P. 1
TUGAS PKM

TUGAS PKM

|Views: 20|Likes:
Published by Fahmi Romdhoni

More info:

Published by: Fahmi Romdhoni on Feb 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

Metode Pembelajaran > Macam Macamnya dan Pendekatan

Metode Pembelajaran - Akhirnya selesai juga nih artikel, seperti biasanya kalau sudah selesai langsung saya posting/share ke anda semua. Oh iya sebelunya saya sudah memberikan beberapa materi tentang pembelajaran anda boleh lihat di artikel terkait di bawah postingan. Baiklah silakan anda lihat beberapa Metode Pembelajaran di bawah ini jika ada yang kurang silahkan anda tambah di kolom komentar a. Metode Pembelajaran - Metode Ceramah Metode ceramah merupakan metode yang paling umum atau paling banyak digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Wina Sanjaya mendefinisikan “ metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.” (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 147.) “ Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar.” (Yatim Riyanto, Pengembangan Kurikulum, h. 27.) Berdasarkan pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). Pemilihan metode ceramah pada umumnya digunakan karena sudah menjadi kebiasaan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Di samping itu juga, metode ceramah digunakan karena guru biasanya belum puas kalau dalam kegiatan pembalajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga kalau ada guru yang berceramah berarti ada kegiatan pembelajaran dan jika tidak ada guru berarti tidak ada kegiatan pembelajaran. Ada beberapa alasan yang mengapa metode ceramah sering digunakan, alasan ini merupakan sekaligus menjadi keunggulannya. Keunggulan-keunggulannya adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Guru mudah menguasai kelas. Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar. Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya. Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Pembelajaran, h. 97.)

Di samping keunggulan-keunggulan tersebut, metode ceramah juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahannya adalah: 1. 2. 3. 4. Mudah terjadi verbalisme (pengertian kata-kata). Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya. Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan. Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali. (Ibid, h. 97.)

b) Metode Pembelajaran Metode Diskusi ”metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.”(Ibid, h. 87.) Metode diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan siswa suatu permasalahan untuk diselesaikan bersamasama. Sehingga akan terjadi interaksi antara dua atau lebih siswa untuk saling bertukar pendapat,

informasi, maupun pengalaman masing-masing dalam memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada siswa yang pasif. Tujuan penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran seperti yang diungkapkan Killen (1998) adalah ” tujuan utama metode ini adalah untuk memecahakan suatau permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengatahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan.” (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 154.) Metode diskusi sangat tepat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah serta melatih siswa untuk mengeluarkan pendapat secara lisan. Dalam pembelajaran matematika metode diskusi sangat tepat digunakan pada materi-materi yang menantang untuk sama-sama dipecahkan, misalnya materi bangun-bangun geometri, peluang dan konsep bilangan. Adapun dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus benar-benar mampu mengorganisasikan siswa sehingga diskusi dapat berjalan seperti yang diharapkan. Menurut Bridges (1979) dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus mengatur kondisi yang memungkinkan agar:     Setiap siswa dapat berbicara mengeluarkan gagasan dan pendapatnya. Setiap siswa harus saling mendengar pendapat orang lain. Setiap harus dapat mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting. Melalui diskusi setiap siswa harus dapat mengembangkan pengatahuannya serta memahami isuisu yang dibicarakan dalam diskusi. (Ibid, h. 155.)

Setiap metode pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan metode diskusi. Ada beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu:       Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir. Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas. Siswa belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya. Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif dikalangan siswa. Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain. Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 208.)

Di samping itu juga, ada beberapa kelemahan-kelemahan penggunaan metode diskusi, di antaranya:    Diskusi terlalu menyerap waktu. Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka kecenderungannya mereka tidak sanggup berdiskusi. Kadang-kadang guru tidak sanggup memahami cara-cara melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab. (Ibid, h. 209.)

c) Metode Pembelajaran Metode Tanya Jawab ”Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”(Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 94.) Jadi, metode tanya jawab adalah interaksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk dijawab, di samping itu juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru. Metode tanya jawab digunakan sebagai sarana untuk menguji penguasaan siswa secara verbal terhadapa materi yang telah dipelajari. Di samping itu, metode jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami pelajaran yang belum dimengerti dengan cara bertanya. Metode

tanya jawab sebaiknya digunakan pada materi-materi pelajaran umumnya sulit dimengerti siswa. Dalam hal tersebut guru harus peka mambaca kondidi anak didiknya sebelum memutuskan menggunakan meot tanya jawab. Keunggulan-keunggulan dari metode tanya jawab adalah:    Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya. Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya ingatan. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat. (Ibid, h. 95.)

Adapun kelemahan-kelemahan dari metode tanya jawab ini adalah:     Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa. Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang. Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa. (Ibid, h. 95.)

d) Metode Pembelajaran Metode Demonstrasi ”Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.”(Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 152.) Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa metode demonstrasi digunakan untuk memperagakan tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu terkait dengan materi pelajaran yang dipelajari dengan tujuan menyajikan pelajaran dengan lebih konkrit sehingga materi pelajaran yang disampaikan akan lebih berkesan bagi siswa dan membentuk pemahaman yang mendalam dan sempurna. Metode demonstrasi dibutuhkan dalam pembelajaran matematika terutama materi-materi yang membutuhkan alat peraga pembelajaran. Ini untuk menanamkan pemahaman yang mendasar dan konstruktif terhadap materi yang dipelajari. Metode demonstrasi sangat tepat digunakan pada materi Bangun-bangun geometri. Keunggulan-keunggulan metode demontrasi adalah:       Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati. Dapat membimbing murid ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek. Dapat mengurangi kesalaham-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang jelas ari hasil pengamatannya. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak. Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi. ( Syaiful Sagala, Konsep dan Makan, h. 211.)

Kelemahan-kelemahan metode demontrasi adalah:

  

Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif. Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik. Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 91.)

e) Metode Pembelajaran Metode Pemberian Tugas dan Resitasi ”Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.”(Ibid, h. 85.) Jadi, bisa disimpulkan bahwa metode tugas dan resitasi adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa untuk dikerjakan dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi pelajaran dan dapat pula mengevaluasi materi yang telah dipelajari. Sehingga siswa akan terangsang untuk belajar aktif baik secara individual maupun kelompok. Keunggulan-keunggulan metode tugas dan resitasi adalah:     Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif. Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan. Memberikan kebiasaan siswa untuk giat belajar. Memberikan tugas siswa untuk sifat yang praktis. ( Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 98.)

Kelemahan-kelemahan metode tugas dan resitasi adalah:    Tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan meniru pekerjaan orang lain. Karena perbedaan individu, maka tugas apabila diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedangkan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut. Apabila tugas diberikan, lebih-lebih bila itu sukar dikerjakan, maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh. (Ali Pande & Imansyah, Didaktik Metode (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), h. 92.)

f) Metode Pembelajaran Metode Eksperimen ”Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajar.”(Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 84.) Dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, siswa diiberikan kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan tentang suatu permasalahan terkait materi yang diberikan. Peran guru sangat penting pada metode eksperimen, khususnya dalam ketelitiandan kecermatan sehingga tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan memaknai kegiatan eksperimen dalam kegiatan pembelajaran. Pemahaman siswa akan lebih kuat dan mendalam jika siswa diberikan kesempatan untuk mengalami secara langsung dalam suatu proses, analisis dan pengambilan kesimpulan terhadap suatu masalah. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan pada siswa bahwa yang dipelajari merupakan suatu yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Pembelajaran matematika dikatakan ilmu pasti, yang artinya bahwa setiap pernyataan dalam matematika dapat dibuktikan secara analitis dan logis. Mengingst hal tersebut maka metode eksperimen sangat dibutuhkan dalam pembelajaran

matematika khususnya pada materi-materi yang membutuhkan keterlibatan siswa secara langsung, misalnya materi Peluang, Konsep bilangan, dan Bangun-bangun geometri. Keunggulan-keunggulan metode eksperimen adalah:    Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran dan kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku saja. Dapat mengembangkan sikap untuk studi eksploratis tentang sains dan teknologi, suatu sikap dari seorang ilmuan. Metode ini didukung oleh azas-azas didaktik modern. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna, h. 220221.)

Kelemahan-kelemahan metode eksperimen adalah:     Metode ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi. Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal. Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan dan ketabahan. Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan dan pengendalian. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 85.)

g) Metode Pembelajaran Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah) Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan. Seperti apa yang ungkapkan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain bahwa, Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metodemetode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. (Ibid, h. 91.) Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode problem solving mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:      Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Mencari data atau keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Menarik kesimpulan. (Ibid, h. 92.)

Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:       Pemecahan masalah (problem solving) merupakan tehnik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

   

Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 220-221.)

Kelemahan-kelemahan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:    Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 93.) Mudah Mudahan dengan adanya artikel metode pembelajaran diatas anda dapat tebantu, selain itu kita juga bisa menerapkan dengan baik sesuai dengan porsinya kepada murid murid tersayang kita ^_^

      

Hasil Penelitian ICT Manajemen Metode Penelitian Pembelajaran Pendidikan Soft Skills

KETERAMPILAN MENJELASKAN

Posted by rastodio on February 21st, 2012

Basic teaching skills: EXPLAINING. Betapapun pandainya seorang guru dalam menguasai suatu bahan pelajaran, akan sia-sia saja apabila ia kurang atau tidak mampu menguasai keterampilan menjelaskan bahan pelajaran yang dikuasainya, demikian pula sebaliknya, kurang lengkap seorang guru apabila hanya terampil menjelaskan pelajaran, tetapi tidak menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, tentu saja idealnya adalah seorang guru menguasai bahan pelajaran yang dibinanya dan mempunyai strategi dalam menjelaskan bahan pelajaran itu secara efektif sehingga mudah dipahami siswa. Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran dapat diartikan sebagai penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis, (Usman, 2006:88) mengenai suatu benda, keadaan, fakta, dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku (Mulyasa, 2007:80). Penekanan memberikan penjelasan adalah proses penalaran siswa dan bukan indoktrinasi (Hasibuan dan Moedjiono, 2006:70). Berdasarkan pemikiran tersebut, dapat disimpulkan bahwa menjelaskan pelajaran adalah keterampilan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa secara lisan yang diorganisasikan secara terencana dan sistematis sehingga bahan pelajaran yang disampaikan guru tersebut dengan mudah dipahami siswa. Menjelaskan merupakan keterampilan inti yang harus dimiliki guru (Sudirwo,2002:107). Alasan yang melatarbelakanginya adalah (Hasibuan dan Moedjiono, 2006:70)sebagai berikut:
1. Pada umumnya interaksi komunikasi lisan di dalam kelas didominasi guru; 2. Sebagian besar kegiatan guru adalah informasi. Oleh karena itu efektivitas pembicaraan perlu ditingkatkan; 3. Penjelasan yang diberikan guru sering tidak jelas bagi siswa, dan hanya jelas bagi guru sendiri; 4. Tidak semua siswa dapat menggali sendiri informasi yang diperoleh dari buku. Kenyataan ini menuntut guru untuk memberikan penjelasan kepada siswa untuk halhal tertentu. 5. Sumber informasi yang tersedia yang dapat dimanfaatkan siswa sering sangat terbatas. 6. Guru sering tidak dapat membedakan antara menceritakan dan memberikan penjelasan.

Tujuan menjelaskan materi pelajaran adalah (a) membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, dalil, fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar; (b) melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan; (c) untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka; dan (d) membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti alam pemecahan masalah.(Usman, 2006:89).

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memberikan suatu penjelasan (Mulyasa, 2007:80), yaitu:
1. Penjelasan dapat diberikan selama pembelajaran baik di awal, di tengah, maupun di akhir pembelajaran; 2. Penjelasan harus menarik perhatian siswa sesuai dengan materi pelajaran 3. Penjelasan dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan siswa atau materi yang sudah direncanakan; 4. Materi yang dijelaskan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan bermakna bagi siswa; 5. Penjelasan diberikan harus sesuai dengan latar belakang dan tingkat kemampuan siswa.

Untuk dapat menjelaskan dengan baik bahan pelajaran yang diberikan guru sebaiknya memperhatikan petunjuk praktis keterampilan menjelaskan sebagai berikut (Sudirwo,2002:107-108):
1. Mempergunakan bahasa yang jelas, baik kata-kata, ungkapan maupun volume suaranya. 2. Suara harus kedengaran sampai kelas bagian belakang. 3. Suara bervariasi, kadang-kadang tinggi, kadang-kadang rendah sesuai dengan nada yang sedang diterangkan. 4. Hindari kata-kata yang tidak perlu; dan tidak memiliki arti sama sekali misalnya : e…, em…, apa ini…, apa itu…. 5. Hindari kata “mungkin” yang salah pemakaian misalnya harusnya pasti tetapi selalu dikatakan mungkin. Sehingga apa yang diterangkan karena segala sesuatu selalu memakai kata “mungkin” maka yang diperoleh oleh siswa adalah bukan kepastian tetapi kemungkinan. 6. Istilah-istilah asing dan baru harus diterangkan secara tuntas, sehingga tidak mengakibatkan adanya verbalisme di kalangan siswa. 7. Berbahasalah secara baik dan benar. 8. Telitilah pemahaman siswa terhadap penjelasan guru, sudah jelas atau belum. Kalau belum jelas ulangilah hal-hal yang belum dipahami; 9. Berilah contoh yang nyata sesuai dengan kehidupan sehari hari; 10. Penjelasan dapat diberikan secara deduktif maupun induktif dan kaitkanlah dengan generalisasi; 11. Sebaiknya mempergunakan multi media untuk pokok bahasan tertentu; 12. Jelaskanlah dengan bagan untuk menjelaskan hubungan dan hirarki; 13. Terimalah umpan balik dari siswa terhadap pelajaran guru; 14. Berilah kesempatan siswa memberikan contoh sesuai dengan pengalamannya masing-masing. 15. Berilah penekanan pada bagian tertentu dari materi yang sedang dijelaskan dengan isyarat lisan. Misalnya “Yang terpenting adalah”, “Perhatikan baik-baik konsep ini”, atau “Perhatikan, yang ini agak sukar”.

Tidak baik dilakukan guru pada waktu menjelaskan (Sudirwo,2002:108):
1. Menghadap papan tulis, membelakangi siswa terlalu lama. 2. Mondar-mandir di depan kelas ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang terlalu sering. 3. Menerangkan sambil duduk di kursi guru terus menerus. 4. Mengosongkan papan tulis, tidak ada tulisan maupun gambar di papan tulis. 5. Suara kurang keras, hanya terdengar oleh siswa yang berada di sekitar guru, siswa yang duduk di belakang tidak dapat mendengar suara guru.

Efektivitas menjelaskan materi pelajaran juga dapat dicapai dengan memperhatikan 5 Hukum Komunikasi yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Effective Communication). Kelima hukum tersebut dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble). Berarti merengkuh atau meraih. Karena kita berkeyakinan bahwa komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari siswa (Prijosaksono, A. dan Sembel, R., 2002) Hukum pertama dalam berkomunikasi secara efektif, di kelas adalah respect sikap hormat dan sikap menghargai terhadap siswa. Hal ini merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Guru harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai siswa. Guru harus ingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika guru bahkan harus mengkritik siswa, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan siswa tersebut. Hukum kedua adalah empathy, yaitu kemampuan guru untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh siswa. Rasa empati akan memampukan guru untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam berbicara di kelas, guru harus terlebih dulu memahami latar belakang, golongan, lapisan sosial, tingkatan umur, pendidikan, kebutuhan, minat, harapan dan sebagainya, dari siswa (audiences). Jadi sebelum guru membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, guru perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan. Sehingga pesan akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari siswa. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali guru yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari siswa. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam berbicara di kelas, guru perlu siap untuk menerima umpan balik dengan sikap positif. Hukum ketiga adalah audible. Makna dari audible antara lain dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Audible berarti materi pelajaran yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui medium atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan guru untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu guru agar materi pelajaran yang sampaikan dapat diterima dengan baik. Hukum keempat adalah kejelasan dari materi pelajaran yang disampaikan guru (clarity). Selain pesan harus dapat diterima dengan baik, hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara guru dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh siswa, akan membuat tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya clarity dalam mengajar, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan dalam menjelaskan materi pelajaran. Hukum kelima dalam menjelaskan adalah sikap rendah hati (humble). Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain,

biasanya didasari oleh sikap rendah hati. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika guru menjelaskan materi pelajaran. Justru dengan kerendahan hatilah guru dapat menangkap perhatian dan respon yang positif dari siswa. Referensi:
1. Hasibuan dan Moedjiono. (2006). Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakary. 2. Mulyasa, Enco. (2007). Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran yang Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 3. Prijosaksono A, dan Sembel, R. (2002). Berbicara di Depan Publik. [Online]. Tersedia: http://www.sinarharapan.co.id 4. Sudirwo, Daeng. (2002). Kurikulum dan Pembelajaran dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung: CV Andira. 5. Usman, Uzer. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

BERIKUT INI URAIAN 6 KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

1. Teknik Membuka Pelajaran a. Kemampuan memberikan kebiasaan-kebiasaan pendahuluan, seperti : - Datang (memulai pelajaran) tepat waktu - Memberikan salam dan memimpin do'a (pada jam I) - Melakukan absensi - Memeriksa / menyiapkan alat-alat - Meniadakan gangguan b. Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan c. Menarik perhatian siswa d. Menimbulkan motivasi e. Memberikan acuan f. Membuat kaitan 2. Teknik Menjelaskan a. Merencanakan penjelasan b. Menyajikan penjelasan : - Penjelasan - Penggunaan contoh - Pengorganisasian c. Memberikan penjelasan yang meyakinkan d. Memberikan penjelasan yang gamplang dan sederhana e. Menggunakan prinsip rule-eg-rule f. Memberi ringkasan seluruh uraian 3. Teknik Memberikan Pertanyaan a. Mengungkapkan pertanyaan dengan jelas b. Pemusatan ke arah jawaban yang diminta c. Penyebaran pertanyaan d. Pemberian waktu berpikir e. Pemindahan giliran menjawab 4. Teknik Mengadakan Variasi dalam Mengajar a. Variasi dalam gaya mengajar - Variasi suara - Pemusatan perhatian - Kesenyapan - Kontak pandang

- Gerakan badan dan mimik - Perubahan posisi guru b. Variasi penggunaan media dan bahan-bahan pengajaran - Media oral - Media visual - Media taktil 5. Teknik Penguatan a. Penguatan verbal b. Penguatan gestural c. Penguatan dengan cara mendekati d. Penguatan dengan sentuhan e. Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan f. Penguatan berupa tanda dan benda 6. Teknik Menutup Pelajaran a. Menutup pelajaran dengan senang dan tertib b. Tepat waktu c. Evaluasi d. Meresume e. Memberi penghargaan atas jerih payah siswa selama belajar f. Memberi salam atau do'a bersama (pada jam terakhir) Referensi: Hasan, Zainuddin. Delapan Keterampilan Dasar. STIKA, 1992 Hasibuan, J.J. Dip. Ed & Moedjiono. Proses Mengajar Belajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 1999. Cetakan VII Ad. Rooijakkers. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta : PT. Gramedia. 1998. Cetakan V TUGAS-TUGAS POKOK GURU

"TUGAS-TUGAS POKOK GURU" (HASTA BRATA GURU)
Oleh : Abdul Fatah1[1] BAB I PENDAHULUAN Definisi yang kita kenal sehari-hari dalam dunia pendidikan, guru adalah orang yang harus digugu dan ditiru, dalam arti orang yang mampu menunjukkan kharisma atau wibawa

hingga perlu untuk ditiru dan diteladani dalam kehidupan baik lingkungan masyarakat, sekolah, maupun keluarga. Guru banyak yang mengartikan sebagai seorang pemimpin, sehingga kepribadian dan etikanya harus selalu menjadi contoh dilingkungan seorang guru berada. “Teacher are those persons who consciouly direct the experiences and behavior of on individual so that education takes places”, artinya guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang individu hingga dapat terjadi pendidikan. Proses pengalaman dan tingkah laku tersebut akan berjalan dengan baik jika guru dapat memberikan contoh terhadap lingkungan pendidikan. Jadi, guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggungjawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir proses pendidikan. Untuk mencapai tujuan akhir proses pendidikan, guru harus mengetahui tugas-tugas pokok dan hak-hak yang melekat pada dirinya. Guru juga harus memperhatikan adanya delapan langkah kearifan (wisdom) yang dimilikinya dalam mengemban tugas-tugas pokoknya. Kearifan (wisdom) merupakan solusi mengatasi dinamika dunia pendidikan (khusunya di sekolah) dengan memberikan karakter yang terpuji, tidak mengumbar janji, tidak mementingkan diri atau kelompok, memberikan keteladanan, kehidupan yang beriman dan bertakqwa yaitu kehidupan yang didasarkan pada atau dilandasi pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang dianut secara konsisten dan konsekuen, bekal kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang komprehensif. Hal-hal tersebut dapat dipandang sebagai nilai-niai dasar sikap seseorang guru. BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN A. A. Landasan Hukum 1. UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen : Bab I Pasal 1, Bab IV Pasal 14 Bagian 1, Bab IV Pasal 20. B. B. Tugas-Tugas Pokok Guru

Menurut UU Nomor 15 tahun 2005 Bab I Pasal 1 tentang guru dan dosen bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Hamzah B Uno (2007:18) berpendapat bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas personal (pribadi), dan tugas sosial (kemasyarakatan). 1. Tugas-tugas profesional Guru harus memiliki pengetahuan yang luas dari Subject Matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki konsep teoritis dan mampu memilih metode dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus meneruskan atau mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Hamzah B Uno (2007:19) berdasarkan peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, guru harus memiliki kemampuan : a. Merencanakan sistem pembelajaran  Merumuskan tujuan,  Memilih prioritas materi yang akan diajarkan,  Memilih dan menggunakan metode,  Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada,  Memilih dan menggunakan media pembelajaran. b. Melaksanakan sistem pembelajaran  Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat,  Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat. c. Mengevaluasi sistem pembelajaran  Memilih dan menyusun jenis evaluasi,  Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses,  Mengadministrasikan hasil evaluasi. d. Mengembangkan sistem pembelajaran  Menoptimalisasikan potensi peserta didik,  Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri,  Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut. Disamping sebagai pengelola proses pembelajaran, guru juga mempunyai tugas profesional lain, yaitu mendidik. Chatarina (2008:34) memberikan makna mendidik sebagai

mendorong dan membimbing peserta didik agar maju menuju kedewasaan secara utuh, sehingga menjadikan peserta didik baik dan benar. Kedewasaan yang dimaksud meliputi kedewasaan intelektual, emosi, sosial, fisik, seni, spiritual, dan moral. Hal ini berarti bahwa siswa perlu dibantu untuk berkembang secara holistik, sehingga perkembangannya tidak hanya pada aspek intelektualnya saja. Peserta didik dibantu agar emosinya seimbang dan tertata, sehingga tidak menjadi emosional tatkala bersikap. Sebagai makhluk sosial, peserta didik juga dibantu mengembangkan kepekaan dan rela hidup dengan orang lain. Secara fisikpun peserta didik perlu dibantu agar menjadi manusia yang sehat jasmaninya. 2. Tugas personal (pribadi) Menurut Martinis Yamin (2007:5) tugas personal (pribadi) mencakup hal-hal sebagai berikut :  Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya,  Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru,  Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya. Menurut Chatarina (2008:30), seseorang menjadi guru harus memahami bahwa profesi yang ditempuhnya berdasarkan panggilan hidup bukan sekedar bentuk kompensasi karena tidak ada profesi lain yang bisa ditekuni. Lebih lanjut dikatakan bahwa, terdapat dua kriteria bahwa profesi sebagai panggilan hidup, yaitu: (1) pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain atau ada unsur sosial, dan (2) pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri kita sebagai pribadi. 3. Tugas sosial (kemasyarakatan) Menurut Chatarina (2008:31), tugas guru hendaknya disesuaikan dengan misi kemanusiaan, artinya bahwa tugas yang dilakukan guru tatkala mengajar dan mendidik selalu terfokus pada loyalitasnya terhadap masyarakat. Guru harus menunjukkan atau mampu berinteraksi sosial, baik dengan peserta didiknya maupun dengan sesama guru, karyawan, dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Guru harus memahami dan menerapkan prinsip belajar humanistik yang beranggapan bahwa keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan yang ada pada diri peserta didik tersebut. Tugas sosial yang dimiliki guru adalah menyangkut kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik dan lingkungan mereka seperti, orang tua, tetangga, dan sesama teman. Dalam

menjalankan tugas sosialnya, seorang guru juga harus bercermin pada kearifan lokal “Hasta Brata”. Dengan hasta brata diharapkan guru benar-benar sebagai seorang pemimpin dalam lingkungan sosial (masyarakat). Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-praktek komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat anak didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini tidak akan hidup mengasingkan diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui suara (lagu, nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan), melalui bentuk berupa ukiran, atau melalui simbul-simbul dan tanda tanda yang biasanya disebut rumus-rumus. Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas profesional, tugas personal, dan tugas sosial, apabila diutarakan sekaligus merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional. UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 Tentang Guru dan Dosen dijelaskan

bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalisan, guru berkewajiban : a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Apabila seorang guru telah selesai melaksanakan tugas-tugas pokoknya, maka guru tersebut mendapatkan hak-haknya. Adapun hak guru dijelaskan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 14 Bagian 1 tentang guru dan dosen sebagai berikut: a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundangundangan; g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; h. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan; j. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/atau k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya. C. C. Hasta Brata Guru
Istilah Hasta Brata2

[2] diambil dari buku Ramayana karya Yasadipura I yang hidup pada akhir abad ke-18 (1729-1803 M) di keraton

Surakarta. Secara etimologis, “hasta” artinya delapan, sedangkan “Brata” artinya langkah. Secara terminologis berarti delapan langkah yang harus dimiliki seorang guru dalam mengemban misi pendidikan.

Bagaimana bersikap yang baik bagi seseorang guru yang profesional untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan : 1. Surya, yaitu matahari; senantiasa memancar untuk menumbuh kembangkan gaya hidup. 2. Candra, yaitu bulan; sifat cahaya bulan, yang lembut pada kegelapan malam, menyentuh hati dan menumbuhkan semangat serta membangkitkan harapan.

3. Kartika, yaitu bintang; jadi pedoman arah dan perjalanan serta dapat memberi keteladanan yang baik. 4. Angkasa, yaitu langit; sifat langit luas, tidak terbatas dan dapat menampung apa saja yang datang, terbuka, mengendalikan diri, sabar, dan mendengar semua keluhan. 5. Dahana, yaitu api; memiliki kemampuan dahsyat yang bisa menghancurkan, berwibawa, tegas dan berani, menegakkan kebenaran dan keadilan. 6. Maruta, yaitu angin; sifat angin selalu ada dimana-mana saja, selalu dekat dengan siswa, memahami dan menyerap serta melaksanakan aspirasi dan harapan siswa maupun kehendak siswa. 7. Samudra, yaitu laut; sifat laut luas dan dalam, yang selalu mempunyai permukaan rata dan sejuk, mampu, arif, bijaksana, adil dan memberikan kasih sayang kepada siswa. 8. Kismo (Bumi), yaitu tanah; sifat tanah selalu bermurah hati, memberikan hasil kepada siapa saja yang mengolah dan memilikinya. Mampu bersikap teguh, bermurah hati, selalu berusaha melaksanakan, tidak mengecewakan kepercayaan lingkungan. BAB III KESIMPULAN Berdasarkan kajian dan pembahasan di atas, maka guru yang profesional dapat dipaparkan sebagai berikut : 1. Guru profesional dalam menjalankan tugas dalam dunia pendidikan harus mengacu pada Undang-Undang yang telah diatur, khususnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, 2. Guru profesional dalam menjalankan tugas-tugas pokoknya tetap mengacu pada tugas profesional, tugas personal, dan tugas sosial. 3. Guru profesional dalam menjalankan tugas-tugas pokok dalam dunia pendidikan seyogyanya memegang teguh pada kearifan lokal yang sangat menuntun selama perjalanannya, yaitu Hasta Brata, 4. Setelah guru menjalankan tugas pokoknya, maka guru berhak mendapatkan hak-hak yang melekat pada dirinya. DAFTAR PUSTAKA Anni, Chatarina Tri dan Mugiarso, Heru, 2008, Bahan Ajar Teori Kepribadian dan Etika, Unnes Semarang.

Aqib, Z dan Rohmanto, E, 2007, Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah, CV. Yrama Widya, Bandung. Uno, H. Hamzah B., 2007, Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia, PT. Bumi Aksara, Jakarta. Yamin, Marthin, 2007, Profesionalisasi Guru dan Implenetasi KTSP, Gaung Persada Press, Jakarta. ..........................., Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 11 Juli 2008, Unnes Semarang
.................................,

HASTA BRATA, FILOSOFI KEPEMIMPINAN JAWA, 10 JULI 2008 AT 11:27 PM | IN SHARING

A.KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS Menurut “ LOIS V Jonson “ dan “Maria bani” (class room menejement) yang di ikhtibarkan oleh DR. Made Pidarta (1970). 1. Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep lama adalah mempertahankan ketertiban kelas 2. Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep moderen adalah proses seleksi dan penggunaan alat –alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas 3. Konsep dasar pengelolaan kelas sangat perlu dan penting dipahami oleh seorang pendidik karena konsep dasar pengelolaan kelas berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yang konduksif. B.TUJUAN PENGELOLAAN KELAS Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam –macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social . Suharsimi Arikunto ,(1988:68) berpendapat bahwa bertujuan pengelolaan adalah agar setiap anak dikelas padat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan sebagai guru kita harus sadar tanpa mengelola kelas dengan baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajar. C. PENEGRTIAN PENGELOLAAN KELAS Pengelolaan kelas berdiri dari dua kata yaitu : pengelolaan dan kelas Kata Pengelolaan adalah berasal dari kata “kelola” ditambah awalan “pe dan an”. Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan. Sedangakan kelas menurut „‟ UMAR HAMALIK (1987;311)‟‟ adalah kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari guru . “SUHARSIMI ARIKUNTO” berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar / yang membantu dengan maksud agar di capai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan dengan lancar dan terciptanya kondisi belajar yang optimal untuk berlangsungnya kegiatan belajar siswa. D. BERBAGAI PANDANGAN TENTANG PENGELOLAAN KELAS Arti pengelolaan kelas dapat ditinjau dari beberapa pandangan : 1. Pandangan otoriter bahwa pengelolaan kelas sebagai proses mengontrol tingkah laku siswa atau seperangkat kegiatan guru untuk mempertahankan ketrtiban kelas. 2. Pandangan permisif bahwa pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksudkan kebebasan siswa. 3. Pandangan behavarior modivikation adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengubah tingkah laku siswa. (proses pengubahan tingkah laku) kearah positif. 4. Pandangan proses kelompok, bahwa pengelolaan keles adalah seperangkat kegiatan guru untuk menambahkan organisasi kelas yang efektif. E.KONSEP OPERASIONAL PENGELOLAAN KELAS Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan. Perlu diperhatikan pengaturan ruang kelas belajar penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan

memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, ada beberapa hal yang peerlu diperhatikan: a. Ukuran dan bentuk kelas b. Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa c. Jumlah siswa dalam kelas d. Jumlah siswa dalam setiap kelompok Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang kurang pandai dan yang pandai, pria dan wanita). F. PRINSIP PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS Sebagai pekerja professional seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan kelas,sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dulu meyakinkan bahwa pendekatan yang di pilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaaan kelas merupakan alternative yang terbaiksesuai dengan hakikat masalahnya. Berbagai pendekatan yang guru lakukandalam rangka pengelolaan kelas : 1. Pendekatan kekuasaan Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplindalam kelas. 2. Pendekatan ancaman Dari pendekatan ancaman ini pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses dalam mengontrol tingkah laku anak didik 3. Pendekatan pengajaran Pendekatan ini di dasarkan atas suatu tanggapan bahwa suatu perencanaandan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik. 4. Pendekatan perubahan tingkah laku a. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. b. Di dalam prosees belajar terdapat proses psikologis yang tanda mental berupa penguatan positif. Dalam rangka memperkecil masalah gangguan oleh pengelolaan kelas, prinsip – prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan . maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip – prinsip pengelolaan kelas yang akaan diuraikan sebagai berikut: 1. Hangat dan antusiasi Hangat dan antusiasi sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. 2. Tantangan Penggunaan kata –kata Tanya atau bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar. 3. Penanaman disiplin diri Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendri. DAFTAR PUSTAKA  Adam and Dicky .Basic principles Of Student Teaching.N.Y,USA American Book Company 1946

 Entang, M.ddk. pengelolaan kelas. Jakarta : PPLPTK. Depdikdup RI, 1985  Gooddykoondz, Bess.membantu anak agar sukses di sekolah. Jakarta.bulan bintang,1985  Conny Semiawan, dkk, pendekatan keterampilan proses bagaimana mengaktifkan siswa dalam belajar.Gramedia, Jakarta ,1985.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->