P. 1
Syok Hipovolemik Et Causa Ruptur Hepar

Syok Hipovolemik Et Causa Ruptur Hepar

|Views: 109|Likes:

More info:

Published by: Brian Angelo Soekamto on Feb 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

Syok Hipovolemik et causa Ruptur Hepar Dwita Permatasari 10-2008-214 Itazmania_214@yahoo.

com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 www.ukrida.ac.id

SKENARIO 4
Seorang laki-laki berusia 23 tahun dibawa oleh masyarakat ke UGD RS paska kecelakaan lalu lintas. Menurut saksi mata, saat kejadian laki-laki ini tengah mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang, tiba-tiba dari sebelah kiri jalan muncul truk. Laki-laki tersebut tampak tidak sempat mengerem, sehingga ia menabrak truk tersebut. Saat kejadian laki-laki tersebut memakai helm. Di UGD RS, laki-laki tersebut masih dapat menjawab ketika diajak berbicara walaupun jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaan. Pasien masih dapat membuka mata secara spontan. Pasien dapat menggerakkan ekstremitasnya dan menunjukkan lokasi nyeri sesuai perintah yang diberikan. Nyeri yang dialami adalah pada perut bagian kanan atas. Pasien tampak pucat dan konjungtiva kedua mata tampak anemis. Pada inspeksi daerah abdomen tampak hematom dan bintik-bintik merah didaerah perut bagian kanan atas. Beberapa saat kemudian, kesadaran pasien makin menurun, pasien juga semakin tampak gelisah dan mengeluh haus. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital TD 90/60 mmHg, denyut nadi 110x/menit.

I. PENDAHULUAN
Syok bukanlah merupakan suatu diagnosis. Syok merupakan sindrom klinis yang kompleks yang mencakup sekelompok keadaan dengan manifestasi hemodinamik yang bervariasi tetapi petunjuk yang umum adalah tidak memadainya perfusi jaringan. Setiap keadaan yang mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan oksigen jaringan, baik karena suplainya yang kurang atau kebutuhannya yang meningkat, menimbulkan tanda-tanda syok. Diagnosa adanya syok harus didasarkan pada data-data baik klinis maupun laboratorium yang jelas yang merupakan akibat dari berkurangnya perfusi jaringan. Syok mempengaruhi kerja organ-organ vital dan penangannya memerlukan pemahanam tentang patofisiologi syok. Syok bersifat progresif dan terus memburuk jika tidak segera ditangani. Trauma hepar lebih banyak disebabkan oleh trauma tumpul yang bisa menyebabkan kehilangan banyak darah ke dalam peritoneum. Trauma tumpul mempunyai potensi cidera tersembunyi yang mungkin sulit dideteksi. Insiden komplikasi berkaitan dengan penanganan trauma terlambat lebih besar dari insiden luka tembus

II. PEMBAHASAN
Pertolongan Pertama Kecelakaan Resusitasi awal pada penderita cedera akut Perawatan awal pada penderita cedera memerlukan 2 anggapan. Pertama, penderita mungkin mengalami lebih dari satu cedera, kedua, cedera nyata tidak perlu merupakan yang terpenting. Kunci untuk perawatan awal adalah pendekatan berdasarkan preoritas cedera oleh potensi membahayakan jiwa penderita. Prioritas perawatan trauma awal sering dinyatakan sebagai ABC resusitasi trauma. Airway (jalan napas). Langkah pertama yang kritis dalam penanganan penderita cedera adalah menjamin jalan napas yang adekuat. Pada kebanyakan pernderita dengan cedera berat, ini meliputi intubasi endotrakeal. Kemungkinan terjadi cedera vertebra servikalis harus selalu dipikirin, dan gerakan leher yang tidak bijaksana dalam proses intubasi endotrakeal harus dihindari. Ntubasi nasotrakeal merupakan pilihan pada penderita yang bernapas spontan tanpa cedera pada pertengahan wajah. PadCa penderita yang jarang, jalan napasd bedah (trakeostomi) mungkin diperlukan.1

Exposure For Complete Examination. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan ulang lengkap. Kontrol perdarahan yang nyata. yang merupakan metode dari evolusi disabilitas neorologis dan memperkirakan prognosis penyembuhan di kempudian hari. Bila jalan napas yang adekuat terjamin. Kompos mentis : Sadar penuh b. Rencana pengobatan dengan prioritas berdasarkan temuan awal ini harus ditentukan. dengan kecurigaan akan pneumotoraks tension yang tinggi pada penderita dengan ketidakstabilan hemodinamik yang nyata. perlu dilakukan dekompresi kateter jarum sebelum radiografi toraks dengan tujuan diganosis dan terapuetik. pada penderita untuk mendiagnosis cedera lainnya. harus diusahakan jalan napasnya baik. Kanula ini harus berlubang besar dan paling sedikit harus dipasang dua buah. Cirkulation (sirkulasi). Ini meliputi perhitungan glasgow Coma Scale. Pasien yang tidak sadar pada tingkat pemeriksaan ini. dan alat pemantau sekarang dipasang sesuai kebutuhan. Somnolen : Adanya penurunan kesadaran pasien dapat dibangunkan dengan rangsangan digerakan tubuhnya. Pada saat tersebut. harus selalu dievaluasi terjadinya perdarahan intratorakal atau intraabdominal. Tingkat kesadaran : a. Pada pasien dengan hipotensi dan cedera kepala. tetapi cepat. Infus tidak boleh dipasang distal dari luka pada ekstrimitas karena mungkin sekali terjadi cedera pembuluh darah. dan resusitasi cairan merupakan prioritas berikutnya. Disability (Penilaian Neurogenik). pemasangan infus intravena. Tetapi. pemeriksaan singkat untuk menentukan cedera neurologis merupakan indikasi. bila sebelumnya tidak diketahui. Tiga alasan terpenting adalah untuk ventilasi yang tidak efektif setelah penempatan jalan napas yang berhasil adalah malposisi pipa endotrakeal. dan hemotoraks. pneumotoraks. Apatis : Penurunan kesadaran paling ringan. Infus tambahan. kateter. ventilasi harus dipastikan. psien anggan berhunbungan dengan sekitarnya tampal acuh tak acuh c. ditekan akan timbul respon verbal dan motorik yang memadai .Breathing (pernapasan). Kanula intravena biasanya dipasang perkutan pada lengan atau lipat paha. Umumnya tedapat waktu untuk melakukan rontgen toraks sebelum prosedur terapuetik invasif.

80% untuk menegakkan diagnosa didapatkan dari anamnesis. tidak ada respon apapun terhadap rangsangan apapun 1. Sopor : Penurunan kesadaran lebih dalam kira-kira diantara somnolen dan koma.2 • • • • • • • • • • • • • Kapan peristiwa kecelakaan terjadi? Bagaimana persitiwa kejadiannya? Apakah yang terjadi setelah kecelakaan ? Apakah sudah dilakukan tindakan di tempat kejadian Apakah sebelum tidak sadar pasien mengeluh nyeri?dimana? Apakah ada pendarahan yang banyak pada pasien? Sejak kapan pasien tidak sadar? Apakah pasien memiliki riwayat gangguan pencernaan? Apakah pasien memliki riwayat nyeri abdomen? Apakah pasien memiliki riwayat operasi abdomen? Apakah pasien minum obta-obatan tertentu? Apakah pasien merokok atau minum alkohol? Apakah pasien terdapat alergi obat? 2.1.d. Pemeriksaan . hanya dengan rangsangan yang kuat misalkan dicubit. Tujuan anamnesis yaitu untuk mendapatkan keterangan sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien. membantu menegakkan diagnosa sementara. Anamnesis Anamnesis adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara baik langsung pada pasien (Auto anamnese) atau pada orang tua atau sumber lain (Allo anamnese). Koma : Penuruna kesadaran yang paling berat. ditekan agak keras pada kestermitas tubuh masih ada respon motorik dan masih ada reflek e.

3 . dan masih terlihat gerakan spontan. Pemeriksaan Kesadaran Secara sederhna. namun kesadarannya segera menurun lagi. kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. d.2. Tingkat kesadaran ini ditandai oleh mudahnya penderita dibangunkan.1. penderita tidak dapat dibangunkan secara sempurna. pupil) masih baik. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital Yang diperiksa ialah tekanan darah. Dengan rangsang nyeri. Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. mampu memberikan jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri. tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Untuk menggikuti tingkat perkembangan kesadaran dapat digunakan skala koma Glasgow seperti gambar di bawah ini. Somnolen disebut juga sebagai letargi atau obtundasi. a. Koma Tidak ada gerakan spontan. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsang nyeri. tingkat kesadaran dapat dibagi atas . Penderita sama sekali tidak dapat dibangunkan. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya. koma. Ia masih dapat mengikuti suruhan yang singkat. Sopor Kantuk yang dalam. Somnolen Keadaan mengantuk. Refleks (kornea. Koma ringan Pada keadaan ini. c. frekuensi nadi. somnolen. b. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. koma ringan. Reaksi terhadap rangsang nyeri tidak terorganisir. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari penderita. Penderita masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat. sopor. kesadaran yang normal (kompos mentis). frekuensi nafas dan suhu tubuh.

• • Besar dan bentuk abdomen. elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi). warnanya (ikterus. striae (cushing syndrome). Pembesaran organ atau tumor.1 Skala koma glasgow Inspeksi Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus juga tampak (darm-contour). splenomegali. Palpasi . atau scaphoid (cekung). pucat. • Pulsasi. pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal). lembab (asites). menonjol. coklat. Simetrisitas. pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilikal. jaringan parut (tentukan lokasinya). dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa. kehitaman). dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik. kering (dehidrasi).Gamar 1. Yang perlu diperhatikan adalah: • Keadaan kulit. ikterus obstruktif). hepatomegali. • • Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas. perhatikan adanya benjolan local (hernia. rata. • Peristaltik. gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus. hidronefrosis).

maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah. berisi cairan). pekak hati akan menghilang. kecuali di daerah hati (redup. menentukan besarnya hati. Nyeri pada abdomen ada yang sifatnya visceral (hilang timbul. serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. organ yang padat). ada tidaknya asites. sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati. tidak ada pembesaran). Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Organ berongga seperti lambung. ginjal. atau kista (ditekan mudah berpindah seperti balon berisi air. Tangan kanan ditempatkan pada lateral otot rektus kanan.2 • Palpasi hati Palpasi hepar dilakukan dengan meletakkan tangan kiri dibelakang penderita menyangga costa ke-11/12 sejajar. masa dengan ujung jari bersamaan dengan lembut semua kuadran. Pasien diminta bernafas dalam sehingga terasa sentuhan hepar bergerak ke bawah (tangan dikendorkan agar hepar meluncur dibawah jari sehingga meraba permukaan yang lunak tidak berbenjol. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara). tebal (kalau tidak ada peralatan. Palpasi adanya masa. lunak (seperti pangkal pertemuan jempol dan telunjuk). Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. limfa. minta penderita rileks. lebar. jari di batas bawah hepar dan tekan lembut ke arah atas. Hepar didorong ke depan. Auskultasi . limpa. nyeri tekan lepas atau tidak (prinsipnya dilakukan pada area yang diduga tidak nyeri/normal dulu). Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominant. adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus. pankreas. dilihat konsistensinya apakah padat keras (seperti tulang). Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen. Kelainan pada dinding ditandai dengan hilangnya nyeri apabila ada ketegangan perut jika masih nyeri berarti ada kelainan dari dalam dinding perut. Adanya tumor pada abdomen diperkirakan dari 9 regio anatominya. Ukuran massa ditentukan dengan pasti yakni dengan meteran/jangka sorong mengenai panjang. adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista). Perkusi Perkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan. ada yang somatik (bisa ditunjuk dengan jelas). Pada perforasi usus. tepi tegas/tajam. usus. bisa dengan ukuran jari penderita). padat kenyal (seperti meraba hidung).Palpasi superficial dilakukan untuk melihat ada ketegangan otot. kandung kemih berbunyi timpani. diraba dari depan dengan tangan kanan (bimanual palpasi). tidak bisa ditunjuk dengan jelas).

Bila terjadi peritonitis.1. lalu dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Batas bawah kadar . Bunyi usus akan terdengar tidak teratur seperti orang berkumur dengan frekwensi 5 – 35 kali permenit. Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit. Pada ketinggian 2000 m terjadi peningkatan kadar Hb sebanyak 1 g/dL dan ketinggian 3000 m. frekuensinya lambat bahkan sampai hilang. Suara peristaltik usus terjadi akibat adanya gerakan cairan dan udara dalam usus. Pemeriksaan auskultasi abdomen berguna untuk memperkirakan gerakan usus dan adanya gangguan pembuluh darah.Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltik usus dan bising pembuluh darah. Laboratorium Kadar Hemoglobin Darah Kadar Hb apda bayi lebih tinngi dibandingkan orang dewasa dan kadar Hb pria lebih tinggi daripada wanita. • Mendengarkan suara peristaltik usus Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen. Kadar Hb penduduk yang berdomisili pada dataran tinggi lebih tinggi daripada dataran rendah. Dilakukan selama 2-3 menit. Bila obstruksi makin berat. apabila terdapat desiran mungkin suatu aneurisma.2. terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium. peristaltik usus akan melemah. peristaltic lebih tinggi seperti dentingan keeping uang logam (metallic. Sekaranga pemeriksaan Hb mulai diganti dengan metode Sodium Lauril Sulfat (SLS) dengan menggunakan alat otomatik.3 2. Pemeriksaan Penunjang 2. Hasil pemeriksaan kadar Hb dengan metode sian met Hb cukup memuaskan tapi saat ini metode ini mulai ditinggalkan karena mengandung sianida yang bersifat toksik bagi petugas laboratorium dan mencemari lingkungan. Pada hipertensi portal.sound). abdomen tampak membesar dan tegang.2. Pemeriksaan kadar Hb secara sahli akan lebih rendah bila dibandingkan dengan pemeriksaan dengan metode sian met Hb. kadar Hb . Normal tidak terdengar bunyi vaskuler disekitar aorta. iliaka atau femoral. • Mendengarkan suara pembuluh darah Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolik.meningkat 2 g/dL. peristaltik meningkat disertai rasa sakit (borborigmi). terdengar bising sistolik (systolic bruit). Misalnya pada aneurisma aorta. Bila terdapat obstruksi usus. Kadar Hb Pria terendah 13 g/dL sedangkan kadar Hb pada wanita 12 g/dL. ginjal. atau kedua fase.

SGPT dan bilirubin. Peningkatan kadar bilirubin menunjukkan adanya penyakit hati atau saluran empedu. Sintesisnya terjadi di hati.5 g/dL Hematokrit 42-53% 38-46% 31-43% Jumlah eritrosit 4. Bilirubin dikeluarkan melalui empedu dan dibuang melalui feses.6-6. Albumin dan globulin Kadar albumin yang rendah mencerminkan kemampuan sel hati yang berkurang.4 juta/uL 3.2-5.8-5. Kadar globulin konsentrasinya akan meningkat pada sirosis.anak 14-17 g/dL 12-15 g/dL 10-14. Batas bawah kadar Hb untuk penduduk Indonesia Kadar Hb Pria dewasa Wanita dewasa Anak.Hb untuk pemduduk indonesia mengacu pada surat kepurtusan menteri kesehatan no.736/Menkes/XI/189. Jumlah Eritrosit Normal Kadar SGOT. Peningkatan kadar SGOT dan SGPT dapat menunjukkan adanya kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan. dan kadarnya akan menurun sesuai dengan perburukan sirosis. Hematokrit. Kadar Hb.2 juta/uL 4. Kadar ureum dan keratinin .8 juta/uL Tabel 2. Usia Pra Sekolah Usia Sekolah Wanita Hamil 26 bulan Post Partum Wanita Dewasa Pria Dewasa Kadar Hb 11 g/dL 12 g/dL 11 g/dL 12 g/dL 12 g/dL 13 g/dL Tabel 1.

kemungkinan perdarahan berasal dari saluran cerna bagian atas (SCBA). Normal perbandingannya adalah 20.4 Azotemia sering terjadi pada perdarahan saluran cerna. Nilai puncak biasanya dicapai dalam 24-48 jam sejak terjadinya perdarahan.is pemeriksaan yang sama sekali non invasif yang memerlukan hanya 10 menit sampai 15 menit untuk mencapai seluruh layar abdomen. Bila di atas 35. kemungkinan perdarahan saluran cerna bagian bawah (SCBB). yang keduanya memerlukan laparotomi segera. lamanya perdarahan. Nilai di atas 70 mg/100 ml mengakibatkan keadaan fatal. toraks anteroposterior (AP) dan pelvis adalah pemeriksaan yang harus dilakukan penderita multitrauma. 2. BUN sampai setinggi 30mg/100ml mempunyai prognosis yang baik. BUN mempunyai kepentingan untuk menentukan prognosis. BUN = 2. Di bawah 35.Perbandingan BUN (Blood Urea Nitrogen) dan kreatinin serum dapat dipakai untuk memperkirakan asal perdarahan. Radiologi Pemeriksaan rontgen Servikal lateral. Kerugian lebih lanjut dari penggunaan ultrasonografi adalah sering . Bila tegak dikontraindikasikan karena nyeri atau patah tulang punggung. Azotemia terjadi tidak tergantung pada penyebab perdarahan. Pada penderita yang hemodinamik normal maka pemeriksaan ronsen abdomen dalam keadaan terlentang dan berdiri (sambil melindungi tulang punggung) mungkin nerguna untuk mengetahui udara ektra luminal di retroperitoneum atau udara bebas dibawah diafragma. dan derajat integritas fungsi ginjal. Derajat azotemia tergantung pada jumlah darah yang hilang.3.14 x nilai ureum darah. Hilangnya bayangan pinggang (psoas shadow) juga menandakan adanya cedera retroperitoneum. 50 – 70 mg/100 ml mempunyai mortalitas setinggi 33%. Tetapi pengalaman dengan ultrasonografi setelah trauma tumpul abdomen cukup terbatas serta memerlukan adanya teknikus dan interpreter yang berpengalaman. dapat digunakan foto samping sambil tidur ( left lateral decubitus) untuk mengetahui udara bebas intraperitoneal Ultrasonografi Beberapa dokter telah menganjurkan penggunaan ultra sonografi untuk menyelidiki abdomen bagi trauma abdomen. tetapi sensitivitas seluruh metode ini belum diketahui pada saat sekarang.

tujuan dari DPL adalah untuk mengetahui lokasi perdarahan intra abdomen. Diagnostic Perotoneal Lavage Dilakukan pada trauma abdomen perdarahan intra abdomen. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. cedera otak) . Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut. Banyak ahli di amerika serikat mengusulkan bahwa CT menggantikan bilas peritoneal sebagai metode terpilih untuk mengevaluasi trauma tumpul abdomen. hati. ginjal. antara lain: • • • • Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya Trauma pada bagian bawah dari dari dada Hipotensi. kerjakan laparatomi (gold standard).perdarahan abdomen bisa diklasifikasikan ringan atau sedang. Indikasi untuk melakukan DPL.dan penemuan ini bisa dikorelasikan dengan penilaian klinik. hematokrit turun tanpa alasan yang jelas Pasien cidera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat. pankreas. bila menggunakan CT maka bilas peritoneal tidak boleh dilakukan. Hematoma kecil cenderung terkumpul dekat tempat asal. Kerugiaan utama pada scanning CT untuk mendeteksi cedera intraabdomen berhubungan dengan fasilitas dan kemampuan lembaga. alkohol. duadenum. Keuntungan utama adalah jumlah perdarahan intraabdomen dapat dinilai secara kunatitatif dan pasien dengan laserasi organ padat ringan tetapi dengan sedikit hemoperitoneum atau tidak dapat dilakukan bedah. diagfragma.adanya gas usus berlebih setelah trauma abdomen yang menggangu pemeriksaan sonografi. Harus ditekankan bahwa. dan retroperitoneal.2 Tomografi dekomputerisasi Selama setengah desawarsa yang lalu. sedangkan perdarahan intraperitoneal bebas sering ditunjukan oleh akumulasi darah di dalam parit (gutter) pericolica dan pelvis. Tomografi dekomputerisasi sangat spesifik untuk cedera pada limpa. Scanner tubuh diperlukan dalam tempat yang sangat dekat dengan kamar gawat darurat serta interpretasi ahli atas bayangan CT diperlukan berdasarkan 24 jam sehari. gambaran Ct telah lebih luas digunakan untuk penyaringan abdomen setelah trauma tumpul. Bila ada keraguan.

Apabila telah diketahui hasil Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL). dan menyebabkan kontusio pada puncak lobus kanan hepar.• • Pasien cedera abdominalis dan cidera bmedula spinalis (sumsum tulang belakang) Patah tulang pelvis Pemeriksaan DPL dilakukan melalui anus. Perdarahan dinyatakan positif bila sel darah merah lebih dari 100. jika terdapt darah segar dalm BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi (trauma tumpul) mengenai kolon atau usus besar. Trauma deselerasi menghasilkan kekuatan yang dapat merobek lobus hepar satu sama lain dan sering melibatkan vena cava inferior dan vena-vena hepatik • Trauma Tajam . dan apabila darah hitam terdapat pada BAB atau sekitar anus berarti trauma non-penetrasi (trauma tumpul) usus halus atau lambung. empedu atau amilase dalam jumlah yang cukup juga merupakan indikasi untuk cedera abdomen. Tindakan selanjutnya akan dilakukan prosedur laparotomi Kontra indikasi dilakukan Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL).000 sel/mm³ dari 500 sel/mm³. Diagnosis Kerja Syok Hipovolemik et causa Trauma Hepar Berdasarkan mekanisme traumanya. trauma hepar terbagi menjadi : • Trauma Tumpul Mekanisme yang menimbulkan kerusakan hepar pada trauma tumpul adalah efek kompresi dan deselerasi. Trauma kompresi pada hemithorax kanan dapat menjalar melalui diafragma. antara lain: • • • • Hamil Pernah operasi abdominal Operator tidak berpengalaman Bila hasilnya tidak akan merubah penata-laksanaan 3. seperti adanya darah pada rektum atau pada saat BAB.

Berat ringannya kerusakan tergantung pada jenis trauma. Bila kapsul tetap utuh. tekanan vena sentral yang rendah. dan adanya distensi abdomen memberikan gambaran suatu trauma hepar. Gambaran trauma hepar mungkin dapat seperti: • • • • Subcapsular atau intrahepatic hematom Laserasi Kerusakan pembuluh darah hepar Perlukaan saluran empedu. Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu hipotensi. tanda dan gejalanya dikaitkan dengan tanda-tanda syok. Jenis trauma ini menyebabkan efek pecahan pada penampang sagital hepar dan kadang-kadang terjadi pemisahan fragmen hepar.4. maka lobus kanan hepar lebih sering terkena cidera daripada lobus kiri. . pengumpulan darah di antara kapsul dan parenkim biasanya ditemukan pada permukaan superior dari hepar. umumnya mengakibatkan pecahan bentuk stellata pada permukaan superior dari lobus kanan. takikardi. Tanda-tanda iritasi peritoneum akibat peritonitis biliar dari kebocoran saluran empedu. Trauma tidak langsung atau contra coup biasanya disebabkan oleh jatuh dari ketinggian dengan bagian kaki atau bokong yang pertama kali mendarat. dan arah trauma. Saat ruptur hepar mengenai kapsul Glissoni maka akan terjadi ekstravasasi darah dan empedu ke dalam cavum peritoneal. juga disertai mual dan muntah. Sebagian besar trauma hepar juga mengenai segmen hepar VI.Trauma tajam terjadi akibat tusukan senjata tajam atau oleh peluru. Tipe trauma ini dipercaya merupakan akibat dari kompresi terhadap tulang costa. kekuatan. Manifestasi Klinis Manifestasi klinisnya tergantung dari tipe kerusakannya. penurunan jumlah urine.5 Adanya trauma tumpul langsung pada daerah kanan atas abdomen atau di daerah kanan bawah dari tulang costa. Pada ruptur kapsul Glissoni. iritasi peritoneum dan nyeri pada epigastrium kanan. penyebab. Karena ukurannya yang relatif lebih besar dan letaknya lebih dekat pada tulang costa. 4. Ruptur sentral meliputi kerusakan parenkim hepar. dan VIII. selain nyeri dan adanya rigiditas abdomen. tulang belakang atau dinding posterior abdomen.VII.

intraseluler dan menurunkan produks urin. Etiologi Trauma Hepar • • • • Kecelakaan Jatuh Benturan Dengan adanya kompresi berat hepar bisa tertekan ke tulang belakang Syok Hipovolemik Penyebab syok hipovolemik: 1. hiperventilasi. pembuluh vena yang kolaps. Respons fisiologi yang normal adalah mempertahankan perfusi terhadap otak dan jantung sambil memperbaiki volume darah dalam sirkulasi dengan efektif.Gejala dan tanda yang disebabkan oleh syok hipovolemik akibat nonperdarahan serta perdarahan adalah sama meski ada sedikit perbedaan dalam kecepatan timbulnya syok. Perdarahan:  Hematom subkapsular hati . pelepasan hormon stres serta ekpansi besar guna pengisian volume darah dengan menggunakan cairan interstitial. 5.7 Berikut adalah gejala klinik yang tampak menurut derajat syoknya. Disini akan terjadi peningkatan kerja simpatis.

atau hematemesis dari tukak lambung. Kehilangan cairan ekstraseluler      Muntah Dehidrasi Diare Terapi diuretic yang sangat agresif Diabetes Insipidus 6. Epidemiologi Syok hipovolemik adalah suatu keadaan dimana terjadi kehilangan cairan tubuh dengan cepat sehingga dapat mengakibatkan multiple organ failure. seperti tukak duodenum. patah tulang pelvis. Perdarahan yang terlihat. misalnya perdarahan dari saluran cerna. Syok hipovolemik juga dapat terjadi karena kehilangan cairan tubuh yang lain.   Aneurisma aorta pecah Perdarahan Gastrointestinal Perlukaan berganda 2. kehamilan di luar uterus.7 Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien trauma. Curah jantung yang rendah dibawah normal akan menimbulkan beberapa kejadian pada beberapa organ: . Perdarahan yang tidak terlihat.5. perdarahan dari luka. cedera limpa. Pada luka bakar yang luas. Hal inilah yang menimbulkan penurunan curah jantung. Patofisiologi Pendarahan akan menurunkan tekanan pengisian pembuluh darah rata-rata dan menurunkan aliran darah balik ke jantung. dan patah tulang. Kehilangan plasma    Luka bakar luas Pancreatitis Deskuamasi kulit 3. baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak terlihat. 7.

Mikrosirkulasi Ketika curah jantung turun. maka aliran ke organ akan turun drastis dan fungsi sel di semua organ akan terganggu. adalah hasil kali volume sekuncup dan frekuensi jantung.9 . tahanan vaskular sistemik akan berusaha untuk meningkatkan tekanan sistemik guna menyediakan perfusi yang cukup bagi jantung dan otak melebihi jaringan lain seperti otot. hipotensi dan hipoksia dapat dideteksi oleh baroreseptor dan kemoreseptor tubuh. maka terjadi peningkatan absorpsi endotoksin yang dilepaskan oleh bakteri gram negative yang mati di dalam usus. Curah jantung.Suatu peningkatan frekuensi jantung sangat bermanfaat namun memiliki keterbatasan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan curah jantung. yang pada akhirnya menurunkan volume sekuncup.8. Ketika tekanan arterial rata-rata (mean arterial pressure/MAP) jatuh hingga < 60 mmHg. Sehingga keduanya sangat bergantung akan ketersediaan oksigen dan nutrisi tetapi sangat rentan bila terjadi iskemia yang berat untuk waktu yang melebihi kemampuan toleransi jantung dan otak.6 Kardiovaskular Tiga variable seperti . tahanan terhadap tekanan (ejeksi) ventrikel dan kontraktilitas miokard. bekerja keras dalam menontrol volume sekucup. Gastrointestinal Akibat aliran darah yang menurun ke jaringan intestinal.Curah jantung. Neuroendokrin Hipovolemia. Kedua reseptor tadi berperan dalam respons autonomi tubuh yang mengatur perfusi serta substrak lain. pengisian atrium. kulit dan khususnya traktus gastrointestinal. Kebutuhan energi untuk pelaksanaan metabolisme di jantung dan otak sangat tinggi tetapi kedua sel organ itu tidak mampu menyimpan cadangan energy. Hal ini memicu pelebaran pembuluh darah serta peningkatan metabolisme dan bukan memperbaiki nutrisi sel dan menyebabkan depresi jantung.Hipovolemia menyebabkan penurunan pengisian ventrikel. penentu utama dalam perfusi jaringan.

Lakukan packing pada masing-masing quadrant abdomen untuk hemostasis dan memberikan kesempatan kepada anaestesi untuk melakukan resusitasi intra operatif.Ginjal Gagal ginjal akut adalah salah satu komplikasi dari syok dan hipoperfusi. yang bersama-sama dengan aldosterone dan vasopressin bertanggung jawab terhadap menurunnya produksi urin.8 Memobilisasi hepar . Trauma Hepar Penanggulangan Trauma hepar Non Operatif:  Trauma hepar dengan hemodinamik stabil dan tidak ada tanda pendarahan serta defans muscular dilakukan perawatan non-operatif dengan observasi ketat selama minimal 2 x 24 jam. darah dan bekuan darah segera dievakuasi. Pada trauma hepar yang berat lakukan kontrol perdarahan dengan menekan secara langsung pada hepar dan packing dapat ditinggalkan dalam abdomen dan diangkat sesudah 48-72 jam. Penatalaksanaan 8. 8. sepsis dan pemberian obat yang nefrotoksik seperti aminoglikosida dan media kontras angiografi. tahanan arteriol aferen meningkat untuk mengurangi laju filtrasi glomerulus. frekuensi terjadinya sangat jarang karena cepatnya pemberian cairan pengganti.6. Insisi midline.1.  Harus dilakukan pemeriksaan CT Scan serial. Penanggulangan Trauma hepar secara operatif:   Desinfeksi lapangan operasi dengan antiseptik → dipersempit dengan linen steril. USG maupun Hb serial.  Perdarahan yang sudah berhenti begitu cavum abdomen dibuka tidak perlu dilakukan tindakan penjahitan.Secara fisiologi.Pada saat aliran darah di ginjal berkurang. ginjal mengatasi hipoperfusi dengan mempertahankan garam dan air.Yang banyak terjadi kini adalah nekrosis tubular akut akibat interaksi antara syok.

Penjahitan Hepar  Hepar dapat dijahit dengan chromic 2. Reseksi Hepar  Reseksi Hepar pada trauma hepar sangat jarang dilakukan. Bila ada dead space biarkan luka terbuka dan dilakukan omental patch.    Lakukan Pringle Maneuver dan parencym hepar diinsisi dengan electrocauter.0 dengan menggunakan jarum hepar yang panjang dan ini direkomendasikan pada cedera parenchym hepar yang berat. . aliran darah ke hepar dapat dihentikan dengan melakukan manuver pringle yakni dengan menutup triad portal di ligamentum hepatoduodenale dengan vascular clamp dan dibuka setiap 15-20 menit pada foramen winslow. Pringle Maneuver  Untuk mencegah perdarahan hebat pada trauma hepar dan memudahkan tindakan pada parenchym hepar.  Untuk mobilisasi lebih luas dapat dipotong ligamentum triangular sinistra dan dekstra. Reseksi hepar diindikasikan pada trauma hepar dengan kerusakan parenchym hepar yang sangat berat.8.10 Hepatoraphy dan finger fracture tehnik  Perdarahan persisten dari trauma hepar dapat dilakukan hepatoraphy untuk mengkontrol perdarahan.  Jahitan secara matrass menyilang permukaan hepar yang cedera dan jangan terlalu tegang karena dapat merobek hepar. Pada trauma hepar yang tidak jelas sumber perdarahan hepar dapat dimobilisasi dengan memotong ligamentum inferior dan anterior dilanjutkan dengan memotong ligamentum falciforme. Hindarkan cedera dari ductus hepaticus kanan dan kiri. Pembuluh darah dan bile duct diligasi. Lepaskan klem perlahan lahan dan apabila masih ada perdarahan ligasi kembali.  Permukaan luka dijahit tanpa meninggalkan dead space. perdarahan yang sangat sulit diatasi dengan berbagai maneuver dan hpotensi.

trauma hepar bilobar dengan perdarahan yang tidak dapat dikontrol. Diagnosis berdasarkan bukti adanya iskemia jaringan. 4. 2. Packing dapat berupa kasa tebal yang luas diletakkan langsung pada permukaan anterior dan posterior hepar dan cavum abdomen ditutup. Cairan yang diberikan adalah garam isotonus yang ditetes dengan cepat (hati-hati terhadap asidosis hiperkloremia) atau dengan cairan garam seimbang seperti Ringer’s laktat (RL) dengan jarum infus yang terbesar. Prinisp dasar tatalaksana syok yang disebabkan oleh perdarahan adalah: 1. Memfasilitasi hemostasis dan mempertahankan komposisi darah. Kerusakan bilateral dari hepar dapat dilakukan total reseksi dan dilakukan hepar transplantasi. subkapsular hematom yang meluas dan rupture dan hypothermia. Cavum abdomen dicuci dan dipasang drain intra peritonial.5 8. Etiologi hipovolemia yang paling sering adalah perdarahan.11 Ketika syok hipovolemik diketahui maka tindakan yang harus dilakukan adalah menempatkan pasien dalam posisi kaki lebih tinggi. Tak ada bukti medis tentang kelebihan pemberian cairan koloid pada . di mana situasi ini disebut syok. Syok Hipovolemik Hipovolemia adalah keadaan volume sirkulasi yang berkurang. Volume sirkulasi yang berkurang ini dapat menyebabkan menurunnya curah jantung hingga menyebabkan perfusi jaringan dan sel menurun menjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme di tingkat seluler. Prehepatic Packing Tehnik prehepatic packing diindikasikan pada:    trauma hepar dengan coagulopathy akibat tansfusi.4. 3. Pengangkatan packing dilakukan 24-48 jam kemudian. Penghentian perdarahan secara anatomis dengan cepat dan pemantauan perdarahan.2. Oksigenasi jaringan dengan memperhatikan jenis cairan dan hipotermia. menjaga jalur pernafasan dan diberikan resusitasi cairan dengan cepat lewat akses intravena atau cara lain yang memungkinkan seperti pemasangan kateter CVP (central venous pressure) atau jalur intra arterial.

syok hipovolemik.11 Pengukuran pH. . maka pertimbangan harus diberikan ke pengobatan pasien bagi gagal ginjal yang telah terjadi dengan dialisis peritoneum atau ginjal Tekanan darah lebih baik dipantau dengan kanulasi arteri radialis. Bila kurang dari 30 ml per jam. Guna mengetahui cairan sudah memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan tekanan pengisian ventrikel dapat dilakukan pemeriksaan tekanan baji paru dengan menggunakan kateter Swan-Ganz. Dosis antasid yang diperlukan tergantung pada pengukuran pH dan PCO2 serta kekurangannya. Jenis darah transfusi tergantung kebutuhan. dukungan inotropik dengan dopamin. Pemberian 2-4 L dalam 20-30 menit diharapkan dapat mengembalikan keadaan hemodinamik. berarti perdarahan atau kehilangan cairan belum teratasi. berhubungan dengan tingkat PO2 kurang dari 60 torr yang tetap tidak berubah setelah pemberian oksigen 100%. dan PO2 diteliti karena dapat menunjukkan jumlah oksigen yang diterima sel. atelektasis konfluen dapat timbul pada kedua daerah paru. Pada keadaaan yang berat atau hipovolemia yang berkepanjangan. Pemberian norepinefrin infus tidak banyak memberikan manfaat pada hipovolemik. Bila ini juga tidak bermanfaat. Ini dapat menimbulkan sindroma gawat pernapasan dewasa. Bila tidak ada perbaikan.12 Kehilangan darah yang berlanjut dengan kadar hemoglobin ≤ 10 g/dL perlu penggantian darah dengan transfusi. Bila hemodinamik tetap tak stabil. PO2 juga harus dipantau dengan cermat karena setelah resusitasi. Pemberian nalokson bolus 30 mcg/kg dalam 3 -5 menit dilanjutkan 60 mcg/kg dalam 1 jam dalam dekstros 5% dapat membantu meningkatkan MAP. bila sangat darurat maka dapat digunakan Packed red cels tipe darah yang sesuai atau O-negatif. PCO2. Keuntungan lain kanulasi arteri adalah kemampuannya mengukur pH dan gas darah. pemberian cairan harus ditambah dan diberikan manitol 25 g intravena. Alkalosis respirasi dapat timbul pada beberapa pasien untuk mengimbangi asidosis. Pembentukan asam berlebihan karena metabolisme anaerobik dapat diperbaiki dnegna penggantian volume dan natrium bikarbonat. Disarankan agar darah yang digunakan telah menjalani tes cross-match (uji silang). Fungsi ginjal dipantau dengan kateter yang dibiarkan terpasang dan urin yang dikeluarkan harus 20-70 ml per jam. vasopressin atau dobutamin dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan kekuatan ventrikel yang cukup setelah volume darah dicukupi dahulu. furosemid ditambahkan dan diberikan terus menerus atau dibagi mejadi beberapa dosis samapi mencapai 2000 mg.

fistula bilier. koagulopati post operatif atau karena keduanya. Tetapi pada pasien yang dibawa ke bagian gawat darurat dengan penurunan ekanan darah yang besar. Pembuluh darah yang tampak mengalami perdarahan harus secara langsung di visualisasi dan ligasi. gejala-gejala dan hasil dapat bervariasi tergantung pada: • Jumlah volume darah yang hilang .8. Komplikasi Sebagian besar pasien dengan trauma hepar berat mempunyai komplikasi. Kebutuhan oksigen pasien harus terpenuhi dan bila dibutuhkan intubasi dapat dikerjakan.9 10. Larutan fenilefrin hidroklorida (2 mg per 100 ml) dapat diberikan intravena agar tekanan darah sistolik tetap 80 torr. khususnya jika tindakan operasi dilakukan. Hal ini terjadi mungkin karena hemostasis yang tidak adekuat. Kerusakan organ akhir jarang terjadi dibandingkan dengan syok septik atau traumatik. Namun. tekanan perfusi organ vital harus dipertahankan sampai volume yang diberikan cukup untuk resusitasi. Jika pasien tidak dalam keadaan hipotermi. meskipun kerusakan lebih luas diperlukan untuk eksplorasi yang adekuat.Vasokonstriktor norepinefrin dan metaraminol bitartrat dikontraindikasikan dalam terapi syok hipovolemik karena terlalu mengkonstriksi arteriola perifer sehingga menambah metabolisme anaerobik serta asidosis. maka tindakan eksplorasi ulang haruslah dilaksanakan. Knudson dkk. koagulopati. Vasodilator fentolamin dalam dosis 5 mg per jam bermanfaat untuk pasien yang tetap konstriksi berlebihan dengan kulit yang dingin dan lembab serta pengeluaran urin berkurang walaupun telah dilakukan resusitasi cairan yang tepat. Perdarahan post operasi terjadi sebanyak < 10% pasien. Prognosis Syok Hipovolemik selalu merupakan darurat medis. hemobilia. Dapat juga diberikan dopamin 10-20ug per kg per jam. 9. dan pembentukan abses.12 Setelah resusitasi cairan. mencatat komplikasi terjadi pada 52% pasien trauma hepar Grade IV-V merupaka hasil dari trauma tajam.11. koagulopati atau asidosis. saluran pernapasan harus dijaga. Komplikasi signifikan setelah trauma hati termasuk adalah perdarahan post operatif.

493-8. Syok hipovolemik.219-25. Sirosis hepatis dengan hipertensi portal dan pecahnya varises esofagus. Sayoeti Y. dapat menyebabkan kematian sehingga memerlukan perhatian medis segera.h.h. Volume I edisi ke-6.20-1. United States of America: Lippincott Williams & Wilkins. Penatalaksanaan perdarahan varises esofagus. Jakarta: EGC. Konsep klinis proses-proses penyakit. Bickley LS. seperti diabetes dan jantung. 2007.h. 4. 2. Dalam: Patofisiologi. 2007. 2010. Bates.• • • Tingkat kehilangan darah Cedera yang menyebabkan kehilangan Mendasari pengobatan kondisi kronis. Jilid I edisi ke-4.h. kandung empedu dan pankreas. 2007. Lumbantobing SM.434-69. Jakarta: pusat penerbitan departemen IPD FKUI.h. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas: Majalah Kedokteran Andalas. dan penyakit ginjal Secara umum. Jilid I edisi ke-4. Jakarta: pusat penerbitan departemen IPD FKUI. Setiyohadi B. Jakarta: EGC. Jilid I edisi ke-4. Orang tua yang mengalami syok lebih cenderung memiliki hasil yang buruk. 8.. Konsep klinis proses-proses penyakit. Volume I edisi ke-6. Hernofialdi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009.h. Dalam kasus-kasus syok hipovolemik berat. Jilid I edisi ke4. Guide to physical examination and history taking. Gangguan hati. Szilagyi PG. . paru-paru.51-55. 6. 2005. Dalam: Patofisiologi. Anamnesis. Pemeriksaan abdomen. Wijaya IP. Jakarta: pusat penerbitan departemen IPD FKUI. 3. Kusumobroto H. Dalam: buku ajar ilmu penyakit dalam. 9. Gangguan lambung dan duodenum.7 Daftar Pustaka 1.h. 2007. Jakarta: pusat penerbitan departemen IPD FKUI. 7. 10th ed. Simadibrata M. Dalam: buku ajar ilmu penyakit dalam. 5. Dalam: buku ajar ilmu penyakit dalam. Neurologi klinik. urogenital dan anorektal. 2007. pasien dengan derajat syok yang lebih ringan cenderung lebih baik dibandingkan dengan syok yang lebih berat. Pemeriksaan fisik dan mental.180-1. Lindseth GN. 2005. Dalam: buku ajar ilmu penyakit dalam.423-7. Lindseth GN. Jurnalis YD.p.7-10.

Cairan kristaloid. Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia: PP IDSAI. Dalam: Panduan Tatalaksana Terapi Cairan Perioperatif. Pengelolaan perdarahan saluran cerna bagian atas. Rahardjo E. 2010. J Kedokter Trisakti 2003. Adi P.289-92. Nurman A. Mulyono I. Dalam: buku ajar ilmu penyakit dalam. 2007.108-16 12. Harijanto E. Jilid I edisi ke-4. 11. Ligasi varises esofagus dengan gelang karet perendoskopi pada penderita sirosis hepatis dewasa. Jakarta: pusat penerbitan departemen IPD FKUI.10. .h.h.22(1):12-6.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->