P. 1
Intensitas Cahaya Pada Siang Hari Di Dataran Tinggi Di Indonesia

Intensitas Cahaya Pada Siang Hari Di Dataran Tinggi Di Indonesia

|Views: 128|Likes:
Published by Anas Muhammad

More info:

Published by: Anas Muhammad on Mar 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

Intensitas cahaya pada siang hari di dataran tinggi di Indonesia (1000 m dpl) adalah sebesar 50.000 lux.

Oleh karena itu untuk memperoleh intensitas cahaya yang sesuai bagi tanaman krisan diperlukan naungan misalnya dengan paranet. Fungsi paranet selain untuk mengurangi intensitas cahaya juga dapat mengurangi suhu udara lingkungan tanaman (Anonim, 2002). Hasil tanaman yang baik diperoleh melalui perlakuan yang tepat pada tanaman. Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman krisan yang baik diperlukan adanya usaha-usaha perbaikan budidaya tanaman krisan antara lain dengan mengatur intensitas cahaya yang tepat bagi tanaman krisan karena intensitas cahaya berhubungan erat dengan aktifitas fotosintesis tanaman (Ashari, 1995). Tanaman krisan bukan tanaman asli Indonesia, namun berasal dari Cina dan Jepang yang merupakan daerah subtropis, sehingga apabila tanaman tersebut dibudidayakan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia maka banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah intensitas cahaya matahari yang diterima oleh tanaman krisan. Tanaman krisan memerlukan cahaya pada siang hari sebesar 32.000 lux untuk pertumbuhan yang optimal (Effendi dan Marwoto, 2003). Intensitas cahaya pada siang hari di dataran tinggi di Indonesia (1000 m dpl) adalah sebesar 50.000 lux. Oleh karena itu untuk memperoleh intensitas cahaya yang sesuai bagi tanaman krisan diperlukan naungan misalnya dengan paranet. Fungsi paranet selain untuk mengurangi intensitas cahaya juga dapat mengurangi suhu udara lingkungan tanaman (Anonim, 2002). Pemberian naungan pada berbagai stadia pertumbuhan berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, berat 100 biji, dan produksi biji kering pada berbagai macam varietas tanaman kedelai. Pemberian naungan 20% memberikan hasil yang lebih baik apabila diaplikasikan pada awal pengisian polong dibandingkan dengan awal tanam atau awal berbunga (Herawati dan Saaludin, 1995). Hasil penelitian tanaman anggrek, tanaman yang mendapat intensitas cahaya 55%, menghasilkan daun terlebar, dan pembentukan tunas terbaik dibandingkan tanaman yang mendapat perlakuan intensitas cahaya 65% dan 75% (Widiastoety dan Bahar, 1995). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Widiastoety, dkk (2000), yang menunjukkan tanaman yang dihadapkan pada intensitas cahaya 55% memberikan produksi bunga dan lebar daun tertinggi serta pembentukan tunas terbaik, sedangkan naungan 75% menyebabkan tanaman menghasilkan panjang tangkai bunga tertinggi

Intensitas cahaya yang diturunkan dari 75% menjadi 55%, menyebabkan penurunan bobot kering tajuk. Menurunnya intensitas cahaya dapat berpengaruh pada bobot kering tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Harjadi (1991), besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis menunjukkan biomassa, sedangkan besarnya biomassa dalam jaringan tanaman mencerminkan bobot kering Peningkatan intensitas cahaya dari 75% menjadi 100% menyebabkan bobot kering tajuk menurun, dengan meningkatnya intensitas cahaya maka akan meningkatkan suhu lingkungan tanaman, yang mengakibatkan respirasi tanaman meningkat (Dwidjoseputro, 1996), sehingga hasil fotosintesis bersih (biomassa) yang tersimpan dalam jaringan tanaman sedikit, menyebabkan bobot kering tajuk pada tanaman dengan perlakuan intensitas cahaya 75% lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas cahaya 100%. Kendala budidaya talas di pekarangan antara lain kanopi rapat, sehingga intensitas cahaya yang diterima tanaman rendah. Unsur radiasi matahari yang penting bagi tanaman ialah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Bila intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh setiap luasan permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah (Gardner et al., 1991). Kondisi kekurangan cahaya berakibat terganggunya metabolisme, sehingga menyebabkan menurunnya laju fotosintesis dan sintesis karbohidrat (Chowdury et al., 1994 ; Sopandie et al., 2003).

Prasetyo dan N. Jakarta. Universitas Jambi. Dalam: http://pustaka. 197 hal. Ashari.id. Cruz (1997) menyatakan naungan dapat mengurangi enzim fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi CO2 dan menurunkan titik kompensasi cahaya. Vol.A. Majalah Ilmiah Universitas Jambi No. tanaman yang toleran terhadap naungan mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Effendi.. Secara genetik. Widiastoety. 1985). 1995. Naungan 50% pada padi genotipe peka menyebabkan jumlah gabah/malai kecil serta persentase gabah hampa yang tinggi. S. 44. Jurnal Holtikultura 4 (5) : 72-75. 1996.. Badan Penelitian dan Pengembangan Holtikultura. Pola Night Break untuk Efisiensi Energi Listrik pada Usaha Krisan. dan Saaludin. Anonim.7 umol m 2 -1 -2 -1 - s ). UI Press. Dwijoseputro. 231 hal.. Aspek Produksi Bunga Potong. dan B. 4. T. Dalam : Jurnal Holtikultura No. sehingga produksi biji rendah (Sopandie et al. Gramedia. 1994). Harjadi. S. W. 485 hal. ubi jalar (Nurhayati et al. Wirawati et al.. Hortikultura Aspek Budidaya. 2003). 2003). hal 302-306. Keadaan ini dapat dicapai apabila respirasi juga efisien (Sopandie et al. hal 59-65. D. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.. jagung (Andre et al. Pengantar Agronomi.. Gramedia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 9. Pengaruh Naungan Pada Berbagai Stadia Pertumbuhan Terhadap Hasil Dan Komponen Hasil Tiga Varietas Kedelai (Glycine max (L) Merr). Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Anggrek Dendrobium. Salvania... 1991. Marwoto. Jakarta.go. 1997). 1993). dan talas (Caiger. 2002. 1995. 2003. 2000. Mohr dan Schopfer (1995) menyatakan kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap lingkungan ditentukan oleh sifat genetik tanaman. 2000).Pada kondisi kekurangan cahaya.. padi gogo (Supriyono et al. 2002). Dafar pustaka Herawati.bi. Intensitas cahaya rendah menurunkan hasil kedelai (Asadi et al. D. 1995. Pengaruh Naungan Terhadap Produksi Tiga Kultivar Bunga Anggrek Dendrobium. Taiz dan Zeiger (1991) menyatakan distribusi spektrum cahaya matahari yang diterima oleh daun di permukaan tajuk (1900 umol m s ) lebih besar dibanding dengan daun di bawah naungan (17. 1986 . Widiastoety. Dalam: http://www. . sehingga menyebabkan meningkatnya gabah hampa (Chaturvedi et al. D dan F..bogor. Jakarta. Pengaruh intensitas cahaya rendah terhadap hasil pada berbagai komoditi sudah banyak dilaporkan. K. Bahar.net. Intensitas cahaya rendah pada saat pembungaan padi dapat menurunkan karbohidrat yang terbentuk. tanaman berupaya untuk mempertahankan agar fotosintesis tetap berlangsung dalam kondisi intensitas cahaya rendah. Pada kondisi ternaungi cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis sangat sedikit. Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang mekanisme adaptasi tanan talas terhadap intensitas cahaya rendah. S..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->