KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998). Kerusakan lingkungan hidup terjadi di darat, udara, maupun di air. Kerusakan lingkungan hidup yang akan dibahas dalam Bab ini adalah meluasnya lahan kritis, erosi dan sedimentasi, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut. A. LAHAN KRITIS

Salah satu masalah kerusakan lingkungan adalah degradasi lahan yang besar, yang apabila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat akan menjadi lahan kritis sampai akhirnya menjadi gurun. Lahan kritis umumnya banyak terjadi di dalam daerah aliran sungai (DAS) di seluruh Indonesia. Data Departemen Kehutanan menunjukkan lahan kritis di luar kawasan hutan mencapai 15,11 juta hektar dan di dalam kawasan hutan 8,14 juta hektar. Hutan rusak dalam areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sudah mencapai 11,66 juta hektar dan lahan bekas HPH yang diserahkan ke PT. Inhutani 2,59 juta hektar. Mangrove yang rusak dalam kawasan hutan telah mencapai luasan 1,71 juta hektar dan di luar kawasan hutan sebesar 4,19 juta hektar. Total hutan yang rusak sudah mendekati angka 57 juta hektar. Ironisnya, kapasitas lembaga yang bertanggung jawab merehabilitasi hutan dan lahan dengan inisiatif pemerintah tak cukup kuat menangani kerusakan yang terjadi. Realisasi lahan kritis yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan dari tahun 1999 sampai tahun 2001 mencapai 1.271.571 hektar yang terdiri dari 127.396 hektar di dalam kawasan hutan dan 1.144.175 hektar di luar kawasan hutan. Sumber dana untuk merehabilitasi pun amat terbatas padahal tiap hektar lahan yang rusak butuh dana minimal Rp 5 juta. Untuk merehabilitasi lahan kritis 57 juta hektar maka negara perlu menyediakan dana hingga Rp 285 trilyun. Kerugian bukan hanya karena negara harus menyediakan dana untuk rehabilitasi lahan kritis tetapi juga kerugian akibat penebangan ilegal (illegal logging). Menteri Kehutanan Prakosa (2002) mengatakan tiap tahun diperkirakan negara rugi hingga Rp 31 trilyun akibat illegal logging (pencurian, penebangan, peredaran, serta perdagangan kayu secara ilegal). Luas areal hutan yang perlu direboisasi di seluruh Indonesia mencapai 43,111 juta hektar, meliputi Pulau Jawa 111 ribu hektar dan di luar Pulau Jawa seluas 43 juta hektar. Idealnya Pulau Jawa mempunyai hutan minimal 30 persen dari luas daratan. Namun sampai saat ini baru 23% dikurangi lahan kritis yang mencapai antara 250 ribu ha sampai 300 ribu ha (Dr.Ir. Prakoso, MSc, Menteri Kehutanan, pada acara “Pencanangan Reboisasi PT Perhutani bersama masyarakat Bojonegoro,” Kompas 5 Januari 2003). Penyebab utama meluasnya lahan kritis adalah adanya : 1. tekanan dan pertambahan penduduk, 2. luas areal pertanian yang tidak sesuai, perladangan berpindah, 3. pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan illegal, 4. pembakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali, 5. ekploitasi bahan tambang. Meluasnya lahan kritis membuat penduduk yang tinggal di daerah tersebut relatif miskin, tingkat populasi sangat padat, luasan lahan yang dimiliki bertambah sempit, kesempatan kerja sangat terbatas, dan lingkungan hidup mengalami kerusakan/degradasi. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya krisis ekonomi sejak tahun 1997 yang telah memperburuk kondisi perekonomian petani gurem. Akibatnya penebangan hutan oleh rakyat semakin merebak serta lahan yang terancam menjadi kritis semakin meluas. 1. Tekanan dan pertambahan penduduk

Menurut Statistik Indonesia 2001, pertambahan penduduk dari tahun 1980 sampai tahun 2000 meningkat cepat. Pada tahun 1980 penduduk berjumlah 146,935 juta jiwa bertambah sebesar 1,97 persen menjadi 178,500 juta jiwa pada tahun 1990. Pada tahun 2000 jumlah penduduk menjadi 205,845 juta jiwa atau naik 1,49 persen dengan kepadatan mencapai 109 jiwa per km2. Bertambahnya penduduk meningkatkan kebutuhan pangan dan lapangan kerja serta meningkatkan
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI - 1

eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang akhirnya mengakibatkan terjadikan kerusakan lingkungan.
GAMBAR 6.1 JUMLAH PENDUDUK 250
JUMLAH PENDUDUK (dalam juta)

205.843 178.5 146.935

200 150 100 50 0 1980

1990 TAHUN

2000

Sumber: BPS, 2001

2.

Luas areal pertanian yang tidak sesuai dan perladangan berpindah

Untuk meningkatkan produksi pangan, sekaligus membuka lapangan kerja, khususnya di daerah pedesaan, maka dilakukan perluasan areal pertanian yang sampai tahun 2001 mencapai 11,5 juta hektar. Namun perluasan areal pertanian di daerah banyak yang secara geografis tidak layak untuk tanaman pertanian, misalnya terdapat pada lereng dengan kemiringan yang tajam, bahkan dengan merusak areal hutan, seperti diilustrasikan Gambar 6.2. Sungguh ironis, program ekstensifikasi lahan pertanian, khususnya di luar Pulau Jawa, disebabkan lahan pertanian yang subur dan sesuai secara geografis di Jawa beralih fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman. Alih lahan ini pada tahun 2000 mencapai 250.000 hektar (Situs Departemen Pertanian, 2002). Selain itu terjadi juga alih lahan konservasi menjadi areal pertanian.
GAMBAR 6.2 CONTOH PENEBANGAN POHON DI HUTAN SECARA LIAR UNTUK DIJADIKAN AREAL PERTANIAN TERMASUK DI LERENG YANG DILARANG UNTUK TANAMAN SAYURAN

Sumber: Kompas, 2002

Kegiatan lain yang memperluas lahan kritis adalah peladang berpindah yang menurut data dari Departemen Kehutanan sampai tahun 2000 ada 14.618 KK (Kepala Keluarga) peladang berpindah yang mengolah lahan 24.264 hektar.
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI - 2

3 juta hektar). tahun 1993. di Nusa Tenggara (degradasi 74. Kekurangan tersebut dipenuhi dari penebangan kayu ilegal atau penebangan berlebih yang dilakukan oleh pemilik HPH. • Pemberlakuan UU No.6 juta hektar per tahun. • Pemberlakuan UU No. • Pemberlakuan PP No. Hutan yang sudah terdegradasi dan gundul di Indonesia ada di Sumatera (terdegradasi 5. Dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia yang diterbitkan akhir tahun 2001 oleh Forest Watch Indonesia diungkapkan laju kerusakan hutan pada era tahun 1980-an di Indonesia adalah sekitar satu juta hektar/tahun. laju deforestasi diperkirakan 1. • Pembentukan Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) di bawah koordinasi BAPPENAS. Kaltim. nasional. 2002 Penebangan ilegal juga semakin merajalela karena kebutuhan kayu untuk industri tidak bisa dipenuhi dari penebangan legal.2 milyar. pembukaan hutan skala besar.100 hektar dan gundul 685 hektar). perambahan hutan.3 . Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . kebakaran hutan.1 juta hektar). di Sulawesi (degradasi dua juta hektar dan gundul 203.3 juta hektar dan gundul 1. tanpa mengurangi kemampuan hutannya memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat lokal. dan perkebunan hanya 22 juta m3. Selama lima tahun terakhir. GAMBAR 6.200 hektar).1 LANGKAH PEMERINTAH DALAM MENGATASI ALIH FUNGSI LAHAN • Pemberlakukan Intruksi Presiden No.2 juta hektar).000 hektar). regional. sedangkan kerusakan pada hutan lindung dan hutan konservasi mencapai 5. kemudian pada awal tahun 1990-an tingkat kerusakan mencapai 1. 3. dan di Maluku (degradasi 2.7 juta hektar dan gundul 101. Berdasarkan citra satelit 1995-1999 hutan produksi yang rusak di Indonesia pada 432 HPH mencapai 14. Kerusakan itu disebabkan oleh pemilik HPH melanggar prosedur.BOKS 6. hutan rakyat. penebangan ilegal. dan internasional. Pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan ilegal Pengelolaan hutan Indonesia perlu dilakukan secara profesional dan terencana sehingga hutan dapat dimanfaatkan secara optimal. Konflik konsesi pertambangan dengan kawasan lindung menjadi pelik karena ada kontrak-kontrak pertambangan berada di dalam kawasan konservasi.5 juta hektar dan gundul 4. sedangkan produksi kayu legal dari hutan alam.3 PENEBANGAN KAYU ILEGAL (ILLEGAL LOGGING) DI HUTAN DI KALIMANTAN TIMUR TELAH MEMPERLUAS TERJADINYA LAHAN KRITIS DAN RAWAN LONGSOR Sumber: Bapedalda Kota Balikpapan.8 juta hektar dan gundul 3. Kondisi ini diperburuk oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu. 69 Tahun 1996 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Tata Ruang. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Kapasitas industri kayu saat ini adalah 60 juta m3. 3 Tahun 1990 tentang Larangan Alih Fungsi Lahan Sawah untuk Penggunaan Selain Pertanian. Lalu. di Papua (degradasi 10.9 juta hektar. serta banyaknya lokasi tambang di daerah hutan lindung dan daerah konservasi meskipun dilarang berdasarkan UU No.7 juta hektar/tahun. Sistem pengusahaan hutan yang ada telah menimbulkan berbagai masalah di beberapa daerah yang berdampak pada degradasi hutan. dengan jumlah nilai rencana investasi 1-5 tahun sejak 2000 sebesar US$ 3.2 juta hektar. 41 Tahun 1999. Data Departemen Energi dan Sumber daya Mineral menunjukan saat ini ada 150 perusahaan pertambangan yang kawasan konsesinya (terdiri dari 116 tahap eksplorasi dan 34 sudah dalam tahap ekploitasi) berada di daerah konservasi. di Kalimantan (degradasi 20. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. sejak tahun 1996 meningkat lagi menjadi rata-rata dua juta hektar/tahun.

(4). Masih ada industri pengolahan kayu yang menerima dan mengolah kayu ilegal. 2 Juli 2002 • • Kendala yang dihadapi dalam pemberantasan illegal logging antara lain: (1). Demikian pula dengan upaya yang bersifat polisional. Penegakan hukum masih lemah sehingga mafia kayu beraksi dengan bebas.137 pohon dengan kerugian senilai Rp 8. atau naik sekitar 21 persen dibanding prestasi tahun 2001. Kondisi moral.340 pohon yang ditebang ilegal oleh pencuri dengan kerugian senilai Rp 4.1 miliar lebih (Ukin Prawirasutisna. Salah satunya terjadi di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh. seperti penyuluhan melalui berbagai media. Upaya represif yang dilakukan bersama institusi keamanan. TNI AD/Hankam. Pengadilan.000 hektar. Ada pun jumlah tersangka yang berhasil diamankan sebanyak 82 orang. Polri. Khusus di KPH Sukabumi dalam tahun yang sama tercatat ada 13. dan Pemda Provinsi/Kabupaten. KABUPATEN SUKABUMI Banyak sekali kasus perambahan dan pencurian kayu hutan lindung. Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi berupaya melakukan penegakan hukum dan berhasil menjerat para ketua kelompok. Ketahanan dan kemandirian masyarakat yang masih rendah dengan pembodohan yang berdalih pemberdayaan masyarakat. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 .2 KASUS PERAMBAHAN HUTAN SUAKA MARGASATWA CIKEPUH. Penebangan kayu dan perambahan hutan Suaka Margasatwa Cikepuh dimulai awal tahun 1999 sampai bulan Maret 2002. Dephut. Modus penebangan ilegal: oknum aparat menjadi dinamisator dan supervisor tindak pidana kehutanan. di Perhutani Unit III terjadi pencurian kayu sebanyak 114. selama tahun 2002 berhasil menyita kayu sebanyak 3. TNI AL. Kemudian berbagai operasi di antaranya dilaksanakan melalui operasi kayu selama bulan April dan Mei 2002. juga melalui Balok Lodaya 2001 bekerja sama dengan Polda Jabar. Dalam tahun 2001. Bea Cukai. masih terus berlangsung. Lahan yang dirambah diperkirakan mencapai 7. hutan produksi. hutan suaka margasatwa. Garut dan Sukabumi dilakukan bersama FKPPI dan lembaga lainnya. Kepala Seksi Humas Perhutani III. (3). Deperindag. Sementara pencurian kayu di wilayah Perhutani Unit III dalam tahun 2002. Ada 11 instansi yang berada dalam satu mata rantai pemberantasan illegal logging yang sangat menentukan proses penegakan hukum kejahatan bidang kehutanan yaitu: Menko Polkam. patroli rutin.1 miliar lebih. Kayu ditebang menggunakan alat tebang tradisional dan chain saw. dan aktor utamanya. Jawa Barat).3 PENEBANGAN KAYU LIAR DI SUKABUMI • Penjarahan hutan disertai penebangan kayu di wilayah Perhutani Unit III Jabar. Khusus di KPH Ciamis. termasuk di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi.7 miliar lebih. serta aparat cenderung menjadi tidak lagi peduli pada kelestarian hutan dan penegakan hokum. sosial dan budaya masyarakat. di samping juga menjadi backing. Untuk menekan gangguan keamanan hutan selama ini lebih dititikberatkan pada pendekatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat desa hutan khususnya melalui pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). (5). kampanye pelestarian hutan.BOKS 6. Kerugian yang diderita mencapai Rp 35. 2002 BOKS 6. Sumber: KLH. Sumber: Pikiran Rakyat. lebih mengedepankan upaya preventif. koordinator.76 meter kubik. Kayu yang ditebang adalah jenis kayu bungur dan laban berdiameter antara 20 – 60 cm. Dephub. Kejaksaan.4 (2). mulai Januari sampai Mei tercatat sebanyak 23.601 pohon dari berbagai jenis kayu.506. (6). Sukabumi. VI .

Gunung Palung. terutama difokuskan pada kontrak-kontrak pertambangan dan energi yang ditandatangani sebelum ditetapkannya UU No. Kutai. Tujuannya untuk mencari titik penyelesaian masalah tumpang tindih ini. Bukit Dayeuh.com/hutan. Salah satu upaya Pemerintah untuk menanggulangi penebangan kayu ilegal yang semakin marak dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab adalah dengan Pemberlakuan Instruksi Presiden No.4 LANGKAH PEMERINTAH MENANGGULANGI MASALAH PERTAMBANGAN DI KAWASAN KONSERVASI DAN HPH • Pemerintah membentuk dua tim melibatkan unsur masyarakat terdiri dari LSM. Perusahaan yang menyalahgunakan HPH akan ditunda izin HPH-nya sampai ada pengkajian HPH untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai hutan Indonesia selesai dilakukan. Barito Utara. pemodal. Perguruan Tinggi. Hulu Sungai Utara. Batuampar. serta integritas dan integrasi bangsa dan negara Indonesia. serta swasta untuk menyelesaikan masalah pertambangan sebagai akibat dari kebijakan yang dituangkan dalam UU No. Rumbai. Kedua tim tersebut adalah Tim A yang dibentuk melalui SK Menteri Perekonomian dan bertugas untuk meneliti perusahaan yang sudah dalam tahap eksploitasi. Kompleksnya permasalahan sosial dan moral di berbagai lapisan masyarakat. pemerintah daerah. Dumai. Pemerintah mengharapkan pada tahun 2003 semua HPH sudah mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan produksi lestari.tripod. 41 Tahun 1999 yang menyatakan dengan tegas tidak boleh melakukan pertambangan terbuka di hutan lindung dan konservasi. Kapuas.1 DAERAH-DAERAH YANG RAWAN PENCURIAN DAN PENYELUNDUPAN KAYU NO PROPINSI LOKASI 1 Aceh TN. Bireun. 5 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Ilegal dan Peredaran Hasil Hutan ilegal di Kawasan Ekosistem Leuseur dan Taman Nasional Tanjung Puting. Barito Selatan 7 Kalimantan Selatan Kotabaru. Semua kontrak ke depan akan mengikuti aturan UU No. (9). Sedang Tim B dengan SK Menhut meneliti perusahaan yang masih dalam tahap ekplorasi.htm • • • • • Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Palangkaraya. bertekad meningkatkan penindakan secara tegas pelaku. yaitu mendorong semua pihak untuk meningkatkan dan mensinergikan kemampuan dalam pemberantasan mafia illegal logging. Muara Teweh. Bondowoso. Singkil. Kuala Simpang 2 Riau TN. Selain itu KLH atas nama Pemerintah Indonesia telah menandatangani letter of intent dengan Pemerintah Norwegia pada tanggal 30 Agustus 2002 yang pada prinsipnya menekankan pentingnya KLH berperan pada kegiatan advokasi. Kuala Kapuas. Pelaksanaan otonomi daerah yang lebih berorientasi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mempehatikan kelestarian hutan. (8). 28 Juni 2002 Upaya Penanggulangan dan Pemberantasan Penebangan Kayu Ilegal Tahun 2002 Dewan Pertahanan Nasional telah menyatakan kejahatan perusakan hutan terutama illegal logging merupakan salah satu ancaman potensial yang dapat meruntuhkan keutuhan dan kesatuan.5 . serta akan lebih transparan dalam pengungkapan aktor di belakangnya. Oleh karena itu pada tahun 2003 Departemen Kehutanan bersama TNI serta instansi terkait dalam penegakan hukum. Kuala Tungkal. Gunung Leuser. 41 Tahun 1999. 41 Tahun 1999. Penanganan illegal logging saat ini belum mencapai hasil yang maksimal karena dilaksanakan secara tidak berkesinambungan akibat biaya yang cukup besar. (10). 41 Tahun 1999. Pasir.Lore Lindu. KLH. Paloh. Balikpapan 9 Sulawesi Tengah TN. Sumber: siklusits. Bungo Tebo 4 Jawa Timur TN. Siak Hulu 3 Jambi TN. dan backing kejahatan kehutanan tanpa pandang bulu. Hulu Sungai Selatan 8 Kalimantan Timur Nunukan. Tanjung Puting. Tenggarong. Meru Betiri. Donggala.(7). Kerinci Seblat. Data dan informasi tentang penanganan illegal loging masih sangat terbatas. Lamongan 5 Kalimantan Barat TN. Palu 10 Papua Sorong Sumber: Media Indonesia. Menyelesaikan Peraturan Pemerintah yang akan menjembatani masalah yang timbul dari UU No. Bukit Tigapuluh. BOKS 6. Betung Kerihun 6 Kalimantan Tengah TN. TABEL 6.

dan Jambi dengan tujuan 3 negara Malaysia.564 m3. Sulawesi Tenggara. Pemanfaatan Hutan. 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. (2) Penebangan kayu liar dan peredaran kayu ilegal mencapai 50. Nangroe Aceh Darussalam. Di samping itu ada kerugian secara ekologi yaitu hilangnya beberapa jenis/spesies keanekaragaman hektaryati. BOKS 6. kawasan konservasi dan taman nasional terpilih.500 m3. yaitu penandatanganan MoU dengan Pemerintah Inggris. (3) Penyelundupan kayu dari Papua.000 m /bln (sekitar 500 – 700 kapal per bulan) dengan kerugian finansial sebesar Rp 450 milyar/bln. 1132/Kpts-II/2001. dan No. atau Rp 7. perkiraan penerimaan negara yang diperoleh sebesar Rp 447 milyar. Sumber: Departemen Kehutanan.400 meter kubik dari Tanjung Selor. Bea Cukai menangkap kapal Putri IV yang mengangkut kayu gelondongan sebanyak 50 meter kubik.1 juta hektar per tahun.2 trilyun/thn.000 m /bulan dengan kerugian sebesar Rp 600. Penerbitan SK Menhut ini telah diperkuat dengan terbitnya PP No. Kalimantan Tengah. 2003 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .42 trilyun/tahun. dengan perkiraan penerimaan negara yang diperoleh sebesar Rp 63. Kalimantan Barat.7 juta m3/tahun. dan di perbatasan dengan Provinsi Kalbar seluas 250. Kapal itu mengangkut kayu gelondongan 3. menghentikan sementara kewenangan gubernur atau bupati/walikota menerbitkan HPH/izin pemanfaatan hasil hutan.6 milyar. Di daerah perbatasan dengan Provinsi Kaltim laju kerusakan seluas 150.000 hektar/tahun. 292/MPP/Kep/10/2001. Vietnam. dan Penggunaan Kawasan Hutan yang antara lain mengatur kewenangan pemberian izin pemanfaatan hutan dan hasil hutan. serta dengan Polri dalam pelaksanaan Operasi Wanalaga. Secara bersama melaksanakan operasi di laut dan perairan.300 m3. Riau. Total kerugian negara yang berhasil diselamatkan kurang lebih Rp 5. Memberikan back up data intelejen.000 hektar/th. Menerbitkan SKB Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.Berikut langkah-langkah strategis Dephut untuk mengatasi penebangan ilegal: • Menerbitkan SK Menhut No. dengan perkiraan kerugian finansial sebesar Rp 30. Diharapkan kerja sama serupa dengan Pemerintah Jepang serta beberapa negara lainnya akan segera menyusul. Mem-back up operasi khusus di daerah sensitif seperti wilayah perbatasan. Cina. Pengawasan yang ketat terhadap oknum TNI di lapangan yang bertindak sebagai backing maupun pelaku. Khusus dari Papua mencapai 3 600. 3 (4) Peredaran kayu ilegal di Pantai Utara mencapai 500. • • • • • • • Penegakan hukum telah dilaksanakan di bagian hilir proses penyelundupan kayu. atau Rp 5. Tahun 2002 ditangkap lima kapal dengan barang bukti sitaan barupa kayu olahan 2.8 milyar.5 DATA PENEBANGAN ILEGAL Departemen Kehutanan tanggal 15 Januari 2003 mengeluarkan informasi (berupa siaran pers) yang menggambarkan kondisi aktual kerusakan hutan tropis serta praktek illegal logging yaitu: (1) Hutan yang rusak atau tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai luasan 43 juta hektar dari total hutan Indonesia seluas 120. dengan barang bukti sitaan kayu log sebanyak 26. Kalimantan Timur.1/Kpts-II/2000. India mencapai 10 juta m /tahun. Kerja sama dengan negara lain. Penangkapan ini merupakan yang terbesar sejak adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menperindag dan Menhut bernomor 292/MPP/Kep/10/2001 tertanggal 8 Oktober 2001. dan dengan RRC pada tanggal 18 Desember 2002. 05. yang isinya antara lain mencabut SK Menhut No. Kalimantan Timur. Kemudian tanggal 12 Maret 2002 ditangkap lagi dua kapal asing berbendera Indonesia yaitu Promex 26 dan Promex 27. tentang Penghentian Ekspor Kayu Bulat/Bahan Baku Serpih yang dikuatkan dengan PP No 34 Tahun 2002 yang dengan tegas melarang ekspor log. Sumatra Utara. Melakukan kerja sama dengan TNI AL dalam pelaksanaan Operasi Wanabahari.4 trilyun/tahun (5) Kerusakan sangat besar terjadi di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia.6 . untuk pemberantasan illegal logging dan illegal trade.35 juta hektar. 541/Kpts-II/2002. kayu log 11. pada tanggal 18 April 2002. dengan laju degradasi empat tahun terakhir mencapai 2. (6) Dari hasil kerja sama Dephut dengan TNI AL melalui operasi Wanabahari pada tahun 2001 telah ditangkap delapan kapal.000 milyar/bln.

Jepang.000 2.Bangka Belitung Lampung Bulan Sumber: KLH. regional maupun internasional.000 500 1 2 3 4 5 Bulan 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Hotspot Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sumber: KLH. negara dirugikan kurang lebih 500 milyar rupiah. Kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan dilihat dari aspek ekonomi bukan hanya hilangnya aset kekayaan tegakan hutan berupa kayu.7 .000 3. kualitas udara (ISPU). baik lokal.5.500 5.200 1. 2002 GAMBAR 6.000 4. tetapi dari aspek ekologi banyak kehilangan habitat flora dan fauna liar. darat maupun sungai.500 3.400 1. yang pada gilirannya akan mempengaruhi perekonomian masyarakat. serta informasi dari situs ASEAN Service Meteorological Center. GAMBAR 6.4. Data tersebut diperoleh dari instansi terkait seperti Departemen Kehutanan. Selain itu kabut asap ini mengganggu transportasi baik udara. yang sebagian wilayahnya terkena dampak pencemaran asap lintas batas. Sebagai gambaran akibat pembakaran hutan dan lahan seluas 2.500 4. GRAFIK SEBARAN HOTSPOT DI WILAYAH KALIMANTAN TAHUN 2002 5. a. dan LAPAN. Malaysia dan Brunei Darussalam.4. Pembakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali Terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia beberapa tahun yang lalu telah membawa dampak yang sangat besar pada lingkungan hidup. Dampak yang sering dirasakan oleh masyarakat adalah kabut asap yang sangat merugikan kesehatan. Hasil pemantauan disampaikan kepada pemerintah daerah untuk pengendalian kebakaran. Pemantauan kebakaran hutan dan lahan Pemantauan kebakaran hutan dan lahan telah dilakukan sebagai bagian dari sistem deteksi dini dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Adei Plantation di Bangkinang. GRAFIK SEBARAN HOTSPOT DI WILAYAH SUMATERA TAHUN 2002 1.600 1. jarak pandang. BMG.500 1.970 hektar oleh PT. khususnya oleh negara-negara ASEAN.800 Aceh Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Sumatera Selatan Bengkulu 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Hotspot 1. sebaran asap dan awan.500 2. Singapura dan Koichi University. sehingga mendapat perhatian yang serius di dalam dan di luar negeri. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .000 1. Kegiatan ini dilakukan secara kontinu oleh KLH dan meliputi pemantauan titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan dan Sumatera. kelembaban. seperti Singapura. Provinsi Riau. seperti meningkatnya penderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).000 800 600 400 200 - Kep.

• Menyusun peta rawan kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan tahun 2002 yang bertujuan untuk memprioritaskan kegiatan pengendalian kebakaran pada lokasi-lokasi yang rawan terjadi kebakaran. perusahaan dan masyarakat.000 13.122. • Mendorong perubahan misi PT. Yogyakarta Sulawesi Tengah JUMLAH Sumber: Departemen Kehutanan.95 7.23 hektar dengan kerugian Rp.00 301.300 8. • Melatih tenaga penyuluh lapangan kebakaran hutan dan lahan sebanyak 297 orang.09 423.967. yang pada tahap awal dilakukan di Pulau Jawa dan Bali. 2 KEBAKARAN HUTAN DI SELURUH INDONESIA TAHUN 2002 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 PROVINSI LUAS HUTAN TERBAKAR (HA) 2.8 .983. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .23 KERUGIAN (RP) 72.30 4. 2002 (Hasil rekapitulasi laporan rutin daerah: Dishut.00 38.225. Balai TN.389.870.089.967. Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Gubernur lima provinsi. Unit KSDA.00 8. dari produksi menjadi rehabilitasi hutan-hutan yang gundul.20 140.500. Untuk itu ditandatangani kesepakatan kerja sama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup. Gubernur dan Bupati yang daerahnya rawan kebakaran hutan dan lahan di Riau.000 17. Peta rawan kebakaran wilayah Sumatera dan Kalimantan terlampir. dishut kab.050 Riau Sumatera Selatan Kalimantan Timur Jambi Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Bali Sulawesi Tenggara Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku D. HPH.89 141. luas kebakaran hutan di seluruh Indonesia tahun 2002 mencapai 38.389.00 300.92 2.087. Gubernur Kalimantan Barat dan lima rektor perguruan tinggi di Kalimantan Barat.211. • Mensosialisasikan informasi mengenai kemungkinan timbulnya kebakaran oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan ke daerah.25 212. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana aksi 17 kabupaten di Lembang pada tanggal 12-14 Maret 2002.050.Menurut data dari Departemen Kehutanan.I.85 10. HPHTI. serta kunjungan Menteri Kehutanan ke daerah rawan kebakaran Tahun 2002 • Memberdayakan masyarakat lokal dan lembaga adat dengan kearifan tardisional melalui Community Based Fire Management.53 33.750 11.265.000 122. radio komunikasi dari daerah) b. Bupati dan ketua DPRD 17 kabupaten yang daerahnya rawan kebakaran hutan dan lahan pada tanggal 9 Januari 2002.75 600. Perhutani dalam empat tahun mendatang. • Mengadakan pertemuan antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan ketua DPRD.000. • Mendorong langkah moratorium penebangan hutan. • Memobilisasi mahasiswa untuk melakukan pemantauan dan advokasi di Kalimantan Barat. Menteri Dalam Negeri. Balai KSDA.137. Secara rinci luas kebakaran setiap provinsi tahun 2002 dapat dilihat pada Tabel 6. (1) Perkembangan penanganan Upaya antisipasi • Pemerintah telah mengantisipasi akan terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun 2002 melalui pertemuan Wakil Presiden.371.50 200.2 TABEL 6.00 900. • Menyepakati mekanisme pelaporan penanggulangan kebakaran berjenjang dari tingkat desa sampai provinsi dengan melibatkan pemerintah.00 361.

Perjanjian ini mengandung semangat kebersamaan untuk berupaya mencegah. Namun ada perusahaan pertambangan yang mempunyai reputasi yang cukup baik dalam pengelolaan lingkungan hidup. yaitu dalam forum ASEAN. Brunei Darussalam). Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . seperti kawasan wisata dan permukiman. seperti pembuangan tailing pada PT. Perjanjian akan berlaku efektif bila enam negara telah meratifikasinya. Kaltim Prima Coal (KPC). Di samping itu ada forum pertemuan yang lebih tinggi yaitu ASOEN Haze Technical Task Force (AHTTF). 3. PT. Sabah – Sarawak. Jatim Jaya Perkasa Putusan Pengadilan Negeri: bebas murni Status: Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung PT. 5. Beberapa perusahaan pertambangan besar dalam melakukan aktifitasnya banyak menimbulkan masalah lingkungan. Ekploitasi pertambangan Penambangan yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia saat ini banyak menimbulkan kerugian tidak hanya kerugian materi berupa hilangnya devisa bagi negara tetapi juga ancaman dan kerugian bagi lingkungan hidup yaitu rusaknya lingkungan dan menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan. 2002 2. 4. serta menanggulanggi polusi lintas batas negara. 7. BOKS 6. Begitu juga penambangan pasir laut yang banyak menyimpang dari ketentuan yang berlaku. Inti Prona Status: dalam proses penyidikan PT. Mustika Sembuluh Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah PT. Upaya penanganan di tingkat regional ASEAN Penanganan kabakaran hutan dan lahan juga dilakukan di tingkat regional. memantau.• Mendorong penataan kembali kawasan-kawasan lindung yang saat ini lahannya untuk peruntukan lain. Windu Nabasindo Lestari Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah PT. Malaysia. 8. Bumi Pratama Katulistiwa Status: P21 (tinggal menunggu persidangan) PT. • Mendorong/memfasilitasi pemerintah daerah dan masyarakat dalam proses penegakan hukum bagi pelaku perusakan lingkungan/hutan. 5. antara lain PT.9 .6 UPAYA PENEGAKAN HUKUM DALAM KASUS PEMBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 1. 6. Cisadane Sawit Raya Status: dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Rantau Prapat PT. Bisma Dharma Kencana Status: dalam proses penyidikan oleh Polda Kalimantan Tengah Sumber: KLH. Kemudian akan dibentuknya ASEAN Coordinating Center for Transboundary Pollution Control yang selanjutnya secara singkat disebut ASEAN Center. maupun SRFA untuk wilayah Borneo (Kalimantan. Adei Plantation and Industry Putusan pada tingkat banding: delapan bulan kurungan dan denda Rp 100 juta Status: dalam proses kasasi di Mahkamah Agung RI PT. Freeport Indonesia ke sungai yang telah menimbulkan masalah. Upaya yang dilakukan di tingkat regional antara lain ditandatanganinya Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution) oleh para th menteri lingkungan negara ASEAN dalam Pertemuan Para Menteri ASEAN tentang Asap ke-9 ( 9 ASEAN Ministerial Meeting on Haze) pada tanggal 10 Juni 2002 di Kualalumpur. baik melalui pertemuan rutin tingkat teknis (Sub-Regional Firefighting Arrangement/ SRFA) untuk wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya. (2).

• Sebagian besar hasil kajian menunjukkan adanya dampak lingkungan akibat tailing. termasuk di dalamnya laporan tentang pengelolaan tailing. mengingat beberapa ketentuan dalam RKL-RPL yang ditetapkan tahun 1997 sudah tidak efektif lagi. Freeport akan membuang batuan limbah sebanyak 2. antara lain batubara dan emas. Gubernur Papua. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.10 . sesuai dengan komitmen mereka dalam dokumen RKL 300K.675 milyar ton sampai tahun 2014. tepatnya pada DAS Rungan dengan sungai utamanya Sungai Takaras. Kegiatan PETI bahan galian tambang. sebagaimana diprediksi dalam dokumen Andal 300K. atau dua ton Hg dalam setahun (Kalteng Pos. pihak PTFI secara rutin. serta krisis ekonomi yang berkepanjangan Fokus penanganan masalah PETI bahan galian tambang batubara dan emas didasarkan pada pertimbangan: • PETI batubara dalam prakteknya sangat merusak kondisi fisik: lingkungan tempat batubara tersebut.6) yang banyak menggunakan air raksa (Hg) dalam proses pengekstrakan emas.100 ton ke Danau Wanagon. Rencananya PT. dan sarana jalan transportasi yang digubakan untuk mengangkut batubara. Satu PETI menggunakan satu atau lebih mesin sedot. tetapi risiko tailing mungkin lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh Parametrix. Atas dasar ketentuan tersebut. BOKS 6. Memperhatikan berbagai temuan studi ERA tersebut. semakin marak seiring dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan. • PETI emas dalam prakteknya merusak kondisi fisik wilayah penambangan emas serta terjadinya pencemaran merkuri yang semakin meluas.Masalah lain yang perlu diperhatikan dan segera ditanggulangi adalah penambang tanpa izin (PETI) yang lokasinya tersebar di hampir seluruh Indonesia (Lihat Gambar 6.7 PT FREEPORT INDONESIA Sesuai ketentuan Pasal 32 PP No. Upaya Penanganan masalah PETI telah dilakukan dengan berbagai cara oleh KLH bersama sama dengan Instansi terkait. Dari laporan itu tercatat produksi PT. 27 Tahun 1999 tentang Amdal. Freeport Indonesia pada tahun 2001 mencapai 242. Freeport Indonesia (PT. 21 dan 22 Maret 2003). Departemen ESDM dan KLH. FI kepada KLH pada tanggal 23 Desember 2002 dengan kesimpulan antara lain: • Hasil kajian belum menunjukkan bukti konklusif risiko dapat diabaikan. lokasi pelabuhan khusus batubara. Berdasarkan laporan pelaksanaan RKL-RPL. Apabila satu mesin menggunakan satu kg Hg dalam rentang waktu tiga bulan dapat dipastikan Sungai Takaras tercemar oleh Hg sebanyak 480 kg. tempat penimbunan batubara (stock pile).333 ton bijih per hari. yaitu setiap tiga bulan menyampaikan laporan itu kepada KLH. Masalah yang terkait dengan penanggulangan PETI adalah: penegakan hukum belum optimal dengan tingkat kedisiplinan aparatnya yang masih perlu ditingkatkan. Sebagai contoh PETI yang terdapat di Propinsi Kalimantan Tengah. maka dalam waktu dekat akan segera ditetapkan Keputusan Menteri KLH tentang Penyempurnaan RKL-RPL PT. KLH memberikan arahan saran tindak. Saran tindak terakhir diberikan pada bulan Oktober 2000 dalam bentuk revisi atas dokumen RKL dan RPL. Selain itu juga dijalin kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap lingkungan hidup. Di sana ada 480 PETI.623. Upaya tersebut baru pada tahap melakukan sosialisasi tentang bahayanya merkuri terhadap kesehatan manusia melalui berbagai sarana serta perlunya para PETI mengikuti peraturan yang berlaku. pihak PTFI juga telah melaksanakan studi ERA (Environmental Risk Assesment) khusus untuk pengelolaan tailing dengan bantuan konsultan Parametrix. Sejalan dengan proses revisi RKL dan RPL tersebut. baik tingkat pusat maupun Daerah. FI. Pembuangan batuan limbah sampai tahun 2001 mencapai 181. FI) wajib menyampaikan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) kepada Bupati Timika. Sumber: KLH. Hasil studi ERA ini telah disampaikan oleh pihak PT. pihak PT. • Hasil kajian juga menunjukkan adanya beberapa parameter baru yang “bermasalah” dan memerlukan pengkajian lebih lanjut.

000 pohon telah ditanam pada lahan 1. telah melakukan uji TCLP dan LD50 terhadap sampel limbah padat (fly ash dan bottom ash) dengan kesimpulan kandungan parameter uji yang masih di bawah baku mutu. B .698 1 Upaya pengelolaan kualitas udara TABEL 6. • Peningkatan ekonomi atau pendapatan dengan perkiraan biaya US$ 690.313) Sumber: KLH. Pada kurun waktu 1999 – 2000. 2000 – 2001. jalan dengan perkiraan biaya US$ 301.546 < 0. KPC Parameter Baku Mutu (PP 41/1999) NH (ppm) 2.973 pohon terdiri dari 104 spesies (92 lokal). • Kegiatan peyediaan infrastruktur bagunan sekolah.001 34 91 – 159 <8 70 < 0. KPC memperoleh sertifikat emas atas penilaian Proper yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. sisa batuan terbagi menjadi NAF (Non Acid Forming/tidak berpotensi menghasilkan air asam tambang) sehingga ditempatkan di atas final dump dengan luas terkelola 1. top soil dan overburden yang sudah baik • Reklamasi: 800.000) • Peningkatan pendidikan (renovasi dan pembangunan gedung sekolah).8 PT.001 32 1 – 20 <8 19 < 0. Sungai Murung. RKL/RPL untuk triwulan Oktober s/d Desember 2001. tanggal 11 April 2003) • Pemanfaatan: pemanfaatan pelumas bekas untuk bahan bakar pembantu dalam kegiatan peledakan ANFO-Emuls kegiatan penambangan (memiliki izin dari KLH melalui SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No 49.33 20 . KPC memiliki tenaga kerja 2716 orang.101 42 . Produksi batu bara PT KPC : 14. sedangkan total luas lahan yang dibuka sektar 73 ha. 13.013 kiloton (tahun 1999). lokasi Sangatta dump discharge.000) • Peningkatan kesehatan & gizi dengan perkiraan biaya US$ 182. Pit K. 2001 – 2002 PT.1 2 Upaya pengelolaan kualitas air • Setiap hari secara rutin setiap hari dilakukan pemantauan kualitas air limbah dan air sungai sekitar lokasi operasi PT KPC (42 titik pantau). air laut dekat bakau di titik pasang surut pantai dan air laut di daerah bakau 3 Upaya pengelolaan limbah B3 • Penyimpanan: pelumas bekas di gudang penyimpanan limbah B3 dengan upaya tidak melewati waktu 90 hari (memiliki izin dari KLH melalui SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kegiatan manajemen pengelolaan lingkungan hidupnya melaksanakan Environmental Management System (EMS) berikut: • Pengelolaan lingkungan hidup internal dan eksternal melibatkan tenaga ahli • Integrasi manajemen lingkungan dengan struktur manajemen perusahaan • Rencana kerja manajemen lingkungan yang komprehensif • Program tahunan audit lingkungan internal • Laporan rutin bulanan dan tahunan pengelolaan lingkungan oleh divisi lingkungan kepada manajemen perusahaan • Mekanisme pelaporan kecelakaan kerja • Program pelatihan karyawan • Penyediaan dana pengelolaan lingkungan tahun 2001 mencapai US$ 6. • Pemanfaatan fasilitas oily water separator plant ( oil spill control ) • Pengelolaan air asam tambang dengan melakukan klasifikasi dan pemisahan batuan penutup yang didasarkan pada potensi pembentukan asam. Bara Camp < 0. • Meneliti geokimia di areal eksplorasi dan penumpukan akhir (final dump).5 ha dengan pembibitan 215.001 < 0. Jika diperlukan penutupan batuan asam dilakukan dengan rekayasa dan bila tidak mungkin.001 < 0.000 ha • Rehabilitasi tambang 106. peningkatan pendidikan SD – S3 (US$ 171.611 kiloton (tahun 2001). 15. 45.444.700 ha (2002).1 < 0. PT.000. maka aliran air asam tambang dinetralisir dengan menggunakan kapur.670.1 Hasil Analisa Kws Kws Lembah Hijau Tj.000 H2S (ppm) 0. Dalam laporan (Agustus.700 ha (2002).135 kiloton (tahun 2000).02 HC (ug/Nm3) 160 3 NOx (ug/Nm ) 150 SO2 (ug/Nm3) 365 Debu (ug/Nm3) 230 Pb ug/Nm3) 2 Sumber : Lab Udara ITB. 4 Aspek lingkungan lain • Revegetasi: pelaksanaan revegetasi di lahan bekas galian. dengan jumlah tenaga kerja asing 28 orang. • Pengukuran kualitas air bulanan untuk pendingin di aliran keluaran berbataan dengan stasiun pembangkit listrik. KPC melalui data uji Laboratorium ASL yang diterbitkan Agustus 2002. Kabupaten Kutai Timur. KALTIM PRIMA COAL (KPC) PT. 2002).BOKS 6. tanggal 11 April 2003) • PT.50 /Pres/10/1981.001 37 30 19 . PAF (Potensial Acid Forming) ditempatkan pada bagian bawah final dump dengan luas terkelola 1. Namun demikian perlu juga dilakukan uji karakteristik limbah B3 lainnya.0 CO (ug/Nm3) 10.11 .1 juta ton batu bara dan 34 juta bcm (bank cubic meter) overburden dipindahkan ke areal dumping (waste disposal).000. 2002 Kws Panorama < 0.3 HASIL PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DI PT. Juni. • Hasil uji NAG. • Peningkatan pelayanan masyarakat dan pengembangan SDM (US$ 180. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . PT.160. Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Kontrak Karya No.001 19 – 99 < 0.26 <8 <8 42 37 < 0. KPC merupakan perusahaan pertambangan dan produksi batu bara PMA yang beroperasi di Kecamatan Sangatta. KPC akan menambang 4.243 < 0.026.1 Kws Batu Putih < 0.001 34 . 5 Community development (Menurut data tahun 2002 dana untuk kegiatan CD Rp 15.001 259 .

21 Tahun 1992 tentang Pelayaran. perairan Tanjungbalai Karimun. pemilik PT. KPTS 3 tahun 2001 dan KPTS 23 tahun 2001 tanggal 14 Pebruari 2001. 6. MV Vasco Da Gama. KPTS 18/II-2001. 13. perairan Tanjungbalai Karimun.860 GT (Jepang). UU No. ada surat keputusan bersama (SKB) antara gubernur dengan para bupati dan juga keluarnya SKB tiga menteri (Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Citra Karimun Aditya: ditangkap di perairan Tanjung Uban. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Menteri Kelautan dan Perikanan. Sejauh ini proses perizinan langsung diajukan kepada bupati. 8. pemilik PT. pemilik PT. Hasilnya ditangkapnya 13 kapal pasir di perairan Riau yang diduga telah melanggar berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengusahaan pasir laut. Equator Reka Citra: ditangkap di Selat Durian. 5. 4. 11. pemilik PT. 3. Tahun 2000. Aneka Yasa Setia: ditangkap di Selat Durian. MV Banel (Singapura) Sand Pump Ship. MV Samsung Apollo. 36. 11 Tahun 1967 tentang KUHP. Pola Kendali Karimun: ditangkap di Selat Durian. pemilik PT. MV Lange Wapper (Belgia). MV Hikarigo (Honduras) dredger statis. UU No. 7.130 GT (Korea). pemilik PT. hal tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bersama Gubernur Riau dengan bupati/walikota di Provinsi Riau Nomor KPTS. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.135 GT (Rusia). 12. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. seperti yang telah dilakukan oleh Bupati Karimun untuk beberapa perusahaan penambangan pasir setempat. MV Alexander Van Humbolt (Luxemburg).9 PENAMBANGAN PASIR RIAU Kegiatan penambangan pasir laut di Riau merusak lingkungan hidup dan merugikan ekonomi negara. Sub-Pokja 2 TP4L secara proaktif melakukan koordinasi dengan instansi terkait dibidang pengawasan dan pengamanan. Sumber: KLH. perairan Tanjungbalai Karimun. TB Olivia V. perairan Tanjungbalai Karimun. pemilik PT. 10. antara lain UU No. MV KLK-II (Honduras) Dredger Statis. Aneka Yasa Setia: ditangkap di Selat Durian.000 GT (Belanda). 4. TB Bintang Baru (Honduras) Pusher Tug. Sejak diterbitkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan selaku Ketua TP4L No. Pola Kendali Karimun: ditangkap di Selat Durian. 01/K-TP4L/VIII/2002 tentang Pedoman Pengendalian dan Pengawasan Pengusahaan Pasir Laut. 9. 13 KAPAL PASIR YANG DITANGKAP: MV Profesor Gorjunov.864 GT (Jepang). 5. TB Jasmine V.12 . Untuk mengatasi ekspor pasir laut yang tidak terkontrol Pemerintah Provinsi Riau telah melakukan sejumlah langkah-langkah. UU No. perairan Tanjungbalai Karimun. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.33/II/2001. MV Bintang Harmoni (Honduras) Sand Pump Ship. 2. Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi Pasir Laut diberikan langsung oleh bupati setempat. TB Yamani-02 (Belize) Tug Boat. 1. Citra Karimun Aditya: ditangkap di perairan Tanjung Uban. 7. UU No. 7.BOKS 6. dan Menteri Negara Lingkungan Hidup) 14 Februari 2002 tentang Penghentian Sementara Ekspor Pasir Laut juga didukung dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2002 tentang Pengendalian Penambangan Pasir Laut.

Hal ini terlihat pada bekas galian para PETI yang ditinggalkan begitu saja tanpa ada upaya reklamasi. Tabel 6. Dalam upaya penanganan PETI emas di wilayahnya.3 kg. Hutan telah berubah menjadi ratusan kolam raksasa tak beraturan. sehingga diperkirakan mencemari sumber air PDAM Pontianak. di Kabupaten Landak.4 Data Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kalimantan Tengah Jumlah Kecamatan 1 Kapuas 12 2 Kotawaringin Timur 9 3 Kotawaringin Barat 7 4 Barito Utara 4 5 Barito Selatan 5 Total 37 Sumber : Laporan MENLH ke DPR. 1995 menjadi 296. Lokasi PETI di areal pertanian dan perkebunan.10 PENAMBANG TANPA IZIN (PETI) 1. Kalimantan Tengah. Saat ini kondisi Cagar Alam Mandor yang masih baik tinggal 30 persen. Hal ini sangat mempengaruhi penduduk setempat yang asalnya masyarakat agraris. Diduga belum melakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi di bekas daerah pertambangan sesuai dengan dokumen RKL-RPL. 11 tahun 1998 tentang Izin Usaha Pertambangan Rakyat Bahan Galian Emas di Provinsi Kalimantan.13 . Maret 2000 No Kabupaten Jumlah Mesin (unit) 2709 2877 622 791 58 7057 Luas Lahan (Ha) 785 863 187 237 17 2089 2. Sungai Kencana. dengan diameter mencapai 200 meter dan dengan kedalaman tak kurang dari 25 meter. PETI di bekas lokasi penambangan emas PT. Kalimantan Barat. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . tanpa adanya upaya reklamasi.745 ha mulai beroperasi sejak tahun 1994 menambang emas. Sungai tercemar akibat pembuangan tailing yang bercampur merkuri. Kalimantan Barat. Pemakaian merkuri untuk mengikat bijih emas semakin marak sehingga pencemaran lingkungan sudah terjadi dan tidak terhindarkan lagi. Sistem bagi hasil antara pemodal (cukong) dan masyarakat sebesar 70:30. yang menghancurkan hara dan kesuburan tanah. Kalimantan Barat Pelaku PETI emas diawali dari Kabupaten Singkawang kemudian berkembang ke wilayah lain dan saat ini berpusat di Kabupaten Bengkayang dan Ketapang. AMP seluas empat ha) menurunkan produksi PT. Ampalit Mas Perdana (PT .8 kg dan 1996 menurun menjadi 271.BOKS 6. Kabupaten Sampit. Kondisi kawasan yang sudah rusak berupa hamparan pasir kwarsa (30%). Maraknya penambang tanpa izin (PETI) yang dimulai pada tahun 1997 (termasuk perusakan kantor PT. Permasalahan: • • • • • Lokasi penambangan di kawasan Cagar Alam Mandor. Terjadi tumpang tindih kebijakan pusat-daerah. pemerintah daerah telah berusaha dengan dikeluarkannya Perda No. AMP yang mempunyai Kontrak Karya seluas 10. Lokasi tersebut mengandung 60 persen kandungan emas. AMP) di Kasongan. PETI emas di Kabupaten Landak dan Bengkayang. dihiasi lubang berdiameter 15-25 meter. sementara 70 persen termasuk lokasi makam Mandor Juang telah rusak berat. Namun lokasi tersebut termasuk dalam konsesi PT.8 kg. Produksinya bulan Januari 1994 mencapai 139. AMP dan meningkatnya kerusakan lingkungan. Permasalahan: • • • • Hamparan hutan di daerah sekitar Sungai Cempaga dan Sungai Katingan atau tepatnya di lokasi pertambangan emas Cempaga Buang dan Kasongan saat ini sudah gundul. PT. kedalaman delapan meter.

GAMBAR 6. 2002 Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .6 PETA SEBARAN LOKASI PETI DI INDONESIA Sumber: Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.14 .

Karena selama ini erosi hanya dipantau di DAS-DAS yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. pembetonan dinding. maka akan terjadi penggelembungan atau pelebaran aliran. pembuatan tanggul. Sampai saat ini telah disusun Pola RTL-RLKT di seluruh Indonesia yang tersebar di 39 SWP DAS (Satuan Wilayah Pengelolaan DAS). Sumber: Kompas. Perlu dikembangkan juga prinsip Let River be Natural River. yaitu dengan pelurusan. bervegetasi lebat. Implikasinya dalam penanggulangan banjir adalah justru sungai alamiah yang bermeander. Sampai tahun 1999 telah disusun pola RLKT sebesar 20 persen dari luas daratan Indonesia. Penyelesaian masalah banjir di suatu tempat dengan cara ini merupakan penciptaan masalah banjir baru di tempat lain di bagian hilirnya. Perubahan tata guna lahan. dan pengerasan tampang sungai. Intinya adalah mengusahakan air banjir secepat-cepatnya dikuras ke hilir.15 . Juru foto: Hers Suganda 2. Pelurusan dan sudetan sungai pada hakikatnya merupakan penghilangan retensi atau pengurangan kemampuan retensi alur sungai terhadap aliran airnya. bahkan mungkin telah penuh dengan rumah-rumah penduduk. EROSI DAN SEDIMENTASI Erosi yang terjadi di Indonesia tidak bisa dilihat dalam seluruh kesatuan wilayah. Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini juga mengalami hal serupa. untuk kebutuhan mandi saja sudah tidak memadai. pola penanganan banjir di Indonesia memasuki abad ke-21 harus menggunakan prinsip integralistik yaitu One River-One Plant and One Intergrated Management. Kesalahan Pembangunan Pola penanggulangan banjir serta longsor sejak abad ke-16 hingga akhir abad ke-20 di seluruh dunia sebenarnya hampir sama. Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung pada kemampuan retensi DAS menghadapi banjir. Sayangnya tidak semua SWP DAS mempunyai data tentang erosi. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . tanpa memperhitungkan banjir yang akan terjadi di hilir. yang perlu dijaga kelestariannya karena mempunyai retensi tinggi terhadap banjir. Oleh karena itu. Air sungai yang biasanya meluap.Sungai Cilutung. dan memiliki retensi alur tinggi. telah ditetapkan pola RTL-RLKT (Rencana Teknis Lapangan-RLKT) sebagai instrumen perencanaan jangka panjang 15 tahun dan jangka menengah lima tahun. Pola pelurusan dan sudetan seperti di atas jelas mengakibatkan percepatan aliran air menuju hilir. Akibatnya areal banjir semakin melebar atau bahkan alirannya berpindah arah. 1. Dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya alam melalui program Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT). misalnya dari hutan dijadikan perumahan. Jika tampang sungai di tempat tersebut tidak mencukupi maka akan terjadi peluapan ke bagian bantaran. GAMBAR 6. Di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.7 KERING . 3 September 2001. kering kerontang di musim kemarau. guna menghindari banjir besar yang destruktif di suatu tempat tertentu.B. sudetan. sehingga jangankan untuk pertanian. pada awal September 2001 hanya berupa kolam-kolam kecil. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. Retensi DAS adalah kemampuan DAS untuk menahan air di bagian hulu. salah satu anak Sungai Cimanuk yang memberikan sumbangan pelumpuran (sedimentasi) paling besar. Dengan prinsip ini maka banjir juga harus dibagi secara integral sepanjang sungai menjadi banjir kecil-kecil. Jika bantaran sungai tidak cukup. perkebunan atau lapangan golf akan menyebabkan retensi DAS berkurang secara drastis.

Pendangkalan Faktor pendangkalan sungai termasuk faktor penting pada kejadian banjir.74 juta meter3 per tahun. langsung dan tidak langsung.417 ha di luar kawasan hutan. Pendangkalan sungai dapat diakibatkan oleh proses pengendapan (sedimentasi) terus-menerus. untuk mengurangi eksploitasi sumber daya lahan secara tidak bertanggung jawab sehingga merusak dan mencemari lingkungan hidup. Pendangkalan sungai berarti terjadinya pengecilan tampang sungai. 2002 3. terutama di bagian hilir sungai. Sampah domestik yang dibuang ke sungai terutama di kota-kota besar akan berakibat terjadinya pendangkalan dan penutupan alur sungai sehingga aliran air tertahan dan akhirnya sungai meluap. Material tererosi ini akan terbawa aliran dan lambat laun diendapkan di hilir hingga menyebabkan pendangkalan di hilir. yang dapat mendorong peningkatan erosi di bagian hulu. Untuk itu perlu segera disosialisasikan perbaikan DAS dengan pelarangan penjarahan hutan dan penghentian HPH serta peninjauan kembali proyekproyek pelurusan dan sudetan-sudetan yang tidak perlu. terdiri atas 257.Sebagai contoh pengurangan luas Segara Anakan secara intensif berlangsung dalam 15 tahun terakhir dari tahun 1977 – 1992 hingga mencapai 2. Tahun 1992 – 2002 pengurangan seluas 600 hektar atau 60 hektar per tahun. GAMBAR: 6. Rencana pemindahan muara ke arah barat sekitar 2. Ing. hingga sungai tidak mampu mengalirkan air yang melewatinya dan akhirnya meluap. Agus Maryono.8 SEGARA ANAKAN YANG MENGALAMI PENYEMPITAN Sumber: Suara Pembaruan. Departemen Kehutanan mentargetkan rehabilitasi lahan kritis di seluruh Indonesia dalam tahun 2002 seluas 818.657 ha. Tetapi sudetan diperkirakan akan berdampak pada pelumpuran dipantai Pangandaran Timur dan sekaligus menyebabkan perubahan salinitas di Segara Anakan (Harian Kompas. Erosi ini selain merupakan akibat dari rusaknya DAS bagian hulu hingga tanahnya mudah tererosi. juga karena pelurusan sungai dan sudetan. Selain itu pemerintah juga berupaya Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Pemerintah telah memberikan bantuan kepada penduduk di daerah tanah kritis. Pendangkalan sungai juga dapat diakibatkan oleh akumulasi endapan sampah yang dibuang masyarakat ke sungai.240 ha di dalam kawasan hutan dan 561. Masalah pendangkalan sungai sudah sangat serius dan ditemukan di hampir seluruh daerah hilir/muara di Indonesia. tulisan Dr.490 hektar atau 166 hektar per tahun.5 Km keluar segara anakan diperkirakan mampu mengurangi pelumpuran hingga 0. 2002). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat antara lain penghijauan/reboisasi dan rehabilitasi lahan. Tahun 2002 luasannya tinggal 1200 hektar.16 . Proses sedimentasi di bagian hilir ini dapat disebabkan oleh erosi intensif di bagian hulu.

pasti dan sudah menurunkan bahkan menghilangkan kemampuan alam untuk merehabilitasi (asimilasi) dirinya sendiri. dan lain-lain. seperti tanah longsor. berupa berbagai bencana. yang tahun 2002 mencapai 42 juta orang (Data SBSI mengacu ke ILO.menyediakan lapangan kerja untuk menampung para pengangguran. khususnya Indonesia bagian timur. merupakan dampak negatif kegiatan manajemen lingkungan yang kurang. Konsentrasi TSS pada sungai Ciliwung.9) GAMBAR 6.17 (mg/l) KERUSAKAN LINGKUNGAN PESISIR DAN LAUT . Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . orang lalu mengalihkan perhatian ke sumber daya pesisir dan laut sebagai alternatif media lingkungan yang sudah sampai pada tahap untuk dapat ‘digarap. banjir maupun kekeringan. misalnya konversi hutan mangrove. bahkan tidak memperhatikan kaidah-kaidah pokok pengelolaan yang ramah lingkungan. lingkungan laut juga tak kurang bermasalah. tumpahan minyak. Kompas 5 Januari 2002). Terdapat kurang lebih 14 sektor pembangunan yang didukung oleh 20 undang-undang dan lima konvensi internasional yang merupakan regulasi wilayah pesisir. penambangan pasir dan penangkapan ikan hias di habitat terumbu karang secara paksa (memakai racun dan bahan peledak).’ Pandangan semacam ini memang tidak sepenuhnya salah. Pengelolaan pesisir dan laut secara terpadu sangat diperlukan. Terjadinya penurunan kualitas hutan di daerah hulu DAS. dan masih banyak lagi.’ Namun. terdapat kurang lebih 80 persen industri yang memanfaatkan sumber daya pesisir dan membuang limbahnya pun ke wilayah pesisir. yang umumnya bersifat antar sektoral dan antar wilayah. Adanya pengelolaan yang keliru. kebakaran hutan. yaitu antara lain 30 persen hutan mangrove di dunia. Di wilayah kota dan kabupaten. Data tahun 2000 menunjukkan 42 kota besar dan 181 kabupaten berada di wilayah pesisir yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. 30 persen terumbu karang dunia. mengingat 140 juta penduduk atau 60 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir dalam jarak 50 km ke arah darat dari pantai. 60 persen konsumsi protein berasal dari sumber daya ikan di mana 90 persen ikan yang ditangkap adalah ikan perairan pesisir dan sisanya berasal dari perairan dalam. Pesisir Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis dunia. industri dan berbagai aktivitas lain. misalnya telah nyata dirasakan akhirakhir ini. 2002 C. di daerah kelapa Dua dan Pantai Indah Kapuk. Kerusakan maupun pencemaran di wilayah ekosistem daratan telah nyata menurunkan kualitas mutu lingkungan. DKI JAKARTA 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Tahun Kelapa Dua (Hulu) Pantai Indah Kapuk (Hilir) Sumber: KLH. sebab menimbulkan ‘harapan baru.9 KECENDERUNGAN KONSENTRASI TSS DI SUNGAI CILIWUNG. Propinsi DKI Jakarta merupakan contoh betapa cepatnya terjadi pendangkalan di sungai tersebut (lihat gambar 6.

TABEL 6.00 140. Berbagai jenis limbah (padat maupun cair) terminal akhirnya adalah laut.30 118. perubahan organisme laut yang hidup maupun komunitas laut yang terpengaruh (mangrove. serta Provinsi Lampung.00 0.50 0. dan padang lamun.00 3.60 154. Ciliwung. dan lamun). seperti ekosistem mangrove.00 43.00 42.70 139.00 6. Jakarta dan empat sungai besar Musi.026.340. Cisadane untuk diteliti beban pencemaran di pesisirnya dengan menganalisis kualitas air di sekitarnya. lima kota-4 DAS seluas 16.40 0. luas hutan mangrove di Indonesia adalah 3.Konsentrasi penduduk yang sebagian besar (60%) berada di wilayah pesisir.00 4. mengambil contoh lima kota yaitu Tanjung Pinang. dan berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan. terumbu karang.000 hektar (25.605.17 6.80 371. diusulkan pelepasan areal hutan mangrove seluas 20.24 juta hektar.00 Cr Kg/hr 4.742.8 Ni Kg/hr 18.00 0.40 54.80 10.80 32. Sampai tahun 1990 telah ditunjuk hutan produksi seluas 1. Hasilnya. Apabila jumlah limbah yang harus diasimilasi tersebut masih sesuai atau di bawah kemampuan daya dukung dan potensi lingkungannya.00 191.000 hektar (Departemen Kehutanan.20 26.90 21.20 0. terumbu karang. 1992).00 36.00 19.5 BEBAN LOGAM BERAT KE TELUK JAKARTA Sungai Cisadane Angke Grogol Krubut Ciliwung Sunter Cakung Bekasi Cikarung TOTAL Sumber: KLH.34%) dan kawasan suaka alam serta kawasan pelestarian seluas 742.10 34.069.370 km2 dari total luas wilayah 391.48% dari luas kawasan seluruh hutan mangrove).90 25. kualitas sedimen. Kapuas.00 0. secara nyata telah menimbulkan tekanan pada lingkungannya.00 0.00 0.60 0. Indonesia memiliki mangrove yang terluas di dunia.00 6.00 151.00 0.00 110.00 0.49 3. a. mungkin tak timbul masalah yang menjadi bencana lingkungan.45 Cd Kg/hr 0.00 0. Total luasan hutan mangrove di dunia adalah 15.90 Zn Kg/hr 10. industri dan lainnya.00 0.00 47.00 0.40 15. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . transmigrasi (pemukiman). terbatas dan yang dapat dikonversi.67 2.77 62. Dampak pencemaran di pesisir relatif mudah menyebar luas.00 197.00 6.80 0.10 0.00 67.80 Hg Kg/hr 34. Pangkal Pinang.30 0.35 0.00 0.00 9. Berdasar laporan PHPAAWB (1987).00 790. Banten dan DKI Jakarta).25 juta hektar atau 27 persen-nya berada di Indonesia (Dephut.00 0.60 62.900 km2 (populasi sekitar 59 juta). sudah tercemar bahan organik.00 325 Cu Kg/hr 0.983.737. 2002 As Kg/hr 0. perikanan (tambak).077. Babel/Sumsel dan Kalimantan Barat.00 45.828 hektar (sekitar 17.00 0. Kondisi Pesisir dan Laut Mangrove Hutan mangrove yang karakteristik fisiknya dipengaruhi oleh pasang surut air laut. telah mengalami penyusutan sebesar kurang lebih 31 persen dari jumlah 4.00 10. Pontianak.871 hektar untuk dikonversi bagi kepentingan sektor pertanian (sawah pasang surut).00 94.00 828. penahan lumpur dan pencegah terjadinya intrusi serta abrasi pantai.00 0. KLH bekerja sama dengan IPB memodifikasi penelitian Talaue-McManus (2000) untuk proyek Laut China Selatan (LCS).18 .50 11.473.10 39.30 56.00 0. Hutan mangrove dibagi menjadi fungsi kawasan hutan tetap.00 190.29 juta ha.0 Pb Kg/hr 23. contoh biota.00 2. 1982).50 756. Sedangkan hasil interpretasi citra landsat tahun 1992.00 0. hutan mangrove Indonesia diperkirakan tinggal sekitar 3. Selain itu. Proyek LCS (di provinsi yang berbatasan langsung dengan LCS yaitu Riau termasuk Batam. mengenai apa saja yang dilaluinya.30 8.9 juta hektar dan 4. Palembang.00 1.00 26.

600.674.838.248.349.750.11 9.65 18.03 76.338. 2.731. 745 jenis ekinodermata.81 29.527.26 131. 850 jenis spons.442.486.565.139.19 .762.401.91 66.00 1.00 0. (Sumber: COREMAP).65 474.187.931.121.57 0.669.97 112.707 km2.586.907.158.74 16.844.926.79 4.51 35.69 71.22 86.943.38 148.00 0.268.90 26.990.591.166.34 25.317.00 9.373. 38 jenis reptilia laut.757.720.75 118.999.31 59.00 5.703.29 129.034.60 TOTAL 346.05 64.50 10.14 76.710.431. Terumbu karang Total luas terumbu karang Indonesia 85.038.747.81 148.00 0.40 1.83 2.47 13.210.234.00 1. 46 persen telah mengalami kerusakan.00 132.84 158.61 603. 30 jenis mamalia laut.710.07 3. 1.918.316.00 97.45 95.205.00 0.600.28 888.600. Sekitar 14 persen dalam kondisi kritis.586.66 429.034.522.29 443.620.80 80.55 29.999.334 jenis ikan.314. Kondisi terumbu karang sudah Indonesia semakin mencemaskan.846.00 42.23 7.91 Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Timor Timur Papua DKI Jakarta Jumlah Sumber: Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.601.00 3. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI .03 208.62 458.138.01 46.326.106.79 28.645.31 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 DI Aceh PROVINSI NON-KAWASAN 344.29 24.193.TABEL 6.63 551.97 106.509.99 226.406.732.811.369.26 36. 2.80 48.10 88.658.24 1.36 643.453.476.825.98 99. 1999 b.586.20 339.98 252.562.468.607.500 jenis moluska.27 759. 33 persen dalam kondisi masih cukup bagus dan hanya 7 persen kondisinya masih sangat bagus.34 508.31 18.16 7.373.00 4.35 0.91 116.940.90 21.6 LUAS HUTAN MANGROVE TAHUN 1998/1999 LUAS (HA) KAWASAN 2.41 27.07 32.25 263.553.519.18 1.225.42 10.00 97.990.512 jenis krustasea.579.68 9.00 4.851.81 20.18 18.78 6.67 0.00 0.155.843.02 0.326.251.712. dengan jenis keanekaragaman hayati terumbu karang meliputi: >450 jenis karang batu.886.

• Terbatasnya peta tata guna hutan mangrove yang meliputi kawasan lindung (cagar alam.16 39. juga dapat membunuh larva. seperti program pengembangan tambak ekstensifikasi.11 26. suaka margasatwa. banyak mengalami tekanan. pembukaan lahan untuk pembukaan persawahan pasang surut. status dan kondisi mangrove). swasta maupun masyarakat (para pemangku kepentingan) untuk berbagai program rehabilitasi hutan mangrove. kebijakan perluasan kawasan industri.37 38. meningkatnya pencemaran dan perambahan. antara lain: • Terbatasnya data dan informasi (lokasi.17 32. industri.04 22. “Formula” yang cukup memadai untuk menghentikan atau mengurangi upaya perambahan ini.11 5. Terumbu karang Lima ancaman utama yang disebabkan oleh perbuatan manusia yang merusak terumbu karang Indonesia. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . • Mekanisme rehabilitasi dan pendanaan oleh pemerintah. belum ditemukan.86 INDONESIA Sumber: Didasarkan pada 414 station (Suharsono. • Tidak adanya kepastian hukum. (3) Pengambilan batu karang untuk bahan bangunan dan produksi kapur. suaka alam. 2000) 2. Beberapa ahli menyebutkan akar masalahnya antara lain belum adanya satu persepsi pengelolaan mangrove dan kurang koordinasi dalam tata ruang daerah. adalah: (1) Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan racun sianida yang disemprotkan ke arah ‘kepala’ terumbu karang agar ikan mabuk.81 29.51 15. (2) Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Perambahan hutan mangrove secara sistematis dan sporadis.TABEL 6.7 KONDISI TERUMBU KARANG INDONESIA (PERSEN TUTUPAN KARANG HIDUP) WILAYAH INDONESIA TINGKAT KONDISI BARAT Sangat baik Baik Buruk Sangat buruk 3. seluas 327. sehingga pemanfaatannya pun dapat terus berlanjut. Bom diledakkan di wilayah karang dangkal. dilakukan secara besar-besaran oleh pihak swasta maupun masyarakat. Letakan selain membunuh ikan yang dikehendaki. Kendala dalam pengelolaan hutan mangrove. b. belum memadai. • Mekanisme pendanaan untuk program rehabilitasi hutan mangrove. kurang dijalankan.72 25. Proses kegiatan tersebut pasti akan merusak karang secara menyeluruh.95 31. terutama dalam penetapan (zonasi) area mangrove.61 ha (termasuk jalan tol Prof Sedyatmo dan Cengkareng Drain).61 32. hutan lindung) dan kawasan budi daya (produksi dan konversi) yang dituangkan dalam Penataan Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten. Berikut beberapa masalah pelestarian hutan mangrove: • Kurangnya peran aktif pemerintah daerah dalam upaya rehabilitasi akibat kerusakan mangrove.20 . di samping perubahan status menjadi kawasan permukiman. pengalihan menjadi tambak. Contohnya kawasan hutan mangrove di Muara Angke.20 26. Jakarta. baik sebagai ikan hias atau untuk makanan. pemukiman dan lainnya. a. • Teknik pemanfaatan sesuai penetapan kebijakan pengelolaan mangrove. untuk diambil kayunya dan keperluan lain. berbentuk perubahan status kawasan khususnya untuk perluasan tambak. • Perambahan hutan mangrove oleh masyarakat.07 53. benur dan karang. di antaranya melalui peningkatan pemahaman serta komitmen di tingkat eksekutif maupun legislatif di daerah. luasan. belum memadai. Ikan yang diambil masih hidup.22 TENGAH 6. Penyebab Terjadinya Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut Mangrove Menyusutnya hutan mangrove akibat kebijakan pemerintah.10 TIMUR 9.

52/ha untuk terumbu karang dan US$136. menunjukkan nilai ekonomi wilayah pesisir Barelang dan Bintan (didasarkan atas tiga kelompok ekosistem dominan yang ada di kawasan tersebut. Kalimantan Timur. dan dilaksanakan secara mandiri oleh setiap daerah otonom. (5) Penangkapan ikan dalam jumlah berlebihan (over fishing). Pasir Panajam. Banten dan DKI Jakarta.816. Penangkapan ikan dengan racun tersebut. Tingkat Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . Indonesia menjadi negara pemasok terbesar jenis ikan tersebut di pasar pangan Asia. diperkirakan enam kali lebih besar dari perolehan jangka pendek yang diterima dari penangkapan ikan dengan peledak (US$ 86. Kepulauan Riau. Kutai Kartanegara.209. (Third Phase: Indonesia and The Kingdom of Norwegia. khususnya jenis Napoleon Wrasse di restoran Hongkong mencapai US$ 60 sampai US$180 per kg. sebagai akibat penggundulan hutan di daerah hulu DAS. Pilihan penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan hook-and-line. Lampung.(4) Sedimentasi dan pencemaran. Program P2LL ini mulai dilaksanakan Desember 2000 di tingkat provinsi antara lain Bali.787. Kerugian lain yang dialami masyarakat (dalam bentuk proteksi wilayah pantai dan penerimaan dari sektor pariwisata yang hilang). Sulawesi Tenggara. DI Yogyakarta.86/ha untuk padang lamun. terumbu karang dan padang lamun). IPB dengan KLH dengan menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV).000 dan US$ 482. meskipun tidak merusak terumbu karang secara langsung. Kegiatan pengambilan batu karang masih terjadi di beberapa tempat seperti di Pulau Lombok. Jawa Timur. Tingkat kabupaten seperti Sukabumi.80/tahun. Dengan luas total terumbu karang 17. industri kapur.000).000 • Pengambilan batu karang Perikanan terumbu karang yang subsisten maupun komersial memang memberikan sumbangan nyata bagi ekonomi nasional.877. Bantul.21 . yaitu 50 persen dari seluruh pasokan. menghasilkan devisa negara dan lapangan kerja untuk lebih dari 10.57 ton/tahun.829. masing-masing US$15. Kalimantan Barat. Sumatera Barat.082 ton/tahun.500 km2 berarti MSY perikanan karang.000 nelayan Indonesia dalam beberapa tahun yang akan datang serta manfaat netto sekitar US$ 321. melaksanakan Program Pantai dan Laut Lestari (P2LL). dengan tujuan utama mengendalikan pencemaran dan perusakan ekosistem pesisir dan laut.652043. 1999). Nilai estimasi kerusakan mangrove. yang dicanangkan 19 Nopember 1996. dan air limbah pertanian. Sulawesi Selatan. Riau. akibatnya sebagian hotel kini setiap tahun harus mengeluarkan biaya yang tinggi (lebih dari US$ 100.8 juta.810. dibanding keuntungan bersih yang diperoleh para pengambil karang tersebut. US$140. yaitu mangrove. • Penangkapan ikan dengan racun Harga ikan. Jawa Barat. Jawa Tengah. dengan perkiraan nilai keseluruhan mencapai US$ 200 juta/tahun. dan kerajinan karang hiasan. menghasilkan nilai. berdasar Peraturan Pemerintah No 19 tahun 1999.00/tahun. Karangasem dan Pontianak. diperkirakan telah menimbulkan kerugian sebesar US$ 46 juta. US$51. Gianyar. bahkan ternyata lebih tinggi di wilayah yang mempunyai potensi pariwisata. Potensi lestari (Maximum Sustainable Yield = MSY) dari ikan-ikan terumbu karang mencapai 80.000) untuk mengatasi erosi wilayah pantainya. dengan total biaya kerusakan diperkirakan mencapai 7. diperkirakan akan mencapai 4. Kebijakan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut KLH. Klungkung. • Penangkapan ikan dengan bahan peledak Hasil perhitungan biaya berbentuk pendapatan berkelanjutan yang berasal dari perikanan saja. pemukiman dan industri.770. Badung.000 dibandingkan dengan US$ 15. 3. terumbu karang dan padang lamun sebesar US$10. Pengambilan batu karang pernah terjadi di Pulau Bali.42/ha untuk mangrove. tetapi dapat mengurangi jumlah dan keragaman ikan dan biota invertebrata lainnya. Kerugian ini diperkirakan masingmasing sebesar US$ 193.5 kali lebih tinggi. batu karang digunakan untuk bahan bangunan. dalam empat tahun. Sudah sejak lama. Kalimantan Tengah. Hasil penelitian Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan. Lampung Selatan. adalah nama atau label program kerja pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan di wilayah pantai dan laut berskala nasional. P2LL. dan atau konstruksi wilayah pantai yang penting.51/tahun dan US$ 28.

Prinsip dasar pelaksanaan P2LL. focus (terfokus) dan enforcement (penegakan hukum) yang “harus” didukung melalui komitmen para kepala daerah dan DPRD setempat. Pengelompokan pengelolaan lingkungan wilayah pesisir dan laut melalui P2LL. Sinjai. Balikpapan dan Tarakan. dilakukan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Program ini dinamakan Rehabilitasi Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat. meliputi: • Pengendalian kerusakan ekosistem pesisir dan laut (terumbu karang. • Pengendalian kerusakan dan pencemaran pesisir dan laut lintas batas negara: Marine Electronic Highway (MEH) di Selat Malaka dan Selat Singapore. spesies dan ekosistem hutan mangrove. meliputi delapan kabupaten Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (Bulukumba. mangrove. yaitu sebagai suaka alam atau suaka margasatwa. adalah program kerja pengendalian kerusakan dan pemulihan kerusakan terumbu karang dan mangrove. (2) Bandar Indah. Luwu. Cilacap. Sulawesi Selatan (Colaborative Environmental Project in Indonesia. Cilegon.Kota seperti : Kendari. baku mutu laut. kerusakan dan kebersihan wilayah pantai dan laut yang merupakan tujuan wisata.22 . resor wisata pantai/pulau. a. Luwu Utara. sedang yang kedua pengelolaan untuk menjaga fungsi pelestarian dengan tujuan utama menjaga kemurnian. adalah program kerja pengendalian pencemaran. Kolaka dan Buton). Kabupaten Wajo. perlindungan terhadap angin. yaitu (1) Pantai Wisata Bersih. IndonesiaNorway for Barelang (Batam-Rempang-Galang) & Bintan Island Development Management. accountability (terukur). • Menetapkan lokasi-lokasi prioritas rehabilitasi (ke dalam klasifikasi kritis dan super kritis) dan melaksanakan rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang telah terdegradasi melalui kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. adalah "SAFE" yaitu simple (sederhana). abrasi pantai dan mempertahankan habitat biota akuatik dan terestrial. keunikan keanekaragaman genetik. Semarang. Dua fungsi utama pengelolaan hutan mangrove adalah pertama fungsi lindung dengan tujuan utama meningkatkan fungsi pengaturan tata air. Denpasar. • Penetapan jalur hijau pantai menggunakan mangrove untuk kawasan-kawasan yang sesuai secara ekologis (Keppres No. Surabaya. Penanggulangan Kerusakan Mangrove Pasal 20 Ayat 2 Undang-undang No. Kegiatan yang telah diupayakan adalah peningkatan pemantapan koordinasi untuk pelaksanaan operasional pelestarian sumber daya alam pesisir dan laut. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . pencegahan intrusi air laut. Teluk Tomini (Sulawesi Tengah dan Gorontalo). adalah program kerja pengendalian pencemaran di wilayah pelabuhan laut. P2LL terdiri atas tiga paket. • Rehabilitasi dan budi daya mangrove di Pantai Siwa. Padang. akan dilakukan di Teluk Bone. kegiatan reklamasi. CEPI-Canada). 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang menyatakan penetapan kawasan lindung dan kawasan budi daya merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang penetapannya pun melalui peraturan pemerintah. Wajo. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung: 130 x perbedaan pasang surut melalui peraturan daerah. pelabuhan. pengusahaan pasir laut melalui penetapan baku kerusakan. Kegiatan perlindungan dan pelestarian diupayakan agar hutan mangrove mampu menampung dan terintegrasi dengan kepentingan dan hak masyarakat sekitarnya. Bone. National Contingency Plan for Oil Spill. Langkah tindak yang perlu dilaksanakan antara lain melalui : • Komitmen dan konsistensi pemerintah daerah (provinsi dan/atau kabupaten/kota) dalam pengembangan wilayahnya masing-masing untuk tetap mengacu pada Penetapan Tata Ruang Daerah. berdasar prinsip konservasi untuk kawasan jalur hijau mangrove dan tetap menjaga fungsi pelestarian untuk kawasan hutan mangrove sebagaimana telah ditetapkan dalam peruntukannya. Sedang struktur. polusi. pembuangan limbah langsung ke laut oleh kegiatan industri. Makasar. dan (3) Teman (Terumbu Karang dan Mangrove) Lestari. • Pengendalian pencemaran ekosistem pesisir dan laut: dumping di laut. anjungan minyak lepas pantai. Coordinating Body on the Sea of East Asia (COBSEA) and the South China Sea. Oil Spill Preparedness and Response & Oil Spill Response Action Plan in the East Asian Seas (OSPAR & OSRAP). Teluk Benoa (Kabupaten Badung dan Kota Denpasar). pola pemanfaatan dan arahan pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan mangrove) dan budi daya. padang lamun) mengadapi abrasi pantai. Batam. Regional Programme for Building Partnerships in Environmental Protection and Management for the East Asian Seas (PEMSEA).

sebagai kelanjutan proyek MREP (Marine Resources Evaluation Program) dimulai bulan September 2002 sampai dengan 31 Desember 2006. di mana 65 persen dari 13. dalam Warta ISOI No. Penataan ruang dan keterpaduan antara sumber daya alam. Kurang-lebih 70 persen kota-kota besar berpenduduk delapan juta adalah kota pantai. yaitu (1) perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. Daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil.4 juta penduduknya hidup dalam kemiskinan. merupakan salah satu komponen penting dari Program Pengelolaan Sumber Daya Alam II (Natural Resources Management . (4) skema pengelolaan sumber daya alam skala kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Marine and Coastal Resources Management Project (MCRMP) Loan ADB No 1770/SF/INO. UN Straddling Fish Stocks Agreement telah memutuskan agar penggunaan alat/perlengkapan yang seharusnya ramah lingkungan adalah sesuatu unsur kunci yang penting (Soegiarto. antara lain. yaitu Sulawesi Utara. misalnya perlunya menempatkan bidang perikanan dalam jalur pembangunan berkelanjutan. Maksud diadakannya kongres tersebut adalah berupaya agar Pasal 17 Agenda 21 dapat diimplementasikan (Soegiarto. A. dan akan dilaksanakan di 43 kabupaten dari 15 provinsi. 2002. CRMP-USAID dilaksanakan di tingkat nasional dengan demo-site di empat provinsi. Karena itu perlu dilakukan segera rencana aksi dan implementasinya secara global demi terjaminnya kelestarian fungsi alam lingkungan kehidupan laut dan pantai seluruh dunia. Pengelolaan pulau-pulau kecil meliputi: • • • • • • b. Empat komponen pokoknya. Rempang. Pengelolaan lingkungan pulau–pulau kecil: carrying capacity. sehingga penangkapan berlebih (over fishing) dapat dihindari. sumber daya buatan dan sumber daya manusia di kawasan pulau-pulau kecil. A call to Action” yang dibukukan oleh IOC. Pengelolaan lingkungan Barelang (Batam. Kebutuhan penting saat ini. Kalimantan Timur. Hasil kongres berupa ringkasan eksekutif berjudul “Ensuring the Sustainable Development of Oceans and Coasts. Sebelum KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. sebab penduduk dunia terus bertambah. Lampung dan Papua. Tujuan utamanya pengelolaan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut serta keanekaragaman hayati dan perlindungan lingkungan. • Wisata bahari/resort wisata pantai atau pulau (eco-resort). adalah kerja sama dengan: Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . tersebut diakhiri dengan himbauan agar menempatkan isu kawasan laut dan pantai pada KTT Pembangunan Berkelanjutan. Indonesia sebagai negara kepulauan tropis terbesar telah melakukan kerja sama regional dan internasional. terutama dalam otonomi daerah adalah peningkatan kerja sama yang semakin berkualitas dalam mengelola sumber daya pesisir dan laut. UNESCO menyelenggarakan kongres dunia tentang laut dan pantai di Paris (3-7 Desember 2001). Pelestarian tatanan lingkungan pulau-pulau kecil.NRM II) di mana tujuan utamanya adalah untuk membantu proses penguatan kelembagaan dan desentralisasi pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan di Indonesia. Pengendalian Pencemaran Ekosistem Pesisir dan Laut • Kegiatan yang dilakukan dalam pengendalian pencemaran ekosistem pesisir dan laut adalah : • Penyelesaian Rancangan Keppres tentang Penanggulangan Darurat Tumpahan Minyak di Laut/National Contingency Plan untuk oil spill (NCP). Galang dan Pulau Bintan): IndonesiaNorway. 2002). seperti: • BAPPENAS.23 . 16). (3) evaluasi kerangka hukum pengelolaan sumber daya pesisir dan laut serta upaya penegakannya. proyek CRMP-USAID (Coastal Resources Management Planning) dimulai tahun 1997 dan akan berakhir bulan September 2003.Upaya pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dalam beberapa kegiatan yang tersebar di berbagai instansi. (2) pengelolaan data dan informasi spasial. sedang dan akan berjalan. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati laut dan ekosistemnya. Tujuan utamanya antara lain adalah untuk meningkatkan kepedulian yang baru menghadapi tantangan yang tersulit dalam penggunaan perairan laut sebagai peluang untuk memanfaatkan keuntungan perdagangan dan globalisasi yang ada bagi masyarakat pantai. Aktivitas yang sudah.

2002. Jakarta 14430. MEA (Millennium Ecosystem Assessment): tahun 2002 dalam rangka melaksanakan side events persiapan WSSD telah dilakukan Indonesia lokakarya tentang MEA di Bali yang mendapat fasilitas dari Pemerintah Australia. Desember Warta ISOI. Pelaksanaan kegiatan Norway-Indonesia Cooperation in Sustainable Environmental Management: Integrated Marine and Coastal Biological Diversity Management for Barelang (Batam-RempangGalang) and Bintan Island. DAFTAR PUSTAKA Kementerian Lingkungan Hidup. Marine Pollution Exercise (Marpolex) Belawan 2002. 18-21 September 2002. (Laporan Kunjungan Team Project B ke Hordaland County Norwegia. selaku penanggung jawab Indonesian project sites. Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Badan Pusat Statistik. sea grass. land-based pollution. Banda Pusat Statistik. Papua. Jakarta. di Batam. No. 2002. berdasarkan kriteria yang telah disetujui.• • • • • • • • • • IMO/World Bank/GEF: Marine Electronic Highway di Selat Malaka dan Selat Singapore. 2001. Oktober-Desember 2002. Ditjen PHKA. GIWA (Global International Water Assessment): Semakin meningkatnya pencemaran perairan laut. termasuk perairan ZEE. baik di laut dalam maupun perairan dekat pantai. Terumbu Karang di Indonesia. bahwa perairan Indonesia dihuni oleh 31 jenis Cetacea (lumba-lumba. ICRAN (International Coral Reef Area Network): Direktorat Kawasan Konservasi. tanggal 25-26 September 2002. GEF/UNDP/IMO PEMSEA: Site Evaluation for the Development of PEMSEA Integrated Coastal Management (ICM Parallel Site in Sukabumi). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta. Sosialisasi Strategi Pengelolaan Terpadu DAS Bengawan Solo dalam Konteks Otonomi Daerah. 1-3 Mei 2002. 18-25 Agustus 2002 Barelang & Bintan Island Norway-Indonesia Fase IV). Jakarta: KMNLH Kementerian Lingkungan Hidup. Jl Pasir Putih I/No 1. antara lain pelaksanaan UNEP/GEF Programme: ‘Reversing Environmental Degradation Trends in The South China Sea and The Gulf of Thailand. Jakarta. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2001. dikoordinasi oleh KLH. November. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002 VI . 2002 Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan Kementerian Lingkungan Hidup. juga biota lautnya. yang terdiri dari enam komponen working group of mangrove. 16. 2001. November 2002 Indonesia Forest Watch. Coordinating Body on The Seas of East Asia (COBSEA). dan Sulawesi Utara. Statistik Indonesia 2001. Jakarta. KLH menjadi pelaksana untuk komponen land based pollution dan saat ini menjadi tuan rumah untuk The Second Meeting of the Regional Working Group for Land-based Pollution. wetlands. KLH berperan serta dalam persiapan lokakarya lanjutan sebagai NFP program GEF-UNEP di Indonesia. and fisheries. secara global disadari telah semakin diperlukannya kegiatan pemantauan berkala kualitas airnya. Latihan Penanggulangan Tumpahan Minyak di Belawan tahun 2002. 2002. Ancol Timur. Tahap sekarang sedang dalam pembahasan pemilihan demo-sites yang dipilih paling tidak dari tiga provinsi yaitu: Kalimantan Timur. Departemen Kehutanan. Mei 2001 Indonesia an official handbook 2002. ICRI (International Coral Reef Initiative): P2O-LIPI/COREMAP. 2002. melalui Australia National University (ANU). 2002. Dari penelitian sebelumnya. Meniti Jalan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Potret Keadaan Hutan Indonesia. coral reef. sejak tahun 2002 beberapa pakar biota laut ini telah merasa perlu untuk mengusulkan dibangun semacam Indonesia’s Marine Mammal Management Area berdasar data. Penyelenggaraan GEF/World Bank/IMO Second Meeting of the Marine Electronic Hihgway (MEH) Steering Committee. porpoise dan binatang paus). terutama mamalia laut/Cetacean.24 . bersamaan dengan penandatanganan kerjasamanya dengan pemerintah Indonesia (melalui DKP) yang diakomodasi ke dalam suatu forum Australia Timor Seas Experts Forum. yang bersifat menetap maupun yang migran.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.