P. 1
Majalah XXVII

Majalah XXVII

|Views: 130|Likes:
Published by LPM al-Millah
Majalah LPM al-Millah dengan tema "kontroversi penutupan lokalisasi"
Majalah LPM al-Millah dengan tema "kontroversi penutupan lokalisasi"

More info:

Published by: LPM al-Millah on Mar 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

20

12

84 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 1 Bukan persoalan vulgar dan pornografi, ini hanya sebuah simbol atas prostitusi...

2 aL-Millah edisi 27/ 2012 LPM. DOC
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 83

dijadikan rujukan sekaligus cermin bagi pengusaha bisnis karena bisnis dianggap sebagai usaha yang maupun calon pengusaha, bahkan juga bisa menjadi mengalami roda perputaran yang sangat cepat sesolusi cerdas bagi orang miskin yang berani kaya. hingga bisa dengan cepat mengangkat kemiskinan. Karena di dalamnya dijelaskan poin-poin menge- Di dalamnya dijelaskan langkah-langkah berbisnis nai Bagaimana Mengubah Kemiskinan Menjadi mulai dari dasar dan juga prinsip utama dalam bisKekayaan dan Membangun Mental Berani Kaya nis, diantaranya keberanian, kejujuran, keuletan, Berani Takwa, Bagaimana Membangun Kerajaan kecintaan, kesetiaan dan masih banyak hal lain Bisnis Bernilai Miliaran yang tidak bisa dijelasRupiah dengan Modal nol kan di sini. Di sini diSeperti Rasulullah dan tekankan bahwa uang buBagaimana Menjadi Muskanlah modal yang utama lim miliader Seperti Rasehingga bagi yang ingin sulullah. berbisnis tanpa memiliki Buku karangan uang maka buku ini bisa Laode Masichu dan Abdijadikan sebagai pedodulloh Rich Muslim atau man karena di dalamnya yang lebih dikenal dengan dicontohkan secara detail nama Anif Sirsaeba ini langkah-langkah bisnis merupakan buku yang layRasulullah yang dikenal ak dikonsumsi oleh semua sebagai wirausahawan kalangan. Meskipun jika sejati yang memuali bismengaca dari judulnya nisnya dari titik nol. buku ini merupakan buku Dari cover depan yang menggunakan peryang menggambarkan spektif Islam dan menjatentang orang berkuda dikan Rosul sebagai payang sedang berada di nutan atau referensi yang tengah gurun pasir menutama, namun dari bahasa gibaratkan kebebasan yang digunakan yakni bahasa ajakan kepada pembaca un- berpikir, bertindak, melangyang mudah dicerna, bahasa tuk mencintai bisnis karena kah dan menentukan nasib, anak muda sehingga sangat bisnis dianggap sebagai merubah diri menjadi kaya akrab dan mudah dipahami. usaha yang mengal­ami ataukah menerima keadaan. Di Buku ini sangat digemari ma- roda perputaran yang san- bagian akhir buku ini dijelassayarakat karena contoh-con- gat cepat sehingga bisa kan mengenai bagaimana cara toh yang diangkatnya sangat dengan cepat mengangkat menjadi orang yang kaya akan dekat dengan kehidupan kita, tetapi bisa bahagia dengan kemiskinan. konkrit dan disertai dengan kekayaannya, menjadi entreperbandingan-perbandingan lain yang signifikan preneur sukses yang saleh dan bermoral. Dengan sebagai penguat. hadirnya buku ini bisa meyakinkan pembaca untuk Hal yang ditekankan dalam buku yang sudah berani mulai melangkah ke jalan yang baru, merinmengalami lima kali percetakan selama tahun 2011 tis bisnis maupun usaha lain yang bisa membuatnya ini adalah ajakan kepada pembaca untuk mencintai hidup lebih baik, termotivasi dan sukses.***

SUSUNAN REDAKSI
Majalah Mahasiswa STAIN Ponorogo Edisi 27 Diterbitkan oleh: LPM aL-Millah STAIN Ponorogo

Pelindung: Ketua STAIN Ponorogo Penaggung jawab: LPM aL-Millah Pimpinan Umum: Dewi Zubaidatul Pimpinan Redaksi: Defi Sukesti Sekretaris Redaksi: Eli Wibowo Editor: Zahrul La’aly Lay Outer A. N. Faoezie Karikatoris: Faoezie kartoen Fotografer: Eli Wibowo Grafis: Seniman Tanpa Nama Staf Redaksi: Ahmad Yani, Imam Rahmad. B, Driastutik, Arif Hendri, Putri Dwi. L, Ghulam Akhori,Ali Musthafa, Ngizuddin al Amin, Fatkhur Rohman, M. Khusnul fikri, Febriana E. Denita, Nita Nur Maizjah, Maghfiroh, Nur Cahyani. Alamat Redaksi: Jl. Pramuka No. 156 Ronowijayan, Ponorogo Email: lpmalmillah@gmail.com Contact Person: Zuby : 085334746625 Defi: 085790580260

Salam persma, Limpahan rahmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa semoga tetap mengiringi langkah kita. Karena kuasa-Nyalah sehingga sampai detik ini al-Millah tetap hadir dengan kemerdekaan berbicara meskipun style kami berbeda dengan yang lain. Di saat yang lain tengah asyik dengan diskusi, kajian dan bahkan aksi yang berkepanjangan, kami dengan penuh kekuatan dan nalar kritis tetap setia dengan suara tinta kami. Kawan-kawan mahasiswa, kali ini majalah al-Millah edisi 27 kembali hadir dengan mencoba untuk memaparkan permasalahan sosial yang sering menimpa sekitar kita. Masalah sosial memang sangatlah global dan hampir di setiap sisi kehidupan kita tidak akan pernah lepas darinya. Namun, yang akan kami hadirkan di hadapan pembaca hanyalah sebagian kecil saja yang kami anggap penting dan pantas untuk kami hadirkan di hadapan kawan-kawan. “Kontroversi Penutupan lokalisasi Kedung Banteng” menjadi tema besar yang dimuat di rubrik Bahasan Utama di majalah kali ini. Maraknya perdebatan mengenai prostitusi dan isu penutupannya menarik kami untuk mengetahuinya lebih mendalam. Terlebih dengan adanya lokalisasi di Ponorogo yang lumayan menarik perhatian masyarakat. Dampak yang meresahkan masyarakat namun pemecahannya yang pelik membuatnya tidak pernah tuntas untuk dibahas. Kami mencoba sedikit mengupasnya dengan mengaca pada permasalahan yang ada di kota kita, Ponorogo. Dalam rubrik Liputan Khusus kami sajikan liputan tentang GEPENG ( Gelandangan dan Pengemis) yang saat ini marak di lingkungan masyarakat. Isu tentang GEPENG yang terorganisir, antusiasme masyarakat untuk berprofesi sebagai pengemis serta penyebabnya, akan kami kupas berdasarkan sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Kawan–kawan, Jika dalam penulisan majalah edisi 27 ini kawan-kawan menemukan banyak kekurangan, itu adalah hal yang wajar, karena kami bukanlah manusia sempurna yang tak pernah salah. Semua yang kami lakukan sekarang adalah salah satu jalan untuk perbaikan, dan semua itu tidak ada artinya tanpa partisipasi dari kawan-kawan pembaca. Akan sangat membanggakan hati kami jika kawan-kawan pembaca bersedia untuk memberikan kritik dan saran kepada kami, untuk kedepan yang lebih baik. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada segenap crew atas kerja sama dan kekompakannya dalam mengerjakan majalah ini, meskipun di dalam prosesnya ada beberapa kendala namun itu semua tidak berarti apa-apa, bahkan kami bisa tersenyum setelah majalah ini berhasil kami sajikan di hadapan kawan-kawan pembaca. Akhirnya, harapan kami semoga kawan-kawan dapat menikmati apa yang kami sajikan dalam kemasan majalah edisi 27 ini. Semoga sedikit yang kami bahas di sini dapat menghapus rasa ingin tau kawan-kawan akan problem sosial maupun dalam kampus yang sering kita jumpai. Inilah yang mampu kami hadirkan dalam edisi kali ini. Selamat membaca!

82 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 3

sendirian, berjalan berlari dan sesekali berhenti. Semua jalan setapak itu berbeda-beda namun menuju ke arah sama, mencari suatu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, hingga semakin dekat ke tujuan manusia, semakin menyadari bahwa di sepanjang jalan setapak yang sudah dilewati ia tak kan pernah benar-benar sendiri. Manusia selalu bersama apa yang ia cari bersama, tujuannya yaitu TUHAN”.

“Allah tidak melarang kamu berbuat adil kepada orang kafir yang tidak memusuhimu” QS. Mumtahanah: 8 “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri” Matius 22 : 36-40 “Cinta sejati tidak pilih kasih, tak bersyarat, tak melekat dan selalu ingin berbagi pada sesama” Budhist.***

Ajineng rogo gumantung soko ajineng busono, Ajineng diri gumantung soko ajineng lati.*** *”java” other unknow*

Menilik Cara Bisnis Rasulullah, Uang bukanlah modal yang utama
dan kecerdasan strategi kerja yang membedakan keberhasilannya. Kebanyakan fenomena yang terPengarang : Abdollah Richmoslem dan jadi adalah gagal sebelum mencoba. Di saat rumor Laode Masihu di masyarakat mengatakan bahwa orang-orang Penerbit : Ihwah Printing House “demam bisnis” namun hal itu belum bisa merubah Cetakan : Kelima, 2011 alur kemiskinan yang kian melanda dikarenakan Tebal : xxiv + 546 pengetahuan yang terbatas maupun langkah yang Resentator :Defi sukesti.crew, NIC: 1910. salah penerapan. Buku “Rasulullah’s Business School” yang 068 merupakan kompilasi dari buku-buku best seller “Kekayaan” adalah satu kata yang menjadi Nasional yang telah diterbitkan pada kisaran taimpian hampir seluruh manusia. Namun, menjadi hun 2006-2011, Di antaranya: Berani Kaya Berani kaya raya dengan harta yang melimpah bukanlah Takwa; 14 Langkah Bagaimana Rasulullah Memperkara yang mudah. Semua orang bisa mengimpi- bangun Kerajaan Bisnis; Rahasia Bisnis Rasulullah kannya namun hanya sebagian kecil yang mampu agar Kekayaan Dilipatgandakan dan Kemiskinan merealisasikannya. Hal ini sama sekali bukan kare- Dijauhkan oleh Alloh; dan Cerdas Bisnis cara Rana takdir, akan tetapi keberanian untuk mencoba sulullah, ini merupakan salah satu buku yang bisa Judul buku : Rasulullah’s Business School

4 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 81

tuk menuntut FPI atas kejahatan membungkam kebebasan pers. 2. Meminta Lembaga Sensor Film, Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia dan lembaga terkait untuk mendukung kinerja media khususnya SCTV untuk menayangkan informasi termasuk melalui film yang memperkuat keberagaman di Indonesia sebagaimana mandat Konstitusi Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945. 3. Mendesak Pemerintah Republik Indonesia khususnya Kementerian Dalam Negeri untuk mengkaji ulang keberadaan FPI sebagai ormas dan menyatakan terlarang ketika sudah teridentifikasi sebagai organisasi yang tidak taat hukum karena tindakan kekerasan yang dilakukannya dan menyebar ketakutan, teror, merusak kenyamanan dan menebarkan provokasi di tengah-tengah masyarakat. 4. Mendesak Pemerintah Republik Indonesia khususnya Kementerian Agama untuk mengkaji Fatwa MUI yang Mengharamkan Pluralisme bahkan berani untuk menolak Fatwa tersebut karena sering dipakai FPI dan Organisasi Garis Keras lainnya untuk melakukan tindakan yang merusak persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia yang beragam. 5. Mengecam aparat penegak hukum khusunya kepolisian yang melakukan pembiaran bahkan seakan-akan turut mendukung tindakan FPI dalam melakukan kekerasan. 6. Meminta Presiden agar mengevaluasi kinerja dan keberadaan Kapolri yang gagal memberikan rasa aman terhadap masyarakat dan terksesan melakukan pembiaran terhadap tindakan FPI dan ormas lainnya yang melakukan kekerasan. 7. Mengajak seluruh elemen masyarakat, lintas agama, lintas profesi dan lain sebagainya untuk tetap menjungjung tinggi Persatuan dan Kesatuan Bangsa dengan menunjukkan sikap saling menghormati dan bekerjasama melawan pihak-pihak yang mencederai mandat UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Re-

publik Indonesia untuk mewujudkan perdamaian dan kondisi Negara yang lebih baik. Perihal ini juga mengundang perhatian MUI (Mejelis Ulama’ Indonesia). Ali Nurdin, selaku Consultan Public Relation Film ? (Tanda tanya), membenarkan jika pihaknya, selaku bagian dari tim produksi film besutan sutradara Hanung Bramantyo tersebut, telah melakukan pertemuan secara tertutup dengan pihak MUI di kantor MUI Proklamasi, sehubungan dengan keberatan lembaga tersebut atas isi film ?. “Secara institusi belum ada putusan apa-apa dari MUI, kita menanggapi positif saja dan itu kelihatan sedikit banyak terbukti,” tandas Ali. *** Sejak diputar perdana, penonton Film ? pada tanggal 7 April 2011 telah menembus angka 150 ribu. Pihak produser merasa optimis film tersebut bisa mendulang hingga sebanyak 1 juta penonton. Kini film tersebut dapat dinikmati dalam bentuk buku serta format DVD. Buku dan film dalam bentuk DVD itu diberi judul “Harmoni Dalam Tanda Tanya”. Format buku itu ditulis oleh dua penulis dari Mahaka Penerbit, yaitu Melvy Yendra dan Adriyati, yang dengan maksud adalah sebagai pendalaman dan pengembangan dari film Tanda Tanya ?, dan untuk membantu pembaca agar lebih memahami film dengan kategori Dewasa ini. Peluncuran buku dilakukan bersamaan dengan format DVD. “Setelah adanya kontroversi dari satu organisasi masyarakat, yang membuat takut pihak penyelenggara, maka kami mencari momentum yang tepat untuk meluncurkan buku bersamaan dengan DVD ini,” ujar Hanung. “Intinya, film ini mencerdaskan masyarakat, bukan membodohi,” ujar salah satu pemain dalam film Tanda Tanya (?), Hengky Sulaiman, yang turut hadir dalam peluncuran buku dan DVD tersebut. Ada beberapa kalimat menarik yang ditunjukkan dalam film ini; “Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tetapi di jalan setapak masing-masing. Tiap manusia

“MODIFIKASI” DALAM KPM, SEBAGAI PERCOBAAN
acana baru kampus STAIN Ponorogo kali ini berhembus dari pihak P3M (Pusat Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat). Lembaga kampus yang berkantor di lantai dasar gedung pusat akademik itu berencana akan memperbaharui program KPM-nya, yang dahulunya disebut KKN itu. Kegiatan yang wajib dilakukan oleh seluruh Mahasiswa itu nantinya akan memiliki metode baru yang dimodifikasi.....

Mengintip Bilik-bilik Prostitusi Kedung Banteng Di Ambang Penutupan
Gencarnya pembangunan lembaga pendidikan yang dilakukan pemerintah memang akhirnya menggusur keberadaan bisnis prostitusi di daerah tersebut, dua dunia yang tak sama, yang memang tak pantas untuk disandingkan. Mereka para penghuni lokalisasi akhirnya dipindahkan ke desa pelosok, ujung barat laut kabupaten Ponorogo, desa Kedung Banteng. Pemindahan tersebut memang menjadi keputusan bersama antara pemerintah dan pihak pengelola lokalisasi saat itu. Dari pihak pemerintah menyediakan lahan di pinggiran desa Kedung Banteng dan beberapa fasilitas untuk membangun kembali rumah mereka yang tergusur, ........ ........ HAL 12

W

............ HAL 7

LAPORAN UTAMA

ISU

BOSDA MADIN, ANTARA SOLUSI DAN MASALAH BARU
Dana yang diturunkan pun terbilang cukup besar. Untuk tahun 2011 lalu daerah Jawa Timur mendapat suntikan dana BOSDA sebesar Rp. 13,1 Milyar. Sebagaimana yang kami kutip dari harianbhirawa.co.id, bahwa dana sebesar itu akan dialokasikan kepada semua Madin di Jawa Timur dan ditanggung oleh pemerintah Provinsi dan kabupaten, yang masing-masing pihak menganggarkan 50% dari dana yang dibutuhkan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Fachrudin, Kasi Peka Pontren Kemenag. Ponorogo, “Dari Pemerintah Provinsi 50% dan dari Kabupaten 50%”, ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/3). Namun, meskipun dana bantuan ini sungguh membantu, bukan berarti dalam pelaksanaanya tidak menemui kendala. Hal ini juga disampaikan oleh pengurus Madrasah Miftahul Huda (MMH) Mayak Ronowijayan Ponorogo, bahwa mereka merasakan adanya kesulitan ..... ....... HAL 22

LIPUTAN KHUSUS

BAHASAN UTAMA

HITAM PUTIH DUNIA PENGEMIS DI KOTA REOG
Permasalahan atau penyimpangan apapun yang ada dalam berbagai komponen sistem di sebuah Negara nyatanya memang paling banyak berdampak dan berpengaruh pada masalah sosial. Sebagai contoh, adalah banyaknya jumlah pelaku kriminal seperti pencuri, perampok bahkan pelaku aniaya yang sampai menyebabkan kematian. Pada kenyataannya, mayoritas penyebab dari kasus-kasus tersebut adalah karena himpitan ekonomi. Selain perkara kriminal rupanya muncul juga masalah-masalah lain dalam lingkungan sosial yang juga disebabkan karena himpitan ekonomi, yaitu mewabahnya masyarakat yang menjadi gelandangan dan pengemis. Banyaknya jumlah gelandangan dan pengemis dirasa cukup meresahkan dan menganggu keamanan serta ketertiban masyarakat...... ...... HAL 27

80 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 5

SAPA REDAKSI SAJIAN ASPIRASI ISU : “Modifikasi” dalam KPM, Sebagai Percobaan CAUTION: Kantor Tidak Melayani Apapun Saat Ujian Kampus Berlangsung (??) BAHASAN UTAMA : Kontroversi Penutupan Lokalisasi Kedung Banteng LAPORAN UTAMA : “BOSDA MADIN” Antara Solusi dan Masalah Baru LIPUTAN KHUSUS : Hitam Putih Dunia Pengemis di Kota Reog KARIKATUR KHAZANAH : “Multatuli” Pejuang kemerdekaan Walau di Negeri Orang SAPA KOTA SAPA DESA SOSOK : “Pak Nurdin” Pemikiran Sang Motivator dalam Ranah Sosial KOLOM : Mahasiswa dan Pemimpin Sejatinya, Oleh : Cak Hijroh “ Ponorogo dan Bencana” Pengantar Studi Kebencanaan, Oleh : Arwan Hamidi BUDAYA : “ DEMONSTRASI “ Ajang Penyampaian Aspirasi atau Sekedar Menjaga Eksistensi KAMPUSIANA : Billingual Kampus Peningkat Mutu Mahasiswa Bergantung pada Pembangunan Ma’had Mahasiswa KPI Sebagai Program Awal STAIN Menuju IAIN ALAM KU : Penelusuran Air Terjun Setapak, Ponorogo FIKSI : Kata Maaf Untuk “Mama“ BILIK KAMPUS : Kegiatan SEMA, DEMA, SMJ dan UKM RESENSI : Film : “ ? ” Buku : Rasulullah’s Business Scholl SENTILANE

3 5 7 8 10 12 22 27 34 36 41 45 48 52 56

Masih pentingkah kita berbeda ?
Judul Film Sutradara Produksi Tahun Lulus Sensor LSF Pemeran Utama Sulaiman, Resensator 1910. 080 menilai bahwa film ini berlebihan mengenai konsep pluralisme agama, hingga membahayakan akidah semua umat beragama, tidak hanya Islam. Dikabarkan bahwa FPI telah mendatangi kantor Stasiun Televisi SCTV, Sabtu 27 Agustus 2011. Mereka menekankan agar SCTV tidak menayangkan Film ?, yang rencananya akan ditayangkan pada malam takbiran. Maka SCTV pun terpaksa menyetujui permintaan tersebut. Insiden tersebut dinilai telah mencederai kebebasan pers, merusak tatanan demokrasi, bahkan merusak citra Indonesia sebagai Negara yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. Sehubungan dengan hal tersebut, Aliansi Sumut Bersatu (ASB) sebagai organisasi yang berkomitmen untuk merawat keberagaman, mempertahankan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai idiologi dan falsafah bangsa, menyatakan sikap: 1. Memberikan dukungan penuh kepada pihak SCTV untuk tetap menayangkan Film (?), agar tidak takut dengan ancaman dan tekanan FPI serta mengambil langkah-langkah hukum un: “?” : Hanung Bramantyo : JIVE Entertainment : 2011 : 20/VCD/D/

A/1.2014/2012, 3 Januari 2012 : Reza Rahadian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Hengky Rio Dewanto. :Arif Hendri crew, NIC:

60 62 65 71 74 79 81 82

Redaksi menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, karya sastra, esai, karikatur dan lain sebagainya. Tulisan dapat dikirim berupa hard copy atau soft copy , atau dikirim via e-mail: lpmalmillah@gmail.com. Redaksi berhak mengedit tulisan dengan tidak merubah substansi 6 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

ilm layar lebar ini mencerminkan nilai keharmonisan antar umat beragama. Yang mana keberagamaan dalam masyarakat merupakan karunia terindah yang Tuhan berikan, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai ras, suku, status sosial, karakter serta agama. Keberagaman itu diceritakan dalam film ini, berjalan dengan penuh toleransi dan rasa saling menghargai. Di sana tergambar masyarakat membaur di kelilingi masjid, gereja dan klenteng. Ada pula pemuda muslim yang bersedia memerankan Yesus dalam drama penyaliban, dan lain sebagainya. Namun, pasca pemutaran perdana film ini, ternyata menimbulkan kontroversi yang serius. Bahkan membuat salah satu ormas Islam yaitu FPI (Front Pembela Islam) menjadi geram karena film ini. FPI atau mereka yang kontra dengan film ini

F

aL-Millah edisi 27/ 2012 79

Awal tahun ini, UKM MAPALA PASCA memulai kegiatannya dengan melaksanakan Diklatsar (Diklat Dasar) bertempat di Gunung Kayangan desa Pudak, Pulung. Agenda ini selanjutnya telah disusul dengan Diklat Lanjutan yang merupakan rangkaian pelatihan untuk anggota baru, dimana untuk masing-masing divisi bertempat di kolasi yang berbeda. UKM yang mayoritas anggotanya adalah perempuan pada tahun ini, lebih memusatkan diri pada pengembangan sumber daya anggota yang mulai menurun. Pengembangan ini dilakukan pada lima divisi yang ada yaitu Divisi Orad (Olahraga Arus Desus), Divisi RC (Rock Climbing), Divisi GH (Guru Hutan), Divisi PLPM (Pelestarian Lingkungan dan Pengabdian Masyarakat), serta Divisi Caving.***

UKM MAPALA PASCA

Pengembangan Divisi

Kalau Usul Nggak Boleh Asal, Kalau Asal Nggak Usah Usul

Ruang kelas Indrakila kok aneh..? ga’ kayak kelas.. Penataan ruang kelas di gedung Indrakila kok terkesan ga’ nyaman sebagai ruang kelas ada semacam tiang bangunan dari konstruksi bangunan. Padahal Indrakila kan gedung baru… (Dyan Fitriani, Syariah/ 4) Awal perencanaan pembangunan dari gedung Indrakila Centre sendiri adalah berfungsi sebagai tempat bisnis yang disediakan kampus untuk lahan bisnis, bukan untuk gedung perkuliahan. Namun sejalan dengan keputusan Menteri baru-baru ini setelah pembangunan Indrakila Centre tentang kampus, tidak boleh dijadikan lahan bisnis. Selanjutnya Indrakila beralih fungsi sebagai ruang perkuliahan walaupun konstruksi bangunanya sendiri kurang ideal sebagai ruang kelas. Dari pihak akademik sedang mengupayakan agar sarana dan prasarana di Indrakila terpenuhi di ruang-ruang kelas, yaitu LCD Proyektor dan yang lain-lain (Kepala Sub Bagian Umum: Didik N. Basyar)

“Di Belakang Kamera”

LPM AL-MILLAH,

Alat-alat yang tersedia di kelas seperti Proyektor, Kipas ‘angin, kok ga’ berfungsi dengan baik ya? Sering kepanasan waktu siang tiba, karena kipas angin yang rusak. Bahkan Proyektor yang sama sekali tidak berfungsi, dan remotenya ga’ ada di masing masing kelas. (Yustofat, Syariah/ 4).

LPM al-millah adalah salah satu lembaga pers mahasiswa yang bergerak di bidang jurnalistik. Sebagai satu-satunya LPM yang ada di kampus hijau STAIN Ponorogo lembaga ini selalu eksis dengan rangkaian agenda yang tentunya tak pernah jauh dari bidang jurnalistik. Selain menerbitkan majalah setiap semesternya, al-Millah juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan jurnalistik sebagai sarana untuk pengkaderan. Begitu halnya yang diadakan pada awal tahun 2012 lalu, tepat pada malam tanggal 1 Januari 2012 al-Millah mengadakan PAB (Penerimaan Anggota Baru). Acara ini berlangsung di gedung F STAIN Ponorogo yang diikuti oleh 40 peserta. Lebih lanjut, pada akhir bulan maret lalu al-Millah juga mengadakan Diklat Jurnalistik Dasar (DIKJURSAR). Pelatihan ini diadakan di desa Sragi, Sukorejo, Ponorogo. Selain mahasiswa STAIN Ponorogo acara ini juga diikuti oleh perwakilan dari crew LPM DK (Dewan Kota) Madiun, DK Tulung Agung, dan Jogja yang secara keseluruhan berjumlah 43 peserta. Sebagai tindak lanjut pelatihan ini, crew baru al-Millah kini tengah disibukkan dengan agenda penerbitan buletin bulanan Soeara Pena sebagai bukti kreatifitas dan melatih kekritisan mereka. Lain dari pada itu, al-Millah juga aktif mengikuti agenga PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Salah satunya, pada tanggal 11 bulan Maret lalu crew al-Millah mengikuti acara pra kongres PPMI Nasional yaitu yang diadakan di kota Malang. Adapun kongres Nasional diadakan di kota Tulungagung pada bulan Mei. Selain itu pada tanggal 5-7 April juga mengikuti acara advokasi di Jogja. Sementara untuk agenda al-Millah sendiri kini crew al-Millah tengah sibuk mempersiapkan acara lomba karya tulis tingkat mahasiswa dan pelajar se eks-karisidenan Madiun yang rencana akan dilaksanakan di pertengahan bulan April ini.*** (Fikri/ Putri. crew, NIC : 1910. 075/ 072)

Dilarang Usil Dengan Usul
Fatkur. crew, NIC: 1910. 074

Kami selaku dari pihak Akademik selalu berusaha semaksimal mungkin a g a r fasilitas yang tersedia ber- f u n g s i dengan baik seperti LCD Proyektor dan kipas angin. Akan tetapi tenaga perawatan dari kami terbatas untuk meninjau fasilitas–fasilitas yang kurang berfungsi maksimal. Sementara itu, kesadaran dari Mahasiswa sendiri kurang terhadap fasilitas tersebut. Kadang ada yang iseng merusaknya. Sementara mengenai remote Proyektor di setiap kelas tidak tersedia, itu dikarenakan antisipasi terhadap pencurian. Namun setiap gedung ditentukan seorang OB yang memegang remote tersebut, dan jika membutuhkan tinggal menghubungi OB itu. (Kepala Sub Bagian Umum: Didik N. Basyar).
aL-Millah edisi 27/ 2012 7

78 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

ISU

“MODIFIKASI” DALAM KPM, SEBAGAI PERCOBAAN
Metode baru itu bernama Posdaya (Pos Pemberdaya­ an Keluarga). Metode yang awalnya di­ cetuskan oleh Prof. Dr. Hari­ yono Suyo­ no, mantan Menteri Ke­ sejahteraan rakyat Indone­ sia. Metode ini dikembang­ kan dalam kaitannya membuat KPM tematik atau KPM bertema tertentu.
8 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

acana baru kampus STAIN Ponorogo kali ini berhembus dari pihak P3M (Pusat Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat). Lembaga kampus yang berkantor di lantai dasar gedung pusat akademik itu berencana akan memperbaharui program KPM-nya, yang dahulunya disebut KKN itu. Kegiatan yang wajib dilakukan oleh seluruh Mahasiswa itu nantinya akan memiliki metode baru yang dimodifikasi. Sementara, metode yang digunakan saat ini adalah PAR (Participatory Action Research), metode yang menekankan pada belajar dan bekerjasama dengan masyarakat, dimana nanti awalnya Mahasiswa melakukan survey, lalu belajar bersama masyarakat di sana. Perlu diketahui bersama bahwa dalam metode ini mahasiswa bukan sebagai ‘penyelamat’, melainkan hanya sebagai fasilitator yang berusaha menggiring mereka untuk bersama-sama menemukan pemecahan suatu masalah. Namun kemudian, metode PAR yang telah terbukti berhasil itu membuat pihak P3M mencoba menyisipkan metode baru di dalamnya, yang dapat menjadi pengembangan dan pemberdayaan lebih lanjut berdasar pada keterbatasan pemecahan dari sistem PAR. Metode baru itu bernama Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Metode yang awalnya dicetuskan oleh Prof. Dr. Hariyono Suyono, mantan Menteri Kesejahteraan rakyat Indonesia. Metode ini dikembangkan dalam

W

kaitannya membuat KPM tematik atau KPM bertema tertentu. Sebenarnya, sampai sekarang pun belum ada STAIN yang menggunakan metode baru ini, dan masih menggunakan metode yang lama. Hanya UIN Malang satu-satunya kampus agama yang sudah menggunakan metode baru Posdaya ini. Dari sinilah timbul pertanyaan yang menguak ke permukaan, bukan lagi sudah benarkah, melainkan apakah tepat guna langkah yang diambil oleh satusatunya kampus Negeri di Ponorogo tersebut untuk menggunakan metode KPM berbasis PAR-Posdaya itu? Semoga kampus STAIN Ponorogo itu juga mempunyai penjelasan yang konkrit mengapa harus disegerakan pengambilan keputusan demikian itu. Padahal jika melirik di kampus-kampus STAIN yang lainnya semisal STAIN Kediri dan STAIN Tulungagung juga belum menggunakan metode itu dan masih mempertahankan sistem yang lama. Apakah mungkin kampus STAIN sekitar masih kurang begitu modern sehingga masih menggunakan metode lama, atau malah kampus STAIN Ponorogo sendiri yang terlalu cepat mengambil kebijakan untuk menerapkan metode yang baru, agar dinilai lebih modern, tapi justru melupakan manfaat dan sasaran sebenarnya dari metode paling tepat yang seharusnya digunakan, sehingga dalam hasilnya pun kurang begitu maksimal.

nit Kegiatan Mahasiswa yang berdedikasi UNIT KEGIATAN ISLAM (UKI) dalam bidang ke-Islaman ini mengawali programnya dengan kegiatan Pengajian Akbar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. tanggal 18 Februari lalu. Kegiatan ini mengangkat tema “Menapaki Jejak Rasul, Menumbuhkan Mahabhah dalam Meladaninya Sebagai Insan Kamil” dengan menghadirkan Habib tersohor seperti Habib Musthofa bin Muhammad bin Thohir Ba’abud dari kota Kediri dan juga Habib Umar bin Husain Assegaf dari kota Solo. Kegiatan yang dilaksanakan di Graha Watoe Dhakon itu bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat Ponorogo berdoa dan bersholawat bersama. Agenda lainnya yang telah dilaksanakan adalah Diklat Kepemimpinan Dasar serta Pelatihan EO pada bulan Maret. Sementara itu, pada bulan April telah diadakan lomba mading SMA sekaresidenan Madiun, telling story untuk tingkat SMP, pildacil untuk SD/MI, dan mewarnai untuk tingkat TK. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Milad UKI yang ke-IX ini diikuti oleh kurang lebih 300 peserta dari berbagai perwakilan sekolah se-karesidenan Madiun untuk memperebutkan tropi Ketua STAIN Ponorogo. Selain itu ada juga Fiqih Amali dan acara rutin seperti Khataman dan Sima’an yang di laksanakan setiap 35 hari sekali di masjid Ulinnuha STAIN Ponorogo.***

Pengajian Akbar

U

erhasil dengan kegiatan Diklat Dasar di kota Trenggalek lalu, UKM Pramuka STAIN Ponorogo memiliki beberapa kegiatan lain. Diantaranya yaitu Kursus Pembina Mahir Dasar Pramuka Pandega se-Jawa yang akan dilaksanakan di STAIN Ponorogo juga di lapangan desa Wates Jenangan. Kegiatan yang dilaksanakan dua tahap pada bulan Mei ini mengambil tema “Dengan semangat 50 tahun gerakan pramuka kita ciptakan pembina yang profesional”. Selain itu, ada pula TRP3TN (Temu Racana Pramuka Pandega Perguruan Tinggi Negeri) atau sering disebut Temu Racana dalam lingkup se-Jawa pada bulan Agustus-September di Kediri. Kegiatan ini merupakan ajang bagi setiap anggota untuk mengasah kemampuannya serta mendapatkan pengalaman dari beberapa bidang yang perlu dikuasai. Kegiatan lainnya adalah mengikuti PW (Perkemahan Wirakarya) yang dilaksanakan di Batam setiap satu tahun sekali pada bulan Juni mendatang.***

UKM PRAMUKA

Kursus Pembina Mahir Dasar

B

UKM SEIYA yang merupakan UKM yang bergerak di bidang seni dan budaya ini membuka awal tahun kepengurusannya dengan mengadakan konser amal pada bulan Januari kemarin. Kegiatan rutin lain pada tiap tahunnya yaitu ikut serta dalam kegiatan Wisuda STAIN Ponorogo pada bulan Maret. Bukan hanya itu, pada tanggal 20 Maret 2012 UKM SEIYA mengikuti Pentas Gabungan Paduan Suara yang pesertanya merupakan PTAIN seluruh Indonesia yang diadakan di STAIN Salatiga. Selain itu, kegiatan lainnya adalah Dies Natalis pada bulan April yang diisi dengan agenda parade band campus. Sedangkan pada bulan Mei dilaksanakan Study Pentas Pasma dan Musik, Pentas Perdana, dan juga Pentas Produksi Teater Festival.***

Konser Amal di Awal Tahun

UKM SEIYA

aL-Millah edisi 27/ 2012 77

ISU
UKM OLGA (OLAH RAGA) ada awal tahun ini UKM Olahraga berfokus pada beberapa kegiatan di luar kampus, yaitu mencoba mengikutsertakan divisi bola volly pada kompetisi di wilayah Ponorogo. Sementara kegiatan selanjutrnya, tepatnya tanggal 20-22 April, UKM Olahraga telah mewakili kontingen STAIN Ponorogo dalam agenda PORSENI di STAIN Kudus. Sehubungan dengan diberikannya fasilitas baru yaitu Gedung Olahraga (GOR) STAIN Ponorogo, maka pada periode kepengurusan tahun ini UKM OLGA akan mengadakan beberapa event olahraga yang bisa diikuti oleh semua mahasiswa, yaitu mengadakan kegiatan silaturahim dan sparing partner antar UKM/ SMJ/ LPM serta DEMA KBM STAIN Ponorogo dan juga Pekan Olahraga Kampus. Agenda ke depan, UKM Olahraga akan menyelenggarakan kompetisi Futsal antar SMA se-Ponorogo. Hal ini merupakan agenda terpenting yang akan digelar, yang mana diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat akan eksistensi STAIN Ponorogo. Selain itu prioritas lainnya adalah melanjutkan perjuangan teman-teman sepakbola dalam mengikuti musim baru kompetisi divisi II Persepon yang kemungkinan akan digelar bulan Juni nanti.***
esuksesan dalam kegiatan Pelantikan Anggota Baru (PAB) KSR STAIN Ponorogo pada bulan Januari kemarin segera diikuti oleh kegiatan Latihan Gabungan (Latgab) yang dilaksanakan di STKIP Tulungagung. Kegiatan ini diikuti oleh 10 PTAIN Se-Jawa Timur dengan agenda preview materi dan juga simulasi yang melibatkan semua anggota dari latihan gabungan. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 6-10 April 2012 ini bertujuan untuk menambah wawasan bagi para anggota KSR STAIN Ponorogo, sehingga mereka tidak hanya tahu namun juga mampu dengan sigap melakukan tindakan-tindakan kesehatan dalam situasi apapun. Kegiatan yang dilaksanakan berikutnya adalah Dies Natalis pada tanggal 23 Mei dengan agenda kegiatan seminar kesehatan, pentas seni yang diikuti PTAIN se-Jawa Timur, dan pada bulan Juni adalah Musisi atau Temu Aksi yaitu lomba Pertolongan Pertama, Perawatan Keluarga, dan Acissment untuk SMP dan SMA se-karesidenan Madiun.*** ukses dengan kegiatan Pelantikan Anggota Baru (PAB) yang dilaksanakan pada akhir Februari kemarin, UKM Beladiri pada 24-30 Maret ini ikut serta dalam event 11 Maret Pencak Silat International Championship yang akan diadakan di kota Solo. Pengiriman delegasi yang dilakukan adalah untuk bertanding dalam kategori TGR atau seni beladiri yang terdiri dari kelompok tunggal, ganda, dan beregu. Kegiatan ini diharapkan selain dapat mengasah kemampuan para atlet secara fisik, namun juga dapat memberikan pengalaman dan sebagai pembelajaran mental bagi para atlet beladiri. Pada bulan Mei, UKM Beladiri melaksanakan kegiatan Donor Darah, Baksos, pelatihan pernapasan atau cakra, dan tetap memberikan pelatihan rutin bagi para atletnya setiap dua kali dalam satu minggu.***

Kompetisi Futsal antar SMA se-Ponorogo.

P

Sementara itu, mengenai rencana penerapannya sendiri, pihak P3M menginginkan metode ini sudah bisa diterapkan tahun ini. Namun, kiranya hal itu masih sebatas rencana. Hal ini dikarenakan konsep secara jelasnya pun belum ada, apalagi dengan sosialisasi kepada mahasiswa

pembaharuan tersebut menjadi semakin kompleks beban dan tuntutan yang harus ditanggung oleh semua pihak, baik itu Mahasiswa, P3M, bahkan masyarakat sendiri jika penentuan keputusan yang diambil kurang tepat. Maka, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tidak ada salahnya jika

KORP SUKA RELA (KSR)

Latihan Gabungan.

K

terkait semua itu sudah pasti belum. Tentunya kita berharap bahwa semua yang direncanakan dan terwujudnya nanti dapat bermanfaat secara maksimal dan tepat dengan sasaran yang sedari awal didengungkan. Bukan malah dengan

sebelum benarbenar diterapkan perlu diadakan pengkajian ulang secara mendalam tentang konsep perencanaan tersebut.*** Imam. R.B. crew, NIC: 1910.076

Kampus....... satu kata, Pernah terpikir kehidupan di sana membawa sebuah harapan besar, mungkinkah itu benar nyata pada akhirnya......??? *suara.Ca-sarja*

Pencak Silat International Championship

S

GEDUNGKU .......
UKM BELA DIRI

Gedungku, Aula lama yang dulu banyak berfungsi untuk kegiatan mahasiswa, begitu terjangkau dan efektif.... namun kini.... menjadi gedung gagah menjulang dengan nama “Perpustakaan Ter-

Masa

Sekar

ang

padu” yang kini semakin menjadi sumber pertanyaan mahasiswa.... berapa lama lagi, benar-benar berfungsi...?

o Temp

Dulu

76 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 9

ISU

CAUTION:
KANTOR TIDAK MELAYANI APAPUN SAAT UJIAN KAMPUS BERLANGSUNG (??)
al-millah. DOC

SMJ SYARIAH

dalah hal yang wajar jika kampus manapun meyelenggarakan ujian baik pertengahan maupun akhir semester. Namun cukup menjadi pertanyaan ketika ujian berlangsung pelayanan kantor ataupun yang lain menjadi tidak maksimal, bahkan ditutup. Jika demikian maka pihak manapun yang tidak berkepentingan dengan ujian harus merasakan dampaknya. Kiranya demikian pula halnya yang terjadi di kampus STAIN Ponorogo. Sebuah kebijakan dari rektorat yang telah dijalankan menjadi sebuah tradisi kini memunculkan tanda tanya di benak berbagai pihak. Yaitu dalam pelaksanaan ujian kampus yang selalu didominasi oleh karyawan kantor sebagai pengawas. Padahal idealnya hanya dosen lah pihak yang berkompeten sebagai pengawas ujian karena ujian itulah yang menjadi media evaluasi bagi mahasiswa. Sebagai pengawas dalam pelaksanaan ujian, jumlah kary-

A

awan lebih banyak daripada para dosen itu sendiri. Padahal kita ketahui bersama bahwa pelaksanaan ujian itu merupakan bagian dalam komponen pembelajaran, maka yang paling bertanggung jawab atas evaluasi tersebut selayaknya adalah para dosen. Mengenai hal ini kami mendapatkan beberapa pengakuan yang bisa dijadikan pendukung. Pertama, dari salah seorang karyawan akademik, dia membenarkan bahwa pengawas ujian memang didominasi karyawan dibandingkan dengan dosen. Menurutnya, hal ini dikarenakan jumlah seluruh dosen tidak mencukupi untuk mengawasi semua ruang ujian yang ada, tanpa melibatkan pihak selain dosen. Alasan lain diungkapkan oleh Iswahyudi M.Ag, salah seorang dosen. Ia juga mengakui hal ini memang benar adanya, lalu ia pun juga menambahkan bahwa terkadang ada dosen yang tidak bisa hadir ketika ada jadwal dosen tersebut untuk mengawas. Namun nada yang berbeda

muncul dari Sukadi M.Pd.I, yang juga salah seorang dosen tetap di STAIN Ponorogo. Ketika kami tanyakan tentang hal ini, Ia pun tidak menafikan hal yang sedang didengungkan ini. Ia menjelaskan bahwa wacana pelaksanaan ujian ini selayaknya kita kembalikan kepada esensi utamanya, antara domain akademis atau domain administratif. Lalu, idealnya mengadakan ujian demikian itu termasuk dalam domain yang mana? “Jikalau ujian itu masuk dalam domain akademis, seharusnya yang berwenang penuh atas terselenggarakannya ujian itu adalah domain akademis, dan yang termasuk di dalamnya tentu saja dosen dan mahasiswa, bukan lagi karyawan”, jelas dia pada alMillah. Jika tanggapan dari Kadi itu relevan, bukankah segala sesuatu itu harus diterapkan sesuai dengan relevansi yang ada. Lalu ketika prosedur yang ditentukan telah sesuai dengan relevansi itu, maka bagaimana dengan fakta

MJ yang pada setiap kegiatannya lebih memaksimalkan seluruh mahasiswa untuk ikut serta berperan aktif dalam program kerja ini juga memiliki agenda rutin, seperti penerbitan buletin setiap satu bulan sekali dan evaluasi setiap akhir bulan. Lebih dari itu, pada bulan April kemarin telah dilaksanakan pelatihan ekonomi islam yang bertempat di basement Graha Watoe Dhakon. Sementara pada bulan Mei dilaksanakan Diklat Falakiyah yaitu diklat pengetahuan tentang ilmu perbintangan. Diklat ini dilakukan setelah mengikuti pelatihan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam setiap minggunya. Selain kegiatan tersebut lainnya adalah launcing kalender, ru’yah setiap awal bulan Ramadhan dan Idul Adha. Tidak mau kalah dengan SMJ Tarbiyah, rencananya SMJ Syariah juga akan melaksanakan Pelatihan Retorika yang bertujuan untuk memperkuat mental mahasiswa ketika harus tampil di depan umum serta melatih para Mahasiswa agar mampu mencurahkan apa yang difikirkan sesuai dengan bahasa yang tepat.***

Diklat Falakiyah

S

Pelatihan Tulis Menulis SMJ USHULUDDIN enat mahasiswa jurusan yang jumlah anggotanya paling bisa dihitung ini, mengawali periode kepengurusan dengan mengikuti Seminar Nasional dan Konferensi Study Al-Qur’an di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 25 Februari 2012 lalu. Kemudian, SMJ Ushuluddin juga memiliki agenda kegiatan Pelatihan Tulis Menulis yang dilaksanakan pada bulan Maret di kampus STAIN Ponorogo. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Mahasiswa Ushuluddin ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kepada seluruh Mahasiswa tentang pentingnya baca-tulis. Pada agenda berikutnya yaitu pada bulan Mei dilaksanakan Bedah Buku dengan judul Menusantarakan Islam, karya Dr. Aksin Wijaya yang dilaksanakan di Kampus STAIN Ponorogo. Untuk meningkatkan keintelektualan para anggotanya, SMJ Ushuluddin tetap berdiri dengan kegiatan rutinnya seperti Forum Kajian Kenduri Wacana setiap satu minggu sekali, Ziarah Keintelektualan setiap satu bulan sekali, penerbitan buletin Sapu Lidi setiap satu bulan sekali, dan juga dalam waktu dekat ini sedang merintis Perpustakaan SMJ Ushuluddin.***

S

alam memulai kegiatan di periode ini, UKM KOPMA pada bulan Januari kemarin telah melaksanakan kegiatan Kajian yang topik utamanya tentang sejarah KOPMA. Selanjutnya, pada tanggal 13 Februari 2012 KOPMA melaksanakan Study Banding ke UTY dan kunjungan usaha di Bakpia Patok. Study Banding dilakukan untuk sharing tentang perkembangan kewirausahaan khususnya untuk Koperasi Mahasiswa di STAIN Ponorogo dan UTY. Kunjungan usaha juga dilakukan untuk menambah wawasan usaha dari para peserta mulai dari awal hingga akhir produksi. Sehingga setelah mengikuti kegiatan para anggota dapat mengembangkan serta mengolah KOPMA STAIN Ponorogo menjadi lebih baik lagi, dan tentunya untuk pengalaman diri. Selain itu ada pula kegiatan kajian bulanan, yaitu tentang Bisnis School yaitu yang berisikan tentang manajemen keuangan dan bagaimana cara kewirausahaan. Pada bulan April dilaksanakan Dies Natalis, dan bulan Mei dilaksanakan Kunjungan Usaha Murni.***

KOPERASI MAHASISWA (KOPMA)

Study Banding dan Kunjungan Usaha Bakpia Patok

D

10 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 75

ISU
Mengawal Kebijakan Mahasiswa ntuk kegiatan tahun ini, SEMA lebih memfokuskan diri dalam mengawal penetapan kebijakan yang dilakukan oleh mahasiswa. Tidak jauh berbeda dari kepengurusan sebelumnya, organisasi tertinggi dalam ruang lingkup KBM STAIN Ponorogo ini juga siap menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dan pihak lembaga. Selain itu, SEMA juga melaksanakan kegiatan yang mana mengumpulkan kosma-kosma dari semua jurusan dan angkatan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring aspirasi mahasiswa dalam menanggapi kebijakan akademik. Sementara untuk kegiatan lainnya adalah mengadakan kajian-kajian kosma.***

U

Senat Mahasiswa (SEMA)

Diklat Manajemen Organisasi EMA sebagai badan eksekutif tertinggi di STAIN Ponorogo, pada awal kepengurusan ini telah melaksanakan agenda pentingnya yaitu pelatihan Manajemen Organisasi (MO). Kegiatan yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Maret di Stain Ponorogo ini merupakan suatu bentuk unsur manajemen aksi dan organisasi yang dikemas dalam bentuk pelatihan. Tujuannya agar seluruh peserta yang merupakan pendelegasian dari setiap organisasi di kampus STAIN Ponorogo mampu menerapkan bagaimana setiap aksi yang baik dan terarah. Lain dari itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah wawasan tentang organisasi bagi seluruh Mahasiswa. Selain itu, DEMA juga memiliki kegiatan rutin seperti penerbitan buletin setiap satu bulan sekali, Kajian GIMS (Generasi Intelektual Mahasiswa STAIN) serta evaluasi KBM setiap tiga bulan sekali yang semuanya mulai berjalan dengan baik. Sementara pada bulan Juni mendatang akan melaksanakan program Pemberdayaan Ekonomi Pedesaan.***

Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA)

D

Diklat Pengurus dan Up Grading SMJ TARBIYAH alam kepemimpinan barunya, SMJ Tarbiyah melaksanakan diklat pengurus yang dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2012. Menyusul kemudian pada bulan April SMJ Tarbiyah telah melaksanakan kajian formatif, workshop perkembangan karakter pendidikan, serta dialog keberagaman dengan tema besar Aswaja. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh ormas se-karesidenan Madiun ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami masalah pemetaan keberagaman agama yang ada. Menyusul kemudian adalah Up Grading Format (Forum Mahasiswa Tarbiyah) pada awal bulan Mei serta Pelatihan Retorika pada akhir bulannya. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus dan Mahasiswa tarbiyah ini bertujuan untuk menambah tingkat keintelektualan serta ilmu berkomunikasi para peserta sehingga mereka mampu dan faham bagaimana harus bersikap dan berbicara secara lebih baik di depan umum. Sedangkan rencana ke depan, SMJ yang membawahi banyak HMPS ini akan mengadakan Worksop pengembangan karakter pendidik pada bulan Juni mendatang. ***

D

yang terjadi? Suatu ketika, bahkan juga pernah terlihat bahwa ada seorang pengawas dari karyawan yang tidak hanya mengawasi satu ruang saja dalam sekali jadwal ujian. Hal ini membuktikan informasi yang kami terima dari Zainal Abdi -karyawan akademikia menyebutkan bahwa perbandingan antara jumlah karyawan dan dosen adalah sekitar 40:150. Artinya, 40 karyawan mendominasi sekitar 40 ruang ujian dan sebagai pengganti dari dosen-dosen yang tidak hadir dari 150 jumlah dosen. Belum lagi jumlah mata kuliah, dan jumlah hari. Berdasar pada fakta ini pun muncul spekulasi ganda, bahwa memang benar-benar kekurangan tenaga pengawas hingga harus merangkap jadwal seperti itu ataukah memang disengaja demikian untuk kepentingan sebagian kelompok saja,…? Sedikit atau banyak hal ini juga akan berpengaruh bagi kualitas hasil ujian mahasiswa. Perhatian terhadap perkembangan mahasiswa tentu berbeda antara karyawan dan dosen. Menyikapi hal ini, dosen berambut cepak ini mengungkapkan bahwa hanya para dosen yang akan lebih mementingkan kualitas hasil ujiannya itu dibandingkan para karyawan, karena memang ujian tersebut menjadi evaluasi pembelajaran terhadap mahasiswanya. Menurutnya, hal ini akan menjadi sebuah konflik kepentingan antara dosen dengan karyawan. “Akan terjadi konflik kepentingan antara dosen dan karyawan. Bagi karyawan, yang terpenting hanyalah terselenggaranya ujian dan mereka telah mengawas ujian tersebut. Mengenai bagaimana kualitas ujiannya ataupun apakah ujian itu nanti telah mengacu pada perbaikan kualitas mahasiswa, mereka tidak memikirkan itu karena memang itu bukan wewenangnya,” tambahnya saat kami temui di ruang dosen. Sementara dampak lain dari keterlibatan karyawan dalam pengawasan ujian ini adalah sebagaimana yang telah jamak diketahui oleh mahasiswa dan siapapun, bahwa ketika dilaksanakannya Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir

Semester (UAS) Perpustakaan yang merupakan fasilitas publik selalu ditutup dan baru dibuka pada siang hari, usai ujian. Padahal tak sedikit mahasiswa yang membutuhkan fasilitas tersebut, terutama mahasiswa yang sedang dalam proses penyelesaian Skripsi. Seperti yang diakui oleh Sahrul mahasiswa Tadris Inggris. Ia merasa waktunya kurang apabila perpustakaan baru buka siang hari usai ujian, “Kalau ujian kan perpus tutup. Padahal banyak mahasiswa yang membutuhkan referensi di sana, tapi waktunya kurang karena buka siang hari,” ujarnya. Senada dengan Sahrul, dosen yang juga mengajar materi kebijakan pendidikan di Indonesia ini mengatakan sebenarnya tidak ada aturan bahwa perpustakaan harus tutup bila ada ujian. “Tidak ada aturan seperti itu, seharusnya ya tetap buka seperti biasa”. Ironisnya hal itu lagi-lagi dikarenakan seluruh karyawan perpustakaan ikut mengawasi ujian, sehingga tidak ada yang mengurus perpustakaan saat ujian berlangsung. Lebih parahnya lagi ia mengatakan bahwa tidak hanya perpustakaan saja yang terhenti pelayanannya ketika UTS maupun UAS, tetapi juga pelayanan di bagian administrasi pun tersendat lantaran petugasnya yang sedang mengawasi ujian, “Pernah itu, di bagian administrasi tidak ada orangnya sama sekali, karena mengawas. Padahal ada dosen yang sedang membutuhkan pelayanan tersebut dan sangat sulit mencari petugasnya itu”. Hal itu bukan semata persoalan bahwa ketika jam ujian mayoritas mahasiswa mengikuti ujian, tetapi terkait dengan status Perpustakaan dan pelayanan akademik sendiri adalah fasilitas umum, bukan hanya untuk sebagian mahasiswa saja, bahkan juga untuk mahasiswa luar dan tamu. Lalu, sebenarnya hal manakah yang harus menjadi pembahasan; kurangnya jumlah karyawan? kurangnya jumlah dosen? Memang merupakan tugas tambahan untuk karyawan, tanpa mempedulikan kepentingan umum? Atau apa?*** (IRB_076 & @md).

74 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 11

Bahasan Utama
Minarni ikut berdiri. “Pergi.” “Lho? Bukankah kamu ingin menemui Ibu?” “Ibu tidak bisa menerima saya tinggal di sini‘kan? “Baik, kau boleh tinggal di sini. Ibu akan menganggapmu sebagai anak. Ingat itu! Tapi, Ibu bukan orang kaya, kamu harus menerima ikan asin dan tempe sebagai makanan sehari-hari. Setuju?” “Ibu, terima kasih banyak! Saya berjanji tak akan menyusahkan Ibu. Tak akan pernah!” tekadku. Hingga tepat setahun kemudian, Ibu Minarni menyuruku kuliah. Tahun pertama kuliah terasa sangat menegangkan. Perasaan minder yang hebat membuatku sulit beradaptasi dengan dunia kampus. Hanya segelintir teman yang benar-benar bisa menerima keadaanku. Di akhir kuliah, saat tak terlalu banyak dikejar berbagai tugas, Ibu Minarni menyuruhku mengikuti bermacam kursus. Mulai dari komputer, bahasa Inggris, sampai kursus keterampilan. Bersama dua teman yang punya minat sama, kami belajar membuat lilin hias dalam bentuk dan warna menarik, lalu menjualnya saat bazar kampus. Di luar dugaan, semuanya laris terjual. Tepat lima tahun kemudian, aku berjalan bangga di antara ratusan orang yang diwisuda. Terpincang-pincang aku menerima ijazah dan ucapan selamat dari para dosen. Sudah hampir dua tahun aku berkantor di Jakarta. Pertemuanku dengan Okta Pratama, yang tertarik pada pernak-pernik buatanku, membuka pintu kesuksesan untukku. Awalnya, ia mengunjungi stand kami saat bazar. Perbincangan kami berlanjut ke tahap kerja sama di bidang art & craft. Ia menyediakan modal dan bertanggung jawab atas pemasaran. Aku dan dua temanku menangani manajemen dan produksi. Ponselku tiba-tiba berbunyi. “Pulanglah, Aret. Waktunya sudah tiba,”. Suara yang sudah sangat kukenal langsung menyergap pendengaranku. Sudah hampir sebulan ini, kata-kata yang sama didengungkan terus oleh sang penelepon. Yaitu tante Lina, Aku sudah katakan padanya, tak perlu repot-repot membujuk lagi. Aku tetap pada keputusanku, tidak bersedia memenuhi keinginannya untuk bertemu dengan Mama. Titik. Tapi entah kerasukan apa akhirnya aku pulang juga, Sejujurnya, aku sudah merasa sangat letih menanggung beban ini. Mungkin, Tuhan memang khusus merencanakan saat ini untuk mempertemukan kami berdua. Saat kami harus bicara tentang kepahitan masa lalu. Akhirnya, langkah kaki membawaku kembali ke pintu kayu yang sudah kusam itu. Mataku berkacakaca, Dengan pedih aku meneliti sekujur tubuhnya. Dari balik selimut tipis, aku melihat tonjolan tulangnya. Kedua matanya terpejam. Tangannya terlipat di dada. Lima belas menit aku hanya memandangi wajah Mama. “Mama, bisa dengar suaraku? Aku ingin minta maaf. Semestinya, aku bisa datang lebih cepat. Aku takut kita akan bertengkar lagi jika bertemu. Aku takut Mama akan mengusirku lagi.” Kuusap tangan Mama yang keriput. “Mama, banyak hal yang ingin kuceritakan. Mama tahu, Aku sudah tamat kuliah. Aku ingin minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan. Aku sering membuat Mama marah….” Aku terus berupaya membangunkan Mama. Beberapa jam berlalu, Aku terus berceloteh tanpa henti. Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh bahuku. “Dia sudah meninggal tadi pagi…,” bisik Tante Lina. Bisikan itu sangat lembut, tapi efeknya sangat luar biasa. Sesaat aku termangu. Rasanya, sekujur tubuhku kosong. Hampa dan sunyi. Baru kusadari, kepergian Mama membawa pergi sebelah hatiku. Belum sempat kami merekatkan kepingan-kepingan yang terkoyak, Tuhan memanggilnya. Aku menguatkan hati, mencoba tidak menangis. Tapi, butiran air mata jatuh juga di pangkuanku. “TAMAT”
“Ali” Mustofa.crew, NIC: 1910. 085

Kontroversi Penutupan Lokalisasi Kedung Banteng

Desember 2003

acana tentang penutupan lokalisasi di Provinsi Jawa Timur kembali berhembus di akhir tahun 2011. Wacana itu agaknya akan segera menjadi kenyataan setelah di keluarkannya instruksi Gubernur Jawa Timur nomor 460/15612/031/2011 tertanggal 20 Oktober 2011 tentang permohonan dukungan kepada Pemerintah Daerah dan lembagalembaga terkait untuk mendukung program pemerintah tentang penutupan lokalisasi di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. Terlepas dari

W

al-millah. DOC

itu ada unsur kepentingan pendongkrak reputasi ataupun dalam rangka kepentingan lainnya. Masyarakat berharap program itu bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Begitu juga Mahasiswa sebagai agent of change sudah seharusnya tidak menutup mata dan mau melibatkan diri menawarkan solusi dalam problem sosial yang berserakan di sekitar kita, termasuk wacana penertiban prostitusi.

Sabtu Siang, di Lokalisasi ‘Kedung Banteng’

Siang itu cuaca kota Ponorogo cukup bersahabat dengan crew liputan al-Millah. Obyek liputan di pinggiran desa Kedung Banteng memang tidak begitu jauh dari kampus STAIN Ponorogo. Jika ditempuh dengan sepeda motor, pembaca akan menikmati perjalanan sekitar 50 menit. Dari arah Pasar Legi ke utara, silahkan ambil jalur ke arah kabupaten Magetan. Jalan terus, sampai kalian akan menemukan kantor desa Kedung Banteng, belok kiri. Maka lokasi lokalisasi sudah dekat dengan

“Mama, banyak hal yang ingin kuceritakan. Mama tahu, Aku sudah tamat kuliah. Aku ingin minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan. Aku sering membuat Mama marah….” Aku terus berupaya membangunkan Mama. Beberapa jam berlalu, Aku terus berceloteh tanpa henti. Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh bahuku. “Dia sudah meninggal tadi pagi…,”

12 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 73

Bahasan Utama
“Sayang? Sayangkah namanya jika menggugurkan anak sendiri?? Sayangkah jika selama ini Mama menyianyia’kan aku? Sayangkah jika selama ini tak merawat’ku dengan baik? Aku mohon, jangan berbohong. Aku cuma ingin tahu, kenapa Mama sampai ingin membunuhku?” aku memekik. “Kamu mau menyalahkan Mama karena terlahir cacat? Tidak ada manusia yang bisa menentang kehendak takdir. Kamu juga menyalahkan Mama karena tidak mampu membiayaimu berobat. Lihat sendiri keadaan kita, Aret. Untuk makan saja susah, belum lagi uang sekolahmu dan biaya yang lain. Sekarang kamu bicara dengan lagak orang paling pintar! Main tuding. Ini salah, itu salah! Hei, kamu sadar gak? Semua yang kamu pakai dan makan itu hasil jerih payah Mama. Tapi, kamu sama sekali tidak tahu terima kasih, tidak tahu balas budi! Anak tidak tahu diuntung!” Darahku langsung menggelegak, menyembur memanasi kepala. “Mama tidak perlu khawatir soal uang lagi! Mulai sekarang, tanggungan Mama berkurang satu. Aku akan mengganti setiap rupiah yang Mama pakai untuk membiayai hidupku selama ini. Aku bersumpah, tidak akan pernah menginjak rumah ini lagi. Aku tidak akan pernah mengganggu hidup keluarga ini lagi karena aku tidak pernah diharapkan ada di sini!” jeritku membabi-buta, menerjang kamar dan langsung mengambil tas di atas lemari. “Silakan! Hei, sekali kamu minggat dari rumah ini, selamanya pintu ini tertutup buatmu! Kamu dengar itu? Dasar anak sinting! Sejak di kandungan saja sudah bikin pusing. Sudah besar malah tambah bikin masalah! Anak kurang ajar! Anak durhaka kamu! Makin cepat kamu keluar dari sini, makin baik! menatap, menyelidik. Beberapa detik kemudian, ia membuka gerendel pintu. “Aret?” tanyanya, tak percaya. Aku mengangguk kuatkuat. “Pasti ada sesuatu sehingga kamu menemui Ibu,” katanya, heran dan curiga. Ia adalah guru SMA’ku yang paling kusayangi, karena selalu memberiku semangat. aku duduk di depan Ibu Minarni yang menunggu ceritaku. Dengan getir aku mengulang kisah hidupku, hingga detik-detik terakhir pertengkaranku dengan Mama. Kedua mata Ibu Minarni tampak berkacakaca. “Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Bu. Izinkan saya tinggal di sini. Saya janji, tidak akan menyusahkan Ibu. Saya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Menyapu, mengepel, semuanya apa saja, asalkan diizinkan menumpang di sini, Bu,” Ibu Minarni lalu menggenggam tanganku.” Ibu tahu perasaanmu, Aret. Tapi, melarikan diri bukan jalan keluar yang baik. Keluargamu pasti sangat khawatir. Apalagi, Mama’mu….” “Mama tidak melarangku, bahkan mengusirku.” “Itu karena beliau sedang emosi. Orang marah selalu melontarkan kata-kata yang bukan maksudnya.” Aku bangkit dan meraih tasku. “Saya mengerti jika Ibu keberatan dengan permintaanku,” kataku. “Kamu mau ke mana?” Ibu keberadaan kantor desa itu. Penduduk sekitar lebih sering menyebut lokalisasi kedung banteng dengan istilah “kompleks”. Mungkin karena lokalisasi berada dalam satu lokasi sehingga mirip dengan kompleks perumahan. Penghuni lokalisasi kedung banteng terlihat berlalu lalang melintas di sekitar lokalisasi. Kedatangan kami sempat memicu perhatian mereka, mungkin mereka merasa aneh dengan jilbab kami. Namun hal itu tidak mengurangi keramahan khas mereka. Bahkan kami sempat ditawari untuk sekedar mampir di beberapa warung mereka. komersial itu bukan lagi menjadi sosok manusia merdeka seperti kodratnya. Ia beralih menjadi benda yang harus siap diperdagangkan dalam jangka temporal kepada para lelaki hidung belang. Lokalisasi dipindah ke desa Kedung Banteng sejak tahun 1981 M. Hal ini sesuai dengan penuturan Verry, pegawai Dinas Sosial yang fokus memberikan pendampingan kepada warga dilokalisasi Kedung Banteng. ”Lokalisasi pindah di Kedung Banteng itu tahun 1981, mbak. Sebelumnya berada di sekitaran UNMUH”, cerita lakilaki humoris itu kepada al-Millah (15/02/12). Namun, ada pula informasi lain bahwa pemindahan itu dilakukan pada tahun 1982. Penggusuran itu terjadi karena faktor pembangunan beberapa lembaga pendidikan di sekitar lokalisasi WD (Watoe Dhakon). Lokalisasi di Ronowijayan dulu memang lebih sering disebut WD sebagai singkatan dari Watoe Dhakon, karena konon dulu di sana pernah ditemukan sebuah batu besar yang berlubang-lubang, mirip seperti alat permainan Dakon. Selain itu, lokalisasi itu juga berdekatan dengan area wingit (angker) tempat Watoe Dhakon berada. Dan menurut cerita, di tempat wingit itulah yang sekarang didirikan kampus kita, STAIN Ponorogo. Bahkan sebutan Watoe Dhakon diabadikan sebagai nama gedung Auditoriumnya. Gencarnya pembangunan lembaga pendidikan yang dilakukan pemerintah memang akhirnya menggusur keberadaan bisnis prostitusi di daerah tersebut, dua dunia yang tak sama, yang memang tak pantas untuk disandingkan. Mereka para penghuni lokalisasi akhirnya dipindahkan ke desa pelosok, ujung barat laut kabupaten Ponorogo, desa Kedung Banteng. Pemindahan tersebut memang menjadi keputusan bersama antara pemerintah dan pihak pengelola lokalisasi saat itu. Dari pihak pemerintah menyediakan lahan di pinggiran desa Kedung Banteng dan beberapa fasilitas untuk membangun kembali rumah mereka yang tergusur. Walau pada kenyataannya, pihak penghuni lokalisasi merasa kurang adil kala itu, karena truk atau kendaraan yang diberikan pemerintah untuk membawa barang-barang termasuk material hanya disediakan tiga truk. “nggeh riyen niku namung tigang rit kendaraan mawon mbak saking pemerintah, padahal engkang badhe dipindahaken sekitar setunggalatusan kepala keluarga”,

Dari Ronowijayan Menuju Kedung Banteng

teriak Mama, sambil melempar beberapa piring ke arah pintu kamarku. Menjelang matahari terbit, dengan lunglai aku menyampirkan tas di bahu dan beranjak membuka pintu depan. Kedua tanganku menggenggam erat secarik kertas bertuliskan sebuah alamat.

Juni 1987
Mulutnya

menganga.

Ia

Sejarah awal adanya bisnis prostitusi di Ponorogo sudah ada sejak zaman nenek moyang. Hanya saja bisnis “remang-remang” itu mulai dilembagakan dalam satu wilayah lokalisasi mulai tahun 1974 M. Lokalisasi ini pertama kali didirikan di daerah Ronowijayan, tepatnya di sebelah timur Universitas Muhamadiyah Ponorogo. Kemudian lokalisasi ini pada akhirnya dipindahkan di daerah Kedung Banteng, hingga saat ini. Pendirian lokalisasi saat itu merupakan solusi kekhawatiran pemerintah dan masyarakat tentang merebaknya “warung jajanan” di jalanan-jalanan kota Ponorogo. Pembaca mungkin heran dengan istilah “warung jajanan”, memang istilah “Marung” merupakan kiasan yang sering mereka gunakan untuk menyebut bisnis mereka. Dimana seorang mucikari merupakan pedagang yang biasa menjajakan para wanita sebagai barang dagangannya. Para wanita yang biasa disebut pekerja seks

Pendirian lokalisasi saat itu merupakan solusi kekhawatiran pemerintah dan masyarakat tentang merebaknya “warung jajanan” di jalanan-jalanan kota Ponorogo. Pembaca mungkin heran dengan istilah “warung jajanan”, memang istilah “Marung” merupakan kiasan yang sering mereka gunakan untuk menyebut bisnis mereka.

72 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 13

Bahasan Utama
kata Paino (nama samaran), salah seorang penghuni lokalisasi, mengungkapkan kisahnya. Kesepakatan itu pun akhirnya dijalankan, membawa Paino dan kawan-kawan seangkatannya menempati lokasi barunya. Ketika lokalisasi masih bertempat di Ronowijayan, para pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi ada sekitar 400 orang, dengan mucikari sekitar 100 orang. Setelah pindah di Kedung Banteng jumlah PSK menurun dratis, hingga kini tinggal tersisa kurang lebih 167 orang. Tempat yang tidak strategis agaknya mengakibatkan berkurangnya jumlah PSK yang tentu saja sangat mempengaruhi tingkat kedatangan para pelanggan meraka. Lokalisasi Kedung Banteng memang terpencil, berdekatan dengan Alas Oro-Oro. Jalan untuk menuju ke lokalisasi pun sulit. Jalan itu masih berupa makadam, belum diaspal. Dari data yang dihimpun oleh Dinas Sosial dalam laporan terakhir di tahun 2011, PSK di Kedung Banteng berjumlah 167 orang. Mereka paling banyak berasal dari kabupaten Tulungagung, kemudian Wonogiri, dan Ponorogo sendiri. Dari Tulungagung berjumlah 32 orang, dari Wonogiri berjumlah 28 orang, dan dari Ponorogo berjumlah 19 orang. Kemudian sisanya berasal dari beberapa kota sekitar dan bahkan dari luar Jawa Timur. Ada yang dari Jawa Tengah, Jakarta, Jawa barat dan Madura. “Data tersebut bisa berubah-ubah sewaktuwaktu mbak, karena PSK itu bisa datang dan pergi tanpa memberikan laporan kepada kami”, terang Verry. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 BOJONEGORO SEMARANG SURAKARTA NGAJUK BLORA PONOROGO KENDAL LUMAJANG PACITAN MOJOKERTO MAGETAN SALATIGA KEDIRI DEMAK PURWAKARTA BANYUWANGI JAKARTA PURWODADI SURABAYA BANDAR LAMPUNG JOMBANG JEMBER BANYUMAS AMBON NGAWI PEKAN BARU BANTUL BANGKALAN JEPARA 1 5 3 5 1 19 2 1 5 3 8 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1

Kata Maaf Untuk “Mama”
anita itu terbaring dengan serangkaian selang di sekujur tubuhnya. Komplikasi penyakit jantung, dan paru-paru menggerogoti bobotnya yang dulu subur. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak mencari aliran udara, menghirup, dan mengeluarkan napas dengan tersengal-sengal. Aku mengintip dari kaca pintu, ragu-ragu untuk masuk. Bukan saja karena takut, tapi juga enggan melihat kondisi sakitnya dan bertegur sapa dengan orang yang mungkin ada di dalam’nya, dan enggan berdamai dengan perasaan sakit hati dalam hatiku. Alangkah jahatnya…!! Aku memang anak durhaka! Begitu teganya aku membiarkan dia terkapar di dalam sana, sekarat menunggu ajal. Padahal, aku sudah mengetahui penyakitnya sejak tiga tahun lalu, tapi tak pernah sekali pun aku berniat menjenguknya, apalagi mendampinginya. Tapi, hei… tunggu dulu! Jahat ?, Aku jahat ? Bukankah wanita itu jauh lebih jahat? Lihat saja apa yang selama ini dia lakukan padaku! Dia bukan saja tidak mengasihi’ku, tapi juga ingin melenyapkanku. Dia ingin membunuhku! Aku, darah dagingnya sendiri! Masih teringat jelas pertengkaran kami yang terakhir, yang terhebat, dan yang paling tak bisa kulupakan. Sudah pukul satu dini hari, Mataku penat luar biasa. Terdorong isi kandung kemih yang penuh karena dua cangkir kopi, aku melangkah ke kamar kecil. Sejenak langkahku terhenti, berganti menjadi rasa ingin tahu, ketika sayup-sayup kudengar suara percakapan dari kamar Tante Lina. Bukan salah Aret dia lahir cacat ‘kan? Dia pasti sangat menderita karena keadaannya. Mestinya, kau bisa bersikap lebih baik, karena dia menderita akibat kesalahanmu dulu. Kalau saja kau tidak gegabah minum segala macam ramuan dari dukun itu, pasti tidak akan begini kejadiannya!” “Aku tidak pernah tahu bakal begini kejadiannya! dukun yang paling terkenal di daerah ini, ramuannya selalu manjur. Tidak ada yang pernah menyangka anak itu lahir cacat, Lina! Sudahlah, jangan diingat lagi. Pedih rasanya. Setiap kali mengingatnya.

Rotasi Penghuni Lokalisasi Kedung Banteng

Januari, 2004

W

Mei 1987

DATA PSK LOKALISASI KEDUNG BANTENG KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2011 BERDASARKAN KOTA ASAL
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KOTA ASAL BOYOLALI MADIUN TULUNG AGUNG WONOGIRI MALANG BLITAR PROBOLINGGO PATI JUMLAH 3 8 32 28 4 11 2 3

KET: - data tersebut di tas sewaktu waktu biasa berubah karena mobilitas yang sangat tinggi - Data dari Dinas Sosial

Rencana Pemerintah Provinsi tentang penutupan lokalisasi itu memang sudah memasuki proses sosialisasi di berbagai daerah. Di ponorogo sendiri, pihak Dinas Sosial yang fokus mengadakan pendampingan kepada warga di lokalisasi mengatakan bahwa pihaknya telah menjalankan instruksi dari Pemprov dengan mengadakan beragam program rehabilitasi untuk PSK dari Ponorogo. Program pelatihan memasak, menjahit, dan ketrampilan telah diadakan. “Kemarin

Mereka Berbicara Tentang Wacana Penutupan Lokalisasi

Aku melakukannya karena terpaksa. Kau tahu‘kan? Aku terpaksa, aku takut, aku tak punya pilihan lain”. jawab Mama. Astaga, jadi ini rahasia besar yang selama ini sengaja disembunyikan mereka berdua? Mama berniat menggugurkan kandungan. Itu berarti, dia ingin membunuhku, melenyapkanku? Anaknya sendiri? Bagaimana mungkin dia tega berbuat begitu? Sampai pagi hari, aku masih tergolek dengan mata penuh air mata. Semalaman tak bisa memejamkan mata. Benak’ku dipenuhi banyak pertanyaan, ketidakpahaman. Keadaan rumah kebetulan sedang sepi ketika kutemui Mama di dapur, Sambil mengiris sayuran. Aku berdiri mematung, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tak terusik oleh kehadiranku. “Mama pernah ingin menggugurkan’ku, bukan?!” Saat itulah Mama berbalik menghadapku. Kedua tangannya berkacak pinggang, lalu menudingku lurus-lurus. “Hei, jangan asal kalau ngomong! Siapa yang bilang begitu?!” “Tak perlu berkelit lagi, Ma. Aret sudah dengar semua percakapan Mama dan Tante Lina semalam. Sebenarnya, ramuan apa yang Mama makan sampai aku lahir begini? ramuan yang Mama pesan pada dukun supaya janin di perut Mama tidak berkembang lagi? Ramuan yang sengaja Mama beli, supaya janin itu mati seketika? Tapi, sayangnya, janin itu tidak mati, bukan? Janin itu membesar, tidak mempan oleh ramuan dan tetap hidup, dengan segala kekurangan. Aret ingin tahu, bagaimana perasaan Mama sewaktu melihat bayi cacat itu untuk pertama kalinya?” Dengan raut wajah tegang Mama terpaku. Sesaat kupikir dia akan menamparku, namun Mama berhasil menguasai kekagetannya dan berucap dengan nada yang datar tanpa emosi. “Kau tidak akan bisa mengerti…” “Apa yang tidak aku mengerti? Bahwa Mama tidak menghendaki aku lahir? Bahwa Mama sengaja ingin membunuhku?” “Kamu tidak bisa mengerti! Mama sebenarnya sayang padamu.”

14 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 71

Bahasan Utama
dan menghadap ke rimbunnya pepohonan, hanya saja air terjun ini tak cukup deras, karena debit air yang tak cukup besar. Jika dibandingkan dengan sungai yang kami seberangi tadi yang mengalir sangat deras, aliran di air terjun ini hampir berbanding terbalik dua kali lipat. Meski berarus tak deras, namun itu sudah memberi kepuasan kepada kami. Kami pun segera bersiap pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Kami pun segera beranjak pulang dari tempat itu, cuaca nampak semakin mendung dan udara juga semakin terasa dingin. Dengan derap langkah yang tenang, kami kembali di kejutkan dengan sekawanan monyet gunung yang berlompatan, berderap teratur menuruni sebuah batang pohon, dengan jumlah mereka yang cukup banyak. Nampaknya mereka terasa terganggu ketenangannya karena kehadiran manusia di habitatnya. Kami pun segera beranjak dari tempat itu untuk meneruskan langkah kami pulang. Sungguh kelestarian alam yang indah di sekeliling kami, membuat semangat kami untuk terus berkarya demi menjaga keseimbangan kehidupan makhluk di bumi yang kita singgahi ini. Gerimis menyambut ketika kami mulai mengendarai sepeda motor, seakan ia mengajak kami untuk segera meninggalkan tempat ini. Dengan perasaan puas kami beranjak menuruni bukit dengan jalan batu yang semakin licin karena guyuran gerimis. Sejenak perjalanan kami sampai juga di pemukiman warga dan jalan terus menurun dan menanjak. Sampai kami menemui sebuah warung kecil untuk kami putuskan berteduh sejenak dan menyeduh secangkir kopi mengobati dingin dan lelah kami, juga bermaksud untuk mencari beberapa data lain tentang air terjun tadi. Penjaga warung yang sebut saja Bu Ranti, mulai akrab dengan percakapan kami. Tapi beliau tak banyak bercerita tentang air terjun Setapak, beliau hanya mengatakan bahwa air terjun tersebut sudah lama ditemukan, mungkin sekitar empat tahun yang lalu atau lebih, ia lupa. Dia hanya menyesalkan, karena sebenarnya sudah lama perangkat desa setempat menjanjikan untuk membangun tepat ini menjadi sebuah obyek wisata yang resmi, namun realita yang ia resahkan sampai sekarang tak ada sedikit pun tanda-tanda pembangunan yang pemerintah lakukan. “Alah, ya sudahlah mas, terserah kemauan mereka!” sahutnya pasrah. Hanya itu yang terakhir ia sampaikan dan kemudian berlalu ke belakang melanjutkan aktifitasnya. Secangkir kopi telah habis bersamaan dengan hujan yang mulai reda. Kami pun beranjak dari warung tersebut, melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang kami ini ada niatan untuk menemui seorang narasumber lain bernama Sutris, dimana masyarakat sekitar menyebutnya sebagai salah seorang yang tahu sejarah dan cerita tentang air terjun tersebut. Namun sekali lagi kami kesulitan menemui orang tersebut meski untuk bertanya-tanya saja. Akhirnya kami pun pulang dan membiarkan kisah Air Terjun Setapak ini menjadi sebuah misteri, dan kalanya nanti dapat menuntun kami untuk kembali mengunjunginya. Sungguh pesona sudut Ponorogo yang tak akan kami lupakan dan semoga ia akan terus terjaga.*** el_fa. crew, NIC: 1910. 083/ 069

Wacana penutupan bisnis prostitusi selalu didengungkan, namun pembahasan mengenai hal itu sejak dulu hingga sekarang tidak pernah berujung. Baik pembahasan Undang-undang, peraturan daerah, ataupun oleh masyarakat sendiri dalam upaya menemukan solusi yang tepat, setidaknya untuk mengurangi praktek prostitusi tersebut.

ada 6 orang PSK yang dikirim untuk pelatihan di Jenangan, dengan harapan mereka bisa sadar dan segera keluar dari pekerjaan sekarang”, tutur Verry. Namun, hal itu agaknya kurang mempan untuk membuat mereka jera dari pekerjaan tersebut. mereka tetap saja kembali menjalani rutinitas mereka, bekerja di lokalisasi. Ketika kami menyambangi kompleks lokalisasi Kedung Banteng (03/03/12), suasana di sana masih tenang, tanpa ada kekhawatiran penutupan. Bahkan, ketika kami konfirmasi tentang issu penutupan lokalisasi tersebut mereka mengaku belum mendapatkan informasi secara khusus dari Pemerintah. Berita itu justru datang dari radio yang masih sempat mereka dengarkan di sela-sela waktu mereka di lokalisasi, juga dari beberapa wartawan media cetak yang mencari kebenaran berita tersebut pada mereka. “Belum mbak, dereng wonten omongan saking pemerintah, nek ajeng dipindah kulo nggeh manut mawon, lha pripun maleh, seng penting wonten ganti rugine, nek menurut perjanjian kolo niko nggeh mboten ajeng dipindah maleh, tapi pejabat sakniki kan pun gantos bolak-balik”, tutur tetua lokalisasi. Menurut pengakuannya, memang perjanjian dahulu ketika pindah dari lokalisasi Ronowijayan, mereka tidak akan dipindahkan lagi. Namun, peraturan itu pun tak pernah dilegalkan, kapan pun pihak pembuat kebijakan melancarkan wewenangnya, maka tak dapat diayal lagi, mereka tetap akan tergusur. Dua orang PSK yang berhasil al-Millah wawancarai pun mengatakan hal yang sama. Mereka siap jika sewaktu-waktu lokali-

sasi itu pun ditutup, dengan beberapa catatan penting bahwa mereka akan diberikan pekerjaan yang mumpuni untuk kehidupan mereka dan keluarganya. “Kami di sini bekerja untuk menghidupi anak mbak, anak saya tiga, suami saya selingkuh, kami bercerai, nyari kerja juga susah, ya akhirnya kami kerja seperti ini”, keluh Noni (nama samaran), salah seorang PSK. Mereka pun sadar, tidak ingin selamanya bekerja sebagai orang yang dilabeli masyarakat sebagai penyakit masyarakat, ada saatnya mereka ingin kembali hidup normal, dengan pekerjaan yang mulia.

Upaya Bersama Menutup Lokalisasi

Upaya yang tepat untuk menutup lokalisasi di Ponorogo memang masih mengalami jalan buntu, namun bukan hal mustahil jika penutupan itu akan terealisasi. Pemerintah dengan segala kekuasaannya bisa memutuskan kebijakan, bisa mengatur kembali regulasi tentang pendirian lokalisasi ini dengan sikap yang lebih arif dan bijaksana. Lembaga-lembaga yang terkait dalam pendampingan pun harus tegas memprogram rencana tindak lanjut dengan lebih efektif, agar para PSK ataupun mucikari yang mereka berikan pelatihan bisa kembali ke jalan kehidupan normal. Mereka dibimbing untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan mendampingi mereka hingga benar-benar terlepas dari jeratan bisnis prostitusi. Alangkah lebih baik pula jika dari Mahasiswa dan warga masyarakat Ponorogo mau melibatkan diri mengadakan kegiatan kemasyarakatan di lokalisasi

al-millah. DOC

70 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 15

Bahasan Utama
tersebut. Contohnya saja, mengadakan pengajian atau program-program religi lainnya. Karena dari pengakuan tetua lokalisasi tersebut, para pengurus sudah memberikan izin jika di lokalisasi tersebut dibangun mushola sebagai tempat ibadah mereka. “Riyen ajeng dibangun mushola kalian salah satu pengasuh pondok modern Ponorogo, namung rencang-rencang mboten setuju, nek sakniki pun angsal, tapi dereng wonten dana”, tutur Paino, mengakhiri wawancaranya dengan crew al-Millah. tokoh agama pun mempunyai andil yang sangat besar dalam pengambilan keputusan tersebut. Selanjutnya, jika kemudian lokalisasi sebagai tempat bekerja WTS ditutup, apakah yang akan mereka lakukan ketika sudah tidak praktek seperti itu lagi? Apakah rencana penutupan lokalisasi ini benar-benar akan dilakukan Pemerintah? Jika benar, sudahkan ada persiapan dari pemerintah untuk mengantisipasi dampaknya? Wacana penutupan bisnis prostitusi selalu didengungkan, namun pembahasan mengenai hal itu sejak dulu hingga sekarang tidak pernah berujung. *** Baik pembahasan Undang-undang, peraturan daerah, ataupun oleh masyarakat sendiri dalam upaya menSURABAYA, KOMPAS.com — Pemerin- emukan solusi yang tepat, setidaknya untuk mengutah Provinsi Jawa Timur bersrangi praktek prostitusi terseama ulama dan DPRD menanProstitusi atau biasa but. Dalam hal ini setidaknya datangani deklarasi sebagai semua manusia menyadari perwujudan tekad menutup lobahwa ada suatu bagian didisebut pel­acuran kalisasi atau prostitusi di daekehidupan berjalan denkini dipandang seb- manaberbagai konsekwensinrah ini tanpa merelokasi. Dalam gan keterangan pers yang diteriagai hal­ yang biasa. ya. Seperti halnya prostitusi, ma Kompas di Surabaya, Minberbagai pro dan kontra terJika dul­u prostitusi jadi setiap kali ada pembaggu (20/11/2011), Gubernur Soekarwo telah menandatanumumnya berada di hasan terkait hal ini, akan tetagani deklarasi tersebut bersama pi hal tersebut tidak lepas dari kota-kota besar dan kepentingan berbagai pihak, wakil dari DPRD Provinsi Jatim, Ketua Umum Majelis Ulama Inmerasa diuntungkan atau dirujuga untuk orangdonesia (MUI) KH Abdusshogikan. mad Buchori, Wakil Bupati Mo- orang besar, kini juga jokerto Choirun Nisa, wakil dari SEKILAS TENTANG semakin merambah Pemerintah Kota/ Kabupaten sePROSTITUSI DAN LOKAke wil­ayah terpenJatim. LISASI Kutipan tersebut diambil Prostitusi atau biasa cil­ ataupun jauh dari dari media online beberapa wakdisebut pelacuran kini dipantu lalu, yakni terkait isu penu- pantauan Pemerintah. dang sebagai hal yang biasa. tupan lokalisasi khususnya di Jika dulu prostitusi umumnya wilayah Jawa Timur. Akhir-akhberada di kota-kota besar dan juga untuk orang-orang ir ini muncul kabar bahwa Gubernur Jawa Timur telah besar, kini juga semakin merambah ke wilayah terpenmenyebarkan surat instruksi penutupan seluruh loka- cil ataupun jauh dari pantauan Pemerintah. Fenomelisasi di Jawa Timur. Ketika sebelumnya masyara- na ini sebenarnya bukan hal baru, karena prostitusi kat hanya mendengarnya sebagai isu, agaknya kini sudah ada sejak zaman lampau, hanya saja di era kini hampir menjadi kenyataan. Kabar ini mungkin saja dikontroversikan kembali keberadaannya. dikategorikan dengan kabar baik bagi mereka yang Kini, hampir di setiap daerah atau kabupaten kontra terhadap praktek prostitusi, namun bisa juga terdapat kawasan yang biasa digunakan untuk haldikatakan sebagai kabar buruk bagi orang-orang yang hal semacam itu. Bahkan kota atau daerah yang dimenjadikannya sebagai sumber pencaharian. Pemer- beri suatu label kehormatan karena tingkat religiusiintah mungkin sudah sejak lama merencanakan penu- tas masyarakatnya yang tinggi, tetap saja masih ada tupan lokalisasi tersebut, hanya saja baru saat ini ada bagian tempat yang biasa digunakan untuk praktek sedikit keberanian lebih, dan diharapkan ada upaya prostitusi. Namun, tidak dipungkiri bahwa prostitusi untuk memberikan solusi pasca penutupan nanti. Para atau pelacuran merupakan salah satu jenis ‘pekerjaan’ terjal yang menurun ini. Beberapa dari kami saling membantu untuk menyusuri jalan yang lebih curam, dan sebagian lagi sesekali berhenti untuk sekedar menarik nafas dan melanjutkan lagi penelusuran kami. Tak terbayang di benak kami air yang segar dan jernih dari air terjun yang kami bayangkan, yang terselip dalam hati tinggallah rasa penasaran dan bertanya-tanya. Akankah dua kali penelusuran kami berujung sia-sia tanpa hasil dan bukti dari adanya air terjun itu. Lebih dari satu jam kami menuruni bukit, dan sampailah kami di awal perjalanan untuk memilih jalur di pemberangkatan tadi. Seluruh crew kemudian melemaskan kaki dan sendi-sendi yang mulai terasa pegal, kami berhenti cukup lama di tempat tersebut. Kami silih berganti meminum bekal air yang tinggal tersisa setengah botol. Setelah beristirahat beberapa saat, dengan kami lanjutkan menyusuri jalan yang telah dilalui minggu lalu. Jalur ini terbilang memang lumayan dekat untuk sampai di jalan yang buntu yang pernah kami temui. Namun, dari pengakuan dan penjelasan pemuda pencari burung di puncak tadi, memang jalur inilah yang harus kami lalui untuk mencapai air terjun setapak yang kami cari. Dalam 15 menit, di depan sana sudah nampak semak belukar yang menjulang di sudut pandangan kami, dan di celah rimbunan daun di atas sana nampak jelas sebuah aliran air dari ketinggian yang membuat kami semakin penasaran. Penasaran kami pun sedikit demi sedikit mulai terjawab ketika sampai di sebuah batang pohon besar yang tumbang. Semak di hadapan sana sudah terbuka sebuah jalan setapak baru, yang di sana penuh dengan bekas-bekas tebangan atau pangkasan yang belum lama di lakukan, karena bekas yang masih basah dan belum kering. Kami menerka ini baru dilakukan sehari dua hari yang lalu. Kami saling tatap dan tersenyum kemudian melompat dengan langkah yang semakin cepat dan pacuan detak jantung yang berdebar dengan ambisi yang sebentar lagi terjawab oleh sebuah kepuasan. Jalan mulai agak menanjak sedikit, dan di balik sebuah batu nampak deretan putih bersih jatuh dari atas bebatuan padas dan dengan aroma air pegunungan yang segar terbawa desusan angin. Saat itulah, kami menemukan “Air Terjun Setapak” yang kami buru sejak dua pekan terakhir. Teriakan tiga kawan kami terpecah, saat kami berdiri tepat di hadapan hembusan lembab bulir-bulir air di percikan air terjun yang terbawa oleh semilir angin. Kami menemukannya!. Dalam hati sungguh terasa lega mengingat perjalanan yang tak bisa dibilang mudah. Teriakan kami terus berdenting di dinding tebing setelah kami merasakan segarnya air terjun membasai badan kami. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan dalam kehidupan kami untuk mendapatkan sebuah bukti dan data dari keindahan tersembunyi ini. Cukup lama kami menikmati tempat yang eksotis ini. Suasana yang sangat menyegarkan, tenang dan cukup bagi kami resapi sebagai sejenak peristirahatan dari kepenatan aktifitas kuliah yang terus menyibukkan kami. Air yang jernih mengucur

al-millah. DOC

Jalan mulai agak menanjak sedikit, dan di balik sebuah batu nampak deretan putih bersih jatuh dari atas bebatuan padas dan dengan aroma air pegunungan yang segar terbawa desusan angin. Saat itulah, kami menemukan “Air Terjun Setapak”
aL-Millah edisi 27/ 2012 69

16 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

Bahasan Utama
*** Dengan data yang cukup kami melanjutkan pencarian kami setelah satu minggu yang lalu nihil. Kami berangkat lebih pagi dari minggu lalu, dengan membawa beberapa perbekalan yang cukup dan kami pun tiba di pos pemberhentian pertama tepat pada pukul 10.00 WIB pagi. Langsung saja perjalanan kami luncurkan menyusuri jalan setapak sampai menyeberangi sungai dan sampai di cabang jalan yang kami temui saat perjalanan pulang kemarin. Dengan pertimbangan informasi yang kami dapat terakhir bahwa jalan masih cukup jauh maka melalui jalan tersebut penuh dengan perjuangan. Tingkat kemiringan jalan yang curam, menuntut kami berjalan dengan menggunakan bantuan akarakar dan ranting pohon yang ada. Perjalanan di rute ini tetap sama, miring dan licin karena guyuran hujan dan embun yang masih enggan beranjak dari dedaunan. Setelah satu jam perjalanan sampailah kami di tempat yang cukup landai namun terkesan semakin sunyi karena tempat ini tepat di tengah hutan dengan pohon-pohon berlumut dan hawa yang lembab. Melihat sekeliling nampaknya kami berada di puncak bukit, namun hutan selebat ini tetaplah membingungkan arah kami. Perjalanan terasa lebih cepat karena dengan membawa semangat baru setelah keputus asaan kemarin, dan jalan yang kami lalui pun terasa semakin meyakinkan karena terdapat beberapa bungkus roti dan pastinya ini bekas wisatawan yang datang. Semangat kami pun semakin berpacu dengan menelusuri jalan setapak yang juga nampaknya sering dilalui oleh manusia. Di puncak tersebut juga kami temukan beberapa gubuk kecil terbuat dari batang-batang kayu dan beratap dedaunan yang tak kami ketahui namanya. Kami semakin yakin dengan perjalanan kali ini, namun di sisi lain jalan semakin banyak bercabang, sekali dua kali kami tersasar ke bibir tebing karena medan yang belum kami kuasai. Beberapa saat kami beristirahat sambil menikmati keadaan sekelilling, banyak pohon tumbang dan beberapa ekor burung yang mati di atas batang pepohonan, namun lagi-lagi pacet lebih banyak yang bersarang di kaki kami. Penelusuran semakin jauh, keadaan hutan semakin lebat, seluruh crew terus saja berjalan dengan harapan menemukan air terjun yang kami harap-harapkan. Hampir satu jam setengah perjalanan kami di tengah hutan ini, sampai salah satu dari crew kami yang berada di depan rombongan tiba-tiba berhenti mendadak. Semua crew terkejut karena kami menemui dua pemuda desa yang mereka pun juga sama-sama terkejut karena melihat kami. Ternyata mereka sedang berburu burung di hutan ini. Salah satu dari mereka memulai obrolan dengan logat jawa. Ia bertanya “Arep nandi ki donan ?”, (akan ke mana kalian semua?). Kami pun menjawab “Bade ten air terjun mas”. (akan ke air terjun, mas). Mereka pun memberi tahu bahwa kami sudah melewati daerah Air terjun itu jauh di bawah sana tadi dan bukan menuju arah ini. Dia menjelaskan bahwa sewaktu kami memilih jalur ke atas, jalur ke arah air terjun ialah menuju ke arah yang lurus bukan berbelok ke atas. Kami saling pandang dan terdiam, sang pemuda lalu menyeletuk “Nek sampean terus wae, mboh lho mengko teko endi”. ( Kalau kamu terus jalan ke atas, aku gak tahu nanti sampai mana). Dengan perasaan lelah bercampur bingung, kami bergegas untuk berbalik arah turun dari puncak bukit ini. Perjalanan kami kemudian semakin riuh karena kami terus berdebat dengan argumen masing-masing karena jalur yang diberitahukan dua pemuda tadi sudah kami lalui kemarin dan berujung buntu. Mengherankan memang, namun dengan semangat dan rasa penasaran kami, satu jam perjalanan turun tetap harus kami nikmati. Keterkejutan kami terulang kembali, karena tibatiba di arah kanan kami yang terbilang dekat dari jarak pandang nampak dua ekor lutung berlompatan dari satu dahan ke dahan lain dengan lincah menjauh dari jarak kami. Penelusuran kami berlanjut, dengan gurauan dan celotehan yang terus kami lantangkan demi menjaga semangat kami. Hutan ini sungguh memukau di pandangan kami. Bagaimana tidak, di tengah Ponorogo yang semakin panas dengan penuh sesak gedung dan bangunan juga bisingnya lalu lalang kendaraan, masih menyimpan keelokan dan kealamian hutan dengan hewan-hewan yang masih memadati hutan. Meski kami terkadang membayangkan bagaimana agar hutan ini tetap lestari dan terjaga dari tangantangan jahil manusia yang tak bertanggung jawab. Hutan yang merupakan penunjang nafas kita sepantasnya kita jaga demi kelangsungan kehidupan anak cucu kita nanti. Jalan terus menurun, entah kami setengah lupa dan ingat akan sampai mana ujung dari jalan yang bukan hanya ada di negara-negara maju, tetapi di negara-negara yang sedang mulai berkembang pun juga semakin banyak dan mudah dijumpai. Menurut mereka, hanya dengan menjual jasa di bidang itulah yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup. Cibiran atau hinaan masyarakat tidak juga menghentikan pekerjaan tersebut yang mempunyai berbagai alasan, karena sebagian Wanita Tuna Susila (WTS) melakukan pekerjaan ini tidak secara sukarela atau bahkan demi kesenangan semata. Tidak sedikit dari mereka yang mengaku karena takut diancam dan dipaksa seseorang yang ingin mengambil keuntungan, atau bahkan karena keterpaksaan yang timbul karena lemahnya kondisi ekonomi keluarga yang tak kunjung mendapatkan solusi. Pekerjaan semacam ini bukan tanpa resiko. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengidap penyakit mematikan seperti HIV/ AIDS, dan banyak pula yang tertular penyakit berbahaya lainnya. Mereka juga harus bersiap-siap untuk diasingkan oleh masyarakat sekitar mereka. Sementara banyak orang yang mengutuknya, namun tidak mampu dan berani memberi tawaran solusi tepat, selain hanya menghujat. Terlebih untuk praktek prostitusi yang terkesan dilegalkan oleh pemerintah, misal berada di suatu lokalisasi. Keberadaan lokalisasi yang bertujuan untuk menertibkan praktek tersebut, tidak kemudian mengurangi praktek prostitusi liar yang sering dijumpai di jalanan atau tempat-tempat tertentu dengan nuansa “remangremang”. Keberadaan lokalisasi justru memudahkan mereka yang menginginkan adanya hubungan tanpa melewati jalur pernikahan. Tarif yang diberikan juga tidak seperti tarif mereka yang memakai cara panggilan, mulai dari 50 ribu hingga ratusan ribu. Hal itu menyebabkan banyak orang berdatangan menginginkan kesenangan yang bisa didapatkan dengan mudah dan murah tanpa harus memenuhi tanggungjawab setelahnya. Masyarakat mungkin masih asing dengan istilah prostitusi, akan tetapi sudah tidak asing dengan istilah pelacuran. Istilah prostitusi sendiri memang bukan bahasa asli Indonesia. Kata prostitusi berasal dari bahasa latin pro-situere yang berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan persundalan, pencabulan. Sedangkan prostitue dikenal dengan istilah wanita tuna susila (WTS) dan Souteneur dikenal dengan germo atau mucikari adalah orang yang menyediakan, mengadakan atau turut serta mengadakan, membiayai, menyewakan, membuka dan memimpin serta mengatur tempat prostitusi tersebut. Dunia prostitusi sebenarnya tidak melulu berkaitan dengan para wanita pekerjanya, akan tetapi ada banyak hal yang terhubung di dalamnya. Artinya, ada pihak yang sebenarnya sangat berperan penting dan bisa dikatakan paling berpengaruh dengan adanya praktek ini. Pertama adalah keluarga. Sebagian besar wanita pekerja seks (WTS) tersebut adalah wanita yang pergi dari daerah asal mereka dengan niat ingin bekerja, apapun itu. Karena merasa tidak memiliki keahlian yang memadai maka mereka memilih jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan dengan mudah. Bahkan, pekerjaan yang mereka lakukan tersebut kebanyakan tidak diketahui oleh anggota keluarga mereka, sehingga peran keluarga dalam hal pengendalian hal-hal yang buruk kurang bisa dilaksanakan. Rasa malu kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan mereka terkadang muncul saat mereka ditanya tentang keluarga. Namun apa hendak dikata, tingkat ekonomi yang rendah memaksa Doc. Etc mereka untuk melakukan halhal yang tidak sepantasnya dilakukan. Ketidakpuasan terhadap keadaan telah membuat para wanita tersebut menempuh jalan pintas yang dianggap pantas. Ada beberapa wanita pekerja seks yang menurut sebagian orang termasuk ke dalam golongan ekonomi menengah tetapi masih saja memilih jalur prostitusi. Mereka memilihnya karena mereka menginginkan pola hidup mewah dengan cara yang instan. Faktor inilah yang menjadi penyebab terbesar seseorang memilih untuk menjadi pekerja seks. Faktor kedua ialah trauma kekerasan yang dialami seseorang pada masa lalu, bisa jadi kurangnya perhatian dari keluarga, atau merasa diasingkan oleh masyarakat sekitar mereka. Peristiwa yang mereka alami tersebut menyebabkan timbulnya suatu ben-

68 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 17

Bahasan Utama
sus seperti yang terkadang dapat dijumpai di media-media cetak tertentu. Sedangkan wanita pekerja seks yang banyak dijumpai di pinggiran jalan atau tempat umum, masuk ke dalam kategori Street/ Public prostitute. Jenis terakhir adalah unorganized professional prostitute. Pada jenis ini, para pekerja beroperasi di tempat-tempat yang sudah disewanya. Biasanya mereka bekerjasama dengan oknum-oknum tertentu yang bertugas sebagai sopir taksi atau yang lainnya untuk mengantarkan pelanggan di tempat yang sudah disewa tersebut. Sebenarnya masih banyak penggolongan menurut beberapa pakar sosiologi lain. Namun, secara garis besar prostitusi (seperti yang sudah dituliskan di atas) bisa dilakukan secara terang-terangan seperti praktek prostitusi yang berada di lokalisasi dan secara diam-diam atau terselubung seperti di jalan-jalan, tempat umum, atau yang menggunakan panti pijat sebagai kedok. Keberadaan praktek prostitusi sejak dulu diperbincangkan sebagai suatu masalah sosial yang kontroversial. Bahkan, saat Negara sudah memasuki suatu masa dimana peradaban semakin maju, fenomena yang ada sejak zaman dulu ini masih tetap ada meski masyarakatnya kini mengaku sudah berpikir modern.

tuk kekecewaan yang pada akhirnya mereka lari ke dalam hingar bingar dunia malam. Pada awalnya hanya sekedar mencari kesenangan, namun lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan. Ketiga, karena mengalami kelainan seksual atau biasa disebut dengan hypersex, seseorang sulit untuk mengendalikan keinginannya yang terlalu besar sehingga penyaluranya pun juga tidak bisa secara normal seperti layaknya orang biasa. Oleh karena penyebabnya bermacam-macam, maka prostitusi pun bermacam pula jenis dan penggolongannya. Secara umum, prostitusi / pelacuran dibedakan menjadi dua macam, yakni secara terang-terangan dan secara diamdiam. Menurut Walter Reckless, prostitusi dibagi menjadi 4 kategori. Pertama ialah Brothel Prostitute, yakni praktek prostitusi yang diatur oleh seorang mucikari sehingga waktu, tempat, dan harus dengan siapa telah diatur sebelumnya. Praktek seperti ini biasanya dilakukan di lokalisasi yang ada di daerah-daerah tertentu. Jenis yang kedua adalah Call-Girl Prostitute, yakni jenis prostitusi dimana para pekerjanya menerima permintaan melalui nomor-nomor panggilan yang sudah disediakan khu-

Prostitusi atau dalam lingkup agama disebut dengan perzinaan, dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang artinya “dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”.

Arus sungai yang deras mengiringi derap langkah menelusuri jalan yang belum jelas arahnya, yang akhirnya kami pun berpisah dengan sungai itu. Sesekali kami bergurau dan meneliti kaki masing-masing, karena dua orang crew dari kami sempat tergigit pacet, hingga perlu kewaspadaan yang lebih untuk melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang kami telusuri itu berujung kembali di sebuah bibir sungai. Jalan kami lanjutkan dengan menyeberangi sungai, karena sudah tidak ada jejak manusia di sekitar situ. Jalan terhubung kembali setelah sampai di seberang sungai, namun 100 meter dari tepian sungai jalan kami terhenti karena jalan setapak habis. Di sekitar kami hanya ada bekas-bekas balok kayu pembalakan liar. Kami pun kebingungan kemana arah yang selanjutnya, maka kami putuskan untuk beristirahat, menghimpun tenaga sekaligus berembug, ke arah mana selanjutnya. Kesepakatan muncul, perjalanan kami lanjutkan dengan mencoba turun ke sungai, dan mengikuti lawan arus sungai ke atas. Perjalanan semakin terasa berat karena sungai itu penuh bebatuan licin dan lintah yang masih kerap hinggap mengisap darah. Arus semakin deras, sebagian dasar sungai semakin dalam, hingga dua crew kami terpleset dan terjebur hingga basah separuh badan. Ternyata hal itu cukup menyita semangat dan tenaga kami, tetapi tentu saja kami tidak menyerah. Perjalan terhenti untuk kedua kalinya, medan sungai semakin tak mungkin kami lalui lagi. Sungai semakin dalam dan terhalang pepohonan besar yang menghalangi pandangan akibat longsor dan terbawa arus sungai. Kebingungan bertambah, semua crew naik ke tepi sungai dan saling bercakap untuk menentukan kemana arah selanjutnya. Sebagian ada yang memutuskan pulang, sebagian tetap teguh untuk melanjutkan dan mencoba jalur satunya yang telah kami lalui di awal tadi. Akhirnya setelah rembugan yang cukup lama, keputusan kami ambil untuk kembali mencoba jalur yang lain. Semua kembali ke jalur di bibir sungai diawal perjalanan tadi, setelah menelusuri sungai dan semak yang telah kami lalui, kami berharap dapat bertemu salah sorang warga. Tak ada seorang pun yang kami temui meski untuk sekedar bertanya arah, dan kami sepakat menyeberangi sungai dan kemudian menanjak dengan jalur lain yang cukup lebar namun tetap di tengah hutan yang rindang

dan dengan perjalanan yang semakin menantang. Dengan setengah kepenasaran dan semangat yang telah terkuras kurang lebih dua jam tadi, kami telusuri jalan setapak ini demi kepuasan usaha kami. Perbekalan air semakin menipis, dan kami mulai terasa letih, namun hal yang kami resahkan sejak tadi terulang kembali. Lagi-lagi jalan yang kami tapaki menemui jalan buntu, semak yang menjulang di hadapan kami mencapi ketiggian sejengkal tepat di ubun-ubun kami. Semua crew putus asa, karena sudah tak mungkin lagi perjalanan ini dilanjutkan. Namun salah seorang dari kami menemukan di ujung pandangan jauh di tepian semak, aliran air yang cukup tinggi tertutupi oleh ranting-ranting pepohonan. Keyakinan kami semakin di permainkan, dengan jalan yang tak munggkin namun, bisa jadi memang itu tempat yang kami tuju. Beberapa saat kami berhenti di tempat tersebut, seluruh crew mencoba mencari jalan di setiap celah semak belukar, hasilnya pun nihil. Di atas sebuah batang pohon besar yang roboh kami berpijak dan dengan sebuah tongkat kami mengukur kedalaman hadapan kami, sekali lagi ternyata di hadapan kami tak mungkin di lalui lagi. Keputus asaan kami memuncak dan kami sepakat untuk kembali pulang dan mencari informasi yang lebih valid tentang keberadaan air terjun tersebut. Kami pun bergegas pulang karena sudah hampir 4 jam kami dibingungkan di hutan ini, meski selama perjalanan pulang kami menemukan kembali jalan yang bercabang lain, namun kami tetap memutuskan untuk mencari data yang lebih akurat untuk nanti kembali lagi menelusurinya. Selama hampir satu minggu setelah penelusuran yang tak berujung memberikan hasil kemarin, bersama crew kami mengumpulkan kembali data-data dari teman-teman sekitar juga beberapa nara sumber. Mereka memberikan arahan bahwa memang jalan yang kami lalui benar. Jalur yang mereka berikan sesuai dengan jalan yang kami lalui terakhir seminggu yang lalu “mengikuti setapak, kemudian menyeberangi sungai lalu menanjak dan turun dengan jarak yang cukup jauh” kata mereka. Namun jika kami pikir ulang rasanya tak mungkin karena jalan terakhir sudah jelas kami lalui itu buntu dan tak mungkin dilalui. Kami perlu beberapa kali melakukan rapat perundingan, demi memutuskan perjalanan yang lebih jelas dan berhasil menemukan tempat tersebut.

Doc. Etc

18 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 67

Bahasan Utama

Hutan ini sungguh memukau di pandangan kami. Bagaimana tidak, di tengah Ponorogo yang semakin panas dengan penuh sesak gedung dan bangunan juga bisingnya lalu lalang kendaraan, masih menyimpan keelokan dan kealamian hutan dengan hewan-hewan yang masih memadati hutan.

al-millah. DOC

sekitar 1 jam perjalanan dari kampus menuju ke desa Banaran tersebut. Kami menemui salah seorang perangkat desa di daerah tersebut yang memberikan sedikit pertimbangan bahwa daerah itu masih merupakan hutan lebat dan baru dijamah oleh para petani sekitar. Dengan penjelasan tersebut kami justru semakin tertarik untuk mengungkap keberadaan air terjun tersebut, kami pun bergegas menuju ke tempat tujuan sebelum hujan turun. Saat awal masuk ke daerah Banaran jalanan terbilang cukup bagus dengan aspal yang belum banyak mengalami kerusakan, namun ketika sampai di ujung pemukiman, jalanan mulai berubah menjadi jalanan berbatu yang cukup terjal. Kami sepakat untuk bertanya pada seorang warga yang kebetulan berada di dekat kami, bapak-bapak yang sedang duduk itu, mengatakan bahwa jalan ke arah air terjun masih cukup jauh dengan menelusuri jalan berbatu tersebut. Maka perjalanan kami lanjutkan, dengan cukup memacu jantung dan keberanian untuk mengendrai sepeda motor kami. Jalan berbatu dengan tanjakan yang licin karena sisa hujan semalam berhasil kami lalui. Rasa lelah terasa berkurang dengan sambutan senyum ramah para warga yang baru pulang merumput, juga hamparan pohon pinus yang menjulang di sekeliling pandangan kami. Keheningan alam yang masih alami itu benar-benar mendamaikan, karena tak ada suara bising klasond juga asap knalpot kesana-kemari. Semuanya terasa masih benarbenar alami. Kicauan burung dan sahutan beberapa hewan hutan yang cukup asing di telinga kami

silih berganti di atas sana. Kemudian sebuah pelakat penunjuk arah bertuliskan “Air Terjun Setapak: 1 Km.” menarik perhatian kami. Lalu kami parkirkan motor di sebuah gubuk yang warga sebut dengan Pos Getah, karena kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Langkah kami mulai berayun memasuki hutan yang berada tepat di lereng bukit yang masih merupakan olahan Perhutani, dengan tanaman pinus yang sedang di sadap getahnya sebagai bahan terpentin (campuran cat). Setelah sekitar 500 meter kami menapaki jalan, terlihat ada jalur yang terhubung dengan lereng bukit yang lain, dan jalur perjalanan kami mulai membentuk jalan setapak yang hampir tertutup semak belukar. Kemungkinan memang daerah ini sudah lama tidak terjamah lagi oleh manusia atau memang karena kelembaban dan curah hujan yang tinggi, semak-semak ini smakin cepat merimbun, sehingga menutupi badan jalan setapak. Satu jam perjalanan kami dari Pos Getah, kami sampai di sebuah bibir sungai yang beraliran cukup deras dengan air yang jernih. Informasi yang kurang akurat kami kumpulkan membuat kami di tempat ini kebingungan karena jalan di bibir sungai ini bercabang dua arah. Dengan bergagai pertimbangan, akhirnya kami pun sepakat untuk melanjutkan penelusuran jalur yang ke arah kiri, bukan kanan yang menyeberangi sungai. Kami terus menelusuri jalan di tepian sungai yang lembab dan becek, namun masih dengan hiasan jalan setapak yang rimbun dengan semak belukar dan akarakar pohon yang nampak subur.

Orangorang yang mengadakan praktek prostitusilah (mucikari) yang dikenai tindak pidana penjara. Sedangkan para pekerjanya biasanya mendapat pengarahan atau diberikan pelatihan keterampilan untuk usaha dalam bidang perekonomian yang lain.

Pandangan Agama, Hukum, dan Sosial terhadap praktek prostitusi

Prostitusi atau dalam lingkup agama disebut dengan perzinaan, dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang artinya “dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. Jelas tertulis bahwasannya tidak diperkenankan melakukan perzinaan dengan alasan apapun, apalagi sampai menjadikannya sebagai pekerjaan yang merupakan rutinitas dan tuntutan. Dalam ayat tersebut, melarang siapapun yang terlibat dalam praktek prostitusi tersebut, yakni wanita pekerjanya, mucikarinya, serta orang-orang yang memanfaatkan adanya praktek prostitusi untuk mencari keuntungan. Berdasarkan dasar hukum Negara yang tertera dalam KUHP, praktek prostitusi bisa saja dikenai tidak hanya satu jenis tindak pidana. Praktek prostitusi bisa saja berkaitan dengan tindak pidana perdagangan orang seperti dalam pasal 297 KUHP, eksploitasi anak jika yang dipekerjakan masih di bawah lima belas tahun maka dikenakan pasal 287, 294, 295, dan 297 KUHP. Selain dalam KUHP ada UU nomor 21 tahun 2007 dan UU nomor 15 tahun 2002 yang juga mengatur tentang tindak pelanggaran prostitusi. Pada pasal 296 dan 506 KUHP adalah yang paling banyak menjadi perhatian dalam kasus prostitusi ini. Pasal 296 KUHP berbunyi “Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana

penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah”. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa seseorang yang dalam pengertian memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain atau bisa dikatakan sebagai seseorang yang menyewakan kamar atau menyediakan tempat untuk praktek prostitusi dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan dan telah terjadi secara berulang-ulang bisa dikenai tindak pidana tersebut. Sedangkan pasal 506 KUHP yang mengatur tentang hal yang sama bunyinya “Barang siapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai pencarian, diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun”. Dalam pasal ini, yang dikenai tindak pidana adalah mucikari yang mencari keuntungan dengan mempekerjakan seorang wanita sehingga mucikari menerima uang dari hasil perbuatan wanita tersebut. Dalam KUHP, tidak ada pasal khusus yang mengatur tentang larangan menjadi pekerja seks. Artinya, orang-orang yang men-

Doc. Etc

66 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 19

Bahasan Utama
gadakan praktek prostitusilah (mucikari) yang dikenai tindak pidana penjara. Sedangkan para pekerjanya biasanya mendapat pengarahan atau diberikan pelatihan keterampilan untuk usaha dalam bidang perekonomian yang lain. Berbagai pro kontra juga timbul dari kalangan masyarakat sekitar. Ada yang merasa terganggu dan tidak nyaman dengan adanya praktek prostitusi. Terlebih masyarakat yang mungkin dekat dengan lokalisasi atau daerah pinggiran jalan yang sering dijadikan pangkalan para pekerja tersebut. Namun, sekilas masyarakat perlu melihat dari sisi lain pula, bahwasannya ketidaknyamanan mungkin juga sering dirasakan oleh para wanita pekerja seks tersebut. Banyak orang menganalogikan bahwa fenomena prostitusi diibaratkan selokan yang hampir ada di setiap rumah, mulai dari rumah yang biasa saja hingga rumah mewah bahkan istana. Bisa dibayangkan, jika suatu rumah tidak
Doc. Etc

dilengkapi dengan selokan maka aliran air kotor yang seharusnya dibuang melalui selokan tidak akan tersalurkan dengan baik. Sehingga suasana rumah yang seharusnya nyaman menjadi tidak nyaman karena hal-hal yang kotor masih tertampung di dalam rumah. Begitu pula dalam kehidupan masyarakat, prostitusi dianggap sebagai hal yang kotor dan sangat mengganggu, sehingga perlu adanya tempat yang digunakan sebagai sarana yang tepat untuk menyalurkannya. Misalnya, jika tidak ada lokalisasi maka bisa dibayangkan bahwa orang-orang yang kurang bertanggungjawab akan memanfaatkan tempat dimana saja untuk menyalurkan hasrat mereka. Kehidupan masyarakat lain juga menjadi terganggu dan akan merasa tidak aman. Namun tepatkah analogi tersebut? Rencana penutupan lokalisasi khususnya di wilayah Jawa Timur menimbulkan banyak pertanyaan bukan hanya dari kalangan masyarakat yang terlibat secara langsung, akan tetapi juga dari masyarakat umum. Seberapa jauh pemerintah telah menyiapkan solusi dalam menghadapi eksekusi itu nantinya. Prostitusi tidak kemudian hanya dipandang dari satu sisi saja. Akan terasa lengkap apabila tidak hanya berseru haram karena berdasar pada ayat al-Qur’an dan berteriak dilarang karena berlandaskan pasal-pasal, dan bersikap acuh karena memang perbuatan seperti itu termasuk tindakan asusila. Di sisi lain, ada banyak orang yang membutuhkan pekerjaan demi m e m p e r t a h a n kan hidupnya. Sehingga lengkaplah sudah jika solusi ditawarkan dan segera dilaksanakan. Berbagai pertimbangan tentu telah dilakukan sehingga semoga tidak ada kek hawat i ra n lagi akan timbulnya dampak yang lebih buruk.*** Maghfiroh/ Nita . crew NIC:1809. 062/ 064

Penelusuran Air Terjun Setapak, Ponorogo
Keheningan alam yang masih alami itu benar-benar mendamaikan, karena tak ada suara bising klaksond juga asap knalpot kesana-kemari. Semuanya terasa masih benarbenar alami. Kicauan burung dan sahutan beberapa hewan hutan yang cukup asing di telinga kami silih berganti di atas sana.

al-millah. DOC

orotan tipis matahari yang menembus mendung siang itu menemani perjalanan kami ke ujung timur kota Ponorogo, menapaki pesona alam yang tersimpan di sana. Kami menuju ke alam Desa Banaran, Kecamatan Pulung. Berdasar informasi yang telah kami dapatkan, bahwa di sana

S

terdapat sebuah air terjun yang cukup indah dan belum begitu terjamah media, maka kami pun beranjak untuk membuktikan salah satu keelokan alam Ponorogo, yang terbiasa disebut Air Terjun Setapak itu, yang terletak di lereng gunung dan masuk dalam kawasan hutan. Rasa penasaran kami mulai menemukan titik terang setelah

20 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 65

kampus yang masih berstatus sebagai Sekolah Tinggi seharusnya hanya mempunyai satu jurusan saja. Misalnya STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan lain sebagainya. Jika aturan atau undang-undang tersebut sudah diberlakukan, maka kampus Sekolah Tinggi harus mematuhinya.
KPI bisa terjun ke dunia jurnalistik yakni menjadi wartawan baik media cetak atau pun media elektronik. Sehubungan dengan rencana perubahan STAIN menjadi IAIN, Dr. Saifullah M.Ag. selaku Pembantu Ketua I memberikan kejelasan bahwa ketika mengkuti sarasehan bersama DPR RI, yang intinya sedang merumuskan undang-undang tentang perguruan tinggi, di sana dibahas mengenai definisi/ sifat Sekolah Tinggi. Bahwa kampus yang masih ber-

status sebagai Sekolah Tinggi seharusnya hanya mempunyai satu jurusan saja. Misalnya STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan lain sebagainya. Jika aturan atau undang-undang tersebut sudah diberlakukan, maka kampus Sekolah Tinggi harus mematuhinya. Karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut kini STAIN Ponorogo menambah Prodi baru di Jurusan Ushuludin khususnya, dengan harapan ketika aturan tersebut berlaku kampus STAIN Ponorogo memiliki satu prospek kedepan untuk menjadi IAIN, dari Sekolah Tinggi menuju Institute. Di lain pihak, Afifah, salah satu mahasiswa Tafsir Hadits semester 6 memberikan tanggapan yang baik; “Saya mendukung adanya Prodi baru tersebut karena bisa membuka (media) khazanah keilmuan di kampus STAIN Ponorogo”.

Selain itu, Uul, mahasiswa Tadris Inggris semester 4 juga memberikan tanggapan; “saya juga mendukung penambahan prodi baru tersebut tetapi sosialisasinya harus benerbener maksimal agar calon mahasiswa baru mengetahuinya dan program baru tersebut bisa berjalan”. Terangnya. Seperti yang sudah disinggung di awal tadi bahwa penerimaan mahasiswa baru khususnya bagi prodi KPI akan berlangsung cukup ketat yakni selain mengikuti tes tulis bersama juga harus mengikuti tes khusus dari ushuludin sendiri. Ini dimaksudkan untuk memenuhi kursi yang akan mendapatkan beasiswa seperti halnya Tafsir Hadits. Kini sudah ada yang dapat dipastikan mendapatkan beasiswa dari jalur PMDK tinggal sisanya nanti dimaksimalkan dengan tes.*** Zudien crew. Nic: 1910. 079

Kini…. Masyarakat hanyalah budak-budak kehidupan, Masyarakat dipasung dengan kesengsaraan, pemerasan, pembodohan, dan kekejaman. Sedangkan mereka hanya punya suara,,, Suara yang tiada pernah terdengarkan, Karena lidah dan pita suara mereka terlilit keadaan, Keadaan yang begitu sulit dan menyakitkan. Di atas sana… Di antara jajaran gedung bertingkat dan penguasa,, Tampak kepulan kabut hitam dan bercak noda-noda, Itulah gambaran kebohongan dan kepura-puraan. Kekuasaan dijadikan ancaman, Hukum diperjual—belikan….. Kepandaian menjadi kelicikan… Jabatan dijadikan peluang….. Semua itu menjadi kebanggaan, Kebanggaan para pembohong dan tikus-tikus berdasi. Sungguh,,, Negara yang aneh!!! Yang tinggi, merampas, menghisap, membunuh yang lemah. Yang di bawah, takut, tunduk, tersiksa di antara tangisan dan derita, namun mereka hanya bisa diam. Para penguasa hanya meneteskan air mata kebohongan di antara kepahitan rakyatnya, Para penguasa hanya mengulum senyuman palsu, di antara kebahagiaan yang menyesakkan dada. Zaman semakin tua,,, Namun, tiada pula tercium bau harum perubahan. Hingga kini,,,,, Masih banyak anak dilahirkan di atas tanah dan ranjang kesengsaraan... Masih banyak anak dibesarkan dengan peluh keringat, tetesan air mata, dan darah kepiluan,,, Masih banyak rakyat terkatung-katung,, hidup penuh sesak di antara jeratan ekonomi, Yang meradang kehidupan para budak-budak penguasa. Keacuhan para penguasa,,,,,,,,, Melahirkan pengangguran, pengemis, gelandangan, bahkan mungkin jutaan jiwa yang mati kelaparan dan kehausan,,, Lapar dan haus akan kenikmatan dan kebahagiaan hidup.

RA

TA
al-millah. DOC

PA

N

al-millah. DOC

Nur cahyani
al-millah. DOC

64 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 21

BOSDA MADIN, ANTARA SOLUSI DAN MASALAH BARU

Dana Bantuan Diturunkan, Masih Sul­it Dal­am Pel­aporan

ebagai bentuk perhatian terhadap lembaga pendidikan Madrasah Diniyah, yang sebelumnya terkesan dikesampingkan daripada sekolah umum, kini pemerintah bersedia mengucurkan dana bantuan bagi Madrasah Diniyah (Madin) melalui anggaran dana Bantuan Oprasional Sekolah Daerah (BOSDA). Tentunya semua itu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan Islam tersebut, karena bila melihat keadaan Madrasah Diniyah beberapa tahun ke belakang tampak masih kurangnya perhatian dari pemerintah, bahkan tidak tersentuh anggaran dana bantuan sama sekali kepada lembaga-lembaga tersebut. Dana yang diturunkan pun terbilang cukup

S

al-millah. DOC

besar. Untuk tahun 2011 lalu daerah Jawa Timur mendapat suntikan dana BOSDA sebesar Rp. 13,1 Milyar. Sebagaimana yang kami kutip dari harianbhirawa.co.id, bahwa dana sebesar itu akan dialokasikan kepada semua Madin di Jawa Timur, ditanggung oleh pemerintah Provinsi dan kabupaten, yang masingmasing pihak menganggarkan 50% dari dana yang dibutuhkan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Fachrudin, Kasi Peka Pontren Kemenag. Ponorogo, “Dari Pemerintah Provinsi 50% dan dari Kabupaten 50%”, ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/3). Namun, meski dana bantuan ini sungguh membantu, bukan berarti dalam pelaksanaanya tidak menemui kendala. Hal ini juga disampaikan

masih sama seperti cara sebelumnya, yaitu dengan brosurbrosur pada umumnya. Setelah beberapa bulan promosi, ternyata cukup ada peminatnya. Di jalur PMDK nampaknya memiliki tanda-tanda positif. Kini mahasiswa yang sudah terdaftar dari jalur PMDK kurang lebih ada 10 mahasiswa belum nanti yang dari jalur reguler yang diharapkan antusias mahasiswa baru akan lebih tinggi. Sementara itu, informasi dari internal Jurusan Ushuluddin, ternyata kemarin (24/04) baru menentukan Ketua Prodi (Kaprodi ) untuk masing-masing Program Studi. Kaprodi Tafsir Hadits adalah Zahrul Fata, MI. Rk., sedangkan Kaprodi KPI adalah Iswahyudi, M. Fil. Mahasiswa yang masuk program komunikasi ini tidak harus memiliki latar belakang pesantren atau pendidikan agama. Hanya saja ketika pendaftaran selain ada tes tulis, dari ushuludin sendiri akan melakukan tes tentang pengetahuan keagamaan, seperti halnya membaca al-qur’an dan membaca kitab kuning. Ini dilakukan supaya kedepannya bisa lancar ketika mengikuti perkuliahan. Ketika Prodi baru tersebut sudah berjalan maka untuk sarana-sarana penunjang pun akan tahap demi tahap dilengkapi seiring berjalannya waktu, karena perguruan tinggi di bawah naungan pemerintah harus ada mahasiswa

terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Ini berbeda dengan lembaga swasta yang bisa dengan mudah langsung mempersiapkan semuanya sebelum ada mahasiswa. Semisal kurikulum, dosen pengajar, laboratorium dan bukubuku penunjang. Sementara mengenai kurikulum juga diberikan secara bertahap, artinya tidak langsung diberikan materi komunikasi. Mungkin pada semester 1-2 diberikan mata kuliah dasar, 3-4 dilanjutkan materi yang tarafnya lebih tinggi dan 5-6 baru labih fokus ke materi komunikasi dan penyiaran. Terang Ketua Jurusan. Ketika disinggung mengenai dosen pengajar, di jurusan Ushuludin, khususnya untuk Prodi KPI ini terkesan belum disiapkan dengan matang, tetapi Jurusan sudah meminta dosen dari luar sebagai dosen pengajar. Begitu juga untuk buku-buku penunjang pun juga manyusul. Sementara terkait laboratorium KPI, saat kami temui Dr. Munir menjelaskan bahwa radio kampus yang sudah ada itu belum berfungsi secara maksimal. Nantinya radio yang bernama Rasul FM tersebut bisa dikembangkan lagi menjadi media televisi sebagai sarana perwujudan keilmuan. Materi KPI ini berbeda dengan materi komunikasi dan penyiaran umum. Materi komunikasi umum difokuskan pada keilmuan komunikasi dan penyiaran secara

umum saja seperti halnya IT (Information Technology) yang kini semakin hari semakin marak di kalangan masyarakat. Sedangkan komunikasi Islam selain kepentingan tersebut di atas juga untuk kepentingan penyiaran agama yakni dakwah. Dengan penggabungan keduanya diharapkan dalam penyampaian agama lebih mudah dan diterima oleh masyarakat. Karena kini dakwah tidak hanya di mimbar saja, tapi dengan kemampuan IT dapat dijadikan sarana berdakwah yang lebih baik kedepannya untuk perkembangan agama. Salah satu tujuan dari diadakannya Prodi KPI ini adalah menjadikan mahasiswa sebagai generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi penguasaan tehnologi tersebut dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan khususnya penyiaran Islam dakwah kepada masyarakat umum. Selain itu lulusan

al-millah. DOC

tujuan dari diadakannya Prodi KPI ini adalah menjadikan mahasiswa sebagai generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi penguasaan tehnologi tersebut dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan khususnya penyiaran Islam dakwah kepada masyarakat umum. aL-Millah edisi 27/ 2012 63

22 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

SEBAGAI PROGRAM AWAL STAIN MENUJU IAIN
Berbicara soal agama, kini dapat kita lihat miliki minimal dua program study, ungkap Dr. Mudari pemahaman masyarakat terkait agama khusus- nir, ketua Jurusan Ushuludin. Demi meningkatkan nya al-Qur’an dan Hadits maeksistensi kini jurusan UshuDilihat dari sisi hissih sangat kurang. Hanya seludin menambah satu Prodi dikit orang yang mengerti dan toris, dahulu komu- (Program studi) yaitu Ilmu memahaminya secara mendan Penyiaran nikasi memang bagian KomunikasiKPI, yang dibuka dalam. Maka dari itu sangat Islam atau dari Ushuludin sebe- pada tahun ajaran 2012 ini. dibutuhkan orang-orang yang seperti itu dibidang agama. lum akhirnya terpecah Sebenarnya Jurusan Hal ini tercermin dengan Komunikasi sendiri bukan sendiri pada Fakultas ranah Ushuludin, akan tetabanyaknya pusat study yang memperhatikan hal tersebut Dakwah. Melihat dari pi setelah melakukan Studi baik formal atau non-formal. itu STAIN Ponorogo Banding ke berbagai perguDi lembaga formal khususruan tinggi yang lain ternyata juga memasukkanny di sana Jurusan Komunikasi nya seperti perguruan tinggi di Indonesia banyak yang ke Ushuludin. Penam- juga masuk dalam bidang memperhatikan dan mengkaji bahan Prodi ini me- Ushuludin. dari sisi historis, kedua sumber hukum dalam Dilihat mang secara norma- dahulu komunikasi memang Islam tersebut lebih dalam, bukan berarti untuk konsumsi tif adalah kebutuhan bagian dari Ushuludin sebediri sendiri melainkan untuk lum akhirnya terpecah sendiri lembaga untuk menai- pada Fakultas Dakwah. Melikepentingan umat. Melihat hal tersebut kkan reting masa de- hat dari itu STAIN Ponorogo STAIN Ponorogo juga salah juga memasukkannya ke Ushpan lembaga. satu perguruan tinggi yang uludin. Penambahan Prodi sangat berkomitmen dengan ini memang secara normatif study al-Qur’an dan Hadits. Ini terwujud dengan adalah kebutuhan lembaga untuk menaikkan reting adanya jurusan Ushuludin yang di dalamnya ter- masa depan lembaga. Dahulu Ushuludin pernah dapat program study Tafsir Hadits seperti yang menambah Jurusan baru yaitu Filsafat Pemikiran kita ketahui bersama. Seiring berjalannya waktu, Politik Islam pada tahun 2004, namun karena mimau tidak mau nantinya STAIN layaknya harus nat mahasiswa sangat kurang, akhirnya ditiadakan menjadi IAIN, oleh karena itu salah satu syaratnya kembali. adalah masing-masing Fakultas atau Jurusan meSejauh ini, promosi tentang Prodi baru ini

KPI

oleh pengurus Madrasah Miftahul Huda (MMH) Mayak Tonatan Ponorogo, bahwa mereka merasakan adanya kesulitan dalam memenuhi berbagai prosedur dana bantuan ini. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ahmad Hamrofi (Staff Tata Usaha MMH), bahwa kesulitan yang dirasakan adalah dalam hal pelaporan hasil alokasi dana tersebut. “Yang sulit sebenarnya cuma pelaporannya saja ke Dinas Pendidikan, Madin yang lain juga merasakan hal itu”, keluhnya pada kami beberapa waktu lalu. Pernyataan tersebut diperkuat oleh paparan dari rekannya, Muhith Al-Hilmy, bahwa tidak serta-merta laporan yang diajukan langsung diterima oleh Dinas Pendidikan yang menyalurkan dana tersebut ke Madrasah, namun ada instruksi revisi bagi laporan yang belum memenuhi ketentuan, “….Jadi harus benarbenar jelas, dan juga setiap transaksi harus menyertakan kwitansi pembayaran. Itulah yang kami rasa sulit selama ini, karena tidak langsung diterima oleh Dinas Pendidikan”, tuturnya pada kami. Namun untuk Madin Miftahul Huda itu, menurut Hamrofi, sebenaranya bantuan tersebut tidak begitu berpengaruh bagi Madrasah, karena secara materi pihak madrasah masih mampu untuk membiayai segala keperluan oprasional secara mandiri, “Ya sebenarnya nggak ada pengaruh sih ada bantuan atau tidak. Tapi kalau diberi kenapa kita nolak” tuturnya lagi. Hanya saja ia menyayangkan sulitnya proses administrasi laporan kepada Dinas Pendidikan, “Ya cuma itu saja yang kami rasa sulit” imbuhnya. Hal serupa juga dirasakan

oleh Madin Tarbiyatul Athfal Ronowijayan Ponorogo, Hamdan Miftahussurur selaku salah satu pengurusnya mengatakan bahwa hingga saat ini (bulan April, red) untuk LPJ tahun 2011 pun belum selesai penggarapannya. Ia mengatakan hal itu dikarenakan sulitnya proses pelaporan, “Untuk LPJ tahun lalu, sekarang masih dalam proses penyelesaian”, tuturnya saat kami temui di Madin, tempat Ia mengajar. Tahun lalu, kucuran dana untuk semua Madin yang berlokasi di Ronowijayan ini adalah sebesar 32 Juta Rupiah, yang diturunkan setiap semester (6 bulan), namun kadang juga diturunkan untuk dana 1 tahun sekaligus. Seperti untuk tahun 2011 lalu, Hamdan menjelaskan bahwa dana BOSDA Madin tahun 2011 oleh Dinpendik Ponorogo diturunkan sekaligus untuk satu tahun, “Kalau kemarin dananya didobel, jadi yang biasanya tiap semester turun, kemarin untuk satu tahun”, lanjutnya. Kemudian, selain masalah pelaporan, kesulitan lain yang juga dirasakan adalah penggunaan dana bantuan tersebut. Seperti yang telah diungkapkan Hamdan, bahwa dana itu hanya boleh dibelikan alat atau perlengkapan yang berhubungan dengan proses pembelajaran, “Yang sulit lagi itu ya kita nggak boleh beli barangbarang meubeler, jadi hanya boleh dibelikan seperti buku-buku untuk siswa”, paparnya. Padahal selain memerlukan keperluan penunjang belajar, pihaknya juga perlu melakukan pembenahan infrastruktur madrasah. “Pemerintah tidak membolehkan menggunakan dana BOSDA itu untuk keperluan pembangunan fisik madrasah. Padahal kalau dilihat

Dalam hal ini, ada ke­ mungkinan bahwa dana yang telah diberikan itu memang bukan bersi­ fat bantuan bangunan Madrasah, namun murni untuk keper­ luan alat pengajaran. Maka jika demikian, perlu adanya penjelasan dari pihak Dispendik maupun Kemenag ke­ pada Madin.
aL-Millah edisi 27/ 2012 23

62 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

W acana dana BOSDA Madin sendiri sebenarnya sudah dide­ ngungkan mulai tahun 2008 na­ mun baru direalisasikan tahun 2010, yang kala itu masih dikoor­ dinir oleh Propinsi, di bawah kepe­ mimpinan Gubernur Soekarwo. Semua itu bertujuan un­ tuk menyeta­ rakan Madin dengan seko­ lah umum,
24 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

secara fisik madrasah ini sudah waktunya untuk diperbaiki.”, Lanjutnya pada al-Millah kemarin (3/3). Dalam kesempatan lain, Efendi, Kepala Madrasah Tarbiyatul Athfal membenarkan pernyataan dari Hamdan tentang kerumitan tersebut. Dia juga menambahkan bahwa yang menjadi sebab kesulitan laporan itu adalah turunnya Juknis (Petunjuk Teknis) mengenai laporan administrasi dana BOSDA tersebut baru diberikan di akhir tahun ajaran, sehingga Madin merasa kekurangan waktu untuk mempelajarinya, yang mengakibatkan laporan kurang maksimal. ”Yang bikin kesulitan itu adalah karena Juknis baru turun di akhir (tahun pelajaran. red). Seharusnya agak lebih awal, jangan terlalu akhir” terang dia lagi. Selain itu dengan turunnya dana BOSDA untuk waktu satu tahun juga terasa menjadi beban lantaran harus melaporkan dua LPJ dana sekaligus, “Ya lebih baik satu semester sekali akan tetapi Juknisnya juga turun lebih awal, biar kami mudah dalam membuat laporan”, sambungnya lagi. Ia juga menyayangkan ketentuan dari pemerintah yang tidak membolehkan penggunaan dana BOSDA Madin tersebut digunakan untuk membeli keperluan berupa fisik besar, “Saya rasa nggak masalah lah kalau masih digunakan untuk keperluan (bangunan) Madrasah itu sendiri, yang penting kan bukan untuk pribadi kan?”, lanjut dia. Dalam hal ini, ada kemungkinan bahwa dana yang telah diberikan itu memang bukan bersifat bantuan bangunan Madrasah, namun murni untuk keperluan alat pengajaran. Maka jika demikian,

perlu adanya penjelasan dari pihak Dispendik maupun Kemenag kepada Madin. Sementara akibat dari peraturan penggunaan dana yang demikian, akhirnya dana yang tersisa pun cukup banyak, sedangkan Dispendik mengharuskan pada laporan akhir bahwa saldo harus habis, dengan bukti Notanota yang tentunya harus sesuai. Seperti yang dikatakan Hamdan, “Jadi di LPJ nantinya semua dana semua harus nol, pokoknya terserah digunakan untuk beli apa, yang penting dalam laporan ke atasan begitu”. Sekilas tampak terjadi kontradiksi antara peraturan pemerintah dengan fakta di Madin. Lebih lanjut, Khusnul Huda -rekan Hamdan- menerangkan kalaupun dana tersebut digunakan untuk pembelian barang mebel ataupun elektronik itupun tentunya harus yang bersifat menunjang proses KBM di Madin, “Kalau kemarin sudah membeli komputer dan bangku, misalnya, tahun ini sudah nggak boleh (beli lagi, red), harus yang lain”, terangnya pada kami. Bila memperhatikan penuturan Khusnul Huda di atas, tampak sebenarnya ada keinginan dari pemerintah agar ada peningkatan kualitas di Madrasah Diniyah itu sendiri dengan menambah fasilitas dan sarana-prasarana pendidikannya. Namun di sisi lain yang menjadi masalah adalah pemerintah justru menetapkan keperluan apa saja yang harus dipenuhi oleh Madin. Namun walau demikian, Huda mengaku bahwa dengan adanya bantuan dari pemerintah terhadap Madin ini, memberikan suntikan semangat bagi tenaga pengajar. Menanggapi problem yang muncul dari pengucuran dana

untuk para mahasiswa melaksanakan ibadah malahan juga akan dibuatkan sebuah swalayan untuk kebutuhan sehari-hari Mahasiswa, yang kesemua itu rencananya sudah bisa difungsikan tahun 2014. Sementara mengenai penjaringan mahasiswa apakah sudah menguasai kedua bahasa tersebut atau belum, tidak di lakukan serta merta akan tetapi melalui psiko tes. Dengan psikotes akan di ketahui apakah mereka harus masuk Ma’had atau tidak. Kemudian, ketika mahasiswa baru ditunjang dengan fasilitas yang seperti itu, menimbulkan pertanyaan bagaimana dengan mahasiswa semester di atasnya? mungkin akan terjadi kesenjangan, yang harus dipertimbangkan pula oleh akademik. Bapak bertubuh besar ini juga menambahkan bahwa Ma’had tersebut akan diwajibkan untuk ditempati oleh mahasiswa baru selama satu tahun. Hal ini dilakukan agar ketika sudah beranjak ke semester di atasnya akan lebih memudahkan mahasiswa dalam perkuliahan. Bagi mahasiswa yang belum menguasai bahasa arab maupun bahasa inggris diharuskan masuk ke ma’had untuk berproses belajar bahasa di sana. Ma’had yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru itu berjarak kurang lebih 500 meter dari kampus. Hal ini dikarenakan untuk mencari tanah yang luas dan dekat dengan kampus sangat susah. Sementara apabila masyarakat mengetahui bahwa tanahnya yang dekat dengan kampus akan dibeli, maka mereka beranggapan kalau kampus memiliki banyak uang sehingga tanah tersebut di jual dengan harga yang mahal permeternya. Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag. selaku ketua STAIN Pono-

rogo memberikan tanggapan terkait pembangunan Ma’had tersebut, bahwa pembangunan memang bertahap. Artinya gedung yang dibangun satu persatu. Untuk sekarang, diselesaikan gedung asrama putra terlebih dahulu, setelah itu disusul dengan pembangunan gedung asrama putri dan terus dilanjut dengan fasilitas yang lainnya. Wanita nomer satu di kampus hijau ini juga menambahkan; “Bilingual kampus dimaksudkan agar para mahasiswa dapat meningkatkan mutu mahasiswa dalam berbahasa khususnya bahasa arab. Selain itu saya juga ingin mahasiswa baru itu digodok kemampuan bahsa arab dan bahasa inggris, mental, dan keasramaan. Karena kalau sudah digodok dari awal, kan mudah. Apalagi inputnya berbeda-beda mulai dari madrasah aliyah, SMA, dan SMK. Jadi di situ digodok bahasa arabnya yang kurang, masa STAIN bahasa arabnya kurang bisa, syukur nanti sampai membaca kitab kuning itu lebih bagus”. Untuk penempatan mahasiswa baru di asrama, belum jelas ada berapa jumlahnya. Rencananya akan dilihat dulu berapa jumlah mahasiswa barunya nanti, Apabila asrama tersebut tidak mencukupi untuk menampung seluruh mahasiswa, maka kampus akan melakukan kerjasama dengan pondok pesentren untuk ditempa. Memang, Ma’had tersebut dibuat untuk belajar mahasiswa, selain berbahasa juga insyaaallah juga untuk mengkaji kitab-kitab kuning. Tentunya kegiatan tersebut menjadi rutinitasa Mahasiswa di luar jam kuliah dan hari libur. Rencananya juga akan ada pengasuh, baik Ma’had untuk putra maupun untuk putrid. Sekilas kita lihat, memang model pembelajaran ini

mirip seperti di pondok pesantren, sesuai dengan sebutannya, Ma’had yang berarti pesantren. Untuk rencana pendirian Ma’had tersebut, ibu ketua yang dulu pernah menjabat sebagai PK III memberikan penjelasan, sebenarnya asrama itu terinspirasi dari UIN Malang. Di sana sistem tersebut terbukti sukses dilakukan, ini terlihat dengan meningkatnya kualitas bahasa arab mahasiswa. Ini berimbas kepada seluruh ketua IAIN dan STAIN yang ingin meniru sitem belajar tersebut dengan mengajukan proposal permohonan dana untuk asrama kepada pemerintah terkandung maksud agar mahasiswanya juga bisa lebih meningkat kualitas berbahasanya. Mengenai pembangunan yang terhenti, ibu ketua menyangkal hal tersebut, dan memberi penjelasan bahwa pembangunan itu tidak berhenti, akan tetapi memang dana dari pemerintah terbatas, kemungkinan awal Maret dana yang dibekukan sudah bisa dicairkan sehingga pembangunan akan dilanjutkan. Sementara itu, mengenai pendapatan dana dari pemerintah antara UIN, IAIN, dan STAIN tidaklah sama. Artinya dana tersebut didapat harus juga sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan tingkatan lembaga. Untuk UIN jumlah mahasiswanya sangat banyak, misalnya UIN Malang yang jumlah mahasiswanya mencapai 16.000, sehingga lebih diutamakan dengan mendapatkan dana lebih banyak. Sedangkan setingkat STAIN dilihat dari stratifikasinya paling bawah di bawah IAIN dan juga jumlah mahasiswanya lebih sedikit, sekitar 3.000 – 4.000 mahasiswa. Maka dari itu dana yang didapat juga disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah mahasiswa.*** Zudien .crew, NIC: 1910.079

aL-Millah edisi 27/ 2012 61

Billingual Kampus Peningkat Mutu Mahasiswa Bergantung pada Pembangunan Ma’had Mahasiswa
encetak generasi muda yang memiliki keahlian merupakan tujuan dari semua lembaga pendidkan dan masyarakat pada umumnya. Terlebih di era sekarang ini yang semakin maju, sehingga menuntut mereka untuk banyak belajar terutama dalam hal bahasa. Dengan tujuan agar mereka tidak hanya bisa berbahasa daerah mereka sendiri, akan tetapi juga dapat berbahasa asing seperti bahasa inggris sebagai bahasa resmi dunia, dan bahasa arab. Kedua bahasa tersebut sangat di perlukan dalam segala hal ambil saja contoh kecil dalam bidang ilmu pengetahuan, semua buku-buku ilmu pengetahuan dari luar negeri yang berbahasa asing dapat di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia agar mudah di pelajari dan di pahami, selain itu masih banyak manfaat lain dari bahasa. Berbicara masalah bahasa, setiap perguruan tinggi yang memiliki strata tinggi berusaha untuk memperhatikan hal tersebut dengan mengadakan matrikulasi-matrikulasi atau semacam materi khusus bahasa, selain itu juga di sediakan asrama bahasa supaya para mahasiswa lebih bisa mendalaminya. Berangkat dari hal tersebut rupanya kampus kita tercinta yang baru-baru ini di sebut “The Humanis Religius” mulai menerapkan hal tersebut. Ini terbukti dengan di dirikannya sebuah asrama atau bisa di sebut Ma’had, meskipun sebelumnya sudah ada asrama bahasa arab dan juga pusat bahasa yang mengurusi hal tersebut. Mulai tahun kemarin STAIN Ponorogo mulai melaksanakan pembangunan gedung asrama yang bertempat di desa ngembak Siman Ponorogo. Memang di kampus hijau pembangunan fasilitas tidak berhentihenti mulai dari perpustakaan yang sampai sekarang selesai malahan berhenti kemudian disusul dengan pembangunan gedung olahraga (GOR) juga belum difungsikan hingga sekarang. Sekarang ditambah

M

bantuan itu, Syaiful (Mahasiswa Ahwal Syahsiah) menanggapi dingin hal itu. Ia berpendapat bahwa tidak masalah bila hal itu terjadi. Ia berpendapat bahwa tujuan dari semua itu adalah agar dana BOSDA tersebut tidak sampai disalahgunakan. “Ya nggak masalah, karena memang itu tujuannya biar nggak ada dugaan korupsi”, tuturnya pada kami beberapa waktu yang lalu (Jum’at, 2/3). Hal senada juga disampaikan oleh Nur. Menurut mahasiswi Tadris Inggris ini, bahwa bila sudah menjadi aturan maka mau tidak mau harus mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah, “Saya setuju saja dengan cara seperti itu, kan itu juga perlu ada kejelasan digunakan untuk apa dana bantuan itu”, tutur sosok berkacamata ini. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa pada dasarnya dana BOSDA Madin berangkat dari kepedulian terhadap kondisi pembelajaran di Madrasah Diniyah yang sebelumnya tampak kurang begitu diperhatikan oleh Pemerintah. Tujuan utamanya adalah untuk kelancaran berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar di lembaga pendidikan Diniyah itu. Maka dari itu kemudian Kemenag mengusulkan untuk dikucurkannya dana khusus bagi Madrasah Diniyah. Wacana dana BOSDA Madin sendiri
al-millah. DOC

Sarat ‘Uang Lelah’

dengan pembangunan asrama mahasiswa yang telah mulai pada tahun kemarin. Kini kondisi bangunan tersebut hingga kini juga berhenti dikarenakan dana dari pemerintah tidak bisa atau belum bisa cair. Dana tersebut diperoleh dari APBN dan APBNP 2010 dan juga APBNP 2011, total dari kesemuanya menghabiskan dana 26, 5 milyar rupiah. Crew al-Millah mendapat banyak informasi terkait Ma’had ketika menemui Kepala Bagian Administrasi, Fachrudin Latif. Ia menjelaskan bahwa pembangunan Ma’had hingga kini masih belum selesai meskipun sudah berdiri. Hal ini disebabkan kehabisan dana. Anggaran di kampus untuk sarana prasarana tidak bisa dicairkan, jadi mau tidak mau harus berhenti. Selain itu ada faktor lain yang membuat kemandekan proses pembangunan tersebut yaitu naiknya harga bahan material yang membuat tim pelaksana harus memutar otak untuk melakukan klarifikasi seberapa besar dana yang dihabiskan. Ma’had kampus rencananya akan dibuat twin blok atau dua model bangunan kembar. Artinya yang satu berada di dekat gedung olahraga dan yang satu rencananya dibangun setelah ma’had yang pertama sudah selesai dengan tempat di sebelah timurnya. Selain itu juga mendapat sebuah laboratorium ibadah sebutan untuk mushola

sebenarnya sudah didengungkan mulai tahun 2008 namun baru direalisasikan tahun 2010, yang kala itu masih dikoordinir oleh Propinsi, di bawah kepemimpinan Gubernur Soekarwo. Semua itu bertujuan untuk menyetarakan Madin dengan sekolah umum, karena memang kenyataannya sebelum ada bantuan ini Madin seakan dibiarkan berjalan sendiri. Kalau pun ada pendataan dari Kemenag, toh nyatanya tak ada juga bantuan yang terkucur, “Kalau dulu, kita cuma disuruh ngasih data Madrasah ke Kemenag, tapi nggak tahu untuk apa”, ujar Efendi. Secara rinci, dana BOSDA Madin tersebut diambil dari pemerintah Provinsi 50% dan dari daerah 50%, lalu disalurkan melalui Dispendik yang bekerjasama dengan Kemenag. Dalam hal ini kapasitas Kemenag hanyalah mendata Madin mana saja yang berhak mendapatkan kucuran dana BOSDA Madin. “Kami hanya membantu melakukan pendataan Madin mana saja yang berhak dapat bantuan”, papar Fachrudin kepada al-Millah. Namun kemudian, dalam penyalurannya ditemui indikasi adanya dana lain dari bantuan ini, yang biasa disebut ‘Uang Lelah’. Tapi anggaran untuk hal itu tidak masuk dalam rincian ketentuan maupun LPJ. Hal itu disinyalir berawal dari proses penerimaan BOSDA dengan alasan adanya pihak tertentu yang telah membantu proses pendistribusian

al-millah. DOC

60 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 25

bantuan dana tersebut. Hal itu terbukti dengan adan- yang berlawanan dengan apa yang disampaikan ya potongan dana bantuan saat dana telah sampai di oleh Kasi Peka Pontren tersebut. Ia mengatakan Madin bersamaan dengan meminta KKDT (Kelom- bahwa sebenarnya selama ini Kemenag adalah pok Kerja Diniyah Takmiliyah). lembaga pemerintah yang terUntuk menyiasatinya, anggaran masuk paling besar dalah ka‘uang lelah’ itu dikaburkan di Terl­epas benar atau sus korupsi dan penyelewenLPJ dengan merekayasanya ungan dana. Sehingga baginya tidaknya hal­ terse- bukan hal yang tidak mungkin tuk anggaran lain. “Seharusnya tidak ada tarikan seperti itu, bila dana bantuan itu pun disbut, sudah sehakarena mereka sudah ada gaji alahgunakan. “Justru selama rusnya pemerintah ini Kemenag adalah yang palsendiri, pokok maupun tunjangan” Ujar salah satu pengajar mel­akukan l­angkah ing besar-besaran lho korupMadin di Ponorogo. sinya”, ujarnya. tegas untuk menceDikatakan juga bahwa Bahkan Ia juga mensinsebelum dana bantuan itu turun, gah penyel­ewengan yalir bahwa Kemenag sengaja biasanya pihak Kemenag menmengusulkan adanya bantuan gadakan undangan sosialisasi dana bantuan terse- BOSDA Madin, sebagai laBOSDA Madin dengan adminhan untuk meraup keuntungan but. Hal­ ini dapat istrasi 20 ribu rupiah ke atas besar. Dugaan itu semakin dibagi Madin undangan, dengan dil­akukan dengan perkuat dengan adanya pungli tanpa alasan jelas. Itulah yang prakteknya semakin memperke- dalam “Sebenarnyadi lapangan. menjadi pertanyaan, namun dengan justru telah dianggap biasa oleh tat keamanan penya- adanya bantuan semacam ini, semua pihak, bahkan sudah justru dimanfaatkan untuk l­uran dana BOSDA mencari keuntungan” ungkap menjadi rahasia umum. Konsekuensi bila Madin I-S. Menurutnya tentu ada Madin, sehingga tidak bersedia memberikan uang konspirasi antara Dispendik harapan awal­ dari dengan Kemenag dalam perlelah itu, maka oknum tersebut mengancam tidak akan mem- dikucurkannya dana mainan dana gelap dari BOSbantu Madin dalam proses penDA Madin. cairan dana bantuan itu. Hal ini tersebut yaitu untuk Terlepas benar atau tidasangat bertolak belakang den- meningkatkan kual­i- knya hal tersebut, sudah sehagan apa yang disampaikan oleh rusnya pemerintah melakukan tas Madin, benarFachrudin yang mengatakan langkah tegas untuk mencegah bahwa tidak ada penyelewengan benar terwujud dan penyelewengan dana bantuan sama sekali dalam penyaluran tersebut. Hal ini dapat dilakudana BOSDA Madin. Ia menkan dengan semakin mempertepat sasaran, ganggap bahwa hal semacam ketat keamanan penyaluran itu tidak akan dilakukan dana BOSDA Madin, oleh pejabat yang paham sehingga harapan awal agama, “Tidak, tidak ada dari dikucurkannya dana hal seperti itu, saya rasa tersebut yaitu untuk memereka paham agama dan ningkatkan kualitas Mapastinya tidak melakudin, benar-benar terwujud kan semacam itu”, tegas dan tepat sasaran, tidak Fachrudin. dinodai dengan adanya Menanggapi hal penyelewengan dalam itu Ghifari salah seorang bentuk apapun.*** pengurus Madin justru @md.crew mengemukakan pendapat ,NIC: 1910. 082

yang cenderung mengaburkan esensi. Pengartian yang sempit dan pemaknaan yang tumpul semakin memperparah hakikat demonstrasi. Banyak kita temukan kini berbagai demonstrasi yang hanya sekedar menghujat, mengkoar-koarkan tuntutan tanpa menengok lebih dalam latar belakang, bagaimana, dan seperti apa nantinya jika tuntutan itu dikabulkan. Sepertihalnya belum lama ini, kita menyaksikan kebrutalan demonstrasi massa di berbagai penjuru Indonesia yang meminta agar SBY turun, bakar mobil, hingga kasus penyerangan markas salah satu organisasi mahasiswa di Makassar. Jika sudah demikian, masihkah rakyat kecil merasa terwakili oleh keonaran itu? Sungguh miris ketika demonstrasi yang hakikatnya jalur untuk menyampaikan aspirasi rakyat justru kini menjadi hantu bagi masyarakat itu sendiri. Aksi anarkis tanpa menghiraukan kepentingan publik, digembar-gemborkan, yang justru mencemari ruh reformasi dan demokrasi itu sendiri. Dampak dari demonstrasi anarkis ini adalah tentu saja tersendatnya demokrasi, dan solusinya itu sendiri. Organisasi massa, termasuk mahasiswa yang seharusnya menggugat penguasa ketika penguasa tersebut menyimpang dari konstitusi dan mewakili rakyat untuk menyuarakan aspirasinya,
al-millah. DOC

kini malah diperangi oleh berbagai pihak termasuk rakyat sebagai subjek inspirasi aksi mereka. Demokrasi yang seharusnya dibangun dengan seimbang dari berbagai el-

Organisasi massa, termasuk mahasiswa yang seharusnya menggugat penguasa ketika penguasa tersebut menyimpang dari konstitusi dan mewakili rakyat untuk menyuarakan aspirasinya, kini malah diperangi oleh berbagai pihak termasuk rakyat sebagai subjek inspirasi aksi mereka.

emen masyarakat, kini timpang. Ketika Organisasi massa ini tidak lagi dipercayai dan eksistensinya tak dianggap positif oleh berbagai pihak, akankah suaranya didengar? Tentu tidak. Aksi mereka kini hanya dijadikan bahan tertawaan penguasa, polahnya kini hanya dianggap meresahkan masyarakat. Akibatnya, rakyat tak punya pilihan siapa yang bisa memakmurkan posisi mereka, rakyat tak punya prajurit yang membela hak, kebutuhan, serta kepentingan mereka, dan rakyat tak punya pengeras suara untuk meneriaki penguasa yang mendzalimi mereka. Maka, di sinilah titik dimana pejuang keadilan harus melakukan introspeksi terhadap kinerjanya selama ini, untuk menentukan sikap yang paling relevan. Lembaga-lembaga yang mewadahinya pun harus melakukan setting ulang terhadap visi-misi, pola pikir, dan sistem kerjanya. Pada akhirnya, sudah seharusnya demonstrasi kembali ke tujuan awalnya yang mulia. Sudah seharusnya pula mahasiswa kembali mengawal demokrasi dengan bijaksana. Jika suatu saat nanti totalitas perjuangan kembali harus bergema di antara barisan mahasiswa, semoga penyerunya dapat meresapi maknanya dalamdalam, mengekspresikannya dengan penuh kesadaran, dan memperjuangkannya dengan total.*** Denita.crew, NIC: 1910.070

26 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 59

massanya berjumlah sekitar tujuh puluh sampai seratus lima puluh. Tak pernah berjumlah sangat besar. Pengamanannya pun tidak tergolong sulit, meskipun memang melelahkan”. Lanjutnya. Atribut ”kebangsaan” dalam berdemo Bukan pemandangan yang asing jika pada saat berdemo, para pendemo dari kalangan mana pun selalu membawa atribut organisasi mereka. Lalu apa efek yang sebenarnya akan didapatkan oleh para pendemo yang memang setiap kali turun ke jalan selalu membawa serta atribut mereka, seperti bendera, ikat kepala, atau seragam organisasi, disamping aspirasi yang mereka sampaikan? Mengenai hal ini, T-A, mahasiswa jurusan Tarbiyah semester delapan yang juga seorang aktivis itu memberikan komentarnya, ”sebenarnya atribut organisasi dalam berdemo, seperti bendera itu hanya sebagai pelengkap saja. Ada atau tidaknya atribut organisasi dalam berdemo itu tidak mempengaruhi tujuan awal dari berdemo itu sendiri, yaitu menyampaikan aspirasi”. Namun pemuda bermata tajam itu juga tidak membantah bahwa memang ada organisasi tertentu yang memang membawa atribut organisasi pada saat berdemo demi menjaga eksistensi.

Uang.

Demonstrasi kini, Antara Perjuangan dan

Aksi demo ternyata tak hanya melulu soal penyampaian aspirasi. Namun ada juga unsur kepentingan politik uang di dalamnya. Hal ini terlihat jelas karena ada beberapa organisasi yang memang bersedia dibayar untuk berdemo oleh pihak tertentu dengan imbalan uang. Mereka menamakan diri mereka sebagai ormas A, B, atau C dan mereka memang mencari uang dari berdemo. Hal ini mungkin dipandang sebagai hal yang tidak wajar oleh beberapa pihak tapi menjadi sangat wajar bagi mereka yang secara ekonomi memang pas-pasan dan mereka butuh uang untuk terus bertahan hidup, tanpa mempertanggungjawabkan aksinya. ”Organisasi kami memang didirikan untuk itu dan itu memang salah satu jalan uang yang bisa kami dapatkan”. Ujar seorang pemuda, seorang anggota organisasi yang memang ada sejak dahulu untuk memperoleh rupiah dari berdemo. Sementara di luar pembahasan di atas, hampir enam puluh lima tahun bangsa ini merdeka, meski kemerdekaan itu masih dipertanyakan faktanya, dua belas tahun sudah reformasi bergulir, dan bersamaan dengan itu pula demokrasi tetap diandalkan sebagai sesuatu yang luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Namun, perjuangan tak pernah usai. Penindasan dan perampasan hak terus berlanjut oleh mereka-mereka yang berkuasa. Maka, mahasiswa sebagai salah satu agent of control yang masih begitu bersemangat, dengan sendirinya memposisikan diri sebagai penggugat ketidakadilan. Sejarah telah mencatat kekuatan dan keberhasilan Mahasiswa demonstran Indonesia. Di Jakarta, tahun 1998, kolaborasi antara mahasiswa dengan berbagai elemen masyarakat berhasil menggulingkan rezim orde baru yang dianggap otoriter dan sarat unsur-unsur KKN. Saat itu, demonstrasi memperoleh momentum yang tepat, yaitu ketika rakyat ingin lepas dari tekanan dan ketertindasan, tepat ketika penguasa telah jelas-jelas menyimpang dari konstitusi, tepat karena jumlah massa yang fantastis, dan tepat karena banyak rakyat yang mendukungnya. Akan tetapi, apa yang terjadi kini sungguh memilukan. Cita-cita mulia reformasi yang konon untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sulit tercapai. Pemerintahan yang korup serta moral dan mental bangsa yang masih cengeng menghambat perwujudannya. Akibatnya, demonstrasi kini berevolusi menjadi suatu aksi anarkis, perjuangan yang mandul,

HITAM PUTIH DUNIA PENGEMIS DI KOTA REOG
Mengapa Mengemis ?

al-millah. DOC

58 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

al-millah. DOC

aL-Millah edisi 27/ 2012 27

ndonesia, Negara yang begitu kaya dengan berbagai hasil bumi yang melimpah ruah. Tanah yang gembur menjadikan tanaman hijau dan subur terhampar luas mengelilingi penduduknya. Belum lagi puluhan ribu km luas laut dengan berbagai hasil sumber dayanya yang juga menambah inventarisasi kekayaan bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini. Itulah kenapa Indonesia cukup banyak dikenali di berbagai belahan dunia dan menjadi incaran para penjajah. Ironisnya, kekayaan yang melimpah ruah itu ternyata tidak cukup merata dirasakan oleh semua warga Negara Indonesia sendiri. Bahkan bisa dinyatakan baru beberapa persen dari ratusan juta jumlah penduduk Indonesia saja yang bisa merasakan nikmatnya kekayaan tersebut. Sungguh sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan apa yang Negara kita miliki ini. Tidak meratanya hasil kekayaan alam di Indonesia bisa juga disebabkan karena semrawutnya berbagai komponen sistem yang ada di Negara kita khususnya sistem yang berhubungan langsung dengan warga Negara Indonesia yaitu sistem sosial. Permasalahan atau penyimpangan apapun yang ada dalam berbagai komponen sistem di sebuah Negara nyatanya memang paling banyak berdampak dan berpengaruh pada masalah sosial. Sebagai contoh, adalah banyaknya jumlah pelaku kriminal seperti pencuri, perampok bahkan pelaku aniaya yang sampai menyebabkan kematian. Pada kenyataannya, mayoritas penyebab dari kasus-kasus tersebut adalah karena himpitan ekonomi. Selain perkara kriminal rupanya muncul juga masalah-masalah lain dalam lingkungan sosial yang juga disebabkan karena himpitan ekonomi, yaitu mewabahnya masyarakat yang menjadi gelandangan dan pengemis. Banyaknya jumlah gelandangan dan pengemis dirasa cukup meresahkan dan menganggu keamanan serta ketertiban masyarakat. Namun, permasalahan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang saja, karena dengan mempertimbangkan beragam alasan yang mendasari

I

wanita yang kini menjanda ini mengaku memperoleh bayaran sebesar 15 ribu saja. Jumlah yang dirasakan kurang untuk membiayai sekolah anakanaknya, karena itu Ia memilih untuk mengemis. Meskipun hanya pada hari jum’at saja, tetapi nyatanya Ia bisa memperoleh penghasilan yang lebih dari hari biasanya.

seseorang atau kelompok terjun menjadi pengemispun. Di antaranya adalah; Pertama, Cacat yang diderita sejak lahir dan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja. Selain itu mereka tidak memiliki keluarga yang bisa mencukupi penghidupannya. Sehingga mereka memperlihatkan kecacatannya untuk mengundang belas kasih orang lain. Kedua, karena memang tidak mempunyai pekerjaan, apalagi yang juga menanggung biaya sekolah. Anak-anak yang banyak terlihat mengemis dijalanan umumnya adalah karena kurangnya dana untuk sekolah, sementara orang tua mereka kurang mampu. Mereka pun berfikir untuk membantu orang tuanya dengan cara mengemis. Ketiga, karena dipaksa oleh pihak tertentu. Masih ada banyak alasan lain yang membuat seseorang mengemis di jalanan, dengan cara mengemis yang lebih variatif tentunya. Bila ditinjau secara global, akar permasalahan fenomena ini hanya satu, yaitu kemiskinan. Baik itu miskin ekonomi, pendidikan, ataupun miskin usaha. Fenomena pengemis telah menjadi sumber masalah di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta. Mereka mengganggu ketertiban umum, seperti kawasan lalu lintas di persimpangan lampu merah, hingga mengganggu ketertiban masyarakat. Namun seiring dengan perkembangnya zaman, semakin lama permasalahan pengemis tersebut juga mulai merambah ke kota-kota kecil termasuk kota reog, Ponorogo. Crew LPM al-Millah mencoba menelusuri jalanan di sekitaran kota Ponorogo (10/02/2012). Terlihat ada beberapa pengemis yang menghampiri setiap pertokoan di jalanan tersebut. Jumlah mereka memang tidak banyak tetapi mereka sangat mudah dikenali karena memiliki ciri-ciri yang khas. Ciri khas mereka yaitu memakai pakaian lusuh serta memasang kain gendong melingkar melalui leher dan pinggangnya. Isi dari kain tersebut umumnya adalah tas dan dompet tempat mereka menyimpan uang atau apapun yang bisa mereka peroleh dari orang-orang yang merasa iba pada mereka.

orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kedua, Ketetapan MPR no XVV/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 19 yang menyatakan, ”setiap orang berhak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Ketiga, UU Nomor 9 Tahun 1998 Pasal 2 yang berbunyi,”Setiap warga negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Dari hukum yang mengatur tentang kebebasan berserikat dan berpendapat di atas, jelas bahwa hukum menghalalkan demonstrasi selama masih berada dalam koridor yang masih dapat dibenarkan oleh hukum, karena Indonesia sendiri adalah negara hukum. Dalam Islam sendiri, demonstrasi bukanlah hal yang baru. Namun mengenai demo itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama karena ada yang menilai bahwa demo itu adalah perbuatan bid’ah, namun ada juga yang memperbolehkannya. Di luar itu semua, hukum demonstrasi dapat bernilai positif, dapat juga bernilai negatif. Demonstrasi dapat dijadikan komoditas politik yang berorientasi pada perolehan materi dan kekuasaan, dapat juga berupa sarana amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad. Dalam kaitannya sebagai sarana amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad, demonstrasi dapat digunakan untuk melakukan perubahan menuju moralitas, nilai dan sistem yang lebih baik. Sebagai masyarakat yang menjadi objek utama dari segala sistem kinerja pemerintahan, tentu pernah merasa tidak puas suatu kebijakan yang telah diputuskan pemerintah ataupun pemimpinnya. Hal ini akan menjadi alasan para pendemo untuk turun ke jalan dan menyampaikan aspirasi mereka secara terbuka dan masal. Untuk menunjukkan bahwa itulah suara kekecewaan yang mewakili kekecewaan rakyat. Hal ini menjadi sangat wajar terlebih jika mereka merasa tidak ada cara efektif lain selain berdemo.

Dalam Islam sendiri, demonstrasi bukanlah hal yang baru. Namun mengenai demo itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama karena ada yang menilai bahwa demo itu adalah perbuatan bid’ah, namun ada juga yang memperbolehkannya.

Tidak terkecuali di kampus STAIN Ponorogo, aksi demonstrasi tetap menjadi pilihan tepat menurut aktivis Mahasiswa. ”Aksi demo itu penting, karena selain sebagai ajang penyampaian aspirasi, adanya aksi demo juga bisa dijadikan kontrol sosial maupun pemerintahan.” ucap salah seorang mahasiswa aktivis STAIN Ponorogo, ketika ditanya mengenai pentingnya demo. ”Namun terkadang demo juga dapat disalahartikan, misalnya demo dengan tujuan menjaga eksistensi dan ada kepentingan praktis suatu kelompok”. Lanjut mahasiswa tersebut. Ia juga mengatakan bahwa secara esensial demo memang perlu dilakukan, karena masalah-masalah yang tidak muncul di permukaan dan tidak diketahui mahasiswa secara umum, akhirnya bisa diungkapkan untuk diketahui bersama. Demo juga merupakan konten dari demokratisasi, seperti yang dikatakan Nurcholish Madjid dalam banyak seminarnya. Menurut Cak Nur, demokrasi merupakan proses trial and error (percobaan dan kesalahan) dalam demokrasi merupakan hal yang sangat wajar apalagi jika suatu negara sedang berada dalam proses transisi demokrasi tersebut. Cak Nur juga menambahkan bahwa dalam konteks ini perlu mengedepankan konsistensi dan kesabaran dalam menjalani demokratisasi, termasuk di dalamnya demonstrasi. Sebagaimana pendapat cendekiawan muslim dan budayawan tersebut, maka demonstrasi tidak selamanya berjalan dengan benar, kadang ada unsur vulgar dalam demonstrasi dan hal itu menjadi sangat biasa (wajar), meskipun sebenarnya merugikan beberapa pihak. Salah seorang polisi berinisial I menyatakan bahwa demo tekadang memang membuat lelah polisi karena ada saja dari massa yang berdemo tersebut yang kadang membuat geram. ”Sebenarnya tak apa berdemo, asal tak anarkis”. Begitu tandasnya. Polisi muda dan berperawakan sedang itu juga mengatakan bahwa di Ponorogo sendiri, massa yang berdemo bukanlah massa yang besar seperti di Jakarta atau kota-kota lain. ”Paling kalau demo mahasiswa,

28 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 57

DEMONSTRASI
Ajang Penyampaian Aspirasi atau Sekedar Menjaga Eksistensi (?)
Kesewenang-wenangan pemerintah terhadap negeri dan rakyatnya seakan telah menjadi budaya yang sulit dihentikan. Maka Demonstrasi yang menjadi ancaman untuk perilaku tersebut juga telah membudaya dengan dipelopori oleh kaum akademis, hingga kini. Demonstrasi sebagai salah satu ajang penyampaian pendapat anyak cara untuk menyampaikan pendapat, namun di Indonesia sendiri, hal yang juga dianggap paling dipandang dan didengar untuk menyampaikan aspirasi adalah dengan demonstrasi. Cara ini dinilai paling efektif oleh sebagian besar aktivis karena aksi turun ke jalan yang bertujuan untuk penyampaian aspirasi ini akan lebih ter-ekspose dan tentu saja hal ini akan memberikan sedikit kemudahan untuk memuluskan jalan para pendemo agar aspirasi mereka segera ditanggapi oleh pihak tertentu. Demonstrasi sendiri dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki dua arti: pertama, pernyataan protes yang dikemukakan secara masal atau unjuk rasa. Kedua, peragaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga atau kelompok, misalnya demo masak, mendemonstrasikan pencak silat, dll. Menilik dari arti demonstrasi menurut kamus

al-millah. DOC

B

tersebut, maka dalam hal ini demonstrasi atau biasa disebut Demo yang dimaksud adalah merupakan sebuah aksi turun jalan sebagai cara dan sarana penyampaian gagasan atau ide-ide solutif yang dianggap paling tepat dan berupaya mempublikasikannya dalam bentuk pengerahan massa. Oleh karena itu, demo seharusnya dihentikan ketika aspirasi sudah tersalurkan dan ditanggapi, mengingat sifat demonstrasi itu sendiri adalah merupakan salah satu ajang penyampaian pendapat. Aturan Hukum Terkait Demonstrasi Salah satu dari sepuluh prinsip dasar demokrasi Pancasila yang dianut oleh negara Indonesia adalah demokrasi yang berkedaulatan rakyat, yaitu demokrasi di mana kepentingan rakyat harus diutamakan oleh wakil-wakil rakyat, rakyat juga dididik untuk ikut bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian dari implementasi prinsip dasar tersebut, oleh karena itu kebebasan berpendapat di muka umum dijamin oleh: Pertama, Undang-Undang Dasar 1954 (Amandemen IV), pasal 28 yang berbunyi, ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Pasal 28 E Ayat 3, ”Setiap

Selanjutnya, ketika tiba di alun-alun kota Ponorogo, tampak ada beberapa orang pula yang mempunyai ciri-ciri sama seperti pengemis di jalanan tersebut. Kami mencoba mendekati salah satu dari pengemis yang sedang duduk berteduh. Ia sedang menghitung hasil uang receh yang diperolehnya hari itu. Tetapi yang berada disebelahnya adalah sebuah telepon genggam yang bagus. Sesekali ia tampak membaca dan mengetik SMS lalu kembali menghitung recehnya. Ketika Ia menyadari kami memperhatikannnya, Ia pun bergegas membungkus uangnya dan berlalu pergi. Beberapa masjid yang ramai dengan jama’ah shalat jum’at menjadi sasaran empuk bagi para pengemis itu untuk menengadahkan tangan. Diantaranya masjid Baiturrahman di dekat perempatan Jeruksing dan masjid Muhammadiyah yang berada di jalan Soekarno Hatta. Tampaknya para pengemis

mengerti tempat mana yang bagus untuk tempat mangkal mereka. Mengingat hari jum’at para kaum muslim akan menunaikan shalat jum’at sehingga masjid akan ramai oleh para jamaah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jama’ah sholat jum’at yang bersedekah pada para pengemis itu setelah selesai menunaikan shalat jum’at. Mereka tampaknya sudah mempersiapkan uang receh yang akan dibagikan kepada para pengemis itu sejak dari rumah. Ketika salah seorang pengemis memperoleh receh tersebut maka pengemis itu pun akan memanggil temantemannya supaya memperoleh juga Salah seorang yang biasanya mangkal di depan masjid Muhammadiyah itu, sebut saja Kadirah, mengaku bahwa dirinya mangemis hanya pada hari jum’at saja. Harihari lainnya ia tetap bekerja seperti biasa sebagai petani. Bahkan Ia mengaku punya beberapa ekor kambing di rumah. Tetapi semua itu dirasa tetap kurang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, Ia memilih untuk mengemis juga dengan harapan memperoleh penghasilan yang lebih banyak. Salah seorang lainnya, yang mangkal di masjid Bait-

urrahman, menyebutkan bahwa dirinya berasal dari kota Ngawi. Ia berangkat naik bus pagi-pagi sekali dan menjelang sore Ia pun akan kembali pulang. Saat kami temui (17/02/2012) dan kami singgung mengenai panti rehabilitasi, mereka langsung menyatakan tidak. “Mboten mbak, mboten, mpun ngeten mawon, mboten teng panti ritak” (Tidak mbak, cukup seperti ini saja, tidak usah di panti) tutur jujur mereka. Meskipun dengan berbagai bujukan dan gambaran baiknya panti rehabilitasi, namun mereka tetap berkata tidak. Seakan-akan panti rehabilitasi yang mestinya bisa menjadi tempat bernaung bagi mereka justru malah terkesan menakutkan. Jum’at (24/02/2012) jumlah pengemis yang terlihat semakin bertambah. Saat itu di jalan Sultan Agung terdapat 2 orang. Mereka berjalan beriringan, memakai topi tua dan berbaju batik lusuh. Di jalan Dr. Soetomo ada 4 orang yang terbagi dalam dua pasangan. Mereka mengemis secara berurutan dalam jarak dua pertokoan saja. Selain itu, 4 orang tampak pula di depan masjid Muhammadiyah. Mereka tampak begitu akrab layaknya saudara. Sedangkan 3 orang lainnya berada di depan masjid Baiturrahman, depan GOR (gedung Olahraga) serta di jalan Ahmad Dahlan. Tiga orang dari mereka semua mengaku berasal dari Ngawi. Dua lagi berasal dari Magetan dan seorang lainnya berasal dari Kediri. Mereka berangkat ke Ponorogo pagi-pagi sekali dan sore hari sekitar pukul 3 mereka pulang. Namun ada juga beberapa di antaranya yang tidak pulang, salah satu contohnya adalah Eni. Wanita muda ini mengaku mengemis dengan mengikutsertakan anaknya

56 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

al-millah. DOC

aL-Millah edisi 27/ 2012 29

yang masih berusia satu tahunan, sementara suaminya bekerja sebagai tukang becak di daerah rumahnya, Kediri. Setiap hari balita tersebut harus ikut bergelut mencari uang dengan cara meminta belas kasihan orang. Biasanya wanita bertubuh kecil ini bermalam di Pasar Legi. Rasa takut dan khawatir sudah tidak lagi dipedulikan oleh ibu satu anak ini karena sudah terbiasa. “Mboten ajrih mbak, wong kathah tiyang bakul nek dalu ngoten niko” (Tidak takut, mbak. Di sini kalau malam banyak orang jualan), jawabnya dengan senyum tersipu malu. Setelah beberapa hari dan dirasa penghasilannya cukup banyak, barulah ibu muda ini akan pulang ke rumah menengok suaminya. Pendapatan mereka pun beragam. Ada yang mengaku pendapatannya cuma 20-30 ribu per hari. Namun ada pula yang jujur pendapatannya bisa mencapai 50 ribu per hari. Penghasilan yang lumayan besar jika dibandingkan pekerjaan mereka sebelumnya yang mayoritas hanya menjadi buruh, baik buruh tani maupun buruh panggilan. Bibit, salah satu pengemis yang berasal dari Magetan mengaku dulunya adalah seorang buruh tani. Ibu 3 orang anak ini bekerja hanya jika tenaganya dibutuhkan. Biasanya Ia diminta untuk membersihkan rumput-rumput liar di ladang. Dari pekerjaan tersebut, wanita yang kini menjanda ini mengaku memperoleh bayaran sebesar 15 ribu saja. Jumlah yang dirasakan kurang untuk membiayai sekolah anak-anaknya, karena itu Ia memilih untuk mengemis. Meskipun hanya pada hari jum’at saja, tetapi nyatanya Ia bisa memperoleh penghasilan yang lebih dari hari biasanya. Kemudian, pengakuan mengejutkan datang dari Sumi (nama samaran), salah seorang pengemis yang biasanya mangkal di sekitar Tonatan. Ia datang ke Ponorogo dengan ke empat temannya dari Ngawi. Kelimanya sama-sama mengemis di Ponorogo. Meskipun nyatanya rumah mereka berdekatan dan saling mengenal namun mereka memilih berjalan secara individual. Alasannya supaya mereka lebih aman (dari pengamatan Satpol PP atau pihak berwenang lainnya). Selain itu, Ia mengidap penyakit darah tinggi, raganya sudah tidak mampu lagi untuk bekerja berat apalagi untuk menjadi buruh tani seperti yang biasa dilakukannya dulu. Ia juga menuturkan bahwa pantang bagi dirinya untuk mencuri meski seburuk apapun kondisinya. Oleh karenanya Ia memilih untuk meminta-minta. Tetapi ia mengaku malu juga menjadi pengemis terlebih jika sampai diketahui oleh para tetangganya. “Nggeh isin mbak, makane nek nyuwun-nyuwun ngeten niki, teng sekitaran madiun kinu

mboten wanton kulo, isin nek kepanggihan tonggo, niki kemawon pas bidal kulo nggeh pamit kerjo kaleh tonggo-tonggo niku.” (Ya malu, mbak. Makanya ketika meminta-minta seperti ini tidak berani di daerah Madiun karena takut bertemu tetangga. Ini saja saya alasan pamit kerja dengan tetangga saat berangkat), Tuturnya dengan begitu apa adanya. Perempuan paruh baya ini juga menambahi bahwa pada sore harinya ketika hendak pulang, Ia dan kawan-kawannya berkumpul di terminal Seloaji. Sembari istirahat, mereka saling menanti satu sama lain untuk pulang bersamasama. Sementara itu, ketika kembali disinggung tentang panti rehabilitasi, wanita yang mengaku hidup sebatangkara ini juga buru-buru menolak. “Mboten mbak, sak sekecane teng panti, kulo panggah milih teng griyone dewe, kerjo sak sagete, mboten bebas mbak teng panti niku” (Tidak, mbak. Seenak apapun di panti, saya tetap pilih di rumah sendiri, kerja semampunya. Di panti itu tidak bebas, mbak.) jawabnya begitu tegas. Kebanyakan dari para pengemis itu memang memiliki alasan yang sama kenapa mereka tidak mau tinggal di Panti Rehabilitasi. Padahal panti adalah tempat yang semestinya mampu menampung mereka semua. Tempat yang seharusnya nyaman untuk mereka tinggali sehingga mereka tidak harus meminta-minta dan dianggap mengganggu ketertiban di masyarakat.

egorisasi. Dengan merujuk pada kondisi demikian menurut amanat undang-undang Negara kita, Pemda Ponorogo wajib membentuk satker baru dalam persoalan kebencanaan. Maka, pada akhir tahun 2011 yang lalu Pemda Ponorogo membentuk satuan kerja baru, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ini memang merupakan langkah yang nyata bagi masyarakat Ponorogo. Akan tetapi bagaimanakah peran BPBD bagi persoalan bencana di Ponorogo? Umurnya memang masih seumur jagung, namun progresifitasnya sangat diharapkan mampu menjadi motor penggerak bagi seluruh masyarakat dalam menangani masalah bencana. Pada tahun ini BPBD diuji coba kinerjanya dengan adanya banjir di empat kecamatan pada bulan februari. Akan tetapi menurut pengamatan penulis perannya belum maksimal –untuk tidak mengatakan tidak maksimal– pada level tanggap darurat. Akan tetapi ingat pada level yang lain, level pra dan pasca bencana, juga masih dipertanyakan (ingat konsep disaster management di atas). BPBD pada tahun ini memiliki anggaran lebih dari dua milyar rupiah untuk bekerja, apakah anggaran itu bisa dimaksimalkan untuk persoalan bencana di Ponorogo? Ataukah hanya sibuk untuk pengadaan

yang tidak bermanfaat secara kongkret bagi persoalan bencana? Dimana ujung-ujungnya adalah politik anggaran yang sama sekali tidak etis dengan dalih isu bencana. Persoalan yang juga tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kemudian BPBD menjadi institusi yang tidak elitis dan manipulatif begi persoalan bencana yang ada di Ponorogo. Pertama, secara lebih nyata adalaha bagaimana BPBD bisa bekerjasama dengan berbagai organisasi masyarakat yang juga memikirkan persoalan lembaga, misalnya di Nahdlatul Ulama ada BANSER dan Lakpesdam yang punya konsentrasi pada persoalan bencana, di karang taruna ada Tagana yang merupakan organ taktis karang taruna pada persoalan bencana, selain itu beberapa organisasi bela diri telah membentuk juga satuan pendekar siaga bencana. Kedua, bagaimana juga BPBD harus meninggalkan tradisi lama birokrasi yang memandang masyarakat hanya sebagai obyek. Maka, dalam hal apapun baik dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan evaluasinya haruslah melibatkan warga secara aktif dan partisipatif.*** Wa fawqa kullidzî ‘ilm ‘alîm Papringan Gandu, 2 Maret 2012

Keterangan Petugas Ketertiban

Menyikapi permasalahan pengemis ini, Dinsos tampak tenang-tenang saja. Menurut Moh. Daroini, salah satu staf Dinas Sosial Ponorogo yang menangani gelandangan dan pengemis, kebanyakan orang yang mau mengemis bukan disebabkan karena kebutuhan tetapi lebih karena tuntutan zaman. Zaman yang semakin modern ini, membiasakan manusia untuk serba instan. Mulai dari makanan bahkan pekerjaan banyak yang bisa dikerjakan secara lebih instan. Begitu juga dengan orang-orang yang secara ilmiah mengalami gangguan mental ini. Mereka menginginkan penghasilan yang banyak namun tidak ingin bekerja keras. Selain itu, mereka juga dianggap mengalami sikap ketergantungan terhadap orang lain. Lebih dari itu, mereka bahkan dinilai mengalami krisis mental khususnya mental keagamaan sehingga mereka cenderung tidak mau capek bahkan lebih tidak merasa malu jika harus menyusahkan orang lain. Pria yang juga mengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Ponorogo ini menambahkan bahwa tugas utama Dinas Sosial dalam rangka menanggapi permasalah pengemis han-

Selamat atas Diwisudanya Kawan Kami
Layla Nurul Hidayah S.Th.I
Crew LPM aL-Millah Angkatan 2007

M. Zahrul La’aly S.Th.I
Crew LPM aL-Millah Angkatan 2007

Semoga goresan tinta emas dalam karya-karya kalian, memberikan manfaat untuk pijakan melangkah, melibas arus masa depan yang menghadang. kerja sama dan bantuan juga pengorbanan kalian tak kan pernah kami lupakan. selamat dan sukses “all crew”

30 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 55

• Sosial: kondisi demografi (jenis kelamin, bencana tidak dipandang pada saat bencana itu terjadi usia, kesehatan, gizi, perilaku masyarakat) terhadap akan tetapi ada tiga tahap pra bencana, saat bencana ancaman bencana dan pasca bencana. Ketiga aspek ini semuanya penting • Ekonomi: kemampuan finansial masyarakat tidak bisa meninggalkan salah satu atau memandang dalam menghadapi ancaman di wilayahnya salah satu adalah bagian yang terpenting. Pada aspek • Lingkungan: tingkat ketpertama (pra) ada beberapa ersediaan / kelangkaan sumberdalangkah yang harus ditempuh: Maka l­ogikanya jika ya (lahan, air, udara) serta kerupencegahan (prevention), mitikita menginginkan ke- gasi (mitigation) kesiapan (presakan lingkungan yang terjadi. Terakhir kelima kapasiparedness) dan peringatan dini siapan menghadapi tas, kekuatan dan potensi yang di(early warning). Sedangkan bencana adal­ah dengan pada aspek kedua (saat) adalah miliki oleh perorangan, keluarga dan masyarakat yang membuat mel­akukan penguran- tanggap darurat (response) mereka mampu mencegah, mendan bantuan darurat (relief). gan resiko bencana itu Pada aspek ketiga (pasca) ada gurangi, siap-siaga, menanggapi dengan cepat atau segera pulih harus dilakukan: sendiri. Berbekal­ dari tiga hal yang(recovery), rehadari suatu kedaruratan dan benpemulihan rumus di atas secara cana. blitasi (rehabilitation), rekonMaka logikanya jika kita struksi (reconstruction). mandiri sebenarnya menginginkan kesiapan mengDemikianlah paling tikita bisa memprediksi dak pengantar mengenai dihadapi bencana adalah dengan melakukan pengurangan resiko management, semoga bagaimana jika kemudi- saster tadi bisa menjadi sangu bencana itu sendiri. Berbekal dari catatan rumus di atas secara mandiri se- an bencana itu terjadi di bagi kita dalam melihat persoabenarnya kita bisa memprediksi hadapan kita. Sel­anjut- lan bencana baik dalam ranah bagaimana jika kemudian benumum maupun dalam konteks cana itu terjadi di hadapan kita. nya bagaimana mel­aku- lokalitas Ponorogo. Selanjutnya bagaimana melakukan usaha untuk megukan usaha untuk megurangi reIkhtitâm: Adakah Persiko bencana. PRB masuk dalam rangi resiko bencana. an BPBD dalam Persoalan ranah manajemen bencana atau Bencana di Ponorogo? Ponorogo tentunya dengan istilah kerennya disaster management. adalah daerah yang rawan bencana juga (seperti diSecara sederhana dapat kita lihat pada gambar ungkap pada awal tulisan ini), baik bencana alam, berikut: non alam maupun bencana sosial. Bencana alam secara faktual telah dapat kita lihat pada awal tulisan ini, sedangkan pada bencana non alam sebenarnya beberapa persoalan gagal teknologi yang secara sederhana dapat kita temui, misalnya persoalan amdal maupun pembangunan infrastruktur jalan yang juga masih harus dipertanyakan, karena dari kegagalan teknologi di pembangunan akan berakibat pada munculnya korban di level pengguna jalan. Akan tetapi bencana yang non alam inilah yang seringkali dilupakan begitu saja. Pada bencana sosial, penulis rasa Ponorogo dalam catatan sejarahnya adalah pada penghujung 90-an, konflik sosial terjadi dan efeknya masih bisa kita rasakan hingga sekarang ini. Bagaimana dengan kasus “desa idiot” dan “kampung gila”? Penulis perJadi dalam perspektif disaster management, silahkan bagi sidang pembaca untuk melakukan kat-

yalah menertibkan saja. Salah satu caranya dengan mengadakan razia, yang dalam hal ini Dinas Sosial bekerja sama dengan Satpol PP. Razia ini pun tidak dijadwalkan secara rutin akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, target dalam razia tersebut adalah para pengemis yang ketahuan beraksi di tempat-tempat umum atau di jalan-jalan protokol, seperti jalan Soekarno Hatta. Para pengemis tersebut ditertibkan supaya mengemis di jalan-jalan sempit atau perumahan warga bukan di tempat-tempat umum yang akhirnya terasa membuat ketertiban umum menjadi terganggu. Sedangkan terkait dengan pemberitaan yang menyatakan bahwa pengemis khususnya di Ponorogo yang “berlembaga” atau dikoordinasi oleh pihak tertentu, Dinas Sosial membantah pemberitaan tersebut. Menurutnya, sejauh ini belum pernah ditemukan adanya bukti bahwa para pengemis berlembaga akan tetapi mereka biasa lebih dikenal dengan istilah OTB (Organisasi Tanpa Bentuk). Mereka cenderung berkumpul, bahkan mengemis secara kelompok ataupun berpasangan selayaknya sebuah organisasi. Akan tetapi, hal tersebut dinilai sebagai organisasi yang tanpa bentuk atau organisasi yang terjadi secara insidental. Berbeda dengan pernyataan tersebut, salah satu staf Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menyampaikan bahwa para pengemis di Ponorogo memang dikoordinir. Pria dengan nama Sumartuji S.H. ini menyatakan pernah melihat sendiri bagaimana para oknum tertentu menurunkan para pengemis dari truk untuk beraksi. Menurutnya terdapat 3 tempat yang merupakan titik rawan dalam penyebaran para pengemis. Tempat tersebut yaitu utara perempatan Pasar Legi, jalan Sultan Agung dan perempatan Jalan Anyar. Mereka bisa ditemukan pada hari jum’at sebelum jam 5 pagi. Sayangnya, Satpol PP hanya bertugas untuk menertibkan

Mereka menginginkan penghasilan yang banyak namun tidak ingin bekerja keras. Selain itu, mereka juga dianggap mengalami sikap ketergantungan terhadap orang lain. Lebih dari itu, mereka bahkan dinilai mengalami krisis mental khususnya mental keagamaan sehingga mereka cenderung tidak mau capek bahkan lebih tidak merasa malu jika harus menyusahkan orang lain.

bukan untuk menghukum para pengemis ataupun pihak yang mengkoordinir mereka. Selain itu, pria yang tinggal di jalan Kenongo ini juga menambahkan bahwa dalam beroperasi, Satpol PP mengacu pada tugas dan dasar hukum yang berlaku pada daerah masing-masing. Alhasil, Satpol PP tidak bisa berbuat lebih daripada sekedar menertibkan saja dikarenakan Ponorogo belum memiliki Perda khusus yang mengatur masalah pengemis tersebut. Sehingga keberadaan Perda tentang pengemis tersebut sangat diharapkan oleh Satpol PP guna menjadi pijakannya agar bisa tegas dalam bertindak. Namun Bapak Kasi Operasional pada kantor Satpol PP ini juga menyampaikan bahwa Perda yang mengatur tentang pengemis sebenarnya sudah dirancang namun masih dalam proses pendalaman. “Sudah ada mbak, tapi masih digodok supaya bisa lebih maksimal nantinya”. Sependapat dengan pernyataaan tersebut, Kasubag Humas Polres Ponorogo juga merasakan perlu adanya Peraturan Daerah tentang pengemis. Bagi pria yang memiliki nama lengkap Bambang Untoro ini, adanya peraturan daerah tentang pelarangan mengemis berikut sangsinya dirasa akan bisa memberikan efek jera sehingga mampu mengurangi jumlah pengemis secara perlahan. Sebut saja, kota Madiun sudah mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 8/2010 tentang perubahan Perda Nomor 4/2006 tentang penyelenggaraan keamanan dan ketertiban umum. Namun ternyata Perda tersebut justru menimbulkan banyak kontroversi. Belum jauh dari proses sosialisasi Perda tersebut, nyatanya mayoritas pengemis yang berhasil dirazia di kawasan kota Ponorogo justru berasal dari kota Madiun. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa akhirnya Ponorogo dijadikan tempat pelarian untuk menghindari peraturan tersebut. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan

54 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 31

bahwa Perda pun sebenarnya dianggap belum bisa menjadi cara yang maksimal dalam menyelesaikan masalah pengemis.

Miniatur Keluarga Ala Panti Rehabilitasi

Panti Rehabilitasi adalah tempat yang oleh sebagian orang dianggap tepat untuk menjadi solusi dari permasalahan pengemis tersebut. Bagi mereka yang sependapat dengan hal tersebut beralasan bahwa memang sudah semestinya pihak-pihak yang bertanggung jawab menangani masalah pengemis tersebut bukan hanya sekedar melarang akan tetapi juga bisa memberikan solusi bagi mereka. Salah satunya dengan mengarahkan mereka untuk masuk panti. Akan tetapi mayoritas orang justru beranggapan negatif terhadap dunia panti. Hal itulah yang menyebabkan banyak orang enggan masuk ke panti. Maka, demi mengetahui kondisi dan informasi yang sebenarnya perihal panti rehabilitasi, kami mencoba melihat sendiri panti yang bertempat di jalan Soekarno Hatta no. 208 Ponorogo. Ternyata panti rehabilitasi ini tidak hanya menampung para pengemis melainkan juga gelandangan, orang terlantar serta orang-orang yang rawan secara sosial dan ekonomi. Meski seperti itu, panti yang luasnya hampir 1 ha ini hanya mampu menampung sejumlah 40 orang saja, yang terdiri bukan hanya dari orang dewasa saja tetapi termasuk anak-anak juga. Warga binaan yang berada di panti tersebut bisa diperoleh melalui berbagai cara. Ada yang masuk karena di razia, menyerahkan diri secara sukarela dan ada pula yang masuk karena dirujuk oleh Dinas Sosial maupun pihak lain yang membutuhkan.

Awal memasuki area panti, kami disambut dengan senyum sapa seorang staf Satpol PP. Setelah lebih dalam bercerita, rupanya demi alasan keamanan, dalam keseharian panti tersebut dijaga oleh anggota Satpol PP secara bergantian. Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan salah satu pengurus panti, kami diperkenankan untuk berkeliling melihat isi dalam panti. Pemandangan pertama tampak seorang wanita yang sedang belajar menjahit pada waktu itu. Ia belajar sambil menjaga anaknya yang masih bayi yang ditidurkan di dekatnya. Lebih dalam, terlihat ada beberapa buah almari yang belum siap pakai. Rupanya itu juga hasil karya dari warga binaan yang mengikuti program tukang kayu. Melangkah lebih jauh, tampak kolam ikan, juga area pertanian yang cukup luas berada tepat di tengahtengah lapangan dan dikelilingi oleh kamar para warga binaan. Lahan pertanian itu ditanami sayur-sayuran seperti terong, tomat, cabe, kacang tanah dan lainnya oleh warga binaan juga.

Awalnya, pandangan aneh yang kami terima. Tetapi semakin lama senyum manis dan keramahan mereka mengalir mengiringi langkah kami. Meskipun mereka tidak mengenal satu dan lainnya tetapi canda tawa, kekonyolan yang mereka buat mengibaratkan mereka sebagai sebuah keluarga. Meski tidak ada ikatan darah tetapi keakraban mereka sudah melebihi saudara sendiri. Selang beberapa lama, kami melihat sepasang suami istri sedang mengadu pada salah satu staf panti. Mereka mengadu tentang kesehatan si suami, juga tentang anak gadisnya yang menginjak ABG dan tidak mau sekolah. Terhenyak hati kami, ternyata pendidikan masih juga diutamakan di dunia panti. Meskipun pendanaan masih dijalurkan lewat panti anak, juga dengan meminta surat keringanan dari sekolah terkait tetapi khusus untuk anak-anak tetap diwajibkan untuk mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, bujuk rayu dan nasehat tak henti-henti diberikan kepada anak yang dianggap bermasalah dengan harapan bisa

“Suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.” (ISDR, 2004) Secara sederhana definisi di atas sudah sangat membantu kita dalam memahami bencana secara mendasar. Dalam definisi yang awal dikatakan bahwa faktor bencana adalah “alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia” maka dari ketiga faktor inilah juga bencana terbagi menjadi tiga jenis (merujuk pada UU 24/2007 dan penulis sepakat dengan pembagian ini). Pertama bencana alam, bencana ini yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempabumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Kedua bencana non alam, bencana ini bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Ketiga bencana sosial, bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror. Dalam studi bencana pemahaman kita tentang bencana tidak boleh hanya berkutat pada definisi dan jenis bencana, namun kita harus masuk lebih dalam lagi kepada pemahaman bagaimana bencana itu terjadi dan bagaimana kerja ideal dalam melakukan pengurangan resiko bencana itu sendiri. Secara sederhana terjadinya bencana dapat kita lihat pada gambar berikut:

Pada gambar di atas tampak bagaimana sebenarnya bencana memiliki “latar belakang” yang tidak sederhana. Seringkali yang diperhatikan oleh kita, adalah pada level pemicu dan kejadian bencana itu sendiri. Sedangkan pada titik resiko bencana yang me-

miliki dua faktornya (ancaman dan kerentanan) lebih sering diabaikan. Sehingga diskusi tentang bencana hanya seputar proses “tanggap darurat” yang sebenar hanya salah satu langkah dari disaster management. Baiklah untuk memudahkan marilah kita sekarang memahmi proses bencana secara lebih mondial. Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Pernyataan inilah sebenarnya yang seharusnya kita jadikan dasar dalam memandang bencana itu sendiri. Maka hal yang paling awal harus kita lakukan adalah melakukan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) bukan menanti bencana itu datang dan kemudian baru melakukan tanggap darurat, pandangan yang terakhir adalah pandangan yang salah kaprah dan simplitis. PRB bisa kita lakukan berawal dari rumus berikut: risiko = bahaya (hazard) x kerentanan/ kapasitas. Pertama, resiko adalah besarnya kerugian atau kemungkinan terjadi korban manusia, kerusakan dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bahaya tertentu di suatu daerah pada suatu waktu tertentu. Resiko biasanya dihitung secara matematis, merupakan probabilitas dari dampak atau konsekwensi suatu bahaya. Kedua, bahaya adalah suatu kondisi, secara alamiah maupun karena ulah manusia, yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian dan kehilangan jiwa manusia. Bahaya berpotensi menimbulkan bencana, tetapi tidak semua bahaya selalu menjadi bencana. Faktornya: • Geologi (Gempa bumi, tsunami, longsor, gerakan tanah) • Hidro-meteorologi (Banjir, topan, banjir bandang,kekeringan) • Biologi (Epidemi, penyakit tanaman, hewan) • Teknologi (Kecelakaan transportasi, industri) • Lingkungan (Kebakaran, kebakaran hutan, penggundulan hutan). • Sosial (Konflik, terrorisme) Ketiga, sekumpulan kondisi dan atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Keempat, kerentanan adalah sekumpulan kondisi dan atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Faktor kerentanan: • Fisik: kekuatan bangunan struktur (rumah, jalan, jembatan) terhadap ancaman bencana

al-millah. DOC

32 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 53

PONOROGO DAN BENCANA: PENGANTAR STUDI KEBENCANAAN
al-millah. DOC

Iftitâh: studi kebencanaan, fakta tersebut Oleh: Ponorogo dalam Lintasan hanya serpihan dan merupakan peM. Arwan Hamidi micu terhadap kesadaran kita bahwa Bencana alam beberapa taAktifis Muda Ponorogo Kabupaten Ponorogo juga “rawan hun ini, kita melibencana.” Hal ini bagi penulis, perhat banyaknya kejadian bencana yang tama, kesadaran semacam ini (baik bagi warga mauterjadi di Kabupaten Ponorogo. Diawali dengan ban- pun pemerintah) bagi penulis agak terlambat, karena jir bandang yang terjadi di ujung tahun 2007, yang sebenarnya di dunia ini tidak ada tempat yang tidak berdampak pada banyaknya kerugian yang dialami rawan bencana (ingat misalnya posisi Negara kita oleh warga masyarakat, baik berupa materiil maupun yang terletak pada pertemuan beberapa lempeng non materiil. Hampir kurang lebih 10 Kecamatan di bumi). Kedua, rekap historis tentang bencana dalam Kabupaten Ponorogo terdampak bencana ini. Jika di- tradisi kita memang sangat minim, meskipun sisanya hitung secara matematis maka kerugiannya milyaran masih dapat kita ingat dalam khasanah local wisdom dan bahkan trilyunan. Pada sisi yang lain dampak dari seperti pesan nenek moyang kita, bahwa jika terjadi bencana itu baik secara fisik, ekonomi, sosial, ling- gempa harus secepatnya keluar dari rumah atau ruankungan, kesehatan dan pendidikan sangat dirasakan gan. Pada titik inilah tulisan ini akan mengajak sidang oleh banyak warga, secara psikis pun juga tak bisa pembaca sekalian untuk mendiskusikan persoalan diabaikan begitu saja. bencana pada umumnya (lebih terkait dengan disasPada tahun selanjutnya banyak bencana yang ter management) dan persoalan bencana yang ada di terjadi di Ponorogo baik bencana yang berupa tanah Ponorogo khususnya. longsor terjadi pada setiap tahunnya dan beberapa Belajar Memahami Bencana dan Disaster angin kencang. Dan yang paling mutakhir adalah bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada Management Pertanyaan yang paling layak kita ajukan tanggal 22 pebruari 2012 ini di empat kecamatan: Bunkal, Slahung, Ngrayun dan Balong. Secara fisik adalah apa sih bencana itu? Menurut aturan yang memang tidak separah banjir pada tahun 2007. Akan ada di Negara kita definisi bencana: “adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa tetapi secara ekonomi warga banjir tersebut menimbulkan masalah yang tidak sederhana. Banyak per- yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan sawahan warga yang tergenang air, sehingga tanaman penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh padi yang merupakan salah satu pilar ekonomi warga faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manubanyak yang rusak dan harapan panen menjadi sangat sia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta bensedikit. Fakta di atas merupakan bentuk yang paling da, dan dampak psikologis (UU 24/2007).” Sedangkan secara internasional bencana nyata dari apa yang disebut dengan “bencana” di Kabupaten Ponorogo. Akan tetapi sebenarnya dalam didefinisikan dengan:

D

memperoleh penghidupan yang lebih baik nantinya. Begitupun dengan warga-warga lain, nasehat dan pendekatan dengan berbagai cara selalu dilakukan oleh para pengurus panti dengan harapan warga binaan akan menjadi pribadi yang beretika baik sehingga dapat hidup secara normal dan mandiri. Sementara itu, untuk tahapan penerimaan warga binaan baru, bisa dilakukan dengan pendekatan aktif maupun pendekatan pasif. Pendekatan aktif dilakukan dengan cara memotivasi calon klien sehingga akhirnya mereka dengan sadar diri berkenan masuk ke panti. Sedangkan pendekatan pasif dilakukan melalui hasil razia, rujukan juga menyerahkan diri. Sebelum menjadi warga binaan, calon klien harus melalui berbagai tahapan. Tahapan yang pertama adalah penyuluhan yang kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi. Dalam tahapan ini, calon klien akan diperiksa kesehatannya serta motivasi dirinya untuk menjadi warga panti. Selain itu, dari pihak panti sendiri sebenarnya punya beberapa kriteria bagi calon warga binaan. Beberapa diantaranya yaitu memiliki KTP dan KK (Kartu Keluarga), sehat jasmani dan rohani, masih produktif juga memiliki potensi. Selain dari mereka yang tidak memenuhi kriteria tersebut, mereka yang memang tidak termotivasi untuk menjadi warga panti dengan berbagai alasan akan dipulangkan ke kampung halaman. Akan tetapi pihak panti tidak akan diam sampai di situ saja. Dengan segera para staf panti rehabilitasi tersebut akan melapor kepada aparat desa setempat supaya mereka bisa lebih diawasi dan nantinya akan merasa malu untuk kembali turun jalan. Selanjutnya, pada tahap penerimaan, calon

klien akan didata lengkap terkait diri mereka. Dari data-data tersebut maka kemudian mereka akan ditempatkan dalam program yang sesuai dengan keahlian mereka. Menurut Sujiono, Penata Muda TK I panti RSGP (Rehabilitasi Gelandangan Dan Pengemis) Jiwo Waluyo tersebut, terdapat berbagai program yang dapat diikuti oleh para klien selama mereka dibina dalam panti. Salah satu yang paling pokok adalah pembinaan. Dalam hal tersebut, Ia bekerjasama dengan banyak pihak. Di antaranya yaitu bekerjasama dengan Dinas Sosial, Polres Ponorogo, Departement Agama, Puskesmas terkait juga Koramil. Meskipun jadwal pembinaan yang tidak menetap tetapi masing-masing dari pihak dianggap memiliki keterkaitan satu sama lain dalam memberikan arahan yang tepat dan optimal untuk bekal kehidupan mereka. Tujuannya sama yaitu untuk merubah sikap dan mental para pengemis supaya menjadi beretika baik dan bisa hidup secara normal. Sementara untuk program pengembangan skill terdapat beberapa pilihan. Diantaranya adalah skill menjahit, obras, pertukangan kayu dan batu, pertanian, juga potong rambut. Warga binaan akan diberi pelatihan selama kurang lebih 6 bulan sampai satu tahun. Setelah itu mereka akan diarahkan untuk mandiri. Pria yang berselera humor tinggi itu menambahkan bahwa untuk tahun lalu, sudah ada 3 warga binaannya yang akhirnya memilih mandiri untuk bekerja di Kalimantan dan dua lainnya melancong ke Sulawesi. Kemudian, menanggapi hal yang sama, Bambang Untoro selaku Kasubag Humas Polres Ponorogo juga lebih menyerahkan

solusi dari permasalahan pengemis tersebut kepada masyarakat. Hal tersebut disebabkan karena masyarakatlah yang dianggap paling dirugikan oleh ulah para pengemis. Bagaimana tidak, masyarakat yang melihat bagaimana wajah-wajah memelas itu menengadahkan tangan tentu saja akan merasa iba dan kemudian mengeluarkan recehnya. Padahal aslinya mereka adalah orang-orang yang berkecukupan dan bahkan mungkin tidak berbeda jauh penghasilannya. Lebih menyedihkannya lagi, masyarakat yang secara tulus ikhlas memberikan sumbangan karena menganggap mereka adalah benar-benar orang yang membutuhkan justru harus dikecewakan oleh penampilan mereka. Selain itu, diluar persoalan agama dan pelanggaran ketertiban umum, setiap receh yang kita berikan kepada para pengemis terkadang membuat mereka betah menengadahkan tangannya kepada orang lain. Sedekah yang kita berikan, malah membuat pengemis semakin tergantung. Ujung-ujungnya, mereka akan menjadikan kegiatan mengemis sebagai mata pencahariaannya. Akhirnya, kembali pada kebijakan sikap masyarakat sendiri saat menghadapi mereka. Sebagai contoh, mungkin bisa mengganti uang receh dengan bantuan lain yang bisa langsung mereka nikmati, misalnya sepotong roti untuk makan mereka. Selain itu, apabila kita berniat untuk sedekah, ada baiknya sedekah itu disalurkan melalui Bazis (Badan Amil, Zakat, Infak, dan Shadaqah), meski jumlahnya sangat sedikit. Menyalurkan sedekah lewat lembaga amal lebih aman daripada memberi di jalanan.*** Dewi.Crew, NIC: 1809. 058

52 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 33

rang dapat di kata atau penokohan ku ta, jika saja dalam tutur h ka Ini sebatas seni mengola n tawa.... ^$^& a bisa mempersembahka eheee &%^$%^#$@#$ terima, kami hany hanya rekayasa.... hheh terima, toh ini 1910. 069 *kopling@suwal* NIC: Kalau pun ada yang tidak *senimantanpanama*

Gerakan-gerakan mahasiswa memiliki banyak peran untuk masyarakat. Selain menyampaikan aspirasi juga menyampaikan gagasan-gagasan kritik kepada Negara. Perubahan yang diinginkan memang perlu diperjuangkan. Mengingat sistem yang berkembang di Negara ini menganut pada demokrasi. Sehingga siapapun bisa hidup, makan, dan berkumpul sesuai dengan keinginannya.

secara Nasional. Naiknya berbagai harga kebutuhan pokok, meskipun terjadi penundaan. Keputusan menambahkan UUD pasal 7 ayat 6 a, dengan penjelasan BBM boleh naik tapi dengan syarat. Apabila terjadi fluktuasi 15% harga minyak dunia maka pemerintah berhak menyesuaikan harga, dalam kurun waktu 6 bulan. Dengan adanya keputusan ini, masyarakat merasa “tertipu” dengan permainan politik pada aparatus pemerintah. Bagaimana tidak, isu kenaikan BBM telah didengungkan langsung oleh SBY, akan tetapi kebijakan serta keputusan yang diambil tidak tegas. Membuktikan bagaimana sistem pemerintahan telah mengabaikan kepentingan masyarakat. Indonesia memiliki kekayaan minyak yang melimpah. Akan tetapi Indonesia belum memiliki fasilitas untuk melakukan pengolahan secara mandiri. Hal ini mengakibatkan, kegiatan perekonomian Indonesia masih “disopir” oleh pihak-pihak “penguasa”. Perlu adanya kebijakan yang tegas, bahwa Indonesia mampu menyortir kebutuhan minyak dalam Negeri. Dengan pemanfaatan kekayaan dalam Negeri secara seimbang, akan menumbuhkan sikap Nasionalisme. Gerakan-gerakan mahasiswa memiliki banyak peran untuk masyarakat. Selain menyampaikan aspirasi juga menyampaikan gagasan-gagasan kritik kepada Negara. Perubahan yang diinginkan memang perlu diperjuangkan.

Mengingat sistem yang berkembang di Negara ini menganut pada demokrasi, sehingga siapapun bisa hidup, makan, dan berkumpul sesuai dengan keinginannya. Mahasiswa dalam aksinya di jalan perlu juga memberikan kontribusi kongkrit dengan melakukan pendekatan secara langsung dengan masyarakat. Dengan memberikan pendampingan, dan pemgarahan, sehingga apabila terjadi ketimpangan adanya dominasi, bisa dengan segera dilakukan tindakan baik secara langsung maupun tidak. Langsung dengan melakukan aksi menyampaikan aspirasi atau gagasan. Atau dengan melakukan aktifitas kongkrit mengenai kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat, sehingga para penentu kebijakan dapat berfikir dua kali untuk menentukan sebuah keputusan yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Dalam pancasila pilar kelima, berbunyi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bentuk plural serta multikultural bangsa Indonesia, patut untuk diberikan penghargaan setinggi-tingginya. Semua lapisan masyarakat berhak mendapatkan haknya untuk hidup, haknya untuk makan, haknya untuk menyampaikan gagasan. Dan juga hak rakyat untuk memimpin Negaranya, karena sejatinya pemimpin Negara dan bangsa Indonesia ini adalah Rakyat Indonesia Seutuhnya.***
al-millah. DOC

34 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 51

Peran para pelajar, ilmuan, agen intelektual perlu segera diberdayakan, dengan maksud memberikan peluang kepada mereka untuk menjadi insan yang berdaya guna untuk bangsa dan Negaranya, bukan untuk Negara lain. Percuma, jika anak-anak bangsa, menuntut pendidikan tinggi hingga ke luar Negeri, sehingga mendapatkan gelar Profesor sekalipun, akan tetapi tidak mendapatkan tempat di Negaranya sendiri – karena belum atau tidak difasilitasi oleh Negara – menjadi ironi dan kerugian bagi Negara yang hendak maju seperti Indonesia. Indonesia memiliki ribuan bahkan jutaan agen intelektual, atau dikenal dengan mahasiswa. Mereka adalah pondasi yang sedang berproses di bawah. Mereka sedang mengamati, memperbanyak pengetahuan dirinya dengan seperangkat teori. Tentunya di harapkan dapat berdaya guna untuk mengatasi kondisi masyarakat yang belum terarah secara makro dan maksimal. Selama ini, mahasiswa memiliki peran yang sangat penting dalam hidupnya, selain mereka hidup sebagai seorang pelajar, akan tetapi pada masanya memiliki tanggungjawab pada Negaranya. Proses pendidikan senantiasa mengajarkan agar menjadi manusia terbaik, sehingga menghasilkan keadaan yang terbaik. Kondisi ini menuntut satu aktualisasi yang benar-benar nyata dari semua kalangan. Mahasiswa, dengan perannya, dengan semangat perjuangan pada dirinya diharapkan mampu mengatasi segala polemik yang terjadi di masyarakat. Mungkin, pemuda selalu dikenal sebagai sosok yang memiliki sifat ngotot, tapi inilah semangat meraka yang pantang mundur sebelum

mencapai tujuan. Pastinya, diiringi dengan persiapan dan perhitungan yang tidak sembarangan – itu tidak mungkin (berlaku sembrono) karena mereka adalah agen intelektual. Mahasiswa dan tanggung jawab sosial Dunia kampus, banyak berlalu lalang para pelajar, mereka

Masyarat tidak hanya perlu dengan teori, karena teori hanya membingungkan bagi mereka. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana menyampaikan dan mengaplikasikan teori itu secara praktis, sehingga masyarakat mempraktekan secara penuh, sehingga perubahan yang nyata itu benar-benar dapat diwujudkan.
senantiasa menanting buku di tangannya, memikul jutaan referensi di atas kepalanya, memikul pena dibelakang punggungnya. Seperti ini gambaran dunia kampus, senantiasa dimeriahkan oleh orang-orang terpelajar yang dimiliki Negara. Tapi keadaan ini secara artifisial, belum memberikan dampak positif atas ketimpangan sosial yang ada. Persoalan kemiskinan, pengangguran, kesehatan, pendidikan, perekoniman, dan temantemannya. Diperlukan para ahli

untuk menyumbangkan kekuatan berfikirnya agar mampu melakukan perbaikan. Di kampus, mahasiswa selalu bergelut dengan buku, referensi, makalah, jurnal, dan kolega-koleganya. Berbagai teori selalu didapatkan dan selalu bertambah sebagai perangkat untuk mencapai tujuan. Akan tetapi semua teori yang ada serta kegunaan dan manfaatnya menjadi penting adanya, karena teori memerlukan aplikasi, bukan sekedar dipelajari. Cita-cita masyarakat Indonesia, ialah ingin mencapai kesejahteraan yang sesungguhnya, yang berjangka panjang, bukan sekedar retorika sebatas tepuk tangan yang tanpa suara. Karakter Sosial Dalam Kacamata Perubahan Komunal Dampak sosiologis yang mendera masyarakat adalah jika adanya kebijakan yang merugikan. Menjadikan kondisi masyarakat timpang tindih dengan keadaan perekonomian, baik itu makro maupun mikro. Ekonomi Nasional memang perlu dipertimbangakan, baik terjadinya degradasi maupun fluktuasi dengan ekonomi dunia, akan tetapi dampak Nasional juga perlu dipertimbangkan. Kecenderungan masyarakat yang menginginkan perubahan secara praktis, membentuk karakter kelompok yang dominan pada kerjasama dan gotong-royong. Tidak salah, jika masyarakat memilih bergerak maju serentak melawan dan bertindak jika itu benar-benar telah menyudutkan posisi mereka. Satu fakta pada isu kenaikan BBM “yang tertunda” pada pemerintahan SBY periode ke-2, telah berdampak pada aktifitas ekonomi

50 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 35

Multatuli

egara tanpa penjajahan merupakan cita-cita yang luhur bangsa Indonesia yang tercermin dalam pembukaan UUD ’45, “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Masyarakat dalam Negara tanpa penjajahan tidak memiliki rasa lebih rendah dari masyarakat lain. Mereka merasa sederajat sehingga tidak mengizinkan masyarakat untuk menindas satu sama lain. Kolonialisme selalu memberi doktrin bahwa Negara penjajah selalu lebih unggul, lebih beradab dan lebih mulia dari masyara-

N

kat Negara yang dijajah sehingga merasa berhak untuk mengatur mengendalikan bahkan menindas masyarakat yang dijajah. Sebelum kemerdekaan 1945, masyarakat dibedakan dalam beberapa kelas yang menunjukkan tingkat kekuasaannya. Orangorang Belanda sebagai Negara penjajah menduduki kasta tertinggi, kemudian pribumi atau bumiputera (inlander) yang terdiri dari penguasa lokal dan masyarakat jelata. Masyarakat jelata memiliki dua pemimpin yaitu orang-orang Belanda sendiri dan penguasa lokal seperti Raja dan Adipati. Yang sungguh ironis adalah kedua-

Sebelum kemerdekaan 1945, masyarakat dibedakan dalam beberapa kelas yang menunjukkan tingkat kekuasaannya. Orang-orang Belanda sebagai Negara penjajah menduduki kasta tertinggi,

36 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

al-millah. DOC

Pejuang kemerdekaan, walau di Negeri orang

tetapi suramnya kemiskinan semakin tinggi, pengangguran merajalela, lapangan pekerjaan sempit, di tambah buruknya kinerja para birokrat, menambah daftar panjang sejarah penjajahan sosial di Negeri ini. Indonesia membutuhkan seperangkat manusia yang mampu melakukan gebrakan atas kondisi semacam itu. Sebagai penampung, menyalurkan, sekaligus mewujudkan suara masyarakat. Indonesia adalah milik masyarakat Indonesia, segala keputusan, adalah milik rakyat Indonesia. Segala bentuk kebijakan dan keputusan, yang diperuntukan bagi Indonesia secara keseluruhan, haruslah melalui keputusan bersama dengan masyarakat Indonesia, sebagai pemilik sah Negeri ini. Perangkat yang dibutuhkan adalah semangat muda. Semangat muda yang memiliki greget melakukan tindakan dengan berani mengambil resiko apa-

pun yang akan dihadapainya. Mari kita ingat Soekarno, Presiden muda Indonesia yang diakui dunia, berkat retorika dan kapabilitas sebagai Presiden berhasil membawa Negara pada kemajuan yang massif, melepaskan diri dari westernisasi. Soekarno merupakan sosok yang pernah hilang dari Indonesia. Sekarang kita sedang menunggu sosok-sosok pemberani sepertinya, lahir di Indonesia. Inilah waktunya, abad yang penuh dengan kemajuan dan canggihnya teknologi. Berbagai perubahan telah menghasilkan banyak pengetahuan. Lahirnya para ilmuwan menambah daftar kekayaan orang-orang pintar yang dimiliki manusia. Lihat saja, setiap tahun, semakin banyak orang yang mendaftarkan dirinya sebagai mahasiswa maupun siswa. Inilah potret pendidikan, yang tujuannya semua manusia ingin menjadi manusia pintar dan cerdas. Yang menjadi pertanyaan, dengan semakin banyaknya para akademisi, ilmuwan, dan agen intelektual di Indonesia, perubahan apa yang sudah tampak dan sudah diwujudkan? John of Kennedy, pernah mengatakan, “Jangan berharap apa-apa dari Negaramu, tapi berikanlah sesuatu untuk Negaramu”. Dari pidato yang disampaikan Kennedy, telah memberikan kesadaran massif, bahwa tanggungjawab Negara bukan hanya di tangan Presiden, tapi di tangan seluruh lapisan masyarakat. Indonesia yang notabene diakui dunia, sebagai negara yang memiliki kultur beranekaragam (bahkan orang nomer satu di Amerika Barrac Obama mengakui itu), telah banyak kehilangan daya pada sisi kesatuan serta persatuan. PR bagi para aparat birokrasi, bahwa Indonesia sedang dan akan mengalami krisis ekonomi, sosial, budaya, pada waktu-waktu yang tak terpikirkan dan kapan datangnya. Segera perlu disiapkan segala perangkat, yang mungkin mampu meminimalkan keadaan demikian.

Doc. Etc

aL-Millah edisi 27/ 2012 49

MAHASISWA DAN PEMIMPIN SEJATINYA
(Potret Keberadaan Pemimpin Negara “Yang Terabaikan”)

erdengar dari sabang hingga merauke, Proklamasi telah ‘dikibarkan’. Bukan sekedar simbol kebebasan, ataupun keniscayaan retorika. Ini kenyataan atas terbebasnya masyarakat Indonesia dari kungkungan para penjajah. Para penjajah berpuluh-puluh tahun mendekam di Negara tercinta Indonesia, dengan melakukan berbagai kegiatan, yang nyatanya memberikan dampak bagi keadaan Indonesia di masa depan. Masa demi masa perhelatan politik, ekonomi, budaya, sosial kian berkembang, terkadang menjadi momok menakutkan pada waktu tertentu. Sejarah mencatat, berbagai keadaan di Indonesia telah mengakibatkan pada himpitan kemerosotan

T

keadaan masyarakat menjadi lapisan sosial yang heterogen. Sisa-sisa penjajahan beMahasiswa Ushuluddin Smt. VIII rakhir dengan penuh perjuangan. Para pemuda bangsa telah Indonesia membutuh- melakukan dorongan secara ‘radikal’ untuk membawa Inkan seperangkat madonesia pada keadaan yang lebih baik. Mimpi menjadi nusia yang mampu skedar mimpi, memimpikan mel­akukan gebrakan Indonesia yang bedaulat di atas kondisi semacam tangan rakyat, hilang karena krisis ekonomi. Keadaan itu. Sebagai penammenjadi timpang, kondisi sosial menjadi tidak terarah. pung, menyal­urkan, Sistem sekal­igus mewujudkan keadaan krisis,Negara dalam perlu para ahli suara masyarakat. Indo- birokrasi dalam menangani nesia adal­ah mil­ik ma- berbagai persoalan masarakat. Indonesia memilki kesyarakat Indonesia, se- anekaragaman budaya yang gal­a keputusan, adal­ah sangat kaya. Suku, budaya, bahasa, adat, adalah pelangi mil­ik rakyat yang tidak akan pernah hilang dari bumi pertiwi. Akan Indonesia. Oleh : CAK HIJROH

duanya sama-sama mengeksploitasi masyarakat jelata dengan sewenang-wenang. Hindia Belanda dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang merupakan perwakilan kerajaan Belanda. Setiap daerah dipimpin oleh Residen dan dibantu oleh Asisten Residen. Selain itu ada penguasa lokal seperti Raja dan Adipati. Dalam kasus Multatuli, Adipati seringkali memeras warganya, memperkerjakan mereka tanpa upah dan menarik hasil bumi dan ternak mereka dengan semena-mena. Sehingga ditemukan suatu daerah yang subur namun rakyat kelaparan, atau ditinggal warganya karena tidak tahan dieksploitasi terus menerus Multatuli alias Eduard Douwes Dekker adalah orang Belanda yang paling gelisah ketika melihat penjajahan bangsanya atas bangsa Indonesia. Ketika bertugas pada pertengahan abad 19 M. di daerah Lebak Banten, Multatuli yang lahir pada tahun 1820 M., melihat berbagai ketidakadilan dan kesengsaraan yang menimpa masyarakat pribumi. Dalam bukunya Max Havelaar Multatuli membeberkan berbagai bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa Belanda dan juga penguasa pribumi sendiri. Penindasan yang dilakukan oleh pribumi tidak terlepas dari sistem pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda pada saat itu. Max Havelaar “Aku Akan Dibaca” Multatuli merupakan nama pena yang digunakan oleh Eduard Douwes Dekker dalam sebuah Roman Biografi yang berjudul “Max Havelaar”. Nama Multatuli berasal dari bahasa latin yang berarti “aku sangat menderita”. Multatuli berusaha membuka mata siapa saja yang membaca bukunya untuk melihat jutaan warga Hindia Belanda yang menderita karena kolonialisme yang dilakukan bangsa Belanda. Multatuli yang wafat pada tahun 1887 M., bukanlah penulis besar bahkan bukunya dianggap buruk (Moechtar ix) tetapi bukunya mampu menimbulkan ‘gelisah dan gemetar’ di seluruh Negeri sejak terbitnya untuk pertama kali pada 1860 M.. Melalui bukunya tersebut Multatuli ingin memberitahukan keadaan masyarakat Lebak yang merupakan representasi Hindia Belanda yang sangat menderita. Ketika bertugas Multatuli beberapa kali melaporkan penyalahgunaan wewenang pejabat seperti Adipati, kepada Residen maupun kepada Gubernur Jenderal namun tidak ada tanggapan dari Gubernur Jenderal maupun Residen. Malahan Multatuli dipindah tugaskan ke daerah lain. Hal yang sangat membuatnya dilematis, di sisi lain

Multatuli alias Eduard Douwes Dekker adalah orang Belanda yang paling gelisah ketika melihat penjajahan bangsanya atas bangsa Indonesia. Ketika bertugas pada pertengahan abad 19 M. di daerah Lebak Banten, Multatuli yang lahir pada tahun 1820 M., melihat berbagai ketidakadilan dan kesengsaraan yang menimpa masyarakat pribumi.
kedudukannya semakin meningkat, di sisi lain ia harus meninggalkan masyarakat Lebak yang sangat menderita dan membutuhkan dirinya. Dalam keadaan bimbang Multatuli memilih mengundurkan diri. Keputusan yang sangat sulit diambil di saat dirinya juga memiliki hutang yang sangat banyak. Keputusan ini merupakan bentuk protes dirinya terhadap pemerintahan Belanda. Roman Biografi yang Ia tulis setelah kembali ke negaranya mampu membuka mata dan memberi pencerahan kepada masyarakat Belanda dan Eropa tentang penjajahan di Hindia Belanda. Buku ini juga mampu mendorong kesadaran identitas diri sebagian kaum Feodal Jawa dan intelektual bumiputera (Pramoedya A.T). Diakui atau tidak buku Max Havelaar secara tidak langsung mendorong beberapa perintis organisasi pergerakan Nasional dan membawa kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Buku Max Havelaar merupakan buku biasa saja dilihat dari kacamata sekarang. Tetapi jika melihat masyarakat Indonesia pada saat itu, buku tersebut merupakan buku paling jujur menyuarakan penderitaan masyarakat Indonesia. Di dalam buku tesebut ada bab khusus yang menceritakan tentang kisah cinta Saidjah dan Adinda. dimana kisah cinta mereka harus berakhir dengan sangat menyedihkan. Dimana awal cerita di mulai ketika Saidjah dan Adinda membuat sebuah janji untuk bertemu kembali setelah beberapa tahun. Merantaulah Saidjah meninggalkan Adinda. Adinda yang hidup dengan ayahnya yang miskin harus menjadi sangat miskin ketika harta mereka satusatunya berupa satu ekor kerbau diambil paksa oleh Adipati. Ketika sangat miskin dan tidak memiliki apa-apa Adinda dan ayahnya diam-diam meninggal-

al-millah. DOC

48 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 37

kan Lebak menyeberang ke Sumatera. Karena jika tidak sembunyisembunyi, seorang warga yang meninggalkan daerahnya tanpa izin bisa dihukum penjara. Mulailah cerita pencarian Saidjah untuk menemukan Adinda, kekasih yang Ia tunggu-tunggu. Setelah mencari kesana kemari akhirnya Saidjah mencari sampai Sumatera. Di sana Saidjah sangat kecewa karena menemukan Adinda dan ayahnya telah meninggal karena perang melawan pemberontakan Belanda. Kisah cinta Saidjah dan Adinda merupakan satu contoh kisah pilu percintaan yang diceritakan Multatuli. Menggugah rasa kemanusiaan lewat sastra dengan keyakinan “aku akan dibaca” Multatuli ‘nekat’ menulis sebuah buku Max Havelaar, buku yang merupakan gugatan sosial yang menggemparkan masyarakat baik Negeri Belanda sendiri, Eropa maupun kawasan Hindia Belanda. (Moechtar vii). Masyarakat Eropa khususnya Belanda sendiri kemudian menyadari bahwa kemakmuran yang mereka nikmati merupakan jerih payah, tetesan keringat bahkan tetesan darah warga pribumi di Hindia Belanda. Dikatakan ‘nekat’ karena Multatuli dianggap tidak punya bakat, bahkan tidak punya pengalaman dalam menulis buku. Ia menulis dengan tata bahasa yang buruk, dan sebagainya. Begitulah komentar para pembacanya saat itu. Tetapi kekurangan-kekurangan tadi tidak menyurutkan rasa kemanusiaan Multatuli, rasa yang membuncah yang tidak dapat ia bendung. Multatuli mulai menulis pada Septrember 1859 di Brussels, di sebuah losmen tua dan menyelesaikannya dalam tempo sebulan. Kemudian pada 15 mei 1860 buku tersebut mulai ditebitkan di Amsterdam. Terlepas dari kekurangan buku Max Havelaar seorang Multatuli mampu memanfaatkan sastra den-

Dikatakan ‘nekat’ karena Multatuli dianggap tidak punya bakat, bahkan tidak punya pengalaman dalam menulis buku. Ia menulis dengan tata bahasa yang buruk, dan sebagainya. Begitulah komentar para pembacanya saat itu.
38 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

gan baik, walau saat itu sastra masih begitu asing. Di Indonesia sendiri kemampuan baca tulis merupakan kemampuan yang sangat langka pada saat itu. Kebanyakan hanya golongan ningrat saja yang bisa baca tulis, dan masyarakat Belanda sendiri. Tapi karya sastra Multatuli mampu menyuarakan rasa kemanusiaan dan keadilan dengan sangat efektif, berupa buku yang seperti dikatakan Multatuli mampu membuat omongan bodoh tentang Ekonomi dan Politik di masyarakat. Tetapi juga diakui oleh Multatuli bahwa bukunya belum mampu merubah keadaan segi kepentingan Politik. Bukunya memiliki dwi fungsi yaitu diakhirinya pemerasan dan dikembalikan kehormatan rakyat jelata di Jawa dan nama baiknya dipulihkan. Bentuk pemerasan yang dilakukan seperti pada saat kerja tanam paksa. Pemerintah Belanda memerintahkan sebagian lahan warga ditanami beberapa jenis comoditas yang sangat tinggi harganya pada saat itu di pasaran dunia. Selain itu mewajibkan pada mereka untuk terlebih dulu menjadi buruh kerja di lahan yang disediakan oleh Kolonial, kemudian setelah itu baru dipersilakan mengurusi perutnya sendiri. Menurut Multatuli sistem ini dianggap penghisapan yang paling keji dan sangat tidak berperikemanusiaan dari bangsa yang merasa paling beradab. Selain itu di daerah ia ditugaskan di Lebak, Banten, penguasa lokal, Bupati Lebak Nata Negara, merampasi harta dan kerbau penduduk, serta memeras tenaga rakyat tanpa imbalan pantas. Adipati memperkerjakan warga tanpa memberi upah dengan pantas dan masih mengambil kerbau warga. Jadi sering ditemukan kasus kelaparan walupun hasil panen melimpah. Walupun sudah melaporkan hal ini pada atasannya, Residen di Serang, namun Residen malah memilih mengabaikannya dan menjaga hubungan dengan kroni pribuminya. Nama baiknya juga tercemar karena atasannya malah menganggap dirinya tidak becus. Tersingkirnya Multatuli dikarenakan adanya dualisme kekuasaan antara Bupati (pribumi) dengan Residen (penguasa Belanda). Penggantian seorang Bupati dapat menimbulkan gejolak baru, sementar pemerintah Belanda sendiri sedang mengalami defisit keuangan karena perang melelahkan dengan pangeran Diponegoro dan kaum Padri. Perang pena yang dilakukan oleh Multatuli lewat bukunya Max Havelaar secara tidak langsung mampu membawa arah kebijakan pemerintah Belanda terhadap Hindia Belanda. Tidak berselang lama

yang ada di sekitarnya, terutama untuk para peserta hati masalah sosial, ia berpikir bahwa memliki mental didiknya. yang baik bisa menjadi salah satu alternatif mengaSosok pendidik yang selalu menjadi favorite wali usaha untuk mengatasi masalah sosial. Selain itu para Mahasiswa ini tidak hanya mengajarkan ilmu pak Nurdin juga sedikit demi sedikit menanamkan sipengetahuan yang sudah biasa didapat oleh para ma- kap altruism, kemauan untuk berbagi, ikut merasakan hasiswa lainnya. Tetapi juga mengajarkan tentang dan memikirkan masalah yang menimpa orang lain, bagaimana bisa meyakini diri sendiri untuk melaku- begitu banyak orang yang menderita di luar sana, kan suatu perbuatan yang tidak bahkan mungkin di sekitar kita melukai hati orang lain, mengerti sangat butuh minimal emLayaknya gel­ombang di yang akan lebih bagus jika punya akan keadaan sosial serta meyapati, kinkan peserta didiknya untuk l­autan, ada kal­anya di ba- kemampuan untuk memberi. memiliki mental yang bisa men- wah dan ada kal­anya di Tentang optimistis mungjawab masalah yang ada. kin tidak hanya berhenti sampai “Saya berusaha memperke- atas. Ketika manusia di di situ. Banyak orang yang sering nalkan kepada para mahasiswa bawah, tidak ada jal­an terlupakan karena keputusasaan tentang perlunya punya mental dan akhirnya lebih memilih unpositif. Mental yang positif ini l­ain sel­ain menuju ke atas tuk menyerah karena mental yang dicirikan dengan kepemilikan ter- dan perjal­anan tersebut kurang. Padahal Tuhan memberi hadap positive feelings, thinkings, cobaan tidak keluar dari kemamharus tetap disertai de- puan manusia. yang terealisasi dalam positif actings. Karena begini, masalah men- ngan sabar, doa dan ikhLayaknya gelombang di tal menurut saya sangat penting tiar. Ketika manusia be- lautan, ada kalanya di bawah dan sebagai langkah awal mengatasi ada kalanya di atas. Ketika manumasalah sosial. Kita mendengar rada di atas, tidak ada sia di bawah, tidak ada jalan lain, banyak orang yang kaya yang jal­an l­ain, sel­ain ke ba- selain menuju ke atas dan perjalatetap saja menjadi tikus-tikus di nan tersebut harus tetap disertai ruang kerja, menjadi predator bagi wah. Perl­u diingat untuk dengan sabar, doa dan ikhtiar. Kekaumnya sendiri. Mereka melaku- mengucap syukur serta tika manusia berada di atas, tidak kan itu bukan karena kekurangan ada jalan lain selain ke bawah. finansial, tetapi lebih karena men- mengingat sesama ma- Perlu diingat untuk mengucap tal kere yang terprogram dalam nusia meski berbeda ras, syukur serta mengingat sesama alam bawah sadar mereka.”, manusia yang meski berbeda ras, suku, dan budaya, karena suku, dan budaya, karena sejatinkatanya. Banyak teladan yang bisa sejatinya kita adal­ah se- ya kita adalah sesama hamba dari diperoleh dari laki-laki berjeng- sama hamba dari ciptaan ciptaan yang Tuhan yang Esa. got ini. Terutama tentang masalah Hal itu dialami oleh semua yang Tuhan yang Esa. orang, termasuk pak Nurdin sendbagaimana kita bisa membangun sikap yang sewajarnya dalam diri iri. “Saya berusaha membenahi kita. Tentunya dengan harapan perekonomian keluarga. Mohon agar minimal kita tidak menambah tempat di dalam doa, semoga kita semua dilimpahi rejeki yang berkah, masalah sosial, tetapi lebih menuju ke solusi masalah katah, sangu ngibadah. Amin..” Doa yang dipanjatsosial. Biasanya, di setiap perjalanan hidup akan se- kannya. lalu bertemu dengan ujian dan rintangan. Ujian dan “Tidak akan ada orang yang dermawan menjadi rintangan tersebut menguji kesabaran dan sebagai miskin. Semoga kita menjadi hamba Allah yang tidak warna-warni perjalanan menuju kesuksesan. Bapak menjadikan materi duniawi sebagai pusat kepentingan yang ramah ini juga menjelaskan bahwa banyak dan tujuan dari ilmu kita. Semoga yang berkecukupan sekali orang-orang yang bekerja keras tetapi tetap be- terbuka untuk memberi, yang mau memberi diberi jalum mendapat jalan, dan akhirnya menyerah. Padahal lan untuk menunaikannya”, Prinsip dan harapan pak mereka hampir sampai pada garis keberhasilan. Jadi, Nurdin, yang semoga bisa diteladani.*** selain beragamnya solusi yang disampaikan pemerDrias.crew, NIC: 1910.084

aL-Millah edisi 27/ 2012 47

gusaha. Ketika para penduduk di sekitarnya banyak yang memilih untuk menjadi pengusaha, beliau terlebih dahulu memilih untuk menerjunkan dirinya di bidang pendidikan. Meskipun sebenarnya ada faktor penghambat dan ada rasa berat dalam menyelesaikan pendidikannya, tetapi bapak tiga anak ini termotivasi dari sebuah sabda Nabi yang menyatakan bahwa ilmu itu memang penting. “Saya itu menggali pendidikan dari keterpaksaan. Sekaligus untuk pembuktian dari suatu sabda; kalau ingin bahagia di dunia kuasailah ilmu dan jika ingin bahagia di akhirat kuasailah ilmu”. Itulah salah satu motivasinya yang mungkin juga menjadi motivasi bagi siapa saja dalam mencari dan memberikan ilmu yang terbaik di generasi berikutnya. Karena baginya “Jika ingin memberikan yang terbaik maka persiapkan dan lakukan yang terbaik pula”. Sekalipun ia tamat dari pendidikannya dan mencapai puncak kesuksesan, tak lantas membuatnya tinggi hati dan lupa akan masalah sosial. Kesederhanaan menjadi sifatnya, sederhana adalah dirinya. Pak Nurdin yang menganjurkan orang bermental baja ini akan selalu ingat kepada kaum miskin. Kaum miskin yang tak pernah mengerti akan jawaban mengapa kehidupannya berada pada tingkatan bawah. Entah apa pun, bagaimana pun dan kapan pun keadaan yang ia alami, jika ada yang membutuhkan pertolongannya terutama kaum yang kurang beruntung, pasti akan ia bantu. “Berbagi itu indah… Saya sendiri pun juga terkadang heran, meskipun belum tanggal muda, akan selalu dapat jalan jika memang sudah waktunya untuk berbagi, entah darimana jalannya dan memang bukan sebuah solusi yang ilmiah menyelesaikan masalah dengan berbagi sembako dan sumbangansumbangan yang sangat tidak seberapa. Tetapi hanya itu yang bisa kita lakukan. Ya lakukan saja. Mungkin ada benarnya pepatah ini, ‘ngah-ngoh, pah-poh, ra masalah. Sing penting nyah-nyoh.’ (Bodoh tidak masalah asalkan suka berbagi). Kalau mau berbagi, ya bagi aja, nggak usah terlalu banyak analisis yang akhire gor, ra sidho nyumbang”. Tegasnya. Sementara itu, tak jarang masyarakat yang berbondong-bondong untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, namun tidak memperdulikan baik atau tidaknya materi tersebut, dan bahkan tidak muncul dalam benak mereka bahwa masih ada yang membutuhkan uluran tangannya. “Uang memang bukan segalanya, tetapi dengannya banyak yang bisa kita lakukan. Yang terpenting diketahui bahwa uang adalah boss yang jahat dan

hamba yang baik. Banyak orang bener menjadi tidak beres karena mengikuti perintah uang, tetapi lihatlah uang tidak peduli gambarnya kaisar, presiden, firaun, atau orang utan jika kita lipat dan masukkan kotak sumbangan, sama sekali tidak ada teriakan”. Demikian ucapnya. Perlu diingat bahwa harta itu adalah titipan dan ujian yang terkadang membuat pemiliknya sering lupa. Suatu titipan yang juga menjadi hak orang lain khususnya golongan yang kurang mampu. Menggunakannya pun dengan sewajarnya, tidak perlu dilebih-lebihkan dan mempertimbangkan kemanfaatannya dengan bijak. “Menyimpan harta dalam rumah adalah layaknya menyimpan pupuk kandang yang jika dibiarkan akan menjadi penyakit, tetapi jika harta itu disebar (dinafkahkan) maka harta itu akan menyuburkan (memberi manfaat) kepada yang memberi”, ungkapnya lagi. Pak Nurdin memandang bahwa kehidupan ini harus total. Total dalam artian bahwa setiap melakukan apapun itu harus benar-benar serius dan ikhlas. Diawali dulu dari yang terkecil kemudian menjalani proses dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan. Menikmati dahulu prosesnya, bagaimanapun hasilnya nanti pasti akan setara dengan proses yang telah dilalui. Meski terkadang hasil itu sendiri tidak bisa diterima logika, tetapi harus tetap yakin akan adanya masa indah di masa selanjutnya. Selain itu, yang dimaksud dengan total adalah berani menjalani hidup. Berani meyakini bahwa apapun yang kita inginkan pasti akan tercapai. Apapun itu jangan hanya untuk bersembunyi di dalam kegelapan. “Saya termasuk dalam golongan “cecak nguntal cagak” terlalu banyak yang ingin saya lakukan, tetapi terlalu terbatas kemampuan yang ada. Yo wis ben. Minimal dapat ganjaran niat. Tetapi tunggu dulu,yang saya pelajari bahwa thoughts send out a magnetic energy: Pikiran-pikiran yang fokus, sering, kuat, mengirimkan energi magnetik untuk menarik apa yang kita pikirkan menjadi sebuah kenyataan. Saya sudah kirim banyak energy pikiran baik, untuk kelimpahan, kebersamaan, kebermanfaatan, tinggal nunggu dreams come true, sambil ikhtiyar tentunya” Di sisi lain, memang ada banyak masalah sosial yang ada. Bisa dibilang tidak mampu jika hanya beberapa orang yang memperdulikannya agar masalah tersebut dapat terentaskan. Sekalipun demikian, optimis harus selalu dijadikan acuan. Seperti bapak dari tiga anak ini yang berbagi optimistisnya kepada orang

kemudian muncul aksi balas budi yang dicetuskan oleh Pemerintah Belanda yang kelak dinamakan Politik Etis. Politik yang lebih manusiawi dan lebih menghargai Bumiputera. Bukunya menginspirasi Indonesia Sungguh sangat lama bagi warga Indonesia yang tidak bisa memahami bahasa Belanda untuk bisa membaca buku ini. Karena baru pada tahun 1972 terbit dalam bahasa Indonesia setelah diterjemahkan oleh H.B. Jassin. Hal ini tidak diketahui pasti penyebabnya tapi walupun demikian para pejuang kemerdekaan awal adalah golongan terpelajar hasil didikan Belanda sehingga bisa memahami buku itu dengan baik. Kartini yang lahir pada tahun 1879 merupakan orang yang terpengaruh oleh buku Multatuli sebelum umur 20 tahun. Kartini yang telah meninggal sebelum umur 25 tahun setelah melahirkan anak perempuanya telah membaca buku Max Havelaar dan surat-surat cinta-nya Multatuli. Buku yang ikut mengin-

spirasinya untuk menjadikan kita mengingatnya sebagai tokoh emansipasi. Pada tahun 1901 pada pidatonya Ratu Wilhelmina menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah Belanda punya panggilan moral terhadap pribumi Hindia Belanda. Sehingga melahirkan suatu politik yang kita kenal dengan politik etis. Di dalam politik

etis ini pemerintah Belanda berorientasi pada edukasi, irigasi dan transmigrasi. Hal ini membuka kesempatan kepada pribumi untuk semakin maju dalam pendidikannya. Mereka sekarang lebih leluasa untuk masuk untuk sekolah menengah maupun tinggi seperti STOVIA (school tot opleiding van inlandsche artsen/ Sekolah Kedokteran Bumiputera). Tidak lama berselang setelah pendidikan diperhatikan oleh Belanda mucullah kesadaran politik para pelajar bumiputera. Sehingga muncullah Boedi Oetomo yang menjadi organisasi pergerakan Nasional pertama. Sehingga organisasi ini menjadi tonggak lahirnya pergerkan Nasional yang lebih massif dan tersebar ke seluruh Indonesia. Seperti munculnya Jong Java, Jong Minahasa, Jong Batak dan lain

Doc. Etc

46 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 39

sebagainya. Namun sejauh ini buku Max Havelaar telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan telah difilmkan baik dalam bahasa Belanda maupun dalam bahasa Indonesia. Sejauh ini di Negeri asalnya Belanda Multatuli tetap merupakan tokoh besar dan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di Sekolah-Sekolah Belanda. Bahkan pada tahun 2010 dibuatlah acara yang besar untuk mengenang 150 tahun Max Havelaar di museum yang dibangun untuk didedikasikan pada Multatuli di Amsterdam. Max Havelaar sampai sekarang masih dianggap aktual dalam menggugat banyak ketimpangan sosial. Ketika masih banyak orang yang diperas dan dianiaya buku ini mampu membuat kita bertindak. Di Belanda sendiri ada sebuah produk kopi, teh dan lain sebagainya yang bermerk “max havelaar”. Produkproduk ini berupaya menekankan ajaran-ajaran Multatuli, dan produk-produk ini dijamin diperoleh dengan harga pantas dari petani di dunia ketiga. “Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia” Adalah pesan Multatuli pada dunia, ia menganggap bahwa penindasan dan pemerasan merupakan bentuk penyalahgunaan fungsi manusianya. Dididik dalam keluarga protestan sederhana dan pernah bersekolah pendeta membuat Multatuli begitu meresapi nilai-nilai ajaran kristus yang menekankan cinta kasih terhadap sesama. Keserakahan manusia tercermin dalam kolonialisme telah mereduksi hakikat manusia. Karena egonya sendiri sebuah Negara tidak memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan terus saja menjalankan dominasinya demi kepentingan ekonomi. Bentuk dominasi ini bermacam-macam seperti memberi doktrin bahwa moral/ peradaban penjajah lebih tinggi daripada moral/ peradaban yang dijajah. Bentuk dominasi lain adalah eksploitasi sumber daya alam maupun tenaga kerja yang tidak manusiawi. Hal-hal seperti inilah yang dilihat Multatuli ketika bertugas di Lebak banten dan menjadikan dirinya penulis besar karena pengalamannya itu. Multatuli juga melakukan kritik keras terhadap kekuasaan agama, adat dan politik yang sering disalah gunakan untuk kepentingan pribadi.

Multatuli membela buruh industri, mempertanyakan dogma agama yang disetir, emansipasi pagi kewanitaan dan adat kesopanan yang dibungkus keindahan tapi busuk didalamnya. Semoga kita dapat meneladaninya.*** Ghulam. crew, NIC: 1910. 078

Keserakahan manusia tercermin dalam kolonialisme telah mereduksi hakikat manusia. Karena egonya sendiri sebuah Negara tidak memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan terus saja menjalankan dominasinya demi kepentingan ekonomi.

da banyak hal yang dialami oleh masyarakat yang kemudian menjadi masalah sosial. Di antara masalah tersebut adalah tentang kesulitan ekonomi. Kesulitan ekonomi yang cenderung sangat jarang terjamah oleh kaum yang sudah berada pada puncaknya. Bahkan bisa dibilang kepeduliannya kurang kepada masyarakat luas dan lebih mengutamakan untuk memperjuangkan kebahagian internnya ataupun untuk menyombongkan dirinya bahwa dia adalah seorang yang paling sukses dan lupa akan fitrah (kepemilikan dan kecintaan terhadap kebaikan, keindahan dan kebenaran) yang telah biberkahkan kepadanya. Meskipun pernah ada suatu pernyataan bahwa “Hidup yang bermanfaat adalah hidup yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain”, tetapi tetap saja membutakan mata hati mereka. Lain lagi untuk seorang sosok ini, yang dahulu kalanya juga pernah merasakan bagaimana kesulitan itu menghampirinya. Baginya masalah sosial adalah bagian dari dirinya yang harus ada solusinya. “Masalah sosial adalah masalah kita, selama kita menjadi bagian integral dari sebuah komunitas, tentunya apapun yang dihadapi masyarakat secara umum juga menjadi bahan pemikiran kita. Butuh keterlibatan banyak orang mengatasi masalah ini. Minimal semoga kita menjadi part of answers dan bukan part of problems”. Ujarnya kepada crew. Sosok yang kaya motifasi ini akan memberikan rasa betah pada siapapun yang sedang berbicara dengannya walaupun hanya untuk sekedar mengo-

A

Pemikiran Sang Motivator Dalam Ranah Sosial
brol dalam waktu singkat dengan beliau. Meskipun sudah ada banyak hal yang telah beliau lakukan atau bisa dibilang sudah meraih kesuksesan namun tidak membuat lupa atas fitrahnya untuk menjadi ciptaan yang selalu mengerti keadaan orang lain. Seorang yang juga menjadi dosen di STAIN Ponorogo ini memiliki nama lengkap Muhamad Nurdin M. Pd. Kini ia bertempat tinggal di salah satu unit perumahan di kawasan Pesona Kertosari Kabupaten Ponorogo. Bapak yang juga pernah mengalami kesulitan dalam hal ekonomi ini tidak pernah merasa tega jika harus membiarkan orang lain merasa kesusahan. Kesusahan yang dialaminya pada masa dulu, membuatnya selalu mencari jalan keluar bagaimana bisa terlepas dari kesusahan kesulitan supaya kelak dapat membantu siapapun, dimanapun, dan apapun kebutuhan itu. “Alhamdulilah pengalaman kemiskinan saya menginspirasi saya untuk belajar merubah jalan hidup saya agar menjadi lebih baik. Kita hanya ingin belajar dari Nabi Muhammad, menjadi orang yang sangat mencintai orang-orang miskin dan orang yang paling menghormati mereka. Menyakitkan sekali, ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang (menurut mereka) tidak pernah memilih menjadi sisi terlantar, tertindas, dan terlupakan. Sedangkan kita belum bisa berbuat banyak buat mereka”. Jelasnya pada kami. Sosok yang berasal dari pulau Maritime ini mengawali pendidikan di tanah kelahirannya sendiri, yakni Kalimantan. Suatu pulau yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai seorang pen-

Pak Nurdin

Doc. Etc

40 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 45

sirat Ter

Tersura

t

44 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 41

ota apa KDesa S a Sap

Sapa Sapa Kota Desa

42 aL-Millah edisi 27/ 2012
bismillahirohmanirrohim..... jadi

aL-Millah edisi 27/ 2012 43

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->