HUKUM, SUMBER DAN DALIL

1. Pengertian Hukum Para ahli ushul menta'rifkan hukum dengan :

Perintah / firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan ( perintah dan larangan), atau pilihan (kebolehan ) atau wadh'i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang bagi seseatu hukum ) Dari definisi di atas menunjukan, bahwa yang menetapkan hukum itu adalah Allah Swt. Hanya Allah hakim yang maha tinggi dan maha kuasa. Rasulullah penyampai hukum-hukum Allah kepada manusia. Oleh karena Allah yang menetapkan hukum, maka sumber hukum yang pertama dan paling utama adalah wahyu Allah yaitu Alquran, kemudian sunnah Rasul sebagai sumber hukum yang ke dua, dan sumber hukum yang ke tiga adalah Ijtihad.

2. Pengertian Sumber dan Dalil Secara etimologi ( bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan

1

kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ). Jadi prosesnya ialah : Dalil dalalah - madlul Perintah shalat - Wajib shalat Api dari segi ruang

Aqiemu ash-shalat Asap -

Ada yang terbakar

Dalil dapat dilihat dari berbagai segi : Dari segi asalnya, limgkupnya, dari segi kekuatannya.

a. Dalil ditinjau dari segi asalnya Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam: 1.Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan alSunnah. 2.Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad. Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu: 1. Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini

adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully. Contoh berikut dari dalil kully:

2

Dalil ini disebut dalil kully dari Alquran karena mencakup berbagai macam kerusakan yang dilarang oleh Allah Swt.

Dalil Kully dari hadits ini, menunjukan bahwa perbuatan apapun hendahnya disertai niat, dan amal seseorang akan dilihat dari sisi niatnya.

Artinya: Kesulitan itu membawa kemudadahan. Dalil kully dari Qaidah ini, memberi arti bahwa segala sesuatu yang tadinya sulit akan menjadi mudah. Dalil kulli dari Qaidah kulliyah ini tetap kembali kepada semangat atau didasari oleh isyarat Alquran dan al-Sunnah.

2.Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu, seperti Ayat ini disebut dalil Juz'i, karena hanya menunjukan kepada perbuatan puasa saja.

c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu Dalil Qath'i dan dalil Dhanni. 1. Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :

3

4 . yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat Alquran yang dhanni wurud. adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad.kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. Contoh Dan bagimu ( para suami) separoh dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu. b. Dalil Qath'i Dalalah. terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah. jika mereka tidak mempunyai anak. Ayat ini tidak bisa diartikan lain. dan tidak semua hadits qath'i wurudnya. Dalil Qath'i al-Wurud. yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah ( Alquran) atau dari Rasulullah ( Hadits Mutawatir).Dalil Dhanni. b.a.Dhanni al-Dalalah. kecuali menunjukan bahwa suami mendapat setengah dari harta peninggalan istri jika istrinya tidak mempunyai anak. Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu. 2. a. Dan wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya (beriddah) tiga kali quru. Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Dalil Dhanni. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan .Dhanni al-Wurud.

apa yang dikemukakan Abdul Wahab Khalaf bahwa al-Adillah al-Ahkam identik dengan Mashadir al-Ahkam ( sumber hukum). karena yang dikatakan sumber itu harus berdiri sendiri. 5 . Qiyas. para ahli ushul Fiqh sering menyebut terhadap adillah ahkam seperti Ijma. disamping sebagai sumber hukum Islam. Ishtishhab. ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan. sebagai turuq istinbath al-Ahkam yaitu metode dalam menetapkan hukum. Oleh karena itu para ula sering berbeda pendapat dalam menentukan hukum dari ayat tersebut di atas. karena dalil-dalil ini hanya bersifat al-Kasyf wa al-Izhar li al-Hukum artinya hanya menyingkap dan memunculkan yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah. Dari pengertian dalil yang diungkapkan di atas. Karena itu dari sisi ini. mashlahah mursalah. Karena suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah. Alquran dan al-Sunnah juga disebut sebagai dalil hukum. istihsan dan lain sebagainya tidak dapat dikatakan sebagai sumber hukum Islam. mazdhab shahabi. Disamping itu. keberadaan suatu dalil. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa seperti. Urf. hukum bagi umat sebelum kita. mashlahah mursalah. Ijma. Qiyas dan istihsan misalnya. Sedangkan yang lainnya. 3. Qiyas dan sebagainya.Kata Quru dalam ayat di atas bisa diartikan haid dan bisa diartikan suci. Qiyas. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alquran dan alSunnah. Urutan Sumber Hukum Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Alquran dan al-Sunnah. istihsan. Oleh sebab itu. seperti Ijma. Ijma. maka dapat dikatakan bahwa. tidaklah dapat dikatakan sumber. Istihsan. Saddu zdara'i.

Turmudzi. Abu Daud) 6 . al-Qiyas. Syar'un man Qablana. Ijtihad.Alquran. Uruf. Saddu zdara'i. Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku.Bila diurut. al-mashlahah Mursalah. ( Ahmad. maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut : 1. Istihsan. Nabi bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab . 2. Mazdhab shahabi. Al-Ishtishhab. maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah saw. yang meliputi pada : Al-Ijma. Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Al-Sunnah 3. Urutah sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah.

bila membacanya mengandung nilai ibadah. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. kepada Kitab-kitab.ALQUR‟AN SUMBER HUKUM PERTAMA 1. 7 . 2. Seperti tertuang dalam ayat Alqur'an : Secara istilah Alqur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas Al-Jurjani mendefinisikan Alqur'an: Alqur'an adalah (Kalamullah) yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushhaf. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah swt. ditukil dari Rasulullah secara mutawatir dengan tidak diragukan. meliputi : a. Hukum dalam Alqur‟an Hukum-hukum yang terkandung dalam Alqur'an. tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. para Rasul Allah dan kepada hari akhirat. kepada Malaikat. Bentuk mashdarnya artinya ' bacaan' dan / Qara'a artinya ' 'apa yang tertulis padanya'. Tinjauan Bahasa Kata Alquran dalam bahasa Arab berasal dari kata membaca.Hukum-hukum I'tiqadiyyah.

Perinsip umum itu adalah Tauhidullah. Adapun dalam bidang-bidang lain yang pengaturannya bersifat umum. Banyak manusia yang menyekutukan Allah. disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-bidang hukum yang lainnya. Hukum Islam memberi peluang kepada masyarakat dan manusia untuk berubah. sedang keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat dan akan memberi warna terhadap yang lainnya. Hukum dalam Alqur'an yang berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang alAhwal al-Syakhsyiyah / ihwal perorangan atau keluarga.Hukum-hukum Khuluqiyyah.Hukum-hukum Amaliyah. persaudaraan. persatuan dan keadilan. Hal ini menunjukan bahwa manusia memerlukan bimbingan lebih banyak dari Allah swt dalam hal beribadah dan pembinaan keluarga. Hukum amaliyah ini ada dua. tentu ini sangat bermanfaat. yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan 8 . yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. 3. Namun kemajuan dan kedinamisannya harus tetap dalam batas-batas perinsip umum Alqur'an. maju dan dinamis. c.b. dan berbagai kasus dalam sepanjang jaman. karena dengan pengaturan yang bersifat umum itu Alqur'an dapat digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat. memberi peluang kepada manusia untuk berpikir. manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauhi prilaku yang buruk. Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. Alqur‟an dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alqur'an dalam menetapkan hukum menggunakan perinsip : a. ini perlu diluruskan dan teguran.

dan dalam keadaan sakit. hanya bagi orang yang mampu saja. misalnya kewajiban untuk shaum. Demikian juga misalnya . bertayamum sebagai ganti air untuk berwudhu.Menyedikitkan tuntutan Hal ini ditunjukan dengan firman Allah swt: Selain itu ayat Alqur'an yang berjumlah 6342 ayat ( menurut sebagian pendapat) hanya sekitar 500 ayat saja yang berkaitan dengan hukum. Haramnya minuman keras dan perjudian proses larangannya sampai tiga kali 9 . bahkan sebagian pendapat menyebutkan kurang dari 500 ayat. Ibadah hajji. makan makanan yang terlarang dalam keadaan darurat. juga hanya bagi orang yang istitha saja.Bertahan dalam menterapkan hukum Hal ini dapat ditunjukan dengan beberapa contoh. keringanan). c. mengqasar shalat dari empat menjadi dua rakaat. perintah zakat. bepergian boleh buka dan mengqadanya.Dijumpai dalam Alqur'an hukum-hukum yang bersifat azimah ( kemestian ) dan hukum rukhshah ( kelonggaran. b. Ini menunjukan bahwa Alqur'an menyedikitkan tuntutan.

mereka pun akan memaki-maki Allah. Perubahan dari masyarakat Jahiliyah ke masyarakat Islam tidak sekaligus.Dari ayat-ayat tersebut jelas tahapan-tahapan dalam mengharamkan khamer dan maisir. tapi bertahan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. kemudian dikuatkan kembali dalam surat Al-Nisa: 43 tidak boleh mendekati shalat jika mabuk. Dalam ayat 219 Al-Baqarah.Alqur'an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia. karena bila kita memakimaki berhala. Hal ini dibuktikan dengan seringnya Alqur'an menyebutkan sebab atau illat hukum. 10 . Akhitnya diharamkan dalam surat Al-Maidah: 60 Pentahapan diperlukan agar tidak ada goncangan kejiawaan dan kewajibankewajiban bisa dilaksanakan dengan mantap. Misalnya tentang adanya pengaturan harta. d. disebut bahwa pengaturan tersebut dimaksudkan agar harta itu tidak hanya berputan di antara orang yang kaya saja. hanya disebutkan bahwa dosa minum khamer dan bermaisir lebih besar daripada manfaatnya. Juga dalam hal tidak boleh mencaci berhala: Dalam ayat ini ada larangan memaki-maki berhala.

Yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya.Dalam ayat tersebut dilarang mendekati perbuatan yang akan mendorong pada zina. antaranya 3. Mukzijat Alqur'an juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alqur'an datang dari Allah swt. dan ini memberi keyakinan bahwa Alqur'an itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. 2. Mukzijat Alqur'an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alqur'an itu datangnya dari Allah. Seorang mujtahid tidak dibenarkan menjadikan dalil lain sebagai hujjah sebelum membahas dan meneliti ayat-ayat Alqur'an. Oleh karena itu dalam hukum Islam tindak pidana zina bukan delik aduan akan tetapi delik biasa. Alqur'an itu diturnkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. Ada beberapa alasan yang ditemukan ulama ushul fiqh tentang kewajiban berhujjah dengan Alqur'an: 1. Zina itu termasuk pada perbuatan yang keji dan menuju pada kehancuran Akhlak manusia. 4. Apabila hukum permasalahan yang ia cari tidak ditemukan dalam Alqur'an. maka barulah mujtahid tersebut mempergunakan dalil lain. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat 11 . Kehujjahan Alqur'an Para ulama ushul fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Alqur'an merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib dilaksanakan.

ayat-ayat waris. Mukzijat Alqur'an menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menadingi Alqur'an itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. Oleh sebab itu.kata quru di atas merupakan lafal musytarak yang mengandung dua makna. kaffarat. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. dari segi turunnya berkualitas qath'i ( pasti benar) akan tetapi. hudud . yaitu suci dan haidl. Alqur'an Dalil Qath'i dan Zhanni Alqur'an yang diturunkan secara mutawatir. Misalnya lafal musytarak (mengandung pengertian ganda) yaitu kara / lafal yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228. sebagaimana yang dianut ulama Syafiiyyah ' adalah boleh / benar. 6. Contoh dalam Kaffarat sumpah : Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alqur'an mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan.manusia. Dan jika diartikan dengan haidl juga boleh (benar) sebagaimana yang dianut ulama Hanafiyah. Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : 12 . Ayat-ayat seperti ini. 5. misalnya . hukum-hukum yang dikandung Alqur'an ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zdanni (relatif benar). apabila kata quru di artikan dengan suci.

bersifat global / kully. Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. hudud. seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah. dan muthlaq ini. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan. yang tidak bisa dimasuki oleh logika. Demikian juga dalam masalah zakat. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. dan kaffarat. berapa nisab nisab zakat. Rasulullah saw. hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana. berapa ra'kaat untuk satu kali shalat. Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. umum. hukum waris. mengkhususkan. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl : 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah kepada mereka. seperti dalam masalah shalat yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan. tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati. dan membatasinya. dan muthlaq. umum. apa hukum dan syaratnya.1. Untuk hukum-hkum yang bersifat global. 2. hukum-hukum yang rinci ini. 13 . dan berapa kadar yang harus dizakatkan.

Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. perbuatan atau persetujuan. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti ' cara yang dibiasakan' atau ' cara yang terpuji.Dalil Alqur'an 14 . 2. Dari arti-arti di atas maka yang sesuai untuk pembahasan ini adalah hadits dalam arti khabar.SUNNAH SUMBER HUKUM KEDUA 1. yang mempunyai beberapa arti: = baru. selain Alqur'an baik berupa perkataan. = berita. = dekat. Sunnah lebih umum disebut hadits. seperti dalam firman Allah Secara Istilah menurut ulama ushul fiqh : Semua yang bersumber dari Nabi saw.

Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. Ahmad c. dan jika tidak mendapatkan dari Alqur'an. bersabda : ingatlah sesungguhnya telah didatangkan kepadaku Alqur'an dan yang sepertinya bersama Alqur'an. juga Umar bin 15 . gigitlah sunnah dengan taring. mereka bertanya-tanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. dengan ungkapan yang berbeda-beda. Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnahku. ( Yaitu telah diberikan kepadaku yang sepertinya berupa Al-Sunnah ). Al-Ahzab : 36. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar.Dalam Alqur'an banyak ayat-ayat yang menunjukan bahwa kaum muslimin diperintah untuk mengikuti Allah swt dan Rasulnya saw. mereka mencarinya dari Alqur'an. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. Ijma Shahabat Setelah wafatnya Rasulullah saw. misalnya dalam Ali Imran :32. diantaranya berbunyi : b. sunnah khulafau' alRasyidin yang pada mendapat petunjuk .Dalil Al-Sunnah Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw yang memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Sunnah. Al-Nisa : 80. di antaranya : Nabi saw.

tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya.Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. - b. misalnya tentang Shalat. pada umumnya bersipat global. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alqur'an.Sebagai Muaqqid Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alqur'an dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah.Logika Alqur'an memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya. puasa dan ibadah haji. zakat. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alqur'an Hubungan Al-Sunnah dengan Alqur'an dilihat dari sisi materi hukum yang terkandung di dalamnya sebagai berikut : a. misalnya tentang shalat. zakat terdapat dalam Alqur'an dan dikuatkan oleh Al-sunnah. d. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. 3. Sebagai Bayan 16 .

dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya.Menciptakan hukum baru. haji dan shaum. Demikian juga tentang zakat. Alqur.Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alqur'an yang masih mujmal. misalnya perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. dalam hal ini ada tiga hal : 1). hati dan limpa. Alqur'an memerintahkan untuk berwasiat. diperjelas dengan Sunnah. kemudian al-Sunnag mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. 4).Mentakhshishkan keumuman Misalnya. belalang.Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur.an yang belum jelas. - 3).an mengharamkan tentang bangkai. darah dan daging babi.Membatasi kemutlakan ( taqyid al-muthlaq) Misalnya. 17 . Kemudian Al-Sunnah membatasinya. Dalam Shalat misalnya 2).

dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alqur'an. Macam-macam Sunnah Sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam. Tidak ada kemadharatan dan tidak pula memadharatkan Hadits ini adalah Sunnah Qauliyah yang memberikan sugesti kepada umat Islam. 4. yaitu : a.Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. Sunnah Qauliyah.Diyakini benarnya.Misalnya. seperti berita yang disamapaikan oleh orang bodoh 18 . 3) Yang tidak diyakini benarnya. agar tidak membuat kemadharatan bagi dirinya juga bagi orang lain. Contoh perkataan Nabi saw. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. dan burung yang berkuku kuat. Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada 3 hal : 1).Diyaniki dustanya. yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir 2). hal ini ada tiga : a. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar. atau berita berupa perkataan Nabi saw. dan juga tidak diyakini dustanya. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat.

Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. seperti khabar yang disampaikan oleh orang adil c. Sunnah fi'liyah ini menunjukan tidak ada kewajiban untuk diikuti dan bersifat mubah. duduk. cara berwudlu yang dipraktekan Nabi Saw.Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan seperti gerakan badan dan gerakan anggota badan.b. cara minum yang diajarkan 19 . keduniaan. 2). b.Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. ada yang harus diikuti oleh umatnya. seperti cara shalat. Seperti petunjuk cara makan yang ditunjukan Nabi saw. budaya dan kebiasaan. Sunnah fi'liyah ini terbagi kepada beberapa bentuk.Perangi yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. setrategi berperang.Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. seperti khabar yang datang dari orang fasik ( orang yang mengakui peraturan-peraturan Islam tapi tidak mengindahkannya. bentuk tersebut : 1). Ini lebih pada urusan. 3). dan ada yang tidak harus diikuti.Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. seperti kebiasaan berdiri. cara bercocok tanam dan lainnya.

Seperti Adalah Nabi saw. 6)Apa yang dilakukan Nabi saw. c.Bukhari) ini menunjukan bahwa orang yang berwudhu boleh satukali-satukali dan boleh duakali-duakali. shalat lima waktu. Menurut Imam Syafi'i ada dua pendapat. apakah akan dipandang Jibilah.Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. Adapun urusan alQurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. Maka Abu Ishaq meriwayatkan dari banyak muhaddits yang memandang Mandub. Seperti perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. memakai bajunya di atas dua mata kaki.Nabi saw. 5). tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. demikian juga ibadah Haji. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. seperti yang diriwayatkan An-Nawawi tentang wudhu Nabi saw. (R. dengan perbuatannya. diperjelas oleh Nabi saw. Maka hukumnya sama dengan yang hukum mujmal tersebut. seperti shaum Ramadhan. menjelaskan akan kebolehan / jawaz . saja. seperti melakukan shaum wishal. Sunnah Taqririyah 20 . 4). ibadah hajji dll. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal / samar tidak jelas. atau akan dipandang tasyri / syariat. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. itu harus diikuti oleh orang muslim.Apa yang dilakukan Nabi saw. dan beristri lebih dari empat.

namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. terhadap orang yang tidak melihat untuk berbelanja dan berjualan di pasar. 5).Taqrir Nabi saw. 2). 21 . 3). 4). Contoh 1). mencuci. seperti memasak. terhadap 'Aisyah yang melihat orang Habasyah yang sedang bermain perang-perangan di Mesjid. Maka Nabi tertawa dan tidak berkomentar apapun. tidak menyuruh untuk mengembalikannya. membuat kueh. menunjukan persetujuan nabi. tapi hendaklah bertaubat dari pekerjaannya yang telah lalu. Nabi saw. misalnya dengan cara riba. dengan seizinn dan ridhanya.Taqrir Nabi saw. membereskan rumah dll. karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran.Taqrir Nabi saw. hal ini kerena kalaulah Nabi tidak setuju. yang tidak mandi junub ia hanya tayamum karena malam sangat dingin dan hawatir akan sakit. Ia menjawab " saya ingat firman Allah swt ' janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri". Hal itu disampaikan pada Nabi saw.Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw.Taqrir Nabi terhadap harta para sahabat yang diperoleh ketika mereka musyrik. Nabi bertanya kepadanya.Amr ibn al-'Ash. karena Nabi tahu keperluan orang buta sama dengan keperluan hidup orang melihat. atau sepengetahuan Nabi . terhadap para wanita keluar dari rumah untuk hadir di mesjid mendengarkan khutbah-khutbah. maka sikap diam dan tidak mecegahnya. akrena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. tentu Nabi tidak akan membiarkan Sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah. terhadap para Lelaki membantu pekerjaan istrinya di rumah.Taqrir Nabi saw. 6).

Mutawatir itu ada dua : 1)Mutawatir lafzhi.7) Taqrir Nabi terhadap ingkar janjinya Abu Bakar.Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakan untuk berdusta. Contoh : 2). haji dan lain-lain. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah ( yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. Tentu Nabi tahu jika janjinya ditepati akan membawa kemadharatan.nanya. a. perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. hadits dibagi kepada. Sedangkan menurut jumhur. Hadits Mutawatir dan Ahad. 5.nawi 22 . yang berjanji saat Ia marah tidak akan makan. shaum. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits: Mutawatir. hadits masyhur masuk pada pembagian hadits ahad menurut ulama jumhur. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan ma. Masyhur dan Ahad. Pada sunnah qauliyah tidak sebayank sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir.Mutawatir Ma. kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali.

Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw.Hadits Shahih.Nabi shalat magrib 3 rakaat dalam safat. . Hadits Ahad ini terbagi kepada : Masyhur. Contoh 2). tapi susunan masingmasing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. 1). dan Dhaif. kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabiut' tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas nutawatir. dan sempurna ketelitiannya. seperti shalat magribtiga rakaat. Dari bermacam-macam riwayat ini ada kesamaan yaitu ' shalat magrib 3 rakaat'. masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Madinah . shalat magrib 3 rakaat di rumahnya . oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir.Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain. Hasan . oleh sejumlah orang yang idak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. Dan dalam definisi lain.Shahabat-shahabat Nabi shalat magrib 3 rakaat diketahui Nabi saw. b. diterangkan dalam beberapa riwayat.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Mekah . tidak 23 . sanadnya bersambung.Hadits Adah Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. sampai kepada Rasulullah. Shahih.

24 . muallq. segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. munkar dan mubham. walaupun hanya sekali saja dalam hidup. bahwa para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal. Contoh 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Pengertian yang terkandung di dalam hadits tersebut masih tercakup dalam pengertian yang terkandungdalam hadits shahih yang berbunyi : 6. munqathi. sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah.. dan walaupun diriwayatkan hanya seorang.mempunyai cacat atau illat. inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif. Contohnya 3). dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. mudallas. tetapi kurang ketelitiannya. antara lain Hadits Maudhu. Hadits Hasan. mursal. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. Hadits Dhaif ini banyak macamnya. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. mudraj. mudtharib. Imam An-Nawawi berkata. Contoh hadits dhaif tentang fadhilah amal. bukan dalam Asal / pokok amal. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits.

yakni cara Rasul melaksanakan ibadah. yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Dan menurut Istialah Ulama Ushul berarti : 25 . adalah nama amaliyah yang mutawatir. Dan juga bermakna artinya yaitu artinya Ia Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan. sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan.Sunnah. Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata kesulitan. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan. IJTIHAD SUMBER HUKUM KE TIGA 1. berupaya keras. seperti kata berupaya keras mengangkat batu penggilingan.

Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukan oleh Nash Qath'i. Istishab. maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad. b. Qiyas. Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu.Mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan melakukan penelitian / kesimpulan dari Kitab dab Sunnah. Ini dapat dilakukan dengan. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu: a.Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniyul wurud ( hadits-hadits ahad). Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum . Urf dll. Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i.hukum syara ( dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaflikasiannya. dan zhanniyu al-dalalah ( Nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan). dan Khulafa Rasyidin 26 . 2. 3. Istihsan. ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam nenerapkan huku (Ijtihad fi tathbiq ahkam). Ijtihad pada masa Rasul saw.

b. Dari dua pendapat itu. Ijtiha Umar r. karena ia berpendapat bahwa kemaslahatan yang diharapkan akibat pemberian hukum. Ijtihad Abu Bakar dalam hal orang yang membangkang membayar zakat. 4. Atas keadaan yang demikian itu Umar r.a. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan. dan akibatnya terjadi pula pencurian. Pada masa Umar r.a. hafizh Alquran. Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar.a. tidak bakal terrealisir beserta adanya bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. Ia berpendapat bahwa orang yang membangkang membayar zakat harus diperangi sampai mau membayar zakat. karena hawatir para Qa'ri banyak yang meninggal. penulis wahyu. antara lain Zaid bin Tsabit. Ijtihad Abu Bakar.Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. dibentuk panitia yang terdiri dari para Qa'ri. tidak menghukumnya dengan potong tangan. pernah terjadi kelaparan. Lalu setelah menemukan kata sepakat. yakni menerima tebusan. adalah. Di antara ijtiha para Shahabat ialah : a. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i 27 . Ijtihad Abu Bakar tentang usulan Umar bin Khatab untuk memushhapkan Alquran. tentang tawanan perang Badar. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja.

dan aku tidak akan meninggalkannya). 2)Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas. terdiri dari Kakek bersama saudara. antara lain: 1). 3).Dalam kaitannya dengan ahli warits yang ditinggalkan oleh yang mati. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. Abu Bakar.Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. Adanya ijtihad fardi ini dapat ditunjukan dengan beberapa alasan.Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasulullah jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. maka ijtihad terbagi pada : a. Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa 28 . Demikian juga pesan Umar kepada Qadhi Suraih: dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu Apa yang tidak jelas bagimu terdapat dalam al-Sunnah maka curahkanlah fikiranmu (berijtihad). Muadz menjawab ( akau akan berijtihad dengan fikiranku. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. Ijtihad Fardi. yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah.saudara terhijab oleh kakek. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah ?. maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. Ijtihad Jama'i.Kesepakatan para shahabat atas tindakan Abu Bakar r. Alasan adanya ijtihad jama'i ini. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. memerangi pembangkang membayar zakat. 29 . dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. b. Contoh yang menunjukan adanya ijtihad jama'i ini: 1). setelah terjadi pertukaran pendapat di antara mereka. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. Di sini kakek tidak menghijab saudara.a. yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. Sedang menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah ( membagi sama) dengan Saudara. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang.

30 . disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. Agar seorang mujtahid dapat berijtihad.Syarat-syarat Ijtihad.Kesepakatan para shahabat atas keimaman Abu Bakar dan persetujuan mereka.2).a untuk menulis mushhaf Alquran. ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya. akan digantikan jabatan khalifah oleh Umar r. yakni mngetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum / istinbath daripadanya. dan tahu antara 'aam . b. ta'wil. sharaf.Mengetahui nash-nash hadits. mutasyabih . yang sebelumnya Abu bakar merasa keberatan karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath.a. c. balaghah dal lainnya.Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. dan lainnya. 3).Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya. ilmu nahwu. juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa ( natsar) maupun syair ( nadham).muhkam. 5. Juga mengetahui asbab al-nuzul. dan hasil ijtihadnya berkualitas. haqiqat majaz.Kesepakatan para shahabat atas saran Umar r.khash. sewaktu beliau masih menjabat. maka ia harus memiliki syarat-syarat : a.

Jika usaha tidak berhasil lakukan. lalu selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shabat. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum mathuq dan dan mafhum dari keduanya. lalu memperhatikan pada perbuatan nabi/ hadits fi'li. f. e. dengan menggunakan ilmu tarjih.. 31 . a. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan. Mentarjihkan salah satunya. sebagai ilmu metoda isthinbath. sanggup mengetahui illat hukum.Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat. b. dapat mengqiyaskan satu peris dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat. hendaknya. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat.Mengetahui ilmu Ushul Fiqih.d. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. 6. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya.. Jika usaha ini berhasil. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw.Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. metoda menemukan dan menterapkan hukum.

a. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. Mereka itu Imam Abu Hanifah. d. Muhammad ibnu Hasan dalam madzhab Syafi'i. dan berijtihad dengan hasil sendiri. dalam madzhab Maliki. untuk ditentukan yang datang kemudian / belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. Imam Ahmad bin Hambal. Imam Syafi'i. Imam Malik. 7. Membekukan ( tawaqquf) . untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai. Merekalah yang membangun mazdhab.Mujtahid al-Muntasib Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok.Mujtahid fi syar'i Yaitu orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad. sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu. Meneliti sejarah datangnya kedua nash. dan berbeda dalam hal cabang. Imam Au'zai dll. b. mujtahid itu ada beberpa tingkatan.c. yaitu. 32 . Mujtahid ini seperti Abdurahman bin al-Qasim.

akan tetapi mereka hanya mengikuti Imam madzhab yang telah ada . Misalnya Imam Abu Yusuf adalah mujtahid pada madzhab Hanafi. mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu. tapi Mujtahid itu hanya melakukan tarjih. dan perbandingan di antara pendapat. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu.Mujtahid al-Murajjih Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidahqaidah lama. Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini. d.Tingkatan Muhafidh 33 .c. yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. mengembangkan dasar-dasar madzhab.Mujtahid fi Madzhab Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk madzhab tersendiri. Pekerjaan mereka dalam berijtihad adalah mengeluarkan hukum / istinbath dari masalah yang tidak diriwayatkan oleh Imam. mereka menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan yang lemah dengan argumen qaidah tarjih.Mereka itu. Imam al-Muzani mujtahid pada Imam Syafi'i. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. e. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya. dan meletakan dasar-dasar tarjih. baik dalam masalah yang pokok atau masalah cabang.

Tingkatan Muqallid Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu. riwayat yang jarang. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. riwayat. tapi mengetahui mana yang kuat.Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. antara pendapat dan riwayat-riwayat. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih. 8. riwayat yang dhahir. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. madzhab yang dhahir. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. f. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. Alquran 34 . Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih.

c. lalu benar maka baginya dua ganjaran dan jika salah maka baginya satu ganjaran. dengan jalan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqasid alsyariah. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. b. sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas.Yang dimaksud dengan mengikuti Allah dan Rasulnya dalam ayat tersebut adalah mengikuti yang telah ditetapkan dalam Alquran dan al-Sunnah. tapi kembali kepada yang telah disyariatkan Allah dan Rasulnya. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu 35 . dan yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Jika hakim berijtihad . Al-Hadits Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. Logika. ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu.

'IJMA' DASAR HUKUM ISLAM 1. Tinjauan Bahasa 36 . selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad.mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi.

37 . pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. b.Alasan Hadits .Alasan Alquran Lafadz ulil amri. 2. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama. maka wajib diikuti. seperti kepala negara. seperti pada ayat berikut ini: Juga berarti tekad atau niat ( ) Tidak ada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niat puasa pada malam Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ' ijma ' adalah Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw.akan suatu hukum syariat yang amali. mentri dan lainnya. para mufti dan para ulama. Umatku tidak sepakat untuk membuat kesalahan. seperti para mujtahid. dan mencakup pemegang urusan agama.Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus. Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a.

di sisi Allah pun dipandang baik juga. baik dengan perbuatannya. akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. Jumhur mengemukakan sejumlah contoh. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. misalnya Qadhi dengan keputusannya. d. misalnya dengan fatwa. Pengangkatan Khalifah Abu Bakar r. b. Unsur-unsur Ijma Dengan memperhatiakn definisi ijma di atas maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur ijma itu: a. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma ' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan'. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi. atau dengan perkataannya..Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Muslim. Harus ada kesepakatan di antara mereka c. Kebulatan pendapat harus tampak nyata. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. akrena itu ahli ushul fiqih menyebutkan. itu bukanlah dalil yang menyendiri. . Firman Allah AlNisa:59 ijma 3. Terdapat beberapa orang mujtahid.terhijabnya cucu laki-laki dari anak laki-laki oleh anak laki-laki /ibnu 38 . 4.hak pusaka nenek 1/6 dari harta peninggalan .a.

Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. d.Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsurunsur yang ada. b.. Salah seorang ulama bernama An-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. Imam Daud berkata Ijma itu hanyalah ijma shahabat belaka 5. Ijma Ummat. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. maka terdiri dari : a. c. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. Yaitu persesuaian ahli Kufah. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. terhadap sesuatu masalah.saudara sebapak mempunyai setatus mengganti saudara seibu-sebapak. ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan. 39 . Batalnya pernikahan muslimah dengan non-muslim.

Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadits: -Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa al-Rasyidin. 40 . dan telah diberiwaktu untuk membahasnya. ijma terbagi kepada dua: a. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah.ulama Hanafiyah yang memandang hujjah. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. b. yaitu Abu Bakar dan Umar. sedang ijma bentuk ke dua disebut ijma I'tibari. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. atas dasar Teladanilah kedua orang ini sesudahku. karena diamnya mujtahid dipandang menyetujui apabila masalahnya telah dikemukakan kepada mereka. f. Ijma bentuk pertama disebut juga ijma ijma Haqiqi. hanya ulama . yang menjadi hujjah menurut ulama Jumhur. dan diamnya bukan karena takut. sedang sebagian lainnya diam. Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan ( menfatwakan atau mempraktekan ). tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat.e. menurut jumhur bukan hujjah.

Dilihat dari sisi prosesnya. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad. maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. 'QIYAS' DASAR HUKUM ISLAM 41 . Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid.

ukuran. : Ia telah mengukur. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : 42 . Ia telah mengukur sesuatu dengan lainnya atau atas lainnya. timbang/an. Si pulan tidak sama dengan si pulan Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah bermacam-macam: Mengeluarkan hukum yang sama dari yang disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara keduanya. Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran. Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya 2. Mengukur sesuatu atas misal yang lain dan menyamakan dengannya. Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan ( diterangkan) karena ada illat hukum. sukatan. : Ia sedang .1. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata mengukur.

Maka Qiyas adalah mengembalikan urusan yang tidak ada Nashnya kepada yang ada nashnya dari Alquran dan al-Sunnah. 2. Maka qiyas adalah menyamakan hukum diantara dua masalah. artinya. searti dengan kata al-taswiyah. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata ubur.Alquran Jumhur ulama ushul. Ayat di atas menyuruh mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasulnya. melewati atau melampaui.1. Maka Qiyas itu melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada hukum cabang. kata al-'Adlu. memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas alasan ayat di atas. baik urusan yang ada nashnya dan yang tidak ada nashnya. Dengan demikian Qiyas termasuk pada makna ayat di atas.Al-Sunnah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa Rasulullah menyetujui apa yang akan diputuskan Muadz bin Jabal dengan Ijtihad setelah tidak ada pada Alquran dan al- 43 . maknanya seimbang atau sama. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas. Ibnu Taimiyah berdalil dengan ayat di atas tentang Qiyas jahi hujjah. dengan alasan.

Sunnah. Maka dalil di atas memberi isyarat akan bolehnya Qiyas, karena Qiyas itu termasuk Ijtihad. Dalam peristiwa yang tidak ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya dengan jalan Qiyas, misalnya, saat Rasulullah menjawab pertanyaan Umar r.a. tentang mencium istri saat shaum, Rasulullah mengqiyaskannya kepada berkumur-kumur waktu shaum, karena sama illatnya yaitu perbuatan permulaan, maka hukumnya sama tidak merusak shaum.

3.Perkataan dan perbuatan shahabat. a. Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu, yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu

b.Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu Beliau sakit.

4. Alasan Logika

44

a.Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.

b.Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan.

c.Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

3. Rukun Qiyas a. Asal Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih, / musyabah bih. b.Cabang Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah. c.Hukum Asal

45

Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. d.Illat Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Contoh-contoh: Pokok 1.Khamer 2.Gandum 3.'Uf'' pd. orang tua 4.Makan harta yatim Wisky Padi / Beras Memukul orang tua bakar harta yatim Cabang Illat memabukan makanan pokok menyakiti merusak harta hukum haram wajib zakat haram haram

4. Syarat Qiyas a.Syarat-syarat Pokok 1).Hukum pokok itu masid ada atau berlaku/ tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum. 2).Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa 3).Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian, seperti tetap dipandang sah puasanya orang yang lupa meskipun makan dan minum, mestinya puasanya itu menjadi rusak, karena sesuatu tidak bisa tetap ada bersama adanya penghalang. Namun tetap dipandang sah karena ada hadits yang mengecualikan. Maka seperti ini

46

47 . Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. memabukan adalah illat haramnya meminum minuman keras.tidak bisa jadi pokok.Syarat-syarat Illat 1).Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. sedang tayamum setelah Hijrah. Misalnya mengqiaskan wudhu kepada tayamum dalam wajibnya niat karena keduanya samasama taharah. 2). karena itu tidak sah mengqiyaskan orang yang dipaksa kepada orang yang lupa. yang menurut ulama Ushul ' apabila datang nash. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. karena wudhu ada sebelum Hijrah. 4).Syarat-syarat Cabang 1).Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat. manakala ada illat. qiyas menjadi batal. 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. Qiyas tersebut tidak benar. tentu ada hukum. 3).Illat berpengaruh pada hukum. b. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya.Illat Harus tetap berlaku. Hukum bagi orang lupa hukum pengecualian. Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. seperti melindungi jiwa adalah illat wajibnya qishash.

tidak dapat dipakai arti lain selain untuk memberi illat larangan menyimpan daging binatang Qurban. makanlah dan simpanlah.3). Hanyalah aku melarang kamu dari menyimpan daging binatang korban. kecuali hanya untuk memberi illat diutusnya para Rasulullah saw. jika berlawanan maka nash yang didahulukan. bahwa perempuan itu dapat memiliki dirinya.Illat tidak berlawanan dengan nash. Maka (jika tidak banyak lagi orang berkumpul). 48 . Misalnya. dan adakalanya dengan isyarat. Maka ini berlawanan dengan nash. diqiaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya. maka nsha yang didahulukan. tidak dapat diartikan dengan arti yang lain. Kalimat liajliddaffah.Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih). 1). Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat Ada beberapa cara untuk mengetahui illat hukum yaitu dengan melalui: Nash. karena banyak orang berkumpul ( yang memerlukannya). maka sah nikahnya tanpa izin walinya. Contoh yang Sharih di antaranya: Kalimat liallaa yakuna sampai kalimat ba'da rasul. seperti . Ijma dan Istinbath ( penelitian ). Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata.

mak hukumnya qath'i. dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. di antaranya: Kalimat yang digaris bawah adalah illat larangan jual beli hari jum'at Kata yathhurna adalah illat boleh -campur Kalimat 'al-qatilu' ialah illat tidak mewarisi 2). e). 3).Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a. b) Dengan qiyas pula didahulukan anak paman seibu sebapak dari anak pamam yang sebapak.Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. c) Didahulukan anak saudara laki-laki seibu sebapak dari anak laki-laki sebapak. Didahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari saudara sebapak dalam waris.Contoh dengan isyarat. Al-Munasabah 49 . Contoh Illat yang diketahui dengan melalui Ijma seperti a) mendahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari pada saudara laki-laki sebapak dalam warisan karena ada talian kekerabatan ibu.

diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya.Al-Sabru wa al-Taqsim Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat.AlBaqarah:179 3).125.Hifdlu al-Aqli. al-Nur ayat : 2 6). 5).Hifdhu Nasal. menjaga keturunan adalah sifat dari disyariatkannya haram berzina dan diwajibkannya hukum Had dan ranjam. misalnya 1). 2). 50 . dari disyariatkannya memerangi orang kafir dan yang menghalangi da'wah. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam. mempertahankan agama adalah sifat/ illat.Hifdlu al-Dien.Hifdlu A'radh. al-Nur : 4 b.Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok.Hifdlu al-Nafs. al-Maidah : 38 4).Hifdlu al-Maal. menjaga jiwa adalah sifat dari disyariatkannya kishash. menjaga akal adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had bagi peminum khamer. menjaga harta adalah sifat dari disyariatkannya hukum potong tangan. menjaga kehormatan atau kemuliaan diri adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had / jilid 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berzina tidak dapat membuktikan 4 orang saksi. Al-Baqarah: 193 dan al-Nahl.

sedang illatnya sama sebagai hamba sahaya. Maka ditetapkan hukum bagi setiap pembunuhan dengan alat apa saja. apa termasuk mencuri ? Apa mesti di potong ? menurut madzhab Syafi'i dan Maliki mesti dipotong. yang bedanya ialah kelaki-lakiannya. Misalnya. Khamer : Ada sifat Baunya. mengistinbath bahwa pembunuhan mewajibkan adanya qishash. c. d. menurut Hanafi tidak dipotong. ada warna.Takhrij al-Manath Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui.Tanqih al-Manath Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. 51 .Tahqiq Al-manath Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. misalnya: Mencuri itu . Maka diambil yang memabukannya. tapi diperselisihkan pada cabang. mengambil barang orang lain dari tempatnya ini (pokok). Mengambil kapan di kuburan ( cabang ). dan ada memabukannya. baik alat itu digunakan saat turun ayat Alquran atau alat itu tidak digunakan. e. Mengqiaskan Ammat (hamba perempuan) kepada Abdun (hamba lakilaki).Misalnya. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. yaitu pembunuhan dengan sengaja mempergunakan alat atau sesuatu yang biasa digunakan untuk membunuh.

juga menyakiti jasmani. Sedang makan harta anak yatim diharamkan ( Alquran : al-Nisa : 10). lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih.Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. Mengucapkan 'ah' kepada orang tua dilarang dan haram karena Illatnya menyakiti.Qiyas Aula Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. karena persamaan illat 52 . Memukul orang tua tentu lebih dilarang karena selain menyakiti hati. 2. Macam-macam Qiyas Qiyas itu ada beberapa macam. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih.Qiyas al-Adwani Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. dari sisi merusaknya. Misalnya mebakar harta anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim. Misalnya. Misalnya qiyas sebagian ahli Ushul. dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi ( mulhaq bih ). 3. antara lain: 1. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. karena sama-sama merusak harta. membandingkan memukul orang tua kepada ucapan 'ah '.5. Maka membakar harta anak yatim haram diqiaskan kepada memakannya. tentang terlarangnya perhiasan perak bagi laki-laki diqiaskan kepada terlarangnya perhiasan emas bagi laki-laki. ( al-Isra : 23 ).

53 . harta milik anak kecil tidak wajib dizakati. Misalnya mengqiaskan harta milik anak kecil kepada harta milik orang dewasa dalam kewajiban mengeluarkan zakat. diqiaskan kepada ibadah haji. Maka Illat pada perak lebih rendah daripada illat yang ada pada emas. 4. dihadiahkan. Namun budak tersebut diqiaskan dengan harta benda. karena keduaduanya sama-sama dapat dimiliki. tetapi tidak mewajibkan hukum padanya. Hamba yang dirusak itu bisa diqiaskan dengan orang merdeka. menunjukan hukum. 5. Karena hamba itu diqiaskan kepada harta. Haji tidak wajib bagi orang yang belum dewasa. karena sama dapat diperjual belikan.Qiyas Dilalah Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. maka hamba yang dirusak itu dapat diganti dengan nilai. Misalnya.Qiyas Syibhi Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok ).khuyalaa ( sombong ). Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. Dapat pula diqiaskan kepada harta benda. Dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah. diwariskan. Dalam hal ini Imam Abu Hanifah berpendapat. karena sama-sama keturunan Adam. seorang hamba sahaya yang dirusak oleh seseorang.

Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti. memberi arti istidlal secara umum. yaitu dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. yaitu menentukan Terdapat arti istidlal yang lebih khusus. alSunnah. seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim. menarik kesimpulan. maka hendaklah mencari dalil lain. Imam al-Jurjani. memperoleh dalil. 54 . lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran .ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya : minta petunjuk. yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan alSunnah. kemudian al-Sunnah. Al-Ijma dan Qiyas. ( Istidlal ). menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas.

/ al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. Kata lain dalam Bahasa Arab : Saya membawa serta apa yang telah ada pada waktu yang lampau Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: 55 . 2. antara lain: 1. Pengertian Bahasa Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya ' menemani ' atau ' menyertai'. juga istimrar al-suhbah . terus menemani.Para ulama ushul fiqih. 5. 7. 4. 8. 3. menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. 6. / al-Urf ISTIDLAL DENGAN ISTISHAB 1. atau al-mushahabah : menemani .

sampai adanya bukti pembayaran.Orang yang hilang tetap dipandang hidup sehingga ada bukti atau tanda-tanda lain yang menunjukan bahwa dia meninggal dunia. Imam al-Syaukani memberi definisi. warisah. Contoh-contoh Istishab 1. 3. 2. berdasarkan persaksian dua orang sebelumnya. hibah atau wasiat. 5.Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah 56 . maka pemilikan tersebut terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yang menunjukan perpindahan pemilikan pada orang lain.Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami istri sampai ada bukti lain yang menunjukan bahwa mereka telah bercerai 4. dan tidak hilang karena keragu-raguan.Tetap dipandang sah punya wudlu bagi yang yakin sebelumnya telah berwudlu. 3. 2.Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli. Macam-macam Istishab 1. Yaitu menetapkan ( hukum) sesuatu sepanjang tidak ada yang merubahnya.Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah.Menetapkan utang atas seseorang.

sehingga ada dalil yang menunjukan.Istishab yang ditunjukan oleh al-syar'u atau al-Aqlu Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. Hak milik suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus. 2. Contoh lain. yaitu akad. disebabkan adanya transaksi kepemilikan. hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya. Anak kecil sampai datangnya baligh. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu. Tidak adanya shaum Sya'ban. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah. Tidak adanya kewajiban shalat yang ke enam waktu. Misalnya. karena keraguan yang muncul terhadap batal atau tidaknya wudhu tersebut tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang. Contoh : Seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya. Contoh : Terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya. hingga apa bila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau telah batal maka berdasarkan istishab wudhunya dianggap masih ada.Terhadap istishab ini Ibnu Qayyim menyebutnya Bara'ah al-'Adam alAsliyah. 3. sampai adanya sebab lain yang menyebabkan hak milik itu berpindah tangan kepada orang lain. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum.Istishab al-Hukmi / Dalil umum 57 .

kewajiban menginfakan hasil usaha manusia dan hasil eksploitasi alam. 5. para ulama fiqih menetapkan berdasarkan Ijma. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah Contoh. Bahwa tatkala tidak ada air.Istishab Washfi Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang.Istishab hukum yang ditetapkan ijma lalu terjadi perselisihan Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. 4. Apabila dalam keadaan 58 . oleh karena itu pemilikannya dipandang tetap. seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. maka orang ini oleh semua madzhab dianggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang menunjukan bahwa ia telah meninggal dunia. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya.Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. Berdasarkan ayat yang umum ( al-Baqarah : 267). Misalnya. kandungan ayat umum tersebut tetap berlaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. misalnya hak memiliki warits. Dan asal dalam sesuatu ( mu'amalah ) adalah kebolehan. Contoh: Apabila seseorang dalam keadaan hidup meninggalkan kampung halamannya.

menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. Tinjauan Bahasa Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan = beres. seperti ' Hasan al-Basri'. karena ada Ijma yang menyatakan salahnya sah bila dilakukan sebelum melihat air. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. Syafi'i. Dan sebagian besar dari ulama mutaakhirin juga demikian. Bentuk mashdarnya al-Mursalah. apa shalatnya harus dibatalkan ? untuk kemudian berwudhu atau shalat itu ia teruskan ? Ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan tidak boleh membatalkan shalatnya. selama tidak ada dalil yang merubah. Kata al-Mashlahah dari kata 59 .shalat ia melihat ada air. ISTIDLAL DENGAN MASHLAHAH MURSALAH 1. Tapi ulama Hanafiyah dan Hambaliyah menyatakan ia harus membatalkan shalatnya. 4.

= keberesan. dikirim. berarti prinsip kemaslahatan.Kebijaksanaan Abu Bakar ra. Yaitu sesuatu yang Kata mursalah . 60 . akalnya. 2.atau mendatangkan kebaikan. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. Juga dapat berarti. dirasakan oleh hukum. jadi khalifah. Bentuk isim maf'ulnya Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. keturunannya dan hartanya. Contoh-contoh Untuk memudahkan memahami maslahah mursalah ini. dalam memushhafkan Alquran. dipakai. kemaslahatan. bermakna : Maslahah Mursalah adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. memerangi orang yang membangkang membayar zakat. menunjuk Umar ra. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. jiwanya. sesuai dengan akal dan tidak terdapat pada asal. = mengutus. dapat dilihat dari contoh: 1. dipergunakan. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat. dari kata = diutus.

7.Putusan Usman bin Affan ra. 6. dari nash Alqur’an dan Al-Sunnah 61 . 3.dll. dalil-dalil kulli. dan putusan beliau tidak menjalankan hukum potong tangan terhadap pencuri. untuk mengurangi kejahatan dan menyiarkannya dan kemudian membakarnya kemadharatan. memberantas kaum syi'ah Rafidhah yang telah berlebih-lebihan dalam kepercayaan dan tindakan mereka. Abdul Wahab Khalap dan Abu Zahrah misalnya memberi persyaratan: a. ra.Putusan Umar bin Khatab tentang mengadakan peratudan berbagai pajak.Upaya Abu al-Aswad al-Du'ali dan Khalil bin Ahmad al-Nahwi dalam memberi harakat pada Alquran. tentang menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf. 8.2.Dicetaknya mata uang untuk memudahkan dalam bermuamalah. agar mudah dibaca dan tidak salah membaca.Usaha Ali bin Abi Thalib. lembaran-lembaran yang lain. dan juz’I yang qath’I wurud dan dalalahnya. yang mencuri karena lapar dan masa paceklik.Tindakan ulama-ulama Malikiyah menahan dan mengasingkan orang yang tertuduh agar dia mengaku apa yang telah diperbuatnya. 3.Adanya penjara bagi orang jahat. 4.Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah. 5. Syarat-syarat Para ulama terdahulu seperti Asyatibi telah memberi persyaratan terhadap mashlahah mursalah yang kemudian diteruskan oleh ulama-ulama berikutnya.

d. jiwa. Mashlahah Dharuriyah.Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur’an dan Al-Sunnah. 4.b. Macam-macam Mashlahah a. artinya harus ada penelitian dan pembahasan. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud.Maslahah Hajiyah. misalnya hifdulmal. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimnulkan memadharatan dan kerusakan. 62 . b.Dilihat dari sumbernya 1). dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. 2).Dilihat dari kepentingannya 1). yang disebut juga dengan mashlahah mu’tabarah.Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. memelihara agama.akal. yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar ( mashlahah dharuriyah).Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional. 2). karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud.Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar. hifdun nafsi.Kemaslahatan tersebut bersifat umum. keturunan dan harta. Ini kembali kepada yang lima.Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’i. kemashlahatan ini diakui oleh para ulama. hifdu nasal. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’I ini. 3). Misalnya. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. hifdul aqli dll. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c.

Kehujahan mashlahah mursalah. yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. buka shaum bagi yang safar. dan ini mashlahah 63 . tidak berbuat curang dalam timbangan. menjaga najis. 3). Dalam muamalah. dan memberi petunjuk terhadap jalan yang benar. Dalam muamalah.dalam ibadah boleh qashar shalat.Lafadh memberi isyarat akan akhir dari kemashlahatan. isyarat obat bagi keraguan. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafadh yang ditunjukannya. tidak membunuh anak-anak. makan. 2) Lafadh yang sangat besar. wanita dalam peperangan. Abdul Hamid Hakim menyebytkan bahwa syara memperhatikan kemashlahatan secara umum. menjaga adat makan dan minum. Dalam adat. berburu. tidak memberikan sesuatu melebihi batas kemampuan. pakai yang indah-indah. 5. yaitu: 1) lafadh mengisyaratkan akan mengerti untuk tidak menyakiti yang lain. Dalam adat. 3). makai pakaian yang bain waktu akan shalat. dengan berdasar pada firman Allah swt.Mashlahah Tahsiniyah. Dalam uqubah. boleh jual beli salam. Misalmya dalam hal ibadah menutupi aurat. Dalam uqubah/ jinayat boleh menolak hudud karena subhat.

tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. 6). 3). 5). Ucapan kebahagiaan dan selamat menunjukan akan kemashlahatan. 1). Maka dengan petunjuk dan isyarat itu semua bahwa syara mehendakaki dan memperhatikan kemashlahatan bagi mukallafnya.Menurut sebagian ulama Maliki dan sebagian ulama Syafi’I. jika seorang peneliti menemukan kesulitan tentang hukum sesuatu.Lapadh memberi isyarat akan ucapan bahagia dan selamat atau tahniah. Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah tidak menjadikan mashlahah mursalah sebagai hujah.Ulama-ulama syafiiyyah.4)Lafadh memberi isyarat bahwa tidak ada kemashlahatan yang sangat besar kecuali datang dari Allah swt. 2). maka lihatlah pada mashlahah dan madharatnya.Lafadh Ini juga menunjukan bahwa Alqur’an dengan segala kemanfaatannya lebih bermashlahah daripada semua yang mereka kumpulkan. Untuk ini Imam Al-Qarafi berkata: 64 .Di antara ulama yang paling banyak menggunakan mashlahah mursalah ialah Imam Malik. Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata. Di antara para ulama ushul ada yang menerima dan ada pula yang menolak berhujah dengan mashlahah mursalah.

artinya mencari yang lebih baik.Sesungguhnya berhujah dengan mashlahah mursalah dilakukan oleh semua madzhab. ISTIDLAL DENGAN ISTIHSAN 1. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan Dalam Alquran dijumpai kata itu. – Secara Istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : 65 . karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan anata satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat. Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata – – artinya mencari kebaikan.

Bila seorang anak menitipkan barang kepada bapaknya. Seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum. Seseorang yang dititipi barang harus mengganti barang yang dititipkan kepadanya apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya kewarung untuk membeli sesuatu ?. Contoh Istihsan Untuk memudahkan memahami Istihsan di bawah ini disajikan contoh: a. Berdasarkan Istihsan anak kecil tersebut boleh membeli barang-barang yang kecil yang menurut kebiasaan tidak menimbulkan kemafsadatan. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. b. 3. maka berdasarkan Istihsan si bapak tidak diwajibkan untuk menggantinya. apabila ia sudah dewasa dan berakal. karena ia mempunyai hak menggunakan harta anaknya untuk membiayai keperluan hidupnya. kemudian barang tersebut digunakan oleh bapaknya untuk membiayai hidupnya. Istihsan yaitu berpindah dari qiyas pada qiyas yang lebih kuat 2.Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Macam-macam Istihsan Istihsan terbagi kepada dua bagian : 66 .

Karena wakaf diqiyaskan kepada sewa – menyewa. berarti tanah lumpur itu pun termasuk wakaf. karena akan membawa pada fitnah. hak perairan.Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. karena pada keduanya dimaksudkan pengambilan manfaat. air minum dan hak melewati. Adapun segi istihsannya adalah mengutamakan qiyas khafi. walaupun tidak disebut. Contoh lain. Karena wakaf itu diqiyaskan kepada jual beli maka dalam wakaf pun harus jelas terinci. maka dalam hal ini tidak perlu untuk terrinci. maka termasuk di dalamnya.Mengecualikan hukum juz’i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). air minum dll sekalipun tidak disebutkan dalam perjanjian. menyewakan tanah lumpur dengan tidak disebutkan semua itu. b.Dalam jual beli mesti jelas terinci tertulis jenis-jenisnya. Memandang aurat wanita diqiyaskan kepada ‘wanita itu aurat’ dilihat dari sama – sama akan 67 .a. Dengan demikian maka apabila seseorang yang berwakaf telah mewakafkan sebidang tanah pertanian. Dalam hal ini tidak mesti terrinci. lantaran kedua-duanya sama-sama melepaskan hak milik dari pihak pemilik. Contoh –contoh: 1). Contoh istihsan yang mengutamakan qiyas juz’i dari qiyas jalli.Wakaf diqiyaskan kepada sewa-menyewa. Tentang wanita. Karena yang dimaksud dengan wakaf adalah pemanfaatan barang yang diwakafkan kepada pihak yang menerima wakaf. bahwa wanita itu aurat (aib. Dalam qiyas jalli – Wakaf diqiyaskan kepada jual beli. Dengan kata lain masalah pengaiaran. Dalam qiyas jalli. Dalam qiyas khafi . cela ) . Dalam hal wakaf tanah.

termasuk pada jenis jual beli Gharar.Dalam hukum yang bersifat umum. kepada melihat aurat wanita karena ada hajat. barang belum ada. tapi barangnya dikirim kemudian). Maka diambil hukum yang kedua. Istihsannya untuk kelangsungan dan tidak hancur. mengqiyaskan melihatnya seorang dokter pada sebagian aurat wanita saat mengobati/ memeriksa. 2). dibolehkan ijarah = sewa menyewa.Orang yang mencuri harus dipotong tangannya. Umar menyatakan. Maka hukumnya boleh. Hukum yang juz’i. Pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhithbah untuk mengekalkan pada perjodohan. maka hukumnya haram.Orang yang di bawah perwalian tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kaarena takut hancur.Contoh mengecualikan hukum juz’i daripada kulli a. tidak sah jual beli pada saat terjadi. dari sisi adanya keperluan dan jika tidak.Dilarang mendekati zinah. Dalam qiyas khafi. karena sangat dibutuhkan dan telah jadi kebiasaan. mengutamakan qiyas khafi dari qiyas jalli. Maka qiyas khafinya. jika tidak dilakukan akan membawa kesulitan. termasuk di dalamnya memandang wanita. c. dibolehkan muzar’ah = nengah sawah. kecuali pencurian itu dilakukan pada saat kelaparan.membawa fitnah. Maka diambil hukum yang juz’i. Istihsannya. Maka Istihsannya mengambil hukum yang ke dua. 4. maka boleh . Istihsannya. Kehujahan Istihsan 68 . menimbulkan masyaqqah. dibolehkannya jual beli salam ( jual beli dengan pembayaran lebih dahulu. Jika Ia mewakafkan hartanya untuk kekekalan. b. Diperbolehkan melihat sebagian aurat wanita karena adanya hajat / keperluan. d.

Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar’i yang umum dalam peristiwaperistiwa yang dikemukakan. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. Hambali dan Maliki juga memakainya. Sedangkan Imam Syafi’i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. dengan alasan” Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan. Malikiyah dan sebagian ulama Hanabillaah. bahwa istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. Beliau berkata Barang siapa yang mempergunakan Istihsan berarti dia telah membuat syariat baru. 69 . tetapi masih mebatasinya. bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu.Menurut ulama Hanafiyah.

yang didak dijelaskan dalam ayat atau hadits. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahaby. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. 70 .ISTIDLAL DENGAN QAUL SHAHABY 1.

niscaya ketentuan itu bersumber dari apa yang telah didengarnya dari Rasulullah saw. 2.Perkataan Aisyah ra. bahkan tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin dalam masalah itu. Oleh karena itu. Tidak ada shahabat yang membantah keputusan Abu Bakar ra. mengikuti serta hidup bersamanya. beriman kepadanya.Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. apabila ketentuan tersebut dapat diterima. bahwa maksimal waktu mengandung itu dua tahun. hukum yang ditetapkan oleh shahabat Abu Bakar ra.pun memutuskan demikian. Kandungan itu tidak berdiam diri dalam perut ibunya lebih dari dua tahun berdasar ukuran yang bisa merubah bayang-bayang alat tahun. b. tersebut. perihal bagian bebrapa orang nenek yang mewarisi bersama-sama ialah 1/6 harta peninggalan yang kemudian dibagikan rata antara mereka itu. Ini bukanlah semata-mata hasil dari ijtihad dan penyelidikan beliau sendiri. bahkan dalam masalah yang sama Umar ra. Contoh Qaul Shahaby Di antara contoh dari qaul shahaby adalah : a. tidak lebih sedikit pun.Keputusan Abu Bakar ra. tentang bayi dalam kandungan. dalam waktu yang panjang. tentu ia dengarnya dari Nabi saw. Oleh karena itu. 71 . Keterangan Aisyaah ra. biarpun menurut lahirnya adalah ucapan Aisyah sendiri. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. tersebut merupakan hukum yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena tidak mendapat perlawanan dari shahabat.

dengan alasan 72 . Abu Bakar al-Razi.3. Pendapat ini berasal dari Imam Malik. Seandainya madzhab shahabat itu bisa jadi hujah. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujah atas shahabat lainnya. Dengan alasan firman Allah swt. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah. b. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujah atas Ta’biin dan orang-orang yang telah datang setelah tabi’in. Dalam ayat di atas ada perintah untuk beri’tibar. Abu Bakar juga Umar kadang menganjurkan agar mereka mengambil ijtihadnya sendiri. Dan juga shahabat kadang tidak sama dalam berijtihad. Mutazilah. begitu juga Imam syafi’i dalam Madzhab qadimnya. Pendapat ini berasal dari Jumhur Asy-Ariyah. termasuk juga Imam Ahmad bin Hanbal. yang dimaksud dengan I’tibar di sana adalah qiyas dan ijtihad. tidak mungkin ada perintah seperti itu dan mereka saling mengikuti ijtihad yang lain. Imam Syafi’I dalam madzhab yang jadid / baru. sedangkan dalam hal mujtahid sama saja. Ini berarti diperintah untuk berijtihad. apakah mujtahid itu shahabat atau bukan shahabat. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a.

menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. Allah swt secara tegas memuji para shahabat. Ulama Hanafiyah. Nabi saw. Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw. karena itu pendapat shahabat wajib diterima. Imam Malik. dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. kaarena merekalah yang pertama kali masuk Islam. 73 . pasti engkau mendapatkan petunjuk. c. maka pendapat shahabat didahulukan. dengan alasan antara lain Menurut pendapat ini. agar melakukan ma’ruf. sedangkan melakukan amar ma’ruf adalah wajib. bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari 6 bentuk: 1).Ayat di atas perintah Allah kepada para shahabat di saat itu. Shahabatku bagaikan bintang-bintang. bersabda ikutilah dua orang ini setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. Qaul Qadim Imam syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. Ibnu Qayyim berkata. siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti.

Kelima ini adalah hujah yang diikuti. akan tetapi bila tidak menemukannya. apa 74 . 3). Maka ini tidak bisa jadi hujah.dan maksudmaksudnya. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur’an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4). ISTIDLAL DENGAN SADDU DZARA’I 1. Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. Pengertian bahasa Kata bahasa syariat Dzariah berarti artinya yaitu media. 6.2). Dalam artinya. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw. atau jalan. 5. bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat. Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw.

2. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. Dengan kata lain.yang menjadi media / jalan kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan. maka terbagi kepada dua. Dzariah adalah media yang dhahirnya mubah. Jika dilihat dari jalan yang menyampaikan kepada tujuan. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. ada jalan yang menyampaikan kepada yang dilarang. atau. jalan kepada wajib. Artinya. Contoh-contoh 75 . Artinya. dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. dan ini harus dicegah atau disumbat supaya yang dilarang tidak terjadi. mendorong kepada perbuatan yang terlarang. wajib pula. Artinya. ini disebut Terdapat definisi lain yang menyebutkan. disebut Dan ada jalan yang menyampaikan kepada yang diperintah. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. ini harus dibuka supaya yang diperintah dapat mudah dilakukan. Dan kata artinya = mencegah atau menyumbat jalan. jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan.

dapat mengakibatkan timbulnya gangguan lalu lintas. b.Untuk memperjelas Saddu dzariah dan contoh-contoh di bawah ini. Berusaha agar dapat melakukan ibadah haji . adalah diperintah dan hukumnya wajib pula. Dengan demikian yang dilihat dari dzariah ini adalah perbuatan-perbuatan yang menyampaikan kepada terlaksananya yang wajib atau mengakibatkan kepada terjadinya yang haram. Meninggalkan jual beli pada waktu shalat jum’at. Macam-macam Dzariah 76 . Melihat aurat perempuan dilarang. dapat dilihat dari a. untuk menyumbat jalan terjadinya perzinahan. 2). 3). lalu berdandan sedang dia dalam keadaan Iddah. 2). 3). agar dapat melakukan shalat jum’at adalah wajib. 3. Wanita yang ditinggal mati suaminya. agar mesjid dapat dibangun.Contoh fathhu dzariah 1).Contoh Sanddu Dzariah 1). hukumnya wajib. Mencari dana untuk membuat mesjid. fathu dzariah. Menebang dahan pohon yang meliuk di atas jalan umum. maka akan mendorong pada perbuatan yang terlarang.

Misalnya. ini akan menimbulkan fitnah. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. Misalnya. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. menggali sumur di belakang pintu rumah di jalan gelap yang bisa membuat orang yang akan masuk rumah jatuh ke dalamnya. berjualan makanan yang tidak menimbulkan bahaya.Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam. c. Meminum khamer mengakibatkan hilangnya akal. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti Misalnya. Berzina menjadi perantara adanya percampuran dan ketidak pastian status nasabsesorang. 77 . Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. b. menanam anggur sekalipun akan dibuatkan khamer. menjual senjata di waktu perang. Ini halal karena untuk dibuat khamer adalah jarang. a. Menjual anggur pada pabrik pembuat khamer.

pernikahan itu tidak berlangsung lama. Misalnya. Menghibahkan sebagian hartanya kepada seseorang di akhir tahun zakat untuk menghindari kewajiban zakat. Ayat-ayat Alquran Dalam ayat ini Allah melarang orang mu’min memaki-maki orang musyrik atau tuhan yang mereka sembah. 4. lalu diceraikan oleh orang ketiga dengan keadaan belum dicampuri. yaitu akad nikah yang dilakukan oleh orang ke tiga terhadap janda yang ditalak tiga. sekalipun kata itu bagus maknanya bagi orang mu’min yaitu ‘ Sudikah kiranya engkau memperhatikan kami’.d. dengan tujuan istri yang baru dicerai itu halal dikawini kembali oleh bekas suaminya yang pertama. Bentuk dzariah ini pandangan Imam Malik dan Ahmad adalah haram dan harus disumbat. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. Allah melarang kaum mu’minin berkata pada Rasulnya kata ra’ina. Kehujahan Saddu Dzara‟i a. Jual beli yang menjadi sarana bagi riba. Namun bagi orang Yahudi menjadikan kata itu sebagai media 78 . Nikah Tahlil misalnya. karena perbuatan yang demikian itu menjadi sebab mereka akan membalas memaki-maki Allah swt.

dan ini termasuk pada ikhtiyath. Nabi melarang kepada kreditur mengambil atau menerima hadiah dari debitur. karena membunuh orang munafiq bisa menyebabkan Nabi dituduh membunuh shahabat-shahabatnya sendiri yang muslim. Nabi bersabda. demikian juga jika mencaci ibu orang lain. 2). 79 . Karena itu dilarang oleh Allah swt. dan ditangguhkan sampai selesai perang. Larangan itu untuk menjaga supaya yang diharamkan tidak muncul. Agar yang haram tidak muncul. Tidaklah dipotong tangan pada waktu peperangan. Contoh lain dari Rasulullah saw. lalu nanti orang yang dicaci maki ayahnya itu berganti mencaci-maki ayahnya. Sunah Rasulullah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa orang mu’min dilarang mencaci maki ayah seseorang. b. Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang. Abu Daud. 1). yang artinya ‘ bodoh sekali kamu’. R. Nabi melarang membunuh orang Munafiq. karena cara demikian bisa berakibat jatuh kepada riba. dengan arti bahasa mereka. karena memotong tangan pencuri pada waktu perang membawa akibat tentara-tentara lari menggabungkan diri dengan musuh.untuk mengejek Rasulullah saw. 3).

Pandangan Para Imam Pada dasarnya para puqaha memakai dasar ini. kecuali apabila ia sebagai ‘amilin. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. Fathhu dzara’i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari’ah. c. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath’i. maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. Nabi melarang fakir miskin dari Bani Hasyim untuk menerima bagian zakat. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah. 2). 80 . Saddu Dzara’i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. sedang Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka. memperkaya diri dan keluarganya. Menurut Syafi’i. melarang penimbunan karena penimbunan itu menjadi media kepada kesempitan atau kesulitan manusia. jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah / tujuan. Hal ini untuk menjaga fitnah bahwa Nabi saw. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. 3). Nabi saw. dzariah masuk kedalam qiyas. jelas menyebabkan terlantarnya harta-harta anak yatim. 5).4). Ada ulama ushul yang menyebutkan 1). tidak memelihara harta anak yatim karena takut dhalim atas dasar saddu dzariah. Jadi. Contoh lain.

meskipun kemudian Allah swt. yaitu” Artinya. Maka syareat tersebut pada dasarnya adalah satu. Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari’at samawi pada asalnya adalah satu. 2. Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syar’ yang telah disyaratkan Allah swt. Telah mengharamkan beberapa hal kepada beberapa kaum seperti kepada Yahudi. Nabi Musa. gajih sapi dan kambing. tetapi juga melihat kepada kemanfaatan umum dan menolak kemafsadatan yang bersifat umum pula. dan Nabi Isya as. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar’un man qablana. menyebabkan hilangnya kemashlahatan untuk manusia. diharamkan binatang-binatang yang berkuku. Karena itu perinsif saddu dzara’i tidak hanya melihat kepada niat dan maksud perorangan. sesuai firman Allah : Oleh karena yang menurunkan syareat samawi itu satu yaitu Allah swt.menolak jadi saksi karena takut dusta. ISTIDLAL DENGAN SYAR’UN MAN QABLANA 1. 81 . Bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem.

sering pula diceritakan dalam Alqur’an dan al Sunnah kepada umat Islam. seperti qishash.Juga ditetapkan bahwa dosa tidak bisa dimaafkan kecuali dengan membunuh diri. Macam-macam dan kehujahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. dan pakaian yang kena najis tidak bisa jadi suci dengan dicuci. Ceritra tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masingnya mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. Berbeda dalam perinciannya meskipun intinya sama yaitu menyembah Allah swt. Apabila Alqur’an atau hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah swt kepada umat sebelum umat Islam (umat Muhammad saw). 3. kemudian Alqur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka. kecuali dengan dipotong kainnya. Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah ( hubungan manusia dengan Allah swt. maka 82 . Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebahagian hukum umat-umat yang sebelum kita ( umat Islam ) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebahagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku.

syari’at yang berlaku pada jaman Nabi Musa as. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam Demikian juga apabila Alqur’an dan al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyariatkan kepada umat terdahulu. kemudian datang dalil syara yang membatalkannya atau menasakh. Lalu syari’at tersebut dibatalkan.tidak diperselisihkan lagi hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti. yang antara lain Taubat menurut syari’at Islam harus memenuhi tiga syarat. bahwa hukum itu bukanlah merupakan hukum syara bagi kita. 1) berhenti dari berbuat ma’siat. 83 . maka telah disepakati oleh seluruh ulama. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. dinasakh oleh Alqur’an. 3) berazam tidak akan mengulangi lagi. Dan contoh lain pada jaman Nabi Musa as. sebelum dipotong bagian yang kena najis itu. 2) menyesali perbuatan ma’siat yang telah dikerjakan. Misalnya tentang kewajiban shaum bagi umat terdahulu juga bagi umat Muhammad. b. Lalu syari’at tersebut dibatalkan dengan Alqur’an dengan Firmannya c. Misalnya. karena ada dalil syara yang membatalkannya. Untuk ini ada dua pendapat. bahwa pakaian yang kena najis tidak akan dapat disucikan kembali. Bahwa seorang yang berbuat ma’siat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila ia membunuh dirinya.

Malikiyah. Misalnya - Jumhur ulama yang terdiri atas ulama Hanafiyah. Ada ungkapan ulama ushul fiqih yang menyebutkan Syari’at umat sebelum kita.Pertama. melalui wahyu. dan tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu. syari’at kita juga sepanjang tidak ada yang membatalkan. yaitu Alqur’an bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah. juga syariat yang diturunkan Allah swt. maka umat Islam terikat dengan hukum itu. sebagian ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad ibn Hambal menyatakan bahwa apabila hukum – hukum syariat sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasulullah saw. alasan yang mereka kemukakan adalah: 1). Syariat sebelum syariat Islam itu. Golongan ini beralasan dengan: - 84 . tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. Dan tidak ada indikasi yang menunjukan pembatalan terhadap syariat tersebut. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. karenanya umat Islam terikat dengan syariat itu.

Demikian juga hukum-hukum yang 85 . 2). Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. Kedua. menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. maka ada hal yang disepakati ulama : 1). Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita.2). Dan mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah saw. kami berikan aturan dan jalan yang terang Dan alasan golongan ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita. Nabi dahulu diutus khusus kepada kaumnya dan aku diutus untuk semua manusia Dengan perbedaan pendapat di atas. Mu’tazilah. karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. dan umatnya. Mereka beralasan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu. Syi’ah dan sebagian ulama syafi’iyah. menurut ulama Asy’ariyah.

5). 3). berdasarkan firman Allah. Sandaran syariat Nabi saw. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alqur’an. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. tidak berlaku bagi umat Islam. 4. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahiem as. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. Berdasar pada 4).dikhususkan bagi umat tertentu. tetap berlaku bagi umat Islam. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama. sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. Bahwa Rasulullah saw. Bahwa Rasulullah saw. 2). karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Bahwa Rasulullah saw. 3). Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1). apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. seperti keharaman beberapa makanan. misalnya daging bagi Bani Israil. 86 . Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum.

Para ulama ushul Fiqih membedakan antara ‘ Adat ‘ dengan ‘ Urf ‘ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Menurutnya. karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya.6). beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem. Bahkan ada yang berpendapat. karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as. Menurut kebanyakan ulama ‘ Urf’ dinamakan juga ‘ Adat ‘. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. bahwa Rasulullah saw. bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath’i. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. Pengertian Secara etimologi ‘Urf’ berarti sesuatu yang dipandang baik. Ibnu Qusyairi berkata. antara lain : 87 . ISTIDLAL DENGAN URF 1.. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur’an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. menurutnya. yang dapat diterima akal sehat. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat. Adat didefinisikan dengan” Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional Terdapat beberapa definisi tentang ‘Urf ‘ yang dikemukakan oleh para ulama ushul fiqh.

Yang dibahas ulama ushul fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah ‘Urf’ budan ‘Adat’. yaitu itu dapat dilihat dari obyeknya. Misalnya kata al-walad menurut bahasa sehari-hari hanya khusus bagi anak laki-laki saja. Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafadh atau ungkapan tertentu. dan dari 1). 2. Macam-macam „Urf‟ Urf Keabsahannya. Demikian juga kata Daabah. Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain. Contoh lain lafadh al-Lahm / daging. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. dari Cakupannya.Urf adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. a. Padahal kata daging mencakup seluruh daging yang ada. maka itu bukanlah urf. dalam perkataan sehari-hari khusus bagi daging sapi atau kambing. Dari sisi obyeknya. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu urf berupa perkataan dan urf yaitu urf berupa perbuatan. Dengan demikian ‘Urf’ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat. 88 . sedang anak perempuan tidak masuk dalam lafadh itu. digunakan untuk binatang berkaki empat.

Kebiasaan masyarakat dalam cara berpakaian yang sopan dalam menghadiri pengajian. sesuai dengan perkembangan masyarakat. Kebiasaan masyarakat tertentu dalam memakan makanan tertentu atau minuman tertentu. Jual beli mobil. Misalnya. Membayar ongkos Bis Kota dengan tidak mengadakan ijab-kabul terlebih dahulu. seperti jual beli di swalayan. b. Penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. Kebiasaan masyarakat dalam jual beli ada barang yang diantar ke rumah dan ada yang tidak diantar. bersifat umum. kunci-kunci sudah termasuk pada harga jual. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. dan urf urf yang bersifat khusus. 2). Urf al-Khash. urf yang 1). Misalnya. seperti dongkrak. tanpa ada biaya tambahan tersendiri. tanpa mengadakan ijab-kabul. Dari sisi cakupannya. Misalnya. Al-Urf al-Amali. Kebiasaan jual beli mu’athah / yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. Urf terbagi kepada dua bagian. seluruh alat untuk memperbaiki mobil.2). Gono Gini di Jawa. Adanya cacat tertentu pada barang tertentu yang dibeli dapat dikembalikan. karena harga barang tersebut telah dimaklumi bersama. Al-Urf al-‘Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. 89 . adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. Urf khash ini tidak terhitung jumlahnya.

karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib. bukan sebagai mahar. kebiasaan dalam mencari dana dengan cara mengadakan berbagai macam kupon berhadiah. c. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath’i. dapat dibagi pada dua bagian yaitu yaitu kebiasaan yang dianggap benar. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. Urf harus berlaku selamanya. Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Al-Urf al-Fasid. dan kebiasaan yang dipandang rusak. yaitu 2). 1).Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara’. Misalnya.Misalnya. berlawanan dengan ketentuan syari’at. juga tidak membatalkan yang wajib. kebiasaan yang berlaku dalam dunia perdagangan tentang indent. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf 90 . disyaratkan sebagai berikut : a.c. dan hakim dalam memutuskan perkara. Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. Kebiasaan seorang yang melamar wanita dengan memberikan sesuatu sebagai hadiah. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath’i. biasa meminum minuman keras. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. 3. b. Menarik pajak dengan hasil penjudian. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. Kebiasaan dalam pembayaran mahar secara kontan atau hutang. Oleh karena itu. misalnya biasa makan riba.

Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur’an atau hadits. mendapatkan penduduk jual beli salam tersebut. Lalu Rasulullah bersabda 91 . d. Misalnya jual beli Salam ( jual beli pesanan ). Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari’ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. Mereka beralasan firman Allah - b. keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum sya’i. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. e. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan urf a. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah hujah untuk menetapkan hukum.pada waktu mewakafkan. Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. ketika ayat ayat Alqur’an turun. Mereka beralasan. banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian.

bukanlah dalil yang berdiri sendiri. maka hendaklah ditentukan jumlahnya. Apabila kita perhatikan penggunaan Urf ini. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. di antaranya” Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. 5. sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. 92 . bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan.Siapa yang melakukan jual beli salam pada kurma. takarannya. dan tenggang waktunya.

Pengertian Secaara bahasa Iham artinya = memberi tahukan dan menempatkan. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain : Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Terdapat definisi lain yang di ungkapkan oleh imam al-Jurjani yaitu Ilham adalah sesuatu yang dilontarkan ke dalam hati dengan jalan di tuangkan. 2. karena itu boleh beramal dengannya.ISTIDLAL „ AL-ILHAM ‘ 1. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa di jadikan hujah dalam menentukan hukum syara’ dan tidak boleh beramal dengan bedasar kepada 93 .

Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macammacam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah.Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu : 8 tersebut di atas dan juga ada dari syaitan seperti pada ayat : Sesungguhnya Syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah Dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh jiwanya. Perbedaan antara Ilham dan I’lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I’lam. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i’lam. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. 94 . Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. i’lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih / gugahan. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah.

Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah.QAIDAH FIQHIYYAH DASAR Agama Islam adalah agama Syariah artinya agama yang berdasarkan pada hukum dalam melaksanakan ibadahnya. Muadz . Sumberhukum Islam diambil pertama dari Alkitab. Nabi berkata. Ketika diutus ke Yaman. Bagaimana kamu memutuskan jika dihadapkan kepadamu satu keputusan? Ia menjawab. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits. Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata “ Segala puji bagi Allah yang telah mencocokan (pendapat) seorang utusan dengan Rasulullah terhadap apa yang Rasulullah rido’i. Nabi berkata. saat Rasulullah bertanya pada seorang sahabta. kedua dari Al –Sunnah dan ketiga dari hasil Ijtihad. Jika tidak kamu temukan dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan menyia-nyiakan. yaitu Berkata nabi Saw kepada Muadz ra. bagaimana jika tidak kamu temukan dalam Kitab Allah? Ia menjawab aku akan putuskan dengan Sunnah rasulullah. Ijtaihad sebagai sumberhukum yang ke tiga dapat didefinisikan : 95 .

3) takrir nabi.Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan Istinbath ( mengambil kesimpulan / penelitian) dari Kitab dab Sunnah. 6)Mujtahis Muhafizl. 5) Qiyas Dan jika mendapat kesulitan 6) Tawakuf / berpegang pada asalnya Qaidah-qaidah Fiqhiyyah adalah qaidah yang dibuat oleh para ahli Ijtihad yang diistinbath dari Alquran atau hadits Rasul untuk memudahkan dalam berijtihad untuk 5) mujtahid Muwazin. dan mujtahid itu memiliki tingkatan-tingkatan. Di dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya melakukan langkah-langkah. mengkaji dohir nash quran dan sunnah. 7).Mujtahid fi al-Madzhab. 4) Mujtahid Murajjih muqallid. Adapun langkah-langkahnya. 4) Ijma shahabat. Orang yang berijtihad disebut mujtahid.Memahami Ilmu – ilmu Bahasa Arab 3). Memahami Ilmu Ushul Fiqih. Mujtahid fi al-syar’i. dan macam-macamnya yaitu 1). 3). lalu mafhumnya 2) mengkaji pekerjaan Nabi. 2) Mujtahid Muntashib. Mujtahid 96 . Dan ijtihad sebagai sumberhukum yang ke tiga didasarkan kepada sebuah hadits nabi : Seseorang dapat berijtihad apabila dapat memenuhi syarat-syaratny adapun Syarat Ijtihad:! 1)Memahami Nash – nash al-kitab dan al-Sunnah 2).

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “NIAT Siapa yang mengharapkan pahala dunia pasti kami akan memberinya dari dunia dan siapa yang mengharap pahala akhiraat kami akan memberinya dari padanya Sabda Nabi SAW : sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang ia niatkan - Siapa yang berutang ia berniat untuk membayarnya maka Allah akan membayarnya pada hari kiamat. dan siapa yang berutang ia berniat untuk tidak membayarnya kemudian ia meninggal maka Allah berfirman ‘Sesungguhnya aku akan mengambil hak hambaku kemudian diambil dari padanya (yang berutang) kebaikannya lalu di 97 .menentukan sebuah keputusan hukum. Dan dalam kaitan ini qaidah itu sangatlah penting sebagai suatu rumus atau patokan dalam berijtihad.

seperti makan.berikan pada kebaikan yang lain. kemudian matanya mengalahkan dia (tidur nyenyak) sampai pagi hari maka Allah mencatat baginya apa yang ia niatkan sedangkan tidurnya merupakan sadaqah dari tuhannya. Niat orang mu’min lebih baik dari pada amalnya. Suatu pekerjaan yang halal bisa jadi haram karena niatnya. Memeras anggur haram tidaknya tergantung niat 98 . 2. mandi. Sesuatu yang mubah. Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya Contoh-contoh: 1. dan shaum dan yang lainya mesti ada niat. karena ia berniat untuk zinah 3. R Al-Tabrani. Wudhu. shalat. minum. Seperti haramnya seorang bercampur dengan istrinya. Hikam : Niat tanpa amal lebih baik dari pada amal tanpa niat. jika ia tidak mempunyai kebaikan di ambil dari kejelekan yang lain lalu di bebankan kepadanya - Siapa yang datang ke tempat tidurnya ia berniat untuk shalat kepada Allah. 4. bisa mendapat pahala karena niatnya.

5.Orang yang mengutangkan mengambil barang orang yang berutang, tergantung niatnya; apakan 1. memperingatkan atau mencuri. (khaliyah=bebas) tergantung niat.

Kinayah ( sindiran) kata thalaq ‘

Artinya : Dalam amal yang disyaratkan menyatakan / menghadapkan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amal.

Contoh-contoh; 1. Kesalahan dari shalat dhuhur kepada shalat ashar dan sebaliknya. Kalau shalat dhuhur niat shalat ashar maka tidak sah 2. 3. 4. 5. 6. Kesalahan dari kifarat dhihar kepada kifarat kothli Kesalahan dari rawathib dhuhur kepada rawathib ashar Kesalahan dari shalat idul fitri kepada shalat idul Adhha Kesalahan dari shalat dua rakaat ihram kepada dua rakaat thawaf Kesalahan dari shaum arafah kepada shaum asyura.

Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Contoh-contoh ;

99

1. Seseorang berniat shalat mengikuti si zaed ternya si umar maka tidak sah mengikutinya, kareana ia tidak ada niat mengikuti kepada si umar. Dengan mengikuti kepada si Zaed dan ternya si Umar dengan tidak pakai niat. Maka dalam shalat berjamaah tidak disyaratkan menentukan Imam tapi hanya niat shalat berjamaah saja 2. Seseorang menyolatkan mayit kepada si Bakar ternyata si Khalid, atau berniat kepada perempuan ternyata laki-laki, maka tidak sah, maka dalam shalat mayit tidak disyaratkan menentukan mayitnya kecuali hanya niat shalat mayit saja. 3. Seseorang menshalatkan mayit. Maka dalam hal ini tidak perlu ditentukan jumlah mayitnya. Kalau ia menentukan jumlahnya 10 oarang misalnya ternyata lebih, Maka Ia harus mengulangi shalatnya secara keseluruhan karena di antara mereka ada yang belum di shalatkan, sementara mereka itu tidak jelas 4. Tidak perlu seseorang menetukan jumlah rakaat dalam shalat, kalau Ia niat shalat dhuhur lima rakaat atau tiga maka tidak sah 5. Seseorang menetukan zakat hartanya yang masih ghaib yang belum hadir di hadapannya. Maka tidak boleh.

Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat

Contoh-contoh :

100

1.

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat, maka kalau ia berniat shalat dhuhur di Mesir ternyata di Mekah maka tidak batal shalatnya karena niatnya masih ada, sedang menentukan tempat tidak ada hubungan dengan niat shalat

2.

Kesalahan dalam menentukan waktu shalat, kalau niat shalat ashar hari kamis ternyata hari jumat maka tidak batal shalatnya

3.

Kesalahan Imam menetukan orang yang shalat dibelakangnya, kalau berniat mengimami si Zaid ternyata si Umar maka tidak madharat karena tidak disyaratkan kepada Imam menentukan mamum dan tidak niat mengimami

Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan

Contoh-contoh: 1. Kalau nama istrinya Thaliq dan nama hamba perempuannya Hurrah, lalu Ia berkata Wahai Thaliq atau Wahai Hurrah. Kalau ia bermaksud mentalaq atau membebaskan maka jatuh talaq dan bebas atau hanya bermaksud memanggil maka tidak jatuh talaq dan tidak bebas. 2. Kalau seseorang membaca dalam shalat bacaan Alquran, dan tidak bermaksud yang lain maka sah bacaannya. Dan jika bermaksud memberi pemahaman kepada yang lain maka batal. Dan jika memuthlakan, menurut pendapat yang sah maka jadi batal.

101

dan ia ambil yang ia yakin. lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak. maka janganlah keluar dari masjid. jika tabaruk(mengharapkan berkah) maka tidak. sehingga ia mendengar sesuatu atau mencium baunya.3. maka hendaklan ia lempar yang diragukan. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “SYAK Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu dalam perutnya. tiga atau empat. jika ia memutlakan maka batal. kalau ia bermaksud menggantungkan niatnya maka batal. KAIDAH-KAIDAH Artinya: Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Contoh-contoh : 102 . Apabila seorang dari kamu meragukan shalatnya. lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan. Jika seseorang mengkaitkan niat kepada kata ‘insyaAllah’.

karena pokonya tetap pada waktu malam 2. Siapa yang yakin bersuci dan ragu dalam berhadats maka ia itu suci Siapa yang yakin berhadats dan ragu dalam bersuci maka ia itu berhadats Menurut pokok. Siapa yang ragu dalam shalat apakah tiga rakaat atau empat. memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang Contoh-contoh : 1. Siapa yang makan akhir malam dan ragu dalam terbitnya pajar. Siapa yang makan akhir siang tanpa ijtihad dan ragu dalam terbenamnya matahari batal saumnya karena pada pokoknya tetap pada waktu siang 3. 2. 4. Suami istri bertengkar dalam hal tamkin. 3. sah saumnya . Seseorang membeli air dan mengaku tidak bersih dan ingin mengembalikannya. Sebab menurut keadaan semula sebelum terjadi akad pernikahann kewajiban memberi sandang dan pangan tidak ada bagi sang laki-laki. maka ucapan yang benar adalah ucapan suami karena tidak adanya kemampuan . Sepasang Suami istri dalam berumah tangga sudah cukup lama. maka tidak wajib nafaqah padanya karena nafaqah itu adanya kemampuan 5. Maka ucapan yang benar adalah ucapan penjual karena pada asalnya sucinya air 103 . maka tentukan yang tiga karena itu yang diyakini. Gugatan itu di menangkan.1. Tiba-tiba istri menggugat tidak pernah disandangi dan di nafaqahi oleh suaminya.

Pokok itu bebas tanggung jawab Contoh-contoh : 1. Jika seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat memberikan gantinya dan kemudian mereka berdua bertengkar tentang ujud penggantiannya. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian Contoh-contoh: 1. Jika dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusaka. kemudia anak itu mati . Sebab menurut asalnya ia bebas dari tanggungan memberikan gantinya. maka yang dimenangkan adalah orang yang merasa dirugikan. 2. kemudia lahir anak dalam keadaan hidup kemudian lewat waktunya tanpa ada sakit. maka tidak ada tanggungjawab karena dhahirnya ia mati karena sebab yang lain dan itu yang lebih dekat pada kematian. Seseorang memukul perut yang hamil. maka yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menerima hadiah. Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan. 104 . Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman. 3.

2. dan tidak boleh menyandarkannya kepada yang semula. kemudian terbang seketika. maka wajib mandi dan mengulangi shalat setelah tidurnya. Seseorang membukakan sangkar pintu burung. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „KERINGANAN‟ Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. Seseorang membeli hamba sahaya kemudian ia sakit dan mata maka tidak boleh dikembalikan pada penjual. karena itu yang lebih dekat waktunya pada kematian. 105 . karena sakitnya bertambah maka terjadi kematian karena bertambahnya itu. Seseorang mendapatkan mani dan tidak merasa ihtilam. karena itu waktu yang paling dekat padanya 4. Aku diutus dengan membawa agama yang penuh kecendrungan dan toleransi / kemurangan. Sabda Nabi saw. . maka tanggungjawab ia untuk mencari. 3. Dan pendapat lain tanggungjawabnya karena terbukanya sangkar menentukan terbangnya burung. Dan jika burung diam kemudian terbang maka ia tidak bertanggungjawab untuk mencari burung.

6). Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk. Kesukaran itu menarik kemudahan Contoh-contoh: 1. bepergian. 3). perubahan. keringanan mengakhirkan. 4). ia berkata yang lurus lagi toleran. Nabi ditanya. keringanan dengan KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG‟ KESULITAN‟ . 5). Wahai Rasulullah agama mana yang paling dicintai Allah. 3) kurang mampu. keringanan pengganti. sakit . lupa. 4) kesukaran. pengurangan. demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring 106 . R.Dari Ibnu Abbas. 6).Thabrani Sebab-sebab timbulnya keringanan 1). keringanan keringanan mendahulukan. 2) kebodohan. terpaksa. 2). 7). keringanan pengguguran. 7). keringanan kemurahan. 5) Macam-macam keringanan 1).

2. Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum 3. Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya 4. Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh 5. Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya Dan yang searti dengan kaidah di atas adalah kaidah :

Sesuatu itu bila sempit menjadi luas

Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

Contoh-contoh : 1. Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh 2. Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan

KAIDAH FIQHIYAH TENTANG”KEMADHARATAN”

107

Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.

Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman

Tidak ada bahaya dan tidak pula membahayakan.

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Contoh-contoh: 1).Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat 2).Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb 3).Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan 4).Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan

Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan

Contoh-contoh: 1).Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain 2).Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain

108

3).Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.

Kemadharatan membolehkan yang terlarang

Contoh-contoh 1).Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak. 2).Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa. 3). Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar. 4). Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum. 5) Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani.

tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG ”DLARURAT”

Artinya: Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan Ukurannnya.

109

Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar. Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan khitbah atau 110 . karena diperlukan 3. tidak membukanya. Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat Artinya: Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat Contoh: 1. 2. dipandang cukup. karena diperlukan orang banyak 2. dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. tidak boleh untuk yang ke dua kali 3. Dan jika cukup satu kali teguran. Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang. Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim. Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim. Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa. karena mu’amalat 4. Menegur orang dengan cara sindiran.Contoh: 1. hendaklah menutupi semua auratnya. kecuali yang diperlukan 4.

dan mendapatkan makanan yang tidak ada pemiliknya.Jika yang madharat mendapatkan daging binatang yang tidak disembelih. 2. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya. Contoh-contoh: 111 . hudud dan menindas pemberontak / penodong di jalan 3. Karena makan daging yang tidak disembelih kebolehannya berdasarkan nash. Contoh-contoh 1. 4.Boleh memotong pohon orang lain jika diharapkan adanya udara yang berganti 5. sedangkan kebolehan mengambil makanan berdasarkan ijtihad.KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „MAFSADAT‟ Apabila dua kerusakan saling berlawanan. maka yang paling sahih ia memakan daging itu dari pada memakan makanan tersebut.Boleh membedah perut yang mati jika ada bayi yang diharapkan hidupnya. maka harus diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya.Diperbolehkan dalam agama melakukan qishash. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan.Boleh bagi yang terpaksa mengambil makanan orang lain dengan paksa.

1. . Sesuai.Berbohong sifat tercela dan berdosa (mafsadat). maka diperbolehkan. dan dibenci bagi yang berihram untuk menjaga dari jatuhnya rambut 3. Karena besar mashlahatnya.Tidak diperbolehkan minum khamer dan makan hasil judi. Contoh-contoh: 1.Mencorok-corokan rambut dalam thaharah hukumnya sunnat. Tetapi jika bertujuan mendamaikan pertengkaran. al-baqarah:219 2. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “ADAT Perintahlan dengan ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik . diterima akal sehat. Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. karena memperhatikan sunnatnya 2.Dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban karena sangat sulit.Menjaga batal shaum diutamakan daripada berkumur dan menghiruf air ke hidung dengan baik. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat. Karena kemafsadatannya lebih kuat / besar dari pada manfaatnya. Di sini = Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagi hukum 112 . seperti berdiri waktu shalat karena sakit.

Batas mesjid untuk shalat tahiyatul masjid. tanpa ijab kabul karena harga barang tersebut sudah ma’lum. yaitu jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang kepada penjual sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. maka ditetapkan atas yang biasa 2.Contoh-contoh: 1.Masa lamanya hed / nifas kembali pada kebiasaan 5. setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa.Seseorang menjual sesuatu dan memutlakannya. maka tentang benang dan cat lukis kembali pada kebiasaan. yaitu sudah termasuk di dalamnya. geratis dan tidaknya 4. misalnya dg dirham 3.Masuk WC. maka kembali pada kebiasaan. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat 113 .Memberi upah pada penjahit dan upah melukis. dan makan jamuan karena bertamu. Jual beli dengan / mua’thah. dikembalikan kepada Urf.Jual beli yang berlangsung biasa. kembali pada urf 3. sesuai dengan harga / nilai yang biasa. Contoh-contoh: 1. Niat dalam shalat kembali pada urf tidak dijaharkan 2.

Ijtihad Umar dapat 1/3. tidak mendapat bagian karena terhabiskan. Cara itu terlarang. Ijtihad Umar yang dijalankan dengan tidak membatalkan ijtihad abu Bakar 2. sementara ½ dan 1/6.Berubah ijtihad dalam arah salat.Contoh-contoh: 1. maka tambah itu tidak menduduki tempat syarat hutang. dengan dikuatkan wahyu al-Anfal : 67. Lalu ada ijtihad Umar yang memutuskan agar mereka dibunuh. karena berubah kepada riba KAIDAH FIQHIYYAH „IJHTIHAD‟ Ijtihad Itu tidak batal karena ijtihad Contoh-contoh: 1. Lalu pada bagian lain ijtihadnya berubah 114 . 1/3 itu bersama dengan 3. tidak perlu mengulangi rakaat atas ijtihadnya yang pertama.Ijtihad Abu Bakar terhadap tawanan perang Badar dengan membayar tebusan.Jika disuatu tempat terjadi adat orang yang berutang menambah lebih dari utangnya. Maka mengambil manfaat tidak termasul dalam syarat gadai 2.Gadai di suatu tempat yang mengambil mafaat dari gadaian.

karena ijtihadnya khulu itu bukan talaq. baru cerai jika dari perubahan ijtihad hakim. Lalu berubah ijtihadnya khulu itu sama dengan talaq. Itsar dalam air thaharah dan menutupi aurat 3. Dan mereka mengutamakan (orang lain) dari diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan Itsar selain ibadah dituntut 115 . 4.Itsar dalam mencari pengganti da’wah.Itsar dalam memenuhi hajat yang miskin dan yatim.Seseorang mengkhulu istrinya 3 kali. Pendapat yang ke dua sebaiknya Ia cerai karena ada dalam haram.4. 2. tanpa didahului nikah yang lain. lalu mengawini yang ke 4 kali.Itsar dalam shaf pertama. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „AL-ITSAR‟ Berlombalah dalam kebaikan Mendahulukan orang lain dalam ibadah terlarang Contoh-contoh 1. Pendapat Al-Gajali. Ia tidak perlu cerai jika hasil ijtihad hakim yang sah.

tapi itu dibenci.Tidak boleh memilih Imam salat orang fasik.Contoh-contoh: 1. Itsar dalam tijarah agar yang lain dapat laba QAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „ KEBIJAKAN IMAM‟ Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamuakan ditanya dari kepemimpinannya Tindakan pimimpin terhadap rakyat disesuaikan dengan kemaslahatan Contoh-contoh: 1. tidak boleh baginya mendahulukan salah satu dalam hal sama kebutuhannya. sekalipun orang salat dibelakannya dipandang sah.Itsar dalam tempat tinggal 2.tidak boleh mendahulukan harta baet Mal yang penting dari yang lebih penting 4. 116 .Itsar dalam makanan 4. 2.Tidak boleh wali menikahkan anak tanpa mempertimbangkan kafa’ah. Itsar dalam mengambil sadaqah 5.jika pemimpin membagikan zakat pada mustahiq.Tidak boleh memecat pekerja tanpa alasan yang sah 6.Itsar dalam pakean 3. 3.Tidak boleh mengangkat jabatan bagi yang tidak berprofesi dibidangnya 5.

( pada pelakunya ) 2) Syubhat fi mahal ( pada obyeknya. karena ada dua nash yang berbeda) 3). QAIDAH FIQIYAH TENTANG „PENYEMPURNA WAJIB‟ 117 . Fi mahal 3. Fa’il 2. dilarang. Syubhat fi al-Fa’il. Syub. tapi ada nash lain. anak dan harta miliknya. karena adanya perbedaan dalam penetapan hukum) Contoh-contoh : 1. adalah milik ayah.tidak dijatuhi had. Syubhat fi Thariq ( pada prosedur . mencampuri perempuan yang kawin mut’ah (Ibnu Abbas boleh – Jumhur tidak boleh).Tidak dihukum had.Seorang tidak dijatuhi hukuman karena salah mengambil barang. Kawin tanpa saksi ( Imam malik sah – jumhur tidak) karena diperselisihkan.Tolaklah had dengan syubhat Hukum had gugur karena syubhat Macam syubhat: 1). mencuri harta anak. yang diduga miliknya tanpa ada keraguan sedikitpun ( misalnya karena percis sama ). Syub fi thariqah . Syub. Karena Secara umum. Kawin tanpa wali ( Abu Hanifah .boleh – jumhur tidak).

maka Ia itu wajib pula Contoh-contoh: 1.dan mencuci betis waktu mencuci kaki.Wajib menutupi sebagian lutut.Wajib mencuci sebagian leher dan kepala waktu mencuci muka 2. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „KELUAR DARI KHILAFIYAH‟ Siapa yang menjaga syubhat sungguh telah membersihkan agama dan harga dirinya Keluar dari perselisihan terpuji Contoh-contoh: 118 .Wajib menutupi sebagian wajah saat menutupi aurat bagi perempuan.Taqwalah kepada Allah dengan sebenarnya taqwa Apa yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya. 4. dan perut di atas pusar saat menutupi aurat bagi laki-laki.Wajib mencuci sebagian di atas sikut waktu mencuci sikut . 3.

dan yang lain tidak mewajibkan 3. tapi pekerjaan yang disukai.1. Jumhur ulama tidak mewajibkan. dan yang lain tidak mewajibkan 4. Dikuatkan alasannya dengan dalil ( yang kuat ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RUKHSHAH‟ DAN „AMAL‟ Barang siapa yang terpaksa dengan tidak mengharapkan dan tidak mengulangi maka tidak ada dosa atasnya Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan ma'siat 119 . Maka menganggap bukan wajib.Imam Malik mewajibkan menggosok badan waktu Thaharah dan mengusap seluruh kepala.Tidak menyukai shalat munfarid di belakang shaf. Tidak menyalahi sunnah.Menyukai mengkosor shalat dalam safar jarak 3 mil (84 km). Keluar dari pendapat Imam Ahmad yang menganggap batal. itu sudah mencari jalan dari perselisihan Ulama 2.Tidak menyukai memisahkan diri dari Imam Shalat tanpa alasan. Keluar dari pendapat Imam Daud yang menyebutkan batalnya Syarat: 1.Tidak membuat/memperhatikan khilafiah yang lain 2.Disukai tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya dalam tempat tertutup. 3. Keluar dari Imam Abu Hanifah yang mewajibkan. Keluar dari Imam al-Tsauri yang mewajibkan. 5.

/ sempurna bagi yang ragu bolehnya qashar shalat Pahalamu sebanding dengan kepayahanmu Sesuatu yang banyak pekerjaan lebih banyak keutamaan Contoh-contoh 1. dan berbaring separah shalat duduk 120 . 2. takbir.Wajib shalat taam. karena tambah niat.separah ganjaran berdiri. mengharapkan sesuatu.Shalat sunat duduk.Menurut asal.Contoh-contoh 1. mengharapkan darurat sehingga Ia dapat makan daging babi 3.Tidak boleh karena safar. 2. seperti. jama shalat dan buka shaum. tidak boleh beristinja dengan makanan . Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan syak/ ragu Contoh-contoh: 1.Memisah misahkan rakaat dalam witir lebih baik daripada menyambungkannya dalam satu salam.Wajib mencuci kaki bagi yang ragu-ragu bolehnya mengusap sepatu 2.Tidak boleh karena safar. karena istinja dengan batu adalah rukhshah. dan jumlah salam. qashar.

Shalat Dhuha 12 rakaat. karena ada dalil 4. tidak lebih baik dari 8 Karena 8 sering Nabi kerjakan.9 karena haditsnya lebih kuat 3.Shalat witir 3 rakaat. lebih baik dari 5.Shalat berjamaah 1 x lebih baik dari 27 x shalat munfarid.Misalnya melakukan haji Ifrad .Menjalankan sendiri-sendiri dua macam ibadah lebih baik daripada menjalankan dengan merangkapnya. tidak berlaku jika ada dalil khusus 1.Bersidekah semua daging kurban.3. dari sidkahnya setelah diambil barang untuk mencicipi ( ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG TENTANG „ KEMAMPUAN‟ Apa yang aku perintahkan kepada kamu lakukanlah sekemampuanmu Apa yang tidak dapat dikerjakan seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya Contoh-contoh: 121 . 2. Kaidah ini untuk umum. lebih baik dari pada haji qiran Catatan:.7. tidak lebih baik.

Jika sulit melakukan ruku / sujud dengan sempurna.Yang sanggup menutup sebagian auratnya.Yang tidak mampu shalat malam 10 rakaat.Jika putus sebagian jari.Yang sanggup membaca sebagian surat al-fatihah dalam shalat.i: yang bisu harus menggerakan lidahnya sebagai pengganti dari bacaannya. lakukan apa yang ada 7. wajib mencuci yang tidak luka dan mengusap yang luka 122 . jangan ditinggalkan sebagiannnya Yang mudah tidak gugur karena ada yang susah Contoh-contoh: 1. lakukanlah 6. lakukan semampunya 4.yang tidak dapat berbuat baik dengan 1 dinar dan mampu 1 dirham lakukanlah 2. 3. Seperti isyarat bagi ruku dan sujud 8. tidak gugur wajib shalatnya 3. sebagian ada padanya dan sebagian lain ada pada yang lain / gaib.1. lakukanlah 5. lakukanlah Dan yang semakna dengan kaidah ini Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya. jangan ditinggalkan seluruhnya.Yang tidak dapat belajar atau mengajar semua cabang ilmu.Yang telah nisab zakat.Yang sanggup untuk seorang dalam zakat fitrah.Berkata Imam Syafi.yang luka pantang kena air. wajib cuci jari yang ada 2. dan mampu 4 rakaat.

haram mencari upan untuk dukun 4. haram mencari uang untuk suap Apa yang haram mengambilnya haram pula memberikannya Contoh-contoh: 1.Haramnya riba. haram pula memberikannya 123 .Haram mengambil hadil zina. haram pula pemberian / pembayaran hasil zina 3.KAIDAH FIQHIYAH „KASAB DARI YANG HARAM‟ Hendaklah ada diantara kamu satu umat yang mengajak pada kebaikan dan menyuruh pada ma’ruf dan melarang pada munkar Apa yang haram melakukan haram pula mencarinya Contoh-contoh: 1.Haram Suap.Haram mengambil hasil riba.Haram dukun.Haram zina . haram pula memberikannya 2. haram pula mencari harta dengan cara riba 2.

Imam Al-Suyhuti menyebutkan 10 amal yang mengalir setelah mati :1-Ilmu yang disebarkan. 3.3. 10.Mengajar Ilmu lebih baik daripada shalat sunat 2. 2. 124 . menanam kurma.membuat tempat berlindung. 5. 7. (rangkuman dari hadits-hadits ).8.ikatan baik dengan tempat perbatasan musuh.bikin sumur. mengajarkan Alquran.Do’a anak.Haram mengambil hasil dukun. 6.Melakukan fardu kifayah lebih baik dari fardu ‘Ain karena menghilangkan kesulitan bagi umat 3. 9.shadaqah Jariah./ bikin sungai.Haram mengambil hasil suap.mewaristkan kitab. haram pula memberikannya QAIDAH FIQIYAH TENTANG KEBAIKAN KONTINU Dan kami menuliskan apa yang tgelah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereke tinggalkan Kebaikan yang berkelanjutan lebih utama dari kebaikan yang pendek Contoh-contoh 1. haram pula memberikannya 4. 4.membuat tempat berdzikir.

kemudian binasa karena pukulan. maka tidak ada fidyah padanya 5. kemudian bertambah. Seseorang berkata potonglah tanganku lalu dilakukan dan terputus. kalau mengalir pada tempat lain.QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RIDHA‟ Ridha terhadap sesuatu ridha terhadap apa yang dilahirkan daripadanya Contoh-contoh 1. maka tidak ada tanggungjawab karena lahirnya binasa itu dari hasil izinnya 3. 4. Izinnya orang yang meminjamkan kepada yang meminjam untuk memukul hambanya yang dipinjamkan. maka tidak boleh memilih pada yang lebih baik yang tidak aieb 2. Tempat meper maka dimaafkan. Ridhanya suami istri karena aieb. karena itu lahir dari ridhanya QAIDAH FIQIYAH TENTANG HUKUM 125 . Memakai wangi-wangian sebelum ihram lalu berjalan ke tempat lain setelah berpakaian ihram.maka pada pokoknya dimaafkan 6. maka menurut pendapat yang sah tidak batal puasanya. Kalau air berkumur melewati atau air menghirup ke dalam hidung melewati tenggorokan. maka tidak ada tanggunjawab.

maka apabila diketahui ridhanya menjadi boleh 3. dan haram itu apa yang diharamkan Allah dalam Kitabnya.Hukum itu berputar beserta illahnya ada atau tidak adanya Contoh-contoh 1. dan apa yang Ia diamkan maka itu dari yang dimaafkan. maka ketika tidak ada sifat mabuknya maka menjadi halal seperti hamer dibuat cuka 2. seperti dibuat obat. maka apabila hilang yang membinasakannya menjadi boleh. Haramnya makan racun karena membinasakan. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „IBAHAH‟ 126 . Masuk rumah yang lain atau memakai pakaiannya maka haram karena tidak ada ridha. Haramnya hamer karena mabuknya. Nabi bersabda halal itu apa yang dihalalkan Allah dalam Kitabnya.

1929 Mukhtar Yahya. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. 2. karena tidak memiliki sifatsifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya. Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sipat-sipat dan ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada binatang haram adalah halal dimakan. 1929 Abdul Hamid Hakim. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. Nur Cahaya. Mubadi Awalliyah.Asal dalam segala sesuatu itu boleh Contoh-contoh: 1. 1984 Utsman M. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam. Raja Grafindo Persada 1996 127 . As-Sulam. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hamid Hakim. Yogyakarta. Al-Ma’arif. Binatang jerapah adalah binatang yang halal dimakan. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah.1986 Abdul Mujib.

Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta.A. Jakarta. Diponegoro. Abdul Hamid Hakim. Orba Sakti. Asbabun Nuzul. 1972 Muhammad Abu Zahrah. Kaidah-kaidah Hukum Islam. 1981 Abdul Hamid Hakim.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Jakarta. Ilmu Fiqh. Bandung. As-Sulam. 1958 H. Qamarudin Saleh. DDII. Baerut. Bandung 1993 Al-Khudari. 1929. Abdul Hamid Hakim Al-Bayan. 1929. Mubadi Awalliyah. Maktabah Sa'adiyah Putra. Dar al-Fikr. Ushul al-Fiqh. Ushul al-Fiqh.Djazyuli. Jakarta. Maktabah Sa'adiyah Putra. Dar Fikr al-Arabi. 128 . 1929. 1993.

Munawar Khalil. Bandung 1993. 1986 Abdul Mujib. 1977. Dar al-Kitab Arabi.Djazuli. Al-Ma. Ilmu Fiqh. Raja Grafindo Persada 1996. Departemen Agama RI. 1985. Muhammad al-Thahan. Surabaya. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. Al-Jurjani. Bulan Bintang. Syafi’i Karim. Bairut. Taisir Mushthalah al-Hadits. 129 . Fiqih Ushul Fiqh. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. al-Harmain. 1992.arif. 1984 Utsman M. Orba Sakti. 1995.A. Al-Ta'rifat. H. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Nur Cahaya. Mukhtar Yahya. Yogyakarta. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful