http://www.scribd.com/doc/37326223/TEORI-SEMIOTIK#download http://junaedi2008.blogspot.

com/2009/01/teori-semiotik.html TEORI SEMIOTIK Sistem Tanda (Semiotik): Semiotik (semiotic) adalah teori tentang pemberian ‘tanda’. Secara garis besar semiotik digolongkan menjadi tiga konsep dasar, yaitu semiotik pragmatik (semiotic pragmatic), semiotik sintatik (semiotic syntactic), dan semiotik semantik (semiotic semantic) (Wikipedia,2007). Semiotik Semantik (semiotic semantic): Semiotik Sematik menguraikan tentang pengertian suatu tanda sesuai dengan ‘arti’ yang disampaikan. Dalam arsitektur semiotik semantik merupakan tinjauan tentang sistem tanda yang dapat sesuai dengan arti yang disampaikan. Hasil karya arsitektur merupakan perwujudan makna yang ingin disampaikan oleh perancangnya yang disampaikan melalui ekspresi wujudnya. Wujud tersebut akan dimaknai kembali sebagai suatu hasil persepsi oleh pengamatnya. Perwujudan makna suatu rancangan dapat dikatakan berhasil jika makna atau ‘arti’ yang ingin disampaikan oleh perancang melalui rancangannya dapat dipahami dan diterima secara tepat oleh pengamatnya, jika ekspresi yang ingin disampaikan perancangnya sama dengan persepsi pengamatnya. Roland Barthes Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006). Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifiersignified yang diusung Saussure. Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos. 1

tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin. Barangkali kita masih teringat dengan pengalaman masa kecil (entah sekarang masih ada atau sudah lenyap) di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramairamai membeli obatnya. tidak merujuk pada realitas yang sudah ada. pertama sekali. seketika pria tersebut memiliki energi yang luar biasa. Baudrillard Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Dengan demikian. sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. tentu hanya ‘mengada-ada’. fondasi. mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat luar biasa. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. cerita iklan dibuat ‘luar biasa’ agar konsumen percaya. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek. tepatnya tiruan dari tiruan. menurut Derrida. Konsep Dekonstruksi –yang dimulai dengan konsep demistifikasi. 2006). yang semula pusat. Konsekuensinya. 1994 dalam Sobur. dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur. Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak hal. adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. J. prinsip. mampu mengerek sebuah truk. Ke-gothic-annya bisa merefleksikan ideologi abad 2 . Pada tahap ini. Dalam teori Grammatology. karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Subangun. Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni. Derrida Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksi-nya. “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos. diplesetkan sehingga berada di pinggir. adalah usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified).Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Namun. 2006: 100). kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Dekonstruksi. Dekonstruksi. tidak lagi fondasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak mempunyai asal-usul yang jelas. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas. kata Baudrillard. Karena. Sebuah iklan menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin. Segala sesuatu merupakan tiruan. dan tidak lagi prinsip.

Gereja tersebut menawarkan kekhidmatan yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk. 3 . Menurut Littlejohn. bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai ‘fokus ke atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Kode-s bisa bersifat “denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah). dan sebagainya. dan ingin memusatkan perhatian pada modifikasi sistem tanda. melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi. Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar. Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan. dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”. sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya temporer. Eco kemudian mengubah konsep tanda menjadi konsep fungsi tanda.Di lain pihak.Berbeda dari Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas. sehingga maknamakna dan ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer. baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi. terus-menerus tanpa henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas. Umberto Eco Stephen W. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa. di samping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini. misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau mistis di altar gereja. Namun. Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan kemurnian dan kemuliaan ajarannya. Seseorang bisa menafsirkan bahwa ajaran yang dihantarkan dalam gereja tersebut cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari moral-moral keagamaan yang seharusnya. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya. ‘berpengalaman’.pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan. semata-mata demi Tuhan. Tanpa kode. 2006). Penggunaan istilah ini hampir serupa dengan karya Saussure. dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai sesuai struktur bahasa. teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teoriteori semiotika sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur. tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun. teruji zaman. namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui teknik dekonstruksi. atau “konotatif” (bila tampak kode lain dalam pernyataan yang sama). Derrida lebih melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Namun.

Kemudian dalam menganalisis makna tanda dapat dilakukan dengan menggabungkan hasil analisis tipologi tanda dan struktur tanda. mekanisme atau struktur tanda).Analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi (kumpulan tanda yang membentuk teks). struktur. Dalam menganalisis dengan metode semiotika. seberapa jauh tujuannya. seperti apa. ideologi. Adapun beberapa contoh aplikasi semiotika di antara sekian banyak pilihan kajian semiotika dalam domain komunikasi antara lain : 1. Konotasi yang berbeda bergantung pada posisi sosial pembaca dan faktor lain yang mempengaruhi cara berpikir dan menafsirkan teks. Prinsip dasar analisis teks adalah polisemi (keanekaragaman makna sebuah penanda). Untuk teknik – teknik analisnya sendiri. dan makna) tetapi juga termasuk pemilihan tanda yang dikombinasi dalam kelompok atau pola yang lebih besar (teks) yang mengandung representasi sikap. Dalam pemahaman yang sama. karena produk desain tersebut merupakan kombinasi elemen tanda-tanda dengan kode dan aturan tertentu. khusunya media cetak kajian semiotika adalah mengusut ideologi yang melatari pemberitaan. Gabungan analisis keduanya (tipologi tanda dan struktur tanda) akan menghasilkan makna tanda yang lebih kuat (Yusita Kusumarini. salah satunya yang diajukan oleh Thwaites (Piliang. Konotasi tanda berkaitan dengan kode nilai. bagaimanakah ia memasuki materi media.2006). makna sosial.Dalam konteks media massa. Denotasi merepresentasikan mitos budaya.2006). dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita sendiri. atau mitos tertentu (latar belakang kombinasi tanda). Untuk menganalisis tanda secara kelompok atau kombinasinya (analisis teks).Semiotika Teks Pengertian teks secara sederhana adalah “kombinasi tanda-tanda” (Piliang. biasa disebut analisis teks. 2003). dan makna tanda secara individual. Sedangkan dalam hal analisis struktur tanda menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure. struktur tanda. Analisis tipologi tanda tersebut menggunakan teori semiotik pengelompokan tanda Charles Sanders Peirce. dan berbagai perasaan. sikap. semua produk desain (termasuk arsitektur dan interior) dapat dianggap sebagai sebuah teks. 2003). Konotasi yang diterima luas secara sosial akan menjadi denotasi (makna teks yang dianggap benar). secara garis besar yang diterapkan adalah : 4 . 2003).Untuk menganalisis tanda secara individual dapat digunakan model analisis tipologi tanda. pada prinsipnya dilakukan dalam dua tingkatan analisis. Ada beberapa model dan prinsip analisis teks. kepercayaan. sehingga menghasilkan sebuah ekspresi bermakna dan berfungsi (Yusita Kusumarini. MEDIA Mempelajari media adalah adalah mempelajari makna dari mana asalnya. tidak hanya sebatas menganalisis tanda (jenis. yaitu : Analisis tanda secara individual (jenis tanda. Tiap teks adalah kombinasi sintagmatik tanda-tanda yang melalui kode sosial tertentu menghasilkan konotasi tertentu (metafora dan metonimi menjadi bagian dari kombinasi tanda). dan makna tanda (Piliang. atau emosi. dan sikap yang dianggap Pada komunikasi. bidang terapan semiotika pun tidak terbatas.

namun hasilnya sering kurang mantap. data – data yang diteliti tidak dapat diukur secara matematis. 3 pendekatan untuk menjelaskan media (McNair. tapi berbagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan – kekuatan politik-ekonomi di luar media. 2001:2-4) 1. 3. 1994.1.  Kekuasaan Politik ——— dilembagakan dalam aparatur negara 5 . Pendekatan Politik-Ekonomi Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan – kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. pendekatan ini menekankan bahwa isi media diasumsikan dipengaruhi oleh kekuatan – kekuatan eksternal di luar diri pengelola media. 19993:146-147). Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme untuk menentukan pola dan aturan oragnisasi. hasil analisis kuantitatif selalu lebih spektakuler namun sekaligus selalu mengorbankan ketahanan uji metode – metode yang digunakan. pada praktiknya apa yang disebut sebagai kebenaran ini sangat ditentukan oleh jalinan banyak kepentingan. 1994) antara lain:  Kekuasaan Ekonomi —— dilembagakan dalam industri dan perdagangan.2 Teknik kualitatif Pada analisis kualitatif. Analisis ini sering menyerang masalah yang berkaitan dengan arti atau arti tambahan dari istilah yang digunakan. Proses produksi berita dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan faktor internal media.Secara teoritis. Thomson. 3. Praktik – praktik kekuasaan media memiliki banyak bentuk ( John B. Terdapat pemilahan atas fakta atau informasi yang dianggap penting dan yang dianggap tidak penting. dalam Sudibyo. Media menyunting bahkan menggunting realitas dan kemudian memolesnya menjadi suatu kemasan yang layak disebar luaskan. 2. Orders and practises of production = Tatanan dan praktik – praktik produksi. Pendekatan Kulturalis Merupakan pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. 1. Pendekatan Organisasi Bertolak belakang dengan pendekatan politik-ekonomi. Orders and practices of signification = Tatanan dan praktik – praktik signifikasi. 2. serta yang dianggap penting namun demi kepentingan survival menjadi tidak perlu disebar luaskan. Namun. Tiga zona dalam teori media menurut Berger dan Luckman : 1. media massa bertujuan menyampaikan informasi dengan benar secara efektif dan efisien.Menurut Van Zoest. Orders and practises of power = Tatanan dan praktik – praktik kekuasaan. Ciri – ciri yang dapat di ukur dinyatakan sebagai tanda merupakan titik tolak penelitian ini.1 Teknik kuantitatif Teknik ini adalah teknik yang paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas.

Bahasa komik adalah bahasa gambar dan bahasa teks.1987). surat kabar. atau berbentuk buku yang pada umumnya mudah dicerna dan lucu. dengan mempercantiknya dengan penggambaran ciri khas lahiriyahnya untuk tujuan mengejek (Sudarta. 4. kartun mengungkapkan masalah sesaat secara ringkas namun tajam dan humoristis sehingga tidak jarang membuat pembaca senyum sendirian. Namun tidak keseluruhan tanda – tanda nonverbal memiliki makna yang universal. Tommy Christomy ——— Secara formal proses semiosis yang paling dominan dalam kartun adalah gabungan atau proposisi (visual dan verbal) yang dibentuk oleh kombinasi tanda argumen indexical legisign. Komik sendiri dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu. nyata. Namun pada perkembangannya. harus mempunyai gambar yang baik. Empat teknis yang harus diingat sebagai karikatur adalah. Tanda – tanda digolongkan dalam berbagai cara :  Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui manusia melalui pengalamannya.Komik adalah cerita bergambar dalam majalah. Pada dasarnya.Untuk menganalisis kartun atau komik-kartun. tanpa membawa beban kritik sosial apapun. harus situasional dengan pengungkapan yang hangat. 5. bersifat verbal dan nonverbal. Kartun adalah sebuah gambar lelucon yang muncul di media massa. yang hanya berisikan humor semata. Semula karikatur hanya merupakan selingan atau ilustrasi belaka. terlebih dahulu kita ketahui apa yang dimaksud dengan komik.Dalam hal pengaplikasian semiotika pada tanda nonverbal. cukup memuat kandungan humor. kartun. Karikatur adalah deformasi berlebihan atas wajah seseorang. dan dapat dibuktikan melalui indera manusia. comic strips dan comic book. biasanya orang terkenal. Tanda NonVerbal Komunikasi nonverbal adalah semua tanda yang bukan kata – kata dan bahasa. serta karikatur. seyogyanya kita menempatkan diri sebagai kritikus agar 6 . cerita rekaan yang dilukiskan relatif panjang dan tidak selamanya mengangkat masalah hangat meskipun menyampaikan moral tertentu. karikatur dijadikan sarana untuk menyampaikan kritik yang sehat karena penyampaiannya dilakukan dengan gambar – gambar lucu dan menarik bahkan tidak jarang membuat orang yang dikritik justru tersenyum. Kekuasaan Koersif ——– dilembagakan dalam organisasi militer dan paramiliter. harus informatif dan komunikatif. Komik bertujuan utama menghibur pembaca dengan bacaan ringan. Komik Kartun Karikatur Sebelum memasuki pembahasan.  Tanda yang ditimbulkan oleh binatang  Tanda yang ditimbulkan oleh manusia. yang penting untuk diperhatikan adalah pemahaman tentang bidang nonverbal yang berkaitan dengan benda konkret. Hal ini dikarenakan tanda – tanda nonverbal memiliki arti yang berbeda bagi setiap budaya yang lain.

ulang pengucapannya menjadi Pasikom. memang sudah menjadi tokoh yang sangat dikenal dan digemari masyarakat. Sosok Om Pasikom. yang kemudian menjadi maskot dan tokoh utama karikatur karya Sudarta. memang seorang jenius yang jeli. Selain itu. Om Pasikom benar . hingga ke penyidikan harta kekayaan Suharto oleh kejagung yang sarat dengan basa . secara kontekstual juga dilakukan yakni dengan menghubungkan karya seni tersebut dengan situasi yang sedang menonjol di masyarakat. Selain dikaji sebagai teks. sorotan pada PSSI yang kerap kali kalah. Dalam pandangan Setiawan hal ini di maksudkan untuk menjaga signifikasi permasalahan dan sekaligus menghindari pembiasan tafsiran 40 Tahun Perjalanan "Wakil Rakyat" Senin.aspx?id=2943 Menyusuri ruang galeri Bentara Budaya Jakarta yang dipenuhi karikatur berbingkai itu.basi politik.karya karikatur digelar dalam tiga ruang galeri yang terdapat di Bentara Budaya Jakarta. serta sepak terjang pangkopkamtib (waktu itu) Sudomo dengan OEPH (Operasi Esok Penuh Harapan) nya. Tokoh Om Pasikom sendiri ingin digambarkan sebagai sosok yang sangat netral. menurutnya diambil dari nama harian KOMPAS yang bila diulang .benar sanggup mewakili suara hati nurani rakyat pada umumnya dalam menyikapi berbagai persoalan hidup baik yang terjadi di dalam maupun di luar negeri selama 40 tahun terakhir.hal detil yang kemudian memediasikan pesan. Dalam pameran 40 tahun Om Pasikom ini.secara leluasa dapat melakukan penilaian dan memberi tafsiran terhadap komikkartun tersebut. sang kartunis pencipta karya -karya tersebut. membawaku kembali kepada kenangan berbagai peristiwa masa lalu. Kenangan peristiwa peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam terasa hadir kembali manakala pengunjung diajak berkeliling mengamati dan merunut karya .karya karikatur yang dibingkai dan ditata apik layaknya pameran lukisan.com/News/DisplayNews. Seperti yang dituturkan dalam wawancara GM Sudarta dengan GATRA pada edisi 26 Agustus 2001 yang lalu. Goresan pena dan kuas dari tangan dinginnya mampu menyorot hal . Nama Om Pasikom sendiri. karya .karya GM Sudarta tahun 1967 hingga karya .wikimu. Setiawan —— Komik-kartun penuh dengan perlambangan – perlambangan yang kaya akan makna.karya tahun 2007 ini. Mulai dari karya . GM Sudarta. beberapa persitiwa getir yang berhasil menyentuh perasaan pemirsa adalah peristiwa 7 . Dalam pameran 40 tahun Om Pasikom yang digelar mulai tanggal 4 hingga 12 Juli 2007 ini. tokoh berjas tambalan dengan topi baret yang khas ini digambarkan sebagai pria kelahiran tahun 1935an. Beberapa karya yang menggelitik di antaranya adalah peristiwa kisruhnya pengoperasian pertama kali Bandara Soekarno-Hatta. yang umumnya dapat terkonsumsi dengan baik bahkan oleh masyarakat dengan beragam latar belakang pendidikan dan sosial budaya. 09-07-2007 09:34:41 oleh: Adrianto Gani Kanal: Peristiwa http://www.

Selamat berkarya dan melanjutkan perjalanan hidupmu Om! 8 . Tokoh imajiner yang mampu hidup di tengah masyarakat dan mampu mewakili kita semua dalam bermasyarakat dan menyuarakan hati nurani langsung kepada sasaran yang dituju. dan yang paling berkesan bagi GM Sudarta sendiri adalah peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Acungan jempol dan ucapan terima kasih memang layak dialamatkan kepada Om Pasikom.tenggelamnya kapal Tampomas. peristiwa Marsinah dan Udin.