Teknik dan Instrumen Penilaian (Minggu, 05 Juni 2011) A. Teknik Penilaian Permendiknas No.

22 tahun 2006 menyatakan bahwa Standar Isi (SI) untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Di dalam SI dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran dalam KTSP meliputi tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Tatap muka adalah pertemuan formal antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran di kelas. Penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik, sedangkan waktu penyelesaian kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. Sejalan dengan ketentuan tersebut, penilaian dalam KTSP harus dirancang untuk dapat mengukur dan memberikan informasi mengenai pencapaian kompetensi peserta didik yang diperoleh melalui kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Teknik penilaian yang dimaksud antara lain melalui tes, observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antarteman yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. 1. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan. Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD) atau lebih. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester genap. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan. Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada ujian nasional, dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. 2. Observasi adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan kompetensi yang dinilai, dan dapat dilakukan baik secara formal maupun informal. Penilaian observasi dilakukan antara lain sebagai penilaian akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran

kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan. 3. Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Penilaian penugasan diberikan untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, dan dapat berupa praktik di laboratorium, tugas rumah, portofolio, projek, dan/atau produk. 4. Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan kreativitas peserta didik (Popham, 1999). Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik dengan menilai bersama karya-karya atau tugas-tugas yang dikerjakannya. Peserta didik dan pendidik perlu melakukan diskusi untuk menentukan skor. Pada penilaian portofolio, peserta didik dapat menentukan karya-karya yang akan dinilai, melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Perkembangan kemampuan peserta didik dapat dilihat pada hasil penilaian portofolio. Teknik ini dapat dilakukan dengan baik apabila jumlah peserta didik yang dinilai sedikit. 5. Projek adalah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Peserta didik dapat melakukan penelitian melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan analisis data, serta pelaporan hasil kerjanya. Penilaian projek dilaksanakan terhadap persiapan, pelaksanaan, dan hasil. 6. Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu hasil karya. Penilaian produk dilakukan terhadap persiapan, pelaksanaan/proses pembuatan, dan hasil. 7. Inventori merupakan teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap objek psikologis. 8. Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif. 9. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri mengenai berbagai hal. Dalam penilaian diri, setiap peserta didik harus mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya secara jujur. 10. Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai hal secara jujur. Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik. Karena pembelajaran pada KTSP meliputi kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, maka penilaianpun harus dilaksanakan seperti itu. Tabel berikut menyajikan contoh penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran melalui kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Tabel 1 Penilaian untuk kegiatan tatap muka dan penugasan MATA PELAJARAN Fisika TATAP MUKA Mengukur besaran Ulangan mengenai fisika (massa, Pengukuran panjang, dan waktu) Membaca QS Al Baqarah: 30, AlMukminum: 12-14, Az-Zariyat: 56 dan An-Nahl: 78 Ulangan mengenai hukum bacaan untuk surat dan ayat yang sesuai KOMPETENSI DASAR PENILAIAN UNTUK KEGIATAN PEMBELAJARAN TUGAS TERSTRUKTUR Praktik mengukur di laboraborium KEGIATAN MANDIRI Tugas mendata alat ukur yang sering digunakan sehari-hari

Pendidikan Agama Islam

Melafalkan QS Al Baqarah: 30, AlMukminum: 12-14, Az-Zariyat: 56 dan An-Nahl: 78 dengan makhraj yang benar

Membuat rang-kuman perbandingan tiga referensi tafsir Al Qur‟an (Ibnu Katsir, Jalalain, dan Al-Azhar) QS Al Baqarah: 30, AlMukminum: 12-14, Az-Zariyat: 56 dan An-Nahl: 78

B. Aspek yang Dinilai Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Kemampuan kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi Bloom secara hierarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hapalan saja. Pada tingkat pemahaman, peserta didik dituntut untuk menyatakan jawaban atas pertanyaan dengan kata-katanya sendiri. Misalnya, menjelaskan suatu prinsip atau konsep. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam suatu situasi yang baru. Pada tingkat analisis,

peserta didik diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat, dan menemukan hubungan sebab akibat. Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut merangkum suatu cerita, komposisi, hipotesis, atau teorinya sendiri, dan mensintesiskan pengetahuan. Pada tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi, seperti bukti sejarah, editorial, teori-teori, dan termasuk di dalamnya melakukan judgement (pertimbangan) terhadap hasil analisis untuk membuat keputusan. Kemampuan psikomotor melibatkan gerak adaptif (adaptive movement) atau gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan (non-discursive communication) - (Harrow, 1972). Gerak adaptif terdiri atas keterampilan adaptif sederhana (simple adaptive skill), keterampilan adaptif gabungan (compound adaptive skill), dan keterampilan adaptif komplek (complex adaptive skill). Keterampilan komunikasi berkesinambungan mencakup gerak ekspresif (expressive movement) dan gerak interpretatif (interpretative movement). Keterampilan adaptif sederhana dapat dilatihkan dalam berbagai mata pelajaran, seperti bentuk keterampilan menggunakan peralatan laboratorium IPA. Keterampilan adaptif gabungan, keterampilan adaptif komplek, dan keterampilan komunikasi berkesinambungan baik gerak ekspresif maupun gerak interpretatif dapat dilatihkan dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Kondisi afektif peserta didik berhubungan dengan sikap, minat, dan/atau nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes, tetapi dapat diperoleh melalui angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan berkelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu, sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus. Dalam laporan hasil belajar peserta didik, terdapat komponen pengetahuan yang umumnya merupakan representasi aspek kognitif, komponen praktik yang melibatkan aspek psikomotorik, dan komponen sikap yang berkaitan dengan kondisi afektif peserta didik terhadap mata pelajaran tertentu. Tabel berikut menyajikan berbagai aspek yang dinilai untuk lima kelompok mata pelajaran (sesuai PP no. 19 tahun 2005 pasal 64). Tabel 2 Aspek yang dinilai dalam berbagai mata pelajaran No Kelompok mata pelajaran Contoh Mata pelajaran 1 Agama dan akhlak mulia Pendidikan Agama 2 Kewarganegaraan dan kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan 3 Ilmu Pengetahuan dan Matematika Tenologi Fisika, Kimia, Biologi Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi Bhs Indonesia, bhs Inggris, bhs Asing lain Teknologi Informasi dan Komunikasi 4 Estetika Seni Budaya 5 Jasmani, olahraga, dan kesehatan Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan C. Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Dalam KTSP terdapat 5 kelompok mata pelajaran yaitu kelompok mata pelajaran: agama dan akhlak mulia; kewarganegaraan dan kepribadian; ilmu pengetahuan dan teknologi; estetika; jasmani, olahraga, dan kesehatan. 1. Penilaian kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Kompetensi yang dikembangkan dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia terfokus pada aspek kognitif atau pengetahuan dan aspek afektif atau perilaku. Penilaian hasil belajar untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dilakukan melalui: a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik; b. Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Dalam rangka menilai akhlak peserta didik, guru agama dan guru mata pelajaran lain melakukan pengamatan terhadap perilaku peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menilai perilaku peserta didik yang menyangkut pengamalan agamanya seperti kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, sopan santun, hubungan sosial, kejujuran, dan pelaksanaan ibadah ritual. Tabel berikut menampilkan dimensi dan indikator penilaian akhlak mulia. Tabel 3 Dimensi dan indikator sebagai rambu-rambu penilaian akhlak mulia Dimensi Indikator Disiplin Datang dan pulang tepat waktu mengikuti kegiatan dengan tertip Bersih Membuang sampah pada tempatnya Mencuci tangan sebelum makan

Aspek yang dinilai Pengetahuan dan sikap Pengetahuan dan sikap Pengetahuan dan sikap Pengetahuan, praktik, dan sikap Pengetahuan dan sikap Pengetahuan, praktik, dan sikap Pengetahuan, praktik, dan sikap Praktik dan sikap Pengetahuan, praktik, dan sikap

No 1 2

No

Dimensi

3 4

Tanggungjawab Sopan Santun

5

Hubungan Sosial

6

Jujur

7

Pelaksanaan ibadah ritual

Indikator Membersihkan tempat kegiatan Merawat kebersihan diri Menyelesaikan tugas pada waktunya Berani menanggung resiko Berbicara dengan sopan Bersikap hormat pada orang lain Berpakaian sopan Berposisi duduk yang sopan Menjalin hubungan baik dengan guru Menjalin hubungan baik dengan sesama teman Menolong teman Mau bekerjasama dalam kegiatan yang positif Menyampaikan pesan apa adanya Mengatakan apa adanya Tidak berlaku curang Melaksanakan sembahyang Menunaikan ibadah puasa Berdoa

Keterangan: Rambu-rambu tersebut di atas dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi guru mata pelajaran agama dan guru mata pelajaran lain. Bagi guru mata pelajaran lain hasil pertimbangan diberikan kepada guru agama terutama mengenai perilaku yang benar-benar menyimpang yang dilakukan berulang-ulang oleh peserta didik. Penentuan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada akhir satuan pendidikan dilakukan melalui rapat dewan pendidik yang didasarkan pada hasil ujian sekolah dengan mempertimbangkan penilaian oleh pendidik. 2. Penilaian kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian Hasil belajar kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian meliputi: a. Pemahaman akan hak dan kewajiban diri sebagai warga negara, yaitu aspek kognitif sebagai hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. b. Kepribadian, yaitu beberapa aspek kepribadian sebagaimana disebutkan dalam Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. c. Perilaku berkepribadian, yaitu berbagai bentuk perilaku sebagai penerjemahan dimilikinya ciri-ciri kepribadian warga negara Indonesia. Seperti kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, penilaian kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui: a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik; b. Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Contoh pengamatan aspek kepribadian dan indikator perilaku dapat dilhat pada tabel berikut. Tabel 4. Penilaian terhadap aspek kepribadian peserta didik ASPEK INDIKATOR PERILAKU KEPRIBADIAN a. Tidak menghindari kewajiban Bertanggungjawab b. Melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan c. Menaati tata tertib sekolah d. Memelihara fasilitas sekolah Percaya Diri a. Tidak mudah menyerah b. Berani menyatakan pendapat c. Berani bertanya d. Mengutamakan usaha sendiri daripada bantuan a. Menerima pendapat yang berbeda Saling Menghargai b. Memaklumi kekurangan orang lain c. Mengakui kelebihan orang lain d. Dapat bekerjasama

Penilaian kelompok mata pelajaran estetika Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Penilaian kelompok mata pelajaran iptek untuk SMA dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. tes praktik simulasi maupun tes/uji petik/contoh kerja. berbicara. Memiliki keinginan untuk tahu Kompetitif 3. d. Pengumpulan data penilaian selama proses pembelajaran melalui observasi juga penting untuk dilakukan. Berani bersaing b. Data aspek afektif seperti sikap ilmiah. Selain dengan tes kinerja. Penilaian hasil belajar mata pelajaran pada kelompok iptek juga dilakukan oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah/madrasah dan oleh pemerintah melalui ujian nasional. keterampilan. Menunjukkan semangat berprestasi c. terdiri atas penilaian hasil belajar oleh: pendidik. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik. dan penilaian antarteman. tes praktik. dan muatan lokal yang relevan. a. b. IPA (fisika. melainkan karena kebutuhan akan tingkat pemahaman dan pemikiran yang lebih tinggi. sosiologi. Tingkat kesukaran soal untuk penilaian akhir hendaknya bukan karena kerumitan prosedural yang harus dilakukan peserta didik. Dalam pendidikan teknologi dan kejuruan. kimia. Tes petik kerja atau tes sampel kerja merupakan tes praktik tingkat tertinggi yang merupakan perwujudan dari tes praktik keseluruhan yang hendak diukur. teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kelompok mata pelajaran estetika memiliki karakteristik yang menjadikannya unik di antara mata pelajaran lain. Menerima nasihat guru b. satuan pendidikan. Penilaian kemampuan berbahasa harus memperhatikan hakikat dan fungsi bahasa yang lebih menekankan pada bagaimana menggunakan bahasa secara baik dan benar sehingga mengarah kepada penilaian kemampuan berbahasa berbasis kinerja. yakni mendengarkan. penilaian diri. tes identifikasi. matematika. Penilaian yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran harus mencakup soal atau tugas yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi. dan penilaian antarteman. Soal atau tugas demikian akan mendorong peserta didik untuk senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan berpikirnya. tugas-tugas laboratorium/bengkel harus dirancang untuk mensimulasikan tes praktik pada pekerjaan yang sesungguhnya melalui tes praktik simulasi. keterampilan. 4. Hasil penugasan dapat berupa produk yang mencerminkan kompetensi peserta didik. Selain itu. Sebagai konsekuensi. Menjaga perasaan orang lain a. observasi. dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang diujikan. geografi). minat. dan menulis. dan motivasi belajar dapat diperoleh dengan observasi. tes lisan. Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes tertulis. penilaian dalam bidang teknologi dapat pula dengan hasil penugasan dan portofolio. Berikut ini adalah karakteristik penilaian tiap-tiap rumpun mata pelajaran yang dimaksudkan. Berusaha ingin lebih maju d. dapat dilakukan melalui tes keterampilan tertulis. Penilaian dalam bidang TIK dapat diukur melalui tes praktik sewaktu peserta didik menyelesaikan tugas dan/atau produk yang dihasilkan. penilaian kemampuan berbahasa bersifat autentik dan pragmatik.ASPEK KEPRIBADIAN Bersikap Santun INDIKATOR PERILAKU a. serta muatan lokal yang relevan. komunikasi nyata senantiasa melibatkan lebih dari satu keterampilan berbahasa sehingga harus diperhatikan keterpaduan antara keterampilan berbahasa tersebut. dan memperbaiki proses pembelajaran. Tes praktik. Penilaian dalam kelompok mata pelajaran iptek disesuaikan dengan karakteristik tiap-tiap rumpun mata pelajaran. jurnal. Penilaian dalam matematika perlu menekankan keterampilan bermatematika. sejarah. Oleh karena itu. membaca. Menghindari permusuhan dengan teman c. Hasil portofolio yang berupa kumpulan hasil kerja berkesinambungan dapat dipakai sebagai informasi yang menggambarkan perkembangan kompetensi peserta didik. penugasan. IPS (ekonomi. penilaian diri. Penilaian akhir terhadap peserta didik hendaknya berdasarkan pada teknik penilaian yang beragam. seni dan budaya. biologi). Keunikan pembelajaran kelompok mata pelajaran estetika terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetik melalui dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain. Penilaian IPA dan IPS dapat dilakukan secara terpadu dengan proses pembelajaran. inventori. portofolio. Selain itu. bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar. bukan hanya pengetahuan matematika. pendidik hendaknya memperhatikan benar kemampuan berpikir yang ingin dinilainya. dan pemerintah. Penilaian ini dilakukan melalui ulangan. c. Penilaian kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi PP 19 tahun 2005 Pasal 63 ayat (1) menyatakan bahwa penilaian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). penugasan. titik berat penilaian dalam matematika hendaknya diberikan kepada penilaian yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Penilaian ini menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang mengutamakan adanya tugas-tugas interaktif dalam empat aspek keterampilan berbahasa. yakni apresiasi .

olah raga. olahraga. . dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. tes koordinasi mata-kaki. dan kesehatan dimaksudkan untuk mengukur kemampuan psikomotor peserta didik. yaitu teknik untuk mengukur aspek kognitif. Demikian pula. keterampilan sosial. Untuk memenuhi tuntutan akuntabilitas dalam dunia pendidikan. dsb. Pengukuran kesegaran jasmani dapat dilakukan dengan berbagai tes kesegaran jasmani yang telah dibakukan dan sesuai dengan tingkat usia peserta didik. olahraga. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik. Kelincahan adalah kemampuan tubuh mengubah arah dengan cepat dan tepat. dan kesehatan dilakukan melalui: a. dan (2) perilaku peserta didik dalam hal mendengarkan. 5. keterampilan bermain bola basket. Pengukuran kesegaran jasmani ini sebaiknya dilakukan tiap tiga bulan sekali. penugasan. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). (h) dan kebiasaan hidup sehat melalui aktivitas jasmani. baik yang terkait dengan akhlak maupun kepribadian. Penilaian untuk mata pelajaran kelompok mata pelajaran estetika perlu pula menyesuaikan dengan sifat satuan dan jenjang pendidikan. tes menggiring (drible) bola dalam bolabasket. teknik penilaian dapat berbentuk tes perbuatan/unjuk kerja. Hasil penilaian terhadap akhlak peserta didik akan dijadikan pertimbangan pada saat guru mata pelajaran pendidikan agama menentukan nilai akhlak peserta didik untuk dilaporkan pada laporan hasil belajar (rapor). Olahraga dan Kesehatan bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani. Untuk keperluan tersebut. Pengukuran koordinasi dapat dilakukan dengan berbagai macam tes koordinasi yang sesuai dengan tingkat usia peserta didik dan karakteristik aktivitas jasmani atau cabang olahraga seperti: tes koordinasi mata-tangan. (d) kesehatan reproduksi dan pelecehan seksual. (f) pengetahuan gizi dan makanan. seperti Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). dari yang sederhana sampai yang kompleks. dan kreasi sebagai cerminan dari kompetensi dalam mata pelajaran Seni Budaya. Penilaian kelompok mata pelajaran jasmani. tes menggiring (drible) bola dalam sepakbola. sehingga dapat diketahui tingkat perkembangan atau kemajuannya. membaca. kelincahan. Kesegaran jasmani adalah kemampuan tubuh melakukan kegiatan sehari-hari tanpa merasa lelah. keterampilan berfikir. dan koordinasi yang merupakan unsur-unsur dalam keterampilan gerak. Pengukuran kelincahan dapat dilakukan dengan berbagai macam tes kelincahan yang sesuai dengan tingkat usia peserta didik dan karakteristik aktivitas jasmani atau cabang olahraga. Guru kelompok mata pelajaran jasmani. dan sebagainya. Pada satuan pendidikan SMA/MA. keterampilan bermain bola voli dan sebagainya. performance/ rekreasi. Kemampuan koordinasi peserta didik diukur setelah peserta didik menyelesaikan satu kompetensi tertentu. berbicara.(appreciation) dan kreasi (creation). Pengalaman estetik adalah pengalaman menghayati nilai keindahan. Sesuai dengan karakteristik kelompok mata pelajaran ini. b. pembelajaran dan penilaian mata pelajaraan kelompok mata pelajaran estetika lebih ditekankan pada upaya pengembangan kepribadian peserta didik agar menjadi manusia yang utuh. Koordinasi adalah kemampuan tubuh untuk mengelola unsur-unsur yang terlibat dalam proses terjadinya gerakan. stabilitas emosional. dan kesehatan yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. dan tes pengetahuan. afektif. tindakan moral. Upaya memenangkan permainan tidak mengandung unsur kecurangan atau tidak sportif. dan kesehatan Kelompok Mata Pelajaran Jasmani. Ulangan. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani. teknik penilaian mengacu pada aspek yang dinilai. hasil penilaian terhadap kepribadian peserta didik juga akan dijadikan pertimbangan pada saat guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan menentukan nilai kepribadian peserta didik untuk dilaporkan pada aporan hasil belajar (rapor). olahraga. dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani. Kemampuan psikomotor tersebut secara umum mencakup kesegaran jasmani. dan menulis sebagai cerminan dari kompetensi aspek sastra dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengamatan terhadap perilaku sportif merupakan pengamatan terhadap perilaku peserta didik dalam hal kesadaran akan sikap kejujuran dalam upaya memenangkan pertandingan. Kemampuan psikomotor peserta didik ini harus diukur setiap menyelesaikan satu kompetensi tertentu. Tes kinerja dalam pendidikan jasmani. perlombaan. aspek pola hidup sehat. dan kesehatan bertanggungjawab pula menilai aspek afektif peserta didik. tes aerobik. atau aktivitas jasmani dan olahraga. dan pengamatan terhadap perilaku. di samping itu dapat juga dilakukan tes kinerja yang secara khusus dapat menggambarkan keterampilan dalam pendidikan jasmani dan olahraga seperti keterampilan bermain sepak bola. Kompetensi yang dinilai dalam pendidikan kesehatan mencakup penilaian tentang (a) kebersihan pribadi dan lingkungan. Kelincahan peserta didik diukur setelah peserta didik menyelesaikan satu kompetensi tertentu. (b) Pendidikan keselamatan (c) penyakit menular. Penilaian hasil belajar yang relatif dapat diterima adalah jenis penilaian berbasis pengamatan/ observasi yakni penilaian yang dilakukan dengan cara mengamati secara terfokus: (1) perilaku peserta didik dalam hal apresiasi. keterampilan gerak. olahraga. permainan. dan keterampilan motorik peserta didik. tes koordinasi mata-tangan dan kaki. pendidik mata pelajaran kelompok mata pelajaran estetika perlu mengembangkan sistem penilaian hasil belajar dengan memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran estetika. (g) penyalah gunaan obat dan psikotropika. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik. (h) rokok dan minuman keras.

Instrumen Penilaian Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrumen penilaian yang sesuai. c. • Tes isian: isian singkat dan uraian • Daftar pertanyaan • Tes identifikasi • Tes simulasi • Tes uji petik kinerja • Pekerjaan rumah • Projek • Lembar penilaian portofolio • Buku cacatan jurnal • Kuesioner/lembar penilaian diri • Lembar penilaian antarteman Instrumen tes berupa perangkat tes yang berisi soal-soal. menegur. dan kesehatan melakukan pengamatan terhadap perilaku peserta didik. dan meraih cita-cita. yaitu kesadaran untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan. seperti berbicara. Hubungan sosial. guru mata pelajaran pendidikan jasmani. . berpakaian. c. instrumen portofolio berupa lembar penilaian portofolio. Berikut ini disajikan contoh-contoh instrumen penilaian. d. instrumen penugasan berupa lembar tugas projek atau produk. e. dan duduk yang sopan. saling menghargai. baik dalam bentuk perkataan. dan mau bekerjasama dalam kegiatan yang positif. dan kejujuran. hubungan sosial. Indikator masing-masing aspek kepribadian antara lain sebagai berikut. mengritisi tentang sesuatu hal. dan mengakui kelebihan orang lain. baik di dalam maupun di luar kelas. Kompetisi: diwujudkan dalam bentuk perilaku yang tegar menghadapi kesulitan. a. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menilai perilaku peserta didik yang mencerminkan akhlak seperti kedisiplinan. D. Saling menghargai: diwujudkan dalam perilaku mau menerima pendapat yang berbeda. olahraga. dan kesehatan melakukan pengamatan terhadap perilaku peserta didik. yaitu kemampuan untuk berinteraksi sosial dengan orang lain secara baik. menyelesaikan segala hal. harga diri. Kejujuran. seperti tidak berbohong. Hal-hal yang dinilai antara lain mencakup aspek: a. seperti menyelesaikan tugas-tugas selama kegiatan berlangsung. dan pulang tepat waktu. dan berani kalah dengan orang lain berlandaskan kejujuran (fair play). Setiap instrumen harus dilengkapi dengan pedoman penskoran. Kedisiplinan. instrumen observasi berupa lembar pengamatan. d. perbuatan. benar-salah. yaitu kepatuhan kepada peraturan atau tata tertib. sopan santun. yaitu sikap hormat kepada orang lain. guru mata pelajaran pendidikian jasmani. instrumen inventori dapat berupa skala Thurston. berprestasi. berani bersaing dengan orang lain. kompetisi. dan kerjasama. Sopan santun. b. bertanya. Tabel berikut menyajikan klasifikasi penilaian dan bentuk instrumen. baik di dalam maupun di luar kelas. Tabel 5. skala Likert atau skala Semantik. instrumen penilaian diri dapat berupa kuesioner atau lembar penilaian diri. dan tidak berlaku curang. tanggung jawab. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menilai perilaku peserta didik yang mencerminkan kepribadian seperti percaya diri. Klasifikasi Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen Teknik Penilaian • Tes tertulis • Tes lisan • Tes praktik (tes kinerja) • Penugasan individual atau kelompok • Penilaian portofolio • Jurnal • Penilaian diri • Penilaian antarteman Bentuk Instrumen • Tes pilihan: pilihan ganda. e. b. menolong teman. Harga diri: diwujudkan dalam perilaku tidak mudah menyerah dan mengetahui kelebihan diri dan mengakui kelemahan diri. dan sikap. mengikuti semua kegiatan.Untuk menilai akhlak peserta didik. seperti datang tepat waktu. memaklumi kekurangan orang lain. motivasi diri. dan instrumen penilaian antarteman berupa lembar penilaian antarteman. Tanggungjawab. Untuk menilai kepribadian peserta didik. olahraga. Motivasi diri: diwujudkan dalam perilaku kemauan untuk maju. yaitu kejujuran dalam perkataan dan perbuatan. Percaya diri: diwujudkan dalam perilaku berani menyatakan pendapat. seperti menjalin hubungan baik dengan guru dan sesama teman. menjodohkan dll.

Contoh instrumen penilaian tugas: Projek 5 4 Skor 3 2 1 Dalam penilaian projek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan yaitu:  Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. rencanakan penelitian. posisi tungkai depan ± 90° dan tungkai belakang 100°-120° Keterangan Skor 5 : sangat tepat. kurang tepat = 1) Pelaporan hasil Sistematika laporan (baik = 2. kurang = 2. menggali. 3 : agak tepat. N = (Skor pencapaian : Skor maksimal)x 100. kurang tepat = 2.  Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. kurang komunikatif = 1) Penulisan/ejaan (tepat = 3. 2. empat jari agak rapat mengarah ke samping luar. masyarakat) yang berkembang di sekitar tempat tinggalmu. Dalam membuat laporan perhatikan: kebenaran informasi/data. dan penggunaan bahasa! Catatan : Isu berhubungan dengan pro – kontra. cukup = 2. tidak tepat/banyak kesalahan =1) Tampilan (menarik = 2.1. Pengumpulan informasi (tepat = 3. kurang = 1) e. . kurang tepat = 2. dengan mempertimbangkan tahap perkembangan kognitif peserta didik. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. teknologi. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam merencanakan. sistematika laporan. Kelengkapan data (lengkap = 3. kelengkapan data. Contoh soal tugas projek biologi mengenai isu salingtemas (sain. tidak lengkap = 1) d.  Tahap pelaksanaan (pembuatan produk). mengembangkan gagasan. 2 : tidak tepat. Soal Carilah isu salingtemas (sain. dilakukan terhadap karya (produk) yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. kurang = 2. kurang menarik = 1) Skor maksimal Skor 3 1-3 14 1–3 1–3 1–3 1–3 1-2 9 1–2 1–2 1–3 1-2 26 3 3. Pedoman penskoran No Aspek yang dinilai 1 Persiapan Rumusan masalah (tepat = 3. tidak baik = 1) Penggunaan bahasa (komunikatif = 2. dan mendesain produk. lakukan penelitian. Analisis data (baik = 3. lingkungan. 03 Waktu jongkok posisi punggung segaris dengan kepala 04 Pandangan kira-kira 1 meter di depan garis start 05 Waktu aba-aba siap. Contoh instrumen penilaian tugas: Produk Penilaian produk terdiri atas 3 (tiga) tahap yaitu:  Tahap persiapan. dan buatlah laporan hasil penelitian. Contoh instrumen observasi (lembar pengamatan) Lari 100 meter Nomor Aspek Keterampilan Butir Starting Position 01 Waktu jongkok lutut kaki belakang ada di depan ujung kaki lainnya 02 Kedua tangan di tanah. Kesimpulan (tepat = 2. tidak tepat = 1) 2 Pelaksanaan a. teknologi. lingkungan. masyarakat) di sekitar tempat tinggal peserta didik.  Keaslian Projek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan bimbingan pendidik dan dukungan berbagai pihak yang terkait. Keakuratan data/informasi (akurat = 3. tidak akurat = 1) c. kurang tepat = 2. tidak tepat = 1) b. 4 : tepat. siku lurus.  Tahap penilaian hasil karya (appraisal). alat. dan teknik pembuatan. dan skor 1 : sangat tidak tepat Pengolahan Skor yang dicapai peserta didik dapat diolah menjadi nilai sebagai berikut.

kurang = 1) b. tidak = 1) c. f. tidak lengkap = 1) 2 Tahap pelaksanaan a. cukup = 2. Kolom a. misalnya untuk persiapan 20%. tidak = 1) Skor 7 1–2 1–3 1–2 8 1–3 1–3 1–2 8 1–2 1–3 1–3 Bobot 20 % 40% 3 40% 4. sedangkan kolom e. olahraga dan kesehatan: membuat poster ”anti narkoba”. Memilih jenis bahan (tepat = 2. tidak = 1) Tahap hasil a. Contoh instrumen inventori menggunakan skala Likert. kurang = 2. dan c cenderung mendekati pernyataan di sebelah kiri. Untuk pernyataan yang bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu 4 = STS. 8) dan ada yang bersifat negatif (No 2. 6. Pemberian skor untuk pernyataan yang bersifat positif : SS = 4. Keterampilan menggunakan alat/bahan (terampil = 3. Kesesuaian dengan tugas (sesuai = 3. 4. Kualitas bahan (baik = 3. TS = 2.Skor untuk setiap tahap dapat diberi bobot. dan g cenderung mendekati pernyataan di sebelah kanan. 2 = S. 7). Selesai tepat waktu ( tepat = 2. Kiri a b c d e f g Kanan Membosankan Menarik Bermanfaat Tidak bermanfaat Menyenangkan Merepotkan Menantang Tidak menantang Tidak memberatkan Memberatkan Membuang-buang waktu Menguntungkan 5. Memperhatikan keselamatan kerja (ya = 2.1. STS = 1. misalnya untuk kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran Sejarah Petunjuk: Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu! SS = sangat setuju S = setuju TS STS = tidak setuju = sangat tidak setuju Contoh inventori skala Likert No Pernyataan 1 Saya senang melakukan penelitian sejarah 2 Pelajaran sejarah membosankan 3 Saya senang mengikuti acara televisi yang berhubungan dengan sejarah 4 Saya tidak menyukai karir di bidang kepurbakalaan 5 Saya suka berkunjung ke museum untuk menambah pengetahuan di bidang sejarah 6 Saya senang jika ada kesempatan untuk bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan sejarah 7 Saya benci jika ada tugas untuk membuat ringkasan dari artikel yang berkaitan dengan sejarah dari koran 8 Saya suka membaca rubrik tentang sejarah 9 dsb SS S TS STS Pernyataan pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No. 5. Pedoman penskoran No Aspek yang dinilai 1 Tahap persiapan a. Contoh instrumen inventori menggunakan skala beda (berdiferensi) Semantik Petunjuk Berilah tanda V pada kolom berikut sesuai dengan pilihanmu terhadap pembelajaran ekonomi. dan hasil 40%. tidak tepat = 1) b. tidak tepat = 1) b. cukup = 2. Kerapian (rapi = 3. kurang = 1) c. cukup = 2. S = 3. 3 = TS. Kelengkapan alat (lengkap = 2. . kurang = 2. 3. kurang = 1) c. Contoh soal produk mata pelajaran pendidikan jasmani. Menentukan penulisan kalimat yang menarik (menarik = 3. b. pelaksanaan 40%. dan 1 = SS.

Isilah semua pernyataan dengan jujur. Berilah tanda V pada kolom yang sesuai (ya atau tidak) berdasarkan hasil pengamatanmu! c. TP = Tidak pernah melakukan SR = sering melakukan JR = Jarang melakukan SL = selalu melakukan KD = Kadang-kadang melakukan No Pernyataan TP JR KD SR SL 1 Saya menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan biologi kepada temanteman 2 Saya bertanya kepada guru hal-hal yang berhubungan dengan mata pelajaran biologi 3 Saya menyempatkan diri membaca artikel yang berkaitan dengan biologi di majalah/koran 4 Saya mendengarkan informasi yang berhubungan dengan biologi dari radio 5 Saya menonton tayangan di televisi yang berkaitan dengan biologi. 3 = KD. Berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan kenyataan. Muncul/ dilakukan Ya Tidak . Persyaratan substansi merepresentasikan kompetensi yang dinilai. Kualifikasi Berdasarkan jawaban. 4 = SR. Setiap instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan substansi. Contoh instrumen penilaian (lembar pengamatan) antarteman untuk kegiatan diskusi kelompok mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Petunjuk: a. Dengan 9 butir pernyataan rentang skor adalah 9 – 45. dan bahasa. Contoh instrumen penilaian diri (kuesioner). Persyaratan konstruksi merepresentasikan persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. misalnya fauna dan flora 6 Saya hadir setiap ada jam pelajaran biologi di sekolah 7 Saya membuat catatan yang rapi untuk mata pelajaran biologi 8 Saya menyerahkan tugas biologi tepat waktu 9 Saya menerapkan pengetahuan biologi dalam kehidupan sehari-hari 10 Dst Pengolahan Pada contoh di atas penskoran untuk setiap pernyataan menggunakan rentang 1 – 5. Instrumen penilaian dilengkapi dengan pedoman penskoran.. Serahkan hasil pengamatan kepada bapak/ibu guru! Daftar periksa pengamatan sikap dalam diskusi kelompok Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Nama siswa yang diamati : …………………………….6.. kegiatan setiap peserta didik untuk mata pelajaran biologi dikelompokkan sebagai berikut Amat Baik : Skor 37 – 45 Baik : Skor 28 – 36 Cukup : Skor 19 – 27 Kurang : Skor < 19 7. kelas …………… No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perilaku / sikap Memberi kesempatan teman untuk menyampaikan pendapat Memotong pembicaraan teman lain Menyampaikan pendapat dengan jelas Mau menerima pendapat teman Mau menerima kritik dari teman Memaksa teman untuk menerima pendapatnya Menyanggah pendapat teman dengan sopan Mau mengakui kalau pendapatnya salah Menerima kesepakatan hasil diskusi Dst Nama pengamat ……………………. konstruksi. Pada waktu melakukan diskusi kelompok. Skor 1 untuk TP. 2 = JR. dan 5 = SL. b. amatilah perilaku temanmu dengan cemat! b.. misalnya untuk kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran biologi Petunjuk: a. Persyaratan bahasa berhubungan dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.

14. berarti prosedur penilaian. Untuk mengukur keberhasilan proses pencapain kompetensi peserta didik. 6. beracuan kriteria. konstruksi. 15. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan Tulisan ke-2: Prinsip Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 8. 11. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. antardaerah. berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. konstruksi. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi persyaratan (a) substansi. sahih. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. adalah menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik. maupun hasilnya. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. (b) konstruksi. bahasa. objektif. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut. dan bahasa. tes lisan.TEHNIK PENILAIAN PEMBELAJARAN (Rabu. sistematis. budaya. 5. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 4. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. 9. dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan antarsekolah. berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi. serta memiliki bukti validitas empirik. 2. dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. observasi. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Teknik tes berupa tes tertulis. terpadu. penugasan perseorangan atau kelompok. dan (c) bahasa. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah. 2. 15 Februari 2012) Tulisan ke-1 : Jenis Penilaian Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran. terbuka. 7. prosedur. berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. status sosial ekonomi. baik dari segi teknik. 3. 5. . Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi. dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. dan tes praktik atau tes kinerja. 16. 4. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. kriteria penilaian. 13. 6. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. melakukan perbaikan pembelajaran. dan antartahun. 12. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. dan gender. untuk memantau kemajuan. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. adat istiadat. 3. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. menyeluruh dan berkesinambungan. Tulisan ke-3: Teknik dan Instrumen Penilaian 1. perlu ditetapkan KKM. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai batas ambang kompetensi. suku. akuntabel. adalah merepresentasikan kompetensi yang dinilai. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes. 7. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek. adil. berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. 10. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

lambang dan simbol. sedangkan akomodasi terjadi ketika seseorang harus merubah pola berpikirnya untuk merespon terhadap situasi yang baru. 2. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial). Tahap pertama yang tidak lain model pemrosesan informasi dari teori belajar kognitif. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme. Hal yang paling mendasar dari penemuan Piaget ini adalah belajar pada siswa tidak harus terjadi hanya karena seorang guru mengajarkan sesuatu padanya. Piaget menjelaskan bagaimana tiap individu mengembangkan schema. namun suatu abstraksi yang tumbuh . belajar dan perkembangan kognitif. Hal ini tidaklah meniadakan faktor guru dalam proses pembelajaran. Orang dewasa mengajarkan alat-alat ini ke anak dalam kegiatan sehari-hari dan si anak menginternalisasi hal tersebut. membandingkan jawaban dari siswa lain akan lebih membantu siswa dalam belajar dan memahami sesuatu. nilai positif dan negatif. Penjelasan di atas menunjukkan penekanan Piaget terhadap pemahaman yang dibentuk oleh seseorang. serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Piaget percaya bahwa belajar terjadi karena siswa memang mengkonstruksi pengetahuan secara aktif darinya. menyatakan bilangan yang tak terhingga besarnya dan lainnya.KUMPULAN TEORI BELAJAR Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti. seperti berpikir dan pemecahan masalah dimediasi dengan alat-alat psikologi seperti bahasa. Melalui asimilasi kita berusaha memahami hal yang baru dengan mengaplikasikan schema yang ada. yaitu suatu sistem organisasi aksi atau pola pikir yang membuat kita secara mental mencerminkan “berpikir mengenainya”. Individu merekonstruksi realitas diluarnya dengan membentuk representasi mental secara akurat yang mencerminkan “keadaan apa adanya”. Konstruktivisme sosial Berbeda dengan Piaget. bahasa. Sistem angka romawi misalnya punya keterbatasan untuk operasi perhitungan. Konstrukstivisme Individu Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu. Pengetahuan seperti itu berasal dari hasil refleksi dan koordinasi kemampuan kognitif dan berpikir serta bukan berasal dari pemetaan realitas lingkungan eksternalnya. Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial. Seseorang melakukan adaptasi dalam situasi yang makin kompleks ini dengan menggunakan schema yang masih bisa dianggap layak (asimilasi) atau dengan melakukan perubahan dan menambahkan pada schema-nya sesuatu yang baru karena memang diperlukan (akomodasi). peta. alat-alat budaya. berbeda dengan sistem angka arab yang biasa kita gunakan yang mempunyai lambang nol. bertanya dan mencari jawaban. dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual. Dua proses diaplikasikan dalam hal ini yaitu asimilasi dan akomodasi. misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. kepercayaan. namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis. Vygotsky melihat bahwa alat-alat budaya (termasuk di dalamnya kertas. Vygotsky menekankan bahwa semua proses mental tingkat tinggi. karya seni. dan ini diperkuat bila siswa mempunyai kontrol dan pilihan tentang hal yang dipelajari. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Sehingga alat psikologis ini dapat membantu siswa meningkatkan perkembangan mental dan berpikirnya. yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. ide. Bagaimana Pengetahuan dikonstruksi? Untuk dapat menjelaskan bagaimana pengetahuan dibentuk. justru sebaliknya lah yang terjadi. serta kode dan lambang) memainkan peran penting dalam perkembangan kognitif. komputer dll) dan alat-alat simbolik (seperti sistem angka. Piaget misalnya mengusulkan tahapan kognitif yang dilakukan oleh semua manusia. sesuatu yang berhubungan dengan logika dan konstruksi pengetahuan universal yang tidak dapat dipelajari secara langsung dari lingkungan. Sistem angka yang dipakai adalah alat budaya yang mendukung berpikir. tiga penjelasan yang bertahap merangkum berbagai pendekatan konstruktivisme ini: 1. System simbol ini diberikan dari orang dewasa ke anak melalui interaksi formal ataupun informal dan pengajaran. Sehingga pengetahuan. mesin cetak. Realitas dan kebenaran dari dunia luar mengarahkan pembentukan pengetahuan. Interaksi sosial. konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. baik dalam bentuk fisik atau secara simbolik. sikap dan sistem nilai yang dimiliki anak berkembang seperti halnya cara yang dia pelajari dari lingkungannya. Pengajaran oleh guru yang mengajak siswa untuk bereksplorasi. asimilasi dan akomodasi mengarahkan pembentukan pengetahuan. Proses internal dari Piaget yaitu organisasi. bisa dibentuk pecahan. mereka saling bertukar ide dan cara berpikir tentang representasi dan konsep. sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu). melakukan manipulasi. Berpikir pada tiap langkah memasukkan tahapan sebelumnya sehingga makin terorganisir dan adaptif dan makin tidak terikat pada kejadian kongkrit. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya. Pada saat anak berinteraksi dengan orang tua atau teman yang lebih mampu. Jadinya pengetahuan bukan hanya cermin dari realitas.

berarti dia sudah menguasai pengetahuan prosedural hal tersebut. kepercayaan. seperti halnya alat yang dibuat oleh komunitas. yaitu:    Pengetahuan Deklaratif. seperti anggapan bahwa bumi itu datar sebelum Colombus. Belajar artinya menjadi lebih mampu untuk berpartisipasi dalam kegiatan dan pemakaian alat dan mendapat bagian identitas sebagai anggota komunitas. Pengetahuan Kondisional. Namun apa yang disebut benar dalam waktu dan tempat tertentu bisa menjadi salah di tempat dan waktu yang lain. cara bagaimana mereka berinteraksi dan menyelesaikan suatu hal. Apa yang disebut pengetahuan baru ditentukan sebagiannya dengan bagaimana ide baru tersebut sesuai dengan praktek yang berlaku pada saat tersebut. Hal berikutnya dalam pendekaran konstruktivis ini adalah pertanyaan tentang apakah pengetahuan yang dibentuk itu bersifat internal. 3. bumi berputar mengelingi matahari dalam kurun waktu tertentu). namun terus tumbuh secara internal yang konsisten dan diorganisasikan seiring dengan perkembangannya. Pengetahuan Prosedural. tapi juga akan membimbing proses belajar berikutnya. Apa yang dijelaskan oleh Vigotsky bahwa belajar tergantung konteks sosial dan berada dalam lingkup budaya tertentu memang tepat. dipersepsi. G. Tidak seperti halnya belajar menurut perspektif behavioris dimana perilaku manusia tunduk pada peneguhan dan hukuman. namun bila siswa mampu mengerjakan perhitungan tersebut maka dia sudah memiliki pengetahuan prosedural. Terlebih bila pengetahuan dan wawasan yang luas ini disertai dengan strategi yang baik tentu akan membawa hasil lebih baik lagi tentunya. namun tidak bermanfaat apa-apa di komunitas lain. Faktor eksternal dan internal mengarahkan pembentukan pengetahuan.). Pengetahuan deklaratif rentangnya sangat beragam. diingat ataupun dilupakan. Menyatakan proses penjumlahan atau pengurangan pada bilangan pecahan menunjukkan pengetahuan deklaratif. dengan kata lain penguasaan pengetahuan ini juga dicirikan oleh praktek yang dilakukan. Guru dan siswa yang mampu menyelesaikan soal melalui rumus tertentu atau menterjemahkan teks bahasa Inggris adalah contoh kemampuan pengetahuan prosedural lainnya. pada perspektif kognitif ternyata ditemui tiap individu justru merencakan respons perilakunya. singkatnya “pengetahuan bagaimana”. yaitu pengetahuan tentang tahapan yang harus dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan ataupun cara kita mengemudikan sepeda. C. elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar. (2005). Seperti halnya siswa yang mampu berenang dalam satu gaya tertentu. perilaku. Educational Administration (seventh ed. sikap dari satu komunitas tertentu. yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan konseptual.. New York: McGraw Hill. Berbagai riset terapan tentang hal ini telah banyak dilakukan dan makin membuktikan bahwa pengetahuan dasar yang luas ternyata lebih penting dibanding strategi belajar yang terbaik yang tersedia sekalipun. Ideide tertentu berguna pada komunitas tertentu. Jenis Pengetahuan Menurut pendekatan kognitif yang mutakhir. Deskripsi Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui pengenalan dan pemakaian alat-alat budaya seperti bahasa konsisten dengan pandangan ini. adalah pengetahuan dalam hal “kapan dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan. Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga bagian. dipelajari. Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya. Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang akan menjadi perhatian. W. Sepanjang waktu. K. keahlian. namun sebelum itu terjadi praktek yang ada terus dilakukan karena dinilai tetap menguntungkan. . mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah.dan berkembang dengan aktivitas kognitif. membentuk pengetahuan dari komunitas tersebut. Jadinya pengetahuan tidak hanya dilihat sebagai struktur kognitif individu saja tetapi sebagai buatan dari komunitas sepanjang waktu. Disadur secara bebas dari: Hoy. Selain itu belajar juga terkondisikan berdasar tempat berlangsungnya kegiatan. biasa yang disebut enkulturasi atau proses mengadopsi norma-norma. Apa yang dilakukan oleh komunitas. menggunakan berbagai cara yang bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih berarti. Pengetahuan bukan sekedar benar atau salah. bahasa. pengalaman pribadi (apa yang diajarkan oleh guru sains secara menyenangkan) atau aturan (untuk melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan maka pembilang harus disamakan terlebih dahulu). Pengetahuan tumbuh melalui interaksi faktor-faktor internal (kognitif) dan eksternal (lingkungan dan sosial). praktek yang ada dipertanyakan dan bisa diganti. & Miskel. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah bagaimana orang berpikir. bisa berupa pengetahuan tentang fakta (misalnya. umum dan dapat ditransfer atau terikat dalam ruang dan waktu pada saat dibentuk. generalisasi (setiap benda yang di lempar ke angkasa akan jatuh ke bumi karena adanya gaya gravitasi). Hal yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang jenis pengetahuan dan memori.

Dalam menyelesaikan persoalan perhitungan kimia misalnya. mengetahui prosedural penyelesaian masalah serta tahu kapan dan mengapa menggunakan pengetahuan tersebut adalah hasil belajar yang berbedabeda. Kapasitas memori kerja ini sangat . Model pengolahan informasi merupakan salah satu model dari perspektif teori belajar ini yang menjelaskan kerja memori manusia sesuai dengan analogi komputer. namun dalam kesempatan berbeda seperti l. biasanya stimuli lainnya akan ditolak. walaupun matanya melihat deretan simbol yang sama seperti Anda. bau. Contohnya. Model Pengolahan Informasi Untuk menggunakan tiga jenis pengetahuan di atas. Mempelajari informasi tentang pokok bahasan tertentu tidak selalu menyebabkan siswa akan menggunakan informasi tersebut. Terkadang siswa mengetahui fakta dan dapat melakukan satu prosedur pemecahan masalah tertentu. yang cukup lama untuk pengolahan informasi terjadi. akan membantu mereka memahami satu prinsip lebih mendalam. 3. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi perhatian siswa. Memori Jangka Panjang menyimpan informasi yang sangat besar dalam waktu yang lama. l. Namun karena keterbatasan kemampuan. memberikan kejutan siswa. dalam hal „l‟ konteks dan pengetahuan kita akan menentukan makna yang akan diberikan. informasi yang didapat menjadi tersedia untuk proses selanjutnya. maka symbol itu kemungkinan tidak bermakna apapun. suara. memberikan masalah yang dilematis. namun sayangnya mengaplikasikannya pada waktu dan tempat yang kurang tepat. ataupun saat kita membaca huruf kanji dari koran berbahasa Jepang dimana kita tidak punya kemampuan untuk memahaminya. Siswa tidak dapat memahami apa yang mereka tidak kenali atau tidak dapat dipersepsi. Memori Kerja atau memori jangka pendek. 4 maka symbol yang sama bermakna angka satu. 2. Arti yang diberikan berasal dari realitas objektif serta dari pengetahuan kita sebelumnya. suatu symbol „l‟ akan dipersepsi sebagai huruf alpabet tertentu kalau kita menggolongkannya dalam urutan j. Memori sensori akan menangkap stimuli dan mempersepsi. kita hanya dapat memfokuskan pada beberapa stimuli saja dan mengingkari yang lainnya. karena menentukan penggunaan konsep dan prosedur yang tepat. dengan kata lain saat perhatian penuh sangat diperlukan. Memori sensori tidak hanya bekerja untuk simbol saja namun juga dalam hal warna. memangil siswa secara acak. Informasi yang dikodekan (decode) serta persepsi tiap individu akan menentukan apa yang perlu disimpan di memori kerja ini. tentunya kita harus dapat mengingatnya dengan baik. Pengetahuan kondisional ini jadinya merupakan hal yang penting dimiliki siswa. atau memberikan makna. k. mengubah metoda mengajar dan tugas. m. Namun menarik perhatian siswa adalah hal pertama. mengubah frekuensi suara dan jedanya akan dapat membantu menarik perhatian dari siswa. membuat mereka untuk tetap fokus pada pelajaran dan tugasnya juga hal yang kritis berikutnya harus dilakukan oleh guru. Memori kerja adalah tempat dimana informasi baru ini berada dan digabungkan dengan pengetahuan yang berasal dari memori jangka panjang. suhu dan lainnya yang semuanya harus dipersepsi secara simultan. digaris bawahi atau ditandai. menyimpan lima sampai sembilan informasi pada satu waktu sampai sekitar 20 detik.Sedangkan pengetahuan kondisional adalah kemampuan untuk dapat mengaplikasikan kedua jenis pengetahuan di atas. menanyakan hal yang menantang. Mengetahui sesuatu topik. Misalnya teks yang Anda baca saat ini akan dipersepsi berbeda oleh orang lain yang tidak mengerti bahasa Indonesia ataupun yang buta huruf. Cara lainnya adalah melalui perlakuan pada kata yang diucapkan atau ditulis oleh guru dengan warna yang kontras. Hal yang sangat penting jadinya untuk mengidentifikasi jenis pengetahuan ini bagi guru ketika mengajar. bagi seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang angka atau huruf. dan tentu saja ini perlu diajarkan dengan cara yang berbeda pula. yang meliputi tiga macam sistem penyimpanan ingatan: memori sensori. Memori Sensori Memori sensori adalah sistem yang bekerja seketika melalui alat indera dinama kita memberikan arti kepada stimuli yang datang dinamakan persepsi. siswa harus dapat mengidentifikasi terlebih dahulu persamaan apa yang perlu dipakai (pengetahuan deklaratif) sebelum melakukan proses perhitungan (pengetahuan prosedural). Memori Kerja Saat stimulus dipersepsi dan diubah menjadi suatu pola gambar atau suara. gerakan. Perhatian adalah tahap pertama dalam belajar.    Memori Sensori adalah sistem mengingat stimuli secara cepat sehingga analisis persepsi dapat terjadi. memori kerja dan memori jangka panjang. Hal berikutnya teori belajar yang dibahas dalam perspektif kognitif ini adalah tentang bagaimana individu mengingat dan bagian apa saja dari memori yang bekerja dalam proses berpikir seperti pada pemecahan masalah. Tidak juga latihan menyelesaikan banyak soal pada topik bahasan tertentu. Informasi di dalamnya disimpan dalam bentuk secara verbal dan visual. Tampilan atau aksi yang dramatis dapat mencuri perhatian siswa pada awal pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian sangatlah selektif.

dan informasi yang jarang dipakai biasanya akan makin sulit untuk ditemukan. Hal lainnya dari memori kerja ini adalah waktu yang digunakannya pun hanya sekitar 5 sampai 20 detik saja. namun untuk dapat disimpan di memori jangka panjang membutuhkan usaha tertentu. Sedangkan skema adalah stuktur pengetahuan abstrak yang mengatur sejumlah besar informasi. Kita tidak dapat memanggil kedua nomor telepon tadi karena terbatasnya kapasitas memori kerja ini. Banyaknya bit informasi. contohnya kita bisa menceritakan detail percakapan. dua hal yang disimpan dalam semantik memori disebut dengan imaji dan skema. Karena sedikit dan sempitnya memori ini bekerja. Satu nomor telepon sepanjang tujuh desimal dapat diingat oleh rata-rata manusia dewasa. Dengan kata lain. suatu pola struktur data yang membuat kita bisa menggabungkan informasi kompleks yang sangat besar. 5. hal itu akan berada di memori kerja. atau jalannya cerita dari satu film. Terkadang elaborasi terjadi secara otomatis. akan tetap ada disana dalam waktu yang tak terbatas. yang kemudian untuk dipergunakan dan setelah itu tidak perlu diingat lagi. Akses pada informasi membutuhkan waktu dan usaha karena kita harus mencarinya dalam lautan informasi yang luas dalam memori jangka panjang. Terdapat tiga jenis memori jangka panjang. prinsip dan hubungannya. konsep atau keterampilan. maka dia akan langsung mengaktifkan pengetahuan yang ada dan memberikan pemahaman yang lebih baik serta lengkap. Latihan elaboratif ini tidak hanya meningkatkan memori kerja. misalnya saat guru menerima info baru tentang pengalaman yang sudah dipahaminya. yaitu: episodik. Episodik adalah jenis memori yang berhubungan dengan informasi pada waktu dan tempat tertentu. kita menerapkan skema yang ada dan melukiskannya pada pengetahuan sebelumnya untuk membentuk pemahaman yang baru saat kita memperbaiki pengetahuan yang ada. kita dibantu dengan elaborasi. Elaborasi juga membangun . bukannya ukuran setiap bit. Skema adalah pola atau panduan untuk memahami kejadian. Secara teoritis walaupun kita mampu untuk mengingat sebanyak yang kita mau namun tantangannya justru adalah memanggilnya yaitu mendapatkan informasi yang tepat sesuai keinginan. Cara kedua adalah dengan pengelompokkan (chunking) yang dipergunakan untuk menanggulangi terbatasnya kapasitas memori kerja. Kita dapat mengingat informasi lebih banyak jika dapat mengelompokkan tiap-tiap bit menjadi unit yang berarti. Imaji adalah representasi yang didasarkan pada persepsi visual terhadap struktur informasi. membuat kesimpulan dan memahami informasi baru. Latihan pengelolaan dilakukan dengan pengulangan informasi di pikiran anda. 820). Biasanya makin sering satu prosedur dilakukan. pengetahuan ini dapat terus diingat dalam waktu yang lama. Cara latihan elaboratif adalah dengan menghubungkan sesuatu yang baru dengan apa yang sudah diketahui. yaitu informasi yang sudah terdapat di memori jangka panjang. adalah sisi keterbatasan memori kerja. kita tidak bisa memahami susunan kata dalam satu kalimat dan gabungan antara kalimat yang berdekatan. maka kita cukup perlu mengingat dua atau tiga informasi saja dalam satu waktu dibanding enam buah. maka jenis memori ini harus terus diaktifkan. Sepanjang anda terus melakukan pengulangan informasi. 1. Cara yang pertama adalah strategi latihan yang terbagi menjadi pengelolaan dan elaboratif. Memori jenis ini bersifat teratur. dan saat satu informasi secara aman sudah disimpan. Dalam memori jangka panjang inilah berbagai informasi disimpan dan dihubungkan dalam bentuk gambaran dan skema. prosedural dan semantik. Cara ini dapat berguna untuk mengingat sesuatu. namun kapasitas memori jangka panjang dapat dikatakan hampir tak terbatas. Namun walaupun begitu waktu tersebut sangat cukup misalnya untuk mengingat dan memahami apa yang anda baca dalam bagian awal kalimat ini sebelum mencapai akhir kalimat. 8. Supaya apa yang diingat bisa lebih panjang dari 20 detik. Deretan enam angka seperti 1. Imaji dapat berguna misalnya dalam menyusun keputusan praktis bagaimana menempatkan meja di satu ruangan atau jalur yang akan di tempuh ke satu lokasi. Untuk mempelajari suatu prosedur seperti mengendarai sepeda.terbatas. Pada saat kita membentuk bayangan tertentu kita mengingat atau mengkreasi kembali karakteristik fisik dan struktur spasial dari informasi. 18 dan 20) atau tiga digit (151. Memori yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu disebut memori prosedural. Jika dilakukan cara ini. Sedangkan semantik memori adalah memori untuk pemahaman. Tanpa adanya memori kerja. seperti nomor telepon. Bila kapasitas memori kerja sangat terbatas. kebanyakan orang memakai strategi tertentu untuk mengingatnya. namun hal yang berbeda bila disuruh untuk mengingat dua buah nomor telepon (14 desimal). Elaborasi adalah memberikan arti pada infrormasi baru dengan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah ada. Kebanyakan kita tidak pernah menghitung kapasitasnya. dari berbagai eksperimen kapasitas yang dapat disimpan sekitar lima sampai sembilan hal baru dalam satu waktu. dan 0 akan lebih mudah diingat dalam bentuk dua digit (15. maka makin otomatis reaksi yang dilakukan. Informasi yang dielaborasi ketika pertama dipelajari mudah untuk dipanggil karena elaborasi adalah bentuk pengaktifan memori kerja yang membuat informasi terus aktif untuk kemudian disimpan di memori jangka panjang. 2. namun setelah dipelajari. tetapi membantu memindahkan informasi memori jangka pendek ke memori jangka panjang. kalau tidak maka informasi yang didapat menjadi hilang. yaitu memori untuk konsep. Memori Jangka Panjang Informasi memasuki memori kerja dengan cepat. organisasi dan penggunaan konteks. Untuk memanggil dan menambah informasi di memori jangka panjang. khususnya ingatan yang bersifat pribadi.

W. pengelompokan. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. saat siswa melakukan elaborasi informasi baru dengan menghubungkannya ke hal yang tidak tepat dan mengembangkan penjelasan yang rancu. materi. hal itu akan dibantu jika konteks yang ada mirip dengan dengan kondisi kita mendapat informasinya. Sedangkan. Bahan ajar yang terorganisir dengan baik tentunya akan lebih mudah dipelajari dibandingkan yang tidak teratur. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. Sehingga mengkondisikan suasana test sebelum ujian yang sesungguhnya akan berpengaruh memperbaiki kinerja. 1998: 5). Misalnya. Hal yang sebaliknya bisa terjadi. maka dia akan membuatnya dengan bahasa dia sendiri yang menyebabkan makin baiknya pemahamannya dia tentang pengetahuan tersebut. namun kalau anda dapat menggambarkannya secara mental hal tersebut anda dapat meningkatkan daya ingat anda. A. 1999: 62). (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Aspek fisik dan emosional dari konteks dipelajari bersamaan degan informasi lainnya. Selanjutnya. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan.. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Marilyn dan Tony. Ketika anda mencoba mengingat satu informasi. melainkan seperangkat pembelajaran. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Kita membantu siswa dalam elaborasi dengan menyuruh mereka menuliskan informasi sesuai dengan kata yang mereka susun sendiri atau dengan membuat contoh yang relevan. New York: McGraw Hill. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. Makin sering seorang individu mengelaborasi ide baru. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133).hubungan tambahan pada pengetahuan yang sudah dipunyai. 1999: 61). Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. pengekalan. Sedangkan. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Disadur secara bebas dari:Hoy. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Dari pengertian di atas. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. 1996: 7). & Miskel. 1988: 132). pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Maksudnya. (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. maka miskonsepsi ini pun akan disimpan dan terus diingat oleh siswa. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. (2005). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. K. Konteks adalah elemen lainnya dari proses yang mempengaruhi belajar. Bahkan. Driver dan Bell (dalam Susan. makin banyak peta jalan tersedia untuk diikuti dalam mencari sumber pengetahuan aslinya. Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. C. G.). Educational Administration (seventh ed. Tentu saja kita tidak bisa selalu pergi ke tempat yang sama saat anda mulai memahami suatu hal. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. Makin banyak informasi dihubungan dengan hal lainnya. Dalam penjelasan lain . Menempatkan konsep dalam suatu struktur membantu anda belajar dan mengingat baik untuk definisi umum dan contoh spesifiknya. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. Organisasi pengetahuan yang dimiliki juga meningkatkan belajar. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. khususnya bila informasi didalamnya juga kompleks. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. melainkan melalui tindakan. dan sumber.

yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme.Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Dari beberapa pandangan di atas. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. B. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. untuk mempelajari suatu materi yang baru. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. (3) strategi siswa lebih bernilai. Dengan kata lain. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Artinya. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Dengan kata lain. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Kedua. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. fasilitor. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Oleh karena itu. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Sehubungan dengan hal di atas. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. . Selain itu. Pertama.

CONTOH RUBRIK PENILAIAN BAHASA INGGRIS Rubrik Penilaian Pembelajaran Bahasa Inggris (Jumat. percakapan menjadi terbatas karena keterbatasan kosa kata □ Menggunakan kosa kata secara salah dan kosa kata terbatas sehingga sulit dipahami □ Kosa kata sangat terbatas sehingga percakapan tidak mungkin terjadi Kosa Kata 2 1 ASPEK SKOR 5 4 □ Lancar seperti penutur asli KETERANGAN □ Kelancaran tampak sedikit terganggu oleh masalah bahasa □ Kelancaran agak banyak terganggu oleh masalah bahasa □ Sering ragu-ragu dan terhenti karena keterbatasan bahasa □ Bicara terputus-putus dan terhenti sehingga percakapan tidak mungkin terjadi Kelancaran 3 2 1 . sering diminta mengulang □ Masalah pengucapan serius sehingga tidak bisa dipahami ASPEK SKOR 5 4 KETERANGAN □ Tidak ada atau sedikit kesalahan tata bahasa □ Kadang-kadang membuat kesalahan tata bahasa tetapi tidak mempengaruhi makna □ Sering membuat kesalahan tata bahasa yang mempengaruhi makna □ Banyak kesalahan tata bahasa yang menghambat makna dan sering menata ulang kalimat □ Kesalahan tata bahasa begitu parah sehingga sulit dipahami Tata Bahasa 3 2 1 ASPEK SKOR 5 4 3 KETERANGAN □ Menggunakan kosa kata dan ungkapan seperti penutur asli □ Kadang-kadang menggunakan kosa kata yang tidak tepat □ Sering menggunakan kosa kata yang tidak tepat. 17 Februari 2012) RUBRIK PENILAIAN SPEAKING ASPEK SKOR 5 4 3 Pengucapan 2 1 KETERANGAN □ Mudah dipahami dan memiliki aksen penutur asli □ Mudah dipahami meskipun dengan aksen tertentu □ Ada masalah pengucapan yang membuat pendengar harus konsentrasi penuh dan kadang-kadang ada kesalahpahaman □ Sulit dipahami karena ada masalah pengucapan.

Accuracy 3. kalimat benar 60 : _________________________ : _________________________ SKOR 70 80 TOTAL 2. Pronunciation 4. frasa. □ Tidak bisa memahami walaupun percakapan sederhana Pemahaman 2 1 LEMBAR PENILAIAN READING ALOUD Nama siswa Kelas ASPEK 50 1. Accuracy 3. Fluency 2. Intonation Keterangan untuk : 1. walau ada pengulangan pada bagian tertentu □ Memahami sebagian besar apa yang dikatakan bila bicara agak diperlambat walau ada pengulangan □ Susah mengikuti apa yang dikatakan. Intonation . Pronunciation 4.ASPEK SKOR 5 4 3 KETERANGAN □ Memahami semua tanpa mengalami kesulitan □ Memahami hampir semuanya. tetapi masih ada hesitasi Lancar Sangat lancar Semua ucapan tidak dapat dipahami Sebagian kecil ucapan sudah dapat dipahami Sebagain besar ucapan sudah dapat dipahami Semua ucapan dapat dipahami Hampir semua ucapan tidak benar Sebagian kecil ucapan sudah benar Sebagian besar ucapan benar Semua ucapan benar Tekanan/irama semua kata salah Tekanan/irama sebagian kecil kata benar Tekanan/irama sebagian besar kata benar Tekanan/irama semua kata. Fluency 50 60 70 80 50 60 70 80 50 60 70 80 50 60 70 80 : : : : : : : : : : : : : : : Bila terjadi hesitasi Lancar.

mangabaikan bentuk teks khusus. 23-21 □ Fair: Kurang mampu menanggapi tugas. tidak mengikuti bentuk teks khusus. informasi umumnya relevan dan tepat. hubungan antar bagian teks kadang tidak jelas 17-16 □ Inadequate : Komunikasi tidak efektif. tulisan mencapai tujuan) 26-24 □ Good: Mampu menanggapi tugas. organisasi dan urutan ungkapan umumnya tertata dengan baik dan teratur. pembahasan / isi (sejauh mana sempurna. maksud tidak jelas. informasi dan interpretasi tidak relevan. penataan dan urutan ungkapan antar bagian teks tidak jelas. 17-0 □ Inacceptable: Mengabaikan atau kurang memahami tugas. pembahasan mampu. umumnya konsisten dengan bentuk teks pembaca) khusus.PEDOMAN dan RUBRIK PENILAIAN (Writing Competence) KRITERIA SKOR DESKRIPSI Kesesuaian tugas 30-27 □ Excellent to very good: Menanggapi tugas dengan sempurna. pembahasan tidak lengkap dan tidak konsisten. hubungan antar bagian teks umumnya jelas 19-18 □ Fair : Komunikasi kadang cukup efektif. tidak ada penataan teks. interpretasi tidak konsisten dengan fakta. ungkapan tertata dengan baik dan teratur. KRITERIA SKOR DESKRIPSI □ Excellent to very good : Bahasa yang digunakan sangat sesuai dengan bentuk teks yang diberikan dan konteks komunikasi □ Good : Umumnya bahasa yang digunakan sesuai dengan bentuk teks yang diberikan dan konteks komunikasi □ Fair : Bahasa yang digunakan tidak konsisten dengan bentuk teks yang diberikan dan konteks komunikasi □ Inadequate : Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan bentuk teks yang diberikan dan konteks komunikasi □ Inacceptable : Bahasa yang digunakan sangat buruk Kesesuaian 25-23 bahasa (sejauh mana bahasa digunakan sesuai 22-20 dengan konteks komunikasi 19-18 17-16 15-0 . minim pembahasan. informasi relevan dan tepat. 20-18 □ Inadequate: Tidak bisa menanggapi tugas. interpretasi umumnya mendukung. 15-0 □ Inacceptable : Tidak bisa dipahami sama sekali. informasi kadang tidak relevan/tidak tepat. konsisten bentuk teks khusus kadang terabaikan. interpretasi sangat kuat dan mendukung. informasi sering tidak relevan/tidak tepat. KRITERIA SKOR DESKRIPSI Kesesuaian 25-23 □ Excellent to very good : Komunikasi efektif. interpretasi kadang tidak konsisten dengan fakta. hubungan antar bagian (sejauh mana teks jelas penataan tulisan m‟hitungkan 22-20 □ Good : Komunikasi cukup efektif. penataan ungkapan kadang sulit diikuti. sangat konsisten dengan bentuk langkah retorika teks khusus. pembahasan dapat diterima tapi kadang tidak konsisten.

spelling. dan neatness umumnya tidak memenuhi aturan-aturan teks (genre) □ Inacceptable : Layout. punctuation. capitalization. verb conjunction. dan neatness sebagian memenuhi aturan-aturan teks (genre) □ Inadequate : Layout. dll) 15-14 13-12 11-0 . spelling. verb conjunction. punctuation. dan neatness tidak memenuhi aturan-aturan teks (genre) Kelayakan 20-18 bentuk (sejauh mana tulisan memenuhi aturan-aturan 17-16 bentuk spelling. punctuation. dan neatness umumnya memenuhi aturan-aturan teks (genre) □ Fair : Layout. punctuation. dan neatness sangat memenuhi aturan-aturan teks (genre) □ Good : Layout. spelling. agreements. verb conjunction. punctuation. verb conjunction. verb conjunction. capitalization. accents. accents. accents. accents. agreements. spelling. capitalization.KRITERIA SKOR DESKRIPSI □ Excellent to very good : Layout. agreements. spelling. kerapian. agreements. capitalization. agreements. accents. capitalization.

intelegensi. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value. penempatan. yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari: (1)perencanaan.Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana. . ( 4). Namun. antara lain sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Pengertian Evaluasi Pembelajaran Sesungguhnya. b). evaluation) secara teoretik definisinya berbeda.hasil pengukuran kuantitatif. namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi. 5). Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian. 3).guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas. maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas.tujuan pengukuran. bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. (3)verifikasi data. dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan. yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu. pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini. dan (5)interpretasi data. dan diagnostik. c). dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan. evaluasi memiliki beberapa tujuan. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Dalam konteks pelaksanaan pendidikan. 3) Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. 15 Februari 2012) A. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai B. Sementara. (4)analisis data. sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik.Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. yakni: a). penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi.ada objek ukur. 2). 4) Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan. minat. hubungan sosial. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai.alat ukur. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah: a) Fungsi seleksi. bakat khusus. yakni pengukuran. 2) Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran. guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar. dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).proses pengukuran. Selain fungsi di atas. bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan.KARAKTERISTIK PENILAIAN YANG BAIK (Rabu. assessment. assessment dan evaluasi. antara lain adalah sebagai berikut: 1). (2)pengumpulan data. Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan.

misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai dengan tes atau non tes atau terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran (di awal. Penilaian Berbasis Kelas Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan. agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. (Lihat gambar 2). maka guru perlu membuat keputusan terhadap prestasi siswa: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Apakah siswa telah mencapai kompetensi seperti yang telah ditetapkan? Apakah siswa telah memenuhi syarat untuk maju ke tingkat lebih lanjut? Apakah siswa harus mengulang bagian-bagian tertentu? Apakah siswa perlu memperoleh cara lain sebagai pendalaman (remedial)? Apakah siswa perlu menerima pengayaan (enrichment)? Apakah perbaikan dan pendalaman program atau kegiatan pembelajaran. pelaporan. dan penyusunan silabus telah memadai? Pada pelaksanaan PBK. dengan dilaksanakannya PBK diharapkan dapat: a) Memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan kekurangannya. PBK merupakan bagian dari evaluasi pendidikan karena lingkup evaluasi pendidikan secara umum jauh lebih luas dibandingkan PBK. Pengumpulan informasi dalam PBK dapat dilakukan dalam suasana resmi maupun tidak resmi. Data atau informasi dari penilaian di kelas ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. C. menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar. Untuk itu. PBK menggunakan arti penilaian sebagai “assessment”. sehingga mereka dapat meningkatkan partisipasinya di bidang pendidikan secara serius dan konsekwen. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik.1: PBK sebagai bagian dari evaluasi PBK mencakup kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi tersebut. kompetensi profesional bagi guru merupakan persyaratan penting. Bila selama dekade terakhir ini keberhasilan belajar siswa hanya ditentukan oleh nilai ujian akhir (EBTANAS/UAN). pemilihan bahan ajar atau buku ajar. dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut. kemajuan dan kemampuannya. . agar terhindar dari upaya manipulasi nilai siswa. di dalam atau di luar kelas. Di sekolah sering digunakan istilah tes untuk kegiatan PBK dengan alasan kepraktisan. Gambar 8. dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. c) Fungsi Diagnostik. sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki prestasi belajar pada waktu berikutnya. dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan. Naik atau tidak naik dan lulus atau tidak lulus siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru (sekolah) berdasarkan kemajuan proses dan hasil belajar siswa di sekolah bersangkutan. maka dengan diberlakukannya PBK hal itu tidak terjadi lagi. yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran. agar perkembangan prestasi siswa dari waktu ke waktu dapat diamati (observable) dan terukur (measurable). Memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat tentang efektivitas pendanaan. Jenis penilaian yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas dan reliabilitas. karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat prestasi siswa dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditentukan.b) Fungsi Penempatan. dan bagi siswa secara individu pada khususnya. tengah. peningkatan kemampuan profesional dan integritas moral guru dalam PBK merupakan suatu keniscayaan. menggunakan waktu khusus atau tidak. otentik. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda antara masing-masing individu. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. akurat. Karenanya. Dalam hal ini kewenangan guru menjadi sangat luas dan menentukan. harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya. Bila informasi tentang hasil belajar siswa telah terkumpul dalam jumlah yang memadai. PBK yang dilaksanakan oleh guru. b) Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa. d) Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan. dan akhir). Di samping itu. c) Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas apabila terjadi hambatan dalam proses pembelajaran. terutama aspek kognitif. peranan guru sangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan.

ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah. maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah. Oleh karena itu. sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap diapresiasi dalam penilaian. Untuk itu. dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa. sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian. tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak. Artinya. pelaksanaan PBK sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan komponen yang ada di dalamnya.Prinsip-prinsip PBK Sebagai bagian dari kurikulum berbasis kompetensi. tanpa membeda-bedakan jenis kelamin. 3) Berorientasi pada kompetensi PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan. dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak. Untuk itu. yang mencakup aspek kognitif. Setiap guru harus mampu melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang dicapai siswa. sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. 5) Terbuka PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung. serta mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya. Sebab ketidakadilan dalam penilaian. Dengan berpijak pada kompetensi ini. minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. afektif. dalam pelaksanaan penilaianharus memperhatikan prinsip-prinsip berikut: 1) Valid PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). 6) Berkesinambungan PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan. latar belakang budaya. harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami. sikap. PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement). 8) Bermakna PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. 7) Menyeluruh PBK harus dilakukan secara menyeluruh. pelaksanaan PBK juga harus memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut: Apapun jenis penilaiannya. . Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian. 2) Mendidik PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa. dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa. 4) Adil dan obyektif PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa. guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan penilaian. Namun demikian. PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan. karena merasa dianaktirikan.

PPkn. dan sejenisnya. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan. yakni alat tes dan nontes. dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman. oleh karena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). hasil karya (produk). pengetahuan. kemampuan.dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. 2) Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas. bahwa sesungguhnya guru itulah yang paling mengetahui kemampuan atau kemajuan belajar siswa. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain. Sebab. tes. secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua. wawancara. kuesioner. PBK yang memberi kewenangan sangat leluasa kepada guru untuk menilai siswa merupakan suatu keunggulan agar diperoleh hasil belajar yang akurat sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. angket. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam. pengawas. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran. dan lain-lain. melainkan juga: 1) Perhatian terhadap siswa ketika duduk. PBK dapat dikatakan sebagai bentuk penilaian yang paling komprehensip. sikap (afektif).Karenanya. PBK dilakukan dengan pengumpulan kerja siswa (portofolio). penugasan (proyek). bukan kepala sekolah. format observasi. kecerdasan. Dari sekian banyak alat evaluasi. Selain itu. di tempat ibadah dan ketika mereka bermain. berbicara. penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam 8 level kompetensi yang ditetapkan secara nasional. pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes. Di samping mengukur hasil belajar siswa sesuai dengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran masing-masing kelas dalam kurikulum nasional. perkembangan dan perubahan siswa. Harus disadari oleh semua pihak. Penilaian terhadap pengamatan dapat digunakan observasi. atau bakat . Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh. aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak. 1) Teknik Tes Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinyapiring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. A. kinerja/penampilan (performance). Dengan demikian. 3) Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit) Dari berbagai pengamatan itu ada yang perlu dicatat secara tertulis terutama tentang perilaku yang ekstrim/menonjol atau kelainan pertumbuhan yang kemudian harus diikuti dengan langkah bimbingan. melainkan harus menyampaikan secara terbuka kepada siswa untuk menyepakati bersama kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dan standar nilai yang diberikan oleh guru. afektif dan psikomotorik. Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (koknitif). seni. seperti kuesioner. dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan.Keunggulan PBK Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). apalagi pejabat struktural di Departemen atau Dinas Pendidikan. juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi. gurulah yang sehari-hari berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa di dalam kelas dan di lingkungan sekolah. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (AlQuran. pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai. fiqh. dan tes tertulis (paper and pencil). Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal. Penilaian ini dilaksanakan oleh guru secara variatif dan terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah prinsip kontinuitas. Pelaksanaan PBK Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Oleh karena itu. Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa. Aqidah-Akhlaq. yaitu guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan. sekala sikap dan catatan anekdot (anecdotal record). di dalam PBK guru tentu tidak dapat menilai sekehendak hatinya. dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif. membaca Al Quran. skala. olahraga.

Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran. sintesis dan evaluasi. b) Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok. cepat dan tepat penyelesaiannya.Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi. b) Tes Kemampuan (Power Test) Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh waktu yang disediakan. dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat. Berdasarkan definisi tersebut. Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes. Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Tes Hasil Belajar (THB).Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya. maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun psikomotorik. tes minimal mempunyai dua fungsi. 2) TesMenurut Tujuannya Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan. c) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan. baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar. sebagai alat evaluasi hasil belajar. tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya. Dalam kaitan dengan rumusan tersebut. baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang. sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala kemampuannya baik analisis. Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran. yaitu: a) Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu. Makalah ini akan lebih banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan.yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan kondisi akhir testi digunakan . dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan. dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. tes dapat dibagi menjadi: a) Tes Kecepatan (Speed Test) Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan. d) Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test) Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah pembelajaran.

seperti skala sikap. serta objektif b). objektivitas. Untuk lebih mendukung memahami pengertian tersebut selanjutnya akan diuraikan . g) Tes Sumatif Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. antara lain adalah sebagai berikut: a). soal pilihan ganda juga memiliki kelemahan. antara lain adalah sebagai berikut: a).Tes lisan (oral test) b). f) Tes Formatif Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pembelajaran tertentu. yaitu memiliki validitas. b).Mampu mengungkap tingkat kognitif rendah sampai tinggi. reliabilitas. 3) Bentuk Tes Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya.post-tes.Menuliskan soalnya relatif lebih sulit dan lama b).Pengoreksian/scoring lebih sukar dan subjektif c).Tes tindakan atau perbuatan (performance test) Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur.mengurangi faktor menebak dalam menjawab Sementara. dan mengemukakan gagasan secara rinci c). Demikian pula dalam alat-alat evaluasi. dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggiapabila tes itu tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis : a). soal uraian juga memiliki kelemahan.relatif mudah dan cepat menuliskan soalnya d). Bentuk Soal Pilihan Ganda Keunggulan dari bentuk soal pilihan ganda ini.Dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas c). selain memiliki keunggulan.menganalisis masalah.jumlah materi (PB/SPB) yang dapat diungkap terbatas b). Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari. mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar. dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku.Tes tertulis (written test) c).dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan pikiran. e) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar.Memberi peluang siswa untuk menebak jawaban c). praktikabilitas dan ekonomis a) Validitas Sebuah alat pengukur dapat dikatakan valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. cepat. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya.Pensekoran mudah.tingkat reliabilitas soal relaitf lebih rendah 4) Ciri-ciri Tes yang Baik Sebuah test dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria. 1.Kurang mampu meningkatkan daya nalar siswa. Bentuk Soal Uraian Keunggulan dari bentuk soal uraian ini. Sementara. sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan. selain memilliki keunggulan. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif. 2. antara lain adalah sebagai berikut: a). antara lain adalah sebagai berikut: a).

maka item-itemnya harus diambil dari bahan pelajaran kelas II. Reliabilitas Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Ada beberapa cara untuk mencari reliabilitas suatu tes. 4). Cara yang digunakan untuk menilai validitas bandingan ialah dengan jalan mengkorelasikan hasil-hasil yang dicapai dalam tes tersebut dengan hasil-hasil yang dicapai dalam tes yang sejenis yang telah diketahui mempunyai validitas yang tinggi (misalnya tes standar). 2) Predictive validity (validitas ramalan) Validitas ramalan artinya ketepatan (kejituan) suatu alat pengukur ditunjau dari kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapainya kemudian. keterandalan atau kemantapan (the level of consistency) tes yang bersangkutan dalam mendapatkan data (skor) yang dicapai seseorang. Suatu tes hasilbelajar dapat dikatakan mempunyai validitas ramlan yang tinggi. kita harus membuat soal yang ringkas dan jelas yang benar-benar akan mengukur kecakapan ilmu pasti. atau dengan tes yang pararel (eukivalen) pada waktu yang sama. bila tes tersebut sudah dapat mengukur sampel yang representatif dari materi pelajaran (subject matter) yang diberikan. keajegan. selang 3 hari atau seminggu tes tes tersebut diberikan lagi kepada group A dengan syarat-syarat tertentu. Reliabilitas suatu tes menunjukan atau merupakan sederajat ketetapan.Construct Validity (validitas konstruk/susunan teori) Yaitu ketepatan suatu tes ditinjau dari susunan tes tersebut. Artinya. Kalau diambilnya dari kelas III maka tes itu tidak valid lagi. atau konsisten. b.beberapa macam kriteria validitas. yaitu: 1) Content validity (validitas isi) Pengujian jenis validitas ini dilakukan secara logis dan rasional karena itu disebut juga rational validity atau logical validity. Dengan demikian suatu tes hasil belajar disebut memiliki validitas tinggi secara content. dan perubahan-perubahan perilaku (behavioral changes) yang diharapkan terjadi pada diri siswa. maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya. misalnya suatu tes diberikan pada kepada group A. apabila tes tersebut diberikan kepadanya pada kesempatan (waktu) yang berbeda. . jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan. Atau dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliable apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. antara lain : 1. proses mental yang diukur. 3) Concurent validity (Validitas bandingan) Kejituan suatu tes dilihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang telahdimilikisaat kini secara riil. mengenai isinya. Misalnya kalau kita ingin memberikan tes kecakapan ilmu pasti.Batasan content validity ini menggambarkan sejauh mana tes mampu mengukur materi pelajaran yang telah diberikan secara representatif dan sejauh mana pula tes dapat mengukur sampel yang representatif dari perubahanperubahan perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa. bukan mengukur kemampuan bahasa karena soal itu ditulis secara berkepanjangan dengan bahasa yang sulit dimengerti. tingkat kesukaran jumlah item dan aspek-aspek lain. Teknik Berulang Tehnik ini adalahdengan memberikan tes tersebut kepada sekelompok anak-anak dalam dua kesempatan yang berlainan. Misalnya apabila kita ingin memberikan tes bahasa inggris untuk kelas II. apabila hasil yang dicapai siswa dalam tes tersebut betul-betul meramalakan sukses tidaknya siswa tersebut dakam pelajaran-pelajaran yang akan datang.. 2. TeknikBentuk Paralel Teknik ini dipergunakan dua buah tes yang sejenis (tetapi tidak identik). Cara yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya validitas ramalan ialah dengan mencari korelasi antara nilainilsi yang dicapai oleh anak-anak dalam tes tersebut dengan nilai-nilai yang dicapai kemudian.

tenaga yang banyak danwaktu yang lama. dalam arti pokok-pokok yang penting diwakili. Dengan mempertimbangkan kriteria-kriteriates tersebut. bakat khusus. yakni: pengamatan (observation). hubungan sosial. Ekonomis Yang dimaksud dengan ekonomis ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal. c. Praktikabilitas Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes itu bersifat praktis. a. maka dapat disimpulkan beberapa kajian dan pembahasan yang esensial dari bab ini.Ringkasan Atas dasar pemaparan dan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran di atas. misalnya dengan jalan lotre. dan yang tidak penting tidak selalu perlu. Teknik belah dua Ada dua prosedur yang dapat digunakan dalam tes belah dua ini yaitu : <Prosedur ganjil-genap. Apa yang harus diminta. atau dengan jalan menggunakan tabel bilangan random. misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggap mudah oleh siswa. baik untuk memproduksinya maupun untuk melaksanakan dan mengolah hasilnya. assessment dan evaluasi 2) Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. tugas ditulis konkret. Observasi A. kuesioner/angket (questionanaire). wawancara (interview). intelegensi. Tes yang praktis adalah tes yang: 1) Mudah dilaksanakannya. yakni sebagai berikut: 1) Dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan. soal mewakili materi ajar secara keseluruhan 6) Seimbang. harus ada patokan. 2) Teknik Nontes Teknik nontes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor. guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar. Untuk soal yang obyektif. Objektivitas Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. minat. harus dijawab berapa lengkap 5) Representatif. Hal ini terutama pada sistem skoringnya. artinya seluruh item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu kelompok dan yang bernomor genap menjadi kelompok yang lain. 2) Mudah memeriksanya artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya. soal yang hanya dapat dijawab oleh peserta didik yang betul-betul belajar dengan rajin 4) Tidak mengandung ketaksaan (tafsiran ganda). apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka obyektivitas menekankan ketetapan pada sistem skoring. Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes yaitu bentuk tes dan penilaian. Ada beberapa macam teknik nontes. pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban. dan analisis dokumen yang bersifat unobtrusive. Dengan penilaian. sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.3. yakni pengukuran. yaitu mengukur yang harus diukur. sewajarnya dapat dihasilkan alat tes (sosal-soal) yang berkualitas yang memenuhi syarat-syarat dibawah ini : 1) Shahih (valid). <Prosedur secara random. d. sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik . sesuai dengan tujuan 2) Relevan. mudah untuk pengadministrasiannya. dalam arti yang diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan 3) Spesifik. 3) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh orang lain e.

dan prosedur yang telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan. 1) Adakalanya tes (secara psikologis terpaksa) menyinggung pribadi seseorang 2) Tes menimbulkan kecemasan sehingga mempengaruhi hasil belajar 3) Tes mengategorikan siswa secara tetap 4) Tes tidak mendukung kecemerlangan dan daya kreasi siswa 5) Tes hanya mengukur aspekk tingkah laku yang sangat terbatas (www. Tes adalah suatu alat yang sudah distandardisasi untuk mengukur salah satu sifat. pelaporan. assesmen dan pengukuran dalam konteks penilaian pembelajaran? 2) Apakah tujuan diberlakukannya evaluasi dalam pembelajaran? 3) Apa yang dimaksud dengan Penilaian Berbasis Kelas? 4) Bagaimana teknis pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas? 5) Bagiamanakah tahapan-tahapan pelaksanaan evaluasi dalam proses pembelajaran Jelaskan model tes yang digunakan dalam proses pembelajaran A.dikti. skala.com/penilaianpembelajaran) C. yakni alat tes dan nontes B. Dari sekian banyak alat evaluasi. dan lain-lain. akurat. dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan. Persyaratan Tes Tes diusahakan mengikuti aturan tentang suasana.Pertanyaan Diskusi Untuk mengkaji lebih lanjut terkait dengan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran ini. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piring yang dibuat dari tanah. Pengertian Tes Istilah tes diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. cara. (c) untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya. dan (d) untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan. yakni sebagai berikut: Diskusikan dengan teman-teman Anda di kelas! 1) Apa yang dimaksud dengan evaluasi. dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas 5) Pelaksanaan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat evaluasi. Tes dapat diklasifikasikan atas : 1) Bagaimana ia diadministrasikan (tes individual atau kelompok) 2) Bagaimana ia di skor (tes objektif atau tes subjektif) 3) Respon apa yang ditekankan (kemampuan atau kecepatan) 4) Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan subjek (tes unjuk kerja atau tes kertas dan pensil ) 5) apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign) 6) Hakikat dari kelompok yang akan diperbandingkan ( tes buatan guru atau tes baku) D. Ciri-ciri tes yang baik 1) Validitas sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium. dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. (b) untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran yang digunakan. antara lain. 4) Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan. secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua.3) Evaluasi memiliki beberapa tujuan.atau tingkah laku dengan cara mengukur sesuai dengan sifat. yaitu : . 3) Objektifitas E. otentik. maka ada beberapa hal yang bisa didiskusikan di kelas. kuesioner. Tes standar Tes kemampuan pada dasarnya terbagi menjadi 2 macam. kecakapan atau tingkah laku (Siti Rahayu Haditono.dirjen. format observasi. 1987:56) B. antara lain (a) untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. kecakapan. 2) Reliabilitas Ketetapan suatu tes apabila diteskan pada subjek yang sama. tes.

Fungsi untuk bimbingan a) Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua tentang anak mereka b) Membantu siswa dalam menentukan pilihan c) Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan d) Memberi kesempatan kepada pembimbing. b. Fungsi untuk kelas a) Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa b) Mengevaluasi celah antara bakat dengan pencapaian c) Menaikkan tingkat prestasi d) Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompok e) Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk siswa secara perorangan f) Menetukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus g) Menetukan tingkat pencapaian untuk setiap anak b. 3) Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain 4) dalam pemeriksaannya tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. Fungsi untuk administrasi a) Memberi petunjuk dalam mengelompokkan siswa b) Penempatan siswa baru c) Membantu siswa memilih kelompok d) Menilai kurikulum e) Memperluas hubungan masyarakat f) Menyediakan informasi untuk badan-badan lain. Achievement test (tes prestasi) F. Tes Objektif Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Aptitude test (test bakat) 2. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai. Fungsi tes a. Kebaikan tes objektif : 1) Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif. guru. Kebaikan tes subjektif : 1) Mudah disiapkan dan disusun 2) Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan 3) Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus 4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya denga gaya bahasa dan cara sendiri 5) Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan Kelemahan tes subjektif : 1) Kadar validitas dan realibilitasnya rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari siswa yang betul-betul telah dikuasai 2) Kurang representative dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa buah saja 3) Cara pemeriksaannya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif 4) Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual 5) Waktu untuk mengoreksinya lama dan dapat diwakilkan kepada orang lain. lebih representative mewakili isi yang luas 2) Lebih mudah dan cepat cara pemeriksaannya. dan orang tua dalam memahami kesulitan anak c. Tes Subjektif Pada umunya berbentuk esai (uraian). G. Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Bentuk-bentuk tes a. .1.

www. c. Tes benar-salah (true-false) b. merupakan pelanggaran terhadap etika ini. Jadi dengan demikian praktek menempelkan hasil tes di papan pengumuman dengan identitas jelas peserta tes. 2010. Bila tes hasil belajar tertentu merupakan tes baku. Etika Tes Praktek tes hasil belajar yang etik terutama mencangkup empat hal utama : a. Dengan demikian maka setiap pendidik harus dapat menjamin keamanan tes.wakhinuddin. Macam-macam tes a. Interpretasi Hasil Tes Hal yang paling mengandung kemunkinan penyalahgunaan tes adalah penginterpretasian hasil tes secara salah. Tes pilihan ganda (multiple choice test) c. baik sebelum maupun sesudah digunakan. Evaluasi hasil belajar dan pengukuran tes. . Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun. Tes isian (completion test) I. b. Mengadakan checking validasi d. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. d. Menjodohkan (matching test) d. kadang-kadang dapat diperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa.com. Kerahasiaan Hasil Tes Setiap pendidik dan pengajar wajib melindungi kerahasiakan hasil tes. c. dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan 4) “Kerjas sama” antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka H. Dengan demikian tes tidak dapat digunakan diluar batas-batas yang ditentukan oleh profesionalisme pekerjaan guru. baik secara hasil individual maupun secara kelompok.Kelemahan tes objektif: 1) Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain 2) Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenal kembali saja. Yogyakarta. Penggunaan tes Tes hasil belajar haruslah digunakan secara patut. Karena itu maka interpretasi hasil tes harus diikuti tanggung jawab professional. Bumi Aksara.blogspot. Analisis soal adalah suatu prosedur yang sistematis yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir soal. taraf kesukaran dan lain-lain. Menganalisis Hasil Tes Ada 4 cara untuk menilai tes : a. Wakhinuddin. Hasil tes hanya dapat disampaikan kepada orang lain bila : 1) Ada izin dari peserta didik yang bersangkutan atau orang yang bertanggung jawab terhadap peserta didik (bagi peserta didik yang belum dewasa). Mengadakan checking realibilitas Sumber Suharsimi Arikunto. 2002.com. J. Mengadakan analisis soal. www. 2) Ada tanda-tanda yang jelas terhadap hasil tes tersebut menunjukan gejala yang membahayakan dirinya atau membahayakan kepentingan orang lain 3) Bila penyampaian hasil tes tersebut kepada orang lain jelas-jelas menguntungkan peserta tes b. Mona. maka tes tersebut harus digunakan di bawah ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut harus digunakan dibawah ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut.mo3no.2010 Pengertian tes. Tak ada tes baku yang boleh digunakan diluar prosedur yang ditapakan oleh tes itu sendiri. daalam jangka panjang akan dapat membahayakan kehidupan peserta tes. Bila hasil tes diinterpretasi secara tidak patut. pengukuran dan evaluasi. Keamanan tes Tes merupakan alat pengukur yang hanya dapat digunakan secara professional.

dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan. merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. 17 Februari 2012) TPR (Totally Physical Response). Metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran.Teori pembelajaran TPR Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog. Metode Pembelajaran Bahasa yang Cukup Efektif Untuk Peserta Didik Bahasa merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dan memiliki peran sentral.Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar). mengemukakan gagasan dan perasaan. yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. dan lain-lain. Bermain peran (Role Play). Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi. dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Perancis. Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. sehingga dikuasai oleh peserta didik dengan kata lain ilmu tentang guru mengajar dan murid belajar. it attempts to teach language through physical (motor) activity”. sosial. siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa. . d. ucapan (speech) dan gerak (action). Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing. Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching. 2) Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan. James J. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari. khususnya dalam perkembangan intelektual. b. dan emosional seseorang dan dalam mempelajari semua bidang studi. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. 3. 2. ceramah. Jepang.Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ). restoran. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok. 1. dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut.Pengertian Metode TPR (Total Physical Response) Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Dialog atau percakapan (conversational dialogue). misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginative dalam dirinya. dll. TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah. Inquiry dan lain-lain. Dr. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu: 1) Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua. budayanya dan budaya orang lain. Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan seorang guru atau instruktur dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya seperti metode diskusi. c. pasar. baik itu bahasa Inggris.METODE BELAJAR BAHASA INGGRIS (Jumat. dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah. Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain: a. a. Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command). Bahasa diharapkan bisa membantu seseorang dalam hal ini yang saya bicarakan adalah peserta didik untuk mengenal dirinya. Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya. Presentasi dengan OHP atau LCD e. Saya ingin memperkenalkan salah satu metode yakni metode TPR (Total Physical Response) sebagai salah satu teknik penyajian dalam pengajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa asing. Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah. Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. TPR didefinisikan: “a language teaching method built around the coordination of speech and action.

tapi yang utam adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung. dan lain-lain). Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik. Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang untuk bercakap/berkomunikasi. sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan Kekurangan-kekurangan metode langsung (Direct) Pengajaran dapat menjadi pasif. maka metode ini menarik minat siswa. stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik. radio kaset. METODE PENGAJARAN BAHASA INGGRIS 1. menuntunnya mengucapkan kata per kata. Kebaikan metode langsung (Direct) Metode langsung (direct) dilihat dari segi efektivitasnya memiliki keunggulan antara lain : Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya. siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik. Misalnya ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan seterusnya. tapi adalah menarik bagi anak didik. Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan. karena sudah merasa senang/tertarik. bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik. tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu Setelah masuk kelas. dan dilarang menggunakan bahasa lain. berpikir. maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya. siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menuirukannya. meja. Metode Berlitz (Berlitz Method) Metode Berlitz (Berlitz Metode) adakah metode langsung (Direct Method) yang selalu digunakan di sekolahsekolah Berlitz sebagai metode utama. kalimat per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu. maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga.3) Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik. film. siswa atau anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing. menggambarkan dan lain-lain. Namun lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula maksudnya Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing. apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan Karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena. Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada anak-anaknya langsung dengan mengajarinya. jika guru tidakdapat memotivasi siswa. dan berbagaimedia/alat peraga yang dibuat sendiri. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar. Demikian tentang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian. kemudian struktur kalimat Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu. karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak. Ciri-ciri metode ini adalah : Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata. Namun. karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya. mendemontstrasikan. dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. pensil. Metode Langsung (Direct Method) Direct artinya langsung. maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari. dan mengingat. Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti. ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa. tape recorder. bangku. maka dalam pengajaran bahasa. 2. Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga : apakah video. maka pelajaran terasa tidak sulit Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis. dan siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika. .

Dalam pelaksanaannya metode ini tidak jauh berbeda dengan metode langsung (direct) dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa diterjemahkan sedikitpun. Jadi fungsi utama belajar bahasa asing itu ialah kemampuan berbahasa aktif. yang seyogyanya para guru harus aktif membuatnya Guru yang kurang memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut. Dengan demikian tujuan semua dari metode ini untuk membaca dan bercakap-cakap selalu dalam bahasa asing sulit diterapkan secara murni. Tentunya dimulai dengan kata-kata atau kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan yang biasa berlaku pada kegiatan-kegiatan sehari-hari. dirumah di kantor dan sebagainya. siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Metode ini disejalankan dengan Direct Method dan Natural Method. dan memperbanyak perbendaharaan kata-kata atau memperkaya Vocabulary sebagai syarat utama menguasai bahasa asing Oleh karena kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap-cakap sangat diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan Kebaikan Metode Natural Kebaikan metode ini antara lain : Pada tingkat lanjutan metode ini sangat efektif. 4. karena setiap individu siswa dibawa ke dalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendnegarkan dan menggunakan percakapan dalam bahasa asing Pengajaran membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa asing sangat diutamakan. seperti : Good Morning. metode utama dan pertama di dalam kegiatan belajar mengajar bahasa asing itu semestinya adalah Metode Percakapan (Conversation Method). Mereka telah yakin bahwa metode inilah yang paling cocok dan paling berhasil untuk pengajaran bahasa asing agar lebih serasi dan mencapai kemampuan aktif berbahasa asing. percakapan di dalam kelas di sekitar sekolah. Yang namanya berbahasa itu ialah berbicara (sebagai fungsi pokok bahasa). disusul dengan kemampuan membaca dan memahami atau penguasaan pasif. Metode Alami (Natural Method) Metode alami (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses belajar. semakin lama semakin meluas dan beragam. Guru haruslah seorang yang aktif berbicara di dalam bahasa asing tersebut. Metode Percakapan (Conversation Method) Yaitu mengajarkan bahasa asing seperti bahasa Inggris.Semua sekolah-sekolah Berlitz menggunakan metode langsung (direct Method) ini dalam pengajaran bahasabahasa asing di sekolahnya dan bnyak lagi sekolah-sekolah lain di Amerika dan Eropa yang secara rutin menerapkan metode ini. sehingga penggunaan/ pemakaian bahasa asli siswa tidak dapat dihindari. Ciri Metode Natural ini antara lain : Urutan pelajaran mula-mula diberikan melalui menyimak/mendengarkan (listening) baru kemudian percakapan (speaking). barulah murid-muridnya akan mampu pula aktif di dalam belajar (praktek) bahasa. dirumah dan luar kelas. atau kalimat-kalimat. peran kedua barulah membaca/memahami tulisan atau buku. bahkan mengenal luar negeri atau negara-negara asing terutama Timur Tengah. tapi harus diterapkan secara konsekuen Pada umumnya anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan sesuatu hal yang salah secara alamiah yang amat perlu diubah Pada umumnya pengajaran bahasa asing di sekolah-sekolah kita sangat terasa kekurangan macam-macam media/alat peraga yang diperlukan. Karena itu metode langsung disebut juga dengan metode Berlitz. sedangkan pelajaran gramatika diajarkan sewaktu-waktu saja Pengajaran menjadi bermakna dan mudah diserap oleh siswa. kecuali dalam hal-hal tertentu di mana kamus dan bahasa anak didik dapat digunakan. membaca (reading) menulis atau (writing) terahir baru gramatika Pelajaran disajikan mula-mula memperkenalkan kata-kata yang sederhana yang telah diketahui oleh anak didik. yang pelaksanaanya dengan menerapkan fungsi dan prinsip-prinsip ketentuan dari tiap-tiap metode ini. How are you? What are you doing? Can you speak English? Dan sebagainya. kemudian memperkenalkan benda-benda mulai dari benda-benda yang ada di dalam kelas. 3. karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari-hari) siswa/anak didik Segi kekurangan metode ini antara lain : Siswa merasa kesulitan belajar apabila belum memiliki bekal dasar bahasa asing terutama pada pada tingkattingkat pemula. Oleh karena itu. sebab sekolah-sekolah berlitz lebih banyak mempopulerkan pemakaian metode ini secara kontinu dan mereka ternyata memang berhasil sangat baik. Itulah tujuan utama atau target pokok mempelajari bahasa asing. . berkomunikasi lisan atau bercakapcakap. Alat peraga dan kamus yang dapat digunakan sewaktu-waktu sangat diperlukan. misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata-kata sulit dalam bahasa asing. bahasa Arab atau bahasa-bahasa lainnya yang cara langsung mengajak murid-murid bercakap-cakap/berbicara di dalam bahasa asing yang sedang diajarkan ini.

terutama bagi anak-anak yang belum memiliki bekal (basic) bahasa asing yang cukup memadai. serius (tidak ada yang main-main saat pembacaan itu). banyak latihan-latihan dialog dan menulis (dikte) Siswa menyimak kesalahan bacaan dan percakapan dari guru atau teman sekelasnya.Di negara-negara maju seperti AS dan Eropa. dan jangan lupa guru dapat memberikn berbagai catatan-catatan khusus. sedangkan gramatika dapat diajarkan sambil lalu saja. Disamping perencanaan dan waktu harus matang Pada tingkat-tingkat pemula (pertama) metode ini masih sulit diterapkan. Oleh sebab itu pengaturan waktu dan materi hendaknya diatur sedemikian rupa. apakah itu lewat percakapan sehari-hari yang ada hubungannya dengan dunia sekolah anak didik atau lingkungan rumah tangga dan masyarakat lebih luas atau dapat pula menyebutkan rincian nama-nama benda dan kata kera sebagai dasar pembentukan bahasa percakapan. Metode Phonetic (Mendengar dan Mengucapkan) Metode ini mengutamakan ear training dan speak training yaitu cara menyajikan pelajaran bahasa asing melalui latihan-latihan mendengarkan kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam bahasa asing yang sedang dipelajari. 5. Langkah-langkah pelaksanaan metode ini yang dapat dilakukan : Guru membacakan bacaan-bacaan bahasa asing di depan kelas. Jadi disini yang dipentingkan adalah bagaimana siswa/anak didik dapat mampu berbahasa asing itu secara praktis bukan teoritis. muridnya pun perlu bersungguh-sungguh belajar serta cerdas. belajar dan praktek selama 1 tahun telah langsung mampu menulis disertai di dalam bahasa asing tersebut. Belajar bahasa asing lebih dulu dan mengutamakan praktek. rajin dan rutin tiap hari latihan (PR) Kebaikan-kebaikan Metode Phonetic Metode ini mengajarkan kemampuan membaca anak didik dengan lancar dan fasih sekaligus kemampuan percakapan. orang menerapkan ketiga methode ini sebagai praktek utama ditambah lagi dengan alat peraga/audio visual aids yang mencukupi dan serasi sehingga dalam waktu satu semester telah mampu mengunjungi negara dari bahasa bangsa yang dipelajari. lalu diiringi dengan teori (tata bahasa). Kemudian disusul latihan-latihan membaca (reading and conversation). maka metode ini dianjurkan untuk menggunakan alat peraga/media pengajaran Pada setiap akhir materi pelajaran. misalnya materi pelajaran membaca diberikan sedikit. lebih menekankan pada kemampuan praktis dari teori. setelah itu menuju pada percakapan yang kompleks/lebih sulit Untuk memperjelas ucapan dan percakapan. Tanpa keempat syarat tersebut terpenuhi maka orang bertahun-tahun bahkan belasan tahun belajar bahasa asing. medianya dan buku-buku yang lengkap. untuk kemudian diubah dan diperbaiki letak-letak kesalahannya itu Kekurangan-kekurangan Metode Phonetic Metode ini memerlukan kesungguhan dan keahlian (profesional) dari pihak guru. siswa harus memperhatikan betul langgam dan intonasi. kemudian dapat dilanjutkan pada session/seri berikutnya Setelah pelajaran membaca selesai. Metode Phonetic ini dapat dikatakan gabungan dari dua metode Natural dan Reading diatas. serta gerak-gerik bentuk mimik tertentu dalam bacaan Seri-seri dalam bacaan itu hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bacaan yang sempurna/berkelanjutan Guru dapat menghentikan seri-seri tertentu jika seri pelajaran tersebut sudah dianggap selesai dan dikuasai oleh anak didik. . Misalnya percakapan-percakapan yang sifatnya mula-mula sederhana. Sedangkan pada tingkat lanjutan atas materi pelajaran dikembangkan lebih luas dan kompleks melalui percakapan teoritis dan penalaran ilmiah. Oleh sebab itu pengajaran harus diarahkan pada kemampuan komunikatif atau percakapan. Metode Practice – Theory Metode ini sesuai dengan namanya. sebab itu perlu memotivasi murid dan mengajar secara komunikatif Kalau seri-seri pelajaran tidak disusun dan direncanakan sedemikian rupa. siswa mendengarkan dan memperhatikan baik-baik acara bacaan ini dengan cermat. guru hendaknya memberikan latihan-latihan praktis membaca dan larihan bercakap-cakap pada masing-masing anak didik. Dimana mula-mula menurut metode ini pelajaran dimulai dengan latihan-latihan mendengar kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat dalam bahasa asing. juga percakapan pun serba tanggung. Perbandingan dapat berupa 7 unit materi praktis dan 3 unit materi yang bersifat teoritis. sehingga keduanya dikuasai 6. maka latihan percakapan dapat dilakukan. Jadi disamping metodenya yang serasi. Pada tingkat-tingkat awal materi pelajaran praktis dapat dipilih dan diterapkan pada hal-hal yang sederhana. atau membuka/menghidupkan acara bacaan berupa radio kaset/video. maka pelajaran dan penguasaan materi bagi siswa menjadi mengambang. gurunya punya kepabelitas tinggi. kesimpulan-kesimpulan dan juga nasihat-nasihat berupa dorongan (memberi motivasi bagi anak didik) supaya belajar sungguh-sungguh.

Adapun arti dan makna kata dan kalimat kadang-kadang kurang diutamakan. kemudian diikuti oleh siswa anak didik. maka perlu diperhatikan hal-hal yang berikut : Hendaknya pokok-pokok materi yang akan disajikan senantiasa disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa pada tingkat tertentu. dan tentu siswa lain memperhatikan dan mengikutinya. Teknik metode membaca (Reading Method) ini dapat dilakukan dengan cara guru langsung membacakan materi pelajaran dan siswa disuruh memperhatikan/ mendengarkan bacaan-bacaan gurunya dengan baik. Disamping itu dengan alat peraga.Kelebihan-kelebihan Metode Practice-Theory : Siswa memperoleh ketrampilan langsung atau praktis dalam berbahasa asing Siswa merasa tidak dipusingkan oleh aturan-aturan atau kaidah-kaidah gramatikal karena pelajaran gramatikal hanya diajarkan sambil lalu. Setelah masing-masing siswa mendapat giliran membaca. untuk tingkat-tingkat pemula terasa agak sukar diterapkan. terutama apabila guru yang mengajarkan tidak simpatik/metode diterapkan secara tidak menarik bagi siswa. Dilihat dari segi penguasaan bahasa. radio tape/kaset. pengajaran menjadi menarik dan tidak membosankan. hingga selesai topik-topik yang telah ditetapkan/ditentukan. bahkan terasa kaku. Kebaikan Metode Reading/Membaca Jika dibandingkan dengan metode-metode lain. video dan alat-alat sejenisnya sangat membantu mempercepat/ memperlambat lidah/bacaan siswa. Guru harus memperbanyak menghafalkan pola-pola kalimat yang baik kepada murid-murid Pada umumnya kemampuan aplikatif bahasa asing anak didik sangat ditentukan oleh faktor motivasi dari pihak guru disamping gaya dan simpatik kepribadian guru. setelah itu guru menunjuk salah satu di antara siswa untuk membacakannya. sebagai penajam pemahaman Pengajaran dapat dinamis (hidup) dan menyenangkan. dengan demikian pengetahuan dan penguasaan bahasa anak menjadi utuh Kekurangan Metode Reasing/Membaca Pada metode membaca ini. maka guru mengulangi bacaan itu sekali lagi dengan diikuti oleh semua siswa hal ini terutama pada tingkat-tingkat pertama. Dan ini jarang dimiliki dalam satu pribadi guru. yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan. lalu kemudian guru mencatatkan kata-kata sulit atau baru yang belum diketahui siswa di papan tulis untuk dicatat di buku catatan untuk memperkaya perbendaharaan kata-kata dan begitulah selanjutnya. maka metode ini memiliki segi kelebihan/kebaikan-kebaikan antara lain : Siswa dapat dengan lancar membaca dan memahami bacaan-bacaan berbahasa asing dengan fasih dan benar Siswa dapat menggunakan intonasi bacaan bahasa asing sesuai dengan kaidah membaca yang benar Tentu saja dengan pelajaranmembaca tersebut siswa diharapkan mampu pula menerjemahkan kata-kata atau memahami kalimat-kalimat bahasa asing yang diajarkan. . Dari segi tensi suarapun kadang-kadang cukup menjenuhkan karena masingmasing guru dan siswa terus-menerus membaca topik-topik pelajaran. dengan jalan berganti-ganti (bergiliran). metode reading lebih menitikberatkan pada kemampuan siswa untuk mengucapkan/melafalkan kata-kata dalam kalimat-kalimat bahasa asing yang benar dan lancar. apalagi sesekali guru dapat menyelingi dengan percakapan lucu dan media peragaan yang menarik Paling sesuai dengan alamiah tujuan pengajaran bahasa : yang disebut berbahasa itu ialah berbicara. Tapi kadang-kadang guru dapat menunjuk langsung anak didik untuk membacakan pelajaran tertentu lebih dulu. Oleh karena metode ini memiliki segi kekurangan yang berarti. Hal ini dapat berarti pengajaran terlalu bersifat Verbalisme Pengajaran sering terasa memboankan. Pilih topik dan materi pelajaran yang menarik hati bagi para siswa/yang sesuai dengan keinginan jiwa mereka Untuk menghindari verbalisme dalam pengajaran maka guru hendaknya dapat mengartikan/menerjemahkan katakata atau kalimat-kalimat yang belum dimengerti/pahami siswa dalam bacaan-bacaan tersebut Pada umumnya alat peraga/media pengajaran berupa pengeras suara. karena siswa masing sangat asing untuk membiasakan lidahnya. Dan dengan demikian metode ini relatif banyak menyita waktu. Metode Membaca (Reading Method) Metode membaca (Reading Method) yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih dulu mengutamakan membaca. berkomunikasi lisan Kekurangan-kekurangan Metode Ptactice Theory Memerlukan guru yang betul-betul mahir dan aktif berbahasa asing Pada tingkat-tingkat dasar (awal) metode ini masih sulit diterapkan karena perbendaharaan kata dan bahasa anak didik masih terbatas. sehingga kadang-kadang harus terpaksa untuk berkali-kali menuntun dan mengulang-ulang kata dan kalimat yang sulit ditiru oleh lidah siswa yang bukan dari bahasa asing yang sedang diajarkan. Guru perlu sering memotivasi anak didik disela-sela mengajar bahasa asing (Inggris/Arab) Kekurangan media peraga sebagai penguat persepsi dan ingatan dapat merupakan sisi lain kekurangan metode ini 7.

menghindarkan salahsalah di dalam menulis ejaan atau huruf. 9.Buku-buku bacaan dapat dipilih dan disusun sedemikian rupa hingga menarik/menyenangkan siswa. reading drill untuk mencapai bacaan-bacaan yang betul. Semestinya guru itu adalah seorang Bilingual (yang mengusai dua bahasa atau lebih sampai dihayati). Metode Bicara Lisan (Oral Method) Metode ini adalah hampir sama dengan metode phonetic dan reform method. misalnya bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Setelah itu murid-murid perlu dilatih pula Listening untuk mencapai kepekaan pendengaran (Listening. huruf-huruf di ujung atau di pangkal lidah dan sebagainya Latihan-latihan menyusun kata-kata membuat kalimat sendiri dan sebagainya. dan bahan perbendaharaan kata-kata yang sederhana sampai yang rumit. secara berangsung-angsur sampai sulit. dan ditambah terus perbendaharaan kata-kata. pada tingkat-tingkat lanjutan bacaan-bacaan dapat diarahkan pada yang bersifat ilmiah/pemikiran. dengan kemampuan yang sebenar-benarnya. Melatih untuk bisa lancar berbicara (fluently). tidak kedengaran janggal. Metode ini seperti yang dipraktekkan pada buku-buku pelajaran bahasa Inggris antara lain English 900. cara-cara pengucapan sistem tata bahasa. keserasian dan spontanitas Melatih lisan/mulut agar pengucapan bahasa asing itu bisa tepat bunyi. speaking Target yang hendak dicapai melalui metode ini ialah keammpuan dan kelancaran berbahasa lisan atau berbicara lisan atau berkomunikasi langsung sebagai fungsi utama bahasa Prinsip metode ini ialah : Teach the language. melatih tepatnya keluarnya huruf-huruf kerongkongan. semua dilakukan dengan mengaktifkan bicara lisan. atau mengerjakan sebagaimana yang dimaksud oleh pola kalimat tersebut. Murid-murid memang harus aktif mengucapkan. bunyi dan seterusnya dan memberi penjelasanpenjelasan. sehingga menghayati pola-pola kalimat tersebut sampai membudaya. 8. Latihan-latihan Sistem bunyi melalui bibir. arti. Para siswa dilatih mengucapkan pola-pola kalimat sampai benar-benar memahami dan menghayati arti/maksudnya serta hafal-lancar tanpa berpikir-pikir menyusun kalimat sendiri. Pertama-tama guru membanding-bandingkan kedua bahasa. dll). sehingga menggarkan sesuatu situasi atau cerita. Metode Praktek Pola-pola Kalimat (Pattern-Practice Method) Penerapan terpenting metode ini ialah dengan melatih murid-murid secara praktek langsung mengucapkan polapola kalimat yang sudah tersusun baik betul. pepatah. yakni bahasa asing yang diajarkan dan bahasa Indonesia. . cerpen (cerita-cerita). Susunlah pola-pola kalimat yang baik. English 901 dan sebagainya dan dianggap sebagai yang paling sesuai dengan alamiah pengajaran bahasa asing. khususnya bahasa Inggris dan Arab. Latihlah secara berulang-ulang dan sampai setiap siswa mendapat giliran. Pada umumnya bacaan berupa novel. speaking. Dari bahasa dwi-bahasa (bilingual) diuraikan dan dipilih pola-pola kalimat dengan bunyi-bunyi tertentu untuk mater drill atau bahan-bahan latihan yang intensif. hikmah-hikmah dalam bahasa asing. telah lebih dulu disediakan atau disusun secara serasi dari yang mudah. Seterusnya latihan-latihan speaking (speaking drill) untuk kelancaran berbicara. reading and writing ini amat diperlukan mengiringi pada hampir semua macam metode mengajar bahasa asing. ilmu pengetahuan dan lain-lain sangat menarik untuk bahan bacaan. oral. tetapi pada orak method adalah menitikberatkan pada latihan-latihan lisan atau penuturan-penutuan dengan mulut. melakukan sampai menjadi kebiasaan. Latihan-latihan listening. terutama pada tingkat-tingkat pemula. tentang kata-kata yang sama. don‟t teach only about the language. dan Writing Drill yakni latihan-latihan menulis secara benar. Jadi pola-pola kalimat yang mengandung arti.

4. Mentransfer. menemukan.dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.blogspot.blog. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Sebaliknya. Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme.wordpress. PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan. Kerjasama.serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa.sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual.com ) 2.siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. 3. Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya Konstruktivisme social Berbeda dengan Piaget. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya.com Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. pemodelan. Jadi dengan demikian.spot.2001). Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar.dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. masyarakat belajar.namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis.com Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting.alat-alat budaya. Sehingga.guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi. Interaksi sosial.kepercayaan. http://maistrofisika. Olek karena itu .misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains.tetapi konsisten dengan dunia nyata.mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru. PENDEKATAN KONSTEKTUAL Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education. penilaian sebenarnya.com Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti.blogspot.yaitu terhadap apa yang masingmasing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama.manfaatnya.akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya http://zalva-kapeta. Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial. bertanya. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. 2. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme. Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme . Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan Doantara Yasa (dalam web http://ipotes.yaitu: 1. Konstrukstivisme Individu Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah.Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran 1. refleksi. http://emanbateportofolio. 5. Menerapkan. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial).

Pengenalan benda konkret.blogspot.blog. b.blogspot. Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang komplek. http://maistrofisika. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. a.wordpress.spot. Sebaliknya.lambang.Menanti kesiapan belajar. 4 adalah contoh dari penelitian induksi. d Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.com Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum APB Statement No.1.com 5.com 4.huruf. c. PENDEKATAN KONSEP Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).spot.seperti (?=.Tahap enaktik Tahap enaktik dimulai dari: ./) dll.peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu.Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan e Konsep yang benar membentuk pengertian f. . .Konsep berbeda dalam isi dan luasnya d.kode.lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. 4.Tahap simbolik Tahap simbolik siperkenalkan dengan: . PENDEKATAN DEDUKTIF Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan.Simbol.coml Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan. .Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung c. http://maistrofisika. Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) yang dijelaskan di dalam pernyataan (statement) dibangun berdasarkan observasi dari praktek yang ada.teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk menemukan hubungan yang sebenarnya terjadi.com Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh khusus atau penerapan aturan.kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan. http://www.Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.premis yang menyatakan bahwa laporan akuntansi (accounting reports) seharusnya didasarkan kepada pengukuran nilai aset bersih yang bisa direalisasi (net realizable value measurements of assets) merupakan premis dari teori normatif. 2.blog.sribd. 3.penafsiran tentang benda baru b.Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti. Ciri-ciri suatu konsep adalah: a.prinsip umum ke dalam keadaan khusus. Dengan adanya pendekatan konstruktivisme.Pengamatan. Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa. PENDEKATAN INDUKTIF Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu. kode. http://zalvakapeta.pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori. http://zalva-kapeta.Konsep memiliki gejala-gejala tertentu b.Statement ini adalah suatu usaha APB untuk membangun sebuah teori akuntansi. Dalam sistem deduktif yang kompleks. Setiap konsep berbeda dengan melihat „ciri-ciri tertentu Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah: a.com) 3.seperti angka. PerbedaanPendekatanDeduktifdanInduktif Teori normatif (normative theory) menggunakan pertimbangan nilai (value judgement) yang berisi satu atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum kesesuatuyangkhusus. Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari Deceng (dalam web http://deceng. Sebagai contoh.

Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.com/2009/02/gaya-belajar.coml 6.wordpress. http://ipotes.1999).CBSA.fisika.sribd.yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. (Susilo.istilah. Pendekatan Kontekstual.com.com DAFTAR PUSTAKA Dantara Yasa. http://deceng.blogspot.yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme.sribd.teknologi.apakah siswa sudah mampu http://maistrofisika.defmisi.blogspot. PENDEKATAN PROSES pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.00 wib Deceng.TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT Pendekatan Science.com 7.Pada tanggal 27 september jam 20.Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. PENDEKATAN SAINS.com.html mengatakannya .Tahap ikonik Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak.blogspot. http://emanbateportofolio.Menyebut nama.00 wib Pendekatan Konstruktivisme.dan istilah serta defenisi. Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS).seperti: .dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan. .Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan.html http://www.spot.blogspot.. c. http://maistrofisika.Pada tanggal 15 september jam11.keakuratan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains.Memberi nama.keterampilan proses.com. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses.ketelitian.Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep.com Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. http://maistrofisika.Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains.blogspot.blog.keuletan dalam bekerrja dan sebagainya. Teori Belajar Konstruktivisme. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik.wordpress. Pada tanggal 27 september jam 20. http://www.com/doc/12429922/pendekatan dan metode http://zalva-kapeta.com/2009/05/lt.00 wib http://maistrofisika. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja.