BAB 1 PENDAHULUAN

Anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan kelompok yang rentan terhadap kesehatan dan gizi. Kurang Energi Protein (KEP) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita di Indonesia. Dalam Repelita VI, pemerintah dan masyarakat berupaya menurunkan prevalensi KEP dari 40% menjadi 30%. Namun saat ini di Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang berdampak juga pada status gizi balita, dan diasumsi kecenderungan kasus KEP berat/gizi buruk akan bertambah.

Selain di Indonesia, kasus gizi buruk atau penyakit yag disebabkan oleh malnutrisi sering terjadi di negara berkembang, dimana angka kemiskinan masih tinggi. Gizi buruk marak terjadi di daerah di Afrika dimana terjadinya masa kekeringan yang berkepanjangan, sehingga rakyat sulit mendapatkan makanan.

Penyakit gizi buruk merupakan jenis penyakit non infeksi yang disebabkan oleh kekurangan satu zat gizi atau lebih secara makro. Kwashiorkor, marasmus dan marasmic kwashiorkor ialah penyakit-penyakit gizi buruk yang biasanya terjadi pada waktu yang lama. Anak balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan sampai usia minimal 2 tahun (baduta). Apabila pertambahan berat badan sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu standar organisasi kesehatan dunia, dia bergizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006).

Untuk

mengantisipasi

masalah

tersebut

diperlukan

kesiapan

dan

pemberdayaan tenaga kesehatan dalam mencegah dan menanggulangi KEP berat/gizi buruk secara terpadu ditiap jenjang administrasi, termasuk kesiapan sarana pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit Umum, Puskesmas perawatan, puskesmas, balai pengobatan (BP), puskesmas pembantu, dan posyandu/PPG (Pusat Pemulihan Gizi).

1

Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. Tanpa

mengukur/melihat BB bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/Gizi buruk tipe kwasiorkor.

Untuk kepentingan praktis di klinik maupun di lapangan klasifikasi Malnutrisi Energi Protein (MEP) ditetapkan dengan patokan perbandingan berat badan terhadap umur anak sebagai berikut:

1) Berat badan 60-80% standar tanpa edema : gizi kurang (MEP ringan) 2) Berat badan 60-80% standar dengan edema : kwashiorkor (MEP berat) 3) Berat badan <60% standar tanpa edema : marasmus (MEP berat) 4) Berat badan <60% standar dengan edema : marasmik kwashiorkor (MEP berat) (Ngastiyah, 1997)

Kwashiorkor adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah karena tidak mampu menyediakan makanan yang cukup mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu dan sebagainya. Makanan sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati dalam kacang-kacangan tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat menderita defisiensi protein. Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.

2

Penemuan kasus balita KEP dapat dimulai dari : 1. Posyandu/Pusat Pemulihan Gizi Pada penimbangan bulanan di posyandu dapat diketahui apakah anak balita berada pada daerah pita warna hijau, kuning, atau dibawah garis merah (BGM). Bila hasil penimbangan BB balita dibandingkan dengan umur di KMS terletak pada pita kuning, dapat dilakukan perawatan di rumah , tetapi bila anak dikategorikan dalam KEP sedang-berat/BGM, harus segera dirujuk ke Puskesmas.

2. Puskesmas Apabila ditemukan BB anak pada KMS berada di bawah garis merah (BGM) segera lakukan penimbangan ulang dan kaji secara teliti. Bila KEP Berat/Gizi buruk (BB < 60% Standard WHO-NCHS) lakukan pemeriksaan klinis dan bila tanpa penyakit penyerta dapat dilakukan rawat inap di puskesmas. Bila KEP berat/Gizi buruk dengan penyakit penyerta harus dirujuk ke rumah sakit umum.

3

BAB 2 PEMBAHASAN
Seperti yang telah diutarakan pada pendahuluan, Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau kwashiorkor (Dorland, 2000)

2.1.

MARASMUS

Berikut ialah definisi Marasmus menurut para ahli,  Marasmus adalah MEP berat yang

disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila

kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status

marasmik kwashiorkor.( Mochtar, 2001).  Marasmus adalah suatu penyakit yang

disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).  Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim

marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori.

http://teguhsubianto.blogspot.com

4

- Iga gambang dan perut cekung - Otot paha mengendor (baggy pant) - Ubun-ubun cekung pada bayi Wajahnya tampak menua (old man/monkey face). 5 . Ciri-Ciri - : Bayi cengeng dan sering merasa lapar.

berat badan dibanding usianya sampai kurang 60% standar berat normal. disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus.- Atrofi jaringan. Abdomen dapat kembung dan datar. otot lemah terasa kendor/lembek ini dapat dilihat pada paha dan pantat bayi yang seharusnya kuat dan kenyal dan tebal. Pada marasmus tingkat berat. Suhu biasanya normal. tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan. kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Warna rambut tidak berubah. 6 . dengan buang air besar sering.dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi. tinja berisi mucus dan sedikit. Biasanya terjadi konstipasi. menghalangi utuh namun homeostatis. nadi mungkin melambat. Sedikitnya jaringan adipose pada marasmus oksidasi cadangan berat tidak tetap tubuh. menghabiskan lemak lemak Keberadaan persediaan lemak dalam tubuh adalah faktor yang menentukan apakah bayi marasmus dapat bertahan/survive Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan. terjadi retardasi pertumbuhan. - Oedema (bengkak) tidak terjadi.

Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas. Atasi/cegah hipotermia (suhu tubuh rendah) Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360 C. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Jika anak mengalami gangguan kesadaran. berikan infus cairan glukosa dan segera rujuk ke RSU kabupaten. anak terlihat lemah. Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali. 2. Pada keadaan ini anak harus dihangatkan. 7 . Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok. KOMPLIKASI  Defisiensi Vitamin A  Dermatosis  Kecacingan  diare kronis  tuberculosis  PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah penting yaitu: 1. Jika suhu anak sudah normal dan stabil. Pada hipoglikemia. Tidak dibenarkan penghangatan anak dengan menggunakan botol berisi air panas. dan meletakkan lampu didekatnya. Jika anak sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali. suhu tubuh rendah. Atasi/cegah hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah) Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan KEP berat/Gizi buruk. tetap dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali pada keadaan hipothermia. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh anak. Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah :  Jika anak masih menyusui. teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali tanpa berhenti. Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg) Ketidak seimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan. lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok. walaupun kadar Na plasma rendah. Jika anak tidak dapat minum.3. untuk pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu. Jika anak masih dapat minum. Berikan : 8 . Cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya :   Kelebihan natrium (Na) tubuh. lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan perbandingan 1:1. 4. Atasi/cegah dehidrasi Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan dehidrasi adalah :  Ada riwayat diare sebelumnya  Anak sangat kehausan  Mata cekung  Nadi lemah  Tangan dan kaki teraba dingin  Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.  Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk dapat menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali.

Sumber Magnesium : kacang-kacangan. hati. kacang tanah. tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti demam seringkali tidak tampak. alpukat. bayam. telur ayam : daging.Makanan tanpa diberi garam/rendah garam. oleh karena itu pada semua KEP berat/Gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas dengan dosis sebagai berikut : 9 . . : beras.. berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral ( Zn. makanan laut. kacang2an.Untuk rehidrasi. apel. Sumber Kalium : jus tomat. 5. Obati/cegah infeksi Pada KEP berat/Gizi buruk. Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak. Contoh bahan makanan sumber mineral : Sumber Zink Sumber Cuprum Sumber Mangan : daging sapi. daging tanpa lemak. bayam. pisang. Cuprum. Magnesium. hati. kacang tanah. Mangan. kedelai.

5 ml 5 ml 10 ml Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah mencapai 9 bulan Catatan :  Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit infeksi.KOTRIMOKSASOL (Trimetoprim + Sulfametoksazol)  Beri 2 kali sehari selama 5 hari UMUR ATAU BERAT BADAN Tablet dewasa 80 mg trimeto prim + 400 mg sulfametok sazol 2 sampai 4 bulan (4 . akan tetapi akan berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati.5 ml ¼ ½ 1 2 2.5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari.< 19 Kg) 1 3 7.5 ml 5 ml Tablet Anak 20 mg trimeto prim + 100 mg sulfametok sazol Sirup/5ml 40 mg trimeto prim + 200 mg sulfametok sazol AMOKSISILI N  Beri 3 kali sehari untuk 5 hari Sirup 125 mg per 5 ml 2. Berikan metronidasol 7. Fase Transisi.< 10 Kg) 12 bln s/d 5 thn (10 .< 6 kg) 4 sampai 12 bulan (6 . Fase Rehabilitasi 10 . Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum. Mulai pemberian makanan Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase. Bila diare berlanjut segera rujuk ke rumah sakit 6. yaitu : Fase Stabilisasi. maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi lebih parah.  Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk.

Energi : 100 kkal/kg/hari .Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ atau pengganti dan jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak. Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco ½ yang dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut : . maka tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)  Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dalam sehari.Fase Stabilisasi ( 1-2 hari) : Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati. Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja. sering.Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari) . Keterangan :  Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema. karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.Protein : 1-1. bila anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet . dianjurkan memberi Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dengan menggunakan cangkir/gelas.Porsi kecil.Bila anak mendapat ASI teruskan .5 gr/kg bb/hari . maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik ( dibutuhkan ketrampilan petugas )  Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari  Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam  Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1) 11 . rendah serat dan rendah laktosa .

frekwensi nafas 2. biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari).  Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0. ulangi menaikkan volume seperti di atas.Pantau dan catat : Jumlah yang diberikan dan sisanya . Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama.Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja . mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik 7. sampai hanya sedikit formula tersisa. 3. kurangi volume pemberian formula. Pemantauan pada fase transisi: 1. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan 12 . Setelah normal kembali.9-1. Fasilitasi tumbuh-kejar (“catch up growth”) Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi : Fase Transisi (minggu ke 2) :  Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk menghindari risiko gagal jantung. frekwensi denyut nadi Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan.Selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema .  Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali.Berat badan (harian) .0 g per 100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2. yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.Banyaknya muntah .9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam.

Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi : Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidak terbatas dan sering Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari Protein 4-6 g/kgbb/hari Bila anak masih mendapat ASI. teruskan. 13 . anak diberi: Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari Protein 4-6 gram/kg bb/hari Bila anak masih mendapat ASI. Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga Pemantauan fase rehabilitasi : Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan : Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan. ditambah dengan makanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. teruskan ASI. tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1. Setiap minggu kenaikan bb dihitung.Setelah fase transisi dilampaui. Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu. perlu re-evaluasi menyeluruh.   Baik bila kenaikan bb  50 g/Kg bb/minggu. karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

5 ml (1/2 sendok teh) TABLET BESI/FOLAT Sulfas ferosus 200 mg + 0. Koreksi defisiensi nutrien mikro Semua pasien KEP berat/Gizi buruk. Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada minggu ke 2).< 10 Kg) 12 bulan sampai 5 tahun ½ tablet 5 ml (1 sendok teh) 2. jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe).TAHAPAN PEMBERIAN DIET FASE STABILISASI FASE TRANSISI : : FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI FORMULA WHO 75  FORMULA WHO 100 ATAU PENGGANTI FASE REHABILITASI : FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)  MAKANAN KELUARGA 8. Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya. Walaupun anemia biasa terjadi.25 mg Asam Folat SIRUP BESI Sulfas ferosus 150 ml  Berikan 3 kali sehari 14 . Berikan setiap hari :  Tambahan multivitamin lain  Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau sirup besi dengan dosis sebagai berikut : Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi : UMUR DAN BERAT BADAN  Berikan 3 kali sehari 6 sampai 12 bulan ¼ tablet (7 . mengalami kurang vitamin dan mineral.

Ciptakan lingkungan yang menyenangkan . Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis tunggal sebagai berikut : PIRANTEL PAMOAT (125mg/tablet) (DOSIS TUNGGAL) 4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg) 9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg) 1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg) 3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg) ½ tablet ¾ tablet 1 tablet 1 ½ tablet UMUR ATAU BERAT BADAN  Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis Kapsul Vitamin A Umur 200. bermain dsb) 15 .000 IU 6 bln sampai 12 bln 12 bln sampai 5 Thn 1 kapsul 100.Kasih sayang .Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku.Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh . memandikan.Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 – 30 menit/hari .000 IU 1 kapsul Kapsul Vitamin A Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul Vitamin A 9. karenanya berikan : .

. Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor. Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi. fase transisi. Nasehatkan kepada orang tua untuk : . Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.Melakukan kunjungan ulang setiap minggu.Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal .10. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran 5) dan berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di posyandu/puskesmas. dan aktifitas bermain. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa. periksa secara teratur di Puskesmas .Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan seperti pada lampiran 5.pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang padat .000 SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus. 16 . Tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor.penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu . dan fase rehabilitasi.000 SI atau 100.Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMTPemulihan selama 90 hari.

Bagan dan Jadwal Pengobatan : No FASE STABILISASI Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 1 2 3 4 5 6 Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi MulaiPemberian makanan 7 Tumbuh kejar (Meningkatkan Pemberian Makanan) 8 9 10 Mikronutrien Stimulasi Tindak lanjut Tanpa Fe dengan Fe TRANSISI REHABILITASI Minggu ke-2 Minggu ke 3-7 17 .

sesuai kebutuhan normal. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. 2.  SYARAT DIET PENDERITA MARASMUS ENERGI TINGGI PROTEIN TINGGI (ETPT) : 1.5 g/kg BB. 6. Makanan diberikan dalam bentuk mudah dicerna. dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan. 3.0-2. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Karbohidrat cukup. TINDAKAN PENCEGAHAN Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang. yaitu 2. 6. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. 18 . dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan. yaitu 40-45 kkal/kg BB. 3. yaitu sisa dari kebutuhan energi total. 2. Pemberian imunisasi. yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total. 5. 5. Protein tinggi. Lemak cukup. 4. Vitamin dan mineral cukup. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi. 4. Energi tinggi. Pencegahan penyakit infeksi. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap. 1.

banyak daun singkong. dikukus dan ditumis Buah-buahan Semua jenis buah segar. dodol. buah kering dan jus buah. salam dan kecap. seperti cabe dan merica. cake. susu. pastri. santan encer dan salad dressing. laos. banyak yoghurt dan es krim. Bumbu Bumbu tidak energi. Dimasak dengan minyak atau ikan. tarcis. tahu banyak dan pindakas. dengan teknik pengolahan direbus. dan wortel. yang tajam rendah tajam Bumbu seperti bawang merah. Dianjurkan Roti. gula pasir. dengan minyak atau Semua jenis kacang. 19 . Tidak Dianjurkan makaroni. ubi. mie. kacang kelapa/santan kental. telur. Dimasak terutama jenis bayam. panjang. Minuman Soft drink.Dimasak kacangan. goreng. ayam. Minuman teh dan kopi encer. bawang putih. Sumber protein nabati kelapa/santan kental. Sumber protein Daging sapi. Lemak dan minyak Minyak mentega.Bahan Makanan Yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan : Bahan Makanan Sumber karbohidrat Nasi. buah kaleng. labu siam. madu. puding. keju. tempe. sirup. kelapa/santan kental dengan minyak atau Sayuran Semua jenis sayuran. Santan kental margarin.

 CONTOH MENU 20 .

Pada kasus kwashiorkor tingkat berat kulit akan mengeras seperti keripik terutama pada persendian utama. Bayi tampak gemuk. KWASHIORKOR Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana-Afrika yang berati “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”.1. terutama pada kaki dan tungkai bawah.10. Cairan oedema sekitar 5-20% dari jumlah berat badan yang diperhitungkan dari penurunan berat badan ketika tidak oedema lagi (pada masa penyembuhan). Kulit mudah luka karena tidak adanya tryptophan dan nicotinamide. Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Istilah kwashiorkor sendiri berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu".Terjadi dispigmentasi dikarenakan habisnya cadangan energi atau protein. . Jika marasmus umumnya terjadi pada bayi dibawah 12 bulan. Sifatnya “pitting oedema”. . Bibir retak-retak. kwashiorkor bisanya terjadi pada anak usia 1-3 tahun. jaringan otot lunak dan kendor. menipis dan mudah rontok. Rambut berubah menjadi warna kemerahan atau abu-abu. Beberapa tanda khusus dari kwashiorkor adalah: Selalu ada oedema (bengkak). Sering terjadi dermatitis (radang pada kulit). Namun jaringan lemak dibawah kulit masih ada dibanding bayi marasmus. . Pertumbuhannya terhambat. pengaruh terhadap sistem neurologi dijumpai adanya tremor seperti Parkinson yang berpengaruh terhadap jaringan (cabang) syaraf tunggal 21 . Dibedakan dengan Marasmus yang disebabkan oleh intake dengan kualitas yang normal namun kurang dalam jumlah.Kulit tampak pucat dan biasanya disertai anemia. lidah pun menjadi lunak dan gampang luka.Pada kwashiorkor. meskipun kekurangan zinc bisa juga menjadi penyebab dermatitis. apabila rambut keriting menjadi lurus. karena oedema. muka membulat (moon face). Pada kulit yang terdapat dispigmentasi akan tampak pucat.

Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlansung kronis. tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. jarang. keju. dan pirang kemerahan kusam. hilangnya nafsu makan dan sukar diberi makan/disulang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup. Perut anak membuncit karena pembesaran hati. tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang memadai. 22 . Perubahan mental juga terjadi misalnya bayi menjadi cengeng. Kulit tampak kering (Xerosis) dan memberi kesan kasar dengan garis-garis permukaan yang jelas.maupun syaraf kelompok pada otot. atau pada pita suara yang menghasilkan suara getar serak/cengeng. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara lain : 1. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor. telur. Didaerah tungkai dan sikut serta bokong terdapat kulit yang menunjukkan hyperpigmentasi dan kulit dapat mengelupas dalam lembar yang besar. apatis. namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein adri sumber-sumber lain (susu. Seperti otot mata sering terjadi terus berkedip. Pada pemeriksaan mikroskopik terdapat perlemkan sel-sel hati. terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI. Gejala anemia dan defisiensi mikronutrien juga sering dijumpai pada kasus ini. meninggalkan dasar yang licin berwarna putih mengkilap. Pola makan Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Ciri-ciri : Rambut halus.

2. Dan sebaliknya MEP. ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor. Edema gerenal (muka sembab. iritabilitas dan apatis dapat terjadi. coma dan berakhir dengan kematian 23 . walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. punggung kaki. perubahan pigmen kulit (deskuamasi dan vitiligo). Perubahan lain yang dapat terjadi adala perlemakan hati. Penurunan masa otot Perubahan mental seperti lethargia. Gejala Klinis Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan Malnutrisi protein beratKwashiorkor. keadaan sosial dan politik tidak stabil. gangguan fungsi ginjal. Perubahan warna rambut menjadi kemerahan dan mudah dicabut. 3. dan anemia. perut yang membuncit) Diare yang tidak membaik Dermatitis. saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.  Pada keadaan berat/ akhir (final stages) dapat mengakibatkan shock. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. 4. antara lain :          Gagal untuk menambah berat badan Pertumbuhan linear terhenti. Faktor sosial Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Faktor infeksi dan penyakit lain Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi.

Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase. Penanganan yang terlambat (late stages) mungkin dapat memperbaiki status kesehatan anak secara umum. Penatalaksanaan/ terapi Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. namun anak dapat mengalami gangguan fisik yang permanen dan gangguan intelektualnya. khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Penatalaksaan gizi buruk menurut standar pelayanan medis kesehatan anak – IDAI (ikatan dokter anak Indonesia) : Prognosis Penanganan dini pada kasus-kasus kwashiorkor umumnya memberikan hasil yang baik. Pada tahap awal. dan lemak. kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat. Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. gula sederhana. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan. Kasus-kasus kwashiorkor yang tidak dilakukan penanganan atau penanganannya yang terlambat. memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah.Komplikasi Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen. akanmemberikan akibta yang fatal 24 . Vitamin dan mineral dapat juga diberikan.

seperti TBC.Sanitasi : personal. Mengendalikan penyakit-penyakit infeksi. gejala kwashiorkor akan menyertai. Kwashiorkor atau keduanya.2.Pendidikan : Dasar. 2. dapat segera dilaksanakan beberapa tindakan untuk mengatasi keadaan : 1. lingkungan terutama makanan dan peralatannya. Pencegahan hendaknya meliputi seluruh faktor secara simultan dan konsisten.10. khususnya diare: . parasit (cacing). Meskipun KEP tidak sepenuhnya dapat diberantas. jagung atau singkong yang miskin akan protein. Seorang bayi yang menderita marasmus lalu berlanjut menjadi kwashiorkor atau sebaliknya tergantung dari makanan/gizinya dan sejauh mana cadangan energi dari lemak dan protein akan berkurang/habis terpakai Apabila masukan energi kurang dan cadangan lemak terpakai. Memperkecil dampak penyakit-penyakit infeksi terutama diare di wilayah yang sanitasi lingkungannya belum baik. MARASMIC KWASHIORKOR Anak/bayi yang menderita marasmic-kwashiorkor mempunyai gejala (sindroma) gabungan kedua hal di atas. tanpa harus menunggu. . DHF). Gagalnya pertumbuhan kemungkinan akan menyertai pada kasus KEP-marasmus. . bayi/anak akan jatuh menjadi marasmus. Sebaliknya bila cadangan protein dipakai untuk energi. Kesehatan dan Gizi.Pencegahan penyakit yang erat dengan lingkungan. PENCEGAHAN KEP KEP disebabkan oleh multifaktor yang saling terkait sinergis secara klinis maupun lingkungan (masyarakat). nyamuk (malaria. Diarhea merupakan penyakit endemoepidemik yang menjadi salah satu penyebab bagi malnutrisi. Hal ini dapat terjadi pada anak yang dietnya hanya mengandung karbohidrat saja seperti beras.Program Imunisasi. Dehidrasi awal dan 25 .\ .

Pemberian makanan pendamping ASI (weaning food) bergizi. PENATALAKSANAAN Prosedur tetap pengobatan dirumah sakit : 1.Dimulai sejak dalam kandungan. .Memperpanjang masa menyusui (prolong lactation) selama ibu dan bayi menghendaki. ibu hamil dengan gizi yang baik diharapkan akan melahirkan bayi dengan status gizi yang baik pula. misalnya dengan tolok ukur KMS. adanya penyakit infeksi).Setelah lahir segera diberi ASI eksklusif sampai usia 4 atau 6 bulan.re-feeding secepat mungkin merupakan pencegahan untuk menghindari bayi malnutrisi/KEP. .Memonitor tumbuh kembang dan status gizi Balita secara kontinyu. mulai usia 4 atau 6 bulan secara bertahap sampai anak dapat menerima menu lengkap keluarga. . Deteksi dini dan manajemen KEP awal/ringan: . 4. Memelihara status gizi anak . 3. Perhatian khusus untuk faktor “risiko tinggi” yang akan berpengaruh kelangsungan status gizi (antara lain: kemiskinan. ketidak tahuan. Prinsip dasar penanganan 10 langkah utama (diutamakan penanganan kegawatan) 1) Penanganan hipoglikemi 2) Penanganan hipotermi 3) Penanganan dehidrasi 4) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit 5) Pengobatan infeksi 6) Pemberian makanan 7) Fasilitasi tumbuh kejar 26 .

8) Koreksi defisiensi nutrisi mikro 9) Melakukan stimulasi sensorik dan perbaikan mental 10) Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh 2. setiap 2-3 jam selama 7-10 hari  Teteskan tetes mata atropin.000 SI/kali : 50. 2 dan 14 atau sebelum keluar rumah sakit bila terjadi memburuknya keadaan klinis diberikan vit. Parasit/cacing Beri Mebendasol 100 mg oral. umumnya terdapat defisiensi seng (Zn) : beri preparat Zn peroral 3. Tatalaksana : 1. 27 . usahakan agar daerah perineum tetap kering 4. 1 tetes 3 kali sehari selama 3-5 hari  Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali 2. Defisiensi vitamin A Bila ada kelainan di mata. beri salep atau krim (Zn dengan minyak kastor) 3. Dermatosis Dermatosis ditandai adanya : hipo/hiperpigmentasi. kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO4 (Kpermanganat) 1% selama 10 menit 2. atau preparat antihelmintik lain.000 SI/kali Bila ada ulkus dimata diberikan :  Tetes mata khloramfenikol atau salep mata tetrasiklin.000 SI/kali : 100. sering disertai infeksi sekunder. antara lain oleh Candida. berikan vitamin A oral pada hari ke 1. menyerupai luka bakar. lesi ulcerasi eksudatif. A dengan dosis : * umur > 1 tahun * umur 6 – 12 bulan * umur 0 – 5 bulan : 200. 2 kali sehari selama 3 hari. deskwamasi (kulit mengelupas). Pengobatan penyakit penyerta 1.

kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/pengganti. per oral/nasogastrik. Dalam hal ini. Ulangi pemberian cairan seperti di atas untuk 1 jam berikutnya. 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam. Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk. lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik.9% (1:1) atau larutan Ringer dengan kadar dekstrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam pertama. frekuensi nadi dan pernapasan) dan status hidrasi  syok disebabkan dehidrasi. 3. Evaluasi setelah 1 jam :  Bila ada perbaikan klinis (kesadaran. Beri : Metronidasol 7.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare. Diare melanjut Diobati bila hanya diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi.4. Syok (renjatan) Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit membedakan keduanya secara klinis saja. 5. Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan intravena. selanjutnya mulai berikan formula khusus (F75/pengganti). berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan 28 . Pedoman pemberian cairan : Berikan larutan Dekstrosa 5% : NaCl 0. Tindakan kegawatan 1. Bila mungkin. Bila positip atau sangat mungkin TB. lakukan tes tuberkulin/Mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks. Berikan formula bebas/rendah lactosa. diobati sesuai pedoman pengobatan TB.  Bila tidak ada perbaikan klinis  anak menderita syok septik. sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak.

sehingga kebutuhan kalorinya terpenuhi.3. Anemia berat Transfusi darah diperlukan bila :   Hb < 4 g/dl Hb 4-6 g/dl disertai distress pernapasan atau tanda gagal jantung Transfusi darah :  Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam. 1. gunakan ’packed red cells’ untuk transfusi dengan jumlah yang sama. Makanan yang disarankan adalah makanan yang banyak mengandung energi (kalori). Hb-uria.v pada saat transfusi dimulai. Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti) 2. Bila ada tanda gagal jantung. Diet yang digunakan adalah diet Energi Tinggi Protein Tinggi (ETPT). Marasmus MENU MAKAN Marasmus merupakan penyakit akibat dari kekurangan energi dan protein.berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam). gatal. 10. Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam. jangan diulangi pemberian darah.  Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i. syok). Berikut Contoh Menu Sehari untuk Penderita Marasmus : Makan Pagi : Bubur Jagung * Susu Selingan Pagi : Sus Kentang Vla Buah 29 . Bila pada anak dengan distres napas setelah transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau antara 4-6 g/dl. terutama kekurangan energi yang berlebihan dan terjadi sangat lama atau menahun.

Berikut Contoh Menu Sehari untuk Penderita Kwashoiorkor : Makan Pagi : Nasi Sup Bola Ayam * Jus Pepaya Tomat Selingan Pagi : Bubur Kacang Hijau Makan Siang Nasi Tim Wortel Daging * Jus Wortel Sellingan Sore : Puding Kacang Merah Makan Malam : Schotel Mie * Milkshake Coklat 30 . terutama kekurangan protein yang berlebihan. Terutama penambahan protein harus sangat diperhatikan.Makan Siang : Nasi Tim Keju * Susu Kedelai Selingan Sore : Puding Roti Makan Malam : Schotel Talas * Jus Pepaya Jeruk 2. Kwasiorkor Kwasiorkor merupakan penyakit akibat dari kekurangan energi dan protein. Diet yang digunakan adalah diet Energi Tinggi Protein Tinggi (ETPT).

3. Marasmic Kwasiorkor Marasmic Kwasiorkor merupakan penyakit akibat dari kekurangan energi dan protein dalam jumlah yang sangat banyak. Penyakit ini sebagai bentuk terparah dari jenis penyakit KEP. Berikut Contoh Menu Sehari untuk Penderita Marasmic-Kwashoiorkor : Makan Pagi : Puree Greenpeas Soup * Susu Kedelai Selingan Pagi : Bubur Susu Ubi Makan Siang : Nasi tim Saring Bayam Merah * Puree Pisang Selingan Sore : Bubur Saring Ketan Hitam Makan Malam : Bubur Kentang Brokoli * Susu Sari Jeruk 31 . Makanan yang dianjurkan adalah makanan yang tinggi Protein dan tinggi energi. tetapi tidak boleh merangsang pencernaan dan makanan tidak boleh keras. lebih disarankan makanan yang lembek. Diet yang digunakan adalah diet Energi Tinggi Protein Tinggi (ETPT).

bahkan dapat mengakibatkan kematian. dan waktu yang diperlukan untuk mengobati penyakit-penyakit ini tidaklah sebentar. Makanan yang dikonsumsipun disarankan makanan yang tinggi energi tinggi protein. Jika keadaan lebih memburuk. kekurangan energi.BAB 3 PENUTUP Gizi buruk merupakan masalah yang serius. karena terjadi kekurangan zat gizi penting yang manyebabkan menurunnya fungsi kerja tubuh yang apabila didiamkan terus menerus akan mengakibatkan masalah yang lebih rumit. dan komplikasi dari keduanya. Marasmus. Dalam proses penanganannya lebih spesifik karena penderita penyakit ini harus dirawat secara intens dan dipantau secara terus-menerus. kwashiorkor. dan marasmic-kwashiorkor adalah serangkaian penyakit yang dialami oleh bayi hingga balita karena mengalami kekurangan protein. selain makanan yang tinggi energi tinggi protein biasanya ditambahkan serum tertentu untuk memnuhi kebutuhan gizinya atau dirawat secara intens karena memerlukan perlakuan khusus. kekurangan energi dan karbohidrat. 32 .

htm.allrefer.com/journal/item/3  http://www.com/2008/04/25/mep-kwashiorkor/  http://ichadchemical.pdf/06_PenatalaksanaanBusungLaparPadaBalita.wordpress.com/2008/03/marasmus. Kwashiorkor.com/doc/27332235/Marasmus-Adalah-Salah-Satu-BentukKekurangan-Gizi  http://myaluzz.blogspot. 33 .id/files/cdk/files/06_PenatalaksanaanBusungLaparPadaBalita .anneahira.org/wiki/Kwashiorkor.wordpress.kalbe.com/2009/02/03/malnutrisi-energi-protein-mepkwashiorkor/  http://www.com/akibat-kekurangan-protein.  Wikimedia Foundation.wikipedia. Avaliable from : http://health. Energi – Protein: KEP dan Pencegahannya.html  http://fnrucucekari.co.eor’kor).anneahira.scribd.  http://www.wordpress.org/wiki/Marasmus  http://www.shvoong. 1999.htm  http://www.com/2011/02/22/marasmus-kwashiorkor/  http://hsilkma.com/medicine-and-health/pathology/1916582-kwashiorkor/  http://www.multiply.htlm.org/artikel/marasmus-dan-kwashiorkor-sebagaiefek-dari-kep  http://id.com/health/kwashiorkor-info.html  http://id.com/penyakit-kekurangan-protein. Avaliable from : http://id.DAFTAR PUSTAKA  Nestle. Kwashiorkor (kwash&180.surabaya-ehealth.wikipedia.scribd.com/2011/01/11/marasmik-kwashiorkor/#more1886  Health-cares Foundation.htm  http://idmgarut.com/doc/39800547/kwashiorkor-pada-anak  http://belibis-a17.

LAMPIRAN  Marasmus Pertumbuhan Terhambat Marasmus Pada Usia Dewasa Marasmus pada Balita Kulit Pantat Berkeriput (Baggy Pants) 34 .

35 .

 Kwasiorkor 36 .

Rambut Kemerahan dan Rontok Oedema Pada kaki Dermatitis 37 .

 Marasmic Kwasorkor 38 .

39 .

 Rancangan Menu 40 .

41 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.