PENERAPAN KEADILAN RESTORATIF DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI KOTA MAKASSAR (SUATU PEMBARUAN HUKUM ACARA PIDANA

ANAK) APPLICATION OF RESTORATIVE JUSTICE IN CHILDREN CRIMINAL COURT SYSTEM IN MAKASSAR (AN INNOVATION OF CHILDREN CRIMINAL LAW)

Sri Rahmi, Aswanto, Muh.Syukri Konsentrasi Hukum Pidana, Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin

Alamat Korespondensi : Sri Rahmi, S.H. Fakultas Hukum Program Pascasarjana (S2) Universitas Hasanuddin Makassar, 90216 HP: 085656883232 / 082188344344 Email: amifighter@yahoo.co.id 1

Efforts of law enforcement in order that restorative justice were optimally implemented in Makassar were the establishment of regulations which accomodate all rules of managing ABH through restorative justice approach. and secondary data was obtained from documents. coordination among law enforcement apparatus in Makassar city. Kata Kunci : Keadilan restoratif. makalah. Primary data was obtained from an observation and interviews with various related persons. Keywords : Restorative justice. dan mengubah paradigma aparat penegak hukum dari pendekatan retributive dan restitutive justice menjadi restorative justice. dan kultur hukum/partisipasi masyarakat yang belum maksimal. Children Criminal Justice System. legal innovation. sistem peradilan pidana anak. Data primer dan data sekunder diperoleh melalui studi dan wawancara dengan berbagai pihak yang terkait dan diperoleh melalui dokumen. The research was conducted in Makassar and Jakarta. penegak hukum yang belum melaksanakan secara optimal peraturan yang sudah ada dan masih bersikap kaku. and changing the legal enforcement apparatus paradigm from retributive and restitutive approach to restorative justice. as well as legal culture/community participation which were still not optimumally implemented. papers. Sedangkan upaya-upaya penegak hukum agar penerapan keadilan restoratif berjalan secara optimal di kota Makassar adalah pembuatan regulasi yang mengakomodir semua ketentuan tentang penanganan ABH melalui pendekatan keadilan restoratif. books. socialization among all legal enforcement apparatus and community. koordinasi antar aparat penegak hukum di kota Makassar. Abstract The aims of the study were to determin the factors hindering the implementation of restorative justice in children criminal court system in Makassar and to acknowledge the effort undertaken for law enforcement so that the restorative justice is optimally implemented. law enforcement officers who had not optimally implemented the existing rules and were unflexible. and legislation closely related to the object of the study. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar dan Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menghambat terlaksananya penerapan keadilan restoratif di kota Makassar adalah substansi hukum yang belum mengakomodir pelaksanaan keadilan restoratif secara lengkap.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat terlaksananya penerapan keadilan restoratif di kota Makassar dan mengetahui upaya-upaya penegak hukum agar penerapan keadilan restoratif berjalan secara optimal. The results of the research indicated that the factors hindering the implementation of restorative justice in Makassar city were legal substance which had not accomodated the full implementation of restorative justice. sosialisasi ke semua aparat penegak hukum dan masyarakat. pembaruan hukum. serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan erat dengan objek penelitian. buku. 2 .

23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa penangkapan. (Dewi. Anak berusia 8 tahun ini ditahan selama 19 hari untuk menjalani proses hukum yang menimbulkan trauma. Tentu saja semua ini butuh perhatian yang serius dari semua pihak karena mengingat anak merupakan penerus generasi bangsa yang punya masa depan dan harapan untuk meneruskan estafet kepemimpinan bangsa ini. dkk. 2011) Sebagian peraturan yang berkaitan dengan penahanan ABH sebenarnya sudah berupaya menerapkan keadilan restoratif. (Marlina. 3 . 2009) Pemidanaan bagi anak merupakan ultimum remedium juga telah diharmonisasikan dalam UU tentang Hak Asasi Manusia No. (Nugraheni. Peraturan ini sesuai dengan Convention of The Right of The Child yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Keputusan Presiden No. ini menunjukkan bahwa masih banyak anak di Indonesia yang berkonflik dengan hukum dan dihadapkan pada mekanisme peradilan pidana anak.000 yang dilakukan oleh anak laki-laki kelas 1 SMP menjalani proses hukum dan dituntut Pasal 362 KUHP dan diancam penjara selama 7 tahun (Fokus Pagi di Indosiar tanggal 29 April 2011 pukul 7.39 Tahun 1999 (Pasal 66 ayat 3 dan 4). namun tetap timbul berbagai protes dari para pemerhati anak Indonesia. Begitupula dengan kasus pencurian sandal jepit yang dilakukan oleh seorang anak yang berinisial AL di Palu kemudian diproses secara hukum formal dan diperhadapkan di meja hijau. Dalam implementasinya telah juga dipertegas oleh mantan Ketua Mahkamah Agung. walaupun belum secara komprehensif.. Akan tetapi kenyataannya. 2009). penahanan. atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.50 WITA).PENDAHULUAN Salah satu bentuk penanganan terhadap ABH diatur dalam Pasal 16 ayat 3 UU No. Kasus pencurian voucher pulsa Rp. dalam tulisannya di Harian Kompas yang mengimbau para hakim agar menghindari penahanan pada anak dan mengutamakan putusan berupa tindakan daripada pidana penjara. Bagir Manan. Dari kasus di atas. Proses persidangan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Stabat Cabang Pangkalan Brandan Kabupaten Langkat Sumut itu sebenarnya sudah prosedural. 10. sesuai dengan ketentuan hukum peradilan anak yang berlaku. banyak ABH yang melakukan kejahatan ringan kemudian dipenjara seperti hebohnya dunia hukum anak di Indonesia pada tahun 2006 yang terangkat kepermukaan adalah kasus Raju.36 Tahun 1990 dengan menyatakan bahwa proses hukum dilakukan sebagai langkah terakhir dan untuk masa yang paling singkat dan layak.

2010) Demi kepentingan terbaik bagi anak sudah selayaknya Aparat Penegak Hukum menerapkan pendekatan Restorative Justice/keadilan restoratif sambil menunggu disahkan RUU Sistem Peradilan Pidana Anak. Restorative Justice system setidak-tidaknya bertujuan untuk memperbaiki /memulihkan (to restore) perbuatan kriminal yang dilakukan anak dengan tindakan yang bermanfaat bagi anak. Dibutuhkan kesadaran dari Aparat Penegak Hukum dalam menerapkan keadilan restoratif lebih menggunakan Moral Justice (keadilan menurut nurani) dan memperhatikan Sosial Justice (keadilan masyarakat) selain wajib mempertimbangkan Legal Justice (keadilan berdasarkan perundang-undangan) sehingga tercapainya Presice Justice (Penghargaan tertinggi untuk keadilan). (Dewi. dkk. Metode penelitian kepustakaan (library research). Masyarakat Internasional semakin menyadari dan menyepakati bahwa perlu ada perubahan pola pikir yang radikal dalam menangani permasalahan ABH. korban dan lingkungannya. yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan sejumlah data dengan jalan membaca dan menelusuri literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dan metode penelitian lapangan (field research). penulis memilih lokasi penelitian di kota Makassar dan kota Jakarta. maka penulis melakukan pengumpulan data dengan 2 cara yakni melalui kepustakaan dan metode penelitian lapangan.Perubahan paradigma tentang keadilan dalam hukum pidana merupakan fenomena yang sudah mendunia dewasa ini. yaitu penelitian yang dilakukan di lapangan dengan pengamatan langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat terlaksananya penerapan keadilan restoratif di kota Makassar dan untuk mengetahui upaya penegak hukum agar penerapan keadilan restoratif berjalan secara optimal. Sangat dibutuhkan koordinasi antara Aparat Penegak Hukum agar terwujudnya Sistem Peradilan Pidana Terpadu (Integrated Criminal Justice System) untuk menyamakan persepsi dalam penanganan ABH.. dan Hakim). Jaksa. Sistem peradilan anak yang sekarang berlandaskan pada keadilan retributive (menekankan keadilan pada pembalasan) dan restitutive (menekankan keadilan atas dasar pemberian ganti rugi) hanya memberikan wewenang kepada Negara yang didelegasikan kepada Aparat Penegak Hukum (Polisi. Teknik Pengumpulan Data Dalam rangka memperoleh data sebagaimana yang diharapkan. 2011) METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Dalam penyusunan tesis ini. (Mansyur. Dalam 4 .

integritas aparat penegak hukum yang buruk. perumbuhan hukum yang mandek.metode ini penulis menempuh dua jalan yaitu Wawancara (penulis mengadakan tanya jawab dengan pihak-pihak yang terkait langsung dengan masalah yang dibahas) dan dokumentasi. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pihak-pihak yang terkait yaitu dalam hal ini Pihak Kepolisian. dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kejaksaan. terdapat empat fakta yang menandai kondisi gagalnya proses penegakan hukum di Indonesia: “ Pertama. dan 1 (satu) orang dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Balai Pemasyarakatan Anak di kota Makassar dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jakarta. Jenis dan Sumber Data Jenis data dan sumber data dalam penelitian ini adalah Data primer (data yang diperoleh secara langsung dari sebuah penelitian lapangan baik berupa wawancara langsung terhadap narasumber maupun wawancara dengan pihak terkait dalam hal ini Pihak Kepolisian. Analisis Data Setelah semua data terkumpul baik data primer atau sekunder. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral. ketidakmandirian hukum. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor-Faktor yang Menghambat Terlaksananya Penerapan Keadilan Restoratif di Kota Makassar Menurut Amir Syamsuddin (Faisal. Sampel yang dipilih adalah narasumber yang terdiri atas 2 (dua) orang dari Pihak Kepolisian Kota Makassar.” Masalah pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang memengaruhinya. sehingga dampak positif 5 . (penulis mengambil data kenakalan yang dilakukan oleh anak). selanjutnya akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif untuk lebih mendapatkan gambaran nyata yang selanjutnya akan disajikan secara deskriptif. 1 (satu) orang dari Balai Pemasyarakatan Anak. Pengadilan. 2010: 81). 2 (dua) orang dari Pengadilan Negeri Makassar. Kejaksaan. Balai Pemasyarakatan Anak. Dari populasi tersebut ditetapkan atau dipilih secara acak. Ketiga. Data sekunder (data yang diperoleh melalui kepustakaan yang relevan yaitu literatur. Keempat. Pengadilan. 2 (dua) orang dari Kejaksaan Negeri Makassar. kondisi masyarakat yang rapuh. dokumen-dokumen serta peraturan perundang-undangan). Kedua.

termasuk putusan pengadilan. tetapi kelemahannya yaitu komposisinya yang menempatkan penjatuhan pidana lebih di atas daripada tindakan. 2009) mengemukakan bahwa: “Substansi hukum adalah keseluruhan aturan hukum. yaitu Undang-Undang Pengadilan Anak juga belum memberikan alternatif mekanisme penerapan keadilan restoratif (seperti diversi atau mediasi) yang jelas untuk bisa menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum. norma hukum. Namun demikian. Seharusnya penjatuhan tindakan lebih utama daripada penjatuhan pidana. (Supeno. aparat penegak hukum lebih banyak yang mempunyai paradigma legalistik yang hanya berpedoman pada hukum tertulis an sich dengan alasan mereka memang dilatih untuk itu. 2010).” Hal senada juga diungkapkan oleh Andi Armasari (Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Makassar. Faktor-faktor yang menghambat penerapan keadilan restoratif di kota Makassar adalah sebagai berikut: Substansi Hukum Substansi hukum menurut Lawrence M. Menurut Makmur (Hakim Anak Pengadilan Negeri Makassar. Fakta yang terjadi. penyidik yang kadang menghalangi pihak pelaku dan 6 . dalam kenyataannya tidak cukup membawa perubahan yang cukup baik bagi anak-anak yang bermasalah dengan hukum. Kendala yang dihadapi di instansi kepolisian dalam melakukan pendekatan keadilan restoratif adalah banyaknya para penegak hukum yang masih berparadigma legalistik. kaku. hukum sendiri juga memberikan kelenturan dalam penanganan ABH. dan asas hukum. dikarenakan kurangnya pemahaman penyidik dan kurangnya sosialisasi terhadap aturan yang ada. dan kurangnya pemahaman tentang penanganan ABH. wawancara tanggal 6 Februari 2012) bahwa: “Undang-Undang Pengadilan Anak sudah bagus. meskipun sudah ada berbagai perangkat hukum. Hal ini diungkapkan oleh Ros Dalima (Kanit PPA.” Struktur Hukum Sebenarnya kelemahan dari peraturan yang ada bisa teratasi apabila ada kepedulian dan sensitivitas dari aparat penegak hukum dalam penanganan ABH. walaupun belum secara komprehensif.” Sebagian peraturan yang berkaitan dengan penanganan ABH sebenarnya sudah berupaya menetapkan keadilan restoratif. wawancara tanggal 7 Februari 2012) bahwa: “ Seharusnya pada tingkat penyidikan dilakukan pendekatan keadilan restoratif agar tidak diteruskan pada tingkat penuntutan. Padahal. Pidana penjara ditempatkan paling akhir. Kelemahan yang terkandung dalam peraturan-peraturan yang terkait dengan penanganan ABH itu sendiri. baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. wawancara tanggal 3 Februari 2012) bahwa: “ Masih adanya kasus-kasus ringan yang diproses secara hukum oleh Kepolisian. Namun sayangnya.atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Friedman (Ali. Hal ini terjadi karena mereka mempunyai diskresi untuk memberikan alternatif yang lebih baik daripada penjara untuk melindungi kepentingan masa depan anak.

sehingga masyarakat dapat memengaruhi penegakan hukum tersebut. maka berbagai kebijakan penegak hukum maupun putusan hakim gagal untuk menghasilkan suatu keadilan yang substansial. melainkan hanya sekadar keadilan yang prosedural. kemudian kami akan lanjutkan.2010).” Achmad Ali (Faisal. Hal ini dapat terlihat dari tabel berikut ini: Tabel 1 Data Penanganan ABH Kejaksaan Negeri Makassar Tahun 2010-2011 Tahun 2010 2011 Total Jumlah Kasus 172 117 289 Keadilan Restoratif (Upaya Damai) Proses Hukum 172 117 289 Sumber: Kejaksaan Negeri Kota Makassar Tahun 2012 Tabel 1 menunjukkan bahwa tahun 2010 dan 2011. maka tidak heran akan menghasilkan keadilan prosedural yang belum tentu merefleksikan keadilan yang substansial. Prosedur menghambat kami untuk melakukan pendekatan keadilan restoratif karena kami harus melaksanakan tugas sesuai aturan yang berlaku.” Kendala yang sama dihadapi juga di tingkat penuntutan. karena akibat penggunaan kacamata positivistik yang kaku dalam menginterpretasikan berbagai undang-undang. Kita bukan ingin merendahkan penyidik. memberikan kritik terhadap penegak hukum positivist yang mengatakan: “Dewasa ini cara berhukum bangsa ini sangat memprihatinkan. harus sesuai dengan aturan karena akan dilaporkan kepada pimpinan. Menurut Andi Armasari (Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Makassar. wawancara tanggal 7 Februari 2012) bahwa: “ Kami dalam melakukan kebijakan.korban untuk berdamai. 7 . tetapi semua kasus anak diproses sesuai prosedur hukum formal.” Pernyataan tersebut hendak mengatakan bahwa penerapan positivisme hukum dalam praktik lebih mengutamakan prosedur atau hukum acara. Apabila sudah disetujui oleh pimpinan. Kultur Hukum/Partisipasi Masyarakat Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. penanganan ABH di tingkat penuntutan tidak melalui pendekatan keadilan restoratif. kenyataannya banyak penyidik yang tamatan SMA sehingga dalam memberikan pemahaman hukum kepada masyarakat sangat minim.

petugas Balai Pemasyarakatan (BAPAS). c. Adapun upayaupaya yang harus dilakukan agar penerapan keadilan restoratif dapat berjalan secara optimal adalah sebagai berikut: a. Hal ini diungkapkan oleh Wahyudi (Penyidik Pembantu PPA.” Upaya Penegak Hukum agar Penerapan Keadilan Restoratif Berjalan Secara Optimal Penegakan hukum merupakan rangkaian proses untuk menjabarkan nilai. petugas Rumah Tahanan (RUTAN). wawancara tanggal 3 Februari 2012) bahwa: “ Ketika mereka didamaikan. Koordinasi dan kerja sama tersebut. b. Kementerian Pendidikan Nasional. masyarakat beranggapan bahwa penyidik membela dan dibayar oleh pihak pelaku sehingga pelaku tidak diproses. cita yang cukup abstrak menjadi tujuan hukum secara konkrit. yaitu dengan membentuk peraturan yang mengakomodir tentang keadilan restoratif. Mengubah paradigma masyarakat dari paradigma bahwa setiap orang yang melakukan kejahatan harus dihukum menjadi paradigma bahwa setiap orang yang melakukan 8 . Tujuan hukum atau cita hukum memuat nilai-nilai moral. Salah satu kendala terhambatnya penerapan keadilan restoratif di kota Makassar adalah paradigma masyarakat yang masih beranggapan bahwa setiap tindak kejahatan yang dilakukan harus ada balasannya (retributif justice). Padahal kami melakukan upaya damai untuk kepentingan terbaik bagi anak.(Soekanto. selain untuk penyamaan persepsi juga untuk penyelarasan gerak langkah. d. jaksa. Perubahan paradigma.” Paradigma negatif masyarakat terhadap penegak hukum juga mempunyai pengaruh besar terhadap penerapan keadilan restoratif. Kendala yang dihadapi oleh kepolisian dalam melakukan pendekatan keadilan restoratif adalah dari pihak korban yang tidak ingin memaafkan pihak pelaku karena adanya kerugian besar yang dialami oleh pihak korban. wawancara tanggal 3 Februari 2012) bahwa: “ Kendala yang dihadapi adalah pihak orang tua korban yang keberatan dan masih ngotot untuk lanjut ke proses hukum dan pihak orang tua korban berpikir bahwa setiap orang yang melakukan kejahatan harus dihukum.. Kementerian Sosial. harus dilaporkan ke pihak kepolisian untuk dilanjutkan ke proses persidangan. peranan masyarakat sangat penting. Melakukan koordinasi dan kerja sama antara aparat penegak hukum (polisi. Kementerian Kesehatan. advokat. Hal ini diungkapkan oleh Ros Dalima (Kanit PPA. Untuk menerapkan keadilan restoratif di kota Makassar khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Regulasi. Penyidik harus hati-hati dalam proses mediasi karena pihak korban beranggapan bahwa kami memihak ke pelaku. dan kementerian lainnya yang terkait dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. dan hakim). 2005). Melakukan sosialisasi ke semua aparat penegak hukum dan masyarakat. Sehingga jika ada anak yang melakukan perilaku menyimpang. seperti keadilan dan kebenaran. (Sukanegara. ide. 2007).

pikiran. perlunya diupayakan agar aparat penegak hukum yang terlibat dalam penanganan ABH agar tidak hanya mengacu pada UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Diperlukan pemisahan registrasi berkas perkara anak di instansi kepolisian dan kejaksaan. paradigma hukum progresif bahwa hukum untuk manusia dan bukan sebaliknya. Karena hati nurani ditempatkan sebagai penggerak. dan kultur hukum/partisipasi masyarakat yang belum maksimal. Mediasi dalam perkara anak perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas. sosialisasi ke semua aparat penegak hukum dan masyarakat. perlu juga mengubah paradigma penegak hukum agar berparadigma progresif karena perilaku penegak hukum progresif itu menjunjung tinggi moralitas. koordinasi antar aparat penegak hukum di kota Makassar. Dengan begitu. (Sudirman. penegak hukum yang belum melaksanakan secara optimal peraturan yang sudah ada dan masih bersikap kaku. 2007). Selain itu. Upaya penegak hukum agar penerapan keadilan restoratif berjalan secara optimal di kota Makassar adalah pembuatan regulasi yang mengakomodir semua ketentuan tentang penanganan ABH melalui pendekatan keadilan restoratif. Kepada aparat penegak hukum yang menangani masalah anak hendaknya mengutamakan perdamaian daripada proses hukum formal. Oleh karena itu. Diperlukan peningkatan sumber daya manusia aparat penegak hukum yang terlibat dalam penanganan ABH melalui sosialisasi. dan mengubah paradigma aparat penegak hukum dari pendekatan retributive dan restitutive justice menjadi restorative justice. asas serta aksi yang tepat untuk mewujudkannya. pendorong sekaligus pengendali paradigma pembebasan itu. pendidikan dan pelatihan khusus agar mereka dapat memahami wujud dari peradilan anak dan hak-hak anak yang tertuang dalam Undang-Undang Pengadilan Anak sehingga hakhak anak pelaku tindak pidana dapat dilindungi dan ditegakkan. KESIMPULAN DAN SARAN Faktor-faktor yang menghambat terlaksananya penerapan keadilan restoratif di kota Makassar adalah substansi hukum yang belum mengakomodir pelaksanaan keadilan restoratif secara lengkap.kejahatan harus diselesaikan dulu melalui musyawarah dan perdamaian. Perlunya pengadaan ruang tahanan khusus anak dan ruang sidang anak serta jaksa yang bersertifikasi khusus menangani masalah anak. 9 . tetapi juga mengacu pada instrumen nasional dan internasional serta Surat Keputusan Bersama. akan membuat perilaku penegak hukum progresif merasa bebas untuk mencari dan menemukan format.

Refika Aditama.. Bandung: PT.DAFTAR PUSTAKA Ali. Semarang: Universitas diponegoro. Jakarta: Yayasan Gema Yustisia Indonesia. (2007). Jakarta: Prenada Media Group. Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan. Peradilan Pidana Anak di Indonesia (Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice). ( 2009). (2011). Mansyur. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Tujuan dan Pedoman Pemidanaan dalam Pembaruan Sistem Pemidanaan di Indonesia. (2005). Kriminalisasi Anak: Tawaran Gagasan Radikal Peradilan Anak Tanpa Pemidanaan. Hati Nurani Hakim dan Putusannya. Menerobos Positivisme Hukum. Soekanto. Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. (2007). Yogyakarta: Mata Padi Presindo. Sudirman. Mediasi Penal Terhadap Perkara KDRT. Marlina. (2010). Supeno. Nugraheni. Sukanegara. Depok: Indie Publishing. (2010). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Dewi dkk. Faisal. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. 10 . Sistem Pemidanaan Edukatif Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana. (2009). (2010). Semarang: Undip. (2009).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful