P. 1
MAKALAH BPHTB

MAKALAH BPHTB

|Views: 1,089|Likes:
Published by Nining Manis
MAKALAH BPHTB
MAKALAH BPHTB

More info:

Published by: Nining Manis on Feb 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2014

pdf

text

original

BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

I. Pengertian Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut pajak. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan beserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, UU No.16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Dasar hukum Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah UU No.20/2000 (UU No.21/1997 rev.) II. Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. Subjek BPHTB yang dikenakan kewajiban membayar BPHTB menurut perundang-undangan perpajakan yang menjadi Wajib Pajak. Pengertian Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Pasal 4 ayat (1) UU SPHTS adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan. III. Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 1. Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, bukan tanah atau bangunannya sendiri. Objek perolehan hak atas dan atau bangunan meliputi: A. Pemindahan Hak karena:  Jual beli;  Tukar-menukar;  Hibah;

1

yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.  Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. yaitu penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung. yaitu pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama. yaitu suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.  Hadiah.  Waris. yaitu penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut.  Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. yaitu pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut.  Penunjukan pembeli dalam lelang. Hibah wasiat.  Peleburan usaha. 2 .  Pemekaran usaha. yaitu penetapan pemenang lelang oleh pejabat lelang sebagaimana yang tercantum dalam risalah lelang. yaitu pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama.  Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya.  Penggabungan usaha. yaitu suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu. yaitu adanya peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut.

Hak guna usaha (HGU).  Objek pajak yang diperoleh karena waris dan hibah wasiat pengenaan BPHTB-nya diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 111 Tahun 2000. b.  Objek pajak yang diperoleh karena pemberian hak pengelolaan pengenaan BPHTB-nya diatur lebih lanjut dengan PP Nomor 112 Tahun 2000. yaitu pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak. yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah. dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. yaitu hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain. yaitu pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundangundangan yang berlaku. yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku.  Di luar pelepasan hak. d. 3 . Hak pakai. Hak milik.B. Yang meliputi Hak atas tanah yaitu: a. terkuat. yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. 2.  Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. yaitu hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Pemberian hak baru karena:  Kelanjutan pelepasan hak. yaitu hak turun-temurun. Hak guna bangunan (HGB).

Objek pajak yang diperoleh Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. e. d. Objek pajak yang diperoleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut. misalnya. Yang dimaksud dengan tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum adalah tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan baik Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. c. rumah sakit pemerintah. benda bersama. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama. yaitu: a. jalan umum. yaitu hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya. penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan 4 . penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya. yaitu hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-undang Pokok Agraria. 3. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. Hak pengelolaan. Hak milik atas satuan rumah susun. konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. f. Objek pajak yang diperoleh Perwakilan diplomatik. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan karena wakaf. berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah. termasuk pengakuan hak oleh Pemerintah. tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah. Objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB. b. dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. antara lain.e.

Peleburan usaha adalah nilai pasar. b. e. d. g. i. dasar pengenaan BPHTB yang dipakai adalah NJOP PBB. Penggabungan usaha adalah nilai pasar. Tukar-menukar adalah nilai pasar. V. Hibah wasiat adalah nilai pasar. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. yaitu a. Dalam hal NJOP PBB pada tahun 5 . Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar. Dasar Pengenaan BPHTB Dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP). Waris adalah nilai pasar. h. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. f.dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan apapun. o. Hadiah adalah nilai pasar. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. f. Jual beli adalah harga transaksi. IV. m. j. n. k. c. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. l. Dalam hal NPOP tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) PBB pada tahun terjadinya perolehan. Dasar Pengenaan Dan Cara Penghitungan Pajak 1. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. Tarif Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah 5% (lima persen). Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. Yang dimaksud dengan harga transaksi adalah harga yang terjadi dan telah disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Hibah adalah nilai pasar. Pemekaran usaha adalah nilai pasar.

BPHTB terutang = 5 % x NPOP Kena Pajak.terjadinya perolehan belum ditetapkan. 2. e) Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. c) Hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. VI. Saat terutang dan pelunasan BPHTB untuk: a) Jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.00 (enam puluh juta rupiah). f) Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. yaitu tanggal ditandatanganinya Risalah Lelang oleh Kepala Kantor Lelang Negara atau kantor 6 . termasuk suami/istri. Ketentuan besarnya NPOPTKP diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 113 Tahun 2000. NPOPTKP diberikan untuk setiap perolehan hak sebagai pengurang penghitungan BPHTB terutang. Apa yang boleh dikurangkan dalam penghitungan BPHTB ? Yang boleh dikurangkan dalan perhitungan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP).000. besarnya NJOP PBB ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 2. NPOP Kena Pajak = NPOP – NPOPTKP.(tiga ratus juta rupiah). kecuali dalam hal perolehan hak karena waris. atau hibah wasiat yang diterima oleh orang pribadi dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. d) Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan. yaitu tanggal dibuat dan ditandatanginya akta pemindahan hak di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris. Cara Perhitungan pajak BPHTB 1. Saat Dan Tempat Pajak Terutang i.000.000. Besarnya NPOPTKP ditetapkan oleh Kepala Kanwil DJP atas nama Menteri Keuangan untuk setiap kabupaten/kota dengan mempertimbangkan pendapat Pemda setempat. b) Tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.. 3. NPOPTKP regional paling banyak Rp300. NPOPTKP ditetapkan secara regional (setiap kabupaten/kota) paling banyak Rp60.000. g) Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.

Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB) apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah BPHTB yang terutang kurang dibayar. k) Pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. ii. 1. atau Propinsi Daerah Tingkat I untuk Kotamadya Administratif yang meliputi letak tanah dan atau bangunan. Dan Penagihan Sistem self assessment digunakan sebagai dasar pemungutan BPHTB. l) Penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. o) Hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. h) Putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. 7 . j) Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. Pembayaran. Tempat pajak BPHTB terutang Tempat BPHTB terutang adalah wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II atau Kotamadya Daerah Tingkat II. dimana Wajib Pajak membayar BPHTB yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. Penetapan. Waktu SKBKB dapat Diterbitkan Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya BPHTB. yaitu Kantor Pos dan atau Bank Badan Usaha Milik Negara atau Bank Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan menggunakan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB). VII.lelang lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memuat antara lain nama pemenang lelang. m) Peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. Cara Pembayaran pajak BPHTB BPHTB yang terutang dibayar ke kas negara melalui Bank/Kantor Pos Persepsi BPHTB. i) Hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan. n) Pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditanda-tanganinya akta. 2.

Dari Hasil Pemeriksaan SSB Terdapat Kekurangan Pembayaran BPHTB Sebagai Akibat Salah Tulis Dan Atau Salah Hitung. Dalam keadaan Bagaimana STB diterbitkan Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB) diterbitkan apabila : a. 4. BPHTB Yang Terutang Tidak Atau Kurang Dibayar. 5. 6. Besarnya BPHTB Terutang Dalam SKBKBT BPHTB terutang dalam SKBKBT adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut. 8 . dihitung mulai saat terutangnya BPHTB sampai dengan diterbitkannya SKBKB dimaksud. Wajib Pajak Dikenakan Sanksi Administrasi Berupa Denda Dan Atau Bunga.3. 7. Waktu SKBKBT Dapat Diterbitkan Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya BPHTB. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah BPHTB yang terutang setelah diterbitkannya SKBKB. Besarnya BPHTB Terutang Dalam STB BPHTB terutang dalam STB akibat tidak atau kurang dibayar dan akibat salah tulis dan atau hitung adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya BPHTB. b. kecuali Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. Besarnya BPHTB Terutang Dalam SKBKB BPHTB terutang dalam SKBKB adalah BPHTB terutang yang belum atau kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah kekurangan BPHTB tersebut untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. c.

besarnya sanksi administrasi. SKBKBT. Berapa lama jangka waktu pelunasan SKBKB. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. Surat Keputusan Keberatan. 9. Surat Keputusan Keberatan. Dan Pengurangan 1. Dasar penagihan BPHTB ? Dasar penagihan BPHTB adalah SKBKB. dan jumlah yang masih harus dibayar. maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah. yaitu surat perintah membayar pajak dan tagihan yang berkaitan dengan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mempunyai kekuatan sama dengan putusan pengadilan (parate executie). b. Surat Keputusan Keberatan. Bagaimana kedudukan STB dalam proses penagihan BPHTB ? STB mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak sehingga penagihannya dapat dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa. maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. dapat ditagih dengan Surat Paksa. Keberatan. yaitu surat ketetapan yang menentukan tambahan atas jumlah BPHTB yang telah ditetapkan. SKBKBT. Banding. SKBKBT.8. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah BPHTB yang harus dibayar bertambah? BPHTB terutang dalam SKBKB. c. SKBKB. Apa saja yang dapat diajukan permohonan keberatan BPHTB ? Yang dapat diajukan keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak adalah : a. yaitu surat ketetapan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran BPHTB karena jumlah BPHTB yang telah dibayar lebih besar daripada BPHTB yang seharusnya terutang. Apabila sampai dengan jangka waktu 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud tidak atau kurang dibayar. yaitu surat ketetapan yang menentukan besarnya jumlah BPHTB terutang. SKBKBT. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. STB dan Surat Keputusan Pembetulan. 9 . VIII. SKBLB. 10. Tata cara penagihan BPHTB diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan.

atau SKBN. SKBN.d. 2. SKBKBT. kecuali Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. 3. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud telah lewat 10 . yaitu didukung dengan data atau bukti bahwa jumlah BPHTB yang terutang atau lebih bayar yang ditetapkan oleh fiskus tidak benar.  Menyampaikan permohonan secara lengkap sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam batas waktu 3 (tiga) bulan sejak diterimanya SKBKB. yaitu surat ketetapan yang menentukan jumlah BPHTB yang terutang sama besarnya dengan jumlah BPHTB yang dibayar. Bagaimana tata cara permohonan keberatan BPHTB ?  Membuat permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala KPPBB dengan mengemukakan jumlah BPHTB yang terutang menurut penghitungan Wajib Pajak disertai dengan alasan yang jelas. Berapa lama jangka waktu penyelesaian permohonan keberatan BPHTB ? Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan Keberatan diterima. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.  Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui pos tercatat menjadi tanda bukti penerimaan Surat Keberatan tersebut bagi kepentingan Wajib Pajak. SKBLB.  Melampirkan foto kopi sebagai berikut :    Fotocopy SSB Asli SKBKB/SKBKBT/SKBLB/SKBN Fotocopy Akta/Risalah Lelang/Surat Keputusan Pemberian Hak Baru/Putusan Hakim   Fotocopy KTP/ Paspor / KK /identitas lain Permohonan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan.

5. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan tidak terbukti kebenarannya.  Menerima sebagian. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan sebagian terbukti kebenarannya. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan.  Menambah jumlah pajaknya. Menambah pajak yang harus dibayar. 4. Apa bentuk putusan Banding ? Putusan Banding dapat berupa : Menolak. apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam pemeriksaan terbukti kebenarannya. Permohonan dimaksud diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Tidak dapat diterima. Apa yang dapat disampaikan oleh Wajib Pajak sebelum keputusan keberatan BPHTB diterbitkan? Sebelum surat keputusan keberatan diterbitkan. maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima. Apa bentuk keputusan keberatan? Keputusan Keberatan dapat berupa :  Menerima seluruhnya. 6. mengakibatkan peningkatan jumlah BPHTB-nya.  Menolak. Apa yang dapat dilakukan Wajib Pajak jika permohonan keberatannya ditolak ?   Wajib Pajak yang keberatannya ditolak dapat mengajukan banding ke Badan Pengadilan Pajak (BPP). Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis. 7. 11 . Mengabulkan sebagian atau seluruhnya.dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan.

maka kelebihan pembayaran dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran BPHTB sampai dengan diterbitkannya Putusan Banding. Bagaimana sifat Putusan Banding ? Putusan Banding oleh BPP bukan merupakan putusan final dan dapat diajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Kepada siapa pengurangan BPHTB dapat diberikan ? Pengurangan BPHTB dapat diberikan Wajib Pajak melalui permohonan karena: a. b. Bagaimana jika Putusan Banding menerima sebagian atau seluruhnya ? Apabila putusan banding menerima sebagian atau seluruhnya. 9. atau Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek BPHTB. c. 12 . 10. atau Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan.8.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->