P. 1
Tugas,Peran,Pelayanan+Dapus

Tugas,Peran,Pelayanan+Dapus

|Views: 309|Likes:
Published by Ummi Malikal Balqis

More info:

Published by: Ummi Malikal Balqis on Feb 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2014

pdf

text

original

Tugas Perkembangan Lansia dan Peran Perawat serta Keluarga Tugas Perkembangan Lansia Proses menua adalah suatu

proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000). Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Setiap individu memiliki tugas-tugas yang harus diselesaikan pada masa perkembangan- nya, begitupula dengan lansia. Lansia diharapkan untuk dapat menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap. Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya (Erickson). Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang-orang di sekitarnya, maka pada usia lanjut lansia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa lansia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya seperti olahraga, mengembangkan hobi, dan lain-lain. Adapun tugas perkembangan lansia adalah (1) mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun, (2) mempersiapkan diri untuk pensiun, (3) membentuk hubungan baik dengan orang seusianya, (4) mempersiapkan kehidupan baru, (5) melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial atau masyarakat secara santai, dan (6) mempersiapkan diri untuk kematian dirinya dan kematian pasangan. Keberhasilam lansia dalam memenuhi tugas-tugas tersebut mengarah pada tercapainya successful aging. Usaha untuk mewujudkan tercapainya successful aging ditempuh dengan mengupayakan tindakan untuk menjaga kesehatan fisik, pemenuhan kebutuhan psikologis lansia terutama dari keluarga yang hidup bersama lansia, serta kondisi sosial lansia. Stevering, Lindenberg, dan Ormel (Ouwehand, de Ridder, & Bensing, 2007) mengungkapkan bahwa successful aging merupakan sebuah pengertian yang didalamnya berisi tentang tujuan-tujuan individu yang harus dicapai untuk menunjukkan keberhasilan secara objektif. 1. Tugas Perkembangan Individu Lansia yang Berhubungan dengan Faktor Ekonomi Hal yang cukup mempengaruhi kehidupan lansia adalah faktor ekonomi dari lansia itu sendiri. Karena pada usia lansia, individu mulai pensiun dari pekerjaannya masing-masing. Pensiun setelah bertahun-tahun bekerja dapat membahagiakan dan memenuhi harapan, atau hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental. Setelah pensiun beberapa orang tidak pernah dapat menyesuaikan diri dengan waktu luangnya dan selalu merasa mengalami hari yang panjang. Beberapa lansia tidak termotivasi mempertahankan penampilan mereka ketika mereka

tidak atau hanya sedikit melakukan kontak dengan orang lain di luar rumahya. Orang yang sering mabuk-mabukan secara sosial sebelum pensiun mungkin akan mulai minum setiap hari. Pensiun akan sangat sulit bagi beberapa orang, terutama mereka yang telah menghabiskan energi dan waktu untuk kariernya selama beberapa dekade. Karena sebagian besar penghargaan pribadi mereka, seperti uang, penghormatan, perasaan berharga yang tinggi, dan kekuatan, telah timbul dari pekerjaan mereka selama 40 tahun atau lebih, orang-orang ini merasa kehilangan seluruh aset dan penghargaan selama pensiun. Mereka mengukur kualitas dan kepuasan hidup berdasarkan apa yang telah mereka peroleh setiap hari. Jika mereka tidak percaya bahwa mereka dapat mencapai apapun, mereka akan merasa tidak berharga dan tertekan. Juga, karena mereka tidak menggunakan waktu selama karirnya untuk mengembangkan hobi dan menikmati aktivitas di waktu luang, mereka merasa mulai kurang berharga dan kemudian merasa tertekan. Menurut Havighurst, salah satu tugas perkembangan dari dewasa pertengahan adalah untuk “mengembangkan aktivitas waktu luang yang menyenangkan”, tetapi orang yang sukses, aktif dan sangat sibuk sering kali tidak pernah menemukan waktu atau motivasi untuk melakukan hal tersebut. Mereka menganggap pekerjaan itu menyenangkan dan tidak perlu menikmati aktivitas sosial atau rekreasi tertentu yang dapat mereka lanjutkan setelah masa pensiun. Walaupun beberapa orang telah memilih untuk pensiun lebih awal (pada usia 50 tahunan), hal ini mungkin bukan merupakan pilihan yang bijaksana untuk mereka yang telah terlibat oleh karir yag akif dan memberikan penghargaan. Dengan keadaan ekonomi yang tidak pasti dan kemungkinan peningkatan inflasi, uang pensiun yang diterima mungkin tidak adekuat untuk 30 sampai 40 tahun yang akan datang. Salah satu pilihan adalah pekerjaan paruh waktu baik pada karir yang sama maupun pada karir lain yang dapat memberikan pengalaman yang diperlukan pada kecepatan yang lebih lambat, dan juga adanya penambahan pendapatan. Pekerjaan paruh waktu setelah pensiun merupakan jalan terbaik untuk memperlambat secara bertahap dan mempertahankan kontak dengan rekan kerja dan teman sebaya selama periode transisi. Dan lansia pun tidak perlu harus merasa penghargaan pribadi mereka hilang selama pensiun. Peran individu lansia disini sesuai dengan tugas perkembangannya. Tugas perkembangan lansia terkait dengan faktor ekonomi yaitu penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan penghasilan. Dalam tugas perkembangan ini, lansia dapat membangun suatu perkumpulan dengan sekelompok seusia, mengambil prakarsa dan beradaptasi terhadap peran sosial dengan cara yang fleksibel serta membuat pengaturan hidup atau kegiatan fisik yang menyenangkan 2. Tugas Perkembangan Individu Lansia yang Berhubungan dengan Faktor Sosial Kepribadian yang terintegrasi merupakan hal yang ingin dicapai oleh setiap lansia. Lansia pada fase ini justru sudah mengalami banyak kemunduran fisik dan merasa bahwa hidupnya sudah dekat dengan akhir

hayat. Oleh karena itu pada masa ini kasih sayang dari lingkungan keluarga terdekat, kerabat, bahkan lingkungan terdekat merupakan sumber kebahagiaan tersendiri. Perasaan diterima dan dihargai oleh sekelilingnya merupakan anugerah yang tidak ternilai oleh materi. Pencapaian masa ini (lansia) dipengaruhi oleh proses panjang di masa-masa sebelumnya. Ketidakberhasilan di masa lalu dapat menyebabkan individu menjadi putus asa dan takut menghadapi kehidupan lansia dan juga kematian. Apabila seseorang berhasil melewati masa sebelumnya dengan baik, maka akan terbentuk kepribadian yang terintegrasi dalam dirinya Tugas perkembangan lansia terkait faktor sosial mencakup beberapa aspek diantaranya: 1) Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun 2) Mempersiapkan diri untuk pension 3) Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya 4) Mempersiapkan kehidupan baru 5) Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial atau masyarakat secara santai 6) Mempersiapkan diri untuk kematian dirinya dan kematian pasangan. Pada faktor sosial terkait tugas perkembangan pada lansia terdapat perubahan-perubahan psikososial yang dialami lansia dalam proses mencapai tugas perkembangan itu, anatara lain: a. Pensiun, nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun, individu tersebut akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain: 1) Kehilangan finansial (income berkurang). 2) Kehilangan status 3) Kehilangan teman atau relasi. 4) Kehilangan pekerjaan atau kegiatan. b. Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality) c. Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit. d. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation). e. Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan. f. Penyakit kronis dan ketidakmampuan. g. Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian. h. Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan. i. Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan temanteman dan family. j. Hilangnya kekuatan dan ketegapan. Peran lansia terkait faktor sosial disini yaitu kesediaanya dalam mengikuti kegiatan masyarakat. Pada masa inilah saatnya individu memiliki hak untuk mengisi waktu yang dimiliki untuk melakukan kegiatan yang diinginkan dan tidak melakukan kegiatan yang tidak membuatnya nyaman. Pada tugas

perkembangan sosial ekonomi terjadi perubahan peran pada lansia terkait dengan penurunan penghasilan yang membutuhkan penyesuaian gaya hidup pada lansia. Hidup sederhana masih menjadi pilihan terbaik untuk lansia agar tetap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak semua lansia pada masa sebelumnya bekerja di sektor formal serta tidak semua lansia memperoleh uang pensiun sebagai sumber pendapatan yang dikelola. Banyak juga lansia yang secara ekonomi tergantung pada anak-anaknya yang sudah dewasa. Kematangan emosi dan kebijaksanaan yang dimiliki lansia membantu proses ini. 3. Tugas Perkembangan Individu Lansia yang Berhubungan dengan Faktor Psikologis Teori penuaan berkaitan erat dengan konsep tugas perkembangan yang dibutuhkan pada setiap tahap kehidupan. Menurut Potter&Perry (2009), tugas perkembangan individu lansia yang berhubungan dengan psikologis meliputi; menerima diri sebagai individu yang menua, adaptasi terhadap kematian, mempertahankan kehidupan yang memuaskan, menetapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa, dan menemukan cara menentukan kualitas hidup. Seperti yang dijelaskan pada gambar berikut.

Seiring dengan bertambahnya usia, kesehatan dan kekuatan fisik akan menurun, diharapkan lansia memiliki pemahaman dan keyakinan pada manfaat kesehatan yaitu menerima penurunan yang terjadi pada kondisi fisiknya. Hal ini lebih dikenal sebagai kesadaran bahwa individu lansia mulai menua (Annete, 1996). Penerimaan bagi lansia berarti menyadari bahwa ada yang berubah pada tubuhnya, muncul rasa ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya, mencari informasi pada orang yang dipercaya baik keluarga maupun pihak yang berkompeten, bersedia melakukan pengobatan apabila ternyata menderita suatu penyakit atau melakukan upaya pencegahan, dan semua itu bermuara pada penyesuaian diri terhadap penurunan yang dialami dengan melakukan perubahan dalam kehidupannya. Keberhasilan memahami dan menerima kondisi fisik ini akan berdampak pada perasaan bahagia pada lansia. Mereka dapat mengurus diri sendiri, berperan serta dalam kehidupan keluarga, dan masih dapat mengikuti kegiatan dalam masyarakat. Usaha menjaga kesehatan ini bahkan ada yang kemudian dijadikan sebagai hobi, seperti olahraga. Sehingga hal ini akan membuat lansia mempertahankan kehidupan yang

memuaskan (Annete, 1996), baik dengan mengikuti kegiatan masyarakat maupun dengan melaksanakan hobi yang digemarinya. Kemampuan lansia mempertahankan sistem dukungan sosial dan menjalin hubungan baik dengan orang lain di kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat. Kehidupan keluarga yang nyaman dan memberi perhatian kepada lansia akan memberi rasa bahagia, sedangkan tercapainya harapan lansia kepada keluarga akan memberi kepuasan (Annete, 1996). Lansia yang tinggal bersama anak-anaknya yang telah dewasa tentu saja memiliki waktu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak maupun cucu dibandingkan dengan lansia yang tinggal terpisah dengan anak-anak mereka. Oleh karena itu pada masa ini kasih sayang dari lingkup keluarga terdekat, kerabat, bahkan lingkungan terdekat merupakan sumber kebahagiaan tersendiri. Hal inilah perlunya menetapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa. Misalnya dalam pengambilan keputusan sebuah masalah, anak tetap mempertimbangkan pendapat orang tua, bukan menyepelekan atau menganggap bahwa orang lansia tidak mampu, tetapi mereka berhak ikut campur dalam keluarga tersebut. Lansia pada umumnya memperlihatkan sikap kematangan emosinya, mereka menjadi lebih sabar, mampu mengendalikan diri, mampu memahami kehidupan anak dan cucu yang mungkin sangat berbeda, dan menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut untuk menyelesaikan masalah. Begitupun halnya dengan proses kehilangan, kematian istri atau suami, anak atau cucu yang disayanginya merupakan suatu kehilangan sekaligus pengingat ajal bagi mereka sendiri. Kepribadian yang terintegrasi merupakan muara yang ingin dicapai oleh setiap lansia. Mereka pada fase ini justru sudah mengalami banyak kemunduran fisik dan merasa bahwa hidup mereka sudah dekat dengan akhir hayat (Annete, 1996). Penyesuaian terhadap hal ini biasanya sulit dilakukan, disinilah peran perawat membantu mereka untuk melewati proses dukacita, dan membantu memecahkan masalah yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut. Proses psikologis yang lain biasanya menemukan cara menentukan kualitas hidup. Kehidupan bermasyarakat lansia merupakan gambaran mengenai perilaku lansia dalam lingkungan yang sudah berproses selama hidupnya (Yuki Widiasari, 2010). Inilah wujud aktualisasi lansia dalam kegiatan yang disukainya. Lansia memiliki kebebasan menentukan kesediaannya dalam kegiatan masyarakat. Pada masa inilah saatnya individu memiliki hak untuk mengisi waktu yang dimiliki untuk melakukan kegiatan yang diinginkan dan tidak melakukan kegiatan yang membuatnya tidak nyaman. Ada lansia yang melakukan minat dan hobinya di hari tua, ada yang menikmati dengan berbisnis baru, bahkan ada yang menjadi relawan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Pengalaman dan wawasan yang diperoleh selama rentang kehidupan menyebabkan lansia lebih matang dalam mengolah emosinya, fleksibel dalam menghadapi perbedaan, dan mampu menyesuaikan diri pada perubahan (Yuki Widiasari, 2010). Wujud kepribadian yang diperlihatkan sabar, lebih bijaksana, mengalah, dan saling menyadari. Jadi tugas perkembangan individu lansia dengan keadaan psikologis

merupakan hal yang berpengaruh terhadap pemikiran individu lansia dengan masa tua, sehingga mereka mengekspresikan pemikirannya dengan bermacam-macam hal. Contohnya bisa menerima keadaan bahwa mereka memang sudah tua, beradaptasi dengan kematian yang akan datang, mempertahankan kehidupan yang memuaskan, menentapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa, dan menemukan kualitas hidup yang memuaskan. Contoh lain terkait peran individu lansia berhubungan dengan faktor psikologis adalah pada masa pensiun. Salah satu tahap perkembangan individu yang umum terjadi yaitu beradaptasi terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan. Pensiun dapat diartikan dengan adanya transisi dan perubahan peran dari aktivitas sebelumnya. Pensiun dipandang serius karena dapat menyebabkan stress psikososial bagi lansia. Stres ini meliputi perubahan peran pada pasangan atau keluarga dan masalah isolasi sosial. Isolasi sosial yang umum terjadi pada dikategorikan kedalam empat tipe, yaitu; isolasi sikap, isolasi penampilan, isolasi perilaku, dan isolasi geografis. Isolasi sikap dipengaruhi oleh keadaan disekita lingkungan yang kurang memperhatikan dan mengikutsertakan lansia di setiap kegiatan. Adanya sikap lansiaisme yaitu sikap yang menstigma lansia sehingga menimbulkan suatu sikap pada lansia yang enggan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Isolasi penampilan berhubungan dengan perubahan fisik yang memang terjadi pada tahap perkembangan lansia. Perubahan fisik yang terjadi pada lansia kadang tidak diterima oleh lingkungan akibatnya lansia diisolasi karena penolakan oleh orang lain atau karena sedikit interaksi yang dilakukan lansia itu sendiri (Ebersole dan Hess, 2005) Isolasi perilaku diakibatkan oleh perilaku yang tidak dapat diterima pada semua kelompok usia dan terutama pada lansia. Penolakan perilaku ini menyebabkan seseorang menarik diri. Perilaku yang biasanya dikaitkan dengan pengisolasian pada lansia meliputi konfusi, demensia, eksentritas, dan inkontinensia. Isolasi geografis terjadi akibat adanya jarak yang jauh dari keluarga. Kehidupan saat ini pada umumnya anak yang sudah menikah akan meninggalkan orang tua dan pergi merantau jauh. Sehingga kesempatan untuk mengunjungi anak-anak berkurang. Hal ini menyebabkan isolasi lebih lanjut jika orang tua yang mempunyai keterbatasan fisik atau yang pasangannya telah meninggal. 4. Tugas Perkembangan Individu Lansia yang Berhubungan dengan Faktor Fisik Usia lanjut dapat dikatakan usia emas, karena tidak semua individu dapat mencapai usia tersebut. Individu yang mencapai usia lanjut memerlukan tindakan keperawatan, baik yang bersifat promotif maupun preventif agar individu dengan usia lanjut dapat menikmati usia emasnya dengan bahagia. Seiring dengan tahap perkembangannya, lansia harus menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi pada lansia tidak dihubungkan dengan penyakit tetapi merupakan perubahan normal yang akan dialami oleh semua individu

yang telah mencapai usia lanjut. Pada bagian ini akan dibahas tahap perkembangan lansia yang dikaji dari perubahan fisik dan psikologi. Tugas perkembangan pada lansia menurut Havighurst diantaranya adalah beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik dan beradaptasi terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan, (Roach, 2006). Menurut Erisickson, tugas perkembangan utama lansia adalah “integritas ego vs putus asa.” Kemampuan lansia untuk beradaptasi akan menentukan kualitas hidup lansia tersebut. Lansia harus beradaptasi terhadap perubahan fisik dan psikologis. Perubahan fisik pada individu bukan merupakan proses patologis tetapi merupakan proses normal. Berikut ini adalah perubahan fisik yang terjadi pada tahap perkembangan lansia (Potter dan Perry, 2005). Sistem Integumen: Warna kulit/tekstur Kelembapan/Suhu Rambut/kuku Kepala dan leher: Kepala Mata/telinga Hidung/mulut Leher Tulang nasal dan wajah menajam dan angular Penurunan ketajaman penglihatan /penurunan membedakan nada Peningkatan rambut hidung, penurunan indra pembau/ penggunaan gigi palsu, penurunan indra pengecap Kelenjar tiroid nodular Temuan Normal Pigmen berbintik diarea yang terpajan sinar matahari, pucat meski tidak anemia/ penurunan elstisitas (kerutan dan kondisi berlipat) Kering, kulit bersisik/ ekstremitas lebih dingin Penipisan dan beruban pada kulit kepala/penurunan laju pertumbuhan kuku

Peningkatan frekuensi pernapasan dengan penurunan Sistem pernapasan dan ekspansi paru, peningkatan resistensi jalan napas/ terjadi peningkatan tekanan darah Kardiovaskular Payudara Sistem Gastrointestinal Sistem reproduksi: & wanita Berkurangnya jaringan payudara (kondisi menggantung dan kendur) Penurunan sekresi saliva sehingga lebih sulit menelan, penurunan peristaltic dan penurunan motilitas

Pria: penurunan kadar progesterone, penurunan jumlah Pria sperma dan ukuran testis Wanita: penuruan kadar estrogen dan penurunan ukuran uterus

Pria: sering berkemih dan retensi urine akibat pembesaran Sistem perkemihan: Pria prostat & wanita Wanita: inkontinensia urgen dan stress akibat penurunan tonus otot perineal

Sistem muskuloskeletal Sistem neurologis

Penurunan massa dan kekuatan otot, demineralisasi tulang, penurunan rentang gerak sendi Penurunan kemampuan kognitif, insomnia, penurunan respon stimulus

Sesuai dengan tugas perkembangan pada lansia menurut Havighurst, diantaranya adalah beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik dan beradaptasi terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan, (Roach, 2006), maka peran utama lansia disini adalah beradaptasi terhadap perubahan fisik dan psikologis yang dialaminya. Proses penerimaan diri bahwa perubahan fisik pada individu bukan merupakan proses patologis tetapi merupakan proses normal menjadi salah satu indikator berjalannya peran individu lansia yang berhubungan dengan faktor fisik. Peran Perawat Gerontik Perawat sebagai salah satu profesional pemberi pelayanan kesehatan yang mempunyai peran dalam sepanjang waktu kehidupan manusia dan juga berperan di setiap aspek kehidupan manusia. Keperawatan gerontik merupakan salah satu pembuktian bahwa perawat hadir di setiap fase kehidupan manusia. Tujuan dari keperawatan gerontik itu sendiri adalah memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang berkualitas dan sensitif budaya kepada lansia, keluarga, dan masyarakat. Peran perawat gerontik ada lima, yaitu sebagai pemberi pelayanan kesehatan, guru atau edukator, manajer, advokat klien, dan peneliti. Kelima peran ini mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing. Sebagai pemberi pelayanan kesehatan kepada lansia, seorang perawat harus mengetahui penyakit atau masalah apa saja yang biasa dialami oleh usia lanjut. Pengetahuan ini harus meliputi tentang latar belakang dan statistik kejadian dari penyakit atau masalah tersebut, tanda dan gejalanya, faktor-faktor resiko, perawatan medis yang biasa digunakan untuk penyakit atau masalah tersebut, asuhan keperawatan berdasarkan masing-masing masalah keperawatan yang dialami klien karena penyakit tersebut, dan rehabilitasi jika dibutuhkan. Peran perawat yang kedua adalah sebagai edukator klien. Perawat tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai pemberi asuhan keperawatan saja kepada klien, tetapi perlu memberikan informasi dan pengetahuan kepada klien lansia tentang penyakit atau masalah yang dihadapinya. Seperti memberitahu faktor-faktor resiko penyakit yang dialami klien lansia sehingga pola hidup lansia tersebut dapat berubah dan status kesehatannya dapat bertambah. Mengajarkan dan membimbing klien lansia juga dapat membuat mereka mandiri dan merasa mempunyai andil dalam kesehatan tubuhnya. Selanjutnya peran perawat adalah sebagai manajer, perawat gerontik berperan sebagai manajer selama proses pemberian asuhan keperawatan kepada klien lansia. Disini perawat manajer harus dapat menyeimbangkan peran antara klien, keluarga, perawat-perawat lain, dan tim-tim pelayanan kesehatan lain dalam proses asuhan keperawatan klien. Perawat manajer harus mampu mengembangkan kemampuan dalam kordinasi staf, manajemen waktu, asertif, komunikasi, dan organisasi. Peran yang keempat dari perawat gerontik adalah

sebagai advokat bagi klien lansia. Perawat gerontik disini berada di pihak klien lansia untuk mempromosikan atau memberi tahu kepada pihak lain (keluarga dan pemberi layanan kesehatan lain) tentang hal-hal yang disukai klien, juga memperkuat otonomi klien dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Peran perawat gerontik yang terakhir adalah sebagai peneliti. Perawat disini berperan sebagai pengembang keperawatan gerontik berdasarkan masalahmasalah yang ada pada saat ini. Hal ini diharapkan agar keperawatan gerontik akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam bagian ini, penulis akan menjelaskan peran perawat sesuai kebutuhan bio-psiko-sosio dan spiritual, yaitu sebagai berikut: 1. Peran Perawat Gerontik dalam Pemenuhan Aspek Biologis pada Lansia Sebagai seorang individu maupun peran sosialnya di masyarakat, lansia memiliki kebutuhan dasar yang digambarkan Maslow dalam sebuah hierarki sebagai berikut:
self actualization

self-esteem

love and belonging needs safety and security (physical safety & psychological safety) Physiologic (Oxygen, Fluids, Nutrition, Body temperature, Elimination, Shelter, Sex)

Seorang perawat gerontik dapat menjadii perawat generalis ataupun perawat spesialis (Ebersole, 2005). Fungsi dari perawat generalis dalam seting perawatan bervariasi, rumah sakit, rumah, nursing home, komunitas, menyediakan asuhan keperawatan bagi individu lansia dan keluarganya. Perawat generalis menitikberatkan pada perencanaan dan evaluasi dari asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat spesialis gerontik memiliki persiapan yang lebih matang dan lebih terdepan di tingkat master dan menampilkan seluruh fungsi dari perawat generalis namun telah melewati kecakapan klinis, seperti juga kemampuan dalam pemahaman akan kebijakan-kebijakan sosial dan kesehatan, serta keahlian dalam hal perencanaan, pengimplementasian, dan pengevaluasian program-program kesehatan. Selama beberapa dekade terkahir, salah satu peran perawat gerontik terpenting yaitu sebagai perawat gerontik pelaksana (gerontological nurse practitioner, GNP) (Ebersole, 2005). Di Amerika Serikat, dengan semakin meningkatnya legislasi secara federal dalam mendukung perkembangan praktik keperawatan, GNP dan perawat gerontik spesalis banyak terlibat dalam nursing home, fasilitas perawatan akut dan subakut, asistensi permasalahan terkait kehidupan dan peristirahatan, Health Maintenance Organization (HMO), day care, community clinics, physicians’ offices, praktik mandiri, dan situasi-situasi

lain yang membutuhkan perawat ahli yang dikombinasikan dengan tenaga medis tingkat menengah Dalam memenuhi kebutuhan secara fisiologis, perawat gerontik memiliki peran untuk membantu klien lansia dalam memenuhi kebutuhan fisiologisnya, sesuai dengan hierari kebutuhan Maslow, yaitu kebutuhan oksigenasi, cairan, nutrisi, temperatur tubuh, eliminasi, rasa aman atau perlindungan, dan seksualitas. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis ini pada dasarnya masih dapat dipenuhi oleh klien lansia secara mandiri jika klien lansia tidak memiliki barier biologis seperti penyakit kronis atau imobilitas dalam menjalani kesehariannya. Bagi klien lansia yang memiliki barier-barier tersebut, di sinilah peran perawat untuk membantu klien lansia melewati barier tersebut, namun dengan tetap memperhatikan kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. Dengan begitu, klien lansia tidak akan merasa rendah diri atau merasakan efek negatif dari penuaan berupa penurunan kemampuan diri. Dengan memandirikan klien, perawat justru berperan dalam pengembangan diri klien lansia ke arah yang lebih baik. 2. Peran Perawat Gerontik dalam Pemenuhan Aspek Psikologi pada Lansia Aspek psikologi mempunyai peran penting dalam fase lanjut usia. Menurut teori psikologi, lanjut usia adalah masa dimana seseorang telah mencapai semua aspek perkembangan psikologi ini. Teori ini berfokus pada dimensi-dimensi psikologi termasuk teori kebutuhan manusia Maslow dan teori perkembangan kepribadian. Teori ini menjelaskan setiap individu akan melewati tingkatan dalam hidup sesuai dengan kebutuhan yang telah terpenuhi dalam segitiga kebutuhan manusia Maslow. Teori ini juga menjelaskan seorang individu akan mencoba mencapai ke tingkat kebutuhan yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Pada tahap aktualisasi diri, seseorang sudah sampai tahap memahami dan menerima diri mereka sendiri. Tahap ini juga ditandai dengan sifat otonomi, kreatif, independen, dan hubungan interpersonal yang positif. Menurut pandangan teori ini, apabila seorang klien lanjut usia telah mencapai tingkatan ini berarti mereka telah mencapai akhir dari fase kehidupan mereka. Selanjutnya adalah teori perkembangan kepribadian, teori ini mengemukakan perkembangan kepribadian seseorang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam beradaptasi dalam tahap menua. Di dalam teori ini, lansia dipandang sebagai suatu tahapan dalam kerangka kehidupan manusia. Selama di tahap ini, klien lansia akan mengalami banyak perubahan pada kesehatannya, kehilangan orang yang mereka cintai, dan menjadi akhir dari peran menjadi orang tua, pegawai, atau teman. Peran perawat dalam aspek psikologi pada lansia lebih kepada pemberi asuhan keperawatan kepada klien lansia dengan masalah atau penyakit yang merubah kepribadian dan psikologi klien. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada tahap ini lansia sudah mengalami banya perubahan pada kesehatannya kehilangan orang yang mereka cintai hingga kehilangan peran mereka sebelumnya. Hal-hal itu dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka. Maka dari itu, penting bagi perawat untuk

memperhatikan hal-hal ini, seperti meningkatkan harga diri mereka, meningkatkan kemampuan diri mereka, dan lain-lain. Selain itu, pemberian edukasi dan informasi dalam aspek ini sangat dibutuhkan. Seperti mengembangkan kemampuan klien dalam hal-hal yang berkaitan dengan dirinya ataupun penyakitnya. Hal ini akan membuat klien lebih percaya diri. Sebagai advokat, perawat lebih berperan untuk memfasilitasi apa yang dirasakan klien tentang dirinya dan lingkungan sekitarnya dan menjadi penghubung klien dengan keluarga maupun pemberi pelayanan kesehatan lain. 3. Peran Perawat Gerontik dalam Pemenuhan Aspek Psikososial pada Lansia Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling ber interaksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Adapun mengenai teori psikososial, berturut-turut dikemukakan beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:  Disengagement theory, yang menyatakan bahwa lansia menarik diri dari masyarakat, memungkinkan mereka untuk menyimpan lebih banyak aktivitas yang berfokus pada dirinya dalam memenuhi kestabilan diri.  Teori aktivitas, menekankan pada pentingnya peran serta dalam kegiatan masyarakat bagi seorang lansia.  Teori kontinuitas, ditekankan pada pentingnya hubungan antara kepribadian dengan kesuksesan hidup lansia.  Teori subkultur, dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang memiliki norma, harapan, rasa percaya, dan adat kebiasaan tersendiri, sehingga dapat digolongkan menjadi suatu subkultur. Akan tetapi, mereka ini kurang terintegrasi dengan masyarakat luas dan lebih banyak berinteraksi antarsesama mereka sendiri.  Teori stratifikasi usia, mengemukakan adanya saling ketergantungan antara usia dengan struktur social; lansia dan mayoritas masyarakat senantiasa saling mempengaruhi.  Teori penyesuaian individu dengan lingkungan, ada hubungan antara kompetensi individu dengan lingkungannya berupa segenap proses yang merupakan ciri fungsional individu, antara lain kekuatan ego, keterampilan motoric, kesehatan biologis, kapasitas kognitif, dan fungsi sensorik. Orang yang berfungsi pada kompetensi rendah hanya mampu bertahan pada level lingkungan yang rendah pula, dan sebaliknya. Semakin terganggu (cacat) seseorang, maka tekanan lingkungan yang dirasakan akan semakin besar. Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua

fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian, yaitu 1. Tipe Kepribadian Konstruktif, tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua. 2. Tipe Kepribadian Mandiri, ada kecenderungan mengalami post power syndrome. 3. Tipe Kepribadian Tergantung, sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya. 4. Tipe Kepribadian Bermusuhan, pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama. 5. Tipe Kepribadian Kritik Diri, pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya. Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri, teman atau relasi, dan meningkatnya kesadaran akan kematian. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan di atas. Masalah lain yang dapat terjadi berhubungan dengan akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta berperilaku seperti anak kecil. Masalah keperawatan psikososial yang sering muncul pada lansia antara lain berduka disfungsional, ketidakberdayaan, gangguan pola tidur, resiko terhadap cidera, perubahan nutrisi, defisit perawatan diri, dan ansietas. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka. Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama jika klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.

Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki keluarga masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar, di sinilah peran perawat dibutuhkan dan bersifat sangat penting. Tujuan dari tindakan keperawatan adalah mengajarkan klien untuk bersepons emosional yang adaptif. Tindakan yang dilakukan perawat antara lain menciptakan lingkungan yang aman, mencegah terjadinya kecelakaan, membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien, mendorong lansia untuk mengekspresikan pengalamannya, mengubah pikiran negative dan identifikasi aspek positif, bantu mengubah persepsi yang salah atau persepsi yang negative menjadi suatu yang positif, memberi pujian, dan jangan lupa libatkan klien dalam kegiatan interaksi social, serta tingkatkan status kesehatan seperti perawatan diri, istirahan, makan, dan minum. 4. Peran Perawat Gerontik dalam Pemenuhan Aspek Psikososial pada Lansia Keperawatan gerontik selalu memperhatikan promosi kesehatan dan stabilitas serta memaksimalkan fungsi perawatan diri dari lansia. Peran perawat gerontik pun harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara keseluruhan. Salah satunya adalah aspek spiritual. Tulisan ini akan membahas mengenai peran perawat gerontik serta peran focus perawat gerontik dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien. Sebelum pembahasan lebih jauh mengenai peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual, akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai peran perawat gerontik secara umum. Menurut Tyson (1999) peran perawat gerontik terdiri dari healers, visionary, clinician, pendidik, advokat, ahli anggaran dan spesialis hal yang berkenaan dengan peraturan. Perawat gerontik sebagai healers (penyembuh) menggunakan “hands-on” care, sentuhan terapeutik dan holistic untuk memperbaiki keseimbangan fisik, emosi, sosial, kultural dan spiritual. Perawat gerontik sebagai visionaries membutuhkan kemampuan untuk membuat pendekatanpendekatan dan trend dalam bidang kesehatan. Perawat gerontik sebagai clinician harus mampu menjadi ahli dalam pengetahuan klinis yang berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh lansia. Pendidik adalah peran perawat gerontik untuk mengambil peran pendidikan informal dalam penajaran kesehatan pasien dan keluarga. Perawat gerontik sebagai advokat mempunyai peran untuk membantu dan mendampingi lansia dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatan kesehatan mereka. Lansia yang kesulitan dalam penentuan pendanaan keperawatan harus dibantu oleh peran perawat gerontik. Semua peran perawat gerontik di atas dapat dihubungkan dengan peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien lansia. Perawat

gerontik yang memberikan pelayanan komprehensif dan holistic tentunya harus juga memfasilitasi lansia untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya berhubungan dengan proses penuaan. Perawat dituntut untuk dapat memberikan ketenangan dan fasilitas yang dapat menghubungkan klien lansia terkaitan kebutuhannya berhubungan dengan keagamaan, keyakinan dan ketuhanan. Perubahan fisik yang semakin menurun dan tuntutan psikologis lansia sering mengarahkan lansia untuk lebih fokus dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya. Pemenuhan kebutuhan lansia tidak hanya untuk masalah biologis tapi ada suatu aspek yang harus mereka penuhi untuk meningkatkan kualitas hidupnya yaitu dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Salah satu contoh peran perawat dalam memfasilitasi pemenuha kebutuhan spiritual adalah dengan menjadi atau mencarikan pendampingan spiritual untuk pasen geriatrik. Hasil penelitian dari (Kinasih & Wahyuningsih, 2012) menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendamping spiritual dengan motivasi kesembuhan pada pasien lansia. Hal ini dikarenakan peran pendampingan yang berjalan dengan baik dapat menumbuhkan motivasi kesembuhan yang kuat bagi pasien dengan didukung oleh keyakinan kesembuhan yang kuat dari pendampingan spiritual. Perawat melihat latar belakang keyakinan pasien saat melakukan pengkajian pada proses asuhan keperawatan. Peran pendampingan spiritual oleh perawat dapat dilakukan mandiri tanpa harus bergantung pada profesi lain. Akan tetapi hal penting yang harus diperhatikan oleh perawat adalah kepekaan terhadap perbedaan latar belakang keyakinan yang dimiliki perawat dengan pasien lansia. Spiritualitas mencakup kepercayaan dan system nilai seseorang (Potter & Perry, 2005). Hal ini lah yang harus menjadi perhatian pertama seorang perawat dalam mengkaji nilai spiritual pasien lansia. Banyak isu psikososial yang menjadi perhatian untuk pasien lansia berkaitan dengan spiritualitas. Permasalahan tersebut mencakup disabilitas fisik berkaitan dengan proses penuaan, kemungkinan kematian, kesibukan anggota keluarga lain, pensiun serta perasaan sendiri karena ditinggalkan orang yang dicintai dan tidak diperhatikan. Hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi perasaan lansia terhadap nilai di mayarakat dan identitasnya. Sehingga, isu-isu ini menyebabkan lansia tergantung pada keyakinan spiritual dan tindakan-tindakan untuk koping yang efektif. Konflik antara kepercayaan lansia (kenapa saya?) dan realita keadaannya menyebabkan distress spiritual. Ketika lansia merasakan distress spiritual, lansia mungkin mempertanyakan mengenai tujuan dan makna hidup mereka. Fungsi dukungan dan peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual lansia sangatlah berarti. Miller (2004) menyatakan bahwa bahwa mendukung kepercayaan dan nilai-nilai lansia membantu individu untuk mengatasi tantangan yang dihadapi lansia. Fungsi lainnya, partisipasi religios juga dapat menurunkan laju depresi pada lansia. Selain itu juga memberikan rasa penguatan pada tujuan hidup dan ketabahan secara keseluruhan. Lansia perlu untuk menemukan arti hidup dalam penuaan.

Fungsi pemenuhan spiritual bagi lansia juga dapat membantu lansia untuk menemukan jawaban mengapa mereka kehilangan peran sebelumnya, identitas dan kapasitas fisik. Beberapa lansia percaya pada akhirat dan agama mereka membantu mereka untuk menghadapi kehilangan seseorang yang mereka cintai. Selain itu, kehadiaran agama pada kepuasan hidup lansia sering berlangsung lama saat kesehatan lansia menurun. Berangkat dari pentingnya fungsi pemenuhan tersebut, maka perawat gerontik sangat penting untuk tidak melewatkan aspek pribadi spiritual pasien karena hal tersebut meruapakan kekuatan dalam mengatasi kesulitan untuk meningkatkan kualitas hidup (Tyson, 1999). Area kebutuhan spiritual mencakup pembebasan kecemasan dan ketakutan, persiapan untuk kematian, integrasi kepribadian dan filsafat hidup. Donley dalam Tyson (1999) mendefinisikan spiritual nursing care memiliki beberapa hal seperti: 1) Perasaan iba atau “menderita dengan …” 2) Membantu klien utuk menemukan makna penderitaan 3) membantu untuk menghilagkan luka dan penderitaan. Harapan dan kekuatan emosi membantu bayak lansia utuk menemukankebutahannya sendiri terutama ketika mereka kekurangan kesehatan, kekayaan atau cinta dari anggota keluarga. Dengan system keyakinan dan ritual, agama menyediakan mekanisme sikap negative dapat diubah dan hidup dapat dievaluasi. Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual dapat dituangkan dalam asuhan keperawatan klien lansia tersebut. Pada pengkajian, perawat dapat mengkaji mengenai keteraturan ibadah, keterlibatan aktif, penyelesaian masalah dengan doa, dll. Gangguan spiritual pada lansia akan menyebabkan lansia tidak bisa menjalani masa lansia dengan bahagia dan sejahtera serta tidak tercapainya healthy aging. Dengan terpenuhinya kebutuhan spiritual yang tinggi yaitu spiritual, maka lansia akan merasa hidupnya berkualitas. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sangatlah penting bagi perawat untuk membantu klien lansia dalam pemenuhan kebutuhan spiritual. Perawat harus mengkaji isu psikososial dan budaya dari klien tersebut dalam hal spiritual agar dapat memaksimalkan pemenuhan fungsi spiritual untuk klien tersebut. Tugas Perkembangan dan Peran Keluarga dengan Lansia 1. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Lansia Setiap tahap kehidupan, manusia memiliki tugas perkembangan yang harus dilalui. Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul dari atau pada periode tertentu dalam kehidupan individu, pencapaian yang berhasil dilakukan akan membawa kebahagiaan dan keberhasilan pada tugas yang akan datang. Tugas perkembangan utama pada lansia adalah mengklarifikasi, memperdalam dan menemukan fungsi seseorang yang sudah diperoleh dari proses belajar dan beradaptasi seumur hidup. (Havigrust dalam Stanley, 1999) Keluarga merupakan orang terdekat dalam kehidupan lansia. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran maupun tugas perkembangan berkaitan dengan lansia. Tugas perkembangan keluarga merupakan tanggung jawab

yang harus dicapai oleh keluarga dalam setiap tahap perkembangannya. Keluarga diharapkan dapat memnuhi kebutuhan biologis, imreatif (saling menguatkan), budaya dan aspirasi serta nilai-nilai keluarga. Menurut carter dan mcgoldrick (1998), dalam Maryam (2008) tugas perkembangan keluarga dengan lansia adalah sebagai berikut : 1. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan Pengaturan hidup merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam mendukung kesejahteraan lansia. Dalam hal ini, keluarga harus bisa senantiasa berkomunikasi terkait hal-hal yang akan dilakukan yang berhubungan dengan lansia. 2. Penyesuaian terhadap pendapatan yang menurun Ketika memasuki usia lansia, berarti masa ini seseorang akan mengalami masa pension. Bagi sebagian lansia, masa ini merupakan masa kebahagian karena ia bisa berhenti dari pekerjaan dan bisa mengikuti kegiatan yang tidak memerlukan usaha keras. Namun, bagi sebagian lansia lainnya, pension merupakan hal yang tidak membahagiakan karena ini berarti penuruan pendapatan, sedangkan biaya hidup terus meningkat. Dengan sering munculnya masalaah kesehatan, pengeluaran untuk biaya kesehatan merupakan masalah fungsional yang utama. Adanya harapan hidup yang meningkat memungkinkan lansia untuk dapat hidup lebih lama dengan masalah kesehatan yang ada. 3. Mempertahankan hubungan perkawinan Hal ini menjadi lebih penting dalam mewujudkan kebahagiaan keluarga. Perkawinan mempunyai kontribusi yang besar bagi moral dan aktivitas yang berlangsung dari pasangan lansia. Salah satu mitos tentang lansia adalah dorongan seks dan aktifitas sosial yang tidak ada lagi. Mitos ini tidak benar, karena menurut hasil penelitian memperlihatkan ahwa meskipun terjadi penurunan kapasitas seksual secara perlahan-lahan pada lansia, namun keinginan dalam kegiatan seksual terus ada, bahkan meningkat (Lobsenz, 1975). Salah asatu penyebab dapat menurunkan aktifitas seksual adalah masalah psikologis. 4. Penyesuaian diri terhadap kehilangan pasangan Tugas perkembangan ini secara umum merupakan tugas perkembangan yang paling traumatis. Lansia biasanya telah menyadari bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan normal, tetai kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang ditinggalkan akan menemukan penyesuaian kematian dengan mudah. Hilangnya pasangan menuntut reorganisasi fungsi keluarga secara total, karena kehilangan pasangan akan menguragi sumber-sumber emosional dan ekonomi serta diperlukan penyesuaian untuk menghadapi perubahan tersebut. 5. Pemeliharaan ikatan keluarga antargenerasi Ada kecendrungan bagi lansia untuk menjauhkan diri dari lingkungan sosial, tetapi keluarga tetap menjadi focus interaksi lansia dan sumber utama dukungan sosial. Oleh karena lansia menarik diri dari aktivitas dunia sekitarnya, maka hubungan dengan pasnagan, anak-anak, cucu serta saudanya menjadi lebih penting. 6. Meneruskan untuk memahami eksistensi usia lanjut

Hal ini penting, bahwa penelaah kehidupan memudahkan penyesuaian terhadap situasi sulit yang memberikan pandangan terhadap kejadiaaaankejadian masa lalu. Lansia sangat peduli terhadap kualitas hidup mereka dan berharap agar dapat hidup terhormat dengan kemegahan dan penuh arti. Selain itu, lansia sendiri harus dapat melakukan perawatan dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang disekitarnya pun perlu memahami bagaimana melakukan perawatan yang tepat bagi lansia. Oleh karena selama individu tersebut memiliki semangat untuk hidup serta melakukan kegiatankegiatan, maka ia akan tetap produktif dan berbahagia meskipun usianya telah lanjut. Manusia pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan dimulai saat ia muda hingga tua. Dalam kehidupannya, dari usia muda hingga tua manusia pasti membutuhkan orang lain. Support system yang paling dekat dengan manusia adalah keluarga terutama ketika manusia tersebut sudah berada pada rentang usia lanjut. Menurut Miller, 2009 biasanya ketika seseorang sudah menikah, maka ia akan mendirikan rumah tangganya sendiri yang terpisah dengan orang tuanya. Orang tua akan secara independen mempertahankan rumah tangganya selama mungkin. Maka dari itu, keluarga memiliki peran dalam perawatan orang tua. Untuk hal ini biasanya yang paling memiliki tanggung jawab terhadap perawatan orang tua yang sudah lanjut yaitu anak pertama dari orang tua tersebut dan anak perempuan. Dukungan dalam keluarga untuk orang tua yang sudah lansia diberikan dalam ekspresi kasih sayang, dukungan emosional, dan dukungan material (Roach, 2001). Setiap anggota keluarga memiliki tugas dan peran dalam memberikan dukungan untuk orang tua. Beberapa hal yang dapat dilakukan anggota keluarga dalam melaksanakan perannya terhadap lansia yaitu (Maryam, 2008): 1. Melakukan pembicaraan terarah sehingga dapat mempertahankan kehangatan keluarga 2. Membantu dalam memenuhi kebutuhan lansia seperti makan dan kebutuhan transportasi serta keuangan 3. Memberikan kasih sayang, menghormati, dan menghargai lansia serta bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku lansia 4. Mempertahankan kesehatan lansia dengan memeriksakan kesehatan secara teratur, memberikan dorongan untuk hidup sehat, dan mengawasi lansia agar tidak terjadi kecelakaan pada diri lansia Karena keluarga merupakan sistem dukungan utama bagi lansia, maka keluarga memiliki peranan yang sangat besar. Keluarga juga perlu memberikan dukungan sosial dan spiritual untuk orang tua mereka. Perkembangan keluarga merupakan tanggung jawab semua anggota keluarga. keluarga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan biologis, imperatif (saling menguatkan), budaya dan aspirasi, serta nilai-nilai keluarga (Maryam, 2008). Tugas perkembangan keluarga dengan lansia menurut Carter dan McGoldrick, 1998 terdiri dari enam poin. Pada tulisan ini akan dibahas tiga

poin terakhir dari enam poin tersebut. Tugas perkembangan keluarga dengan lansia yaitu: 1. Penyesuaian diri terhadap kehilangan pasangan 2. Pemeliharaan ikatan keluarga antar generasi 3. Meneruskan untuk memahami eksistensi usia lanjut Kehilangan pasangan merupakan peristiwa yang cukup menyebabkan stress dalam kehidupan terutama pasangan yang ditinggalkan. Sebuah studi tentang individu lansia yang berusia di atas 50 tahun meneliti faktor-faktor berikut dalam periode dua tahun setelah kehilangan pasangan: syok emosional, ketidakberdayaan, koping, rasa bersalah, dan perilaku menuntaskan proses berduka (Carpenito, 2002). Maka dari itu diperlukan dukungan dari keluarga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada pasangan yang ditinggalkan. Setiap orang termasuk lansia biasanya sudah menyadari bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan normal, tetapi dengan kesadaran tersebut tidak berarti lansia dapat dengan mudah menerima kenyataan bahwa pasangannya telah meninggalkannya. Ketika hal ini terjadi, biasanya dituntut adanya reorganisasi fungsi keluarga secara total, hal ini dilakukan untuk penyesuaian dalam menghadapi perubahan. Pemeliharaan ikatan keluarga antargenerasi sangat penting dalam hubungan keluarga. Ketika seseorang sudah dalam rentang lanjut usia maka kecenderungan mereka adalah menarik diri dari hubungan sosial. Hal ini akan menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial lansia jika tidak diberikan dukungan dari pihak keluarga. Maka dari itu sangat diperlukan hubungan yang baik dengan pasangan, anak-anak, cucu, serta saudara-saudara. Seperti yang sudah diketahui juga bahwa sepanjang hidupnya manusia membutuhkan orang lain. Lansia juga perlu untuk memahami eksistensi usia lanjut. Hal ini cukup penting dan diperlukan untuk memudahkan peyesuaian terhadap situasi-situasi sulit yang memberikan pandangan terhadap kejadian-kejadian di masa lau. Lansia sangat peduli terhadap kualitas hidup mereka dan ingin dihormati oleh orang lain disekitarnya. Selain itu, dengan adanya berbagai dukungan positif, lansia akan tetap semangat dalam menjalani hidup.

2. Peran Keluarga dengan Lansia Keluarga merupakan bagian terkecil dalam struktur social dalam masyarakat. Menurut Friedman (2003), keluarga sederhana adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh kebersamaan dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari keluarga. Sedangkan menurut Potter dan Perry (2009), keluarga dapat didefinisikan secara biologis, hukum, mau pun sebagai jaringan social dengan ikatan dan ideology yang dibangun secara pribadi. Ada beberapa tahap perkembangan keluarga, salah satu diantaranya adalah keluarga dengan lansia. Dalam melakukan perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Berikut ini merupakan hal yang dapat dilakukan anggota keluarga dalam melaksanakan perannya: 1. Melakukan pembicaraan terarah; 2. Mempertahankan kehangatan keluarga; 3. Membantu melakukan persiapan makanan bagi lansia; 4. Membantu dalam hal transportasi; 5. Membantu memenuhi sumber-sumber keuangan; 6. Memberikan kasih sayang; 7. Menghormati dan menghargai; 8. Bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku lansia; 9. Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian; 10. Jangan menganggapnya sebagai beban; 11. Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama; 12. Mintalah nasihatnya dalam peristiwa-peristiwa penting; 13. Mengajaknya dalam acara-acara keluarga; 14. Membentu mencukupi kebutuhannya; 15. Memberi dorongan utuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan di luar rumah termasuk pengembangan hobi; 16. Membantu mengatur keuangan;

17. Mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi; 18. Memeriksakan kesehatan secara teratur; 19. Memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat; 20. Mencegah terjadinya kecelakaan, baik di dalam maupun di luar rumah; 21. Memelihara kesehatan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama; 22. Memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak-anak kita kelak akan bersikap yang sama. 23. Mempersiapkan anggota untuk beradaptasi terhadap kehilangan pasangan; 24. Mempersiapkan anggota terhadap kematian; 25. Mempersiapkan anggota untuk beradaptasi terhadap proses penuaan dan dampaknya; 26. Saling memberikan dukungan psikospiritual. (Maryam, 2008) Selain itu, keluarga juga memiliki fungsi pokok yang perlu untuk dijalankan, yaitu: a. Fungsi afektif Menurut Stanley (1999), fungsi afektif merupakan fungsi internal keluarga terutama pemenuhan kebutuhan psikologis antar anggota keluarganya. Setiap anggota keluarga dapat memberikan motivasi dan memenuhi kebutuhan dasar lansia sebagai bagian dari perannya menjalankan fungsi ini. Motivasi dan kebutuhan dasar adalah salah satu bagian dari Hierarki Maslow (Miller, 2004) b. Fungsi sosialisasi Keluarga merupakan tempat bagi setiap anggota keluarga untuk mengenal berbagai hal, lingkungan, norma, budaya, dan lain-lain. Lansia, dewasa muda, serta anak-anak dapat menjaga komunikasi dengan menjalankan fungsi ini. c. Fungsi reproduktif Untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat. d. Fungsi ekonomi Lansia yang mengalami pensiun dan perubahan peran, keluarga menjadi tempat bagi para anggotanya untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup. Namun tidak semua lansia bergantung pada keluarga. Banyak aktivitas yang masih dapat dilakukan oleh lansia untuk memenuhi fungsi ekonominya sendiri. e. Fungsi perawatan kesehatan Mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari pelaksanaan tugas kesehatan keluarga sebagai berikut: 1. Mengenal masalah kesehatan keluarga 2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat 3. Memberi perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit 4. Mempertahankan suasana rumah yag sehat 5. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada si masyarakat. (Friedman, 2003)

Fungsi tersebut tidak dibatasi menurut tahap perkembangannya, namun peran keluarga dalam menjalankan fungsi tersebut akan mengalami modifikasi sesuai dengan tahap perkembangan anggota keluarga yang sedang dihadapi. Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara lain menjaga atau merawat lansia, mempertahankan dan meningkatkan status mental, mengantisipasi perubahan social ekonomi, serta memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia.

Bentuk Pelayanan Keperawatan dan Kesehatan bagi Lansia Menurut Stieglietz, 1964, lansia memerlukan perhatian khusus mengenai kesehatannya dikarenakan: 1. 2. 3. Penyakit yang bersifat multipatologik atau mengenai multi organ/degeneratif Penyakit biasanya bersifat kronis, cenderung menyebabkan kecacatan lama sebelum terjadi kematian Biasanya mengandung komponen psikologi dan sosial

Sedangkan, menurut Brocklehurst dan Allen , (1987), lansia diberikan perhatian khusus dikarenakan usia lanjut lebih sensitif terhadap penyakit akut. Prinsip Pelayanan kesehatan Lansia 1. a. b. Holistik Seorang penderita lansia harus dipandang sebagai manusia seutuhnya, meliputi lingkungan kejiwaan (psikologik), sosial, dan ekonomi Vertikal : pemberi pelayanan harus dimulai di masyarakt sampai ke pelayanan rujukan tertinggi yaitu rumah sakit yang mempunyai subspesialis geriatrik. Horizontal : Pelayanan kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan lansia secara menyeluruh, lintas sektoral dengan dinas/lembaga terkait dibidang kesejahteraan, misal, agama, pendidikan, kebudayaan dan dinas sosial Harus mencakup aspek preventif, promotif,kuratif dan rehabilitatif

c.

d.

2. Tata kerja dan tata laksana secara tim Multi disipliner dalam mencapai pelayanan geriatri yang di laksanakan Komponen utama (dokter, pekerja sosio medik, perawat ) ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik (Fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, psikolog/psikiater, farmasi, ahli gizi) Jenis pelayanan kesehatan lanjut usia terbagi menjadi: 1. Pelayanan kesehatan lanjut usia di masyarakat (Community based geriatric service) a. Mendayagunakan dan mengikutsertakan masyarakat termasuk para lansianya b. Puskesmas, dokter praktek swasta merupakan tulang punggung layanan tingkat ini c. Puskesmas berperan dalam membentuk klub/kelompok lanjut usia 2. Pelayanan kesehatan lansia berbasis rumah sakit (Hospital based geriatric service) a. Pada layanan tingkat ini, RS bertugas membina lansia baik langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada puskesmas di wilayah kerjanya “Transfer of Knowledge”berupa lokakarya, simposium, ceramah.

b. RS menyediakan berbagai layanan bagi para lanjut usia dari yang sederhana (poliklinik lansia) sampai pada yang maju ( bangsal akut, klinik siang terpadu “nursing hospital”, bangsal kronis dan atau panti werdha “nursing home” Gambar di bawah ini adalah web of health care (Mauk, 2006) yang sering kali muncul ketika lansia memilih layanan kesehatan baik itu karena sakit atau kecelakaan. Berikut adalah penjelasan dari web of health care tersebut: 1. Acute Care Hospital Pada setting ini, perawat gerontik berfokus pada treatment dan asuhan keperawatan untuk masalah-masalah akut seperti trauma, kecelakaan, permasalahan ortopedi, penyakit respiratori yang ringan, atau masalah sirkulasi yang cukup serius. Setiap unit (kecuali unit postpartum dan anak) memiliki pelayanan terhadap lansia ini di rumah sakit. Tujuan dari asuhan keperawatan ini adalah untuk membantu meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi. 2. Long Term Care Beri kut adalah permasalah anpermasalah an yang masuk ke dalam kategori pelayanana n long-term care yaitu skilled care, perawatan intermediet, asuhan keperawatan terlatih, dan unit alzaemer. Fasilitas yang disediakan dalam pelayanan ini biasanya dikenal dengan nama nursing homes, long care term facilities (LTCFs), skiiled nursing facilities (SNFs), retirement homes, fasilitas skilled care, atau desa rehabilitasi dan layanan kesehatan. Berikut penjelasan mengenai jens-jenis pelayanan tersebut a. Assisted Living Assisted living menyediakan sebuah alternatif bagi lansia yang merasa kurang aman jika tinggal sendirian, ingin tinggal di masyarakat, atau beberapa bantuan tambahan untuk melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs). Layanan assistend living umumnya menyediakan makanan sehat, merencanakan aktivitas, tempat untuk berjalan dan berolahraga, dan menawarkan interaksi sosial bersama sesama lansia dengan aman dan linkungan yang terlindungi. Contoh layanan yang diberikan seperti salon kecantikan, ruangan berkumpul komunitas, dan lain sebagainya. b. Intermediate Care

Intermediate care ini diberikan kepada lansia yang memiliki beberapa faktor seperti membutuhkan pengaturan medikasi dalam jumlah yang banyak, masalah mobilitas, atau memiliki masalah penyakit kronik yang membutuhkan perawatan intensif seperti diabetes, artritis, dan lain sebagainya. c. Subacute or Transitional Care Lansia yang masuk ke dalam kategori perawatan subakut adalah yang membutuhkan pertolongan seperti luka yang sulit sembuh, tergantung pada ventilator secara kronik, masalah ginjal, terapi IV, atau koma. Perawat yang bekerja dalam unit ini harus memiliki latar belakang critical care dan pengalaman rehabilitasi yang baik. d. Skilled Care Skilled Care Facilities (SNFs) diberikan kepada lansia yang membutuhkan perawatan intensif. Fasilitas ini biasanya diberikan di nursing home atau rumah sakit. Lansia yang mendapatkan pelayanan ini yaitu lansia dengan tube feedings, cairan IV, multiple medication, luka kronik, dan terpasang ventilator. e. Alzheimer’s Care Seorang lansia dengan alzheimer kehilangan memori. Perawat dapat membantu anggota keluarga untuk memahami perjalanan penyakit dan menjamin bahwa orang yang mereka cintai dirawat dengan baik. Lansia dengan alzheimer sulit untuk memahami tempat-tempat baru, anggota keluarga sebaiknya tidak mengubah fasilitas rumah saat penyakit bertambah parah. f. Hospice Konsep dari hospice yaitu memberikan pelayanan secara holistik, pelayanan antar disiplin yang membantu seseorang dari awal kehidupan sampai meninggal. Manajemen nyeri dan pemberian rasa nyaman adalah dasar dari pelayanan ini. Pelayanan hospice biasanya diberikan di hospice care atau nursing home 3. Rehabilitation Tujuan dari rehabilitasi sendiri adalah untuk memaksimalkan fungsi, mencegah komplikasi, meningkatkan fungsi maksimal, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pada lansia pada proses penyembuhan atau beradaptasi, seperti pada stroke, trauma kepala, penyakit neurologis, amputasi, operasi ortopedi, dan gangguan sistem saraf 4. Community, diantaranya yaitu home health care (dilakukan dengan cara mengunjungi rumah-rumah lansia dengan luka kronik, terapi IV, dan lain sebagainya); Foster Care or Group Homes (untuk lansia yang dapat melakukan hampir semua aktivitas sehari-harinya, akan tetapi memiliki isu keamanan dan memerlukan pengawasan terhadap beberapa aktivitas seperti meminum obat); independent living (dalam bentuk senior housing yang telah disetting untuk lansia seperti ekstra handsrails, lantai yang tidak licin, dll dimana perawat berperan sebagai edukator untuk pencengahan primer); adult day care (program yang terdiri dari pelayanan kesehatan, sosial, dan kegiatan lain yang dilaksanakan kurang dari 24 jam yang diberikan dalam bentuk promosi kesehatan)

Selain itu, terdapat dua bentuk pelayanan dalam keperawatan gerontik, yaitu: 1. Pelayanan Kesehatan Promotif Lansia kerap kali dianggap sebagai kelompok usia yang kurang produktif. Notabenenya klien lansia merupakan klien dengan kelompok umur yang dapat menjadi produktif dengan memaksimalkan kemampuan yang ada dalam diri klien lansia. Untuk mendukung kehidupan yang lebih produktif pada lansia perlu didukung dengan upaya kesehatan promotif yang dapat memaksimalkan kesehatan klien lansia. Dengan begitu, klien lansia dapat menjadi kelompok usia yang produktif. Berikut ini akan diuraikan mengenai bentuk pelayanan kesehatan promotif pada lansia. Upaya kesehatan promotif merupakan upaya yang penting bagi klien lansia untuk mendukung proses penuaan. Proses penuaan yang berhasil merupakan tugas akhir masa dewasa. Sebagaimana ahli gerontologi mengatakan “ pencapaian umur yang sukses adalah dengan hidup dengan kualitas yang tinggi, umur yang maksimal, dan minimnya penyakit dan ketidakmampuan” (Hazzard: 2001 dalam Miller: 2003). Lansia dengan kualitas hidup yang tinggi dan umur yang maksimal dapat dicapai dengan mengikuti upaya kesehatan promotif. Upaya promotif sendiri merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit (Maryam dkk.: 2008). Upaya promotif dilakukan untuk membantu orang-orang mengubah gaya hidup mereka dan bergerak ke arah keadaan kesehatan yang optimal serta mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan yang sehat tentang perilaku hidup mereka. Bentuk pelayanan kesehatan promotif terhadap lansia dapat berupa (Maryam dkk.: 2008): 1. Pelayanan tingkat masyarakat  Terhadap lansia - Keluarga dengan lansia - Kelompok lansia seperti klub/perkumpulan; paguyuban, padepokan, dan pengajian; serta bina keluarga lansia - Posyandu lansia  Masyarakat mencakup LKMD, karang wreda, day care, dan dana sehat/ JKPM 2. Pelayanan tingkat dasar Diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintahan dan swasta serta organisasi masyarakat, organisasi profesi, dan yayasan seperti: - Praktik dokter dan dokter gigi - Balai pengobatan klinik - Puskesmas/balkesmas - Panti tresna wreda - Pusat pelayanan dan perawatan lansia - Praktik keperawatan mandiri Bentuk pelayanan kesehatan promotif pada lansia di masyarakat maupun rumah sakit sudah banyak diimplementasikan. Berikut ini beberapa bentuk pelayanan kesehatan promotif yang terdapat di masyarakat dan rumah sakit.

Prasarana pelayanan tingkat masyarakat (Maryam dkk.: 2008): 1. Pelayanan rumah dan masyarakat (home and community care) 2. Penyuluhan lansia di bidang sosial, hukum, kesehatan, spiritual dalam kelompok pengajian, dan persekutuan doa 3. Pelayanan rekreasi 4. Home help service, home help care disini lansia mendapat fasilitas memperbaiki atau menstabilkan kondisi medisnya (Kadushin & Egan: 2008) 5. Home nursing 6. Klub olahraga, perkumpulan stroke, diabetes melitus, hemodialisa, bernyanyi, dan hotline service 7. Community option program 8. Continuum of care extended, acute, ambulatory, home care, outreach, wellness and health promotion, housing 9. Day care center, adult day care pada prasarana kesehatan dan sosial. Hal yang didapatkan pada prasarana ini adalah perawatan, bantuan pada ADL, pelayanan pribadi, makanan, konsultasi gizi, rekrasi dan olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, rehabilitasi fisik, orientasi realita dan senam otak, pengobatan okupasi, konseling keluarga, pelayanan sosial, bantuan transportasi, kegiatan keagamaan, serta pelayanan khusus sesuai dengan kebutuhan anggota. Sementara prasarana pelayanan kesehatan promotif di tingkat rumah sakit (Maryam dkk.: 2008): 1. Pelayanan rumah sakit untuk lansia dan rumah sakit geriatri meliputi continuing care facilities dan konsultasi. 2. Geriatri day hospital meliputi seperti day care yang berlokasi di rumah sakit serta rujukan dari bangsal dan bagian rawat inap 3. Penginapan/ asrama (hospice/hostel) meliputi pelayanan personal care, health care, pemberian makanan, mencuci, aktivitas sosial, rekreasi, dukungan sosial, kunjungan teratur, dan mencukur rambut 4. Kawasan lansia (retirement villages/elderly villages) meliputi pelayanan nursing home, apotek, toko, serta bank Dalam pelayanan kesehatan promotif bagi lansia, perawat dapat mengedukasi dan mendorong lansia untuk menghadapi perubahan dalam hidupnya dan menggunakan sumber yang ada untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Intervensi promosi kesehatan pada lansia dapat mencegah ketergantungan dan meningkatkan fungsi dari klien lansia. 2. Pelayanan Kesehatan Preventif Pelayanan preventif merupakan pelayanan yang diberikan kepada lansia sebagai upaya pencegahan untuk meningkatkan atau mempertahankan kualitas kesehatan. Peran perawat dalam upaya preventif dan promotif bagi lansia antara lain sebagai case rnanajer, case finding, memberikan informasi-informasi kesehatan, bekerja sama dengan pemerintah setempat tentang kebijakankebijakan usia lanjut, menghadiri pertemuan-pertemuan tentang kesehatan lansia, melakukan lobi dalam melaksanakan program, terlibat dalam kebijakan publik, negosiasi dan kompromi.

Di rumah sakit, pelayanan preventif terhadap lansia terjadi di ruang perawatan akut. Peran utama perawat di fasilitas perawatan akut adalah melindungi lansia. Fokus utamanya adalah pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Fokus ini harus dimulai sebelum pasien masuk seperti asuhan keperawatan dikonseptualisasi dan harus dipertahankan selama pasien dirawat. Asuhan keperawatan preventif dikatakan berhasil jika pasien dikembalikan ke lingkungannya dengan keutuhan kemampuan fungsional sebanyak mungkin. Pencegahan primer dalam fasilitas perawatan akut terdiri dari pencegahan disabilitas atau penyakit yang disebabkan oleh hospitalisasi. Hal ini termasuk masalah iatrogenik atau masalah yang berkaitan dengan terapi (termasuk malnutrisi dan gangguan pola tidur). Perawat dengan filosofi pencegahan akan memastikan bahwa asupan nutrisi dan waktu tidur pasien selama masa hospitalisasi mencukupi. Masalah iatrogenik tambahan yang dapat menjadi instrumen perawat dalm kegiatan pencegahan adalah jatuh, isolasi sosial dari jam kunjungan yang terbatas, dan keletihan serta harga diri rendah karena kurangnya rasa hormat dari pemberi perawatan. Pencegahan sekunder dalam fasilitas peerawatan akut melibatkan deteksi dini dan perawatan penyakit serta disabilitas. Pada saat memberikan perawatan terhadap masalah utama, perawat harus waspada terhadap gejala dan tanda tambahan yang tidak terdiagnosis. Perawat mungkin menemukan bahwa pasien merasa tertekan dan memiliki keinginan bunuh diri setelah mengetahui tentang penyakitnya, atau perilaku keluarga yang maladaptif terhadap lansia. Permasalahan lainnya, penyalah gunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, masalah penglihatan atau pendengaran yang abnormal, dan infeksi nasokomial. Pencegahan tersier melibatkan manajemen awal permasalahan untuk mencegah kerusakan atau komplikasi. Salah satu contoh pencegahan tersier adalah perubahan posisi yang sering dan teratur untuk menghindari terjadinya ulkus dekubitus serta ambulasi dini dan terus-menerus untuk menghindari komplikasi dari imobilitas. Selain itu, pemberian obat secara hati-hati untuk mencegah efek samping dan interaksi obat juga merupakan tindakan yang tepat. Selain di rumah sakit, pelayanan terhadap lansia juga terdapat di lingkungan luar. Terdapat berbagai program pelayanan bagi lansia diantaranya, Social support program, dan Retired Senior Volunteer Program (RSVP). Social support program merupakan bentuk pelayanan yang paling populer. Pada social support program termasuk program visitor yang ramah dan bersahabat, volunteer akan mengunjungi lansia untuk mengurangi perasaan kesepian, dan isolasi sosial. Selain itu, juga ada program telecare yang menyediakan layanan pengecekan kesehatan harian melalui telpon. Retired Senior Volunteer Program (RSVP) merupakan program untuk orang yang telah berusia 60 tahun atau lebih yang telah pensiun dan tetap ingin bergabung dengan komunitasnya dan melakukan aktifitas yang bermanfaat. Sebagai contoh, perawat yang telah pensiun bisa melakukan pengukuran atau sekedar menginterpretasikan berat badan, tekanan darah, dan suhu pada klinik lansia. Di Indonesia sendiri, saat ini sedang dikembangkan layanan Day care dan Home care untuk para lansia. Dalam model day care, para lansia dapat berkumpul, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan rekan-rekannya, memotivasi lansia untuk mandi dan berdandan, senam bersama, hiburan, dan untuk beberapa

kelompok ada acara rekreasi ke luar kota. Kondisi ini dapat membuat para lansia dapat lebih menikmati masa tuanya dengan bahagia. Model home care ditujukan bagi para lansia yang lemah, memiliki masalah kesehatan, dan hidup sendiri. Para pendamping datang ke rumah lansia, melakukan pelayanan sosial membantu membersihkan diri lansia, rumahnya, dan menjadi pendengar curahan hati para lansia.

Daftar Pustaka Annete, G. L. (1996). Gerontological Nursing. St. Louis: Mosby. Carpenito, L. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Carpenito, L.J. (2002). Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice 9th Ed. Alih bahasa: Kusrini, S., Dian, E., Egi, K., et all. Jakarta: EGC. Ebersole,P., Hess, P., Touhy, T., & Jett, K. 2005. Gerontological nursing & health aging. 2nd ed. St. Louis, Missouri: Mosby, Inc Efendi, Ferry & Makhfudii. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Fiedman, M.M., Bowde, V.R., & Jones, E.G. (2003). Family nursing: Research, theory & practice [Terj.]. Jakarta: EGC Hamid, A.Y.S. (2008). Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC: Jakarta. Hunt, R. 2009. Introduction to Community Based Nursing 4th Edition. Philadelphia : Lippincott Hogstel, M. O. (1995). Geropsychiatric Nursing 2nd Ed.St. Louis: Mosby Kadushin, Goldie., Egan, Marcia. (2008). Gerontological Home Health Care: A Guide for the Social Work Practitioner. New York: Columbia University Press Kinasih, K.D & Wahyuningsih,A. (2002). Peran Pendampingan Spiritual Terhadap Motivasi Kesembuhan pada Pasien Lanjut Usia. Jurnal Stikes Volume 5 No. 1 Juli. Leeckenotte & Gleslore, Annete. (1997). Pengkajian Gerontologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lundy, K.S. & Janes, S. 2003. Essential of Community-Based Nursing Care. Missisauga: Jones and Barlett Maryam, Siti et all (2008) . Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Penerbit Salemba Medika: Jakarta Mauk, K.L. 2006. Gerontological nursing: Competencies for care. Sudbury: Jones and Bartlett Publishers Miller, C. A. (2004). Nursing for Wellness in Older Adults: Theory and Practice. 4th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Miller, Carol A. (2009). Nursing for Wellness in Older Adults 5th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: FKUI. Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, proses, dan praktik. Vol 1, E/4. Jakarta: EGC.

Potter, Patricia & Perry, Anne. (2009). Fundamentals of Nursing [Terj.]. Jakarta: EGC Riana, A. (2010). Lokakarya Kelanjut Usiaan Melalui Day Care dan Home Care. (rehsos.kemsos.go.id) Roach, Sally. (2001). Introductory Gerontological Nursing. Philadelphia: Lippicott Williams & Wilkins. Roach, S. (2006). Introductory gerontological nursing. Philadelphia: Lippincot. Stanley, M. & Beare, P. G. (1999). Gerontological Nursing: A Health Promotion/ Protection Approach 2nd ed. Philadelphia: F. A. Davis Company. Tamher, S.,Noorkasiani. (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendektan Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Salemba Medika. http://books.google.co.id/books?id=m4DCnlySIYC&pg=PA107&dq=tugas+perkembangan+individu+lansia&hl=id&sa= X&ei=mqAfUe76Bs_KrAe23oDABg&redir_esc=y#v=onepage&q=tuga s%20perkembangan%20individu%20lansia&f=false Diunduh tanggal 16 Pebruari 2013, pukul 22.45 WIB Tyson, R.T. (1999). Gerontologial Nursing Care. W.B Saunders Company: USA. Watson, Roger.(2003). Perawatan Lansia Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->