P. 1
Limfadenitis_Tuberkulosis

Limfadenitis_Tuberkulosis

|Views: 46|Likes:
Published by Anna Fa
penyakit endenik yang utama, limfadenitis TB
penyakit endenik yang utama, limfadenitis TB

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Anna Fa on Mar 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

Limfadenitis Tuberkulosis

Kelenjar getah bening termasuk dalam susunan retikuloendotel, yang tersebar di seluruh tubuh. Mempunyai fungsi penting berupa barier atau filter terhadap kuman – kuman / bakteri – bakteri yang masuk kedalam badan dan barier pula untuk sel – sel tumor ganas ( kanker ) (1). Disamping itu bertugas pula untuk membentuk sel – sel limfosit darah tepi. Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah besar di Indonesia. Prevalensinya mencapai 0,29% dan merupakan penyebab kematian nomor 3. (2). Indonesia merupakan penyumbang kasus TB nomor 3 terbesar di dunia. Di perkirakan, masalah TB yang belum juga berakhir ini terjadi karena basil tuberkulosis resisten yang telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Mungkin pula karena adanya infeksi ganda spesies basil mikobakteria, misalnya infeksi basil M. atipik bersama-sama dengan M. tuberkulosis terjadi pada satu penderita TB. Atau, bahkan infeksi ganda antara satu spesies M. atipik dengan spesies M. atipik lainnya pada satu penderita TB. Tuberkulosis dikenal sejak 1000 tahun sebelum Masehi seperti yang tertulis dalam kepustakaan Sanskrit kuno. Nama “tuberculosis” berasal dari kata tuberculum yang berarti benjolan kecil yang merupakan gambaran patologik khas pada penyakit ini. Hippocrates (460-377 SM) telah menuliskan gejala klinik penyakit ini dan menyebutkan sebagai fisis. Ia mengenal bentuk akut dan bentuk kronik. Selama bertahun-tahun bentuk tbc kronik dianggap sebagai penyakit turunan, berbeda halnya dengan bentuk akut pada anak. Baru pada 1891 Laennce mengemukakan bahwa kedua bentuk tersebut merupakan penyakit yang sama dengan gambaran klinik yang berbeda, padahal Koch sudah pada tahun 1882 menemukan basil tuberkulosis sebagai penyebab penyakit ini. Kejadian penyakit tuberkulosis menurun sejak tahun 1900, bersamaan dengan membaiknya perumahan, gizi dan tingkat hidup masyarakat dan semakin turun sejak ditemukannya antituberkulosis. Berbeda dengan epidemi tuberkulosis masa lalu, saat ini terjadi epidemi tuberkulosis pada penyandang infeksi HIV. Sekitar 40% penyandang HIV positif di dunia menderita tuberkulosis.(3). Kuman penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan sinar ultraviolet. Basil ini sukar diwarnai, tetapi berbeda dengan basil lain, setelah diwarnai tidak dapat dibersihkan lagi dari fuchsin atau metileenblauy oleh cairan asam sehingga biasanya disebut basil tahan asam (BTA). Pewarnaan Ziehl Neelsen biasanya dipergunakan untuk menampakkan basil ini. A.DEFINISI Akibat terjadinya infeksi dari suatu bagian tubuh maka terjadi pula peradangan pada kelenjar getah bening regioner dari lesi primer, keadaan ini dinamakan limfadenitis.(1). B.ANATOMI SISTEM LIMFATIK Jalinan pembuluh limfe terdiri dari tiga ruangan utama. Kapiler limfe merupakan tempat absorpsi limfe seluruh tubuh. Kapiler-kapiler ini bermuara kedalam pembuluh pengumpul yang melewati ekstremitas dan rongga tubuh, yang kemudian bermuara kedalam sistem vena melalui duktus torasikus. Pembuluh pengumpul secara periodik diselingi oleh kelenjar limfe, yang menyaring limfe dan terutama melakukan fungsi imunologi. Kapiler limfe serupa dengan kapiler darah, kecuali bahwa membran basalis tidak begitu tegas. Telah diketahui adanya celah besar antara sel endotel pembuluh limfe yang berdekatan, sehingga partikel sebesar eritrosit dan limfosit bisa berjalan melaluinya. Jaringan tertentu tampaknya tidak mempunyai pembuluh limfe.Keseluruhan epidermis, sistem saraf pusat, selubung mata dan otot, kartilago dan tendon tidak mempunyai pembuluh limfe. Dermis kaya akan pembuluh limfe yang mudah dikenal dengan penyuntikan intradermis zat warna

Pappenhimer dan soto-rivera mendukung konsep bahwa pori-pori kapiler adalah kecil dan hanya permeabel sebagian bagi molekul besar seperti protein plasma.tertentu. sementara tekanan onkotik cairan interstisial hanya kira-kira 1 mmHg. dan sekarang sudah diketahui bahwa interaksi pembuluh limfe-vaskular bisa timbul di dalam kelenjar limfe. hubungan tekanan arteri dan vena lokal. duktus ini menerima pembulu limfe visera totem vena melalui persatuan dengan vena subklavia sisnistra. dimana saluran ini berakhir dlam satu kelenjar limfe atau lebih. Dan pada ujung vena 17 mmHg. yang mencakup konsentrasi protein dalam plasma dan cairan interstisial. Satu fungsi utama sistem limfe adalah untuk berpartisipasi dalam pertukaran kontinyu cairan interstial merupakan filtrat plasma yang memnyilang dinding kapiler dan kecepatan pembentukannya tergantung pada perbedaan tekanan di antara membran ini. Daerah korteks terutama mengandung limfosit. Aliran limfe noramal 2 samapi 4 liter perhari. Kecepatan aliran sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor lokal dan sistemik. Pembuluh ini juga dipersarafi dan. Saluran limfe ekstremitas bawah dan visera bersatu untuk membentuk sisterna kili dekat aorta di dalam abdomen atas. Normalnya aliran keluar bersih melebihi aliran masuk bersih dan cairan tambahan ini kembali ke sirkulasi melalui pembuluh limfe. Di dalam dada. dan sel-sel ini dianggap dalam keseimbangan dinamik di dalam kelenjar limfe. yang tersusun dalam folikel yang dipisahkan oleh perluasan trabekular kapsula ini. C. Molekul besar ini yang tertangkap di dalam kapiler menimbulkan efek osmotik yang cenderung menjaga volume cairan di dalam ruang kapiler. Sehingga pertukaran cairan antara kapiler dan ruang interstiasial tergantung pada empat faktor : tekanan hidrostatik di dalam kapiler dan di dalam ruang interstiasial serta tekanan osmotik di dalam dua ruangan ini. Pembuluh ini mempertahankan kaliber yang seragam waktu naik dan sering berhubungan satu sama lain melalui cabang yang menyilang. memberikan drainase untuk ekstremitas kanan atas dan leher serta memasuki vena sublavia dekstra. Di dalam folikek terdapat sentrum germinativum diskrit. telah diamati adanya spasme maupun kontraksi alamiah berirama. Ada aliran bersih cairan keluar dari kapiler ke dalam ruang interstisial pada ujung arteriola yang bertekanan tinggi dari suatu kapile. Pada individu normal. Kelenjar limfe secara periodik diselingi di seluruh perjalanan saluran limfe pengumpul. Pembuluh tanpa katup ini berhubungan dengan pembuluh pengumpul pada sambungan dermis-subkutis. Pembulu limfe superfisialis ekstremitas terdiri dari beberapa saluran berkatup yang terutama melewati sisi medial ekstremitas ke arah lipat paha atau aksila. Kemudian limfe memasuki sinus. . Tekanan Hidrostatik cairan interstisial bervariasi dalam jaringan yang berbeda sebesar –2mmHg dalam jaringan subkutis dan +6 mmHg di dalam ginjal. Tekanan hidrostatik pada ujung arteiola kapiler diperkirakan 37 mmHg. dan keluar melalui saluran eferen tunggal. Tiap kelenjar limfe juga mempunyai supali saraf dan vaskular yang terpisah. Masing-masing kelenjar limfe bisa mempunyai beberapa saluran limfe eferen yang masuk melalui kapsul. membasai daerah korteks dan medula. Medula bisa mengandung makrofag dan sel plasma maupun limfosit. FISIOLOGI SISTEM LIMFATIK Sirkulasi limfe merupakan proses yang rumit dan sulit dipahami. Uktus limfatikus dekstra yang terpsah. suatu media yang mengandung sel otot polos dan suatu intima. dan aliran bersih ke dalam pada ujung venula ( gambar 1 ). ada sedikit (jika ada) hubungan antara dua sistem. serta ukuran pori dan keutuhan kapiler. Tekanan onkotik plasma normal sekitar 25 mmHg. Jalinan ini mengikuti dengan dengan rapat jalur vaskular utama profunda terhadap fasia otot. Sistem pembuluh limfe profunda yang terpisah juga terdapat pada ekstremitas. Struktur terakhir ini berjalan melalui diafragma untuk menjadi duktus torasikus. Pembuluh limfe mempunyai struktur yang serupa dengan pembuluh darah dengan adventisia berbatas tegas.

Tetapi celah anatara sel endotel pembuluh limfe terminal sebenarnya mudah menerima molekul besar ini. juga menekan pembulu limfe. Peningkatan tekan intra-abdomen akibat batuk atau mengejan. konsentrasi protein bisa serendah0. dikumpulkan oleh sistem limfe dan diangkut ke kelenjar limfe regional. Aliran darah yang cepat dalam vena subklavia bisa menimbulkan efek siphon pada duktus torasikus. Tekanan Onkotik Plsma = 25 mmHg Tekanan Onkotik interstial = 1 mmHg Gambar 1. bertambahnya aliran bahan-bahan melalui pembuluh limfe menguntungkan karena cenderung mengurangi pembengkakan jaringan yang meradang dengan mengosongkan sebagian dari eksudat. menekan saluran limfe dan karena adanya katup yang kompeten dalam saluran limf. Penyebarn sering dibatasi oleh penyaringan yang dilakukan oleh kelenjar limfe regional yang dilalui oleh cairan limfe yang bergerak menuju ke dalam tubuh. Molekul yang besar ini tidak mudah di reabsorpsi dalam kapiler vaskular. Sistem limfatik berperan pada reaksi peradangan sejajar dengan sistem vaskular darah. Diperkirakan bahwa 50 samapi 80 persen protein intravaskular total bersirkulasi dengan cara ini tiap 24 jam. Dengan cara ini. sel plasma dan limfosit dapat berinteraksi dengannya. mempercepat aliran limfe ke atas. tergantung pada perbedaan bersih tekanan hidrostatik dan onkotik. Limfe yang mengalir dari usus setelah makan akan berwarna opalesen. tetapi agen atau bahan yang . Biasanya ada penembusan lambat cairan interstisial ke dalam saluran limfe jaringan.5 gm per 100 ml. sama seperti yang terjadi pada venula. Saat istirahat. Telah diketahui bahwa dalam perjalanan peradangan akut. selama peradangan akut tidak hanya aliran limfe yang bertambah. biasanya terjadi kenaikan yang menyolok pada aliran limfe dari daerah itu. Tekanan ini positif dekat ujung arteriola yang meyebabkan aliran keluar cairan dan negatif dekat ujung venula. agen-agen yang dapat menimbulkan cedera dapat dibawa oleh pembuluh limfe dari tempat peradangan primer ke tempat yang jauh dalam tubuh. Pembuluh limfe agaknya dipertahankan dalam posisi terbuka karena jaringan membengkak akibat sistem serabut jaringan ikat tertambat pada dinding pembuluh dinding limfe. Sebaliknya. Fungsi tambahan sistem limfe yang mempunyai dampak bedah. dan limfe yang terbentuk dibawah ke sentral dalam badan dan akhirnya bergabung kembali kearah vena. agen-agen yang menular dapat menyebar. benda asing dan sel ganas yang dikenal. Kontraksi otot rangka aktif . tetapi kandungan protein dan sel dari cairan limfe juga bertambah dengan cara yang sama. Aliran cairan yang melintasi kapiler. Sebaliknya. meliputi fungsi filtrasi dan perlindungan imunologi. Bagaimanapun juga. dengan demikian memungkinkan lebih banyak bahan interstisial yang masuk ke dalam pembuluh limfe. tempat kebanyakan cairan kembali ke lumen kapiler. melalui respon kekebalan. Konsentrasi protein limfe terutama tergantung atas jaringan yang di drainase. maka limfe di dorong ke arah kepala. kontraksi intrinsik yang berirama dari dinding duktus pengumpul dianggap mendorong limfe ke arah duktus torasikus dalam bentuk peristeltik. lapisan sel pembatas pembuluh limfe yang terkecil agak meregang. misalnya. Bila daerah terkena radang. karena ukuran pori yang kecil dalam setruktur terakhir. Pada pembuluh limfe ekstrimitas. sementara limfe hati bisa mengandung 6 gm per 100ml. dimana konsentrasi makrofag. karena adanya kandungan lemak dalam bentuk kilomikron. Perubahan fasik dalam tekanan intratoraks yang berhubungan dengan pernafasn.Tenaga pendorong limfe juga merupakan proses yang rumit. Bakteri. membentuk mekanisme pompa lain untuk mendoong limfe melalui mediastitinum. Fungsi kedua dari sitem limfe adalah untuk mengembalikan makromolukel dari ruang interstisial ke sistem vaskular.

2. D. yang sering membuat rasa nyeri untuk berjalan. I. Bila pembuluh limfe terkena radang disebut limfangitis. Satu contoh yang terkenal adalah pembesaran kelenjar limfe servikal. Jika kelenjar limfe terkena radang di sebut limfadenitis. Limfadenitis Kronis Disebabkan oleh infeksi kronis. Pembesaran di sini ditandai oleh tanda radang yang sangat minimal dan tidak nyeri. Peradangan kelenjar getah bening ini menyebabkan hiperplasia kelenjar tersebut hingga secara klinis teraba membesar. Dapat terjadi karena virulensi kuman yang hebat. Karena alasan ini. Misalnya : Ada sakit gigi atau karies dentis atau infeksi stomatitis sering diikuti pembesaran kelenjar getah bening submandibuler ( limfadenitis submandibuler ) Ada plgmon atau infeksi di telapak tangan akan menimbulkan limfadenitis daerah aksila dari tangan tersebut yang nyeri dan mengganggu gerakan tangan.Lesi Primer sumber infeksi. Dalam praktek. Infeksi: Akut Kronis : Nonspesifik dan Spesifik 2. Infeksi kronis nonspesifik misalnya pada keadaan seseorang dengan faringitis kronis akan ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher ( limfadenitis ).Pembesaran kelenjar getah bening regioner.a. Pembesaran / peradangan ini ditentukan pula oleh derajat virulensi kuman hingga dapat berupa abses supuratif. Neoplasma : Primer Sekunder Berikut ini akan diuraikan aspek klinis dari kelainan pembesaran kelenjar getah bening tersebut. .b. Untuk abses ini perlu dilakukan terapi abses berupa insisi 1. Paronichya di ibu jari kaki atau infeksi di kaki bagian bawah menyebabkan adanya limfadenitis dan inguinal. tetapi pada setiap pembesaran kelenjar limfe kebanyakan reaksi-reaksi kelenjar limfe disertai oleh pembesaran. PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING Kelainan yang dapat dijumpai pada kelenjar getah bening berupa pembesaran kelenjar itu dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti: 1. di samping tanda infeksi sistematis ( sepsis ) dapat pula dijumpai kelenjar getah bening yang sudah berubah menjadi abses. Limfadenitis regional sering ditemukan menyertai peradangan. maka limfadenitis akuta inipun akan sembuh secara berangsur. yang disertai tanda – tanda umum peradangan berupa dolor. tumor dan funsio laesa. robor. kolor. Apabila lesi infeksi primer sudah diobati. yang nyeri. terlihat pada tonsilitis.terbawa oleh cairan limfe mungkin masih dapat melewati kelenjar dan akhirnya mencapai aliran darah. orang harus selalu waspada akan kemungkinan terserangnya sistem limfatik pada peradangan oleh sebab apapun. Pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi akut. Secara klinis akan ditemukan : 1. Istilah yang lebih umum adalah limfadenopati digunakan untuk menggambarkan setiap kelainan kelenjar limfe. istilah itu tidak saja menyatakan adanya limfadenitis..

sehingga kelenjar itu melunakseperti abses tetapi tidak nyeri seperti abses banal. 1 ) misalnya pada traktus digestivus atau pada organ – organ parenkhima.Demam tipe pel Ebstein.Pembengkakan kelenjar getah bening leher.Pembesaran kronis yang spesifik dan masih banyak di Indonesia adalah akibat tuberkulosa. 7.Nyeri setelah mendapat intake alkohol ( 15-20 %) 10. 3. Diagnosis Ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis.Limfosit.Stern cell ( termasuk limfoma burkitt ) 4. 2. Gejala klinis. multiple dan dapat berkonglomerasi satu sama lain. 1. bebas atas konglomerasi satu sama lain. diferensiasi buruk 3.Limfosit. Secara histopatologik limfoma Non Hodgkin menurut Rappaport (1966 ) dibagi atas : 1. 4.Pola perluasan Hodgkin sistematis secara sntripetal.Kadang-kadang disertai sesak nafas. lukanya sukar sembuh oleh karena keluar secret terus menerus sehingga seperti fistula.Kurang nafsu makan. Limfadenitis tuberkulosa diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi. Limfadenitis tuberkulosa ini ditandai oleh pembesaran kelenjar getah benng.Neoplasma a. Dapat dibedakan limfoma malignum Hodgkin dan Non Hodgkin limfoma Secara epidemiologis apabila dilihat dari distribusi umur. diferensiasi baik. 2. Pada Morbus Hodgkin di samping sel-sel limfosit.Gatal – gatal. kelenjar tidak sakit. maka penyaklit Hodgkin ditemukan pada dua puncak golongan umur. Pada non Hodgkin limfoma. dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening lain (G. dan relatif lebih lambat dan Non Hodgkin tidak sistematis dan relatif lebih cepat bermetasis ketempat yang jauh. sel plasma. dan ditandai oleh pembesaran kelenjar getah bening yang terkena. Primer Limfoma malignum ( Hodgkin dan Non Hodgkin ) Penyakit ini merupakan neoplasma ganas primer pada kelenjar getah bening/system limfatis. Limfadenitis tuberculosa pada kelenjar getah bening dapat terjadi sedemikian rupa. Sedangkan limfoma Non Hodgkin pada umumnya pada usia tua dengan puncak diatas 60 tahun. ditemukan granulosit. 9.Limfositik histiositik . Apabila Abses ini pecah ke kulit. 5.Keringat malam. terutama yang tidak disertai oleh tuberkulosa paru. histiosit dan sel Reed Sternberg merupakan patognomonis untuk golongan ini. Dapat pula sudah terjadi perkijuan seluruh kelenjar. multiple. Pada keadaan seperti ini kadang – kadang sukar dibedakan dengan limfoma malignum. besar dan konglomerasi sehingga leher penderita itu disebut seperti bull neck. Pada gambaran histopologi yang spesifik adalah perkijuan dan sel datia Langhan ‘s. padat / keras. 6. yaitu pada usia 20 – 40 tahun dan sesudah 50 tahun.Daya kerja menurun drastis 8. 2.Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 6 bulan terakhir tanpa diketahui sebabnya.

Stadium VI : Bila penyakit ditemukan difuse pada satu organ atau lebih dengan atau tanpa terserangnya kelenjar getah bening. CT atau MRI banyak hal-hal yang bersifat invasif dapat digantikan seperti laprotomi untuk staging. Stadium III : Bila terkena kelenjar getah bening pada dua pihak diafragma (III) dan apabila ada organ ekstralimfatik terkena. Periksaan hati dan limpa. 2. Stadium II : Bila tumor didapat pada dua atau lebih grup kelenjar getah benig pada pihak yang sama dari diafragma (II) atau bila terdapat pada satu atau lebih kelompok klenjar getah bening disertai tumor soliter ekstralimfatik namun masih dalam satu pihak diafrgma ( IIE)..Pemeriksaan fisik yang teliti meliputi group kelenjar getah bening di permukaan seperti leher.5. Untuk stadium IV secara total body irradiation. Untuk itu perlu dilakukan : 1. masih soliter (IIIE). inguinal dan lain-lain termasuk waldeyerring. Biopsi sumsung tulang Beberapa pemerikasaan atas indikasi seperti : Biopsi hati Laparotomi / splenektomi Bone survey Kavografi Mediastinoskopi Tomografi Dengan kemajuan teknik imaging sekarang ini seperti USG.Anamnesisi yang lengkap dari riwayat penyakit dan keluhan-keluhan penderita.Radiasi Untuk stadium I dan II secara mantel radikal Untuk stadium IIIA/Bsecara total nodal radioterapi. Pemeriksaan penunjang : Laoratorium darah tepi lengkap.Mixed cell 1s/d 5 dapat ditemukan dalam bentuk noduler atau difus. Stadium Klinik dibedakan : Stadium I : Bila tumor terdapat pada satu kelompok kelenjar getah bening (I) atau pada satu organ ekstralimfatik selama masih soliter (IE). aksila. Untuk stadium III B secara subtotal body irradiation. faal hati lengkap Imaging Foto toraks USG abdomen CT jika perlu. Pengobatan I. Pembagian histologik limfoma Hodgkin sebagai berikut : Limfositik predominant Mixed cell Limphositic depletion Nodular sclerotic Stadium Penentuan stadium penting sekali untuk menentukan jenis pengobatan.Khemoterapi untuk stadium III dan IV . prognosis dan evaluasi hasil pengobatan. II.

secara klinis perabaan. Diseksi Radikal Leher Definisi : tindakan pembedahan pada leher dengan mengangkat seluruh jaringan lunak satu sisi leher antara garis tengah di medial hingga metrapezius di lateral dan antara tepi bawah ramus mandibula di kanial hingga tepi atas klavikula di kaudal secara enbloc. Kelenjar getah bening yang mengandung metastasis akan teraba lebih padat / keras. Dan keadaan ini akan menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening tersebut.4 mg/m2 hari1 dan 8 P : Prednison 60 mg/m2 hari 1 s/d 14 P : Procarbazin 100 mg/m2 hari 1 s/d 14 Peranan pembedaan pada penatalaksanaan limfoma malignum terutama hanya untuk diagnostik (biopsi) dan laparotomi splenektomi bila ada indikasi. Kadangkadang sukar dibedakan dengan limfadenitis tuberkulosa. Neoplasma sekunder ( metastasis). . rekurens dan laringeus operasi ini dipelopori oleh George Crile. Sternokleidomastoideus v. dan cari tumor primernya atau limfoma. Khemoterapi yang sering dipakai adalah kombinasi : COP untuk Limfoma Non Hodgkin C : Cyclophosphamide 800 mg/m2 hari pertama. disamping memeriksa lesi primer untuk menentukan besar tumor (T). jugularis interna dan eksterna cabang saraf ramus kutaneus dan servikal assesrius Saraf puntung yang tidak boleh dipotong : Pleksus brakhialis n. O : Oncovin 1. Apabila sudah menembus kapsul maka akan lebih terfiksir pada jaringan lunak sekitar dan dapat terjadi konglomerasi satu sama lain. Indikasi Diseksi Leher Radikal (RND) Adanya metastasis pada kelenjar getah bening leher yang terbukti secara histopatologis. b. phrenikus n. Pada suatu proses keganasan misalnya karsinoma mamma atau karsinoma rongga mulut / lidah atau yang lainnya.Untuk stadium I dan II dapat pula diberi khemoterapi preradiasi atau pasca radiasi. 1906. dapat digerakkan dan dapat multipel. : Nitrogen mustard 6 mg/m2 hari 1 dan 8 O : Oncovin 1.4 mg/m2 i. Ini meliputi pengangkatan Seluruh kelenjar getah bening dan jaringan lunak sekitarnya m. vagus n.hari pertama P : Prednison 60 mg/m2 hari 1 s/d 7 lalu tapering off. Metastasisi dari suatu proses keganasan secara limfogen pertama-tama akan mengenai kelenjar getah bening regioner sebelum samapai ke tempat-tempat lain yang lebih jauh. MOPP ( untuk limfoma Hodgkin) M. juga selalu diperiksa kelenjar getah bening regioner untuk melihat adakah pembesaran kelenjar getah bening tersebut ( N) yang merupakan metastasisi limfogen. tidak nyeri.v. Sebaliknya apabila kita menemukan pembesaran kelenjar getah bening setelah infeksi disingkirkan maka pikirkan metastasisi pada kelenjar getah bening.

dan lain-lain. basil berkembang biak tanpa menimbulkan reaksi pertahanan tubuh. Dikerjakan pada keadaan tertentu meisalnya pada karsionoma tiroid jenis papiliferum yang bermetastasis ke kelenjar getah bening leher yang masih terbatas intra kapsuler. Infeksi ini dapat berkembang terus dapat juga mengalami resolusi dengan pembentukan jaringan parut dan basil menjadi “tidur” . Ini misalnya pada karsinoma lidah ( kanker rongga mulut ). servikalis assesorius tidak diangkat. Ini merupakan cara penularan terbanyak. Penyebaran miliar menyebabkan tuberkulosis di seluruh paru-paru. Setelah masuk ke paru. vertebra. Dalam perkembangan berikutnya. bahkan dapat menyebabkan broniektasi melalui erosi bronkus. misalnya pada tindak bedah besar. Sarang pertama ini disebut efek pridi hilus paru dan menyebabkan limfadenitis regionalis. . Kuman ini bisa tetap tidur selama bertahun-tahun. karena terbukti bahwa pada T1 yang secara klinis No: pada kenyataannya terbukti 20% kasusu kelenjar getah bening sudah mengandung metastasis. atau membentuk fibrosis dan kalsifikasi (95% kasus). otak. E. tidak dilakukan diseksi leher radikal akan tetapi dapat diberi radiasi. MYCOBACTERIUM TUBERCULOSA Ada dua macam mikrobakteria yang menyebabkan penyakit tuberkulosis yaitu tipe human dan tipe bovin. tuba Fallopi. jugularis interna. Basil tipe bovin berada dalam susu sapi yang menderita mastitis tuberkulosa. yaitu RND yang dikerjakan tanpa adanya pembesaran kelenjar getah bening secara klinis. bisa mengalami reaktivasi bila terjadi perubahan keseimbangan daya tahan tubuh. Basil yang tidur ini bisa terdapat di tulang panjang. Selanjutnya. Afek primer dan limfedenitis regional ini disebut kompleks primer yang bisa mengalami resolusi dan sembuh tanpa meninggalkan cacat. Tindakan operasi diseksi leher radikal pada keadaan ini tidak akan memperbaiki prognosis. Penyebaran hematogen itu bersamaan dengan perjalanan tuberkulosis primer ke paru merupakan fase kedua. secara histopatologis. sembuh dengan meninggalkan fibrosis dan kalsifikasi. tumor primer tergolong pada well differentiated dan dapat diangkat sesuai prinsip onkologis. meningen. Karsinoma Lidah bermetastasisi pada kelenjar getah bening leher dilakukan wide eksisi berupa hemiglosektomi atau glosektomi total dan diseksi leher radikal Pada tumor-tumor primer yang tergolong poorly diffrentiated atau anaplastik dengan adanya metastasisi pada kelenjar getah bening leher. karotis dan tidak ada metastasis jauh. dimana m. pada tumor primer yang terkontrol . v. Sekalipun demikian kompleks dapat mengalami komplikasi berupa penyebaran miliar melalui pembuluh darah dan penyebaran melalui bronkus. membentuk kavitas (kaverne). atau pada infeksi HIV.belum terfiksir ke dasar atau a. serta di ginjal. kelenjar limf hilus dan leher. Reaksi yang khas adalah terjadinya granuloma sel epiteloid dan nekrosis pengejuan di lesi primer dan di kelenjar limfe halus. fase 3. Basil tipe human bisa berada di bercak ludah (droplet) di udara yang menghirup bercak ini. dikenal istilah : modified Radical Neck Disection yaitu diseksi leher radikal. Prophilctic Neck Dissection. dan bila diminum dapat menyebabkan tuberkulosis usus. dan menyebabkan bronkopneumonia tuberculosis. Fase dengan kuman yang tidur ini yang disebut fase laten. sedangkan penyebaran bronkogen langsung ke bronkus dan bagian paru. Pertama adalah fase tuberkulosis primer. dikenal empat fase dalam perjalanan yang penyakitnya. n. sternokleidomastoideus. Dalam perjalanan selanjutnya proses ini dapat sembuh tanpa cacat. tulang. Tuberkulosis fase keempat dapat terjadi di paru atau di luar paru. Sebagai contoh : Karsinoma tiroid yang bermetastasis pada kelenjar getah bening leher: dilakukan total tiroidektomi dan Diseksi Leher Radikal ( RND ).

Penyebaran ke otak dan mengingen juga melalui penyebaran hematogen setelah kompleks primer. Penyebaran dari metafisis ke epifisis tidak pernah terjadi karena sifat cakram epifisis yang avaskuler. pembentukan jaringan granulasi. Tempat predileksi ekstrapulmonal. prostat. yang bila disuntikkan pada orang yang pernah terinfeksi tbc (baik yang aktif maupun yang “tidur”) akan menyebabkan pembengkakan kulit dalam 24-72 jam akibat akumulasi sel limfosit di daerah penyuntikan. yaitu inflamasi. aksial) biasanya merupakan tuberkulosis pasca primer. . vesikula seminalis. Penyebaran ini menyebabkan tuberkulosis sendi. Lokalisasi organ Bentuk klinik Kelenjar limf Limfadenitis leher Limfadenitis inguinalis Urogenital Tbc ginjal Epididimis Salpingitis Tulang Gibus spondilitis .Frekuensi penyebaran ke ginjal adalah yang kedua setelah penyebaran ke paru. kandung kemih. Penyebaran ke tulang adalah ke daerah metafisis tulang panjang dan ke tulang spongiosa yang menyebabkan tuberkulosis tulang ekstra-artikuler. vas deferens. Tuberkulin adalah fraksi protein dari kuman tuberkulosis. Kemudian basil dapat turun dan menyebabkan infeksi di ureter. inguinal.maupun sebagai tuberkulosis pasca primer. Kekebalan terhadap tuberkulosis sebagian besar diperantarai sel limfosit T yang atas rangsangan basil tuberkulosis dapat mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan basil dengan cara lisis (bakteriolisis). Dari sini basil bisa menyebar ke uterus (endometritis). Patologi di ginjal sama dengan patologi di tempat lain. Kuman ini dapat langsung menyebabkan penyakit atau “tidur” selama bertahun-tahun. atau ke peritoneum (peritonitis). Reaksi negatif palsu dapat terjadi pada pasien yang anergi. Uji ini berguna untuk mengetahui adanya reaksi hipersensitivitas lambat terhadap kuman tuberkulosis. Tuberkulosis kelenjar limf lain (servikal. dan nekrosis pengejuan. Tbc umumnya ditularkan melalui percik ludah halus (droplets) di udara yang mengandung basil tbc vital. Penebalan dan radang kulit lebih dari 10 mm disebut negatif. Penyebaran lain dapat juga ke sinovium dan menjalar ke tulang subkondral. yaitu bagian yang tekanan oksigennya relatif tinggi. dan epididimis. baik sebagai penyebaran langsung dari kompleks primer. Tbc ekstrapulmonal dapat ditemukan di setiap organ Diagnosis Uji tuberkulin Untuk menegakkan apakah seseorang terinfeksi kuman BTA dapat dilakukan pemeriksaan diagnosis dengan tuberkulin yang disuntikkan intrakutan menurut Mantoux. Penyebaran ke genitalia wanita melalui penyebaran hematogen dimulai dengan berhenti dan berkembangbiaknya kuman di tuba Fallopi yang sangat vaskuler. penyebaran ke perikardium terjadi oleh penjalaran melalui saluran limf atau kontak langsung dari pleura yang tembus ke perikardium. Penyebaran ke kelenjar limf paling sering ke kelenjar limf halus. Berbeda dengan penyebaran di atas. Kuman berhenti dan bersarang pada korteks ginjal.

Gejala dan tanda klinik juga khas. Marmot dapat dipakai untuk biakan binatang. Sediaan apus untuk identifikasi kuman BTA dapat dilakukan dengan pewarnaan Ziehl Neelsen atau Kenyon-Gabet-Tan. atau debris bergantung dari letak penyakit. panas dan nyeri setempat. Bengkak radang biasanya jelas. Karena basil tbc sangat lambat berkembang biak. air kemih. Diagnosis dengan cara ini cukup tinggi keandalannya. sedangkan lapisan luarnya terdiri dari sel limfosit. Sebagian besar terdiri dari sel epiteloid yang berasal dari histiosit dan makrofag. Kecuali tbc milier. diperlukan waktu enam hingga delapan minggu untuk mengetahui hasil biakan. Nekrosis yang mencair membentuk abses dingin sebab tidak ada demam umum maupun setempat. Beberapa sel itu akan membesar dan berinti banyak dan disebut sel raksasa Langhans. penyakit tbc bersifat berkembang lambat tanpa tanda radang akut. Sering terjadi fistel tunggal atau multipel di kulit dari limfadentis tbc di leher. biasanya sebesar 1 sampai 3 mm. Umumnya antituberkulosis aktif terhadap kuman yang sedang giat . Pemeriksaan bakteriologi Pemeriksaan bekteriologi merupakan satu-satunya pembuktian mutlak akan adanya tuberkulosis. misalnya limfadenitis kaseosa. Jika banyak terbentuk jaringan ikat. peritonitis eksudativa atau perikarditis eksudativa. Bahan yang diperiksa adalah sputum. cairan lambung. Kadang radang disertai dengan pembentukan banyak cairan seperti pada pleuritis eksudativa. meskipun diagnosis pastinya adalah dari pemeriksaan bakteriologis. Diagnosis terapi percobaan Diagnosis dapat juga ditegakkan secara exjuvantibus* dengan terapi percobaan dengan menggunakan antituberkulosis. disebut “abses dingin”. atau di lipat paha dari osteomielitis. Efek antituberkulosis ini paling sedikit baru dapat dinantikan setelah tiga minggu. meskipun tetap harus dipikirkan diagnosis banding yang memberikan gambaran hampir sama. terbentuk sebagai reaksi radang di sekitar sekelompok basil tbc. Pada sebagian penderita tersangka tuberkulosis yang tidak didukung oleh gambaran klinis. Struktur histologi ini merupakan gambaran patologi khas tbc. Hasil pemeriksaan ini dapat diperoleh setelah enam minggu. Di tengah tuberkulum terjadi nekrosis keju. Spondilitis pada vertebra torakal atau lumbal sering mengalirkan nanahnya ke luar melalui fasia otot psoas. Pembelahan sel menuntut 20-24 jam. Terapi Terapi obat Saat ini telah ditemukan banyak macam antituberkulosis yang mekanisme kerja dan efek sampingnya berbeda-beda. Radang tbc merupakan radang spesifik/khas. Gambaran patologi jaringan hasil biopsi atau sisa jaringan debris pada dasarnya menunjukkan radang spesifik seperti ini pula. Nekrosinya menghasilkan massa seperti salep atau keju sehingga disebut pengejuan atau caseosa. cairan sinovium. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologis tuberkulosis sering dapat menegakkan diagnosis tuberkulosis. radangnya dinamai produktiva atau sika. tetapi tidak ada hiperemia. Kalau terbentuk abses.Fistel lipat paha Sendi besar Koksitis Gonitis Pemeriksaan patologi Tuberkulum. Pada tempat jaringan nekrosis/keju yang telah keluar itu mungkin terjadi ruang yang disebut keverne seperti di paru atau diginjal. mikrobiologi maupun patologi. cara diagnosis ini dapat dilakukan. Biakan kuman dilakukan dengan medium Lowenstein Jensen atau Middlebrook 7H-11.

Sementara itu kuman tuberkulosis mudah resisten terhadap obat-obat ini. Hanya pirazinamid yang aktif dalam suasana asam. kecuali rifampisin yang juga aktif terhadap kuman yang membelah lambat. Oleh karena itu kemoterapi tuberkulosis selalu dalam kombinasi dua atau tiga macam . s = suntikan.membelah. Bstat = bakteriostatik. Bsid = bakteriosid Ini tidak aktif dalam suasana asam sehingga kuman yang berada dalam sel makrofag (suasana intraselnya asam) tidak dapat dibunuh. Selain itu obat-obat Kemoterapeutik tbc. Nama Cara pemberian Cara kerja Efek samping kontraindikasi Etambutol O Bstat Neurotoksik NII Penyakit ginjal Isoniazid o/s Bsid Neurotoksik Hepatotoksik Penyakit ginjal Rifampisin O Bsid Hapatotoksik Penyakit hati Pirazinamid O Bstat Gastrointestinal Penyakit ginjal Streptomisin S Bsid Neurotoksik N VIII Penyakit ginjal Sikloserin O Bstat Neurotoksik Penyakit ginjal Kanamisin S Bstat Neurotoksik Penyakit ginjal O = per os.

Kulit akhirnya menipis dan jebol. Efek toksik terhadap hati ini lebih berat bila kedua obat diberikan bersama-sama. Bila mengenai kulit. Dikenal dua macam paduan terapi antituberkulosis yaitu paduan jangka panjang selama 1218 bulan dan paduan jangka pendek selama 6-9 bulan. pada tuberkulosis usus yang menimbulkan obstruksi atau perforasi. misalnya pada tuberkulosis paru yang menyebabkan destruksi luas dan empiema. kulit akan meradang. demikian berulang-ulang. dan hepatotoksitas INH dan rinfampisin. Tukak kronik itu dapat sembuh dan meninggalkan jaringan parut yang tipis atau berbintil-bintil. adanya jaringan nekrosis akan menghambat penetrasi antibiotik ke daerah radang sehingga pembasmian kuman tidak efektif. Di samping itu. dapat terjadi juga perilimfadenitis sehingga beberapa kelenjar melekat satu sama lain berbentuk massa. Selain itu kuman yang semidormant. merah.VIII oleh streptomisin. Untuk menyembuhkan tuberkulosis diperlukan pengobatan yang lama karena basil tbc tergolong kuman yang sukar dibasmi. mungkin sedikit nyeri. Sebagian besar penderita tbc dapat ditolong dengan antituberkulosis Efek samping yang penting diingat adalah kerusakan N. Suatu saat tukak meradang lagi dan mengeluarkan bahan seperti keju lagi. tindak bedah menjadi syarat mutlak untuk hasil baik terapi medis. neuritis perifer oleh INH pada definisi vitamin B6. Penentuan lama pengobatan dan pemilihan paduan terapi ditentukan oleh beratnya penyakit. Selain itu tindak bedah juga diperlukan untuk mengatasi penyulit. serta adanya kuman. adanya kontraindikasi dan efek samping. Oleh karena itu sarang infeksi di berbagai organ misalnya kaverne di paru dan debris di tulang harus dibuang. Dengan pengobatan lama ini kuman yang tidur tetap tidak dapat dijangkau. bengkak. Seperti halnya infeksi lain. PERJALANAN KLINIK LIMFADENITIS TUBERCULOSA Bakteria dapat masuk melalui makanan ke rongga mulut dan melalui tonsil mencapai kelenjar limf di leher. Kulit seperti ini disebut skrofuloderma. Mungkin secara berangsur kelenjar didekatnya satu demi satu terkena radang yang khas dan dingin ini. dan mungkin sedikit nyeri. mengeluarkan bahan keperti keju. Terapi bedah Pusat radang tuberkulosis terdiri dari pengejuan yang dikelilingi jaringan fibrosa. gangguan penglihatan oleh etambutol. Tukak yang terbentuk akan berwarna pucat dengan tepi membiru dan menggangsir. sering tanpa tanda tbc paru. Jadi. . baru dapat dibunuh kalau kuman tersebut telah keluar dari makrofag. Pengobatan dilakukan dengan tuberkulostatik. F. yaitu yang berada dalam makrofag. disertai sekret yang jernih. Kelenjar yang sakit akan membengkak. dan osteitis atau artritis tuberkulosa yang menimbulkan cacat.dengan maksud meningkatkan efek terapinya dan mengurangi kemungkinan timbulnya resistensi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->