TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Istriku beserta keluarga besarnya.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Haris. terima kasih atas doa dan dukungannya. Ibu. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Bapak. Adikku Erna. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. iii .

dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. Bapak Tadjuddin BM Aris. 5. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Bapak Zaenal Arifin. bapak. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. ST. 2. Ir. Alhamdulillah. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Bapak Faisol AM. H. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. 3. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Ir. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. iv . Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 4.WB. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. H. Ibu.

v .6. Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. 7. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta.

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.33. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. vi .02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.32 dan untuk Lapangan Rp 9. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.727. SNI dan Lapangan. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.35 dan 1.859.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.26 sedangkan metode SNI Rp 4.696.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.44 dan 58.120.804. pelayanan maupun waktu.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.594. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. RAB penawaran kontraktor.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.40. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. tenaga kerja.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. SNI dan Lapangan/Kontraktor. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.18 dan 71.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI. RKS. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.

....11 3.........................3 Manfaat Penelitian......9 BAB III LANDASAN TEORI 3................3.....................................................................................................1..iii KATA PENGANTAR............................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya............xiii BAB I PENDAHULUAN 1.........................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......3 1.............1.........5 Latar Belakang.............................1 2.....14 Biaya Konstruksi Proyek….......................................................................................13 Metode Perkiraan Biaya....................................1 1..........................................18 3.3 3.......................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2....................4 Batasan Masalah........................................................17 Biaya Tidak Langsung………....................................................................................2 1................................1.............................................................1 3.................................3 Tujuan Penelitian.............................................12 Kualitas Perkiraan Biaya……......................................................................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN........2..............4 1.2 3...................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan.........................................xi DAFTAR TABEL.....3........................1 3.............27 vii .......................iv ABSTRAKSI...............................1 Estimasi Biaya....................2 Jenis Anggaran Proyek..2 3.....3 Rencana Anggaran Biaya…..........2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan......................................................i HALAMAN PENGESAHAN.............24 Analisa Harga Satuan.........................vii DAFTAR GAMBAR...............................................................................................................15 3.............................vi DAFTAR ISI................................1 3.............................................................................................................23 Harga Satuan Pekerjaan.............2.........................................................2 Biaya Langsung......3.......................19 3.........1 Rumusan Masalah......

......60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio...........................4.3................1 5.......34 Analisa Harga Satuan Metode..3...........3.................................... Harga Satuan.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen...............................................37 3..................39 3.....42 Tahapan Penelitian……....................2 3...41 Objek Penelitian…..69 viii ......................3......3 Analisa Harga Satuan Metode BOW.............4 Beton Bertulang…...........42 BAB V ANALISA DATA 5...............................................................3...2.....3........................4......44 Analisa Metode BOW......37 Pekerjaan Beton Bertulang........6 Subjek Penelitian…….......27 Analisa Harga Satuan Upah..........................32 3............4......................2 3.................3..............6 Rencana Pekerjaan……........................................................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI........4...................................5 5................................1 4...................52 Komparasi Harga Satuan............................27 Analisa Harga Satuan Alat..............................4 Analisa Harga Satuan Material......................48 Analisa Metode Lapangan......2 5...3......3 4..... Lapangan.41 Pengolahan Data…….......40 Pekerjaan Bekisting......1 3.4 5...........4 4.36 3...3 3......1 3...........28 Metode Perhitungan.....41 Cara Pengumpulan Data……......................................3......................................4................5 4...................3..................4...1 3.......39 Pekerjaan Pembesian.........3 5.............2 4..41 Data yang Diperlukan…….............................................................................................................2..64 5.......3..........3 Pekerjaan Adukan Beton......4........2 Bahan – Bahan....................2......40 BAB IV METODE PENELITIAN 4...........................1 3...........2 3................ Pekerjaan Beton Bertulang.....44 Analisa Metode SNI..............4.......................................

......12.......................96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..........................................……..................................86 PEMBAHASAN 6...............2 6................................1 Rasio Bahan Adukan Beton.............................................7....88 6..........................2.103 6.11 6............105 Selisih Upah Pembesian............96 Harga Satuan Upah Beton.........................8....7..............................................................98 Selisih Harga Satuan Bahan...................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton......8 BAB VI Indeks BOW......89 Bahan Bekisting.....2 6..................1..................7........1 6................................104 Selisih Harga Satuan Upah.4 5....103 6.........1....................5.....2 Selisih Bahan Pembesian...7.2....105 6.........5 6...3 6............2 6.................7....…..................88 Bahan Pembesian.....8..............................7....2 5...1 6...........................................4 6................................93 Upah Bekisting.....3 6........92 6.......................10 6......................1.........1 5..2.94 6.3 Selisih Upah Adukan Beton...3 Upah Adukan Beton...................................................................9 6.......................................1 Selisih Bahan Adukan Beton......................109 ix .....................................92 Upah Pembesian.....75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja...109 6...................................108 Rasio Harga Satuan Bahan...............................................................107 Selisih Harga Satuan Upah Beton........................7 Harga Satuan Bahan Beton....91 Harga Satuan Upah.......69 Indeks SNI........1 6.97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………............................3 5........................72 Indeks Lapangan..7..........3 6.....107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.103 6.........106 6.81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks..................1 Harga Satuan Bahan.........................................6 6......105 Selisih Upah Bekisting...........................2 Bahan Adukan Beton...8 Selisih Bahan Bekisting..8.........

........6......................114 Indeks...111 6.........................................................3 Rasio Bahan Bekisting…………………….....113 Rasio Harga Satuan Upah Beton.............2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ......................1 Indeks Bahan...........118 Saran.....12.....................16 6............2 Indeks Tenaga Kerja.....................109 6............120 x .......................13.....2 Rasio Bahan Pembesian…….14 6.................….13..13 Rasio Harga Satuan Upah...............3 Rasio Upah Bekisting....15 6..........12.111 6.............112 6..............................................................115 6.............................................................LAMPIRAN Kesimpulan……..............................113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..1 7.17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton....................111 6..........116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.2 Rasio Upah Pembesian...........115 6...........................13............17............1 Rasio Upah Adukan Beton...............................110 6....17........................................

.....104 Gambar 6.............19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...........91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton........108 Gambar 6...................5 Gambar 6........93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting....106 Gambar 6......................3 Gambar 6...........7 Gambar 6...................4.............................10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton...........20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci................... Gambar 3............104 Gambar 6..3..................92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian....................106 Gambar 6..........18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.......................105 Gambar 6.....97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........4 Gambar 6....................................13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar........................8 Gambar 6.96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.. Gambar 4.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton.......22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..111 xi ........2 Gambar 6.......109 Gambar 6..........5..................................2...12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting...43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton......110 Gambar 6...... Gambar 3..............................................14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian........98 Gambar 6.95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton...........1 Gambar 6.90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting...............21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.........DAFTAR GAMBAR Gambar 3............20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.................................17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton..........................26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir......................11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian...............1 Gambar 3..........13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton......103 Gambar 6.......6 Gambar 6...107 Gambar 6.........108 Gambar 6...............26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan...........................................15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting................. Gambar 3............................1 Gambar 6................................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD).............21 Skema Harga Satuan Pekerjaan....88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian..........110 Gambar 6.............

...27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......112 Gambar 6.115 Gambar 6...114 Gambar 6.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian...114 Gambar 6...........................................................25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton...........................................26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton...........................112 Gambar 6....24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting......Gambar 6.........................28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.............113 Gambar 6......................116 xii ...........29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian.....

..................................................................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..............49 Tabel 5........... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI..................66 Tabel 5........8 Tabel 5..45 Tabel 5........12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian..................................................1.................................................................................68 Tabel 5....74 xiii .66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.......62 Tabel 5......7 Tabel 5...67 Tabel 5...................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan..68 Tabel 5............................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.............................................68 Tabel 5..... Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.........15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton..........13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.........63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.....10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.....................DAFTAR TABEL Tabel 3................................................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..............................................................14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.........61 Tabel 5..................... Pembesian Dan Bekisting......................2 Analisa Harga Satuan Bahan..................................................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton..4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton...........................15 Tabel 5....................................53 Tabel 5....................1 Analisa Harga Satuan Bahan....................15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW...67 Tabel 5...........................66 Tabel 5............67 Tabel 5...5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton..........3 Analisa Harga Satuan Bahan............. Pembesian Dan Bekisting................. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW..6 Tabel 5........................71 Tabel 5................

.................85 Tabel 5.......................Tabel 5...102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ......................................................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....101 Tabel 6..............................................................78 Tabel 5...........1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton....... Pembesian Dan Bekisting.........3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton....................................... Pembesian Dan Bekisting........................ Pembesian Dan Bekisting...........19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian....................21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja...22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.................................. Pembesian Dan Bekisting..................................6 Total Selisih Harga Satuan...5 Tabel 6....87 Tabel 6..17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan......101 Tabel 6..........................100 Tabel 6......................100 Tabel 6.......................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton................................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.....................................84 Tabel 5..........2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton..82 Tabel 5...83 Tabel 5...........................................................................

1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. tenaga kerja. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. pelayanan maupun waktu. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. 1 . Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW.BAB I PENDAHULUAN 1. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan.

Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. Agar lebih luas cakupannya. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Pada tahun 1987 sampai 1991. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. namun hanya untuk perumahan sederhana. konsultan. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer.

upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor. 3. 1.3 kekalahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. Apakah ada selisih harga satuan material. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Pada saat ini. SNI dan penawaran kontraktor. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. 2. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. . SNI dan penawaran kontraktor ? 3.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI.

profit dan pajak tidak diperhitungkan. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Biaya tidak langsung seperti overhead. Dapat menjadi referensi bagi penulis. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. 2. 4. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. tahun 2007.4 Manfaat Penelitian 1. 7. . Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. 2. 3. 1. 3. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. 6.4 1. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 5.

344. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.23 %. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. 5 .218. 103. 15.90.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.39 %.706. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.40.232. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. . Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.

Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan.7 2. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. waktu. bahan dan biaya. 3.

yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Pekerjaan Bekisting Balok 3. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68.23 % = 63. . sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Pekerjaan Bekisting Kolom 2.26 % = 44. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom.16 % 5.8 Karyaan. Interview. produktivitas pekerja. Metode yang digunakan : Data primer a. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. 4. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat.

10.184.025.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.14 2. 53. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. dengan nilai penghematan 0.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 1.206.50. dengan nilai penghematan 2.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.21. 78.00.217.930. dengan nilai penghematan 0.348.87.013. dengan nilai penghematan 1. dengan nilai penghematan 2.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur. 31.00.214.508.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.207. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.437. 99.655. 11. 39. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .

10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. sloof. . Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. SNI dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. SNI dan Lapangan. kolom. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. balok dan tribun menggunakan metode BOW.

peralatan. 1995). menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. dan lain-lain.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. material. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Dengan kata lain. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan.BAB III LANDASAN TEORI 3. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya.

1994). 1995. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. sesuai dengan fungsinya. lokasi. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. ukuran. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap).12 proyek seperti jenis.1. . 3. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Perencanaan Biaya Bangunan. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek.1. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif.

“Quantity take-off” .Standar jam orang .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3. 1995) 3.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Eskalasi .Penawaran dari paket MR/PO .13 Tenaga kerja . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .1. 1995.Overhead . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Produktivitas . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Satuan harga material curah .Harga peralatan .1.Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . kemudian . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.

Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. 3. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Hal ini memerlukan kecakapan. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). Pada metode elemental analysis cost estimating. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh.1. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . dan bila telah diberi beban biaya. 1995. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . pengalaman serta judgment dari estimator.

Glazed opening .Listrik .Atap .Pintu . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Sistem conveying . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Substruktur .Fixed equipment .Persiapan site .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Pemipaan . Jenis dan intensitas kegiatan . Means Engineering News Record . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record. Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3.Pekerjaan lahan (site) .Dinding eksterior .Super struktur .1.Interior .Eksterior . 1995) 3.Kontigensi .Listrik .Lantai .Pondasi .Sistem HVAC .15 gedung.Pondasi .Sistem conveying .Dinding interior .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Sistem pemipaan .Sistem HVAC .Kolom interior .

Ini dapat berupa crane. lengkapkah peralatan. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. truk. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. kompresor udara. berlumpur atau berdebu. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. Bila hal ini terjadi. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. terutama bagi long delivery items. jenis keterampilan. pengeruk tanah (back-hoe). scraper. atau yang langka tersedia di pasaran. Sama halnya dengan sumber daya manusia.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. dan lain-lain. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. 1995). dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. Bertolak dari kenyataan tersebut. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. Terutama untuk daerah rawa. grader. (Iman Soeharto. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya.

keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. biaya menaikkan dan menurunkan. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. penyimpanan sementara di gudang. memotong dan . pengepakkan. mulai dari membuat spesifikasi. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. mesin-mesin. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. 1995). pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. jadi sudah termasuk biaya angkutan. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. 3.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi.2. (Iman Soeharto. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. alat-alat tangan (tools).

asuransi. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. misalnya sewa kantor. asuransi. memindahkan. pengukuran (survey). kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. telepon yang dipasang di proyek. air. biaya-biaya notaris. listrik. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. telepon. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. surat-surat ijin dan lain sebagainya.18 membengkokkan baja-baja tulangan. bunga uang. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. pajak. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. membongkar dan biaya operasi. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan.2. alat angkut dan lain sebagainya. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. pemasangan alat. peralatan kantor dan alat tulismenulis. pengangkutan. . 3.

PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. Menurut Sugeng Djojowirono. Adapun menurut John W. 3. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. 1992.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. 1984. cermat dan memenuhi syarat. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . . Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. 1993.

Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. A. Secara sistematisnya. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih.2. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. dapat dilihat pada gambar 3. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. Soedradjat Sastraatmadja. Soedradjat Sastraatmadja (1984).2. Analisa Anggaran Pelaksanaan. A.

daftar susunan rencana biaya. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. Pajak Gambar 3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. daftar upah. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan.3. . Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. Secara sistematisnya. Menurut Bachtiar Ibrahim. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. dapat dilihat pada Gambar 3.3. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. A. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. 1993. daftar harga bahan. buku analisis.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Profit. Mukomoko.

Rencana halaman . 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.Rencana saluran pembuangan air hujan. . Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap.Rencana garis batas tanah dan roylen. . Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( .Rencana jalan dan pagar. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. 2) Gambar denah PU 1 : 100. tinggi langit-langit. nok reng balok/muurplat.Rencana letak bangunan. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. misalnya : dasar pondasi. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. letak tinggi jendela dan pintu. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus.).00. . Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.00 m dari lantai.

cetakan keempat.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . hooker. POTONGAN III-III 10.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. nok gording.Gambar konstruksi kayu. Jakarta. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. DENAH KUSEN 13.Gambar konstruksi baja. POTONGAN II – II 9. RENCANA PLAFOND = K 12. DENAH PONDASI 7. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Gambar saluran pembuangan air hujan. Gambar saluran pembuangan air kotor. 7) Gambar pelengkap. DENAH 2. talang air. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. DENAH LISTRIK =L =M 14. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1.Gambar konstruksi beton bertulang. TAMPAK MUKA 3. TAMPAK SAMPING KIRI 6. . 2007. RENCANA KAP =H =I =J 11. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. . .1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. usuk/kasau dan konstruksi penahan.3. Jadi volume (kubikasi) . SAMPING KANAN 5. muurplat/reng balok. keilkeper. dengan jelas. TAMPAK BELAKANG 4. RENCANA SANITASI = N 3. T.

2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a.Volume atap dihitung berdasarkan luas. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. trapezium. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. b. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. Harga bahan didapat di pasaran. c. d. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. atap 140 m2. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). seperti volume pondasi batu kali 25 m3. .Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. 3. . Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . e. lisplank 28 m. seperti segitiga. persegipanjang.24 suatu pekerjaan. .Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. yaitu panjang x luas penampang yang sama.3.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. dan sebagainya. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. .

Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.S. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat.5. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Upah + H.S.25 pemerintah. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H.S. dapat dilihat pada gambar 3. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Alat Secara sistematisnya. .4. Bahan + H. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. dan gambar 3. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.

26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. 1984) . Yogyakarta.4.5. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Manajemen Konstruksi. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.

Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. 1993). Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material.3. 3.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. 1 m2. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. volume pekerjaan yang akan dikerjakan.3. 2004).27 3. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. (Bachtiar Ibrahim.3. upah tenaga kerja.3. (Bachtiar Ibrahim.3. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. kecepatan . 1994 dalam Dani Kurniawan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. 3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3.

Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. b.3. c. (Bachtiar Ibrahim. 1993). Kepala tukang. Pekerja. Tukang batu. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. 3. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. d.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). selain bertugas sebagai tukang batu.3. Mandor. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. 2004).

003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. maka .002 x B = 0. biaya sewa gudang. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. Bagi peralatan yang bertugas sedang.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. ongkos angkut. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. maka . W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. = 0.

Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. pelumas hidrolik. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). pelumas power steering. e. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. grease. c. saringan/filter udara dan lain sebagainya. pelumas transmisi. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). dan lain sebagainya. d. . saringan agregat untuk stone crusher / AMP. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. b. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas.

Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Karena rumus sifatnya pendekatan. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran.31 3. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12.5 s/d 17. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5) % x HP Dimana .5% = untuk alat yang bertugas berat b. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

934. = Rp. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991. = Rp. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.780 m3 = 0.025 Oh 3 .892.10 = Rp. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.84 x @ Rp.475.39 Jumlah (1) 5.kepala tukang x @ Rp.Semen Portland = Rp.5.115.600.mandor .00 Jumlah (2) = Rp. = Rp.697.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.547.520 m3 = 218. 43. 30.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.61 .00 3.pasir beton . = Rp.750. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.00 x @ Rp.250 Oh = 0.777.2 Tenaga : = 1. 45. 421.650 Oh = 0. 203.000.tukang batu . 59.080 Oh = 0. SK SNI-06-1989-F. 187.chipping/split .00 10. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03. 35. SK SNI S-05-1989.875. 239.500.00 kg x @ Rp. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.00 73. SK SNI S-04-1989-F.00 x @ Rp.02 = Rp.60 x @ Rp. 57. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.00 1. 50.1 5. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.000.964.00 x @ Rp.75 = Rp.5.pekerja .1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.250.000.

955.36 = Rp. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : .4. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. 3. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .00 3. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).semen portland = 336. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. 2. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .04 .252.3.777. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. 313.61 73. 421.61 + Rp.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. = Rp. 495. 4.000 kg x @ Rp. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1.475.39 = Rp. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). 934.

285.00 x @ Rp.312.tukang batu . 1991. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik. = Rp.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. 58.37 .34 x @ Rp. 344.423.750.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.kepala tukang .00 = Rp.10 = Rp.500. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku. 59.mandor = 2. 239.00 15. 45.000.00 Jumlah (2) = Rp.00 3. = Rp.035 Oh = 1.265. 50. 43.00 45.155. 70. b.pekerja .60 = Rp. Jumlah (1) = Rp.810 m 3 x @ Rp. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.540 m3 = 0.975.00 x @ Rp. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .60 540. = Rp.00 x @ Rp. 35. 131.pasir beton .892.000.350 Oh = 0.547. 2) analisis dengan computer.225.000 Oh = 0.70 194.00 = Rp.00 + Rp.000.000 Oh x @ Rp.000. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.000.koral beton = 0. 32. Tenaga kerja : .950.15.00 1..

Beton adalah campuran antara PC (semen).5. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang.5 Beton Bertulang J. semen alumina. tanggung jawab atas penyimpangan. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. dan . konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. Bila perlu. 3. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan.38 a. semen tahan sulfat. 1985. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. c. – 2. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). lanjutan atau tambahan. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. 1971 N. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan.I. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. 3. b. A. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia.

garam-garam. 3 atau 4 batang yang . Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. alkali. maka agregat halus harus dicuci. b. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. seperti terik matahari dan hujan. d. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. c. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.39 lain-lain. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Untuk beton mutu Bo. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. dapat juga dipakai semen tras kapur. e.063 mm. seperti zat-zat yang reaktif alkali.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. asam. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.

keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Bila slump campuran kurang dari 5 cm. berarti campuran basah. merawat pengerasan. 3. kran dengan alat penyodok (bucket). Campuran beton terdiri dari semen. Dalam perencanaan campuran beton. memadatkan pengecoran.5. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. Kekuatan beton. kereta dorong. Satuan beton yang dipakai adalah m3.2. mengangkut.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. .1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. Jika digunakan concrete mixer. misalnya mesin pengaduk. maka tempat penyimpanan. alat timbang bahan. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos.5. air.40 sejajar. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. maka campuran bersifat kental. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. dan lain-lain. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. mengaduk adukan.

pondasi.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. . Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut. 3. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. balok.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. 1996.5.50 m3 untuk setiap 10 m2. sloof.2. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. digunakan tabel berat besi material. kawat pengikat. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. pelat lantai dan tangga. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.41 3.5.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. Menurut Dipohusodo. yaitu . Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. minyak pelapis. kolom.10 – 0. Sebanyak 50 % . Menurut peraturan beton Indonesia (1997).2.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton.

Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. 4. 2. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 6. Berita acara penjelasan pekerjaan. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. 4. 8.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 7.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS).1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 4. 4. SNI dan Lapangan. 3. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek).2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 42 . 9. 5. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.

43 4.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. upah dan pekerjaan. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. . Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. d. Menghitung harga satuan bahan. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. c. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. e. dan g. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. 4. b. f.

Harga Satuan Pekerjaan . Upah .S.Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah .Gambar proyek .Analisa Harga Satuan Peralatan .1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .Analisa Harga Satuan Upah .A.A.S.Analisa Harga Satuan Upah .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .H. Peralatan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Analsis Harga Satuan Bahan .H.Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.Analisa Harga Satuan Bahan . Bahan .H.S.44 Mulai Data Proyek : .A.Analisa Harga Satuan Peralatan .

45 .

Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.1 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. 5.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan. 45 . kolom.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan.BAB V ANALISA DATA 5. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. balok dan tribun. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. sloof. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.

upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.48 5.2 Analisa Harga Satuan Bahan. .

52 5.3 Analisa Harga Satuan Bahan. . Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.

3.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.3.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. 2. .2 dan Tabel 5. 4. Tabel 5.60 5. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5.1.

6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.58 = 2. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp. bahan tertinggi – H. 1. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.20 .S. 3.629.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.64 5. bahan tertinggi Rp.197. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp. Material = H. 3.223.602.S.197. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.629.58 = Rp.223.602.602.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.197. upah dan pekerjaan BOW.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.197.20 = 54. bahan terendah Selisih H.S.20 Rasio perbandingan = Rp.Rp.629. 3. 1. 3. 1.602. Dari Tabel 5.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .S.223.

12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. Tabel 5. . 8.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. 2. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. Tabel 5. Tabel 5. 3. Tabel 5. 9.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. Tabel 5. 4. 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. 6. Tabel 5.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. Tabel 5. 7.

G.000 kg = 2. G.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.400 m3 = 4.tukang batu .41) : .dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.820 m3 4).00 kg = 110.41) : . Bahan Bekisting (An. Upah Pembesian (An.41) : . Bahan Pembesian (An.kayu terentang (papan) . G.750 Oh = 6. 5.250 Oh = 6.mandor 5).semen portland . G.pekerja .kepala tukang besi = 6.300 Oh .540 m3 = 0.koral beton 2).000 Oh = 1.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.000 Oh = 0.100 Oh = 0.besi beton .41) : .tukang besi .000 kg = 0.kepala tukang batu .1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).41) : . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.69 5.kawat beton 3).750 Oh = 2.pasir beton .pekerja .7.paku biasa = 0. G.

15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.41) : .500 Oh = 0.mandor 6).100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.000 Oh = 0.mandor = - = 6.tukang kayu . Upah Bekisting (An. G.70 .000 Oh = 5. .pekerja .kepala tukang kayu .

tukang kayu .1 ) : .650 m3 4).040 Oh = 0.1 ) : .2 ) untuk tukang kayu : .pasir beton .2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1). Upah Pembesian ( An.0003 Oh x 150 = 0.2 ) dan ( An.kepala tukang batu . tukang = 0. 6.500 kg = 0. 6.koral beton 2). Bahan Bekisting ( An.000 kg = 0.38.650 m3 = 0. 6. Bahan Pembesian ( An.pekerja . 6. 6.72 5. 6.200 m3 = 1.000 Oh = 1. tukang = 0.026 Oh .2 ) dan ( An.35.300 Oh = 1.mandor = 6.050 Oh = 1.kep. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.besi beton .007 Oh x 150 = 1.tukang besi .2 ) untuk tukang besi : .kep.1 ) : .kawat beton 3).0007 Oh x 150 . Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.250 kg = 388.7.semen portland .tukang batu .paku biasa .1 ) : .pekerja .300 Oh 5).kayu terentang (papan) .28.pekerja .25.minyak bekisting = 0.38. Upah Bekisting ( An.100 Oh = 0. 6.105 Oh = 0.400 ltr = 150.38.38.000 Oh = 0. 6.050 Oh = 0.mandor = 0.045 Oh 6).000 kg = 2.35.

005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.73 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. .

63 = 111.260 Oh x 3.kep. Upah Bekisting : .63 = 0.pasir beton .75 5.63 kg/m3 + 3.59 = 1.59 4).kep.025 Oh = 0.359 ltr .144 m3 = 1.520 m3 = 0.tukang kayu = 0. tukang = 0.962 kg = 232.000 kg = 0.05 kg x 106. Bahan Bekisting : .59 .minyak bekis = 0.007 Oh x 106.250 Oh = 0.075 Oh .599 kg 3).100 ltr x 3.015 kg x 106. Bahan Adukan Beton : . Upah Adukan Beton : .tukang besi = 0.077 kg = 0.007 Oh x 106.933 Oh = 0.080 Oh = 0.mandor 6).63 = 0.koral beton 2).018 Oh = 0.kayu (papan) = 0.paku biasa = 0.032 Oh .0007 Oh x 106.746 Oh = 1. Bahan Pembesian : . tukang = 0.pekerja = 0.0003 Oh x 106.kawat beton = 0.semen portland .7.3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.780 m3 .pekerja .pekerja = 0.63 = 1.besi beton = 1.tukang batu .040 m3 x 3.59 .093 Oh = 0.59 .005 Oh x 3.59 .026 Oh x 3.63 = 0.077 Oh = 0. Upah Pembesian : .mandor 5).59 .kepala tukang batu .650 Oh = 0.63 = 0.300 Oh x 3.59 m2 Bekisting) 1).746 Oh .300 kg x 3.mandor = 0.

344 kg = 0. Upah Pembesian : .64 = 136.040 m3 x 4.907 Oh . Bahan Pembesian : .48 4).48 .kayu (papan) = 0.039 Oh . Upah Adukan Beton : .48 = 1.026 Oh x 4.100 ltr x 4.48 .mandor = 0.64 = 0.260 Oh x 4.64 = 0.015 kg x 129.091 Oh .kep.tukang kayu = 0.kep.000 kg = 0.166 Oh = 0.025 Oh = 0. Bahan Bekisting : .64 = 0.semen portland .pasir beton .64 = 0.005 Oh x 4.448 ltr .080 Oh = 0. tukang = 0.64 = 1.koral beton 2).650 Oh = 0.48 .pekerja = 0.780 m3 .300 kg x 4.0007 Oh x 129.007 Oh x 129.250 Oh = 0.mandor 6).05 kg x 129.344 Oh = 1.165 Oh = 0.122 kg = 232.paku biasa = 0.besi beton = 1.48 .179 m3 = 1.minyak bekis = 0.pekerja = 0.0003 Oh x 129.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.022 Oh = 0.tukang besi = 0.48 m2 Bekisting) 1). Bahan Adukan Beton : .kepala tukang batu .520 m3 = 0.48 .mandor 5).tukang batu .pekerja . tukang = 0.kawat beton = 0.300 Oh x 4.64 kg/m3 + 4.945 kg 3). Upah Bekisting : .007 Oh x 129.907 Oh = 1.

260 Oh x 7.mandor 6).000 kg = 0.mandor = 0.kayu (papan) = 0. Upah Adukan Beton : .036 Oh = 0. Bahan Pembesian : .kawat beton = 0. Bahan Adukan Beton : .mandor 5).025 Oh = 0.136 kg = 232.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.14 .32 = 1.32 = 164. tukang = 0.32 = 1.pekerja = 0.142 Oh = 1.tukang batu .856 Oh = 0.32 = 0.pekerja .300 kg x 7.32 kg/m3 + 7.286 m3 = 2.007 Oh x 156.kep.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.094 Oh = 1. Upah Bekisting : .14 .tukang besi = 0.300 Oh x 7.pekerja = 0.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.14 .minyak bekis = 0.tukang kayu = 0.14 m2 Bekisting) 1). tukang = 0.pasir beton .714 ltr .047 Oh .080 Oh = 0.109 Oh . Upah Pembesian : .0007 Oh x 156.0003 Oh x 156.026 Oh x 7.100 ltr x 7.paku biasa = 0.186 Oh = 0.094 Oh .250 Oh = 0.142 kg = 0.32 = 2.14 4).besi beton = 1.kep.kepala tukang batu .005 Oh x 7.650 Oh = 0.007 Oh x 156.015 kg x 156.345 kg 3). Bahan Bekisting : .05 kg x 156.koral beton 2).32 = 0.14 .040 m3 x 7.780 m3 . .520 m3 = 0.semen portland .14 = 2.

4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5. 3. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. Tabel 5. 2.16 dan Tabel 5.81 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.15. Tabel 5. Tabel 5. 4. .7.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.17.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. Tabel 5.

8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 = 150.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 Rasio perbandingan = 110. Dari Tabel 5.110. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.00.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.00 dan SNI = 150.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.86 5.00 = 26. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.00 .00 = 1.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150. .

sedangkan Lapangan adalah Rp 1.285.76 1.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.35 1.286.1.82 557.632.304.130.178.78 H.464.717.085.739. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.38 dan pada SNI adalah Rp 579.000.82 1.000.575.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.858.285.76 1.821.442. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.19 869.14.000.BAB VI PEMBAHASAN 6. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan. 1.464.000.78 2.171.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.643.575.336. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 0.000.00 2.1 di atas. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.00 500.000.000.00 1.80.434. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.42 1.500.21 594.1.500.411.00 557.38 594.178.628.285.00 1.304. 6.S.628.59 594.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.61 .35 542.

1. . Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. poer P2 dan poer P3. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. 6. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. balok dan plat (tribun). Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

472.000.200.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.314. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.183.24 dan pada SNI adalah Rp 2.000.629.298. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.000.20 3.223. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.00 0.000.00 2.601.23 1.00 2.000.00 5.40 2.15 4.20 7.176.172.447.172.80 2.000.197.401.258.929.60 8.297.10. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.464. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.602.74 .00 4. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.14 H.S.558.10 3.000. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.602.000.121.00 1. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.223.000.298.522.000.000.00 3.629.191.197.000.298.757.2 di atas.58 1.880. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.23 4.172. pada pekerjaan sloof.95 4.90 7.58 1. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.00 6.000. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.000.000.472.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000.00 6.904.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.802.732. Bahan Pembesian (Rp) 3.

131. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.052.72 Tribun 963. 575.052.00 3. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.S.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.00 6.425.86 Sloof 385.72 3.480.617.000. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.487.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.000.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.70 1.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.000.00 0.53 2.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.726.150.000.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.3 di atas.307.000.1.98 .301.00 4.16 1.758.495.600.000.781.936.726.000.911.000.953. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.00 1.701.402.000.681.44 1.16 5.098.87 dan pada SNI adalah Rp 872.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.42.576.350.000. Bahan Bekisting (Rp) 7.881. 8.000.278.000.66 6.58 871. 6.000.03 544.211. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.000.70 Pondasi Poer 285.88 1.300.00 2.000.00 1. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 H.00 1.

475.00 220.000. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas. 6.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.00 600.000.950.000.00 200. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.00 272.00 .00 272.00 0.00 816.00 544.000.000.00 800.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.000. Sebanyak 50 % .000.00 1.000.00 293. 6. Harga rata-rata harga satuan 73.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.425.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 146.00 272. H.000.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.2.00 816.425.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.00 400.00 272.000.088.00 1.S.00 272.200.000.00 220. Upah Adukan Beton (Rp) 1.00 272.900. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.4 di atas.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000.

00 2.925.30 179.700.035. 6.00 394. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.00.00 0.750.000.00.00 119.700. Upah Pembesian (Rp) 2.S.569.00 500.2.927.000.400.84 354.00 2.82 89.125.000.60 89.00 1.00 1. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.284.000.000.5 di atas.749.00 1.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.5 dibuat suatu grafik perbandingan.762.927.000.889.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.125.00 1.000.48 .500.00 104.00 234.00 642.200. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.768. 3.500. Dimana harga rata-rata satuan 61.600.000.00 H.375.500.00 234. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.00 dan pada SNI adalah Rp 272.000.733. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.000.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja. .00.670.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.175.2.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.81. 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.180.665. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman. sedangkan SNI adalah Rp 116. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

825.00 2.00 1.000.00.128.51 dan pada SNI adalah Rp 108.400.885.6 di atas.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. Pada tenaga kerja pekerja.00 H.000.000.371. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.828.599.00 1.95 1.35 457.00 Pondasi Poer 57.20 155. Upah Bekisting (Rp) 1.000.188.200.458. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.00 914.00 198.925. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.S.000.000.970.00 1. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.25 . terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.200.00 615.00 600.371.000.00 Sloof 79.00 0.000. 113.814.000.000.000.75 354.000.000.800.00 1.291.920.000.00.00 134.00 800.00 1.00 1.000.000.265.00 400.00 1.242.600. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 200.00 326.170.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.000.

Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.000.648.000.00 4.000.904.19 8.99 15.000.257.00 6.618.43 14.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.450.91 3.160.055.989. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.275.00 6.000. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.523.71 Tribun 3.14 4. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting. Dari Tabel 5.937.130.56 2.32.000.523.63 9.000.00 2.000.318.14 5.86 6.96 6.00 0.00 12.956. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.278.029.272.78 3.26 dan pada SNI adalah Rp 3.019.152.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.640.000.000.7 di atas.952.000.956.00 16.714.70 3.730.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.000.809.692.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.472.000. 6.000.623.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.000.637.003.212.000.333. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.33 . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.369.00 6.00 8.000.000. Dari Tabel 5.115.00 10.61.714.86 18.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.653. 4. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.35 810.742.114.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.000.012.370.32 dan pada SNI adalah Rp 496.000.907.00 4.000.00 418.095.485.750. 6.114. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.00 2.500.000.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 5.119.00 3.00 4.940.000.071.000.565.125. 461.17 740.004. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.00 490.00.674.125.485.84 496.375. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.97 perbandingan.233.620.50 471.00.575. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.73 .965.000.00 1.00 2.00 1.00 1.00 607.00 0.00 5.8 di atas.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.000. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 1.000.352.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.000. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.371.000.

696.00 11.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.26 dan pada SNI adalah Rp 4.866.000. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.000.00 6.06 .804.609.54 4.839. Tabel 6.594.727.00 16.00 0.00 18.86 20. 2.98 14.830.653.000.000.56 Pondasi Poer 2.54 17.36 5.586.000.000.000.756.890.120. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.559.123.761. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.000. Tabel 6.32.255.020.000.000.00 2.885.380.070.000. 3.000.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 14.677.625.14 11.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.984.63 10. Pembesian Dan Bekisting.00 4.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.703.458.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan. 3. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.000.43 9.839. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur. Tabel 6.742.78 Sloof 3. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.000.93.91 4. Pembesian Dan Bekisting. upah dan pekerjaan beton bertulang.390.000.859. 6. Selisih dan rasio harga satuan bahan.00 8.9 di atas.16 7.690.00 10. Pembesian Dan Bekisting.000.070.71 Tribun 3.220.000.118.000.000.279.126.00 12.

4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. 5. Pembesian Dan Bekisting.99 4. . Tabel 6. 6. Tabel 6.6 Total Rasio Harga Satuan. Tabel 6.5 Total Selisih Harga Satuan.

100 .

101 .

102 .

10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% Selisih H. 70.10 di atas. Bahan Adukan Beton 48.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% (%) 40.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.103 6.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.7. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.94 % dibandingkan SNI dan 19.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.89% 20.00% 30.7. .00% 19.00% 0.94% 60.75 % dibandingkan SNI.00% 10.00% 58.S. 6.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.7 6.

6.42 % dibandingkan SNI.00% (%) 40.03% 55.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.00% 30.00% Selisih H.00% 50.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30. Bahan Bekisting 41.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 60. 80.21% 67.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.104 60. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.69% 44.00% 0.00% 30.00% 10.00% 0.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% 20. Bahan Pembesian 36.00% 20.00% 50.00% 40.S.00% 70.42% (%) 30.00% Selisih H.11 di atas.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 10.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .7.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

00% 60.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian. 6.00% 10.13 di atas. .12 di atas. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.S.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.77% 61.00% 0. 6.00% Selisih H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan. 80.47 % dibandingkan SNI dan 44.54% 72.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.8 Selisih Harga Satuan Upah 6. Upah Adukan Beton 29. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 50.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.00% (%) 40.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.00% 30.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.8.69 % dibandingkan SNI.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.00% 70.8.105 Dari Gambar 6.00% 20.

S.00% (%) 50.00% 60.00% 20.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% 70.89% 80.00% 30.00% Selisih H.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.106 100.00% 30.46% Selisih H.S.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54. Upah Bekisting 90.00% 90.00% 70.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 40.58% 53.8.00% 10.01% 84.00% 80.00% 60.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.66% 54.00% 0.00% 0.00% 40.00% 93.01 % dibandingkan SNI dan 84.14 di atas. 6.00% 80.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.46 % dibandingkan SNI.00% 90. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.00% 10.00% 20. 100.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% (%) 50.

15 di atas.S.00% 10.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.00% 39.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5. 6.16 di atas. 70.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00% 20.107 Dari Gambar 6. 6.00% 0.31 % dibandingkan SNI dan 30.00% 50.00% Selisih H.58 % dibandingkan SNI.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 60.00% 30.89 % dibandingkan SNI dan 53. Bahan Beton 30. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.89% (%) 40.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.64% 58.89 % dibandingkan SNI.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% (%) 50.00% 40.82% 50.00% 10.05% 57.00% 20.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 86.00% (%) 40.00% 90.17 di atas.00% 60.00% 0.00% 10. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.54% Selisih H.00% 80.00% 20.54 % dibandingkan SNI.108 100.00% 50.00% 30.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .06% 71.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.00% 0.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. 6.00% 70.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 60.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 70.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.05% 57.

12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.12. .00 0.50 % dibandingkan SNI dan 1.00 Rasio H.50 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.24 dan 1.19 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12.S.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.50 0.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57. 6.50 1. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.25 2.05 % dibandingkan SNI.00 Ratio 1.109 Dari Gambar 6.18 di atas. Bahan Adukan Beton 1. 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.95.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.44 1.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 2.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. 3.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.

terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.110 2.50 1.12.00 1.50 0.20 di atas.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 3.00 1.00 Rasio H.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Bekisting 1.79 3.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 Rasio H.50 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 0.56 2.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .S.44.25 dan 1.44 1.50 2.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. Bahan Pembesian 1. 6.00 2.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.72 1.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.50 Ratio 2.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.50 1.00 0.50 3.

22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.07 dan 1. 6.00 3.42 2. 6.00 Rasio H.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.50 0.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.00 0.60 dan 3.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 4.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.21 di atas. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.50 1.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.S.60 3.111 Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.72.13.42.22 di atas.Upah Adukan Beton 1.50 Ratio 2.50 3.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 2. .00 1.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.

00 4.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 10.00 Ratio 6.00 8.15 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.32 6.00 12.112 16.00 4.00 2.S.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 Ratio 8.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.32 dan 6.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .13 2.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 0.00 14.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.00 Rasio H.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 6.Upah Bekisting 5.20.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 2.00 10. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.20 Rasio H. 12.13.S.00 14.52 2. 6.23 di atas.

Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 di atas.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.15.50 1.S. 6.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.50 0.66. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.24 di atas.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 3.50 2.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.40 dan 1.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.113 Dari Gambar 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. 6.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.66 1.Bahan Beton 1.00 2.00 Rasio H.00 0. .00 Ratio 1.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.98 dan 2.44 2. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.

114 8.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 5. 6.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 0.02.50 1.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 2.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 Ratio 4.00 6.00 7.26 di atas.01 1.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .18 3.00 1.00 3.00 7.00 0.02 Rasio H.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.18 dan 3. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.00 2.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.S. 2.50 0.33 2.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.55 2.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Indeks bahan kawat beton pada .27 di atas.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.50 0.28 di atas.33.50 Ratio 2.36.00 2.50 3.75 dan 3.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.94 2.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.00 0.17.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.00 1.00 3.75 2.36 1.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.35 dan 1. 6.75 3.13 2. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 1. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.115 Dari Gambar 6. 6. 4.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Lain halnya dengan analisa SNI. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. Dengan demikian baik dari segi biaya. . Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.

79).60). Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. BOW > Lapangan (1.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.52) dan Lapangan > SNI (2.70) dan SNI > Lapangan (1. e.25) dan BOW > SNI (1.44). d. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14. b.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.20). c.44).07) dan BOW > SNI (1. Lapangan > SNI (2.25) dan Lapangan > SNI (1.95).42). Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61. f.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.32).08 % dibandingkan dengan 120 .01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19. BOW > Lapangan (6.56). Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.72). BOW > Lapangan (3. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44. Lapangan > SNI (3.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.

55) dan Lapangan > SNI (2.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. h.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2.75). BOW > Lapangan (2.98).121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.15). Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.44). pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. i. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. .18). Rasio perbandingan indeks a. BOW > Lapangan (3.75) dan SNI > BOW (1. Lapangan > BOW (3.33).02). Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.13) dan Lapangan > SNI (5.35) dan BOW > SNI (2. b. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.66). g. 3.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.40) dan BOW > SNI (1. Lapangan > SNI (2. SNI dan Lapangan.01). 2.36). Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.

43).46) dan Lapangan > SNI (2. indeks kepala tukang BOW > SNI (21. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.62).122 b.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. indeks tukang besi BOW > SNI (6. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. 7. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.62). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.43).62). BOW > Lapangan (8. BOW > Lapangan (2. BOW > Lapangan (2. . pembesian dan bekisting.62).43).19) dan Lapangan > SNI (2. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian.46) dan Lapangan > SNI (2.

Rencana dan Estimate Real of Cost. 1985. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. J. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Jakarta. Bumi Aksara. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. 2002. Jakarta. Sugeng Djojowirono. Penerbit Bumi Aksara. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Jakarta. Niron John. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. 2006. Yogyakarta. 1993.DAFTAR PUSTAKA Ir. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. 1991. Mukomoko. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Joko Waluyo.A. W. – 2. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Asona. Badan Standarisasi Nasional / BSN. 2004. 1992. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. CV. A.I. Cet. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Penerbit Nova. 2006. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bachtiar Ibrahim. Iman Soeharto. 2001. Departemen Pekerjaan Umum . Bandung. Soedradjat Sastraatmadja. 1984. 2005. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. 1995. 1984. PT. SNI Edisi Revisi. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Manajemen Konstruksi. Jakarta. 2003. Dani Kurniawan. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 9. 1971 N. cetakan kesembilan. Penerbit Erlangga. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho.

052.00 43. III (Papan) Kayu Kls.00 105.337.60 10.000.00 45.785.115. Juli 2007) 35. Wajo.500.00 .892.000.00 50.547. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.719.39 239.000.00 10.00 43.00 7.28 17.226.000.40 934.500.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.70 1.00 10.000.500.10 59.000.00 43.80 1.605.500.