Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of Thruth) memandang bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara pernya-taan tentang

sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Contoh: “Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta”. Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal, sehingga dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal (sebelum abad Modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya. Dua kesukaran utama yang didapatkan dari teori korespondensi adalah: Pertama, teori korespondensi memberikan gambaran yang menyesatkan dan yang terlalu sederhana mengenai bagaimana kita menentukan suatu kebenaran atau kekeliruan dari suatu pernyataan. Bahkan seseorang dapat menolak pernyataan sebagai sesuatu yang benar didasarkan dari suatu latar belakang kepercayaannya masing-masing. Kedua, teori korespondensi bekerja dengan idea, “bahwa dalam mengukur suatu kebenaran kita harus melihat setiap pernyataan satu-per-satu, apakah pernyataan tersebut berhubungan dengan realitasnya atau tidak.” Lalu bagaimana jika kita tidak mengetahui realitasnya? Bagaimanapun hal itu sulit untuk dilakukan. Ketiga, Kelemahan teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang cermatnya penginderaan, atau indera tidak normal lagi. Di samping itu teori kebenaran korespondensi tidak berlaku pada objek/bidang nonempiris atau objek yang tidak dapat diinderai. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, ia harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam pembentukan objektivanya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari kenyataan subjek.

Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) memandang bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa, gaya dan kecepatan dalam fisika. Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) memandang bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Suatu proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan proposisiproposisi lain yang benar atau pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Dengan demikian suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Karena sifatnya demikian, teori ini mengenal tingkat-tingkat kebenaran. Disini derajar koherensi merupakan ukuran bagi derajat kebenaran. Contoh: “Semua manusia akan mati. Si Fulan adalah seorang manusia. Si Fulan pasti akan mati.” “Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri Sukarno” Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem matematika disusun diatas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar (aksioma). Dengan mempergunakan beberapa aksioma, maka disusun suatu teorema. Dan diatas teorema-lah, maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan merupakan suatu sistem yang konsisten.

1.

Aspek Ontologi

Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu tentang yang ada. Sedangkan, menurut istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam aspek Ontologi

Premis Minor. analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentukbentuk yang lain. karena paham ini ditentukan oleh sebuah kejadian terlebih dahulu).  Silogisme. Maka ilmu untuk menyikapi fenomena ini juga akan ikut berkembang dan semakin bertambah. yaitu: analogi. dan kepastian.  Analogi. Selain Metafisika juga terdapat sebuah asumsi dalam aspek ontologi ini. Setiap ilmuan memiliki asumsi sendiri-sendiri untuk menanggapi sebuah ilmu dan mereka mempunyai batasan-batasan sendiri untuk menyikapinya. 1. yang konklusinya ditarik dari premis yang disediakan sekaligus. Misalnya. silogisme. Aspek Epistemologi Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat. premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan. yaitu: Determinisme (suatu paham pengetahuan yang sama dengan empiris). Dalam asumsi juga terdapat beberapa paham yang berfungi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tertentu. premis mayor : semuaorang akhirnya akan mati. kebenaran. premis mayor. Contohnya. Hal ini yang mengakibatkan ilmu zaman dahulu dan zaman sekarang berbeda. Semakin banyak ilmu yang kita pahami. Dan pengetahuan inilah yang menjadi batasan-batasan kita dalam menelaah suatu ilmu. premis minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil-dalilnya. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Fatalisme (sebuah paham yang berfungsi sebagai paham penengah antara determinisme dan pilihan bebas). Pengetahuan adalah jarum sejarah yang selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman. silogisme adalah penarikan kesimpulan konklusi secara deduktif tidak langsung. ditinjau dari segi ilmu teknologi.   Premis Mayor. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika. maka kita akan memperoleh kesimpulan yang berantakan. semakin banyak khasanah kita. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut dengan Metafisika. Probablistik (paham ini tidak sama dengan Determinisme.diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan dalam sebuah ilmu. Teknologi zaman dahulu dan zaman sekarang sangat berbeda jauh. dan premis minor. Apabila kita memakai suatu paham yang salah dan berasumsi yang salah. premis minor : Hasan adalah orang . Asumsi ini berguna ketika kita akan mengatasi suatu permasalahan. dan paham pilihan bebas.

dalam aspek aksiologi ini ada Moral conduct. Menurut Bramel. Dan knowledgeadalah keahlian maupun keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman maupun pemahanan dari suatu objek. Ilmu bukanlah sekadar pengetahuan (knowledge). Dan moral adalah hal yang paling susah dipahami ketika sudah mulai banyak orang yang meminta permintaan. dan model yang berfungsi menjelaskan data-data. estetic expresion. Aspek Aksiologi Aspek aksiologi merupakan aspek yang membahas tentang untuk apa ilmu itu digunakan. sehingga tidak ada penyalahgunaan dengan hasil penemuan tersebut.1. Sains merupakan kumpulan hasil observasi yang terdiri dari perkembangan dan pengujian hipotesis. Sesuatu dapat dikatakan ilmu apabila objektif. sistematis. metidis. salah satu tanggungjawab seorang ilmuan adalah dengan melakukan sosialisasi tentang menemuannya. Setiap ilmu bisa untuk mengatasi suatu masalah sosial golongan ilmu. . Namun. Ilmu memang berperan tetapi bukan dalam segala hal. moral adalah sebuah tuntutan. dan sosioprolitical. teori. dan universal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful