BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pada masyarakat yang semakin maju , masalah penentuan identitas menjadi masalah yang semakin rumit. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang semakin maju menyebabkan mereka semakin tinggi dalam menetapkan syarat agar seorang individu dapat diterima di dalam masyarakatnya. Masyarakat bukan hanya menuntut kematangan secara fisik ataupun ekonomi tapi masyarakat juga menuntut kematangan secara emosional , psikologis , kultural , vokasional , intelektual , dan religius. Kerumitan ini akan semakin meningkat terutama pada masyarakat yang sedang membangun sebab mereka mengalami perubahan sosial yang begitu cepat yang disebabkan oleh derasnya arus globalisasi yang melanda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik. Keadaan inilah yang menuntut diselenggrakannya program BK di sekolah yang berimplikasi pada tuntutan ketersediaan tenaga yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Tenaga BK yang diminta oleh banyak instansi membuat BK saat ini menjadi salah satu pilihan bagi tamatan SLTA untuk melanjutkan studi mereka di bidang BK. Hal inilah yang membuat BK sebagai profesi menjadi salah satu profesi yang dibidik oleh masyarakat saat ini. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada pembahasan makalah ini maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu : 1. 2. 3. Bagaimanakah Pengembangan Profesi Bimbingan dan konseling ? Apa Kode Etik Bimbingan dan Konseling ? Apakah Beberapa Persyaratan Sebagai Konselor ?

1

3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang diinginkan dicapai dalam makalah ini adalah : 1. 2. Untuk mengetahui Pengembangan Profesi Bimbingan dan konseling Untuk mengetahui Kode Etik Bimbingan dan Konseling Untuk mengetahui Beberapa Persyaratan Sebagai Konselor 2 .C.

Pengembangan Profesi Bimbingan dan konseling Diyakini bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah profesi yang dapat memenuhi ciri-ciri dan persyaratan tersebut. 1. Pelayanan konseling tidak semata-mata diarahkan kepada pemecahan masalah saja. bimbingan dan konseling masih perlu diperkembangankan. Masih banyak orang yang mamandang bahwa pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapapun juga. Standardisasi penyiapan konselor. Usaha untuk merintis terwujudnya 3 . Anggapan lain mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Sebagai profesi yang handal. terutama di Indonesia. Namun. Pengembangan organisasi profesi. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan itu menuntut adanya unjuk kerja profesional tertentu. Di indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standar. Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor. tetapi mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu kepada trwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Akreditasi.BAB II PEMBAHASAN A. berhubung dengan perkembangannya yang masih tergolong baru. Stratifikasi dan lisensi. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui : a) b) c) d) e) Standardisasi unjuk kerja profesional konselor. asalkan mampu berkomunikasi dan berwawancara. bahkan di perjuangkan. dewasa ini pelayanan bimbingan dan konseling belum sepenuhnya mencapai persyaratan yang diharapkan itu.

Menyelenggarakan bimbingan dan konseling kelompok. 4 . Menyelenggarakan konferensi kasus. Bali (1989). 6. 17. 4. 12. 16. 11. Merangsang perubahan lingkungan klien. 13. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling. dan kondisi kepribadian. Menyelenggarakan lingkungan klien. 2. 9. 18. Menyelenggarakan diskusi profesional. Menyelenggarakan terapi kepustakaan. Rumusan tentang unjuk kerja itu mengacu kepada wawasan dan ketrampilan yang hendaknya ditampilkan oleh para konselor. Mengungkapkan masalah klien.rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensasi Nasional VII IPBI di Denpasar. 8. Rumusan unjuk kerja yang pernah disampaikan dan dibicarakan dalam Konvensi IPBI di padang itu dapat dilihat pada lampiran. Menyelenggarakan konsultasi khusus. Melakukan kunjungan rumah. Upaya ini lebih di konkretkan lagi pada Konvensi VIII di Padang (1991). Rumusan Unjuk kerja itu antara lain : 1. 15. Menyelengarakan pengumpulan data tentang minat. Menyelenggarakan bimbingan kelompok belajar. bakat kemampuan. 19. Menyelenggarakan konseling perorangan. 7. Mengantar dan menerima alih tangan. 5. 10. Berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesionalisme konselor. 14. Mengorganisasikan program bimbingan dan konseling. Mengajar dalam bidang psikologi dan bimbingan konseling (BK). Menyusun dan mengembangkan himpunan data. Menyusun program bimbingan dan konseling. 3.

dan sikap tersebut diperoleh melalui pendidikan khusus. Materi kurikulum program studi meliputi : 1) Materi inti. dinamika kelompok. Pendidikan konselor harus didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah baik dari segi bimbingan dan konseling sendiri maupun dari berbagai disiplin ilmu yang relevan. Pengetahuan. B. ketrampilan.2. evaluasi. 3) Pengalaman tersupervisi. dasar-dasar ilmu sosial dan kebudayaan. pemahaman individu. maupun praktek pengalaman lapangan yang sesuai dengan cita-cita karier mahasiswa. Kurikulum program pendidikan konselor mengacu kepada standar kemampuan konselor yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dilapangan. keterampilan. gaya hidup dan perkembangan karier. orientasi profesional. dan sikap yang memadai. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Kode etik merupakan etika profesi yang harus dipegang kuat oleh setiap konselor. yaitu unjuk kerja konselor secara baik para (calon) konselor dituntut memiliki pengetahuan. riset. yaitu materi tentang studi lingkungan dan matri khusus sesuai dengan keperluan mahasiswa untuk bekerja dalam lingkungan tertentu. Standardisasi Penyiapan Konselor Pendidikan Konselor Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dalam bimbingan dan konseling. teori tentang pemberian bantuan. Kode etik juga merupakan moralitas para konselor dalam menjalankan profesinya. prkatikum dan intership. yaitu materi tentang pertumbuhan dan perkembangan individu. 5 . yaitu kegiatan prakterk langsung pelayanan bimbingan dan konseling baik melalui kegiatan dilaboratorium. 2) Studi lingkungan dan studi khusus. dan kesempatan berinteraksi dengan sejawat dan organisasi profesional.

sabar. dan (2) pengakuan atas kewenangan sebagai konselor. dan pengetahuan dalam bidang profesi konseling.  Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya. keterampilan. Pengakuan atas kewenangan sebagai konselor. Nilai. b. Dasar/Landasan Landasan kode etik konselor adalah (a) Pancasila. (b) tuntunan profesi. dapat dipercaya. mengingat bahwa profesi konseling merupakan usaha layanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara yang bertanggung jawab. dan pengetahuan. sikap. dan tertib. keterampilan. 6 . Kegiatan profesional konselor. Kualifikasi Konselor harus memiliki (1) nilai. jujur.  Dalam melakukan tugasnya membantu klien. rendah hati. konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana. sikap. konselor harus terus-menerus beruasaha menguasai dirinya. Kualifikasi dan Kegiatan Profesional Konselor a. khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam kode etik ini. keahlian. mengacu pada kebutuhan dan kebahagiaan klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku. menepati janji. kewengangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang dieberikan kepadanya oleh pemerintah.1. Untuk bekerja sebagai konselor. diperlukan pengakuan. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri. 2.  Untuk memahami orang lain dengan sebaik-baiknya.

berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan. Modal dasar sebagai ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing/konselor : 1. 7 . khususnya tentang penyimpangan serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial antara konselor dan klien. Lembut dan baik hati. 2.  Konselor harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya dengan dengan menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan atasannya. dia berkhak pula mendapat perlindungan dari lembaga itu dalam menjalankan profesinya.  Konselor harus selalu mengkaji tingkah laku dan perbuatannya agar tidak melanggar kode etik.  Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan turut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerja sama dengan pihak atasan atau bawahannya. 3.  Setiap konselor yang menjadi staf suatu lembaga harus mengetahui program-program yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan dari lembaga itu dari pihak lain. terutama dalam rangka layanan konseling kepadanya. Menyayangi anak.3. Sabar dan bijakasana.  Prinsip-prinsip yang berlaku dalam layanan individual. sebaliknya. harus ada pengertian dan kesepakatan yang jelas antara konselor dan pihak lembaga. Berwawasan luas. 4. dan juga dengan klien yang menghubingi konselor ditempat lembaga itu. Hubungan Kelembagaan dan Hak serta Kewajiban Konselor  Jika konselor bertindak sebagai konsultan pada suatu keluarga.

Beberapa Persyaratan Sebagai Konselor Prof. 7. Cavanagh (1982) mengemukakan bahwa kualitas pribadi konselor ditandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut : (a) Pemahaman diri. di samping faktor pengetahuan tentang dinamika perilaku dan keterampilan terapeutik atau konseling. pengetahuan. 8. Willis (2009:79-85) memaparkan secara panjang lebar kualifikasi konselor. dan nilainilai yang dimilikinya yang akan memudahkannya dalam menjalankan proses konseling sehingga mencapai tujuan dengan berhasil (efektif). Tanggap dan mampu mengambil tindakan. termasuk pribadi. Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling. Menjadi contoh. Tekun dan teliti. (b) 8 . kualitas konselor adalah semua kriteria keunggulan. Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling. Mempunyai modal profesional. 1. C. 6.5. 2. Menurutnya. Sofyan S. Kompetensi personal. 3. keterampilan. Salah satu kualitas yang jarang dibicarakan adalah kualitas pribadi konselor. Kompetensi keilmuan. Konseling. Kualitas pribadi konselor adalah kriteria yang menyangkut segala aspek kepribadian yang amat penting dan menentukan keefektifan konselor jika dibandingkan dengan pendidikan dan latihan yang ia peroleh. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif. 9. wawasan. Kompetensi guru pembimbingan/konselor sekolah.

(c) memiliki kesehatan psikologis yang baik. (b) kebutuhan merasa penting. Kesehatan Psikologis Konselor dituntut memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari kliennya. Kompeten (Competent) Yang dimaksud kompeten disini adalah bahwa konselor itu memiliki kualitas fisik. intelektual. 3) Konselor menyadari tentang apa yang membuat dirinya cemasdalam konseling. Konselor yang memiliki tingkat self-knowledge yang baik akan menunjukkan sifat-sifat berikut. dan masalah apa yang harus dia selesaikan. b. (h) responsif. bersalah. dan kuat. (g) hangat. dihargai. 4) Konselor memahami atau mengakui kelebihan (kekuatan) atau kelemahan (kekurangan) dirinya. (e) jujur. dan apa yang menyebabkan dirinya melakukan pertahanan diri dalam rangka mereduksi kecemasan tersebut. maka dia 9 . dan moral sebagai pribadi yang berguna. (d) dapat dipercaya. (j) sensitif. c. memahami bahwa kesehatan psikologisnya baik dan dikembangkan melalui konseling. emosional. takut. dia memahami secara pasti apa yang dia lakukan. superior. Seperti : (a) kebutuhan untuk sukses.kompeten. Pemahaman diri (Self-knowledge) Self-knowledge ini berarti bahwa konselor memahami dirinya dengan baik. (i) sabar. a. (f) kuat. sosial. dan cinta. Hal ini penting karena kesehatan psikologis (psychological health) konselor akan mendasari Ketika pemahamannya konselor terhadap perilaku dan keterampilannya. Seperti: rasa marah. 1) Konselor menyadari dengan baik tentang kebutuhan dirinya. 2) Konselor menyadari dengan baik tentang perasaan-perasaannya. mengapa dia melakukan hal itu. dan (k) memiliki kesadaran yang holistik.

karena beberapa alasan sebagai berikut. Apabila klien mendapat penerimaan dan kepercayaan dari konselor. e. 1. Jujur (honesty) Yang dimaksud jujur disini adalah bahwa konselor itu bersikap transparan (terbuka). tetapi justru sebagai pemicu masalah klien. maka dia akan mengalami kebingungan dalam menetapkan arah konseling yang ditempuhnya. Kualitas konselor yang dapat dipercaya sangat penting dalam konseling. maka konselor bukan berperan sebagai penolong dalam memecahkan masalah. 2. Apabila itu terjadi. apakah dia menyadari atau tidak. Artinya klien percaya bahwa konselor mempunyai motivasi untuk membantunya. maka akan berkembang dalam dirinya sikap percaya terhadap dirinya sendiri. d. autentik. karena alasan-alasan berikut : 10 . 3. Dapat Dipercaya (Trustworthiness) Kualitas ini bahwa konselor itu tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien. maka perannya sebagai model berperilaku bagi klien menjadi tidak efektif. Klien dalam konseling perlu mempercayai karakter dan motivasi konselor. Ketika konselor kurang memiliki kesehatan psikologis. Apabila konselor tidak mendasarkan konseling tersebut kepada pengembangan kesehatan psikologis. Setiap pertemuan konseling merupakan suatu periode pengawasan yang begitu intensif terhadap tingkah lakuyang adaptif. bahkan dapat menimbulkan kecemasan bagi klien.membangun proses konseling tersebut secara lebih positif. Konselor merupakan model dalam berperilaku. Sikap jujur ini penting dalam konseling. Esensi tujuan konseling adalah mendorong klien untuk mengemukakan masalah dirinya yang paling dalam. dan asli (genuine).

Klien memandang konselor sebagai orang yang (a) tabah dalam menghadapi masalah. dan membagi tanggung jawab dengan klien dalam proses konseling. memberikan umpan balik yang bermanfaat. Kedekatan hubungan psikologis sangat penting dalam konseling. Kekuatan (Strength) Kekuatan atau kemampuan konselor sangat penting dalam konseling. 11 . Melalui konseling. 2. Actives Responsiveness Keterlibatan konselor dalam proses konseling bersifat dinamis. f. Klien yang datang meminta bantuan konselor. berdiskusi dengan klien tentang cara mengambil keputusan yang tepat. klien ingin mendapat rasa hangat tersebutdan melakukan “sharing” dengan konselor. memberikan perhatian. sebab dapat menimbulkan hubungan yang langsung dan terbuka antara konselotr dengan klien. sebab dengan hal itu klien akan merasa aman. dan memberikan kasih sayang. memberikan informasi yang berguna. mengemukakan gagasan-gagasan baru. Bersikap Hangat Yang dimaksud bersikap hangat itu adalah : ramah. g.1. Melalui respon yang aktif. pada umumnya yang kurang mengalami kehangatan dalam hidupnya. (b) dapat mendorong klien untuk mengatasi masalahnya dan. tidak pasif. (c) dapat menanggulangi kebutuhan dan masalah pribadi. konselor dapat mengkomunikasikan perhatian dirinya terhadap kebutuhan klien. sehingga dia kehilangan kemampuan untuk bersikap ramah. Disini. penuh perhatian. konselor mengajukan pertanyaan yang tepat. Kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif kepada klien. h. dan kasih sayang. Sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untuk menjalin hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalma proses konseling.

Konselor yang sensitif akan mampu mengungkap atau menganalisis apa masalah yang sebenarnya yang dihadapi klien. sosial. sementara yang sebenarnya tertutup oleh perilaku pertahanan dirinya. Bahkan ada yang tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah. j. intelektual. Dimensi-dimensi itu meliputi: fisik.i. Konselor yang sabar cenderung menampilkan kualitas sikap dan perilaku yang tidak tergesa-gesa. dan moral spiritual. baik dari pada klien maupun dirinya sendiri. disini menunjukkan bahwa konselor perlu memahami adanya berbagai dimensi yang menimbulkan masalah kline dan memahami bagaimana dimensi yang satu memberi pengaruh terhadap dimensi yang lainnya. Sabar (Patience) Melalui kesabaran konselor dalam proses konseling dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. k. Kepekaan (Sensitivity) Kualitas ini berarti bahwa konselor menyadari tentang adanya dinamika psikologis yang tersembunyi atau sifat-sifat mudah tersinggung. Klien yang datang untuk meminta bantuan konselor pada umumnya tidak menyadari masalah yang sebenarnya mereka hadapi. Kesadaran Holistik (Holistic Awareness) Pendekatan holistik dalam konseling berarti bahwa konselor memahami klien secara utuh dan tidak mendekatiny secara serpihan.Pada diri mereka hanya nampak gejala-gelajanya (pseudo masalah). 12 . seksual. Namun begitu bukan berarti bahwa konselor sebagai seorang ahli dalam segala hal. emosi. Sikap sabar konselor menunjukkan lebih memperhatikan diri klien dari pada hasilnya.

tidak hanya setengahsetengah dalam melaksanakan profesi tersebut. Profesi Bimbingan dan Konseling adalah profesi yang menuntut keahlian dari para konselor dalam menangani siswa. Kesimpulan Bahwasanya profesi bukan hanya diartikan sebagai pekerjaan saja tetapi juga dipahami bahwa dalam profesi harus memiliki keahlian dan memiliki kode etik yang diatur oleh organisasi profesi yang mana apabila dilanggar akan mendapat sanksi. B. Hendaknya kita tidak memandang remeh suatu profesi . 13 . Hal itu dapat diwujudkan jika konselor telah mengikuti pendidikan dan pelatihan yang memadai sebagai seorang konselor. bukan hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya menjadikan profesi ini sebagai pelarian 3. 2. Saran 1. sebab dalam profesi terdapat hal-hal yang hanya terdapat dalam profesi tersebut.BAB III PENUTUP A. Hendaknya dalam memilih profesi BK dipilih berdasarkan pilihan hati . Dalam menjalankan profesi Bimbingan dan Konseling terdapat aturanaturan yang harus diikuti serta harus mampu menguasi landasan-landasan yang ada dalam bidang bimbingan dan konseling. Hendaknya bagi kita yang telah memilih BK sebagai profesi kita . maka kita harus memahaminya dengan sebenar-benarnya .

Dasar-Dasar Bimbingan & Konseling. Bimbingan dan Konseling. (1999). 14 . (2008). (2001). (2010). Erman. Juntika. Jakarta : Rineka Cipta. Bandung : Pustaka Setia. Anas. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang Prayitno & Amti. Psikologi Konseling. Syamsu & Nurihsan.DAFTAR PUSTAKA Latipun. Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung : Remaja Rosdakarya. Salahudin. Yusuf.

..... DAFTAR PUSTAKA 13 13 3 5 8 1 1 2 i ii iii iii 15 ................................ Kesimpulan ..... C.................................................................................................................. B............................................................ Rumusan Masalah ........... Beberapa Persyaratan Sebagai Konselor ............................. Saran .......... KATA PENGANTAR . C............................................................................... DAFTAR ISI ........................................................ Pengembangan Profesi Bimbingan dan konseling ....................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . Tujuan Penulisan ..................................... Kode Etik Bimbingan dan Konseling ................................................................... B........................................... B...................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A........ BAB III PENUTUP A.................................................................................................................... Latar Belakang ......................................... BAB II PEMBAHASAN A.................

Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Unaaha Februari 2013 Penulis ii . Oleh karena itu. baik langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa sampai kehadapan para pembaca.KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Akhirnya penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moril dan materil. kritik dan saran guna perbaikan di makalah yang selanjutnya. penyusun menerima koreksi.

Tugas : MAKALAH PROFESI BIMBINGAN KONSELING Di Susun Oleh MAIDAR 210 502 082 PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAKIDENDE KONAWE 2013 ii .