BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Malaria Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang termasuk golongan protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan) nyamuk Anopheles spp. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki endemisitas tinggi. 13 Malaria maupun penyakit yang menyerupai malaria telah diketahui ada selama lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Malaria dikenal secara luas di daerah Yunani pada abad ke-4 SM dan dipercaya sebagai penyebab utama berkurangnya penduduk kota. Penyakit malaria sudah dikenal sejak tahun 1753, tetapi baru ditemukan parasit dalam darah oleh Alphonse Laxeran tahun 1880. Untuk mewarnai parasit, pada tahun 1883 Marchiafava menggunakan metilen biru sehingga morfologi parasit ini lebih mudah dipelajari. Siklus hidup plasmodium di dalam tubuh nyamuk dipelajari oleh Ross dan Binagmi pada tahun 1898 dan kemudian pada tahun 1900 oleh Patrick Manson dapat dibuktikan bahwa nyamuk adalah vektor penular malaria. 14,15 Pada tahun 1890 Giovanni Batista Grassi dan Raimondo Feletti adalah dua peneliti Italia yang pertama kali memberi nama dua parasit penyebab malaria pada manusia, yaitu Plasmodium vivax dan Plasmodium malariae. Pada tahun 1897 seorang Amerika bernama William H. Welch memberi nama parasit penyebab malaria tertiana sebagai Plasmodium falciparum dan pada 1922 John William Watson Stephens menguraikan nama parasit malaria keempat, yaitu Plasmodium ovale.4

Universitas Sumatera Utara

Penyakit malaria hingga kini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dunia yang utama. Malaria menyebar di berbagai negara, terutama di kawasan Asia, Afrika,dan Amerika Latin. Di berbagai negara, malaria bukan hanya permasalahan kesehatan semata. Malaria telah menjadi masalah sosial-ekonomi, seperti kerugian ekonomi, kemiskinan dan keterbelakangan.13

2.2. Agent Penyakit Malaria Agent penyakit malaria adalah genus plasmodia, family plasmodiidae, dan order Coccidiidae. Ada empat jenis parasit malaria, yaitu: 2.2.1. Plasmodium falciparum Menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana yang maligna (ganas) atau dikenal dengan nama lain sebagai malaria tropika yang menyebabkan demam setiap hari. 2.2.2. P. vivax Menyebabkan malaria vivax atau disebut juga malaria tertiana benigna (jinak). 2.2.3. P. malariae Menyebabkan malaria kuartana atau malaria malariae. 2.2.4. P. ovale Jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat, menyebabkan malaria ovale..15,16

Universitas Sumatera Utara

falciparum dengan P. masa inkubasi tergantung pada jumlah parasit yang masuk dan biasanya singkat tetapi mungkin sampai 2 bulan.Seorang penderita dapat dihinggapi oleh lebih dari satu jenis plasmodium. P. Biasanya paling banyak dua jenis parasit. Dosis pengobatan yang tidak adekuat seperti pemberian profilaksis yang tidak tepat dapat menyebabkan memanjangnya masa inkubasi. P. yaitu P. Kadang-kadang dijumpai tiga jenis parasit sekaligus. dan 7-30 hari untuk P. 8-14 hari untukP. ovale. Saat ini. malariae. malariae.6 P. Universitas Sumatera Utara .17 Masa inkubasi malaria atau waktu antara gigitan nyamuk dan munculnya gejala klinis sekitar 7-14 hari untuk P. meskipun hal ini jarang sekali terjadi. falciparum. malariae. vivax di daerah tropis. falciparum merupakan salah satu spesies penyebab malaria yang paling banyak diteliti. Masa inkubasi ini dapat memanjang antara 810 bulan terutama pada beberapa strain P. vivax atau P. vivax. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). yakni campuran antara P. vivax dan P. Hal tersebut karena spesies ini banyak menyebabkan angka kesakitan dan kematian pada manusia. ovale. falciparum. Infeksi campuran biasanya terdapat di daerah yang tinggi angka penularannya. dan P. salah satu organisme penyebab malaria. Pada infeksi melalui transfusi darah. merupakan jenis yang paling berbahaya dibandingkan dengan jenis plasmodium lain yang menginfeksi manusia.

status kekebalan. terlebih untuk daerah yang dinyatakan bebas malaria atau yang Annual Parasite Incidence –nya rendah. Gejala klinis malaria antara lain sebagai berikut. dan menentukan manifestasi klinis malaria yang bervariasi mulai dari yang paling berat .10 Tanda dan gejala klinis malaria yang timbul bervariasi tergantung pada berbagai hal antara lain usia penderita.8 a. cara transmisi. Universitas Sumatera Utara . dan seperti patogenesis penyakit infeksi pada umumnya melibatkan faktor parasit. Berbagai faktor tersebut dapat mengacaukan diagnosis malaria sehingga dapat disangka demam tifoid atau hepatitis. b. Badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan darah dan berkeringat. atau yang paling ringan. Ketiga faktor tersebut saling terkait satu sama lain. Gejala Malaria Secara klinis.2. infeksi tunggal atau campuran.18 2.4.yaitu malaria dengan komplikasi gagal organ (malaria berat). malaria ringan tanpa komplikasi. yaitu infeksi asimtomatik. jenis plasmodium. Selain itu yang tidak kalah penting adalah kebiasaan menggunakan obat anti malaria yang kurang rasional yang dapat mendorong timbulnya resistensi. Patogenesis Malaria Patogenesis malaria sangat kompleks. dan lingkungan. Nafsu makan menurun. gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu yang diselingi oleh suatu periode dimana penderita bebas sama sekali dari demam.3. faktor penjamu.

Splenomegali (pembengkakan limpa) c.1. Malaria menunjukkan gejala-gejala yang khas. Malaria berat.c. f. Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan. yaitu:10 2. dan stadium berkeringat b. seperti gejala diatas disertai kejang-kejang dan penurunan. Pada anak.4. Anemi yang disertai malaise Serangan malaria biasanya berlangsung selama 6-10 jam dan terdiri dari tiga tingkatan. Dalam keadaan menahun (kronis) gejala diatas. g. e. d. disertai pembesaran limpa. stadium panas. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat tetapi lemah. Mual-mual kadang-kadang diikuti muntah. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. yaitu: 17 a. khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum. kulit kering dan pucat. Sakit kepala yang berat. makin muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan ke atau berasal dari daerah malaria. Universitas Sumatera Utara . Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam. Stadium dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. terus menerus. Demam berulang yang terdiri dari tiga stadium: stadium kedinginan.

fenomena tersebut 72 jam sehingga disebut malaria P. pada stadium ini penderita merasa kepanasan. vivax/P. Stadium Berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. Pada P. Stadium Demam Setelah merasa kedinginan. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Muka merah.3. stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam.2. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. ovale. Universitas Sumatera Utara . Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41°C atau lebih. 2. hanya interval demamnya tidak jelas. Suhu badan meningkat dengan cepat. kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar. nadi menjadi kuat lagi. Serangan demam diikuti oleh periode laten yang lamanya tergantung pada proses pertumbuhan parasit dan tingkat kekebalan yang kemudian timbul pada penderita. malaria. Demam disebabkan oleh pecahnya skizon darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah ke dalam aliran darah. kadang-kadang sampai dibawah suhu normal. ovale skizon-skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap tiga hari terhitung dari serangan demam sebelumnya.2. Pada P.4. sakit kepala dan muntah sering terjadi. vivax dan P.4. Nama malaria tertiana bersumber dari fenomena ini. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain.

black water fever biasanya dijumpai pada mereka yang menderita infeksi P.Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama pada setiap penderita. Gejala lain dari black water fever adalah ikterus dan muntahmuntah yang warnanya sama dengan warna empedu. kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. Black water fever yang merupakan gejala berat adalah munculnya hemoglobin pada air seni yang menyebabkan warna air seni menjadi merah tua atau hitam. vivax. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoit dan skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak. dan P. P. falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi yang cukup berat. demikian juga yang meninggal dibandingkan dengan daerah-daerah tempat parasit yang lain lebih menonjol. P. gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. falciparum. CDC (2004) dalam Sembel (2009) mengemukakan bahwa karakteristik parasit malaria dapat mempengaruhi adanya malaria dan dampaknya terhadap populasi manusia. Gejala berupa koma/pingsan. P. hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut. Kematian paling banyak disebabkan oleh jenis malaria ini. falciparum lebih menonjol di Afrika bagian selatan Sahara dengan jumlah penderita yang lebih banyak. tergantung pada spesies parasit dan umur dari penderita.8 Secara klasik demam terjadi setiap dua hari untuk parasit tertiana (P. malariae). ovale) dan setiap tiga hari untuk parasit quartan (P. Kadang–kadang gejalanya mirip kolera atau disentri. vivax Universitas Sumatera Utara .

Penularan secara alamiah (natural infection)10 Penularan ini terjadi melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang infektif. falciparum dan P. Universitas Sumatera Utara .1. Penularan malaria dapat juga terjadi dengan masuknya parasit bentuk aseksual (tropozoit) melalui transfusi darah.5. ovale memiliki tingkatan hynozoites yang dapat tetap dorman dalam sel hati untuk jangka waktu tertentu (bulan atau tahun) sebelum direaktivasi dan menginvasi darah. Di dalam tubuh nyamuk parasit akan berkembang dan bertambah banyak.4 2. Penularan Malaria Malaria ditularkan ke penderita dengan masuknya sporozoit plasmodium melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang spesiesnya dapat berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. kemudian nyamuk menggigit orang sehat.dan P. Terdapat lebih dari 15 spesies nyamuk Anopheles yang dilaporkan merupakan vektor malaria di Indonesia. P. Nyamuk menggigit orang sakit malaria maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita malaria.5. suntikan atau melalui plasenta (malaria congenital). maka melalui gigitan tersebut parasit ditularkan ke orang lain. vivax kemungkinan mampu mengembangkan ketahanannya terhadap obat antimalaria.6 Dikenal adanya berbagai cara penularan malaria: 2.

Secara mekanik Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik. b. ayam (P. Penularan yang tidak alamiah17 a. Disebabkan adanya kelainan pada sawar plasenta sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada bayi yang dikandungnya. P.19 Universitas Sumatera Utara . Anopheles barbirostris. Malaria bawaan (congenital) Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria.2. dan sebagainya. Anopheles subpictus.5. belum diketahui ada hewan lain yang dapat menjadi sumber bagi plasmodium yang biasanya menyerang manusia. P. baik yang disebabkan oleh P.gallinasium) burung dara (P. malariae dan P.Relection) dan monyet (P. ovale semuanya ditularkan oleh nyamuk anopheles. c. Pada umumnya sumber infeksi bagi malaria pada manusia adalah manusia lain yang sakit malaria baik dengan gejala maupun tanpa gejala klinis. Kecuali bagi simpanse di Afrika yang dapat terinfeksi oleh penyakit malaria. Secara oral (melalui mulut) Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung. vivax. falciparum.Knowlesi). Malaria.2. Nyamuk yang menjadi vektor penular malaria adalah Anopheles sundaicus. Anopheles aconitus. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para pecandu obat bius yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril.

Untuk daerah pantai di wilayah Sumatera. iii.6.10 2. An. subpictus dan An. An letifer. Khusus di NTB adalah An. Maluku. An. barbirostris. sundaicus dan An. ii. Distribusi Frekuensi Malaria a. yaitu Pulau Sulawesi. balabacencis dan An.1. dan Maluku Utara. maculatus. farauti. Epidemiologi Penyakit Malaria 2. Sedangkan di wilayah pegunungan adalah An. maculatus. Pulau Kalimantan. farauti. subpictus dan di pegunungan adalah An. malaria merupakan masalah kesehatan yang penting.Vektor malaria yang dominan terhadap penularan malaria di Indonesia adalah sebagai berikut: i. koliensis dan An. oleh karena penyakit ini endemik di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di luar Universitas Sumatera Utara . balabacencis. barbirostris. daerah pegunungan An. Wilayah Indonesia Tengah. An. punctulatus sedangkan di wilayah pegunungan adalah An. Vektor yang berperan di daerah pantai adalah An. balabacencis. An. leucosphyrus. iv. sinensis. flavirostris. vektor yang berperan di daerah pantainya adalah An. dan An. An. subpictus. An. An.6. An. NTT dan NTB. yaitu Papua. Wilayah Pulau Jawa. aconitus. Wilayah Indonesia Timur. sundaicus. subpictus. Khusus wilayah Kalimantan. Orang Di Indonesia. sundaicus. selain Anopheles tersebut di atas juga An. di wilayah pantai adalah An.

perempuan 41.7%) perempuan.22 b. Universitas Sumatera Utara . dkk tahun 2004-2007 dengan desain kasus kontrol. Ketinggian yang dimungkinkan adalah 400 meter di bawah permukaan laut (Laut mati dan Kenya) dan 2600 meter di atas permukaan laut (Bolivia). umur 36-40 tahun (14.6%).20 Penelitian Yoga dalam Sarumpaet dan Tarigan (2006) tahun 1999 di Kabupaten Jepara Jawa Tengah. diperoleh diteliti. 15-44 tahun 326 orang (84. Epidemi malaria seringkali dilaporkan dari berbagai wilayah dengan angka kematian yang lebih tinggi pada anak-anak di bawah 5 tahun dibanding orang dewasa. dan >45 tahun 35 orang (9.1%). Tempat Batas dari penyebaran malaria adalah 64°LU (Rusia) dan 32°LS (Argentina).8%).9%). kelompok umur 5-14 tahun 23 orang (6%). 243 orang (63. kasus malaria di wilayah Puskesmas Pangkalbalam Kota Pangkalpinang banyak diderita responden berumur 21-25 tahun (17.2% (56 orang). 44% berasal dari pekerjaan bahwa dari 145 kasus malaria yang serta tidak ditemukan pada petani PNS/TNI/POLRI.3%) laki-laki dan 141 orang (36.7%).Jawa dan Bali. Namun secara keseluruhan fenomena tersebut menunjukkan bahwa penyakit malaria menyerang hampir seluruh kelompok umur.8 Penelitian Yulius (2007) dengan desain case series di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau tahun 2005-2006 terdapat 384 penderita malaria.21 Penelitian Sunarsih. 80 orang mempunyai jenis kelamin lakilaki (58.

Hipoendemik SR < 10% Mesoendemik SR 11-50% Hiperendemik SR > 50% (SR dewasa tinggi > 25 %) Holoendemik SR >75 % (SR dewasa rendah). iii.1 %) responden yang mempunyai tempat tinggal dengan jarak kurang dari 200 m dari hutan/kebun/semak-semak/sawah dan 1 (1. iv.000 penduduk Medium. suatu daerah dapat diklasifikasikan menjadi 4 tingkat endemisitas : 17 i. mulai dari daerah beriklim dingin.000 penduduk High. yaitu persentase penduduk yang limpanya membesar dari seluruh penduduk yang diperiksa pada kelompok umur2-9 tahun. subtropik sampai kedaerah tropik. AMI < 10 kasus per 1. kurang lebih konstan selama beberapa tahun berturut-turut. daerah malaria dapat diklasifikasikan menjadi :10 i.Plasmodium vivax mempunyai distribusi geografis yang paling luas.6 Malaria di suatu daerah dikatakan endemik apabila kesakitannya yang disebabkan oleh infeksi alamiah.000 penduduk Penelitian Ahmadi.23 Universitas Sumatera Utara . AMI 10-50 kasus per 1. yang positif malaria terdapat 53 (98. terlihat bahwa dari 54 responden. ii. ii. iii. Low Malaria Incidence. AMI > 50 kasus per 1. Berdasarkan AMI. dkk tahun 2008 di di Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. Berdasarkan hasil Spleen Rate (SR).9 %) responden yang mempunyai tempat tinggal yang berjarak lebih dari 200 m. Digunakan jarak 200 m adalah karena 200 m adalah jarak terbang maksimum nyamuk.

c. Manusia (Host Intermediate) Secara umum dapat dikatakan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat terkena malaria.21 2. a.3 ‰ tahun 2004 dan 25.2.405 per tahun (selama tahun 1996-2000). Toleransi atau daya tahan terhadap munculnya gejala klinis ditemukan pada penduduk dewasa yang tinggal di daerah endemis Universitas Sumatera Utara .1. di Propinsi Sumatera Utara terjadi kasus malaria klinis rata-rata 82.8 ‰ tahun 2003 meningkat menjadi 14. Agent (penyebab penyakit) dan Environment (lingkungan).6. Berdasarkan data laporan bulanan malaria. Faktor Host Penyakit malaria mempunyai keunikan karena ada 2 macam host yakni manusia sebagai host intermediate (dimana siklus aseksual parasit terjadi) dan nyamuk anopheles betina sebagai host definitive (tempat siklus seksual parasit berlangsung). kejadian malaria di Kawasan Ekosistem Leuser berdasarkan Annual Malaria Incidence (AMI) terjadi peningkatan malaria. Setiap orang rentan terhadap penularan kecuali pada mereka yang mempunyai galur genetika spesifik. Waktu Menurut data Profil Dinkes Sumut dalam Sarumpaet dan Tarigan (2006).17 a. Penyakit malaria sampai saat ini menduduki rangking ke7 dari 10 penyakit terbesar di Propinsi Sumatera Utara.4 ‰ tahun 2005. yaitu dari 12. Determinan Malaria Dalam epidemiologi selalu ada 3 faktor yang diselidiki : Host (umumnya manusia).

Kekebalan yang didapat ada yang merupakan kekebalan aktif sebagai akibat dari infeksi sebelumnya atau vaksinasi.1. Ada dua macam kekebalan. Kekebalan alamiah timbul tanpa memerlukan infeksi lebih dahulu. dan ada juga kekebalan pasif didapat melalui pemindahan antibodi dari ibu kepada anak atau pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit. Pada penduduk di daerah endemis ditemukan parasitemia berat namun asimtomatik. Hal ini mungkin dikarenakan pada individu di daerah endemis imun sudah terbentuk antibody protektif yang dapat membunuh parasit atau menetralkan toksin parasit.Faktor-faktor yang berpengaruh pada manusia ialah: a.1. sebaliknya pasien non-imun dari daerah non-endemis lebih mudah mengalami malaria berat.06%) daripada yang tidak di daerah endemis (mean=0. penderita malaria di daerah endemis memiliki densitas parasit yang lebih rendah (mean=0.dimana gigitan nyamuk anopheles berlangsung bertahun-tahun.24 Faktor imunitas berperan penting menentukan beratnya infeksi. Hal tersebut dibuktikan pada penduduk di daerah endemis.7 Universitas Sumatera Utara . yaitu kekebalan alamiah dan kekebalan yang didapat. Penelitian Karunaweera dkk tahun 1998 di Srilanka. Kekebalan / Imunitas Kekebalan pada penyakit malaria dapat didefinisikan sebagai adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya.12%).

99). karena menghambat pertumbuhan parasit.51– 0.10 Penelitian dengan desain kasus kontrol oleh Siswanto dan Sidia di RSU Sumbawa tahun 1997 tentang gambaran klinik penderita malaria yang dirawat di bagian anak RSU Sumbawa.8 kali adalah pria dan anak-anak umur <1-6 tahun dibandingkan dengan wisatawan yang tidak menderita malaria dengan nilai OR 1. riboflavin.1.3.3) dan OR 4.2.7 dan 4. para-amino-benzoic acid (PABA) mungkin mempunyai efek protektif terhadap malaria berat.3–2. Status Gizi Faktor nutrisi mungkin berperan terhadap malaria berat. Menurut Nugroho dalam Harijanto. Universitas Sumatera Utara . Penelitian Askling.25 a. dkk tahun 1997-2003 di Swedia dengan desain penelitian kasus kontrol menunjukkan bahwa wisatawan penderita malaria kemungkinan 1. migrasi penduduk.7 (95% CI:0. dari 106 penderita. dkk (2009).1.10 Penelitian Nyakeriga tahun 2004 di Kenya dengan desain penelitan kohort. perumahan.26 Defisiensi besi. Umur dan Jenis Kelamin Perbedaan angka kesakitan malaria pada laki-laki dan wanita atau pada berbagai kelompok umur sebenarnya disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti pekerjaan. pendidikan. kekebalan dan lain-lain.8 (95% CI:1. diketahui bahwa insidens malaria klinis secara signifikan lebih rendah pada anakanak yang menderita defisiensi zat besi dengan Relative Risk (RR) 0. 66% termasuk kategori gizi baik.7 (95% CI:1.8).a. malaria berat sangat jarang di temukan pada anak-anak malnutrisi.5–14.

yaitu tempat hinggap atau istirahat (di luar atau dalam rumah). 70.2. Nyamuk (Host Definitive) Penelitian Friaraiyatini. maka dapat dipastikan nyamuk tersebut tidak dapat menjadi vektor.2% termasuk gizi buruk. 25.27 a. dan Anopheles balabacensis (10.9 %) mulai menggigit manusia mulai jam 18. tempat menggigit (di luar atau dalam rumah).00 waktu setempat.00. Universitas Sumatera Utara .00 waktu setempat.3 %) mulai menggigit manusia jam 20.8 %) mulai menggigit manusia mulai jam 19. yakni replikasi parasit dalam tubuh nyamuk (sekitar 5 hingga 10 hari).28 a.8% termasuk gizi baik.2.Dari 24 penderita malaria berat. Nyamuk anopheles hanya mengigit satu orang setiap kali mengisap darah. Puncak aktivitas gigitan nyamuk terjadi pada jam 22. spesies nyamuk yang diidentifikasi berperan dalam penularan malaria di Kabupaten Barito Selatan adalah Anopheles latifer (56. objek yang digigit (manusia atau manusia).1. Apabila umur nyamuk lebih pendek dari proses sporogoni. a. Umur nyamuk (longevity) Diperlukan waktu untuk perkembangbiakan gametosit dalam tubuh nyamuk menjadi sporozoit yakni bentuk parasit yang siap menginfeksi manusia sehat.0% gizi kurang dan 4.2. Perilaku nyamuk4 Beberapa perilaku nyamuk yang penting.00.2. dkk tahun 2005. berbeda dengan nyamuk aedes yang bisa menggigit banyak orang saat mengisap darah. Anopheles maculatus (32.

Plasmodium vivax b. semakin besar kemungkinan nyamuk berperan sebagai vektor penular penyakit malaria. ovale. vivax. b. Plasmodium falciparum. 1095 (32.2.2.4. falciparum dan 516 (47. 579 (52. Plasmodium malariae b.3. Faktor Agent Penyebab penyakit malaria adalah genus plasmodia family plasmodiidae dan ordo coccidiidae.87%) didentifikasi sebagai infeksi P.1. Perut bisa meletus dan mati karenanya. Frekuensi menggigit manusia Semakin sering seekor nyamuk yang membawa sporozoit dalam kelenjar ludahnya. Siklus gonotrofik Waktu yang diperlukan untuk matangnya telur sebagai indikator untuk mengukur interval menggigit nyamuk pada objek yang digigit (manusia). Sampai saat ini di Indonesia dikenal 4 macam parasit malaria yaitu: b. a.2.6 Penelitian Yasinzai dan Kakarsulemankhel tahun 2004-2006 di Barkhan dan Kohlu Pakistan dari 3340 kasus suspek malaria. Tidak ditemukan kasus infeksi P.5. malariae dan P.4.3. Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit Nyamuk yang terlalu banyak parasit dalam perutnya tentu bisa melebihi kapasitas perut nyamuk itu sendiri. a.29 Universitas Sumatera Utara .12%) kasus P. Plasmodium ovale b.78%) ditemukan positif parasit malaria pada sediaan darah.2.a. Dari kasus positif.

sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. c. Kuatnya asosiasi ini didukung hasil uji multivariat dengan nilai OR 3. Artinya responden yang menderita malaria 2. lingkungan biologik dan lingkungan sosial budaya.671). Suhu udara. dkk.661).1. tahun 2005 di Puskesmas Benteng Bangka Belitung dengan desain penelitian kasus kontrol.550 – 7. Lingkungan fisik meliputi : c. lingkungan tersebut terbagi atas lingkungan fisik. Universitas Sumatera Utara . kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk.1.600 – 6.14).267 (95% CI:1.6 (95% CI: 1.2.c.6 kali kemungkinan di sekitar rumahnya terdapat rawa-rawa dibandingkan dengan responden yang tidak menderita malaria.22 Faktor lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan dimana manusia dan nyamuk berada.1. Artinya.445 kali memiliki genangan air di sekitar rumah dibandingkan yang tidak menderita malaria. dkk dengan desain kasus kontrol tahun 2004-2007 di wilayah Puskesmas Pangkalbalam Kota Pangkalpinang .08-6. Faktor Environment Penelitian Suwito.17 c. responden yang menderita malaria kemungkinan 3. faktor lingkungan yang mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian malaria adalah keberadaan genangan air di sekitar rumah dengan OR 3.445 (95% CI:1.30 Penelitian Sunarsih. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin pendek masa inkubasi ekstrinsik. lingkungan kimia. Kelembaban udara.1. diperoleh bahwa adanya rawa-rawa di sekitar lingkungan rumah juga merupakan faktor risiko kejadian malaria. Hasil analisis diperoleh nilai OR 2.

dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan. c. penggunaan kelambu. barbirostris menyukai tempat perindukan denga air yang statsi atau mengalir sedikit. Arus air. c. di mana vektornya lebih bersifat eksofilik (lebih suka hinggap/ istirahat di luar rumah) dan eksofagik (lebih suka menggigit di luar rumah) akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk. minimus menyukai aliran air cukup deras.3. Sinar matahari. Universitas Sumatera Utara . kawat kasa dan repellent akan mempengaruhi angka kesakitan malaria dan pembukaan lahan dapat menimbulkan tempat perindukan buatan manusia sendiri (man made breeding places).6. Lingkungan biologik. Lingkungan kimiawi. An. hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiakan anopheles. c. lumut.c.4. pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda.1.2. Angin.1. c. c.1. c. kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam. Lingkungan sosial budaya.5.4. Hujan. tumbuhan bakau. ganggang dan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau melindungi dari serangan makhluk hidup lain.3. sedangkan An. jarak terbang nyamuk dapat diperpendek arau diperpanjang tergantung kepada arah angin.1.

Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh di saat nyamuk anopheles umumnya mengigit. tidur menggunakan kelambu. b. Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria. Melakukan kegiatan sistem kewaspadaan dini. dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria.7. Pencegahan Primer a. seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap. dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria. namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena infeksi.1.1. Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp)6 Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan dengan nyamuk.3. memakai obat penolak nyamuk. Diperlukan upaya tambahan. Proteksi pribadi.2.4. yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi Universitas Sumatera Utara . pengetahuan tentang upaya menghilangkan tempat perindukan. Tindakan terhadap manusia14 a.7. risiko terkena malaria.2. a. dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria. a. pengobatan malaria. a. Pencegahan Malaria 2.

Pengobatan pencegahan tidak diberikan dalam waktu lebih dari 12-20 minggu dengan obat yang sama. Termasuk dalam pengendalian ini adalah mengurangi kontak nyamuk dengan manusia. misalnya dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk. meflokuin (belum tersedia di Indonesia). Dosis kumulatif maksimal untk pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada orang dewasa adalah 100 gram basa. c. sarang atau tempat berkembang biak serangga dimusnahkan. Tindakan terhadap vektor31 c. misalnya memberi kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya. Beberapa obat-obat antimalaria yang saat ini digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin.risiko jatuh sakit jika telah digigit nyamuk infeksius. mulai minum obat 1-2 minggu sebelum mengadakan perjalanan ke endemis malaria dan dilanjutkan setiap minggu selama dalam perjalanan atau tinggal di daerah endemis malaria dan selama 4 minggu setelah kembali dari daerah tersebut. primakuin dan sebagainya.1. Pengendalian secara mekanis Dengan cara ini. Untuk mencegah terjadinya infeksi malaria terhadap pendatang yang berkunjung ke daerah malaria pemberian obat dilakukan setiap minggu. Bagi penduduk yang tinggal di daerah risiko tinggi malaria dimana terjadi penularan malaria yang bersifat musiman maka upaya pencegahan terhadap gigitan nyamuk perlu ditingkatkan sebagai pertimbangan alternatif terhadap pemberian pengobatan profilaksis jangka panjang dimana kemungkinan terjadi efek samping sangat besar. doksisiklin. Universitas Sumatera Utara .

Universitas Sumatera Utara . sedangkan Heterorhabditis termasuk golongan cacing nematode yang mampu memeberantas serangga. Pengendalian secara biologis Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap nyamuk atau penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga. babi. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk. aconitus adalah nyamuk yang senangi menyukai darah binatang (ternak) sebagai sumber mendapatkan darah. Pengendalian secara kimiawi Pengendalaian secara kimiawi adalah pengendalian serangga mengunakan insektisida. Dengan pengendalian secara biologis ini.c.3. kerbau. Pengendalian nyamuk dewasa dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki temak lembu.2. melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan tidak mampu membuahi nyamuk betina. penurunan populasi nyamuk terjadi secara alami tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Dengan ditemukannya berbagai jenis bahan kimiayang bersifat sebagai pembunuh serangga yang dapat diproduksi secara besar-besaran. untuk itu ternak dapat digunakan sebagai tameng untuk melindungi orang dari serangan An. maka pengendalian serangga secara kimiawi berkembang pesat. Karena nyamuk An. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang banyak digunakan.. aconitus yaitu dengan menempatkan kandang ternak diluar rumah (bukan dibawah kolong dekat dengan rumah). c. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan dan diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan parasit nyamuk.

riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemis malaria.3. Anemia b. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik berupa : b. riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. Diagnosa dini b.1.2. Demam (pengukuran dengan thermometer ≥37. Rapid Diagnostic Test) Universitas Sumatera Utara . menggigil. mual. b. riwayat tinggal di daerah endemis malaria.2.2. Pembesaran limpa (splenomegali) atau hati (hepatomegali) b.2. dan nyeri otot atau pegal-pegal). Tes Diagnostik Cepat (RDT.1. berkeringat dan dapat disertai sakit kepala. diare.1. Pemeriksaan mikroskopis b.7.2. Pemeriksaan Laboratorium b. muntah.1. riwayat sakit malaria. Pencegahan Sekunder a.1.2. riwayat mendapat transfusi darah.5 °C) b.2. Gejala Klinis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita tentang keluhan utama (demam. Pencarian penderita malaria10 Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan /atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria.1.

Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah. eritrosit dan trombosit. dan pemeriksaan lainnya. Saat ini ada tiga jenis obat anti malaria. jumlah leukosit. pemeriksaan foto toraks. hematokrit.4 Pengobatan spesifik untuk semua tipe malaria: c. EKG (Electrokardiograff).b. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup. vivax. malaria diobati dengan ekstrak kulit tanaman cinchona. Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah dengan menggunakan chloroquine terhadap P. Doxycyline. bahan ini sangat beracun tetapi dapat menekan pertumbuhan protozoa dalam darah. Sejak 1638. ovale yang masih sensitif terhadap obat tersebut. Pengobatan harus dilakukan 24 jam sesudah terlihat adanya gejala. Untuk pengobatan darurat bagi orang dewasa yang terinfeksi malaria dengan komplikasi berat atau untuk orang yang tidak memungkinkan diberikan obat peroral dapat diberikan obat Quinine dihydrochloride. yaitu Chloroquine.2. c. c. malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Universitas Sumatera Utara . Tanpa pengobatan yang tepat akan dapat mengakibatkan kematian penderita. malariae dan P. dan Melfoquine.1.3. falciparum. P. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita. meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin. P. Pengobatan yang tepat dan adekuat Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain.

pemasangan ventilator pada gagal napas. Universitas Sumatera Utara . Untuk pengobatan infeksi malaria P. Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan kesadaran sampai gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria10 Kematian pada malaria pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena infeksi P. ovale berikan pengobatan dengan primaquine. vivax yang terjadi di Papua New Guinea atau Irian Jaya (Indonesia) digunakan mefloquine. Penanganan kegagalan organ seperti tindakan dialisis terhadap gangguan fungsi ginjal.4 2. Pemberian obat malaria yang efektif sedini mungkin a. Tindakan suportif berupa pemberian cairan serta pemantauan tanda vital untuk mencegah memburuknya fungsi organ vital.1. pengobatan dilakukan dengan memberikan quinine. falciparum yang didapat di daerah dimana ditemukan strain yang resisten terhadap chloroquine. Primaquine tidak dianjurkan pemberiannya bagi orang yang terkena infeksi malaria bukan oleh gigitan nyamuk (sebagai contoh karena transfusi darah) oleh karena dengan cara penularan infeksi malaria seperti ini tidak ada fase hati. Untuk infeksi malaria P.2. c.7. Prinsip penanganan malaria berat: a.c.3. a. falciparum.5.4.3. Pencegahan Tertier a. Untuk mencegah adanya infeksi ulang karena digigit nyamuk yang mengandung malaria P. c.3. vivax dan P.

Universitas Sumatera Utara . Rehabilitasi mental/ psikologis Pemulihan kondisi penderita malaria.b. melaksanakan rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan tingkat lanjut.memberikan dukungan moril kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful