Mata Kuliah : Farmasi Industri Dosen : Dra. Aisyah Fatmawaty, M.Si., Apt.

INDUSTRI FARMASI TABLET KUNYAH ERITROMISIN

KELOMPOK IV KELAS A
SHERWIN ARMANDA FEBRIANA VALENTINI SRI REZKIANA ASRIL DAMIYANTO SITI FATIMAH AZZAHRAA AHMAD TAUFIK IRENE NATALIS MAHMUD SYAHRULLAH ARBIATI RAHMAN HERMAWATI N211 11 021 N211 11 025 N211 11 162 N211 11 156 N211 11 170 N211 11 173 N211 11 183 N211 11 657 N211 11 665 N211 11 675

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

Industri farmasi sebagai industri obat harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Untuk menjamin masyarakat memperoleh obat dengan mutu yang baik, upaya pemastian mutu (Quality Assurance) telah dilaksanakan dengan penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Pedoman CPOB disusun sebagai petunjuk dan contoh bagi industri farmasi dalam menerapkan cara pembuatan obat yang baik untuk seluruh aspek dan rangkaian pembuatan obat. Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam CPOB meliputi persyaratan-persyaratan dari personalia yang terlibat dalam industri farmasi, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, insfeksi diri, penanganan keluhan obat dan obat kembalian serta penarikan kembali obat, dan dokumentasi. Peranan besar industri farmasi dalam peningkatan taraf kesehatan sangatlah besar. Dengan adanya industri farmasi yang memiliki mutu dan kualitas baik, pemenuhan kebutuhan obat memiliki andil dalam

penanganan kasus-kasus penyakit yang marak terjadi di Indonesia. Salah

satunya ialah penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA). ISPA didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksi pada hidung, telinga, tenggorokan (pharynx), trachea, bronchioli dan paru yang kurang dari dua minggu (14 hari) dengan tanda dan gejala dapat berupa: batuk dan atau pilek (ingus) dan atau batuk pilek dan atau sesak nafas karena hidung terseumbat dengan atau tanpa demam. Penyebab ISPA antara lain adalah genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofillus, Bordetella dan Corynabacterium. WHO memperkirakan kematian akibat ISPA mencapai 10-20% pertahun dari seluruh jumlah balita yang ada bila tidak diberi pengobatan (WHO 1990) Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotik dewasa ini dibuat secara semi sintetik atau sintetik penuh. Salah satu antibiotik yaitu golongan makrolida yang secara umum digunakan dalam pilian terapi penyakit ISPA dan pneumonia.

1 Pemilihan Lokasi Bangunan Dalam memilih lokasi bangunan industri farmasi harus diperhatikan beberapa aspek.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. II. BANGUNAN. INDUSTRI FARMASI Industri farmasi sebagai unit usaha yang menunjang kesehatan masyarakat mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab sosial untuk memproduksi obat yang bermutu tinggi. diantaranya adalah apakah ada sumber pencemaran yang berasal dari lingkungan di sekitarnya serta potensi pencemaran oleh . sehingga setiap indistri farmasi wajib menerapkan dan CPOB dalam obat upaya yang pengendalian. berkhasiat dan terjamin keamanannya. pemerintah pada tahun 1994 telah mengambil kebijakan yang mengharuskan setiap industri farmasi untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). RUANG PRODUKSI DAN SARANA PENUNJANG PRODUKSI SEDIAAN TABLET KUNYAH II. pengadaan. Untuk menjaga mutu obat. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten. distribusi pemantapan menyeluruh dan terpadu. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.

b. d. serta adanya program pengendalian hama (pest control) yang teratur. Sumber pencemaran lainnya adalah debu jalan. misalnya pemberian saringan udara pada saluran pengendali udara. debu industri lain dan partikel pestisida. agar pencemaran tersebut tidak mempengaruhi kualitas produk yang dibuat. c. misalnya dengan membuat pondasi bangunan yang tahan terhadap rembesan air sesuai dengan teknik bangunan yang berlaku. . efektif dan terdokumentasi. bangunan industri farmasi harus memiliki perlindungan yang memadai terhadap : a. Serangga dan Binatang pengerat.industri terhadap lingkungan di sekitarnya. Bangunan industri farmasi harus didirikan di daerah yang tidak ada sumber pencemaran. bahan kimia dan lain-lain. Untuk itu. memasang alat penyerap kelembaban udara secara pendinginan atau secara penyerapan oleh bahan kimia yang higroskopis. Rembesan Air melalui tanah. misalnya bekas timbunan sampah. Banjir. Apabila oleh karena adanya perubahan struktur tanah atau perencanaan kota maka perlu dilakukan langkah pencegahan yang sesuai. misalnya dengan memberikan cat tahan cuaca pada tembok. pemasangan kawat kasa dan/atau tirai plastik. misalnya letak bangunan dibuat cukup tinggi terhadap permukaan air banjir atau dibuat saluran air secara tepat guna. Cuaca.

jumlah mikroba per m3 tidak ditetapkan.5 mikron < 10. rH 60-80%. Zone E atau Black Area Partikel berukuran lebih 0.000 CF.995 %.5 mikron < 100 CF. Efisiensi filter udara 99. mikroba < 5/ m3.997 %. rH 45-55%. Efisiensi filter udara tidak ditetapkan. suhu 20-280 C. rH 45-55%. mikroba < 100/ m 3. Efisiensi filter udara 95 %. rH 45-55%. suhu 16-250 C. rH 45-55%.000 CF. suhu 20280 C.5 mikron < 100 CF.997 %. Efisiensi filter udara 99. Efisiensi filter udara 99. Zone B atau critical area Support zone partikel berukuran lebih 0. dan pertukaran udara > 20 kali/ jam. suhu 16-250 C. dan pertukaran udara per jam tidak ditetapkan. mikroba < 1/ m 3.5 mikron < 100. dan pertukaran udara > 20 kali/ jam.Daerah produksi untuk pembuatan obat pada industri farmasi sesuai dengan CPOB dibedakan menjadi : Zone A atau critical area Partikel berukuran lebih 0. mikroba < 500/ m 3. Zone C atau White Area Partikel berukuran lebih 0.5 mikron tidak ditetapkan. Zone D atau Grey Area Partikel berukuran lebih 0. suhu 16-250 C. dan pertukaran udara > 120 kali/ jam. . dan pertukaran udara > 120 kali/ jam.

efisiensi filter udara tidak ditetapkan. Rh 60-80% dan pertukaran udara per jam tidak diteapkan. mandi. Produk Steril Aktivitas Sterilisasi akhir Pengisian produk dengan resiko tinggi Produk Aseptik nonsteril Aktivitas Preparasi dan pengisian secara aseptik A B Latar Belakang Untuk A Preparasi larutan Preparasi larutan yang akan difiltrasi C atau pengisian dengan resiko lebih rendah Preparasi larutan Penanganan komponen yang telah dicuci Ruang pengolahan dan D untuk proses pengisian E pengemasan primer termasuk salep kecuali salep mata F G Pengemasan primer Gudang laboratorium ruang ganti kelas F II.5 mikron tidak ditetapkan. Contoh: Ruang masuk karyawan.Partikel beukuran lebih 0.1 Tekanan Udara Tekanan udara dalam ruang pengolahan liquid > tekanan udara di koridor Tekanan udara dalam ruang pengolahan solida < tekanan udara di koridor ( ∆ P = 10-15 Psi) Tekanan udara dalam ruang produksi > tekanan udara di koridor . laboratorium pengemasan sekunder.2. suhu 20-280C. Ruang ganti pakaian kerja.2 Ruang produksi non-betalaktam II. jumlah mikroba/m3 tidak ditetapkan.

sedangkan udara dari tidak di treatment lagi.2.2. yaitu udara seluruhnya diambil dari udara bebas di luar gedung dan udara yang melalui Dust collector hanya di ruang produksi saja. perbedaanya hanya pada suplai udara.( ∆ P = 10-15 Psi) II. II. tidak dilakukan penyaringan akhir dengan HEPA Filter karena udara buangannya tidak mengandung penicilin. Selain itu pada gedung non -Laktam. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan udara di luar bagian gedung tanpa melalui-filter terlebih dahulu kemudian udara yang berasal dari buffer Room (Retum Air) dan dari luar geung disaring dengan pre filter yang mempunyai efisiensi penyaringan 30-49% selanjutnya udara disaring . Suplai udara ke dalam ruangan produksi diambil dari return air sebanyak 85-90% sedangkan sisanya sebanyak 10-15 psi diambil dari udara luar gedung (Fresh air). Untuk itu pada ruang zona A terdapat persyaratan lingkungan yang harus dipenuhi.2 Sistem pengendalian udara di bagian non -Laktam Sistem pengendalian udara di bagian non -Laktam. Suplai udara zona A terdapat persyaratan lingkungan yang harus dipenuhi.3 Sistem pengendalian udara zona A (White Area) Pengendalian udara di ruang produksi zona 1 sangat penting untuk diperhatikan sebab pada ruangan ini dilakukan produksi sediaansediaan steril yang tidak boleh terkontaminasi baik itu particular maupun mikroorganisme patogen. pada prinsipnya sama dengan pengendalian udara di ruang -Laktam.

3 Fasilitas Produksi Udara Bertekanan Udara bertekanan diperoleh dengan menggunakan alat yang disebut kompresor. medium filter dan HEPA sehingga udara yang keluar dan gedung ß-laktam bebas dan cemaran penisillin. ruang pengisian kapsul. Kompresor bekerja secara otomatik yang diatur dengan alat preassure switch. ruang bed dryer (FBD). mist separator dan mikro mist separator.97%. Dan hasil penyaringan 1015% akan dibuang ke udara bebas dan 85-90% akan masuk kembali ke ruang produksi atau disebut retum air. dan lain-lain. . II.lagi melalui Medium Filter dengan efisiensi 85-90% selanjutnya udara kemudian di kipas oleh Blower dan sebelum masuk ke ruang produksi udara terlebih dahulu didinginkan dan diturunkan kelembapannya (sesuai kelembapan udara yang dipersyaratan misalnya untuk fosmyein dibutuhkan kelembapan udara 10%) oleh chiller lain dihangatkan oleh healer dan disaring lagi dengan HEPA 02 mikron dengan efisiensi 99. Udara yang masuk keruang produksi yang mengandung debu dan sisa hasil produksi dihisap oleh dust collector dan seanjutnya disaring melalui pre filter. main line filter. Instalasi kompresor ini digunakan hanya pada titik peralatan yang memerlukan sistem instalasi kompresor. Contohnya ruang stripping (digunakan untuk menggerakkan pisau pemotong strip). Kompresor juga dilengkapi dengan air dryer.

rasa dan bau). menjamin debit air selalu ada karena sumber air pada lapisan ini tidak pernah kering serta menjamin mutu air (tidak berubah warna. Urutan proses pengolahan air terdiri dari pre treatment dan water treatment. yang pertama adalah city water yang digunakan untuk pencucian alat serta keperluan rumah tangga sedangkan yang kedua adalah aqudemineralisata (aquadem). Sumber air berasal dari sumur artesis (sumur bawah tanah/sumber air di bawah lapisan batuan) dengan kedalaman 25 meter dari permukaan tanah. . koridor & udara luar Water Treatment Ada dua jenis air untuk proses produksinya.Differential Pressure / perbedaan tekanan Bertujuan untuk meniadakan kemungkinan terjadi Cross Contamination/kontaminasi silang antara ruangan pengolahan. berasal dari PAM dan berasal air sungai. Tujuan dari penggunaan sumur artesis adalah untuk mencegah pencemaran/kontaminasi kotoran tanah. Akan tetapi sebelum masuk dalam tangki terlebih dahulu diinjeksikan klorin untuk membunuh mikroba dan bakteri dalam air artesis. a. Pre treatment Proses ini diawali dengan pemompaan air artesis untuk ditampung dalam tangki RW (Row Water).

Skema Pre Water Treatment Skema Water treatment . Water treatment Proses Water treatment dapat dibagi menjadi dua yaitu pada Laktam III dan selain -Laktam III.b. Urutan proses pengolahan air terdiri dari pre treatment dan water treatment.

selain itu pemanasan dengan api dapat menimbulkan gejala yang dapat mencemari produk). Steam Boiler Fungsi dari steam boiler adalah menghasilkan panas sebagai pengganti api (karena di ruang produksi banyak digunakan pelarut organik yang mudah meledak dengan adanya api.000 kkal/jam. maka pemanasan dengan uap perlu 20. Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi. b. Alasan utama pengendalian mikroorganisme adalah : a. Mencegah pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme.000 kal/jam). Kapasitas uap yang dihasilkan adalah 1000 Kg uap air/jam setara dengan 572. penentuan kapasitas ini didasarkan pada kebutuhan uap panas di ruang produksi.Pengendalian mikroorganisme sangat essensial dan penting di dalam industri farmasi. Sarana penunjang Sarana penunjang yang digunakan adalah : 1. c. Sistem boiler bekerja dengan cara membakar air pada suhu tinggi sehingga menghasilkan uap yang digunakan untuk pemanasan dalam proses produksi. Besarnya tekanan yang dipakai adalah . Uap panas memiliki heat transfer dan volume yang lebih kecil dari api sehingga kapasitas uap yang diperlukan untuk pemanasan perlu sepuluh kali lipat dari api (contoh: untuk pemanasan dengan api perlu 2000 kal/jam. Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi.

Bahan bakar yang digunakan untuk proses pemanasan yaitu solar dan pemanasan menggunakan oil burner. Perawatan yang dilakukan pada steam boiler yaitu dilakukannya pembersihan setahun sekali dibawah pengawasan langsung departemen tenaga kerja. AHU bertujuan mengatur jumlah partikel. . Untuk menghindari terbentuknya jelaga ditambahkan aditif boiler yang berfungsi melunakkan silica sehingga bisa menjadi uap dengan adanya pemanasan. Untuk ruang produksi antibiotik dan beta laktam dan ruang produksi steril dilengkapi dengan HEPA Filter yang efisiensinya sampai 99.4.5 kg/cm2 dilengkapi dengan katup pengaman yang akan terbuka dengan sendirinya bila tekanan melebihi 8 kg/cm 2. medium filter 95 %.5 – 6. Jumlah aditif boiler yang ditambahkan adalah 100 mg untuk 100 liter air. Udara yang masuk dari ruang produksi adalah udara yang tersirkulasi dimana tahapannya sebagai berikut : Udara segar yang masuk melalui lubang udara (grill) dan saring pada saringan udara yang terdiri dari perifer dan efisiensi 35%. Air Handling System ( AHS ) Sistem pengendalian udara atau AHS (Air Handling System) yaitu suatu unit yang bertujuan untuk mengendalikan dan udara jumlah partikel dalam ruangan.99 %. 2. temperatur dan kelembapan udara yang masuk keruang produksi.

udara akan melewati refrigerator unit (AC) untuk mengatur suhu dan kelembapan udara. Udara yang telah terpakai dalam ruang produksi yang mengandung debu-debu dan partikel hasil proses produksi akan bertukaran dengan udara bersih.- Setelah melalui saringan udara. merupakan filter yang bersentuhan langsung dengan udara dari luar. - Setelah itu udara akan melewati kipas udara yang akan mendistribusikan udara tersebut menuju ke ruang produksi dengan melalui saluran udara.(kecepatan perputaran udara pada ruang produksi tablet beta laktam adalah 120 kali perjam). Udara bersih akan masuk ke ruang. Udara kotor akan keluar melalui dust kolektor 80 % dari udara tersebut akan masuk kembali dalam sirkulasi udara sedangkan 15-20 % akan digantikan dan udara segar. . Selain itu kipas udara juga berfungsi menghisap udara yang berfungsi menghisap debu. Prouksi dan udara kotor akan keluar dari ruang produksi. Udara segar dan udara yang berasal dari ruang produksi akan disirkulasi selanjutnya melalui tahapan-tahapan yang sama.(untuk tablet beta laktam RA = 45-65%). SARINGAN UDARA (AIR FILTER) Saringan udara atau filter yang digunakan terdiri dari : Pre Filter atau Fresh Air Filter.

serta untuk memperkecil tingkat kebisingan akibat aliran udara. Saluran udara (Ducting) Saluran udara digunakan untuk mendistribusikan udara dari kipas udara (Blower) menuju ruang atau tempat yang akan dikondisikan. merupakan final filter dimana udara akan langsung masuk ke dalam ruangan produksi. Untuk produksi tablet beta laktam digunakan HEPA Filter. Lubang hisap / pengeluaran udara (Grill) Tujuan penggunaan grill adalah : sebagai pintu hisap atau keluar udara. Kipas udara (Blower) Kipas udara digunakan untuk keperluan suplay udara atmosfir yang telah disaring. 5. untuk pengendalian jumlah aliran udara.- Medium filter. 4. merupakan filter kedua setelah pre filter yang ditujukan menyaring udara sebelum masuk HEPA Filter. . menghisap udara ruangan yang kotor atau berdebu dan menghisap partikel atau debu produksi yang terjadi selama proses produksi yang berlangsung. 3. merupakan final filter dimana udara akan langsung masuk ke dalam ruangan produksi. - HEPA Filter.

Sistem pengendalian udara Zona C Dust Collector Penanganan debu di ruang produksi menggunakan Dust Collector Unit. AC adalah peralatan yang dipakai untuk mengendalikan temperatur udara ruang dan kelembaban udara ruang. Cyclone Cyclone juga merupakan penghisap debu yang berasal dari proses coating. Setiap ruang produksi dilengkapi dengan penyedot debu yang berguna untuk menghisap debu yang dihasilkan selama proses produksi. Debu yang mengandung pelarut . Proses coating baik pada film coating maupun sugar coating banyak menggunakan pelarut organik yang mudah meledak sehingga perlu penanganan debu secara khusus. Dust Collector Unit terdiri dari 3 unit dust collector yang masing-masing terdiri dari 4 unit filter bag yang dilengkapi dengan dust collecting bag. Pembersihan dust collector dilakukan jika dust collecting bag sudah terisi sebanyak 2/3 bagian. Filter bag memiliki pori-pori sebesar 2-3 μm sehingga udara dapat keluar dan partikel debu tidak dapat keluar.6. Partikel debu dikumpulkan untuk kemudian dimusnahkan dengan menggunakan incinerator. Debu dari ruang produksi masuk ke dalam filter bag dan ketika mesin dimatikan maka secara gravitasi partikel debu akan jatuh kedalam dust collecting bag. Refrigerant unit (AC).

Perawatan Filter : Pada AHU terdapat DPG (Defferential Pressure Gauge) yang berfungsi untuk membandingkan tekanan udara sebelum masuk filter dan sesudah . Prinsip Kerja dan Perawatan Filter AHU Aksial Fan menyedot udara dari ruang produksi dan udara luar sebesar 10-20%. tipe ini perlu energi tinggi untuk menurunkan suhu udara. Close Circulation With 10-20 % Fresh Air Udara dari ruang produksi disirkulasi/dimasukkan kembali ke ruang produksi melalui penyaringan dengan ditambahkan 10-20 % udara luar untuk mensuplai oksigen. Udara kemudian didinginkan oleh Cooling Coil untuk kemudian disalurkan ke ruang produksi. Pure Fresh Air Udara yang dimasukkan ke dalam ruang produksi berasal dari udara bebas yang difilter. 2. kemudian limbah cair yang dihasilkan dialirkan ke IPAL. AC Central digunakan untuk mendinginkan Cooling coil. Tipe ini yang digunakan untuk efisiensi daya. Tipe-tipe AHU 1. kemudian dilewatkan pada pre filter dengan efisiensi 35%(standar Eropa=EU 4/G4) dan medium filter dengan efisiensi 95% (standar Eropa=EU 8/F8.organik disedot untuk kemudian disemprot dengan air dan suspensi yang terbentuk ditampung pada bak penampungan berukuran 1m x 1m x 80 cm. Setiap hari dilakukan pembersihan bak penampungan.

Pembersihan filter dilakukan setiap 2 bulan sekali atau jika DPG melewati batas kapasitas differential/angka 32 (nilai tersebut ditentukan berdasarkan katalog filter yang digunakan. Jamsostek a. Mengrekruitmen Karyawan 2. Jaminan Haria Tua b. Penanganan Cuti 4. Pemberhentian. Jaminan Keselamatan Kerja c.1 Human Resourches Development HRD merupakan departemen/bagian/divisi yang mempunyai tugas yaitu : 1.melewati filter. dsb) . Absensi 3. STRUKTUR ORGANISASI DALAM INDUSTRI FARMASI Dalam industri farmasi terdapat struktur organisasi yang terdiri dari : III. Membuat SK (Promosi. Lembur & Bonus 5. dimana proses perawatan ini berbedabeda pada setiap pabrik. Mutasi. jika nilai DPG melewati batas kapasitas defferential maka filter tersebut akan buntu. Jaminan Kesehatan 6. III. Penggantian pre filter dilakukan tiap 4 bulan sekali sedangkan medium filter dilakukan tiap 8 bulan sekali.

Mempersiapkan dan menganalisis finansial dan laporan manajemen serta ketepatan waktu dalam memberikan laporan 2. Dalam proses distribusi dan marketing mempertimbangkan 4P yaitu: 1.3 Marketing and Distribution Departemen ini mengatur pemasaran dan distribusi produk jadi. mengawasi dan menganalisis anggaran dan forecast 3. Accounts Receivable. Product (produk yang dihasilkan) Produk line item harus: Penampilan harus menarik Kemasannya Kualitasnya Ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan 2. General Ledger and Fixed Assets register. Sumatra.2 Finance 1.III. Makasar dan Manado. Mengawasi dan mereview accounting 4. Bertanggung jawab pada Account Payable. Menyiapkan. Place (distribution) Produk yang dihasilkan didistribusikan ke distributor atau PBF dipulau jawa dan luar pulau jawa seperti Bali. Proses distribusinya berdasarkan : Stok atau persediaan barang . III.

3.4 QUALITY ASSURANCE (QA) Adalah suatu konsep yang luas yang mencakup semua aspek yang secara kolektif maupun individual mempengaruhi mutu. dari konsep design hingga product tersebut ditangan konsumen Komponen yang menunjang untuk mencapai mutu obat yang bagus (divisi control) meliputi : Quality Assurance (QA) Quality Control (QC) Quality Inspection (QI) jaminan mutu pengawasan mutu pemeriksaan mutu GMP merupakan bagian dari QA yang bertugas untuk . II. Promotion Produk yang dihasilkan dipromosikan oleh sales representatif (salesman dan spreader) melalui : iklan. Price Saluran distribusi Banyaknya distributor Produk yang dihasilkan mempunyai harga yang ekonomis dengan kualitas barang yang setara dengan harga OGB (obat generik berlogo). Penentuan price berdasarkan : Tingkat harga Syarat kredit Potongan harga atau bonus 4. penjualan tatap muka dan publisitas.

produk jadi. bahan kemas. produk ruahan. hubungan kualitas terhadap keinginan pelanggan. Pengawasan yang dilakukan tersebut dilakukan meliputi bahan baku. QA juga mempunyai fungsi dalam tahap staf dan tanggung jawab terhadap aspek dan standar yang diinginkan oleh QC di Industri dan melakukan audit tentang keseragaman semua aspek dan standard yang digunakan di semua unit. - Menjaga standar semua ospek. Untuk melaksanakan tugasnya departemen Quality Control dibagi atas bagian analisa dan IPC (in process control). yang memiliki fasilitas berupa laboratorium untuk pemeriksaan kimia. II. proses produksi. produk kembalian dan sampel berkala. dan menyampaikan kriteria kemasan kepada penjual bahan pengemas. cara uji dan mengaudit kualitas. produk antara. Semua pengawasan tersebut dilakukan oleh Departemen Quality Control. Bagian/Departemen Pengawasan Mutu (QC) di industri farmasi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa : .- Menyakinkan bahwa produk yang dibuat konstan memiliki pensyaratan kualitas yang dikehendaki. maka dilakukan pengawasan terhadap mutu produk. dan ruang instrument yang terpisah satu sama lain.5 QUALITY CONTROL (QC) Untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan.

Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang telah ditetapkan. Bahan baku yang baru dikirim oleh supplier segera dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah bahan baku tersebut memenuhi spesifikasi yang telah dipersyaratkan. Bagian-bagian dari QC : 1. 3. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi mengenai dan keamanan yang telah identitas. a. Supplier harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : . kemurnian. Pemeriksaan mutu bahan baku Pemeriksaan mutu bahan baku dilakukan untuk menjamin agar bahan baku yang digunakan sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. kekuatan. 2. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelum didistribusikan. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan telah divalidasi sebelumnya. pemeriksaan mutu bahan kemas dan pemeriksaan produk/obat jadi. kualitas ditetapkan.1. 4. Bagian Analisa Tugas dan tanggung jawab bagian analisa antara lain : pemeriksaan mutu bahan baku. antara lain melalui evaluasi dokumentasi produksi terdahulu.

pabrik pembuat berbeda dari biasanya. bahan dikarantina dan diberi label “karantina” yang berwarna kuning. Bahan baku harus memiliki COA (Certificate of Analysis) 2. Selama proses pengujian. Harga murah Pengujian ini mencakup identifikasi. . tengah.   Alat sampling harus bersih. Untuk bahan yang identitasnya kurang jelas. wadah kotor. atau bahan berasal dari supplier yang baru maka sampling dilakukan terhadap semua wadah dalam batch. dan bawah dari wadah. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat thief sampler.1. kemurnian. Pengambilan sampel dilakukan secara acak untuk setiap batch dengan rumus n +1. Hal-hal yang harus diperhatikan : Pengambilan sampel bahan baku dilakukan secara acak pada bagian atas. Mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet ) 4. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :  Sebelum sampling dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu apakah segel/tutup wadah masih utuh. Pengambilan contoh harus dilakukan dalam ruang sampling dengan tepat untuk mencegah terjadinya kontaminasi. dan penetapan kadar. Berkesinambungan 3. Selesai sampling wadah segera ditutup rapat dan diberi penandaan “karantina”.

botol dan tutup botol. Pengujian terhadap bahan kemas meliputi label. Pemeriksaan mutu bahan kemas Pemeriksaan dilakukan untuk menjamin bahwa bahan kemas yang digunakan benar-benar sesuai spesifikasi yang ditentukan. kesesuaian bahan dan hasil cetakan dengan spesifikasi yang telah ditentukan (warna. desain dan bentuk).Setiap melakukan pengujian bahan baku dilengkapi dengan catatan pengujian (testing order) atau catatan hasil pengujian yang ditandatangani oleh QC manager. Tujuan yang ingin dicapai adalah bahan pengemas tersebut dapat melindungi sediaan obat. brosur. Bahan baku yang telah lulus seleksi diberi label “diluluskan” yang berwarna hijau. Sistem pemberian label bahan kemas sama dengan pada bahan baku. penandaan. Selain itu bagian analisa mengeluarkan lembar “disposisi QC” yang menerangkan status bahan baku. Jika pemeriksaan bahan kemas telah selesai dilakukan maka bagian analisa akan mengeluarkan lembar “disposisi QC” yang berisi . aluminium foil. dan jika tidak sesuai dengan spesifikasinya diberi label merah “ditolak”. Pengawasan dilakukan terhadap penampilan fisik wadah. wadah karton. Disposisi ini dibuat rangkap 2 dimana tembusannya diserahkan ke bagian PPIC untuk perencanaan produksi dan bagian keuangan untuk pembayaran. b.

uji keragaman bobot. Sedangkan untuk sediaan . Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap semua hal yang mempengaruhi setiap tahap proses pengolahan dan pengemasan meliputi : - Produk antara. Pengawasan dalam Proses ( In Process Control ) Pengawasan dalam proses (IPC) merupakan pengawasan yang dilaksanakan selama proses produksi berlangsung. uji kekerasan.hasil pemeriksaan untuk disampaikan ke bagian keuangan untuk pembayaran dan ke bagian PPIC untuk perencanaan produksi. uji kerapuhan. 2. maka dikembalikan ke supplier dengan dokumen nota retur barang. Pada sediaan padat pemeriksaannya meliputi uji kadar air granul. Apabila bahan kemas tidak memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. IPC berupaya apabila terjadi kesalahan yang selama berlangsungnya proses produksi dapat segera ditangani. Seksi IPC bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan untuk mencegah terjadinya kesalahan sehingga produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. yaitu pemeriksaan terhadap campuran yang masih memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan. Pemeriksaan Mutu Produk Tablet Pengujian akhir sediaan tablet meliputi keseragaman kadar dan disolusi. uji waktu hancur dan uji kebocoran strip. c.

komponen-komponen tablet dikompakkan dengan mesin cetak tablet atau mesin khusus (roller compactor).liquida meliputi uji pemerian dan uji keseragaman volume pada saat filling. Massa yang diperoleh disebut Slug dan prosesnya disebut slugging. Setelah serbuk dicampur. yang besar dan dikompakkan dengan punhc permukaan datar. Slugging merupakan suatu usaha untuk meningkatkan waktu pencetakan. Metode granulasi kering merupakan salah satu metode pembuatan tablet yang efektif terutama pada dosis efektif terlalu tinggi untuk pencetakan langsung. Proses pembuatan tablet beta laktam menggunakan Metode Granulasi Kering (Dry Granulation). dan obatnya peka terhadap pemanasan. campuran serbuk ditekan ke dalam die. tidak memerlukan proses pemanasan sehingga biaya produksi bisa ditekan . yaitu pemeriksaan terhadap bahan yang telah selesai diolah dan menunggu tahap pengemasan untuk menjadi produk jadi. IPC meliputi pengawasan dalam proses pembuatan tablet. Keuntungan metode Granulasi Kering :    Alat dan ruangan lebih sedikit dari pada granulasi basah Tidak memerlukan bahan pengikat (larutan pengikat) Prosesnya lebih cepat.. - Produk ruahan. Metode ini banyak digunakan untuk membuat tablet aspirin atau vitamin dan tablet antibiotik. Pada proses ini. kelembaban atau keduanya.

sehingga tablet sering raouh atau kurang kuat dan resiko kontaminasi lebih tinggi  Alat. Untuk obat-obat yang sensitif terhadap kelembaban dan pemanasan. misalnya vitamin E akan menghasilkan produk yang stabil  Memperbaiki waktu hancur. karena partikel-partikel serbuk tidak terikat oleh adanya bahan pengikat   Memperbaiki kelarutan dan efek bioaviabilitas Memperbaiki homogenitas. karena tidak terjadi peristiwa migrasi obat atau bahan pewarna Kerugian metode Granulasi kering :    Memerlukan mesin heavy duty (harganya mahal) Zar warna sukar homogen (tidak terdispersi merata) Cenderung menghasilkan partikel-partikel halus (fines) yang lebih banyak dibanding dengan metode granulasi basah.mesin Chilsonator tidak bisa digunakan untuk obat yang tidak larut karena adanya kemungkinan hambatan kecepatan disolusi (adanya tekanan merubah sifat obat) Pengawasan Mutu Ruangan dan Peralatan Bagian IPC juga bertanggungjawab dalam melakukan pengawasan mutu ruang dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. jika memenuhi syarat . Sebelum proses produksi dimulai petugas IPC memeriksa sanitasi dan hygiene ruangan dan peralatan.

Distributor akan menyampaikan pemberitahuan yang berkaitan dengan pengembalian produk tersebut disertai dengan dokumen yang berisi jumlah produk. Penanganan produk kembalian oleh gudang obat jadi adalah seperti penanganan bahan baku dan bahan pengemas ketika pertama kali datang.batch. jenis produk. kerusakan isi produk maupun kerusakan kemasan. Penerimaan dan Penanganan Barang Kembalian (Returned Goods) Barang kembalian atau returned goods adalah semua produk jadi (finished goods) yang telah keluar dari pabrik dan dikembailikan lagi ke pabrik dengan alasan tertentu. Kemudian petugas IPC juga melakukan kalibrasi timbangan. rekomendasi dari Balai POM karena faktor mutu dan timbilnya efek samping yang merugikan atau membahayakan konsumen. tempat asal pengembalian dan alasan pengembalian produk. Produk kembalian dikarantina yang selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan oleh bagian Quality control. Pengawasan dalam proses pembuatan tablet 3. Penyebab terjadinya produk kembalian antara lain karena mendekati masa kadaluarsa. meliputi pembuatan Inventory Receiving Tickets dan Goods Inspection Report.maka IPC memberikan rekomendasi atas kebersihan ruangan dan peralatan yang akan digunakan dalam proses produksi dengan memberikan label “bersih”. no. .

. Selanjutnya produk dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya dan dilakukan pemusnahan. maka kemungkinan penanganan yang dilakukan adalah : 1. PPIC Department. Plant Director serta General Manager jika nilai produk yang dimusnahkan tersebut lebih dari 2 juta.Produk kembalian karena kadaluarsa Untuk produk yang dimusnahkan karena alasan kadaluarsa atau rusak. Pemusnahan Produk Kembalian Dilakukan terhadap produk kembalian yang : .Mengalami kerusakan baik isi maupun kemasannya . kemudian dibuat berita acara pemusnahan atau Destruction report.Produk yang dikembalikan dalam jumlah kecil . dibuatkan Destruction Requisition yang ditandatangani Quality Department. Finance Department. Repacking Product Repacking product (pengemasan ulang) dilakukan terhadap produk kembalian jika memenuhi persyaratan : .Alasan pengembalian karena kemasan rusak tetapi isinya tetap memenuhi persyaratan dan jumlah produk kembalian banyak sehingga nilai ekonomisnya lebih besar dibandingkan dengan biaya pengemasannya.Setelah dilakukan pemeriksaan oleh bagian QC. 2.

. Uji Mikrobiologi Air Uji mikrobiologi air dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi Escherichia coli pada aquadem yang diproduksi. Pengujian yang dilakukan meliputi : 1. 2. Bertujuan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Jika terjadi pencemaran maka akan terbentuk gas pada media. Pembuatan media dan sterilisasi. Biakan yang telah tumbuh dibilas dengan NaCl 0. coli memecah glukosa yang terkandung di dalamnya. Pengujian Mikrobiologi Pengujian mikrobiologi terhadap produk maupun sistem penunjang proses produksi. 2. Uji Potensi antibiotik 1.3. suspensi kemudian dipindahkan ke dalam erlenmeyer dan diatur sedemikian rupa dengan NaCl fisiologis sehingga diperoleh transmitan T = 25 %. Pada uji ini digunakan media yang mengandung glukosa. kemudian diinkubasi selama 24 pada suhu 35 – 37 °C. Pembuatan suspensi bakteri Bakteri diinokulasikan ke media agar miring.9 % (fisiologis). karena E.

Penyiapan media inokulum Media dihangatkan diatas water bath dengan suhu 43 – 35 °C. Pembuatan lempeng agar Dituang media inokulum ke atas lempeng. isi dengan larutan baku dan larutan uji. Kemudian lempeng ditutup dan diamkan selama 1 jam supaya terjadi penetrasi. kemudian ditambahkan suspensi bakteri dalam jumlah yang telah ditentukan. Langkah kerja Diletakkan hole/silinder pada lempeng agar.3. dan didiamkan sampai memadat. 4. Lempeng diinkubasi pada suhu 35 – 37 °C selama 24 jam. 7. Pembuatan larutan baku Larutan baku dibuat dari bahan baku antibiotik dan dibuat sebanyak 5 macam konsentrasi 6. 5. 4. Pembuatan larutan uji Preparasi dari sampel yang akan diuji. Pemantauan Partikel Mikroba . Selanjutnya dibaca zona hambat dengan jangka sorong dalam satuan mm.

Pada LAF jumlah maksimal mikroba yang boleh ada adalah 1. 1.37 ºC. kemudian dilakukan penghitungan jumlah partikel mikrobanya. Drug Discovery terdiri dari drug information dan drug marketing b. Production . laboratorium mikrobiologi serta ruang produksi.2 partikel/ft 3.5 RESEARCH & DEVELOPMENT (R & D) Pada saat ini Industri Farmasi Indonesia masih digolongkan sebagai industri yang hanya mampu melakukan Reproduksi obat Jadi dan sebagian Bahan Baku. Main Activities ( aktivitas pokok) R & D: a. Setelah satu jam lempeng ditutup dan diinkubasi selama 48 jam suhu 35 . Cara pemantauannya adalah sebagai berikut: Diletakkan lempeng agar dalam kondisi terbuka selama 1 jam (jarak penempatan lempeng adalah satu lempeng tiap 900 cm2 untuk LAF dan 8100 cm2 untuk laboratorium dan ruang produksi).Pemantauan partikel mikroba dilakukan dibawah Laminar Air Flow (LAF). Drug Reformulation & Drug Delivery System e. III. Clinical and NCE Registration c. Proses inkubasi dilanjutkan kembali selama 48 jam pada suhu kamar untuk menghitung jumlah kapang dan khamir. Bulk manufacturing d. Drug Development terdiri dari Preclinical.

Industri perlu meningkatkan R&D untuk meningkatkan pendapatan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. hal ini dapat dicapai jika laba kotor selalu meningkat.f. Tugas & tanggung jawab :  Merencanakan dan mengembangkan produk baru (original. Perusahaan yang baik adalah yang selalu tumbuh. 4. bentuk sediaan dan kemasan  Membuat rumusan metode analisa dan spesifikasi bahan baku serta produk ruahan dan obat jadi  Melaksanakan pendaftaran produk (registrasi obat)  akan dibahas dalam topik terpisah  Menyusun Prosedur Pengolahan Induk (PPI/Master Batch) 3. Kegiatan R&D Kegiatan R & D secara umum meliputi : 1. 3. Licensed. Peningkatan laba dicapai dengan antara lain melalui : Kenaikan harga/kenaikan unit. copy drug/me too product)  Mengembangkan produk yang sudah ada dengan perbaikan formula untuk meningkatkan mutu produk. . Marketing 2. Pencarian obat baru dan pengembangan bentuk sediaan baru dari produk yang ada (produk yang diperbarui) dan penyempurnaan formula sediaan yang sudah ada. 2.

lebih stabil. Research : Pencarian senyawa kimia baru.- Kenaikan pangsa pasar dalam unit. dan lain-lain 5. . Harga terjangkau. Sistem Penyampaian obat ke dalam Tubuh (Drug Delivery System) . Memikirkan kemungkinan “business” baru. Dan lain-lain b. Bertambahnya obat baru Dimatikan keuntungan obat tua yang sudah tidak memberikan 4. Development : Pengembangan Obat Jadi yang lebih manjur (ketersediaan hayati maksimal). Obat untuk Pengobatan Diri. Dapat diproduksi dalam skala besar dengan standar yang tinggi dan mantap. Tanggung Jawab dan Peran R & D dalam Perusahaan Farmasi Menunjang pengembangan Produk untuk menguatkan posisi perusahaan dalam pemasaran. Perbedaan Research & Development a. Mengikuti Perkembangan Teknologi dan Transfer teknologi Bank Data untuk Pengetahuan Teknis dan Keilmuan.

pengadaan. Tujuan Pokok PPIC: Merencanakan dan mengendalikan aliran bahan-bahan yang masuk ke proses produksi. e. pemasaran. Menyusun Prosedur Analisis dan Pengawasan. RPD. barang/bahan yang keluar dari pabrik sehingga profit yang diinginkan perusahaan dapat dicapai optimal dan efisien. Mengembangkan Proses Produksi. Fungsi Pokok PPIC: 1.6 PPIC (PRODUCTION PLANNING & INVENTORY CONTROL) Bagian yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara produksi. bahan/barang yang sedang dalam proses (WIP). c. Konstribusi R & D Kontribusi atas Pembuatan dan Pemasaran suatu Produk : a. dll yang berfungsi dalam penyedian obat. sasaran dan langkah-langkah untuk mencapai . Melakukan Analisa Kerusakan dan Kegagalan III. Menyusun Rencana Pengawasan. Menyiapkan Data teknis.6. d. penyimpanan. b. Fungsi Perencanaan Menentukan sasaran. akuntansi/keuangan.

. Membuat rencana produksi secara global dengan berpedoman pada rencana sales dari marketing. 2. 3. Tugas PPIC 1. Fungsi Pengendalian Alat manajemen untuk memastikan bahwa pelaksaan telah sesuai dengan rencana PPIC  Perencanaan Produksi  Perencanaan Pengadaan Material Adalah Sistem Pemantauan dan Pengendalian Inventory sehingga bisa dipertahankan stok mimimal yang ideal dan tetap terjamin pemenuhan kebutuhan produk di pasaran. & produk jadi) agar produksi dapat berjalan lancar. efektif dan efisien. Monitor inventory yang ada agar kegiatan produksi dan penjualan dapat berjalan dengan lancar.2. produk ruahan. Membuat rencana pengadaan bahan baku dan bahan pembantu berdasarkan rencana dan kondisi stock dengan menghitung kebutuhan material produksi menurut standar stock yang ideal (ada batasan minimal dan maksimal yang harus tersedia). Tujuannya adalah u/ mengendalikan semua inventory yang terkait langsung dengan proses produksi (bahan awal.

5. marketing. Untuk mengukur efektifitas sistem QA dan menyakinkan bahwa sistem tersebut telah sesuai dengan CPOB/GMP. alat laboratorium dan mesin produksi. personalia dan keuangan agar bekerja dengan baik sehingga dapat memenuhi harapan konsumen. Audit mungkin dilakukan oleh perusahaan itu sendiri (internal). Menghitung standar tenaga kerja setiap tahun berdasarkan data lapangan. audit dapat dilakukan oleh konsumen . 6. bahan pengemasan. Sebagai juru bicara perusahaan dalam hal kerja sama dengan perusahaan. PURCHASING Tugasnya menangani pembelian untuk bahan baku obat. Sebagai suatu alternatif. audit secara rutin harus dilaksanakan. Mengintegrasikan atau memadukan pihak-pihak dalam organisasi. produksi. setiap perusahaan farmasi perlu untuk menerapkan dan melaksanakan suatu sistem QA yang efektif. Menentukan suplayer yang akan memasok bahan/alat yang akan dibeli Dokumentasi surat pembelian barang III. dengan partisipasi aktif dari manajemen dan personel.4. atau dari vendors (eksternal). Mensinergiskan kepentingan marketing dan manufacturing B. C. Menghitung standar yield berdasarkan realisasi produksi setiap tahun. Fungsi PPI A.7 SELF AUDIT (INSPEKSI DIRI) Untuk menjamin kualitas.

kerjakanlah apa yang telah ditulis. prosedur dan fasilitas yang dimilikinya. yang kemudian dapat segera dilakukan tindakan perbaikan sehingga dapat mencegah kemungkinan timbulnya masalah terhadap kualitas atau mencegah masalah tersebut ditemukan oleh regulatory inspector. Audit memberikan beberapa manfaat. Self-audit ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan ataupun ketidaksesuaian dengan standar. serta perlunya suatu mekanisme untuk mencegah masalah tersebut terulang kembali di kemudian hari. audit memberikan dukungan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. INTERNAL AUDIT Internal audit dilakukan oleh suatu organisasi terhadap sistem. Kesesuaian antara dokumen lokal (current) dengan dokumen corporate dan dokumen yang telah didaftarkan ke BPOM merupakan salah satu persyaratan regulatori dan CPOB. dan tulislah apa yang telah dikerjakan”. Selain itu prinsip CPOB adalah “tulislah apa yang akan dikerjakan.atau badan regulatory. audit merupakan bagian yang fundamental dalam sistem manajemen kualitas dan audit merupakan hal yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku. Peraturan di Eropa mensyaratkan suatu perusahaan farmasi: melaksanakan secara berulang self- . di antaranya merupakan suatu alat untuk menilai semua aspek yang berhubungan dengan kualitas dan risiko terhadap compliance. Selama tindakan perbaikan perlu adanya monitoring untuk memastikan bahwa hal tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang diinginkan tercapai.

Di samping merupakan suatu persyaratan legal. dan lebih memperhatikan terhadap sistem daripada rumah tangga. . untuk mengawasi pelaksanaan dan kesesuaian dengan CPOB dan melakukan berbagai tindakan perbaikan yang diperlukan. Sebagai alternatif. terdiri dari staff independen selama audit. Audit ini sering dilakukan untuk mengukur kesiapan terhadap regulatory audit. tetapi lebih jarang dilakukan. Dipimpin oleh bagian QA. Audit ini lebih panjang/lama. Audit ini bersifat pendek dan terbatas dalam ruang lingkup. Internal audit terdiri dari tiga tingkat pendekatan: • Tingkat pertama. namun dapat juga dilakukan untuk menemukan suatu masalah yang kompleks pada suatu aktifitas spesifik yang kritis.inspections sebagai bagian dari system QA. seperti rumah tangga dan dokumentasi. mungkin dapat digunakan eksternal konsultan. fokus terhadap masalah. Dilakukan oleh corporate compliance group. Sama pentingnya dengan pengawasan terhadap status compliance terhadap peraturan yang berlaku. • Tingkat kedua. internal audit merupakan sesuatu yang vital dalam kegiatan bisnis. pelaksanaan internal audit yang baik akan membantu menginformasikan dan memberikan pengertian bahwa kualitas merupakan tanggung jawab setiap orang sehingga akan memicu perbaikan yang berkelanjutan. Dilaksanakan oleh staff dari bagian atau departemen itu sendiri. • Tingkat ketiga.

Apalagi jika proyek yang ada dikerjakan oleh kontraktor dari luar.EKSTERNAL AUDIT Eksternal audit adalah audit yang dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap vendors atau subcontractors. Selanjutnya. Memungkinkan pengurangan aktifitas tertentu (seperti tes terhadap bahan awal pada QC). Umumnya. Mengurangi risiko kesalahan yang mungkin terjadi. karena perusahaan perlu untuk mengenal supplier dengan jelas. namun audit ini mutlak diperlukan. 3. 4. Memastikan bahwa persyaratan-persyaratan yang diperlukan telah dipenuhi dan dimengerti. Membangun pengetahuan dan kepercayaan dalam perencanaan hubungan kerja (partnership). audit rutin akan dilakukan untuk mengukur . 2. melaksanakan audit ini terdapat beberapa keuntungan bisnis yang penting: 1. Ruang lingkup dari audit ini akan bervariasi. Tidak ada persyaratan legal untuk melaksanakan audit ini. audit ini akan menjadi evaluasi awal terhadap kemampuan dan kecocokan secara umum dari vendor/contarctor. yang mungkin berkisar dari suatu transaksi sederhana penjual-pembeli sampai kepada suatu hubungan strategic joint venture. perusahaan harus menyakinkan bahwa dan kontraktor compliance tersebut terhadap kompeten CPOB. tergantung pada hubungan antara dua perusahaan. untuk Dengan menyelesaikannya.

Audit ini mungkin tidak diumumkan sebelumnya (MCA . sistem internal audit. Perusahaan manufacturing atau packaging memerlukan lisensi dan akan menjadi subyek regulatory audit. Badan yang berwenang tersebut antara lain Medicine Control Agency (MCA) di Inggris.compliance dengan standar persetujuan kontrak. Kepercayaan diri vendor akan meningkat melalui tindakan audit. detail mengenai persyaratan tambahan bagi industri farmasi. REGULATORY AUDIT Audit ini dilaksanakan oleh badan yang berwenang. Banyak supplier industri farmasi bersertifikat ISO 9001 atau ISO 9002 dan diaudit secara rutin oleh badan sertifikasi tersebut. untuk melihat kesesuaian suatu perusahaan farmasi baik manufacture maupun supply. Semua perusahaan farmasi manufacture yang berlisensi secara rutin dilakukan regulatory audit. didalam banner „PS 9000‟. Food and Drug Administration (FDA) di USA dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia. menitikberatkan pada pengemas primer. Frekuensi dari audit ini akan tergantung pada findings awal dan permasalahan kritis dari vendor dan material yang disuplai. IQA‟s Pharmaceutical Quality Group telah mempublikasikan pedoman praktik bagi supplier farmasi. third-party audit dan pengalaman vendor. Pelaksanakan internal audit secara rutin memungkinkan untuk mengurangi tingkat eksternal audit. printed materials dan raw materials (bahan aktif dan bahan tambahan).

Badan regulatory dari negara yang berbeda. laporan resmi akan dikirimkan. FDA menjatuhkan hukuman finansial „consent decrees‟ terhadap perusahaan yang gagal untuk merespon secara adekuat terhadap audit findings dan comply terhadap CPOB. Regulatory audit sangat barvariasi dalam ruang lingkup. frekuensi dan durasi. suatu perusahaan harus mempunyai suatu prosedur yang jelas dan mempunyai staf yang terlatih dengan baik untuk melaksanakan audit.melaksanakan 10% audit dengan cara ini). misal FDA mengaudit perusahaan di Eropa. dapat juga melakukan audit terhadap suatu perusahaan. Badan regulatory mengharapkan ketepatan waktu respon terhadap laporan audit dan laporan umum. Audit yang dilakukan oleh badan regulatory nasional mungkin akan dilaksanakan secara rutin dan mencakup sistematika semua fasilitas. Setelah regulatory audit. Audit yang dilakukan oleh badan regulatory luar negeri mungkin bersifat general atau berhubungan dengan peraturan spesifik tertentu: inspeksi yang dilakukan oleh FDA sebelum memberikan ijin terhadap pendaftaran obat baru. laporan dari format tersebut akan tergantung pada perhatian dari badan regulatory tersebut. Kegagalan suatu perusahaan dalam regulatory audit memaksanya untuk menerapkan CPOB dan dapat menyebabkan larangan atau pencabutan izin produksi atau eksport/import. Badan . Oleh karena itu. Internal audit memberikan kesempatan yang berharga kepada staf perusahaan untuk berlatih melakukan audit. karena perusahaan diharapkan compliance dengan CPOB setiap waktu. selama periode tertentu.

Bagian pengemasan baik primer maupun sekunder bertanggungjawab kepada Manager Produksi. . isi. KEGIATAN PENGEMASAN (PACKAGING) Kegiatan pengemasan (Packaging) adalah suatu tahap akhir dalam proses produksi untuk melindungi kualitas produk obat. dan penguraian bahan aktif b) Memberi informasi tentang produk meliputi nama produk. nomor batch. mencegah pemalsuan (identitas). kontaminasi.regulatory akan memeriksa bahwa tindakan perbaikan telah dilaksanakan pada audit berikutnya. nama pabrik yang memproduksi dan tanggal kadaluarsa c) Memberi nilai tambah pada produk yaitu : penampilan. bentuk lebih menarik. Bagian pengemasan bertugas untuk mengemas produk-produk ruahan yang telah dinyatakan lulus oleh bagian QC. Merupakan suatu kebijaksanaan dalam menjalankan bisnis apabila permasalahan yang ditemukan dalam regulatory audit disikapi dengan serius dan tindakan perbaikan dilakukan dengan tepat waktu dan efektif. Syarat dari pengemasan produk adalah : a) Melindungi produk dari kerusakan fisik.

Pemberian brosur/insert . Setelah tahap pengemasan sekunder maka dilakukan final inspection oleh bagian QC meliputi : a. Pengemasan Sekunder Pengemasan sekunder dan tersier dilakukan dalam ruangan black area yang meliputi : . Penyiapan label Kebenaran label. hasil cetakan/printing No. Pengemasan Primer Pengemasan primer dilakukan di ruang produksi (grey area) yang meliputi stripping. IPC untuk pengemasan primer meliputi pemeriksaan isi setiap kemasan (volume control). dan uji kebocoran strip atau botol.Batch. batas maksimal kebocoran yang diperbolehkan adalah tergantung dari sifat produk yang distrip.Bagian pengemasan dibagi menjadi 2 unit yaitu: 1. pengemasan dalam plastik (hospital pack) serta filling sediaan liquida.Memasukkan hasil pengemasan kedalam box dan master box. Manufacturing date dan Expire date .Coding: pemberian nomor batch dan expired date pada etiket dan dos . Untuk menjamin mutu hasil pengemasan maka selalu dilakukan IPC. Pada uji kebocoran strip digunakan 4 strip sebagai sampel uji. 2.

setelah mendapat persetujuan dari bagian QC maka master box segera dipindahkan ke gudang obat jadi. Alur pengemasan terlihat pada gambar. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kesalahan/tertukarnya produk yang akan kemas. kebenaran dus dan master box.date. Exp. dan Manufacturing date d. terdapat papan yang menunjukkan nama dan nomor bets produk yang sedang dikemas. Setelah pengemasan selesai juga dilakukan penimbangan master box sesuai dengan bobot yang ditentukan. insert cacat/rusak. kebenaran penandaan No. . Pelipatan insert Kebenaran insert. Pada tiap jalur pengemasan. Jumlah produk yang diperoleh dan sisa kemasan yang tidak terpakai didokumentasikan dalam laporan harian kemas sekunder. Master box yang sudah ditimbang ditempatkan diruang karantina. kebenaran penandaan. batch. kebenaran insert. Pengepakan Kebenaran isi. Sebelum proses pengemasan dimulai terlebih dahulu diperiksa kesiapan ruang untuk memastikan bahwa perlengkapan dan ruang kerja dalam keadaan bersih dan sisa produk lain tidak ada. kerapian lipatan c. Printing dus dan master box Kebenaran dus dan master box.b.

yang digunakan dalam proses pengemasan produk farmasi.QA Bahan pengemas Menurut WHO Semua jenis bahan. termasuk bahan hasil cetakan. tidak termasuk yang digunakan dalam transformasi pengiriman. Menurut CPOB Semua bahan yang dipakai dalam proses pengemasan produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi . .

pengeringan. Syarat-syarat bahan pengemas Harus melindungi preparat dari keadaan lingkungannya Tidak boleh bereaksi dengan produk Tidak boleh memberikan rasa dan bau kepada produk Tidak toksik Disetujui oleh BPOM (FDA) Harus tahan banting PERSONIL Setiap karyawan yang masuk atau keluar dari ruang produksi beta laktam harus melewati ruang antara yang dilengkapi oleh sistem air shower untuk menghilangkan partikel-partikel yang menempel pada pakaian kerja.- Menurut Mil – STD – 2073 – IA (AS) Proses dan prosedur yang dilakukan untuk mencengah penguraian dan kerusakan bahan dalam hal ini termasuk pembersihan. setelah selesai atau keluar dari ruangan produksi beta laktam diharuskan mandi lebih dulu. pengawetan. topi yang menutupi rambut dan masker. pembungkusan. Untuk memasuki grey area harus mengenakan pakaian dan sepatu khusus atau memakai shoe cover. penandaan dan penggunaan. .

Setelah itu dialirkan atau digabung dengan limbah cair non beta laktam di bak penampungan dan seterusnya diolah bersama . Antibiotik tidak dapat di degradasi dengan efektif dengan cara conventional biological treatment. karena sifatnya sebagai bakterisidal dan degradasi dari substansi ini tidak dapat berjalan dengan baik baik di alam (secara alami) maupun dalam biological treatment plants.LIMBAH Di antara obat-obatan yang dapat menyebabkan pencemaran atau masalah lingkungan. Oleh karena itu antibiotik terdeteksi di permukaan dan air tanah dengan kadar µg/l hingga ng/l. Antibiotik umumnya mempunyai kemampuan biodegradability yang rendah. Pengolahannya : dialirkan ke bak/ kolam perusakan cincin beta laktam dengan menggunakan larutan NaOH. Limbah cair Berasal dari gedung produksi beta laktam berupa hasil pencucian alat/mesin. Oleh karena itu. teknologi oksidasi secara kimiawi diperlukan untuk mengolah limbah antibiotik ini. Efek toksik antibiotik terhadap organisme air berkisar 1 mg/l. antibiotik merupakan obat yang penting karena pemakaiannya yang luas baik untuk pengobatan hewan maupun manusia. a.

FORMULASI Metode pembuatan tablet kunyah eritromisin menggunakan granulasi kering karena eritromisin tidak stabil dalam pemanasan. Metode ini banyak digunakan untuk membuat tablet aspirin atau vitamin dan tablet antibiotik. buangan proses produksi. . Limbah udara Pengolahannya : debu produksi disedot dan dikumpulkan oleh dust collector. c. Pengolahannya : untuk wadah yang mengandung bahan AB dicuci dan dibilas bersih di ruang pencucian di dalam gedung beta laktam. Bentuk kristal dari eritromisin (poliamorf) juga tidak memungkin untuk dilakukan kempa langsung. tidak tahan kelembaban tinggi dan mudah terurai jika dilakukan granulasi basah. dan produk jadi antibiotik beta laktam yang rusak.b. Metode granulasi kering merupakan salah satu metode pembuatan tablet yang efektif terutama pada dosis efektif terlalu tinggi untuk pencetakan langsung. sehingga digranulasi dengan metode granulasi kering. Kemudian hasil pencucian ini yang merupakan limbah cair diolah kemudian seperti pada limbah cair. kelembaban atau keduanya. tong plastik. Amoksisilin merupakan antibiotik yang tidak tahan terhadap kelembaban dan suhu tinggi. Limbah padat Berupa wadah bekas bahan baku antibiotik beta laktam yang rusak . dan obatnya peka terhadap pemanasan.

Setelah serbuk dicampur. Tablet kunyah dibuat dengan cara dikempa. tidak mengandung bahan penghancur dan lebih disukai oleh pasien yang mempunyai kesulitan dalam menelan obat (Voigt. atau sukrosa sebagai bahan pengisi. sorbitol. yang besar dan dikompakkan dengan punch permukaan datar. Slugging merupakan suatu usaha untuk meningkatkan waktu pencetakan dan meningkatkan kohesif antara bahan tambahan. Sediaan ini memiliki rasa aromatik yang menyenangkan. campuran serbuk ditekan ke dalam die. 1984). Tujuan dari tablet kunyah adalah untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua yang mungkin sukar menelan obat utuh Karakteristik tablet kunyah apabila dikunyah akan membentuk massa yang halus. Tablet kunyah dikatakan sebagai tablet spesial yang digigit hingga hancur dan ditelan. Tablet kunyah juga merupakan alternatif yang baik untuk anak-anak yang tidak bisa menelan tablet dengan air. umumnya menggunakan mannitol. . komponen-komponen tablet dikompakkan dengan mesin cetak tablet atau mesin khusus (roller compactor). Massa yang diperoleh disebut Slug dan prosesnya disebut slugging.Pada proses ini. mempunyai rasa yang enak dan tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.

melewati proses desintegrasi dan dapat meningkatkan peningkatan disolusi. kenyamanan pasien dengan meniadakan kebutuhan air minum untuk menelan.1 % 0.Keuntungan tablet kunyah dibandingkan dengan bentuk sediaan padat oral lainnya meliputi ketersediaan hayati yang lebih baik.05 % 0. RANCANGAN FORMULA Tiap 650 mg mengandung : Eritromisin Stearat Crospovidone Mg Stearat Talk Sunset Yellow Orange Flavour Natrium Benzoat Azesulfam Pottasium Mannitol 325 mg 5% 2% 1% 0. meningkatkan pemerian pasien (terutama anakanak) karena cita rasa yang menyenangkan dan memiliki keunikan produk dari sudut pandang pemasaran. dapat digunakan sebagai bentuk sediaan cair jika diperlukan permulaan kerja obat (onset) yang cepat.2 % 0.05% ad 100 % .

No Batch KODE BAHAN ES – 001 CP – 001 MS – 001 TK – 001 SY – 001 OF – 001 SB – 001 AP – 001 MN .MASTER FORMULA Nama Produk Jumlah Produk Tanggal Formulasi Tanggal Produksi No Reg.000 325.000 3.500 6.325 Ad 650 PER BATCH (gram) 3920.500 6.001 NAMA BAHAN Eritromisin Stearat Crospovidone Magnesium Stearat Talk Sunset Yellow Orange Flavour Natrium Benzoat Kalium Asesulfam Manitol FUNGSI Zat Aktif Penghancur Lubrikan Glidant Pewarna Perasa Pengawet Pemanis Pengisi : Erytrate® Chew Tablet : 10.500 13.000 3.325 0.300 0.250 Ad 6500 .000 650.000 32.500 0.000 tablet : 01 Mei 2011 : 12 Mei 2012 : DKL1231901110A1 : B04112304 PER DOSIS (miligram) 392.250 6.000 650.650 1.

ALUR PROSES PEMBUATAN TABLET KUNYAH ERITROMISIN METODE GRANULASI KERING Penimbangan Bahan Baku: Eritromisin Stearat Crospovidone Manitol Na Benzoat Orang Flavour Sunset Yellow Natrium Sakarin Pencampuran awal Pengambilan Sampel Granulasi Kering Slugging/roller compacting Pengayakan kering Pengambilan Sampel Lubrikan Magnesium stearat Talk Pencampuran Akhir Pengambilan Sampel Pencetakan Tablet Pengambilan Sampel Pengemasan Primer Pengemasan Sekunder .

Langkah Produksi 1. Penimbangan

Bahan Baku Eritromisin Stearat Crospovidone Manitol Na Benzoat Orang Flavour Sunset Yellow Natrium Sakarin Magnesium stearat Talk

Alat/Mesin Timbangan

Parameter Kritis - Kebersihan - Ketepatan penimbangan

Pengujian (Test Method) - Cemaran Mikroba - Kalibrasi/Kualifikasi

2. Pencampuran Awal

Eritromisin Stearat Crospovidone Manitol Na Benzoat

Super Mixer

- Waktu pencampuran - Kecepatan pengadukan - Kecepatan chopper - Loading capacity

- Keseragaman kadar zat aktif

Orang Flavour Sunset Yellow Natrium Sakarin

3. Granulasi Kering (Slugging/roller compacting)

Campuran serbuk I

Mesin Kempa Slug

- Kecepatan mesin (RPM) - Tekanan (force/tonage)

- Keseragaman zat aktif

4. Pengayakan kering

Campuran serbuk II (slug)

Oscillating Granulator Drum mixer

- Ukuran Mesh - Kecepatan mesin - Waktu - Kecepatan (RPM) - Loading capacity

- Distribusi ukuran partikel

5. Pencampuran akhir

Granul bulk Magnesium stearat Talk

- Keseragaman kadar - Ukuran partikel - Aliran - BJ

- Porositas - Kerapatan tap dan bulk - Sudut istirahat 6. Pencetakan Tablet Campuran Tablet Mesin Cetak - Kecepatan mesin (RPM) - Tekanan (force/tonage) - Pemerian - Dimensi tablet - Keragaman bobot - Keseragaman kadar aktif - Kekerasan - Kerapuhan - Waktu hancur - Dissolusi

Uji kecepatan alir granul dilakukan sebagai berikut : Sampel granul dimasukkan ke dalam corong dengan cara dialirkan lewat dinding corong dimana lubang bagian bawah corong tertutup. Parameter yang diukur adalah kecepatan alir granul dan sudut istirahat. kemudaian dicari sudut istirahatnya (ά). Sifat alir granul Uji alir granul dilakukan dengan alat granules flowdex tester. Bulk Density Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat Tap Density Tester. Jumlah sampel yang digunakan adalah 20 g.Pemeriksaan IPC granul meliputi : a. Meja uji diaalasi dengan kertas untuk menampung granul yang keluar dari corong. Hasil tampungan yang berbentuk kerucut diukur diameter dan tingginya. lubang bawah dibuka sambil diukur kecepatan alirnya menggunakan stopwatch. . Pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan granul sampai volume 100 ml dalam gelas ukur kemudian ditimbang bobotnya. Setelah semua sampel granul masuk. Sampel yang digunakan 20 g. b.

Selama menunggu pemeriksaan IPC. . Granul yang memenuhi persyaratan ditempel label Released dan dapat dilanjutkan untuk proses pencetakan massa granul menjadi tablet. Tap Density Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat Tap Density Tester. Tablet yang dihasilkan diambil sampelnya apakah memenuhi spesifikasi atau tidak. d. kemudian 1000 ketukan. Distribusi partikel Uji ini menggunakan sampel 10 g dan diayak dengan ukuran ayakan tertentu e. Penetapan Kadar Dilakukan di laboratorium oleh Quality Control dengan metoda analisa yang dikeluarkan oleh R&D. tablet ditempel label karantina dan disimpan di ruang WIP.c. Bobot sampel yang digunakan 20 g. Hitung tap density pada saat volume konstan selama 3 kali berturut-turut. Pada 1000 ketukan amati volume granul pada tiap interval 1000 ketukan sampai total 4000 ketukan. Pemeriksaan dilakukan dengan cara memasukkan granul sampai 100 ml ke dalam gelas ukur kemudian alat dijalankan dan diamati volume pada tiapa interval 100 ketukan dari 100 sampai 500 ketukan.

Die yang menentukan ukuran dan bentuk tablet 3. Hopper untuk menyimpan dan memasukan granulat yang akan dikempa 2. . Mesin pengempa atau pencetak tablet dirancang dengan komponen-komponen dasar sebagai berikut : 1. untuk menggerakan/memindahkan granul dan hopper kedalam die Pemeriksaan IPC tablet meliputi : 1.Pencetakan (pengempaan) Tablet Tablet dibuat dengan jalan mengempa campuran bahan yang mengandung satu atau beberapa obat dengan bahan pengisi pada mesin cetak yang disebut dengan pencetak/penekan (press). Pemeriksaan ini juga dilakukan oleh bagian produksi setiap 30 menit. Jalur cam. Feed shoes. untuk mengatur gerakan punch 5. tengah dan akhir produksi. Punch untuk mengempa granulat yang terdapat didalam die 4. Sampel diambil dari hopper kanan dan hopper kiri pada awal. Keseragaman bobot Uji ini menggunakan timbangan.

Uji disolusi Alat yang digunakan adalah disolution tester. Keseragaman kadar bahan aktif Dilakukan di laboratorium QC menggunakan metoda anlisa yang dikeluarkan R&D 7. Waktu hancur Uji ini menggunakan alat Desintegration tester. Ketebalan Alat yang digunakan Dial Thickness tester. seperti : . Kerapuhan Uji ini menggunakan alat Friablilty tester. Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan metoda analisa yang dikeluarkan oleh R&D Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet Masalah-masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet secara umum. 3. Sampel yang digunakan diambil dari hopper kanan maupun kiri pada awal. 5. tengah dan akhir produksi. 4. Kekerasan Uji ini menggunakan alat hardness tester.2. 6.

Lengket pada Cetakan Manifestasinya :    Melekat pada die dan sulit untuk dikeluarkan Bunyi keras pada mesin Tablet kopak. jelek. lebih sering di bagian atastengah  Picking : perpidahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan punch  Sticking : keadaan dimana granul menempel pada dinding die (ada adhesi)  Mottling : keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet Secara Khusus 1. kadang-kadang hitam Penyebab :   Antiadheren kurang Lubrikan kurang atau tidak tepat . Capping : pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas/bawah tablet dari badan tablet    Laminasi : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih Chipping : keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong Cracking : keadaan dimana tablet pecah. sisi tablet kasar.

seharusnya digunakan asam stearat (yang mikronize karena fungsi lubrikan adalah antar partikel sehingga kalau halus akan terselimuti oleh lubrikan). Penyelesaian Masalah :     Meningkatkan antiadheren dan lubrikan Penggantian lubrikan yang cocok Mengurangi jumlah granul yang kasar Mengurangi jumlah air tapi jangan sampai berada di bawah optimum.Contoh : Tablet asetosal dengan Mg stearat lengket. karena tablet menjadi kurang baik. Siprofloksasin (Antibiotik turunan Imidazol). yaitu terjadinya pelelehan sehingga adhesivitas tinggi dan akhirnya menjadi lengket.  Kandungan air (aspek kadar air) tinggi akan menyebabkan penempelan pada die. Jika sudah diketahui jumlah pembasah yang paling baik maka agar pembasahnya pas. dilakukan dengan menambahkan pembasah ke dalam larutan . gliseril guaiakolat dengan prometazin HCl. contoh : Ibuprofen. sedangkan kadar air rendah dapat menyebabkan laminating atau capping.  Kemungkinan karena interaksi kimia atau fisika. contoh interaksi fisika etoksi benzamin dengan kafein. sehingga kesulitan dalam masalah pencetakan. Gliseril guaiakolat.  Bahan baku dengan titik leleh sangat rendah.

pengikat. namun waktu hancur semakin panjang. sebab kalau cacat pada punch. dimana asam klavulanat mudah hancur dengan kelembaban dan temperatur yang tinggi. jernih dan mengkilat. maka akan melekat sehingga ratakan punch dan die. yaitu bahan pembantu yang tidak menguap tapi basah.  Jika terjadi lengket mungkin karena punch dan die yang rusak.   Kurangnya anti adheren Kandungan air tinggi . 2. bahan pengisi dengan titik leleh tinggi dan dapat mengadsorbsi. Penambahan aerosil pada tablet akan menyebabkan penampilan tablet yang bagus.  Perubahan bahan pengisi. Lengket pada punch Manifestasi :  Terkelupasnya bagian tablet karena permukaan tablet melekat pada punch. pembuatannya dilakukan dalam suhu dan RH yang rendah. Oleh karena itu. Contoh : Kombinasi ampisilin dengan asam klavulanat. seperti SiO2 dan aerosil (adsorben).  Kalau mungkin pencetakan pada suhu rendah dan humuditas rendah karena khusus untuk bahan aktif dengan titik leleh rendah atau terjadi campuran eutektik maka zat campuran eutektik semakin mudah menyerap air. contoh Propilen glikol atau gliserin.

Pengikat yang jumlahnya terlalu sedikit (tepat tetapi jumlahnya kecil)   Penanggulangannya Pembuatan granul diulang jika penyebabnya adalah kelebihan atau kekurangan pengikat atau tidak cocok. Lengket pada punch Penanggulangannya sama :     Ubah ukuran granul Tambah adsorben Perbaiki alat Alat dipoles. sehingga adhesivitas tablet dan punch sangat kecil. . yaitu dengan adanya udara yang terjebak antara punch dan die   Kekerasan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (ada yang optimal) Granul yang terlalu kering. 3. Capping/Laminating Penyebab :   Terjebaknya udara pada tablet karena granul sangat halus Porositas tinggi. cara : tambahkan dalam pelarut pengikat tambahkan bahan cair dan tidak mudah menguap   Zat pengikat yang kurang tepat. khususnya pada penggunaan punch yang baru.

NHPC. kurangi partikel granul. lengket atau kadang-kadang karena punch yang terlalu dalam. sorbitol. . karena spesifikasi ukuran harus sama. LHPC 21. Tambahkan pengikat kering seperti gom arab. PVP. Diganti punch dan die Tambahkan pengikat kering 5. sehingga meningkatkan kekompakan tablet. sebab dengan demikian mungkin saja timbul porositas tinggi. Penyelesaian :     Punch dan die supaya di poles Untuk ukuran granul yang besar. 4. Metilselulosa dengan konsistensi tinggi. yang tidak dapat menjamin keseragaman bobot karena adanya distribusi baru pada saat pencetakan. sakarin.  Pengurangan ukuran partikel dari granul. Keseragaman bobot Penyebab pertama :   Aliran kurang baik Distribusi ukuran granul yang tidak tepat. Retak-retak pada permukaan tablet Manifestasinya : Akibat dari ketiga masalah sebelumnya : laminating.

Penyebab kecepatan aliran : kandungan air tinggi sehingga adesivitas tinggi dan aliran menjadi kurang . udara terjebak banyak karena fines dan pengikat yang tidak cocok atau kurang. porositas meningkat. pengikat. Sistem pencampuran yang tidak benar. sehingga mesin harus terkunci baik terutama punch bawah karena dapat berubah-ubah sehingga bobot berbeda-beda. Penyebab kedua : distribusi granul tidak baik. aliran tidak baik. 6 Keseragaman Kandungan Dilakukan bila :  Kadar bahan aktif dibawah 50 mg . Kecepatan aliran dapat menyebabkan bobot tablet yang berbedabeda. Jumlah fines meningkat. Penyelesaian masalah :  Perbaiki atau ulangi proses pembuatan granul. distribusi granul optimal sehingga aliran bagus. perbaikan pencampuran massa cetak. porositas tinggi. perbaikan ukuran granul. granulasi. Penyelesaian Masalah :   Kurangi kadar air Pembuatan granul baru sehingga menyebabkan porositas kecil.   Perbaikan mesin tablet yaitu validasi mesin tablet.

granulasi.  Kalibrasi mesin . Bila perbandingan kadar bahan aktif dengan bobot tablet lebih kecil dari pada 50% Penyebab jeleknya keseragaman kandungan :   Karena aliran jelek Pencampuran pregranulasi tidak benar maka tentukan dulu homogenitas zat aktif dalam granul (di pabrik)  Karena kadar fines tinggi maka porositas tinggi (bobot berbedabeda)   Kandungan air yang tinggi sehingga aliran kurang baik Kondisi mesin tidak benar. perubahan pengikat. Penyelesaian masalah  Perbaikan ukuran granul meliputi pencampuran.

Washington. Jakarta. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta. Lachman Lor Air. Universitas Hasanuddin. Laporan Praktek Kerja Lapangan Farmasi industri. Bambang.1986 5. Elfirah. Penerbit Global Pustaka Utama. 2007. Jurusan Farmasi Fakultas MIPA. P. 2006 3. Teori dan Praktek farmasi Industri. Boy Lan A. Universitas Hasanuddin.2006 4. Jilid II. Hand Book Of Pharmaceutical Exipient. American Pharmaceutical Association.R. . Laporan laboratorium terpadu pembuatan tablet Jurusan Farmasi Fakultas MIPA. 1994. Aswinar..DAFTAR PUSTAKA 1. 2.