PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT

)
1.1. PENGERTIAN UMUM Rigid pavement atau perkerasan kaku adalah jenis perkerasan jalan yang menggunakan beton sebagai bahan utama perkerasan tersebut, merupakan salah satu jenis perkerasan jalan yang digunakn selain dari perkerasan lentur (asphalt). Perkerasan ini umumnya dipakai pada jalan yang memiliki kondisi lalu lintas yang cukup padat dan memiliki distribusi beban yang besar, seperti pada jalan-jalan lintas antar provinsi, jembatan layang (fly over), jalan tol, maupun pada persimpangan bersinyal. Jalan-jalan tersebut umumnya menggunakan beton sebagai bahan perkerasannya, namun untuk meningkatkan kenyamanan biasanya diatas permukaan perkerasan dilapisi asphalt. Keunggulan dari perkerasan kaku sendiri dibanding perkerasan lentur (asphalt) adalah bagaimana distribusi beban disalurkan ke subgrade. Perkerasan kaku karena mempunyai kekakuan dan stiffnes, akan mendistribusikan beban pada daerah yangg relatif luas pada subgrade, beton sendiri bagian utama yangg menanggung beban struktural. Sedangkan pada perkerasan lentur karena dibuat dari material yang kurang kaku, maka persebaran beban yang dilakukan tidak sebaik pada beton. Sehingga memerlukan ketebalan yang lebih besar.

Gambar Distribusi Pembebanan Pada Perkerasan Kaku dan Perkerasan Lentur

1.2.

BAGIAN BAGIAN PERKERASAN KAKU Perkerasan kaku umumnya hanya terdiri dari dua lapis, yaitu: pelat beton dan

pondasi bawah (subbase). Namun lapisan beraspal kadang – kadang masih digunakan untuk melapisi permukaan pelat beton (perkerasan komposit). Komponen perkerasan kaku dapat ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar lapisan perkerasan kaku

Pada konstruksi perkerasan kaku, perkerasan tidak dibuat menerus sepanjang jalan seperti halnya yang dilakukan pada perkerasan lentur. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pemuaian yang besar pada permukaan perkerasn sehingga dapat menyebabkan retaknya perkerasan, selain itu konstruksi seperti ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya retak menerus pada perkerasan jika terjadi keretakan pada suatu titik pada perkerasan. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya hal diatas adalah dengan cara membuat konstruksi segmen pada perkerasan kaku dengan sistem joint untuk menghubungkan tiap segmennya.

Gambar lapisan perkerasan kaku

1.3.

FUNGSI LAPISAN PONDASI BAWAH PADA PERKERASAN KAKU

Fungsi lapis pondasi pondasi bawah pada perkerasan kaku: a. Mengendalikan pengaruh pemompaan (pumping) b. Mengendalikan aksi pembekuan c. Sebagai lapisan drainase d. Mengendalikan kembang susut tanah dasar e. Memudahkan pelaksanaan, karena dapat juga berfungsi sebagai lantai kerja f. Mengurangi terjadinya retak pada pelat beton

Faktor yg penting pada joint . Gambar Pengaruh Joint Pada Perkerasan Akibat Beban Ada tiga dasar jenis joint yang digunakan pada perkerasan beton yaitu. SAMBUNGAN (JOINT) Joint atau sambungan adalah alat yang digunakan pada perkerasan kaku untuk menghubungkan tiap segmen pada perkerasan.5. sehingga tidak terjadi pergeseran pada segmen akibat beban dari kendaraan. Berfungsi untuk mendistribusikan atau menyalurakan beban yang diterima plat atau segment yang satu ke saegment yang lain. construction dan isolasi jaoint. lapis pondasi dan lapis pondasi bawah Digunakan untuk semua kelas jalan dan tingkat volume lalu lintas Pengontrolan campuran aspal lebih rumit Umur rencana lebih pendek dari perkerasan kaku yaitu sekitar 20 tahun Kurang tahan terhadap drainase buruk Biaya awal pembangunan lebih murah Biaya pemeliharaan lebih besar Kekuatan perkerasan ditentukan oleh kerja sama setiap komponen lapisan perkerasan Tebal perkerasan adalah seluruh lapisan pembentuk perkerasan di tanah dasar 1.1. constraction.4. disain yang diperlukan untuk setiap jenis tergantung pada orientasi joint terhadap arah jalan (melintang atau memanjang). PERBANDINGAN PERKERASAN KAKU & PERKERASAN LENTUR No Perkerasan Kaku Komponen perkerasan terdiri dari pelat beton yang terletak di tanah atau lapisan material granuler pondasi bawah Kebanyakan digunakan untuk jalan kelas tinggi Pencampuran dikontrol Umur rencana dapat mencapai 40 tahun Lebih tahan terhadap drainase buruk Biaya awal pembangunan lebih tinggi Biaya pemeliharaan kecil Kekuatan perkerasan lebih ditentukan oleh kekuatan pelat beton Tebal struktur perkerasan adalah tebal pelat betonnya adukan beton mudah Perkerasan Lentur Komponen perkerasan terdiri dari lapis aus.

Construction Joint Construction joint adalah bila perkerasan beton dilakukan dalam waktu yang berbeda. Contraction joint umumnya melintang tegak lurus as jalan. kontraksi termal dan kadar air dalam beton. transfer construction joint diperlukan pada akhir segmen pengecoran.2. Longitudinal contruction joint adalah pelaksanaan pengecoran yang dilakukan pada waktu yang berbeda atau joint pada curb.1. atau pada saat pengecoran terganggu. gutter atau lajur berdekatan.5. kecuali pada isolasi joint.5.adalah berarti secara mekanis menyambungkan plat. atau melintas jalan dan jembatan. Dengan menurunnya tegangan didalam beton akan meningkatkan masa layan pada join dan plat. Constraction Joint Contraction joint diperlukan untuk mengendalikan retak alamiah akibat beton mengkerut. tetapi ada juga yg menggunakan menyudut terhadap as jalan untuk mengurangi beban dinamis melintas tidak satu garis. dengnn penyambungan membantu penyebaran beban pada satu plat kepada plat lainnya. Gambar Construction joint . Gambar Contraction joint 1. 1.

tetapi mempunyai tulangan polos pada sambungan melintangnya yang berfungsi sebagai load transfer dan tulangan berulir pada sambungan memanjang. SISTEM JOINT Berdasarkan sistem joint yang digunakan.5. Isolation joint pada inlet drainase. manholes dan struktur penerangan tidak perlu ditebalkan dan diberi dowel. Untuk mengurangi tekanan yang terjadi pada dasar plat. trotoar bangunan intersection perkerasan lain atau jembatan.4.3. drainase. . Isolation joint digunakan bila perkerasan berbatasan dengan manholes. Isolasi joint pada intersection atau ramp tidak perlu diberi dowel sehingga pergerakan horizontal dapat terjadi tanpa merusak perkerasan. Gambar Isolation joint 1. perkerasan kaku dibagi menjadi 3 yaitu : a. Setengah dari dowel dengan cap harus diminyaki untuk mencegah ikatan supaya bisa bergerak secara horizontal. JPCP tidak mempunyai tulangan. dengan kebebasan ujung 6 mm. panjang cap 50 mm.1. Isolation joint yang dipakai untuk jembatan harus memakai dowel sebagai load transfer. Jointed Plain Concrete Pavement (JPCP) Perkeraan JPCP mempunyai cukup joint untuk mengendalikan lokasi semua retak secara alamiah yg diperkirakan. harus dilengkapi dengan close-end expansion cap supaya joint bisa mengembang dan menyusut. Isolation Joint Isolation joint adalah memisahkan perkerasan dari objek atau struktur dan menjadikannya bergerak secara independen.5. retak diarahkan pada joint sehingga tidak terjadi di sembarang tempat pada perkerasan. kedua ujung perkerasan ditebalkan 20 % sepanjang 150 mm dari joint.

jarak joint bartambah panjang dan dengan adanya penulangan.Gambar Jointed Plain Concrete Pavement b. sehingga retak dipegang bersama. CRCP lebih mahal dari perkerasan yang lainnya. Continuously Reinforced Concrete Pavement (CRCP) Continuously Reinforced Concrete Pavement (CRCP).6-0. CRCP didisain dengan penulangan 0. retak diikat bersama didalam plat. Gambar Jointed Reinforced Concrete Pavement c. Jointed Reinforced Concrete Pavement (JRCP) Jointed Reinforced Concrete Pavement (JRCP) mempunyai penulangan anyaman baja yang biasa disebut distributed steel. retak diharapkan terjadi pada plat biasanya dengn interval 3-5 ft. namun dapat tahan lama dan biasanya dipakai untuk heavy urban traffic.7 % dari penampang plat. tidak memerlukan transferse contraction joint. . Jarak antara joint biasanya 10 m (30 feet) atau lebih bahkan bisa 100 feet.

6. Perkerasan komposit. yaitu perkerasan kaku dengan beton semen sebagai lapis aus -bersambung tanpa tulangan -bersambung dengan tulangan -menerus dengan tulangan -pratekan 2. dimana semakin besar jumlah beban lalulintas mengakibatkan ratio tegangan (perbandingan tegangan lentur beton akibat beban roda dengan kuat lentur beton “MR”) semakin kecil. Perkerasan beton semen. yaitu perkerasan kaku dengan plat beton semen sebagai lapis pondasi dan aspal beton sebagai lapis permukaan 1.7.Gambar Continuously Reinforced Concrete Pavement 1. perubahan suhu dan kadar air. Penerapan prinsip “fatique” (kelelahan) untuk mengantisipasi beban berulang. Dasar-dasar Desain Tebal plat dihitung supaya mampu menahan tegangan yang diakibatkan bebanr oda. JENIS PERKERASAN KAKU 1. Faktor-faktor Yang Berpengaruh         Peranan dan tingkat pelayanan Lalu lintas Umur rencana Kapasitas jalan Tanah dasar Lapis pondasi bawah Bahu Kekuatan beton . serta perubahan volume lapisan dibawahnya.

Untuk satu ruas jalan. intrusi dan pumping. nilai modulus Rencana digunakan persamaan: = k –2S jalan tol = k –1.Nilai k minimal adalah2 kg/cm3.64S jalan arteri = k –1.Lalu Lintas Hanya diperhitungkan terhadap kendaraan niaga Persamaan-persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Keterangan: JKN = jumlah kendaraan niaga JKNH = JKN Harian saat jalan dibuka R i / i’ = faktor pertumbuhan lalu lintas n / m = tahun rencana = pertumbuhan lalu lintas Tanah Dasar Parameter yang digunakan adalah modulus reaksi tanah dasar (k) yang didapat melalui metode pengujian AASHTO T. Apabila digunakan lapis pondasi bawah maka digunakan nilai k gabungan. Sifat yang perlu diperhatikan dari tanah dasar adalah kembang susut.28S jalan kolektor/local ko ko ko Faktor keseragaman (FK) dianjurkan < 25 % . dan keseragaman daya dukung tanah dasar.222-81 atau dari korelasi nilai CBR.

9 0.28 2.9 20000 50000 1000000 40000 900000 350000 1000000 40000 300000 lapis pondasi distabilisasi semen tanah distabilisasi semen 2.1 lapis pondasi diperbaiki aspal emulsi Kekuatan Beton Untuk desain perkerasan kaku kekuatan beton yang dipertimbangkan adalah kekuatan lentur (flexural strength) umur28 hari yang didapat dari pengujian menggunakan metode ASTM C78 atau korelasi dari nilai kuat tekan beton umur28 hari sbk 28).2 lapis pondasi diperbaiki aspal 2. Perkiraan Nilai Modulus Elastisitas Lapis Pondasi Modulus elastisitas Jenis bahan Gpa granular psi kg/cm2 565 1410 35210 70420 28170 63380 24650 70420 2815 21125 0.4 -6.8000 0.138 3. Korelasi kauat lentur dan kuat tekan beton dinyatakan dalam persamaan Nilai MR 28 disyaratkan 40 kg/cm2 atau minimal 30 kg/cm2 (kondisi memaksa!!!) .8 -6.055 .Tabel.5 -6.

475 0.Tabel.2 1. Faktor Keamanan PerananJalan JalanTol JalanArteri FK 1.425 0. KoefisienDistribusiKendaraanNiagaPadaJalurRencana Kendaraan niaga Jumlahjalur 1 arah 1 jalur 2 jalur 3 jalur 4 jalur 5 jalur 6 jalur 1 0.5 2 arah 1 0.45 0.5 0.4 Tabel.1 JalanKolektor/Lokal 1 .7 0.

65 0. Perbandingan Tegangan dan Jumlah Pengulangan Beban Yang Diijinkan Perbandingan Tegangan* 0.66 0.71 0.79 0.78 0.74 0.Tabel.61 0.52 0.82 0.76 0.68 Repetisi beban ijin 400000 300000 240000 160000 130000 100000 75000 57000 42000 32000 24000 18000 14000 11000 8000 6000 4500 3500 Perbandingan Tegangan* 0.81 0.83 0.69 0.64 0.54 0.85 Repetisi beban ijin 2500 2000 1500 1100 850 650 490 360 270 210 160 120 90 70 50 40 30 * tegangan akibat beban dibagi kuat lentur tarik (MR) * untuk perbandingan tegangan ≤ 0.50 repetisi beban ijin adalah tidak terhingga .75 0.56 0.67 0.62 0.7 0.77 0.59 0.73 0.55 0.63 0.57 0.6 0.8 0.72 0.51 0.58 0.84 0.53 0.

2 1.9 .Perhitungan Tulangan Tujuan tulangan –Mengurangi retakan –Mengurangi sambungan plat –Mengurangi biaya pemeliharaan Tulanganpadaperkerasanbetonbersambung As = luas tulangan (cm2/m’) F = koefisien gesek plat dan lapis bawahnya L = jarak antar sambungan (m) h = tebal plat (m) fs = tegangan tarik ijin baja (kg/cm2) Tabel. Koefisien Gesek Plat Beton dan Lapis Di bawahnya Jenis Pondasi Burtu.8 1. Lataston Stabilisasi kapur Stabilisasi aspal Stabilisasi semen Koral Batu pecah Sirtu Tanah KoefisienGesek 2.2 0.sejenis Aspal beton. Lapen dan konst.5 1.8 1.8 1.8 1.5 1.

8 1.Tulangan pada perkerasan beton menerus Ps = persentasetulanganyang diperlukanterhadappenampangbeton.8 Tulangan pada perkerasan beton menerus Lcr p u = jarak teoritis antar retakan = luas tulangan memanjang per satuan luas = perbandingan keliling dan luas tulangan .8 1.6 % ft fy F n Ec Es Tabel. Korelasi Kuat Tekan Beton dan Angka Ekivalensi Antara Baja dan Beton Kuat Tekan Beton 115 -140 145 –170 175 –225 235 –285 ≥ 290 n 2.8 1.2 1.5 MR) = teganganlelehbetonrencana = koefisiengesekplat danlapis bawahnya = angkaekivalensiantarabajadanbeton(Es/Ec) = modulus elastisitasbeton = modulus elastisitasbaja adalah0.4 –0. persentaseminimum = kuattarikbeton(0.

ft fb S n Ec Es = kuat tarik beton (0.5 MR) = tegangan lekat antara tulangan dengan beton rencana = koefisien susut beton (400 x 106) = angka ekivalens iantara baja dan beton (Es/Ec) = modulus elastisitas beton = modulus elastisitas baja .4 –0.

terutama yang mengeluarkan getaran. Untuk itu. Rotating equipment (RE). saya tulis artikel ini sebagai sumbang saran bagi design engineer yang berkutat di perencanaan pondasi mesin. -saya cenderung memakai istilah RE saja diartikel ini untuk lebih spesifik dibanding kata “mesin”-. yang harus diletakkan langsung diatas pondasi beton.PONDASI MESIN Saya mendapat banyak email yang menanyakan bagaimana merencanakan pondasi untuk mesin-mesin. . Dan saya ingin membagi pengalaman rekayasa dan desain tentang serba serbi pondasi dangkal khususnya untuk pondasi mesin (rotating equipment) secara umum saja.

Disamping itu. Dan tiap jenis RE dapat memberikan efek yang harus diperhitungkan dalam mendesain pondasi pendukungnya. 2.2R. Serta memperhitungkan faktor-faktor sekunder seperti kondisi sekeliling. Turbin (Gas dan Uap/Steam) 3. antisipasi lemahnya workmanship dari pekerja lapangan dan lain sebagainya. Dengan demikian. 674. 676. 616. Vertical Excitation. Kompresor (Reciprocating dan Centrifugal). silahkan dibuka referensi kepustakaan seperti Design of Structures and Foundations for Vibrating Machines oleh Suresh C Arya. Roland P Drewyer & George Pincus. 617. Genset (biasanya hanya sebagai back up dari system catu daya listrik kilang). Michael O’Neill & George Pincus. c. plus Foundation Design for Vibration Machines oleh Suresh C Arya. e. Sekedar mengingatkan dalam mendesain pondasi untuk RE yang mengeluarkan vibrasi. kemudian serial API seperti API STD (610. 618. Sedangkan untuk pemahaman lebih lanjut.banyak macam jenisnya. Torsional Excitation. Michael O’Neill dan G Pincus) bahwa pondasi akan mengalami akibat getaran seperti berikut ini: a. Untuk rekayasa keteknikan pondasi RE ini. ACI 504.1 M. seperti: . 677) & API RP 6869. 613. pengertian atas beberapa istilah teknis dan nomenklatur yang juga patut dipahami. Rocking Exictation. saya kutipkan pendapat suhu-suhu pondasi (Suresh C Arya. b. d. seorang design engineer harus mempertimbangkan bahwa bentuk/dimensi dan massa pondasi serta daya dukung tanah harus benar-benar kuat untuk menahan akibat getaran tersebut. juga Foundation Engineering Handbook oleh Hans F Winterkon & Hsai Yang Fang. Coupled Horizontal Translation & Rocking Oscillation. ACI 207. ACI 318 dan ACI 318R. Pompa (Rotary dan Reciprocating) 4. 672. sebaiknya kita mempersenjatai diri dengan membaca beberapa referensi dari beberapa Code dan Standard internasional misalnya: ASME B 73. 612. Jenis RE yang sering dijumpai dalam plant/kilang Migas/Petrokimia/Refinery misalnya adalah: 1. Baik juga ditambah ISO 2631-1 & 2631-2 dan PIP REIE 686 & PIP STC 01015. 611. Horizontal Translation.

ED: Modulus dinamis elastisitas beton dalam satuan MPa. g. Low-Tuned System (LTS): adalah suatu sistem pondasi pendukung dimana kisaran frekwensi mesin diatas frekwensi natural dari sistem secara keseluruhan. Secara umum. sengaja kalimat itu saya tebalkan dan garis bawahi sebagai catatan penting. RE dengan RPM tinggi cenderung menghasilkan frekwensi natural yang lebih tinggi dari pada frekwensi natural pondasi beton. Grout: Material bersifat semen atau epoksi (epoxy) yang disediakan untuk keseragaman pondasi pendukung dan sebagai media transfer beban dari instalasi RE diatasnya ke pondasi. rule of thumb jika kita sebagai perencana tidak ada/tidak bisa mendapatkan data analisa dinamis (dynamic analysis) dari RE. maka berat pondasi didesain tidak boleh kurang dari 5 (lima) kali dari berat RE secara keseluruhan. f. Dan grout haruslah mempunyai sifat non shrink (tidak berkerut). Grout diposisikan dibawah base plate/mounting plate/skid dari RE. Terkecuali jika ada pemberitahuan lain dari pabrik pembuatnya. Selain daripada itu. e. Perbandingan rasio massa 3:1 dan 5:1 ini juga merupakan nilai empiris yang telah lama dipakai perbandingan untuk massa pondasi terhadap massa RE/mesin. Namun penerapan azas LTS tidak disarankan buat RE yang mempunyai RPM rendah ataupun bervariasi. High Tuned System (HTS) : adalah suatu sistem pondasi pendukung dimana kisaran frekwensi mesin dibawah frekwensi natural dari sistem secara keseluruhan. Sedangkan untuk RE RECIPROCATING yang mengeluarkan output KURANG dari 200 HP. Untuk kasus seperti ini. maka berat pondasi didesain tidak boleh kurang dari 3 (tiga) kali dari berat RE secara keseluruhan. A: Batas ijin maximum getaran amplitude puncak ke puncak (peak to peak). Tentu saja nilai . Menurut saya.a. lebih baik menerapkan azas desain Low-Tuned System (LTS) terutama untuk RE yang mempunyai RPM (revolutions per minute) tinggi. b. c. d. atas dasar kepraktisan dan keekonomisan. LTS memiliki efek vibrasi yang lebih rendah dari HTS. b. f(n): Frekwensi natural dari system pondasi mesin dalam satuan Hertz. Struktur pendukung atau pondasi untuk RE CENTRIFUGAL yang mengeluarkan output KURANG dari 500 HP (horse power). maka langkah berikut ini bisa kita pergunakan: a. Terkecuali jika ada pemberitahuan lain dari pabrik pembuatnya. Table Top (TT): Struktur beton bertulang berketinggian untuk menopang/sebagai dudukan RE. azas HTS dianggap lebih baik.

Ada juga yang berpendapat minimum 80%. Nilai ini dianggap sebagai best practice serta karena stress yang diderita tanah dibawah struktur/pondasi lain (pada jarak ruang antara tersebut) tidak akan menimpa tanah dibawah pondasi RE dan sebaliknya. Bisa juga dipertimbangkan opsi menggunakan softboard (misalnya gabus/Styrofoam atau bahan yang tidak rigid) atau menggunakan lapisan slurry (campuran semen) yang dibuat seperti dinding atau bahkan sheetpiles yang diletakkan diantara pondasi yang berdekatan. Dalam menentukan seberapa kedalaman yang layak dari suatu pondasi RE dari muka tanah khususnya untuk pondasi berbentuk blok. maka perlu pula diberikan isolation joint disekeliling pondasi. Opsi-opsi diatas tergantung dari hasil perhitungan amplitudo getaran dan perilaku tanah. Berbicara tentang jarak pemisahan pondasi RE terhadap struktur lain disampingnya.perbandingan tersebut bisa kita ubah menjadi lebih kecil dan tentu saja harus dibarengi dengan perhitungan dan bukti terapan dilapangan yang cukup. Patut dipertimbangkan bahwa untuk penempatan/lokasi pondasi RE haruslah terpisah dari pondasi dan bangunan lain. maka diperlukan perhitungan teknis yang dapat memberikan indikasi bahwa transmisi amplitude getaran masih dapat diterima. saya merekomendasikan lebar ruang antara (space) minimal sebesar 2. Jika pondasi RE ini terletak diarea paving/pavement atau disekeliling slab beton. Untuk itu. dapat dihindarkan akibat negative dari transmisi amplitudo getaran yang merugikan lewat tanah disekeliling. .5 kali lebar pondasi berukuran terkecil. jika nilai jarak antar tersebut tidak bisa diterapkan karena keterbatasan ruang. ada beberapa pendapat misalnya minimum 50% dari tebal pondasi yang harus tertanam dalam tanah. Pada jarak tersebut juga. sebaiknya pada pendesainan tetap dilakukan analisa dinamis untuk memprediksi perilaku pondasi akibat RE. ACI 504R (Guide for Sealing Joints in Concrete Structures) bisa dijadikan rujukan. Dasar pemikirannya adalah massa pondasi RE maupun efek getaran yang dihasilkan akan memberikan stress/tekanan pembebanan terhadap pondasi dan bangunan disampingnya dan ataupun sebaliknya jika tidak ada pemisahan. Dan meskipun pendekatan dengan metode ini merupakan best practice terhadap rule of thumb. Untuk penerapan isolation joint ini disarankan lebar minimum 12 mm dan kedalaman sekitar 20 mm dan material adalah sesuai penggunaan yaitu jenis material untuk expansion joint. Tetapi. Jadi bijaklah menyikapi semua informasi yang didapat sebelum memutuskan.

50 meter maka ketebalan minimum adalah 0.605 m. kecermatan dalam membaca hasilnya.60 + 1. Untuk pondasi dangkal.60 + L/30 (dalam satuan meter). Untuk system pondasi low-tuned: tekanan daya dukung tanah tidak melebihi 75% dari tekanan daya dukung ijin yang diperbolehkan terhadap beban statis. Beberapa patokan untuk daya dukung ijin tanah yang dapat dipertimbangkan adalah: a. perlulah dipahami kaitan pondasi yang kita desain dengan tekanan daya dukung tanah. Hal ini perlu dilakukan untuk menyediakan lebih besar safety factor terhadap kemungkinan penurunan (settlement) akibat getaran. Sebagai catatan.Saya pribadi lebih memilih nilai 80 % dengan pertimbangan faktor penambahan keamanan stabilitas pondasi atas getaran yang bakal diterima. perlakuan lanjutan untuk meningkatkan kapasitas daya dukung dapat saja dilakukan. diperlukan tindakan uji soil investigation. Untuk system pondasi high-tuned: tekanan daya dukung tanah tidak melebihi 50% dari tekanan daya dukung ijin yang diperbolehkan terhadap beban statis. Bagaimana dengan penentuan ketebalan minimum? Disamping kita bisa mendapat masukan pertimbangan atas perbandingan berat dari rasio 3:1 atau 5:1. salah satunya seperti metoda dynamic compaction atau dynamic replacement seperti yang telah saya tulis diartikel sebelum ini. lebih spesifik dalam menentukan ketebalan pondasi minimum adalah azas: 0. Misalnya: Direncanakan panjang (L) pondasi = 1. Termasuk juga efek pembebanan dinamis terhadap tanah dan jika diperlukan.5 m/30 = 0. meskipun kita sudah mendesain pondasi pendukung sebaik mungkin namun itu semua bakal tidak terpakai jika tanah sebagai pendukung pondasi tidak cukup baik kualitasnya. Menurut saya. dengan berkedalaman lebih juga akan meningkatkan ketahanan lateral dan rasio-rasio peredam untuk semua mode vibrasi. Menyikapi perihal tentang tanah. Banyak metoda yang dipakai. kemudian kecermatan dalam menerapkannya dalam desain. . b. daya dukung ijin (Q all) untuk pondasi RE berat haruslah dikurangi. Pemeriksaan terhadap kecukupan kuat tanah dalam kemampuan kapasitas daya dukung statis dan pertimbangan besar penurunan (settlement) perlulah dilakukan. Faktor lain yang patut dipertimbangkan adalah jika ada anchor bolt yang harus ditanam kedalam pondasi maka meskipun ketebalan minimum sudah terpenuhi dengan azas diatas. Untuk itu. terutama daya dukung.

namun saya lebih menyukai pemakaian jarak tulangan 200 mm.2 meter. maka tulangan minimum tidak boleh kurang dari ½%. kita memakai: ED (dalam satuan MPa) = 6560 x kuat tekan beton berpangkat 0. Untuk nilai ED dalam menghitung kekakuan beton. maka jumlah tulangan minimum yang harus disediakan di pier adalah tidak boleh kurang dari 1% tetapi tidak boleh lebih dari 8% dikalikan luasan potongan melintang beton. Jika mempergunakan pedestal. minimum jumlah tulangan yang diperlukan lebih banyak diperlukan untuk mengantisipasi penyusutan dan temperatur beton.ketebalan harus mengakomodasi panjang anchor bolt tertanam plus ketebalan sekitar minimum 100 mm diatas lapisan tulangan terbawah. tetapi pemakaian nilai 0. Untuk itu. Penulangan diperlukan untuk menahan gaya-gaya dalam dan momen yang relatif kecil dalam suatu pondasi berbentuk blok disebabkan oleh ukuran pondasi yang masif. Sekarang kita masuk kebagian penulangan dan pembetonan. maka haruslah disediakan tulangan susut dan penahan temperature beton sesuai ACI 318. Sedangkan jika kita harus menggunakan pier (pengertian ini beda dengan table top). Jadi misalnya lebar skid 1000 mm maka lebar pondasi disarankan 1000 mm + 100 mm (kiri) + 100 mm (kanan) = 1200 mm. Di ACI 318 memang tidak secara spesifik menyebutkan kebutuhan tulangan minimum untuk pondasi blok.5 (setengah).2R jika ketebalan pondasi ternyata setelah kita hitung melebihi 1.5 kali jarak vertical dari dasar ke garis tengah RE dan tambahkan lebar mimimum dengan area bebas (jarak ke tepi beton) dari base plate/mounting plate/skid RE yaitu 100 mm kesegala arah. Dimana ketebalan tersebut kita perlukan lebih pada faktor kestabilan. secara teknis nilai berikut ini dapat dipakai yaitu paling tidak 1.0018 (sebagai A min tulangan) dikalikan luasan arah melintang beton dapat dipergunakan sebagai panduan. Pengecualian terhadap nilai tersebut dapat kita lihat di ACI 207. maka disarankan tulangan minimum memakai diameter 22 mm dengan jarak maksimum antar tulangan adalah 300 mm (center to center). Mengapa? Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi retak pinggir yang sering terjadi karena kekurang cermatan pekerja lapangan dalam mengkonstruksi pondasi dan jarak 100 mm ini dipandang cukup mengakomodasi sudut tekanan yang tercipta dari skid. . Untuk pondasi dengan ketebalan minimum 500 mm. Untuk lebar minimum. kekakuan dan peredaman akibat getaran serta untuk mengakomodasi panjang anchor bolt.

yang dimana gaya tersebut menghasilkan tambahan gaya putar (rotation) terhadap vertical displacement. rasio antara frekwensi operasi mesin (f) dengan frekwensi natural dari system pondasi f(n) tidak diharapkan berada pada rentang 0.7 dan untuk LTS f/f(n) nilainya harus diatas 1. sebaiknya hindarilah eksentritas. tegak lurus terhadap bantalan poros (bearing axis). Ada beberapa batasan yang saya anut dalam menentukan nilai eksentrisitas ijin. maka tidak boleh melebihi 0. . Sedapat mungkin. saya menyarankan. Misalnya pondasi dimaksudkan untuk mampu menahan gaya tidak seimbang vertical dimana gaya tidak segaris dengan titik pendukung elastis. Perlu dipahami nilai modulus dinamis elastisitas harus lebih tinggi dari modulus statis. akan terjadi penambahan peningkatan secara cepat terhadap amplitude getaran. Seperti yang kita ketahui.3. jika dimungkinkan. antara titik pusat garis berat pondasi dan pusat area kontak tanah tidaklah boleh melebihi nilai 0. Diatas semua itu. Alasannya adalah untuk meminimalisasi momen-momen sekunder yang bisa saja secara signifikan mempengaruhi frekwensi natural dari pondasi. Bagaimana dengan eksentrisitas pondasi dengan RE yang berporos horizontal? Kita tahu bahwa eksentrisitas dapat menimbulkan gaya tidak seimbang yang berujung pada penambahan momen. kita membatasi rentang frekwensi natural ini. Secara umum. untuk frekwensi natural HTS harus berada dibawah nilai 0. untuk eksentrisitas horizontal. Jika kita menggunakan pier atau pedestal. Nah jika kita tidak menetapkan batasan eksentrisitas yang diijinkan maka dikhawatirkan (momen sekunder plus momen utama) akan mengakibatkan 2 jenis frekwensi natural yang mungkin saja secara significant berbeda dengan azas tunggal frekwensi natural dalam satu system pondasi.7 hingga 1. Diluar rentang 0. Sehingga. Sedikit bahasan tentang rasio rentang frekwensi natural yang diijinkan.05 dikalikan lebar pondasi.Kuat tekan beton disarankan minimum 28 MPa (atau sekitar 4000 psi). Untuk itulah dalam menyediakan factor keamanan terhadap resonansi getaran.05 dikalikan panjang pondasi. Yaitu. Sedangkan jika searah/parallel dengan bantalan poros. maka penerapan nilai tersebut juga harus disesuaikan plus pertimbangan terhadap center of gravity dari RE.3 ini.7 – 1. jika rasio f/f(n) mendekat angka 1. Untuk itu perlulah kita batasi besaran eksentrisitas tersebut. Pembatasan rentang frekwensi natural yang diijinkan dalam suatu system pondasi berkaitan dalam upaya menghindari bahaya yang terjadi akibat getaran yang berlebihan. respon dinamis maksimum dari system hanya terbatas sedikit lebih besar dari nilai defleksi statis system pondasi.3.

tidak ada hubungan data teknis dari mesin generator dengan desain pondasi dibawahnya dan ajaibnya dibawah pondasi generator diberikan usulan menggunakan cerucuk dolken kayu untuk meningkatkan daya dukung tanah. “Rasa” ini juga bisa membimbing seorang engineer dalam mendesain suatu konstruksi yang kuat dan aman. maka kita harus menyediakan perhitungan yang lebih rumit (misalnya menghitung maksimum kecepatan getaran dalam fasa dan 180 derajat diluar fasa. Referensi itu membahas tentang bagaimana respon seseorang terhadap getaran bangunan dan kurva berat respon pada kesamaan gangguan terhadap tubuh dan metodametoda bagaimana cara mengatasinya. Sang staff yang mengaku jebolan konsultan engineering. Setelah membaca hitungan desain. Dalam perhitungan tersebut. tidak rumit. tepat sasaran. Sedikit cerita tentang engineer copas (copy paste). design engineer sebaiknya membaca ISO 2631-1 & ISO 2631-2.Meskipun demikian. Jika nanti ada kesempatan. pondasi untuk RE yang memilik beragam mode kecepatan. Untuk itu jika kita harus menyediakan suatu platform struktur baja. . seorang engineer haruslah memiliki “sense of engineering” atau juga disebut “engineering feeling”. belum lagi saya memeriksa hitungan yang dikirimkan tersebut. saya langsung mendapat kesimpulan staff karib saya ini hanya melakukan engineering copas. mudah dilaksanakan serta hemat biaya. Untuk bagaimana supaya platform dapat bernilai aman dan nyaman bagi pemakai dilapangan. pembatasan rentang frekwensi natural ini sangat sulit dicapai jika kita mendesain suatu system struktur yang rumit seperti halnya kombinasi kekakuan steel structure dengan sistim pondasi. yang sayangnya sang staff tidak menuliskan berapa daya dukung tanah yang dihasilkan dengan metoda cerucuk. pondasi untuk RE yang sangat berat (turbo compressor yang berdimensi luar biasa besar misalnya). “Rasa” ini tidak ada kriteria bakunya namun bisa terbentuk dan terasah jika seorang engineer setia pada kemauan untuk berkarya sesuai bidangnya. meminta bantuan saya memeriksa pekerjaan desain pondasi RE (generator/genset) yang dikerjakan staffnya. untuk serba serbi frekwensi natural ini akan saya bahas dalam artikel tersendiri. hanya mengganti angka-angka (dari suatu perhitungan pondasi lain) dan memberikan kesimpulan dimensi serta menyebutkan bahwa desain tersebut aman.. terutama jika mendesain pondasi RE dengan memakai TT (table top). penentuan lokasi dimana amplitude getaran yang dominan berada dan lain sebagainya). Aman dari hongkong? Hehehehehe. Suatu ketika karib saya mengirim email. maka platform tersebut sebaiknya terpisah dengan system pondasi TT. Diluar semua perhitungan teknis diatas kertas.

silahkan dipelajari untuk mengambil intisarinya/esensinya. tak berbobot. melakukan trial dan error. tidak dipakai dan hanya untuk pajangan supaya jumlah halaman teknis jadi panjang dan terkesan bagus. sampai kita merasa kita mampu melakukan desain secara mandiri. . yang kosong. Model copas inilah yang kita harus hindari. tak ada nilainya. Saya kemudian menganjurkan karib saya untuk meminta staff tersebut mendesain ulang dengan kaidah-kaidah yang benar. Sedangkan data teknis generator. Memang tidak sulit mengganti sekedar angka namun itu berarti kita hanya berkemampuan meniru. Berikut ini saya sajikan contoh perhitungan desain pondasi RE.Sehingga tidak ada perhitungan settlement dan daya dukung yang ditulis hanya imajinasi saja. yang seharusnya diperhitungkan untuk penentuan system pondasi. desain harus memiliki esensi dan tidak copas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful