P. 1
Kerusakan Lingkungan Hidup Indonesia_2

Kerusakan Lingkungan Hidup Indonesia_2

|Views: 225|Likes:
Published by mughniira_826375312
Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi
lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998).
Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi
lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998).

More info:

Categories:Types, Research
Published by: mughniira_826375312 on Feb 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2015

pdf

text

original

KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998). Kerusakan lingkungan hidup terjadi di darat, udara, maupun di air. Kerusakan lingkungan hidup yang akan dibahas dalam Bab ini adalah meluasnya lahan kritis, erosi dan sedimentasi, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut. A. LAHAN KRITIS

Salah satu masalah kerusakan lingkungan adalah degradasi lahan yang besar, yang apabila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat akan menjadi lahan kritis sampai akhirnya menjadi gurun. Lahan kritis umumnya banyak terjadi di dalam daerah aliran sungai (DAS) di seluruh Indonesia. Data Departemen Kehutanan menunjukkan lahan kritis di luar kawasan hutan mencapai 15,11 juta hektar dan di dalam kawasan hutan 8,14 juta hektar. Hutan rusak dalam areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sudah mencapai 11,66 juta hektar dan lahan bekas HPH yang diserahkan ke PT. Inhutani 2,59 juta hektar. Mangrove yang rusak dalam kawasan hutan telah mencapai luasan 1,71 juta hektar dan di luar kawasan hutan sebesar 4,19 juta hektar. Total hutan yang rusak sudah mendekati angka 57 juta hektar. Ironisnya, kapasitas lembaga yang bertanggung jawab merehabilitasi hutan dan lahan dengan inisiatif pemerintah tak cukup kuat menangani kerusakan yang terjadi. Realisasi lahan kritis yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan dari tahun 1999 sampai tahun 2001 mencapai 1.271.571 hektar yang terdiri dari 127.396 hektar di dalam kawasan hutan dan 1.144.175 hektar di luar kawasan hutan. Sumber dana untuk merehabilitasi pun amat terbatas padahal tiap hektar lahan yang rusak butuh dana minimal Rp 5 juta. Untuk merehabilitasi lahan kritis 57 juta hektar maka negara perlu menyediakan dana hingga Rp 285 trilyun. Kerugian bukan hanya karena negara harus menyediakan dana untuk rehabilitasi lahan kritis tetapi juga kerugian akibat penebangan ilegal (illegal logging). Menteri Kehutanan Prakosa (2002) mengatakan tiap tahun diperkirakan negara rugi hingga Rp 31 trilyun akibat illegal logging (pencurian, penebangan, peredaran, serta perdagangan kayu secara ilegal). Luas areal hutan yang perlu direboisasi di seluruh Indonesia mencapai 43,111 juta hektar, meliputi Pulau Jawa 111 ribu hektar dan di luar Pulau Jawa seluas 43 juta hektar. Idealnya Pulau Jawa mempunyai hutan minimal 30 persen dari luas daratan. Namun sampai saat ini baru 23% dikurangi lahan kritis yang mencapai antara 250 ribu ha sampai 300 ribu ha (Dr.Ir. Prakoso, MSc, Menteri Kehutanan, pada acara “Pencanangan Reboisasi PT Perhutani bersama masyarakat Bojonegoro,” Kompas 5 Januari 2003). Penyebab utama meluasnya lahan kritis adalah adanya : 1. tekanan dan pertambahan penduduk, 2. luas areal pertanian yang tidak sesuai, perladangan berpindah, 3. pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan illegal, 4. pembakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali, 5. ekploitasi bahan tambang. Meluasnya lahan kritis membuat penduduk yang tinggal di daerah tersebut relatif miskin, tingkat populasi sangat padat, luasan lahan yang dimiliki bertambah sempit, kesempatan kerja sangat terbatas, dan lingkungan hidup mengalami kerusakan/degradasi. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya krisis ekonomi sejak tahun 1997 yang telah memperburuk kondisi perekonomian petani gurem. Akibatnya penebangan hutan oleh rakyat semakin merebak serta lahan yang terancam menjadi kritis semakin meluas. 1. Tekanan dan pertambahan penduduk

Menurut Statistik Indonesia 2001, pertambahan penduduk dari tahun 1980 sampai tahun 2000 meningkat cepat. Pada tahun 1980 penduduk berjumlah 146,935 juta jiwa bertambah sebesar 1,97 persen menjadi 178,500 juta jiwa pada tahun 1990. Pada tahun 2000 jumlah penduduk menjadi 205,845 juta jiwa atau naik 1,49 persen dengan kepadatan mencapai 109 jiwa per km2. Bertambahnya penduduk meningkatkan kebutuhan pangan dan lapangan kerja serta meningkatkan
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI - 1

eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang akhirnya mengakibatkan terjadikan kerusakan lingkungan.
GAMBAR 6.1 JUMLAH PENDUDUK 250
JUMLAH PENDUDUK (dalam juta)

205.843 178.5 146.935

200 150 100 50 0 1980

1990 TAHUN

2000

Sumber: BPS, 2001

2.

Luas areal pertanian yang tidak sesuai dan perladangan berpindah

Untuk meningkatkan produksi pangan, sekaligus membuka lapangan kerja, khususnya di daerah pedesaan, maka dilakukan perluasan areal pertanian yang sampai tahun 2001 mencapai 11,5 juta hektar. Namun perluasan areal pertanian di daerah banyak yang secara geografis tidak layak untuk tanaman pertanian, misalnya terdapat pada lereng dengan kemiringan yang tajam, bahkan dengan merusak areal hutan, seperti diilustrasikan Gambar 6.2. Sungguh ironis, program ekstensifikasi lahan pertanian, khususnya di luar Pulau Jawa, disebabkan lahan pertanian yang subur dan sesuai secara geografis di Jawa beralih fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman. Alih lahan ini pada tahun 2000 mencapai 250.000 hektar (Situs Departemen Pertanian, 2002). Selain itu terjadi juga alih lahan konservasi menjadi areal pertanian.
GAMBAR 6.2 CONTOH PENEBANGAN POHON DI HUTAN SECARA LIAR UNTUK DIJADIKAN AREAL PERTANIAN TERMASUK DI LERENG YANG DILARANG UNTUK TANAMAN SAYURAN

Sumber: Kompas, 2002

Kegiatan lain yang memperluas lahan kritis adalah peladang berpindah yang menurut data dari Departemen Kehutanan sampai tahun 2000 ada 14.618 KK (Kepala Keluarga) peladang berpindah yang mengolah lahan 24.264 hektar.
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI - 2

Pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan ilegal Pengelolaan hutan Indonesia perlu dilakukan secara profesional dan terencana sehingga hutan dapat dimanfaatkan secara optimal.3 juta hektar dan gundul 1.000 hektar). 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. di Sulawesi (degradasi dua juta hektar dan gundul 203.2 milyar. Sistem pengusahaan hutan yang ada telah menimbulkan berbagai masalah di beberapa daerah yang berdampak pada degradasi hutan. di Papua (degradasi 10. Selama lima tahun terakhir. Kekurangan tersebut dipenuhi dari penebangan kayu ilegal atau penebangan berlebih yang dilakukan oleh pemilik HPH. perambahan hutan. Konflik konsesi pertambangan dengan kawasan lindung menjadi pelik karena ada kontrak-kontrak pertambangan berada di dalam kawasan konservasi. • Pemberlakuan PP No.5 juta hektar dan gundul 4. di Kalimantan (degradasi 20. Hutan yang sudah terdegradasi dan gundul di Indonesia ada di Sumatera (terdegradasi 5. tanpa mengurangi kemampuan hutannya memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Kondisi ini diperburuk oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu. nasional. dan perkebunan hanya 22 juta m3. 3 Tahun 1990 tentang Larangan Alih Fungsi Lahan Sawah untuk Penggunaan Selain Pertanian.2 juta hektar. Dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia yang diterbitkan akhir tahun 2001 oleh Forest Watch Indonesia diungkapkan laju kerusakan hutan pada era tahun 1980-an di Indonesia adalah sekitar satu juta hektar/tahun. sejak tahun 1996 meningkat lagi menjadi rata-rata dua juta hektar/tahun. Berdasarkan citra satelit 1995-1999 hutan produksi yang rusak di Indonesia pada 432 HPH mencapai 14. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . 41 Tahun 1999.BOKS 6. sedangkan kerusakan pada hutan lindung dan hutan konservasi mencapai 5. dan di Maluku (degradasi 2.2 juta hektar).6 juta hektar per tahun. Kerusakan itu disebabkan oleh pemilik HPH melanggar prosedur. 2002 Penebangan ilegal juga semakin merajalela karena kebutuhan kayu untuk industri tidak bisa dipenuhi dari penebangan legal. kemudian pada awal tahun 1990-an tingkat kerusakan mencapai 1. • Pemberlakuan UU No. GAMBAR 6. penebangan ilegal.7 juta hektar/tahun.8 juta hektar dan gundul 3. dengan jumlah nilai rencana investasi 1-5 tahun sejak 2000 sebesar US$ 3. Lalu.7 juta hektar dan gundul 101. Data Departemen Energi dan Sumber daya Mineral menunjukan saat ini ada 150 perusahaan pertambangan yang kawasan konsesinya (terdiri dari 116 tahap eksplorasi dan 34 sudah dalam tahap ekploitasi) berada di daerah konservasi. • Pembentukan Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) di bawah koordinasi BAPPENAS. 69 Tahun 1996 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Tata Ruang.100 hektar dan gundul 685 hektar).3 juta hektar). hutan rakyat. 3. regional. di Nusa Tenggara (degradasi 74. laju deforestasi diperkirakan 1. tahun 1993. Kaltim.200 hektar). sedangkan produksi kayu legal dari hutan alam.1 juta hektar). 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. serta banyaknya lokasi tambang di daerah hutan lindung dan daerah konservasi meskipun dilarang berdasarkan UU No. dan internasional.3 .1 LANGKAH PEMERINTAH DALAM MENGATASI ALIH FUNGSI LAHAN • Pemberlakukan Intruksi Presiden No.3 PENEBANGAN KAYU ILEGAL (ILLEGAL LOGGING) DI HUTAN DI KALIMANTAN TIMUR TELAH MEMPERLUAS TERJADINYA LAHAN KRITIS DAN RAWAN LONGSOR Sumber: Bapedalda Kota Balikpapan. kebakaran hutan. pembukaan hutan skala besar. • Pemberlakuan UU No. Kapasitas industri kayu saat ini adalah 60 juta m3.9 juta hektar.

di samping juga menjadi backing. (3). Kayu ditebang menggunakan alat tebang tradisional dan chain saw. selama tahun 2002 berhasil menyita kayu sebanyak 3.506. Demikian pula dengan upaya yang bersifat polisional.BOKS 6. termasuk di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi.3 PENEBANGAN KAYU LIAR DI SUKABUMI • Penjarahan hutan disertai penebangan kayu di wilayah Perhutani Unit III Jabar.137 pohon dengan kerugian senilai Rp 8. dan Pemda Provinsi/Kabupaten. Ada 11 instansi yang berada dalam satu mata rantai pemberantasan illegal logging yang sangat menentukan proses penegakan hukum kejahatan bidang kehutanan yaitu: Menko Polkam.1 miliar lebih. Untuk menekan gangguan keamanan hutan selama ini lebih dititikberatkan pada pendekatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat desa hutan khususnya melalui pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Dalam tahun 2001.1 miliar lebih (Ukin Prawirasutisna. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 .76 meter kubik. Ketahanan dan kemandirian masyarakat yang masih rendah dengan pembodohan yang berdalih pemberdayaan masyarakat. dan aktor utamanya. Khusus di KPH Sukabumi dalam tahun yang sama tercatat ada 13.601 pohon dari berbagai jenis kayu. hutan produksi.7 miliar lebih. Lahan yang dirambah diperkirakan mencapai 7. TNI AL. Penebangan kayu dan perambahan hutan Suaka Margasatwa Cikepuh dimulai awal tahun 1999 sampai bulan Maret 2002. Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi berupaya melakukan penegakan hukum dan berhasil menjerat para ketua kelompok. KABUPATEN SUKABUMI Banyak sekali kasus perambahan dan pencurian kayu hutan lindung. Kepala Seksi Humas Perhutani III. Pengadilan. Kejaksaan. Deperindag.000 hektar. Polri. Dephut. Bea Cukai. (5). Jawa Barat). Modus penebangan ilegal: oknum aparat menjadi dinamisator dan supervisor tindak pidana kehutanan. di Perhutani Unit III terjadi pencurian kayu sebanyak 114. Kondisi moral. patroli rutin. Khusus di KPH Ciamis.2 KASUS PERAMBAHAN HUTAN SUAKA MARGASATWA CIKEPUH. Upaya represif yang dilakukan bersama institusi keamanan. VI . hutan suaka margasatwa. lebih mengedepankan upaya preventif. TNI AD/Hankam. Kerugian yang diderita mencapai Rp 35. Salah satunya terjadi di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh.4 (2). (6). seperti penyuluhan melalui berbagai media. atau naik sekitar 21 persen dibanding prestasi tahun 2001. mulai Januari sampai Mei tercatat sebanyak 23. Sementara pencurian kayu di wilayah Perhutani Unit III dalam tahun 2002. Sukabumi. masih terus berlangsung. sosial dan budaya masyarakat. Sumber: Pikiran Rakyat. Penegakan hukum masih lemah sehingga mafia kayu beraksi dengan bebas. Dephub. Masih ada industri pengolahan kayu yang menerima dan mengolah kayu ilegal. 2002 BOKS 6. Garut dan Sukabumi dilakukan bersama FKPPI dan lembaga lainnya. koordinator. juga melalui Balok Lodaya 2001 bekerja sama dengan Polda Jabar. Kemudian berbagai operasi di antaranya dilaksanakan melalui operasi kayu selama bulan April dan Mei 2002. 2 Juli 2002 • • Kendala yang dihadapi dalam pemberantasan illegal logging antara lain: (1). kampanye pelestarian hutan. Kayu yang ditebang adalah jenis kayu bungur dan laban berdiameter antara 20 – 60 cm. serta aparat cenderung menjadi tidak lagi peduli pada kelestarian hutan dan penegakan hokum.340 pohon yang ditebang ilegal oleh pencuri dengan kerugian senilai Rp 4. Ada pun jumlah tersangka yang berhasil diamankan sebanyak 82 orang. (4). Sumber: KLH.

Kerinci Seblat. Salah satu upaya Pemerintah untuk menanggulangi penebangan kayu ilegal yang semakin marak dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab adalah dengan Pemberlakuan Instruksi Presiden No. Bukit Tigapuluh. Muara Teweh. Tanjung Puting. dan backing kejahatan kehutanan tanpa pandang bulu. Perguruan Tinggi. Kuala Kapuas.htm • • • • • Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Perusahaan yang menyalahgunakan HPH akan ditunda izin HPH-nya sampai ada pengkajian HPH untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai hutan Indonesia selesai dilakukan. Menyelesaikan Peraturan Pemerintah yang akan menjembatani masalah yang timbul dari UU No. Siak Hulu 3 Jambi TN. Penanganan illegal logging saat ini belum mencapai hasil yang maksimal karena dilaksanakan secara tidak berkesinambungan akibat biaya yang cukup besar. Kedua tim tersebut adalah Tim A yang dibentuk melalui SK Menteri Perekonomian dan bertugas untuk meneliti perusahaan yang sudah dalam tahap eksploitasi.1 DAERAH-DAERAH YANG RAWAN PENCURIAN DAN PENYELUNDUPAN KAYU NO PROPINSI LOKASI 1 Aceh TN. serta akan lebih transparan dalam pengungkapan aktor di belakangnya. Oleh karena itu pada tahun 2003 Departemen Kehutanan bersama TNI serta instansi terkait dalam penegakan hukum. terutama difokuskan pada kontrak-kontrak pertambangan dan energi yang ditandatangani sebelum ditetapkannya UU No. (10). Dumai. Selain itu KLH atas nama Pemerintah Indonesia telah menandatangani letter of intent dengan Pemerintah Norwegia pada tanggal 30 Agustus 2002 yang pada prinsipnya menekankan pentingnya KLH berperan pada kegiatan advokasi. Pelaksanaan otonomi daerah yang lebih berorientasi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mempehatikan kelestarian hutan. Semua kontrak ke depan akan mengikuti aturan UU No. serta integritas dan integrasi bangsa dan negara Indonesia. KLH. Kutai. Sedang Tim B dengan SK Menhut meneliti perusahaan yang masih dalam tahap ekplorasi. Singkil. Barito Utara. Meru Betiri. Tenggarong.Lore Lindu. 41 Tahun 1999. serta swasta untuk menyelesaikan masalah pertambangan sebagai akibat dari kebijakan yang dituangkan dalam UU No. pemerintah daerah. Bireun. TABEL 6. Gunung Leuser. 41 Tahun 1999. Palu 10 Papua Sorong Sumber: Media Indonesia. Balikpapan 9 Sulawesi Tengah TN. Hulu Sungai Selatan 8 Kalimantan Timur Nunukan. Barito Selatan 7 Kalimantan Selatan Kotabaru. Kuala Tungkal. Lamongan 5 Kalimantan Barat TN.tripod. (9). pemodal.4 LANGKAH PEMERINTAH MENANGGULANGI MASALAH PERTAMBANGAN DI KAWASAN KONSERVASI DAN HPH • Pemerintah membentuk dua tim melibatkan unsur masyarakat terdiri dari LSM. Kompleksnya permasalahan sosial dan moral di berbagai lapisan masyarakat. Pasir. Batuampar. Hulu Sungai Utara. Kapuas. BOKS 6. Gunung Palung.com/hutan. Pemerintah mengharapkan pada tahun 2003 semua HPH sudah mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan produksi lestari. Tujuannya untuk mencari titik penyelesaian masalah tumpang tindih ini. Bungo Tebo 4 Jawa Timur TN. Paloh. yaitu mendorong semua pihak untuk meningkatkan dan mensinergikan kemampuan dalam pemberantasan mafia illegal logging. Bukit Dayeuh. Kuala Simpang 2 Riau TN. Betung Kerihun 6 Kalimantan Tengah TN. Donggala. 41 Tahun 1999 yang menyatakan dengan tegas tidak boleh melakukan pertambangan terbuka di hutan lindung dan konservasi. 28 Juni 2002 Upaya Penanggulangan dan Pemberantasan Penebangan Kayu Ilegal Tahun 2002 Dewan Pertahanan Nasional telah menyatakan kejahatan perusakan hutan terutama illegal logging merupakan salah satu ancaman potensial yang dapat meruntuhkan keutuhan dan kesatuan. Bondowoso.5 . Palangkaraya. Data dan informasi tentang penanganan illegal loging masih sangat terbatas. Sumber: siklusits. Rumbai. (8). 5 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Ilegal dan Peredaran Hasil Hutan ilegal di Kawasan Ekosistem Leuseur dan Taman Nasional Tanjung Puting. bertekad meningkatkan penindakan secara tegas pelaku.(7). 41 Tahun 1999.

dengan laju degradasi empat tahun terakhir mencapai 2.1/Kpts-II/2000. Penangkapan ini merupakan yang terbesar sejak adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menperindag dan Menhut bernomor 292/MPP/Kep/10/2001 tertanggal 8 Oktober 2001. Di daerah perbatasan dengan Provinsi Kaltim laju kerusakan seluas 150. Pemanfaatan Hutan. Penerbitan SK Menhut ini telah diperkuat dengan terbitnya PP No. kayu log 11.8 milyar.6 .35 juta hektar. yang isinya antara lain mencabut SK Menhut No. 3 (4) Peredaran kayu ilegal di Pantai Utara mencapai 500.564 m3. 292/MPP/Kep/10/2001. Sumber: Departemen Kehutanan. Kalimantan Timur. tentang Penghentian Ekspor Kayu Bulat/Bahan Baku Serpih yang dikuatkan dengan PP No 34 Tahun 2002 yang dengan tegas melarang ekspor log. India mencapai 10 juta m /tahun. Kemudian tanggal 12 Maret 2002 ditangkap lagi dua kapal asing berbendera Indonesia yaitu Promex 26 dan Promex 27. Pengawasan yang ketat terhadap oknum TNI di lapangan yang bertindak sebagai backing maupun pelaku.300 m3. (6) Dari hasil kerja sama Dephut dengan TNI AL melalui operasi Wanabahari pada tahun 2001 telah ditangkap delapan kapal. dan di perbatasan dengan Provinsi Kalbar seluas 250. Diharapkan kerja sama serupa dengan Pemerintah Jepang serta beberapa negara lainnya akan segera menyusul. Melakukan kerja sama dengan TNI AL dalam pelaksanaan Operasi Wanabahari. Memberikan back up data intelejen. dan Penggunaan Kawasan Hutan yang antara lain mengatur kewenangan pemberian izin pemanfaatan hutan dan hasil hutan.000 m /bln (sekitar 500 – 700 kapal per bulan) dengan kerugian finansial sebesar Rp 450 milyar/bln. Riau. dengan barang bukti sitaan kayu log sebanyak 26. Mem-back up operasi khusus di daerah sensitif seperti wilayah perbatasan.500 m3. Sulawesi Tenggara. 1132/Kpts-II/2001. Kalimantan Barat. Di samping itu ada kerugian secara ekologi yaitu hilangnya beberapa jenis/spesies keanekaragaman hektaryati.4 trilyun/tahun (5) Kerusakan sangat besar terjadi di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia. serta dengan Polri dalam pelaksanaan Operasi Wanalaga. Kalimantan Tengah.2 trilyun/thn. menghentikan sementara kewenangan gubernur atau bupati/walikota menerbitkan HPH/izin pemanfaatan hasil hutan.Berikut langkah-langkah strategis Dephut untuk mengatasi penebangan ilegal: • Menerbitkan SK Menhut No. atau Rp 5. Secara bersama melaksanakan operasi di laut dan perairan. yaitu penandatanganan MoU dengan Pemerintah Inggris.000 hektar/th. Kalimantan Timur. dengan perkiraan kerugian finansial sebesar Rp 30. Kapal itu mengangkut kayu gelondongan 3. untuk pemberantasan illegal logging dan illegal trade. Total kerugian negara yang berhasil diselamatkan kurang lebih Rp 5.6 milyar. Vietnam. BOKS 6. (2) Penebangan kayu liar dan peredaran kayu ilegal mencapai 50. 541/Kpts-II/2002.42 trilyun/tahun. • • • • • • • Penegakan hukum telah dilaksanakan di bagian hilir proses penyelundupan kayu. dan No.000 hektar/tahun.400 meter kubik dari Tanjung Selor. dengan perkiraan penerimaan negara yang diperoleh sebesar Rp 63.000 milyar/bln. (3) Penyelundupan kayu dari Papua. Bea Cukai menangkap kapal Putri IV yang mengangkut kayu gelondongan sebanyak 50 meter kubik. perkiraan penerimaan negara yang diperoleh sebesar Rp 447 milyar. 05. pada tanggal 18 April 2002.7 juta m3/tahun. dan Jambi dengan tujuan 3 negara Malaysia. atau Rp 7.5 DATA PENEBANGAN ILEGAL Departemen Kehutanan tanggal 15 Januari 2003 mengeluarkan informasi (berupa siaran pers) yang menggambarkan kondisi aktual kerusakan hutan tropis serta praktek illegal logging yaitu: (1) Hutan yang rusak atau tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai luasan 43 juta hektar dari total hutan Indonesia seluas 120. Tahun 2002 ditangkap lima kapal dengan barang bukti sitaan barupa kayu olahan 2. kawasan konservasi dan taman nasional terpilih. Khusus dari Papua mencapai 3 600. dan dengan RRC pada tanggal 18 Desember 2002. Nangroe Aceh Darussalam.000 m /bulan dengan kerugian sebesar Rp 600. 2003 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. Menerbitkan SKB Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. Kerja sama dengan negara lain.1 juta hektar per tahun. Cina. Sumatra Utara.

Singapura dan Koichi University.Bangka Belitung Lampung Bulan Sumber: KLH.7 .4. Adei Plantation di Bangkinang. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .800 Aceh Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Sumatera Selatan Bengkulu 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Hotspot 1.000 3. BMG. Malaysia dan Brunei Darussalam.500 2.5. seperti Singapura. Kegiatan ini dilakukan secara kontinu oleh KLH dan meliputi pemantauan titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan dan Sumatera.600 1.500 5. kelembaban. regional maupun internasional. sehingga mendapat perhatian yang serius di dalam dan di luar negeri. 2002 GAMBAR 6.200 1.000 500 1 2 3 4 5 Bulan 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Hotspot Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sumber: KLH. Jepang. a.000 1.4. seperti meningkatnya penderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). yang pada gilirannya akan mempengaruhi perekonomian masyarakat.970 hektar oleh PT.400 1. tetapi dari aspek ekologi banyak kehilangan habitat flora dan fauna liar. baik lokal. yang sebagian wilayahnya terkena dampak pencemaran asap lintas batas. Provinsi Riau.500 1. kualitas udara (ISPU). dan LAPAN.000 2.500 4. Dampak yang sering dirasakan oleh masyarakat adalah kabut asap yang sangat merugikan kesehatan. jarak pandang. Pemantauan kebakaran hutan dan lahan Pemantauan kebakaran hutan dan lahan telah dilakukan sebagai bagian dari sistem deteksi dini dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. GRAFIK SEBARAN HOTSPOT DI WILAYAH KALIMANTAN TAHUN 2002 5. Data tersebut diperoleh dari instansi terkait seperti Departemen Kehutanan. Selain itu kabut asap ini mengganggu transportasi baik udara. GRAFIK SEBARAN HOTSPOT DI WILAYAH SUMATERA TAHUN 2002 1. darat maupun sungai. Kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan dilihat dari aspek ekonomi bukan hanya hilangnya aset kekayaan tegakan hutan berupa kayu. negara dirugikan kurang lebih 500 milyar rupiah.000 4. Hasil pemantauan disampaikan kepada pemerintah daerah untuk pengendalian kebakaran. serta informasi dari situs ASEAN Service Meteorological Center. Pembakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali Terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia beberapa tahun yang lalu telah membawa dampak yang sangat besar pada lingkungan hidup.500 3. khususnya oleh negara-negara ASEAN. GAMBAR 6.000 800 600 400 200 - Kep. sebaran asap dan awan. Sebagai gambaran akibat pembakaran hutan dan lahan seluas 2.

23 KERUGIAN (RP) 72. Unit KSDA. Untuk itu ditandatangani kesepakatan kerja sama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup.983. HPHTI. • Menyusun peta rawan kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan tahun 2002 yang bertujuan untuk memprioritaskan kegiatan pengendalian kebakaran pada lokasi-lokasi yang rawan terjadi kebakaran.050 Riau Sumatera Selatan Kalimantan Timur Jambi Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Bali Sulawesi Tenggara Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku D.00 38.89 141. Menteri Dalam Negeri.95 7. Balai KSDA.50 200.265. luas kebakaran hutan di seluruh Indonesia tahun 2002 mencapai 38.00 361.225.00 301. 2002 (Hasil rekapitulasi laporan rutin daerah: Dishut. • Mendorong perubahan misi PT. (1) Perkembangan penanganan Upaya antisipasi • Pemerintah telah mengantisipasi akan terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun 2002 melalui pertemuan Wakil Presiden.371.750 11. Perhutani dalam empat tahun mendatang.211.967. dishut kab.300 8. Gubernur dan Bupati yang daerahnya rawan kebakaran hutan dan lahan di Riau.050.087.089. • Mengadakan pertemuan antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan ketua DPRD. Bupati dan ketua DPRD 17 kabupaten yang daerahnya rawan kebakaran hutan dan lahan pada tanggal 9 Januari 2002.000 17.53 33.000 122.870. • Menyepakati mekanisme pelaporan penanggulangan kebakaran berjenjang dari tingkat desa sampai provinsi dengan melibatkan pemerintah. Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Gubernur lima provinsi.137.Menurut data dari Departemen Kehutanan.000. HPH. • Memobilisasi mahasiswa untuk melakukan pemantauan dan advokasi di Kalimantan Barat. perusahaan dan masyarakat.967. serta kunjungan Menteri Kehutanan ke daerah rawan kebakaran Tahun 2002 • Memberdayakan masyarakat lokal dan lembaga adat dengan kearifan tardisional melalui Community Based Fire Management.2 TABEL 6. Gubernur Kalimantan Barat dan lima rektor perguruan tinggi di Kalimantan Barat.389.I.75 600.00 300. 2 KEBAKARAN HUTAN DI SELURUH INDONESIA TAHUN 2002 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 PROVINSI LUAS HUTAN TERBAKAR (HA) 2.000 13.92 2.85 10.500. • Mensosialisasikan informasi mengenai kemungkinan timbulnya kebakaran oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan ke daerah. • Melatih tenaga penyuluh lapangan kebakaran hutan dan lahan sebanyak 297 orang.30 4. dari produksi menjadi rehabilitasi hutan-hutan yang gundul.8 .389. Yogyakarta Sulawesi Tengah JUMLAH Sumber: Departemen Kehutanan. radio komunikasi dari daerah) b.20 140.00 900.23 hektar dengan kerugian Rp. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . • Mendorong langkah moratorium penebangan hutan.00 8.122. yang pada tahap awal dilakukan di Pulau Jawa dan Bali. Balai TN. Secara rinci luas kebakaran setiap provinsi tahun 2002 dapat dilihat pada Tabel 6.09 423. Peta rawan kebakaran wilayah Sumatera dan Kalimantan terlampir.25 212. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana aksi 17 kabupaten di Lembang pada tanggal 12-14 Maret 2002.

Kemudian akan dibentuknya ASEAN Coordinating Center for Transboundary Pollution Control yang selanjutnya secara singkat disebut ASEAN Center. Begitu juga penambangan pasir laut yang banyak menyimpang dari ketentuan yang berlaku. 7. BOKS 6. Freeport Indonesia ke sungai yang telah menimbulkan masalah.9 . 2002 2. serta menanggulanggi polusi lintas batas negara. seperti pembuangan tailing pada PT. 5. Windu Nabasindo Lestari Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah PT. antara lain PT. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Inti Prona Status: dalam proses penyidikan PT. Malaysia. Brunei Darussalam). • Mendorong/memfasilitasi pemerintah daerah dan masyarakat dalam proses penegakan hukum bagi pelaku perusakan lingkungan/hutan. Upaya yang dilakukan di tingkat regional antara lain ditandatanganinya Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution) oleh para th menteri lingkungan negara ASEAN dalam Pertemuan Para Menteri ASEAN tentang Asap ke-9 ( 9 ASEAN Ministerial Meeting on Haze) pada tanggal 10 Juni 2002 di Kualalumpur. Perjanjian akan berlaku efektif bila enam negara telah meratifikasinya. Ekploitasi pertambangan Penambangan yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia saat ini banyak menimbulkan kerugian tidak hanya kerugian materi berupa hilangnya devisa bagi negara tetapi juga ancaman dan kerugian bagi lingkungan hidup yaitu rusaknya lingkungan dan menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan. (2). Bisma Dharma Kencana Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah Sumber: KLH. baik melalui pertemuan rutin tingkat teknis (Sub-Regional Firefighting Arrangement/ SRFA) untuk wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya. 4. PT. yaitu dalam forum ASEAN. seperti kawasan wisata dan permukiman.6 UPAYA PENEGAKAN HUKUM DALAM KASUS PEMBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 1. 3. 6. Adei Plantation and Industry Putusan pada tingkat banding: delapan bulan kurungan dan denda Rp 100 juta Status: dalam proses kasasi di Mahkamah Agung RI PT.• Mendorong penataan kembali kawasan-kawasan lindung yang saat ini lahannya untuk peruntukan lain. Cisadane Sawit Raya Status: dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Rantau Prapat PT. Perjanjian ini mengandung semangat kebersamaan untuk berupaya mencegah. 8. maupun SRFA untuk wilayah Borneo (Kalimantan. 5. Beberapa perusahaan pertambangan besar dalam melakukan aktifitasnya banyak menimbulkan masalah lingkungan. Namun ada perusahaan pertambangan yang mempunyai reputasi yang cukup baik dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mustika Sembuluh Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah PT. Di samping itu ada forum pertemuan yang lebih tinggi yaitu ASOEN Haze Technical Task Force (AHTTF). Sabah – Sarawak. Upaya penanganan di tingkat regional ASEAN Penanganan kabakaran hutan dan lahan juga dilakukan di tingkat regional. memantau. Jatim Jaya Perkasa Putusan Pengadilan Negeri: bebas murni Status: Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung PT. Bumi Pratama Katulistiwa Status: P21 (tinggal menunggu persidangan) PT. Kaltim Prima Coal (KPC).

623. baik tingkat pusat maupun Daerah. • Hasil kajian juga menunjukkan adanya beberapa parameter baru yang “bermasalah” dan memerlukan pengkajian lebih lanjut. Saran tindak terakhir diberikan pada bulan Oktober 2000 dalam bentuk revisi atas dokumen RKL dan RPL. tetapi risiko tailing mungkin lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh Parametrix.333 ton bijih per hari. Berdasarkan laporan pelaksanaan RKL-RPL. Satu PETI menggunakan satu atau lebih mesin sedot. Apabila satu mesin menggunakan satu kg Hg dalam rentang waktu tiga bulan dapat dipastikan Sungai Takaras tercemar oleh Hg sebanyak 480 kg. tempat penimbunan batubara (stock pile). tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.7 PT FREEPORT INDONESIA Sesuai ketentuan Pasal 32 PP No. Departemen ESDM dan KLH. Upaya Penanganan masalah PETI telah dilakukan dengan berbagai cara oleh KLH bersama sama dengan Instansi terkait. Memperhatikan berbagai temuan studi ERA tersebut. KLH memberikan arahan saran tindak.Masalah lain yang perlu diperhatikan dan segera ditanggulangi adalah penambang tanpa izin (PETI) yang lokasinya tersebar di hampir seluruh Indonesia (Lihat Gambar 6.6) yang banyak menggunakan air raksa (Hg) dalam proses pengekstrakan emas. antara lain batubara dan emas. FI) wajib menyampaikan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) kepada Bupati Timika. termasuk di dalamnya laporan tentang pengelolaan tailing. 21 dan 22 Maret 2003). pihak PTFI juga telah melaksanakan studi ERA (Environmental Risk Assesment) khusus untuk pengelolaan tailing dengan bantuan konsultan Parametrix.10 . sesuai dengan komitmen mereka dalam dokumen RKL 300K. Freeport Indonesia (PT. maka dalam waktu dekat akan segera ditetapkan Keputusan Menteri KLH tentang Penyempurnaan RKL-RPL PT. Selain itu juga dijalin kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap lingkungan hidup. • PETI emas dalam prakteknya merusak kondisi fisik wilayah penambangan emas serta terjadinya pencemaran merkuri yang semakin meluas. Dari laporan itu tercatat produksi PT. Di sana ada 480 PETI. Rencananya PT.675 milyar ton sampai tahun 2014. Sebagai contoh PETI yang terdapat di Propinsi Kalimantan Tengah. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Sejalan dengan proses revisi RKL dan RPL tersebut. Sumber: KLH. Freeport Indonesia pada tahun 2001 mencapai 242. lokasi pelabuhan khusus batubara. Masalah yang terkait dengan penanggulangan PETI adalah: penegakan hukum belum optimal dengan tingkat kedisiplinan aparatnya yang masih perlu ditingkatkan.100 ton ke Danau Wanagon. Upaya tersebut baru pada tahap melakukan sosialisasi tentang bahayanya merkuri terhadap kesehatan manusia melalui berbagai sarana serta perlunya para PETI mengikuti peraturan yang berlaku. FI kepada KLH pada tanggal 23 Desember 2002 dengan kesimpulan antara lain: • Hasil kajian belum menunjukkan bukti konklusif risiko dapat diabaikan. Kegiatan PETI bahan galian tambang. • Sebagian besar hasil kajian menunjukkan adanya dampak lingkungan akibat tailing. semakin marak seiring dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan. atau dua ton Hg dalam setahun (Kalteng Pos. pihak PTFI secara rutin. Freeport akan membuang batuan limbah sebanyak 2. tepatnya pada DAS Rungan dengan sungai utamanya Sungai Takaras. Pembuangan batuan limbah sampai tahun 2001 mencapai 181. pihak PT. serta krisis ekonomi yang berkepanjangan Fokus penanganan masalah PETI bahan galian tambang batubara dan emas didasarkan pada pertimbangan: • PETI batubara dalam prakteknya sangat merusak kondisi fisik: lingkungan tempat batubara tersebut. Atas dasar ketentuan tersebut. Gubernur Papua. dan sarana jalan transportasi yang digubakan untuk mengangkut batubara. FI. sebagaimana diprediksi dalam dokumen Andal 300K. 27 Tahun 1999 tentang Amdal. mengingat beberapa ketentuan dalam RKL-RPL yang ditetapkan tahun 1997 sudah tidak efektif lagi. Hasil studi ERA ini telah disampaikan oleh pihak PT. yaitu setiap tiga bulan menyampaikan laporan itu kepada KLH. BOKS 6.

sisa batuan terbagi menjadi NAF (Non Acid Forming/tidak berpotensi menghasilkan air asam tambang) sehingga ditempatkan di atas final dump dengan luas terkelola 1.026.000 ha • Rehabilitasi tambang 106.000.001 34 .000) • Peningkatan pendidikan (renovasi dan pembangunan gedung sekolah). Produksi batu bara PT KPC : 14.0 CO (ug/Nm3) 10. Pit K. Bara Camp < 0. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .101 42 .973 pohon terdiri dari 104 spesies (92 lokal). Jika diperlukan penutupan batuan asam dilakukan dengan rekayasa dan bila tidak mungkin.001 34 91 – 159 <8 70 < 0. Dalam laporan (Agustus. • Hasil uji NAG.02 HC (ug/Nm3) 160 3 NOx (ug/Nm ) 150 SO2 (ug/Nm3) 365 Debu (ug/Nm3) 230 Pb ug/Nm3) 2 Sumber : Lab Udara ITB. maka aliran air asam tambang dinetralisir dengan menggunakan kapur.3 HASIL PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DI PT.243 < 0.8 PT.700 ha (2002).001 32 1 – 20 <8 19 < 0. KPC merupakan perusahaan pertambangan dan produksi batu bara PMA yang beroperasi di Kecamatan Sangatta. 45. • Meneliti geokimia di areal eksplorasi dan penumpukan akhir (final dump).5 ha dengan pembibitan 215. 13. • Kegiatan peyediaan infrastruktur bagunan sekolah. RKL/RPL untuk triwulan Oktober s/d Desember 2001.26 <8 <8 42 37 < 0. PT. peningkatan pendidikan SD – S3 (US$ 171.444.013 kiloton (tahun 1999).001 37 30 19 . dengan jumlah tenaga kerja asing 28 orang.001 < 0. 4 Aspek lingkungan lain • Revegetasi: pelaksanaan revegetasi di lahan bekas galian. tanggal 11 April 2003) • PT.BOKS 6. • Pemanfaatan fasilitas oily water separator plant ( oil spill control ) • Pengelolaan air asam tambang dengan melakukan klasifikasi dan pemisahan batuan penutup yang didasarkan pada potensi pembentukan asam. telah melakukan uji TCLP dan LD50 terhadap sampel limbah padat (fly ash dan bottom ash) dengan kesimpulan kandungan parameter uji yang masih di bawah baku mutu. Juni. Kegiatan manajemen pengelolaan lingkungan hidupnya melaksanakan Environmental Management System (EMS) berikut: • Pengelolaan lingkungan hidup internal dan eksternal melibatkan tenaga ahli • Integrasi manajemen lingkungan dengan struktur manajemen perusahaan • Rencana kerja manajemen lingkungan yang komprehensif • Program tahunan audit lingkungan internal • Laporan rutin bulanan dan tahunan pengelolaan lingkungan oleh divisi lingkungan kepada manajemen perusahaan • Mekanisme pelaporan kecelakaan kerja • Program pelatihan karyawan • Penyediaan dana pengelolaan lingkungan tahun 2001 mencapai US$ 6. Pada kurun waktu 1999 – 2000. Namun demikian perlu juga dilakukan uji karakteristik limbah B3 lainnya. 2000 – 2001.1 2 Upaya pengelolaan kualitas air • Setiap hari secara rutin setiap hari dilakukan pemantauan kualitas air limbah dan air sungai sekitar lokasi operasi PT KPC (42 titik pantau). tanggal 11 April 2003) • Pemanfaatan: pemanfaatan pelumas bekas untuk bahan bakar pembantu dalam kegiatan peledakan ANFO-Emuls kegiatan penambangan (memiliki izin dari KLH melalui SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No 49.1 Hasil Analisa Kws Kws Lembah Hijau Tj. Sungai Murung. • Peningkatan ekonomi atau pendapatan dengan perkiraan biaya US$ 690.546 < 0. • Peningkatan pelayanan masyarakat dan pengembangan SDM (US$ 180.000) • Peningkatan kesehatan & gizi dengan perkiraan biaya US$ 182. • Pengukuran kualitas air bulanan untuk pendingin di aliran keluaran berbataan dengan stasiun pembangkit listrik.33 20 . 2001 – 2002 PT. Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Kontrak Karya No. KPC memperoleh sertifikat emas atas penilaian Proper yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. B .700 ha (2002).135 kiloton (tahun 2000).000 pohon telah ditanam pada lahan 1. air laut dekat bakau di titik pasang surut pantai dan air laut di daerah bakau 3 Upaya pengelolaan limbah B3 • Penyimpanan: pelumas bekas di gudang penyimpanan limbah B3 dengan upaya tidak melewati waktu 90 hari (memiliki izin dari KLH melalui SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No.1 Kws Batu Putih < 0.000 H2S (ppm) 0.11 .611 kiloton (tahun 2001). 15.50 /Pres/10/1981.001 < 0. lokasi Sangatta dump discharge. KPC akan menambang 4.1 juta ton batu bara dan 34 juta bcm (bank cubic meter) overburden dipindahkan ke areal dumping (waste disposal). KPC melalui data uji Laboratorium ASL yang diterbitkan Agustus 2002.000.313) Sumber: KLH. KALTIM PRIMA COAL (KPC) PT.001 259 . jalan dengan perkiraan biaya US$ 301.001 19 – 99 < 0.670.1 < 0. sedangkan total luas lahan yang dibuka sektar 73 ha. 5 Community development (Menurut data tahun 2002 dana untuk kegiatan CD Rp 15. PAF (Potensial Acid Forming) ditempatkan pada bagian bawah final dump dengan luas terkelola 1. 2002). KPC memiliki tenaga kerja 2716 orang. top soil dan overburden yang sudah baik • Reklamasi: 800. 2002 Kws Panorama < 0. KPC Parameter Baku Mutu (PP 41/1999) NH (ppm) 2.698 1 Upaya pengelolaan kualitas udara TABEL 6.160. PT. Kabupaten Kutai Timur.

pemilik PT. UU No. Aneka Yasa Setia: ditangkap di Selat Durian. pemilik PT. dan Menteri Negara Lingkungan Hidup) 14 Februari 2002 tentang Penghentian Sementara Ekspor Pasir Laut juga didukung dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2002 tentang Pengendalian Penambangan Pasir Laut. MV KLK-II (Honduras) Dredger Statis. seperti yang telah dilakukan oleh Bupati Karimun untuk beberapa perusahaan penambangan pasir setempat. KPTS 18/II-2001. UU No. TB Bintang Baru (Honduras) Pusher Tug. Tahun 2000. 9. 7. 01/K-TP4L/VIII/2002 tentang Pedoman Pengendalian dan Pengawasan Pengusahaan Pasir Laut. MV Banel (Singapura) Sand Pump Ship.9 PENAMBANGAN PASIR RIAU Kegiatan penambangan pasir laut di Riau merusak lingkungan hidup dan merugikan ekonomi negara.864 GT (Jepang). MV Bintang Harmoni (Honduras) Sand Pump Ship. MV Hikarigo (Honduras) dredger statis. pemilik PT. 4. pemilik PT. 11 Tahun 1967 tentang KUHP. Citra Karimun Aditya: ditangkap di perairan Tanjung Uban. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . 2. UU No. 1. 5. TB Olivia V. TB Jasmine V. Sejak diterbitkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan selaku Ketua TP4L No. 11. ada surat keputusan bersama (SKB) antara gubernur dengan para bupati dan juga keluarnya SKB tiga menteri (Menteri Perindustrian dan Perdagangan. 7. pemilik PT. perairan Tanjungbalai Karimun. Equator Reka Citra: ditangkap di Selat Durian.135 GT (Rusia). 4. Citra Karimun Aditya: ditangkap di perairan Tanjung Uban. KPTS 3 tahun 2001 dan KPTS 23 tahun 2001 tanggal 14 Pebruari 2001. MV Lange Wapper (Belgia). Menteri Kelautan dan Perikanan. 13. pemilik PT. MV Vasco Da Gama. hal tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bersama Gubernur Riau dengan bupati/walikota di Provinsi Riau Nomor KPTS. Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi Pasir Laut diberikan langsung oleh bupati setempat. MV Alexander Van Humbolt (Luxemburg). Untuk mengatasi ekspor pasir laut yang tidak terkontrol Pemerintah Provinsi Riau telah melakukan sejumlah langkah-langkah. perairan Tanjungbalai Karimun. 5. 13 KAPAL PASIR YANG DITANGKAP: MV Profesor Gorjunov. Pola Kendali Karimun: ditangkap di Selat Durian. perairan Tanjungbalai Karimun. 8. Aneka Yasa Setia: ditangkap di Selat Durian. 3.12 .860 GT (Jepang). Hasilnya ditangkapnya 13 kapal pasir di perairan Riau yang diduga telah melanggar berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengusahaan pasir laut.BOKS 6. TB Yamani-02 (Belize) Tug Boat.000 GT (Belanda). pemilik PT. Sub-Pokja 2 TP4L secara proaktif melakukan koordinasi dengan instansi terkait dibidang pengawasan dan pengamanan. perairan Tanjungbalai Karimun. Pola Kendali Karimun: ditangkap di Selat Durian.33/II/2001. Sejauh ini proses perizinan langsung diajukan kepada bupati. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran. Sumber: KLH. MV Samsung Apollo. 6. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. 12. antara lain UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 7. 36.130 GT (Korea). perairan Tanjungbalai Karimun. 10. UU No.

Kalimantan Barat. Terjadi tumpang tindih kebijakan pusat-daerah. Produksinya bulan Januari 1994 mencapai 139. dihiasi lubang berdiameter 15-25 meter. PETI di bekas lokasi penambangan emas PT.8 kg dan 1996 menurun menjadi 271. Lokasi tersebut mengandung 60 persen kandungan emas. Diduga belum melakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi di bekas daerah pertambangan sesuai dengan dokumen RKL-RPL. AMP seluas empat ha) menurunkan produksi PT. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . yang menghancurkan hara dan kesuburan tanah. Maraknya penambang tanpa izin (PETI) yang dimulai pada tahun 1997 (termasuk perusakan kantor PT. Lokasi PETI di areal pertanian dan perkebunan. Permasalahan: • • • • Hamparan hutan di daerah sekitar Sungai Cempaga dan Sungai Katingan atau tepatnya di lokasi pertambangan emas Cempaga Buang dan Kasongan saat ini sudah gundul.3 kg. di Kabupaten Landak. pemerintah daerah telah berusaha dengan dikeluarkannya Perda No.BOKS 6. Dalam upaya penanganan PETI emas di wilayahnya. sehingga diperkirakan mencemari sumber air PDAM Pontianak. kedalaman delapan meter. dengan diameter mencapai 200 meter dan dengan kedalaman tak kurang dari 25 meter. Namun lokasi tersebut termasuk dalam konsesi PT. Kabupaten Sampit.8 kg. Kondisi kawasan yang sudah rusak berupa hamparan pasir kwarsa (30%). Tabel 6. AMP dan meningkatnya kerusakan lingkungan. Ampalit Mas Perdana (PT . PT. Hal ini terlihat pada bekas galian para PETI yang ditinggalkan begitu saja tanpa ada upaya reklamasi. Kalimantan Tengah. 1995 menjadi 296. Pemakaian merkuri untuk mengikat bijih emas semakin marak sehingga pencemaran lingkungan sudah terjadi dan tidak terhindarkan lagi.13 . Saat ini kondisi Cagar Alam Mandor yang masih baik tinggal 30 persen.745 ha mulai beroperasi sejak tahun 1994 menambang emas. Sungai tercemar akibat pembuangan tailing yang bercampur merkuri. Hutan telah berubah menjadi ratusan kolam raksasa tak beraturan. Maret 2000 No Kabupaten Jumlah Mesin (unit) 2709 2877 622 791 58 7057 Luas Lahan (Ha) 785 863 187 237 17 2089 2.4 Data Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kalimantan Tengah Jumlah Kecamatan 1 Kapuas 12 2 Kotawaringin Timur 9 3 Kotawaringin Barat 7 4 Barito Utara 4 5 Barito Selatan 5 Total 37 Sumber : Laporan MENLH ke DPR. Permasalahan: • • • • • Lokasi penambangan di kawasan Cagar Alam Mandor. AMP) di Kasongan. Sistem bagi hasil antara pemodal (cukong) dan masyarakat sebesar 70:30. 11 tahun 1998 tentang Izin Usaha Pertambangan Rakyat Bahan Galian Emas di Provinsi Kalimantan. tanpa adanya upaya reklamasi.10 PENAMBANG TANPA IZIN (PETI) 1. PETI emas di Kabupaten Landak dan Bengkayang. Kalimantan Barat Pelaku PETI emas diawali dari Kabupaten Singkawang kemudian berkembang ke wilayah lain dan saat ini berpusat di Kabupaten Bengkayang dan Ketapang. Kalimantan Barat. Sungai Kencana. sementara 70 persen termasuk lokasi makam Mandor Juang telah rusak berat. Hal ini sangat mempengaruhi penduduk setempat yang asalnya masyarakat agraris. AMP yang mempunyai Kontrak Karya seluas 10.

14 .GAMBAR 6. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .6 PETA SEBARAN LOKASI PETI DI INDONESIA Sumber: Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.

Dengan prinsip ini maka banjir juga harus dibagi secara integral sepanjang sungai menjadi banjir kecil-kecil. Jika tampang sungai di tempat tersebut tidak mencukupi maka akan terjadi peluapan ke bagian bantaran. pada awal September 2001 hanya berupa kolam-kolam kecil. Air sungai yang biasanya meluap. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Juru foto: Hers Suganda 2. Penyelesaian masalah banjir di suatu tempat dengan cara ini merupakan penciptaan masalah banjir baru di tempat lain di bagian hilirnya. Implikasinya dalam penanggulangan banjir adalah justru sungai alamiah yang bermeander. 3 September 2001. 1. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung pada kemampuan retensi DAS menghadapi banjir. kering kerontang di musim kemarau. Perubahan tata guna lahan.15 . Retensi DAS adalah kemampuan DAS untuk menahan air di bagian hulu.Sungai Cilutung. untuk kebutuhan mandi saja sudah tidak memadai. Di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. bervegetasi lebat. Sampai saat ini telah disusun Pola RTL-RLKT di seluruh Indonesia yang tersebar di 39 SWP DAS (Satuan Wilayah Pengelolaan DAS). Kesalahan Pembangunan Pola penanggulangan banjir serta longsor sejak abad ke-16 hingga akhir abad ke-20 di seluruh dunia sebenarnya hampir sama. bahkan mungkin telah penuh dengan rumah-rumah penduduk. Intinya adalah mengusahakan air banjir secepat-cepatnya dikuras ke hilir. maka akan terjadi penggelembungan atau pelebaran aliran. Karena selama ini erosi hanya dipantau di DAS-DAS yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Oleh karena itu. telah ditetapkan pola RTL-RLKT (Rencana Teknis Lapangan-RLKT) sebagai instrumen perencanaan jangka panjang 15 tahun dan jangka menengah lima tahun. pembuatan tanggul. Sayangnya tidak semua SWP DAS mempunyai data tentang erosi. Pelurusan dan sudetan sungai pada hakikatnya merupakan penghilangan retensi atau pengurangan kemampuan retensi alur sungai terhadap aliran airnya. misalnya dari hutan dijadikan perumahan. tanpa memperhitungkan banjir yang akan terjadi di hilir. salah satu anak Sungai Cimanuk yang memberikan sumbangan pelumpuran (sedimentasi) paling besar. sudetan. yaitu dengan pelurusan. Pola pelurusan dan sudetan seperti di atas jelas mengakibatkan percepatan aliran air menuju hilir. Perlu dikembangkan juga prinsip Let River be Natural River. dan pengerasan tampang sungai.7 KERING . sehingga jangankan untuk pertanian.B. Sumber: Kompas. dan memiliki retensi alur tinggi. Jika bantaran sungai tidak cukup. pola penanganan banjir di Indonesia memasuki abad ke-21 harus menggunakan prinsip integralistik yaitu One River-One Plant and One Intergrated Management. Sampai tahun 1999 telah disusun pola RLKT sebesar 20 persen dari luas daratan Indonesia. GAMBAR 6. pembetonan dinding. guna menghindari banjir besar yang destruktif di suatu tempat tertentu. Akibatnya areal banjir semakin melebar atau bahkan alirannya berpindah arah. EROSI DAN SEDIMENTASI Erosi yang terjadi di Indonesia tidak bisa dilihat dalam seluruh kesatuan wilayah. perkebunan atau lapangan golf akan menyebabkan retensi DAS berkurang secara drastis. Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini juga mengalami hal serupa. yang perlu dijaga kelestariannya karena mempunyai retensi tinggi terhadap banjir. Dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya alam melalui program Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT).

Tahun 1992 – 2002 pengurangan seluas 600 hektar atau 60 hektar per tahun. Tahun 2002 luasannya tinggal 1200 hektar.Sebagai contoh pengurangan luas Segara Anakan secara intensif berlangsung dalam 15 tahun terakhir dari tahun 1977 – 1992 hingga mencapai 2. Proses sedimentasi di bagian hilir ini dapat disebabkan oleh erosi intensif di bagian hulu. juga karena pelurusan sungai dan sudetan. Pendangkalan Faktor pendangkalan sungai termasuk faktor penting pada kejadian banjir. Departemen Kehutanan mentargetkan rehabilitasi lahan kritis di seluruh Indonesia dalam tahun 2002 seluas 818. tulisan Dr. Agus Maryono. Sampah domestik yang dibuang ke sungai terutama di kota-kota besar akan berakibat terjadinya pendangkalan dan penutupan alur sungai sehingga aliran air tertahan dan akhirnya sungai meluap. untuk mengurangi eksploitasi sumber daya lahan secara tidak bertanggung jawab sehingga merusak dan mencemari lingkungan hidup.5 Km keluar segara anakan diperkirakan mampu mengurangi pelumpuran hingga 0. Erosi ini selain merupakan akibat dari rusaknya DAS bagian hulu hingga tanahnya mudah tererosi. Ing.74 juta meter3 per tahun. Untuk itu perlu segera disosialisasikan perbaikan DAS dengan pelarangan penjarahan hutan dan penghentian HPH serta peninjauan kembali proyekproyek pelurusan dan sudetan-sudetan yang tidak perlu. Pendangkalan sungai dapat diakibatkan oleh proses pengendapan (sedimentasi) terus-menerus.657 ha.490 hektar atau 166 hektar per tahun. terdiri atas 257. langsung dan tidak langsung. 2002 3. Pemerintah telah memberikan bantuan kepada penduduk di daerah tanah kritis. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat antara lain penghijauan/reboisasi dan rehabilitasi lahan. Selain itu pemerintah juga berupaya Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .417 ha di luar kawasan hutan. Rencana pemindahan muara ke arah barat sekitar 2. Pendangkalan sungai juga dapat diakibatkan oleh akumulasi endapan sampah yang dibuang masyarakat ke sungai. terutama di bagian hilir sungai. GAMBAR: 6. Material tererosi ini akan terbawa aliran dan lambat laun diendapkan di hilir hingga menyebabkan pendangkalan di hilir. yang dapat mendorong peningkatan erosi di bagian hulu. hingga sungai tidak mampu mengalirkan air yang melewatinya dan akhirnya meluap.240 ha di dalam kawasan hutan dan 561. Masalah pendangkalan sungai sudah sangat serius dan ditemukan di hampir seluruh daerah hilir/muara di Indonesia.16 . Pendangkalan sungai berarti terjadinya pengecilan tampang sungai. Tetapi sudetan diperkirakan akan berdampak pada pelumpuran dipantai Pangandaran Timur dan sekaligus menyebabkan perubahan salinitas di Segara Anakan (Harian Kompas. 2002).8 SEGARA ANAKAN YANG MENGALAMI PENYEMPITAN Sumber: Suara Pembaruan.

dan lain-lain. yang tahun 2002 mencapai 42 juta orang (Data SBSI mengacu ke ILO. banjir maupun kekeringan. mengingat 140 juta penduduk atau 60 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir dalam jarak 50 km ke arah darat dari pantai. merupakan dampak negatif kegiatan manajemen lingkungan yang kurang. berupa berbagai bencana. tumpahan minyak. Adanya pengelolaan yang keliru. misalnya telah nyata dirasakan akhirakhir ini. orang lalu mengalihkan perhatian ke sumber daya pesisir dan laut sebagai alternatif media lingkungan yang sudah sampai pada tahap untuk dapat ‘digarap. 60 persen konsumsi protein berasal dari sumber daya ikan di mana 90 persen ikan yang ditangkap adalah ikan perairan pesisir dan sisanya berasal dari perairan dalam. kebakaran hutan. Data tahun 2000 menunjukkan 42 kota besar dan 181 kabupaten berada di wilayah pesisir yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.9) GAMBAR 6. Di wilayah kota dan kabupaten. di daerah kelapa Dua dan Pantai Indah Kapuk.’ Namun. Kerusakan maupun pencemaran di wilayah ekosistem daratan telah nyata menurunkan kualitas mutu lingkungan. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Konsentrasi TSS pada sungai Ciliwung. dan masih banyak lagi. khususnya Indonesia bagian timur. lingkungan laut juga tak kurang bermasalah.17 (mg/l) KERUSAKAN LINGKUNGAN PESISIR DAN LAUT . misalnya konversi hutan mangrove. DKI JAKARTA 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Tahun Kelapa Dua (Hulu) Pantai Indah Kapuk (Hilir) Sumber: KLH. Terjadinya penurunan kualitas hutan di daerah hulu DAS.9 KECENDERUNGAN KONSENTRASI TSS DI SUNGAI CILIWUNG. sebab menimbulkan ‘harapan baru. pasti dan sudah menurunkan bahkan menghilangkan kemampuan alam untuk merehabilitasi (asimilasi) dirinya sendiri. penambangan pasir dan penangkapan ikan hias di habitat terumbu karang secara paksa (memakai racun dan bahan peledak). terdapat kurang lebih 80 persen industri yang memanfaatkan sumber daya pesisir dan membuang limbahnya pun ke wilayah pesisir. Pengelolaan pesisir dan laut secara terpadu sangat diperlukan.’ Pandangan semacam ini memang tidak sepenuhnya salah. Pesisir Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis dunia.menyediakan lapangan kerja untuk menampung para pengangguran. industri dan berbagai aktivitas lain. 2002 C. yang umumnya bersifat antar sektoral dan antar wilayah. Terdapat kurang lebih 14 sektor pembangunan yang didukung oleh 20 undang-undang dan lima konvensi internasional yang merupakan regulasi wilayah pesisir. Propinsi DKI Jakarta merupakan contoh betapa cepatnya terjadi pendangkalan di sungai tersebut (lihat gambar 6. Kompas 5 Januari 2002). yaitu antara lain 30 persen hutan mangrove di dunia. seperti tanah longsor. bahkan tidak memperhatikan kaidah-kaidah pokok pengelolaan yang ramah lingkungan. 30 persen terumbu karang dunia.

60 62.40 0. terbatas dan yang dapat dikonversi.34%) dan kawasan suaka alam serta kawasan pelestarian seluas 742.40 54.00 191. Jakarta dan empat sungai besar Musi.00 0.35 0.70 139. Dampak pencemaran di pesisir relatif mudah menyebar luas. mungkin tak timbul masalah yang menjadi bencana lingkungan. a.90 Zn Kg/hr 10. 1982).00 6.20 0. Kondisi Pesisir dan Laut Mangrove Hutan mangrove yang karakteristik fisiknya dipengaruhi oleh pasang surut air laut.30 0.00 1.871 hektar untuk dikonversi bagi kepentingan sektor pertanian (sawah pasang surut). mengenai apa saja yang dilaluinya.90 21. Banten dan DKI Jakarta).00 0.00 0.473. industri dan lainnya. serta Provinsi Lampung.900 km2 (populasi sekitar 59 juta). Total luasan hutan mangrove di dunia adalah 15.00 0. Babel/Sumsel dan Kalimantan Barat. penahan lumpur dan pencegah terjadinya intrusi serta abrasi pantai. KLH bekerja sama dengan IPB memodifikasi penelitian Talaue-McManus (2000) untuk proyek Laut China Selatan (LCS).00 0. contoh biota.737. Pontianak.069.49 3.60 0.000 hektar (25.000 hektar (Departemen Kehutanan.67 2.00 0. Proyek LCS (di provinsi yang berbatasan langsung dengan LCS yaitu Riau termasuk Batam. TABEL 6.00 140. Selain itu.00 0. kualitas sedimen.00 0.605.00 0.20 26. 1992).80 0. telah mengalami penyusutan sebesar kurang lebih 31 persen dari jumlah 4.983. Berdasar laporan PHPAAWB (1987).10 0.0 Pb Kg/hr 23.50 0.00 828.00 6. Hutan mangrove dibagi menjadi fungsi kawasan hutan tetap.00 6.00 94.17 6. sudah tercemar bahan organik.00 197. diusulkan pelepasan areal hutan mangrove seluas 20.5 BEBAN LOGAM BERAT KE TELUK JAKARTA Sungai Cisadane Angke Grogol Krubut Ciliwung Sunter Cakung Bekasi Cikarung TOTAL Sumber: KLH. Indonesia memiliki mangrove yang terluas di dunia.026.340. dan lamun). transmigrasi (pemukiman).Konsentrasi penduduk yang sebagian besar (60%) berada di wilayah pesisir. Apabila jumlah limbah yang harus diasimilasi tersebut masih sesuai atau di bawah kemampuan daya dukung dan potensi lingkungannya. Kapuas.00 43. Hasilnya. terumbu karang.00 42. seperti ekosistem mangrove.9 juta hektar dan 4.00 26. secara nyata telah menimbulkan tekanan pada lingkungannya.00 45.00 67. Cisadane untuk diteliti beban pencemaran di pesisirnya dengan menganalisis kualitas air di sekitarnya.00 0.25 juta hektar atau 27 persen-nya berada di Indonesia (Dephut.00 Cr Kg/hr 4.60 154.00 19.00 325 Cu Kg/hr 0. 2002 As Kg/hr 0. lima kota-4 DAS seluas 16.00 10.80 32.77 62.29 juta ha. Berbagai jenis limbah (padat maupun cair) terminal akhirnya adalah laut.077. Palembang.24 juta hektar.80 Hg Kg/hr 34.10 39.828 hektar (sekitar 17.00 3.00 110. Pangkal Pinang.45 Cd Kg/hr 0.00 0.742.370 km2 dari total luas wilayah 391. Sampai tahun 1990 telah ditunjuk hutan produksi seluas 1.00 9.00 47.00 190.30 56.00 0.10 34. hutan mangrove Indonesia diperkirakan tinggal sekitar 3. Ciliwung. Sedangkan hasil interpretasi citra landsat tahun 1992. dan berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan. terumbu karang.50 11. perikanan (tambak).00 151.00 0. dan padang lamun. perubahan organisme laut yang hidup maupun komunitas laut yang terpengaruh (mangrove.00 0. luas hutan mangrove di Indonesia adalah 3.48% dari luas kawasan seluruh hutan mangrove). Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .00 790.40 15.00 36.00 4.50 756.00 0.30 8.00 0.8 Ni Kg/hr 18.30 118.18 .90 25.00 2.80 371.80 10. mengambil contoh lima kota yaitu Tanjung Pinang.

038.886.00 42.02 0.18 18.468.486.97 106.78 6.10 88.07 3.19 .234.67 0.707 km2.65 18.79 28.00 4.90 26. 38 jenis reptilia laut. 33 persen dalam kondisi masih cukup bagus dan hanya 7 persen kondisinya masih sangat bagus.926.747. (Sumber: COREMAP).00 0.401.658. Sekitar 14 persen dalam kondisi kritis.61 603.509.80 80.6 LUAS HUTAN MANGROVE TAHUN 1998/1999 LUAS (HA) KAWASAN 2.35 0.990.11 9.97 112.00 0.26 131.369.45 95.57 0.187.03 76.158.81 29.36 643.620.338.811.431.825.999.674.91 116.28 888.607.00 3.62 458.851.139.79 4.55 29.41 27.442.98 99.645.999.83 2.14 76.326.166.512 jenis krustasea.75 118.00 132.60 TOTAL 346.74 16.38 148.68 9.65 474.476.990.106.600.121.712.24 1.844.586.81 20.940.586.373.600.453.762. 745 jenis ekinodermata. Kondisi terumbu karang sudah Indonesia semakin mencemaskan.91 Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Timor Timur Papua DKI Jakarta Jumlah Sumber: Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2.931.00 97.586.TABEL 6.50 10.193.03 208.00 0. Terumbu karang Total luas terumbu karang Indonesia 85.720.00 1.846.91 66.90 21.31 18.81 148.99 226.155.18 1.843.562.669.31 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 DI Aceh PROVINSI NON-KAWASAN 344. 1.251.527.29 24.34 25.334 jenis ikan.16 7.703. 1999 b.29 443.732.522.034.565.838.317.750. 2.591.757.26 36.519.349.20 339.373.00 4.205.034.600.210.00 5.40 1.00 1.27 759.248. 30 jenis mamalia laut.98 252.69 71.42 10.84 158.943.29 129.47 13.00 97.63 551.07 32.01 46.31 59.579.553. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .406.601.25 263. 850 jenis spons.225.907.710.326.05 64. 46 persen telah mengalami kerusakan.66 429.316.710.00 9.51 35.500 jenis moluska.80 48.00 0.268.314.918.138. dengan jenis keanekaragaman hayati terumbu karang meliputi: >450 jenis karang batu.23 7.731.22 86.34 508.00 0.

• Teknik pemanfaatan sesuai penetapan kebijakan pengelolaan mangrove. kebijakan perluasan kawasan industri. Terumbu karang Lima ancaman utama yang disebabkan oleh perbuatan manusia yang merusak terumbu karang Indonesia. swasta maupun masyarakat (para pemangku kepentingan) untuk berbagai program rehabilitasi hutan mangrove. Penyebab Terjadinya Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut Mangrove Menyusutnya hutan mangrove akibat kebijakan pemerintah. meningkatnya pencemaran dan perambahan. b.61 ha (termasuk jalan tol Prof Sedyatmo dan Cengkareng Drain).11 26. Bom diledakkan di wilayah karang dangkal.95 31. Ikan yang diambil masih hidup.37 38. • Mekanisme rehabilitasi dan pendanaan oleh pemerintah.20 . sehingga pemanfaatannya pun dapat terus berlanjut. di antaranya melalui peningkatan pemahaman serta komitmen di tingkat eksekutif maupun legislatif di daerah. suaka alam.16 39.61 32. Letakan selain membunuh ikan yang dikehendaki. • Tidak adanya kepastian hukum.07 53. berbentuk perubahan status kawasan khususnya untuk perluasan tambak. Perambahan hutan mangrove secara sistematis dan sporadis. Jakarta.11 5. terutama dalam penetapan (zonasi) area mangrove. dilakukan secara besar-besaran oleh pihak swasta maupun masyarakat.72 25. • Mekanisme pendanaan untuk program rehabilitasi hutan mangrove. Berikut beberapa masalah pelestarian hutan mangrove: • Kurangnya peran aktif pemerintah daerah dalam upaya rehabilitasi akibat kerusakan mangrove. baik sebagai ikan hias atau untuk makanan.86 INDONESIA Sumber: Didasarkan pada 414 station (Suharsono.TABEL 6. kurang dijalankan. hutan lindung) dan kawasan budi daya (produksi dan konversi) yang dituangkan dalam Penataan Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Kendala dalam pengelolaan hutan mangrove.7 KONDISI TERUMBU KARANG INDONESIA (PERSEN TUTUPAN KARANG HIDUP) WILAYAH INDONESIA TINGKAT KONDISI BARAT Sangat baik Baik Buruk Sangat buruk 3.10 TIMUR 9. a.22 TENGAH 6. belum ditemukan. benur dan karang. status dan kondisi mangrove). pengalihan menjadi tambak. adalah: (1) Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan racun sianida yang disemprotkan ke arah ‘kepala’ terumbu karang agar ikan mabuk.20 26. (3) Pengambilan batu karang untuk bahan bangunan dan produksi kapur. belum memadai. pemukiman dan lainnya. seperti program pengembangan tambak ekstensifikasi.04 22. “Formula” yang cukup memadai untuk menghentikan atau mengurangi upaya perambahan ini.51 15. (2) Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. 2000) 2. industri. • Perambahan hutan mangrove oleh masyarakat. banyak mengalami tekanan. juga dapat membunuh larva. Proses kegiatan tersebut pasti akan merusak karang secara menyeluruh. belum memadai. • Terbatasnya peta tata guna hutan mangrove yang meliputi kawasan lindung (cagar alam.17 32. untuk diambil kayunya dan keperluan lain. suaka margasatwa. Contohnya kawasan hutan mangrove di Muara Angke. pembukaan lahan untuk pembukaan persawahan pasang surut. antara lain: • Terbatasnya data dan informasi (lokasi. luasan. Beberapa ahli menyebutkan akar masalahnya antara lain belum adanya satu persepsi pengelolaan mangrove dan kurang koordinasi dalam tata ruang daerah.81 29. di samping perubahan status menjadi kawasan permukiman. seluas 327.

Kalimantan Timur. berdasar Peraturan Pemerintah No 19 tahun 1999. tetapi dapat mengurangi jumlah dan keragaman ikan dan biota invertebrata lainnya. Kegiatan pengambilan batu karang masih terjadi di beberapa tempat seperti di Pulau Lombok. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. US$140. Klungkung. DI Yogyakarta.209. industri kapur. yaitu 50 persen dari seluruh pasokan.082 ton/tahun. bahkan ternyata lebih tinggi di wilayah yang mempunyai potensi pariwisata. Badung. Riau. terumbu karang dan padang lamun sebesar US$10. Tingkat Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . diperkirakan akan mencapai 4. sebagai akibat penggundulan hutan di daerah hulu DAS.000 dibandingkan dengan US$ 15. meskipun tidak merusak terumbu karang secara langsung.42/ha untuk mangrove.86/ha untuk padang lamun. Lampung Selatan. yang dicanangkan 19 Nopember 1996.80/tahun.57 ton/tahun. Lampung. Jawa Barat. 1999). Nilai estimasi kerusakan mangrove.810. dan air limbah pertanian.52/ha untuk terumbu karang dan US$136.(4) Sedimentasi dan pencemaran.000 nelayan Indonesia dalam beberapa tahun yang akan datang serta manfaat netto sekitar US$ 321. dan atau konstruksi wilayah pantai yang penting. Program P2LL ini mulai dilaksanakan Desember 2000 di tingkat provinsi antara lain Bali. masing-masing US$15. pemukiman dan industri.21 . yaitu mangrove. diperkirakan enam kali lebih besar dari perolehan jangka pendek yang diterima dari penangkapan ikan dengan peledak (US$ 86. dibanding keuntungan bersih yang diperoleh para pengambil karang tersebut.00/tahun. khususnya jenis Napoleon Wrasse di restoran Hongkong mencapai US$ 60 sampai US$180 per kg. Indonesia menjadi negara pemasok terbesar jenis ikan tersebut di pasar pangan Asia. Jawa Timur. Kebijakan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut KLH. dengan total biaya kerusakan diperkirakan mencapai 7. • Penangkapan ikan dengan racun Harga ikan. IPB dengan KLH dengan menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV). melaksanakan Program Pantai dan Laut Lestari (P2LL). Kerugian ini diperkirakan masingmasing sebesar US$ 193.500 km2 berarti MSY perikanan karang.000). Pasir Panajam. Kutai Kartanegara. Jawa Tengah. dalam empat tahun. Tingkat kabupaten seperti Sukabumi. 3.8 juta. Pilihan penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan hook-and-line. menunjukkan nilai ekonomi wilayah pesisir Barelang dan Bintan (didasarkan atas tiga kelompok ekosistem dominan yang ada di kawasan tersebut. diperkirakan telah menimbulkan kerugian sebesar US$ 46 juta. Kalimantan Barat.000 • Pengambilan batu karang Perikanan terumbu karang yang subsisten maupun komersial memang memberikan sumbangan nyata bagi ekonomi nasional.816.829. Bantul. Potensi lestari (Maximum Sustainable Yield = MSY) dari ikan-ikan terumbu karang mencapai 80. dengan tujuan utama mengendalikan pencemaran dan perusakan ekosistem pesisir dan laut. Banten dan DKI Jakarta.787. P2LL. menghasilkan devisa negara dan lapangan kerja untuk lebih dari 10. akibatnya sebagian hotel kini setiap tahun harus mengeluarkan biaya yang tinggi (lebih dari US$ 100.51/tahun dan US$ 28. US$51. Hasil penelitian Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan.652043. Gianyar.770.000) untuk mengatasi erosi wilayah pantainya. dan dilaksanakan secara mandiri oleh setiap daerah otonom. • Penangkapan ikan dengan bahan peledak Hasil perhitungan biaya berbentuk pendapatan berkelanjutan yang berasal dari perikanan saja. Kerugian lain yang dialami masyarakat (dalam bentuk proteksi wilayah pantai dan penerimaan dari sektor pariwisata yang hilang). terumbu karang dan padang lamun). batu karang digunakan untuk bahan bangunan.5 kali lebih tinggi. Sudah sejak lama. Sulawesi Tenggara. adalah nama atau label program kerja pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan di wilayah pantai dan laut berskala nasional.000 dan US$ 482. Pengambilan batu karang pernah terjadi di Pulau Bali. (5) Penangkapan ikan dalam jumlah berlebihan (over fishing). Dengan luas total terumbu karang 17. menghasilkan nilai.877. Penangkapan ikan dengan racun tersebut. Sumatera Barat. Kalimantan Tengah. (Third Phase: Indonesia and The Kingdom of Norwegia. dan kerajinan karang hiasan. dengan perkiraan nilai keseluruhan mencapai US$ 200 juta/tahun. Karangasem dan Pontianak.

mangrove. Denpasar. Cilegon. Bone. resor wisata pantai/pulau. P2LL terdiri atas tiga paket. Balikpapan dan Tarakan. pembuangan limbah langsung ke laut oleh kegiatan industri. dan (3) Teman (Terumbu Karang dan Mangrove) Lestari. Prinsip dasar pelaksanaan P2LL.Kota seperti : Kendari. Kegiatan perlindungan dan pelestarian diupayakan agar hutan mangrove mampu menampung dan terintegrasi dengan kepentingan dan hak masyarakat sekitarnya. a. sedang yang kedua pengelolaan untuk menjaga fungsi pelestarian dengan tujuan utama menjaga kemurnian. National Contingency Plan for Oil Spill.22 . CEPI-Canada). Surabaya. Semarang. spesies dan ekosistem hutan mangrove. focus (terfokus) dan enforcement (penegakan hukum) yang “harus” didukung melalui komitmen para kepala daerah dan DPRD setempat. dilakukan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. yaitu sebagai suaka alam atau suaka margasatwa. • Menetapkan lokasi-lokasi prioritas rehabilitasi (ke dalam klasifikasi kritis dan super kritis) dan melaksanakan rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang telah terdegradasi melalui kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. Luwu Utara. • Rehabilitasi dan budi daya mangrove di Pantai Siwa. adalah program kerja pengendalian pencemaran di wilayah pelabuhan laut. • Penetapan jalur hijau pantai menggunakan mangrove untuk kawasan-kawasan yang sesuai secara ekologis (Keppres No. Teluk Benoa (Kabupaten Badung dan Kota Denpasar). Regional Programme for Building Partnerships in Environmental Protection and Management for the East Asian Seas (PEMSEA). Kolaka dan Buton). Makasar. Coordinating Body on the Sea of East Asia (COBSEA) and the South China Sea. Dua fungsi utama pengelolaan hutan mangrove adalah pertama fungsi lindung dengan tujuan utama meningkatkan fungsi pengaturan tata air. berdasar prinsip konservasi untuk kawasan jalur hijau mangrove dan tetap menjaga fungsi pelestarian untuk kawasan hutan mangrove sebagaimana telah ditetapkan dalam peruntukannya. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang menyatakan penetapan kawasan lindung dan kawasan budi daya merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang penetapannya pun melalui peraturan pemerintah. adalah program kerja pengendalian pencemaran. Luwu. yaitu (1) Pantai Wisata Bersih. pelabuhan. IndonesiaNorway for Barelang (Batam-Rempang-Galang) & Bintan Island Development Management. Padang. anjungan minyak lepas pantai. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . pencegahan intrusi air laut. Wajo. Batam. meliputi: • Pengendalian kerusakan ekosistem pesisir dan laut (terumbu karang. adalah program kerja pengendalian kerusakan dan pemulihan kerusakan terumbu karang dan mangrove. (2) Bandar Indah. pola pemanfaatan dan arahan pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan mangrove) dan budi daya. Oil Spill Preparedness and Response & Oil Spill Response Action Plan in the East Asian Seas (OSPAR & OSRAP). accountability (terukur). Kegiatan yang telah diupayakan adalah peningkatan pemantapan koordinasi untuk pelaksanaan operasional pelestarian sumber daya alam pesisir dan laut. Program ini dinamakan Rehabilitasi Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung: 130 x perbedaan pasang surut melalui peraturan daerah. Langkah tindak yang perlu dilaksanakan antara lain melalui : • Komitmen dan konsistensi pemerintah daerah (provinsi dan/atau kabupaten/kota) dalam pengembangan wilayahnya masing-masing untuk tetap mengacu pada Penetapan Tata Ruang Daerah. • Pengendalian pencemaran ekosistem pesisir dan laut: dumping di laut. Teluk Tomini (Sulawesi Tengah dan Gorontalo). Sulawesi Selatan (Colaborative Environmental Project in Indonesia. padang lamun) mengadapi abrasi pantai. Penanggulangan Kerusakan Mangrove Pasal 20 Ayat 2 Undang-undang No. kegiatan reklamasi. • Pengendalian kerusakan dan pencemaran pesisir dan laut lintas batas negara: Marine Electronic Highway (MEH) di Selat Malaka dan Selat Singapore. baku mutu laut. Cilacap. meliputi delapan kabupaten Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (Bulukumba. pengusahaan pasir laut melalui penetapan baku kerusakan. perlindungan terhadap angin. kerusakan dan kebersihan wilayah pantai dan laut yang merupakan tujuan wisata. adalah "SAFE" yaitu simple (sederhana). Sinjai. abrasi pantai dan mempertahankan habitat biota akuatik dan terestrial. Kabupaten Wajo. akan dilakukan di Teluk Bone. Sedang struktur. polusi. Pengelompokan pengelolaan lingkungan wilayah pesisir dan laut melalui P2LL. keunikan keanekaragaman genetik.

Tujuan utamanya antara lain adalah untuk meningkatkan kepedulian yang baru menghadapi tantangan yang tersulit dalam penggunaan perairan laut sebagai peluang untuk memanfaatkan keuntungan perdagangan dan globalisasi yang ada bagi masyarakat pantai. (4) skema pengelolaan sumber daya alam skala kecil. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati laut dan ekosistemnya. • Wisata bahari/resort wisata pantai atau pulau (eco-resort). antara lain. proyek CRMP-USAID (Coastal Resources Management Planning) dimulai tahun 1997 dan akan berakhir bulan September 2003. di mana 65 persen dari 13. 2002. Kalimantan Timur. A call to Action” yang dibukukan oleh IOC. Pelestarian tatanan lingkungan pulau-pulau kecil. yaitu Sulawesi Utara. sehingga penangkapan berlebih (over fishing) dapat dihindari. 2002). Galang dan Pulau Bintan): IndonesiaNorway. Sebelum KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. sebagai kelanjutan proyek MREP (Marine Resources Evaluation Program) dimulai bulan September 2002 sampai dengan 31 Desember 2006. merupakan salah satu komponen penting dari Program Pengelolaan Sumber Daya Alam II (Natural Resources Management . misalnya perlunya menempatkan bidang perikanan dalam jalur pembangunan berkelanjutan. Empat komponen pokoknya.NRM II) di mana tujuan utamanya adalah untuk membantu proses penguatan kelembagaan dan desentralisasi pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan di Indonesia. dalam Warta ISOI No.23 . sumber daya buatan dan sumber daya manusia di kawasan pulau-pulau kecil. Daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil. Lampung dan Papua. Pengelolaan lingkungan pulau–pulau kecil: carrying capacity. Kebutuhan penting saat ini. CRMP-USAID dilaksanakan di tingkat nasional dengan demo-site di empat provinsi. Penataan ruang dan keterpaduan antara sumber daya alam. yaitu (1) perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. UNESCO menyelenggarakan kongres dunia tentang laut dan pantai di Paris (3-7 Desember 2001). seperti: • BAPPENAS. Indonesia sebagai negara kepulauan tropis terbesar telah melakukan kerja sama regional dan internasional.Upaya pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dalam beberapa kegiatan yang tersebar di berbagai instansi. A. Karena itu perlu dilakukan segera rencana aksi dan implementasinya secara global demi terjaminnya kelestarian fungsi alam lingkungan kehidupan laut dan pantai seluruh dunia. tersebut diakhiri dengan himbauan agar menempatkan isu kawasan laut dan pantai pada KTT Pembangunan Berkelanjutan. dan akan dilaksanakan di 43 kabupaten dari 15 provinsi. sebab penduduk dunia terus bertambah. Aktivitas yang sudah. Pengelolaan lingkungan Barelang (Batam. UN Straddling Fish Stocks Agreement telah memutuskan agar penggunaan alat/perlengkapan yang seharusnya ramah lingkungan adalah sesuatu unsur kunci yang penting (Soegiarto. Rempang. (3) evaluasi kerangka hukum pengelolaan sumber daya pesisir dan laut serta upaya penegakannya. Pengendalian Pencemaran Ekosistem Pesisir dan Laut • Kegiatan yang dilakukan dalam pengendalian pencemaran ekosistem pesisir dan laut adalah : • Penyelesaian Rancangan Keppres tentang Penanggulangan Darurat Tumpahan Minyak di Laut/National Contingency Plan untuk oil spill (NCP). 16). (2) pengelolaan data dan informasi spasial. Hasil kongres berupa ringkasan eksekutif berjudul “Ensuring the Sustainable Development of Oceans and Coasts. Maksud diadakannya kongres tersebut adalah berupaya agar Pasal 17 Agenda 21 dapat diimplementasikan (Soegiarto. Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Marine and Coastal Resources Management Project (MCRMP) Loan ADB No 1770/SF/INO. Tujuan utamanya pengelolaan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut serta keanekaragaman hayati dan perlindungan lingkungan.4 juta penduduknya hidup dalam kemiskinan. adalah kerja sama dengan: Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Kurang-lebih 70 persen kota-kota besar berpenduduk delapan juta adalah kota pantai. terutama dalam otonomi daerah adalah peningkatan kerja sama yang semakin berkualitas dalam mengelola sumber daya pesisir dan laut. Pengelolaan pulau-pulau kecil meliputi: • • • • • • b. sedang dan akan berjalan.

bahwa perairan Indonesia dihuni oleh 31 jenis Cetacea (lumba-lumba. coral reef. di Batam. 18-21 September 2002. land-based pollution. terutama mamalia laut/Cetacean. Jakarta. MEA (Millennium Ecosystem Assessment): tahun 2002 dalam rangka melaksanakan side events persiapan WSSD telah dilakukan Indonesia lokakarya tentang MEA di Bali yang mendapat fasilitas dari Pemerintah Australia. 2002 Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan Kementerian Lingkungan Hidup. bersamaan dengan penandatanganan kerjasamanya dengan pemerintah Indonesia (melalui DKP) yang diakomodasi ke dalam suatu forum Australia Timor Seas Experts Forum. antara lain pelaksanaan UNEP/GEF Programme: ‘Reversing Environmental Degradation Trends in The South China Sea and The Gulf of Thailand. Coordinating Body on The Seas of East Asia (COBSEA). Jakarta: KMNLH Kementerian Lingkungan Hidup. November. Badan Pusat Statistik. berdasarkan kriteria yang telah disetujui. Papua. Pelaksanaan kegiatan Norway-Indonesia Cooperation in Sustainable Environmental Management: Integrated Marine and Coastal Biological Diversity Management for Barelang (Batam-RempangGalang) and Bintan Island. Oktober-Desember 2002. baik di laut dalam maupun perairan dekat pantai. Jakarta. Mei 2001 Indonesia an official handbook 2002. 2002. 2002. Tahap sekarang sedang dalam pembahasan pemilihan demo-sites yang dipilih paling tidak dari tiga provinsi yaitu: Kalimantan Timur. melalui Australia National University (ANU). Desember Warta ISOI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2001. Jl Pasir Putih I/No 1. 2002. ICRAN (International Coral Reef Area Network): Direktorat Kawasan Konservasi. yang bersifat menetap maupun yang migran. 16. dan Sulawesi Utara. KLH menjadi pelaksana untuk komponen land based pollution dan saat ini menjadi tuan rumah untuk The Second Meeting of the Regional Working Group for Land-based Pollution. Sosialisasi Strategi Pengelolaan Terpadu DAS Bengawan Solo dalam Konteks Otonomi Daerah. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2001. Ditjen PHKA. ICRI (International Coral Reef Initiative): P2O-LIPI/COREMAP. selaku penanggung jawab Indonesian project sites. Meniti Jalan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia.• • • • • • • • • • IMO/World Bank/GEF: Marine Electronic Highway di Selat Malaka dan Selat Singapore. Jakarta. Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Terumbu Karang di Indonesia. porpoise dan binatang paus). 2002. 1-3 Mei 2002. 2001. DAFTAR PUSTAKA Kementerian Lingkungan Hidup. juga biota lautnya. secara global disadari telah semakin diperlukannya kegiatan pemantauan berkala kualitas airnya. yang terdiri dari enam komponen working group of mangrove. Ancol Timur. Marine Pollution Exercise (Marpolex) Belawan 2002. 18-25 Agustus 2002 Barelang & Bintan Island Norway-Indonesia Fase IV). No. (Laporan Kunjungan Team Project B ke Hordaland County Norwegia. and fisheries. KLH berperan serta dalam persiapan lokakarya lanjutan sebagai NFP program GEF-UNEP di Indonesia. tanggal 25-26 September 2002. Jakarta. sea grass. wetlands. Statistik Indonesia 2001. dikoordinasi oleh KLH. Banda Pusat Statistik. Dari penelitian sebelumnya. GIWA (Global International Water Assessment): Semakin meningkatnya pencemaran perairan laut. 2002. Jakarta 14430. sejak tahun 2002 beberapa pakar biota laut ini telah merasa perlu untuk mengusulkan dibangun semacam Indonesia’s Marine Mammal Management Area berdasar data. Latihan Penanggulangan Tumpahan Minyak di Belawan tahun 2002.24 . Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Penyelenggaraan GEF/World Bank/IMO Second Meeting of the Marine Electronic Hihgway (MEH) Steering Committee. Departemen Kehutanan. termasuk perairan ZEE. GEF/UNDP/IMO PEMSEA: Site Evaluation for the Development of PEMSEA Integrated Coastal Management (ICM Parallel Site in Sukabumi). November 2002 Indonesia Forest Watch.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->