P. 1
Kromatografi Kolom

Kromatografi Kolom

|Views: 87|Likes:
skjck
skjck

More info:

Published by: Aqmar Sajidah Luthfiana Soebaredja on Mar 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2013

pdf

text

original

Kromatografi Kolom

KROMATOGRAFI KOLOM
I. TUJUAN

Mempelajari cara pemisahan suatu campuran dengan kromotografi kolom.
II. TEORI

 

-

Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan yang di dasarkan pada pemisahan daya adsorbsi suatu adsorben terhadap suatu senyawa, baik pengotornya maupun hasil isolasinya. Sebelumnya dilakukan percobaan tarhadap kromatografi lapis tipis sebagai pencari kondisi eluen. Misalnya apsolsi yang cocok dengan pelarut yang baik sehingga antara pengotor dan hasil isolasinya terpisah secara sempurna. Alat yang diinginkan adalah kolom gelas yang diisi dengan zat padat aktif sepertialumino dan selika gel sebagai fase diam. Zat yang dimasukan lewat puncak kolom akan mengalir kedalam zat penyerap. Zat diserap dari larutan secara sempurna oleh zat penyerapan berupa pita sempit pada ujung kolom dengan kecepatan yang berbeda, sehingga terjadi pemisahan dalam kolom. Hasil pemisahan ini disebut kromatogram. Umumnya pada kromatografi kolom digunakan campuran homogen seperti campuran gas dilakukan pada suatu penyerap (absorbent). Komponen penyusun campur akan diserap oleh adsoben adalah 1 : 50. Metode ini dapat memisahkan zat dari 100 mg sampai 5 mg bahkan lebih. Pemisahan campuran baik bila harga Rf = 0.6. Teknik kromatografi kolom paling sesuai untuk pemisahan hasil isolasi dari pengotornya. Pemisahan dengan kromatografi kolom biasanya digunakan absorben yang paling umum : alumunium oksida (Al2O3) yang mempunyai daya absorsi atau kereaktifan yang diatur secara cepat sehingga penggunaan memberikan hasil yang baik. Seberapa jauh komponen itu dapat diserap absorben tergantun pada sifat fisika komponen tersebut. Bila campuran cairan dilakukan dengan kolom yang berisikan absorben, komponen cairan lainya akan mengalir kebawah . Jadi semakin lemah kemungkinan cairan itu teradsopsi semakin cepat komponen itu mengalir ke bawah. Bila kecepatan gerak cairan itu lebih besar dari pada kecepatran absorbsi oleh absorben. Prinsip kerja kromatografi kolom adalah dengan adanya perbedaan daya serap dari masing-masing komponen, campuran yang akan diuji, dilarutkan dalam sedikit pelarut lalu di masukan lewat puncak kolom dan dibiarkan mengalir kedalam zat menyerap. Senyawa yang lebih polar akan terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non polar terserap lebih lemah dan turun lebih cepat. Zat yang di serap dari larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada kolom. Pelarut lebih lanjut / dengan tanpa tekanan udara masin-masing zat akan bergerak turun dengan kecepatan khusus sehingga terjadi pemisahan dalam kolom. Kromatografi kolom dilihat dari jenis fasa diam dan fasa geraknya dapat dibedakan : Kromatografi Fase Normal Kromatografi dengan kolom konvensional dimana fase diamnya “normal” bersifat polar, misalnya silica gel, sedangkan fase geraknya bersifat non polar. Kromatografi Fase Terbalik Kromatografi dengan kolom yang fase diamnya bersifat non polar, sedangkan fase geraknya bersifat polar; kebalikan dari fase normal. Cara pengisian kolom terbagi dua , yaitu : 1. Cara basah Isi dasar kolom dengan kapas Masukkan eluen Campurkan dengan rata sebagai adsorben dan eluen menjadi homogen Jangan tersentuh atau diguncangkan ± 6 jam

sebagai wadah pelarut.  Botol vial. Suhu kromatografi. . botol kecil dengan volume 10 mL sebagai wadah penampung hasil pemisahan. Pelarut yang digunakan. Cara kering Isi tabung dengan kapas Masukkan eluen Masukkan adsorben kering sedikit demi sedikit Lalu di aduk Faktor yang mempengaruhi kecepatan gerak zat: . sebagai alat bantu untuk mengalirkan pelarut ketika memasukkannya ke dalam kolom. . lalu keluarkan eluen 2. Alat  Kolom kromatografi.Sifat pelarut.Suhu sistem kromotografi. Rongga udara dalam absorben. Ukuran artikel absorben. Jenis / sifat eluen.  Standar dan klem.Daya serap adsorben. masukkan eluen dan zat.      Kecepatan turunan sampel dipengaruhi oleh : Tekanan didalam kolom semakin besar semakin cepat.  Silika sebagai bahan untuk fase diam. Jika ada rongga udara dalam adsorben maka jalannya senyawa akan Faktor yang mempengaruhi proses pemisahan: terganggu.1 Alat dan Bahan Adapun bahan-bahan dan peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut : a. III.  Batang pengaduk dan corong. sebagai bahan pembatas dan penahan pada serbuk silika . Bahan  Hasil ekstrak buah naga (pada objek sokletasi) sebagai sampel uji. - Daya serap adsoben. Panjang absorben. b.  Gelas piala. alat gelas berupa kolom sebagai tempat fase diam dan media proses kromatografi. makin panjan makin cepat turunnya senyawa.- Setelah stabil.  Kapas. sebagai alat bantu untuk rangkaian alat kromatografi. berupa campuran heksan dengan etil asetat dengan perbandingan tertentu.  Eluent / fase gerak. PROSEDUR KERJA 3.

dengan sistem SGP (step gradien polarity) Tabel Pengamatan.  Jenis Eluen : campuran heksan dengan etil asetat. Alirannya pun diusahakan tidak terlalu lambat agar proses tidak terlalu lama. Pada pengerjaannya di awali dengan satu jenis pelarut yaitu berupa heksan saja.2 Pembahasan Pemisahan ekstrak buah naga ini dilakukan dengan metode kromatografi kolom. Pencampuran dilakukan dengan perbandingan yang divariasikan secara bertahap. Hasil yang ada pada masing-masing vial tersebut kita uji dengan KLT sehingga bisa kita lihat apakah pada masing-masing benar-benar hanya mengandung satu komponen. Proses pemisahan pada kromatografi kolom ini bisa dikatakan sebagai bentuk sederhana dari teknik kromatografi yang dilakukan dengan instrument kinerja tinggi. Untuk lebih memastikan tingkat kemurnian dari hasil pemisahan dapat kita uji dengan metode Kromatografi Lapisan Tipis.IV. Di samping itu. meskipun hasilnya tidak terlalu banyak. Hasil pemisahan dapat diakumulasikan dan masih dalam keadaan terlarut dalam pelarut. Kolom di sini . keterikatan komponen terhadap pelarut dan keterikatan masing-masing komponen terhadap fase diam akan berubahubah. Dengan adanya perubahan tingkat kepolaran secara bertahap. Eluen mengalir mengelusi sampel menyusuri fase diam di sepanjang kolom dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Kita bisa saja mendapatkan komponen murninya dengan pemekatan.1 Hasil dan Data Dari praktikum Kromatografi Kolom yang dilakukan didapatkan data-data sebagai berikut :  Sampel : ekstrak buah naga (hasil dari objek sokletasi). Aliran eluen diatur agar tidak terlalu cepat agar komponen dapat terpisah dengan. Dengan ini diharapkan dapat memberikan pemisahan yang lebih baik.. dengan sistem pelarut SGP (Step Gradieny Polarity). HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 2 3 4 5 6 Perbandinga Heksan : Etil Asetat 10:0 8:2 6:4 4:6 2:8 0:10 Warna Zat bening bening Orange muda orange muda orange orange 4. hingga diakhiri dengan hanya menggunakan etil asetat saja sebagai eluen. sesuai dengan sifat-sifat masing-masing komponen. kemudian digeser tingkat kepolarannya dengan mencampurkannya dengan pelarut etil asetat. Eluen tersebut merupakan campuran dua jenis pelarut dengan kepolaran berbeda. Komponen ini dibawa oleh pelarut dan tertampung pada vial penampung. Langkah ini diambil karena belum diketahui jenis eluen yang cocok dengan pemisahan ini. Sistem pelarut SGP dilakukan dengan cara menggantikan / mengubah kepolaran dari eluen yang digunakan secara bertahap. kita juga bisa memperoleh hasil pemisahan tersebut dan menampungnya. Eluen dialirkan untuk pemisahan komponen dengan kecepatan alir sekitar 100 tetesan per menitnya. Kelebihan dari metode ini jika dibandingkan dengan KLT adalah bahwa kita dapat melakukan pemisahan untuk sampel dengan jumlah yang lebih banyak. Dengan mengubah perbandingan campurannya kita dapat menggeser tingkat kepolaran dari eluen ini. No. Kita juga bisa melakukan pemisahan dengan jenis eluen lain. atau dengan jenis absorben lainnya.

Bahan yang digunakan sebagai fase diam dapat berupa macam. baik itu dengan memanfaatkan prinsip partisi ataupun absorbsi.hanya sebatas berfungsi sebagai wadah. .

2 Saran Belum dapat dipastikan apakah pada masing-masing vial benar-benar hanya terdapat satu jenis komponen.com/2010/02/25/kromatografi-kolom-dan-lapis-tipis http://wiro-pharmacy-blogspot. Bagaimana cara memilih eluen untuk kromatografi kolom? Jawab : Dengan meneteskan pada plat lapis tapis. b. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pemisahan? Jawab : .org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian_material/ kromatografi .wordpress. Hasil pemisahannya disimpan dalam 6 botol vial secara terpisah untuk masing-masing jenis eluen.com/2009/10/kuliah-kromatografi-kolom-bagian 1.html http://www. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Untuk lebih memastikan kita dapat menguji masing-masing vial dengan menggunakan metode Kromatografi Lapisan Tipis. dimana noda yang tampak sehingga hasil kromatografi kolom pada plat KLT sangat berdekatan.Laju elusi atau aliran fase gerak 3.V. 2. DAFTAR PUSTAKA http://asyharstf08. Kokratik.chem-is-try. jika KLT hasilnya bagus dari totolan suatu zat dan berbentuk bulatan maka eluen tersebut baik untuk kromatografi kolom.1 Kesimpulan Setelah melakukan praktikum ini dapat disimpulkan bahwa dengan kromatografi kolom kita dapat memisahkan komponen penyusun dari suatu sampel bahan alam. Jelaska metoda pengelusian yang digunakan pada kromatografi kolom! Jawab : a. 5.Pemilihan adsorben sebagai fase diam .Kepolaran pelarut yang akan dipisahkan . dimana noda yang tampak sehingga hasil kromatografi kolom pada plat KLT berimpit dengan kepolaran. Tugas Sebelum Pratikum 1. Step graden polarity.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->