KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya penulis

bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Kebidanan Pada Ny. E G1 P0 A0 dengan Preeklampsia Berat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Praktik Klinik Kebidanan II. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Bandung, November 2012

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i DAFTAR ISI................................................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1 1.1 1.2 1.2.1 1.2.2 Latar Belakang .......................................................................................................... 1 Tujuan ....................................................................................................................... 2 Tujuan umum .................................................................................................... 2 Tujuan Khusus .................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................... 3 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.1.7 2.7.2 2.8 2.8.1 2.8.2 Pengertian ................................................................................................................. 3 Klasifikasi .................................................................................................................. 4 Etiologi ....................................................................................................................... 5 Patofisiologi ............................................................................................................... 9 Gambaran Klinik ...................................................................................................... 11 Diagnosis ................................................................................................................. 12 Komplikasi ............................................................................................................... 14 Pada Ibu .......................................................................................................... 14 Pada Janin ...................................................................................................... 15 Penanganan ............................................................................................................ 15 Peran Bidan dalam Pengkajian dan Diagnosis ............................................... 15 Manajemen PEB ............................................................................................. 16

BAB III TINJAUAN KASUS ..................................................................................................... 22 BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................................................... 42 4.1 4.2 4.3 Pengkajian............................................................................................................... 42 Penegakan Diagnosa .............................................................................................. 42 Pengelolaan Persalinan .......................................................................................... 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................................... 47 5.1 5.2 Kesimpulan.............................................................................................................. 47 Saran ....................................................................................................................... 47

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. iii

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5 – 15 % penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi. Menurut SDKI terdapat sebanyak 228 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia diantaranya disebabkan oleh Pendarahan 60%, toksemia gravidarum 20%, dan infeksi 20%. (SDKI,2010). Hipertensi disebabkan selain karena etiologi yang tidak jelas juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medic dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga medik baik di pusat maupun di daerah (Sarwono, 2008) Preeklampsia terjadi pada 5-7% dari seluruh kehamilan. Trias diagnostiknya mencakuup hipertensi, proteinuri, dan edema. National High Blood Pressure Education Working Group baru saja merekomendasikan untuk meniadakan edema sebagai kriteria diagnostik karena kejadiannya seringkali ditemukan pada kehamilan normal. Frekuensi kejadian preeklampsia meningkat pada wanita muda dan nullipara. Akan tetapi distribusi frekuensinya berdasar usia bersifat bimodal, dengan peningkatan berikutnya pada wanita multipara dengan usia diatas 35 tahun. Pada wanita yang memiliki ibu dengan riwayat preeklampsia, resiko preeklampsia lebih besar dibandingkan dengan populasi wanita pada umumnya (Husnul Mubarak, 2009). Dari total 3.429 persalinan di RSUD kota Bandung pada tahun 2011, 230 kasus diantaranya adalah ibu bersalin dengan PEB, dan 3 kasus sampai menyebabkan kematian pada ibu. Peningkatan kejadian kematian akibat preeklampsia dan komplikasinya sampai saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti, sehingga belum ada kesepakatan dalam strategi pencegahan preeklampsia. Untuk itu, penulis tertarik untuk mendapatkan gambaran mengenai kasus tersebut di atas dengan melakukan asuhan pada ibu bersalin dengan preeklampsia berat.

1

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Melalukan Asuhan Kebidanan pada klien dengan Preeklampsia berat dengan pendekatan manajemen kebidanan dan mendokumentasikannya dalam bentuk SOAP. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Memahami konsep asuhan kebidanan pada preeclampsia berat. 2. Melakukan pengkajian data subjektif dan objektif fokus klien preeclampsia. 3. Interpretasi Data Dasar yang telah dikaji. 4. Menganalisa data untuk menentukan diagnosaaktual dan diagnosa potensial serta masalah potensial yang timbul pada ibu bersalin dengan preeclampsia berat. 5. Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan segera 6. Membuat rencana penatalaksanaan / asuhan yang menyeluruh 7. Melakukan asuhan kebidanan sesuai penatalaksanaan yang telah disusun 8. Melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah dilakukan.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Preeklampsia berat (PEB) adalah preeclampsia dengan tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih dari 5 g/24 jam. (Sarwono, 2008) Tanda dan gejala preeklampsia berat adalah tekanan diastol > 110 mmHg, terjadi pada kehamilan > 20 minggu, proteinurin >+3, hiperrefleksia, nyeri kepala, penglihatan kabur, oliguri, ngeri abdomen atas, dan edema paru (Saifuddin, 2010) Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. (Bobak , 2004). Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinnuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. (Sujiyatini, 2009). Preeklampsia Berat ditandai dengan tekanan darah sistol/diastol lebih dari sama dengan 160/110 mmHg, protein urin lebih dari sama dengan +3, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium. Oliguri, trombositopenia, dan edema paru (Cunningham, 2010) Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang secara spesifik hanya muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu (kecuali pada penyakit trofoblast) tidak dapat didiagnosis dengan criteria berikut : 1. Ada peningkatan tekanan darah selama kehamilan (sistol ≥140mmHg atau diastol ≥90mmHg), yang sebelumnya normal disertai proteinuria (> 0,3gr protein selama 24 jam atau ≥30mg/dl dengan hasil reagen urine ≥+1). 2. Apabila hipertensi selama kehamilan muncul tanpa proteinuria, perlu dicurigai adanya preeclampsia seiring kemajuan kehamilan, jika muncul gejala nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri pada abdomen, nilai trombosit rendah dan kadar enzim ginjal abnormal. Tanda-tanda dan gejala tersebut yang disertai tekanan darah sistolik >160mmHg atau diastolik >110mmHg dan proteinuria +2 atau +3 dengan dipstick menunjukkan bentuk penyakit yang lebih berat. (Myles Textbook).

3

Hipertensi sistolik/diastolik ≥ 140/90 mmHg. 2. 5. Eklampsia Preeclampsia yang disertai dengan kejang – kejang dan atau koma. 3. edema generalisata.2 Klasifikasi Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasaran Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressuse in Pregnancy tahun 2001. Preeklampsia Berat 4 .  Diagnosis Diagmosis preeklampsia ringan ditegakkab berdasar atas imbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema setelah kehamilan 20 minggu. Hipertensi Kronik Hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali di diagnosa setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca salin. Hipertensi kronik dengan Superimposed preeclampsia Hipertensi kronik disertai tanda – tanda preeclampsia atau hipertensi kronik dengan proteinuria. Kenaikan sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan diastolik ≥ 15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai kriteria preeklampsia.2. Preeklampsia ringan  Definisi: Suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. Priteinuria: ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1 + dipstik. Preeklampsi sendiri di Klasifikasikan lagi menjadi: 1. muka dan perut. 4. 5 2. ialah: 1. Preeklampsia Hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai proteinuria. kecuali edema pada lengan. Hipertensi gestasional Disebut juga transient hypertension merupakan hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca salin atau kehamilan dengan tanda – tanda preeklamsia tetapi tanpa proteinuria. Edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia.

Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas.3 Etiologi Penyebab Hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. muntah . preeclampsia berat dengan impending eclampsia. dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta 2. (sarwono. khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Produksi oksidan pada manusia adalah suatu proses normal. Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerima electron atau atom/molekul yang mempunyai electron yang tidak berpasangan. Teori iskemia plasenta. dan disfungsi endotel a. nyeri epigastrium.muntah. Preeclampsia berat dengan disertai gejala-gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan. dan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”. Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan (disebut juga radikal bebas). 2. 2008). radikal bebas. tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang dianggap mutlak benar. gangguan visus. Teori kelainan vaskularisasi plasenta Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada sel-sel trofoblas yang ada di lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis. dan kenaikan progresif tekanan darah. pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”. sehingga aliran darah uteroplasenta menurun. dengan akibat plasenta mengalami iskemia. karena oksidan memang dibutuhkan untuk perlindungan 5 . arteri spiralis relative mengalami vasokontriksi. Adapun klasifikasi Preeclampsia berat adalah : 1. 2. Sebagaimana dijelaskan pada teori invasi trofoblas. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah : 1. Akibatnya. preeclampsia berat tanpa impending eclampsia. Definisi Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/24 jam.

c. sedangkan antioksidan. Perubahan khas pada sel endotel kapilar glomerulus (glomerular endotheliosis). b. Disfungsi sel endotel Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak. Agregasi trombosit yang mengalami memproduksi tromboksan (TXA2) sebagai suatu vasokonstroktor kuat. Produksi oksidan (radikal bebas) dalam tubuh yang bersifat toksis. maka terjadi kerusakan sel endotel. Karena adanya radikal hidroksil dalam darah. Membran sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida lemak. Peroksida lemak selain akan merusak membrane sel. Gangguan metabolisme prostaglandin. karena salah satu fungsi sel endotel. b. bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel. karena letaknya yang langsung berhubungan dengan aliran darah dan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. yang mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. 6 .akan tinggi prostasiklin preeklamsi kadar tromboksan lebih tinggi dari kadar prostasiklin sehingga terjadi vasokonstriksi. Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan. missal vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun. selalu diimbangi dengan produksi anti oksidan.tubuh. yang kerusakannya dimulai dari membran sel endotel. c. dan Pada tromboksan. Peroksidan lemak sebagai oksidan/radikal bebas yang sangat toksis ini akan beredar diseuruh tubuh dalam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel. dengan terjadi kenaikan tekanan darah. maka dulu hipertensi dalam kehamilan disebut “toxaemia”. khususnya peroksida lemak meningkat. Agregasi sel-sel trombosit ini berfungsi untuk menutup tempat-tempat di lapisan endotel yang mengalami kerusakan. yang akan berubah menjadi peroksida lemak. Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel. adalah memproduksi prostaglandin. sehingga terjadipenurunan produksi prostasiklin (PGE2) sebagai suatu vasodilator kuat. sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak. Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan. Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel kerusakan. Dalam keadaan normal lebih perbandingan kadar kadar prostasiklin (vasodilator). Radikal hidroksil akan merusak membrane sel. Asam lemak tidak jenuh sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil. juga akan merusak nucleus. Disfungsi endotel misalnya: a. dan protein sel endotel.

c. Teori adaptasi kardiovaskular Pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kehilangan daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasokonstriktor. Adanya HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel Natural Killer (NK) ibu. di samping untuk menghadapi sel Natural Killer. terjadi penurunan ekspresi HLA-G. Pada plasenta pasien dengan hipertensi dalam kehamilan. Peningkatan faktor koagulasi.d. Hasil ini disebabkan adanya human leukocyte antigen protein G (HLA-G). yang berperan penting dalam modulasi respons imun. Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor. Selain itu. yaitu endotelin dan penurunan Kadar NO(vasodilatator). Jika dihubungkan lamanya periode hubungan seks sampai saat terjadinya kehamilan dapat disimpulkan. Kemungkinan terjadi Immune- Maladaption pada preeklamsi. b. Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin Dugaan bahwa faktor imunologik berperan terhadap terjadinya hipertensi dalam kehamilan terbukti dengan fakta sebagai berikut: a. Invasi trivoblas sangat penting agar jaringan desidua menjadi lunak dan gembur sehingga memudahkan terjadinya dilatasi arteri spiralis. Jadi HLA-G merupakan prakondisi untuk terjadinya invasi trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu. HLA-G di desidua daerah plasenta menyebabkan terhambatnya invasi trofoblas ke dalam desidua. 4. dan terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan- 7 . 3. adanya HLA-G akan mempermudah invasi sel trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu. Berkurangnya. Seks oral mempunyai risiko lebih rentan terjadinya hipertensi dalam kehamilan. respons imun tidak menolak adanya”hasil konsepsi” yang bersifat asing. f. Peningkatan permeabilitas kapiler. ternyata mempunyai proposi Helper Sel yang lebih rendah disbanding pada normotensif. sehingga si ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Primigravida mempunyai risiko lebih besar mengalami hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan multigravida. e. Pada perempuan hamil normal. Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai risiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami yang sebelumnya. HLA-G juga merangsang produksi sitikon. makin lama periode ini maka makin kecil kejadian hipertensi dalam kehamilan. sehingga memudahkan terjadinya reaksi inflamasi.

dan mencegah vasokontriksi pembuluh darah. Artinya daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahanbahan vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester I (pertama). Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan. menghambat aktivasi trombosit. Teori defisiensi gizi Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan perang menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan. kasus yang mengalami preeklamsi adalah 14% sedang diberi glukosa 17%. Prostaglandin ini di kemudian hari ternyata adalah prostasiklin. Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi tromboksan. termasuk minyak hati halibut dapat mengurangi risiko preeclampsia. Penelitian di Negara Equador Andes dengan metode uji klinik ganda tersamar dengan mebandingkan pemberian kalsium dan placebo. Hasil sementara menunjukkan bahwa penelitian ini berhasil baik dan mungkin dapat dipakai sebagai alternative pemberian aspirin.Pada kehamilan normal terjadinya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor adalah akibat dilindungi oleh adanya sintesis prostaglandin pada sel endotel pembuluh darah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu hamil yang diberi suplemen kalsium cukup. Pada kehamilan normal. Beberapa peneliti juga menganggap bahwa defisiensi kalsium pada diet perempuan hamil mengakibatkan risiko terjadinya preeklamsi/eklamsia. sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh minggu. 6.bahan vasopresor. Penelitian penting yang pernah dilakukan di inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet pada preeklampsia beberapa waktu sebelum pecahnya Perang Dunia ke II. 8 . 5. Teori inflamasi Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Hal ini dibuktikan bahwa adanya refrakter terhadap bahan vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sintesa inhibitor (bahan yang menghambat produksi prostaglandin). Beberapa peneliti telah mencoba melakukan uji klinik untuk memakai konsumsi minyak ikan atau bahan yang mengandung asam lemak tak jenuh dalam mencegah preeklamsi. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

mengakibatkan “aktivasi leukosit yang sangat tinggi” pada sirkulasi ibu. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan proteinuria. Redman. sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik trofoblas juga meningkat. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin. dibanding reaksi inflamsi pada kehamilan normal. misalnya pada plasenta besar. dan sel-sel makrofag/granulosit. pada hamil ganda. Telah terbukti bahwa pada ibu yang mengalami preeklamsi. 26% anak perempuannya akan mengalami preeklamsi. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi inflamasi dalam darah ibu menjadi jauh lebih besar. Peningkatan 9 . Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Berbeda dengan proses apoptosis pada preeklampsia. menyatakan bahwa disfungsi endotel pada preeklamsi akibat produksi debris trofoblas plasenta berlebihan tersebut di atas. yang lebih besar pula. Respons inflamasi ini akan mengaktifasi sel endotel. dimana pada preeklampsia terjadi peningkatan stresoksidatif. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. maka reaksi stress oksidatif akan sangat meningkat. sehingga jumlah sisa debris trofoblas juga makin meningkat.jumlah debris trofoblas masih dalam batas wajar. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskular. sehingga reaksi inflamasi juga msih dalam batas normal. tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. 2003). sedangkan hanya 8% anak menantu mengalami preeklampsia.4 Patofisiologi Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunningham. meningkatnya cardiac output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Teori Genetik Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. sehingga terjadi reaksi sistemik inflamasi yang menimbulkan gejalagejala pada preeklampsia pada ibu. Makin banyak sel trofoblas plasenta. Peristiwa ini oleh Redman disebut sebagai “kekacauan adaptasi dari proses inflamasi intravascular pada kehamilan” yang biasanya berlangsung normal dan menyeluruh. 2. 7. Genotype ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotype janin.

Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi. Jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita preeklampsia dan eklampsia daripada pada wanita hamil biasa atau penderita dengan hipertensi kronik. dan aktivasi endotel disertai ekstravasasi ke dalam ruang ektravaskular terutama paru (Cunningham. dan protein tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia. 2005). dan ambliopia. 2005 ). E. Penderita preeklampsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan.hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trombositopeni. Otak Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri. C. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan preedaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di dalam retina (Rustam. Selain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael. pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan (Trijatmo. Uterus 10 . dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal (Trijatmo. Mata Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Perubahan kardiovaskuler Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklampsia dan eklampsia. sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. natrium. Perubahan pada organ-organ: A. kristaloid. Konsentrasi kalium. diplopia. 2003) B. Elektrolit. Metabolisme air dan elektrolit Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui penyebabnya. 2005). 1998). Gejala lain yang menunjukan tanda preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma. preload jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik atau kristaloid intravena. D.

F. Kadang-kadang sukar untuk menentukan gejala preeklampsia mana yang timbul lebih dulu. sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urtan diatas dapat dianggap bukan preeklampsia.5 Gambaran Klinik Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat bervariasi luas dan sangat individual. Dari semua gejala tersebut. 2. sehingga terjadi partus prematur. Bisa juga karena terjadinya aspirasi pneumonia. Paru-paru Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Namun. 11 . gangguan penglihatan. maka penyakit ini sudah cukup lanjut. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan. Secara teoritik urutan gejala-gejala yang timbul pada preeklampsia ialah edema.Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta. sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. timbulnya hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang sangat penting. dan terakhir proteinuria. 1998). sanyangnya penserita sering kali tidak merasakan perubahan ini. Bila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepal. atau abses paru (Rustam. atau nyeri epigastrium. hipertensi.

2. 2002 12 .6 Diagnosis Gejala dan tanda yang selalu ada  Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan ˂ 20 minggu    Tekanan diastolik mmHg Proteinuria <+ 2 90-110 Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada Diagnosis kemungkinan Hipertensi kronik Hipertensi kronik dengan superimpossed preeklamsia ringan    Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ˃ 20 minggu atau 48 jam setelah kehamilan Proteinuria – (negatif) Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ˃ 20 minggu Proteinuria sampai +2 - Hiperrtensi kehamilan dalam   Preeklamsia ringan   Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan ˃ 20  minggu  Proteinuria ≥ +3   Kejang  Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg  pada kehamilan ˃ 20 minggu Proteinuria ≥ + 2 Hiperrefleksia Nyeri kepala (tidak hilang dengan analgetik biasa) Penglihatan kabur Oliguria (˂400 ml / 24 jam) Nyeri abdomen atas (epigastrium) Edeama paru Koma Sama seperti preeklamsia berat Preeklamsia berat    Eklamsi Buku Panduan Praktis Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. saifudin.

4. Proteinuria > 5 g / 24 jam atau +4 dalam pemeriksaan kualitatif. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson). 10. 2. nyeri kepala. 1. Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular): peningkatan kadar alanin dan aspirate aminotransferase. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan tambahan ynag diperlukan untuk penegakan diagnosa adalah:  Darah rutin  Eritrosit Leukosit Trombosis Hb LED Fungsi hati SGOT/SGPT Bilirubin Protein serum Aspartat aminotransferase  Fungsi Ginjal Ureum kreatinin  Rontgen atau CT_scan otak : untuk mengetahui sudah terdapat edema atau tidak. 12. 6. Sindrom HELLP. Kenaikan kadar kreatini plasma. Tekanan darah tidak akan menurun meskipun ibu sudah dirawat di RS dan sudah menjalani tirah baring. Oliguria. Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran. Hemolisis mikroangiopatik. 11. 7. 13 . yaitu produksi urin < 500 cc / 24 jam. 9. 8. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg. Edema paru-paru dan sianosis.Preeklampsia digolongkan PEB bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut. Trombositopenia berat: < 100. skotoma dan pandangan kabur. 5. Pertumbuhan janin intra uterin terhambat. 3.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan cepat.

edema serebri. Menurut sarwono prawirohardjo. Edema paru-paru. dan kematian janin intra uterin. thrombosis vena sentral. Gastrointestinal hepatic : rupture kapsul hepar 14 . Sindrom HELLP (Haemolysis. Kadang-kadang dapat terjadi perdarahan pada retina.2.1 Pada Ibu a. Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada pre-eklamsi berat : 1. hal ini merupakan tanda gawat akan terjadi apopleksi serebri 5. hipertensi ensefalopati. dismaturitas. macular atau retina detachment dan kebutaan korteks b. 2. edema retina. Elevated Liver enzymes. Hipofibrinogenemia 3. Nekrosis hepar Nekrosis periportal hepar pada pre-eklamsi dan eklamsi merupakan akibat dari vasospasme arteriola sistemik 8.7. Prematuritas (karena berkurangnya aliran darah ke plasenta).7 Komplikasi Komplikasi terberat dari pre-eklamsi adalah kematian ibu dan janin. yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotel tubulus ginjal tanpa adanya kelainan struktur lainnya. Kelainan mata Kehilangan penglihatan untuk sementara dapat berlangsung selama seminggu. Kelainan lain yang dapat timbul adalah anuria sampai dengan gagal ginjal 10. Dapat terjadi karena adanya payah jantung 7. penyulit yang mungkin terjadi pada pasien maupun janin dengan ibu preeclampsia berat adalah: 2. Belum diketahui pasti apakah hal ini merupakan kerusakan sel-sel hepar atau destruksi sel-sel darah. and Low Platelet) 9. Kelainan ginjal Berupa endoteliosis glomerulus. Hemolisis Penderita dengan pre-eklamsi berat kadang akan menunjukkan gejala klinis hemolisis yang dikenal dengan ikterus. 6. Solusio plasenta Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklamsi. 4. Sistem saraf pusat Perdarahan intracranial.

Pengkajian riwayat kesehatan yang komprehensif saat pemeriksaan pertama akan mengidentifikasi : 1. Ginjal : gagal ginjal akut.8 Penanganan 2. Prematuritas d. Asites g. kardiak arrest. nekrosis tubular akut : DIC. Standar asuhan antenatal yang tinggi berperan dalam mempertahankan kesehatan yang optimal. Sepsis g. thrombosis vena sentral. 2001). hipertensi ensefalopati b. diabetes dan gangguan tromboembolisme. 6. Intrauterine fetal growth restriction (IUGR) c. 5. Bidan berada dalam posisi unik untuk mengidentifikasi mereka yang rentan terhadap pre-eklampsia.c. Perdarahan intracranial. Kardiopulmonal : edema paru kardiogenik. 3. depresi atau arrest pernafasan. Keadaan sosial yang buruk atau kemiskinan yang dapat menghambat ibu dalam melakukan pemeriksaan rutin antenatal 2. Usia dan paritas ibu Primipaternitas dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pasangan Adanya riwayat gangguan hipertensif dalam keluarga Riwayat preeklamsi terdahulu Adanya gangguan medis lain misalnya penyakit ginjal. Dua gambaran utama preeklamsia yaitu 15 . Hematologi e. Pada pemeriksaan berikutnya bidan harus mencatat semua faktor risiko yang terkait dengan kehamilan seperti kehamilan kembar.8. iskemia miokardium f. Oedema laring h. Kematian janin intrauterine (IUFD) f. Hipertensi yang tidak terkendali 2. trombositopenia d. Cerebral palsy 2.2 Pada Janin a.1 Peran Bidan dalam Pengkajian dan Diagnosis Gangguan hipertensif cenderung tidak dapat dicegah sehingga deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat dapat meminimalkan keparahan penyakit tersebut (Decker and sibai. Sindroma distress nafas e. 4.7.

diagnosis biasanya ditetapkan berdasarkan peningkatan tekanan darah dan adanya proteinuri setelah usia gestasi 20 minggu. Kalsium dan magnesium tersebut bersifat kompetitif dan harus seimbang dalam tubuh.8. Kalsium yang tinggi dalam darah dapat menghambat MgSO4. Refleks patella (+) kuat 3. 2008:547) Syarat pemberian MgSO4 1. MgSO4 tersebut tidak menimbulkan depresi susunan syaraf pusat ibu dan janin dengan mempertahankan aliran darah ke uterus dan aliran darah ke fetus. yaitu Kalsium Glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc) diberikan iv selama 3 menit 2. Sikap terhadap penyakitnya yaitu: pemberian obat – obatan atau terapi medisinalis. MgSO4 menggeser kalsium . Maintenance dose Diberikan 4 g im setelah 6 jam pemberian loading dose. (Sarwono. Frekuensi pernapasan > 16 kali per menit 16 . Transmisi Neuromuskular tersebut membutuhkan kalsium pada sinaps. MgSO4 bekerja menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin (penghantar rangsangan saraf) dengan menghambat transmisi neuromuscular. 4 g di bokong kiri dan 4 g di bokong kanan B. Pengelolaan mencakup pencegahan kejang. Harus tersedia antidotum MgSO4. MgSO4 juga memiliki efek antihipertensi. Cara pemberian MgSO4 : A. pengelolaan cairan. 2. Selanjutnya maintenance dose diberikan 4 g Im tiap 6 jam. pelayanan supportif terhadap penyulit organ yang terlibat dan saat yang tepat untuk persalinan. pengobatan hipertensi. Obat anti kejang yang diberikan adalah MgSO4. Contoh obat-obat lain yang dapat digunakan untuk anti kejang adalah diazepam. sehingga tidak ada aliran rangsangan. fenitoin.2 Manajemen PEB Manajemen PEB sama halnya dengan manajemen PER. Loading dose 2 gram MgSO4 intravena (40% dalam 10 cc) kecepatan 1 g/menit (kemasan 40% dalam 25 cc larutan MgSO4). dibagi menjadi dua unsure: A.hipertensi dan proteinuria dikaji secara rutin selama kehamilan.

refleks fisiologismenurun. Obat antihipertensi yang diberikan nifedipin 3 x 10 mg. Produksi urin >100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. Tekanan darah sistolik > 180 mmHg.Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. c. e. Aktif (Aggressive management) yang berarti kehamilan segera diakhiri atau diterminasi bersamaan dengan pemberian pengobatan medikamentosa. Hentikan pemberian magnesium sulfat Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalamwaktu 3 menit. b. kelumpuhan dan selanjutnyadapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernapasankarena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. diastolik > 110 mmHg b. Payah jantung kongestif 3. Perawatan dilakukan bersama dengan bagian penyakit jantung. Jenis kardiotonika yang diberikan ialah Cedilanid d.5 cc/kg BB/jam) MgSO4 dihentikan bila Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot. maka sikap terhadap kehamilannya dibagi menjadi: 1. B. Kardiotonik diberikan bila ada tanda menjurus payah jantung. depresi SSP. Diuretikum diberikan bila ada 1. c. Berikan oksigen Lakukan pernapasan buatan. Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala – gejala preeclampsia berat selama perawatan. Kadar 12-15 mEqterjadi kelumpuhan otot-otot pernapasan dan lebih 15 mEq/liter terjadi kematian jantung. 17 . d. fungsi jantung terganggu.4. hipotensi. Edema anasarka Antihipertensi diberikan bila a. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 24 jam pasca persalinan sudahterjadi perbaikan (normotensif). Edema paru 2. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat: a. Sikap terhadap kehamilannya yaitu: Berdasarkan William Obstetrics.

Lockwood dan Paidas mengambil batasan > 37 minggu untuk PER dan ≥ 37 minggu untuk PEB. 18 . hipertensi ensefalopati. Klien dapat dipulangkan bila penderita kembali ke gejala – gejala PER. Konservatife (expectative management) yang berarti kehamilan tetap b. sikap terhadap kehamilannya ialah hanya observasi dan evaluasi. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan. thrombosis vena. Pengobatan yang diberikan sama dengan medikamentosa pada pengelolaan aktif. Ibu          c.Indikasi perawatan aktif ialah: a. apakah sudah inpartu atau belum. keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medikamentosa dan kehamilan harus di terminasi.  Umur kehamilan ≥ 37 minggu. Janin Laboratorik dipertahankan bersamaan dengan pemberian pengobatan medikamentosa.s Adanya tanda – tanda fetal distress Adanya tanda – tanda Intra Uterine Growth retriction (IUGR) NST non reaktif dengan profil biofisik abnormal Terjadinya oligohidramnion Adanya tanda – tanda HELLP’s Syndrome khususnya penurunan trombosit yang cepat Cara mengakhiri kehamilan (terminasi kehamilan) dilakukan berdasarkan keadaan obstetrik pada waktu itu. edema selebri. 2. selambat – lambatnya dalam waktu 24 jam. macular atau retina detachment dan kebutaan korteks. Adanya tanda dan gejala Impending Eclampsia Kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu keadaan klinik dan laboratorik memburuk Diduga terjadi solusio plasenta Timbul onset persalinan. Indikasi perawatan konservatif adalah bila kehamilan preterm ≤ 37 minggu tanpa disertai Impending eclampsia dengan keadaan janin baik. edema retina. Penyulit Ibu  System saraf pusat Perdarahan intracranial. a. Selama perawatan konservatif.Magnesium Sulfat dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda – tanda preeclampsia ringan (PER). sama seperti pengelolaan aktif namun kehamilan tidak diterminasi. ketuban pecah atau perdarahan.

trombositopenia dan hematoma luka operasi. edema laring. Penyulit Janin Intrauterine fetal growth retriction (IUGR). dengan pemantauan ketat terhadap keadaan ibu dan janinnya dan dilakukan terminasi kehamilan. iskemia miokardium. Ginjal: gagal ginjal akut.     Gastrointestinal –hepatik : subskapular hematoma hepar. kematian neonatal akibat perdarahan intraventrikular. sindroma distress napas. solusio plasenta. nekrosis tubular akut. prematuritas. b. 19 . cerebral palsy. intra uterine fetal death (IUFD). kardiak arrest. necrotizing enterocolitis. dll. Setiap pasien PEB harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan mendapat terapi antikonvulsan profilaksis. rupture kapsula hepar. sepsis. depresi atau arrest pernafasan. Lain – lain: asites. Hematologic: DIC. Di ruang bersalin RSUD kota Bandung sendiri. Kardiopulmonar: edema paru kardiogenik atau nonkardiogenik. hipertensi yang tidak terkendali.

Revisi Halaman Tanggal terbit : 02. Lakukan pemeriksaan laboratorium darah (Hb. PN. Lakukan pemeriksaaan penunjang USG untuk memastikan umur kehamilan. L. Bila kehamilan preterm atau aterm lakukan induksi persalinan dengan memerhatikan keadaan ibu dan janin serta keadaan serviks 12. 4. berikan terapi antihipertensi sublingual / peroral.341 : 00 :1–3 : 01 – 11 – 2010 PEB adalah keadaan meningkatnya tekanan darah ≥ 160/110 mmHg pada seorang wanita hamil > 22 minggu disertai adanya proteinuria Untuk memberikan terapi pada pasien PEB sehingga mencegah terjadinya kejang Setiap pasien PEB harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan mendapat terapi antikonvulsan profilaksis. nifedivin obat terpilih 3 x 10 mg 10. jelaskan pada pasien dan keluarganya tentang keadaan kehamilannya serta penyulit yang mungkin timbul. 5. trombosit) fungsi ginjal (ureum. 2010 20 . 3. dengan pemantauan ketat terhadap keadaan ibu dan janinnya dan dilakukan terminasi kehamilan 1. 2. Pasang infuse jaga dan kateter 8. tinggi fundus uteri. Lakukan pemantauan ketat terhadap ibu dan janin 11. kreatinin) 6. nyeri ulu hati dan nyeri kepala. riwayat hipertensi sesudah dan sebelum kehamilan. 7. Apabila induksi tidak berhasil.01. riwayat obstetric yang lalu. Lakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui keadaan umum ibu.Penanganan PEB berdasarkan prosedur tetap PEB RSUD kota Bandung No Dokumen No. Pastikan pasien dan keluarganya mengerti tentang hal yang dijelaskan serta beritahu bahwa pasien harus dirawat inap di rumah sakit. keadaan janin dan plasenta. Pasien datang untuk memeriksakan kehamilannya di poliklinik antenatal. dilakukan secsio caesarea Dokter spesialis obstetric dan ginekologi Dokter spesialis anak Bidan poli antenatal Bidan ruang bersalin Perawat ruang nifas Perawat perinatologi PENGERTIAN TUJUAN KEBIJAKAN PROSEDUR UNIT TERKAIT Sumber: Standar Prosedur Operasional RSUD Kota Bandung.01. Lakukan anamnesis lengkap meliputi paripatas. riwayat haid. Setelah diagnosis PEB ditegakan. Bila tekanan darah ≥ 180/110 mmHg. Berikan terapi antikonvulsan MgSO4 20% 4 gram IV perlahan dilanjutkan maintenance therapy MgSO4 40% 10 gram dalam larutan 500 ml 16 – 17 gtt/menit 9. keadaan dan letak janin serta adanya kontraksi rahim.

Kecepatan tetesan 1 gram/jam (16 – 17 gtt / menit Dilanjutkan sampai 24 jam setelah kejang terakhir atau persalinan. Sebaiknya 10 – 15 menit MAINTENANCE THERAPI MgSO4 40% (10 gr) / 25 cc dalam 500 cc normal salin. 21 .ALUR PEMBERIAN MgSO4 PADA PASIEN PEB DAN EKLAMPSIA DI RSUD KOTA BANDUNG REGIMEN IV MgSO4 PADA PEB DAN EKLAMPSIA LOADING DOSE: MgSO4 20% (4 gram) / 20 cc IV IV perlahan tidak kurang dari 5 menit. IV infuse. Dosis ulangan kejang berulang 2 gr MgSO4 IV perlahan selama 5 menit.

HPHT c. Ibu mengatakan sakit kepala dan bidan sudah memberikan obat penurun tekanan darah. E. Riwayat kehamilan sekarang a. Usia kehamilan e. Kontak Ny. Gerakan janin f. Identitas Istri Nama Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat No.00 WIB : Ruang VK – RSUD Kota Bandung : Rina Desi Ratnasari A. mengeluh mulas – mulas sejak 6 jam yang lalu. G. Status b. Registrasi Tanggal Jam Tempat Pengkajian Nama Pengkaji : 614064 : 08 – 11 . Data Subjektif A. C. N 26 tahun Islam Sunda SMA Karyawan Swasta B.2012 : 10. Hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi sejak usia kehamilan 36 – 37 minggu dan d. Ibu mengaku sudah keluar lendir campur darah dari jalan lahir dan belum keluar air – air. Riwayat ANC kenaikan tekanan darah 22 .BAB III TINJAUAN KASUS DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN No. TP : G1 P0 A0 : 03 – 02 – 2012 : 10 – 11 – 2012 : 39 – 40 minggu : Terasa seperti biasanya : di bidan sebanyak 10 kali. 26 tahun Islam Sunda SMA Tidak Bekerja Ranca Sawo 089656xxxxxx Suami Tn. Keluhan: ibu merasa hamil 9 bulan.

D. kesadaran Compos Mentis. Keadaan Umum B. Hasil pemeriksaan dalam v/v tidak ada kelainan. Ibu juga mengaku memiliki penyakit keturunan Hiepertensi dari ibu kandung. Hasil pemeriksaan di UGD TD 120/90 mmHg. Mata D. portio tipis lunak. 20 WIB dirujuk dari bidan D dengan alasan Preeklampsi berat (hipertensi disertai protein urin +2). dll. infeksi kelamin. Tindakkan yang sudah diberikan di UGD adalah therapy loading dose MgSO4 20%. Istirahat sejak semalam. ketuban (+) presentasi kepala. Asma. : Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu C. penurunan kepala di statsion 0. Eliminasi : jam 06. Tanda Vital : baik. alergi. Ginjal. Ibu sering sakit kepala dan bengkak di kaki. Pemenuhan kebutuhan dasar a. Ibu hanya makan bubur. Pengkajian jam 10.00 WIB A. E. d. dll.terdapat protein urin +3 dan mengalami penurunan menjadi +1 saat diukur 1 minggu kemudian. pembukaan 2 – 3 cm. Diabetes. Abdomen : 130 / 110 mmHg : 87 x / menit : 22 x / menit : 36. Asma. dan tidak ada riwayat keturunan penyakit lain seperti Jantung.6 C o : Sklera putih dan konjungtiva merah muda. Pemeriksaan lab protein urin +2. TFU 32 cm dan BJA 142 x / menit. Ibu juga mengatakan memiliki riwayat gemeli dari pihak ibu sendiri. Data Objektif Ibu datang ke UGD RSUD Kota Bandung jam 09. : 5 menit yang lalu. maintenance dose RL + MgSO4 40% dan pemasangan kateter. : 23 . Selain itu ibu tidak pernah mengalami penyakit lain seperti Jantung. TBC.30 WIB. Riwayat Kesehatan Ibu mengalami tekanan darah tinggi sejak kehamilan 8 bulan. Makan terakhir b. : ibu BAB terakhir 5 hari yang lalu dan untuk BAK ibu di : ibu mengaku kurang tidur karena merasa mulas – mulas pasang selang kencing (Dower Cateter). B. Jumlah urin dalam urine bag: 100 cc. Diabetes. Ibu di diagnose G1 P0 A0 parturient aterm kala 1 fase laten dengan PEB. Minum terakhir c.

E.40 detik. kecepatan tetesan 16 gtt/menit 24 . PENATALAKSANAAN 1. Pemeriksaan penunjang Protein urin +2 III. (Bokong). Kolaborasi dengan dokter untuk rencana pengelolaan pasien Ev: infuse dan kateter. agak bundar dan tidak melenting. G. Memantau tetesan infuse Maintenance dose MgSO4 40 %. Kebutuhan : kolaborasi dengan dokter IV. MgSO4. Menjelaskan hasil pemeriksaan Ev: ibu mengerti penjelasan tersebut. : 3 x dalam 10 menit selama 20 . tidak ada varises F. R/ partus pervaginam dan observasi KU. : (35 – 12) x 155 = 3565 gram. metildopa 3 x 250 mg. BJA dan TTV 3. : teraba tahanan besar di sebelah kiri ibu dan teraba bagian kecil di sebelah kanan ibu (Puki). Terpasang infus RL + MgSO4 20% pada tangan kiri dengan kecepatan 16 gtt / menit. Regular. Atas : tidak terdapat oedema. 2.- Inspeksi : tidak terdapat luka bekas operasi. Bawah : terdapat Oedema + / +. Ekstremitas a. (kepala) sudah masuk PAP. Leopold IV : sejajar Perlimaan : 2/5 DJJ His TBJ : 149 x / menit. janin hidup Antisipasi Diagnosa potensial: antisipasi terjadinya Eklampsia dan gawat janin. b. Leopold III : teraba keras. bundar dan tidak melenting. Genetalia Tidak dilakukan pemeriksaan dalam karena sebelumnya sudah diperiksa di UGD dan masih fase laten. Palpasi TFU Leopold I Leopold II : 35 cm : teraba lunak. ANALISA G1 PO A0 inpartu kala 1 fase laten dengan PEB.

Memberikan pain relief lalu mengajarkannya pada keluarga untuk melakukannya.30 150 x/menit. 6. regular 11. regular 10.00 144 x/menit. Menganjurkan ibu agar miring kiri Ev: ibu dapat melakukannya. Ev: ibu merasa lebih nyaman. > 40 detik 87 x/menit 23x/menit 88 x/menit 22x/menit 84 x/menit 22x/menit Nadi 87x/menit Respirasi 20x/menit Urine - 25 . 7.30 138 x/menit. 20 – 40 detik 3 x/10 menit.4. 5. regular His 3 x/10 menit.00 DJJ 149x/menit. regular 11. > 40 detik 3 x/10 menit. His dan nadi ibu setiap 1 jam Ev: terpantau dalam batas normal Waktu 10. Pemeriksaan DJJ Ev: DJJ terpantau normal dan reguler. 20 – 40 detik 3 x/10 menit. Observasi DJJ.

Menganjurkan keluarga untuk melakukan pain relief. DATA SUBJEKTIF Ibu merasa mulas yang semakin sering. Reguler : 3 x 10 menit . Ev: ibu merasa lebih nyaman. Tidak teraba molase. 3. PENATALAKSANAAN 1. Ev: ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan.KALA I FASE AKTIFJAM 11. Ibu merasa ingin mengedan. Jumlah 100 cc. penurunan kepala station 0. d. ANALISA G1 P0 A0 Inpartu aterm kala I fase aktif dengan PEB.6 C 0 Pemeriksaan dalam jam 11. > 40 detik III. His dan nadi . DATA OBJEKTIF a. urin dan reflex patella setiap 30 menit Ev: hasil dalam batas normal. janin hidup. ketuban +. TTV c. Menganjurkan ibu agar miring kiri Ev: ibu dapat melakukannya. Observasi DJJ. Memantau tetesan infuse Maintenan dose MgSO4 40 % Ev: kecepatan tetesan 16 gtt / menit 4. presentasi kepala. Portio tipis lunak. kesadaran Vompos Mentis b. II. Ev: urin berwarna kekuningan. 5. Terlampir pada partograf 26 . terdapat pengeluaran lender campur darah dari jalan lahir. Pemantauan input cairan dan output cairan. Kebutuhan : kolaborasi dengan dokter IV. DJJ e. : TD: 130/100 mmHg N: 87 x / menit R: 20 x / menit S: 36. Vulva / vagina tidak ada kelainan. respirasi. ubun – ubun kecil di kiri depan.40 WIB Terpasang DC. pembukaan 6 – 7 cm. kuat dan teratur. 6. 2. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa ibu belum boleh mengedan. Antisipasi Diagnosa potensial: antisipasi terjadinya Eklampsia dan gawat janin.40 WIB I. Keadaan umum: baik. His : 149 x / menit .

reguler : 4 x / 10 menit selama > 40 detik. tekanan pada anus. DJJ b. Antisipasi Diagnosa potensial: antisipasi terjadinya Eklampsia dan gawat janin. PENATALAKSANAAN 1. Jam 11. Reguler 5. ubun – ubun kecil di anterior. Ev: cairan ketuban hijau 3. Melakukan pemeriksaan DJJ Ev: DJJ 130 x / menit. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu Ev: ibu hanya mau minum teh manis 10. Pemeriksaan Dalam: Vulva / vagina tidak ada kelainan. Memantau tetesan infuse Maintenan dose MgSO4 40 % Ev: kecepatan tetesan 16 gtt / menit 4. Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan istirahat Ev: ibu dapat melakukannya 9.KALA II JAM 14. station +1. ketuban +. Melakukan amniotomi. IV. a. Pemantauan ketat DJJ Ev: DJJ normal dan Reguler 27 . ANALISA G1 P0 A0 Inpartu aterm kala II dengan PEB.10 WIB I. DATA SUBJEKTIF ibu mengeluh merasa sangat mulas seperti akan BAB dan tidak kuat ingin mengedan. Mengajarkan cara mengedan yang efektif Ev: ibu sulit mengikuti 7. portio tidak teraba. penurunan di hodge IV. janin hidup. Kebutuhan : kolaborasi dengan dokter : 138 x / menit . tidak teraba molase. pembukaan 10 cm. Ev: bayi tidak lahir setelah ibu dipimpin selama 60 menit 8. Ev: ibu mengerti dan mengedan saat ada mulas. presentasi kepala. 6. His III. Memberitahu ibu bahwa ibu sudah boleh mengedan. DATA OBJEKTIF Inspeksi: terdapat Dorongan meneran. Mepersiapkan alat dan mempersiapkan diri 2. vulva dan anus membuka. perineum menonjol.40 WIB Melakukan pimpinan persalinan. II. jam 14.10 WIB.

Melakukan masase fundus uteri Ev: kontraksi uterus baik 6. Ev: tampak tali pusat memanjang 4. Ev: lakukan tindakan Vacum extraksi atas indikasi waktu 13. Tidak ada janin kedua serta kandung kemih kosong. PENATALAKSANAAN 1. Menyiapkan alat VE dan persiapan episiotomi Ev: dilakukan 15. Membantu melahirkan plasenta Ev: Jam 16.05 WIB I. ANALISA P1 A0 kala III dengan PEB Antisipasi Diagnosa potensial: antisipasi terjadinya Eklampsia Kebutuhan : kolaborasi dengan dokter IV. KALA III 16. Melakukan pimpinan persalinan kembali setelah ibu istirahat selama 20 menit Ev: bayi belum lahir setelah ibu dipimpin mengedan selama 10 menit. Ev: bayi menangis spontan. 12. Melakukan penegangan tali pusat terkendali. Ev: bayi lahir jam 16. Melakukan pemotong tali pusat dan penanganan awal BBL. III. Memantau tetesan infuse Maintenan dose MgSO4 40 % Ev: kecepatan tetesan 16 gtt / menit 2. 16. Mengecek kelengkapan plasenta Ev: selaput dan kotiledon lengkap 28 . Menjelaskan hasil pemeriksaan dan Memberitahukan ibu akan disuntiks Ev: menyuntikan oksitosin 10 IU secara IM di anterolateral paha kanan ibu. DATA OBJEKTIF TFU Sepusat dan teraba keras.20 WIB plasenta lahir spontan 5. Kolaborasi tindakan persalinan dengan obgyn. 3. DATA SUBJEKTIF Ibu masih merasa sedikit mulas II.11. Membantu dokter melakukan VE.05 WIB dngan lilitan tali pusat dan tidak langsung menangis. Informed consent untuk tindakkan Vacum extraksi pada ibu dan keluarga Ev: ibu dan keluarga setuju dilakukan tindakkan vacuum extraksi 14.

9. Kandung kemih E. urin yang tertampung dalam urin bag 200 cc : tampak luka episiotomy. Kontraksi uterus C. kesadaran compos mentis B. DATA OBJEKTIF A. PENATALAKSANAAN 1. II. Ekstremitas atas : terpasang infuse RL + MgSO4 ditangan kiri : baik : sepusat : kosong. Kebutuhan : Kolaborasi dokter IV. perdarahan aktif dan tampak III. DATA SUBJEKTIF Ibu merasa lelah namun senang setelah berhasil melahirkan. Genetalia robekan portio. Memeriksa tetesan MgSO4 29 . Menganjurkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu Ev: keluarga mengerti 10. Menjahit luka perineum Ev: perdarahan berhenti 6. Menjelaskan hasil pemeriksaan Ev: ibu mengerti dengan penjelasan tersebut 2. Memeriksakontraksi uterus Ev: kontraksi uterus baik 7. Mengajarkan ibu cara masase fundus uteri Ev: ibu mengerti dan dapat melakukannya 8. Memberikan anestesi lidokain 1% pada perineum Ev: ibu tidak merasakan sakit saat di cek dengan ujung jarum 5. Pemasangan infuse RL di tangan kanan ibu. Membersihkan ibu dan membantu ibu mengganti pakaian Ev: ibu merasa lebih nyaman. TFU D. Ev: infuse terpasang dengan tetesan cepat 3. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk penjahitan portio Ev: perdarahan dari portio berhenti. Keadaan umum : baik. ANALISA P1 A0 kala IV dengan PEB dan laserasi perineum derajat 2 Antisipasi Diagnose potensial: antisipasi eklampsia dan perdarahan. F. 4.KALA IV I.

Ev: MgSO4 40 % dengan kecepatan 16 gtt / menit 11. Monitoring intake dan output cairan Ev: ibu minum ± 250 ml dan urin yang tertampung 200 cc 12. Observasi kala IV Ev: hasil terlampir pada partograf 30 .

BB 3420 gram dan PB: 52 cm. Kesadaran Compos mentis : ibu masih belum berani banyak bergerak. Nutrisi : ibu terakhir makan jam 07. Penolong e. Keadaan umum     : Baik.05 WIB : persalinan dengan alat bantu Vakum atas indikasi waktu. Istirahat : ibu minum ± 1 Liter. Jenis : R. C. II. b. e. Pemeriksaan tanda-tanda vital TD : 120/70 mmHg N R S : 78 x/menit : 21 x/menit : 36. urin yang tertampung berwarna d.hari a.30 WIB : R. Penyulit f. Keluhan : ibu tidak merasakan keluhan apapun B. urin sedikit karena ibu baru membuangnya. Riwayat Persalinan a. 09 November 2012 : 10. B. Tanggal / Jam c. : kurang karena semalam ibu demam.00 WIB. Keadaan bayi saat lahir: bayi perempuan lahir tidk langsung menangis. Wajah : tidak pucat dan tidak ada oedema 31 . Aktivitas D.9 C 0 C. Hidrasi c.ASUHAN POST PARTUM 1 HARI No Register Hari/tanggal Waktu Pemberian Asuhan Tempat Pengkajian Nama Pengkaji : 614064 : Jum’at. DATA OBJEKTIF A. Aktivitas sehari . bersalin RSUD kota Bandung : 08 – 11 – 2012 / 16. DATA SUBJEKTIF A. : BAK : ibu dipasang kateter. Nifas – RSUD Kota Bandung : Rina Desi Ratnasari I. Tempat b. Eliminasi kekuningan. Riwayat Laktasi ibu baru dirawat gabung dengan bayinya dan baru 1 kali menyusui. : Dokter : PEB d. Ibu belum BAB sejak 6 hari yang lalu. ibu menghabiskan porsi makannya dan mengaku nafsu makannya sudah kembali.

Lokhea c. Abdomen : TFU 2 jari bawah pusat. lengan kiri terpasang infus RL+ MgSO4 d. Mata E. Mengajarkan posisi menyusui yang baik dan konseling ASI eksklusif Ev: dapat megaplikasikannya 6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic Ev: ibu diberikan metronidazole dengan tetesan cepat 7. tidakteraba masa atau benjolan pada kedua payudara. lengan kanan terpasang infus RL 500 cc + oksitosin 20 IU. F. Ekstremitas atas (maintenance dose). PENATALAKSANAAN 1. vulva b. Genitalia a. Menjelaskan bahwa jahitan tidak akan lepas karena ibu bergerak. : : tidak ada varices dan tanda-tandaIMS : Rubra Perdarahan : ± 50 cc. terdapat pengeluaran kolostrum. Kandung kemih kosong. 3. 32 . kontraksi baik dan diastasis recti 2 jari sempit. I. keadaan luka H. tidak terdapat oedema. Memeriksa tetesan MgSO4 Ev: MgSO4 40 % dengan kecepatan 16 gtt / menit 5. Memotivasi ibu untuk ambulasi dini Ev: ibu mengerti namun takut jika jahitan lepas jika bergerak. : tidak ada oedema.D. Ekstremitas bawah: terdapat oedema dan varices ANALISA P1 A0 postpartum 1 hari dengan PEB Antisipasi Diagnose potensial: antisipasi terjadinya Eklampsia dan infeksi puerpuralis Masalah : ibu malas untuk mobilisasi Antisipasi segera: motivasi ibu untuk mobilisasi dini. IV. Menganjurkan agar ibu ikut tidur saat bayi tidur Ev: ibu mengerti kebutuhannya 8. Kontrak waktu untuk home visit Ev: ibu bersedia dikunjungi. Menjelaskan hasil pemeriksaan Ev: ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan. putting kanan sedikit lecet. III. kapan pun. Payudara : sklera berwarna putih dan konjungtiva merah muda : Simetris. : baik. puting menonjol. Ev: ibu mengerti 4. 2. G. tidak terdapat retraksi atau dimpling.

Factor lingkungan Ibu mengaku tinggal bersama kakaknya. Ibu mengatakan jauh dari sumber bising dan polusi.05 WIB Perempuan 1 : 614064 : jum’at. : Dokter : persalinan lama. f. BB 3420 gram dan PB: 52 cm. tidak langsung menangis. : ibu mengalami sakit kepala hebat dan bengkak dikaki. Penyulit : 39 – 40 minggu : di bidan. Eka 1 hari 08 – 11 – 2012 / 16. Selain itu tekanan darah ibu naik. Factor genetic 33 . 09 November 2012 : 11. sumber air ada dan bersih. Penolong : R. d.ASUHAN BBL 1 HARI No Register Hari/tanggal Waktu Pemberian Asuhan Tempat Pengkajian Nama Pengkaji I. Nifas – RSUD Kota Bandung : Rina Desi Ratnasari B. Riwayat antenatal a. Tempat b. Ny. DATA SUBJEKTIF A. Identitas Bayi Nama Usia Tanggal / jam lahir Jenis kelamin Anak ke By. 7 orang dalam 1 rumah. Keadaan bayi saat lahir: bayi perempuan lahir tidak langsung menangis.00 WIB : R. Riwayat intranatal a. Penyulit e. menangis setelah dikeringkan. d. ibu sulit mengedan : tablet besi dan kalk dari bidan. Terdapat ventilasi udara dan cahaya mata hari dapat masuk. E. Riwayat ANC c. bersalin RSUD kota Bandung : persalinan dengan alat bantu Vakum atas indikasi waktu. Jenis c. Bayi tidak mengalami kelainan apapun. F. Factor neonatal Bayi lahir dengan bantuan VE. Masa gestasi b. Konsumsi obat C. IMD tidak dilakukan D. Ibu rutin periksa.

lengan dan tangan: tidak ada kelainan. caput dan chepal hematom. Warna kulit/Warna bibir c. Telinga secret. reguler : 80 x / menit : 38. Leher + J. Bahu. Ukuran keseluruhan : proporsional. Eliminasi Ibu mengatakkan bayi sudah BAB dan BAK. Tanda – tanda vital a. H. PB c. BJA b. Badan. sucking dan swallowing reflex +. F. tidak merintih C. DATA OBJEKTIF A. b. Tangis bayi B. II. Keadaan umum a. ujung telinga sejajar mata. Tidak terdapat pengeluaran pengeluaran secret. : kemerahan Tonus otot / tingkat aktivitas: aktif d. konjungtiva merah muda. Respirasi c. Tidak terdapat pembengkakkan dan pengeluaran pus. G. Kepala molase.8 C 0 : normal. Riwayat gizi Bayi diberi susu formula pada hari pertama di ruang anak. BB b. Rooting. ukuran kepala lebih besar dari bagian tubuh lainnya. Ibu berencana memberikan asi eksklusif. Gerakan aktif graspsing reflex + : tidak ada pembesaran kelenjar. Antropometri a. tidak terdapat labio schizis dan labio pallato schizis. E. Mulut : bibir kemerahan. tidak terdapat D. H. tonicneck reflex 34 . tidak terdapat pernapasan cuing dan tidak ada : simetris. gerakan aktif e. selain iti tidak ada riwayat cacat fisik dan mental. Suhu : 138 x / menit. tidak teraba masa. I.Ibu mengaku tidak ada riwayat penyakit keturunan. ekstremitas : tidak ada kelainan. G. LK : 3420 gram : 52 cm : 33 cm : ubun – ubun teraba datar lunak. Hidung : simetris. Mata : sclera putih. Sutura teraba.

PENATALAKSANAAN 1. Informed consent kepada ibu dan keluarga agar bayi dirawat di ruang anak agar bisa diobservasi secara ketat Ev: ibu dan keluarga setuju 4. Babisky reflex + : labia mayor menutupi labia minor. gangguan gastrointestinal. Terdapat lubang vagina dan Q. P. teraba datar. Antisipasi Diagnose potensial: antisipasi demam dan kejang Kebutuhan : kolaborsi dengan bagian perinatologi. Genetalia uretra. kulit kekuningan atau kebiruan. Ev: ibu mengerti dengan penjelasan tersebut.K. : tidak ada kelainan. Memberikan dukungan kepada ibu dan keluarga Ev: ibu yakin bayinya akan segera pulih 5. Kaki O. dll. . System syaraf : morro reflex + III. suhu terlalu panas atau terlalu dingin. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga. Anus : terdapat lubang anus. ANALISA Neonatus cukup bulan. Ev: bayi tenang dan mau menyusu. teraba lunak saat bayi tidak menangis. M. IV. Konseling tanda bahaya pada BBL seperti letargis. Punggung N. gerakan aktif. sesuai masa kehamilan usia 1 hari dengan demam. memfasilitasi skin to skin kontak antara ibu dan bayi. 35 . : tidak terdapat distensi. Kolaborasi dengan dokter Ev: rawat bayi di ruangan perinatologi 3. Ev: ibu mengerti dan khawatir 2. tidak ada perdarahan tali pusat. Abdomen : tidak terdapat retraksi. bayi tidak mau menyusu. 6. Dada L.

Keluhan utama Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun. masih terdapat sedikit pengeluaran darah dari jalan lahir. DATA SUBJEKTIF A. jenismakanan ikan. Waktu pemakaian : setelah 40 hari masa nifas. B. Bayi dirawat oleh ibu sendiri dan dibantu oleh keluarga (ibu klien) C. Tidak ada pantangan untuk tidur siang. Tidur malam : ibu mengatakan tidur malam kurangkarena bayinya sering terbangun dimalam hari c. telur. Pola istirahat dan tidur i. ii. Makan : ibu makan 3 x/hari.30 WIB : Rumah Klien : Rina Desi Ratnasari I. nasi. karena saat melahirkan ibu tidak jadi langsung dipasang IUD karena ibu mengalami perdarahan karena robekan portio. 24 November 2012 : 17. Pola eliminasi 36 . sayur.LAPORAN POST PARTUM 16 HARI No Register Hari/tanggal Waktu Pemberian Asuhan Tempat Pengkajian Nama Pengkaji : 614064 : Sabtu. Rencana Kontrasepsi a. ii. Alasan ikut ber-KB :ingin mengatur jarak kehamilan dan membatasi jumlah anak. Respon suami dan keluarga : baik. D. E. porsi makan sedang. berwarna putih agak merah muda. Tidur siang : ibu mengatakan jarang tidur siang karena jarang mengantuk. namun ibu mengaku berencana memiliki dua anak. Rencana hamil lagi c. Pola nutrisi dan hidrasi i. minum > 8 gelas/hari b. senang dengan keberadaanbayi b. Jenis Kontrasepsi yang akan dipakai:IUD b. Ibu mengaku masih trauma dengan persalinan kemarin. ibu tidak dipantang makan makanan apapun. Riwayat Psikososial a. Aktifitas sehari-hari a. Minum : ibu mengatakan sering sekali minum karena mudah merasa haus terutama bila sudah menyusui.

Beban kerja : ringan f. diastasis recti 1 jari sempit. puting tidak teraba massa/benjolan dikedua 0 d. puting menonjol. R : 79x/menit : 20x/menit : 36. tidak adakeluhan menyusui : dalam sehari ibu sering d. S C. TFU : fundus uteri sudah tidak teraba. tidak ada keluhan saat menyusui e. Keadaan umum: baik.i. Menjelaskan hasil pemeriksaan Ev: ibu mengerti penjelasan tersebut 2. Homan’s sign negatif III. jumlahlochea yang keluar sedikit : luka jahitan kering. Genitalia a. ASI (+) G. Leher F. Frekuensi sekalimenyusuibayinya. BAB : ibu mengatakan BAB 1x/hari. PENATALAKSANAAN 1. Olahraga :ibu mengatakan tidak berolahraga semenjak setelah melahirkan II. Perineum :tidak ada kelainan :berwarna putih pink. N c. ANALISA P1 A0 post partum 16 hari IV. BAK keluhan : ibu mengatakan BAK 5 – 6 x/hari. Atas b. Kesadaran Compos mentis B. TD : 120/80 mmHg b. Data Objektif A. Mata E. Konjungtiva merah muda : Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening : bentuk simetris. Payudara payudara. Vulva/vagina b. Menganjurkan agar ibu ikut tidur saat bayi tidur 37 . tidak terdapat puspada luka jahitan Ekstremitas a. Lochea c. Muka D. ASI keluar banyak. I.>8x/hari. H. Abdomen : tidak terdapat luka bekas operasi. volume urinebanyak. Bawah : tidak oedem : tidak oedem dan varises. tidak ada ii.7 C : tidak oedem. tidak pucat : Sklera putih. Pemeriksaan tanda-tanda vital a.

Konseling tentang ASI eksklusif dan memotivasi ibu agar tetap memberikan ASI secara on demand Ev: ibu ingin memberikan ASI eksklusif walauun bayi sudah sempat diberi susu formula saat di rawat. Ev: ibu mengerti dan bersedia 38 . Mengajarkan cara perawatan perineum dan cara cebok yang benar yaitu dari arah depan ke belakang Ev: ibu mengerti dan mau mempraktikannya 7. Menjelaskan tentang kontrasepsi IUD Ev: ibu mantap memilih kontrasepsi IUD 4. Melakukan perawatan payudara Ev: ibu merasa nyaman dan mengerti cara melakukan perawatan payudara 6.Ev: ibu mengerti 3. Mengingatkan ibu untuk ber-KB pada hari ke 40. 5.

reguler : 55 x / menit : 36. Umur c. Suhu : 135 x / menit. 4 C 0 : normal. Ibu menyusui tiap 3 jam 1 kali atau setiap bayi menangis. Warna kulit/Warna bibir: kemerahan c. Eliminasi : bayi rutin BAB. DATA SUBJEKTIF A.. 24 November 2012 : 17. Faktor Lingkungan Ibu tinggal bersama suami. Tanda – tanda vital a. Nama b. D. Tangis bayi B. Bayi sering BAK. Respirasi c.LAPORAN ASUHAN BBL 16 HARI No Register Hari/tanggal Waktu Pemberian Asuhan Tempat Pengkajian Nama Pengkaji I. Pemberian makan: Bayi hanya diberi ASI. Keluhan Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun pada bayinya C. Identitas bayi a. Keadaan umum a. BJA b. ekstremitas : tidak ada kelainan. II. Ukuran keseluruhan :proporsional. b. gerakan aktif e. namun hari ini belum BAB. Kebutuhan Sehari-hari a. V : 16 hari : 08 – 11 – 2012 / 16. ukuran kepala lebih besar dari bagian tubuh lainnya.30 WIB : Rumah Klien : Rina Desi Ratnasari d. Ventilasi udara dan pencahayaan cukup. Anak ke B.kakak dan ibu kandungnya. b. Jenis kelamin e. DATA OBJEKTIF A. Antropometri 39 . Rumah jauh dari pabrik dan tempat pembuangan sampah. Tonus otot / tingkat aktivitas: aktif d.05 WIB : Perempuan :1 : 614064 : Sabtu. Sumber air diperoleh dari sumur Rumah berada dikawasan cukup padat. Badan. Tanggal / waktu : By. tidak merintih C.

tidak terdapat pernapasan cuing dan tidak ada pengeluaran secret. Rooting. BB b. Konseling pentingnya ASI eksklusif dan pemberian yang on demand Ev: ibu mengerti 3.a. I. G. : tidak terdapat distensi. E. ujung telinga sejajar mata. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga Ev: ibu mengerti 2. tidak teraba masa. 4. ANALISA Bayi cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 16 hari. Gerakan aktif graspsing reflex + : tidak terdapat retraksi…. Genetalia uretra. Tidak terdapat pengeluaran secret. : tidak ada kelainan. caput dan chepal hematom. IV. gerakan aktif. teraba lunak saat bayi tidak menangis. tidak terdapat D. Bahu. H. Sutura teraba. Mulut : bibir kemerahan. PB c. tidak terdapat labio schizis dan labio pallato schizis. Kepala molase. Babisky + : labia mayor menutupi labia minor. Hidung : simetris. F. P. LK : 3700 gram : 52. ubun – ubun teraba datar lunak. Tidak terdapat pembengkakkan dan pengeluaran pus. Bayi belum BAB hari ini. teraba datar. Terdapat lubang vagina dan Q.5 cm : 35 cm . Anus : terdapat lubang anus. Kaki O. tonic neck reflex K. M. lengan dan tangan: tidak ada kelainan. Abdomen pusat sudah puput. Telinga : simetris. Leher + J. Mata : sclera putih. Konseling agar ibu tidak menyimpan koin di pusar bayi Ev: ibu mengerti 40 . PENATALAKSANAAN 1. . Dada L. Punggung N. sucking dan swallowing reflex +. konjungtiva merah muda. Ibu menaruh kassa berisi uang logam di tali pusat bayi. tali : tidak ada pembesaran kelenjar. System syaraf : morro reflex + III. Konseling agar ibu tidak memakaikan gurita terlalu kencang Ev: ibu baru tahu hal tersebut dapat menghabat pernafasan bayi.

Konseling tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu: letargi. dll Ev: ibu mengerti dengan penjelasan tersebut 6.5. Konseling tentang imunisasi Ev: ibu berencana membawa bayi imunisasi di bidan. kulit kekuningan atau kebiruan. 41 . bayi sulit atau tidak mau menyusu. suhu terlalu panas / dingin. kejang. gangguan gastrointestinal.

Dari identitas ibu terlihat bahwa ibu dalam rentang reproduksi sehat. ini merupakan kehamilan pertama ibu dan ibu mengalami kenaikan tekanan darah saat usia kehamilan 36 – 37 minggu disertai protein urin +3 dan seminggu kemudian menjadi +1.2 Interpretasi Data Pada langkah ini dilakukan interpretasi data yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dilihat dari riwayat obstetriknya. Masalah ini sering menyertai diagnosa. keluhan seperti nyeri kepala.BAB IV PEMBAHASAN 4. Dari riwayat kesehatan ibu tidak mengalami hipertensi sebelumnya. apakah ibu mengalami hiperrefleks atau tidak. pandangan kabur atau berkunang – kunang. 4. reflex patella dan pemeriksaan diagnostic protein urine. Dalam praktiknya pengkaji melakukan kelalaian karena tidak melakukan pemeriksaan reflex patella yang sebenarnya sangat menunjang penegakkan diagnose. khususnya hipertensi sebelumnya yang diderita pasien dan kapan pertama kalinya ibu mengalamai hipertensi. nyeri tekan pada kuadran kanan atas. dilihat dari keluhan ibu saat datang. dan nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen. Masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang di identifikasikan oleh bidan. Data dasar yang sudah dikumpulkan di interpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik. 42 . Sama halnya dengan data subjektif. tanda – tanda vital. data objektif dan pemeri8ksaan diagnostic juga penting dikaji terutama data focus seperti keadaan umum pasien. Dalam pengkajian data objektif ditemukan kenaikan tekanan darah sejak dikelola dari bidan disertai proteinuria +2. Pada kasus ini pengkaji melakukan pengkajian data subjektif dan objektif terfocus. Pada kasus PEB data focus yang harus dikumpulkan oleh bidan meliputi factor predisposisi seperti umur maternal. riwayat obstetric untuk mengetahui kehamilan yang keberapa dan adanya riwayat preeclampsia pada kehamilan sebelumnya. data focusnya adalah ibu mengatakan nyeri kepala. riwayat kesehatan keluarga seperti hipertensi dan riwayat preeclampsia pada ibu kandung ataupun ibu mertua.1 Pengkajian Pengkajian data subjektif dan objektif merupakan hal yang harus dilakukan agar kita dapat melakukan penegakkan diagnose dan tepatnya pengelolaan pasien. terutama tekanan darah. riwayat kesehatan sekarang. ibu memiliki riwayat hipertensi dari ibu kandung dan tidak memiliki riwayat keturunan preeclampsia dari ibu kandung maupun ibu suami.

sambil mengamati klien. Perasaan takut tidak termasuk dalam kategori “nomenklatur standar diagnosa” tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut tersebut. 4. Penegakkan diagnose sesuai dengan teori yang sebelumnya sudah dibahas. bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Adapun Diagnosa potensial yang dapat terjadi pada kasus tersebut adalah eklampsia dan hipoksia intrauterine yang selanjutnya dapat menyebabkan fetal distress namun dengan manajemen yang sesuai dengan protap hal tersebut tidak terjadi pasien.3 Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial Pada langkah ini bidan dapat mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi. berdasarkan data yang sudah terkumpul saat persalinan masalah tidak muncul.Pada kasus ini. Berdasarkan data subjektif dan objektif yang terkaji dalam kasus tersebut diatas diagnosa yang dapat ditegakkan adalah pasien dalam keadaan Inpartu aterm dengan PEB. bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atu masalah potensial benarbenar terjadi Diagnosa sendiri ditegakkan untuk membantu dalam penentuan diagnosa potensial yang mungkin terjadi serta untuk melakukan antisipasi masalah serta rencana asuhan pada pasien. namun ketika pasien 1 hari post partum muncul masalah yaitu ibu masih merasa belum berani banyak bergerak karena kekhawatirannya terhadap luka jahitannya. Pengkaji sendiri memberikan motivasi kepada ibu untuk melakukan mobilisasi dini agar ibu cepat pulih dan merasa lebih sehat. 43 .

yaitu: 1. pemberian antibiotic. penjahitan portio. Secara sistematis penanganan yang telah dilakukan bidan dalam kasus diatas.4 Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera. 4. misalnya pada kasus ini adalah pengelolaan hipertensi. pada langkah ini informasi/ data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Dalam kasus ini rencana asuhan telah dibuat berdasarkan hasil kolaborasi bidan dengan dokter terkait. Data yang dikumpulkan dapat menunjukan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter.5 Merencanakan Asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan asuahan yang menyeluruh ditentukan oleh langkahlangkah sebelumnya. Situasi lainya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak. konseling.4. dan apakah merujuk klien bila ada masalah-masalah yg berkaitan dengan sosial ekonomi. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.6 Penatalaksanaan PEB Berdasarkan kebijakan di RSUD kota Bandung semua pengelolaan PEB aktif tanpa memandang usia kehamilan.kultur atau masalah psikologis. Dalam kasus ini bidan di BPS sudah dapat melakukan tindakan terbaik dalam mengelola pasien npartu yang mengalami Preeklampsia berat dengan berbagai komplikasi yang mungkin terjadi yaitu dengan melakukan rujukan tepat waktu ke RSUD kota Bandung sebagai fasilitas kesehatan yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kasus tersebut. Masa Antenatal 44 . dan penanganan demam pada neonatus. pengelolaan persalinan. Langkah keempat mencerminkan kesinambunagan dari proses manajemen kebidanan. Data baru perlu dikumpulkan dan dievaluasi setiap ada kontak antara pasien dengan petugas. 4. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya apakah diberikan penyuluhan.

perdarahan. rujukan kasus. kelainan letak. imunisasi TT lengkap. Sistem Rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab. dengan ketentuan waktu minimal 1 kali pada trimester 1 (K1). Pemeriksaan proteinuria yang dilakukan oleh bidan dilakukan ketika ada indikasi tekanan sistol dan diastole ibu meningkat. rujukan operasional. pasien telah mendapatkan pelayanan antenatal sampai K4. rujukan tenaga ahli. rujukan ilmu pengetahuan dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium(permenkes 922/2008). Disamping itu kualitas pelayanan harus tetap dijaga agar terjadi kesinambungan pemeriksaan antenatal. satu kali pada trimester 2 (K2) dan 2 kali pada trimester 3 (K3 dan K4). Berdasarkan kebijakan program pelayanan antenatal sebaiknya paling sedikit dilakukan 4 kali. Idealnya protein urin diperiksa saat kunjungan awal pasien dan saat usia kehamilan ≥ 20 minggu untuk kepentingan deteksi dini preeclampsia. Pada kasus. dll maka frekuensi pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan. ukur tinggi fundus uteri. bidan tetap mengelola pasien untuk melakukan antenatal care di BPSnya.Pelayanan antenatal yang bermutu pada hakekatnya merupakan suatu pelayanan medik dasar yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal atau horizontal. ukur Tekanan Darah. pemberian tablet Fe minimal 90 tablet. rujukan teknologi. dalam arti dari unit 45 . Adapun dalam pelaksanaan operasionalnya dikenal standar minimal pelayanan antenatal yaitu 7T: Timbang BB. test penyakit menular. dikatakan bahwa bidan pasal 10 ayat 2 B dikatakan bahwa bidan berwenang memberikan pelayanan antenatal pada kehamilan normal. dan telewicara atau konseling. 2. Rujukan Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas masalah kesehatan masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik secara vertikal maupun horizontal meliputi sarana. Namun apabila terdapat kelainan atau penyulit kehamilan seperti mual. Setelah bidan mendeteksi adanya ketidaknormalan tekanan darah dan ditemukan protein urin. muntah. Padahal berdasarkan Permenkes No 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. Untuk mencapai keinginan tersebut perlu selalu diperhatikan akses terhadap pelayanan yang dapat dijangkau oleh ibu dan keluarganya. keracunan kehamilan.

2011) Dalam proses rujukan kasus diatas. Protein urin pasien pada PP 1 hari adalah ± trace. pencegahan proaktif antisifatif terhadap prediksi penyulit persalinan.yang berkemampuan kurang ke unit yang lebih mampu (draft peraturan gubernur jawa barat. Dapat disimpulkan bahwa penanganan pasien ini sudah sesuai dengan protap yang berlaku. Pasien dengan PEB harus terus di follow up sampai 24 jam post partum karena masih ada kemungkinan terjadinya eklampsia postpartum. bidan sudah mendeteksi adanya ketidaknormalan tekanan darah dan protein urin sejak usia kehamilan ibu 36 – 37 minggu. Tekanan darah pasien 120/80 mmHg. 2010). Namun pengkaji menemukan adanya ketidaksesuaian pemberian antihipertensi dimana pada protap dikatakan bahwa nifedivin adalah obat terpilih namun dokter memberikan obat metildopa. seharusnya bidan melakukan rujukan terencana / rujukan dini berencana (RDB) yaitu rujukan pada ibu dengan resiko tinggi yang direncanakan atau disiapkan jauh sebelum hari persalinan oleh tenaga kesehatan. 3. persiapan biaya. Namun salah satu sumber mengatakan bahwa metildopa adalah antihipertensi golongan α2-agonis sentral yang aman bagi kehamilan. bidan melakukan rujukan tepat waktu. Antisipasi diagnosa potensial dianggap kurang karena bidan tidak memasang infus jaga. dan pengkaji tidak melakukan pemeriksaan protein urin. Ketika dilakukan home visit pada PP 16 hari. Pengelolaan di RS Secara keseluruhan penatalaksanaan Preeklampsia berat di Rumah sakit dibedakan atas Aggressive management dan konservatif atau expectative management.pasien dipulangkan dengan kondisi TD terakhir 130/100 mmHg dan protein urin +1. 46 . ibu hamil dan keluarganya ke PKM PONED atau RS PONEK dengan tujuan pengendalian. Pada saat merujuk bidan tidak mendampingi pasien. transportasi serta persalinan yang aman untuk ibu dan bayinya. Pada kasus sendiri maintenance therapy MgSO4 40% dilanjutkan dengan observasi TTV dan pemeriksaan protein urin. Yaitu rujukan yang dilakukan setelah adanya gawat darurat obtetri adanya kenaikan tekanan darah disertai protein urin +1. dengan pemantauan ketat terhadap keadaan ibu dan janinnya dan dilakukan terminasi kehamilan (prosedur tetap RSUD kota Bandung. sebenarnya dalam kasus ini. Di RSUD kota bandung sendiri penanganan pada setiap pasien PEB adalah harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan mendapat terapi antikonvulsan profilaksis.

2. Evaluasi dilakukan pada setiap penatalaksanaan yang dilakukan. khususnya tentang kasus obsetri dan kegawatdaruratan. 5. Diharapkan pelayanan di Ruang VK RSUD kota Bandung yang sudah baik dapat tetap selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terbaru agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dalam Pedoman penanganan PEB RSUD kota Bandung ada baiknya dicantumkan keharusan untuk melakukan observasi tanda – tanda keracunan MgSO4 sehingga semua petugas selalu melakukan observasi tersebut. 5.2 Saran 1. 3. Bagi mahasiswa yang melakukan asuhan kebidanan diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan agar dapat memberikan asuhan dengan cepat dan tepat. Diharapkan bidan selalu termotivasi untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. 4. Seperti infuse pam untuk memudahkan dalam pemberian dosis MgSO4. 47 .1 Kesimpulan Pada kasus ini pengkajian data subjektif maupun data objektif sudah cukup menunjang untuk penegakkan diagnose preeklamsia berat. Pihak Rumah sakit diharapkan dapat memenuhi fasilitas alat yang dibutuhkan untuk memudahkan tindakan. Selain itu mahasiswa diharapkan memiliki inisiatif memberikan asuhan yang sesuai dengan teori ketika rutinitas tersebut tidak dilakukan di ruangan. Penatalaksanaan lainnya dilakukan sesuai kebutuhan pasien. Sehingga dapat dilakukan interpretasi data dan Analisa untuk menentukan diagnose actual dan potensial.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Penatalaksanaan disesuaikan dengan protap yang berlaku di RSUD kota Bandung dan berkolaborasi dengan dokter dengan tujuan untuk memberikan terapi pada pasien PEB sehingga mencegah terjadinya kejang.

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Star. 07. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. 2009. Pre-eklampsi kehamilan. L Winifred. 2009. 2010. 2004. Lowdermik. Medical Publishing Division Depkes RI.. 2010. 2007. EGC : Jakarta Prosedur tetap preeclampsia berat di RSUD Kota Bandung. McGraw-Hill.33 Yeyeh. Jakarta: Salemba Medika M. Ambulatory Obstetric Third Edition. Williams Obstetrics 23rd Ed. Jakarta. 13 November 2012. UCSF Nursing Press: USA Sujiyatini.com/2012/06/preeklamsi-kehamilan. Cooper. 2008. Jakarta: EGC Boyle. Jakarta. Saifudin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Maureen. Fraser. 2010. dkk.. Sarwono Prawirohardjo. jansen. Jakarta: EGC Cunningham F G. Diane dan Margaret A. 2007.html. Buku Saku Bidan Kedaruratan Dalam Persalinan. http://dr-suparyanto.blogspot. Asuhan Kebidanan 4 (Patologi). Myles Buku Ajar Bidan Edisi 14. Pedoman Pelayanan Antenatal. Mitayani. Buku Ajar keperawatan Maternitas. 2001. et al. Jakarta: CV Trans Info Media iii . Jakarta: Nuha Medika Suparyanto. 2009.DAFTAR PUSTAKA Bobak. Asuhan Patologi Kebidanan. Rukiyah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful