HUKUM, SUMBER DAN DALIL

1. Pengertian Hukum Para ahli ushul menta'rifkan hukum dengan :

Perintah / firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan ( perintah dan larangan), atau pilihan (kebolehan ) atau wadh'i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang bagi seseatu hukum ) Dari definisi di atas menunjukan, bahwa yang menetapkan hukum itu adalah Allah Swt. Hanya Allah hakim yang maha tinggi dan maha kuasa. Rasulullah penyampai hukum-hukum Allah kepada manusia. Oleh karena Allah yang menetapkan hukum, maka sumber hukum yang pertama dan paling utama adalah wahyu Allah yaitu Alquran, kemudian sunnah Rasul sebagai sumber hukum yang ke dua, dan sumber hukum yang ke tiga adalah Ijtihad.

2. Pengertian Sumber dan Dalil Secara etimologi ( bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan

1

kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ). Jadi prosesnya ialah : Dalil dalalah - madlul Perintah shalat - Wajib shalat Api dari segi ruang

Aqiemu ash-shalat Asap -

Ada yang terbakar

Dalil dapat dilihat dari berbagai segi : Dari segi asalnya, limgkupnya, dari segi kekuatannya.

a. Dalil ditinjau dari segi asalnya Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam: 1.Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan alSunnah. 2.Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad. Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu: 1. Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini

adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully. Contoh berikut dari dalil kully:

2

Dalil ini disebut dalil kully dari Alquran karena mencakup berbagai macam kerusakan yang dilarang oleh Allah Swt.

Dalil Kully dari hadits ini, menunjukan bahwa perbuatan apapun hendahnya disertai niat, dan amal seseorang akan dilihat dari sisi niatnya.

Artinya: Kesulitan itu membawa kemudadahan. Dalil kully dari Qaidah ini, memberi arti bahwa segala sesuatu yang tadinya sulit akan menjadi mudah. Dalil kulli dari Qaidah kulliyah ini tetap kembali kepada semangat atau didasari oleh isyarat Alquran dan al-Sunnah.

2.Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu, seperti Ayat ini disebut dalil Juz'i, karena hanya menunjukan kepada perbuatan puasa saja.

c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu Dalil Qath'i dan dalil Dhanni. 1. Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :

3

Dalil Qath'i al-Wurud. kecuali menunjukan bahwa suami mendapat setengah dari harta peninggalan istri jika istrinya tidak mempunyai anak. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. b.kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. a. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan . b. Tidak ada ayat Alquran yang dhanni wurud. Dan wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya (beriddah) tiga kali quru. yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah ( Alquran) atau dari Rasulullah ( Hadits Mutawatir).Dhanni al-Wurud. 4 . adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad.Dalil Dhanni.a. jika mereka tidak mempunyai anak. Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya. dan tidak semua hadits qath'i wurudnya. Dalil Qath'i Dalalah. Ayat ini tidak bisa diartikan lain. Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu.Dhanni al-Dalalah. yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw. 2. Dalil Dhanni. Contoh Dan bagimu ( para suami) separoh dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu. terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah.

hukum bagi umat sebelum kita. 3. mazdhab shahabi.Kata Quru dalam ayat di atas bisa diartikan haid dan bisa diartikan suci. mashlahah mursalah. Urf. Qiyas dan sebagainya. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa seperti. Ishtishhab. maka dapat dikatakan bahwa. Ijma. Urutan Sumber Hukum Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Alquran dan al-Sunnah. seperti Ijma. ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan. keberadaan suatu dalil. Karena suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alquran dan alSunnah. Qiyas. Karena itu dari sisi ini. apa yang dikemukakan Abdul Wahab Khalaf bahwa al-Adillah al-Ahkam identik dengan Mashadir al-Ahkam ( sumber hukum). Disamping itu. Qiyas. Qiyas dan istihsan misalnya. Alquran dan al-Sunnah juga disebut sebagai dalil hukum. Oleh sebab itu. Istihsan. 5 . istihsan. tidaklah dapat dikatakan sumber. Saddu zdara'i. Ijma. sebagai turuq istinbath al-Ahkam yaitu metode dalam menetapkan hukum. mashlahah mursalah. para ahli ushul Fiqh sering menyebut terhadap adillah ahkam seperti Ijma. Dari pengertian dalil yang diungkapkan di atas. Sedangkan yang lainnya. istihsan dan lain sebagainya tidak dapat dikatakan sebagai sumber hukum Islam. karena dalil-dalil ini hanya bersifat al-Kasyf wa al-Izhar li al-Hukum artinya hanya menyingkap dan memunculkan yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah. Oleh karena itu para ula sering berbeda pendapat dalam menentukan hukum dari ayat tersebut di atas. karena yang dikatakan sumber itu harus berdiri sendiri. disamping sebagai sumber hukum Islam.

Syar'un man Qablana. maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut : 1. Saddu zdara'i. maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah saw. Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku. Al-Sunnah 3. Istihsan. Urutah sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah. ( Ahmad. 2. al-Qiyas. Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Al-Ishtishhab. al-mashlahah Mursalah. yang meliputi pada : Al-Ijma. Mazdhab shahabi. Ijtihad.Alquran. Uruf. Abu Daud) 6 . Nabi bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab .Bila diurut. Turmudzi.

tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah swt. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas Al-Jurjani mendefinisikan Alqur'an: Alqur'an adalah (Kalamullah) yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushhaf. kepada Malaikat. Hukum dalam Alqur‟an Hukum-hukum yang terkandung dalam Alqur'an. para Rasul Allah dan kepada hari akhirat. meliputi : a. kepada Kitab-kitab. Seperti tertuang dalam ayat Alqur'an : Secara istilah Alqur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. ditukil dari Rasulullah secara mutawatir dengan tidak diragukan. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. 7 .Hukum-hukum I'tiqadiyyah. Tinjauan Bahasa Kata Alquran dalam bahasa Arab berasal dari kata membaca. bila membacanya mengandung nilai ibadah. Bentuk mashdarnya artinya ' bacaan' dan / Qara'a artinya ' 'apa yang tertulis padanya'. 2.ALQUR‟AN SUMBER HUKUM PERTAMA 1.

Hukum Islam memberi peluang kepada masyarakat dan manusia untuk berubah. persatuan dan keadilan. yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-bidang hukum yang lainnya. 3. Hukum dalam Alqur'an yang berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang alAhwal al-Syakhsyiyah / ihwal perorangan atau keluarga. karena dengan pengaturan yang bersifat umum itu Alqur'an dapat digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat. memberi peluang kepada manusia untuk berpikir. Adapun dalam bidang-bidang lain yang pengaturannya bersifat umum. Alqur‟an dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alqur'an dalam menetapkan hukum menggunakan perinsip : a. Namun kemajuan dan kedinamisannya harus tetap dalam batas-batas perinsip umum Alqur'an.b. Hukum amaliyah ini ada dua. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan 8 . c. tentu ini sangat bermanfaat. Perinsip umum itu adalah Tauhidullah. manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauhi prilaku yang buruk. Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. maju dan dinamis. sedang keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat dan akan memberi warna terhadap yang lainnya. persaudaraan.Hukum-hukum Amaliyah.Hukum-hukum Khuluqiyyah. Hal ini menunjukan bahwa manusia memerlukan bimbingan lebih banyak dari Allah swt dalam hal beribadah dan pembinaan keluarga. ini perlu diluruskan dan teguran. Banyak manusia yang menyekutukan Allah. dan berbagai kasus dalam sepanjang jaman.

hanya bagi orang yang mampu saja. keringanan). c. b.Dijumpai dalam Alqur'an hukum-hukum yang bersifat azimah ( kemestian ) dan hukum rukhshah ( kelonggaran.Bertahan dalam menterapkan hukum Hal ini dapat ditunjukan dengan beberapa contoh. juga hanya bagi orang yang istitha saja. Ini menunjukan bahwa Alqur'an menyedikitkan tuntutan. perintah zakat. Demikian juga misalnya . dan dalam keadaan sakit. mengqasar shalat dari empat menjadi dua rakaat.Menyedikitkan tuntutan Hal ini ditunjukan dengan firman Allah swt: Selain itu ayat Alqur'an yang berjumlah 6342 ayat ( menurut sebagian pendapat) hanya sekitar 500 ayat saja yang berkaitan dengan hukum. Haramnya minuman keras dan perjudian proses larangannya sampai tiga kali 9 . Ibadah hajji. bepergian boleh buka dan mengqadanya. misalnya kewajiban untuk shaum. bertayamum sebagai ganti air untuk berwudhu. makan makanan yang terlarang dalam keadaan darurat. bahkan sebagian pendapat menyebutkan kurang dari 500 ayat.

Dalam ayat 219 Al-Baqarah.Dari ayat-ayat tersebut jelas tahapan-tahapan dalam mengharamkan khamer dan maisir. Hal ini dibuktikan dengan seringnya Alqur'an menyebutkan sebab atau illat hukum.Alqur'an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia. Misalnya tentang adanya pengaturan harta. Juga dalam hal tidak boleh mencaci berhala: Dalam ayat ini ada larangan memaki-maki berhala. mereka pun akan memaki-maki Allah. karena bila kita memakimaki berhala. disebut bahwa pengaturan tersebut dimaksudkan agar harta itu tidak hanya berputan di antara orang yang kaya saja. tapi bertahan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Akhitnya diharamkan dalam surat Al-Maidah: 60 Pentahapan diperlukan agar tidak ada goncangan kejiawaan dan kewajibankewajiban bisa dilaksanakan dengan mantap. Perubahan dari masyarakat Jahiliyah ke masyarakat Islam tidak sekaligus. hanya disebutkan bahwa dosa minum khamer dan bermaisir lebih besar daripada manfaatnya. kemudian dikuatkan kembali dalam surat Al-Nisa: 43 tidak boleh mendekati shalat jika mabuk. 10 . d.

Alqur'an itu diturnkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. antaranya 3. Zina itu termasuk pada perbuatan yang keji dan menuju pada kehancuran Akhlak manusia. 2. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat 11 . Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alqur'an itu datangnya dari Allah. maka barulah mujtahid tersebut mempergunakan dalil lain. Mukzijat Alqur'an juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alqur'an datang dari Allah swt. Mukzijat Alqur'an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. Oleh karena itu dalam hukum Islam tindak pidana zina bukan delik aduan akan tetapi delik biasa. Yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya. Ada beberapa alasan yang ditemukan ulama ushul fiqh tentang kewajiban berhujjah dengan Alqur'an: 1. Seorang mujtahid tidak dibenarkan menjadikan dalil lain sebagai hujjah sebelum membahas dan meneliti ayat-ayat Alqur'an.Dalam ayat tersebut dilarang mendekati perbuatan yang akan mendorong pada zina. Apabila hukum permasalahan yang ia cari tidak ditemukan dalam Alqur'an. dan ini memberi keyakinan bahwa Alqur'an itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. Kehujjahan Alqur'an Para ulama ushul fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Alqur'an merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib dilaksanakan. 4.

6. dari segi turunnya berkualitas qath'i ( pasti benar) akan tetapi. Contoh dalam Kaffarat sumpah : Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alqur'an mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan. Misalnya lafal musytarak (mengandung pengertian ganda) yaitu kara / lafal yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228. Dan jika diartikan dengan haidl juga boleh (benar) sebagaimana yang dianut ulama Hanafiyah. apabila kata quru di artikan dengan suci. yaitu suci dan haidl.kata quru di atas merupakan lafal musytarak yang mengandung dua makna. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. 5. sebagaimana yang dianut ulama Syafiiyyah ' adalah boleh / benar. Ayat-ayat seperti ini. Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : 12 . hukum-hukum yang dikandung Alqur'an ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zdanni (relatif benar). hudud . Oleh sebab itu. ayat-ayat waris. misalnya . Mukzijat Alqur'an menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menadingi Alqur'an itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. Alqur'an Dalil Qath'i dan Zhanni Alqur'an yang diturunkan secara mutawatir. kaffarat.manusia.

yang tidak bisa dimasuki oleh logika. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl : 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah kepada mereka. mengkhususkan.1. dan muthlaq ini. umum. hukum waris. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. 13 . Demikian juga dalam masalah zakat. bersifat global / kully. seperti dalam masalah shalat yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan. tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati. apa hukum dan syaratnya. seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah. Rasulullah saw. hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana. Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. hukum-hukum yang rinci ini. dan kaffarat. dan berapa kadar yang harus dizakatkan. 2. dan muthlaq. Untuk hukum-hkum yang bersifat global. dan membatasinya. berapa nisab nisab zakat. umum. Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. berapa ra'kaat untuk satu kali shalat. hudud.

Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. perbuatan atau persetujuan. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti ' cara yang dibiasakan' atau ' cara yang terpuji.Dalil Alqur'an 14 . = dekat. Sunnah lebih umum disebut hadits. yang mempunyai beberapa arti: = baru. seperti dalam firman Allah Secara Istilah menurut ulama ushul fiqh : Semua yang bersumber dari Nabi saw. = berita. Dari arti-arti di atas maka yang sesuai untuk pembahasan ini adalah hadits dalam arti khabar. selain Alqur'an baik berupa perkataan. 2.SUNNAH SUMBER HUKUM KEDUA 1.

bersabda : ingatlah sesungguhnya telah didatangkan kepadaku Alqur'an dan yang sepertinya bersama Alqur'an.Dalil Al-Sunnah Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw yang memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Sunnah. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar. ( Yaitu telah diberikan kepadaku yang sepertinya berupa Al-Sunnah ). gigitlah sunnah dengan taring. mereka mencarinya dari Alqur'an. sunnah khulafau' alRasyidin yang pada mendapat petunjuk . dan jika tidak mendapatkan dari Alqur'an. Al-Ahzab : 36. Ahmad c. di antaranya : Nabi saw. Al-Nisa : 80. juga Umar bin 15 . Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnahku. Ijma Shahabat Setelah wafatnya Rasulullah saw. dengan ungkapan yang berbeda-beda. misalnya dalam Ali Imran :32. diantaranya berbunyi : b. mereka bertanya-tanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat.Dalam Alqur'an banyak ayat-ayat yang menunjukan bahwa kaum muslimin diperintah untuk mengikuti Allah swt dan Rasulnya saw.

puasa dan ibadah haji.Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. zakat terdapat dalam Alqur'an dan dikuatkan oleh Al-sunnah. zakat. 3. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alqur'an. pada umumnya bersipat global. tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. d.Logika Alqur'an memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban. misalnya tentang Shalat. Sebagai Bayan 16 . Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alqur'an Hubungan Al-Sunnah dengan Alqur'an dilihat dari sisi materi hukum yang terkandung di dalamnya sebagai berikut : a.Sebagai Muaqqid Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alqur'an dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah. - b. misalnya tentang shalat. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya.

misalnya perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal.Mentakhshishkan keumuman Misalnya. 4).an mengharamkan tentang bangkai. dalam hal ini ada tiga hal : 1).Membatasi kemutlakan ( taqyid al-muthlaq) Misalnya. Demikian juga tentang zakat.Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya. kemudian al-Sunnag mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. 17 . Dalam Shalat misalnya 2).Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alqur'an yang masih mujmal. Alqur'an memerintahkan untuk berwasiat. - 3).an yang belum jelas. belalang. hati dan limpa. haji dan shaum.Menciptakan hukum baru. Alqur. diperjelas dengan Sunnah. darah dan daging babi. Kemudian Al-Sunnah membatasinya.

4. dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alqur'an. seperti berita yang disamapaikan oleh orang bodoh 18 .Diyakini benarnya. hal ini ada tiga : a.Misalnya. Contoh perkataan Nabi saw. yaitu : a.Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. Macam-macam Sunnah Sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam. dan burung yang berkuku kuat. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. atau berita berupa perkataan Nabi saw. 3) Yang tidak diyakini benarnya. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir 2).Diyaniki dustanya. yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat. Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada 3 hal : 1). Sunnah Qauliyah. Tidak ada kemadharatan dan tidak pula memadharatkan Hadits ini adalah Sunnah Qauliyah yang memberikan sugesti kepada umat Islam. agar tidak membuat kemadharatan bagi dirinya juga bagi orang lain. dan juga tidak diyakini dustanya.

Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah.Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. keduniaan. Seperti petunjuk cara makan yang ditunjukan Nabi saw. budaya dan kebiasaan.Perangi yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. Ini lebih pada urusan. 3). b.Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan seperti gerakan badan dan gerakan anggota badan. cara berwudlu yang dipraktekan Nabi Saw.b. dan ada yang tidak harus diikuti. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. seperti cara shalat. Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. ada yang harus diikuti oleh umatnya. setrategi berperang. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. seperti khabar yang disampaikan oleh orang adil c. bentuk tersebut : 1). duduk. 2). Sunnah fi'liyah ini terbagi kepada beberapa bentuk. Sunnah fi'liyah ini menunjukan tidak ada kewajiban untuk diikuti dan bersifat mubah.Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. cara bercocok tanam dan lainnya. cara minum yang diajarkan 19 . Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. seperti kebiasaan berdiri. seperti khabar yang datang dari orang fasik ( orang yang mengakui peraturan-peraturan Islam tapi tidak mengindahkannya.

saja.Bukhari) ini menunjukan bahwa orang yang berwudhu boleh satukali-satukali dan boleh duakali-duakali. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal / samar tidak jelas. apakah akan dipandang Jibilah. diperjelas oleh Nabi saw. (R. seperti yang diriwayatkan An-Nawawi tentang wudhu Nabi saw.Nabi saw. Maka Abu Ishaq meriwayatkan dari banyak muhaddits yang memandang Mandub. Menurut Imam Syafi'i ada dua pendapat. Seperti perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. seperti shaum Ramadhan. dengan perbuatannya. atau akan dipandang tasyri / syariat. c. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. 4). 6)Apa yang dilakukan Nabi saw.Apa yang dilakukan Nabi saw. demikian juga ibadah Haji. shalat lima waktu. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. Adapun urusan alQurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. 5). memakai bajunya di atas dua mata kaki. dan beristri lebih dari empat. Seperti Adalah Nabi saw. ibadah hajji dll. seperti melakukan shaum wishal. Sunnah Taqririyah 20 . menjelaskan akan kebolehan / jawaz .Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. Maka hukumnya sama dengan yang hukum mujmal tersebut. itu harus diikuti oleh orang muslim.

dengan seizinn dan ridhanya.Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. Contoh 1). 2). 21 . hal ini kerena kalaulah Nabi tidak setuju. 6). karena Nabi tahu keperluan orang buta sama dengan keperluan hidup orang melihat. 4). terhadap 'Aisyah yang melihat orang Habasyah yang sedang bermain perang-perangan di Mesjid. namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran. yang tidak mandi junub ia hanya tayamum karena malam sangat dingin dan hawatir akan sakit. misalnya dengan cara riba. seperti memasak.Taqrir Nabi saw. terhadap para wanita keluar dari rumah untuk hadir di mesjid mendengarkan khutbah-khutbah.Taqrir Nabi terhadap harta para sahabat yang diperoleh ketika mereka musyrik.Taqrir Nabi saw. tidak menyuruh untuk mengembalikannya. mencuci. membuat kueh.Amr ibn al-'Ash. terhadap para Lelaki membantu pekerjaan istrinya di rumah. tentu Nabi tidak akan membiarkan Sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah. menunjukan persetujuan nabi. tapi hendaklah bertaubat dari pekerjaannya yang telah lalu. Ia menjawab " saya ingat firman Allah swt ' janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri". terhadap orang yang tidak melihat untuk berbelanja dan berjualan di pasar. membereskan rumah dll. Maka Nabi tertawa dan tidak berkomentar apapun. atau sepengetahuan Nabi . 5). akrena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran.Taqrir Nabi saw. Hal itu disampaikan pada Nabi saw.Taqrir Nabi saw. Nabi bertanya kepadanya. 3). Nabi saw. maka sikap diam dan tidak mecegahnya.

Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah ( yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. yang berjanji saat Ia marah tidak akan makan. kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali.nawi 22 . hadits dibagi kepada.Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakan untuk berdusta. Hadits Mutawatir dan Ahad. a. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits: Mutawatir. Mutawatir itu ada dua : 1)Mutawatir lafzhi. Sedangkan menurut jumhur. Pada sunnah qauliyah tidak sebayank sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir.Mutawatir Ma.7) Taqrir Nabi terhadap ingkar janjinya Abu Bakar. haji dan lain-lain. 5. perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. shaum. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan ma. hadits masyhur masuk pada pembagian hadits ahad menurut ulama jumhur. Tentu Nabi tahu jika janjinya ditepati akan membawa kemadharatan. Contoh : 2).nanya. Masyhur dan Ahad.

Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain. Dan dalam definisi lain.Hadits Shahih. sampai kepada Rasulullah. Contoh 2). b.Nabi shalat magrib 3 rakaat dalam safat. Dari bermacam-macam riwayat ini ada kesamaan yaitu ' shalat magrib 3 rakaat'. diterangkan dalam beberapa riwayat. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Hadits Ahad ini terbagi kepada : Masyhur. tapi susunan masingmasing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Hasan . dan sempurna ketelitiannya.Shahabat-shahabat Nabi shalat magrib 3 rakaat diketahui Nabi saw. dan Dhaif.Hadits Adah Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Madinah . tidak 23 . . Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. Shahih. masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw. shalat magrib 3 rakaat di rumahnya . oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir. 1). seperti shalat magribtiga rakaat.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Mekah . kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabiut' tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas nutawatir. oleh sejumlah orang yang idak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. sanadnya bersambung.

Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits. Hadits Hasan. 24 . segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. munqathi. mudraj. Hadits Dhaif ini banyak macamnya. antara lain Hadits Maudhu.mempunyai cacat atau illat. tetapi kurang ketelitiannya. walaupun hanya sekali saja dalam hidup.. mudtharib. mursal. Imam An-Nawawi berkata. Contoh 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. bukan dalam Asal / pokok amal. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Pengertian yang terkandung di dalam hadits tersebut masih tercakup dalam pengertian yang terkandungdalam hadits shahih yang berbunyi : 6. Contoh hadits dhaif tentang fadhilah amal. dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. munkar dan mubham. Contohnya 3). sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif. dan walaupun diriwayatkan hanya seorang. muallq. bahwa para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal. mudallas. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum.

Sunnah. Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata kesulitan. berupaya keras. adalah nama amaliyah yang mutawatir. Dan juga bermakna artinya yaitu artinya Ia Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan. yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Dan menurut Istialah Ulama Ushul berarti : 25 . sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. yakni cara Rasul melaksanakan ibadah. seperti kata berupaya keras mengangkat batu penggilingan. IJTIHAD SUMBER HUKUM KE TIGA 1. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan.

ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam nenerapkan huku (Ijtihad fi tathbiq ahkam). 2. Ini dapat dilakukan dengan.Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. dan Khulafa Rasyidin 26 . Ijtihad pada masa Rasul saw. Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum .Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniyul wurud ( hadits-hadits ahad). b. maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad. Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i.Mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan melakukan penelitian / kesimpulan dari Kitab dab Sunnah. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukan oleh Nash Qath'i. Istishab. Istihsan. 3. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu: a.hukum syara ( dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaflikasiannya. dan zhanniyu al-dalalah ( Nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan). Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu. Urf dll. Qiyas.

Di antara ijtiha para Shahabat ialah : a. Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar. tidak bakal terrealisir beserta adanya bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan. pernah terjadi kelaparan. tentang tawanan perang Badar.a.a. yakni menerima tebusan. hafizh Alquran. Ia berpendapat bahwa orang yang membangkang membayar zakat harus diperangi sampai mau membayar zakat. penulis wahyu. karena ia berpendapat bahwa kemaslahatan yang diharapkan akibat pemberian hukum. karena hawatir para Qa'ri banyak yang meninggal.a. tidak menghukumnya dengan potong tangan. 4. Pada masa Umar r. Atas keadaan yang demikian itu Umar r. Ijtihad Abu Bakar tentang usulan Umar bin Khatab untuk memushhapkan Alquran.Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. Ijtihad Abu Bakar. antara lain Zaid bin Tsabit. Ijtihad Abu Bakar dalam hal orang yang membangkang membayar zakat. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i 27 . Ijtiha Umar r. dibentuk panitia yang terdiri dari para Qa'ri. adalah. Lalu setelah menemukan kata sepakat. Dari dua pendapat itu. b. dan akibatnya terjadi pula pencurian.

Ijtihad Fardi. Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu. yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. 2)Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas.Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. Demikian juga pesan Umar kepada Qadhi Suraih: dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu Apa yang tidak jelas bagimu terdapat dalam al-Sunnah maka curahkanlah fikiranmu (berijtihad). Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa 28 . dan aku tidak akan meninggalkannya). 3). Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya.Dalam kaitannya dengan ahli warits yang ditinggalkan oleh yang mati.Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasulullah jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. Adanya ijtihad fardi ini dapat ditunjukan dengan beberapa alasan. terdiri dari Kakek bersama saudara. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. maka ijtihad terbagi pada : a. Abu Bakar. antara lain: 1). Muadz menjawab ( akau akan berijtihad dengan fikiranku.

Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah. Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah ?. Alasan adanya ijtihad jama'i ini. b. Sedang menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah ( membagi sama) dengan Saudara. memerangi pembangkang membayar zakat. maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya.Kesepakatan para shahabat atas tindakan Abu Bakar r. yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. setelah terjadi pertukaran pendapat di antara mereka. Contoh yang menunjukan adanya ijtihad jama'i ini: 1). lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. Ijtihad Jama'i.saudara terhijab oleh kakek. 29 . Di sini kakek tidak menghijab saudara.a.

ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya. yakni mngetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum / istinbath daripadanya. Juga mengetahui asbab al-nuzul.a untuk menulis mushhaf Alquran.khash.Mengetahui nash-nash hadits. 30 . maka ia harus memiliki syarat-syarat : a. balaghah dal lainnya. dan hasil ijtihadnya berkualitas.a. haqiqat majaz. c.Kesepakatan para shahabat atas saran Umar r. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. yang sebelumnya Abu bakar merasa keberatan karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw. disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits.2). 5. mutasyabih .Syarat-syarat Ijtihad. sewaktu beliau masih menjabat. dan tahu antara 'aam . ilmu nahwu.Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. Agar seorang mujtahid dapat berijtihad. ta'wil. 3). juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa ( natsar) maupun syair ( nadham). b. akan digantikan jabatan khalifah oleh Umar r. dan lainnya.muhkam.Kesepakatan para shahabat atas keimaman Abu Bakar dan persetujuan mereka. sharaf.Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya.

metoda menemukan dan menterapkan hukum. Jika usaha tidak berhasil lakukan. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum mathuq dan dan mafhum dari keduanya. lalu memperhatikan pada perbuatan nabi/ hadits fi'li. e. sebagai ilmu metoda isthinbath. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan.. Mentarjihkan salah satunya. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya.d. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat.Mengetahui ilmu Ushul Fiqih.Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. 6. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. b. tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat. lalu selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shabat. dengan menggunakan ilmu tarjih. 31 . hendaknya. a. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad.. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. sanggup mengetahui illat hukum. Jika usaha ini berhasil.Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. dapat mengqiyaskan satu peris dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw. f.

32 .c. mujtahid itu ada beberpa tingkatan. Muhammad ibnu Hasan dalam madzhab Syafi'i. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. b. yaitu. Mereka itu Imam Abu Hanifah. 7. Membekukan ( tawaqquf) . dan berbeda dalam hal cabang. Imam Syafi'i. Meneliti sejarah datangnya kedua nash. untuk ditentukan yang datang kemudian / belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu. a. untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai. Merekalah yang membangun mazdhab. Imam Malik. Imam Ahmad bin Hambal. Imam Au'zai dll.Mujtahid al-Muntasib Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. dalam madzhab Maliki. Mujtahid ini seperti Abdurahman bin al-Qasim. dan berijtihad dengan hasil sendiri. d.Mujtahid fi syar'i Yaitu orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad.

mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidahqaidah lama. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya.Mujtahid fi Madzhab Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk madzhab tersendiri. Pekerjaan mereka dalam berijtihad adalah mengeluarkan hukum / istinbath dari masalah yang tidak diriwayatkan oleh Imam.c. mereka menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan yang lemah dengan argumen qaidah tarjih. e. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu. d. yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. Misalnya Imam Abu Yusuf adalah mujtahid pada madzhab Hanafi. akan tetapi mereka hanya mengikuti Imam madzhab yang telah ada . mengembangkan dasar-dasar madzhab.Tingkatan Muhafidh 33 . baik dalam masalah yang pokok atau masalah cabang. tapi Mujtahid itu hanya melakukan tarjih. dan perbandingan di antara pendapat. dan meletakan dasar-dasar tarjih. Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini.Mujtahid al-Murajjih Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. Imam al-Muzani mujtahid pada Imam Syafi'i.Mereka itu.

Tingkatan Muqallid Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih. riwayat. tapi mengetahui mana yang kuat. riwayat yang jarang. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. 8. madzhab yang dhahir.Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. riwayat yang dhahir. f. antara pendapat dan riwayat-riwayat. Alquran 34 . mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri.

dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. tapi kembali kepada yang telah disyariatkan Allah dan Rasulnya.Yang dimaksud dengan mengikuti Allah dan Rasulnya dalam ayat tersebut adalah mengikuti yang telah ditetapkan dalam Alquran dan al-Sunnah. dan yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. Al-Hadits Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. lalu benar maka baginya dua ganjaran dan jika salah maka baginya satu ganjaran. c. ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu 35 . sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. Jika hakim berijtihad . lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. Logika. b. dengan jalan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqasid alsyariah.

mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi. selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. Tinjauan Bahasa 36 . 'IJMA' DASAR HUKUM ISLAM 1.

para mufti dan para ulama.Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus.akan suatu hukum syariat yang amali. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. mentri dan lainnya.Alasan Hadits . 37 . seperti pada ayat berikut ini: Juga berarti tekad atau niat ( ) Tidak ada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niat puasa pada malam Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ' ijma ' adalah Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. seperti kepala negara. Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a.Alasan Alquran Lafadz ulil amri. b. Umatku tidak sepakat untuk membuat kesalahan. maka wajib diikuti. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama. seperti para mujtahid. dan mencakup pemegang urusan agama. 2.

akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. baik dengan perbuatannya.a. Kebulatan pendapat harus tampak nyata. 4. d. Harus ada kesepakatan di antara mereka c. akrena itu ahli ushul fiqih menyebutkan. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi.terhijabnya cucu laki-laki dari anak laki-laki oleh anak laki-laki /ibnu 38 . misalnya Qadhi dengan keputusannya. misalnya dengan fatwa. b.. . atau dengan perkataannya. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. Jumhur mengemukakan sejumlah contoh. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. Firman Allah AlNisa:59 ijma 3.hak pusaka nenek 1/6 dari harta peninggalan . di sisi Allah pun dipandang baik juga. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma ' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan'.Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Muslim. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. Unsur-unsur Ijma Dengan memperhatiakn definisi ijma di atas maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur ijma itu: a. Terdapat beberapa orang mujtahid. itu bukanlah dalil yang menyendiri. Pengangkatan Khalifah Abu Bakar r.

Batalnya pernikahan muslimah dengan non-muslim. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma. terhadap sesuatu masalah.saudara sebapak mempunyai setatus mengganti saudara seibu-sebapak. d.Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsurunsur yang ada. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan.. Imam Daud berkata Ijma itu hanyalah ijma shahabat belaka 5. 39 . maka terdiri dari : a. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. c. dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. b. Ijma Ummat. Yaitu persesuaian ahli Kufah. Salah seorang ulama bernama An-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus.

Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya.e. Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat. 40 . dan telah diberiwaktu untuk membahasnya. hanya ulama . dan diamnya bukan karena takut. karena diamnya mujtahid dipandang menyetujui apabila masalahnya telah dikemukakan kepada mereka. atas dasar Teladanilah kedua orang ini sesudahku.ulama Hanafiyah yang memandang hujjah. Ijma bentuk pertama disebut juga ijma ijma Haqiqi. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan ( menfatwakan atau mempraktekan ). sedang sebagian lainnya diam. b. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. ijma terbagi kepada dua: a. menurut jumhur bukan hujjah. f. sedang ijma bentuk ke dua disebut ijma I'tibari. yang menjadi hujjah menurut ulama Jumhur. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadits: -Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa al-Rasyidin. yaitu Abu Bakar dan Umar.

'QIYAS' DASAR HUKUM ISLAM 41 . maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati.Dilihat dari sisi prosesnya. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid.

Ia telah mengukur sesuatu dengan lainnya atau atas lainnya. : Ia telah mengukur. Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan ( diterangkan) karena ada illat hukum. Si pulan tidak sama dengan si pulan Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah bermacam-macam: Mengeluarkan hukum yang sama dari yang disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara keduanya. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata mengukur. : Ia sedang . ukuran. Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : 42 . sukatan. timbang/an.1. Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya 2. Mengukur sesuatu atas misal yang lain dan menyamakan dengannya.

dengan alasan.Al-Sunnah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa Rasulullah menyetujui apa yang akan diputuskan Muadz bin Jabal dengan Ijtihad setelah tidak ada pada Alquran dan al- 43 . 2. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata ubur.1. memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas alasan ayat di atas. maknanya seimbang atau sama. Maka Qiyas itu melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada hukum cabang. Ibnu Taimiyah berdalil dengan ayat di atas tentang Qiyas jahi hujjah. kata al-'Adlu. Ayat di atas menyuruh mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasulnya. searti dengan kata al-taswiyah. melewati atau melampaui. baik urusan yang ada nashnya dan yang tidak ada nashnya. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas. Maka Qiyas adalah mengembalikan urusan yang tidak ada Nashnya kepada yang ada nashnya dari Alquran dan al-Sunnah. Dengan demikian Qiyas termasuk pada makna ayat di atas. artinya. Maka qiyas adalah menyamakan hukum diantara dua masalah.Alquran Jumhur ulama ushul.

Sunnah. Maka dalil di atas memberi isyarat akan bolehnya Qiyas, karena Qiyas itu termasuk Ijtihad. Dalam peristiwa yang tidak ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya dengan jalan Qiyas, misalnya, saat Rasulullah menjawab pertanyaan Umar r.a. tentang mencium istri saat shaum, Rasulullah mengqiyaskannya kepada berkumur-kumur waktu shaum, karena sama illatnya yaitu perbuatan permulaan, maka hukumnya sama tidak merusak shaum.

3.Perkataan dan perbuatan shahabat. a. Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu, yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu

b.Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu Beliau sakit.

4. Alasan Logika

44

a.Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.

b.Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan.

c.Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

3. Rukun Qiyas a. Asal Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih, / musyabah bih. b.Cabang Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah. c.Hukum Asal

45

Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. d.Illat Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Contoh-contoh: Pokok 1.Khamer 2.Gandum 3.'Uf'' pd. orang tua 4.Makan harta yatim Wisky Padi / Beras Memukul orang tua bakar harta yatim Cabang Illat memabukan makanan pokok menyakiti merusak harta hukum haram wajib zakat haram haram

4. Syarat Qiyas a.Syarat-syarat Pokok 1).Hukum pokok itu masid ada atau berlaku/ tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum. 2).Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa 3).Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian, seperti tetap dipandang sah puasanya orang yang lupa meskipun makan dan minum, mestinya puasanya itu menjadi rusak, karena sesuatu tidak bisa tetap ada bersama adanya penghalang. Namun tetap dipandang sah karena ada hadits yang mengecualikan. Maka seperti ini

46

Syarat-syarat Illat 1). Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. b. sedang tayamum setelah Hijrah. Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. memabukan adalah illat haramnya meminum minuman keras. seperti melindungi jiwa adalah illat wajibnya qishash.Illat Harus tetap berlaku. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat. karena wudhu ada sebelum Hijrah. 47 . Hukum bagi orang lupa hukum pengecualian. yang menurut ulama Ushul ' apabila datang nash. karena itu tidak sah mengqiyaskan orang yang dipaksa kepada orang yang lupa. Qiyas tersebut tidak benar.Illat berpengaruh pada hukum. 2).tidak bisa jadi pokok. qiyas menjadi batal. 4).Syarat-syarat Cabang 1). artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. 3).Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok.Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. manakala ada illat. tentu ada hukum. Misalnya mengqiaskan wudhu kepada tayamum dalam wajibnya niat karena keduanya samasama taharah.

Illat tidak berlawanan dengan nash.3). Ijma dan Istinbath ( penelitian ). maka sah nikahnya tanpa izin walinya. Maka ini berlawanan dengan nash. 48 . Kalimat liajliddaffah. dan adakalanya dengan isyarat. jika berlawanan maka nash yang didahulukan. Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat Ada beberapa cara untuk mengetahui illat hukum yaitu dengan melalui: Nash. tidak dapat diartikan dengan arti yang lain. karena banyak orang berkumpul ( yang memerlukannya). Misalnya. 1). makanlah dan simpanlah. bahwa perempuan itu dapat memiliki dirinya. tidak dapat dipakai arti lain selain untuk memberi illat larangan menyimpan daging binatang Qurban.Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih). Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. kecuali hanya untuk memberi illat diutusnya para Rasulullah saw. Hanyalah aku melarang kamu dari menyimpan daging binatang korban. Contoh yang Sharih di antaranya: Kalimat liallaa yakuna sampai kalimat ba'da rasul. diqiaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya. Maka (jika tidak banyak lagi orang berkumpul). maka nsha yang didahulukan. seperti .

e).Contoh dengan isyarat. dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. Contoh Illat yang diketahui dengan melalui Ijma seperti a) mendahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari pada saudara laki-laki sebapak dalam warisan karena ada talian kekerabatan ibu. di antaranya: Kalimat yang digaris bawah adalah illat larangan jual beli hari jum'at Kata yathhurna adalah illat boleh -campur Kalimat 'al-qatilu' ialah illat tidak mewarisi 2). b) Dengan qiyas pula didahulukan anak paman seibu sebapak dari anak pamam yang sebapak.Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. mak hukumnya qath'i.Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a. c) Didahulukan anak saudara laki-laki seibu sebapak dari anak laki-laki sebapak. 3). Didahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari saudara sebapak dalam waris. Al-Munasabah 49 .

5).125. menjaga harta adalah sifat dari disyariatkannya hukum potong tangan. dari disyariatkannya memerangi orang kafir dan yang menghalangi da'wah. al-Nur : 4 b. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya. misalnya 1).Al-Sabru wa al-Taqsim Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. menjaga akal adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had bagi peminum khamer. Al-Baqarah: 193 dan al-Nahl.Hifdlu al-Dien. menjaga jiwa adalah sifat dari disyariatkannya kishash.Hifdlu A'radh. mempertahankan agama adalah sifat/ illat. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam.Hifdlu al-Nafs. al-Nur ayat : 2 6).AlBaqarah:179 3).Hifdhu Nasal. 50 .Hifdlu al-Maal.Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. al-Maidah : 38 4).Hifdlu al-Aqli. menjaga keturunan adalah sifat dari disyariatkannya haram berzina dan diwajibkannya hukum Had dan ranjam. melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok. menjaga kehormatan atau kemuliaan diri adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had / jilid 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berzina tidak dapat membuktikan 4 orang saksi. 2).

menurut Hanafi tidak dipotong.Misalnya. Mengqiaskan Ammat (hamba perempuan) kepada Abdun (hamba lakilaki). d. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. 51 . tapi diperselisihkan pada cabang.Tahqiq Al-manath Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. yaitu pembunuhan dengan sengaja mempergunakan alat atau sesuatu yang biasa digunakan untuk membunuh. baik alat itu digunakan saat turun ayat Alquran atau alat itu tidak digunakan. Maka diambil yang memabukannya. Maka ditetapkan hukum bagi setiap pembunuhan dengan alat apa saja. sedang illatnya sama sebagai hamba sahaya.Tanqih al-Manath Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. Misalnya.Takhrij al-Manath Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. e. Khamer : Ada sifat Baunya. c. apa termasuk mencuri ? Apa mesti di potong ? menurut madzhab Syafi'i dan Maliki mesti dipotong. mengistinbath bahwa pembunuhan mewajibkan adanya qishash. Mengambil kapan di kuburan ( cabang ). ada warna. yang bedanya ialah kelaki-lakiannya. dan ada memabukannya. mengambil barang orang lain dari tempatnya ini (pokok). misalnya: Mencuri itu .

Misalnya mebakar harta anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim. Macam-macam Qiyas Qiyas itu ada beberapa macam. antara lain: 1. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. membandingkan memukul orang tua kepada ucapan 'ah '.5. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. Memukul orang tua tentu lebih dilarang karena selain menyakiti hati. karena persamaan illat 52 . ( al-Isra : 23 ). Maka membakar harta anak yatim haram diqiaskan kepada memakannya. 2. juga menyakiti jasmani. tentang terlarangnya perhiasan perak bagi laki-laki diqiaskan kepada terlarangnya perhiasan emas bagi laki-laki. lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. Mengucapkan 'ah' kepada orang tua dilarang dan haram karena Illatnya menyakiti. Misalnya. Sedang makan harta anak yatim diharamkan ( Alquran : al-Nisa : 10). dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi ( mulhaq bih ).Qiyas al-Adwani Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. karena sama-sama merusak harta.Qiyas Aula Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. dari sisi merusaknya. 3. Misalnya qiyas sebagian ahli Ushul.Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum.

seorang hamba sahaya yang dirusak oleh seseorang. Dapat pula diqiaskan kepada harta benda. Namun budak tersebut diqiaskan dengan harta benda. tetapi tidak mewajibkan hukum padanya. 4. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. maka hamba yang dirusak itu dapat diganti dengan nilai. Misalnya mengqiaskan harta milik anak kecil kepada harta milik orang dewasa dalam kewajiban mengeluarkan zakat. karena sama-sama keturunan Adam. Dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah.Qiyas Dilalah Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. Hamba yang dirusak itu bisa diqiaskan dengan orang merdeka. dihadiahkan. diwariskan. Haji tidak wajib bagi orang yang belum dewasa. Misalnya. Dalam hal ini Imam Abu Hanifah berpendapat. karena sama dapat diperjual belikan. karena keduaduanya sama-sama dapat dimiliki. menunjukan hukum. harta milik anak kecil tidak wajib dizakati.khuyalaa ( sombong ). Karena hamba itu diqiaskan kepada harta. diqiaskan kepada ibadah haji.Qiyas Syibhi Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok ). Maka Illat pada perak lebih rendah daripada illat yang ada pada emas. 5. 53 .

( Istidlal ). lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. memperoleh dalil. maka hendaklah mencari dalil lain. Al-Ijma dan Qiyas. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. menarik kesimpulan. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. 54 . yaitu menentukan Terdapat arti istidlal yang lebih khusus. memberi arti istidlal secara umum. alSunnah. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti. kemudian al-Sunnah. yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan alSunnah. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran .ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya : minta petunjuk. menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya. seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim. yaitu dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. Imam al-Jurjani.

menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. Pengertian Bahasa Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya ' menemani ' atau ' menyertai'. 3.Para ulama ushul fiqih. / al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. Kata lain dalam Bahasa Arab : Saya membawa serta apa yang telah ada pada waktu yang lampau Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: 55 . atau al-mushahabah : menemani . 6. juga istimrar al-suhbah . 8. 7. 5. / al-Urf ISTIDLAL DENGAN ISTISHAB 1. 4. terus menemani. antara lain: 1. 2.

Macam-macam Istishab 1. 5. 2.Orang yang hilang tetap dipandang hidup sehingga ada bukti atau tanda-tanda lain yang menunjukan bahwa dia meninggal dunia. dan tidak hilang karena keragu-raguan. berdasarkan persaksian dua orang sebelumnya. hibah atau wasiat. sampai adanya bukti pembayaran.Menetapkan utang atas seseorang. maka pemilikan tersebut terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yang menunjukan perpindahan pemilikan pada orang lain. Contoh-contoh Istishab 1.Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah.Tetap dipandang sah punya wudlu bagi yang yakin sebelumnya telah berwudlu.Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah 56 .Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami istri sampai ada bukti lain yang menunjukan bahwa mereka telah bercerai 4. warisah. 2.Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli. Imam al-Syaukani memberi definisi. Yaitu menetapkan ( hukum) sesuatu sepanjang tidak ada yang merubahnya. 3. 3.

Contoh : Terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya. Tidak adanya shaum Sya'ban. Contoh lain. hingga apa bila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau telah batal maka berdasarkan istishab wudhunya dianggap masih ada. Misalnya. yaitu akad. 3. Contoh : Seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya. karena keraguan yang muncul terhadap batal atau tidaknya wudhu tersebut tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang. Anak kecil sampai datangnya baligh. hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya.Istishab yang ditunjukan oleh al-syar'u atau al-Aqlu Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. sampai adanya sebab lain yang menyebabkan hak milik itu berpindah tangan kepada orang lain. sehingga ada dalil yang menunjukan.Istishab al-Hukmi / Dalil umum 57 . 2. Tidak adanya kewajiban shalat yang ke enam waktu. disebabkan adanya transaksi kepemilikan. Hak milik suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus.Terhadap istishab ini Ibnu Qayyim menyebutnya Bara'ah al-'Adam alAsliyah. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu.

5. 4. maka orang ini oleh semua madzhab dianggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang menunjukan bahwa ia telah meninggal dunia.Istishab Washfi Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. Bahwa tatkala tidak ada air. Berdasarkan ayat yang umum ( al-Baqarah : 267). seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. kandungan ayat umum tersebut tetap berlaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Apabila dalam keadaan 58 . Contoh: Apabila seseorang dalam keadaan hidup meninggalkan kampung halamannya. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah Contoh. misalnya hak memiliki warits.Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram.Istishab hukum yang ditetapkan ijma lalu terjadi perselisihan Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. Misalnya. Dan asal dalam sesuatu ( mu'amalah ) adalah kebolehan. oleh karena itu pemilikannya dipandang tetap. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. kewajiban menginfakan hasil usaha manusia dan hasil eksploitasi alam. para ulama fiqih menetapkan berdasarkan Ijma.

ISTIDLAL DENGAN MASHLAHAH MURSALAH 1. Tapi ulama Hanafiyah dan Hambaliyah menyatakan ia harus membatalkan shalatnya. seperti ' Hasan al-Basri'. Bentuk mashdarnya al-Mursalah. 4. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. selama tidak ada dalil yang merubah. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. Tinjauan Bahasa Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan = beres. Kata al-Mashlahah dari kata 59 . Syafi'i. Dan sebagian besar dari ulama mutaakhirin juga demikian. karena ada Ijma yang menyatakan salahnya sah bila dilakukan sebelum melihat air. apa shalatnya harus dibatalkan ? untuk kemudian berwudhu atau shalat itu ia teruskan ? Ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan tidak boleh membatalkan shalatnya. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin.shalat ia melihat ada air.

bermakna : Maslahah Mursalah adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan. akalnya. memerangi orang yang membangkang membayar zakat. Yaitu sesuatu yang Kata mursalah . Bentuk isim maf'ulnya Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. Contoh-contoh Untuk memudahkan memahami maslahah mursalah ini.atau mendatangkan kebaikan. 2.Kebijaksanaan Abu Bakar ra. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. dipakai. jadi khalifah. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. dari kata = diutus. 60 . sesuai dengan akal dan tidak terdapat pada asal. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. dirasakan oleh hukum. berarti prinsip kemaslahatan. = mengutus. = keberesan. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. dikirim. dipergunakan. Juga dapat berarti. dapat dilihat dari contoh: 1. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat. keturunannya dan hartanya. jiwanya. menunjuk Umar ra. kemaslahatan. dalam memushhafkan Alquran.

Tindakan ulama-ulama Malikiyah menahan dan mengasingkan orang yang tertuduh agar dia mengaku apa yang telah diperbuatnya. 6. ra.Putusan Umar bin Khatab tentang mengadakan peratudan berbagai pajak.dll.Putusan Usman bin Affan ra. yang mencuri karena lapar dan masa paceklik.Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah. memberantas kaum syi'ah Rafidhah yang telah berlebih-lebihan dalam kepercayaan dan tindakan mereka. agar mudah dibaca dan tidak salah membaca. tentang menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf. 3. 5. dari nash Alqur’an dan Al-Sunnah 61 . Syarat-syarat Para ulama terdahulu seperti Asyatibi telah memberi persyaratan terhadap mashlahah mursalah yang kemudian diteruskan oleh ulama-ulama berikutnya. 3. dan juz’I yang qath’I wurud dan dalalahnya. 4.Usaha Ali bin Abi Thalib.Adanya penjara bagi orang jahat. 7. lembaran-lembaran yang lain. untuk mengurangi kejahatan dan menyiarkannya dan kemudian membakarnya kemadharatan. Abdul Wahab Khalap dan Abu Zahrah misalnya memberi persyaratan: a.2. 8.Upaya Abu al-Aswad al-Du'ali dan Khalil bin Ahmad al-Nahwi dalam memberi harakat pada Alquran. dan putusan beliau tidak menjalankan hukum potong tangan terhadap pencuri.Dicetaknya mata uang untuk memudahkan dalam bermuamalah. dalil-dalil kulli.

hifdu nasal. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimnulkan memadharatan dan kerusakan.Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar.Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional.Dilihat dari kepentingannya 1). 3).Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’i. artinya harus ada penelitian dan pembahasan.Maslahah Hajiyah. Misalnya. yang disebut juga dengan mashlahah mu’tabarah. Macam-macam Mashlahah a. 2). misalnya hifdulmal. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud.Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. 2). Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. b. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud. kemashlahatan ini diakui oleh para ulama. hifdun nafsi.b. Ini kembali kepada yang lima. 4. keturunan dan harta. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan.Dilihat dari sumbernya 1).akal. 62 . yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar ( mashlahah dharuriyah).Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur’an dan Al-Sunnah. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’I ini.Kemaslahatan tersebut bersifat umum. jiwa. hifdul aqli dll. d. Mashlahah Dharuriyah. memelihara agama. dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan.

tidak membunuh anak-anak. yaitu: 1) lafadh mengisyaratkan akan mengerti untuk tidak menyakiti yang lain. 5. Dalam uqubah/ jinayat boleh menolak hudud karena subhat. dengan berdasar pada firman Allah swt. Kehujahan mashlahah mursalah.dalam ibadah boleh qashar shalat. dan ini mashlahah 63 . berburu. tidak memberikan sesuatu melebihi batas kemampuan. buka shaum bagi yang safar. isyarat obat bagi keraguan. 2) Lafadh yang sangat besar. makai pakaian yang bain waktu akan shalat. Dalam adat. menjaga najis. Abdul Hamid Hakim menyebytkan bahwa syara memperhatikan kemashlahatan secara umum. dan memberi petunjuk terhadap jalan yang benar. pakai yang indah-indah. wanita dalam peperangan. menjaga adat makan dan minum.Lafadh memberi isyarat akan akhir dari kemashlahatan. Dalam muamalah. 3). Misalmya dalam hal ibadah menutupi aurat. makan.Mashlahah Tahsiniyah. 3). yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. boleh jual beli salam. Dalam muamalah. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafadh yang ditunjukannya. Dalam uqubah. Dalam adat. tidak berbuat curang dalam timbangan.

Lafadh Ini juga menunjukan bahwa Alqur’an dengan segala kemanfaatannya lebih bermashlahah daripada semua yang mereka kumpulkan.Menurut sebagian ulama Maliki dan sebagian ulama Syafi’I. 2). Maka dengan petunjuk dan isyarat itu semua bahwa syara mehendakaki dan memperhatikan kemashlahatan bagi mukallafnya. 6). Untuk ini Imam Al-Qarafi berkata: 64 . jika seorang peneliti menemukan kesulitan tentang hukum sesuatu. Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah tidak menjadikan mashlahah mursalah sebagai hujah. maka lihatlah pada mashlahah dan madharatnya. Ucapan kebahagiaan dan selamat menunjukan akan kemashlahatan. Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata. 1). tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.Di antara ulama yang paling banyak menggunakan mashlahah mursalah ialah Imam Malik.4)Lafadh memberi isyarat bahwa tidak ada kemashlahatan yang sangat besar kecuali datang dari Allah swt. 3).Lapadh memberi isyarat akan ucapan bahagia dan selamat atau tahniah. 5). Di antara para ulama ushul ada yang menerima dan ada pula yang menolak berhujah dengan mashlahah mursalah.Ulama-ulama syafiiyyah.

artinya mencari yang lebih baik. – Secara Istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : 65 . ISTIDLAL DENGAN ISTIHSAN 1. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan Dalam Alquran dijumpai kata itu. Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata – – artinya mencari kebaikan. karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan anata satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat.Sesungguhnya berhujah dengan mashlahah mursalah dilakukan oleh semua madzhab.

3. karena ia mempunyai hak menggunakan harta anaknya untuk membiayai keperluan hidupnya. Bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya kewarung untuk membeli sesuatu ?. Berdasarkan Istihsan anak kecil tersebut boleh membeli barang-barang yang kecil yang menurut kebiasaan tidak menimbulkan kemafsadatan. Seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum. Istihsan yaitu berpindah dari qiyas pada qiyas yang lebih kuat 2.Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. apabila ia sudah dewasa dan berakal. Macam-macam Istihsan Istihsan terbagi kepada dua bagian : 66 . Bila seorang anak menitipkan barang kepada bapaknya. Seseorang yang dititipi barang harus mengganti barang yang dititipkan kepadanya apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. b. maka berdasarkan Istihsan si bapak tidak diwajibkan untuk menggantinya. Contoh Istihsan Untuk memudahkan memahami Istihsan di bawah ini disajikan contoh: a. kemudian barang tersebut digunakan oleh bapaknya untuk membiayai hidupnya.

maka dalam hal ini tidak perlu untuk terrinci. air minum dan hak melewati. Dalam qiyas jalli. karena akan membawa pada fitnah. b. Dalam qiyas khafi . hak perairan.a.Mengecualikan hukum juz’i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). Dalam hal wakaf tanah. Contoh istihsan yang mengutamakan qiyas juz’i dari qiyas jalli. bahwa wanita itu aurat (aib. lantaran kedua-duanya sama-sama melepaskan hak milik dari pihak pemilik. Dalam qiyas jalli – Wakaf diqiyaskan kepada jual beli. Contoh –contoh: 1). menyewakan tanah lumpur dengan tidak disebutkan semua itu. Memandang aurat wanita diqiyaskan kepada ‘wanita itu aurat’ dilihat dari sama – sama akan 67 . cela ) . Karena wakaf itu diqiyaskan kepada jual beli maka dalam wakaf pun harus jelas terinci.Dalam jual beli mesti jelas terinci tertulis jenis-jenisnya. Karena wakaf diqiyaskan kepada sewa – menyewa. Adapun segi istihsannya adalah mengutamakan qiyas khafi. air minum dll sekalipun tidak disebutkan dalam perjanjian. walaupun tidak disebut. karena pada keduanya dimaksudkan pengambilan manfaat. Tentang wanita.Wakaf diqiyaskan kepada sewa-menyewa. Dalam hal ini tidak mesti terrinci. berarti tanah lumpur itu pun termasuk wakaf. Dengan demikian maka apabila seseorang yang berwakaf telah mewakafkan sebidang tanah pertanian.Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. Karena yang dimaksud dengan wakaf adalah pemanfaatan barang yang diwakafkan kepada pihak yang menerima wakaf. Contoh lain. Dengan kata lain masalah pengaiaran. maka termasuk di dalamnya.

Orang yang mencuri harus dipotong tangannya. Maka diambil hukum yang kedua. kecuali pencurian itu dilakukan pada saat kelaparan. mengqiyaskan melihatnya seorang dokter pada sebagian aurat wanita saat mengobati/ memeriksa. Hukum yang juz’i. Maka qiyas khafinya. Istihsannya untuk kelangsungan dan tidak hancur.Dalam hukum yang bersifat umum. b. d. Maka diambil hukum yang juz’i. dibolehkan muzar’ah = nengah sawah. Diperbolehkan melihat sebagian aurat wanita karena adanya hajat / keperluan. Istihsannya. maka hukumnya haram. Jika Ia mewakafkan hartanya untuk kekekalan. c. barang belum ada. dari sisi adanya keperluan dan jika tidak. Kehujahan Istihsan 68 . Maka Istihsannya mengambil hukum yang ke dua. Istihsannya. kepada melihat aurat wanita karena ada hajat. 4. tapi barangnya dikirim kemudian). Pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhithbah untuk mengekalkan pada perjodohan. tidak sah jual beli pada saat terjadi. 2). termasuk pada jenis jual beli Gharar. Umar menyatakan. mengutamakan qiyas khafi dari qiyas jalli. jika tidak dilakukan akan membawa kesulitan. maka boleh . dibolehkannya jual beli salam ( jual beli dengan pembayaran lebih dahulu.Dilarang mendekati zinah. Maka hukumnya boleh. menimbulkan masyaqqah. karena sangat dibutuhkan dan telah jadi kebiasaan.Orang yang di bawah perwalian tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kaarena takut hancur.membawa fitnah.Contoh mengecualikan hukum juz’i daripada kulli a. Dalam qiyas khafi. dibolehkan ijarah = sewa menyewa. termasuk di dalamnya memandang wanita.

Malikiyah dan sebagian ulama Hanabillaah. tetapi masih mebatasinya. Sedangkan Imam Syafi’i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. Beliau berkata Barang siapa yang mempergunakan Istihsan berarti dia telah membuat syariat baru. bahwa istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar’i yang umum dalam peristiwaperistiwa yang dikemukakan. 69 . Hambali dan Maliki juga memakainya. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. dengan alasan” Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu.Menurut ulama Hanafiyah. Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri.

yang didak dijelaskan dalam ayat atau hadits.ISTIDLAL DENGAN QAUL SHAHABY 1. 70 . yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahaby.

Kandungan itu tidak berdiam diri dalam perut ibunya lebih dari dua tahun berdasar ukuran yang bisa merubah bayang-bayang alat tahun. Oleh karena itu. perihal bagian bebrapa orang nenek yang mewarisi bersama-sama ialah 1/6 harta peninggalan yang kemudian dibagikan rata antara mereka itu. tidak lebih sedikit pun.Keputusan Abu Bakar ra.Perkataan Aisyah ra. tersebut merupakan hukum yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena tidak mendapat perlawanan dari shahabat. Contoh Qaul Shahaby Di antara contoh dari qaul shahaby adalah : a. bahkan tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin dalam masalah itu. Oleh karena itu. bahwa maksimal waktu mengandung itu dua tahun.Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. Ini bukanlah semata-mata hasil dari ijtihad dan penyelidikan beliau sendiri. Keterangan Aisyaah ra. apabila ketentuan tersebut dapat diterima. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. hukum yang ditetapkan oleh shahabat Abu Bakar ra. Tidak ada shahabat yang membantah keputusan Abu Bakar ra.pun memutuskan demikian. dalam waktu yang panjang. beriman kepadanya. b. tersebut. bahkan dalam masalah yang sama Umar ra. niscaya ketentuan itu bersumber dari apa yang telah didengarnya dari Rasulullah saw. biarpun menurut lahirnya adalah ucapan Aisyah sendiri. 71 . mengikuti serta hidup bersamanya. 2. tentu ia dengarnya dari Nabi saw. tentang bayi dalam kandungan.

Dalam ayat di atas ada perintah untuk beri’tibar. Abu Bakar al-Razi. yang dimaksud dengan I’tibar di sana adalah qiyas dan ijtihad. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujah atas shahabat lainnya. sedangkan dalam hal mujtahid sama saja. dengan alasan 72 . juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah. tidak mungkin ada perintah seperti itu dan mereka saling mengikuti ijtihad yang lain. b.3. Pendapat ini berasal dari Jumhur Asy-Ariyah. Dan juga shahabat kadang tidak sama dalam berijtihad. Abu Bakar juga Umar kadang menganjurkan agar mereka mengambil ijtihadnya sendiri. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a. Imam Syafi’I dalam madzhab yang jadid / baru. begitu juga Imam syafi’i dalam Madzhab qadimnya. Dengan alasan firman Allah swt. Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah. Mutazilah. apakah mujtahid itu shahabat atau bukan shahabat. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Ini berarti diperintah untuk berijtihad. Seandainya madzhab shahabat itu bisa jadi hujah. termasuk juga Imam Ahmad bin Hanbal. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujah atas Ta’biin dan orang-orang yang telah datang setelah tabi’in. Pendapat ini berasal dari Imam Malik.

Imam Malik. 73 . maka pendapat shahabat didahulukan. Ulama Hanafiyah. Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw. Qaul Qadim Imam syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti. menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari 6 bentuk: 1). pasti engkau mendapatkan petunjuk. dengan alasan antara lain Menurut pendapat ini. c. Nabi saw. Allah swt secara tegas memuji para shahabat.Ayat di atas perintah Allah kepada para shahabat di saat itu. sedangkan melakukan amar ma’ruf adalah wajib. Shahabatku bagaikan bintang-bintang. kaarena merekalah yang pertama kali masuk Islam. Ibnu Qayyim berkata. bersabda ikutilah dua orang ini setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. karena itu pendapat shahabat wajib diterima. agar melakukan ma’ruf.

apa 74 .2). Maka ini tidak bisa jadi hujah. 6. Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat. bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. akan tetapi bila tidak menemukannya. Dalam artinya. Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. ISTIDLAL DENGAN SADDU DZARA’I 1. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. atau jalan. 3). Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur’an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4). 5.dan maksudmaksudnya. bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. Pengertian bahasa Kata bahasa syariat Dzariah berarti artinya yaitu media. Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw.

dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. Contoh-contoh 75 . Artinya. Dan kata artinya = mencegah atau menyumbat jalan. 2. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. Artinya. jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. jalan kepada wajib. ini disebut Terdapat definisi lain yang menyebutkan. Dengan kata lain. Dzariah adalah media yang dhahirnya mubah. ada jalan yang menyampaikan kepada yang dilarang.yang menjadi media / jalan kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan. mendorong kepada perbuatan yang terlarang. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. dan ini harus dicegah atau disumbat supaya yang dilarang tidak terjadi. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. Jika dilihat dari jalan yang menyampaikan kepada tujuan. ini harus dibuka supaya yang diperintah dapat mudah dilakukan. wajib pula. maka terbagi kepada dua. atau. Artinya. disebut Dan ada jalan yang menyampaikan kepada yang diperintah.

Meninggalkan jual beli pada waktu shalat jum’at. maka akan mendorong pada perbuatan yang terlarang. agar mesjid dapat dibangun. untuk menyumbat jalan terjadinya perzinahan. hukumnya wajib.Contoh fathhu dzariah 1). Macam-macam Dzariah 76 . 2). lalu berdandan sedang dia dalam keadaan Iddah. 3). Melihat aurat perempuan dilarang. Dengan demikian yang dilihat dari dzariah ini adalah perbuatan-perbuatan yang menyampaikan kepada terlaksananya yang wajib atau mengakibatkan kepada terjadinya yang haram.Untuk memperjelas Saddu dzariah dan contoh-contoh di bawah ini. dapat mengakibatkan timbulnya gangguan lalu lintas. 3).Contoh Sanddu Dzariah 1). fathu dzariah. Mencari dana untuk membuat mesjid. 2). b. adalah diperintah dan hukumnya wajib pula. Menebang dahan pohon yang meliuk di atas jalan umum. 3. agar dapat melakukan shalat jum’at adalah wajib. Wanita yang ditinggal mati suaminya. Berusaha agar dapat melakukan ibadah haji . dapat dilihat dari a.

c. Misalnya. Ini halal karena untuk dibuat khamer adalah jarang. 77 . a. Berzina menjadi perantara adanya percampuran dan ketidak pastian status nasabsesorang. b. Menjual anggur pada pabrik pembuat khamer. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti Misalnya. ini akan menimbulkan fitnah. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. berjualan makanan yang tidak menimbulkan bahaya.Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan. menanam anggur sekalipun akan dibuatkan khamer. Meminum khamer mengakibatkan hilangnya akal. Misalnya. menjual senjata di waktu perang. menggali sumur di belakang pintu rumah di jalan gelap yang bisa membuat orang yang akan masuk rumah jatuh ke dalamnya. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang.

yaitu akad nikah yang dilakukan oleh orang ke tiga terhadap janda yang ditalak tiga. Misalnya. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. Nikah Tahlil misalnya. 4. sekalipun kata itu bagus maknanya bagi orang mu’min yaitu ‘ Sudikah kiranya engkau memperhatikan kami’. karena perbuatan yang demikian itu menjadi sebab mereka akan membalas memaki-maki Allah swt. pernikahan itu tidak berlangsung lama. Menghibahkan sebagian hartanya kepada seseorang di akhir tahun zakat untuk menghindari kewajiban zakat. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. Ayat-ayat Alquran Dalam ayat ini Allah melarang orang mu’min memaki-maki orang musyrik atau tuhan yang mereka sembah. dengan tujuan istri yang baru dicerai itu halal dikawini kembali oleh bekas suaminya yang pertama.d. Bentuk dzariah ini pandangan Imam Malik dan Ahmad adalah haram dan harus disumbat. Jual beli yang menjadi sarana bagi riba. Allah melarang kaum mu’minin berkata pada Rasulnya kata ra’ina. Kehujahan Saddu Dzara‟i a. lalu diceraikan oleh orang ketiga dengan keadaan belum dicampuri. Namun bagi orang Yahudi menjadikan kata itu sebagai media 78 .

karena memotong tangan pencuri pada waktu perang membawa akibat tentara-tentara lari menggabungkan diri dengan musuh. 2). Karena itu dilarang oleh Allah swt. Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang. Tidaklah dipotong tangan pada waktu peperangan. Abu Daud. b. Larangan itu untuk menjaga supaya yang diharamkan tidak muncul. Contoh lain dari Rasulullah saw. 1). demikian juga jika mencaci ibu orang lain. dan ini termasuk pada ikhtiyath. karena cara demikian bisa berakibat jatuh kepada riba. Nabi bersabda. dan ditangguhkan sampai selesai perang. 79 . Sunah Rasulullah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa orang mu’min dilarang mencaci maki ayah seseorang. Agar yang haram tidak muncul. lalu nanti orang yang dicaci maki ayahnya itu berganti mencaci-maki ayahnya. 3). dengan arti bahasa mereka. Nabi melarang membunuh orang Munafiq. yang artinya ‘ bodoh sekali kamu’. karena membunuh orang munafiq bisa menyebabkan Nabi dituduh membunuh shahabat-shahabatnya sendiri yang muslim. Nabi melarang kepada kreditur mengambil atau menerima hadiah dari debitur.untuk mengejek Rasulullah saw. R.

Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari’ah. memperkaya diri dan keluarganya. 80 . jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah / tujuan. c. 5). Hal ini untuk menjaga fitnah bahwa Nabi saw. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para puqaha memakai dasar ini. 3).4). sedang Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka. Fathhu dzara’i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath’i. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah. dzariah masuk kedalam qiyas. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. tidak memelihara harta anak yatim karena takut dhalim atas dasar saddu dzariah. Menurut Syafi’i. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. Jadi. Nabi saw. jelas menyebabkan terlantarnya harta-harta anak yatim. Contoh lain. melarang penimbunan karena penimbunan itu menjadi media kepada kesempitan atau kesulitan manusia. maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. kecuali apabila ia sebagai ‘amilin. Ada ulama ushul yang menyebutkan 1). 2). Saddu Dzara’i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. Nabi melarang fakir miskin dari Bani Hasyim untuk menerima bagian zakat.

sesuai firman Allah : Oleh karena yang menurunkan syareat samawi itu satu yaitu Allah swt. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar’un man qablana. gajih sapi dan kambing. Maka syareat tersebut pada dasarnya adalah satu. Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari’at samawi pada asalnya adalah satu. tetapi juga melihat kepada kemanfaatan umum dan menolak kemafsadatan yang bersifat umum pula. Karena itu perinsif saddu dzara’i tidak hanya melihat kepada niat dan maksud perorangan. meskipun kemudian Allah swt. menyebabkan hilangnya kemashlahatan untuk manusia. 2. Nabi Musa. dan Nabi Isya as. Telah mengharamkan beberapa hal kepada beberapa kaum seperti kepada Yahudi. Bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem.menolak jadi saksi karena takut dusta. Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syar’ yang telah disyaratkan Allah swt. diharamkan binatang-binatang yang berkuku. 81 . yaitu” Artinya. ISTIDLAL DENGAN SYAR’UN MAN QABLANA 1.

sering pula diceritakan dalam Alqur’an dan al Sunnah kepada umat Islam. Ceritra tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masingnya mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. seperti qishash. Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah ( hubungan manusia dengan Allah swt.Juga ditetapkan bahwa dosa tidak bisa dimaafkan kecuali dengan membunuh diri. Apabila Alqur’an atau hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah swt kepada umat sebelum umat Islam (umat Muhammad saw). Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebahagian hukum umat-umat yang sebelum kita ( umat Islam ) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebahagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku. dan pakaian yang kena najis tidak bisa jadi suci dengan dicuci. maka 82 . Macam-macam dan kehujahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. kemudian Alqur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. Berbeda dalam perinciannya meskipun intinya sama yaitu menyembah Allah swt. kecuali dengan dipotong kainnya. 3.

kemudian datang dalil syara yang membatalkannya atau menasakh. Lalu syari’at tersebut dibatalkan. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam Demikian juga apabila Alqur’an dan al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyariatkan kepada umat terdahulu. Bahwa seorang yang berbuat ma’siat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila ia membunuh dirinya. 83 . 1) berhenti dari berbuat ma’siat. Untuk ini ada dua pendapat. bahwa pakaian yang kena najis tidak akan dapat disucikan kembali. yang antara lain Taubat menurut syari’at Islam harus memenuhi tiga syarat. dinasakh oleh Alqur’an. karena ada dalil syara yang membatalkannya. 2) menyesali perbuatan ma’siat yang telah dikerjakan. syari’at yang berlaku pada jaman Nabi Musa as. b. maka telah disepakati oleh seluruh ulama.tidak diperselisihkan lagi hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti. 3) berazam tidak akan mengulangi lagi. Misalnya. Dan contoh lain pada jaman Nabi Musa as. Misalnya tentang kewajiban shaum bagi umat terdahulu juga bagi umat Muhammad. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. sebelum dipotong bagian yang kena najis itu. bahwa hukum itu bukanlah merupakan hukum syara bagi kita. Lalu syari’at tersebut dibatalkan dengan Alqur’an dengan Firmannya c.

karenanya umat Islam terikat dengan syariat itu. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. Malikiyah. Syariat sebelum syariat Islam itu. juga syariat yang diturunkan Allah swt. sebagian ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad ibn Hambal menyatakan bahwa apabila hukum – hukum syariat sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasulullah saw. alasan yang mereka kemukakan adalah: 1). bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. Ada ungkapan ulama ushul fiqih yang menyebutkan Syari’at umat sebelum kita. Misalnya - Jumhur ulama yang terdiri atas ulama Hanafiyah. Golongan ini beralasan dengan: - 84 . Dan tidak ada indikasi yang menunjukan pembatalan terhadap syariat tersebut. yaitu Alqur’an bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. syari’at kita juga sepanjang tidak ada yang membatalkan. melalui wahyu. dan tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu.Pertama. maka umat Islam terikat dengan hukum itu.

2). Kedua. menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. Mereka beralasan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu. Mu’tazilah. Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita. Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. dan umatnya. Dan mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah saw. menurut ulama Asy’ariyah. Syi’ah dan sebagian ulama syafi’iyah. karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. Nabi dahulu diutus khusus kepada kaumnya dan aku diutus untuk semua manusia Dengan perbedaan pendapat di atas. kami berikan aturan dan jalan yang terang Dan alasan golongan ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. maka ada hal yang disepakati ulama : 1).2). tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita. Demikian juga hukum-hukum yang 85 .

sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum. Berdasar pada 4). maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama. Bahwa Rasulullah saw. Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. misalnya daging bagi Bani Israil. Bahwa Rasulullah saw. Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alqur’an. tetap berlaku bagi umat Islam. 2). karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. berdasarkan firman Allah. seperti keharaman beberapa makanan. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1). bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahiem as.dikhususkan bagi umat tertentu. Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. 3). 4. tidak berlaku bagi umat Islam. 3). 5). Bahwa Rasulullah saw. Sandaran syariat Nabi saw. 86 . karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan.

dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur’an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. yang dapat diterima akal sehat. Adat didefinisikan dengan” Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional Terdapat beberapa definisi tentang ‘Urf ‘ yang dikemukakan oleh para ulama ushul fiqh. ISTIDLAL DENGAN URF 1. bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath’i. Menurutnya. menurutnya. karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as. Para ulama ushul Fiqih membedakan antara ‘ Adat ‘ dengan ‘ Urf ‘ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Bahkan ada yang berpendapat. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. Menurut kebanyakan ulama ‘ Urf’ dinamakan juga ‘ Adat ‘. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat. antara lain : 87 .6). bahwa Rasulullah saw. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem.. Ibnu Qusyairi berkata. karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. Pengertian Secara etimologi ‘Urf’ berarti sesuatu yang dipandang baik.

dari Cakupannya. Macam-macam „Urf‟ Urf Keabsahannya. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. Dengan demikian ‘Urf’ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat. yaitu itu dapat dilihat dari obyeknya. dan dari 1). sedang anak perempuan tidak masuk dalam lafadh itu. Padahal kata daging mencakup seluruh daging yang ada. 2. a. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu urf berupa perkataan dan urf yaitu urf berupa perbuatan. Dari sisi obyeknya. Demikian juga kata Daabah.Urf adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. Contoh lain lafadh al-Lahm / daging. Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafadh atau ungkapan tertentu. digunakan untuk binatang berkaki empat. Yang dibahas ulama ushul fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah ‘Urf’ budan ‘Adat’. dalam perkataan sehari-hari khusus bagi daging sapi atau kambing. maka itu bukanlah urf. Misalnya kata al-walad menurut bahasa sehari-hari hanya khusus bagi anak laki-laki saja. 88 . Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain.

Penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. Misalnya. Urf terbagi kepada dua bagian. b. sesuai dengan perkembangan masyarakat. 89 .2). Kebiasaan masyarakat dalam jual beli ada barang yang diantar ke rumah dan ada yang tidak diantar. Urf khash ini tidak terhitung jumlahnya. Misalnya. Kebiasaan masyarakat dalam cara berpakaian yang sopan dalam menghadiri pengajian. urf yang 1). Jual beli mobil. Gono Gini di Jawa. Al-Urf al-Amali. adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. Dari sisi cakupannya. 2). seluruh alat untuk memperbaiki mobil. Urf al-Khash. seperti jual beli di swalayan. kunci-kunci sudah termasuk pada harga jual. tanpa mengadakan ijab-kabul. Al-Urf al-‘Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. dan urf urf yang bersifat khusus. Kebiasaan jual beli mu’athah / yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. Membayar ongkos Bis Kota dengan tidak mengadakan ijab-kabul terlebih dahulu. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. seperti dongkrak. karena harga barang tersebut telah dimaklumi bersama. Misalnya. tanpa ada biaya tambahan tersendiri. bersifat umum. Adanya cacat tertentu pada barang tertentu yang dibeli dapat dikembalikan. Kebiasaan masyarakat tertentu dalam memakan makanan tertentu atau minuman tertentu.

bukan sebagai mahar. Urf harus berlaku selamanya. Kebiasaan seorang yang melamar wanita dengan memberikan sesuatu sebagai hadiah. Kebiasaan dalam pembayaran mahar secara kontan atau hutang. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang.Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara’. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menarik pajak dengan hasil penjudian. Al-Urf al-Fasid. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. dan hakim dalam memutuskan perkara. kebiasaan yang berlaku dalam dunia perdagangan tentang indent. biasa meminum minuman keras. Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’. kebiasaan dalam mencari dana dengan cara mengadakan berbagai macam kupon berhadiah. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. 1). Oleh karena itu.Misalnya. karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib. berlawanan dengan ketentuan syari’at. 3. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath’i.c. c. disyaratkan sebagai berikut : a. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf 90 . juga tidak membatalkan yang wajib. Misalnya. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath’i. b. yaitu 2). Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. dapat dibagi pada dua bagian yaitu yaitu kebiasaan yang dianggap benar. misalnya biasa makan riba. dan kebiasaan yang dipandang rusak.

pada waktu mewakafkan. Misalnya jual beli Salam ( jual beli pesanan ). d. Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. Mereka beralasan. mendapatkan penduduk jual beli salam tersebut. Mereka beralasan firman Allah - b. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan urf a. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur’an atau hadits. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. Lalu Rasulullah bersabda 91 . e. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari’ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum sya’i. ketika ayat ayat Alqur’an turun.

bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan. Apabila kita perhatikan penggunaan Urf ini. maka hendaklah ditentukan jumlahnya. bukanlah dalil yang berdiri sendiri. sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. 5.Siapa yang melakukan jual beli salam pada kurma. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. takarannya. di antaranya” Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. dan tenggang waktunya. 92 .

Terdapat definisi lain yang di ungkapkan oleh imam al-Jurjani yaitu Ilham adalah sesuatu yang dilontarkan ke dalam hati dengan jalan di tuangkan. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. Pengertian Secaara bahasa Iham artinya = memberi tahukan dan menempatkan.ISTIDLAL „ AL-ILHAM ‘ 1. 2. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain : Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa di jadikan hujah dalam menentukan hukum syara’ dan tidak boleh beramal dengan bedasar kepada 93 . karena itu boleh beramal dengannya.

Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macammacam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. i’lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih / gugahan. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i’lam. Perbedaan antara Ilham dan I’lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I’lam. 94 . Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham.Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu : 8 tersebut di atas dan juga ada dari syaitan seperti pada ayat : Sesungguhnya Syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah Dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh jiwanya. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Bagaimana kamu memutuskan jika dihadapkan kepadamu satu keputusan? Ia menjawab. Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata “ Segala puji bagi Allah yang telah mencocokan (pendapat) seorang utusan dengan Rasulullah terhadap apa yang Rasulullah rido’i. Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah.QAIDAH FIQHIYYAH DASAR Agama Islam adalah agama Syariah artinya agama yang berdasarkan pada hukum dalam melaksanakan ibadahnya. Sumberhukum Islam diambil pertama dari Alkitab. Ijtaihad sebagai sumberhukum yang ke tiga dapat didefinisikan : 95 . Hal ini seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits. bagaimana jika tidak kamu temukan dalam Kitab Allah? Ia menjawab aku akan putuskan dengan Sunnah rasulullah. Ketika diutus ke Yaman. Nabi berkata. Muadz . yaitu Berkata nabi Saw kepada Muadz ra. Jika tidak kamu temukan dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan menyia-nyiakan. saat Rasulullah bertanya pada seorang sahabta. Nabi berkata. kedua dari Al –Sunnah dan ketiga dari hasil Ijtihad.

Di dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya melakukan langkah-langkah. Memahami Ilmu Ushul Fiqih.Memahami Ilmu – ilmu Bahasa Arab 3). dan mujtahid itu memiliki tingkatan-tingkatan. dan macam-macamnya yaitu 1). 3) takrir nabi. 5) Qiyas Dan jika mendapat kesulitan 6) Tawakuf / berpegang pada asalnya Qaidah-qaidah Fiqhiyyah adalah qaidah yang dibuat oleh para ahli Ijtihad yang diistinbath dari Alquran atau hadits Rasul untuk memudahkan dalam berijtihad untuk 5) mujtahid Muwazin. 6)Mujtahis Muhafizl. 4) Ijma shahabat. mengkaji dohir nash quran dan sunnah. 3). Mujtahid 96 . Dan ijtihad sebagai sumberhukum yang ke tiga didasarkan kepada sebuah hadits nabi : Seseorang dapat berijtihad apabila dapat memenuhi syarat-syaratny adapun Syarat Ijtihad:! 1)Memahami Nash – nash al-kitab dan al-Sunnah 2). 4) Mujtahid Murajjih muqallid. lalu mafhumnya 2) mengkaji pekerjaan Nabi. 7). Adapun langkah-langkahnya. Orang yang berijtihad disebut mujtahid. Mujtahid fi al-syar’i.Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan Istinbath ( mengambil kesimpulan / penelitian) dari Kitab dab Sunnah.Mujtahid fi al-Madzhab. 2) Mujtahid Muntashib.

dan siapa yang berutang ia berniat untuk tidak membayarnya kemudian ia meninggal maka Allah berfirman ‘Sesungguhnya aku akan mengambil hak hambaku kemudian diambil dari padanya (yang berutang) kebaikannya lalu di 97 . Dan dalam kaitan ini qaidah itu sangatlah penting sebagai suatu rumus atau patokan dalam berijtihad.menentukan sebuah keputusan hukum. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “NIAT Siapa yang mengharapkan pahala dunia pasti kami akan memberinya dari dunia dan siapa yang mengharap pahala akhiraat kami akan memberinya dari padanya Sabda Nabi SAW : sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang ia niatkan - Siapa yang berutang ia berniat untuk membayarnya maka Allah akan membayarnya pada hari kiamat.

seperti makan.berikan pada kebaikan yang lain. Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya Contoh-contoh: 1. R Al-Tabrani. Wudhu. bisa mendapat pahala karena niatnya. Memeras anggur haram tidaknya tergantung niat 98 . 4. jika ia tidak mempunyai kebaikan di ambil dari kejelekan yang lain lalu di bebankan kepadanya - Siapa yang datang ke tempat tidurnya ia berniat untuk shalat kepada Allah. karena ia berniat untuk zinah 3. Suatu pekerjaan yang halal bisa jadi haram karena niatnya. 2. shalat. Seperti haramnya seorang bercampur dengan istrinya. Sesuatu yang mubah. Niat orang mu’min lebih baik dari pada amalnya. Hikam : Niat tanpa amal lebih baik dari pada amal tanpa niat. dan shaum dan yang lainya mesti ada niat. kemudian matanya mengalahkan dia (tidur nyenyak) sampai pagi hari maka Allah mencatat baginya apa yang ia niatkan sedangkan tidurnya merupakan sadaqah dari tuhannya. mandi. minum.

5.Orang yang mengutangkan mengambil barang orang yang berutang, tergantung niatnya; apakan 1. memperingatkan atau mencuri. (khaliyah=bebas) tergantung niat.

Kinayah ( sindiran) kata thalaq ‘

Artinya : Dalam amal yang disyaratkan menyatakan / menghadapkan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amal.

Contoh-contoh; 1. Kesalahan dari shalat dhuhur kepada shalat ashar dan sebaliknya. Kalau shalat dhuhur niat shalat ashar maka tidak sah 2. 3. 4. 5. 6. Kesalahan dari kifarat dhihar kepada kifarat kothli Kesalahan dari rawathib dhuhur kepada rawathib ashar Kesalahan dari shalat idul fitri kepada shalat idul Adhha Kesalahan dari shalat dua rakaat ihram kepada dua rakaat thawaf Kesalahan dari shaum arafah kepada shaum asyura.

Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Contoh-contoh ;

99

1. Seseorang berniat shalat mengikuti si zaed ternya si umar maka tidak sah mengikutinya, kareana ia tidak ada niat mengikuti kepada si umar. Dengan mengikuti kepada si Zaed dan ternya si Umar dengan tidak pakai niat. Maka dalam shalat berjamaah tidak disyaratkan menentukan Imam tapi hanya niat shalat berjamaah saja 2. Seseorang menyolatkan mayit kepada si Bakar ternyata si Khalid, atau berniat kepada perempuan ternyata laki-laki, maka tidak sah, maka dalam shalat mayit tidak disyaratkan menentukan mayitnya kecuali hanya niat shalat mayit saja. 3. Seseorang menshalatkan mayit. Maka dalam hal ini tidak perlu ditentukan jumlah mayitnya. Kalau ia menentukan jumlahnya 10 oarang misalnya ternyata lebih, Maka Ia harus mengulangi shalatnya secara keseluruhan karena di antara mereka ada yang belum di shalatkan, sementara mereka itu tidak jelas 4. Tidak perlu seseorang menetukan jumlah rakaat dalam shalat, kalau Ia niat shalat dhuhur lima rakaat atau tiga maka tidak sah 5. Seseorang menetukan zakat hartanya yang masih ghaib yang belum hadir di hadapannya. Maka tidak boleh.

Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat

Contoh-contoh :

100

1.

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat, maka kalau ia berniat shalat dhuhur di Mesir ternyata di Mekah maka tidak batal shalatnya karena niatnya masih ada, sedang menentukan tempat tidak ada hubungan dengan niat shalat

2.

Kesalahan dalam menentukan waktu shalat, kalau niat shalat ashar hari kamis ternyata hari jumat maka tidak batal shalatnya

3.

Kesalahan Imam menetukan orang yang shalat dibelakangnya, kalau berniat mengimami si Zaid ternyata si Umar maka tidak madharat karena tidak disyaratkan kepada Imam menentukan mamum dan tidak niat mengimami

Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan

Contoh-contoh: 1. Kalau nama istrinya Thaliq dan nama hamba perempuannya Hurrah, lalu Ia berkata Wahai Thaliq atau Wahai Hurrah. Kalau ia bermaksud mentalaq atau membebaskan maka jatuh talaq dan bebas atau hanya bermaksud memanggil maka tidak jatuh talaq dan tidak bebas. 2. Kalau seseorang membaca dalam shalat bacaan Alquran, dan tidak bermaksud yang lain maka sah bacaannya. Dan jika bermaksud memberi pemahaman kepada yang lain maka batal. Dan jika memuthlakan, menurut pendapat yang sah maka jadi batal.

101

maka janganlah keluar dari masjid. Jika seseorang mengkaitkan niat kepada kata ‘insyaAllah’. maka hendaklan ia lempar yang diragukan.3. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “SYAK Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu dalam perutnya. dan ia ambil yang ia yakin. lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak. sehingga ia mendengar sesuatu atau mencium baunya. KAIDAH-KAIDAH Artinya: Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Contoh-contoh : 102 . kalau ia bermaksud menggantungkan niatnya maka batal. jika tabaruk(mengharapkan berkah) maka tidak. jika ia memutlakan maka batal. Apabila seorang dari kamu meragukan shalatnya. tiga atau empat. lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan.

Siapa yang ragu dalam shalat apakah tiga rakaat atau empat. Suami istri bertengkar dalam hal tamkin. Sepasang Suami istri dalam berumah tangga sudah cukup lama. Siapa yang makan akhir malam dan ragu dalam terbitnya pajar. Maka ucapan yang benar adalah ucapan penjual karena pada asalnya sucinya air 103 . Siapa yang yakin bersuci dan ragu dalam berhadats maka ia itu suci Siapa yang yakin berhadats dan ragu dalam bersuci maka ia itu berhadats Menurut pokok. 4. sah saumnya . maka tidak wajib nafaqah padanya karena nafaqah itu adanya kemampuan 5. Seseorang membeli air dan mengaku tidak bersih dan ingin mengembalikannya. Siapa yang makan akhir siang tanpa ijtihad dan ragu dalam terbenamnya matahari batal saumnya karena pada pokoknya tetap pada waktu siang 3. karena pokonya tetap pada waktu malam 2.1. maka ucapan yang benar adalah ucapan suami karena tidak adanya kemampuan . 2. memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang Contoh-contoh : 1. Tiba-tiba istri menggugat tidak pernah disandangi dan di nafaqahi oleh suaminya. 3. Sebab menurut keadaan semula sebelum terjadi akad pernikahann kewajiban memberi sandang dan pangan tidak ada bagi sang laki-laki. maka tentukan yang tiga karena itu yang diyakini. Gugatan itu di menangkan.

kemudia anak itu mati . 2. Jika seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat memberikan gantinya dan kemudian mereka berdua bertengkar tentang ujud penggantiannya. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian Contoh-contoh: 1. maka yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menerima hadiah. kemudia lahir anak dalam keadaan hidup kemudian lewat waktunya tanpa ada sakit. maka yang dimenangkan adalah orang yang merasa dirugikan.Pokok itu bebas tanggung jawab Contoh-contoh : 1. 104 . Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan. maka tidak ada tanggungjawab karena dhahirnya ia mati karena sebab yang lain dan itu yang lebih dekat pada kematian. Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman. 3. Jika dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusaka. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa. Sebab menurut asalnya ia bebas dari tanggungan memberikan gantinya. Seseorang memukul perut yang hamil.

Seseorang membeli hamba sahaya kemudian ia sakit dan mata maka tidak boleh dikembalikan pada penjual. maka wajib mandi dan mengulangi shalat setelah tidurnya. . KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „KERINGANAN‟ Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. Seseorang mendapatkan mani dan tidak merasa ihtilam. 3. Dan pendapat lain tanggungjawabnya karena terbukanya sangkar menentukan terbangnya burung.2. Sabda Nabi saw. Seseorang membukakan sangkar pintu burung. karena itu yang lebih dekat waktunya pada kematian. kemudian terbang seketika. karena itu waktu yang paling dekat padanya 4. Dan jika burung diam kemudian terbang maka ia tidak bertanggungjawab untuk mencari burung. karena sakitnya bertambah maka terjadi kematian karena bertambahnya itu. maka tanggungjawab ia untuk mencari. Aku diutus dengan membawa agama yang penuh kecendrungan dan toleransi / kemurangan. dan tidak boleh menyandarkannya kepada yang semula. 105 .

4) kesukaran. lupa. sakit . perubahan. pengurangan. Nabi ditanya. keringanan mengakhirkan. 2). 5) Macam-macam keringanan 1). keringanan kemurahan. 7). 3).Thabrani Sebab-sebab timbulnya keringanan 1). 6). demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring 106 . Wahai Rasulullah agama mana yang paling dicintai Allah. 4). keringanan keringanan mendahulukan. 6). 3) kurang mampu.Dari Ibnu Abbas. ia berkata yang lurus lagi toleran. R. keringanan pengganti. Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk. 5). keringanan pengguguran. 2) kebodohan. keringanan dengan KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG‟ KESULITAN‟ . 7). terpaksa. bepergian. Kesukaran itu menarik kemudahan Contoh-contoh: 1.

2. Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum 3. Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya 4. Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh 5. Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya Dan yang searti dengan kaidah di atas adalah kaidah :

Sesuatu itu bila sempit menjadi luas

Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

Contoh-contoh : 1. Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh 2. Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan

KAIDAH FIQHIYAH TENTANG”KEMADHARATAN”

107

Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.

Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman

Tidak ada bahaya dan tidak pula membahayakan.

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Contoh-contoh: 1).Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat 2).Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb 3).Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan 4).Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan

Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan

Contoh-contoh: 1).Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain 2).Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain

108

3).Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.

Kemadharatan membolehkan yang terlarang

Contoh-contoh 1).Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak. 2).Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa. 3). Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar. 4). Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum. 5) Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani.

tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG ”DLARURAT”

Artinya: Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan Ukurannnya.

109

2. hendaklah menutupi semua auratnya. Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim. Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa. karena mu’amalat 4. karena diperlukan 3. kecuali yang diperlukan 4. dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. tidak membukanya.Contoh: 1. Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang. Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat Artinya: Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat Contoh: 1. Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar. tidak boleh untuk yang ke dua kali 3. Menegur orang dengan cara sindiran. karena diperlukan orang banyak 2. Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim. Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan khitbah atau 110 . Dan jika cukup satu kali teguran. dipandang cukup.

Boleh membedah perut yang mati jika ada bayi yang diharapkan hidupnya. Contoh-contoh: 111 . sedangkan kebolehan mengambil makanan berdasarkan ijtihad. Karena makan daging yang tidak disembelih kebolehannya berdasarkan nash.Jika yang madharat mendapatkan daging binatang yang tidak disembelih.Boleh bagi yang terpaksa mengambil makanan orang lain dengan paksa.KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „MAFSADAT‟ Apabila dua kerusakan saling berlawanan. 2. Contoh-contoh 1. maka harus diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya.Diperbolehkan dalam agama melakukan qishash. maka yang paling sahih ia memakan daging itu dari pada memakan makanan tersebut. dan mendapatkan makanan yang tidak ada pemiliknya. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan. 4. hudud dan menindas pemberontak / penodong di jalan 3. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya.Boleh memotong pohon orang lain jika diharapkan adanya udara yang berganti 5.

Mencorok-corokan rambut dalam thaharah hukumnya sunnat.Dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban karena sangat sulit. Di sini = Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagi hukum 112 . Tetapi jika bertujuan mendamaikan pertengkaran. Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. diterima akal sehat.Berbohong sifat tercela dan berdosa (mafsadat). dan dibenci bagi yang berihram untuk menjaga dari jatuhnya rambut 3. maka diperbolehkan.1.Tidak diperbolehkan minum khamer dan makan hasil judi. Karena besar mashlahatnya. karena memperhatikan sunnatnya 2. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “ADAT Perintahlan dengan ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik . seperti berdiri waktu shalat karena sakit. al-baqarah:219 2. Contoh-contoh: 1.Menjaga batal shaum diutamakan daripada berkumur dan menghiruf air ke hidung dengan baik. . Sesuai. Karena kemafsadatannya lebih kuat / besar dari pada manfaatnya. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat.

dan makan jamuan karena bertamu.Jual beli yang berlangsung biasa. setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa.Masuk WC. tanpa ijab kabul karena harga barang tersebut sudah ma’lum. Batas mesjid untuk shalat tahiyatul masjid. maka tentang benang dan cat lukis kembali pada kebiasaan.Memberi upah pada penjahit dan upah melukis. Jual beli dengan / mua’thah.Contoh-contoh: 1.Masa lamanya hed / nifas kembali pada kebiasaan 5. maka kembali pada kebiasaan. geratis dan tidaknya 4. yaitu jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang kepada penjual sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. kembali pada urf 3.Seseorang menjual sesuatu dan memutlakannya. yaitu sudah termasuk di dalamnya. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat 113 . Niat dalam shalat kembali pada urf tidak dijaharkan 2. misalnya dg dirham 3. dikembalikan kepada Urf. Contoh-contoh: 1. sesuai dengan harga / nilai yang biasa. maka ditetapkan atas yang biasa 2.

Cara itu terlarang.Ijtihad Abu Bakar terhadap tawanan perang Badar dengan membayar tebusan. 1/3 itu bersama dengan 3. sementara ½ dan 1/6. dengan dikuatkan wahyu al-Anfal : 67. karena berubah kepada riba KAIDAH FIQHIYYAH „IJHTIHAD‟ Ijtihad Itu tidak batal karena ijtihad Contoh-contoh: 1.Jika disuatu tempat terjadi adat orang yang berutang menambah lebih dari utangnya.Ijtihad Umar dapat 1/3.Berubah ijtihad dalam arah salat.Contoh-contoh: 1. tidak perlu mengulangi rakaat atas ijtihadnya yang pertama. Lalu pada bagian lain ijtihadnya berubah 114 . tidak mendapat bagian karena terhabiskan. maka tambah itu tidak menduduki tempat syarat hutang. Lalu ada ijtihad Umar yang memutuskan agar mereka dibunuh. Maka mengambil manfaat tidak termasul dalam syarat gadai 2. Ijtihad Umar yang dijalankan dengan tidak membatalkan ijtihad abu Bakar 2.Gadai di suatu tempat yang mengambil mafaat dari gadaian.

Itsar dalam air thaharah dan menutupi aurat 3. Ia tidak perlu cerai jika hasil ijtihad hakim yang sah.Itsar dalam mencari pengganti da’wah. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „AL-ITSAR‟ Berlombalah dalam kebaikan Mendahulukan orang lain dalam ibadah terlarang Contoh-contoh 1.Seseorang mengkhulu istrinya 3 kali.Itsar dalam shaf pertama. lalu mengawini yang ke 4 kali. 4. baru cerai jika dari perubahan ijtihad hakim. Dan mereka mengutamakan (orang lain) dari diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan Itsar selain ibadah dituntut 115 .4. Pendapat Al-Gajali. Lalu berubah ijtihadnya khulu itu sama dengan talaq.Itsar dalam memenuhi hajat yang miskin dan yatim. Pendapat yang ke dua sebaiknya Ia cerai karena ada dalam haram. karena ijtihadnya khulu itu bukan talaq. 2. tanpa didahului nikah yang lain.

Itsar dalam tijarah agar yang lain dapat laba QAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „ KEBIJAKAN IMAM‟ Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamuakan ditanya dari kepemimpinannya Tindakan pimimpin terhadap rakyat disesuaikan dengan kemaslahatan Contoh-contoh: 1.Itsar dalam pakean 3. sekalipun orang salat dibelakannya dipandang sah.Tidak boleh memilih Imam salat orang fasik.Itsar dalam makanan 4.Tidak boleh wali menikahkan anak tanpa mempertimbangkan kafa’ah.Contoh-contoh: 1. tidak boleh baginya mendahulukan salah satu dalam hal sama kebutuhannya. 116 . Itsar dalam mengambil sadaqah 5. tapi itu dibenci.Tidak boleh memecat pekerja tanpa alasan yang sah 6.jika pemimpin membagikan zakat pada mustahiq. 3. 2.Tidak boleh mengangkat jabatan bagi yang tidak berprofesi dibidangnya 5.Itsar dalam tempat tinggal 2.tidak boleh mendahulukan harta baet Mal yang penting dari yang lebih penting 4.

Syubhat fi al-Fa’il. dilarang. Syub. karena adanya perbedaan dalam penetapan hukum) Contoh-contoh : 1.Seorang tidak dijatuhi hukuman karena salah mengambil barang.tidak dijatuhi had. Kawin tanpa saksi ( Imam malik sah – jumhur tidak) karena diperselisihkan. karena ada dua nash yang berbeda) 3). Fa’il 2. anak dan harta miliknya. yang diduga miliknya tanpa ada keraguan sedikitpun ( misalnya karena percis sama ). Karena Secara umum. mencampuri perempuan yang kawin mut’ah (Ibnu Abbas boleh – Jumhur tidak boleh). Fi mahal 3.boleh – jumhur tidak). Syub. Syub fi thariqah . mencuri harta anak. tapi ada nash lain. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „PENYEMPURNA WAJIB‟ 117 . Syubhat fi Thariq ( pada prosedur . ( pada pelakunya ) 2) Syubhat fi mahal ( pada obyeknya.Tolaklah had dengan syubhat Hukum had gugur karena syubhat Macam syubhat: 1). adalah milik ayah. Kawin tanpa wali ( Abu Hanifah .Tidak dihukum had.

QAIDAH FIQIYAH TENTANG „KELUAR DARI KHILAFIYAH‟ Siapa yang menjaga syubhat sungguh telah membersihkan agama dan harga dirinya Keluar dari perselisihan terpuji Contoh-contoh: 118 .dan mencuci betis waktu mencuci kaki. maka Ia itu wajib pula Contoh-contoh: 1.Wajib mencuci sebagian di atas sikut waktu mencuci sikut . dan perut di atas pusar saat menutupi aurat bagi laki-laki.Wajib mencuci sebagian leher dan kepala waktu mencuci muka 2.Wajib menutupi sebagian lutut.Taqwalah kepada Allah dengan sebenarnya taqwa Apa yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya.Wajib menutupi sebagian wajah saat menutupi aurat bagi perempuan. 4. 3.

1. Tidak menyalahi sunnah. Keluar dari pendapat Imam Ahmad yang menganggap batal. 5.Imam Malik mewajibkan menggosok badan waktu Thaharah dan mengusap seluruh kepala. Jumhur ulama tidak mewajibkan. tapi pekerjaan yang disukai. Keluar dari Imam Abu Hanifah yang mewajibkan.Tidak membuat/memperhatikan khilafiah yang lain 2.Menyukai mengkosor shalat dalam safar jarak 3 mil (84 km). dan yang lain tidak mewajibkan 4. Dikuatkan alasannya dengan dalil ( yang kuat ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RUKHSHAH‟ DAN „AMAL‟ Barang siapa yang terpaksa dengan tidak mengharapkan dan tidak mengulangi maka tidak ada dosa atasnya Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan ma'siat 119 . Keluar dari pendapat Imam Daud yang menyebutkan batalnya Syarat: 1. itu sudah mencari jalan dari perselisihan Ulama 2. dan yang lain tidak mewajibkan 3. Maka menganggap bukan wajib.Tidak menyukai shalat munfarid di belakang shaf.Tidak menyukai memisahkan diri dari Imam Shalat tanpa alasan. 3. Keluar dari Imam al-Tsauri yang mewajibkan.Disukai tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya dalam tempat tertutup.

Wajib shalat taam. 2. qashar. jama shalat dan buka shaum. dan jumlah salam. karena tambah niat. mengharapkan sesuatu.Shalat sunat duduk. 2. tidak boleh beristinja dengan makanan .Memisah misahkan rakaat dalam witir lebih baik daripada menyambungkannya dalam satu salam.Contoh-contoh 1. dan berbaring separah shalat duduk 120 . takbir.Tidak boleh karena safar.separah ganjaran berdiri. seperti.Tidak boleh karena safar. karena istinja dengan batu adalah rukhshah. Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan syak/ ragu Contoh-contoh: 1.Menurut asal. mengharapkan darurat sehingga Ia dapat makan daging babi 3.Wajib mencuci kaki bagi yang ragu-ragu bolehnya mengusap sepatu 2. / sempurna bagi yang ragu bolehnya qashar shalat Pahalamu sebanding dengan kepayahanmu Sesuatu yang banyak pekerjaan lebih banyak keutamaan Contoh-contoh 1.

lebih baik dari 5. tidak lebih baik. karena ada dalil 4.Shalat berjamaah 1 x lebih baik dari 27 x shalat munfarid.Misalnya melakukan haji Ifrad .7.Shalat Dhuha 12 rakaat.Shalat witir 3 rakaat.9 karena haditsnya lebih kuat 3. tidak berlaku jika ada dalil khusus 1.3. lebih baik dari pada haji qiran Catatan:. 2. dari sidkahnya setelah diambil barang untuk mencicipi ( ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG TENTANG „ KEMAMPUAN‟ Apa yang aku perintahkan kepada kamu lakukanlah sekemampuanmu Apa yang tidak dapat dikerjakan seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya Contoh-contoh: 121 . tidak lebih baik dari 8 Karena 8 sering Nabi kerjakan.Bersidekah semua daging kurban.Menjalankan sendiri-sendiri dua macam ibadah lebih baik daripada menjalankan dengan merangkapnya. Kaidah ini untuk umum.

1. wajib cuci jari yang ada 2. jangan ditinggalkan sebagiannnya Yang mudah tidak gugur karena ada yang susah Contoh-contoh: 1. 3.Berkata Imam Syafi. Seperti isyarat bagi ruku dan sujud 8.Yang sanggup menutup sebagian auratnya.i: yang bisu harus menggerakan lidahnya sebagai pengganti dari bacaannya.Yang sanggup membaca sebagian surat al-fatihah dalam shalat.Yang sanggup untuk seorang dalam zakat fitrah. lakukan semampunya 4. tidak gugur wajib shalatnya 3. sebagian ada padanya dan sebagian lain ada pada yang lain / gaib. wajib mencuci yang tidak luka dan mengusap yang luka 122 . lakukanlah Dan yang semakna dengan kaidah ini Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya. jangan ditinggalkan seluruhnya. lakukanlah 5.Yang tidak dapat belajar atau mengajar semua cabang ilmu.yang tidak dapat berbuat baik dengan 1 dinar dan mampu 1 dirham lakukanlah 2.Jika sulit melakukan ruku / sujud dengan sempurna.Yang tidak mampu shalat malam 10 rakaat.yang luka pantang kena air.Yang telah nisab zakat. lakukan apa yang ada 7. dan mampu 4 rakaat.Jika putus sebagian jari. lakukanlah 6.

haram pula memberikannya 2.Haram mengambil hasil riba.Haram dukun.Haram Suap.Haram zina . haram mencari upan untuk dukun 4. haram pula memberikannya 123 .KAIDAH FIQHIYAH „KASAB DARI YANG HARAM‟ Hendaklah ada diantara kamu satu umat yang mengajak pada kebaikan dan menyuruh pada ma’ruf dan melarang pada munkar Apa yang haram melakukan haram pula mencarinya Contoh-contoh: 1.Haram mengambil hadil zina.Haramnya riba. haram mencari uang untuk suap Apa yang haram mengambilnya haram pula memberikannya Contoh-contoh: 1. haram pula mencari harta dengan cara riba 2. haram pula pemberian / pembayaran hasil zina 3.

3.Imam Al-Suyhuti menyebutkan 10 amal yang mengalir setelah mati :1-Ilmu yang disebarkan.Haram mengambil hasil dukun.8. 7. 6. 5.shadaqah Jariah.ikatan baik dengan tempat perbatasan musuh. 124 .Haram mengambil hasil suap. 2./ bikin sungai. 10.Melakukan fardu kifayah lebih baik dari fardu ‘Ain karena menghilangkan kesulitan bagi umat 3.Mengajar Ilmu lebih baik daripada shalat sunat 2.3. 9. haram pula memberikannya QAIDAH FIQIYAH TENTANG KEBAIKAN KONTINU Dan kami menuliskan apa yang tgelah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereke tinggalkan Kebaikan yang berkelanjutan lebih utama dari kebaikan yang pendek Contoh-contoh 1. 4. haram pula memberikannya 4. (rangkuman dari hadits-hadits ).membuat tempat berlindung.membuat tempat berdzikir.bikin sumur.mewaristkan kitab.Do’a anak. menanam kurma. mengajarkan Alquran.

4. Tempat meper maka dimaafkan.maka pada pokoknya dimaafkan 6. Izinnya orang yang meminjamkan kepada yang meminjam untuk memukul hambanya yang dipinjamkan. maka tidak ada tanggungjawab karena lahirnya binasa itu dari hasil izinnya 3. maka tidak ada fidyah padanya 5. Kalau air berkumur melewati atau air menghirup ke dalam hidung melewati tenggorokan. maka menurut pendapat yang sah tidak batal puasanya. kemudian bertambah. maka tidak ada tanggunjawab. kemudian binasa karena pukulan. kalau mengalir pada tempat lain. Memakai wangi-wangian sebelum ihram lalu berjalan ke tempat lain setelah berpakaian ihram. karena itu lahir dari ridhanya QAIDAH FIQIYAH TENTANG HUKUM 125 .QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RIDHA‟ Ridha terhadap sesuatu ridha terhadap apa yang dilahirkan daripadanya Contoh-contoh 1. maka tidak boleh memilih pada yang lebih baik yang tidak aieb 2. Ridhanya suami istri karena aieb. Seseorang berkata potonglah tanganku lalu dilakukan dan terputus.

Haramnya makan racun karena membinasakan. Haramnya hamer karena mabuknya. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „IBAHAH‟ 126 . maka ketika tidak ada sifat mabuknya maka menjadi halal seperti hamer dibuat cuka 2. seperti dibuat obat.Hukum itu berputar beserta illahnya ada atau tidak adanya Contoh-contoh 1. dan apa yang Ia diamkan maka itu dari yang dimaafkan. Nabi bersabda halal itu apa yang dihalalkan Allah dalam Kitabnya. maka apabila hilang yang membinasakannya menjadi boleh. maka apabila diketahui ridhanya menjadi boleh 3. dan haram itu apa yang diharamkan Allah dalam Kitabnya. Masuk rumah yang lain atau memakai pakaiannya maka haram karena tidak ada ridha.

1984 Utsman M. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Raja Grafindo Persada 1996 127 . Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hamid Hakim. Yogyakarta. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta.Asal dalam segala sesuatu itu boleh Contoh-contoh: 1. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. As-Sulam. Mubadi Awalliyah. 1929 Abdul Hamid Hakim. Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sipat-sipat dan ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada binatang haram adalah halal dimakan.1986 Abdul Mujib. 2. Al-Ma’arif. Binatang jerapah adalah binatang yang halal dimakan. Nur Cahaya. 1929 Mukhtar Yahya. karena tidak memiliki sifatsifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya.

Ushul al-Fiqh. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Jakarta. Ilmu Fiqh. 1929. As-Sulam. Bandung. Orba Sakti. Diponegoro.Djazyuli. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Ushul al-Fiqh. 1981 Abdul Hamid Hakim. 1929. Bandung 1993 Al-Khudari. 1929. Maktabah Sa'adiyah Putra. Maktabah Sa'adiyah Putra. Jakarta. 1993. 1958 H. 128 . DDII. Mubadi Awalliyah. 1972 Muhammad Abu Zahrah.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf.A. Jakarta. Asbabun Nuzul. Abdul Hamid Hakim. Dar Fikr al-Arabi. Qamarudin Saleh. Baerut. Dar al-Fikr. Abdul Hamid Hakim Al-Bayan.

Muhammad al-Thahan.arif. 1992. 1985. Al-Ma. 1986 Abdul Mujib. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. Departemen Agama RI.Djazuli. 1984 Utsman M. Yogyakarta.A. Raja Grafindo Persada 1996. Orba Sakti. Bulan Bintang.Munawar Khalil. Dar al-Kitab Arabi. Taisir Mushthalah al-Hadits. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami. 129 . Surabaya. Bandung 1993. 1995. H. Fiqih Ushul Fiqh. Al-Jurjani. al-Harmain. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. Ilmu Fiqh. 1977. Al-Ta'rifat. Bairut. Syafi’i Karim. Mukhtar Yahya. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Nur Cahaya.