BAB I PENDAHULUAN

Pembangunan nasional dalam bidang kesehatan bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui

peningkatan serta perluasan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, dimana tidak lagi dititikberatkan hanya pada upaya

penyembuhan penderita, tetapi berkembang ke arah keterpaduan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Hal tersebut, mencakup upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi). Salah satu hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat adalah kualitas obat yang digunakan dalam pelayanan kesehatan. Industri farmasi sebagai unit usaha yang

menunjang kesehatan masyarakat mempunyai peranan yang sangat strategis karena produk yang dihasilkan merupakan komoditi yang digunakan oleh masyarakat secara langsung terutama pada kondisi yang dibutuhkan. Oleh karena itu industri farmasi mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab sosial untuk menyediakan obat yang aman, bermutu, berkualitas serta dengan harga yang terjangkau masyarakat Tanggung jawab moral industri farmasi tidak hanya berupa pengadaan obat yang bermutu tinggi, berkhasiat dan terjamin

keamanannya, namun harus menjamin kesinambungan ketersediaan obat dengan harga yang terjangkau, sehingga dalam setiap perkembangannya,

industri farmasi selain Product oriented, juga dituntut untuk Patien oriented. Dalam pembuatan obat, pengawasan menyeluruh adalah sangat penting untuk meyakinkan bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi (cGMP should apply to all). Cara kerja yang acak tidak boleh karena obat menyangkut jiwa dan menjaga kesehatan. Pedoman yang baik harus diperhatikan sebagai standar mutu obat. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian yaitu intravena, intraspinal,

intramuskuler, subkutis dan intradermal. Apabila injeksi diberikan melalui rute intramuskular, seluruh obat akan berada di tempat itu. Dari tempat suntikan itu obat akan masuk ke pembuluh darah di sekitarnya secara difusi pasif, baru masuk ke dalam sirkulasi. Cara ini sesuai untuk bahan obat , baik yang bersifat lipofilik maupun yang hidrofilik. Kedua bahan obat itu dapat diterima dalam jaringan otot baik secara fisis maupun secara kimia. bahkan bentuk sediaan larutan, suspensi, atau emulsi juga dapat diterima lewat intramskuler, begitu juga pembawanya bukan hanya air melainkan yang non air juga dapat. Hanya saja apabila berupa larutan air harus diperhatikan pH larutan tersebut. Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran

mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima. Ampul adalah wadah gelas yang tertutup rapat biasanya dalam dosis tunggal padat atau larutan obat jernih atau suspense halus yang ditujukan untuk penggunaan parenteral. Ranitidin diberikan dalam bentuk injeksi intravena dan

intramuskular. Untuk pasien rawat inap di rumah sakit dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus usus dua belas jari yang sulit diatasi, atau sebagai pengobatan alternatif jangka pendek pemberian oral pada pasien yang tidak bisa diberi ranitidin oral.

badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi. pemulihan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. karena itu industri tersebut wajib memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. 2. pencegahan.245/MenKes/ SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan baku obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar mutu sebagai bahan farmasi. penyembuhan. Industri Farmasi adalah Industri Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Persyaratan Industri Farmasi Perusahaan industri farmasi wajib memperoleh izin usaha industri farmasi.245/Menkes/ SK/V/1990 adalah sebagai berikut : a) Industri farmasi merupakan suatu perusahaan umum. . peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Persyaratan industri farmasi tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1 Industri Farmasi 1. Definisi dari obat jadi yaitu sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelediki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa.

f) Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya dapat diedarkan setelah memperoleh izin edar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. e) Industri farmasi obat jadi dan bahan baku. d) Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi persyaratan CPOB sesuai dengan ketentuan SK Menteri Kesehatan No. masing-masing sebagai penanggung jawab produksi dan penanggung jawab pengawasan mutu sesuai dengan persyaratan CPOB. c) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan pelaksanaannya.b) Memiliki rencana investasi. Izin Usaha Industri Farmasi Izin usaha industri farmasi diberikan oleh Menteri Kesehatan dan wewenang pemberian izin dilimpahkan kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Izin ini berlaku seterusnya selama industri tersebut berproduksi dengan perpanjangan izin setiap 5 tahun.43/Menkes/SK/II/1988. Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi Pencabutan izin usaha industri farmasi dapat terjadi karena . sedangkan untuk industri farmasi Penanaman Modal Asing (PMA) masa berlakunya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. wajib mempekerjakan secara tetap sekurang-kurangnya dua orang apoteker warga Negara Indonesia. 4. 3.

dsb). lembur & bonus. b) Tidak menyampaikan informasi mengenai perkembangan industri secara berturut-turut tiga kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar. jaminan keselamatan kerja dan jaminan kesehatan) serta membuat sk (promosi. .2 Struktur Organisasi Industri Farmasi II. e) Tidak memenuhi ketentuan dalam izin usaha industri farmasi. penanganan cuti. II. c) Melakukan pemindahan lokasi usaha industri tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu.2 Finance Finance merupakan departemen / bagian / divisi yang mempunyai tugas yaitu : Mempersiapkan dan menganalisis finansial dan laporan manajemen serta ketepatan waktu dalam memberikan laporan. d) Dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku obat yang tidak memenuhi persyaratan dan palsu). absensi.2. mutasi. ketentuan yang berlaku (obat II. jamsostek (jaminan hari tua.beberapa hal : a) Melakukan pemindahtanganan hak milik izin usaha industri farmasi dan perluasan tanpa memiliki izin. pemberhentian.2.1 HRD HRD merupakan departemen / bagian / divisi yang mempunyai tugas yaitu : mengrekruitmen karyawan.

4.3 Marketing dan Distribusi Departemen ini mengatur pemasaran dan distribusi produk jadi. penjualan tatap muka dan publisitas. General Ledger and Fixed Assets register. 3. Price (harga) Produk yang dihasilkan mempunyai harga yang ekonomis dengan kualitas barang yang setara dengan harga OGB (obat generik berlogo). Proses distribusinya berdasarkan : stok atau persediaan barang. 2. Dalam proses distribusi dan marketing mempertimbangkan 4P yaitu: 1.Menyiapkan. Mengawasi dan mereview accounting. . mengawasi dan menganalisis anggaran dan forecast. Makasar dan Menado.2. II. Sumatra. Accounts Receivable. Place (distribusi) Produk yang dihasilkan didistribusikan ke distributor atau PBF dipulau jawa dan luar pulau jawa seperti Bali. dan banyaknya distributor. Promotion Produk yang dihasilkan dipromosikan oleh sales representatif (salesman dan spreader) melalui : iklan. syarat kredit. kualitasnya dan ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan. Bertanggung jawab pada Account Payable. saluran distribusi. potongan harga atau bonus. Penentuan price berdasarkan : tingkat harga. kemasannya. Product (produk yang dihasilkan) Produk line item harus : penampilan harus menarik.

4 QA (Quality Assurance) Quality Assurance dalah suatu konsep yang luas yang mencakup semua aspek yang secara kolektif maupun individual mempengaruhi mutu.2. Menjaga standar semua ospek.II.2. dari konsep design hingga product tersebut ditangan konsumen. QA juga mempunyai fungsi dalam tahap staf dan tanggung jawab terhadap aspek dan standar yang diinginkan oleh QC di Industri dan melakukan audit tentang keseragaman semua aspek dan standard yangb digunakan di semua unit. cara uji dan mengaudit kualitas.1 Purchasing (Assistant Manager) Departemen Purchasing mengeluarkan perintah produksi berupa Bulk Production Order (BPO) untuk bahan baku ke bagian administrasi . hubungan kualitas terhadap keinginan pelanggan.2. II.5 Plant Manager (Manager) II. Komponen yang menunjang untuk mencapai mutu obat yang bagus (divisi control) meliputi : Quality Assurance (QA) Quality Control (QC) Quality Inspection (QI) jaminan mutu pengawasan mutu pemeriksaan mutu GMP merupakan bagian dari QA yang bertugas untuk Menyakinkan bahwa produk yang dibuat konstan memiliki pensyaratan kualitas yang dikehendaki.5. dan menyampaikan kriteria kemasan kepada penjual bahan pengemas.

 Menentukan suplayer yang akan memasok bahan/alat yang akan dibeli  Dokumentasi surat pembelian barang II. RPD. penyimpanan. dll yang berfungsi dalam penyedian obat. pemasaran.2. bahan/barang yang sedang dalam proses (WIP). a.5.2 PPIC (Manager) Bagian ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara produksi. pengadaan. akuntansi/keuangan. alat laboratorium dan mesin produksi. bahan pengemasan. Tujuan Pokok PPIC Merencanakan dan mengendalikan aliran bahan-bahan yang masuk ke proses produksi. sejumlah tertentu bahan awal disimpan di ruang staging. departemen ini adalah:  Tugasnya menangani pembelian untuk bahan baku obat. Fungsi Pokok PPIC 1. barang/bahan yang keluar dari pabrik sehingga profit yang diinginkan perusahaan dapat dicapai optimal dan efisien. Setelah ditimbang. Fungsi Perencanaan Secara umum.produksi dan Packaging Order (PO) untuk bahan kemasan ke bagian packaging yang disertai dengan Material Requistion (MR) dan diperiksa kelengkapannya oleh Supervisor Dispensing. tugas . b. Bahan-bahan yang sesuai yang tercantum dalam BPO dikeluarkan dari gudang dan dimasukkan ke dalam passthrough yang merupakan penghubung antara gudang bahan awal dengan ruang timbangan produksi.

Pembagian PPIC . 3. d. Tugas PPIC 1. . & produk jadi) agar produksi dapat berjalan lancar. Tujuannya adalah u/ mengendalikan semua inventory yang terkait langsung dengan proses produksi (bahan awal. Membuat rencana pengadaan bahan baku dan bahan pembantu berdasarkan rencana dan kondisi stock dengan menghitung kebutuhan material produksi menurut standar stock yang ideal (ada batasan minimal dan maksimal yang harus tersedia). Fungsi Pengendalian Alat Manajemen Untuk Memastikan Bahwa Pelaksaan Telah Sesuai Dengan Rencana. efektif dan efisien. Sasaran Dan Langkah-Langkah Untuk Mencapai 2.Perencanaan Produksi . Monitor inventory yang ada agar kegiatan produksi dan penjualan dapat berjalan dengan lancer. Membuat rencana produksi secara global dengan berpedoman pada rencana sales dari marketing.Menentukan Sasaran.Perencanaan Pengadaan Material Adalah Sistem Pemantauan dan Pengendalian Inventory sehingga bisa dipertahankan stok mimimal yang ideal dan tetap terjamin pemenuhan kebutuhan produk di pasaran. 2. c. produk ruahan.

Informasi Order : jenis. Perawatan mesin-mesin produksi c. Menghitung standar tenaga kerja setiap tahun berdasarkan data lapangan. Jumlah dan standar tenaga kerja 3. Menghitung standar yield berdasarkan realisasi produksi setiap tahun. f.toll manufacturing. 6. Bagian Pengadaan . Keterkaitan elemen-elemen dengan PPIC a. Standar yield 4. Waktu proses 5. marketing. lokal. personalia dan keuangan agar bekerja dengan baik sehingga dapat memenuhi harapan konsumen. Rencana Sales 2. Kapasitas produksi 2.4. Bagian Pemasaran 1. ekspor. waktu. Bagian Produksi 1. Fungis PPIC Mensinergiskan kepentingan marketing dan manufacturinMenginte Mengintegrasikan atau memadukan pihak-pihak dalam organisasi. produksi. jumlah. Sebagai juru bicara perusahaan dalam hal kerja sama dengan perusahaan. e. 5. b.

Ketepatan waktu kedatangan 4. contoh produk) . Kesejahteraan dan ketenagakerjaan g. Kualitas bahan dari supplier 2. proses. Ketepatan waktu 4. Penentuan kemasan akhir 3. Ketersediaan bahan / kontinuitas 3. Pemilihan sarana transportasi 2. Ketersediaan dana g. Bagian pengawasan mutu 1. Standar cost 2. Harga bahan dan pesanan minuman d. Bagian pengiriman 1. Mekanisme Kerja PPIC  Sistem Perencanaan 1. produk jadi) f. Bagian Personalia 1.1. Data-data kualitas dan standar kualitas 2. Perencanaan Produksi (job order. Untuk pemeriksaan (bahan awal. Bagian keuangan 1. Pendidikan dan pelatihan bagi karyawan 3. Tersedianya SDM yang memadai baik kualitas / kuantitas 2. Jaminan kuantitas dan kualitas e.

jumlah reject maupun vield b. c. meter. kuartal. jenis bahan (bahan baku. Perencanaan kebutuhan awal a. penerimaan. pembantu pengemas) jumlah bahan (kg. kebutuhan total bahan yang digunakan jadwal pemasaran. Berdasarkan standar ratio stock Agar stock minimal tidak terlalu besar atau terlalu kecil perlu ditentukan skala indeks sebagai dasar untuk memudahkan control. Ketat : untuk barang-barang yang harganya mahal. Berdasarkan komposisi produk . nilai atau jumlah stock minimum.Dibuat dalam skala tahunan. Normal : Untuk barang-barang yang harganya tidak terlalu mahal dilakukan secara normal dan umum . pemakaian (diperhitungkan dengan batasan waktu sesuai fakta dan data pengalaman d. Berpedoman pada rencana induk produksi b. liter. biji) waktu pengadaan dan pemakaian. pemnbelian minimal yang dipersyaratkan. bulanan berdasarkan estimasi sales bagian marketing dan evaluasi data-data delivery atau adanya job order 2.  Sistem Pengontrolan (Tipe pengontrolan) a. Berdasarkan sumber bahan: local. cek pemakaian barang. impor.

menghitung kebutuhan material. mengembangkan standar yield dan tenaga kerja. Secara gabunganleh semua pihak yang tergabung dalam program gabungan. b.  Sistem pengendalian a. Mempelajari order dari bagian marketing dan mempersiapkan kebutuhan produksi b. d. Mengumpulkan data dan analisa kegiatan produksi. mengevaluasi hasil proses mengelolah data.  Sistem Pengadministrasian Dilakukan secara komputerisasi dengan system online a. Secara perseorangan Untuk keperluan di work shop masing-masing missal hasil untuk memasukkan data. menganalisa dsb. prosedur perencanaan danpengendalian persediaan. hasil produksi. menghitung hasil proses. estimasi penjualan untuk kebutuhan material. kapasitas dan perkiraan inventory c. Melakukan modifikasi perencanaan. . Periodik : Untuk barang yang harganya murah dilakukan secara periodic dengan mencocokan stock dengan kondisi nyata. Mengorganisasikan fakta-akta untuk menyusun rencana tentang.c. Merencanakan rencana pengendalian e.

1 Aktivitas Pokok R & D: a.3 Teknik dan Pemeliharaan (Manager) . Clinical and NCE Registration c. II. hasil proses digabung secara otomatis oleh computer pusat data sehingga tampilan data bias dilihat atau dikontrol II.5. Drug Discovery terdiri dari drug information dan drug marketing b.2.Entry data di work shop masing-masing.4.4.Mekanik Mesin (Assistant Manager) II.4 Research and Development Pada saat ini Industri Farmasi Indonesia masih digolongkan sebagai industri yang hanya mampu melakukan Reproduksi obat Jadi dan sebagian Bahan Baku.2.5. Licensed.5. Drug Development terdiri dari Preclinical.2 Tugas & tanggung jawab : a. Drug Reformulation & Drug Delivery System e.2. Merencanakan dan mengembangkan produk baru (original.Bangunan dan Lingkungan (Assistant Manager) .2.Listrik dan Instalasi Energi(Assistant Manager) . Production f. Bulk manufacturing d. Marketing II.5. copy drug/me too product) .

4. hal ini dapat dicapai jika laba kotor selalu meningkat.4 Perbedaan Research & Development a. Perusahaan yang baik adalah yang selalu tumbuh. 4. Industri perlu meningkatkan R&D untuk meningkatkan pendapatan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Research : . Membuat rumusan metode analisa dan spesifikasi bahan baku serta produk ruahan dan obat jadi d.Kenaikan harga/kenaikan unit.Dimatikan obat tua yang sudah tidak memberikan keuntungan II.4. bentuk sediaan dan kemasan c. Mengembangkan produk yang sudah ada dengan perbaikan formula untuk meningkatkan mutu produk.Bertambahnya obat baru .b. Melaksanakan pendaftaran produk (registrasi obat)  akan dibahas dalam topik terpisah e. 2. Menyusun Prosedur Pengolahan Induk (PPI/Master Batch) II. . Peningkatan laba dicapai dengan antara lain melalui : .3 Kegiatan R&D 1. 3.2.Pencarian senyawa kimia baru .5.5.2. . Pencarian obat baru dan pengembangan bentuk sediaanbaru dari produk yang ada (produk yang diperbarui) dan penyempurnaan formula sediaan yang sudah ada.Kenaikan pangsa pasar dalam unit.

2.5 Produksi (Manager) 1.2.Dapat diproduksi dalam skala besar dengan standar yang tinggi dan mantap.4.5. b. Mengembangkan Proses Produksi. e. lebih stabil. .Pengembangan Obat Jadi yang lebih manjur (ketersediaan hayati maksimal). Menyiapkan Data teknis. c.Obat untuk Pengobatan Diri. . Menyusun Prosedur Analisis dan Pengawasan.Harga terjangkau..4.5. dan lain-lain. II. Development : .2.5 Tanggung Jawab dan Peran R & D dalam Perusahaan 1) Menunjang pengembangan Produk untuk menguatkan posisi perusahaan dalam pemasaran. dan lain-lain II.5. Melakukan Analisa Kerusakan dan Kegagalan II. Production Supervisor (Assistant Manager) 2. b.Sistem Penyampaian obat ke dalam Tubuh (Drug Delivery System) . Menyusun Rencana Pengawasan. Packaging Supervisor (Assistant Manager) . d.6 Konstribusi R & D a. 4) Memikirkan kemungkinan “business” baru. 2) Mengikuti Perkembangan Teknologi dan Transfer teknologi 3) Bank Data untuk Pengetahuan Teknis dan Keilmuan.

. identifikasi. kemurnian dan karakteristik lain yang telah ditetapkan.6 QC (Quality Control) (Manager) Manager QC Asisten manager Administrator Supervisor Bahan Kemasan dan Pemeriksaaan Mikrobiologi Supervisor IPC dan Quality Audit Supervisor BahanBaku dan LabKimia Inspektor Analis Inspektor Pengawasan mutu adalah semua pengawasan yang dilakukan selama pembuatan dan dirancang untuk menjamin agar produk obat yang dihasilak senantiasa memenuhi spesifikasi. kekuatan. Pengawasan mutu merupakan bagian yang paling penting dari Cara Pembiatan Obat yang baik (CPOB) agar tiap obat yang dibuat memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.2. Pengawasan mutu obat harus dilaksanakan melalui sistem pengawasan yang terencana dan terpadu.5. baik personalia maupun kelengkapan sarana industri farmasi harus dapat menunjang maksud pembuatan obat ini dan mendukung sepenuhnya persyaratan yang diinginkan sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi spesifikasi mutu yang telah ditetapkan.II. Semua unsur yang terlibat dalam pembuatan obat.

. padatan terlarut. aeruginosa yang merupakan indikator kebersihan air. indeks bias. viskositas dan kadar zat aktif.Departemen ini dipimpin oleh seorang apoteker yang bertanggungjawab atas mutu barang yang meliputi tahap awal hingga produk jadi siap dipasarkan. dan lain-lain. Pemeriksaaan kualitas air. Memeriksa bahan baku. identifikasi.6. Pengujian potensi antibiotika. pH. Menganalisa limbah (inlet dan outlet). produk jadi dan bahan kemasan. Menganalisa bahan secara fisika–kimia. dan P. Staphylococcus aureus.1 Laboratorium A. 2. kadar air. B. Mengadakan pemeriksaaan sampel In Process Control yang memerlukan analisa fisika-kimia. indeks bias. Menganalisa bahan baku. yaitu: II. Merelease bahan baku. coli.5. 5. 3. KMnO4. produk ruahan. produk antara dan produk jadi yang meliputi kelarutan. Bj. produk jadi. meliputi COD. Bagian Laboratorium Kimia Fisika dan Bahan Baku. yang bertugas : 1. bahan kemasan yang mempunyai spesifikasi secara mikrobiologi. khususnya terhadap E. meliputi kadar zat aktif. Bagian Laboratorium Mikrobiologi/Kemasan. pH. Departemen ini membawahi tiap bagian. kemurnian. 3. 2. identifikasi. 4. yang bertugas : 1. kadar air.

antara lain melalui evaluasi dokumentasi produksi terdahulu. Bagian In Process Control yang bertugas pada semua tahap dalam proses produksi dan pengemasan. Pemeriksaan cemaran β-Laktam dalam pengemasan bahan baku dan ruang produksi non β-Laktam. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan telah divalidasi sebelumnya. kualitas dan keamanan. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi identitas. Bagian/Departemen Pengawasan Mutu (QC) di industri farmasi bertanggung jawab untuk memastikan. kekuatan.4. obat jadi dan ruang proses produksi. 4. maka Departemen/Bagian Pengawasan Mutu memiliki kewenangan khusus untuk memberikan keputusan akhir meluluskan atau menolak atas . 3. kemurnian. Sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Pemeriksaan produk steril secara mikrobiologi. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelum didistribusikan. 5. Memonitoring cemaran mikroba pada bahan baku. 6. 2. yang telah ditetapkan. C. bahwa: 1. Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang telah ditetapkan.

Ruang produksi 11. Jumlah mikroba permukaan: Swab test 13. Partikel udara: automatic particle counting 14. Relative humadity 15. Metode: pour plate. pH. aureus.6. dengan settling plate (R. Temperatur 16.5. Jumlah udara mikroba: dengan slit to agar(R. Riset . E. Aeruginosa 5. Pemeriksaan khusus 10.albicans. Uji sterilitasi (untuk produk steril) 7. hasil colony forming unit(cfu/g atau cfu/ml) 4. steril). S.2 Pemeriksaan Mikrobiologi Non pharmaceutical Control (mikrobiologi dan lingkungan) 1. II. Identifikasi keberadaan mikroba tertentu seperti E. Bahan baku dan produk jadi 2. konduktivitas. Potensi antibiotic: difusi cawan petri 6. Total Aerobic Microbial Account(TAMC) 3. P. coli. Pemerikasaan Air 8. produksi non steril) 12. air. kandungan logam 9. kandungan mikroba.mutu bahan baku atau produk obat maupun hal lain yang mempengaruhi hal lain yang mempengaruhi mutu. Salmonela.

3 In Process Control (IPC) Pengawasan selama berlangsungnya proses produksi bertujuan untuk mencegah terlanjur diproduksinya obat yang tidak memenuhi spesifikasi. Bagian Pengawasan Mutu menentukan apakah tahap lanjutan dari proses pengolahan dapat dilaksanakan berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan. Pemeriksaan kebersihan penggunaan mesin dan peralatan 2.6. produk dan/atau batch yang lain . Pengawasan dalam proses pengolahan yang dilaksanakan oleh bagian Produksi dilakukan guna menjamin bahwa mesin dan peralatan produksi serta proses yang digunakan akan menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Tidak terdapat label lain. Pengawasan dilakukan dengan cara mengambil contoh dan mengadakan pemeriksaan dan pengujian terhadap produk yang dihasilkan langkah-langkah tertentu dari proses pengolahan.II. Pengawasan Selama Proses Pengemasan Pengawasan selama proses pengemasan meliputi antara lai. yang mencakup antara lain: 1. di-stensil ataupun yang diketik 3. termasuk yang dicetak. Keberadaan bahan. Sedangkan pengawasan dalam proses produksi yang dilaksanakan oleh bagian Pengawasan mutu meyakinkan bahwa produk yang dihasilkan pada tahap tertentu telah memenuhi spesifikasi yang yang telah ditetapkan sebelum dilanjutkan pada proses berikutnya.5. pemeriksaan kesiapan jalur pengemasan.

(3) mengatur penataan/penyimpanan barang.5. Selain untuk penyimpanan gudang juga berfungsi untuk melindungi bahan (baku. Identitas produk pada jalur pengemasan. meliputi: nama produk II. dan melindungi obat dari kerusakan. dan (4) mengatur pelayanan akan permintaan barang. bahan kemas dan obat jadi yang belum didistribusikan. Manajemen Pergudangan memiliki cakupan antara lain: (1) mengatur orang/petugas (SDM). Adapun sasaran pengelolaan gudang (manajemen pergudangan) adalah: 1. serangga. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut maka harus dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut dengan Manajemen Pergudangan. pengemas. Status kelulusan dari produk yang akan dikemas 5. Kesiapan mesin dan peralatan pada jalur pengemasan 6. dan obat jadi) dari pengaruh luar dan binatang pengerat.4.2. (2) mengatur penerimaan barang.7 Warehose (Assistant Manager) Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi dan operasi industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku. Fasilitas  Penyediaan serta pengaturan yang baik terhadap fasilitas/ perlengkapan/ peralatan yang dibutuhkan dalam gudang  Pemakaian ruang seefektif mungkin  Memungkinkan pemeliharaan yang baik dan mudah untuk semua fasilitas gudang .

terang dan dapat menyimpan bahan dalam keadaan kering. Syarat-syarat gudang (sesuai dgn cGMP) Agar dapat menjalankan fungsinya dengan benar. Barang  Menghindari kualitasnya  Menghindari terjadinya kehilangan barang  Mengatur letak agar hemat tempat/ruang  Pengaturan aliran keluar – masuknya barang a. Syarat-syarat tersebut di antaranya : 1. Fleksibilitas terhadap perubahan 2. bersuhu sesuai dengan persyaratan. 2. penyimpanan dan distribusi bahan/produk. bersih dan teratur. kerusakan barang ataupun yang mempengaruhi . Harus ada Prosedur Tetap (protap) yang mengatur/tata cara kerja bagian Gudang. maka gudang harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) Terkini. Gudang harus cukup luas. Tenaga Kerja  Penggunaan tenaga kerja seefektif mungkin  Mengurangi resiko kecelakaan kerja  Memungkinkan pengawasan yang baik 3. termasuk didalamnya mencakup tentang tata cara penerimaan bahan.

terjadi keterlambatan pemakaian bahan. Pengeluaran bahan harus menggunakan prinsip FIFO (First In First Out) atau FEFO (First Expired First Out). Dalam menentukan kapasitas gudang. Harus terdapat tempat khusus untuk menyimpan bahan yang mudah terbakar atau mudah meledak (misalnya alkohol atau pelarut – pelarut organik). Gudang Bahan Baku Digunakan untuk menyimpan bahan baku: . 5. maka diperlukan data tentang : (1) jumlah pesanan (order quantity) dalam suatu periode tertentu yang dilakukan. 6. maka keadaan yang harus dipertimbangkan adalah keadaan maksimum. (2) besarnya sediaan pengaman yang ditentukan. Gudang mencapai keadaan maksimum pada saat sediaan pengaman belum dipakai. Tersedia tempat khusus untuk produk atau bahan dalam status “karantina” dan “Ditolak”. (3) variasi lead time. 4. Untuk dapat menghitung besarnya kapasitas gudang yang harus dipenuhi. dan (4) fluktuasi pemakaian. sedangkan pesanan datang lebih cepat. c. Tersedia tempat khusus untuk melakukan sampling (sampling room) dengan kualitas ruangan seperti ruang produksi (grey area).3. b. Kapasitas Gudang Salah satu hal yang sangat mempengaruhi berfungsi tidaknya suatu gudang adalah kapasitas dari gudang itu sendiri.

kotak obat dan lain – lain.barang seperti antibiotik. Ruang penyimpanan prekusor.35° C untuk bahan pengemas yang tidak memerlukan suhu tertentu dalam penyimpanan. vitamin. Ruang sejuk (Cool Room) untuk bahan pengemas yang tidsak tahan panas misalnya cangkang. etiket. c). Ruang suhu kamar (Temperatur Room) 15 30° C. kapsul. Gudang Produk . dan pseudoefedrin. Gudang Bahan Pengemas Terdiri dari dua ruangan: a).Ruang penerimaan bahan baku digunakan untuk menerima dan memeriksa kesesuaian bahan baku yang datang dari supplier dengan faktur yang diterima. dan sebagainya. zat pewarna dan barang – barang yang tidak tahan pada suhu kamar. d.Ruang penyimpanan bahan baku terbagi dalam empat ruang yaitu: a). flavour. untuk menyimpan faktur dan dokumentasi yang berhubungan dengan bahan baku.. . e. b). digunakan untuk menyimpan barang –barang yang tidak memerlukan kondisi penyimpanan khusus misalnya gula castor. aluminium foil. d). Ruang sejuk (Coll Room) bersuhu 15 – 20° C digunakan untuk menyimpan barang . Ruang suhu kamar 25 . Ruang administrasi. digunakan untuk menyimpan bahan yang tertentu yang dipakai sebagai prekusor misalnya efedrin. b).

2006) Aspek dalam CPOB 2006 meliputi : 1. b) Ruangan sejuk 14 . untuk menyimpan obat jadi yang tidak memerlukan penyimpanan khusus seperti tablet dan kapsul. untuk produk yang tidak tahan pada suhu kamar seperi suppositoria. CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu (BPOM. II. Manajemen Mutu Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya.3 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi.30° C.16° C. memenuhi persyaratan yang tercantum dalam izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman. yang diproduksi dengan menerapkan “Good Manufacturing Practices ” dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.a) Ruangan bersuhu kamar 26 . mutu rendah atau tidak .

Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar (BPOM. 2006). 2. tanggung jawab dan kewajiban semua sumber daya yang diperlukan. para pemasok dan para distributor. Kebijakan mutu hendaklah disosialisasikan kepada semua karyawan dengan cara yang efektif. Sistem mutu yang mengatur struktur organisasi. tidak cukup dengan cara membagikan fotokopinya dan/atau menempelkan pada dinding. semua prosedur yang mengatur proses yang ada. Personalia Suatu industri farmasi bertanggung jawab menyediakan personil yang sehat.efektif. yang disebut dengan pemastian mutu atau Quality Assurance (QA) (BPOM 2009). personil . Manajemen mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”. 2. Tindakan sistematis untuk melaksanakan system mutu. yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan. Kesehatan personil hendaklah dilakukan pada saat perekrutan. terkualifikasi dan dalam jumlah yang memadai agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Untuk melaksanakan Kebijakan Mutu dibutuhkan 2 unsur dasar yaitu : 1. pemasangan dan perawatan peralatan. sehingga dapat dipastikan bahwa semua calon karyawan (mulai dari petugas kebersihan. Semua personil harus memahami prinsip CPOB agar produk yang dihasilkan bermutu (BPOM 2009).

Dalam kualifikasi dan pengalaman personil yang diperlukan untuk tiap posisi hendaklah ditetapkan secara tertulis yang disimpan oleh bagian SDM. kekurangan jumlah karyawan biasanya mengakibatkan kerja lembur sering dilakukan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dan mental baik bagi operator ataupun supervisor atau malahan bagi personil pada tingkat lebih atas yang melakukan evaluasi dan/atau mengambil keputusan (BPOM 2009). Untuk masing-masing karyawan hendaklah ada catatan tentang kesehatan mental dan fisiknya (BPOM 2009). Disamping itu. Kategori personil kunci bergantung pada kebijakan perusahaan/ industri apakah terbatas hanya pada Kepala Bagian Produksi. Kepala Bagian Pengawasan Mutu dan Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Jumlah personil yang memadai sangat mempengaruhi proses produksi. .produksi dan pengawasan hingga personil tingkat manajerial) memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik sehingga tidak akan berdampak pada mutu produk yang dibuat. Disamping itu hendaklah dibuat dan dilaksanakan program pemeriksaan kesehatan berkala yang mencakup pemeriksaan jenis-jenis penyakit yang dapat berdampak pada mutu dan kemurnian produk akhir. karena tugas akan dilakukan secara tergesa-gesa dengan segala akibatnya. tapi juga dapat ditampilkan pada Uraian Tugas masing-masing (BPOM 2009). Industri dapat menentukan posisi lain yang lebih tinggi. Kekurangan jumlah personil cenderung mempengaruhi kualitas obat.

Rancang bangunan hendaklah dibuat sehingga untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan daerah luar sarananya dikelompokkan. sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran silang. Tata letak ruang hendaklah dikaji sejak tahap perencanaan konstruksi bangunan demi keefektifan semua kegiatan. Bangunan dan Fasilitas Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain.sama atau lebih rendah dicakup dalam kategori personil kunci. . konstruksi. kelancaran arus kerja. letak yang memadai dan kondisi yang sesuai serta perawatan yang dilakukan dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Rancangan diatas perlu ditekankan agar tidak berdampak negatif terhadap kegiatan produksi yang dilakukan di area dengan kelas kebersihan lebih tinggi (BPOM 2009). dan pengawasan serta untuk menghindari ketidakteraturan. komunikasi. Yang harus dipertahankan adalah semua Kepala Bagian Produksi dan Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)/Kepala Bagian pengawasan Mutu harus independen satu terhadap yang lain (BPOM 2009). penumpukan debu atau kotoran dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat. 3. pencemaran silang dan kesalahan lain serta memudahkan pembersihan. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil terjadinya resiko kekeliruan.

bahan produksi serta wadahnya. . Peralatan Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat. Selain itu. bangunan. Sanitasi dan Hygiene Tingkat sanitasi dan hygiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Produksi Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang senantiasa dapat menjamin produk obat jadi dan memenuhi ketentuan izin pembuatan serta izin edar (registrasi) sesuai dengan spesifikasinya (BPOM. produksi baiknya dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten. Ruang lingkup meliputi personalia. dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sanitasi dan hygiene yang diatur dalam pedoman CPOB 2006 adalah terhadap personalia. dan peralatan. Prosedur sanitasi dan hygiene hendaklah divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas prosedur dan selalu memenuhi persyaratan. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui suatu sanitasi program dan hygiene yang menyeluruh serta terpadu.4. 2006). peralatan. 6. ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan (BPOM. bangunan. 2006). dan perlengkapan. 5.

nomor bets/lot. Resiko pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak terkendalinya debu. 2006). dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. b) Pencegahan Pencemaran Silang Tiap tahap proses.Mutu suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisa terhadap produk akhir. kebersihan dan hygiene sampai dengan pengemasan. proses produksi. penimbangan. uap. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam produksi antara lain: a. Semua penerimaan. tanggal pelulusan. personalia. melainkan juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses produksi sejak pemilihan bahan awal. b) Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah diproduksi maupun yang akan diproduksi. peralatan. Pengadaan Bahan Awal Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan. bangunan. dan tanggal daluarsa (BPOM. Prinsip utama produksi adalah : a) Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets. Catatan hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan. percikan atau organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses. pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. tanggal penerimaan. produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Tingkat resiko .

e) Pengolahan Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum dipakai. Semua produk antara hendaklah diberi label yang benar dan dikarantina sampai diluluskan oleh bagian pengawasan mutu (BPOM. 2006). 2006). produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan memerlukan dokumentasi yang lengkap. Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikusi prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah dilaporkan. bahan pengemas. Hanya bahan awal. bahan pengemas.pencemaran ini tergantung dari jenis pencemar dan produk yang tercemar. Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis sebelum digunakan. . 2006). c) Penimbangan dan Penyerahan Penimbangan dan penyerahan bahan awal. d) Pengembalian Semua bahan awal dan bahan pengemas yang dikembalikan ke gudang penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan benar (BPOM. Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum digunakan.produk antara dan produk ruahan yang telah diluluskan oleh pengawasan mutu dan masih belum daluarsa yang boleh diserahkan (BPOM.

keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas. Rincian pelaksanaan pengemasan hendaklah dicatat dalam catatan pengemasan bets. h) Karantina Produk Jadi Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas. Sebelum diluluskan untuk diserahkan ke gudang. . g) Pengawasan Selama Proses Pengawasan selama proses hendaklah mencakup : .Kemasan akhir diperiksa selama proses pengemasan dengan selang waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi dan memastikan semua komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam prosedur pengemasan induk. . volume atau jumlah isi produk diperiksa pada saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan.f) Kegiatan Pengemasan Kegiatan pengemasan berfungsi mengemas produk ruahan menjadi produk jadi. Semua kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam prosedur pengemasan induk.Semua parameter produk. pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk memastikan produk dan catatan pengolahan bets memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan.

Pengawasan Mutu Pengawasan mutu merupakan bagian yang essensial dari CPOB untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Ketidaktergantungan pengawasan mutu dari produksi dianggap hal yang fundamental agar pengawasan mutu dapat melakukan kegiatan dengan memuaskan (BPOM. 2006). pemeriksaan pengujian bahan awal. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai kepada distribusi obat jadi. produk antara. produk ruahan dan produk jadi. Area laboratorium pengawasan mutu hendaklah terpisah dari area produksi. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analitik yang dilakukan di laboratorium termasuk pengambilan sampel. pengujian yang dilakukan dalam rangka validasi. Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium.7. 2006). Kegiatan ini mencakup juga uji stabilitas. produk serta metode pengujiannya (BPOM. tapi juga harus terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Selain itu bagi suatu laboratorium untuk pengawasan selama proses mungkin lebih memudahkan apabila letaknya di daerah tempat . menyusun dan memperbaharui spesifikasi bahan. program pemantauan lingkungan. penanganan sampel pertinggal.

Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen oleh orang yang kompeten yaitu terkualifikasi dan mempunyai pengalaman yang memadai dalam melakukan inspeksi diri. 2009). Inspeksi diri dapat dilakukan sendiri oleh pihak perusahaan dengan membentuk suatu tim atau oleh konsultan yang independen dari luar perusahaan. 2006). Inspeksi diri dapat dilakukan oleh tiap bagian sesuai dengan kebutuhan pabrik namun inspeksi diri yang dilakukan secara menyeluruh hendaklah dilaksanakan minimal satu kali .pembuatan atau pengemasan dimana dilakukan pengujian fisik seperti penimbangan dan uji monitoring lainnya secara periodik. Personil pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk pengambilan sampel dan penyelidikan yang diperlukan. Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan mutu hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukan sebelum bahan digunakan dalam produksi dan produk disetujui sebelum didistribusikan. Bahan baku. pengaweasan mutu. Inspeksi diri hendaklah mencakup semua bagian yaitu pemastian mutu. dan bahan pengemas) (BPOM. Inspeksi diri dan Audit Mutu Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB (BPOM. 8. produksi. teknik dan gudang (termasuk gudang obat jadi.

Produk kembalian adalah obat jadi yang telah keluar dari industri dan beredar yang kemudian dikembalikan ke industri karena adanya keluhan. bagian gudang dan bagian pemasaran. dan memerlukan penanganan dan pengkajian secara teliti (BPOM. dll (BPOM. rumah sakit. apotek. Penarikan kembali obat jadi dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa bets atau seluruh obat jadi tertentu dari semua mata rantai distribusi. sementara dari luar industri antara lain dapat berasal dari pasien. kadaluarsa. 2009). 9. paramedis. wadah atau kemasan sehingga menimbulkan . 2009). Penarikan Produk dan Produk Kembalian Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kerusakan obat dapat bersumber dari dalam maupun dari luar industri. atau alasan lain misalnya mengenai kondisi obat. Keluhan/informasi yang bersumber dari dalam industri antara lain dapat dari bagian produksi. dokter.dalam setahun. Penanganan Keluhan terhadap Produk. 2009). Penarikan kembali dilakukan apabila ditemukan produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu atau atas dasar pertimbangan adanya efek samping yang tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan (BPOM. mengenai kerusakan. bagian pengawasan mutu. klinik. 2009). distributor. Frekuensi inspeksi diri hendaklah tertulis dalam prosedur tetap inspeksi diri (BPOM.

Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar. mutu serta kesalahan administratif yang menyangkut jumlah dan jenis (BPOM. Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas secara jelas dan rinci sehingga memperkecil resiko terjadinya kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan (BPOM. memantau dan mencatat seluruh aspek produksi serta pengendalian dan pengawasan mutu (BPOM.keraguan akan keamanan. 2009). Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu). Kontrak tertulis antara pemberi kontrak dengan penerima kontrak harus dibuat secara jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Sistem dokumentasi yang dirancang/digunakan hendaklah mengutamakan tujuannya. . yaitu menentukan. 10. 2009). identitas. 2006). Dokumentasi Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang sangat penting dari pemastian mutu (BPOM. 2006). 11. disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan.

laporan validasi. ringkasan fasilitas. Sediaan parenteral.12. peralatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. .4 Produk Steril Obat / Produk steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. prosedur. RIV hendaklah mencakup sekurang-kurangnya adalah kebijakan validasi. CPOB mengisyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang diperlukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. II. Perubahan signifikan terhadap fasilitas. kegiatan. Pendekatan dengan kajian resiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi. struktur organisasi kegiatan validasi. 2006). Kualifikasi dan Validasi Validasi adalah tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. tepat dan jelas. sistem. sistem. pengendalian perubahan. peralatan. proses. proses yang akan divalidasi. format protokol. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara. serta acuan dokumen yang digunakan. perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi maupun pengawasan mutu akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan (CPOB. RIV hendaklah merupakan dokumen yang singkat. format dokumen. perencanaan dan jadwal pelaksanaan.

terpisah dari daerah produksi lain. Pemastian mutu sangatlah penting dan cara pembuatan ini harus sepenuhnya mengikuti secara ketat metode pembuatan dan prosedur yang ditetapkan dengan seksama dan tervalidasi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi. partikulat dan pirogen. serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi karena sediaan ini melewati garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien. Sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksik lainnya. kimia atau mikrobiologis.preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus) merupakan contoh dari produk steril. yaitu membran kulit dan mukosa. Produksi steril hendaklah dibuat dengan persyaratan khusus dengan tujuan memperkecil resiko pencemaran mikroba. yang sangat tergantung dari ketrampilan. PERSYARATAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK DAN BENAR (CPOB) TERKINI 1) BANGUNAN Produk steril diolah diruang produksi yang dirancang bangun dan dikontruksi secara khusus. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin sterilitas atau aspek mutu lain. A. pelatihan dan sikap dari personil yang terlibat. Daerah . apakah kontaminasi fisik.

a. misalnya zona pengisian. 3. Ruang bersih. Ruangan harus bebas debu. penyambungan . wadah tutup karet. digunakan untuk kegiatan steril. Petugas yang akan masuk keruangan ini harus melalui ruang penyangga udara atau dibawah aliran udara laminer. Daerah Produksi untuk pembuatan sediaan steril secara CPOB terkini (cGMP) yaitu : 1. Ruang ganti pakaian. Kelas A : Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi. dialiri udara yang melewati saringan bakteri. Ruangan Pembuatan produk steril memerlukan 3 kualitas ruangan yang berbeda. penyiapan larutan. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak boleh dibawa kedaerah bersih. Saringan tersebut harus diperiksa (di-verifikasi) pada saat pemasangan serta dilakukan pemeriksaan secara berkala. pengisian larutan dan sterilisasi hendaklah terpisah. yaitu ruang persiapan komponen dan pembuatan larutan serta ruang untuk produk yang akan disterilisasi akhir. Karyawan yang masuk keruang ganti harus sudah memakai pakaian pelindung kerja standar. 2.masing-masing jenis pekerjaan yang berbeda seperti penyiapan bahan awal dan komponen lain. ampul dan vial terbuka. Ruang steril. Daerah pengolahan produk steril harus dipisahkan dari daerah produksi lain serta dirancang dan dibangun secara khusus. yaitu : 1.

Suhu ruangan 20-27°C dengan kelembaban nisbi 40-60%. Sistem LAF harus memberikan kecepatan udara yang homogen sekitar 0. Aliran udara turbulen dengan pertukaran udara minimal 20 kali dengan suhu 1625°C dengan kelembaban nisbi 45-55%. . Kelas C : Area bersih untuk melakukan tahap pembuatan produk steril dengan tingkat risiko lebih rendah.54 m/detik (nilai acuan) pada posisi kerja dalam ruang bersih terbuka. Kelas D : Pembuatan obat steril dengan sterilisasi akhir. 4. Umumnya kondisi ini dicapai dengan memasang unit aliran udara laminar (laminar air flow) di tempat kerja.45 m/detik 20 % (nilai rujukan) pada posisi kerja.secara aseptik. 2. Pembuatan larutan yang akan disaring kemudian pengisian secara aseptis dilakukan di kelas A dengan latar belakang kelas B. Kelas B : Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptik.54 m/detik. Pembuatan larutan bila ada risiko diluar kebiasaan. kelas ini adalah lingkungan latar belakang untuk zona kelas A. Pengisian produk yang akan mengalami sterilisasi akhir. suhu pada ruangan kelas A yaitu 16-25°C dengan kelembaban nisbi 45-55%. Sistem udara laminar hendaklah mengalirkan udara dengan kecepatan merata berkisar 036 – 0. Pertukaran udara minimal 20 kali dengan suhu 16-25°C dengan kelembaban nisbi 45-55%. 3. Aliran udara satu arah dengan kecepatan aliran udara 0.36 0.

500.000 5µm 1 1 2000 0.000 ditetapkan ditetapkan 5µm 1 2000 20.000 3.000 Tidak D 3.000 20.5 µm 3500 350.Berikut ini adalah tabel Jumlah partikulat di udara untuk masingmasing daerah di atas : Non-operasional Operasional Jumlah maksimum partikel /m3 yang diperbolehkan Kelas untuk kelas setara atau lebih tinggi dari 0.000 Tidak .5 µm A B C 3500 3500 350.500.

Lantai Jenis Bangunan .Sukar diperbaiki dan . permukaan tidak berpori dan tidak licin .Mudah tergores pertumbuhan Sesuai Untuk .Monolitik.Persyaratan standar lingkungan produksi menurut CPOB terkini (2006) untuk pembuatan produk steril Persyaratan bahan bangunan: Permukaan Dalam 1.Menahan bakteri .Ketahanan terhadap dengan celah yang ditutup resin sintetis bahan kimia terbatas .Khusus daerah steril tidak dimodifikasi .Mudah ternoda .(ubin) licin teraso dan permukaan berpori .Ruang produksi khusus daerah steril .Epoksi atau poliuretan Keterangan .

Daerah produksi pengerjaannya baik .Mudah retak bila kurang .Cukup tangguh .Tidak melepaskan partikel . Dinding .Panel logam yg .Sukar diperbaiki bila kena benturan . / lembaran baja tahan memerlukan perawatan .Daerah steril digalvanisasi. cat dari debu bila enamel poliuretan dibongkar untuk perbaikan atau renovasi atau epoksi atau .Bata/blok.Menimbulkan halus & dibuat kedap air dengan bahan polimer lapisan akrilik/ tinggi. aluminium karat.2. beton padat yang permukaannya diplester .Umumnya tidak .Daerah steril .

Rongga pada sambungan harus ditutup misalnya dengan bahan karet silicon yang fleksibel 3. daerah pengolahan dan aseptic lahan pengisian saluran listrik & saluran udara .Beton yang dicat dengan bahan akrilik.Sukar memodifikasi . Langit-langit .Dirancang utk menahan beban berat . enamel .Ruangan diatasnya dapat digunakan untuk polimer tinggi atau epoksi penempatan saluran udara & layanan lain .Daerah steril..

dapat juga terbuat dari panel-panel terbuat dari damar sintesis yang mengeras pada suhu panas dengan serat selulosa. Permukaannya hendaklah tanpa sambungan. Dinding dan langit-langit dapat juga dibuat dari elemen-elemen baja tahan karat atau plat baja/aluminium yang telah digalvanisasi dengan tepat. Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk steril harus lebih tinggi dibanding dengan ruangan sebelahnya yang dibuktikan dengan perbedaan tekanan yang ditunjukkan oleh alat magnehelic dan dicatat secara teratur.25°C dan kelembaban relatif pada 45%-55%. Persyaratan tambahan lainnya antara lain : Suhu udara diruang bersih dan ruang steril hendaknya dipelihara pada 16 . Jalan masuk dan keluar bagi petugas ke dan dari ruang steril hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam keadaan darurat. kedap air dengan permukaan licin.Pelapisan dinding dan langit-langit hanya dilakukan apabila telah benar-benar kering. Lokasi ruang . Sudut-sudut pertemuan lantai dengan dinding dibuat melengkung dengan radius 20-30 mm. tidak retak dan tanpa pori-pori. Bahan yang memenuhi persyaratan diatas adalah epoksi dan poliuretan. Lapisan hendaknya tahan sinar ultra lembayung dan bukan merupakan tempat pertumbuhan bakteri dan jamur serta tahan terhadap gosokan dan tidak rusak oleh suatu desinfekan. Lantai dapat dibuat dari teraso yang licin dan permukaannya tanpa pori-pori yang disambung dengan dammar sintesis atau dibuat ditempat.

Pintu antara ruang steril dengan ruang penyangga hendaklah dilengkapi dengan suatu system antara lain system penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua pintu dibuka dalam waktu yang sama. Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah dibangun sedemikian rupa untuk dapat memisahkan penggantian pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya. Lampu UV yang efektif (panjang gelombang 253. Ruang ganti pakaian steril hendaklah dilengkapi dengan bak pencuci tangan seperti dikamar operasi dan alat pengering . Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan ruang penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti pakaian dan ruang steril dan dialiri udara tersaring dengan tekanan positif yang lebih rendah daripada ruang steril tetapi lebih tinggi daripada ruangan lain yang berhubungan langsung.7 nm) hendaklah dipasang dalam ruang ganti pakaian steril atau lemari penyimpanan komponen pakaian steril. Ruang ganti pakaian hendaknya dilengkapi dengan manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus menunjuk perbedaan tekanan udara diruang udara bersangkangkutan dengan ruang bertetangga.ganti pakaian hendaklah langsung berhubungan dengan daerah steril yang akan dilayani. Untuk itu ruang ganti pakaian hendaknya terletak sebelum ruang penyangga udara dan terdiri dari ruangan terpisah yang memisahkan daerah ruangan kerja biasa dan daerah pakaian steril.

Ruangan pencucian ampul atau vial dan ruangan pencucian tutup karet Sebelum dicuci vial atau ampul dan tutup karet dikeluarkan dari pengemasnya. Tutup aluminium sebaiknya disterilkan pada dalam lemari sterilisasi. masing-masing dengan pintu kedua membuka keruangan steril untuk mengeluarkan ampul. Autoklaf dan lemari sterilisasi bermutu ganda tembus ke ruang steril. c. Untuk kegiatan tertentu hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. b.tangan otomatis. Sterilisasi panas kering dan autoklaf Ampul atau vial kosong disterilkan disterilisator panas kering dan tutup karet diautoklaf. Umumnya bahan pengemas berupa karton dapat mengeluarkan partikel. dan tutup karet yang sudah steril. Daerah tempat mengeluarkan barang yang sudah disterilkan sebaiknya dilindungi terhadap pencemaran balik dengan memasang modul aliran udara laminer vertikel diatasnya. vial. ampul dan tutup karet hendaklah dilakukan diruangan khusus sebelum dibawa kedaerah bersih. pengeluaran vial. Ruang steril (ruangan pengisian aseptis) Kebersihan lingkungan di tempat pengisian aseptis dan penutupan dengan tutup karet serta tutup aluminium dijaga dengan memasang modul aliran udara laminar vertikel diatasnya. Dinding ruangan ini sebaiknya berkaca tembus pandang untuk memudahkan pelaksanaan pengawasan . Oleh karena itu. Vial atau ampul dan tutup karet sebaiknya dicuci dibawah unit aliran udara laminar vertikal.

b) Pintu . Pengawasan hendaklah dilakukan dari luar ruangan untuk mengurangi kemungkinan pencemaran udara diruangan pengisian. Ruang timbang dan pengolahan bahan baku secara aseptis Dalam pembuatan dengan cara aseptis penimbangan bahan baku dan pengolahannya hendaklah dilaksanakan secara aseptis yang dapat dilaksanakan di bawah modul arus udara laminar.dari luar ruangan. d.Dibuat sarana yang memungkinkan tempat masuk termokopel ke dalam rongga untuk pegujian distribusi panas.Hendaklah ada dua pintu yang saling berhadapan .Rongga hendaknya dapat melakukan pembuangan sendiri dan cukup besar untuk menyediakan penyaluran yang memadai . Otoklaf Suatu otoklaf digunakan untuk sterilisasi cara panas basah dimana uap air dihasilkan dalam bentuk tekanan uap jenuh a) Rongga sterilisasi .Hendaklah diadakan saluran masuk yang cukup agar uap air dapat didistribusi secara efektif ke dalam rongga . Ruangan steril hendaklah dilengkapi dengan manometer atau alat lain yang menunjuk adanya perbedaan tekanan udara di dalam terhadap tekanan udara di ruangan-ruangan lain yang bertetangga langsung dengan ruangan-ruangan lain. 2) PERALATAN 1.

Penunjuk tekanan/vakum rongga.Pintu hendaklah cukup diisolasi untuk permukaanpintu tidak melebihi 70° C c) Jaket . Pintu tidak dapat dibuka bila tekanan dalam rongga belum mencapai 0. 4. Uap air tidak dapt mengalir ke rongga kecuali bila pintupintunya tertutup dan terkunci .Alat pencatat suhudan tekanan dari saluran pembuangan rongga mempertahankan suhu .Otoklaf hendaklah diselubungi penuh dilengkapi ventilasi udara otomatik . Sterilisasi hanya dapat dimulai bila kedua pintunya tertutup dan terkunci. d) Lori. .Mekanisme membuka dan menutup hendaklah dikontruksi sehingga 1. rak dan penunjang hendaklah dibuat dari baja tahankarat.15 kg/cm2(bar) atau lebih kecil 2. e) Otoklaf hendaklah dilengkapi dengan : .. . Kedua pintu tidak dapat dibuka secara bersamaan 3.Jaket hendaklah diisi dengan bahan isolasi tahan panas seperti wol gelas yang dapat lepas. .Packing seal hendaklah terbuat dari jenis yang tahan terhadap uap air dan vakum. Penempatan rak hendaklah cukup jarak terhadap dasar otoklaf agar kondensar dapat mengalir.

Penunjuk kevakuman untuk pengujiankebocoran f) Bila otoklaf dijalankan dengan proses pulsa.. dan air bertekanan udarayangmasuk ke dalan rongga untuk mengakhiri h) Panel pengawas instrumen dan alat pengawas proses sterilisasi hendaklah dipasang pada sisi non-septik dari otoklaf agar segera dapat dicapai untuk keperluan perawatan danperbaikan. hendaklah otoklaf dilengkapi dengan alat pendeteksi udara g) Otoklaf hendaklah dilengkapi sarana seperti uap air. udara. Uap air hendaklah bebas cemaran j) Saluran pembuangan kondensat hendaklah dilengkapi dengan saringan 200 mesh dan disambungkan dengan suatu termometer resistan dan dengan suhu termokopel dengan pecatat suhu bertitik ganda k) Pompa vakum hendaklah dihubungkan ke rongga atau saluran pembuangan rongga l) Otoklaf dapat digunakan bila seluruh kinerja dan pengujian terhadap kebocoran sebagaimana dianjurkan oleh pembuat otoklaf bersangkutan telah dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan. untuk itu diperlukan uap air yang kering dan jenuh (tidak superheated). i) Mutu uap air sangat penting untuk mencapai keberhasilan kerja otoklaf.Indikator tekanan jaket . .

Tebal isolasi hendaklah sedemikian rupa sehingga dapatmenjaga agar suhu pada permukaan dinding tidak melebihi 50°C. Rongga dalam. pintu dan kipas hendaklah terbuat dari baja tahan karat agar mudah dibersihkan tidak melepaskan partikel dan tahan terhadap penimbulan karat. Pintu tidak dapat dibuka selama proses sterilisasi berlangsung .2. Oven Oven sterilisator digunakanuntuk sterilisasi panas kering yang beroperasi dengan suhu yang jauh lebih tinggi serta waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sterilisasi panas basah. saluran udara masuk. Udara yang dipanaskan hendaklah disirkualsikan ke seluruh isi rongga oven sehingga dicapai suhu merata selama siklus operasi sterilisasi. Oven dapat dilengkapi dengan suatu sistem pendingin yaitu dengan memasang spiral pendingin pada kotak elemen pemanas. Mekanisme membuka dan menutup pitu hendaklah dikontruksi sedemikian rupa sehingga: a. Kedua pintu tidak dapat dibuka serentak b. Oven sterilisator hendaklah dibuat dari metal berlapis gandayang diisolasi dengan bahan tidak dapat terbakar yang disisipkan di antara kedua lapis logam dari permukaan bagian dalam. Terminal-terminal elemen panas hendaklah dapat bertahan padasuhu 20° C di atas suhu tertinggi yang akan dioperasikan. Oven hendaknya mempunyai dua pintu.

. Udara lembab yang dihisap dari oven tidak boleh dikeluarkan ke daerah steril. pola aliran udara. Udara yang disalurkan ke dalam oven hendaklah dilewatkan melalui saringan HEPA dengan efisiensi paling sedikit 99. Oven hendaklah dikontruksi sedemikian rupa untuk mencegah kebocoran yang akan mengakibatkan ”titik-titik dingin” di dalam oven selama pemanasan atau mengakibatkan pencemaran selama proses pendinginan. Hendaklah dipasang alat pencatats uhu dengan sekurang-kurangnya10 titik kontrol untuk pemantauan secara teratur. Oven hendaklah dilengkapi dengan penghubung thermocouple. alat pencatat suhu termostat. alat pencatat waktu proses dan alat penunjuk tekanan. Panel ini hendaklah dipasang padas uatu tempat yang mudah dijangkau untuk perawatan dan perbaikan. tekanan udara. 3) Air Handling Unit (AHU) Merupakan seperangkat alat yang dapat mengontrol suhu. Lori dan rak terbuat dari baja tahan karat dan dirancang bangun sedemikian rupa sehingga tersedia cukup ruangan anatar rak yang satu dengan yang lain maupun dengan sisi rongga untuk mencapai distribusi panas yang merata pada muatan. diruang produksi sesuai dengan persyaratan ruangan yang telah ditentukan. Suatu panel untuk pengawasan instrumen dan pemantauan siklus proses hendaklah dipasang. tingkat kebersihan (julah partikel mikroba).997%. kelembaban.Packing seal pintu hendaklah kedap udara bila pintu-pintu dalam posisi tertutup. jumlah pergantian udara dan sebagainya.

sesuai dengan spesifikasi ruangan yang telah ditetapkan.Pada dasarnya AHU terdiri atas : 1. 4. 5. dilanjutkan menggunakan air untuk injeksi (water for injection). 2. Filter Berfungsi untuk mengendalikan dan mengontrol jumlah partikel dan mikroorganisme (partikel asing) yang mengkontaminasi udara yang masuk ke dalam ruang produksi. Hal ini dimaksudkan agar dapat dihasilkan output udara. diikuti dengan udara steril untuk . Static Pressure Fan (Blower) Berfungsi untuk menggerakkan udara di sepanjang system distribusi udara yang terhubung dengannya. Washing Machine. Dumper Berfungsi untuk mengatur jumlah debit udara yang dipindahkan ke dalam ruangan produksi. 3. Ducting Berfungsi sebagai saluran tertutup tempat mengalirnya udara. Pencucian dilakukan dengan air murni (purified water). Cooling coil Berfungsi untuk mengontrol suhu (temperature) dan kelembaban relative udara yang didistribusikan ke ruangan produksi. Sarana-sarana produksi steril meliputi : A. Mesin cuci otomatik ini digunakan untuk mencuci vial yang akan diisi dengan larutan atau serbuk steril.

000 vial per jam. Mesin ini digunakan untuk proses sterilisasi dan depirogenasi vial pada suhu maksimum 340° C. Inspection & Labelling Machine. b) Purified water distribution system. Sistem distribusi purified water terdiri dari .1 S/cm dan total organic carbon (TOC) kurang dari 50 ppb. Distribusi purified water dilakukan dengan sistem loop pada temperatur ambient yang beoperasi selama 24 jam. D. Mesin ini memiliki kapasitas hingga 9.pengeringan. Depyrogenation Machine. Fasilitas pengolahan air murni ini terdiri dari Reverse Osmosis (RO) dan Electrodeionization (EDI). Inspeksi dilakukan terhadap semua vial yang menggunakan Inspection Machine diteruskan dengan proses labelling secara otomatis. dan aliran udara dalam mesin diatur laminar dengan melalui Hepa filter. Semua proses ini dilakukan dibawah kondisi aliran udara laminar dengan Hepa filter. C. Mesin ini memiliki kapasitas pencucian hingga 9. Mesin filling ini digunakan untuk melakukan pengisian larutan atau serbuk steril pada ampul steril dan penutupan ampul yang telah di-filling dengan pemijaran. dilanjutkan dengan proses packaging. B. Filling & Selling Machine. Sedangkan sarana penunjangnya terdiri dari : a) Purified Water Treatment Plant.000 vial per jam. Sistem ini mampu menghasilkan air murni dengan konduktiviti kurang dari 0.

diaphragm valve pada user point. Distribusi water for injection (WFI) dilakukan dengan system loop pada suhu 80° C yang beroperasi 24 jam. fasilitas. peralatan produksi dan sarana penunjang merupakan tahap pertama industri farmasi. d) Water for Injection Distribution System. Kualifikasi peralatan merupakn identitas sifat suatu peralatan yang berkaitan dengan kinerja dan fungsinya serta pemberian batasan nilai tertentu terhadap sifat tersebut. dan zero deag leg diaphragm valve. Kualifikasi mesin. Sistem distribusi WFI terdiri dari SS316L storage tank. Water for injection dihasilkan dari multi column distillation plant dengan purified water sebagai air sumber. . 4) KUALIFIKASI PERALATAN Kualifikasi untuk mesin. sistem penunjang dan sistem komputerisasi yang digunakan dalam suatu proses akan selalu memberikan hasil yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan dan secara konsisten menghasilkan produk dengan standar mutu yang telah ditetapkan. c) Water for Injection.SS316L storage tank and pipe. Kualifikasi adalah suatu kegiatan yang didokumentasikan dalam pelaksanaan validasi di merupakan tindakan pembuktian secara tertulis berdasarkan data-data yang ada yang menunjukkan bahwa peralatan. SS 316L pipe dengan orbital welding. peralatan produksi dan sarana penunjang disebut kualifikasi. UV purifier untuk mengontrol pertumbuhan mikroba.

sejarah criteria tentang rancangan. Kualifikasi instalasi dilakukan pada saat instalasi pertama terhadap fasilitas. prinsip. penerimaan. Desain hendaklah memenuhi ketentuan CPOB dan didokumentasikan. Kualifikasi rancanagn pelaksanaan ini berisi prosedur. dimodifikasi atau penggantian komponen peralatan dan jika dilakukan pemindahan lokasi terhadap alat yang bersangkutan. Instalation qualification/IQ (kualifikasi instalasi) Kualifikasi instalasi merupakan kualifikasi yang dilakukan umtuk memastikan bahwa peralatan yang diterima sesuai dengan rancangan dan spesifikasi yang telah ditentukan serta` dapat dipasang dengan benar sesuai dengan buku manual dari peralatan tersebut. peralatan produksi atau sarana penunjang (termasuk bangunan untuk industry farmasi) tersebut dibeli/dipasang/dibangunan. sistem atau peralatan baru.Tahapan kualifikasi meliputi: 1. Tujuan design qualification (DQ) adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa system atau peralatan atau bangunan yang akan dipasang atau dibangun (rancang bangun) sesuai dengan ketentuan atau spesifikasi yang diatur dalam ketentuan CPOB yang berlaku. 2. Design qualification/DQ (kualifikasi rancangan) Kualifikasi rancangan atau design adalah unsur pertama dalam melakukan validasi terhadap fasilitas. sistem dan peralatan baru. . kesimpulan mengenai hasil evaluasi kualifikasi rancangan. pengujian spesifikasi. tujuan. Jadi DQ dilaksanakan sebelum mesin.

kalibrasi alat ukur. deskripsi sistem.aksesoris mesin. mesin adjustment. Tujuan Instalation qualification (IQ) adalah untuk menjamin dan mendokumentasi bahwa sistem atau peralatan yang diinstalasi sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada dokumen pembelian. tujuan. pelaksanaan prosedur. peralatan keselamatan kerja. tipe material. pengoperasian mesin. tipe pelumas. Kualifiksai instalasi ini berisi sejarah tentang kuslifikasi instalasi. Protokol kualifikasi instalasi mencakup:  Lembar persetujuan  Tujuan kualifikasi instalasi  Ruang lingkup kualifikasi instalasi  Pelaksana dan tanggung jawab  Deskripsi peralatan/mesin  Prosedur kualifikasi instalasi  Daftar pemeriksaan kualifikasi instalasi. meliputi:  Identifikasi. utilitas penunjang. prinsip. gambar teknik. Jadi IQ dilaksanakan pada saat pemasangan atau instalasi mesin atau peralatan produksi atau sarana penunjang. criteria penerimaan. sekilas tentang mesin. manual alat yang bersangkutan dan pemasangannya dilakukan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.Instalasi pengawasan mutu bertanggung jawab untuk mengkaji dan menyetujui protocol dan laporan kualifikasi instalasi.  Kesimpulan . pengujian spesifikasi dan hasil dari pengujian tersebut.

sarana. peralatan untuk proses produksi beroperasi sesuai dengan spesifikasi rancangannya.yaitu:  Pelaksanaan kualifikasi instalasi dimulai dengan penyiapan daftar catatan untuk semua komponen dan bagian-bagian mesin termasuk spare part berdasarkan pesanan pembelian dan spesifikasi dari pabrik  Dilakukan pencatatan informasi untuk setiap bagian yang tampak. fasilitas pendukung dan dibandingkan dengan buku panduan. peralatan khusus. Kualifikasi ini adalah tindakan pembuktian dokumentasi bahwa bangunan.  Dilakukan terhadap sistem penyimpangan dari sistem atau peralatan yang ada. Kemudian diadakan penyiapan sebuah laporan penyimpangan yang meliputi penerimaan dan pengaruh fungsi  Penyiapan laporan kualifikasi instalasi 3. Tujuan operational qualification adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dan untuk . Operational qualification/OQ (kualifikasi operasional) Kualifikasi operasional merupakan proses kualifikasi untuk mendemonstrasikan bahwa peralatan akan berfungsi sesuai dengan petunjuk operasionalnya. komponen. Distribusi dokumentasi kualifikasi instalasi  Form laporan kualifikasi instalasi Tahap pembuatan form laporan kualifikasi instalasi.

instrument pengakuan. Pelaksanaan kualifikasi operasional dilakukan oleh personil yang akan menggunakan alat yang bersangkutan. Instalasi pengawasan mutu melakukan penilaian ulang dan menyetujui protokol serta laporan kualifikasi operasional. dikaji dan disetujui. Protokol kualifikasi operasional mencakup:  Lembar persetujuan  Tujuan kualifikasi operasional  Ruang lingkup kualifikasi operasional . Kualifikasi operasional dilakukan setelah instalasi dilaksanakan. Kualifikasi operasional ini sejarah tentang kualifikasi operasional. melakukan verifikasi pelaksanaan catatan. Laporan dan protokol kualifikasi operasional diperiksa dan disahkan oleh departemen yang bersangkutan. OQ dilaksanakan setelah pemasangan atau instalasi mesin atau peralatan produksi atau sarana penunjang dan digunakan sebagai test mesin/peralatan. Prinsip. tujuan. deskripsi sistem. Laporan kualifikasi operasional diperiksa oleh supervisor mengawasi pelaksanaan studi. pengujian spesifikasi dan hasil dari pengujian. Personil yang bertanggung jawab atas penggunaan alat/sistem hendaklah melaksanakan kualifikasi dan mencatat hasilnya. membuat laporan penyimpangan (bila ada) dan laporan kualifikasi operasional.mencatat semua data informasi yang dapat menunjang bahwa alat tersebut berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.

 Dilakukan penyusunan persyaratan kalibrasi yang dibutuhkan oleh sistem dalam pemeriksaan. machine adjustment. peralatan keselamatan kerja. Penyimpangan yang terjadi selama prosedur berlangsung dicatat hasilnya. . meliputi: Instrumen elektrik. pengoperasian mesin. yaitu:  Pemeriksaan dan pencatatan data kalibrasi untuk mengkalibrasi alat dan instrumen.  Dilakukan penyiapan laporan hasil penyimpangan termasuk didalamnya kriteria penerimaan dan dampak penyimpangan pada operasi mesin. dicatat hasil yang didapat  Dilakukan pengukuran dan pencatatan kendala spesifik mesin pada keadaan normal dan pada keadaan buruk jika memungkinkan.  Kesimpulan  Distribusi dokumen kualifikasi operasional  Form laporan kualifikasi instalasi Tahap-tahap pembuatan form laporan kualifiksai operasional. Pelaksanaan dan tanggung jawab  Deskripsi peralatan/mesin  Prosedur kualifikasi operasional  Daftar pemeriksaan kualifikasi operasional. hal-hal yang menjadi titik kritis dalam pengoperasian mesin dan output yang dihasilkan.

Proses produksi steril dilakukan setelah validasi. bahwa diasumsikan bahwa mikroorganisme lainnya ikut terbunuh pula dan diasumsikan bahwa benda yang disterilkan bisa disebut steril. Kualifikasi kinerja dilaksanakan setelah kualifikasi instalasi dan kualifikasi operasional selesai dilaksanakan dan disetujui. Setelah dilakukan modifikasi atau penggantian komponen peralatan dan jika dilakukan pemindahan lokasi alat yang bersangkutan. Indikator biologi dibuat dalam wadah tersendiri. telah bekerja dengan baik dan menghasilkan output sesuai dengan kriterian yang telah ditetapkan. panas kering dan gas etilen oksida. Indikator biologi tersedia untuk metode sterilisasi uap. Tujuan dari kualifikasi ini adalah untuk menjamin bahwa sistem atau alat bekerja sesuai yang diinginkan dengan cara menjalankan sistem atau sesuai dengan tujuan penggunaan dan mencatat seluruh informasi data terkait. Performance qualification/PQ (kualifikasi kinerja) Kualifikasi kinerja merupakan proses kualifikasi untuk memastikan kinerja suatu peralatan. dimana dijamin bahwa alat dapat berfungsi dengan baik.Terakhir adalah penyiapan sebuah laporan penyimpangan yang meliputi penerimaan dan pengaruh fungsi serta laporan kualifikasi operasional. dimana strip berisi spora yang dikemas dalam vial bersama ampul berisi media . Biological indikator Adalah sediaan berisi populasi mikroorganisme spesifik dalam bentuk spora. Apabila setelah proses sterilisasi spora-spora terbunuh. Hal ini dapat dilakukan dengan: 1. 4.

kartu dan vial. sehingga spora mendapatkan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh. . Indikator intenal berbentuk strip dan pemakaiannya diletakkan dalam setiap kemasan. Setelah proses sterilisasi indikator biologi diaktifkan dengan menghancurkan ampul berisi media pertumbuhan. Indikator memberi informasi tercapainya kondisi steril pada setiap kemasan. Indikator kimia yang dikenal yaitu indikator eksternal dan indikator internal. Informasi diketahui dengan adanya perubahan warna indikator. Indikator kemudian diinkubasi sehingga mikroorganisme yang bertahan hidup dapat tumbuh.pertumbuhan spora. 2. Terjadinya perubahan warna indikator memberikan informasi bahwa bagian kemasan benda yang disterilkan telah melewati proses sterilisasi. Indikator eksternal berbentuk pita dan digunakan dibagian luar kemasan. Indikator kimia diproduksi dalam bentuk strip. Hasil disebut positif bila terjadi kekeruhan dan pertumbuhan koloni. Indikator ini memberikan informasi bahwa benda didalam kemasan telah melewati proses sterilisasi. Chemical indikator Indikator kimia adalah indikator yang menandai terjadinya paparan sterilisasi (uap panas atau etilen oksida)pada objek yang disterilkan dengan perubahan warna.

Physical indikator Indikator mekanik adalah bagian instrumen mesin sterilisasi seperti indikator suhu. Protap tersebut biasanya dibuat oleh bagian QC atau oleh bagian R&D. tekanan dan tabel yang menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja dengan baik. baru divalidasi. II. dalam validasi metode analisa yang diuji atau divalidasi adalah PROTAP (prosedur tetap) pengujian yang bersangkutan. maka akan memberikan informasi segera mengenai temperatur.5 Validasi metode analisa Tujuan validasi metode analisa adalah untuk membuktikan bahwa semua metode analisa (cara/prosedur pengujian) yang digunakan dalam pengujian maupun pengawasan mutu. karena bersifat mekanis maka bila tidak dilakukan kalibrasi alat dengan tepat atau pemakaian yang terlalu sering indikator dapat memberikan informasi yang tidak tepat. melainkan hanya memebrikan informasi tentang fungsi alat steril. Kegunaan: apabila indikator mekanik berfungsi dengan baik. suhu. Protap metode analisa tersebut bisa diambil (di-adopsi) dari . Jadi. memberikan indikasi adanya masalah apabila alat rusak dan perlu diperbaiki.3. Keterbatasan: Indikator mekanik tidak menunjukkan bahwa keadaan steril sudah tercapai. senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten (terus-menerus). waktu dan fungsi mekanik lainnya. Apabila protapnya belum tersedia maka harus dibuat terlebih dahulu.

5. dan lain-lain (kompendial) atau yang berasal dari pengembangan sendiri atau modifikasi dari prosedur pengujian yang telah ada. seperti Farmakope Indonesia (FI). United State Pharmacopea (USP). British Pharmacope (BP). United State Pharmacopea (USP). Metode ini bisa berasal dari .2 Penentuan Paramater Uji a) Metode analisa adopsi (verifikasi) 1) Metode analisa adopsi adalah metode analisa dimana prosedur pengujian diambil/diadopsi dari kepustakaan/dokumen resmi.5. misalnya Farmakope Indonesia (FI).berbagai literatur resmi.1 Ruang Lingkup Validasi 1) Validasi metode analisa dilakukan untuk semua metode analisa yang digunakan untuk pengawasan kegiatan produksi 2) Dilakukan dengan semua peralatan yang telah dikalibrasi dan diuji kesesuaian sistemnya (alat dan sistem sudah dikualifikasi) 3) Menggunakan bahan baku pembanding yang sudah dibakukan dan disimpan ditempat yang sesuai II. British Pharmacopea (BP). II. dan lain-lain 2) Parameter yang diuji adalah akurasi dan presisi b) Metode analisa eksplorasi atau modifikasi 1) Metode analisa eksplorasi atau modifikasi adalah metode analisa dimana prosedur pengujiannya tidak terdapat dalam buku/kepustakaan/dokumen resmi.

seluruh parameter harus diuji.eksplorasi yang dilakukan oleh bagian pengembangan produk (R&D) adat dimodifikasi dari prosedur yang sudah ada di buku-buku resmi.2-1. Rs: 1.5 4) Untuk spektrofotometer UV/Vis: jarak dua puncak berdampingan : resolution factor (Rf) > 2. linieritas. II. yaitu selektifitas/spesifitas.3 Parameter validasi metode analisa a) Spesifitas/selektifitas 1) Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk membedakan senyawa yang diuji dengan derivat/metabolitnya 2) Adanya perbedaan nyata antara resolusi antara dua puncak yang berdampingan dan kemurnian tiap puncak dalam kromatogram 3) Untuk HPLC.5. presisi.5 5) Lakukan scaning (pemindaian) sampel yang diuji lihat kromatogram dari dua puncak yang berdekatan (Rs) harus tidak kurang dari 1. akurasi.5 atau terlihat adanya puncak yang terpisah dari scanning dengan spektrofotometri UV/Vis b. limit of detection dan robustness. Linieritas 1) Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan hubungan secara langsung atau proporsional antara respons detektor dengan perubahan konsentrasi analit . 2) Untuk metode analisa eksplorasi atau modifikasi.

yaitu linier Regression (y = a + bx). yang ditunjukkan dengan nilai r ≥ 0. dimana b adalah kemiringan slope garis regresi dan a adalah perpotongan dengan sumbu y. kemudian dilihat apakah memberikan respons yang linier apa tidak. verifikasi akurasi metode dapat dilakukan dengan tekhnik standar adisi. 3) Pengujian dilakukan paling tidak dengan menggunakan 5 kadar yang berbeda. yaitu dengan menambahkan sejumlah tertentu analit kedalam produk obat yang telah diketahui kadarnya. . yaitu: .Bahan baku berkhasiat atau cemaran dalam jumlah yang diketahui ditambahkan kedalam plasebo. c) Akurasi 1) Merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk memperoleh nilai yang sebenarnya (ketepatan pengukuran) 2) Terdapat 5 metode penentuan akurasi untuk menetapkan kadar bahan aktif obat dalam bahan baku dan produk obat.2) Diuji secara statistik.Menggunakan metode analisa untuk menetapkan kadar analit dalam bahan baku berkhasiat yang diketahui kemurniannya (misalnya bahan baku pembanding sekunder) .98. Metode analisis ini digunakan untuk penetapan kadar bahan baku berkhasiat/cemaran dalam produk obat. Metode analisis ini digunakan untuk .Bila plasebo tidak bisa diperoleh.

Metode analisis ini digunakan untuk penetapan kadar cemaran dalam bahan baku berkhasiat dan produk obat.Membandingkan dua metode analisis untuk mengetahui ekivalensinya. . 6) Presisi (Ketelitian) . yaitu membandingkan hasil yang diperoleh dari metode analisis yang divalid (akurasi metode analisis yang valid ini telah diketahui). .X) kadar yang diperoleh dari serangkaian pengukuran dibandingkan dengan kadar sebenarnya. Metode analisis ini digunakan untuk penetapan kadar bahan baku berkhasiat dalam bahan baku berkhasiat.penetapan kadar bahan baku berkhasiat/ cemaran dalam produk obat.Menambahkan cemaran dalam jumlah tertentu kedalam bahan baku berkhasiat/produk obat. produk obat dan penetapan kadar cemaran. 3) Akurasi dinyatakan sebagai presentase (%) perolehan kembali (recovery) 4) Akurasi dinilai dengan menggunakan sedikitnya 9 penentuan dengan sedikitnya 3 tingkat konsentrasi dalam rentang pengujian metode analisis tersebut (misalnya 3 konsentrasi/3 replikasi untuk tiap prosedur analisis lengkap) 5) Ketepatan metode analisa dihitung dari besarnya reta-rata (mean.

7) Merupakan kemampuan suatu metode analisis untuk menunjukkan kedekatan dari suatu seri pengukuran yang diperoleh dari sampel yang homogen 8) Terdapat 3 kategori pengujian presisi, yaitu: - Keterulangan, dinilai dengan menggunakan minimun 9 penentuan dalam rentang penggunaan metode analisa tersebut (misalnya 3 konsentrasi/3 replikasi) - Presisi antara, yaitu perbedaan antar operator/analis dengan sumber reagensia dan hari yang berbeda - Reprodusibilitas, dengan menggunakan beberapa laboratorium untuk validasi metode analisis agar diketahui pengaruh lingkungan yang berbeda terhadap kinerja metode analisis. 9) Presisi dinyatakan dalam bentuk RSD atau SRB 10) Persyaratan RSD untuk penetapan kadar bahan aktif adalah ≤ 2,0. Batas deteksi merupakan jumlah analit terkecil yang masih bias dideteksi namun tidak perlu dapat terukur. Batas Kuantitasi merupakan jumlah nalit terkecil yang masih bisa diukur dengan akurat (tepat) dan presisi (teliti). Ketegaran merupakan kapasitas suatu metode analisis untuk tidak terpengaruh oleh variasi-variasi kecil dalam parameter metode analisa. Pembuatan cuplikan baku, cuplikan baku dibuat oleh 2 orang analis yang cakap pada hari yang berbeda, sebanyak 6 sampel terdiri dari 3 konsentrasi (dosis) yaitu:

1. Dosis 1: 100% - {(1,5 s/d 3,0) x (100% - syarat minimum dalam monografi)}, di buat dalam sampel. 2. Dosis 2: 100% klaim label, dibuat 2 sampel. 3. Dosis 3: 100% + {(1,5 s/d 3,0) x (syarat maksimum dalam monografi100%)}, dibuat 2 sampel.

II.6 Personil Untuk mencegah pencemaran pada pembuatan obat steril tindakan dan prosedur khusus harus dilaksanakan sepenuhnya. Petugas yang bekerja di daerah pengolahan obat steril berikut pakaiannya dapat menjadi sumber pencemaran bila mereka tidak memperhatikan hal-hal mengenai hygiene, kebersihan dan tingkah laku bekerja. Peraturan tambahan dan tindakan yang harus dilaksanakan. : a) Kesehatan 1. Karyawan yang mengidap luka terbuka, ruam, bisul atau penyakit kulit lain tidak boleh bertugas di daerah bersih dan daerah steril. 2. Karyawan yang menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas, influenza, batuk, diare, dan penyakit menular lain juga tidak boleh bertugas di daerah bersih dan daerah steril. 3. Pemeriksaan kesehatan terhadap kondisi-kondisi tersebut di atas harus dilakukan secara berkala. b) Higiene Perorangan 1. Kuku karyawan yang bertugas di daerah bersih dan daerah steril harus dipotong secara teratur.

2. Karyawan harus didorong untuk berambut pendek demi mengurangi pencemaran udara oleh rambut. 3. Kosmetik tidak boleh digunakan atau dipakai dalam ruangan bersih. Kosmetik tersebut meliputi : perona wajah, perona bibir (lipstick), bedak muka, pewarna kelopak mata, pensil alis mata, mascara, penggaris mata (eye liner), bulu mata palsu, cat kuku, semprot rambut, dan pemakaian deodorant aerosol berlebihan. 4. Perhiasan seperti cincin ukuran besar, kalung, anting-anting, liontin (lockets), gelang tidak boleh digunakan di ruangan bersih. 5. Milik pribadi seperti kunci, dompet, uang logam, rokok, korek api, pensil, sapu tangan, arloji, lap kertas, dan sisir tidak boleh di bawa ke ruangan bersih. 6. Tangan dan kuku tangan harus disikat secara menyeluruh sebelum memasuki ruangan bersih dengan sabun desinfektan yang telah disediakan. 7. Tangan harus dikeringkan dengan pengering udara panas. Dilarang menggunakan lap kertas atau handuk kain di ruang bersih. 8. Tidak boleh makan, mengunyah permen karet atau tembakau, atau merokok di daerah bersih. 9. Kesadaran mengenai hygiene dan kebersihan harus ditanamkan dengan memberikan pelajaran dan pengajaran kepada karyawan mengenai unsure dasar mikrobiologi.

muka atau bagian tubuh lain harus secara sadar dihindari. Karyawan harus menjauhi tangannya di bagian vial terbuka. Tutup kepala harus disispkan sepenuhnya ke dalam baju dan abju diresleting secara sempurna sampai ke leher 8. robek atau kotor selama melakukan kegiatan operasional. 4. Vial harus dipegang pada bagian bawahnya 7. Kebiasaan seperti menggaruk kepala atau menggosok tangan. Berteriak dan berbicara yang tidak perlu melalui masker harus dihindari. Jumlah karyawan yang bertugas di daerah steril harus dibatasi. Karyawan tidak boleh bersandar atau menjangkau di atas vial terbuka pada jalan pengisian 6. 2. 3. Tertawa. Pengamatan dan pengewasan harus dilakukan dari luar. Resleting pakaian terusan tidak boleh dibuka di ruangan bersih . Semua rambut harus tertutup secara menyeluruh setiap saat 10. karyawan bersangkutan harus mengembalikan baju tersebut ke temapt ruang ganti pakaian dan menggantikanbagian yang rusak tersebut 9. Pakaian kerja kotor tidak boleh dipakai di dalam ruang bersih 5.c) Tingkah Laku Higiene 1. bernyanyi dan berteriak manambah jumlah bakteri yang keluar dari mulut. Bila bagian manapun dari baju ruang bersih rusak.

Gerakan tubuh yang tidak perlu harus dihindari di dalam ruang steril karena hal tersebut akan meningkatkan penyebaran partikel dan mikroba secara signifikan 16. Tidak boleh ada pakaian untuk ruang steril yang digunakan kedua kalinya tanpa dicuci ulang dan disterilkan ulang 14. Sekali sudah berada di dalam ruang steril. prosedur pergantian pakaian harus dilakukan sebelum memasuki kembali ke dalam ruang bersih 15. Tidak seorang pun yang sakit terutama yang menderita gangguan perut atau pernafasan diperkenankan memasuki ruangan atau daerah steril 13. Tidak boleh ada bagian kulit diantara sarung tangan dan pakaian terusan yang terpapar. Karyawan dari Bagian Perawatan Mesin atau mereka yang melakukan tugas lain di ruang steril harus memenuhi peraturan tentang hygiene perorangan yang berlaku bagi Karyawan bagian produk steril d) Pakaian Kerja/Seragam Personalia Pakaian yang digunakan dalam daerah steril hendaklah berfungsi sebagai sistem saringan yang dapat menahan pencemaran partikel yang . karyawan yang bersangkutan harus mencegah dirinya kembali ke ruang penyangga udara.11. Bila tercemar sarung tangan harus dicuci dan dibilas dengan larutan desinfektan yang disediakan 12. Bila seorang karyawan harus pergi ke toilet.

Ganti setiap hari dan apabila terlihat kotor . yang menutupi mulut.Penggantian pakaian kerja dan sarung kaki steril dilakukan di ruang ganti pakaian steril . Sepatu .Lengan panjang.Baju dan celana model terusan . Baju Kerja . yang menutupi seluruh bagian kepala termasuk seluruh rambut .Bebas tiras/serta 1.Kaca mata pelindung Persyaratan dan Penggunaan pakaian pelindung Pakaian Pelindung sesuai dengan tingkat kebersihan ruangan Kelas I dan II .berasal dari tubuh pemakai sehingga tidak mengkontaminasi ke sekeliling ruang kerja.Cuci dan sterilkan sebelum digunakan .Bebas tiras/serat .Dapat menyaring partikel secara maksimal 2.Penutup kaki .Terbuat dari kain yang ditenun dengan multi-filament terusan yang dapat menyaring bakteri dan partikulat udara secara maksimal .Masker.Tutup kepala. dicuci dan disterilkan sebelum digunakan . hidung dan janggut. Pakaian untuk daerah steril terdiri dari : . dan .

Masker .Didesinfeksi secara berkala paling tidak setiap jam misalnya dengan etilalkohol 70% .Diganti segera bila rusak atau terkontaminasi II. Pelindung rambut . .Bebas tiras/serat . sehingga pada proses pembuatannya dilakukan secara aseptis.Dapat menyaring partikel secara maksimal .Cuci dan sterilkan sebelum digunakan . Sarung Tangan tersedia di pasaran dalam kondisi steril .Dapat menyaring partikel secara maksimal 4.3. Sedangkan metode yang kedua (aseptis) tidak dilakukan sterilisasi akhir.Bebas bedak/serbuk . terdapat dua metode dalam pembuatan produk steril.Sterilkan sebelum digunakan.Bebas tiras/serat . Perbedaan mendasar dari kedua metode ini. adalah pada metode yang pertama (post sterization) dilakukan sterilisasi produk setelah dimasukkan ke dalam wadah (vial atau ampul atau botol infus). yaitu produk yang disterilisasi akhir (post sterization) dan produk tanpa sterilisasi akhir (pembuatan secara aseptis). dapat menyaring partikel secara maksimal .Terbuat dari vinil atau lateks.7 Produksi Sediaan Steril Secara garis besar. atau gunakan yang 5.

. dan pengsian dilakukan dilingkungan kelas C (kecuali jika ada resiko terhadap produk yang berada di luar jangkauan.Proses produksi dengan secara aseptis. ruangan harus dibersihkan dengan seksama dan tidak ada sisa partikel bebas produk sebelumnya yang tertinggal. misalnya oleh karena kegagalan pengisian berjalan lambat. penyaringan dan pengisian. dilakukan di lingkungan kelas A dengan latar belakang kelas B. Pembersihan/pencucian dan steerilisasi peralatan. Pencucian dan sterilisasi wadah (vial atau ampul). pembuatan larutan. Pengisian. maka pengisian harus dilakukan di lingkungan kelas A dengan latar belakang kelas C). penyimpanan larutan. penyiapan bahan. Sedangkan untuk produk yang disterilisasi akhir. Pencampuran produk. Penyegelan. Cara lain adalah dengan menggunakan lampu ultra violet (UV) yang ditempatkan untuk memberikan intensitas penyinaran yang memadai pada luas permukaan yang maksimum. penyaringan. Selanjutnya ruangan disterilisasi dengan menggunakan gas (gas formaldehida atau etilen oxide). Penyelesaian dan Validasi. Pembuatan dan penanganan air untuk injeksi. Penyaringan larutan. Tahap-tahap dalam proses pembuatan bentuk sediaan steril adalah: Pengisian & penyiapan ruangan serta fasilitas produksi. penyiapan bahan. Penyiapan Ruangan Dan Fasilitas Produksi Sebelum dilakukan proses produksi. Pengujian selama proses produksi (In Process Control = IPC).

kamar mandi. dari permukaan tertentu yang sulit di sterilkan jika tidak dengan penyinaran.Sinar ultra violet (UV). Pembuatan Dan Penanganan Air Untuk Injeksi Pembuatan air untuk injeksi (Water for Injection=WFI). dll b. pembersihan ruangan. PDAM.5-1. menyiram tanaman. biasanya dibuat dengan cara destilasi (penyulingan) bertingkat dari bahan baku air murni (purified water). Grade I: Raw Water Fungsi : Untuk pemadam kebakaran. cuci tangan. dll Pembuatan: Raw water Iron removal Sand filter Chlorinasi Carbon filter Potable Water . permukaan ban berjalan. Kualifikasi air secara umum: a. Air suling yang dipakai sebagi bahan baku untuk pengolahan. hendaklah dipanaskan pada suhu minimal 70° C dan sirkulasi dengan kecepatan antara 0. terutama digunakan untuk menyinari permukaan tangki pemrosesan bagian dalam dan permukaan yang terpapar. permukaan di bawah tutup. dll Pembuatan: Air sumur. Grade II: Potable Water (PW) Fungsi : Cuci pakaian. cuci alat nonsteril. bila disimpan lebih dari 24 jam.5 m/detik.

cuci vial/ampul.c.2 µm Purified water d. laboratorium. produksi syrup/tablet/coating Pembuatan: Saringan mikro 3 µm Potable Water De-ionisasi Saringan mikro 1 µm UV Lamp Saringan mikro 0. Grade IV: Water For Injection (WFI) Diagram alir system distribusi air untuk injeksi Fungsi : Cuci akhir container steril. produksi steril. dll Pembuatan: Purified Water Unit destilasi Water For Injection . Grade III : Purified Water/Aquademineralisata Fungsi : Cuci akhir container.

2 ppm < 500 ppb < 10 cfu/ ml < 0.Berikut standar air yang digunakan untuk produksi sesuai dengan persyaratan CPOB terkini (2006) : Highly Purified Water Water Purified Water For Injection (Eur.3 µS/ cm 0.3 µS/ cm < 500 ppb < 100 cfu/ ml - (European Pharm) ≤ 1.1 ppm < 500 ppb < 10 cfu/ ml < 0.25 Eu/ ml USP - Gambaran proses hingga diperoleh Air Untuk Injeksi (Water for Injecton) .25 Eu/ ml (Eur.1 ppm 0.3 µS/ cm 0.1 ppm 0. + USP) Conductivity at 25°C Heavy Metals Nitrate Total Organic Carbon Microbial Limit Endotoxines ≤ 1. Pharm.) ≤ 1. Pharm.

Wadah. peralatan dan komponennya yang telah dicuci hendaklah disterilisasi dalam waktu lebih lama daripada 4 jam setelah dicuci. Barang yang telah disterilkan hendaklah diberi tanggal sterilisasinya. Kondisi ini hendaklah divalidasi. alat dan wadah untuk pemrosesan produk steril. Selanjutnya. tidak berdebu. dilakukan sterilisasi dengan cara yang sesuai. kecuali proses sterilisasi yang mencakup juga proses depirogenesis di mana pelaksanaan proses sterilisasi boleh dilakukan dalam waktu paling lama 8 jam seterlah proses pencucian. Wadah. dan tidak bersekat. Beberapa alat yang canggih sekarang telah dilengkapi dengan pembersihan di tempat (cleaning in place/CIP). peralatan dan komponen hendaklah digunakan dalam waktu paling lama 3 hari (72 jam) setelah proses sterilisasi. Pembersihan ini menggunakan tekanan tinggi yang dilakukan secara otomatis di dalam peralatan tersebut. . Namun kondisi demikian hendaklah divalidasi Wadah. disimpan dalam lemari yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet atau di bawah aliran laminar.Pembersihan/Pencucian Dan Sterilisasi Peralatan Alat dan wadah yang akan digunakan dalam pemrosesan suatu produk steril harus benar-benar bersih. peralatan dan komponennya yang telah dicuci dan disterilisai hendaklah dijaga agar tidak tercemar kembali oleh partikel dan mikroba.

413) . pemijaran langsung b. Pemanasan Kering a. Mekanisme umum: mikroorganisme dibunuh dengan adanya proses oksidasi dari uap panas dengan temperatur tinggi. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven: 170° C (340° F) selama 1 jam 160° C (320° F) sampai 2 jam 150° C (300° F) sampai 2.Metode Sterilisasi a. penangas minyak dan lainnya. Sterilisasi Secara Fisika 1. Contoh: udara panas oven. Keuntungan:   Dapat menghilangkan pirogen Tersedia alat sterilisasi dengan rancang bangun dan persyaratan instalasi yang sederhana    Kondisi sterilisasi diketahui dan didokumentasi Indikator biologi tidak diperlukan Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatif dari semua mikroorganisme (Lachman ind)  Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel.5 jam 140° C (285° F) sampai 3 jam c.

Uap panas 100° C. Bahan yang dapat diproses:  Bahan yang tidak dapat ditembus. 413) 2. Contoh: Uap bertekanan (otoklaf). beberapa instrument untuk pembedahan seperti alat tajam dan bor listrik  Foil aluminium lebih dipilih untuk pengemasan. Air mendidih b. seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel 414) d. Bahan yang tidak dapat diproses:  Bahan yang tidak tahan panas f. seperti bubuk. maka diperlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (ansel. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan kering atau wadah yang kering. pemanasan dengan bakterisida. tetapi kaca atau logam dapat juga digunakan. cairan dengan bahan pembawa bukan air. Waktu sterilisasi minimum adalah:   30 menit untuk suhu 115° C . e. Kerugian lain dan persyaratan khusus:  Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas.123° C . Panas Lembab a. Mekanisme umum: kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel.116° C 20 menit untuk suhu 121° C .

Ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah. Bahan yang tidak dapat diproses:  Cairan dengan bahan pembawa bukan air f. gelas atau polimer yang fleksibel  Alat-alat gelas yang berskala e. Bahan yang cocok untuk diproses:   Cairan dengan bahan pembawa air Pengemasan dalam wadah polimer kaku.129° C. c.413)  Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville’s 408) d. 10 menit untuk suhu 126° C . Keuntungan:  Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relatif rendah daripada tidak ada kelembaban (ansel. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dan untuk botol 500 ml membutuhkan antara 10 – 15 menit. Kerugian lain dan persyaratan khusus:   Waktu siklus lama Bahaya meledak bila wadah terisi melebihi batas . 412)  Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah dibunuh (Ansel.

Radiasi a. yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang. daya degradasi terhadap bahan plastic kecil. sterilisator berkapasitas besar  Pancaran electron bukan sumber radioaktif. Mekanisme: b. 2. Cara bukan panas 1. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Tidak dapat menghilangkan pirogen 3. Sinar UV a. Keuntungan:  Produk yang dikemas dalam wadah luar untuk transit  Indicator biologi tidak diperlukan  Radiasi sinar gamma berdaya tembus tinggi. proses cepat . energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya. organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel. Mekanisme: Ketika sinar UV melewati bahan.

akrilonitril. Bahan yang tidak cocok untuk proses: Beberapa jenis plastic dan kaca mengalami ikatan silang menyebabkan warna memudar dan menjadi rapuh Penggunaan terbatas pada produk farmas karena dapat menyebabkan perubahan kimiawi dan penguraian Pengaruh dari radiasi pada pengemasan perlu ditentukan e. hidroksil. b. dan gugus sulfidril dari protein dan .c. ketebalan produk merupakan hal yang kritis. Sterilisasi secara kimia 1. amin. Bahan yang cocok untuk diproses: Berbagai jenis bahan plastik seperti polipropilen kualitas tertentu. rumit dikendalikan. Gas yang biasa digunakan: Gas etilen oksida b. dan bahan alam. Kerugian lain dan persyaratan khusus: Bermodal tinggi Persyaratan pada peralatan sangat rumit Tidak dapat menghilangkan pirogen Pancaran elektron. Gas a. seperti latek Produk logam dengan batas kepadatan tertentu (misalnya bahan implant. Mekanisme: etilen oksida bereaksi sebagai bakterisid dengan alkilasi asam. polietilen. ortopedik) d. stiren. daya tembus yang rendah.

seperti penisilin e. polimetil metakrilat. f. Bahan yang cocok untuk diproses: . Bahan yang tidak cocok untuk diproses: . logam.280) c.sel enzim.Dapat memproses produk yang dikemas dalam wadah antara . Kerugian lain dan masalah khusus: . Keuntungan: .Obat serbuk. dan poliurelan .Bahan pengemas harus dapat ditembus udara. uap air dan gas misalnya kertas untuk sterilisasi dan poliofelin soun bonded .Bahan polimer seperti propilen yang berkepadatan rendah.Bahan pengemas yang tidak dapat ditembus.Produk yang peka terhadap kelembaban tinggi dapat menimbulkan masalah khusus .siklusnya dapat dikembangkan untuk produk khusus .Tersedia alat sterilisasi otomatik dari berbagai ukuran 1 m 3 hingga 30 m3 d.Ampul dan vial yang pada permukaan luarnya terdapat keretakan yang halus sehingga menyebabkan gas masuk . misalnya kaca. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel (parrot.Produk yang tidak bersih akibat pengotoran dari bahan organik atau anorganik dapat menyebabkan gas tidak dapat tembus. polivinil klorid. .

Gas-gas (etilen oksida dan propilen oksida) mudah terbakar (bersifat eksplosif) bila bercampur dengan udara. Filter Swinny. Filter Fritted-Glass. kelembaban.Tingkat keracunan dari gas . Contoh: menggunakan filter Seitz. temperatur. . c.Diperlukan indikator biologi .Tidak ada siklus sterilisasi yang baku . .Rongga sterilisasi harus dilembabkan (dihumidifikasi) terlebih dahulu. Filter Chamberland Pasteur b. dan konsentrasi dari gas etilen oksida.. Mekanisme umum: larutan dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri.Diperlukan seorang yang memiliki keahlian khusus .Tidak dapat menghilangkan pirogen . Konsentrasi minimum adalah 450 mg/L pada tekanan 27 psi.Sisa gas dalam produk yang diproses . c. Filter Berkefeld dan Mandler. Sterilisasi secara mekanik a. Keuntungan: Dapat dilaksanakan pada suhu ruangan Dapat digunakan untuk volume besar secara bertahap Juga menghilangkan partikel .Waktu sterilisasi bergantung pada keberadaan kontaminasi.

pengawet. Bahan yang cocok untuk diproses: Cairan yang tidak dapat disterilisasi akhir e. Bahan yang tidak dapat diproses:  Produk bukan cairan f. Kerugian lain dan persyaratan khusus:  Diperlukan proses aseptik sesudah sterilisasi  Kemungkinan tidak dapat menghilangkan virus atau mikroplasma  Kemungkinan tidak dapat menghilangkan pirogen dari aliran cairan  Menyerap beberapa obat. dan sebagainya  Pelepasan komponen saringan Pencucian Dan Sterilisasi Wadah (Vial Atau Ampul) Tutup karet (untuk vial) dicuci dengan pengocokan mekanik dalam suatu tangki yang berisi larutan deterjen panas (misalnya 0. 1265) d.- Tidak terbentuk pirogen akibat proses Tersedia saringan yang kompatibel bahkan terhadap produk yang agresif. 416) - Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (lachman ind.5% natrium pirofosfat) yang dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air untuk . - Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel.

Pencampuran Produk Produk harus dicampur pada kondisi lingkungan tertentu (lihat pada bagian “Proses Pembuatan” sebelumnya). larutan harus dilindungi dari kontaminasi lingkungan sampai larutan tersebut tersegel dalam wadah akhir. selanjutnya disterilkan dalam autoclave. Sedangkan untuk ampul. Sedangkan sterilisasi dimaksudkan untuk menghilangkan partikel di bawah 3 mikron. Penyaringan Larutan Larutan harus disaring.injeksi (WFI). Secara prinsip. Tujuan utama proses penyaringan adalah penjernihan atau sterilisasi larutan. dilakukan uji tes sterilisasi. Penjernihan diberi istilah “pengkilapan” dan larutan yang dikilapkan membutuhkan penghilangan partikel-partikel kecil sampai ukuran paling tidak 3 mikron. Urut-urutan pencampuran sangat berdampak terhadap hasil produk yang diinginkan. Setelah penyaringan. termasuk menghilangkan mikroorganisme hidup atau spora. . dalam proses produksi di industri farmasi dicuci dan disterilkan dalam satu rangkaian alat/mesin otomatis dengan ban berjalan. Untuk menjamin sterilisasi larutan yang akan di-filling. Perhatian khusus harus diberikan untuk mencapai dan menjaga homogenitas larutan. Hal terpenting dalam proses pencampuran ini adalah ketelitian dalam proses pencampuran. dengan cara menjaga suhu larutan. kedua tujuan ini berbeda.

terutama untuk sediaan ampul. Bila ada pembilasan akhir tidak digunakan air bebas pirogen. biasanya dilakukan secara otomatis dengan mesin pengisi dan penyegelan. Untuk itu. Ketepatan volume dapat dipengaruhi oleh beberapa factor. karena dapat menyebabkan terjadi serpihan kaca yang dapat masuk ke dalam ampul yang sedang diisi. antara lain kecepatan pengisian dan keseragaman ukuran botol ampul. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ujung jarum pengisi. dilewatkan melalui proses depirogenesis yaitu pemanasan pada suhu 180° C selama 2 jam . yang biasanya terbuat dari stainless steel. dengan variasi pengisian yang tinggi. Mesin pengisi harus didesain untuk dapat memberikan ketepatan volume. mengenai “mulut” ampul. karena botol kaca ampul tidak didesain untuk menahan tekanan tinggi. Kecepatan pengisian biasanya lebih lambat. mialnya vial. Pengisian sebuk padat steril ke dalam wadah botol (vial) merupakan proses yang cukup rumit bila dibandingkan dengan pengisian bentuk larutan. Selin itu. hendaklah wadah dan komponen mesin yang akan bersentuhan dengan produk atau bahan pengemas primer.Pengisian Pengisian larutan steril. proses pengisian serbuk steril ke dalam wadah vial harus dilakukan secara hati-hati dan dilakukan pemantauan bobot dengan cermat. tekanan pada saat pengisian juga perlu mendapat perhatian.

Penyegelan ampul dilakukan dengan “melelehkan” bagian gelas dari “leher” ampul hingga membentuk segel penutup (tipseal) atau segel tarik (pull-seal). Penyegelan ampul dilakukan dengan menggunakan nyala api gas oksigen (gas oxygen flame) teperatur tinggi. Pengawasan Selama Proses Produksi (In Proses Control = IPC) IPC merupakan pemeriksaan dan pengujian yang dilembagakan dan dilaksanakan selama proses pembutan obat. Selanjutnya. Penyegelan harus dilakukan dengan hati-hati dan dijaga untuk mencegah distorsi segel tersebut. Untuk itu. serta cukup rapat untuk menghasilkan wadah yang dapat disegel dengan rapat. termasuk pemeriksaan dan pengujian terhadap lingkungan dan peralatan. biasanya dilakukan segera setelah diisi dengan menggunakan mesin filling and sealing otomatis dalam satu rangkaian. tutup karet harus cocok dengan mulut wadah. Untuk penyegelan botol vial.atau suhu 250° C selama ½ jam atau pada kondisi pemanasan lain yang telah divalidasi Penyegelan Penyegelan ampul yang telah diisi. Tujuannya adalah . Biasanya penutup ini dilakukan secara manual menggunakan pinset steril. penyegelan botol vial harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati jangan sampai menimbulkan kontaminasi pada produk. botol yang telah tertutup karet diseal dengan menggunakan segel aluminium untuk menahan karet penutup.

Gambaran Alur In Procces Control Permintaan Selesai produksi Bagian QC Labelling Sampling Periksa Ditolak / diterima Hasil (NHPB) .untuk mencegah terlanjur diproduksinya obat yang tidak memenuhi spesifikasi. Cara pengawasan:  Pengawasan dilakukan dengan cara mengambil contoh dan mengadakan pemeriksaan dan pengujian terhadap produk yang dihasilkan pada langkah-langkah tertentu dari proses pengolahan  Pengawasan oleh bagian produksi: untuk menjamin bahwa mesin dan peralatan produksi serta proses yang digunakan akan menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang ditetapkan  Pengawasan oleh bagian QC: untuk meyakinkan bahwaproduk yang dihasilkan pada tahap tertentu telah memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelum dilanjutkan proses berikutnya  Bagian pengawasan mutu menentukan apakah tahap lanjutan dari proses pengolahan dapat dilaksanakan atau tidak berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan.

Uji Kebocoran. Kebocoran biasanya dideteksi menggunakan tekanan negatif dalam ruangan vakum. artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subyektif dari pemeriksa. sehingga ampul-ampul tersebut harus direject. Setelah diperiksa kebocorannya. Uji kebocoran tidak dilakukan untuk preparat vial dan botol karena tutup karetnya yang tidak kaku.Pada pengawasan dalam In Procces Control (IPC) ada beberapa hal yang dilakukan yaitu : 1. . pada saat penyegelan botol harus dalam kondisi vakum. Pada produksi obat steril yang dikemas dalam ampul. 2. Kejernihan adalah suatu batasan relatif. ampul kemudian dicuci. biasanya ditambahkan pula zat warna (0. karena dapat merupakan jalan masuknya kontaminasi pada obat suntik tersebut. setelah dilakukan proses sterilisasi sering mengalami celah atau retakan yang tidak terlihat oleh mata atau secara mikroskopik. khususnya pada bagian penutupan ampulnya. Uji Kejernihan. Uji kebocoran dimaksudkan untuk mendeteksi ampul yang belum tertutup dengan sempurna. meskipun demikian.5 – 1% methylen blue) untuk melihat penetrasi zat warna ke dalam ampul. Celah atau retakan tersebut merupakan sumber yang berbahaya. Menurut CPOB Terkini (CPOB: 2006) seluruh wadah terisi produk parenteral harus diinspeksi satu persatu terhadap kontaminasi oleh benda asing atau cacat lain.

Uji Sterilitas. Bila sistem telah berfungsi dengan baik. Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahaya yang baik. 5. terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya. Uji ini dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk . harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata. bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. dikalibrasi pH meter. pembakuan pH meter. 3. Uji pH. Uji sterilitas dilakukan terhadap produk dan bahan yang yang telah sebelumnya telah mengalami proses pensterilan diberlakukan. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.Inspeksi secara visual harus diatur sedemikian rupa dalam kondisi pencahayaan dan latar belakang yang dikendalikan dan disesuaikan. Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat keseragaman volume secara visual. 4. dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar. Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal. Dengan pH meter : Sebelum digunakan. dan berlatar belakang hitam dan putih. Baca harga pH. Uji keseragaman volume. diperiksa elektroda dan jembatan garam.

mewakili keseluruhan lot bahan tersebut. Sampel bisa diambil dari kemasan atau wadah akhir suatu produk, atau sebagai bagian dari tangki bulk cairan atau dari bahan bulk lainnya. Prinsip faktor pelaksanaan dalam uji sterilitas adalah bahwa bagian bahan yang akan diuji ditempatkan dalam lingkungan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga tiap mikroorganisme yang ada dan hidup akan tumbuh. Asas : larutan uji + media perbenihan, inkubasi pada 20 o – 25oC Kekeruhan / pertumbuhan mikroorganisme (tidak steril) Metode uji : Teknik penyaringan dengan filter membran lalu diinkubasi Prosedur uji: Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan. Volume tertentu spesimen ditambah volume tertentu media uji, inkubasi selama tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji. Prosedur sterilisasi merupakan tahap penting dalam mencapai produk steril, namun semua prosedur dan kondisi-kondisi lain yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut harus dirancang untuk membantu tahap ini. Pembersihan ruangan yang baik, lingkungan yang terkontrol dengan efektif, suatu muatan dari produk yang dapat

dikontrol dan diidentifikasi, proses produksi yang direncanakan dan dikontrol dengan baik, serta personel yang ditatar dengan baik dan berdedikasi tinggi untuk produksi dan pengujian sangat penting untuk produksi suatu produk steril. Hanya bila semua faktor ini melengkapi penemuan-penemuan dari uji sterilisasi, dapatlah disimpulkan dengan penuh kepercayaan bahwa produk tersebut steril. Pengemasan dan penyelesaian serta validasi kemasan a. Pengemasan Kemasan untuk sediaan steril haruslah steril, kedap udara, dan tahan terhadap perubahan suhu. Apabila kemasan dimaksudkan untuk pemakaian pada dosis ganda, maka kemasan tersebut haruslah dirancang agar ia kembali menjadi kedap udara setelah dibuka dan ditutup kembali. Kemasan sediaan steril harus inert, tidak bereaksi dengan bahan, dapat disterilkan, dapat dibersihkan seperti kaca, plastic, aluminium atau stainless steel. Kesesuaian antara wadah dan tutupnya serta tidak adanya interaksi berbahaya antara wadah dengan sediaan (bahan aktif dan tambahan) harus selalu diperhatikan dan diuji. Integritas kemasan setelah pengisian dan selama penyimpanan harus selalu divalidasi. Validasi yang dimaksud harus mencakup uji penetrasi dari mikroorganisme ke dalam kemasan. Kemasan harus ditutup sesegera mungkin setelah pengisian dan penyegelan untuk mencegah kontaminasi dan kelembaban. b. Penyelesaian

Pada tahapan penyelesaian, hal-hal yang dilakukan yaitu : 1) Penutupan wadah hendaklah divalidasi dengan metode yang sesuai. Terhadap penutupan wadah dengan fusi, misalnya ampul kaca atau plastik, hendaklah dilakukan uji integritas 100%. Uji integritas wadah lain hendaklah dilakukan terhadap sampel dengan menggunakan prosedur yang sesuai. 2) Sampel wadah yang ditutup dalam kondisi vakum hendaklah diambil dan diuji setelah periode yang ditentukan, untuk

memastikan keadaan vakum yang diperthankan. 3) Wadah terisi produk parenteral hendaklah satu per satu diinspeksi terhadap kontaminasi oleh benda asing atau cacat lain. Bila inspeksi dilakukan dengan cara visual, hendaklah dilakukan dalam kondisi pencahayaan dan latar belakang yang terkendali dan sesuai. Operator yang melakukan inspeksi hendaklah lulus pemeriksaan mata secara berkala, dengan menggunakan

kacamata bila memakai, dan diperbolehkan sering melakukan istirahat selama proses inspeksi. 4) Bila digunakan metode inspeksi lain, proses ini hendaklah divalidasi dan kerja peralatan hendaklah diperiksa secara berkala. Hasil pemeriksaan hendaklah dicatat. Validasi kemasan Tujuan validasi adalah untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa:

tidak terjadi peristiwa mix-up (campur baur) antara produk maupun antar batch Hal-hal yang harus divalidasi  Jumlah ampul/vial yang dihasilkan vs jumlah cairan yang diproduksi  Volume (isi) per ampul/vial  Kebocoran (tutup)  Jumlah ampul/vial dalam dus  Jumlah dus dalam karton  Kelengkapan (etiket. penandaan)  Kerapian  Rekonsiliasi bahan pengemas Validasi Proses Produksi Tujuan validasi proses produksi yaitu :  Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur produksi yang berlaku dan digunakan dalam proses produksi (Batch Processing . brosur. Proses pengemasan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur tetap proses pengemasan yang telah ditentukan serta memberikan hasil yang sesuai dengan persyaratan (rekonsiliasi) yang telah ditentukan secara terus menerus (reliable and reproducible)  Operator/pelaksana yang melakukan proses pengemasan kompeten serta mengikuti prosedur pengemasan dan peralatan pengemasan yang telah ditentukan  Proses pengemasan yang dilakukan.

Prospective Validation     Untuk produk-produk baru yang belum pernah diproduksi Dilakukan pada tiga batch pertama Bisa digunakan untuk dijual (commercial batch) Bukan termasuk trial batch (skala lab) kemungkinan terjadinya proses ulang (reworking b. prosedur (cara) pembuatan. dsb)   Penelusuran dari data produksi yang sedang berjalan Data berasal dari batch record (minimum 10-20 batch) . Concurrent Validation   Untuk produk yang sudah berjalan (sudah diproduksi) Terjadi perubahan pada parameter kritis. namun memerlukan data validasi (mis. c. cara pengujian. Retrospective validation  Untuk produk-produk yang sudah lama diproduksi yang belum divalidasi.Record). spesifikasi bahan baku.   Mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi Memperkecil process)  Meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi a. Untuk keperluan registrasi ulang. seperti peralatan yang digunakan. senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara terus menerus. dll yang dapat mempengaruhi mutu dan spesifikasi produk.

Setiap kali pengujian paling sedikit 3. Pembuatan kesimpulan 8. Pengujian sampel 6. .000 sampai 10. Penelusuran sejarah (riwayat) produk yang bersangkutan. Penentuan criteria (batas) penerimaan 7. Pembuatan laporan validasi Petunjuk untuk program dan metode validasi efektifitas dari produk asptis.000 unit (atau seluruh unit apabila ukuran bets kurang dari 3. Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi 4. Pemilihan proses produksi yang diuji 2. Media fill dilakukan dalam kondisi produksi normal dan jumlah unit yang diisi selama pengisian berkisar antara 1.000 unti) diperlukan contoh untuk mendeteksi pencemaran sebesar 0.itas tinggi mendeteksi insiden pencemaran yang rendah.000. Urutan-urutan pelaksanaan validasi proses produksi (prospective dan concurrent) 1. Biasanya dipakai Soybean Casein Digest Broth (SCDB) sebagai medium. Pelaksanaan validasi 5. yaitu ukuran yang cukup besar untuk memperoleh probabi.1 % dengan tingkat konfidensi 95%. Pembuatan protocol validasi 3. Wadah yang sudah terisi diinkubasi pada suhu 30° C – 35° C selama tidak kurang dari 14 hari.

memiliki potensi pencemaran lingkungan baik di udara. Kegiatan-kegiatan industri. pengendalian. 1. Akibat dari penurunan manusia atau makhluk hidup lainnya. sebagaimana industri farmasi. air maupun tanah akibat pembuangan limbah cair. Penyebab terjadinya pencemaran udara dapat dibedakan menjadi dua. misalnya letusan gunung berapi. padat maupun gas yang berupa asap. seperti pencemaran akibat kegiatn industri. partikel debu dan gangguan kualitas lingkungan akan turun sedemikian rupa sehingga tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.8 PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI Pengolahan lingkungan adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan. pengendalian pencemaran sebagai salah satu upaya pengendalian lingkungan menjadi sangat penting dan harus dilaksanakan terutama menyongsong era globalisasi perdagangan bebas yang sudah didepan mata saat ini. 2) aktivitas manusia. penataan. pengawasan. keadaan klimatologis dan gas gas yang timbul akibat kegiatan alamiah. yaiu 1) aktivitas alamiah. Pengelolaan Limbah Udara Sumber pencemaran Pencemaran udara adalah masuknya gas dan senyawa asing ke dalam udara sehingga menyebabkan kualitas udara menurun atau membahayakan kehidupan makhluk hidup atau tidak sesuai lagi dengan peruntukannya. rumah . Oleh karena itu. pemulihan.II. dan pembangunan lingkungan.

antara lain oleh :     Debu selama proses produksi Uap lemari asam di laboratorium Uap sovent proses film coating Asap steam boiler. meliputi kadar H2S.tangga. generator listrik dan incenerator Upaya pengelolaan  Lemari asam dilengkapi dengan exhaust fan dan cerobong kurang lebih 6 meter dilengkapi dengan absorbent   Solvent diruang coating digunakan dust collector (wet system) Debu disekitar mesin produksi dipasang penyedot debu dan dust collector unit  Asap dari genset dan incenerator dibuat cerobong asap kurang lebih 6 meter. Total Solid Particle (TSP/debu). Pengelolaan Limbah Padat Sumber pencemaran Pencemaran limbah padat adalah masuknya benda-benda apdat ke dalma lingkungan sehingga menyebabkan kualitas lingkungan menurun . sumber tenaga atau perang. dan Pb (timbal). Pemantauan Kualitas udara di dalam dan diluar diatur lingkungan pabrik. NO2. 2. CO. O3. Limbah udara di industri farmasi dihasilkan. SO2. NH3.

Pengelolaan Limbah Suara dan atau getaran Sumber pencemaran . obat rusak/ kadaluarsa serta lumpur dari IPAL dibakar di incenerator. botol dan aluminium foil dan sampah rumah tangga  Lumpur dari proses Instalasi Pengolahan Air Limbah Upaya Pengelolaan  Sampah domestik dibuatkan tempat sampah . tidak ada limbah B3 yang tercecer diarea pabrik.atau membahayakan kehidupan makhluk hidup atau tidak sesuai lagi dengan peruntukannya. Pemantauan Kualitas lingkungan (kebersihan) di dalam area industri. derajat kebauan H2S disekitar area pabrik. kemudaian dibuang ditempat pembuangan sampah akhir  Sisa sisa kertas. plastik dan aluminium foil (setelah dihancurkan) dikumpulkan kemudian dijual ke pengumpul sampah (perusahaan daur ulang sampah)  Debu/sisa serbuk. antara lain berasal dari:    Debu/serbuk obat dari sistem pengendalian debu (dust collector) Obat rusak/kadaluarsa/obat sub syandar (reject) Kertas. karton. karton. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri farmasi. plastik bekas. 3. dan sebagainya.

. Upaya pengelolaan Lingkungan Untuk menanggulangi kebisingan yang ditimbulkan oleh genset. laboratorium.Pencemaran suara atau kebisingan atau getaran adalah masuknya suara/dan atau getaran yagn tidak diinginkan ke dalam lingkungan sehingga kualitas lingkungan menurun atau tidak sesuai dengan peruntukkannya. Getaran maksimum : 7. mesin-mesin ditempatkan pda lantai yang telah dicor beton dan diberi penguat (pengunci antara mesin dan lantai). Untuk menanggulangi getaran yang ditimbulkan oleh mesin genset dan mesin-mesin lain. genset. dan steam boiler. Pengelolaan Limbah Cair Sumber Pencemaran Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukannya sesuati ke dalam air yang menyebabkan air tersebut menurun kualitasnya atau tidak sesuai dengan peruntukannya. laundry. Limbah cair di industri farmasi antara lain berasal dari :  Bekas cucian peralatan produksi. dan rumah tangga.5 Hz 4. Pemantauan Angka kebisingan dan getaran di dalam dan diluar area pabrik Kebisingan maksimum : 65 dB. Limbah suara atau getaran dihasilkan antara lain oleh suara dan getaran dari mesin-mesin pabrik. dibuat ruangan berdinding dua dan dilakukan perawatan msin secara berkala.

Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Khusus untuk limbah cair yang berasal dari limbah golongan ß Laktam : sebelum dicampur dengan limbah non ß Laktam.  Kualitas badan sungai sebelum dan sesudah outlet IPAL Sistem Pengolahan Air Limbah Tujuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) adalah untuk menurunkan kadar zat pencemaran yang terkandung dalam air limbah sehingga memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan. Pemantauan  Kualitas badan air permukaan inlet dan outlet saluran limbah. Pembuatan saluran drainase sesuai dengan sumber limbah :  Saluran ar hujan dialirkan ke selokan umum dan dibuat sumur resapan   Saluran dari kamar mandi/WC dialirkan ke septic tank. ditambahkan NaOH untuk memecah cincin ß Laktam. 3. BOD5. pH. Dalam proses pengolahan air limbah. N total serta parameter lain termasuk indikator biologis dan mikrobologi.  Kamar madi dan WC Bekas reagensia di Laboratorium Upaya Pengolahan Lingkungan 1. TSS. Saluran dari tempat pencucian produksi dan laboratorium dialirkan ke IPAL 2. bagaimanapun adalah hal yang tidak . meliputi kadar COD.

Dalam pengolahan libah cair. Oleh karenanya. Bahkan dalam satu jenis industri pun memiliki kharakteristik limbah yang berbeda-beda. misalnya limbah cair industri farmasi memiliki kandungan COD dan BOD serta kadal fenol yang tinggi. yaitu : 1. tetapi kadar llimbah logamnya rendah dengan debit air limbah yang tinggi. sedangkan industri logam memiliki kandungan COD. BOD dan fenol yang rendah tetapu kandungan logam yang tinggi dengan debit air limbah yang kecil. . terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan. Kharakteristik limbah industri farmasi yang memproduksi antibiotik golongan ß Laktam akan berbeda dengan kharakteristik limbah cair dari industri farmasi yang hanya memproduksi vitamin. Karakteristik dari limbah Karakteristik dari limbah sangat berbeda antara industri yang satu dengan industri yang lain.mungkin untuk menghilangkan secara absolut adanya zat pencemar tersebut. Oleh karenanya tujuan pengolahan limbah memang hanya ditujukan untuk menurunkan kadar zat pencemar samai pada batas (ambang) baku mutu yang diperbolehkan. agar memperoleh gambaran spesifik tentang kharakteristik dari limbah yang akan diolah maka harus dilakukan pengamatan atau survey dari limbah yang dihasilkan oleh industri farmasi tersebut.

dan lain-lain) untuk menerima beban yang berupa limbah tanpa mengakibatkan pencemaran. terdapat tiga cara pengolahan limbah cair. dan lain-lain. Screening. yaitu : 1. Peraturan tentang limbah yang berlaku Peraturan mengenai Baku Mutu Lingkungan dapat berbeda antara satu aerah dengan daerah lain.2. 3. Pengolahan Limbah Primer Tujuan pengolahan limbah pada tahap ini adalah menghilangan buangan yang tidak larut. kali. misalnya adalah bukan daerah industri sehingga memiliki Baku Mutu Lingkungan yang berbeda dengan daerah-daerah industri seperti DKI Jakarta. Kemampuan ini sangat berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor. semain kecil polutan berarti semakin besar pula assimilative capacity dari badan air tersebut. Kemampuan badan air (assimilative capacity) Pengolahan limbah cair sangat tergantung dari kemampuan badan air (misalnya sungai. kedalaman. hal ini terkait dengan kharakteristik daerah yang bersangkutan. misalnya debit badan air. Pada prinsipnya. faktor klimatologi. Terdapat 4 tahap. Pada tahap ini berisi usaha-usaha untuk mengurangi atau menghilangkan bahan buangan yang . Daerah Yogyakarta. yaitu : a. Peraturan-peraturan tersebut disesuaikan dengan peruntukan (benefical use) dari badan air yang bersangkutan.

Pada tahapan ini mempunyai prinsip bahwa lemak. Untuk menghilangkan jenis kotoran ini. Canal Longitudinal. Penghilang lemak. sisa-sisa lain yang berukuran besar. Benda-benda yang mengendap di bagian bawah kanal tersebut selanjutnya dapat diambil secara pada waktu-waktu tertentu secara periodik c. plastik. Untuk menghilangkan limbah ini dapat dibuat saringan dengan menggunakan kasa atau ijuk. minyak. Benda-benda yang masih dapat melewati saringan kasa besi atau ijuk (misalnya pasir) diendapkan dengan menggunakan semacam kanal yang bagian bawahnya dibuat agak melebar (canal longitudinal). kayu. air limbah dialirkan ke kolam yang berukuran relatif luas dan memiliki aliran rendah dan tenang. dan sejenisnya selanjutnya secara periodik dan kontinyu diambil secara mekanis. b. Benda yang tertangkap saringan tersebut selanjutnya dapat diambil secara manual atau dengan alat mekanis secara periodik atau kontinyu (misalnya setiap pagi dan/atau setiap sore). seperti sampah. dan sejenisnya memiliki berat jenis yang lebih kecil dari air sehingga akan mengapung di bagian atas air. botol bekas. minyak dan sejenisnya. barang rongsokan. Kotoran lemak. . minyak.bersar.

penambahan arang aktif (terutama untuk menurunkan kadar fenol). 2. senyawa-senyawa organik terlarut dan senyawa-senyawa anorganik terlarut. Terdapat bebarapa metode. kaporit dan lain sebagainya).d. Secara garis besar kontaminan yang dapat dihilangkan dibedakan 3 macam. penambahan suatu koagulator. Pengolahan Limbah Sekunder Prinsip pengolahan limbah pada tahap ini adalah untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan lain yang tek terproses pada pengolahan primer. yaitu padatan tersuspensi (solid suspended). Terdapat beberapa cara untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan ini. Menghilangkan zat tersuspensi. baik secara fisik. Secara fisik penambahan oksigen terlarut dilakukan dengan menyemburkan udara bebas . Pada tahap ini dilakukan dengan cara mengalirkan limbah cair ke dalam suatu saluran yang dilengkapi dengan penyaring-penyaring kasa yang diperuntukkan untuk menyaring zat yang tersuspensi. 3. Ca(OH)2. diantaranya adalah dengan cara filtrasi sederhana. biologis mapaun mekanis-biologis. Pengolahan Limbah Tersier Prinsip pengolahan pada tahap ini adalah untuk menurunkan COD dan BOD serta menambah oksige terlarut (dissolved oxygen/DO). serta penambahan bahan-bahan kimia dengan bahan-bahan floculant (misalnya Al2O3.

Selanjutnya. Sedangkan pengolahan secara mekanis-biologis dapat dilakukan dengan menyemprotkan air limbah kepermukaan benda padat (misalnya lantai beton) yang diberi mikroorganisme. yang berisi mikroorganisme yang akan merubah zat-zat organik menjadi biomassa (energi) dan gas CO2.ke dalam air limbah bak/kolam aerasi secara terus-menerus (kontinyu).  COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen (O2) yang digunakan untuk mengoksidasi senyawa organik dan anorganik yang bisa teroksidasi dalam air dan dinyatakan dalam mg/L. dapat dilakukan dengan penambahan Ca(OH)2 (yang dikenal dengan lime treatment). Selanjutnya untuk menghilangkan logam berat. . Dengan cara ini logam berat akan mengendap sebagai garam atau hidroksida atau sebagai co-presipitant pada endapan CaCO3 (kolam/bak IV). air limbah yang telah diolah dialirkan ke bak/kolam penampungan akhir di mana pada kolam ini diberikan ikan atau tanaman air sebagai indikator biologis. Secara biologis dilakukan dengan cara menggunakan activated slugde. dimana limbah dialirkan ke dalam bak/kolam penampungan. Keterangan  DO (Dissolved Oxygen) adalah banyaknya oksiken (O2) yang terlarut dalam air dan dinyatakan dalam mg/L.

 BOD (Biological oxygen Demand) adalah benyaknya oksigen (O2) yang dibutuhkan oleh bakteri aerobic untuk menguraikan dan menstabilkan senyawa organik dalam air melalui proses oksidasi biologis aerobic dan dinyatakan dalam mr/L.  BOD5 (Biological oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen (O2) yang dibutuhkan dalam kondisi penetapan inkubasi selama 5 hari dalam suhu 200C dan dalam kondisi yang gelap. . Pengujian ini untuk menyatakan degradasi zat organik melalui cara biologis dan dinyatakan dalam mg/L.

SKEMA PRODUKSI SEDIAAN INJEKSI Bahan Baku Penimbangan Air Untuk Injeksi Pengukuran Volume Pembuatan Larutan Penyaringan Pengisian Sterilisasi & Pendinginan Pinhole Test Seleksi Bulk Product Pengemasan Cek Kelengkapan Pengemasan Quarantine Distribusi Ampul Pencucian Sterilisasi

Master formula NamaProduk JumlahProduk : Rantin® injeksi : 100.000 Ampul @ 2 ml

Tanggal Formula : 14 Maret 2011 TanggalProduksi : 12 Februari 2012 No.Registrasi No.Batch a. Master formula Jumlah bahan Kode bahan Nama bahan Fungsi bahan Perdosis RD-001 MP-002 AP-003 PH-004 NN-005 WF-006 Ranitidin Monopotassium phospate Anhydrous disodium phosphate Phenol Nitrogen Water for injection Zat aktif Pendapar Pendapar Pengawet Gas inert Pembawa 56 mg 1,92 mg 4,8 mg 10 mg Ad 2 ml Perbatch 5600 gram 192 gram 480 gram 1000 gram : DKL 12 111007 43 A1 : B024307

b. Alasan pembuatan produk Ampul adalah wadah gelas yang disegel rapat sebagai dosis tunggal yang dapat berisis bahan padat, larutan obat jernih, atau suspensi halus dimaksudkan untuk penggunaan parenteral. Adapun

keuntungan ampul dibandingkan sediaan injeksi lainnya adalah:

1. Pemberiannya dosis tunggal sehingga dapat mengurangi kontaminasi mikroba. 2. Tidak membutuhkan pengawet karena peluang untuk terkontaminasi sangat kecil. - Terapi parenteral untuk obat-obat yang tidak efektif secara oral, atau yang dapat dirusak oleh saluran penvernaan. Terapi parenteral juga aksinya lebih cepat dan seluruh dosis obat digunakan. Pasien dengan keadaan kritis juga sangat berguna dalam pemberian intravena. c. Alasan penambahan bahan 1. Ranitidin - Indikasi Menurut Farmakologi dan terapi edisi V : 282, Ranitin efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat penyembuhannya. Dengan dosis lebih kecil umumnya dapat membantu mencegah kambuhnya tukak duodenum. Menurut USP, Ranitidin diindikasikan untuk tukak duodenum, atau sebagai alternatif pada pengobatan bagi pasien yang tidak bisa pengobatan secara oral. - Mekanisme kerja Menurut Farmakologi dan terapi edisi V : 281, Antagonis reseptor H2 bekerja menghambat sekresi asam lambung secara selektif dan reversibel. Ranitidin menghambat sekresi asam

lambung akibat perangsangan obat muskarinik.Kontra indikasi Menurut USP. teofilin. Cenderung menurunkan aliran darah hati. Ranitin juga dapat menghambat absorpsi diazepam. dan impoten. stimulasi vagus. pruritus. mual. mialgia. .Excipient : 496 Digunakan pada berbagai sediaan farmasi secara luas sebagai buffer dan sebagai savesting agent. Dapar phospat . Ranitidin juga dapat menyebabkan gangguan SSP ringan karena sukarnya melalui sawar darah otak. kehilangan libido. Ranitidin injeksi kontra indikasi terhadap pasien yang hipersensitivitas terhadap obat-obatan 2.Interaksi obat Ranitidin dapat berinteraksi dengan nifedipin. . ruam kulit. . Mekanisme penghambatan ranitidin yaitu penghambatan sitokrom P450.Efek samping Menurut Farmakologi dan terapi edisi V : 282. malaise. Beberapa efek sampingnya antaralain nyeri kepala. diare. dan metoprolol. sehingga memperlambat klirens obat lain. dan mengurangi kadar plasmanya sejumlah 25%. atau gastrin. konstipasi. pusing. warfarin. .

.RPS 18th : 13 Aqua pro injeksi merupakan air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan sesuai dan tidak mengandung bahan antimikroba. sitrat dan phospat merupakan sistem dapar utama yang diguanakan.5.Lachman : 1032 Asetat. ..The Theory and Practise of Industrial Pharmacy : 1294 Sejauh ini pembawa yang paling sering digunakan untuk produk steril adalah air karena air merupakan pembawa untuk semua cairan tubuh. . 3. pembawa yang sering digunakan untuk produksi steril adalah air.Scoville’s : 223 Dapar isotonic phospat sering digunakan sebagai buffer karena memiliki range pH yang luas.Lahman : 1294 Sejauh ini. karena merupakan pembawa untuk .Sediaan farmasi steril : 219 Pendapar yang digunakan secara internasional adalah dapar phosfat dengan kapasitas daparnya tinggi di daerah alkalis.5-8.Farmakope IV : 96 Air untuk injeksi adalah air suling segar yang disulingkan kembali. . Aqua Pro Injeksi . . Dapar phospat 4.

Tidak reaktiv.semua cairan tubuh. d. 2. dan tidak berbau gas. Biasanya ditempatkan pada logam. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air. praktis tidak berbau. peka terhadap cahaya dan kelembaban. tidak berwarna. Melebur pada suhu lebih kurang 140o C disertai peruraian. Dalam sediaan parenteral WFI lebih akurat sebagai pembawa.87 : serbuk hablur. tidak berasa. Stabilitas : Nitrogen stabil dan tidak reaktiv secara kimiawi. nitrogen terdapat 78% v/v di atmosphere. cukup larut dalam etanol dan sukar larut dalam kloroform. Nitrogen Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Nitrogenium : nitrogen : N2/28. Nitrogen seharusnya ditempatkan pada logam .01 : Di alam. mudah terbakar. Ranitidin Rumus struktur : Rumus molekul : C13H22N4O3S Berat molekul Pemerian : 350. putih sampai kuning pucat. Uraian bahan 1.

agak berkristal. Tidak berbau. Stabil dalam larutan encer dan disterilkan pada autoclave. 8-11. Stabilitas : Stabil secara kimia. sebagai serbuk kristal putih atau granul. Dalam bentuk anhidrat. residu meninggalkan berupa metaphospat. kering dan suhu dingin. tidak berwarna atau putih. larut dalam air dibawah tekanan. .yang tertutup rapat pada suasana dingin dan tempat yang kering. Pada pemanasan lebih lanjut. Pada pemanasan dengan suhu 100o C. pH. Incomp : Pada umumnya cocok dengan bahan dalam formulasi farmasi dan produk makanan. dan larut air. akan kehilangan air dan terbentuk kristal. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan kebanyakan pelarut. Disimpan pada tempat kedap udara. 3. Disodium phospate Nama resmi Pemerian : Disodium Phospate : Serbuk putih yang merupakan higroskopik kuat. melebur dengan hydrogen suhu 205oC membentuk Pada suhu sodium tersebut sodium pyruposphat.

Rumus struktur : KH2PO4 Pemerian Kelarutan : Serbuk putih. Perhitungan Tonisitas Bahan Ranitidin % b/v 2.9. Monopotassium phospate Nama resmi Nama lain : Potassium dihydrogen phosphate : Potassium phosphate monobasic. eter.8 % ptb 0. phosphoric acid. bau khas : larut dalam 11 bagian air. higroskopik. agak kemerahan.2-11.1 : dalam wadah tertutup baik . Tidak larut dalam alcohol 5. : Larut dalam air 22 g/100 ml pada suhu 25oC.Incomp : incomp dengan bahan alkali dan karbonat. larut dalam etanol. Larutan encer sodium phospat. 4. akan menyebabkan karbonat berbuih. pH antara 7. Penyimpanan a. monopotassium salt. Fenol Nama resmi Nama lain RM Pemerian Kelarutan : Phenolum : fenol : C6H5OH : tidak berwarna. dan gliserol. Perhitungan 1. dalam suasana asam.

5 % - 0.1  2.25  0.24 % x (2x105) = 0.5  0.576 0.28  0.52  0.52  0.0576   (0. Perhitungan Bahan Dibuat 100.0.576 = .Monopotassium phospate Anhydrousdisodium phospate Fenol NaCl 0.576 a) Rumus PTB W = W = 0.096 % x ( 2x105 ) = 0.576 W = W = 0.24 % 0.024   0.000 x 2 ml = 200.5 % x (2x105) = 5600 gram = 192 gram = 240 gram = 1000 gram .24 0. @ ampul 2 ml = 100.029 g/100mL (artinya hipertonis sehingga tidak perlu penambahan zat pengisotonis) 2.8 % x (2x105) = 0.096   0.000 ml Ranitidin Monopotassiumphospate Anhydrousdisodiumphospat Fenol Aqua Pro Injeksi ad (2x105) ml = 2.175 )  0.52  0.35 ) 0.35 0.096 % 0.24  0.25 0.24   (0.8  0.000 ampul.5366 0.

6. 2. Tjay T. 5. Dirtjen POM. Farmakologi . Pharmacy Press.R. Jakarta. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Remington's Pharmaceutical Science. Makassar. Priyambodo B.DAFTAR PUSTAKA 1.1998. 9. II. UI Press. 18th Ed. Jakarta. Mc. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. 7. Parfitt K. 3. Toronto-London. Edisi V. 2010. Jakarta. Edisi III. Farmakope Indonesia. Scoville.Graw-Hill. 2001. Departemen Kesehatan RI. Cara Pembuatan Obat dengan Baik. Yogyakarta. Dirtjen POM. Ditjen POM. Jakarta. dan Rahardja k. 11. 8. Ganiswara S. ”The Art of Compounding”. Book company Inc New York. 2006. Edisi V. (1957). 2007.1979. Cara Pembuatan Obat dengan Baik. Fakultas Farmasi UNHAS. Marck Publishing Co. AnselC. 32nd Ed. 4. 2000. Bagian FKUI. Fatmawaty A. Depkes RI. Martindale The Complete Drug Reference. 10. 2007. 1994. Manajemen Farmasi Industri. Farmasi Industri Ed.H.H. Depkes RI. Global Pustaka Utama. Easton. 1989. Gennaro A. Farmakologi dan Terapi. Obat-obat Penting.

.Si. Apt : Makalah Kelompok INJEKSI RANITIDIN KELOMPOK V : ANDI IRNA SARI STEFANI. Hj. M. Aisyah Fatmawaty.Matakuliah Dosen Jenis Tugas : Farmasi Industri : Dra. S PUMPUN PRAGENTI RITNA ARNIDAH N TAMSIL ARIFIN EVA RUSDYANINGSIH HELDA WIESYE DIAS AMMAR MUBARAK NURHASANAH IDRIS AINUN MTMAINNAH N211 11 016 N211 11 024 N211 11 029 N211 11 161 N211 11 166 N211 11 1 N211 11 1 N211 11 6 N211 11 668 N211 11 676 KELAS: APOTEKER A PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful