P. 1
Proposal

Proposal

|Views: 61|Likes:
Published by hombar
Proposal
Proposal

More info:

Published by: hombar on Mar 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secar aktif dapat
mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekatan spiritual keagamaan,
emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan merupakan suat kebutuhan yang
harus dipenuhi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bertanah air. Karena
kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kreatifitas pendidikan suatu bangsa itu sendiri
dan kompleksnya masalah kehidupan menuntut sumberdaya manusia yang handal dan
mampu berkompetensi. Pendidikan bkanlah suatu hal yang statis atau tetap, memlainkan
suatu hal yang dinamis sehingga menuntut adanya perubahan atau perbaikan secara terus
menerus. salah satu peeubahan tersebut dilakukan dalam hal metode mengajar.
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang mendudki peranan penting
dalam pendidikan. Banyak yang telah disumbangkan matematika untuk kemajuan
peradapan dunia. Erlangga ( dalam Juliana, 2006 : 1) menyatakan:
“Matematika sebagai ilmu dasar, memegang peranan yang cukup penting dalam
banyak ilmu terapan. Setelah skses diterapkan dalam bidang astronomi dan
memkanika, matematika telah berkembang menjadi alat analisis yang penting dalam
bidang fisika dan juga kimia. Dengan demikian, matematika telah menjadi komponen
esensial dalam kegiatan kehidupan.”
Senada dengan di atas Cornelius ( dalam abdurrahman, 2003:253) mengemukakan :
“ Lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1). Sarana
berfikir yang jelas dan logis (2). sarana untuk pemecahan masalah kehidupan sehari-
hari, (3). Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4).
sarana untuk mengembangkan kreativitas dan (5). Sarana ntuk meningkatkan
kesadaran terhadap perkembangan budaya.”
2

Akan tetapi mutu pendidikan di indonesia masih rendah, terutama dalam
pelajaran matematika, UNESCO ( dalam zainurie, 2007) (http://
zainurie.wordpress.com) mengungkapkan bahwa: ” Peringkat matematika indonesia
berada di deretan 34 dari 38 negara.” dan hasil penelitian PISA ( dalam zainurie,
2007) (http:// zainurie.wordpress.com) menunjukkan bahwa “ Indonesia menempati
rutan ke- 39 dari 41 negara pada kategori literatur matematika”.
Senada dengan keterangan di atas, Muhammad Nuh ( http://www.suarakarya-
online.com) mengemukakan bahwa:
“ Sama seperti tingkat SMA, angka kelulusan ujian nasional ( UN) di sekolah
menengah pertama ( SMP) tahun 2010 juga jeblok alias turun signifikan
dibanding UN 2009, yaitu dari 95,05 % menjadi 90,27 %. Siswa yang tidak lulus
terbanyak di mata pelajaran Matematika yakni 12,13%, pelajaran Bahasa Inggris
sebanyak 12,01%, pada pelajaran IPA sebanyak 5,56% dan pada pelajaran
Bahasa Indonesia sebanyak 0,86%.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa
diantaranya adalah krangnyaminat siswa dalam mengikuti pelajaran matematika. Hal
ini disebabkan sisiwa menganggap pelajran matematika merupakan pelajaran yang
sulit dan sebagian ddari mereka ada yang membencinya. Hal ini mengakibatkan siswa
kurang antusias menerima pelajaran matematika, mereka lebih bersifat pasif, enggan,
takut, atau malu mengungkapkan ide-ide ataupun masalah yang dihadapi atas soal
yang diberikan guru, contohnya pada materi himpunan di kelas VII SMP Negeri 2
Tanjung Morawa.Sehingga siswa kesulitan dalam menyelesaikan masalah- masalah
tersebut.
Hal ini sesai dengan pernyataan arifin jos, 2003( http://www.bpkpenabur.or.id)
yaitu:
“ Himpnan merupakan materi pelajaran yang penerapannya banyak dijumpai
dalam kehidupan nyata. Namun kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam
memahami materi tersebut, sebahagian besar siswa sulit membayangkan hal-hal
abstraksehingga sering kita temukan siswa lanjutan dan menengah yang tidak
menguasai materi himpunan dengan baik”.
3

Seperti halnya di SMP Negeri 2 Tanjung Morawa, sebahagian besar siswa
mengalami kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal- soal materi
himpunan. Rendahnya hasil belajar matematika siswa juga dipengaruhi oleh model
pembelajaran yang digunakan oleh guru. Penggunaan model pembelajaran sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Jika dilihat dari aktivitas pembelajaran di
kelas yang selama ini dilakukan oleh guru yang kurang memvariasi model- model
pembelajarannya, dimana pembelajaran matematika disekolah masih didominasi oleh
guru dan kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar mengakibatkan
rendahnya hasil belajar matematika siswa, seperti yang dikemukakan oleh Abbas
( http://www.depdiknas.go.id) bahwa:
“ Faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa,
salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran
yang digunakan guru dalam kelas. Kenyataan menunjukkan babhwa
selama ini model pembelajaran yang bersifat konvensional dan banyak
didominasi oleh guru”.
Untuk mengatasi hal- hal tersebut, maka seorang guru harus mampu memilih
dan menentkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan kebtuhan
belajar siswa. Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang saat ini
banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajara mengajar yang berpusat pada
siswa ( student oriented). Terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru
dalam mengaktifkan siswa. Slavin ( dalam Isjoni, 2009:23) mengatakan:
“ Pembelajaran kooperatif merpakan model pembelajaran yang telah dikenalm
sejak lama, dimana pada saat itu guru mendorong para siswa untuk melakkan kerjasama
dalam melakukan kegiatan- kegiatan tertentu seperti diskusi atau pengajaran oleh teman
sebaya. Dalam melakukan proses belajar mengajar guru tidak lagi mendominasi seperti
lazimnya pada saat ini, sehingga siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa
yang lainnya dan saling belajar mengajar sesama mereka”.
Menurut Hakim ( 2008 : 54 ): “Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
aktif yang menekankan aktivitas siswa bersama- sama secara kelompok dan tidak
individual. Siswa secara berkelompok mengembangkan kecakapan hidpnya, seperti
menemukan dan memecahkan masalah, pengambilan keputusan, berfikir logis,
berkomnikasi efektif dan bekerjasama.”
4

Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh para ahli
diantaranya adalah tipe snowball trhowing. Trimo dan Rusantiningsih ( 2008)
( http://researchengines.com/040trimo.html) mengngkapkan bahwa:
“Snowball Trhowing adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif ,
baik segi fisik, mental dan emosionalnya yang diramu dengan kegiatan melempar
pertanyaan seperti melempar bola salju. Jadi penerapan model snowball trhowing
dalam matematika adalah upaya guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran
matematika secara holistik, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada
siswa.”
Model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing melibatkan siswa
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran karena model pembelajaran snowball
throwing merupakan model pembelajaran kooperatif yang dapat membangkitkan
ketertarikan siswa terhadap materi matematika, dan membuat siswa lebih aktif,
mendorong kerjasama antar siswa dalam mempelajari suatu materi, termask materi
himpunan, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahsan
himpunan. Melali model pembelajaran snowball throwing ini diharapkan siswa belajar
dan mengalami buan menghapal sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna,
menarik, menyenangkan bagi siswa dan lebih mengaktifkan siswa sehingga hasil belajar
matematika siswa dapat meningkat.
Dari uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Pembelajaran
Kooperatif Tipe Snowball Throwing Pada Pokok Bahasan Himpunan di Kelas VII
SMP Negeri 2 Tanjung Morawa T.A 2012/2013”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit.
2. Rendahnya hasil belajar matematika siswa .
3. Materi himpunan merupakan pokok bahasan yang dianggap sulit oleh siswa SMP
Negeri 2 Tanjung Morawa.
5

4. Hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 2 Tanjung Morawa masih cukup
rendah.
5. Model pembelajaran yang digunakan masih berpusat pada guru.

1.3 Pembatasan Masalah
Melihat luasnya cakpan masalah yang teridentifikasi, maka peneliti membatasi
masalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggnakan model
pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing pada pokok bahasan himpunan
di kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung Morawa T.A 20012/2013.
2. Materi penelitian dibatasi pada materi himpunan yaitu diagram venn dan operasi
pada himpunan.
1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang masalah dan batasan
masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah hasil belajar
matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
snowball throwing lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model
konvensional pada pokok bahasan Himpunan di kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung
Morawa T.A 20012/2013?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
snowball throwing lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional pada pokok bahsan Himpunan di kelas VII SMP Negeri 2
Tanjng Morawa T.A 2012/2013.
1.6 Manfaat Penelitian
Setelah melakkan penelitian diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan
manfaat yang berarti yaitu:
6

1. Bagi siswa, diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami pembelajaran
matematika dan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa khususnya
pada pokok bahasan himpunan.
2. Bagi guru sekolah, dapat memperluas wawasan pengetahuan mengenai model
pembelajaran yang dapat diterapkan dalam menyajikan suatu materi.
3. Bagi sekolah, akan menjadi bahan pertimbangan daalam mengambil kebijakan
untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika.
4. Bagi peneliti, dapat menjadi masukan kepada peneliti sebagai calon guru untk
menerapkan model- model pembelajaran dalam pelajaran matematika,
khususnya pada pokok bahasan himpunan.













7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1. Pembelajaran Matematika
Isjoni ( 2009:14 ) mengatakan bahwa: “ pembelajaran adalah sesuatu yang
dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan
upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar”. Dari makna
ini terlihat jelas bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan
peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi yang intens dan terarah
menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Suyatno ( dalam Adiyanti,2010:11) menyatakan bahwa:
“ Pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata
pelajaran matematika dengan mengajarkan matematika kepada siswanya, yang di
dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang
matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara gru dengan
siswa serta antara siswa dengan siswa”.
Dari pengerrtian di atas jelas bahwa pembelajaran matematika terjadi interaksi
dan aktivitas yang tinggi baik antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Hal
ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Armanto ( dalam
http://p4mriunimed.wordpress.com/2009/10/07/matematika-menjadi-pelajaran-
menyenangkan/) bahwa: ” Belajar matematika berkaitan erat dengan aktivitas dan proses
belajar berfikir”.
Belajar matematika adalah belajar dengan mengaitkan simbol- simbol dan
menghubungkan struktur untuk mendapatkan suatu pengertian dan mengaplikasikan
konsep ke situasi nyata sehingga arah belajar matematika pada mumnya menuju arah
pengabstrakan yang semakin kompleks. Hudoyo ( 1990:3) mengemukakan bahwa :
“ Matematika berkenaan dengan ide- ide atau gagasan strurktur dan hbungan yang diatur
secara logis sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep- konsep abstrak”. Karena
keabstrakan inilah yang menyebabkan siswa kesulitan mempelajari matematika.
8

Anchoto(http://anchoto.sman1ampekangket.com/2009/09/26/defenisi-
karakteristik-matematika/) menyatakan bahwa:
Tujan pembelajaran matematika:
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya
melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan
kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsisten.
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuiisi, dan
penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin
tahu, mebuat prediksi dan dugaan, serta mencoba- coba.
3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
4. Mengembangkan kemampuan menyampaiakan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik
peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah
menekankan kepada menata penalaran, membentuk kepribadian dan menekankan kepada
kemampuan menerapkan dan keterampilan matematika. Tujuan pembelajaran
matematika tersebut dapat dicapai melalui suatu proses pemebelajaran matematika yang
dilakukan. Akan tetapi belum tentu setiap proses pembelajran efektif, mengingat setiap
siswa memiliki kemampuan yang berbeda- beda. Maka dengan keterampilan yang
dimiliki oleh seorang guru diharapkan dapat memilih model pembelajaran yang tepat
agar siswa dapat meguasai materi yang diajarkan sesuia dengan tujuan yang ingin
dicapai.
2.1.2 Model Pembelajaran Konvensional
Menurut Djamarah ( dalam firdaus,2009) mendefenisikan bahwa:
“ Metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran
konvensional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu
metoder ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antar guru
dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam
pembelajaran sejarh metode konvensional ditandai dengan ceramah yang
diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.”

Pangaribuan ( Dalam Abin,2009) Mendefinisikan bahwa :

“ Pembelajaran konvensional adalah pembelajranyang dilaksanakan
berdasarkan kebiasaan, dimana pembelajaran ini merupakan pembelajaran
9

tradisional yang mempersiapkan siswa untuk belajar secar individu dan
kompetitif untuk memahami pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratifyang terstruktur yang berasal dari pengajar swbagai pusat
pembelajaran.”
Pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan
waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi- materi yang dipresentasikan,
menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada
situasi kehidupan nyata. Pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan
pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses
“ meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang
sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar. Guru berasumsi bahwa keberhasilan
program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya dalam menyampaikan seluruh materi
yang ada dalam kurikulum. Penekanan dalam aktivitas belajar lebih banyak pada buku
teks dan kemampuan mengungkapkan isi buku teks tersebut. jadi, pembelajaran
konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands- on
activities).
Menurut Burrowes ( dalam Juliantara, 2009) pembelajaran konvensional
memiliki ciri- ciri, yaitu:
1. Pembelajaran berpusat kepada guru.
2. Terjadi passive learning
3. Interaksi diantara siswa kurang
4. Tidak ada kelompok – kelompok kooperatif
5. Penilaian bersifat sporadis.
Adapun tahap- tahap pembelajaran konvensional yaitu:
1. Tahap persiapan: pada tahap ini guru mepersiapkan perangkat pembelajaran, antara
lain rencana pembelajaran dan topik atau materi pembelajaran.
2. Tahap pembelajaran: tahap ini merupakan tahap dalam pelaksanaan proses belajar
mengajar yang terdiri dari:
a. Guru membuka pelajaran, menjelaskan TPK dan memotivasi siswa.
10

b. Kegiatan inti yaitu guru memberikan materi, mendemonstrasikan pengetahuan
dan keterampilan, membimbing pelatihan, mengecek pemahaman dan umpan
balik serta memberikan latihan dan terapan konsep.
c. Guru menutup pelajaran dan memberikan tugas kepada siswa.
3. Tahap evaluasi: guru mengevaluasi belajar siswa dengan memberika tes, baik tugas
maupun ulangan, sert6a mengumpulkan skor siswa.
Terdapat lima langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran yang
menggunakan pemebelajaran konvensional( dalam Areands, 1997:67). Langkah-
langkah tersebut ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 2.1
Langkah- langkah Model Pembelajaran Konvensional
Tahap- tahap Kegiatan Guru
Tahap I:
Menyampaikan tujuan pembelajaran
dan mempersiapkan siswa
Menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan
informasi dasar dan menjelaskan pentingnya
pembelajaran dan mempersiapkan murid untuk
belajar.
Tahap II:
Mendemonstrasikan Pengetahuan dan
Keterampilan
Guru mendemonstrasikan pengetahuan dan
keterampilan dengan baik atau menyajikan
informasi pemebelajaran setahap demi setahap.
Tahap III:
Membimbing pelatihan
Guru memberikan latihan awal yang terstruktur
Tahap IV:
Mengecek pemahaman dan
memberikan umpan balik
Guru mengecek dan melihat kemampuan siswa
dan memberi umpan balik
Tahap V:
Menyediakan latihan tambahan dan
penerapan konsep
Mempersiapkan latihan tambahan untuk siswa
dengan menerapkan konsep yang dipelajari




11

2.1.3 Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut “ Pembelajaran kooperatif
adalah....................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
............................................................. .
Selanjutnya Artzet dan Newman ( dalam Asma, 2006:11)mendefenisikan bahwa
“ Belajar kooperatif adalah suatu pendekatan yang mencakup kelompok kecil dari siswa
yang bekerjasama sebagai suatu tim untuk memecahkan masalah, menyelesaikan suatu
tugas, atau menyelesaikan suatu tujuan bersama”.
Davidson dan Kroll (dalam Asma, 2006:11) mendefenisikan bahwa “Belajar
kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung dilingkungan belajar siswa dalam
kelompok kecil yang saling berbagi ide- ide dan bekerja secara kolaboratif untuk
memcahkan masalah yang ada dalam tugas mereka”
berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran
kooperatif berdasarkan pada suatu ide siswa bekerjasama dalam kelompok belajar dan
sekaligus masing- masing bertanggung jawab atas aktivitas belajar anggota kelompok-
kelompoknya sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi pelajaran
dengan baik.
Menurut Jhonson & Jhonson dan Sutton ( dalam Trianto, 2009:60) terdapat lima
unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu:
1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif,
siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan dan
terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota
kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa diirinya merupakan bagian
dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.
2. Interakksi antara siswa yang saling meningkat. Belajar kooperatif akan
meningkatkan interaksi antar siswa. Hal ini terjadi dalam diri seoarang siswa untuk
membantu siswa lain agar menjadi anggota kelompok yang sukses. Kesalingan
dalam memberikan bantuan akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan
12

seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi
masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman
sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal
tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dialami bersama.
3. Tanggung jawab individual, Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok
dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal:
a. Membantu siswa yang membutuhkan
b. Siswa tidak dapat hanya sekedar “ membonceng” pada hasil kerja teman
sekelompoknya.
4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain
dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan, seorang siswa dituntut untuk
belajar bagaimana beringteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana
bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan
menuntut keterampilan khusus.
5. Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok.
Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimanna mereka
akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan
pelajaran kooperatif seperti yang dikatakan ibrahim ( dalam Trianto, 2009:66). Langkah-
langkah itu ditunjukan dalam tabel berikut:
Tabel 2.2
Langkah- langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Kegiatan Guru
Fase – 1
Menyampaikan tujuan dan
motivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi
siswa belajar.
Fase – 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase – 3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok
kooperatif
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efesien.
Fase – 4 Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada
13

Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
saat mereka menggerjakan tugas mereka.
Fase – 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari atau masing- masing kelompok
mempersentasekan hasil kerjanya.
Fase – 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara- cara untuk menghargai baik upaya
maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Killen ( dalam Trianto, 2009:58) memaparkan perbedaan antara kelompok belajar
kooperatif dengan kelompok belajar konvensional sebagai berikut:
Tabel 2.3
Perbedaan Kelompok Belajar Konvensional dengan Kelompok Belajar Kooperatif
Kelompok Belajar Konvensional Kelompok Belajar Kooperatif
Guru sedang membiarkan adanya
siswa yang mendominasi kelompok
atau menguntungkan diri pada
kelompok
Adanya saling ketergantungan positif, saling
membantu, dan saling memberikan motivasi
sehingga ada interaksi promotif
Akuntabilitas individual sering
diabaikan sehingga tugas- tugas
sering diborong oleh salah seorang
anggota kelompok sedangkan anggota
kelompok lainnya hanya
“ mendompleng” keberhasilan
“ pemborong”.
Adanya akuntabilitas individual yang
mengukur penguasaan materi pelajaran tiap
anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan
balik tentang hasil belajar para anggotanya
sehingga dapat saling mengetahui siapa yang
memerlukan bantuan dan siapa yang dapat
memberikan bantuan.
Kelompok belajar biasanya homogen. Kelompok belajar heterogen, baik dalam
kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik
dan sebagainya sehingga dapat saling
mengetahui siapa yang memerlukan bantuan
dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
Pemimpin kelompok sering
ditentukan oleh gur atau kelompok
dibiarkan untuk memilih
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis
atau bergilir untuk memberikan pengalaman
memimpin bagi para agggota kelompok.
14

pemimpinnya dengan cara masing-
masing.
Keterampilan sosial sering tidak
secara langsung diajarkan
Keterampilan sosial yang diperlukan dalam
kerja gotong royong seperti kepemimpinan ,
kemampuan berkomunikasi, mempercayai
orang lain, dan mengelola konflik seccara
langsung diajarkan.
Pemantauan melalui observasi dan
intervensi sering tidak dilakukan oleh
guru pada saat belajar kelompok
sedang berlangsung.
Pada saat belajar kooperatif sedang
berlangsung, guru terus melakukan pemantauan
melalui observasi dan melakukan intervensi
jika terjadi masalah dalam kerja sama antara
anggota kelompok.
Guru sering tidak memperhatikan
proses kelompok yang terjadi dalam
kelompok- kelompok belajar.
proses kkelompok yang terjadi dalam
kelompok- kelompok belajar.
Penenkanan sering hanya pada
penyelesaian tugas.
Penenkanan tidak hanya penyelesaian tugas
tetapi juga hubungan interpersonal ( hubungan
antar pribadi yang saling menghargai)

2.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing
Model pembelajaran Snowball Throwing yang menuurut asal katanya berarti “ bola
salju bergulir” dapat diartikan sebagai model pembelajaran dengan menggunakan bola
pertanyaan dari kertas yang digulung bulat bentuk bola kemudian dilemparkan secara
bergilir diantara sesama anggota kelompok.
Pamungkas ( 2006) (http://learning-with-me. blogspot.com/2006/09/
pembelajaran.html) mmengatakan bahwa:
“Model Snowball Throwing adalah model yang membentuk kelompok yang
diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-
masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola ( kertas
pertanyaan) lalu dilempar kesiswa lain yang masing- masing siswa menjawab
pertanyaan dari bola yang diperolehnya”.
15

Selanjutnya Hatono ( 2008) (http://etd.eprints.um.ac.id/4805/1 / A410050187.pdf )
mengatakan bahwa:
“ Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Snowball Throwing yaitu
suatu cara penyaian bahan pelajaran dimana siswa dibentuk dalam beberapa
kelompok yang heterogen kemudian masing- maisng kelompok dipilih ketua
kelompoknya untuk mendapatkan tugas dari guru lalu masing- masing siswa
membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola kemudian dilempar ke siswa
lain dan masing- maisng siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh”.
Dari uraian di atas model pembelajaran Snowball Throwing merupakan suatu
cara penyajian pelajaran dengan cara siswa berkreativitas membuat soal matematika dan
menyelesaikan soal yang telah dibuat oleh temannya dengan sebaik- baiknya. Penerapan
model Snowball Throwing ini dalam pembelajaran matematika melibatkan siswa untuk
dalpat berperan aktif dengan bimbingan guru, agar peningkatan kemampuan siswa dalam
memahami konsep dapat terarah lebih baik. Seperti yanag diungkapkan oleh Trimo dan
Rusantiningsih ( 20008) (http://researchengines.com/0408trimo.html) bahwa :
“Snowball Throwing adalh model pembelajaran yang melibatkan siswa secara
aktif, baik segi fisik, mental dan emosionalnya yang diramu dengan kegiatan
melempar pertanyaan seperti melempar bola salju. Jadi penerapan model
Snowball Throwing dalam matematika adalah upaya guru untuk
mengoptimalkan proses pembelajaran matematika secara holostik, baik aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik pada siswa.”
Model pembelajaran Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap
menerima pesan dari oarang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya
dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model
pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisii pertanyaan yang sudah
diremas menjadi sebuah bola kertaslalu dilemparkan kepada siswa lain. Siswa yang
mendapat boala kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya. Dilihat dari
pendekatan yang digunakan, model Snowball Throwing ini memadukan pendekatan
komunikatif, integratif dan keterampilan proses. Sebelum memulai langkah- langkah
pembelajaran Snowball Throwing, guru bersama siswa terlebih dahulu membuat
perencanaan tentang topik yang akan dipelajari. Langkah- langkah tersebut diawali
dengan tahap pendahuluan dimana guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang
heterogen, dan masing- masing kelompok akan duduk membentuk lingkaran agar ketika
16

melempar bola pertanyan akan lebih mudah melempar ke sesama anggotanya. Kemudian
guru menjelaskan mamksud dan tujuan pembelajaran pada topik yang sudah ditentukan
Trimo ( 2008) http://researchengines.com/0408trimo.html) secara rinci
mengemukakan langkah- langkah penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing
yaitu:
1. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi dasar yang ingin dicapai pada materi
yang ingin disajikan
2. Guru membentuk kelompok- kelompok dan memanggil masing- masing
ketuakelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3. Masing- maisng ketua kelompok kembali pada kelompoknya masing- masing,
kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
4. Kemudian masing- masing siswa diberi selembar kertas unntuk menuliskan
pertanyaan apa saja yang menyangkut mamteri yang sudah dijelaskan oleh ketua
kelompok
5. Kemudian kertas tersebut dibuat boal dan dilempar dari satu siswa ke satu siswa ke
siswa yang lain selama 15 menit
6. Setelah siswa mendapat satu bola atau satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada
siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola
tersebut secara bergantian
7. Guru memberikan kesimpulan
8. Refleksi dan evaluasi
9. Penutup.
Kelebihan dan kelemahan model Snowball Throwing adalah sebagai berikut
( Pamungkas, 2006) :
a. Kelebihan Model Snowball Throwing
1. Melatih kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran kkarena setiap siswa
akan mendapat bola pertanyaan dari siswa lainnya yang harus dijawab sendiri.
Sehingga siswa akan bersungguh- sungguh mengikuti pembelajaran di kelas.
2. Sesama siswa saling memberikan pengetahuan sehingga sisiwa lebih aktif dan
dapat memahami pelajaraan
17

3. Siswa dapat melakukan diskusi dengan bersunngguh- sungguh dengan
kelompoknya
b. Kelemahan Model Snowball Throwing
1. Pengetahuan yang tidak luas hanya terbatas pada pengetahuan sekitar siswa saja.
2. Menuntut guru untuk merubah cara mengajarnya yang selama ini cenderung
tradisional
3. Kebebasan yang diberikan kepada siswa tidak selamanya dimanfaatkan dengan
baik oleh para soisiwa tersebut.
4. Waktu yang dibutuhkan cukup lama. Namun, guru harus mampu
mengoptimalkan waktu yang ada untuk melakukan kegiatan tersebut di dalam
kelas.
2.1.5 Hasil Belajar
Dari proses belajar seseorang akan mengalami perubahan dalam tingkah laku,sebagai
hasil belajar yang dilakukannya. Perubahan tingkahlaku yang terjadi pada diri seseorang
melalui kegiatan belajar disebut hasil belajar, yang pada umumnya disebut hasil belajar.
Menurut Nana Sudjana (2009:22) hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang
dimiliki sisswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Sedangkan Dimyanti dan Mudiono (2009) (http://buku.infoque.com/hasil-belajar-
pengertian-dan-defenisi)
“Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisis yaiti sisi siswa dan
sisis guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang
lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental
tersebut terwuud pada enis- jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan
dari sisi guru. Hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran dan adanya
kepuasan tersendiri bagi yaitu selesainya bahan pelajaran akibat kesuksesan dalam
proses dan hasil belajar yang diperoleh siswa.”
Hasil belajar dapat pula diartikan sebagai jumlah tingkat perkembangan yang dicapai
oleh siswa yang mengadakan perubahan keterampilan, nilai- nilai sikap dan interaksi
dengan lingkungannny. Dengan demikian hasil belajar adalah suatu penilaian dari hasil
usaha yang dicapai seseorang dari suatu kegiatan yang dilakukan dalam waktu tertentu
yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf. Selain itu, hasil bellaar juga adapat
memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai
18

tujuan- tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut
gudapat menyusun dan membina kegiatan- kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk
keseluruhan kelas maupun individu.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan menggunakan
klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagi menjadi
tiga ranah, yakni:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiir dari enam
aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman atau aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan,
jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3. Ranah psikomotorik bberkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah
tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh guru di sekolah karena
berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Dalam
pembelajaran, hasil belajar diketahui dengan adanya evaluasi. Alat evaluasi disini yang
dimaksud adalah tes. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudojo (dalam Ahmmadi,
2009:17) menyatakan bahwa cara menilai hasil beblajar matematika biasanya
menggunakan tes. Tes ini harus berbentuk tugas yang harus dijawab. Hasil belajar
biasanya dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh siswa setelah mengikuti tes
belajar. Skor yang diperolleh siswa dapat mencerminkan adanya tingkat kemampuan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang
terjadi dalam diri seseorang yang ditempuh melalui usaha belajar. Jadi hasil belajar yang
dimamksud dalam penelitian ini adalah nilai siswa dalam mata pelajaran matematika
pada pokok bahasan himpunan yang diperoleh melalui tes yang diberikan pada sampel
penelitian.

19

2.2 Uraian Materi Ajar
1. Diagram Venn
Himpunan dapat dinyatakan dalam bentuk gambar yang dikenal dengan diagram venn.
Diagram venn diperkenalkan oleh pakar matematika Inggris pada tahun 1834 – 1923
bernama Jhon Venn. Dalam membuat diagram ven yang peorlu diperhatikan adalah :
a. Himpunan semesta (S) digambarkan sebai persegi panjang dan huruf S diletakkkan
di sudut kiri atas persegi panjang.
b. Setiap himpunan yang dibicarakan (selain himpunan kosong) ditunjukan oleh kurva
tertutup.
c. Setiap anggota ditunjukan dengan noktah (titik).
d. Jika anggota suatu himpunan bbanyak sekali, maka anggota- angotanya tidak perlu
dituliskan.

Contoh :
1. Buatlah diagram Venn dari himpunan- himpunan berikut ini
S = 1,2,3,4,5,6,7}, A= 4,5}B= 1,3,6}
Penelesaian :
Dik : S = 1,2,3,4,5,6,7}
A= 4,5}
B= 1,3,6}
20

Dit : Diagram Venn
Jawab :

2. Perhatikan diagram venn berikut ini!

Tentukanlah himpunan A, B dan C!
Penyelesaian :
Dik:

Dit : Himpunan A, B dan C
Jawab : Dari diagram venn di atas dapat diketahui bahwa,
Himpunan A = { a,d,e,f }
Himpunan B = {b,d,f,g }
Himpunan C = {c,e,f,g }
2. Operasi pada Himpunan
a. Operasi Irisan pada Dua Himpunan
Perhatikan dua himpunan dibawah ini, A = { a,b,c,d,e,f,g}, B ={a,c,g,h}.
Terlihat bahwa anggota persekutuan A dan B adalah a,c,e dan g. Hal ini berarti A dan B
21





beririsan dan ditulis A B = {a,c,e,g}.

Irisan dua himpunan dapat ditinjau dari persekutuan dua himpunan atau
diperoleh dari hubungan antar himpunannya.
1. Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian yang lain.
Misalkan : P ={a,b,c} dan Q = {a,b,c,d,e }, sehingga P Q dan irisan kedua
himpunan tersebut adalah P Q = {a,b,c}= P.
Apabila P Q, maka P Q = P dan berlaku juga sebaliknya.
2. Kedua himpunan sama
Misalkan P = {r,a,m,t,i}dan Q = { t,i,r,a,m}, sehingga P = Q maka P Q =
{r,a,m,t,i}atau {t,i,r,a,m}= P = Q
Apabila P = Q, maka P Q = P = Q
3. Kedua himpunan saling lepas
Misalkan P = {1,2,3,4}dan Q = {a,b,c,d}. Sehingga P//Q( saling lepas) dan P~
Q( ekuivalen), maka P Q = { }atau P Q = .
Apabila P//Q, maka P = { } =
4. Kedua himpunan tidak saling lepas, tetapi juga bukan himpunan bagian dari yang
lain.
Misalkan : P = { 1,2,3,4,5,6,7} dan Q = {3,7,8,9}, sehingga P dan Q berpotongan
atau tidak saling lelpas , maka P Q = {3,7}.
Irisan A dan B adalah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota A sekaligus anggota B, ditulis dengan
notasi pembentuk himpunan sebagai:
A B = {x| x A dan x B}.
22

Apabila P berpotongan atau tidak saling lepas dengan Q,
maka P Q = { x| x A dan x B}.
b. Operasi Gabungan pada Dua Himpunan
Gabungan dari dua himpunan akan menghasilkan suatu himpunan baru yang
anggotanya terdiri dari anggota kedua himpunan tersebut.
Misalkan A = {2,3,4,5} dan B ={1,2,4,7}, maka gabungan himpunan A dan B dan
ditulis A B = {1,2,3,4,5,7}

Gabungan dua himpunan dapat ditentukan dari keterhubungan antar himpunan
tersebut.
1. Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian yang lain.
Misalkan : P = {a,b,c} dan Q = {1,2,a,b,c}, sehingga P Q dan gabungan kedua
himpunan tersebut adalah P Q = {1,2,a,b,c} = Q.
Apabila P Q , maka P Q = Q
2. Kedua himpunan sama
Misalkan P = {2,5,6} dan Q= {6,2,5}. Sehingga P = Q, maka P Q = {2,5,6} atau
{6,2,5}= P =Q
Apabila P = Q, maka P Q = P = Q.
3. Kedua himpunan saling lepas
Misalkan P = {1,2,3} dan Q = {a,b,c,d}. Sehingga P// Q ( saling lepas) dan P ~ Q
( ekuivalen), maka P Q = {1,2,3,a,b,c,d}.
Apabila P// Q, maka P Q = {x|xP atau xQ}.
4. Kedua himpunan tidak saling lepas, tetapi juga bukan himpunan bagian dari yang
lain.
Misalkan P = dan Q = . Keterhubungan antara P dan Q
adalah P Q (berpotongan atau tidak saling lepas), maka P Q =
Gabungan A dan B adalah himpunan yang semua
anggotanya terdapat pada A dan B, ditulis dengan
notasi pembentuk himpunan sebagai:
A B = {x| x A atau x B}.
23

.
Apabila P Q. Maka P Q = { x| x P atau x P}.
C. Operasi Komplemen Pada Himpunan


Komplemen dari S ditulis S‟. karena S adalah himpunan semesta, maka S‟
adalah himpunnan kosong dan ditulis S‟ = . Sebaliknya ‟ = S dari uraian ini dapat
disimpulkan :



Contoh :
1. Diberikan himpunan semesta S dan himpunan D sebagai berikut.
S = {3,4,7,10,12,15,28}
D = {x|x habis dibagi 4, x S}
a. Tuliskan semua anggota komplemen D!
b. Tunjukan himpunan S dan D pada diagram venn!
Jawab :
a. S = {3,4,7,10,12,15,28}
D = }
D‟ = { 3,7,10,15}
Diberikan S = {x | 1 x 10, x bilangan cacah}
A ={x | x kelipatan 2, x S}
B = {x| x kelipatan 3, x S}
Komplemen Q adalah himpunan yang anggotanya bukan merupakan anggota
himpunan Q, ditulis dengan notasi pembentuk himpunan sebagai :
Q’ = {x| x Q}.
(1) = S (2) S’ = (3) (A’)’ = A
24

b.

2. Tentukanlah :
a. A‟
b. B‟
Penyelesaian :
Dik : S = {x|1 x 10, x bilangan bulat}
A= {x | x kelipatan 2, x S}
B = { x| x kelipatan 3, x S}
Dit : a. Diagram venn
b. A‟
c. B‟
Jawab : a. Diagram venn

S = {1,2,3,4,5,6,7,8,9,10}
A = { 2,4,6,8,10 }
B = { 3,6,9 }
a. A‟= {1,3,5,7,9 }
b. B„= {1,2,4,5,7,8,10 }
d. Operasi Selisih Dua Himpunan
Perhatikan himpunan S, A dan B berikut ini beserta diagram Venn-nya pada
gambar berikut!
25


S = { 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 }
A = {1,2,3,4,5,6 }
B = {2,4,6,8,10 }
Dari himpunan A dan B dapat dibentuk {1,3,5 }. Himpunan tersebut adalah himpunan
anggota A yang tidak menjadi anggota B yang disebut selisih himpunan A dan B, ditulis
A – B. Dan sebaliknya anggota B yang tidak menjadi anggota A disebut selisih
himpunan B dan A, ditulis B – A
e. Banyaknya anggota irisan, gabungan, komplemen dan selisih pada
himpunan.

Dari diagram venn diatas diperoleh :
Banyaknya anggota himpunan A adalah n(A) = p
Banyaknya anggota himpunan B adalah n(B) = q
Banyaknya anggota himpunan A B adalah n( A B) = r
Banyaknya anggota himpunan A B adalah
A B = ( p – r ) + r + ( q – r )
= p – r + r + q – r
= p + q – r
A B = n (A) + n (B) – n (A B)
n ( A B )
n ( A B
26

Jadi, rumus banyaknya anggota himpunan A B dan A B ditentukan sebagai
berikut :



2.3. Pembelajaran Himpunan melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball
Throwing.
Dalam proses Pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dalam materi
himpunan, diharapkan siswa dapat memahami cara menyajikan himpunan kedalam
diagram venn dan dapat memahami operasi irisan, gabungan komplemen dan selisih dari
dua himpunan.
Pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dalam materi himpunan
dilakukan dalam beberapa langkah.
Langkah 1. Persiapan.
Guru (dalam hal ini peneliti) mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi himpunan dengan model
pembelajaran snowball throwing dan Lembar Aktivitas Siswa (LAS).
Langkah 2. Pembentukan kelompok.
Dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal ( pre-test) sebagai dasar dalam
menentukan masing-masing kelompok. Guru membagi para siswa menjadi beberapa
kelompok, dimana tiap kelompok beranggotakan 5 atau 6 orang siswa, terdidi dari satu
orang siswa yang berkemampuan tinggi, tiga orang siswa yang berkemampuan sedang,
dan satu orang siswa yang berkemampuan rendah. Tiap-tiap kelompok memiliki satu
ketua kelompok.
Langkah 3. Penyajian Informasi.
Setiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan yang sama untuk
memudahkan siswa dalam menyelesaikan LAS atau masalah yang diberikan oleh guru
- n ( A B) = n (A) + n (B) – n (A B)
- n ( A B) = n (A) + n (B) – n (A B)
- n ( A B)‟ = n (S) – n((A B)
27

dan dalam tahap ini guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan
penjelasan materi pembelajaran. Kemudian masing-masing ketua kelompok kembali
kepada kelompoknya masing-masing untuk memberitahukan penjelasan yang diberikan
oleh guru kepada anggota kelompoknya.
Langkah 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Setiap kelompok mendiskusikan bahan yang terdapat di LAS. Dalam kerja kelompok
setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang
memahami materi yang disajikan dalam LAS. Guru meminta para siswa dari tiap
kelompok untuk membuat pertanyaan yang sesuai dengan materi kedalam satu lembar
kertas, dimana hanya terdapat satu pertanyaan dalam satu kertas. Kemudian kertas yang
berisi pertanyaan tersebut digulung menyerupai bola untuk dilemparkan kepada
kelompok lain selama kurang lebih 15 menit.
Langkah 5. Evaluasi.
Guru meminta tiap-tiap kelompok yang mendapatkan pertanyaan dari kelompok lain
untuk mempersentasikan jawaban dari pertanyaan yang diperoleh.
Langkah 6. Memberi kesimpulan.
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan.
2.4. Teori Belajar Yang Mendukung
Teori pembelajaran vygotsky merupakan teori pembelajaran yang mendukung
model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing. Vygotsky adalah salah seorang
tokoh konstruktivisme. Hal terpenting dalam teorinya adalah pentingnya interaksi antara
aspek imternal dan eksternal pembelajaran dengan menekankan aspek lingkungan sosial
pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi ketika siswa bekerja
menangani tuga-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas itu masih berada dalam
jangkauan kemampuannya atau tuga-tugas itu berada dalam zona perkembangan
froksimal (zone of proximal development).
28

Zona perkembangan proksima adalah tingkatan perkembangan sedikit di atas
tingkat perkembangan seseorang pada ketika pembelajaran berlaku. Astuty (2009)
(dalam http:/xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/teoripembelajaran-vygotsky-
dalam-cooperative-learning/) secara terperinci, mengemukaakan bahwa:
“Yang dimaksudkan dengan “zona perkembangan proksima” adalah jarak antara
tingkat perkembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan potensial.
Tingkat perkembangan sesungguhnya adalah kemampuan pemecahan masalah
secara mandiri sedangkan tingkat perkembangan potensial adalah kemampuan
pemecahan dibawah bimbingan orang dewasa melalui kerja sama dengan rekan
sebaya yang lebih mampu”.
Oleh karena itu, maka tingkat perkembangan potensial dapat disalurkan memalui
model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing.
Ide penting lain dari Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding adalah pemberian
sejumlah bantuan kepada anak tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian
menguranginya dan member kesempatan kepada anak untuk mengambil alih
tanggungjawab saat merela mampu. Bentuan tersebut berupa petunjuk, peringatan,
dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah pemecahan, memberi contoh,
ataupun hal-hal lain yang memungkinkan pelajar tumbuh sendiri (Isjoni,2009:56). Jelas
bahwa scaffolding merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran kooperatif tipe
snowball throwing.
Dalam teori Vygotsky dijelaskan bahwa ada hubungan secara langsung antara
domain kognitif dengan sosio budaya. Kualitas berpikir siswa dibina dan aktivitas social
siswa dikembangkan dalam bentuk kerja sama antara siswa dengan siswa lainnya yang
lebih mampu dibawah bimbingan guru. Ini sesuai dengan model pembelajaran tipe
snowball throwing yang menekankan pada kerjasama antar setiap anggota kelompok
karena guru akan menunjuk secara acak siswa yang mewakili kelompoknya. Sehingga
setiap anggota kelompok wajib mengetahui tentang materi ataupun soal yang diujikan
dan terjadilah kerjasama antara siswa dengan siswa yang lebih mampu. Sehingga melalui
model pembelajaran kooperatif tipe snoball throwing ini dapat memciptakan proses
belajar yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
29


2.5. Kerangka Konseptual
Proses pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar yang ditandai
dengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada
tujuan. Pada kenyataannya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan
soal-soal matematika, hal ini ditandai dengan rendahnya hasil belajar siswa. Kesulitan
siswa cenderung disebabkan karena penggunaan metode yang kurang tepat, guru masih
mempergunakan sistem pengajaran metode ceramah konvensional.Pembelajaran
konvensional umumnya masih bersifat klasikal yang dalam pembelajarannnya kurang
memperhatikan aspek individual siswa.
Suatu masalah dalam matematika biasanya memuat situasi yang mendorong
seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus
dikerjakan untuk menyelesaikannya. Salah satu kesulitan yang dihadapi siswa adalah
dikarenakan kurangnya kemampuan siswa dalam memahami konsep materi yang
diberikan. Karena kurang mampunya siswa dalam memahami dan merencanakan
penyelesaian soal matematika, maka siswa akan mengalami kegagalan dalam proses
penyelesaian soal-soal tersebut. Untuk menyelesaikan soal – soal tersebut, sisiwa harus
mampu memahami maksud dari soal tersebut dan memilih langkah – langkah yang
sesuai untuk menyelesaikan soal tersebut.
Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar pada pokok bahasan
himpunan kelas VII di sekolah adalah melalui pembelajaran kooperatif tipe snowball
throwing. Dengan pendekatan ini siwa dibantu untuk menjadi pelajar yang mandiri dan
otonom dengan mengajukan pertanyaan atau masalah. Melalui bimbingan guru secara
berulang yang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan,
mencari penyelesaian terhadap masalah, siswa belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas
itu secara mandiri. Pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing yang bercirikan
pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin,
penyelidikan autentik, kerja sama,dan menghasilkan karya atau hasil peragaan bertujuan
membantu siswa mengatasi masalah-masalah matematika sehingga hasil belajar yang
30

diperoleh dapat meningkat.

Dalam penelitian ini, melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
snowball throwing diharapkan hasil belajar siswa lebih tinggi dibandingkan dengan
menggunakan pembelajaran konvensial.
2.6. Hipotesis
Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini yaitu: Hasil belajar
matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe snowball
throwing lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran
konvensional pada pokok bahasan himpunan di kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung
Morawa Tahun ajaran 2012/2013.











31

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 2 Tanjung Morawa, karena belum
pernah dilakukan penelitian sejenis (penggunaan metode snowball throwing pada materi
himpunan) di sekolah tersebut sebelumnya.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung
Morawa Tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 10 kelas.
3.2.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 2 kelas yang ditentukan secara
acak yaitu kelas VII-7 dan kelas VII-8. Kelas VII-8 diajarkan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing (selanjutnya disabut kelas eksperimen)
dan kelas VII-7 diajarkan dengan model pembelajaran konvensional (selanjutnya disebut
kelas kontrol). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitan ini adalah Sampling
Aksidental. Alasan peneliti dalam menggunakan sampling ini, karena peneliti telah
melakukan studi pendahuluan pada tahap PPL- T dan mempelajari situasi pada kedua
kelas tersebut, sehingga kelas tersebut diambil dan langsung dijadikan sebagai sampel
utama.
3.3. Variabel penetian
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas
a. variabel Perlakuan : Model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing
dan konvensional
b. Variabel kontrol
32

~ Waktu : Lamanya waktu yang digunakan untuk pengajaran di
kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama, serta jarak waktu antara
pengajaran di kelas eksperimen dan dikelas kontrol tidak terlalu jauh.
~ Buku : Buku yang digunakan selama pembelajaran di kelas
eksperimen dan kelas kontrol adalah sama.
~ Bahan Ajar : Kelas eksperimen dan kelas kontrol mendapat bahan
ajar yang sama yaitu himpunan
~ Guru : Guru yang mengajar di kelas eksperimen dan
kelas kontrol adalah guru yang sama dan mempunyai sifat objektif dalam
pengajaran dan penilian.
Dalam hal ini, guru tidak membeda- bedakan jenis kelamin, agama, suku
dan ras yang dimiliki oleh sisiwa baik dikeklas eksperimen mmaupun
dikelas kontrol.
c. Variabel tidak kontrol : IQ siswa, lingkungan, cara belajar, dan bimbingan
belajar di luar sekolah.
2. Variabel terikat : Hasil belajar siswa.
3.4 Defenisi Operasional
1. Pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing adalah suatu model
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dimana siswa ditempatkan
dalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 – 6 orang siswa dengan karekteristik
yang heterogen. Guru terlebih dahulu menyajikan materi, kemudian sisiwa
dalam kelompok belajarnya mendiskusikan materi pelajaran yang telah diberikan
oleh guru. Selanjutnya masing- masing kelompokmembuat pertanyaan yang
ditulis dalam kertas untuk dilemparkan kepada kelompok lainnya. Guru
membimbing masing- masing kelompok dalam menjawab pertanyaan yang
diberikan dan menyimpulkan secara bersama- sama materi yang dibahas.
2. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang dilaksanakan
berdassarkan kebiasaan, dimana pembelajaran ini merupakan pembelajaran
tradisional yang mempersiapkan siswa untuk belajar secara individu dan
kompetitif untuk memahami pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif
yang terstruktur yang berasal dari pengajar sebagai pusat pembelajaran.
3. Hasil belajar matematika siswa adalah nilai siswa dalam pelajaran matematika
pada pokok bahasan himpunan yang diperoleh melalui pretest dan posttestyang
diberikan kepada sampel penelitian.
33

3.5 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi experimental yaitu penelitian yang
mendekati penelitian true experimental dimana tidak mungkin mengadakan kontrol
atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Desain penelitian yang
digunakan adalah pre test- test post – test control group design yakni eksperimen
yang dilaksanankan pada dua kelompok dimana salah satunya sebagai kelompok
pembanding. Penelitian ini melibatkan dua kelas yaitu kelas eksperimen ( kelas VII-
8) dan kelas kontrol ( kelas VII – 7) ( dipandang dari segi pekerjaan orang tua,
tingkat ekonomi, jauh – dekatnya jarak rumah ke sekolah, serta tingkat intelektual
siswa di kedua kelas tersebut masih sama, sehingga peneliti mengambil kelas ini
sebagai sampel). Kedua kelas sampel diberi pree- test dan selanjutnya pada kelas
eksperiment diberimkan perlakuan yaitu pengajaran materi himpunan menggunakan
model kooperatif tipe snowball – thorowing, sedangkan kelompok kontrol diberi
perlakuan berupa pengajaran konvensional. Setemlah selesai pembenlajaran kedua
sample diberi post test.
Dengan demikian desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 3.1. Desain Penelitian



Keterangan:

: Pembelajaran kooperatif tipe snowball – thorowing

: Pembelajaran konvensional

: Pemberian test awal ( pree- test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

: Pemberian test akhir ( post – test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
3.6 Validasi Eksperimen
Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan
oleh variabel bebas ( perlakuan ) yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat
digeneralisasikan pada situasi diluar setting eksperimental ( Emzir : 2009). Sehingga ada
Kelas Pree – test Treatment Post – test
Eksperimen

Kontrol

34

dua kondisi yang harus dijaga yaitu velidasi internal dan validasi eksternal selama proses
penelitian.
3.6.1. Validasi Internal
Suatu penelitian dikatakan mempunyaia validitas internal tinggi, apabila kondisi
berbeda pada variabel terikat dari subjek yang diteliti, merupakan hasil langsung dari
adanya manipulasi variabel bebas ( Abied,2010). Penelitian ini akan mempunyai
validitas internal tinggi jika perbedaan hasil belajar siswa diantara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol, hanya disebabkan adanya perlakuan dari kedua variabel metode
mengajar. Hal ini dapat dicapai apabila validitas internal perlakuan tetap dijaga sehingga
perubahan hasil belajar pada sisiwa hanya disebabkan oleh adanya perubahan pada
variabel bebas.
Campbell dan Stanley ( Dalam Emzir,2009) mengidentifikasi delapan validitas
internal perlakuan yang harus dijaga, antara lain :
a. Hostoris
Munculnya suatu kejadian yang bukkan bagian dari perlakuan dalam eksperimen
yang dilakukan , tetapi mempengaruhi model, karakter dan penampilan variabel
bebas.
b. Maturasi
Terjadinya perubahan fisik atau mental peneliti atau objek yang diteliti , yang
mungkin muncul selama satu periode tertentuyang mempengaruhi proses
pengukuran dalam penelitian.
c. Testing
Dimana sering terjadi ketidakefektifan suatu penelitian yang menggunakan
metode test karena suatu kegiatan test yang dilakukan dengan menggunakan pree
test dan post test dengan rentang waktu yang cukup panjang dan terkadang nilai
pree test dan post test yang sama.
d. Instrumentasi
Instrumentasi sering muncul karena kurang konsistensinya instrumen pengukuran
yang mungkin menghasilkan penilaian perpormansi yang tidak valid. Dimana jika
dua test yang berbeda digunakan untuk pree test dan post test, dan test – test
tersebut tidak sama kesulitannya, maka instrumentasi dapat muncul.
35

e. Regresi Statistik
Regresi statistik ini sering muncul ika subyek dipilih berdasarkan skor ekstrem
dan mengacu pada kecenderungan subjektif yang memiliki skor yang paling
tinggi pada pree test ke skor yang lebih rendah pada post test, begitupun
selanjutnya.
f. Seleksi subyek yang berbeda
Biasanya muncul bila kelompok yang ada digunakan dan mengacu pada fakta
bahwa kelompok tersebut mungkin berbeda sebelum kegiatan penelitian dimulai.
g. Mortalitas
Dimana sering terjadi bahwa subjek yang terkadang keluar dari lingkup penelitian
dan memiliki karakteristik kuat yang dapat mempenggaruhi hasil penelitian.
h. Interaksi Seleksi Maturasi
Dimana satu kelompok akan termaturasi dengan hasil kelompok lain tanpa
melalui perlakuan.

3.6.2. Validasi Eksternal
Validasi ini mengacu pada kemampuan generalisasi suatu penelitian. Dimana
dibutuhkan kemampuan suatu sampel populasi yang benar- benar bisa digeneralisasikan
ke populalasi yang lain. Campbell dan Stanley ( Dalam Emzir,2009) mengidentifikasi
beberapa faktor validitas eksternal yang harus dijaga, diantaranya :
a. Interaksi Pree test Perlakuan
Dimana biasanya sering muncul bila respon subjek berbeda pada setiap perlakuan
karena mengikuti pree test.
b. Interaksi Seleksi Perlakuan
Dimana akibat yang muncul bila subjek tidak dipilih secara acak sehingga seleksi
subjek yang berbeda diasosiasikan dengan ketidakvalidan internal.
c. Spesifisitas Variabel
Suatu ancaman terhadap yang tidak mengindahkan generalisabilitas dan desain
eksperimental yang digunakan.
d. Pengaturan Reaktif
Mengacu pada faktor- faktor yang diasosiasikan dengan cara bagaiman penelitian
dilakukan dan perasaan serta subjek yang dilibatkan.
36

e. Interfensi Perlakuan Jamak.
Biasanya sering muncul jika subjek yang sama menerima lebih dari satu perlakuan
dalam pergantian.
f. Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen
Sering muncul jika keakraban subyek dan peneliti mempengaruhi hasil penelitian.

3.7. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah tahap- tahap kegiatan dengan seperangkat alat
pengumpul data dan perangkat pembelajaraan. Langkah- langkah yang dilakukan
adalah :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan yang dilakukan adalah :
 Mennentukan tempat dan jadwal penelitian.
 Menentukan populasi dan sampel penelitian.
 menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Snowball Throwing dan konvensional pada pokok bahasan
himpunan. Rencana pembelajaran tiap kelas dilaksanakan dengan 3 kali
pertemuan, dimana 1 kali pertemuan adalah 40 menit.
2. Tahap pelaksanaan
Dalam penelitian ini tahap pelaksanaan dilakukan dengan langkah- lamngkah
sebagai berikut :
 Memvalidkan soal instrumen penelitian kemidian dilakukan uji validitas tes,
realibilitas, taraf kesukaran, dan daya beda.
 Menggunnakan pree-test
 Mengadakan pembelajaran pada dua kelas dengan bahan dan waktu yang
sama, hanya model pembelajaran yang berbeda. Untuk kelas eksperimen
diberikan perlakuan yaitu pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing
sedangkan kelas kontrol deberikan perlakuan pembelajaran konvensional.
 Memberikan post –test pada kedua kelas. Waktu dan pelaksanaan post- test
pada kedua kelas adalah sama.

37

3. Tahap Akhir
 Menghitung perbedaan antara hasil pree - test dan post – test untuk masing-
masing kelas.
 Melakukan ui hipotesis hasil belajar matematika siswa dengan
menggunakan statistika t untuk menentukan apakah perbedaan skornya
signifikan, yaitu perbedaan tersebut cukup besar untuk menolak hipotesis
nol.















38

Bagan 3.1.
Prosedur Penelitian






















Populasi
Sampel
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Pree Test
Sampel Homogen
KBM dengan model kooperatif tipe
Snowball throwing
KBM dengan model pembelajaran
Konvensional
Post Test
Data
Analisis Data
Hasil
Kesimpulan
39

Tabel 3.2.
Rangkaian dan Jadwal Pembelajaran/ Tes yang Dilakukan Selama Proses
Penelitian
NO Jenis kegiatan tes/
pembelajaran
Kelas Eksperimen
( kelas 7 – 8 )
Kelas Kontrol
( kelas 7 – 7 )
Hari Jam-
ke
Tanggal Hari Jam-
ke
Tanggal
1 Penggunaan Pree- test Sabtu 1,2
(2jp)
Sabtu 6,7(2j
p)

2 KBM dengan
menggunakan Metode
Kooperatif tipe
Snowball Throwing
dengan materi
Menyajikan himpunan
dengan diagram venn .
( RPP I)
Rabu 1 (1jp) - -
3 LAS I Rabu 2
( 1jp)
- -
4 KBM dengan
menggunakan Metode
Konvensional dengan
materi Menyajikan
himpunan dengan
diagram venn . ( RPP I)
- - Rabu 6
(1jp)

5 LAS I Rabu 7
(1jp)

6 KBM dengan
menggunakan Metode
Kooperatif tipe
Snowball Throwing
dengan materi operasi
irisan, gabungan dan
komplemen. ( RPP II)
Rabu 3 (1jp) - -
7 LAS II Sabtu 1(1jp) - -
40






8 KBM dengan
menggunakan Metode
Konvensional dengan
materi operasi irisan,
gabungan dan
komplemen. ( RPP II)
- - Kamis 3(1jp)
9 LAS II - - Kamis 4(1jp)
10 KBM dengan
menggunakan Metode
Kooperatif tipe
Snowball Throwing
dengan materi
Melakukan kurang/
difference dan hubungan
antar himpunan. ( RPP
III)
Sabtu 2(1jp) - -
11 LAS III Sabtu 3(1jp) - -
12 KBM dengan
menggunakan Metode
Konvensional dengan
materi Melakukan
kurang/ difference dan
hubungan antar
himpunan. ( RPP III)
- - Sabtu 6(1
jp)

13 LAS III - - Sabtu 7(1jp)
14 Post Test Rabu 1-2
(2jp)
Rabu 6-
7(2jp)

41

3.8. Instrumen Pengumpulan Data
Adapun alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
3.8.1. Tes
Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa
adalah tes. Dalam penelitian ini tes yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu tes awal
( pree – test ) dan tes akhir ( post – test ). Tes awal yang diberikan bertujuan untuk
mengetahui tingkat kemampuan awal siswa pada materi himpunan sedangkan tes akhir
diberikan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah dilakukan pembelajaran.
Adapun tes yang diberikan berbentuk essay test dan reliabilitas.
3.8.1.1. Validitas Tes
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat- tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen/ tes. Untuk menentukan validitas tiap butir soal ( item )
digunakan rumus product momen sebagai berikut :

=
∑ ∑ ∑





– ∑

Dimana :

= Validitas soal
∑ = Skor yang diperoleh siswa untuk tiap nomor soal
∑ = Skor total
N = Jumlah
Untuk keberartian harga validitas tiap item maka harga tersebut dikonfirmasikan
kedalam tabel harga kritik product moment dengan kriteria soal valid jika

>

( Arikuntoro, 2002 : 72 ).
Uji coba validasi soal post test dan pree test dilakukan dengan taraf signifikan
0,05 dan N = 38, diperoleh

= 0,320 ( tabel harga kriti dari r product – moment ).
42

Dari 8 soal pree test yang diujicobakan , 8 soal tersebut dinyatakan valid. Sedangka
untuk 8 soal post test, 7 soal dinyatakan valid, 1 soal dinyatakan tidak valid yakni soal
nomor 5. ( lampiran 14).
3.8.1.2. Realibilitas Tes
Realibilitas merupakan ketetapan suatu test tersebut diberikan kepada subjek yang
sama. Untuk menentukan realibilitas test dipakai rumus alpha
( Arikuntoro,2006:196), yaitu :

(
¸
(

¸
E
÷
(
¸
(

¸

÷
=
2
2
11
1
1
t
b
k
k
r
o
o
(Arikunto, 2007:109)
Dengan:
( )
N
N
X
X
b
b
b
2
2
2
E
÷ E
= o dan
( )
N
N
X
Y
t
t
2
2
2
E
÷ E
= o

Keterangan:
r
11
= Reliabilitas tes
k = Banyak jumlah soal.
2
b
o E = Jumlah varians butir soal.
2
t
o = Varians total.
Tingkat realibilitas soal digunakan skala yang dikemukakan oleh Slameto
( 2003:215).
Adapun Kriteria realibilitas sebagai berikut :
0,000 ≤

< 0,200 derajat reliabilitas sanagat rendah.
0,200 ≤

< 0,400 derajat reliabilitas rendah.
0,400 ≤

< 0,600 derajat reliabilitas sedang / cukup.
0,600 ≤

< 0,800 derajat reliabilitas tinggi.
0,800 ≤

< 1,000 derajat reabilitas sangat tinggi
43

Dengan taraf signifikan 0,05 dan N = 38, dari hasil uji coba soal pretest yang
dilakukan diperoleh sebesar 0,589 artinya soal pretest dinyatakan berreliabilitas sedang.
Demikian juga halnya dengan posttest, diperoleh sebesar 0,794 artinya soal post test
dinyatakan berreliabilitas tinggi ( lampiran 16).
3.8.2. Observasi
Observasi yang dilakukan merupakan pengamatan terhadap keseluruhan
kegiatan be;ajar mengajar. Dalam hal ini guru bidangstudi matematika bertindak sebagai
pengamat ( observer) yang mengobservasi peneliti selama kegiatan pembelajaran
berlangsung. Hasil observasi dianalisis dengan menggunakan rumus :

=

Keterangan :

= Hasil pengamatan pada pertemuan ke – i
J = Jumlah aspek yang diamati
B = Banyak aspek yang diamati
Dengan kriteria :
3,40 – 4,00 = amat baik
2,80 – 3,39 = baik
2,60 – 2,79 = sedang
2,20 – 2,59 = kurang
0,00 – 2,19 = sangat kurang
3.9 Tehnik Analisis Data
Untuk melihat hasil belajar siswa maka dilakukan annalisis terhadap data yang
diperoleh dari tes hasil belajar. Penganalisissan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
3.9.1 Menentukan nilai rata- rata dan simpangan baku hasil pree- test dan post-
test.
 Menentukan nilai rata- rata mmenggunakan rumus :
=

44

 Menghitung simpangan baku ( S ) digunakan rumus :

=




– ∑

Selanjutnya menghitung varians dengan memangkatduakan simpangan
baku atau standar deviasi.
3.9.2. Uji Normalitas
Uji niormalitas diadakan untuk mengetahui normaml atau tidaknya populasi
penelitian tiap variaabel penelitian. Pengujian ini digunakan dengan menggunakan uji
Liliefors . Langkah- langkah yang dilakukan sebagai berikut :
1) Data hasil belajar

,

, .............,

diubah ke bentuk baku

,

,...........,

.
Dengan rumus :

=

(Sudjana,2005:466)
Keterangan :

= Data ke – i
X = Nilai rata- rata
S = Simpangan baku sampel
2) Untuk setiap angka baku ini digunnakan daftar distribusi normaml kemudian
dihitung peluang F(

= P (Z

)
3) Menghitung proporsi S (

) dengan rumus :

S (

) =

Menentukan L hitung = F (

– S (

) yang terbesar
Menentukan L tabel dengan = 5%
Jika

<

maka sampel berdistribusi normal
Jika

>

maka sampel tidak berdistribusi normal.

45

3.9.3 Uji Homogenitas
Untuk melihat kedua kelas yang diuji memiliki kemampuan dasar yang sama,
terlebih dahulu diuji kesamaan variansnya. Untuk menguji kesamaan kedua varians
digunakan uji Fdengan rumus sebagai berikut :

:

=

kedua populasi mempunyai varians yang sama.

:

kedua populasi mempunyai varians yang berbeda.
F =

(Sudjana,2005:250)
Keterangan :

: Varians terbesar

: Varians terkecil
Kriteria Pengujian :
Jika

maka

ditolak dan jika

maka

diterima.
Dengan derajat kebebasan pembilang = (

– n) dan derajat kebebasan penyebut =
(

– n) dengan taraf nyata = 0.05.
3.9.4. Uji Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diuji dirumuskan sebagai berikut :
Hipotesis penelitian :

= Hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe snowball throwing sama denga menggunakan model pembelajaran
konvensional pada pokok bahasan himpunan di kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung
Morawa T.A 2012 / 2013.

= Hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe snowball throwing slebih tinggidibanding denga menggunakan
model pembelajaran konvensional pada pokok bahasan himpunan di kelas VII
SMP Negeri 2 Tanjung Morawa T.A 2012 / 2013.
46

Hipotesis Statistik :

:

=

:

>

Alternatif Pemilihan Uji t
1. Jika data berasal dari populasi yang homogen (

=

dan tidak diketahui), maka
digunakan rumus uji t yaitu :
t =

(Sudjana,2005:239)

Dengan

=

(

– )

2. Jika data berasal dari populasi yang tidak homogen (

dan tidak diketahui),
maka digunakan rumus uji t yaitu :

t =

(Sudjana,2005:2341)
Keterangan :
t = Luas daerah yang dicapai

= Banyak siswa pada sampel kelas eksperimen

=Banyak siswa pada sampel kelas kontrol

= Simpangan baku kelas eksperimen

= Simpangan baku kelas kontrol

=Simpangan baku gabungan dari

dan

= Rata- rata selisih skor siswa kelas eksperimen

= Rata- rata selisih skor siswa kelas kontrol.
3. Kriteria pengujian adalah : terima

jika

dengan dk = (

+

- 2)
dengan peluang ( 1 - ) dan taraf nyata = 0,05. Untuk harga- harga t lainnya

ditolak atau diterima

47

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, (2000), Pendidikan di Indonesia, Masalah, dan Solusinya,
http://www.depdiknas.go.id
Abdurrahman, Mulyono, ( 2009), Pendidikan Bagi Anak Beskesulitan Belajar, PT
Rineka Cipta, Jakarta.
Abied, (2010), Desain Penelitian Eksperimen, (http://meetabied.wordpress.com)
(diakes 16 desember 2010 )
Abin, (2010), Pengaruh Model Pembelajaran Matematika (http://pendidikan –
matematika.blogspot.com/2009/03/pengaruh_model_pembelajaran.html)
(diakses 16 November 2010 )












48

Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN I
( RPP I )

Sekolah : SMP NEGERI 2 TANJUNG MORAWA
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester : VII / Genap
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : ALJABAR
Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam
pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : Menyajikan himpunan dalam diagram venn
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran (1 pertemuan).

A. Tujuan Pembelajaran
÷ Peserta didik mampu menyajikan himpunan dalam diagram venn.

 Karakter siswa yang diharapkan : KERJASAMA : Dalam kehidupan
sosial tidak ada satu unsur sosial yang mampu berdiri sendiri. Kita sebagai
siswaselaku unsur soaial harus bisa menjalin kerjasama yang baik kepada
teman dan sesama kita tanpa memandang perbedaan yang ada, sehingga
tercapai suatu tujuan yang diinginkan.

B. Materi Ajar.
÷ Diagram Venn
C. Metode dan model kegiatan Pembelajaran
- Metode Snowbal Throwing
- Model kegiatan diskusi kelompok dan tanya jawab






49


D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan awal Waktu
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap I : Pendahuluan
 Menyampaikan kompetensi dasar dan
tujuan yang hendak dicapai dalam
pembelajaran
 Memotivasi siswa dan menginformasikan
serta menerangkan model pembelajaran
kooperatif tipe snowball throwing.


 Mendengar dan
memperhatikan
penjelasan guru
 Mendengar dan
memperhatikan
penjelasan guru



Kegiatan Inti
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap II :
Pembentukan kelompok
 Membagi siswa dalam beberapa
kelompok yang beranggotakan
6 orang berdasarkan tes awal
 Guru meminta tiap kelompok
mennetukan nama
kelompoknya sendiri
Tahap III :
Penyajian Informasi
 Guru memeriksa buku panduan/
buku paket tiap kelompok.
 Guru membagikan LAS I
 Guru memberikan penjelasan
materi himpunan himpunan.



 Siswa duduk berdasarkan
kelompoknya
 Membuat nama kelompok



 Menerima LAS I
 seluruh siswa mendengarkan
penjelasan guru,
 Mendiskusikan LAS
I( menjawab seluruh soal)
dan memastikan setiap
kelompok benar- benar
paham.

50

Tahap IV :
Membimbing kelompok Bekerja dan
Belajar
 Menugaskan siswa
mendiskusikan LAS I sehingga
seluruh siswa dala tiap
kelompok paham.
 Meminta siswa untuk membuat
pertanyaan krdalam satu lembar
kertas
 Meminta siswa untuk
menggulung kertas yang berisi
pertanyaan dan melemparkan
kertas tersebut kepada
kelompok lain.
 meminta taiap kelompok
mendiskusikan jawaban dari
pertanyaan yang diperoleh.

Tahap V :
Evaluasi
 Meminta salah satu wakil dari
kelompok untuk menjawab
pertanyaan.
 Meminta kelompok lain
untuk menanggapi jawaban
dari kelompok tersebut.


Tahap VI :
Guru memberikan kesimpulan
 Guru bersama siswa
 Membuat pertanyaan di
selembar kertas
 Menggulung kertas yang
berisi pertanyaan dan
melemparkan kertas kepada
kelompok lain.
 Mendiskusikan jawaban dari
pertanyaan yang diperoleh


 Memberikan jawaban


 Memberikan tanggapan atas
jawaban tersebut.


 Memberikan
pendapat,mendengarkan
kesimpulan dan mencatat
kesimpulan.
51

menyimpulkan jawanan-
jawaban dari masalah yang
diajukan
Kegiatan Penutup
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
 Memberikan kesempatan
bertanya kepada siswa yang
belum paham.
 Menginggatkan siswa agar
mengulangi pelajaran di rumah.
 Menanyakan hal yang belum
dipahami
 Mengulangi pelajaran di
rumah.

E. Sumber Belajar / Media
Simanguncong, Wilson, dkk, 2006. Matematika untuk SMP kelas VII.
Erlangga : Jakarta
M. Cholik Adinawan dan Sugijono, 2007. Matematika untuk SMP kelas VII.
Erlangga : Jakarta


















52

F. Penilaian
INDIKATOR
SOAL
TEHNIK
PENILAIAN
BENTUK
PENILAIAN
INSTRUMEN
1. Siswa mampu
menyajikan
himpunan
dengan
diagram venn

2. Siswa mampu
mennetukan
anggota-
anggota
himpunan
dalam diagram
venn.
Tes tertulis Essay 1. Buatlah diagram venn
dari himpunan- himpunan
berikut ini!
S =1,2,3,4,5,6,7}
A= 4,5}
B= 1,3,6}
2. Perhatikan diagram
venn berikut ini!

Tentukanlah himpunan A,
B dan C!













53


G. Kunci Jawaban
1. Buatlah diagram venn dari himpunan- himpunan berikut ini!
S =1,2,3,4,5,6,7}
A= 4,5}
B= 1,3,6}
Penyelesaian :
Dik : S =1,2,3,4,5,6,7}
A= 4,5}
B= 1,3,6}
Dit : Diagram Venn
Jawab :

2. Dik :

Dit : Himpunan A, B dan C
Jawab : Dari diagram venn di atas dapat diketahui bahwa,
Himpunan A = { a,d,e,f }
Himpunan B = {b,d,f,g }
Himpunan C = {c,e,f,g }


54

Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN I
( RPP I )

Sekolah : SMP NEGERI 2 TANJUNG MORAWA
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester : VII / Genap
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : ALJABAR
Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam
pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : Melakukan operasi irisan, gabungan, kurang
(difference), dan komplemen pada himpunan.
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran (1 pertemuan).

A. Tujuan Pembelajaran
÷ Peserta didik mampu melakukan operasi irisan, gabungan, serta kurang
( difference) pada himpunan.
÷ Siswa mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan konsep
himpunan.
 Karakter siswa yang diharapkan : KERJASAMA : Dalam kehidupan
sosial tidak ada satu unsur sosial yang mampu berdiri sendiri. Kita sebagai
siswaselaku unsur soaial harus bisa menjalin kerjasama yang baik kepada
teman dan sesama kita tanpa memandang perbedaan yang ada, sehingga
tercapai suatu tujuan yang diinginkan.
B. Materi Ajar.
÷ Operasi irisan, gabungan, serta kurang ( difference) pada himpunan.
C. Metode dan model kegiatan Pembelajaran
- Metode Snowbal Throwing
- Model kegiatan diskusi kelompok dan tanya jawab


55

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan awal Waktu
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap I : Pendahuluan
 Menyampaikan kompetensi dasar dan
tujuan yang hendak dicapai dalam
pembelajaran
 Memotivasi siswa danmengulangi
menginformasikan serta menerangkan
secara singkat model pembelajaran
kooperatif tipe snowball throwing.


 Mendengar dan
memperhatikan
penjelasan guru
 Mendengar dan
memperhatikan
penjelasan guru



5
menit
Kegiatan Inti
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap II :
Pembentukan kelompok
 Menginstruksikan siswa agar
duduk sesuai dengan
kelompok yang ditentukan
pada pertemuan sebelumnya.
Tahap III :
Penyajian Informasi
 Guru memeriksa buku
panduan/ buku paket tiap
kelompok.
 Guru membagikan LAS II
 Guru memberikan penjelasan
materi himpunan (Operasi
irisan, gabungan, serta kurang
( difference) pada himpunan.).


 Siswa duduk berdasarkan
kelompoknya




 Menerima LAS II
 semua siswa mendengarkan
penjelasan guru, siswa
yang lain membaca buku
dan LAS II


56


Tahap IV :
Membimbing kelompok Bekerja
dan Belajar
 Menugaskan siswa
mendiskusikan LAS I
sehingga seluruh siswa dala
tiap kelompok paham.
 Meminta siswa untuk
membuat pertanyaan krdalam
satu lembar kertas
 Meminta siswa untuk
menggulung kertas yang berisi
pertanyaan dan melemparkan
kertas tersebut kepada
kelompok lain.
 meminta taiap kelompok
mendiskusikan jawaban dari
pertanyaan yang diperoleh.

Tahap V :
Evaluasi
 Meminta salah satu wakil
dari kelompok untuk
menjawab pertanyaan.
 Meminta kelompok lain
untuk menanggapi jawaban
dari kelompok tersebut.


Tahap VI :



 Mendiskusikan LAS
I( menjawab seluruh soal)
dan memastikan setiap
kelompok benar- benar
paham.
 Membuat pertanyaan di
selembar kertas
 Menggulung kertas yang
berisi pertanyaan dan
melemparkan kertas kepada
kelompok lain.
 Mendiskusikan jawaban
dari pertanyaan yang
diperoleh


 Memberikan jawaban


 Memberikan tanggapan
atas jawaban tersebut.


57

Guru memberikan kesimpulan
 Guru bersama siswa
menyimpulkan jawanan-
jawaban dari masalah yang
diajukan
 Memberikan
pendapat,mendengarkan
kesimpulan dan mencatat
kesimpulan.
Kegiatan Penutup
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
 Memberikan kesempatan
bertanya kepada siswa yang
belum paham.
 Menginggatkan siswa agar
mengulangi pelajaran di
rumah.
 Menanyakan hal yang
belum dipahami
 Mengulangi pelajaran di
rumah.

E. Sumber Belajar / Media
Simanguncong, Wilson, dkk, 2006. Matematika untuk SMP kelas VII.
Erlangga : Jakarta
M. Cholik Adinawan dan Sugijono, 2007. Matematika untuk SMP kelas VII.
Erlangga : Jakarta


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->