P. 1
teori sosial

teori sosial

|Views: 331|Likes:

More info:

Published by: Fajar Adale Pasinringi on Mar 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2014

pdf

text

original

Sections

  • KEBUDAYAAN POSTMODERN MENURUT JEAN BAUDRILLARD
  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Tujuan Penelitian
  • C. Tinjauan Pustaka
  • D. Landasan Teori
  • A. Runtuhnya Era Modernisme
  • B. Postmodernisme dan Beberapa Tokohnya
  • C. Jean Baudrillard dan Beberapa Karyanya
  • A. Nilai Tanda dan Nilai Simbol
  • B. Simulacra/Simulacrum dan Simulasi
  • C. Postmodernisme: Sebuah Dunia Hiperrealitas
  • D. Mitos Impian Amerika
  • A. Budaya Massa dan Budaya Populer
  • B. Estetika Seni Postmodern
  • C. Membaca Film, Televisi dan Iklan

KEBUDAYAAN POSTMODERN MENURUT JEAN BAUDRILLARD

Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Tepat pukul 15.30, tanggal 15 Juli 1972, kompleks bangunan perumahan Pruitt Igoe St. Louis, Missouri, diledakkan. Kompleks bangunan yang dirancang dengan konsep arsitektur modern ortodoks oleh arsitek Jepang, Minoru Yamasaki pada tahun 1950 itu diledakkan karena dianggap sudah tidak lagi fungsional. Kerusakan konstruksi, pencurian listrik dan air, tunggakan kontrakan yang besar, vandalisme graffiti, wall painting dan pornographic painting yang dilakukan para penghuninya dianggap sudah kelewat batas. Hancurnya bangunan Pruitt Igoe yang merepresentasikan konsep arsitektur modern dengan karakter ruang isotropis, homogen, monoton, anti-ornamen, anti-metafor, anti-humor, mono-simbolik, dan berestetika mesin sekaligus menandai kematian era arsitektur modern dan segera lahirnya sebuah era baru: era arsitektur postmodern. Arsitektur postmodern, yang disuarakan oleh Charles Jenks, Heinrich Klotz dan Robert Venturi, hanyalah salah satu interpretasi wacana estetis-filosofis yang saat itu sedang membentuk dirinya:postmodernisme. Postmodernisme adalah wacana kesadaran yang mencoba mempertanyakan kembali batas-batas, implikasi dan realisasi asumsi-asumsi modernisme; kegairahan untuk memperluas cakrawala estetika,tanda dan kode seni modern; wacana kebudayaan yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, penyebaran informasi dan teknologi secara massif, meledaknya konsumerisme, lahirnya realitas semu, dunia hiperrealitas dan simulasi,serta tumbangnya nilai-guna dan nilai-tukar oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. Serangkaian kesadaran dan keyakinan baru ini mencakup berbagai bidang kehidupan. Dalam dunia seni misalnya, terdapat nama Marcel Duchamp dengan readymade art dan Andy Warhol dengan seni pop kaleng sup. Dalam dunia arsitektur terdapat nama Charles Jenks dengan karya teoritisnya The Language of Postmodern Architecture (1984) dan Robert Venturi dengan Complexity and Contradiction in Architecture (1962) yang memproklamirkan semboyan less is bore (mengejek semboyan less is more dalam arsitektur modern yang dikumandangkan oleh Mies van der Rohe, salah seorang penggagas awal arsitektur modern) (Andy Siswanto, 1994: 36). Dalam dunia drama terdapat nama Bertold Brecht dengan konsep pengasingan dan Antonin Artaud dengan teater absurd. Dalam dunia musik terdapat nama Nicholas Cage dengan musik

alam dan Stockhausen dengan oriental music. Dalam dunia sinema terdapat nama David Lynch dengan Blue Velvet dan Quentin Tarantino dengan serangkaian film generasi baru (Denzin, 1988: 461). Dalam dunia sastra muncul nama Burroughs dengan cerita cut up dan Gabriel Marquez dengan novel realisme magis One Hundred Year of Solitude (1976). Dalam disiplin antropologi terdapat nama S.A Tyler, M.J Fischer dan kelompok Rice Circle dengan experimental ethnography. Dalam disiplin sosiologi terdapat nama Norman Denzin dengan kajian film dan Pierre Bordieu dengan theatrum politicum. Dan dalam wilayah filsafat terdapat nama Jean Francois Lyotard dengan konsep paralogi, disensus dan delegitimasi, Jacques Derrida dengan dekonstruksi, Michel Foucault dengan kajian tentang arkeologi pengetahuan, genealogi sejarah seksualitas dan teknologi kekuasaan, serta Jean Baudrillard dengan kajian budaya tentang dunia simulasi, hiperrealitas, simulacra dan dominasi kebudayaan dewasa ini nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realitas

(Featherstone, 1988: 196).

Kesemarakan dan kegairahan kepada tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme (Rosenau, 1992: 10). Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.

Pada titik inilah pemikiran tentang kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter modernisme dalam tampilannya yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini. Pemikiran kebudayaan postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian penting paradigma postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami pengertian dan watak postmodernisme.

B. Tujuan Penelitian
Studi ini memiliki beberapa tujuan : pertama, melakukan inventarisasi pemikiran Baudrillard melalui sumber-sumber pustaka yang ada, baik secara langsung ataupun tidak, yang berhubungan dengan tema kebudayaan postmodern. Kedua, melakukan tinjauan kritis dan sistematis terhadap pemikiran kebudayaan postmodern Baudrillard agar diperoleh pemahaman yang integral dan komprehensif pada dataran filsafat. Juga diupayakan pemaparan komentar, penilaian dan interpretasi, dukungan serta keberatan yang diajukan terhadap pemikiran Baudrillard. Ketiga, melakukan evaluasi kritis terhadap pemikiran Baudrillard dengan mengadakan refleksi dan interpretasi pemikiran dan kritik filsuf atau komentator lain agar didapatkan sebuah pemahaman baru berupa sintesis menuju dataran praksis yang konsisten.

C. Tinjauan Pustaka
Miletos, kota kecil di gugusan kepulauan Yunani abad ke-6 SM adalah tempat bermulanya cerita besar tentang penaklukan alam oleh manusia. Di kota itulah sebermula runtuhnya mitos-mitos arkhaik tentang alam yang berupa dongeng, fabel ataupun kepercayaan. Sejak saat itu manusia serta-merta memberontak dari kungkungan kebudayaan mitologis dan berusaha menggunakan akalnya untuk menjelaskan dunia. Sejarah penaklukan alam dibawah tatapan akal pikiran kemudian bergulir. Sokrates, filsuf besar Yunani, mempertegas usaha ini dengan semboyannya yang sangat terkenal, Kenalilah dirimu sendiri. Salah seorang murid Sokrates, Plato, seraya menggemakan pemikiran sang guru, menarik garis lebih tajam mengenai konsep manusia. Menurut Plato, manusia terdiri dari 3 tingkatan fungsi yakni, tubuh (epithymia), kehendak (thymos) dan rasio (logos). Rasio adalah tingkatan tertinggi, sekaligus mengatur dan melingkupi fungsi-fungsi yang lain. Pandangan Plato tentang manusia ini membawanya pada konsepsi negara ideal yang analog dengan tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, para pemimpin (analog dengan rasio). Kedua, para prajurit (analog dengan kehendak). Ketiga, para

petani dan tukang (analog dengan tubuh) (Harun Hadiwijono. identitas. Immanuel Kant dan Frederich Hegel. Kemampuan rasio inilah yang menjadi kunci kebenaran pengetahuan dan kebudayaan modern. . 1994: 11-12). Konstruksi kebudayaan modern kemudian tegak berdiri dengan prinsip-prinsip rasio. rasio sekali lagi diyakini mampu mengatasi kekuatan metafisis dan transendental. Dengan konsepsi seperti ini Plato memperteguh keyakinan subjektivitas manusia dengan konstruksi kebudayaan (negara) yang berpijak pada rasio. ego. otonomi. Rumusan terkenal dari pemikiran Descartes ini adalah diktum. 1994: 43-44). subjek. keberanian menerima dan menghadapi dunia nyata. Descartes berambisi membangun metode pengetahuan yang berlaku untuk setiap bentuk pengetahuan. Dengan diktum ini. Dengan mengadopsi dan mensintesakan pemikiran filsuf-filsuf sebelumnya. membawa semangat pembebasan dari dogma agama yang beku selama abad pertengahan. keyakinan menemukan kebenaran dengan kemampuan sendiri. Melalui kedua pemikir inilah nilai-nilai modernisme ditancapkan dalam alur sejarah dunia. kebangkitan mempelajari kembali sastra dan budaya klasik. 1994: 13). Makna penting Renaisans dalam sejarah filsafat Barat adalah peranannya sebagai tempat persemaian benih Pencerahan abad ke-18 M yang menjadi embrio kebudayaan modern. kemajuan linear. Cogito ergo sum. Dengan meragukan segala sesuatu. Sejarah filsafat berikutnya bergulir sampai pada satu titik yang memiliki makna penting bagi kelahiran era modernitas. Menurutnya. kepastian kebenaran dapat diperoleh melalui strategi kesangsian metodis. objektivitas. emansipasi serta oposisi biner. totalitas. serta keinginan mengangkat harkat dan martabat manusia (Harun Hadiwijono. Dipicu oleh gerakan humanisme Italia abad ke-14 M. ideide absolut. Descartes ingin menemukan adanya hal yang tetap yang tidak dapat diragukan. Kant dengan ide-ide absolut yang sudah terberi (kategori). sekaligus arsitek utama filsafat modern. Aku berpikir maka aku ada. Renaisans yang berarti kelahiran kembali. Sejarah kematangan kebudayaan modern selanjutnya ditunjukkan oleh pemikiran dua filsuf Jerman. Bapak Rasionalisme. Itulah kepastian bahwa Aku sedang ragu-ragu tentang segala sesuatu. Hegel dengan filsafat identitas (idealisme absolut) (Ahmad Sahal. Renaisans lahir sebagai jawaban terhadap kejumudan dan kebekuan pemikiran abad pertengahan. Seorang filsuf besar yang menjejakkan pengaruhnya pada masa ini adalah Rene Descartes.

Berbagai patologi inilah yang menjadi alasan penting gugatan pemikiran postmodernisme terhadap modernisme. seni avant garde. Lahirnya beragam bentuk realitas baru: seni bumi. 1995: 41). sastra. arsitektur dekonstruksi. ilmu dan antropomorphisme. modernisme juga telah menyebabkan lahirnya berbagai patologi: dehumanisasi. positivistik. ekonomi. sastra marjinal. seni video. serta pembakuan secara ketat pengetahuan dan sistem produksi. maraknya industri informasi televisi. industrialisasi. Modernisme inilah yang telah mencapai status hegemonis semenjak kemenangan Amerika dan para sekutunya dalam Perang Dunia II (Ariel Heryanto. diskriminasi. antropologi kesadaran. teknosentris dan rasionalistik. konsumerisme. Jejak-jejak pemikiran yang bernaung di bawah payung postmodernisme dalam banyak bidang kehidupan: seni. penemuan teori-teori fisika kontemporer. film. modernitas ditandai dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat. materialisme. kejayaan kapitalisme lanjut. sosiologi. dua kali Perang Dunia. jurang perbedaan kaya dan miskin. pengangguran. yakni modernisme yang tidak lagi kaya watak seperti saat awal kelahirannya. 1994: 80). koran. penyebaran informasi. kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan. demokratisasi dan pluralisme. Memang benar. ideologis dan justru melahirkan berbagai patologi modernisme. antropologi dan filsafat sebenarnya sudah dapat dilacak jauh ke alur sejarah modernisme sendiri. ancaman nuklir dan hegemoni budaya serta ekonomi. sastra yang terdiam. Seni modern hadir sebagai kekuatan emansipatoris yang menghantar manusia pada realitas baru (Awuy. namun modernisme yang bercorak monoton. alienasi. Sementara itu dalam dunia ilmu dan kebudayaan. budaya populer. politik. internet berkembangnya konsep nation-state(negara-bangsa). Namun dalam penampilannya yang mutakhir tersebut. justru menyebabkan reduksi dan totalisasi hakekat manusia. di satu sisi modernisme telah memberikan sumbangannya terhadap bangunan kebudayaan manusia dengan paham otonomi subjek. penegakan HAM serta demokratisasi. modernisme mulai menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya: penuh kontradiksi. paradigma Thomas Kuhn dan pemberontakan . Unsur-unsur utama modernisme: rasio. rasisme. konsumerisme. arsitektur. merebaknya budaya massa.Sejarah pemikiran dan kebudayaan yang dibangun di atas prinsip-prinsip modernitas selanjutnya merasuk ke berbagai bidang kehidupan. iklan. Namun di sisi lain. kebenaran ilmiah yang mutlak. kemajuan teknologi. modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah linear.

yang bersifat ideologis. Kanada. unsur. 1995: 158-161). mistifikasi. dimana setiap bidak memiliki aturan dan langkah tersendiri. seperti dikatakan Susan Sontag seorang kritikus seni merupakan indikasi lahirnya sensibilitas baru: yakni sebuah kesadaran akan kemajemukan. Kondisi ini. Lebih jauh dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi yang tertindas di bawah totalitas modernisme. tanpa harus mengganggu langkah bidak lain. Dengan dekonstruksi. Jacques Derrida. Heidegger. 1990: 234). tanpa ngotot untuk menang atau menaklukan realitas lain (Lash. kemajuan sejarah linear yang disebutnya Grand Narrative telah kehilangan legitimasi (Awuy. dalam dunia yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. eksploitatif. Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme yang senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya (Ahmad Sahal. dirongrong dan disingkap sifat paradoksnya. Paralogi berarti prinsip yang menerima keberagaman realitas. teleologi. ego. .1995: 161). bersepakat dengan Lyotard. Lewat bukunya yang merupakan laporan penelitian kondisi masyarakat komputerisasi di Quebec. 1995: 158). Derrida mengajukan strategi pemeriksaan asumsi-asumsi modernisme yang seolah-olah sudah terberi itu dengan dekonstruksi. bermain dan menikmati realitas secara bersama-sama. Lebih jauh Lyotard menyatakan prinsip-prinsip yang menegakkan modernisme: rasio. hingga Mahzab Frankfrut adalah benih-benih lahirnya pemikiran postmodernisme. Implikasi logis strategi ini adalah melumernya batas-batas yang selama ini dipertahankan antara konsep-metafor. Dari arah berbeda dengan fokus filsafat bahasa. totalitas. cerita-cerita besar modernitas dipertanyakan. Husserl. Kekuasaan telah dibagi-bagi dan tersebar berkat demokratisasi teknologi. seorang filsuf Perancis yang lain. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984). subjek. kebenaran-fiksi.terhadap filsafat modern semenjak Nietzsche. prinsip kesatuan ontologis sudah tidak relevan lagi. 1994: 21). dominatif dan semu. permainan dengan logikanya masing-masing tanpa harus saling menindas atau menguasai (Awuy. Cerita-cerita besar modernisme tersebut tak ayal hanyalah kedok belaka. filsafat-puisi. Lyotard secara radikal menolak ide dasar filsafat modern semenjak era Renaisans hingga sekarang yang dilegitimasikan oleh prinsip kesatuan ontologis (Awuy. Menurut Lyotard. Persis permainan catur. ide absolut. Karena itu prinsip kesatuan ontologis harus di delegitimasi dengan prinsip paralogi. postmodernisme mendapatkan pendasaran ontologis dan epistemologis. oposisi biner. melalui pemikiran Jean Francois Lyotard seorang filsuf Perancis. Terutama dalam dunia filsafat.

karena seperti disuarakan Charles Baudelaire. melainkan merupakan relasi kompleks yang menyebar dan hadir di mana-mana (Ahmad Sahal. pabrik. Pandangan tentang kuasa/pengetahuan yang tidak berpusat. Kekuasaan tidak dimiliki. Bertitik tolak dari itu ia menunjukkan adanya diskontinuitas budaya dalam realitas masyarakat dewasa ini. Strategi yang sarat emansipasi ini pula yang mendorong seorang filsuf sejarawan Perancis Michel Foucault untuk menyingkap mistifikasi hubungan pengetahuan dan kekuasaan yang disodorkan modernisme. kekuasaan bukan lagi institusi. rumah sakit. Dan dengan pilihan ini. sekali lagi Foucault meneguhkan semangat emansipasi kaum tertindas yang telah diawali oleh Lyotard dan Derrida. Filsuf Perancis ini mengambil jalan agak berbeda dengan para pendahulunya. tidak memiliki. Kaum Weberian memahami kekuasaan sebagai kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. kaum feminis. Selanjutnya menurut Foucault kekuasaan tidaklah seperti yang dipahami kaum Weberian atau Marxian. Secara cerdas Foucault menyatakan bahwa di era yang dihidupi oleh perkembangan ilmu dan teknologi seperti saat ini. Tema-tema tak jamak semisal penjara. Foucault menyatakan pengetahuan dan kekuasaan adalah dua sisi mata uang yang sama. sebuah suara lain yang mencoba membaca dan menyingkap perubahan watak modernisme adalah Jean Baudrillard. tidak mendominasi dan menyebar ini kemudian membawa Foucault untuk menolak asumsi rasio-kritis yang universal ala Kantian. barak-barak tentara. Baginya rasio tidak universal. Dengan dekonstruksi. hippies. pasien dan kriminal adalah pilihan yang disadarinya. ras kulit hitam. Wacana-wacana yang sebelumnya tertindas: kelompok etnis.serta keseriusan-permainan. seks. struktur atau kekuatan yang menundukkan. orang gila. Dengan mengambil alih pemikiran Marcel Mauss. Karl Marx. 1994: 17). Akhirnya. Sementara kaum Marxian memahami kekuasaan sebagai artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan untuk menindas kelas lain. dunia ketiga. Berbeda dengan pandangan modernisme yang menyatakan adanya distingsi antara pengetahuan murni dan pengetahuan ideologis. atau gerakan peduli lingkungan kini mulai diperhatikan. Ia memilih membaca realitas pada ukuran mikro. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan vice versa. kelompok gay. punk. sejarah modernisme hendak ditampilkan tanpa kedok. Roland Barthes dan Marshal McLuhann Baudrillard memusatkan diri menganalisa modernisme dari ranah budaya. apa adanya. Karenanya Foucault sama sekali tidak berambisi membangun teoriteori yang universal. . seorang penyair Perancis ada tanggapan lain terhadap modernisme yakni: ironi. Georges Bataille.

yang asli dan palsu sangat tipis. 1987: 17). Doraemon atau Mickey Mouse adalah model-model acuan nilai dan makna sosial budaya masyarakat dewasa ini. Merujuk Baudrillard. referensi. dibangun berlandaskan model-model yang telah dibuat sebelumnya. representasi. produksi atau reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam silang-sengkarut tanda (Baudrillard. salah. iklan televisi. Boneka Barbie.Melalui bukunya Simulations (1983). Simulacra pada tingkatan ini merupakan wujud silang-sengkarut tanda. Realitas sosial. Pada tingkatan ini. manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggapnya nyata. sebuah peta merupakan representasi dari suatu wilayah. Dalam wacana simulasi. benar. dunia simulasi tampil sempurna. bahkan politik. fakta. semu. manusia mendiami ruang realitas. Kedua. memory bank. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. laserdisc dan internet menurut Baudrillard tidak saja dapat memperpanjang badan atau sistem syaraf . simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Lewat televisi. Ketiga. bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan. Baudrillard mengintrodusir karakter khas masyarakat Barat dewasa ini sebagai masyarakat simulasi. 1983:54-56). Dunia-dunia buatan semacam Disneyland. Inilah masyarakat yang hidup dengan silang-sengkarut kode. tokoh Rambo. telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. Pertama. film dan iklan. budaya. citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. citra. telenovela. Dalam dunia simulasi. simulacra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. Selanjutnya dalam mekanisme simulasi. China Town. 1987: 33). bila dalam ruang nyata. simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Las Vegas atau Beverlly Hills. melainkan model-model (Baudrillard. tanda. Peta mendahului wilayah. dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. remote control. Universal Studio. yang menjadi model realitas-semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. terdapat tiga tingkatan simulacra (Baudrillard. Simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung. Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini dengan micro processor. dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan analogi peta. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata. Menurutnya. padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Realitas semu ini merupakan ruang antitesis dari representasi semacam dekonstruksi representasi dalam wacana Derrida. 1994: 235). dan model yang diatur sebagai produksi dan reproduksi dalam sebuah simulacra (Lechte. telecard.

semu. melainkan berdasarkan prestise dan makna simbolisnya (Lechte. Dimana. Ia menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumeristik dewasa ini. pemikiran Baudrillard akhirnya menyempal dari pemikiran sang pendahulunya dan mengambil jalannya sendiri. Tokoh Rambo. Dalam kondisi seperti ini. Mengacu Marx. setiap objek dipandang . namun bahkan lebih fantastis lagi. Baudrillard bersepakat bahwa aktivitas konsumsi manusia sebenarnya didasarkan pada prinsip non-utilitarian (Lechte. namun selalu dan selalu direproduksi (Baudrillard. menyulap fantasi. meledak. Berangkat dari analisa masyarakat produksi Marx dengan konsep-konsep:nilai-guna (use-value). sudah tidak lagi bisa diyakini. Sementara itu dalam bukunya Symbolic Exchange and Death (1993) Baudrillard menyatakan bahwa sejalan dengan perubahan struktur masyarakat simulasi. nilai-guna dan nilai-tukar. adalah era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. social class. atau Star Trek Voyager yang merupakan citra-citra buatan nampak lebih dekat dan nyata dibanding keberadaan tetangga kita sendiri. menurut Baudrillard. Kini. fetishism of commodity. 1994: 233). Jurrasic Park. boneka Barbie. era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asalusul dan referensi (Baudrillard. Yakni. Nilai-guna merupakan nilai asali yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta. menciptakan realitas baru dengan citra-citra buatan. Sementara dari Mauss dan Bataille. terdapat dua nilai-tanda dalam sejarah kebudayaan manusia yakni. Berdasarkan manfaatnya. Sesuatu tidak lagi dinilai berdasarkan manfaat atau harganya. realitas yang dihasilkan teknologi baru ini telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. serta melipat realitas ke dalam sebuah disket atau memory bank. masa lalu dan nostalgia. telah terjadi pergeseran nilai-tanda dalam masyarakat kontemporer dewasa ini yakni dari nilai-guna dan nilaitukar ke nilai-tanda dan nilai-simbol. ilusi bahkan halusinasi menjadi kenyataan. realitas buatan (citra-citra) seolah lebih real dibanding realitas aslinya. 1983: 146). Dengan televisi dan media massa misalnya. teori gift (pemberian) Marcell Mauss dan teori expenditure (belanjaan) Georges Bataille. seperti disarankan Marx. Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang berlebih. Dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. fakta dan objektivitas kehilangan eksistensinya. kebenaran. yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi. 1983: 183). nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). mampu mereproduksi realitas. Lebih jauh. 1994: 234).manusia. Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri (Baudrillard. 1983:2). nilai-tukar (exchange-value). realitas.

Nilai inilah yang mendasari bangunan kebudayaan masyarakat awal. Dengan konsep komoditi. Saat inilah lahir prinsip nilai-tukar. Nilai-tukar dalam masyarakat kapitalis memiliki kedudukan penting karena dari sanalah lahir konsep komoditi. lahir nilai baru yakni nilaitukar. Menurut Baudrillard. dalam masyarakat massa. serta dengan membaca kondisi masyarakat Barat dewasa ini. Fenomena kelahiran nilai-tanda dan nilai-simbol ini mendorong Baudrillard untuk menyatakan bahwa analisa komoditi Marx sudah tidak dapat dipakai untuk memandang masyarakat Barat dewasa ini. namun juga objek-tanda. Selanjutnya dengan perkembangan kapitalisme. terdapat sedikit sirkulasi elemen tanda dalam suatu budaya simbol yang baru tumbuh. telah terjadi perubahan dalam struktur masyarakat Barat dewasa ini. sirkulasi tanda mendominasi seluruh segi kehidupan. nilai-guna dan nilai-tukar telah dikalahkan oleh sebuah nilai baru. Selanjutnya dalam masyarakat hierarkis. Sejalan dengan itu. Akhirnya. yakni nilai-tanda dan nilai-simbol. ledakan media dan iklan. menurut Baudrillard. menjadi masyarakat primitif. melainkan makna dan nilai-simbolnya (Baudrillard. lebih memandang makna simbolik sebuah objek ketimbang manfaat atau harganya. masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis.memiliki guna bagi kepentingan manusia. Hal ini karena dalam masyarakat kapitalisme-lanjut Barat. Masyarakat Barat dewasa ini adalah masyarakat konsumer: masyarakat yang haus mengkonsumsi segala sesuatu tidak hanya objek-real. Lebih lanjut Baudrillard menyatakan kebudayaan . Inilah masyarakat yang hidup dengan kemudahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh perkembangan kapitalisme-lanjut. Inilah saat ketika objek tidak lagi dilihat manfaat atau nilai-tukarnya. Tanda menjadi salah satu elemen penting masyarakat konsumer. tidak ada elemen tanda. citra. segala sesuatu dinilai berdasarkan nilaitukarnya. media menciptakan ledakan makna yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata. 1993: 68-70). Berangkat dari analisa Marx diatas. dalam masyarakat primitif. masyarakat hierarkis dan masyarakat massa. kemajuan ilmu dan teknologi. Sementara itu. yang lahir bersamaan dengan semakin meningkatnya taraf ekonomi masyarakat Barat. Baudrillard menyatakan bahwa dalam masyarakat kapitalisme-lanjut (late capitalism) dewasa ini. Dalam masyarakat massa. perhatian utama lebih ditujukan kepada simbol. Nilai-tanda dan nilai-simbol. sistem tanda dan bukan lagi pada manfaat dan harga komoditi. Baudrillard mengubah periodisasi yang dibuat Marx mengenai tingkat perkembangan masyarakat dari: masyarakat feodal. Objek dipahami secara alamiah dan murni berdasarkan kegunaannya.

Tidak ada lagi mitos Sang Seniman dalam wacana seni modern yang berpretensi membebaskan dunia. Pertama. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. budaya postmodern ditandai dengan sifat hiperrealitas. Kelima. Ketiga. 1998: 109). Tidak ada lagi karya seni. seni populer (popular art) dan seni murni (fine art). Kedua. yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda. fiksi (fiction) ketimbang fakta(fact). kecuali reproduksi dari berbagai unsur seni yang sudah ada. tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. D. Keempat. budaya populer serta budaya media massa. kebudayaan postmodern adalah kebudayaan uang. sebagai konsekuensi logis karakter simulasi. dimana citra dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama. dan lebih jauh lagi realitas semu (citra) mengalahkan realitas yang sesungguhnya (fakta). Kapitalisme lanjut yang bergandengan tangan dengan pesatnya perkembangan teknologi. 1989: 102). Dalam konstruksi kebudayaan seperti inilah artefak-artefak budaya postmodern menemukan dirinya. kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa. sistem tanda(system of signs) ketimbang sistem objek (system of objects). citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih dan berjalin kelindan. bentuk dan ikon). fungsi dan makna uang dalam budaya postmodern tidaklah sekedar sebagai alat-tukar. kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi. melainkan lebih dari itu merupakan simbol. serta camp (pengelabuan identitas dan penopengan) (Pilliang. serta estetika (aesthetic) ketimbang etika (ethic). telah memberikan peranan penting kepada pasar dan konsumen sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara. Proyek modernisme yang dihidupi oleh semangat Pencerahan ini dengan keyakinan akan prinsip kemajuan sejarah . media (medium) ketimbang pesan (message). Estetika seni postmodern ditandai dengan prinsipprinsip pastiche (peminjaman dan penggunaan berbagai sumber seni masa lalu). kitsch (reproduksi gaya. parodi (distorsi dan permainan makna). kebudayaan postmodern lebih mengutamakan penanda (signifier) ketimbang petanda (signified). Uang mendapatkan peran yang sangat penting dalam masyarakat postmodern. Landasan Teori Diskursus kebudayaan postmodern mendapatkan legitimasi sosio-kultural-filosofisnya justru dari kegamangan era modern dalam menuntaskan proyek Pencerahan. excremental culture. militer dan parlemen (Harvey. Tidak ada lagi perbedaan antara seni rendah dan seni tinggi.postmodern memiliki beberapa ciri menonjol.

serta pembakuan tata pengetahuan dan sistem produksi yang keras saat ini tengah menghadapi ujian besar dengan menyebarnya berbagai patologi modernitas.yang linear. semiologi Roland Barthes. MODERNISME DAN POSTMODERNISME A. seorang penulis Meksiko. serta konsep global village dan medium is message Marshal McLuhan. Inilah kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas. pada tahun 1888 mencatat mulai munculnya referensi pertama istilah modernisme dalam sejarah kebudayaan masyarakat Barat (Smart. simulacra dan simulasi. Istilah modernisme saat itu tentu belum . Postmodernisme mencoba mempertanyakan kembali posisi. kebenaran ilmiah yang mutlak. istilah modernisme atau modernismo dalam bahasa Spanyol saat itu merupakan sebutan bagi gerakan-gerakan kebudayaan lokal di Amerika Latin yang memperjuangkan emansipasi dan otonomi budaya baru untuk melepaskan diri dari cengkeraman hegemoni kebudayaan Spanyol. Runtuhnya Era Modernisme Ricardo Contreras. Menurut Contreras. Dalam kerangka kritis itulah Jean Baudrillard mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. serta didominasi oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditolak. keampuhan rekayasa bagi suatu masyarakat yang diidealkan. batas dan implikasi asumsiasumsi modernisme yang kini telah menjelma menjadi mitos baru. Dengan mengadopsi dan mengembangkan pemikiran-pemikiran Karl Marx tentang nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). Inilah wacana kebudayaan yang saat ini menghidupi dan sekaligus kita hidupi. Baudrillard menyatakan bahwa realitas kebudayaan dewasa ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern masyarakat Barat. society of spectacle Guy Debord. Wacana kebudayaan inilah yang menawarkan tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk mulai memperhatikan sisi lain realitas masyarakat dewasa ini. 1990:18).

Fase kedua.merupakan epoch sejarah baru yang bermaksud memutuskan diri dari realitas sejarah sebelumnya. yang ternyata tidak mampu mewujudkan . merupakan titik awal kedewasaan dan kematangan manusia untuk mulai berani menguasai alam dan melepaskan diri dari dogma-dogma institusi agama. serta pesatnya perkembangan sosial. dimana orang baru mulai merasakan pengalaman kehidupan modern. dimana saat itu muncul fenomena pharisaisme budaya dan teknologi penguasaan samudera secara ekstensif (Smart. Bahkan Arnold Toynbee. adalah modernisme yang dimulai ketika terjadi proses modernisasi global dan pembentukan kebudayaan dunia modern secara massal dimana semakin banyak terjadi kekacauan sosial dan politik. Dengan keberanian inilah manusia menyatakan telah memasuki era baru. runtuhnya keyakinan tradisional dan agama. yang berbeda. serta lahirnya pemberontakan kreatif dalam dunia seni. yakni era modern. menyatakan bahwa era modern telah dimulai sejak era Renaisans abad ke-16 M dan berkembang dalam tiga fase sejarah modernisme. Secara historis. seorang filsuf sejarawan. Inilah wajah modernisme yang mulai diwarnai oleh benih-benih konflik. politik dan ekonomi yang seringkali dihubungkan dengan momentum Gelombang Revolusi Besar 1790. Ia baru muncul sebagai istilah kebudayaan yang menghendaki sesuatu yang baru. adalah modernisme yang berkembang semenjak awal abad ke-16 M hingga akhir abad ke-18 M. Kedua fenomena sejarah tersebut. 1990: 16). Namun semenjak saat itu istilah modern dan modernisme beserta kata-kata turunannya: modernitas dan modernisasi telah mulai kerap digunakan sebagai kata kunci untuk menjelaskan telah lahirnya cahaya baru kebudayaan dan realitas sosial masyarakat Barat. adalah modernisme yang ditandai dengan Revolusi Perancis dan kekacauan sosial. keberanian menghadapi kehidupan secara nyata. menyatakan bahwa awal Era Modern dalam Sejarah Kebudayaan Masyarakat Barat terjadi pada paruh kedua abad ke-15 M di daratan Eropa. perbedaan dan anomali. telah mendorong munculnya berbagai masalah yang sebelumnya tidak diperhitungkan. era pasca Abad Pertengahan. Disisi lain. Fase pertama. Fase ketiga. Lenturnya ikatan sosial. melalui bukunya A Study of History (1947). Marshall Berman. dalam kajiannya tentang modernisme. ketidakpastian dan ancaman terhadap realitas dunia yang baru terbentuk Inilah puncak anomali realitas modern. Modernisme pada tahap ini ditandai oleh mulai diyakininya rasio. seperti halnya arti kata modern yang diadopsi dari bahasa Latin tersebut. semangat dan jiwa modernisme sendiri sebenarnya bisa ditelusuri semenjak era Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M. menurut Toynbee. memudarnya religiusitas dalam berbagai segi kehidupan.

Modernitas inilah merujuk Calinescu yang merupakan era yang lebih dewasa. modernisasi dan modernisme. politik serta seni. ilmu. yakni pandangan dan sikap hidup dalam menghadapi kenyataan hidup masa kini. Dan justru sebaliknya. serta diferensiasi sosial dan budaya (Featherstone. Istilah modern sendiri. menciptakan berbagai masalah besar yang menyengsarakan umat manusia (Smart. 1988: 197). Istilah ini sekaligus menggambarkan hubungan antara masa kini dan masa silam yang tampil dalam bentuknya yang baru dengan jasa Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M sebagai kurun sejarah yang berbeda dan superior dalam alur sejarah kebudayaan masyarakat Barat. 1990: 16). Meskipun demikian. Kembali merujuk Berman. Istilah modernitas diartikan sebagai kondisi sosial budaya masyarakat modern. realitas modern yang dicapai melalui proses modernisasi ini memiliki beberapa komponen utama. Ia juga menyiratkan adanya perubahan paradigma yang diperoleh dengan jalan pintas. Modernitas sekaligus juga menjadi titik awal baru lantaran ia menawarkan hal-hal baru seperti: pengetahuan. pertumbuhan . Beberapa istilah tersebut adalah modernitas. lebih utuh dan mendasar dalam aspek-aspek rasio. Dengan demikian. Modernisasi mencakup proses pengucilan karya-karya klasik. yang berarti zaman baru. Modernisasi ditandai oleh pemutusan hubungan secara tegas terhadap nilai-nilai tradisional. seringkali terjadi tumpang tindih dan simplifikasi pengertian diantara berbagai istilah ini. modernisasi adalah pandangan dan sikap hidup yang dianut untuk menghadapi masa kini.impian menciptakan kehidupan yang lebih baik. Dalam penggunaannya. urbanisasi. karena modernitas pada hakekatnya mengambil posisi yang berlawanan dengan hal-hal lama demi terciptanya halhal baru. konsep negara-bangsa (nation-state). 1990: 15). warisan masa lampau dan sejarah purbakala. kebudayaan. yakni industrialisasi. rasionalisasi administratif. diterima suatu kenyataan bahwa yang diacu oleh istilah-istilah ini adalah suatu era kebudayaan baru yang ditegakkan oleh rasio. dari bentuk lama ke bentuk baru. berasal dari bahasa Latin modernus. 1990: 16). Istilah ini kemudian berkembang menjadi beberapa istilah turunan yang kesemuanya menunjuk pada suatu kurun sejarah setelah era Abad Pertengahan. yang telah digunakan pada abad ke-5 M untuk menunjuk batas antara era kekuasaan agama Kristen dan era Paganisme Romawi (Smart. subjek dan wacana antropomorfisme. religi dan estetika dibanding era sebelumnya (Smart. moral. Modernisasi berarti proses berlangsungnya proyek mencapai kondisi modernitas yang digerakkan oleh semangat rasionalitas instrumental modern. struktur birokrasi. berkembangnya sistem ekonomi kapitalisme progresif.

Dalam konteks ini. Modernisme menjadi konservatif manakala proses subordinasi yang lama di bawah yang baru justru menyelamatkan yang lama dari kehancuran. 1990: 137). terutama seni. estetis dan religius. Akibat praksis tindakan ini bisa terbagi dua: konservatif dan radikal. Tokoh-tokoh seni yang dianggap mewakili gerakan modernisme misalnya adalah Kafka.Rasionalitas modernisme yang berkembang semenjak era Renaisans abad ke-16 ini memiliki dua karakter mendasar. Karakter kedua rasionalitas modernisme mengacu pada kesadaran akan nilai-nilai etis. Rasionalitas ini berwatak substantif. sebagai rasionalitas tujuan (Zweckrationalitat). Mann. Pertama. karena hanya mementingkan cara-cara mencapai tujuan dan tidak mengindahkan nilai-nilai yang dihayati sebagai intisari kesadaran. Modernisme konservatif seringkali terdapat dalam lapangan agama. Sementara itu modernisme umumnya dilihat sebagai paradigma kebudayaan. Stravinsky. Dalam wilayah seni. . Namun. modernisme dianggap bermula pada akhir abad ke-19 M (Lash. Rasionalitas ini berwatak formal. Ia mengacu pada gaya dan gerakan seni yang mula-mula muncul sebagai konsekuensi perlawanan terhadap seni Abad Pertengahan. Sementara modernisme radikal banyak terdapat pada wilayah kebudayaan. serta Picasso.sistem komunikasi dan kekuasaan baru. ia merupakan tindak diferensiasi terhadap dunia nyata yang bersifat nonreferensial dan anti-realis (Lash. dan Gide dalam dunia sastra. 1990: 124). karakter pertama rasionalitas modernisme mengacu pada pengertian perhitungan yang masuk akal untuk mencapai sasaran berdasarkan pilihan-pilihan yang masuk akal dan dengan saranasarana yang efisien serta mengacu pada perumusan nilai-nilai tertinggi yang mengarahkan tindakan dan orientasi-orientasi yang terencana secara konsisten dari pencapaian nilai-nilai tersebut. sosiolog Jerman yang mengkaji modernisme secara mendalam. modernisme menjadi radikal manakala proses subordinasi tadi mengambil bentuk pengingkaran bahkan penghapusan yang tradisional. Kedua. Strindberg. Sebaliknya. khususnya seni. sebagai rasionalitas nilai (Wertrationalitat). 1988: 202).penduduk yang tinggi. 1990: 123). Matisse dan Cezanne dalam seni lukis (Featherstone. Merujuk Max Weber. diantara kedua bentuk rasionalitas ini yang sangat dominan dalam realitas dunia modern adalah rasionalitas tujuan. Schoenberg dan Berg dalam musik. serta pasar kapitalisme dunia (Turner. Pirandelo dan Wedehind dalam drama. karena lebih mementingkan komitmen rasional terhadap nilai-nilai yang dihayati secara pribadi. Modernisme merupakan keyakinan yang cenderung mensubordinasikan yang tradisional di bawah yang baru.

kemudian mulai dipisahkan oleh rasionalisme Pencerahan. modernitas meliputi empat unsur pokok. dimana realitas sosial berada di bawah bayang-bayang dan dominasi asketisme. klaim universalistik tentang rasionalitas instrumental. serta tumbuhnya moneterisasi nilai-nilai. yakni kemampuan untuk menyingkirkan kendala-kendala kebebasan dari tradisi dan sejarah. Dengan kata lain. yakni pengakuan akan kekuatan-kekuatan rasional dalam memecahkan masalahmasalah kehidupan. ia bukan hanya memutuskan hubungan dengan seluruh warisan historis masa lampau. yang sebelumnya terstruktur dengan satu prinsip kesatuan dalam wilayah religius Abad Pertengahan. pemisahan konsep keluarga dari kelompok kekerabatan yang umum. Secara epistemologis. modernitas adalah sejarah penaklukan nilai-nilai lama Abad Pertengahan oleh nilai-nilai baru Modernisme (Turner. 1990: 157).Dalam kajian pentingnya tentang modernisme tersebut. praktek-praktek politik dan militer. dominasi kapitalisme Eropa Utara. Oleh sebab itu. khususnya di Inggris dan Belanda. birokratisasi ekonomi. . unik. pemutusan hubungan secara radikal terhadap tradisi dan kemapanan sosial peradaban yang mandeg. bahwa waktu berlangsung secara linear.1990: 6-10). 1990: 4). sekularisasi. kesadaran historis yang dimunculkan oleh subjek. Modernitas. lapangan estetika seolah menjadi satu-satunya tempat pelarian dalam dunia yang sarat beban mencapai rasionalitas tujuan (Lash. etika. Ia berpendapat bahwa wilayah-wilayah nilai ekonomi. namun juga mendesakkan proses fragmentasi internal yang tak pernah berhenti dalam dirinya sendiri (Harvey. pengakuan dan penerapan metode ilmiah Francis Bacon dan Isac Newton.1990: 12). Ketiga. diferensiasi bidang-bidang kehidupan. serta pembentukan konsep negara-bangsa (nation-state) abad ke-19 M (Turner. Kedua. subjektivitas yang berkaitan dengan kritik atau refleksi. menurut Weber merupakan konsekuensi proses modernisasi. Modernitas juga menunjuk pada perubahan sosial budaya secara massif. tak terulangi dengan titik berat pada kekinian sebagai sumber sejarah. Karakter lain modernitas adalah. Pertama. subjektivitas yang reflektif. Landasan utama argumen Weber ini adalah adanya fenomena otonomisasi wilayah-wilayah nilai terutama wilayah nilai estetis. hukum dan estetika. Modernitas lahir bersamaan dengan menyebarnya imperialisme Barat abad ke-16 M. selanjutnya Weber menyatakan bahwa pada dasarnya modernitas adalah gagasan yang menyangkut persoalan pemisahan bidangbidang nilai dan tatanan kehidupan. institusionalisasi keyakinan dan praktek-praktek Calvinisme di Eropa Utara. Dengan merosotnya agama.

dogmatis dan beku. transformasi serta progresi. Gerakan Renaisans. yang merangkul tese dan antitese ke dalam konsepsi Aufgehoben suatu filsafat identitas menjadi sebuah narasi utama modernisme. waktu. kemajuan (di atas kemapanan) dan kebaruan (diatas kelampauan). Sementara . Idealisme absolut. pengalaman bahkan khayalan direkonstruksi dalam sebuah ruang pembacaan baku. hasrat emansipasi ini selanjutnya dibawa kepada kritisism yang menyarankan kategori-kategori sebagai batas-batas realitas yang terberi. Dengan universalisme dimaksudkan bahwa elemen-elemen modernitas bersifat normatif untuk masyarakat yang akan melangsungkan modernisasi. Dengannya setiap realitas tidak dapat lolos dari mekanisme pembacaan ini. evolusi. Keempat. kuantitas. Dengan kata lain. kebenaran wahyu diuji di hadapan rasio. Kualitas. semenjak suatu masyarakat menyatakan diri melaksanakan proses modernisasi. gagasan. Melalui Kant. dogmatis dan anti-perubahan. realitas modernisme disempurnakan dengan ide gerak sejarah dialektis yang berpuncak pada rasio. sifat normatif ini diaktualisasikan dalam gerakan Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M. Perkembangan modernisme dalam berbagai wilayah kehidupan lainnya tidak dapat dipungkiri merupakan implementasi pemikiran filosofis ketiga tokoh ini. selanjutnya semakin memperkokoh keyakinan akan segera lahirnya era baru menggantikan era Abad Pertengahan yang dipandang telah jenuh. universalisme yang mendasari ketiga unsur sebelumnya. Rene Descarteslah yang menyadarkan manusia akan kedudukan rasio sebagai determinan pengetahuan dan pembacaan realitas dengan diktumnya Cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada. legitimasi kekuasaan digugat melalui kritik dan kesahihan tradisi dipertanyakan berdasarkan harapan akan masa depan yang lebih baik. modalitas. untuk kemudian meleburkan diri dalam suatu proyek sejarah umat manusia mencapai tujuan tertentu di masa depan. Dengan kata lain. seolah-olah telah ditentukan batas dan nilainya. Immanuel Kant dan Hegel. Dengan modernisasi. kausalitas dan lain-lain. modernitas mendukung rasio (di atas wahyu). Selanjutnya melalui Hegel. ruang. etis dan epistemologis. Sementara itu dalam diskursus filsafat. Melalui pemikiran tokoh-tokoh inilah modernisme mulai memperkokoh diri dengan kebenarankebenaran ontologis. Dengan kategorikategori ini setiap ide. yang mendapat ilham dari semangat Humanisme Italia pada abad ke-16 M.modernisme memiliki kata-kata kunci: revolusi. maka masyarakat tersebut harus siap meninggalkan sikap-sikap naif. modernisme mulai dibicarakan dan menemukan kematangannya melalui filsuf-filsuf Descartes. Secara historis. substansi.

merebaknya pandangan materialisme. punk. keyakinan. Padahal. dan lain-lain. serius. Kedua. spiritual-material. yang disertai kegetiran. Semangat emansipasi. Ketiga. hippies. sistematis dan tertib inilah wacana dominan yang mengisi diskursus sejarah filsafat Barat abad ke-18 M hingga sekarang. Pertama. optimisme dan heroisme menghadapi situasi zaman seolah merupakan satu-satunya tanggapan terhadap proyek sejarah modernisme. manusia-dunia. Penyair Perancis Charles Baudelaire misalnya. lantaran pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek-objek. Suara-suara minoritas modernisme: subkultur. berkembangnya militerisme karena moral dan agama tidak . kaum gay. Sebagai akibatnya modernisme yang dahulu emansipatif kini justru bersifat dehuman. pandangan modern yang cenderung objektivistik dan instrumentalis-positivistik akhirnya jatuh pada pembendaan (reifikasi) manusia dan masyarakat. Modernisme yang rasional. Kelima. Keempat. gerakan lingkungan hidup. skin head. Cara membaca seperti diwakili Baudelaire inilah yang kini mulai menyingkap paradoks modernitas. yakni era modern. masyarakat terasing. telah mengakibatkan objektivasi alam secara berlebihan dan eksploitasi alam secara semena-mena. Ironi adalah semacam keberanian. 1994: 16). adalah salah seorang pembaca modernisme dengan cara demikian. Terdapat pelbagai nilai. yakni prinsip hidup yang memandang materi dan segala strategi pemuasannya sebagai satu-satunya tujuan.Pencerahan (Aufklarung) abad ke-18 M menjadi landasan tegaknya era baru. Ironi juga berarti menjalani hidup tanpa dibebani oleh prinsip-prinsip baku dan tidak berpretensi untuk menjadi juru selamat. budaya tanding mulai menggugat kesombongan modernisme yang dianggap gagal merampungkan proyek heroisme Pencerahan untuk membangun sebuah masa depan yang lebih baik. ketat. Membaca modernisme dengan sikap ironi ini berarti menolak anggapan bahwa modernitas membawa nilai-nilai universal (Ahmad Sahal. Setidaknya terdapat enam alasan ekses negatif proyek modernisme yang kini sedang digugat dan dipertanyakan. dominasi ilmu-ilmu empiris-positivistik terhadap nilai moral dan religi menyebabkan meningkatnya tindak kekerasan fisik maupun kesadaran keterasingan dan pelbagai bentuk depresi mental. realitas dan praktek-praktek sosial yang ternyata menyimpang dari rasionalitas era modern. dunia ketiga. sebagaimana diungkap Michel Foucault. kaum feminis. untuk terlibat secara aktif dalam dunia kini dan disini (lokal-historis) tanpa harus menggantungkan diri pada kebenaran-kebenaran diluar diri manusia. pada waktu itu terdapat pula tanggapan menyimpang terutama dari kalangan seniman yang bernada ironi terhadap modernisme.

Keenam. seni perpetual. dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial. seni modernisme memiliki beberapa ciri utama yakni: kesadaran dan refleksi estetis yang cukup tinggi. Bambang Sugiharto. kitsch dan camp. mencatat setidaknya lima alasan penting terjadinya krisis modernisme (Rosenau. ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. kelelahan dan kering. yang merupakan konsekuensi logis hukum survival of the fittest Charles Darwin (I. ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Merujuk Featherstone. Pauline M. . serta perpetual art. semangat rasisme dan diskriminasi. serta penolakan terhadap gagasan kepribadian yang utuh sembari merayakan gagasan subjek yang dehuman dan terbelah (Featherstone.lagi memiliki kekuatan disiplin dan regulasi. seni massa. konsep seni modernisme pun perlahan-lahan mulai menemui kondisi krisis. 1996: 29-30). Ketiga. eksplorasi terhadap hakekat realitas yang paradoks. antropologi. Dampak negatif modernisme ini sekaligus menjadi senjata para seniman dan kelompok marjinal lainnya untuk menyerang dan mendesak dipikirkannya kembali Proyek Modernisme. Pertama.1992: 10). Pandangan modernis demikian mulai digugat karena tendensi universalisme dan kebenaran estetis yang seolah-olah merupakan sebuah keniscayaan. Keempat. Para seniman dan kritikus seni mulai malas berbicara tentang seni modern yang beku. ambigu dan terbuka. sebaliknya. arsitektur.1988:202). Kelima. modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. mulai banyak dibicarakan. bangkitnya kembali tribalisme. Rosenau. parodi. seni fashion yang merangkum pastiche. politik dan ekonomi. sosiologi. sejarah. terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Gagasan seni populer. Kondisi yang sama terjadi dalam wilayah kehidupan dan disiplin lmu yang ain: sastra. ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. penolakan terhadap struktur narasi realitas dan penerimaan terhadap konsep simultanisme dan montase. Sementara itu dalam dunia seni. Kedua.

arsitektur. yakni: menekankan emosi ketimbang rasio. media ketimbang isi. namun tema ini bukanlah lahir tanpa sejarah. sebagaimana diungkap Fredric Jameson dalam bukunya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1984). kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan.Panorama modernisme yang terjebak heroisme inilah yang menurut Daniel Bell. postmodernisme telah muncul sebagai diskursus kebudayaan yang banyak menarik perhatian. tanda ketimbang makna. eklektisisme. kebenaran ilmiah yang mutlak. pemberontakan. disintegrasi. kemungkinan ketimbang kepastian. antropologi. heterodoks. keterbukaan ketimbang pemusatan. 1995: 44). dan modernisme yang tak lagi peka pada perbedaan dan keunikan (Ariel Heryanto. Postmodernisme hadir setelah melalui perjalanan sejarah yang membentuknya hingga sampai pada keadaannya saat ini. kejenuhan dan kekecewaan terhadap semangat modernisme. estetika ketimbang etika dan narasi ketimbang teori (Ariel Heryanto. keacakan. politik dan filsafat hampir secara bersamaan memberikan tanggapan terhadap tema postmodernisme. Berbagai bidang kehidupan dan disiplin ilmu seperti: seni. Karakter yang sering disuarakan postmodernisme antara lain adalah pluralisme. dekomposisi. dekonstruksi. Meskipun tidak mudah atau malah hampir tidak ada cara baku untuk mendefinisikan postmodernisme. pemencaran. demistifikasi. Sebaliknya. de-definisi. Inilah postmodernisme yang menggugat watak modernisme lanjut yang monoton. 1994: 80). Ditambah oleh perkembangan kapitalisme lanjut yang luar biasa dahsyat. sosiologi. yang merupakan benih krisis modernitas. modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah yang linear. sastra. sejarah. tepatnya pada kisaran tahun 1960-an. fiksi ketimbang fakta. yang lokal ketimbang yang universal. deformasi. maka menjadi wajarlah gugatan. B. rasionalistik dan teknosentris. diskontinuitas. salah seorang pembicara awal postmodernisme. delegitimasi serta demistifikasi (Bertens. perbedaan. 1994: 80). modernisme yang kehilangan semangat emansipasi dan terperangkap dalam sistem yang tertutup. kemajemukan ketimbang penunggalan. postmodernisme menawarkan ciri-ciri yang bertolak belakang dengan watak era pendahulunya. positivistik. permainan ketimbang keseriusan. serta pembakuan secara ketat tata pengetahuan dan sistem produksi. . dekreasi. Postmodernisme dan Beberapa Tokohnya Semenjak awal paruh kedua abad ke-20 M.

Kelima. nilai. Istilah postmodernisme. dipergunakan pertama kali oleh Federico de Onis. kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia. Dengan kata lain. timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas. era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi. dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992). memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran. organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. penulis dan krikitus seni seperti Hassan. bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi. munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. 1988: 202). Ketujuh. sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari sistem indera. seorang kritikus seni. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga). terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme. Ahmed. sehingga bersifat paradoks (Ahmed. Seni postmodern memiliki ciri-ciri yang berbeda . wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. 1992:143-4). Ketiga. teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif. semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Keempat. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu. merujuk Ihab Hassan. Istilah ini kemudian sangat populer di tahun 1960-an ketika seniman-seniman muda. pada tahun 1930 dalam tulisannya Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana untuk menunjuk kepada reaksi minor terhadap modernisme yang muncul pada saat itu (Featherstone. Keenam. semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya. Barthelme. Cage. Kedua.Merujuk Akbar S. munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau. meledaknya industri media massa. Lebih dari itu. Pertama. Rauschenberg. keyakinan dan potret serpihan realitas. Fielder dan Sontag menggunakannya sebagai nama gerakan penolakan terhadap seni modernisme lanjut. munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus. Kedelapan.

dimana prinsip bentuk mengikuti fungsi menjadi dewa. penuh kejutan dan variasi. 1988: 202). ambigu. Kedua. praktis. Doktrin bentuk mengikuti fungsi dibalik menjadi fungsi mengikuti bentuk. Postmodernitas ditandai dengan lahirnya totalitas struktur sosial baru.serta adanya asumsi seni sebagai pengulangan. istilah postmodernisme mengacu kepada perlawanan bentuk-bentuk arsitektur modern yang menonjolkan keteraturan. perkembangan teknologi dan informasi yang pesat. Jika modernitas dipahami sebagai kurun waktu sejarah yang berkembang semenjak era Renaisans.Penggunaan istilah postmodernisme selanjutnya perlahan-lahan mulai menyentuh bidangbidang yang lain. objektif. terpiuh. Pertama. serta terbentuknya masyarakat komputerisasi. pastiche. perpetual art (Featherstone. rasionalitas. sebagai perubahan bentuk teorisasi. seorang sosiolog dan kritikus kebudayaan. presentasi dan diseminasi karya seni dan intelektual yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan mikro dalam wilayah kebudayaan. metafor serta akrab dengan alam (Andy Siswanto. 1988: 197). insting dan kegairahan untuk membawa logika modernisme sampai ke titik terjauh yang mungkin bisa dicapai (Featherstone. 1988: 208). Merujuk Mike Featherstone. munculnya kitsch. seorang sosiolog. naratif. maraknya gaya eklektis dan campur aduk. Daniel Bell. Ketiga. postmodernisme memiliki tiga ruang pengertian yang berada dalam wilayah kebudayaan. dengan hasrat. Arsitektur postmodernisme. maka postmodernitas adalah kurun waktu sejarah yang seringkali dikaitkan dengan perubahan realitas dunia seusai Perang Dunia II (Featherstone. ruang isotropis dan estetika mesin. camp dan ironi. dunia simulasi dan hiperrealitas. serta mengembangkan sarana-sarana baru bagi orientasi dan pembentukan identitas (Featherstone. Sementara itu. bahkan melihat postmodernisme sebagai puncak tendensi perlawanan terhadap modernisme. Dalam bidang arsitektur. ekuivokal.dengan seni modernisme lanjut. penuh ornamen. sebaliknya menawarkan konsep bentuk asimetris. . yakni: hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari. sebagai perubahan praktek dan pengalaman keseharian berbagai kelompok yang menggunakan rezim penandaan (regime of signification) dalam berbagai cara dan gaya. 1994: 36). simbolik. sebagai perubahan ruang budaya yang lebih luas mencakup bentuk-bentuk produksi. runtuhnya distingsi antara budaya tinggi dan budaya massa/populer. konsumsi dan sirkulasi tanda dan simbol yang dapat dikaitkan dengan perubahan yang lebih luas pula dalam relasi keseimbangan dan kekuasaan dalam masyarakat. merosotnya kedudukan pencipta seni. parodi.

mencoba menemukan suatu teori masyarakat postmodern atau postmodernitas. Postmodernisme dengan demikian adalah metode analisa kritis yang mencoba membongkar mitos dan anomali paradigma modernisme. membuka ironi. Jean Baudrillard. salah seorang pembicara terdepan postmodernisme. 1995: 43): Modernisme Postmodernisme ---------------------------------------------------------Romantis/Simbolis Parafisik/Dadisme Bentuk/Berhubungan/Tertutup AntiBentuk/Tak Berhubungan/Terbuka Tujuan Permainan Desain Kesempatan Hierarki Anarki Master/Logos Kejenuhan/Kediaman Objek Seni/Karya Proses/Penampilan/Happening Berjarak Partisipasi Kreasi/Totalisasi/Sintesis Dekreasi/Dekonstruksi/Anti Sintesis Kehadiran Ketidakhadiran Pemusatan Tersebar Genre/Batas Teks/Interteks Semantik Retorik Paradigma Sintagma Hipotaksis Parataksis Metafor Metonimi Seleksi Kombinasi Akar/Kedalaman Rhizoma/Permukaan Interpretasi/Pembacaan Melawan-nterpretasi/Kesalahbacaan Petanda Penanda Terlihat/Terbaca Tercatat/Tertulis Narasi/Narasi Besar Anti-Narasi/Narasi Kecil Tanda Idiolek Simtom Hasrat Jenis Mutan Genital/Phalik Polimorphi/Androgini . intertekstualitas dan paradoks. Agak berbeda dengan Bell. memandang postmodernisme lebih sebagai strategi pembacaan realitas dengan objek sentral prinsip reproduksi tanda-tanda. kapitalisme multinasional yang membawa akibat perluasan luar biasa dalam dunia sosial dan meledaknya budaya massa. Untuk memudahkan pemetaan prinsip dan kedudukan modenisme dan postmodernisme.1988: 202).1988: 204). dan menggambarkannya dalam realitas sosial yang ada dalam masyarakat kontemporer Barat dewasa ini (Featherstone. Ihab Hassan mencoba menyusun sebuah tabel sistematis yang menggambarkan perbandingan prinsip kedua paradigma pemikiran tersebut (Harvey.

menyusun sebuah sistematika perbandingan paradigma modernisme dan postmodernisme dalam wilayah-wilayah kehidupan sebagai berikut (Suryakusuma. Suryakusuma.Paranoia Schizophrenia Asli/Sebab Perbedaan/Jejak Tuhan Setan Metafisik Ironi Determinasi Indeterminasi Transenden Imanen Sementara itu Julia I. 1994: 47): Modernisme Postmodernisme --------------------------------------------------------Dalam Politik: Dalam Politik: Negara (nation-state) Relagion Totalitarian Demokratis Konsensus Konsensus yang Dipertanyakan Friksi Kelas Isu Agenda Baru Dalam Ekonomi: Fordisme Kapitalisme Kapitalisme Sentralisasi Dalam Masyarakat: Pertumbuhan Pesat Industrial Berstruktur Kelas Proletariat Dalam Kebudayaan: Kemurnian Elitisme Objektivisme Dalam Estetika: Harmoni Sederhana Estetika Newtonian Top-Down Terintegrasi Ahistoris Dalam Filsafat: Monisme Materialisme Utopian Dalam Media: Dalam Ekonomi: Pasca-Fordisme Monopoli Sosialis Desentralisasi Dalam Masyarakat: KestabilanyangBerkesinambungan Pasca-Industrial Berkelompok Kecil Kognitariat Dalam Kebudayaan: Double Coding Massa Naturalisme Dalam Estetika: Anti-Harmoni Estetika Big-Bang Semiosis Historis Dalam Filsafat: Pluralisme Semiotik Heterotopian Dalam Media: .

ego individual. subjek transenden. Hal yang ada hanyalah sebuah realitas tunggal yang monolitik. Benih-benih kekecewaan terhadap modernisme pertama kali muncul pada tahun 1950-an dalam dunia sastra. Para seniman dan penyair saat itu mulai merasa jenuh berada dalam ketertutupan dan kekakuan rasionalitas instrumental dunia modern. gerakan anti-modernisme menyatakan sikap penolakan terhadap pandangan rasionalitas modern yang menjunjung tinggi universalitas. telah menyebabkan hilangnya otentisitas kehidupan dan kesejatian pengalaman manusia. ini adalah gerakan yang mencoba membangun kesadaran untuk keluar dari kungkungan dan kuasa rasionalitas seni modern. menggunakannya untuk menyebut gerakan anti-modernisme dan anti-rasionalitas modern dalam dunia puisi kontemporer Amerika (Bertens. dogmatis dan ideologis. kelahiran postmodernisme dapat dilacak jauh ke alur sejarah kegagalan modernisme. ketika Charles Olson. Merce Cunningham. dan . yang dipelopori oleh John Cage. Sebagai akibatnya manusia tidak lagi mampu mengalami dan menghayati kekayaan realitas kehidupan dengan segenap keunikannya masing-masing (Bertens. Gerakan anti-modernisme. seorang penyair Amerika.Dunia Cetak Berubah Cepat Dalam Ilmu: Mekanistis Linier Deterministik Mekanika Newton Dalam Agama: Atheisme Tuhan telah mati Patriarkis Kekecewaan Elektronik Mengubah Dunia Dalam Ilmu: Mengorganisasi Non-Linier Indeterministik Mekanika Kuantum Dalam Agama: Panentheisme Spiritualitas Kreatif Pasca-Patriarkis Terpesona Dalam Pandangan Hidup Dalam Pandangan Hidup:: Mekanistis Ekologis Reduktif Holistik Terpisah Berkaitan Hierarkis Heterarkis Kepastian Kebetulan Antroposentris Kosmologis Absurditas Manusia Optimisme Tragis --------------------------------------------------------Secara historis. Olson menyatakan bahwa dunia kebudayaan Barat. Dalam tulisannya Human Universe (1951). Sebaliknya. Robert Rauschenberg. 1995: 21). karena orientasi ontologisnya yang membabi-buta terhadap rasionalitas modern. 1995: 20).

merayakan otentisitas kehidupan. Gerakan anti-modernisme hendak mencoba melawan keangkuhan nilai dan estetika sastra modern. Perbincangan mengenai postmodernisme selanjutnya berkembang dalam lapangan seni. Pada kurun waktu tahun 1960-an, muncul tulisan-tulisan tentang postmodernisme dengan artikulasi dan pemihakan yang lebih jelas. Dalam dunia sastra, Ihab Hassan dan Susan Sontag menyatakan mulai bangkitnya dunia sastra yang terdiam. Sontag juga menyatakan telah lahirnya sensibilitas baru, yaitu suatu sikap yang lebih terbuka menerima keberagaman gaya dan bentuk, serta tidak lagi menuntut penghormatan terhadap seniman dan karya seni. Selama rentang waktu tahun 1960 sampai 1970-an, perbincangan tentang postmodernisme mulai masuk ke dunia arsitektur. Diruntuhkannya bangunan perumahan Pruitt Igoe, St. Louis, Missouri, yang memiliki karakter arsitektur modern (arus arsitektur International Style yang dipelopori Mies van der Rohe) menandai lahirnya pemikiran arsitektur postmodernisme. Arsitektur postmodern membawa tiga prinsip dasar yakni: kontekstualisme, allusionisme dan ornamental. Prinsip kontekstualisme berarti adanya pengakuan bahwa gaya arsitektur suatu bangunan selalu merupakan bagian fragmental dari sebuah gaya arsitektur yang lebih luas. Prinsip allusionisme berarti adanya keyakinan bahwa arsitektur selalu merupakan tanggapan terhadap sejarah dan kebudayaan. Sementara prinsip ornamental berarti pengakuan bahwa bangunan merupakan media pengungkapan makna-makna arsitektural. Adalah Robert Venturi, arsitek sekaligus teoritisi awal konsep arsitektur postmodern, dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1966), yang mulai membuka pembicaraan konsep arsitektur postmodern. Ia memaparkan bahwa arsitektur postmodern adalah konsepsi teoritis arsitektur yang memiliki beberapa karakter. Menurutnya, arsitektur postmodern lebih mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang murni), komposisi paduan (ketimbang yang bersih), bentuk distorsif (ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang yang tunggal), inkonsisten (ketimbang yang konsisten), serta kode ekuivokal (ketimbang yang monovokal) (Bertens, 1995: 54). Sementara itu Charles Jencks, yang diakui sebagai mahaguru arsitektur postmodern, dalam bukunya The Language of Postmodern Architecture (1977), menyebut beberapa atribut konsep arsitektur postmodern. Beberapa atribut tersebut adalah metafora, historisitas, ekletisisme, regionalisme, adhocism, semantik, perbedaan gaya, pluralisme, sensitivisme,

ironisme, parodi dan tradisionalisme (Bertens,1995: 58). Lebih lanjut arsitektur postmodern, menurut Jencks juga memiliki sifat-sifat hibrida, kompleks, terbuka, kolase, ornamental, simbolis dan humoris. Jencks juga menyatakan bahwa konsep arsitektur postmodern ditandai oleh suatu ciri yang disebutnya double coding. Double coding adalah prinsip arsitektur postmodern yang memuat tanda, kode dan gaya yang berbeda dalam suatu konstruksi bangunan. Arsitektur postmodern yang menerapkan prinsip double coding selalu merupakan campuran ekletis antara tradisional/modern, populer/tinggi, Barat /Timur , atau

sederhana/complicated. Memasuki rentang tahun 1980-an, tema postmodernisme mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Upaya membangun kerangka teoritis terhadap tema ini terutama berlangsung dalam lapangan filsafat. Dalam bidang filsafat, istilah postmodernisme kerap dipergunakan dengan acuan yang sangat beragam. Walaupun karya masterpiece Jean Francois Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984), tetap menjadi acuan kunci, namun banyak kalangan mengaitkan istilah itu dengan teori dekonstruksi Derrida, semiologi Barthes, semiotika Eco, poststrukturalisme Foucault, hermeneutika Gadamer sampai kepada pemikiran holistisisme Capra, Prigogine dan Whitehead. Istilah postmodernisme juga sering dirujukkan pada berbagai fenomena realitas masyarakat kontemporer sebagai masyarakat post-industri (post-industrial society), masyarakat komputer (computer society), masyarakat konsumer (consumer society), masyarakat media (media society), masyarakat tontonan (spectacle society) atau masyarakat tanda (semiurgy society). Sementara kalangan memandang postmodernisme sebagai bagian dari proyek modernisme yang belum usai (misalnya Juergen Habermas dan Mahzab Frankfurt generasi kedua), sementara kalangan yang lain memandang postmodernisme sebagai penolakan radikal terhadap nilai-nilai dan asumsi-asumsi modernisme (misalnya Lyotard, Derrida, Foucault). Pauline M. Rosenau, dalam bukunya Postmodernism and Social Sciences (1992), membedakan postmodernisme menjadi dua bentuk. Pertama, postmodernisme sebagai paradigma pemikiran. Sebagai paradigma pemikiran, postmodernisme meliputi tiga aspek ontologi, epistemologi serta aksiologi. Ketiga aspek dasar ini menjadi kerangka berpikir dan bertindak penganut postmodernisme bentuk pertama (misalnya Lyotard, Derrida, Foucault). Kedua, postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan. Dalam konteks ini, prinsip dan pemikiran postmodernisme digunakan sebagai lensa membaca realitas sosial budaya masyarakat kontemporer (misalnya Rortry dan Baudrillard). Dari arah yang agak berbeda, Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah konsekuensi logis

perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1989), Jameson meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme yang, demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya kreatif/kritis konsumen. Kapitalisme yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah mengalami diversifikasi begitu jauh. Dengan perkembangan kapitalisme lanjut yang tampil dengan kehadiran perusahaan multinasional, jaringan informasi global dan teknologi telekomunikasi, maka whole new type of society pun lahir. Inilah masyarakat yang dihuni oleh subjek-subjek dengan ciri-ciri terbelah, kehilangan rantai hubungan pemaknaan, larut dalam citra-citra dan imaji serta gagal memahami latar belakang sejarah dirinya sendiri (Turner, 1990: 170). Namun untuk memahami postmodernisme secara mendasar terutama pada dataran ontologis dan epistemologis adalah mutlak untuk mengetahui asumsi-asumsi dasar serta argumentasi para penyuara postmodernisme dalam wilayah filsafat. Jean Francois Lyotard adalah filsuf kelahiran Versailles Perancis yang mulai meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme. Melalui bukunya yang segera menjadi klasik, The Condition of Postmodern: A Report on Knowledge (1984), Lyotard mencatat beberapa ciri utama kebudayaan postmodern. Menurutnya, kebudayaan postmodern ditandai oleh beberapa prinsip yakni: lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernisme, lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi. Masyarakat komputerisasi adalah sebutan yang diberikan Lyotard untuk menunjuk gejala post-industrial masyarakat Barat menuju the information technology era. Realitas sosial budaya masyarakat dewasa ini seperti yang ditelitinya secara seksama di Quebec Kanada adalah masyarakat yang hidup dengan ditopang oleh sarana teknologi informasi, terutama komputer. Dengan komputerisasi, prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan transformasi mengalami revolusi radikal. Penggunaan tenaga manusia yang semakin terbatas dalam sektor ekonomi, pelipatan ruang dalam dunia telekomunikasi, percepatan pengolahan data dan informasi yang mampu

Foucault bersepakat bahwa Era Pencerahan adalah saat dimana rasio mendapatkan tempat istimewa dalam sejarah perkembangan kebudayaan. baik atas nama Tuhan. Lyotard selanjutnya menyatakan bahwa kebenaran yang dibawa oleh narasi-narasi besar (Grand Narratives) modernisme sebagai metanarasi kini telah kehilangan legitimasinya. prinsip lain yakni disensus menjadi lebih bisa diterima ketimbang prinsip konsensus seperti ditawarkan Juergen Habermas. subjek.mengubah bahkan memanipulasi realitas. nilai-nilai serta asumsi dasar modernisme: rasio. atau yang lainnya. berarti diakui adanya berbagai unsur realitas yang memiliki logikanya sendiri. historis dan lokal (locally determined). tanpa harus mencantolkan diri pada status-status khusus dari kebenaran-kebenaran absolut. Namun ia menolak anggapan Kant bahwa rasio berlaku universal. Dalam masyarakat komputerisasi seperti ini. Ironi adalah keberanian. logos. Dengan titik perhatian yang berbeda namun sampai pada kesimpulan yang sama. otonomi. realitas telah berubah sesuai dengan perubahan karakter masyarakat postmodernisme. Menggarisbawahi sifat transformatif masyarakat komputerisasi yang lebih terbuka. Michel Foucault. seorang filsuf poststrukturalis Perancis. Menurutnya terdapat tanggapan lain terhadap Pencerahan seperti diwakili Baudelaire yaitu ironi. Pengetahuan dan kebenaran kini menyebar dan plural. Berangkat dari Kant. Bahkan. 1994: 16). arena perjuangan. narasi besar. untuk terlibat secara aktif dengan situasi kini dan disini. adalah beberapa konsekuensi perkembangan teknologi (Sarup. yang memiliki logika dan hak hidupnya sendiri. menurut Lyotard. Realitas kontemporer tidak lagi homolog (homo: satu. sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuan tidak lagi tunggal. Baginya rasio hanyalah salah satu cara untuk menanggapi situasi zaman saat itu. hukum sejarah linear. Konsekuensinya. mencatat beberapa karakter khas kebudayaan postmodern. dan logi: tertib nalar). yang disertai kegetiran. majemuk. Realitas masyarakat seperti inilah yang menjadi wadah. nilai-nilai baru postmodernisme. di luar diri manusia. Dengan delegitimasi. yang sudah terpatok sebelumnya (Ahmad Sahal. ego. Karena disensus adalah prinsip yang mengakui perbedaan dan keunikan setiap unsur dalam realitas. 1989: 118). 1995: 161). Ironi juga berarti menjalani kehidupan tanpa dibebani oleh prinsip baku. prinsip legitimasi modernisme harus dibongkar dengan prinsip delegitimasi. plural dan demokratis. Dengan delegitimasi. Dengan ironi. penyebaran pengetahuan dan kekuasaan secara massif. Foucault menerima keyakinan . melainkan paralog (para: beragam. dan logi: tertib nalar) (Awuy. Hal ini karena dalam masyarakat kontemporer. identitas tidak lagi mampu menggambarkan realitas.

marjinal dan dikucilkan agar lebih didengar dan diperhatikan. Bagi kaum Weberian. kekuasaan adalah kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. dimiliki oleh siapa saja. pabrik. dengan narasi besar yang monolog: rasionalitas. substansi/aksidensi. makna/bentuk. barak-barak tentara. keberhasilannya menyingkap mitos-mitos modernisme yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran absolut.bahwa sejarah modernitas bukanlah sejarah tunggal. pemihakannya terhadap persoalan-persoalan yang selama ini ditindas oleh rasionalitas modern. institusi atau struktur yang bersifat menundukkan. 1994: 16-17). Foucault lebih memilih untuk menyibuki persoalan-persoalan kecil dan lokal yang seringkali tak jamak dibicarakan. salah satu ciri yang menonjol adalah cara berpikir oposisi biner yang bersifat hierarkis (esensi/eksistensi. sedang yang kedua adalah derivasi. Melalui Derrida terbongkar karakter kekerasan dan teror yang disebar oleh modernisme semenjak diuarkannya prinsip logosentrisme. Cara berpikir ini mendorong sejarah filsafat Barat cenderung bersifat totaliter karena menganggap bahwa yang bukan pusat. pengakuan dan penguasaan diri (Ahmad Sahal. harus . Dengan upaya ini. Sebaliknya menurut Foucault. Sementara bagi kaum Marxian. Foucault memberikan dua sumbangan besar terhadap postmodernisme. manusia modern sebagai subjek ataupun objek sebenarnya tidak lebih dari individu yang lahir dan diciptakan oleh multiplisitas kekuasaan melalui disiplin. Menurut Foucault. normalisasi dan regulasi. the others. Dalam logosentrisme. konsep/metafor) dengan anggapan bahwa yang pertama adalah pusat. Kekuasaan adalah label nominal bagi relasi strategis yang kompleks dalam masyarakat. yang lain. Ia menyebar dan hadir di mana-mana. seks. Pertama. pinggiran. Seorang filsuf lain yang mencoba menyingkap sifat paradoks modernisme adalah Jacques Derrida. positif/negatif. kekuasaan bukanlah kekuatan. menolak pandangan para filsuf Pencerahan yang mengatakan bahwa manusia adalah subjek otonom. Ia misalnya. transenden/imanen. Kekuasaan dalam pandangan Foucault ini berbeda sama sekali dengan yang dipahami oleh kaum Weberian dan Marxian. Kedua. ketimbang berusaha mengimami gagasan besar yang cenderung manipulatif. Untuk itu. pasien. penjara. Tema-tema seperti rumah sakit. jiwa/badan. namun sebenarnya palsu. tersisih. yang universal. Lebih jauh ia menyingkapkan bahwa narasi-narasi besar modernisme hanyalah mistifikasi yang bersifat ideologis dan semu. yang pinggiran. orang gila dan para kriminal menjadi titik perhatian utama selama karir kefilsafatannya. mandiri dan mampu menentukan dirinya sendiri. kekuasaan adalah artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan untuk mendominasi dan menekan kelas lain. lisan/tulisan. sekolah.

Jean Baudrillard dilahirkan di kota Riems. Perancis Barat. pada 5 Januari 1929. Baudrillard lebih memilih kebudayaan sebagai medan pengkajian.disubordinasikan ke dalamnya. antara kebenaran dan fiksi. Ia sempat mengalami masa kejayaan dan kebangkrutan Fasisme. Mencermati hal itu. Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa sejauh mana struktur-struktur yang terbentuk hendak dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya. Jean Baudrillard dan Beberapa Karyanya Salah seorang pemikir postmodernisme yang menaruh perhatian besar pada persoalan kebudayaan dalam masyarakat kontemporer adalah Jean Baudrillard. 1994: 21). yakni keadaan dimana relasi antara pusat dan pinggiran belum lagi mengeras. Derrida lantas melakukan strategi dekonstruksi terhadap cara berpikir oposisi biner. ia harus berusaha keras untuk mencapai cita-citanya dengan berkali-kali gagal memperoleh agregation de philosophie. antara filsafat dan puisi. Keluarganya bukanlah keluarga berpendidikan. C. Agak berbeda dengan filsuf-filsuf postmodernisme lainnya yang memusatkan diri pada metafisika dan epistemologi. Dengannya diinginkan pluralitas dan heterogenitas kehidupan yang membeku dan tertindas selama masa modernisme kembali terhampar. dan antara keseriusan dan permainan. Meskipun untuk itu. yakni melalui pembalikan hierarki oposisi biner secara terusmenerus (Ahmad Sahal. Dengan dekonstruksi hendak dimunculkan kembali dimensidimensi metaforis dan figuratif dari bahasa yang menjadi pembentuk realitas. Melalui dekonstruksi Derrida mencoba meletakkan kembali kedudukan struktur dalam keadaan asalinya. Baudrillard ingin mengungkapkan transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat Barat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga petani yang kemudian pindah ke kota Paris dan bekerja sebagai pegawai di Dinas Pelayanan Masyarakat. Bersama saudarasaudaranya yang lain Baudrillard hidup dalam tradisi keluarga petani urban yang sederhana. . Implikasinya adalah mulai melumernya batas-batas antara konsep dan metafor. Ia adalah orang pertama dalam keluarganya yang bekerja sebagai ilmuwan secara serius. Ia mengambil pilihan itu bukan tanpa tujuan.

Setelah setahun mengajar di Universitas Nanterre. Ia mulai terpengaruh pemikiran Barthes. Setahun berikutnya ia menulis buku Communications (1969). menunjukkan bahwa ia adalah seorang penganut sekaligus kritikus brillian terhadap pemikiran Karl Marx. Baudrillard tidak menolak sama sekali strukturalisme. secara jelas juga menunjukkan kekritisannya terhadap gagasan Marx mengenai nilai-guna dan nilai-tukar. Ia mengadopsi pendapat Mauss dan Bataille bahwa dalam institusi semacam Kula dan Potlach dalam masyarakat primitif. untuk mengajar disana. Pada tahun 1968 ia mulai menulis buku The Object System yang sangat dipengaruhi oleh karya Barthes The Fashion System (1967) Dalam buku itu yang belum terlihat minatnya secara serius terhadap persoalan kebudayaan postmodern saat itu Baudrillard mencoba mengadopsi metode semiologi Barthes untuk membongkar hubungan dan mistifikasi objek-subjek dalam realitas masyarakat modern. Inilah prinsip yang . ia kemudian masuk ke Universitas Nanterre. expenditure atau belanjaan Baudrillard menolak prinsip nilai-guna dan nilai-tukar Marx dan menyatakan bahwa aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya merupakan aktivitas non-utilitarian (Baudrillard.Pada tahun 1966 Baudrillard menyelesaikan tesis sosiologinya di Universitas Nanterre di bawah bimbingan Henry Lefebvre. seorang anti-strukturalis Perancis kondang saat itu. Bersepakat dengan dua pemikir terakhir. Ia masih meminjam dan mempergunakan beberapa istilah strukturalis dalam pemikirannya. Setahun setelah lulus. Semenjak berada di sanalah Baudrillard mulai aktif menulis disamping sibuk berpartisipasi dalam praksis gerakan sosialisme Perancis. Selain dari Marx. Baudrillard aktif dalam organisasi mahasiswa Sosialis dan mengakui sebagai pengikut Marxisme. Karya-karya terjemahannya tentang Bertolt Brecht dan Arnold Weiss yang banyak dipengaruhi Marx. dan Georges Bataille mengenai (Lechte. 1993: 68). Ia lulus dengan membawa kebanggaan besar bagi keluarganya. bukan pada kegunaan. Sedikit berbeda dengan Lefebvre. Ia mencoba menggabungkan pemikiran Marx dengan strukturalisme Perancis. kebiasaan memberi sesuatu dan membelanjakan sesuatu ternyata didasarkan pada prestise dan kebanggaan simbolik. Baudrillard mengambil alih pemikiran Barthes mengenai semiologi. Marcel Mauss seorang antropolog strukturalis mengenai gift atau pemberian. selanjutnya Baudrillard bergabung dengan Roland Barthes mengajar di Ecole des Hautes Etudes. 1994: 233). sebuah buku yang membahas struktur komunikasi tanda dalam masyarakat Barat dewasa ini. Tulisan-tulisan awal Baudrillard di majalah Calvino dan Les Temps Modernes milik Jean Paul Sartre. Ia juga banyak dipengaruhi oleh para pemikir strukturalis. selain tentu saja pemikiran Karl Marx. Selama menjadi mahasiswa.

aforistik. skeptis. . Nama Jean Baudrillard mulai dikenal luas dalam diskursus filsafat kontemporer ketika tulisannya The Mirror of Production (1975) dipublikasikan di Amerika. tanda. karyanya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981) diterbitkan oleh Telos Press. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum. Dengan gaya menulisnya yang khas dan orisinal deklaratif. Tahun-tahun berikutnya nama dan gagasan Baudrillard semakin bersinar. fatalis. yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak. nihilis. dan mendorong minat terhadap pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh postmodernisme. Dalam kebudayaan simulasi. hiperbolik. Baudrillard mengintrodusir sebuah karakter khas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Simulations (1983). perhatian terhadap tema postmodernisme semakin besar. yang real.kini semakin transparan berlangsung dalam aktivitas konsumsi masyarakat dewasa ini. Baudrillard kemudian mengajukan prinsip nilai-tanda dan nilai-simbol sebagai kerangka membaca realitas dewasa ini yang ditegakkan oleh konsumsi dan reproduksi. sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai. misalnya di surat kabar Liberation yang secara berkala memuat tulisannya. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi. dan mana yang palsu. Tahun 1983. Bersamaan dengan itu. fakta. tanpa referensi relasional yang jelas. serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi. Ia banyak diundang berceramah di dalam maupun di luar negeri. Dalam karyanya ini Baudrillard mengkritik prinsip nilai-guna dan nilai-tukar Marx yang dianggapnya sudah tidak relevan lagi digunakan sebagai kerangka memandang realitas masyarakat dewasa ini. Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli. Enam tahun berikutnya. karya magnum opus-nya. citra dan kode. yang semu. diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. Menurutnya. serta menulis di berbagai media. kedua tanda tersebut saling menumpuk dan berjalin kelindan membentuk satu kesatuan. Nilai tanda (sign-value) dan nilai-simbol(symbolic-value) telah menggantikan nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). kecuali simulacra itu sendiri. Karya-karyanya pun semakin banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Realitas tak lagi punya refernsi. Dalam buku yang segera menjadi klasik ini. Lebih jauh. termasuk Baudrillard. namun tajam dan cerdas karya-karyanya segera memiliki arti tersendiri. kebudayaan Barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi.

Baudrillard menyatakan bahwa dengan transparansi makna dan informasi. ekstasi seks (kecabulan). Baudrillard menyatakan bahwa dalam wacana simulasi realitas yang sesungguhnya (fakta) tidak hanya bercampur dengan realitas semu (citra). kebaruan. Seduction (1990). Dengan menganalisa masyarakat dan kebudayaan Amerika. dan ekstasi informasi (simulasi) (Baudrillard. oleh penerbit Semiotext. perubahan dan percepatan konstan. The Evil Demon of Images (1987).Pada tahun ini juga diterbitkan In The Shadow of Silent Majorities (1983). mode dan penampilan menjadi nilai baru yang menggantikan nilai kebijaksanaan. kearifan dan kesederhanaan. ekstasi tubuh (kegemukan). namun bahkan telah dikalahkan oleh citra. Sementara melalui karyanya The Ecstasy of Communication (1987). masyarakat Barat dewasa ini telah melampaui ambang batas menuju keadaan permanent ecstasy: ekstasi sosial (massa). Selected Interviews (1993) oleh Routledge. dalam edisi bahasa Inggris. . serta menulis di jurnal-jurnal semisal Spring. Baudrillard mengembangkan gagasannya tentang masyarakat hiperrealitas. Inilah era hiperrealitas. hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat Barat dituntun oleh logika ekonomi kapitalis yang menawarkan keterbukaan. Cool Memories II (1991). dimana realitas asli dikalahkan oleh realitas buatan. Dalam karyanya tersebut. Simulacra and Simulacrum (1989). citra lebih dipercaya ketimbang fakta. Selain menulis buku. America (1989). Baudrillard and Culture (1991) oleh Routledge. serta Baudrillard Reader (1993) oleh Routledge. Baudrillards Bestiary. serta The Illusion of The End (1994). Baudrillard: Critical and Fatal Theory (1991) oleh Routledge. Dalam keadaan demikian. Ia sering mengisi kolom di surat kabar harian Liberation dan Guardian. Fatal Strategies (1990). persoalan gaya hidup. Cool Memories (1990). Tahun 1989. Saat ini. Symbolic Exchange and Death (1993). yang merupakan kelanjutan karya monumentalnya Simulations (1983). Jean Baudrillard: From Marxisme to Postmodernism and Beyond (1989) oleh Cambridge Press. The Transparency of Evil (1992). terbit karyanya. 1987: 82). Sementara itu tanggapan serius terhadap pemikiran-pemikiran Baudrillard pun semakin besar dengan ditandai oleh terbitnya buku-buku kajian kritis seperti: Baudrillard Live. Karya-karya utamanya yang lain kemudian berturut-turut diterbitkan seperti: Forget Foucault (1987). Revenge of Crystal (1990). Baudrillard juga kerap menulis artikel di berbagai jurnal ilmiah baik yang berbahasa Perancis maupun Inggris dan media massa umum. ekstasi kekerasan (teror). Selected Writing (1989) oleh Cambridge Press. Lebih jauh.

Sejak tahun 1960-an. konsumsi adalah determinan pasar kapitalisme yang juga berubah semakin bersifat monopoli. Art and Text. kedudukan dominan faktor konsumsi bahkan tidak hanya dalam kawasan ekonomi. maka dalam era kapitalisme lanjut. New Literary History. signs ? Is that all you have to say (Tanda. Kebudayaan Postmodern Jean Baudrillard A. jurnal milik filsuf eksistensialis Perancis Jean Paul Sartre. Lebih dari era-era sebelumnya. produksi menjadi faktor dominan yang membentuk pasar kapitalisme kompetitif.October. On The Beach. Calvino serta Les Temps Modernes. tanda ? Apakah cuma itu yang ingin kau katakan ?) Perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun 1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer. Bila dalam era kapitalisme awal. Nilai Tanda dan Nilai Simbol Signs. kini .

The System of Objects (1968) dan Consumer Society (1970). Sistem-sistem objek. budaya bahkan politik (Kellner. Baudrillard terlebih dahulu mengkaji kondisi masyarakat Barat yang tengah memasuki era masyarakat konsumer. yang menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan. Melalui objek-objek atau komoditi-komoditi itulah seseorang dalam masyarakat konsumer menemukan makna dan eksistensi dirinya. Dalam masyarakat konsumer. Inilah awal lahirnya masyarakat konsumer. 1995: 146). Namun sebelum sampai kesana. yang berupa status. kemewahan dan kehormatan adalah motif utama aktivitas konsumsi masyarakat konsumer. Menurut Baudrillard. prestise dan kehormatan (nilai-tanda dan nilai-simbol). segala upaya ditujukan pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi melalui pemassalan produk. kini telah digantikan oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. yakni objek konsumsi yang berupa komoditi. Dalam bukunya yang pertama yang terinspirasi oleh buku Roland Barthes. untuk menyatakan bahwa konsep nilai-guna dan nilai-tukar yang disarankan Marx. dengan hasrat selalu dan selalu mengkonsumsi. Baudrillard menggabungkan semiologi Barthes. Baudrillard memulai proyek genealogi masyarakat konsumer ini dengan dua bukunya yang pertama. media massa dan shopping mall merupakan ujung tombak strategi baru era konsumsi. yang merupakan judul buku Baudrillard. teknologi kemasan. pameran. pemikiran Mauss dan Bataille tentang sifat non-utilitarian aktivitas konsumsi manusia.konsumsi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial. mode of production kini telah digantikan oleh mode of consumption (Bertens. The System of Fashion (1967) Baudrillard menyatakan bahwa di bawah kejayaan era kapitalisme lanjut. serta konsep the society of spectacle Guy Debord. diferensiasi produk dan manajemen pemasaran. adalah sebuah sistem klasifikasi yang membentuk makna dalam kehidupan masyarakat kapitalisme lanjut. objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar memiliki manfaat (nilai-guna) dan harga (nilai-tukar) seperti dijelaskan Marx. Nilai-tanda dan nilai-simbol. 1994: 3). Namun lebih dari itu ia kini menandakan status. prestise. Dalam era ini. Konsumsi inilah yang kemudian menjadikan seluruh aspek kehidupan tak lebih sebagai objek. pemikiran ekonomi politik Marx. masyarakat yang dibentuk dan dihidupi oleh konsumsi. ekspresi gaya dan gaya hidup. Dalam bukunya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981). Pergeseran nilai yang terjadi seiring dengan perubahan karakter masyarakat postmodern inilah yang kemudian menarik perhatian Baudrillard untuk mengkajinya secara lebih mendalam. fungsi utama objek-objek konsumer . Iklan.

prestise. 1970: 29). namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan. Dengan pernyataan ini Baudrillard samasekali tidak bermaksud menafikan pentingnya kebutuhan. perhaps the specific mode of our era (Baudrillard. Baudrillard mengembangkan lebih jauh gagasannya tentang kedudukan konsumsi dalam masyarakat konsumer. objek-objek konsumsi kini telah menjelma menjadi seperangkat sistem klasifikasi status. . yang membedakan pilihan pribadi orang yang satu dengan yang lainnya. 1970: 47). Dalam bukunya Baudrillard menjelaskan: What is sociologically significant for us. yang kemudian tampil sebagai fenomena perubahan dari yang Alamiah (nature) menjadi produk Budaya (culture). dan bukan karena kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan (Baudrillard. is precisely the generalized reorganization of this primary level in a system of signs which appears to be a particular mode of transition from nature to culture. Tema-tema gaya hidup tertentu. 1970: 47). melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai- tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media (Baudrillard. Baudrillard menyatakan bahwa mekanisme sistem konsumsi pada dasarnya berangkat dari sistem nilai-tanda dan nilai-simbol. dan apa yang menjadi tanda zaman bahwa kita tengah berada dalam era konsumsi. konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard. kelas dan prestise tertentu adalah maknamakna yang jamak ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi. Apa yang kita beli. 1969: 19). Sambil menyanggah pendapat Galbraith yang menyatakan bahwa manusia adalah homo psychoeconomicus. konsumsi sebagai sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan.bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya. yang mungkin merupakan wajah khas zaman kita sekarang). and what marks our era under the sign of consumption. (Apa yang secara sosiologis penting bagi kita. status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan. tidak lebih dari tanda-tanda yang ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi. Selanjutnya dalam Consumer Society (1970). Menurutnya. prestise bahkan tingkah laku masyarakat. Dengan kata lain. Ia hanya ingin mengatakan bahwa dalam masyarakat konsumer. sebenarnya adalah sebuah fenomena umum tentang pengaturan kembali faktor konsumsi sebagai aspek primer dalam suatu sistem penandaan.

in the twentieth century. Mengacu Marx. muncul konsep komoditi yang merupakan konsekuensi logis dominannya logika produksi dalam era kapitalisme. 1970: 50). of the great indoctrination of rural populations into industrial labor. Berdasarkan manfaatnya. Dalam masyarakat konsumer. dimana kegunaan dan pelayanan bukanlah motif terakhir tindakan konsumsi. Masyarakat konsumer yang berkembang saat ini adalah masyarakat yang menjalankan logika sosial konsumsi. . Pemikiran tentang fenomena masyarakat konsumer dan kemenangan nilai-tanda serta nilai-simbol ini selanjutnya mencapai titik kematangannya pada For a Critique of the Political Economy of the Sign (1981). namun dari tanda dan makna yang mereka konsumsi. menurut Marx. nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). setiap objek dianggap memiliki manfaat atau kegunaan bagi kepentingan manusia. menurut Baudrillard.Lebih lanjut Baudrillard menyatakan. tanda adalah cerminan aktualisasi diri individu paling meyakinkan. Melainkan lebih kepada produksi dan manipulasi penanda-penanda sosial. bersamaan dengan perubahan prinsip masyarakat feodal menuju masyarakat kapitalis. 1994: 234). how much of the current indoctrination into systematic and organized consumption is the equivalent and the extension. Komoditi adalah objek produksi yang didalamnya memuat dua nilai dasar yakni. miliki dan tampilkan dalam interaksi sosial. adalah nilai yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. nilai-guna dan nilai-tukar. yang berlangsung pada abad kesembilan belas). which occurred throughout the nineteenth century (Baudrillard. Nilaiguna. Dalam bukunya ini Baudrillard memisahkan diri dari Marx dengan menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumer dewasa ini. We dont realize. sebagaimana disarankan Marx. Kini. sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai sarana analisa kondisi sosial masyarakat. Individu menerima identitas mereka dalam hubungannya dengan orang lain bukan dari siapa dan apa yang dilakukannya. adalah era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya makna serta citra oleh perkembangan teknologi dan media massa (Lechte. (Kita tidak menyadari bagaimana proses indoktrinasi konsumsi yang sistematik dan terorganisir di abad keduapuluh ini sebenarnya adalah sama dan sekaligus merupakan perluasan. dari proses indoktrinasi masyarakat pedesaan sebagai buruh-buruh industri.

seseorang dapat membeli dan memiliki berbagai kualitas hidup manusia yang diinginkannya. Uang menjadi bahasa baru yang membentuk dan memberi makna realitas. Dengan konsep komoditi. lahir nilai baru yang menyertai konsep komoditi. Dalam bahasa Marx. seseorang dapat memiliki berbagai kualitas hidup manusia. Dengan hadirnya konsep komoditi. 1994: 43).Nilai-guna menjadi prinsip interaksi sosial. one can possess various human qualities. Dengan uang misalnya. that am I. ekonomi. menurut Marx. Dalam masyarakat kapitalis. dan uang bisa membelinya. Dengan kata lain. yang memiliki kedua nilai dasar tersebut. barang yang memiliki manfaat berbeda. that which I can pay for. . The extent of the power of money is the extent of my power. maka dalam era kapitalisme lanjut. seperti yang dikutip Kellner. tidak mustahil memiliki nilai-tukar yang sama. saya bisa bayar. yakni nilai-tukar. si pemilik uang tersebut. uang adalah tujuan akhir dengan komoditi sebagai sarananya (Kellner. maka uang sebagai alat tukar pun semakin mendapat tempat penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat kapitalis. Sementara itu seiring dengan perkembangan struktur masyarakat feodal menuju masyarakat kapitalis. budaya dan politik masyarakat feodal. Seekor sapi misalnya. 1994:235). Perkembangan kapitalisme lanjut kemudian menempatkan kedudukan uang (sebagai alat tukar) sebagai satu-satunya sarana penilaian komoditi yang bersifat independen. the possessor of money. That which exists for me through the medium of money. Bertambah besarnya kekuasaan uang adalah bertambah besarnya kekuasaan saya. Bahwa apa yang bisa saya miliki dengan sarana uang. Moneys properties are my properties and essential powers the properties and powers of its possessor (Kellner. bukan tidak mungkin memiliki nilai-tukar yang sama dengan sebuah mobil. itulah saya. which money can buy. Apa yang bisa dimiliki uang adalah milik dan kekuasaan utama saya si pemilik uang). meskipun keduanya barangkali memiliki nilai-guna yang berbeda (Lechte. nilai-tukar menjadi lebih penting dibanding nilai-guna. uang hanyalah sarana tukar pemenuhan kebutuhan. Marx menyatakan bahwa bila dalam era kapitalisme awal. Nilai tukar adalah nilai yang diberikan kepada objek-objek produksi berdasarkan ukuran nilai-gunanya. Dan komoditi diciptakan bukan untuk nilai-gunanya. With money. melainkan demi nilai tukar yang berupa uang. setiap objek adalah komoditi. Lebih jauh. 1994: 44) (Dengan uang.

Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang hampir di segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan. dari masyarakat komoditi (commodity society) ke masyarakat tontonan (society of spectacle). (Maka siapa saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya. Tontonan adalah juga komoditi. pendidikan. Guy Debord menjelaskan bahwa jika Marx menyatakan adanya degradasi prinsip ada (being) menjadi memiliki (having). I am ugly. Dengan penjelasan demikian. olahraga. Bersama kelompoknya Situasionist International Debord menyatakan bahwa telah terjadi pergeseran dalam struktur sosial masyarakat. Dan sebaliknya. maka ia juga tidak dapat dilakukan). Saya bertampang jelek. politik bahkan agama dikemas sebagai tontonan pula. what money cannot do. adalah aparat-aparat ideologis masyarakat tontonan yang paling representatif. seemingly cannot be done (Kellner. dimana tindakan-tindakan kreatif direduksi sekedar menjadi . Televisi. And conversely. Lebih jauh. dalam masyarakat tontonan.Thus. 1994: 45). Saya kini tidak lagi jelek. Berangkat dari kerangka analisa komoditi Marx ini. Dengan tontonan komoditi ditampilkan secara lebih halus dan menyenangkan. Segala sesuatu yang anda tidak dapat lakukan. what I am and am capable of is by no means determined by my individuality. Dalam masyarakat dimana manusia telah berubah menjadi benda. In a society where human beings powers. segala sesuatu kebudayaan. karena efek kejelekan tersebut sebagai faktor determinan telah dihapuskan oleh uang. uang anda bisa melakukannya. Marx hendak menyatakan bahwa nilai-tukar (exchangevalue) kini telah mengalahkan nilai-guna (use-value). but I can buy for myself the most beautiful of women. I am not ugly. Tontonan memanipulasi dan mengeksploitasi nilai-guna dan kebutuhan manusia sebagai sarana memperbesar keuntungan dan kontrol ideologis atas manusia. maka benda pulalah (uang) yang akan menggantikan kekuasaan manusia. your money can do. selanjutnya Guy Debord mencoba membaca realitas masyarakat dewasa ini. Therefore. dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. All the things which you cannot do. namun saya bisa membeli wanita tercantik yang saya inginkan. Uang sebagai ukuran nilai-tukar adalah segala-galanya. namun dalam bentuknya yang lebih sublim dan abstrak. for the effect of ugliness its determinant power is nullified by money. apa yang uang tidak dapat melakukannya. iklan dan fashion misalnya.

adalah juga berarti kejayaan penanda (signifier) atas petanda (signified). sejalan dengan pemikiran semiologi. Kejayaan nilai-tukar ini. as mere appearance (Kellner. Dengan menambahkan semiologi sebagai pisau analisa baru. Bagi Baudrillard. the spectacle is affirmation of appearance and affirmation of all human life. Keduanya merupakan nilai yang terdapat di dalam objek. seperti dijelaskan Marx. segala sesuatu dalam realitas masyarakat dewasa ini berfungsi sebagai nilai-tukar untuk memperoleh keuntungan. Dalam masyarakat yang mengedepankan penampakan ketimbang kedalaman maka segala sesuatu ditampilkan sebagai citra-citra yang bahkan nampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. 1994: 78). penanda telah tampil sebagai elemen independen dalam bentuk tontonan. mutlak membutuhkan sistem penanda sebagai prinsip pendukungnya. Inilah awal lahirnya masyarakat hiperrealitas. Dalam perkembangan kapitalisme lanjut. Dan nilai-tukar memiliki kesamaan dengan penanda (signifier).hasrat kepemilikan atas objek-objek. 1994 50) . memiliki nilai-guna dan nilai-tukar. Komoditi. sebagai nilai yang ditanamkan di dalam objekobjek (Kellner. Baudrillard menyatakan terdapat kesamaan diantara keduanya. Dalam kata-kata Debord sendiri . Dengan prinsip ini segala sesuatu direduksi sekedar menjadi tanda dan citra-citra penampakan. Melalui komoditi dan uang. Baudrillard menarik garis lebih jauh pemikiran kedua tokoh pendahulunya tersebut. Lebih jauh bahkan menurut Debord. Tontonan yang mengedepankan penampakan. Penampakan yang berupa tontonan adalah ciri dominan era ini (Kellner. Considered in its own terms. maka kini telah terjadi degradasi dari prinsip memiliki (having) menjadi penampakan (appearing). dimana tanda dan citra mengambil peran penting untuk membentuk struktur dunia. merujuk Marx. 1994: 48). sementara perasaan direduksi sekedar menjadi sifat tamak. yakni nilai-tanda (sign-value) dan nilai-simbol (symbolic-value) dalam struktur masyarakat dewasa ini. namely social life. Dengan membandingkan konsep komoditi Marx dan konsep penandaan Saussure. nilai-tukar kemudian mendominasi nilai-guna. Baudrillard mencoba menunjukkan bahwa telah lahir nilai baru . Sementara semiologi memandang tanda terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). nilai-guna memiliki kesamaan dengan petanda (signified).

1981: 70). dalam masyarakat konsumer yang mengkonsumsi tanda. Komoditi diperjualbelikan karena makna yang ditanamkan di dalamnya. dinilai bukan karena manfaatnya sebagai alat transportasi atau harganya yang mahal. Kelahiran nilai-tanda selanjutnya diikuti oleh nilai simbol. Baudrillard menyatakan bahwa nilai-guna dan nilai-tukar. di era masyarakat konsumer. The referential world of the commodity needs. sebagai sekedar penampakan belaka). Masyarakat feodal. bukan karena manfaat atau kegunaannya. Dalam dunia penampakan tanda menjadi prinsip utama realitas. Sejalan dengan pemikirannya tentang perubahan prinsip dari nilai-guna dan nilai-tukar ke nilai-tanda dan nilai-simbol. dan menuju susunan kode-kode dan tanda-tanda. All the repressive and reductive strategies of power systems are already present in the internal logic of the sign (Baudrillard. status dan prestise.(Berdasarkan pengertiannya. Dalam ungkapan Baudrillard . Semua strategi sistem kekuasaan yang represif dan reduktif kini tampil dalam lingkaran logika tanda). masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Komoditi. Sebuah mobil Porsche atau BMW misalnya. Lebih jauh. namun lebih kepada alasan simbolis: kehormatan. Dengan latar belakang demikian. kini tak lebih dari permainan tanda-tanda. Baudrillard kemudian mengubah pula periodisasi sejarah masyarakat yang dibuat Marx. dan bukan karena harga atau manfaatnya (Lechte. nilai-guna dan pekerja hanyalah jalan sejarah menuju kondisi semiurgi radikal yang bertujuan menghilangkan konsep masyarakat dan realitas. merujuk . 1994: 236). Menurut Marx. nilai-simbol menjadi motif utama aktivitas konsumsi. Baudrillard menerima pendapat bahwa aktivitas konsumsi pada dasarnya bukan dilakukan karena alasan kebutuhan. yakni masyarakat feodal. melainkan karena ia menjadi simbol gaya hidup. kemewahan dan status sosial pemiliknya. tontonan berarti pengakuan akan penampakan dan pengakuan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. kini telah digantikan oleh nilai tanda. Dengan merujuk Marcel Mauss. seperti dijelaskan Marx. terdapat tiga tahap struktur masyarakat. Objek komoditi dibeli karena makna simbolik yang ada di dalamnya. prestise. yakni kehidupan sosial. their displacement through structural codes and signs. use-value and labor was only a historical passageway of a radical semiurgy which aims at the liquidation of society and the real. (Dunia referensial komoditi kebutuhan.

Dalam masyarakat massa. Individu dalam masyarakat massa berperan sebagai konsumen tanda tanpa memiliki status kelas tertentu. terbentuklah masyarakat massa. Baudrillard mengajukan periodisasi perubahan struktur masyarakat. Selanjutnya dalam masyarakat hierarkis. Masyarakat komunis. Simulacra/Simulacrum dan Simulasi All that is solid melts into air (Karl Marx) All that is solid melts into glass (Charles Jencks) All that is real becomes simulation (Jean Baudrillard) . konflik berkepanjangan antara kelas kapitalis dan proletar ini pada akhirnya akan menimbulkan krisis yang memungkinkan terjadinya revolusi menuju era masyarakat baru. Berbeda dengan Marx yang mempergunakan pisau analisa ekonomi politik. B. pada tahapnya yang tertinggi. yang kini memiliki nilai-tukar. yakni masyarakat komunis. yakni dari masyarakat primitif. 1993: 122). Baudrillard memanfaatkan semiologi sebagai alat analisa.Marx. Akhirnya. Objek dipahami secara murni dan alamiah berdasarkan kegunaannya. Selanjutnya dalam era masyarakat kapitalis. menurut Marx. tanda mendominasi seluruh aspek kehidupan. kecuali komune-komune dengan kedudukan yang sama. Dalam masyarakat feodal beroperasi prinsip Kesatuan berbagai unsur kehidupan. Masyarakat kapitalis melahirkan dua kelas besar yakni kelas kapitalis (pemilik) dan kelas proletar (buruh) yang senantiasa berada dalam situasi konflik. adalah masyarakat yang tidak lagi mengenal kelas. Dalam era ini belum terbentuk pembagian kerja dan kelas berdasarkan struktur produksi masyarakat. mulai terjadi pembagian kerja dan kelas bersamaan dengan munculnya konsep hak milik. adalah konstruksi masyarakat yang berlangsung semenjak zaman Yunani hingga Renaisans. lahir elemen tanda yang beroperasi masih dalam lingkup yang terbatas. Menurut Marx. dengan seluruh alat produksi dikuasai oleh masyarakat yang diwakili oleh negara. masyarakat hierarkis dan masyarakat massa (Lechte. Tidak ada lagi objek murni. Tanda juga mulai menggantikan kedudukan objek murni. kecuali objek tanda. 1994: 238). masyarakat primitif ditandai dengan tidak adanya elemen tanda dalam interaksi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. Tanda dipahami sebagai makna yang ditanamkan oleh segolongan kelas kepada kelas yang lain. Berangkat dari kerangka ini. Menurut Baudrillard. Dalam masyarakat yang diidealkan oleh Marx inilah diharapkan tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati (Harun Hadiwijono.

bencana alam. segala sesuatu berita politik. menurut Baudrillard. Baudrillard mencoba membaca karakter khas masyarakat Barat (Rojek. Dunia inilah yang menggantikan peran komoditi tradisional Marx. simulacrum dan simulasi. Ungkapan bernada hiperbolik tersebut barangkali merupakan satu-satunya cara untuk menggambarkan realitas masyarakat Barat dewasa ini seperti yang dikemukakan oleh Baudrillard. Kini. acara keagamaan dikemas dalam kerangka tontonan yang menghibur. Maka tak ada lagi nilai-nilai sublim nilai religi. bersilang-sengkarut. dan mengubahnya. direpresentasikan dan disebarluaskan. Realitas kini tidak sekedar dapat diceritakan. Televisi. Realitas-realitas buatan adalah ciri zaman ini. teori differance Derrida. fetishism commodity Marx.Semua yang nyata kini menjadi simulasi. Dimensi ruang dilipat dalam sebuah kotak layar kaca. Baudrillard memaparkan kondisi sosial-budaya masyarakat Barat yang disebutnya tengah berada dalam dunia simulacra. Ketika media elektronik televisi ditemukan dalam sekejab terjadi sebuah revolusi kesadaran tentang dunia yang mengecil. ketika segala sesuatu adalah komoditi. Ia berucap tentang sebuah kekecewaan zaman. Simulations (1983). mythologies Barthes. serta genealogy Foucault. dan yang utama adalah uang. 1993: 125). maka berubah pulalah arah angin peradaban. dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat. realitas kini dapat dibuat. kegairahan dan mimpi indah yang tak dialami Marx. nilai moral. Ketika demi nilai-tukar segala sesuatu harus dikorbankan. Dua ratus tahun sebelumnya. Dalam aras dunia seperti inilah kemudian Marshal Berman mengulang diktum Marx. tapi bahkan realitas itu sendiri. Lalu seiring dengan perkembangan zaman. sebagai pusat gravitasi baru menawarkan kegembiraan. Tak ada lagi kekhusukan. film telenovela. Inilah dunia yang terbangun dari konsekuensi relasi . sebuah tanda zaman tengah menjelangnya sebuah era kebudayaan baru: kebudayaan postmodern. ilmu dan teknologi. Dengan mengambil alih dan mengembangkan gagasan para pendahulunya: semiologi Saussure. Lebih jauh. tidak hanya nilai-nilai sublim dan luhur yang menguap. opera sabun. Di dalam layar kaca televisi. direkayasa dan disimulasi. Dalam realitas buatan. Marx pernah berbicara tentang betapa semua yang padat segera menguap ke udara. realitas simulasi ini. Tak ada lagi kekudusan. Semua yang beranjak memadat segera diubah kembali menjadi kepingan-kepingan objek barang dagangan demi uang. transendensi dan aura otentik yang tersisa. Melalui bukunya yang banyak menarik perhatian. kerinduan terhadap makna luhur dan kedalaman. segala sesuatu bercampur-baur. Semua yang padat melebur dalam layar kaca.

Era kematian mekanisme perdagangan linear. Era kematian era klasik imperium tanda. sementara permainan tanda dan citra mendominasi hampir seluruh proses komunikasi manusia. The end production of the classic era of the sign. Dalam masyarakat simulasi seperti ini. kejayaan kapitalisme lanjut. Era kematian dialektika simultan antara nilai tukar/nilai guna yang memungkinkan proses akumulasi kapital dan produksi. The end of linear discourse. konsumerisme. and of a linear syntagma of cumulative discourse. Dalam bahasanya yang khas. era postmodern. maka prinsip-prinsip modernisme pun tengah menghadapi saat-saat kematiannya. Dalam era postmodern. The end of simultaneously of the dialectic of exchange value/use value which alone previously made possible capital accumulation and social production. Era kematian diskursus linear. The end of the dialectic signifier / signified which permitted an accumulation of knowledge and meaning. Era kematian produksi. Era kematian ekonomi politik. yang mengikuti teori semiologi Saussurean memiliki dua unsur. citra dan kode. segala sesuatu ditentukan oleh relasi tanda. Bersamaan dengan lahirnya era postmodern. dimana reproduksi (dengan teknologi informasi. Era kematian era produksi). era modern ditandai dengan logika produksi. serta runtuhnya narasi-narasi besar modernisme. Ungkapan Baudrillard ini sekaligus menandakan keyakinannya akan datangnya era baru. Baudrillard menyatakan bahwa paradigma modernisme yang berdiri di atas logika produksi seperti disuarakan Marx kini sudah tidak relevan lagi. maka kini tengah menjelang sebuah era baru. Baudrillard mengumandangkan kematian modernisme dengan logika produksinya sebagai . komunikasi dan industri pengetahuan) menggantikan prinsip produksi.perkembangan ilmu dan teknologi. The end of the era of (Baudrillard. Citra adalah . The end of labor. yakni era postmodern. The end of linear merchandising. menurut Baudrillard. 1983: 20). prinsip simulasi menjadi panglima. Era kematian dialektika penanda/petanda yang memproduksi akumulasi pengetahuan dan makna. (Era kematian pekerja. Jika era pra-modern ditandai dengan logika pertukaran simbolik (symbolic exchange). yakni penanda (bentuk) dan petanda (makna). The end of production. Tanda adalah segala sesuatu yang mengandung makna. yang ditandai dengan logika simulasi. The end of political economy. dan sintakma linear serangkaian diskursus.

kesemuanya diatur oleh logika simulasi ini. dengan ciri ketertiban. tanda. baik nyata maupun semu. namun sebenarnya tidak memiliki eksistensi substansial. hierarki alamiah serta bersifat transenden. Dalam dunia simulasi. identitas seseorang misalnya. menurut Baudrillard merupakan cerminan apa yang disebutnya sebagai simulacra atau simulacrum. Sementara kode adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial. ia adalah duplikasi dari duplikasi. 1983: 54-56). merekayasa dan mensimulasi segala sesuatu sampai batasannya yang terjauh. yang menjadi wacana dominan kesadaran masyarakat Barat dewasa ini. tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. dalam satu (Piliang. Lebih lanjut. Ruang realitas kebudayaan dewasa ini. realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hukum alam. Dalam ruang ini tidak dapat lagi dikenali mana yang asli dan mana yang palsu. Ruang simulacra ini memungkinkan seseorang menjelajahi berbagai fragmen realitas. Simulacra Orde Pertama. Simulacra adalah ruang realitas yang disarati oleh proses reduplikasi dan daur-ulang berbagai fragmen kehidupan yang berbeda (dalam wujud komoditas citra. politik. citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan dari seseorang kepada orang yang lain (Piliang.segala sesuatu yang nampak oleh indera. semenjak era Renaisans hingga sekarang. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda. papar Baudrillard. Simulacra tidak memiliki acuan. atau mana penanda dan mana petanda. mereproduksi. mana objek dan mana subjek. sosial dan budaya. simulacra Orde Kedua dan simulacra Orde Ketiga (Baudrillard. Hal ini berkaitan erat dengan kehendak manusia zaman itu untuk . Tanda-tanda yang diproduksi dalam orde ini adalah tanda-tanda yang mengutamakan integrasi antara fakta dan citra secara serasi dan seimbang. sebenarnya telah ada semenjak era Renaisans. dimana kode dan model-model menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami lingkungannya. fakta. Realitas simulacra memiliki tiga tingkatan periode historis. keselarasan. realitas-realitas ekonomi. Alam menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. yakni simulacra Orde Pertama. sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. 1998: 196). serta kode dimensi ruang dan waktu yang sama yang silang-sengkarut). Dunia simulacra. berlangsung semenjak era Renaisans-Feodal hingga permulaan Revolusi Industri. 1998: 13). mana hasil produksi dan mana hasil reproduksi. Dalam orde ini.

Tanda. Mengikuti Walter Benjamin. prinsip komoditi dan produksi massa menjadi ciri dominan era simulacra Orde Kedua. 1983: 86) . lahir sebagai konsekuensi logis perkembangan ilmu dan teknologi informasi. Tidak mungkin lagi kita menemukan referensi yang real. konsumerisme dan kapitalisme pada era Pasca Perang Dunia II. Bahasa. Simulacra Orde Ketiga. bahasa. Simulacra Orde Kedua. yang menjadi prinsip simulacra Orde Kedua. Revolusi Industri. Yang ada hanyalah campur aduk diantara semuanya. komunikasi global. realitas tak lagi memiliki eksistensi. Sebagai tiruan. citra dan modelmodel reproduksi. What we now have disappearance of the referent. berlangsung bersamaan dengan semakin gemuruhnya era industrialisasi yang merupakan konsekuensi logis Revolusi Industri. serta yang semu dan yang nyata. Baudrillard menyatakan bahwa dengan teknologi reproduksi mekanik sebagai media dan prinsip produksi objek-objek alamiah telah kehilangan aura dan sifat transendensinya. pada orde ini relasi berbagai unsur dan struktur budaya mengalami perubahan mendasar. di satu sisi telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan kebudayaan. objek dan tanda adalah tiruan dari realitas alamiah yang dibentuk secara linear dan tunggal. citra. Logika produksi. melainkan sepenuhnya sama persis seperti yang asli. Realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda. Revolusi Industri juga telah menimbulkan ekses-ekses negatif bagi kebudayaan. 1994: 103). Lebih dari masa-masa sebelumnya. dalam esainya. citra dan kenyataan. There are only simulacra is the (Baudrillard. Dengan demikian. One is not the simulacrum and the other the reality. telah mendorong perkembangan teknologi mekanik sampai pada batasannya yang terjauh. media massa. Inilah era yang disebut Baudrillard sebagai era simulasi. Namun disisi lain. Dengan kemajuan teknologi reproduksi mekanik inilah. tanda dan ide. Simulacra Orde Ketiga ini ditandai dengan hukum struktural. objek dan tanda masih memiliki jarak dengan objek aslinya (Kellner. Tanda membentuk struktur dan memberi makna realitas. Dalam bahasanya yang khas Baudrillard menyatakan .mempertahankan struktur dunia yang alamiah. Objek kini bukan lagi tiruan yang berjarak dari objek asli. membuat pembedaan antara representasi dan realitas. The Work of Art in The Era of Mechanical Reproduction (1969). Dalam era simulasi ini. Sebuah realitas yang tak lagi memiliki referensi. prinsip dominan yang menjadi ciri simulacra Orde Pertama adalah prinsip representasi. kode dan subjek budaya tidak lagi merujuk pada referensi dan realitas yang ada.

Baudrillard menyatakan . Model-biner digital yang paling sering ditemui adalah kode-kode yang hanya dapat dibaca menggunakan komputer. Lebih lanjut. kini harus didefinisikan kembali sebagai segala sesuatu yang mungkin dan dapat direproduksi secara sempurna. menurut Baudrillard. mekanisme simulasi terbangun melalui proses reproduksi objek dengan bantuan teknologi digital model-biner. maka objek-objek menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain. dalam beberapa tingkatan. Gagasan McLuhan tentang medium is message ditariknya sampai ke batasannya yang paling ekstrem. dengan acuan oposisi biner antara 0 dan 1. namun dapat ditemukan hampir di semua aspek kehidupan. melalui bukunya Transparency of Evil (1993). bisa dipandang sebagai suatu konsepsi baru proses perkembangan sosial yang berakar pada prinsip perubahan karakter objek-objek reproduksi. bahkan dari model-model yang menjadi sumbernya. Dalam perkembangannya kemudian. semua realitas ditransformasikan ke dalam realitas kode digital dalam komputer. Orde Fraktal menunjuk pada suatu kondisi keacakan dimana batas-batas antara berbagai hal melebur dan berubah menjadi sekedar permainan bebas diantara berbagai hal tersebut. yakni sebuah proses perkembangbiakan nilai-regular dalam keacakan matematis. Realitas. Istilah fraktal. realitas menjadi kehilangan referensi. yang kini sudah memasuki wilayah-wilayah lain seperti ekonomi. Dengan model oposisi biner seperti ini. Demikian pula dengan masalah-masalah yang lain. Baudrillard memandang berkembangnya teknologi digital yang bertumpu pada modelbiner ini sebagai suatu dasar proses transformasi sosial masyarakat kapitalisme lanjut. dalam Simulacra Orde Ketiga ini. dapat disimulasi (Baudrillard. Sebagai contoh paling umum. Baudrillard menyatakan bahwa dewasa ini masalah seksualitas tidak lagi sebatas berada dalam wilayah seksualitas. dipinjam Baudrillard dari bidang matematika. Berbeda dengan Simulacra Orde Kedua yang ditopang oleh teknologi mekanik. Atau masalah politik. Teori Orde Simulacra Baudrillard ini. yakni media yang berupa kode-kode digital. . Lebih detail. sosial. teknologi dan seni. Ketika objek-objek direproduksi dengan teknologi model-biner.(Bukan yang satu simulacrum dan yang lain realitas. Baudrillard mengemukakan satu orde baru yang disebutnya sebagai Orde Keempat atau Orde Fraktal. Dengan kode-kode digital maka proses reproduksi beranjak ke batasannya yang paling ekstrem pula. Yang ada hanyalah simulacra). 1983: 146). Apa yang kita alami sekarang adalah hilangnya acuan segala sesuatu.

A new particles does not replace those discovered earlier. sekali lagi tanpa .Once. out of some obscure need to classify. Setelah tahap alamiah. For after the natural. The second was founded on a general equivalence. a commodity stage (exchange-value). without reference to anything whatsover. At the fourth. sekarang ijinkan saya untuk memperkenalkan satu tahap baru dalam realitas simulacra. dan nilai yang berkembang berada dalam kerangka model-model. commodity. kini lahir tahap baru yakni tahap fraktal.The first of these stages had a natural referent and value developed on the basis of the natural use of the world. occupying all interstices. there is no point of reference at all. saya mengemukakan tiga tahapan perkembangan sejarah. and value radiates in all directions. Tahap kedua. melainkan menyatu dalam suatu rangkaian tahap yang bersifat hipotetis. So let me introduce a new particle into the microphysics of simulacra. Maka pada tahap keempat. yakni: tahap alamiah (yang bertumpu pada prinsip nilai-guna). 1993: 72). Kita tahu. komoditi dan struktural. The third is governed by a code. Periodisasi formal ini mengingatkan kita pada pembagian tahap-tahap sejarah secara berurutan. Nah. and value develops here by reference to a set of models. tanpa bermaksud membuat klasifikasi yang justru bisa mengaburkan. and a structural stage (sign-value). dan nilai yang berkembang dalam dunia ini pun bersifat alamiah. and structural stages of value comes the fractal stage. tahap fraktal (atau viral atau radiant). This is the pattern of the fractal and hence the current pattern of our culture (Baudrillard. dan tahap struktural (yang bertumpu pada prinsip nilai-tanda). dan nilai menyebar ke segala arah. of course reminiscent of the distinctions between the particles physicists are always coming up with. Tahap ketiga mengacu pada kode-kode. mengacu pada prinsip kesetaraan. dan nilai yang berkembang berada dalam kerangka komoditi. and value developed by reference to a logic of the commodity. tidak ada lagi acuan. by virtue of pure contiguity. it simply joints their ranks. take it place in a hypothetical series. tahap pertama mengacu pada prinsip referensi alamiah. tahap produksi-komoditi (yang bertumpu pada prinsip nilai-tukar). (Dahulu. These distinctions are formal ones. Satu tahap tidak dapat menggantikan tahap lain yang ada sebelumnya. the fractal (or viral or radiant) stage of value. I propose a tripartite account of value: a natural stage (use-value). tidak ada lagi prinsip referensi. mengisi semua celah.

maka dapat dinyatakan secara ringkas bahwa terdapat hubungan erat diantara keduanya. dibawah ini . yakni saling hubungan yang harmonis diantara berbagai macam unsur yang hadir dalam bentuknya yang khusus). Orde komoditi (proses produksi) dalam orde simulacra. that have become alienated from one another. Inilah era fraktal. 1994: 171). kecuali sekedar hubungan murni belaka. sama dengan tahap hubungan yang berbeda diantara unsur-unsur tersebut. in their specific characters (Simmel. Inilah era simulasi. Dalam kaitannya dengan teori Orde Simulacra sebagai suatu proses penandaan (semiologi). yang kemudian saling berjarak satu sama lain. The first is the undifferentiated unity of manifold elements. Kedua adalah tahap hubungan yang berbeda diantara unsur-unsur tersebut.acuan apapun. menggambarkan hubungan diantara penandapenanda. Tahap alamiah Baudrillard. menggambarkan hubungan tak langsung antara penanda-petanda. the harmonious interpenetration of the elements that have been preserved. tanpa petanda. The third is a new unity. The second is the differentiated articulation of these elements. Pertama adalah tahap kesatuan yang utuh diantara berbagai macam unsur. Dari sini nampak bahwa teori Orde Simulacra Baudrillard cenderung merefleksikan kembali tiga tahap perkembangan sejarah Simmel. Dengan penjelasan demikian. sekaligus dunia dimana kita sekarang berada). 1968: 11). Hal ini dapat dilihat secara jelas dalam perbandingan diantara keduanya melalui pernyataan Simmel yang dikutip oleh Kellner. Orde alamiah (proses imitasi) dalam orde simulacra. menggambarkan relasi hubungan langsung antara penanda-petanda dalam teori semiologi. Dan tahap struktural Baudrillard. however. (Setiap proses perkembangan sejarah masyarakat senantiasa melalui tiga tahap. Tahap komoditi Baudrillard. sama dengan tahap kesatuan baru yang harmonis diantara berbagai macam unsur yang hadir dalam bentuknya yang khusus (Kellner. Dan orde struktural (proses simulasi) dalam orde simulacra. . Ketiga adalah tahap kesatuan baru. All historical developments passed through three phases. nampak bahwa sebenarnya pemikiran Baudrillard juga terpengaruh oleh pemikiran Simmel mengenai perkembangan sejarah masyarakat dalam sosiologi formal. sama dengan tahap kesatuan yang utuh diantara berbagai macam unsur.

semua model yang nyaris mendekati fakta. in the deserts which are no longer those of the Empire. Simulation is no longer that of a territory. whose vestiges subsist here and there.Lebih lanjut Baudrillard menjelaskan apa yang dimaksudnya sebagai simulasi. Simulasi adalah era yang dibangun oleh model-model realitas tanpa asal-usul. it would be the territory whose shreds are slowly rotting across the map. bahkan bisa jadi sebuah fakta diproduksi oleh model-model. sebuah acuan atau pun substansi. Facts no longer have any trajectory of their own. Teritori tidak lagi hadir sebelum peta. ia hadir dalam silang sengkarut bersama model-model. Is characterized by a precession of the model. but our own. yang bekas-bekasnya masih nampak dimanamana. Sebuah gurun realitas itu sendiri). serta mengedepankan penampakan sebagai prinsip kebenaran ontologis. a single fact may even be engendered by all the models at once. dan dimana model tampil mendahului fakta. Adalah realitas nyata. The territory no longer precedes the map. and not the map. nor survives it. realitas dan kebenaran. Dalam ungkapan Baudrillard . dan bukan peta. di sebuah gurun. Sebaliknya. a hyperreal. 1983: 32). Simulasi tidak berkaitan dengan sebuah teritori. Dan jika saat ini kita masih ingin menghidup-hidupkan bahasa fabel. of all models around the merest fact the model come first. it is the map that precedes the territory precession of simulacra it is the map that engenders the territory and if we were to revive the fable today. . (Dibangun berdasarkan model-model yang begitu cermat. Simulasi. Simulasi menyandarkan diri pada prinsip ketiadaan dan negasi. dengan cara mengaburkan bahkan menghilangkan referensi. The desert of the real itself (Baudrillard. atau membentuknya. bukan bekas sebuah kerajaan. petalah yang hadir sebelum teritori sebuah acuan simulacra petalah yang membentuk teritori. a referential being or a substance. It is the real. melainkan bekas kita sendiri. sebuah dunia hiperreal. dalam bahasa Baudrillard . It is the generation by models of a real without origin or reality. maka artinya saat ini adalah saat dimana teritori yang sedang membusuk secara perlahan-lahan membentang di atas sebuah peta. Henceforth. they arise at the intersection of the models. Fakta kini tidak lagi memiliki alur sejarahnya sendiri.

padahal sesungguhnya semu belaka. It is rather a question of substituting signs of the real for the real itself. A hyperreal therefore is sheltered from the real and imaginary. programmatic. all binary oppositions. manusia dijebak dalam satu ruang yang dianggapnya nyata.The age of simulation thus begins with a liquidation of all referentials worse: by their artificial resurrection in systems of signs. Peta mendahului teritori. nor of reduplication. Dalam mekanisme simulasi. bagi realitas itu sendiri. It is no longer a question of imitation. Realitas-realitas teritorial sosial. a metastable. Era simulasi tidak lagi berkaitan dengan persoalan imitasi. sebuah peta merupakan representasi dari sebuah teritori. sebuah konsep metastabil. Hiperrealitas dengan demikian berbeda sama sekali dari yang real maupun yang imajiner. Dalam dunia simulasi seperti ini. leaving room only for the orbital recurrent of models and the simulated generation of difference (Baudrillard. (Dengan demikian. and all combinatory algebra. an operation to alter every real process by its operational double. kini . maka sifat material ketimbang makna merasuk ke dalam semua sistem kesetaraan. maka dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. a more ductile material than meaning in that it lends itself to all systems of equivalence. Pembedaan antara objek dan subjek. prinsip-prinsip representasi modernisme menjadi tidak lagi relevan. oposisi biner dan semua bentuk kombinasi aljabar. budaya atau politik. real dan semu. yakni suatu tempat bagi pengulangan secara kontinyu model-model dan perbedaan). dalam paradigma modernisme tidak bisa lagi dilakukan. perfect descriptive machine which provides all the signs of the real and short-circuits all its vicissitudes. nor even of parody. Menurutnya. bila dalam ruang nyata. terprogram. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan sebuah analogi peta. penanda dan petanda. reduplikasi atau bahkan parodi. yakni suatu proses untuk menghalangi setiap proses real dengan mekanisme operasi ganda. sebagai sebuah mesin penggambaran yang sempurna yang menyediakan semua tanda real dan serangkaian kemungkinan perubahannya. 1983: 4). Ruang realitas semu ini merupakan ruang antitesis dari representasi semacam dekonstruksi representasi itu sendiri. that is. dalam wacana Derrida. Era simulasi lebih tertarik mempersoalkan proses penggantian tanda-tanda real. era simulasi berawal dari proses penghancuran segala acuan referensi dan bahkan lebih buruk lagi: dengan merajalelanya acuan-acuan semu dalam sistem penandaan.

moral dan agama dalam membantu manusia menemukan citra diri dan makna hidupnya (Piliang. Manusia kini hidup dalam ruang khayali yang nyata sebuah fiksi yang faktual. Televisi yang disebut Baudrillard sebagai artefak postmodernisme yang paling meyakinkan atau juga Disneyland. iklan atau tokoh-tokoh kartun. dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi. dunia simulasi tampil secara sempurna. 1998: 194). melainkan model-model yang ditawarkan televisi. pada kenyataannya sama nyatanya dengan pelajaran Sejarah atau Etika di sekolah sebab keduanya sama-sama menawarkan informasi dan membentuk pandangan serta gaya hidup manusia. Baudrillard menganalogikan kumpulan massa yang diam ini sebagai lubang hitam. kebenaran. Dalam realitas simulasi seperti ini. atau Universal Studio. Adalah tempat-tempat seperti Disneyland. kartun Doraemon atau Mickey Mouse yang kini menjadi model-model acuan dalam membangun citra. budaya serta politik masyarakat dewasa ini (Piliang. semu. 1997: 194). bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan. misalnya. black hole. benar. Bahkan. tokoh boneka Barbie. nilai agama terserap ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga. bahkan juga dimanipulasi. fakta. nilai dan makna dalam kehidupan sosial. Dalam bukunya In The Shadow of Silent Majorities (1988). produksi. Dalam wacana simulasi. Realitas simulasi seperti ini membentuk sebuah kesadaran baru bagi masyarakat dewasa ini. Lewat televisi. citra. salah. representasi. Dalam dunia simulasi. yang menerima segala apa yang diberikan padanya. dimana berbagai hal informasi. film telenovela Maria Mercedes atau Esmeralda. Berbagai informasi yang disampaikan kepada massa yang diam seperti ini. Dengan televisi realitas tidak hanya diproduksi. Doraemon atau iklan shampoo Sunsilk di televisi seolah lebih ampuh dari ajaran budi pekerti. manusia mendiami suatu ruang realitas. yang asli dan yang palsu sangat tipis. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata. iklan celana Levis atau jam tangan Guess. .dibangun berlandaskan model-model dari peta yang sudah ada. Dalam ungkapannya Baudrillard mengatakan . manusia tak lebih sebagai sekumpulan massa mayoritas yang diam. referensi. disebarluaskan atau direproduksi. Ia kini kehilangan nilai informasinya dan justru sebaliknya menimbulkan keterasingan sosial. reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda. sejarah. bintang film seperti Madonna atau Leonardo de Caprio. pada akhirnya justru tidak lagi berfungsi sebagai informasi. nilai moral. Realitas-realitas simulasi menjadi ruang kehidupan baru dimana manusia menemukan dan mengaktualisasikan eksistensi dirinya.

information neutralises even further the social field. Disneyland yang hadir melalui penggabungan imajinasi simbolik. Mengikuti alur pemikiran ini. karena tidak ada lagi referensi sosial klasik rakyat.It is thought that the masses may be structured by injecting them with information. maka ide sosial saat ini sebenarnya bisa dikatakan telah hilang. Satu-satunya referensi yang masih berfungsi kini adalah the silent majorities itu sendiri. Instead of informing as it claims. proletar. kelas. 183: 25). borjuis atau bahkan kondisi objektif kecuali massa yang bersifat pasif. . and to the very contents of information (Baudrillard. Ketimbang membentuk massa menjadi sekumpulan energi sosial. ketimbang memberi bentuk dan struktur sosial. Mengenai Disneyland. Informasi telah membentuk sekumpulan massa yang tak berdaya dan tertutup terhadap berbagai institusi sosial klasik dan terhadap kandungan informasi yang terdalam). seperti yang dinyatakan didepan. (Seringkali dinyatakan bahwa massa dapat diatur dengan cara menanamkan informasi kepada mereka. informasi dan pesanpesan ternyata cuma menghasilkan massa pasif yang lebih banyak lagi. Namun yang terjadi sebenarnya sungguh berlainan sama sekali. citra. Dalam bahasa Baudrillard diungkapkan . instead of giving form and structure. desain arsitektur seni yang sempurna. their captive social energy is believe to be released by means of information and messages. ia hadir sebelum realitas yang sebenarnya ada. Quite the contrary. more and more it creates an inert mass impermeable to the classical institutions of the social. Baudrillard secara khusus mempergunakannya sebagai contoh yang sempurna bagi eksistensi dunia simulasi. dan energi sosial dapat dibentuk melalui sarana penanaman informasi dan pesan-pesan. informasi sebaliknya bahkan telah menimbulkan proses pengosongan wilayah sosial menjadi semakin parah. yang tidak bisa direpresentasikan karena ia memang tak berkaitan dengan prinsip representasi. kode dan model-model realitas tanpa referensi. Ketimbang memberi informasi. individu. information produces even more mass. Instead of transforming the mass into energy. Inilah dunia buatan yang dipenuhi permainan tanda. Lebih jauh. serta kecanggihan teknologi rekayasa elektronik menurut Baudrillard mengemban misi untuk menyebarkan kepercayaan tentang dunia simulasi dan hiperrealitas.

Bersamaan dengan merebaknya konsumerisme. shopping mall adalah sebuah dunia simulasi yang menampilkan realitas-realitas buatan yang bersifat semu. in its banal omnipresence. melainkan hiperreal dan merupakan produk mekanisme simulasi. Realitas simulasi lain yang menonjol adalah dunia shopping mall. biro perjalanan dan objek-objek lain dalam shopping mall semuanya disuntik dengan tema-tema. It is no longer a question of a false representation of reality (ideology). which is Disneyland (just as prison are there to conceal the fact it is the social in its entirety. sementara dalam kenyataan. 1983: 25) (Disneyland hadir untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah real. 1998: 238). dimana justru dalam kesemuannya itulah ia lebih menyenangkan dibanding realitas sebenarnya (Piliang. shopping mall hadir sebagai pusat gravitasi baru aktivitas masyarakat konsumer. bank. Amerika yang paling real (seperti halnya penjara hadir untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia bersifat sosial dalam hubungan dengan lingkungan sekitarnya). Namun lebih dari sekedar tempat belanja. Disneyland merupakan realitas buatan yang tampil sebagai realitas baru. salon. Dalam dunia shopping mall. Dengan kata lain. which is carceal). when in fact all of Los Angeles and the America surrounding it are no longer real. Los Angeles dan seluruh Amerika justru tidak lagi nyata. restoran. and thus of saving the reality principle (Baudrillard. Dalam konteks inilah. of all real America. dimanipulasi dan disimulasi demi kenyamanan dan kesenangan belanja. but of concealing the fact that the real is no longer real. Sebagai konsekuensinya. realitas nyata menjadi kehilangan daya tarik dan bahkan sebaliknya dianggap bukan lagi realitas. segala sesuatu direduksi. Disneyland is presented as imaginary in order to make us believe that the rest is real. bioskop. Disneyland tidak berkaitan dengan persoalan representasi realitas yang keliru (ideologi).Disneyland is there to conceal the fact that it is the real country. dan dengan demikian berkaitan dengan persoalan penyelamatan prinsip-prinsip realitas). budaya belanja menjadi salah satu ciri masyarakat dewasa ini. seperti eksklusif. . yang lebih real dari realitas yang sebenarnya. melainkan persoalan bagaimana menyembunyikan kenyataan bahwa yang real kini tidak lagi real. Disneyland hadir sebagai suatu imajinasi untuk menanamkan kepercayaan kepada kita bahwa keberadaannya benar-benar nyata. Toko. but of the order of the hyperreal and of simulations.

through faking. sistem penyadap informasi. Dengan mempergunakan kerangka pandang simulasi. Selanjutnya Baudrillard menyatakan . Mulai dari pendaratan pasukan Amerika ke medan perang. sekedar khayalan mekanisme simulasi media massa. menjadikan realitas perang sebagai hiperrealitas. 1998: 239). sekaligus perang simulasi kekalahan Amerika (sindrom Vietnam) melawan kemenangan Amerika (sindrom Perang Teluk). Perang Teluk kemudian menjadi semacam arena pertarungan antara tontonan perang (beritainformasi perang dari lokasi kejadian) melawan perang tontonan (berlombanya setiap jaringan televisi dalam memberikan tontonan perang yang paling aktual). Secara kontroversial.eksekutif. Perang Teluk adalah cyber war. Sementara dengan teknologi simulasi. natural atau citra country. pengambilan keputusan tingkat tinggi. menjadikan realitas Perang Teluk segera dapat diketahui di seluruh penjuru dunia. Dalam dunia shopping mall kita diajak bertamasya di dalam suatu sirkuit. selanjutnya Baudrillard mencoba memberikan contoh tengah berlangsungnya mekanisme simulasi. Baudrillard menyatakan bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi. yang semakin menjauhkan kita dari makna-makna luhur (Piliang. dalam sebuah esainya. baku tembak antara kedua belah pihak. despite the fact that the war itself exerts its ravages on another level. through . hingga pada tingkat taktik di lapangan. jiwa muda. Perang Teluk tak lebih hanyalah perang simulasi televisi. Perang Teluk dalam simulasi televisi nampak seolah lebih nyata. lebih halus dan lebih dapat diterima. televisi menjadikan Perang Teluk tidak sekedar sebagai sebuah peristiwa perang biasa. The true belligerents are those who thrive on the ideology of the truth of this war. Dengan kemampuan reproduksi elektroniknya yang sempurna. di dalam suatu ekologi fantasi yang nyata namun dangkal. dari satu lingkungan tema ke lingkungan tema yang lain. lebih dahsyat dan lebih heroik bila dibandingkan dengan realitas Perang Teluk yang sebenarnya. yakni semacam permainan retorika perang atau skenario imajiner yang melampaui batas-batas perang dunia-nyata dan semua kemungkinan yang nyata. sampai pada proses saling bunuh yang terkesan menjadi lebih manusiawi. lebih efektif. kosmopolitan. Teknologi kamera ultra-violet yang mampu menangkap objek dalam kondisi gelap. perang simulasi semu antara Amerika melawan Irak. The Gulf War Has Not Taken Place (1991). televisi dan media massa lainnya. jaringan komunikasi global dan satelit transmisi yang mampu menyebarluaskan informasi pada saat yang bersamaan dengan kejadian.

suatu pencampuradukkan diantara keduanya). simulacra. sebuah kebutuhan kesekian (tersier). yakni fenomena hiperrealitas. hiperrealitas. the simulacrum. through all those strategies of psychological deterrence that make play with facts and images. bukan berarti Perang Teluk tidak pernah terjadi dalam realitas yang sebenarnya.hyperreality. Hiperrealitas adalah sebuah gejala di mana banyak bertebaran realitas-realitas buatan yang bahkan nampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. Postmodernisme: Sebuah Dunia Hiperrealitas Ketika boneka Barbie pertama kali masuk ke Indonesia pada dekade tahun delapan puluhan. meskipun faktanya bahwa perang itu sendiri mengakibatkan kehancuran. waktu virtual di atas waktu yang nyata. batas antara realitas media dan realitas yang sebenarnya telah lebur dalam suatu mekanisme simulasi. and inexorable confusion between the two (Baudrillard. Perang Teluk menjadi kolase dari berbagai fragmen kamera televisi dan sekaligus peristiwa perang yang nyata. beberapa pihak menyebut hal ini sebagai simbol awal terseretnya Indonesia ke dalam arena masyarakat konsumerisme dunia. dengan prioritas realitas virtual di atas yang nyata. . with the precession of the virtual over the real. Hasrat membeli dan mengkonsumsi boneka Barbie kemudian dapat dibaca sebagai suatu gejala kebiasaan baru. yang tak lebih dari sekedar mainan anak-anak. of virtual time over real time. tiba-tiba menjadi rebutan dan bahan perbincangan yang ramai. (Negara sebagai aktor perang yang sejati adalah mereka yang berjuang di atas kebenaran perang ini. Lebih dari itu. Sebuah boneka. Dengan kesimpulan demikian Baudrillard menegaskan bahwa dengan pernyataannya that Gulf War has not taken place. C. Ia hanya ingin menyatakan dan menyadarkan bahwa di balik perang tersebut. semua strategi psikologis yang mempermainkan fakta dan citra. Nilai-guna digantikan nilai-tanda. membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. 1991: 193). tidak hanya bagi anak-anak namun bahkan orang dewasa. boneka Barbie sebenarnya juga menggemakan sebuah fenomena baru dalam masyarakat konsumerisme dan simulasi. melalui penipudayaan.

aktivis lingkungan hidup dan lain sebagainya pada saat yang sama. Barbie tampil sebagai boneka dengan kecantikan dan kesempurnaan tubuh yang melebihi gambaran kecantikan manusia. Dengan berangkat dari analisa ekonomi politik tanda dan berlangsungnya mekanisme simulasi. yang telah diproduksi dan terus diproduksi oleh Mattel Toys sejak tahun 1959. Berangkat dari diskursus teoritis kebudayaan media yang menjadi wajah dominan budaya Barat dewasa ini. Ia bahkan lebih jauh menjadi model bagi manusia untuk menentukan dan membentuk ukuran kecantikan dan kesempurnaan penampilan tubuhnya. menuju perpanjangan sistem syaraf (Kellner. Dibuat tanpa referensi proporsi tubuh dan kecantikan yang wajar. citra dan kode-kode yang sengaja diciptakan untuk menjaga eksistensinya sebagai simbol wanita modern. guru taman kanak-kanak. Adalah Marshall McLuhan sebenarnya yang pertama-tama membuka pembicaraan mengenai gagasan hiperrealitas dalam kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Barbie yang benar-benar ada dengan segala keleluarbiasaannya. duta kehormatan PBB. ia adalah figur manusia sempurna. ketika suatu realitas buatan telah melampaui realitas yang sebenarnya. Makna-makna yang ditanamkan ke dalam sosok Barbie ini merupakan silang-sengkarut tanda. Ia menyebut gejala itu sebagai hiperrealitas. Dalam bukunya yang membahas secara mendalam dampak teknologi percetakan . dengan pernyataannya yang sangat terkenal bahwa medium is the message (media adalah pesan itu sendiri). The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964). McLuhan meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang. Melalui dua bukunya. Fenomena hiperrealitas yang ditunjukkan Barbie adalah salah satu karakter kebudayaan postmodern dewasa ini. Barbie yang hidup. Dengan representasi seperti ini Barbie seolah lahir sebagai Barbie yang real. McLuhan mencoba memahami proses dan akibat Revolusi Gutenberg. adalah contoh nyata hiperrealitas. fotomodel. Singkat kata. Barbie juga melampaui ukuran kehidupan manusia dengan peran-peran yang ditanamkan padanya sebagai wanita karier. bintang film. Baudrillard menyatakan bahwa dalam realitas kebudayaan dewasa ini tengah merajalela sebuah gejala lahirnya realitasrealitas buatan yang bahkan lebih nyata dibanding realitas yang sebenarnya.Boneka Barbie. 1994: 139). seperti yang dikemukakan oleh Baudrillard.

Media menjadi sekedar perpanjangan badan manusia. dan teknologi media elektronik merujuk pada era postmodernitas. Karena. Namun. telah mereduksi kandungan pesan media itu sendiri dan menggantikannya dengan permainan bahasa tanda yang bersifat simbolik. media cetak adalah perpanjangan mata manusia. McLuhan menyatakan bahwa pada hakekatnya semua media adalah perpanjangan badan manusia dalam dimensi ruang dan waktu di dunia (Kellner. disket ataupun internet. mesin ketik adalah perpanjangan tangan manusia.terhadap kehidupan manusia dalam era kapitalisme awal. dan teknologi televisi. dimana segala sesuatu dapat disebarluaskan. Pesan itu sendiri. makna dan kedalaman. kini tak lebih dari media-media yang lain. 1998: 196). Lebih lanjut. Dengan pandangan humanismenya. radio adalah perpanjangan telinga manusia. Menurut McLuhan perpanjangan ini bersesuaian dengan tahap-tahap sejarah. kini telah digantikan oleh sistem komunikasi media elektronik yang bersifat desentralistik dan plural (Piliang. Namun perkembangan teknologi media elektronik saat ini. Dalam logika perpanjangan badan manusia. dibalik pandangan optimisnya tersebut. McLuhan menyatakan bahwa inilah titik awal perubahan paradigma sejarah dari masa Abad Pertengahan ke Era Modern. komputer dan internet menurut McLuhan. Understanding Media: The Extensions of Man (1964). diinformasikan dan dikonsumsi dalam dimensi ruang dan waktu yang seolah mengkerut. McLuhan membaca fenomena ini sebagai kemenangan manusia modern untuk menguasai ruang dan waktu yang dalam perspektif Newtonian bersifat linear dan simultan. 1994: 143). Batas-batas ruang dan waktu pun seolah lenyap. pemikiran mekanistik dan deterministik Newtonian yang bersifat sentralistik yang diejawantahkan dalam praksis komunikasi sosial. secara optimis. telah memungkinkan umat manusia hidup dalam dunia yang disebutnya global village. menurutnya. sebuah desa besar. McLuhan melupakan satu akibat penting dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Teknologi percetakan merujuk pada era modernitas. mobil adalah perpanjangan kaki manusia. Ia gagal melihat konsekuensi lanjut terbangunnya global village yang ditandai dengan meluruhnya dimensi ruang dan waktu yang di kemudian hari . The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962). dalam bentuknya yang paling canggih dan massif. Dengan perkembangan teknologi komunikasi dan media yang demikian khususnya televisi. dalam bukunya yang sudah menjadi klasik. komputer serta internet adalah perpanjangan pusat sistem syaraf manusia (Piliang. menurut McLuhan. namun tanpa pesan. 1998: 192). dilipat dalam sebuah kotak layar kaca televisi. mendengar dan mengkonsumsi informasi dari segala penjuru dunia. Kini setiap orang dapat melihat.

Disneyland. Dalam dunia hiperrealitas. semu dan meledak-ledak. disket ataupun internet (Piliang. seperti media massa. Dengan pandangannya yang cenderung fatalis dan nihilis. tidak saja dapat memperpanjang badan atau pusat sistem syaraf manusia. memory bank. namun bahkan lebih fantastis lagi. Inilah wajah kebudayaan Barat dewasa ini yang merupakan interpretasi pemikiran McLuhan pada titiknya yang terjauh. menyulap fantasi. Pemikiran Baudrillard mendasarkan diri pada beberapa asumsi hubungan manusia dan media. Dalam realitas mediascape media massa menjadi produk budaya paling dominan. 1983: 14). media kini tak lagi sebatas sebagai perpanjangan badan manusia ala McLuhan. kini telah menjelma menjadi pesaing manusia (misalnya dalam bidang lapangan kerja.ternyata menyimpan dampak-dampak patologis modernitas. Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini dengan micro processor. yang disebut Baudrillard sebagai realitas mediascape (Baudrillard. yang dewasa ini telah menjelma menjadi desa besar yang disebut Baudrillard sebagai hiperreal village (Baudrillard. laser disc dan internet menurut pandangan Baudrillard. telecard. shopping mall dan televisi nampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya. Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang lebih nyata dari yang nyata. serta melipat realitas sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca televisi. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. Ia mengangkat pandanganpandangan McLuhan tentang perpanjangan badan manusia dan global village ke dalam konteks perkembangan mutakhir dunia Barat. Realitas-realitas hiper. menciptakan realitas baru dengan citracitra buatan. Baudrillard menarik garis tajam pemikiran McLuhan sampai batasannya yang terjauh. remote control. Gagasan inilah yang selanjutnya diambil alih dan dikembangkan oleh Baudrillard. realitas yang dihasilkan teknologi baru ini telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan bahkan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. Lebih jauh. dimana model. masa lalu dan nostalgia. namun media kini sekaligus merupakan ruang bagi manusia untuk membentuk identitas dirinya. objek-objek asli yang merupakan hasil produksi bergumul menjadi satu dengan objek-objek hiperreal yang merupakan hasil reproduksi. 1983: 16). Dengan media massa. yang pada awalnya diciptakan sebagai perpanjangan badan dan sistem syaraf manusia. 1998: 197). olahraga catur dan lomba kecerdasan). mampu mereproduksi realitas. Robot misalnya. ilusi bahkan halusinasi menjadi kenyataan. citra-citra dan kode hiperrealitas bermetamoforsa sebagai pengontrol .

realitas buatan (citra-citra) seolah lebih real dibanding realitas aslinya.pikiran dan tindak-tanduk manusia (Kellner. penampakan. karena ia tak lagi dapat diukur dengan ukuran-ukuran ideal. dari matriks. the product of an of combinatory models in a hyperspace without atmosphere synthesis (Baudrillard. since it is no longer enveloped by an imaginary. . 1994: 8). maka kenyataan pun kini tak lagi real sama sekali. realitas. 1983: 3). yang ada adalah miniaturisasi genetik sebagai ciri dimensi simulasi. Lebih jauh. memory banks and command models and with these it can be reproduced an infinite numbers of times. Dengan televisi dan media massa misalnya. kebenaran. Dimana. Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri (Baudrillard. it is irradiating no longer real at all. 1983: 183). Kenyataan kini tak lebih dari apa yang beroperasi. Baudrillard menjelaskan lebih detail kondisi hiperrealitas ini sebagai . Tak ada lagi pengembaraan imajiner: lebih dari itu. Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik. referensi ataupun kedalaman makna. No more imaginary coextensity: rather. In fact. Jurrasic Park. realitas buatan (citra-citra) kini tidak lagi memiliki asal-usul. namun nampak lebih dekat dan nyata dibanding keberadaan tetangga kita sendiri. Dan karena ia tak lagi dibungkus oleh imajinasi-imajinasi. It no longer has to be rational. No more mirror of being and appearances. from matrices. 1983: 146). Dalam kondisi seperti ini. (Tak ada lagi cermin diri. era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asal-usul dan referensi (Baudrillard. kenyataan dan konsep-konsep yang dikandungnya. genetic miniaturization is the dimension of simulation. memory bank dan model-model acuan dan dengannya kenyataan dapat direproduksi sampai jumlah yang tak terhingga. atau Star Trek Voyager yang merupakan citra-citra buatan adalah realitas tanpa referensi. boneka Barbie. It is nothing more than operational. 1983: 2). since it is no longer measured against some ideal or negative instance. Tokoh Rambo. yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi. Yakni. namun selalu dan selalu direproduksi (Baudrillard. fakta dan objektivitas kehilangan eksistensinya. Kenyataan adalah hiperrealitas itu sendiri. The real is produced from miniaturized units. Simulations (1983). produk sintesa model-model gabungan dalam ruang hiperspace tanpa atmosfer). Kenyataan pun kini tak lagi harus rasional. Kenyataan kini dibentuk dari unitunit miniatur. of the real and its concept. It is a hyperreal.

buah apel atau anggur tidak memiliki makna apa-apa . (Piliang. 7. lalu lintas dan praktek sosial. indifferent things. Hypersensibility: yakni gejala peningkatan atau penyempurnaan secara berlebihan kepuasan inderawi. a house or an apple tree or a grapevine has nothing in common with the house. dalam bukunya Sebuah Dunia Yang Dilipat (1998). Bagi citarasa Amerika. yang melampaui nilai-guna benda. dengan berkembangnya ruang semu dan simulasi elektronik. dan akhirnya menjadi pusat aktivitas sosial dan referensi nilai baru. the fruit. 1998: 16). Mitos Impian Amerika From America have come to us now empty. artificial things that deceive us by simulating life. 2. 5. misalnya kegiatan seks melalui jaringan komputer jarak jauh. berbeda. Hypercommodity: yakni gejala merebaknya komoditi di hampir seluruh aspek kehidupan dan menjadi agen bagi penyebaran makna-makna dan reproduksi relasi-relasi sosial. D. Hyperspace: yakni keadaan runtuhnya makna ruang sebagaimana dipahami berdasarkan prinsip geometri Euclidian (ruang 2 dan 3 dimensi) dan hukum mekanika Newton (kecepatan adalah daya dibagi massa). 4. Hyperconsumption: yakni kondisi aktivitas konsumsi secara berlebihan. memaparkan beberapa bentuk fenomena hiper ini 1. 1950: 898) (Amerika tiba-tiba muncul di hadapan kita sebagai sesuatu yang kosong. Hypermarket: yakni bentuk pasar yang mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu.Fenomena hiperrealitas ini selanjutnya diikuti oleh serangkaian fenomena hiper-hiper yang lain. 3. Yasraf Amir Piliang. dan memperdaya kita dengan kehidupan yang penuh kepura-puraan. In the American sense. Hypersexuality: yakni gejala pengumbaran kepuasan seks yang melampaui wilayah seksualitas itu sendiri. rumah. yaitu: Hypercare: yakni gejala upaya perawatan dan penyempurnaan daya kerja serta penampilan tubuh secara berlebihan lewat bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis. artifisial. or the grape in which our ancestors have invested their hopes and cares (Rilke. misalnya melalui penggunaan teknologi elektronik dalam dunia musik. 6. dan cenderung memusatkan perhatian pada makna-makna personal dan sosial.

perusahaan multinasional. Rainer Maria Rilke. Namun dimata Rainer Maria Rilke dan sejumlah kritikus Eropa yang lain Amerika menjadi semacam kesalahan besar. Amerika adalah kiblat yang keliru untuk diikuti karena utopia yang ditawarkannya hanyalah kepura-puraan. Dengan menyebut Amerika sebagai the simulated life. Pasasi diatas. Dengan titik berangkat yang hampir sama. Bagi Eco. Umberto Eco. fakta dan citra. Amerika bahkan seolah nampak lebih nyata dan otentik dibanding Eropa yang ditirunya. Televisi kabel. ditulis oleh seorang wanita sastrawan Inggris. produksi dan reproduksi secara perlahan-lahan meluruh. menurut Eco. 1993: 53). dan representasi yang otentik dari kebudayaan Eropa. dengan kecanggihan ilmu dan teknologi yang dimilikinya. yang dikutip dari esai Bryan S. Mitos impian Amerika adalah harapan semu belaka. secara ironis Amerika justru terjebak ke dalam kedangkalan. menyerbu dengan cepat di seluruh sudut kehidupan Eropa. tempat kaki diayunkan. Baudrillard melanjutkan upaya membaca realitas simulasi dan hiperrealitas Amerika dengan gayanya yang khas. ambang kebangkrutan budaya yang otentik. peniruan yang nyata. Amerika ternyata tidak mampu membangun suatu kebudayaan baru yang unggul dan otentik. Americans Dream. Dalam kebudayaan Amerika. kekosongan dan kehampaan. Sebaliknya. konsumerisme. otentik dan tiruan. Turner. Melalui bukunya. bercerita tentang Amerika. realitas dan fantasi. Melalui bukunya tersebut Eco menyatakan bahwa Amerika kini tengah berada di ambang erosi. impian Amerika. artifisial dan memperdaya tersebut. dengan berbagai kelebihannya. Lebih jauh. harapan dan impian digantungkan. Cruising America (1993). internet. Kebudayaan Amerika. melalui bukunya Travels in Hyperreality (1983). . yang kecewa melihat wajah kebudayaan modern Eropa yang semakin kering dan teknosentris. Rilke menganggap Eropa saat ini mulai tertular kebudayaan dominan Amerika yang kosong. sebuah replika budaya yang sempurna. buah apel atau anggur yang ditanam oleh nenek moyang kita dengan penuh perhatian dan harapan). begitulah fantasi yang kerap didengung-dengungkan lewat berbagai cara untuk menjadikan Amerika sebagai kiblat baru tempat mata diarahkan. bursa efek. jaringan media global. Inilah wajah hiperrealitas Amerika. masakan fast food dan film Hollywood. kepura-puraan dan penampakan semata (Rojek. tak lebih sebagai dunia yang kehilangan referensi.sebagaimana rumah. batas-batas antara benar dan salah. Dengan nada yang hampir sama. entertainment. tempat cita-cita.

the radical nudity that is the background to every human institutions as a metaphor of that emptiness and the work of man as the continuity of the deserts. (Saya ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan sosial Amerika yang sebenarnya dari gurun. Baudrillard menyatakan bahwa Amerika adalah contoh yang paling meyakinkan dari realitas simulasi dan hiperrealitas. the ghost towns or the downtowns. the mountains. Los Angeles. culture as a mirage and as the perpetuity of simulacrum (Baudrillard. American culture is heir to the desert. gurun disini menyiratkan suatu kekosongan. Dengan bahasa aforismenya yang khas selanjutnya Baudrillard menggambarkan Amerika sebagai . hanya hamparan ruang kosong tak berbatas. yang merupakan laporan perjalanan sebuah travellogue ke Amerika. Lebih dari itu. sunyi sepi. . the safeways. secara metaforis Baudrillard mengatakan . Gurun adalah simbol metafisik tentang Yang Lain sebagai ekses proses penandaan. Mengenai tujuan perjalanannya ke Amerika. I get to know more about the concrete social life of American from the desert than I ever would from official or intellectual gatherings. 1988: 63). Amerika adalah sebuah gurun: asing. My hunting grounds are the deserts. yakni kebudayaan sebagai sebuah khayalan dan pengulangan simulacra). ruang simulasi. Lebih lanjut Baudrillard menyatakan . tanpa referensi. Kebudayaan Amerika kini nampaknya sedang diwariskan ke sebuah gurun.America (1988). tanpa sejarah. sebuah ruang semu. bukan mengajar di universitas). not lectures at the university (Baudrillard. Rather they denote the emptiness. intensi dan pretensi dalam kebudayaan. (Daerah tujuan perburuan saya adalah gurun-gurun. 1988: 63). bukan gurun yang merupakan bagian alam yang bisa dibedakan dengan kota. gunung-gunung. Los Angeles. jalan layang. sebuah kondisi transparan radikal yang menjadi latar belakang setiap institusi manusia sebagai kelanjutan dari gurun. the freeway. jalan bebas hambatan. bukan dari mimbar pengkajian intelektual. but the deserts here are not part of a Nature defined by contrast with the town. Bagi Baudrillard. hampa. kota hantu dan downtown.

simulasi. The lyrical nature of pure circulation. Di sanalah kebanalan. Sideration. berbatas ketinggian pesawat terbang dan berbatas geologi sebuah gurun). pengenyahan dengan paksa. overabundance (Baudrillard. saturation. of anthropoemia. simulacra. . Eropa terlalu dibebani dengan tradisi. Anorexic culture: a culture of disgust. altitudinally by the plane. budaya penolakan. Eropa kini sekedar menjadi kekuatan peripheral. 1988: 80). adalah kebudayaan yang mencampuradukkan dan sekaligus merayakan kegairahan serta permainan nilai-nilai. yakni kegagalannya dalam mencapai cita-cita idealnya yang berupa demokrasi. Eropa yang dahulu pernah menjadi pusat kebudayaan modern. sisa-sisa feodalisme. Eropa juga tengah menghadapi persoalan melankolik. benua pinggiran yang telah kehilangan semangat modernitas dan secara perlahan namun pasti tengah tertinggal oleh saudara mudanya. Lebih jauh Baudrillard mengatakan . Dunia liris penuh kata-kata pujian dari sebuah sirkulasi murni. Starblasted. Characteristic of a period of obesity. geologically by deserts (Baudrillard. 1988:81). Dicirikan oleh karakter kegemukan yang periodis. anthropoemia. yang berbatas cakrawala sebuah mobil. sebuah budaya kejijikan. Eropa saat ini adalah Eropa yang tidak lagi memiliki peran sebagai kekuataan pendorong. sumber dan model kemajuan peradaban. penjenuhan dan kelimpahan yang berlebihan).Astral America. kevulgaran dan kecabulan bersanding dengan kesopanan. (Bintang-bintang Amerika. Pandangan menyamping. 1989: 39). serta Imperium Tanda yang maha dahsyat menggempur setiap ruang kehidupan yang ada. of rejection. horizontally by the car. menurut Baudrillard. (Kebudayaan anoreksi. etika serta estetika. Peledakan-Bintang. Bagi Baudrillard. kebebasan dan rasio (Baudrillard. intelektualitas. Amerika menjelma menjadi utopia sekaligus paranoia. Menurut Baudrillard. Kebudayaan Amerika. Amerika. Dengan prinsip-prinsip hiperrealitas. 1989: 27). Baudrillard membaca Amerika dengan berangkat dari perbandingan kebudayaan dua benua. kini tidak lagi memiliki peran dan fungsi yang sama. of expulsion. aristokrasi. Eropa dan Amerika. ide tentang kaum borjuis dan gagasan-gagasan revolusi yang justru menghambatnya menuju kondisi modernitas seperti yang diharapkan (Baudrillard. Sebaliknya.

Dengan sangat segan kita akhirnya menjadi modern dan sekaligus acuh tak acuh. . yang diungkapkan Baudrillard dengan gaya bahasanya yang deklaratif bahwa. Sementara di sisi lain. Amerika kini. this leaves us with a great handicap when it comes to radical modernity. Kita bahkan tidak pernah memiliki evil genius modernitas. Watak dasar Eropa inilah yang menurut Baudrillard menyebabkan Eropa kini tengah berada dalam krisis besar. banality. Di satu sisi. This is why our understandings lack the modern spirit. Inilah mengapa pemahaman kita menjadi kehilangan semangat modernitas. Persoalan Amerika. 1989: 87). America is neither dream nor reality. all sexuality. all sentimentality. Namun bukan berarti Amerika tidak memiliki persoalan. menurut Baudrillard. Di sanalah kini orang menitipkan harapan dan impiannya. Sementara itu. karakter yang dapat mendorong lahirnya inovasi-inovasi ke arah sifat kebebasan dan keluarbiasaan). 1988: 77). adalah krisis pencapaian utopia. menurut Baudrillard adalah model sempurna modernitas (Baudrillard. which is founded on the absence of difference. (Di Eropa kita dikungkung oleh kebiasaan lama pemujaan terhadap perbedaan. hal ini menjadi rintangan besar bagi kita ketika Eropa hendak melangkah menuju era modernitas radikal. all the myths of modernity are American (Baudrillard. era yang kehilangan watak perbedaan. the desert is a sublime form that banishes all socially. 1988: 97). Eropa tertinggal jauh mengikuti gerak zaman yang melaju cepat tanpa mengenal kompromi. Amerika seolah menyihir dunia untuk menengok dan berkiblat kepadanya. Only very reluctantly do we become modern and indifferent. and indifference.In Europe we are stuck in the old rut of worshipping difference. impian Amerika adalah untuk menemukan kembali nostalgia masa lalunya. this is a world that has shown genius in its irrepressible developmnet of equality. yang dilawankan dengan prinsip durasi dan permanensi. Keadaan ini menimbulkan sebuah paradoks. We do not even have evil genius of modernity. tuntutan Amerika adalah keharusan menghadapi dunia kini dan disini dengan perubahannya yang cepat. that genius which pushes innovation to tha point of extravagance and in so doing rediscovers a kind of fantastical liberty (Baudrillard.

Lahirnya budaya massa dan budaya populer sendiri sebenarnya telah melalui sebuah proses sejarah yang panjang. facial cream. serta mengejar keuntungan ketimbang kemanfaatan. operasi plastik. komik. menggantikan Eropa yang pernah tampil sebagai pusat era modernisme. penuh kepedihan. Lebih dari era-era sebelumnya. Sebagai semangat zaman baru. budaya massa dan budaya populer pun membawakan nilai-nilai baru. Merujuk Leo Lowenthal seorang tokoh mahzab Frankfurt generasi kedua yang dikutip Dominic Strinati dalam bukunya An Introduction to Theories of Popular . Budaya Massa dan Budaya Populer Salah satu fenomena penting yang menandai lahirnya era postmodern adalah tumbuhnya budaya massa dan budaya populer. kursus kecantikan. Realitas Amerika sebagai simulasi dan hiperrealitas. era postmodern adalah kurun sejarah yang memuja bentuk dan penampakan ketimbang kedalaman. pusat kebugaran. permainan dan kenikmatan ketimbang kekhusukan. Tak heran bila dalam masyarakat yang dihidupi budaya massa dan budaya populer masyarakat konsumer tumbuh simbol-simbol dan aktivitas kebudayaan baru. gurun adalah sebentuk keagungan yang kehilangan nilai-nilai sosial. kebanalan dan ketakacuhan. seluruh mitos modernitas adalah Amerika). menurut Baudrillard. inilah dunia yang telah memperlihatkan kecerdasannya dalam mengembangkan tema-tema kesetaraan. Dalam realitas kebudayaan dimana konsumsi mengalahkan produksi. Modernisme bagi Amerika kini tak lebih sebagai nostalgia yang pucat.(Amerika bukanlah mimpi ataupun kenyataan. alis palsu. cat rambut. sementara postmodernisme adalah zaman baru yang menawarkan harapan dan impian yang lebih baik. merayakan kebebasan. penampilan menjadi tujuan. nilai-tanda dan nilai-simbol mengalahkan nilai-guna dan nilai-tukar. sentimental dan seksual. Televisi. maka tak pelak. Seni Poppuler dalam Era Postmodernisme A. budaya massa dan budaya populer adalah jawaban bagi masyarakat yang demikian. body building. tuntutan mengejar keuntungan adalah satu-satunya pegangan. Amerika menjadi pusat gravitasi baru era postmodernisme. video game. kartun. shopping mall. iklan. kegairahan baru dan etos kerja baru. adalah contoh sekaligus model masyarakat Barat dewasa ini yang tengah menjelang pada era postmodernisme. salon mobil sampai senam seks dan sederet ikon gaya hidup adalah kosakata baru budaya massa dan budaya populer.

Culture (1995), sejarah budaya massa dan budaya populer setidaknya dapat dilacak semenjak era "Roti dan Sirkus" dalam masa kekaisaran Romawi. Budaya massa dan budaya populer pada saat itu muncul dalam bentuk pelbagai permainan, olahraga dan pesta rakyat yang diselenggarakan setiap tahun untuk seluruh penduduk Roma. Ia bersifat massal dan populer karena tidak hanya terbatas bagi kalangan keluarga kekaisaran Romawi. Budaya massa dan budaya populer kemudian semakin berkembang dengan awal kebangkitan era ekonomi pasar pada abad ke-17 M. Dalam kurun ini, budaya massa dan budaya populer telah menjadi bagian ekonomi politik kapitalisme yang dituntun oleh prinsip kemajuan, keuntungan dan perluasan produksi. Prinsipprinsip seperti mass production (produksi massal), minimization of cost (pembiayaan yang rendah), standarization (standarisasi), homogenization of taste (penyeragaman selera dan citarasa), differenziation (diferensiasi) dan constan acceleration (percepatan konstan) menjadi hukum baru proses produksi (Ibrahim, 1997: 19). Dengan prinsip-prinsip ini budaya massa dan budaya populer seolah memperoleh pembenaran untuk hidup dan berkembang. Kini segala sesuatu disulap menjadi budaya massa dan budaya populer demi tujuan memperbesar keuntungan. Dalam pengertian ini, budaya massa dipahami sebagai budaya populer yang diproduksi melalui teknik produksi massal dan diproduksi demi keuntungan. Budaya massa adalah budaya komersial, produk massal untuk pasar massal. Budaya massa, dengan demikian tidak lain dari metamoforsa komoditi dalam bentuknya yang lebih canggih, lebih halus dan lebih memikat (Strinati, 1995: 10). Sementara itu budaya populer adalah sebuah kategori bagi budaya rendah (lowbrow culture) yang biasa dibedakan dengan budaya tinggi (highbrow culture). Budaya populer, atau dalam pengertian awalnya biasa disebut budaya rakyat (folk culture), lahir dari bawah, dari rakyat kebanyakan, sementara budaya tinggi, dibentuk dari atas, dari kalangan aristokrat. Budaya populer ditandai oleh sifatnya yang massal, terbuka untuk siapapun dan lebih mengakar kepada khalayak pemiliknya. Sementara budaya tinggi dicirikan oleh sifatnya yang khusus dan tertutup, terbatas bagi kalangan tertentu dan tidak mengakar ke bawah (Strinati, 1995: 10). Dalam kaitan antara ketiga bentuk kebudayaan ini, MacDonald salah seorang teoritisi awal budaya massa dan budaya populer memberi batasan sebagai berikut ;

Folk culture grew from below. It was a spontaneous, autochthonous expression of the people, shaped by themselves, pretty much without the benefit of High Culture, to suit their own needs. Mass Culture is imposed from above. It is fabricated by technicians

hired by businessmen; its audiences are passive consumers, their participation limited to the choice between buying and not buying. Folk culture was the peoples own institution, their private little garden walled off from the great formal park of their masters High Culture. But Mass Culture breaks down the wall, integrating the masses into a debased from of High Culture and thus becoming an instrument of political domination (MacDonald, 1957: 60). (Budaya rakyat tumbuh dari bawah. Ia adalah ekspresi otonom dan spontan rakyat yang dibuat oleh mereka sendiri, tanpa pengaruh budaya tinggi, untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Budaya massa sebenarnya ditumbuhkan dari atas. Ia diproduksi oleh tenaga-tenaga teknis yang dipekerjakan oleh produsen; khalayaknya adalah konsumerkonsumer pasif, dimana partisipasi mereka terbatas pada pilihan membeli atau tidak membeli. Budaya rakyat adalah milik rakyat sendiri, kebun mungil pribadi mereka yang dipisahkan dari kebun besar Budaya Tinggi. Namun budaya massa merobohkan dinding pemisah ini, menyatukan massa ke dalam budaya tinggi yang telah diturunkan statusnya dan kemudian menjelma menjadi instrumen dominasi politik). Pernyataan MacDonald ini merujuk budaya massa dan budaya populer sebagai bagian ekonomi politik kapitalisme, yang sekaligus menandai lahirnya era postmodernisme, yang mengaburkan batas-batas pengertian antara budaya-tinggi dan budaya-populer ke dalam satu karakter budaya massa. Dalam realitas kebudayaan dewasa ini, tak ada lagi budaya-tinggi yang murni, agung dan luhur, sebagaimana tak ada lagi budaya-rendah pinggiran dan inferior. Budaya-tinggi kini telah berubah menjadi komoditi, produk budaya yang dikomersialkan. Sementara budaya populer kini ternyata semakin wajar diterima dan dihargai (Shuker, 1994: 5). Perbedaan hirarkis yang ketat demikian kini tak lebih sebagai nostalgia masa lampau yang borjuis-feodal. Realitas kebudayaan dewasa ini adalah realitas kebudayaan yang tunduk pada hukum ekonomi kapitalisme, dalam bentuk budaya massa dan budaya populer. Dalam diskursus sejarah kebudayaan, perkembangan budaya massa dan budaya populer yang mengiringi kelahiran era postmodern setidaknya dapat ditelusuri semenjak era masyarakat primitif. Masyarakat primitif dipandang sebagai masyarakat komunal organik yang utuh, dengan seperangkat nilai dan norma yang mengatur anggota-anggotanya secara efektif. Dalam struktur masyarakat ini, ikatan sosial diantara anggotanya masih terjalin kuat. Bentuk-bentuk kebudayaan terutama seni yang lahir dalam masyarakat ini, sepenuhnya adalah kebudayaan

rakyat (folk culture). Kebudayaan inilah yang secara langsung merefleksikan pengalaman dan kehidupan masyarakat awal. Bentuk-bentuk kesenian rakyat, kesenian tradisional dan primitif, pada awalnya lahir untuk menjawab kebutuhan menjaga keutuhan nilai masyarakat awal. Kondisi ini berubah ketika bersamaan dengan mulai berkembangnya kapitalisme awal, terbentuk struktur masyarakat borjuis-feodal. Dalam masyarakat ini, sekelompok golongan menduduki kelas borjuis, dan sekelompok yang lain menempati kelas proletar. Klasifikasi sosial ini pada gilirannya melahirkan klasifikasi budaya. Kelas borjuis dengan kebudayaannya yang khas terbatas, tertutup, bernilai sakral, eksklusif dan mewah yang disebut sebagai budaya

tinggi. Dan kelas proletar dengan kebudayaan yang bersifat terbuka, imanen, massal dan mengakar ke bawah yang disebut budaya rendah. Seiring dengan perkembangan kapitalisme ke arah kapitalisme lanjut, struktur masyarakat pun kembali mengalami perubahan. Dari masyarakat primitif, masyarakat borjuis-feodal ke masyarakat massa. Dengan industrialisasi dan urbanisasi serta perkembangan teknologi percetakan, secara perlahan-lahan terjadi proses transformasi sosial. Perubahan ini didorong oleh, di satu sisi, perkembangan teknologi mekanik berskala massal dan peningkatan populasi penduduk di kota-kota besar yang menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dan di sisi lain, sebagai akibat perubahan diatas, terjadi erosi dan kegoncangan struktur nilai sosial masyarakat, luruhnya ikatan sosial dalam komunitas pedesaan, turunnya status agama dan merebaknya proses sekularisasi serta diabaikannya nilai-nilai moral. Dalam kerangka sosial seperti inilah kemudian muncul apa yang disebut sebagai proses atomisasi (Strinati, 1995: 6). Proses atomisasi terjadi ketika suatu masyarakat terdiri dari individu-individu yang berhubungan dengan individu lain menurut hubungan atom dalam wacana dunia ilmu kimia atau fisika. Masyarakat massa terdiri dari individu-individu atom seperti ini, individu yang berhubungan dengan individu lain tanpa didasari oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya. Individu atom adalah manusiamanusia yang berhubungan atas dasar kontrak, berjarak dan bersifat sementara ketimbang sebagai ikatan komunal yang erat. Proses atomisasi, seperti telah disebut di depan, juga disebabkan oleh runtuhnya peran lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat sebagai akibat meledaknya industrialisasi dan urbanisasi. Keluarga, desa dan gereja yang dahulu pernah memberikan perasaan identitas psikologis, kepastian moral dan sosial, kini digantikan perannya oleh media massa dan pelbagai bentuk budaya populer. Dalam kondisi ketika tidak ada lagi

Budaya massa dan budaya populer tidak lagi dipandang sebagai budaya rendah. Budaya massa merupakan salah satu strategi budaya yang disodorkan kapitalisme untuk menciptakan produk-produk massal. moral dan sosial demikian. kapitalisme berusaha memperbesar margin keuntungannya sampai batas yang tak terhingga. Dalam kerangka kapitalisme lanjut. (Strinati. trivial culture that voids both the deep realities (sex. wit. maka semakin besar kapital yang dapat dikeruknya. Mengutip kembali MacDonald. individu membutuhkan acuan moralitas baru. failure. merupakan hasil duplikasi dan reproduksi. Sementara lewat pendidikan. Peran inilah yang diisi oleh budaya massa dan budaya populer. Karakter budaya massa dicirikan oleh sifatnya yang baku. sebagai pemberi pegangan nilai moral dan sosial dalam masyarakat.1995: 7). tujuan utama budaya massa. didengar dan diikuti secara luas dalam realitas masyarakat dewasa ini. Budaya massa merayakan kesenangan yang dangkal. The masses. . budaya massa adalah . standar. change. budaya dominan. melalui industri produksi massal untuk konsumer yang massal pula. spontaneous pleasures. It is a debased. semakin banyak anggota masyarakat yang memiliki kemampuan baca tulis untuk mendapat lebih banyak informasi tanpa harus tergantung kepada lembaga-lembaga tradisional. A narcotized acceptance of Mass Culture and of the commodities it sells as a substitute for the unsettling and unpredictable (hence unstable) joy. Demokrasi dipandang berjasa dalam merobohkan hierarki tradisional mengenai kelas. originality and beauty of real life. tragedy) and also the simple. Menarik dicatat bahwa demokrasi dianggap sebagai pendorong merebaknya budaya massa dan budaya populer. luhur dan sakral. since the realities would be too real and the pleasures too lively to induce. Lewat produk-produk budaya massa.kepastian psikologis. tentu saja adalah untuk kepentingan memperoleh keuntungan. melainkan sebaliknya. death. Merebaknya budaya massa dan budaya populer ini selanjutnya didukung oleh perkembangan kapitalisme lanjut yang mengintegrasikan ilmu dan teknologi sebagai tulang punggungnya serta peran pendidikan dan demokrasi. Maka kini budaya massa dan budaya populer pun menjadi institusi baru yang menggantikan peran lembaga-lembaga tradisional. tragedy. citarasa dan budaya dengan memberi tempat kepada massa untuk menentukan keputusan-keputusan politik. sembari menolak nilai-nilai yang otentik. Semakin luas jangkauan penyebaran budaya massa dan budaya populer. sepele dan sentimental.yang diterima.

kegagalan. Sejalan dengan karakter khas budaya massa. producing what might be called homogenized culture. Mass culture is very. individu-individu . Budaya massa.debauched by several generations of this sort of thing. baik realitas sublim (seks. tragedi) maupun realitas sederhana. Ia mengaduk dan mencampur-baurkan segala sesuatu secara bersama-sama. taste. in turn come to demand trivial and comfortable cultural products (MacDonald. dan kenikmatan-kenikmatan menjadi terlampau hidup untuk disentuh. perubahan. It thus destroys all values. Maka budaya massa adalah budaya yang miskin rangsangan dan tantangan intelektual. serta meluruhkan semua perbedaan budaya. orisinalitas dan keindahan hidup sebenarnya yang sudah tidak dapat ditetapkan dan diramalkan. and dissolving all cultural distinctions. Ia adalah kebudayaan yang kehilangan semangat pemikiran dan penciptaan yang otentik. memproduksi apa yang mungkin disebut sebagai kebudayaan yang homogen. since value judgements imply discrimination. tradisi dan citarasa. It mixes and scrambles everything together. adalah budaya yang sangat. pada gilirannya menjadi massa yang mabuk oleh produk-produk budaya yang remeh-temeh namun memberi rasa nyaman). (Sebentuk kebudayaan yang rendah. kematian. Maka budaya massa adalah . namun sebaliknya membawakan semangat pluralitas dan demokrasi. terbentuklah konsepsi khas khalayak konsumer budaya massa. Khalayak budaya massa adalah para konsumen pasif. karena realitas-realitas itu kini telah menjadi terlalu nyata. Penerimaan terhadap budaya massa yang membius dan komoditi-komoditi yang dijual sebagai pengganti kegembiraan. 1957: 71). anything or anybody (MacDonald. yang meruntuhkan sekat-sekat lama tentang kelas. very democratic: it absolutely refuses to discriminate against. Ia dengan demikian meluluhlantakkan semua nilai. tragedi kecerdasan. karena penilaian mengasumsikan adanya diskriminasi. sangat demokratis: ia benar-benar menolak untuk melakukan diskriminasi terhadap atau antara sesuatu hal atau orang). namun kaya fantasi dan ilusi kesenangan. revolusioner. A dynamic. (Sebuah kekuatan dinamis. breaking down the old barriers of class. tradition. budaya remeh-temeh yang kehilangan. or between. kenikmatankenikmatan spontan. revolutionary force. Massa yang telah dikotori oleh hal-hal demikian. 1957: 62).

a system of industrial production. Ungkapan David Reisman. Karena massa adalah keramaian: sejumlah besar individu yang tak mampu mengekspresikan dirinya sebagai manusia. seperti ungkapan David Reisman ketika menyebut masyarakat Amerika). Dalam salah satu tulisannya yang sangat penting. tanpa kemampuan berefleksi. uniform with and undifferentiated from thousands and millions of other atoms who go to make up the lonely crowd as David Reisman well calls American society (MacDonald. For the masses in historical time are what a crowd is in space: a large quantity of people unable to express themselves as human beings because they are related to one another neither as individuals nor as members of communities indeed. tunduk pada daya tarik hasrat untuk selalu dan selalu membeli. menikmati kesenangan semu konsumsi massa dan merupakan objek eksploitasi komersial. Manusia massa adalah semacam atom yang teralienasi. they are not related to each other at all. Pertama. tentang "keramaian yang sunyi" masyarakat Amerika. nonhuman: a football game or bargain sale in the case of crowd. bahwa Amerika merupakan representasi paling tepat untuk menggambarkan fenomena atomisasi dalam realitas budaya massa. karena berhubungan dengan orang lain tidak dalam kerangka individu ataupun anggota suatu komunitas bahkan. tanpa kemampuan bernalar secara kritis. seragam dan nyaris tak bisa dibedakan dengan ribuan bahkan jutaan atom lain yang membentuk "keramaian yang sunyi". but only to something distant. MacDonald memaparkan pandangannya tentang khalayak budaya massa ini . berjarak. (Sebagai massa. As masses. ungkapan bernada satire tersebut . selain hasrat yang besar untuk mengkonsumsi dan mengkonsumsi. sesuatu yang bersifat non-human: seperti keramaian permainan sepakbola atau penjualan obral.yang rentan terhadap manipulasi dan bujukan media massa. The mass man is a solitary atom. a party or a state in the case of masses. selanjutnya dapat dibaca mengimplikasikan dua hal. they lose their human identity and quality. sistem produksi industrial atau pun massa partai atau negara. Kedua. yang dikutip MacDonald dalam tulisannya. 1957: 69). abstract. Inilah massa yang nyaris tanpa pikiran. A Theory of Mass Culture (1957). mereka samasekali tidak berhubungan satu sama lain melainkan sekedar berhubungan dengan sesuatu yang abstrak. mereka kehilangan kualitas dan identitas kemanusiaannya.

teknologi kemasan. serta meningkatnya kenakalan dan kejahatan remaja. gaya rambut Tony Curtis. runtuhnya otoritas dan legitimasi lembaga moral tradisional. a set of symbols. Baudrillard menyatakan bahwa sebagai penggerak utama budaya massa dan budaya populer. packaging. rock records. clothes and music offers a rich iconography. Dan makna pada setiap pilihan ini kemudian diterjemahkan sebagai objek-objek individual celana jeans. objek dan artefak yang dapat dirangkai dan dirangkai-ulang oleh kelompok-kelompok yang berbeda dalam kombinasi yang tak terbatas. wajar bila ditarik kesimpulan bahwa Amerika adalah ancaman bagi setiap nilai estetika dan budaya. citra-citra iklan. melainkan aktif mengolah kembali menjadi konstruksi kebudayaan baru.sekaligus mengungkapkan ketakutan terhadap pengaruh Amerika dalam pelipatgandaan budaya massa ke seluruh penjuru dunia. advertising images. bobby socks are taken out of their original historical and cultural contexts and juxtaposed against signs from other sources (Hebdige. musik rock. Ancaman penyebaran budaya massa melalui proses Amerikanisasi ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa Amerika adalah kiblat budaya massa. bahkan identitas nasional suatu bangsa. Tony Curtis hair styles. (Budaya populer Amerika film Hollywood. proses Amerikanisasi menemukan gemanya dalam pemikiran Baudrillard. American popular culture Hollywood films. seperangkat simbol. yang lebih dikenal sebagai proses Amerikanisasi. Penyebaran budaya massa melalui proses Amerikanisasi. And the meaning of each selections is transformed as individual objects jeans. objects and artefacts which can be assembled and reassembled by different groups in a literally limitless number of combinations. Amerikanisasi tetaplah dipandang sebagai ancaman luruhnya nilai-nilai budaya khas-otentik setiap bangsa. Dengan menyebut proses Amerikanisasi sebagai gejala "Impian Amerika". Dick Hebdige mencoba menguraikan karakter budaya Amerika sebagai berikut . model kaos kaki pendek dicabut dari konteks sejarah dan budayanya yang asli dan disejajarkan dengan tanda-tanda dari sumber-sumber lain). di mata Hebdige. 1987: 74). Amerika adalah . Pada titik ini. Namun demikian. Dengan kemampuan teknologi industri massal yang canggih dan dukungan sistem kapitalisme serta demokrasi. kemudian menjadi proses yang tidak sekedar secara pasif menerima. pakaian dan musik adalah sebuah ikonografi yang kaya.

Amerika sebenarnya menyimpan pelbagai bibit penyakit yang parah. dan tak lebih dari kumpulan puing-puing budaya yang diperoleh dari proses duplikasi dan reproduksi. yang direkayasa. Universal Studio dengan miniatur kota-kota buatan. Dalam realitas budaya massa dan budaya populer Amerika inilah pemikiran-pemikiran Baudrillard mendapatkan kebenarannya. mana yang asli dan mana yang tiruan. masa kini dan masa depan dalam konteks kekinian yang juga semu. televisi dan video game misalnya. tak memiliki otentisitas. film dan video game mengikuti Baudrillard bergumul pelbagai unsur: fiksi dan fakta. Pelbagai simbol dan artefak budaya massa menjadi ruang pergulatan yang paling konkret dari apa yang disebut Baudrillard sebagai kebudayaan postmodern. mana yang benar dan mana yang salah. dan shopping mall dengan dunia belanja yang menawarkan pelbagai macam tema bahkan seolah lebih nyata dan hidup ketimbang tokoh-tokoh pahlawan dalam buku-buku sejarah. Melalui artefak-artefak budaya massa ini pulalah gagasan Baudrillard tentang fenomena hiperrealitas menjadi mudah dipahami. Amerika seolah menjadi kiblat era baru yang disebut sebagai era postmodern. Amerika adalah wajah sebuah budaya yang szhizophrenis. Dalam wacana televisi. Selanjutnya budaya massa dan budaya populer juga membawakan gagasan meledaknya nilai-tanda dan nilai-simbol di atas nilai-guna dan nilai-tukar. realitas dan ilusi. Disneyland dengan tokoh-tokoh fiktifnya Mickey Mouse. disimulasi sehingga seolah-olah nyata. film dan video game pada gilirannya menjadi realitas simulasi: realitas buatan yang dihasilkan melalui proses produksi dan reproduksi pelbagai unsur sehingga tidak mungkin lagi diketahui mana yang real dan mana yang palsu. dengan realitas-realitas buatan semacam Disneyland. Donald Duck ataupun Guffi. Dengan kekuatan daya tariknya yang luar biasa.impian namun sekaligus mitos. Realitas dalam televisi. eklektis. sebagaimana Eropa pernah menjadi kiblat era modern. Melalui film. kebenaran dan kepalsuan. mengedepankan penampakan. miskin makna dan orisinalitas yang justru berkembangbiak di Amerika seolah menegaskan sifat paradoks Amerika. Budaya massa dan budaya populer yang dangkal. Namun dibalik semua itu. pemikiran Baudrillard tentang dunia simulasi dapat dijelaskan secara gamblang. Ketiga artefak budaya massa tersebut juga sekaligus mencampurbaurkan masa lampau. Lebih jauh. Karakter khas budaya massa dan . papar Baudrillard. Universal Studio ataupun shopping mall yang sekaligus menjadi simbol paling tepat bagi budaya massa dan budaya populer realitas yang sebenarnya kini telah dikalahkan oleh realitas-realitas buatan.

dan bahkan hanyut dalam gelombang deras budaya massa dan budaya populer yang menghadang tepat di depannya. Dalam mekanisme komunikasi seperti ini. kecuali semata dorongan memikat untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan. kesenian tradisional dan keunikan budaya etnis lokal. adalah prinsip "sesuatu yang baru". tak ada lagi pesan. tayangan talk show. Estetika Seni Postmodern Sejarah estetika seni modern pada dasarnya adalah sejarah tentang kemajuan (progress) dan keotentikan (authenticity). kampanye. Bila sebelumnya proses komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan (addressee) kepada penerima pesan (address) untuk diperoleh suatu makna tertentu. mengutip Baudrillard. mengedepankan penampakan ketimbang makna dan kedalaman sekaligus mengisyaratkan lebih diterimanya simbol status. mengutip Baudrillard. menelannya mentahmentah tanpa pernah mampu merefleksikannya kembali dalam kehidupan yang sebenarnya. sampai merebaknya paket wisata-budaya yang mengemas upacara adat. Konsumen adalah. konsumen dirayu untuk mengkonsumsi lebih dan lebih banyak lagi. Tanda yang mencolok dari prinsip estetika seni modern. prestise. . diserbunya pusat-pusat kebugaran. Lebih jauh. maka kini komunikasi dipahami sebagai proses bujuk-rayu objek (konsumen) oleh subjek (produsen) untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan.budaya populer yang bersifat massal. 1998: 279). tak ada lagi makna. credit card. yang pasif menerima segala apapun yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya. kursus kecantikan atau bahkan iklan operasi plastik sebagai simbol dominannya penampilan. melalui budaya massa dan budaya populer inilah lahir suatu prinsip komunikasi baru yang disebutnya sebagai prinsip bujuk-rayu (seduction). Merebaknya persaingan gaya hidup dengan pelbagai simbol budaya pendukungnya: mobil. "mayoritas yang diam" (the silent majorities). dangkal. dan gempuran pelbagai informasi melalui media massa. mengutip Habermas dalam karyanya Modernity: An Incomplete Project (1988). Inilah prinsip yang mencerminkan kerinduan manusia modern terhadap keindahan dan keotentikan (Piliang. sebuah karya disebut otentik bila menyiratkan adanya kemunculan sesuatu yang baru dan keterputusannya dengan yang lama. Melalui iklan. handphone. B. pakaian. Dalam wacana estetika seni modern. adalah beberapa bukti lebih dominannya nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realiatas budaya massa dan budaya popular. penampilan dan gaya ketimbang manfaat atau maknanya.

maka seni dapat diproduksi secara massal dan kontinyu sesuai kehendak produsen. Dalam fashion. ketika tak ada lagi yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang baru. berputar dan tidak menambah apa-apa pada nilai seorang individu. Segala bentuk seni. maka seseorang dianggap belum dapat menjadi anggota masyarakat konsumer yang sejati. Bila ini tidak dilakukan. 1995: 61). yang sudah dibuat. setiap bulan atau setiap musim. dengan daurulang fashion sebagai model penciptaan produk-produk budaya (Strinati. melalui barang-barang baru. ketika segala sesuatu dipandang dalam kacamata komoditi. Kehendak untuk selalu tampil baru. 1998: 281). wacana semacam ini sebenarnya bukanlah satu bentuk kemajuan. menjadi komoditi industri.Namun. yang memang tidak pernah membawa manusia ke batas keindahan absolut. tak ada lagi kebaruan yang lebih baru. Sementara itu realitas kebudayaan modern yang didominasi oleh budaya massa dan budaya populer mendesakkan kesadaran yang sama akan kemajuan dan kebaruan. yang sudah diwariskan. seni modern kini juga tengah terseret dalam mekanisme fashion. Ketika seluruh sudut bingkai seni telah dijelajahi. Dalam pandangan Adorno. tampil menawan dan berbeda dalam wacana budaya massa mendapatkan jawabannya dengan mekanisme daur-ulang fashion. tak ada lagi ruang baru untuk dikuasai. bahkan ketika seni telah menyeberang jauh di luar bingkai seni di luar medium yang biasa. berganti-ganti. maka yang dapat dilakukan kini hanyalah mengkombinasikan kembali dan bermain-main dengan bentuk-bentuk seni yang sudah ada. Pada titik inilah terjadi apa yang disebut Adorno sebagai proses industrialisasi budaya (the culture industry). dan ketika dalam penjelajahan itu yang ditemukan tak lain adalah jalan buntu. utopis dan tanpa batas telah berakhir dengan sebuah jalan buntu: tidak ada lagi daerah baru untuk dijelajahi. Namun. Dengan model daur-ulang fashion. sejarah kemajuan dan keotentikan seni modern. Keharusan selalu beralih dari satu komoditi ke komoditi yang lain dalam proses konsumsi merupakan manifestasi paling sederhana dari sistem kapitalisme. bahkan budaya. sebab fashion senantiasa berubah. Penjelajahan artistik modernitas ke masa depan yang bersifat progresif. setiap orang merasa perlu memperbarui dirinya setiap tahun. . Ketika bidang di dalam bingkai gambar telah dijelajahi sampai ke sudut terakhirnya. Semacam dialog dengan masa lalu (Piliang. tengah mengalami semacam kebekuan dalam tiga dekade terakhir ini. wacana fashion adalah wacana kemajuan semu. Dengan kata lain. di luar norma dan prinsip seni yang ada maka seni telah sampai pada satu titik dimana kebaruan dalam seni tidak lagi merupakan shock of the new.

silang-sengkarut dan saling menetralisasi satu sama lain. seorang pemikir Rusia. yang diklaim oleh modernisme. Dua karya. 1998: 303). teks-teks estetika seni postmodern adalah semacam permainan dan mosaik kutipan-kutipan dari pelbagai teks masa lalu. . terdapat beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain. pendidikan. tidak ada satu pun ungkapan seni yang dapat dikatakan sebagai ekspresi murni dan asli sang seniman. Konsep yang setara dengan dialogisme Bakhtin telah digunakan untuk menjelaskan wacana tekstual postmodernisme. serta model simulasi dan hiperrealitas (Piliang. seperti dikutip Yasraf Amir Piliang. sebab bagaimana pun sang seniman telah menerima warisan-warisan yang berupa bahasa. Desire in Language: A Semioric Approach to Literature and Art (1979). seperti pengkodean berganda Charles Jenck (double code). 1. maka sesungguhnya secara ideologis telah terjadi semacam pertarungan antara nilai dan maknamakna ideologis yang dibawa oleh media massa tersebut dengan nilai dan makna-makna tradisional. memasuki semacam hubungan semantik tertentu yang disebut dialogis. Kristeva menjelaskan di dalam karyanya. bila di dalam ruang teks tersebut. Hubungan dialogis adalah hubungan-hubungan di antara semua ungkapan dalam komunikasi verbal. fakta-fakta yang pernah diamati sebelumnya (Piliang. setidaknya terdapat tiga model wacana seni postmodern yang dominan yakni: model dialogisme dan intertekstualitas. untuk menjelaskan jaringan dialogis satu karya seni dengan karya sebelumnya. untuk menjelaskan kebergantungan satu ungkapan dengan ungkapan-ungkapan yang telah ada sebelumnya. Menurut pandangan Bakhtin. bricolage Dick Hebdige dan intertekstualitas Julia Kristeva. Model Dialogisme dan Intertekstualitas Istilah dialogisme adalah istilah wacana tekstual yang dikembangkan oleh Mikhail Bakhtin. model perversitas dan abnormalitas. dua ungkapan verbal. secara bersama-sama. Sementara itu bersamaan dengan berkembangnya media massa dan komoditi massa. Menurut Kristeva. Dalam dialog dengan masa lalu ini. Menurut Bakhtin. 1998: 303-305).Pengembaraan estetika ke masa lalu ini pulalah yang menjadi tawaran seni postmodern untuk menjawab kebutuhan masyarakat konsumer akan kebaruan. (atau postmodern). bahwa sebuah teks dapat disebut interteks. 1998: 304). kesenangan dan penampakan pada media massa dan komoditi. Sifat-sifat tontonan. penampilan dan fashion. Karya intertekstual postmodern dengan demikian adalah tempat perlintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya (Piliang.

seolah-olah. 1998: 305). serta meluruhnya nilai dan paradigma modernisme. Prinsip perversi dalam wacana seksual ini ternyata berkembang dalam model yang serupa di dalam dunia seni. atau palsu: feminin palsu. khususnya seni postmodern. Di dalam ruang perversiabnormalitas seni. Model Perversitas dan Abnormalitas Istilah perversi. perusakan kode-kode yang ada sedikit berbeda dengan surealisme adalah melalui pembajakan. menggunakan istilah perversi untuk menjelaskan fenomena penyimpangan dari norma dan praktek seksual yang normal. realitas kebudayaan kini tengah menuju ke ambang era postmodern. dan sebagainya. Kaplan. spiritual. misalnya homoseksual. adat-istiadat dan mitologis. Louise J. sebenarnya berasal dari wacana seksualitas. Model Simulasi dan Hiperrealitas Model wacana seni simulasi dan hiperrealitas merupakan penjabaran pemikiran Baudrillard tentang karakteristik kebudayaan postmodern. Di dalam estetika perversi-abnormalitas. seolah-olah klasik. penemuan pelbagai sarana teknologi informasi dan komunikasi yang canggih.dalam beberapa sisi telah mengendurkan nilai dan makna moralitas. Kaplan menjelaskan bahwa tindaktanduk yang tipikal disebut perversi adalah berupa pengembangan skenario di dalam gaya. berkembangnya budaya massa dan budaya populer. pembalikan norma. dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol serta prinsip komunikasi bujuk-rayu . sadisme. masokisme. atau penopengan tanda. yakni dalam bentuk prinsip abnormalitas. Di dalam ruang perversi. penopengan makna. yang ditandai dengan fenomena-fenomena simulasi. bersamaan dengan perkembangan kapitalisme lanjut yang pesat. maskulin semu objek-objek yang disebut sebagai objek-objek postmodern. Menurut Baudrillard. pembajakan tanda. tabu. dalam bukunya Female Perversion (1991). tata cara dan penggunaan benda-benda yang mengelabuhi orang yang melihat yang nyata atau yang imajinatif tentang makna yang sebenarnya dari tidak-tanduk tersebut (Piliang. pemutarbalikan bahasa. Namun dewasa ini di Barat istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan fenomena estetik. Dalam kerangka seperti inilah muncul model wacana seni perversitas dan abnormalitas. penyalahgunaan. menjadi seakan-akan normal disebabkan absennya hukum atau kodekode yang ada. 3. 2. dunia seni ditandai oleh objek-objek semu. pelanggaran tabu. hiperrealitas. simulacra.

mulai dari Peter Halley. kita kini tidak lagi tahu apakah ini sebentuk kritisisme radikal ataukah sekedar kloning yang mencerahkan. dengan dua karyanya yang memanfaatkan aliran listrik. sang seniman secara terbuka mengadopsi gaya-sikap keculasan. para seniman performance arts. which is. Sementara Jeff Koons dengan karya-karya duplikasi objek-objek kitsch. merupakan manifestasi prinsip simulasi Baudrillard. Turner Train (1986) atau Bear and Policeman (1988). the chance. a short of trickster who is not going to get us out of the mess were in. karyanya memikat kita dengan aura keacuhannya. keterpesonaan.B. estetika dan kebudayaan setidaknya semenjak tahun 1980-an. dan hiperrealitas-simulasi. Robert Longo dan Barbara Kruger adalah sederet nama-nama yang mencoba mengekspresikan pemikiran kritis Baudrillard ke dalam wilayah seni (Kellner. (Dengan lukisan iklan galeri komersial karya Simon Linke yang dikopi langsung dari halaman majalah Artforum. Baudrillard sendiri mulai memberikan pengaruhnya dalam dunia seni. Ashley Bickerton. 1994: 210). Sherrie Levine. the labyrinthine. Blue Cell with Triple Conduit (1986) dan Two Cells with Organizing Conduit (1986). menyepakati gagasan strategi fatalistik dan realitas transparan Baudrillard. Haim Steinbach. semacam proses yang tidak . Declaring its pointlessness openly. mencatat keterkaitan pemikiran Baudrillard dengan perkembangan seni postmodern di tahun 1980-an menyebut . we cannot really know if this is radical criticism or inspired clowning. Suzi Gablik seorang kritikus seni misalnya. but who will engage in the only legitimate cultural practice possible for our time.(seduction). sel dan sirkuit simulasi. Dinyatakan dengan sifat keterbukaannya yang tanpa batas. pematung. With Simon Linkes paintings of commercial gallery advertisements copied straight from the pages of Artforum. Peter Halley misalnya. Pelukis. Simon Linke. in the words of Baudrillard. manipulatory play of signs without meaning (Gablik. Pada tahun-tahun itulah ia kerap banyak dibicarakan oleh kelompok-kelompok seniman. Baudrillard menggambarkan realitas estetika postmodern ini sebagai: ekstasi. 1988: 27). transparansi. Dalam realitas seperti inilah lahir model wacana seni simulasi dan hiperrealitas. fraktal. praktisi media massa dan studio seni yang mencoba mengadopsi gagasan-gagasannya ke dalam karya-karya mereka. fatal. Dalam salah satu resensi lukisan Simon Linke. seperti Jim Beam J. teror. his art baits us with its indifference. the artist openly adopts the posture of a chariation. Jenny Holzer. sampai Jeff Koons. kecabulan.

Seni bukan lagi ungkapan radikal penciptaan bebas dalam bentuk karya-karya kreatif. citra dan kode seni. Terdapat dua esai yang secara eksplisit membahas seni dan praktek-praktek dalam dunia seni yang ditulis Baudrillard dalam karyanya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981). Penguasaan proses pertandaan dalam aktivitas lelang seni. Dalam karya Simon Linke.hendak membawa kita keluar dari tempat dimana kita berada. papar Baudrillard. menurut Baudrillard mengakibatkan dominasi pemaknaan nilai seni oleh sekelompok kelas yang dominan terhadap kelas yang lain. 1981: 117). memaparkan bagaimana seni bekerja sebagaimana bentuk-bentuk gaya yang unik menggunakan nilai-tanda yang diterjemahkan dalam seni baik secara komersial maupun semiotik. yang dalam kata-kata Baudrillard. saat ini seni tidak lagi dituntut untuk mengambil peran demikian. semacam labirin. yang merupakan konsekuensi logis prinsip simulasi. "adalah semacam kesempatan. Dunia hiperrealitas adalah dunia yang disarati oleh silih bergantinya reproduksi apa yang disebut Baudrillard sebagai simulacra objek-objek yang tak memiliki . Saat ini. Sementara seni modern berhasrat menjadi sesuatu yang baru menentang bentuk-bentuk seni yang sudah ada. Baurillard memaparkan bagaimana kompetisi percepatan dan kemewahan dalam dunia seni telah mengubah ekonomi politik nilai dengan menciptakan ekonomi nilai-nilai kemewahan. Bagi Baudrillard. pemikiran Baudrillard tentang lenyapnya semua acuan dan referensi diadopsi secara langsung sebagai kosakata kunci dunia seni kontemporer (Kellner. The Art Auction: Sign Exchange and Sumptuary Value. hal ini merupakan awal merebaknya nilai-tanda dan nilaisimbol dalam bentuk nilai kemewahan dalam dunia seni dewasa ini (Baudrillard. yang diambil alih oleh permainan bebas penanda. seni tak lebih dari sekedar variasi. dari gaya. Esai yang pertama. nilai-nilainya dan identitasnya dari pengulangan produk-produk seni itu sendiri (Baudrillard. Sementara hiperrealitas adalah kondisi atau pengalaman kebendaan. 1981: 110). Dalam esai yang kedua. 1994: 210). namun menikmati praktekpraktek budaya yang mungkin bagi zaman kita. Awal dari era hiperrealitas ditandai dengan bangkrutnya makna. pertanda dan realitas. permainan manipulasi tanda tanpa makna"). Gesture and Signature: The Semiurgy of Contemporary Art. isyarat dan tema-tema yang berbeda yang mendapatkan maknanya. Model wacana seni simulasi dibangun oleh model-model produksi dan reproduksi dari pelbagai macam tanda.

referensi sosial. Wacana estetik seni kini menceburkan dirinya ke dalam hutan rimba citra-citra dan tanda-tanda yang tanpa batas. fiksi. Umberto Eco. atau dengan menyajikan dimensidimensi yang selama ini tabu. sebagai akibat dari kondisi modernitas yang menjadikan manusia teralienasi dari akar kebudayaannya sendiri. Bahasa estetika seni postmodern yang tampil dalam tanda-tanda dan makna-makna seni bersifat tidak stabil. Berikut ini akan dipaparkan beberapa bentuk bahasa estetika seni postmodernisme yang dominan dalam praktek-praktek penciptaan karya seni dewasa ini (Piliang. menyatakan bahwa untuk memahami masa lalu kita harus memiliki di depan mata kita sesuatu yang sedekat mungkin menyerupai model-model asli. dari dialektika komunikasi dan proses sosialisasi. dalam karyanya Travels in Hyperreality (1973). halusinasi dan nostalgia. mengikuti batas ekstrimnya. dengan cara menghancurkan makna-makna. kecabulan dan imoralitasnya. Secara ekstrim. Estetika dalam wacana postmodern tidak lagi membedakan mana yang indah. lebih jauh menurut Baudrillard. Reproduksi nostalgia mencerminkan kepanikan era postmodern disebabkan tanda dan realitas yang hilang. dapat dikatakan bahwa wacana estetika postmodern kini justru mencari yang terjelek diantara yang jelek. Dalam kaitannya dengan model wacana seni postmodern inilah pada gilirannya berkembang bahasa estetik postmodernisme yang khas dan unik. sehingga perbedaan satu sama lainnya sulit diketahui. mana yang tersembunyi. kini tak lebih sebagai sebuah wacana. dan sebuah karya seni telah kehilangan dimensi auranya. 1988: 185). . Wacana estetika postmodern. di mana realitas telah kehilangan dimensi rahasianya. mana yang bermoral. mendua dan plural. mana yang jelek. objek-objek yang dibuat di atas kerangka meleburnya realitas dengan fantasi. Segala wacana termasuk wacana seni kini tengah berupaya mencari jalannya sendiri-sendiri untuk menghindarkan diri dari dialektika makna. 1998: 307). Inilah yang menurut istilah semiotik disebut sebagai model yang menjadi modus operandi dalam wacana estetik postmodernisme. keterpesonaan pada penampakan dan diferensiasi. ketimbang makna-makna ideologis yang bersifat stabil dan abadi. mana yang amoral. sebatang tubuh telah kehilangan dimensi seksualnya: sebuah informasi telah kehilangan dimensi maknanya. disebabkan oleh diutamakannya permainan tanda. Estetika postmodern juga tidak lagi membedakan mana yang kelihatan. Estetika postmodern mencari yang lebih tersembunyi diantara yang paling tersembunyi (Baudrillard.

menurut Mikhel Bakhtin. seniman. sebab sejarah tak dapat diulangi namun sejarah harus dibuat. pastiche adalah satu bentuk imitasi murni. kritik. Kitsch. atau arsitek dari masa lalu. merupakan satu bentuk dialogisme tekstual. mengutip Baudrillard. Hutcheon menyebut bentuk wacana intertekstual seni semacam ini sebagai neologism atau transkontekstualism. gaya atau karya yang menjadi sasarannya (kelemahannya. Pastiche. adalah titik balik sejarah. Pastiche adalah perang menentang kemajuan dan sejarah. Parodi dalam postmodernisme. bahkan bermuatan politis dan ideologis. Sebagai satu bentuk wacana. seni atau arsitektur yang disusun dari elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai sumber. Efek-efek kelucuan atau absurditas biasanya dihasilkan dari distorsi atau plesetan ungkapan yang ada. pastiche mempunyai konotasi negatif sebagai praktek penciptaan yang miskin orisinalitas. mencabut dari semangat zamannya dan menempatkannya dalam konteks masa kini. tanpa pretensi politis seperti parodi. pengarang. parodi juga selalu memperalat wacana pihak lain. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. Pastiche adalah salah satu bentuk imitasi yang tanpa beban kritik. seni atau arsitektur yang di dalamnya kecenderungan pemikiran dan ungkapan khas dalam diri seorang pengarang. Pastiche adalah karya sastra. Parodi adalah sebuah komposisi dalam karya sastra. keseriusannya atau kemasyhurannya). Parodi. istilah kitsch . yaitu dua teks atau lebih bertemu dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. humor. Pastiche mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari pelbagai keping sejarah. Sementara Fredrich Jameson secara metaforis menyebut pastiche sebagai penggunaan topeng sejarah. Sebagai karya yang mengandung unsur-unsur pinjaman. merupakan suatu wacana untuk mempertanyakan kembali subjek pencipta sebagai satu-satunya sumber makna. Oleh sebab itu. Sebuah teks baru dihasilkan dalam kaitan politisnya dengan teks rujukan yang bersifat serius. Parodi. kekurangannya. Kitsch berakar dari bahasa Jerman verkitschen (membuat jadi murahan) dan kitschen. Parodi merupakan sebuah relasi bentuk atau struktur antara dua teks. Ia menyiratkan suatu upaya dialog dengan sejarah dan membangun masa kini dengan merujuk pada seperangkat tanda dengan pretensi ideologis. seniman atau arsitektur. mengutip Linda Hutcheon. yang secara literal berarti memungut sampah dari jalan. pengungkapan dalam bahasa yang telah mati.Pastiche. Dengan demikian. Peniruan ini bersifat ironis dan kritis. atau gaya tertentu diimitasi sedemikian rupa untuk membuatnya bersifat humoristik atau bahkan absurd. Pastiche mengimitasi karya masa lalu dalam kerangka menghargai dan mengapresiasinya. Menurut Linda Hutcheon.

dengan mengorbankan isi. Camp dengan kata lain. namun secara ekstrim dibuat lebih kurus. Di dalam The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms (1990). kitsch menjadi salah satu kategori bahasa estetik yang sangat dominan. Hal ini karena postmodernisme sering dikatakan miskin akan kriteria estetik. akan tetapi dalam pengertian keartifisialan dan penggayaan (stylization) yang mencirikannya. atau glamour. Camp juga menolak pembedaan seksual dan merayakan bentuk androgini dan perversi. estetika postmodernisme bahkan disebut sebagai anti-estetika. Camp bukanlah selera rendah atau sampah artistik. kitsch didefinisikan sebagai segala jenis seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. jam meja berbentuk gitar). gaya. Camp dicirikan oleh upaya-upaya melakukan sesuatu yang luar biasa. dan komunikasi massa. makna dan orisinalitas. Oleh Hal Foster. sering diidentifikasikan dengan kitsch. atau reproduksi ikonis (misal. sebagai akibat berkembangnya teknologi produksi. yaitu rangkaian sintagmatik penanda yang . spesial. keberadaan kitsch pada awalnya memang sangat didorong oleh semangat reproduksi. Jacques Lacan. Strategi kitsch adalah mensimulasi dan mengkopi elemen-elemen gaya dari seni tinggi atau sebaliknya dari objek sehari-hari untuk kepentingannya sendiri. Kitsch dikatakan sebagai selera rendah disebabkan lemahnya ukuran atau kriteria estetik. Kitsch mengimitasi bentuk. adalah suatu bentuk dandyism dan karenanya menjunjung tinggi kevulgaran. Menurut Greenberg. seorang ahli psikoanalisis. Objek-objek manusia. meskipun kriteria ini berbeda dari satu zaman dan tempat ke zaman dan tempat lainnya. atau sering juga didefinisikan sebagai selera rendah (bad taste).sering ditafsirkan sebagai sampah artistik. atau objek untuk tujuan dan fungsi palsu (misal. arsitektur toko berbentuk sepatu). konsumsi. Dalam seni postmodern. Meskipun sering dikelirukan dengan kitsch. Camp anti alam. Kitsch menggunakan kebanalan dan produk konsumer sebagai bahan baku reproduksi ikonik seni. mendefinisikan skizofrenia sebagai fenomena terputusnya rantai pertandaan. dalam pengertiannya yang lebih luas. Camp. binatang atau tumbuhan kerap kali digunakan. tekstur. ramping. melainkan satu model estetisisme bukan dalam pengertian keindahan. Camp menjadikan prinsip artifisialitas sebagai ideal proses penciptaan seni. Schizophrenia. camp berbeda sekali dengan kitsch. sehingga postmodernisme. Camp sering menekankan dekorasi. permukaan sensual dan gaya. jangkung atau gendut. yakni peleburan gaya dan citra seksual yang tak jelas rujukannya. yang produksinya didasarkan pada semangat memassakan atau mendemitologisasi seni tinggi. dengan pengertian ingin menjadi berlebihan.

berdasarkan teori psikoanalisis Lacan. Dalam kerangka seperti inilah film postmodern mendapatkan dirinya. Kekacauan pertandaan selain dalam kalimat juga terjadi dalam gambar. (Tidak ada lagi fiksi yang dapat dibedakan dengan kenyataan) Film merupakan salah satu pilar bangunan estetika postmodern selain televisi dan media seni lainnya.bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. teori dan keyakinan kebudayaan postmodern tampil secara utuh sekaligus memikat. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan penanda dengan cara yang stabil. prinsip dan nilai estetika. Lebih lanjut. prinsip-prinsip kebudayaan postmodern dapat dibaca dengan mudah. Film adalah komoditi. Melalui film. Lewat film pula paradigma kebudayaan postmodern ditebar ke seluruh penjuru dunia. Bahasa estetika skizofrenik. Bagi seorang skizofrenik. film postmodern merupakan bagian dari budaya massa dan budaya populer yang disodorkan oleh kapitalisme. Dengan demikian. masa kini dan masa depan dalam satu ruang seni yang sama. namun juga komoditi barang dagangan yang sama dengan komoditi lainnya. Televisi dan Iklan 1. C. masa kini dan masa depan dalam pengalaman kehidupan psikis kita. tumpang-tindihnya masa lalu. seni dan sekaligus juga ideologi. Sebagai produk budaya massa. 1983: . masa kini dan masa depan dalam bahasa disebabkan adanya gangguan pertandaan maka kita juga tidak dapat membedakan antara masa lalu. Dengan perkataan lain. ditujukan untuk mengeruk keuntungan sebesar(Baudrillard. teks atau objek-objek seni. Film adalah tidak semata karya seni. semua kata atau penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. seni dan sekaligus ideologi. dengan demikian ditandai oleh kekacauan dan silang sengkarut pelbagai tanda. Film postmodern adalah komoditi. Sebagai komoditi. film merangkum dalam dirinya kemampuan menjelajah setiap sudut dan ruang yang ada. persimpangsiuran kata atau penanda untuk menyatakan satu konsep dimungkinkan. Membaca Film. bila kita tidak mampu membedakan antara tensis masa lalu. menciptakan ruang estetika seni tersendiri dan menanamkan pelbagai nilai dan pandangan hidup. Lewat film. Membaca Film There is no more fiction that life could possibly confront 148). yakni ideologi postmodernisme.

Film Dick Tracey dan Batman menampilkan realitas komik dalam film hero-detektif tahun 1940-an melalui . tampilan gambar-suara. citra-citra. karakterisasi. film postmodern tampil untuk menyuarakan prinsip-prinsip. yang tak lebih dari barang dagangan. Film postmodern secara sadar mengeksploitasi kemungkinan-kemungkinan penjelajahan estetik sebagai kekuatan dan daya tariknya. dalam realitas kebudayaan dewasa ini prinsip nilai-guna dan nilai-tukar telah digantikan kedudukannya oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. film postmodern mencoba menjelajah ruang-ruang kreatifitas estetik baru yang masih tersisa. melalui cerita. Sebagai produk seni. Sementara sebagai ideologi. tidak lagi berpretensi menemukan makna-makna. Di satu sisi. Film postmodern bergumul dengan pelbagai prinsip. nilai-nilai dan keyakinan wacana postmodernisme. film-film postmodern sekaligus ingin membuka cakrawala estetika baru dengan memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk bereksperimen. Penampakan.besarnya. film-film postmodern seolah menyuarakan pergeseran prinsip ekonomi politik seperti dikemukakan Baudrillard. teori dan model-model estetika seni postmodern yang ada untuk digunakan sebagai media kreatifitas. Namun di sisi lain. Sebagai karya seni. yang menuntutnya untuk memenuhi kebutuhan hukum kapitalisme akan keuntungan. berbeda dengan film-film modern. 1995: 229). Film postmodern. film postmodern membawakan ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda dengan film-film di era modernisme. citra-citra. kedua film ini secara jelas mengedepankan prinsip penampakan ketimbang materi cerita. film-film postmodern sadar akan kedudukannya sebagai komoditi. gaya dan citra-citra ketimbang makna dan realitas sosial. simbol status. Dengan peran demikian. Daripada bersikap heroik demikian. An Introduction to Theories of Popular Culture (1995). ataupun merefleksikan kondisi sosial. film postmodern memilih untuk sekedar bermain-main dengan gaya-gaya. Dalam salah satu bagian dalam bukunya. isi dan kedalaman. Dibaca dari perspektif ini. penokohan ataupun narasinya. Dominic Strinati menyatakan bahwa salah satu karakter menonjol film-film postmodern adalah sifatnya yang mengedepankan penampakan. penampilan. citra-citra dan tanda lebih utama ketimbang makna. Merujuk Baudrillard. Gema pemikiran postmodern Baudrillard tentang dominannya nilai-tanda dan nilai-simbol ini misalnya dapat ditemukan pada film-film seperti Dick Tracey (1990) ataupun Batman (1993). film adalah hasil cipta dan kreatifitas seniman yang ditampilkan dalam bentuk gambar dan citra-citra bergerak. alur narasi atau pun realitas sosial (Strinati. gaya dan teknik-teknik khusus (special effects). ketimbang materi cerita. media dan tanda-tanda yang ada. Diangkat dari cerita komik.

Ia dengan demikian bersifat multi-narasi. Sementara itu. special effect. futuristic-setting. kedalaman dan realitas sosial sama sekali tak lagi diperhitungkan. Makna. Film postmodern adalah juga silangsengkarut berbagai hal: moralitas. bahkan mencampur-baurkan. yakni sebuah dunia buatan dimana realitas dibentuk. komik. serta masa lalu. fakta dan fiksi. Pulp Fiction (1992). Blade Runner (1982). yang menggunakan ikon dan tanda dari beberapa masa yang berbeda. direkayasa. musik populer dan pengaturan alur cerita yang sederhana. Inilah sebuah dunia hiperrealitas. adalah beberapa contoh film yang menyuarakan prinsip simulacra dan simulasi postmodernisme. 1988: 461). masa kini dan masa depan. Film-film seperti Back to The Future (1990). yang mengeksplorasi tema. Lebih jauh. pencahayaan yang berlebih dan vulgar. film-film yang memanfaatkan tanda-tanda budaya populer ini berkehendak untuk nampak seolah lebih nyata ketimbang realitas yang sebenarnya. 1995: 230). yang menyatukan dua genre yang berbeda film kartun dan film detektif manusia dalam satu film. Film-film seperti Who Framed Roger Rabbit ? (1986). dan kehilangan segala referensi realitas yang sebenarnya. kini There is no more fiction that life could possibly confront (Baudrillard. produksi dan reproduksi. impian. dalam pandangan Baudrillard. yang mengaburkan dan mencampur-baurkan batas-batas masa lalu. Tidak ada lagi fiksi yang dapat dibedakan dengan kenyataan. special effects yang dahsyat. serta mencampuradukkan arsitektur dua abad yang berbeda: abad ke-21 M dan abad ke-18 M. Film-film postmodern juga dicirikan oleh sifatnya yang mengaburkan. homoseksual). cerita petualangan. yang mengeksploitasi cerita aksi-petualangan. pornografi.karakterisasi non-human. batas-batas antara realitas dan imajinasi. narasi dan setting diskontinuitas tiga cerita berbeda yang disatukan. nilai-nilai agama. komedi. Film postmodern. . masa kini dan masa depan. gaya fashion dan iklan menjadi sumber inspirasi kreatif yang dominan (Strinati. menjadi tak lebih sebatas hiburan. film-film postmodern juga ditandai oleh keinginannya untuk mengeksploitasi tanda-tanda dan ikon-ikon budaya populer. Blue Velvet (1987). cerita fiksi-ilmiah. kekerasan. teknologi. seni. misteri pembunuhan. tragedi serta bahkan surealisme dalam satu ruang yang sama. multi-tema dan diskontinyu. kekerasan (adegan pemotongan telinga) dan kedamaian (setting kota kecil Lumberton) dalam satu cerita (Denzin. fantasi. musik pop. Melalui film postmodern. 1983: 148). Film dalam pengertian ini. Indiana Jones (1989). Kartun. yang menjumbuhkan moralitas (nilai-nilai agama dan tradisi) dan kecabulan (adegan sado-masochism. dalam pengertian ini menjadi semacam representasi dunia simulacra dan simulasi dalam terminologi Baudrillard.

silang-simulang dan campur-baur antara pelbagai citra. semuanya pada saat yang sama). 1988: 472). kekerasan dalam realitas sosial dan kesenangan dalam realitas budaya. memanipulasi dan memenuhi ruangruang imajinasi manusia dengan segala yang dapat dibayangkan. kita dibuat lupa bahwa tokoh-tokoh itu hanyalah fiktif belaka. It seems that postmodern individuals want films like Blue Velvet for in them they can have their sex. kekerasan dan keyakinan politik mereka. their myths. Selanjutnya melalui model-model estetika seni postmodern. Prinsip-prinsip pastiche. kini dipertontonkan secara terbuka (Baudrillard. Culture and Society (1988). digugat dan bahkan ditolak. Yang diimpikan kini semata-mata hanyalah terpenuhinya hasrat bereksperimentasi. yang mengisahkan romantisme percintaan. their violence and their politics. dengan demikian berarti bersiap memasuki dunia yang tak lagi punya referensi. all at the same time (Denzin. tanda dan tema sebuah dunia permainan dan imajinasi dalam batasannya yang terjauh. Kecabulan dalam realitas seksual. 2. 1988: 51). parodi. mengeksploitasi. dalam jurnal Theory. film-film postmodern tak ubahnya seperti sebuah tamasya di antara puing-puing masa lalu dan permainan pelbagai mosaik sumber seni dan imajinasi yang bisa dijangkau manusia. (Nampaklah bahwa individu-individu postmodern menginginkan film seperti Blue Velvet karena dengan film itu mereka bisa mendapatkan hasrat seks mereka. Membaca film postmodernisme. dalam salah satu kritik filmnya. Merujuk Baudrillard. Dengan tokoh-tokoh dalam film-film tersebut. Membaca Televisi . betapapun absurdnya.atau film komik-kartun Beauty and The Beast (1994). film-film postmodern semakin mendapatkan ruang penjelajahan yang lebih luas. secara jelas merujuk tanda-tanda budaya populer sebagai acuan realitas baru. Blue Velvet (1986). yang bahkan nampak lebih nyata dibanding realitas sebenarnya. Tepat seperti ungkapan Norman Denzin. carut-marut. kitsch. Film postmodern adalah ruang dimana segala prinsip realitas dan kebenaran modernisme kini dirongrong. Pada titik ini. impian-impian mereka. camp dan skizofrenia secara sadar dieksploitasi sampai pada titik yang terjauh. film-film postmodern juga mencoba menampilkan hal-hal yang sebelumnya tabu ditampilkan.

media politik tingkat tinggi sebagai formula ideologisnya. Lebih dari eraera sebelumnya. and only. seperti diungkapkan Baudrillard. dan wujud ikatan sosial. form of social cohesion. bertubrukan dengan tayangan opera . aktivitas jual-beli abstrak sebagai dasar rasionalitas pasarnya. dan segalanya dilipat dalam sebidang kotak layar kaca. simulasi. demonstrasi mahasiswa di Jakarta. manipulasi. (Televisi adalah dunia yang sebenarnya dari kebudayaan postmodern. (Televisi adalah dunia) Dalam derap gemuruh budaya massa dan budaya populer dewasa ini tak ayal televisi adalah artefak simbolis postmodernisme paling representatif dan berpengaruh. ruang dan waktu dilipat dalam satu dimensi (kekinian). hiburan dan mimpi pada saat yang sama secara seketika. serta etika dan moralitas dibaurkan dengan kecabulan dan brutalitas: sebuah dunia postmodern. realitas dikemas dan dijadikan komoditi (tontotan).Television is the world (Baudrillard. tayangan serial yang kosong sebagai pengikat yang menyatukan simulacrum para penontonnya. kampanye presiden Amerika. the spectacle as the emblematic sign of the commodity form. tontonan sebagai tanda emblematik komoditasnya. Mengutip Bryan S. the buying and selling of abstracted attention as the locus of its marketplace rationale. electronic images as its most dynamic. Televisi sekaligus menjadi ruang praksis meleburnya berbagai macam tanda. 1990: 169). dengan hiburan sebagai ideologinya. sinisme sebagai tanda budayanya yang dominan. dalam penampilannya yang paling menawan dan menggiurkan. Dunia televisi. citra-citra elektronik sebagai sifatnya yang paling dinamis. Television is the real world of postmodern culture which has entertainment as its ideology. 1987: 32). and the difussion of network of relational power as its real product (Turner. citra. cynicism as its dominant cultural sign. Perang di wilayah Teluk Persia. televisi kini mampu menghadirkan informasi. simulacra. Turner . Televisi memuat segala karakter dunia postmodernisme: reproduksi. dan penyebaran jaringan kekuasaan yang saling berhubungan sebagai produknya yang utama). menjadi sebuah dunia dimana realitas dan pelbagai hal melebur. impian dan kenyataan. elite media politics as its ideological formula. kelaparan dan bencana alam di Sudan. lifestyle advertising as popular psychology pure. bujuk-rayu (seduction) dan hiperrealitas. iklan gaya hidup sebagai psikologi populernya. empty seriality as the bond which unites the simulacrum of the audience. Dalam televisi.

Film. konser musik Madonna. tema dan identitas diri itu sendiri dirasakan dan dialami sebagai sebuah kenikmatan. kebaruan. iklan. Sifat fragmentasi dalam dunia semu televisi inilah dunia yang terpotong-potong. kemudian ke tayangan videoclip Michael Jackson. penonton seolah didaulat sebagai subjek otonom yang dapat memilih. dialami sebagai tontonan yang semata untuk dinikmati tanpa harus bersusah payah berpikir kritis. Sifat simulasi dalam media televisi telah mampu menyuntikkan makna-makna yang seolah-olah ada pada pada kehidupan nyata. namun lebih dari itu televisi telah menciptakan revolusi pemahaman tentang dunia secara radikal (Baudrillard. impian. segala sesuatu didaulat sebagai komoditi. Untuk itu. Dalam bukunya Simulations (1983) dan The Ecstasy of Communication (1987). talk show ataupun tayangan kesenian tradisional. Identitas. berita. meskipun sebenarnya hanyalah sebuah fantasi. videoclip. dengan kemampuan teknologisnya. Ruang dan waktu seolah terlipat dalam sebuah kotak kaca yang bernama televisi. kisah penemuan televisi bukanlah sekedar cerita tentang revolusi demokratisasi informasi dan hiburan.sabun Dallas. lalu kelaparan di Irian Jaya dan seterusnya. 1987: 33). memindah atau menyeleksi suguhan apa yang akan ditontonnya. tayangan olahraga. gaya hidup. Dalam ruang semu televisi. Baudrillard mengelaborasi karakter postmodern televisi dalam kerangka masyarakat konsumer yang digerakkan oleh kapitalisme lanjut. ideologi kapitalisme merasa perlu menyusun strategi pembentukan konsep citra diri semu ini secara sempurna. prestise. Dalam arus kapitalisme lanjut yang dikejar prinsip kemajuan. Bahkan. dan semuanya kini dapat dinikmati pada saat yang sama hanya dengan menekan tombol remote control. semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah komoditi. merupakan ruang yang dipilih untuk menancapkan nilai-nilai semu tersebut. Dan televisi. sekaligus menawan. sebuah realisme semu. Dari berita politik tentang Pemilu di Rusia. pendek- . ke telenovela Meksiko. telenovela. proses indoktrinasi nilai. Namun komoditi disini tidaklah semata barang dagangan. film kartun Mickey Mouse dan talk show Oprah Winfrey. Menurutnya. percepatan dan perbedaan (diferensiasi). Ia dapat memindah-memindah dan menciptakan realitas dari tayangan yang satu ke tayangan yang lain tanpa adanya referensi tunggal yang saling berkaitan. Komoditi dalam masyarakat konsumer adalah juga representasi citra diri konsumen. berpindah lagi ke film drama Inggris yang bersetting abad ke-18 M. Dalam ruang semu televisi dengan tayangan berkedok informasi dan hiburan penonton tidak lagi sadar bahwa dirinya tengah menjadi objek indoktrinasi.

tanpa memiliki jati diri yang hakiki. fetishisme gol atau fetishisme kostum. and transparence our societies have passed beyond the limit point. Dalam tayangan sepakbola. Otonomi yang dibatasi dan diatur oleh pilihan yang sudah ada (Baudrillard. berubah dan berpindah yang menjadikan para penontonnya terbuai oleh mitos tentang subjek yang otonom. penonton dengan demikian tak lebih dari sekumpulan mayoritas yang diam (Baudrillard. tetap ditunggu dan ditonton meskipun harus menunggu hingga tengah malam. ekstasi tubuh . (Dengan desakan makna. sebuah terminal pelbagai jaringan tanda-tanda. information. yang semakin menjauhkannya dari makna-makna luhur (Piliang. lebih kriminal dan lebih seksual dari yang dapat dibayangkan akal sehat telah membentuk penontonpenonton yang lebih banyak hidup dalam kepanikan massal. hal ini karena televisi samasekali tidak berpretensi menawarkan makna luhur atau transenden. and information (simulation) (Baudrillard. kepanikan uang (misal. Itulah mengapa tayangan siaran langsung sepakbola misalnya. 1983: 19). film Gigolo and The Murder). kasus mega-korupsi Bapindo). Dalam wacana televisi. sex (obscenity). masyarakat kita telah melampaui ambang batas. bahwa piliha dan otonomi penonton televisi sebenarnya tak lebih dari pilihan semu. Padahal. Penonton. 1998: 202). merebaknya pil ecstasy) (Pilliang. Massa yang panik ini menyerap segala energi sosial.pendek. Dengan bahasanya yang khas Baudrillard menyatakan . By dint of meaning. kriminalitas dan seksualitas yang bahkan lebih keras. Menurut Baudrillard. akan tetapi tak mampu lagi memantulkannya. Khalayak penonton televisi menyerap setiap tanda dan makna. tontonan televisi yang berkarakter simulasi dan hiperrealitas dengan kemampuan menyuguhkan simulacrum kekerasan. Mereka menyerap semuanya dan hanya mampu memamahnya mentah-mentah. 1987: 82). violence (terror). Lebih jauh. informasi dan transparasi. yang dicari bukanlah makna. 1998: 237). melainkan fetishisme bintang. menjuju keadaan ekstasi permanen: ekstasi sosial (massa). impian dan fantasi. dalam wacana televisi. semua ini hanyalah mistifikasi yang dijejalkan ideologi kapitalisme demi produksi dan konsumsi. citra. Kebenaran yang sesungguhnya. Itulah kepanikan seks (misal. kepanikan ekstase (misal. the body (obesity). tak lebih dari objek mengalirnya berbagai fakta. kecuali ecstasy dan kedangkalan ritual. 1987: 16). that of permanent ecstasy: the ecstasy of the social (the masses). menurut Baudrillard. akan tetapi tak mampu merefleksikannya kembali.

Sebagai anak cucu kapitalisme. spanduk sampai internet. Ruang publik dan ruang pribadi telah menyatu dalam suatu ruang baru: ruang hiperrealitas televisi (Baudrillard.(kegemukan). Citra-citra yang ditawarkan televisi telah membentuk ketidaksadaran massal. Kehadiran televisi pada gilirannya menjadi sebuah mekanisme kontrol sosial yang ampuh. yang berwajah ganda. 1998: 237). ia disebut secara positif sebagai Panduan baru. iklan hadir kapanpun dan dimanapun dan menjadi kebutuhan kita sehari-hari. kekacauan Pemilu. kekeringan. Sementara pada sisi wajahnya yang lain. lagu baru. Semuanya ditembus dan dijangkau televisi. Pada sisi wajahnya yang satu. menyentuh tubuh. Melalui televisi. 1987: 77). ekstasi kekerasan (teror). Inilah dunia hiperrealitas dalam terminologi Baudrillard. ia disebut secara negatif sebagai Tabung kebodohan yang menawarkan mimpi. Televisi lalu seolah menjelma menjadi Ratu Adil yang memberikan semacam demokratisasi informasi bagi siapapun. serta ekstasi informasi (simulasi). Dalam pengertian ini. karena massa penonton terisolasi dalam wacana yang tanpa respon (Piliang. 1988: 22). radio. bukan lagi televisi yang menjadi cermin masyarakat. Televisi memiliki satu kekuasaan untuk mengontrol dan memastikan bahwa massa penontonnya dapat diatur jadwal aktivitasnya (misal. film. melainkan sebaliknya masyarakatlah yang menjadi cermin televisi. Kini. iklan mengepung . sifat totalitas televisi telah menjadikannya sebagai suatu bentuk kekuasaan baru dalam suatu komunitas. media cetak. 3. bila ingin menonton acara sepakbola dini hari. Berita tentang perang. tayangan iklan. Akhirnya Baudrillard menyatakan bahwa dalam wacana televisi telah terjadi peleburan bahkan penghancuran ruang publik dan ruang pribadi. Membaca Iklan Iklan memainkan peran dominan dalam kehidupan kita dewasa ini. hati dan kesadaran kita. Karakter khas televisi ini tak ubahnya seperti Dewa Janus. Kini tidak ada lagi batas yang jelas antara kamar tidur dan arena drive in atau taman kota. maka tidurlah di siang harinya). billboard. bahwa telah terjadi pembentukan identitas diri melalui televisi. jendela untuk melihat dunia. bahkan tanpa perantara. bahwa mereka tidak lagi dapat bercengkerama satu sama lain seakrab dahulu. ekstasi seks (kecabulan). ataupun film kartun dari segala penjuru dunia kini langsung menyelusup ke kamar paling pribadi. sebuah dunia buatan yang justru lebih nyata dan real dibanding realitas yang sebenarnya (Baudrillard. kapanpun dan dimanapun.

iklan menggoda kita untuk mengkonsumsi. Tanpa sadar kita pun hanyut dalam sebuah dunia dengan budaya baru: budaya konsumer. video game. Semakin banyak ia mengkonsumsi. gaya hidup. Iklan bersifat nyata sekaligus semu. model rambut. Advertising as Religion: The Dialectic of Technology and Magic (1989). Iklan. fungsi yang pada awalnya dibawakan agama (Jhally. mengutip Sut Jhally dalam tulisannya. Iklan adalah juga campur aduk antara citra. Singkat kata. individu dinilai dari apa yang ia miliki. Iklan bersama televisi. membius dan memaksa kita untuk mengkonsumsi. iklan adalah representasi pelbagai karakter masyarakat simulasi. Ia merayu. Dalam masyarakat konsumer. era postmodern. cara makan. cara bicara. Pada titik inilah iklan mengambil peran sebagaimedia informasi pelbagai kebutuhan konsumsi. real sekaligus hiperreal. aksesoris. iklan kini tidak lagi berfungsi sekedar sebagai media aktivitas konsumsi. pakaian. Dengan iklan kita dihibur. simbol. Dengan iklan pula kita didorong atau dilarang untuk berbuat sesuatu.dan menguasai kesadaran kita. kartun. Dalam iklan. idiom dan kode-kode pelbagai budaya. idiom. 1983: 61). komik. bernilai dan berkualitas dari kemampuannya mengkonsumsi. tanda. harapan dan identitas diri. Dalam perspektif postmodernisme. konsumsi menjadi sebuah kosakata baru yang dominan dan mengambil alih kedudukan produksi. sebagai representasi ruang simulacra dan hiperrealitas kini telah menjadi acuan dan model citra diri. Seseorang dipandang berhasil. seperti halnya dalam kebanyakan bentuk budaya populer musik. namun bahkan lebih jauh berperan sebagai pencipta dan pembentuk realitas. menawarkan sekaligus memanipulasi. video clip. miliki lebih banyak dan nikmati lebih banyak (Ewen. iklan dan televisilah yang membentuk realitas dan bukan sebaliknya. bahkan telah menggeser peran agama dalam memberi pengertian tentang kebahagiaan dan kehormatan diri. Kita pun terpukau dengan godaan ideologi iklan yang selalu menyerbu Beli lebih banyak. gaya hidup dan struktur masyarakat (Baudrillard. bahan gurauan dan idiom-idiom populer yang dipersoalkan bukanlah makna dan kedalaman . 1989: 57). Inilah saat ketika iklan hidup dalam realitas kebudayaan baru. film. Dengan kata lain. iklan benar-benar telah menjadi legislator yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. Lebih dari masa-masa sebelumnya. simbolis sekaligus superfisial. diberi semangat. Dengan kemampuan membangun citra melalui tanda. cara berdandan. televisi. semakin tinggi kedudukannya dalam masyarakat konsumer. 1989: 225). penyampai pesan tentang produk-produk. Dalam masyarakat konsumer seperti ini. simbol dan kode produk komoditi yang bersilang-sengkarut.

Bahkan. objekobjek asli menjadi tidak lebih penting dari citra yang dibentuk atas dirinya. Nilai. Iklan kini lebih tertarik dengan teknik-teknik manipulasi pelbagai hasrat dan citarasa konsumer melalui permainan citra. seperti diuarkan Marshall McLuhann. namun juga bahkan menaturalisasikannya (Hebdige. bukan lagi produknya. kemewahan. bukanlah untuk mencapai makna atau pesan yang disampaikan pengirim pesan (addressee) kepada penerima pesan (address). kecantikan. Glamorisasi adalah proses pelepasan suatu objek dari konteksnya. tema dan klasifikasi gaya hidup konsumer . objek-objek tersebut seolah-olah disihir menjadi ide-ide otonom bagi dirinya sendiri.melainkan penampilan dan kenyamanan. seperti dikatakan Baudrillard. Di sini. Kita juga seringkali kehilangan kontrol untuk menyadari bahwa dunia iklan adalah dunia citra yang sengaja diciptakan untuk merayu dan menggoda. seringkali kita anggap sebagai bagian dari kenyataan. Melalui upaya eksplorasi wacana estetika seni postmodern kitsch. Iklan adalah dunia retorika citra (rhetoric of the image). camp dan skizofrenia proses glamorisasi menjadi semakin berkembang. 1987: 100). Inilah dunia yang dibangun di atas prinsip komunikasi bujuk-rayu (seduction). dalam istilah Barthes. pastiche. parodi. Prinsip komunikasi dalam iklan. Citra inilah sebenarnya yang dijual. 1990: 78). Iklan postmodern tidak lagi peduli dengan peran pemberi informasi tentang nilai dan kualitas produk yang ditawarkannya. Dengan glamorisasi. Prinsip yang dipercaya adalah. seperti dipaparkan Baudrillard (Baudrillard. Iklan postmodern juga memanfaatkan pelbagai citra dan tanda sebagai acuan dunia yang dibangunnya. Iklan menjadi sebuah dunia hiperrealitas. hubungan penanda-penanda iklan dengan tema-tema yang dibangunnya kesuksesan. Kita lupa bahwa citra-citra yang ditawarkan iklan hanyalah hasil rekayasa teknologi media. 1995: 232). melainkan untuk membujuk dan merayu penerima pesan (address) agar mengkonsumsi citra-citra yang berupa produk komoditi dari pengirim pesan (addresee). medium is message. kehormatan. Iklan adalan pesan itu sendiri. citra hasil proses glamorisasi ini menjadi lebih nyata dan real ketimbang objek aslinya. kemudaan telah melalui sebuah proses yang disebutnya glamorisasi. Merujuk Roland Barthes. Seorang wanita yang memerankan sosok wanita karir dalam iklan terkena proses glamorisasi keanggunan dan keaktifan dunia bisnis modern. Dalam bukunya An Introduction to Theories of Popular Culture (1995). Lebih radikal lagi. iklan postmodern tidak semata-mata merepresentasikan gaya hidup. Tayangan iklan di televisi misalnya. Dominic Strinati menyatakan bahwa penampakan dan gaya visual dalam iklan-iklan postmodern merepresentasikan konsepsi gaya hidup konsumennya (Strinati.

iklan kini tidak lagi menekankan citra kelas atau status yang kaku. Dalam kondisi seperti ini. melalui televisi. cita-cita kesuksesan. ideologi. dengan demikian adalah perpaduan yang cerdas pelbagai kepentingan: komoditi. produsen budaya citra. filsafat dan kajian kebudayaan dewasa ini. gaya hidup kini tidak lagi dapat diklaim menjadi milik eksklusif kelas tertentu dalam masyarakat seperti di waktu-waktu yang lalu. adalah produsen realitas dan sekaligus mimpi Dengan kemenangan imagology. Sementara itu di sisi lain. benar dan alamiah dalam iklan. 1998: 254). daripada karena alasan ketidakcukupan alamiah (Baudrillard. dikendalikan oleh apa yang disebutnya logika hawa nafsu (Baudrillard. iklan telah ikut mendiktekan tema-tema citrasemu: ideal-ideal kecantikan. Kehadiran iklan tak pelak merupakan perpanjangan praksis prinsip komodifikasi. ketika segala sesuatu dinilai semata sebagai objek eksploitasi. termasuk iklan. Inilah saat yang disebut Milan Kundera. gaya hidup menjadi lebih beragam. Tindakan mengkonsumsi sebuah produk. dalam bentuknya yang paling memikat dan menggoda kita untuk selalu dan selalu mengkonsumsi. Beberapa Catatan Kritis Tidak bisa dipungkiri. Melalui iklan. misalnya. Istilah ini menggambarkan sebuah mekanisme ketidakcukupan yang diproduksi seseorang dalam dirinya sendiri. Seseorang kini dapat dengan mudah masuk dalam pelbagai kategori gaya hidup tanpa harus menjadi anggota kelas sosial tertentu.yang diciptakan tanpa acuan dalam realitas. menjadi seolah nyata. hasrat untuk selalu mengkonsumsi tanda yang ditawarkan iklan ini. Terdapat perbedaan antara cara iklan masa kini merepresentasikan gaya hidup dibandingkan yang sebelumnya. plural dan yang terpenting lebih mengambang bebas. 1987: 51). norma-norma keindahan tubuh. yang selalu ingin mendapatkan lebih dan merasakan lebih. lebih sering karena dorongan perasaan ketidakcukupan yang kita produksi sendiri. Artinya. 1987: 51). menurut Baudrillard. dikonstruksi keinginan yang tak bisa dipenuhi: sebuah dunia mimpi yang dalam dirinya sebenarnya hanyalah khayalan. Iklan postmodern. citracitra. masa depan yang cerah. sebagai era kemenangan imagology. radio maupun surat kabar. keluarga bahagia. Baudrillard adalah salah seorang pemikir postmodern paling penting dalam wilayah sosiologi. menurut Baudrillard. Pemikiran- . Dalam era ini. Di masa kini. melainkan citra-citra netral yang mudah untuk diimitasi setiap orang (Piliang. seni.

Merebaknya budaya massa dan budaya populer. realitas kini tak lebih adalah hiperrealitas dan Amerika adalah agen postmodernisme. Dunia postmodern. sebagaimana halnya pemikiran yang dilontarkan kepada publik Baudrillard pun mendapat banyak pujian sekaligus kritikan. menjamurnya pusat-pusat kebugaran dan kursus kecantikan yang mengedepankan penampilan. titik ekstrem. Dengan pemikiran-pemikirannya yang segar dan orisinal tersebut. kebudayaan. Barthes. papar Baudrillard. Di satu sisi. yang tak nampak namun stabil dan utuh. seni. namun sangat tidak stabil (Baudrillard. tak pelak Baudrillard adalah pemikir tentang kebudayaan postmodern . dalam karyanya Symbolic Exchange and Death (1993). dimana teori-teori berlalu-lalang dalam ruang hampa. adalah dunia tanpa makna. iklan. dimana segala sesuatu nampak jelas. dan opera sabun. Ia menarik pemikiran-pemikiran para pendahulunya sampai pada titik yang terjauh. simulasi perang dan televisi serta dunia hiperrealitas Disneyland dan Universal Studio adalah beberapa contoh kebenaran analisa Baudrillard. simulasi adalah mekanisme kebudayaan dominan dewasa ini. Modernisme. adalah deretan tema-tema yang menjadi objek kajian kritis Baudrillard. lahirnya dunia simulasi video game. Baudrillard banyak mendapat pujian karena ketajaman dan kecemerlangan analisisnya terhadap realitas kebudayaan dewasa ini. Debord. eksplisit dan transparan. sebuah dimensi yang tersembunyi. Secara tajam. sebagaimana pemutusan era modern dari era pramodern. dan kemudian menggunakannya sebagai kacamata untuk membaca realitas kebudayaan kontemporer dewasa ini. McLuhan sampai Derrida Baudrillard akhirnya menyempal dan membangun keyakinan teoritis baru yang radikal dan orisinal. Simmel. yang mengimplikasikan kedalaman. Sementara dalam era postmodern. era modern ditandai dengan diterimanya makna. Mauss. Secara semiotik menurut Baudrillard. makna tidak lagi ada. Pendapatnya bahwa nilai-tanda dan nilai-simbol kini telah mengalahkan nilaiguna dan nilai-tukar. konsumsi. 1993: 38). Baudrillard dianggap berhasil menggambarkan perubahan karakter kebudayaan dari modernisme ke postmodernisme. Saussure. Beranjak dari pemikiran-pemikiran para pendahulunya mulai dari Marx. politik. sejarah dan tentu saja postmodernisme. Dengan pemikirannya yang orisinal dan radikal ini. Dengan gayanya yang khas.pemikiran Baudrillard tentang sisi-sisi utama karakter kebudayaan postmodern telah membuka cakrawala baru bagi pemahaman realitas kebudayaan kontemporer dewasa ini. tanpa ada titik sauh apa pun. dengan simbol-simbol shopping mall. feminisme. Baudrillard menyatakan telah terjadinya pemutusan mendasar era postmodern dari era modern. seakan mendapatkan kebenarannya pada pelbagai fenomena sosial budaya dewasa ini.

reversible. Dimana terdapat sedikit unsur teori sains-fiksi di dalamnya). its a way of raising things to their N power. Theres a little theoretical science fiction in it (Gane. . Baudrillard menyatakan bahwa teori-fiksi yang dibangunnya bukanlah sebuah teori estetika. Dan menurut Steven Best. Saya tidak tahu apa yang dimaksud orang dengan istilah itu. Melainkan lebih bersifat provokasi. Its a bit like a theory-fiction. Karena cara saya merefleksikan segala sesuatu tidaklah bersifat dialektis. atau pun sosiologi . Mengenai posisinya ini Baudrillard sendiri menyatakan. dengan bahasanya yang lugas cuma mengatakan. Tapi yang pasti saya juga bukan lagi bagian era modern. Sementara Marshal Berman menggambarkannya sebagai "Pembela postmodern paling gigih dan sekaligus sosok yang banyak dipuja dalam dunia seni dan akademik di universitas-universitas Amerika saat ini". menyebut Baudrillard sebagai "Pemikir postmodern paling awal". pemutarbalikan. But Im no longer part of modernity. "I have nothing to do with postmodernism !" (Saya tidak ada urusan dengan postmodernisme!) (Gane. 1993: 82). rather than a way of dialectizing them. not in the sense where modernity implies a kind of critical distance of judgement and argumentation. Baudrillard sendiri dalam salah satu wawancaranya. Its a way of following through the extremes to see what happens. Ini adalah suatu cara dengan mengikuti sampai ke titik ekstrem untuk melihat apa yang terjadi. namun modernitas dalam pengertian dialektis: positif dan negatif.yang terpenting saat ini. I dont know what one means by that. yang secara sadar bermaksud menyerang watak ortodoks era modern. (Ini bukan postmodern. Rather its provocative. Arthur Kroker misalnya. filsafat. a kind of dialectic in modernity. ketimbang menghadapkannya sebagai dialektika positif dan negatif. suatu cara membawa segala sesuatu sampai pada tingkat kekuatan "N" mereka. My way of reflecting on things is not dialectic. tidak dalam pengertian dimana modernitas dipandang sebagai suatu bentuk argumentasi dan penilaian kritis. "Ia kini telah mencapai status guru dalam perbincangan postmodernisme dewasa ini" (Kellner. Ini sedikit mirip dengan teori-fiksi. 1994: 227). Its not postmodern. 1990: 331). Ia sekedar menyatakan dirinya sebagai "teroris intelektual". There is a sense of positive and negative.

dengan sifat melankolis sebagai karakter dasarnya . atau filsafat. maka saya adalah seorang nihilis). Perhaps this corresponds to a certain kind of floating instability with more in common with the contemporary imagination than with any real philosophy. tanpa harapan akan masa depan yang lebih baik. yang pertama kali ditulis sebagai bahan kuliah. its not a philosophy. Nihilisme Baudrillard adalah fatalisme. makasaya adalah seorang nihilis. (Tidak terlalu tepat bila disebut estetika. tanpa keriangan. Baudrillard menegaskan sikap fatalis dan nihilisnya . Dalam esainya. Melancholy is the fundamental tonality of functional systems. Its not a question of ideas there are already too many ideas (Gane. On Nihilism (1981). pada gilirannya. then I am a nihilist.Its not really an aesthetic. 1984: 39). adalah sebuah pilihan sadar yang diambil Baudrillard. Jika menjadi nihilis berarti menjadi orang yang terobsesi dengan caracara pelenyapan dan tidak lagi dengan cara-cara produksi. Melancholy isthe quality inherent in the mode . Ini adalah teori yang sedikit-sedikit berubah. If being nihilist is to privilege this point of inertia and the analysis of this irreversibility of systems to the point of no return. Penjelasan ini secara konsekuen dibawa Baudrillard dalam setiap karya-karyanya. The form of my language is almost more important than what I have to say it. tanpa optimisme. of the present systems of simulation. its not a sociology. Nihilisme Baudrillard adalah nihilisme tanpa gairah. Bentuk pengucapan saya lebih penting ketimbang apa yang saya ungkapkan. If being nihilist is to be obsessed with the mode of disappearance. Mungkin ini ada hubungannya dengan semacam ketidakstabilan mengambang dalam pengertian imajinasi kontemporer. then I am a nihilist (Baudrillard. Karakter fatalis dan nihilis. 1993: 166). bukan dalam pengertian filsafat yang sesungguhnya. its a little volatile. Sudah terlampau banyak gagasan-gagasan yang ada). programming and information. (Jika menjadi nihilis berarti menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap sikap ketakberdayaan dan analisa sistem yang tak ada jalan kembalinya. Dan ini bukan berupa gagasan-gagasan. atau mungkin sosiologi. and no longer with the mode of production.

membingungkan. dan cara-cara penguapan makna dalam suatu sistem operasional). nilai-tanda dan nilaisimbol adalah satu-satunya realitas. anti-sistem. Pernyataannya bahwa segala sesuatu tak lebih sebagai simulasi dan simulacra. sistem simulasi. 1984: 39). massa kini telah lenyap dan manusia adalah sekedar terminal hilir-mudiknya tanda-tanda menurut Gane sama sekali tidak berdasar. Dying is nothing. metaforistik. by any means whatever. Dengan suara senada. retoris dan ganjil (whimsical). . Living is everything. Lebih parah. The ultimate end is to live beyond achievement. Robert Hughes seorang kritikus seni majalah Time dengan berapiapi menggugat sosok Baudrillard sebagai sekedar pencari-sensasi murahan. Gaya tulisannya aneh sekaligus memusingkan mereka yang terbiasa dengan teks-teks modern deklaratif. by any means whatever (Baudrillard. All you have to know is how to appear. misalnya. 1993: ix). Amerika adalah utopia. bombastik. All you have to know is how to disappear. hiperbolik.of disappearance of meaning. Sementara itu. 1993: xi). Mike Gane misalnya. 1990: 34). Sambil mengakui Baudrillard sebagai pemikir yang tajam dan cerdas. (Melankoli adalah nada dasar sistem fungsi ini. Melankoli adalah kualitas inheren yang ada dalam mekanisme cara-cara pelenyapan makna-makna. menyatakan bahwa banyak pemikiran Baudrillard yang menggelikan dan konyol (Rojek. demikian pula halnya dengan Perang Vietnam. salah seorang komentatornya yang paling tajam. aforistik. SkandalWatergate dan kerusuhan Los Angeles kecuali semata-mata sebagai bukti berlangsungnya mekanisme simulasi melalui rekayasa media massa menurut Gane adalah klaim Baudrillard yang paling konyol sekaligus menggelikan. repetitif. yang memikat namun dibutakan oleh gelombang deras budaya massa (Rojek. pernyataannya bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi. anti-struktur dan penuh dengan kta-kata tak jamak. di sisi lain. Baudrillard tak kurang juga mendapat kritikan-kritikan tajam dari para komentatornya. Gane menyatakan bahwa banyak argumentasi Baudrillard yang tak berdasar. in the mode of volatilization of meaning in operational systems (Baudrillard. terdapat penyataan puitis sebagai berikut . sehingga nampak tak lebih sebagai sensasi murahan. puitik. Dalam Cool Memories (1990). pemrograman dan informasi. The ultimate achievement is to live beyond the end.

dengan sendirinya. 1993: xi). hampir sama dengan Gane dan Hughes Poster memandang gaya menulis Baudrillard yang aneh dan ganjil seringkali tidak dibarengi dengan argumentasi yang sistematik dan logis. membiarkan pernyataan-pernyataannya serba mengambang dan terpenggal-penggal.pengalaman khusus. serta lebih mengutamakan spekulasi. dengan cara apa saja). Pertama. terutama istilah kode. Kelemahan ini. Televisi. bahkan sampai perang itu sendiri usai. Yang perlu kau tahu adalah bagaimana cara untuk terlihat. Argumentasi kalaupun ada yang mendasari pemikirannya pun dipenuhi kelemahan. Keempat. misalnya Chris Rojek. hiperrealitas dan konsumsi. Suara kritis lain yang lebih sistematis dikemukakan oleh Mark Poster. Itulah mengapa tidak sedikit komentatornya. namun tak masuk akal. Baudrillard menafikan kenyataan bahwa terdapat keuntungankeuntungan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam salah satu tulisannya yang mencoba membandingkan pemikiran Baudrillard dan Habermas. Akhir yang tertinggi adalah untuk hidup dibalik segala pencapaian. media massa dan . Pencapaian tertinggi adalah untuk hidup setelah akhir segalanya. Ia menulis tentang pengalaman. Poster mencatat setidaknya terdapat lima kelemahan pemikiran Baudrillard (Kellner. Yang perlu kau tahu adalah bagaimana cara untuk menghilang. Kali yang lain. Kedua. Ketiga. ia menyamakan istilah kode dengan tanda dan citra sebagai istilah-istilah khusus semiotika. Karya-karyanya menjadi tak lebih sebagai cerita fiksi kehidupan yang bersemangat dan penuh warna. Baudrillard terkesan hendak mentotalisasikan ideide pemikirannya. dunia simulasi. Hal ini mengakibatkan kekaburan pemahaman akan gagasan-gagasan orisinal yang dikemukakannya. sepertiseolah-olah tidak ada hal yang lain dalam realitas sosial dewasa ini. Baudrillard sama sekali menolak struktur dan sistem. Juga pendapatnya bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi meskipun kenyataan membuktikan perang itu sungguh-sungguh terjadi tetap dipertahankannya. 1994: 83). menjadikan pemikiran-pemikiran Baudrillard kehilangan dasar argumentasi yang rasional. Kadangkala ia menggunakan istilah kodemodel dan binari-digital dalam pengertian yang sama secara bergantian tanpa pernah merumuskan pengertian yang sesungguhnya. dengan cara apa saja. Hidup adalah segalanya. yang menyatakan karya-karya Baudrillard sebagai fiksi-sains dan bukan teks sosiologi atau filsafat (Rojek. Baudrillard dianggap tidak mampu menjelaskan pengertian istilah-istilah kunci yang ada dalam karya-karyanya. dan menolak untuk mengubah atau membatasi pemikirannya.(Kematian bukanlah apa-apa. seperti dunia televisi.

Jentera Wacana Publika. Kelima. Genealogi dan Dekonstruksi. Menyangkal Totalitas dan Fungsionalisme.1994. Baudrillard lebih banyak salah ketimbang benar. 1992. pada gilirannya membawa Baudrillard jatuh ke dalam jurang pesimisme-ekstrim. mengutip Rojek. Oleh Medhy Aginta Hidayat Daftar Pustaka Ahmad Sahal. filsafat dan kajian kebudayaan. S. New York. Jakarta. Postmodernisme: Yang Mana ? Tentang Kritik dan Kebingungan dalam Debat Postmodernisme di Indonesia. Routledge. dari banyak kelemahan tersebut. Postmodernism and Islam. Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1. 1995. menyampaikan berita peristiwa-peristiwa aktual yang tengah terjadi dan lebih membuka pemahaman akan sifat pluralisme dan humanisme kebudayaan dewasa ini. Ahmed. Postmodernisme Dalam Arsitektur dan Desain Kota. . HAM dan lingkungan. Tommy. Demikian pula halnya dengan pendekatannya yang orisinal dan kritis. 1994. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dibuatnya. sikap fatalis dan nihilis yang secara sadar dipilihnya. Pendapatnya bahwa tak ada lagi jalan kembali. 1994. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1. Ariel Heryanto. Jakarta. Yogyakarta. Awuy. Andy Siswanto. Jakarta.internet dalam tampilannya yang positif juga memberikan manfaat seperti misalnya mempercepat penyebaran informasi tentang pendidikan. serta nilai-nilai transendental. Singkat kata. Ia tidak mampu melihat moralitas dan agama sebagai sumber acuan nilai dan prinsip kehidupan. Kemudian Dimanakah Emansipasi ? Tentang Teori Kritis. Akbar. pemikiran-pemikiran Baudrillard tetap sangat berguna bagi pemahaman realitas kebudayaan dewasa ini. yang dapat menjadi pilihan alternatif bagi proses pembacaan realitas kebudayaan dewasa ini yang tengah berubah cepat. tak ada lagi kebenaran. Namun bukan berarti Baudrillard tidak memberikan arti apapun dalam pengembangan tubuh-pengetahuan (body of knowledge) ilmu sosiologi. menjadikan pemikiran-pemikiran Baudrillard jauh dari nilai-nilai moral dan agama.. F. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1. kesucian.. bahwa hidup haruslah dijalani begitu saja dengan sikap acuh tak acuh.

Gane. Blue Velvet: Postmodern Contradictions. 1979. On Nihilism. Kanisius. Routledge. Gablik. 1988. The Anti-Aesthetic. Routledge. The Condition of Postmodernity. 1994. David. 1989. Yogyakarta. 1989. London. --------------------. Culture and Society Vol. dalamTheory. dalam Angus. Ian and Jhally Sut. Tantangan Bagi Filsafat. Semiotext(e). New York. 1995. A. Symbolic Exchange and Death. Culture and Society Vol. Routledge. Advertising and The Development of Consumer Society. . dalam Jurnal On The Beach 6. 1988. Postmodernisme. Cool Memories. Essay on Postmodern Culture. Dick. Metodologi Penelitian Filsafat. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Sari Sejarah Filsafat Barat II. America. --------------------. 1990. Cultural Politics in Contemporary America. 1983. Hans. Hal. Methuen. New York. Mike. Ewen. K. Bertens. Suzi. Yogyakarta. 1987. --------------------. 1990. New York. Bandung. dalam Jurnal Art in America. Featherstone. In Pursuit of The Postmodern: An Introduction. Semiotext(e). Anton dan Zubair. Mizan. Postmodernism: A Preface. 1984. Ibrahim. Sage. ----------------------.Bakker. Sub-culture: The Meaning of Style. Harvey. London. Bambang Sugiharto. Charris. 1988. Ecstasy Gaya Hidup. 1993. Idi. Yogyakarta. --------------------. Washington. --------------------. Jean.(ed). 1996. Norman. Foster. (ed). 5. Seduction. 5. 1990. dalam Foster. Oxford. Macmillan. dalam Idi Subandi Ibrahim. Denzin. dalam Theory. New York. Kanisius. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. I. Yogyakarta. New York. Simulations. London. London. The Idea of The Postmodern: A History. Routledge. Blackwell. Kanisius. New York. London. Kanisius. Subandi. Stuart. The Ecstasy of Communication. Baudrillard Live: Selected Interviews. 1989. New York. Hebdige. Verso. Baudrillard. Bay Press. 1983.London. Dancing with Baudrillard. 1997. 1990. Harun Hadiwijono. London. Mike. --------------------. (ed). Sage. Hal. 1993. Sage.

Sociology of Postmodernism. Modernity. Juliet Flower. London. Cultural Politics in Contemporary America. dalam Rojek. 1992. New York. (ed). Barry. Bryan. Bryan. Madan. 1998. S. Sut. Understanding Popular Music. Cambridge. Routledge. Bandung. Dean and MacCannell. Dwight. Mark. Routledge.(ed). 1990. Jakarta. Rojek. dalam Rojek. Fifty Key Contemporary Thinkers. Sage. Free Press. 1957. Scott. Blackwell.. (ed). Culture and Society Vol. Routledge. Dennis. Bryan.. Douglas. Inroads and Intrusion. 1994. dalam Turner. A Theory of Mass Culture. S. Forget Foucault. (ed). Ben and White. Nostalgia. ---------------. Social Class in Postmodernity: Simulacrum or Return of The Real ?.. 1990. Postmodernity and The Present. Chris and Turner. An Introduction Guide to Post-Structuralism and Postmodernism. Critical Theory and Technoculture: Habermas and Baudrillard. London. Dominic. Baudrillard Reader. Julia. MacCannell. Strinati. Sut. Routledge. 1993. London. Piliang. London. Princeton. Chris and Turner.. Theories of Modernity and Postmodernity. 1994. dalam Majalah Horison. London. Amir. I. Bryan.. MacDonald. 1994. 1989. London. An Introduction to Theories of Popular Culture. Chris and Turner. (ed). S. London. Kellner. Princeton University Press. S. dalam Theory. London. Shuker. The University of Georgia Press. dalam Rosenberg. Georg and Turner. Advertising as Religion: The Dialectic of Technology and Magic. 1995. Poster. 5. Yasraf. Ian and Jhally. (ed). Pascamodernisme dan Feminisme: Les Liaisons Dangereuses. Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme. Sarup. Forget Baudrillard. Mizan. From Structuralism to Postmodernism. Baudrillard Reader. . Forget Foucault. Stauth. Routledge. 1993. Smart. Bryan. London. dalam Kellner. 1988. Europe/America: Baudrillards Fatal Comparison. 1989. Rosenau. Athens. Routledge.. Postmodernism and TheCritique of Mass Culture. Routledge. 1993. Douglas. Lechte. S. Glencoe. (ed). dalam Angus. 1994. 1994. Suryakusuma.. Lash. Roy.Sage. Routledge. Blackwell. Pauline M. Cambridge. Mass Culture. Nomor 2.Jhally. Postmodernism and Social Sciences: Insight. John.

London. (ed). 1990. Sage. Bryan.. dalam Rojek.. dalam Kellner. 2012 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: Pengetahuan                                 Dalam Ruang Pribadi Penonton: Romantisme dan Ekono. S. TEORI KRITIS Awards From Oto Website REVOLUSI KUBA BONAPARTISME KAUM PROLETAR REVOLUSI CINA PERAN PARTAI-PARTAI KOMUNIS REVOLUSI PERMANEN PERAN KELAS PEKERJA .. (ed). DOSA ORBA TERHADAP PELAJAR Putri Duyung Itu Tidak Ada. Cruising America.. (ed). Modernism and Postmodernism. Mimpi Basah Setelah Sahur The Dark Knight Rises Aquran Terjemahan Bahasa Madura Aplikasi Android Untuk Ramadhan Ini Robot itu Bisa Digerakkan dengan Pikiran Tes Phsikologi Dengan Warna Cara Halaman Facebook Mengungkap Kepribadian Anda TEKNIK PEMBENIHAN NILA GIFT SECARA MASSAL DAN PE.. Cambridge.. 1994.. Periodization and Politic in The Postmodern. Nicholas... Chris and Turner.. Blackwell.. Free Download Cyberlink YouCam 5 Deluxe KEBUDAYAAN POSTMODERN MENURUT JEAN BAUDRILLARD KEMANDIRIAN DESA DI INDONESIA Free Download Real Player 15 Mantan Agen CIA Ungkap Rahasia UFO STRATEGI PEMASARAN KERAPU SUNU TEKNIK PENDEDERAN TIRAM MUTIARA (Pinctada Maxima) KEHIDUPAN DI DUNIA INI Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gela. Diposkan oleh Nurdin Rahman Pada Senin. S. Zurbrugg. 1993. Bryan.. --------------------. Theories of Modernity and Postmodernity. S. Forget Foucault.. dalam Turner. Menurut Siapa? Website Pinrang Fisikawan Indonesia Terlibat Dalam Penemuan Partik. Juli 16. Baudrillard Reader. Bryan. Routledge. Douglas.Turner. Baudrillard. Patung Kuno Singa yang Membuat Ilmuwan Heran Mumi 'Perawan' Inca Menderita Infeksi Paru Sebelum. London.

Ucapan Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1433 ...    BEBAN HUTANG Marxisme dan Perjuangan Melawan Imperialisme Jadwal Imsyakiah 1433 H Seluruh Daerah di Indonesi.. ..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->