LAPORAN PENDAHULUAN PEMBERIAN CAIRAN INTRAVENA Oleh Riyan Idayati, 1006770955

I.

II.

III.

Pengertian Pemberian caira intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh ke dalam pembuluh darah untuk memperbaiki atau mencegah gangguan cairan dan elektrolit, darah, maupun nutrisi ( Perry & Potter, 2006). Pemberian cairan intravena disesuaikan dengan kondisi kehilangan cairan pada klien, seberapa besar cairan tubuh yang hilang. Pemberian cairan intravena merupakan salah satu tindakan invasive yang dilakukan oleh perawat. Tujuan Tujuan terapi intravena ( Rhoad, J, & Bonnie, J., M, 2001) 1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitmamin, protein, lemak, dan kalori yang tidak bisa dipertahankan mellui oral. 2. Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit 3. Memperbaiki keseimbangan asam basa 4. Memberikan transfuse darah 5. Memberikan medium untuk pemberian obat intravena 6. Membantu pemberin nutrisi secara parenteral Kompetensi Dasar Lain yang Harus Dimiliki untuk Melakukan Tindakan Perawt harus mengetahui jenis dan ukuran kanula infuse, jenis cairan yang akan iberikan, cara menghitung tetesan infuse. Kanula infuse yang digunakan harus yang mudah dimasukkan, menggunakan trauma yang sedikit ( gunakan yang terkecil ) dan alirannya lancar. Ukuran kanula yang digunakan tergantung dari tjuan pemberian infuse, tipe cairan, ukuran atau kondisi vena. - 18 gauge ( ungu) untuk darah atau memasukkan banyak cairan - 20 gauge ( pink) untuk pemberian obat yang lama atau pemberian 2-3 liter cairan/hari - 22 gauge ( biru) untuk emberian obat yang lama, klien kanker dan vena kecil. - 24 gauge ( kuning) untuk bayi, anak atau dewasa yang enannya kecil/ rapuh. Cara menghitung tetesan infuse: Rumus : V cairan ( ml) X factor tetes Waktu pemberian X 60 jam Jenis cairan infuse : 1. Berdasarkan osmolalitas dibagi menjadi: a. Isotonic ( 245-340 mOsm/L)

Contohnya. Tujuan cairan hipotonik adalah untuk menggantikan cairanseluler dan menyediakan air bebas untuk ekskresi sampah tubuh. dextrose 20 % dalam air.9 %. Contoh cairan isotonic yaitu NaCl 0. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan(volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. D 5% alam RL. Hipotonik ( < 245 mOsm/L) Suatu cairan atau larutan yang memiliki osmolalitas lebih kecil daripada osmolalitas plasma. Hipertonik ( >375 mOsm/L) Suatu cairan/larutan yang mempunyai osmolalitas lebih tinggi daripada osmolalitas plasma. ringer laktat.45%. 2005). Contohnya. plasma). Cairan isotonic digunakan untuk mengganti volume ekstrasel. dan tetap berada dalam pembuluh darah.Suatu cairan/atau larutan yang memiliki osmolalitas sama atau mendekati osmolalitas plasma. misalnya kelebihan cairan setelh muntah yang berlangsung lama. an NaCl 0.dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Cairan ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan penyakit ginjal dan jantung serta pasien dengan dehidrasi. Kristaloid Bersifat isotonik. Cairan ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan risiko peningkatan TIK. NaCl 0. Cara menghitung kebutuhan cairan : 1. ringer laktat.5 % dalam NaCl 0. penurunan tekanan darah. klien arus dipantau dengan teliti. Perpindahan airan terjadi dari kompartemen intravaskuler ke dalam sel. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. c. Perpindahan cairan dari sel ke intravaskuler. Koloid Ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akankeluar dari membran kapiler. Pemberian cairan ini biasanya menyebabkan dilusi konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk ke dalam sel untuk memperbaiki keseimbangn di intrasel dan ekstrasel. edema seluler. dextrose 10 % dalam air.9 %. Contoh cairan hipertonik yaitu dextrose 5% dalam salin 0. komponen-komponen darah ( albumin 5%. dextrose 5% alam air ( D5W). sel tersebut akan membesar atau membengkak. Pemberian airan hipotonik yang berlebihan akan mengakibatkan dplesi cairan intravaskuler. Karena larutan ini dapat menyebbkan komplikasi serius.pemberian cairan hipertonik yang cepat dapat menyebabkan kelebihan dalam sirkulasi dan dehidrasi. Pembagian caran berdasarkan kelompoknya: a. 2. sehingga menyebabkan sel-sel nya mengkerut. albumin dan steroid. Batas osmolalitas cairan tubuh normalnya yaitu 280-295 mOsm/L( Philips. Contoh cairan hipotonik yaitu dextrose 2. b. b.2 %. kerusakan sel.45 %. albumin 25. makasifatnya hipertonik. Berdasarkan berat badan Rumus: 50ccxkgBB/24 jam * setiap kenaikan suhu 1 C diberi tambahan 12-15 % .

luka bakar. kwashiorkor. tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik.  Ringer laktat : deficit ECF seperti kehilangan cairan karena luka bakar. trauma dan pasca operasi. jumlah cairan ( ml ) x factor tetes = ………. total parenteral nutrition.tetes/menit waktu pemberian x 60 menit IV. serta klien yang mengalami kehilagan Na>NaCl.tetes/menit 60 menit 2.45% : klien dengan hipovolemik dengan hiponatremia  NaCl 0. Kontraindikasi  Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi .  NaCl 0. kebutuhan metabolic yang meningkat ( missal luka bakar. serta asidosis metabolic.  KA-EN 1B : sebagai larutan awal bila status elektrolit belum diketahui seperti pada kasus emergensi ( dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. demam berdarah dengue ( DHF).  Aminovel – 600 : nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI.45% : sebagai cairan awal untuk hidrasi  Dekstrosa 5% dengan NaCl 09 % : deficit ECF pada pasien dengan penurunan jumlah Na atau Cl serta asidosis metabolic. perdarahan dan dehidrasi. meningkatkan volum cairan intraseluler dan diberikan jika RL tidak cocok (alkalosis.ml/jam ml/jam x drip tetes = ………. Indikasi. Kontraindikasi. dehidrasi berat. 1. retensi K+) untuk klien yang mengalami trauma kepala serta mengencerkan eritrosit sebelum tranfusi. penderita GI yang dipuaakan. syok hemoragik.demam ). missal diare  Dekstrosa 5% : mengganti kekurangan cairan tubuh dan tidak boleh diberikan kepada klien yang mengalami trauma kepala  Dekstrosa 5% dengan NaCl 0.  KA-EN 4A : larutan rumatan untuk bayi dan anak. pasca operasi.2.  Amiparen : infeksi berat. 2. dan Komplikasi. jumlah cairan : waktu pemberian = ……. Indikasi:  Asering : dehidrasi ( syok hipovolemik dan asidosis ) pada kondisi: gastroenteritis akut. trauma dan digunakan sebgai nutrisi.9 % : rehidrasi. berdasarkan kebutuhan kalori/hari Rumus :kebutuhan energy/hari (kkal) x 1 ml Cara menghitung tetesan infuse : 1. > 24 jam pasca operasi..

Set infuse 4. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam caira infuse ke dalam pembuluh darah.       Daerah yang berwarna merah. Sarung tangan bersih sekali pakai 2 buah 8. 3. Larutan yang benar 2. pingsan dan dispnea  Kelebihan volum cairan : kondisi yang disebabkan ketika terlalu banyak volum cairan yang dimasukkan ke dalam system sirkulasi. terjadi akibat ujung jarum infuse melewati pembuluh darah. terjadi kibat infuse yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. kenyal. Komplikasi  Hematoma. Tnda : meningkatnya tekanan darah. bengkak dan hangat jika disentuh Vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area flebitis Vena yang sklerotik atau bertrombus Lengan dengan pirai arteriovena atau fistula Lengan yang mengalami edema. VI. Tanda : sakit kepala. Torniket 7. bekuan darah. kesulitan berbapas ( dyspnea) Alat dan Bahan 1. Plester 10.  Emboli udara. atau bengkak ( inflamasi) pada pembuluh vena. atau tusukan berulang pada pembuluh darah. yakni masuknya cairan infuse ke dalam jaringan sekitar ( bukan pembuluh darah ). Handuk/pengalas tangan 11.  Tromboflebitis. Gunting Anatomi Target Tindakan . Tiang IV 13.  Syok ringan. tubuh bereaksi terhadap zat yang diinjeksikan ke dalam system sirkulasi yang terlalu cepat. Kasa atau balutan transparan dan larutan atau salep yodium-povidon 9.  Infiltrasi. nadi cepat. Bengkok 14. Jarum yang sesuai ( abbocath. wing needle/butterfly) 3. Alcohol dan swab pembersih yodium-povidon 6. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. Kain dan perlak alas 12. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. yakni darah yang menggumpal dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh arteri vena atau kapiler. infeksi. atau kerusakan kulit Lengan pada sisi yag mengalami maektomi (alian balik vena terganggu) Lengan yang mengalami luka bakar V. Selang intravena 5.

Vena cafalika : tidak mengganggu mobilisasi namun pada oranggemuk lebih sulit dicari. Cuci tangan 4. Baca status dan data klien untuk memastikan program terapi IV 2.Pemasangan IV didaerah ini terasa lebih nyeri karena banyak ujungsaraf. . Cek alat-alat yang akan digunakan 3.Hindari pemasangan di bagian dominan karena mengganggu kemandirian lansia. Prosedur. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien . Aspek Keamanan dan Keselamatan .- Vena metacarpal : terdapat dipunggung telapak tangan. Vena basalika : nyeri Vena mediana basilica : mudah didapat karena vena lebih besar dan dekat dengan arteri brakhialis VII.Minimalkan pemakaian plester karena jaringan kulit lansia rapuh VIII. Beri salam dan panggil klien sesuai dengan namanya 5.Pasang traksi pada kulit di bawah tempat insersi . Pada orang tua.Pada klien lansia sebisa mungkin gunakan jarum yang ukurannya paling kecil untuk mengurangi trauma pada vena dan memungkinkan aliran darah lebih lancar sehingga hemodilusi cairan IV atau obat-obatan meningkat. 1. Perkenalkan nama perawat 6. vena metacarpal lebih mudah pecah.Gunakan tourniquet yang tidak terlalu kencang. . .

terkonsentrasi. obat tambahan. Lepaskan pembungkus lubang slang IV pada kantung larutan IV plasyik tanpa menyentuh ujung tempat masuknya alat set infuse. pertahankan sterilitas kedua ujungnya 17. Periksa nadidistal. dan tusukkan jarum ke lubang kantong IV. fiksasi vena dengan menempatkan ibu jari tangan yang tidak memegang alat infuse di atas vena dengan cara meregangkan kulit. 25. klemdioffkan dan penutup ujung selang infus ditutup 22. Lakukan penusukan dengan sudut 20-30°. Untuk botol bersihkan stopper pada botol dengan menggunakan antiseptic dan tusukan jarum ke karet hitam stopper botol IV. tusuk perlahan dengan pasti. Beri label pada IV dengan nama pasien. Jika tampak aliran darah balik. kecepatan pemberian. 29. Tusukkan set infuse ke dalam kantong atau botol cairan ( untuk kantong. Tinggikan tempat tidur sampai ketingian kerja yang nyaman 13. lepaskan dulu torniket dan ulangi lagi setelah beberapa menit) 28. Klien yang alergi terhadap yodium. Isi selang infus dengan cairan. 20. Jaga privasi klien 11. Pilih vena yang berdilatasi baik. 27. jangan menyentuh jarumnya. lepaskan penutup protector dari jarum insersi selang. Lakukan pungsi vena. Jelaskan tujuan tindakan yang dilakukan 8. Tanyakan keluhan klien saat ini 10. Kenakan sarung tangan sekali pakai. dengan gerakan sirkuler daritempat insersi ke daerah luar dengan larutan yodium —povidon. dimulai dari bagian distal. Pastikan torniket bisa menghambat aliran IV. Setelah selang terisi. Bersihkan tempat insersi dengan kuat. 23. Letakkan klien dalam posisi semifowler atau supine jika tidak memungkinkan (buat klien senyaman mungkin) 14. Periksa larutan dengan menggunakan lima benar dalam pemberian obat 16. sehingga sarung tangan menjadi double. Posisikan tangan yang akan diinsersi lebih rendah dari jantung. 19. Identifikasi aksesibilitas vena untuk pemasangan kateter IV atau jarum 26.7. Letakkan klem yang dapat digeser tepat di bawah ruang drip dan gerakkan klem pada posisi off 18. Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur klien 12. Buka kemasan steril dengan meanggunakan tehnik steril dan sarung tangan bersih 15. minta klien untuk mengepal dan membuka tangan ( apabila belum menemukan vena yang cocok. biarkan sampaikering. 30. mengindikasikan jarum telah masuk vena . Buka set infus. di atas fossa antekubital atau 10-15 cm di atas tempat insersi yangdipilih (jangan memasang torniket ter lalu keras untuk menghindari adanya cidera atau memar pada kulit). pastikan tidak ada udara dalam selang (terlebih dululakukan pengisian pada ruang tetesan/the drip chamber). pasang torniketmengitari lengan. Gantungkan botol infus yang telah dihubungkan dengan set infus pada tempat yangtelah disediakan (pertahankan kesterilan set infus) 21. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya 9. Pasang perlak kecil/pengalas di bawah lengan/tangan yang akan diinsersi 24. gunakan alkohol 70 % selama 30 detik.

6th Ed. Respon terhadap pemberian cairan IV 3. Louise. Tipe cairan 2. 4th Ed. USA: Elsevier. Tempat insersi 4. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu) Hal yang Perlu Didokumentasikan 1. periksa ujung kateter terhadap adanya embolus. and Practice. S. (2006).Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril. McCann. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins. dan Workman.Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi. Phillips. X. (2008). Kecepatan aliran 6. IV Therapy Notes: Nurse’s Clinical Pocket Guide. J. A. St.1. Jumlah yang diinfuskan 5. MI: Elsevier Mosby.Clinical Nursing Skill & Technique . Nursing Procedures . Hal Penting yang Harus Diperhatikan Perawat . _______. (2004). (2005). D. & Bonnie. MI: Elsevier Mosby. Ukuran dan tipe kateter atau jarum 8.Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir. L. . P. Davis Company . A. Waktu infuse dimlai 10. China: Imago. Fundamental of Nursing: Concepts. Inc. . .Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain.Jika infus tidak diperlukan lagi. USA: F. 4 th Ed.Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Respon terhadap pemberian cairan IV Referensi : Ignatavicius. Process.. D. St. G. Medical-Surgical Nursing: Critical Thinking for Collaborative Care. A. . (2005).Vol.Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru. M. . (1997). lalu cabut jarum infus perlahan. Rhoad. M. Clinical Nursing Skill . & Perry. Kepatenan system IV 9.IX. L. D. Potter. J. A. Inc. 5th Ed. J. Integritas kulit 7. Louise. buka fiksasi pada lokasi penusukan .

Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah .Memelihara dan mempertahankan kesehatan donor . harus diperhatikan jenis aglutinogennya.Memelihara dan mempertahankan volum darah yang normal dalam peredaran darah ( stabilitas peredaran darah) . Menghitung jumlah kehilangan darah : Kehilangan darah dapat dihitung menggunakan rumus: EBV = weight ( kg ) x average blood volume Dengan rata-rata nilai volum darah sbb: Average blood volume Age blood volum Premature neonates 95 mL/kg Full term neonates 85 mL/kg Infants 80 mL/kg Adult men 75 mL/kg Adult women 65 mL/kg Adapun penggantian kehilangan cairan tiap mililiternya dapat menggunakan cairan atau darah dengan ketentuan :  Bila kehilangan darah < 10% maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid dengan angka perbandingan kehilangan darah dan angka kristaloid adalah 1:3 .Memperbaiki fungsi homeostatis .Mengganti darah yang hilang akibat perdarahan . II. Pengertian Transfusi darah adalah pemberan darah lengkap atau komponen darah seperti plasma. Golongan darah O bersifat donoe universal dan golongan darah AB bersifat resipien universal. sedangkan pada resipien adalah aglutininnya. sel darah merah kemasan.Meningkatkan oksigenasi jaringan .Memelihara keadaan biologis darah dan komponen-komponennya agar tetap bermanfaat . atau trombosit melalui jalur intravena(IV).LAPORAN PENDAHULUAN TRANSFUSI DARAH Oleh Riyan Idayati.Melaksanakan fungsi kolaborasi dengan dokter .1006770955 I. B. dan O. AB. III.Tindakan terapi kasus tertentu. Pada pelaksanaan transfuse darah yang penting diperhatikan adalah pada donor. Menurut Loustiner golongan darah ada 4 : golongan darah A. Tujuan . Kompetensi dasar lain yag harus dimiliki Mengetahui jenis dan sifat dari golongan darah.

pada kasus DHF dan DIC supaya merujuk pada penatalaksanaan masing-masing. pada bayi transfusi sudah hrus diberikan bila kehilangan 10% EBV. profilaksis pada pasien dengan defisiensi fibrinogen yang akan menjalani prosedur invasive dan terapi pada pasien yang mengalami perdarahan Komplikasi : 1. prosedur infasif lainnya ayau sesudah tranfusi massif. dan komplikasi Indikasi : 1. palpitasi. Packed Red Blood Cell Secara umum dipakai pada pasien anemiayang tidak disertai peurunan volum darah atau pada pasien dengan perdarahan lambat ( missal pasien dengan anemia hemolitik. penyakit keganasan. kontraindikasi. albumin dan globulin 4. Kriopresipitat Pada pasien dengan penyakit hemophilia A ( kekurangan factor VIII) dan penyakit von Willebrand yang mengalami perdarahan atau yang tidak responsive terhadap pemberia desmopresin asetat atau akan menjalai operasi. leukemia akut.000uL. Perdarahan akut. Profilaksis dilakukan bila hitung trombosit <50.000/uL pada pasien yang akan menjalani operasi. talasemia. pusing dan gelisah ) 3. mata berkunang. Pasien dengan kelainan fungsi trombosit yang mengalami perdarahan. reaksi imunologis  Reaksi transfuse hemolitik . dan perdarahan perdarahan kronis yang ada tanda oksigen need ( rasa sesak. Whole blood ( darah lengkap) Pada perdaraha massif yang kehilangan darah lebih dari 20%. gagl ginjalkronis.  Sedangkan bila kehilangan darah mencapai 10%-20% maka dapat digantikan dengan cairan koloid dengan angka perbndingan kehilangan darah dan koloid adalah 1 : 1 Adapun bila kehilangan darah > 20% maka harus digantikan dengan transfuse darah baik whole blood maupun Packed Red Blood Cell dngan angka perbndingan kehilngan darah dan darah sebear 1:1 IV. Trombosit Mengatasi perdarahan pada pasien dengan trombositopenia bila hitung trombosit <50. Plasma Untuk mengatasi shok ( sebelum darah dating ) Memperbaiki volum sirkulasi darah Mengganti protein plasma yang hilang pada luka bakar yang luas Mengganti dan menambah jumlah factor-faktor tertentu yang hilang misalnya fibrinogen. anemia hipoplastik kronik. shock hipovolemik serta bedah mayor dengan perdarahan > 1500ml 2. - - - Indikasi. bila terdapat perdarahan mikrovaskular difus batasnya menjadi < 100. 5.000/uL. leukemia kronik.

. mual. Anatomi target tindakan .Plester .  Reaksi transfuse nonhemolitik . Reaksi non imunologi  Reaksi transfuse ― pseudohemolytic‖  Reaksi yang disebabkan oleh volumyang berlebihan  Reaksi karena darah transfuse terkontaminasi  Virus hepatitis. takikardi. panas. panas. gunting dan com ) .Tranfusi set steril .Pemasangan IV didaerah ini terasa lebih nyeri karena banyak ujungsaraf.Tourniquet . perdarahan yag tidak bisa diterangkan asalnya dan ikterus. nyeri kepala. mual.Standar infus . nafas cepat dan dangkal.Reaksi alergianaphylactoid ( bila terjadi protein asing pada darah transfuse).Kasa steril .Cairan steril sesuai instruksi .Tempat sampah . . oliguri.Obat antihistamin . hemoglobinuri. muka penderita sembab) 2. Pada orang tua. malaria.Bengkok .Perlak dan pengalas . bendungan vena leher.Darah atau plasma . sifilis  AIDS V.Bidai atau ( k/p pada anak ) .Reaksi transfuse ―febrile‖ tanda : menggigil. hipotensi.Vena cafalika : tidak mengganggu mobilisasi namun pada oranggemuk lebih sulit dicari. nyeri kepala.Formulir observasikhusus dan alat tulis VI.Instrumens steril ( pinset.Sarung tangan .Salf antibiotik .Lisis sel darah donor oleh antibody resipien Lisis sel resipien oleh antibody darah transfuse secara massif tanda : menggigil. kemerahan pada muka. muntah.Vena basalika : nyeri - .Tensimeter dan termometer . nyeri dada. batuk yang tidak produktif . vena metacarpal lebih mudah pecah. nyeri otot.IV kateter sesuai ukuran ( 18 ) .Vena metacarpal : terdapat dipunggung telapak tangan. Alat dan bahan .Kapas alkohol . urtikaria ( paling sering terjadi dan penderita merasa gatal-gatal.

Mengontrol kembali darah yang akan diberikan kembali kepada pasien . Prosedur Tahap orientasi 1.  Pasang traksi pada kulit di bawah tempat insersi  Minimalkan pemakaian plester karena jaringan kulit lansia rapuh VIII. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya Tahap kerja 1. Meletakan perlak dan pengalas di bawah lwngan pasien 5. Menyiapkan larutan NaCl 0. Mengukur tanda vital 3.9 % 7. Memasang infus NaCl 0. Membebaskan lengan pasien dari baju 4.- Vena mediana basilica : mudah didapat karena vena lebih besar dan dekat dengan arteri brakhialis VII. Memberi salam 2. Mengatasi tetesan tetap lancar 8. Menjelaskan prosedur tindakan ke pasien atau keluarga 4. Memastikan tidak ada udara didalam selang infus 9. Aspek keamanan dan keslamatan  Pada klien lansia sebisa mungkin gunakan jarum yang ukurannya paling kecil untuk mengurangi trauma pada vena dan memungkinkan aliran darah lebih lancar sehingga hemodilusi cairan IV atau obat-obatan meningkat.  Hindari pemasangan di bagian dominan karena mengganggu kemandirian lansia. Menanyakan adanya keluhan 3.9 % dengan tranfusi set 6. Menggunakan sarung tangan 2.  Gunakan tourniquet yang tidak terlalu kencang.

Mengatur tetesan darah Tahap terminasi 1. dkk.9 % dengan darah setelah 15 menit 11. Referensi : Raharjo. 2002.yanmedikdepkes. Mengganti cairan NaCl 0. Melakukan kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya 5. Diakses dari: http://www. tiap 15 menit untuk jam berikutnya dan tiap 1 jam sampai dengan tranfusi selesai IX. E. Mengakhiri kegiatan 6.int/bct/Main_areas_of_work/Resource_Centre/CUB/English/Hand book.Nomor kantong darah . jenis transfusi yang diberikan.Hasil cross test dan jumlah darah 10. Mengganti adanya reaksi transfusi dan komplikasi 2. Menyimpulkan hasil kegiatan 4. Merapikan alat 7. dosis. Transfusi Komponen Darah Indikasi dan Skrening.Identitas -Jenis dan golongan darah . Mengukur tanda vital tiap 5 menit untuk 15 menit pertama. Mengevaluasi perasaan pasien 3. Didapat dari : URL:http://www. Mencuci tangan 9. 2003. The Clinical Use of Blood: Handbook. Melepas sarung tangan 8.who.Wanita .Tanggal kadaluarsa . Geneva. reaksi transfusi atau komplikasi.pdf .doc WHO. Hal yang harus didokumentasikan Mendokumentasikan setiap tindakan : waktu pemberian.net/hta/Hasil%20Kajian%20HTA/2003/Transfusi%20Komp onen%20Darah%20Indikasi%20dan%20Skrining..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful