http://www.mentari.biz/tki-sumiati.

html
27 Februari 2013 Pkl : 11.57

Tki Sumiati
Tki Sumiati – Tki ku sayang Tki ku malang. Sungguh kasihan nasib Tki Sumiati yng bekerja di Arab Saudi. Wanita yng bernama Sumiati bin Salan mustapa ini merantau menjadi Tkw di Arab Saudi. Untuk mencari uang agar dapat menghidupi keluargany. Namun apa yng di dapat oleh Sumiati yng malang. Bukan uang yng dia dapatkan tapi siksaan yng tak berprikemanusiaan. Sumiati di siksa majikanny, Sumiati yng baru saja bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Arab pertengahan Juli lalu, saat ini mala dirawat intensif di Rumah Sakit Raja Fahd di Madinah, Arab Saudi. Sumiati disiksa oleh majikannya dengan sangat kejam. Berita terkini Tki Sumiati mengisahkan, selain Sumiati mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuhny, kedua kaki Sumiati juga nyaris lumpuh. Sementara bibir Sumiati bagian atas sobek dan hilang karena digunting oleh majikannya. Parahny lagi ternyata selama Sumiati bekerja belum pernah gajian. Hal ini diungkapkan Zulkarnaen, paman Sumiati sendiri. “Sumiati belum pernah digaji sehingga tidak bisa mengirim uang ke orangtuanya” kata Zulkarnaen, Rabu (17/11/2010). Padahal Sumiati yang malang yng telah mendapat penyiksaan parah oleh majikannya di Arab Saudi itu merupakan tulang punggung keluarga. “Pemerintah RI mengecam keras tindakan tidak berperikemanusiaan terhadap Sumiati tersebut dan akan memastikan bahwa pihak yang bertanggung jawab ditindak sesuai hukum yang berlaku,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene dalam konferensi pers di Jakarta. Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, akan ada tim yng dibentuk sebagai bentuk keseriusan pemerintah untuk menangani kasus Sumiati, atas terjadiny penyiksaan terhadap Sumiati. Pemerintah Indonesia akan mengirim tim dari empat kementerian untuk menangani kasus penyiksaan Sumiati di Madinah, Arab Saudi. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, akan memimpin langsung tim dari Kementeria Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Kementerian Kesehatan, yang akan menangani kasus Sumiati Arab Saudi. Berita baikny saat ini kondisi Sumiati wanita asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sudah stabil. Pihak pemerintah sudah menunjuk satu orang dokter yng berpengalaman untuk mendampingi Sumiati selama proses perawatan. Pemerintah juga sudah menunjuk seorang pengacara untuk mendampingi Sumiati selama proses hukum berlangsung. Sementara majikan Sumiati, Khalid Saleh Al Akhmin, sudah ditangkap kepolisian setempat untuk diproses hukum dan mendapatkan hukuman yng setimpal.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=19583.0 27 Februari 2013 Pkl : 11.56
Lagi-lagi Perlakuan Memilukan Bagi TKI Ini menunjukkan belum adanya kesepakatan antara RI dan Arab Saudi soal perlindungan PRT.

VIVAnews - Peristiwa memilukan kembali dialami pekerja asal Indonesia yang mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di luar negeri. Kali ini terjadi di Arab Saudi. Di mata majikan, Sumiati binti Salan Mustapa tampaknya tidak lagi dipandang sebagai manusia. Perempuan 23 tahun itu berkali-kali menerima siksaan hebat. Kasus ini mendapat perhatian besar di tanah air setelah suatu media massa di Arab Saudi akhir pekan lalu memberitakan nasib Sumiati. Harian The Saudi Gazzette mengungkapkan, sejak mulai bekerja pada 23 Juli 2010, Sumiati kerap menerima penyiksaan dari istri dan anak majikannya. Saat ini, Sumiati sedang dirawat di Rumah Sakit King Fadh di Kota Madinah. Lukanya sangat parah, sampai-sampai bibir bagian atasnya hilang, seperti luka gunting. Sumiati merupakan TKI yang berasal dari Dusun Jala, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Dia berangkat ke Arab Saudi melalui PT Rajana Falam Putri dan tiba di Arab Saudi pada 18 Juli 2010. Penyiksaan Sumiati itu turut membuat prihatin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia lalu memerintahkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan para pejabat lain yang terkait agar serius menangani kasus Sumiati. Penanganan itu termasuk dalam hal perawatan medis ataupun advokasi hukum. Khusus untuk upaya hukum terhadap majikan Sumiati, Yudhoyono minta agar hukum tidak dikaburkan. "Saya dengar ada upaya pengaburan. Jangan sampai hal ini terjadi. Saya ingin hukum ditegakkan," kata Yudhoyono sebelum Rapat Terbatas bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Kantor Presiden, Selasa 16 November 2010. Presiden meminta agar tim diplomasi Kementerian Luar Negeri memberikan bantuan total kepada TKW yang baru tiga bulan berada di Arab Saudi itu. "Segera kirim tim agar yang bersangkutan dapat perawatan medis terbaik," ucap Yudhoyono sambil meminta agar kasus penyiksaan terhadap TKI tidak terjadi lagi.

Pihak keluarga menuntut pertanggungjawaban sponsor yang memberangkatkan Sumiati. Sementara pihak rumah sakit merekomendasikan agar Sumiati menjalani operasi plastik. *** Lembaga pejuang hak-hak pekerja Indonesia di luar negeri, Migrant Care, menilai bahwa terungkapnya kasus penganiayaan keji terhadap Sumiati menunjukkan pembiaran terhadap berbagai kekerasan dan pelanggaran HAM atas PRT migran. "Tidak hanya kali ini saja, sudah terlalu banyak PRT Migran kita yang menjadi korban, namun pemerintah tidak menganggap ini sebagai persoalan serius yang menuntut perhatian dan tindakan kongkret agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan," kata Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care dalam pernyataan resmi lembaga itu, Minggu 14 November 2010. Kasus ini menunjukkan belum adanya kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi mengenai perjanjian (MoU) tentang perlindungan PRT migran asal Indonesia seperti Sumiati. Padahal, absennya proteksi hukum bagi buruh migran membuka ruang lebar untuk berbagai kekerasan dan pelanggaran terhadap mereka. Apalagi, menurut Migrant Care, kedua negara juga sama-sama belum mengakui konvensi ILO untuk perlindungan PRT. Maka lembaga itu menuntut pemerintah RI harus segera mengirim nota protes diplomatik kepada Arab Saudi sebagai bentuk protes terhadap kebiadaban majikan Sumiati yang melewati koridor kemanusiaan sekaligus mengawal kasus ini untuk segera diproses melalui jalur hukum, dan memastikan tidak ada proses di luar itu. Pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia juga harus menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk segera mengambil langkah kongkret bagi perlindungan PRT migran melalui pembentukan MoU yang mencerminkan prinsip-prinsip HAM dan decent work (kerja layak). Kemenakertrans RI juga dituntut melakukan investigasi terhadap proses penempatan Sumiati ke Saudi Arabia, yang diduga kuat menjadi korban sindikat trafficking atau penyelundupan manusia. Pemerintah, melalui Kementrian Luar Negeri (Kemlu), pernah mengungkapkan hambatan yang sering ditemui dalam soal perlindungan WNI atau pekerja migran di luar negeri. Mantan Direktur Perlindungan WNI dari Kemlu, yang kini menjadi Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Teguh Wardoyo, dalam wawancara yang dimuat VIVAnews beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa di beberapa negara tujuan penempatan, pekerja asing yang bergerak di sektor informal tidak dilindungi oleh Hukum Perburuhan atau Ketenagakerjaan setempat. Selain itu, minimnya pendidikan sebagian besar TKI yang bergerak di sektor informal membuat mereka kerap tidak memahami hak-hak yang ada di perjanjian kerja. "Masalah rendahnya pendidikan TKI merupakan pemicu berbagai masalah yang timbul di luar negeri. TKI kerap tidak bisa membaca dan menulis, akibatnya mereka tidak tahu bahwa identitas mereka dipalsukan di paspor, tidak paham isi kontrak, dan tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi kerja di luar negeri yang berbeda dengan di Indonesia," kata Wardoyo. "Yang terparah adalah mereka tidak dapat membela diri ketika mengalami eksploitasi, baik oleh majikan maupun agen. Jika TKI yang dikirimkan setidaknya berpendidikan minimal SMA, dengan dasar pendidikan yang memadai tentunya kompetensi mereka akan jauh lebih baik," lanjut Wardoyo. *** Demi mencegah munculnya kasus serupa seperti yang dialami Sumiati, maka pemerintah Indonesia diharapkan menerapkan langkah yang sama saat menghadapi Malaysia tahun lalu, yaitu menangguhkan pengiriman pekerja migran ke Arab Saudi dan memaksa mereka untuk berunding membuat perjanjian yang menjamin perlindungan dan hak-hak para pekerja. Selain Arab Saudi, Malaysia pun dikenal sebagai salah satu tujuan utama pengiriman pekerja migran - khususnya di sektor informal, seperti pembantu rumah tangga. PRT asal Indonesia pada akhirnya memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi negara tempat mereka bekerja. Malaysia kini tampak kesulitan mendapatkan tenaga baru untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) sejak Indonesia menghentikan ekspor PRT ke Negeri Jiran tahun lalu. Menurut laman harian The Star, Selasa 16 November 2010, para agen penyalur PRT mengaku kesulitan untuk mendatangkan PRT asing sejak Indonesia membekukan pengiriman PRT Juni tahun lalu, menyusul banyaknya kasus penganiayaan dan perlakuan yang tidak pantas yang diterima pekerja dari negeri ini. "Kita terpaksa menolak permintaan PRT dari konsumen karena kekurangan tenaga," kata Raja Zulkepley Dahalan, direktur Agensi Pekerjaan Haz Bhd, kepada The Star. Sambil menunggu perundingan antara Indonesia dan Malaysia untuk membuat perjanjian yang

menjamin perlindungan dan hak-hak PRT dari Indonesia, para agen lalu melirik negara-negara lain sebagai alternatif, diantaranya Kamboja. Direktur Agensi Pekerjaan Sri Nadin Sdn Bhd, Fiona Low, mengungkapkan bahwa banyak agen kini berpaling ke Kamboja sebagai sumber penyedia PRT karena sementara ini merupakan alternatif terbaik.

Sumber: http://fokus.vivanews.com/news/read/189116-lagi-lagi-perlakuan-memilukan-bagitki --------------------------------------------------------------Penganiayaan TKI di Arab Saudi Sulit Diungkap “Jadi kepada siapapun yang mempekerjakan buruh di sana, ini cenderung berpotensi terjadi."

VIVAnews - Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah menilai kasus Tenaga Kerja Indonesia, Sumiati, 23 tahun, yang disiksa secara sadis oleh istri majikan di Arab Saudi, sangat melukai rakyat Indonesia, terutama kaum perempuan. Kendati demikian, Yuniyanti tidak heran jika kasus semacam itu terjadi lagi. Sebab, sistem sosial dan lingkungan kerja di Arab Saudi yang belum terbentuk baik untuk melindungi para buruh migran. Yuniyanti yang menyelesaikan S-3 Bidang Antropologi Gender dan Migrasi di Amsterdam University ini mengaku cukup mengetahui tabiat majikan Arab Saudi. Dia telah melakukan penelitian tiga tahun di sana dengan sampel para majikan, para duta besar, pengacara, jurnalis, ulama, masyarakat biasa, penerjemah, termasuk buruh migran laki-laki. “Riset saya di Arab Saudi selama tahun itu, mereka sendiri sampai 2006 belum punya mekanisme untuk menskrining majikan yang sudah punya rekaman melakukan kriminal,” kata Yuniyanti kepada VIVAnews.com, Selasa, 16 November 2010. “Jadi kepada siapapun yang mempekerjakan buruh migran di sana, ini cenderung berpotensi terjadi,” katanya. Yuniyanti mengaku sejak 1992 telah mendengar dan membaca ratusan kali kasus penyiksaan TKI. Hasil penelitian yang dikemukakan Yuniyanti juga menyimpulkan bahwa dari tiga duta besar di Arab Saudi, semuanya menyatakan sangat sulit melindungi buruh migran secara diplomatik. “Arab Saudi memang tidak mudah karena masyarakat di sana tertutup sehingga polisi juga kesulitan dalam mengungkapnya,” katanya. Polisi hanya akan mengtahui bila ada laporan dan ini tentu saja juga mengalami kesulitan karena jumlah staf di kedutaan sangat kurang. Sebelumnya diberitakan, Kementerian Luar Negeri mengutuk penganiayaan terhadap Sumiati. Kementerian dalam siaran pers yang diterima VIVANews.com, menyebut kekerasan yang diterima Sumiati sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Itu sebabnya, kementerian mendesak pelakunya harus bertanggungjawab dan harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. Kementerian Luar Negeri juga telah mengambil langkah-langkah untuk penanganan kasus ini. • VIVAnews Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/189155-penganiayaan-tki-di-arab-saudisulit-diungkap

bahwa setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.700 9.324 953 7 36 96 232 499 111 164 468 210 4 6 71 22 5 82 10 3 143 554 1 10 3 8 114 3 123 90 80 680.123 45.292 3.559 16.274 20.695 134 29 9.345 3.375 4.731 32.449 8.218 7.220 1.283 18.427.832 1.go.417 33.217 234.592 Saudi Arabia Malaysia Taiwan Singapore United Emirate Arab 5 (Uea) 6 Hong Kong 7 Kuwait 8 Qatar 9 Yordania 10 Oman 11 Brunai Darussalam 12 Korea Selatan 13 Amerika Serikat 14 Bahrain 15 Syria 16 Italia 17 Jepang 18 Aljazair 19 Afrika Selatan 20 Macao 21 Spanyol 22 RRC 23 Thailand 24 Turki 25 New Zealand 26 Fiji 27 Maldives 28 Australia 29 Nigeria 30 Mauritius 31 Brasil 32 Belanda 33 India 34 Lain-lain 35 Uruguay 36 Cyprus 37 Jerman 38 Inggris 39 Trinidad 40 Papua New Guini 41 Vietnam 42 Libya 43 Timor Leste 44 Swiss 45 Mesir 46 Peru 47 Portugal 48 Yaman 49 Rusia 50 Perancis 51 Lain-lain Total 20.155 6.337 39.049.837 4.391 37.644 219.978 12.html 27 Februari 2013 Pkl : 12.810 59.035 3. bahwa bekerja merupakan hak asasi manusia yang wajib dijunjung tinggi.184 38.003 945 895 848 840 825 808 769 714 691 689 667 624 595 548 516 486 463 451 410 406 370 368 354 351 5.633 228.204 24.498 30.759 6.875 220.000 696.634 50.335 62.088 2.155 5.150 8.717 1.id/statistik-mainmenu-86/penempatan/6756-penempatanper-tahun-per-negara-2006-2012.430 40. b.746 5.669 33.081 188.746 644.928 1.932 5. minat.781 20.009 786 674 826 582 148 10 1484 693 1072 645 9 1 1113 426 25 1016 352 269 279 468 212 556 447 20 80 638 185 1 526 363 81 9 588 88 3 478 359 66 313 446 1 592 202 2 12 519 236 17 496 195 37 356 295 1 299 354 6 491 119 213 382 309 239 337 179 35 251 83 3 425 35 174 277 2 13 265 130 301 105 5 248 117 30 7 59 59 2 246 106 117 153 81 99 236 3.041 563 2.785 7.bnp2tki.408 1.685 20.274 Jumlah 1.237 23.890 7.852 3.658 222.087 257.172 575.056 134.381 4222 1 13 3. Menimbang : a.661 37. dihormati.594 75.263 66 639 2.1.295 46.296 59.100 29.703 1.844 4.01 No 1 2 3 4 Negara Penempatan 2006 2007 2008 281.908 3.118 11.623 47. dan kemampuan.582 10.857 14.508 1.077 39.208 2.375 2.496 21.588 228.803 581.476 106.706 50.059 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.390 6.765 362 233 2.084 563 12 2.309 8.980 10.549 1. dan dijamin penegakannya. keterampilan.198 187.360 10805 5.600 25.267 2.578 8.401 1.399 1.522 28.146 4.262 50.048 73.830 8.861 4.985 50.399 47 475 13. .807 22.723 693 10.998.210 7.643 11.259 7.685 28.710 632.325 381.756 29.062 11.476 10.134 . bakat.848 43.814 123.010 13.108 46.441 453 609 1.820 214. baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keahlian.973 30.299 1.596 11.890 137.918 2.862 2.092 Tahun 2009 2010 2011 2012 276.http://www.482 5.886 116.

dan pemulangan dari negara tujuan. perlu membentuk Undang-undang tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. termasuk perbudakan dan kerja paksa. serta perlakuan lain yang melanggar hak asasi manusia. 2. 3. tegas. kesewenang-wenangan. penampungan. keadilan sosial. Mitra Usaha adalah instansi atau badan usaha berbentuk badan hukum di negara tujuan yang bertanggung jawab menempatkan TKI pada Pengguna. 2. 5. minat. f. i. pemberangkatan sampai ke negara tujuan. dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan. Pelaksana penempatan TKI swasta adalah badan hukum yang telah memperoleh izin tertulis dari Pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan penempatan TKI di luar negeri. Mengingat : 1. Calon Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut calon TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat sebagai pencari kerja yang akan bekerja di luar negeri dan terdaftar di instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. huruf d. huruf c. huruf g. maupun sesudah bekerja. g. anti diskriminasi. huruf f. baik sebelum. Pasal 28 E ayat (1) dan ayat (3). pengurusan dokumen. e. pendidikan dan pelatihan. h. bahwa penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. dan terperinci mengenai penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut dengan TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39. Pasal 21. bahwa tenaga kerja Indonesia di luar negeri sering dijadikan obyek perdagangan manusia. korban kekerasan. . dan huruf h. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279). 4. demokrasi. Perlindungan TKI adalah segala upaya untuk melindungi kepentingan calon TKI/TKI dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. huruf b. d. Penempatan TKI adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan tenaga kerja Indonesia sesuai bakat. hak asasi manusia dan perlindungan hukum serta pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional. bahwa dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri diatur dengan Undang-undang. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI. kejahatan atas harkat dan martabat manusia. Pasal 27 ayat (2). 6. persiapan pemberangkatan. kesetaraan dan keadilan gender. Pasal 20. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. bahwa peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang ada belum mengatur secara memadai.c. martabat. Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri perlu dilakukan secara terpadu antara instansi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dan peran serta masyarakat dalam suatu sistem hukum guna melindungi tenaga kerja Indonesia yang ditempatkan di luar negeri. Pasal 28 D ayat (1) dan ayat (2). BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. huruf e. bahwa negara wajib menjamin dan melindungi hak asasi warga negaranya yang bekerja baik di dalam maupun di luar negeri berdasarkan prinsip persamaan hak. yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. dan anti perdagangan manusia. selama.

dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. b. melaksanakan. dan/atau Perseorangan di negara tujuan yang mempekerjakan TKI. Visa Kerja adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada perwakilan suatu negara yang memuat persetujuan untuk masuk dan melakukan pekerjaan di negara yang bersangkutan. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. 8. anti diskriminasi. c. Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI yang selanjutnya disebut SIPPTKI adalahizin tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada perusahaan yang akan menjadi pelaksana penempatan TKI swasta. Pasal 4 Orang perseorangan dilarang menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri. melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan TKI secara optimal di negara tujuan. untuk jabatan tertentu. DAN KEWAJIBAN PEMERINTAH Pasal 5 (1) Pemerintah bertugas mengatur. c. di negara tujuan. dan . Surat Izin Pengerahan yang selanjutnya disebut SIP adalah izin yang diberikan Pemerintah kepada pelaksana penempatan TKI swasta untuk merekrut calon TKI dari daerah tertentu. 15. 11. Orang adalah pihak orang perseorangan atau badan hukum. Pasal 3 Penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI bertujuan untuk: a. kesetaraan dan keadilan gender. maupun yang berangkat secara mandiri.7. sampai kembali ke tempat asal di Indonesia. demokrasi. Perjanjian Kerja Sama Penempatan adalah perjanjian tertulis antara pelaksana penempatan TKI swasta dengan Mitra Usaha atau Pengguna yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka penempatan serta perlindungan TKI di negara tujuan. Perjanjian Kerja adalah perjanjian tertulis antara TKI dengan Pengguna yang memuat syarat-syarat kerja. membina. meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya. 17. dan untuk dipekerjakan pada calon Pengguna tertentu dalam jangka waktu tertentu. mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta anti perdagangan manusia. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Pemerintah berkewajiban: a. b. Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para Menteri. Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri yang selanjutnya disebut dengan KTKLN adalah kartu identitas bagi TKI yang memenuhi persyaratan dan prosedur untuk bekerja di luar negeri. baik yang berangkat melalui pelaksana penempatan TKI. membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon TKI di luar negeri. 14. menjamin dan melindungi calon TKI/TKI sejak di dalam negeri. menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI/TKI. 13. Pasal 6 Pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan upaya perlindungan TKI di luar negeri. Pemerintah dapat melimpahkan sebagian wewenangnya dan/atau tugas perbantuan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Badan Hukum Swasta. 12. 16. keadilan sosial. persamaan hak. 10. hak dan kewajiban masing-masing pihak. TANGGUNG JAWAB. 9. Perjanjian Penempatan TKI adalah perjanjian tertulis antara pelaksana penempatan TKI swasta dengan calon TKI yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka penempatan TKI di negara tujuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. Pengguna Jasa TKI yang selanjutnya disebut dengan Pengguna adalah instansi Pemerintah. BAB II TUGAS. Badan Hukum Pemerintah. Pasal 2 Penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI berasaskan keterpaduan.

BAB IV PELAKSANA PENEMPATAN TKI DI LUAR NEGERI Pasal 10 Pelaksana penempatan TKI a. i. Pasal 11 (1) Penempatan TKI di luar negeri oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. c. f. memperoleh naskah perjanjian kerja yang asli.000. c. b. dan bentuk serta standar yang harus dipenuhi untuk sarana dan prasarana pelayanan penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f. Pasal 9 Setiap calon TKI/TKI mempunyai kewajiban untuk: a. d. dapat ditinjau kembali dan diubah dengan Peraturan Menteri. d. sekurang-kurangnya sebesar Rp3.00 (lima ratus juta rupiah) pada bank pemerintah. Pasal 14 . kesempatan. memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepulangan TKI ke tempat asal. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. e. besarnya modal disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan jaminan dalam bentuk deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. pelaksana penempatan TKI swasta harus memenuhi persyaratan: a. dan f.500. di luar negeri terdiri dari: Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (2) Sesuai dengan perkembangan keadaan. menyetor uang kepada bank sebagai jaminan dalam bentuk deposito sebesar Rp. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan penempatan TKI oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).e. memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya. dan d. berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT) yang didirikan berdasarkan peraturan perundangundangan. g. memiliki unit pelatihan kerja. memiliki modal disetor yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan. masa penempatan. hanya dapat dilakukan atas dasar perjanjian secara tertulis antara Pemerintah dengan Pemerintah negara Pengguna TKI atau Pengguna berbadan hukum di negara tujuan. b. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN TKI Pasal 8 Setiap calon TKI/TKI mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk: a. memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara tujuan.000. Pelaksana penempatan TKI swasta.00 (tiga miliar rupiah). (3) Ketentuan mengenai penyusunan rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. menaati dan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian kerja. menaati peraturan perundang-undangan baik di dalam negeri maupun di negara tujuan. memperoleh hak. memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di luar negeri. keberadaan dan kepulangan TKI kepada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. memiliki sarana dan prasarana pelayanan penempatan TKI. memberikan perlindungan kepada TKI selama masa sebelum pemberangkatan. Pasal 12 Perusahaan yang akan menjadi pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b wajib mendapat izin tertulis berupa SIPPTKI dari Menteri. h.000. memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan prosedur penempatan TKI di luar negeri.000. dan masa purna penempatan. Pasal 13 (1) Untuk dapat memperoleh SIPPTKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. memberitahukan atau melaporkan kedatangan. c. membayar biaya pelayanan penempatan TKI di luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b.000. memiliki rencana kerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sekurang-kurangnya untuk kurun waktu 3 (tiga) tahun berjalan. bekerja di luar negeri. memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundangundangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan selama penempatan di luar negeri. b. dan perlakuan yang sama yang diperoleh tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di negara tujuan. e.

penggunaan. b. Pasal 20 (1) Untuk mewakili kepentingannya. (2) Pencabutan SIPPTKI oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 15 Tata cara pemberian dan perpanjangan SIPPTKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 14 diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 22 Pelaksana penempatan TKI swasta hanya dapat memberikan kewenangan kepada kantor cabang untuk: a. atau b. d. telah melaksanakan kewajibannya untuk memberikan laporan secara periodik kepada Menteri. . (2) Perwakilan pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib menambah biaya keperluan penyelesaian perselisihan atau sengketa calon TKI/TKI apabila deposito yang digunakan tidak mencukupi. (3) Ketentuan mengenai penyetoran. melakukan penyuluhan dan pendataan calon TKI. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pasal 19 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI kepada pihak lain. (3) Ketentuan mengenai tata cara pembentukan kantor cabang pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) Tata cara pencabutan SIPPTKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pasal 21 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta dapat membentuk kantor cabang di daerah di luar wilayah domisili kantor pusatnya. telah melaksanakan penempatan sekurang-kurangnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari rencana penempatan pada waktu memperoleh SIPPTKI. tidak dalam kondisi diskors. dan e. dan pengembalian deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pencairan. (2) Kegiatan yang dilakukan oleh kantor cabang pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelaksana penempatan TKI swasta wajib mempunyai perwakilan di negara TKI ditempatkan. menjadi tanggung jawab kantor pusat pelaksana penempatan TKI swasta. tidak mengurangi tanggung jawab pelaksana penempatan TKI swasta terhadap TKI yang telah ditempatkan dan masih berada di luar negeri. melakukan pendaftaran dan seleksi calon TKI. (2) Pemerintah mengembalikan deposito kepada pelaksana penempatan TKI swasta apabila masa berlaku SIPPTKI telah berakhir dan tidak diperpanjang lagi atau SIPPTKI dicabut.(1) Izin untuk melaksanakan penempatan TKI di luar negeri diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang setiap 5 (lima) tahun sekali. tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. memiliki neraca keuangan selama 2 (dua) tahun terakhir tidak mengalami kerugian yang di audit akuntan publik. tidak melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya dan/atau melanggar larangan dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yang diatur dalam undang-undang ini. (2) Perpanjangan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada pelaksana penempatan TKI swasta selain harus memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 juga harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. harus berbadan hukum yang dibentuk berdasarkan peraturan perundangundangan di negara tujuan. Pasal 16 Deposito hanya dapat dicairkan dalam hal pelaksana penempatan TKI swasta tidak memenuhi kewajiban terhadap calon TKI/TKI sebagaimana telah diperjanjikan dalam perjanjian penempatan. Pasal 18 (1) Menteri dapat mencabut SIPPTKI apabila pelaksana penempatan TKI swasta: a. b. c. masih memiliki sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

. pemerataan kesempatan kerja. (5) Ketentuan mengenai tata cara penilaian dan penetapan Mitra Usaha dan Pengguna baik bermasalah maupun tidak bermasalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3). e. perlindungan hukum. c. perusahaan dapat menempatkan TKI di luar negeri untuk kepentingan perusahaannya sendiri atas dasar izin tertulis dari Menteri. d. (2) Penempatan TKI di luar negeri untuk kepentingan perusahaan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). TKI yang ditempatkan wajib memiliki KTKLN. Pasal 25 (1) Perwakilan Republik Indonesia melakukan penilaian terhadap Mitra Usaha dan Pengguna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. digunakan sebagai pertimbangan Perwakilan Republik Indonesia dalam memberikan persetujuan atas dokumen yang dipersyaratkan dalam penempatan TKI di luar negeri.c. dan f. b. TKI telah memiliki perjanjian kerja. TKI telah diikutsertakan dalam program jaminan sosial tenaga kerja dan/atau memiliki polis asuransi. minat. Pasal 29 (1) Penempatan calon TKI/TKI di luar negeri diarahkan pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian. (4) Pemerintah mengumumkan daftar Mitra Usaha dan Pengguna bermasalah secara periodik setiap 3 (tiga) bulan. Pasal 23 Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh kantor cabang pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. (3) Ketentuan mengenai penempatan TKI di luar negeri untuk kepentingan perusahaan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 24 (1) Penempatan TKI pada Pengguna perseorangan harus melalui Mitra Usaha di negara tujuan. (2) Penempatan calon TKI/TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memperhatikan harkat. menjadi tanggung jawab kantor pusat pelaksana penempatan TKI swasta. (2) Hasil penilaian terhadap Mitra Usaha dan Pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Berdasarkan hasil penilaian terhadap Mitra Usaha dan Pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hak azasi manusia. dan d. TKI yang ditempatkan merupakan pekerja perusahaan itu sendiri. menandatangani perjanjian penempatan dengan calon TKI atas nama pelaksana penempatan TKI swasta. menyelesaikan kasus calon TKI/TKI pada pra atau purna penempatan. perusahaan memiliki bukti hubungan kepemilikan atau perjanjian pekerjaan yang diketahui oleh Perwakilan Republik Indonesia. Pasal 28 Penempatan TKI pada pekerjaan dan jabatan tertentu diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. keterampilan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. dan ketersediaan tenaga kerja dengan mengutamakan kepentingan nasional. BAB V TATA CARA PENEMPATAN Bagian Pertama Umum Pasal 27 (1) Penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik Indonesia atau ke negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing. (2) Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Perwakilan Republik Indonesia menetapkan Mitra Usaha dan Pengguna yang bermasalah dalam daftar Mitra Usaha dan Pengguna bermasalah. dan atas pertimbangan keamanan Pemerintah menetapkan negara-negara tertentu tertutup bagi penempatan TKI dengan Peraturan Menteri. (2) Mitra Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berbentuk badan hukum yang didirikan sesuai dengan peraturan perundangan di negara tujuan. bakat. perusahaan yang bersangkutan harus berbadan hukum yang dibentuk berdasarkan hukum Indonesia. Pasal 26 (1) Selain oleh Pemerintah dan pelaksana penempatan TKI swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. martabat. harus memenuhi persyaratan: a. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan kemampuan.

dokumen yang diperlukan. (4) Tata cara penerbitan SIP diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri. wajib mendapatkan persetujuan dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dan disampaikan oleh pelaksana penempatan TKI swasta. pendidikan dan pelatihan d. Paragraf 2 Perekrutan dan Seleksi Pasal 34 (1) Proses perekrutan didahului dengan memberikan informasi kepada calon TKI sekurang-kurangnya tentang: a. pengurusan b. dan resiko di negara tujuan. kompetensi. Pasal 36 (1) Pencari kerja yang berminat bekerja ke luar negeri harus terdaftar pada instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat. situasi. b. baik di Indonesia maupun di negara tujuan atau di negara tujuan yang telah dinyatakan tertutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27. sehat jasmani dan rohani. (3) Surat permintaan TKI dari Pengguna. seleksi. Pasal 33 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain untuk melakukan perekrutan calon TKI. pemeriksaan kesehatan dan e. b. c. dokumen. rancangan perjanjian penempatan. perjanjian kerjasama penempatan. c. meliputi: SIP. dan d. pembekalan akhir pemberangkatan (PAP). dan . kondisi. Pasal 35 Perekrutan calon TKI oleh pelaksana penempatan TKI swasta wajib dilakukan terhadap calon TKI yang telah memenuhi persyaratan: a. kerja. (2) Pendaftaran pencari kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. disampaikan secara lengkap dan benar. perjanjian kerja sama penempatan. rancangan perjanjian kerja. tata cara perlindungan bagi TKI. tidak dalam keadaan hamil bagi calon tenaga kerja perempuan. (3) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rancangan perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. c. Paragraf 1 Surat Izin Pengerahan Pasal 32 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta yang akan melakukan perekrutan wajib memiliki SIP dari Menteri. tata cara perekrutan. uji g. h. pengurusan f. perekrutan dan c. huruf b. pelaksana penempatan TKI swasta harus memiliki: a. Bagian Kedua Pra Penempatan TKI Pasal 31 Kegiatan pra penempatan TKI di luar negeri a.Pasal 30 Setiap orang dilarang menempatkan calon TKI/TKI pada jabatan dan tempat pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan serta peraturan perundang-undangan. pemberangkatan. dan e. hak dan kewajiban calon TKI/TKI. (2) Untuk mendapatkan SIP. berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun kecuali bagi calon TKI yang akan dipekerjakan pada Pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 (dua puluh satu) tahun. surat permintaan TKI dari Pengguna. b. dan huruf d harus memperoleh persetujuan dari pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. d. psikologi.

b. dan d. Pasal 47 Ketentuan mengenai pendidikan dan pelatihan kerja diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (2) Perjanjian penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diketahui oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota. memberi pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban calon TKI/TKI. Pasal 42 (1) Calon TKI berhak mendapat pendidikan dan pelatihan kerja sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. dalam bentuk sertifikat kompetensi dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah terakreditasi oleh instansi yang berwenang apabila lulus dalam sertifikasi kompetensi kerja. dibebankan dan menjadi tanggung jawab pelaksana penempatan TKI swasta. kondisi. (2) Dalam hal TKI belum memiliki kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). adat istiadat. Pasal 39 Segala biaya yang diperlukan dalam kegiatan perekrutan calon TKI. dan risiko bekerja di luar negeri. membekali. Paragraf 4 Pemeriksaan Kesehatan dan Psikologi . Pasal 38 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta membuat dan menandatangani perjanjian penempatan dengan pencari kerja yang telah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi dalam proses perekrutan. Pasal 44 Calon TKI memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pendidikan dan pelatihan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. Paragraf 3 Pendidikan dan Pelatihan Kerja Pasal 41 (1) Calon TKI wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sesuai dengan persyaratan jabatan. memberi pengetahuan dan pemahaman tentang situasi. agama. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (2) Pendidikan dan pelatihan kerja bagi calon TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk: a. dan mengembangkan kompetensi kerja calon TKI. budaya. meningkatkan. Pasal 43 (1) Pendidikan dan pelatihan kerja dilaksanakan oleh pelaksana penempatan tenaga kerja swasta atau lembaga pelatihan kerja yang telah memenuhi persyaratan. c. (2) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan kerja.Pasal 37 Perekrutan dilakukan oleh pelaksana penempatan TKI swasta dari pencari kerja yang terdaftar pada instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1). Pasal 46 Calon TKI yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan dilarang untuk dipekerjakan. pelaksana penempatan TKI swasta wajib melakukan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. membekali kemampuan berkomunikasi dalam bahasa negara tujuan. Pasal 40 Ketentuan mengenai tata cara perekrutan calon TKI. Pasal 45 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja.

izin orang tua. d. kecuali atas persetujuan para pihak. atau izin wali. perjanjian penempatan TKI. jaminan pelaksana penempatan TKI swasta kepada calon TKI dalam hal Pengguna tidak memenuhi kewajibannya kepada TKI sesuai perjanjian kerja. bagi yang telah menikah melampirkan copy buku nikah. Kartu Tanda Penduduk. tanda tangan para pihak dalam perjanjian penempatan TKI. f. perjanjian kerja. jabatan dan jenis pekerjaan calon TKI sesuai permintaan Pengguna. surat keterangan izin suami atau istri. KTKLN. surat keterangan sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi .Pasal 48 Pemeriksaan kesehatan dan psikologi bagi calon TKI dimaksudkan untuk mengetahui derajat kesehatan dan tingkat kesiapan psikis serta kesesuaian kepribadian calon TKI dengan pekerjaan yang akan dilakukan di negara tujuan. Bagian Ketiga Perjanjian Kerja . yang ditunjuk oleh Pemerintah. Pasal 53 Perjanjian penempatan TKI tidak dapat ditarik kembali dan/atau diubah. i. Pasal 50 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan psikologi. d. akte kelahiran. akibat atas terjadinya pelanggaran perjanjian penempatan TKI oleh salah satu pihak. c. paspor yang diterbitkan oleh Kantor Imigrasi setempat. dan k. jenis kelamin. g. (4) Perjanjian penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibuat sekurangkurangnya rangkap 2 (dua) dengan bermaterai cukup dan masingmasing pihak mendapat 1 (satu) perjanjian penempatan TKI yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. biaya penempatan yang harus ditanggung oleh calon TKI dan cara pembayarannya. f. ijazah pendidikan terakhir. i. sertifikat kompetensi kerja. (3) Ketentuan dalam perjanjian penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. j. visa kerja. c. b. Paragraf 5 Pengurusan Dokumen Pasal 51 Untuk dapat ditempatkan di luar negeri. nama dan alamat pelaksana penempatan TKI swasta. (2) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan dan psikologi bagi calon TKI dan penunjukan sarana kesehatan dan lembaga yang menyelenggarakan pemeriksaan psikologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. b. e. e. dan j. atau surat keterangan kenal lahir. (2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. status perkawinan. surat keterangan status perkawinan. tanggung jawab pengurusan penyelesaian masalah. waktu keberangkatan calon TKI. Pasal 49 (1) Setiap calon TKI harus mengikuti pemeriksaan kesehatan dan psikologi yang diselenggarakan oleh sarana kesehatan dan lembaga yang menyelenggarakan pemeriksaan psikologi. sekurangkurangnya memuat: a. Pasal 54 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib melaporkan setiap perjanjian penempatan TKI kepada instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 52 (1) Perjanjian penempatan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf h dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh calon TKI dan pelaksana penempatan TKI swasta setelah calon TKI yang bersangkutan terpilih dalam perekrutan. hak dan kewajiban para pihak dalam rangka penempatan TKI di luar negeri yang harus sesuai dengan kesepakatan dan syarat-syarat yang ditentukan oleh calon Pengguna tercantum dalam perjanjian kerjasama penempatan. calon TKI harus memiliki dokumen yang meliputi : a. dan alamat calon TKI. nama dan alamat calon Pengguna. (2) Perjanjian penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). umur. h. nama. g. dilakukan dengan melampirkan copy atau salinan perjanjian penempatan TKI.

Pasal 58 (1) Perjanjian kerja perpanjangan dan jangka waktu perpanjangan perjanjian kerja wajib mendapat persetujuan dari pejabat berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. apabila selama masa berlakunya perjanjian kerja terjadi perubahan jabatan atau jenis pekerjaan. d. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (2) Dikecualikan dari ketentuan jangka waktu perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk jabatan atau jenis pekerjaan tertentu. TKI yang bersangkutan harus pulang terlebih dahulu ke Indonesia. e. Pasal 59 TKI yang bekerja pada Pengguna perseorangan yang telah berakhir perjanjian kerjanya dan akan memperpanjang perjanjian kerja. fasilitas dan jaminan sosial. (2) KTKLN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai kartu identitas TKI selama masa penempatan TKI di negara tujuan. dapat dilakukan oleh TKI yang bersangkutan atau melalui pelaksana penempatan TKI swasta. (3) Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh persetujuan perjanjian kerja dan perpanjangan jangka waktu perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 60 Dalam hal perpanjangan dilakukan sendiri oleh TKI yang bersangkutan. atau pindah Pengguna. (4) Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2). upah dan tata cara pembayaran. kondisi dan syarat kerja yang meliputi jam kerja. Pasal 62 (1) Setiap TKI yang ditempatkan di luar negeri. disiapkan oleh pelaksana penempatan TKI swasta. c. jabatan atau jenis pekerjaan TKI. (2) Pengurusan untuk mendapatkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab pelaksana penempatan TKI swasta. jangka waktu perjanjian kerja. b.Pasal 55 (1) Hubungan kerja antara Pengguna dan TKI terjadi setelah perjanjian kerja disepakati dan ditandatangani oleh para pihak. sekurangkurangnya memuat: a. hak dan kewajiban para pihak. Pasal 63 . Pasal 57 (1) Perpanjangan jangka waktu perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1). (5) Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). Pasal 56 (1) Perjanjian kerja dibuat untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun. maka pelaksana penempatan TKI swasta tidak bertanggung jawab atas risiko yang menimpa TKI dalam masa perpanjangan perjanjian kerja. hak cuti dan waktu istirahat. nama dan alamat TKI. (2) Setiap TKI wajib menandatangani perjanjian kerja sebelum TKI yang bersangkutan diberangkatkan ke luar negeri. dan f. (3) Perjanjian kerja ditandatangani di hadapan pejabat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 61 Bagi TKI yang bekerja pada Pengguna perseorangan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (3) Ketentuan mengenai jabatan atau jenis pekerjaan tertentu yang dikecualikan dari jangka waktu perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disepakati oleh para pihak sekurangkurangnya 3 (tiga) bulan sebelum perjanjian kerja pertama berakhir. nama dan alamat Pengguna. maka perwakilan pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengurus perubahan perjanjian kerja dengan membuat perjanjian kerja baru dan melaporkannya kepada Perwakilan Republik Indonesia. wajib memiliki dokumen KTKLN yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

telah diikutsertakan dalam perlindungan program asuransi. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. peraturan perundang-undangan di negara tujuan. Pasal 67 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib memberangkatkan TKI ke luar negeri yang telah memenuhi persyaratan kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 sesuai dengan perjanjian penempatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2). Pasal 66 Pemerintah wajib menyediakan pos-pos pelayanan di pelabuhan pemberangkatan dan pemulangan TKI yang dilengkapi dengan fasilitas yang memenuhi syarat. materi perjanjian kerja. Pasal 68 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengikutsertakan TKI yang diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi. dan c. telah mengikuti Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP). (3) Pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) menjadi tanggung jawab Pemerintah. dan tata cara memperoleh KTKLN diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (2) Pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) dimaksudkan untuk memberi pemahaman dan pendalaman terhadap: a. dan b. dilaksanakan melalui tempat pemeriksaan imigrasi yang terdekat. Pasal 65 Pelaksana penempatan TKI swasta bertanggung jawab atas kelengkapan dokumen penempatan yang diperlukan.(1) KTKLN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 hanya dapat diberikan apabila TKI yang bersangkutan: a. telah memenuhi persyaratan dokumen penempatan TKI di luar negeri. Bagian Kelima Masa Penempatan Pasal 71 (1) Setiap TKI wajib melaporkan kedatangannya kepada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. Pasal 69 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam pembekalan akhir pemberangkatan. (2) Lamanya penampungan disesuaikan dengan jabatan dan/atau jenis pekerjaan yang akan dilakukan di negara tujuan. persyaratan. Bagian Keempat Masa Tunggu di Penampungan Pasal 70 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta dapat menampung calon TKI sebelum pemberangkatan. pelaksana penempatan TKI swasta wajib memperlakukan calon TKI secara wajar dan manusiawi. Pasal 64 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak memiliki KTKLN. (2) Ketentuan mengenai bentuk. ayat (2). (2) Pelaksana penempatan TKI swasta wajib melaporkan setiap keberangkatan calon TKI kepada Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. b. (2) Jenis program asuransi yang wajib diikuti oleh TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Ketentuan mengenai penyelenggaraan akhir pemberangkatan (PAP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pemberangkatan TKI ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (4) Ketentuan mengenai standar tempat penampungan dan lamanya penampungan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (3) Selama masa penampungan. .

dan f. b. e. e. Bagian Keenam Purna Penempatan Pasal 73 (1) Kepulangan TKI terjadi karena: a. (2) Pelaporan bagi TKI yang bekerja pada Pengguna perseorangan dilakukan oleh pelaksana penempatan TKI swasta. cuti. pemberian fasilitas kesehatan bagi TKI yang sakit dalam kepulangan.(2) Kewajiban untuk melaporkan kedatangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi TKI yang bekerja pada Pengguna perseorangan dilakukan oleh pelaksana penempatan TKI swasta. (2) Pengurusan kepulangan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hal: a. atau wabah penyakit di negara tujuan. b. (3) Dalam hal terjadi perang. dan Pemerintah Daerah bekerja sama mengurus kepulangan TKI sampai ke daerah asal TKI. berakhirnya masa perjanjian kerja. dan huruf g. termasuk biaya penguburan sesuai dengan tata cara agama TKI yang bersangkutan. pelaksana penempatan TKI berkewajiban: a. Pemerintah. d. pemeriksaan kesehatan dan psikologi. memberikan perlindungan terhadap seluruh harta milik TKI untuk kepentingan anggota keluarganya. mencari informasi tentang sebab-sebab kematian dan memberitahukannya kepada pejabat Perwakilan Republik Indonesia dan anggota keluarga TKI yang bersangkutan. pemutusan hubungan kerja sebelum masa perjanjian kerja berakhir. pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi kerja. atau g. b. dideportasi oleh pemerintah setempat. dan c. meninggal dunia di negara tujuan. bencana alam. dan c. . Bagian Ketujuh Pembiayaan Pasal 76 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta hanya dapat membebankan biaya penempatan kepada calon TKI untuk komponen biaya: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemulangan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal TKI meninggal dunia di negara tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. Pasal 74 (1) Setiap TKI yang akan kembali ke Indonesia wajib melaporkan kepulangannya kepada Perwakilan Republik Indonesia negara tujuan. b. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pasal 72 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan TKI yang tidak sesuai dengan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perjanjian kerja yang disepakati dan ditandatangani TKI yang bersangkutan. memberitahukan tentang kematian TKI kepada keluarganya paling lambat 3 (tiga) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak diketahuinya kematian tersebut. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. memulangkan jenazah TKI ke tempat asal dengan cara yang layak serta menanggung semua biaya yang diperlukan. ayat (2). dan deportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. pemberian kemudahan atau fasilitas kepulangan TKI. (3) Pemerintah dapat mengatur kepulangan TKI. (2) Biaya selain biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Pasal 75 (1) Kepulangan TKI dari negara tujuan sampai tiba di daerah asal menjadi tanggung jawab pelaksana penempatan TKI. bencana alam. c. pemberian upaya perlindungan terhadap TKI dari kemungkinan adanya tindakan pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab dan dapat merugikan TKI dalam kepulangan. mengurus pemenuhan semua hak-hak TKI yang seharusnya diterima. mengurus pemakaman di negara tujuan penempatan TKI atas persetujuan pihak keluarga TKI atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan. d. (3) Komponen biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus transparan dan memenuhi asas akuntabilitas. terjadi perang. wabah penyakit. pengurusan dokumen jati diri. Perwakilan Republik Indonesia. c. mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan tidak bisa menjalankan pekerjaannya lagi. f.

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pemerataan kesempatan kerja dan/atau untuk kepentingan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan nasional. pemberian bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di negara tujuan serta hukum dan kebiasaan internasional. (3) Penugasan Atase Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 82 Pelaksana penempatan TKI swasta bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada calon TKI/TKI sesuai dengan perjanjian penempatan. Pasal 84 Program pembinaan dan perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 79 Dalam rangka pemberian perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri. Pemerintah dapat menghentikan dan/atau melarang penempatanTKI di luar negeri untuk negara tertentu atau penempatan TKI pada jabatan-jabatan tertentu di luar negeri. pembelaan atas pemenuhan hak-hak sesuai dengan perjanjian kerja dan/atau peraturan perundangundangan di negara TKI ditempatkan. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan mulai dari pra penempatan. Pemerintah dapat menetapkan jabatan Atase Ketenagakerjaan pada Perwakilan Republik Indonesia tertentu.BAB VI PERLINDUNGAN TKI Pasal 77 (1) Setiap calon TKI/TKI mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam rangka perlindungan TKI di luar negeri. maka kedua belah pihak mengupayakan penyelesaian secara damai dengan cara bermusyawarah. Perwakilan Republik Indonesia melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perwakilan pelaksana penempatan TKI swasta dan TKI yang ditempatkan di luar negeri. BAB VII PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 85 (1) Dalam hal terjadi sengketa antara TKI dengan pelaksana penempatan TKI swasta mengenai pelaksanaan perjanjian penempatan. Pemerintah memperhatikan saran dan pertimbangan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. Pasal 81 (1) Dengan pertimbangan untuk melindungi calon TKI/TKI. Provinsi atau Pemerintah. sampai dengan purna penempatan. masa penempatan. maka salah satu atau kedua belah pihak dapat meminta bantuan instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota. . (3) Ketentuan mengenai penghentian dan pelarangan penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal penyelesaian secara musyawarah tidak tercapai. Pasal 78 (1) Perwakilan Republik Indonesia memberikan perlindungan terhadap TKI di luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta hukum dan kebiasaan internasional. Pasal 80 (1) Perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri dilaksanakan antara lain: a. (2) Ketentuan mengenai pemberian perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 83 Setiap calon TKI/TKI yang bekerja ke luar negeri baik secara perseorangan maupun yang ditempatkan oleh pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengikuti program pembinaan dan perlindungan TKI. (2) Dalam menghentikan dan/atau melarang penempatan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.

Pasal 89 Pembinaan oleh Pemerintah dalam bidang sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf b. dilakukan dengan: a. informasi. b. (3) Pelaksanaan pengawasan terhadap penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). membentuk dan mengembangkan pelatihan kerja yang sesuai dengan standar dan persyaratan yang ditetapkan.BAB VIII PEMBINAAN Pasal 86 (1) Pemerintah melakukan pembinaan terhadap segala kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri. dilakukan dengan: a. Pemerintah dapat mengikutsertakan pelaksana penempatan TKI swasta. dilakukan dalam bidang: a. organisasi dan/atau masyarakat. Pasal 93 (1) Instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan pada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota wajib melaporkan hasil pelaksanaan pengawasan terhadap pelaksanaan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yang ada di daerahnya sesuai dengan tugas. b. Pasal 90 Pembinaan oleh Pemerintah dalam bidang perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf c. fungsi. dan/atau bentuk lainnya. menyusun dan mengumumkan daftar Mitra Usaha dan Pengguna bermasalah secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan. uang. masa penempatan dan purna penempatan. d. . Pasal 87 Pembinaan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86. membentuk sistem dan jaringan informasi yang terpadu mengenai pasar kerja luar negeri yang dapat diakses secara meluas oleh masyarakat. pemerintah provinsi. sumber daya manusia. perlindungan TKI. dan c. (2) Dalam melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dilaksanakan oleh Perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan. dan wewenangnya kepada Menteri. b. c. Pasal 91 (1) Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa dalam pembinaan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. dan pemerintah kabupaten/kota. dilakukan dengan: a. memberikan bimbingan dan advokasi bagi TKI mulai dari pra penempatan. meningkatkan kualitas keahlian dan/atau keterampilan kerja calon TKI/TKI yang akan ditempatkan di luar negeri termasuk kualitas kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam. memfasilitasi penyelesaian perselisihan atau sengketa calon TKI/TKI dengan Pengguna dan/atau pelaksana penempatan TKI. b. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. melakukan kerja sama internasional dalam rangka perlindungan TKI sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 88 Pembinaan oleh Pemerintah dalam bidang informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf a. BAB IX PENGAWASAN Pasal 92 (1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Pemerintah. (3) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. memberikan informasi keseluruhan proses dan prosedur mengenai penempatan TKI di luar negeri termasuk risiko bahaya yang mungkin terjadi selama masa penempatan TKI di luar negeri.

Pasal 95 (1) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 mempunyai fungsi pelaksanaan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri secara terkoordinasi dan terintegrasi. (2) Tata cara pembentukan dan susunan organisasi Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Badan. struktur organisasi. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI membentuk Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI di Ibukota Provinsi dan/atau tempat pemberangkatan TKI yang dianggap perlu. Pasal 98 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan pelayanan penempatan TKI. diperlukan pelayanan dan tanggung jawab yang terpadu. (2) Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan kemudahan pelayanan pemrosesan seluruh dokumen penempatan TKI. (2) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 6) peningkatan kualitas calon TKI. 5) pemberangkatan sampai pemulangan. 8) kualitas pelaksana penempatan TKI. (3) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Pemberian pelayanan pemrosesan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan bersamasama dengan instansi yang terkait. 2) pembekalan akhir pemberangkatan (PAP). 4) sumber-sumber pembiayaan. fungsi. BAB X BADAN NASIONAL PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI Pasal 94 (1) Untuk menjamin dan mempercepat terwujudnya tujuan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Badan NasionalPenempatan dan Perlindungan TKI bertugas: a. dan melakukan pengawasan mengenai: 1) dokumen. BAB XI SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 100 . dan tata kerja Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Dalam melaksanakan tugasnya. dibentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. 7) informasi. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. merupakan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden yang berkedudukan di Ibukota Negara. Pasal 97 Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan. mengkoordinasikan. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (2) dapat melibatkan tenagatenaga profesional. Pasal 96 (1) Keanggotaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI terdiri dari wakilwakil instansi Pemerintah terkait. melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis antara Pemerintah dengan Pemerintah negara Pengguna TKI atau Pengguna berbadan hukum di negara tujuan penempatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1). tugas. 3) penyelesaian masalah. (2) Untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(2) Ketentuan mengenai tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. memberikan pelayanan. Pasal 99 (1) Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan. dan 9) peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya.

000.00 (lima miliar rupiah).000.000. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b.00 (lima belas miliar rupiah). melakukan perekrutan calon TKI yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.000. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. c.000. menempatkan TKI tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. dan/atau e. Pasal 73 ayat (2). melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan tentang tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. g.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp5.000. BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 102 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp2.000. Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2). Pasal 103 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp1. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan tentang adanya tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. e. c. pembatalan keberangkatan calon TKI. memperlakukan calon TKI secara tidak wajar dan tidak manusiawi selama masa di penampungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (3).000. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. (3) Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. b. setiap orang yang : a. menempatkan TKI di luar negeri tanpa perlindungan program asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68. pemulangan TKI dari luar negeri dengan biaya sendiri. Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. d.000. d. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a.00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp15. Pasal 71.000. Pasal 62 ayat (1). BAB XII PENYIDIKAN Pasal 101 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Pasal 49 ayat (1). (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan. Pasal 17 ayat (1). Pasal 20. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha penempatan TKI. c. b. Pasal 69 ayat (1).00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1. e. Pasal 38 ayat (2). Pasal 55 ayat (2) dan ayat (3). kepada Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di instansi Pemerintah. Pasal 74 ayat (1). atau Pasal 105. Pasal 58 ayat (1) dan ayat (2).00 . peringatan tertulis. Pasal 33. d. mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. setiap orang yang : a. b.000.(1) Menteri menjatuhkan sanksi administratif atas pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. Pasal 76 ayat (1). Pasal 32 ayat (1).000. menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.000.000. f. melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI. mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19. menempatkan calon TKI/TKI yang tidak memiliki dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. g. menempatkan calon TKI pada jabatan atau tempat pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30. Pasal 82. f. Pasal 104 (1) Dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100. Pasal 72. Pasal 34 ayat (3). Pasal 54 ayat (1). melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang penempatan dan perlindungan TKI.000. menempatkan TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. pencabutan izin.000.000. atau c. menempatkan TKI tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan psikologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan. atau h.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran. (3) Apabila pelaksana penempatan TKI swasta dalam jangka waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyesuaikan persyaratan-persyaratan yang diatur dalam Undang-Undang ini. BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 109 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. TKI yang bekerja di luar negeri secara perseorangan harus memiliki KTKLN. Disahkan pada tanggal PRESIDEN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI di 18 REPUBLIK Jakarta 2004 INDONESIA. maka izin pelaksana penempatan TKI swasta ini dicabut oleh Menteri. Pasal 106 (1) TKI yang bekerja di luar negeri secara perseorangan berhak untuk memperoleh perlindungan. menempatkan TKI di luar negeri untuk kepentingan perusahaan sendiri tanpa izin tertulis dari Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1). memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. menempatkan TKI tidak melalui Mitra Usaha sebagaimana dipersyaratkan dalam Pasal 24. Agar setiap orang mengetahui. b. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 105 (1) TKI yang bekerja di luar negeri secara perseorangan melapor pada instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dan Perwakilan Republik Indonesia. maka jangka waktu penyesuaian terhitung mulai sejak Undang-Undang ini berlaku sampai dengan berakhirnya perjanjian kerja TKI terakhir yang ditempatkan sebelum berlakunya Undang-Undang ini. (2) Bagi pelaksana penempatan TKI swasta yang menempatkan TKI sebelum berlakunya Undang-Undang ini. PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 . c. (2) Selain dokumen yang diperlukan untuk bekerja di luar negeri. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 133. BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 107 (1) Pelaksana penempatan TKI swasta yang telah memiliki izin penempatan TKI di luar negeri sebelum berlakunya Undang-Undang ini wajib menyesuaikan persyaratan yang diatur dalam Undang-Undang ini paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini. menempatkan TKI di Luar Negeri yang tidak memiliki KTKLN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64. mempekerjakan calon TKI yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46.(satu miliar rupiah). Oktober Diundangkan di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 2004 MENTERI NEGARA/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Perwakilan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau e. d. Pasal 108 Pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (2) dilakukan dalam waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini. tidak memberangkatkan TKI ke luar negeri yang telah memenuhi persyaratan kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. setiap orang yang : a.

karena itu perlu melibatkan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta institusi swasta. Kelemahan ordonansi itu dan tidak adanya undang-undang yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri selama ini diatasi melalui pengaturan dalam Keputusan Menteri serta peraturan pelaksanaannya. yaitu mengatasi sebagian masalah penggangguran di dalam negeri namun mempunyai pula sisi negatif berupa resiko kemungkinan terjadinya perlakuan yang tidak manusiawi terhadap TKI. pada kondisi yang mungkin di luar dugaan atau harapan ketika mereka masih berada di tanah airnya. Pengaturan yang bertentangan dengan prinsip tersebut memicu terjadinya penempatan tenaga kerja illegal yang tentunya berdampak kepada minimnya perlindungan bagi tenaga kerja yang bersangkutan. khususnya pekerjaan di luar negeri. Ordonansi tentang Pengerahan Orang Indonesia Untuk Melakukan Pekerjaan Di Luar Negeri dinyatakan tidak berlaku lagi dan diamanatkan penempatan tenaga kerja ke luar negeri diatur dalam undang-undang tersendiri. Pengaturan melalui undang-undang tersendiri. Dengan adanya pembatasan tersebut diharapkan dapat diminimalisasikan kemungkinan eksploitasi terhadap tenaga kerja Indonesia. Kasus yang berkaitan dengan nasib TKI semakin beragam dan bahkan berkembang kearah perdagangan manusia yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. sehingga kita tidak dapat menghindari perlunya diberikan batasan-batasan tertentu bagi tenaga kerja yang akan bekerja di luar negeri. Dengan demikian perlu dilakukan pengaturan agar resiko perlakuan yang tidak manusiawi terhadap TKI sebagaimana disebutkan di atas dapat dihindari atau minimal dikurangi. Makna dan arti pentingnya pekerjaan bagi setiap orang tercermin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dari tahun ke tahun jumlah mereka yang bekerja di luar negeri semakin meningkat. Dapat juga dimaknai sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri sehingga seseorang merasa hidupnya menjadi lebih berharga baik bagi dirinya. Setiap tenaga kerja yang bekerja di luar wilayah negaranya merupakan orang pendatang atau orang asing di negara tempat ia bekerja. dapat menjamin hak-hak azasi warga negara yang bekerja di luar negeri agar tetap terlindungi. UMUM Pekerjaan mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga setiap orang membutuhkan pekerjaan. Pada hakekatnya ketentuan-ketentuan hukum yang dibutuhkan dalam masalah ini adalah ketentuanketentuan yang mampu mengatur pemberian pelayanan penempatan bagi tenaga kerja secara baik. selama bekerja di luar negeri maupun setelah pulang ke Indonesia. Ketentuan dalam ordonansi sangat sederhana/sumir sehingga secara praktis tidak memenuhi kebutuhan yang berkembang. keluarganya maupun lingkungannya. keterbatasan akan lowongan kerja di dalam negeri menyebabkan banyaknya warga negara Indonesia/TKI mencari pekerjaan ke luar negeri. tidak berbelit-belit dan aman. maka Undang-Undang ini intinya harus memberi perlindungan warga negara yang akan menggunakan haknya untuk mendapat pekerjaan. Terlebih lagi dengan mudahnya memperoleh informasi yang berkaitan dengan kesempatan kerja yang ada di luar negeri. profesionalisme maupun secara ekonomis. meningkat pula kasus perlakuan yang tidak manusiawi terhadap TKI baik di dalam maupun di luar negeri. Selama ini. Pembatasan yang utama adalah keterampilan atau pendidikan dan usia minimum yang boleh bekerja di luar negeri. Namun pada kenyataannya. agar mereka dapat memperoleh pelayanan penempatan tenaga kerja secara cepat dan mudah dengan tetap mengutamakan keselamatan tenaga kerja baik fisik. Sejalan dengan semakin meningkatnya tenaga kerja yang ingin bekerja di luar negeri dan besarnya jumlah TKI yang sekarang ini bekerja di luar negeri. Besarnya animo tenaga kerja yang akan bekerja ke luar negeri dan besarnya jumlah TKI yang sedang bekerja di luar negeri di satu segi mempunyai sisi positif. Kelompok masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi informasi tentunya mereka yang mempunyai pendidikan atau keterampilan yang relatif tinggi. menyangkut juga hubungan antar negara. Pemenuhan hak warga negara untuk memperoleh pekerjaan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka institusi swasta yang terkait tentunya haruslah mereka yang mampu baik dari aspek komitmen. Oleh karena itu hak atas pekerjaan merupakan hak azasi yang melekat pada diri seseorang yang wajib dijunjung tinggi dan dihormati. moral maupun martabatnya. cepat. Berdasarkan pemahaman tersebut kita harus mengakui bahwa pada kesempatan pertama perlindungan yang terbaik harus muncul dari diri tenaga kerja itu sendiri. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pekerjaan dapat dimaknai sebagai sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan keluarganya.TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI I. Dengan mengacu kepada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka sudah sewajarnya apabila kewenangan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri merupakan kewenangan Pemerintah. diharapkan mampu merumuskan norma-norma hukum yang melindungi TKI dari berbagai upaya dan perlakuan eksploitatif dari siapapun. Resiko tersebut dapat dialami oleh TKI baik selama proses keberangkatan. Sementara bagi mereka yang mempunyai pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah yang dampaknya mereka biasanya dipekerjakan pada jabatan atau pekerjaan-pekerjaan “kasar”. Pemberian pelayanan penempatan secara baik didalamnya mengandung prinsip murah. Namun Pemerintah tidak dapat bertindak sendiri. Di lain pihak karena masalah penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia langsung berhubungan dengan masalah nyawa dan kehormatan yang sangat azasi bagi manusia. secara yuridis peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar acuan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri adalah Ordonansi tentang Pengerahan Orang Indonesia Untuk Melakukan Pekerjaan Di Luar Indonesia (Staatsblad Tahun 1887 Nomor 8) dan Keputusan Menteri serta peraturan pelaksanaannya. tentunya memerlukan pengaturan . Dikaitkan dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia masalah penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri. Mereka dapat dipekerjakan di wilayah manapun di negara tersebut. dapat dilakukan oleh setiap warga negara secara perseorangan.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Misi Khusus (Special Missions) Tahun 1969. Dengan demikian UndangUndang ini diharapkan disamping dapat menjadi instrumen perlindungan bagi TKI baik selama masa pra penempatan. maka sanksi-sanksi yang dicantumkan dalam Undang-Undang ini. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa dokumen merupakan bukti utama bahwa tenaga kerja yang bersangkutan sudah memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri. Dengan mempertimbangkan kondisi yang ada serta peraturan perundang-undangan. Tidak adanya satu saja dokumen. Huruf b Pelaksana penempatan TKI swasta sebelum berlakunya Undang-Undang ini disebut dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Pasal Ayat Huruf 11 12 13 (1) a . II. minat dan kemampuannya. Bahkan tidak dipenuhinya persyaratan salah satu dokumen perjalanan. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Oleh karena itu dalam Undang-Undang ini. namun justru untuk menegakkan hak-hak warga negara dalam memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. sudah merupakan tindakan pidana. berkeadilan. dan mengawasi pelaksanaannya. kesetaraan gender serta tanpa diskriminasi. Pasal Cukup jelas. 1 2 3 Pasal 4 Menempatkan warga negara Indonesia dalam pasal ini mencakup perbuatan dengan sengaja memfasilitasi atau mengangkut atau memberangkatkan warga negara Indonesia untuk bekerja pada Pengguna di luar negeri baik dengan memungut biaya maupun tidak dari yang bersangkutan. cukup banyak berupa sanksi pidana. Agar penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tersebut dapat berhasil guna dan berdaya guna. dengan tetap melindungi hak-hak TKI. Pasal Cukup jelas. sudah beresiko tenaga kerja tersebut tidak memenuhi syarat atau illegal untuk bekerja di negara penempatan. Bagi mereka lebih diperlukan campur tangan Pemerintah untuk memberikan pelayanan dan perlindungan yang maksimal. 6 7 8 9 Pasal 10 Huruf a Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal 5 Ayat (1) Penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dilakukan secara sesuai dan seimbang oleh Pemerintah dan masyarakat. prinsip pelayanan penempatan dan perlindungan TKI adalah persamaan hak. PASAL DEMI PASAL Pasal Cukup jelas. termasuk didalamnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina 1963 mengenai Hubungan Konsuler. undang-undang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dirumuskan dengan semangat untuk menempatkan TKI pada jabatan yang tepat sesuai dengan bakat. Pasal Cukup jelas. Pemerintah perlu mengatur. Telah dikemukakan di atas bahwa pada umumnya masalah yang timbul dalam penempatan adalah berkaitan dengan hak azasi manusia. Kondisi ini membuat tenaga kerja yang bersangkutan rentan terhadap perlakuan yang tidak manusiawi atau perlakuan yang eksploitatif lainnya di negara tujuan penempatan. membina.berbeda dari pada mereka yang memiliki keterampilan dan pendidikan yang lebih tinggi. selama masa bekerja di luar negeri maupun selama masa kepulangan ke daerah asal di Indonesia juga dapat menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan TKI beserta keluarganya. Pasal Cukup jelas. Perbedaan pelayanan atau perlakuan bukan untuk mendiskriminasikan suatu kelompok dengan kelompok masyarakat lainnya.

Ayat (3) Cukup jelas. Pasal Ayat Cukup Ayat Huruf 26 (1) jelas. Huruf d Cukup jelas. tempat pelatihan kerja. Pekerjaan–pekerjaan tersebut biasa disebut sebagai pekerjaan di sektor informal. Ayat (3) Cukup jelas Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Persetujuan Perwakilan Republik Indonesia meliputi dokumen perjanjian kerja sama penempatan. Huruf c Jaminan bank dalam bentuk deposito atas nama Pemerintah dimaksudkan agar ada jaminan untuk biaya keperluan penyelesaian perselisihan atau sengketa calon TKI di dalam negeri dan/atau TKI dengan Pengguna dan/atau pelaksana penempatan TKI swasta atau menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawab pelaksana penempatan TKI swasta yang masih ada karena izin dicabut atau izin tidak diperpanjang atau TKI tersebut tidak diikutkan dalam program asuransi. 14 15 16 17 18 Pasal 19 Yang dimaksud dengan mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI adalah yang dalam praktek sering disebut dengan istilah “jual bendera” atau “numpang proses”. surat permintaan TKI. Pasal Ayat Kantor cabang Ayat Cukup Ayat Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. (2) jelas (3) dapat dibentuk di provinsi atau kabupaten/kota sesuai dengan 22 23 Pasal 24 Pengguna perseorangan dalam pasal ini adalah orang perseorangan yang mempekerjakan TKI pada pekerjaan-pekerjaan antara lain sebagai penata laksana rumah tangga. dan perjanjian kerja. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Apabila hal ini ditolerir. akan membuat kesulitan untuk mencari pihak yang harus bertanggung jawab dalam hal terjadi permasalahan terhadap TKI. Huruf b Cukup jelas. Pasal 20 Ayat (1) Pembentukan perwakilan dapat dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa pelaksana penempatan TKI swasta. Ayat (2) Cukup jelas. pengemudi. 21 (1) kebutuhan. Ayat (4) Cukup jelas. (2) a . Huruf e Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pengasuh bayi atau perawat manusia lanjut usia.Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. dan kantor. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf f Yang dimaksud dengan sarana prasarana pelayanan penempatan TKI antara lain tempat penampungan yang layak. tukang kebun/taman.

demand letter atau wakalah. . Ayat (3) Cukup jelas. harus digunakan bahasa yang mudah dipahami. Huruf g Cukup jelas. Dengan demikian resiko terjadinya pelecehan seksual dapat diminimalisasi. Pasal 27 Ayat (1) Cukup jelas. 29 30 Pasal 31 Huruf a Cukup jelas. yang dapat mendorong TKI yang bersangkutan berada pada keadaan yang rentan dengan pelecehan seksual. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pertimbangan keamanan pada ayat ini antara lain negara tujuan dalam keadaan perang. Huruf c Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Mengingat hal itu. atau terjangkit wabah penyakit menular. Huruf e Cukup jelas. Ayat (2) Agar informasi dapat diterima secara benar oleh masyarakat. Huruf c Cukup jelas. Pasal 28 Yang dimaksud dengan pekerjaan atau jabatan tertentu dalam pasal ini antara lain pekerjaan sebagai pelaut. Huruf c Pelatihan kerja bagi calon TKI dapat dilakukan oleh lembaga pelatihan maupun unit pelatihan yang dimiliki pelaksana penempatan TKI swasta. Huruf b Surat permintaan TKI dari Pengguna dalam huruf ini dikenal dengan sebutan job order. maka pada pekerjaan tersebut diperlukan orang yang betul-betul matang dari aspek kepribadian dan emosi. Huruf d Pemeriksaaan psikologis dimaksudkan agar TKI tidak mempunyai hambatan psikologis dalam melaksanakan pekerjaannya di negara tujuan. Pasal 35 Dalam prakteknya TKI yang bekerja pada Pengguna perseorangan selalu mempunyai hubungan personal yang intens dengan Pengguna. Huruf b Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 33 Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. bencana alam. Huruf e Perlindungan asuransi yang dimaksud dalam huruf ini sedikit-dikitnya sama dengan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

36 Pasal 37 Ketentuan dalam pasal ini berarti bahwa pelaksana penempatan TKI swasta tidak dibenarkan melakukan perekrutan melalui calo atau sponsor baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Huruf i Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. 50 Pasal 51 Huruf a Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan mampu berkomunikasi dengan bahasa asing adalah mampu menggunakan bahasa sehari-hari yang digunakan di negara tujuan. Huruf d Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. 45 46 47 48 Pasal 49 Ayat (1) Sarana kesehatan dan lembaga yang menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan dan psikologi dalam ketentuan ini dapat merupakan milik pemerintah baik pusat maupun daerah dan/atau masyarakat yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 43 Pasal 44 Yang dimaksud dengan sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi nasional dan/atau internasional. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. 38 39 40 41 Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas.Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. . Huruf f Paspor diterbitkan setelah mendapat rekomendasi dari dinas yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota setempat. Pasal Cukup jelas.

apabila dalam perjanjian penempatan pelaksana penempatan TKI swasta menjanjikan bahwa calon TKI yang bersangkutan akan dibayar sejumlah tertentu oleh Pengguna. Ayat (4) Cukup jelas. huruf f Jaminan yang dimaksudkan dalam huruf ini adalah pernyataan kesanggupan dari pelaksana penempatan TKI swasta untuk memenuhi janjinya terhadap calon TKI yang ditempatkannya. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 . huruf h Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Misalnya. j Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. huruf k Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. maka dapat diperjanjikan bahwa pelaksana penempatan TKI swasta harus membayar ganti rugi kepada TKI. maka pelaksana penempatan TKI swasta harus membayar kekurangannya. dan ternyata dikemudian hari Pengguna tidak memenuhi sejumlah itu (yang tentunya dicantumkan dalam perjanjian kerja). Ayat (2) huruf a Cukup jelas.Huruf Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. huruf b Cukup jelas. huruf g Cukup jelas. huruf e Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. maka dalam perjanjian penempatan dapat diatur bahwa TKI yang melanggar perjanjian kerja harus membayar ganti rugi kepada pelaksana penempatan TKI swasta. Pasal Cukup jelas. Demikian pula apabila calon TKI dijanjikan akan diberangkatkan pada tanggal tertentu namun ternyata sampai pada waktunya tidak diberangkatkan. maka pelaksana penempatan TKI swasta didorong untuk mencari dan menempatkan calon TKI pada Pengguna yang tepat. huruf c Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Dengan dimuatnya klausul perjanjian penempatan seperti ini. huruf d Cukup jelas. huruf j Dalam perjanjian penempatan dapat diperjanjikan bahwa apabila TKI setelah ditempatkan ternyata mengingkari janjinya dalam perjanjian kerja dengan Pengguna yang akibatnya pelaksana penempatan TKI swasta menanggung kerugian karena dituntut oleh Pengguna akibat perbuatan TKI tersebut. maka pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengganti kerugian calon TKI karena keterlambatan pemberangkatan tersebut. huruf i Cukup jelas. Demikian pula dapat diatur sebaliknya bahwa apabila pelaksana penempatan TKI swasta mengingkari janjinya kepada TKI.

Ayat (3) Cukup jelas. misalnya di dalam perjanjian kerja TKI tersebut dipekerjakan dalam jabatan baby sitter (pengasuh bayi). dan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Ketenagakerjaan. 73 74 75 Pasal 76 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Namun. 77 Pasal 78 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Penetapan jabatan Atase Ketenagakerjaan pada perwakilan Republik Indonesia tertentu. Pasal Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 65 66 67 68 69 Pasal 70 Ayat (1) Oleh karena proses pengurusan dokumen atau pemeriksaan kesehatan calon TKI membutuhkan waktu yang relatif lama. Pasal Cukup jelas. 79 80 . maka komponen biaya yang dapat ditambahkan serta besarnya biaya untuk dibebankan kepada calon TKI. Pasal 72 Penempatan TKI yang tidak sesuai dengan pekerjaan dalam ketentuan perjanjian kerja. pelaksanaan kewajiban melaporkan diri dapat dilakukan oleh pelaksana penempatan TKI swasta.Pasal Cukup jelas. dan mengingat pelaksanaan pelatihan kerja pada umumnya dipusatkan pada lokasi tertentu sehingga untuk kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pelatihan mereka dapat tinggal di penampungan. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. mengingat lokasi penempatan yang tersebar. Ayat (2) Setiap negara tujuan atau Pengguna dapat menetapkan kondisi untuk mempekerjakan tenaga kerja asing di negaranya. dibahas dan dilakukan bersama oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Hubungan Luar Negeri. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Oleh karena itu terdapat kemungkinan adanya tambahan biaya lainnya yang menjadi beban calon TKI. Ayat (4) Cukup jelas. Menteri yang bertanggung jawab di bidang Keuangan. Pasal Cukup jelas. Menteri yang bertanggung jawab di bidang Pendayagunaan Aparatur Negara. Pasal 71 Ayat (1) Pada dasarnya kewajiban untuk melaporkan diri sebagai seorang warga negara yang berada di negara asing merupakan tanggung jawab orang yang bersangkutan. Pasal Cukup jelas. Agar calon TKI tidak dibebani biaya yang berlebihan. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. maka pelaksana penempatan TKI swasta tersebut dilarang menempatkan pada jabatan selain jabatan yang tercantum dalam perjanjian kerja dimaksud.

Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. 81 82 83 84 Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 . Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Pemerintah termasuk di dalamnya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI dan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas. Pasal Cukup jelas.Pasal Cukup jelas.

Pasal Cukup jelas. membaca SOP maka sang mandor akan kompeten hanya dalam waktu yang relative singkat. Pemikiran pribadi saya mengartikan kompetensi ialah karakeristik seseorang yang layak untuk mengemban posisi baik karakteristik dari segi pengetahuan. Karena situasi penggemblengan si A ini didapatkannya mulai dari lahir hingga dewasa. setiap keputusan ditentukan oleh sang ayah yang diktator dan tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan sehingga keahlian “decision makingnya” pun menjadi lemah saat dia dewasa dan menghadapi sebuah permasalahan yang pelik. Berbeda dengan “Attributes” atau perilaku/ tingkah laku ini susah didevelop. keterampilan dan sikap perilaku (Knowledge. Pasal Cukup jelas. Skill dan Knowledge adalah sesuatu hal yang tampak di permukaan dan yang tidak tampak ialah hal-hal "attributes". Untuk knowledge dan skill adalah mudah diukur atau diamati dan mudah pula untuk di develop/ dididik.html 15. Seperti yang terlihat pada Iceberg Competency disamping. Tinggal dilatih. Pasal Cukup jelas. Skills and Attributes). diberi pedoman petunjuk. Perilaku ini didapatkan dari perjalanan hidup seseorang.com/2012/02/mengenal-tentang-kompetensi. hal ketrampilan ini pun sangat mudah dikembangkan.Pasal Cukup jelas. tertutup. Gugup gemetar saat berhadapan dengan masalah. Misalkan Si-A lahir dari sebuah keluarga yang tidak demokratis. puluhan tahun .48 106 107 108 109 Apa yang dimaksud dengan Mandor kompeten. pola pikirnya dibentuk dalam perjalanan hidupnya. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4445 Dipublikasikan oleh Bambang Eko Cahyono Jumat.blogspot. Februari 03. Misal kompetensi seorang mandor plantation yang harus mengetahui penyakit tanaman eucalyptus maka pengetahuan ini dapat diberikan melalui pelatihan-pelatihan demikian juga Skill atau ketrampilan seorang mandor plantation dalam mengenali penyakit yang ditemukan dan menentukan obat apa yang cocok untuk mengobatinya. seminggu ataupun sebulan. Section head kompeten atau Manager yang kompeten? Kompetensi dalam arti sederhana ialah kecakapan/ mampu. 2012 http://ecahyono.

Kemampuan mengelola sumber daya (keuangan. Planning & Organizing-Kemampuan mengembangkan rencana jangka panjang dan jangka pendek yang memadai secara komprehensif. Dalam perkembangan ilmu manajemen. Berbagai data dan informasi yang digunakan. realistic dan efektif untuk mencapai sasaran. bahwa seorang Berpikir mengambil dan karyawan harus mempunyai (Analytical (Decission (Planning & 7 kompetensi. membuat/mengambil keputusan secara tepat dalam menyelesaikan masalah serta memperhitungkan/mengantisipasi dampak dari keputusan yang dibuat. 3. mengaitkan dan membandingkan sejumlah data dari berbagai sumber. KAMUS KOMPETENSI Analytical thinking-Kemampuan untuk melakukan proses analisi secara sistematis untuk memahami suatu situasi/ masalah yang meliputi proses mengenali/ mengidentifikasi data/informasi. mengintegrasikan upaya-upaya perencanaan lintas unit kerja. manusia dan waktu) dengan sebaik-baiknya untuk menjamin implementasi rencana. Mampu dalam bekerjasama dengan orang lain sebagai suatu tim (Team leadership) 5. Customer service orientation-Kemampuan unuk peduli. Team leadership-kemampuan bekerjasama dengan orang lain secara kooperatif dan mampu menggerakkan anggota organisasi (tim) untuk bekerja mencapai tujuan bersama demi kepentingan organisasi (tim) Relationship building-Kemampuan mengenali. hubungan jangka pendek dan jangka panjang yang penting dan memiliki nilai strategis. Memanfaatkan hubungan tersebut untuk menciptakan kesempatan dan untuk mendorong kemajuan bisnis. Misalkan sebuah perusahaan “XYZ” dia memutuskan 1. melakukan penggalian informasi yang relevan. 6. memahami kebutuhan pelanggan internal (proses/bagian selanjutnya) atau eksternal (pengguna akhir produk/jasa) dalam memberikan layanan agar tercapai kepuasan pelanggan sehingga mampu membangun dan . Menghasilkan pemikiran yang berorientasi jangka panjang dan memiliki implikasi strategis. teknis. Kompetensi perilaku/ attributes apa saja yang harus dimiliki seoarang karyawan adalah cukup beragam. 2.maka perilaku yang terbentuk pun akan sulit untuk dirubah. memilah. didapatkan baik dari sumber internal maupun eksternal sehingga dikenali secara akurat. mempertahankan dan membangun. Decission making-Kemampuan mengembangkan alternative solusi secara sistematis dengan menggunakan informasi dan pendekatan yang tepat atas suatu situasi masalah yang telah diidentifikasi/dirumuskan. Pada beberapa situasi kemampuan mengambil keputusan secara cepat walapun tidak tersedia informasi yang cukup. thinking) making) organizing) Mampu Mampu Mampu analitik kebutusan membuat perencanaan mengorganisasi 4. Mampu Mampu membangun melayani pelanggan orang relasi (Customer lain (Relationship service (Developing building) orientation) others) Mengambangkan Mereka menerbitkan sebuah kamus kompetensi untuk disosialisasikan kepada seluruh karyawannya mengenai definisi dan criteria enam kompetensi yang telah ditetapkan. 7.

keterampilan teknis serta tingkah lakunya. member instruksi penugasan. Pengembangan Orang Lain (Developing others) –Kemampuan berkeinginan tulus untuk mendorong proses belajar dan pengembangan orang lain. Kompetensi ini berfokus pada intensi untuk pengembangan bukan sekedar pelatihan formal. memberikan penjelasan dan dukungan.menjaga loyalitas pelanggan. (Bambang EC) . Dengan menyatakan harapan-harapan positif. memberikan umpan balik terbuka yang berimbang demi pengembangan berkelanjutan serta melakukan bimbingan coaching dan mentoring yang mendalam sehingga orang lain menjadi maju berkembang baik kemampuan pengetahuan.

Kalau perlu. kata Wayan pada saat wawancara itu diadakan tes baca-tulis guna memastikan apakah CTKI/TKI itu bisa baca tulis. Dari jumlah itu. para pejabat dinas kabu/ kota itu sudah membantu tercegahnya TKI dari kemungkinan menjadi obyek tindak pidana perdagangan orang (TPPO) seperti tertulis di UU No 21 tentang TPPO. Pasal 34 menjelaskan bahwa proses perekrutan didahului dengan memberikan informasi kepada Calon TKI sekurang-kurangnya tentang tata cara perekrutan. minat dan kompetensi tentu akan menyiapkan terlebih dahulu sementara bagi yang tidak memiliki tentu sebaiknya tidak dianjurkan untuk berangkat. camat hingga di dinas kab/ kota. Dalam bukunya A. dengan adanya penyuluhan itu maka CTKI/TKI akan mempunyai pilihan untuk bekerja atau tidak ke luar negeri. dan data pendukung lainnya.045 TKI bermasalah yang tercatat di Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI Selapajang.W. kondisi dan risiko bekerja di negara tujuan dan tata cara perlindungan bagi TKI. dari kawasan Timur Tengah dan lainnya 25. Ini sama saja dengan membiarkan kesalahan mapan tapi terus dilanjutkan. Dia melanjutkan.062 orang. belum memahami akan mekanisme Angkatan Kerja Antar Negara (AKAN). (1999) dituliskan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. dari wawancara dengan CTKI/ TKI itu akan terbaca bakat. Proses pendaftaran CTKI/ TKI itu bisa dilakukan mulai dari kantar desa/ lurah. “98 persen TKI bermasalah bersumber dari tidak adanya sosialisasi kepada CTKI/TKI di daerah. dokumen yang diperlukan. jika saja sejak awal pejabat Disnaker kabupaten/ kota menjalankan kewajibannya sesuai yang diamanatkan UU Nomor 39/2004 maka permasalahan TKI bisa dikurangi secara significan. Dia menambahkan. minat. L. Jika hal itu dilakukan.” kata Wayan. van den Ban dkk. Data BNP2TKI mencatat rekapitulasi masalah TKI berdasarkan periode 1 Januari hingga 21 September 2011 terdapat 32. TKI bermasalah dari kawasan Asia Pasifik berjumlah 6. 2005). Definisi Penyuluhan Berdasarkan Undangundang No. temperamen dan kesesuaiannya dengan jabatan-jabatan yang tersedia di luar negeri. lanjutnya. 16 Tahun 2006 tentang Sistem . Dia mengingatkan. hak dan kewajiban CTKI/ TKI.Belum adanya penyuluhan kepada CTKI/TKI ini sesungguhnya sudah ada sejak 30 tahun lalu.983 orang. Dengan terlibatnya pejabat dinas dari mulai perekrutan dan seleksi pada akhirnya daerah akan memiliki stok (jumlah tetap) potensi TKI yang siap bekerja ke luar negeri. Rabu (21/9) . Bagi mereka yang tidak memiliki bakat. situasi. BNP2TKI.” tegas Wayan. 39/2004 beban tugas penyuluhan itu ada pada pejabat disnaker kabupaten/ kota. Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BNP2TKI Wayah Pageh mengatakan sesuai Pasal 34 Undang-Undang No. Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa.(Zul) DEFINISI-DEFINISI PENYULUHAN Definisi Penyuluhan Secara Umum Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana. dinas dari awal sudah bisa mencegah adanya manipulasi data TKI terkait usia. “Saatnya pejabat dinas segera bangun dari tidur panjang menelantarkan CTKI/TKI. dokumen seperti KTP.akarta. Pejabat dinas. Termasuk.Banyaknya TKI penata laksana rumah tangga bermasalah yang umumnya didominasi kaum perempuan di luar negeri salah satu penyebab utamanya dikarenakan pejabat dinas kabupaten/kota di daerah belum memberikan penyuluhan terkait informasi kerja di luar negeri.

et. teknologi. mau dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi. Pengetahuan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu menjadi lebih tahu.Penyuluhan Pertanian .al. et. penyuluhan adalah proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan “perilaku” (behaviour) yang merupakan . 2003:1-2 Penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang berarti “obor” atau “pelita” atau “yang memberi terang”. Definisi Penyuluhan menurut Ibrahim. permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas. pendapatan/keuntungan dan perbaikan kesejahteraanya. Sikap dikatakan meningkat. Dengan penyuluhan diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan. 2003:12). yang bersifat searah (one way) dan pasif. Perikanan dan Kehutanan ( SP3K) Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dalam mengakses informasi informasi pasar. bila terjadi perubahandari yang tidak mau menjadi mau memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan. pengertian tentang penyuluhan tidak sekadar diartikan sebagai kegiatan penerangan. efisiensi usaha. Dalam perkembangannya. keterampilan dan sikap. (Source: Ibrahim. Tetapi. Keterampilan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari yang tidak mampu menjadi mampu melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat. Penyuluhan Sebagai Proses Perubahan Perilaku Penyuluhan adalah proses perubahan perilaku di kalangan masyarakat agar mereka tahu. pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.al.

bahasa-tubuh. baik secara langsung (berupa: ucapan. memakan waktu dan melelahkan. baik secara ekonomi maupun non-ekonomi. kegiatan penyuluhan tidak berhenti pada “penyebar-luasan informasi/inovasi”. tindakan. Penyuluhan Sebagai Proses Belajar/Proses Belajar Penyuluhan sebagai proses pendidikan atau proses belajar diartikan bahwa. seperti: pembujukan. yang memiliki keunggulan-keung-gulan “baru” yang diyakininya memiliki manfaat lebih. sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) yang menjadi “klien” penyuluhan”.perwujudan dari: pengetahuan. sekuattenaga dan pikiran. Berbeda dengan perubahan perilaku yang dilakukan bukan melalui pendidikan. Dengan kata lain. sikap. karena perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara. dan ketrampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang/pihak lain. perubahan perilaku melalui proses belajar biasanya berlangsung lebih lambat. dan “memberikan penerangan”. Perubahan seperti itu. kegiatan penyebar-luasan informasi dan penjelasan yang diberikan dapat merangsang terjadinya proses perubahan perilaku yang dilakukan melalui proses pendidikan atau kegiatan belajar. atau bahkan melalui kegiatan-kegiatan pemaksaan (baik melalui penciptaan kondisi ling-kungan fisik maupun social-ekonomi. maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman). tetapi perubah-annya relatif lebih kekal. pemberian insentif/hadiah. dll) maupun tidak langsung (melalui kinerja dan atau hasil kerjanya). perubahan perilaku yang terjadi/dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui proses belajar. tetapi merupakan proses yang dilakukan secara terus-menerus. Hal ini penting untuk dipahami. Artinya. Lain halnya dengan perubahan perilaku yang . manakala ada pengganti atau sesuatu yang dapat menggantikannya. baru akan meluntur kembali.

yaitu jika bujukan/hadiah/pemaksaan tersebut dihentikan. maka relayasa sosial bertujuan untuk terwujudnya proses perubahan sosial demi terciptanya kondisi sosial yang diinginkan oleh pihak-luar (perekayasa). mau dan mampu melaksanakan peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam sistem sosialnya masingmasing. termasuk politik dan ekonomi yang dalam jangka panjang secara bertahap mampu diandalkan menciptakan pilihan-pilihan baru untuk memper-baiki kehidupan masyarakatnya. berhenti atau tidak mampu lagi melanggengkan kegiatannya Penyuluhan Sebagai Proses Perubahan Sosial SDC (1995) menyatakan bahwa. Pemahaman seperti itu tidak salah. Penyuluhan Sebagai Proses Rekayasa Sosial (Social Engineering) Sejalan dengan pemahaman tentang penyuluhan sebagai proses perubahan sosial yang dikemukakan di atas. tetapi . Yang dimaksud dengan perubahan sosial di sini adalah. perubahan tersebut biasanya dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat. dll. penyuluhan juga sering disebut sebagai proses rekayasa sosial (social engineering) atau segala upaya yang dilakukan untuk menyiapkan sumberdaya manusia agar mereka tahu. termasuk struktur. supremasi hukum. seperti: demokratisasi. nilai-nilai. tidak saja perubahan (perilaku) yang berlangsung pada diri seseorang. Karena kegiatan rekayasa-sosial dilakukan oleh ”pihak luar”. dan pranata sosialnya.terjadi karena bujukan/hadiah atau pemaksaan. transparansi. penyuluhan tidak sekadar merupa-kan proses perubahan perilaku pada diri seseorang. yang mencakup banyak aspek. tetapi lebih cepat pula meluntur. tetapi juga perubahan-perubahan hubungan antar individu dalam masyara-kat. tetapi merupakan proses perubahan sosial.

Berbeda dengan rekayasa-sosial yang lebih berkonotasi untuk “membentuk” (to do to) atau menjadikan masyarakat menjadi sesuatu yang “baru” sesuai yang dikehendaki oleh perekayasa. seringkali dapat berakibat negatip. manakala hanya mengacu kepada kepentingan perekayasa. pengambilan keputusandalam pemasaran-sosial sepenuhnya berada di tangan masyarakat itu sendiri.tidak dapat sepenuhnya dapat diterima. Memberdayakan berarti memberi daya kepada yang tidak berdaya dan atau mengem-bangkan daya yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang lebih ber-manfaat bagi masyarakat yang bersangkutan. Jika dalam rekayasa-sosial proses pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan perekayasa. Penyuluhan Sebagai Proses Pemasaran Sosial (Social Marketing) Yang dimaksud dengan “pemasaran sosial” adalah penerapan konsep dan atau teori-teori pemasaran dalam proses perubahan sosial. Sebab. Penyuluhan Sebagai Proses Pemberdayaan Masyarakat (Community Empowerment) Margono Slamet (2000) menegaskan bahwa inti dari kegiatan penyu-luhan adalah untuk memberdayakan masyarakat. sementara masyara-kat dijadikan korban pemenuhan kehendak perekayasa. rekayasa-sosial yang pada dasar-nya dimak-sudkan untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan kelompok-sasarannya. terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat madani (yang beradab) dan mandiri dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri. Dalam konsep pember-dayaan tersebut. . proses pemasaran sosial dimaksudkan untuk “menawarkan” (to do for) sesuatu kepada masyarakat.

1987). kekuatan atau daya yang dimiliki setiap individu dan masyarakat bukan dalam arti pasif tetapi bersifat aktif yaitu terus menerus dikembangkan/dikuatkan untuk “memproduksi” atau meng-hasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. diartikan sebagai daya atau kekuatan yang dimiliki oleh setiap indiividu dan masyarakatnya untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara lebih berhasilguna (efektif) dan berdaya-guna (efisien) secara berkelanjutan. Dalam hubungan ini. adalah penguatan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu (dalam masyarakat). serta pihak lain di luar sistem masyarakatnya sampai di aras global. kelembagaan. maupun hubungan atau jejaring antar individu. Kemampuan atau kapasitas masyarakat.com/2011/10/30/definisi-penyuluhan/ . http://nyetnyetanyet. kelom-pok organisasi sosial. Penyuluhan Sebagai Proses Komunikasi Pembangunan Sebagai proses komunikasi pembangunan. tetapi yang lebih penting dari itu adalah.wordpress.Penyuluhan Sebagai Proses Penguatan Kapasitas (Capacity Strenghtening) Yang dimaksud dengan penguatan kapasitas di sini. untuk menumbuh-kembangkan partisi-pasi masyarakat dalam pembangunan (Mardikanto. penyuluh-an tidak sekadar upaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan.