BAB I PENDAHULUAN

Menginjak masa remaja berarti memulai langkah baru pada masa peralihan antara anakanak ke masa dewasa atau masa usia belasan tahun dimana sering menunjukan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, perasaannya mudah terangsang dan sebagainya. Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Sementara menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) atau Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi, batasan usia remaja adalah 10-21 tahun. Dalam pendampingan oleh KISARA PKBI Bali, usia 10-24 tahun adalah sasaran utama

program komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksual, termasuk hak reproduksi, HIV/AIDS dan penyalah gunaan narkoba. Periode masa remaja terjadi perkembangan yang pesat dalam hal dimensi fisik, biologi, psikologis, dan sosial.Masalah perkembangan fisik, remaja akan mengalami perubahan fisik yang akan mendekati orang dewasa pada umumnya. Dari segi biologis, remaja akan mengalami perubahan regulasi hormon-hormon di dalam tubuhnya terutama hormon reproduksi yang mana akan mempengaruhi kematangan organ reproduksinya dan kematangan seksualnya. Secara fisik dan fungsi organ seks, maka organ seks remaja sudah dapat berfungsi seperti layaknya organ seks pada orang dewasa. Permasalahan remaja seringkali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman, serta kesadaran untuk mencapai sehat secara reproduksi. Maturitas organ seks secara fisik tidak diikuti dengan kedewasaan mental dan cara berpikir remaja yang masih labil. Inilah yang menjadi masalah mental dan psikososial remaja. Perubahan fisik yang pesat dan perubahan hormonal yang sangat dramatik merupakan pemicu masalah kesehatan remaja serius karena timbuhnya dorongan motivasi seksual yang menjadikan remaja rawan terhadap penyakit dan masalah kesehatan reproduksi, kehamilan remaja dengan segala konsekuensinya yaitu hubungan seks pranikah, aborsi, IMS danHIV/AIDS, serta NAPZA. Remaja dalam masa ini dipengaruhi oleh masyarakat di sekitarnya, teman sebaya, ataupun media massa. Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Kesehatan reproduksi

Namun. Dengan memperluas akses informasi tentang kesehatan reproduksi remaja yang benar dan jujur bagi remaja akan membuat remaja makin sadar terhadap tanggung jawab perilaku reproduksinya. sosial.ini sebaiknya telah diperkenalkan sejak dini kepada remaja mengingat masalah kesehatan remaja mencakup aspek fisik biologis dan mental. Tetapi informasi yang diterima tidak signifikan. Dengan makin banyaknya persoalan kesehatan reproduksi remaja. total kasus kehamilan di bawah usia 20 tahun adalah 32 kasus. Untuk alasan hubungan seksual pada remaja pertama kali antara lain sama-sama suka (74%). kost (21%) dan lainnya (12%). Hasil penelitian menunjukan bahwa 52. layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja menjadi sangat penting. Masa ini sangat menentukan 2 . 8.67% responden memiliki pengetahuan yang tidak memadai tentang kesehatan reproduksi. Penelitian lain dilakukan oleh sahabat remaja tentang perilaku seksual di empat kota menunjukan bahwa 3. Tempat hubungan seksual remaja pertama kali meliputi rumah sendiri atau pacar (67%). akibatnya remaja kurang pengetahuan akan hal ini. ingin tahu atau coba-coba (11%) dan lainnya (15%). maka pemberian informasi.5% remaja di kota Yogyakarta. Sedangkan pada tahun 2011. kasus pernikahan dan kehamilan usia dini masih menjadi trend meskipun ada kecenderungan menurun.1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif. tercatat kehamilan di bawah usia 20 tahun dari bulan April sampai Juni adalah 7 kasus dan seks pranikah di bulan April ada 2 kasus. dan persalinan remaja tercatat 5 kasus. karena pengetahuan mereka diperoleh hanya dari teman. 3. Di UPT Puskesmas Tampaksiring I Kabupaten Gianyar. di mana mereka harus menentukan sendiri warna yang mereka pilih. seks pranikah 4 kasus.6% remaja di kota Medan. Penelitian Mangku (2003) mengenai hubungan seksual didapatkan data remaja (10-24 tahun) pertama kali melakukan hubungan seksual umur 19-24 tahun (62%). Masa ini merupakan masa yang paling sulit dibandingkan dengan masa-masa lainnya.4% remaja di kota Surabaya serta 31. Data terbaru dari puskesmas untuk tahun 2012. Pada tahun 2010 tercatat total kasus kehamilan di bawah usia 20 tahun adalah 38 kasus dan persalinan usia remaja 21 kasus. Masih tingginya kasus yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tampaksiring I menunjukkan remaja dalam masa ini seolah berada dalam daerah abu-abu. akses untuk mendapatkan informasi bagi remaja banyak yang tertutup. 13-19 tahun (37%) dan 10-13 tahun (1%).

3 . Apabila pada masa ini seorang remaja salah dalam pencarian jati diri mereka.bagaimana sikap dan perilaku mereka di saat dewasa nanti. salah dalam berbuat dan melangkah akan sangat merugikan dirinya dan juga keluargannya. Saat ini masalah remaja merupakan masalah yang kompleks yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sedangkan pada tahun 2011. tercatat 36. Sedangkan di Bali dengan jumlah penduduk kurang lebih 3 juta jiwa. seks pranikah 4 kasus.1 Identifikasi Masalah Di Indonesia terdapat hampir 1. Program Promosi Kesehatan yang ada pada Puskesmas Tampaksiring I menargetkan penyuluhan berkala di tingkat SMP yang berada di wilayah kerja puskesmas. Selain itu kejadian penyakit menular seksual di kalangan remaja juga cenderung meningkat tanpa diikuti dengan pemahaman yang baik tentang pengobatannya.5 juta kasus aborsi per tahunnya atau sebanyak sepertiga dari total kelahiran.BAB II PERENCANAAN PKM DI PUSKESMAS 2. tercatat kehamilan di bawah usia 20 tahun dari bulan April sampai Juni adalah 7 kasus dan seks pranikah di bulan April ada 2 kasus. Pada tahun 2010 tercatat total kasus kehamilan di bawah usia 20 tahun adalah 38 kasus dan persalinan usia remaja 21 kasus. Di SMP Negeri I Tampaksiring merupakan salah satu SMP yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tamapaksiring I dengan asal siswa yang bervariasi sehingga memungkinkan cakupan interaksi sosial yang luas di kalangan remaja. Di Puskesmas Tampaksiring I Kabupaten Gianyar. total kasus kehamilan di bawah usia 20 tahun adalah 32 kasus. pengaruh teman. Apalagi telah disampaikan pada paragraf di atas bahwa kasus pernikahan dan 4 . Sedangkan pada masa siswa SMP dituntut untuk memulai pembelajarannya baik dari segi pendidikan dan pergaulan terhadap kehidupan sosial. kasus pernikahan dan kehamilan usia dini masih menjadi trend meskipun ada kecenderungan menurun. dan pengetahuan siswa yang kurang tentang kesehatan reproduksi dan dampak negatif dari perilaku seksual pranikah sangat mempengaruhi. Tingkat pendidikan SMP merupakan masa pembelajaran transisi bagi remaja yang sebelumnya adalah siswa SD dimana masih memiliki keingintahuan yang besar dan senang bermain-main. Kondisi lingkungan sekolah. dan persalinan remaja tercatat 5 kasus.000 kasus aborsi per tahun yang hampir 60 % berasal dari pasangan remaja yang belum menikah. Namun hingga saat ini penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan dampak negatif seksual remaja pranikah hampir tidak pernah dilaksanakan. Data terbaru dari puskesmas untuk tahun 2012.

Konsep ”PACARAN SEHAT” 5 . dan tentu pada akhirnya remaja dapat menggunakan organ reproduksinya secara sehat dan bertanggung jawab. dampak negatif dari gaya pacaran yang tidak sehat seperti hubungan seksual pranikah. Dalam pelaksanaan penyuluhan ini peserta penyuluhan adalah perwakilan dari masing-masing kelas I dari 9 kelas karena mengingat terbatasnya kapasitas ruang kelas. 2. Anatomi dan fisiologi alat/organ reproduksi manusia. dimana 4 orang siswa menyatakan bahwa tidak mengetahui tentang kesehatan reproduksi dan merupakan kali pertama mendengarnya.2 Kelompok Sasaran Kelompok sasaran dalam kegiatan PKM ini adalah siswa kelas I SMP Negeri 1 Tampaksiring. Psikoseksual pubertas. c. Bahaya penyakit menular seksual. dari 5 siswa dikatakan ada teman-teman mereka yang sudah memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. e.3 Tujuan Penyuluhan Tujuan penyuluhan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi SMP khususnya SMP Negeri 1 Tampaksiring tentang kesehatan reproduksi pada remaja yang meliputi: a.kehamilan usia dini masih menjadi trend di wilayah kerja Puskesmas Tampaksiring I dan kurangnya penyuluhan mengenai dampak negatif perilaku seksual pranikah. 2. sedangkan tujuan dari pacaran tersebut hanya berdasarkan keinginan dan bermain-main saja. Mengenai gaya pacaran untuk di kalangan siswa tersebut. juga dikatakan bahwa 5 siswa tersebut tidak mengetahui tentang dampak negatif hubungan seksual pranikah dan gaya pacaran sehat. b. Dampak negatif perilaku seksual pra nikah d. Sehingga dengan demikian sudah sewajarnya remaja mendapatkan pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi menyangkut struktur dan fungsi organ reproduksi yang normal. Dari wawancara tersebut. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 5 orang siswa SMPN 1 Tampaksiring yang sedang melaksanakan masa orientasi siswa.

6 Metode dan Media Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah (slide) dengan LCD komputer disertai pemberian makalah tentang kesehatan reproduksi dan dampak perilaku seksual pranikah 6 . Masing-masing perwakilan siswa kelas I diberitahu dan diminta kesediaannya untuk mengikuti penyuluhan di ruang kelas yang telah disediakan. c.5 Isi Penyuluhan Materi penyuluhan yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu: a. Post-test dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan seputar materi penyuluhan yang telah diberikan kepada peserta penyuluhan. e. Sebagai bentuk evaluasi tentang pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan kemudian dilakukan dengan post-test. Dalam kegiatan PKM ini dilakukan pre-test kepada para siswa sebelum dilakukan penyuluhan untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi pada remaja dan permasalahannya. Bahaya penyakit menular seksual. Dampak negatif perilaku seksual pra nikah d. Setelah penyuluhan dilakukan. Persiapan pelaksanaan terdiri dari penguasaan materi penyuluhan. Konsep ”PACARAN SEHAT” 2. Setelah dilakukan pre-test dilanjutkan dengan penyuluhan yang diberikan oleh dua orang dokter muda FK UNUD. Psikoseksual pubertas.2. penguasaan cara-cara penyampaian pesan serta penguasaan dalam hal menggunakan alat peraga dan membaca kepustakaan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja.4 Strategi Penyuluhan Pertama-tama Kepala SMP Negeri I Tampaksiring dihubungi untuk pemberitahuan jadwal kegiatan PKM di SMP tersebut. Anatomi dan fisiologi alat/organ reproduksi manusia. Pre-test dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan seputar materi penyuluhan yang akan dibawakan kepada peserta penyuluhan. b. acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka dengan para siswa tentang materi yang telah disampaikan dan juga permasalahan seputar kesehatan reproduksi remaja. 2.

7 Rencana Pelaksanaan Penyuluhan Hari/tanggal Waktu Tempat : Sabtu. 7 .9.30-10.40-11. 14 Juli 2012 : 10.20 Penilaian Diskusi 2.10 11.1 Rencana Evaluasi Proses 1.9 Rencana Evaluasi 2.50 Post-test Diskusi 11. Indikator penilaian Proses kegiatan penyuluhan ini dinilai berdasarkan jumlah peserta penyuluhan yang hadir.40 Kegiatan Perkenalan diri dan Pretest Metode Ceramah Fasilitator Eva Ina Eva Ina Eva Ina Eva Ina Eva Ina Acuan Pemberian pertanyaan Mengacu Materi Pemeberian Materi dengan LCD Pemberian Materi Pemberian Pertanyaan Mengacu Materi Materi 10. sehingga total dari perwakilan kelas I adalah 45 siswa.10-11. 2.00 WITA : Ruang Kelas SMP Negeri 1 Tampaksiring Penyuluhan dilaksanakan disalah satu ruang kelas SMP Negeri 1 Tampaksiring dengan alokasi waktu sebagai berikut : Waktu 10.30 – 12.kepada para siswa peserta penyuluhan dan dilakukan sesi tanya jawab dengan para siswa. Dalam pelaksanaan penyuluhan ini peserta penyuluhan adalah perwakilan dari masing-masing kelas I dari 9 kelas dengan masing-masing kelas diwakili sebanyak 5 siswa mengingat terbatasnya kapasitas ruang kelas.50-12.40 Penyuluhan Tanya jawab Ceramah Diskusi 11.40-11.

Pengetahuan mengenai konsep ”PACARAN SEHAT”. Waktu penilaian Sesudah penyuluhan. 2. Pengetahuan mengenai anatomi anatomi dan fisiologi alat/organ reproduksi manusia. c. e. 3. Cara penilaian Melakukan post test dengan cara melihat minat atau ketertarikan peserta penyuluhan terhadap materi penyuluhan. Pengetahuan mengenai dampak negatif perilaku seksual pranikah d.2. b. Penilai Penilaian dilaksanakan oleh dokter muda.2 Rencana Evaluasi Hasil 1. 8 . Pengetahuan mengenai psikoseksual pubertas. Pengetahuan mengenai bahaya penyakit menular seksual. Indikator penilaian a. 2. baik melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta penyuluhan. 4. 3.9. Penilai Penilaian dilaksanakan oleh dokter muda. Penilaian post test juga dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan seputar materi penyuluhan pada seluruh siswa-siswi yang mengikuti penyuluhan dan menunjuk 3 siswa secara acak untuk menjelaskan kembali tentang materi penyuluhan. selama dan setelah PKM berlangsung dengan membut daftar hadir sehingga dapat diketahui jumlah peserta penyuluhan yang hadir. Cara penilaian Penilaian dilakukan saat sebelum.

3. Kami diterima dengan baik oleh Kepala Sekolah SMP Negeri I Tampaksiring serta staf-staf dan guru-guru yang ada di sana. Sambil menunggu siswa-siswi dikumpulkan ke ruang multimedia yang telah disiapkan. SMP Negeri 1 Tampaksiring tersebut sudah dikirimi surat pemberitahuan yang isinya tentang permintaan izin kepada kepala sekolah agar dapat mengadakan penyuluhan pada siswa-siswi kelas I yang sedang menjalani masa orientasi siswa di SMP tersebut. Pada hari pelaksanaan penyuluhan.1 Waktu dan Tempat Kegiatan Hari/tanggal Waktu Tempat 3. 3.2 Peserta Peserta yang hadir adalah perwakilan masing-masing kelas I di SMP Negeri 1 Tampaksiring yang berjumlah 36 orang. Setelah semua siswa-siswi masuk kedalam ruangan yang telah disediakan maka kami langsung menuju ruangan untuk melakukan persiapan dan melakukan penyuluhan. kami berdua datang 30 menit sebelumnya ke SMP Negeri 1 Tampaksiring.30 – 12.00 WITA : Ruang Kelas SMP Negeri 1 Tampaksiring Sebagai penceramah adalah kedua mahasiswa Fakultas Kedokteran UNUD yang sedang melaksanakan kepaniteraan klinik madya di Puskesmas Tampaksiring I. kami berbincangbincang di ruang guru bersama guru-guru mengenai materi penyuluhan yang akan kami bawakan. 14 Juli 2012 : 10. bagian IKK/IKP dan bertugas di 9 .4 Proses Kegiatan Sebelum diadakan penyuluhan.BAB III PELAKSANAAN PKM 3.3 Pelaksana Penyuluhan : Sabtu.

maka acara penyuluhan kami sudahi dan kemudian acara selanjutnya kami serahkan pada guru mereka. para siswa-siswi juga sangat bersemangat dalam menjawab pertanyaan yang kami ajukan apalagi setelah kami menjanjikan beberapa buah coklat jika ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Setelah itu kami melakukan evaluasi dengan menunjuk secara acak 3 orang siswa untuk menceritakan kembali materi penyuluhan kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku seksual pranikah. Siswa hanya mampu menjawab satu pertanyaan dari kami dengan benar. Para siswa yang kami tunjuk mampu menceritakan kembali dan memahami pentingnya kesehatan reproduksi dengan baik. lalu melakukan pretest pada seluruh siswa-siswi. Kemudian setelah kami rasa cukup dan para siswasiswi sudah mampu memahami pentingnya kesehatan reproduksi mereka.Pada awalnya kami memperkenalkan diri. 10 . Dan ketika kami mencoba untuk bertanya kembali. Banyak siswa-siswi yang antusias dalam bertanya mengenai materi kesehatan reproduksi dan dampak perilaku seksual pranikah yang sudah kami berikan. Setelah melakukan pretest. Pada pre test. kami melakukan penyuluhan mengenai materi kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja dengan metode ceramah selama kurang lebih 45menit. Kemudian diteruskan dengan diskusi dan Tanya jawab selama 30 menit. kami mengajukan 5 pertanyaan sesuai dengan materi penyuluhan yang akan kami bawakan.

BAB IV EVALUASI KEGIATAN 4. dilihat dari kehadiran perwakilan siswa-siswi dari masing-masing kelas I.1 Evaluasi Kegiatan Evaluasi terhadap pemahaman tentang pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja pada kegiatanini dilakukan berdasarkan beberapa aspek yakni dari segi proses dan dari segi hasil penilaian pre test dan post test. hanya 1 pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar oleh 2 peserta penyuluhan yang hadir. Pre test dan post test berisi 5 pertanyaan yang diajukan mencakup kesulruhan materi penyuluhan. Gambaran awal tingkat pemahaman peserta terhadap materi kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah. Serta proses diskusi yang telah berlangsung dapat dilaporkan bahwa diskusi telah berlangsung secara dua arah.Perhatian dan respon peserta penyuluhan secara umum juga sangat baik dilihat dari tiga siswa yang kami pilih secara acak secara umum hampir ketiganya dapat menjelaskan kembali dengan benar materi kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah. Dari segi proses kegiatan. Dari Evaluasi ini dapatditarik suatu 11 . Tingkat pemahaman peserta dikategorikan baik apabila mampu menjawab dan menjelaskan secara benar sebesar 4 dari total 5 pertanyaan yang diajukan. Namun setelah dipancing dengan hadiah mereka mau mengajukan beberapa pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga terdapat komunikasi timbal balik antara peserta dan pembicara. Evaluasi dilaksanakan secara lisan ditujukan kepada seluruh peserta penyuluhan yaitu sebanyak 36 orang siswa. Pada kegiatan ini. sedangkan peserta penyuluhan yang lain mengaku tidak mengetahui. meskipun awalnya siswa malu dan ragu untuk mengemukakan pertanyaan. yaitu dari 5 pertanyaan yang diajukan kepada siswa yang hadir. jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan tidak sesuai dengan jumlah yang diharapkan yakni 36 orang karena ruangan yang dipergunakan memiliki kapasitas yang lebih sedikit dari ruang kelas. dilakukan pre test sebelum dilakukannya penyuluhan dan post test di akhir kegiatan sebagai penilaian dari segi hasil penyuluhan.

Namun dikarenakan ruang kelas dipergunakan untuk masa orientasi siswa dan pembelajaran. tiga peserta yang dipilih secara acak juga mampu menceritakan kembali materi penyuluhan yang telah disampaikan secara baik. Di akhir kegiatan. persiapan alat dan sarana penunjang. setelah dilakukan post test dengan mengajukan 5 pertanyaan yang sama. dan keterampilan berkomunikasi di depan orang banyak agar menarik dan dapat dimengerti oleh pendengar. Peserta penyuluhan juga dengan senang hati akan menyampaikan informasi yang telah didapat selama penyuluhan kepada siswa-siswi yang tidak dapat mengikuti penyuluhan.2 Hambatan PKM Seharusnya yang menjadi sasaran penyuluhan kami adalah seluruh siswa-siswi SMP Negeri I Tampaksiring kelas I. hanya saja dalam pelaksaan penyuluhan tersebut ternyata tidak terdapatnya aula di sekolah tersebut sehingga tidak memungkinkan kami untuk memberikan penyuluhan kepada seluruh siswa-siswi kelas I yang berjumlah kurang lebih 300 orang. Sehingga kami memutuskan untuk mengambil perwakilan masingmasing kelas I yang berjumlah 45 orang yang dilakukan di salah satu ruang kelas yang kosong.3 Manfaat PKM Beberapa manfaat yang kami rasakan sebagai penyuluh dari pelaksanaan kegiatan PKM ini adalah sebagai latihan untuk menjadi penyuluh yang baik di masyarakat. 4. didapatkan peserta penyuluhan mampu secara aktif dan benar menjawab kelima pertanyaan tersebut. 12 . mulai dari perencanaan. maka ruangan yang dipilh adalah ruang multimedia dengan kapasitas lebih kecil dari ruang kelas. Kemudian. Selebihnya dalam pelaksanaan penyuluhan tersebut secara umum kami merasakan tidak ada hambatan lain karena acara berlangsung dengan lancar sebagaimana yang telah dirancang dan direncanakan sebelumnya. Sehingga peserta penyuluhan yang dapat hadir sebanyak 36 orang. Pendapat peserta secara lisan tentang kegiatan penyuluhan ini sangat baik dan mereka berharap di kemudian hari akan ada penyuluhan seperti ini dengan tema yang berbeda dan tentunya lebih menarik. persiapan materi (pengumpulan materi dan penguasaan materi). 4.kesimpulan bahwa pemahaman dari 36 orang siswa-siswi SMP Negeri 1 Tampaksiring mengenai kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah yang dijadikan materi penyuluhan masih tergolong kurang.

Sedangkan manfaat bagi peserta adalah diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi dan dampak negatif perilaku hubungan seksual pranikah sehingga pada akhirnya mereka mampu menjaga kesehatan reproduksi mereka sendiri dan dapat mengurangi angka kejadian kehamilan pranikah. serta agar mereka dapat mensosialisasikan pengetahuan yang mereka dapat kepada orang lain. 13 .

Pre test 14 .LAMPIRAN Gambar 1. Pemberian Materi Penyuluhan Gambar 4. Pemberian Materi Penyuluhan Gambar 2 Peserta Penyuluhan Gambar 3.

Siswa yang mengajukan pertanyaan Gambar 6.Gambar 5. Suasana selama penyuluhan Gambar 7. Post test 15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful