HUKUM, SUMBER DAN DALIL

1. Pengertian Hukum Para ahli ushul menta'rifkan hukum dengan :

Perintah / firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan ( perintah dan larangan), atau pilihan (kebolehan ) atau wadh'i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang bagi seseatu hukum ) Dari definisi di atas menunjukan, bahwa yang menetapkan hukum itu adalah Allah Swt. Hanya Allah hakim yang maha tinggi dan maha kuasa. Rasulullah penyampai hukum-hukum Allah kepada manusia. Oleh karena Allah yang menetapkan hukum, maka sumber hukum yang pertama dan paling utama adalah wahyu Allah yaitu Alquran, kemudian sunnah Rasul sebagai sumber hukum yang ke dua, dan sumber hukum yang ke tiga adalah Ijtihad.

2. Pengertian Sumber dan Dalil Secara etimologi ( bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan

1

kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ). Jadi prosesnya ialah : Dalil dalalah - madlul Perintah shalat - Wajib shalat Api dari segi ruang

Aqiemu ash-shalat Asap -

Ada yang terbakar

Dalil dapat dilihat dari berbagai segi : Dari segi asalnya, limgkupnya, dari segi kekuatannya.

a. Dalil ditinjau dari segi asalnya Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam: 1.Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan alSunnah. 2.Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad. Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu: 1. Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini

adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully. Contoh berikut dari dalil kully:

2

Dalil ini disebut dalil kully dari Alquran karena mencakup berbagai macam kerusakan yang dilarang oleh Allah Swt.

Dalil Kully dari hadits ini, menunjukan bahwa perbuatan apapun hendahnya disertai niat, dan amal seseorang akan dilihat dari sisi niatnya.

Artinya: Kesulitan itu membawa kemudadahan. Dalil kully dari Qaidah ini, memberi arti bahwa segala sesuatu yang tadinya sulit akan menjadi mudah. Dalil kulli dari Qaidah kulliyah ini tetap kembali kepada semangat atau didasari oleh isyarat Alquran dan al-Sunnah.

2.Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu, seperti Ayat ini disebut dalil Juz'i, karena hanya menunjukan kepada perbuatan puasa saja.

c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu Dalil Qath'i dan dalil Dhanni. 1. Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :

3

a. Dalil Qath'i al-Wurud. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan . dan tidak semua hadits qath'i wurudnya. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. b. Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya. Dalil Qath'i Dalalah. jika mereka tidak mempunyai anak.Dhanni al-Wurud. Contoh Dan bagimu ( para suami) separoh dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu. yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah ( Alquran) atau dari Rasulullah ( Hadits Mutawatir). a. terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah. b. Dalil Dhanni.Dalil Dhanni. Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu. Tidak ada ayat Alquran yang dhanni wurud. 4 . kecuali menunjukan bahwa suami mendapat setengah dari harta peninggalan istri jika istrinya tidak mempunyai anak.kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. Dan wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya (beriddah) tiga kali quru. yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw. Ayat ini tidak bisa diartikan lain. 2. adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad.Dhanni al-Dalalah.

ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan. Ijma. Sedangkan yang lainnya.Kata Quru dalam ayat di atas bisa diartikan haid dan bisa diartikan suci. Istihsan. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa seperti. Ijma. sebagai turuq istinbath al-Ahkam yaitu metode dalam menetapkan hukum. istihsan dan lain sebagainya tidak dapat dikatakan sebagai sumber hukum Islam. mashlahah mursalah. Ishtishhab. hukum bagi umat sebelum kita. tidaklah dapat dikatakan sumber. Qiyas dan istihsan misalnya. karena dalil-dalil ini hanya bersifat al-Kasyf wa al-Izhar li al-Hukum artinya hanya menyingkap dan memunculkan yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah. mazdhab shahabi. Oleh sebab itu. disamping sebagai sumber hukum Islam. Dari pengertian dalil yang diungkapkan di atas. Qiyas. Alquran dan al-Sunnah juga disebut sebagai dalil hukum. Urf. 5 . Disamping itu. Karena suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah. mashlahah mursalah. Urutan Sumber Hukum Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Alquran dan al-Sunnah. Oleh karena itu para ula sering berbeda pendapat dalam menentukan hukum dari ayat tersebut di atas. keberadaan suatu dalil. Qiyas dan sebagainya. Qiyas. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alquran dan alSunnah. karena yang dikatakan sumber itu harus berdiri sendiri. istihsan. maka dapat dikatakan bahwa. Saddu zdara'i. para ahli ushul Fiqh sering menyebut terhadap adillah ahkam seperti Ijma. seperti Ijma. 3. apa yang dikemukakan Abdul Wahab Khalaf bahwa al-Adillah al-Ahkam identik dengan Mashadir al-Ahkam ( sumber hukum). Karena itu dari sisi ini.

( Ahmad. Nabi bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab . Al-Sunnah 3. Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku. Al-Ishtishhab. Mazdhab shahabi. Istihsan. Uruf. al-Qiyas. Saddu zdara'i. Turmudzi. Urutah sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah. yang meliputi pada : Al-Ijma. Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah.Bila diurut. 2.Alquran. maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut : 1. al-mashlahah Mursalah. Syar'un man Qablana. Ijtihad. Abu Daud) 6 . maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah saw.

Bentuk mashdarnya artinya ' bacaan' dan / Qara'a artinya ' 'apa yang tertulis padanya'. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. kepada Malaikat. Hukum dalam Alqur‟an Hukum-hukum yang terkandung dalam Alqur'an. bila membacanya mengandung nilai ibadah.ALQUR‟AN SUMBER HUKUM PERTAMA 1. kepada Kitab-kitab. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas Al-Jurjani mendefinisikan Alqur'an: Alqur'an adalah (Kalamullah) yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushhaf. tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. Seperti tertuang dalam ayat Alqur'an : Secara istilah Alqur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.Hukum-hukum I'tiqadiyyah. ditukil dari Rasulullah secara mutawatir dengan tidak diragukan. Tinjauan Bahasa Kata Alquran dalam bahasa Arab berasal dari kata membaca. 7 . 2. meliputi : a. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah swt. para Rasul Allah dan kepada hari akhirat.

persaudaraan.Hukum-hukum Amaliyah. Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. Hukum dalam Alqur'an yang berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang alAhwal al-Syakhsyiyah / ihwal perorangan atau keluarga. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan 8 . yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. Banyak manusia yang menyekutukan Allah. Alqur‟an dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alqur'an dalam menetapkan hukum menggunakan perinsip : a. tentu ini sangat bermanfaat. Perinsip umum itu adalah Tauhidullah. sedang keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat dan akan memberi warna terhadap yang lainnya. Adapun dalam bidang-bidang lain yang pengaturannya bersifat umum. dan berbagai kasus dalam sepanjang jaman. disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-bidang hukum yang lainnya. maju dan dinamis. yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. c. manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauhi prilaku yang buruk. Hal ini menunjukan bahwa manusia memerlukan bimbingan lebih banyak dari Allah swt dalam hal beribadah dan pembinaan keluarga. memberi peluang kepada manusia untuk berpikir. 3.b. ini perlu diluruskan dan teguran. Hukum amaliyah ini ada dua. persatuan dan keadilan.Hukum-hukum Khuluqiyyah. Namun kemajuan dan kedinamisannya harus tetap dalam batas-batas perinsip umum Alqur'an. karena dengan pengaturan yang bersifat umum itu Alqur'an dapat digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat. Hukum Islam memberi peluang kepada masyarakat dan manusia untuk berubah.

mengqasar shalat dari empat menjadi dua rakaat. Haramnya minuman keras dan perjudian proses larangannya sampai tiga kali 9 . Ibadah hajji. Demikian juga misalnya . hanya bagi orang yang mampu saja. keringanan).Bertahan dalam menterapkan hukum Hal ini dapat ditunjukan dengan beberapa contoh. bertayamum sebagai ganti air untuk berwudhu.Menyedikitkan tuntutan Hal ini ditunjukan dengan firman Allah swt: Selain itu ayat Alqur'an yang berjumlah 6342 ayat ( menurut sebagian pendapat) hanya sekitar 500 ayat saja yang berkaitan dengan hukum. dan dalam keadaan sakit. bahkan sebagian pendapat menyebutkan kurang dari 500 ayat. b.Dijumpai dalam Alqur'an hukum-hukum yang bersifat azimah ( kemestian ) dan hukum rukhshah ( kelonggaran. Ini menunjukan bahwa Alqur'an menyedikitkan tuntutan. misalnya kewajiban untuk shaum. perintah zakat. c. juga hanya bagi orang yang istitha saja. bepergian boleh buka dan mengqadanya. makan makanan yang terlarang dalam keadaan darurat.

Akhitnya diharamkan dalam surat Al-Maidah: 60 Pentahapan diperlukan agar tidak ada goncangan kejiawaan dan kewajibankewajiban bisa dilaksanakan dengan mantap. kemudian dikuatkan kembali dalam surat Al-Nisa: 43 tidak boleh mendekati shalat jika mabuk. disebut bahwa pengaturan tersebut dimaksudkan agar harta itu tidak hanya berputan di antara orang yang kaya saja. tapi bertahan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. hanya disebutkan bahwa dosa minum khamer dan bermaisir lebih besar daripada manfaatnya. Perubahan dari masyarakat Jahiliyah ke masyarakat Islam tidak sekaligus.Alqur'an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia.Dari ayat-ayat tersebut jelas tahapan-tahapan dalam mengharamkan khamer dan maisir. Dalam ayat 219 Al-Baqarah. karena bila kita memakimaki berhala. Misalnya tentang adanya pengaturan harta. mereka pun akan memaki-maki Allah. Hal ini dibuktikan dengan seringnya Alqur'an menyebutkan sebab atau illat hukum. 10 . d. Juga dalam hal tidak boleh mencaci berhala: Dalam ayat ini ada larangan memaki-maki berhala.

Ada beberapa alasan yang ditemukan ulama ushul fiqh tentang kewajiban berhujjah dengan Alqur'an: 1. 4. Mukzijat Alqur'an juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alqur'an datang dari Allah swt. Mukzijat Alqur'an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. Kehujjahan Alqur'an Para ulama ushul fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Alqur'an merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib dilaksanakan. antaranya 3. Apabila hukum permasalahan yang ia cari tidak ditemukan dalam Alqur'an. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alqur'an itu datangnya dari Allah. Alqur'an itu diturnkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. 2. Yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat 11 . Seorang mujtahid tidak dibenarkan menjadikan dalil lain sebagai hujjah sebelum membahas dan meneliti ayat-ayat Alqur'an. maka barulah mujtahid tersebut mempergunakan dalil lain. dan ini memberi keyakinan bahwa Alqur'an itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. Zina itu termasuk pada perbuatan yang keji dan menuju pada kehancuran Akhlak manusia.Dalam ayat tersebut dilarang mendekati perbuatan yang akan mendorong pada zina. Oleh karena itu dalam hukum Islam tindak pidana zina bukan delik aduan akan tetapi delik biasa.

6. yaitu suci dan haidl.kata quru di atas merupakan lafal musytarak yang mengandung dua makna. hukum-hukum yang dikandung Alqur'an ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zdanni (relatif benar). dari segi turunnya berkualitas qath'i ( pasti benar) akan tetapi. Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : 12 . Dan jika diartikan dengan haidl juga boleh (benar) sebagaimana yang dianut ulama Hanafiyah. apabila kata quru di artikan dengan suci. Alqur'an Dalil Qath'i dan Zhanni Alqur'an yang diturunkan secara mutawatir. misalnya . Misalnya lafal musytarak (mengandung pengertian ganda) yaitu kara / lafal yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228. sebagaimana yang dianut ulama Syafiiyyah ' adalah boleh / benar. hudud . kaffarat. 5. Ayat-ayat seperti ini. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. ayat-ayat waris. Mukzijat Alqur'an menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menadingi Alqur'an itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. Oleh sebab itu. Contoh dalam Kaffarat sumpah : Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alqur'an mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan.manusia.

Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. hukum waris. seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah. dan membatasinya. berapa nisab nisab zakat. 13 . 2. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl : 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah kepada mereka. dan muthlaq.1. berapa ra'kaat untuk satu kali shalat. apa hukum dan syaratnya. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan. seperti dalam masalah shalat yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan. yang tidak bisa dimasuki oleh logika. mengkhususkan. Rasulullah saw. dan berapa kadar yang harus dizakatkan. hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana. tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati. Untuk hukum-hkum yang bersifat global. Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. umum. bersifat global / kully. dan muthlaq ini. umum. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. hudud. Demikian juga dalam masalah zakat. dan kaffarat. hukum-hukum yang rinci ini.

= dekat. Sunnah lebih umum disebut hadits. perbuatan atau persetujuan. 2.Dalil Alqur'an 14 . Dari arti-arti di atas maka yang sesuai untuk pembahasan ini adalah hadits dalam arti khabar. Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti ' cara yang dibiasakan' atau ' cara yang terpuji. seperti dalam firman Allah Secara Istilah menurut ulama ushul fiqh : Semua yang bersumber dari Nabi saw. selain Alqur'an baik berupa perkataan. yang mempunyai beberapa arti: = baru. = berita.SUNNAH SUMBER HUKUM KEDUA 1.

dan jika tidak mendapatkan dari Alqur'an. ( Yaitu telah diberikan kepadaku yang sepertinya berupa Al-Sunnah ). mereka mencarinya dari Alqur'an. di antaranya : Nabi saw. gigitlah sunnah dengan taring. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. mereka bertanya-tanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. bersabda : ingatlah sesungguhnya telah didatangkan kepadaku Alqur'an dan yang sepertinya bersama Alqur'an. diantaranya berbunyi : b. Al-Ahzab : 36. misalnya dalam Ali Imran :32. dengan ungkapan yang berbeda-beda. sunnah khulafau' alRasyidin yang pada mendapat petunjuk . Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnahku. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar.Dalam Alqur'an banyak ayat-ayat yang menunjukan bahwa kaum muslimin diperintah untuk mengikuti Allah swt dan Rasulnya saw.Dalil Al-Sunnah Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw yang memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Sunnah. Ijma Shahabat Setelah wafatnya Rasulullah saw. Ahmad c. Al-Nisa : 80. juga Umar bin 15 . Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya.

Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya.Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. pada umumnya bersipat global. 3. zakat terdapat dalam Alqur'an dan dikuatkan oleh Al-sunnah. puasa dan ibadah haji. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. - b.Sebagai Muaqqid Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alqur'an dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah.Logika Alqur'an memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alqur'an. misalnya tentang shalat. Sebagai Bayan 16 . tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. d. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alqur'an Hubungan Al-Sunnah dengan Alqur'an dilihat dari sisi materi hukum yang terkandung di dalamnya sebagai berikut : a. zakat. misalnya tentang Shalat.

kemudian al-Sunnag mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. haji dan shaum. Demikian juga tentang zakat. darah dan daging babi. 17 .Membatasi kemutlakan ( taqyid al-muthlaq) Misalnya.Menciptakan hukum baru. Dalam Shalat misalnya 2). Kemudian Al-Sunnah membatasinya. misalnya perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. belalang.an yang belum jelas.Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur. Alqur.Mentakhshishkan keumuman Misalnya. hati dan limpa. dalam hal ini ada tiga hal : 1). Alqur'an memerintahkan untuk berwasiat. - 3). diperjelas dengan Sunnah. 4).Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alqur'an yang masih mujmal. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya.an mengharamkan tentang bangkai.

yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. 4. atau berita berupa perkataan Nabi saw.Diyaniki dustanya. Sunnah Qauliyah. seperti berita yang disamapaikan oleh orang bodoh 18 . 3) Yang tidak diyakini benarnya. dan juga tidak diyakini dustanya. hal ini ada tiga : a.Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara.Diyakini benarnya. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir 2). dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alqur'an. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar.Misalnya. yaitu : a. Contoh perkataan Nabi saw. Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada 3 hal : 1). dan burung yang berkuku kuat. agar tidak membuat kemadharatan bagi dirinya juga bagi orang lain. Tidak ada kemadharatan dan tidak pula memadharatkan Hadits ini adalah Sunnah Qauliyah yang memberikan sugesti kepada umat Islam. Macam-macam Sunnah Sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat.

dan ada yang tidak harus diikuti. seperti khabar yang disampaikan oleh orang adil c. cara bercocok tanam dan lainnya.Perangi yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. seperti cara shalat. Sunnah fi'liyah ini terbagi kepada beberapa bentuk. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. ada yang harus diikuti oleh umatnya. keduniaan. cara minum yang diajarkan 19 .b. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. Ini lebih pada urusan. cara berwudlu yang dipraktekan Nabi Saw. b. setrategi berperang. bentuk tersebut : 1). duduk. seperti khabar yang datang dari orang fasik ( orang yang mengakui peraturan-peraturan Islam tapi tidak mengindahkannya.Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. 2). Sunnah fi'liyah ini menunjukan tidak ada kewajiban untuk diikuti dan bersifat mubah. budaya dan kebiasaan. Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan.Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah. Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. Seperti petunjuk cara makan yang ditunjukan Nabi saw.Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan seperti gerakan badan dan gerakan anggota badan. seperti kebiasaan berdiri. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. 3).Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya.

Seperti perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. demikian juga ibadah Haji.Apa yang dilakukan Nabi saw. Maka Abu Ishaq meriwayatkan dari banyak muhaddits yang memandang Mandub. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal / samar tidak jelas. seperti shaum Ramadhan.Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. ibadah hajji dll. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. dengan perbuatannya. apakah akan dipandang Jibilah. Menurut Imam Syafi'i ada dua pendapat.Bukhari) ini menunjukan bahwa orang yang berwudhu boleh satukali-satukali dan boleh duakali-duakali. seperti melakukan shaum wishal.Nabi saw. c. menjelaskan akan kebolehan / jawaz . Seperti Adalah Nabi saw. saja. 5). Adapun urusan alQurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. seperti yang diriwayatkan An-Nawawi tentang wudhu Nabi saw. dan beristri lebih dari empat. Sunnah Taqririyah 20 . atau akan dipandang tasyri / syariat. memakai bajunya di atas dua mata kaki. 4). dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. itu harus diikuti oleh orang muslim. 6)Apa yang dilakukan Nabi saw. Maka hukumnya sama dengan yang hukum mujmal tersebut. diperjelas oleh Nabi saw. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. shalat lima waktu. (R.

2). karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran. Hal itu disampaikan pada Nabi saw. Maka Nabi tertawa dan tidak berkomentar apapun. 6). misalnya dengan cara riba. 5).Amr ibn al-'Ash. tapi hendaklah bertaubat dari pekerjaannya yang telah lalu. Contoh 1). atau sepengetahuan Nabi . karena Nabi tahu keperluan orang buta sama dengan keperluan hidup orang melihat.Taqrir Nabi terhadap harta para sahabat yang diperoleh ketika mereka musyrik. Nabi saw. 3). hal ini kerena kalaulah Nabi tidak setuju.Taqrir Nabi saw. terhadap 'Aisyah yang melihat orang Habasyah yang sedang bermain perang-perangan di Mesjid. Ia menjawab " saya ingat firman Allah swt ' janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri". membereskan rumah dll.Taqrir Nabi saw. yang tidak mandi junub ia hanya tayamum karena malam sangat dingin dan hawatir akan sakit. terhadap para Lelaki membantu pekerjaan istrinya di rumah. tentu Nabi tidak akan membiarkan Sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah. terhadap orang yang tidak melihat untuk berbelanja dan berjualan di pasar. tidak menyuruh untuk mengembalikannya. terhadap para wanita keluar dari rumah untuk hadir di mesjid mendengarkan khutbah-khutbah. Nabi bertanya kepadanya.Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. menunjukan persetujuan nabi. mencuci. maka sikap diam dan tidak mecegahnya. akrena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. seperti memasak.Taqrir Nabi saw. 4). namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. 21 . dengan seizinn dan ridhanya.Taqrir Nabi saw. membuat kueh.

Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakan untuk berdusta. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan ma. Contoh : 2). perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. yang berjanji saat Ia marah tidak akan makan. shaum. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah ( yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. Sedangkan menurut jumhur.nawi 22 .Mutawatir Ma. a.7) Taqrir Nabi terhadap ingkar janjinya Abu Bakar. Hadits Mutawatir dan Ahad. kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali. Masyhur dan Ahad. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits: Mutawatir. haji dan lain-lain. Pada sunnah qauliyah tidak sebayank sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir. 5. hadits dibagi kepada. hadits masyhur masuk pada pembagian hadits ahad menurut ulama jumhur. Mutawatir itu ada dua : 1)Mutawatir lafzhi.nanya. Tentu Nabi tahu jika janjinya ditepati akan membawa kemadharatan.

Dan dalam definisi lain. dan sempurna ketelitiannya. dan Dhaif. kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabiut' tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas nutawatir. sampai kepada Rasulullah. . Dari bermacam-macam riwayat ini ada kesamaan yaitu ' shalat magrib 3 rakaat'. Shahih.Hadits Shahih. Hadits Ahad ini terbagi kepada : Masyhur.Hadits Adah Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw.Shahabat-shahabat Nabi shalat magrib 3 rakaat diketahui Nabi saw. diterangkan dalam beberapa riwayat.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Mekah . Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. 1).Nabi shalat magrib 3 rakaat di Madinah . Contoh 2). Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. tapi susunan masingmasing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. sanadnya bersambung. seperti shalat magribtiga rakaat. shalat magrib 3 rakaat di rumahnya . oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir.Nabi shalat magrib 3 rakaat dalam safat. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Hasan .Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain. oleh sejumlah orang yang idak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. tidak 23 . b.

munkar dan mubham. 24 . Pengertian yang terkandung di dalam hadits tersebut masih tercakup dalam pengertian yang terkandungdalam hadits shahih yang berbunyi : 6. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Contoh 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. tetapi kurang ketelitiannya.. antara lain Hadits Maudhu. sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. munqathi. Contohnya 3). bahwa para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal. walaupun hanya sekali saja dalam hidup. dan walaupun diriwayatkan hanya seorang. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits. Imam An-Nawawi berkata. dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Hadits Hasan. mudtharib.mempunyai cacat atau illat. inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif. Contoh hadits dhaif tentang fadhilah amal. segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. muallq. mudallas. mursal. bukan dalam Asal / pokok amal. Hadits Dhaif ini banyak macamnya. mudraj.

sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. berupaya keras. yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Dan menurut Istialah Ulama Ushul berarti : 25 . IJTIHAD SUMBER HUKUM KE TIGA 1. Dan juga bermakna artinya yaitu artinya Ia Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan. seperti kata berupaya keras mengangkat batu penggilingan. adalah nama amaliyah yang mutawatir. yakni cara Rasul melaksanakan ibadah.Sunnah. Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata kesulitan. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan.

dan zhanniyu al-dalalah ( Nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan).Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniyul wurud ( hadits-hadits ahad). maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad.hukum syara ( dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaflikasiannya. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu: a. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukan oleh Nash Qath'i. dan Khulafa Rasyidin 26 .Mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan melakukan penelitian / kesimpulan dari Kitab dab Sunnah. Ini dapat dilakukan dengan. Qiyas. 3. b. Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu. Ijtihad pada masa Rasul saw. Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i. ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam nenerapkan huku (Ijtihad fi tathbiq ahkam). 2.Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum . Istishab. Urf dll. Istihsan.

adalah. tidak menghukumnya dengan potong tangan. dibentuk panitia yang terdiri dari para Qa'ri. pernah terjadi kelaparan. 4. yakni menerima tebusan. karena hawatir para Qa'ri banyak yang meninggal. dan akibatnya terjadi pula pencurian. antara lain Zaid bin Tsabit. tentang tawanan perang Badar. Ia berpendapat bahwa orang yang membangkang membayar zakat harus diperangi sampai mau membayar zakat. Pada masa Umar r.Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. tidak bakal terrealisir beserta adanya bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. Di antara ijtiha para Shahabat ialah : a. karena ia berpendapat bahwa kemaslahatan yang diharapkan akibat pemberian hukum. Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar. Ijtihad Abu Bakar. Ijtihad Abu Bakar tentang usulan Umar bin Khatab untuk memushhapkan Alquran.a. b. hafizh Alquran. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i 27 . Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan.a. Lalu setelah menemukan kata sepakat. Ijtiha Umar r. Dari dua pendapat itu. Atas keadaan yang demikian itu Umar r. penulis wahyu. Ijtihad Abu Bakar dalam hal orang yang membangkang membayar zakat.a.

Adanya ijtihad fardi ini dapat ditunjukan dengan beberapa alasan. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. antara lain: 1). Ijtihad Fardi. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. Abu Bakar. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu.Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasulullah jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. terdiri dari Kakek bersama saudara. Demikian juga pesan Umar kepada Qadhi Suraih: dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu Apa yang tidak jelas bagimu terdapat dalam al-Sunnah maka curahkanlah fikiranmu (berijtihad). Muadz menjawab ( akau akan berijtihad dengan fikiranku. 3). maka ijtihad terbagi pada : a. 2)Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas.Dalam kaitannya dengan ahli warits yang ditinggalkan oleh yang mati. dan aku tidak akan meninggalkannya). Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa 28 .

b. Alasan adanya ijtihad jama'i ini. setelah terjadi pertukaran pendapat di antara mereka. 29 .Kesepakatan para shahabat atas tindakan Abu Bakar r. maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah ?. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min.saudara terhijab oleh kakek.a. Ijtihad Jama'i. Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. memerangi pembangkang membayar zakat. Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. Sedang menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah ( membagi sama) dengan Saudara. yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. Di sini kakek tidak menghijab saudara. Contoh yang menunjukan adanya ijtihad jama'i ini: 1). Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan.

5. ta'wil. haqiqat majaz. ilmu nahwu. dan hasil ijtihadnya berkualitas.Kesepakatan para shahabat atas saran Umar r. disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. yakni mngetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum / istinbath daripadanya.Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya. yang sebelumnya Abu bakar merasa keberatan karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw. 30 . dan tahu antara 'aam .2).Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. sharaf. c.a. Juga mengetahui asbab al-nuzul. ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya.Mengetahui nash-nash hadits.Kesepakatan para shahabat atas keimaman Abu Bakar dan persetujuan mereka.khash. balaghah dal lainnya. maka ia harus memiliki syarat-syarat : a. akan digantikan jabatan khalifah oleh Umar r.muhkam. 3). dan lainnya. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. mutasyabih . sewaktu beliau masih menjabat.a untuk menulis mushhaf Alquran. juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa ( natsar) maupun syair ( nadham).Syarat-syarat Ijtihad. b. Agar seorang mujtahid dapat berijtihad.

metoda menemukan dan menterapkan hukum. 6.Mengetahui ilmu Ushul Fiqih. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. Jika usaha ini berhasil. Jika usaha tidak berhasil lakukan. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum mathuq dan dan mafhum dari keduanya. 31 . tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat.. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. hendaknya. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan. lalu memperhatikan pada perbuatan nabi/ hadits fi'li. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya. b.d. lalu selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shabat. dengan menggunakan ilmu tarjih. e.. a. sanggup mengetahui illat hukum. dapat mengqiyaskan satu peris dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat.Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. f. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. sebagai ilmu metoda isthinbath.Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. Mentarjihkan salah satunya.

Meneliti sejarah datangnya kedua nash. Imam Ahmad bin Hambal. Muhammad ibnu Hasan dalam madzhab Syafi'i.Mujtahid fi syar'i Yaitu orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad.Mujtahid al-Muntasib Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. yaitu. Imam Au'zai dll. Imam Syafi'i. untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai.c. Merekalah yang membangun mazdhab. untuk ditentukan yang datang kemudian / belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. a. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. Membekukan ( tawaqquf) . 7. dan berijtihad dengan hasil sendiri. Mereka itu Imam Abu Hanifah. mujtahid itu ada beberpa tingkatan. d. dan berbeda dalam hal cabang. dalam madzhab Maliki. 32 . Mujtahid ini seperti Abdurahman bin al-Qasim. b. Imam Malik. sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu.

dan meletakan dasar-dasar tarjih. Pekerjaan mereka dalam berijtihad adalah mengeluarkan hukum / istinbath dari masalah yang tidak diriwayatkan oleh Imam. akan tetapi mereka hanya mengikuti Imam madzhab yang telah ada . yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. Misalnya Imam Abu Yusuf adalah mujtahid pada madzhab Hanafi.Mereka itu. mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu.Mujtahid fi Madzhab Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk madzhab tersendiri. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidahqaidah lama. mereka menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan yang lemah dengan argumen qaidah tarjih.Tingkatan Muhafidh 33 . mengembangkan dasar-dasar madzhab.c. dan perbandingan di antara pendapat. d. baik dalam masalah yang pokok atau masalah cabang. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu. Imam al-Muzani mujtahid pada Imam Syafi'i. e. Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya.Mujtahid al-Murajjih Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. tapi Mujtahid itu hanya melakukan tarjih.

Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. riwayat yang jarang. 8. f. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih. Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. antara pendapat dan riwayat-riwayat. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. madzhab yang dhahir. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. Alquran 34 . tapi mengetahui mana yang kuat. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. riwayat. riwayat yang dhahir. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih.Tingkatan Muqallid Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu.

lalu benar maka baginya dua ganjaran dan jika salah maka baginya satu ganjaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. tapi kembali kepada yang telah disyariatkan Allah dan Rasulnya.Yang dimaksud dengan mengikuti Allah dan Rasulnya dalam ayat tersebut adalah mengikuti yang telah ditetapkan dalam Alquran dan al-Sunnah. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. dengan jalan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqasid alsyariah. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu 35 . Al-Hadits Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. Logika. c. ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu. Jika hakim berijtihad . sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. dan yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya. b.

mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi. selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. 'IJMA' DASAR HUKUM ISLAM 1. Tinjauan Bahasa 36 .

b.Alasan Hadits .Alasan Alquran Lafadz ulil amri. dan mencakup pemegang urusan agama.akan suatu hukum syariat yang amali. mentri dan lainnya. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama. maka wajib diikuti. 2. para mufti dan para ulama. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. seperti kepala negara. Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a. seperti pada ayat berikut ini: Juga berarti tekad atau niat ( ) Tidak ada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niat puasa pada malam Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ' ijma ' adalah Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. seperti para mujtahid. 37 . Umatku tidak sepakat untuk membuat kesalahan.Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus.

Kebulatan pendapat harus tampak nyata. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. Jumhur mengemukakan sejumlah contoh. akrena itu ahli ushul fiqih menyebutkan. misalnya Qadhi dengan keputusannya. baik dengan perbuatannya.Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Muslim. Terdapat beberapa orang mujtahid. itu bukanlah dalil yang menyendiri. Harus ada kesepakatan di antara mereka c. Pengangkatan Khalifah Abu Bakar r. . di sisi Allah pun dipandang baik juga. Unsur-unsur Ijma Dengan memperhatiakn definisi ijma di atas maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur ijma itu: a. Firman Allah AlNisa:59 ijma 3.a. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. atau dengan perkataannya.terhijabnya cucu laki-laki dari anak laki-laki oleh anak laki-laki /ibnu 38 .. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. d. karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma ' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan'. 4. misalnya dengan fatwa. b.hak pusaka nenek 1/6 dari harta peninggalan .

saudara sebapak mempunyai setatus mengganti saudara seibu-sebapak. Yaitu persesuaian ahli Kufah. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. c. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. Imam Daud berkata Ijma itu hanyalah ijma shahabat belaka 5. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. terhadap sesuatu masalah. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. d.Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsurunsur yang ada. maka terdiri dari : a. b. Salah seorang ulama bernama An-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat.. Ijma Ummat. Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. 39 . ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan. Batalnya pernikahan muslimah dengan non-muslim. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan.

dan telah diberiwaktu untuk membahasnya. Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. hanya ulama . yaitu Abu Bakar dan Umar. ijma terbagi kepada dua: a. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadits: -Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa al-Rasyidin.ulama Hanafiyah yang memandang hujjah.e. b. 40 . Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan ( menfatwakan atau mempraktekan ). Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. menurut jumhur bukan hujjah. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah. Ijma bentuk pertama disebut juga ijma ijma Haqiqi. f. dan diamnya bukan karena takut. sedang sebagian lainnya diam. Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat. atas dasar Teladanilah kedua orang ini sesudahku. yang menjadi hujjah menurut ulama Jumhur. sedang ijma bentuk ke dua disebut ijma I'tibari. karena diamnya mujtahid dipandang menyetujui apabila masalahnya telah dikemukakan kepada mereka.

Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad. 'QIYAS' DASAR HUKUM ISLAM 41 . maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati.Dilihat dari sisi prosesnya.

Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran. Ia telah mengukur sesuatu dengan lainnya atau atas lainnya. Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya 2. : Ia sedang . Si pulan tidak sama dengan si pulan Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah bermacam-macam: Mengeluarkan hukum yang sama dari yang disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara keduanya. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : 42 . timbang/an.1. Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan ( diterangkan) karena ada illat hukum. sukatan. : Ia telah mengukur. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata mengukur. ukuran. Mengukur sesuatu atas misal yang lain dan menyamakan dengannya.

Al-Sunnah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa Rasulullah menyetujui apa yang akan diputuskan Muadz bin Jabal dengan Ijtihad setelah tidak ada pada Alquran dan al- 43 . Maka Qiyas adalah mengembalikan urusan yang tidak ada Nashnya kepada yang ada nashnya dari Alquran dan al-Sunnah.Alquran Jumhur ulama ushul. artinya. Ayat di atas menyuruh mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasulnya. baik urusan yang ada nashnya dan yang tidak ada nashnya. maknanya seimbang atau sama. 2. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata ubur. kata al-'Adlu. Maka Qiyas itu melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada hukum cabang. searti dengan kata al-taswiyah. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas. dengan alasan. melewati atau melampaui.1. Maka qiyas adalah menyamakan hukum diantara dua masalah. memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas alasan ayat di atas. Dengan demikian Qiyas termasuk pada makna ayat di atas. Ibnu Taimiyah berdalil dengan ayat di atas tentang Qiyas jahi hujjah.

Sunnah. Maka dalil di atas memberi isyarat akan bolehnya Qiyas, karena Qiyas itu termasuk Ijtihad. Dalam peristiwa yang tidak ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya dengan jalan Qiyas, misalnya, saat Rasulullah menjawab pertanyaan Umar r.a. tentang mencium istri saat shaum, Rasulullah mengqiyaskannya kepada berkumur-kumur waktu shaum, karena sama illatnya yaitu perbuatan permulaan, maka hukumnya sama tidak merusak shaum.

3.Perkataan dan perbuatan shahabat. a. Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu, yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu

b.Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu Beliau sakit.

4. Alasan Logika

44

a.Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.

b.Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan.

c.Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

3. Rukun Qiyas a. Asal Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih, / musyabah bih. b.Cabang Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah. c.Hukum Asal

45

Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. d.Illat Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Contoh-contoh: Pokok 1.Khamer 2.Gandum 3.'Uf'' pd. orang tua 4.Makan harta yatim Wisky Padi / Beras Memukul orang tua bakar harta yatim Cabang Illat memabukan makanan pokok menyakiti merusak harta hukum haram wajib zakat haram haram

4. Syarat Qiyas a.Syarat-syarat Pokok 1).Hukum pokok itu masid ada atau berlaku/ tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum. 2).Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa 3).Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian, seperti tetap dipandang sah puasanya orang yang lupa meskipun makan dan minum, mestinya puasanya itu menjadi rusak, karena sesuatu tidak bisa tetap ada bersama adanya penghalang. Namun tetap dipandang sah karena ada hadits yang mengecualikan. Maka seperti ini

46

3). 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. 2).tidak bisa jadi pokok. seperti melindungi jiwa adalah illat wajibnya qishash. yang menurut ulama Ushul ' apabila datang nash.Syarat-syarat Cabang 1). sedang tayamum setelah Hijrah. manakala ada illat. tentu ada hukum. memabukan adalah illat haramnya meminum minuman keras. b.Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. Qiyas tersebut tidak benar. Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. qiyas menjadi batal. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat. 47 .Illat berpengaruh pada hukum. 4).Illat Harus tetap berlaku.Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. karena itu tidak sah mengqiyaskan orang yang dipaksa kepada orang yang lupa. karena wudhu ada sebelum Hijrah. Hukum bagi orang lupa hukum pengecualian.Syarat-syarat Illat 1). Misalnya mengqiaskan wudhu kepada tayamum dalam wajibnya niat karena keduanya samasama taharah. Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia.

1). Kalimat liajliddaffah. Misalnya. Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat Ada beberapa cara untuk mengetahui illat hukum yaitu dengan melalui: Nash. makanlah dan simpanlah.Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih). maka nsha yang didahulukan. dan adakalanya dengan isyarat. bahwa perempuan itu dapat memiliki dirinya. tidak dapat diartikan dengan arti yang lain. maka sah nikahnya tanpa izin walinya. 48 . Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. tidak dapat dipakai arti lain selain untuk memberi illat larangan menyimpan daging binatang Qurban.3). kecuali hanya untuk memberi illat diutusnya para Rasulullah saw. karena banyak orang berkumpul ( yang memerlukannya). diqiaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya. Maka ini berlawanan dengan nash. jika berlawanan maka nash yang didahulukan. Contoh yang Sharih di antaranya: Kalimat liallaa yakuna sampai kalimat ba'da rasul. Ijma dan Istinbath ( penelitian ). Hanyalah aku melarang kamu dari menyimpan daging binatang korban.Illat tidak berlawanan dengan nash. seperti . Maka (jika tidak banyak lagi orang berkumpul).

mak hukumnya qath'i. b) Dengan qiyas pula didahulukan anak paman seibu sebapak dari anak pamam yang sebapak. Contoh Illat yang diketahui dengan melalui Ijma seperti a) mendahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari pada saudara laki-laki sebapak dalam warisan karena ada talian kekerabatan ibu. 3). Didahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari saudara sebapak dalam waris.Contoh dengan isyarat. Al-Munasabah 49 . c) Didahulukan anak saudara laki-laki seibu sebapak dari anak laki-laki sebapak. dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. e).Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a.Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. di antaranya: Kalimat yang digaris bawah adalah illat larangan jual beli hari jum'at Kata yathhurna adalah illat boleh -campur Kalimat 'al-qatilu' ialah illat tidak mewarisi 2).

125. 5). menjaga kehormatan atau kemuliaan diri adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had / jilid 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berzina tidak dapat membuktikan 4 orang saksi. 2). menjaga jiwa adalah sifat dari disyariatkannya kishash. menjaga harta adalah sifat dari disyariatkannya hukum potong tangan.Hifdhu Nasal. mempertahankan agama adalah sifat/ illat.Hifdlu al-Maal. Al-Baqarah: 193 dan al-Nahl.Hifdlu al-Aqli.Hifdlu al-Dien. al-Maidah : 38 4).Al-Sabru wa al-Taqsim Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. 50 .Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. menjaga keturunan adalah sifat dari disyariatkannya haram berzina dan diwajibkannya hukum Had dan ranjam. al-Nur ayat : 2 6). menjaga akal adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had bagi peminum khamer. melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok.AlBaqarah:179 3). al-Nur : 4 b.Hifdlu A'radh. dari disyariatkannya memerangi orang kafir dan yang menghalangi da'wah.Hifdlu al-Nafs. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya. misalnya 1). Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam.

menurut Hanafi tidak dipotong. e.Tahqiq Al-manath Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. sedang illatnya sama sebagai hamba sahaya. Maka ditetapkan hukum bagi setiap pembunuhan dengan alat apa saja. d. Khamer : Ada sifat Baunya. ada warna. apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma.Tanqih al-Manath Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. c. baik alat itu digunakan saat turun ayat Alquran atau alat itu tidak digunakan. mengistinbath bahwa pembunuhan mewajibkan adanya qishash. Misalnya.Misalnya. misalnya: Mencuri itu . Maka diambil yang memabukannya. Mengqiaskan Ammat (hamba perempuan) kepada Abdun (hamba lakilaki). tapi diperselisihkan pada cabang. 51 .Takhrij al-Manath Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. mengambil barang orang lain dari tempatnya ini (pokok). dan ada memabukannya. yaitu pembunuhan dengan sengaja mempergunakan alat atau sesuatu yang biasa digunakan untuk membunuh. apa termasuk mencuri ? Apa mesti di potong ? menurut madzhab Syafi'i dan Maliki mesti dipotong. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. Mengambil kapan di kuburan ( cabang ). yang bedanya ialah kelaki-lakiannya.

lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. antara lain: 1. Misalnya.Qiyas al-Adwani Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. dari sisi merusaknya. karena sama-sama merusak harta. Maka membakar harta anak yatim haram diqiaskan kepada memakannya. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. 2. ( al-Isra : 23 ). membandingkan memukul orang tua kepada ucapan 'ah '. Misalnya mebakar harta anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim. Misalnya qiyas sebagian ahli Ushul.Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. juga menyakiti jasmani. Sedang makan harta anak yatim diharamkan ( Alquran : al-Nisa : 10).5. Memukul orang tua tentu lebih dilarang karena selain menyakiti hati. tentang terlarangnya perhiasan perak bagi laki-laki diqiaskan kepada terlarangnya perhiasan emas bagi laki-laki. Macam-macam Qiyas Qiyas itu ada beberapa macam.Qiyas Aula Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. karena persamaan illat 52 . 3. dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi ( mulhaq bih ). Mengucapkan 'ah' kepada orang tua dilarang dan haram karena Illatnya menyakiti.

karena sama-sama keturunan Adam. Namun budak tersebut diqiaskan dengan harta benda. seorang hamba sahaya yang dirusak oleh seseorang. 4. Karena hamba itu diqiaskan kepada harta.khuyalaa ( sombong ). menunjukan hukum. Dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah. Dalam hal ini Imam Abu Hanifah berpendapat.Qiyas Dilalah Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. 53 . karena sama dapat diperjual belikan. Haji tidak wajib bagi orang yang belum dewasa. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. maka hamba yang dirusak itu dapat diganti dengan nilai. dihadiahkan. 5. Misalnya. diwariskan. tetapi tidak mewajibkan hukum padanya.Qiyas Syibhi Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok ). diqiaskan kepada ibadah haji. Maka Illat pada perak lebih rendah daripada illat yang ada pada emas. Dapat pula diqiaskan kepada harta benda. Hamba yang dirusak itu bisa diqiaskan dengan orang merdeka. harta milik anak kecil tidak wajib dizakati. karena keduaduanya sama-sama dapat dimiliki. Misalnya mengqiaskan harta milik anak kecil kepada harta milik orang dewasa dalam kewajiban mengeluarkan zakat.

yaitu menentukan Terdapat arti istidlal yang lebih khusus. menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti. Imam al-Jurjani. ( Istidlal ). Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran . yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan alSunnah. memperoleh dalil. 54 . maka hendaklah mencari dalil lain. Al-Ijma dan Qiyas.ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya : minta petunjuk. yaitu dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. alSunnah. seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim. kemudian al-Sunnah. menarik kesimpulan. lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. memberi arti istidlal secara umum.

/ al-Urf ISTIDLAL DENGAN ISTISHAB 1. antara lain: 1. / al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. Pengertian Bahasa Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya ' menemani ' atau ' menyertai'. 8. juga istimrar al-suhbah . atau al-mushahabah : menemani . 4. terus menemani.Para ulama ushul fiqih. 2. 5. 3. Kata lain dalam Bahasa Arab : Saya membawa serta apa yang telah ada pada waktu yang lampau Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: 55 . 7. menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. 6.

Menetapkan utang atas seseorang. 3. berdasarkan persaksian dua orang sebelumnya. Imam al-Syaukani memberi definisi. Contoh-contoh Istishab 1. 2.Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli. warisah. dan tidak hilang karena keragu-raguan. sampai adanya bukti pembayaran. hibah atau wasiat. maka pemilikan tersebut terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yang menunjukan perpindahan pemilikan pada orang lain. 3. Yaitu menetapkan ( hukum) sesuatu sepanjang tidak ada yang merubahnya. 2.Orang yang hilang tetap dipandang hidup sehingga ada bukti atau tanda-tanda lain yang menunjukan bahwa dia meninggal dunia.Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami istri sampai ada bukti lain yang menunjukan bahwa mereka telah bercerai 4. Macam-macam Istishab 1.Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah 56 .Tetap dipandang sah punya wudlu bagi yang yakin sebelumnya telah berwudlu.Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah. 5.

karena keraguan yang muncul terhadap batal atau tidaknya wudhu tersebut tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang. Contoh : Terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya. Misalnya. Tidak adanya shaum Sya'ban. Contoh : Seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya. hingga apa bila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau telah batal maka berdasarkan istishab wudhunya dianggap masih ada. Anak kecil sampai datangnya baligh. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu. Tidak adanya kewajiban shalat yang ke enam waktu.Istishab al-Hukmi / Dalil umum 57 .Terhadap istishab ini Ibnu Qayyim menyebutnya Bara'ah al-'Adam alAsliyah. sehingga ada dalil yang menunjukan. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah. 2. disebabkan adanya transaksi kepemilikan. 3. sampai adanya sebab lain yang menyebabkan hak milik itu berpindah tangan kepada orang lain. Hak milik suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus. yaitu akad.Istishab yang ditunjukan oleh al-syar'u atau al-Aqlu Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. Contoh lain. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum. hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya.

kewajiban menginfakan hasil usaha manusia dan hasil eksploitasi alam. maka orang ini oleh semua madzhab dianggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang menunjukan bahwa ia telah meninggal dunia. kandungan ayat umum tersebut tetap berlaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Contoh: Apabila seseorang dalam keadaan hidup meninggalkan kampung halamannya. Bahwa tatkala tidak ada air. misalnya hak memiliki warits.Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. 4. para ulama fiqih menetapkan berdasarkan Ijma. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah Contoh. oleh karena itu pemilikannya dipandang tetap.Istishab Washfi Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. Apabila dalam keadaan 58 . 5. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. Misalnya.Istishab hukum yang ditetapkan ijma lalu terjadi perselisihan Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. Berdasarkan ayat yang umum ( al-Baqarah : 267). Dan asal dalam sesuatu ( mu'amalah ) adalah kebolehan.

Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. karena ada Ijma yang menyatakan salahnya sah bila dilakukan sebelum melihat air. selama tidak ada dalil yang merubah. Tinjauan Bahasa Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan = beres. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. Dan sebagian besar dari ulama mutaakhirin juga demikian. ISTIDLAL DENGAN MASHLAHAH MURSALAH 1. 4. seperti ' Hasan al-Basri'. Tapi ulama Hanafiyah dan Hambaliyah menyatakan ia harus membatalkan shalatnya. Kata al-Mashlahah dari kata 59 . apa shalatnya harus dibatalkan ? untuk kemudian berwudhu atau shalat itu ia teruskan ? Ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan tidak boleh membatalkan shalatnya. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. Syafi'i. Bentuk mashdarnya al-Mursalah. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah.shalat ia melihat ada air.

Juga dapat berarti. jadi khalifah. Bentuk isim maf'ulnya Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. 2.atau mendatangkan kebaikan. Contoh-contoh Untuk memudahkan memahami maslahah mursalah ini. = keberesan. menunjuk Umar ra. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. dipakai. dipergunakan. dapat dilihat dari contoh: 1. jiwanya. keturunannya dan hartanya. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. dari kata = diutus. memerangi orang yang membangkang membayar zakat. dikirim.Kebijaksanaan Abu Bakar ra. Yaitu sesuatu yang Kata mursalah . kemaslahatan. berarti prinsip kemaslahatan. sesuai dengan akal dan tidak terdapat pada asal. 60 . dirasakan oleh hukum. bermakna : Maslahah Mursalah adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan. dalam memushhafkan Alquran. akalnya. = mengutus.

untuk mengurangi kejahatan dan menyiarkannya dan kemudian membakarnya kemadharatan.Putusan Usman bin Affan ra.Tindakan ulama-ulama Malikiyah menahan dan mengasingkan orang yang tertuduh agar dia mengaku apa yang telah diperbuatnya.dll. 3. yang mencuri karena lapar dan masa paceklik. lembaran-lembaran yang lain. dari nash Alqur’an dan Al-Sunnah 61 .2. 5.Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah. 7. 3. memberantas kaum syi'ah Rafidhah yang telah berlebih-lebihan dalam kepercayaan dan tindakan mereka.Adanya penjara bagi orang jahat. Abdul Wahab Khalap dan Abu Zahrah misalnya memberi persyaratan: a. ra.Upaya Abu al-Aswad al-Du'ali dan Khalil bin Ahmad al-Nahwi dalam memberi harakat pada Alquran.Dicetaknya mata uang untuk memudahkan dalam bermuamalah. tentang menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf. dan juz’I yang qath’I wurud dan dalalahnya. dalil-dalil kulli. dan putusan beliau tidak menjalankan hukum potong tangan terhadap pencuri. 8. Syarat-syarat Para ulama terdahulu seperti Asyatibi telah memberi persyaratan terhadap mashlahah mursalah yang kemudian diteruskan oleh ulama-ulama berikutnya. agar mudah dibaca dan tidak salah membaca.Putusan Umar bin Khatab tentang mengadakan peratudan berbagai pajak. 4. 6.Usaha Ali bin Abi Thalib.

b. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. Misalnya.akal. artinya harus ada penelitian dan pembahasan. jiwa. d. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimnulkan memadharatan dan kerusakan.Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’i. hifdun nafsi. memelihara agama. 4. 3).Dilihat dari kepentingannya 1). Macam-macam Mashlahah a. Ini kembali kepada yang lima.Dilihat dari sumbernya 1). b. misalnya hifdulmal. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’I ini.Maslahah Hajiyah. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud. 2).Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar.Kemaslahatan tersebut bersifat umum. hifdul aqli dll. 62 .Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional. hifdu nasal. karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud.Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur’an dan Al-Sunnah. Mashlahah Dharuriyah. kemashlahatan ini diakui oleh para ulama.Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. keturunan dan harta. dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. 2). yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar ( mashlahah dharuriyah). yang disebut juga dengan mashlahah mu’tabarah. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah.

makan. yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. Misalmya dalam hal ibadah menutupi aurat. 5. Dalam muamalah. dengan berdasar pada firman Allah swt. tidak membunuh anak-anak. dan memberi petunjuk terhadap jalan yang benar. buka shaum bagi yang safar. 3). wanita dalam peperangan. berburu. makai pakaian yang bain waktu akan shalat. Dalam uqubah/ jinayat boleh menolak hudud karena subhat. 2) Lafadh yang sangat besar. Abdul Hamid Hakim menyebytkan bahwa syara memperhatikan kemashlahatan secara umum.dalam ibadah boleh qashar shalat. menjaga najis. Dalam adat. pakai yang indah-indah. tidak memberikan sesuatu melebihi batas kemampuan. Dalam muamalah. dan ini mashlahah 63 . yaitu: 1) lafadh mengisyaratkan akan mengerti untuk tidak menyakiti yang lain. boleh jual beli salam. tidak berbuat curang dalam timbangan. menjaga adat makan dan minum. Dalam adat.Lafadh memberi isyarat akan akhir dari kemashlahatan. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafadh yang ditunjukannya. 3). Kehujahan mashlahah mursalah. isyarat obat bagi keraguan. Dalam uqubah.Mashlahah Tahsiniyah.

Di antara para ulama ushul ada yang menerima dan ada pula yang menolak berhujah dengan mashlahah mursalah. tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Untuk ini Imam Al-Qarafi berkata: 64 . Ucapan kebahagiaan dan selamat menunjukan akan kemashlahatan. Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah tidak menjadikan mashlahah mursalah sebagai hujah.Menurut sebagian ulama Maliki dan sebagian ulama Syafi’I. jika seorang peneliti menemukan kesulitan tentang hukum sesuatu.4)Lafadh memberi isyarat bahwa tidak ada kemashlahatan yang sangat besar kecuali datang dari Allah swt.Ulama-ulama syafiiyyah.Di antara ulama yang paling banyak menggunakan mashlahah mursalah ialah Imam Malik. maka lihatlah pada mashlahah dan madharatnya. 2). 1). Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata.Lafadh Ini juga menunjukan bahwa Alqur’an dengan segala kemanfaatannya lebih bermashlahah daripada semua yang mereka kumpulkan. 3). 5). Maka dengan petunjuk dan isyarat itu semua bahwa syara mehendakaki dan memperhatikan kemashlahatan bagi mukallafnya.Lapadh memberi isyarat akan ucapan bahagia dan selamat atau tahniah. 6).

Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata – – artinya mencari kebaikan. ISTIDLAL DENGAN ISTIHSAN 1. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan Dalam Alquran dijumpai kata itu. karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan anata satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat. – Secara Istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : 65 . artinya mencari yang lebih baik.Sesungguhnya berhujah dengan mashlahah mursalah dilakukan oleh semua madzhab.

Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum. kemudian barang tersebut digunakan oleh bapaknya untuk membiayai hidupnya. apabila ia sudah dewasa dan berakal. 3. maka berdasarkan Istihsan si bapak tidak diwajibkan untuk menggantinya. Macam-macam Istihsan Istihsan terbagi kepada dua bagian : 66 . b. karena ia mempunyai hak menggunakan harta anaknya untuk membiayai keperluan hidupnya. Berdasarkan Istihsan anak kecil tersebut boleh membeli barang-barang yang kecil yang menurut kebiasaan tidak menimbulkan kemafsadatan. Seseorang yang dititipi barang harus mengganti barang yang dititipkan kepadanya apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila seorang anak menitipkan barang kepada bapaknya. Contoh Istihsan Untuk memudahkan memahami Istihsan di bawah ini disajikan contoh: a. Bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya kewarung untuk membeli sesuatu ?. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. Istihsan yaitu berpindah dari qiyas pada qiyas yang lebih kuat 2.

a. Dalam hal wakaf tanah. Karena wakaf diqiyaskan kepada sewa – menyewa. maka dalam hal ini tidak perlu untuk terrinci.Mengecualikan hukum juz’i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). Adapun segi istihsannya adalah mengutamakan qiyas khafi. Contoh lain. karena pada keduanya dimaksudkan pengambilan manfaat. Dengan kata lain masalah pengaiaran.Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. Karena wakaf itu diqiyaskan kepada jual beli maka dalam wakaf pun harus jelas terinci. karena akan membawa pada fitnah. air minum dan hak melewati. maka termasuk di dalamnya. Dalam qiyas jalli – Wakaf diqiyaskan kepada jual beli. walaupun tidak disebut. berarti tanah lumpur itu pun termasuk wakaf.Wakaf diqiyaskan kepada sewa-menyewa. bahwa wanita itu aurat (aib. Dengan demikian maka apabila seseorang yang berwakaf telah mewakafkan sebidang tanah pertanian.Dalam jual beli mesti jelas terinci tertulis jenis-jenisnya. air minum dll sekalipun tidak disebutkan dalam perjanjian. menyewakan tanah lumpur dengan tidak disebutkan semua itu. lantaran kedua-duanya sama-sama melepaskan hak milik dari pihak pemilik. Dalam hal ini tidak mesti terrinci. cela ) . Contoh istihsan yang mengutamakan qiyas juz’i dari qiyas jalli. b. Tentang wanita. Karena yang dimaksud dengan wakaf adalah pemanfaatan barang yang diwakafkan kepada pihak yang menerima wakaf. hak perairan. Dalam qiyas khafi . Dalam qiyas jalli. Memandang aurat wanita diqiyaskan kepada ‘wanita itu aurat’ dilihat dari sama – sama akan 67 . Contoh –contoh: 1).

tidak sah jual beli pada saat terjadi. Umar menyatakan. 2). Kehujahan Istihsan 68 . maka hukumnya haram. karena sangat dibutuhkan dan telah jadi kebiasaan. tapi barangnya dikirim kemudian).Contoh mengecualikan hukum juz’i daripada kulli a. mengutamakan qiyas khafi dari qiyas jalli.Orang yang di bawah perwalian tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kaarena takut hancur.Dilarang mendekati zinah. dibolehkan muzar’ah = nengah sawah. Maka diambil hukum yang kedua. Maka Istihsannya mengambil hukum yang ke dua. b.Orang yang mencuri harus dipotong tangannya. termasuk pada jenis jual beli Gharar. dibolehkan ijarah = sewa menyewa. Istihsannya. d. Istihsannya. Hukum yang juz’i. barang belum ada. dari sisi adanya keperluan dan jika tidak. 4. termasuk di dalamnya memandang wanita. mengqiyaskan melihatnya seorang dokter pada sebagian aurat wanita saat mengobati/ memeriksa. dibolehkannya jual beli salam ( jual beli dengan pembayaran lebih dahulu. Pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhithbah untuk mengekalkan pada perjodohan. Jika Ia mewakafkan hartanya untuk kekekalan. Maka diambil hukum yang juz’i. c.membawa fitnah. Maka hukumnya boleh. Diperbolehkan melihat sebagian aurat wanita karena adanya hajat / keperluan. jika tidak dilakukan akan membawa kesulitan. kepada melihat aurat wanita karena ada hajat. Maka qiyas khafinya.Dalam hukum yang bersifat umum. menimbulkan masyaqqah. Istihsannya untuk kelangsungan dan tidak hancur. Dalam qiyas khafi. kecuali pencurian itu dilakukan pada saat kelaparan. maka boleh .

Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. dengan alasan” Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. tetapi masih mebatasinya. Malikiyah dan sebagian ulama Hanabillaah. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. Beliau berkata Barang siapa yang mempergunakan Istihsan berarti dia telah membuat syariat baru. Hambali dan Maliki juga memakainya. Sedangkan Imam Syafi’i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan. bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu. bahwa istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar’i yang umum dalam peristiwaperistiwa yang dikemukakan. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri.Menurut ulama Hanafiyah. 69 .

yang didak dijelaskan dalam ayat atau hadits. yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. 70 . baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahaby.ISTIDLAL DENGAN QAUL SHAHABY 1.

serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. 2. tentang bayi dalam kandungan. Oleh karena itu. dalam waktu yang panjang.pun memutuskan demikian. b. tidak lebih sedikit pun. Kandungan itu tidak berdiam diri dalam perut ibunya lebih dari dua tahun berdasar ukuran yang bisa merubah bayang-bayang alat tahun. perihal bagian bebrapa orang nenek yang mewarisi bersama-sama ialah 1/6 harta peninggalan yang kemudian dibagikan rata antara mereka itu. Contoh Qaul Shahaby Di antara contoh dari qaul shahaby adalah : a. hukum yang ditetapkan oleh shahabat Abu Bakar ra. 71 . bahwa maksimal waktu mengandung itu dua tahun. tentu ia dengarnya dari Nabi saw. tersebut. beriman kepadanya.Keputusan Abu Bakar ra. Oleh karena itu.Perkataan Aisyah ra. niscaya ketentuan itu bersumber dari apa yang telah didengarnya dari Rasulullah saw. bahkan tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin dalam masalah itu.Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. Ini bukanlah semata-mata hasil dari ijtihad dan penyelidikan beliau sendiri. mengikuti serta hidup bersamanya. apabila ketentuan tersebut dapat diterima. Keterangan Aisyaah ra. bahkan dalam masalah yang sama Umar ra. tersebut merupakan hukum yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena tidak mendapat perlawanan dari shahabat. Tidak ada shahabat yang membantah keputusan Abu Bakar ra. biarpun menurut lahirnya adalah ucapan Aisyah sendiri.

Dengan alasan firman Allah swt. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. Abu Bakar al-Razi. yang dimaksud dengan I’tibar di sana adalah qiyas dan ijtihad. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a. begitu juga Imam syafi’i dalam Madzhab qadimnya. Dan juga shahabat kadang tidak sama dalam berijtihad. Dalam ayat di atas ada perintah untuk beri’tibar. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujah atas shahabat lainnya. dengan alasan 72 . apakah mujtahid itu shahabat atau bukan shahabat. Mutazilah. Abu Bakar juga Umar kadang menganjurkan agar mereka mengambil ijtihadnya sendiri. Seandainya madzhab shahabat itu bisa jadi hujah. termasuk juga Imam Ahmad bin Hanbal. juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah. Ini berarti diperintah untuk berijtihad. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujah atas Ta’biin dan orang-orang yang telah datang setelah tabi’in. sedangkan dalam hal mujtahid sama saja. Pendapat ini berasal dari Imam Malik. b. Pendapat ini berasal dari Jumhur Asy-Ariyah.3. tidak mungkin ada perintah seperti itu dan mereka saling mengikuti ijtihad yang lain. Imam Syafi’I dalam madzhab yang jadid / baru. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah.

bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari 6 bentuk: 1). sedangkan melakukan amar ma’ruf adalah wajib. pasti engkau mendapatkan petunjuk. Ulama Hanafiyah. kaarena merekalah yang pertama kali masuk Islam. dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. dengan alasan antara lain Menurut pendapat ini. menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. 73 . Nabi saw. Shahabatku bagaikan bintang-bintang. Imam Malik. agar melakukan ma’ruf. maka pendapat shahabat didahulukan. Allah swt secara tegas memuji para shahabat. Qaul Qadim Imam syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. bersabda ikutilah dua orang ini setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti. c. Ibnu Qayyim berkata. karena itu pendapat shahabat wajib diterima.Ayat di atas perintah Allah kepada para shahabat di saat itu. Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw.

bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur’an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4). 6. Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw. Dalam artinya. 5. Maka ini tidak bisa jadi hujah. 3). Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. akan tetapi bila tidak menemukannya. apa 74 . ISTIDLAL DENGAN SADDU DZARA’I 1. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas.2).dan maksudmaksudnya. atau jalan. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. Pengertian bahasa Kata bahasa syariat Dzariah berarti artinya yaitu media. Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat.

dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. Artinya. jalan kepada wajib. ini disebut Terdapat definisi lain yang menyebutkan. atau.yang menjadi media / jalan kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan. Contoh-contoh 75 . disebut Dan ada jalan yang menyampaikan kepada yang diperintah. ini harus dibuka supaya yang diperintah dapat mudah dilakukan. jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. Artinya. 2. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Dengan kata lain. mendorong kepada perbuatan yang terlarang. Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. Artinya. dan ini harus dicegah atau disumbat supaya yang dilarang tidak terjadi. wajib pula. Dan kata artinya = mencegah atau menyumbat jalan. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. ada jalan yang menyampaikan kepada yang dilarang. Jika dilihat dari jalan yang menyampaikan kepada tujuan. Dzariah adalah media yang dhahirnya mubah. maka terbagi kepada dua. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula.

untuk menyumbat jalan terjadinya perzinahan.Contoh Sanddu Dzariah 1). 3). Wanita yang ditinggal mati suaminya. dapat dilihat dari a. agar mesjid dapat dibangun. 3. fathu dzariah. Mencari dana untuk membuat mesjid. b. adalah diperintah dan hukumnya wajib pula. Macam-macam Dzariah 76 . Dengan demikian yang dilihat dari dzariah ini adalah perbuatan-perbuatan yang menyampaikan kepada terlaksananya yang wajib atau mengakibatkan kepada terjadinya yang haram. 2). 2). maka akan mendorong pada perbuatan yang terlarang. agar dapat melakukan shalat jum’at adalah wajib. lalu berdandan sedang dia dalam keadaan Iddah.Untuk memperjelas Saddu dzariah dan contoh-contoh di bawah ini. Meninggalkan jual beli pada waktu shalat jum’at. 3). dapat mengakibatkan timbulnya gangguan lalu lintas. hukumnya wajib. Berusaha agar dapat melakukan ibadah haji . Melihat aurat perempuan dilarang.Contoh fathhu dzariah 1). Menebang dahan pohon yang meliuk di atas jalan umum.

menjual senjata di waktu perang. menggali sumur di belakang pintu rumah di jalan gelap yang bisa membuat orang yang akan masuk rumah jatuh ke dalamnya. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Misalnya. c.Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan. berjualan makanan yang tidak menimbulkan bahaya. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti Misalnya. a. 77 . ini akan menimbulkan fitnah. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. Ini halal karena untuk dibuat khamer adalah jarang. menanam anggur sekalipun akan dibuatkan khamer. b. Misalnya. Menjual anggur pada pabrik pembuat khamer. Berzina menjadi perantara adanya percampuran dan ketidak pastian status nasabsesorang. Meminum khamer mengakibatkan hilangnya akal.

pernikahan itu tidak berlangsung lama. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. 4. Ayat-ayat Alquran Dalam ayat ini Allah melarang orang mu’min memaki-maki orang musyrik atau tuhan yang mereka sembah. Nikah Tahlil misalnya. Kehujahan Saddu Dzara‟i a. Namun bagi orang Yahudi menjadikan kata itu sebagai media 78 . yaitu akad nikah yang dilakukan oleh orang ke tiga terhadap janda yang ditalak tiga. Bentuk dzariah ini pandangan Imam Malik dan Ahmad adalah haram dan harus disumbat. Misalnya. karena perbuatan yang demikian itu menjadi sebab mereka akan membalas memaki-maki Allah swt. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. lalu diceraikan oleh orang ketiga dengan keadaan belum dicampuri.d. Allah melarang kaum mu’minin berkata pada Rasulnya kata ra’ina. sekalipun kata itu bagus maknanya bagi orang mu’min yaitu ‘ Sudikah kiranya engkau memperhatikan kami’. Menghibahkan sebagian hartanya kepada seseorang di akhir tahun zakat untuk menghindari kewajiban zakat. dengan tujuan istri yang baru dicerai itu halal dikawini kembali oleh bekas suaminya yang pertama. Jual beli yang menjadi sarana bagi riba.

Abu Daud. Sunah Rasulullah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa orang mu’min dilarang mencaci maki ayah seseorang. yang artinya ‘ bodoh sekali kamu’. b. Agar yang haram tidak muncul. Larangan itu untuk menjaga supaya yang diharamkan tidak muncul. 79 .untuk mengejek Rasulullah saw. 1). lalu nanti orang yang dicaci maki ayahnya itu berganti mencaci-maki ayahnya. demikian juga jika mencaci ibu orang lain. Nabi melarang membunuh orang Munafiq. dan ditangguhkan sampai selesai perang. Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang. 2). Contoh lain dari Rasulullah saw. dengan arti bahasa mereka. karena memotong tangan pencuri pada waktu perang membawa akibat tentara-tentara lari menggabungkan diri dengan musuh. Tidaklah dipotong tangan pada waktu peperangan. Nabi melarang kepada kreditur mengambil atau menerima hadiah dari debitur. Nabi bersabda. Karena itu dilarang oleh Allah swt. 3). karena cara demikian bisa berakibat jatuh kepada riba. karena membunuh orang munafiq bisa menyebabkan Nabi dituduh membunuh shahabat-shahabatnya sendiri yang muslim. dan ini termasuk pada ikhtiyath. R.

Saddu Dzara’i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. Ada ulama ushul yang menyebutkan 1). memperkaya diri dan keluarganya. dzariah masuk kedalam qiyas. jelas menyebabkan terlantarnya harta-harta anak yatim.4). sedang Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari’ah. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath’i. Menurut Syafi’i. Hal ini untuk menjaga fitnah bahwa Nabi saw. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para puqaha memakai dasar ini. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. Contoh lain. Fathhu dzara’i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. melarang penimbunan karena penimbunan itu menjadi media kepada kesempitan atau kesulitan manusia. tidak memelihara harta anak yatim karena takut dhalim atas dasar saddu dzariah. 5). 80 . maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. kecuali apabila ia sebagai ‘amilin. Nabi saw. Nabi melarang fakir miskin dari Bani Hasyim untuk menerima bagian zakat. 2). c. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. Jadi. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. 3). lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah. jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah / tujuan.

Karena itu perinsif saddu dzara’i tidak hanya melihat kepada niat dan maksud perorangan. Telah mengharamkan beberapa hal kepada beberapa kaum seperti kepada Yahudi. dan Nabi Isya as. meskipun kemudian Allah swt. Maka syareat tersebut pada dasarnya adalah satu. ISTIDLAL DENGAN SYAR’UN MAN QABLANA 1. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar’un man qablana. yaitu” Artinya.menolak jadi saksi karena takut dusta. Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syar’ yang telah disyaratkan Allah swt. 81 . menyebabkan hilangnya kemashlahatan untuk manusia. diharamkan binatang-binatang yang berkuku. 2. sesuai firman Allah : Oleh karena yang menurunkan syareat samawi itu satu yaitu Allah swt. tetapi juga melihat kepada kemanfaatan umum dan menolak kemafsadatan yang bersifat umum pula. Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari’at samawi pada asalnya adalah satu. Nabi Musa. Bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. gajih sapi dan kambing.

kecuali dengan dipotong kainnya. Macam-macam dan kehujahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. maka 82 . 3. seperti qishash. Berbeda dalam perinciannya meskipun intinya sama yaitu menyembah Allah swt. Ceritra tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masingnya mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. sering pula diceritakan dalam Alqur’an dan al Sunnah kepada umat Islam.Juga ditetapkan bahwa dosa tidak bisa dimaafkan kecuali dengan membunuh diri. Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebahagian hukum umat-umat yang sebelum kita ( umat Islam ) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebahagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku. Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah ( hubungan manusia dengan Allah swt. Apabila Alqur’an atau hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah swt kepada umat sebelum umat Islam (umat Muhammad saw). dan pakaian yang kena najis tidak bisa jadi suci dengan dicuci. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. kemudian Alqur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka.

Lalu syari’at tersebut dibatalkan dengan Alqur’an dengan Firmannya c. Lalu syari’at tersebut dibatalkan. Bahwa seorang yang berbuat ma’siat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila ia membunuh dirinya. syari’at yang berlaku pada jaman Nabi Musa as. dinasakh oleh Alqur’an. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. Misalnya tentang kewajiban shaum bagi umat terdahulu juga bagi umat Muhammad. 1) berhenti dari berbuat ma’siat. 83 . Dan contoh lain pada jaman Nabi Musa as. b. maka telah disepakati oleh seluruh ulama. kemudian datang dalil syara yang membatalkannya atau menasakh. 3) berazam tidak akan mengulangi lagi. 2) menyesali perbuatan ma’siat yang telah dikerjakan. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam Demikian juga apabila Alqur’an dan al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyariatkan kepada umat terdahulu. yang antara lain Taubat menurut syari’at Islam harus memenuhi tiga syarat. bahwa hukum itu bukanlah merupakan hukum syara bagi kita.tidak diperselisihkan lagi hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti. bahwa pakaian yang kena najis tidak akan dapat disucikan kembali. karena ada dalil syara yang membatalkannya. Untuk ini ada dua pendapat. sebelum dipotong bagian yang kena najis itu. Misalnya.

karenanya umat Islam terikat dengan syariat itu. maka umat Islam terikat dengan hukum itu. Ada ungkapan ulama ushul fiqih yang menyebutkan Syari’at umat sebelum kita. juga syariat yang diturunkan Allah swt. Dan tidak ada indikasi yang menunjukan pembatalan terhadap syariat tersebut. dan tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu.Pertama. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. syari’at kita juga sepanjang tidak ada yang membatalkan. Misalnya - Jumhur ulama yang terdiri atas ulama Hanafiyah. yaitu Alqur’an bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah. melalui wahyu. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. sebagian ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad ibn Hambal menyatakan bahwa apabila hukum – hukum syariat sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasulullah saw. Golongan ini beralasan dengan: - 84 . alasan yang mereka kemukakan adalah: 1). Syariat sebelum syariat Islam itu. Malikiyah.

menurut ulama Asy’ariyah. Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. dan umatnya. karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. Nabi dahulu diutus khusus kepada kaumnya dan aku diutus untuk semua manusia Dengan perbedaan pendapat di atas. menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. 2). Mereka beralasan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu. Syi’ah dan sebagian ulama syafi’iyah. kami berikan aturan dan jalan yang terang Dan alasan golongan ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. Demikian juga hukum-hukum yang 85 .2). Mu’tazilah. Kedua. maka ada hal yang disepakati ulama : 1). Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. Dan mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah saw.

yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1). Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum. 5). Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. berdasarkan firman Allah. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alqur’an. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahiem as. Bahwa Rasulullah saw. 4.dikhususkan bagi umat tertentu. maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. 86 . Berdasar pada 4). maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. Bahwa Rasulullah saw. seperti keharaman beberapa makanan. Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. Sandaran syariat Nabi saw. misalnya daging bagi Bani Israil. 2). Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. 3). bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. 3). tidak berlaku bagi umat Islam. Bahwa Rasulullah saw. tetap berlaku bagi umat Islam.

sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as. bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath’i.6). Para ulama ushul Fiqih membedakan antara ‘ Adat ‘ dengan ‘ Urf ‘ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Menurutnya. Ibnu Qusyairi berkata. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem.. Bahkan ada yang berpendapat. karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. Adat didefinisikan dengan” Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional Terdapat beberapa definisi tentang ‘Urf ‘ yang dikemukakan oleh para ulama ushul fiqh. antara lain : 87 . Pengertian Secara etimologi ‘Urf’ berarti sesuatu yang dipandang baik. Menurut kebanyakan ulama ‘ Urf’ dinamakan juga ‘ Adat ‘. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur’an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat. menurutnya. yang dapat diterima akal sehat. ISTIDLAL DENGAN URF 1. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. bahwa Rasulullah saw.

dari Cakupannya. maka itu bukanlah urf. 2. sedang anak perempuan tidak masuk dalam lafadh itu. Yang dibahas ulama ushul fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah ‘Urf’ budan ‘Adat’. Macam-macam „Urf‟ Urf Keabsahannya. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu urf berupa perkataan dan urf yaitu urf berupa perbuatan. dalam perkataan sehari-hari khusus bagi daging sapi atau kambing. yaitu itu dapat dilihat dari obyeknya. a. Dari sisi obyeknya. digunakan untuk binatang berkaki empat. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. Misalnya kata al-walad menurut bahasa sehari-hari hanya khusus bagi anak laki-laki saja. 88 . Padahal kata daging mencakup seluruh daging yang ada. dan dari 1). Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain.Urf adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. Contoh lain lafadh al-Lahm / daging. Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafadh atau ungkapan tertentu. Demikian juga kata Daabah. Dengan demikian ‘Urf’ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat.

Kebiasaan masyarakat dalam jual beli ada barang yang diantar ke rumah dan ada yang tidak diantar. Adanya cacat tertentu pada barang tertentu yang dibeli dapat dikembalikan. Urf terbagi kepada dua bagian. 89 . Gono Gini di Jawa. tanpa ada biaya tambahan tersendiri. Al-Urf al-Amali.2). Kebiasaan masyarakat tertentu dalam memakan makanan tertentu atau minuman tertentu. seluruh alat untuk memperbaiki mobil. Urf al-Khash. seperti jual beli di swalayan. Jual beli mobil. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. Urf khash ini tidak terhitung jumlahnya. 2). tanpa mengadakan ijab-kabul. dan urf urf yang bersifat khusus. bersifat umum. kunci-kunci sudah termasuk pada harga jual. Misalnya. Misalnya. adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. Kebiasaan masyarakat dalam cara berpakaian yang sopan dalam menghadiri pengajian. b. karena harga barang tersebut telah dimaklumi bersama. urf yang 1). Kebiasaan jual beli mu’athah / yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. Penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. Misalnya. Al-Urf al-‘Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. sesuai dengan perkembangan masyarakat. seperti dongkrak. Dari sisi cakupannya. Membayar ongkos Bis Kota dengan tidak mengadakan ijab-kabul terlebih dahulu.

1).Misalnya. Kebiasaan seorang yang melamar wanita dengan memberikan sesuatu sebagai hadiah. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. dan kebiasaan yang dipandang rusak. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath’i. kebiasaan dalam mencari dana dengan cara mengadakan berbagai macam kupon berhadiah. Kebiasaan dalam pembayaran mahar secara kontan atau hutang. Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’. Al-Urf al-Fasid. dapat dibagi pada dua bagian yaitu yaitu kebiasaan yang dianggap benar. karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib. biasa meminum minuman keras. 3. kebiasaan yang berlaku dalam dunia perdagangan tentang indent.c. bukan sebagai mahar. Urf harus berlaku selamanya. juga tidak membatalkan yang wajib. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. misalnya biasa makan riba. berlawanan dengan ketentuan syari’at. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath’i. Oleh karena itu. dan hakim dalam memutuskan perkara. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara’. disyaratkan sebagai berikut : a. Misalnya. yaitu 2). Menarik pajak dengan hasil penjudian. b. c. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf 90 . Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian.

banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. e. Misalnya jual beli Salam ( jual beli pesanan ). Mereka beralasan firman Allah - b. d. Lalu Rasulullah bersabda 91 . Mereka beralasan. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur’an atau hadits. mendapatkan penduduk jual beli salam tersebut. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum sya’i. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan urf a. Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari’ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. ketika ayat ayat Alqur’an turun. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian.pada waktu mewakafkan.

maka hendaklah ditentukan jumlahnya. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. di antaranya” Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. bukanlah dalil yang berdiri sendiri.Siapa yang melakukan jual beli salam pada kurma. dan tenggang waktunya. 92 . 5. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. Apabila kita perhatikan penggunaan Urf ini. takarannya. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan.

Terdapat definisi lain yang di ungkapkan oleh imam al-Jurjani yaitu Ilham adalah sesuatu yang dilontarkan ke dalam hati dengan jalan di tuangkan. Pengertian Secaara bahasa Iham artinya = memberi tahukan dan menempatkan. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain : Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa di jadikan hujah dalam menentukan hukum syara’ dan tidak boleh beramal dengan bedasar kepada 93 . 2. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. karena itu boleh beramal dengannya.ISTIDLAL „ AL-ILHAM ‘ 1.

pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. i’lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih / gugahan. Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Perbedaan antara Ilham dan I’lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I’lam. 94 .Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu : 8 tersebut di atas dan juga ada dari syaitan seperti pada ayat : Sesungguhnya Syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah Dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh jiwanya. Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macammacam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i’lam.

kedua dari Al –Sunnah dan ketiga dari hasil Ijtihad. Ketika diutus ke Yaman. Jika tidak kamu temukan dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan menyia-nyiakan. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits. saat Rasulullah bertanya pada seorang sahabta. Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata “ Segala puji bagi Allah yang telah mencocokan (pendapat) seorang utusan dengan Rasulullah terhadap apa yang Rasulullah rido’i. Bagaimana kamu memutuskan jika dihadapkan kepadamu satu keputusan? Ia menjawab.QAIDAH FIQHIYYAH DASAR Agama Islam adalah agama Syariah artinya agama yang berdasarkan pada hukum dalam melaksanakan ibadahnya. Nabi berkata. Muadz . yaitu Berkata nabi Saw kepada Muadz ra. Sumberhukum Islam diambil pertama dari Alkitab. Nabi berkata. Ijtaihad sebagai sumberhukum yang ke tiga dapat didefinisikan : 95 . Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah. bagaimana jika tidak kamu temukan dalam Kitab Allah? Ia menjawab aku akan putuskan dengan Sunnah rasulullah.

Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan Istinbath ( mengambil kesimpulan / penelitian) dari Kitab dab Sunnah.Mujtahid fi al-Madzhab. 4) Mujtahid Murajjih muqallid. mengkaji dohir nash quran dan sunnah. Di dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya melakukan langkah-langkah. 5) Qiyas Dan jika mendapat kesulitan 6) Tawakuf / berpegang pada asalnya Qaidah-qaidah Fiqhiyyah adalah qaidah yang dibuat oleh para ahli Ijtihad yang diistinbath dari Alquran atau hadits Rasul untuk memudahkan dalam berijtihad untuk 5) mujtahid Muwazin. lalu mafhumnya 2) mengkaji pekerjaan Nabi. 6)Mujtahis Muhafizl. Mujtahid fi al-syar’i. 4) Ijma shahabat. dan mujtahid itu memiliki tingkatan-tingkatan. Mujtahid 96 . Adapun langkah-langkahnya. dan macam-macamnya yaitu 1). 3).Memahami Ilmu – ilmu Bahasa Arab 3). Dan ijtihad sebagai sumberhukum yang ke tiga didasarkan kepada sebuah hadits nabi : Seseorang dapat berijtihad apabila dapat memenuhi syarat-syaratny adapun Syarat Ijtihad:! 1)Memahami Nash – nash al-kitab dan al-Sunnah 2). 3) takrir nabi. Orang yang berijtihad disebut mujtahid. 7). 2) Mujtahid Muntashib. Memahami Ilmu Ushul Fiqih.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “NIAT Siapa yang mengharapkan pahala dunia pasti kami akan memberinya dari dunia dan siapa yang mengharap pahala akhiraat kami akan memberinya dari padanya Sabda Nabi SAW : sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang ia niatkan - Siapa yang berutang ia berniat untuk membayarnya maka Allah akan membayarnya pada hari kiamat. Dan dalam kaitan ini qaidah itu sangatlah penting sebagai suatu rumus atau patokan dalam berijtihad. dan siapa yang berutang ia berniat untuk tidak membayarnya kemudian ia meninggal maka Allah berfirman ‘Sesungguhnya aku akan mengambil hak hambaku kemudian diambil dari padanya (yang berutang) kebaikannya lalu di 97 .menentukan sebuah keputusan hukum.

Wudhu. 2. kemudian matanya mengalahkan dia (tidur nyenyak) sampai pagi hari maka Allah mencatat baginya apa yang ia niatkan sedangkan tidurnya merupakan sadaqah dari tuhannya. Niat orang mu’min lebih baik dari pada amalnya. bisa mendapat pahala karena niatnya. Memeras anggur haram tidaknya tergantung niat 98 . Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya Contoh-contoh: 1. Suatu pekerjaan yang halal bisa jadi haram karena niatnya. minum. 4.berikan pada kebaikan yang lain. shalat. Hikam : Niat tanpa amal lebih baik dari pada amal tanpa niat. seperti makan. Sesuatu yang mubah. Seperti haramnya seorang bercampur dengan istrinya. karena ia berniat untuk zinah 3. jika ia tidak mempunyai kebaikan di ambil dari kejelekan yang lain lalu di bebankan kepadanya - Siapa yang datang ke tempat tidurnya ia berniat untuk shalat kepada Allah. dan shaum dan yang lainya mesti ada niat. R Al-Tabrani. mandi.

5.Orang yang mengutangkan mengambil barang orang yang berutang, tergantung niatnya; apakan 1. memperingatkan atau mencuri. (khaliyah=bebas) tergantung niat.

Kinayah ( sindiran) kata thalaq ‘

Artinya : Dalam amal yang disyaratkan menyatakan / menghadapkan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amal.

Contoh-contoh; 1. Kesalahan dari shalat dhuhur kepada shalat ashar dan sebaliknya. Kalau shalat dhuhur niat shalat ashar maka tidak sah 2. 3. 4. 5. 6. Kesalahan dari kifarat dhihar kepada kifarat kothli Kesalahan dari rawathib dhuhur kepada rawathib ashar Kesalahan dari shalat idul fitri kepada shalat idul Adhha Kesalahan dari shalat dua rakaat ihram kepada dua rakaat thawaf Kesalahan dari shaum arafah kepada shaum asyura.

Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Contoh-contoh ;

99

1. Seseorang berniat shalat mengikuti si zaed ternya si umar maka tidak sah mengikutinya, kareana ia tidak ada niat mengikuti kepada si umar. Dengan mengikuti kepada si Zaed dan ternya si Umar dengan tidak pakai niat. Maka dalam shalat berjamaah tidak disyaratkan menentukan Imam tapi hanya niat shalat berjamaah saja 2. Seseorang menyolatkan mayit kepada si Bakar ternyata si Khalid, atau berniat kepada perempuan ternyata laki-laki, maka tidak sah, maka dalam shalat mayit tidak disyaratkan menentukan mayitnya kecuali hanya niat shalat mayit saja. 3. Seseorang menshalatkan mayit. Maka dalam hal ini tidak perlu ditentukan jumlah mayitnya. Kalau ia menentukan jumlahnya 10 oarang misalnya ternyata lebih, Maka Ia harus mengulangi shalatnya secara keseluruhan karena di antara mereka ada yang belum di shalatkan, sementara mereka itu tidak jelas 4. Tidak perlu seseorang menetukan jumlah rakaat dalam shalat, kalau Ia niat shalat dhuhur lima rakaat atau tiga maka tidak sah 5. Seseorang menetukan zakat hartanya yang masih ghaib yang belum hadir di hadapannya. Maka tidak boleh.

Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat

Contoh-contoh :

100

1.

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat, maka kalau ia berniat shalat dhuhur di Mesir ternyata di Mekah maka tidak batal shalatnya karena niatnya masih ada, sedang menentukan tempat tidak ada hubungan dengan niat shalat

2.

Kesalahan dalam menentukan waktu shalat, kalau niat shalat ashar hari kamis ternyata hari jumat maka tidak batal shalatnya

3.

Kesalahan Imam menetukan orang yang shalat dibelakangnya, kalau berniat mengimami si Zaid ternyata si Umar maka tidak madharat karena tidak disyaratkan kepada Imam menentukan mamum dan tidak niat mengimami

Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan

Contoh-contoh: 1. Kalau nama istrinya Thaliq dan nama hamba perempuannya Hurrah, lalu Ia berkata Wahai Thaliq atau Wahai Hurrah. Kalau ia bermaksud mentalaq atau membebaskan maka jatuh talaq dan bebas atau hanya bermaksud memanggil maka tidak jatuh talaq dan tidak bebas. 2. Kalau seseorang membaca dalam shalat bacaan Alquran, dan tidak bermaksud yang lain maka sah bacaannya. Dan jika bermaksud memberi pemahaman kepada yang lain maka batal. Dan jika memuthlakan, menurut pendapat yang sah maka jadi batal.

101

maka janganlah keluar dari masjid.3. Apabila seorang dari kamu meragukan shalatnya. sehingga ia mendengar sesuatu atau mencium baunya. maka hendaklan ia lempar yang diragukan. dan ia ambil yang ia yakin. jika tabaruk(mengharapkan berkah) maka tidak. lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak. KAIDAH-KAIDAH Artinya: Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Contoh-contoh : 102 . jika ia memutlakan maka batal. tiga atau empat. Jika seseorang mengkaitkan niat kepada kata ‘insyaAllah’. kalau ia bermaksud menggantungkan niatnya maka batal. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “SYAK Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu dalam perutnya. lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan.

memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang Contoh-contoh : 1. Siapa yang makan akhir malam dan ragu dalam terbitnya pajar. Tiba-tiba istri menggugat tidak pernah disandangi dan di nafaqahi oleh suaminya. maka tentukan yang tiga karena itu yang diyakini. maka ucapan yang benar adalah ucapan suami karena tidak adanya kemampuan . Gugatan itu di menangkan.1. Siapa yang yakin bersuci dan ragu dalam berhadats maka ia itu suci Siapa yang yakin berhadats dan ragu dalam bersuci maka ia itu berhadats Menurut pokok. 4. 3. Seseorang membeli air dan mengaku tidak bersih dan ingin mengembalikannya. Siapa yang makan akhir siang tanpa ijtihad dan ragu dalam terbenamnya matahari batal saumnya karena pada pokoknya tetap pada waktu siang 3. sah saumnya . maka tidak wajib nafaqah padanya karena nafaqah itu adanya kemampuan 5. Siapa yang ragu dalam shalat apakah tiga rakaat atau empat. Suami istri bertengkar dalam hal tamkin. Sepasang Suami istri dalam berumah tangga sudah cukup lama. Maka ucapan yang benar adalah ucapan penjual karena pada asalnya sucinya air 103 . Sebab menurut keadaan semula sebelum terjadi akad pernikahann kewajiban memberi sandang dan pangan tidak ada bagi sang laki-laki. 2. karena pokonya tetap pada waktu malam 2.

Sebab menurut asalnya ia bebas dari tanggungan memberikan gantinya. kemudia lahir anak dalam keadaan hidup kemudian lewat waktunya tanpa ada sakit. Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan. maka yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menerima hadiah. Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman. kemudia anak itu mati . maka tidak ada tanggungjawab karena dhahirnya ia mati karena sebab yang lain dan itu yang lebih dekat pada kematian. Jika seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat memberikan gantinya dan kemudian mereka berdua bertengkar tentang ujud penggantiannya. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa. Seseorang memukul perut yang hamil. maka yang dimenangkan adalah orang yang merasa dirugikan. 2.Pokok itu bebas tanggung jawab Contoh-contoh : 1. Jika dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusaka. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian Contoh-contoh: 1. 3. 104 .

Dan pendapat lain tanggungjawabnya karena terbukanya sangkar menentukan terbangnya burung. Dan jika burung diam kemudian terbang maka ia tidak bertanggungjawab untuk mencari burung.2. Seseorang membeli hamba sahaya kemudian ia sakit dan mata maka tidak boleh dikembalikan pada penjual. . 105 . karena sakitnya bertambah maka terjadi kematian karena bertambahnya itu. maka wajib mandi dan mengulangi shalat setelah tidurnya. karena itu yang lebih dekat waktunya pada kematian. Seseorang membukakan sangkar pintu burung. maka tanggungjawab ia untuk mencari. 3. Sabda Nabi saw. karena itu waktu yang paling dekat padanya 4. dan tidak boleh menyandarkannya kepada yang semula. Seseorang mendapatkan mani dan tidak merasa ihtilam. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „KERINGANAN‟ Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. kemudian terbang seketika. Aku diutus dengan membawa agama yang penuh kecendrungan dan toleransi / kemurangan.

Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk. sakit . keringanan kemurahan. keringanan pengganti. 7). 4). lupa. 2). Wahai Rasulullah agama mana yang paling dicintai Allah. 4) kesukaran. demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring 106 . bepergian. keringanan pengguguran. 3). Nabi ditanya. R. 5). perubahan. Kesukaran itu menarik kemudahan Contoh-contoh: 1. keringanan keringanan mendahulukan. keringanan mengakhirkan. terpaksa. 5) Macam-macam keringanan 1). ia berkata yang lurus lagi toleran.Dari Ibnu Abbas. 6). keringanan dengan KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG‟ KESULITAN‟ . 3) kurang mampu. 2) kebodohan. 7).Thabrani Sebab-sebab timbulnya keringanan 1). pengurangan. 6).

2. Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum 3. Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya 4. Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh 5. Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya Dan yang searti dengan kaidah di atas adalah kaidah :

Sesuatu itu bila sempit menjadi luas

Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

Contoh-contoh : 1. Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh 2. Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan

KAIDAH FIQHIYAH TENTANG”KEMADHARATAN”

107

Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.

Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman

Tidak ada bahaya dan tidak pula membahayakan.

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Contoh-contoh: 1).Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat 2).Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb 3).Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan 4).Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan

Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan

Contoh-contoh: 1).Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain 2).Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain

108

3).Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.

Kemadharatan membolehkan yang terlarang

Contoh-contoh 1).Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak. 2).Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa. 3). Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar. 4). Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum. 5) Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani.

tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG ”DLARURAT”

Artinya: Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan Ukurannnya.

109

Dan jika cukup satu kali teguran. karena diperlukan orang banyak 2.Contoh: 1. hendaklah menutupi semua auratnya. dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. 2. kecuali yang diperlukan 4. Menegur orang dengan cara sindiran. Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa. Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar. dipandang cukup. karena mu’amalat 4. Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim. Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim. tidak boleh untuk yang ke dua kali 3. Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang. karena diperlukan 3. Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat Artinya: Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat Contoh: 1. tidak membukanya. Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan khitbah atau 110 .

2.Boleh membedah perut yang mati jika ada bayi yang diharapkan hidupnya.Diperbolehkan dalam agama melakukan qishash. Contoh-contoh 1. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya. hudud dan menindas pemberontak / penodong di jalan 3.Jika yang madharat mendapatkan daging binatang yang tidak disembelih. maka yang paling sahih ia memakan daging itu dari pada memakan makanan tersebut. maka harus diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya.Boleh memotong pohon orang lain jika diharapkan adanya udara yang berganti 5. 4. Karena makan daging yang tidak disembelih kebolehannya berdasarkan nash. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan. dan mendapatkan makanan yang tidak ada pemiliknya.Boleh bagi yang terpaksa mengambil makanan orang lain dengan paksa.KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „MAFSADAT‟ Apabila dua kerusakan saling berlawanan. Contoh-contoh: 111 . sedangkan kebolehan mengambil makanan berdasarkan ijtihad.

Dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban karena sangat sulit. Karena kemafsadatannya lebih kuat / besar dari pada manfaatnya.Tidak diperbolehkan minum khamer dan makan hasil judi. seperti berdiri waktu shalat karena sakit.Mencorok-corokan rambut dalam thaharah hukumnya sunnat. Contoh-contoh: 1.Menjaga batal shaum diutamakan daripada berkumur dan menghiruf air ke hidung dengan baik. Karena besar mashlahatnya. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat. . karena memperhatikan sunnatnya 2.Berbohong sifat tercela dan berdosa (mafsadat). KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “ADAT Perintahlan dengan ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik . Di sini = Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagi hukum 112 . maka diperbolehkan. diterima akal sehat.1. dan dibenci bagi yang berihram untuk menjaga dari jatuhnya rambut 3. Tetapi jika bertujuan mendamaikan pertengkaran. Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. al-baqarah:219 2. Sesuai.

maka ditetapkan atas yang biasa 2. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat 113 . Jual beli dengan / mua’thah. maka tentang benang dan cat lukis kembali pada kebiasaan.Seseorang menjual sesuatu dan memutlakannya. tanpa ijab kabul karena harga barang tersebut sudah ma’lum. dan makan jamuan karena bertamu.Contoh-contoh: 1. yaitu sudah termasuk di dalamnya. Contoh-contoh: 1. Niat dalam shalat kembali pada urf tidak dijaharkan 2.Memberi upah pada penjahit dan upah melukis. geratis dan tidaknya 4. misalnya dg dirham 3. Batas mesjid untuk shalat tahiyatul masjid. kembali pada urf 3. maka kembali pada kebiasaan. dikembalikan kepada Urf. sesuai dengan harga / nilai yang biasa. setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa.Jual beli yang berlangsung biasa.Masuk WC.Masa lamanya hed / nifas kembali pada kebiasaan 5. yaitu jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang kepada penjual sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya.

Gadai di suatu tempat yang mengambil mafaat dari gadaian. Lalu ada ijtihad Umar yang memutuskan agar mereka dibunuh. Lalu pada bagian lain ijtihadnya berubah 114 . 1/3 itu bersama dengan 3. maka tambah itu tidak menduduki tempat syarat hutang.Contoh-contoh: 1. Ijtihad Umar yang dijalankan dengan tidak membatalkan ijtihad abu Bakar 2. dengan dikuatkan wahyu al-Anfal : 67.Berubah ijtihad dalam arah salat.Ijtihad Umar dapat 1/3. tidak mendapat bagian karena terhabiskan.Jika disuatu tempat terjadi adat orang yang berutang menambah lebih dari utangnya. Cara itu terlarang. sementara ½ dan 1/6. karena berubah kepada riba KAIDAH FIQHIYYAH „IJHTIHAD‟ Ijtihad Itu tidak batal karena ijtihad Contoh-contoh: 1. Maka mengambil manfaat tidak termasul dalam syarat gadai 2.Ijtihad Abu Bakar terhadap tawanan perang Badar dengan membayar tebusan. tidak perlu mengulangi rakaat atas ijtihadnya yang pertama.

2.Itsar dalam shaf pertama. baru cerai jika dari perubahan ijtihad hakim. tanpa didahului nikah yang lain.Seseorang mengkhulu istrinya 3 kali. Pendapat Al-Gajali. 4.Itsar dalam mencari pengganti da’wah. Itsar dalam air thaharah dan menutupi aurat 3. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „AL-ITSAR‟ Berlombalah dalam kebaikan Mendahulukan orang lain dalam ibadah terlarang Contoh-contoh 1.Itsar dalam memenuhi hajat yang miskin dan yatim. Ia tidak perlu cerai jika hasil ijtihad hakim yang sah.4. lalu mengawini yang ke 4 kali. karena ijtihadnya khulu itu bukan talaq. Pendapat yang ke dua sebaiknya Ia cerai karena ada dalam haram. Lalu berubah ijtihadnya khulu itu sama dengan talaq. Dan mereka mengutamakan (orang lain) dari diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan Itsar selain ibadah dituntut 115 .

Itsar dalam makanan 4.Tidak boleh memecat pekerja tanpa alasan yang sah 6. 2.Itsar dalam pakean 3. 116 . tidak boleh baginya mendahulukan salah satu dalam hal sama kebutuhannya. tapi itu dibenci.Itsar dalam tempat tinggal 2.Contoh-contoh: 1.Tidak boleh wali menikahkan anak tanpa mempertimbangkan kafa’ah.Tidak boleh mengangkat jabatan bagi yang tidak berprofesi dibidangnya 5.jika pemimpin membagikan zakat pada mustahiq. Itsar dalam tijarah agar yang lain dapat laba QAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „ KEBIJAKAN IMAM‟ Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamuakan ditanya dari kepemimpinannya Tindakan pimimpin terhadap rakyat disesuaikan dengan kemaslahatan Contoh-contoh: 1.tidak boleh mendahulukan harta baet Mal yang penting dari yang lebih penting 4. Itsar dalam mengambil sadaqah 5. 3. sekalipun orang salat dibelakannya dipandang sah.Tidak boleh memilih Imam salat orang fasik.

tidak dijatuhi had. Kawin tanpa saksi ( Imam malik sah – jumhur tidak) karena diperselisihkan. Syubhat fi al-Fa’il. Syub fi thariqah . yang diduga miliknya tanpa ada keraguan sedikitpun ( misalnya karena percis sama ). Kawin tanpa wali ( Abu Hanifah . mencampuri perempuan yang kawin mut’ah (Ibnu Abbas boleh – Jumhur tidak boleh). karena ada dua nash yang berbeda) 3). Fa’il 2. dilarang. adalah milik ayah.Tidak dihukum had. Karena Secara umum. Syubhat fi Thariq ( pada prosedur . anak dan harta miliknya. mencuri harta anak. tapi ada nash lain. Fi mahal 3. Syub.Seorang tidak dijatuhi hukuman karena salah mengambil barang.boleh – jumhur tidak). ( pada pelakunya ) 2) Syubhat fi mahal ( pada obyeknya. karena adanya perbedaan dalam penetapan hukum) Contoh-contoh : 1. Syub. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „PENYEMPURNA WAJIB‟ 117 .Tolaklah had dengan syubhat Hukum had gugur karena syubhat Macam syubhat: 1).

Wajib menutupi sebagian wajah saat menutupi aurat bagi perempuan. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „KELUAR DARI KHILAFIYAH‟ Siapa yang menjaga syubhat sungguh telah membersihkan agama dan harga dirinya Keluar dari perselisihan terpuji Contoh-contoh: 118 .Wajib mencuci sebagian di atas sikut waktu mencuci sikut . dan perut di atas pusar saat menutupi aurat bagi laki-laki.Wajib menutupi sebagian lutut.dan mencuci betis waktu mencuci kaki. 3.Taqwalah kepada Allah dengan sebenarnya taqwa Apa yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya. 4. maka Ia itu wajib pula Contoh-contoh: 1.Wajib mencuci sebagian leher dan kepala waktu mencuci muka 2.

Tidak menyukai memisahkan diri dari Imam Shalat tanpa alasan. dan yang lain tidak mewajibkan 3.Menyukai mengkosor shalat dalam safar jarak 3 mil (84 km).Tidak menyukai shalat munfarid di belakang shaf. itu sudah mencari jalan dari perselisihan Ulama 2. Keluar dari Imam al-Tsauri yang mewajibkan. 5. Jumhur ulama tidak mewajibkan.Imam Malik mewajibkan menggosok badan waktu Thaharah dan mengusap seluruh kepala. 3.Disukai tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya dalam tempat tertutup. Tidak menyalahi sunnah. Dikuatkan alasannya dengan dalil ( yang kuat ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RUKHSHAH‟ DAN „AMAL‟ Barang siapa yang terpaksa dengan tidak mengharapkan dan tidak mengulangi maka tidak ada dosa atasnya Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan ma'siat 119 . dan yang lain tidak mewajibkan 4.Tidak membuat/memperhatikan khilafiah yang lain 2. Keluar dari pendapat Imam Ahmad yang menganggap batal. Maka menganggap bukan wajib.1. Keluar dari pendapat Imam Daud yang menyebutkan batalnya Syarat: 1. tapi pekerjaan yang disukai. Keluar dari Imam Abu Hanifah yang mewajibkan.

Wajib mencuci kaki bagi yang ragu-ragu bolehnya mengusap sepatu 2. 2. mengharapkan darurat sehingga Ia dapat makan daging babi 3.Memisah misahkan rakaat dalam witir lebih baik daripada menyambungkannya dalam satu salam. seperti. Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan syak/ ragu Contoh-contoh: 1. jama shalat dan buka shaum.Contoh-contoh 1.separah ganjaran berdiri. karena tambah niat.Wajib shalat taam. mengharapkan sesuatu.Tidak boleh karena safar. / sempurna bagi yang ragu bolehnya qashar shalat Pahalamu sebanding dengan kepayahanmu Sesuatu yang banyak pekerjaan lebih banyak keutamaan Contoh-contoh 1.Tidak boleh karena safar.Shalat sunat duduk. dan jumlah salam. dan berbaring separah shalat duduk 120 . 2. qashar. tidak boleh beristinja dengan makanan . karena istinja dengan batu adalah rukhshah. takbir.Menurut asal.

7. lebih baik dari pada haji qiran Catatan:. lebih baik dari 5. tidak lebih baik. Kaidah ini untuk umum. tidak berlaku jika ada dalil khusus 1.Misalnya melakukan haji Ifrad .Bersidekah semua daging kurban.Shalat Dhuha 12 rakaat. 2. karena ada dalil 4.Shalat witir 3 rakaat. dari sidkahnya setelah diambil barang untuk mencicipi ( ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG TENTANG „ KEMAMPUAN‟ Apa yang aku perintahkan kepada kamu lakukanlah sekemampuanmu Apa yang tidak dapat dikerjakan seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya Contoh-contoh: 121 .Menjalankan sendiri-sendiri dua macam ibadah lebih baik daripada menjalankan dengan merangkapnya.3. tidak lebih baik dari 8 Karena 8 sering Nabi kerjakan.9 karena haditsnya lebih kuat 3.Shalat berjamaah 1 x lebih baik dari 27 x shalat munfarid.

jangan ditinggalkan sebagiannnya Yang mudah tidak gugur karena ada yang susah Contoh-contoh: 1. lakukan apa yang ada 7.Yang sanggup untuk seorang dalam zakat fitrah.Jika putus sebagian jari. lakukanlah 5. tidak gugur wajib shalatnya 3.Berkata Imam Syafi.yang luka pantang kena air. wajib mencuci yang tidak luka dan mengusap yang luka 122 . lakukanlah 6.i: yang bisu harus menggerakan lidahnya sebagai pengganti dari bacaannya. dan mampu 4 rakaat. lakukan semampunya 4.Yang tidak mampu shalat malam 10 rakaat. sebagian ada padanya dan sebagian lain ada pada yang lain / gaib. Seperti isyarat bagi ruku dan sujud 8. 3.1.Yang sanggup menutup sebagian auratnya. lakukanlah Dan yang semakna dengan kaidah ini Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya.Yang sanggup membaca sebagian surat al-fatihah dalam shalat. jangan ditinggalkan seluruhnya.Yang tidak dapat belajar atau mengajar semua cabang ilmu.yang tidak dapat berbuat baik dengan 1 dinar dan mampu 1 dirham lakukanlah 2. wajib cuci jari yang ada 2.Jika sulit melakukan ruku / sujud dengan sempurna.Yang telah nisab zakat.

Haram zina .Haram mengambil hadil zina. haram mencari uang untuk suap Apa yang haram mengambilnya haram pula memberikannya Contoh-contoh: 1.Haram dukun.KAIDAH FIQHIYAH „KASAB DARI YANG HARAM‟ Hendaklah ada diantara kamu satu umat yang mengajak pada kebaikan dan menyuruh pada ma’ruf dan melarang pada munkar Apa yang haram melakukan haram pula mencarinya Contoh-contoh: 1. haram pula pemberian / pembayaran hasil zina 3. haram pula memberikannya 2.Haram Suap. haram mencari upan untuk dukun 4. haram pula memberikannya 123 .Haramnya riba. haram pula mencari harta dengan cara riba 2.Haram mengambil hasil riba.

membuat tempat berdzikir. 4.8. 124 . 3./ bikin sungai.3. 6.Mengajar Ilmu lebih baik daripada shalat sunat 2.membuat tempat berlindung. haram pula memberikannya 4. menanam kurma.Haram mengambil hasil dukun.shadaqah Jariah. haram pula memberikannya QAIDAH FIQIYAH TENTANG KEBAIKAN KONTINU Dan kami menuliskan apa yang tgelah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereke tinggalkan Kebaikan yang berkelanjutan lebih utama dari kebaikan yang pendek Contoh-contoh 1.Imam Al-Suyhuti menyebutkan 10 amal yang mengalir setelah mati :1-Ilmu yang disebarkan. 7.Do’a anak. mengajarkan Alquran. 10.ikatan baik dengan tempat perbatasan musuh. (rangkuman dari hadits-hadits ). 2. 5.Haram mengambil hasil suap.Melakukan fardu kifayah lebih baik dari fardu ‘Ain karena menghilangkan kesulitan bagi umat 3.bikin sumur.mewaristkan kitab. 9.

Memakai wangi-wangian sebelum ihram lalu berjalan ke tempat lain setelah berpakaian ihram. maka tidak ada tanggunjawab. maka tidak ada fidyah padanya 5. Izinnya orang yang meminjamkan kepada yang meminjam untuk memukul hambanya yang dipinjamkan. kemudian bertambah. maka tidak ada tanggungjawab karena lahirnya binasa itu dari hasil izinnya 3. maka tidak boleh memilih pada yang lebih baik yang tidak aieb 2.maka pada pokoknya dimaafkan 6. maka menurut pendapat yang sah tidak batal puasanya. kemudian binasa karena pukulan. Kalau air berkumur melewati atau air menghirup ke dalam hidung melewati tenggorokan.QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RIDHA‟ Ridha terhadap sesuatu ridha terhadap apa yang dilahirkan daripadanya Contoh-contoh 1. karena itu lahir dari ridhanya QAIDAH FIQIYAH TENTANG HUKUM 125 . Seseorang berkata potonglah tanganku lalu dilakukan dan terputus. 4. Tempat meper maka dimaafkan. kalau mengalir pada tempat lain. Ridhanya suami istri karena aieb.

dan haram itu apa yang diharamkan Allah dalam Kitabnya. Masuk rumah yang lain atau memakai pakaiannya maka haram karena tidak ada ridha. dan apa yang Ia diamkan maka itu dari yang dimaafkan. Nabi bersabda halal itu apa yang dihalalkan Allah dalam Kitabnya. Haramnya makan racun karena membinasakan. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „IBAHAH‟ 126 . maka apabila hilang yang membinasakannya menjadi boleh.Hukum itu berputar beserta illahnya ada atau tidak adanya Contoh-contoh 1. maka apabila diketahui ridhanya menjadi boleh 3. maka ketika tidak ada sifat mabuknya maka menjadi halal seperti hamer dibuat cuka 2. Haramnya hamer karena mabuknya. seperti dibuat obat.

Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Mubadi Awalliyah. Nur Cahaya. As-Sulam. Binatang jerapah adalah binatang yang halal dimakan. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam.1986 Abdul Mujib. 1984 Utsman M. karena tidak memiliki sifatsifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya. 1929 Abdul Hamid Hakim. Al-Ma’arif. 1929 Mukhtar Yahya. 2.Asal dalam segala sesuatu itu boleh Contoh-contoh: 1. Raja Grafindo Persada 1996 127 . Yogyakarta. Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sipat-sipat dan ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada binatang haram adalah halal dimakan. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hamid Hakim. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah.

Mubadi Awalliyah. Diponegoro. Bandung 1993 Al-Khudari. Ilmu Fiqh. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Maktabah Sa'adiyah Putra. Qamarudin Saleh. Ushul al-Fiqh. Bandung. 1981 Abdul Hamid Hakim. Dar al-Fikr. Orba Sakti. Abdul Hamid Hakim. Jakarta. 1993. Asbabun Nuzul. 1958 H. DDII. 128 . Jakarta. Dar Fikr al-Arabi. 1929.Djazyuli. As-Sulam. Maktabah Sa'adiyah Putra. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. 1929. 1929.A. Baerut. 1972 Muhammad Abu Zahrah. Ushul al-Fiqh. Abdul Hamid Hakim Al-Bayan.

Orba Sakti. 1985. 1977. Departemen Agama RI. Muhammad al-Thahan. Taisir Mushthalah al-Hadits. al-Harmain. 129 . Ilmu Fiqh. Syafi’i Karim. 1995.Djazuli. Bairut. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Mukhtar Yahya. Bulan Bintang. H. 1986 Abdul Mujib. Nur Cahaya. 1984 Utsman M. Al-Ma. Al-Ta'rifat. Raja Grafindo Persada 1996.A.Munawar Khalil. Yogyakarta. Bandung 1993. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. 1992. Al-Jurjani. Fiqih Ushul Fiqh. Surabaya. Dar al-Kitab Arabi. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami.arif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful