A.

NASKAH UNDANG‐UNDANG DASAR 1945 Sebelum dilakukan perubahan, UUD 1945 terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh (16 bab, 37 pasal, 65 ayat dimana 16 ayat berasal dari 16 pasal yang hanya terdiri dari 1 ayat dan 49 ayat berasal dari 21 pasal yang terdiri hanya 2 ayat atau lebih), 4 pasal Aturan Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan, serta Penjelasan1) Setelah dilakukan 4 kali perubahan, UUD 1945 memiliki 20 bab , 37 pasal, 194 ayat, 3 pasal Aturan Peralihan, dan 2 pasal Aturan Tambahan. Dalam Risalah Sidang Tahunan MPR tahun 2002, diterbitkan Undang ‐ Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Satu naskah, sebagai Naskah Perbantuan dan Komplisai Tanpa ada Opini2) B. SEJARAH UNDANG UNDANG DASAR 1945 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945, adalah yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei sampai dengan tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan tentang “Dasar Negara” yang diberi nama Pancasila. Kemudian BPUPKI membentuk panitia kecil yang terdiri dari 8 orang untuk menyempurnakan rumusan Dasar Negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, 38 anggota BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi yang akan mejadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkan 7 kata “dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemelukpemeluknya”, maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang II BPUPK (Badang Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) tanpa kata “Indonesia” karena tujuanya hanya untuk tanah Jawa saja. Waktu itu daerah seperti Sumatera punya BPUPK sendiri. Pada tanggal 18 Agustus 1945, ppki mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang – Undang Dasar Republik Indonesia. Kemudian Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945. C. PEREODE BERLAKUNYA UUD 1945 (18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949) Dalam kurun waktu 1945‐1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk.

1) Hal. 29, “Pendidikan Pancasila/Kewarganegraan Untuk Perguruan Tinggi” Universitas Borobudur, Ir. Muhammad Husni, MM, Jakarta, 2009 2) Hal. 1, “UUD’45 dan Perubahanya”, Redaksi BSM, Cetakan 1, Jakarta, 2010
TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010

Halaman | 2

Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet Semi‐Presidensiel ("Semi‐Parlementer") yang

Habibie sampai dengan lepasnya Provinsi Timor Timur dari NKRI yang sekarang menjadi Negara Timor Leste. Bentuk pemerintahan dan bentuk negaranya federasi yaitu negara yang didalamnya terdiri dari negara‐negara bagian yang masing masing negara bagian memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan dalam negerinya. sehingga peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis. yang merupakan pelaksanaan TAP MPR Nomor IV/MPR/1983. diantara melalui sejumlah peraturan: Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945. tidak berkehendak akan melakukan perubahan terhadapnya Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945. Yaitu masa sejak Presiden Soeharto digantikan oleh wakilnya B.J. (5 Juli 1959 – Maret 1996) – Kembalinya kepada UUD 1945 Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik ulur kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD baru. (Pereode Amandemen UUD 1945) Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Pada masa ini. menggantikan Undang‐Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku pada waktu itu. Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang‐undang dasar. Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan .pertama. terutama pelanggaran pasal 23 (hutang Konglomerat atau private debt dijadikan beban rakyat Indonesia atau public debt) dan 33 UUD 1945 yang memberi kekuasaan pada pihak swasta untuk menghancurkan hutan dan sumber daya alam kita. (11 Maret 1966 – Maret 1996) – UUD 1945 Masa Orde Baru Pada masa Orde Baru (1966‐1998). Namun pelaksanaannya ternyata menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945 yang murni. terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945. Pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950) – Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer. (21 Mei 1998 – 19 Oktober 1999) – Masa Transisi Pada masa ini dikenal masa transisi. kekuasaan yang sangat besar pada Presiden. maka pada tanggal 5 Juli 1959. (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959) – Periode Undang Undang Dasar Sementara (UUDS) Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer. kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat). diantaranya: Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua DPA menjadi Menteri Negara MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi. terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum. UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral". Pada masa Orde Baru. adanya pasal‐pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan multitafsir). Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 3 Undang‐Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum.

Bab VIIIA tentang Badan Pemeriksa Keuangan. dan konstitusi sosial yang harus menjadi acuan dan landasan secara politik. UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen) yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR: Sidang Umum MPR 1999. Muhammad Husni. masyarakat (civil society). Bab V tentang Kementerian Negara. Bab VII tentang Dewan Perwakilan Rakyat. Undang‐Undang Dasar 1945 memuat cita‐cita yang akan dicapai dengan pembentukan negara dan prinsip‐prinsip dasar pencapaian cita‐cita tersebut. tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam kurun waktu 1999‐2002. 2009 TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 4 Cita‐cita pembentukan negara kita kenal dengan istilah tujuan nasional yang tertuang dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945. Bab VIII tentang Hal Keuangan. eksistensi negara demokrasi dan negara hukum. Pasal II Aturan Tambahan UUD 1945 menyatakan bahwa Undang‐Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasalpasal . baik oleh negara (state). konstitusi ekonomi. Bab VI tentang Pemerintah Daerah. tanggal 1‐9 November 2001 → Perubahan Ketiga UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2002. Maka adalah tepat jika akhirnya UUD 1945 disebut juga sebagai konstitusi politik. hubungan antara lembaga‐lembaga negara. pembagian kekuasaan. c) mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini karena para pendiri bangsa menghendaki bahwa rakyat Indonesia berdaulat secara penuh. Bab X tentang Warga Negara Dan Penduduk khususnya Pasal 26. serta hal‐hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Bab II tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat. UUD 1945 telah memberikan kerangka susunan kehidupan berbangsa dan bernegara. perdamaian abadi. Sebagai konstitusi politik. Bab VIIA tentang Dewan Perwakilan Daerah. dan hubungannya dengan warga negara. dasar‐dasar. yaitu: a) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. UUD 1945 mengatur masalah susunan kenegaraan. Bab VIIB tentang Pemilu. dan keadilan sosial. Bab IX tentang Wilayah Negara. b) memajukan kesejahteraan umum. Bab XA tentang Hak . dan d) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman. tanggal 14‐21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2000. dan prinsip‐prinsip penyelenggaraan kehidupan nasional. Pembukaan dan pasal‐pasal adalah satu kesatuan norma‐norma konstitusi yang supreme dalam tata hukum nasional (national legal order). ekonomi. bukan hanya kedaulatan politik. UUD 1945 sebagai konstitusi3) bangsa Indonesia merupakan dokumen hukum dan dokumen politik yang memuat cita‐cita. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. “Pendidikan Pancasila/Kewarganegraan Untuk Perguruan Tinggi” Universitas Borobudur. 27. tanggal 1‐11 Agustus 2002 → Perubahan Keempat UUD 1945 D. Jakarta. dan sosial. serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. Hal ini misalnya diatur dalam Bab I tentang Bentuk Kedaulatan. tanggal 7‐18 Agustus 2000 → Perubahan Kedua UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2001. 3) Hal. Normanorma dalam UUD 1945 tidak hanya mengatur kehidupan politik tetapi juga kehidupan ekonomi dan sosial. Cita‐cita tersebut kemudian diadopsi sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. MM. HAM. Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara. ataupun pasar (market). dan untuk mencapai cita‐cita tersebut dan melaksanakan penyelenggaraan negara berdasarkan Pancasila. Ir.negara. kedaulatan rakyat. SUBSTANSI UUD 1945 – CITA CITA LUHUR Sebagai wujud perjanjian sosial tertinggi bagi Bangsa Indonesia.

dan demokrasi sosial. Aturan Peralihan. demokrasi ekonomi. Posisi MPR sebagai pemegang kedaulatan negara tertinggi dan sebagai perwujudan dari rakyat dihapus. UUD 1945 juga mengatur bagaimana sistem perekonomian nasional seharusnya disusun dan dikembangkan. Bahasa. Seseorang individu harus berpusat pada pemimpinnya dan memiliki kewajiban‐kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan seperti layaknya alam semesta berpusat kepada Tuhan. Bab XVI tentang Perubahan Undang‐Undang Dasar. Gagasan mengenai hubungan pemimpin dengan rakyat ini dijelaskan oleh Supomo dalam sidang panitia PPKI tanggal 31 Mei 1945 yang didasari oleh konsep makrokosmos dan mikrokosmos Jawa. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 5 Ketentuan‐ketentuan tersebut selalu harus dielaborasi secara konsisten guna mencapai tujuan nasional serta untuk dapat mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap permasalahan perkembangan jaman sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. konstitusi pertama tersebut telah ditafsirkan secara berbeda‐beda oleh pemerintah yang menjalankannya. Sebagai konstitusi ekonomi. Bab XV tentang Bendera. TUGAS MATA KULIAH PPKN . Bab XII tentang Pertahanan Dan Keamanan Negara. UUD 1945 telah dilaksanakan dengan beberapa modifikasi dalam susunan pimpinan pemerintahan negara. Selain itu. UUD yang sama pernah ditafsirkan sebagai single‐executive sistem. E. Antara 1945 sampai 1949 dan antara 1959 sampai 1966. Namun ketentuan ini harus dielaborasi secara konsisten dengan cita‐cita dan dasar negara berdasarkan konsep‐konsep dasar yang dikehendaki oleh pendiri bangsa. DALAM PELAKSANAAN PEMERINTAHAN NEGARA Sejak UUD 1945 diberlakukan pada 18 Agustus 1945. Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi politik. Ketentuan tentang sistem perekonomian nasional memang hanya dalam satu pasal yang terdiri dari lima ayat. dimana dalam makrokosmos dijelaskan bahwa alam semesta ini berpusat kepada Tuhan sedangkan mikrokosmos adalah perwujudan makrokosmos dalam kehidupan sehari‐hari manusia. berlaku sistem presidensial. Sejak 2002. karena dalam waktu 4 tahun terjadi 33 kali pergantian kabinet. Indonesia pernah menggunakan dual‐executive sistem. Serta Lagu Kebangsaan. serta dengan ketentuan kesejahteraan rakyat. Antara 1966 sampai 1998. Dan Lambang Negara. dengan berlakunya UUD hasil amandemen. PELAKSANAAN UUD 1945 SETELAH AMANDEMEN 1. dan Bab XIV tentang Perekonomian Nasional Dan Kesejahteraan Rakyat khususnya Pasal 34. Bab XIII tentang Pendidikan Dan Kebudayaan. Ketentuan utama UUD 1945 tentang sistem perekonomian nasional dimuat dalam Bab XIV Pasal 33. 4) Integralistik adalah konsep Negara yang berfaham bahwa persatuan antara rakyat dan negara diwujudkan dalam adanya pengawasan gerak‐gerik masyarakat oleh kepala rakyat agar dapat senantiasa bermusyawarah dengan rakyatnya atau dengan kepala‐kepala keluarga dalam desanya. berlaku sistem pemerintahan untuk negara integralistik4) dengan konsentrasi kekuasaan amat besar pada Presiden (too stong presidency). sesuai ketetapan Pasal 4 sampai 15 dan Presiden menjabat sebagai Kepala Negara serta sekaligus Kepala Pemerintahan. dengan Presiden sebagai Kepala Negara dan perdana menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Sebagai konstitusi sosial.Asasi Manusia khususnya Pasal 28I ayat (5). UUD 1945 mengatur tata kehidupan bermasyarakat terutama dalam Bab X tentang Warga Negara Dan Penduduk khususnya Pasal 27 dan Pasal 28. sistem perekonomian nasional juga harus dikembangkan terkait dengan hak‐hak asasi manusia yang juga mencakup hak‐hak ekonomi. Antara 1949 sampai 1959 Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer yang terbukti tidak mampu menciptakan stabilitas pemerintahan yang amat diperlukan untuk pembangunan bangsa. Bab XA tentang Hak Asasi Manusia. agar supaya pertalian batin antara pemimpin dan rakyat seluruhnya senantiasa terpelihara. dan Aturan Tambahan. Apakah cita‐cita para pendiri negara bangsa untuk membentuk pemerintahan negara konstitusional yang demokratis serta yag sesuai dengan corak hidup bangsa dapat tercapai apabila rel yang mengatur perjalanan pemerintahan bangsa tersebut setiap kali diubah arahnya dan dibelokkan? Kondisi seperti itulah yang sedang kita alami sebagai bangsa pada saat ini setelah MPR melakukan amandemen terhadap UUD 1945. dan badan legislatif ditetapkan menjadi badan bi‐kameral dengan keuasaan yang lebih besar (stong legislative).

cara pemilihan “winner takes all” seperti dipraktekkan di Amerika Serikat bertentangan dengan semangat dbemokrasi. MPR tidak lagi merupakan perwujudan dari rakyat dan bukan locus of power. yang merupakan kaidah dasar baru sistem pemerintahan negara Indonesia. suatu pemerintahan konstitusional yang demokratis. eksekutif dan yudikatif. Kedua. Ketiga. Soepomo. anggota BPUPK dari Yogyakarta. Soepomo. Konsentrasi kekuasaan berada pada Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Sistim pemerintahan demokratis yang dirumuskan oleh para perancang UUD 1945 mengandung beberapa ciri sistem presidensial dan sistem parlementer. bentukan BPUPKI. Bahkan. akan membawa bangsa ini semakin dekat dengan cita‐cita para perumus konstitusi. Apakah amandemen pasal 1 ayat (2) dan pasal 6A. Antara cabang legisltatif dan eksekutif terdapat fusion of power karena kekuasaan eksekutif sebenarnya adalah “bagian” dari kekuasaan legislatif. Ketua Panitia Kecil BPUPK. yang masing‐masing tidak boleh saling menjatuhkan. Sukarno.UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 6 Sistem Pemerintahan Sendiri Setelah MPR mengesahkan amandemen ketiga dan keempat UUD 1945. Soekiman. Mr. Kedaulatan negara dipisahkan (separation of power) ke tiga cabang yakni legislatif. Pertama. stabil dan efektif untuk mencapai tujuan negara? Apakah sistem pemerintahan negara yang tidak konsisten dengan harapan para perancang konstitusi seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 akan menjamin kelangsungan kehidupan bernegara bangsa Indonesia? Pada saat sidang BPUPKI dan PPKI mulai pertengahan Mei sampai Juli 1945. lembaga pemegang kedaulatan negara tertinggi. menganggap trias politica sudah kolot dan tidak dipraktekkan lagi di negara Eropa Barat. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 7 Sebaliknya. Prof. tanggal 11 Juli 1945 dicapai kesepakatan bahwa Republik Indonesia tidak akan menggunakan sistem parlementer seperti di Inggris karena merupakan penerapan dari pandangan individualisme. sistem Presidensial dipandang tidak cocok untuk Indonesia yang baru merdeka karena sistem tersebut mempunyai tiga kelemahan. Prof. Dua pasal tersebut menunjukkan karakteristik sistem presidensial yang jelas berbeda dengan staats fundamental norm yang tercantum dalam Pembukaan dan diuraikan lebih lanjut dalam Penjelasan UUD 1945. Pasal 6A ayat (1) menetapkan “Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat”. Presiden adalah eksekutif tunggal yang . Supomo dan Ir. Indonesia yang baru merdeka akan menggunakan “sistem sendiri” sesuai usulan Dr. Bung Karno dan Bung Hatta mengajukan pertimbangan‐pertimbangan filosofis dan hasil kajian empiris untuk mendukung keyakinan mereka bahwa Trias Politica ala Montesqieue bukanlah sistem pembagian kekuasaan yang paling cocok untuk melaksanakan kedaulatan rakyat. Presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat untuk masa kerja yang lamanya ditentukan oleh konstitusi. Sistem tersebut dipandang tidak mengenal pemisahan kekuasaan secara tegas. Dalam sistem presidensial para menteri adalah pembantu‐pembantu presiden yang diangkat dan bertanggungjawab kepada Presiden. Perdana Menteri dan para menteri sebagai kabinet yang kolektif adalah anggota parlemen. sangat kaku karena presiden tidak dapat diturunkan sebelum masa jabatannya berahir. Perubahan tersebut ditetapkan dengan Pasal 1 ayat (2) UUD baru. dan Prof. Maramis. yang secara ideal diformulasikan sebagai trias politica oleh Montesquieu. “Sistem sendiri” tersebut mengenal pemisahan kekuasaan yang jelas antara cabang legislatif dan eksekutif. Sistem presidensial tidak mengenal adanya lembaga pemegang supremasi tertinggi. Dan akhirnya pada rapat Panitia Hukum Dasar. sistem pemerintahan negara Indonesia berubah menjadi sistem presidensial. sistem presidensial mengandung resiko konflik berkepanjangan antara legislatif – eksekutif.

Sistem majelis yang tidak bicameral dipilih karena dipandang lebih sesuai dengan budaya bangsa dan lebih mewadahi fungsinya sebagai lembaga permusyawaratan perwakilan. sebaliknya DPR tidak dapat menjatuhkan Presiden. “pemegang” kekuasaan eksekutif dan legislatif.memegang jabatan selama lima tahun dan dapat diperpanjang kembali. Sistem semipresidensial tersebut yang mengandung keunggulan sistem parlementer dan sistem presidensial dipandang mampu menciptakan pemerintahan Negara berasaskan kekeluargaan dengan stabilitas dan efektifitas yang tinggi. Sistem pemerintahan khas Indonesia juga diharapkan mengandung karakteristik sistem parlementer. Dalam struktur pemerintahan negara. dan serta merta menetapkan pemerintahan negara Indonesia sebagai sistem presidensial. telah menyebabkan Presiden harus mengadakan akomodasi . Kedaulatan negara ada pada rakyat dan dipegang oleh MPR sebagai perwujudan seluruh rakyat. Konfigurasi MPR sebagai pemegang kekuasaan tertinggi tersebut dipandang para Bapak Bangsa sebagai ciri khas Indonesia dan dirumuskan setelah mempelajari keunggulan dan kelemahan dari sistem‐sistem yang ada. Bersamasama. para perancang memandang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung masih belum dapat dilakukan mengingat tingkat pendidikan masih rendah serta infrastruktur pemerintahan belum tersedia. Presiden yang menjalankan kekuasaan eksekutif adalah mandataris MPR. MPR adalah penyelenggara pemerintahan negara tertinggi. Padahal pilihan para founding fathers tidak dilakukan secara gegabah. diantaranya MPR ditetapkan sebagai locus of power yang memegang supremasi kedaulatan negara tertinggi. sedangkan DPR adalah unsur dari MPR yang menjalankan kekuasaan legislative (legislative councils). Presiden adalah yang menjalankan tugas MPR sebagai kekuasaan eksekutif tertinggi. Lantas Apa Permasalahanya? Berbeda dengan pemikiran BPUPK dan PPKI sebagai perancang konstitusi. Karena itu ditetapkan Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara tidak langsung oleh lembaga perwujudan seluruh rakyat yaitu MPR. Sebagai warga Negara Indonesia kita telah menyaksikan dan merasakan berbagai perkembangan yang menghawatirkan dalam kehidupan kenegaraan setelah UUD 1945 hasil 4 kali amandemen dilaksanakan. karena tidak menggunakan sumber‐sumber otentik. Posisi politik Presiden sekarang (masa Susilo Bambang Yudoyono) yang amat lemah. DPR dan Presiden tidak dapat saling menjatuhkan seperti pada sistem parlementer maupun presidensial. DPR adalah bagian dari MPR yang menjalankan kekuasaan legislatif sedangkan Presiden adalah mandataris yang bertugas menjalankan kekuasaan eksekutif. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 8 Sebagai penjelmaan rakyat dan merupakan pemegang supremasi kedaulatan. seperti halnya Parlemen dalam sistem parlementer. Presiden tidak dapat menjatuhkan DPR. MPR berkedudukan sebagai supreme power dan penyelenggara negara yang tertinggi. adalah ciri dari sistem presidensial. dan sebagai mandataris MPR. serta para menteri adalah pembantu yang diangkat dan bertanggungjawab kepada Presiden. tetapi didukung secara empiris oleh penelitian Riggs di 76 negara Dunia Ketiga. permasalahanya adalah terjadi kepada para perumus amandemen UUD 1945. yang menyimpulkan bahwa pelaksanaan sistem presidensial sering gagal karena konflik eksekutif – legislative yang kemudian berkembang menjadi constitutional deadlock. Pada masa‐masa awal negara Indonesia. Bersama‐sama Presiden dan DPR menyusun undang undang. Kekuasaan legislatif yang “too strong” ternyata telah berkembang menjadi salah satu faktor penyebab lambannya pelaksanaan berbagai kebijakan dan program eksekutif yang pernah dijanjikan selama masa kampanye Calon Presiden dan Wakil Presiden. karena diusung oleh partai minoritas. DPR adalah bagian dari MPR yang berfungsi sebagai legislative councils atau assembly. DPR dan Presiden menyusun undang‐undang.

Ada sebuah political gridlock atau kebuntuan politik seperti yang mereka alami yang sebenarnya telah menjadi pertimbangan utama para Bapak Bangsa sehingga pada Rapat Badan Penyelidik Untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 14 Juli 1945 ditetapkan Negara Republik Indonesia tidak akan menggunakan Sistem Parlementer dan Sistem Presidensial karena masing‐masng mengandung kelemahan dan kekurangan. Amerika Serikat. Republik ini akan sulit dalam menciptakan kesejahteraan untuk seluruh bangsa Indonesia sebagaimana yang dicita‐citakan oleh para Pendiri Negara. Usulan Wilson tersebut ternyata kurang mendapat respons posisif dari para politisi Amerika Serikat. Agar kondisi seperti itu tidak terjadi dalam penyelenggaraan Negara Republik Indonesia. Alexander Hamilton (1787) dan James Madison (1787) yang dikenal dengan The Federalist Papers dapat diikuti diskursus nasional tentang Sistem Pemerintahan Negara. dan sempat menjadi ganjelan dalam hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden (saat itu dijabat oleh Jusuf Kalla). Tanpa pembangunan yang masih sangat memerlukan investasi modal dan teknologi dari luar negeri. Pembentukan Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) sempat mendominasi pemberitaan di berbagai media di tanah air pada akhir Oktober dan awal November tahun 2007. Karena itu proses bagi bangsa Indonesia proses pencarian Sistem Pemerintahan Negara yang paling sesuai dalam arti paling mampu menciptakan stabilitas politik yang merupakan prasyarat utama dalam pembangunan sistem pemerintahan negara yang efektif dan mantap masih harus belum berakhir. seperti nampak dari wajah‐wajah tegang beliau berdua ketika duduk berdampingan dalam kereta golf di halaman Istana Negara. Dari tulisan‐tulisan Woodrow Wilson (1879 dan 1884). Dr. Proses pencarian itu pernah dan masih akan dialami oleh banyak bangsa di dunia. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 9 Pada Sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 dengan pokok pembahasan Undang‐Undang Dasar. kita nampaknya harus terus mencari sosok Sistem Pemerintahan Negara yang mampu menciptakan stabiliteit politik yang diperlukan sebagai landasan pembangunan nasional. stabiliteit pemerintahan akan tidak tercapai apabila Presiden terpilih berasal dari partai minoritas sedangkan DPR dikuasai oleh partai mayoritas. telah mengalami dan menjalani proses pencarian tersebut sekitar 100 tahun setelah Sistem Presidensial diterapkan dalam lingkungan politik Amerika Serikat yang ketika itu memiliki 7 partai.politik dengan partai politik yang berakibat Kabinet Indonesia Bersatu tidak didukung sepenuhnya oleh profesionalisme seperti yang semula diinginkan oleh Presiden. Wilson dalam beberapa tulisannya bahkan berusaha menyakinkan bangsanya untuk menerapkan Sistem Pemerntahan Kabinet yang merupakan ciri Sistem Parlementer. Soekiman memprediksikan kalau Sistem Presidensial diterapkan dalam konteks politik multi partai. sebagai tambahan atas Konstitusi yang asli. Sebagai bangsa besar yang amat menghargai jasa dan pemikiran founding fathers. Bagaimana Caranya? Agar dapat diperoleh sistem pemerintahan Negara yang baik untuk landasan pembangunan nasional salah satunya dengan cara terus mencari dan memperbaiki sistem pemerintahan kita. beliau mengusulkan agar Indonesia menerapkan susunan pemerintahan “sistem sendiri” sebagaimana diatas. Selama 230 tahun Amerika Serikat telah mengadakan 27 kali amandemen. rakyat Amerika memilih untuk tetap mempertahankan The Constitution of 1787 dan menyesuaikan dengan perkembangan bangsa dan negara secara bertahap melalui amandemen yang prosesnya tidak mudah. Sekarang semakin jelas prediksi para Bapak Bangsa dan Pendiri Negara yang meragukan kemampuan Sistem Presidensial dalam lingkongan politik yang terfragmentasi. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 10 . yang dikenal sebagai contoh negara yang memiliki Sistem Presidensial yang paling mantap di dunia. Apa yang harus kita kerjakan? Sebagai bangsa. atau rata‐rata 9 tahun setiap amandemen.

Multiparties and Democracy: The Dificult Combination”. J of Compartaive Poliitical Studies. Dalam sistem pemerintahan cohabitation. Sistem ini diterapkan di Prancis oleh Presiden De Gaulle dan Mitterand yang tidak mempunyai cukup dukungan di Parlemen. Strategi kedua adalah menyesuaikan sistem pemerintahan negara dengan lingkungan politik. dan pada abad 21 ini oleh beberapa negara Eropa Timur seperti Lithuania dan Azerbaijan. Dr. Sofyan Effendi. mencerdaskan kehidupan bangsa. kepala pemerintahan dapat memilih salah satu dari bentuk sistem pemerintahan kolektif. biasanya dengan membentuk pemerintahan koalisi. Yang pertama. sehingga ada partai yang menguasai lebih dari setengah kursi di lembaga legislatif. tertib dan damai. sementara Badan Legislatif dikuasai oleh 7 partai politik yang mempunyai agenda politik yang berbeda? Menurut Prof. dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. hh. meyeluruh. 198‐223. menciptakan lingkangan yang lebih dapat menjamin sistem presidensial dapat berfungsi dengan efektif melalui penataan partai‐partai politik agar tercipta majority rule. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 11 2. DALAM PENCAPAIAN TUJUAN NASIONAL Tujuan nasional bangsa Indonesia seperti yang termaktuf dalam Pembukaan Undang‐ Undang Dasar 1945. Sistem Presidensial yang efektif akan terjamin bila partai pemenang mempunyai posisi yang cukup dominan dalam Cabang Eksekutif dan Legislatif. tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka. Mainwaring. Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut diselenggarakan pembangunan nasional secara berencana. jabatan Wakil Presiden ditiadakan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. 5) S. bersahabat. terpadu. tenteram. sistem presidensial hanya efektif bila ada partai pemenang yang mempunyai posisi dominan pada badan legislatif. dan berkesinambungan. terarah. Seperti dibuktikan oleh penelitian Mainwaring5). biasanya pimpinan partai mayoritas di lembaga tersebut.Bagaimana Indonesia keluar dari kondisi political gridlock yang terjadi karena Cabang Eksekutif terdiri datas Presiden yang didukung oleh Partai minoritas dan Wakil Presiden yang secara riil politik lebih dominan kedudukannya. Bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk menemukan sistem pemerintahan negara yang lebih mampu merealisasikan cita‐cita para pendiri bangsa yaitu suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenapbangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Adapun tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkam masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. mencerdaskan kehidupan bangsa. Rektor Universitas Gadjah Mada dan Guru Besar Kebijakan Publik dalam orasi Dies Natalis Universitas Pancasila yang ke‐40 mengatakan bahwa ada dua strategi besar yang perlu ditempuh oleh bangsa ini. Dalam Sistem Cohabitation ini Presiden sebagai Kepala Negara dipilih langsung oleh rakyat. adalah untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. berdaulat. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Permasalahan Keberhasilan pembangunan yang telah dicapai selama 32 tahun di masa Orde baru telah . dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman. 6) Sistem Pemerintahan Cohabitation atau Sistem Pemerintahan Koalisi seperti diterapkan di Prancis. “Presidentialism. bersatu. Pada Pemerintahan Presiden Chirac sistem tersebut dalam praktek ”berubah” menjadi sistem semi‐presidensial karena Presiden dan Perdana Menteri yang ditunjuk oleh Parlemen berasal dari satu partai. untuk memajukan kesejahteraan umum.2 (July 1993). Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri yang dipilih oleh Parlemen. Kondisi tersebut hanya dapat tercapai bila jumlah partai terbatas. 26. Untuk mengelola sistem politik yang terfragmentasi. diantaranya Sistem Parlementer seperti yang diuraikan oleh Wilson dalam tulisannya “Cabinet Government in the United States” (1979) atau Sistem ‘Cohabitation’ ala Prancis6).

Sebagai akibatnya krisis moneter yang melanda Indonesia. serta juga struktur industri yang lemah dalam hubungan industri hulu dan hilir. menengah. memperparah kondisi ekonomi. pengabaian rasa keadilan. Akibatnya terjadi kaderisasi dan corak kepemimpinan yang kurang memperhatikan aspek akseptabilitas dan legitimasi. Pembangunan agama dan sosial budaya masih perlu ditingkatkan. Penegakan hukum belum memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum pada kasus‐kasus yang menghadapkan pemerintah atau pihak yang kuat dengan rakyat.mengalami kemerosotan yang memprihatinkan. kurangnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat. pelecehan hukum. Pola sentralistik dan neofeodalistik mendorong mengalirnya sumber daya manusia yang berkualitas ke pusat sehingga kurang memberi kesempatan pengembangan sumber daya manusia di daerah. tidak dapat diatasi secara baik sehingga memerlukan kerja keras untuk bangkit kembali. dan sosial secara'proporsional dan optimal. Munculnya konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat yang tidak didukung oleh semangat kewirausahaan sejati. Pembangunan di bidang hukum khususnya yang menyangkut peraturan perundangundangan organik tentang pembatasan kekuasaan lembaga‐lembaga negara belum memadai. Begitu juga dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia dan sikap mental serta kaderisasi pemimpin bangsa tidak berjalan sebagaimana mestinya. politik. Pembangunan industri tidak berbasis kepada masyarakat atau potensi unggulan daerah. Telah terjadi penyalahgunaan wewenang. Hubungan erat antara penguasa dengan pemilik bank‐bank swasta telah menyebabkan pemberian fasilitas yang tidak terbuka yang TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 12 merugikan masyarakat dan negara. Para pengusahan yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan prioritas kusus yang berdampak pada timbulnya kesenjangan sosial. sehingga menempatkan rakyat pada posisi yang lemah. mengakibatkan ketahanan ekonomi menjadi sangat rapuh dan tidak kompetitif. Di samping itu. dan nepotisme yang merupakan salah satu akibat dari keterpusatan dan ketertutupan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan. Diantaranya adanya praktek‐praktek korupsi. kolusi. akhlak mulia serta moral dan . dan kecil yang serasi. Sistem perbankan yang tidak mandiri karena intervensi pemerintah terhadap Bank Sentral yang terlalu kuat melemahkan ekonomi nasional. ketidakhati‐hatian dan kecurangan dunia perbankan dalam mengelola dana. Hal ini disebabkan oleh karena penyelenggaraan perekonomian nasional kurang mengacu kepada amanat Pasal 33 UUD 1945 yang cenderung menunjukkan corak yang momopolisik. Di samping itu sebagian besar lahan pertanian yang subur telah berubah fungsi menjadi lahan industri sehingga dari kondisi semula swasembada beras telah berubah menjadi pengimpor beras. Pembinaan lembaga peradilan oleh eksekutif merupakan peluang bagi penguasa melakukan intervensi ke dalam proses peradilan serta berkembangnya kolusi dan praktek‐praktek negatif pada proses peradilan. Kelemahan fundamental itu juga disebabkan pengabaian perekonomian kerakyatan yang sesungguhnya bersandar pada baisi sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai unggulan komparatif dan kompetitif. Selain karena terjadi krisis moneter pertengahan tahun 1997. tidak ada keterkaitan antara industri besar. Dibidang lain juga banyak terjadi krisis struktural dan sistematik yang tidak mendukung berkembangnya fungsi berbagai lembaga kenegaraan. sehingga kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. kolusi dan nepotisme serta memuncak pada penyimpangan berupa penafsiran yang hanya sesuai dengan selera penguasa. Kondisi ini memberi peluang terjadinya praktek‐praktek korupsi. Mekanisme hubungan pusat dan daerah cenderung menganut otonomi kekuasaan yang kebablasan sehingga dalam pengambilan keputusan cenderung egois dengan alas an pemerataan hasil pembangunan dan pelaksanaan otonomi daerah. yang kemudian menjadi krisis ekonomi ternyata landasan ekonomi Indonesia pada saat itu tidak kuat dan tahan dalam menghadapi gejolak keuangan ekternal serta kesulitan‐kesulitan makro dan mikro ekonomi.

Jakarta. Di samping itu. TUGAS MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA/KEWARGANEGARAAN SEMESTER 1 TAHUN 2010 UNIVERSITAS BOROBUDUR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI DAFTAR PUSTAKA 1. Penerbit PPSK press & PT. Redaksi BSM. sungguh‐sungguh bertentangan dengan akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang bersumber dari normanorma dan ajaran agama. serta nilai‐nilai budaya bangsa. dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. untuk dapat mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang‐ Undang Dasar 1945 tersebut.2 (July 1993) 4. Aksi‐aksi brutal oleh sebagian warga masyarakat berupa penjarahan dan perampokan serta perilaku dan tindakan yang tidak terpuji lainnya yang melanggar hukum serta agama yang terjadi akhir‐akhir ini. Bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk menemukan sistem pemerintahan negara yang lebih mampu merealisasikan cita‐cita para pendiri bangsa yaitu suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenapbangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Ir. kecemburuan. Krisis moral dewasa ini bahkan makin menghilangkan semangat dan optimisme bahwa bangsa Indonesia bisa memecahkan masalah dengan kekuatan sendiri. ketegangan. “Selamatkan Indonesia – Agenda Mendesak Bangsa”. 2009 2. Muhammad Husni. beretos kerja tinggi serta berakhlak mulia belum dapat diwujudkan bahkan cenderung menurun. mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pendidikan Pancasila/Kewarganegraan Untuk Perguruan Tinggi” Universitas Borobudur. Multiparties and Democracy: The Dificult Combination”. Cetakan 1. “UUD’45 dan Perubahanya”. 2010 3. 26. Dan yang terakhir. TUGAS MATA KULIAH PPKN UNIVERSITAS BOROBUDUR 2010 Halaman | 13 Ketimpangan. Jakarta. MM. KESIMPULAN UUD 1945 adalah undang‐undang yang mendasari kehidupan dan peraturan‐peraturan dalam berbangsa di Indonesia. J of Compartaive Poliitical Studies. Jati diri bangsa yang disiplin. Mainwaring. dan penyakit sosial lainnya makin menggejala di samping berkurang pula rasa kepedulian dan kesetiakawanan masyarakat. “Presidentialism. Amandemen adalah suatu penambahan atau perbaikan terhadap sesuatu hal (dalam kasus ini 1945) agar menjadi lebih baik dan sempurna tanpa mengubah atau mengganti isinya. untuk memajukan kesejahteraan umum.etika luhur masyarakat yang akhir‐akhir ini cenderung menurun dapat diwujudkan sebagaimana diharapkan. F. jujur. Pokok‐pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan perbaikan Kehidupan Nasional hendaklah ditetapkan dan dilaksanakan dengan maksud memberikan arah untuk pembangunan dan menanggulangi krisis serta melaksanakan amanat reformasi menyeluruh dengan tujuan terbangunnya sistem kenegaraan yang demokratis serta dihormati dan ditegakkannya hukum untuk mewujudkan tertib sosial masyarakat dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan cita – cita luhur para pendiri bangsa Indonesia. S. . Bahwa sudah menjadi tugas konstitusional Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR‐RI) menetapkan Garis‐garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan rangkaian program‐program pembangunan di segala bidang yang berlangsung secara terus‐menerus. juga merupakan perilaku yang tidak menghormati dan menjunjungtinggi hukum. perdamaian abadi dan keadilan sosial.

UUD 1945 disahkan sebagai undangundang dasar negara oleh PPKI pada undang tanggal 18 Agustus 1945. Pada kurun waktu tahun 1999 2002 UUD SEJARAH UUD 1945 PERIODE UUD 1945 CITA –CITA LUHUR 1999‐2002. dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh DPR pada tanggal 22 Juli 1959. Namun sejak tanggal 27 Desember 1949. di Indonesia berlaku Konstitusi RIS. Mohammad Amien Rais UUD 1945 NASKAH UUD 1945 UUD 1945 merupakan sumber pokok sistem pemerintahan Republik Indonesia. 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen). SETELAH AMANDEMENT 12/21/2010 2 12/21/2010 3 UUD SETELAH AMANDEMEN UUD 1945 SEBELUM DIAMANDEMEN 16 BAB: UUD 1945 SETELAH DIAMANDEMEN 21 BAB: I BENTUK DAN KEDAULATAN I BENTUK DAN KEDAULATAN II MAJELIS PERMUSYARATAN RAKYAT II MAJELIS PERMUSYARATAN RAKYAT III KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA III KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA IV DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG IV DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG (dihapuskan) V KEMENTERIAN NEGARA V KEMENTERIAN NEGARA VI PEMERINTAHAN DAERAH VI PEMERINTAHAN DAERAH VII DEWAN PERWAKILAN RAKYAT VII DEWAN PERWAKILAN RAKYAT VIIA VIIB DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM VIII HAL KEUANGAN VIII HAL KEUANGAN UUD 1945 SEBELUM DIAMANDEMEN . Yogyakarta 2008. yang mengubah susunan lembaga‐lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. selanjutnya tanggal 17 Agustus 1950 dberlakuUUDS 1950. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kembali memberlakukanUUD 1945.Mizan Publika.

BAHASA DAN LAMBANG NEGARA SERTA LAGU KEBANGSAAN XVI PERUBAHAN UUD XVI PERUBAHAN UUD ATURAN PERALIHAN ATURAN TAMBAHAN ATURAN PERALIHAN ATURAN TAMBAHAN PENJELASAN UUD 12/21/2010 4 PERUBAHAN UUD 45 SECARA GARIS BESAR : MPR SEBAGAI LEMBAGA TERTINGGI NEGARA. Presiden tidak dapat diberhentikan dalam masa jabatannya berdasar alasan politik. PRESIDEN LANGSUNG DIPILIH OLEH RAKYAT DENGAN MASA JABATAN 5 TAHUN.16 BAB: UUD 1945 SETELAH DIAMANDEMEN 21 BAB: VIIIA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN IX KEKUASAAN KEHAKIMAN IX KEKUASAAN KEHAKIMAN IXA WILAYAH NEGARA X WARGA NEGARA X WARGA NEGARA XA HAK AZAZI MANUSIA XI AGAMA XI AGAMA XII PERTAHANAN NEGARA XII PERTAHANAN & KEAMANAN NEGARA XIII PENDIDIKAN XIII PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN XIV KESEJAHTERAAN SOSIAL XIV PEREKONOMIAN NASIONAL & KESEJAHTERAAN SOSIAL XV BENDERA DAN BAHASA XV BENDERA. pengolah dan . korupsi atau tindak pidana berat atau apabila tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai presiden. Dalam lingkungan perwakilan rakyat dibentuk DPD yang berfungsi sebagai penampung. Pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat dengan kekuasaan tidak terbatas diubah menjadi salah satu lembaga negara dengan kekuasaan tertentu dan terbatas. Presiden dapat diberhentikan oleh MPR berdasar permintaan DPR apabila ia terbukti melalui Mahkamah Konstitusi melakukan penyuapan. KEKUASAAN DPR dipertegas sebagai lembaga yang punya kekuasaan membentuk uu maupun kekuasaan penyusun budget dan anggaran. KEKUASAAN PRESIDEN SEBAGAI KEPALA NEGARA DAN KEPALA PEMERINTAHAN DIPERTEGAS. MPR tidak lagi menyusun gbhn dan presiden tidak bertanggungjawab kepada MPR.

penyampaian aspirasi khas daerah secara cepat ke dalam proses politik nasional. SEDANGKAN MAHKAMAHAGUNG BERKUASA SEBAGAI MAHKAMAH KASASI DAN MEMPUNYAI KEWENANGAN MELAKUKAN JUDICIAL REVIEW ATAS PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN DI BAWAH UU. BPK akan mempunyai perwakilan di daerah-daerah. BPK diperkuat kembali menjadi satu-satunya lembaga yang punya kewenangan sebagai auditor eksternal dan bersifat mandiri. DIATAS DAN TIDAK DIBAWAH MAHKAMAH AGUNG. 12/21/2010 5 LINGKUNGAN KEKUASAAN KEHAKIMAN JUGA DILENGKAPI KEHADIRAN MAHKAMAH KONSTITUSI. AMANDEMEN UUD 45 : SISTEM KONSTITUSI KEDAULATAN RAKYAT utuh KONSTITUSI UUD 45 MA MPR PRESIDEN DPR BPK DPD MK WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB DIATUR DENGAN KONSTITUSI SISTEM PRESIDENTIL STABIL .DEMOKRATIS . YANG MEMPUNYAI KEWENANGAN MENGUJI KONSTITUSIONALITAS UU MELALUI PROSES HUKUM DAN DISAMPING ITU JUGA PUNYA KEWENANGAN UNTUK MENGADILI DAN MEMUTUSKAN DAKWAAN DPR MENGENAI SANGKAAN PRESIDEN TELAH MELAKUKAN PELANGGARAN. POSISI MAHKAMAH KONSTITUSI TIDAK BERADA DI DALAM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful