I Sistem Kerja Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) - Panitia/pejabat penerima hasil pekerjaan, berdasarkan Peraturan

Presiden No.54 Tahun 2010, wajib ditunjuk dengan surat keputusan Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran pada setiap satuan kerja setiap awal tahun bila menggunakan APBD. Namun bila menggunakan APBN, pengangkatan pengelola pengadaan (PPK, ULP yang ditunjuk oleh satker yang bersangkutan, dan PPHP) dapat diangkat dan diberlakukan tanpa mengenal batas akhir pemberlakuan anggaran (Perpres 53/2010). Jumlah anggota PPHP disesuaikan dengan kompleksitas dan nilai pekerjaan. Untuk pengadaan barang/jasa s.d. Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) hanya pejabat dan pekerjaan bersifat sederhana dapat dilakukan oleh satu pejabat penerima hasil pekerjaan. Semua proses serah terima pekerjaan harus diketahui (ditandatangani) oleh PPHP termasuk dalam proses pengadaan langsung, khususnya untuk pekerjaan yang menggunakan SPK sebagai dasar pembayaran. Meskipun pada prinsipnya penyerahan barang/jasa oleh Penyedia ditujukan kepada PPK. Panitia/Pejabat pemeriksa hasil pekerjaan bertugas menerima dan memeriksa pekerjaan yang kemudian dilaporkan ke PPK. Serah terima barang/jasa selanjutnya kepada PA/KPA dilakukan oleh PPK (pasal 11 ayat (1) huruf g). PPHP hanya bertugas untuk memastikan barang/jasa yang diterima sesuai dengan spesifikasi dan waktu yang sudah ditetapkan sebagaimana ketentuan di dalam kontrak beserta lampirannya. BA Serah Terima tersebut selanjutnya diserahkan ke PPK untuk ditindaklanjuti. Bilamana terdapat indikasi adanya mark up, dapat disampaikan kepada aparat pemeriksa internal disertai dengan bukti yang cukup. Pejabat/Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) bertugas memeriksa dan menerima penyerahan barang/jasa dari penyedia untuk setiap paket sesuai yang tercantum didalam kontrak. Pemeriksaan barang tidak harus dilakukan sekaligus pada akhir kegiatan. Tetapi dapat dilakukan secara bertahap. Misalnya untuk acara seminar di hotel, pemeriksaan jasa akomodasi dapat dilakukan pada akhir acara tetapi pemeriksaan seminar kit dilakukan sebelum acara dimulai, karena seminar kit tersebut sudah habis dibagikan pada akhir acara. Di samping itu PA/KPA harus menyediakan anggaran yang cukup untuk menunjang pelaksanaan kegiatan dari PPHP tersebut. Berita acara dibuat pada waktu penyerahan barang/jasa dari Penyedia kepada Panitia/Pejabat pemeriksa hasil pekerjaan (PPHP). Keterlambatan penyerahan pekerjaan karena kesalahan pengguna barang (PPK/PPHP), maka penyedia tidak dikenakan denda. Oleh karena itu jadwal serah terima pekerjaan harus disepakati terlebih dahulu antara pengguna (PPK/PPHP) dengan penyedia dengan memperhatikan ketentuan yang ada di dalam kontrak. Tugas Panitia Pemeriksa Barang sama dengan tugas serta kewenangan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan. Bila memungkinkan nama dengan istilah pada Pepres No.54 Tahun 2010 saja yang digunakan. Namun bila hal tersebut bermasalah dengan pencairan honor dapat digunakan istilah lama untuk sementara waktu hingga dilakukannya perubahan istilah di DIPA (revisi POK), tidak masalah menunjuk orang yang sama untuk kedua kepanitiaan tersebut.

PPHP dapat mencantumkan persetujuan atas serah terima tersebut di dalam kuitansi yang ditandatangani oleh PPK. sepanjang kedua aturan tersebut tidak bertentangan. Untuk nilai tersebut (tidak menggunakan SPK). Pejabat penyimpan dan pengurus barang tidak diatur dalam Peraturan Presiden No. PPHP hanya bertanggung-jawab pada proses pemeriksaan dan penerimaan hasil pekerjaan saja. sehingga PPHP tetap melakukan penerimaan pekerjaan walaupun untuk nilai sampai dengan Rp10. Penyimpanan dan pengurusan hasil pengadaan tidak lagi menjadi tugas PPK.00 (sepuluh juta rupiah). Jumlah anggota PPHP disesuaikan dengan kompleksitas dan nilai pekerjaan. maka gunakan peraturan yang lebih tinggi. Kemudian PPHP menyerahkan hasil pekerjaan tersebut kepada PPK. Pejabat penyimpan dan pengurus barang tidak terkait dalam proses pengadaan barang jasa.54 Tahun 2010 maupun ketentuan Permendagri No.00 (seratus juta rupiah) dan pekerjaan bersifat sederhana dapat dilakukan oleh satu pejabat penerima hasil pekerjaan. PPHP merekomendasikan kepada PPK untuk mengganti barang tersebut. Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp100. Namun penyerahan pekerjaan tersebut kepada PPK baru dapat dilakukan bilamana disetujui Panitia/Pejabat Pemeriksa Hasil Pekerjaan adalah Penyedia Barang/Jasa. PPHP bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan dari Penyedia dan menuangkannya didalam Berita Acara Serah Terima Barang. Dalam hal terdapat ketidaksesuaian antara kedua peraturan tersebut. PPHP tidak boleh menerima barang yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam kontrak. Jika jabatan tersebut dibutuhkan sesuai dengan ketentuan perundang undangan. Mekanisme pemeriksaan hasil pekerjaan dapat mengacu kepada Peraturan Presiden No.000. Mengingat proses pengadaan barang dan jasa dinyatakan selesai jika telah dilakukan pembayaran pekerjaan/masa pemeliharaan berakhir. Hal ini digunakan untuk sementara waktu hingga dilakukannya perubahan istilah di DIPA (revisi POK).Penyerahan barang/jasa dilakukan oleh Penyedia Barang Jasa.000. Penerimaan barang dilakukan setelah ada persetujuan dari PPHP. jika tugas dan wewenang pejabat pemeriksa sama dengan PPHP. maka satker dapat mengangkat pejabat tersebut.54 Tahun 2010. melainkan merupakan tugas user atau pengguna barang. PPHP tidak hanya memeriksa pekerjaan tetapi juga mencantumkannya didalam berita acara pemeriksaan. Pembayaran honor PPHP dapat menggunakan honor pejabat pemeriksa barang.000. .000. Dengan demikian PPK tidak boleh menandatangani SPP kalau PPHP dan barang yang diperjanjikan tidak sesuai dengan ketentuan dalam kontrak. 17/2007.

dan menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setiap triwulan. menyetujui bukti pembelian atau menandatangani Kuitansi/Surat Perintah Kerja (SPK)/surat perjanjian: melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/ Jasa. dan menetapkan besaran Uang Muka yang akan dibayarkan kepada Penyedia Barang/Jasa. (2) Selain tugas pokok dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dalam hal diperlukan. PPK dapat:  mengusulkan kepada PA/KPA: 1) perubahan paket pekerjaan.         menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa. menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi penjelasan teknis untuk membantu pelaksanaan tugas ULP. dan/atau 2) perubahan jadwal kegiatan pengadaan. mengendalikan pelaksanaan Kontrak.    menetapkan tim pendukung. . PPK Pasal 11 Perpres 70 Tahun 2012 : (1) PPK memiliki tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut:  Menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang meliputi: 1) spesifikasi teknis Barang/Jasa. dan 3) rancangan Kontrak. melaporkan pelaksanaan/penyelesaian Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA. 2) Harga Perkiraan Sendiri (HPS). menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/ Jasa kepada PA/KPA dengan Berita Acara Penyerahan.2.

(1a) Persyaratan Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang/ Jasa pada ayat (1) huruf e dapat dikecualikan untuk Kepala ULP. 4) menyimpan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/Jasa. menandatangani Pakta Integritas.000.000. memahami pekerjaan yang akan diadakan.000. 7) khusus Pejabat Pengadaan: 1. 6.00 (sepuluh miliar rupiah). mengumumkan pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa di website Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi masing-masing dan papan pengumuman resmi untuk masyarakat serta menyampaikan ke LPSE untuk diumumkan dalam Portal Pengadaan Nasional. teknis dan harga terhadap penawaran yang masuk.3. . atau Seleksi atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp10.000. 3. memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/ Jasa sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan. 5. 5. 3. menetapkan besaran nominal Jaminan Penawaran. menetapkan Penyedia Barang/Jasa untuk: a) Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp200. metode dan prosedur Pengadaan. 5) membuat laporan mengenai proses Pengadaan kepada Kepala ULP. (2) Tugas pokok dan kewenangan Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan meliputi: 1.000. 2. 7. memiliki integritas.00 (dua ratus juta rupiah). memahami isi dokumen. memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas ULP/Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan yang bersangkutan.000. menyampaikan hasil Pemilihan dan salinan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PPK. khusus untuk Kelompok Kerja ULP: 1) menjawab sanggahan. Paniytya Pengadaan Pasal 17 Perpres 70 Tahun 2012 : (1) Kepala ULP/Anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. menyusun rencana pemilihan Penyedia Barang/ Jasa.00 (seratus miliar rupiah). 3) menyampaikan hasil Pemilihan dan salinan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PPK. dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas. menetapkan Dokumen Pengadaan.00 (lima puluh juta rupiah). 2.000.000. 2.000. 2) menetapkan Penyedia Barang/Jasa untuk Pelelangan atau Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp100.000. menilai kualifikasi Penyedia Barang/Jasa melalui prakualifikasi atau pascakualifikasi. 4. 4. disiplin. dan 6. melakukan evaluasi administrasi. dan/atau b) Pengadaan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.

5. 2. dan 7. 2. Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM). melaksanakan pengembangan dan pembinaan Sumber Daya Manusia ULP. membuat laporan mengenai proses Pengadaan Pengadaan kepada PA/KPA. membuat laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/ Pimpinan Institusi. 3. untuk : 1. mengawasi seluruh kegiatan pengadaan barang/ jasa di ULP dan melaporkan apabila ada penyimpangan dan/atau indikasi penyimpangan. Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan dapat menggunakan tenaga ahli yang berasal dari Pegawai Negeri atau swasta. (6) Dalam hal Pengadaan Barang/Jasa bersifat khusus dan/atau memerlukan keahlian khusus. Lembaga/Institusi Pengguna APBN/APBD yang memiliki keterbatasan pegawai yang berstatus Pegawai Negeri. Kepala ULP/anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan dapat berasal dari pegawai tetap Lembaga/Institusi Pengguna APBN/ APBD yang bukan Pegawai Negeri. 2. Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola. memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA. (3) Selain tugas pokok dan kewewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (7) Kepala ULP dan Anggota Kelompok Kerja ULP dilarang duduk sebagai: 1. dan 4. mengusulkan pemberhentian anggota Kelompok Kerja yang ditugaskan di ULP kepada PA/KPA/ Kepala Daerah. PPK. 5. Kepala ULP/anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan dapat berasal dari bukan Pegawai Negeri. 2. dan/atau perubahan spesifikasi teknis pekerjaan. 3. memimpin dan mengoordinasikan seluruh kegiatan ULP. perubahan HPS. 6. apabila terbukti melakukan pelanggaran peraturan perundangundangan dan/atau KKN. dalam hal diperlukan Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan dapat mengusulkan kepada PPK: 1. menyusun program kerja dan anggaran ULP.3. 4. menugaskan/menempatkan/memindahkan anggota Kelompok Kerja sesuai dengan beban kerja masingmasing Kelompok Kerja ULP. menyerahkan dokumen asli pemilihan Penyedia Barang/Jasa kepada PA/KPA. (5) Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (4). (2a) Tugas pokok dan kewenangan Kepala ULP meliputi: 1. baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya. Bendahara. (4) Kepala ULP/Anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan berasal dari Pegawai Negeri. dan .

APIP. . terkecuali menjadi Pejabat Pengadaan/ anggota ULP untuk Pengadaan Barang/Jasa yang dibutuhkan instansinya.4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful