P. 1
Makalah Agama

Makalah Agama

4.0

|Views: 9,212|Likes:
Published by djavus

More info:

Published by: djavus on Feb 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

LARANGAN BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI DAN

KEBURUKAN KAUM YANG BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI

OLEH: INDRI FAJRIA MUSFIROH
KELAS: XI ipa 5

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 PADANG
TAHUN PELAJARAN 2008/2009

LARANGAN BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI DAN
KEBURUKAN KAUM YANG BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI

ISLAM DAN KEDAMAIAN Tak satu pun agama yang memberikan toleransi terhadap kekerasan, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Bukan semata-mata ajaran agama itu yang melarang, melainkan karena kekerasan bertentangan dengan fitrah manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan akan menghancurkan manusia dan peradabannya yang telah dibangun sejak permulaan manusia itu ada. Manusia dan peradabannya selalu mendambakan terbangunnya perdamaian dan kedamaian sejati, bukan perdamaian yang dibuat-buat (semu) karena berbagai motif yang terselubung dan tidak bertanggung jawab. Perdamaian yang diharapkan adalah perdamaian yang didasarkan cinta kasih sesama sebagai makhluk Tuhan, yang mempunyai beban dan tanggung jawab sama di muka bumi, yaitu mewujudkan perdamaian itu sendiri. Karena peradaban manusia selalu diwarnai pertentangan dan kepentingan, maka Tuhan memberi petunjuk berupa agama untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar atau jalan perdamaian. Peradaban dan budaya yang tidak dibimbing oleh agama akan membawa sengsara dan pertentangan. Ini terbukti dengan semakin hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan akibat modernisasi yang tidak dibarengi dengan peneguhan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sikap kebersamaan dan gotong-royong telah diganti dengan sikap individualistis, sikap saling tolong-menolong dan membantu berubah menjadi saling bermusuhan (antagonistik), serta spiritualitas murni digantikan dengan spiritualitas semu yang serba formalis. Inilah yang membawa manusia kepada kekacauan dan ketidakstabilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mewujudkan perdamaian di dunia ini. Bahkan, perdamaian itu merupakan sebagian dari pokok keberagamaan umat. Iman sebagai inti dari agama mengandung tiga pengertian, yakni al-iman (percaya kepada keesaan Allah), al-amanah (sikap jujur), dan al-aman (menghadirkan keamanan dan kedamaian). Orang yang menyatakan beriman kepada Allah dituntut mampu melaksanakan tiga makna tersebut, yaitu: percaya, jujur, dan damai. Orang

beriman yang hanya percaya kepada Allah namun tidak bersikap jujur dan malah berbuat kerusakan dan kekerasan berarti keimanannya tidak sempurna. Manusia harus utuh dalam beragama, tidak setengah-setengah, serta tidak memilah dan memilih dalam melaksanakan perintah agama. Allah dengan tegas menyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 208: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata”. Orang yang menghendaki kesempurnaan agama (total beragama) harus mampu menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, karena kedamaian itu merupakan bagian dari ajaran agama, bahkan menjadi identitas bagi agama Islam. Nabi bersabda: “Yang dikatakan orang Islam itu adalah orang di mana orang lain (muslim lain) merasa selamat dari tangan dan lisannya”. Sehingga, Islam ketika dalam peperangan pun mempunyai etika yang sangat agung, misalnya dilarang membunuh wanita dan anak-anak, dilarang merusak tanaman dan benda lain, serta tidak boleh membunuh masyarakat sipil. Islam menganjurkan agar umatnya menjadi pihak yang bertahan bukan yang mulai melakukan kekerasan atau peperangan. Banyak ayat yang mendukung perdamaian ini, misalnya kandungan surat an-Nisâ: 90-91, al-Baqarah: 224, asySyûrâ: 40, dan lain-lain. “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim”. Meskipun Allah pernah melarang umat Islam melakukan perdamaian seperti dalam surah Muhammad ayat 35, “Janganlah kamu lemah dan minta damai, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu”, namun konteks larangan damai ini adalah tatkala musuh menyerang dan tidak mau diajak damai. Sekali lagi, Islam menganjurkan agar melakukan perdamaian dulu. Jika perdamaian itu tidak bisa dilakukan, maka Islam baru melarang mengalah atau mundur dari peperangan. Inilah sikap lunak dan tegas dalam Islam. Mahmud Muhammad Thaha, ulama asal Maroko mengatakan bahwa shalat seorang muslim tidak sempurna manakala tidak menghadirkan jiwa (khusyu’) dalam takbiratul ihram dan salam. Kehadiran jiwa saat takbiratul ihram berarti pengakuan secara jujur dan ikhlas akan kekuasaan Tuhan sebagai pencipta dan dirinya sebagai hamba yang sebenarnya. Kehadiran jiwa saat salam berarti aplikasi kehambaan indiividu di hadapan masyarakat untuk selalu melahirkan keselamatan (salam), kedamaian, dan ketentraman.

Perdamaian dan kedamaian itu dapat berhasil apabila dimulai dari pribadi masing-masing. Ibda’ bi nafsik (mulailah dari dirimu sendiri), demikian sabda Nabi. Memulai perdamaian dari diri sendiri berarti harus mampu menghadirkan kedamaian dalam jiwa dan menjauhkannya dari kerusakan dan kehancuran. Allah berfirman: “Nafkahkanlah hartamu di jalan Allah dan janganlah kamu merusak dirimu sendiri dengan tanganmu, serta berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. Diri kita pun harus dipenuhi hak-haknya, hak jasmani dan ruhani, serta harus dijauhkan dari hal-hal yang merusak jasmani dan rohani itu. Sebagai makhluk sosial, manusia diwanti-wanti oleh Islam agar mewujudkan perdamaian dan menjauhkan kerusakan dalam lingkup sosial kemasyarakatan. Allah sangat mengecam kerusakan yang dilakukan umat manusia di muka bumi ini. “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia”. Dalam hal ini, menjaga lingkungan dari kerusakan adalah sebagian dari ajaran Islam untuk mewujudkan kebersamaan dan kedamaian bersama. Menghadirkan kedamaian pada diri sendiri dan masyarakat tidak akan bernilai tanpa dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah dan kepatuhan kepada Rasulullah Saw, karena perintah perdamaian dan larangan berbuat kerusakan adalah perintah Allah dan perilaku yang dilakukan oleh Nabi. “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan memafkan dosa-dosamu”, demikian Allah menegaskan dalam firman-Nya. Artinya, sebagai umat Muhammad, kita harus berperilaku mengikuti pola perilaku yang diajarkannya, yaitu akhlak karimah (perilaku yang baik), di mana beliau adalah contoh yang terbaik (uswatun hasanah). Bârakallâhu lî wa lakum Surat Ar Rum ayat 41-42 tentang Larangan Membuat Kerusakan di Muka Bumi Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orangorang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42) Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakanlah sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk

memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk Nya, khususnya manusia. Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian mannusia terhadap alam dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, kekeringan, tata ruang daerah yang tidak karuan dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya. Islam mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali tercermin dalam beberpa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang pohonpohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, banyak upaya yang bisa dilakukan, seperti yang terdapat pada amanat GBHN, rehabilitasi SDA berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi. Dalam lingkungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup. Surah Al A’raf Ayat 56-58 tentang Peduli Lingkungan Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-5 Bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup manusia dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat Nya. Gunung-gunung,

lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain semua itu diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan Hanya saja ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda saja, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali merka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumi Allah SWT melarang umat manusia berbuat kerusakan dimuka bumi karena Dia telah menjadikan manusia sebagai khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang, termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan sumber-sumber penghidupan orang lain (lihat QS Al Qasas : 4). Allah menegasakan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada hambanya ialah Dia menggerakkan angin sebagai tanda kedatangan rahmat Nya. Angin yang membawa awan tebal, di halau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu dia menurunkan hujan yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut menajdi subur kembali dan penuh berisi air. Dengan demikian, dia telah menghidupkan penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang berlimpah ruah. Surat Sad Ayat 27-28 tentang Perbedaan Amalan Orang Beriman dengan Orang Kafir Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS Sad : 27 )

Allah SWT menjelaskan bahwa dia menjadilakn langit, bumi dan makhluk apa saja yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang yang menghiasi, matahari yang memancarkan sinarnya di waktu siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-ubah dari malam kemalam serta bumi

temapt tinggal manusia, baik yang tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bgi kehidupan manusia. Kesemuanya itu diciptakan Allah atas kekuasaan dan kehendaknya sebagai rahmat yang tak ternilai harganya. Allah memberikan pertanyaan pada manusia. Apakha sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hambanya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat Nya dengan segala keagungan Nya, menganggap sama antara hamba-hambanya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaannya lagi memperturutkan hawa nafsu. Mereka ini tidak mau mengikuti keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangannya. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya. Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sehingga wajibuntuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT. Contohnya: Bumi semakin panas, pemanasan global, itulah isu yang kita rasakan sekarang ini, dan isu ini sampai kapankah berakhir?. Nyatanya hari demi hari yang dirasakan memang bumi semakin panas. Jam 8 pagi dirasakan panasnya sama dengan jam 12 siang masa dekade 20 tahunan ke belakang. Bahkan di Amerika sana telah disimulasikan oleh komputer, bagaimana jadinya jika pemanasan global ini mampu mencairkan kutub atau benua Antartika, hasilnya permukaan laut akan meninggi sampai 60 meter tingginya, bukankah jika terjadi maka bumi ini menjadi kiamat?. Bumi semakin panas, persaingan hidup semakin keras. Bahkan setiap orang bagai ada di dunia satwa hutan belantara dimana hukum rimba berlaku, si kuat memangsa si lemah demi sekedar mengenyangkan perutnya. Berjuta problema kehidupan membayangi silih berganti, terkadang problem yang satu belum

tersolusi, datang pula problem lainnya, hal ini terus bertumpuk dan tak pernah berujung dalam penyelesaian. Bumi semakin panas, eksplorasi alam terus berlangsung, pemerkosaan hutan, cuaca tak menentu, petani tidak bisa lagi melakukan jadwal tanamnya seperti dulu, banjir, longsor ketika musin hujan, atau kekeringan ketika musim kemarau. Sementara itu, di setiap jalanan atau gang sempit, becek kumuh berjubel ratusan orang dewasa dan anak-anak memenuhi jalanan bak kelinci dikandangnya. Mereka melakukan aktivitas seharian tanpa mengenal waktu berbaur satu sama lain tanpa mengindahkan norma-norma kaedah dalam pergaulannya. Mereka mau jadi apa nantinya? Kebutuhan primer, sekunder mapun mewah manusia telah menyebabkan manusia harus mengeksplorasi apapun di muka bumi ini. Inilah penyebab utama percepatan rusaknya alam, bumi semakin panas. Padahal eksplorasi ini akan terus berlangsung dan semakin cepat sejalan dengan tingkat populasi manusia yang semakin tinggi dan akan mencapai angka 9,2milyar manusia pada tahun 2050. fantastis! Apakah faktor terlalu banyaknya manusia ini berpengaruh terhadap ekosistem alam? Menurut berita yang bersumber dari Kompas Cybermedia, menyebutkan bahwa "Manusia telah merusak Bumi dengan kecepatan yang tidak diduga sebelumnya. Hal ini meningkatkan resiko kerusakan alam yang bisa mengakibatkan munculnya penyakit, kekeringan, atau zona mati di lautan". Lebih lanjut dikatakan bahwa; "Penelitian yang melibatkan 1.360 ahli dari 95 negara ini menyebutkan naiknya populasi manusia selama 50 tahun terakhir telah meningkatkan pencemaran dan eksploitasi berlebih terhadap dua pertiga sistem ekologi yang menjadi tumpuan kehidupan. Aktivitas manusia telah merusakkan fungsi alami Bumi dan kemampuan eskosistemnya sehingga barangkali tidak akan ada yang tersisa bagi generasi mendatang. Disebutkan, sepuluh hingga 30 persen mamalia, burung, dan jenisjenis amfibi telah terancam punah. Ini adalah tanda menurunnya dukungan bagi kehidupan di planet kita. Selama 50 tahun terakhir, manusia telah mengubah ekosistem secara lebih cepat dan meluas dibanding waktu lain dalam sejarah. Pertumbuhan permintaan makanan, air, kayu, serta bahan bakar belum pernah sebanyak jangka waktu itu. Ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman kehidupan di Bumi". Lebih lanjut Kompas Cybermedia menyebutkan, bahwa "dicontohkan, sejak tahun 1945, semakin banyak tanah yang berubah menjadi lahan pertanian atau pemukiman dibandingkan sepanjang abad 18dan 19". Apakah keprihatinan ke depan itu tidak berkepanjangan?. Tengoklah statistik

kependudukan yang menyatakan bahwa pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai 9,2 miliar dan penduduk Indonesia 280 juta. Padahal sebagaimana di lansir Kompas Cybermedia tersebut bahwa terlalu banyaknya penduduk itu selain berpengaruh secara revolusioner terhadap faktor ekosistem juga akan mempengaruhi langsung sektor ekonomi dan sosial. Untuk itu, tidak ada salahnya kita merenung sejenak untuk menyikapi ayat berikut: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia" (QS 13:11). QS 2:60, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu'. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rejeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." QS 2:205, "Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." QS 5:33, "Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar." Ajaran Agama Menghendaki Umatnya Hidup Melaksanakan Keseimbangan Ajaran agama Islam menghendaki umatnya (pengikutnya) melaksanakan "keseimbangan" dalam menempuh hidup ini. Allah tidak menginginkan yang hanya mementingkan salah satu dari dua kebahagiaan, mementingkan kebahagiaan dunia saja tanpa kebahagiaan akhirat, atau mementingkan akhirat saja, tanpa kebahagiaan dunia.

Menurut Umar Shihab, seseorang dalam pandangan Islam, tidak boleh hanya sibuk dan mementingkan urusan dunianya, bekerja dan beramal untuk dunianya saja, dan mengabaikan untuk akhiratnya. Atau sebaliknya, ia hanya beribadah terus-menerus, melakukan salat terus menerus, melakukan puasa terus-menerus, bezikir terus-menerus tanpa berhenti, dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kebahagiaan dan kemaslahatan hidupnya di dunia. Untuk kebahagiaan dunia kita dituntut untuk bekerja, dan untuk kebhagiaan di akhirat, kita perlu bekerja. Umar Shihab menjelaskan, Allah telah menciptakan bagi manusia kehidupan dan kematian dengan maksud agar Allah dapat menilai siapa di antara manusia itu yang dapat melakukan amal-amal yang terbaik. Kehidupan yang telah diciptakan bagi manusia di dunia ini merupakan kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk berusaha dan melakukan segala upaya yang hasilnya akan dapat dirasakan oleh manusia itu sendiri, tidak hanya sewaktu mereka masih hidup di dunia ini, tetapi juga dapat dirasakan di alam nanti, yaitu alam akhirat. Kehidupan sesudah mati yang diciptakan oleh Allah untuk manusia di akhirat nanti merupakan kesempatan untuk menikmati dan merasakan hasil yang telah dilakukan sewaktu berada di alam dunia. Oleh sebab itu, ajaran Islam menegaskan bahwa dunia ini merupakan tempat untuk menanam tanaman yang hasilnya dipetik di akhirat kelak. Baik ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadis-hadis Rasulullah sama-sama menegaskan bahwa manusia harus dapat mengusahakan keseimbangan hidup, baik untuk di dunia di satu sisi maupun untuk akhirat di sisi lain. Ini berarti bahwa manusia tidak boleh mengutamakan salah satu sisi saja di atas sisi yang lain, seperti mementingkan kehidupan dunia saja tanpa memperhatikan kehidupan akhirat, atau sebaliknya mengutamakan kehidupan akhirat saja tanpa memperhatikan kehidupan dunia. Islam tidak menginginkan terjadinya hal seperti itu. Hal ini antara lain dapat dilihat dalam salah satu ayat Al-Qur'an dalam Surat S. Al-Qashash (28): 77 yang menyatakan: Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat

kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Ada 5 hal pokok yang terkandung di dalam ayat di atas, yaitu 1) perintah untuk mencari dan meuntut kebahagiaan dunia akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah di dunia ini, 2) larangan Allah agar manusia tidak melupakan bahagiannya dari kenikmatan dunia, 3) perintah Allah untuk berbuat ihsan (berbuat kebajikan) kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada manusia, 4) larangan Allah agar manusia tidak berbuat kerusakan di muka bumi, dan 5) Allah menyatakan ketidaksukaannya terhadap orang yang berbuat kerusakan. "Di sini kita dituntut untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat dengan menggunakan berbagai sarana dan kenikmatan yang diberikan Allah di dunia ini, tanpa kita melupakan upaya-upaya untuk menuntut kebahagiaan hidup di dunia. Kita diperintahkan untuk meraih dua kebahagian secara bersama-sama, kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat," papar Umar Shihab. Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar itu menjelaskan, keseimbangan hidup menjadi tuntutan dan harapan. Segala nikmat dan rezeki yang diberikan Allah di atas dunia ini harus dijadikan sebagai sarana untuk mencapai dan meraih kenikmatan di akhirat. Harta yang diberikan Allah, misalnya, harus menjadi sarana yang dapat memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Harta, secara duniawi maupun ukhrawi, dapat memberikan kebahagiaan bagi pemiliknya. Secara duniawi, harta dapat memberikan kehidupan dunia yang layak dan berkecukupan bagi pemiliknya, dan secara ukhrawi, harta dapat menjadi bekal untuk kebahagiaan di akhirat, apabila dengan hartanya itu pemiliknya telah melakukan tuntutan-tuntutan agama, seperti mengeluarkan zakatnya. Bagi orang tertentu, harta itu hanya digunakan semata-mata untuk kepentingan duniawi, tanpa ada sedikit pun dampaknya untuk kebahagiaan ukhrawi. Islam menuntut agar manusia selalu berupaya untuk meraih secara bersama-sama dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Islam sebaliknya mencela manusia yang hanya mementingkan satu aspek saja, tanpa memperhatikan aspek lainnya. Orang-orang mukmin sejati akan selalu berupaya untuk memenuhi dan meraih dua kebahagiaan itu dengan melakukan usaha dan ibadah sesuai dengan tuntunan ajaran agama dan selalu mengharap agar dua kebahagiaan itu dapat diraihnya.

pada diri golongan Kafirun saja, tetapi bisa jadi kekafiran tersebut hadir di dalam diri orang yang mengaku dirinya beriman, yang menyatakan sebagai pemeluk Islam, yang mempunyai cara dan ciri beribadat dan beramal seperti orang yang telah mendapat ke-iman-an dari Allah, namun tidak memperhitungkan suci diri, bersih dalam beragama, lurus di jalanNya dan adanya Ilmu Allah yang termiliki. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang mengaku dirinya Islam, tetapi mereka melakukan KKN, menghujat, memfitnah, sombong, suka bertengkar, ingkar janji, mengikuti hawa nafsunya yang rendah, rakus terhadap duniawi, dan sebagainya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang berpenampilan bagai orang

Maka dapat kita pahami adanya kekafiran di dalam diri manusia, bukan

suci, bahkan ucapan-ucapannya sangat menarik bahkan kadang-kadang membawa ayat-ayat Allah, tetapi ternyata menurut Allah dalam kenyataannya adalah orang-orang yang penentang terhadap Allah. Mereka senang sekali berbuat kerusakan di bumi ini, kerusakan moral, suka mengobarkan peperangan, perusak ciptaan Allah yang berupa tanaman, hewan, dan mahluk-mahluk Allah lainnya, yang sebenarnya diciptakan Allah untuk kebaikan diri mereka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->