TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Haris. iii .HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Ibu. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Bapak. Istriku beserta keluarga besarnya. terima kasih atas doa dan dukungannya. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Adikku Erna.

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. H. H. 5.WB. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. Alhamdulillah. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. Ibu. 3. bapak. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Ir. Bapak Tadjuddin BM Aris. Bapak Faisol AM. Ir. 4. 2. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. ST. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. iv . Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Bapak Zaenal Arifin. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia.

v . 7. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis.6.

120. vi . Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.18 dan 71. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. RKS. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.727. pelayanan maupun waktu.696. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.594.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.44 dan 58.26 sedangkan metode SNI Rp 4.33.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.35 dan 1. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.804. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. SNI dan Lapangan/Kontraktor.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57. SNI dan Lapangan.40. tenaga kerja.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.32 dan untuk Lapangan Rp 9.859. RAB penawaran kontraktor. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.

.....................3.3 3...........................................................................17 Biaya Tidak Langsung……….....3 Tujuan Penelitian.......................................................1 Estimasi Biaya................................3..................3 1.....................ii HALAMAN PERSEMBAHAN........................................3 Rencana Anggaran Biaya…...2...27 vii ......................................................................................................1 3...........11 3.....................12 Kualitas Perkiraan Biaya…….............................3 Manfaat Penelitian....................................................1...2 3............18 3........................2 Biaya Langsung.....................................1 Rumusan Masalah......................................2 1................................1.........................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................1 3.......................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya..............19 3...........3 Volume/Kubikasi Pekerjaan.....................................23 Harga Satuan Pekerjaan...............................................................................................................................9 BAB III LANDASAN TEORI 3...............................xiii BAB I PENDAHULUAN 1...........................................1 1...................................................2 3........1 2..........vi DAFTAR ISI........................1 3..5 Latar Belakang.............................vii DAFTAR GAMBAR.............................13 Metode Perkiraan Biaya..2 Jenis Anggaran Proyek..........................24 Analisa Harga Satuan..............................................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2............................................2...2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan........4 Batasan Masalah.......................................................................................iv ABSTRAKSI.............xi DAFTAR TABEL...........................................................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN...iii KATA PENGANTAR............4 1.................14 Biaya Konstruksi Proyek…...1.................................3...........................15 3.....

..................................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI...1 3.......41 Pengolahan Data……......................3 Pekerjaan Adukan Beton....48 Analisa Metode Lapangan......2 3.....2.41 Objek Penelitian…........40 Pekerjaan Bekisting........................4.....................................7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.................4...3 Analisa Harga Satuan Metode BOW........................2 4....................................................3..3..............42 Tahapan Penelitian……............................................3.........41 Cara Pengumpulan Data…….....1 3.............2.........4.........3....................1 3.3......................................37 Pekerjaan Beton Bertulang............27 Analisa Harga Satuan Alat.............3.........................3.................................4...............................3............39 3............. Lapangan............2 5.4 4...................2 3...............................5 4.......................................4 Beton Bertulang….37 3................64 5............1 4................34 Analisa Harga Satuan Metode.............4....41 Data yang Diperlukan……....................................4 Analisa Harga Satuan Material.....52 Komparasi Harga Satuan......3 3.............36 3.....4 5.....69 viii ..............................................................32 3....2 Bahan – Bahan....2....................................3 5.60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio..............3.........27 Analisa Harga Satuan Upah..................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4.......1 3.........6 Subjek Penelitian……................................................4.................................................44 Analisa Metode SNI.....5 5................................44 Analisa Metode BOW................ Pekerjaan Beton Bertulang...............39 Pekerjaan Pembesian...............6 Rencana Pekerjaan……...28 Metode Perhitungan....3........... Harga Satuan.....42 BAB V ANALISA DATA 5.4....3 4..........................................2 3...1 5.3....4......

.............3 Upah Adukan Beton....2 6...................10 6...............................86 PEMBAHASAN 6...........3 6....2...........3 6..........................9 6.............2 6..12.3 6..............7..5 6....12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton..8................1 Rasio Bahan Adukan Beton...................106 6......................................................................................89 Bahan Bekisting............4 6...................92 Upah Pembesian....................................96 Harga Satuan Upah Beton....................................1......93 Upah Bekisting........…..........1 5.......2......1..105 Selisih Upah Bekisting..1.............1 Harga Satuan Bahan.......................................2 Selisih Bahan Pembesian.....................4 5..108 Rasio Harga Satuan Bahan............8 BAB VI Indeks BOW.....................…….......75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.............107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........7 Harga Satuan Bahan Beton....97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan………….2.....72 Indeks Lapangan...96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........107 Selisih Harga Satuan Upah Beton..........1 6..............2 6................105 6..............8 Selisih Bahan Bekisting................69 Indeks SNI....................................................................7...............................7.....105 Selisih Upah Pembesian...............1 Selisih Bahan Adukan Beton..............109 6...........88 Bahan Pembesian.7.........................................8.....8.2 Bahan Adukan Beton.............2 5............................................11 6...103 6.............................6 6......109 ix ....................................103 6.............................................7........1 6....5........................92 6...81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks.................1 6................103 6..98 Selisih Harga Satuan Bahan.......................3 5.....91 Harga Satuan Upah.....................................7.........................88 6..........3 Selisih Upah Adukan Beton................7...............94 6..............................104 Selisih Harga Satuan Upah....

..............110 6......1 7................111 6.......................3 Rasio Bahan Bekisting…………………….....115 6..................................2 Rasio Upah Pembesian...................12...............LAMPIRAN Kesimpulan……...........…............................112 6......................13..............17..............................................115 6.....2 Rasio Bahan Pembesian…….....................14 6...........2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ................118 Saran...1 Rasio Upah Adukan Beton.................13 Rasio Harga Satuan Upah........2 Indeks Tenaga Kerja....................1 Indeks Bahan...............................13...................................12.................................113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......................................16 6...........114 Indeks..................116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7..3 Rasio Upah Bekisting.......111 6..17.........120 x ....15 6........6....................................111 6...109 6...........17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton..113 Rasio Harga Satuan Upah Beton..................13......

.....104 Gambar 6.........92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.....26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan....2 Gambar 6.....................................1 Gambar 6...106 Gambar 6.................105 Gambar 6...............................96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton...5 Gambar 6.............91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton..........................110 Gambar 6.................16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton......20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian....90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton............107 Gambar 6.......11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian..............21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.....26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir....88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.......104 Gambar 6.....109 Gambar 6........22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.......................... Gambar 3......... Gambar 4.........................19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.3 Gambar 6......................................7 Gambar 6........................................................14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian....43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton..DAFTAR GAMBAR Gambar 3.............4 Gambar 6.................110 Gambar 6............98 Gambar 6..................6 Gambar 6........2.......10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..5................93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting...1 Gambar 3.......20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci...8 Gambar 6....1 Gambar 6..15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.4......17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton.108 Gambar 6.21 Skema Harga Satuan Pekerjaan.......13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton............................97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........ Gambar 3.......................................................................12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.......................3................................111 xi ..............................18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)........................................ Gambar 3..106 Gambar 6.......13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar...........108 Gambar 6.103 Gambar 6..................................

..Gambar 6.112 Gambar 6................114 Gambar 6..........116 xii .............113 Gambar 6.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton...................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian...........................................24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting..................114 Gambar 6..................29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian...115 Gambar 6......112 Gambar 6......................26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton.................................23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian...................

.................................................49 Tabel 5......DAFTAR TABEL Tabel 3...........................................2 Analisa Harga Satuan Bahan..........................................4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........1.........62 Tabel 5........45 Tabel 5....................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.1 Analisa Harga Satuan Bahan............................................. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan........8 Tabel 5.....................................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton........16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.................68 Tabel 5............... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI...68 Tabel 5........................................................7 Tabel 5................. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record......67 Tabel 5.......... Pembesian Dan Bekisting.............3 Analisa Harga Satuan Bahan......15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.....14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.... Pembesian Dan Bekisting....................................66 Tabel 5..........5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.................................74 xiii .................................15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.................................71 Tabel 5.......6 Tabel 5...13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting........................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.........12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.....................................................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian....15 Tabel 5.67 Tabel 5...53 Tabel 5.63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.....61 Tabel 5.........................................................67 Tabel 5........................68 Tabel 5................................................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting............................66 Tabel 5.........

..........................................................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.............101 Tabel 6............................102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ...1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton....................................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.6 Total Selisih Harga Satuan.......................................................................Tabel 5....................84 Tabel 5....5 Tabel 6........... Pembesian Dan Bekisting.................................85 Tabel 5.82 Tabel 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..............83 Tabel 5............................................3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.............. Pembesian Dan Bekisting................87 Tabel 6............................22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..................... Pembesian Dan Bekisting. Pembesian Dan Bekisting...101 Tabel 6..........................................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton...............................100 Tabel 6.................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.......4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.........78 Tabel 5.......................................................................100 Tabel 6.

analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. 1 . tenaga kerja. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.BAB I PENDAHULUAN 1. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. pelayanan maupun waktu. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat.

Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. Agar lebih luas cakupannya. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . namun hanya untuk perumahan sederhana. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Pada tahun 1987 sampai 1991.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. konsultan.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan.

1. . Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. 2. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. Pada saat ini. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. SNI dan penawaran kontraktor. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. Apakah ada selisih harga satuan material. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. SNI dan penawaran kontraktor. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. 3. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan.3 kekalahan.

4. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor.4 1. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo.4 Manfaat Penelitian 1. profit dan pajak tidak diperhitungkan. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Dapat menjadi referensi bagi penulis. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 3. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. 6. 5. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. 2. tahun 2007. 2. . 1. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. Biaya tidak langsung seperti overhead. 7. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. 3.

23 %. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.40. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.218. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.706.232. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.344.39 %. 5 . Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.90. 103. 15. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.

dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. .

Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. bahan dan biaya. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. 3. waktu. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja.7 2. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan.

adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. 4. Pekerjaan Bekisting Kolom 2.23 % = 63.26 % = 44.8 Karyaan. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Metode yang digunakan : Data primer a. produktivitas pekerja. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Interview. . Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1.16 % 5. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Pekerjaan Bekisting Balok 3.

SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 2.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10.87.00. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.50. 53.206. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.217. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 0.437. dengan nilai penghematan 2. 78.655. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 0.214. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW.21. 99.10.348.14 2.013.184.025. 39. dengan nilai penghematan 1.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 1.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.207. 31. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.508. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 11.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.00.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur.930.

Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. balok dan tribun menggunakan metode BOW. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sloof. SNI dan Lapangan. . 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. SNI dan Lapangan. kolom.

menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. material. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. peralatan. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. 1995). Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Dengan kata lain.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering.BAB III LANDASAN TEORI 3. dan lain-lain. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto.

1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. 1994). maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif.1. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. lokasi. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. 1995. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek.12 proyek seperti jenis. 3. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. sesuai dengan fungsinya. Perencanaan Biaya Bangunan. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. . Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. ukuran. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap).1. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian.

Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .1. yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.13 Tenaga kerja .Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.1.Produktivitas .Overhead . kemudian .Satuan harga material curah . 1995.Eskalasi .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.Penawaran dari paket MR/PO . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. 1995) 3. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Harga peralatan . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Standar jam orang .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.“Quantity take-off” .

Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. pengalaman serta judgment dari estimator. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. 1995. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif).1. Pada metode elemental analysis cost estimating. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Hal ini memerlukan kecakapan. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. dan bila telah diberi beban biaya. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. 3.

Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Pintu .Eksterior .Atap . Means Engineering News Record .Listrik . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. Jenis dan intensitas kegiatan .Sistem HVAC .Kontigensi .Persiapan site . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Pondasi .Kolom interior .Super struktur .15 gedung. 1995) 3.Fixed equipment . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Sistem conveying .Pemipaan .Sistem pemipaan .Sistem HVAC .Pondasi .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Pekerjaan lahan (site) .1.Interior . Tabel 3.Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Sistem conveying .Listrik .Glazed opening .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Substruktur .Lantai .Dinding interior .Dinding eksterior .

16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. truk. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. Bila hal ini terjadi. grader. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. jenis keterampilan. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. kompresor udara. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. berlumpur atau berdebu. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Bertolak dari kenyataan tersebut. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. atau yang langka tersedia di pasaran. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. (Iman Soeharto. lengkapkah peralatan. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. dan lain-lain. terutama bagi long delivery items. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. Ini dapat berupa crane. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. pengeruk tanah (back-hoe). Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. Terutama untuk daerah rawa. 1995). scraper. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas.

mesin-mesin. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. biaya menaikkan dan menurunkan. mulai dari membuat spesifikasi. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. 1995). mencari sumber sampai kepada membayar harganya. jadi sudah termasuk biaya angkutan. 3. memotong dan .17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. pengepakkan. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. (Iman Soeharto. alat-alat tangan (tools). Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. penyimpanan sementara di gudang.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan.2.

biaya-biaya notaris. telepon. telepon yang dipasang di proyek. peralatan kantor dan alat tulismenulis. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. pemasangan alat. asuransi. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. pengangkutan. memindahkan. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. membongkar dan biaya operasi. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. 3. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. alat angkut dan lain sebagainya. bunga uang. . 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. pengukuran (survey).2. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. surat-surat ijin dan lain sebagainya. asuransi.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan.18 membengkokkan baja-baja tulangan. air. misalnya sewa kantor. pajak. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. listrik.

1984. 1993. Adapun menurut John W. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. 1992. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Menurut Sugeng Djojowirono. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja .19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. . rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 3. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. cermat dan memenuhi syarat.

hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. Analisa Anggaran Pelaksanaan. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. A. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar.2. dapat dilihat pada gambar 3. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. Secara sistematisnya. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Soedradjat Sastraatmadja. Soedradjat Sastraatmadja (1984).2. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. A. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.

Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost.3. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. Mukomoko.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. daftar harga bahan. Secara sistematisnya. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek.3. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. 1993. Menurut Bachtiar Ibrahim. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. daftar upah. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. . daftar susunan rencana biaya. buku analisis. Pajak Gambar 3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. dapat dilihat pada Gambar 3. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. A. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Profit. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti.

Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan.Rencana saluran pembuangan air hujan. .Rencana garis batas tanah dan roylen. 2) Gambar denah PU 1 : 100.Rencana jalan dan pagar. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. . Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok.00. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. . nok reng balok/muurplat.). PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : .Rencana letak bangunan.00 m dari lantai. misalnya : dasar pondasi. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . tinggi langit-langit. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. letak tinggi jendela dan pintu.Rencana halaman .

dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. RENCANA PLAFOND = K 12. DENAH LISTRIK =L =M 14. TAMPAK SAMPING KIRI 6. Jadi volume (kubikasi) . . cetakan keempat. SAMPING KANAN 5. keilkeper.Gambar konstruksi kayu.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. 2007. talang air. DENAH KUSEN 13. dengan jelas. POTONGAN III-III 10. Gambar saluran pembuangan air hujan. T. . RENCANA KAP =H =I =J 11. Jakarta. Gambar saluran pembuangan air kotor. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. DENAH PONDASI 7. TAMPAK MUKA 3. RENCANA SANITASI = N 3. hooker. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. 7) Gambar pelengkap. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . usuk/kasau dan konstruksi penahan. POTONGAN II – II 9. TAMPAK BELAKANG 4.3.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. . POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. nok gording. muurplat/reng balok. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan.Gambar konstruksi baja.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. DENAH 2.Gambar konstruksi beton bertulang.

Volume angker besi dihitung berdasarkan berat.3. . yaitu jumlah luas bidang-bidang atap.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. lisplank 28 m. trapezium. e. c.Volume atap dihitung berdasarkan luas. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. b.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. d. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. Harga bahan didapat di pasaran. dan sebagainya. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a.24 suatu pekerjaan. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. persegipanjang. 3. yaitu panjang x luas penampang yang sama. seperti segitiga. . yaitu jumlah panjang angker x berat/m. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya).Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. atap 140 m2. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. . .

Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.S. Bahan + H. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.S. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. Upah + H. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.4. dalam menghitung harga satuan pekerjaan.25 pemerintah.S. dapat dilihat pada gambar 3.5. dan gambar 3. Alat Secara sistematisnya. .

Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono.4. Manajemen Konstruksi. 1984) .26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Yogyakarta.5.

1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. upah tenaga kerja. 1994 dalam Dani Kurniawan.3. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan.3.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah.27 3. kecepatan .3. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim. 2004). (Bachtiar Ibrahim. 3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. 1993). dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. volume pekerjaan yang akan dikerjakan.3. 3. 1 m2.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI.3. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan.

jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. Kepala tukang. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim. b. 2004). c.3. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . 1993). Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. Mandor. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. Pekerja. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. selain bertugas sebagai tukang batu. Tukang batu.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost).3. d. 3.

bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli.002 x B = 0. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . maka . biaya sewa gudang. = 0. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. maka . C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. ongkos angkut. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. Bagi peralatan yang bertugas sedang. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun.

Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. saringan/filter udara dan lain sebagainya. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). penggantian batere / accu dan perbaikan alat. grease. d. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. e. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). saringan agregat untuk stone crusher / AMP. pelumas power steering. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. dan lain sebagainya. . b. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. c. pelumas hidrolik. pelumas transmisi.

5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power . Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran.31 3.5) % x HP Dimana . Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Karena rumus sifatnya pendekatan. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.5 s/d 17.5% = untuk alat yang bertugas berat b. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

00 x @ Rp.250.Semen Portland = Rp.2 Tenaga : = 1.964. = Rp.000. = Rp.tukang batu .kepala tukang x @ Rp.777.00 1.892.00 10. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.5. 203.61 .84 x @ Rp. = Rp.250 Oh = 0.650 Oh = 0.000.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.000.115. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. 239.60 x @ Rp.pekerja . 59. 35.00 x @ Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.875.02 = Rp. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.600. 57. 50. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. 934.mandor .500.chipping/split .00 x @ Rp. 43.697. 187. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.00 3. = Rp.080 Oh = 0. 421.780 m3 = 0.00 kg x @ Rp. SK SNI-06-1989-F. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.547.025 Oh 3 . 45. SK SNI S-04-1989-F.75 = Rp.750.520 m3 = 218.pasir beton .00 Jumlah (2) = Rp. 30.39 Jumlah (1) 5.475.10 = Rp.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.00 73. SK SNI S-05-1989.1 5.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .5. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.

00 3. Menghitung harga satuan bahan dengan cara . Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). 4.777.955. 934. 313. 3.39 = Rp. 495.3. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . = Rp. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.4. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.semen portland = 336.252.61 + Rp.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. 2. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : .36 = Rp. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost). harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi.475. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya.04 .000 kg x @ Rp.61 73. 421.

5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .10 = Rp.00 = Rp.00 Jumlah (2) = Rp. 344.000.00 x @ Rp.tukang batu . 131.37 . = Rp.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.00 45.00 x @ Rp.60 = Rp.500. b. Jumlah (1) = Rp. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.350 Oh = 0.810 m 3 x @ Rp. 58.00 1. 2) analisis dengan computer. 50.975.00 3.155.000.00 = Rp. 59.312.00 15.547.kepala tukang .4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.00 + Rp.950.pasir beton .000.892. 35.225.000 Oh x @ Rp.000 Oh = 0.750. 285. 45.34 x @ Rp. 70. 43.000. = Rp. Tenaga kerja : . dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.mandor = 2..540 m3 = 0. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.15.423.60 540.pekerja .70 194.265. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.000. 239.035 Oh = 1. 1991.koral beton = 0. 32.00 x @ Rp. = Rp.

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. Beton adalah campuran antara PC (semen). yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. semen tahan sulfat.5 Beton Bertulang J. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. A. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. semen alumina. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.5. – 2. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a.38 a. lanjutan atau tambahan. c. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. 3. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. 1985. b. 3. dan . tanggung jawab atas penyimpangan. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu.I. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bila perlu. 1971 N.

Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. e. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. seperti terik matahari dan hujan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. alkali. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. c. 3 atau 4 batang yang .39 lain-lain. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.063 mm. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. d. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. asam. Untuk beton mutu Bo. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. garam-garam. dapat juga dipakai semen tras kapur. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. b. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. maka agregat halus harus dicuci.

2. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. memadatkan pengecoran. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. mengaduk adukan. Kekuatan beton. kereta dorong. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. . maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. alat timbang bahan. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. maka campuran bersifat kental. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. misalnya mesin pengaduk.5. kran dengan alat penyodok (bucket). Satuan beton yang dipakai adalah m3. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio).40 sejajar. Campuran beton terdiri dari semen.5.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). dan lain-lain. berarti campuran basah. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. Jika digunakan concrete mixer. 3. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. air.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. maka tempat penyimpanan. merawat pengerasan. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. Dalam perencanaan campuran beton. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. mengangkut.

Menurut peraturan beton Indonesia (1997). yaitu . pelat lantai dan tangga. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. sloof.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. Sebanyak 50 % . balok.2.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. Menurut Dipohusodo. pondasi. 3.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring.10 – 0. kolom. kawat pengikat. minyak pelapis.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam.5. 1996.5. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas.41 3. . Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.50 m3 untuk setiap 10 m2. digunakan tabel berat besi material.2.

peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. 42 . Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 8. 4. 4. 4. 3.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. 6. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 9. 4. 7.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. SNI dan Lapangan. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 5.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.BAB IV METODE PENELITIAN 4. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. 2. Berita acara penjelasan pekerjaan.

b. c.43 4.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. . Menghitung harga satuan bahan. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. d. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. dan g. 4. e. f. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. upah dan pekerjaan.

Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .S.Analisa Harga Satuan Upah .Harga Satuan Pekerjaan .H.H.Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .S.Gambar proyek .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.44 Mulai Data Proyek : .S.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .A.Analisa Harga Satuan Upah .H. Bahan . Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .Analsis Harga Satuan Bahan .A.Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Bahan .A. Peralatan .

45 .

sloof. kolom. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5.BAB V ANALISA DATA 5.1 Analisa Harga Satuan Bahan.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. balok dan tribun. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 45 . Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. 5.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.

Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. .48 5. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.2 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.

4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan.52 5. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5. .3 Analisa Harga Satuan Bahan.

2 dan Tabel 5.3.1.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 4. Tabel 5. Tabel 5. 3. 2. Tabel 5.60 5. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5. .5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5.

1. upah dan pekerjaan BOW.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H. Material = H.64 5.197.629. 3.Rp.20 .223.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.223.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.602.197.20 = 54.58 = 2.20 Rasio perbandingan = Rp.S. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.629. 1.S. 3.S. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar. 1.629.197.602. bahan tertinggi – H. bahan tertinggi Rp.58 = Rp. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.602. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp. 3. Dari Tabel 5. 3.197.S. bahan terendah Selisih H.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.223.602.

Tabel 5. 8. 2.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. 3. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. 6. .8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Tabel 5. 5.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5. Tabel 5. 9. 4.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. Tabel 5.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. 7.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.

G. G.7. Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.000 Oh = 0. Upah Pembesian (An.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.kawat beton 3).00 kg = 110.820 m3 4).semen portland .kepala tukang batu .kayu terentang (papan) . G. Bahan Bekisting (An.540 m3 = 0.41) : .69 5.41) : .pekerja . Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.besi beton .400 m3 = 4.tukang besi .tukang batu . G. Bahan Pembesian (An.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336. 5.250 Oh = 6.750 Oh = 2.000 Oh = 1.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.mandor 5).41) : .300 Oh .pekerja .750 Oh = 6.kepala tukang besi = 6.pasir beton .100 Oh = 0.000 kg = 0.000 kg = 2.koral beton 2).41) : . G.paku biasa = 0.41) : .

500 Oh = 0.70 . .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.tukang kayu .pekerja .kepala tukang kayu .000 Oh = 0. G. Upah Bekisting (An.000 Oh = 5.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = - = 6.mandor 6).41) : .

kayu terentang (papan) .semen portland .1 ) : .0003 Oh x 150 = 0.2 ) untuk tukang kayu : .38.mandor = 6.kepala tukang batu .35.2 ) dan ( An.koral beton 2).000 kg = 2.1 ) : .kep.250 kg = 388. Bahan Bekisting ( An.72 5.28.kawat beton 3).100 Oh = 0.tukang batu .000 Oh = 1.400 ltr = 150.2 ) untuk tukang besi : . 6.050 Oh = 1.pekerja .0007 Oh x 150 .300 Oh = 1.pekerja .105 Oh = 0. 6. Bahan Pembesian ( An. 6. 6.38.mandor = 0.050 Oh = 0.tukang besi .045 Oh 6).650 m3 4). Upah Pembesian ( An.000 kg = 0.tukang kayu .besi beton .pekerja .650 m3 = 0.007 Oh x 150 = 1.026 Oh .040 Oh = 0. 6.1 ) : .minyak bekisting = 0.paku biasa .2 ) dan ( An.kep. Upah Bekisting ( An.000 Oh = 0.pasir beton . tukang = 0. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.38.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).7.35.38. 6.500 kg = 0. 6.1 ) : . Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An. 6.200 m3 = 1.300 Oh 5).25. tukang = 0.

005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.73 . . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.

tukang = 0. Bahan Pembesian : . Upah Pembesian : .300 kg x 3.05 kg x 106.359 ltr .026 Oh x 3.kayu (papan) = 0.paku biasa = 0.520 m3 = 0.63 = 0.minyak bekis = 0.63 = 1.7.300 Oh x 3.080 Oh = 0.75 5.63 = 0.59 .650 Oh = 0.63 = 0.63 kg/m3 + 3.59 .005 Oh x 3.mandor = 0.mandor 6).kep.tukang kayu = 0.59 .000 kg = 0.250 Oh = 0.pekerja = 0.semen portland .077 kg = 0.077 Oh = 0.59 .pekerja = 0.koral beton 2).007 Oh x 106.kepala tukang batu .59 .59 m2 Bekisting) 1).59 4).tukang besi = 0.3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.260 Oh x 3. tukang = 0.pekerja . Bahan Bekisting : .093 Oh = 0.075 Oh .933 Oh = 0.59 = 1. Upah Adukan Beton : .746 Oh .mandor 5).besi beton = 1.144 m3 = 1.015 kg x 106.018 Oh = 0.kep.pasir beton . Upah Bekisting : .780 m3 .tukang batu .100 ltr x 3. Bahan Adukan Beton : .746 Oh = 1.63 = 111.962 kg = 232.599 kg 3).63 = 0.007 Oh x 106.032 Oh .025 Oh = 0.kawat beton = 0.0007 Oh x 106.040 m3 x 3.0003 Oh x 106.

semen portland .179 m3 = 1. Upah Adukan Beton : .koral beton 2).kep.080 Oh = 0.64 = 0.pekerja = 0.minyak bekis = 0.091 Oh .76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.100 ltr x 4.122 kg = 232.344 Oh = 1.tukang besi = 0.907 Oh = 1.64 kg/m3 + 4.64 = 0.mandor 6).kayu (papan) = 0.166 Oh = 0.780 m3 .mandor = 0.64 = 0.907 Oh .0007 Oh x 129.mandor 5).005 Oh x 4.945 kg 3).05 kg x 129. Bahan Bekisting : .tukang kayu = 0.300 kg x 4. Bahan Adukan Beton : .015 kg x 129.48 m2 Bekisting) 1).besi beton = 1.pekerja .48 = 1.paku biasa = 0.650 Oh = 0. tukang = 0.260 Oh x 4. Upah Pembesian : .022 Oh = 0.64 = 136.007 Oh x 129.48 .48 . tukang = 0.kawat beton = 0.250 Oh = 0. Bahan Pembesian : .48 .026 Oh x 4.344 kg = 0.tukang batu .448 ltr .pekerja = 0. Upah Bekisting : .039 Oh .kepala tukang batu .48 .48 .025 Oh = 0.kep.007 Oh x 129.520 m3 = 0.165 Oh = 0.64 = 0.pasir beton .64 = 1.0003 Oh x 129.300 Oh x 4.48 4).040 m3 x 4.000 kg = 0.

007 Oh x 156.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156. Bahan Bekisting : .mandor = 0.kep.040 m3 x 7.094 Oh = 1.026 Oh x 7.0007 Oh x 156. tukang = 0. tukang = 0. Upah Adukan Beton : .080 Oh = 0.047 Oh .besi beton = 1.000 kg = 0. Bahan Pembesian : .tukang batu .345 kg 3).650 Oh = 0.semen portland .142 Oh = 1.kepala tukang batu .286 m3 = 2.tukang kayu = 0.300 kg x 7.14 .32 kg/m3 + 7.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. Bahan Adukan Beton : .32 = 1.109 Oh .186 Oh = 0. Upah Pembesian : .015 kg x 156.856 Oh = 0.14 4).koral beton 2).14 = 2.mandor 5).14 . Upah Bekisting : .32 = 0.pekerja .pasir beton .tukang besi = 0.036 Oh = 0.minyak bekis = 0.005 Oh x 7.142 kg = 0.32 = 2.paku biasa = 0.714 ltr .17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.136 kg = 232.007 Oh x 156.025 Oh = 0.250 Oh = 0.260 Oh x 7.300 Oh x 7.0003 Oh x 156.14 m2 Bekisting) 1).094 Oh .05 kg x 156.kayu (papan) = 0.32 = 1.pekerja = 0.100 ltr x 7.520 m3 = 0.14 .kep. .mandor 6).pekerja = 0.32 = 0.32 = 164.kawat beton = 0.14 .780 m3 .

Tabel 5. 3. 4. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.7.17. Tabel 5.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5. Tabel 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. Tabel 5. .19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.81 5.16 dan Tabel 5. 2.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.15.

Dari Tabel 5. .00 dan SNI = 150. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.00 = 1.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.00 .00 = 150.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.110.86 5.00 Rasio perbandingan = 110.00 = 26.

000.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.35 1.464.643.285.00 2. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.336.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.178.000.000.717.178. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.304.500.42 1.00 0.285.286.00 557.1 di atas.000.35 542.171.80.442.575.821.739. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.628.76 1.00 500.632.1. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.464.38 594.S.76 1.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.00 1.411.BAB VI PEMBAHASAN 6.82 1.14.78 2.78 H.82 557.61 . 6.00 1. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.085. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.19 869.38 dan pada SNI adalah Rp 579.304.1.434.628.858. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.000.000.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. 1.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000.285.130.500.575. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.59 594.21 594.

4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. . Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini.1.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1. balok dan plat (tribun). 6. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. poer P2 dan poer P3.

95 4.000.80 2.2 di atas. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.58 1.00 1.298.447.00 6.629. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.S. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.176.223.000.14 H.000.000.40 2.10. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.24 dan pada SNI adalah Rp 2.58 1.00 6.880. Bahan Pembesian (Rp) 3.10 3.000.000.298.00 4. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.000. pada pekerjaan sloof. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.20 3.23 4.23 1.172. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.60 8.000.191.183.172.000.601.000.000.602.904.314. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.732.472.197.223.000.929.121.472.757.00 2.000.197.000.172.629.297.00 3.00 2.558.20 7.802.00 5.000.00 0.522. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.464.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.298.74 .000.200.401.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.90 7. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.602. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.15 4.258.

4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 6.1.000.425.911.000.131.681.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.576.72 Tribun 963.300.000.72 3. 8. 575.66 6. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.701. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.098.000. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.278.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.000. 6.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.70 Pondasi Poer 285.150.000.00 H.S.726.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.758.600.000.000.00 2.000.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.953.000.70 1.617.00 1.350.00 1.000.03 544.00 3.000.480.42.052.98 .000.402.87 dan pada SNI adalah Rp 872.58 871.307.88 1.781.000. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.881.495.16 5. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.16 1.44 1. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.301.000.726.000.052.00 4. Bahan Bekisting (Rp) 7.53 2.936.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.3 di atas.00 0.86 Sloof 385.487.211.00 1.

000.000.475.00 220.000.900.000.000.00 293.00 400.00 .4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.4 di atas. 6.00 146.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 272. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 220.00 272.S.2.00 0. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.950. Upah Adukan Beton (Rp) 1.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.00 816.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.00 272.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. Harga rata-rata harga satuan 73.000.000.00 1.00 544.088.425.000.000.000.000.00 272.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton. H.00 272.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 1.425.00 272.200.00 200.00 800.00 600.000. Sebanyak 50 % .000.00 816. 6.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.000.000.000.

00 1.700.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.000.00 1.500.749.927.00 119.00 1.000.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 0.500.5 di atas.000.82 89.00 104.125.30 179. 6. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.889. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.733.750. Dimana harga rata-rata satuan 61.S.569.00 394. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 234.00 642.000.500. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.84 354.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.927.000.00 234.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 H.000.00 500.00 2.925.00.00 1.762.600.400. Upah Pembesian (Rp) 2.2.000.48 .00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.700.5 dibuat suatu grafik perbandingan.000.000.035.00. 3.00 2. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.200.00 1.768.60 89.284.125.375.00 dan pada SNI adalah Rp 272. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.180. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. sedangkan SNI adalah Rp 116.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.81.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.665.2. .5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.175.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. 6. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.00.670.

814.00 H.00 1.188.000.75 354.35 457.920.00 134.000.599.51 dan pada SNI adalah Rp 108.000.000.00 2.000. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.00 800.00 Pondasi Poer 57.825.291.00 326. Pada tenaga kerja pekerja.885.458.200.000.970.95 1.00 1.00 1.000.6 di atas.000. Upah Bekisting (Rp) 1.000.200.00 400. 113.371.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00.371.000.800.00 1.000.00 914.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.170.828.00 200.S. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00.00 1. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.000.20 155.00 615.000.242. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.00 Sloof 79.00 1.000.400. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.128. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 1.00 198.00 0.600.000.25 .925.00 600.000. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.265.000.

86 18.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.43 14.71 Tribun 3.14 5.640. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.32.333. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.272.000.714. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 8.369.000.956. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.623.000.00 10. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.000. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.56 2.00 2.937.956.33 .904.00 6.000.003.7 di atas.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.989.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.00 6.86 6.000.730.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.278. 6.63 9.99 15.96 6.000.212. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.318.000.14 4.029.19 8.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.714.00 4.637. Dari Tabel 5.000.61.275.648.00 12.952.055.152.257.130.000. Dari Tabel 5.523.000.450.000.00 0.000.000.000.000.000.26 dan pada SNI adalah Rp 3.019.692.000.78 3.809.00 16.00 6.472.91 3.160.523.70 3.115.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.618.

233.00 5.000.97 perbandingan.653.84 496.00 4.575.000.00 1.674.114.50 471.940.565.485.000.00 1.095.00 490.00 0. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 3.32 dan pada SNI adalah Rp 496.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 607.000. 4.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.370.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.620.00 4.00 418.000.119.8 di atas.742.000. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3. 461.375.00 1.000. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.125.35 810.012.750.500.00.352.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.000.004.00.071.000.00 2.125.371. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.907.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.17 740.000.000. 6.000.00 2.00 1.485.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.965.114.73 . Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.

00 14.98 14.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.14 11.000.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.00 6. Tabel 6.559.756.56 Pondasi Poer 2.390.000. Tabel 6. 2.32.06 .625.000.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.123.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.839.866. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1. Selisih dan rasio harga satuan bahan.000.00 16.677.43 9.86 20.000.91 4.609.26 dan pada SNI adalah Rp 4. Pembesian Dan Bekisting.020.859.458.000. Tabel 6.070.070.984.839.804. Pembesian Dan Bekisting. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.761.380.000. Pembesian Dan Bekisting.255.000.830.00 2. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.000.00 10.71 Tribun 3.00 0.000.78 Sloof 3.000.000.703.890.00 18.586.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. 3.00 11.54 4.653. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.120. upah dan pekerjaan beton bertulang. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.000. 3.36 5.9 di atas.00 8.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.000.00 4.220.00 12. 6.690.000.000.696.54 17.742.93.885.000.594.16 7.118.126.727.000.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.279.63 10.000.

6. Tabel 6.6 Total Rasio Harga Satuan.99 4. 5. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. . Tabel 6.5 Total Selisih Harga Satuan.

100 .

101 .

102 .

11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00% (%) 40.00% 30.10 di atas. 70. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 10.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.94% 60.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.00% 0.S.75 % dibandingkan SNI. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.7.94 % dibandingkan SNI dan 19.7 6.00% 19.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.103 6. . 6.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 58.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.89% 20. Bahan Adukan Beton 48.7.00% Selisih H.00% 50.

3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00% 30.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .11 di atas.00% 20.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0. Bahan Bekisting 41.21% 67.S.00% Selisih H.00% 20.S. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.69% 44.42 % dibandingkan SNI.00% 10.00% 50.00% 0.00% 70.00% 60.00% (%) 40. Bahan Pembesian 36.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.00% 30.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 10. 80.104 60.03% 55. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 40.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.42% (%) 30.7.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% Selisih H.00% 50.

54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.00% 20.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.69 % dibandingkan SNI.13 di atas.00% 70.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.105 Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41. Upah Adukan Beton 29.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0.77 % dibandingkan Lapangan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 80.77% 61.12 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.8.47 % dibandingkan SNI dan 44. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. .00% Selisih H.54% 72.8.99 % dibandingkan Lapangan dan 61. 6.00% 60.00% 30. 6.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.00% (%) 40.00% 10.00% 50.

00% 60.00% 70.00% 90.46 % dibandingkan SNI.S.46% Selisih H.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.58% 53.00% Selisih H. 100.01% 84.106 100. 6.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.00% 10.00% 10.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 30.00% 90.89% 80.S.00% 20.00% 0.00% 60.00% 40. Upah Bekisting 90.00% (%) 50.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.01 % dibandingkan SNI dan 84.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 0.00% (%) 50.00% 40. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.66% 54.00% 70.00% 20.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% 80.8.00% 30.00% 80.00% 93.14 di atas.

89 % dibandingkan SNI dan 53.107 Dari Gambar 6. 6. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90. Bahan Beton 30.58 % dibandingkan SNI.00% 50.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.89 % dibandingkan SNI.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 70. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.00% 0.00% Selisih H.15 di atas.31 % dibandingkan SNI dan 30.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.89% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 60.16 di atas.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00% 10.00% 30. .9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.00% 39.64% 58.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.00% 20. 6.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.

00% (%) 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 60.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.54% Selisih H.00% 10.54 % dibandingkan SNI. 6.06% 71.82% 50.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0.00% 50.00% 30.00% (%) 40.00% 10.00% 40.S.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.05% 57.00% 70.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .108 100.00% 80.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.17 di atas.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% 20.05% 57.00% 60.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 20. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 90.00% 30.00% 0. 70.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 86.

6.109 Dari Gambar 6.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.05 % dibandingkan SNI.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 0.00 Ratio 1. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.00 0.S.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5. 6.00 Rasio H. . Bahan Adukan Beton 1.00 2.25 2.50 1. 3.24 dan 1.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.50 2.44 1.95. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.19 di atas.18 di atas.50 % dibandingkan SNI dan 1.12.

50 2.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .00 0.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.20 di atas.110 2.00 1. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.56 2. 6.00 2.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.44.50 1.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 3.00 Rasio H.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.50 0. Bahan Pembesian 1.50 0.00 Rasio H.00 0.50 1.25 dan 1.44 1.S. 3. Bahan Bekisting 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.50 Ratio 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 1.S.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.72 1.79 3.12.

S.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.13.111 Dari Gambar 6.13.13 Rasio Harga Satuan Upah 6. .60 dan 3.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.50 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 2.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.07 dan 1.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 Ratio 2.00 0.60 3.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 di atas. 4.42 2. 6.Upah Adukan Beton 1.50 0. 6.00 Rasio H. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 3.42.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.72.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.21 di atas.50 3.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.

32 6.00 12.Upah Bekisting 5.20.S.52 2. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.20 Rasio H.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .00 2.00 14. 12.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.00 6.00 0. 6.00 Ratio 6.00 Ratio 8.15 10.S.00 0.00 Rasio H.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.112 16.00 4.00 10.32 dan 6.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 10.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.23 di atas.00 4.00 14.00 8. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 2.13.13 2.

13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.24 di atas.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 2. 6.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. . 6.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.66 1.25 di atas.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6. 3.00 Ratio 1.44 2.15.00 Rasio H.98 dan 2.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.50 0.113 Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.50 1.S.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.66. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 0.Bahan Beton 1.40 dan 1.

16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .50 2.55 2.00 2.02.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2. 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.00 Ratio 4.18 3.00 6.00 0.S.00 5.114 8.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.01 1.00 7.00 1.02 Rasio H.00 0.00 7.50 0. 2.26 di atas.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 3.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.33 2.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.18 dan 3.50 1.00 1.

terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.28 di atas.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.17.13 2.00 1. 6.00 3.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00 2.50 1.94 2.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 4.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.35 dan 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.50 Ratio 2.50 0.75 2. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.33.00 0.36.50 3. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Indeks bahan kawat beton pada . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.36 1.75 dan 3.115 Dari Gambar 6.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.75 3.27 di atas. 6.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Lain halnya dengan analisa SNI. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Dengan demikian baik dari segi biaya. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. . indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.52) dan Lapangan > SNI (2.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.79).44).95). Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.25) dan BOW > SNI (1.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.44).20).60).03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.08 % dibandingkan dengan 120 .25) dan Lapangan > SNI (1.70) dan SNI > Lapangan (1. Lapangan > SNI (2.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. e. c.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.72). BOW > Lapangan (1. Lapangan > SNI (3.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.42). BOW > Lapangan (6.32). BOW > Lapangan (3.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. f.07) dan BOW > SNI (1.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.56). Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55. d.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. b. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.

h.66). 2. Lapangan > SNI (2.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. 3. SNI dan Lapangan. g.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.01). Rasio perbandingan indeks a.44). Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.55) dan Lapangan > SNI (2. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1.02).13) dan Lapangan > SNI (5.15). Lapangan > BOW (3. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.98). terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.75) dan SNI > BOW (1.40) dan BOW > SNI (1.18).36).75).64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. BOW > Lapangan (2. BOW > Lapangan (3.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.35) dan BOW > SNI (2. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a. . Lapangan > SNI (2. i. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.33).82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7. b.

43).46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (2. BOW > Lapangan (2.43). pembesian dan bekisting. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62).62).43). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6.62). 7. .122 b.19) dan Lapangan > SNI (2. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian.46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (8. indeks tukang besi BOW > SNI (6.62).2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. indeks kepala tukang BOW > SNI (21.

A. Penerbit Erlangga. Sugeng Djojowirono. Jakarta. 1985. Jakarta. Bachtiar Ibrahim. Jakarta. – 2. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. W.I. 1993. 1971 N. Rencana dan Estimate Real of Cost. 1992. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. A. 1991. Mukomoko. Asona. 2006. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Niron John. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Yogyakarta. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. 2006. cetakan kesembilan. Joko Waluyo. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom.DAFTAR PUSTAKA Ir. Manajemen Konstruksi. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. 2004. 2003. Bumi Aksara. Cet. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Soedradjat Sastraatmadja. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Penerbit Nova. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). 1984. 2001. 9. SNI Edisi Revisi. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. 2002. CV. 2005. PT. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 1984. Bandung. Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum . Dani Kurniawan. 1995. J. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Penerbit Bumi Aksara. Iman Soeharto. Badan Standarisasi Nasional / BSN.

28 17.70 1.547.00 50.719.80 1.500.000.00 45.226.000.337.00 43. III (Papan) Kayu Kls.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.40 934.000.785. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.892.052.60 10.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 105.000.00 7. Juli 2007) 35.00 10.500.500.115.00 .10 59.605.000.500.00 10.00 43.000. Wajo.00 43.39 239.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful