P. 1
ortopedi

ortopedi

|Views: 252|Likes:
Published by Surya Nirmala Dewi

More info:

Published by: Surya Nirmala Dewi on Feb 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

1. Apa yang dimaksud dengan ortopohedi?

Berasal kata Yunani yang beraal dari kata Yunani yang berasal dari gabungan kata ‘ortos’ (lurus/bebas dari deformitas) dan ‘paes’ (anak). Jadi dalam arti sempit pada waktu itu, ortopedi adalah seni utuk mencegah dan memperbaiki kelainan bentuk pada anak-anak dan menganggap bahwa kelainan bentuk pada orang dewasa umumnya berasal dari kelainan pada waktu anakanak.Menurut American Board of orthopaedic Surgery tahun 1953,menyebutkan: Orthopaedic Surgery is the branch of surgery especially concerned with the preservation and restoration of function of the skeletal system,its articulation and asored structures Ortopedi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang diagnosis dan penatalaksanaan kelainan ortopedi serta musculoskeletal.Ruang lingkup bedah ortopedi tidak saja terbatas pada tulang dan sendi tapi juga pada struktur-sruktur yang melekat pada tulang dan sendi termasuk di dalamnya otot, tendon, ligamentum, bursa, sinovia, saraf dan pembuluh darah. Ruang lingkup bedah ortopedi meliputi : 1. Kelainan bawaan dan perkembangan 2. Infeksi dan inflamasi 3. Penyakit reumatik, artropati, arthritis metabolik 4. Kelainan metbolik dan endokrin pada tulang 5. Kelainan degenerative tulang dan sendi 6. Kelainan neuromuscular 7. Kelainan epifisis dan lempeng epifisis 8. Tumor dan sejenisnya 9. Trauma 2. Apa tanda pasti dan tanda tak pasti dari Fraktur ? Tanda Pasti : • Krepitasi

Terasa krepitasi bila fraktur digerakkan . Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujung ujung tulang kortikal .

Adanya gerakan yang abnormal Gerakan yang terjadi tidak pada sendi , misalnya pertengahan femur dapat digerakkan . Ini adalah bukti paling penting adanya fraktur yang membuktikan adanya “ putusnya kontinuitas tulang “ .

Tanda tidak pasti : • • • • Kemerahan dan Edema Nyeri bila digerakkan baik gerakan aktif maupun pasif Adanya Luka Adanya Deformitas
a. Rotasi b. Pemendekan

c. Angulasi d. Penonjolan yang abnormal 3. Sebutkan 4 prinsip penanganan fraktur?
a. Recognition : Diagnosis dan penilaian fraktur

Prinsip

pertama

adalah

mengetahui

dan

menilai

keadaan

fraktur

dengan

anamnesis,pemeriksaan klinik dan radiologi. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan : • • • • Lokalisasi fraktur Bentuk fraktur Menentukan teknik yang sesuai dengan pengobatan Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan

dan luka bakar.b. tergantung dari penyebab peningkatan tekanan kompartemen dan lamanya gejala. Ruangan tersebut berisi otot. Tanda klinis yang umum adalah nyeri. ANATOMI Fascia memisahkan serabut otot dalam satu kelompok. Ketika tekanan intrakompartemen meningkat. kerusakan arteri. perfusi darah ke jaringan akan berkurang dan otot di dalam kompartemen akan menjadi iskemik. Retensi : Imobilisasi fraktur. Rehabilitation : Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Apa yang dimaksud kompartemen sindrom? Dan berapa kompartemen di extremitas lengan? Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan intertisial di dalam ruangan yang terbatas. parestesia. Sindroma kompartemen dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronik. Kompartemen adalah merupakan . deformitas serta perubahan osteoarthritis di kemudian hari. Posisi yang baik adalah : • • Alignment yang sempurna Aposisi yang sempurna c. paresis. yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang tertutup. saraf dan pembuluh darah. disertai denyut nadi yang hilang. Penyebab umum terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur. Sedangkan sindroma kompartemen kronik dapat disebabkan oleh aktivitas yang berulang misalnya lari. Reduction : Reduksi fraktur apabila perlu Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekauan. 4. d. trauma jaringan lunak.

otot brachioradialis. • Kompartemen dorsal : Otot ekstensor pergelangan tangan dan jari tangan. nervus ulnar dan nervus median. kompartemen dibagi menjadi 2 bagian yaitu : • Kompartemen volar : Otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan. . nervus ulnar dan nervus median. interosseus membran dan fascia yang melibatkan jaringan otot. • Mobile wad : Otot ekstensor carpi radialis longus. Pada regio brachium. • Kompartemen II : Otot ekstensor carpi radialis brevis. kompartemen dibagi menjadi 3 bagian yaitu : • Kompartemen volar : Otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan. otot ekstensor carpi radialis brevis. otot ekstensor carpi radialis longus. kompartemen dibagi menjadi 6 bagian yaitu : • Kompartemen I : Otot abduktor pollicis longus dan otot ekstensor pollicis brevis. • Kompartemen dorsal : Otot ekstensor pergelangan tangan dan jari tangan. • Kompartemen III : Otot ekstensor pollicis longus. nervus interosseous posterior. nervus interosseous posterior. Pada regio wrist joint.daerah tertutup yang dibatasi oleh tulang. Pada regio antebrachium. saraf dan pembuluh darah.

Adapun penyebab terjadinya peningkatan tekanan intrakompartemen adalah peningkatan volume cairan dalam kompartemen atau penurunan volume kompartemen. otot ekstensor indicis. akibat syok. • Kompartemen V : Otot ekstensor digiti minimi. luka bakar. Infus yang infiltrasi. ETIOLOGI Penyebab terjadinya sindroma kompartemen adalah tekanan di dalam kompartemen yang terlalu tinggi. lebih dari 30 mmHg. • • • Penurunan volume kompartemen dapat disebabkan oleh : • Balutan yang terlalu ketat. Peningkatan volume cairan dalam kompartemen dapat disebabkan oleh : • • Peningkatan permeabilitas kapiler. Hipertrofi otot. PATOGENESIS Perkembangan sindroma kompartemen tergantung tidak hanya pada tekanan . trauma langsung Peningkatan tekanan kapiler. akibat latihan atau adanya obstruksi vena.• Kompartemen IV : Otot ekstensor digitorum communis. Pendarahan. • Kompartemen VI : Otot ekstensor carpi ulnaris.

intrakompartemen tapi juga tekanan sistemik darah. yaitu komponen tulang dan komponen jaringan lunak . motor dan bersepeda adalah kegiatan yang banyak menyebabkan cedera ini 6. Pertama-tama sel akan mengalami pembengkakan. penurunan aliran darah kapiler dan nekrosis jaringan lokal akibat hipoksia. Ketika tekanan dalam kompartemen melebihi tekanan darah dalam kapiler dan menyebabkan kapiler kolaps. 5 ruas tulang sakral yang menyatu dan 4 ruas tulang ekor . Stabilitas tulang belakang di susun oleh dua komponen . sel-sel yang tidak memperoleh makanan akan mengalami kerusakan. Patofisiologi sindroma kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti. Apa yang dimaksud dengan radius distal dan distal radius? Fraktur radius distal adalah patah tulang pada radius. Ujung tulang ini yang menuju ke pergelangan tangan disebut radius distal. 5. Dalam kapiler-kapiler terjadi kehilangan cairan sehingga terjadi peningkatan tekanan jaringan dan memperberat kerusakan disekitar jaringan dan jaringan otot mengalami nekrosis. Pembengkakan yang terus bertambah menyebabkan tekanan meningkat. Jelaskan tentang fraktur spine ? Fraktur spine : diskontinuitas dari tulang belakang (vertebrae) akibat trauma Misalnya akibat kecelakaan kerja seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas . nutrisi tidak dapat mengalir keluar ke sel-sel dan hasil metabolisme tidak dapat dikeluarkan. 12 ruas tulang torakal. Terjadinya hipoksia menyebabkan sel-sel akan melepaskan substansi vasoaktif (misal : histamin. 5 ruas tulang lumbal. . Hanya dalam beberapa jam. Aliran darah yang melewati kapiler akan berhenti. Kecelakaan mobil. PATOFISIOLOGI Tulang belakang tersusun secara segmental dari 7 ruas tulang servikal. Fraktur radius distal paling banyak terjadi ketika seseorang jatuh dan mencoba untuk menahan badan mereka sendiri dengan tangan terulur. kemudian sel akan berhenti melepaskan zat-zat kimia sehingga menyebabkan terjadi pembengkakan lebih lanjut. serotonin) yang meningkatkan permeabilitas endotel.

fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan fungsional. Frankel A = Complete. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas pada tulang belakang adalah penyebab cedera pada medula spinalis secara tidak langsung. 4. Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis : 1. fungsi motoris hilang sama sekali. Distribusi persarafan yang terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan sensoris pada regio yang disarafi oleh segmen yang cedera tersebut. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis tergantung pada letak dan besarnya kerusakan .Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung dan tidak langsung. Kerusakan tulang belakang memperlihatkan gejala seperti nyeri leher. kelemahan anggota gerak. 5.nyeri punggung . fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di bawah level lesi. 3. Frankel E = Normal. Frankel C = Incomplete. penanggulangan trauma tulang belakang dan medula spinalis Prinsip umum : • Pikirkan selalu kemungkinan adanya cedera medula spinalis . Apabila trauma terjadi dibawah segmen cervical dan medula spinalis tersebut mengalami kerusakan sehingga akan berakibat terganggunya distribusi persarafan pada otot-otot yang dsarafi dengan manifestasi kelumpuhan otot-otot intercostal. Frankel D = Incomplete. atau perubahan sensitivitas. Frankel B = Incomplete. fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit neurologisnya. Kerusakan melintang (lesi transversa) memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun fungsi sensorik kaudal dari tempat kerusakan. kelumpuhan pada otot-otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah serta paralisis sfingter pada uretra dan rektum. sensoris masih tersisa di bawah level lesi. fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi tidak fungsional. 2.

Perbedaan fraktur spine cervical. Klasifikasi Trauma pada vertebra cervikalis dapt dibagi atas dua cara : 1.reposisi.atau stabilisasi) Pencegahan penyulit Tindakan : 7. thoracal.pernapasan dan peredaran darah Penanganan kelainan yang lebih urgen Pemeriksaaan neurologik untuk menentukan tempat lesi Pemeriksaan radiologis Tindakan bedah (dekompresi.• • • • • • • • • • Mencegah terjadinya cedera kedua Waspada akan tanda yang menunujukkan lesi transversa Lakukan evaluasi dan rehabilitasi Adakah imobilisasi ditempat kejadian (dasar papan) Optimalisasi faal ABC : jalan napas. dan lumbal? Trauma vertebra cervikalis Suatu trauma yang serius dan dapat menyebabkan kematian segera oleh karena gangguan pernapasan. Berdasarkan patologi anatomi       Kompresi fraktur baji badan vertebra Fraktur rekah badan vertebra Ekstensi subluksasi Fleksi subluksasi Dislokasi dan fraktur dislokasi Fraktur atlas (C1) .

pengobatan fraktur tanpa adanya gangguan neurologis yaitu dengan traksi kepala menurut Crutchfield cranial tong atau Blackburn tong selama 6 minggu.Dapat pula dilakukan pemasangan gips Minerva.Pada pemeriksaan fisis gerakan pada leher sangat terbatas. Tanpa kelainan pada sumsum tulang belakang Pada anamnesis ditemukan riwayat trauma dengan spasme otot leher. nyeri yang hebat pada bagian atas leher serta daerah oksipital. . Berdasarkan mekanisme trauma     Gambaran klinis       Nyeri dan kaku leher beberapa tahun Sakit kepala Mual Depresi Gangguan penglihatan Parestesia pada lengan Fleksi Fleksi rotasi Ekstensi Kompresi vertical Pada fraktur vertebra servikal dapat terjadi : 1.   Fraktur dislokasi sendi atlanto-aksial Pergeseran jaringan lunak intra-spinal Fraktur processus spinosus 2.

. Fleksi disertai dengan rotasi akan menghasilam fraktur serta dislokasi sendi intervertebra.Trauma ini terjadi oleh karena tertimpa beban dari atas atau jatuh dari ketinggian.2. Kompresi fraktur yang bersifat baji 3. Fraktur badan vertebra komunitif 5. Trauma hiperfleksi terjadi fraktur dengan kolaps satu atau dua vertebra di depan dan berbentuk baji yang akan memberikan kifosis. Subluksasi Fraktur vertebral thorakal Fraktur vertebra thorakal biasanya disebabkan oleh karena trauma vertical melalui aksis longitudinal dari tulang belakang. Trauma vertical sepanjang aksis longitudinal tulang belakang baik karena trauma dari kepala atau dari bawah. 3. Dengan kelainan sumsum Keadaan ini merupakan suatu kelainan yang serius dan perlu ditangani segera dengan melakukan traksi serta perawatan pada penderita dengan kelainan tetraplegi Jenis-jenis trauma yang terjadi 1.Kebanyakan trauma pada vertebra torakal adalah trauma hiperfleksi dan jarang oleh karena hiperekstensi Mekanisme trauma Penyebab fraktur : 1. Trauma hiperekstensi 2.Pada keadaan ini terjadi fraktur rekah seperti pada trauma vertebra servikal. 2. Fraktur rekah 4.Secara normal tulang belakang berbentuk fleksi sehingga trauma yang terjadi akan menyebabkan gerakan fleksi yang hebat. dimana terjadi pergeseran vertebra diatas terhadap vertebra dibawahnya.

Kemungkinan bahwa keadaan ini merupakan kompensasi postural pada kyphosis thoracicus atau penyakit articulation coxae (dislocation congenitalis). 8.keadaan ini dapat disebabkan oleh kelemahan otot atau perubahan struktur korpus vertebra atau discus intervertebralis.Khyposis ialah istilah yang digunakan jika terjadinya kelainan pada lengkung sagital yang berlebihan di daerah thoracal columna vertebralis. Fraktur vertebra lumbal Fraktur pada vertebra lumbal dapat terjadi oleh karena trauma aksis longitudinal pada daerah kepala atau bokong. Crush fraktur atau destruksi oleh tuberculosis pada korpus vertebra mengakibatkan kyposis anular akuta kolumna vertebralis. Mengapa tulang cervical ada 7 tapi saraf nya ada 8? . dapat juga diakibatkan oleh penyakit kelainan columna vertebralis seperti pada spondylolisthesis. Trauma pada vertebra lumbal biasanya dipergunakan lengkungan sagital yang berlebihan di daerah lumbal yang sering disebut dengan lordosis.Lordosis dapat disebabkan oleh bertambahnya beban isi abdomen.

pada tulang cervical selain membentuk persendian antara tulang satu dengan yang lain. 9. .tulang cervical juga membentuk persendian dengan tulang tengkorak sehingga walau pun jumlah tulang cervical ada 7 buah tapi persarafan yang keluar diantara tulang cervical ada 8 buah. Jelaskan tentang refleks cremaster ? Refleks Cremaster yaitu dengan melakukan goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah.Gambar plexus cervical dan plexus brachialis Persarafan keluar dari hubungan antara 2 buah tulang yang membentuk persendian.

Dikenal dua tipe fraktur supakondiler humeri berdasarkan pergeseran fragmen distal. 10. . Tipe posterior (tipe ekstensi) Tipe ekstensi merupakan 99% dari seluruh jenis fraktur suprakondiler humeri.Disini fragmen distal bergeser ke arah anterior. Apa yang dimaksud fraktur suprakondiler humeri? Fraktur suprakondiler humeri (tansondiler) merupakan fraktur yang sangat sering ditemukan pada anak-anak setelah fracture ante brachii. Fraktur suprakondilus adalah fraktur yang mengenai humerus bagian distal di atas kedua kondilus. DEFINISI Fraktur suprakondilus merupakan salah satu jenis fraktur yang mengenai daerah elbow. Jenis fleksi adalah jenis yang jarang terjadi. apabila terdapat lesi pada L1 reflek negatif . B.Sedangkan tipe fleksi terjadi bila penderita jatuh dan terjadi trauma langsung sendi siku pada distal humeri. Fragmen distal humerus akan terdislokasi ke arah posterior terhadap humerus.Respon : elevasi testis ipsilateral .Pada tipe ini fragmen distal bergeser ke arah posterior. Tipe anterior (tipe fleksi) Tipe anterior (tipe fleksi) hanya merupakan 1-2%dari seluruh fraktur suprakondiler humeri.umerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah dalam posisi supinasi dan dengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan yang terfiksasi. Pada fraktur jenis ini dapat dibedakan menjadi fraktur supracondilus extension type (pergeseran posterior) dan flexion type (pergeseran anterior) berdasar pada bergesernya fragmen distal dari humerus. yaitu : A. dan sering ditemukan pada anak-anak. Jenis ekstensi terjadi karena trauma langsung pada h. Mekanisme Trauma Tipe ekstensi terjadi apabila trauma terjadi pada saat sendi siku dalam posisi hiperekdstensi atau sedikt fleksi serta pergelangan tangan dalam posissi dorso fleksi.

dan biasanya akibat jatuh pada tangan yang terekstensi.sedangkan periosteum anterior ruptur. terjadi hematom fossa cubiti dalam jumlah yang signifikan. Humerus patah tepat di atas condilus. Pada pemeriksaan klinis didapati siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah. KLASIFIKASI Klasifikasi berdasarkan ada tidaknya pergeseran fragmen (fraktur pada anak) • • Tipe I Tipe II Tipe III : Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya berupa retak yang : Tidak ada pergeseran fragmen. hanya terjadi perubahan sudut antara : Terdapat pergeseran fragmen tetapi korteks posterior masih utuh serta berupa garis humerus dan kondilus lateralis (normal 40o) • • masih ada kontak antara kedua fragmen. medianus. .Fraktur humerus suprakondiler jenis fleksi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi. Ujung fragmen proksimal yang bergerigi mengenai jaringan lunak bagian anterior. Tipe IV : Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali. Periosteum posterior utuh. Fragmen distal terdesak ke belakang lengan bawah (biasanya dalam posisi pronasi) terpuntir ke dalam. Gambar Klasifikasi fraktur humeri pada anak MEKANISME CEDERA Fraktur Suprakondi'us Extension Type (Pergeseran kearah Posterior) Menunjukkan cedera yang luas. Didapati tanda fraktur dan pada foto Rontgen didapati fraktur humerus suprakondiler dengan fragmen distal yang terdislokasi ke posterior. kadang mengenai artmi brachialis atau n.

serta tangan harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya bukti cedera saraf dan gangguan vascularisasi. Pada lesi saraf medianus didapati ketidakmampuan untuk gerakan oposisi ibu jari dengan jari lain. .paresa. Di sini didapati ketidakmampuan jari I dan II untuk melakukan fleksi. Pada lesi saraf ulnaris didapati ketidakmampuan untuk melakukan gerakan abduksi dan aduksi jari. Sering didapati lesi pada sebagian saraf medianus. sehingga bila tidak diterapi secara cepat dapat terjadi:"acute volksman ischaemic" dengan tanda-tanda: pulseles.pain. Nadi perlu diraba dan sirkulasi perlu diperiksa. Juga didapati gangguan sensorik pada bagian dorsal serta metacarpal I. Gangguan sensorik didapati pada bagian volar jari V. GAMBARAN KLINIS Setelah jatuh anak merasa nyeri dan siku mengalami pembengkakan.Fraktur suprakondilus flexion type Tipe fleksi terjadi bila penderita jatuh dan terjadi trauma langsung pada sendi siku pada distal humeri. pale. yaitu lesi pada cabangnya yang disebut saraf interoseus anterior.paralysis. deformitas pada siku biasanya jelas serta kontur tulang abnormal. Pada lesi saraf radialis didapati ketidakmampuan untuk ekstensi ibu jari dan ekstensi jari lain pada sendi metacarpofalangeal. ataupun miring ke belakang. GAMBARAN RADIOLOGIS Fraktur terlihat jelas dalam posisi foto lateral. di mana pada fraktur jenis ekstension ini didapatkan garis fraktur berjalan oblique ke bawah dan ke depan serta fragmen distal bergeser ke belakang. Dalam posisi antero posterior foto seringkali susah didapatkan dengan baik akibat nyeri yang dirasakan oleh anak dan mungkin dapat ditunda hingga telah dilakukan anaesthesi.

Gambar fraktur ekstensi suprakondilus Gambar Fraktur fleksi suprakondilus .

2. penekanan gips atau fleksi akut sendi siku. pallor. dilakukan fleksi akut pada sendi siku yang menyebabkan tekanan pada kulit. Maserasi kulit pada daerah antekubiti Komplikasi ini terjadi karena setelah reposisi . Iskemik Volkmann ditandai dengan 5P (pain. fraktur antebraki (fraktur ulna dan radius) dan dislokasi sendi siku. Kelainan ini biasanya berdifat sementara dan prognosisnya baik. Iskemik Volkmann Iskemik Volkmann terutama terjadi pada fraktur suprakondiler humeri tipe ekstensi. pulselessness.Catatan bahwa foto tersebut (tipe fleksi) dalam posisi foto lateral tampak fragmen distal telah bergeser volar dibandingkan dengan bagian proksimal KOMPLIKASI FRAKTUR SUPRAKONDILUS HUMERUS 1. Trauma saraf perifer Trauma saraf perifer sering mengenai nervus medianus yaitu interosseus anterior nerve daripada nervus ulnaris. Pembentukan lepuh kulit Pembengkakan sendi siku terjadi karena gangguan drainase atau mungkin juga karena perban yang terlalu ketat. Ditandai dengan gejala penderita tidak dapat memfleksikan ibu jari dan jari telunjuk. Di samping itu terjadi pula obstruksi pembuluh darah arteri yang menyebabkan iskemik otot dan saraf lengan bawah. Iskemik terjadi karena adanya obstruksi sirkulasi vena karena verban yang terlalu ketat. Sindroma kompartemen 4. 4. Gambar Lesi pada nervus medianus . parasthesia dan paralysis). 3.

Kelainan ini sulit dihindarkan kecuali dengan melakukan reposisi yang akurat. 6. Gambar Carrying angle Gambar Kubitus varus. Kubitus varus merupakan komplikasi paling sering ditemukan. Kelainan dekubitus varus akan memberikan gejala sisa dan secara psikologis anak merasa rendah diri sehingga perlu dilakukan koreksi osteotomi. .5. Pada keadaan ini perlu dilakukan koreksi osteotomi.sehingga terjadi hiperekstensi. Mallunion Komplikasi mallunion dapat berupa kubitus varus atau perubahan letak posisi distal humerus ke posterior (carrying angle). Perubahan posisi humerus distal akan memberikan gangguan pergerakan fleksi. Miositis osifikans Merupakan komplikasi lanjut fraktur suprakondiler humeri yang akan memberikan gangguan pergerakan pada sendi siku di kemudian hari.

selama 3 minggu. Tekanan jari di belakang fragmen distal untuk mengoreksi kemiringan posterior. Reduksi dilakukan dengan manuver secara metodik dan berhati-hati 1. Penanggulangan fraktur ini pada orang dewasa lebih banyak bersifat operatif. 3. Koreksi terhadap kemiringan. Siku difleksikan perlahan-lahan sementara traksi tetap dipertahankan. lengan dipertahankan dalam suatu collar dan manset. yang memungkinkan gerakan dini sendi siku. yaitu reposisi terbuka dan fiksasi fragmen fraktur dengan fiksasi yang kokoh. diperbolehkan melakukan fleksi siku aktif tetapi lengan disangga alam kain gendongan dan ekstensi dihindari selama 3 minggu kemudian. Traksi selama 2-3 menit di sepanjang lengan dengan traksi lawan di atas siku. 4. Hal ini dikerjakan agar tidak terjadi komplikasi berupa sendi kejur siku akibat perlengketan sendi Penanganan fraktur suprakondiler pada anak-anak • Tipe I Pada anak apabila tidak disertai dengan pergeseran. Setelah reduksi. kemudian dilakukan perabaan nadi: di mana bila nadi tak teraba. segera kendurkan fleksi siku hingga nadi muncul kembali. sambil memeriksa dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak terjadi angulasi varus maupun valgus dan tidak ada deformitas rotasional. maka tidak perlu dilakukan reduksi. terus-menerus.TERAPI Terapi fraktur supracondylus extension type Berbeda dengan fraktur pada anak. fraktur humerus suprakondiler pada orang dewasa sering kali menghasilkan fragmen distal yang kominutif dengan garis fraktur berbentuk Y atau T. • . Sinar-x diambil untuk memastikan reduksi. pergeseran atau pemuntiran (rotasi) ke samping dibandingkan dengan lengan sebelah. anak hanya memakai kain gendongan selama 2-3 minggu. Mekanisme trauma dan tanda klinis tidak berbeda dengan fraktur pada anak. Setelah itu. 2. Sedangkan fraktur yang disertai dengan pergeseran hams dilakukan reduksi secepat mungkin. dengan menggunakan anaesthesi umum (general anaesthesi).

dll . mengenai jaringan dibawah kulit misalnya tendon dll 3. gangguan mobilisasi . Kontraktur adalah hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak sendi secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi . Kontraktur desmogen . Tipe II : Perlu dilakukan reposisi tertutup untuk mengembalikan posisi humerus distal karena akan terdapat gangguan dalam pergerakan ekstensi dan fleksi sendi siku di kemudian hari. kongenital . fibrosis jaringan penyokong . • Tipe III dan IV : Reposisi tertutup sebaiknya dengan menggunakan image intensifier dan dapat difiksasi dengan K-wire perkutaneus atau fiksasi dan dipasang gips. penyakit degenerasi . otot . Apabila tidak berhasil. Kontraktur artrogen .Terapi juga dapat dilakukan berdasarkan tipe fraktur • • Tipe I : Cukup dengan pemasangan mitela dan sembuh dalam 10 hari sampai 2 minggu. Kontraktur dermatogen . 11. Efek kontraktur tersebut menyebabkan terjadinya gangguan fungsional . sudah mengenai bagian dari sendi Sedangkan menurut bentuknya kontraktur dibagi atas : 1. . dan kulit . kontraktur linier • berbentuk garis lurus. maka dianjurkan tindakan operasi terbuka dengan pemasangan K-wire. juga pada penderita yang datang setelah beberapa hari terjadinya fraktur. Penyebab utama adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi sendi akibat suatu keadaan misalnya imbalance kekuatan otot . Bagaimana Etiologi dari Kontraktur ? Kontraktur merupakan suatu keadaan patologis dari suatu kontraksi ( proses dinamik aktif yang melibatkan fungsi dari sel yang hidup serta pemindahan energi ) Umumnya terjadi apabila pembentukan sikatrik berlebihan dari proses penyembuhan luka . dan gangguan aktifitas kehidupan sehari hari . hanya terbatas pada kulit saja 2. inflamasi . Jenis kontraktur menurut jaringan yang terlibat : 1.

pada penanggulangannya dibuat desain Z palsty . jarak antara lutut kanan dan kiri 20” Sendi panggul tidak ada fleksi dan rolasi eksterna Pergelangan kaki : dorsofleksi . Konservatif Seperti halnya pada pencegahan kontraktur. rolasi eksterna Antebrakii : supinasi Lutut : lurus. Proper positioning pada penderita luka bakar adalah sebagai berikut :       Leher : ekstensi / hiperekstensi bahu : abduksi. Penanganan kontraktur dapat dliakukan secara konservatif dan operatif : 1. yaitu dua buah flep segitiga yang saling dipindahkan tempatnya.• • dipinggir gari ini terdapat web yang merupakan kelebihan kulit. meliputi : • Proper positioning Positioning penderita yang tepat dapat mencegah terjadinya kontraktur dan keadaan ini harus dipertahankan sepanjang waktu selama penderita dirawat di tempat tidur. kontraktur difusa • • Berbentuk difusa pada persendian. 2. tindakan konservatif ini lebih mengoptimalkan penanganan fisioterapi terhadap penderita. Penanganan pada Kontraktur Hal utama yang dipertimbangkan untuk terapi kontraktur adalah pengembalian fungsi anggota badan untuk mencegah kontraktur sendi yang rekuren. Pada penanggulangannya dilakukan pelepasan dari kontraktur dan kekurangan kulit yang timbul ditutup dengan full thickness skin graft.

Stretching Kontraktur ringan dilakukan strectching 20-30 menit. Adapun macam-macam exercise adalah :   Free active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri. Operatif . Isometric exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri dengan kontraksi otot tanpa gerakan sendi. Berdiri adalah stretching yang paling baik. Exercise yang teratur dan terus-menerus pada seluruh persendian baik yang terkena luka bakar maupun yang tidak terkena. Ultrasound merupakan modalitas pilihan untuk semua sendi yang tertutup jaringan lunak. 2. sedangkan kontraktur berat dilakukan stretching selama 30 menit atau lebih dikombinasi dengan proper positioning.• Exercise Untuk memelihara lingkup gerak sendi dan mencegah kontraktur.  • Passive exercise : latihan yang dilakukan oleh tenaga medis terhadap penderita. pemberiannya selama 10 menit per lapangan. berdiri tegak efektif untuk stretching panggul depan dan lutut bagian belakang.  Resisted active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita dengan melawan tahanan yang diberikan oleh tenaga medis atau alat mekanik.  Active assisted exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri tetapi mendapat bantuan tenaga medis atau alat mekanik atau anggota gerak penderita yang sehat. baik sendi kecil maupun sendi besar. • • Splinting / bracing Pemanasan Pada kontraktur otot dan sendi akibat scar yang disebabkan oleh luka bakar. merupakan tindakan untuk mencegah kontraktur. ultrasound adalah pemanasan yang paling baik.

karena full thickness graft sulit. Balut diganti pada hari ke 10 dan dilanjutkan dengan latihan aktif pada minggu ketiga post operasi. tindakan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara : a. Kontraktur dilepaskan dengan insisi transversal pada seluruh lapisan parut. c. b. Kadang sayap sangat panjang sehingga memerlukan beberapa Z-plasty. Flap dapat dirotasikan dari jaringan yang dekat ke defek dalam 1 kali kerja .Tindakan operatif adalah pilihan terakhir apabila pcncegahan kontraktur dan terapi konservatif tidak memberikan hasil yang diharapkan. kemudian dilakukan transplantasi flap untuk menutupi defek tadi. Skin graft Indikasi skin graft apabila didapat jaringan parut yang sangat lebar. diperlukan eksisi parsial dari parut dan mengeluarkan / mengekspos pembuluh darah dan saraf tanpa ditutupi dengan jaringan lemak. Indikasi lain pemakaian flap adalah apabila gagal dengan pemakaian cara graft bebas untuk koreksi kontraktur sebelumnya. kemudian dilakukan balut tekan. selanjutnya dilakukan eksisi jaringan parut secukupnya. Jahitan harus berhati-hati pada ujung luka dan akhirnya graft dijahitkan ke ujung-ujung luka yang lain. Sebaiknya dipilih split thickness graft untuk l potongan. Z – plasty atau S – plasty Indikasi operasi ini apabila kontraktur bersama dengan adanya sayap dan dengan kulit sekitar yang lunak. Flap Pada kasus kasus dengan kontraktur yang luas dimana jaringan parutnya terdiri dari jaringan fibrous yang luas.

com/2012/01/24/askep-fraktur-kompresi-tulangbelakang/diakses 13 oktober 2012 http://orthopaedi-dan. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta .Penerbit Buku Kedokteran EGC.html/diakses oktober 2012 13 • • • • • • .PT. 2004.wordpress.Sumber : • De Jong. Jakarta: Binarupa Aksara. 2006.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta. Jakarta: EGC.Richard. Pabst. R.2000. Snell.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Staf pengajar bagian ilmu bedah fakultas kedokteran UI.blogspot. R.com/2012/03/kompartemen-sindrom.2007.Anatomi Klinik Edisi 6. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Wim. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Edisi 22 Jilid 1.Yarsif Watampone (Anggota IKAPI). Putz. Rasjad Chairuddin. http://yunu5mu5tofa.Jakarta.

TUGAS ORTHOPEDI dr. Pande Putu Bagus Premana 3. Ni Made Desi Suzika dewi 2.OT Disusun oleh : 1. Thuaibatul Islamia 4. Luluk Nurul F 08700005 08700022 08700053 08700264 .Yanuar Cahya Darma. Sp.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->