1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kebidanan dalam arti menolong persalinan dapat dikatakan sebagai praktik kesehatan tertua di dunia, sama tuanya dengan umat manusia. Pada mulanya semua persalinan ditolong oleh dukun atau mereka yang mengkhususkan diri dalam pertolongan persalinan, tanpa membolehkan tenaga medis lainnya untuk ikut membantu melakukan hal tersebut. Dengan pengetahuan yang serba terbatas serta jumlah tenaga ahli kebidanan dan penyakit kandungan di Indonesia yang masih sangat kurang yaitu pada tahun 1995 terdapat 700 orang tenaga berbanding dengan 197 juta penduduk (Manuaba, 1999) bila dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara lain, contoh di Filipina terdapat 2.000 orang tenaga ahli kebidanan dalam jumlah penduduk 40 juta jiwa. Maka sudah dapat dibayangkan bahwa jumlah kematian ibu dan bayi di Indonesia menjadi paling tinggi di Asia Tenggara. Sebagai ukuran kemmapuan pelayanan kesehatan satu negara ditetapkan berdasarkan angka kematian ibu dan angka kematian karena melahirkan. Sementara persalinan di Indonesia sebagian besar yaitu sekitar 70 – 80 % masih ditolong oleh dukun terutama di pedesaan dengan kemampuan dan peralatan yang serba terbatas. Penyebab kematian terjadi terutama karena perdarahan, infeksi, dan keracunan hamil serta terlambatnya sistem rujukan (Manuaba, 1999). Pemerintah sendiri telah mengupayakan berbagai cara untuk mengendalikan angka kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya serta kesehatan ibu pada khususnya. Dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi dewasa ini, membuat model pengawasan terhadap masa kehamilan seperti yang dikembangkan di Paris pada tahun 1901 dengan nama plea of promaternity hspital yang bertujuan memberikan pelayanan kepada ibu selama masa kehamilan sehingga ibu dapat menyelesaikan masa kehamilannya dengan baik dan bayi dapat dilahirkan dengan sehat dan selamat. Di Indonesia sendiri model pengawasan tersebut semakin membuka pandangan masyarakat bahwa pengawasan yang ketat pada 1

2

masa kehamilan menjadi hal yang sangat penting guna mengantarkan ibu dan bayi kepada keadaan yang sehat dan sejahtera. Oleh karenanya di Indonesia dikembangkan model pengawasan yang sama dengan nama BKIA yaitu Balai Kesehatan Ibu dan Anak. Dimana BKIA menjadi bagian terpenting dari program Puskesmas dan telah tersebar dis eluruh Indonesia yang dipimpin oleh beberapa orang dokter sehingga kemampuan pelayanannya dapat lebih ditingkatkan. Bahkan menjelang pencapaian Indonesia Sehat 2010, dikembangkan program Bidan di Desa guna mengupayakan masyarakat di pelosok dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan dengan lebih mudah. Pemerintah memberikan perhatian khusus kepada masalah kebidanan ini mengingat permasalahan yang muncul selama masa kehamilan adalah sangat kompleks yang meliputi masalah fisik, psikologis dan sosial (Sarwono, 1991). Bahkan dengan kecenderunagn angka kematian pada ibu yang sangat tinggi yang diakibatkan karena perdarahan, infeksi dan keracunan pada masa kehamilan, menjadikan program pengawasan pada ibu hamil lebih diperketat dan ditingkatkan melalui upaya ANC (Ante Natal Care). Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada ibu hamil adalah keguguran atau abortus. Mengingat semkain berkembnagnya pendidikan dan pengethauan masyarakat khususnya wanita dengan emansipasinya dalam turut serta menghidupi ekonomi keluarga, membuat kejadian abortus menjadi cukup tinggi dalam dekade terakhir. Didukung pula oleh pengaruh budaya barat dengan pergaulan bebasnya menjadinya banyak kejadian kehamilan tidak diinginkan menjadi meningkat sehingga kecenderungan kejadian abortus provocatus juga meningkat. Bahkan semakin merebaknya klinik – klinik aborsi di tanah air, semakin membuka peluang wanita untuk melakukan aborsi tanpa memikirkan akibatnya. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka kami mengangkat permasalahan abortus sebagai makalah, mengingat permasalahan abortus sendiri merupakan suatu permasalahan yang kompleks bagi ibu, suami/pasangan maupun keluarga.

1.2 Tujuan Penulisan

3

1.2.1 Tujuan Umum Menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan kejadian abortus sesuai dengan konsep teori asuhan keperawatan. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi data fokus keperawatan melalui pengkajian pada ibu hamil denagn kejadian abortus. 2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang timbul pada ibu hamil dengan kejadian abortus. 3. Mengidentifikasi rencana intervensi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus. 4. Menerapkan implementasi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus. 5. Mengidentifikasi evaluasi keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus.

1.3 Manfaat Penulisan 1.3.1 Bagi mahasiswa Memberikan kesempatan kepada mahasiswa guna menerapkan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus sehingga dapat menambah pengalaman dan pemahaman mahasiswa terhadap penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan abortus. 1.3.2 Bagi Institusi pendidikan Meningkatkan pengetahuan mengenai penatalaksanaan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan kejadian abortus di rumah sakit sehingga dapat menetapkan prosedur tetap mengenai model asuhan keperawatan yang tepat digunakan pada ibu dengan permasalahan abortus.

2. Macam Abortus.1 Berakhirnya masa kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar (Bagian Obgyn Unpad. diantaranya : a.2 Jenis Abortus. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Tanda dan Gejala 2. Tanda dan Gejala • Perdarahan per-vaginam sebelum minggu ke 20. 2001).4 BAB 2 KONSEP TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang dari ibunya yang kira – kira berumur 20 sampai 22 minggu kehamilan (Hacker and Moore. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam dan ada harapan untuk mempertahankan.2.1 Definisi Abortus 2. • Nyeri terasa memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali. b. • Tidak ditemukan kelainan pada serviks. • Serviks tertutup. Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. kadang – kadang keluar gumpalan darah. 2. • Kadang nyeri. 4 .1. • Serviks sering melebar sebagian akibat kontraksi. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di rahim. 1999).1. c. Tanda dan Gejala • Perdarahan per vaginam masif. keguguran) merupakan ± 20% dari semua abortus. Abortus spontan terdiri dari 7 macam. terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai perdarahan. • Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat. Definisi.1 Spontan (terjadi dengan sendiri.

Tanda dan Gejala • Demam kadang – kadang menggigil. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi keluar. • Dilatasi serviks akibat masih adanya hasil konsepsi di dalam uterus yang dianggap sebagai corpus allienum. • Gejala kehamilan tidak ada. • Gejala kehamilan tidak ada. • Uji kehamilan negatif. Tanda dan Gejala • Rahim tidak membesar. • Buah dada mengecil kembali. e. d. • Nyeri perut bawah mirip kejang. hanya amenorea terus berlangsung. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan lengkap. Abortus habitualis (keguguran berulang – ulang) adalah abortus yang telah berulang dan berturut – turut terjadi sekurang – kurangnya 3 kali berturut – turut.5 Tanda dan Gejala • Perdarahan per vaginam berlangsung terus walaupun jaringan telah keluar. f. malahan mengecil karena absorpsi air ketuban dan macerasi janin. • Lochea berbau busuk. • Keluarnya hasil konsepsi (seperti potongan kulit dan hati). • Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati. Abortus febrilis adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai infeksi. . Tanda dan Gejala • Serviks menutup. g.

hypertensi essensialis. b. 2.3.2 Abortus provocatus (disengaja. b. misalnya karena faktor endogen seperti kelainan chromosom (trisomi dan polyploidi).3.3 Faktor suami Terdapat kelainan bentuk anomali kromosom pada kedua orang tua serta faktor imunologik yang dapat memungkinkan hospes (ibu) mempertahankan produk asing secara antigenetik (janin) tanpa terjadi penolakan. thypus dapat mneyebabkan abortus dan partus prematurus.Kelainan endometrium f. misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.6 2. Gizi ibu yang kurang baik.3. 2.2. 2. Trauma. Abortus provocatus terdiri dari 2 macam.3 Etiologi Abortus 2. c. misal ibu berpenyakit berat. d.1 Kelainan telur Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa hingga janin tidak mungkin hidup terus. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran kehamilan dengan alat – alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu. e. digugurkan) merupakan 80% dari semua abortus. carcinoma cerviks. Indikasi pada ibu dengan penyakit jantung (rheuma). Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum. .Cerviks yang pendek • . Kelainan alat kandungan: • Hypoplasia uteri. Kelainan endokrin. Faktor psikologis ibu.Retroflexio uteri incarcerata • . yaitu: a. Infeksi akut yang berat: pneumonia.Tumor uterus • . misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar gondok. • .2 Penyakit ibu Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus. diantaranya : a.

4 Faktor lingkungan Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok. Faktor penyakit pada ibu Faktor suami Faktor lingkungan /eksogen Buah kehamilan pada usia 20 minggu dan berat < 500 gram Janin dapat beradaptasi Janin tidak dapat beradaptasi Usia kehamilan dapat dipertahankan > 37 minggu atau BB janin > 2500 gram Janin gugur Rangsangan pada uterus Lepasnya buah kehamilan dari implantasinya Terputusnya pembuluh darah ibu Terganggunya psikologis ibu Kontraksi uterus Kecemasan Defisit knowledge Prostaglandin ↑ Perdarahan dan nekrose desidua Dilatasi serviks Resiko defisit volume cairan Nyeri Kelemahan Resiko gawat janin 2.5 Penatalaksanaan Abortus Resiko terjadi infeksi .3. radiasi. 2. zat kimia.7 2. minum minuman beralkohol serta paparan faktor eksogen seperti virus.4 Web Of Caution (WOC) Etiologi: Faktor kelainan telur. memperbesar peluang terjadinya abortus.

b.8 2. Perforasi saat curetage 2. Untuk merangsang dilatasis erviks diberi laminaria stift. Perdarahan hebat. e.5.2 Abortus incipiens Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien: a.5.1 Abortus imminens Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan. Curetage dilakukan setelah suhu tubuh turun selama 3 hari. c. Renal failure disebabkan karena infeksi dan shock.6 Penyulit Abortus a. Mengurangi nyeri dengan sedativa. 2. d. 2. Shock bakteri karen atoxin. 2.5. b. Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.5 Missed abortion a. Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah perdarahan dan sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. codein. c. b. 2. morphin. Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam). Diberi atobiotika.5. infeksi dari tuba dapat menimbulkan kemandulan.3 Abortus incompletus Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.7 Konsep Asuhan Keperawatan Ibu dengan Abortus .4 Abortus febrilis a.5. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi kerentanan otototot rahim (misal gestanon). Segera setelah kematian janin dipastikan. segera beri pitocin 10 satuan dalam 500 cc glucose. keculai perdarahan banyak sekali. Dilarang coitus sampai 2 minggu. maka pasien: a. Infeksi kadang-kadang sampai terjadi sepsis. b. Diberi sedativa misal luminal. Pelaksanaan curetage ditunda untuk mencegah sepsis. 2. c. Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 ½ satuan tiap ½ jam sebnayak 6 kali. c. b. d.

1 Pengkajian Data Fokus Pada Ibu hamil dengan kasus abortus pada umumnya mengalami keluhan sebagai berikut: a. respirasi meningkat dan suhu meningkat. Pemeriksaan kadar HCG dalam urine untuk memastikan kehamilan masih berlangsung. Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan. Sakit kepala dan penglihatan terasa kabur. d. e. f. j. Keluar perdarahan dari alat kemaluan.7. Tidak enak badan.2 Diagnosa Keperawatan . Nadi cenderung meningkat. kadang. Porsio sering teraba melunak pada pemeriksaan dalam.9 2. nyeri drasakan melilit menyebar sampai ke punggung dan pinggang. dan kaku. c. f. Pemeriksaan Penunjang: a. c. Ibu merasa cemas dan gelisah sebelum mendapat kepastian penyakitnya. Perasaan takut dan khawatir terhadap kondisi kehamilan. d. b. i. e. Pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin. Pemeriksaan auskultasi dengan funduskop dan doppler untuk memastikan kondisi janin. 2. keras seperti papan. Badan panas. tekanan darah meningkat. g. Keluhan perut dirasa tegang.kadang panas disertai menggigil dan panas tinggi. terdapat jaringan ikut keluar pada pemeriksaan.7. kadang-kadang keluar flek-flek darah atau perdarahan terus-menerus. Pada pemeriksaan dalam ditemukan terdapat pembukaan serviks atau pada kasus abortus imminens sering ditemukan serviks tertutup dan keluhan nyeri hebat pada pasien. Keluhan nyeri pada perut bagian bawah. b. h. Keluhan keluar gumpalan darah segar seperti kulit mati dan jarinagn hati dalam jumlah banyak.

skunder terhadap pelepasan separasi plasenta. Ketakutan/ansietas b/d krisis situasi (perdarahan). pengobatan). tidak mengenal sumber informasi. Nyeri b/d adanya kontraksi uterus. mitos. transmisi/penularan perasaan interpersonal. Defisit knowledge / Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). perpisahan dari keluarga (hospitalisasi. 4. mengenai penyakit. peningkatan kebutuhan energi (status hipermetabolik). ancaman kematian. prosedur invasif. Kelemahan b/d penurunan produksi energi metabolic. 2.10 1. kesalahan interpretasi informasi. perdarahan. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta skunder terhadap perdarahan akibat pelepasan separasi plasenta. keterbatasan kognitif. 3. . kebutuhan psikologis/emosional berlebihan. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan skunder akibat perdarahan. 7. 5. ancaman/perubahan pada status kesehatan. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemajanan/mengingat. fungsi peran. perubahan kimia tubuh. 6. pola interaksi. Resiko deficit volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui rute normal dan atau abnormal (perdarahan).

mis. Reposisi. Pantau: TD. pelepasan separasi plasenta dari ketidaknyamanan. gosokan Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan punggung. frekuensi.3 Diagnosa Keperawatan. kembali perhatian. dan Rasional DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL intervensi Nyeri b/d adanya kontraksi Pasien dapat Tentukan riwayat nyeri. nadi. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam bila menerima agen osmotic intravena. Berikan analgesic sesuai pesanan dan mengevaluasi Analgesik memblok jaras keefektifannya. Beri tahu doketr bila nyeri menetap atau nyeri. Musik. Ketidaknyamnan mata memburuk setelah pemberian obat. mis.7. ekspresi wajah dan postur tubuh rileks. melaporkan perasaan nyaman. skunder terhadap mendemonstrasikan hilang dan intesitas (skala 0-10) dan tindakan penghilangan yang selanjutnya. durasi Menentukan uterus. dan aktifitas hiburan. Kriteria Hasil. Kriteria evaluasi: menyangkal nyeri. Tujuan. digunakan. . Intervensi. setiap 2 jam bila menerima agen atau penyimpangan dari hasil osmotic.11 2. RR setiap 4 jam bila tidak menerima agen Mengidentifikasi kemajuan osmotic secara intravena. Berikan tindakan kenyamanan dasar. Lokasi nyeri. mis. yang diharapkan. berat menandakan perkembangan komplikasi dan perlunya perhatian medis segera. televisi.

TD di bawah rentang normal. Pasien dapat mendemostrasikan status cairan. Tujuannya adalah control Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi nyeri maksimum dengan kebutuhan/keefektifan intervensi. urine gelap atau encer gelap. Warna urine. Kaji turgor kulit dan kelembaban membrane mukosa. haluaran urine di atas 30 ml/jam. gelisah. Evaluasi penghilangan nyeri. status hidrasi/derajat kekurangan. Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam. Pada luka bakar luas. haus. mis. perpindahan cairan dari ruang intravaskular ke ruang interstitial menimbukan hipovolemi. Temuan temuan ini mennadakan hipovolemia dan perlunya peningkatan cairan. Kekurangan volume cairan tidak terjadi. takikardia. Status umum setiap 8 jam. Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. tretawa. berpartisipasi secara aktif dan sentuhan terapeutik. Masukan dan haluaran. bimbingan imajinasi.12 Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri. meningkatkan rasa control. Menunjukkan keadekuatan volume sirkulasi. Konsultasi doketr bila manifestasi kelebihan cairan terjadi. visualisasi. Indikator tidak langsung dari Perthanakn kleuhan haus. elektrolit serum dalam batas normal. Resiko deficit volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui rute normal dan atau abnormal (perdarahan). Pantau: Tanda-tanda vital. Kriteria evaluasi: tak ada manifestasi dehidrasi. Dorong pemasukan cairan sampai 3000 cc/24 jam sesuai Membantu dalam memelihara toleransi tubuh. pengisian kapiler. evaluais nadi perifer. resolusi oedema. Memungkinkan pasien untuk Teknik relaksasi. pengaruh minimum pada AKS. kebuthan cairan dan .

Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas. Periode istirahat sering diperlukan untuk memperbaiki/mengurangi pemakaiann neergi. merah muda dan kering Berikan aktifitas alternatif dengan periode istirahat tanpa diganggu. Mencegah kelelahan yang berlebihan. Meningkatkan kekuatan stamina dan memampukan pasien manjadi lebih aktif tanpa kelelahan berarti. Masukan/penggunaan nutrisi adekuat perlu untuk memenuhi kebutuhan energi untuk aktifitas.13 menurunkan resiko samping membahayakan. kebutuhan psikologis/emosional berlebihan. frekuensi jantung/irama dan Td dalam batas normal. Kelemahan b/d penurunan produksi energi metabolic. Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat. Dorong masukan nutrisi. yang dapat memperbaiki perasaan sejahtera dan rasa kontrol. Perencanaan akan memungkinkan pasien menjadi ektif selama waktu dimana tingkat energi lebih tinggi. Libatkan pasien/orang terdekat dalam jadwal perencanaan. perubahan kimia tubuh. Mual/muntah atau nefrotoksitas. Klien dapat mengontrol kelemahan yang timbul dan dapat memenuhi aktifitas secara mandiri. . efek yang Diberikan untuk hidrasi umum serta mengencerkan obat antineoplastik dan menurunkan efek samping merugikan. perdarahan. kulit hangat. Kelemahan dan kelelahan berkurang. mis. Jadwalkan aktifitas periodic bila pasien mempunyai energi banyak. peningkatan kebutuhan energi (status hipermetabolik). Kolaborasi: Berikan cairan IV sesuai indikasi. Kebutuhan ADL terpenuhi secara mandiri atau dengan bantuan.

Anjurkan penderita untuk tidur miring ke kiri. Perdarahan berhenti atau tidak ada. Meminimalkan tekanan pada aorta sehingga O2 yang disuplay ke plasenta dan janin lebih lancar. menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. bangun dari tempat tidur. belajar berdiri dst. Fase istirahat yang lebih akan membantu meminimalkan pemakaian energi dan O2 sekaligus dapat mengistirahatkan bayi sampai Motivasi pasien untuk meningkatkan fase istirahat. Gawat janin tidak terjadi. Kontraksi uterus /his tidak ada. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta skunder terhadap perdarahan. contoh: Aktifitas yang maju posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak ada memberikan kontrol jantung. Kriteria hasil: Gerakan janin aktif. Anjurkan pasien untuk melakukan ANC secara teratur Deteksi dini terhadap adanya sesuai dengan masa kehamilan: penyimpangan pada 1 x/bln pada trimester I kehamilan. Penurunan DJJ dan gerakan janin sebagai prediksi adanya asfiksia janin. Pantau DJJ. DJJ 120-140 x/mnt. kontraksi uterus/his. 2 x/bln pada trimester II 1 x/minggu pada trimester III. gerakan janin. bayi dapat dipertahankan sampai umur 37 minggu dan atau BBL ≥ 2500 gr. meningaktkan regangan dan mencegah aktifitas berlebihan. . Flek-flek tidak ada. nyeri.14 Anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan kebutuhan Teknik penghematan energi ADL pasien. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari aktifitas. Kehamilan dapat dipertahankan sampai umur 37 minggu dan atau BBL ≥ 2500 gr.

15 cukup bulan. Postur tubuh rileks. Pasien kooperatif dalam pengobatan. Pengetahuan apa yang diperkirakan membantu mengurangi ansietas. pengobatan). ancaman/perubahan pada status kesehatan. Perut mengeras dan sangat nyeri. Pendekatan tenang oleh pemberi perawatan menyampaikan kepercayaan dan control. Ekspresi wajah tenang. Skala HARS: < 5 Kaji derajat ansietas. fungsi peran. Kontraksi/his terus-menerus. Pertahankan kontak sering dengan pasien. bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak. Perdarahan Nyeri abdomen. Pasien dapat mendemonstrasikan hilangnya ansietas. Pertahankan cara yang tenang dan efisien. ancaman kematian. Pasien tenang. berikan respek dan penerimaan individu. mengembangkan kepercayaan. transmisi/penularan perasaan interpersonal. Biarkan pasien mengekspresikan perasaan tentang Pengekspresian perasaan kondisinya. Ketakutan/ansietas b/d krisis situasi (perdarahan). membantu pasein Jelaskan semua tujuan tindakan yang ditentukan. Bicara dengan Memberikan keyakinan menyentuh pasien bila tepat. Jelaskan pada pasien untuk segera kehamilannya bila terdapat: Gerakan janin berkurang/menurun. Pertahankan control nyeri efektif. pola interaksi. Kriteria hasil: Pasien melaporkan hilangnya / berkurangnya perasaan cemas/khawatir. memeriksakan Sebagai kontrol langsung dari pasien terhadap kondisi kehamilannya. Menentukan intervensi keperawatan selanjutnya. mngidentifikasi sumber ansietas dan penggunaan respon koping. perpisahan dari keluarga (hospitalisasi. Nyeri adalah sumber ansietas. .

fungsi menyerah setiap hari dan kepuasan individu dam memberikan sumber. Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan Menjamin system pendukung mayor akan dibuat. Tentukan adanya ide bunuh diri mekansime pertahanan dari dan kaji potensial nyeri pada skala 0-10. Mengidentiifkasi masalah tidak berdaya. menyangkal dan mengekspresikan harapan dimana diagnosis tidak akurat. gejala fisik atau kurang erawatan diri dapat menyebabkan pasien menjadi menarik diri dan yakin bahwa bunuh diri adalah pilihan tepat. Persaan bersalah. Interaksi social buurk. menghemat energi dan meningkatkan kemmapuan koping. Pasien dapat menggunakan marah. tanda tidak tepat. distress spiritual. mis. Perhatikan koping takefektif. dukungan pada pasien/orang terdekat dalam menggunakan keterampilam koping efektif. Defisit knowledge / Kurang Pasien dapat memenuhi Tentukan persepsi pasien tentang kondisi kehamilan Memvalidasi tingkat . mis. Menarik diri. Memudahkan istirahat. Tingkatakan rasa tenang dan lingkungan tenang. untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat degna tepat.16 Waspada pada tanda menyangkal/depresi.

prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemajanan/mengingat. tidak terjadi. mengenai penyakit. Anjurkan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual Mencegah timbulnya pada uterus dengan suami sampai kehamilan berusia ± 16 minggu (4 rangsangan sehingga kontraksi uterus bulan). Lakukan evalausi sebelum pulang ke rumah sesuai indikasi. tidak mengenal sumber informasi. mengidentifkasi kebutuhan belajar dan memberikan dasar pengetahuan dimana pasien membuat keputusan berdasarkan informasi. sekarang. mengambil keputusan tentang perawatan dan pengobatan yang diterima. akanker. memberikan informasi yang diperlukan selama waktu menyerapnya. mitos. memahami penyakit dan pengobatan yang diberikan. Membantu dalam transisi ke . Bersikap jujur dengan pasien. Informasi akurat dan detail membantu menghilangkan rasa takut dan ansietas. Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara yang Membantu penilaian diagnos nyata. Pasien kooperatif terhadap tindakan pengobatan dan perawatan yang diberikan. jawab pertayaan dengan jelas. Anjurkan meningkatkan masukan cairan minimal 2500 Memperbaiki keadaan umum ml/24 jam dan diet tinggi kalori serta membatasi aktifitas. kesalahan interpretasi informasi. Berikan pedoman antisipasi pada pasien tentang protocol Pasien mempunyai hak untuk pengobatan. ibu sehingga membantu mengurangi akibat perdarahan.17 pengetahuan (kebutuhan belajar). tanyakan sendiri/sebelumnya. Pasien taat terhadap program pengobatan dan perawatan yang diberikan. kebutuhan belajar secara mandiri. keterbatasan kognitif. hasil yang diharapkan. kemungkinan janin tahu dan beraprtisipasi dalam dapat dipertahankan. tentang pengalaman pasien pemahaman saat ini. Kriteria hasil: Pasien memahami regimen terapeutik dan perawatan yang diberikan.

perawatan diri. prosedur invasif. mis. painless) dini dan Vital sign dalam batas Kaji semua system. penurunan terapi yang tepat untuk dimulai dengan segera. Peningkatan suhu terjadi perdarahan. takut dll. pertahanan skunder akibat gejala infeksi yang terjadi. Dorong kemandirian. pasien dan keluarga meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri secara aktif. Identifikasi dini tidak ada (rubor. Kriteria hasil: karena berbagai factor. Dorong mengekspresikan dan jangan menolak perasaan marah. libatkan keluarga Peningkatan kemandirian dari secara aktif dalam perawatan. Tanda dan gejala infeksi infeksi. fungsiolesa. Orientasikan klien/keluarga thd prosedur rutin dan aktifitas. penyediaan bahan yang diperlukan. mis. Pantau suhu. Pengenalan . b/d ketidakadekuatan tidak adanya tanda dan higienen personal. Tingkatkan partisipasi bila mungkin. genitourinaria. Kulit. Cemas berkelanjutan dapat terjadi dalam berbagai derajat selama beberapa waktu dan dapat dimanifestasikan oleh gejala depresi. pernafasan. Identifikasi dan ketahui persepsi pasien thd ancaman/situasi. proses infeksi memungkinkan color. dolor. Perkiraan dan informasi dapat menurunkan kecemasan pasien.18 lingkungan rumah dengna memberikan informasi tentang kebutuhan perubahan pada situasi fisik. Resiko tinggi terhadap infeksi Pasien mendemonstrasikan Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik Tekankan Membantu potensial sumber infeksi/pertumbuhan skunder.

djj. Kondisi janin dalam rahim baik (gerakan janin. kontraksi berkurang). terhadap tanda/gejala infeksi secara kontinyu. . taati teknik septic. Hindari/batasi prosedur invasive. Membatasi keletihan. Perdarahan berkurang/berhenti.19 normal. Tingkatkan istirahat adekuat. dapat pada lebih Menurunkan resiko kontaminai. membatasi entri portal terhadap agen infeksius. intervensi segera mencegah progresi situasi/sepsis yang serius.

Long (1996). Jakarta. BAB 3 . Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Alice C.V Mosby Company St. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta. Ilmu Kandungan. Philadelphia. WB. Doenges (2000). Hacker Moore (1999). Mary Frances Moorhouse. Medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Ilmu Kebidanan. Jakarta Hanifa Wikyasastro (1997). Jakarta. Sauders Company. Doengoes. Barbara Engram (1998). Donna D. Jakarta Marylin E. Guyton & Hall (1997). Marylin E. Ignatavicius (1991). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. USA. Hanifa Wikyasastro (1997).20 DAFTAR PUSTAKA Barbara C. Louis. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (1994). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid II Penerbit Buku Kedokteran EGC. The C. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Obstetri Patologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Bandung. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Geissler (2000). Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta. Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2.

R DENGAN ABORTUS IMMINENS TANGGAL 17 MARET 2009 Tanggal masuk Ruang Pengkajian tanggal 3.-) : Klampis . ibu mengatakan habis jalan-jalan di mall. Nama Umur Suku/bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. Alasan datang ke rumah sakit : Ibu mengeluh terlambat menstruasi sejak 4 bulan yang lalu. R : 24 tahun : Jawa/Indonesia : Islam : SMA : Ibu RT : Klampis . Keluhan utama saat ini : Ibu takut kalau kehamilannya tidak bisa dipertahankan atau terdapat apa-apa dengan janin yang dikandungnya.Sby Status perkawinan : Kawin 3. lalu sejak tadi pagi dirasakan keluar darah sedikit dari kemaluan serta ibu merasakan mules pada perut bagian bawah.1.3 Riwayat Keperawatan a. d. Ibu mengatakan tidak melakukan hubungan seksual kemarin malam. f.1 Identitas Nama Umur Suku/bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : 17 Maret 2009 :: 17 Maret 2009 Jam masuk : 11. e. Register : XXXXXXX Jam : 12. perdarahan dirasakan semakin bertambah. 21 3. Faktor yang memperberat : Jika ibu beraktifitas atau berjalan.30 WIB.21 ASUHAN KEPERAWATAN REPRODUKSI PADA NY.1. b. : Ny.1 Pengkajian 3. Diagnosa medik : Abortus imminens.2 Status perkawinan : Kawin Status Kesehatan a. S : 28 tahun : Jawa/Indonesia : Islam : SMA : Swasta (± Rp.1. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi : Istirahat dan duduk. Riwayat obstetri: .Sby.200. Timbulnya keluhan : Mendadak.30 WIB No. c.1.000.

ibu tidak pernah menderita penyakit infeksi seperti typhus. Ibu mengatakan tidak pernah mendapat kecelakaan atau trauma selama masa kehamilan ini. h. 5) HPHT: 16 November 2008 6) Keluhan selama menstruasi tidak ada. c.R). e. Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari? Tidak karena ibu memang harus beristirahat. lantai licin tidak ada. i. Aspek psikososial: Persepsi ibu tentang keluhan/penyakit : Ibu merasa akan mengalami keguguran. Riwayat perkawinan : Ibu menikah 6 bulan yang lalu dan ini adalah pernikahan yang pertama. Riwayat penyakit keluarga: Hipertensi (ibu Ny. Riwayat Keluarga berencana : Ibu tidak melaksanakan KB. 2) Pengobatan yang didapat: tidak ada. Riwayat menstruasi: 1) Menarche umur 12 tahun 2) Banyak darah menstruasi sedang 3) Siklus teratur 4) Lama menstruasi: 5 -7 hari. penyakit pada kandungan. Riwayat kesehatan: 1) Penyakit yang pernah dialami ibu: tidak ada. nifas yang lalu : Ibu pada saat ini hamil pertama dan tidak ada riwayat abortus/keguguran sebelumnya. Ibu mengatakan sangat .22 b. karenanya data lain tidak dikaji. Riwayat lingkungan: 1) Kebersihan: menurut ibu kebersihan rumah dan lingkungannya cukup bersih. Ibu berharap kehamilannya dapat diperthanakan karena ibu sangat ingin punya anak. j. 2) Bahaya: bahaya dalam rumah dan sekitar rumah seperti pabrik dekat rumah tidak ada. Riwayat kehamilan. g. pneumonia. Genogram: Hamil ini Keterangan: = Laki-laki = Perempuan = Hipertensi = Ny. d.R abortus = Meninggal = Tinggal dlm satu rumah f. persalinan.

. • Warna: Kuning jernih. bersih-bersih rumah dan memasak. Pola eleminasi: 1) BAK: • Frekuensi: 5 kali sehari. • Warna: kuning khas feses. 3) Jenis makanan rumah: nasi. 2) Nafsu makan baik. • Bau: khas feses. tidak ada. 3) Cuci rambut: • Frekuensi: 3 kali seminggu. 2) Oral hygiene: • Frekuensi: 2 kali sehari. c. 3) Olahraga: ya. 2) Kebiasaan sebelum tidur: tidak ada. frekuensi kadang-kadang. jalan-jalan pagi. e. • Keluhan: tidak ada. f. Kesiapan mental untuk menjadi ibu: siap. sehingga banyak pekerjaan rumah tangga yang diselesaikan oleh ibu mertua seperti mencuci. • Penggunaan sabun: ya. • Konsistensi: padat. lauk. Pola nutrisi: 1) Frekuensi makan: 3 kali sehari. tidak.1. Ibu mengatakan tidak begitu suka minum susu. 4) Kegiatan waktu luang: tidak ada. b. sayur dan buah. menyetrika. • Penggunaan shampo: ya.23 khawatir dengan keselamatan bayinya dan bertanya bagaimana caranya supaya bayinya dapat dipertahankan. 4) Makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan: tidak ada. 2) Waktu bekerja: tidak tentu. Pola istirahat dan tidur: 1) Lama tidur: 8 jam sehari. Minuman keras. 3) Keluhan tidur. • Keluhan saat BAK: Tidak ada. Pola aktifitas dan latihan: 1) Kegiatan dalam pekerjaan: membantu memasak. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan: Merokok: tidak. 5) Keluhan dalam aktifitas: tidak ada. 2) BAB: • Frekuensi: 1 kali sehari. • Waktu: pagi dan sore. Pola personal hygiene: 1) Mandi: • Frekuensi: 2 kali sehari.4 Aktifitas Sehari . 3. d.Sehari: 1) 2) 3) a. Orang terpenting bagi ibu adalah keluarga. Ibu tinggal dengan mertua. Sikap anggota keluarga terhadap keadaan saat ini adalah sangat mendukung. Ketergantungan obat: tidak.

2) Mata: • Kelopak mata: simetris. b. • Irama: reguler. . 4) Mulut dan tenggorokan: • Gigi geligi: lengkap. • Kesadaran: CM. • Sinus: normal. • Menggunakan otot-otot bantu pernafasan: tidak. isokor. • Sklera: putih. • Respirasi: 18 x/mnt. tidak ada nyeri tekan. 7) Sirkulasi jantung: • Kecepatan denyut apikal: 88 x/mnt. • Papila mamae: menonjol. • Kelainan bunyi jantung: tidak ada. • Colostrum: belum keluar.1. • Suara nafas: bersih. 3) Hidung: • Reaksi alergi: tidak ada. Khusus: 1) Kepala: • Bentuk: normal. • Luka bekas operasi: tidak ada. • Kesulitan menelan: tidak ada. Umum: • Keadaan umum: baik. 32 buah. • Sakit dada: tidak ada. • Akomodasi: baik (tidak memakai kacamata). • Tinggi badan: 154 cm. E4V5M6 • Tekanan darah: 120/80 mmHg. • Gerakan mata: normal. 5) Dada dan axilla: • Mamae: membesar • Areolla mamae: hiperpigmentasi. • Nadi: 88 x/mnt • Suhu: 370C. oedem palpebra tidak ada. 6) Pernafasan: • Jalan nafas: bebas. • Konjungtiva: merah muda. • Keluhan: tidak ada. tidak ada suara nafas tambahan. • Pupil: normal.5 Pemeriksaan fisik: a. icetrus tidak ada. • Berat badan: 48 kg.24 3. 8) Abdomen: • Mengecil: tidak • Linea dan striae: tidak ada.

Rontgen: -- d. • Warn akulit: sawo matang. • Cavum uteri: AF (18 – 20 mg). • Bed rest. fluxus tidak ada. Pemeriksaan dalam (vaginal toucher): • Vulva: fleks ada sedikit. nyeri (-). • Adnexa parametrium ki: soepel. O: Ibu hamil 18-20 Suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta terputus . ibu tampak gelisah. djj: (+) 12-12-12 9) Genitourinary: • Perineum: intak. KIE. Kontrol 1 bulan lagi atau ada keluhan. 3. separasi plasenta. perut nutrisi ke bagian bawah jaringan plasenta dirasakan mules. • Ibu menyakan apakah kondisi janinnya baik. • Porsio: tertutup. nyeri tekan (-).7 Data Tambahan : • Ibu sangat menginginkan anak dan berharap kandungannya bisa diselamatkan. e. nyeri (-).1. licin. • Cavum douglas: tidak menonjol. • Kesulitan dalam pergerakan: tidak ada. laboratorium: -b.6 Data Penunjang a. • Vesika urinaria: kosong. S: Ibu mengatakan keluar Penurunan darah dari kemaluan suplay O2 dan sejak tadi pagi. mass (-). Ibu skunder mengatakan tidak terhadap nyeri waktu dilakukan terlepasnya periksa dalam. • Mefenamic acid 3x500 mg. • Saat dilakukan pemeriksaan. fluxus tidak ada. • TFU: 2 jari bawah pusat.1. Masalah Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia). mass (-). 10) Ekstremitas: • Turgor kulit: baik. USG: -c. • Adnexa parametrium ka: soepel. • Kontraktur pada persendian ekstremitas: tidak ada. Terapi yang didapat: • Premaston: 2x1 tablet.8 Analisa Data Data Etiologi Patofisiologi Implantasi plasenta di endometrium lepas.25 • Kontraksi: tidak ada. ekspresi wajah tegang dan postur tubuh kaku dan tegang. 3. • Vagina: fleks ada sedikit.1. 3.

N: 88 x/mnt. ibu bertanyatanya mengenai keselamatan bayi yang dikandungnya. kebutuhan pengobatan Defisit knowledge (kebutuhan belajar) mengenai penyakit. Ibu mengatakan sangat ingin punya bayi dan ini adalah kehamilan yang pertama. fleks (+). O: Ibu tampak gelisah. Kurang informasi mengenai penyakit.26 minggu. saat dilakukan pemeriksaan ibu banyak bertanya kepada petugas. djj: 12-12-12. Janin kekurangan O2 dan nutrisi Gawat janin (Hipoksia) Kematian janin intra uteri/abortus S: Ibu mengatakan sangat khawatir dengan perdarahan yang dialami. TD: 120/80 mmHg. S: Ibu banyak bertanya tentang kemungkinan bayi dapat diselamatkan. prognosis. postur tubuh saat dilakukan pemeriksaan kaku dan tegang. Perdarahan Ansietas. Perubahan respon psikologis ibu Maladaptif Cemas meningkat Kurang informasi. Ekspresi wajah ibu tampak tegang. . fluxus (-). TFU 2 jbpst. Ibu juga bertanya tentang pantangan yang harus Krisis situasi (perdarahan dan ancaman terhadap keselamatan bayi yang dikandungnya). kontraksi tidak ada. RR: 16 x/mnt. VT: ditemukan porsio tertutup. gerakan janin aktif.

. O: Ibu hamil 18-20 minggu. RR: 16 x/mnt. ini adalah kehamilan pertama dan usia ibu 23 tahun. prognosis dan kebutuhan pengobatan. Ansietas b/d krisis situasi (perdarahan dan ancaman terhadap keselamatan bayi yang dikandungnya). Ketidakmampuan mengenal informasi Ketidaktahuan tentang kondisi dan pengobatan. N: 88 x/mnt. Ibu mengatakan tidak nyeri waktu dilakukan periksa dalam. Pendidikan ibu SMA. Program pengobatan tidak berhasil. TFU 2 jbpst. kontraksi tidak ada. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta skunder terhadap terlepasnya separasi plasenta. 3. fleks (+). 2. TD: 120/80 mmHg. Ibu baru menikah 6 bulan. ibu tidak bekerja. Tidak taat terhadap program pengobatan. perut bagian bawah dirasakan mules.1. djj: 12-12-12.9 Diagnosa Keperawatan 1. Data penunjang: S: Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan sejak tadi pagi. gerakan janin aktif. O: Ibu banyak bertanya kepada petugas dan mahasiswa. Ibu berkali-kali mengatakan sangat ingin punya bayi. fluxus (-).27 dilakukan supaya bayinya selamat. nyeri tidak ada. VT: ditemukan porsio tertutup.

28 Data penunjang: S: Ibu mengatakan sangat khawatir denagn perdarahan yang dialami. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang informasi. . Ibu baru menikah 6 bulan. Ekspresi wajah ibu tampak tegang. ibu bertanyatanya mengenai keselamatan bayi yang dikandungnya. Ibu juga bertanya tentang pantangan yang harus dilakukan supaya bayinya selamat. ibu tidak bekerja. postur tubuh saat dilakukan pemeriksaan kaku dan tegang. saat dilakukan pemeriksaan ibu banyak bertanya kepada petugas. ini adalah kehamilan pertama dan usia ibu 23 tahun. Ibu mengatakan sangat ingin punya bayi dan ini adalah kehamilan yang pertama. O: Ibu banyak bertanya kepada petugas dan mahasiswa. Defisit knowledge (kebutuhan belajar) mengenai penyakit. Pendidikan ibu SMA. 3. Data penunjang: S: Ibu banyak bertanya tentang kemungkinan bayi dapat diselamatkan. O: Ibu tampak gelisah. Ibu berkali-kali mengatakan sangat ingin punya bayi.

Flek-flek tidak otivasi pasien untuk akan membantu ada. Pantau DJJ. prediksi adanya distres kontraksi dipertahankan sampai janin. janin berlangsung uterus /his tidak meninggal). (keguguran. Anjurkan penderita Meminimalkan tekanan .Kehamilan dapat c. Jelaskan penyebab Meningkatkan 13. gerakan umur 37 minggu dan atau janin. kontraksi tidak ada. M Fase istirahat yang lebih minimal 8 jam sehari . gerakan gerakan janin sebagai 12. b.Perdarahan lancar.00 Kriteria hasil: terjadinya perdarahan pemahamana ibu dan . gawat janin tidak uterus/his.29 3.DJJ 120-160 perdarahan terus pengobatan. Rasional dan Implementasi No Diagnosa Keperawatan 1. bayi akan ada. . plasenta dan janin lebih rumah.Menganjurkan ibu dipertahankan sampai umur 37 untuk tidur miring ke pada aorta sehingga O2 untuk tidur miring ke minggu dan atau kiri. O: Ibu hamil 18-20 minggu.1.Kontraksi (keguguran. . O2 sekaligus dapat Menganjurkna ibu mengistirahatkan bayi untuk teratur ANC Djj (+) 12-12-12. TFU 2 jbpst. bayi dapat janin. dan kurangi beraktifitas meningkatkan fase meminimalkan agak berat seperti istirahat. gerakan janin aktif. meninggal). yang disuplay ke arah kiri selama di BBL ≥ 2500 gr. dan akibat bila kerjasama dalam terjadinya perdarahan .40 Memantau djj. pemakaian energi dan olahraga. Data penunjang: S: Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan sejak tadi pagi. BBL ≥ 2500 gr. kontraksi Penurunan DJJ dan Tgl 17 Maret 2009: askep. perut bagian bawah dirasakan mules. Ibu mengatakan tidak nyeri waktu dilakukan periksa dalam. fluxus (-). VT: ditemukan Intervensi Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: setelah diberikan a. d. Rencana Intervensi Rasional Implementasi Keperawatan Implementasi Evaluasi Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan mahasiswa. fleks (+). . gerakan janin aktif. berlangsung perdarahan terus . dan akibat bila x/mnt.Menjelaskan penyebab . Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta skunder terhadap terlepasnya separasi plasenta. djj: 12-12-12. uterus/his. terjadi.Gerakan janin aktif.Memotivasi ibu untuk berhenti atau lebih banyak istirahat tidak ada.10 Rencana Intervensi. . kontraksi uterus tidak ada.

1 x/bln pada trimester I .2 x/bln pada . terdapat:: melakukan ANC .1 x/bln pada menerus. TD: 120/80 mmHg.Kontraksi/his teruskehamilan: .2 x/bln pada trimester II -1 x/minggu pada trimester III. trimester I .30 porsio tertutup.Nyeri abdomen. seksual selama . yaitu: .Nyeri abdomen. nyeri tidak ada. trimester III.Menyarankan ibu dan berkurang/menurun.Perdarahan perdarahan terjadi dan .Gerakan janin secara teratur sesuai berkurang/menurun. N: 88 x/mnt.Perdarahan .Gerakan janin .Perut mengeras dan .1 x/minggu pada sangat nyeri.Menganjurkan ibu langsung dari pasien untuk banyak makan f. dengan masa .Mengingatkan ibu untuk e. . Jelaskan pada pasien terhadap kondisi makanan yang bergizi untuk segera kehamilannya. Deteksi dini terhadap . Sebagai kontrol . suami untuk tidak .Kontraksi/his terusmelakukan hubngan menerus. Ibu mengatakan akan mentaati semua petunjuk yang diberikan. trimester II . sampai cukup bulan. Ibu mengatakan akan mentaati semua petunjuk yang diberikan. A adanya penyimpangan segera kontrol bila njurkan pasien untuk pada kehamilan. RR: 16 x/mnt. untuk meningkatkan memeriksakan keadaan kesehatan ibu kehamilannya bila dan minum air minimal terdapat: 2500 cc /hari. .

Ibu mengatakan sudah memahami semua penjelasan yang diberikan dan berjanji akan mentaati semua petunjuk yang diberikan. atau selama terjadi perdarahan Meningkatkan pemahaman ibu dan i.30 Menanyakan ibu masukan cairan membantu mengurangi mengenai minimal 2500 ml/24 akibat perdarahan. Anjurkan me↑ umum ibu sehingga 13. Memperbaiki keadaan g. Anjurkan ibu untuk merangsang produksi tidak melakukan prostaglandin eningkat hubungan seksual sehingga dapat terjadi dengan suami sampai rangsangan pada uterus menimbulkan kehamilan berusia ± dan 20 minggu (5 bulan) kontraksi.Perut mengeras dan sangat nyeri. terhadap penjelasan yang diberikan. . sampai umur kehamilan minimal 5 bulan atau selama perdarahan berlangsung. Lkaukan pengulangan bila perlu. Tanyakan pada ibu pesanan sebelum ibu tentang pemahaman pulang. kalori serta membatasi aktifitas.31 . Koitus dapat h. penjelasan yang jam dan diet tinggi sudah diberikan.

memungkinkan orang . Ibu berjanji akan tetap tenang dan tabah. Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat. ditentukan. 5) Ibu b. Pengekspresian Tgl 17 Maret 2009. gelisah serta lebih banyak berdoa sehingga Ibu bercerita tentang perasaan cemasnya saat terjadi perdarahan. Pengetahuan apa yang 12. (periksa dalam). 7) Ekspresi c. dipertahankan bersama ibu dan suami denagn Menjamin system syarat ibu mentaati pendukung untuk semua petunjuk yang pasien dan diberikan. ibu dapat mengekspresikan menunjukkan hilangnya perasaan tentang ansietas. Motivasi pasien untuk meningkatkan fase wajah tenang. saat dilakukan pemeriksaan ibu banyak bertanya kepada petugas. angin. 6) Postur tubuh rileks. istirahat. Pendekatan terjadinya perdarahan. kondisinya. diperkirakan membantu menyalakan kipas mengurangi ansietas. perasaan membantu 12. meminimalkan pemakaian energi dan 13. Ansietas b/d krisis situasi (perdarahan dan ancaman terhadap keselamatan bayi yang dikandungnya). postur tubuh saat dilakukan pemeriksaan kaku dan tegang. ekspresi wajah tampak cemas. Posisi ibu rileks. d.Memotivasi ibu untuk terdekat terlibat degna tetap tenang dan tidak tepat. Ibu mau dilakukan pemeriksaan dalam.00 O2 sekaligus dapat . ibu bertanya-tanya mengenai keselamatan bayi yang dikandungnya. 4) Ibu tenang.30 Memberiakn pasien mngidentifikasi kesempatan kepada ibu sumber ansietas dan untuk menceritakan penggunaan respon perasaanya dan riwayat koping. Ibu tampak lega dengan penjelasan yang diberikan. Tujuan: setelah diberikan a. tenang oleh pemberi perawatan 12.32 2.40 Menjelaskan kepada menyampaikan ibu bahwa akan kepercayaan dan dilakukan tindakan VT control. Ibu mengatakan sangat ingin punya bayi dan ini adalah kehamilan yang pertama.Mendiskusikan tentang mengistirahatkan bayi kemungkinan bayi dpaat sampai cukup bulan.45 mengatur posisi ibu. Kriteria hasil: Pertahankan cara yang 3) Ibu tenang dan efisien. mengurangi jumlah petugas dalam Fase istirahat yang lebih ruang periksa dan akan membantu menutup gorden. melaporkan hilangnya / berkurangnya perasaan cemas/khawatir. Ekspresi wajah ibu tampak tegang. O: Ibu tampak gelisah. Data penunjang: S: Ibu mengatakan sangat khawatir denagn perdarahan yang dialami. Biarkan pasien askep. . Jelaskan semua tujuan kooperatif dalam tindakan yang pengobatan.

mengidentifkasi perasaan ibu denagn tanyakan tentang kebutuhan belajar dan adanya perdarahan dan pengalaman pasien memberikan dasar sakit pada perutnya. sendiri/sebelumnya. Defisit knowledge (kebutuhan belajar) mengenai penyakit. Anjurkan ibu untuk Berdoa lebih tetap berdoa untuk mendekatkan ibu keselamatan bayinya. Ibu mengatakan . kepada Than dan memberikan ketenangan secara spiritual. f. ibu dapat memenuhi kebutuhan belajar secara mandiri. harapan untuk punya bayi dapat tercapai.00 Menanyakan kehamilan sekarang. menghemat energi dan meningkatkan kemmapuan koping. Motivasi ibu untuk Kondisi psikologis ibu tetap tenang. 13. Data penunjang: S: Ibu banyak bertanya Tujuan: setelah diberikan askep. a. nyalakan kipas angina. tidak sangat berpenagruh gelisah terhadap terhadap kondisi janin. pengetahuan dimana pasien membuat keputusan berdasarkan 3. g. kondisinya. Tingktakan rasa tenang dan lingkungan tenang (tutup gorden pada saat pemeriksaan berlangsung. batasi jumlah petugas dalam ruangan pemeriksaan. Memudahkan istirahat.33 e. memahami penyakit dan pengobatan yang diberikan. sediakan selimut penutup dll). prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang informasi. Tentukan persepsi Memvalidasi tingkat Tgl 17 Maret 2009 : pasien tentang kondisi pemahaman saat ini. Kriteria hasil: Ibu mengatakan sangat cemas denagn perdarahan yang terjadi dan takut kalau bayinya meninggal.

memberikan informasi yang diperlukan selama 13. Peningkatan 13.Menjelaskan beberapa tentang perawatan dan hal yang perlu ditaati pengobatan yang oleh ibu dan suami diterima. O: Ibu banyak bertanya kepada petugas dan mahasiswa. Ibu berkali-kali mengatakan sangat ingin punya bayi. libatkan keluarga secara aktif dalam perawatan.Tidak hubungan seksual Perkiraan dan informasi selama 5 bualn dapat menurunkan kehamilan. diberikan.45 Melakukan evaluasi kemandirian dari pasien sebelum ibu pulang dan keluarga tentang pemahaman meningkatkan rasa ibu mengenai percaya diri dan perdarahan terjadi tiba-tiba dan ibu tidak tahu sebabnya. kemungkinan janin dapat dipertahankan. . Bersikap jujur dengan pasien. d. 8) Ibu memahami regimen b.Tidur miring ke kiri.Lebih banyak istirahat. nyata. takut dan ansietas. Informasi yaitu: akurat dan detail . Berikan informasi terapeutik dan yang jelas dan akurat perawatan yang dalam cara yang diberikan. . Pendidikan ibu SMA.Periksa teratur sesuai membantu petunjuk yang menghilangkan rasa diberikan. tindakan pengobatan dan perawatan yang diberikan. Berikan pedoman 10) Ibu taat antisipasi pada pasien terhadap program tentang protocol pengobatan dan pengobatan. Ibu baru menikah 6 bulan. perawatan diri. kecemasan pasien. . Orientasikan klien/keluarga thd prosedur rutin dan aktifitas. informasi. ibu tidak bekerja.34 tentang kemungkinan bayi dapat diselamatkan. Membantu penilaian diagnos akanker. Dorong kemandirian. Tingkatkan partisipasi bila mungkin. jawab 9) Ibu pertayaan dengan kooperatif terhadap jelas. ini adalah kehamilan pertama dan usia ibu 23 tahun.30 waktu menyerapnya. Ibu dan suami mengatakan akan mentaati beberapa pantanagn yang diberikan. Ibu juga bertanya tentang pantangan yang harus dilakukan supaya bayinya selamat. mengambil keputusan . e.Mendiskusikan dengan ibu dan suami tentang penyakit yang diderita Pasien mempunyai hak ibu dan kemungkinan untuk tahu dan bayi dapat beraprtisipasi dalam dipertahankan. c. Ibu dan suami mengatakan sudah dapat mengerti penjelasan dan petunjuk yang . .Makan makanan yang bergizi. hasil perawatan yang yang diharapkan. .

35 kemampuan untuk f. sudah diberikan. . penjelasan yang diberikan. penyediaan bahan yang diperlukan. dalam rumah sesuai indikasi. Lakukan evalausi melakukan perawatan sebelum pulang ke diri secara aktif. Membantu transisi ke lingkungan rumah dengna memberikan informasi tentang kebutuhan perubahan pada situasi fisik.

4.30 WIB) sehingga data pun terkumpul seadanya sesuai dengan data fokus yang cenderung timbul pada ibu hamil pertama dengan kasus abortus. Beberapa diagnosa keperawatan seperti nyeri.1 Pengkajian Prinsip yang harus diperhatikan dalam melakukan pengkajian pada ibu hamil dengan abortus adalah melakukan pengkajian secara lengkap dan sistematis sehingga dalam merumuskan data fokus yang menjadi permasalahan pasien dapat lebih mudah. Sementara pasien datang berkunjung sudah siang (pukul 12. ada beberapa hal yang perlu menjadi pembahasan yaitu: 4. hanya 3 diagnosa keperawatan yang diangkat dengan alasan: 1. Sementara dari 7 diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada ibu hamil dengan abortus. yaitu tidak adanya literatur mengenai asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan abortus sehingga perumusan diagnosa keperawatan diadopsi dari beberapa literatur yang ada yang disesuaikan dengan permasalahan yang mungkin timbul. maka berdasarkan pengamatan dan asuhan yang telah diberikan. resiko defisit volume cairan.2 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan teori asuhan keperawatan mengenai ibu dengan abortus. 36 . Namun hal tersebut agak sulit dilakukan mengingat mobilitas pasien yang datang berkunjung ke poliklinik sangat tinggi sehingga untuk mendapatkan data yang lengkap dan sistematis pun sulit untuk didapatkan. kelemahan dan resiko terjadi infeksi tidak diangkat karena data yang menunjang terhadap timbulnya diagnosa tersebut tidak ditemukan. 2. dalam merumuskan diagnosa keperawatan ada beberapa kendala yang kami hadapi.36 BAB 4 PEMBAHASAN Setelah mempelajari konsep teori asuhan keperawatan pada ibu dengan gangguan sistem reproduksi yaitu kehamilan dengan abortus. Pengkajian yang dilakukan hanya sesaat pada saat pasien datang dan pengkajian dilakukan dengan lebih memfokuskan pada permasalahan yang ditemukan oleh mahasiswa yang dihadapi oleh ibu pada saat datang berkunjung.

Sehingga untuk evaluasi kunjungan berikutnya diserahkan kepada petugas poliklinik. 4.4 Implementasi Keperawatan Implementasi yang dapat dilakukan pada kasus lebih banyak terfokus pada KIE dengan harapan pasien dapat menerapkan anjuran dan petunjuk yang diberikan di rumah secara taat. . Tidak semua perencanaan yang ada dalam konsep teori dapat diangkat dalam kasus karena mengingat kontak waktu mahasiswa dengan pasien sangat terbatas sehingga hanya perencanaan yang mungkin untuk diangkat yang kami utamakan.3 Rencana Intervensi dan Rasional Pada perumusan rencana intervensi keperawatan. Hanya dalam pelaksanaan tersebut mahasiswa melakukan beberapa pengulangan untuk mendapatkan keyakinan bahwa pasien memang sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan sehingga evaluasi pundapat lebih mudah dilakukan. mahasiswa merumuskan rencana intrevensi sesuai dengan kondisi pasien yang datang berkunjung ke poliklinik dan perencanaan yang memungkinkan untuk dilakukan implementasi dan evaluasi keperawatan.37 4.5 Evaluasi Keperawatan Evaluasi yang dilakukan hanya evaluasi tindakan pada saat itu juga mengingat sifat kunjungan pasien adalah rawat jalan sehingga monitoring selanjutnya tidak dapat dilakukan. 4.

Pemantauan secara teratur pada ibu hamil pertama (primigravidarum) terutama pada trimester I kehamilan sangatlah penting. Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan abortus hendaknya dilakukan secara komprehensif meliputi seluruh aspek bio – psiko – sosial dan spiritual karena kenyamanan psikologis ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya.1 Kesimpulan Ada beberapa kesimpulan yang penulis temukan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan kasus abortus yaitu: 1.38 BAB 5 PENUTUP 5. 5. 2.2 Saran Ada beberapa saran yang dapat penulis sampaikan dalam upaya meningkatkan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan abortus yaitu: Kepada mahasiswa FKp yang sedang melaksanakan tahap profesi agar lebih aktif dalam menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan konsep teori dan lebih memperhatikan kondisi pasien sehingga pelaksanaan praktek keperawatan dapat berjalan sesuai dengan target yang ingin dicapai. . Mengingat ibu primigravida cenderung mengalami gangguan dalam proses kehamilannya seperti misalnya abortus dalam kehamilan yang akan sangat berpengaruh terhadap psikologis ibu yang tentunya sangat berharap keselamatan bayinya dapat dipertahankan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful