BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

I. Pengertian Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut pajak. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan beserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, UU No.16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Dasar hukum Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah UU No.20/2000 (UU No.21/1997 rev.) II. Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. Subjek BPHTB yang dikenakan kewajiban membayar BPHTB menurut perundang-undangan perpajakan yang menjadi Wajib Pajak. Pengertian Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Pasal 4 ayat (1) UU SPHTS adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan. III. Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 1. Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, bukan tanah atau bangunannya sendiri. Objek perolehan hak atas dan atau bangunan meliputi: A. Pemindahan Hak karena:  Jual beli;  Tukar-menukar;  Hibah;

1

 Peleburan usaha. yaitu pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut.  Pemekaran usaha. yaitu suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu.  Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. yaitu penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. yaitu suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.  Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap.  Penunjukan pembeli dalam lelang. 2 .  Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya.  Penggabungan usaha. yaitu pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. Hibah wasiat. yaitu pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama. yaitu penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut. yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.  Hadiah.  Waris. yaitu penetapan pemenang lelang oleh pejabat lelang sebagaimana yang tercantum dalam risalah lelang. yaitu adanya peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut.

 Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. yaitu hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah.  Objek pajak yang diperoleh karena waris dan hibah wasiat pengenaan BPHTB-nya diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 111 Tahun 2000. b. Pemberian hak baru karena:  Kelanjutan pelepasan hak. yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. Hak pakai. Hak milik.  Di luar pelepasan hak. terkuat. 2. d.B. 3 . yaitu pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak. yaitu hak turun-temurun. yaitu hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain.  Objek pajak yang diperoleh karena pemberian hak pengelolaan pengenaan BPHTB-nya diatur lebih lanjut dengan PP Nomor 112 Tahun 2000. segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundangundangan yang berlaku. c. dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. Hak guna bangunan (HGB). yaitu pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak guna usaha (HGU). Yang meliputi Hak atas tanah yaitu: a.

dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. yaitu hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. f. Objek pajak yang diperoleh Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah. jalan umum. konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. Objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB. misalnya. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan karena wakaf. penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Yang dimaksud dengan tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum adalah tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan baik Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama. Yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan 4 . yaitu hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. benda bersama. 3. Objek pajak yang diperoleh Perwakilan diplomatik. Objek pajak yang diperoleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut.e. Hak milik atas satuan rumah susun. d. c. antara lain. berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah. Hak pengelolaan. e. termasuk pengakuan hak oleh Pemerintah. Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-undang Pokok Agraria. b. yaitu: a. rumah sakit pemerintah. penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya.

n. l. dasar pengenaan BPHTB yang dipakai adalah NJOP PBB. Peleburan usaha adalah nilai pasar. Waris adalah nilai pasar. o. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. b. Dalam hal NPOP tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) PBB pada tahun terjadinya perolehan. c. Jual beli adalah harga transaksi. Dasar Pengenaan Dan Cara Penghitungan Pajak 1. i. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. Dalam hal NJOP PBB pada tahun 5 . e.dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan apapun. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar. h. d. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. Pemekaran usaha adalah nilai pasar. Hibah adalah nilai pasar. Tarif Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah 5% (lima persen). V. yaitu a. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. f. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. m. Tukar-menukar adalah nilai pasar. Hadiah adalah nilai pasar. Dasar Pengenaan BPHTB Dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP). IV. f. k. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. g. Hibah wasiat adalah nilai pasar. j. Penggabungan usaha adalah nilai pasar. Yang dimaksud dengan harga transaksi adalah harga yang terjadi dan telah disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

000. NPOPTKP diberikan untuk setiap perolehan hak sebagai pengurang penghitungan BPHTB terutang.00 (enam puluh juta rupiah). b) Tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. termasuk suami/istri.000. kecuali dalam hal perolehan hak karena waris. 3. yaitu tanggal ditandatanganinya Risalah Lelang oleh Kepala Kantor Lelang Negara atau kantor 6 . e) Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. 2. NPOPTKP ditetapkan secara regional (setiap kabupaten/kota) paling banyak Rp60.000. g) Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang. Saat terutang dan pelunasan BPHTB untuk: a) Jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. atau hibah wasiat yang diterima oleh orang pribadi dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. Ketentuan besarnya NPOPTKP diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 113 Tahun 2000. yaitu tanggal dibuat dan ditandatanginya akta pemindahan hak di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris. NPOP Kena Pajak = NPOP – NPOPTKP.. BPHTB terutang = 5 % x NPOP Kena Pajak. Besarnya NPOPTKP ditetapkan oleh Kepala Kanwil DJP atas nama Menteri Keuangan untuk setiap kabupaten/kota dengan mempertimbangkan pendapat Pemda setempat.000. VI.(tiga ratus juta rupiah). Apa yang boleh dikurangkan dalam penghitungan BPHTB ? Yang boleh dikurangkan dalan perhitungan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). f) Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. NPOPTKP regional paling banyak Rp300. d) Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan. 2.terjadinya perolehan belum ditetapkan. Saat Dan Tempat Pajak Terutang i. c) Hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. Cara Perhitungan pajak BPHTB 1. besarnya NJOP PBB ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Pembayaran. j) Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. ii. m) Peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. h) Putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Cara Pembayaran pajak BPHTB BPHTB yang terutang dibayar ke kas negara melalui Bank/Kantor Pos Persepsi BPHTB.lelang lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memuat antara lain nama pemenang lelang. 2. n) Pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. l) Penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. Penetapan. atau Propinsi Daerah Tingkat I untuk Kotamadya Administratif yang meliputi letak tanah dan atau bangunan. yaitu Kantor Pos dan atau Bank Badan Usaha Milik Negara atau Bank Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan menggunakan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB). Tempat pajak BPHTB terutang Tempat BPHTB terutang adalah wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II atau Kotamadya Daerah Tingkat II. VII. 1. i) Hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan. dimana Wajib Pajak membayar BPHTB yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. 7 . o) Hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. k) Pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. Waktu SKBKB dapat Diterbitkan Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya BPHTB. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB) apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah BPHTB yang terutang kurang dibayar. Dan Penagihan Sistem self assessment digunakan sebagai dasar pemungutan BPHTB.

3. Besarnya BPHTB Terutang Dalam STB BPHTB terutang dalam STB akibat tidak atau kurang dibayar dan akibat salah tulis dan atau hitung adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya BPHTB. BPHTB Yang Terutang Tidak Atau Kurang Dibayar. 6. 7. dihitung mulai saat terutangnya BPHTB sampai dengan diterbitkannya SKBKB dimaksud. 5. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah BPHTB yang terutang setelah diterbitkannya SKBKB. Besarnya BPHTB Terutang Dalam SKBKBT BPHTB terutang dalam SKBKBT adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut. Wajib Pajak Dikenakan Sanksi Administrasi Berupa Denda Dan Atau Bunga. 8 . Dari Hasil Pemeriksaan SSB Terdapat Kekurangan Pembayaran BPHTB Sebagai Akibat Salah Tulis Dan Atau Salah Hitung. 4. Besarnya BPHTB Terutang Dalam SKBKB BPHTB terutang dalam SKBKB adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Dalam keadaan Bagaimana STB diterbitkan Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB) diterbitkan apabila : a. b. kecuali Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. c. Waktu SKBKBT Dapat Diterbitkan Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya BPHTB.

maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah. dan jumlah yang masih harus dibayar. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. 9 . SKBKBT. b. besarnya sanksi administrasi. maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. Apa saja yang dapat diajukan permohonan keberatan BPHTB ? Yang dapat diajukan keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak adalah : a. maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah? BPHTB terutang dalam SKBKB. Bagaimana kedudukan STB dalam proses penagihan BPHTB ? STB mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak sehingga penagihannya dapat dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa. SKBKBT. yaitu surat ketetapan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran BPHTB karena jumlah BPHTB yang telah dibayar lebih besar daripada BPHTB yang seharusnya terutang. Dasar penagihan BPHTB ? Dasar penagihan BPHTB adalah SKBKB. Surat Keputusan Keberatan. Banding. Berapa lama jangka waktu pelunasan SKBKB. SKBKB. 9. SKBLB. VIII. SKBKBT. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. c. yaitu surat perintah membayar pajak dan tagihan yang berkaitan dengan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mempunyai kekuatan sama dengan putusan pengadilan (parate executie). yaitu surat ketetapan yang menentukan besarnya jumlah BPHTB terutang. SKBKBT. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. Apabila sampai dengan jangka waktu 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud tidak atau kurang dibayar.8. yaitu surat ketetapan yang menentukan tambahan atas jumlah BPHTB yang telah ditetapkan. Keberatan. Surat Keputusan Keberatan. Tata cara penagihan BPHTB diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan. dapat ditagih dengan Surat Paksa. Dan Pengurangan 1. Surat Keputusan Keberatan. 10.

Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud telah lewat 10 . SKBN. Berapa lama jangka waktu penyelesaian permohonan keberatan BPHTB ? Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan Keberatan diterima.d. 2. SKBKBT. Bagaimana tata cara permohonan keberatan BPHTB ?  Membuat permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala KPPBB dengan mengemukakan jumlah BPHTB yang terutang menurut penghitungan Wajib Pajak disertai dengan alasan yang jelas. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.  Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui pos tercatat menjadi tanda bukti penerimaan Surat Keberatan tersebut bagi kepentingan Wajib Pajak.  Menyampaikan permohonan secara lengkap sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam batas waktu 3 (tiga) bulan sejak diterimanya SKBKB. yaitu surat ketetapan yang menentukan jumlah BPHTB yang terutang sama besarnya dengan jumlah BPHTB yang dibayar. SKBLB. 3. kecuali Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.  Melampirkan foto kopi sebagai berikut :    Fotocopy SSB Asli SKBKB/SKBKBT/SKBLB/SKBN Fotocopy Akta/Risalah Lelang/Surat Keputusan Pemberian Hak Baru/Putusan Hakim   Fotocopy KTP/ Paspor / KK /identitas lain Permohonan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. atau SKBN. yaitu didukung dengan data atau bukti bahwa jumlah BPHTB yang terutang atau lebih bayar yang ditetapkan oleh fiskus tidak benar.

apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan sebagian terbukti kebenarannya. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan terbukti kebenarannya.  Menerima sebagian. 4. 5.  Menambah jumlah pajaknya. 7. maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan. 11 . 6. Apa yang dapat dilakukan Wajib Pajak jika permohonan keberatannya ditolak ?   Wajib Pajak yang keberatannya ditolak dapat mengajukan banding ke Badan Pengadilan Pajak (BPP).  Menolak. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan tidak terbukti kebenarannya. Apa bentuk keputusan keberatan? Keputusan Keberatan dapat berupa :  Menerima seluruhnya.dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan. Apa bentuk putusan Banding ? Putusan Banding dapat berupa : Menolak. Permohonan dimaksud diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Menambah pajak yang harus dibayar. Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis. Apa yang dapat disampaikan oleh Wajib Pajak sebelum keputusan keberatan BPHTB diterbitkan? Sebelum surat keputusan keberatan diterbitkan. Tidak dapat diterima. Mengabulkan sebagian atau seluruhnya. mengakibatkan peningkatan jumlah BPHTB-nya.

9. atau Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan. atau Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu. c. 10. Bagaimana sifat Putusan Banding ? Putusan Banding oleh BPP bukan merupakan putusan final dan dapat diajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. maka kelebihan pembayaran dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran BPHTB sampai dengan diterbitkannya Putusan Banding. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek BPHTB. b. Kepada siapa pengurangan BPHTB dapat diberikan ? Pengurangan BPHTB dapat diberikan Wajib Pajak melalui permohonan karena: a.8. 12 . Bagaimana jika Putusan Banding menerima sebagian atau seluruhnya ? Apabila putusan banding menerima sebagian atau seluruhnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful