TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Istriku beserta keluarga besarnya. terima kasih atas doa dan dukungannya. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. iii . Haris. Ibu. Bapak. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Adikku Erna.

puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. ST.WB. Ir.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. Bapak Zaenal Arifin. Bapak Faisol AM. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Ibu. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. H. iv . 3. Alhamdulillah. 2. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. bapak. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. H. Bapak Tadjuddin BM Aris. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. 4. 5. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Ir. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan.

6. v . Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. 7.

Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan. SNI dan Lapangan/Kontraktor. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.804. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.40. pelayanan maupun waktu. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.32 dan untuk Lapangan Rp 9. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan.727.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.120.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.696.26 sedangkan metode SNI Rp 4. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. RKS. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. RAB penawaran kontraktor.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.33. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW.35 dan 1.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7.18 dan 71.594.44 dan 58.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. tenaga kerja. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.859. SNI dan Lapangan. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. vi .

.....................................14 Biaya Konstruksi Proyek…......iv ABSTRAKSI............9 BAB III LANDASAN TEORI 3..........1 Estimasi Biaya......................................................................3.................................................................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN............................................1 3.........................24 Analisa Harga Satuan................3.............xi DAFTAR TABEL...................................................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan........17 Biaya Tidak Langsung……….....................................................................................................................................iii KATA PENGANTAR.........................................................................18 3..1 Rumusan Masalah.........3 Manfaat Penelitian........................................................................................................................................................................27 vii ........3 3...19 3.....................3 Tujuan Penelitian.......................12 Kualitas Perkiraan Biaya…….........11 3..............2......................................................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya...............................................2 3...........................................................3 Rencana Anggaran Biaya…...1..............4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.........1 1.......................................5 Latar Belakang....................ii HALAMAN PERSEMBAHAN....15 3...................1 3....vii DAFTAR GAMBAR..............................................................xiii BAB I PENDAHULUAN 1..............23 Harga Satuan Pekerjaan........2.....................................13 Metode Perkiraan Biaya..................................................................3...........................2 Jenis Anggaran Proyek.....4 1..........3 Volume/Kubikasi Pekerjaan.................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...1............................2 1.....1...1 3.....................vi DAFTAR ISI.....3 1.....................................2 3.....4 Batasan Masalah..........1 2.......2 Biaya Langsung................................................................................

.........................60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio......................................................39 Pekerjaan Pembesian.......36 3...............2 5..............................4...............................2.................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4....2 Bahan – Bahan.............................2.................................... Harga Satuan...............39 3....................1 3.........3 3.. Pekerjaan Beton Bertulang.....3 Pekerjaan Adukan Beton.....4 4................5 5....2 3...3... Lapangan.........1 5............................34 Analisa Harga Satuan Metode.................6 Subjek Penelitian…….....4 Analisa Harga Satuan Material....................................1 3.33 Analisa Harga Satuan Metode SNI...........7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.............................4...41 Cara Pengumpulan Data……..................4 5..........2 3...........................4 Beton Bertulang…...........................37 Pekerjaan Beton Bertulang...................3.......42 BAB V ANALISA DATA 5..4.2 3...3........69 viii ..........4......28 Metode Perhitungan..4....2 4.4..3.....41 Objek Penelitian…..............................42 Tahapan Penelitian……..........44 Analisa Metode SNI........1 3.....27 Analisa Harga Satuan Alat......................5 4.....................................4...............3......3...........................3..............4......................3.................................3 Analisa Harga Satuan Metode BOW.............52 Komparasi Harga Satuan......3 4..48 Analisa Metode Lapangan...............................44 Analisa Metode BOW..........6 Rencana Pekerjaan……...............................3 5.3.....1 3................37 3.................41 Data yang Diperlukan……...................................................41 Pengolahan Data……...........................2...............................................3.27 Analisa Harga Satuan Upah......64 5....3.........................1 4........40 Pekerjaan Bekisting...........32 3..................................................

...................88 Bahan Pembesian.....8 Selisih Bahan Bekisting......2....7....................................................2 6....................................105 Selisih Upah Bekisting.................8......................91 Harga Satuan Upah.............................2 6.......7..............107 Selisih Harga Satuan Upah Beton................................92 Upah Pembesian.......................6 6..7...............93 Upah Bekisting..........3 6....................7..5................2 Bahan Adukan Beton..............…..................1....................................96 Harga Satuan Upah Beton....8.........................104 Selisih Harga Satuan Upah..................1 5..........................2 Selisih Bahan Pembesian............................103 6................3 Selisih Upah Adukan Beton......4 6.109 6...1 Selisih Bahan Adukan Beton...88 6.......................................81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks....92 6.......98 Selisih Harga Satuan Bahan......................................105 6..................2.................7 Harga Satuan Bahan Beton......72 Indeks Lapangan.............................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton...........................7...........11 6..97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………..................................96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......8.2 5..........7.........................1 6....................................1 Rasio Bahan Adukan Beton...5 6............................75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.........3 6......................……......10 6............12........................109 ix .......3 5......................................94 6..........69 Indeks SNI....................2.................3 6.........1 Harga Satuan Bahan.....1......7....................4 5.......1.......3 Upah Adukan Beton........................107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..................................103 6.................105 Selisih Upah Pembesian.............2 6....86 PEMBAHASAN 6..106 6..89 Bahan Bekisting....1 6.8 BAB VI Indeks BOW.......9 6.............108 Rasio Harga Satuan Bahan...........................1 6.......103 6..............

.......................................................2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .......................2 Indeks Tenaga Kerja................109 6..3 Rasio Bahan Bekisting……………………..113 Rasio Harga Satuan Upah Beton.................................................................111 6.....................6..........112 6.......113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.2 Rasio Bahan Pembesian……...........110 6...3 Rasio Upah Bekisting..1 Rasio Upah Adukan Beton...............................118 Saran..12.................…...............111 6..............17...................13......115 6....................13..116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7......................................120 x ..........114 Indeks.......12..........................................................16 6..................1 Indeks Bahan.............1 7......17.........................13 Rasio Harga Satuan Upah...........111 6............13.....................14 6.......115 6.15 6....LAMPIRAN Kesimpulan……................2 Rasio Upah Pembesian...........17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton..........................

.....13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar...........111 xi ................26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan..................................................98 Gambar 6................................18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....................104 Gambar 6......................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.............................................10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.......15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting...13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian...................... Gambar 4....20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci...........95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.............................106 Gambar 6.9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD).........................21 Skema Harga Satuan Pekerjaan.......1 Gambar 6......................................................2 Gambar 6...........96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.............92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.............................43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........................20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...................5..107 Gambar 6........12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting..103 Gambar 6.....109 Gambar 6.....5 Gambar 6........3 Gambar 6.................17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton......105 Gambar 6........3........97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton........19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton......................................26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir........7 Gambar 6.108 Gambar 6.............104 Gambar 6.....11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian......... Gambar 3.......2.............4..... Gambar 3.....91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton..............DAFTAR GAMBAR Gambar 3.110 Gambar 6.....................93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting...106 Gambar 6......................1 Gambar 3..........4 Gambar 6.........................108 Gambar 6................1 Gambar 6. Gambar 3......110 Gambar 6.....88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.................6 Gambar 6.......................8 Gambar 6......

...23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian....................112 Gambar 6..................114 Gambar 6...................114 Gambar 6......26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton...................................................................................113 Gambar 6........112 Gambar 6....29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting..115 Gambar 6................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...................28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian......................25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton...Gambar 6....116 xii ....

........................................ Pembesian Dan Bekisting........15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton............16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang................................................................. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record...67 Tabel 5....63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton........................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton..5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton..4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.................................................74 xiii ....................................................8 Tabel 5......................................45 Tabel 5...1 Analisa Harga Satuan Bahan..................68 Tabel 5...................... Pembesian Dan Bekisting...........61 Tabel 5.........68 Tabel 5................................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.1............................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.....14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton...............49 Tabel 5..................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton...............15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.............................................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..............66 Tabel 5........12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.....................3 Analisa Harga Satuan Bahan..........67 Tabel 5.2 Analisa Harga Satuan Bahan...15 Tabel 5....................................................66 Tabel 5.........................................62 Tabel 5..................................................53 Tabel 5...........67 Tabel 5...DAFTAR TABEL Tabel 3....68 Tabel 5...13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting........................6 Tabel 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI......................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI...............................7 Tabel 5........71 Tabel 5....66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian............................

............................................................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting. Pembesian Dan Bekisting..................78 Tabel 5............87 Tabel 6........Tabel 5...........................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton............2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton...........101 Tabel 6.....................................................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian...........................................1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton...................................... Pembesian Dan Bekisting.................... Pembesian Dan Bekisting.............................................85 Tabel 5...............................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.6 Total Selisih Harga Satuan.........................101 Tabel 6..........5 Tabel 6.......84 Tabel 5................................................21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja... Pembesian Dan Bekisting........3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton....17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.................83 Tabel 5............................82 Tabel 5..102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ..22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja...........................100 Tabel 6...100 Tabel 6....................................

Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. pelayanan maupun waktu.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. 1 . analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi.BAB I PENDAHULUAN 1. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. tenaga kerja. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi.

Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Agar lebih luas cakupannya. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. konsultan. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. namun hanya untuk perumahan sederhana. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Pada tahun 1987 sampai 1991. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material.

3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. 3. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. SNI dan penawaran kontraktor. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. . SNI dan penawaran kontraktor ? 2. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor. 2. Apakah ada selisih harga satuan material.3 kekalahan. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. 1. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. Pada saat ini.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. SNI dan penawaran kontraktor ? 3.

4 1. 2. 3. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 6. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. . tahun 2007. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. Biaya tidak langsung seperti overhead. 1. 7. profit dan pajak tidak diperhitungkan. 5. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. 4. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. Dapat menjadi referensi bagi penulis. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 2. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. 3.4 Manfaat Penelitian 1.

2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.40.232. 5 . metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.90. 15. 103.344. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.706.218.39 %. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.23 %. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.

3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. . Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.

Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. waktu. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. 3. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. bahan dan biaya. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman.7 2.

produktivitas pekerja. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. Metode yang digunakan : Data primer a. Pekerjaan Bekisting Balok 3. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. 4. . Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja.8 Karyaan. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek.16 % 5.26 % = 44. Interview. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat.23 % = 63. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau.

217.214. 99.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.50. dengan nilai penghematan 0.508.655.013.14 2. 11.930. 78.206.437. dengan nilai penghematan 0. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 2.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.184. 31. 53. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 1.10. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 1. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur.025.10.21. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.207.00. dengan nilai penghematan 2. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.00.348.87. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan . 39.

pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. balok dan tribun menggunakan metode BOW. kolom. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. SNI dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sloof. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. . SNI dan Lapangan. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI.

Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya.BAB III LANDASAN TEORI 3. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. peralatan. material.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. 1995). Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. dan lain-lain. Dengan kata lain. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering.

3. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. ukuran. lokasi. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif.12 proyek seperti jenis. . Perencanaan Biaya Bangunan.1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. sesuai dengan fungsinya. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek.1. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. 1994). Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. 1995. proses penyusunan aggaran biaya definitif.

Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .13 Tenaga kerja . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .“Quantity take-off” . 1995) 3.Standar jam orang .1.Satuan harga material curah .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.Harga peralatan . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. kemudian .Overhead .Produktivitas .1. 1995. kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.Penawaran dari paket MR/PO . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Eskalasi .

Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . 3. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh.1. Pada metode elemental analysis cost estimating. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Hal ini memerlukan kecakapan. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. pengalaman serta judgment dari estimator. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). 1995. dan bila telah diberi beban biaya. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya.

Persiapan site .Atap . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Kolom interior .Glazed opening .Sistem pemipaan .15 gedung.2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Fixed equipment .Eksterior . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Kontigensi .Pondasi .Super struktur .Pondasi .Pintu . 1995) 3.Sistem HVAC .Sistem HVAC .Pekerjaan lahan (site) .Listrik . Means Engineering News Record .Lantai . Tabel 3.Sistem conveying .Listrik . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Dinding eksterior .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Pemipaan .1.Interior .Sistem conveying . Jenis dan intensitas kegiatan .Substruktur .Dinding interior .

jenis keterampilan. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. pengeruk tanah (back-hoe). dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. truk.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. scraper. grader. kompresor udara. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. Sama halnya dengan sumber daya manusia. lengkapkah peralatan. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. atau yang langka tersedia di pasaran. Ini dapat berupa crane. berlumpur atau berdebu. dan lain-lain. Bertolak dari kenyataan tersebut. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. terutama bagi long delivery items. (Iman Soeharto. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. Terutama untuk daerah rawa. 1995). Bila hal ini terjadi.

Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu.2. biaya menaikkan dan menurunkan. memotong dan . mesin-mesin. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. pengepakkan.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. 1995). mulai dari membuat spesifikasi. jadi sudah termasuk biaya angkutan. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. (Iman Soeharto. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. 3. alat-alat tangan (tools). Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. penyimpanan sementara di gudang. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton.

3. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. telepon yang dipasang di proyek. peralatan kantor dan alat tulismenulis. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu.2. pengukuran (survey). pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. misalnya sewa kantor. surat-surat ijin dan lain sebagainya. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. . asuransi. memindahkan. biaya-biaya notaris. telepon. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. pajak. membongkar dan biaya operasi. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. bunga uang. asuransi. pengangkutan. air. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya.18 membengkokkan baja-baja tulangan. alat angkut dan lain sebagainya. pemasangan alat. listrik.

. Adapun menurut John W.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. 1993. 1992. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. 1984. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Menurut Sugeng Djojowirono. 3. cermat dan memenuhi syarat. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.

A. dapat dilihat pada gambar 3. Secara sistematisnya. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir.2. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Analisa Anggaran Pelaksanaan.2. Soedradjat Sastraatmadja. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. Soedradjat Sastraatmadja (1984). A. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.

Profit. Secara sistematisnya.3. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. Menurut Bachtiar Ibrahim. Mukomoko. daftar upah. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. daftar susunan rencana biaya. 1993. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. buku analisis. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. daftar harga bahan. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Pajak Gambar 3. A. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek.3. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. dapat dilihat pada Gambar 3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. . Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead.

Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. letak tinggi jendela dan pintu.). 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.Rencana jalan dan pagar.00. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. nok reng balok/muurplat. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.Rencana letak bangunan.Rencana garis batas tanah dan roylen.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. .Rencana halaman . PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . misalnya : dasar pondasi. . Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0.Rencana saluran pembuangan air hujan. 2) Gambar denah PU 1 : 100. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. tinggi langit-langit.00 m dari lantai. . Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi.

Gambar konstruksi beton bertulang. DENAH PONDASI 7. 7) Gambar pelengkap. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. dengan jelas. POTONGAN II – II 9. . hooker. Jakarta.Gambar konstruksi baja. . TAMPAK BELAKANG 4. TAMPAK SAMPING KIRI 6. DENAH LISTRIK =L =M 14.Gambar konstruksi kayu. 2007. RENCANA PLAFOND = K 12. Jadi volume (kubikasi) . RENCANA KAP =H =I =J 11. Gambar saluran pembuangan air hujan. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. keilkeper. Gambar saluran pembuangan air kotor. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. SAMPING KANAN 5. DENAH 2. talang air. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. T.3. RENCANA SANITASI = N 3. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. muurplat/reng balok. DENAH KUSEN 13. POTONGAN III-III 10.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . nok gording. usuk/kasau dan konstruksi penahan. . TAMPAK MUKA 3.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. cetakan keempat.

Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : .Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. yaitu panjang x luas penampang yang sama.24 suatu pekerjaan. trapezium. seperti segitiga. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari .Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. atap 140 m2. b. dan sebagainya.Volume atap dihitung berdasarkan luas. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. . Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). . angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah.3. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. Harga bahan didapat di pasaran.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. e. c. 3. . Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. persegipanjang. lisplank 28 m. . yaitu jumlah panjang angker x berat/m. d.

S. Upah + H. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat.S. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah. dapat dilihat pada gambar 3.4. Bahan + H. dan gambar 3. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H.5.S. Alat Secara sistematisnya. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. . Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.25 pemerintah.

Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono.5. Yogyakarta. 1984) .4. Manajemen Konstruksi.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.

3. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. 2004). dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. kecepatan .3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. 1993). dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. 3. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. 1994 dalam Dani Kurniawan.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan.3. (Bachtiar Ibrahim. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. upah tenaga kerja. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim.27 3.3. 3.3.3. 1 m2.

b. 2004). jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. 1993).3. (Bachtiar Ibrahim.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan.3. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. selain bertugas sebagai tukang batu. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. Pekerja. 3. Mandor.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. c. Kepala tukang. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. Tukang batu. d. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : .

003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). = 0. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. ongkos angkut. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. maka . W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. maka . C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. Bagi peralatan yang bertugas sedang.002 x B = 0. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. biaya sewa gudang. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer.

b. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. pelumas hidrolik. e. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. d. saringan/filter udara dan lain sebagainya. grease. saringan agregat untuk stone crusher / AMP. pelumas power steering. dan lain sebagainya. pelumas transmisi. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. c. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. . Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a.

estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. Karena rumus sifatnya pendekatan.5) % x HP Dimana . Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.31 3. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.5 s/d 17.5% = untuk alat yang bertugas berat b.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

000. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. 43.00 x @ Rp. = Rp.Semen Portland = Rp.10 = Rp. 187.780 m3 = 0. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.964.tukang batu .00 x @ Rp. 421. 35. 239.pasir beton .2 Tenaga : = 1. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.025 Oh 3 .000.chipping/split .mandor .250.520 m3 = 218.475.60 x @ Rp. SK SNI S-05-1989.00 10.750.1 5. 30.00 Jumlah (2) = Rp. = Rp.00 3.75 = Rp. 57.pekerja .600.000. = Rp. 934.080 Oh = 0. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.00 x @ Rp.02 = Rp.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.39 Jumlah (1) 5.547. SK SNI S-04-1989-F.697. 45. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.892. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6. 59. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.875.5. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.00 1.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.115.00 73.5.650 Oh = 0.kepala tukang x @ Rp.00 kg x @ Rp. SK SNI-06-1989-F. 50. 203. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.61 .250 Oh = 0.84 x @ Rp. = Rp.777.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .500.

Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja).955.4. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .semen portland = 336.00 3. 2. 934.475. 421. 313. = Rp. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.000 kg x @ Rp.61 + Rp. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. 4. 495. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. 3. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).252. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya.36 = Rp.39 = Rp.04 .777.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A.61 73.3. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Menghitung harga satuan bahan dengan cara . perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja.

50.00 3. 59.000.10 = Rp.225. = Rp.15.00 1.975.37 . b. 344.00 45.60 = Rp. 32.000 Oh = 0. 35.70 194.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.pekerja .00 = Rp.000 Oh x @ Rp.00 Jumlah (2) = Rp.mandor = 2.423. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.00 x @ Rp. 285. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .500.892. 45. 1991. 2) analisis dengan computer.000.000.000.pasir beton . = Rp.950.60 540.350 Oh = 0. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.34 x @ Rp.kepala tukang .00 x @ Rp.035 Oh = 1.00 x @ Rp. = Rp.tukang batu . Tenaga kerja : .547. 239.00 + Rp.312.155.750.00 = Rp.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.810 m 3 x @ Rp.265. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.540 m3 = 0. Jumlah (1) = Rp. 43. 58.koral beton = 0. 70.000.. 131.00 15.

5. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. semen tahan sulfat. semen alumina. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. c. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. 3. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. 3. lanjutan atau tambahan. b.5 Beton Bertulang J.I. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. dan . Beton adalah campuran antara PC (semen). tanggung jawab atas penyimpangan. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu.38 a. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. A. Bila perlu. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. – 2. 1985. 1971 N.

Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. maka agregat halus harus dicuci. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). asam. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. b. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. seperti terik matahari dan hujan. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka.39 lain-lain. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). e. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Untuk beton mutu Bo. c. 3 atau 4 batang yang . seperti zat-zat yang reaktif alkali. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. dapat juga dipakai semen tras kapur.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. garam-garam. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. alkali.063 mm. d. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.

Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. alat timbang bahan. memadatkan pengecoran. air. dan lain-lain. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. maka tempat penyimpanan. mengangkut. kran dengan alat penyodok (bucket).5. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. misalnya mesin pengaduk. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg).2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). . batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm.5. Campuran beton terdiri dari semen. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. merawat pengerasan.40 sejajar. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. 3. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. kereta dorong. Jika digunakan concrete mixer.2. mengaduk adukan. Dalam perencanaan campuran beton. Satuan beton yang dipakai adalah m3. berarti campuran basah. Kekuatan beton. maka campuran bersifat kental. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio).

Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. 1996.50 m3 untuk setiap 10 m2. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Menurut Dipohusodo.10 – 0. yaitu .5. pondasi. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.5. . digunakan tabel berat besi material. kolom. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. minyak pelapis.2. pelat lantai dan tangga. Sebanyak 50 % . Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). balok.2.75 liter untuk bidang seluas 10 m2.41 3. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. sloof.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. 3. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. kawat pengikat.

Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek).BAB IV METODE PENELITIAN 4. 6. Berita acara penjelasan pekerjaan. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. 2. 9. SNI dan Lapangan. 42 . 3.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 4. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 8. 4. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). 4. 5. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. 4.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 7.

43 4. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. e. b. . Menghitung harga satuan bahan. c. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. upah dan pekerjaan. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. dan g. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. 4. f.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. d. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo.

Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi . Bahan .A.S.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Peralatan .A.44 Mulai Data Proyek : .Analisa Harga Satuan Bahan .A.H.H.Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Upah .Analsis Harga Satuan Bahan .S. Peralatan .Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah .H.S. Upah .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.Gambar proyek .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .

45 .

1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan. kolom. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. balok dan tribun. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.1 Analisa Harga Satuan Bahan. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. 5. 45 .2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan.BAB V ANALISA DATA 5. sloof.

upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan.2 Analisa Harga Satuan Bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI. . Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.48 5.

3 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.52 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. .

7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. Tabel 5.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting.3. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. . Pembesian Dan Bekisting.60 5.2 dan Tabel 5. Tabel 5.1.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5. Tabel 5. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 3. 2. 4.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.

upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % . pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.629.20 Rasio perbandingan = Rp. 3.64 5.S. 3. bahan terendah Selisih H.602. 1.20 = 54.58 = 2. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.S.197.223. 3. upah dan pekerjaan BOW.223.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.602.S.223. 1. Dari Tabel 5. Material = H. 1.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. bahan tertinggi Rp.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.S.602. bahan tertinggi – H.602.58 = Rp.Rp. 3.197.629.629.197.197.20 .

10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 4. 2. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. . 3. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. 7.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. 8. Tabel 5.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 9. Tabel 5. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5. 5. 6. Tabel 5.

tukang batu .7.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.semen portland .41) : . G. G. G.pekerja .mandor 5).pasir beton . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.00 kg = 110.41) : .41) : . Bahan Pembesian (An.250 Oh = 6. Upah Pembesian (An.kepala tukang batu . G.kayu terentang (papan) .1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).paku biasa = 0.000 Oh = 0.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.820 m3 4).750 Oh = 6.000 kg = 2.besi beton .300 Oh . 5. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.koral beton 2). G.kawat beton 3).69 5. Bahan Bekisting (An.tukang besi .41) : .750 Oh = 2.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.000 kg = 0.pekerja .000 Oh = 1.41) : .100 Oh = 0.kepala tukang besi = 6.400 m3 = 4.540 m3 = 0.

Upah Bekisting (An.000 Oh = 0.000 Oh = 5. G.kepala tukang kayu .pekerja .100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.500 Oh = 0.mandor = - = 6.tukang kayu .mandor 6).70 .41) : .

kep.000 Oh = 1.300 Oh = 1.7.000 Oh = 0.105 Oh = 0.35.tukang batu .0007 Oh x 150 .300 Oh 5). 6. 6.007 Oh x 150 = 1.semen portland .050 Oh = 0. 6.0003 Oh x 150 = 0.72 5.paku biasa .250 kg = 388.000 kg = 2.kepala tukang batu . Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An. 6.tukang kayu . Upah Bekisting ( An.400 ltr = 150.2 ) untuk tukang kayu : .38. 6. Upah Pembesian ( An. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.mandor = 6.1 ) : .pekerja .2 ) untuk tukang besi : . Bahan Pembesian ( An.kayu terentang (papan) .35.100 Oh = 0.2 ) dan ( An.pasir beton .38. 6. Bahan Bekisting ( An.040 Oh = 0.050 Oh = 1.tukang besi .500 kg = 0.kawat beton 3).mandor = 0.besi beton .1 ) : .38.026 Oh .045 Oh 6).650 m3 = 0.kep.200 m3 = 1. tukang = 0. tukang = 0.pekerja .koral beton 2).2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).1 ) : .28.1 ) : .25.000 kg = 0.2 ) dan ( An. 6. 6.pekerja .650 m3 4).38.minyak bekisting = 0.

005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.73 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. .mandor = 0.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.

kawat beton = 0.05 kg x 106.59 .kep.75 5.650 Oh = 0.paku biasa = 0.koral beton 2).pekerja = 0.077 kg = 0.mandor = 0.075 Oh .63 kg/m3 + 3.040 m3 x 3.260 Oh x 3.59 = 1.025 Oh = 0.kep.0007 Oh x 106.032 Oh .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.59 .018 Oh = 0.962 kg = 232.63 = 0.080 Oh = 0.746 Oh . Bahan Bekisting : .63 = 0.300 Oh x 3. Bahan Adukan Beton : .59 m2 Bekisting) 1).63 = 1.besi beton = 1. tukang = 0.0003 Oh x 106.kepala tukang batu .933 Oh = 0.63 = 0.59 .63 = 0.mandor 5).59 .093 Oh = 0.59 .tukang besi = 0.100 ltr x 3.pasir beton .minyak bekis = 0.026 Oh x 3.007 Oh x 106. Upah Pembesian : . Bahan Pembesian : .250 Oh = 0.000 kg = 0.077 Oh = 0.359 ltr .7.520 m3 = 0.005 Oh x 3.015 kg x 106.59 4). Upah Bekisting : .pekerja .mandor 6).tukang batu .63 = 111.pekerja = 0.tukang kayu = 0.007 Oh x 106.780 m3 .semen portland .300 kg x 3.144 m3 = 1. tukang = 0.kayu (papan) = 0.599 kg 3).746 Oh = 1. Upah Adukan Beton : .

64 = 0.kep.022 Oh = 0.015 kg x 129.091 Oh . Bahan Bekisting : .pekerja .650 Oh = 0.007 Oh x 129.48 .koral beton 2). Upah Adukan Beton : .tukang besi = 0.kepala tukang batu .040 m3 x 4.007 Oh x 129.semen portland .0007 Oh x 129.448 ltr .300 kg x 4.250 Oh = 0.48 .64 = 0.64 = 0.122 kg = 232.025 Oh = 0.260 Oh x 4.907 Oh . tukang = 0.64 = 0.64 = 136.48 .tukang kayu = 0.48 .166 Oh = 0.mandor 6).945 kg 3).besi beton = 1.907 Oh = 1.026 Oh x 4.minyak bekis = 0.780 m3 .76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.0003 Oh x 129.520 m3 = 0. Upah Pembesian : .005 Oh x 4.pasir beton .kawat beton = 0.179 m3 = 1.48 4).344 kg = 0. Upah Bekisting : .64 kg/m3 + 4.165 Oh = 0. Bahan Adukan Beton : .039 Oh .080 Oh = 0.mandor = 0.000 kg = 0. tukang = 0.100 ltr x 4.pekerja = 0.05 kg x 129.64 = 1.pekerja = 0.344 Oh = 1.kep.300 Oh x 4.kayu (papan) = 0.mandor 5).paku biasa = 0. Bahan Pembesian : .48 m2 Bekisting) 1).48 .48 = 1.tukang batu .

094 Oh .kawat beton = 0.186 Oh = 0.14 4).14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.besi beton = 1.780 m3 .345 kg 3).kepala tukang batu .520 m3 = 0.32 = 1.714 ltr .32 = 0.pasir beton .32 = 0.mandor = 0.pekerja .kep.250 Oh = 0.026 Oh x 7.pekerja = 0. Bahan Adukan Beton : .koral beton 2).080 Oh = 0.007 Oh x 156.040 m3 x 7. Bahan Pembesian : .14 .14 m2 Bekisting) 1).0003 Oh x 156.32 kg/m3 + 7.14 .77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.856 Oh = 0.mandor 6).kayu (papan) = 0.32 = 2.650 Oh = 0.pekerja = 0.14 .007 Oh x 156.300 kg x 7.32 = 1.000 kg = 0.015 kg x 156. Upah Bekisting : .kep.300 Oh x 7. Upah Adukan Beton : .14 .0007 Oh x 156. tukang = 0.tukang batu .05 kg x 156.tukang besi = 0.036 Oh = 0.142 kg = 0.025 Oh = 0.mandor 5).paku biasa = 0.14 = 2.047 Oh .32 = 164. Upah Pembesian : .100 ltr x 7. tukang = 0. .260 Oh x 7.semen portland .17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.tukang kayu = 0.142 Oh = 1. Bahan Bekisting : .094 Oh = 1.286 m3 = 2.136 kg = 232.005 Oh x 7.minyak bekis = 0.109 Oh .

18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.15.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting. Tabel 5.17. 4. Tabel 5. 3. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 2. .4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.16 dan Tabel 5.81 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. Tabel 5.7. Tabel 5.

00 = 1.00 Rasio perbandingan = 110.00 = 26. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.86 5. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00. Dari Tabel 5.00 dan SNI = 150.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00 .110.00 = 150. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110. .

59 594.285.000.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.171.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.21 594.500.628.411.643.35 542.575.000.38 594. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.00 1.14.464.304. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.858.285.717.442.000.178.434.76 1.00 2.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.00 1.1.82 1.1 di atas.000.19 869.35 1. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.628. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.285.00 500.464.78 H.80.739.S.42 1.085.286. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434. 6.76 1.78 2.304.000.00 557.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.1. 1.821.00 0.BAB VI PEMBAHASAN 6.38 dan pada SNI adalah Rp 579.336.61 .000.82 557. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.632. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000.500.575.130.178.

6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. . Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. poer P2 dan poer P3. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. balok dan plat (tribun). Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.1.

000.14 H.00 0.602. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.00 1.000.20 7.629.000. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.24 dan pada SNI adalah Rp 2.10 3.00 3.90 7.23 4. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.00 6.472.95 4.258. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.000.15 4.472.880.000.464. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.80 2.20 3.121.172.000. Bahan Pembesian (Rp) 3.298.00 4. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.602.601.172.S.40 2.197.298.802. pada pekerjaan sloof.297.000.197.000.2 di atas.58 1.904.298. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.00 2.191.74 . disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.000.183.223.732.000.558.629. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.757.314.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.10.447. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.172.000.929.58 1.00 5.00 2.176.223.60 8.000.000.000.00 6.000. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.522.000.401.200.23 1.

3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.00 H. 575.495.726.000.000.953.701.S.00 6.278. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.681. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.098.301.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.211.402. 8.000.300.052.00 1.000.150.86 Sloof 385.87 dan pada SNI adalah Rp 872.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.16 5.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 1.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.000.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.350.44 1.000.3 di atas. 6.617.00 4.000.576.000.58 871.53 2.1.726.03 544.70 Pondasi Poer 285.00 1.600.425.936.70 1.000.00 0.72 3.758.781.00 2.000.307.000.000. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.487.480.131.16 1.66 6.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.42.72 Tribun 963.88 1. Bahan Bekisting (Rp) 7. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.00 3.052.98 .911.000.881.

terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. H.00 816. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.00 1.900.000.950. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.00 .00 293. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.200.4 di atas.000.00 220.088.425.000.S.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas. Upah Adukan Beton (Rp) 1.000.00 146.000.00 272.000. Sebanyak 50 % .80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.00 272.2.425.00 220. 6.00 272.000. 6.000.000.00 1.00 400.00 272.00 272.000.000.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.000.000.475. Harga rata-rata harga satuan 73.00 0.00 200. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.000.00 800.00 816.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 600.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 544.00 272.

00 2.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.200.927.00 234.00 2.000.600.284.000.84 354.000.30 179.889. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.5 di atas. 6.00.500.00.000.00 104.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 dan pada SNI adalah Rp 272.00 642.375. 3. Dimana harga rata-rata satuan 61. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.700.00 394.00 1.569.000.00 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 0.927.125.48 .00 1.2.000.762.925.000.400.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.000. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.82 89.125.00 234.500.00 H.00 119.733.035. Upah Pembesian (Rp) 2.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 1.00 500.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.500.60 89.750.00 1. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.749.700.S.000. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.768.5 dibuat suatu grafik perbandingan.

00.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.665. 6. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.2. sedangkan SNI adalah Rp 116. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.81. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. .175.180.670.

00 914.00 615.885.51 dan pada SNI adalah Rp 108.00 1.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.000.828.000.00 0.000.000.128.000.00 198. Upah Bekisting (Rp) 1.825.00 2.000.20 155.000.200.75 354.458.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 200. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 Sloof 79.000.00 1. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1. Pada tenaga kerja pekerja.00.000.00 Pondasi Poer 57.170.00 1.000.00.95 1.S.00 134.000. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.000. 113.925.188. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.00 326.291.00 600.800.000.265.400.6 di atas.600. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.371.00 H.371.00 1.00 1.814.200.00 1.35 457.00 400. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 1.000.970.000.00 800.000.25 .599.000.920.242.

318.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.952.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.000.000.91 3.00 6.714.71 Tribun 3.257.61.99 15.7 di atas.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.000.000.000.000.56 2. Dari Tabel 5. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.00 6.212. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.000. 6.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.637.86 6.160.43 14.000.115.904.956.14 4.618.714.055.640.26 dan pada SNI adalah Rp 3.000.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.32.003.63 9.272.450.809. Dari Tabel 5.000.523. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.00 0.472.000.152.78 3.000.33 . Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.00 4.86 18.000.275.000.956.019.00 16.14 5.00 2.369. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.333.029.70 3.000.19 8.648.00 8.523.00 12.00 10.000.278.000.730.00 6.623.692.989.937.96 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.000.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.130.

125. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.32 dan pada SNI adalah Rp 496.00 1.352.119.00 4.00 0.000.000.73 .00.750.50 471.000.000.000.674.965.35 810.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.00 1.000.00 490.004. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.000.00 1.00 5.00 1. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.000.012.565.485.00.500.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 3.000.00 4.370.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.485. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.071.000.114.000.000.00 2. 6.97 perbandingan.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 607.095. 4.00 2.114.375.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.00 5.653.00 418. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.620.84 496. 461.17 740.907.575.940.371.233.8 di atas.125.742.

Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.625.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.14 11. Pembesian Dan Bekisting. Selisih dan rasio harga satuan bahan.653.000.000.000.859.00 12.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.26 dan pada SNI adalah Rp 4.126.594.00 18.16 7.00 14. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.458.00 10. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting.43 9.000.070.000.118.586.696.070.98 14.54 17.000.000.000.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 6.9 di atas. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.690.984.000.866.020.559.830.78 Sloof 3.120.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.54 4.220.000.000.93.000.380.000.703.000.56 Pondasi Poer 2.71 Tribun 3.00 8.00 11.000. 6.000.839.761.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.00 0. 3.255.756.804.00 16.890. upah dan pekerjaan beton bertulang.000.609.885.000. Tabel 6.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.91 4.742.390.63 10.00 2.839.36 5. 2.000.86 20. Pembesian Dan Bekisting.123.00 6.32.06 .000.677.279. 3.727.00 4.

.99 4.5 Total Selisih Harga Satuan. Tabel 6.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.6 Total Rasio Harga Satuan. Tabel 6. 5. 6. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 6.

100 .

101 .

102 .

00% 19. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58. 70.10 di atas.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 6.7 6.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 58.00% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.7.00% 50.00% 10.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.89% 20.94 % dibandingkan SNI dan 19.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.7.00% 0. .75 % dibandingkan SNI.00% Selisih H.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.00% 30.103 6.S.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.94% 60. Bahan Adukan Beton 48.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.

00% 20.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% Selisih H.00% 60.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30. Bahan Pembesian 36.7.00% 0.69% 44.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.S.00% 30.S.42 % dibandingkan SNI. 6.11 di atas. 80. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 0.49 % dibandingkan SNI dan 36.42% (%) 30.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 50.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 70.21% 67.03% 55. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.00% (%) 40.00% 10. Bahan Bekisting 41.104 60.00% 50.00% Selisih H.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% 10.00% 30.00% 20.00% 40.

13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5. 80.8.105 Dari Gambar 6.00% 0.00% 70.S.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.00% 60.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.77 % dibandingkan Lapangan.00% Selisih H.13 di atas.00% 50.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.69 % dibandingkan SNI. 6.12 di atas.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.47 % dibandingkan SNI dan 44.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. Upah Adukan Beton 29.00% 30.00% 10.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00% 20. .54% 72.00% (%) 40. 6.77% 61. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.8.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.

89% 80.00% (%) 50.00% 90.00% 60.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 93.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 40.00% 90.00% 40.00% 0. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% 70.00% 10. 6.46 % dibandingkan SNI.00% 10.106 100.00% 0.00% 80.14 di atas.58% 53.S. Upah Bekisting 90.66% 54.46% Selisih H.00% 20. 100.01 % dibandingkan SNI dan 84.00% 60. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% (%) 50.8.00% 80. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30.00% 70.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.01% 84.00% 20.00% 30.S.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% Selisih H.

Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 10.00% 50.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.58 % dibandingkan SNI.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 39.00% 0.00% 60.15 di atas.89 % dibandingkan SNI.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.107 Dari Gambar 6.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.S.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton. .31 % dibandingkan SNI dan 30. 6.16 di atas.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.89% (%) 40.00% Selisih H. 70.64% 58.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.89 % dibandingkan SNI dan 53.00% 20.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.00% 30.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. Bahan Beton 30. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.

05% 57.00% 90.00% 0.82% 50.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.17 di atas.00% 80.06 % dibandingkan SNI dan 71.S. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .00% 86.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% 60.108 100. 70.00% 70.00% 20.00% 10.05% 57.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00% 20.54% Selisih H.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 30.54 % dibandingkan SNI.00% 10.00% 30. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 40.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.00% (%) 40.00% 50. 6.00% 60.00% (%) 50.00% 0.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.06% 71.

19 di atas.44 1.00 Ratio 1.18 di atas.50 2.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.12.00 2.109 Dari Gambar 6.00 Rasio H.50 0.S. Bahan Adukan Beton 1. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57. 6.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5. 6.50 % dibandingkan SNI dan 1.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.24 dan 1.12. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 0.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 3.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.05 % dibandingkan SNI.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. .25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.25 2.50 1.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.95.

00 2.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. Bahan Pembesian 1.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.44 1.25 dan 1.110 2.72 1.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 0.00 Rasio H. 6.12. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 3.00 0.44.50 0.00 0. Bahan Bekisting 1.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 Ratio 2.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.50 2. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 3.79 3.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.20 di atas.00 Rasio H.50 1.00 1.56 2.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.00 1.50 1.S.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .

50 Ratio 2. 6.111 Dari Gambar 6.13. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 3.50 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 0.60 3.21 di atas.S.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.42 2. 6.00 2.Upah Adukan Beton 1.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 Rasio H. 4.50 1.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.72.07 dan 1.13. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. .70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.60 dan 3.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.42.00 1. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.00 3.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.22 di atas.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.

Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 6.00 8.13 2.112 16.00 4.Upah Bekisting 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.32 dan 6.00 Rasio H.00 10.00 2.00 0. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.00 14.20 Rasio H. 12.23 di atas.00 10.32 6.00 14.00 0.00 Ratio 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 2.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.13.00 12.52 2.00 Ratio 8.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.S.S.20.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .15 10.00 4.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.

00 2. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.25 di atas.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.50 0.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.Bahan Beton 1.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 Rasio H.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.00 Ratio 1.44 2.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.66 1.15.50 2. 3.24 di atas. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.113 Dari Gambar 6.40 dan 1.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. .S.66.98 dan 2.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00 0.

35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2. 6.01 1.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .33 2.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 0.55 2.18 dan 3.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.02.00 2.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.02 Rasio H.00 7.50 0.26 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 1.18 3.00 7.50 2.114 8.00 6.00 3.00 0.00 1.50 1. 2.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 5.00 Ratio 4. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.

28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.94 2.27 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 4.75 dan 3.00 0.75 2. 6.00 2.115 Dari Gambar 6. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.33.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.36. 6.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.75 3.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.35 dan 1. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.36 1.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 0.17.50 3.00 3.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.00 1.50 Ratio 2.28 di atas.50 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian. Indeks bahan kawat beton pada .

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. . mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Dengan demikian baik dari segi biaya. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Lain halnya dengan analisa SNI.

52) dan Lapangan > SNI (2.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.95).25) dan BOW > SNI (1.79).89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Lapangan > SNI (2. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. BOW > Lapangan (6. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.60).07) dan BOW > SNI (1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.32).01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. d.70) dan SNI > Lapangan (1. f. BOW > Lapangan (1. e.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.20). BOW > Lapangan (3.44). Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55. c.08 % dibandingkan dengan 120 .47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.42). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a. b. Lapangan > SNI (3.44). Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.56).72).49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.25) dan Lapangan > SNI (1.

Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.44). g.15). BOW > Lapangan (2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. BOW > Lapangan (3. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.66).18). i. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. . Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. SNI dan Lapangan.40) dan BOW > SNI (1. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. 2. Lapangan > SNI (2.02). 3.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.75).13) dan Lapangan > SNI (5. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Lapangan > SNI (2.55) dan Lapangan > SNI (2.36).121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.33).98).75) dan SNI > BOW (1.01).05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.35) dan BOW > SNI (2.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7. Rasio perbandingan indeks a. Lapangan > BOW (3. h. b.

dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.62).19) dan Lapangan > SNI (2.43).46) dan Lapangan > SNI (2.62).2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. . 7.43). indeks kepala tukang BOW > SNI (21.62).62). BOW > Lapangan (2. BOW > Lapangan (8.43). pembesian dan bekisting.122 b. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.46) dan Lapangan > SNI (2. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (2. indeks tukang besi BOW > SNI (6.

DAFTAR PUSTAKA Ir. Rencana dan Estimate Real of Cost. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Jakarta. 2004. Bandung.A. SNI Edisi Revisi. Departemen Pekerjaan Umum . 9. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Jakarta. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. 1985. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Penerbit Nova. Mukomoko. Niron John. cetakan kesembilan. 2006. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Joko Waluyo. 2001. J. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. 2002. Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. 1971 N. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). 1995. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Cet. 2006. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. 2005. Yogyakarta. Sugeng Djojowirono. W. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 1993. Bachtiar Ibrahim. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Asona. 1984. – 2. Jakarta.I. Dani Kurniawan. A. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Iman Soeharto. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Soedradjat Sastraatmadja. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Bumi Aksara. Penerbit Erlangga. CV. 1991. Penerbit Bumi Aksara. Manajemen Konstruksi. 1992. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. 2003. PT. 1984.

719. Juli 2007) 35.500.000.000.00 43.00 7.00 43.80 1.892.39 239.10 59.00 10.40 934.500.000. Wajo.052.500. III (Papan) Kayu Kls.000.00 .DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.605. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.226.00 10.547.000.00 45.60 10.115.785.70 1.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.000.500.337.28 17.00 105.00 43.00 50.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful