INSEMINASI BUATAN

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah pelaksanaan teknologi inseminasi buatan menggunakan semen beku pada rusa Sambar (Cervus unicolor), rusa Timor (Cervus timorensis) dan rusa Bawean (Axis kuhlii). Dengan terbatasnya materi rusa betina yang digunakan adalah Sambar, Rusa Timor, Rusa Bawean masing masing 12, 5 dan 3 ekor. Penanganan untuk inseminasi dilakukan dengan menggunakan kandang jepit khusus atau dengan anastesi umum. Anastesi dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat anastesi xylazyne dan ketamine dengan dosis masing-masing 1 mg/kg berat badan. Dengan menggunakan spekulum, pipet inseminasi dimasukkan ke serviks sedalam mungkin dan spermatozoa dideposisikan dengan jumlah 60x106 spermatozoa. Inseminasi yang dilakukan pada Rusa Sambar, Rusa Timor, Rusa Bawean masing masing menghasilkan kebuntingan berturut-turut sejumlah 4 ekor (25%), 2 ekor (40%) dan 1 ekor (33%). Keberhasilan inseminasi buatan menggunakan semen beku memungkinkan transport spermatozoa dilaksanakan antar propinsi atau antar negara, untuk trasfer materi genetik untuk menghindarkan inbreeding pada rusa yang dipelihara dengan populasi kecil. Transfer materi genetik ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan produksi daging dan produksi ranggah pada peternakan rusa Indonesia mendatang. Kata kunci: Rusa Indonseia, Semen beku, Inseminasi buatan

ABSTRACT
The aim of the present study was to evaluate technology of artificial insemination using frozen thawed semen in three species of Indonesian deer; Sambar (Cervus unicolor), rusa Timor (Cervus timorensis) and Bawean (Axis kuhlii). Because of limitation of the deer only 12 hinds of Sambar, 5 hinds of rusa Timor and 3 hinds Bawean were used in the present study. Physical restraint using deer crush and chemical restrain using combination of xylazyne and ketamine each of 1 mg/kg body weight were used for handling and restraining deer. By using speculum, insemination pipette was inserted as deep as possible through cervix and frozen-thawed spermatozoa of 60x10 6 live spermatozoa was deposited. Insemination performed in Sambar, Rusa Timor and Bawean deer produced 4 (25%), 2 (40%) and 1 (33%) pregnancies. Success of artificial insemination using frozen-thawed spermatozoa would be able to facilitate transportation of genetic materials between provinces and countries beyond national boundaries in order to prevent in breeding and to facilitate meta population’s management. Transfer genetics materials may also be used to increases meat production and velvet production of the future Indonesian deer farming. Key Words: Indonesian deer, frozen semen, artificial insemination.

PENDAHULUAN Inseminasi buatan telah dilaksanakan pada hewan ternak diseluruh dunia baik pada negara yang sedang berkembang maupun pada negara maju, untuk meningkatkan kualitas ternak. (Holt, 1989; 1992, Dradjat 1999; 2001). Pada negara dimana peternakan rusa telah berkembang, Inseminasi buatan telah dilaksanakan pada beberapa spesies rusa untuk meningkatkan kenaikan berat badan dan meningkatkan berat ranggah muda. Sedangkan negara seperti Indonesia peternakan rusa boleh dikatakan belum dimulai, bahkan rusa masih diangap hewan liar yang pemanfaatannya sangat dibatasi oleh peraturan perundang-undangan. Kecenderungan kepunahan hewan liar di dunia, termasuk di Indonesia berlangsung secara cepat sejak tahun 1960 (Mace et al., 1992). Laporan IUCN tahun 1994, menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang menempati urutan teratas di dunia dalam jumlah hewan yang terancam kepunahan (Groombrige,1993).

A. Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdinya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan

seorang dokter dan anatomi Belanda. Anthony van Leeuwenhoek sarjana Belanda penemu mikroskop dan muridnya Johan amm merupakan orang pertama yang melihat sel kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri. yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Mereka menyebut sel kelamin jantan yang tak terhitung jumlahnya tersebut animalcules atau animalculae yang berarti jasad renik yang mempunyai daya gerak maju progresif. 1678. Dia berhasil menginseminasi amphibia.dengan pejantan yang dikenal cepat larinya. Enam puluh hari setelah inseminasi. Peneliti yang sama pada tahun 1803. Cairan yang tertinggal diatas filter mempunyai daya fertilisasi tinggi. yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Hasil .Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoatozoa tetapi mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam. induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan uang dipakai semennya. Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia. dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan teknik tersebut. Di kemudian hari sel kelamin jantan tersebut dikenal dengan spermatozoatozoa. menyumbangkan pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup spermatozoatozoa. Tepatnya pada tahun 1677. menemukan folikel pada ovarium kelinci. Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoatozoa. Reijnier (Regner) de Graaf. Tiga abad kemudian. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Dia membuktikannya dengan menyaring semen yang baru ditampung. Inilah kisa awal tentang IB. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Pada tahun berikutnya. barulah ada pengamatan kembali tentang reproduksi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. bukan pada cairan semen. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut diulangi oleh P. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal.

Perkenalan pertama IB pada peternakan kuda di Eropa. Hasil yang diperoleh masih kurang memuaskan. Ivannoff. Jerman. Berdasar penemuan ini banyak peneliti lain membuat vagina buatan untuk sapi. banyak mengadakan penelitian tentang spermatozoatologi. Geuseppe amantea Guru Besar fisiologi manusia di Roma. Repiquet (1890). kuda dan domba. Mereka menganjurkan IB sebagai suatu cara yang ekonomis dalam pengunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang berharga dan memajukan peternakan pada umumnya. Roemelle membuat yang pertama kali membuat vagina buatan untuk sapi. Sand dan Stribold dari Denmark. sedang dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23 kuda yang di IB. Mckenzie . Tahun 1914.penemuannya mengilhami peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel kelamin dan fisiologi pembuahan. Penanganan IB secara serius dilakukan di Rusia. burung merpati dan ayam. sebagai usaha untuk memajukan peternakan. dilakukan oleh seorang dokter hewan Perancis. Tahun 1899 ia diminta Direktur Peternakan Kuda Kerjaaan Rusia. Hasil spektakuler dan sukses terbesar yang diperoleh adalah di Askaniya-Nova (1912) yang berhasil menghasilkan 31 konsepesi yang 39 kuda yang di IB. dan orang pertama yang membuat vagina buatan untuk domba dan kambing adalah Fred F. Peneliti dan pelopor terkemuka dalam bidang IB di Rusia adalah Elia I. salah satu usaha mengatasi kegagalan itu. masih banyak dilakukan penelitian untuk mengatasinya. menganjurkan agar dilakukan IB setelah perkawinan alam. berhasil memperoleh empat konsepsi dari delapan kuda betina yang di IB. dengan hewan percobaan anjing. untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan pemakaian IB. Namun diakui cara ini kurang praktis untuk dilaksanakan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi. Pada tahun 1902. Hoffman dari Stuttgart. Semen dicampur dengan susu sapi dan kembali diinsemiasikan pada uterus hewan tersebut. Kemudian dia berhasil membuat vagina buatan pertama untuk anjing. Caranya vagina kuda yang telah dikawinkan dikuakkan dan dengan spuit diambil semennya. Dia menasehatkan pemakaian teknik tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Dan dilah orang pertama yang berhasil melakukan IB pada sapi dan domba. Tahun 1926. Prof.

karena situasi ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan. Stasiun IB yang telah didirikan di enam tempay dalam RKI. perkembangan dan aplikasi IB untuk daerah Bogor dan sekitranya dilakukan FKH IPB. Pembekuan ini disempurnakan lagi. melaksanakan kegiatan IB sejak tahun1953. dengan tujuan intensifikasi onggolisasi untuk Mirit dengan semen Sumba Ongole (SO) dan kegiatan di Ungaran bertujuan menciptakan ternak serba guna. Pada waktu itu belum terfikirkan untuk sapi potong. B. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI) didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan).(Amerika Serikat) pada tahun 1931.U. Juga FKH dan LPP Bogor. Jawa Timur (Pakong dan Grati). Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan Bali (Baturati). terutama produksi susu dengan pejantan Frisien Holstein (FH). Perry mendirikan koperasi IB pertama di Amerika Serikat yang terletak di New Jersey. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Ternyata nasib Balai Pembibitan Ternak kurang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada tahun 1959 dan tahun-tahun berikutnya. kecuali Balai . Polge.S. dengan dipergunakannya nitrogen cair sebagai bahan pembeku. hanya Ungaran yang masih bertahan. A. Menjelang tahun 1965. Pada tahun 1938 Prof. sehingga kegiatan IB hampir-hampir tidak ada. masih mengikuti jejak B. timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat. Aktivitas dan pelayanan IB waktu itu bersifat hilang. yang menghasilkan daya simpan yang lebih lama dan lebih praktis. B. sangat dipercepat dengan adanya penemuan teknologi pembekuan semen sapi yang disposori oleh C. Parkes dari Inggris pada tahun 1949. Enos J. Kemajuan pesat dibidang IB. Smith dan A. Mereka berhasil menyimpan semen untuk waktu panjang dengan membekukan sampai -79 0C dengan mengunakan CO2 pada (dry ice) sebagai pembeku dan gliserol sebagai pengawet. difungsikan sebagai stasiun IB untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya. dengan suhu penyimpanan -169 0C. keungan negara sangat memburuk. Di Jawa Tenggah kedua Balai Pembenihan Ternak yang ditunjuk. Seit yaitu penggunaan semen cair umtuk memperbaiki mutu genetik ternak sapi perah. Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan di Indonesia Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun limapuluhan oleh Prof.

dengan daerah pelayanan samapi sekarang di daerah jalur susu Semarang – Solo – Tegal. Susu sapi umumnya dikonsumsi rakyat setempat. sehingga hampir menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. dan tahun1970 balai ini diubah namanya menjadi Balai Inseminasi Buatan Ungaran. sehingga perkembangan IB di Pangalengan sampai tahun 1970. 3) pengiriman semen cair dari Bogor ke Pengalengan dapat memenuhi permintaan. Hasil-hasil perbaikan mutu genetik ternak di Pengalengan cukup dapat memberi harapan kepda rakyat setempat. Kekurang berhasilan program IB antara tahun 1960-1970. Dengan adanya semen beku inilah perkembangan IB mulai maju dengan pesat. Semen beku yang digunkan selema ini merupakan pemberian gratis pemerintah Inggris dansSelandia Baru. mengalami kemunduran akibat munculnya industriindustri susu bubuk yang menggunakan susu bubuk impor sebagai bahan bakunya. di daerah Pengalengan. 2) rakyat telah tahu dengan pasti bahwa peningkatan mutu ternak melalui IB merupakan jalan yang sesingkat-singkatnya menuju produksi tinggi. Selanjutnya pada tahun 1976 pemerintah Selandia Baru .Pembibitan Ternak Ungaran. Pada awal tahun 1973 pemerintah measukan semen beku ke Indonesia. Kemajuan tersebut disebabkan adanya sarana penunjang di daerah tersebut yaitu 1) rakyat pemelihara sapi telah mengenal tanda-tanda berahi dengan baik. maka bidang peternakan pun ikut dibangun. dengan masa simpan terbatas dan perlu adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. sehingga perbaikan mutu genetik ternak segera dapat terlihat. Namun sayangnya peningkatan produksi tidak diikuti oleh peningkatan penampungan produksi itu sendiri. Inseminasi buatan telah pula digalakkan atau diperkenalkan oleh FKH IPB. Bandung Selatan. bahkan pernah pula dilakukan pameran pedet (Calf Show) pertama hasil IB. termasuk program IB. Dengan adanya program pemerintah yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dimulai tahun 1969. Tersedianya dana dan fasilitas pemerintah akan sangat menunjang peternakan di Indonesia. Disamping itu kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan kurang dapat perhatian. banyak disebabkan karena semen yang digunakan semen cair. Akibatnya produsen susu menjadi lesu.

Nusa Tenggara dan Jawa Timur. Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan IB. tahun 1972-1974.92 persen. tidak terletak pada kualitas semen. b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya . Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi IB. Banten. pengendalian penyakit. kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. dengan IPB sebagai pelaksana dan Dirjen Peternakan sebagai sponsornya (1978). yang dilaksanakan tahun 1974. intensifikasi dan perhatian aspek pakan.3 – 38. yakni di daerah Serang. Setahun kemudian didirikan pula pabrik semen beku kedua yakni di Wonocolo Suranaya yang perkembangan berikutnya dipindahkan ke Singosari Malang Jawa Timur. Tujuan Inseminasi Buatan a) Memperbaiki mutu genetika ternak. Untuk kerbau pernah pula dilakukan IB. Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘. dengan spesialisasi memproduksi semen beku yang terletak di daerah Lembang Jawa Barat. c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama. Hasil evaluasi pelaksanaan IB di Jawa. . manajemen. menunjukan anka konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21. IB pada kerbau pernah juga diperkenalakan di Tanah Toraja Sulawesi Selatan. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan. Tujuan. C. tidak pula pada keterampilan inseminator. Namun perkembangannya kurang memuaskan karena dukungan sponsor yang kurang menunjang. disamping reproduksi kerbau belum banyak diketahui. melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. perbaikan sarana.membantu mendirikan Balai Inseminasi Buatan.

d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama. c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding). f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar. g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. d) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test). e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati. Keuntungan IB a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan. b) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia). e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil. Kerugian IB a) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan. b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik. c) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama.d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. .

sehingga tidak sesuai dengan habitat hewan tersebut.Akhir-akhir ini perubahan dan perusakan lingkungan berlangsung dengan cepat akibat dari peningkatan populasi penduduk dunia yang berlangsung sangat cepat. antar negara. rusa Bawean termasuk hewan yang terancam punah. . rusa Timor dan rusa Bawean digunakan dalam penelitian ini. Semen dihisap menggunakan penghisap hemositometer sampai angka 0. pada tahun 1077 sebanyak 17 spesies terancam punah (Whitehead. English. Setelah itu kedua ujung tabung thoma ditutup dengan ibu jari dan telunjuk untuk menggoyang-goyangkan tabung. Setelah tercampur rata. 1992. 1993). Penanganan rusa dilakukan dengan menggunakan kandang jepit khusus atau dengan anastesi umum. rusa Timor.05 (bergaris-garis) berikutnya dihisap cairan hipertonis sampai angka 101. Dengan inseminasi menggunakan semen beku ini. bilik hitung ditempatkan di bawah mikroskop.. kain perban dengan lebar 2 cm dan panjang 15 sampai 20 cm diikatkan pada penis tidak terlalu keras. Stimulasi listrik dilakukan dengan memutar voltase selama 5 detik dan dihentikan selama 5 detik yang dilakukan secara berulang-ulang hingga spermatozoa di hasilkan. Anastesi dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat anastesi xylazyne dan ketamine dengan dosis masing-masing 1 mg/kg berat badan. normal. ejakulat atau semen diukur dengan melihat ukuran gelas penampung dengan ukuran garis terkecil 0. Keadaan ini menyebabkan penurunan populasi hewan. bila teknologi ini dapat dimanfaatkan pada hewan liar maka kejadian inbreeding dapat dicegah dengan memperkenalkan materi genetik dari hewan diluar kawasan. Perusakan lingkungan ini menyebabkan perubahan habitat. 1994). Peristiwa ini dapat menyebabkan kesuburan menurun. abnormalitas spermatozoa. Stimulasi listrik dihentikan segera setelah spermatozoa didapatkan atau dihentikan setelah stimulasi dilakukan selama 2 menit walaupun spermatozoa belum di dapatkan. Dalam tulisan ini di laporkan Inseminasi buatan menggunakan semen beku telah dilaksanakan pada rusa Sambar (Cervus unicolor).1 ml. 1 ml 2% eosin dan 1 ml 3% cairan NaCl. Motilitas atau gerak gelombang diberi skor antara 0 yaitu tanpa gerakan dan skor 5 dengan gerakan gelombang yang keras (Haigh et al. Penis rusa dikeluarkan dari preputium dengan cara mendorong kaki belakang kearah depan. hidup. Indonesia mempunyai 4 spesies rusa (yaitu rusa Sambar. rusa Timor (Cervus timorensis) dan rusa Bawean (Axis kuhlii). seperti air susu.. Penghitungan jumlah spermatozoa per ml semen dilakukan dengan menggunakan haemositometer. Berikutnya ujung penis ditempatkan di tengah tabung gelas penampung. Gerak gelombang spermatozoa diamati dengan menempatkan satu tetes semen pada gelas benda yang telah dihangatkan (36°C) dan ditempatkan dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 kali. Ujung elektro ejakulator (probe) yang telah diberi pelicin (vaselin) dimasukkan kedalam rektum sedalam 10 sampai 15 cm dengan elektroda elektro ejakulator ditempatkan menghadap ke bagian ventral pelvis. Bila hal ini terjadi jumlah hewan liar akan turun dari tahun ke tahun yang akan berakhir dengan kepunahan. konsentrasi. Pengambilan spermatozoa dilakukan pada tiga spesies rusa ini menggunakan elektro-ejakulator. Warna semen dilihat dengan mata telanjang apakah semen mempunyai warna tertentu. Volume. Setelah penis keluar dari prepotium. Cara penukaran materi genetik dapat dilakukan dengan cara inseminasi buatan. sebanyak dua atau tiga kali lilit untuk mencegah penis masuk kembali kedalam prepotium. Kejadian inbreeding ini telah diteliti pada hewan berkuku satu (Ralls et al. 4 sampai 5 tetes di teteskan pada kertas tisue dan ujung pipet thoma disentuhkan pada tepi bilik hitung (counting chamber) dan ditutup dengan gelas penutup. warna. kematian anak meningkat. MATERI DAN METODE Rusa Sambar. Setelah didiamkan beberapa detik agar cairan yang berisi spermatozoa tidak bergerak atau mengalir. hewan peka terhadap penyakit. Cairan hipertonis tersebut terbuat dari aquadest 50 ml. guna mencampurkan antara semen dengan cairan hipertonik. termasuk rusa Indonesia. seperti krim. 1977) dan meningkat menjadi 21 spesies pada tahun 1994 (Groombrige. rusa Bawean dan Muncak). Sebagai contoh dari 40 spesies rusa yang ada di Dunia. Peningkatan jumlah penduduk tersebut tidak akan berhenti sampai abad 21 (Klein. Bila hewan dalam jumlah yang kecil perkawinan keluarga (inbreeding) tidak akan terhindarkan. disamping itu juga dievaluasi apakah semen tersebut seperti krim pekat. mati. Rusa jantan yang telah teranastesi ditempatkan pada posisi terbaring pada sisi kiri atau kanan. Tabung gelas penampung yang mempunyai skala ukuran volume steril dipegang dengan tangan agar temperatur gelas penampung meningkat mendekati temperatur tubuh.1993). Teknologi perkembang biakan telah berkembang dengan cepat pada hewan ternak. 1979). Ejakulat yang telah didapatkan di evaluasi kualitasnya dengan memeriksa volume. materi genetik dapat ditransfer antar daerah konservasi. seperti berawan/kabut atau encer seperti air. gerak gelombang. Rusa yang telah diambil spermatozoanya ditempatkan pada tempat yang teduh dengan posisi duduk untuk mencegah regurgitasi.

172 gr. France) dan isi straw dibuang sedikit. Extender yang digunakan yaitu extender kambing (Evans dan Maxwell. Air destilasi sampai 100 ml. sedangkan yang berwarna terang adalah spermatozoa yang masih hidup pada saat pengecatan. Dengan menekuk ekor CIDR tali CIDR tidak keluar dari vagina. sehingga CIDR akan tertinggal di dalam. semen dimasukkan ke dalam pipet inseminasi. Inseminasi pada rusa dilakukan 36 jam setelah CIDR diambil. Selanjutnya rusa ditempatkan pada tempat yang teduh dengan posisi duduk untuk menunggu bangun kembali. Spermatozoa yang telah dibekukan dicairkan kembali dengan cara memasukkan straw beku kedalam tabung yang berisi air dengan temperatur 36°C selama 30 detik sampai 1 menit. Berikutnya semen beku diencerkan kembali dengan memasukkan straw semen beku pada kontainer yang berisi air dengan temperatur 36°C selama satu menit. Straw yang telah berada pada temperatur 4°C diletakkan 4 cm di atas nitrogen cair selama 20 menit sebelum dimasukkan kedalam nitrogen cair (Foxworth et al. Setelah rusa tertidur.625 gr. Rusa rusa tersebut dipelihara dengan baik hingga melahirkan. Selain tergantung pada spesies rusa. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian ini ternyata kebuntingan dihasilkan mencapai 25% hingga 40% rusa yang diinseminasi menggunakan cara servical. 8 Mosrael Place. dengan anastesi umum rusa ditempatkan pada tempat inseminasi dengan bagian belakang lebih tinggi dibanding bagian depan. Pengenceran spermatozoa dilakukan dengan menghitung spermatozoa untuk memperkirakan bahwa jumlah spermatozoa per straw (0. Streptomycin 100 mg. Victoria 3178) selama 11 hari. ini dimaksudkan untuk menghindari agar rusa tidak menggigit dan menarik tali CIDR.. Penyimpanan spermatozoa ke tiga spesies rusa ini dalam bentuk beku dilakukan setelah pengambilan dan evaluasi kualitas spermatozoa yang telah diuraikan sebelumnya. Persentase spermatozoa yang hidup dan yang mati dilaksanakan menggunakan preparat ulas pengecatan nigrosin eosin. Sodium Penicilin G 100.5 sampai 2 jam. Spermatozoa yang mati akan menyerap warna cat nigrosin eosin sedangkan spermatozoa yang masih hidup pada saat pengecatan tidak menyerap warna. Preparat ulas yang telah kering diletakkan di bawah mikroskop dengan perbesaran 125 kali dengan minyak emersi. Heriot AgVet Pty Ltd. Setelah itu ujung straw dipotong. Glucose 0. setelah rusa ditempatkan pada kandang jepit. pipet inseminasi dimasukkan ke serviks sedalam mungkin dan spermatozoa dideposisikan dengan jumlah 60 x 106 spermatozoa.5 ml. Evaluasi ini digunakan untuk mengetahui kualitas spermatozoa yang selanjutnya dapat dilakukan estimasi pengenceran spermatozoa guna penyimpanan lebih lanjut. terdapat beberapa faktor yang . L'aigle Cedex. 1994) dengan temperatur 36°C pada kaca benda yang hangat (36°C) dan diberi 2 µ l semen dicampur dan diulaskan pada kaca benda dan di biarkan sampai kering. Sinkronisasi birahi pada rusa dilakukan dengan memasang Controlled Internal Drugs Release (easibreed CIDR. Kuning telur dipisahkan dengan putih telur (albumin) dengan memutarkan kuning telur pada kertas saring dan hanya kuning telur yang segar digunakan untuk bahan pengencer. sheep and goat device.Jumlah total spermatozoa yang mengisi 5 kotak dihitung dan konsentrasi spermatozoa dihitung dengan merata-ratakan hasil hitungan 5 kotak dan mengalikan dengan 107. 1987) yang terdiri dari Tris (OCH3) aminomethane 3. setelah itu spermatozoa dapat digunakan untuk inseminasi.25 ml) mengandung 100 x 106.000 IU. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempatkan 10 µ l cat nigrosin eosin (Tamuli dan Watson. Segera setelah pengenceran semen didinginkan dari 36°C sampai 4°C selama 1. Cara memasang CIDR pada rusa berbeda dengan pada kambing. Kuning telur 2. Berikutnya semen dimasukkan ke dalam straw (IMV. selanjutnya ujung straw disumbat menggunakan serbuk polyvinil alcohol. abnormalitas selama spermatogenesis (abnormalitas kepala) dan setelah spermatogenesis. dihitung jumlah abnormalitas spermatozoa. CIDR dimasukkan pada applikator dan ekor CIDR dilipat hingga terjepit oleh sayap CIDR. CIDR berisi progesterone sebanyak 0. Dilakukan dengan memasukkan tabung reaksi yang berisi semen yang telah diencerkan kedalam tabung yang berisi air dengan temperatur 36°C dan diletakkan di dalam lemari pendingin 4°C. Rowville.786 gr. Morfologi atau abnormalitas spermatozoa diperkirakan dengan cara menghitung persentase spermatozoa muda (cytoplasmic droplet). Dengan menggunakan spekulum. Glycerol 5 ml.3 gr progesteron dan CIDR akan melepaskan progesteron ke vagina yang selanjutnya progesteron tersebut akan terserap dan masuk dalam aliran darah. Citric Acid Monohidrate 2. Inseminasi buatan adalah memasukkan spermatozoa ke dalam alat reproduksi betina sehingga dapat terjadi kebuntingan. Berikutnya ujung aplikator diberi pelicin dan dimasukkan ke vagina rusa setelah badan aplikator berada didalam vagina pegangan aplikator ditekan. 1989). spermatozoa yang acrosomanya berwarna gelap dikategorikan spermatozoa mati.

.3% kebuntingan (Jabbour et al. Pada penelitian yang dilakukan ini dengan jumlah rusa yang relatif sedikit.dapat mempengaruhi hasil kebuntingan antara lain: tingkat keserentakan hasil sinkronisasi birahi. Haigh dan Bowen. yaitu dari angka kebuntingan 55% dapat menjadi 70% sampai 75% (Bowen. Dradjat 1996). 1986. Karena rusa tidak menampakkan tingkah laku birahi. pada rusa fallow (Mulley et al. merupakan faktor yang sangat berpotensi dapat menekan hasil sinkronisasi dan menghambat ovulasi (Asher et al. 1991) dan dari New Zealand ke USA (Asher et al. 1988. 1990). tidak menunjukkan tingkah laku yang jelas (Guiness et al. Dilaporkan pada rusa merah bahwa inseminasi menggunakan 40 juta spermatozoa hidup menghasilkan kebuntingan 44. 1991). Faktor yang mempengaruhi tingkat kebuntingan yaitu jumlah spermatozoa yang dideposisikan pada alat perkembang biakan betina. 1996). Inseminasi pada rusa telah dilaporkan pada rusa sub tropik yaitu pada rusa merah (Krzywinsky dan Jaczewsky. 1978). Penggunaan inseminasi buatan dengan membawa semen beku melewati batas internasional telah dilaksanakan pada rusa merah dari Canada ke New Zealand (Haigh dan Bowen. waktu birahinya sangat pendek (Asher et al. 1991). 1991). maka pada penelitian ini inseminasi dilakukan tanpa dilakukan deteksi birahi. Asher et al. sehingga persentase hasil penelitian belum mencerminkan distribusi normalnya. 1990) . sedangkan pelanksanaan inseminasi 70 jam setelah CIDR diambil menggunakan semen segar dan semen beku masingmasing menghasilkan 25% kebuntingan (Dradjat. 1989). Rendahnya tingkat kebuntingan disebabkan oleh sebagian rusa tidak terstimulasi birahi atau tidak mengalami ovulasi (Fennessy et al. 1985) seperti ruminansia lainnya.. Telah dilaporkan pada rusa merah bahwa inseminasi yang dilakukan setelah rusa terdeteksi birahi dapat meningkatkan angka kebuntingan antara 15 sampai 20% dibanding dengan teknik inseminasi fixed time (Bowen. 1990).. Faktor lain yang menentukan persentase kebuntingan adalah waktu yang tepat untuk pelaksanaan inseminasi. 1991).. pada wapiti (Haigh et al..6%. 1992). Disamping itu faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil kebuntingan yaitu cekaman yang dialami oleh rusa selama program inseminasi yaitu dalam penanganan dan anastesi rusa. 1992).. 1971.. Haigh dan Bowen.. waktu inseminasi dan jumlah spermatozoa hidup yang dideposisikan ke alat perkembang biakan betina (Asher et al. 1986. 1992). 1992.. Veltman. pada rusa Fallow dari New Zealand ke Australia (Mylrea et al. sedangkan pada rusa tropik yang dipelihara di daerah sub tropik yaitu pada rusa chital (Mylrea.. Tabel 1: Hasil inseminasi buatan pada 3 spesies rusa No 1 2 3 Spesies Rusa Sambar (Cervus unicolor) Rusa Timor (Cervus timorensis) Rusa Bawean (Axis kuhlii) Jumlahbetina 12 5 3 Bunting/Melahirkan (%) 4 (25%) 2 (40%) 1 (33%) Tingkat keserentakan birahi pada rusa sulit untuk dievaluasi karena rusa adalah hewan yang berusaha menghindar bila akan diobservasi dari jarak dekat. 1991). Dilaporkan pada fallow deer inseminasi menggunakan semen segar dengan jumlah spermatozoa 12. sedangkan penggunaan 30 juta spermatozoa hidup per inseminasi menghasilkan kebuntingan 23% (Bowen.5 juta per inseminasi dapat menghasilkan 76.. Hasil penelitian pada rusa chital menunjukkan bahwa inseminasi dilakukan 60 jam setelah CIDR diambil menggunakan semen segar dan semen cair menghasilkan kebuntingan 8% dan 50%.

Dengan adanya Balai Inseminasi Buatan (BIB) ini berarti membantu negara meringankan dalam hal pengimporan ternak unggul. dengan menggunakan spekulum. penulis membatasi penulisan pada : 1. Hal tersebut dipicu dari kurangnya tenaga ahli dalam bidang tersebut. ternak unggul.2 Pembatasan Masalah Dalam pembuatan karya tulis ini. rusa Timor (Cervus timorensis) dan rusa Bawean (Axis kuhlii). Selain itu juga Balai ini memberikan pendapatan untuk negara. Agar menambah wawasan dan memperbanyak ilmu 3. benih unggul.1 Latar Belakang Penelitian Ditinjau dari banyaknya pengimporan ternak unggul yang terjadi di negara kita. pipet inseminasi dimasukkan ke serviks sedalam mungkin dan spermatozoa dideposisikan dengan jumlah 60x 106.2. Apakah yang dimaksud Inseminasi Buatan ? 2. menghasilkan kebuntingan berturut-turut sejumlah 4 ekor (25%). Bagaimana cara memproduksi semen beku ? 3. Anastesi dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat anastesi xylazyne dan ketamine dengan dosis masing-masing 1 mg/kg berat badan. 2 ekor (40%) dan 1 ekor (33%).3 Tujuan Penelitian Tujuan penulis melaksanakan penelitian yaitu : 1.KESIMPULAN DAN SARAN Inseminasi buatan menggunakan semen beku telah dilaksanakan pada rusa Sambar (Cervus unicolor). Penanganan untuk inseminasi dilakukan dengan menggunakan kandang jepit khusus atau dengan anastesi umum. Rusa Timor. penulis mencoba meneliti Balai Inseminasi Buatan (BIB) ini agar penulis bisa mengetahui dengan pasti cara-cara memproduksi sapi-sapi yang unggul. Jenis-jenis sapi 1. dan juga kurangnya lapangan kerja yang ada. Memenuhi tugas lintas mata pelajaran sekolah . Inseminasi Buatan 2. Transfer materi genetik ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan produksi daging dan produksi ranggah pada peternakan rusa Indonesia mendatang.1 Rumusan Masalah 1. Apa saja jenis sapi yang ada di Balai Inseminasi Buatan ? 1. untuk trasfer materi genetik untuk menghindarkan inbreeding pada rusa yang dipelihara dengan populasi kecil. Oleh karena itu. July 16. Disamping itu juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) juga memproduksi semen beku. MAKALAH BIOLOGI TENTANG INSEMINASI PADA SAPI Wednesday.2. Agar lebih memahami cara reproduksi sapi di Balai Inseminasi Buatan (BIB) 2. Keberhasilan inseminasi buatan menggunakan semen beku memungkinkan transport spermatozoa dilaksanakan antar propinsi atau antar negara.2 Rumusan dan Pembatasan Masalah 1. 2008 BAB I PENDAHULUAN 1. Rusa Bawean. Inseminasi buatan pada Rusa Sambar. 1. Cara memproduksi semen beku 3.

BAB II LANDASAN TEORI 2. yaitu proses pengumpulan data melalui kegiatan melihat.1. Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Lembang yang luas lahannya sekitar 10 hektar yaitu 6 hektar untuk perumahan dan 4 hektar untuk perkebunan. Metode tertulis. tetapi Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Lembang merupakan balai tertua di Indonesia. 2. Melalui sumber-sumber tersebut penulis berharap agar dapat memperoleh informasi dan data secara jelas walaupun tidak seakurat mungkin. Sebagai balai pertama yang didirikan di Indonesia.2. Tetapi tidak hanya itu saja balai ini juga memproduksi inseminasi buatan pada sapi. tidak hanya pada sapi saja yang ada di balai ini tetapi ada juga kambing dan kerbau. Ir. 2. 3. Toyib Hadiwijaya. Metode tertulis wawancara / interview. Metode observasi. memantau dan menganalisa secara langsung sehingga akan lebih jelas objek yang diamati. Selain Balai Inseminasi yang ada di Lembang ada juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Singosari.1 Sejarah Singkat Balai Inseminasi Buatan (BIB) didirikan pada tanggal 3 April 1976 oleh Prof.1 Tugas Pokok BIB .000. Dr.2 Tugas Pokok dan Fungsi Balai Inseminasi Buatan 2.4 Metode Penelitian Metode penelitian untuk mengumpulkan data-data dalam rangka penulisan karya tulis ini dengan cara sebagai berikut : 1. yaitu dengan menggunakan sumber-sumber dari berbagai buku sebagai panduan karya tulis tersebut. Balai Inseminasi Buatan (BIB) merupakan balai pertama di Indonesia yang memproduksi semen beku ternak besar seperti sapi perah dan sapi potong. yaitu cara pengumpulan data melalui obrolan atau tanya jawab serta bertatap muka secara langsung. Balai Inseminasi Buatan (BIB) telah memproduksi semen beku lebih dari 2.000 dosis.

maka dapat dilakukan dengan melalui bayi tabung atau rahim kontrak.2 Fungsi BIB 1. Namun.2. Pengujian keturunan dan felilisasi pejantan unggul 3. Dari hasil kemajuan bioteknologi tersbut. Pengujian kesehatan dan diagnosa penyakit ternak 11. Hal tersebut akan menimbulkan “celaan biologis” serta menyangkut psikologis anak itu sendiri dalam lingkungan sosialnya. maka akan menghasilkan dampak yang positif dan dampak yang negatif. Maka sejak tahun 1956 dewan gereja di Roma telah mengutuk kegiatan tersebut dengan alasan bahwa inseminasi buatan dapat memisahkan tindakan prokreasi (kasih sayang terhadap anak. jika kemajuan bioteknologi diaplikasikan pada manusia. khususnya dalam bidang bioteknologi. Dampak posotof dapat diambil dari orang-orang yang telah menikah. maka akan mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi manusia. fertilisasi atau pembuatan in vitro dan rahim kontrak. Pengembangan teknik produksi semen beku benih unggul 6. Sedangkan dampak negatifnya yaitu dapat menimbulkan kekacauan dalam sistem keturunan manusia. Pemeliharaan ternak unggul 2. bagi pasangan suami istri yang akan melaksanakan inseminasi buatan dapat dilakukan atas dasar keputusan bersama guna mewujudkan pernikahan yang harmonis dan bahagia. Pemberian saran teknik produksi semen beku benih unggul 7. dan anak adalah karunia Tuhan yang harus dijunjung tinggi) dan persatuan cinta. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pemeliharaan ternak dan semen beku 8. BAB III PEMBAHASAN 3. tetapi tidak bisa mempunyai anak. maka agar keinginan untuk mempunyai anak dapat terwujud. Kenyataannya sekarang. Bagaimanapun juga pewaris sifat genetis yang terjadi pada anak melibatkan pihak ketiga bagi pasangan dalam perkawinan. sekarang telah tersedia inseminasi buatan. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan melalui inseminasi buatan. Produksi dan penyimpangaan semen beku 4.1 Inseminasi Buatan Teknologi modern pada zaman sekarang telah mampu mengatasi masalah kemandulan (bagi manusia) dan menghasilkan bibit-bibit unggul (bagi hewan yang dapat menguntungkan manusia). Alasan lainnya yaitu kegiatan inseminasi melibatkan tindakan masturbasi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sperma. Distribusi dan pemasaran semen beku unggul 10. banyak para ahli psikologi yang masih berusaha keras untuk mewujudkan atau mengaplikasikan inseminasi buatan pada manusia. Sampai sekarang mayoritas para teolog moral masih berpegang pada sikap mengutuk terhadap kegiatan inseminasi buatan yang diterapkan pada manusia. . Urusan tata usaha dan rumah tangga balai.Melaksanakan produksi dan pemasaran semen beku ternak unggul serta pengembangan inseminasi buatan.2 Cara Mereproduksi Semen Beku Reproduksi semen beku hanya dapat dilakukan di Balai Inseminasi Buatan (BIB). 2. Pemberian informasi dan dokumentasi hasil kegiatan Inseminasi Buatan 9. Namun. Pencatatan dan pemanfaatan semen beku serta pengawasan mutu semen 5. Kemajuan bioteknologi tersebut apabila diterapkan pada dunia hewan. 3.

meskipun masih tetap terkonsentrasi di pulau Bali sampai saat ini kemurnian genetis sapi Bali masih terjaga karena ada undang-undang yang mengatur pembatasan masuknya sapi jenis lain ke pulau Bali. venis teriritasi♣ Bila sperma berwarna cokelat. sapi pejantan dan spai betina disatukan kemudian sapi-sapi itu akan melakukan fisin (pemanasan sebelum kawin). Berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh. 3. Sapi Bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada sapi yang merupakan sapi lokal dan ada sapi keturunan. Sifatnya yang mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat menyebabkan sapi ini mampu tumbuh secara murni di pulau Sumba. Penampungan semen sapi pejantan. 3. Penentuan konsentrasi semen segar 6. Sapi yang tidak berpunduk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. bergelambir di bawah leher dan berpunuk. karena itu gunakan vaseline agar licin seperti vagina yang asli 3. 4. Penyebarannya telah menyebar luas di seluruh Indonesia. venis ada yang luka♣ Bila sperma berwarna krem susu bening. Mempersiapkan sapi pejantan yang akan diinseminasi yang umurnya 15 – 18 bulan. Kemampuan reproduksi sapi Bali merupakan yang terbaik diantara sapi-sapi lokal. Kemudian sperma dalam vagina buatan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. sehingga disebut sapi Sumba Ongole (SO). maka itulah sperma yang bagus♣ 5.25 CC 8. Proses domestikasi (penjinakan) yang cukup lama diduga penyebab sapi Bali lebih kecil dibandingkan dengan Banteng. Proses pengenceran sperma 7.3. tingginya 123 cm dan beratnya minimal 350 kg.3 Jenis-Jenis Sapi Sapi merupakan salah satu jenis hewan mamalia. Proses pembekuan 9. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. maka penis langsung dimasukan ke vagina buatan. Bila sperma berwarna hijau. Di Indonesia ada banyak jenis sapi. Persilangan antara sapi Jawa asli (madura) dengan sapi Ongole secara grading up menghasilkan sapi yang disebut sapi peranakan Ongole (PO). sehingga sering disebut ternak perintis.3 Sapi Fries Holstein (FH) Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk mengahsilkan susu ini diintroduksi dari Belanda. After throwing dan water intubator test 3. segar.1 Sapi Bali Sapi Bali merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. yang berkembang biak dengan cara melahirkan. tegang dan kencang. memasukan sperma ke dalam ministrow isi I strow 0.3. vagina buatan ini harus licin. Pada dasarnya reproduksi mamalia sama seperti reproduksi pada manusia.3. Asal usul sapi Bali adalah Banteng yang telah mengalami penjinakan selama bertahuntahun. 2. bila penis jantan telah kelihatan merah. Proses filing dan sealing. Persiapan vagina buatan yang suhunya mencapai 420C.2 Sapi Ongole Sapi Ongole merupakan keturunan sapi Zebu dari India. ada kotoran yang terdorong♣ Bila sperma berwarna merah. 3. sehingga sapi-sapi .Tahapan-tahapan dalam memproduksi semen beku diantaranya yaitu: 1. Hal ini disebabkan sapi Bali bisa beranak setiap tahun. terjadi secara seksual melalui proses fertilisasi.

tetapi juga memproduksi : Kerbau burah (bule item) bonga♣ Kambing dan domba♣ Kuda (sekarang tidak dikembangkan lagi)♣ Makanan sapi yang ada di BIB diantaranya rumput gajah. yaitu : 1. Sapi Brahman mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak.jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negara-negara tropis. ikan. Di beberapa daerah juga dilakukan persilangan antara sapi Jawa asli dengan sapi FH dengan pola grading up dan keturunannya lazim disebut sapi PFH. rumput Afrika. tepung. dan konsentrat (dedak. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. Jenis-jenis sapi di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Di Balai Inseminasi Buatan ada 7 jenis sapi. darah mineral dan tulang).5 Sapi Madura Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara Bos Sandoicus dan Bos Indicus yang tumbuh dan berkembang di Madura. Sapi di BIB tidak boleh terlalu gemuk apabila akan diinseminasi karena genetik sapi harus murni. khususnya di bidang Inseminasi Buatan pada sapi. ekor dan kaki bawah. Penyebaran sapi Madura telah mengalami erosi genetis. Pertumbuhan sapi Brahman sangat cepat. Dengan adanya kegiatan penelitian pada Inseminasi Buatan pada sapi ini dapat memahami cara reproduksi sapi. Terkadang terdapat warna putih pada moncong. Krem jenis Brahman Denole 6. Ongole krem pipih pantat Tidak hanya sapi yang diproduksi di Balai Inseminasi Buatan. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Menambah wawasan ilmu pengetahuan . Hitam Angus 5. Selain itu. Sapi yang berpunuk ini dikenal dengan sapi jawa asli dengan warna kuning hingga merah bata.4 Sapi Brahman Sapi Brahman berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi Zebu. Cokelat semua li mosin 3. 3. jagung. sehingga penampilan beberapa parameter produksinya melebihi penampilan produksi di negara asalnya. untuk makanan sapi harus ditambahkan protein sebanyak 24%. . 3. Di Amerika sapi ini dikembangkan cukup pesat karena pola pemeliharaan dan sistem perkawinan yang terkontrol. dan juga memenuhi tugas lintas mata pelajaran di sekolah. sehingga penampilan produksi yang diukur dari pertambahan berat.1 Kesimpulan Karya tulis dalam tugas sekolah lintas mata pelajaran ini sangat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis.3. Kopi susu jerse 7. Sapi hitam di panggung simental 2.3. Hitam putih Vresen Holenstain (VH) 4.

entomologi dan fitopalogi tanaman sayuran Penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman sayuran Pelayanan teknik kegiatan penelitian tanaman sayuran . Selain hal tersebut juga dapat memajukan Indonesia. In isangat berpengaruh untuk pemasukan kas negara atau keuangan negara.Untuk itu dalam hal ini penulis menyusun karya tulis ini sebagai tolak ukur negara kita dalam hal Inseminasi Buatan pada sapi yang dilakukan di Lembang. usaha atau upaya. 4. Selain itu juga untuk memenuhi bibit ternak sapi unggul yang selalu mengimpor dari negara lain. Kelancaran yang dilakukan selama beberapa tahun yaitu dari tahun 1976 sampai sekarang ini adalah karena berkat kerja keras. Penulis sangat yakin jikalau BIB ini maju maka apa yang dibutuhkan negara kita dalam hal pembibitan ternak sapi unggul. saling kerja sama yang dilakukan oleh para karyawan kompak. penulis sangat berharap jikalau penulis berhasil dalam pendidikannya maka akan dengan berat hati. perbenihan dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman sayuran Penelitian morfologi. sehingga membuahkan hasil yang memuaskan. fisiologi. pembuatan semen beku ini dapat berbuah hasil yang diinginkan yaitu memperoleh keuntungan. pemuliaan.2 Saran Sebelumnya penulis minta maaf kepada khalayak yang bersangkutan yakni Balai Inseminasi Buatan (BIB). Balitsa Tugas Pokok Melaksanakan penelitian tanaman sayuran. Selain itu dengan apa yang dikaji. mensejahterakan warga Indonesia khususnya di bidang peternakan. disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi hambatan dan rintangan. digali dan dipelajari apa yang didapat di BIB ini. Bandung. Inseminasi pada sapi. BIB bersedia menerima sebagai karyawan di BIB tersebut. ekologi. Fungsi • • • • Penelitian genetika.