HUKUM, SUMBER DAN DALIL

1. Pengertian Hukum Para ahli ushul menta'rifkan hukum dengan :

Perintah / firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan ( perintah dan larangan), atau pilihan (kebolehan ) atau wadh'i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang bagi seseatu hukum ) Dari definisi di atas menunjukan, bahwa yang menetapkan hukum itu adalah Allah Swt. Hanya Allah hakim yang maha tinggi dan maha kuasa. Rasulullah penyampai hukum-hukum Allah kepada manusia. Oleh karena Allah yang menetapkan hukum, maka sumber hukum yang pertama dan paling utama adalah wahyu Allah yaitu Alquran, kemudian sunnah Rasul sebagai sumber hukum yang ke dua, dan sumber hukum yang ke tiga adalah Ijtihad.

2. Pengertian Sumber dan Dalil Secara etimologi ( bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan

1

kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ). Jadi prosesnya ialah : Dalil dalalah - madlul Perintah shalat - Wajib shalat Api dari segi ruang

Aqiemu ash-shalat Asap -

Ada yang terbakar

Dalil dapat dilihat dari berbagai segi : Dari segi asalnya, limgkupnya, dari segi kekuatannya.

a. Dalil ditinjau dari segi asalnya Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam: 1.Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan alSunnah. 2.Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad. Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu: 1. Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini

adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully. Contoh berikut dari dalil kully:

2

Dalil ini disebut dalil kully dari Alquran karena mencakup berbagai macam kerusakan yang dilarang oleh Allah Swt.

Dalil Kully dari hadits ini, menunjukan bahwa perbuatan apapun hendahnya disertai niat, dan amal seseorang akan dilihat dari sisi niatnya.

Artinya: Kesulitan itu membawa kemudadahan. Dalil kully dari Qaidah ini, memberi arti bahwa segala sesuatu yang tadinya sulit akan menjadi mudah. Dalil kulli dari Qaidah kulliyah ini tetap kembali kepada semangat atau didasari oleh isyarat Alquran dan al-Sunnah.

2.Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu, seperti Ayat ini disebut dalil Juz'i, karena hanya menunjukan kepada perbuatan puasa saja.

c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu Dalil Qath'i dan dalil Dhanni. 1. Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :

3

Contoh Dan bagimu ( para suami) separoh dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu. b. Ayat ini tidak bisa diartikan lain. Dalil Qath'i Dalalah. Dan wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya (beriddah) tiga kali quru. kecuali menunjukan bahwa suami mendapat setengah dari harta peninggalan istri jika istrinya tidak mempunyai anak. a. b.kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. 4 . yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw. terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah.Dhanni al-Dalalah. jika mereka tidak mempunyai anak.Dalil Dhanni. Tidak ada ayat Alquran yang dhanni wurud. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan . Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu.Dhanni al-Wurud. Dalil Dhanni. adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad. dan tidak semua hadits qath'i wurudnya. yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah ( Alquran) atau dari Rasulullah ( Hadits Mutawatir). 2.a. Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya. Dalil Qath'i al-Wurud.

3. karena dalil-dalil ini hanya bersifat al-Kasyf wa al-Izhar li al-Hukum artinya hanya menyingkap dan memunculkan yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah. Qiyas. Ishtishhab. Ijma. Dari pengertian dalil yang diungkapkan di atas. Qiyas dan istihsan misalnya. seperti Ijma.Kata Quru dalam ayat di atas bisa diartikan haid dan bisa diartikan suci. keberadaan suatu dalil. sebagai turuq istinbath al-Ahkam yaitu metode dalam menetapkan hukum. mashlahah mursalah. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alquran dan alSunnah. Saddu zdara'i. mashlahah mursalah. disamping sebagai sumber hukum Islam. Urf. 5 . Qiyas dan sebagainya. Karena itu dari sisi ini. Karena suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah. Ijma. apa yang dikemukakan Abdul Wahab Khalaf bahwa al-Adillah al-Ahkam identik dengan Mashadir al-Ahkam ( sumber hukum). maka dapat dikatakan bahwa. Sedangkan yang lainnya. para ahli ushul Fiqh sering menyebut terhadap adillah ahkam seperti Ijma. Urutan Sumber Hukum Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Alquran dan al-Sunnah. istihsan dan lain sebagainya tidak dapat dikatakan sebagai sumber hukum Islam. karena yang dikatakan sumber itu harus berdiri sendiri. istihsan. Oleh karena itu para ula sering berbeda pendapat dalam menentukan hukum dari ayat tersebut di atas. hukum bagi umat sebelum kita. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa seperti. Alquran dan al-Sunnah juga disebut sebagai dalil hukum. ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan. Qiyas. Oleh sebab itu. mazdhab shahabi. tidaklah dapat dikatakan sumber. Istihsan. Disamping itu.

al-Qiyas. al-mashlahah Mursalah. Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Syar'un man Qablana. Abu Daud) 6 . maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut : 1. Urutah sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah. 2. Istihsan. Al-Ishtishhab.Alquran. Nabi bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab . Saddu zdara'i. maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah saw. Uruf. Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku. yang meliputi pada : Al-Ijma. Turmudzi. Ijtihad. Mazdhab shahabi.Bila diurut. Al-Sunnah 3. ( Ahmad.

bila membacanya mengandung nilai ibadah. Tinjauan Bahasa Kata Alquran dalam bahasa Arab berasal dari kata membaca. tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. 2. ditukil dari Rasulullah secara mutawatir dengan tidak diragukan. kepada Kitab-kitab. Hukum dalam Alqur‟an Hukum-hukum yang terkandung dalam Alqur'an. kepada Malaikat. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah swt. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas Al-Jurjani mendefinisikan Alqur'an: Alqur'an adalah (Kalamullah) yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushhaf. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. 7 . para Rasul Allah dan kepada hari akhirat. Bentuk mashdarnya artinya ' bacaan' dan / Qara'a artinya ' 'apa yang tertulis padanya'. Seperti tertuang dalam ayat Alqur'an : Secara istilah Alqur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. meliputi : a.ALQUR‟AN SUMBER HUKUM PERTAMA 1.Hukum-hukum I'tiqadiyyah.

3. karena dengan pengaturan yang bersifat umum itu Alqur'an dapat digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat. yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. Hal ini menunjukan bahwa manusia memerlukan bimbingan lebih banyak dari Allah swt dalam hal beribadah dan pembinaan keluarga. Namun kemajuan dan kedinamisannya harus tetap dalam batas-batas perinsip umum Alqur'an. Alqur‟an dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alqur'an dalam menetapkan hukum menggunakan perinsip : a. persatuan dan keadilan. tentu ini sangat bermanfaat. Hukum Islam memberi peluang kepada masyarakat dan manusia untuk berubah. maju dan dinamis.b. dan berbagai kasus dalam sepanjang jaman. Perinsip umum itu adalah Tauhidullah. Hukum dalam Alqur'an yang berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang alAhwal al-Syakhsyiyah / ihwal perorangan atau keluarga.Hukum-hukum Khuluqiyyah. Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. persaudaraan. ini perlu diluruskan dan teguran. disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-bidang hukum yang lainnya. Hukum amaliyah ini ada dua.Hukum-hukum Amaliyah. manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauhi prilaku yang buruk. c. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan 8 . Adapun dalam bidang-bidang lain yang pengaturannya bersifat umum. sedang keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat dan akan memberi warna terhadap yang lainnya. Banyak manusia yang menyekutukan Allah. memberi peluang kepada manusia untuk berpikir.

Dijumpai dalam Alqur'an hukum-hukum yang bersifat azimah ( kemestian ) dan hukum rukhshah ( kelonggaran.Bertahan dalam menterapkan hukum Hal ini dapat ditunjukan dengan beberapa contoh. keringanan). perintah zakat. Ibadah hajji. makan makanan yang terlarang dalam keadaan darurat. juga hanya bagi orang yang istitha saja. bepergian boleh buka dan mengqadanya. hanya bagi orang yang mampu saja. mengqasar shalat dari empat menjadi dua rakaat. b. misalnya kewajiban untuk shaum. Demikian juga misalnya . bertayamum sebagai ganti air untuk berwudhu. dan dalam keadaan sakit. c.Menyedikitkan tuntutan Hal ini ditunjukan dengan firman Allah swt: Selain itu ayat Alqur'an yang berjumlah 6342 ayat ( menurut sebagian pendapat) hanya sekitar 500 ayat saja yang berkaitan dengan hukum. bahkan sebagian pendapat menyebutkan kurang dari 500 ayat. Haramnya minuman keras dan perjudian proses larangannya sampai tiga kali 9 . Ini menunjukan bahwa Alqur'an menyedikitkan tuntutan.

Hal ini dibuktikan dengan seringnya Alqur'an menyebutkan sebab atau illat hukum. tapi bertahan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.Dari ayat-ayat tersebut jelas tahapan-tahapan dalam mengharamkan khamer dan maisir. mereka pun akan memaki-maki Allah. Juga dalam hal tidak boleh mencaci berhala: Dalam ayat ini ada larangan memaki-maki berhala. 10 . d. Akhitnya diharamkan dalam surat Al-Maidah: 60 Pentahapan diperlukan agar tidak ada goncangan kejiawaan dan kewajibankewajiban bisa dilaksanakan dengan mantap. karena bila kita memakimaki berhala. Misalnya tentang adanya pengaturan harta. disebut bahwa pengaturan tersebut dimaksudkan agar harta itu tidak hanya berputan di antara orang yang kaya saja. kemudian dikuatkan kembali dalam surat Al-Nisa: 43 tidak boleh mendekati shalat jika mabuk. hanya disebutkan bahwa dosa minum khamer dan bermaisir lebih besar daripada manfaatnya.Alqur'an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia. Perubahan dari masyarakat Jahiliyah ke masyarakat Islam tidak sekaligus. Dalam ayat 219 Al-Baqarah.

Yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat 11 . Kehujjahan Alqur'an Para ulama ushul fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Alqur'an merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib dilaksanakan. dan ini memberi keyakinan bahwa Alqur'an itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. Ada beberapa alasan yang ditemukan ulama ushul fiqh tentang kewajiban berhujjah dengan Alqur'an: 1. maka barulah mujtahid tersebut mempergunakan dalil lain. Mukzijat Alqur'an juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alqur'an datang dari Allah swt. Mukzijat Alqur'an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. 2. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alqur'an itu datangnya dari Allah. Apabila hukum permasalahan yang ia cari tidak ditemukan dalam Alqur'an. 4. Seorang mujtahid tidak dibenarkan menjadikan dalil lain sebagai hujjah sebelum membahas dan meneliti ayat-ayat Alqur'an. antaranya 3.Dalam ayat tersebut dilarang mendekati perbuatan yang akan mendorong pada zina. Zina itu termasuk pada perbuatan yang keji dan menuju pada kehancuran Akhlak manusia. Alqur'an itu diturnkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. Oleh karena itu dalam hukum Islam tindak pidana zina bukan delik aduan akan tetapi delik biasa.

kata quru di atas merupakan lafal musytarak yang mengandung dua makna. Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : 12 . 6. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. hukum-hukum yang dikandung Alqur'an ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zdanni (relatif benar). Misalnya lafal musytarak (mengandung pengertian ganda) yaitu kara / lafal yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228. apabila kata quru di artikan dengan suci. 5. dari segi turunnya berkualitas qath'i ( pasti benar) akan tetapi. yaitu suci dan haidl. Dan jika diartikan dengan haidl juga boleh (benar) sebagaimana yang dianut ulama Hanafiyah. kaffarat. Contoh dalam Kaffarat sumpah : Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alqur'an mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan. hudud .manusia. Alqur'an Dalil Qath'i dan Zhanni Alqur'an yang diturunkan secara mutawatir. ayat-ayat waris. Oleh sebab itu. sebagaimana yang dianut ulama Syafiiyyah ' adalah boleh / benar. Ayat-ayat seperti ini. misalnya . Mukzijat Alqur'an menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menadingi Alqur'an itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya.

dan kaffarat. dan muthlaq. yang tidak bisa dimasuki oleh logika. seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah. Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. mengkhususkan. seperti dalam masalah shalat yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan. berapa ra'kaat untuk satu kali shalat. hukum waris. 13 . Demikian juga dalam masalah zakat. dan berapa kadar yang harus dizakatkan. bersifat global / kully. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl : 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Untuk hukum-hkum yang bersifat global. Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. apa hukum dan syaratnya. hukum-hukum yang rinci ini. dan membatasinya. Rasulullah saw. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana.1. berapa nisab nisab zakat. dan muthlaq ini. hudud. 2. tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati. umum. umum. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan.

Dalil Alqur'an 14 . selain Alqur'an baik berupa perkataan. Sunnah lebih umum disebut hadits. seperti dalam firman Allah Secara Istilah menurut ulama ushul fiqh : Semua yang bersumber dari Nabi saw. = berita. yang mempunyai beberapa arti: = baru. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti ' cara yang dibiasakan' atau ' cara yang terpuji. 2. Dari arti-arti di atas maka yang sesuai untuk pembahasan ini adalah hadits dalam arti khabar.SUNNAH SUMBER HUKUM KEDUA 1. Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. = dekat. perbuatan atau persetujuan.

juga Umar bin 15 . Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar. dan jika tidak mendapatkan dari Alqur'an.Dalam Alqur'an banyak ayat-ayat yang menunjukan bahwa kaum muslimin diperintah untuk mengikuti Allah swt dan Rasulnya saw. mereka mencarinya dari Alqur'an. diantaranya berbunyi : b. Al-Nisa : 80. Al-Ahzab : 36.Dalil Al-Sunnah Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw yang memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Sunnah. dengan ungkapan yang berbeda-beda. di antaranya : Nabi saw. sunnah khulafau' alRasyidin yang pada mendapat petunjuk . bersabda : ingatlah sesungguhnya telah didatangkan kepadaku Alqur'an dan yang sepertinya bersama Alqur'an. Ijma Shahabat Setelah wafatnya Rasulullah saw. misalnya dalam Ali Imran :32. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. mereka bertanya-tanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. ( Yaitu telah diberikan kepadaku yang sepertinya berupa Al-Sunnah ). Ahmad c. Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnahku. gigitlah sunnah dengan taring.

Logika Alqur'an memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alqur'an Hubungan Al-Sunnah dengan Alqur'an dilihat dari sisi materi hukum yang terkandung di dalamnya sebagai berikut : a. pada umumnya bersipat global. zakat terdapat dalam Alqur'an dan dikuatkan oleh Al-sunnah. puasa dan ibadah haji. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya. 3.Sebagai Muaqqid Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alqur'an dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah. - b. Sebagai Bayan 16 . misalnya tentang shalat. tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. misalnya tentang Shalat. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alqur'an. zakat.Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. d.

Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya. darah dan daging babi. misalnya perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal.Membatasi kemutlakan ( taqyid al-muthlaq) Misalnya. Alqur. hati dan limpa. - 3). Alqur'an memerintahkan untuk berwasiat. Demikian juga tentang zakat.an yang belum jelas.an mengharamkan tentang bangkai. haji dan shaum.Menciptakan hukum baru.Mentakhshishkan keumuman Misalnya. Dalam Shalat misalnya 2). dalam hal ini ada tiga hal : 1). diperjelas dengan Sunnah. Kemudian Al-Sunnah membatasinya.Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alqur'an yang masih mujmal. belalang. kemudian al-Sunnag mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. 4). 17 .

yaitu : a. atau berita berupa perkataan Nabi saw. seperti berita yang disamapaikan oleh orang bodoh 18 . agar tidak membuat kemadharatan bagi dirinya juga bagi orang lain. yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir 2). Macam-macam Sunnah Sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam.Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada 3 hal : 1). Contoh perkataan Nabi saw. dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alqur'an. Tidak ada kemadharatan dan tidak pula memadharatkan Hadits ini adalah Sunnah Qauliyah yang memberikan sugesti kepada umat Islam. Sunnah Qauliyah.Diyakini benarnya. 3) Yang tidak diyakini benarnya. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar. hal ini ada tiga : a. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat. 4.Misalnya.Diyaniki dustanya. dan burung yang berkuku kuat. dan juga tidak diyakini dustanya.

b.Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. Sunnah fi'liyah ini menunjukan tidak ada kewajiban untuk diikuti dan bersifat mubah. bentuk tersebut : 1). cara minum yang diajarkan 19 . seperti khabar yang datang dari orang fasik ( orang yang mengakui peraturan-peraturan Islam tapi tidak mengindahkannya. cara berwudlu yang dipraktekan Nabi Saw.Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah.Perangi yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. keduniaan. cara bercocok tanam dan lainnya. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. Sunnah fi'liyah ini terbagi kepada beberapa bentuk. dan ada yang tidak harus diikuti. Seperti petunjuk cara makan yang ditunjukan Nabi saw.Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. setrategi berperang. budaya dan kebiasaan. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. ada yang harus diikuti oleh umatnya. 2). seperti khabar yang disampaikan oleh orang adil c. Ini lebih pada urusan. seperti kebiasaan berdiri. seperti cara shalat. Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya.Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan seperti gerakan badan dan gerakan anggota badan. 3). duduk. b.

itu harus diikuti oleh orang muslim. 4). berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal / samar tidak jelas.Bukhari) ini menunjukan bahwa orang yang berwudhu boleh satukali-satukali dan boleh duakali-duakali. Maka Abu Ishaq meriwayatkan dari banyak muhaddits yang memandang Mandub.Nabi saw. Sunnah Taqririyah 20 . dan beristri lebih dari empat. Maka hukumnya sama dengan yang hukum mujmal tersebut. shalat lima waktu. menjelaskan akan kebolehan / jawaz .Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. 5). c. diperjelas oleh Nabi saw. Menurut Imam Syafi'i ada dua pendapat. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. demikian juga ibadah Haji. Seperti perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. ibadah hajji dll.Apa yang dilakukan Nabi saw. seperti shaum Ramadhan. atau akan dipandang tasyri / syariat. seperti yang diriwayatkan An-Nawawi tentang wudhu Nabi saw. apakah akan dipandang Jibilah. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. (R. Seperti Adalah Nabi saw. Adapun urusan alQurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. saja. 6)Apa yang dilakukan Nabi saw. seperti melakukan shaum wishal. dengan perbuatannya. memakai bajunya di atas dua mata kaki.

tentu Nabi tidak akan membiarkan Sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah. terhadap orang yang tidak melihat untuk berbelanja dan berjualan di pasar. mencuci.Taqrir Nabi saw. Ia menjawab " saya ingat firman Allah swt ' janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri". maka sikap diam dan tidak mecegahnya. hal ini kerena kalaulah Nabi tidak setuju. Hal itu disampaikan pada Nabi saw. terhadap para wanita keluar dari rumah untuk hadir di mesjid mendengarkan khutbah-khutbah. terhadap 'Aisyah yang melihat orang Habasyah yang sedang bermain perang-perangan di Mesjid.Taqrir Nabi terhadap harta para sahabat yang diperoleh ketika mereka musyrik. Nabi saw. yang tidak mandi junub ia hanya tayamum karena malam sangat dingin dan hawatir akan sakit. 5). menunjukan persetujuan nabi. membuat kueh. 4). 3). 21 . misalnya dengan cara riba.Taqrir Nabi saw. tidak menyuruh untuk mengembalikannya.Amr ibn al-'Ash. atau sepengetahuan Nabi .Taqrir Nabi saw. akrena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. Maka Nabi tertawa dan tidak berkomentar apapun. 2). tapi hendaklah bertaubat dari pekerjaannya yang telah lalu. membereskan rumah dll. Nabi bertanya kepadanya. dengan seizinn dan ridhanya. namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. terhadap para Lelaki membantu pekerjaan istrinya di rumah. seperti memasak. karena Nabi tahu keperluan orang buta sama dengan keperluan hidup orang melihat.Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. Contoh 1).Taqrir Nabi saw. 6). karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran.

yang berjanji saat Ia marah tidak akan makan. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan ma. hadits dibagi kepada. Tentu Nabi tahu jika janjinya ditepati akan membawa kemadharatan. perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali. Hadits Mutawatir dan Ahad.7) Taqrir Nabi terhadap ingkar janjinya Abu Bakar. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits: Mutawatir. Sedangkan menurut jumhur. a. 5.Mutawatir Ma. Contoh : 2). hadits masyhur masuk pada pembagian hadits ahad menurut ulama jumhur.Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakan untuk berdusta. Mutawatir itu ada dua : 1)Mutawatir lafzhi.nawi 22 . Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah ( yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. shaum. Masyhur dan Ahad. haji dan lain-lain. Pada sunnah qauliyah tidak sebayank sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir.nanya.

Nabi shalat magrib 3 rakaat di Madinah .Nabi shalat magrib 3 rakaat dalam safat. 1).Hadits Shahih. tidak 23 .Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain.Hadits Adah Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Contoh 2).Shahabat-shahabat Nabi shalat magrib 3 rakaat diketahui Nabi saw. . oleh sejumlah orang yang idak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. b. Shahih.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Mekah . dan sempurna ketelitiannya. dan Dhaif. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Hadits Ahad ini terbagi kepada : Masyhur. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw. oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir. Dan dalam definisi lain. shalat magrib 3 rakaat di rumahnya . Hasan . sanadnya bersambung. seperti shalat magribtiga rakaat. tapi susunan masingmasing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. diterangkan dalam beberapa riwayat. kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabiut' tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas nutawatir. Dari bermacam-macam riwayat ini ada kesamaan yaitu ' shalat magrib 3 rakaat'. sampai kepada Rasulullah.

Contoh 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Imam An-Nawawi berkata. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. munqathi. bukan dalam Asal / pokok amal. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Pengertian yang terkandung di dalam hadits tersebut masih tercakup dalam pengertian yang terkandungdalam hadits shahih yang berbunyi : 6. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. bahwa para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal. Hadits Dhaif ini banyak macamnya. mursal. tetapi kurang ketelitiannya. mudraj. mudtharib. inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits. munkar dan mubham. 24 .mempunyai cacat atau illat. sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. Contoh hadits dhaif tentang fadhilah amal.. Contohnya 3). muallq. walaupun hanya sekali saja dalam hidup. segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. mudallas. Hadits Hasan. antara lain Hadits Maudhu. dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. dan walaupun diriwayatkan hanya seorang.

Dan juga bermakna artinya yaitu artinya Ia Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan.Sunnah. sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. seperti kata berupaya keras mengangkat batu penggilingan. berupaya keras. Dan menurut Istialah Ulama Ushul berarti : 25 . yakni cara Rasul melaksanakan ibadah. yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. IJTIHAD SUMBER HUKUM KE TIGA 1. adalah nama amaliyah yang mutawatir. Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata kesulitan.

Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum . dan zhanniyu al-dalalah ( Nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan). Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i. Ini dapat dilakukan dengan. Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu. Qiyas. Istishab. Urf dll.Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukan oleh Nash Qath'i.Mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan melakukan penelitian / kesimpulan dari Kitab dab Sunnah.hukum syara ( dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaflikasiannya. Istihsan. ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam nenerapkan huku (Ijtihad fi tathbiq ahkam). 3. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu: a. 2. Ijtihad pada masa Rasul saw. b.Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniyul wurud ( hadits-hadits ahad). dan Khulafa Rasyidin 26 . maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad.

Di antara ijtiha para Shahabat ialah : a. Atas keadaan yang demikian itu Umar r.a. Ijtihad Abu Bakar tentang usulan Umar bin Khatab untuk memushhapkan Alquran. Pada masa Umar r. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i 27 .a. dan akibatnya terjadi pula pencurian. antara lain Zaid bin Tsabit. tidak bakal terrealisir beserta adanya bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. karena ia berpendapat bahwa kemaslahatan yang diharapkan akibat pemberian hukum. Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar. Ijtihad Abu Bakar dalam hal orang yang membangkang membayar zakat. Ijtihad Abu Bakar. Ijtiha Umar r. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan.Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. penulis wahyu. 4. karena hawatir para Qa'ri banyak yang meninggal. Lalu setelah menemukan kata sepakat. Dari dua pendapat itu. tentang tawanan perang Badar. b. hafizh Alquran. adalah. Ia berpendapat bahwa orang yang membangkang membayar zakat harus diperangi sampai mau membayar zakat. pernah terjadi kelaparan. dibentuk panitia yang terdiri dari para Qa'ri. tidak menghukumnya dengan potong tangan.a. yakni menerima tebusan.

antara lain: 1). terdiri dari Kakek bersama saudara. 3). dan aku tidak akan meninggalkannya). Demikian juga pesan Umar kepada Qadhi Suraih: dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu Apa yang tidak jelas bagimu terdapat dalam al-Sunnah maka curahkanlah fikiranmu (berijtihad). Abu Bakar. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya.Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu. Adanya ijtihad fardi ini dapat ditunjukan dengan beberapa alasan. 2)Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas. Muadz menjawab ( akau akan berijtihad dengan fikiranku. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan.Dalam kaitannya dengan ahli warits yang ditinggalkan oleh yang mati.Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasulullah jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. maka ijtihad terbagi pada : a. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa 28 . Ijtihad Fardi. yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

a. Alasan adanya ijtihad jama'i ini. Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah. memerangi pembangkang membayar zakat.Kesepakatan para shahabat atas tindakan Abu Bakar r. Di sini kakek tidak menghijab saudara. Sedang menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah ( membagi sama) dengan Saudara. Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. 29 . Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. b. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang.saudara terhijab oleh kakek. Ijtihad Jama'i. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah ?. Contoh yang menunjukan adanya ijtihad jama'i ini: 1). setelah terjadi pertukaran pendapat di antara mereka.

3). disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. maka ia harus memiliki syarat-syarat : a.muhkam. sharaf. Juga mengetahui asbab al-nuzul. akan digantikan jabatan khalifah oleh Umar r.2). yakni mngetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum / istinbath daripadanya.Mengetahui nash-nash hadits. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. dan hasil ijtihadnya berkualitas.khash.Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya.a untuk menulis mushhaf Alquran. balaghah dal lainnya. yang sebelumnya Abu bakar merasa keberatan karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw.Syarat-syarat Ijtihad. mutasyabih . dan tahu antara 'aam .Kesepakatan para shahabat atas saran Umar r. haqiqat majaz.Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya. Agar seorang mujtahid dapat berijtihad. ta'wil.Kesepakatan para shahabat atas keimaman Abu Bakar dan persetujuan mereka. 30 . juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa ( natsar) maupun syair ( nadham). b.a. c. dan lainnya. 5. ilmu nahwu. sewaktu beliau masih menjabat. ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya.

hendaknya.Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad. Jika usaha ini berhasil. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. metoda menemukan dan menterapkan hukum. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum mathuq dan dan mafhum dari keduanya. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw. e. tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat. 31 .. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran.d. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. b. sanggup mengetahui illat hukum. 6.Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. lalu selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shabat. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya. a. Jika usaha tidak berhasil lakukan.Mengetahui ilmu Ushul Fiqih. dengan menggunakan ilmu tarjih. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan. f. Mentarjihkan salah satunya. sebagai ilmu metoda isthinbath. lalu memperhatikan pada perbuatan nabi/ hadits fi'li.. dapat mengqiyaskan satu peris dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat.

mujtahid itu ada beberpa tingkatan. Membekukan ( tawaqquf) . sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu. Imam Ahmad bin Hambal. Imam Malik. Mujtahid ini seperti Abdurahman bin al-Qasim. Imam Au'zai dll. untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai. Meneliti sejarah datangnya kedua nash. yaitu. untuk ditentukan yang datang kemudian / belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. Merekalah yang membangun mazdhab.Mujtahid al-Muntasib Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. b.c. Muhammad ibnu Hasan dalam madzhab Syafi'i. dalam madzhab Maliki.Mujtahid fi syar'i Yaitu orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad. Imam Syafi'i. a. 7. dan berbeda dalam hal cabang. d. 32 . Mereka itu Imam Abu Hanifah. dan berijtihad dengan hasil sendiri.

Imam al-Muzani mujtahid pada Imam Syafi'i. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya. Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini. mengembangkan dasar-dasar madzhab. tapi Mujtahid itu hanya melakukan tarjih. Misalnya Imam Abu Yusuf adalah mujtahid pada madzhab Hanafi. mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidahqaidah lama. mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain.c.Tingkatan Muhafidh 33 . mereka menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan yang lemah dengan argumen qaidah tarjih. baik dalam masalah yang pokok atau masalah cabang.Mujtahid al-Murajjih Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. Pekerjaan mereka dalam berijtihad adalah mengeluarkan hukum / istinbath dari masalah yang tidak diriwayatkan oleh Imam. e. dan meletakan dasar-dasar tarjih.Mereka itu. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu.Mujtahid fi Madzhab Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk madzhab tersendiri. yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. d. akan tetapi mereka hanya mengikuti Imam madzhab yang telah ada . dan perbandingan di antara pendapat.

tapi mengetahui mana yang kuat.Tingkatan Muqallid Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. madzhab yang dhahir. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. riwayat yang dhahir.Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. antara pendapat dan riwayat-riwayat. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih. Alquran 34 . 8. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. f. riwayat yang jarang. riwayat. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih.

sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. c. tapi kembali kepada yang telah disyariatkan Allah dan Rasulnya. dan yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. dengan jalan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqasid alsyariah. Logika. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min.Yang dimaksud dengan mengikuti Allah dan Rasulnya dalam ayat tersebut adalah mengikuti yang telah ditetapkan dalam Alquran dan al-Sunnah. ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. b. Jika hakim berijtihad . lalu benar maka baginya dua ganjaran dan jika salah maka baginya satu ganjaran. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu 35 . Al-Hadits Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya.

selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. 'IJMA' DASAR HUKUM ISLAM 1.mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi. Tinjauan Bahasa 36 .

Alasan Alquran Lafadz ulil amri. seperti para mujtahid. Umatku tidak sepakat untuk membuat kesalahan.akan suatu hukum syariat yang amali. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. para mufti dan para ulama. maka wajib diikuti. Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama.Alasan Hadits .Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus. mentri dan lainnya. b. seperti pada ayat berikut ini: Juga berarti tekad atau niat ( ) Tidak ada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niat puasa pada malam Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ' ijma ' adalah Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. 2. seperti kepala negara. 37 . dan mencakup pemegang urusan agama.

Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Muslim. Jumhur mengemukakan sejumlah contoh. karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. . atau dengan perkataannya. akrena itu ahli ushul fiqih menyebutkan. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma.. misalnya dengan fatwa. Harus ada kesepakatan di antara mereka c. di sisi Allah pun dipandang baik juga. akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah.terhijabnya cucu laki-laki dari anak laki-laki oleh anak laki-laki /ibnu 38 . Abdul Hamid Hakim menyebutkan. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi. Unsur-unsur Ijma Dengan memperhatiakn definisi ijma di atas maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur ijma itu: a. itu bukanlah dalil yang menyendiri. misalnya Qadhi dengan keputusannya.a. b. Kebulatan pendapat harus tampak nyata. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma ' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan'. Terdapat beberapa orang mujtahid. d. baik dengan perbuatannya. 4. Firman Allah AlNisa:59 ijma 3. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya.hak pusaka nenek 1/6 dari harta peninggalan . Pengangkatan Khalifah Abu Bakar r.

Yaitu persesuaian ahli Kufah.. ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan.Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsurunsur yang ada. c. Batalnya pernikahan muslimah dengan non-muslim.saudara sebapak mempunyai setatus mengganti saudara seibu-sebapak. 39 . b. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. Imam Daud berkata Ijma itu hanyalah ijma shahabat belaka 5. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan. terhadap sesuatu masalah. dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma. Salah seorang ulama bernama An-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. maka terdiri dari : a. Ijma Ummat. d.

yaitu Abu Bakar dan Umar. Ijma bentuk pertama disebut juga ijma ijma Haqiqi. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. b. karena diamnya mujtahid dipandang menyetujui apabila masalahnya telah dikemukakan kepada mereka. dan telah diberiwaktu untuk membahasnya. yang menjadi hujjah menurut ulama Jumhur. sedang sebagian lainnya diam. f. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah. dan diamnya bukan karena takut.e. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. atas dasar Teladanilah kedua orang ini sesudahku. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. menurut jumhur bukan hujjah. sedang ijma bentuk ke dua disebut ijma I'tibari. Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya.ulama Hanafiyah yang memandang hujjah. 40 . Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat. ijma terbagi kepada dua: a. hanya ulama . Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadits: -Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa al-Rasyidin. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan ( menfatwakan atau mempraktekan ).

Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati. 'QIYAS' DASAR HUKUM ISLAM 41 . karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad.Dilihat dari sisi prosesnya. maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid.

ukuran.1. Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya 2. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : 42 . Ia telah mengukur sesuatu dengan lainnya atau atas lainnya. Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan ( diterangkan) karena ada illat hukum. : Ia telah mengukur. Mengukur sesuatu atas misal yang lain dan menyamakan dengannya. timbang/an. : Ia sedang . Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran. Si pulan tidak sama dengan si pulan Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah bermacam-macam: Mengeluarkan hukum yang sama dari yang disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara keduanya. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata mengukur. sukatan.

memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas alasan ayat di atas.Alquran Jumhur ulama ushul. maknanya seimbang atau sama. Ibnu Taimiyah berdalil dengan ayat di atas tentang Qiyas jahi hujjah. melewati atau melampaui. Dengan demikian Qiyas termasuk pada makna ayat di atas. dengan alasan. searti dengan kata al-taswiyah. kata al-'Adlu.1. Maka Qiyas itu melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada hukum cabang. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas. artinya. Maka Qiyas adalah mengembalikan urusan yang tidak ada Nashnya kepada yang ada nashnya dari Alquran dan al-Sunnah. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata ubur. baik urusan yang ada nashnya dan yang tidak ada nashnya. Ayat di atas menyuruh mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasulnya.Al-Sunnah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa Rasulullah menyetujui apa yang akan diputuskan Muadz bin Jabal dengan Ijtihad setelah tidak ada pada Alquran dan al- 43 . Maka qiyas adalah menyamakan hukum diantara dua masalah. 2.

Sunnah. Maka dalil di atas memberi isyarat akan bolehnya Qiyas, karena Qiyas itu termasuk Ijtihad. Dalam peristiwa yang tidak ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya dengan jalan Qiyas, misalnya, saat Rasulullah menjawab pertanyaan Umar r.a. tentang mencium istri saat shaum, Rasulullah mengqiyaskannya kepada berkumur-kumur waktu shaum, karena sama illatnya yaitu perbuatan permulaan, maka hukumnya sama tidak merusak shaum.

3.Perkataan dan perbuatan shahabat. a. Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu, yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu

b.Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu Beliau sakit.

4. Alasan Logika

44

a.Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.

b.Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan.

c.Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

3. Rukun Qiyas a. Asal Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih, / musyabah bih. b.Cabang Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah. c.Hukum Asal

45

Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. d.Illat Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Contoh-contoh: Pokok 1.Khamer 2.Gandum 3.'Uf'' pd. orang tua 4.Makan harta yatim Wisky Padi / Beras Memukul orang tua bakar harta yatim Cabang Illat memabukan makanan pokok menyakiti merusak harta hukum haram wajib zakat haram haram

4. Syarat Qiyas a.Syarat-syarat Pokok 1).Hukum pokok itu masid ada atau berlaku/ tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum. 2).Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa 3).Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian, seperti tetap dipandang sah puasanya orang yang lupa meskipun makan dan minum, mestinya puasanya itu menjadi rusak, karena sesuatu tidak bisa tetap ada bersama adanya penghalang. Namun tetap dipandang sah karena ada hadits yang mengecualikan. Maka seperti ini

46

Illat berpengaruh pada hukum. Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. Qiyas tersebut tidak benar. b. qiyas menjadi batal.Syarat-syarat Cabang 1). 3).Syarat-syarat Illat 1).Illat Harus tetap berlaku. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. karena itu tidak sah mengqiyaskan orang yang dipaksa kepada orang yang lupa. karena wudhu ada sebelum Hijrah. seperti melindungi jiwa adalah illat wajibnya qishash. 4). Misalnya mengqiaskan wudhu kepada tayamum dalam wajibnya niat karena keduanya samasama taharah. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat. memabukan adalah illat haramnya meminum minuman keras.Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. Hukum bagi orang lupa hukum pengecualian. 2). tentu ada hukum. 47 . Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. yang menurut ulama Ushul ' apabila datang nash. manakala ada illat. sedang tayamum setelah Hijrah.tidak bisa jadi pokok.Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c.

jika berlawanan maka nash yang didahulukan. seperti . Ijma dan Istinbath ( penelitian ). maka sah nikahnya tanpa izin walinya. 1). Maka ini berlawanan dengan nash. maka nsha yang didahulukan.Illat tidak berlawanan dengan nash. Maka (jika tidak banyak lagi orang berkumpul). tidak dapat diartikan dengan arti yang lain. diqiaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya. Contoh yang Sharih di antaranya: Kalimat liallaa yakuna sampai kalimat ba'da rasul. karena banyak orang berkumpul ( yang memerlukannya). Kalimat liajliddaffah. Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat Ada beberapa cara untuk mengetahui illat hukum yaitu dengan melalui: Nash. Misalnya. dan adakalanya dengan isyarat. tidak dapat dipakai arti lain selain untuk memberi illat larangan menyimpan daging binatang Qurban. makanlah dan simpanlah. 48 .3). bahwa perempuan itu dapat memiliki dirinya.Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih). Hanyalah aku melarang kamu dari menyimpan daging binatang korban. kecuali hanya untuk memberi illat diutusnya para Rasulullah saw.

c) Didahulukan anak saudara laki-laki seibu sebapak dari anak laki-laki sebapak. 3).Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. mak hukumnya qath'i.Contoh dengan isyarat.Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a. e). Contoh Illat yang diketahui dengan melalui Ijma seperti a) mendahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari pada saudara laki-laki sebapak dalam warisan karena ada talian kekerabatan ibu. Al-Munasabah 49 . di antaranya: Kalimat yang digaris bawah adalah illat larangan jual beli hari jum'at Kata yathhurna adalah illat boleh -campur Kalimat 'al-qatilu' ialah illat tidak mewarisi 2). dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. Didahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari saudara sebapak dalam waris. b) Dengan qiyas pula didahulukan anak paman seibu sebapak dari anak pamam yang sebapak.

Hifdlu al-Nafs. menjaga kehormatan atau kemuliaan diri adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had / jilid 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berzina tidak dapat membuktikan 4 orang saksi. 5). misalnya 1). menjaga akal adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had bagi peminum khamer. 2). melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok.Hifdlu al-Aqli. al-Nur : 4 b.Hifdlu al-Dien. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam.Hifdlu A'radh. Al-Baqarah: 193 dan al-Nahl.Hifdlu al-Maal. al-Nur ayat : 2 6).Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. mempertahankan agama adalah sifat/ illat. dari disyariatkannya memerangi orang kafir dan yang menghalangi da'wah.125. menjaga harta adalah sifat dari disyariatkannya hukum potong tangan. al-Maidah : 38 4).AlBaqarah:179 3). 50 . menjaga jiwa adalah sifat dari disyariatkannya kishash.Hifdhu Nasal. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya.Al-Sabru wa al-Taqsim Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. menjaga keturunan adalah sifat dari disyariatkannya haram berzina dan diwajibkannya hukum Had dan ranjam.

Takhrij al-Manath Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. d. mengambil barang orang lain dari tempatnya ini (pokok). e. sedang illatnya sama sebagai hamba sahaya. yaitu pembunuhan dengan sengaja mempergunakan alat atau sesuatu yang biasa digunakan untuk membunuh. Maka ditetapkan hukum bagi setiap pembunuhan dengan alat apa saja. Mengqiaskan Ammat (hamba perempuan) kepada Abdun (hamba lakilaki). tapi diperselisihkan pada cabang. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. baik alat itu digunakan saat turun ayat Alquran atau alat itu tidak digunakan. menurut Hanafi tidak dipotong. apa termasuk mencuri ? Apa mesti di potong ? menurut madzhab Syafi'i dan Maliki mesti dipotong.Tanqih al-Manath Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. yang bedanya ialah kelaki-lakiannya. Mengambil kapan di kuburan ( cabang ).Misalnya. c. dan ada memabukannya. ada warna.Tahqiq Al-manath Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. misalnya: Mencuri itu . mengistinbath bahwa pembunuhan mewajibkan adanya qishash. 51 . apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. Misalnya. Maka diambil yang memabukannya. Khamer : Ada sifat Baunya.

Misalnya. Mengucapkan 'ah' kepada orang tua dilarang dan haram karena Illatnya menyakiti. dari sisi merusaknya. karena persamaan illat 52 . karena sama-sama merusak harta. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih.5.Qiyas al-Adwani Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. tentang terlarangnya perhiasan perak bagi laki-laki diqiaskan kepada terlarangnya perhiasan emas bagi laki-laki. ( al-Isra : 23 ). dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi ( mulhaq bih ). juga menyakiti jasmani. Misalnya qiyas sebagian ahli Ushul. 3. lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. 2. antara lain: 1.Qiyas Aula Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. Maka membakar harta anak yatim haram diqiaskan kepada memakannya. Misalnya mebakar harta anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. Macam-macam Qiyas Qiyas itu ada beberapa macam. membandingkan memukul orang tua kepada ucapan 'ah '.Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. Memukul orang tua tentu lebih dilarang karena selain menyakiti hati. Sedang makan harta anak yatim diharamkan ( Alquran : al-Nisa : 10).

Maka Illat pada perak lebih rendah daripada illat yang ada pada emas. dihadiahkan. karena sama-sama keturunan Adam.Qiyas Dilalah Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. 53 . Dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah. tetapi tidak mewajibkan hukum padanya.Qiyas Syibhi Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok ). menunjukan hukum.khuyalaa ( sombong ). maka hamba yang dirusak itu dapat diganti dengan nilai. Hamba yang dirusak itu bisa diqiaskan dengan orang merdeka. harta milik anak kecil tidak wajib dizakati. Namun budak tersebut diqiaskan dengan harta benda. karena sama dapat diperjual belikan. diwariskan. Misalnya mengqiaskan harta milik anak kecil kepada harta milik orang dewasa dalam kewajiban mengeluarkan zakat. seorang hamba sahaya yang dirusak oleh seseorang. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. Dalam hal ini Imam Abu Hanifah berpendapat. 4. Karena hamba itu diqiaskan kepada harta. karena keduaduanya sama-sama dapat dimiliki. 5. diqiaskan kepada ibadah haji. Misalnya. Dapat pula diqiaskan kepada harta benda. Haji tidak wajib bagi orang yang belum dewasa.

alSunnah. menarik kesimpulan. memperoleh dalil. Imam al-Jurjani. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran . tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti. yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan alSunnah. ( Istidlal ). Al-Ijma dan Qiyas. maka hendaklah mencari dalil lain. seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim. 54 . Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. yaitu menentukan Terdapat arti istidlal yang lebih khusus.ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya : minta petunjuk. yaitu dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. kemudian al-Sunnah. menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya. memberi arti istidlal secara umum. lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas.

menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam.Para ulama ushul fiqih. Pengertian Bahasa Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya ' menemani ' atau ' menyertai'. 3. 4. 8. Kata lain dalam Bahasa Arab : Saya membawa serta apa yang telah ada pada waktu yang lampau Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: 55 . 6. / al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. 2. 7. 5. / al-Urf ISTIDLAL DENGAN ISTISHAB 1. terus menemani. antara lain: 1. atau al-mushahabah : menemani . juga istimrar al-suhbah .

berdasarkan persaksian dua orang sebelumnya.Tetap dipandang sah punya wudlu bagi yang yakin sebelumnya telah berwudlu.Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli. Macam-macam Istishab 1. sampai adanya bukti pembayaran. Imam al-Syaukani memberi definisi.Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami istri sampai ada bukti lain yang menunjukan bahwa mereka telah bercerai 4. Yaitu menetapkan ( hukum) sesuatu sepanjang tidak ada yang merubahnya.Orang yang hilang tetap dipandang hidup sehingga ada bukti atau tanda-tanda lain yang menunjukan bahwa dia meninggal dunia. 5.Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah. 3. dan tidak hilang karena keragu-raguan. maka pemilikan tersebut terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yang menunjukan perpindahan pemilikan pada orang lain. Contoh-contoh Istishab 1.Menetapkan utang atas seseorang. warisah. 2. 3. 2. hibah atau wasiat.Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah 56 .

Istishab yang ditunjukan oleh al-syar'u atau al-Aqlu Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. Tidak adanya kewajiban shalat yang ke enam waktu. sehingga ada dalil yang menunjukan. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu. hingga apa bila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau telah batal maka berdasarkan istishab wudhunya dianggap masih ada. 2. sampai adanya sebab lain yang menyebabkan hak milik itu berpindah tangan kepada orang lain. Tidak adanya shaum Sya'ban. disebabkan adanya transaksi kepemilikan. 3. Contoh : Seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah.Terhadap istishab ini Ibnu Qayyim menyebutnya Bara'ah al-'Adam alAsliyah. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum. karena keraguan yang muncul terhadap batal atau tidaknya wudhu tersebut tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang. Misalnya.Istishab al-Hukmi / Dalil umum 57 . yaitu akad. hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya. Anak kecil sampai datangnya baligh. Hak milik suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus. Contoh lain. Contoh : Terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya.

kewajiban menginfakan hasil usaha manusia dan hasil eksploitasi alam. kandungan ayat umum tersebut tetap berlaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. para ulama fiqih menetapkan berdasarkan Ijma. 4. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. Contoh: Apabila seseorang dalam keadaan hidup meninggalkan kampung halamannya. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah Contoh. misalnya hak memiliki warits. Misalnya. 5.Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. Apabila dalam keadaan 58 . seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. Dan asal dalam sesuatu ( mu'amalah ) adalah kebolehan. oleh karena itu pemilikannya dipandang tetap.Istishab Washfi Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. maka orang ini oleh semua madzhab dianggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang menunjukan bahwa ia telah meninggal dunia. Bahwa tatkala tidak ada air. Berdasarkan ayat yang umum ( al-Baqarah : 267).Istishab hukum yang ditetapkan ijma lalu terjadi perselisihan Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya.

ISTIDLAL DENGAN MASHLAHAH MURSALAH 1. Tapi ulama Hanafiyah dan Hambaliyah menyatakan ia harus membatalkan shalatnya. karena ada Ijma yang menyatakan salahnya sah bila dilakukan sebelum melihat air. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. Tinjauan Bahasa Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan = beres. apa shalatnya harus dibatalkan ? untuk kemudian berwudhu atau shalat itu ia teruskan ? Ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan tidak boleh membatalkan shalatnya.shalat ia melihat ada air. 4. Kata al-Mashlahah dari kata 59 . Syafi'i. Dan sebagian besar dari ulama mutaakhirin juga demikian. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. seperti ' Hasan al-Basri'. selama tidak ada dalil yang merubah. Bentuk mashdarnya al-Mursalah.

Bentuk isim maf'ulnya Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. Juga dapat berarti.atau mendatangkan kebaikan. dalam memushhafkan Alquran. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat. 60 . sesuai dengan akal dan tidak terdapat pada asal. jiwanya.Kebijaksanaan Abu Bakar ra. = mengutus. 2. dipergunakan. keturunannya dan hartanya. dari kata = diutus. berarti prinsip kemaslahatan. memerangi orang yang membangkang membayar zakat. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kemaslahatan. dikirim. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. Contoh-contoh Untuk memudahkan memahami maslahah mursalah ini. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. akalnya. dapat dilihat dari contoh: 1. bermakna : Maslahah Mursalah adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan. dirasakan oleh hukum. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. Yaitu sesuatu yang Kata mursalah . jadi khalifah. menunjuk Umar ra. = keberesan. dipakai.

Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah.Upaya Abu al-Aswad al-Du'ali dan Khalil bin Ahmad al-Nahwi dalam memberi harakat pada Alquran.Putusan Umar bin Khatab tentang mengadakan peratudan berbagai pajak. 6. 4.dll. tentang menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf.Tindakan ulama-ulama Malikiyah menahan dan mengasingkan orang yang tertuduh agar dia mengaku apa yang telah diperbuatnya. lembaran-lembaran yang lain. Abdul Wahab Khalap dan Abu Zahrah misalnya memberi persyaratan: a.Putusan Usman bin Affan ra.Adanya penjara bagi orang jahat. memberantas kaum syi'ah Rafidhah yang telah berlebih-lebihan dalam kepercayaan dan tindakan mereka. 3. yang mencuri karena lapar dan masa paceklik. ra. untuk mengurangi kejahatan dan menyiarkannya dan kemudian membakarnya kemadharatan. Syarat-syarat Para ulama terdahulu seperti Asyatibi telah memberi persyaratan terhadap mashlahah mursalah yang kemudian diteruskan oleh ulama-ulama berikutnya. agar mudah dibaca dan tidak salah membaca.Dicetaknya mata uang untuk memudahkan dalam bermuamalah. dan putusan beliau tidak menjalankan hukum potong tangan terhadap pencuri. 8.2. dalil-dalil kulli. 5. dari nash Alqur’an dan Al-Sunnah 61 . 7. dan juz’I yang qath’I wurud dan dalalahnya. 3.Usaha Ali bin Abi Thalib.

Kemaslahatan tersebut bersifat umum. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. 2). Ini kembali kepada yang lima.Dilihat dari kepentingannya 1). Macam-macam Mashlahah a.Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional.Dilihat dari sumbernya 1). Misalnya. 2). artinya harus ada penelitian dan pembahasan.akal. kemashlahatan ini diakui oleh para ulama. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud.b.Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur’an dan Al-Sunnah. jiwa. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimnulkan memadharatan dan kerusakan. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’I ini. d. memelihara agama.Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya.Maslahah Hajiyah. 3). karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud.Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’i.Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar. hifdun nafsi. keturunan dan harta. b. yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar ( mashlahah dharuriyah). Mashlahah Dharuriyah. hifdu nasal. 62 . dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. 4. misalnya hifdulmal. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. yang disebut juga dengan mashlahah mu’tabarah. hifdul aqli dll.

tidak berbuat curang dalam timbangan. 5. Kehujahan mashlahah mursalah. tidak membunuh anak-anak. menjaga adat makan dan minum. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafadh yang ditunjukannya. tidak memberikan sesuatu melebihi batas kemampuan. makai pakaian yang bain waktu akan shalat. 3). Misalmya dalam hal ibadah menutupi aurat. buka shaum bagi yang safar.dalam ibadah boleh qashar shalat. 3). Dalam uqubah. Dalam muamalah. menjaga najis. makan. dan ini mashlahah 63 . Dalam muamalah. Dalam adat.Mashlahah Tahsiniyah. Abdul Hamid Hakim menyebytkan bahwa syara memperhatikan kemashlahatan secara umum. dengan berdasar pada firman Allah swt.Lafadh memberi isyarat akan akhir dari kemashlahatan. berburu. Dalam adat. wanita dalam peperangan. boleh jual beli salam. yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. isyarat obat bagi keraguan. dan memberi petunjuk terhadap jalan yang benar. Dalam uqubah/ jinayat boleh menolak hudud karena subhat. yaitu: 1) lafadh mengisyaratkan akan mengerti untuk tidak menyakiti yang lain. 2) Lafadh yang sangat besar. pakai yang indah-indah.

Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata. Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah tidak menjadikan mashlahah mursalah sebagai hujah. 2). 5).Lapadh memberi isyarat akan ucapan bahagia dan selamat atau tahniah. Ucapan kebahagiaan dan selamat menunjukan akan kemashlahatan.4)Lafadh memberi isyarat bahwa tidak ada kemashlahatan yang sangat besar kecuali datang dari Allah swt.Ulama-ulama syafiiyyah. 1). Untuk ini Imam Al-Qarafi berkata: 64 . jika seorang peneliti menemukan kesulitan tentang hukum sesuatu.Di antara ulama yang paling banyak menggunakan mashlahah mursalah ialah Imam Malik.Menurut sebagian ulama Maliki dan sebagian ulama Syafi’I. tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Maka dengan petunjuk dan isyarat itu semua bahwa syara mehendakaki dan memperhatikan kemashlahatan bagi mukallafnya. Di antara para ulama ushul ada yang menerima dan ada pula yang menolak berhujah dengan mashlahah mursalah.Lafadh Ini juga menunjukan bahwa Alqur’an dengan segala kemanfaatannya lebih bermashlahah daripada semua yang mereka kumpulkan. 3). maka lihatlah pada mashlahah dan madharatnya. 6).

– Secara Istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : 65 .Sesungguhnya berhujah dengan mashlahah mursalah dilakukan oleh semua madzhab. ISTIDLAL DENGAN ISTIHSAN 1. Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata – – artinya mencari kebaikan. artinya mencari yang lebih baik. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan Dalam Alquran dijumpai kata itu. karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan anata satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat.

kemudian barang tersebut digunakan oleh bapaknya untuk membiayai hidupnya. karena ia mempunyai hak menggunakan harta anaknya untuk membiayai keperluan hidupnya. Bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya kewarung untuk membeli sesuatu ?. Contoh Istihsan Untuk memudahkan memahami Istihsan di bawah ini disajikan contoh: a. apabila ia sudah dewasa dan berakal. b. maka berdasarkan Istihsan si bapak tidak diwajibkan untuk menggantinya. Seseorang yang dititipi barang harus mengganti barang yang dititipkan kepadanya apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila seorang anak menitipkan barang kepada bapaknya. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. Istihsan yaitu berpindah dari qiyas pada qiyas yang lebih kuat 2. Seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum. Berdasarkan Istihsan anak kecil tersebut boleh membeli barang-barang yang kecil yang menurut kebiasaan tidak menimbulkan kemafsadatan. 3.Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Macam-macam Istihsan Istihsan terbagi kepada dua bagian : 66 .

walaupun tidak disebut. Karena yang dimaksud dengan wakaf adalah pemanfaatan barang yang diwakafkan kepada pihak yang menerima wakaf. Dalam qiyas jalli – Wakaf diqiyaskan kepada jual beli. lantaran kedua-duanya sama-sama melepaskan hak milik dari pihak pemilik.Wakaf diqiyaskan kepada sewa-menyewa. Memandang aurat wanita diqiyaskan kepada ‘wanita itu aurat’ dilihat dari sama – sama akan 67 . maka termasuk di dalamnya. Contoh –contoh: 1). cela ) .Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. Dalam hal wakaf tanah.a. air minum dan hak melewati. Karena wakaf itu diqiyaskan kepada jual beli maka dalam wakaf pun harus jelas terinci. Dengan demikian maka apabila seseorang yang berwakaf telah mewakafkan sebidang tanah pertanian. Dalam qiyas jalli.Mengecualikan hukum juz’i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). Dengan kata lain masalah pengaiaran. air minum dll sekalipun tidak disebutkan dalam perjanjian. karena akan membawa pada fitnah.Dalam jual beli mesti jelas terinci tertulis jenis-jenisnya. Contoh istihsan yang mengutamakan qiyas juz’i dari qiyas jalli. Contoh lain. Dalam hal ini tidak mesti terrinci. karena pada keduanya dimaksudkan pengambilan manfaat. menyewakan tanah lumpur dengan tidak disebutkan semua itu. Karena wakaf diqiyaskan kepada sewa – menyewa. maka dalam hal ini tidak perlu untuk terrinci. Tentang wanita. bahwa wanita itu aurat (aib. Dalam qiyas khafi . Adapun segi istihsannya adalah mengutamakan qiyas khafi. b. hak perairan. berarti tanah lumpur itu pun termasuk wakaf.

Maka diambil hukum yang juz’i. mengutamakan qiyas khafi dari qiyas jalli. d. Hukum yang juz’i. kepada melihat aurat wanita karena ada hajat. Maka diambil hukum yang kedua.membawa fitnah. dibolehkan muzar’ah = nengah sawah. karena sangat dibutuhkan dan telah jadi kebiasaan.Dalam hukum yang bersifat umum. Pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhithbah untuk mengekalkan pada perjodohan. termasuk pada jenis jual beli Gharar. b. Kehujahan Istihsan 68 . c. Dalam qiyas khafi. tidak sah jual beli pada saat terjadi. Istihsannya. maka hukumnya haram. Maka Istihsannya mengambil hukum yang ke dua. menimbulkan masyaqqah. Maka qiyas khafinya. dibolehkannya jual beli salam ( jual beli dengan pembayaran lebih dahulu.Orang yang di bawah perwalian tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kaarena takut hancur. 4. barang belum ada. dari sisi adanya keperluan dan jika tidak. Istihsannya untuk kelangsungan dan tidak hancur. 2). Jika Ia mewakafkan hartanya untuk kekekalan. Istihsannya. jika tidak dilakukan akan membawa kesulitan. kecuali pencurian itu dilakukan pada saat kelaparan. Umar menyatakan. tapi barangnya dikirim kemudian). maka boleh . Maka hukumnya boleh. mengqiyaskan melihatnya seorang dokter pada sebagian aurat wanita saat mengobati/ memeriksa.Orang yang mencuri harus dipotong tangannya.Dilarang mendekati zinah.Contoh mengecualikan hukum juz’i daripada kulli a. Diperbolehkan melihat sebagian aurat wanita karena adanya hajat / keperluan. termasuk di dalamnya memandang wanita. dibolehkan ijarah = sewa menyewa.

Malikiyah dan sebagian ulama Hanabillaah. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri. 69 . Hambali dan Maliki juga memakainya. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar’i yang umum dalam peristiwaperistiwa yang dikemukakan. bahwa istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu.Menurut ulama Hanafiyah. dengan alasan” Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. Beliau berkata Barang siapa yang mempergunakan Istihsan berarti dia telah membuat syariat baru. Sedangkan Imam Syafi’i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. tetapi masih mebatasinya.

yang didak dijelaskan dalam ayat atau hadits. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. 70 . yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama.ISTIDLAL DENGAN QAUL SHAHABY 1. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahaby.

tentang bayi dalam kandungan. Ini bukanlah semata-mata hasil dari ijtihad dan penyelidikan beliau sendiri.Perkataan Aisyah ra. Oleh karena itu. dalam waktu yang panjang. tersebut. tersebut merupakan hukum yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena tidak mendapat perlawanan dari shahabat. hukum yang ditetapkan oleh shahabat Abu Bakar ra. tentu ia dengarnya dari Nabi saw. apabila ketentuan tersebut dapat diterima. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. Keterangan Aisyaah ra. Tidak ada shahabat yang membantah keputusan Abu Bakar ra. Kandungan itu tidak berdiam diri dalam perut ibunya lebih dari dua tahun berdasar ukuran yang bisa merubah bayang-bayang alat tahun. beriman kepadanya. bahkan dalam masalah yang sama Umar ra. Contoh Qaul Shahaby Di antara contoh dari qaul shahaby adalah : a. Oleh karena itu. mengikuti serta hidup bersamanya. niscaya ketentuan itu bersumber dari apa yang telah didengarnya dari Rasulullah saw.Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. 2. perihal bagian bebrapa orang nenek yang mewarisi bersama-sama ialah 1/6 harta peninggalan yang kemudian dibagikan rata antara mereka itu. biarpun menurut lahirnya adalah ucapan Aisyah sendiri. bahkan tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin dalam masalah itu. tidak lebih sedikit pun. b. bahwa maksimal waktu mengandung itu dua tahun.pun memutuskan demikian.Keputusan Abu Bakar ra. 71 .

begitu juga Imam syafi’i dalam Madzhab qadimnya. juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Dan juga shahabat kadang tidak sama dalam berijtihad. sedangkan dalam hal mujtahid sama saja. Dalam ayat di atas ada perintah untuk beri’tibar. Pendapat ini berasal dari Jumhur Asy-Ariyah. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a. b. Abu Bakar al-Razi. termasuk juga Imam Ahmad bin Hanbal. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. Abu Bakar juga Umar kadang menganjurkan agar mereka mengambil ijtihadnya sendiri. Ini berarti diperintah untuk berijtihad. tidak mungkin ada perintah seperti itu dan mereka saling mengikuti ijtihad yang lain. Pendapat ini berasal dari Imam Malik. dengan alasan 72 . Imam Syafi’I dalam madzhab yang jadid / baru. apakah mujtahid itu shahabat atau bukan shahabat. Mutazilah. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujah atas shahabat lainnya.3. Dengan alasan firman Allah swt. Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. Seandainya madzhab shahabat itu bisa jadi hujah. yang dimaksud dengan I’tibar di sana adalah qiyas dan ijtihad. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujah atas Ta’biin dan orang-orang yang telah datang setelah tabi’in.

c. Imam Malik. dengan alasan antara lain Menurut pendapat ini. 73 . menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. Nabi saw. karena itu pendapat shahabat wajib diterima. siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti. bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari 6 bentuk: 1). dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. bersabda ikutilah dua orang ini setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. Allah swt secara tegas memuji para shahabat. agar melakukan ma’ruf.Ayat di atas perintah Allah kepada para shahabat di saat itu. Ibnu Qayyim berkata. Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw. Ulama Hanafiyah. maka pendapat shahabat didahulukan. Qaul Qadim Imam syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. Shahabatku bagaikan bintang-bintang. sedangkan melakukan amar ma’ruf adalah wajib. kaarena merekalah yang pertama kali masuk Islam. pasti engkau mendapatkan petunjuk.

5.2). Maka ini tidak bisa jadi hujah. 3). akan tetapi bila tidak menemukannya. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw. Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat. Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. ISTIDLAL DENGAN SADDU DZARA’I 1. atau jalan. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. apa 74 . bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. Pengertian bahasa Kata bahasa syariat Dzariah berarti artinya yaitu media.dan maksudmaksudnya. Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur’an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4). Dalam artinya. 6.

Artinya. Jika dilihat dari jalan yang menyampaikan kepada tujuan. ini harus dibuka supaya yang diperintah dapat mudah dilakukan. ada jalan yang menyampaikan kepada yang dilarang. jalan kepada wajib. maka terbagi kepada dua. Contoh-contoh 75 . Dengan kata lain. dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. atau. wajib pula. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Artinya. jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. mendorong kepada perbuatan yang terlarang. disebut Dan ada jalan yang menyampaikan kepada yang diperintah. Dan kata artinya = mencegah atau menyumbat jalan.yang menjadi media / jalan kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. 2. Artinya. Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. ini disebut Terdapat definisi lain yang menyebutkan. dan ini harus dicegah atau disumbat supaya yang dilarang tidak terjadi. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. Dzariah adalah media yang dhahirnya mubah.

dapat dilihat dari a. maka akan mendorong pada perbuatan yang terlarang. Wanita yang ditinggal mati suaminya. 2). Mencari dana untuk membuat mesjid.Contoh Sanddu Dzariah 1).Untuk memperjelas Saddu dzariah dan contoh-contoh di bawah ini. dapat mengakibatkan timbulnya gangguan lalu lintas. agar mesjid dapat dibangun. 2).Contoh fathhu dzariah 1). 3. Meninggalkan jual beli pada waktu shalat jum’at. Melihat aurat perempuan dilarang. untuk menyumbat jalan terjadinya perzinahan. fathu dzariah. lalu berdandan sedang dia dalam keadaan Iddah. Menebang dahan pohon yang meliuk di atas jalan umum. b. Macam-macam Dzariah 76 . Berusaha agar dapat melakukan ibadah haji . hukumnya wajib. 3). adalah diperintah dan hukumnya wajib pula. 3). Dengan demikian yang dilihat dari dzariah ini adalah perbuatan-perbuatan yang menyampaikan kepada terlaksananya yang wajib atau mengakibatkan kepada terjadinya yang haram. agar dapat melakukan shalat jum’at adalah wajib.

ini akan menimbulkan fitnah. a. menanam anggur sekalipun akan dibuatkan khamer. Misalnya. berjualan makanan yang tidak menimbulkan bahaya. 77 .Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam. menjual senjata di waktu perang. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti Misalnya. Berzina menjadi perantara adanya percampuran dan ketidak pastian status nasabsesorang. Menjual anggur pada pabrik pembuat khamer. Ini halal karena untuk dibuat khamer adalah jarang. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. menggali sumur di belakang pintu rumah di jalan gelap yang bisa membuat orang yang akan masuk rumah jatuh ke dalamnya. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan. Meminum khamer mengakibatkan hilangnya akal. c. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. b. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Misalnya.

Kehujahan Saddu Dzara‟i a. lalu diceraikan oleh orang ketiga dengan keadaan belum dicampuri. Bentuk dzariah ini pandangan Imam Malik dan Ahmad adalah haram dan harus disumbat. sekalipun kata itu bagus maknanya bagi orang mu’min yaitu ‘ Sudikah kiranya engkau memperhatikan kami’.d. Allah melarang kaum mu’minin berkata pada Rasulnya kata ra’ina. dengan tujuan istri yang baru dicerai itu halal dikawini kembali oleh bekas suaminya yang pertama. Nikah Tahlil misalnya. Namun bagi orang Yahudi menjadikan kata itu sebagai media 78 . Ayat-ayat Alquran Dalam ayat ini Allah melarang orang mu’min memaki-maki orang musyrik atau tuhan yang mereka sembah. Misalnya. karena perbuatan yang demikian itu menjadi sebab mereka akan membalas memaki-maki Allah swt. yaitu akad nikah yang dilakukan oleh orang ke tiga terhadap janda yang ditalak tiga. Jual beli yang menjadi sarana bagi riba. Menghibahkan sebagian hartanya kepada seseorang di akhir tahun zakat untuk menghindari kewajiban zakat. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. pernikahan itu tidak berlangsung lama. 4.

R. yang artinya ‘ bodoh sekali kamu’. lalu nanti orang yang dicaci maki ayahnya itu berganti mencaci-maki ayahnya. karena memotong tangan pencuri pada waktu perang membawa akibat tentara-tentara lari menggabungkan diri dengan musuh. demikian juga jika mencaci ibu orang lain. Sunah Rasulullah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa orang mu’min dilarang mencaci maki ayah seseorang. Nabi melarang membunuh orang Munafiq. dan ini termasuk pada ikhtiyath.untuk mengejek Rasulullah saw. dengan arti bahasa mereka. b. Karena itu dilarang oleh Allah swt. 79 . 2). karena membunuh orang munafiq bisa menyebabkan Nabi dituduh membunuh shahabat-shahabatnya sendiri yang muslim. Larangan itu untuk menjaga supaya yang diharamkan tidak muncul. Abu Daud. 1). Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang. Nabi bersabda. Contoh lain dari Rasulullah saw. karena cara demikian bisa berakibat jatuh kepada riba. Tidaklah dipotong tangan pada waktu peperangan. dan ditangguhkan sampai selesai perang. Agar yang haram tidak muncul. 3). Nabi melarang kepada kreditur mengambil atau menerima hadiah dari debitur.

5).4). Hal ini untuk menjaga fitnah bahwa Nabi saw. 80 . maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath’i. memperkaya diri dan keluarganya. Jadi. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. c. Saddu Dzara’i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. Ada ulama ushul yang menyebutkan 1). dzariah masuk kedalam qiyas. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. 3). jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah / tujuan. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah. Nabi melarang fakir miskin dari Bani Hasyim untuk menerima bagian zakat. Contoh lain. tidak memelihara harta anak yatim karena takut dhalim atas dasar saddu dzariah. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para puqaha memakai dasar ini. melarang penimbunan karena penimbunan itu menjadi media kepada kesempitan atau kesulitan manusia. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari’ah. Fathhu dzara’i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. jelas menyebabkan terlantarnya harta-harta anak yatim. 2). kecuali apabila ia sebagai ‘amilin. Menurut Syafi’i. Nabi saw. sedang Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka.

menyebabkan hilangnya kemashlahatan untuk manusia. Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syar’ yang telah disyaratkan Allah swt. 81 . Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari’at samawi pada asalnya adalah satu. Karena itu perinsif saddu dzara’i tidak hanya melihat kepada niat dan maksud perorangan. meskipun kemudian Allah swt. ISTIDLAL DENGAN SYAR’UN MAN QABLANA 1. diharamkan binatang-binatang yang berkuku.menolak jadi saksi karena takut dusta. Maka syareat tersebut pada dasarnya adalah satu. tetapi juga melihat kepada kemanfaatan umum dan menolak kemafsadatan yang bersifat umum pula. Bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. dan Nabi Isya as. gajih sapi dan kambing. Telah mengharamkan beberapa hal kepada beberapa kaum seperti kepada Yahudi. 2. yaitu” Artinya. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar’un man qablana. Nabi Musa. sesuai firman Allah : Oleh karena yang menurunkan syareat samawi itu satu yaitu Allah swt.

dan pakaian yang kena najis tidak bisa jadi suci dengan dicuci.Juga ditetapkan bahwa dosa tidak bisa dimaafkan kecuali dengan membunuh diri. seperti qishash. Apabila Alqur’an atau hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah swt kepada umat sebelum umat Islam (umat Muhammad saw). Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah ( hubungan manusia dengan Allah swt. Macam-macam dan kehujahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. kecuali dengan dipotong kainnya. sering pula diceritakan dalam Alqur’an dan al Sunnah kepada umat Islam. 3. Ceritra tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masingnya mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. Berbeda dalam perinciannya meskipun intinya sama yaitu menyembah Allah swt. maka 82 . kemudian Alqur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka. Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebahagian hukum umat-umat yang sebelum kita ( umat Islam ) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebahagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku.

Misalnya. Untuk ini ada dua pendapat. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. bahwa hukum itu bukanlah merupakan hukum syara bagi kita. b. karena ada dalil syara yang membatalkannya. sebelum dipotong bagian yang kena najis itu. 3) berazam tidak akan mengulangi lagi. Lalu syari’at tersebut dibatalkan dengan Alqur’an dengan Firmannya c. syari’at yang berlaku pada jaman Nabi Musa as. 2) menyesali perbuatan ma’siat yang telah dikerjakan. Misalnya tentang kewajiban shaum bagi umat terdahulu juga bagi umat Muhammad. Lalu syari’at tersebut dibatalkan. dinasakh oleh Alqur’an. kemudian datang dalil syara yang membatalkannya atau menasakh. Bahwa seorang yang berbuat ma’siat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila ia membunuh dirinya. yang antara lain Taubat menurut syari’at Islam harus memenuhi tiga syarat. Dan contoh lain pada jaman Nabi Musa as. maka telah disepakati oleh seluruh ulama. 1) berhenti dari berbuat ma’siat. bahwa pakaian yang kena najis tidak akan dapat disucikan kembali. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam Demikian juga apabila Alqur’an dan al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyariatkan kepada umat terdahulu.tidak diperselisihkan lagi hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti. 83 .

alasan yang mereka kemukakan adalah: 1). Dan tidak ada indikasi yang menunjukan pembatalan terhadap syariat tersebut. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. Golongan ini beralasan dengan: - 84 . syari’at kita juga sepanjang tidak ada yang membatalkan. Ada ungkapan ulama ushul fiqih yang menyebutkan Syari’at umat sebelum kita. Misalnya - Jumhur ulama yang terdiri atas ulama Hanafiyah. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. juga syariat yang diturunkan Allah swt. karenanya umat Islam terikat dengan syariat itu. maka umat Islam terikat dengan hukum itu. dan tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu. Malikiyah. Syariat sebelum syariat Islam itu. sebagian ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad ibn Hambal menyatakan bahwa apabila hukum – hukum syariat sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasulullah saw. melalui wahyu.Pertama. yaitu Alqur’an bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah.

Nabi dahulu diutus khusus kepada kaumnya dan aku diutus untuk semua manusia Dengan perbedaan pendapat di atas. Mu’tazilah.2). menurut ulama Asy’ariyah. 2). Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita. karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. Kedua. menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. Dan mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah saw. Mereka beralasan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu. dan umatnya. Syi’ah dan sebagian ulama syafi’iyah. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. Demikian juga hukum-hukum yang 85 . kami berikan aturan dan jalan yang terang Dan alasan golongan ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. maka ada hal yang disepakati ulama : 1). Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita.

seperti keharaman beberapa makanan. 2). bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1). tidak berlaku bagi umat Islam. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. Bahwa Rasulullah saw. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama.dikhususkan bagi umat tertentu. 86 . Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. 4. berdasarkan firman Allah. 3). tetap berlaku bagi umat Islam. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahiem as. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. 3). karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. misalnya daging bagi Bani Israil. sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alqur’an. Bahwa Rasulullah saw. Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum. Bahwa Rasulullah saw. Sandaran syariat Nabi saw. Berdasar pada 4). 5). Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as.

karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as. Menurutnya. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.. Pengertian Secara etimologi ‘Urf’ berarti sesuatu yang dipandang baik. Menurut kebanyakan ulama ‘ Urf’ dinamakan juga ‘ Adat ‘. bahwa Rasulullah saw. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur’an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. Bahkan ada yang berpendapat. antara lain : 87 . bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath’i. ISTIDLAL DENGAN URF 1. menurutnya. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat.6). Ibnu Qusyairi berkata. Para ulama ushul Fiqih membedakan antara ‘ Adat ‘ dengan ‘ Urf ‘ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. Adat didefinisikan dengan” Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional Terdapat beberapa definisi tentang ‘Urf ‘ yang dikemukakan oleh para ulama ushul fiqh. yang dapat diterima akal sehat. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem.

Misalnya kata al-walad menurut bahasa sehari-hari hanya khusus bagi anak laki-laki saja. Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain. dari Cakupannya. Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafadh atau ungkapan tertentu. Contoh lain lafadh al-Lahm / daging. maka itu bukanlah urf. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. yaitu itu dapat dilihat dari obyeknya. sedang anak perempuan tidak masuk dalam lafadh itu. Macam-macam „Urf‟ Urf Keabsahannya. Dengan demikian ‘Urf’ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat. a. 2. Demikian juga kata Daabah.Urf adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. Padahal kata daging mencakup seluruh daging yang ada. 88 . dalam perkataan sehari-hari khusus bagi daging sapi atau kambing. dan dari 1). digunakan untuk binatang berkaki empat. Dari sisi obyeknya. Yang dibahas ulama ushul fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah ‘Urf’ budan ‘Adat’. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu urf berupa perkataan dan urf yaitu urf berupa perbuatan.

Kebiasaan masyarakat dalam cara berpakaian yang sopan dalam menghadiri pengajian. Jual beli mobil.2). bersifat umum. Urf khash ini tidak terhitung jumlahnya. urf yang 1). Adanya cacat tertentu pada barang tertentu yang dibeli dapat dikembalikan. Urf terbagi kepada dua bagian. Misalnya. dan urf urf yang bersifat khusus. b. adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. Kebiasaan jual beli mu’athah / yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. Gono Gini di Jawa. karena harga barang tersebut telah dimaklumi bersama. Urf al-Khash. Kebiasaan masyarakat dalam jual beli ada barang yang diantar ke rumah dan ada yang tidak diantar. Al-Urf al-‘Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. 2). tanpa ada biaya tambahan tersendiri. Misalnya. Penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. Membayar ongkos Bis Kota dengan tidak mengadakan ijab-kabul terlebih dahulu. seperti dongkrak. kunci-kunci sudah termasuk pada harga jual. Misalnya. seluruh alat untuk memperbaiki mobil. sesuai dengan perkembangan masyarakat. Al-Urf al-Amali. Dari sisi cakupannya. tanpa mengadakan ijab-kabul. 89 . seperti jual beli di swalayan. Kebiasaan masyarakat tertentu dalam memakan makanan tertentu atau minuman tertentu. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu.

biasa meminum minuman keras. Oleh karena itu. karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib.c. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath’i. kebiasaan yang berlaku dalam dunia perdagangan tentang indent. Al-Urf al-Fasid. Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. bukan sebagai mahar. Misalnya. Menarik pajak dengan hasil penjudian. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. 1). Kebiasaan dalam pembayaran mahar secara kontan atau hutang. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. berlawanan dengan ketentuan syari’at. misalnya biasa makan riba.Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara’.Misalnya. kebiasaan dalam mencari dana dengan cara mengadakan berbagai macam kupon berhadiah. c. dapat dibagi pada dua bagian yaitu yaitu kebiasaan yang dianggap benar. Kebiasaan seorang yang melamar wanita dengan memberikan sesuatu sebagai hadiah. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath’i. juga tidak membatalkan yang wajib. b. dan hakim dalam memutuskan perkara. yaitu 2). 3. disyaratkan sebagai berikut : a. Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’. Urf harus berlaku selamanya. dan kebiasaan yang dipandang rusak. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf 90 .

keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum sya’i. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. d. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian. Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah.pada waktu mewakafkan. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur’an atau hadits. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari’ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. mendapatkan penduduk jual beli salam tersebut. Mereka beralasan. Misalnya jual beli Salam ( jual beli pesanan ). Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. Mereka beralasan firman Allah - b. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan urf a. Lalu Rasulullah bersabda 91 . e. ketika ayat ayat Alqur’an turun.

Siapa yang melakukan jual beli salam pada kurma. maka hendaklah ditentukan jumlahnya. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan. 92 . dan tenggang waktunya. di antaranya” Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. Apabila kita perhatikan penggunaan Urf ini. bukanlah dalil yang berdiri sendiri. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. 5. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. takarannya. bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku.

Pengertian Secaara bahasa Iham artinya = memberi tahukan dan menempatkan. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa di jadikan hujah dalam menentukan hukum syara’ dan tidak boleh beramal dengan bedasar kepada 93 . Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain : Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah.ISTIDLAL „ AL-ILHAM ‘ 1. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. Terdapat definisi lain yang di ungkapkan oleh imam al-Jurjani yaitu Ilham adalah sesuatu yang dilontarkan ke dalam hati dengan jalan di tuangkan. 2. karena itu boleh beramal dengannya.

Perbedaan antara Ilham dan I’lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I’lam. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i’lam. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah.Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu : 8 tersebut di atas dan juga ada dari syaitan seperti pada ayat : Sesungguhnya Syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah Dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh jiwanya. 94 . Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macammacam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah. i’lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih / gugahan.

Jika tidak kamu temukan dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan menyia-nyiakan. Nabi berkata. Ijtaihad sebagai sumberhukum yang ke tiga dapat didefinisikan : 95 .QAIDAH FIQHIYYAH DASAR Agama Islam adalah agama Syariah artinya agama yang berdasarkan pada hukum dalam melaksanakan ibadahnya. kedua dari Al –Sunnah dan ketiga dari hasil Ijtihad. Ketika diutus ke Yaman. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits. saat Rasulullah bertanya pada seorang sahabta. Muadz . Bagaimana kamu memutuskan jika dihadapkan kepadamu satu keputusan? Ia menjawab. Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata “ Segala puji bagi Allah yang telah mencocokan (pendapat) seorang utusan dengan Rasulullah terhadap apa yang Rasulullah rido’i. Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah. Nabi berkata. yaitu Berkata nabi Saw kepada Muadz ra. bagaimana jika tidak kamu temukan dalam Kitab Allah? Ia menjawab aku akan putuskan dengan Sunnah rasulullah. Sumberhukum Islam diambil pertama dari Alkitab.

Mujtahid fi al-syar’i. mengkaji dohir nash quran dan sunnah. Orang yang berijtihad disebut mujtahid. 6)Mujtahis Muhafizl.Memahami Ilmu – ilmu Bahasa Arab 3).Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan Istinbath ( mengambil kesimpulan / penelitian) dari Kitab dab Sunnah. dan macam-macamnya yaitu 1). Di dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya melakukan langkah-langkah. Adapun langkah-langkahnya. 7). lalu mafhumnya 2) mengkaji pekerjaan Nabi. 4) Mujtahid Murajjih muqallid. dan mujtahid itu memiliki tingkatan-tingkatan. 4) Ijma shahabat.Mujtahid fi al-Madzhab. 3). 3) takrir nabi. Mujtahid 96 . Dan ijtihad sebagai sumberhukum yang ke tiga didasarkan kepada sebuah hadits nabi : Seseorang dapat berijtihad apabila dapat memenuhi syarat-syaratny adapun Syarat Ijtihad:! 1)Memahami Nash – nash al-kitab dan al-Sunnah 2). 2) Mujtahid Muntashib. Memahami Ilmu Ushul Fiqih. 5) Qiyas Dan jika mendapat kesulitan 6) Tawakuf / berpegang pada asalnya Qaidah-qaidah Fiqhiyyah adalah qaidah yang dibuat oleh para ahli Ijtihad yang diistinbath dari Alquran atau hadits Rasul untuk memudahkan dalam berijtihad untuk 5) mujtahid Muwazin.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “NIAT Siapa yang mengharapkan pahala dunia pasti kami akan memberinya dari dunia dan siapa yang mengharap pahala akhiraat kami akan memberinya dari padanya Sabda Nabi SAW : sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang ia niatkan - Siapa yang berutang ia berniat untuk membayarnya maka Allah akan membayarnya pada hari kiamat.menentukan sebuah keputusan hukum. dan siapa yang berutang ia berniat untuk tidak membayarnya kemudian ia meninggal maka Allah berfirman ‘Sesungguhnya aku akan mengambil hak hambaku kemudian diambil dari padanya (yang berutang) kebaikannya lalu di 97 . Dan dalam kaitan ini qaidah itu sangatlah penting sebagai suatu rumus atau patokan dalam berijtihad.

kemudian matanya mengalahkan dia (tidur nyenyak) sampai pagi hari maka Allah mencatat baginya apa yang ia niatkan sedangkan tidurnya merupakan sadaqah dari tuhannya. Memeras anggur haram tidaknya tergantung niat 98 . seperti makan. karena ia berniat untuk zinah 3. minum. bisa mendapat pahala karena niatnya.berikan pada kebaikan yang lain. Suatu pekerjaan yang halal bisa jadi haram karena niatnya. Sesuatu yang mubah. Niat orang mu’min lebih baik dari pada amalnya. Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya Contoh-contoh: 1. shalat. Wudhu. jika ia tidak mempunyai kebaikan di ambil dari kejelekan yang lain lalu di bebankan kepadanya - Siapa yang datang ke tempat tidurnya ia berniat untuk shalat kepada Allah. Hikam : Niat tanpa amal lebih baik dari pada amal tanpa niat. mandi. 2. R Al-Tabrani. Seperti haramnya seorang bercampur dengan istrinya. 4. dan shaum dan yang lainya mesti ada niat.

5.Orang yang mengutangkan mengambil barang orang yang berutang, tergantung niatnya; apakan 1. memperingatkan atau mencuri. (khaliyah=bebas) tergantung niat.

Kinayah ( sindiran) kata thalaq ‘

Artinya : Dalam amal yang disyaratkan menyatakan / menghadapkan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amal.

Contoh-contoh; 1. Kesalahan dari shalat dhuhur kepada shalat ashar dan sebaliknya. Kalau shalat dhuhur niat shalat ashar maka tidak sah 2. 3. 4. 5. 6. Kesalahan dari kifarat dhihar kepada kifarat kothli Kesalahan dari rawathib dhuhur kepada rawathib ashar Kesalahan dari shalat idul fitri kepada shalat idul Adhha Kesalahan dari shalat dua rakaat ihram kepada dua rakaat thawaf Kesalahan dari shaum arafah kepada shaum asyura.

Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Contoh-contoh ;

99

1. Seseorang berniat shalat mengikuti si zaed ternya si umar maka tidak sah mengikutinya, kareana ia tidak ada niat mengikuti kepada si umar. Dengan mengikuti kepada si Zaed dan ternya si Umar dengan tidak pakai niat. Maka dalam shalat berjamaah tidak disyaratkan menentukan Imam tapi hanya niat shalat berjamaah saja 2. Seseorang menyolatkan mayit kepada si Bakar ternyata si Khalid, atau berniat kepada perempuan ternyata laki-laki, maka tidak sah, maka dalam shalat mayit tidak disyaratkan menentukan mayitnya kecuali hanya niat shalat mayit saja. 3. Seseorang menshalatkan mayit. Maka dalam hal ini tidak perlu ditentukan jumlah mayitnya. Kalau ia menentukan jumlahnya 10 oarang misalnya ternyata lebih, Maka Ia harus mengulangi shalatnya secara keseluruhan karena di antara mereka ada yang belum di shalatkan, sementara mereka itu tidak jelas 4. Tidak perlu seseorang menetukan jumlah rakaat dalam shalat, kalau Ia niat shalat dhuhur lima rakaat atau tiga maka tidak sah 5. Seseorang menetukan zakat hartanya yang masih ghaib yang belum hadir di hadapannya. Maka tidak boleh.

Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat

Contoh-contoh :

100

1.

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat, maka kalau ia berniat shalat dhuhur di Mesir ternyata di Mekah maka tidak batal shalatnya karena niatnya masih ada, sedang menentukan tempat tidak ada hubungan dengan niat shalat

2.

Kesalahan dalam menentukan waktu shalat, kalau niat shalat ashar hari kamis ternyata hari jumat maka tidak batal shalatnya

3.

Kesalahan Imam menetukan orang yang shalat dibelakangnya, kalau berniat mengimami si Zaid ternyata si Umar maka tidak madharat karena tidak disyaratkan kepada Imam menentukan mamum dan tidak niat mengimami

Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan

Contoh-contoh: 1. Kalau nama istrinya Thaliq dan nama hamba perempuannya Hurrah, lalu Ia berkata Wahai Thaliq atau Wahai Hurrah. Kalau ia bermaksud mentalaq atau membebaskan maka jatuh talaq dan bebas atau hanya bermaksud memanggil maka tidak jatuh talaq dan tidak bebas. 2. Kalau seseorang membaca dalam shalat bacaan Alquran, dan tidak bermaksud yang lain maka sah bacaannya. Dan jika bermaksud memberi pemahaman kepada yang lain maka batal. Dan jika memuthlakan, menurut pendapat yang sah maka jadi batal.

101

tiga atau empat. dan ia ambil yang ia yakin. jika tabaruk(mengharapkan berkah) maka tidak. Apabila seorang dari kamu meragukan shalatnya. lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan. kalau ia bermaksud menggantungkan niatnya maka batal. maka janganlah keluar dari masjid. maka hendaklan ia lempar yang diragukan. Jika seseorang mengkaitkan niat kepada kata ‘insyaAllah’. KAIDAH-KAIDAH Artinya: Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Contoh-contoh : 102 . jika ia memutlakan maka batal.3. lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “SYAK Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu dalam perutnya. sehingga ia mendengar sesuatu atau mencium baunya.

karena pokonya tetap pada waktu malam 2. Suami istri bertengkar dalam hal tamkin. Tiba-tiba istri menggugat tidak pernah disandangi dan di nafaqahi oleh suaminya.1. Siapa yang yakin bersuci dan ragu dalam berhadats maka ia itu suci Siapa yang yakin berhadats dan ragu dalam bersuci maka ia itu berhadats Menurut pokok. Siapa yang ragu dalam shalat apakah tiga rakaat atau empat. maka ucapan yang benar adalah ucapan suami karena tidak adanya kemampuan . Sepasang Suami istri dalam berumah tangga sudah cukup lama. Siapa yang makan akhir siang tanpa ijtihad dan ragu dalam terbenamnya matahari batal saumnya karena pada pokoknya tetap pada waktu siang 3. sah saumnya . Seseorang membeli air dan mengaku tidak bersih dan ingin mengembalikannya. 3. 4. Siapa yang makan akhir malam dan ragu dalam terbitnya pajar. Maka ucapan yang benar adalah ucapan penjual karena pada asalnya sucinya air 103 . memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang Contoh-contoh : 1. Sebab menurut keadaan semula sebelum terjadi akad pernikahann kewajiban memberi sandang dan pangan tidak ada bagi sang laki-laki. 2. Gugatan itu di menangkan. maka tentukan yang tiga karena itu yang diyakini. maka tidak wajib nafaqah padanya karena nafaqah itu adanya kemampuan 5.

Jika seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat memberikan gantinya dan kemudian mereka berdua bertengkar tentang ujud penggantiannya. maka yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menerima hadiah. 104 . Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman.Pokok itu bebas tanggung jawab Contoh-contoh : 1. 2. 3. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian Contoh-contoh: 1. maka yang dimenangkan adalah orang yang merasa dirugikan. Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan. maka tidak ada tanggungjawab karena dhahirnya ia mati karena sebab yang lain dan itu yang lebih dekat pada kematian. kemudia lahir anak dalam keadaan hidup kemudian lewat waktunya tanpa ada sakit. Jika dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusaka. Sebab menurut asalnya ia bebas dari tanggungan memberikan gantinya. Seseorang memukul perut yang hamil. kemudia anak itu mati .

Dan jika burung diam kemudian terbang maka ia tidak bertanggungjawab untuk mencari burung. karena sakitnya bertambah maka terjadi kematian karena bertambahnya itu. kemudian terbang seketika. karena itu yang lebih dekat waktunya pada kematian. . Seseorang membukakan sangkar pintu burung. karena itu waktu yang paling dekat padanya 4. Dan pendapat lain tanggungjawabnya karena terbukanya sangkar menentukan terbangnya burung. 105 . KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „KERINGANAN‟ Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. dan tidak boleh menyandarkannya kepada yang semula.2. maka wajib mandi dan mengulangi shalat setelah tidurnya. 3. Sabda Nabi saw. Seseorang mendapatkan mani dan tidak merasa ihtilam. Aku diutus dengan membawa agama yang penuh kecendrungan dan toleransi / kemurangan. Seseorang membeli hamba sahaya kemudian ia sakit dan mata maka tidak boleh dikembalikan pada penjual. maka tanggungjawab ia untuk mencari.

ia berkata yang lurus lagi toleran. Nabi ditanya. keringanan keringanan mendahulukan.Thabrani Sebab-sebab timbulnya keringanan 1). 5). terpaksa. 4) kesukaran. sakit . lupa. 6). Kesukaran itu menarik kemudahan Contoh-contoh: 1. pengurangan. keringanan kemurahan. 3) kurang mampu. 4). 6). 5) Macam-macam keringanan 1). 2). 3).Dari Ibnu Abbas. keringanan mengakhirkan. keringanan dengan KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG‟ KESULITAN‟ . perubahan. 7). 2) kebodohan. Wahai Rasulullah agama mana yang paling dicintai Allah. keringanan pengganti. bepergian. Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk. demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring 106 . 7). keringanan pengguguran. R.

2. Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum 3. Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya 4. Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh 5. Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya Dan yang searti dengan kaidah di atas adalah kaidah :

Sesuatu itu bila sempit menjadi luas

Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

Contoh-contoh : 1. Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh 2. Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan

KAIDAH FIQHIYAH TENTANG”KEMADHARATAN”

107

Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.

Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman

Tidak ada bahaya dan tidak pula membahayakan.

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Contoh-contoh: 1).Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat 2).Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb 3).Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan 4).Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan

Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan

Contoh-contoh: 1).Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain 2).Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain

108

3).Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.

Kemadharatan membolehkan yang terlarang

Contoh-contoh 1).Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak. 2).Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa. 3). Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar. 4). Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum. 5) Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani.

tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG ”DLARURAT”

Artinya: Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan Ukurannnya.

109

Contoh: 1. Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim. dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. karena mu’amalat 4. Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang. dipandang cukup. Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar. Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa. tidak boleh untuk yang ke dua kali 3. hendaklah menutupi semua auratnya. Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat Artinya: Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat Contoh: 1. Menegur orang dengan cara sindiran. Dan jika cukup satu kali teguran. Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim. kecuali yang diperlukan 4. karena diperlukan orang banyak 2. Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan khitbah atau 110 . tidak membukanya. 2. karena diperlukan 3.

dan mendapatkan makanan yang tidak ada pemiliknya. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya. 2. Karena makan daging yang tidak disembelih kebolehannya berdasarkan nash.Jika yang madharat mendapatkan daging binatang yang tidak disembelih. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan.KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „MAFSADAT‟ Apabila dua kerusakan saling berlawanan.Boleh membedah perut yang mati jika ada bayi yang diharapkan hidupnya. 4. Contoh-contoh 1. maka yang paling sahih ia memakan daging itu dari pada memakan makanan tersebut.Boleh bagi yang terpaksa mengambil makanan orang lain dengan paksa. Contoh-contoh: 111 . sedangkan kebolehan mengambil makanan berdasarkan ijtihad.Diperbolehkan dalam agama melakukan qishash. maka harus diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya. hudud dan menindas pemberontak / penodong di jalan 3.Boleh memotong pohon orang lain jika diharapkan adanya udara yang berganti 5.

Contoh-contoh: 1. Di sini = Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagi hukum 112 . Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. karena memperhatikan sunnatnya 2. Sesuai.Dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban karena sangat sulit. seperti berdiri waktu shalat karena sakit.1.Menjaga batal shaum diutamakan daripada berkumur dan menghiruf air ke hidung dengan baik.Tidak diperbolehkan minum khamer dan makan hasil judi. Karena besar mashlahatnya.Mencorok-corokan rambut dalam thaharah hukumnya sunnat. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat. al-baqarah:219 2. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “ADAT Perintahlan dengan ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik . Karena kemafsadatannya lebih kuat / besar dari pada manfaatnya.Berbohong sifat tercela dan berdosa (mafsadat). . maka diperbolehkan. diterima akal sehat. Tetapi jika bertujuan mendamaikan pertengkaran. dan dibenci bagi yang berihram untuk menjaga dari jatuhnya rambut 3.

Seseorang menjual sesuatu dan memutlakannya. Contoh-contoh: 1. maka ditetapkan atas yang biasa 2. misalnya dg dirham 3. Jual beli dengan / mua’thah. dan makan jamuan karena bertamu.Masuk WC. yaitu jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang kepada penjual sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya.Jual beli yang berlangsung biasa. kembali pada urf 3.Masa lamanya hed / nifas kembali pada kebiasaan 5. Niat dalam shalat kembali pada urf tidak dijaharkan 2. Batas mesjid untuk shalat tahiyatul masjid.Contoh-contoh: 1. maka kembali pada kebiasaan. geratis dan tidaknya 4. dikembalikan kepada Urf.Memberi upah pada penjahit dan upah melukis. setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa. sesuai dengan harga / nilai yang biasa. maka tentang benang dan cat lukis kembali pada kebiasaan. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat 113 . yaitu sudah termasuk di dalamnya. tanpa ijab kabul karena harga barang tersebut sudah ma’lum.

Berubah ijtihad dalam arah salat. karena berubah kepada riba KAIDAH FIQHIYYAH „IJHTIHAD‟ Ijtihad Itu tidak batal karena ijtihad Contoh-contoh: 1. Lalu pada bagian lain ijtihadnya berubah 114 . Maka mengambil manfaat tidak termasul dalam syarat gadai 2. maka tambah itu tidak menduduki tempat syarat hutang. tidak mendapat bagian karena terhabiskan. 1/3 itu bersama dengan 3.Ijtihad Abu Bakar terhadap tawanan perang Badar dengan membayar tebusan. Cara itu terlarang.Ijtihad Umar dapat 1/3. tidak perlu mengulangi rakaat atas ijtihadnya yang pertama.Contoh-contoh: 1. dengan dikuatkan wahyu al-Anfal : 67.Jika disuatu tempat terjadi adat orang yang berutang menambah lebih dari utangnya. Lalu ada ijtihad Umar yang memutuskan agar mereka dibunuh. sementara ½ dan 1/6.Gadai di suatu tempat yang mengambil mafaat dari gadaian. Ijtihad Umar yang dijalankan dengan tidak membatalkan ijtihad abu Bakar 2.

2. karena ijtihadnya khulu itu bukan talaq. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „AL-ITSAR‟ Berlombalah dalam kebaikan Mendahulukan orang lain dalam ibadah terlarang Contoh-contoh 1. Itsar dalam air thaharah dan menutupi aurat 3.4. lalu mengawini yang ke 4 kali. Pendapat Al-Gajali.Itsar dalam shaf pertama.Itsar dalam mencari pengganti da’wah. tanpa didahului nikah yang lain. Ia tidak perlu cerai jika hasil ijtihad hakim yang sah. baru cerai jika dari perubahan ijtihad hakim.Itsar dalam memenuhi hajat yang miskin dan yatim. Lalu berubah ijtihadnya khulu itu sama dengan talaq. Dan mereka mengutamakan (orang lain) dari diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan Itsar selain ibadah dituntut 115 . 4. Pendapat yang ke dua sebaiknya Ia cerai karena ada dalam haram.Seseorang mengkhulu istrinya 3 kali.

Itsar dalam tijarah agar yang lain dapat laba QAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „ KEBIJAKAN IMAM‟ Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamuakan ditanya dari kepemimpinannya Tindakan pimimpin terhadap rakyat disesuaikan dengan kemaslahatan Contoh-contoh: 1. sekalipun orang salat dibelakannya dipandang sah.Tidak boleh memecat pekerja tanpa alasan yang sah 6.Itsar dalam tempat tinggal 2. Itsar dalam mengambil sadaqah 5.Tidak boleh memilih Imam salat orang fasik. 3.Tidak boleh mengangkat jabatan bagi yang tidak berprofesi dibidangnya 5. tapi itu dibenci.tidak boleh mendahulukan harta baet Mal yang penting dari yang lebih penting 4.Itsar dalam pakean 3. 116 . 2.Itsar dalam makanan 4. tidak boleh baginya mendahulukan salah satu dalam hal sama kebutuhannya.Tidak boleh wali menikahkan anak tanpa mempertimbangkan kafa’ah.jika pemimpin membagikan zakat pada mustahiq.Contoh-contoh: 1.

Fi mahal 3.tidak dijatuhi had. Syubhat fi al-Fa’il. karena ada dua nash yang berbeda) 3). adalah milik ayah.boleh – jumhur tidak). karena adanya perbedaan dalam penetapan hukum) Contoh-contoh : 1. yang diduga miliknya tanpa ada keraguan sedikitpun ( misalnya karena percis sama ). Karena Secara umum.Tolaklah had dengan syubhat Hukum had gugur karena syubhat Macam syubhat: 1). Kawin tanpa wali ( Abu Hanifah . mencuri harta anak. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „PENYEMPURNA WAJIB‟ 117 . Syubhat fi Thariq ( pada prosedur . Syub.Seorang tidak dijatuhi hukuman karena salah mengambil barang. anak dan harta miliknya. Kawin tanpa saksi ( Imam malik sah – jumhur tidak) karena diperselisihkan. dilarang.Tidak dihukum had. ( pada pelakunya ) 2) Syubhat fi mahal ( pada obyeknya. mencampuri perempuan yang kawin mut’ah (Ibnu Abbas boleh – Jumhur tidak boleh). Syub. Fa’il 2. tapi ada nash lain. Syub fi thariqah .

3. maka Ia itu wajib pula Contoh-contoh: 1.Wajib mencuci sebagian di atas sikut waktu mencuci sikut .Wajib mencuci sebagian leher dan kepala waktu mencuci muka 2.Wajib menutupi sebagian lutut.Taqwalah kepada Allah dengan sebenarnya taqwa Apa yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya. 4.Wajib menutupi sebagian wajah saat menutupi aurat bagi perempuan.dan mencuci betis waktu mencuci kaki. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „KELUAR DARI KHILAFIYAH‟ Siapa yang menjaga syubhat sungguh telah membersihkan agama dan harga dirinya Keluar dari perselisihan terpuji Contoh-contoh: 118 . dan perut di atas pusar saat menutupi aurat bagi laki-laki.

tapi pekerjaan yang disukai. dan yang lain tidak mewajibkan 4. Tidak menyalahi sunnah.Tidak menyukai memisahkan diri dari Imam Shalat tanpa alasan. Keluar dari pendapat Imam Daud yang menyebutkan batalnya Syarat: 1. Jumhur ulama tidak mewajibkan.1. 5. dan yang lain tidak mewajibkan 3.Disukai tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya dalam tempat tertutup. 3. Dikuatkan alasannya dengan dalil ( yang kuat ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RUKHSHAH‟ DAN „AMAL‟ Barang siapa yang terpaksa dengan tidak mengharapkan dan tidak mengulangi maka tidak ada dosa atasnya Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan ma'siat 119 .Tidak membuat/memperhatikan khilafiah yang lain 2.Imam Malik mewajibkan menggosok badan waktu Thaharah dan mengusap seluruh kepala.Tidak menyukai shalat munfarid di belakang shaf. Keluar dari Imam al-Tsauri yang mewajibkan.Menyukai mengkosor shalat dalam safar jarak 3 mil (84 km). Maka menganggap bukan wajib. itu sudah mencari jalan dari perselisihan Ulama 2. Keluar dari Imam Abu Hanifah yang mewajibkan. Keluar dari pendapat Imam Ahmad yang menganggap batal.

Memisah misahkan rakaat dalam witir lebih baik daripada menyambungkannya dalam satu salam.Contoh-contoh 1. seperti.Wajib shalat taam.Shalat sunat duduk.Wajib mencuci kaki bagi yang ragu-ragu bolehnya mengusap sepatu 2. karena tambah niat. 2. takbir. qashar. dan berbaring separah shalat duduk 120 .Menurut asal. jama shalat dan buka shaum. tidak boleh beristinja dengan makanan . Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan syak/ ragu Contoh-contoh: 1. karena istinja dengan batu adalah rukhshah.Tidak boleh karena safar.Tidak boleh karena safar. dan jumlah salam. mengharapkan darurat sehingga Ia dapat makan daging babi 3. mengharapkan sesuatu. 2.separah ganjaran berdiri. / sempurna bagi yang ragu bolehnya qashar shalat Pahalamu sebanding dengan kepayahanmu Sesuatu yang banyak pekerjaan lebih banyak keutamaan Contoh-contoh 1.

lebih baik dari 5. 2.3.Shalat berjamaah 1 x lebih baik dari 27 x shalat munfarid. karena ada dalil 4.Misalnya melakukan haji Ifrad .Bersidekah semua daging kurban. tidak lebih baik dari 8 Karena 8 sering Nabi kerjakan.Menjalankan sendiri-sendiri dua macam ibadah lebih baik daripada menjalankan dengan merangkapnya.7. dari sidkahnya setelah diambil barang untuk mencicipi ( ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG TENTANG „ KEMAMPUAN‟ Apa yang aku perintahkan kepada kamu lakukanlah sekemampuanmu Apa yang tidak dapat dikerjakan seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya Contoh-contoh: 121 . Kaidah ini untuk umum.9 karena haditsnya lebih kuat 3.Shalat Dhuha 12 rakaat. tidak lebih baik.Shalat witir 3 rakaat. lebih baik dari pada haji qiran Catatan:. tidak berlaku jika ada dalil khusus 1.

jangan ditinggalkan seluruhnya. jangan ditinggalkan sebagiannnya Yang mudah tidak gugur karena ada yang susah Contoh-contoh: 1. lakukanlah 6. lakukan semampunya 4.Berkata Imam Syafi.Yang sanggup untuk seorang dalam zakat fitrah. wajib cuci jari yang ada 2. wajib mencuci yang tidak luka dan mengusap yang luka 122 .i: yang bisu harus menggerakan lidahnya sebagai pengganti dari bacaannya.1.Yang tidak dapat belajar atau mengajar semua cabang ilmu.Jika sulit melakukan ruku / sujud dengan sempurna.Yang tidak mampu shalat malam 10 rakaat. lakukanlah 5.Yang sanggup membaca sebagian surat al-fatihah dalam shalat. 3.Jika putus sebagian jari. lakukan apa yang ada 7.yang luka pantang kena air.Yang sanggup menutup sebagian auratnya. Seperti isyarat bagi ruku dan sujud 8. dan mampu 4 rakaat.yang tidak dapat berbuat baik dengan 1 dinar dan mampu 1 dirham lakukanlah 2. tidak gugur wajib shalatnya 3. lakukanlah Dan yang semakna dengan kaidah ini Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya.Yang telah nisab zakat. sebagian ada padanya dan sebagian lain ada pada yang lain / gaib.

Haram mengambil hasil riba. haram pula pemberian / pembayaran hasil zina 3.Haramnya riba. haram pula memberikannya 2. haram pula mencari harta dengan cara riba 2. haram mencari uang untuk suap Apa yang haram mengambilnya haram pula memberikannya Contoh-contoh: 1.Haram dukun.Haram zina . haram pula memberikannya 123 . haram mencari upan untuk dukun 4.Haram mengambil hadil zina.Haram Suap.KAIDAH FIQHIYAH „KASAB DARI YANG HARAM‟ Hendaklah ada diantara kamu satu umat yang mengajak pada kebaikan dan menyuruh pada ma’ruf dan melarang pada munkar Apa yang haram melakukan haram pula mencarinya Contoh-contoh: 1.

124 .Haram mengambil hasil suap. 9. 6. 2.ikatan baik dengan tempat perbatasan musuh. 3. 10.shadaqah Jariah.Imam Al-Suyhuti menyebutkan 10 amal yang mengalir setelah mati :1-Ilmu yang disebarkan.Do’a anak.Mengajar Ilmu lebih baik daripada shalat sunat 2.membuat tempat berdzikir. 5. menanam kurma. haram pula memberikannya QAIDAH FIQIYAH TENTANG KEBAIKAN KONTINU Dan kami menuliskan apa yang tgelah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereke tinggalkan Kebaikan yang berkelanjutan lebih utama dari kebaikan yang pendek Contoh-contoh 1. haram pula memberikannya 4. mengajarkan Alquran.8. 7. 4.bikin sumur.membuat tempat berlindung.mewaristkan kitab.3./ bikin sungai.Melakukan fardu kifayah lebih baik dari fardu ‘Ain karena menghilangkan kesulitan bagi umat 3. (rangkuman dari hadits-hadits ).Haram mengambil hasil dukun.

kalau mengalir pada tempat lain. Ridhanya suami istri karena aieb. maka menurut pendapat yang sah tidak batal puasanya. kemudian bertambah. maka tidak ada tanggungjawab karena lahirnya binasa itu dari hasil izinnya 3. kemudian binasa karena pukulan. maka tidak boleh memilih pada yang lebih baik yang tidak aieb 2. Izinnya orang yang meminjamkan kepada yang meminjam untuk memukul hambanya yang dipinjamkan. maka tidak ada tanggunjawab. 4. Tempat meper maka dimaafkan. Seseorang berkata potonglah tanganku lalu dilakukan dan terputus. maka tidak ada fidyah padanya 5. karena itu lahir dari ridhanya QAIDAH FIQIYAH TENTANG HUKUM 125 .QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RIDHA‟ Ridha terhadap sesuatu ridha terhadap apa yang dilahirkan daripadanya Contoh-contoh 1. Kalau air berkumur melewati atau air menghirup ke dalam hidung melewati tenggorokan.maka pada pokoknya dimaafkan 6. Memakai wangi-wangian sebelum ihram lalu berjalan ke tempat lain setelah berpakaian ihram.

maka apabila hilang yang membinasakannya menjadi boleh. Haramnya hamer karena mabuknya. maka apabila diketahui ridhanya menjadi boleh 3.Hukum itu berputar beserta illahnya ada atau tidak adanya Contoh-contoh 1. dan haram itu apa yang diharamkan Allah dalam Kitabnya. dan apa yang Ia diamkan maka itu dari yang dimaafkan. Masuk rumah yang lain atau memakai pakaiannya maka haram karena tidak ada ridha. Haramnya makan racun karena membinasakan. maka ketika tidak ada sifat mabuknya maka menjadi halal seperti hamer dibuat cuka 2. seperti dibuat obat. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „IBAHAH‟ 126 . Nabi bersabda halal itu apa yang dihalalkan Allah dalam Kitabnya.

Raja Grafindo Persada 1996 127 . Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam. Yogyakarta. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. 2. Al-Ma’arif. Mubadi Awalliyah. Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sipat-sipat dan ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada binatang haram adalah halal dimakan. karena tidak memiliki sifatsifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya.Asal dalam segala sesuatu itu boleh Contoh-contoh: 1. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta.1986 Abdul Mujib. 1929 Mukhtar Yahya. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hamid Hakim. 1929 Abdul Hamid Hakim. As-Sulam. Nur Cahaya. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Binatang jerapah adalah binatang yang halal dimakan. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. 1984 Utsman M.

As-Sulam. Jakarta. Diponegoro. Asbabun Nuzul. Maktabah Sa'adiyah Putra. 1929. Orba Sakti. Abdul Hamid Hakim. Bandung. Qamarudin Saleh. Bandung 1993 Al-Khudari. 1929. DDII. Jakarta. 1929. 1972 Muhammad Abu Zahrah. Jakarta.A. Ushul al-Fiqh. 1981 Abdul Hamid Hakim. Mubadi Awalliyah. Ushul al-Fiqh. Baerut. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Ilmu Fiqh.Djazyuli. 128 . Abdul Hamid Hakim Al-Bayan. 1993. 1958 H. Dar al-Fikr.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Dar Fikr al-Arabi. Maktabah Sa'adiyah Putra.

129 . Ilmu Fiqh.A. 1984 Utsman M. H. Departemen Agama RI. 1995. 1986 Abdul Mujib. Dar al-Kitab Arabi. Al-Jurjani. Muhammad al-Thahan. Orba Sakti. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami. 1985. Syafi’i Karim.Munawar Khalil. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. al-Harmain. Bandung 1993. Bulan Bintang. Bairut. Raja Grafindo Persada 1996. Yogyakarta. 1992. 1977. Al-Ma. Taisir Mushthalah al-Hadits.Djazuli. Nur Cahaya. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Surabaya. Mukhtar Yahya.arif. Al-Ta'rifat. Fiqih Ushul Fiqh. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful