HUKUM, SUMBER DAN DALIL

1. Pengertian Hukum Para ahli ushul menta'rifkan hukum dengan :

Perintah / firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan ( perintah dan larangan), atau pilihan (kebolehan ) atau wadh'i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang bagi seseatu hukum ) Dari definisi di atas menunjukan, bahwa yang menetapkan hukum itu adalah Allah Swt. Hanya Allah hakim yang maha tinggi dan maha kuasa. Rasulullah penyampai hukum-hukum Allah kepada manusia. Oleh karena Allah yang menetapkan hukum, maka sumber hukum yang pertama dan paling utama adalah wahyu Allah yaitu Alquran, kemudian sunnah Rasul sebagai sumber hukum yang ke dua, dan sumber hukum yang ke tiga adalah Ijtihad.

2. Pengertian Sumber dan Dalil Secara etimologi ( bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan

1

kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ). Jadi prosesnya ialah : Dalil dalalah - madlul Perintah shalat - Wajib shalat Api dari segi ruang

Aqiemu ash-shalat Asap -

Ada yang terbakar

Dalil dapat dilihat dari berbagai segi : Dari segi asalnya, limgkupnya, dari segi kekuatannya.

a. Dalil ditinjau dari segi asalnya Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam: 1.Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan alSunnah. 2.Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad. Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.

b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu: 1. Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini

adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully. Contoh berikut dari dalil kully:

2

Dalil ini disebut dalil kully dari Alquran karena mencakup berbagai macam kerusakan yang dilarang oleh Allah Swt.

Dalil Kully dari hadits ini, menunjukan bahwa perbuatan apapun hendahnya disertai niat, dan amal seseorang akan dilihat dari sisi niatnya.

Artinya: Kesulitan itu membawa kemudadahan. Dalil kully dari Qaidah ini, memberi arti bahwa segala sesuatu yang tadinya sulit akan menjadi mudah. Dalil kulli dari Qaidah kulliyah ini tetap kembali kepada semangat atau didasari oleh isyarat Alquran dan al-Sunnah.

2.Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu, seperti Ayat ini disebut dalil Juz'i, karena hanya menunjukan kepada perbuatan puasa saja.

c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu Dalil Qath'i dan dalil Dhanni. 1. Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :

3

terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah. dan tidak semua hadits qath'i wurudnya. Dalil Qath'i al-Wurud. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan . jika mereka tidak mempunyai anak. b. b.a. 2. a. 4 . Dalil Dhanni.Dalil Dhanni. Dan wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya (beriddah) tiga kali quru.kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah ( Alquran) atau dari Rasulullah ( Hadits Mutawatir). kecuali menunjukan bahwa suami mendapat setengah dari harta peninggalan istri jika istrinya tidak mempunyai anak. Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya. Dalil Qath'i Dalalah.Dhanni al-Dalalah. yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Contoh Dan bagimu ( para suami) separoh dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu. adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad. Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu. yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw.Dhanni al-Wurud. Tidak ada ayat Alquran yang dhanni wurud. Ayat ini tidak bisa diartikan lain.

mashlahah mursalah. hukum bagi umat sebelum kita. Istihsan. Oleh karena itu para ula sering berbeda pendapat dalam menentukan hukum dari ayat tersebut di atas. Sedangkan yang lainnya. Qiyas dan sebagainya. Qiyas. Dari sini pula dapat dikatakan bahwa seperti. Karena itu dari sisi ini. para ahli ushul Fiqh sering menyebut terhadap adillah ahkam seperti Ijma. mashlahah mursalah. istihsan dan lain sebagainya tidak dapat dikatakan sebagai sumber hukum Islam. karena yang dikatakan sumber itu harus berdiri sendiri. Ishtishhab. maka dapat dikatakan bahwa. ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan. Qiyas. sebagai turuq istinbath al-Ahkam yaitu metode dalam menetapkan hukum. istihsan. apa yang dikemukakan Abdul Wahab Khalaf bahwa al-Adillah al-Ahkam identik dengan Mashadir al-Ahkam ( sumber hukum). tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alquran dan alSunnah. Ijma. tidaklah dapat dikatakan sumber. Saddu zdara'i. 5 .Kata Quru dalam ayat di atas bisa diartikan haid dan bisa diartikan suci. Oleh sebab itu. keberadaan suatu dalil. karena dalil-dalil ini hanya bersifat al-Kasyf wa al-Izhar li al-Hukum artinya hanya menyingkap dan memunculkan yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah. Ijma. Qiyas dan istihsan misalnya. Disamping itu. Karena suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah. Urutan Sumber Hukum Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Alquran dan al-Sunnah. Dari pengertian dalil yang diungkapkan di atas. mazdhab shahabi. seperti Ijma. Urf. Alquran dan al-Sunnah juga disebut sebagai dalil hukum. disamping sebagai sumber hukum Islam. 3.

2. Uruf. maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut : 1. Istihsan. Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Abu Daud) 6 . yang meliputi pada : Al-Ijma. Urutah sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah.Alquran. Saddu zdara'i. Mazdhab shahabi. al-mashlahah Mursalah. Nabi bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab . ( Ahmad. Al-Ishtishhab. al-Qiyas. maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah saw. Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh kemampuanku. Syar'un man Qablana. Turmudzi. Al-Sunnah 3. Ijtihad.Bila diurut.

ALQUR‟AN SUMBER HUKUM PERTAMA 1. Tinjauan Bahasa Kata Alquran dalam bahasa Arab berasal dari kata membaca. bila membacanya mengandung nilai ibadah. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah swt. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. kepada Malaikat. 7 . tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. para Rasul Allah dan kepada hari akhirat. ditukil dari Rasulullah secara mutawatir dengan tidak diragukan. meliputi : a. Seperti tertuang dalam ayat Alqur'an : Secara istilah Alqur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.Hukum-hukum I'tiqadiyyah. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas Al-Jurjani mendefinisikan Alqur'an: Alqur'an adalah (Kalamullah) yang diturunkan kepada Rasulullah tertulis dalam mushhaf. Bentuk mashdarnya artinya ' bacaan' dan / Qara'a artinya ' 'apa yang tertulis padanya'. 2. kepada Kitab-kitab. Hukum dalam Alqur‟an Hukum-hukum yang terkandung dalam Alqur'an.

Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. sedang keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat dan akan memberi warna terhadap yang lainnya.Hukum-hukum Amaliyah. memberi peluang kepada manusia untuk berpikir. 3. persaudaraan. persatuan dan keadilan. Perinsip umum itu adalah Tauhidullah.b.Hukum-hukum Khuluqiyyah. manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauhi prilaku yang buruk. Adapun dalam bidang-bidang lain yang pengaturannya bersifat umum. yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. maju dan dinamis. Hukum amaliyah ini ada dua. disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-bidang hukum yang lainnya. dan berbagai kasus dalam sepanjang jaman. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan 8 . c. Hukum dalam Alqur'an yang berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang alAhwal al-Syakhsyiyah / ihwal perorangan atau keluarga. Hal ini menunjukan bahwa manusia memerlukan bimbingan lebih banyak dari Allah swt dalam hal beribadah dan pembinaan keluarga. Alqur‟an dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alqur'an dalam menetapkan hukum menggunakan perinsip : a. Hukum Islam memberi peluang kepada masyarakat dan manusia untuk berubah. Namun kemajuan dan kedinamisannya harus tetap dalam batas-batas perinsip umum Alqur'an. karena dengan pengaturan yang bersifat umum itu Alqur'an dapat digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat. yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. tentu ini sangat bermanfaat. Banyak manusia yang menyekutukan Allah. ini perlu diluruskan dan teguran.

perintah zakat. misalnya kewajiban untuk shaum. bepergian boleh buka dan mengqadanya. dan dalam keadaan sakit. Ibadah hajji. juga hanya bagi orang yang istitha saja. b. mengqasar shalat dari empat menjadi dua rakaat. Haramnya minuman keras dan perjudian proses larangannya sampai tiga kali 9 .Dijumpai dalam Alqur'an hukum-hukum yang bersifat azimah ( kemestian ) dan hukum rukhshah ( kelonggaran. makan makanan yang terlarang dalam keadaan darurat. keringanan). hanya bagi orang yang mampu saja. Ini menunjukan bahwa Alqur'an menyedikitkan tuntutan.Menyedikitkan tuntutan Hal ini ditunjukan dengan firman Allah swt: Selain itu ayat Alqur'an yang berjumlah 6342 ayat ( menurut sebagian pendapat) hanya sekitar 500 ayat saja yang berkaitan dengan hukum.Bertahan dalam menterapkan hukum Hal ini dapat ditunjukan dengan beberapa contoh. bahkan sebagian pendapat menyebutkan kurang dari 500 ayat. bertayamum sebagai ganti air untuk berwudhu. Demikian juga misalnya . c.

d. Juga dalam hal tidak boleh mencaci berhala: Dalam ayat ini ada larangan memaki-maki berhala. kemudian dikuatkan kembali dalam surat Al-Nisa: 43 tidak boleh mendekati shalat jika mabuk. Hal ini dibuktikan dengan seringnya Alqur'an menyebutkan sebab atau illat hukum. disebut bahwa pengaturan tersebut dimaksudkan agar harta itu tidak hanya berputan di antara orang yang kaya saja. Perubahan dari masyarakat Jahiliyah ke masyarakat Islam tidak sekaligus.Dari ayat-ayat tersebut jelas tahapan-tahapan dalam mengharamkan khamer dan maisir. tapi bertahan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. karena bila kita memakimaki berhala. 10 . hanya disebutkan bahwa dosa minum khamer dan bermaisir lebih besar daripada manfaatnya. Misalnya tentang adanya pengaturan harta. Akhitnya diharamkan dalam surat Al-Maidah: 60 Pentahapan diperlukan agar tidak ada goncangan kejiawaan dan kewajibankewajiban bisa dilaksanakan dengan mantap. Dalam ayat 219 Al-Baqarah. mereka pun akan memaki-maki Allah.Alqur'an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia.

Kehujjahan Alqur'an Para ulama ushul fiqh dan lainnya sepakat menyatakan bahwa Alqur'an merupakan sumber utama hukum Islam yang diturunkan Allah dan wajib dilaksanakan. Alqur'an itu diturnkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. 2. maka barulah mujtahid tersebut mempergunakan dalil lain. Mukzijat Alqur'an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. 4. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat 11 . Oleh karena itu dalam hukum Islam tindak pidana zina bukan delik aduan akan tetapi delik biasa. Apabila hukum permasalahan yang ia cari tidak ditemukan dalam Alqur'an. dan ini memberi keyakinan bahwa Alqur'an itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alqur'an itu datangnya dari Allah. Yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya. Mukzijat Alqur'an juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alqur'an datang dari Allah swt. Ada beberapa alasan yang ditemukan ulama ushul fiqh tentang kewajiban berhujjah dengan Alqur'an: 1.Dalam ayat tersebut dilarang mendekati perbuatan yang akan mendorong pada zina. Zina itu termasuk pada perbuatan yang keji dan menuju pada kehancuran Akhlak manusia. antaranya 3. Seorang mujtahid tidak dibenarkan menjadikan dalil lain sebagai hujjah sebelum membahas dan meneliti ayat-ayat Alqur'an.

Contoh dalam Kaffarat sumpah : Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alqur'an mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan. Dan jika diartikan dengan haidl juga boleh (benar) sebagaimana yang dianut ulama Hanafiyah. kaffarat. dari segi turunnya berkualitas qath'i ( pasti benar) akan tetapi. 5. hudud . 6. misalnya . Oleh sebab itu. yaitu suci dan haidl. hukum-hukum yang dikandung Alqur'an ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zdanni (relatif benar).manusia.kata quru di atas merupakan lafal musytarak yang mengandung dua makna. Mukzijat Alqur'an menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menadingi Alqur'an itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. Misalnya lafal musytarak (mengandung pengertian ganda) yaitu kara / lafal yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 228. ayat-ayat waris. Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : 12 . apabila kata quru di artikan dengan suci. Ayat-ayat seperti ini. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. Alqur'an Dalil Qath'i dan Zhanni Alqur'an yang diturunkan secara mutawatir. sebagaimana yang dianut ulama Syafiiyyah ' adalah boleh / benar.

dan kaffarat. tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl : 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah kepada mereka. 2. hudud. hukum-hukum yang rinci ini. dan berapa kadar yang harus dizakatkan. Demikian juga dalam masalah zakat.1. umum. Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. berapa ra'kaat untuk satu kali shalat. Rasulullah saw. seperti dalam masalah shalat yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan. hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana. yang tidak bisa dimasuki oleh logika. apa hukum dan syaratnya. dan membatasinya. bersifat global / kully. dan muthlaq. hukum waris. dan muthlaq ini. mengkhususkan. 13 . Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan. seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah. Untuk hukum-hkum yang bersifat global. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. berapa nisab nisab zakat. umum.

yang mempunyai beberapa arti: = baru. Sunnah lebih umum disebut hadits. perbuatan atau persetujuan.Dalil Alqur'an 14 . selain Alqur'an baik berupa perkataan. = dekat. seperti dalam firman Allah Secara Istilah menurut ulama ushul fiqh : Semua yang bersumber dari Nabi saw. Dari arti-arti di atas maka yang sesuai untuk pembahasan ini adalah hadits dalam arti khabar.SUNNAH SUMBER HUKUM KEDUA 1. 2. Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti ' cara yang dibiasakan' atau ' cara yang terpuji. = berita.

juga Umar bin 15 . Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar. mereka bertanya-tanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. dengan ungkapan yang berbeda-beda. di antaranya : Nabi saw. Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnahku. bersabda : ingatlah sesungguhnya telah didatangkan kepadaku Alqur'an dan yang sepertinya bersama Alqur'an. diantaranya berbunyi : b. dan jika tidak mendapatkan dari Alqur'an. gigitlah sunnah dengan taring.Dalam Alqur'an banyak ayat-ayat yang menunjukan bahwa kaum muslimin diperintah untuk mengikuti Allah swt dan Rasulnya saw. Al-Ahzab : 36. Ahmad c. misalnya dalam Ali Imran :32. Ijma Shahabat Setelah wafatnya Rasulullah saw. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. sunnah khulafau' alRasyidin yang pada mendapat petunjuk . mereka mencarinya dari Alqur'an. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. ( Yaitu telah diberikan kepadaku yang sepertinya berupa Al-Sunnah ).Dalil Al-Sunnah Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw yang memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Sunnah. Al-Nisa : 80.

d. - b. pada umumnya bersipat global. Sebagai Bayan 16 . tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alqur'an. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. zakat. 3.Logika Alqur'an memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban.Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. misalnya tentang Shalat. puasa dan ibadah haji. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alqur'an Hubungan Al-Sunnah dengan Alqur'an dilihat dari sisi materi hukum yang terkandung di dalamnya sebagai berikut : a. zakat terdapat dalam Alqur'an dan dikuatkan oleh Al-sunnah. misalnya tentang shalat. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya.Sebagai Muaqqid Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alqur'an dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah.

belalang. darah dan daging babi. Dalam Shalat misalnya 2). Demikian juga tentang zakat. 4).Menciptakan hukum baru.an mengharamkan tentang bangkai. Kemudian Al-Sunnah membatasinya.Membatasi kemutlakan ( taqyid al-muthlaq) Misalnya. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya.Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur.an yang belum jelas. haji dan shaum. 17 . hati dan limpa. diperjelas dengan Sunnah. Alqur'an memerintahkan untuk berwasiat. kemudian al-Sunnag mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut.Mentakhshishkan keumuman Misalnya. dalam hal ini ada tiga hal : 1). misalnya perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal.Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alqur'an yang masih mujmal. - 3). Alqur.

Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat. dan juga tidak diyakini dustanya. yaitu : a. Tidak ada kemadharatan dan tidak pula memadharatkan Hadits ini adalah Sunnah Qauliyah yang memberikan sugesti kepada umat Islam. Sunnah Qauliyah. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. Contoh perkataan Nabi saw.Misalnya. dan burung yang berkuku kuat.Diyaniki dustanya.Diyakini benarnya. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar. Macam-macam Sunnah Sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam. atau berita berupa perkataan Nabi saw. hal ini ada tiga : a. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir 2). 3) Yang tidak diyakini benarnya. 4. seperti berita yang disamapaikan oleh orang bodoh 18 . Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada 3 hal : 1). dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alqur'an.Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. agar tidak membuat kemadharatan bagi dirinya juga bagi orang lain.

Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. dan ada yang tidak harus diikuti. bentuk tersebut : 1).Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan seperti gerakan badan dan gerakan anggota badan.Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. Ini lebih pada urusan. seperti cara shalat. Sunnah fi'liyah ini terbagi kepada beberapa bentuk. Seperti petunjuk cara makan yang ditunjukan Nabi saw.Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw.Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah. budaya dan kebiasaan. 3). Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. seperti kebiasaan berdiri. 2). seperti khabar yang disampaikan oleh orang adil c.b. cara berwudlu yang dipraktekan Nabi Saw. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. seperti khabar yang datang dari orang fasik ( orang yang mengakui peraturan-peraturan Islam tapi tidak mengindahkannya. ada yang harus diikuti oleh umatnya. keduniaan. cara minum yang diajarkan 19 . setrategi berperang. cara bercocok tanam dan lainnya. duduk. b.Perangi yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. Sunnah fi'liyah ini menunjukan tidak ada kewajiban untuk diikuti dan bersifat mubah.

shalat lima waktu. dan beristri lebih dari empat.Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal / samar tidak jelas. 6)Apa yang dilakukan Nabi saw. 5).Apa yang dilakukan Nabi saw. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. itu harus diikuti oleh orang muslim.Nabi saw. atau akan dipandang tasyri / syariat. Seperti perintah shalat dalam Alqur'an yang mujmal. memakai bajunya di atas dua mata kaki. seperti yang diriwayatkan An-Nawawi tentang wudhu Nabi saw. menjelaskan akan kebolehan / jawaz . ibadah hajji dll. apakah akan dipandang Jibilah. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. Maka Abu Ishaq meriwayatkan dari banyak muhaddits yang memandang Mandub. Seperti Adalah Nabi saw. c. (R. demikian juga ibadah Haji. seperti melakukan shaum wishal. Maka hukumnya sama dengan yang hukum mujmal tersebut. seperti shaum Ramadhan. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. Sunnah Taqririyah 20 . Adapun urusan alQurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw.Bukhari) ini menunjukan bahwa orang yang berwudhu boleh satukali-satukali dan boleh duakali-duakali. saja. dengan perbuatannya. diperjelas oleh Nabi saw. 4). Menurut Imam Syafi'i ada dua pendapat.

karena Nabi tahu keperluan orang buta sama dengan keperluan hidup orang melihat. Contoh 1).Taqrir Nabi saw.Taqrir Nabi saw. terhadap para wanita keluar dari rumah untuk hadir di mesjid mendengarkan khutbah-khutbah. membuat kueh. Maka Nabi tertawa dan tidak berkomentar apapun. terhadap 'Aisyah yang melihat orang Habasyah yang sedang bermain perang-perangan di Mesjid. Ia menjawab " saya ingat firman Allah swt ' janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri". seperti memasak. membereskan rumah dll. Hal itu disampaikan pada Nabi saw. misalnya dengan cara riba. tidak menyuruh untuk mengembalikannya. karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran.Taqrir Nabi saw.Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. yang tidak mandi junub ia hanya tayamum karena malam sangat dingin dan hawatir akan sakit. Nabi bertanya kepadanya. 3). akrena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. terhadap orang yang tidak melihat untuk berbelanja dan berjualan di pasar. tentu Nabi tidak akan membiarkan Sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah. 2). 6). mencuci. hal ini kerena kalaulah Nabi tidak setuju. maka sikap diam dan tidak mecegahnya. terhadap para Lelaki membantu pekerjaan istrinya di rumah. 5). tapi hendaklah bertaubat dari pekerjaannya yang telah lalu.Taqrir Nabi terhadap harta para sahabat yang diperoleh ketika mereka musyrik. 4).Amr ibn al-'Ash. namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. menunjukan persetujuan nabi. dengan seizinn dan ridhanya. 21 . atau sepengetahuan Nabi .Taqrir Nabi saw. Nabi saw.

Mutawatir itu ada dua : 1)Mutawatir lafzhi. Pada sunnah qauliyah tidak sebayank sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir.Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakan untuk berdusta. yang berjanji saat Ia marah tidak akan makan. Hadits Mutawatir dan Ahad. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan ma. Masyhur dan Ahad. kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali. 5. hadits masyhur masuk pada pembagian hadits ahad menurut ulama jumhur.nanya. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah ( yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. haji dan lain-lain. shaum.Mutawatir Ma.7) Taqrir Nabi terhadap ingkar janjinya Abu Bakar. Tentu Nabi tahu jika janjinya ditepati akan membawa kemadharatan. perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. a. Contoh : 2). Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadits: Mutawatir.nawi 22 . Sedangkan menurut jumhur. hadits dibagi kepada.

sampai kepada Rasulullah. shalat magrib 3 rakaat di rumahnya . 1).Nabi shalat magrib 3 rakaat di Mekah . dan sempurna ketelitiannya. Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw.Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain. . masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. Hasan . dan Dhaif.Hadits Adah Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Hadits Ahad ini terbagi kepada : Masyhur. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Contoh 2). Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad.Shahabat-shahabat Nabi shalat magrib 3 rakaat diketahui Nabi saw. tidak 23 . oleh sejumlah orang yang idak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. diterangkan dalam beberapa riwayat. kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabiut' tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas nutawatir. seperti shalat magribtiga rakaat.Nabi shalat magrib 3 rakaat di Madinah . Dan dalam definisi lain. tapi susunan masingmasing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. sanadnya bersambung. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw.Nabi shalat magrib 3 rakaat dalam safat. Dari bermacam-macam riwayat ini ada kesamaan yaitu ' shalat magrib 3 rakaat'. oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir. b. Shahih.Hadits Shahih.

Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. Contohnya 3). mudraj. munqathi. inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif. antara lain Hadits Maudhu. bukan dalam Asal / pokok amal. tetapi kurang ketelitiannya. segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw.mempunyai cacat atau illat. mudtharib. muallq. munkar dan mubham. bahwa para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal. mursal. 24 . dan walaupun diriwayatkan hanya seorang.. Pengertian yang terkandung di dalam hadits tersebut masih tercakup dalam pengertian yang terkandungdalam hadits shahih yang berbunyi : 6. mudallas. Contoh 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Contoh hadits dhaif tentang fadhilah amal. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits. sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Hadits Hasan. walaupun hanya sekali saja dalam hidup. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Imam An-Nawawi berkata. Hadits Dhaif ini banyak macamnya.

Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata kesulitan. yakni cara Rasul melaksanakan ibadah. adalah nama amaliyah yang mutawatir. berupaya keras.Sunnah. sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. IJTIHAD SUMBER HUKUM KE TIGA 1. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan. Dan juga bermakna artinya yaitu artinya Ia Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan. seperti kata berupaya keras mengangkat batu penggilingan. Dan menurut Istialah Ulama Ushul berarti : 25 . yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula.

hukum syara ( dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaflikasiannya. dan zhanniyu al-dalalah ( Nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan). Lingkup yang dilakukan ijtihad itu: a. Istihsan.Mencurahkan segenap kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan melakukan penelitian / kesimpulan dari Kitab dab Sunnah.Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. b. Urf dll. Qiyas. ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam nenerapkan huku (Ijtihad fi tathbiq ahkam). Ijtihad pada masa Rasul saw. 3. Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu. Istishab. Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i.Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniyul wurud ( hadits-hadits ahad). Ini dapat dilakukan dengan. maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad. 2. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukan oleh Nash Qath'i. Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum . dan Khulafa Rasyidin 26 .

antara lain Zaid bin Tsabit. 4. karena hawatir para Qa'ri banyak yang meninggal. yakni menerima tebusan.a. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i 27 . pernah terjadi kelaparan. hafizh Alquran. Ijtihad Abu Bakar dalam hal orang yang membangkang membayar zakat. Ia berpendapat bahwa orang yang membangkang membayar zakat harus diperangi sampai mau membayar zakat.a. Atas keadaan yang demikian itu Umar r. Ijtiha Umar r. Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar. tentang tawanan perang Badar. dan akibatnya terjadi pula pencurian. Dari dua pendapat itu. Ijtihad Abu Bakar. Di antara ijtiha para Shahabat ialah : a. penulis wahyu. adalah. Ijtihad Abu Bakar tentang usulan Umar bin Khatab untuk memushhapkan Alquran. karena ia berpendapat bahwa kemaslahatan yang diharapkan akibat pemberian hukum. tidak menghukumnya dengan potong tangan. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan.Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw.a. dibentuk panitia yang terdiri dari para Qa'ri. tidak bakal terrealisir beserta adanya bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. b. Lalu setelah menemukan kata sepakat. Pada masa Umar r.

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu.Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. antara lain: 1). Abu Bakar. dan aku tidak akan meninggalkannya). Muadz menjawab ( akau akan berijtihad dengan fikiranku. yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. maka ijtihad terbagi pada : a. 3). Demikian juga pesan Umar kepada Qadhi Suraih: dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu Apa yang tidak jelas bagimu terdapat dalam al-Sunnah maka curahkanlah fikiranmu (berijtihad). 2)Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas. terdiri dari Kakek bersama saudara. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. Ijtihad Fardi.Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasulullah jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan.Dalam kaitannya dengan ahli warits yang ditinggalkan oleh yang mati. Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa 28 . Adanya ijtihad fardi ini dapat ditunjukan dengan beberapa alasan.

setelah terjadi pertukaran pendapat di antara mereka. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah ?. Ijtihad Jama'i. Di sini kakek tidak menghijab saudara. maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. Alasan adanya ijtihad jama'i ini.saudara terhijab oleh kakek.Kesepakatan para shahabat atas tindakan Abu Bakar r. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. memerangi pembangkang membayar zakat. Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. b. Sedang menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah ( membagi sama) dengan Saudara. Contoh yang menunjukan adanya ijtihad jama'i ini: 1). 29 . yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah.a.

Agar seorang mujtahid dapat berijtihad.Syarat-syarat Ijtihad. sharaf. mutasyabih . 3).Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya.Kesepakatan para shahabat atas saran Umar r. ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya.a untuk menulis mushhaf Alquran. Juga mengetahui asbab al-nuzul. 5. disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. c.Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa ( natsar) maupun syair ( nadham). sewaktu beliau masih menjabat. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. ta'wil.Mengetahui nash-nash hadits. akan digantikan jabatan khalifah oleh Umar r.khash.a. dan hasil ijtihadnya berkualitas.muhkam. maka ia harus memiliki syarat-syarat : a. yang sebelumnya Abu bakar merasa keberatan karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw. ilmu nahwu. balaghah dal lainnya. 30 . yakni mngetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum / istinbath daripadanya.2). haqiqat majaz. b. dan lainnya. dan tahu antara 'aam .Kesepakatan para shahabat atas keimaman Abu Bakar dan persetujuan mereka.

sebagai ilmu metoda isthinbath. b. 31 . a. sanggup mengetahui illat hukum. e. dengan menggunakan ilmu tarjih.d. Jika usaha ini berhasil. lalu selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shabat.. Mentarjihkan salah satunya. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad. tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat.Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. metoda menemukan dan menterapkan hukum.Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. hendaknya.. 6.Mengetahui ilmu Ushul Fiqih. lalu memperhatikan pada perbuatan nabi/ hadits fi'li. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. Jika usaha tidak berhasil lakukan. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. f. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum mathuq dan dan mafhum dari keduanya. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan. dapat mengqiyaskan satu peris dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw.

Imam Au'zai dll. Mereka itu Imam Abu Hanifah. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah.Mujtahid fi syar'i Yaitu orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad.Mujtahid al-Muntasib Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. Membekukan ( tawaqquf) . a. Imam Ahmad bin Hambal. untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai. b. dan berbeda dalam hal cabang. mujtahid itu ada beberpa tingkatan.c. Muhammad ibnu Hasan dalam madzhab Syafi'i. Meneliti sejarah datangnya kedua nash. Merekalah yang membangun mazdhab. 32 . Imam Malik. 7. d. dalam madzhab Maliki. yaitu. untuk ditentukan yang datang kemudian / belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. dan berijtihad dengan hasil sendiri. Mujtahid ini seperti Abdurahman bin al-Qasim. Imam Syafi'i. sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu.

tapi Mujtahid itu hanya melakukan tarjih. Imam al-Muzani mujtahid pada Imam Syafi'i. d. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. Misalnya Imam Abu Yusuf adalah mujtahid pada madzhab Hanafi. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya. akan tetapi mereka hanya mengikuti Imam madzhab yang telah ada . dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu. Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini.Mujtahid al-Murajjih Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu.Mujtahid fi Madzhab Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk madzhab tersendiri.Tingkatan Muhafidh 33 . baik dalam masalah yang pokok atau masalah cabang. mengembangkan dasar-dasar madzhab. mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidahqaidah lama. yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. dan perbandingan di antara pendapat.Mereka itu. dan meletakan dasar-dasar tarjih. e. mereka menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan yang lemah dengan argumen qaidah tarjih. Pekerjaan mereka dalam berijtihad adalah mengeluarkan hukum / istinbath dari masalah yang tidak diriwayatkan oleh Imam.c.

tapi mengetahui mana yang kuat. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih.Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. riwayat yang jarang. antara pendapat dan riwayat-riwayat. f. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. 8. madzhab yang dhahir. Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. riwayat yang dhahir. riwayat. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. Alquran 34 .Tingkatan Muqallid Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu.

lalu benar maka baginya dua ganjaran dan jika salah maka baginya satu ganjaran. dan yang dimaksud dengan mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Al-Hadits Ya Rasulallah ! perkara datang kepadaku yang Alquran tidak menurunkan ketentuannya. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu 35 . dengan jalan meneliti nash-nash yang kadang-kadang tersembunyi atau hilang dari perhatian menerapkan qaidah-qaidah umum atau merealisir maqasid alsyariah. dan tidak ada Sunnah dari Tuan ? Ia menjawab : Kumpulkan orangorang 'Alim (atau ahli ibadah) dari orang-orang mu'min. lalu bermusyawarahlah di antara kamu dan jangan kamu putuskan dengan pendapat salah seorang. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. b.Yang dimaksud dengan mengikuti Allah dan Rasulnya dalam ayat tersebut adalah mengikuti yang telah ditetapkan dalam Alquran dan al-Sunnah. tapi kembali kepada yang telah disyariatkan Allah dan Rasulnya. Logika. ialah menghindari untuk mengikuti hawa nafsu. c. Jika hakim berijtihad . sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas.

Tinjauan Bahasa 36 . selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. 'IJMA' DASAR HUKUM ISLAM 1.mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi.

Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a. mentri dan lainnya.Alasan Hadits . 37 . b.Alasan Alquran Lafadz ulil amri.Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus. Umatku tidak sepakat untuk membuat kesalahan. 2. para mufti dan para ulama.akan suatu hukum syariat yang amali. maka wajib diikuti. seperti para mujtahid. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. seperti kepala negara. seperti pada ayat berikut ini: Juga berarti tekad atau niat ( ) Tidak ada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niat puasa pada malam Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ' ijma ' adalah Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. dan mencakup pemegang urusan agama. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama.

baik dengan perbuatannya. Kebulatan pendapat harus tampak nyata. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi. di sisi Allah pun dipandang baik juga.a. Pengangkatan Khalifah Abu Bakar r. akrena itu ahli ushul fiqih menyebutkan. itu bukanlah dalil yang menyendiri. Firman Allah AlNisa:59 ijma 3. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. misalnya dengan fatwa. b. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. . karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. 4. misalnya Qadhi dengan keputusannya. akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. Jumhur mengemukakan sejumlah contoh. Terdapat beberapa orang mujtahid.. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma ' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan'.terhijabnya cucu laki-laki dari anak laki-laki oleh anak laki-laki /ibnu 38 .Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Muslim.hak pusaka nenek 1/6 dari harta peninggalan . d. Unsur-unsur Ijma Dengan memperhatiakn definisi ijma di atas maka dapat dikatakan bahwa unsur-unsur ijma itu: a. Harus ada kesepakatan di antara mereka c. atau dengan perkataannya.

39 . maka terdiri dari : a.. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. Imam Daud berkata Ijma itu hanyalah ijma shahabat belaka 5. c. dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. terhadap sesuatu masalah. d. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma.saudara sebapak mempunyai setatus mengganti saudara seibu-sebapak. Yaitu persesuaian ahli Kufah. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. Batalnya pernikahan muslimah dengan non-muslim. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan. Salah seorang ulama bernama An-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus.Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsurunsur yang ada. b. Ijma Ummat. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan.

dan diamnya bukan karena takut.ulama Hanafiyah yang memandang hujjah. Ijma bentuk pertama disebut juga ijma ijma Haqiqi. yaitu Abu Bakar dan Umar. yang menjadi hujjah menurut ulama Jumhur. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadits: -Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa al-Rasyidin.e. karena diamnya mujtahid dipandang menyetujui apabila masalahnya telah dikemukakan kepada mereka. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. 40 . ijma terbagi kepada dua: a. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah. dan telah diberiwaktu untuk membahasnya. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat. atas dasar Teladanilah kedua orang ini sesudahku. sedang sebagian lainnya diam. hanya ulama . f. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan ( menfatwakan atau mempraktekan ). Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. menurut jumhur bukan hujjah. sedang ijma bentuk ke dua disebut ijma I'tibari. b.

'QIYAS' DASAR HUKUM ISLAM 41 . maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad.Dilihat dari sisi prosesnya.

Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya 2. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : 42 . Si pulan tidak sama dengan si pulan Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah bermacam-macam: Mengeluarkan hukum yang sama dari yang disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara keduanya. timbang/an. : Ia telah mengukur. Mengukur sesuatu atas misal yang lain dan menyamakan dengannya. Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran. ukuran. Ia telah mengukur sesuatu dengan lainnya atau atas lainnya.1. sukatan. : Ia sedang . Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan ( diterangkan) karena ada illat hukum. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata mengukur.

Ibnu Taimiyah berdalil dengan ayat di atas tentang Qiyas jahi hujjah. artinya. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata ubur.Alquran Jumhur ulama ushul.1. memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas alasan ayat di atas. Ayat di atas menyuruh mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasulnya. Maka qiyas adalah menyamakan hukum diantara dua masalah. baik urusan yang ada nashnya dan yang tidak ada nashnya. maknanya seimbang atau sama. dengan alasan. searti dengan kata al-taswiyah. 2. melewati atau melampaui. Maka Qiyas adalah mengembalikan urusan yang tidak ada Nashnya kepada yang ada nashnya dari Alquran dan al-Sunnah. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas. Dengan demikian Qiyas termasuk pada makna ayat di atas.Al-Sunnah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa Rasulullah menyetujui apa yang akan diputuskan Muadz bin Jabal dengan Ijtihad setelah tidak ada pada Alquran dan al- 43 . kata al-'Adlu. Maka Qiyas itu melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada hukum cabang.

Sunnah. Maka dalil di atas memberi isyarat akan bolehnya Qiyas, karena Qiyas itu termasuk Ijtihad. Dalam peristiwa yang tidak ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya dengan jalan Qiyas, misalnya, saat Rasulullah menjawab pertanyaan Umar r.a. tentang mencium istri saat shaum, Rasulullah mengqiyaskannya kepada berkumur-kumur waktu shaum, karena sama illatnya yaitu perbuatan permulaan, maka hukumnya sama tidak merusak shaum.

3.Perkataan dan perbuatan shahabat. a. Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

Gunakan pemahaman yang mendalam dalam masalah yang menggagapkan hatimu, yang tidak terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah. Cari kemiripannya dan keserupaannnya menemukannya. dan kemudian Qiyaskan perkara-perkara itu sewaktu

b.Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu Beliau sakit.

4. Alasan Logika

44

a.Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.

b.Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan.

c.Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

3. Rukun Qiyas a. Asal Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih, / musyabah bih. b.Cabang Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah. c.Hukum Asal

45

Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. d.Illat Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Contoh-contoh: Pokok 1.Khamer 2.Gandum 3.'Uf'' pd. orang tua 4.Makan harta yatim Wisky Padi / Beras Memukul orang tua bakar harta yatim Cabang Illat memabukan makanan pokok menyakiti merusak harta hukum haram wajib zakat haram haram

4. Syarat Qiyas a.Syarat-syarat Pokok 1).Hukum pokok itu masid ada atau berlaku/ tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum. 2).Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa 3).Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian, seperti tetap dipandang sah puasanya orang yang lupa meskipun makan dan minum, mestinya puasanya itu menjadi rusak, karena sesuatu tidak bisa tetap ada bersama adanya penghalang. Namun tetap dipandang sah karena ada hadits yang mengecualikan. Maka seperti ini

46

b. 47 .Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat.Illat berpengaruh pada hukum. memabukan adalah illat haramnya meminum minuman keras. Hukum bagi orang lupa hukum pengecualian. yang menurut ulama Ushul ' apabila datang nash. 4).Syarat-syarat Illat 1).Illat Harus tetap berlaku. 2). 3). 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. karena wudhu ada sebelum Hijrah. tentu ada hukum. qiyas menjadi batal.tidak bisa jadi pokok. seperti melindungi jiwa adalah illat wajibnya qishash. Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. sedang tayamum setelah Hijrah. karena itu tidak sah mengqiyaskan orang yang dipaksa kepada orang yang lupa. manakala ada illat.Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat.Syarat-syarat Cabang 1). Misalnya mengqiaskan wudhu kepada tayamum dalam wajibnya niat karena keduanya samasama taharah. Qiyas tersebut tidak benar.

makanlah dan simpanlah. jika berlawanan maka nash yang didahulukan.Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih).3). maka nsha yang didahulukan. karena banyak orang berkumpul ( yang memerlukannya). Ijma dan Istinbath ( penelitian ). Misalnya. tidak dapat dipakai arti lain selain untuk memberi illat larangan menyimpan daging binatang Qurban. kecuali hanya untuk memberi illat diutusnya para Rasulullah saw. Maka (jika tidak banyak lagi orang berkumpul). bahwa perempuan itu dapat memiliki dirinya. 1). Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat Ada beberapa cara untuk mengetahui illat hukum yaitu dengan melalui: Nash. Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. Maka ini berlawanan dengan nash. Contoh yang Sharih di antaranya: Kalimat liallaa yakuna sampai kalimat ba'da rasul. Kalimat liajliddaffah.Illat tidak berlawanan dengan nash. maka sah nikahnya tanpa izin walinya. tidak dapat diartikan dengan arti yang lain. seperti . diqiaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya. 48 . Hanyalah aku melarang kamu dari menyimpan daging binatang korban. dan adakalanya dengan isyarat.

c) Didahulukan anak saudara laki-laki seibu sebapak dari anak laki-laki sebapak. Didahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari saudara sebapak dalam waris.Contoh dengan isyarat. di antaranya: Kalimat yang digaris bawah adalah illat larangan jual beli hari jum'at Kata yathhurna adalah illat boleh -campur Kalimat 'al-qatilu' ialah illat tidak mewarisi 2).Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a. e). b) Dengan qiyas pula didahulukan anak paman seibu sebapak dari anak pamam yang sebapak. Contoh Illat yang diketahui dengan melalui Ijma seperti a) mendahulukan saudara laki-laki seibu sebapak dari pada saudara laki-laki sebapak dalam warisan karena ada talian kekerabatan ibu. mak hukumnya qath'i. Al-Munasabah 49 . 3).Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya.

125. 5). 50 .Hifdlu al-Maal. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam. 2). al-Nur ayat : 2 6). dari disyariatkannya memerangi orang kafir dan yang menghalangi da'wah. misalnya 1).Hifdlu al-Dien.Hifdlu al-Nafs. mempertahankan agama adalah sifat/ illat.Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. menjaga harta adalah sifat dari disyariatkannya hukum potong tangan. al-Nur : 4 b. menjaga kehormatan atau kemuliaan diri adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had / jilid 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berzina tidak dapat membuktikan 4 orang saksi.Hifdlu al-Aqli. menjaga keturunan adalah sifat dari disyariatkannya haram berzina dan diwajibkannya hukum Had dan ranjam.Al-Sabru wa al-Taqsim Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. menjaga akal adalah sifat dari disyariatkannya hukum Had bagi peminum khamer.Hifdhu Nasal.AlBaqarah:179 3). al-Maidah : 38 4). menjaga jiwa adalah sifat dari disyariatkannya kishash. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya. melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok.Hifdlu A'radh. Al-Baqarah: 193 dan al-Nahl.

51 . Maka diambil yang memabukannya. sedang illatnya sama sebagai hamba sahaya. yang bedanya ialah kelaki-lakiannya. c.Tahqiq Al-manath Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. Maka ditetapkan hukum bagi setiap pembunuhan dengan alat apa saja. misalnya: Mencuri itu .Tanqih al-Manath Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. yaitu pembunuhan dengan sengaja mempergunakan alat atau sesuatu yang biasa digunakan untuk membunuh. mengambil barang orang lain dari tempatnya ini (pokok). Khamer : Ada sifat Baunya. ada warna. mengistinbath bahwa pembunuhan mewajibkan adanya qishash. Misalnya. dan ada memabukannya. menurut Hanafi tidak dipotong. apa termasuk mencuri ? Apa mesti di potong ? menurut madzhab Syafi'i dan Maliki mesti dipotong. apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. d.Misalnya. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. Mengqiaskan Ammat (hamba perempuan) kepada Abdun (hamba lakilaki). e. baik alat itu digunakan saat turun ayat Alquran atau alat itu tidak digunakan. tapi diperselisihkan pada cabang.Takhrij al-Manath Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. Mengambil kapan di kuburan ( cabang ).

Maka membakar harta anak yatim haram diqiaskan kepada memakannya. tentang terlarangnya perhiasan perak bagi laki-laki diqiaskan kepada terlarangnya perhiasan emas bagi laki-laki. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. Macam-macam Qiyas Qiyas itu ada beberapa macam.Qiyas Aula Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. karena sama-sama merusak harta. Sedang makan harta anak yatim diharamkan ( Alquran : al-Nisa : 10). Misalnya mebakar harta anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim. Memukul orang tua tentu lebih dilarang karena selain menyakiti hati. lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. antara lain: 1. dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi ( mulhaq bih ). 2. membandingkan memukul orang tua kepada ucapan 'ah '. Misalnya. karena persamaan illat 52 . Mengucapkan 'ah' kepada orang tua dilarang dan haram karena Illatnya menyakiti. dari sisi merusaknya.Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. ( al-Isra : 23 ).Qiyas al-Adwani Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. 3.5. Misalnya qiyas sebagian ahli Ushul. juga menyakiti jasmani.

tetapi tidak mewajibkan hukum padanya. Karena hamba itu diqiaskan kepada harta. menunjukan hukum.Qiyas Syibhi Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok ). diqiaskan kepada ibadah haji. karena sama-sama keturunan Adam. Misalnya mengqiaskan harta milik anak kecil kepada harta milik orang dewasa dalam kewajiban mengeluarkan zakat. dihadiahkan. Dapat pula diqiaskan kepada harta benda. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. diwariskan. maka hamba yang dirusak itu dapat diganti dengan nilai.khuyalaa ( sombong ). Dalam hal ini Imam Abu Hanifah berpendapat. Namun budak tersebut diqiaskan dengan harta benda. Haji tidak wajib bagi orang yang belum dewasa. 5. karena sama dapat diperjual belikan. Maka Illat pada perak lebih rendah daripada illat yang ada pada emas. Dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah. 53 . seorang hamba sahaya yang dirusak oleh seseorang.Qiyas Dilalah Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. karena keduaduanya sama-sama dapat dimiliki. Misalnya. harta milik anak kecil tidak wajib dizakati. Hamba yang dirusak itu bisa diqiaskan dengan orang merdeka. 4.

tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. memperoleh dalil. seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim. Imam al-Jurjani. memberi arti istidlal secara umum. ( Istidlal ). menarik kesimpulan. maka hendaklah mencari dalil lain. kemudian al-Sunnah. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran . Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya. alSunnah. 54 . yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan alSunnah. yaitu dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan.ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya : minta petunjuk. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti. Al-Ijma dan Qiyas. yaitu menentukan Terdapat arti istidlal yang lebih khusus. lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas.

antara lain: 1. 6. menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. 7. / al-Urf ISTIDLAL DENGAN ISTISHAB 1. terus menemani. / al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. 8. 4. atau al-mushahabah : menemani . juga istimrar al-suhbah . 3. 5. 2.Para ulama ushul fiqih. Kata lain dalam Bahasa Arab : Saya membawa serta apa yang telah ada pada waktu yang lampau Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: 55 . Pengertian Bahasa Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya ' menemani ' atau ' menyertai'.

Imam al-Syaukani memberi definisi. 2. Contoh-contoh Istishab 1. hibah atau wasiat. berdasarkan persaksian dua orang sebelumnya. 2. maka pemilikan tersebut terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yang menunjukan perpindahan pemilikan pada orang lain.Orang yang hilang tetap dipandang hidup sehingga ada bukti atau tanda-tanda lain yang menunjukan bahwa dia meninggal dunia.Menetapkan utang atas seseorang. 5. warisah.Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli.Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami istri sampai ada bukti lain yang menunjukan bahwa mereka telah bercerai 4.Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah.Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah 56 . 3. Macam-macam Istishab 1. dan tidak hilang karena keragu-raguan. sampai adanya bukti pembayaran.Tetap dipandang sah punya wudlu bagi yang yakin sebelumnya telah berwudlu. 3. Yaitu menetapkan ( hukum) sesuatu sepanjang tidak ada yang merubahnya.

disebabkan adanya transaksi kepemilikan. sampai adanya sebab lain yang menyebabkan hak milik itu berpindah tangan kepada orang lain. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum. Hak milik suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu.Istishab yang ditunjukan oleh al-syar'u atau al-Aqlu Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. 3.Terhadap istishab ini Ibnu Qayyim menyebutnya Bara'ah al-'Adam alAsliyah. Contoh : Terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya. sehingga ada dalil yang menunjukan. Misalnya. Anak kecil sampai datangnya baligh. yaitu akad. hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya. Tidak adanya shaum Sya'ban. karena keraguan yang muncul terhadap batal atau tidaknya wudhu tersebut tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang. Tidak adanya kewajiban shalat yang ke enam waktu. Contoh : Seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya.Istishab al-Hukmi / Dalil umum 57 . 2. Contoh lain. hingga apa bila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau telah batal maka berdasarkan istishab wudhunya dianggap masih ada.

para ulama fiqih menetapkan berdasarkan Ijma. 5. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. Bahwa tatkala tidak ada air. kewajiban menginfakan hasil usaha manusia dan hasil eksploitasi alam. maka orang ini oleh semua madzhab dianggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang menunjukan bahwa ia telah meninggal dunia. Apabila dalam keadaan 58 . misalnya hak memiliki warits. Misalnya. seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. oleh karena itu pemilikannya dipandang tetap. Dan asal dalam sesuatu ( mu'amalah ) adalah kebolehan. kandungan ayat umum tersebut tetap berlaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah Contoh. Berdasarkan ayat yang umum ( al-Baqarah : 267). 4.Istishab hukum yang ditetapkan ijma lalu terjadi perselisihan Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. Contoh: Apabila seseorang dalam keadaan hidup meninggalkan kampung halamannya.Istishab Washfi Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang.Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram.

menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. apa shalatnya harus dibatalkan ? untuk kemudian berwudhu atau shalat itu ia teruskan ? Ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah menyatakan tidak boleh membatalkan shalatnya. seperti ' Hasan al-Basri'. Bentuk mashdarnya al-Mursalah. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. Syafi'i. 4.shalat ia melihat ada air. selama tidak ada dalil yang merubah. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. Tinjauan Bahasa Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan = beres. Tapi ulama Hanafiyah dan Hambaliyah menyatakan ia harus membatalkan shalatnya. ISTIDLAL DENGAN MASHLAHAH MURSALAH 1. Dan sebagian besar dari ulama mutaakhirin juga demikian. karena ada Ijma yang menyatakan salahnya sah bila dilakukan sebelum melihat air. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. Kata al-Mashlahah dari kata 59 .

Juga dapat berarti. dari kata = diutus. akalnya. = keberesan. memerangi orang yang membangkang membayar zakat. dapat dilihat dari contoh: 1. jiwanya.atau mendatangkan kebaikan. dikirim. Contoh-contoh Untuk memudahkan memahami maslahah mursalah ini. Yaitu sesuatu yang Kata mursalah . Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. 2. berarti prinsip kemaslahatan. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. dirasakan oleh hukum.Kebijaksanaan Abu Bakar ra. dipakai. sesuai dengan akal dan tidak terdapat pada asal. = mengutus. dalam memushhafkan Alquran. 60 . menunjuk Umar ra. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. kemaslahatan. bermakna : Maslahah Mursalah adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. jadi khalifah. Bentuk isim maf'ulnya Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. dipergunakan. keturunannya dan hartanya. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat.

5. Syarat-syarat Para ulama terdahulu seperti Asyatibi telah memberi persyaratan terhadap mashlahah mursalah yang kemudian diteruskan oleh ulama-ulama berikutnya.Usaha Ali bin Abi Thalib. dari nash Alqur’an dan Al-Sunnah 61 . 6.2. Abdul Wahab Khalap dan Abu Zahrah misalnya memberi persyaratan: a. dan juz’I yang qath’I wurud dan dalalahnya.Upaya Abu al-Aswad al-Du'ali dan Khalil bin Ahmad al-Nahwi dalam memberi harakat pada Alquran. 7.Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah.Dicetaknya mata uang untuk memudahkan dalam bermuamalah.Putusan Umar bin Khatab tentang mengadakan peratudan berbagai pajak. lembaran-lembaran yang lain. untuk mengurangi kejahatan dan menyiarkannya dan kemudian membakarnya kemadharatan. 3. yang mencuri karena lapar dan masa paceklik. 3.Tindakan ulama-ulama Malikiyah menahan dan mengasingkan orang yang tertuduh agar dia mengaku apa yang telah diperbuatnya.Putusan Usman bin Affan ra. dan putusan beliau tidak menjalankan hukum potong tangan terhadap pencuri. memberantas kaum syi'ah Rafidhah yang telah berlebih-lebihan dalam kepercayaan dan tindakan mereka. dalil-dalil kulli. 4. 8. tentang menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf.dll. agar mudah dibaca dan tidak salah membaca. ra.Adanya penjara bagi orang jahat.

hifdu nasal. Misalnya. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. 4.Dilihat dari sumbernya 1). kemashlahatan ini diakui oleh para ulama. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. b. hifdul aqli dll. dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. d. Mashlahah Dharuriyah.Kemaslahatan tersebut bersifat umum.akal.Dilihat dari kepentingannya 1).Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’i. jiwa.Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur’an dan Al-Sunnah. 2).Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. hifdun nafsi. Macam-macam Mashlahah a. misalnya hifdulmal. 62 . artinya harus ada penelitian dan pembahasan.Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar. memelihara agama. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath’I ini. yang disebut juga dengan mashlahah mu’tabarah.Maslahah Hajiyah. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud.b. yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar ( mashlahah dharuriyah).Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimnulkan memadharatan dan kerusakan. Ini kembali kepada yang lima. 3). keturunan dan harta. karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud. 2).

dalam ibadah boleh qashar shalat. berburu. boleh jual beli salam. pakai yang indah-indah. yaitu: 1) lafadh mengisyaratkan akan mengerti untuk tidak menyakiti yang lain. Misalmya dalam hal ibadah menutupi aurat. Dalam uqubah/ jinayat boleh menolak hudud karena subhat. isyarat obat bagi keraguan. tidak memberikan sesuatu melebihi batas kemampuan. tidak berbuat curang dalam timbangan. menjaga najis. Dalam adat. 5. dengan berdasar pada firman Allah swt. yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. dan ini mashlahah 63 . menjaga adat makan dan minum. dan memberi petunjuk terhadap jalan yang benar.Mashlahah Tahsiniyah. buka shaum bagi yang safar. 3). Abdul Hamid Hakim menyebytkan bahwa syara memperhatikan kemashlahatan secara umum. Dalam uqubah. wanita dalam peperangan. makan. 3). 2) Lafadh yang sangat besar. Dalam muamalah. makai pakaian yang bain waktu akan shalat. Kehujahan mashlahah mursalah.Lafadh memberi isyarat akan akhir dari kemashlahatan. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafadh yang ditunjukannya. tidak membunuh anak-anak. Dalam muamalah. Dalam adat.

6).Lapadh memberi isyarat akan ucapan bahagia dan selamat atau tahniah. tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. jika seorang peneliti menemukan kesulitan tentang hukum sesuatu. Ucapan kebahagiaan dan selamat menunjukan akan kemashlahatan. 3). 1). maka lihatlah pada mashlahah dan madharatnya.4)Lafadh memberi isyarat bahwa tidak ada kemashlahatan yang sangat besar kecuali datang dari Allah swt. Maka dengan petunjuk dan isyarat itu semua bahwa syara mehendakaki dan memperhatikan kemashlahatan bagi mukallafnya. 5).Menurut sebagian ulama Maliki dan sebagian ulama Syafi’I.Di antara ulama yang paling banyak menggunakan mashlahah mursalah ialah Imam Malik. Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata.Lafadh Ini juga menunjukan bahwa Alqur’an dengan segala kemanfaatannya lebih bermashlahah daripada semua yang mereka kumpulkan. 2).Ulama-ulama syafiiyyah. Di antara para ulama ushul ada yang menerima dan ada pula yang menolak berhujah dengan mashlahah mursalah. Untuk ini Imam Al-Qarafi berkata: 64 . Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah tidak menjadikan mashlahah mursalah sebagai hujah.

Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata – – artinya mencari kebaikan. – Secara Istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : 65 . artinya mencari yang lebih baik. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan Dalam Alquran dijumpai kata itu. ISTIDLAL DENGAN ISTIHSAN 1. karena mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan anata satu dengan lainnya karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang mengikat.Sesungguhnya berhujah dengan mashlahah mursalah dilakukan oleh semua madzhab.

kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. Bila seorang anak menitipkan barang kepada bapaknya. Seseorang yang dititipi barang harus mengganti barang yang dititipkan kepadanya apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. apabila ia sudah dewasa dan berakal. Berdasarkan Istihsan anak kecil tersebut boleh membeli barang-barang yang kecil yang menurut kebiasaan tidak menimbulkan kemafsadatan. Contoh Istihsan Untuk memudahkan memahami Istihsan di bawah ini disajikan contoh: a. kemudian barang tersebut digunakan oleh bapaknya untuk membiayai hidupnya.Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. b. 3. maka berdasarkan Istihsan si bapak tidak diwajibkan untuk menggantinya. Seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum. Bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya kewarung untuk membeli sesuatu ?. karena ia mempunyai hak menggunakan harta anaknya untuk membiayai keperluan hidupnya. Istihsan yaitu berpindah dari qiyas pada qiyas yang lebih kuat 2. Macam-macam Istihsan Istihsan terbagi kepada dua bagian : 66 .

Dengan demikian maka apabila seseorang yang berwakaf telah mewakafkan sebidang tanah pertanian. lantaran kedua-duanya sama-sama melepaskan hak milik dari pihak pemilik. Tentang wanita. maka dalam hal ini tidak perlu untuk terrinci.Wakaf diqiyaskan kepada sewa-menyewa. berarti tanah lumpur itu pun termasuk wakaf.Mengecualikan hukum juz’i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). Contoh istihsan yang mengutamakan qiyas juz’i dari qiyas jalli. bahwa wanita itu aurat (aib. Contoh lain. Dalam qiyas jalli – Wakaf diqiyaskan kepada jual beli. Dalam qiyas jalli. hak perairan. air minum dll sekalipun tidak disebutkan dalam perjanjian. b. Dalam hal wakaf tanah. Karena wakaf itu diqiyaskan kepada jual beli maka dalam wakaf pun harus jelas terinci. Dengan kata lain masalah pengaiaran. cela ) . Adapun segi istihsannya adalah mengutamakan qiyas khafi. Memandang aurat wanita diqiyaskan kepada ‘wanita itu aurat’ dilihat dari sama – sama akan 67 . maka termasuk di dalamnya.Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. karena pada keduanya dimaksudkan pengambilan manfaat. karena akan membawa pada fitnah. air minum dan hak melewati. menyewakan tanah lumpur dengan tidak disebutkan semua itu. Karena wakaf diqiyaskan kepada sewa – menyewa.a.Dalam jual beli mesti jelas terinci tertulis jenis-jenisnya. Dalam hal ini tidak mesti terrinci. Contoh –contoh: 1). walaupun tidak disebut. Karena yang dimaksud dengan wakaf adalah pemanfaatan barang yang diwakafkan kepada pihak yang menerima wakaf. Dalam qiyas khafi .

menimbulkan masyaqqah. Maka Istihsannya mengambil hukum yang ke dua. Diperbolehkan melihat sebagian aurat wanita karena adanya hajat / keperluan.Contoh mengecualikan hukum juz’i daripada kulli a. mengutamakan qiyas khafi dari qiyas jalli. Maka qiyas khafinya. dibolehkan ijarah = sewa menyewa.Dalam hukum yang bersifat umum. dibolehkan muzar’ah = nengah sawah. maka boleh . Maka hukumnya boleh. c. mengqiyaskan melihatnya seorang dokter pada sebagian aurat wanita saat mengobati/ memeriksa. Istihsannya.membawa fitnah. kecuali pencurian itu dilakukan pada saat kelaparan. dari sisi adanya keperluan dan jika tidak. Istihsannya untuk kelangsungan dan tidak hancur. Hukum yang juz’i. karena sangat dibutuhkan dan telah jadi kebiasaan. tidak sah jual beli pada saat terjadi. Istihsannya. maka hukumnya haram. 2). Dalam qiyas khafi.Dilarang mendekati zinah. Umar menyatakan. termasuk di dalamnya memandang wanita. d. barang belum ada. Jika Ia mewakafkan hartanya untuk kekekalan. Pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhithbah untuk mengekalkan pada perjodohan. Maka diambil hukum yang juz’i.Orang yang di bawah perwalian tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kaarena takut hancur.Orang yang mencuri harus dipotong tangannya. dibolehkannya jual beli salam ( jual beli dengan pembayaran lebih dahulu. kepada melihat aurat wanita karena ada hajat. termasuk pada jenis jual beli Gharar. jika tidak dilakukan akan membawa kesulitan. 4. b. tapi barangnya dikirim kemudian). Kehujahan Istihsan 68 . Maka diambil hukum yang kedua.

bahwa istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. Hambali dan Maliki juga memakainya. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. Sedangkan Imam Syafi’i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. tetapi masih mebatasinya. dengan alasan” Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar’i yang umum dalam peristiwaperistiwa yang dikemukakan. 69 . bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu. Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. Beliau berkata Barang siapa yang mempergunakan Istihsan berarti dia telah membuat syariat baru. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan.Menurut ulama Hanafiyah. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri. Malikiyah dan sebagian ulama Hanabillaah. Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat.

Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahaby. yang didak dijelaskan dalam ayat atau hadits. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. 70 . yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama.ISTIDLAL DENGAN QAUL SHAHABY 1.

Perkataan Aisyah ra. bahkan tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin dalam masalah itu. 71 . Oleh karena itu. apabila ketentuan tersebut dapat diterima. tentang bayi dalam kandungan. beriman kepadanya. tidak lebih sedikit pun.pun memutuskan demikian. Tidak ada shahabat yang membantah keputusan Abu Bakar ra. 2. Oleh karena itu. tersebut. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. Ini bukanlah semata-mata hasil dari ijtihad dan penyelidikan beliau sendiri.Keputusan Abu Bakar ra. tentu ia dengarnya dari Nabi saw. Keterangan Aisyaah ra. dalam waktu yang panjang. perihal bagian bebrapa orang nenek yang mewarisi bersama-sama ialah 1/6 harta peninggalan yang kemudian dibagikan rata antara mereka itu. niscaya ketentuan itu bersumber dari apa yang telah didengarnya dari Rasulullah saw. b.Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. Contoh Qaul Shahaby Di antara contoh dari qaul shahaby adalah : a. mengikuti serta hidup bersamanya. hukum yang ditetapkan oleh shahabat Abu Bakar ra. tersebut merupakan hukum yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena tidak mendapat perlawanan dari shahabat. bahkan dalam masalah yang sama Umar ra. bahwa maksimal waktu mengandung itu dua tahun. Kandungan itu tidak berdiam diri dalam perut ibunya lebih dari dua tahun berdasar ukuran yang bisa merubah bayang-bayang alat tahun. biarpun menurut lahirnya adalah ucapan Aisyah sendiri.

Dan juga shahabat kadang tidak sama dalam berijtihad. Dengan alasan firman Allah swt. Abu Said sahabat Imam Abu Hanifah. Abu Bakar al-Razi. tidak mungkin ada perintah seperti itu dan mereka saling mengikuti ijtihad yang lain. Mutazilah. Seandainya madzhab shahabat itu bisa jadi hujah. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujah atas Ta’biin dan orang-orang yang telah datang setelah tabi’in. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. b. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a. sedangkan dalam hal mujtahid sama saja. termasuk juga Imam Ahmad bin Hanbal. apakah mujtahid itu shahabat atau bukan shahabat. Imam Syafi’I dalam madzhab yang jadid / baru. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujah atas shahabat lainnya. yang dimaksud dengan I’tibar di sana adalah qiyas dan ijtihad. Abu Bakar juga Umar kadang menganjurkan agar mereka mengambil ijtihadnya sendiri.3. juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah. Ini berarti diperintah untuk berijtihad. Dalam ayat di atas ada perintah untuk beri’tibar. dengan alasan 72 . Pendapat ini berasal dari Imam Malik. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. Pendapat ini berasal dari Jumhur Asy-Ariyah. begitu juga Imam syafi’i dalam Madzhab qadimnya.

Shahabatku bagaikan bintang-bintang. Imam Malik. karena itu pendapat shahabat wajib diterima. c. kaarena merekalah yang pertama kali masuk Islam. pasti engkau mendapatkan petunjuk. Nabi saw. sedangkan melakukan amar ma’ruf adalah wajib. agar melakukan ma’ruf. Ibnu Qayyim berkata. 73 . bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari 6 bentuk: 1). dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas.Ayat di atas perintah Allah kepada para shahabat di saat itu. maka pendapat shahabat didahulukan. Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw. Qaul Qadim Imam syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. dengan alasan antara lain Menurut pendapat ini. bersabda ikutilah dua orang ini setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. Ulama Hanafiyah. menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. Allah swt secara tegas memuji para shahabat. siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti.

Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat. Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur’an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4). bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. 3). atau jalan.dan maksudmaksudnya. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. Pengertian bahasa Kata bahasa syariat Dzariah berarti artinya yaitu media. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. apa 74 .2). Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw. 6. Dalam artinya. ISTIDLAL DENGAN SADDU DZARA’I 1. 5. Maka ini tidak bisa jadi hujah. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. akan tetapi bila tidak menemukannya. Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya.

jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. Artinya. atau. 2. dan ini harus dicegah atau disumbat supaya yang dilarang tidak terjadi. dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. disebut Dan ada jalan yang menyampaikan kepada yang diperintah.yang menjadi media / jalan kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan. Dzariah adalah media yang dhahirnya mubah. jalan kepada wajib. ini harus dibuka supaya yang diperintah dapat mudah dilakukan. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. Dan kata artinya = mencegah atau menyumbat jalan. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. Jika dilihat dari jalan yang menyampaikan kepada tujuan. ini disebut Terdapat definisi lain yang menyebutkan. mendorong kepada perbuatan yang terlarang. ada jalan yang menyampaikan kepada yang dilarang. Artinya. Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. maka terbagi kepada dua. Dengan kata lain. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Artinya. Contoh-contoh 75 . wajib pula.

adalah diperintah dan hukumnya wajib pula. agar mesjid dapat dibangun. Melihat aurat perempuan dilarang.Untuk memperjelas Saddu dzariah dan contoh-contoh di bawah ini. Mencari dana untuk membuat mesjid. 2). Meninggalkan jual beli pada waktu shalat jum’at. 2). untuk menyumbat jalan terjadinya perzinahan. 3. agar dapat melakukan shalat jum’at adalah wajib. maka akan mendorong pada perbuatan yang terlarang. hukumnya wajib. Macam-macam Dzariah 76 . b. Dengan demikian yang dilihat dari dzariah ini adalah perbuatan-perbuatan yang menyampaikan kepada terlaksananya yang wajib atau mengakibatkan kepada terjadinya yang haram. Wanita yang ditinggal mati suaminya. Berusaha agar dapat melakukan ibadah haji . dapat mengakibatkan timbulnya gangguan lalu lintas. fathu dzariah. 3).Contoh Sanddu Dzariah 1).Contoh fathhu dzariah 1). lalu berdandan sedang dia dalam keadaan Iddah. 3). Menebang dahan pohon yang meliuk di atas jalan umum. dapat dilihat dari a.

Misalnya. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. menggali sumur di belakang pintu rumah di jalan gelap yang bisa membuat orang yang akan masuk rumah jatuh ke dalamnya. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti Misalnya.Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam. Ini halal karena untuk dibuat khamer adalah jarang. menjual senjata di waktu perang. a. berjualan makanan yang tidak menimbulkan bahaya. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan. c. Menjual anggur pada pabrik pembuat khamer. ini akan menimbulkan fitnah. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. menanam anggur sekalipun akan dibuatkan khamer. b. Misalnya. Meminum khamer mengakibatkan hilangnya akal. Berzina menjadi perantara adanya percampuran dan ketidak pastian status nasabsesorang. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. 77 .

karena perbuatan yang demikian itu menjadi sebab mereka akan membalas memaki-maki Allah swt. Ayat-ayat Alquran Dalam ayat ini Allah melarang orang mu’min memaki-maki orang musyrik atau tuhan yang mereka sembah. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. dengan tujuan istri yang baru dicerai itu halal dikawini kembali oleh bekas suaminya yang pertama. sekalipun kata itu bagus maknanya bagi orang mu’min yaitu ‘ Sudikah kiranya engkau memperhatikan kami’. Bentuk dzariah ini pandangan Imam Malik dan Ahmad adalah haram dan harus disumbat. Kehujahan Saddu Dzara‟i a. yaitu akad nikah yang dilakukan oleh orang ke tiga terhadap janda yang ditalak tiga. Nikah Tahlil misalnya. Jual beli yang menjadi sarana bagi riba. pernikahan itu tidak berlangsung lama. Menghibahkan sebagian hartanya kepada seseorang di akhir tahun zakat untuk menghindari kewajiban zakat. Namun bagi orang Yahudi menjadikan kata itu sebagai media 78 . Allah melarang kaum mu’minin berkata pada Rasulnya kata ra’ina. 4.d. lalu diceraikan oleh orang ketiga dengan keadaan belum dicampuri. Misalnya. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan.

Nabi melarang membunuh orang Munafiq. karena memotong tangan pencuri pada waktu perang membawa akibat tentara-tentara lari menggabungkan diri dengan musuh. Contoh lain dari Rasulullah saw. Tidaklah dipotong tangan pada waktu peperangan. demikian juga jika mencaci ibu orang lain. 3). lalu nanti orang yang dicaci maki ayahnya itu berganti mencaci-maki ayahnya.untuk mengejek Rasulullah saw. dan ditangguhkan sampai selesai perang. Nabi melarang kepada kreditur mengambil atau menerima hadiah dari debitur. Agar yang haram tidak muncul. dengan arti bahasa mereka. Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang. Karena itu dilarang oleh Allah swt. b. 1). Sunah Rasulullah Hadits Nabi di atas menunjukan bahwa orang mu’min dilarang mencaci maki ayah seseorang. dan ini termasuk pada ikhtiyath. 79 . R. Nabi bersabda. karena cara demikian bisa berakibat jatuh kepada riba. 2). Larangan itu untuk menjaga supaya yang diharamkan tidak muncul. yang artinya ‘ bodoh sekali kamu’. karena membunuh orang munafiq bisa menyebabkan Nabi dituduh membunuh shahabat-shahabatnya sendiri yang muslim. Abu Daud.

Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari’ah. Fathhu dzara’i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah. c. tidak memelihara harta anak yatim karena takut dhalim atas dasar saddu dzariah. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. Nabi melarang fakir miskin dari Bani Hasyim untuk menerima bagian zakat. memperkaya diri dan keluarganya. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. Ada ulama ushul yang menyebutkan 1). jelas menyebabkan terlantarnya harta-harta anak yatim. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath’i. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para puqaha memakai dasar ini. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. Jadi.4). kecuali apabila ia sebagai ‘amilin. melarang penimbunan karena penimbunan itu menjadi media kepada kesempitan atau kesulitan manusia. Menurut Syafi’i. dzariah masuk kedalam qiyas. Contoh lain. Nabi saw. sedang Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka. Hal ini untuk menjaga fitnah bahwa Nabi saw. jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah / tujuan. maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. 3). Saddu Dzara’i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. 80 . 2). 5).

Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar’un man qablana. sesuai firman Allah : Oleh karena yang menurunkan syareat samawi itu satu yaitu Allah swt. 2. ISTIDLAL DENGAN SYAR’UN MAN QABLANA 1. menyebabkan hilangnya kemashlahatan untuk manusia. Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syar’ yang telah disyaratkan Allah swt. Karena itu perinsif saddu dzara’i tidak hanya melihat kepada niat dan maksud perorangan. diharamkan binatang-binatang yang berkuku. Nabi Musa. meskipun kemudian Allah swt. tetapi juga melihat kepada kemanfaatan umum dan menolak kemafsadatan yang bersifat umum pula. yaitu” Artinya. gajih sapi dan kambing. Telah mengharamkan beberapa hal kepada beberapa kaum seperti kepada Yahudi. Maka syareat tersebut pada dasarnya adalah satu. Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari’at samawi pada asalnya adalah satu.menolak jadi saksi karena takut dusta. dan Nabi Isya as. Bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. 81 .

kemudian Alqur’an atau al-Hadits menetapkan bahwa hukum tersebut diwajibkan pula kepada umat Islam sebagaimana diwajibkan kepada mereka.Juga ditetapkan bahwa dosa tidak bisa dimaafkan kecuali dengan membunuh diri. Apabila Alqur’an atau hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyari’atkan oleh Allah swt kepada umat sebelum umat Islam (umat Muhammad saw). 3. dan pakaian yang kena najis tidak bisa jadi suci dengan dicuci. seperti qishash. maka 82 . Berbeda dalam perinciannya meskipun intinya sama yaitu menyembah Allah swt. kecuali dengan dipotong kainnya. Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah ( hubungan manusia dengan Allah swt. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. Ceritra tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masingnya mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebahagian hukum umat-umat yang sebelum kita ( umat Islam ) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebahagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku. Macam-macam dan kehujahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. sering pula diceritakan dalam Alqur’an dan al Sunnah kepada umat Islam.

83 . 1) berhenti dari berbuat ma’siat. bahwa hukum itu bukanlah merupakan hukum syara bagi kita. 3) berazam tidak akan mengulangi lagi. kemudian datang dalil syara yang membatalkannya atau menasakh. Misalnya tentang kewajiban shaum bagi umat terdahulu juga bagi umat Muhammad. sebelum dipotong bagian yang kena najis itu. bahwa pakaian yang kena najis tidak akan dapat disucikan kembali. 2) menyesali perbuatan ma’siat yang telah dikerjakan. maka telah disepakati oleh seluruh ulama. syari’at yang berlaku pada jaman Nabi Musa as. b. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam Demikian juga apabila Alqur’an dan al-Hadits shahih menerangkan suatu hukum yang disyariatkan kepada umat terdahulu. Lalu syari’at tersebut dibatalkan. yang antara lain Taubat menurut syari’at Islam harus memenuhi tiga syarat. Lalu syari’at tersebut dibatalkan dengan Alqur’an dengan Firmannya c. Untuk ini ada dua pendapat. Misalnya. dinasakh oleh Alqur’an. Dan contoh lain pada jaman Nabi Musa as. Bahwa seorang yang berbuat ma’siat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila ia membunuh dirinya. karena ada dalil syara yang membatalkannya.tidak diperselisihkan lagi hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus kita ikuti.

Syariat sebelum syariat Islam itu. syari’at kita juga sepanjang tidak ada yang membatalkan. Golongan ini beralasan dengan: - 84 . dan tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu. juga syariat yang diturunkan Allah swt. melalui wahyu. Misalnya - Jumhur ulama yang terdiri atas ulama Hanafiyah. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. sebagian ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad ibn Hambal menyatakan bahwa apabila hukum – hukum syariat sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasulullah saw.Pertama. Malikiyah. maka umat Islam terikat dengan hukum itu. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. Ada ungkapan ulama ushul fiqih yang menyebutkan Syari’at umat sebelum kita. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. Dan tidak ada indikasi yang menunjukan pembatalan terhadap syariat tersebut. karenanya umat Islam terikat dengan syariat itu. alasan yang mereka kemukakan adalah: 1). yaitu Alqur’an bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah.

menurut ulama Asy’ariyah. Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. maka ada hal yang disepakati ulama : 1). kami berikan aturan dan jalan yang terang Dan alasan golongan ini juga berdasarkan hadits Nabi saw. 2). karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. Demikian juga hukum-hukum yang 85 . Mu’tazilah. Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita.2). Mereka beralasan Untuk tiap-tiap umat di antara kamu. Dan mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah saw. Syi’ah dan sebagian ulama syafi’iyah. Kedua. dan umatnya. Nabi dahulu diutus khusus kepada kaumnya dan aku diutus untuk semua manusia Dengan perbedaan pendapat di atas. menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw.

Bahwa Rasulullah saw. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. tidak berlaku bagi umat Islam.dikhususkan bagi umat tertentu. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alqur’an. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahiem as. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. 2). Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. berdasarkan firman Allah. Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. Bahwa Rasulullah saw. 5). karena syariat itu merupakan syariat yang pertama. Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. seperti keharaman beberapa makanan. yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1). Berdasar pada 4). sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. 3). Bahwa Rasulullah saw. 4. 86 . tetap berlaku bagi umat Islam. Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. 3). Sandaran syariat Nabi saw. misalnya daging bagi Bani Israil.

Ibnu Qusyairi berkata. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem. menurutnya. bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath’i. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.. Pengertian Secara etimologi ‘Urf’ berarti sesuatu yang dipandang baik. Menurutnya. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. antara lain : 87 . yang dapat diterima akal sehat. karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as.6). karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. bahwa Rasulullah saw. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur’an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. Bahkan ada yang berpendapat. Adat didefinisikan dengan” Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional Terdapat beberapa definisi tentang ‘Urf ‘ yang dikemukakan oleh para ulama ushul fiqh. ISTIDLAL DENGAN URF 1. Para ulama ushul Fiqih membedakan antara ‘ Adat ‘ dengan ‘ Urf ‘ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Menurut kebanyakan ulama ‘ Urf’ dinamakan juga ‘ Adat ‘. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat.

2. dalam perkataan sehari-hari khusus bagi daging sapi atau kambing. 88 . Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain. a. Macam-macam „Urf‟ Urf Keabsahannya. Yang dibahas ulama ushul fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah ‘Urf’ budan ‘Adat’. digunakan untuk binatang berkaki empat. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu urf berupa perkataan dan urf yaitu urf berupa perbuatan.Urf adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. yaitu itu dapat dilihat dari obyeknya. dan dari 1). Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafadh atau ungkapan tertentu. Dari sisi obyeknya. Padahal kata daging mencakup seluruh daging yang ada. Dengan demikian ‘Urf’ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. dari Cakupannya. sedang anak perempuan tidak masuk dalam lafadh itu. maka itu bukanlah urf. Misalnya kata al-walad menurut bahasa sehari-hari hanya khusus bagi anak laki-laki saja. Demikian juga kata Daabah. Contoh lain lafadh al-Lahm / daging.

Al-Urf al-‘Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. urf yang 1). seluruh alat untuk memperbaiki mobil. Penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. seperti dongkrak. Misalnya. Kebiasaan masyarakat dalam cara berpakaian yang sopan dalam menghadiri pengajian. tanpa mengadakan ijab-kabul. karena harga barang tersebut telah dimaklumi bersama. seperti jual beli di swalayan. dan urf urf yang bersifat khusus. Urf terbagi kepada dua bagian. adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. bersifat umum. Jual beli mobil. Urf khash ini tidak terhitung jumlahnya. b. Kebiasaan masyarakat dalam jual beli ada barang yang diantar ke rumah dan ada yang tidak diantar. Adanya cacat tertentu pada barang tertentu yang dibeli dapat dikembalikan. Gono Gini di Jawa. Dari sisi cakupannya. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. Urf al-Khash. Kebiasaan jual beli mu’athah / yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. Kebiasaan masyarakat tertentu dalam memakan makanan tertentu atau minuman tertentu. Misalnya. 2). Membayar ongkos Bis Kota dengan tidak mengadakan ijab-kabul terlebih dahulu. kunci-kunci sudah termasuk pada harga jual. Misalnya. 89 . sesuai dengan perkembangan masyarakat. tanpa ada biaya tambahan tersendiri. Al-Urf al-Amali.2).

disyaratkan sebagai berikut : a. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath’i. Kebiasaan seorang yang melamar wanita dengan memberikan sesuatu sebagai hadiah. karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib.Misalnya. yaitu 2). juga tidak membatalkan yang wajib. Al-Urf al-Fasid. b.Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara’. bukan sebagai mahar. Kebiasaan dalam pembayaran mahar secara kontan atau hutang. misalnya biasa makan riba. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. dan hakim dalam memutuskan perkara. dapat dibagi pada dua bagian yaitu yaitu kebiasaan yang dianggap benar. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf 90 . Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath’i. Misalnya. dan kebiasaan yang dipandang rusak. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menarik pajak dengan hasil penjudian. 1). kebiasaan dalam mencari dana dengan cara mengadakan berbagai macam kupon berhadiah. Urf harus berlaku selamanya. kebiasaan yang berlaku dalam dunia perdagangan tentang indent. Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’.c. c. berlawanan dengan ketentuan syari’at. Oleh karena itu. biasa meminum minuman keras. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. 3. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian.

pada waktu mewakafkan. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari’ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. e. Misalnya jual beli Salam ( jual beli pesanan ). banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian. Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. Mereka beralasan. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan urf a. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. d. Lalu Rasulullah bersabda 91 . Mereka beralasan firman Allah - b. ketika ayat ayat Alqur’an turun. mendapatkan penduduk jual beli salam tersebut. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur’an atau hadits. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum sya’i.

bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. maka hendaklah ditentukan jumlahnya. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. di antaranya” Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. dan tenggang waktunya. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan.Siapa yang melakukan jual beli salam pada kurma. 92 . sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. takarannya. bukanlah dalil yang berdiri sendiri. 5. Apabila kita perhatikan penggunaan Urf ini. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf.

2. Terdapat definisi lain yang di ungkapkan oleh imam al-Jurjani yaitu Ilham adalah sesuatu yang dilontarkan ke dalam hati dengan jalan di tuangkan. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain : Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa di jadikan hujah dalam menentukan hukum syara’ dan tidak boleh beramal dengan bedasar kepada 93 . karena itu boleh beramal dengannya.ISTIDLAL „ AL-ILHAM ‘ 1. Pengertian Secaara bahasa Iham artinya = memberi tahukan dan menempatkan.

Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macammacam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. i’lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih / gugahan.Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu : 8 tersebut di atas dan juga ada dari syaitan seperti pada ayat : Sesungguhnya Syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah Dan kami mengetahui apa yang dibisikan oleh jiwanya. pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i’lam. 94 . Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham. Perbedaan antara Ilham dan I’lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I’lam.

Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata “ Segala puji bagi Allah yang telah mencocokan (pendapat) seorang utusan dengan Rasulullah terhadap apa yang Rasulullah rido’i.QAIDAH FIQHIYYAH DASAR Agama Islam adalah agama Syariah artinya agama yang berdasarkan pada hukum dalam melaksanakan ibadahnya. Sumberhukum Islam diambil pertama dari Alkitab. Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah. saat Rasulullah bertanya pada seorang sahabta. Jika tidak kamu temukan dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan menyia-nyiakan. kedua dari Al –Sunnah dan ketiga dari hasil Ijtihad. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits. bagaimana jika tidak kamu temukan dalam Kitab Allah? Ia menjawab aku akan putuskan dengan Sunnah rasulullah. Nabi berkata. Ketika diutus ke Yaman. yaitu Berkata nabi Saw kepada Muadz ra. Bagaimana kamu memutuskan jika dihadapkan kepadamu satu keputusan? Ia menjawab. Ijtaihad sebagai sumberhukum yang ke tiga dapat didefinisikan : 95 . Nabi berkata. Muadz .

dan macam-macamnya yaitu 1). Dan ijtihad sebagai sumberhukum yang ke tiga didasarkan kepada sebuah hadits nabi : Seseorang dapat berijtihad apabila dapat memenuhi syarat-syaratny adapun Syarat Ijtihad:! 1)Memahami Nash – nash al-kitab dan al-Sunnah 2).Mujtahid fi al-Madzhab. Mujtahid 96 . Adapun langkah-langkahnya. 4) Ijma shahabat. dan mujtahid itu memiliki tingkatan-tingkatan. 5) Qiyas Dan jika mendapat kesulitan 6) Tawakuf / berpegang pada asalnya Qaidah-qaidah Fiqhiyyah adalah qaidah yang dibuat oleh para ahli Ijtihad yang diistinbath dari Alquran atau hadits Rasul untuk memudahkan dalam berijtihad untuk 5) mujtahid Muwazin. 4) Mujtahid Murajjih muqallid. 3). Di dalam berijtihad seorang mujtahid hendaknya melakukan langkah-langkah. Orang yang berijtihad disebut mujtahid. Mujtahid fi al-syar’i. lalu mafhumnya 2) mengkaji pekerjaan Nabi. 2) Mujtahid Muntashib. 3) takrir nabi.Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan untuk memperoleh hukum syara dengan jalan Istinbath ( mengambil kesimpulan / penelitian) dari Kitab dab Sunnah. Memahami Ilmu Ushul Fiqih. mengkaji dohir nash quran dan sunnah. 6)Mujtahis Muhafizl.Memahami Ilmu – ilmu Bahasa Arab 3). 7).

dan siapa yang berutang ia berniat untuk tidak membayarnya kemudian ia meninggal maka Allah berfirman ‘Sesungguhnya aku akan mengambil hak hambaku kemudian diambil dari padanya (yang berutang) kebaikannya lalu di 97 .menentukan sebuah keputusan hukum. Dan dalam kaitan ini qaidah itu sangatlah penting sebagai suatu rumus atau patokan dalam berijtihad. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “NIAT Siapa yang mengharapkan pahala dunia pasti kami akan memberinya dari dunia dan siapa yang mengharap pahala akhiraat kami akan memberinya dari padanya Sabda Nabi SAW : sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang ia niatkan - Siapa yang berutang ia berniat untuk membayarnya maka Allah akan membayarnya pada hari kiamat.

Suatu pekerjaan yang halal bisa jadi haram karena niatnya. 4. minum. 2.berikan pada kebaikan yang lain. Wudhu. Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya Contoh-contoh: 1. Hikam : Niat tanpa amal lebih baik dari pada amal tanpa niat. Sesuatu yang mubah. Niat orang mu’min lebih baik dari pada amalnya. kemudian matanya mengalahkan dia (tidur nyenyak) sampai pagi hari maka Allah mencatat baginya apa yang ia niatkan sedangkan tidurnya merupakan sadaqah dari tuhannya. R Al-Tabrani. dan shaum dan yang lainya mesti ada niat. jika ia tidak mempunyai kebaikan di ambil dari kejelekan yang lain lalu di bebankan kepadanya - Siapa yang datang ke tempat tidurnya ia berniat untuk shalat kepada Allah. bisa mendapat pahala karena niatnya. Memeras anggur haram tidaknya tergantung niat 98 . karena ia berniat untuk zinah 3. seperti makan. Seperti haramnya seorang bercampur dengan istrinya. mandi. shalat.

5.Orang yang mengutangkan mengambil barang orang yang berutang, tergantung niatnya; apakan 1. memperingatkan atau mencuri. (khaliyah=bebas) tergantung niat.

Kinayah ( sindiran) kata thalaq ‘

Artinya : Dalam amal yang disyaratkan menyatakan / menghadapkan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amal.

Contoh-contoh; 1. Kesalahan dari shalat dhuhur kepada shalat ashar dan sebaliknya. Kalau shalat dhuhur niat shalat ashar maka tidak sah 2. 3. 4. 5. 6. Kesalahan dari kifarat dhihar kepada kifarat kothli Kesalahan dari rawathib dhuhur kepada rawathib ashar Kesalahan dari shalat idul fitri kepada shalat idul Adhha Kesalahan dari shalat dua rakaat ihram kepada dua rakaat thawaf Kesalahan dari shaum arafah kepada shaum asyura.

Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Contoh-contoh ;

99

1. Seseorang berniat shalat mengikuti si zaed ternya si umar maka tidak sah mengikutinya, kareana ia tidak ada niat mengikuti kepada si umar. Dengan mengikuti kepada si Zaed dan ternya si Umar dengan tidak pakai niat. Maka dalam shalat berjamaah tidak disyaratkan menentukan Imam tapi hanya niat shalat berjamaah saja 2. Seseorang menyolatkan mayit kepada si Bakar ternyata si Khalid, atau berniat kepada perempuan ternyata laki-laki, maka tidak sah, maka dalam shalat mayit tidak disyaratkan menentukan mayitnya kecuali hanya niat shalat mayit saja. 3. Seseorang menshalatkan mayit. Maka dalam hal ini tidak perlu ditentukan jumlah mayitnya. Kalau ia menentukan jumlahnya 10 oarang misalnya ternyata lebih, Maka Ia harus mengulangi shalatnya secara keseluruhan karena di antara mereka ada yang belum di shalatkan, sementara mereka itu tidak jelas 4. Tidak perlu seseorang menetukan jumlah rakaat dalam shalat, kalau Ia niat shalat dhuhur lima rakaat atau tiga maka tidak sah 5. Seseorang menetukan zakat hartanya yang masih ghaib yang belum hadir di hadapannya. Maka tidak boleh.

Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat

Contoh-contoh :

100

1.

Kesalahan dalam menentukan tempat shalat, maka kalau ia berniat shalat dhuhur di Mesir ternyata di Mekah maka tidak batal shalatnya karena niatnya masih ada, sedang menentukan tempat tidak ada hubungan dengan niat shalat

2.

Kesalahan dalam menentukan waktu shalat, kalau niat shalat ashar hari kamis ternyata hari jumat maka tidak batal shalatnya

3.

Kesalahan Imam menetukan orang yang shalat dibelakangnya, kalau berniat mengimami si Zaid ternyata si Umar maka tidak madharat karena tidak disyaratkan kepada Imam menentukan mamum dan tidak niat mengimami

Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan

Contoh-contoh: 1. Kalau nama istrinya Thaliq dan nama hamba perempuannya Hurrah, lalu Ia berkata Wahai Thaliq atau Wahai Hurrah. Kalau ia bermaksud mentalaq atau membebaskan maka jatuh talaq dan bebas atau hanya bermaksud memanggil maka tidak jatuh talaq dan tidak bebas. 2. Kalau seseorang membaca dalam shalat bacaan Alquran, dan tidak bermaksud yang lain maka sah bacaannya. Dan jika bermaksud memberi pemahaman kepada yang lain maka batal. Dan jika memuthlakan, menurut pendapat yang sah maka jadi batal.

101

Apabila seorang dari kamu meragukan shalatnya. jika tabaruk(mengharapkan berkah) maka tidak. sehingga ia mendengar sesuatu atau mencium baunya.3. Jika seseorang mengkaitkan niat kepada kata ‘insyaAllah’. maka janganlah keluar dari masjid. dan ia ambil yang ia yakin. maka hendaklan ia lempar yang diragukan. tiga atau empat. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “SYAK Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu dalam perutnya. jika ia memutlakan maka batal. kalau ia bermaksud menggantungkan niatnya maka batal. KAIDAH-KAIDAH Artinya: Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Contoh-contoh : 102 . lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak. lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan.

maka tentukan yang tiga karena itu yang diyakini. Siapa yang makan akhir malam dan ragu dalam terbitnya pajar. Sepasang Suami istri dalam berumah tangga sudah cukup lama. maka ucapan yang benar adalah ucapan suami karena tidak adanya kemampuan . Siapa yang yakin bersuci dan ragu dalam berhadats maka ia itu suci Siapa yang yakin berhadats dan ragu dalam bersuci maka ia itu berhadats Menurut pokok. maka tidak wajib nafaqah padanya karena nafaqah itu adanya kemampuan 5. Siapa yang makan akhir siang tanpa ijtihad dan ragu dalam terbenamnya matahari batal saumnya karena pada pokoknya tetap pada waktu siang 3. Gugatan itu di menangkan. sah saumnya . karena pokonya tetap pada waktu malam 2. 2. 3. Siapa yang ragu dalam shalat apakah tiga rakaat atau empat. Sebab menurut keadaan semula sebelum terjadi akad pernikahann kewajiban memberi sandang dan pangan tidak ada bagi sang laki-laki. Tiba-tiba istri menggugat tidak pernah disandangi dan di nafaqahi oleh suaminya. Maka ucapan yang benar adalah ucapan penjual karena pada asalnya sucinya air 103 .1. Seseorang membeli air dan mengaku tidak bersih dan ingin mengembalikannya. Suami istri bertengkar dalam hal tamkin. memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang Contoh-contoh : 1. 4.

maka yang dimenangkan adalah orang yang merasa dirugikan.Pokok itu bebas tanggung jawab Contoh-contoh : 1. Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman. Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan. 3. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian Contoh-contoh: 1. maka tidak ada tanggungjawab karena dhahirnya ia mati karena sebab yang lain dan itu yang lebih dekat pada kematian. Sebab menurut asalnya ia bebas dari tanggungan memberikan gantinya. Jika seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat memberikan gantinya dan kemudian mereka berdua bertengkar tentang ujud penggantiannya. 2. kemudia anak itu mati . maka yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menerima hadiah. Seseorang memukul perut yang hamil. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa. 104 . Jika dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusaka. kemudia lahir anak dalam keadaan hidup kemudian lewat waktunya tanpa ada sakit.

Seseorang membukakan sangkar pintu burung. maka tanggungjawab ia untuk mencari. 3. Aku diutus dengan membawa agama yang penuh kecendrungan dan toleransi / kemurangan. karena itu waktu yang paling dekat padanya 4. karena itu yang lebih dekat waktunya pada kematian. maka wajib mandi dan mengulangi shalat setelah tidurnya.2. Seseorang mendapatkan mani dan tidak merasa ihtilam. . Seseorang membeli hamba sahaya kemudian ia sakit dan mata maka tidak boleh dikembalikan pada penjual. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „KERINGANAN‟ Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. Sabda Nabi saw. kemudian terbang seketika. Dan jika burung diam kemudian terbang maka ia tidak bertanggungjawab untuk mencari burung. karena sakitnya bertambah maka terjadi kematian karena bertambahnya itu. 105 . Dan pendapat lain tanggungjawabnya karena terbukanya sangkar menentukan terbangnya burung. dan tidak boleh menyandarkannya kepada yang semula.

terpaksa. demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring 106 . 7). 6). 2) kebodohan. bepergian. Nabi ditanya. sakit . Wahai Rasulullah agama mana yang paling dicintai Allah. 4). keringanan mengakhirkan. 5) Macam-macam keringanan 1). keringanan dengan KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG‟ KESULITAN‟ . Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk. keringanan keringanan mendahulukan. 2). Kesukaran itu menarik kemudahan Contoh-contoh: 1.Dari Ibnu Abbas. R. 6). 4) kesukaran. lupa. pengurangan. perubahan. 3). 3) kurang mampu. ia berkata yang lurus lagi toleran. keringanan kemurahan. keringanan pengguguran. keringanan pengganti. 5). 7).Thabrani Sebab-sebab timbulnya keringanan 1).

2. Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum 3. Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya 4. Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh 5. Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya Dan yang searti dengan kaidah di atas adalah kaidah :

Sesuatu itu bila sempit menjadi luas

Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

Contoh-contoh : 1. Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh 2. Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan

KAIDAH FIQHIYAH TENTANG”KEMADHARATAN”

107

Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.

Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman

Tidak ada bahaya dan tidak pula membahayakan.

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Contoh-contoh: 1).Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat 2).Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb 3).Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan 4).Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan

Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan

Contoh-contoh: 1).Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain 2).Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain

108

3).Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.

Kemadharatan membolehkan yang terlarang

Contoh-contoh 1).Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak. 2).Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa. 3). Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar. 4). Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum. 5) Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani.

tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG ”DLARURAT”

Artinya: Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan Ukurannnya.

109

dipandang cukup. dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar. Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa. Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim. Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat Artinya: Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat Contoh: 1. karena diperlukan 3. hendaklah menutupi semua auratnya. kecuali yang diperlukan 4. Menegur orang dengan cara sindiran. tidak membukanya. karena diperlukan orang banyak 2. Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim. Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan khitbah atau 110 . tidak boleh untuk yang ke dua kali 3. Dan jika cukup satu kali teguran.Contoh: 1. Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang. 2. karena mu’amalat 4.

KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „MAFSADAT‟ Apabila dua kerusakan saling berlawanan. 2. maka harus diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya. Contoh-contoh 1. hudud dan menindas pemberontak / penodong di jalan 3.Diperbolehkan dalam agama melakukan qishash. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan.Jika yang madharat mendapatkan daging binatang yang tidak disembelih.Boleh membedah perut yang mati jika ada bayi yang diharapkan hidupnya. maka yang paling sahih ia memakan daging itu dari pada memakan makanan tersebut. 4. Contoh-contoh: 111 . maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya.Boleh memotong pohon orang lain jika diharapkan adanya udara yang berganti 5. sedangkan kebolehan mengambil makanan berdasarkan ijtihad. Karena makan daging yang tidak disembelih kebolehannya berdasarkan nash.Boleh bagi yang terpaksa mengambil makanan orang lain dengan paksa. dan mendapatkan makanan yang tidak ada pemiliknya.

Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. Karena besar mashlahatnya.Menjaga batal shaum diutamakan daripada berkumur dan menghiruf air ke hidung dengan baik. Karena kemafsadatannya lebih kuat / besar dari pada manfaatnya. seperti berdiri waktu shalat karena sakit. karena memperhatikan sunnatnya 2. dan dibenci bagi yang berihram untuk menjaga dari jatuhnya rambut 3. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat.Mencorok-corokan rambut dalam thaharah hukumnya sunnat. Sesuai.1. Contoh-contoh: 1.Tidak diperbolehkan minum khamer dan makan hasil judi. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG “ADAT Perintahlan dengan ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik .Dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban karena sangat sulit. al-baqarah:219 2. .Berbohong sifat tercela dan berdosa (mafsadat). Di sini = Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagi hukum 112 . Tetapi jika bertujuan mendamaikan pertengkaran. maka diperbolehkan. diterima akal sehat.

dikembalikan kepada Urf. Contoh-contoh: 1. dan makan jamuan karena bertamu. maka tentang benang dan cat lukis kembali pada kebiasaan. Niat dalam shalat kembali pada urf tidak dijaharkan 2.Jual beli yang berlangsung biasa. tanpa ijab kabul karena harga barang tersebut sudah ma’lum. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat 113 . Jual beli dengan / mua’thah. geratis dan tidaknya 4. yaitu jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang kepada penjual sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya. yaitu sudah termasuk di dalamnya. Batas mesjid untuk shalat tahiyatul masjid.Seseorang menjual sesuatu dan memutlakannya. kembali pada urf 3. maka ditetapkan atas yang biasa 2. maka kembali pada kebiasaan. misalnya dg dirham 3. setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa.Contoh-contoh: 1.Masa lamanya hed / nifas kembali pada kebiasaan 5.Memberi upah pada penjahit dan upah melukis.Masuk WC. sesuai dengan harga / nilai yang biasa.

Ijtihad Umar dapat 1/3.Contoh-contoh: 1.Jika disuatu tempat terjadi adat orang yang berutang menambah lebih dari utangnya.Ijtihad Abu Bakar terhadap tawanan perang Badar dengan membayar tebusan.Berubah ijtihad dalam arah salat. Cara itu terlarang. 1/3 itu bersama dengan 3. karena berubah kepada riba KAIDAH FIQHIYYAH „IJHTIHAD‟ Ijtihad Itu tidak batal karena ijtihad Contoh-contoh: 1. tidak perlu mengulangi rakaat atas ijtihadnya yang pertama. Ijtihad Umar yang dijalankan dengan tidak membatalkan ijtihad abu Bakar 2. dengan dikuatkan wahyu al-Anfal : 67. tidak mendapat bagian karena terhabiskan. maka tambah itu tidak menduduki tempat syarat hutang. Lalu pada bagian lain ijtihadnya berubah 114 . Maka mengambil manfaat tidak termasul dalam syarat gadai 2. Lalu ada ijtihad Umar yang memutuskan agar mereka dibunuh. sementara ½ dan 1/6.Gadai di suatu tempat yang mengambil mafaat dari gadaian.

lalu mengawini yang ke 4 kali. Lalu berubah ijtihadnya khulu itu sama dengan talaq.Seseorang mengkhulu istrinya 3 kali. 4. baru cerai jika dari perubahan ijtihad hakim. Itsar dalam air thaharah dan menutupi aurat 3. tanpa didahului nikah yang lain. 2.4.Itsar dalam memenuhi hajat yang miskin dan yatim. Pendapat Al-Gajali. Dan mereka mengutamakan (orang lain) dari diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan Itsar selain ibadah dituntut 115 .Itsar dalam mencari pengganti da’wah. KAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „AL-ITSAR‟ Berlombalah dalam kebaikan Mendahulukan orang lain dalam ibadah terlarang Contoh-contoh 1. karena ijtihadnya khulu itu bukan talaq. Pendapat yang ke dua sebaiknya Ia cerai karena ada dalam haram.Itsar dalam shaf pertama. Ia tidak perlu cerai jika hasil ijtihad hakim yang sah.

tidak boleh baginya mendahulukan salah satu dalam hal sama kebutuhannya.Tidak boleh memilih Imam salat orang fasik. 3.jika pemimpin membagikan zakat pada mustahiq.Tidak boleh wali menikahkan anak tanpa mempertimbangkan kafa’ah. Itsar dalam tijarah agar yang lain dapat laba QAIDAH FIQHIYYAH TENTANG „ KEBIJAKAN IMAM‟ Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamuakan ditanya dari kepemimpinannya Tindakan pimimpin terhadap rakyat disesuaikan dengan kemaslahatan Contoh-contoh: 1. 116 .Itsar dalam tempat tinggal 2. sekalipun orang salat dibelakannya dipandang sah.Itsar dalam pakean 3.Tidak boleh memecat pekerja tanpa alasan yang sah 6. tapi itu dibenci.Itsar dalam makanan 4.tidak boleh mendahulukan harta baet Mal yang penting dari yang lebih penting 4. 2.Contoh-contoh: 1.Tidak boleh mengangkat jabatan bagi yang tidak berprofesi dibidangnya 5. Itsar dalam mengambil sadaqah 5.

Kawin tanpa saksi ( Imam malik sah – jumhur tidak) karena diperselisihkan.Seorang tidak dijatuhi hukuman karena salah mengambil barang. Fa’il 2. adalah milik ayah.boleh – jumhur tidak). ( pada pelakunya ) 2) Syubhat fi mahal ( pada obyeknya. anak dan harta miliknya. Syub fi thariqah . Fi mahal 3. Syub. Syubhat fi Thariq ( pada prosedur . QAIDAH FIQIYAH TENTANG „PENYEMPURNA WAJIB‟ 117 . karena ada dua nash yang berbeda) 3).tidak dijatuhi had.Tidak dihukum had. dilarang. Syub.Tolaklah had dengan syubhat Hukum had gugur karena syubhat Macam syubhat: 1). yang diduga miliknya tanpa ada keraguan sedikitpun ( misalnya karena percis sama ). Kawin tanpa wali ( Abu Hanifah . mencuri harta anak. karena adanya perbedaan dalam penetapan hukum) Contoh-contoh : 1. Karena Secara umum. Syubhat fi al-Fa’il. mencampuri perempuan yang kawin mut’ah (Ibnu Abbas boleh – Jumhur tidak boleh). tapi ada nash lain.

Wajib menutupi sebagian lutut.Wajib mencuci sebagian di atas sikut waktu mencuci sikut . QAIDAH FIQIYAH TENTANG „KELUAR DARI KHILAFIYAH‟ Siapa yang menjaga syubhat sungguh telah membersihkan agama dan harga dirinya Keluar dari perselisihan terpuji Contoh-contoh: 118 . maka Ia itu wajib pula Contoh-contoh: 1.Wajib menutupi sebagian wajah saat menutupi aurat bagi perempuan.Wajib mencuci sebagian leher dan kepala waktu mencuci muka 2. 4.Taqwalah kepada Allah dengan sebenarnya taqwa Apa yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya. 3. dan perut di atas pusar saat menutupi aurat bagi laki-laki.dan mencuci betis waktu mencuci kaki.

Tidak menyukai memisahkan diri dari Imam Shalat tanpa alasan. itu sudah mencari jalan dari perselisihan Ulama 2.Tidak membuat/memperhatikan khilafiah yang lain 2. Keluar dari Imam Abu Hanifah yang mewajibkan. dan yang lain tidak mewajibkan 4.1. 5. Keluar dari Imam al-Tsauri yang mewajibkan.Menyukai mengkosor shalat dalam safar jarak 3 mil (84 km). Tidak menyalahi sunnah. Maka menganggap bukan wajib. Keluar dari pendapat Imam Ahmad yang menganggap batal. 3. dan yang lain tidak mewajibkan 3.Imam Malik mewajibkan menggosok badan waktu Thaharah dan mengusap seluruh kepala.Disukai tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya dalam tempat tertutup.Tidak menyukai shalat munfarid di belakang shaf. Jumhur ulama tidak mewajibkan. tapi pekerjaan yang disukai. Dikuatkan alasannya dengan dalil ( yang kuat ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RUKHSHAH‟ DAN „AMAL‟ Barang siapa yang terpaksa dengan tidak mengharapkan dan tidak mengulangi maka tidak ada dosa atasnya Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan ma'siat 119 . Keluar dari pendapat Imam Daud yang menyebutkan batalnya Syarat: 1.

dan jumlah salam.Wajib shalat taam.Shalat sunat duduk. qashar.Tidak boleh karena safar. seperti. 2.Memisah misahkan rakaat dalam witir lebih baik daripada menyambungkannya dalam satu salam. Rukhshah tidak dapat dikaitkan dengan syak/ ragu Contoh-contoh: 1.Contoh-contoh 1.Tidak boleh karena safar. karena istinja dengan batu adalah rukhshah. jama shalat dan buka shaum. dan berbaring separah shalat duduk 120 . mengharapkan sesuatu.Wajib mencuci kaki bagi yang ragu-ragu bolehnya mengusap sepatu 2. karena tambah niat. 2. tidak boleh beristinja dengan makanan . / sempurna bagi yang ragu bolehnya qashar shalat Pahalamu sebanding dengan kepayahanmu Sesuatu yang banyak pekerjaan lebih banyak keutamaan Contoh-contoh 1. mengharapkan darurat sehingga Ia dapat makan daging babi 3.separah ganjaran berdiri.Menurut asal. takbir.

Shalat berjamaah 1 x lebih baik dari 27 x shalat munfarid.9 karena haditsnya lebih kuat 3.Bersidekah semua daging kurban. tidak lebih baik dari 8 Karena 8 sering Nabi kerjakan. dari sidkahnya setelah diambil barang untuk mencicipi ( ) QAIDAH FIQIYAH TENTANG TENTANG „ KEMAMPUAN‟ Apa yang aku perintahkan kepada kamu lakukanlah sekemampuanmu Apa yang tidak dapat dikerjakan seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya Contoh-contoh: 121 . lebih baik dari 5.Shalat witir 3 rakaat.Misalnya melakukan haji Ifrad . karena ada dalil 4.7. tidak berlaku jika ada dalil khusus 1. 2.3.Shalat Dhuha 12 rakaat.Menjalankan sendiri-sendiri dua macam ibadah lebih baik daripada menjalankan dengan merangkapnya. lebih baik dari pada haji qiran Catatan:. tidak lebih baik. Kaidah ini untuk umum.

wajib cuci jari yang ada 2.Yang sanggup menutup sebagian auratnya.Jika putus sebagian jari. jangan ditinggalkan seluruhnya.Yang tidak dapat belajar atau mengajar semua cabang ilmu.yang luka pantang kena air.i: yang bisu harus menggerakan lidahnya sebagai pengganti dari bacaannya. dan mampu 4 rakaat. tidak gugur wajib shalatnya 3. lakukanlah Dan yang semakna dengan kaidah ini Apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya. lakukan semampunya 4. lakukanlah 6.Berkata Imam Syafi.Yang sanggup membaca sebagian surat al-fatihah dalam shalat. wajib mencuci yang tidak luka dan mengusap yang luka 122 . lakukan apa yang ada 7.Yang sanggup untuk seorang dalam zakat fitrah. lakukanlah 5. Seperti isyarat bagi ruku dan sujud 8. 3.Yang tidak mampu shalat malam 10 rakaat.1.yang tidak dapat berbuat baik dengan 1 dinar dan mampu 1 dirham lakukanlah 2. jangan ditinggalkan sebagiannnya Yang mudah tidak gugur karena ada yang susah Contoh-contoh: 1.Yang telah nisab zakat. sebagian ada padanya dan sebagian lain ada pada yang lain / gaib.Jika sulit melakukan ruku / sujud dengan sempurna.

Haram zina . haram pula mencari harta dengan cara riba 2. haram pula memberikannya 123 .Haramnya riba. haram mencari upan untuk dukun 4. haram pula memberikannya 2. haram pula pemberian / pembayaran hasil zina 3.Haram mengambil hasil riba.Haram dukun.Haram Suap. haram mencari uang untuk suap Apa yang haram mengambilnya haram pula memberikannya Contoh-contoh: 1.KAIDAH FIQHIYAH „KASAB DARI YANG HARAM‟ Hendaklah ada diantara kamu satu umat yang mengajak pada kebaikan dan menyuruh pada ma’ruf dan melarang pada munkar Apa yang haram melakukan haram pula mencarinya Contoh-contoh: 1.Haram mengambil hadil zina.

membuat tempat berdzikir. 9.Melakukan fardu kifayah lebih baik dari fardu ‘Ain karena menghilangkan kesulitan bagi umat 3. 5.shadaqah Jariah. 124 . (rangkuman dari hadits-hadits ).Mengajar Ilmu lebih baik daripada shalat sunat 2.8. haram pula memberikannya 4.membuat tempat berlindung. menanam kurma. 3.Do’a anak. 7. haram pula memberikannya QAIDAH FIQIYAH TENTANG KEBAIKAN KONTINU Dan kami menuliskan apa yang tgelah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereke tinggalkan Kebaikan yang berkelanjutan lebih utama dari kebaikan yang pendek Contoh-contoh 1. 6. 10. 4.3.bikin sumur.Haram mengambil hasil suap.Haram mengambil hasil dukun.ikatan baik dengan tempat perbatasan musuh. 2. mengajarkan Alquran.mewaristkan kitab.Imam Al-Suyhuti menyebutkan 10 amal yang mengalir setelah mati :1-Ilmu yang disebarkan./ bikin sungai.

maka pada pokoknya dimaafkan 6. Tempat meper maka dimaafkan. Kalau air berkumur melewati atau air menghirup ke dalam hidung melewati tenggorokan. maka tidak ada tanggungjawab karena lahirnya binasa itu dari hasil izinnya 3. Izinnya orang yang meminjamkan kepada yang meminjam untuk memukul hambanya yang dipinjamkan. Memakai wangi-wangian sebelum ihram lalu berjalan ke tempat lain setelah berpakaian ihram. maka tidak ada fidyah padanya 5. kemudian bertambah. Ridhanya suami istri karena aieb. maka menurut pendapat yang sah tidak batal puasanya. 4. kemudian binasa karena pukulan. Seseorang berkata potonglah tanganku lalu dilakukan dan terputus. maka tidak ada tanggunjawab.QAIDAH FIQIYAH TENTANG „RIDHA‟ Ridha terhadap sesuatu ridha terhadap apa yang dilahirkan daripadanya Contoh-contoh 1. karena itu lahir dari ridhanya QAIDAH FIQIYAH TENTANG HUKUM 125 . kalau mengalir pada tempat lain. maka tidak boleh memilih pada yang lebih baik yang tidak aieb 2.

Hukum itu berputar beserta illahnya ada atau tidak adanya Contoh-contoh 1. seperti dibuat obat. dan apa yang Ia diamkan maka itu dari yang dimaafkan. Nabi bersabda halal itu apa yang dihalalkan Allah dalam Kitabnya. Haramnya hamer karena mabuknya. Haramnya makan racun karena membinasakan. QAIDAH FIQIYAH TENTANG „IBAHAH‟ 126 . maka apabila diketahui ridhanya menjadi boleh 3. maka ketika tidak ada sifat mabuknya maka menjadi halal seperti hamer dibuat cuka 2. dan haram itu apa yang diharamkan Allah dalam Kitabnya. Masuk rumah yang lain atau memakai pakaiannya maka haram karena tidak ada ridha. maka apabila hilang yang membinasakannya menjadi boleh.

Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sipat-sipat dan ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada binatang haram adalah halal dimakan. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Al-Ma’arif. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. Binatang jerapah adalah binatang yang halal dimakan. 1984 Utsman M. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. 1929 Mukhtar Yahya. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. Nur Cahaya. Yogyakarta.Asal dalam segala sesuatu itu boleh Contoh-contoh: 1. Raja Grafindo Persada 1996 127 . DAFTAR PUSTAKA Abdul Hamid Hakim. 1929 Abdul Hamid Hakim. As-Sulam. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam. 2. Mubadi Awalliyah.1986 Abdul Mujib. karena tidak memiliki sifatsifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya.

Abdul Hamid Hakim. DDII. Maktabah Sa'adiyah Putra. As-Sulam. Bandung 1993 Al-Khudari. Jakarta. Jakarta.Djazyuli. Dar Fikr al-Arabi. Kaidah-kaidah Hukum Islam. 1929. Maktabah Sa’adiyah Puttra Jakarta. Ushul al-Fiqh. Qamarudin Saleh.A.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Asbabun Nuzul. 1972 Muhammad Abu Zahrah. Abdul Hamid Hakim Al-Bayan. Orba Sakti. 1993. Diponegoro. 1958 H. Maktabah Sa'adiyah Putra. Dar al-Fikr. Mubadi Awalliyah. Bandung. 1929. 1981 Abdul Hamid Hakim. Ilmu Fiqh. 1929. 128 . Jakarta. Ushul al-Fiqh. Baerut.

Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami. Yogyakarta. Raja Grafindo Persada 1996. 1985.Djazuli. Departemen Agama RI. Surabaya. 1992. 1977. Dar al-Kitab Arabi. al-Harmain.arif. Taisir Mushthalah al-Hadits. Bairut. Mukhtar Yahya. Fiqih Ushul Fiqh. Muhammad al-Thahan. 129 . Syafi’i Karim. Qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah. H. Al-Qowa’-Idul Fiqhiyyah. 1984 Utsman M. Ilmu Fiqh. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. Al-Ma. Al-Jurjani. 1986 Abdul Mujib. Nur Cahaya. Orba Sakti.A. Bulan Bintang. Al-Ta'rifat.Munawar Khalil. Bandung 1993. 1995.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful