P. 1
Pembaruan Islam Pasca Reformasi

Pembaruan Islam Pasca Reformasi

4.75

|Views: 3,106|Likes:

More info:

Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Feb 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

PEMBARUAN

ISLAM
PASCA REFORMASI DI INDONESIA
Hilmy Bakar Almascaty

Pendahuluan & Latar Belakang Gerakan reformasi di Indonesia yang telah menggulingkan rezim militer Soeharto akan memberikan dampak terhadap pembaruan Islam di masa depan. Reformasi sendiri diartikan sebagai upaya untuk menyusun kembali tatanan yang telah diselewengkan oleh rezim penguasa demi mempertahankan kekuasaannya. Dengan demikian, maka reformasi bagi kaum muslimin yang mayoritas di Indonesia dapat berarti menyusun kembali kerangka pemikiran Islam terkini yang lebih sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Karena tuntutan di masa Orde Lama adalah berbeda dengan tuntutan di masa Orde Baru, yang artinya berbeda pula dengan tuntutan pasca reformasi. Pemikiran para pemimpin Islam masa Orde Lama mungkin relevan pada zamannya, namun ternyata tidak relevan dengan kondisi yang dihadapi pada zaman Orde Baru sehingga tampil para pembaru Islam yang mengkoreksi pemikiran para pendahulunya sekaligus mengembangkan sebuah kerangka pembaruan Islam di Indonesia. Maka tidak diragukan lagi di masa reformasi ini dibutuhkan kerangka pemikiran baru yang akan menjadi fondamen membangun masyarakat Indonesia Baru. Reformasi yang mengantarkan Habibie, seorang demokrat Muslim, menjadi presiden telah membuka jalan baru bagi bangsa Indonesia menuju zaman baru, terutama kaum muslimin yang menjadi kelompok mayoritas. Keterbukaan dan kebebasan yang diberikan oleh pemerintahan transisi Habibie telah memberikan kesempatan bahkan merangsang tumbuhnya pemikiran-pemikiran yang selama ini di tekan rezim Orde Baru dengan alasan pembangunan dan stabilitas nasional. Bibit kebebasan yang telah disemai Habibie telah menumbuhsuburkan kembali gerakangerakan pembaruan yang mengambil bentuknya sendiri sejak 32 tahun lalu. Bersamaan dengan itu berdiri partai-partai Islam yang menghubungkan diri dengan partai Islam terdahulu, seperti Partai Bulan Bintang yang menghubungkan diri dengan Masyumi misalnya. Kebebasan dan keterbukaan telah menghasilan demokratisasi yang mebuahkan pemilihan umum yang jujur dan adil. Hal ini pulalah yang telah mengantarkan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) sebagai partai yang memperoleh suara terbesar (34 %), namun gagal menempatkan Megawati sebagai Presiden. Diplomasi politik para pemimpin Islam seperti Amien Rais dengan Poros Tengahnya akhirnya mampu membendung ambisi kalangan nasionalis sekuler dan akhirnya mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Seorang yang diklassifikasikan sebagai tokoh pembaru Islam di Indonesia yang beraliran neo-Modernis seperti dinyatakan Greg Barton dalam desertasinya The Emergence of Neo-Modernism: A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought in Indonesia.

Perdebatan dalam persidangan MPR/DPR pasca reformasi akan mengingatkan orang pada perdebatan Konstituante di zaman Orde Lama, di mana hal seperti ini tidak pernah terjadi pada Orde Baru. Demikian pula materi perdebatan disekitar tuntutan pembentukan masyarakat Indonesia baru yang berdasarkan Islam sebagaimana diserukan fraksi PPP dan PBB. Atau rencana perubahan bentuk negara kesatuan menjadi negara federal, bahkan lebih jauh dasar negara Pancasila yang selama ini disakralkan kini dituding sebagi penyebab disintegrasi bangsa akibat kekaburan pengertiannya. Dan Indonesia benar-benar sedang mengalami perubahan demi perubahan menuju Indonesia Baru yang belum jelas bentuknya seperti apa. Maka sebagai kelompok mayoritas di negeri ini, kaum muslimin harus tampil ke depan memberikan konsep pemikiran tentang Indonesia baru sesuai dengan ajaran agamanya. Disinilah diperlukan tampilnya para pembaru Islam yang akan mengoreksi pemikiran pendahulunya dan sekaligus mengembangkan pemikiran baru yang sesuai dengan tuntutan reformasi. Tulisan ini terutama tidak bertujuan untuk mengemukakan paradigma pembaruan Islam secara mendetil, namun sebatas analisa awal yang mengemukakan pentingnya sebuah pengembangan paradigma baru pasca reformasi berdasarkan beberapa fakta yang ditemukan. Terutama analisa terhadap paradigma pemikiran yang berkembang selama pemerintahan rezim Orde Baru yang telah melahirkan beberapa bentuk gerakan pembaruan Islam, baik yang berhaluan modernis ataupun fundamentalis. Dengan adanya analisa awal ini diharapkan tampilnya para cendekiawan yang akan mengembangkan sebuah paradigma baru dalam pembaruan Islam di Indonesia yang bercita-cita untuk mengantarkan menuju Indonesia baru. Namun paradigma yang dikembangkan diharapkan bukan sebuah duplikat dari paradigma pemikiran sebelumnya. Memahami Makna Pembaruan Islam Kata pembaruan Islam seringkali menimbulkan kontraversi dan kesalahfahaman, khususnya di kalangan kaum tradisionalis dan konservatif yang ingin mempertahankan pemahaman dan penafsiran generasi Islam terdahulu, terutama mereka yang telah memutlakkan kebenaran dari pemikiran para generasi Islam terdahulu dan telah menutup pintu ijtihad kepada generasi sesudahnya. Karena menurut mereka pembaruan berarti meninggalkan segala khazanah pemikiran klasik Islam yang kaya raya dan kembali hanya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah saja sebagaimana diserukan kalangan modernis Islam. Namun makna pembaruan tidak selamanya tepat jika hanya diartikan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah ansich, karena realitasnya mereka yang menyerukan pembaruan juga menggunakan khazanah pemikiran Islam klasik terdahulu, seperti pemikiran Ibn. Thaimiyah, Ibn. Qayyim, Abd. Wahhab maupun Abduh dan lainya. Fazlur Rahman telah membagi pembaruan Islam menjadi beberapa priode, diawali dengan priode revivalisme pramodernis, modernisme klasik, neo-revivalisme dan neomodernisme. Gerakan revivalisme pramodernis berakan pada seruan pembaruan yang

dianjurkan Muhammad bin Abdul Wahhab yang muncul pada abad 18 dan 19 yang menyerukan agar kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Gerakan modernisme klasik adalah kelanjutan dari gerakan terdahulu yang lebih memfokuskan pada pengembangan konsep ijtihad dan keinginan untuk mengadopsi peradaban Barat. Diantara tokohnya adalah Jamaluddin al-Afghany dan Muhammad Abduh. Dan selanjutnya gerakan ini melahirkan tokoh-tokoh Islam modernis yang berinteraksi dengan peradaban Barat, diantaranya seperti Ahmad Khan di India, Namik Kamal di Turki, HOS Cokroaminoto dan KH. Ahmad Dahlan di Indonesia dan lainnya. Gerakan neo-revivalisme yang mengkoreksi pemikiran sebelumnya dengan lebih menekankan pemikiran pada konsep ketotalan Islam sebagai sistem hidup dan berkeinginan keras mengaplikasikan Islam dalam sistem kenegaraan dan kemasyarakatan. Gerakan ini muncul pada pertengahan abad 20, diantara tokohnya seperti Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb di Mesir, Maududi di Pakistan dan di Indonesia dapat disebut seperti Kartoseowirjo. Biasanya kelompok ini dikenal pula dengan fundamentalisme Islam. Sedangkan neo-modernisme diidentikkan dengan gerakan pembaruan pemikiran yang dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman terhadap sumber-sumber klasik Islam namun mampu berinteraksi dengan kemodernan dan mengembangkan sebuah model pemikiran Islam yang memiliki ciri khas tersendiri. Diantara tokohnya adalah Fazlur Rahman dan di Indonesia gerakan ini dimotori oleh Nurcholish Madjid. Sebagai kelanjutan gerakan fundamentalisme Islam, telah muncul pula gerakan neofundamentalisme Islam, sebuah pemikiran yang mewarisi pemikiran fundamentalisme sekaligus mengkoreksinya, mereka dapat beradaptasi terhadap kemodernan, namun tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam yang dianggapnya universal dan akan senantiasa mampu menjawab tantangan zaman. Pembaruan, terjemahan dari bahasa Arab tajdid biasanya diartikan sebagai upaya-upaya serius para generasi terbaik Islam dalam menegakkan kembali ajaran Islam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Ini bukan berarti ajaran-ajaran Islam tidak dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga perlu diperbarui, karena Islam sendiri adalah agama terakhir yang memiliki kesempurnaan ajaran dan tidak memerlukan penambahan-penambahan ajarannya apalagi dicampuradukkan dengan berbagai bentuk ajaran-ajaran duniawi sehingga menjadi ajaran baru yang berlainan dengan ajarannya semula. Pembaruan yang dimaksud adalah lebih ditujukan kepada penegakan kembali ajaran-ajaran Islam yang telah ditinggalkan kaum Muslimin ataupun mengembangkan pemahaman baru yang belum ditetapkan dalam ajaran Islam namun dengan tetap berpegang teguh pada sumber-sumber utama Islam seperti alQur’an dan sunnah Rasul. Maka dengan demikian pembaruan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat diragukan pentingnya dari masa ke masa, terutama dalam mengangkat martabat kaum Muslimin. Para pembaru (mujaddid) sendiri berpendapat bahwa kemunduran kaum Muslimin disebabkan karena mereka telah meninggalkan ajaran agamanya ataupun telah menyelewengkannya, sehingga perlu diperbarui agar kembali pada ajaran sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Ajaran-ajaran agung Islam dengan segala maksud dan tujuannya hanya difahami dengan tepat oleh Rasulullah saw dan para shabatnya, karena kepada merekalah wahyu Allah diturunkan langsung dengan adanya sebab atau tidak. Dengan pemahaman yang tepat inilah mereka kemudian berhasil membangun sebuah masyarakat utama sebagaimana dikehendaki Islam dengan peradabannya sehingga mereka dijuluki Allah sebagai umat terbaik (khairo ummah). Namun berbeda dengan generasi sesudahnya, karena mereka memahami ajaran Islam yang telah mengalami penafsiran demi penafsiran generasi sebelumnya yang tidak terlepas dari kondisi sosialpolitik masyarakat yang dinamis dan bergolak. Sejarah menyatakan bahwa generasi Islam pasca Khalifah terakhir, Ali bin Abi Thalib ra, telah mengalami konflik demi konflik yang akhirnya mempengaruhi penafsiran mereka terhadap ajaran Islam. Dimana penafsiran generasi terdahulu belum tentu sesuai untuk generasi sesudahnya yang telah mengalami perubahan dan perkembangan. Hal inilah yang menuntut tampilnya generasi terbaik Islam menegakkan kembali atau memberikan penafsiranpenafsiran baru terhadap ajaran Islam agar dengannya dapat dibangun masyarakat utama sebagaimana dicita-citakan Islam. Keuniversalan ajaran Islam sendiri menuntut adanya upaya-upaya serius para cendekianya dalam membumikan ajaran-ajaran Islam yang diturunkan kepada seluruh umat manusia hingga hari qiyamat kelak. Karena tanpa adanya pemahaman dan penafsiran kembali ajaran Islam yang universal oleh generasi terbaik pada zamannya, maka ajaran Islam akan menjadi ajaran yang jumud dan beku, terutama jika penafsiran generasi masa lalu dijadikan sebagai referensi mutlak tanpa adanya penafsiran kembali sesuai dengan perkembangan masyarakat yang semakin berpengetahuan dan berperadaban. Karena dinamika perjalanan sejarah umat manusia tidak terlepas dari perkembangan pengetahuan yang dimilikinya dan senantiasa menuntut penafsiranpenafsiran baru terhadap doktrin yang telah dirumuskan generasi sebelumnya. Maka disinilah letak keuniversalan Islam karena memberikan kebebasan kepada generasi terbaiknya untuk memberikan penafsiran kembali ajarannya sesuai dengan perkembangan masyarakat, yang oleh cendekia Muslim disitilahkan dengan tajdid, pembaruan. Dimana pembaruan (tajdid) menghendaki selalu terbukanya pintu ijtihad sebagai konsekwensi mutlak dalam merumuskan kembali penafisran ajaran Islam sesuai dengan tuntutan zaman. Namun demikian, ijtihad hanya dapat dilakukan oleh generasi terbaik Islam yang telah memenuhi kriterianya sebagai seorang mujtahid sebagaimana digariskan Islam. Bahkan kehadiran para pembaharu Islam (Mujaddid) yang akan memperharui ajaran-ajaran Islam telah dinyatakan Rasulullah saw akan datang setiap seratus tahun. Itulah sebabnya dari masa ke masa telah tampil silih berganti generasi terbaik Islam yang telah menafsirkan ajaran Islam sesuai dengan keadaan dan kehendak zamannya, diantara mereka yang terutama misalnya Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi’ii, Imam Ghazaly, Ibn. Thaimiyah sampai Jamaluddin al-Afghany dan Mohammad Abduh. Mereka semua tampil memberikan wacana keislaman yang akan memberikan solusi sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakatnya masing-masing.

Tajdid (pembaruan) dalam Islam bukan bermakna mengganti ajaran-ajaran Islam yang telah jelas (qoth’ii) bentuk ajarannya dengan bentuk yang lain. Misalnya ajaran sholat lima waktu yang telah jelas hukum serta tatacaranya kemudian diganti dengan bentuk lainnya sesuai dengan perkembangan zaman. Atau menggantikan hukum-hukum Allah yang jelas termaktub di dalam al-Qur’an dengan hukum-hukum tandingan lainnya. Demikian pula tajdid tidak bermakna membuat perkara-perkara baru dalam peribadatan kepada Allah yang telah jelas tuntunannya. Semua ini, mengganti dan membuat perkara baru yang bertentangan dengan ajaran Islam termasuk dalam bid’ah yang dilarang Islam. Namun sebagian besar ulama mengartikan tajdid sebagai menegakkan kembali ajaran-ajaran Islam yang telah ditinggalkan atau memutuskan perkara-perkara baru yang belum diputuskan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Disini perlu ditegaskan kembali bahwa tujuan utama pembaruan dalam Islam bukan hanya sebatas pengembangan wacana intelektualitas semata, namun lebih jauh agar ajaran Islam yang telah mengalami proses pembaruan tersebut dapat membangun masyarakat ideal yang terunggul dari masyarakat dunia di zamannya. Unggul dalam spitualitas maupun intelektualitas dan peradabannya. Itulah sebabnya produk pembaruan Islam seharusnya merupakan ajaran-ajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat Islam dan bukan sebagai teori ideal yang jauh dari realitas masyarakat. Apalagi sampai bertentangan dengan tradisi keislaman masyarakat yang akan mengakibatkan timbulnya dilemma dan krisis yang pada akhirnya akan menambah keterbelakangan masyarakat Islam. Dimana hal ini banyak menimpa generasi Islam yang mengklaim diri sebagai pembaru dengan mengemukakan pemikiran-pemikiran yang kontraversial bahkan lebih jauh berani menggugat ajaranajaran Islam yang sudah jelas dan terang. Mereka berkeyakinan dengan merubah ajaranajaran Islam dan disesuaikan dengan produk pemikiran manusiawi akan dapat mengangkat martabat masyarakat Islam. Namun tanpa disadari perbuatannya yang telah “memperbarui” ajaran Islam, atau tepatnya menggantinya dengan ajaran lain, telah menambah keterbelakangan dan kebingungan masyarakat yang tengah menghadapi berbagai dilemma dan krisis. Lebih jauh “pembaruan” yang dilakukan telah menimbulkan perpecahan dan pertentangan dikalangan masyarakat Islam. Pembaruan dilakukan untuk menjadikan masyarakat Islam sebagai masyarakat yang kuat dan maju, bukan menjadikannya masyarakat yang lemah dan terbelakang ataupun terpecah belah. Sepintas Pembaruan Islam di Indonesia Indonesia dikenal sebagai salah satu negara mayoritas Muslim yang memiliki penduduk terbesar di antara Dunia Islam. Pada saat ini, 90 % dari 210 juta penduduk Indonesia adalah Muslim, yang berarti 20 % dari keseluruhan kaum Muslimin di dunia. Semua ini tidak lain berkat kegigihan para pendakwah terdahulu dalam mengislamkan masyarakat yang beragama Hindu, Budha ataupun masih animis. Melalui pendekatan mereka yang khas, dengan cara aman dan damai berbeda dengan Islamisasi di dunia

Arab atau India melalui peperangan dan penaklukan, Islam tersebar dengan cepat dan menarik simpati para raja yang kemudian menjadikannya sebagai agama resmi kerajaan. Itulah sebabnya Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yang ramah, toleran, anti kekerasan, moderat, terbuka dan merakyat. Akibat dari pemahaman ajaran Islam yang tidak sempurna serta dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agama dan kepercayaan sebelumnya, maka kaum muslimin di Indonesia termasuk kelompok yang kurang keterikatannya pada ajaran Islam dan sebagai akibatnya sangat rentan terhadap bujukan misionaris agama lain. Masalah ini digambarkan Alwi Shihab dengan tepat dalam disertasinya “Membendung Arus”; Hampir 90 persen penduduk Indonesia mengaku beragama Islam. Tetapi, pelaksanaan ajaran-ajaran Islam oleh mereka jelas tampak bertingkat-tingkat, sangat bervariasi dari satu kelompok ke kelompok lain atau dari satu wilayah ke wilayah lain. Ada yang menerima dan menjalankan secara taat prasyarat mutlak yang dituntut dalam keimanan Islam dan ada pula mereka yang, sementara terus menegaskan diri sebagai penganut Islam, tidak menjalankan praktik-praktik keislaman sepenuhnya. Pada satu sisi, terdapat mereka yang berusaha, jika memungkinkan, membangun masyarakat mereka sejalan dengan citra Islam yang paling ekstrem dan mendirikan negara Islam; sedangkan pada sisi lain terdapat kelompok yang masih sangat tertarik kepada kebudayaan-kebudayaan masa lalu, dan tidak lebih dari sekedar kaum Muslim nominal. Pembaruan Islam di Indonesia telah dimulai sejak awal abad ke 18 yang dilakukan oleh kalangan yang disebut sebagai “Kaum Muda” di Minangkabau Sumatra. Waktunya hampir bersamaan dengan lahirnya gerakan-gerakan pembaruan yang dilakukan di Timur Tengah, India maupun Turki. Kaum muda ini umumnya adalah para pelajar yang baru pulang dari Makkah dan mengembangkan ajaran-ajaran Wahabi yang menyerukan agar kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Gerakan ini dipelopori oleh Haji Miskin dan kawan-kawannya yang dijuluki sebagai “Harimau nan Selapan” yang bergerak secara radikal dalam memurnikan Islam yang bersih dari taklid, bid’ah dan khurafat (TBC) sehingga menimbulkan perang yang dikenal dengan “Perang Paderi”. Setelah mereka tampillah beberapa generasi yang lebih moderat dalam menjalankan pembaruan, diantaranya adalah Syeikh Muhammad Abdullah Ahmad, Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah, Syeikh Muhammad Jamil Jambek yang umumnya bergerak secara tradisional. Di awal abad 19 tampil generasi yang lebih modern dalam mengelola pembaruan Islam, terutama dalam pendidikan, sosial dan politik, seperti Ahmad Surkati Pendiri Jamia’at Khair, HOS Cokroaminoto tokoh Sarekat Islam, KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah, A. Hassan pendiri Persatuan Islam dan lainnya. Dari gerakan pembaruan ini kemudian tampil tokoh-tokoh modernis seperti Agus Salim, Abikusno Cokrosuyoso dan yang lebih junior seperti M. Natsir, M. Roem yang kemudian menjadi pemimpin utama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang akhirnya menjadi penggerak kaum modernis di Indonesia zaman Soekarno (Orde Lama). Sementara SM. Kartosoewirjo sebagai salah seorang kader HOS. Cokroaminoto

dan pemimpim Partai Syarikat Islam serta pemimpin Masyumi mengembangkan pemikirannya sendiri dengan “politik hijrah non kooperatif”-nya yang mengantarkannya memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Pembaruan Islam di zaman Orde Lama yang digerakkan oleh para modernis Islam di Masyumi misalnya lebih ditekankan kepada upaya-upaya untuk menerapkan Islam dalam kehidupan bernegara daripada menegakkan negara yang berdasarkan kepada Islam. Hal ini dilakukan akibat kekalahan mereka dalam pemilu pertama yang menghasilkan perimbangan kekuatan antara kelompok nasionalis sekuler dan Islam, yang akhirnya dimenangkan kelompok nasionalis dengan berhasilnya mereka mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan dekrit presiden Soekarno yang dianggap telah menghianati umat Islam. Penghianatan kelompok nasionalis sekuler telah memaksa para pemimpin Masyumi mengadakan pemberontakan dengan membentuk PRRI, yang akhirnya dijadikan alasan Soekarno untuk membubarkan Masyumi dan menekan aktivitas para pemimpinnya. Namun pembaruan dalam pendidikan dan sosial-kemasyarakatan yang dilakukan Muhammadiyah berjalan lancar, bahkan telah menjadikan organisasi para pembaru ini sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan berpengaruh di Indonesia. Aktivitas Muhammadiyah yang menghindar dari kegiatan politik praktis, dan memfokuskan kegiatannya pada bidang pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan modernis, bahkan dijadikan sebagai sarana perjuangan dalam mempersiapkan masa depan Islam di Indonesia. Tekanan-tekanan dahsyat terhadap kebebasan pembaruan Islam yang dilakukan rezim Orde Baru, terutama tekanannya terhadap mantan pemimpin-pemimpin Masyumi yang notabene adalah penggerak pembaruan di Indonesia, telah menjadikan generasi muda Islam, terutama tokoh-tokoh HMI, mengambil jalan akomodatif dengan pertimbangan untuk menjaga kemaslahatan yang lebih besar. Karena gerakan-gerakan Islam, baik yang modernis ataupun fundamentalis dan radikal yang memaksakan kehendak Islamisasinya kepada rezim Orde Baru akan ditumpas sampai ke akarakarnya tanpa kompromi. Rezim Soeharto sendiri menggagap idiologi Islam adalah ancaman serius pembangunan disamping Komonisme. Kasus pelarangan berdirinya kembali Masyumi dan pelarangan pemimpinnya menduduki jabatan penting dalam Parmusi ataupun penangkapan tokoh-tokoh Islam yang ingin menerapkan syari’at Islam adalah contoh terdekat kebiadaban rezim Soeharto terhadap Islam. Keadaan ini telah memaksa generasi Islam mengambil kebijakan yang berbeda dengan kebijakan para pendahulunya. Diantara mereka yang akomodatif dengan kebijakan rezim Orde Baru ini adalah Nurcholish Madjid yang telah melaungkan semboyan “Islam yes, Partai Islam no” di awal tahun 70-an, yang pada hakikatnya adalah sebuah seruan deislamisasi partai politik, melalui program yang disebutnya “sekularisasi”. Dan dengan pandangannya yang kontraversial ini kemudian Nurcholish, yang dijuluki sebagai Natsir muda, menjadi penarik gerbong bagi pembaruan Islam di Indonesia yang diikuti oleh generasi seangkatannya seperti Utomo Dananjaya, Usep Fathuddien, Djohan Effendi, Ahmad

Wahib, M. Dawam Rahardjo dan Adi Sasono. Kemudian diikuti oleh Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Syafi’ii Ma’arif, Amien Rais, Kuntowijoyo dan lainnya. Walaupun mereka memiliki pandangan yang beragam sesuai dengan bentuk dan metode gerakan yang dipilihnya, namun mereka memiliki kesamaan tujuan, yaitu membangun keislaman yang modern di Indonesia, atau yang diistilahkan Nurcholish sebagai “Keislaman, Keindonesiaan dan Kemodernan”. Secara umum mereka, sebagaimana paradigma Fazlur Rahman, dapat diklassifikasikan sebagai kalangan “neomodernis Islam” yang memiliki paradigma yang berbeda dengan kalangan modernis terdahulu seperti M. Natsir dan kawan-kawannya. Sementara kalangan Islam yang lebih “fundamentalis dan radikal” mengambil jalan bergerak secara eksklusif menyusun kekuatan Islam dengan pendekatannya yang khas. Karena selama ini rezim Soeharto sangat alergi terhadap sesuatu yang berbau Islam, terutama doktrin-doktrin Islam yang akan menggugat kelanggengan kekuasaannya. Menurut kalangan ini pemerintahan Soeharto dapat dikategorikan sebagai pemerintahan yang menentang Islam karena menolak menjalankan ajaran Islam secara kaffah serta diangkatnya menteri-menteri dengan kebijakannya yang anti Islam. Itulah sebabnya kalangan generasi Islam yang non kompromis dengan rezim Orde Baru membangun gerakan-gerakan eksklusif-illegal berupa majlis taklim, pengajian, tabligh, usroh, sampai gerakan-gerakan radikal-revolusioner yang muncul dengan berbagai merek yang diberikan pemerintah, seperti “Komando Jihad”, “Teror Warman”, “Kasus Imran”, “Peristiwa Tanjung Priok”, “GPK-Warsidi” dan sejenisnya yang selalu diidentikkan dengan penggulingan pemerintahan yang sah dan cita-cita pendirian negara Islam serta penegakan syari’at Islam di Indonesia. Karena sifatnya yang eksklusif inilah, para pemimpin dan tokoh intelektualnya kurang dikenal luas masyarakat karena tidak tampil kepermukaan, dan mereka hanya dikenal apabila terjadi penangkapanpenangkapan oleh rezim Soeharto. Diantaranya yang terkenal misalnya Adah Djaelani, Dodo Moh. Darda, Ajengan Masduki, Ismail Pranoto dari kalangan generasi terdahulu, dan yang lebih junior seperti Sahirul Alim, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba’asyir, Abdul Qadir Baradja, Abdul Qadir Djaelani, Husein Al-Habsyi dan beberapa ulama dan muballigh lainnya. Mereka dijuluki sebagai pewaris perjuangan SM. Kartosoewirjo, salah seorang pemimpin Masyumi yang beraliran fundamentalis kemudian mendirikan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia. Mengambil paradigma Fazlur Rahman, mereka dikategorikan sebagai kalangan “neo-Fundamentalis Islam”. Jika dicermati dengan teliti dan jujur, reformasi yang telah menggulingkan Soeharto bukan hanya jasa para mahasiswa dekade 98-an yang telah mengadakan demontrasi dan menguasai gedung MPR/DPR sebagaimana selalu di klaim sebagian orang. Namun lebih jauh, reformasi Indonesia adalah buah dari perjuangan panjang para pemimpin Islam, baik dari kalangan “neo-Modernis” ataupun “neo-fundamentalis” yang telah berupaya maksimal menyusun kekuatan dan strategi untuk memperjuangkan Islam sesuai dengan tugas dan peranan mereka masing-masing. Secara mudah dikatakan bahwa dalam era Soeharto perjuangan Islam dibagi menjadi dua bentuk, pertama perjuangan kalangan neo-modernis Islam dari dalam sistem dan

kedua perjuangan kalangan neo-fundamentalis dari luar sistem, namun walaupun menempuh cara-cara yang berbeda, namun memiliki kesamaan tujuan, yaitu menjadikan ajaran Islam sebagai sistem kemasyarakatan dan kekuasaan dipegang kaum muslimin yang mayoritas. Perjuangan panjang kalangan neo-modernis yang menyakinkan rezim Soeharto bahwa Islam adalah rahmat, bukan ancaman bagi negara, dan puncaknya dengan diizinkannya terbentuknya ICMI sebagai penggerak Islamisasi di Indonesia adalah perjuangan besar dalam menghimpun kekuatan Islam yang akhirnya ikut berperan dalam melengserkan Soeharto di kemudian hari. Demikian pula perjuangan dan pengorbanan para kalangan neo-fundamentalis Islam yang telah mengorbankan harta, kehormatan, darah dan nyawa mereka untuk membina umat demi tegaknya Islam merupakan perjuangan besar disisi Allah yang telah menyuburkan semangat generasi Islam. Dan perjuangan para pemimpin Islam ini telah melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai gerakan reformasi menuntut lengsernya Soeharto yang berpusat di masjid-masjid ataupun di kampus-kampus, tempat utama mereka menyemai bibit-bibit pemikiran yang telah menghasilkan gerakan sinergi yang memicu gerakan intelektual, gerakan mahasiswa dan gerakan sosial lainnya yang telah melahirkan reformasi di Indonesia. Reformasi sendiri akhirnya telah banyak merubah wajah Indonesia, baik dalam sistem pemerintahan, sistem kekuasaan, sistem sosial-politik dan lainnya. Dan reformasi dapat dipastikan akan merubah pula bentuk maupun metode pembaruan Islam yang selama ini diterapkan di era Orde Baru, baik di kalangan neo-modernis ataupun neofundamentalis. Karena suasana yang melatarbelakangi pembaruan yang selama ini dilakukan para pemimpin Islam telah berubah dan kurun waktu 30 tahun merupakan rentang waktu yang signifikan untuk mengevaluasi kembali perjalanan sebuah proses pembaruan. Perubahan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan dan perubahan inilah yang diharapkan melahirkan sebuah pembaruan yang akan memberikan kontribusi bagi masyarakat Islam di Indonesia yang mayoritas namun terbelakang dari segi ekonomi, pendidikan dan peradabannya. Dengan perubahan suasana inilah perlu dikaji lagi metode pembaruan ataupun produk pemikiran yang telah dilakukan para pemimpin Islam terdahulu. Apakah paradigma pembaruan Islam terdahulu yang dominan di Indonesia dengan berbagai bentuk, seperti “Islam Peradaban”nya Nurcholis Madjid dan Kuntowijoyo, atau “Islam Rasional”nya Harun Nasution dan Djohan Effendi ataukah “Islam Transformatif”nya Dawam Rahardjo dan Adi Sasono, ataupun paradigmaparadigma lainnya masih dapat diterapkan dalam era reformasi dan di masa depan ? Apakah produk-produk pemikiran mereka masih sesuai dengan suasana reformasi yang sangat berbeda dengan suasana Orde Baru ? Apakah pemikiran mereka masih dapat dijadikan landasan dalam membangun paradigma baru pembaruan pasca reformasi ? Dan produk pemikiran mana saja yang ditinggalkan atau akan diterapkan di masa depan sesuai dengan kebutuhan masyarakat ?

Kalangan neo-fundementalis Islam yang selama ini bergerak secara sembunyisembunyi, kini di era reformasi telah berani tampil secara terbuka menyuarakan aspirasinya dengan lantang. Mereka secara terbuka telah mengkritik ideologi Pancasila yang sangat tabu di masa Orba. Demikian pula keinginan untuk mendirikan negara berdasarkan Islam ataupun penegakan syari’at Islam telah menjadi wacana umum, menjadi slogan demontrasi bahkan lebih jauh mereka telah menggelar konferensi dan konggres secara terbuka. Diantaranya seperti konggres yang diadakan kader-kader neoDarul Islam bertepatan dengan hari diproklamasikannya Negara Islam Indonesia pada 7 agustus lalu di Yogyakarta, dengan tema yang mencolok : Konggres Mujahidin I Indonesia Untuk Penegakan Syari’at Islam yang dihadiri oleh lebih 2000 peserta dari seluruh Indonesia. Para pembicara terdiri tokoh-tokoh nasional dari kalangan intelektual maupun ulama yang konsisten dengan penegakan syari’at Islam di Indonesia. Demikian pula kalangan ini telah menerbitkan majalah Darul Islam yang terang-terangan menyatakan sebagai risalah Islam radikal. Kader-kader mereka dengan berbagai atribut seperti Front Pembela Islam, Pemuda Islam, Gerakan Mujahidin, Laskar Jihad, Laskar Santri, Jundullah, Taleban, Pasukan Hizbullah, Persatuan Pekerja Muslim dan lainnya telah dengan lantang menuntut ditegakkannya syari’at Islam di Indonesia. Mereka telah mendatangi gedung MPR/DPR menyuarakan aspirasinya dan mendukung fraksi PPP dan PBB yang memperjuangkan amandemen UUD 45 dengan dimasukkannya kembali Piagam Jakarta. Dan akhirnya pembaruan adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari dalam memberikan rumusan baru bagi terbentuknya masyarakat madani yang berlandaskan ajaran Islam. Untuk itu, di era reformasi ini perlu dibangun kembali sebuah paradigma baru yang akan menjadi landasan bagi pembaruan Islam di masa depan. Karena pembaruan yang telah dilakukan para pemimpin Islam, baik dari kalangan neo-modernis dan neo-fundamentalis terdahulu telah menemukan momennya dengan mencetuskan reformasi yang telah berhasil dengan gemilang mendekonstruksikan doktrin-doktrin yang selama ini disakralkan rezim Orde Baru, baik doktrin pembangunan, persatuan, keamanan, pemerataan, kemajuan dan sejenisnya yang ternyata gagal mengantarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa maju dan berdaulat. Pembaruan Islam pasca reformasi adalah sebuah keniscayaan yang akan menentukan masa depan masyarakat Islam di Indonesia yang mayoritas. Pembaruan ini akan menjadi salah satu pilar utama dalam membangun Indonesia baru yang dicitacitakan semua komponen masyarakat. Membangun Paradigma Pembaruan Islam Pasca Reformasi Dalam membangun paradigma pembaruan Islam Pasca Reformasi di Indonesia ada beberapa langkah praktis yang ditawarkan yang diharapkan dapat menjadi awal dari pengembangan paradigma di masa depan, diantaranya adalah : - Mendekonstruksikan Paradigma Pembaruan Terdahulu Pendekonstruksian paradigma pembaruan terdahulu, terutama pembaruan di masa Orde Baru oleh kalangan neo-modernis dan neo-fundamentalis, dilakukan dengan

memahami paradigma yang diterapkannya, kemudian dianalisa kembali segala relevansinya, memahami dimana keutamaan dan kelemahannya. Thomas Kuhn dalam buku monumentalnya The Stucture of Scientific Revolution menerangkan dengan tepat tentang proses revolusi dalam pemikiran yang harus diawali dengan pendekonstruksian teori-teori lama dan menggantikannya dengan teoriteori baru. Revolusi akan terjadi jika paradigma lama yang dipengaruhi oleh berbagai situasi kondisi sosial-intelektual tertentu mengalami krisis karena tidak mampu memberikan solusi dan akan ditinggalkan serta menggantinya dengan paradigma baru. Pergantian paradigma lama dengan paradigma baru inilah yang telah mengembangkan semua jenis teori dari waktu ke waktu dalam semua bidang, baik pengetahuan sosial, fisika, biologi dan lainnya. Jika paradigma lama dipertahankan secara membabi buta dengan meninggalkan etika intelektualisme dan digantikan dengan sikap fanatisme, dalam artian menganggap semua yang dikemukakan generasi terdahulu mutlak kebenarannya, maka tidak diragukan lagi pengembangan peradaban manusia akan terhambat bahkan tidak berkembang dan akhirnya melahirkan generasi yang hanya mengemontari (syarah – syarah min syarah) pendapat generasi terdahulu. Hal inilah yang telah terjadi pada generasi Islam abad pertengahan yang telah menutup pintu ijtihad akibat pembenaran mutlaknya terhadap pendapat generasi sebelumnya dan menghasilkan kemunduran dan keterbelakangan dunia Islam. Mengambil teori yang dikemukakan Kuhn ini, maka proses pembaruan Islam pasca reformasi di Indonesia harus diawali dengan pendekonstruksian terhadap paradigma generasi pembaru terdahulu, terutama paradigma pembaruan yang telah berkembang pada masa Orde Baru, baik paradigma yang dikembangkan oleh kalangan neo-modernis ataupun kalangan neo-fundamentalis. Pendekonstruksian ini sama halnya dengan yang dilakukan generasi pembaru masa orde baru seperti Nurcholish dkk terhadap generasi pembaru masa orde lama seperti M. Natsir dkk yang telah berhasil gemilang mendekonstruksikan teori partai poliitik Islam dengan teori sekularisasi dalam menegakkan Islam di Indonesia. Pendekonstruksian paradigma lama dilakukan karena ketidakmampuannya lagi mengatasi krisis demi krisis yang dialami masyarakat dan perlu dikembangkan paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Paradigma pembaruan Islam yang dikembangkan generasi Nurcholish sejak 30 tahun lalu perlu didekonstruksikan kembali karena pada kenyataannya beberapa pemikiran yang dikembangkan sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan reformasi. Bahkan jika tidak berlebihan dapat dikatakan bahwa paradigma pembaruan yang diserukan generasi ini ikut bertanggung jawab terhadap krisis dimensional yang menimpa bangsa Indonesia saat ini, baik krisis intelektual, krisis sosial, krisis politik, krisis ekonomi dan krisis lainnya. Karena krisis dimensional yang menimpa sebuah bangsa adalah tanggung jawab pemimpinnya, yaitu para intelektualnya. Sikap mereka dalam berhadapan dengan para tiran penguasa yang memaksakan kehendaknya akan menentukan corak masyarakat yang mengikuti pemikirannya. Sikap akomodatif mereka yang keterlaluan telah ikut bertanggungjawab membesarkan bahkan mempertahankan kekuasaan rezim Orde Baru dengan kebijakan anti Islamnya dan memaksakan

kehendaknya menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas berbangsa dan bernegara sehingga memojokkan peranan Islam. Sikap mereka yang terlalu bertoleransi dan terkesan membela kepentingan penganut agama lain dengan konsep masyarakat majemuk telah menjadikan kaum muslimin yang mayoritas (90 %) kehilangan hak-hak istimewanya, terutama dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Demikian pula kelonggoran mereka dalam menjalankan ajaran Islam dan terkesan terlalu meniru pola kehidupan Barat, baik dalam pemikiran dan perilaku, menambah kebingungan generasi Islam tentang citra Islam yang modern. Semboyan “Islam yes dan Partai Islam no” sudah tidak relevan dan tidak pada tempatnya lagi akibat keterbukaan pemerintah pasca reformasi. Karena tanpa partai politik atau kekuatan politik yang akan memperjuangkan aspirasi Islam dalam sebuah sistem demokrasi, maka kaum muslimin akan selalu menjadi bulan-bulanan musuh idiologisnya. Citra masayarakat majemuk Indonesia yang dibingkai dalam kesatuan dan persatuan yang berdasarkan Pancasila ternyata sangat rapuh yang akhirnya menimbulkan pertiakaian bahkan peperangan antar suku dan agama yang tidak berkesudahan. Hal ini membuktikan bahwa ideologi Pancasila yang diagungkan selama ini sebagai alat pemersatu bangsa telah gagal, akhirnya diketahui bahwa bersatunya bangsa Indonesia selama ini bukan karena pemahaman mereka terhadap ideologi Pancasila, namun karena ancaman dan tekanan rezim Orde Baru dengan kekuatan militernya. Ancaman dan tekanan tidak mungkin mampu membangun sebuah masyarakat ideal, namun sebuah masyarakat persatuan yang semu dan menunggu waktu timbulnya konflik dan peperangan seperti yang terjadi di Ambon dan Maluku misalnya. Sebagai sebuah pengantar dalam pen-dekonstruksi-an paradigma pemikiran pembaru masa Orde Baru, buku Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat dapat dijadikan sebagai acuan awal. Karena buku ini memuat beberapa tulisan yang mencoba, walaupun sangat terbatas sebagai langkah awal, untuk mendekonstruksikan beberapa paradigma pemikiran tokoh-tokoh neo-modernis Islam yang berpengaruh di masa Orde Baru, seperti Nurcholish, Harun Nasution, Dawam Rahardjo dan Adi Sasono. Pada saat yang sama paradigma kalangan neo-fundamentalis harus didekonstruksi pula, terutama beberapa paradigma pemikiran yang mereka kembangkan dalam membangun gerakan radikal-revolusioner dalam menegakkan Islam di Indonesia yang terkesan eksklusif. Sikaf eksklusifisme yang berlebihan ini telah menimbulkan berbagai kecurigaan pada masyarakat yang akan dibelanya, bahkan menjadi penentang perjuangan suci mereka akibat kesalahfahaman. Tema-tema gerakan yang revolusionerradikal perlu dikombinasikan dengan tema-tema yang intelektual-ilmiyah sebagaimana diajarkan Islam sebagai gerakan yang menyeimbangkan antara kekuatan aqidah dan kekuatan aqliyah. Demikian pula penolakan membabi buta terhadap segala sesuatu yang berbau modern dan Barat perlu dikembangkan, bagian mana yang wajib di tolak dan bagian mana yang mubah diadopsi sebagai sebuah pilar dalam membangun masyarakat Islam yang ideal di masa depan. Konsep-konsep tentang Tauhid, Aqidah, muamalah sampai kepada konsep ekonomi Islam modern perlu dikembangkan lebih

detil, sebagai sebuah alternatif sistem masa depan. Sikap kecintaan dan keteguhan kepada Islam, bukan bermakna memusuhi penganut agama dan ideologi lain secara ekstrim, kecuali mereka benar-benar memusuhi dan menghancurkan Islam dan umat. Konsep Jihad fi sabilillah yang merupaknan sumber kekuatan dan semangat gerakan perlu dikaji secara mendetil, sehingga tidak hanya bermakna perang an-sih, karena medan jihad terlalu luas masa ini. Pengertian jama’ah Islamiyah dan masyarakat Islam perlu diperjelas dan dikembangkan maknanya agar menjadi alat pemersatu dan bukannya sebagai alat pemecah. Kesan garang dan keras harus disesuaikan dengan konsep Islam sebagai rahmat alam semesta. Pendekonstruksian paradigma pembaruan pemikiran Islam masa Orde Baru ini bukanlah sebuah pendekonstruksian total seperti menghancurkan sebuah rumah secara membabi buta. Proses dekonstruksi dimaksudkan untuk menilai kembali relevansi setiap paradigma yang telah dikemukakan, apakah masih memiliki urgensi dalam pembaruan pemikiran di masa depan. Bila ternyata paradigma yang dikembangkan ternyata masih relevan bagi pembaruan di masa depan, maka paradigma tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu fundamen dalam membangun paradigma selanjutnya. Proses inilah yang diistilahkan dengan dekonstruksi untuk rekunstruksi (deconstruction to reconstruction). Seperti merubuhkan sebuah rumah, namun dengan tujuan untuk membangunnya kembali. Bila ada komponen rumah lama tersebut yang masih relevan dengan bentuk rumah yang baru kenapa mesti dihancurkan, tinggal ditambahkan dengan komponen baru agar menjadi rumah baru. Demikian pula halnya dengan paradigma pembaruan yang lama, kenapa mesti dibuang jika masih memiliki relevansi dengan pembaruan masa depan. Paradigma terdahulu dapat dijadikan salah satu fundamen bagi membangun paradigma baru. Memahami Paradigma Islam Klasik, Paradigma Rasulullah, Shahabat dan Salaf Memahami makna pembaruan sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an dan alSunnah serta paradigma yang telah mereka terapkan dalam pembaruan pemikiran. Tidak mungkin dilakukan pembaruan tanpa memahami paradigma yang telah dikembangkan oleh generasi Islam terbaik dengan warisan intelektualnya. Untuk itu, mereka yang akan menggerakkan pembaruan pemikiran diwajibkan memahami paradigma Islam klasik dengan segala karakteristiknya. Karena pembaruan Islam, kapan dan dimanapun bersumber pada paradigma yang telah dikemukakan para pelopor Islam terdahulu. Para pembaharu wajib mengetahui pemahaman generasi Islam awal tentang Islam, karena merekalah yang paling mengerti tentang Islam disebabkan Islam diturunkan kepada mereka. Khazanah intelektual yang mereka tinggalkan, berupa penafsiran-penafsiran terhadap ajaran Islam wajib diketahui, karena mereka adalah mata rantai penghubung Islam antara generasi sebelumnya dengan sesudahnya. Meninggalkan pemahaman para generasi Islam dalam proses pembaruan adalah kesalahan fatal yang akan mengakibatkan semakin tersesatnya umat dari jalan Islam. Allah dan Rasul-Nya telah menjamin para pelopor Islam, terutama para shohabat yang -

diberi petujuk sebagaimana disabdakan Rasulullah, Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian yang lebih dekat dan terdekat dengannya. Pengertian ini membawa makna, bahwa paradigma para shohabat dan salaf al-saleh wajib dipahami sebagai salah satu pilar dalam mengembangkan sebuah pembaruan. Karena paradigma yang dikembangkan mereka adalah mata rantai pembaruan demi pembaruan yang akan terus berlangsung di kalangan kaum muslimin. Itulah sebabnya seorang pembaru wajib memahami dan menghayati segala bentuk khazanah intelektual Islam klasik, dari al-Qur’an dan sunnah, penafsirannya hingga kepada khazanah intelektual yang dikembangkan kaum muslim di awal Islam, masa kejayaan, abad pertengahan, sampai perkembangannya dalam dunia modern. Kegagalan memahami khazanah intelektual klasik Islam akan mengantarkan para pembaru dalam kebingungan demi kebingungan dalam memahami makna ajaran Islam yang sebenarnya. Islam hanya dapat difahami dengan benar dan selamat dari sumber aslinya dan melalui orang-orang beriman yang meyakininya, mengamalkannya dengan ikhlas dan memperjuangkan eksistensinya, dan bukannya melalui mereka yang hanya mengkaji dan menganalisanya sebagai obyek ilmiyah sebagaimana di lakukan para orientalis dan musuh Islam yang tidak dapat mendapatkan hidayah dengan pengetahuannya. Karena pembaruan Islam bukan hanya bermakna mengkaji dan menganalisa ajaran Islam saja, namun ia mengandung konsekwensi lebih jauh agar bagaimana dapat diamalkan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pembaruan Islam sendiri bermakna menghidupkan lagi ajaran Islam sesuai dengan tuntutan dan tantangan zaman. Inilah paradigma utama para shahabat dan salaf al-saleh dalam mempelajari Islam, Islam dipelajari untuk diamalkan sebagai panduan yang akan mengantarkan kepada kebahagian dunia akherat. Karena Allah mengecam mereka yang pandai mengatakan namun tidak mengamalkan sebagaimana disebutkan al-Qur’an : Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ?, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (alShaff : 2-3) Kaum muslimin tidak dilarang membelajari agamanya dari orang yang tidak meyakininya, namun hal ini akan hanya mengantarkannya kepada pemahaman Islam belaka dan tidak dapat menghantarkannya menuju hidayah Allah. Sementara kaum muslimin diperintahkan untuk mempelajari Islam agar dapat menjadi hidayah dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya Imam al-Ghazali memberikan syarat bahwa dalam menuntut ilmu agamanya, haruslah kepada orang yang dapat memberikan hidayah, dan bukannya kepada kaum kafir, zindik, mulhid ataupun ahlu bid’ah. Seorang pembaru Islam mutlak mendasarkan pengetahuannya dari sumber-sumber pengetahuan yang dijamin keabsahannya dan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya dari sisi aqidah dan syariah, namun mereka tidak dilarang mempelajari pengetahuan darimanapun sumbernya, selama tidak bertentangan dengan sumbersumber utamanya. Maka seorang pembaru yang akan membangun sebuah kansep paradigma pembaruan Islam, wajib memahami ajaran agama dari sumber-sumber utama ajaran agamanya, berupa al-Qur’an, al-Sunnah dan khazanah intelektual para

shahabat dan salaf saleh jika mereka ingin selamat dalam pembaruannya dan akan menyelamatkan umah dengan paradigma pembaruan yang dikemukakannya. Adapun pengetahuan lainnya dapat saja dijadikan sebagai salah satu rujukan selama tidak bertentangan dengan paradigma Islam. Mendamaikan Paradigma neo-Modernis dengan neo-Fundamentalis Mendamaikan, atau mencari titik temu antara paradigma pembaruan sangat diperlukan, karena masing-masing aliran pemikiran memiliki keutamaannya masingmasing. Diharapkan dengan ada titik temu diantara paradigma pembaruan akan menjadi fondasi dalam pengembangan pembaruan selanjutnya. Setiap paradigma pembaruan pasti mengandung unsur-unsur positip yang akan dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan paradigma sesudahnya. Bahkan sebuah pembaruan, pada hakikatnya adalah mata rantai yang tidak terpisahkan dengan pembaruan-pembaruan sebelumnya. Itulah sebabnya apatis dan phobia terhadap paradigma pembaruan, apapun bentuknya akan merugikan proses pembaruan itu sendiri. Demikian pula halnya, paradigma-paradigma pembaruan yang dominan di Indonesia, terutama aliran neo-modernisme dan neo-fundamentalisme pasti memiliki keutamaan masing-masing dalam mengantarkan bangsa Indonesia menuju cita-cita mulianya. Itulah sebabnya kedua paradigma yang dominan ini, harus didamaikan dengan mencari titik temunya, misalnya dengan menggelar dialog diantara tokoh-tokoh utamanya dengan dasar keikhlasan dan demi kebaikan bangsa. Sikap congkak dan arogan tidak akan pernah mendatangkan kebaikan, bahkan akan menambah kerugian dan penderitaan umat. Itulah sebabnya Rasulullah menyatakan : Tidak pernah ditimpa kerugian mereka yang senantiasa beristikharah dan bermusyawarah. Jadi musyawarah diantara kedua aliran besar pemikiran ini perlu dikembangkan dari waktu ke waktu, dengan keikhlasan dan kesungguhan para pelopornya, maka pasti Allah akan memberikan petunjuk terbaik bagi mereka. Generasi muda Islam dapat menjadi jembatan dalam proses musyawarah dan mencari titik temu aliran pemikiran ini. Keikhlasan dan kesungguhan mereka mencari yang terbaik bagi bangsa ini dapat dijadikan pendorong utama proses mulia ini. Generasi muda Islam, terutama mereka yang memiliki kelayakan dan keseriusan serta komitmen dapat dijadikan sebagai kelompok katalisator yang akan menghubungkan aliran-aliran pemikiran yang berkembang, bahkan mereka lebih jauh diharapkan sebagai pelopor pengembangan paradigma pembaruan Islam masa depan yang akan membentuk aliran pemikiran tersendiri dengan paradigmanya, sesuai dengan tuntutan dan tantangan zaman yang mereka hadapi. Mengembangkan Paradigma Baru “Manhaj Indonesia Pasca Reformasi” Dengan beberapa pemahaman di atas, maka dapat dikembangkan sebuah paradigma yang sesuai dengan tuntutan masyarakat Islam pasca reformasi di Indonesia. Paradigma pembaruan yang dikembangkan dalam sebuah masyarakat tertentu dan berhasil mengantarkannya menjadi masyarakat utama belum tentu sesuai dengan -

masyarakat lainnya. Paradigma pembaruan yang dikembangkan di masyarakat Islam Timur Tengah, Iran ataupun Pakistan belum tentu sesuai dengan masyarakat Islam Indonesia, Karena setiap masyarakat memiliki dinamika sejarah yang berbeda satu dengan lainnya. Pemahaman ini tidak menolak keuniversalan ajaran Islam yang diturunkan untuk seluruh umat manusia kapanpun dan dimanapun, namun paradigma pemahaman Islam adalah cerminan pemahaman masyarakat yang telah berinteraksi dengan ajaran Islam yang telah melahirkan tradisi Islam. Tradisi Islam Arab berbeda dengan tradisi Islam di Iran, Pakistan dan juga di Indonesia, walaupun keislaman mereka tetap satu. Keuniversalan Islam telah membentuk beraneka ragam khazanah tradisi sebagai sunnatullah keberagaman umat manusia yang merupakan keunggulan ajaran Islam dibandingkan ajaran-ajaran lainnya yang tidak mampu berinteraksi dengan sebuah tradisi. Namun ini tidak berarti bahwa Islam harus menyesuaikan diri dengan segala bentuk tradisi sebuah masyarakat, namun sebaliknya, tradisi masyarakatlah yang menyesuaikan diri dengan Islam dengan proses “Islamisasi tradisi” yang telah dijalankan oleh para pendakwah Islam awal. Paradigma pembaruan Islam “manhaj Indonesia” mungkin berbeda dengan paradigma pembaruan di Timur Tengah, Iran, Turki dan lainnya. Karena manhaj ini di bagun berdasarkan keuniversalan Islam sesuai dengan tingkatan, tuntutan, dinamika, sejarah, tradisi dan keadaan masyarakat Islam Indonesia. Itulah sebabnya seorang pembaru bukan hanya pembeo yang akan menerapkan apapun yang dilihatnya baik di masyarakat lain. Namun mereka adalah generasi terbaik yang mengerti hakikat agamanya dengan baik dan mengamalkannya dengan konsisten dan berjuang membangun masyarakatnya sesuai dengan tradisi dan kondisi masyarakatnya. Hal inilah yang telah dilakukan Rasulullah ketika beliau menyerukan Islam di Makkah, beliau sangat memahami ajaran Islam yang diturunkan Allah kepadanya dan memahami masyarakatnya, sehingga beliau mengembangkan perjuangannya sesuai dengan keadaan masyarakatnya yang jahiliyah. Kejahiliyahan masyarakat yang dihadapi Rasulullah adalah berbeda dalam bentuknya dengan kejahiliyahan masyarakat Indonesia saat ini, walaupun mereka mengaku sebagai masyarakat Islam namun tetap memelihara tradisi yang digolongkan tradisi jahiliyah oleh Islam. Itulah sebabnya seorang pembaru yang akan menegakkan masyarakat Islami harus benar-benar memahami karakteristik masyarakat jahiliyah modern sehingga ia mampu merumuskan sebuah paradigma pembaruan yang akan mengantarkan masyarakatnya menuju masyarakat yang Islami dalam artian yang sebenarnya, dan bukan hanya sekendar simbol dan namanya yang Islami, namun hakekatnya masyarakat jahiliyah. Paradigma pembaruan ini dikembangkan dengan beberapa fondasi utama : - Memahami masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia - Memahami dinamika sejarah masyarakat Indonesia - Memahami cita-cita Indonesia baru - Menumbuhkan semangat saling memahami cita-cita - Memahami Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sumber keadilan, kebebasan dan toleransi serta solusi kepada nestapa manusia modrn

- Membangun citra Islam yang kaffah dan berdimensi Indonesia - Membangun model sebuah masyarakat madani Dengan acuan ini diharapkan lahir sebuah paradigma pembaruan Islam di Indonesia yang sesuai dengan tuntutan reformasi dan dapat mengantarkan masyarakat menuju Indonesia baru yang adil dan beradab serta dirahmati Pencipta alam. Kesimpulan dan Penutup Reformasi telah mengantarkan tokoh-tokoh neo-modernisme seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid dan lainnya menjadi tokoh sentral kekuasaan di Indonesia. Dengan kekuasaan yang dimilikinya mereka saharusnya mampu membangun Indonesia sebagaimana yang dicita-citakannya. Namun ternyata mereka, terutama Abdurrahman Wahid yang menjadi Presiden telah mengecewakan bangsa Indonesia dan kaum muslimin khususnya dengan sikap-sikapnya yang kontraversial dan menambah permasalahan bangsa Indonesia. Ternyata kelakuan Abdurrahman Wahid tidak jauh beda dengan tindakan para rezim sebelumnya yang cendrung diktator, otoriter dan tidak toleran , lebih jauh tidak mencerminkan karakteristik seorang muslim yang disebutkan Allah dan Rasul-Nya. Namun permasalahnnya, apakah karakteristik yang ditampilkan para tokoh neo-modernisme yang mengecewakan bangsa Indonesia ini merupakan cerminan pemahamannya ataukah hanya watak pribadi. Padahal Islam datang untuk merubah watak jahili menjadi watak Islami “Sesunggunya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq” sabda Rasul. Jadi tidak diragukan bahwa karakteristik seseorang memang sangat dipengaruhi oleh pemahaman seseorang pada nilai. Semakin berpegang teguh seseorang pada ajaran Islam, pasti makin dekat dengan karakteristik Islami sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Perilaku tokoh-tokoh neo-modernisme yang longgar terhadap ajaran Islam tidak lain mencerminkan pemahaman mereka yang longgar pula pada ajaran Islam. Hal inilah yang menjadikan mereka “nekad” melanggar perintah-perintah Allah dan mengutamakan keduniaan. Namun pada saat yang sama, kalangan neo-fundamentalis Islam yang fanatik dan istiqomah pada ajaran Islam seakan tenggelam dalam hingar bingarnya gerakan reformasi, bahkan mereka tetap hanya menjadi kelompok marjinal yang menunggu dan melihat perubahan bangsanya yang mengkhawatirkan ini. Itulah sebabnya kelompok katalisator perlu tampil mengadakan pembaruan yang akan mengantarkan bangsa ini menuju kejayaan di masa depan. Mereka diharapkan mampu mengembangkan paradigma pemikiran yang menjadi kelanjutan mata rantai pembaruan sebelumnya. Keutamaan-keutamaan pada paradigma sebelumnya diambil dan kekuarangannya dikoreksi secara obyektip. Pasca reformasi ini, di tengah kebimbangan dan ketidak pastian, masyarakat mengaharapkan tampilnya para pembaru yang akan menyelamatkan mereka dari krisis dimensional yang tak kunjung berakhir ini. Kegagalan para tokoh neo-modernisme dalam menyelesaikan krisis dimensional bangsa Indonesia hakikatnya adalah kegagalan paradigma yang diterapkannya, dan paradigma ini perlu diperbaharui kembali dalam sebuah gerakan pembaruan pemikiran pasca reformasi…..Wallahu a’lam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->