KH. Abdulloh Gymnastiar.

Menyikapi Ujian
ungguh Alloh menggolongkan kita menjadi orang pemberani dalam mengarungi hidup ini. Berani menghadapi tantangan, berani menghadapi ujian. Berani menghadapi masalah seberat dan sepelik apa pun. Karena sesungguhnya sudah

S

dapat dipastikan bahwa hidup ini adalah perpindahan dari satu persoalan kepada persoalan lain. Hidup ini adalah perpindahan satu masalah kepada masalah yang lain. Perpindahan dari satu ujian ke ujian lain. Tidak ada pilihan bagi kita dalam hidup kecuali mengarunginya untuk sampai kepada tujuan yang dituju. Saudaraku, mendengar kata “ujian” kadang kala menjadi suatu kata yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang. “Ujian, ulangan, tes”, seakan ini menjadi beban dan menjadi suatu yang menyusahkan. Apalagi kalau mendengar akan datang suatu ketika “ujian dari Alloh”. Tiba-tiba kita menjadi gentar dan takut!!! Seakan ujian itu menjadi sesuatu yang berat yang menimpa dan menghimpit kita, bahkan menyengsarakan kita. Memang benar bagi orang yang tidak mengetahui ilmunya, tidak paham cara menyelesaikan ujian. Akan tetapi berapa banyak orang yang menjadi bahagia dan mulia dengan ujian. Berapa banyak orang yang sangat menikmati ujian. Karena mereka sudah mempersiapkan diri dengan datangnya ujian. Jadi, selayaknyalah “ujian” bukan lagi kata yang aneh yang harus kita takuti. Karena dengan diuji akan tampak mutu dan kualitas diri kita. Justru ujian itu penting, Mengapa? Karena ujian itu akan membuat sesuatu menjadi terukur. Kita akan tahu siapa diri kita ketika menghadapi ujian. Kita juga akan tahu kemampuan kita yang sebenarnya ketika diuji. Kualitas suatu barang pun akan diketahui ketika barang tersebut telah diuji. Halal atau haram akan diketahui ketika diuji. Jadi, bagaimana mungkin kita mengarungi hidup dengan tanpa tahu siapa diri kita? Bagaimana mungkin kita bisa mengubah sesuatu tanpa mengetahui apa yang harus diubah. Saudaraku, ujian itu penting. Kita perlu diuji agar tahu siapakah diri kita yang sesungguhnya. Kemampuan apakah yang sudah kita miliki. Ilmu yang sudah dipelajari hanya akan diketahui setelah melalui ujian. Belajar setiap hari di sekolah, mengerjakan tugas dari guru, lantas kapan diketahui kemampuannya? Yaitu ketika mengikuti tes atau ujian. Setelah itu baru

Republika, Ahad 26 November 2006.

Kita menghafal Al-Quran. Begitu pula diuji oleh Alloh. Akan tetapi tidak demikian orang yang memiliki cita-cita tinggi. takut mendapat nilai jeblok. Tidak ada yang harus kita takuti. Agar kita selalu bersemangat untuk belajar dan berlatih menempa diri. Alloh tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. mulai sekarang kita harus mengakrabkan diri kita dengan yang namanya ujian. Orang yang gentar adalah orang yang terlalu cinta dunia sehingga takut kehilangan kenyamanan. Dengan soal ujian yang sama ada yang bahagia ada pula yang berlinang air mata. namun ada pula yang tidak naik kelas. kita akan takut diuji oleh Alloh karena kita sangat takut kehialangan dunia ini. Padahal tidaklah Alloh menguji hamba-Nya kecuali untuk kebaikan dirinya. Mereka sungguh-sungguh mengikuti pelajaran. jika ingin bisa menikmati ujian maka salah satu kuncinya harus mempunyai cita-cita yang tinggi dalam pandangan Alloh. Kita merasa sudah bisa akan tetapi sebenarnya tidak bisa. begitu gigih belajar dan berlatih tiada mengenal putus asa. Tetapi kalau kita sadar bahwa semakin diuji maka akan semakin naik derajat di sisi Alloh. kapan diketahui hafalannya benar? Ketika diuji. Bagi mereka yang malas belajar pasti gentar menghadapi ujian. tetapi bagaimana sikap dan kesiapan kita menghadapi ujian. Ahad 26 November 2006. takut mendapatkan ujian dari Alloh. diketahui apakah bisa mengerjakan atau tidak. Bagi yang merindukan derajat yang tinggi di sisi Alloh. Saudaraku. Tidak mungkian Alloh menguji hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak sanggup memikulnya. Itulah sebabnya di sekolah. maka saat ujian datang adalah saat yang dinantikan karena akan ada kenaikan tingkat. berlatih setiap hari. takut kehilangan pujian makhluk. Dengan demikian. takut kehilangan penghargaan. . Begitupun dalam hidup ini. Boleh jadi soalnya sama namun hasil nilainya berbeda. kita tidak bisa hidup dengan membohongi diri dengan merasa tahu. Jadi. Abdulloh Gymnastiar. takut kehilangan kedudukan. Sesungguhnya cinta dari makhluk kepada kita bukan karena usaha kita meraih Republika. Bagi orang yang cita-citanya kedudukan disisi Alloh tidak akan risau menghadapi ujian hidup ini. di kampus kita pasti menghadapi yang namanya ujian. Seseorang tidak dikatakan beriman dengan baik sebelum diuji. Ada yang mendapat nilai bagus sehingga ranking ke satu. Inilah yang membuat gentar. ujian akan dinikmati bagi orang yang cita-citanya tinggi dan selalu belajar. Nah. sebenarnya bukan ujiannya yang menjadi masalah. Takut tidak bisa mengerjakan soal. Bila cita-citanya rendah maka akan gentar menghadapi ujian hidup. padahal sesungguhnya kita tidak tahu.KH.

Sesungguhnya kami adalah milik Alloh. Saat di jalan raya berlatih. Barangsiapa yang mencintai keluarga. hati. semua ada dalam kekuasaan Alloh dan kembali hanya kepada Alloh. Tetapi bagi pecinta Alloh. Abdulloh Gymnastiar. Ketika datang saat-saat ujian dari Alloh. di kantor berlatih. Dan itulah yang membuat kita sangat takut menghadapi hidup ini. Bersiaplah dengan ilmu. itulah yang membuat dia gentar. Jika Alloh mencintai kita. . siapkan dari awal bahwa kita pasti mengalami saat-saat sulit. Saudaraku. Maka kita berbuat jangan memburu cinta manusia. Republika. Dia sadar dan mengukur diri bahwa akan datang baginya saat ujian datang. Apabila ditimpa musibah kemudian ridho dengan ketentuan Alloh maka Alloh ridho kepadanya. Kita dihina. orang paling menikmati ujian adalah orang yang paling mempersiapkan diri. Kita dicintai orang lain andai kita dicintai Alloh. di mana pun kita berada jadikan sebagai sarana latihan. Ini wajar. dia berjuang siang malam melakukan apa pun yang disukai Alloh maka Allohlah yang akan menjamin kehidupannya. di rumah berlatih. Wallahu a`lam. tidak aneh dan sudah sering kita menjalani. Ahad 26 November 2006. jangan memburu cinta makhluk. niscaya Alloh akan menggerakkan hati manusia untuk mencintai kita. difitnah. cinta mereka. jadikan kejadian sekecil apa pun sebagai latihan. pikiran dan lisan berucap dengan tulus “Innalillahi wainna ilaihi rajiun”. harta dan apa pun yang melampaui cintanya kepada Alloh. ditertawakan jadikan sebagai latihan. Sayangnya kita lebih sibuk mencari cinta manusia daripada sibuk memburu cinta Alloh SWT. Setiao waktu kita tingkatkan kualitas diri kita agar kapan pun ujian datang kita sudah berusaha mempersiapkannya. takut kehilangan segalanya. Setelah persiapan matang kita pun harus melatih diri. Seperti halnya ketika kita ulangan di sekolah.KH. Oleh karena itu. kita semakin terlatih sehingga tidak gentar menghadapi ujian bahkan ditunggu karena dia yakin setelah ujian dia akan naik kelas. saat ujian. melainkan memburu cinta Alloh. Dalam kehidupan sehari-hari. ditipu. semakin banyak berlatih dengan soal-soal latihan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful