P. 1
Paradigma Pendidikan Islam

Paradigma Pendidikan Islam

4.79

|Views: 14,787|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Feb 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2014

Paradigma Pendidikan Islam

Sebuah Kajian Awal

Oleh Al-Ustadz Hilmy Bakar Almascaty

Pendahuluan Kemunduran drastis yang telah menimpa kaum Muslimin dewasa ini sebagaimana dikemukakan para cendikiawan Muslim tidak diragukan lagi bersumber dari kegagalan mereka dalam memahami dan menerapkan metode intelektual1 yang dikehendaki Islam, terutama dalam sistem pendidikan mereka.2 Keadaan ini akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kaum Muslimin, sebagaimana yang dialaminya dewasa ini. Kaum Muslimin menjadi kaum yang terbelakang peradabannya, terbelakang pengetahuan-teknologinya, terbelakang ekonominya, menjadi mainan empuk musuhnya, dipecah belah, diadu domba, dikeluarkan dari warisan dan tradisi pendahulunya dan mereka akhirnya menjadi manusia-manusia lemah yang siap didekte dan diperintah orang lain. Karena kegagalan inilah kaum Muslimin telah berusaha mengadopsi metode dan sistem pendidikan yang lain, yang bukan bersumber dari akar sejarah dan tradisi generasi Islam terdahulu, bahkan bertentangan dengan yang dikehendaki Islam. Diterapkannya sistem ini mengakibatkan kaum Muslimin bertambah lemah dalam kelemahannya, bertambah bingung dalam kebingu-ngannya dan bertambah mundur dalam kemundurannya. Eksperimen-eksperiman para cendikiawan Muslim yang telah gagal ini sepatutnya tidak diulangi lagi oleh generasi berikutnya, karena akan menambah parahnya penderitaan dan kesengsaraan ummat. Maka itulah sebabnya, jika kaum Muslimin yang sedang mundur ini hendak dibangkitkan kembali menjadi kaum yang memimpin peradaban dunia, hal pertama yang harus dilakukan adalah merombak sistem pendidikan yang diterapkan selama ini kemudian dibangun dan dikembangkan sebuah bentuk sistem dan metode pendidikan yang akan mengangkat harkat dan martabat mereka sebagaimana yang telah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu yang telah berhasil dengan gemilangnya memahami dan menerapkan sistem dan metode pembinaan manusia unggul yang diajarkan Allah SWT melalui bimbingan Rasulullah SAW. Demikian pula dengan sistem generasi sesudahnya yang telah melahirkan peradaban baru dalam sejarah kemanusia dan menjadi mercusuar dunia masa itu. Sejarah kegemilangan Islam terdahulu dapat dicapai karena generasi-generasi Islam benar-benar memahami sistem dan metode pembinaan yang akan mengantarkan mereka menuju kemenangan. Maka untuk mengetahui lebih jauh kegagalan ummah dalam memahami dan menerapkan metode intelektualnya, khususnya dalam sistem pendidikan perlu diadakan studi kritis terhadap sistem yang mereka terapkan dewasa ini. Mengadakan studi terhadap sistem dan metode pendidikan secara lurus dan jujur, mau tidak mau harus pula diadakan kritik terhadap segala bentuk kelemahan dan kegagalannya, baik secara teori atapun praktiknya, disamping menunjukkan di mana letak keutamaannya agar dapat dibangun
1

Untuk menghindari kerancuan, terlebih dahulu adalah sangat penting untuk memahami pengertian metode intelektual dalam kontek ini. Secara harfiahnya, metode-metodologi diartikan sebagai cara/tatacara/kaedah yang akan digunakan dalam memahami atau menerapkan sesuatu pemikiran, yang dalam bahasa Arabnya sinonim dengan manhaj yang biasanya diartikan sebagai thariqon wadhihan-Sabilan, jalan (cara) yang terang-benderang atau kaedah. Intelektual, dari bahasa Inggris (Intellectual) adalah segala bentuk yang berkaitan dengan kecendikiaan, pemikiran dan sejenisnya, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pengertian Intelektual sebagai kata sifat, bukan sebagai kata benda yang menujuk pada orang/cendikiawan. Maka yang dimaksud dengan metode-metodologi intelektual di sini adalah tata cara/kaedah yang digunakan dalam memahami dan menerapkan sesuatu bentuk pemikiran, ajaran, nilai-nilai, amalan-amalan dan segala yang berkaitan dengan kecendikiaan. Yang terkemuka diantara mereka adalah Ismail R. Faruqi dalam Isalamization of Knowledge dan lain-lainnya

2

sebuah formula yang lebih mendekati warisan dan tradisi yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan diikuti para shahabatnya yang telah membuktikan keunggulannya. Inilah salah satu jalan selamat dan akan mendekatkan mereka menuju puncak kegemilangannya di masa depan. Setelah mengalami masa kegemilangan dan kemun-duran silih berganti selama beberapa abad dengan dinamika intelektualitasnya, para cendikiawan Muslim, yang terutama diantara mereka seperti Iqbal, Sayyid Hoseyn Nashr, Syed Naquib al-Attas, Ismail Faruqi dan Fazlur Rahman, membagi sistem pendidikan kaum Muslimin masa kini berjadi beberapa bentuk umum. yaitu : 1. Sistem Pendidikan Tradisional 2. Sistem Pendidikan Sekuler 3. Sistem Pendidikan Gabungan Tradisional dan Sekuler 4. Sistem Pendidikan Islamisasi Pengetahuan3 Kristalisasi ini terjadi tidak terlepas dari latar belakang historis yang dialami kaum Muslimin dari awal kebangkitan Islam sampai terjadinya penjajahan Barat atas mereka. Berawal dari pergolakan-pergolakan politik dan pemikiran beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, khususnya pada masa Khalifah Ali RA yang melahirkan beberapa aliran pemikiran besar seperti Syi’ah, Sunni, Khawarij, Murjiah dan lainnya yang akhirnya melahirkan cabang-cabang pemikiran baru lagi. Aliran-aliran ini kemudian membentuk sistem dan metode intelektual mereka sendiri-sendiri yang tidak ada titik temu satu dengan lainnya, bahkan tumbuh semacam fanatisme mazhab yang memakan korban besar di kalangan kaum Muslimin sendiri. Demikian pula halnya dengan interaksi-interaksi mereka dengan peradaban-peradaban besar seperti peradaban Yunani, Romawi, Persia, Mesir dan lainnya yang telah melahirkan mazhab filsafat-rasional yang menjadi polemik panjang sejarah intelektual kaum Muslimin. Pertentangan-pertentangan pemikiran yang kurang sehat di antara para ulama konservatif dan cendikiawan reformer yang melibatkan rezim-rezim penguasa diktator yang kurang berpengetahuan sehingga memihak satu aliran dan melarang aliran lainnya, sangat mempengaruhi perkembangan intelektualitas kaum Muslimin dan metodologinya. Demikian pula halnya ketika ditutupnya pintu ijtihad serta tumbuhnya semangat taqlid sangat merugikan ummah dengan hilangnya pemikir-pemikir kreatif ummah. Akibat perdebatan panjang antara tokoh-tokoh mazhab yang tak kunjung berakhir, dan dominasi aliran tashawwuf al-Ghazaly yang sangat luas, ummah menolak aliran-aliran filsafat-rasional dengan segala keutamaannya secara membabi buta. Dan akhirnya sampai abad pertengahan hijriah, mazhab tashawwuf sangat dominan dan sangat mempengaruhi metode intelektual kaum Muslimin, di samping mazhab fiqh dan kalam. Demikian pula halnya ketika penjajah-penjajah kafir Barat datang merobek-robek kepribadian dan metode intelektual kaum Muslimin dengan menyebarkan faham Sekulerisme melalui peradaban yang dibawanya dan menjadi dasar rujukan dalam segala
3

Untuk masalah ini lihat misalnya : K.G. Saiyidain, Iqbal’s Educational Philosophy (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1942).Prof. Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition, (Chicago : The Univ. Press, 1982) khususnya bab II. Dr. Ismail R. Faruqi, Islamization of Knowledge, General Principles and Workplan, (Virginia : IIIT, 1982) hlm. 5. Prof. Syed M.Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, (Kuala Lumpur : ABIM , 1980) dan karya beliau yang lain, Islam and Philosophy of Science, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1989) dan juga Islam and Secularism, (Kuala Lumpur : ABIM, 1980). Prof. S.H. Nashr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, (London : Thames and Hudson, 1978). Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon on The Crest of A Hill, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1991).

aspek kehidupan bermasyarakatnya, termasuk dalam sistem pendidikan. Kemerdekaan negeri-negeri kaum Muslimin membawa dampak positif terhadap perkembangan metode intelektual ummah selanjutnya. Dengan ada perbaikan dalam ekonomi dan politik, telah tampil para pemikir Muslim yang mengajukan beberapa metode dalam usahanya mengangkat martabat ummah. Namun sampai sejauh ini metode intelektual kaum Muslimin yang tercermin dalam sisim pendidikan mereka tetap terpolarisasi dan terkristal menjadi kutub-kutub sebagaimana dikemukakan terdahulu.4 1. Sistem Pendidikan Tradisional Sistem pendidikan tradisional Muslim adalah sistem pendidikan yang menerapkan metode intelektual yang merujuk pada metode yang telah diwariskan generasi-generasi Islam abad pertengahan hijriyah terdahulu yang telah mengalami polarisasi dan kristalisasi. Metode intelektual ini telah mengakibatkan ajaran dan pengetahuan Islam mengalami pembagian-pembagian dan pemecahan-pemecahan menjadi beberapa sub ajaran dan pengetahuan yang terpisah satu dengan lainnya. Yang terkenal dari metode ini adalah aliran mazhab fiqh, teologi (kalam), sufi (thasawuf), sastra (adab), disamping aliran ilmuilmu aqliyah non syar’i (al-ulum aqliyat ghair syar’iyyat). Terdapat juga aliran mazhab filsafat-rasionalisme yang hampir mendominasi pengetahuan, khususnya pengeta-huan non syar’i, namunyang terakhir ini banyak di tolak dan di tentang kaum Muslimin yang lebih condong kepada aliran tasawuf, padahal aliran filsafat-rasional inilah yang telah membangkitkan pencerahan Eropa (Europe Renaissance).5 Pengkristalan sistem pemikiran seperti ini menjadi aliran-aliran yang kompleks adalah sebagai konsekwensi logis penyebaran dan perkembangan Islam yang melewati berbagai bentuk peradaban dan budaya dunia. Bersamaan dengan proses Islamamisasi di tengah-tengah masyarakat, maka lahir dan berkembang pula budaya dan peradaban baru yang merupakan hasil integrasi antara ajaran Islam dengan budaya dan peradaban setempat, misalnya peradaban Yunani, Romawi, Persia, Mesir dan lainnya. Perkawinan ini telah melahirkan berbagai disiplin ilmu baru sekaligus aliran-aliran pemikiran yang sangat luas, kompleks, canggih, dan belum pernah muncul sehingga kaum Muslimin benar-benar menjadi tumpuan para pencari ilmu. Perkembangan ini didukung pula oleh semangat cinta ilmu yang merupakan ajaran utama Islam, sehingga para raja dan penguasa diktatorpun merasa berkepentingan untuk membiayai tradisi agung ini. Sehingga pada masa itu lahirlah intelektual-intelektual yang sangat aktif mempelejari dan mengem-bangkan aliran-aliran
4

Untuk memahami sejarah pemikiran Islam secara sistematis dan terperinci, lihat misalnya: al-Thabary, Tarikh Umam wa al-Mulk, (Beirut: Dar Fiqr, 1979) jil.I. Ibn. Sa’ad, Tabaqat al-Qubro, (Beirut : Dar Shadir, 1957). Ibn. Athyr, alKamil, (Misr : al-Mumriyat, 1356 H). Ibn. Katsir, al-Bidayat wa al-Nihayat, (Misr : Al-Saadat, tt), Ibn. Khaldun, Muqaddimah, (Misr : Mustafa Bab al.H, tt). Ibn. Abdil Baar, al-Isti’ab, (India : Dairat al-Ma’rif , 1336 H). al-Baghdady, al-Farq bayna alFiraaq. (Misr :tt) bab i-ii. Ibn. Hazm, al-Fishol fi al-Milal wa al-Nihal, , vol. iv. (Qahirah, 1964). Imam Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyat, (Qahirah : Dar al-Fiqr al-Arbi, tt) al-Amid Abdurrazak M. Aswad, al-Madkhal ila Dirasat alAdyan wa al-Mazahib, (Beirut : 1980) khususnya jil. II. M. Husyn Aly Kashfil Githo’, asl al-Syi’at wa ushliha, (Beirut : Dar alBihar, 1960) bab I. al-Kashiy, Ma’rifat al-Naqilin an al-ummat al-Shiddiqin ( Rijal al-Kashy ), (Karbala : Muassat al-A’lamy, tt) Muh. Khudary Bek, Tatikh al-Tasyri’ al-Islamy, (Libanon : Dar Fiqr, Th.8, 1981) hlm. 108-115. Abul A’la al-Maududy, alKhilafat wa al-Mulk, (Kuwait : Dar Qalam, 1978). Dr. Thaha Jabir al-Wany, Adabul akhtilaf fi al-Islam, (Virginia : IIIT, th.3, 1987) hlm.75-78. Ahmad Amin, Fajrul Islam, (Cairo : Maktabah al-Nahdah, 1965) Abul Hasan al-Nadvi, Madza Khasiro alAlam bi inhithoth al-Muslimun,(Beirut : Dar Salam, th.11, 1978) hlm. 15o-157. Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, (London : Cristopher, 1955), Abdurrahman Hj. Abdullah, Sejarah dan Pemikiran Islam, (Kuala lumpur : Pena Mas, 1984). Dr. Ismail R. Faruqi. op.cit. hlm. 23-30. Dr. Fazlur Rahman, op.cit. bab II. Prof. Fazlur Rahman, op.cit. hlm.33

5

pengetahuan baru dengan biaya dari para raja dan hartawan muslim dan bersamaan dengan itu lahirlah pusat-pusat ilmu pengetahuan berupa madrasah ataupun perpustakaan yang didatangi oleh pelajar dari seluruh dunia, termasuk Barat.6 Namun akibat lainnya adalah telah muncul pula cabang-cang ilmu baru yang asing dan bahkan tidak sedikit yang bertentangan dengan tradisi dan ajaran Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.7 Perkawinan Islam dengan ajaran-ajaran filsafat-rasionalis Yunani telah melahirkan aliran filsafat-rasional Islam yang menjadi metode unggul dalam mengkaji cabang-cabang ilmu pengetahuan duniawi, sehingga aliran ini banyak melahirkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Ibn. Sina, Ibn Rush, Ibn Khaldun dan lainnya yang menjadi mahaguru Barat dan dikagumi sampai sekarang.8 Bersamaan dengan keberhasilan Islam dalam menciptakan peradaban baru dunia dengan segala konsekwensi penguasaan materinya, terutama munculnya pribadi-pribadi yang mabok kepayang dengan kenikmatan duniawi yang membawa dampak penuhanan terhadap rasio dan hawa nafsu, maka lahirlah aliran tasawuf yang merupakan koreksi total terhadap keadaan masa itu. Metode intelektual ini merupakan obat mujarab untuk menyem-buhkan penyakit ummah yang telah jauh terseret arus duniawi dengan ajaran-ajarannya yang lebih menekankan pada pembersihan jiwa dan mengontrolan diri (al-Nafs) terhadap kehendak materi, baik yang bersifat pemikiran, kekuasaan ataupun keperluan badaniah lainnya. Akhirnya metode intelektual ini menjadi sangat populer dan dominan karena dapat memberikan jalan keluar kepada masyarakat Islam, terutama dalam upaya mencapai ketenangan batiniyah masyarakat masa itu yang sudah jauh bergelimang dengan keagungan materi akibat kemenangan dan kemajuan pemerintah Islam.9 Di antara aliran tasawwuf yang paling populer dan yang nantinya banyak mempengaruhi perjalanan sejarah kaum Muslimin adalah metode yang telah dikembangkan al-Ghazaly dengan karyakarya gemilangnya.10
6

Untuk Syalaby, History (Washinton DC : the 5th Century George Makdisi, 1981)

mengetahui sejarah perkembangan lembaga pengetahuan Islam abad pertengan lihat misalnya : Ahmad of Muslim Education, (Beirut : Dar Al-Kasysyaf, 1954). Bayard Dogde, Muslim Education in Medieval Times, The Middle East Inst, 1962). Munir ud-Din Ahmed, Muslim Education and The Scholar’s Social Status Up to Muslim Era (11th Century Christian Era) in the Light of Tarikh Baghdad,(Zurich : Verlag der Islam,1968). The Rise of Colleges : Institution of Learning in Islam and the West (Edinburgh : Edinburgh Univ. Press,

7

Lihat misalnya : al-Ghazaly, Tahafut al-Falasifah, (Cairo : Mustafa al-Babi al-Halibi, 1321 H) disertai dengan karya Ibn. Rusyd, Tahafut, dan juga karya Khawajah Zadah, Tahafut al-Falasifah. Ibn. al-Jauzi, Talbis Iblis, (Qahirah : Idarat alThabaat al-Muniriyyah, tt), Ibn. Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaqqi’in an Robb al-Alamiin, (Beirut : Dar al-Jiil, tt) Lihat : M. Goichon, La Philosophie d’ Avicenne et son infuence en Europe Medievale, (Paris : 1951). P. Morewedge, The Metaphysica of Avecenna,(New York : Columbia Univ. Press, 1973). Fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology, (London : Oxford Univ. Press, 1953). A.J. Arberry, Avicenna on Theology, (London : 1951). M.N. Zanjani, Ibn Sina wa Tadbir-i manzil, (di dalam SH. Nashr, Traditional Islam in the Modern World. ( London : KPI, 1987). Masataka Takeshita, Ibn Arabi’s Theory of The Perfect Man and Its Place in the History of Islamic Thought, (Tokyo : Institute For the Study of Language and Cultures of Asia and Africa, 1987). Lihat juga karya-karya Ibn. Sina seperti : Kitab al-Shifa’ (al-Tabi’iyyat : al-Nafs) ed. G. Ganawati dan Sa’id Zayid, ( Cairo : al-Maktabah al-Arabiyyah, 1975). Ibn. Rush, Tahafut, (Cairo : Mustafa al-Babi al-Halibi, 1321 H). Ibn. Arabi, Fusus al-Hikam, ed. dan komenter oleh A.’A. Affifi, (Cairo : 1946). Ibn. Khaldun, The Muqaddimah. tran. Franz Rosenthal, 3 vols. (New York : Pantheon/Bollingen, 1958). Untuk masalah ini lihat misalnya : Syahrastany, Kitab al-Milal wa al-Nihal, 2.nd, (Beirut : 1395). Imam Moh. Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyat, (Qahirah : Dar al-Fiqr al-Arbi, tt). al-Amid Abd.Razak. M. Aswad, al-Madkhal ila Dirasat alAdyan wa al-Madzahib, (Beirut : 1980). al-Kalabadhi, Kitab al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tasawwuf, ed.Taha Abd. Baqi Surur, (Cairo : Isa al-Babi al-Halabi, 1966). Abul Hasan Ali al-Nadvi, Madza Khasiro al-Alam bi anhithoth al-Muslimun, (Beirut: Dar Salam, th,11, 1978). Dr. Abul Wafa’ al-Ghanamy al-Taftazany, Madkhal ila Tasawwuf al-Islamy, (Qahirah : Dar al-Tsaqafat li al-Nusyr wa al-Tauzi’, 1988). hlm. 68-71.

8

9

10

Karya-karya al-Ghazaly yang mempengaruhi metode intelektual ummah, diantaranya seperti : Ihya’ Ulum al-Din, alMumkid min al-Dhalal, Ma’arij al-Quds fi Madarij Ma’rifat al-Nafs, Mizan al-Amal, Misykat al-Anwar, Al-Maqsad al-Asna fi Sharh Ma’ani Asma’. Tahafut al-Falasifah dan Al-Iqtisad fi al-I’tiqad.

Pada zaman penjajahan dunia Islam oleh Imprialis Barat, metode intelektual tradisional yang dianut sebagian besar sistem pendidikan kaum Muslimin semakin mengkristal, terutama akibat tekanan-tekanan penjajah yang sangat aktif menyebarkan ideide sekulernya yang berkedok modernisasi, kemajuan dan istilah sejenisnya yang pada hakikatnya ingin menghilangkan keimanan kaum Muslimin. Faktor inilah yang mendorong para pemuka kaum Muslimin yang umumnya menjadikan madrasah, pondok pesantren, surau dan lainnya beroposisi mati-matian terhadap penjajah kafir dengan segala program dan aktivitasnya. Generasi-generasi Islam didikan sistem tradisional ditanamkan semangat anti penjajah dan anti segala yang berbau penjajah Barat, sehingga mendorong mereka kepada sikap antipati terhadap segala sesuatu yang datangnya dari penjajah Barat, termasuk pengetahuan-pengetahun yang di ambil Barat dari kaum Muslimin terdahulu berupa ilmu-ilmu terapan praktis yang akan membantu mereka menuju kemajuan dunia. Karena sikap anti Barat yang ekstrim inilah kemudian sistem pendidikan Islam tradisional dipinggir-kan penjajah, dihambat perkembangannya, tidak mendapat bantuan semestinya bahkan ada yang dibubarkan penjajah karena dijadikan pusat gerakan menentang panjajah. Dari lembaga pendidikan tradisional ini banyak lahir tokoh-tokoh yang menentang penjajah dengan sikapnya yang gagah berani, dari Indonesia sampai ke Timur Tengah. Sebagian besar tokoh-tokoh pergerakan dan kebangkitan nasional pra kemerdekaan di dunia Islam lahir dari kalangan tradisional, seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol di Indonesia. Demikian pula ketika zaman pergolokan merebut kemerdekaan dunia Islam dari penjajah Barat, umumnya lembaga pendidikan tradisional Islam menjadi benteng utama kaum Muslimin dengan kharisma Ulamanya sebagai pemimpin gerakan, sekaligus menjadi markas untuk menentang dominasi penjajah Barat yang menanbah bencinya kaum penjajah terhadap lembaga tradisional Islam yang susah ditakluki. Akhirnya penjajah membuka lembaga pendidikan sekuler ala Barat untuk mendidik kader-kadernya dari kalangan pribumi dengan pembiyaan penuh dari penjajah dan sekaligus menyaingi dominasi lembaga pendidikan tradisional Islam yang dikelola secara waqaf. Akhirnya pada masa pasca kemerdekaan, setelah berjuang melawan penjajah dengan semangat tinggi sabung menyambung, generasi produk lembaga pendidikan tradisional Islam disingkirkan peranannya dari birokrasi kekuasaan oleh kaum modernissekuler produk lembaga pendidikan Barat. Para pejuang sejati ini dianggap tidak memenuhi persyaratan karena mereka tidak menguasai ilmu modern yang diajarkan panjajah sebagai syarat mutlak seorang birokrat pemerintah, mereka hanya direkrut sebagai pegawai rendahan pinggiran yang mengurus hal-ihwal keagamaan yang tidak memiliki nilai strategis dalam pemerintahan. Sampai hari ini metode intelektual tradisional masih dipertahankan sebagaian besar kaum Muslimin, baik secara murni ataupun dengan tambahan sedikit beberapa materi pengetahuan duniawi, seperti matematika, fisika, biologi, bahasa inggris dan lainnya. Sistem pendidikan yang mempertahankan metode intelektual tradisional semacam ini, umumnya akan melahirkan para cendikiawan teksbook, yang handal membahas kitab-kitab klasik, tanpa inovasi baru, kecuali mengulas (mensyarah) kitab yang sudah ada. Ataupun ulama dan ustadz yang terpinggir arus modernisasi dan globalisasi dunia, karena

ketidakmampuannya menanggapi dan menyelesaikan problem-problem baru yang dihadapi masyarakat modern. Namun bagaimanapun, sistem pendidikan tradisional ini memiliki keutamaankeutamaan yang mengangumkan, seperti telah terbukti mampu melahirkan generasi yang konsisten dan sangat menghormati ajaran Islam, bahkan mereka rela mengorbankan harta dan nyawa untuk kepentingan Islam dan ummatnya, disamping pribadi yang peka terhadap masyarakat disekelilingnya, berakhlaq mulia, tawaddu’, ahli ibadah, patriotik menentang kemungkaran dan kebatilan dengan semangat juhadnya dan sifat-sifat mulia seorang muslim. Dan metode ini telah melahirkan pemikir-pemikir besar dunia dalam bidangnya masing-masing, baik dalam ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu sastra, filsafat, pengetahuan alam dan sosial serta cabang-cabang ilmu lainnya yang mengangumkan dunia sampai sekarang. Contoh paling tepat untuk sistem pendidikan yang menerapkan metode intelektual tradisional adalah Universitas Al-Azhar di Mesir pada awal abad ini dan sebelumnya, yaitu masa sebelum terjadinya pembaruan-pembaruan pada sistem pendidikannya yang dianjurkan cendikiawan terkemuka seperti Syaikh Muhammad Abduh. Universitas Al-Azhar awalnya adalah sebuah masjid yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah yang bermadzhab syi’ah dan berhasil mengembangkannya sebagai sebuah institusi pengkajian Islam bermadzhab syi’ah, khususnya di msa pemerintahan Sultan alAziz. Ketika Mesir di ambil alih Salahuddin al-Ayyubi yang bermadzhab sunni syafi’yyah, Al-Azhar dikembangkannya berdasarkan madzhab sunni dan mengalami perkembangan yang demikian pesatnya dan menjadi tumpuan pelajar-pelajar dari dunia Islam untuk mendalami ilmu fiqh, ilmu kalam, ataupun adab (sastra Arab). Demikian pula masa-masa sesudahnya di bawah pemerintahan dinasti Mamluk, Al-Azhar berkembang amat pesat menjadi pusat studi Islam terbesar di dunia.11 2. Sistem Pendidikan Sekuler Sistem pendidikan sekuler12 dikenal kaum Muslimin setelah masuknya penjajah Barat yang menguasai dunia Islam. Para penjajah yang dilengkapi teknologi modern datang ke dunia Islam dengan semboyan 3 G, Glory (kemenangan), Gold (emas) dan Gospel (penginjilan), dengan kata lainnya bertujuan untuk menguasai negeri, merampok kekayaan dan sekaligus menyebarkan faham mereka yang sekuleristis. Untuk mencapai maksud yang terakhir ini para penjajah telah mendirikan institusi-institusi pendidikan model Barat
11

Untuk ini lihat misalnya : Syaikh Abdullah ‘Inan, Tarikh al-Jami’ Al-Azhar, (Qahirah : Muassasah al-Khumji, th.2. 1958) .Bayard Dodge, Al-Azhar: A Millenium of Muslim Learning (Washington DC : The middle East Institute, 1962); A.Chris Eccel, Egypt, Islam and Social Change : Al-Azhar in Conflict and Accomodation (Berlin : Klaus Schwarz Verlag, 1984). Sekuler / sekulerisme adalah faham yang memisahkan antara ajaran dunia dengan agama, menurut faham ini dunia, baik ilmu pengetahuan, teknologi, kekuasaan, moral dan lainnya adalah terpisah sama sekali dengan ajaran agama. Faham paling ektrim dari sekulerisme adalah Atheisme yang dianut kaum Komonis, bukan saja memisahkan, namun menolak dan memerangi agama dan tidak mempercayai adanya Tuhan Pencipta alam. Dan Sekulerisme lahir akibat pemberontakan intelektual yang dilakukan para Cendikiawan Barat abad pertengahan yang sudah tercerahkan terhadap pemuka-pemuka Kristen yang mendominasi kehidupan masyarakat dan mendapat dukungan para Raja. Para cendikiawan tercerahkan mendapatkan momentumnya ketika terjadinya revolusi industri yang membawa arti kemenangan para cendikiawan terhadap dominasi Raja dan Pemuka Gereja. Revolusi industri telah melahirkan pemikir-pemikir ulung Barat dalam berbagai disiplin ilmu, akibatnya mereka memusihi agama Kristen yang selama ini dianggapnya telah membelenggu pemikiran dan kreativitas mereka, dan mereka menjadi orang yang sekuler, memisahkan agama dari segala aktivitas keduniaan. Untuk memahami segala yang berkaitan dengan Sekulerisme, lihat : Syed Moh. Naguib al-Attas, Islam and Secularism.(Kuala Lumpur : ABIM, 1978).

12

dengan metode dan landasan filsafat pendidikan Barat yang sekuler dengan tujuan untuk mencetak kader-kader yang berwajah pribumi (Muslim) namun berfikiran Barat dan akan dijadikan sebagai pegawai-pegawai upahan mereka. Sehubungan masalah ini, Abduh menulis : (pendidikan ini diadakan agar murid) memperoleh gelar yang memungkinkannya untuk menduduki jabatan juru tulis di suatu departemen pemerintah kolonial. Tetapi bahwa keperibadian-nya harus dibentuk dengan pendidikan dan penanaman nilai-nilai hingga ia menjadi orang yang baik dan layak, agar ia melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya di dalam pemerintahan ataupun luarnya, tidaklah pernah dipikirkan oleh guru-guru atau mereka yang mengangkat guru-guru tersebut.13 Pada awalnya para cendikiawan Muslim seperti Sayyid Ahmad Khan, Syekh Muhammad Abduh, Iqbal dan lainnya berprasangka baik terhadap sistem pendidikan sekuler dengan metode intelektual Baratnya yang rasional dan modern. Bahkan dengan metode ini para cendikiawan Muslim ingin mencetak generasi-generasi Muslim yang berpengetahun maju seperti Barat dengan metode intelektualnya yang modern. Namun realitasnya generasi apakah yang telah dilahirkan oleh sistem pendidikan sekuler yang diterapkan pada generasi Islam oleh para pemerintah kolonial ini ? Muhammad Abduh menulis : Murid-murid sekolah ini sampai sekarang adalah anak-anak yang tujuan orang tuanya mendidik mereka adalah untuk menjadi pegawai pemerintah, baik menyadari tujuan tersebut atau tidak....... (jika mereka tidak menyadarinya), maka si murid akan pulang kampung, kembali kepada orang tuanya sesudah menyelesaikan sekolahnya, sesudah mempelajari unsur-unsur sains yang ia tidak tahu di mana menerapkannya....... Ia merosot dalam kondisi moral yang lebih buruk daripada orang-orang buta huruf yang bagaimanapun masih tetap berada dalam kondisi alamiyah mereka; mereka frustasi, ia melihat dirinya tidak bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang tua dan keluarganya. Dengan demikian ia menggunakan umurnya dengan sepenuhnya menganggur atau hampir setingkat dengan itu.14 Atau apa yang dikatakan penyair Hali, seorang yang pernah mendukung kebijaksanaan Sayyid Ahmad Khan untuk mengadopsi pendidikan sekuler Inggris, dalam syairnya berjudul Musaddas : Mereka tidak dapat meraih prestadi dalam pemerintah Tidak sanggup berkata sepatahpun dalam bahasa Durbar yang tinggi Tidak kuat memikul barang di bazar-bazar Tidak tahu bercocok tanam di ladang Ah, kalau saja mereka tidak “terdidik”
13 14

Syaikh Muhammad Abduh, op.cit. vol 3. hlm. 111 ibid.

mereka tentu dapat mencari rezeki dengan seribu cara tapi sekarang, berkat pendidikan mereka, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.15 Setelah kemerdekaan negeri-negeri kaum Muslimin diperoleh, maka sistem pendidikan yang menerapkan metode intelektual sekuler ini mendapat tempat utama dalam pendidikan negara, karena umumnya penguasa-penguasa pemerintahan yang baru merdeka adalah produk sistem pendidikan sekuler yang telah disiapkan penjajah untuk meneruskan penjajahannya. Sehubungan masalah ini, Fazlur Rahman menulis : Sejak diperolehnya kemerdekaan politik, (a) pendidikan di negeri-negeri tersebut pada dasarnya hanya merupakan kelanjutan dari pendidikan kolonial, yang pada intinya ditujukan untuk melatih pegawai-pegawai pemerintah rendahan yang akan melayani kepentingan pemerintah kolonial; pendidikan ini tidaklah memberikan pendasaran yang kuat dalam budaya tradisional, tidak pula latihan yang ril untuk melaksanakan tanggungjawab dalam suatu masyarakat modern yang merdeka.16 Atau apa yang dikatakan Faruqi : Kemerdekaan nasional telah memberikan dorongan yang terbesar kepada sistem pendidikan sekuler, dengan menganggap-kan kemerdekaan itu sebagai kemerdekaannya sendiri. Mencu-rahkan dana negara ke dalam sistemnya dan semakin menyebar-luaskannya dengan dalih demi nasionalisme dan patriotisme. Kekuatan-kekuatan westernisasi dan sekulerisasi dan sebagai akibatnya, de-Islamisasi para guru dan murid berlanjut terus dengan pasti dan menentukan di sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universi-tas.17 Metode intelektual yang diterapkan sistem pendidikan sekuler yang sebagian besarnya diterapkan kaum Muslimin saat ini telah melahirkan generasi tanggung yang serba salah. Tidak menjadi pribadi Muslim yang soleh seperti produk metode tradisional ataupun tidak juga seperti generasi Barat yang modern-ilmiyah dan rasional, tidak menyerupai generasi Islam terdahulu yang konsisten terhadap ajaran Islam juga tidak memiliki wawasan maju seperti generasi Barat sekuler, tapi hanya sebuah karikatur generasi Barat yang hanya pandai membeo, membebek dan meniru penampilan luar Barat saja, tidak lebih dari itu. Produk pendidikan metode sekuler ini menambah beban kaum Muslimin yang sudah menderita dengan keterbelakangannya, karena mereka tidak dapat dipergunakan untuk Islam dan kemajuan ummatnya akibat ketidak fahaman mereka terhadap ajaran Islam dan yang terpenting mereka tidak memiliki ruh keislaman yang akan menjadi penggerak utama dalam kehidupan seorang Muslim, karena metode ini telah
15
16

Khawaja Altaf, Husayn Hali, Musaddas, (Luknow : Sadi, 1935). hlm. 72

Fazlur Rahman, op.cit ,hlm.89
17

Ismail Faruqi, op.cit. ,hlm. 12

memisahkan mereka dari ajaran Islam dan semangatnya. Sebagian besar dari mereka akhirnya mengejar materi keduniaan dengan profesi masing-masing karena metode ini telah menjadikan mereka manusia-manusia materialis, yang menjadi salah satu tujuan dan falsafah didirikannya lembaga pendidikan sekuler. Generasi Muslim yang terdidik dalam metode ini meneruskan pendidikan setinggi-tingginya agar kelak mendapat kedudukan yang tinggi dengan penghasilan yang tinggi pula. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menjadi penentang-penentang Islam yang amat gigih, lebih mengutamakan sistem hidup sekuler daripada Islam, dan jika mereka mendapat kedudukan tinggi dalam pemerintahan, merekalah yang akan menjadi agen utama para penjajah modern dalam menyebarkan segala bentuk ide sesat yang akan menjeruskan ummah. Namun anehnya, di saat yang sama mereka tetap ngotot menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim, bahkan dengan bangga menyatakan dirinya sebagai Muslim sekuler, sebuah istilah yang tidak pernah dikenal Islam, dan pernyataan ini yang akan mengakibatkan terkeluarnya mereka dari Islam. Karena dalam Islam tidak ada istilah Islam sekuler, Islam yang memisahkan antara dunia dengan agama, Islam berbeda dengan ajaran Kristen yang menjadi penyebab lahirnya sekulerisme, karena Islam adalah ajaran lengkap dan sempurna yang memerintahkan pemeluknya agar mengikuti Islam secara totalitas (kaffah). Dewasa ini telah berkembang dengan pesatnya institusi-institusi pendidikan yang menerapkan metode sekuler yang yang dikelola kaum Muslimin, bahkan ada yang menggunakan nama universitas Islam, namun metode yang diterapkan adalah metode sekuler, akhirnya institusi seperti ini tidak akan mengantarkan kemajuan kepada ummah, bahkan akan menambah beban yang sudah ada. Sehubungan masalah ini, Faruqi menulis : Meskipun perluasan hebat yang terjadi sedemikian jauhnya, keadaan pendidikan di dunia Islam adalah yang terburuk. Sehubungan Islamisasi, baik sekolah-sekolah, akademi-akademi dan universitas-universitas yang tradisional ataupun sekuler tidak pernah seberani sekarang dalam mengemukakan tesa-tesa yang tidak Islami dan tidak pernah sehebat sekarang acuhnya mayoritas terbesar pemuda-pemuda Muslim terhadap Islam. Karena diciptakan di masa pemerintahan kolonial, sistem pendidikan sekuler ini memegang proporsi yang sangat besar dan mencampakkan sistem Islam dari bidang ini.18 Contoh nyata dari sistem pendidikan sekuler ini adalah sekolah-sekolah, akademiakademi, universitas-universitas dan isntitusi-institusi yang dikendalikan oleh pemerintah di sebagian besar dunia Islam. Institusi pendidikan yang merupakan karikatur dari sistem pendidikan Barat, yang tidak memberikan tempat pada Islam, kecuali sedikit sekali, sebagai mata pelajaran pelengkap yang tidak akan memberikan pemahaman mendalam tentang Islam apa lagi akan menumbuhkan semangat keislaman tinggi yang membawa perubahan mental. Islam dipelajari sebatas pengetahuan, sebagaimana pengetahuan-pengetahuan lainnya, bukan dipelajari sebagai pembimbing kehidupan yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata sebagai pedoman aktivitas kehidupan. Generasi Islam yang belajar didoktrin sebagaimana faham sekuler memandang kedudukan agama dan memisahkannya
18

ibid,

dari kehidupan dunia, dan memandang Islam sebagai amalan seremonial belaka. Akhirnya institusi pendidikan semacam inilah yang akhirnya akan melahirkan orang-orang yang menyatakan dirinya Muslim, namun tidak mengamalkan Islam dalam kehidupannya, bahkan jauh dari ajaran Islam. Orientasi hidupnya adalah orientasi sekuler yang hanya mengejar kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya semata, sebagaimana mereka diajarkan metode intelektual sekuler. Walaupun institusi sekuler semacam ini, yang banyak dikelola kaum Muslimin, ngotot menyatakan dirinya sebagai institusi Islam, karena dinamakan dengan “Universitas Islam”, “Akademi Islam”, “Sekolah Islam” dan sejenisnya namun dapat dipastikan bahwa institusi ini tetap institusi sekuler, karena menerapkan metode sekuler dalam sistem pendidikannya. Disinilah banyak para cendikia kita mengalami kebingungan dalam membedakan sekuler dan Islaminya sebuah institusi pendidikan akibat ketidakta-huannya membedakan antara metode intelektual sekuler dan metode intelektual Islami. Mereka beranggapan bahwa apabila dikenakan nama Islam pada sebuah institusi, maka jadilah institusi tersebut sebagai institusi Islam walaupun pada hakikatnya menerapkan metode sekuler. Islam dan sekulernya sebuah institusi pendidikan bukan ditentukan oleh namanya, namun yang terpenting adalah metode intelektual yang diterapkan dalam sistem pendidikan tersebut. Sebuah institusi dinamakan institusi Islam apabila menerapkan seluruh aspek metode intelektual Islami dan sebaliknya, dikatakan sekuler apabila menerapkan metode sekuler, walaupun institusi ini ngotot menyatakan dirinya institusi Islam, namun bagaimanapun ia tetaplah sebuah institusi sekuler karena menerapkan metode intelektual sekuler. 3. Sistem Pendidikan Gabungan Tradisional dan Sekuler Sistem pendidikan gabungan antara sistem tradisional dengan sekuler adalah salah satu metode alternatif yang dikemukakan para cendikiawan Islam sejak akhir abad delapan belasan dan awal abad sembilan belasan dan mngalami penyempurnaan-penyempurnaan sampai sekarang. Sistem ini dirumuskan dengan tujuan untuk menggabungkan keutamaankeutamaan yang ada pada kedua metodelogi yang sudah umum berlaku di kalangan kaum Muslimin guna meningkatkan kwalitas mereka di segala aspek kehidupan, khususnya kwalitas intelektualitas yang menjadi sumber penggerak kemajuan.19 Penggabungan ini hakikatnya berangkat dari asumsi bahwa sistem tradisional telah terbukti melahirkan para cendikiawan yang memahami Islam dengan baik dan konsisten dalam melaksanakannya, namun kelemahan mereka tidak menguasai sains-sains modern dengan metode ilmiyaahnya, sementara sistem sekuler terbukti telah melahirkan para cendikiawan yang ulung dalam menguasai sains-sains modern dengan metodeloginya, namun tidak memahami Islam dengan baik, bahkan cendrung tidak konsisiten terhadap ajaran Islam akibat bias faham sekulerisme yang netral dari agama. Maka dengan sistem gabungan ini kelak diharapkan akan melahirkan model cendikiawan Muslim yang memahami ajaran Islam dengan baik serta konsisten dalam melaksanakannya sekaligus menguasai pengetahuan modern dengan metodeloginya sebagaimana cendikiawan Barat, dan mereka akan menjadi penggerak kemajuan kaum Muslimin dengan penguasaan sains-teknologi
19

Ismail Faruqi, op.cit, hlm.13. Fazlur Rahman, op.cit, bab III

modern dan sekaligus mengembangkan sains-sains baru yang berlandaskan semangat Islam.20 Umumnya para cendikiawan Muslim yang menyerukan pembaharuan sistem pendidikan dengan menggabungkan kedua metode ini memiliki asumsi-asumsi dasar yang mereka jadikan sebagai landasan teorinya, sebagaimana dikemuka-kan Fazlur Rahman : (1) bahwa pemerolehan pengetahuan modern hanya dibatasi pada bidang teknologi praktis, karena pada bidang pemikiran murni kaum Muslimin tidaklah memerlukan produk intelektual Barat- bahkan produk tersebut haruslah dihindari, karena mungkin sekali akan menimbulkan keraguan dan kekacauan dalam pikiran Muslim, dimana sistem kepercayaan Islam tradisional telah memberikan jawaban-jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan-pertanyaan puncak mengenai pandangan dunia; (2)bahwa kaum Muslimin tanpa takut boleh dan harus memperoleh tidak hanya teknologi Barat saja, tapi juga intelektualismenya, karena tidak ada satu jenis pengetahuanpun yang merugikan dan bahwa bagaima-napun juga sains dan pemikiran murni dulu telah dengan giat dikembangkan kaum Muslimin pada awal abad-abad pertengahan, yang kemudian di ambil alih oleh Eropa sendiri.21 Fazlur Rahman membagi proses pembaharuan yang akan menggabungkan kedua metodelogi ini, yang diistilahkannya sebagai modernisasi, menjadi dua fase, yaitu: (1). Modernisasi Klasik (Classical Modernism) (2). Modernisasi Kontemporer (Contemporary Modernism)22 Akademi Aligarh (Aligarh College) yang didirikan pada tahun 1881 oleh Sayyid Ahmad Khan adalah salah satu institusi pendidikan yang tepat untuk mewakili sistem gabungan tradisional dan sekuler ini pada awal-awal diserukannya. Akademi Aligarh didirikan dengan tujuan untuk menggabungkan metode tradisional Islam dengan sekuler yang diadopsi dari Inggris. Bahasa pengantarnya adalah Inggris dan Arab, disamping Urdu dan Parsi. Programnya setingkat sarjana muda (BA) dan sarjana (MA). Adapun mata kuliah yang diajarkan meliputi teologi, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, ilmu aqaid, matematika, fisika, sejarah, psikologi, filsafat, politik, ekonomi, geologi, biologi dan lainnya.23 Namun produk institusi gabungan ini sangat mengecewakan, seperti yang dinyatakan Fazlur Rahman : Ciri produk-produk pendidikan baru sebagai tak punya darah segar, sebagai bayangan Barat yang pucat dan sebagai tak punya darah segar, sebagai bayangan Barat yang pucat dan sebagai anak haram budaya intelektual, merupakan tema-tema gamlang bagi Abul Kalam Azad dan penyair Akbar
20 21 22
23

Fazlur Rahman, op.cit. hlm. 143. Fazlur Rahman, op.cit, hlm. 46-47 Fazlur Rahman, op.cit. bab II & III Syed Masroor Ali Akhtar Harmi,Muslim Response to Western Education,(New Delhi: Commenwealth Publ, 1989), hlm. 85-98. lihat juga, Barbara Daly Metcalf, Islamic Revival in Brithis India : Deoband 1860-1990,(Princeton : Princeton Univ. Press, 1982).

Alahabadi. Sayyid Ahmad khan sendiri melukiskan produk-produk awal Aligarh sebagai “setan-setan”. Mengenai ketidak orisinalitas dan kebermanfaatan mereka bagi masyarakat mereka, dinyatakan kuat Hali, Syibli Nu’mani dan Iqbal. Istilah hinaan “magrib zadah” (tertimpa penyakit Barat) diterapkan kepada masyarakat yang berpendidikan Barat dan yang terbaratkan oleh banyak penulis, yang paling terkemukan diantaranya Azad, Zhafar Ali Khan dan Maududi.... ”Di Lahore, misalnya, dapat ditemui orang-orang yang bertitel MA menyemir sepatu di tangga toko-toko kecil. Kualitas lulusan baru yang sangat rendah dan ketidakbergunaan serta ketidakber-dayaan inilah yang disoroti Hali dalam Musaddasnya.24 Salah satu penyebab utama kegagalan institusi ini adalah akibat ketiadaannya tenaga pengajar profesional yang memahami benar orientasi sistem gabungan ini. Aligarh College misalnya, harus mengambil profesor-profesor sains sekuler dari Universitas Oxford Inggris sementara menyerahkan pengajaran agama kepada Ulama lulusan Dar al-Ulum Deobond yang sangat tradisional. Di samping buku-buku referensi yang belum memadai untuk menggabungkan kedua sistem ini. Akhirnya sistem gabungan ini tidak memberikan hasil maksimal yang memuaskan, bahkan menghasilkan sistem yang merugikan sistem sekuler ataupun tradisional karena tidak memberikan integrasi timbal balik bagi keduanya. Disamping itu sistem pendidikan Barat yang diadopsi kaum Muslimin berasal dari sistem tersendiri yang berbeda latar belakang filsafat dan budaya dengan kaum Muslimin.25 4. Sistem Pendidikan Islamisasi Pengetahuan Rumusan terkini yang dikemukakan para cendikiawan Muslim dalam pengembangan dan penyempurnaan sistem pendidikan kaum Muslimin adalah apa yang diistilahkan mereka sebagai Islamisasi Pengetahuan (Islamization of Knowledge). Istilah ini muncul dan menjadi populer setelah Ismail R. Faruqi membacakan makalahnya yang terkenal : Islamization of Knowledge : General Principles and Workplan pada seminar internasional Islamisasi pengetahuan yang pertama di Islamabad Pakistan pada tahun 1982 yang dihadiri oleh para cendikiawan Muslim terkemuka dari seluruh dunia. Makalah yang disampaikan Faruqi adalah hasil penelitian bersamanya dengan tokoh-tokoh cendikiawan Muslim seperti AbdulHamid AbuSulayman (tokoh Assocation of Muslim Social Sciencists, AMSS di Amerika). Seminar ini bertujuan mencari rumusan-rumusan baru hubungan Islam dengan pengetahuan modern. Menyempurnakan pembaha-ruan-pembaharuan metode intelektual kaum Muslimin yang telah diserukan terdahulu oleh tokoh-tokoh pelopor pembaharuan seperti Syeikh Muhammad Abduh. Seminar ini berhasil merumuskan kerangka dasar pemikiran sebagai referensi dalam mengislamisasikan pengetahuan modern.26
24
25

Fazlur Rahman, op.cit. hlm. 72. Fazlur Rahman, op.cit.hlm.70

26

Ismail R. Faruqi, Islamization of Knowledge, revised and expanded,(Virginia : IIIT, 1989). National Hijra Council, Knowledge for what ?. Being the Proceeding and Papers of the Seminar on Islamization of Knowledge,(Islamabad : National Hijra Council, 1986)

Menurut Wan Mohd. Nor Wan Daud,27 sebenarnya yang pertama sekali mengemukakan konsep tentang Islamisasi pengetahuan karena pengetahuan yang ada dianggapnya Atheis adalah Sir Muhammad Iqbal pada tahun 30-an, namun beliau tidak menjabarkan lebih jauh idenya.28 Pada tahun 1960, Prof. S.H. Nasr, seorang sarjana terkemuka dalam pengetahuan Islam mengemukakan metode dalam mengislamisasikan pengetahuan modern yang diintrpetasikan dan diaplikasikan dalam teorinya mengenai konsep Islam tentang kosmos.29 Dan yang pertama sekali secara resmi merumuskan, mendifinisikan dan mempertahankan teori Islamisasi pengetahuan yang ada saat ini, dengan mendifinisikan pengertian pengetahuan dan hubungan pentingnya dengan konsep, manusia, keadilan dan kebijaksanaan adalah Prof. Syed Moh. Naquib al-Attas pada tahun 1977 dalam makalahnya The Concept of Education in Islam : A Framework for an Islamic Philosophy of Education30 yang dibacakannya pada konferensi Internasional Pertama dalam Pendidikan Muslim di Makkah al-Mukarramah yang dihadiri lebih dari 300 cendikiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia.31 4.1. Urgensi Islamisasi Pengetahuan Islamisasi pengetahuan yang diilhami oleh Sir Muhammad Iqbal dan dikembangkan para cendikiawan Muslim belakangan ini memiliki urgensi yang sangat mendasar terhadap sistem pendidikan kaum Muslimin. Kerena pada hakikatnya semua pengetahuan modern yang berkembang pesat dan telah mendominasi pemikiran sebagian besar ummah masa ini adalah datang dari peradaban Barat yang sekuler dan dualistik. Mengenai akar peradaban Barat, Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis : peradaban yang telah tumbuh dari peleburan historis dari kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi kuno beserta perpaduannya dengan ajaran Yahudi dan Kristen yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik. Dari Yunani kuno diperoleh unsur-unsur filosofis dan epistemologis dan landasan-landasan pendidikan dan etika serta estetika. Dari Romawi unsur-unsur hukum dan ilmu tata negara serta pemerintahan, dari ajaran Yahudi dan Kristen unsur-unsur kepercayaan relegius dan dari rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik nilai-nilai semangat dan tradisi mereka yang bebas dan nasionalis. Mereka ini mengembangkan serta memajukan ilmu-ilmu pengetahuan alam, fisika dan teknologi. Bersama-sama dengan rakyat Slavia, mereka telah mendorong peradaban Barat ke puncakpuncak menara kekuatan. Islam juga telah memberikan sumbangan-sumbangan pengetahuan, menanamkan semangat rasional dan ilmiyah. Mereka telah melebur dan memadukan semua unsur yang membentuk watak serta kepribadian peradaban Barat. Peleburan dan pemaduan yang berlangsung ini menghasilkan
27 28 29 30 31

Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon on The Crest of A Hill,(Kuala Lumpur : ISTAC, 1991), hlm. 34-35 Lihat, K.G. Saiyidain, Iqbal Educational Philosophy (Lahore : Sh. Muh. Ashraf, 1942), hlm. 99. S.H. Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines,, Revised edt. (London : Thames and Hudson, 1978). hlm. xxi-xxii. Syed M. Naqub al-Attas, The Concept of Education in Islam ; A Framework for an Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur : ABIM, 1980). Wan Mohd. Nor Wan Daud, op.cit,hlm.13

suatu dualisme yang khas dalam pandangan dunia dan nilai-nilai kebudayaan dan peradaban Barat.32 Dengan landasan filsafat yang dualistik inilah Barat modern kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi mengembangkan dan menguasai sains-teknologi dalam hampir semua bidang kehidupan manusia. Akibat dualisme pada landasan filsafat pemikirannya ini, maka terjadilah kepincangan-kepincangan pada peradaban Barat yang membawa dampak sangat serius bagi keselamatan umat manusia di muka bumi ini. Akhirnya peradaban yang dibangun Barat modern dengan segala timbunan materinya yang sangat menyilaukan sebagian besar para cendikiawan Muslim telah mengalami kegagalan seperti yang digambarkan Sayyid Hossein Nasr; Peradaban yang berkembang di Barat sejak zaman Renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya sehingga umat manusia menjadi ragu apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di masa yang akan datang. Sangatlah tidak ilmiyah apabila kita menganggap peradaban modern ini dengan segala gambaran mengenai sifat manusia dan alam semesta yang mendasarinya, bukan sebagai sebuah eksperimen yang gagal. Dan sesungguhnya penelitian ilmiyah, jika tidak menjadi jumud karena rasionalisme dan empirisme yang totalarian seperti yang kami katakan di atas, sudah tentu merupakan cara termudah untuk menyadarkan manusia sekarang bahwa peradaban modern sesungguhnya telah gagal karena kesalahan konsepkonsep yang melandasinya. Peradaban modern telah ditegakkan di atas dasar konsep mengenai manusia yang tidak menyertakan hal yang paling mendasar bagi manusia.33 Kegagalan peradaban Barat modern, baik secara teori maupun praktek adalah tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia dan harus segera diatasi secepat mungkin, karena tantangan telah menjadi sumber segala problematika umat manusia, seperti dikatakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas; Banyak tantangan yang timbul di tengah-tengah kebingungan manusia sepanjang zaman, tetapi tidak satupun yang lebih serius dan sangat destruktif kepada manusia sekarang selain yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Saya berpendapat bahwa tantangan yang paling besar yang secara sembunyisembunyi telah muncul pada zaman kita adalah tantangan pengetahuan (knowledge), tidak seperti berperang melawan kejahilan; tapi sebagai pengetahuan yang disusun dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia oleh peradaban Barat; sifat dasar pengetahuan menjadi permasalahan setelah ia kehilangan tujuan sebenarnya karena disusun secara tidak adil yang dengan begitu justru menimbulkan kekacauan pada kehidupan manusia, dan lebih jauh pada kedamaian dan keadilan; pengetahuan menganggap diri sesuai dengan
32 33

Syed M. Naquib al-Attas, Islam and Secularism, hlm. 136 S.H. Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, (London : Longman, 1975), hlm.12

kenyataan, padahal ia adalah produk dari rasa kebingungan dan skeptisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan pada tingkat ilmiyah dalam metodeloginya dan memandang keraguan sebagai epistemologi paling tepat dalam mencari kebenaran; pengetahuan, untuk pertama kali dalam sejarah, telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam; binatang, tumbuhan dan mineral.34 Asumsi-asumsi seperti inilah yang dijadikan alasan utama oleh para cendikiawan Muslim kontemporer seperti Sayyid Hossein Nasr, Syed Muhamad Naquib al-Attas, Ismail R. Faruqi dan lain-lainnya dalam mengembangkan metodelogi pemikiran yang bertujuan untuk mengislamisasikan pengeta-huan (Islamization of Knowledge) yang dimiliki peradaban Barat Modern. Karena bagaimanapun peradaban Barat telah menghasilkan pengetahuan yang luar biasa dalam segala aspek kehidupan dan sangat bermanfaat untuk kepentingan umat manusia. Itulah sebabnya, pengetahuan modern Barat perlu diislamisasikan agar sesuai dengan kehendak dan tujuan mulia ajaran Islam. 4.2. Aliran Islamisasi Pengetahuan Jika dianalisis lebih jauh menurut pendekatan yang digunakan dan diterapkan dalam pengembangan teori-teorinya, ada beberapa aliran yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan metode pemikiran yang berdasarkan Islamisasi pengetahuan ini, namun pada hakikatnya yang dominan dan didukung institusi intelektual yang solid ada dua, yaitu; Islamisasi Pengetahuan model Faruqi dan Penerusnya yang didukung The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Virginia Amerika Serikat dan Islamisasi Pengetahuan model Syed Muhammad Naquib al-Attas yang didukung International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia. Konsep Islamisasi pengetahuan menurut Faruqi hakikatnya adalah proses untuk memberikan ruh (spirit) Islam kepada pengetahuan modern yang telah ditemukan Barat terlebih dahulu, dengan proses mengetahui landasan filsafat pengetahuan tersebut, kemudian dinilai relevansinya terhadap nila-nilai Islam. Oleh karena itu, seorang cendikiawan yang akan mengislamisasikan sebuah pengetahuan harus mengetahui secara pasti ajaran Islam dan pengetahuan modern yang akan dislamisasikan. Istilah Islamisasi sendiri digunakan untuk menyaingi dua istilah yang telah populer lebih dahulu dikalangan kaum Muslimin dan sangat mempengaruhi pemikiran mereka, yaitu Westernisasi dan Modernisasi. Di mana kedua istilah ini sangat banyak menimbulkan kekeliruan akibat ketidakjelasan pengertiannya ataupun orientasinya, dan dapat menyesatkan ummah. Pelaksanaan Islamisasi pengetahuan ini boleh saja berbentuk transformasi pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam kepada ummah secara langsung, menyaring pengetahuan pengetahuan dari pengetahuan non Islami dengan memberikan spirit Islam, ataupun orientasi Islami sehingga sesuai dengan kaedah pengetahuan Islam, menyempurnakan pengetahuan non Islami yang sesuai dengan ajaran Islam dengan memberikan kaedah-kaedah Islami, memperbaharui atau merombak pengetahuan non
34

Syed Muh. Naquib al-Attas, Nature of Knowledge and The Definition and Aim of Education,(Jeddah : King Abdul Aziz Univ, 1979). hlm. 19-20.

Islami menjadi Islami, menggabungkan kedua pengetahuan yang ditemukan metodelogi gabungan tradisional dengan sekuler sehingga lahir bentuk pengetahuan baru yang lebih sempurna ataupun cara-cara lainnya.35 Untuk mensukseskan program Islamisasi pengetahuan ini, ditunjuk The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Herndon, Virginia Amerika untuk menghimpun para cendikiawan Muslim seluruh dunia dari berbagai disiplin pengetahuan, mereka ditugaskan meneliti dan menulis sesuai dengan spesialisasi pengetahuannya masing-masing, kemudian hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal atau buku yang akan disebarluaskan. Para cendikiawan Muslim yang dihimpun IIIT sudah berupaya semaksimal mungkin dengan pengetahuan yang dimilikinya untuk mendifinisikan, merumuskan, menjabarkan dasar-dasar Islamisasi pengetahuan, kemudian didiskusikan dan diseminarkan dikalangan mereka dan akhirnya diterapkan pada beberapa institusi pendidikan tinggi Islam di negara-negara Muslim seperti Saudi Arabia, Pakistan, Malaysia dan lainnya.36 Sementra Islamisasi pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas pada hakikatnya adalah proses untuk mengisolasi dan memindahkan segala sesuatu yang tidak Islami, terutama elemen-elemen Barat dan konsep-konsep yang menyertainya. Ini juga berarti memasukkan elemen-elemen kunci Islam dan konsep-konsep yang menyertainya kepada elemen-elemen dan konsep-konsep yang baru ataupun asing. Beberapa elemen dan konsep kunci Islam diantaranya adalah agama (din), manusia (insan), pengetahuan (ilm dan ma’rifah), kebijaksanaan (hikmah), keadilan (‘adl), perbuatan benar (‘amal sebagai adab), dimana semua ini menjadi kesatuan landasan dan dasar yang saling berhubung-kait dengan konsep Tuhan, esensi dan atribut-Nya (tauhid); pengertian dan pesan al-Qur’an, al-Sunnah dan Syariah.37 Untuk mengembangkan konsep Islamisasi pengetahuan ini, Syed al-Attas didukung oleh sebuah lembaga yang solid, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang merupakan lembaga studi Islam yang sekaligus mendidik mahasiswa di tingkat pasca sarjana dan tempat berhimpunnya para cendikiawan Muslim seluruh dunia untuk mendiskusikan masalah-masalah keislaman yang didukung oleh perpustakaan yang besar dan lengkap, khususnya mengenai Islam. ISTAC telah menerbitkan beberapa buah buku yang menjadi panduan dalam memahami Islam. Lembaga ini didirikan pada hakikatnya untuk menjadi simbol keagungan pendirinya, Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang cendikiawan Muslim terkemuka masa ini yang memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang.38 4.3. Evaluasi terhadap Sistem Pendidikan Islamisasi Pengetahuan Usaha-usaha serius para cendikiawan Muslim yang berkelanjutan dalam mengislamisasikan pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk menyempurnakan sistem dan
35

Ismail R. Faruqi, op.cit.hlm. 83. Lihat juga, ‘Imad al-Din Khalil, Madkhal ila Islamiyat al-Ma’rifah, (Herndon, Virginia : IIIT, 1991). Abu al-Qasim Hajj Hammad, al ‘Alamiyah al-Islamiyah al-Insaniyah, (Beirut : Dar al-Masirah, 1980). Taha J. al-’Alwany, “The Islamization of Knowledge : Yesterday and Today”, Dalam The American Journal of Islamic Social Sciences, vol. 12, Spring 1995, No 1 ( Kuala Lumpur : IKD, 1995), hlm. 80-101. ‘AbdulHamid A. AbuSulayman, Mafahim fi I’adat Bina’ Manhajiyat al-Fikr al-Islamy al-Mu’asir, dalam Toward Islamization of Disciplines,(Herndon, Virginia : IIIT, 1989).hlm.31-68. ibid Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon, op.cit. hlm.37 op.cit. hlm. 4-6.

36 37
38

metode pendidikan kaum Muslimin di masa depan, dan harus difahami bahwa proses ini adalah proses yang masih berada pada tingkat permulaan yang memerlukan penelitian berkepanjangan. Karena kaum Muslimin dewasa ini sudah kehilangan jejak tradisi dan warisan para cendikiawan Muslim terdahulu beberapa abad sejak terjadinya pencerahan Eropa. Memang terlalu awal jika konsep Islamisasi Pengetahuan ini dinilai keberhasilannya, karena teori ini sedang dalam proses eksperimen yang akan menyempurnakan sistem dan metodeloginya. Namun demikian, untuk mengevalusi sejauh mana keabsahan teori ini perlu diberikan penjelasan yang lebih terperinci, sebagaimana dikemukakan Fazlur Rahman,39 terutama dalam proses memberikan spirit Islam kepada pengetahuan Barat modern. Sebagaimana dimaklumi, pengetahuan terdiri dari sains-sains kealaman (eksak) dan sains-sains sosial (humanika). Sains-sains kealaman adalah pengetahuan yang sesuai dengan Sunnatullah (hukum alam) dan tidak mungkin diolahsuai menurut kehendak manusia, karena hal ini adalah sesuatu kejadian yang sudah pasti tertentu kadarnya. Usahausaha untuk memanipulasinya jelas akan mendatangkan kegagalan belaka. Dalam hal ini Islamisasi atau pemberian ruh Islam dapat dilakukan, karena pada hakikatnya alam ini adalah kitab Allah yang tidak tertulis, yang tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an, sumber utama ajaran Islam, selama tidak dimanipulasi kehendak yang ingin menyimpangkannya. Namun pada sains-sains sosial humanika, lain halnya, karena jelas pengetahuan ini sangat relevan terhadap nilai-nilai yang menemukannya dan merumuskannya. Jika pengetahuan ini dikemukakan Barat, maka pengetahuan ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Barat, dengan kata lainnya terkandung unsur subyektivitas dalam pengetahuan tersebut. Maka dalam kasus seperti ini, Islamisasi pengetahuan perlu diberikan pengertian yang lebih jelas, karena sains-sains sosial-humanika yang telah dikemukakan Barat saat ini pasti tidak terlepas dari nilai-nilai mereka yang sekuleris dan materialis. Pertanyaan yang timbul, mungkinkah mengislami-sasikan pengetahuan yang berbeda, bahkan bertentangan, landasan filsafatnya, orientasinya, relevansinya, produknya dan lain-lain aspeknya dengan ajaran Islam ? Realitasnya, para cendikiawan Muslim yang berhadapan dengan kasus seperti ini, mau tidak mau harus menggali langsung ajaran Islam yang berkaitan dengan pengetahuan berkenaan. Seperti kasus Islamisasi ekonomi misalnya, para cendikiawan Muslim tidak mungkin mengislamisasikan konsep riba’ (bunga) yang terkandung pada sistem ekonomi Kapitalis Barat modern yang berlandaskan filsafat dan nilai-nilai sekuler yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan Islam. Untuk mengatasi masalah ini, para cendikiawan Muslim terpaksa menggali warisan tradisi Islam yang bersumber pada alQur’an, al-Sunnah, perilaku sahabat, ijma’, qiyas dan lainnya sehingga mereka menemukan dan merumuskan sistem ekonomi Islam tersendiri dengan konsep-konsep ataupun teori-

39

Fazlur Rahman, Islam and Modernity, hlm. 131-132

teorinya yang sama persis ataupun bertentangan dengan konsep atau teori ekonomi Barat. 40 Hal serupa pula yang dilakukan para cendikiawan Muslim ketika mereka akan mengislamisasikan sosiologi,41 mengislamisasikan antropologi,42 mengislamisasikan seni dan disiplinnya,43 mengislamisasikan bahasa,44 dan mengislami-sasikan pengetahuan yang lain-lainnya.45 Dengan demikian, apa yang diistilahkan sebagai Islamisasi pengetahuan dan dipraktikkan cendikiawan Muslim saat ini, khususnya Islamisasi model Faruqi, pada hakikatnya bukanlah suatu proses mengislamkan atau memberikan spirit Islam kepada pengetahuan Barat modern, tetapi lebih merupakan proses mencari, meneliti, merumuskan dan mengembangkan suatu disiplin pengetahuan yang belum ada pada peradaban modern, walaupun nantinya dalam pelaksanaannya mereka menjadikan referensi pengetahuanpengetahuan yang sudah ada, baik dari warisan tradisi peradaban Islam ataupun peradaban Barat. Sementara Islamisasi mengandung pengertian merubah sesuatu yang tidak Islami menjadi Islami, maka jelas perubahan tidaklah identik dengan penyusunan, karena perubahan mengandung pengertian merubah sesuatu yang sudah ada, baik dengan mengurangi ataupun menambahnya, menjadi bentuk lainnya, tetapi penyusunan mengandung makna mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Seperti ekonomi Islam misalnya, saat ini kaum Muslimin belum memiliki model sistem ekonomi Islam yang dapat diterapkan sesuai keperluan masyarakat modern, maka para cendikiawan Muslim tidaklah mengadopsi ekonomi Barat menjadi ekonomi Islam dengan proses perubahan yang disebutnya sebagai Islamisasi, tetapi mereka berusaha mencari, meneliti, merumuskan dan mengem-bangkan teori-teori ekonomi tersendiri berdasarkan ajaran Islam, dan mungkin mereka akan menggunakan teori ekonomi Barat sebagai bahan perbandingan dan referensi sehingga mereka menemukan suatu teori ekonomi Islam yang mungkin berbeda dan mungkin juga sama persis dengan ekonomi Barat. Namun proses ini tidaklah dapat dinamakan sebagai perubahan teori, namun penyusunan teori baru. Istilah Islamisasi pengetahuan sendiri dapat memberikan kesan seakan-akan ajaran Islam tidak memiliki sistem pengetahuan dan kehidupan yang sempurna, sehingga perlu diambilkan dari dari luar Islam. Seperti sistem ekonomi, seakan-akan Islam tidak memiliki sistem ekonomi sendiri sehingga perlu diambilkan dari sistem luar Islam dengan proses
40

Untuk masalah ini lihat misalnya, M. Najatullah Siddiqi, “Islamizing Economics”, dalam Toward Islamization of Disciplines, op.cit. hlm.253-261. M. Anas al-Zarqa,”Tahqiq Islamiyat ‘Ilm al Iqtishad : al-Mafhum wa al-Manhaj, dalam Toward Islamization of Disciplines. op.cit. hlm.317-351. Abdul Hamid A. AbuSulayman, “The theory of the Economics of Islam : the Economics of Tawhid and brotherhood” di Contemporary Aspects of Economic Thinking in Islam,(Indianapolis : American Trust Publ. April, 1968). Mohammad Anwar, Modelling Interest-Free Economy, A Study in Macro-econonomics and Development, (Herndon, Virginia : IIIT, 1987). Khursid Ahmad,(ed), Studies in Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for Research in Islamic Economics, King Abdul Aziz Univ, 1980). A.H.M. Sadeq, Islamic Economics, Some Selected Issues,(Lahore : Islamic Publ. 1989). Zohurul Islam, Islamic Economics, (Dhaka : Islamic Foundation Bangladesh, 1987). Taqyuddin al-Nabhani, al-Nidham al-Iqtishadi fi al-Islam,(Beirut : Dar al-Ummah, 1990). M. Umer Chapra, Towards a Just Monetary System, (London : The Islamic Foundation, 1985). S.M. Yusuf, Economic Justice in Islam, (Lahore : Shaikh Muhammad Ashraf, 1971). Ilyas Ba-Yunus & Farid Ahmad, Islamic Sociology : An Introduction,(Cambridge : Hodder and Stoughton, 1985).

41

42 43 44 45

Akbar S. Ahmad, “Toward Islamic Anthropology, dalam Toward Islamization of Disciplines,,op.cit,hlm.199-247. Lamya al-Faruqi, “Islamizing The Arts Disciplines”, dalam Toward Islamization, op.cit. hlm. 459-504. Sayyid M. Syeed, “Islamization of Linguistics”, dalam Toward Islamization, op.cit. hlm. 545-555. AbdulHamid A. AbuSulayman, “Orientation Guidelines for the International Conference on Islamization of Knowledge, dalam Toward Islamization, op.cit, hlm. 13-16.

Islamisasi ekonomi. Sementara Islam mengajarkan kepada pengikutnya bahwa Islam adalah sistem yang kaffah dan syumul, yaitu ajaran yang mengatur semua sistem kehidupan manusia, dari masalah individu sampai masyarakat dan negara.46 Bagaimana mungkin Islam telah mengajarkan secara terperinci doktrin-doktrin sederhana tata cara keluar masuk kamar kecil dan adab-adabnya, sementara tidak mengajarkan sistem ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan lainnya yang lebih besar dan penting dalam kehidupan pengikutnya ? Maka tentu Islam sebagai al-dien (sistem hidup) telah mengajarkan dasardasar filsafat semua sistem kehidupan dunia ini, tinggal bagaimana para cendikiawan Muslim mengembangkannya menurut kemampuannya masing-masing. Islam dengan pendekataannya yang khas telah memberikan dorongan kepada pengikutnya untuk meneliti dan mengembangkan segala phenomena alam ini menurut kadar kemampuannya masing-masing. Semangat inilah yang telah mendorong para cendikiawan Muslim terdahulu yang telah mengantarkan mereka menuju puncak kegemilangan peradaban. Maka dengan pengertian ini, Islamisasi pengetahuan harus lebih difokuskan kepada penyusunan dan pengembangan teori-teori pengetahuan baru Islami yang berbeda dari pengetahuan Barat, baik secara substansi ataupun materinya yang berlandaskan filsafat pengetahuan Islam, berorientasi Islami dan menghasilkan produk-produk Islami pula. Jadi yang diperlukan saat ini adalah bagaimana menemukan dan merumuskan kembali konsep pengetahuan Islami, sains Islami, teknologi Islami dan seterusnya, walaupun kaum Muslimin harus mengadopsinya dari Barat yang non Islam, kerena mungkin mereka telah menemukannya lebih dahulu. Para cendikiawan Muslim mempunyai hak untuk mengadopsi pengetahuan tersebut dari mereka, yang hakikatnya adalah ilmu Allah SWT, selama pengetahuan tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kepada ummatnya untuk mengambil ilmu yang bermanfaat sebagaimana sabdanya :”sesungguhnya al-Hikmah (pengetahuan bermanfaat) adalah milik kaum Muslimin, dimanapun mereka menemukannya, mereka berhak mengambilnya kembali”(al-Hadits). Walaupun sistem ekonomi Islam misalnya sudah ditemukan Karl Marx yang atheis, maka para cendikiawan Muslim tetap berhak mengambilnya tanpa rasa rendah diri. Karena semua sistem yang bermanfaat dan benar adalah ilmu Allah yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh, walaupun mereka kafir, atheis ataupun sekuler. Atau para cendikiawan Muslim menggali langsung berdasarkan warisan-warisan cemerlang pendahulu mereka, menyempur-nakan dan merumuskan kembali menurut keperluan masyarakat masa kini, karena Barat yang memiliki peradaban tinggi saat ini pada awalnya juga belajar dari para cendikiawan Muslim terdahulu. Saat ini, di mana Barat menjadi pemuka pengetahuan modern, maka ummah mau tidak mau harus mengambil darinya jika mereka hendak menjadi pemimpin peradaban dunia masa depan. Untuk itu perlu diperjelas bentuk pengetahuan produk Barat sekuler saat ini. Secara global menurut pandangan Islam, pengetahuan Barat saat ini terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan Barat Islami dan pengetahuan Barat non Islami. Ini berangkat dari asumsi tadi, bahwa semua pengetahuan yang benar dan bermanfaat pasti dari Allah
46

Tentang kesempurnaan Islam ini lihat misalnya : Said Hawa, al-Islam, (Beirut : Dar al-Fiqr, 1978). Yusuf alQardhawi, al-Hall al-Islam, (Dauhah, Qatar : al-Jamiah al-Islamiyah Qatar, 1986). Hamudah Abdalaty, Islam in Focus,(Kuwait : IIFSO, 1978). Abu Urwah, Sistem-sistem Islam,(Kuala Lumpur : Pustaka Salam, 1989). Abul A’la al-Maududi, Asas-asa Islam, ( Kuala Lumpur : IIFSO, 1981.

SWT dan kebetulan ditemukan oleh Barat yang non Islam maka tidak mejadikan pengetahuan itu non Islami pula. Maka yang dimaksudkan dengan pengetahuan Barat Islami adalah pengetahuan yang dihasilkan Barat namun bersesuaian atau tidak bertentangan dengan ajaran Islam secara substansi ataupun materinya. Sementara pengetahuan Barat non Islami adalah pengetahuan yang diproduk Barat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Implikasi dari pengertian ini adalah pengetahuan Barat Islami tinggal ditransfer ummah, kemudian dimanfaatkan dan diatur sesuai dengan syari’at Islam, maka secara otomatis pengetahuan itu akan menjadi pengetahuan Islami yang dapat dimanfaatkan ummah. Adapun pengetahuan Barat non Islami harus ditolak. Konsekwensi logisnya, para cendikiawan Muslim harus mengetahui dengan pasti ajaran-ajaran Islam dan juga pengetahuan Barat yang akan ditransfer, baik landasan filsafatnya, orientasinya, relevansinya dan yang terpenting metodeloginya. Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan Fazlur Rahman,47 program utama yang harus dilakukan para cendikiawan Muslim saat ini dalam proses Islamisasi pengetahuan ini adalah mencetak kader-kader cendikiawan Muslim yang berkemampuan untuk menilai pengetahuan Barat dengan dasar pengetahuan keislaman yang dimilikinya kemudian mengembangkannya menurut kemampuannya. Dan menurutnya, yang paling layak mengislamisasikan pengetahuan adalah orang yang memiliki dasar pengetahuan keislaman yang kuat, baik pengetahuan Islam klasik ataupun kontemporer, kemudian mereka dididik agar menguasai dan memahami pengetahuan Barat sesuai minat dan kemampuannya agar dapat menghasilkan pengetahuan yang Islami. Atau sebaliknya dengan mendidik para cendikiawan Muslim yang telah menguasai pengetahuan Barat dengan pengetahuan keislaman. Namun cara terakhir ini harus benar-benar mendapat perhatian khusus, karena banyak diantara mereka yang sudah menganggap dirinya menguasai pengetahuan keislaman dengan benar dan mulai mengislamisasikan pengetahuan Barat, namun pada hakikatnya mereka mentransfer apa adanya pengetahuan Barat tersebut dengan semangat sekulernya sekaligus akibat ketidakfahamannya terhadap ajaran Islam. Demikian pula halnya masih terdapat kerancuan-kerancuan pada metodelogi yang digunakan para cendikiawan Muslim dalam mengislamisasi-kan pengetahuan. Diantaranya ada yang menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep-konsep yang berasal dari Islam, padahal belum tentu sama pengetiannya. Misalnya menganggap bahwa nafs al-Ammarah, nafs al-Lawwamah dan nafs al-Muthmainnah dari al-Qur’an identik dengan konsep id, ego dan super ego dalam psikologi, ataupun menyamakan konsep demokrasi Barat dengan konsep syuro dalam politik, konsep humanisme dengan ukhuwah dalam sistem sosial, dan lainnya dimana hal ini akan mengakibatkan biasnya pengetahuan ke taraf agama yang harus diyakini kemutlakannya.48 Sebagaimana dikemakakan terdahulu, pengetahuan yang dikembangkan Barat, khususnya pengetahuan-pengetahuan sosial-humanika, berasal dari akar filsafat yang
47 48

Fazlur Rahman, Islam and Modernity, hlm. 134. lihat juga, “Islamization of Knowledge : A Respons”, dalam Ulumul Qur’an, op.cit. no.4. vol.III. Tokoh-tokoh IIIT sendiri sebagai pendukung utama Islamisasi pengetahuan model Faruqi sebagian besar adalah para cendikiawan Muslim yang latar belakang pendidikannya sekuler Barat ataupun tradisional Islam, dimana hal ini sangat mempengaruhi produk pemikirannya. Demikian pula karya-karya yang diterbitkannya masih banyak dipengaruhi oleh metodelogi sekuler atau tradisional. Lihat misalnya, Toward Islamization of Disciplines terbitan IIIT yang menghimpun tulisan tokoh-tokohnya

berbeda bahkan bertentangan dengan filsafat pengetahuan dalam Islam. Filsafat pengetahuan Barat berlandaskan faham sekulerisme dan materialisme yang menolak agama dan dogma-dogma yang terkandung didalamnya, termasuk perananan Tuhan sebagai pencipta alam raya ini dan ajaran metafisik lainnya dengan alasan tidak rasional, tidak ilmiyah dan tidak sesuai dengan toeri empirisme yang mereka yakini. Faham ini sendiri lahir dari pemberontakan terhadap agama Kristen abad pertengahan yang penuh dengan doktin-doktrin palsu, penyelewengan dan penipuan para pemukanya yang korup dengan mengatasnamakan Tuhan, ajaran yang membelenggu pemikiran-pemikiran cemerlang para cendikiawan Barat. Faham ini akhirnya menganggap semua agama yang mengajarkan metafisik adalah candu masyarakat, penghalang kemajuan dan akhirnya menyimpulkan “Tuhan telah mati’, peranannya diganti oleh pengetahuan.49 Sementara filsafat pengetahuan Islam berlandaskan pada Tauhid, wujudnya Allah dalam ketunggalan-Nya sebagai sumber segala pengetahuan yang diterima manusia, yang berkedudukan sebagai kholifah, atau wakil Allah yang akan mengatur dan memakmurkan alam menurut kehendak Allah SWT. Penyatuan alam nyata (fisis) dengan alam ghaib (metafisis), penyatuan dunia dengan akhirat, nilai moral dan intelektual, yang tidak mempertentangkan antara wahyu Allah dengan aqal manusia.50 Maka implikasinya, produk-produk pengetahuan yang sifatnya relatif, tidak mungkin disejajarkan dengan konsep ajaran di dalam al-Qur’an51 yang absolut kebenarannya. Karena produk-produk pengetahuan yang dianggap benar dan didukung hari ini, mungkin besok akan ditentang oleh pendukungnya sendiri dengan adanya penemuan-penemuan baru yang dianggap lebih mendekati kebenaran sebagaimana yang menimpa teeori-teori pengetahuan dari zaman dahulu hingga saat ini. Sementara al-Qur’an, sumber utama ajaran Islam, sejak awal diturunkannya sampai akhir zaman tetap mutlak kebenarannya, tidak akan berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman, yang berubahubah adalah penafsiran dan pemahaman orang terhadap kandungannya sehingga melahirkan banyak tafsir al-Qur’an, yang tidak terlepas dari situasi dan kondisi pengetahuan orang berkenaan.52 Dengan mensejajarkan pengetahuan dengan al-Qur’an, jelas akan merendahkan nilai al-Qur’an yang mutlak kebenarannya ke taraf pengetahuan/sains yang relatif dan berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Demikian pula masih ada di antara para cendikiawan Muslim yang menjadikan Islam sebagai penguat pengetahuan, dengan mencari-cari dalil yang akan mendukung suatu gagasan atau teori pengetahuan. Hal ini biasanya dilakukan para cendikiawan yang telah
49 50

Syed M.Naquib al-Attas, Islam and Secularism, khususnya bab I dan II. Tentang filsafat pengetahuan Islam, lihat misalnya : Syed M. Naquib al-Attas, Islam and The Philoshopy of Science, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1989). Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Concept of Knowledge in Islam,(London : Mansell Publ, 1989). C.A. Qadir, Philosophy and Science in The Islamic World,(New York: Croom Helm, 1988) khususnya bab 1. Mahdi Golshani, “Philoshophy of Science from the Qur’anic Perspective” dalam Toward Islamization of Disciplines. op.cit. hlm.73-92. Sengaja penulis menggunakan al-Qur’an dan bukan ajaran Islam, karena al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang tidak pernah dipertentangkan kebenaran dan keabsahannya, dan tidak ada seorangpun sampai hari ini yang berhasil membuktikan kepalsuan ajaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT, sementara ajaran Islam adalah produk dari pemahaman terhadap sumber ajaran ini, yang mungkin terdapat perbedaan dalam menafsirkan atau memahaminya, sebagimana yang telah melahirkan berbagai madzhab pemikiran Islam. Tentang difinisi al-Qur’an lihat : Subhi Sholih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt) hlm. 21. Syaikh M. Ali Al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an,(Damsyiq : Maktabah al-Ghazaly, 1981) hlm. 6. Fuad Ali Ridha, Fi ‘Ulum al-Qur’an,(Beirut : Dar Iqra’, 1986), hlm. 13-14. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘Ulum al-Qur’an, (Amman : Mathbaah alSyuruq, 1983). hlm.7-8. Shabir Thayyimah, Haza al-Qur’an,(Beirut : Dar al-Jill, 1989) hlm. 13.

51

52

meyakini kebenaran sebuah teori pengetahuan, kemudian dia berusaha membenarkannya dengan mengutip dalil-dalil al-Qur’an ataupun al-Hadits yang menguatkan teori berkenaan. Sehingga lahirlah istilah-istilah aneh seperti sosialisme Islam,53 humanisme Islam,54 demokrasi Islam,55 diktatorisme Islam,56 modernisme Islam,57 sekulerisme Islam,58 fundamentalisme Islam,59 dan lainnya. Sementara istilah-istilah seperti itu sudah mengandung konotasi, pengertian, sejarah, filsafat dan pengertian tersendiri yang berbeda dengan ajaran Islam. Apakah mungkin organ-organ sistem yang lahir bukan dari ajaran Islam dapat diadopsi begitu saja karena memiliki kemiripan sedikit saja dengan ajaran Islam ? Tentu tidak mungkin, karena Islam telah memiliki sistem tersendiri dengan ciri khasnya yang berbeda dengan sistem-sistem yang diciptakan manusia. Perbuatan menjadikan Islam sebagai penguat pengetahuan semata-mata adalah sama artinya dengan perbuatan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah yang dilarang Islam.60 Dan perbuatan ini akan merendahkan Islam ke taraf pengetahuan yang nilainya relatif, yang dapat diterima ataupun ditolak. Proses Islamisasi pengetahuan ini juga harus menjangkau keseluruhan tingkat pendidikan, dari tingkat dasar, menengah dan tinggi. Apabila dilakukan hanya pada tingkat tinggi saja, tanpa diikuti Islamisasi pada tingkat dasar dan menengah, dalam arti membiarkannya sekuler ataupun tradisional sepenuhnya, jelas akan mengurangi keberhasilannya secara maksimal. Karena pada tingkat dasar dan menengah, dimana pelajar masih murni keyakinan dan pemikirannya, jika Islamisasi bertujuan untuk menanamkan keterikatan cendikiawan pada Islam, maka harus diwarnai dengan semangat ajaran Islam sedini mungkin agar tertanam orientasi keislaman pada dirinya sejak muda yang akan sangat membantunya untuk memahami pengetahuan keislaman pada tingkat yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya, apabila institusi dasar dan menengah disislamisasikan, ditanamkan nilai-nilai Islam dengan ketat, sementara tingkat tinggi dibiarkan sekuler, boleh jadi akan menghilangkan nilai-nilai Islami yang sudah tertanam dan menjerumuskan para pelajar menjadi sekuler akibat pelajaran tinggi mereka yang sekuler. Itulah sebabnya keberhasilan yang maksimal dapat diraih apabila dilakukan Islamisasi pada semua tingkatan dengan relevansinya masing-masing. Dengan proses Islamisasi menyeluruh ini diharapkan akan melahirkan cendikiawan-cendikiawan Muslim yang utuh, yaitu cendikiawan Muslim yang kreatif dalam spesialisasi pengetahuannya namun memiliki keterikatan yang kuat pada Islam, atau cendikiawan Muslim yang menjadikan Islam sebagai landasan berfikir kreatifnya, sebagaiman yang telah ditempuh para cendikiawan Islam terdahulu yang menjadikan Islam sebagai landasan spirit dalam
53 54 55

Mustafa H. al-Siba’i, Isytirokiyyat al-Islam, (Sosialisme Islam), (Damsyiq : Damsyiq Univ,tt) Marcel A.Boisard, Humanism in Islam,trans. by Albin Michel,(Indianapolis:The American Trust Publ.,1979) Abul ‘Ala al-Maududi adalah diantara cendikiawan Muslim yang menentang keras istilah demokrasi Islam, karena prinsip demokrasi dan syuro dalam Islam bertentangan. Lebih lanjut lihat tulisan beliau The Islamic Law and Constitution, dan Khilafat wa al-Mulk. Lihat dalam The Islamic Law and Constitution karya Abul “Ala al-Maududi. Istilah ini digunakan secara meluas oleh cendikiawan Muslim, diantara yang menentangnya adalah Maryam Jamilah dalam bukunya Islam and Modernism,(Lahore : Moh. Yusuf Khan, 4th.ed.1977). Istilah ini dipopulerkan Nurcholis Madjid pada tahun 70-an dan mendapat tentangan dari H.M. Rasjidi dalam bukunya Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekulerisasi,(Jakarta : Bulan Bintang, 1972). Masalah ini lihat Rifyal Ka’bah, Islam dan Fundamentalisme,(Jakarta : Panjimas,198 “dan janganlah kamu menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah”

56 57 58 59 60

meneliti dan mengembangkan pengetahuan karena berkeyakinan bahwa terlibat dalam pengetahuan dianggap sebagai salah satu sarana beribadah kepada Allah SWT. Kurang berhasilnya proses penggabungan kedua metodelogi (tradisional dan sekuler) terdahulu sebagaimana yang dialami Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarh Collegenya, karena masih tetap bertahannya kedua metodelogi tersebut pada tempatnya masing-masing, belum mampu saling lengkap melengkapi satu dengan lainnya. Disamping kegagalan tersebut akibat tidak adanya tenaga pengajar yang menguasai metodelogi dan sistem yang diterapkan, namun ini terjadi juga akibat dari proses pemberian spirit Islam hanya dilakukan pada tingkat tinggi saja, sementara pada tingkat dasar dan menengah, yang merupakan jembatan penghubung terpenting yang akan memaksimalkan keberhasilan metodelogi baru ini dibiarkan sepenuhnya sekuler ataupun tradisional. Ataupun kegagalan yang menimpa generasi-generasi Islam yang belajar di Barat dan tersekulerkan akibat mereka hanya mengalami proses penanaman spirit Islam pada tingkat dasar dan menengah, sementara pada tingkat tinggi menerima pengetahuan yang sepenuhnya sekuler dan akhirnya mereka tersekulerkan dengan terkikisnya spirit Islam yang ditanamkan terdahulu. Demikian pula halnya, jangan sampai proses Islamisasi pengetahuan yang sedang dilaksanakan para cendikiawan Muslim ini terjebak faham Barat yang hanya mengutamakan pengetahun saja. Apapun yang diketahui tidak diikuti dengan penekanan pada aspek amali (pelaksanaan). Islam dipelajari hanya sebagai pengetahuan belaka, tanpa suatu tekanan berat kepada pengamalan, karena Islam menekankan pengetahuan sekaligus pengamalan kepada pengikutnya. Apalah artinya mendirikan universitas-universitas yang memakai nama dan lambang Islam, namun pada hakikatnya masih menerapkan dengan penuh kesadaran segala bentuk pengetahuan yang berlandaskan filsafat Barat yang berjiwa sekuler dan materialistik. Idealnya sebuah universitas Islam adalah universitas yang menerapkan aspek pengetahuan dan pengamalan sekaligus, dan nilai keberhasilan sebuah institusi Islam adalah keberhasilannya dalam melahirkan generasi-generasi yang berpengetahuan dan berupaya mengamalkan pengetahuannya dengan semaksimal mungkin. Demikian pula institusi intelektual Islam jangan sampai melahirkan alumni yang hanya pandai mengeluarkan teori, konsep ataupun makalah dalam seminar dengan metode yang mereka namakan ilmiyah, namun jauh dari masyarakatnya dan terjebak pada budaya sangkar emas intelektual, sebagaimana digambarkan Syari’ati : “Ironisnya dalam budaya dan dan sistem pendidikan modern kaum muda kita dididik dan dilatih di dalam benteng-benteng yang terlindung dan tak tertembus. Begitu mereka masuk kembali ke dalam lingkungan masyarakat, mereka ditempatkan pada kedudukan-kedudukan sosial yang sama sekali terpisah dari rakyat jelata. Maka kaum intelektual muda itu hidup dan bergerak dalam arah yang sama dengan rakyat, tetapi di dalam suatu “sangkar emas” lingkungan eksklusif. Akibatnya di satu fihak, kaum intelektual itu mengejar kehidupan yang terpencil di atas menara gading tanpa memahami sama sekali keadaan masyarakat mereka sendiri dan di lain fihak, rakyat jelata yang tak terpelajar tidak memperoleh kebijaksanaan (hikmah) dan pengetahuan dari kaum

intelektual yang sama, yang telah mereka biayai pendidikannya dan mereka dukung perkembangannya.61

Membangun Kembali Paradigma Pendidikan Islami Sebuah Konsep Awal
Sistem Pendidikan Dunia Masa Kini Pendidikan adalah salah satu sarana terpenting yang akan menentukan kedudukan sebuah bangsa, karena hakikatnya pendidikan, baik formal ataupun informal adalah tempat pengembangan sumber daya manusia, membangun dan mengolah segala potensi yang ada menjadi manusia-manusia berkualitas yang akan memegang peranan sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing. Tidak ada satu bangsapun yang dapat berkembang dengan menjadi bangsa maju dan besar, kecuali memiliki sistem pendidikan yang baik pula. Raelitasnya bangsa-bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang maju, ditopang tenaga-tenaga pendidik berkualitas dan fasilitas yang memadai, akan mengalami perkembangan dan kemajuan drastis menjadi bangsa kuat yang disegeni dunia dan dan sebagai akibatnya akan mendatangkan kemakmuran bagi masyarakatnya. Itulah sebabnya
61

Ali Syariati, What is To Be Done, op.cit.hlm. 26

bangsa-bangsa besar saat ini memulai kebangkitannya dengan membangun sistem pendidikan yang dibutuhkan dan merancang pengembangannya dengan tepat. Sebagian besar dana diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam upaya mencerdaskan bangsa dengan melengkapi semua infrastruktur yang diperlukan dalam pendidikan, seperti penyusunan kurikulum, mempersiapkan tenaga pengajar, buku-buku, gedung, laboratorium dan sarana lainnya. Dalam hal ini Malaysia adalah contoh terdekat. Setelah mendapat kemerdekaannya para pemimpin Malaysia melakukan investasi besarbesaran dalam bidang pendidikan dengan mencurahkan sebagian besar dananya untuk membangun insfrastuktur pendidikan. Karena para pemimpinnnya meyakini bahwa membangun pendidikan adalah jalan yang paling tepat untuk mengantarkan bangsanya menuju kemajuan. Kebijaksanaan ini telah mendorong dibangunnya institusi-institusi pendidikan dengan sarana-sarananya, mengirim generasi terbaiknya keluar negeri dan mengundang pengajar-pengajar dari luar negeri termasuk dari Indonesia. Setelah dua dekade menjalankan kebijaksanaannya, kini dunia menyaksikan Malaysia adalah salah satu Negara Industri Baru yang dinamis dan akhirnya pendidikan mendatangkan kemakmuran bagi Malaysia saat ini. Bangsa-bangsa maju Barat telah menyusun konsep dan sistem pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip rasionalisme dan empirisme kemudian mengembangkannya dengan canggih sehingga menjadi sistem pendidikan unggul yang mampu merangsang intelektualitas, kebebasan berkarya dan tradisi keilmuan yang mengagumkan. Sistem pendidikan ini telah mengantarkan mereka menuju kebangkitan dan kemajuan peradaban modern dengan diciptakannya berbagai cabang pengetahuan dan teknologi yang sangat memeranjatkan dunia. Bagaimana tidak, sistem pendidikan ini telah melahirkan manusiamanusia yang mampu menciptakan berbagai bentuk kemudahan dalam kehidupan dunia. Mereka telah menciptakan pesawat terbang yang kecepatannya melebihi suara dan mampu mengantarkan manusia kemanapun yang diinginkannya dalam waktu singkat. Bahkan mereka telah berhasil menjelajah bulan dan planet-planet lainnya. Mereka telah menciptakan telpon, faksimile, televisi dan sarana komonukasi canggih yang tidak terpikirkan sebelumnya yang mempermudah hubungan manusia satu dengan lainnya. Demikian pula mereka telah menciptakan komputer dan teknologi-teknologi canggih dalam berbagai bentuknya yang sangat mengangumkan siapapun. Disamping itu mereka juga telah menciptakan berbagai bentuk mesin perang yang sangat menakutkan setiap orang. Dan akhirnya tidak diragukan bahwa konsep pendidikan Barat ini terbukti telah mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang menguasai pengetahuan modern dengan tradisi keilmuannya yang tinggi. Dengan semangat dan tradisi inilah yang telah mengantarkan bangsa-bangsa Barat menjadi bangsa maju dan sebagai mercusuar peradaban dunia modern. Lebih jauh kamajuan ini telah menjadikan mereka sebagai pengontrol kehidupan dunia, baik dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, iptek dan lainnya. Konsep pendidikan Barat bersama produknya ini kemudian disebarkan kepada dunia dan realitasnya bangsa-bangsa yang mengadopsinya menjadi bangsa maju perekonomiannya seperti Jepang, Korea, Taiwan, Malaysia dan lainnya. Keadaan ini telah memaksa para pemimpin bangsa mayoritas Muslim untuk mengadopsi konsep pendidikan Barat ini pada sistem pendidikan nasional mereka dengan harapan dapat mencapai kemajuan

sebagaimana negara-negara Barat. Kebijaksanaan mengadopsi sistem pendidikan Barat ini sebagiannya telah dipaksakan secara halus kepada institusi-institusi pendidikan tradisional kaum Muslimin dengan alasan modernisasi sistem pendidikan Islam. Namun sejauh ini belum kelihatan hasilnya secara maksimal terhadap kemajuan sistem pendidikan kaum Muslimin dan lulusannya, yang kelihatan pasti adalah akibat sampingannya, yaitu menyebarnya virus-virus sekulerisasi yang telah mempengaruhi sistem pendidikan tradisional Islam dan berkembang biak dengan suburnya pada pemikiran anak didiknya dalam bentuk munculnya sikap sok modern, materialis, hedonistik dan kebarat-baratan. Secara lahiriah sistem pendidikan model Barat ini telah melahirkan manusiamanusia unggul yang menguasai pengeta-huan dan teknologi canggih yang mengagumkan, namun disamping itu sistem pendidikan ini telah melahirkan manusia-manusia yang asing terhadap dirinya, sehingga tokoh pendidikan Barat terkemuka menyifatkan sistem pendidikan Barat sebagai inhuman (tidak manusiawi), nonhuman (bukan manusiawi) dan antihuman (anti-manusiawi).62 Karena sistem pendidikan ini telah mengesampingkan perkara pokok pembinaan unsur-unsur kemanusiaan (manhood) dan telalu mengutamakan unsur-unsur ketenagakerjaan (manpower). Tujuan utama sistem pendidikan Barat adalah menciptakan manusia-manusia yang ahli dalam bidangnnya dengan demikian mereka diharapkan dapat berkompetisi di pasar tenaga kerja namun akhirnya mereka menjadi asing terhadap hakikat dirinya sebagai manusia, sehingga ketika mereka mengalami krisis, kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa karena tidak semua permasalahan dapat dijawab pengetahuan dan teknologi yang mereka ciptakan dan kembangkan.63 Lebih jauh kontradiksi-kontradiksi kemanusiaan yang dihadapi Barat saat ini sebenarnya disebabkan tidak lain karena diterapkannya faham sekulerisme yang pemisahan agama dari keduniaan pada sistem pendidikan mereka yang akhirnya melahirkan manusia ambivalen, yaitu manusia yang hanya mengetahui aspek material/duniawi saja dan menolak aspek spiritual yang hakikatnya sangat diperlukan manusia. Karena spitualitas yang bersumber agama akan mengantarkan manusia menuju keselamatan dan kedamaian.64 Di institusi pendidikan sekuler para pelajar dididik dengan ilmu-ilmu yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja (manpower oriented) sehingga mereka mampu bersaing, bahkan mereka selalu memenangkan persaingan untuk menguasai lapangan kerja, namun karena pembinaan aspek spiritualnya terlupakan, akhirnya mereka menjadi manusiamanusia yang bermental binatang, yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya. Mereka sanggup mengeksploitasi, menipu dan melakukan perkara-perkara amoral lainnya untuk mencapai maksudnya. Produk sistem pendidikan inilah yang telah melahirkan para pencipta senjatasenjata canggih pemusnah yang telah menghancur-kan peradaban dunia. Akhirnya sistem pendidikan ini akan mengancam keselamatan dunia sebagaimana telah kelihatan tandatanda belakangan ini, karena telah mencetak manusia-manusia yang tidak mengetahahui hakikat jati dirinya serta hilang hakikat kemanusiannya.
62 63
64

Robert M. Hutchins, The Learning Society, (Middlesex, England: Penguin,1968) hlm. 10. Lihat, Jacques Maritain, Education at the Crossroad. (London : Yale Univ. Press, 1943). hlm. 6-7. Syed Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur : ABIM, 1978) hlm. 144-145.

Sistem pendidikan Barat sekuler yang mendominasi sistem pendidikan dunia saat ini tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah Barat, terutama pada masa pencerahan Eropa. Sejarah membuktikan, setelah Barat berinteraksi dengan dunia Islam pada abad pertengahan lalu, terutama pada perang Salib, mereka mendapat rampasan perang yang tidak ternilai harganya berupa peradaban dunia dengan berbagai cabang ilmunya sebagai warisan generasi Islam. Peradaban ini sendiri adalah pengembangan dari peradabanperadaban dunia masa lalu yang telah diberi spirit keislaman, sehingga menjadi peradaban yang dimanis dan rasionalis sebagaimana ajaran Islam. Karena pengaruh sentimen perang Salib yang keterlaluan inilah para cendikiawan Barat akhirnya memanipulasi peradaban yang baru diperolehnya dengan menghilangkan segala sesuatu yang berbau Islam. Hal ini juga dipengaruhi oleh faham sekulerisme yang mulai dominan di Barat yang lahir akibat dari kemenangan kaum pembaharu menentang para pemuka agama Kristen. Sistem pendidikan Islam berupa madrasah atau jami’ah telah ditiru apa adanya oleh para cendikiawan Barat, baik konsep, sistem maupun metodeloginya namun dengan menghilangkan semangat keislaman yang terkandung di dalamnya. Dan tidak berlebihan jika dikatakan semangat rasionalisme dan empirisme yang ada pada sistem pendidikan Barat saat ini diadopsinya dari sistem pendidikan Islam terdahulu.65 Berangkat dari realita ini, para cendikiawan Muslim, baik produk sistem pendidikan tradisional Islam ataupun sekuler, berkewajiban menemukan solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapi kaum Muslimin dalam mengintegrasikan keutamaankeutamaan sistem pendidikan di masa depan dengan menjadikan referensi pengalaman para cendikiawan Muslim terdahulu. Karena pengalaman para cendikiawan terdahulu adalah mata rantai yang tidak terpisahkan dengan proses penyempurnaan sistem pendidikan kaum Muslimin. Namun yang terpenting bahwa tradisi keislaman dengan segala nilai-nilai mulianya harus senantiasa diutamakan. Kaum Muslimin dan Pendidikan Islam adalah agama langit terakhir yang diturunkan Allah Sang Pencipta alam kepada seluruh umat manusia melalui perantaraan Nabi besar Muhammad saw sebagai rahmat yang akan menyelamatkan kehidupan mereka. Sebagai agama langit terakhir yang akan membimbing umat manusia sampai akhir zaman, Islam telah memiliki dan dilengkapi dengan seperangkat ajaran sempurna yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari masalah-masalah yang berkaitan dengan orang perongan, keluarga, masyarakat, negara dan hubungan diantaranya. Dengan kesempurnaan ajarannya, Islam akan membimbing para pengikutnya menuju kesempurnaan dan kemenangan hidup di dunia dan akherat kelak. Ajaran-ajaran mulia Islam secara langsung ataupun tidak telah memberikan rangsangan sedemikian rupa kepada para pengikutnya dari berbagai pendekatannya yang unik agar selalu menjadi orang-orang yang terlibat dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan, baik sebagai orang yang berilmu, orang yang mencari ilmu, orang yang mengembangkan ilmu ataupun orang-orang yang memberikan pasilitas kepada mereka, sehingga Islam telah melahirkan banyak para ilmuawan brilyan kelas
65

Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon on The Crest of a Hill, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1991) hlm. 9-11

dunia menurut bidang spesialisasinya masing-masing yang menjadi referensi dunia sampai sekarang. Diantara mereka yang tekenal adalah al-Jabar, al-Biruni, Ibn. Hayyan, Ibnu Rusyd, Ibn. Sina, al-Farabi, al-Ghazali, Ibn. Khaldun dan banyak lagi lainnya yang telah menjadi bintang-bintang dunia keilmuaan. Uniknya mereka tidak hanya menguasai ilmuilmu dunia seperti fisika, matematika, biologi, kimia, sosiologi-antrofologi, geografi dan sejenisnya, namun pada saat yang sama mereka adalah para ahli agama Islam yang menghafal al-Qur’an dan al-Hadits, menguasai fiqh dan lainnya, bahkan diantara mereka ada yang menjadi Qadhi (hakim agama) bahkan Mufti (pemberi fatwa agama). Ini dapat terjadi karena Islam dengan sistem pendidikannya yang terpadu tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu dunia sebagaimana dikenal masyarakat modern yang sekuler. Islam menekankan pada para pengikutnya, ajaran dan perintah agama adalah landasan utama dalam mencapai kegemilangan dunia, sehingga para cendikiawan Islam pterdahulu adalah orang yang menguasai agama sekaligus menguasai ilmu dunia. Sejak awal diturunkannya Islam telah memulai ajarannya dengan menyerukan proses pendidikan sesuai keperluan masyarakat waktu itu, jika pendidikan diartikan sebagai proses membangun dan mengembangkan sumber daya manusia. Perintah Allah yang paling pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah ayat yang memerintahkan untuk membaca (iqra’). Membaca dalam pengertiannya yang luas adalah salah satu proses terpenting dalam sistem pendidikan. Tidak ada umat yang mencapai kemajuan dan kebesaran tanpa melalui proses membaca. Membaca pengetahuan-teknologi, membaca diri, membaca lingkungan, membaca alam raya dan membaca apapun yang dapat membangkitkan peradaban manusia. Dengan perintah membaca ini, sejak awal Islam telah menempatkan dirinya sebagai agama yang hendak merangsang fitrah manusia, mendorong para pengikutnya agar menjadi manusia-manusia berpengetahuan, bahkan dengan jelasnya Islam memberikan ketinggian beberapa drajad kepada orang-orang beriman yang memiliki pengetahuan, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an : Allah akan meninggikan drajad orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa drajad. (al-Mujadilah : 11) Jika generasi Islam pertama tidak memiliki sistem pendidikan yang canggih menurut ukuran zamannya, mana mungkin mereka dapat menguasai bangsa-bangsa besar seperti Romawi, Persia, Mesir dan lainnya yang pada hakikatnya adalah negara-negara super power masa itu dan menyatukan mereka dalam satu kekuasan dibawah bimbingan para pemimpin agung. Kecanggihan sistem pendidikan Islam inilah yang telah melahirkan manusia-manusia agung penakluk dunia dan peradabannya, padahal sebelumnya mereka adalah sekumpulan kecil suku-suku Arab padang pasir yang terpecah belah, dikuasai bangsa besar, terbelakang moral dan peradabannya sehingga Islam sendiri menjulukinya sebagai masyarakat jahilyah. Berkat kecanggihan sistem pembinaan dan pendidikan Islam yang menyeluruh, menyentuh aspek fisik, intelektual dan spiritual inilah kemudian mereka bangkit menjadi ummat terbaik yang dipilih Allah untuk menyelamatkan dunia dan peradabannya. Hanya ummat yang memiliki sistem pembinaan dan pendidikan yang

canggih saja yang mampu menguasai pengetahuan dan teknologi sehingga dapat menakluki bangsa-bangsa besar, baik menakluki fisik, pemikiran, pengetahuan-teknologi bahkan kepercayaan mereka. Demikian pula jika generasi Islam pertama tidak memiliki sistem pembinaan dan pendidikan, mana mungkin mereka mampu melahirkan sekumpulan manusia-manusia agung terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia yang telah menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia yang telah memiliki tradisi intelektual yang mapan. Keunggulan mereka kelihatan dari karya-karya agung dalam seluruh cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mereka wariskan kepada dunia dan dijadikan referensi sampai sekarang. Maka dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa generasi Islam pertama telah memiliki sistem pembinaan dan pendidikan yang canggih sehingga mereka mampu melahirkan manusia-manusia unggul dalam semua lapangan kehidupan. Karena pada hakikatnya seluruh sistem pendidikan, baik sistem pendidikan Barat maupun Islam bertujuan untuk menciptakan manusia-manusia unggul (Good Men)66 yang di dalam Islam biasanya diistilahkan dengan al-Insan al-Kamil.67 Cuma pengertian manusia unggul inilah yang berbeda. Sistem pendidikan Barat mengartikan manusia unggul (good Men) sebagai manusia yang mentaati peraturan serta bermanfaat bagi bangsa dan negaranya sebagai warga negara yang baik sesuai dengan nilai-nilai Barat yang lebih mengutakan aspek material dan intelektual. Namun pengertian Islam mencakup tujuan yang lebih luas, yaitu menciptakan manusia-manusia beriman dan bertaqwa serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan kata lainnya manusia sempurna yang terbina unsur-unsur spiritual dan intelektualnya sebagimana dilambangkan oleh generasi Islam pertama.68 Seluruh dakwah dan perjuangan suci Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya, baik yang mereka lakukan dengan perkataan, perilaku, pengorbanan harta sampai pada peperangan bersenjata, dengan berbagai pendekatan dan metode, bertempat di masjid, rumah, kebun sampai medan peperangan pada hakikatnya adalah perjuangan panjang yang tidak mengenal lelah dalam membentuk manusia-manusia unggul yang akan menciptakan keadilan dan kedamaian di muka bumi. Dan mereka bertekad dengan perjuangan hendak menjadikan seluruh manusia di muka bumi ini menjadi manusiamanusia unggul. Ajaran-ajaran Islam sendiri adalah merupakan susunan materi dalam pembinaan dan pendidikan manusia-manusia unggul. Dengan sistematika ajarannya yang tersusun indah dalam untaian ayat-ayat al-Qur’an dan peri kehidupan Nabi Muhammad, Islam akan mengantarkan para penganutnya menuju keunggulan setahap demi setahap menurut kadar potensi yang dimilikinya. Itulah sebabnya ajaran Islam diturunkan setahap demi setahap dengan bagian-bagiannya dalam masa 23 tahun agar benar-benar tertanam
66

Lihat misalnya : SMN. al-Attas, Islam and Secularism, op.cit. hlm. 144. lihat juga Paul Nash, A.M. Kazamis dan Henry J. Perkinson, The Educated Man : Studies in the History of Educational Thought, (Malabar, Florida : Krieger, 1965) dan M.L. Jacks, The Education of Good Men. Reprint. (Connecticut : Greenwood Press, 1980). Terminologi al-insan al-kamil biasanya digunakan oleh para sufi dan dalam istilah peradaban Islam diartikan sebagai manusia sempurna yang memiliki pengetahuan Islam, mengamalkan Islam dan menguasai peradaban zamannya. Untuk detilnya lihat : Syed Naquib al-Attas, A Commentary on the Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, (Kuala Lumpur : Ministry of Culture Malaysia, 1986) hlm.44. R.A. Nicholson, The Idea of Personality in Sufism, (Lahore : Sh. Muhammad Ashraf, 1970). hlm. 70-85. Ibn. Arabi, The Bezel of Wisdom, Trans. by R.W.J. Austin. (New York : Paulist Press, 1980). Introduction, hlm. 32-38 Syed Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, (Kuala Lumpur : ABIM, 1980). 26-27.

67

68

dalam kehidupan manusia dan bukan hanya di alam teori dan angan-angan saja, sehingga ajaran Islam terwujud dalam kehidupan para penganutnya. Inilah yang membedakan sistem pembinaan dan pendidikan Islam dengan lainnya, karena Islam menghendaki apa yang diajarkannya tercermin dalam tingkah laku penganutnya dan hanya dengan cara demikianlah mereka baru berhak menyebut dirinya beriman.69 Akhirnya memang tidak dapat dinafikan bahwa Islam sejak awal diturunkannya telah membangun sistem pembinaan dan pendidikan kepada para pengikutnya dengan pendekatan dan metodenya yang khas. Dan sistem ini terbukti mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang dikehendakinya, dan ketika Rasulullah wafat Islam dikatakan telah sempurna tertegak dalam masyarakat yang dibinanya. Sistem pembinaan dan pendidikan Islam yang diterapkan generasi pertama Islam pada hakikatnya adalah sistem yang langsung diturunkan Allah berupa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Karena keseluruhan ajaran Islam sendiri adalah materi lengkap yang tersusun rapi untuk membangun dan mengembangkan manusia unggul. Itulah sebabnya pendekatannya sangat menyeluruh dan menyentuh segala aspek kehidupan manusia, baik aspek fisik, intelektual maupun spiritualnya. Kerena sistem ini diturunkan Allah Sang Pencipta alam raya, maka sistem ini adalah sistem terunggul sepanjang zaman, dan keunggulannya telah terbukti dengan melahirkan manusia-manusia terunggul dalam sejarah kehidupan manusia yang merupakan tujuan akhir dari semua sistem pendidikan. Sistem inilah yang biasa disebut para cendikiawan Muslim dengan madrasat al-Rasul yang akan dibahas secara mendetil dibagian selanjutnya. Bersamaan dengan perkembangan dan kemenangan kaum Muslimin terhadap bangsa-bangsa besar dan maju mereka mendapat banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang diadopsinya ke dalam pengetahuan mereka. Hal ini juga berarti berinteraksinya ajaran Islam dengan peradaban-peradaban besar dunia, apalagi Islam adalah agama yang sangat terbuka dengan pengetahuan-pengetahuan bermanfaat, sehingga memerintahkan kepada para pengikutnya untuk mengambil pengetahuan bermanfaat di manapun dan dari manapun sumbernya selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bersamaan dengan itu, kaum Muslimin mulai mempelajari berbagai jenis pengetahuan dan mengadopsinya ke dalam sistem pengetahuan Islam sehingga melahirkan peradaban baru yang menggabungan antara tradisi keislaman dengan tradisi filsafat keilmuan yang sudah berkembang pesat sebelumnya di Yunani, Romawi, Persia, Mesir, India dan lainnya. Dengan pengalaman dan pengetahuan baru yang diperolehnya dari bangsa-bangsa maju ini, para generasi Muslim sesudahnya kemudian membentuk dan mengembangkan sistem pendidikan Islam sedemikian rupa sehingga menjadi lembaga pendidikan formal dengan sistem, metode dan tingkatannya yang mendidik para pelajar dari seluruh dunia, baik yang Muslim ataupun bukan. Diantara lembaga pendidikan Islam pertama yang terkenal adalah Al-Azhar di Cairo dan Nizamiyyah dan al-Mustansiriyyah di Bagdad dan beberapa institusi pendidikan Islam di Afrika, Iran dan India.70
69

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasulullah telah bersabda : Iman itu bukan hanya angan-angan saja, tetapi ia ditambat dalam hati, dikrarkan dengan pengakuan dan diwujudkan dengan amalan lahir.
70

Mengenai sistem pendidikan Islam pertama lihat misalnya : Ahmad Syalabi, History of Muslim Education, (Beirut : Dar al-Kasysyaf, 1954). Bayard Dodge, Al-Azhar : A Millenium of Muslim Learning (Washington : The Middle East Institute, 1961). Juga karyanya, Muslim Education in Medieval Times, (Washington:The Middle East Institute, 1962). Mehdi

Bersamaan dengan tumbuh pesatnya sistem pendidikan Islam, telah tumbuh pula sarana-sarana penunjangnya seperti buku referensi atau perpustakaan yang menandakan kecintaan kaum Muslimin terhadap ilmu. Ziauddin Sardar menggambar-kannya : Tepat seratus tahun setelah datangnya Islam, industri buku maju pesat, sedemikian, sehingga kaum Muslimin manjadi “ahl Kitab” dalam arti yang sebenar-benarnya; dan membaca, bukan saja Bacaan Mulia (al-Qur’an), menjadi salah satu kesibuklan utama.... Hampir tidak mengejutkan bila pada dua abad berikutnya industri buku tersebar sampai kesetiap pelosok Dunia Islam. Perpustakaan-perpustakaan, baik perpustakaan kerajaan, umum, khusus, maupun pribadi, toko-toko buku, baik yang kecil, yaitu yang ada dilingkungan masjid, yang besar, yaitu yang ada di pusat kota-kota besar dan dalam bazar-bazar, dan insan-insan buku, yaitu penulis, penerjemah, penyalin, pelengkap naskah, pustakawan, penjual buku dan kolektor buku yang kesemuanya itu merupakan aspek-aspek peradaban Muslim di sekitar buku..... Tak pelak lagi, perpustakaan Muslim paling terkenal ialah Bayt al-Hikmah, suatu gabungan lembaga riset, perpustakaan dan biro penterjemahan, didirikan oleh Khalifah Abbasiah, Harun al-Rasyid di Bagdad pada 830 M.... Putra Harun al-Rasyid, Khalifah al-Makmun diriwayatkan telah memperkerjakan cendikiawan-cendikiawan terkenal seperti al-Kindi, filosof Muslim pertama, untuk menterjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi sendiri menulis hampir tiga ratus buku tentang masalah-masalah kedokteran, filsafat sampai musik yang disimpan di Bayt al-Hikmah... Makmun juga mengutus banyak orangnnya ke tempat-tempat yang jauh seperti India, Syiria, Mesir untuk mrngumpulkan karya-karya yang jarang dan unik. Dokter terkenal, Hunain Ibn. Ishaq, mengembara sampai ke Palestina guna mendapatkan Kitab al-Burhan....... Musa al-Khawarizmi, matematikawan ternama Muslim penemu al-jabar, juga bekerja di Bayt al-Hikmah dan menulis buku terkenalnya, Kitab al-Jabr wa Muqabilah di sini.71 Bersamaan dengan berputarnya waktu terutama jatuh bangunnya dinasti-dinasti kerajaan Islam, sistem pendidikan Islam mengalami pengembangan-pengembangan yang menga-gumkan sehingga produknya mampu menjadi mata rantai penghubung peradaban dua dunia, peradaban klasik Yunani-Latin dengan peradaban modern Barat dengan memberikan spirit Islam yang rasionalis ilmiyah kepada peradaban Yunani yang lebih cendrung spekulatif-kontemplatif ataupun rasionalis murni yang tidak didukung data empiris. Sehingga melahirkan model filsafat pengetahuan yang baru dalam sejarah
Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350. (Boulder : University of Colorado Press, 1964). Munir ud-Din Ahmed, Muslim Education and the Scholar’s Social Status Up to the 5th Century Muslim Era (11th Century Christian Era) in the Light of Tarikh Baghdad. (Zurich : Verlag der Islam, 1968). George Makdisi, The Rise of Colleges : Institutions of Learning in Islam and the West (Edinburgh : Edinburgh Univ. Press, 1981). Barbara Daly Metcalf, Islamic Revival in British India : Deobond. 1860-1900. (Princeton : Princeton Univ. Press, 1982). A. Crish Eccel, Egypt, Islam and Social Chance : Al-Azhar in Conflict and Accomodation. (Berlin : Klaus Schwarz Verlag, 1984).
71

Ziauddin Sardar, Information and the Muslim World : A Strategy for the Twenty-first Century, Terj. Mizan. (Bandung : Mizan, 1989) hlm. 41-55

perkembangan pengetahuan, sebagaimana yang kemukakan oleh para filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Biruni, al-Farabi, Ibn. Sina, Ibn. Rusyd dan lain-lainnya yang dekenal dengan filsafat rasionalis-ilmiyah.72 Pada masa-masa inilah, sistem pendidikan Islam yang telah diwariskan para generasi Islam pertama dan dikembangkan generasi sesudahnya, mengalami kemajuankemajuan yang mengagumkan, sehingga menjadi referensi sistem pendidikan Barat. Secara filosofis istilah Universitas (University-Universal-Universitetem) yang digunakan Barat saat ini dengan segala sistem pendidikannya adalah menjiplakan apa adanya dari istilah Kulliyah, yang menunjuk pada konsep yang membawa ide yang universal, dengan kata lainnya tidak terpisahnya pengetahuan (knowledge) dengan bagian-bagiannya pada diri manusia sebagaimana dikemukakan SMN. al-Attas.73 Demikian pula dengan hasil karya para cendikiawan Islam dipelajari dan diterjemahkan oleh berbagai bangsa, termasuk Barat yang akhirnya mengantarkan mereka menuju masa pencerahan (renaissance) dengan lahirnya cendikiawan-cendikiawan yang tercerahkan. Karena pengaruh faham sekulerisme akhirnya pengetahuan yang diperoleh Barat dari kaum Muslimin dengan segala sistem dan perangkatnya mengalami sekulerisasi pula.74 Setelah mengalami masa kegemilangan selama beberapa abad, akhirnya kaum Muslimin mulai mengalami masa kemundurannya yang ditandai dengan melemahnya semangat keilmuan di kalangan mereka dan menjadi sangat eksklusif serta reaksioner. Tentang sebab-sebab melemahnya semangat keilmuan kaum Muslimin, ada yang berpendapat sebabkan oleh penyerbuan tentara Mongol ke pusat kekuasaan Islam di Bagdad dan menghancurkan peradaban mereka. Namun ada pula yang menunjuk peranan Imam Ghazaly sebagai penyebab melemahnya semangat keilmuan dikalangan kaum Muslimin karena telah berhasil mengungkapkan kepalsuan dan penyimpangan yang dilakukan para cendikiawan Muslim yang dianggapnya telah mencampurkan pemahaman Islam dengan filsafat-filsafat paganis-rasionalis Yunani dalam karya agungnya Tahafut alFalasifah.75 Adalah menarik membahas peranan al-Ghazali yang dituduh sebagai penyebab kemunduran kaum Muslimin dengan pemikiran yang dikemukakannya. Dalam Tahafut alGhazali mengemukakan dua puluh penyimpangan dan kesesatan para filosof Muslim, tujuh belas dipandangnya sebagai pembaharuan yang tercela, dan tiga lagi, yaitu tentang kadimnya alam, penyangkalan pengetahuan Allah tentang masalah-masalah kecil dan penyangkalan terhadap kebangkitan kembali, membawa mereka pada kekafiran.76 Al-Ghazali mengemukakan pendapatnya tentu dengan alasan yang tepat, apalagi beliau dianggap sebagai salah seorang Mujaddid Islam terbesar. Menurut Philip K. Hitti, seperti dikutip Nurcholis Madjid, al-Ghazali sedemikian sempurna dan menyeluruh memberikan penyelesaian terhadap masalah-masalah keagamaan kaum Muslimin yang
72 73 74 75 76

lihat misalnya S.H. Nasr, Science and Civilization in Islam, terj. Mahyuddin. (Bandung : Pustaka, 1987). SMN. al-Attas, Islam and Secularism, op.cit. hlm. 146-147. ibid. Masalah ini lihat misalnya : Abul Hasan al-Nadwi, Madza Khasira al-Alam bi inhithoth al-Muslimun, (Beirut : Dar Salam, th.11, 1978). hlm. 160- . Lihat : al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, (Cairo : Mustafa al-Babi al-Halibi, 1321 H) disertai dengan karya Ibn. Rusyd, Tahafut, dan juga karya Khawajah Zadah, Tahafut al-Falasifah.

sedang dilanda kebingungan, sehingga yang terjadi sesungguhnya adalah dia bagaikan telah menciptakan sebuah kamar untuk ummat yang walaupun sangat nyaman dan menentramkan, tapi kemudian mempunyai efek pemenjaraan kreatifitas intelektuali-tas Islam, sampai saat ini.77 Latar belakang al-Ghazali mengemukakan pemikiran brilyannya tidak lain karena keadan kaum Muslimin masa itu yang sudah lepas kontrol akibat berkembangnya faham kebebasan berfikir yang sangat ektrim. Para cendikiawan Muslim masa itu mengemukakan pemikiran-pemikiran yang telah mengalami infiltrasi sesat faham-faham filosof paganis Yunani dalam menafsirkan dan menjabarkan ajaran Islam. Dimana hal ini dapat menyesatkan ummat dan lebih jauh dapat mengantarkan mereka menuju kekafiran dengan mengatasnakan ajaran Islam. Keadaan ini mendorong tampilnya al-Ghazali dengan hujjahhujjahnya yang mampu menstabilkan keadaan dan pemahaman kaum Muslimin terhadap agamanya, mengembalikan mereka menuju relnya kembali dengan pendekatannya yang sangat mengagumkan. Namun akibatnya kemudian kaum Muslimin menjadi beku dengan pemahaman ala sufiisme yang memang mengasyik-kan dengan kenikmatan-kenikmatan rohaniah yang tidak terhingga. Dan keadaan ini bertambah mapan apabila faham-faham fatalis al-Asy’ariyah mulai mendominasi pemahaman mayoritas kaum Muslimin serta ditutupnya pintu ijtihad oleh sebagian ulama sebagai sikap kehati-hatian mereka terhadap masuknya faham-faham sesat dalam ajaran Islam yang dapat merusak pemahaman kaum Muslimin seperti yang terjadi sebelumnya. Kemenangan al-Ghazali dalam menghujjat para cendikiawan Muslim zamannya, telah mengantarkan beliau menjadi tokoh sentral dunia pemikiran Islam masa itu serta mengemukakan landasan-landasan filsafat pengetahuan yang berlandasakan spiritualisme Islam (sufiisme) yang diterima luas kaum Muslimin. Namun pengikut aliran al-Ghazali (alGhazaliyyah) yang berkembang sesudahnya menjadi pengikut ektrim yang menolak segala bentuk filsafat rasionalisme yang dikemukakan para cendikiwan Muslim dan cendrung penyesatkan setiap penganutnya secara membabi buta. Karena tidak mendapat tempat di pusat dunia Islam, akhirnya filsafat rasionalis diadopsi para cendikiawan Eropa yang tercerahkan dari para cendikiawan Muslim di Andalusia, Spanyol dan pemikiran yang rasionalis ini telah mengantarkan Eropa menuju kebangkitan peradaban. Setelah pemikiran al-Ghazaliyyah menguasai mayoritas pemikiran kaum Muslimin dan diterapkan pada sistem pendidikan Islam, ironisnya pendidikan Islam mengalami kemunduran demi kemunduran karena kurang menghasilkan al-insan al-kamil sebagaimana tujuan utama sistem pendidikan Islam. Karena sikap ektrimisme dalam menerapkan pemikiran ala sufiisme, sistem pendidikan masa ini telah melahirkan para cendikiawan yang sangat terlalu berhati-hati dalam mengemu-kakan atau mengembangkan pemikirannya, dan mereka merasa lebih aman dan selamat apabila hanya mensyarah (mengomentari) pendapat guru atau cendikiawan pendahulunya dari mengemukakan pemikiran-pemikiran baru. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh fatwa mayoritas cendikiawan Muslim yang telah menutup pintu ijtihad, sehingga kejumudan pemikiran ini bertambah parah, bahkan lebih jauh telah menghilangkan semangat pengembangan intelektualitas generasi Islam. Dan zaman ini ditandai dengan munculnya kitab-kitab yang
77

Nurcholis Madjid (ed), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1985). hlm. 35.

mensyarah atau mensyarah atas syarah (syarah min syarah) dengan kedetilan komentar dan super komentar, yang akhirnya melupakan tujuan asal dari pemikiran itu sendiri. Mengenai metode sistem pendidikan Islam masa itu, Fazlur Rahman menyatakan : Metodologi yang menjauhkan diri dari al-Qur’an, menimbunnya di bawah tumpukan gramatika dan retorika. Menggantikan naskah-naskah asli mengenai theologi, filsafat, yurisprudensi dan sebagainya, sebagai pengajaran tinggi dengan komentar-komentar (syarah) dan superkomentar-superkomentar (syarah min syarah). Dimana pengkajian komentar-komentar akan menghasil-kan keasyikan dengan detil-detil yang rumit dengan mengesampingkan masalahmasalah pokok dalam obyek yang dikaji. Perselisihan pendapat (jadal) menjadi kegemaran utama dan hampir-hampir menggantikan upaya intelektual yang asli untuk membangkitkan dan menangkap masalah-masalah yang riil dalam obyek yang dikaji.78 Metode pemikiran ini berkembang dan mendominasi pemikiran mayoritas kaum Muslim mengikuti perkembangan Islam ke seluruh dunia Islam. Sistem ini bertambah mapan dengan masuknya imprialis Barat yang ingin menyebarkan sekulerisme dalam sistem pendidikan kaum Muslimin. Sistem pendidikan ini dipertahankan oleh sebagian besar cendikiawan Muslim sampai sekarang, yang dikenal dengan sistem pendidikan Islam tradisional. Karena sistem ini menurut mereka mampu membentengi keimanan generasi Islam dari pengaruh-pengaruh sesat pemikiran terutama yang datang dari Barat.

3.

Pendidikan Rasulullah (Madrasat al-Rasul) Pendidikan Rasulullah (Madrasat al-Rasul), adalah pendidikan yang telah diterapkan Nabi Muhammad kepada para pengikutnya dalam membina mereka dimana sistem, metode, materi, kurikulum dan susunannya berdasarkan wahyu Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril. Pada hakikatnya pendidikan ini adalah pendidikan terbaik dan tersempurna yang diberikan Allah Sang Pencipta kepada manusia di muka bumi melalui perantaraan Nabi utusan-Nya. Karena apa-apa yang dilakukan dan diperkatakan Rasulullah bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan wahyu dari Allah SWT. Itulah sebabnya pendidikan ini adalah pendidikan terbaik dan terunggul yang diturunkan sepanjang zaman sebagai contoh bagi umat manusia. Sebagaimana pendidikan di zamannya, pendidikan Rasulul-lah bukan seperti institusi-institusi pendidikan modern dengan segala kelengkapannya. Namun jika dibandingkan dengan seluruh pendidikan sezamannya, pendidikan Rasulullah adalah pendidikan yang terunggul, baik dari tujuan, sistem, kurikulum ataupun hasilnya.
78

Fazlur Rahman, Islam and Modernity, op.cit. hlm.36-37

Untuk mengetahui hakikat pendidikan Rasulullah secara menyeluruh, harus diketahui beberapa aspek penting dari pendidikan ini, terutama tujuan, sistem, metode, kurikulum, produk dan lain-lain yang berkaitan dengannya. 3.1. Tujuan Pendidikan Rasulullah Setiap pendidikan memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan manusia-manusia unggul sebagimana diterang-kan terdahulu. Pendidikan Barat memandang manusia unggul apabila ia memiliki kemampuan yang memadai dalam kekuatan fisik dan intelektualnya dan hal ini lebih cendrung menonjolkan aspek-aspek material yang menjadi dasar pemikiran Barat. Namun konsep manusia unggul yang akan diciptakan oleh pendidikan Rasulullah berbeda dengan konsep manusia unggul manapun, karena manusia unggul menurut pendidikan Rasulullah adalah manusia yang memiliki keunggulan secara menyeluruh, yaitu memiliki keunggulan fisik, keunggulan jiwa (spiritual) dan keunggulan intelektual. Pendidikan Rasulullah tidak hanya membina keunggulan fisik saja sebagaimana pendidikan model kemiliteran Romawi, keunggulan spiritual saja sebagaimana model pendidikan para rohaniawan India atau keunggulan intelektual saja sebagaimana model pendidikan para filosof Yunani. Pendidikan Rasulullah telah melahirkan manusia-manusia unggul dalam fisik, itulah sebabnya mereka dapat menjadi tentara-tentara kuat yang menakluki Romawi, Persia, Mesir dan sebagian Eropa. Pendidikan ini juga telah melahirkan manusia-manusia unggul kerohaniannya sehingga sanggup mengemban semua penderitaan dalam perjuangan dan menjadi para cendikiawan dan filosof yang dikagumi sehingga menjadi maha guru dunia. Karena kesempurnaan pendidikan inilah yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang dianut oleh berbagai kalangan dan tingkatan, baik dia seorang pejuang, tentara, cendikiawan, rohaniawan, politisi dan lainnya, mereka akan mendapatkan kepuasaan pada Islam dengan pendidikannya yang khas. Pendidikan Rasulullah dengan karakteristiknya telah berhasil melahirkan manusiamanusia unggul dan agung dalam segala bidang kehidupan sebagai tujuan utama semua pendidikan. Namun manusia-manusia unggul yang dilahirkan pendidikan Rasulullah adalah yang terunggul diantara hasil pendidikan dunia, sebelum dan sesudahnya karena mereka adalah himpunan masyarakat yang dididik langsung oleh Allah Sang Pencipta manusia. Walaupun sebelumnya pendidikan Yunani telah melahirkan para filosof seperti Plato, Aristoteles dan lainnya yang menjadi tonggak peradaban Barat, namun pendidikan Rasulullah telah melahirkan para filosof agung yang bukan hanya mampu berfikir, namun mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata, bahkan mereka sekaligus menjadi rahib di malam hari dan pejuang di siang harinya (ruhban bi al-lail wa furshan bi al-nahar). Keunggulan pendidikan Rasulullah tidak lain disebabkan oleh pandangannya yang benar tentang konsep manusia. Pendidikan Barat menilai manusia adalah sebahagian dari hasil evolusi alam yang keberadaannya secara kebetulan. Dengan teori kebetulan inilah kemudian para pemikir Barat mengembangkan konsep-konsep yang berkaitan dengan asal usul manusia serta tugas dan fungsinya di muka bumi. Akhirnya para pemikir Barat mencoba berbagai bentuk teori yang akhirnya mendatangkan kegagalan demi kegagalan

dalam kehidupan manusia. Teori yang diagungkan hari ini akan dikritik dan dicampakkan oleh pendukungnya sendiri pada masa yang datang. Kegagalan-kegagalan ini tidak lain disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan para pemikir Barat tentang hakikat manusia dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, hal ini telah mengakibatkan kekecewaan para pengikutnya. Sementara Islam memandang bahwa manusia adalah makhluk tersempurna yang kehadirannya diciptakan Allah dengan tugas-tugas khusus yang menyertainya. Manusia telah diberikan bekal yang sesuai dengan tugas dan fungsinya di muka bumi. Pendidikan Rasulullah mengemban tugas untuk memaksimalkan kemampuan manusia dengan memberikan-nya pengetahuan dan didikan yang terbaik. Dengan demikian, secara garis besarnya tujuan utama pendidikan Rasulullah adalah: Pertama,melahirkan manusia-manusia yang mengabdi pada Allah semata (Abd’ Allah). Sehubungan dengan itu Allah berfirman, Dan tiadalah aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku ( al-Zariat : 56 ) Manusia yang mengabdi pada Allah semata berarti manusia yang telah menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah. Abd’ dalam bahasa Arab berarti budak yang tidak memiliki kehendak pribadi terhadap semua keinginan-nya, karena terikat dengan kehendak tuannya, jadi jika dikatakan Abd’ Allah, berarti telah menjadi budak Allah, si budak tidak akan menjalankan segala kegiatan kecuali yang diizinkan dan diperintahkan Allah sebagi satu-satunya tuannya. semua keinginan pribadinya harus senantiasa mendapat restu tuannya. Itulah sebabnya di dalam solat seorang Muslim sebagai budak Allah harus mengikrarkan segala yang dilakukannya karena Allah semata sebagaimana disebutkan al-Qur’an : Katakanlah :”Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam. (al-An’am : 162) Penghambaan diri hanya kepada Allah akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbebas dari segala bentuk perhambaan, baik perhambaan material, perhambaan intelektual dan spiritual. Karena hanya Allahlah satu-satunya Tuan dari segala tuan Yang Kekuasaan dan Kebesarannya tidak tertandingkan yang dapat menjadi tempat bergantung dan meminta bantuan, Yang akan Menentramkan hati hamba-hamba-Nya. Itulah sebabnya penghambaan pada Allah Yang Maha Tunggal akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang bebas merdeka dibawah kekuasaan Yang Maha Mutlak. Penghambaan kepada Allah inilah yang telah menjadikan para didikan Rasulullah sebagai manusia-manusia agung yang berjuang tanpa mengenal lelah untuk menegakkan kebenaran ke seluruh pelosok dunia. Dengan bantuan dan kekuasaan-Nya mereka mendapat kemenangan demi kemenangan yang menabjubkan. Mereka berlomba-lomba dengan semangat yang membara untuk mendapatkan janji-janji Allah, Tuan mereka yang akan memberikan syurga pada mereka.

Kedua, menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi sebagiamana disebutkan alQur’an : Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (al-Baqarah : 30) Khalifah adalah wakil Allah yang akan mengelola dan mengembangkan alam sesuai dengan petunjuk dan kehendak-Nya. Untuk menjadi khalifah, manusia diberi bekal dengan berbagai pengetahuan yang memungkinkan mereka sebagai pengelola alam dan berhadapan dengan berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapinya. Pendidikan Rasulullah dengan pendidikan yang diberikannya telah mencetak para khalifah yang mengelola dan memakmurkan alam sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Dengan tujuan yang jelas inilah pendidikan Rasulullah telah melahirkan manusiamanusia unggul sebagai hamba sekaligus khalifah-Nya di muka bumi. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang konsep manusia yang sebenarnya sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta manusia, Pendidikan Rasulullah bukan hanya melahirkan manusia-manusia yang menguasai satu bidang pengetahuan saja sebagaimana keluaran pendidikan selainnya. Karena manusia-manusia seperti ini tidak mungkin diharapkan sebagai manusia unggul yang akan menciptakan kemakmuran di muka bumi. Namun pendidikan ini telah menghasilkan manusia unggul yang memahami hakikat dirinya yang berunsurkan fisik, rohani dan intelektual, sehingga mereka menjadi al-insan al-kamil, yaitu manusia sempurna yang mementingkan aspek fisik, rohani (jiwa) dan intelektual. Pendidikan Rasulullah telah mendidik fisik, rohani dan intelektual para pelajarnya dengan sempurna sehingga mereka mampu merubah keadaan dunia sekaligus membangun peradaban baru. Pendidikan Rasulullah telah mencapai tujuannya apabila telah melahirkan manusiamanusia agung yang memiliki semboyan hidup : Allah Robb kami Muhammad Rasulullah teladan kami Islam sistem hidup kami Al-Qur’an dan Sunnah panduan kami Jihad (perjuangan) di jalan Allah jalan hidup kami Gugur di jalan Allah cita-cita tertinggi kami Syurga tujuan akhir hidup kami Inilah prinsip hidup para sahabat yang telah dididik Rasulullah sehingga mereka mampu menjadi hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi. Kemanapun mereka pergi, para sahabat senantiasa mengumandangkan semboyan yang telah membuat musuhmusuhnya gentar dan bertekuk lutut. Dan prinsip inilah yang telah menjadikan mereka pengembara-pejuang yang kuburannya tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Arab, Afrika sampai Eropa dan Cina.

3.2. Metode (Manhaj) Pendidikan Rasulullah Metode (manhaj) model apakah yang digunakan pendidikan Rasulullah dalam mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul dalam arti yang sebenarnya sehingga mampu menguasai dan memimpin 2/3 dunia, menakluki bangsa-bangsa besar dan maju yang berperadaban tinggi. Padahal mereka sebelumnya adalah bangsa yang terbelakang peradabannya serta terpecah belah menjadi suku-suku kecil yang saling memerangi serta menyembah berhala-berhala. Dan keheranan akan bertambah-tambah karena mereka dipimpin dan dididik oleh seorang utusan Allah yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis yang tidak memungkinkannya mempelajari peradaban dan pengetahuan luar. Metode pendidikan model apakah yang telah berhasil membuat revolusi besar kepada bangsa Arab jahiliyah, revolusi yang telah merombak jiwa, pemikiran, tatanan serta kepercayaan mereka sekaligus menghantarkannya menjadi manusia-manusia unggul yang tidak tertandingkan keunggulannya sampai hari ini ? Adalah sangat penting dan mutlak mengetahui metode (manhaj) pendidikan Rasulullah, karena banyak dikalangan kaum Muslimin yang masih rancu dalam memahami hakikat metode yang diterapkan pendidikan Rasulullah dalam membina para pengikutnya. Mereka beranggapan bahwa metode pendidikan Rasulullah sama dengan metode-metode pendidikan manusiawi lainnya sehingga mereka dengan mudahnya mengadopsi metode pendidikan selain yang diajarkan Rasulullah. Metode pendidikan ini akhirnya telah melahirkan para lulusan yang mengecewakan karena mereka tidak memiliki jiwa, semangat dan pengetahuan sebagaimana generasi Islam pertama yang mengagumkan. Kerancuankerancuan dalam memahami metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah kepada para pengikutnya telah mengakibatkan kaum Muslimin mengalami kemunduran demi kemunduran dan kekalahan demi kekalahan, dari kekalahan fisik, intelektual sampai kekalahan spiritualitas yang telah menghantarkannya menjadi manusia-manusia sekuler yang menjadikan agama hanya sebagai simbol kehidupan semata. Itulah sebabnya sangat penting memahami hakikat metode pendidikan Rasulullah, sehingga tujuan pendidikan itu mencapai sasarannya. Karena metode (manhaj) adalah jalan untuk mencapai tujuan. Apalah artinya jika seseorang mengetahui tujuannya namun tidak mengetahui jalan menuju ke sana. Mengetahui metode pendidikan Rasulullah adalah sama pentingnnya dengan mengetahui tujuan pendidikan itu sendiri. Apakah yang dilakukan Rasulullah ketika beliau mendapat perintah Allah untuk mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul ? Apakah beliau menerapkan metode pendidikan ala Yunani, Romawi, Persia, Mesir yang pada masa itu sudah maju dan mapan kepada para pengikutnya ? Ataukah beliau mengadopsi metodemetode pendidikan tersebut ? Ataukah beliau mengislamisasi-kan pengetahuan dan filsafat sebelumnya untuk mencapai drajad manusia unggul ? Kenapa Rasulullah tidak mengadopsi metode dan pengetahuan sebelumnya dalam mendidik para pengikutnya ? Dan mengapa Rasulullah melarang Umar bin Khattab membaca Kitab Taurat sebagaimana yang diterangkan sebuah hadits ? Pertanyaan-pertanyaan ini akan memperjelas hakikat metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah dalam mendidik para Sahabat. Ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul, pada hakikatnya Allah telah menurunkan bersama perintah itu

apa-apa yang harus dilakukan Rasulullah dalam menjalankan proses pendidikannya. Termasuk metode yang harus diterapkan kepada para pengikutnya. Dengan demikian maka metode (manhaj) yang diterapkan pendidikan Rasulullah dalam membina para didikannya adalah manhaj Ilahi, yaitu metode yang diturunkan oleh Allah SWT berupa wahyu-wahyu yang bersifat mutlak kebenarannya. Metode pendidikan Rasulullah sama sekali berbeda dengan metode-metode pendidikan sebelumnya yang dikembangkan para filosof Yunani dan Romawi dan Rasulullah tidak pernah sama sekali mengadopsi metode atau pengetahuan pendidikan lain dalam mendidik para pengikutnya, Rasulullah mencukupkan dengan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya karena beliau berkeyakinan hanya wahyu Allahlah yang mampu mengantarkan manusia menjadi manusia unggul. Itulah sebabnya beliau sangat marah ketika melihat Umar membaca Kitab Taurat seraya berkata : Demi Allah wahai Umar, jika Nabi Musa masih hidup, beliau pasti akan mengikutiku. (HR. Abu Ya’la). Ini dapat difahami, karena Rasulullah tidak menghendaki para didikannya memiliki pemahaman yang bercampur baur atau tercemar oleh pengetahuan selain wahyu yang diturunkan kepadanya, walaupun itu Kitab para Nabi sebelumnya apalagi pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari manusia. Pengertian ini tidak bermakna bahwa Rasulullah melarang semua pengetahuan selain wahyu, namun pengetahuan itu dapat dipelajari apabila para pengikutnya sudah benar-benar memahami dan mengamal-kan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dari sini dapat difahami bahwa metode pendidikan Rasulullah seluruhnya adalah berdasarkan wahyu menurut susunan yang dikehendaki Allah Sang Pencipta manusia. Rasulullah tidak menerapkan metode pendidikan seperti pendidikan-pendidikan sezamannya yang lebih mengutama-kan pengetahuan-pengetahuan manusiawi yang bersifat filosofis ataupun beliau tidak pernah sama sekali mencampur antara wahyu dengan pengetahuan manusia, namun seratus persen wahyu baik berupa wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada beliau ataupun perkataan beliau sendiri yang pada hakikatnya adalah wahyu sebagimana disebutkan al-Qur’an: Dan tiadalah dia (Muhammad) berkata-kata dengan hawa nafsunya, melainkan dengan wahyu yang diturunkan. (Al-Najm : 3-4) Jadi untuk mengetahui hakikat metode pendidikan Rasulullah, maka harus diketahui dan difahami hakikat wahyu yang diturunkan kepada beliau. Karena metode pendidikan Rasulullah terdapat dalam wahyu yang diturunkan kepada beliau. Itulah sebabnya proses pendidikan dan pembinaan generasi Islam pertama tidak dapat dipisahkan sama sekali dari metode yang diterapkan al-Qur’an. Karena pada hakikatnya metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah adalah metode yang diterapkan al-Qur’an. Metode Qur’ani tersebut sengaja disusun dan diprogram untuk keperluan manusia sepanjang masa, baik dia seorang Arab, Persia, Eropa, Cina ataupun Melanesia dan lainnya. Pada dasarnya manusia adalah sama jiwa, tabiat dan karakternya. Jiwa dan tabiat inilah yang dididik dan dipimpin metode ini agar manusia mengetahui hakikat hidup dan kehidupannya, hubungan antara dirinya dengan Tuhan Penciptanya, sesama manusia serta seluruh makhluk hidup lainnya.

Metode pendidikan Rasulullah yang terkandung dalam metode Qur’ani memerlukan tahap-tahapan tertentu untuk melahirkan generasi Islam yang akan menjadi teladan sepanjang masa. Metode yang diterapkan pendidikan Rasulullah bukan sekedar memberikan sekumpulan teori untuk dipelajari dan dihafal serta didiskusikan saja sebagimana pengetahuan-pengetahuan manusiawi yang dipelajari pada pendidikan selainnya. Sekiranya Allah meng-hendaki wahyu yang diturunkan-Nya (al-Qur’an) menjadi perbendaharaan pengetahuan saja, tentu tidak akan diturun-kannya dalam tempo waktu yang panjang selama 23 tahun, namun tentu diturunkan wahyu sejumlah 30 juz sekaligus dalam satu waktu, kemudian manusia dibiarkan mempelajarinya, menelaahnya, mendiskusikannya serta mengembangkannya sendiri menurut kemampuan mereka masing-masing dari berbagai cabang pengetahuan, sehingga pengetahuan tentang wahyu memenuhi kepala mereka dan mereka menjadi pakar-pakar wahyu yang handal, yang dapat menjelaskan maksud-maksudnya tersebut secara terperinci sebagaimana filsafat sehingga tidak mampu difahami oleh masyarakat awam. Namun bukan itu yang dikehendaki metode pendidikan Rasulullah. Wahyu kepada Nabi Muhammad sebagai intipati pendidikan Rasulullah diturunkan secara beransur-ansur sesuai dengan keperluan dan tahap pendidikan yang diterapkan Rasulullah kepada pengikutnya yang akan melahirkan manusia unggul. Berhubung perkara ini, al-Qur’an menyatakan : Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.(al-Isra’: 106) Metode pendididikan Rasulullah adalah metode yang telah digariskan Allah untuk mendidik para manusia unggul yang berfungsi sebagai hamba dan khalifah-Nya di muka bumi sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan hanya sekedar melahirkan ulama penghafal wahyu dan kitab-kitab ataupun para cendikiawan yang hanya pandai membahas wahyu dengan berbagai pendekatan dan pengetahuan. Namun Allah Sang Pencipta menghendaki agar wahyu terwujud di dalam realitas kehidupan sehari-hari pada pribadi, keluarga dan masyarakat sehingga menjadi susunan yang ideal. Itulah sebabnya Allah Yang Maha Mengetahui dengan metode-Nya mendidik dan membina generasi yang dikehendakinya sebagai pilar Islam dalam waktu selama 23 tahun. Dimulai dari masalah-masalah asasi dalam kehidupan manusia sampai masalah-masalah kemasyarakatan lainnya agar wahyu tertanam di dalam dada dan dijadikan sebagai sistem dalam realitas kehidupan. Berkatalah orang-orang yang kafir : “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja” ?. demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya bagian demi bagian. (al-Furqon : 32) Pengertian ini memberikan penjelasan bahwa metode pendidikan Rasulullah adalah bersumber dari wahyu dengan susunan yang dikehendaki Allah. Metode pendidikan Rasulullah bukan seperti metode pendidikan manusia yang lebih mementingkan aspek pengetahuan belaka, yang memandang keberhasilan apabila para murid mampu menyalin dan menghafal pengetahuannya. Metode pendidikan Rasulullah menghendaki para

didikannya agar mempraktik-kan apa yang diketahuinya dalam kehidupan nyata, dimulai dari mengetahui hakikat diri, keberadaan, fungsi dan tugasnya di muka bumi. Itulah sebabnya metode pendidikan Rasulullah pada awalnya sangat menekankan pengetahuan dan pengamalan wahyu kepada para didikannya, mereka tidak diizinkan mempelajari selainnya, walaupun itu Kitab Taurat, sampai mereka benar-benar memahami dan mempraktekkan wahyu dalam kehidupan nyata. Karena wahyu akan memberikan mereka semua perbendaharaan pengetahuan yang diperlukan sebagai syarat menjadi hamba dan khalifah Allah termasuk pengetahuan-pengetahuan tentang dunia jika mereka memahami dan mengamalkannya sesuai petunjuk Rasulullah sebagimana yang telah dibuktikan oleh generasi Islam pertama yang telah berhasil membangun peradaban baru dunia berdasarkan wahyu. Metode mempelajari untuk diamalkan yang diterapkan dan ditekankan pada pendidikan Rasulullah inilah yang telah melahirkan manusia-manusia yang keunggulannya tidak diragukan. Generasi yang dididik Rasulullah menerima wahyu, membaca wahyu, mempelajari wahyu dan memahami wahyu semata-mata untuk diamalkan, untuk diterapkan di dalam kehidupan nyata mereka sehingga mereka menjadi “wahyu hidup”. Setelah mereka mendengar wahyu yang diajarkan Rasulullah mereka langsung mengamalkannya tanpa mempersoalkan aspek-aspek filsafatnya yang rumit. Mereka mendengarkan wahyu dari Rasulullah ibarat seorang prajurit yang menerima perintah harian dari jendral tertingginya. Perintah-perintah harian ini harus segera dilaksanakan di dalam kehidupan dan mereka tidak akan meminta tambahan-tambahan perintah yang akan memberatkan mereka sampai Allah sendiri menurunkan perintah-Nya lagi. Mereka menerima wahyu Allah yang disampaikan Rasulullah dengan penuh perhatian dan kesungguhan, kemudian menghafalnya sebagaimana seorang prajurit menghapal tugastugas pokoknya dan selanjutnya mempraktekkannya dalam kehidupan. Jika mereka tidak memahaminya, maka Rasulullah akan menjelaskan maksudnya agar mereka dapat melaksanakannya dengan mudah. Allah Yang Maha Mengetahui menurunkan wahyu kepada utusan-Nya menurut keadaan pertumbuhan masyarakat binaan Rasulullah. Beberapa ayat turun untuk mendidik masyarakat, atau turun keika sesuatu peristiwa, keadaan atau kejadian tertentu terjadi untuk memberikan arahan manusia tentang apa yang terbaik untuk mereka. Keadaan ini terjadi berulang-ulang sehingga didikan Rasulullah benar-benar mencapai tujuannya sebagai manusia unggul, unggul fisik, jiwa ataupun fikirannya. Mendahulukan wahyu atas segala pengetahuan manusiawi inilah yang membedakan metode pendidikan Rasulullah dengan metode pendidikan selainnya. Metode pendidikan Rasulullah menghendaki agar wahyu benar-benar terwujud dalam pribadi yang dididik, sehingga mereka layak dikatakan sebagai “wahyu berjalan”. Metode ini telah melahirkan manusia-manusia unggul yang berkualitas prima, sementara metode-metode selainnya, baik metode yang diciptakan manusia ataupun metode campuran antara wahyu dengan filsafat manusia belum terbukti mampu melahirkan manusia-manusia unggul sampai sekarang. Bahkan metode pendidikan yang diterapkan kaum Muslimin saat ini belum mampu mencapai tujuan, bahkan telah hilang tujuan dan misi yang diembannya

akibat pengaruh faham sekulerisme dan materialisme yang telah merasuki sistem pendidikan mereka. Hikmah dilarangnya mempelajari pengetahuan selain wahyu yang diajarkan Nabi Muhammad sebelum habis masa pemahaman dan pengamalannya dalam metode pendidikan Rasulullah adalah agar para didikan memiliki pemahaman dan pengertian yang bersih murni tentang wahyu dan tidak tercampur baur dengan pengetahuan-pengetahuan manusia-wi dengan berbagai latarbelakang filsafatnya yang mungkin akan mempengaruhi kesucian dan kesempurnaan metode Ilahiyah yang terkandung di dalam pendidikan Rasulullah. Ini juga mengandung pengertian bahwa metode pendidikan Rasulullah melarang pencampuran antara wahyu yang diteriamnya dari Allah dengan segala bentuk pengetahuan, walaupun itu berbentuk Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Percampuran antara wahyu dengan selainnya jelas akan merusak dan menghancurkan kesempurnaan yang dikandung wahyu, sebagaimana yang terjadi pada kaum Muslimin belakangan ini. Karena mereka telah mencampuradukkan antara wahyu dengan pengetahu-an manusiawi, baik dari Barat dan Timur, yang akhirnya merusak hakikat wahyu dengan metodenya. Mereka telah menjadikan wahyu bukan lagi perintah yang harus diamalkan, tetapi seperti pengetahuan yang hanya dipelajari dalam pengetahuan seperti pengetahuan manusiawi lainnya yang akhirnya menghilangkan semangat Ilahiyah wahyu. Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa metode pendidikan Rasulullah adalah menerapkan semua wahyu yang diturunkan Allah kepada para didikannya menurut tahapan-tahapannya, mulai sejak turunnya di gua Hira’ sampai wahyu terakhir. Rasulullah mencukupkan dengan wahyu yang diterimanya dalam membina para pengikutnya, dan menolak semua bentuk metode selainnya sampai para didikannya memahami benar hakikat wahyu.

4. Filsafat Pengetahuan Islam Membicarakan paradigma pendidikan Islam tidak akan sempurna tanpa membahas filsafat pengetahuan79 dalam Islam, karena hal ini merupakan inti pati dari keseluruhan sistem pendidikan Islam. Walaupun ada sebagian kaum Muslimin, terutama kalangan tradisional konservatif yang menolak filsafat yang dikatakannya sebagai pengetahuan yang bukan berasal dari Islam dan tidak memiliki relevansi dengan ajaran Islam akibat
79

Untuk menghindari kerancuan, perlu dijelaskan terlebih dahulu beberapa pengertian yang dimaksudkan pada bagian ini. Pengetahuan pada bagian ini adalah terjemahan dari kata al-ma’rifah dalam bahasa Arab dan knowledge dalam bahasa Inggris, dan bukan terjemahan dari perkatan al-ilm ataupun science yang mengandung pengertian lain. Para cendikiawan Muslim kontemporer umumnya menggunakan istilah al-ma’rifah / knowledge / pengetahuan untuk menunjuk seluruh perbendaharaan yang diketahui oleh manusia secara general. Itulah sebabnya ketika mereka ingin mengislamisasikannya, mereka tidak menggunakan Islamiyat al-ilm atau Islamization of science, tetapi menggunakan Islamiyat al-ma’rifah atau Islamization of knowledge. Lebih detil lihat misalnya : Faruqi, Islamization of Knowledge, General Principles and Workplan.

terpengaruh oleh ektrimisme faham pengikut al-Ghazali (Ghazaliyyah bukan Imam Ghazali) yang menolak segala bentuk aliran filsafat yang dikatakannya sebagai sesat dan menyesatkan. Terlepas dari pro dan kontra, filsafat sendiri berkembang dengan pesatnya menjadi pengetahuan yang sangat diminati bahkan dianggap penting oleh sebagian cendikiawan Islam. Bahkan mereka berkeya-kinan bahwa filsafat akan dapat membantu kaum Muslimin dalam membangun kembali peradaban mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwa kerancuan mayoritas kaum Muslimin dewasa ini dalam mengembangkan sistem pendidikan mereka terutama disebabkan oleh kesalahfahaman atau ketidakfahaman mereka terhadap filsafat pengetahuan yang menjadi intipati seluruh sistem pendidikan. Sehingga mereka dengan mudahnya mengadopsi apapun jenis dan bentuk pengetahuan tanpa melihat latar belakang filsafat yang menyertainya. Demikian pula sistem pendidikan Barat yang diagungkan dewasa, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, telah memiliki landasan filsafat pengetahuan canggih yang telah dikembangkan oleh para filosof mereka sehingga berhasil melahirkan manusia-manusia unggul sebagaimana yang dikehendakinya. Bisa dibayangkan bagaimana kebingungan dan kesesatan para lulusan sebuah institusi pendidikan yang tidak mengetahui landasan filsafat pengetahuan yang mereka terapkan, sehingga dengan mudahnya mengajarkan pengetahuan yang tidak diketahui landasan filsafatnya, yang akhirnya akan menghantarkan para lulusannya menjadi manusia-manusia bingung dan terasing sebagimana yang telah menimpa sebagian besar institusi pendidikan yang dikembangkan kaum Muslimin saat ini. Untuk meluruskan kesalahfahaman ini, harus difahami makna dan sejarah perjalanan filsafat itu sendiri dan bagaimana sampainya ke tangan kaum Muslimin. Tentang perjalanan filsafat, Al-Farabi dalam Tahshil al-Sa’adah mengungkapkan : Konon ilmu tersebut pada zaman dahulu milik orang-orang Kaldan, penduduk Iraq. Kemudian berpindah pada orang Mesir kuno dan berpindah lagi pada orang-orang Yunani. Beberapa kurun waktu kemudian ilmu tersebut berpindah lagi pada orang Suryani dan selanjutnya ke tangan orang-orang Arab Muslim. Semua yang tercakup dalam pengetahuan itu dirumuskan dalam bahasa Yunani, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani lalu ke bahasa Arab. Ilmu yang mereka peroleh dari orang-orang Yunani itu pada umumnya mereka beri nama Hikmah dan Hikmah Terbesar. Sedangkan penekunan dan penguasaannya dinamakan filsafat, yang berarti mengutamakan dan mencintai Hikmah Terbesar. Orang yang menguasai ilmu itu disebut filosof, yaitu orang yang mencintai dan mengutamakan Hikmah Terbesar. Mereka berpendapat bahwa Hikmah Terbesar itu merupakan keutamaan , karena itu mereka menamakannya : Sumber segala ilmu, induk semua ilmu, sumber segala Hikmah dan sumber kecakapan manusia.80 Filsafat sebagai disiplin pengetahuan dikenal kaum Muslimin setelah mereka berinteraksi dengan peradaban-peradaban luar sebagai konsekwensi logis penaklukan demi penaklukan yang mereka lakukan, terutama ketika mereka mulai menterjemahkan
80

Lihat : Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991) hlm.2

pengetahuan-pengetahuan karya para filosof dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan mencapai puncaknya ketika zaman pemerintahan al-Makmun yang mendirikan Bayt al-Hikmah yang merupakan badan penelitian sekaligus penterjemah pengetahuan. Mengenai sejarah transformasi filsafat ke dunia Islam, Arkoun menulis : Penterjemahan karya-karya filosof Yunani dimulai tidak lebih belakangan dari masa pemerintahan raja Umayyah, yaitu Hisyam (724-743), yang sekertarisnya, Salim bin Abu al-’Ala’, seorang putra Iran, menerjemahkan risalah-risalah Aristo-teles hingga Alexender. Pada abad ke 9, terjema-han-terjemahan ini menjadi lebih akurat dan lebih banyak dan, berkat penemuan kertas pada tahun 762, secara meterial dapat dijangkau. Penerjemh-penerjemah terbesar adalah para filosof sendiri. Hal ini benar bagi Hunain bin Ishaq, puteranya Ishaq (w.910), Qusta bin Luqa (w.912) dan Tsabit bin Qurra (w. kira-kira thn 900). Ibn Na’imah al-Himsi, tokoh sezaman dengan al-Kindi, menyedia-kan parafrasa Enneades yang tidak memasukkan pelbagai ekspresi dengan konotasi-konotasi pagan dan menekankan sifat transenden yang benar (risalaah tentang ilmu Ilahiah yang dikaitkan de-ngan al-Farabi). Al-Kindi (w.870), yang merupakan filosof besar pertama yang karyanya mencakup berbagai cabang dari apa yang di zaman klasik dan abad tengah disebut filsafat (ilmu fisika dan ilmu alam, matematika, kebijaksanaan), itu sendiri mengoreksi intisari Enneades yang terakhir, yang dikenal sebagai Teologi Aristoteles.81 Tentang peranan bayt al-Hikmah yang dikatakan sebagai sumber pertama pengembangan filsafat di dunia Islam, Sardar menulis : Perpustakaan Muslim paling terkenal ialah bayt al-Hikmah, suatu gabungan lembaga riset, per-pustakaan dan biro penterjemahan didirikan oleh Khalifah Abbasiah, Harun al-Rasyid di Bagdad pada 830 M. Banyak diantara buku-buku terjemahan dari bahasa-bahasa bukan Arab seperti bahasa Yunani dan Sanskrit, yang menyemarakkan perpustakaan ini. Putra Harun al-Rasyid, Khalifah Makmun al-Rasyid, diriwa-yatkan telah memperkerjakan cendikiwan-cendikiawan terkenal seperti al-Kindi, filosof Muslim pertama, untuk menerjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi sendiri menulis hampir tiga ratus buku tentang masalah-masalah kedokteran, filsafat sampai musik yang disimpan di bayt al-Hikmah. Makmun menggaji para penterjemah dan, untuk merangsang upaya mereka, mensahkan dan menandatangani setiap terjemahan.82 Sementara cara berfikir filosofis sendiri adalah bagian dari ajaran Islam yang dikembangkan sejak wahyu pertama diturunkan sebagimana digambarkan al-Qur’an.
81 82

Dr. Mohammed Arkaoun, Arab Thought, terj. Yudian WA ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996). hlm. 40 Dr. Ziuddin Sardar, Information and The Muslim World : A Strategy for the Twensty-first Century, Terj. Mizan, (Bandung : Mizan, 1985) hlm.42

Demikian pula al-Qur’an senantiasa memberikan rangsangan kepada kaum Muslimin untuk berfikir secara filosofis. Jadi anggapan bahwa filsafat dalam Islam lahir akibat masuknya pemikiran Yunani ke dalam pemikiran cendikiawan Muslim masa itu melalui interaksi ataupun penerjemahan pengetahuan Yunani tidak selamanya benar. Karena para cendikiawan Muslim senantiasa menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai landasan berfikir dan sumber insfirasi dan pemikiran Yunani hanya memberikan dorongan dan rangsangan kepada sumber tersebut.83 Dari beberapa keterangan terdahulu, jelaslah bahwa Rasulullah belum mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang dikenal dengan filsafat sebagaimana dikembangkan generasi sesudahnya dan beliau mencukupkan materi pendidikannya pada wahyu yang diterimanya dari Allah sampailah beliau wafat. Demikian pula halnya dengan para shahabat, terutama zaman Khalifah yang empat, mereka tetap meneruskan tradisi yang dilakukan Rasulullah. Namun demikian kerangka berfikir filosofis pada hakikatnya sudah mulai ditanamkan sejak awal turunnya wahyu dan dikem-bangkan oleh para shahabat dengan kemampuan mereka masing-masing. Tema-tema al-Qur’an tentang penciptaan alam raya adalah salah satu kerangka pemikiran filsafat yang senantiasa akan mendorong para pengikutnya untuk berfikir dan mencari kebenaran. Rangsangan al-Qur’an agar kaum Muslimin menggunakan akalnya dalam mempelajari realitas alam adalah bukti paling nyata dukungan al-Qur’an terhadap disiplin pengetahuan ini. Beberapa atsar menyebutkan bahwa para shahabat, dengan pendidikan yang diterimanya, telah menjadi filosof-filosof agung jika filsafat diartikan sebagai disiplin pengetahuan untuk mencari kebenaran mengguna-kan kemampuan akal. Namun yang membedakannya dengan filsafat Yunani adalah filsafat para shahabat tidak berdasarkan akal semata dalam mengembangkan pengeta-huannya, namun mereka menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai referensi utama. Dengan demikian peroduk-produk pemikiran yang dihasilkannya adalah pemikiran yang berlandaskan wahyu. Filsafat sebagai sebuah sistem pengetahuan rasional dengan segala disiplin yang menyertainya berkembang pesat sebagai disiplin pengetahuan yang dipelajari oleh bangsabangsa besar yang berperadaban maju seperti Yunani, Mesir, Persia ataupun India. Ketika kaum Muslimin berhasil menguasai bangsa-bangsa besar tersebut, maka konsekwensi logisnya mereka mendapatkan semua peninggalan peradaban bangsa tersebut. Menghadapi kenyataan ini kaum Muslimin dituntut untuk menolak atau menerimanya sebagai bagian dari peradaban mereka. Pada saat inilah terjadinya perpaduan antara filsafat yang dikembangkan kaum Muslimin dengan filsafat lainnya dan menghasilkan filsafat baru yang berbeda dengan bentuk sebelumnya. Dengan kata lainnya para cendikiwan Muslim mengadopsi dan menyaring pengetahuan tersebut sehingga sesuai dengan kehendak alQur’an dan al-Sunnah. Dalam prakteknya tidak semua produk pengetahuan baru yang diadopsi kaum Muslimin sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, maka konsekwensi-nya, pengetahuan ini ditolak atau ditafsirkan menurut versi Islam. Cara terakhir ini, sebagaimana dilakukan al-Farabi dan lainnya mendapat sorotan tajam oleh cendikiwan Muslim seperti al-Ghazali karena menurutnya dapat menyesatkan kaum Muslimin akibat
83

Lihat misalnya : C.A. Qadir, Philoshophy and Science in The Islamic World, terj. Hasan B. ( Jakarta : Yayasan Obor, 1989). hlm. 26-33

masuknya pemikiran-pemikiran pagan yang sesat dan menyesatkan. Namun diantara para filosof Muslim seperti al-Kindi berpendapat bahwa filsafat bukan hanya perangkat dialektik untuk mempertahankan wahyu Qur’an melawan para penentangnya, tetapi filsafat juga merupakan satu disiplin yang sangat kokoh dari pemikiran manusia dalam pencarian kebenaran, kebenaran sejati yang dimiliki oleh Nabi dari “ilmu Ilahi”, yang diwahyukan dalam bahasa yang dapat dijangkau oleh semua orang.84 Kemenangan demi kemenangan yang mendatangkan kemakmuran dunia Islam telah mengakibatkan berkembang pesatnya institusi-institusi intelektual yang mendukung berkembangnya pengetahuan-pengetahuan baru, termasuk filsafat. Berkembang luasnya filsafat di dunia Islam telah melahirkan para cendikiawan Muslim yang menekuni bidang ini, yang dalam bahasa Arab di kenal dengan falasifah. Gelar ini biasanya diberikan kepada mereka yang aktif menekuni disiplin-disiplin filsafat, baik dalam kedokteran, fisika, kimia, biologi, sosiologi, astronomi, matematika, dan sejenisnya. Julukan ini untuk membedakan mereka dengan ulama ataupun hukama yang lebih berkonotasi kepada orang yang menekuni disiplin keagamaan. Jika demikian keadaannya, kenapa ada dikalangan para cendikiawan Muslim menentang filsafat bahkan menye-satkan para penganjurnya. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ditelusuri jalan pemikiran para penentang filsafat, yang terutama diantaranya adalah al-Ghazali yang telah berhasil cemerlang menghujjat para filosof besar zamannya dalam karya agungnya Tahafut al-Falasifah. Al-Ghazali dalam karyanya tersebut melihat ada dua puluh penyimpangan besar yang dilakukan oleh para filosof Muslim, tujuh belas perkara dipandangnya sebagai pembaharuan tercela (bid’ah) dan tiga sisanya, yaitu kadimnya alam, penyangkalan terhadap pengetahuan Allah tentang perkara-perkara mendetil dan penyangkalan terhadap kebangkitan kembali, dapat menjerumuskan mereka menuju kekafiran. Namun sejauh itu, al-Ghazali tidak mengharamkan semua jenis filsafat, mengenai filsafat sains kealaman, astronomi, fisika dan kedokteran, beliau berkomentar sebagaimana dikemuka-kan S.H. Nasr : Ini adalah penyelidikan tentang langit beserta benda-benda langit dan apa yang berada di bawah langit, benda-benda sederhana seperti air, udara, api dan wjud majemuk seperti hewan, tumbuhan, dan mineral dan juga tentang sebab-sebab perubahan, transformasi dan kombiinasi mereka. Ini serupa dengan penyelidikan ilmu medis mengenai tubuh manusia dengan organ-organ utama dan bawahannya dan tentang sebab perubahan tempramen. Seperti halnya fungsi aga-ma bukanlah untuk menolak ilmu medis, begitu pula penolakan sains alam bukanlah salah satu fungsinya, kecuali yang mengenai perkara terten-tu seperti yang saya uraikan dalam buku saya Tahafut al-Falasifah. Soal lain yang harus ditinjau secara berbeda dari pandangan para filosof dapat diambil dari penelitian terhadap soal-soal terse-but. Dasar semua keberatan ini ialah pengakuan kita bahwa alam takluk kepada Allah Maha Tinggi tidak bertindak sendiri, tapi merupakan alat di tangan Penciptanya. Matahari dan bulan, bintang dan elemen

84

Dr. Mohammed Arkaun, Arab Thought, op.cit. hlm.45

lainnya tunduk kepada perintah-Nya. Tidak satupun di antara mereka yang aktivitasnya dihasilkan oleh atau disebabkan oleh wujudnya sendiri”.85 Dengan demikian pemikiran yang menolak secara apriori keberadaan filsafat yang telah dikembangkan para cendikiawan Muslim terdahulu dengan susah payah adalah satu kesalahan fatal yang berdampak buruk terhadap perkembangan peradaban kaum Muslimin. Karena penolakan terhadap pengetahuan ini secara membabi buta telah menghantarkan moyoritas mereka menuju kejumudan dan keterbelakangan, dan akhirnya menjadikan mereka dikuasai penjajah Barat, baik fisik dan pemikirannya. Penolakan para cendikiawan Muslim terhadap filsafat, sebagaimana yang dilakukan al-Ghazali adalah sebatas penafsiran ajaran teologis Islam menggunakan filsafat paganis Yunani, baik Aristoteleanisme dan Neoplatonisme anjuran al-Farabi yang dapat menyesatkan. Namun sejauh menyangkut pengeta-huan kealaman, matematika, kedokteran dan sejenisnya tidak bertentangan dengan agama, sebagaimana dinyatakan Nasr : Sungguh satu kejahatan besar terhadap agama telah dilakukan oleh orang yang mengira bahwa Islam dipertahankan dengan menolak sains mete-matika, karena nyata-nyata tidak ada sesuatu dalam wahyu yang bertentangan dengan sains ini, yang menyangkal maupun yang membenarkannya dan tidak ada dalam sains ini yang berlawanan dengan kebenaran agama.86

4.1. Urgensi dan Relevansi Filsafat Pengetahuan Islam Apakah urgensi dan relevansi filsafat bagi kaum Muslimin, terutama dalam mengembangkan pengetahuan mereka ? Karena akibat pengaruh para pengikut alGhazaliyyah banyak dikalangan kaum Muslimin yang mengharamkan filsafat yang dianggapnya tidak memiliki urgensi dan relevansi bagi kaum Muslimin. Demikian pula dengan berkembangnya pengeta-huan-pengetahuan terapan praktis yang dibutuhkan pasar tenaga kerja telah menghilanhkan minat generasi muda terhadap filsafat yang merupakan inti pengetahuan itu sendiri. Sehubunggan dengan perkara ini, Jamal al-Dien al-Afghani menyatakan; Ilmu yang mempunyai kedudukan sebagai jiwa yang utuh dan menempati jenjang teratas dalam menciptakan kekuatan adalah ilmu filsafat, karena bidang studinya universal. Ilmu filsafatlah yang menunjukkan orang akan kebutuhankebu-tuhan manusiawinya yang mendasar....... Jika suatu masyarakat tidak menguasai filsafat, dan setiap individu yang ada dalam masyarakat itu hanya dibekali dengan ilmu-ilmu tentang bidang-bidang tertentu, ilmu-ilmu itu tidak akan mampu bertahan di dalam masyarakat itu, setidak-tidak-nya selama satu abad. Sehubungan dengan perkara ini, Fazlur Rahman menyatakan :
85 86

S.H. Nasr, Science and Civilization in Islam, terj. J. Mahyuddin (Bandung : Pustaka, 1986) hlm. 288 ibid

Akan tetapi, filsafat merupakan suatu kebutuhan intelektual yang abadi dan mesti dibiarkan tumbuh subur baik demi disiplin filsafat itu sen-diri, maupun demi disiplin-disiplin yang lain, karena ia menanamkan semangat kritis-analitis yang sangat diperlukan dalam melahirkan gaga-san-gagasan baru yang menjadi alat intelektual yang penting bagi sains-sains lain, tak kurang bagi agama dan teologi. Karenanya suatu bangsa yang membuang kekayaan filsafatnya berarti men-campakkan dirinya dalam bahaya kelaparan gaga-san-gagasan segar -melakukan bunuh diri intelektual. 87 Bagi kaum Muslimin sendiri, khususnya pada saat dimana kebangkitan peradaban sedang menjadi prioritas utamanya, maka menguasai filsafat tidak diragukan lagi adalah sangat penting. Karena filsafat adalah salah satu alat yang mutlak dikuasai agar mereka dapat menguasai peradaban dunia modern dan agar terhindar dari kesesatan yang terkandung dalam filsafat Barat modern. Disamping itu Islam sendiri telah merangsang agar para pengikutnya senantiasa menggunakan akalnya dalam mempelajari raelitas alam semesta ciptaan Allah. Namun filsafat yang dianjurkan Islam bukan filsafat bebas nilai sebagaimana yang diajarkan Barat sekuler, tapi filsafat yang semata-mata akan mendekatkan dan menghantarkan manusia kepada Allah sebagai hamba dan khalifah-Nya. Itulah sebabnya seluruh produk filsafat yang berdasarkan Islam tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam, baik dalam epistemologis, ontologis maupun metodeloginya. Filsafat pengetahuan Islam berdasarkan pada tauhid, yaitu keesaan Allah dalam segala hal, baik sebagai sumber pengetahuan, pencipta pengetahuan dan pemilik pengetahuan, manusia hanya sebagai wakil yang akan mengelola dan mengembangkan pengetahuan sebagaimana yang dikehenda-ki Allah. Konsekwensi logis pengertian ini adalah bahwa manusia dibenarkan menggunakan kemampuan aqalnya selama tidak bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.88 Demikian pula dengan kegagalan demi kegagalan yang diderita filsafat pengetahuan Barat dalam menghantarkan para pengikutnya menuju cita-citanya seperti saat ini sebagaimana dikemukakan oleh para cendikiawan mereka, maka tidak diragukan lagi pentingnya filsafat pengetahuan yang berdasarkan Islam sebagai alternatif pengganti yang akan menghantarkan umat manusia menuju kebenaran sejati sebagai tujuan akhir filsafat. Karena jika tidak dicarikan alternatif pengganti filsafat pengetahuan Barat yang sudah rapuh ini akan menjadi sumber kehancuran dunia yang sudah kelihatan tandatandanya akhir-akhir ini akibat kesalahan konsep yang mendasarinya sebagaimana dikemukakan SH. Nashr; Peradaban yang berkembang di Barat sejak zaman Renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya sehingga umat manusia menjadi ragu apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di
87 88

Fazlur Rahman, Islam and Modernity,hlm. 190 Tentang masalah ini, lihat misalnya : Syed M.Naquib al-Attas, Islam and The Philosophy of Science, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1989). Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Concept of Knowledge in Islam, (London : Manshell Publ. 1989). C.A. Qadir, Philosophy and Science in The Islamic World, (New York : Croom Helm, 1988) khususnya bab I. Mahdi Golshani, “Philosophy of Science from The Qur’anic Perpective” dalam Toward Islamization of Disciplines. (Virginia : IIIT, 1989) hlm. 73-92.

masa yang akan datang. Sangatlah tidak ilmiah apabila kita menganggap peradaban modern ini dengan segala gambaran mengenai sifat manusia dan alam semesta yang mendasarinya, bukan sebagai sebuah eksperimen yang gagal. Dan sesungguh-nya penelitian ilmiah, jika tidak menjadi jumud karena rasionalisme dan empirisme yang totalarian seperti yang kami katakan di atas, sudah tentu merupakan cara termudah untuk menyadarkan manusia sekarang bahwa peradaban modern sesungguhnya telah gagal karena kesalahan konsepkonsep yang mendasa-rinya.89 Kegagalan peradaban Barat modern ini adalah tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia, sebagaimana dikemukakan SMN. al-Attas ; Banyak tantangan yang timbul di tengah-tengah kebingungan manusia sepanjang zaman, tetapi tidak satupun yang lebih serius dan sangat destruktif kepada manusia sekarang selain yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Saya berpen- dapat bahwa tantangan yang paling besar yang secara sembunyisembunyi telah muncul pada zaman kita adalah tantangan pengetahuan (knowledge), tidak seperti berperang melawan kejahilan; tapi sebagai pengetahuan yang disusun dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia oleh peradaban Barat; sifat dasar pengetahuan menjadi permasalahan setelah ia kehilangan tujuan sebenarnya karena disusun secara tidak adil yang dengan demikian justru menimbulkan kekacauan pada kehidupan manusia, dan lebih jauh pada kedamaian dan keadilan; pengetahuan mengang-gap diri sesuai dengan kenyataan, padahal ia adalah produk dari rasa kebingungan dan skeptisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan pada tingkat ilmiah dalam metodeloginya dan memandang keraguan sebagai epistemologi paling tepat dalam mencari kebenaran; pengetahuan, untuk pertama kali dalam sejarah, telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam, binatang, tumbuhan dan mineral.90 Maka dengan demikian tidak diragukan lagi pentingnya pada saat ini untuk mengembangkan sebuah paradigma filsafat pengetahuan Islam yang berdasarkan pada wahyu agar dunia modern dengan segala perbendaharaan peradabannya dapat menghantarkan manusia menuju kebenaran sejati. Karena filsafat pengetahuan Barat modern yang berkembang pesat bahkan menjadi pegangan sebagian besar kaum Muslimin saat ini telah mengalami kegagalan dengan menghasilkan produk pengetahuan yang merusak manusia dan lingkungannya. Dan yang terpenting agar kaum Muslimin tidak mengalami kerancuan dan kebingungan yang membawanya kepada keterbelakangan dan kemunduran akibat menerapkan filsafat pengetahuan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

89 90

SH. Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, (London : Longman, 1975) hlm. 12. Syed M. Naquib al-Attas, Nature of Knowledge and The Definition and Aim of Education, (Jeddah : King Abdul Aziz Univ, 1979) hlm. 19-20

Untuk membangun kembali paradigma filsafat pengetahuan yang berdasarkan pada ajaran Islam, harus ditelusuri sumber utama ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, pemikiran para shahabat dan para pengikutnya. Disamping itu perlu dikaji pemikiranpemikiran para cendikiwan Muslim di zaman kegemilangan Islam terutama di zaman kegemilangan filsafat, baik yang mendukung penuh filsafat seperti al-Farabi, al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan lainnya ataupun yang menentangnnya seperti al-Ghazali. Karena perkara ini sangat penting untuk membangun kembali kerangka acuan filsafat yang berdasarkan pada ajaran Islam. Dengan mengetahui dan memahami pemikiran para cendikiawan Muslim terdahulu, maka akan dapat dijadikan sebagai referensi yang sangat berharga dan pemikiran mereka adalah mata rantai dari peradaban Islam yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya untuk membangun kembali peradaban dunia yang berdasarkan ajaran Islam. Demikian pula usaha-usaha serius yang berkelanjutan dari cendikiawan Muslim kontemporer dalam membangun kembali landasan filsafat pengetahuan Islam harus senantiasa menjadi referensi dalam mengembangkan filsafat pengethuan Islam di masa depan. Harus disadari, membangun kerangka dasar filsafat pengetahuan Islami adalah perkara besar yang menjadi tugas setiap cendikiawan Muslim sebagai kewajiban jihad yang utama. Secara garis besarnya para cendikiawan Muslim menyatakan bahwa kerangka filsafat pengetahuan Islami berdasarkan pada tiga konsep dasar, yaitu al-Tauhid (ketunggalan Allah), al-Amanah (amanat yang dititipkan Allah) dan al-Khilafah (wakil Allah di muka bumi). Ini berarti bahwa Allah adalah satu-satunya sumber, pemilik, pencipta ataupun pemberi pengetahuan kepada manusia yang berupa amanat yang harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Apabila manusia menggunakan amanah pengetahuan ini sesuai dengan kehendaknya, maka kelak akan mendapatkan balasan baik di hari kemudian, namun apabila manusia menyia-nyiakan amanah pengetahuan ataupun menyele-wengkannya maka ia akan mendapat balasan buruk pula. Sedangkan manusia sendiri fungsinya sebagai khalifah (wakil) Allah yang akan mengelola dan mengembangkan pengetahuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Sang Pemilik yang memberikan amanah kepadanya.91 Jadi pemahaman ini bertentangan dengan landasan filsafat Barat sekuler yang telah menghilangkan peranan Tuhan sebagai pemilik dan sumber pengetahuan dan menjadikan manusia sebagai penggantinya sebagaimana yang difahami oleh para filosof paganis Yunani. Pemahaman ini telah menghantarkan manusia menjadi Tuhan-tuhan yang menentukan perjalanan hidup mereka sendiri. Dengan landasan filsafat sekuleris inilah kemudian Barat mengembangkan segala bentuk pengetahuan sehingga mereka berhasil membangun peradaban Barat yang mengangumkan. Namun karena landasan filsafat ini didasari atas kebatilan dan penentangannya terhadap kekuasaan Sang Pencipta, yang pada hakikatnya adalah penentangan terhadap alam itu sendiri, akhirnya pengetahuan Barat menjadi bumerang buat mereka. Pengetahuan Barat modern telah memakan tuan penciptanya sendiri, sehingga para cendikiawannya takut dengan penemuan mereka sendiri dengan segala dampak yang ditimbulkannya.
91

Lebih jauh lihat : SMN. al-Attas, Islam and Philosophy of Science, op.cit

Lebih jauh untuk membangun kembali filsafat pengetahuan Islam ini, ada beberapa perkara yang perlu dikaji serta dikembangkan, terutama mengenai aspek ontologi, epistemologi, aksiologi dan metodelogi pengetahuan yang berdasarkan pada ajaran Islam. Tulisan-tulisan para cendikiwan Muslim seperti SMN. al-Attas dalam Islam and The Philosophy of Science, SH. Nasr dalam Science and Civilization in Islam, Wan Mohd. Nor Wan Daud dalam The Concept of Knowledge in Islam, C.A. Qadir dalam Philosophy and Science in The Islamic World, Mahdi Gholsani dalam The Holy Qur’an and The Science of Nature dan lainlainnya dapat dijadikan rujukan dalam membangun kembali paradigma filsafat pengetahuan Islam.

Rancang Bangun Pendidikan Islami Masa Depan
Dalam mengembangkan rancang bangun pendidikan Islam masa depan, ada beberapa perkara yang perlu dijelas-kan. Pertama, dalam merancang bentuk pendidikan

Islam sepenuhnya harus bersumber dari al-Qur’an, al-Sunnah dan tradisi Islam yang tidak bertentangan dengan keduanya. Karena hanya jalan ini saja yang dapat menyelamatkan seseorang dari kesesatan sebagaimana diterangkan hadits terdahulu. Kedua, tujuan pendidikan ini harus jelas, yaitu untuk melahirkan manusia-manusia unggul dalam arti yang sebenarnya, yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam serta menguasai peradaban dunia modern. Pendidikan ini bukan bertujuan semata-mata untuk melahirkan para sarjana yang menyandang gelar saja atau tidak untuk menciptakan para lulusan yang berlomba mendapatkan pekerjaan. Karena jika mereka sudah menjadi manusia unggul, pasti mereka akan diperebutkan oleh dunia. Ketiga, tidak terpengaruh atau terikat dengan pendidikan yang telah diterapkan dunia modern, baik menyangkut model, sistem, metode, kurikulum atau waktu pendidikan. Karena jika masih terikat dengan pendidikan selainnya, maka sulit dirancang sistem pendidikan yang dikehendaki Islam. Kegagalan kaum Muslimin dalam mengembangkan sistem pendidikan, termasuk yang menerapkan Islamisasi pengetahuan, adalah akibat keterika-tannya yang kuat pada sistem pendidikan sekuler. Seperti waktu belajar misalnya, pengagagas pendidikan Islam menghendaki dalam tempo waktu yang relativ sama dengan pendidikan sekuler mereka menginginkan mencetak pribadi Muslim yang konsisten sekaligus menguasai pengetahuan modern sebagaimana produk sistem pendidikan lainnya. Tentu ini adalah isapan jempol belaka, mana mungkin pelajar menguasai dua pengetahuan sekaligus dalam tempo waktu yang sama dengan pendidikan sekuler, untuk itu perpanjangan waktu pendidikan adalah mutlak untuk keberhasilan pendidikan Islam. Karena Islam sendiri tidak pernah membatasi tempo waktu belajar kepada pengikutnya. Keempat, diperlukan sekumpulan kaum Muslimin yang bertekad bulat menegakkan dan mendukung sepenuhnya sistem pendidikan ini, baik sebagai pengelola pendidikan, para pelajar, orang tua dan masyarakat. Semua pihak harus yakin bahwa ini adalah perjuangan panjang menuju kebangkitan Islam yang dinantikan dunia. Kelima, menyiapkan fasilitas penunjang, baik berupa sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan semaksimal kemampuan. Namun tidak sepenuhnya meniru pendidikan yang sepenuhnya berorien-tasi material. Sebagai agama langit terlengkap dan tersempurna, Islam menghendaki sistem pendidikan ideal yang sepenuhnya berorientasi pada tujuan suci dan mulia, yaitu pembentukan manusia unggul yang lahir dari didikan wahyu Ilahiyah yang akan menghantarkan manusia menuju kesempurnaan hidup. Dengan sistem pendidikannya yang paripurna, Islam tidak pernah membedakan dan mempertentangkan antara dunia dengan akhirat, antara aqal dengan wahyu antara ayat-ayat dengan pengetahuan, antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam sistem pendidikan Islam semuanya adalah satu kesatuan yang diciptakan Allah sebagai Sang Maha Pencipta untuk kegunaan dan kemudahan manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Wahyu harus menjadi dasar dari setiap pergerakan manusia, baik perbuatannya, perkataannya, berfikirnya dan berkaryanya serta seluruh aktivitas kehidupannya. Karena wahyu adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang mutlak kebenarannya, karena ia datang dari sumber Yang Maha Mutlak Kebenarannya. Itulah sebabnya sistem pendidikan Islam menjadikan wahyu sebagai fondamen utama filsafat keilmuannya yang harus difahami dan diamalkan para penganut Islam. Ketinggian dan kesempurnaan sistem pendidikan Islam semata-mata tidak lain

karena menjadikan wahyu sebagai tolak ukur aktivitas kehidupan. Dan manusia unggul yang telah dididik dengan wahyu akan menjadi pencinta-pencinta pengetahuan sejati sebagimana telah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu, wahyu akan mendorong mereka untuk senantiasa mencari dan mengembangkan berbagai cabang pengetahuan sebagai salah satu upaya menegakkan Islam di muka bumi. Dengan sistem pendidikan Islam yang diterapkan Rasulullah telah terbukti melahirkan generasi yang menguasai dan mengamal-kan Islam sekaligus menjadi pembangun peradaban baru dunia, dan sejak kaum Muslimin berpaling dari sistem pendidikan Rasulullah, mereka tidak pernah mampu melahirkan generasi seperti itu lagi. Sistem pendidikan Islam ideal ini harus diterapkan sedini mungkin kepada kaum Muslimin, yaitu sejak anak-anak berada di buaian ibu secara informal sampai berusia 4 tahun. Dan dari usia 5 sampai 7 tahun mulai mengikuti klas-klas formal yang diadakan sampai jenjang yang memungkin-kan mereka menerima pendidikan formal sehingga terbentuk manusia-manusia unggul sebagimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Karena Rasulullah telah memerintahkan pengikutnya agar mencari ilmu dari buaian sehingga ke liang lahat. Sitim pendidikan Islam tidak pernah membatasi waktu bagi pelajarnya dalam mencari ilmu sebagaimana sistem pendidikan modern yang senantiasa memacu pelajarnya agar menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin agar dapat masuk ke pasar tenaga kerja. Sehingga menjadikan mereka seperti robot-robot yang diperhamba pengetahuannya yang akhirnya akan menimbulkan rasa frustasi. Apalagi jika mereka tidak dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di tengah masyarakat dan tidak mampu bersaing di pasar tenaga kerja akibat kedangkalan pengetahuannya yang dipaksakan penerimaannya. Itulah sebabnya pendidikan Islam dapat terealisasi apabila ada sekumpulan masyarakat Islam yang menyadari pentingnnya pendidikan ideal untuk generasi muda mereka dengan tidak membataskan waktu yang harus ditempuh untuk menjadi manusia-manusia unggul yang menguasai Islam dan mampu bersaing di dunia modern. Pendidikan Islam yang ideal, sebagaimana pendidikan yang terapkan suri teladan kaum Muslimin, Rasulullah adalah pendidikan yang mengawali pelajarannya dengan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya, sebagimana diterangkan al-Qur’an : sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (al-Baqarah : 151) Ayat di atas dengan tegas menyebutkan asas pengajaran yang harus diterapkan kaum Muslimin, pertama mengajarkan tentang bacaan ayat-ayat al-Qur’an, kemudian mengajarkan kandungan al-Qur’an serta al-Hikmah secara mendalam baru kemudian sesudah itu diajarkan ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menopang kehidupan mereka di dunia. Bahasa Arab harus diberikan bersamaan dengan pelajaran membaca al-Qur’an agar kelak mereka dapat memahami apa yang terkandung didalamnya, karena hanya dengan memahami bahasa Arablah seseorang baru dapat mengerti al-Qur’an dengan baik dan benar. Idialnya seorang anak Muslim yang berusia 4-5 tahun, begitu mereka dapat

membaca tulisan Arab sebagai ilmu dasar yang wajib diajarkan, harus sudah mulai menghafal al-Qur’an sesuai dengan kemampuannya. Sebuah hadits menyatakan : Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara : mencintai Nabimu, mencintai ahli baytnya dan membaca al-Qur’an. (HR. al-Thabrani) Sehubungan dengan dasar-dasar rancang bangun sistem pendidikan Islam ini, Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam menukilkan beberapa perkara yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan sebuah model pendidikan Islam ideal di masa depan : 1. Al-Jahidz meriwayatkan, bahwa Uqbah bin Abi Sufyan, ketika menyerahkan anaknya kepada seorang pendidik, ia berkata : “Hendaklah engkau dalam memperbaiki anak-ku ini dengan memulai mempernbaiki dirimu sendiri. Sebab mata mereka itu terikat dengan matamu, yang baik menurut mereka adalah yang baik menurutmu dan yang jelek menurut mereka adalah yang jelek menurutmu. Ajarkanlah kepada mereka biographi orang-orang bijaksana, akhlak orang-orang terpelajar dan rasa takut kepadaku. Didiklah mereka agar menghormatiku. Jadilah engkau bagi mereka bagai dokter yang tidak terburu-buru memberikan resep obat sebelum mengetahui penyakitnya. Dan janganlah engkau bersandar kepada ketidak mampuanku. Karena sudah kuserahkan sepenuhnya kepada kemampuanmu”. 2. Di dalam Muqaddimahnya, Ibnu Khaldun meriwayatkan bahwa ketika Harun al-Rasyid menyerahkan putranya, al- Amin, kepada seorang pendidik, ia berkata kepadanya: “Hai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan belahan jiwanya dan buah hatinya kepadamu. Oleh karena itu, bentang-kanlah tanganmu untuknya. Dan ia wajib men-taatimu. Maka bertindaklah engkau terhadap-nya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Amirul Mukminin. Bacakanlah al-Qur’an kepa-danya, beritahukanlah kata-kata layak kepadanya, riwayatkanlah sya’ir-sya’ir kepadanya, ajarkanlah sunnah-sunnah kepadanya, terang-kanlah tujuan-tujuan pembicaraan dan latar belakangnnya kepadanya, laranglah ia untuk tertawa selain pada waktunya, dan janganlah engkau membiarkan waktu berlalu begitu saja, kalau tidak, maka engkau telah memanfaatkan suatu faedah yang bermanfaat baginya tanpa tanpa membuatnya sedih, sehingga engkau mematikan pikirannya. Janganlah engkau membiarkan waktu libur baginya, sehingga ia bersenangsenang dengan waktu yang senang itu. Luruskanlah ia semampumu dengan pen-dekatan dan kelemah lembutan. Dan bila ia tidak mau menerima, maka engkau harus menggunakan kekerasan”. .................................................

4. Abdul Malik bin Marwan menasihati orang yang mendidik anaknya : “Ajarkanlah kebenaran kepada mereka sebagai-mana kamu mengajarkan alQur’an kepada me-reka. Riwayatkanlah sya’ir kepada mereka sehingga mereka berani...............92 Sa’ad bin Abi Waqash ra berkata : “Kami mengajar anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah saw sebagaimana kami mengajarkan surat al-Qur’an kepada mereka”93 Dr. Islamiyat : Muhammad Athiyah al-Abrasi menukilkan dalam bukunya Al-Tarbiyat al-

Pada suatu ketika, Mufaddal bin Zaid melihat anak seorang wanita Islam dari desa, maka beliau terpesona melihat wajahnya dan kesempurnaan bentuk badannya. Zaid bertanya kepada ibunyaa mengenai anak tersebut, dan di jawab : “Ketika ia berumur genap 5 tahun saya telah menyerahkan-nya kepada seorang juru didik, di mana ia belajar membaca dan menghafal al-Qur’an, kemudian disuruh mempelajari syair dan sesudah itu diberikan kepadanya sejarah nenek moyang dan kaumnya dan membaca jasa-jasa dan kemegahan mereka sehingga sampailah ia kepada umur dewasa kemudian ia dilatih mengendarai kuda dan mempergunakan senjata. Setelah ia mahir dalam soal-soal memakai senjata disuruh berjalan dari rumah ke rumah dan ia dapat mendengar suara minta tolong dan dengan cepat ia membantu dan menolong”. Ibnu Sina di dalam bukunya al-Siyasah telah membentangkan pendapatpendapat berharga dalam pendidikan anak-anak dan beliau menasihatkan supaya pendidikan anak-anak di mulai dengan pelajaran al-Qur’an yaitu segera setelah ada kesediannya secara fisik dan mental untuk belajar. Pada waktu yang sama ia belajar mengeja, membaca, menulis dan mempelajari dasar-dasar agama, setelah itu belajar syair dan mulai dengan yang singkat-singkat, karena menghafal syair-syair pendek itu lebih gampang dan lebih ringan..... Bila si anak telah selesai dari menghafalkan al-Qur’an dan mengerti pula tata bahasa Arab barulah dilihat, diarahkan dan diberi petunjuk kepada ilmu yang sesuai dengan bakat dan kesediaannya”. Ibnu Tawam berkata :”Yang seharusnya dilakukan oleh bapak-bapak sesudah anak-anaknya hafal al-Qur’an ialah mengajar mereka menulis, berhitung dan berenang”

92 93

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam, (Beirut : Dar al-Salam, Tab. Tsaniyah, 1978) muqaddimah. ibid

Al-Ghazali mewasiatkan supaya anak-anak di ajar al-Qur’an, sejarah dan kehidupan orang-orang besar kemudian beberapa hukum-hukum agama dan sajak yang tidak menyebut soal cinta dan pelaku-pelakunya. Ibnu Khaldun mengisyaratkan kepada pentingnya penghafalan al-Qur’an bagi anak-anak, dan beliau menjelaskan bahwa pengajaran tentang al-Qur’an ini adalah sendi pendidikan dalam semua rencana pelajaran sekolah di berbagai negara Islam, oleh karena pengajaran al-Qur’an itu adalah syiar dari syiar-syiar agama Islam yang akan membawa kepada kepada semakin kokohnya iman seseorang.94 Selanjutnya beliau menukilkan hikmah mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Tujuan dari para filosof Islam dengan menghafal-kan al-Qur’an ialah mengambil berkat dari per-bendaharaan Ilahi dan kekayaan rohaniah yang Maha Besar di alam ini. Dengan menghafal ayat-ayat itu, anak-anak akan tertolong dalam penggu-naan terminologi yang halus dan indah, iramanya yang menarik, mukjizat, hikmah, sastra, logika, kisah dan wasiat-wasiat berharga yang terkandung di dalam al-Qur’an. Meskipun mereka tidak sanggup mengerti akan maksud surat-surat dan ayat yang mereka hafal oleh karena umur mereka yang masih kecil dan kekuatan fikiran yang masih rendah, namun demikian mereka dapat mengambil manfaat dengan adanya kekuatan angatan dan hafalan secara otomatis di waktu kecil. Hal ini tidak ada buruknya, karena bila telah mulai besar mereka akan sanggup mengenal tafsir, yaitu setelah pancaindera dan kekuatan pemikiran mereka bertambah sempurna.95 Disamping al-Qur’an dan al-Sunnah, ada beberapa ilmu dasar keislaman yang wajib diketahui oleh seorang Muslim. Mengenai perkara ini, Said Hawa menyatakan : 2. Oleh karena seorang Muslim tidak akan menca-pai kefahaman yang sempurna apabila mempe-lajari hukum-hukum Allah secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, maka diharuskan baginya mempelajari ilmu-ilmu alat ataupun ilmu-ilmu yang dapat menghantarkan kepada pemahaman hukum-hukum Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Seperti dengan mempelajari ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu akhlak dan ilmu-ilmu yang telah dirumuskan para ulama dengan prinsip dan kaedah tertentu untuk mempermudah pemaha-man seorang Muslim, harus pula diketahui. Disebabkan hukum-hukum bersumber dari al-qur’an dan Sunnah, maka ada ilmu yang membahas cara pengambilan hukum dari al-Qur’an dan Sunnah, dikenal dengan ilmu Ushul Fiqh, inipun harus dikuasai seorang Muslim supaya ia mengetahui hakikat dari hukum yang dipelajarinya.
94 95

Dr. Athiyah al-Abrasi, al-Tarbiyat al-Islamiyyat, terj. DDPPI, hlm. 160-162 op.cit. hlm.163

3. Oleh karena sejarah Islam (tarikh Islam) meru-pakan gambaran lengkap dari sosok penam-pilan kaum Muslimin serta Islam yang dapat di-jadikan sumber teladan. Lagi pula sejarah Islam membahas tentang pola hidup Rasulullah dan para shahabat dan dengan demikian harus menjadi teladan yang harus diepelajari. 4. Oleh karena setiap Muslim dituntut agar senantiasa memperhatikan kepentingan-kepen-tingan kaum Muslimin seperti sabdanya “Ba-rangsaiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka mereka bukanlah termasuk golongannya (HR. Bukhori). Memper-hatikan kepentingan mereka tidak mungkin di-lakukan kecuali dengan mengenal kedudukan mereka. Oleh sebab itu harus dipelajari kondisi alam Islami dan mengetahui kedudukan kaum Muslimin. 5. Oleh karena adanya tantangan-tantangan dari musuh terhadap Islam dan kaum Muslimin, maka harus pula diketahui hal-hal tersebut dan sasarannya untuk mengelakkan ummat dari bencana yang ditimbulkannya. 6. Oleh karena bahasa Arab dan ilmu-ilmunya/ ilmu alat menjadi anak kunci dalam memahami dienul Islam, maka sudah seharusnya kaum Muslimin berusaha lebih giat untuk menguasainya dengan baik. 7. Oleh karena pengkajian Islam modern mempu-nyai kebaikan seperti dapat menyampaikan Islam sesuai dengan alam kekinian, maka pengkajian inipun harus diperlukan. 8. Karena ilmu-ilmu ini berguna untuk menjelas-kan tiga masalah utama bagi seorang Muslim, yaitu Allah, Rasul dan Islam, maka seorang Muslim mesti mempelajarinya secara mendalam ketiga-tiga masalah tadi dengan seksama.96 Menurut beberapa keterangan di atas, pendidikan Islam ideal adalah pendidikan yang mampu memberikan dasar-dasar pengetahuan keislaman yang kuat kepada para pelajarnya. Untuk mencapai tujuan di atas maka setiap pelajar diwajibkan menguasai secara global beberapa cabang pengetahuan, yang biasa diistilahkan oleh para cendikiawan Muslim sebagai pengetahuan fardhu ain, diantaranya adalah: 1. Al-Qur’an dengan beberapa cabang ilmunya, dari tajwid, ulumul Qur’an sampai pada tafsir. Jika memungkinkan al-Qur’an dihafal seluruhnya atau beberapa bagian menurut kadar kemampuan pelajar. Pengajaran al-Qur’an lebih ditekankan pada aspek pengamalan dan bukan sebagai pengetahuan belaka. 2. Al-Sunnah dengan beberapa cabang ilmunya, dan jika memungkinkan dihafal beberapa hadits yang penting-penting. 3. Ilmu-ilmu alat yang telah dirumuskan para ulama untuk mempermudah memahami Islam seperti ilmu tauhid, akhlak, fiqh, ushul fiqh, tasawwuf, filsafat dan lainnya. 4. Tarikh Islam, sejarah para shahabat dan Nabi, kegemila-ngan peradaban Islam dan cabang-cabangnya 5. Bahasa Arab dan cabang-cabang keilmuannya menurut kadar kemampuan agar dapat memahami al-Qur’an dan al-Sunnah.
96

Syekh Said Hawa, Jundullah, Tsaqofah wa Akhlaq. hlm.375-376

6. Kajian-kajian keislaman modern dengan beberapa aspek-nya, termasuk didalamnya tentang keadaan dunia Islam dan tantangan-tantangan yang dihadapi Islam. 7. Ilmu-ilmu pendukung yang menumbuhkan keimanan dan keislaman seseorang, baik yang menyangkut hukum-hukum, spiritualitas ataupun pengembangan fisik dan mental pelajar. Ilmu-ilmu fardhu ain di atas harus dikuasai secara maksimal oleh para pelajar menurut kadar kemampuan mereka masing-masing. Setelah mereka menguasai pengetahuan ini, diberikan pengetahuan fardhu kifayah yang merupakan spesialisasi mereka, baik dalam ilmu-ilmu umum seperti ekonomi, sosiologi, kimia, kedokteran ataupun dalam bidang tafsir, hadits, fiqh dan lainnya menurut minat dan bakat para pelajar. Dengan sistem pendidikan Islam ideal ini kelak diharapkan akan lahir manusiamanusia unggul (al-Insan al-Kamil) dalam arti yang sebenarnya. Yaitu ahli-ahli fisika, kimia, matematika, kedokteran, pertanian, ekonomi, sosiologi, astronomi, komputer, ekonomi, penerbangan ataupun ahli fiqh, tafsir, hadits, tasawwuf dan lainnya namun memiliki kadar pemahaman fardhu ain yang sama sebagimana para shahabat ataupun para cendikiawan Muslim sesudahnya seperti Imam yang empat ( Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi), alGhazali, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusy, al-Kindi, Ibnu Khaldun dan lainnnya. Walaupun mereka adalah para filosof yang menguasai pengetahuan-pengetahuan aqliyah, namun pada saat yang sama mereka adalah ulama-ulama yang menghafal al-Qur’an dan menguasai ajaran Islam sehingga ada diantara mereka yang menjadi hakim agama dan mufti seperti Ibnu Sina yang ahli kedokteran dan Ibnu Khaldun penggagas sosiologi. Para generasi Muslim terdahulu dapat menguasai kedua-dua pengetahuan sekaligus karena sistem pendidikan Islam tidak pernah memisahkan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, karena mereka berkeyakinan semua pengetahuan datangnya dari Allah. Sebagimana dikemukakan beberapa kutipan di atas, bahwa wahyu baik al-Qur’an ataupun al-Sunnah menjadi dasar pengajaran utama kepada generasi Islam. Setelah mereka menguasai pengetahuan-pengetahuan dasar sebagai fardhu ain, barulah mereka mempelajari fardhu kifayah menurut kemampuan dan minat mereka masing-masing. Sistem pendidikan Islam ini telah mendorong lahirnya para cendikiawan yang tidak memisah-misahkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, namun mereka hanya mengklassifikasikannya menurut tingkatan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, mana yang harus didahului dan mana yang harus dibelakangkan. Dan pemisahan pengetahuan dikenal dunia Islam setelah masuknya penjajah Barat yang menyebarkan sistem pendidikan sekuler yang memisah-misahkan antara agama, moral dan pengetahuan.

Sketsa Pendidikan Islami Masa Depan
Untuk memaksimalkan keberhasilamn pendidikan Islam dalam melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki kwalitas keimanan, keislaman serta penguasaan ilmu pengetahuan-teknologi yang tinggi di masa depan harus dibentuk dan disusun sebuah model lembaga pendidikan Islam yang akan menerapkan rencana pendidikan Islam ideal sebagimana disebutkan di atas dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Lembaga ini harus memiliki sistem pendidi-kan tersendiri yang berbeda dengan pendidikan lainnya, baik tujuan, orientasi, visi, materi, kurikulum ataupun metode pengajarannya. Sistem pondok pesantren (ma’had) yang terbukti memiliki beberapa keunggulan dapat dikembangkan menjadi sistem pendidikan ideal dengan merombak dan menyempurnakan beberapa bagiannya. Di mulai dari tingkat dasar (ibtida’iyyah), tingkat menengah (tsanawiyyah-Aliyah), tingkat atas/tinggi (Kulliyat) yang lebih merupakan priode spesialisasi menurut disiplinnya. 1. Pendidikan Tingkat Dasar/Permulaan Pada tingkat dasar, dimulai dari umur 5-6 tahun sampi berumur baligh (12-13 tahun), para pelajar diwajibkan mempelajari dasar-dasar membaca dan menulis, terutama bahasa Arab. Sesudah mereka dapat membaca dengan baik diwajibkan menghafal alQur’an, beberapa hadits-hadits Arbain dan syair-syair Arab yang pendek dan mudah. Setelah anak-anak-anak dapat lancar membaca dan menulis ditambahkan ilmu-ilmu dasar keislaman (fardhu ain) seperti ilmu aqidah-akhlaq, ibadah-syareah, sejarah Islam, Bahasa Arab, dan lain-lainnya disamping beberapa pengetahuan dasar umum seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa nasional, bahasa inggris dan lainnya menurut kebutuhan. Kebanyakan kaum Muslimin kurang memperhatikan pendidikan dasar ini kepada anak-anak mereka, padahal di masa inilah potensi anak sangat memungkinkan untuk dikembangkan, terutama untuk menghafal al-Qur’an secara sempurna sebagai dasar utama sistem pengetahuan dan kehidupan Islam. Pemanfaatan waktu perlu dimaksimalkan, anakanak harus di asramakan setengah hari dari pagi sampai magrib atau asrama penuh jika sudah memungkin-kan, karena anak-anak akan bergembira jika memiliki banyak kawan dalam belajar, namun waktu diatur sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kebosanan anak-anak dengan aktivitas-aktivitas yang menarik dan bermanfaat seperti rekreasi, kunjungan atau olah raga, bela diri (silat/karate), menunggang kuda, berenang dan sejenisnya. Sehubungan dengan pendidikan dasar ini, Dr. Muhammad Athiyah al-Abrasi menulis : Bahan-bahan pokok yang diberikan kepada anak-anak dalam tingkat pertama atau permulaan secara umumnya adalah sebagai berikut : al-Qur’an dan sendi-sendi agama, membaca, menu-lis, berhitung, bahasa, sajak-sajak yang mengan-dung ajaran akhlak, menulis halus, cerita-cerita dan latihan berenang dan menunggang kuda.97

97

Dr. M. Athiyah al-Abrasi, op.cit. hlm. 163

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar para pelajar yang sudah menjalani pendidikan selama 6 sampai 8 tahun, diharapkan sudah menghafal al-Qur’an 30 juz atau beberapa juz menurut kemampuan, menguasai beberapa kitab hadits seperti Arbain AnNawawi atau Riyadush Sholihin atau sejenisnya, memahami dasar-dasar ilmu keislaman seperti aqidah-tauhid, akhlak, sejarah para Nabi, Rasul dan Shahabat, ibadah-syareat dan bahasa Arab sebagai dasar percakapan. Disamping itu menguasai pula dasar-dasar ilmu umum seperti matematika, pengetahuan alam, sosial, ketrampilan dan bahasa nasionalInggris. Di sini perlu ditegaskan sekali bahwa pendidikan dasar dengan kurikulum utamanya penghafalan al-Qur’an dan pengenalan dasar-dasar pengetahuan keislaman dan umum ini adalah fase terpenting bagi pendidikan generasi Islam. Ibarat sebuah bangunan, maka pendidikan dasar adalah fondasi yang harus disiapkan dengan perencanaan yang matang, karena bangunan pasti akan roboh jika fondasinya rapuh. Kenakalan remaja dengan segala penyimpangannya yang telah menjadi gejala umum sosial saat ini tidak lain adalah akibat kegagalan sistem pendidikan menanamkan fondasi keagamaan yang kuat kepada para pelajar. Jika anak-anak telah terlatih dari kecil dengan amalan dan budaya Islami, maka perkara ini akan senantiasa menjadi jalan hidupnya kelak sesudah dewasa. Anak-anak yang diibaratkan sebagai kain putih bersih harus diwarnai dengan tinta suci dan agung agar tinggi nilainya. Itulah sebabnya Rasulullah, para shahabat dan para cendikiawan Muslim terdahulu sangat memperhatikan pendidikan dasar anak-anak mereka dan mengisi pengetahuan pertamanya dengan wahyu Allah dengan segala mukjizat yang menyertainya. Tujuan mereka sangat jelas, yaitu untuk memberikan fondasi terkuat bagi kehidupan generasi mereka. Adakah sebuah pengetahuan yang lebih suci, lebih mulia, lebih tinggi, lebih agung selain dari wahyu Sang Pencipta alam yang diturunkan kepada RasulNya ? Jika ayat-ayat Allah ini telah tertanam dalam fikiran dan hati sanubari generasi muda, maka ia akan senantiasa menjadi pengontrol dan pembimbing hidup yang paling efektif, sebagimana disebut-kan al-Qur’an : Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal salih, bahwa bagi mereka ada ganjaran besar. (al-Isra’ : 9) Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami telah menjelaskannya ilmu pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (al-A’raf : 52) Penghafalan al-Qur’an adalah mutlak dan senantiasa harus diutamakan dari segala bentuk pengetahuan pada pendidikan tingkat dasar ini. Begitu pelajar dapat membaca alQur’an maka mereka harus diwajibkan menghafalnya semaksimal kemampuannya tanpa dapat ditawar-tawar. Ini dimaksudkan agar al-Qur’an benar-benar menjadi fondasi utama pembentukan manusia unggul sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dan

agar benar-benar menjadi bagian dari kehidupan mereka sampai dewasa kelak. Al-Qur’an bagi seorang Muslim bukan seperti pengetahuan biasa yang dapat diajarkan atau tidak, tetapi ia adalah sumber dan induk dari segala pengetahuan yang diturunkan Sang Pencipta alam kepada manusia dengan segala kemuk-jizatan dan perbendaharaan Ilahiyah yang turun bersamanya. Tidak ada satu kitabpun di muka bumi ini yang akan dapat menyamainya, baik dari segi kandungan ataupun susunan kata-katanya yang telah menaklukkan para penyair agung. Dengan masuknya al-Qur’an beserta semangat Ketuhanan yang menyertainya pada para pelajar, maka ia akan membimbing mereka menuju puncak kecemerlangan dan keagungan, baik intelektual mapun spiritual sebagimana telah dibuktikan para generasi Islam terdahulu.98 Musuh-musuh Islam mengerti benar akan perkara ini sehingga mereka telah berusaha dengan segala daya kemam-puan untuk memisahkan al-Qur’an dari generasi Islam. Sehubungan dengan ini, Dr. Abdullah Nashih Ulwan ketika menukilkan rencana menghancurkan Islam dan ummatnya : Kedua: Menghancurkan dan Menghapus al-Qur’an Hal ini dilakukan karena ajaran salib beranggapan bahwa al-Qur’an adalah sumber pokok kekuatan orang-orang Islam, sumber mereka untuk kejaya-an, kekuatan dan kemajuannya yang telah lalu. 1. Gladstone, yang menjabat perdana menteri Inggris selama empat kali (1864-1894) dalam majelis umum (the House of Commons) Ingg-ris, sambil mengangkat al-Qur’an, berkata : “Selama al-Qur’an ini berada di tangan orang-orang Islam, maka Eropa sama sekali tidak akan dapat menguasai Dunia Timur. Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam”. 2. Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata :”Jika al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Makkah dapat diputuskan hubu-ngannya dari negaranegara Arab,maka sangat memungkinkan bagi kita untuk meli-hat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.” 3. Seorang missionaris lain, Catly, berkata: “Kita harus menggunakan alQur’an sebagai senjata yang paling ampuh dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita dapat menghancurkannya. Kita harus menerapkan kepada kaum Muslimin bahwa yang benar dalam al-Qur’an bukanlah baru, dan yang baru bukanlah benar.” 4. Seorang penguasa kolonial Prancis di Alja-zair, dalam peringatan berlalunya seratus tahun kedudukannya, berkata :”Kita harus melenyapkan al-Qur’an yang berbahasa Arab itu dari kehidupan mereka, dan melenyapkan bahasa Arab dari lidah mereka agar kita dapat berkuasa penuh”.99
98 99

Lebih detil lihat : Hilmy Bakar Almascaty, Generasi Penyelamat Ummah, (Kuala Lumpur: Berita Publ, 1995) khususnya bab 2. Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al-Aulad, jil. 2 hlm.206-207.

Maka dengan demikian tidak diragukan lagi maha pentingnya penanaman alQur’an kepada generasi muda Islam sedini mungkin, sebelum jiwa dan pemikiran mereka dirusak berbagai propaganda sesat yang dilakukan syaithan dengan para pengikut setianya. Ketika anak sudah menyelesaikan pendidikan dasarnya, mereka dapat diibaratkan sebagai bibit-bibit unggul al-Qur’an berjalan di muka bumi yang menghafal al-Qur’an, memahaminya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupnya. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan tingkat dasar ini difokuskan sepenuhnya untuk penghafalan al-Qur’an beserta cabang pengetahuannya dan adapun pengetahuan-pengeta-huan lainnya adalah pengetahuan penunjang dan tambahan. Al-Qur’an harus menjadi pengetahuan yang pertama diajar-kan sehingga menjadi pengetahuan pertama yang akan mem-pengaruhi perkembangan jiwa dan pemikiran anak. Al-Qur’an dengan mukjizat Ilahiyahnya akan menjadi penyaring dan penetral semua pengetahuan yang diterima para pelajar sehingga mereka terhindar dari kesesatan yang akan membawa mereka kepada kerusakan dan kehancuran. Kegagalan pengajaran al-Qur’an pada pendidikan tingkat tinggi sebagaimana dialami kaum Muslimin tidak lain disebabkan oleh pengajarannya yang terlambat kepada para pelajar, yaitu setelah para pelajar mendapat pengetahuan-pengetahuan duniawi yang tidak steril dari pengaruh pemikiran sesat yang akan menghambat masuknya semangat alQur’an. Itulah sebabnya, ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengajarkan alQur’an kepada para pengikutnya, sebelumnya mereka disucikan/dibersihkan dari segala bentuk kejahiliyahan terlebih dahulu sebagaimana diterangkan ayat terdahulu. Pemikiran inilah yang melandasi bahwa al-Qur’an harus diajarkan sedini mungkin, yaitu ketika para pelajar masih bersih dari kejahiliyahan. Itulah sebabnya, pendidikan Islam ideal mesti memiliki kurikulum yang berbeda dengan pendidikan Islam konven-sional sekuler ataupun tradisional Islam yang diterapkan sebagian besar kaum Muslimin saat. Karena sistem pendidi-kan ini pada hakikatnya secara langsung atau tidak dirancang dan didirikan oleh para kolonialis Barat dengan tujuan yang jelas agar kaum Muslimin tetap dalam keterbela-kangan dan kemunduran sehingga tetap menjadi budak-budak setia Barat. Sementara pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia unggul yang akan mem-bebaskan dunia dari segala bentuk kejahiliyahan dan menegakkan keadilan ajaran Islam yang menjadikan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan tindakannya. 2. Pendidikan Tingkat Menengah Pendidikan tingkat menengah adalah kelanjutan dari pendidikan tingkat dasar yang telah diberikan terdahulu. Setelah para pelajar menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dengan kurikulum yang diajarkan, maka akan kelihatan bakat, kemampuan serta minatnya masing-masing sebagai konsekwensi logis pendidikan yang diberikan kepadanya. Karena sistem pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk tersempurna yang dijadikan Allah dan memiliki keistimewaan tertentu yang terpendam dalam dirinya. Tugas pendidikan Islam dengan pengajaran utamanya yang bersumberkan wahyu Allah akan memastikan potensi terpendam itu tampil ke permukaan sehingga dapat menga-rahkannya

bakat dan kemampuannya secara maksimal sehingga menjadi manusia terunggul dalam tingkatannya. Pencarian potensi terpendam melalui pendidikan Ilahiyah inilah yang tidak dimiliki sistem pendidikan manusiawi sehingga menyamaratakan pendidikan para pelajar yang akhirnya berakibat fatal, dengan lahirnya para lulusan yang tidak berminat atau tidak berbakat pada bidangnya sehingga menghabiskan waktunya dengan pekerjaan sia-sia dan memubazirkan pengetahuan yang telah dipelajarinya bertahun-tahun karena tidak dimanfaatkannya dalam kehi-dupannya sebagaimana yang banyak menimpa para lulusan pendidikan manusiawi masa kini. Itulah pentingnya penanaman al-Qur’an sedini mungkin agar jiwa dan fikiran para pelajar didominasi wahyu bukannya hawa nafsu. Jika wahyu sudah tertanam pada seorang pelajar dan menjadi bagian dari kehidupannya mereka akan menjadi manusia yang mudah dididik dan dikembangkan potensi dirinya secara maksimal sehingga mampu menjadi manusia unggul sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Rasulullah, para shahabat dan cendikiawan Muslim terdahulu. Tidak seperti para pelajar yang sudah tercemar oleh pengaruh buruk pendidikan sekuler yang telah menjadikan para pelajar sebagai manusiamanusia yang susah dididik, sukar dikembangkan potensinya, kehilangan jati diri bahkan lebih mementingkan kenikmatan duniawi sehingga mendorong mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan, penyelewengan bahkan melakukan tindak kriminal yang mengganggu ketertiban umum, bahkan sanggup saling membunuh akibat perkara sepele. Semua ini terjadi karena jiwa dan fikirannya telah dikuasai oleh hawa nafsu jahat sehingga kehidupannya mudah dikontrol oleh syaithan yang senantiasa menyesatkan manusia. Jika sudah demikian keadaannya, maka berapa kerugian yang diderita sebuah bangsa akibat salah mendidik generasi mudanya. Pada tingkatan menengah ini, yang memakan waktu antara 5-7 tahun lebih merupakan seleksi awal untuk mengetahui spesialisasi yang akan diberikan kepada para pelajar. Para pelajar yang sudah dididik dan dibiasakan dengan semangat al-Qur’an dengan mukjizat Ilahiyah yang terkandung di dalamnya akan menjadikan mereka sebagai bibitbibit unggul pilihan yang akan disemai sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Dengan dasar-dasar pengetahuan fardhu ain dan fardhu kifayah yang dikuasainya, para pelajar perlu diberikan pelajaran-pelajaran yang lebih spesifik yang bersifat pengembangan dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Tingkat menengah dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu menengah pertama (tsanawiyah) dan menengah atas (aliyah) atau menjadi satu tingkatan saja seperti yang diterapkan pondok pesantren di Indonesia. Pendidikan tingkat menengah ini akan sangat efektif jika diterapkan sistem berasrama kepada semua pelajar, disamping untuk memaksimalkan kebarhasilan pendidikan juga sangat efektif untuk menjaga pergaulan para pelajar agar dapat terhindar dari perkara-perkara buruk dunia modern yang penuh dengan seruan kemaksiatan dan penyelewengan. Karena pada usia seperti ini mereka akan memasuki masa puber yang sangat sensitif dengan perkara-perkara baru. Jangan sampai materi pendidikan yang telah diberikan hilang begitu saja akibat masuknya pemikiran-pemikiran sesat yang akan menyesatkannya, terutama jangan sampai menghilangkan amalan-amalan ibadah mereka yang merupakan proses pendidikan kerohanian yang berkelanjutan. Rasulullah ketika mendidik para shahabat sangat ketat memelihara jiwa, pemikiran dan pergaulan mereka

agar jangan tercemar kejahiliyahan. Apalagi zaman ini yang penuh dengan berbagai bentuk kejahiliyahan yang akan mengurangi keberhasilan pendidikan Ilahiyah yang menghendaki penyucian jiwa dan fikiran terus menerus agar wahyu dapat menjadi bagian kehidupan. Karena sesuatu yang suci dan agung seperti wahyu hanya dapat berada pada jiwa-jiwa yang suci dan agung pula. Itulah sebabnya para cendikiawan Muslim terdahulu sangat menjaga diri mereka dari perkara-perkara jahiliyah yang dapat merusak jiwa dan pemikiran mereka agar wahyu menjadi bagian kehidupan mereka dengan mudah dan dapat mengantarkan mereka menuju kesempurnaan hidup. Demikian pula pada masa pendidikan ini idealnya pendidikan laki-laki dengan perempuan dipisahkan agar masing-masing dapat berkembang menurut kodrat penciptaannya masing-masing sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Islam tidak sepenuhnya menerima konsep pendidikan campuran antara laki-laki dengan perempuan sebagaimana yang diterapkan pendidikan sekuler Barat yang memberikan mereka pelajaran yang sama. Karena pendidikan ini banyak mudharatnya dari manfaatnya. Akibat paling minimal adalah pendidikan campuran ini akan membiasakan pergaulan bebas antara lakilaki dengan perempuan yang akhirnya akan memudahkan mereka melakukan perkaraperkara buruk yang dilarang agama. Tidak diragukan pendidikan ini telah mendorong timbulnya seks bebas dikalangan muda mudi sebagimana yang terjadi di Barat yang memang membolehkannya dan telah mulai menjadi mode di kalangan generasi muda Muslim. Untuk menjaga perkara-perkara buruk ini Islam berusaha mencegahnya dari awal, misalnya laki-laki dan wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan, dilarang bersentuhan kulit, dilarang berduaan dan dilarang mendekati perkara-perkara yang akan mengakibatkan timbulnya perzinaan. Demikian pula dengan beberapa mata pelajaran yang mungkin kurang tepat diberikan secara bersamaan karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fungsi dan tugas masing-masing. Pemisahan pendidikan antara lakilaki dengan perempun akan memberikan beberapa keutamaan, diantara-nya terhindarnya para pelajar dari pergaulan bebas dan dapat memaksimalkan pendidikan yang diberikan. Di tingkat menengah pertama (tsanawiyah) yang umumnya memakan waktu 3-4 tahun, dengan beberapa pelajaran fardhu ain dan fardhu kifayah yang diberikan untuk melengkapi pelajaran yang diberikan di tingkat dasar, diharapkan para pelajar sudah dapat diketahui bakat dan minatnya masing-masing. Lembaga pendidikan dan orang tua tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada para pelajar untuk mengambil jurusan tertentu yang bertentangan dengan bakat dan minat pelajar. Karena dalam kehidupan ini tidak semua orang diciptakan untuk menjadi ulama, ekonom, politisi, pegawai, pekerja ataupun buruh. Namun Allah sebagai Pencipta manusia telah memberikan kelebihan pada masingmasing orang dengan kadarnya, ada yang berbakat jadi ulama, jadi ekonom, politisi ataupun buruh kasar. Pemaksaan terhadap bakat dan minat akan menjadikan para pelajar frustasi dan tidak bergairah terhadap pelajaran. Hal seperti ini perlu diperhatikan untuk mensukseskan program pendidikan. Pengetahuan-pengartahun fardhu ain yang diberikan pada tingkat dasar harus dikembangkan, terutama pemamahan terhadap al-Qur’an yang merupakan pelajaran utama agar para pelajar yang sudah menghafalnya dapat menangkap maksudnya kemudian mengamalkannya dalam kehidupan. Pemahaman dan pengamalan yang benar terhadap al-Qur’an akan menghantarkan para pelajar menjadi manusia-manusia

yang mengenal bakat terpendam-nya dan sekaligus akan menumbuhkan minatnya padanya. Bagi para pelajar yang memiliki kadar intelegensia menengah dan rendah diarahkan pada dasar-dasar pengeta-huan kejuruan praktis, seperti perdagangan, pertanian, peternakan, industri kecil, teknologi tepat guna dan sejenisnya sebagai ilmu fardhu kifayah. Dengan dasar pengetahuan keislaman yang dimilikinya kelak mereka diharapkan sebagai seorang petani, pedagang ataupun pengusaha Muslim yang sukses. Lembaga pendidikan Islam harus menyiapkan pendidikan kejuruan dengan pengelolaan sederhana yang lebih mengutamakan praktek daripada teori. Bagi yang memiliki kadar intelegensia tinggi harus diperhatikan dan diberikan pendidikan yang lebih khusus dan intensif. Jangan sampai kelebihannya tersia-sia akibat sistem pendidikan yang salah. Karena mereka kelak diharapkan menjadi pemimpinpemimpin ummah sesuai kemampuannya masing-masing. Mereka harus diberi perhatian dan dipacu menurut minat dan bakatnya. Bagi yang berbakat dan berminat menjadi ulama ataupun spesialis di bidang agama, porsi pelajaran ilmu agama lebih diperbanyak, terutama ilmu-ilmu alat yang akan menghan-tarkan mereka menjadi ahli dalam bidang spesialisnya, seperti baik pengetahuan dasar pengetahuan keislaman ataupun bahasa Arab dan lainnya. Disamping itu mereka harus tetap diberikan pengetahuan-pengetahuan umum yang akan menopang keahliannya kelak. Demikian pula bagi yang berminat pada pengetahuan umum, diberikan kebebasan dan bimbingan agar berkembang kemampuannya secara maksimal, porsi pengetahuan umum yang diminatinya dapat lebih diperdalam dengan khusus dan lebih intensif. Diharapkan setelah mengakhiri tingkat menengah pertama ini para pelajar sudah mengetahui dengan pasti bakatnya masing-masing, tinggal diarahkan dan lebih dispesialisasikan lagi. Pada tingkat menengah atas (aliyah) yang memakan waktu antara 2 sampai 3 tahun, penjurusan para pelajar lebih terarah dan khusus. Dengan dasar-dasar pengetahuan yang diberikan sebelumnya baik yang fardhu ain ataupun fardhu kifayah para pelajar diberikan kebebasan untuk memilih jurusan sesuai dengan bakat dan minatnya. Bagi yang berminat memperdalam pengetahuan eksak ataupun pengetahuan humaniora/sosial dan pengetahuan keislaman dapat lebih menghususkan diri dengan minat dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian di tingkat menengah atas ini ada 3 jurusan yang dibagi menjadi beberapa sub jurusan, yaitu jurusan eksak dengan beberapa sub jurusan seperti fisika, kimia, biologi, matematika dan lainnya, jurusan sosial dengan beberapa sub jurusan dan jurusan keislaman dengan beberapa sub jurusan yang dirancang menurut perkembangan pengetahuan tersebut. Masing-masing jurusan memiliki mata pelajaran fardhu ain yang sama, diantaranya seperti al-Qur’an-tafsir/ilmu tafsir, al-Hadits-ilmu Hadits, aqidahkalam, akhlak, Ibadah-fiqh/ushul fiqh, sejarah Islam, bahasa Arab, dan beberapa pengetahuan dasar penunjang lainnya seperti matematika, bahasa nasional, bahasa Inggris dan lainnya.Yang membedakan masing-masing jurusan adalah mata pelajaran spesialisasinya (fardhu kifayah). Misalnya jurusan eksak sub jurusan biologi. Para pelajar sub jurusan ini disamping mempelajari pengetahuan biologi secara mendalam dengan beberapa pengetahuan penunjangnya, namun diajarkan mata pelajaran fardhu ain sama dengan jurusan keislaman sub jurusan ilmu tafsir misalnya. Jadi pelajar jurusan biologi dan jurusan

ilmu tafsir sama tingkat pelajaran pengetahuan fardhu kifayahnya, pengetahuan al-Qur’an mereka sama, pengetahuan bahasa Arab mereka sama, pengetahuan aqidah akhlak mereka sama dan lainnya, namun yang membedakan adalah pengetahuan fardhu kifayah mereka sebagai spesialisasi. Para pelajar yang mengambil jurusan biologi ahli dalam ilmu biologi beserta cabang-cabangnya sementara jurusan ilmu tafsir ahli dalam bidang tafsir dan cabang-cabangnya. Mungkin ada yang berpendapat penjurusan ini terlalu dini dengan mengambil perbandingan sistem pendidikan masa kini yang memulai penjurusan pada tingkat tinggi. Penjurusan yang dimaksudkan di sini adalah penjurusan yang lebih spesifik agar para pelajar lebih maksimal dalam menguasai bidang pengetahuannya. Kerena terbukti sistem pendidikan modern telah banyak mengajarkan pengetahuan yang terlalu umum sehingga kurang mendatangkan manfaat bagi para pelajar dalam mengembangkan pengetahuannya. Untuk menciptakan manusia unggul, sebagai tujuan utama pendidikan Islam, mereka harus diarahkan dan didorong untuk mengetahui hakikat dirinya terlebih dahulu, termasuk bakat dan minatnya. Setelah mereka mengetahui bakat dan minatnya, wahyu yang diajarkan pada sistem pendidikan Islam akan mendorong mereka secara maksimal untuk mencapai kesempurnaan dalam bakatnya sehingga mereka menjadi yang terbaik dan terunggul. Sistem pendidikan modern yang terlalu umum telah melahirkan para lulusan yang bingung karena tidak mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan. Ini akibat dari terlambatnya mereka mengetahui bakat dan minatnya, sehingga mengambil jurusan semaunya, yang akhirnya membingungkan mereka sendiri. Apalagi pengetahuan yang diberikan hampir semuanya pengetahuan yang sangat umum sehingga banyak lulusannya yang mengambil profesi yang lain dengan pendidikan yang diperolehnya. Walaupun mereka mungkin berhasil dalam karir, namun pasti mengalami kekurangan akibat tidak mempelajari dasar-dasar profesi yang diminatinya secara serius akibat kesalahan sistem pendidikan. Berapa banyak lulusan jurusan pendidikan namun menjadi seorang usahawan yang berhasil, jika mereka mengambil jurusan ekonomi sebelumnya, maka tentu mereka akan semakin berhasil. Jadi penjurusan pengetahuan dari awal ini dimaksud-kan agar para pelajar yang memiliki minat pada pengetahuan tertentu dapat sedini mungkin diberikan dasar-dasar pengetahuan yang akan mendukung minat dan bakatnya serta agar tidak diberikan pengetahuan yang tidak diminati-nya. Ketika mereka memasuki perguuruan tinggi kelak, mereka sudah siap dengan dasar-dasar pengetahuan yang diminatinya. Dan ini akan memaksimalkan pengetahuan yang akan diberikan kepada para pelajar. Karena Islam sendiri memberikan kebebasan kepada pengikutnya untuk menguasai pengetahuan sebanyak yang mereka mampu memperolehnya. 3. Pendidikan Tingkat Tinggi Konsep ideal tentang pendidikan Islam tingkat tinggi, baik berupa akademi ataupun universitas telah banyak dikemukakan para cendikiawan Muslim kontemporer. Di antara beberapa konsep pendidikan tinggi Islam tersebut yang dapat menjadi jembatan bagi kelanjutan pendidikan yang diterapkan terdahulu adalah konsep pendidikan tinggi Islam yang dikemukakan oleh Prof. Syed M. Naquib al-Attas, pendiri dan direktur International

Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia. Karena konsep pendidikan yang beliau kemukakan bertujuan untuk menciptakan manusia-manusia unggul sebagaimana para cendikiawan Islam terdahulu yang menguasai Islam sekaligus bidang spesialisasinya dengan baik. Disamping lembaga ini memiliki dasar filosofis yang sangat cemerlang dan terpadu yang akan mampu melahirkan para cendikiawan yang mengausai pengetahuaan fardhu ain dan fardhu kifayah sebagimana dikemukakan terdahulu.100 Pada pendidikan tingkat tinggi ini pemahaman pengetahuan fardhu ain dan fardu kifayah berkembang sesuai dengan spesialisasi pengetahuan yang akan dipelajari para pelajar. Namun pengetahuan fardhu ain yang diberikan kepada seluruh fakultas adalah sama, karena konsep pendidikan tinggi Islam ataupun Universitas tidak mengenal pemisahan pengetahuan sebagaimana pendidikan sekuler. Pengetahuan fardhu ain adalah pengetahuan fundamental yang wajib dikuasai para mahasiswa agar mereka menjadi seorang Muslim yang baik dan dapat menjadikan Islam sebagai dasar pengembangan pengetahuannya. Pengetahuan fardhu ain berkembang menurut keperluan spiritual para pelajar yang semakin meningkat. Demikian pula halnya dengan pengetahuan fardhu kifayah akan berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan yang semakin kompleks. Penyusunan pengetahuan modern seperti yang dilakukan para cendikiawan Muslim yang menganjurkan “Islamisasi Pengetahuan” sangat diperlukan, terutama untuk memberi-kan dasar-dasar pengetahuan kepada para pelajar yang berminat pada salah satu bidang pengetahuan. Diharapkan dengan sistem pendidikan ini akan melahirkan para lulusan yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam serta menguasai peradaban modern, baik pengetahuan ataupun teknologinya. Spesialialisasi pengetahuan, khususnya pengetahuan fardhu kifayah yang dikembangkan Barat saat ini dengan segala cabang pengetahuannya mungkin dapat dijadikan sebagi rujukan dalam mengembangkan spesialisasi sistem pendidikan Islam. Demikian pula tidak ada halangan untuk para pelajar Islam mengambil pengetahuan dari mereka asalkan para pelajar sudah memahami pengetahuan fardhu ain yang merupakan pengetahuan fundamental yang wajib dikuasai sebelum mengambil pengetahuan dari Barat. Perkara ini sangat penting agar para pelajar tidak tersekulerkan dan sekaligus dapat menjadi penyaring unsur-unsur sekuler pengetahuan tersebut. Dan dikembangkan menurut ajaran Islam. Itulah sebabnya Fazlur Rahman, sebagaimana dikemukakan terdahulu, menganjurkan agar Islaamisasi pengetahuan modern dilakukan oleh mereka yang benar-benar menguasai dan memahami Islam. Dengan sistem pendidikan yang dikemukakan ini diharapkan akan lahir para cendikiawan yang mampu menjadi penyambung mata rantai antara ajaran Islam dengan pengetahuan modern yang akan membangkitkan peradaban Islam. Dengan sistem pendidikan terpadu dari tingkat dasar sehingga tingkat tinggi ini, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi Muslim yang memiliki pemahaman tentang Islam sebagai pembimbing hidup dan fundamen pengetahuan mereka sekaligus menguasai disiplin pengetahuan dalam spesialisasinya. Setelah dididik selama 15 sampai 20 tahun dari
100

Lihat : Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon on The Creast of a Hill. A Brief History and Philosophy of The International Institute of Islamic Thought and Civilization, ( Kuala Lumpur : ISTAC, 1991)

tingkat dasar sampai pendidikan tinggi, kelak diharapkan akan lahir para dokter, ekonom, pakar fisika, sosiolog, teknolog ataupun ahli fiqh, ahli tafsir yang sama-sama menghafal alQur’an, menguasai bahasa Arab, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya sebagimana yang telah dicon-tohkan para cendikiawan Islam terdahulu. Seperti Ibnu Rusy misalnya, beliau adalah seorang ahli kedokteraan, ahli filsafat namun pada saat yang sama menguasai ajaran Islam sehingga dikatakan sebagai ahli fiqh. Dengan diterapkannya sistem pendidikan Islam ini tidak akan ada lagi pembedaan diantara pengetahuan satu dengan pengetahuan yang lain, karena pada hakikatnya semua pengetahuan bersumber dari Allah Sang Pencipta alam raya. Untuk mewujudkan pendidikan Islam seperti yang dikemukakan, diperlukan sebuah reformasi total dalam sistem pendidikan kaum Muslimin dewasa ini. Karena pada saat ini sistem pendidikan sekuler ataupun tradisional Islam sangat dominan dan cendrung ingin mempertahankan posisinya masing-masing. Kegagalan penggabungan keduanya telah menimbulkan rasa curiga kedua belah fihak yang berbeda ini. Itulah sebabnya sistem pendidikan Islam masa depan harus sepenuhnya mengacu pada sistem pendidikan Rasulullah yang berlandaskan wahyu dan menjadikannya sebagi amalan hidup keseharian. Namun bagaimanapun, kaum Muslimin wajib memulai langkah-langkah strategis untuk mengem-bangkan sistem pendidikan Islam masa depan. Karena kunci kebangkitan Islam yang dilaungkan selama ini terdapat pada pendidikan. Selama sistem pendidikan generasi Islam tidak dikembangkan sebagaimana yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya maka kebangkitan tetap akan menjagi angan-angan dan slogan kosong belaka. Langkah strategis ini harus dimulai dengan membangun lembaga pendidikan yang menerapkan secara total kurikulum pendidikan Islam agar menjadi alternatif kepada pendidikan yang ada dan sedang dikembangkan kaum Muslimin saat ini. Dengan berjalannya waktu, Insya Allah berkat ketekunan dan keyakinan para pengelola pendidikan serta berkat bantuan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, di masa depan sistem pendidikan ini akan menjadi alternatif, khususnya bagi mereka yang senantiasa ingin menuju kebenaran sejati.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->