu .007 Oh x 106.300 kg x 3.pekerja = 0.746 Oh = 1.933 Oh = 0.300 Oh x 3.63 = 111.599 kg 3).260 Oh x 3.63 = 0.63 = 0.3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.005 Oh x 3.kep.0003 Oh x 106.63 = 0.mandor 6).minyak bekis = 0.962 kg = 232.025 Oh = 0.520 m3 = 0. Upah Bekisting : .093 Oh = 0. tukang = 0.7. Bahan Adukan Beton : .kep.mandor 5).paku biasa = 0.75 5.05 kg x 106.0007 Oh x 106.075 Oh .032 Oh .59 4).746 Oh . Upah Pembesian : .000 kg = 0.59 .63 = 1.040 m3 x 3.59 m2 Bekisting) 1).tukang kayu = 0.077 Oh = 0.59 .026 Oh x 3.015 kg x 106.359 ltr .mandor = 0.kepala tukang batu .pekerja .59 = 1.250 Oh = 0.080 Oh = 0.59 .tukang besi = 0.

koral beton 2).005 Oh x 4.448 ltr .kawat beton = 0.mandor 5).260 Oh x 4.015 kg x 129.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.100 ltr x 4.paku biasa = 0.48 .mandor = 0.tukang kayu = 0.48 .64 = 0.48 .48 = 1.000 kg = 0.kep.64 kg/m3 + 4.007 Oh x 129. Upah Pembesian : .122 kg = 232.64 = 0. Upah Adukan Beton : .007 Oh x 129.48 m2 Bekisting) 1).48 .0007 Oh x 129. Bahan Bekisting : .48 .091 Oh .64 = 0.minyak bekis = 0.026 Oh x 4.344 kg = 0.kepala tukang batu . tukang = 0.907 Oh .022 Oh = 0. Bahan Pembesian : .kep.520 m3 = 0. Upah Bekisting : .907 Oh = 1.tukang besi = 0.kayu (papan) = 0. Bahan Adukan Beton : .300 kg x 4.64 = 1. tukang = 0.pekerja = 0.080 Oh = 0.166 Oh = 0.64 = 136.pekerja .64 = 0.300 Oh x 4.0003 Oh x 129.pekerja = 0.semen portland .250 Oh = 0.780 m3 .besi beton = 1.48 4).pasir beton .650 Oh = 0.344 Oh = 1.05 kg x 129.945 kg 3).025 Oh = 0.165 Oh = 0.179 m3 = 1.tukang batu .mandor 6).040 m3 x 4.039 Oh .

14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.14 4).17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.14 .0007 Oh x 156.650 Oh = 0.mandor = 0.kayu (papan) = 0.005 Oh x 7.0003 Oh x 156. tukang = 0.186 Oh = 0. tukang = 0.kepala tukang batu .minyak bekis = 0.kep. Upah Pembesian : .pekerja = 0.000 kg = 0. Upah Adukan Beton : .047 Oh .300 kg x 7.mandor 5).77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.32 = 164.026 Oh x 7.paku biasa = 0.007 Oh x 156.142 kg = 0.136 kg = 232.pasir beton .tukang batu .32 = 0.besi beton = 1.080 Oh = 0.32 = 1.koral beton 2). Bahan Adukan Beton : .142 Oh = 1.32 = 2.007 Oh x 156.345 kg 3).32 = 1.mandor 6).tukang besi = 0.14 .260 Oh x 7.015 kg x 156.109 Oh .094 Oh = 1.05 kg x 156.semen portland .100 ltr x 7.856 Oh = 0.pekerja = 0.tukang kayu = 0.714 ltr .300 Oh x 7. Bahan Pembesian : . .025 Oh = 0.kawat beton = 0.32 kg/m3 + 7.14 m2 Bekisting) 1).kep.pekerja . Upah Bekisting : .036 Oh = 0.094 Oh .780 m3 .14 = 2.520 m3 = 0.14 . Bahan Bekisting : .250 Oh = 0.040 m3 x 7.14 .32 = 0.286 m3 = 2.

Tabel 5. 4.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting. Tabel 5.17.7. 2. 3. Tabel 5.15. Tabel 5. .16 dan Tabel 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.81 5.

00 = 26.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00.00 .00 = 1. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.110.00 = 150. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150. Dari Tabel 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.00 dan SNI = 150.00 Rasio perbandingan = 110. .8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.86 5.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.

285.BAB VI PEMBAHASAN 6.085.61 .1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5. 6.S.336.000.38 594.00 2.78 2.82 557.76 1. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 557.500.000. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.000.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.1.80.000.434.59 594.464.575.286.442. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.304.628.632. 1.178.1.500.285.000.38 dan pada SNI adalah Rp 579.178.643.130.78 H.00 500.21 594.14. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.628.858. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.000.19 869.42 1.00 1.171.739.304.76 1.575. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.1 di atas.285.00 1.717.821.000.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.82 1.464.35 542.35 1.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.411.00 0.

Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. . poer P2 dan poer P3. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.1. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. 6. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. balok dan plat (tribun).2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5.

00 0.297. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.000.000.00 1.197. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.258.904.20 7.2 di atas.197.176.74 .10.00 5.447.314.629.58 1.000. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.472.000.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.00 6.929. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.000.757.298. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.000.880.602.558.58 1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.24 dan pada SNI adalah Rp 2.629.23 4.298.000.191.602.23 1.S.000.121.223.95 4.223.90 7. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.601.000.172.000.00 2.000.000. pada pekerjaan sloof. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.183.401.802.000. Bahan Pembesian (Rp) 3.522.80 2. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.000.732.472. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.00 6.172.15 4.40 2. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.10 3.200.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.172.20 3.000.60 8.464.00 2.298.00 3.14 H.00 4. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.000.

S.00 1.495.953.000.307.350.03 544.131. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.301.726. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.88 1. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.86 Sloof 385.70 Pondasi Poer 285.00 4.00 0.000. Bahan Bekisting (Rp) 7.576.00 3.150.000.425.00 H.681.936.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.000. 6.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.58 871.00 1.211.16 5.000.00 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.781.300.480.000. 575.758.052.66 6. 8.70 1.72 3.000.098.726.278. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.000.911.000.3 di atas.487.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.052.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.000.00 2.000.600.87 dan pada SNI adalah Rp 872.00 1.98 .1.16 1.53 2.44 1.72 Tribun 963.000.42.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.881.000.000.701.402.617.

00 800.00 272. H.00 146.000.00 600. Upah Adukan Beton (Rp) 1.2.00 816.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.475.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 293. 6.00 1.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.000.000.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 816.000.425.S.000.000.00 220.000.950.000.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 272. Harga rata-rata harga satuan 73.00 272.088.000.00 . Sebanyak 50 % .000. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 272.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.425.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.00 220.00 272.00 400. 6.000.000.000.00 200.00 0.200.00 1.00 544.000.900.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.00 272.4 di atas.

6.000. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan. 3.00 500.84 354.00 H.00 119. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.700.00 1.00 1.927.00 104.00.82 89.00 642.60 89.00 234.000. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.200.125. Dimana harga rata-rata satuan 61.375.00 dan pada SNI adalah Rp 272.5 di atas. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 1.889.600.400. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.000.125.00 1.S.569.733.00 234.035.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.768.00 2.927.000.284.2.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 1.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.750.925.5 dibuat suatu grafik perbandingan.500.749.00 2.000.48 .762.500.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.00 394.700.000. Upah Pembesian (Rp) 2.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 0.500.30 179.000. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00.

6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.00. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. sedangkan SNI adalah Rp 116. 6.180.175. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.665. .3 Upah Bekisting Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.81.2. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.670.

35 457. Pada tenaga kerja pekerja.000.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.371.170.000.95 1.000. Upah Bekisting (Rp) 1.000.600.200.00 615.000.828. 113.128.00 2.925. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.00 134.599.00 400.400.200. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.458.000.00 1.000.188.000.825. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 200.000. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.00 1.291.6 di atas.000.242.00.265.00 326.000.S.00.00 1.00 Pondasi Poer 57.00 800. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.885.25 . Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.000.000.00 914.970.00 1.814. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.000.00 198.000.75 354.00 Sloof 79.00 1.00 H.00 1.51 dan pada SNI adalah Rp 108.00 600.800.000.00 0.920.00 1.371.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.20 155.

000. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.152. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.000.115.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.019. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.318.450.952.714.000.692.70 3.523.26 dan pada SNI adalah Rp 3.904.809. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.32.648.00 4.00 6.640. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.86 18.96 6.7 di atas.257.000.000. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.000.000.000.00 6.160. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.212.275.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.989.00 10.637.937.91 3.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.19 8.99 15.000.623. 6.000.63 9.56 2.78 3.029.00 2.369.000.000.000.000.00 12.00 8.000.003.000.956.00 6.618.523.000.472.86 6.43 14.00 0.61.714.00 16.71 Tribun 3. Dari Tabel 5.14 5.730.055.000.333.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.14 4.956. Dari Tabel 5.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.272.278.33 .130. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.

071.00 3.00.233. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.000.095.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.575.00 4.114.17 740.371.000.750.00 4. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1. 6.00 1.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.000.97 perbandingan.000.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.00 2.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton. 4.352.004.8 di atas.485.674.00 1.000.125.742.000.00 0.375.00 5.00 5.620.485. 461. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.500.565.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.000.00 607.000.000.00 2.32 dan pada SNI adalah Rp 496.000.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.965.35 810.907.125.00 418.00 1.00 490.50 471. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.940.119.000.00.84 496.73 .00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.114.653. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.370.012.

625.71 Tribun 3.000.000.756.54 17.279.00 8.98 14.885.690.26 dan pada SNI adalah Rp 4.00 0.000.696.220. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.93. upah dan pekerjaan beton bertulang.000.86 20.804. 6.000.9 di atas.00 18.000.390. 3.830.839.255.609.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.380.000.00 14. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.594.14 11. Tabel 6.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.000.984.000.866.00 11.761.000.677.78 Sloof 3.00 4.000. Tabel 6.120.36 5. Pembesian Dan Bekisting.000. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.070.00 12.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.43 9. Pembesian Dan Bekisting.91 4.586.839.559.126.458.703.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.00 2.000.727.070.000.000. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.859. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.653.000.00 16. 2.06 . Selisih dan rasio harga satuan bahan.123. Tabel 6.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.000. 3.16 7.63 10.742.000.020.890. Pembesian Dan Bekisting. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.54 4.32.56 Pondasi Poer 2.00 10.000.000.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.118.00 6.

5. Tabel 6. Tabel 6. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting. 6.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.6 Total Rasio Harga Satuan. .5 Total Selisih Harga Satuan.99 4.

100 .

101 .

102 .

11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 70.00% 0.00% 58.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% Selisih H.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7. Bahan Adukan Beton 48.94% 60.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.00% 50.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48. 6.00% (%) 40.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.75 % dibandingkan SNI.10 di atas.94 % dibandingkan SNI dan 19.7 6. .7.00% 10.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.103 6.S.89% 20. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00% 19.

11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% 70. 6.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Pembesian 36.00% 40.03% 55. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 20.00% 0.42 % dibandingkan SNI.00% 30.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.00% 50.S.42% (%) 30.S.00% 20.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% 0.00% (%) 40.00% 10.00% 10.7. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% Selisih H.00% 50.104 60. Bahan Bekisting 41. 80.69% 44.21% 67.00% 30.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.11 di atas.00% 60.00% Selisih H.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.54% 72.105 Dari Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 80. 6.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.69 % dibandingkan SNI.00% 50.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.8.13 di atas.8 Selisih Harga Satuan Upah 6. Upah Adukan Beton 29. . terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12 di atas.00% 70.00% (%) 40.00% 60.00% 0. 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.00% Selisih H.8.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.00% 20.00% 30.00% 10.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.47 % dibandingkan SNI dan 44.77% 61.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

66% 54.00% 70.00% 60.00% 80.00% (%) 50.00% 40. 100.00% (%) 50.00% 90.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.S. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.00% 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.01% 84. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 90.00% 0.00% 20. Upah Bekisting 90.00% 60.00% 70.58% 53.106 100.00% 93.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.00% Selisih H. 6.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .S.00% 10.00% 30.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 20.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.01 % dibandingkan SNI dan 84.89% 80.00% 30.00% 40.14 di atas.8.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 80.00% 0.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.46% Selisih H.46 % dibandingkan SNI.

08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.00% 39.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.89 % dibandingkan SNI. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 20.00% 60.00% 30.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00% 10. Bahan Beton 30. 70.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.89 % dibandingkan SNI dan 53.15 di atas.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. . terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.89% (%) 40.58 % dibandingkan SNI.00% 0. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53. 6.107 Dari Gambar 6.00% Selisih H.64% 58.S.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.16 di atas.31 % dibandingkan SNI dan 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.00% 50.

00% 10.17 di atas.00% 10.00% 90.00% 60.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 60.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.54% Selisih H. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% (%) 40.00% 30.00% 80.108 100.00% 50.06% 71.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 86. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.05% 57. 6.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.82% 50.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% 20.00% 30.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .S.00% 0.00% 0.00% (%) 50.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 20.54 % dibandingkan SNI. 70.00% 40.05% 57.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 70.

Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.19 di atas.50 2.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.05 % dibandingkan SNI. 6. 3.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.12.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.44 1.18 di atas.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6. Bahan Adukan Beton 1.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.109 Dari Gambar 6.95.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.50 1.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.50 0.00 Rasio H.24 dan 1. .20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.00 0.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.S.25 2.12.00 2.00 Ratio 1. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 % dibandingkan SNI dan 1.

00 Rasio H.12.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 2.79 3. Bahan Bekisting 1.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.50 1.50 1.72 1.00 1.50 3.44.50 0.00 0. 6.110 2.00 0. Bahan Pembesian 1. 3.50 Ratio 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 2.S.00 Rasio H.S.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.44 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.56 2.50 0.20 di atas.25 dan 1.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 1.

00 2.50 0. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.50 1.00 0.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.42 2.00 1.22 di atas.13.42.Upah Adukan Beton 1.S.111 Dari Gambar 6.60 3.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 Rasio H. 4. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.07 dan 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13. 6.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. .60 dan 3.50 Ratio 2.00 3.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.72.21 di atas.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.50 3.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.

00 2.S.13.20.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.00 Rasio H.23 di atas.00 0.00 10.00 14.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.20 Rasio H.52 2. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.00 12.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 8.00 2.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.32 dan 6.S.112 16. 12. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 4.00 14.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.13 2.00 10.00 Ratio 6.15 10.Upah Bekisting 5.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 4.00 6.00 Ratio 8.32 6.

66.50 0.00 0.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 2.44 2. .00 Rasio H.Bahan Beton 1.25 di atas. 6.98 dan 2.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.66 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 1.40 dan 1. 6.113 Dari Gambar 6.S.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.24 di atas.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.50 2.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 Ratio 1. 3.15. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.

00 5.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.55 2.33 2.00 0.50 1.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 3.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 6.18 dan 3.02. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .01 1.02 Rasio H.114 8.26 di atas.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.00 2.18 3.00 1.50 0.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.00 1.00 7.00 7.00 Ratio 4.00 0.50 2. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7. 6.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 2.

00 3.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.36. Indeks bahan kawat beton pada .28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6. 4.50 1.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 0.94 2.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.75 2.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.13 2.50 3. 6.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.17.00 2. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 6.00 1.75 dan 3. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.35 dan 1.50 Ratio 2.27 di atas.36 1.50 0.115 Dari Gambar 6.33.28 di atas.75 3.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Dengan demikian baik dari segi biaya. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Lain halnya dengan analisa SNI. . analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai.

47 % dibandingkan dengan SNI dan 44. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.79). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.44). BOW > Lapangan (1.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. c. e.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.70) dan SNI > Lapangan (1. f.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.25) dan BOW > SNI (1.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.56).99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.42).44). Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.95). BOW > Lapangan (6. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.72). Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58.07) dan BOW > SNI (1.32).60).25) dan Lapangan > SNI (1.20).52) dan Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90. Lapangan > SNI (3. b. BOW > Lapangan (3.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a. Lapangan > SNI (2. d.08 % dibandingkan dengan 120 .

.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.55) dan Lapangan > SNI (2.75). Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. 3.44). Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.98). g. 2. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58.36). BOW > Lapangan (2. Lapangan > SNI (2. Lapangan > BOW (3.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.13) dan Lapangan > SNI (5.02). i. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW. Lapangan > SNI (2.33). Rasio perbandingan indeks a.35) dan BOW > SNI (2.40) dan BOW > SNI (1. h.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.66). b.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.18).75) dan SNI > BOW (1. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. BOW > Lapangan (3. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. SNI dan Lapangan.15).01). terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.

indeks kepala tukang BOW > SNI (21. BOW > Lapangan (2. pembesian dan bekisting.43). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62).46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (8. 7.62). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6.62).43). dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan. BOW > Lapangan (2. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. .19) dan Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton.122 b.43).46) dan Lapangan > SNI (2.62). indeks tukang besi BOW > SNI (6. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.

9. 2006. – 2. PT. 1995. 1971 N. 2005. Iman Soeharto. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. 1984. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. 2002. Jakarta. Penerbit Bumi Aksara. 1992. Jakarta. W. Departemen Pekerjaan Umum . Mukomoko. 2003. cetakan kesembilan. Jakarta. Bachtiar Ibrahim. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Joko Waluyo. Cet. 1991. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Niron John. CV. Rencana dan Estimate Real of Cost. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Sugeng Djojowirono. SNI Edisi Revisi.A. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Jakarta. Manajemen Konstruksi. 2001. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. J. Yogyakarta. 2006. Bandung. Dani Kurniawan. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 1984.I. Penerbit Nova. Soedradjat Sastraatmadja. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. 2004. 1985. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Bumi Aksara. Penerbit Erlangga. A. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. 1993. Asona.DAFTAR PUSTAKA Ir.

785.70 1.10 59.00 10. III (Papan) Kayu Kls.000.547.719.00 43. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.00 7. Wajo.00 105.00 45.337.000.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.000.00 43.39 239.00 10.80 1.115.052.500.605.60 10.00 43.00 .000.28 17. Juli 2007) 35.500.226.40 934.500.500.000.000.892.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 50.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful