SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP

)

Topik/Materi : Herpes Simplex Sasaran Waktu Tempat : Masyarakat di desa Mancar Jombang terutama pada remaja dan bapak-bapak dan ibu-ibu di desa Mancar Jombang : 09.00 – 09.30 WIB (1 x 30 menit) : di balai desa Mancar peterongan Jombang Hari/Tanggal : Selasa, 2 Oktober 2012

A. Latar Belakang Herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) adalah sejenis penyakit yang menjangkiti mulut, kulit, dan alat kelamin. Penyakit ini menyebabkan kulit melepuh dan terasa sakit pada otot di sekitar daerah yang terjangkit. Hingga saat ini, penyakit ini masih belum dapat disembuhkan, tetapi dapat diperpendek masa kambuhnya. Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan herpes zoster , herpes simpleks menyebabkan luka-luka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman (tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi menjadi aktif kembali. aktif tanpa gejala. Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka-luka demam (cold sore) di sekeliling mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes kelamin. Namun HSV-1 dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan HSV-2 dapat menginfeksikan daerah mulut melalui hubungan seks. HSV adalah penyakit yang sangat umum. Di AS, kurang lebih 45 juta orang Herpes dapat

memiliki infeksi HSV – kurang lebih 20% orang di atas usia 12 tahun. Diperkirakan terjadi satu juta infeksi baru setiap tahun. Prevalensi dan kejadian di Indonesia belum diketahui. Angka prevalensi infeksi HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasawarsa terakhir. Sekitar 80% orang dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin. Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di AS, kurang lebih satu dari empat perempuan dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV kelamin berpotensi menyebabkan kematian pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan mempunyai herpes kelamin aktif waktu melahirkan, sebaiknya melahirkan dengan bedah sesar. HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. HSV yang lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah. Ini termasuk orang terinfeksi HIV, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral B. Tujuan 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan masyarakat Jombang di desa??? dapat menerapkan pencegahan dan penanggulangan herpes simplex. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan masyarakat dapat menyebutkan pengertian, gejala, cara mencegah, serta cara menanggulangi influenza minimal 90% dengan benar.
C.

Pokok Bahasan : Herpes Simplex Sub Pokok Bahasan :
1. Pengertian herpes simplex.

D.
2.

Gejala herpes simplex. 3. Cara penularan herpes simplex.

4.

Cara mencegah dan menanggulangi herpes simplex.
E. Kegiatan Belajar Mengajar :

Tahap

Kegiatan Pendahuluan 1. Memberikan dan penyuluhan.

Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Peserta

Media dan Alat Penyuluhan Leaflet.

salam, Memperhatikan diri, membuka materi Memperhatikan kepada mancar

memperkenalkan

2. Menjelaskan

secara

umum

masyarakat dan TIK. 1. Menjelaskan pengertian simplex.

Menjelaskan tentang TIU Memperhatikan Penyajian tentang Memperhatikan herpes Leaflet.

a. Menanyakan kepada Memberikan

masyarakat

desa pertanyaan

mancar apabila ada yang kurang jelas.
b. Menerima

dan Memperhatikan yang tentang Memberikan

menjawab pertanyaan
2. Menjelaskan

diajukan masyarakat. Memperhatikan gejala herpes simplex. masyarakat apabila

a. Menanyakan kepada pertanyaan

ada jelas.

yang

kurang Memperhatikan dan yang Memperhatikan oleh Memberikan

b. Menerima

menjawab pertanyaan diajukan

masyarakat mancar. penularan herpes simplex

3. Menjelaskan tentang cara pertanyaan

a. Menanyakan kepada Memperhatikan

masyarakat ada jelas.
b. Menerima

apabila kurang dan Memperhatikan yang

yang

menjawab pertanyaan diajukan masyarakat
4. Menjelaskan tentang cara Memberikan

mencegah menanggulangi simplex.

dan pertanyaan herpes Memperhatikan apabila kurang dan yang

a. Menanyakan kepada

masyarakat ada jelas.
b. Menerima

yang

menjawab pertanyaan

diajukan masyarakat Penutup mancar 1. Memberikan pertanyaan materi dijelaskan.
2.

Menjawab tentang pertanyaan yang baru diajukan pemateri. Memperhatikan

Leaflet.

yang

Menampung sumbang saran. Memberikan

jawaban yang diberikan Memberikan masyarakat
3.

Mendiskusikan

bersama dengan anggota sumbang saran. penyuluhan
4.

Bersama

Memperhatikan dan materi salam. membalas

masyarakat menyimpulkan 5. yang telah dibahas. Menutup pertemuan dan memberi salam E. Evaluasi :
1. 2.

Apa saja gejala herpes simplex? Bagaimana cara mencegah herpes simplex?

F.

Referensi : Manjur,A.,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FK UI.
Wilkinson,J.M. 2006. Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi

6. Jakarta: EGC G. Lampiran : 1. Materi 2. Media yang digunakan (leaflet)

HERPES SIMPLEX

a) Definisi Herpes simpleks adalah infeksi virus yang menyebabkan lesi atau lepuh pada serviks, vagina, dan genitalia eksterna.( Smeltzer, Suzanne C; 2001). Herpes simpleks adalah suatu penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit,selaput lender, dan sistem saraf. (Price ; 2006) Jadi, dapat disimpulkan herpes simpleks adalah infeksi akut virus HSVtipe I atau tipe II, yang ditandai dengan adanya vesikel dan eritema, juga menyebabkan lesi, lepuh sekitar vagina. b) Etiologi Herpes genetalia merupakan infeksi yang menyebabkan lepuh pada sevis, vagina, dan genetalia eksterna. Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual tetapi juga dapat ditularkan melalui aseksual. Dari herpes yang diketahui ada enam diantaranya yang menyerang manusia yaitu, herpersimplek tipe 1 yanng biasanya menyebabkan luka dingin pada bibir, herpes simplek tipe 2 atau herpes genetalia, varizola zoster, virus Epstein-Barr, sitomegalovirus, Virus B-limfotrofik. HVS-2 tampak sebagai penyebab sekitar 80% dari lesi perineal dan genitalia, HVS-1 dapat menyebabkan 20%. Pada wanita hamildengan herpes aktif, bayi yang di lahirkan pervaginam dapat terinfeksi oleh virus. Risiko mendapatkan infeksi genetalia adalah keaktifan

seksual yang bertambah, , bertambahnya jumlah pasangan seksual, status imun penderita. Faktor pencetus yaitu , koitus, stress emosi, dan obat – obatan. c) Epidemiologi Data- data di beberapa RS di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi herpes genital rendah sekali pada tahun 1992 di RSUP dr.Moewardi yaitu hanya 10 kasus dari 9983 penderita IMS. Namun, prevalensi di RSUD Dr.Soetomo agak tinggi yaitu sebesar 64 dari 653 kasus IMS dan lebih tinggi lagi di RSUP Denpasar yaitu 22 kasus dari 126 kasus IMS (Hakim, 2009). Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik wanita atau pria dengan frekuensi yang sama. Infeksi primer herpes simplek type 1 biasanya dimulai pada masa anak-anak, sedangkan infeksi herpes simplek type 2 biasanya terjadi pada decade II atau III. d) Manifestasi klinis Masa inkubasi umunya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat lebih lama. • Infeksi primer Berlangsung kira- kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise, anoreksia, dan ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional. Tempat predileksi virus HSV tipe I di daerah pinggang ke atas terutama daerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak – anak. Tempat predileksi virus HSV tipe II didaerah pinggang kebawah, terutama daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonates. Cara hubungan seksual urogenital, dapat menyebabkan herpes pada daerah genital yang disebabkan oleh HSV tipe I atau di daerah mulut dan rongga mulut yang disebabkan oleh HSV tipe II. Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seroporulen, dapat menjadi krusta dan kadang – kadang mengalami ulserasi dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks. Pada perabaan tiidak terdpat indurasi. Kadang – kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga member gambaran yang tiddak jelas.

Fase laten: Tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ini, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit. Infeksi rekurens: Reaktivasi HSV pada ganglion dorsalis mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. Dapat dipicu oleh trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, dsb), trauma psikis (gangguan emosional), obat – obatan (kortikosteroid. Imunosupresif), menstruasi, dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang. Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira – kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal local sebelum timbul vesikel, berupa gatal, panas, dan nyeri. Dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat yang berlainan/sekitarnya (non loco). e) Patofisiologi HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat di luar lingkungan yang lembab. HSV memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan membrane sel. Untuk dapat masuk ke dalam sel, tidak diperlukan proses endositosis virus. HSV-1 dan HSV-2 menyebabkan infeksi kronik yang ditandai oleh masa-masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi aktif primer virus menginvasi sel penjamu dan cepat berkembang biak, menghancurkan sel penjamu dan melepaskan banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya. Pada infeksi primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfadenopati. Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di sepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotoksitas atau gejala pada penjamunya. f) Pemeriksaan fisik dan penunjang

Pemeriksaan Diagnostik Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibody VHS. Pada percobaan tzanck dengan pewarnaan geimsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum klien bergantung pada luas, lokasi timbulnya lesi, dandaya tahan tubuh klien. Pada kondisi awal/saat proses peradangan, dapat terjadi peningkatan suhu tubuh atau demam dan perubahan tanda-tanda vital yang lain. Pada pengkajian kulit, ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri, edema di sekitar lesi, dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder. Perhatikan mukosa mulut, hidung, dan penglihatan klien. Pada pemeriksaan genitalia pria, daerah yang perlu diperhatikan adalah bagian glans penis, batang penis, uretra, dan daerah anus. Sedangkan pada wanita, daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan minora, klitoris, introitus vagina, dan serviks. Jika timbul lesi, catat jenis, bentuk, ukuran / luas, warna, dan keadaan lesi. Palpasi kelenjar limfe regional, periksa adanya pembesaran; pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar limferegional. Untuk mengetahui adanya nyeri, kita dapat mengkaji respon individu terhadap nyeri akut secara fisiologis atau melalui respon perilaku. Secara fisiologis, terjadi diaphoresis, peningkatan denyut jantung, peningkatan pernapasan, dan peningkatan tekanan darah; pada perilaku, dapat juga dijumpai menangis, merintih, atau marah. Lakukan pengukuran nyeri dengan menggunakan skala nyeri 0-10 untuk orang dewasa. Untuk anak-anak, pilih skala yang sesuai dengan usia perkembangannya, bisa menggunakan skala wajah untuk mengkaji nyeri sesuai usia; libatkan anak dalam pemilihan. g) Penatalaksanaan Tidak ada penyembuhan untuk infeksi HSV-2, tetapi pengobatan ditujukan untuk menghilangkan gejala. Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah penyebaran infeksi, membuat pasien nyaman, menurunkan risiko kesehatan potensial dan melakukan program konseling dan pendidikan. Asiklovir (Zovirax), suatu

preparat antivirus yang dapat mengganggu perjalanan infeksi, tersedia untuk penggunaan topical, oral, dan intravena. Secara umum, asiklovirmengurangi durasi infeksi dan efektif dalam mengobati dan sering mencegah kekambuhan. (Smeltzer ; 2001) Pengobatan untuk infeksi HSV-2, dapat dilakukan dengan medikamentosa dan non medikamentosa. Medikamentosa a) Belum ada terapi radikal 1) Asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari selama 7 hari 2) Asiklovir 5 mg/kg BB, intravena tiap 8 jam selama 7 hari (bila gejala sistemik berat)
3) Preparat isoprinosin sebagai imunomodulator 4) Asiklovir parenteral atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) untuk

b) Pada episode pertama, berikan :

penyakityang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam. c) Pada episode rekurensi, umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat diobati dengan krim asiklovir. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, diberikan asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres. Non medikamentosa Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut : a) c) Bahaya PMS dan komplikasinya Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya. menghindarkan lagi.
e) Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang.

b) Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan d) Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat

h) Komplikasi

Virus herpes simplek mengakibatkatkan beragam penyakit mulai dari gingivostomatitis (peradangan pada gusi dan mukosa mulut) sampai keratokonjuctivitis (peradangan pada kornea dan konjungtiva), penyakit genital, dan infeksi pada bayi baru lahir, abortus, eritema nodusa. Herpes simplek menjadi penginfeksi yang laten pada sel saraf, dan umumnya terjadi rekurensi (kekambuhan). Menurut keperawatan medical bedah komplikasi jarang terjadi, komplikasinya terjadi karena penyebaran ekstragenital, seperti pada bokong, paha atas atau bahkan pada ata karena menyentuh lesi. Masalah potensial lainnya adalah meningitis aseptic dan stress emosionnal yang berat yang berhubungan dengan diagnosis. i) Prognosis Selama pencegahan rekurens masih merupakan problem , hal tersebut secara psikologik akan memberatkan penderita. Pengobatan secara dini dan tepat memberi prognosis yang lebih baik, yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang. Pada orang dengan gangguan imunitas , misalnya pada penyakit-penyakit dengan tumor di sistem retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama atau fisik yang sangat lemah, menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan dapat fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. (Adhi Djuanda, 2007: 383.)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful