Analisis Puisi AKU Karya Chairil Anwar

AKU Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang’ kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar

Tugas: 11) 2) Cari aspek-aspek sosial pada puisi “AKU” karya Chairil Anwar!

Berikan penjelasan anda mengapa pada puisi “AKU” penyair menggunakan kata ganti “AKU” dalam sajaknya!

Jawab:

com/2012/11/analisis-puisi-aku-karya-chairil-anwar.Merupakan bentuk protes terhadap tindakan yang terutama dianggap sangat merugikan dirinya karena dirinya merasa tidak mendapat keadilan. selalu teraniaya. berjuang. selalu tertindas. dan keadilan dengan pantang menyerah.Menggambarkan bentuk sikap solidaritas yang tinggi terhadap sesama. http://linda-lestari-setitik-embun.Mencerminkan Sikap rela berkorban. tertindas. 22) Penyair menggunakan kata ganti “AKU” karena penyair mewakili orang-orang yang dalam hidupnya tidak mendapatkan keadilan. . demi terwujudnya hidup yang lebih baik meskipun apa yang dilakukan selalu mendapatkan tekanan atau cobaan. demi menegakkan kebenaran. yang dilakukan sepenuh jiwa. Penyair juga menggunakan kata ganti aku karena ia merasakan sendiri peristiwa tersebut ( menceritakan pengalaman pribadi ). .11) Aspek-aspek sosial yang ada pada puisi “AKU” karya Chairil Anwar adalah: .blogspot.html ooooooo Doa Tuhanku Dalam termenung Aku masih menyebut nama-Mu Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh Caya-Mu panas suci Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi Tuhanku Aku hilang bentuk Remuk Tuhanku Aku mengembara di negeri asing .

dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungandirinya yang menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan. Pertama. Perhatikan kutipan larik berikut : (1) Biar rusah sungguhMengingat Kau penuh seluruh (2) Aku hilang bentuk remuk (3) Di Pintu-Mu aku mengetuk Aku Puisi yang bertemakan denganTuhan. adalah: mendukung Tuhanku. Kedua. betapa .caya-Mu. nama-Mu. seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan. Kata `dua´ yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi Kata-kata seorang lain yang penyair dengan tema SangPencipta. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. mengingat Kau. Kata `Tuhan´ yang disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut. tidak ketuhanan ini memang bisa mengungkapkan berpaling dialog dirinya b) Nada dan Suasana Nama berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) atau sikap penyair terhadap pembaca. puisi´Doa´sangat tepat bila digolongkan padaaliran ekspresionisme. diksi yang digunakan sangat kentaldengan kata-kata bernaka ketuhanan. Dari cara penyair memaparkan isi hatinya. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibatpembacaan Nada yang berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan puisi.Tuhanku Di Pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling a) Tema Puisi ' Doa´ karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. yaitu sebuah aliran yang menekankan segenap perasaan atau jiwanya. di pintu-Mu.

c) Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Akutak bisa berpaling. remuk. Penyair juga mengingatkan pada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah ´pengembaraan di negeriasing´ yang suatu saat akan kembali juga. Pd. Di Pintu-Mu Aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling http://omgitsnaila. Hal ini dipertegas penyair pada bait terakhir sebagai berikut: Tuhanku. Pascasarjana Universitas Negeri Semarang IKAN Ia ikan yang terbang. Agar bisa melakukan amanattersebut. Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah pengembaraan di negeri `asing´. puisi ´Doa´ ini berisi amanat kepada pembacaagar menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. pembaca bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair.dekatnyahubungan penyair dengan Tuhannya. . Aku hilang bentuk. maka puisi `Doa´tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan.html ooooooo Analisis Cerpen “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu Oleh Meilan Arsanti. Berhubungan dengan pembaca. d) Amanat Sesuai dengan tema yang diangkatnya. Perasaan tersebut tergambar dari diksiyang digunakan antara lain: termenung. Ia burung yang berenang.com/2012/12/analisis-puisi-doa-karya-chairil-anwar. Karena itu. Dalam Perasaan puisi ´Doa´ gambaranperasaan penyair adalah perasaan terharu dan rindu. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Dan saya. S. dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.blogspot. menyebut nama-Mu.

Saat penghakiman. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih memabukkan daripada kesadaran. . Pesta pora. Tawa. *** “BUSET! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. dan ada yang hanya bagian tangan. Tawa. Sembunyi-sembunyi. Saya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Tawa dalam penantian. Maka saya tahu. Girangnya sirna. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Hingga ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. saling beradu berebut perhatian. Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu saling berhantaman. Malam berenang dalam kesunyian. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Dan ia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Tawa. Tawa. Tawa. Bahana tawa. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Tawa. Ada yang hanya bagian kepala. Tawa. Entah peragaan busana. Bercinta di bawah para-para. Kami terkapar di atas pasir basah. begitu istilah orang-orang. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Tawa.Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Tawa. Tawa. Rajaman semu. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Muka badak. Tawa. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang hilang. Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Sendawa alkohol di permukaan udara. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyak-banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Dan ia terpana. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta gombal. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Tawa. Tawa. Saya menunggu. Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai. Entah karena dingin yang memanggang. Entah peragaan gaya. Tawa. Musik kian mengentak. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Tawa. Untuk saling bersentuhan dan mendesah massal. Sentuhan menggoda. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Tawa. Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. entah karena nyala yang redup. kami menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. entah karena basah yang kering. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. entah karena entah. ada yang hanya bagian kaki. Maka… Phuih! Saya meludah ke mukanya. Senyum manja. Tawa berkepanjangan. Tawa. Saya berlari kencang menuju kafe dengan kaki-kaki telanjang. Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan.

Jakarta. Maka…. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. rok-rok dengan panjang ala kadarnya. Ada luka yang akan segera hilang. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu sedan. Saya menunggu. Sementara saya pun pura-pura tertawa. “Sendiri?” Saya menatapnya. Mata saya pun memanas. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Saya melihat diri saya sendiri terpaku.Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Ia masih berada dalam diam yang haru. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. berapa kira-kira umur mereka. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Rajaman semu. Di sebuah tempat antah berantah. Dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata pantas. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Luka yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. . Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Agustus 2004. Ada surga yang akan segera terjangkau. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Ia pun langsung mengambil langkah seribu. Maka bening berkumpul menyelimuti hitam bola mata. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. bisa atau tidak mereka diajak kencan setelah acara. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Berlaku nyaris sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. *** ALKOHOL. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Dan semua adalah ikan yang terbang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. 11:45:43 PM. Namun saya mencari mata yang menatap girang. “Huahahahaha…mata bintitan. Semua burung yang berenang. Masa lalu yang pernah menguatkan perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa yang benar. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. dosa. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Ada nama yang akan segera dilupakan. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. lalu memisahkan diri. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada para model itu. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Ia burung yang berenang. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. dan pantas. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Semakin banyak burung yang berenang.

butir-butir. sehingga menarik jika dikaji dengan analisis stilistika.  Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Cepen yang berjudul “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu ini sangat unik. penulis mendeskripsikan setting tempat dan suasana dengan pilihan kata yang apik dan konotatif. Selain pemilihan judul yang unik. Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau konvensi dari masyarakat. yaitu “IKAN” pembaca akan bertanya-tanya kira-kira apa isi di dalamnya. Dengan judul yang hanya terdiri dari satu kata. dan hiperbola. Media yang digunakan dalam cerpen untuk menyampaikan pikiran pengarang adalah bahasa. Pendahuluan Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra berupa karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat. Dalam cerpen ini pemilihan judul dengan kata ’ikan’ adalah sebagai perumpamaan dan gambaran seseorang atau tokoh dalam cerpen tersebut. kami menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. B. Apakah menceritakan tentang kehidupan ikan di lautan ataukah hanya sebuah perumpamaan. . Sembunyi-sembunyi. Analisis Pada paragraf pertama. 1) Majas Personifikasi Majas personifikasi merupakan cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia. dalam mengisahkan tokoh dan peristiwa yang terjadi penulis banyak menggunakan bahasa kias.  Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Selain itu. Majas tersebut terdapat pada kalimat berikut.Analisis Cerpen “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu A. dan denyar-denyaar pada kalimat: Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. penulis juga menggunakan bahasa kiasan seperti majas personifikasi. maka pengamatan atau pengkajian terhadap karya sastra (cerpen) khususnya dilihat dari gaya bahasa yang digunakan pengarang. seperti syahdu. perbandingan (simile). Kata ‘ikan’ yang digunakan untuk mewakili apa yang dikisahkan dalam cerpen. Kekuatan utama dalam cerpen “IKAN” ini adalah penggunaan bahasa yang disominasi dengan gaya bahasa kias. menggelinjang. Oleh karena banyak penyimpangan arti di dalam karya sastra.

Penggunaan bahasa kiasan seperti majas personifikasi. Majas ini terdapat pada kalimat berikut. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta gombal. Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu saling berhantaman. entah karena nyala yang redup. bahasa yang digunakan penulis juga sangat apik. Pada paragraf kedua. 2) Pilihan kata yang kontradiktif Terdapat pada kalimat: Entah karena dingin yang memanggang. dll. Hingga ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. seperti. entah karena basah yang kering. . Majas tersebut terdapat pada kalimat berikut. Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. 3) Ungkapan-ungkapan Terdapat pada kalimat: Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal.entah karena entah. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Malam berenang dalam kesunyian. saling beradu berebut perhatian. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih memabukkan dari pada kesadaran. Pada paragraf pertama penggunaan majas-majas tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan pengantar yang kuat pada pembaca. Selain itu. penggunaan majas ini untuk memberikan kesan estetis cerpen tersebut agar terlihat lebih apik dan menghidupkan isi cerita. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai. bagai. bagaikan. dan pengunaan ungkapan-ungkapan. penggunaan pilihan kata yang kontradiktif. 3) Majas Hiperbola Majas hiperbola adalah cara mengungkapkan sesuatu dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataannya itu menjadi tidak masuk akal. Untuk saling bersentuhan dan mendesah massal. 2) Majas Perbandingan (simile) Majas perbandingan adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung seperti layaknya.

Tawa. 2) Rima Terdapat pada kalimat: . Tawa. Paragraf keenam. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang tak ingin peduli. Tawa. Tawa. yaitu pada kalimat berikut. Sendawa alkohol di permukaan udara. 3) Ungkapan-ungkapan Terdapat pada kalimat: Muka badak. yaitu pada kalimat berikut. Tawa. Paragraf kelima. hanya terdiri dari pengulangan kata yang sama atau repetisi. Paragraf ketujuh. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyak-banyaknya di tenggorokkan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Tawa berkepanjangan. menggunakan majas personifikasi dan permainan rima atau bunyi yang sama. Tawa. Tawa. didominasi dengan majas hiperbola. Tawa. Tawa. selain menggunakan bahasa kiasa atau majas penulis juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang terdapat pada kalimat berikut. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Tawa. Tawa. Paragraf keempat. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Musik kian menghentak. yaitu pada kalimat. Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Tawa. begitu istilah orang-orang. 2) Majas Simile Terdapat pada kalimat: Dan dia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang berbalut kulit kerang. Tawa. Tawa.Paragraf ketiga. didominasi dengan penggunaan majas personifikasi. yaitu pada kalimat berikut. Tawa dalam penantian.

Ada luka yang akan segera hilang. Tapi pandangan saya bagai menembus serigala di bibirnya yang tipi situ. Ada nama yang akan segera dilupakan. penulis juga menggunakan repetisi atau pengulangan kata yang sama. Ia pun langsung mengambil langkah seribu. Paragraf kesepuluh. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Berlaku nyaris sama dengan yang lainnnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha merenda dengan dingin tanya. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itukembali memburu. Paragraf kedelapan. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. juga menggunakan majas personifikasi dan permainan bunyi atau rima yang dapat dilihat pada kalimat berikut. dan kaki-kaki jenjang menghentak di atas meja? Paragraf kesembilan. Alkohol.Entah peragaan busana. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan ini tetaplah entah. Paragraf kesebelas. Saya menatapnya. Selain itu. Masa lalu yang pernah menguatkan perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa yang benar. rok-rok dengan panjang ala kadarnya. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. penulis hanya menggunakan permainan bunyi atau rima. didominasi dengan permainan bunyi atau rima. penulis banyak menggunakan ungkapan (makna konotasi) untuk menggambarkan peristiwa atau kejadian dalam cerita. 2) Rima Terdapat pada kalimat: Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan panggul di depan mata. sebagaimana maka ialah sarana untuk bersembunyi dari terang.Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Ada surga yang akan segera terjangkau. Saya melihat seekor burung yang seperti batu terjaga ari mati suri nyaris sewindu. Ungkapan-ungkapan tersebut antara lain pada kalimat-kalimat berikut. Di sebuah tempat antah berantah. Saya melihat diri saya sendiri terpaku. Entah peragaan gaya. 1) Rima Terdapat pada kalimat: . yaitu pada kalimat-kalimat berikut.

Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Ia burung yang berenang. pantas. 1) Rima Terdapat pada kalimat: Dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Simpulan Berdasarkan analisis dari masing-masing paragraf dalam cerpen yang berjudul ”IKAN” karya Djenar Maesa Ayu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama . 2006. Paragraf kedua belas. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek. Djenar. Bahasa kiasan tersebut didominasi dengan menggunakan majas personifikasi. Dan semua adalah ikan yang terbang. 2) Repetisi Terdapat pada kalimat: Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Daftar Pustaka Maesa Ayu. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata pantas. Hal tersebut dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikut. 2) Pilihan kata yang kontradiktif Terdapat pada kalimat: Semakin banyak burung yang berenang. penulis mengekspresikan isi cerita dengan permainan rima dan pilihan kata-kata yang kontradiktif. C. Mata saya pun memanas. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk pikuk gelegap sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. sepantas. Cerpen ini sangat memperhatikan nilai estetisnya sehingga banyak ditemukan bahasa kiasan. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Lalu semakin banyak ikan yang terbang.Selalu harus ada yang pantas. dapat disimpulkan bahwa penulis sengaja menggunakan bahasa kiasan untuk menguatkan isi cerita. Semua burung yang berenang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful