BAB I PENDAHULUAN

Di era globalisasi yang terbuka ini, banyak masyarakat yang berpergian ke luar negeri karena berbagai motif dan alasan seperti tuntutan pekerjaan, urusan kesehatan, mengejar pendidikan, dll. Tak hanya yang bepergian ke luar negeri, yang berdatangan ke dalam negeri (Indonesia) juga tak kalah banyaknya. Mungkin kedatangan mereka lebih banyak berkaitan dengan unsur

kepariwisataan, misalnya para turis mancanegara yang datang untuk berlibur. Tapi selain itu ada juga yang memutuskan untuk menetap di suatu negara, menikah dengan warga negara tersebut dan memiliki anak yang akhirnya terbentur dengan masalah status kewarganegaraan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa saja masalah yang akan dihadapi terkait dengan status kewarganegaraan tadi dan bagaimana undang-undang kewarganegaraan serta hukum internasional

mengaturnya? Makalah ini akan membahas tentang kewarganegaraan, asas untuk memperoleh kewarganegaraan, undang-undang kewarganegaraan dan masalah status kewarganegaraan yang timbul baik di Indonesia maupun di dunia Internasional.

1

BAB II KEWARGANEGARAAN

A. Definisi Kewarganegaraan Negara sebagai entitas adalah abstrak, yang tampak hanyalah unsur-unsur negaranya yaitu penduduk, wilayah dan pemerintahan. Penduduk ialah semua orang yang berdomisili di sebuah negara baik masyarakat asli maupun pendatang (warga negara asing) yang sedang berlibur atau bekerja dan menetap sementara di negara tersebut. Warga negara merupakan bagian dari suatu penduduk. Warga negara memiliki hubungan dengan negaranya, serta mempunyai hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik1. Kewarganegaraan memiliki sifat yang menunjukkan hubungan atau ikatan antara negara dan warganya. Menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia: “Kewarganegaraan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan negara”2. Pengertian kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis, yaitu kewarganegaraan yang ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-orang dan negara.

1

Hamidi, Jazim dan Mustafa Lutfi. 2010. Civic Education: Antara Realitas Politik dan

Implementasi Hukumnya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. hal 89.
2

2006. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang

Kewarganegaraan Republik Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Yustisia. hal 7.

2

ikatan nasib. dan biasanya yang dirugikan dalam hal ini adalah warga negara. 3 . hubungan atara keduanya tidak akan bisa berjalan harmonis. dan ikatan tanah air. begitu juga sebaliknya warga negara tidak dibenarkan secara anarkis menjatuhkan negara. Edisi 2. seperti ikatan perasaan. Jazim dan Mustafa Lutfi. hal 74.(2) Kewarganegaraan dalam artis sosiologis.3 Dalam wacana apapun. Rahman H. Srijanti. ikatan sejarah. negara harus diposisikan sejajar dengan warga negaranya. Kata ikatan ini lahir dari penghayatan warga negara bersangkutan. 2007. hubungan itu mulai koyak. Dengan kekuasaannya.4 Ketika salah satu di antaranya bertindak tanpa berpedoman pada konstitusi sebagai dasar dan standar normatif. loc. 5 Ibid.K. A. Secara normatif hubungan antara warga negara dan negara harus selalu berpegang pada hak dan kewajiban yang melekat pada keduanya. yaitu kewarganegaraan yang bukan ditandai dengan ikatan hukum. 3 4 Hamidi. negara (pemerintahan) bisa melakukan cara-cara represif dan hegemonik untuk mengendalikan warga negara agar legitimasi warga negara selalu mengalir pada negara. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Selama negara masih berada di atas warga negara atau masyarakatnya. sehingga terciptalah komunikasi yang demokratis dan adil sesuai dengan yang disyaratkan oleh konstitusi.I. cit.5 Padahal sebetulnya negara tidak dibenarkan untuk mendominasi warga negara. melainkan ikatan emosional. Etika Berwarga Negara: Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. ikatan keturunan. dan Purwanto S.

Brazil. Setiap negara bebas menentukan asas kewarganegaraan yang akan dicantumkan dalam peraturan perundangan yang berlaku di negaranya. serta menerima hak dan kewajibannya. Dalam UU Nomor 12 Tahun 2006. Beberapa negara yang menggunakan asas ius soli antara lain adalah Amerika Serikat. Asas Kewarganegaraan Umum a. yaitu (1) asas kewarganegaraan umum dan (2) asas kewarganegaraan khusus. sejarah. Peru. 1. ras dan agama. Asas ini memungkinkan terciptanya UU kewarganegaraan yang bersifat terbuka dan multikultural. karena setiap negara memiliki nilai budaya. dikenal dua pedoman. dan tradisi yang berbeda satu sama lain. dan Meksiko.B. Asas Kewarganegaraan Asas kewarganegaraan diperlukan untuk menentukan status kewarganegaraan seseorang. 4 . Argentina. Hal ini penting agar seseorang mendapatkan perlindungan hukum dari negara. Asas ini lebih sesuai dengan kondisi global saat ini ketika kebangsaan dan kewarganegaraan seseorang tidak ditentukan oleh dasar etnis. Asas Kelahiran (Ius Soli) Asas Ius Soli (Law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran. Ketentuan tentang status kewarganegaraan diatur dalam peraturan perundangan suatu negara.

dan Purwanto S. Ibid. cit.7 c. kecuali jika salah satu dari kedua orang tuanya adalah warga negara Australia. Seorang anak yang lahir di Australia. Asas Kewarganegaraan Tunggal Asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang.8 6 7 Srijanti. 5 . 8 Ibid. op. Menurut asas ini. hanya saja dengan beberapa persyaratan.6 b.I. seseorang tidak diperkenankan memiliki kewarganegaraan lebih dari satu. hal 76. Negara yang menganut asas ini akan mengakui kewarganegaraan seorang anak sebagai warga negaranya apabila salah satu atau kedua orang tua dari anak tersebut memiliki status kewarganegaraan negara tersebut. terlepas dari status kewarganegaraan kedua orang tuanya. jika anak tersebut menetap di Australia sampai ia berumur 10 tahun. Namun.Australia sebetulnya juga menggunakan asas kewarganegaraan ini. maka anak itu secara otomatis akan memperoleh kewarganegaraan Australia. Asas Keturunan (Ius Sanguinis) Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan (darah). A. Asas ini dianut oleh sebagian besar negara di Eropa dan Asia. tidak serta merta memperoleh kewarganegaraan Australia. Rahman H. bukan berdasar tempat kelahiran.K.

9 Ibid. Pada saat anak tersebut mencapai umur 18 tahun.d. Asas Kewarganegaraan Ganda Terbatas Asas yang menentukan status kewarganegaraan ganda bagi anakanak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Asas Kewarganegaraan Khusus Selain asas tersebut di atas. 6 . yaitu asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia.9 2. (3) Asas persamaan di dalam hukum dan pemerintah. yaitu asas yang menentukan bahwa pemeritah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap Warga Negara Indonesia dalam keadaan apapun baik di dalam maupun di luar negeri. beberapa asas khusus juga menjadi dasar penyusunan Undang-undang tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Asas-asas tersebut menurut Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi antara lain ialah: (1) Asas kepentingan nasional. maka ia harus menentukan salah satu kewarganegaraannya. yaitu asas yang menentukan bahwa setiap Warga Negara Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan. yang bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai negara kesatuan yang memiliki cita-cita dan tujuannya sendiri. (2) Asas perlindungan maksimum.

agama. 7 . melindungi. tetapi juga disertai substansi dan syarat-syarat permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. golongan.(4) Asas kebenaran substantif yaitu asas yang menerangkan bahwa prosedur pewarganegaraan seseorang tidak hanya bersifat administratif. ras. hal. (8) Asas publisitas yaitu asas yang menentukan bahwa seseorang yang memperoleh atau kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia agar masyarakat mengetahuinya. Jazim dan Mustafa Lutfi. 91. op. cit. (7) Asas keterbukaan yaitu asas yang menentukan bahwa dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara harus dilakukan secara terbuka. (6) Asas pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia yaitu asas yang dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan Warga Negara harus menjamin. dan memuliakan hak asasi manusia pada umumnya dan hak warga negara pada khususnya. (5) Asas nondiskriminatif yaitu asas yang tidak membedakan perlakuan dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan Warga Negara atas dasar suku. jenis kelamin dan gender.10 10 Hamidi.

yuridis. undang-undang ini masih mengandung ketentuan-ketentuan yang belum sejalan dengan falsafah Pancasila. masalah kewarganegaraan diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946 dan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Alasan mengapa undang-undang yang lama digantikan dengan yang baru ialah karena UU kewarganegaraan yang lama baik secara filosofis. sebagaimana tercantum pada bagian penjelasan UU No. misalnya.BAB III STUDI KASUS TENTANG PERMASALAHAN KEWARGANEGARAAN A. kurang menjamin pemenuhan hak asasi 8 . Secara filosofis.12 tahun 2006. antara lain. maupun sosiologis tidak memenuhi syarat. karena bersifat diskriminatif. sebagai penjabaran dari Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950. UU Kewarganegaraan Lama Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Undang-Undang Kewarganegaraan 1.

persyaratan menyertakan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) bagi WNI etnis Tionghoa yang ingin mengurus paspor atau dokumen sipil lainnya. 9 . Jakarta: Visimedia. serta kurang memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak. Libertus dan Atanasius Harpen.dan persamaan antara warga negara.13 Harus diakui bahwa UU Kewarganegaraan yang lama memiliki banyak sekali dampak yang buruk. 12 13 14 Ibid. undang-undang tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional dalam pergaulan global. Ibid. Misalnya.14 11 Jehani. UUD 1945 ini pun sudah diamandemen sehingga lebih menjamin perlindungan HAM dan hak warga negara.11 Secara yuridis landasan konstitusional pembentukan Undang-undang kewarganegaraan yang lama ini adalah Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950 yang sudah tidak berlaku sejak Dekrit Presiden Tahun 1959.12 Secara sosiologis. Ibid. 2006. hal 2. Tanya Jawab UU Kewarganegaraan Indonesia. yaitu dengan kembali berlakunya UUD 1945. yang menghendaki adanya persamaan perlakuan dan kedudukan warga negara di hadapan hukum serta adanya kesetaraan dan keadilan gender. Legalisasi SKBRI tersebut jelas melanggar hak seseorang untuk mendapatkan pengakuan yang sama sebagai warga negara.

Indonesia menganut asas ius soli.Meskipun masalah SKBRI ini sebetulnya sudah dihapus melalui Kepres No. undang-undang ini juga melakukan terobosan penting yakni dengan memberi kewarganegaraan ganda bagi anak dari hasil perkawinan campur antara WNI dengan WNA sebelum anak itu berusia 18 tahun. Ketentuan ini bertujuan untuk melindungi hak-hak anak.17 15 16 Ibid. 17 Ibid. 10 . 62 Tahun 1958. 56 Tahun 1996. namun masih banyak aparat di lapangan yang meminta SKBRI kepada warga keturunan yang ingin mengurus berbagai dokumen. Perbedaan itu menyebabkan warga keturunan Tionghoa memiliki dwi kewarganegaraan. 12 Tahun 2006 telah menghapuskan semua aturan kewarganegaraan yang diskriminatif. Atas dasar itu Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RRT melakukan perjanjian bilateral sehingga di pihak Indonesia keluarlah UU No.15 Dulu SKBRI dan SMKK RRT diterapkan bagi warga keturunan Tionghoa karena Indonesia dan RRT (China) menganut asas kewarganegaraan yang berbeda.16 2. sementara RRT menganut asas ius sanguinis. UU Kewarganegaraan Baru UU Kewarganegaraan yang baru atau UU No. Selain memperlakukan warga keturunan sama seperti Warga Negara Indonesia asli lainnya. Ibid.

seorang anak yang lahir di Indonesia dari perempuan WNI yang menikah dengan pria WNA. B. anak itu akhirnya menjadi kehilangan kewarganegaraan (stateless). statusnya adalah WNA. Akibatnya. Status kewarganegaraan sangat penting karena status tersebut menandakan sebuah hubungan hukum antara seorang individu dengan sebuah negara. anak tersebut akan dideportasi ke negara asal ayahnya. cit. Jazim dan Mustafa Lutfi. Lebih kompleks lagi masalah yang dihadapi sang anak apabila negara asal ayahnya ternyata menolak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut.Sebelum UU ini disahkan. yang diakui oleh undang-undang atau peraturan yang berlaku di negara tersebut. Ibunya mau tidak mau harus mengajukan permohonan ke pengadilan agar anaknya mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Dengan disahkannya UU ini.18 18 Hamidi. Identitas kewarganegaraan akan berimplikasi pada hak dan kewajiban sebagai warga negara yang diatur dalam hukum kewarganegaraan. Status Kewarganegaraan Status/identitas kewarganegaraan adalah posisi keanggotaan seseorang sebagai warga negara untuk tinggal dan berpartisipasi dalam suatu negara. hal. 94 11 . Status tersebut menjadi dasar hukum bagi pelaksanaan penyelenggaraan hak dan kewajiban sipil sebagai warga negara. op. Dengan demikian. jika orang tua lupa memperpanjang visa anaknya atau kedua orang tuanya cerai. maka masalah semacam itu tidak perlu terjadi lagi.

Ini bisa terjadi sebagai akibat dari penganiayaan (yang biasanya terjadi pada pengungsi). Beberapa status kewarganegaraan yang bisa terjadi karena permasalahan-permasalahan ini antara lain ialah: (1) apatride. karena alasan yang sah. tidak bersedia untuk memanfaatkan perlindungan yang ditawarkan oleh negaranya.19 1. (2) bipatride. Ibid. Secara de jure. 12 . 21 Ibid. dan (3) multipatride. Hal ini disebabkan karena beberapa negara menganut asas ius soli sedangkan beberapa negara lainnya menganut asas ius sanguinis. Kebanyakan kasus yang biasanya muncul ialah 19 20 Ibid.21 Penyebab dari ketiadaan status kewarganegaraan di berbagai belahan dunia bermacam-macam.20 Sementara orang yang tidak berkewarganegaraan secara de facto adalah seseorang yang berada di luar negara asalnya dan tidak dapat atau.Permasalahan dalam menentukan status kewarganegaraan seseorang bisa terjadi karena beberapa kemungkinan. orang yang tidak berkewarganegaraan adalah orang yang secara hukum tidak dianggap sebagai warga negara oleh negara manapun yang seharusnya melindunginya. atau karena buruknya hubungan diplomatis antara negara asal dengan negara tempat tinggal orang tersebut. Apatride Apatride adalah seseorang yang sama sekali tidak memiliki status kewarganegaraan.

anak-anak dengan status apatride tidak 13 . etnis. Beberapa orang yang menganut paham voluntarism atau agorism kebanyakan memilih untuk tidak memiliki kewarganegaraan. dan Cyprus Utara. dianggap masuk ke kategori negara tidak berdaulat oleh beberapa masyarakat internasional. Bahkan di beberapa negara di Eropa. Wilayah Palestina. Anak yang lahir dan tumbuh dewasa tanpa kewarganegaraan secara otomatis tidak mendapatkan hak yang sama seperti yang tercantum pada undang-undang. Ketiadaan status kewarganegaraan ini menyebabkan seseorang juga kehilangan hak dan kewajibannya terhadap negara. orang-orang yang hidup di negara terjajah dan atau negara yang tidak memiliki kedaulatan sama sekali sulit sekali mendapatkan status kewarganegaraan. Akibatnya. Sebab lain munculnya status apartride adalah ketiadaan negara atau negara yang belum diakui kedaulatannya. Di beberapa kasus yang sangat langka terjadi. Kasus ini biasanya terjadi pada kelompok minoritas yang secara turun-temurun memang sudah mengalami perlakuan diskriminatif di negaranya. dan gender. biasanya karena permasalahan ras. agama. seseorang bisa berstatus apatride ketika mereka menanggalkan/melepaskan kewarganegaraan mereka.kasus diskriminasi. Sahara Barat.

dan Universal Declaration of Human Rights (UDHR) juga memproklamirkan hak atas kewarganegaraan. dibuatlah kesepakatan internasional bahwa kewarganegaraan ganda haruslah dihindari sebisa 22 Sawyer. Namun. Blitz. dan mungkin lebih dari 12 juta orang berstatus apatride di seluruh dunia. terutama sejak perang dunia berkecamuk. beasiswa. hal 38. sejak beberapa dekade yang lalu.24 Hukum internasional menyatakan bahwa. bahkan perlindungan atas hukum. hal 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. 2011. sebagai bentuk kedaulatan masing-masing negara. 14 .23 2. 23 24 Ibid. Undocumented. Statelessness in the European Union: Displaced. New York: Cambridge University Press.memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis. United Nations High Commisioner of Refugees (UNHCR) mencatat masih ada lebih dari setengah juta orang berstatus apatride di benua Eropa. Bipatride Bipatride adalah seseorang yang memiliki status kewarganegaraan ganda. Caroline dan Brad K.22 Meskipun status apatride dikecam dalam hukum internasional. tiap-tiap negara berhak menentukan warga negaranya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya. op. Kewarganegaraan ganda awalnya tidak dianggap suatu masalah besar di dunia internasional. cit. Unwanted.

dan Finlandia (2003) tidak lagi meminta warga negaranya yang telah dinaturalisasi negara lain untuk melepaskan status kewarganegaraannya yang lama. kebanyakan negara beranggapan bahwa kewarganegaraan ganda merupakan ancaman potensial terhadap munculnya pengkhianatan. kebijakan yang mentoleransi dwi- kewarganegaraan rupanya telah meningkat. Sebetulnya European Convention on the Reduction of Cases of Dual Nationality and Military Obligations in Cases of Dual Nationality pada tahun 1963 memiliki tujuan 25 Faist. seseorang yang memiliki dua kewarganegaraan sering dianggap sebagai mata-mata atau agen perang ganda bagi negara lawan. tapi hanya satu kewarganegaraan saja. Italia (1992).25 Namun belakangan ini. Beberapa negara Eropa seperti Perancis (1973). Terutama ketika Perang Dunia II meletus. dan aktivitas subversif lainnya. sebagaimana tercermin baik dalam undang-undang kewarganegaraan maupun dalam konvensi serta perjanjian bilateral dan internasional. Paper on Inaugural Meeting about Identity and Citizenship in the 21 st Century. Dual Citizenship in an Age of Mobility. Sebuah pernyataan singkat oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1930 merangkum perspektif internasional yang dominan hampir di sepanjang abad ke-20: “Setiap orang berhak untuk memperoleh satu kewarganegaraan. Thomas dan Jürgen Gerdes. Perubahan kebijakan dan sikap terhadap status kewarganegaraan ganda ini dilandasi pada hukum Internasional. spionase.” Pada saat itu. Swedia (2001). Bellagio. 15 . Portugal (1981). 2008.mungkin.

Namun. Dulu hubungan kerja sama internasional (bilateral & multilateral) memiliki ketentuan sebisa mungkin menghindari adanya status bipatride dan multipatride bagi warga negaranya. Tetapi. Hal ini bisa terjadi jika seorang pria yang berkewarganegaraan A menikah dengan wanita berkewarganegaraan B.27 3.26 Singkatnya. Kedua. European Convention on Nationality. Namun saat ini semakin banyak negara yang mencabut ketentuan itu. Pertama.pembatasan terhadap masalah dwi-kewarganegaraan. ketentuan itu saat ini kebanyakan sudah tidak berlaku lagi. ada 2 faktor yang paling penting yang menyebabkan kebijakan dan toleransi terhadap status dwikewarganegaraan semakin meningkat. asas yang diterapkan adalah orang yang memiliki dwikewarganegaraan diwajibkan mengikuti wajib militer di negara tempat ia tinggal dan bebas wajib militer di negara yang lainnya. yang ditandatangani oleh sebagian besar negaranegara Eropa. Bagi negara yang masih menggunakan ketentuan itu. 16 . lalu 26 27 Ibid. perubahan hubungan antar negara. tidak memuat pembatasan terhadap status dwi- kewarganegaraan sebagai keganjilan yang harus dihapuskan. Ketentuan itu awalnya bermula pada abad ke-19 ketika kebanyakan negara mewajibkan warga negaranya untuk mengikuti wajib militer. perubahan hubungan antara negara dan warga negaranya. Multipatride Multipatride adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki status kewarganegaraan lebih dari dua. Ibid.

28 Dalam beberapa dekade terakhir status multipatride telah diterima secara luas oleh negara-negara demokratis. dan belakangan ini makin banyak negara-negara berdaulat yang menoleransi status ini. yang terkadang diperlukan adanya sumpah atau janji setia. op. hal 41. berjanji untuk mematuhi dan menegakkan hukum negara itu.29 Secara umum. dan selesainya konflik-konflik internasional (Perang Dunia dan Perang Dingin). adanya pelarangan pajak ganda (pajak di negara asal & negara tempat tinggal). Peningkatan keberadaan status multipatride saat ini disebabkan karena beberapa hal. Penolakan terhadap status multipatride kini telah menghilang. C. persyaratan dasar untuk naturalisasi adalah bahwa pemohon memegang status hukum sebagai penduduk untuk jangka waktu minimum tertentu (sesuai dengan yang disyaratkan undang-undang kewarganegaraan yang berlaku). 29 Ibid. cit. 28 17 . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.tinggal dan melahirkan anak di negara C. misalnya karena banyaknya migrasi (perpindahan suatu individu dari negara asal ke negara lain). bila negara A & B menganut asas ius sanguinis sementara negara C menganut asas ius soli. kesetaraan gender dalam penentuan kewarganegaraan. hilangnya wajib militer. Pewarganegaraan (Naturalisasi) Naturalisasi adalah pemberian atau akuisisi kewarganegaraan dan kebangsaan pada seseorang yang bukan warga negara negara tersebut pada saat kelahiran.

Naturalisasi secara tradisional didasarkan pada ius soli atau ius sanguinis. Naturalisasi awalnya “diciptakan” untuk menolong korban/pengungsi perang pada saat terjadinya Perang Dunia I hingga II. Denaturalisasi dapat dibenarkan berdasar berbagai kasus hukum. dll. yaitu ketika negara mencabut salah satu warganya-nya atau kewarganegaraannya. Dari sudut pandang individu.Beberapa negara juga mengharuskan seorang warga negara naturalisasi meninggalkan setiap kewarganegaraan lain yang mereka pegang sebelumnya (melarang kewarganegaraan ganda). Hilangnya Kewarganegaraan (Denaturalisasi) Denaturalisasi adalah kebalikan dari naturalisasi. D. yang akibat perang itu mereka kehilangan kewarganegaraannya. meskipun sekarang biasanya campuran keduanya. olahraga. Bentuk yang paling parah adalah "pencabutan kewarganegaraan" yang terjadi saat denaturalisasi dijadikan sebagai hukuman untuk tindakan yang dianggap kejahatan oleh negara. Tapi apakah penolakan ini benar-benar menyebabkan hilangnya kewarganegaraan asli individu tersebut akan tergantung pada undang-undang kewarganegaraan negara yang terlibat. Bisa juga didasarkan pada tindakan yang dianggap 18 . denaturalisasi berarti "pembatalan" atau "hilangnya" kewarganegaraan. Namun belakangan ini naturalisasi berkembang menjadi sebuah upaya untuk memperoleh bibit-bibit unggul yang dianggap akan memberikan kontribusi pada suatu negara baik dalam bidang IPTEK. seni.

hal 79. Di negara-negara yang mengenal asas kewarganegaraan tunggal. Atau dalam bahasa hukumnya disebut “penolakan kewarganegaraan” (menolak kewarganegaraan asli yang sebelumnya melekat pada individu tersebut).30 Hal ini terjadi ketika individu itu ternyata memperoleh naturalisasi dengan cara tidak sah. Rahman H.I. 30 Srijanti. dan Purwanto S. naturalisasi sukarela di negara lain akan menyebabkan hilangnya kewarganegaraan asli. misalnya karena adanya kesalahan administrasi atau penipuan (suap). Rahman dan Purwanto: Denaturalisasi adalah hilangnya kewarganegaraan karena pembatalan naturalisasi. A. op. cit. 19 . juga dikenal sebagai "denaturalisasi administrasi". 2007.K. contohnya karena telah mengabdi pada militer asing. Menurut Srijanti.mengkhianati bangsa.

Namun nampaknya tidak semua negara bisa mempermudah seseorang yang berstatus apatride memperoleh kewarganegaraan di negara tempat ia tinggal dan mengajukan permohonan naturalisasi. 20 . baik apatride.BAB IV PENUTUP Dari pembahasan makalah di atas. Naturalisasi mungkin adalah salah satu jalan keluar untuk mengatasi permasalahan apatride. Dalam dunia Internasional memiliki kewarganegaraan lebih dari satu nampaknya bukan lagi hal yang patut dipermasalahkan. namun ketiadaan status kewarganegaraan masih menjadi permasalahan yang terus diperbincangkan. Oleh karena itu perlu diadakan pertemuan dan konvensi antar negara untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut untuk mencari solusi bersama demi kepentingan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia di dunia internasional. maupun multipatride. bipatride. dapat disimpulkan bahwa terdapat pandangan yang berbeda-beda mengenai munculnya permasalahan status kewarganegaraan.

Unwanted. A. Thomas dan Jürgen Gerdes. 2010. Kewarganegaraan Indonesia. 2011.DAFTAR PUSTAKA 2006. Hamidi.I. Srijanti. Etika Berwarga Negara: Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Statelessness in the European Union: Displaced. Civic Education: Antara Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya. Dual Citizenship in an Age of Mobility. New York: Cambridge University Press. Faist. Paper on Inaugural Meeting about Identity and Citizenship in the 21st Century. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2007. 2006. Jazim dan Mustafa Lutfi. Edisi 2. 21 . Tanya Jawab UU Sawyer. Jakarta: Visimedia. dan Purwanto S. Yogyakarta: Pustaka Yustisia.K. Jehani. Blitz. Bellagio. Caroline dan Brad K. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Libertus dan Atanasius Harpen. Rahman H. 2008. Undocumented.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful