P. 1
Internal Auditor

Internal Auditor

4.61

|Views: 10,277|Likes:
Published by Msr A

More info:

Published by: Msr A on Feb 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

INTERNAL AUDITOR SUCIPTO Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN Dengan bertambah meningkatnya

perkembangan ekonomi maka semakin bertambah pula perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Dalam perusahaan yang kegiatannya relatif kecil pimpinan perusahaan masih mampu untuk melakukan pengawasan langsung terhadap kegiatan perusahaan yang dipimpinnya. Pada perusahaan yang volume kegiatannya luas dan besar tidak mungkin lagi pengawasan langsung dilakukan oleh pimpinan perusahaan. Dalam kegiatan seperti ini pimpinan biasanya akan melimpahkan wewenangnya kepada bawahannya. Tetapi tanggung jawab terakhir atas pekerjaan bawahan tetap berada di puncak pimpinan. Untuk memberi keyakinan bahha apa yang dilaporkan bawahan tentang perusahaan adalah benar dan dapat dipercaya, maka pimpinan perusahaan membutuhkan adanya internal auditor sebagai pengawasan di dalam perusahaan. Agar dapat tercapainya sistem pengawasan yang baik maka pimpinan perusahaan harus membentuk suatu bidang pengawasan yang dapat bertanggung jawab. Dengan adanya sistem pengawasan segala kebijaksanaan Pimpinan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya juga dapat mengamankan harta benda organisasi dan memperoleh data akuntansi yang tepat dan dapat dipercaya. Keberhasilan seorang pimpinan perusahaan dalam mengelola perusahannya dapat dilihat dari gambaran laporan keuangan yang menyajikan angka yang dapat dipercaya, tidak menyesatkan dan dapat dipertanggungjawabkan, untuk mencapai hal di atas maka diperlukan pengawasan yang bertanggung jawab terhadap sistem pengawasan intern perusahaan yang disebut internal auditor. Dengan adanya internal auditor yang dilakukan secara terus menerus maka penyelewengan dan kecumngan dapat diatasi. Karena itu fungsi dari Internal Auditor harus dilaksanakan secara tepat yang sesuai dengan situasi perusahaan. BAB II A. Pengertian Internal Auditor Pada mulanya, audit hanya terbatas pada kegiatan menguji, mencocokkan dan membuat laporan mengenai kewajaran laporan keuangan suatu perusahaan. Dalam tahap ini, audit lebih banyak berperan pada bidang finansial dimana bertujuan menemukan dan mencegah kecurangan serta menemukan dan mencegah kesalahan. Sejalan dengan semakin besarnya skala perusahaan. manajemen mulai merasakan audit yang tidak hanya terbatas pada bidang finansial saja, tetapi diperluas kepada bidang non finansial. Untuk memenuhi tuntutan ini, lahirlah internal audit yang selain meliputi audit pada bidang finansial, juga meliputi evaluasi terhadap kecukupan sistem internal control dan kualitas kerja pelaksanaan dalam perusahaan. Internal audit adalah suatu fungsi penelitian yang bebas dibentuk dalam

©2003 Digitized by USU digital library

1

suatu organisasi untuk memeriksa dan menilai kegiatan-kegiatan perusahaan sebagai jasa bagi organisasi tersebut. Istilah internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal (intern) dan auditing (audit). Bila diartikan secara sederhana adalah suatu audit yang dilakukan oleh pihak intern dalam arti oleh perusahaan dengan menggunakan pegawai perusahaan itu sendiri. Ini harus dibcdakan dcngan ekstemal auditing yaitu audit yang dilakukan oleh pihak luar perusahaan atau pihak yang independen, dalam hal ini akuntan publik. The Institute of Internal Auditor dalam Statement of Responsibility of internal auditor yang dikeluarkan tahun 1957 menyatakan : "Internal auditing adalah suatu kegiatan penilaian yang independen dalam organisasi untuk menilai operasi sebagai jasanya diberikan kepada manajemen. Jadi internal auditing merupakan pengendalian manajerial yang melaksanakan fungsinya, mengatur dan mengevaluasi keefektifan pengendalian lain". 1) Dari pengertian di atas maka sifat dari internal auditing adalah kegiatan penilaian yang tidak memihak dalam suatu organisasi untuk mengadakan audit di dalam suatu akuntansi yang diperlukan perusahaan, audit keuangan dan operasi lainnya yang merupakan dasar untuk membantu manajemen. Pengertian lain dari internal auditing seperti yang dikemukakan oleh Mulyadi, sebagai berikut: "Internal auditing merupakan kegiatan penilaian yang bebas, yang terdapat dalam organisasi perusahaan yang dilakukan dengan care audit akuntansi, keuangan dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk memberikan jasa kepada manajemen". Tim yang melaksanakan fungsi auditing di dalam perusahaan disebut internal auditor, internal auditor mempunyai status sebagai pegawai melakukan audit mempunyai status sebagai pegawai perusahaan, keberhasilan tugas internal auditor ditentukan dari kecakapannya dalam memanfaatkan setiap informasi yang ada, yang berhubungan dengan kegiatannya. Guna menjamin hasil kerja dari bagian perlu diperhatikan kualifikasi yang baik dari pegawai bagian internal audit tersebut. S. Hadibroto antara lain menyatakan : “Auditor (pemeriksa) diharapkan menguasai berbagai bidang ilmu, yaitu : llmu Ekonomi Manajemen, Hukum, Moneter dan sebagainya. Maka dari itu seyogianya bagai audit bertindak sebagai sebuah tim yang sifatnya multi disipliner”. Dari definisi yang dikemukakan oleh S. Hadibroto tersebut diketahui bahwa pengangkatan star untuk internal audit haruslah berdasarkan kecakapannya, sebab selain menguasai disiplin ilmu lainnya seperti : ekonomi, hukum, keuangan, sistem informasi dan komunikasi, statistik dan komputerisasi. Pengetahuan ini akan sangat membantu bagi internal auditor dalam melaksanakan tugas audit intern. Tugas audit intern yang luas ini sudah pasti melibatkan berbagai personel dalam manajemen dengan level yang berbeda-beda dan kepribadian yang tidak sama pula, sehingga paling tidak audit intern dituntut untuk memahami behavior science dan proses komunikasi. Bahagian internal auditing secara keseluruhan dapat dihagi atas dua kategori, yaitu: 1. Financial audit 2. Operasional audit

©2003 Digitized by USU digital library

2

ad.1. Financial audit Audit yang dilakukan disini meliputi pembuktian kebenaran tentang adanya harta kekayaan serta keabsahan dokumen-dokumen. Juga untuk meyakinkan adanya perlindungan, serta penilaian yang konsisten atas harta kekayaan perusahaan. Di samping itu di dalam audit juga tercakup untuk meyakinkan serta mengetahui apakah sistem akuntansi yang dibuat telah dapat dipercaya dan cukup baik, kemudian membahas apakah pengawasan intern yang baik telah dijalankan. ad.2. Operasional Audit Audit pada bidang operasi akan mencakup setiap tahap kegiatan perusahaan, dimana pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai apakah kebijaksanaaan perusahaan, pedoman standar kerja telah dipatuhi oleh para pelaksana demi untuk meyakinkan apakah para pelaksana telah memenuhi persyaratan yang dibutuhkan ditinjau dari segi latar belakang pendidikan, kemapuan dan pengalaman yang cukup untuk melakukan pekerjaannya. Dengan adanya kewajiban terhadap lembaga pemerintahan maka internal auditor akan melakukan audit apakah berbagai peraturnn pemerintah telah dipenuhi, demikian juga perjanjian kerja serta kewajiban kepada pihak luar telah dilaksanakan sesuai dengan perjanjian. Oleh karena itu dengan adanya bagian internal auditor yang bekerja dengan baik, maka audit yang dilakukan oleh akuntan publik atas perusahaan akan lebih cepat. Sebagaimana mana dikemukakan di atas pengawasan intern tersebut dikepalai oleh satuan pengawasan intern yang selalu menilai dan mengawasi, penerapannya dengan baik. Sedangkan untuk menetapkan luasnya yang akan dilaksanakan didasarkan pada sistem pengawasan intern yang ada pada perusahaan yang bersangkutan. B. Fungsi dan Tanggung jawab Internal Auditor Pada saat ini fungsi internal auditor dalam suatu perusahaan semakin diperlukan, terutama pada perusahaan yang memiliki skala operasi yang luas dan besar. Internal auditor tidak hanya berfungsi untuk mengurangi kebocoran dan penyelewenangan dalam perusahaan, akan tetapi lebih dari itu yaitu sebagai penghasil informasi yang tepat dan tidak memihak serta dapat mernbantu meningkatkan mutu pimpinan dalam pengendalian perusahaan. Di dalam tugasnya membantu pimpinan, maka fungsi internal auditor harus sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen yang dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Fungsi perencanaan, yang merupakan perencanaan operasi melalui saluran manajemen yang sah yang meliputi rencana jangka panjang maupun jangka pendek sesuai dengan tujuan perusahaan. 2. Fungsi pengawasan termasuk pengembangan testing dan perbaikan kelayakan yang berarti dengan membandingkan standar dengan hasil pekerjaan dan membantu pimpinan dalam menetapkan kesesuaian antara hasil pekerjaan dan membantu pimpinan dalam menetapkan kesesuaian antara hasil yang nyata dengan standar. 3. Fungsi pelaporan, yang meliputi penyajian interprestasi dan analisa data keuangan bagi pimpinan dan menekankan penilaian data dan referensi perusahaan serta tujuan dari metode bagian-bagian. Pengaruh ekstem dan

©2003 Digitized by USU digital library

3

kelayakan penyajian laporan kepada pihak ketiga seperti pemerintah, pemilik kreditur-kreditur, langganan, masyarakat dan pihak-pihak lain. 4. Fungsi akuntansi, tennasuk pembentukan perusahaan dan akuntansi umum, akuntansi biaya dengan sistem dan metode yang mencakup rancangan dan pembentukan serta pemeliharaan semua buku-buku catatan transaksi keuangan yang objektif dan menyesuaikannya dengan prinsip-prinsip akuntansi dengan internal auditing yang baik. 5. Fungsi lain-lain, termasuk pemberian nasehat perpajakan, memperbaiki sistem dan prosedur serta internal audit. Dari fungsi-fungsi di atas jelas kelihatan bahwa internal auditor harus memiliki kecakapan yang luas. Ia harus mampu menilai dan mengevaluasi berbagai hasil yang telah dicapai manajemen, mampu mendeteksi dan mengantisipasi kelemahan yang mungkin terjadi di masa depan dan menciptakan saluran komunikasi pada berbagai tingkat kegiatan dalam manajemen. Lebih lanjut penulis lain menyebutkan bahwa fungsi internal auditor adalah : 1. Menentukan baik tidaknya internal auditor dengan memperhatikan pemisahan fungsi dan apakah prinsip akuntansi benar-benar telah dilaksanakan. 2. Bertanggung jawab dan menentukan apakah pelaksanannya mentaati peraturan, rencana policy dan prosedur yang telah ditentukan sampai menilai apakah hal-hal tersebut perlu diperbaiki atau tidak. 3. Memverfikasi adanya kebutuhan kekayaan termasuk mencegah dan menemukan penyelewengan. 4. Memverifikasi dan menilai tingkat kepercayaan terhadap sistem akuntansi (accounting system) dan pelaporan. 5. Menilai kehematan, efisiensi dan efektivitas kegiatan. 6. Melaporkan secara obyektif apa yang diketahuinya kepada manajemen disertai rekomendasi perbaikannya. Selanjutnya Hassel B. Bell memberikan serangkaian fungsi internal auditor yakni: 1. Menemukan berbagai situasi untuk meniadakan pemborosan dan inefisiensi. 2. Menyarankan perbaikan dalam kebijaksanaan prosedur dan struktur organisasi. 3. Menciptakan alat-alat penguji terhadap hasil pekerjaan para individu dan berbagai unit organisasi. 4. Mengawasi ketaatan pada syarat-syarat yang ditentukan oleh anggaran dasar dan undang-undang. 5. Mengecek akan adanya tindakan-tindakan yang tidak atau belum disetujui, yang menyeleweng dan tidak wajar secara lisan. 6. Mengidentifikasikan tempat-tempat yang mengandung kemungkinan timbulnya kesulitan dalam kegiatan di masa depan. 7. Menciptakan seluruh komunikasi antara berbagai tingkatan kegiatan dan pimpinan yang tertinggi. Walaupun penyajian kedua penulis di atas berbeda tctapi pada prinsipnya tujuan mereka dalam menetapkan fungsi internal auditor itu adalah sama yakni menekankan kepada peningkatan hasil guna perusahaan secara umum. Internal auditor bukan merupakan fungsi operasional karcna ia tidak terlibat dalam kegiatan utama perusahaan seperti pembelian bahan, penjualan produksi dan sebagainya. Tetapi bagian ini berfungsi sebagai star perusahaan. Oleh karena itu ia tidak akan rnelaksanakan perintah atas apa yang direkomendasikannya kepada

©2003 Digitized by USU digital library

4

pimpinan, Internal auditor harus bebas membahas dan menilai kebijaksanaan pejabat yang dia audit. Internal auditor sebagai star mengandung pengertian yang sama seperti penasehat atau konsultan yang berasal dari pegawai perusahaan. Tetapi perlu dicatat bahwa nasehat yang diberikan oleh internal auditor bukanlah mutlak harus diikuti oleh manajemen. Tanggung jawabnya hanyalah sebagai penasehat yang berkewajiban memberikan nasehat yang paling baik sedangkan untuk mengambil keputusan tetap berada di tangan pimpinan. Dengan demikian bagian internal auditor bukanlah satu-satunya penasehat bagi manajemen dalam mengambil keputusan. Perlu ditambahkan bahwa bantuan lain yang dapat diberikan oleh internal auditor kepada pimpinan adalah berupa pendidikan dan latihan kepada pegawaipegawai baru yang direncanakan akan ditempatkan, misalnya untuk bagian pembukuan. Demikian juga apabila perusahaan membuka cabang-cabang baru sudah tentu akan memerlukan pembagian tugas untuk mengurus kegiatan cabang tersebut, dan apabila perlu mereka juga harus mendidik para pejabat dalam posisi pimpinan. Oleh karena itulah seperti yang dikemukakan terdahulu, para star internal auditor haruslah mempunyai pcngctahuan dasar dan pengalaman yang cukup untuk menduduki posisi tersebut. C. Kedudukan Internal Auditor Internal auditor merupakan fungsi star bukan fungsi garis atau fungsi operasi. Internal auditor tidak melaksanakan wewenang pihak lain dalam perusahaan, tugastugasnya adalah melaporkan hasil temuan audit kepada orang yang benar-benar berwenang untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Kedudukan bagian internal auditing terutama sekali tergantung dari tempatnya di dalam organisasi perusahaan dan dukungan orang diperolehnya. Manajemen puncak akan menentukan luasnya tanggung jawab dan dasar-dasar kebijaksanaan yang mengatur kegiatan-kegiatan dari bagian ini. Dimanapun bagian internal auditing ini akan ditempatkan, yang penting bahwa internal auditor harus benar-benar bebas dari fungsi bagian-bagian lain yang diaudit. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan The Institute of Internal Auditor, dalam Statement of Responbility of The Internal Auditor sebagai berikut : “Organization status should be sufficient to essure a broad range of audit coverage, and adequate consideration of an effective action on audit findings and commendation”. Dari penegasan di atas kelihatan bahwa kedudukan internal auditor dalam organisasi harus dapat mendukung untuk memastikan pemeriksaan yang dilakukan mempunyai cakupan yang luas, dan pertimbangan yang tepat terhadap tindakan yang efektif atas temuan-temuan audit dan saran-saran yang dibuat Namun, ditinjau dari segi tanggung jawab pelaporan dan pembentukan struktur organisasinya, bagian internal auditing memiliki variasi yang berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan serta tujuan yang hendak dicapai. Berikut ini dikemukakan beberapa bentuk dari struktur organisasi bagan internal auditing:

©2003 Digitized by USU digital library

5

1. Penempatan bagian internal auditing sebagai star direksi dimaksudkan untuk membantu pihak wakil presiden yang membidangi bagian keuangan dalam melakukan pengawasan atas keseluruhan kegiatan operasional (gambar 1). 2. Penempatan bagian internal auditing di bawah koordinasi departemen controller dimaksudkan untuk membantu pengawasan atas ruang lingkup bidang keuangan (gambar 2). 3. Penempatan bagian internal auditing di bawah dewan direksi, dimaksudkan untuk membantu pihak tersebut atas prestasi kerja atau performance manajemen yang dimonitor (gambar 3).

Vice President Finance

Finance Treasurer

Accounting Controller

Auditing Chief Auditor

Gambar 1. Bagan Bagian Internal Auditing merupakan staf wakil Direksi perusahaan

Controller

Data Processing Director

Taxes Director

Budged Director

Accounting Director

Auditing Director

Gambar 2. Bagan Bagian Internal Auditing Berada di bawah Koordinasi Controller

©2003 Digitized by USU digital library

6

Board of Director

Executive Committe

Finance Committe

Chairman of Board

Nominating Committe

Auditing Committe

President

Audit Dept

Public Accountant

Gambar 3. Bagan Bagian Internal Auditing merupakan staff Dewan Direksi D. Pedoman Audit Pembelian dan Pemakaian Bahan Baku Setiap perusahaan akan membutuhkan bahan atau barang setengah jadi untuk diproses. Untuk itu harus dilakukan pembuatan bahan-bahan maupun barang setengah jadi dari luar terlebih dahulu, sedangkan pihak yang mengetahui pembelian bahan-bahan atau barang tersebut adalah bagian produksi. Pimpinan bagian produksi mengambil inisiatif untuk memberitahukan kepada bagian pembelian tentang bahan/barang apa yang harus dibeli, berapa banyak dan pada waktu mana harus dipesan dengan menyerahkan surat daftar permintaan pembelian. Bagian pembelian dalam melakukan tugasnya perlu mengetahui data dan keterangan tentang supplier mana yang baik, harga pasar bahan/barang tersebut, cara-cara pengangkutan, jumlah yang paling ekonomis untuk dipesan dan sebagainya. Setelah permintaan pesanan datang dari bagian produksi maka bagian pembelian mengirimkan surat pesanan kepada calon supplier. Di dalam surat pesanan ini jumlah yang dipesan, harga barang, cara pcmbungkusan dan tanggal pesanan tersebut datang. Selain itu dinyatakan pula apabila barang yang dipesan terbukti tidak sesuai spesifikasi, pembeli berhak mengembalikannya. Surat pesanan yang dibuat banyaknya tergantung dari sistem administrasi/akuntansi perusahaan yang bersangkutan. Sekurang-kurangnya diperlukan : 1 lembar untuk supplier 1 lembar untuk bagian penerimaan 1 lembar untuk bagian pemnbukuan 1 lembar untuk bagian produksi Setelah supplier mengirimkan barang yang dipesan maka bagian penerimaan akan mengaudit apakah barang yang diterima tersebut sesuai dengan apa yang dipesan. Apabila barang telah diperiksa dan terbukti sesuai dengan pesanan maka bagian penerimaan akan memberikan laporan kepada bagian pembelian dan pesanan

©2003 Digitized by USU digital library

7

diteruskan kebagian penyimpanan (gudang). Laporan penerimaan dibuat dalam beberapa rangkap antara lain: 1 lembar dikirim ke bagian pembelian 1 lembar dikirim ke bagian akuntansi 1 lembar dikirim ke bagian gudang Di samping pengiriman barang yang dipesan, maka supplier juga mengirimkan faktur pembelian yang diterima oleh bagian pembelian dan diteruskan kepada bagian pembukuan. Selanjutnya apabila bagian produksi memerlukan bahan/barang tersebut untuk proses produksinya, maka bagian ini mengirimkan surat permintaan pemakaian bahan kepada bagian gudang, rangkap dari surat ini dikirimkan pula pada bagian pembukuan/akuntansi untuk dipakai dalam pencatatan perobahan persediaan (inventory records) dan pencatatan akuntansi biaya. Dengan adanya surat permintaan pemakaian bahan ini, maka bagian gudang mengeluarkan bahan yang diminta oleh bagian produksi, sedangkan bagian akuntansi akan mencatat pengurangan jumlah bahan serta pembebanan pada biaya produksi. Dalam hubungannya uraian di atas dengan pedoman audit pembelian dan pemakaian bahan yang dilakukan oleh internal auditor maka pelaksanaanpelaksanaan pekerjaan di atas adalah sangat berhubungan sekali, apakah telah dijalankan dengan semestinya atau hanya berupa catatan-catatan saja. Setiap internal auditor didalam melaksanakan tugasnya melakukan audit pembelian dan pemakaian bahan baku terlebih dahulu harus membuat rencana audit sebelum melakukan tugas pelaksanaan audit. Perencanaan ini harus didokumentasikan. Dalam tugas perencanaan akan melakukan audit pendahuluan terhadap pembelian dan pemakaian bahan baku untuk mendapatkan informasi yang diperlukan mengenai semua aspek penting dari pelaksanaan pembelian dan pemakaian bahan baku di perusahaan tersebut. Informasi ini akan dipakai sebagai alat kerja dalam merencanakan tahap pelaksanaan audit terhadap audit pembelian dan pemakaian bahan baku yang sekaligus mencakup : 1. Menentukan tujuan dan ruang lingkup audit 2. Memperoleh informasi mengenai latar belakang kegiatan yang akan diaudit 3. Menentukan sumber daya yang perlu untuk melakukan audit 4. Membicarakan dengan mereka yang terlibat dalam audit 5. Melakukan pemahaman dan survey lapangan, mengenai kegiatan dan pengendalian yang akan diaudit, mengetabui titik berat audit dan minta saran dar bagian yang diaudit 6. Membuat audit program 7. Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa audit akan disampaikan. 8. Mendapatkan persetujuan atas perencanaan audit

©2003 Digitized by USU digital library

8

DAFTAR PUSTAKA Arya, Ngurah, Pemeriksaan Intern, Buku Satu, Ananda, Yogyakarta, 1982. Cashin, James A, RaLp S. Polimeni, Cost Accounting, Mc. Graw Hill Inc. New York,1981. Daryanto, Iman, Peran dan kedudukan Pemeriksa Intern Dalam Manajemen, Majalah Akuntansi No.3 Tahun VIII, Ikatan Akuntan Indonesia-Seksi Akuntan Publik, 1989. Fertif, Paul E, Homer J. Mottice, Using Accounting Information on Introduction, Second Edition, Harcourt Brase Jovanovich Inc. New York. Fremgen, James, Accounting For Manajerial Analisis, Third Edition, Irwin Book Company, 68 Petaling jaya Malaysia, 1976. Holmes, Arthur, W, David dan David C. Bum, Auditing Norma an Prosedur, Edisi X, Terjemahan Moh. Badjuri & Marianus Sinaga, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1988. Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Buku I, Jakarta, Penerbit Salemba IV, 1995. Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Profesional Akuntan Publik, Jakarta, 1994. Kosasih, Rukhyat, Auditing Prinsip dan Prosedur, Buku I, Surabaya, Penerbit Papala, 1981. Kusumah, Arifin Wirahadi, Beberapa Masalah Auditing, Alumni, bandung, 1983. Matz, Adolph and Usry, Milto F, Cost Accounting Planning and Control, Eight Edition. South Western Publishing Co. Cincinati Ohio, 1984. Mulyadi, Pemeriksaan Akuntansi, Edisi IV, Yogyakarta, Penerbit STIE YKPN, 1992. Pusat Pengembangan Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Pemeriksaan Intern, Disadur dari Lawrence B. Sawyer, Edisi Ketiga, 1990. S. Hadibroto, Masalah Akuntansi, Buku Tiga, Lembaga Penerbit Fak. Ekonomi UI, Jakarta, 1987. Settler, Howard F, Auditing Principle, Edisi IV, Prentice Hall Inc. New Jersey, 1961. The Institute of Internal Auditors Inc, Standards for Profesional Practice of Internal Auditing, 1982. Thitrosidojo, Soemardjo, Bunga Rampai menuju Pemeriksaan Pengelolaan, PT. Ichtiar Van Hoeve, Jakarta, 1980. Wilson, James D, dan Jhon B. Campbell, Controllership, Tugas Akuntan Manajemen, Terjemahan Tjinjin Fenix Tjandra, Edisi Ketiga, penerbit Erlangga, 1984.

©2003 Digitized by USU digital library

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->