PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MEMAHAMI CERPEN DENGAN ADAPTASI STRATEGI SQ3R UNTUK SISWA KELAS X SMA

Lailatul Magfiroh1 Wahyudi Siswanto2 Yuni Pratiwi2 Email: lailatul_m4gfiroh@yahoo.com Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang

ABSTRACT: The aims of the research are to produce an outcome such as learning materials to understand intrinsic elements of the short story by strategic adaptation SQ3R for grade X students of senior high schools. The method used is a method of research and development. The procedures used are the development research by procedural model. The data obtained is the numerical data and verbal data. The research outcomes are that the printed learning materials for understanding short story by strategic adaptation SQ3R for grade X students of senior high schools. Subsequently the products made being tried and revised. Key word: teaching materials, understand short story, SQ3R strategy, learning literature ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk berupa bahan ajar memahami unsur intrinsik cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA. Metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan. Prosedur yang digunakan adalah penelitian pengembangan dengan model prosedural. Data yang diperoleh merupakan data numerik dan data verbal. Hasil penelitian ini adalah bahan ajar cetak memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA. Produk yang dihasilkan selanjutnya diujicobakan dan direvisi. Kata kunci: bahan ajar, memahami cerpen, strategi SQ3R, pembelajaran sastra

Membaca merupakan salah satu aspek penting dalam keterampilan berbahasa. Melalui kegiatan membaca seseorang mendapatkan informasi, pengetahuan, dan juga hiburan. Tarigan (1986: 9) menyebutkan bahwa tujuan utama mambaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dicapai kompetensi dasarnya oleh siswa selain kemampuan menulis, mendengarkan, dan berbicara. Salah satu bentuk keterampilan membaca adalah membaca pemahaman. Membaca pemahaman merupakan salah satu bagian dari membaca telaah isi. Tarigan (1986: 56) menyatakan bahwa membaca pemahaman bertujuan untuk memahami standarstandar atau norma-norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, dan pola-pola

1

Lailatul Magfiroh adalah Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Artikel ini diangkat dari skripsi Sarjana Pendidikan, Program Sarjana Universitas Negeri Malang 2012 2 Wahyudi Siswanto dan Yuni Pratiwi adalah dosen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

1

Salah satu kompetensi dasar membaca di sekolah adalah kompetensi dasar memahami unsur intrinsik cerpen. Pendek di sini masih mempersyaratkan adanya keutuhan cerita. penokohan. Dalam pembelajaran masih dijumpai teknik konvensional yang cenderung membosankan bagi siswa. Jadi membaca pemahaman adalah membaca yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dari suatu bacaan. Pembelajaran memahami unsur intrinsik cerpen ini bisa menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa jika dilakukan dengan strategi yang tepat. Selain itu. cerpen atau cerita pendek merupakan bentuk prosa rekaan yang pendek. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika seseorang membaca karya sastra. read. Sastra adalah pengungkapan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau fiksi (Priyatni: 2010: 12). Salah satu strategi yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan pembelajaran yang dialami siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman dan untuk mengembangkan bahan ajar memahami cerpen adalah adaptasi strategi SQ3R. Strategi ini sudah dikembangkan sejak lama. bahkan banyak penelitian yang menunjukkan keberhasilan strategi SQ3R dalam kegiatan membaca. Menurut Tarigan (1986: 54). Sebuah karya sastra itu mencerminkan realitas. Di kelas X SMA terdapat kompetensi dasar menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan seharihari. recite. Karya sastra dianggap sebagai imitasi atau tiruan dari realitas. dan review. alur. Strategi SQ3R sendiri adalah salah satu strategi membaca pemahaman. latar. yaitu survey. tokoh. buku teks yang menjadi buku pegangan siswa belum memberikan latihan dan kegiatan bervariasi serta bacaan cerpen yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam proses pencapaian kompetensi dasar. Sebagai salah satu bentuk prosa rekaan. Seperti halnya kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara pada tahap pra pengembangan yang dilakukan pada subjek kelas X SMA Negeri 1 Wonoayu diperoleh kenyataan bahwa pembelajaran memahami cerpen masih kurang didukung dengan kurangnya minat dan kesadaran siswa untuk membaca. permasalahan yang digarap tidak begitu kompleks. tema. 2010: 23). Kemampuan memahami unsur intrinsik menjadi kemampuan utama dalam apresiasi cerpen. bukan asal sedikit halaman. Unsur intrinsik ini memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kompetensi ini siswa dituntut untuk dapat memahami unsur intrinsik cerpen sehingga nantinya dapat menghubungkan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. pembaca dapat memahami bacaan dalam waktu singkat dan mendapatkan hasil yang lebih baik dengan menggunakan teknik SQ3R. Menurut Siswanto (2008: 141). cerpen memiliki unsur-unsur pembangun cerpen yang biasa disebut unsur intrinsik. Tujuan dari penelitian pengembangan bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA yakni (1) dihasilkan isi materi bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa . question. Karena pendek.2 fiksi. Pembelajaran akan lebih optimal jika sumber belajar dan strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. SQ3R merupakan strategi yang memiliki lima tahap pada pelaksanaannya. Unsur-unsur tersebut di antaranya. pengembangan bahan ajar juga membutuhkan strategi tertentu. dan lain-lain (Nurgiyantoro.

Buku teks pegangan siswa belum memberikan pengetahuan perihal keterkaitan sastra dengan dunia realitas yang dibutuhkan siswa untuk mencapai KD menganalisis keterkaitan unsur intrinsik cerpen dengan kehidupan sehari-hari. yakni (1) uji coba dengan ahli apresiasi cerpen. METODE Penelitian ini menggunakan metode pengembangan dengan model prosedural dan mengadaptasi model pengembangan Borg dan Gall.3 kelas X SMA. 2008: 8). dan (5) tahap revisi produk. (2) uji coba dengan ahli bahan ajar. (3) menghimpun. yang dapat dipertanggungjawabkan. (3) dihasilkan paparan bahasa bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA. pada tahap ini terdapat empat tahapan uji coba. Instrumen yang digunakan untuk mengimpun data adalah angket dan pedoman wawancara. Hasil observasi yang dilakukan pada tahap pra pengembangan diketahui bahwa buku teks siswa belum memberikan cerpen dan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. (4) tahap uji coba. sedangkan data verbal berupa komentar dan saran perbaikan dari subjek uji coba. (3) uji coba dengan praktisi (guru). (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan. menunjukkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk (Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukmadinata (2009: 164) yang menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada. dan mengklarifikasi data verbal tulis dan verbal lisan berdasarkan kelompok uji. buku teks yang menjadi buku pegangan siswa belum banyak membantu siswa memahami cerpen. Data numerik berupa skor penilaian. (2) tahap perencanaan. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian. (2) mentranskip data verbal lisan. diharapkan dapat membantu dan mendukung guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Uji coba ini menghasilkan data berupa data numerik dan data verbal deskriptif. (2) dihasilkan sistematika penyajian bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA. Teknis analisis data dilakukan dengan cara analisis data kualitatif dan kuantitatif sederhana. Selanjutnya produk diuji coba untuk mengetahui kelayakan produk. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif. Dengan adanya hasil penelitian berupa bahan ajar memahami cerpen. dan (4) dihasilkan tampilan layout bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Wonoayu pada tahun ajaran 2011/2012. Pengembangan produk dilakukan dengan menyesuaikan produk bahan ajar dengan kebutuhan siswa. Selain itu. Teknik analisis data kuantitatif dilakukan dengan menghitung . apakah produk perlu direvisi atau diimplementasi. dan (4) uji coba dengan kelompok kecil siswa. Selain itu Bahan ajar yang dikembangkan diharapkan dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. (3) tahap pengembangan produk. menyeleksi. Prosedur pengembangan bahan ajar ini terdiri dari beberapa tahap yakni (1) tahap pra pengembangan.

di dalam bahan ajar yang dikembangakan digunakan strategi membaca adaptasi SQ3R untuk membantu siswa memahami cerpen secara lebih mendalam. Produk hasil pengembangan . Berikut adalah kriteria kelayakan bahan ajar. Oleh karena itu. isi yang mencakup contoh dan latihan serta penutup. Produk yang dikembangkan merupakan bahan ajar berbentuk buku yang mencakup kompetensi dasar menganalisis keterkaitan unsur intrinsik cerpen dengan kehidupan sehari-hari. buku teks yang menjadi buku pegangan siswa belum banyak membantu siswa memahami cerpen. a. Rumus untuk mengolah data secara keseluruhan item P = x 100% Keterangan: P = Persentase = Jumlah keseluruhan jawaban responden dalam seluruh item = Jumlah keseluruhan skor ideal dalam satu item 100 % = Konstanta Bahan ajar dikatakan layak dan dapat diimplementasi jika berhasil memperoleh persentase minimal 75%. Rumus untuk menghitung data per item P Keterangan : P x x1 100% = x 100% = = = = Persentase Jawaban responden dalam satu item Nilai ideal dalam satu item Konstanta b. Selain itu. Bahan ajar terdiri dari bagian pendahuluan. dilakukan analisis kebutuhan sebelum pengembangan dilakukan.4 skor yang diperoleh dari angket uji coba dengan menggunakan rumus kuantitatif sederhana. Selain itu. Tabel 1 Kriteria Kelayakan Bahan Ajar Kategori Presentase 4 85%-100% 3 75%-84% 2 50%-74% 1 <50% Kualifikasi Sangat layak Layak Cukup layak Kurang layak Tindak Lanjut Implementasi Implementasi Revisi Diganti (diadaptasi dari SSN) HASIL Pengembangan bahan ajar memahami cerpen yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Dari analisis kebutuhan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Wonoayu diperoleh kenyataan bahwa pembelajaran memahami cerpen masih kurang didukung dengan kurangnya minat dan kesadaran siswa untuk membaca.

5%. dan (4) tampilan bahan ajar memperoleh 75%. Hasil Uji Coba dengan Praktisi (Guru) Tahap uji coba yang ketiga adalah dengan praktisi (guru) Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Wonoayu. bukan hasil membaca (R). ahli bahan ajar. aspek tersebut berkaitan dengan materi dan bahasa yang ada dalam bahan ajar. Rata-rata keseluruan hasil persentase yang diperoleh dari uji dengan ahli bahan ajar adalah 76%. (2) bagaimana menghubungkan unsur intrinsik dengan kehidupan realitas harus ada dan diberikan petunjuk tentang keterkaitan sebuah karya sastra dengan dunia realitas. saran. Data verbal deskriptif yang diperoleh dari ahli bahan ajar adalah latihanlatihan dalam bahan ajar perlu disesuaikan dengan konsep SQ3R. Aspek yang dinilai oleh ahli bahan ajar terdiri dari empat aspek yakni (1) isi materi bahan ajar dengan hasil persentase 75%. (3) keakuratan materi bahan ajar memperoleh persentase 66. (3) bahasa bahan ajar memperoleh persentase 75%.7%. dan komentar perbaikan. Ada empat aspek yang menjadi perhatian. Berdasarkan kriteria kelayakan bahan ajar hasil dari uji coba dengan ahli apresiasi cerpen. Hasil Uji Coba dengan Ahli Bahan Ajar Uji coba kedua dilakukan oleh dosen ahli bahan ajar. dan (4) bahasa yang digunakan dalam bahan ajar memperoleh persentase 91. Uji coba dilaksanakan dengan memberikan produk bahan ajar kemudian ahli memberikan penilaian. Produk yang telah diberikan dinilai dan dikomentari oleh praktisi dengan mengisi angket yang disediakan dan memberikan komentar atau saran perbaikan. bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. praktisi (guru). Uji coba bahan ajar kepada ahli apresiasi cerpen juga dilakukan dengan wawancara bebas. selain itu diberikan tulisan yang mengulas tentang realita yang ditampilkan dalam cerpen dan realitas yang ada dalam dunia nyata.5 diujikan pada ahli apresiasi cerpen. Praktisi (guru) . Hasil Uji Coba dengan Ahli Apresiasi Cerpen Uji coba pertama dilakukan oleh dosen ahli apresiasi cerpen. Rata-rata keseluruan uji ahli apresiasi cerpen memperoleh persentase 80. Ahli apresiasi cerpen memberikan beberapa komentar dan saran perbaikan anatara lain (1) bahan ajar perlu diberikan contoh karya sastra yang bisa dihubungkan dengan realitas dan yang tidak bisa dihubungkan (murni imajinatif). Empat aspek tersebut meliputi (1) kelengkapan materi bahan ajar yang memperoleh persentase 87. Selain itu nuansa belajar bersastra perlu ditonjolkan.4%. (2) kedalaman materi memperoleh persentase 75%. (3) bahan ajar harus memberikan pemahaman terhadap siswa. (2) sistematika penyajian memperoleh persentase 81%. pertanyaan yang dibuat siswa adalah pertanyaan hasil survei (S). Uji coba dilaksanakan dengan memberikan produk bahan ajar kemudian ahli memberikan komentar dan saran perbaikan.7%. dan kelompok kecil siswa. Keempat aspek tersebut disajikan dalam angket penilaian yang harus diisi oleh ahli. Pelaksanaan uji coba praktisi dilakukan dengan wawancara bebas dan menyerahkan produk bahan ajar memahami cerpen. Uji coba dengan ahli bahan ajar juga dilakukan dengan wawancara bebas untuk memperjelas bagian yang perlu direvisi. Menurut hasil analisis bahan ajar yang telah diujicobakan tergolong layak dan dapat diimplementasikan.

dan sikap. Kesimpulan dari hasil uji kelompok kecil siswa adalah bahan ajar termasuk layak dan dapat diimplementasikan. Bahan ajar yang dikembangkan dikhususkan untuk pembelajaran memahami cerpen. Aspek yang dinilai oleh siswa diantaranya adalah (1) isi materi bahan ajar yang memperoleh persentase keseluruan 90%. Rata-rata keseluruan hasil persentase yang diperoleh dari uji dengan praktisi adalah 97%. Bahan ajar yang dikembangkan berbeda dengan buku teks pegangan siswa pada umumnya. sebelum membaca terlebih dahulu . (3) bahasa bahan ajar memperoleh persentase keseluruan 92. Soedarso (2004: 59) mengatakan bahwa dalam sistem SQ3R. Data verbal dari uji kelompok kecil siswa secara umum dapat disimpulkan bahwa siswa sudah dapat memahami bahan ajar yang diberikan. Kemp (dalam Muslich 2008: 206) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan bahan ajar adalah gabungan antara pengetahuan (fakta dan informasi rinci). keterampilan (langkah-langkah prosedur. Jadi rata-rata hasil persentase dari uji dengan kelompok kecil siswa memperoleh 92%. Bahan ajar ini menggunakan adapatasi strategi SQ3R yang akan membantu siswa memamahi lebih mendalam cerpen yang dibaca. PEMBAHASAN Deskripsi Produk Bahan Ajar yang Dikembangkan Produk yang dihasilkan berupa bahan ajar memahami cerpen yang berjudul Mencari Benang Merah antara Cerpen dengan Dunia Realitas.7%. dan (4) tampilan bahan ajar memperoleh persentase keseluruan 93%. yang berjumlah 31 siswa. (2) isi materi bahan ajar dengan hasil persentase 93%. Saran dari praktisi (guru) adalah supaya penulis lebih memperhatikan lagi penulisan judul dan subjudul serta materi yang diberikan. sehingga siswa mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. (2) sistematika penyajian memperoleh pesentase keseluruan 92%. syarat-syarat). Uji coba dengan praktisi memperoleh persentase yang cukup tinggi. Namun beberapa siswa merasa bahwa gambar ilustrasi dalam bahan ajar masih perlu ditambahkan. adaptasi yang dilakukan dengan lebih menvariasiakan prosedur pada setiap tahapannya. Data verbal yang diperoleh juga tidak banyak. Strategi SQ3R yang digunakan dalam memahami cerpen merupakan adaptasi dari strategi SQ3R pada umumnya. dan (5) tampilan bahan ajar memperoleh 100%. Subjek uji coba kelompok kecil adalah siswa kelas X2 SMA Negeri 1 Wonoayu. yang berarti sangat layak dan implementasi. Di dalam angket terdapat lima aspek yang menjadi fokus penilaian praktisi yakni (1) kesesuaian dengan kompetensi dasar memperoleh persentase 100%. Kelas X2 dipilih karena merupakan kelas praktisi mengajar. Strategi SQ3R seringkali digunakan dalam kegiatan membaca pemahaman. (4) bahasa bahan ajar memperoleh persentase 100%. Siswa sudah cukup tertarik untuk memahami dan membaca bahan ajar memahami cerpen. keadaan. Uji coba dilaksanakan dengan memberikan produk bahan ajar kepada siswa kemudian siswa memberikan penilaian dan komentar.6 memberikan penilaian produk bahan ajar dengan mengisi angket. Hasil Uji Coba dengan Kelompok Kecil Siswa Uji coba bahan ajar yang terakhir dilakukan dengan kelompok kecil siswa. (3) sistematika penyajian memperoleh persentase 100%.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam adaptasi SQ3R adalah (1) memperhatikan kolom-kolom survei dan kata-kata kunci pada tahap survei. ahli bahan ajar. Revisi dilakukan dari skor yang diperoleh dari angket dan komentar serta saran yang diperoleh ketika uji coba dilakukan. (4) menceritakan kembali dan menghubungkan unsur intrinsik cerpen dengan kehidupan sehari-hari. bukan hasil membaca (R). bahan ajar diperbaiki dan direvisi. tetapi dapat menggambarkan seluruh jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan (Wusananingrum: 2011). (5) memeriksa kembali keseluruan langkah yang telah dilakukan. Dalam bahan ajar memahami cerpen. Bahan ajar dikembangkan lagi dengan memberikan petunjuk bagi siswa perihal cara menghubungkan cerpen dengan dunia realitas. ahli bahan ajar. Selanjutnya mencoba mengutarakan dengan kata-kata sendiri pokok-pokok penting dari bacaan. Hasil dari uji coba yang dikakukan dengan ahli apresiasi cerpen. praktisi (guru). (2) membuat dan membaca pertanyaan pada tahap question. Peneliti merasa perlu untuk membuat latihan dalam bahan ajar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan kompetensi dasar menganalisis keterkaitan . Ahli bahan ajar memberikan saran kepada penulis untuk memilih cerpen yang sesuai dengan pembelajaran siswa SMA dan dilakukan uji kemenarikan cerpen pada siswa kelas X SMA. Dari survei uji kemenarikan yang dilakukan pada sejumlah siswa kelas X SMA diperoleh hasil bahwa cerpen yang dipilih adalah cerpen Malaikat Kecil karya Indra Tranggono dan Mbok Jah karya Umar Kayam. Revisi Produk Berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli apresiasi cerpen. terdapat cerpen yang digunakan sebagai contoh analisis maupun cerpen untuk latihan analisis. Produk bahan ajar memahami cerpen yang dikembangkan juga telah direvisi.7 dilakukan kegiatan survei bacaan untuk mendapatkan gagasan umum apa yang akan dibaca. Latihan bahan ajar yang terlalu banyak membuat siswa menggeluh saat uji coba kelompok kecil siswa dilakukan. Pada langkah terakhir dilakukan peninjauan ulang atas seluruh pertanyaan dan jawaban sehingga diperoleh sebuah kesimpulan yang singkat. Kemudian dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada diri sendiri yang jawabannya diharapkan terdapat dalam bacaan yang dibaca dapat mempermudah memahami bacaan. sehingga perlu direvisi dan diganti pertanyaan-pertanyaan yang lebih umum. Selain itu dalam mengembangkan bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R perlu disesuaikan latihan-latihan yang diberikan dengan konsep SQ3R. (3) membaca teliti. Pertanyaan yang dibuat siswa adalah pertanyaan hasil survei (S). sehingga latihan dalam bahan ajar juga direvisi. Produk bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R yang dihasilkan telah diujicobakan untuk menentukan kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. dengan begitu pembaca akan dapat menguasai dan mengingatnya lebih lama. dan kelompok kecil siswa diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dikembangkan tergolong layak dan dapat diimplementasikan. dan kelompok kecil siswa. Jadi pada langkah question (Q). praktisi (guru). contoh pertanyaan yang diberikan terlalu mendalam. Setelah direvisi bahan ajar ditambahkan bagian yang mengulas tentang keterkaitan unsur intrinsik dengan kehidupan sehari-hari atau realitas.

sistematika penyajian bahan ajar. pertanyaan. dan tahap 2. Pada segi sistematika penyajian ditambahkan sajian bagian pendahuluan perihal keterkaitan dunia sastra dengan kehidupan sehari-hari. hanya saja menghidari penggunaan kata sapaan kamu yang dianggap kurang sesuai digunakan dalam bahan ajar untuk siswa. Mbulu dan Suhartono (2004: 88) menyebutkan bahwa penyusunan bahan ajar harus memenuhi kriteria. (6) petunujuk tentang bahan yang dianggap diketahui. Selain isi materi. Menurut Muslich (2010: 298) sistematika penyajian setiap bab dalam buku teks minimal memuat pembangkit motivasi. pendahuluan. istilah. dan mengganti font huruf yang digunakan di dalam bahan ajar. persamaan. dan isi. yakni mencari unsur intrinsik cerpen dan menghubungkannya dengan kehidupan seharihari. indikator keberhasilan. Bagian pertama merupakan bagian pendahuluan yang berisi tentang pengantar dari penulis. (2) contoh soal dan contoh praktik. menghilangkan gambar-gambar yang dirasa tidak perlu. Kajian Produk yang Telah Direvisi Bahan ajar memahami cerpen yang memiliki empat komponen yang dikembangkan. Bagian kedua diberi judul Tahap 1. Kriteria tersebut adalah (1) teori. dan amanat) dan keterkaitan cerpen dengan dunia realitas. dan bagian yang menjelaskan tentang hubungan sastra dengan dunia realitas yang berjudul Benang Merah antara Sastra dengan Dunia Realitas. dan soal-soal latihan. (7) sumber pustaka. pada tahap ini berisi contoh memahami cerpen dan menghubungkannya dengan dunia realitas menggunakan adaptasi strategi SQ3R. tahap 1. latar. halaman persembahan. contoh ujian. aspek yang perlu diperhatikan dalam bahan ajar salah satunya adalah sistematika penyajian. (3) penugasan memahami cerpen dengan menggunakan langkah-langkah adaptasi SQ3R. Bahan ajar memahami cerpen ini memiliki tiga bagian yang dikembangkan. (3) tugas-tugas latihan. (5) penjelasan mengenai sasaran belajar. (4) jawaban dan penyelesaian beberapa tugas itu.8 unsur intrinsik cerpen dengan kehidupan sehari-hari yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan produk. (8) petunjuk belajar. Sedangkan revisi pada tampilan bahan ajar dilakukan dengan menganti sampul bahan ajar yang awalnya terkesan terlalu sederhana. (2) contoh analisis cerpen dengan menggunakan adaptasi strategi SQ3R. Dalam penyusunan bahan ajar perlu diperhatikan kriteria penyusunan bahan ajar. mengganti komposisi warna yang terlalu mencolok. Selain itu informasi tentang kejadian atau peristiwa dalam dunia realitas yang mirip atau memiliki keterkaitan dengan cerpen juga perlu disajikan. dan (4) refleksi. tema. Deskripsi isi bahan ajar memahami cerpen yang dikembangkan meliputi (1) materi dan teori tentang memahami unsur cerpen (tokoh. Paparan bahasa dalam bahan ajar tidak banyak mengalami revisi. penggunaan bahasa bahan ajar. dan tampilan bahan ajar. perwatakan. bagian pendahuluan. alur. Komponen-komponen yang dikembangkan tersebut antara lain deskripsi isi materi bahan ajar. petunjuk penggunaan bahan ajar. . Informasi tersebut dirangkum dalam kolom Info Realitas. Bagian terakhir bahan ajar yakni Tahap 2 berisi latihan memahami cerpen dan menghubungkannya dengan dunia realitas menggunakan adaptasi strategi SQ3R.

Teks cerpen yang ada dalam bahan ajar yakni pada tahap 1 dan tahap 2 diadaptasi dengan memberi tanda pada kata-kata kunci yang ada di dalam cerpen. (3) pemakaian bahasa memenuhi syarat keruntutan dan keterpaduan alur berfikir. misalnya penggunaan huruf tebal pada nama-nama tokoh. yaitu (1) kesesuaian pemakaian bahasa dengan tingkat perkembangan siswa. mulai dari halaman judul. Tampilan yang diperhatikan di antaranya adalah sampul bahan ajar. info mini. kata pengantar. Hal-hal yang diperhatian dalam tampilan bahan ajar adalah sebagai berikut antara lain. dan (3) bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa kelas X. penggunaan garis bawah pada latar cerpen. ada tiga indikator yang harus diperhatikan. (a) jenis dan ukuran huruf yaitu tiap bab berukuran 26 pt dengan judul 18 pt dan jenisnya . kamu perlu tahu. tampilan cerpen dalam tiap tahap bahan ajar juga perlu diperhatikan. ingatkah kamu. aspek dalam uji coba yang diperhatikan adalah paparan bahasa yang digunakan di dalam bahan ajar. 2004:88) menyatakan bahwa salah satu persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk menyusun bahan ajar adalah meningkatkan motivasi siswa atau peserta didik. Sampul bahan ajar didesain dengan menarik dan menggunakan warna dominan hijau sebagai warna inti bahan ajar. dan kegiatan lanjutan.9 Sistematika penyajian bahan ajar disusun secara berurutan. Adaptasi ini dilakukan untuk membantu siswa dalam menyurvei cerpen yang tidak memiliki bab dan subbab seperti buku atau novel. Seperti pendapat Muslich (2010: 303) yang menyatakan bahwa dalam hal kelayakan bahasa. daftar isi materi. catat dalam memorimu. Aspek yang diperhatikan dalam penggunaan bahasa dalam pengembangan bahan ajar memahami cerpen ini adalah (1) bahasa yang digunakan dalam penyampaian materi dan latihan komunikatif. Selain deskripsi isi dan sistematika penyajian. Sedangkan bagian isi disusun sesuai dengan kebutuhan siswa. dan yang lainnya. Tampilan bahan ajar memiliki peranan penting dalam pengembangan bahan ajar karena menarik tidaknya bahan ajar ditentukan oleh tampilannya. tips. Dengan tampilan yang menarik diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk membaca bahan ajar. Bahan ajar dicetak menggunakan kertas ukuran A4. Bagian awal disajikan mulai dari pengantar dari penulis sampai penyajian materi awal yakni pengetahuan dasar siswa tentang sastra dengan realitas. info realitas. Selain itu di dalam isi juga disusun informasi sastra. Tampilan cerpen dalam bahan ajar telah diadaptasi dan disesuaikan dengan adaptasi strategi SQ3R. dan daftar rujukan. (2) pemakaian bahasa yang komunikatif. Tjipto Utomo dan Kees Ruijter (dalam Mbulu dan Suhartono. Selain tampilan sampul bahan ajar. Warna hijau dipilih peneliti karena dianggap sebagai warna yang cerah dan warna umum. yakni bab yang menjelaskan contoh analisis dengan adaptasi strategi SQ3R. Tiap-tiap bab atau tahap dalam bahan ajar disajikan kegiatan awal. Jadi bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia ragam formal yang komunikatif. kegiatan inti. dan kemudian dilanjutkan dengan bab yang melatih siswa memahami cerpen dengan adapatasi strategi SQ3R. dan rangkuman. (2) bahasa yang digunakan dalam bahan ajar mudah dipahami dan tidak menimbulkan makna ganda. Gambar sampul disesuaikan dengan aspek kebahasaan yang dipilih yakni membaca.

Hasil pemerolehan persentase uji coba yang dilaksanakan pada (1) ahli apresiasi cerpen adalah 80. Guru dapat menggunakan bahan ajar secara penuh atau dikolaborasikan dengan buku teks siswa. dan (d) ilustrasi dan warna bahan ajar memberi kesan menarik. sehingga guru dapat memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar. margin left (kiri) 4 cm. Produk bahan ajar yang telah diujicobakan telah melalui tahap revisi untuk memperbaiki produk.15. dan (4) bahan ajar diberikan tampilan sampul dan isi yang menarik serta teks cerpen yang diadaptasi sesuai dengan kebutuhan adaptasi strategi SQ3R. judul kegiatan 18 pt dan judul subbab berukuran 13 pt jenisnya Bold Old Style. sistematika penyajian. dan bagian penutup.5 pt jenisnya Trebuchet MS. (c) judul bahan ajar diletakkan di bawah menggunakan footer dan di atas menggunakan header. dan kelompok kecil siswa kelas X SMA. margin right (kanan) 3 cm. peneliti mengemukakan saran sebagai berikut. sedangkan materi dan latihan berukuran 11 pt jenisnya Book Antiqua. proporsi margin yaitu margin top 3 cm. (3) bahan ajar menggunakan ragam bahasa formal yang komunikatif. khususnya pada keterampilan membaca cerpen.4%. spasi bahan ajar 1. teks cerpen berukuran 10. dan bahasa bahan ajar. (2) ahli bahan ajar adalah 76%.10 Cooper Black. (3) praktisi (guru) adalah 97%. PENUTUP Simpulan Penelitian pengembangan yang dilakukan menghasilkan sebuah produk bahan ajar memahami cerpen dengan menggunakan adaptasi strategi SQ3R. contoh. (b) penataan halaman atau sistem penomeran yaitu bidang cetak menggunakan kertas A4. Produk bahan ajar memahami cerpen yang dikembangkan telah diujicobakan kepada ahli apresiasi cerpen. bahan ajar memahami cerpen yang berjudul Mencari Benang Merah antara Cerpen dengan Dunia Realitas dapat digunakan guru atau dimanfaatkan untuk pembelajaran memahami cerpen di kelas. tampilan bahan ajar. praktisi (guru). margin bottom (bawah) 3 cm. (2) dalam bahan ajar disajikan bagian pendahuluan. Oleh karena itu. dan (4) kelompok kecil siswa adalah 92%. Produk akhir bahan ajar yang dikembangkan adalah menghasilkan isi materi bahan ajar berupa materi. Sistem penomeran di bawah menggunakan footer. Bagian bahan ajar yang direvisi adalah isi bahan ajar. Berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan dapat dikatakan bahwa bahan ajar memahami cerpen dengan menggunakan adaptasi strategi SQ3R tergolong layak dan dapat diimplementasikan atau dipergunakan di dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Saran Produk bahan ajar memahami cerpen dengan adaptasi strategi SQ3R untuk siswa kelas X SMA diharapkan dapat digunakan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas X. Pertama kepada guru. . bagian inti. dan penugasan memahami cerpen. produk bahan ajar diujicobakan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar direvisi atau implementasi. ahli bahan ajar.

Nana Syaodih.html). 2004. Teori Kajian Fiksi. Jakarta: Bumi Aksara Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan. Texs Book Writing: Dasar-Dasar Pemahaman. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu peneliti lain atau penulis bahan ajar dapat mengembangkan bahan ajar pada kompetensi dasar yang berbeda ataupun aspek kebahasaan yang berbeda.blogspot. Piyatni. Metode Pengembangan Penelitian. 1986.11 Kedua saran untuk peneliti lain. 2010. Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis. diakses 2 September 2011 . Yogyakarta: Gadja Mada University Press. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. 2008. pengembangan bahan ajar yang telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan dan sumber inspirasi dalam mengembangkan bahan ajar memahami cerpen yang lebih baik lagi. Tri. Soedarso. Malang: Elang Mas. Siswanto. Josep & Suhartono. Metode Penelitian Pendidikan. Teknik Membaca SQ3R. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. 2010. 2011. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Nurgiyantoro. Penulisan. Sukmadinata. Jakarta: Grasindo. Bandung: Angkasa. Burhan. Pengembangan Bahan Ajar. 2004. Tarigan. Pengantar Teori Sastra. 2010. Wusananingrum. Endah Tri.com/2011/02/teknik-membaca-sq3r. Hendry Guntur. 2009. dan Pemakaian Buku Teks. Masnur.(Online). Bandung: Remaja Rosdakarya. Wahyudi. 2008. Muslich. (http://berbahasabersastra. DAFTAR RUJUKAN Mbulu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful