P. 1
Analisis Puisi AKU Karya Chairil Anwar

Analisis Puisi AKU Karya Chairil Anwar

|Views: 1,011|Likes:
Published by Samuel Adi Santosa

More info:

Published by: Samuel Adi Santosa on Mar 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Analisis Puisi AKU Karya Chairil Anwar

AKU Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang’ kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar

Tugas: 11) 2) Cari aspek-aspek sosial pada puisi “AKU” karya Chairil Anwar!

Berikan penjelasan anda mengapa pada puisi “AKU” penyair menggunakan kata ganti “AKU” dalam sajaknya!

Jawab:

blogspot. . selalu teraniaya. dan keadilan dengan pantang menyerah.html ooooooo Doa Tuhanku Dalam termenung Aku masih menyebut nama-Mu Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh Caya-Mu panas suci Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi Tuhanku Aku hilang bentuk Remuk Tuhanku Aku mengembara di negeri asing . tertindas. demi terwujudnya hidup yang lebih baik meskipun apa yang dilakukan selalu mendapatkan tekanan atau cobaan. Penyair juga menggunakan kata ganti aku karena ia merasakan sendiri peristiwa tersebut ( menceritakan pengalaman pribadi ).Menggambarkan bentuk sikap solidaritas yang tinggi terhadap sesama.Mencerminkan Sikap rela berkorban. http://linda-lestari-setitik-embun.Merupakan bentuk protes terhadap tindakan yang terutama dianggap sangat merugikan dirinya karena dirinya merasa tidak mendapat keadilan. yang dilakukan sepenuh jiwa. selalu tertindas.com/2012/11/analisis-puisi-aku-karya-chairil-anwar.11) Aspek-aspek sosial yang ada pada puisi “AKU” karya Chairil Anwar adalah: . berjuang. . demi menegakkan kebenaran. 22) Penyair menggunakan kata ganti “AKU” karena penyair mewakili orang-orang yang dalam hidupnya tidak mendapatkan keadilan.

Dari cara penyair memaparkan isi hatinya.caya-Mu. puisi´Doa´sangat tepat bila digolongkan padaaliran ekspresionisme. adalah: mendukung Tuhanku. Perhatikan kutipan larik berikut : (1) Biar rusah sungguhMengingat Kau penuh seluruh (2) Aku hilang bentuk remuk (3) Di Pintu-Mu aku mengetuk Aku Puisi yang bertemakan denganTuhan. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibatpembacaan Nada yang berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan puisi. Kata `dua´ yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi Kata-kata seorang lain yang penyair dengan tema SangPencipta. Kata `Tuhan´ yang disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut. dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungandirinya yang menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan.Tuhanku Di Pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling a) Tema Puisi ' Doa´ karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. yaitu sebuah aliran yang menekankan segenap perasaan atau jiwanya. Kedua. seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan. di pintu-Mu. tidak ketuhanan ini memang bisa mengungkapkan berpaling dialog dirinya b) Nada dan Suasana Nama berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) atau sikap penyair terhadap pembaca. mengingat Kau. Pertama. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. nama-Mu. diksi yang digunakan sangat kentaldengan kata-kata bernaka ketuhanan. betapa .

maka puisi `Doa´tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Dan saya. c) Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah pengembaraan di negeri `asing´. . adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Pd. pembaca bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair. dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.com/2012/12/analisis-puisi-doa-karya-chairil-anwar. d) Amanat Sesuai dengan tema yang diangkatnya. S. Aku hilang bentuk. Karena itu. puisi ´Doa´ ini berisi amanat kepada pembacaagar menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Pascasarjana Universitas Negeri Semarang IKAN Ia ikan yang terbang.html ooooooo Analisis Cerpen “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu Oleh Meilan Arsanti. Berhubungan dengan pembaca. Akutak bisa berpaling. Agar bisa melakukan amanattersebut. Dalam Perasaan puisi ´Doa´ gambaranperasaan penyair adalah perasaan terharu dan rindu. Penyair juga mengingatkan pada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah ´pengembaraan di negeriasing´ yang suatu saat akan kembali juga.dekatnyahubungan penyair dengan Tuhannya. Ia burung yang berenang. Hal ini dipertegas penyair pada bait terakhir sebagai berikut: Tuhanku.blogspot. remuk. Perasaan tersebut tergambar dari diksiyang digunakan antara lain: termenung. menyebut nama-Mu. Di Pintu-Mu Aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling http://omgitsnaila.

Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Entah peragaan busana. Tawa. *** “BUSET! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Sendawa alkohol di permukaan udara. Entah karena dingin yang memanggang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Untuk saling bersentuhan dan mendesah massal. entah karena nyala yang redup. Tawa. Hingga ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. dan ada yang hanya bagian tangan. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Tawa. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. begitu istilah orang-orang.Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Pesta pora. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang hilang. Tawa. Maka… Phuih! Saya meludah ke mukanya. Malam berenang dalam kesunyian. Girangnya sirna. Kami terkapar di atas pasir basah. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih memabukkan daripada kesadaran. Dan ia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Tawa. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. entah karena basah yang kering. Tawa. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai. Rajaman semu. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Bercinta di bawah para-para. Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta gombal. Saya berlari kencang menuju kafe dengan kaki-kaki telanjang. Senyum manja. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyak-banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Bahana tawa. Tawa. Tawa. Tawa berkepanjangan. Ada yang hanya bagian kepala. Tawa. Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Tawa. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. saling beradu berebut perhatian. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Muka badak. Tawa dalam penantian. Saya menunggu. Dan ia terpana. Maka saya tahu. entah karena entah. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Tawa. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Tawa. Tawa. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Saat penghakiman. ada yang hanya bagian kaki. Tawa. Tawa. Sembunyi-sembunyi. Sentuhan menggoda. Saya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu saling berhantaman. . Entah peragaan gaya. kami menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Tawa. Musik kian mengentak. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental.

Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Jakarta. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata pantas. Semua burung yang berenang. Saya menunggu. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. “Sendiri?” Saya menatapnya. *** ALKOHOL. lalu memisahkan diri. dosa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Ada surga yang akan segera terjangkau. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Mata saya pun memanas. Berlaku nyaris sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Luka yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Ia burung yang berenang. Dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Semakin banyak burung yang berenang. Ada luka yang akan segera hilang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. dan pantas. Rajaman semu. . berapa kira-kira umur mereka. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada para model itu. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Di sebuah tempat antah berantah. 11:45:43 PM. Maka…. Ia masih berada dalam diam yang haru. Ada nama yang akan segera dilupakan. Dan semua adalah ikan yang terbang. bisa atau tidak mereka diajak kencan setelah acara. rok-rok dengan panjang ala kadarnya. Maka bening berkumpul menyelimuti hitam bola mata. Lalu semakin banyak ikan yang terbang.Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Masa lalu yang pernah menguatkan perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa yang benar. Ada yang mendesak ingin keluar. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Namun saya mencari mata yang menatap girang. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu sedan. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Agustus 2004. Saya melihat diri saya sendiri terpaku. Ia pun langsung mengambil langkah seribu. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. pantas. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. “Huahahahaha…mata bintitan. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong.

Cepen yang berjudul “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu ini sangat unik. Pendahuluan Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra berupa karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat. Kata ‘ikan’ yang digunakan untuk mewakili apa yang dikisahkan dalam cerpen. . kami menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. menggelinjang. Oleh karena banyak penyimpangan arti di dalam karya sastra. 1) Majas Personifikasi Majas personifikasi merupakan cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia. Selain itu. Kekuatan utama dalam cerpen “IKAN” ini adalah penggunaan bahasa yang disominasi dengan gaya bahasa kias. Dengan judul yang hanya terdiri dari satu kata. butir-butir. dan hiperbola. Apakah menceritakan tentang kehidupan ikan di lautan ataukah hanya sebuah perumpamaan.Analisis Cerpen “IKAN” karya Djenar Maesa Ayu A. dalam mengisahkan tokoh dan peristiwa yang terjadi penulis banyak menggunakan bahasa kias. yaitu “IKAN” pembaca akan bertanya-tanya kira-kira apa isi di dalamnya. dan denyar-denyaar pada kalimat: Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Majas tersebut terdapat pada kalimat berikut. Analisis Pada paragraf pertama.  Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. maka pengamatan atau pengkajian terhadap karya sastra (cerpen) khususnya dilihat dari gaya bahasa yang digunakan pengarang. Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau konvensi dari masyarakat. seperti syahdu.  Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. perbandingan (simile). Selain pemilihan judul yang unik. Sembunyi-sembunyi. Dalam cerpen ini pemilihan judul dengan kata ’ikan’ adalah sebagai perumpamaan dan gambaran seseorang atau tokoh dalam cerpen tersebut. penulis mendeskripsikan setting tempat dan suasana dengan pilihan kata yang apik dan konotatif. B. Media yang digunakan dalam cerpen untuk menyampaikan pikiran pengarang adalah bahasa. sehingga menarik jika dikaji dengan analisis stilistika. penulis juga menggunakan bahasa kiasan seperti majas personifikasi.

Untuk saling bersentuhan dan mendesah massal. 3) Majas Hiperbola Majas hiperbola adalah cara mengungkapkan sesuatu dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataannya itu menjadi tidak masuk akal. seperti. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta gombal. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Malam berenang dalam kesunyian. . Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. dan pengunaan ungkapan-ungkapan. penggunaan majas ini untuk memberikan kesan estetis cerpen tersebut agar terlihat lebih apik dan menghidupkan isi cerita. Majas ini terdapat pada kalimat berikut. bahasa yang digunakan penulis juga sangat apik. 3) Ungkapan-ungkapan Terdapat pada kalimat: Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. bagai. Selain itu. Pada paragraf pertama penggunaan majas-majas tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan pengantar yang kuat pada pembaca. entah karena basah yang kering. entah karena nyala yang redup. dll. Majas tersebut terdapat pada kalimat berikut. Penggunaan bahasa kiasan seperti majas personifikasi. saling beradu berebut perhatian. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih memabukkan dari pada kesadaran. Hingga ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. penggunaan pilihan kata yang kontradiktif. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai. Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu saling berhantaman.entah karena entah. bagaikan. Pada paragraf kedua. 2) Pilihan kata yang kontradiktif Terdapat pada kalimat: Entah karena dingin yang memanggang. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. 2) Majas Perbandingan (simile) Majas perbandingan adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung seperti layaknya.

Paragraf kelima. yaitu pada kalimat berikut. Tawa. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Musik kian menghentak. menggunakan majas personifikasi dan permainan rima atau bunyi yang sama. Tawa berkepanjangan. Tawa. Tawa. 2) Rima Terdapat pada kalimat: . Tawa. didominasi dengan penggunaan majas personifikasi. selain menggunakan bahasa kiasa atau majas penulis juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang terdapat pada kalimat berikut. Paragraf ketujuh. Sendawa alkohol di permukaan udara. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Tawa. Tawa. Tawa. 2) Majas Simile Terdapat pada kalimat: Dan dia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang berbalut kulit kerang. Tawa. Tawa. Tawa dalam penantian. Tawa. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang tak ingin peduli. begitu istilah orang-orang. yaitu pada kalimat. Paragraf keenam. Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Paragraf keempat. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyak-banyaknya di tenggorokkan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Tawa. Tawa. didominasi dengan majas hiperbola. Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Tawa. hanya terdiri dari pengulangan kata yang sama atau repetisi. 3) Ungkapan-ungkapan Terdapat pada kalimat: Muka badak. Tawa. Tawa. yaitu pada kalimat berikut.Paragraf ketiga. yaitu pada kalimat berikut. Tawa. Tawa. Tawa.

dan kaki-kaki jenjang menghentak di atas meja? Paragraf kesembilan. Selain itu. Paragraf kesepuluh. Ia pun langsung mengambil langkah seribu. 1) Majas Personifikasi Terdapat pada kalimat: Berlaku nyaris sama dengan yang lainnnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha merenda dengan dingin tanya. Ada nama yang akan segera dilupakan.Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Saya menatapnya. penulis hanya menggunakan permainan bunyi atau rima. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. penulis banyak menggunakan ungkapan (makna konotasi) untuk menggambarkan peristiwa atau kejadian dalam cerita. Paragraf kesebelas. Ungkapan-ungkapan tersebut antara lain pada kalimat-kalimat berikut. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan ini tetaplah entah. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Saya melihat diri saya sendiri terpaku. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itukembali memburu. yaitu pada kalimat-kalimat berikut. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. 2) Rima Terdapat pada kalimat: Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan panggul di depan mata. didominasi dengan permainan bunyi atau rima. 1) Rima Terdapat pada kalimat: .Entah peragaan busana. rok-rok dengan panjang ala kadarnya. Alkohol. penulis juga menggunakan repetisi atau pengulangan kata yang sama. Tapi pandangan saya bagai menembus serigala di bibirnya yang tipi situ. Entah peragaan gaya. Paragraf kedelapan. Saya melihat seekor burung yang seperti batu terjaga ari mati suri nyaris sewindu. Masa lalu yang pernah menguatkan perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa yang benar. sebagaimana maka ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Di sebuah tempat antah berantah. Ada surga yang akan segera terjangkau. juga menggunakan majas personifikasi dan permainan bunyi atau rima yang dapat dilihat pada kalimat berikut. Ada luka yang akan segera hilang.

Dan semua adalah ikan yang terbang. Daftar Pustaka Maesa Ayu. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. pantas. Ia burung yang berenang. 2) Repetisi Terdapat pada kalimat: Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas.Selalu harus ada yang pantas. pantas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama . Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk pikuk gelegap sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. sepantas. Bahasa kiasan tersebut didominasi dengan menggunakan majas personifikasi. 1) Rima Terdapat pada kalimat: Dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. penulis mengekspresikan isi cerita dengan permainan rima dan pilihan kata-kata yang kontradiktif. C. Simpulan Berdasarkan analisis dari masing-masing paragraf dalam cerpen yang berjudul ”IKAN” karya Djenar Maesa Ayu. Semua burung yang berenang. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Mata saya pun memanas. Djenar. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. 2) Pilihan kata yang kontradiktif Terdapat pada kalimat: Semakin banyak burung yang berenang. dapat disimpulkan bahwa penulis sengaja menggunakan bahasa kiasan untuk menguatkan isi cerita. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Paragraf kedua belas. Hal tersebut dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikut. Cerpen ini sangat memperhatikan nilai estetisnya sehingga banyak ditemukan bahasa kiasan. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek. 2006.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->