P. 1
Perencanaan Perpustakaan Umum Spatial

Perencanaan Perpustakaan Umum Spatial

|Views: 457|Likes:
Published by Pius Silvanus
Perencanaan Perpustakaan Umum Spatial
Perencanaan Perpustakaan Umum Spatial

More info:

Published by: Pius Silvanus on Mar 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2015

pdf

text

original

P erencanaan Lokasi

PERPUSTAKAAN UMUM SPASIAL
DI WILAYAH PERKOTAAN

A. Ridwan Siregar

PERENCANAAN LOKASI PERPUSTAKAAN UMUM SPASIAL DI WILAYAH PERKOTAAN

A. Ridwan Siregar

2011

i

061-8213737. Publishing & Printing Gedung F Jl. 2011. ISBN: 979 458 583 1 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan / A.id © USU Press 2011 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Indonesia ii . 20 cm Bibliografi ISBN: 979-458-583-1 Dicetak di Medan. merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit. ilus. menyalin. Kampus USU Medan. 9. Fax 061-8213737 Kunjungi kami di: http://usupress. 133 p. iv. dilarang memperbanyak.USU Press Art Design.usu.ac. Indonesia Telp. Universitas No. . . Ridwan Siregar --Medan: USU Press.

A. Ridwan Siregar. penulis memperoleh banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. M. Buku ini menyajikan suatu hasil kajian tentang perencanaan lokasi perpustakaan umum spasial di wilayah perkotaan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada berbagai pihak yang telah turut membantu mulai dari awal hingga karya ini dapat diterbitkan. Kepada isteri dan anak-anakku disampaikan penghargaan atas dukungan yang diberikan sehingga penulis dapat bekerja dalam suasana yang menyenangkan. Dr. Perjalanan untuk menghasilkan sebuah karya telah memberikan pengalaman baru bagi penulis. 9 Maret 2011 Penulis. Penulis berharap kiranya karya ini bermanfaat bagi upaya untuk mengembangkan suatu wilayah kota yang memiliki fasilitas perpustakaan umum yang dekat dengan setiap warga masyarakat sehingga mereka dapat mengembangkan diri untuk memperbaiki kesejahteraan mereka sendiri. Di dalam perjalanan itu. iii . seperti suatu petualangan yang penuh tantangan dan sekaligus rintangan.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karuniaNya jualah sehingga buku ini dapat diterbitkan.Lib. Medan.

.... iv Bab I : Pendahuluan ........................................... 120 iv ............................84 Bab VII : Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial ...................12 Bab III : Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia ...........................................................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar..................................................................................................................................................48 Bab VI : Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum ...................................................................................................................................................... iii Daftar Isi ...................... 103 Daftar Pustaka ............................18 Bab IV : Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia .......................35 Bab V : Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum ...... 1 Bab II : Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Masyarakat ...............................

Pendidikan memegang peranan penting dan penduduk 1 . 2001). sumber daya manusia dan teknologi yang dikenal sebagai tiga pilar pengembangan wilayah (Nachrowi dan Suhandojo. ada tiga faktor penting yang harus diperhatikan yaitu sumber daya alam. Sumber daya manusia dimaksud adalah yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang cukup untuk menggerakkan seluruh sumber daya wilayah yang ada (Muchdie. 2001). Sumber daya manusia berkualitas erat kaitannya dengan tingkat pendidikan penduduk dan prasarana atau fasilitas pendidikan yang tersedia di suatu wilayah. juga sekaligus sebagai obyek dari pembangunan atau pengembangan wilayah. atau memajukan dan memperbaiki serta meningkatkan sesuatu yang sudah ada (Jayadinata. Peran sumber daya manusia dalam hal ini menjadi sangat strategis karena selain sebagai subyek. 1992).Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan BAB I PENDAHULUAN Pengembangan wilayah merupakan suatu tindakan mengembangkan wilayah atau membangun daerah atau kawasan dalam rangka usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat. sumber daya manusia berkualitas merupakan faktor yang menentukan maju tidaknya suatu wilayah. Dalam pengembangan wilayah. Dengan kata lain.

perpustakaan umum dipandang sebagai salah satu institusi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu fasilitas yang banyak dihandalkan untuk tujuan tersebut adalah perpustakaan. dan dalam melakukan transformasi sosial-ekonomi penduduk. Kenyataan yang ditemukan khususnya di negara berkembang bahwa peran pendidikan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia masih terfokus hanya pada institusi pendidikan formal. industri dan perdagangan. penduduk yang terdidik dan terinformasi dengan baik (well informed) akan mendorong percepatan pembangunan. modernisasi ekonomi. Institusi pendidikan formal harus didukung oleh fasilitas untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Pendahuluan terdidik merupakan persyaratan awal untuk pembangunan (Calcuttawala. Hal ini sudah menjadi suatu kenyataan di negara maju. tetapi tidak demikian halnya di negara berkembang seperti Indonesia. di mana peran perpustakaan belum diupayakan maksimal untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama di lingkungan perkotaan. dan terus diupayakan penguatannya agar berperan lebih besar dalam 2 . Padahal di negara maju. 2004). Perpustakaan secara tradisional merupakan repositori dan pemeran utama diseminasi informasi dan pengetahuan.Bab I. sedangkan peran institusi non formal seperti perpustakaan pada umumnya kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu. Dalam era informasi. pendidikan beserta informasi yang cepat dan dapat dipercaya telah menjadi suatu hal yang vital dalam bisnis.

bukan saja kontribusinya terhadap lingkungan intelektual dan kultural dari kota tetapi juga merupakan salah satu faktor daya tarik bagi bisnis. Bahkan. kehadiran digital divide antara negaranegara miskin dan kaya. 1987). dan dalam skala yang berbeda misalnya pedesaan dan perkotaan dan/atau di dalam skala 3 .Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan pemberdayaan masyarakat. Berkaitan dengan itu. Calcuttawala (2004) dalam disertasi doktornya di bidang Geografi mengatakan bahwa perpustakaan memperoleh arti penting yang diperbaharui pada kota-kota di negara Barat pasca-industrial. Perpustakaan di sini merupakan bagian penting dari infrastruktur pengetahuan. Selanjutnya disebutkan bahwa kota-kota dipromosikan sebagai pusat-pusat berbasis pengetahuan di mana kolaborasi keterlibatan berbagai lembaga riset. investasi dan angkatan kerja profesional. informasi telah menjadi fokus perhatian berbagai lembaga riset dan diberi label ekonomi informasi. informasi dan pengetahuan memperoleh tempat sentral dalam ekonomi maju yang telah memiliki cabang penting dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi. Perpustakaan dalam konteks ini dipandang sebagai komponen vital infrastruktur sosial dan ekonomi. Selain itu. budaya dan politik. sosial. universitas dan industri teknologi tinggi membantu perkembangan pembangunan ekonomi. Ekonomi informasi berkaitan dengan bagaimana kualitas dan biaya informasi berpengaruh dan dipengaruhi oleh kinerja suatu sistem ekonomi campuran (modern mixed economy) (Hepworth.

2001). informasi dan pengetahuan akan terasa semakin mahal terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang merupakan proporsi terbesar penduduk perkotaan di Indonesia saat ini.4 juta jiwa atau 30. lingkungan. dan lain-lain yang berdampak pada meningkatnya tindak kriminalitas. Peningkatan aglomerasi perkotaan ditandai dengan laju pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin tinggi. Salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk adalah tidak terpenuhinya kebutuhan pelayanan umum penduduk seperti fasilitas pendidikan dan sosial (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 4 . 2007). ekonomi. Pendahuluan perkotaan baik di negara miskin maupun kaya. dan diperkirakan mencapai angka 150 juta jiwa atau 60 % pada tahun 2015 (Amron. Bagi golongan masyarakat yang mampu akan semakin sejahtera.Bab I. 2007).8 juta jiwa atau 22. menempatkan perpustakaan pada suatu posisi yang unik untuk menjembatani jurang pemisah dengan misinya menyediakan akses universal terhadap informasi dan pengetahuan (Urban Institute. meningkat menjadi 55. Perpustakaan berperan sebagai perantara penyebaran informasi dan pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat.3% dari total penduduk nasional pada tahun 1980. Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia tumbuh cukup pesat dari 32. Ketika perpustakaan tidak berfungsi dengan baik.9% pada tahun 1990. tetapi sebagian besar penduduk yang potensinya masih terbatas yang terjadi adalah munculnya berbagai kesenjangan sosial.

transportasi. Oleh karena itu. pasar tenaga kerja dan perburuhan. Salah satu faktor penting dalam aspek 5 . pemerintah selayaknya memasukan komponen perpustakaan umum di dalam perencanaan pengembangan wilayah perkotaan. dan teknologi (Nijkamp. tata guna lahan. perencanaan kota dapat mencakup berbagai komponen seperti: perencanaan ekonomi dan industri. fasilitas. masalah fasilitas perpustakaan umum terutama yang berkaitan dengan lokasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk diteliti. Dalam konteks luas. Untuk mengembangkan perpustakaan umum kota berbasis wilayah atau spasial perlu dilakukan kajian dengan pendekatan wilayah. Penyediaan fasilitas perpustakaan yang baik dan mudah dijangkau oleh seluruh warga kota akan semakin penting artinya berkaitan dengan tantangan globalisasi yang menuntut daya saing yang pada hakikatnya adalah kualitas seluruh produk dan jasa yang dihasilkan. Fasilitas perpustakaan umum merupakan salah satu fasilitas publik yang diperlukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pendukung bagi kegiatan ekonomi dan sosial di wilayah perkotaan. 1989). Perencanaan kota dipandang sebagai suatu aktivitas publik (atau serangkaian aktivitas publik) yang bertujuan untuk mencapai sasaran tertentu yang biasanya telah ditetapkan sebelumnya untuk suatu kota atau suatu sistem dari sejumlah kota. energi. infrastruktur. lingkungan. keuangan. dan hasilnya dapat digunakan sebagai masukan dalam perencanaan wilayah perkotaan. sosial.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Oleh karena itu. perumahan.

dan kemungkinan kegagalan usaha. bahwa keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan umum tergantung pada berbagai faktor diantaranya adalah pemilihan lokasi. Sebagai contoh. 1981). Berbeda dengan sebuah kota kecil (town) yang adakalanya pelayanan perpustakaan cukup disediakan di satu lokasi. Kota besar dengan suatu kawasan yang luas dan jumlah penduduk yang padat tidak dapat dilayani atau dijangkau oleh hanya satu perpustakaan. penurunan pendapatan. 6 . yang mana kesalahan pemilihan lokasi dapat berarti kehilangan pasar potensial. Seperti dikemukakan oleh Koontz (1994). Selanjutnya disebutkan bahwa pemilihan lokasi fasilitas perpustakaan umum merupakan suatu keputusan paling penting yang dibuat oleh para perencana kota. Sama halnya dalam penyelenggaraan fungsi ekonomi seperti toko eceran (retail store). operasional perpustakaan dan motivasi pengguna. Pendahuluan kewilayahan adalah kajian yang berkaitan dengan lokasi. kesalahan dalam pemilihan letak atau lokasi dapat berarti penurunan akses dan penggunaan (Palmer. Sistem perpustakaan umum kota sangat bervariasi tergantung pada lingkungannya.Bab I. karakteristik demografi pengguna. dalam penyelenggaraan fungsi pendidikan dan sosial seperti perpustakaan umum. penggunaan perpustakaan juga didukung oleh faktor lainnya seperti spesifikasi fisik. Sebuah kota besar (metropolitan) biasanya memiliki sebuah gedung induk dan sejumlah cabang yang tersebar pada sejumlah pusat kegiatan. Selain faktor lokasi dan prasarana pendukung lokasi.

Kota Medan misalnya sebagai kota ketiga terpadat penduduknya. Fenomena yang terjadi di sejumlah negara berkembang adalah bahwa perpustakaan umum kurang berkembang karena tidak disertakan sebagai komponen dalam perencanaan wilayah perkotaan. walaupun kota mengalami perkembangan yang pesat. tetapi sistem perpustakaannya hampir tidak berubah. tentu saja fasilitas perpustakaan yang ada saat tidaklah memadai. Hal yang sama juga terjadi di hampir semua kota di Indonesia termasuk kotakota besarnya. 2005).Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Singapura dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta orang memiliki sebuah sistem perpustakaan umum kota yang terdapat di 39 lokasi (National Library Board Singapore. dan yang satu lainnya merupakan bagian dari Pemerintah Provinsi. Akibatnya. kota-kota di Indonesia memerlukan perencanaan komprehensif yang memadukan seluruh fungsi atau kegiatan pemerintahan yang saling berkaitan untuk membangun fasilitas perpustakaan umum 7 . dan New York dengan sekitar 20 juta penduduk dilayani dengan satu sistem perpustakaan umum yang terdapat di 200 lokasi (Japzon and Gong. Apabila dilihat dari sisi penduduk kota Medan yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa pada tahun 2007 dengan wilayah kota seluas sekitar 265 Km2 dan kepadatan penduduknya lebih dari tujuh ribu jiwa per Km2. Berdasarkan uraian di atas. 2008). hanya memiliki dua fasilitas perpustakaan umum dengan manajemen yang terpisah karena satu merupakan bagian dari organisasi Pemerintah Kota.

kajian lokasi perpustakaan umum menjadi bersifat strategis dalam rangka pengembangan wilayah perkotaan.Bab I. Berkaitan dengan itu. maka Pemerintah Kota Medan misalnya harus menyediakan minimal 1 unit perpustakaan skala kota dan 67 unit perpustakaan skala lingkungan. 2001). Dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. dan Pekerjaan Umum. dan minimal 1 unit perpustakaan lingkungan untuk setiap satuan lingkungan dengan jumlah penduduk kurang dari 30 ribu jiwa (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. pada bidang pelayanan sarana lingkungan dinyatakan bahwa untuk setiap 1 hingga 2 juta jiwa penduduk dibutuhkan minimal 1 unit perpustakaan skala kota/kabupaten. Jika berpedoman pada ketentuan di atas dan berdasarkan jumlah penduduk. Pendahuluan sebagai salah satu infrastruktur publik yang dapat menjangkau seluruh kawasan setiap kota. Sistem perpustakaan umum kota yang tersebar dan berjarak dekat dengan pengguna potensial yaitu penduduk perkotaan akan mendukung pengembangan wilayah dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi wilayah perkotaan. Kota-kota di Indonesia diperkirakan hingga saat ini belum memiliki perencanaan pengembangan fasilitas perpustakaan umum yang berdimensi wilayah atau spasial yang sesuai dengan perkembangan kota dan pertumbuhan 8 . 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang. Perumahan dan Permukiman.

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan penduduk. Dilatarbelakangi oleh keadaan seperti diuraikan di atas. kajian penentuan lokasi spasial perpustakaan umum belum pernah diterapkan dalam perencanaan pengembangan atau pembangunan perpustakaan umum kota khususnya di Indonesia. Di sisi lain. Sehingga kajian tentang lokasi dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah perkotaan merupakan sesuatu hal yang baru dalam sistem pengembangan perpustakaan umum kota. Pertanyaan yang timbul dalam upaya pengembangan perpustakaan umum antara lain adalah faktor-faktor apakah yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan lokasi perpustakan yang dapat meningkatkan partisipasi penduduk dalam penggunaannya sehingga memiliki peran yang lebih besar dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi pengembangan wilayah di perkotaan. khususnya persepsi masyarakat dan para perencana pengembangan wilayah perkotaan di Indonesia yang tidak melihat pentingya faktor lokasi perpustakaan umum untuk kinerja pelayanan yang optimal dan peran penting perpustakaan umum dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi sumber daya wilayah. Dalam buku ini selanjutnya Kota Medan akan dijadikan sebagai contoh karena kota tersebut merupakan kajian penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh penulis. mendorong keinginan untuk meneliti dan menulis buku tentang isu tersebut. Permasalahan tersebut dapat dielaborasi dalam 9 .

buku ini bertujuan untuk menyajikan hasil penelitian yang penulis lakukan di Kota Medan yang diperkirakan juga memiliki karakteristik yang banyak kesamaannya dengan kota-kota lainnya di Indonesia terutama kota-kota besar. Pendahuluan bentuk pertanyaan yang lebih spesifik yaitu: (1) Apakah lokasi perpustakaan. dan motivasi pengguna perpustakaan berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan umum di wilayah perkotaan. dan (2) Apakah penggunaan perpustakaan umum mempunyai pengaruh terhadap pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah perkotaan. buku ini diharapkan berguna bagi perencanaan pengembangan wilayah perkotaan dalam membangun sistem perpustakaan umum di lingkungan perkotaan.Bab I. spesifikasi fisik perpustakaan. Selain itu. prasarana pendukung lokasi perpustakaan. karakteristik demografi pengguna perpustakaan. operasional perpustakaan. Dengan mengetahui faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan pengembangan perpustakaan umum kota berbasis wilayah dalam bentuk sistem jaringan yang tersebar. maka diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi pengembangan 10 . Secara spesifik. Buku ini bertujuan untuk memaparkan faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan lokasi perpustakaan umum kota berbasis wilayah dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung pengembangan wilayah perkotaan.

Dengan demikian. keputusan dalam perencanaan kota dalam hal ini pengembangan perpustakaan umum sebagai fasilitas publik yang harus disediakan dapat dilakukan dengan lebih baik. Pengembangan sistem perpustakaan umum berbasis wilayah juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota dalam kajian-kajian yang berkaitan dengan lokasi fasilitas publik pada umumnya dan fasilitas perpustakaan umum pada khususnya dalam kaitannya dengan tata ruang perkotaan. 11 .Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan wilayah perkotaan. Buku ini juga diharapkan memberikan sumbangan konsep pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang studi ilmu perpustakaan dan informasi yang berkaitan dengan lokasi perpustakaan umum di wilayah perkotaan. Pemerintah kota dapat terhindar dari kesalahan yang menyebabkan tingkat penggunaan perpustakaan menjadi rendah sehingga sasaran salah satu aspek pengembangan wilayah yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak tercapai.

ada sejumlah teori yang dapat dijadikan sebagai rujukan. dan ekologi (Sirojuzilam. sosial. Teori dan konsep tersebut dibagi ke dalam dua kategori yaitu (1) konsep klasik pengembangan 12 . Pengembangan wilayah merupakan interaksi dari ketiga pilar tersebut (Nachrowi dan Suhandojo. Teori-teori pengembangan wilayah menganut berbagai asas atau dasar sesuai tujuan penerapan masing-masing teori. geografi. sumber daya manusia. dan biogeofisik. sosial. ekonomi. 2001). Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Masyarakat BAB II PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT Pengembangan wilayah didukung oleh tiga pilar yaitu sumber daya alam. Zen. lokasi. SzajnowskaWisocka (2009) membuat suatu tinjauan tentang berbagai teori dan konsep yang sering diaplikasikan dalam konteks pengembangan wilayah. ekonomi. Dalam pengembangan wilayah.Bab II. Budiharsono (2005) menyebutkan bahwa perencanaan dan pengembangan wilayah didukung oleh enam pilar yaitu analisis kelembagaan. Dalam kaitan yang sama. 2010). 2001. Pandangan ilmu regional Barat terutama di Eropa menitik-beratkan bahwa pembangunan regional mencakup empat aspek utama yaitu kelembagaan. dan teknologi.

dan peran komunitas lokal dan aktivitas mereka dalam pengembangan wilayah (Szajnowska-Wisocka. konsep jejaring inovasi regional (lokal). bahwa perubahan teknologi sendiri tidak cukup untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi. Sementara.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan wilayah. model inti dan pinggiran. konsep pengembangan wilayah endogen muncul pada dekade terakhir abad 20. konsep pusat pertumbuhan. Teori klasik terdiri dari: konsep dasar ekonomi. baik melalui akumulasi modal 13 . Konsep baru tersebut merupakan jawaban terhadap keterbatasan teori-teori klasik pengembangan wilayah dengan didukung oleh fakta seperti diungkapkan dalam sejumlah penelitian sesudahnya. pertumbuhan modal manusia. konsep pengembangan endogen merupakan suatu upaya untuk mengoreksi teori-teori tersebut dengan mengusulkan model yang mana dampak pertumbuhan jangka panjang merupakan variabel endogen di dalam model. dan (2) konsep pengembangan wilayah yang tumbuh dari dalam (endogenous regional development). Selanjutnya disebutkan bahwa pertumbuhan adalah endogen bervariasi. Oleh karena itu. yang disebutnya sebagai konsep pembangunan alternatif yang menekankan pentingnya pembangunan sosial. teori siklus produksi. dan teori pengelompokan industri. teori produksi. didasarkan pada asumsi yang berkaitan dengan investasi dalam bidang modal manusia dan teknologi. teori fleksibilitas produksi. 2009). teori baru perdagangan. konsep jejaring inovasi regional.

politik) dalam konsep mereka karena sesuai dengan aturan jalur pengembangan terpisah (separate development path). kota dan wilayah menjadi suatu bagian penting kebijakan pemerintah baik pada skala nasional maupun lokal. dicapai kodifikasi yang lebih baik tentang metode dan pertukaran ide-ide awal dari berbagai bidang ilmu seperti geografi. ekonomi dan sosial. inovasi. pembelajaran melalui pertukaran pengetahuan di antara perusahaan.Bab II. sosiologi. regional science secara formal dikenal sebagai bidang multidisiplin. Teoretisi endogen (growing from within) tidak mencari rujukan pada teoriteori lain (ekonomi. bahwa mulai tahun 1954. sosial.1. desain. menghasilkan pengetahuan. dan ekonomi seperti terlihat pada Gambar 2. seperti dikemukakan oleh Loveridge (2000) dalam pengantar Web Book of Regional Science. Oleh karena itu. Di sisi lain. perencanaan. Sejak itu. 14 . visi mereka didasarkan pada potensi mereka sendiri untuk pengembangan spasial. sejak terbentuknya Regional Science Association (sekarang Regional Science Association International). Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Masyarakat kompetitif atau melalui investasi dalam modal manusia dan pertukaran informasi di antara perusahaan.

Bertitik-tolak dari uraian di atas. 2000). disebutkan bahwa pengembangan wilayah sebagai multidisiplin yang berusia masih muda dibandingkan dengan bidang studi tradisional lainnya. dapat dikatakan bahwa pengembangan wilayah dapat menggunakan berbagai pendekatan. dan kebijakan pengembangan wilayah yang konsepnya secara umum dapat ditemukan dalam berbagai jurnal ilmu regional. pembangunan komunitas. ekonomi regional. Dengan demikian. Hal ini menjadi suatu kekuatan dalam arti peningkatan kemampuan disiplin ilmu ini untuk menyatukan berbagai pendekatan analitis yang luas (Loveridge. didukung oleh berbagai disiplin ilmu lain.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Gambar 2. teori atau konsep yang ada dalam berbagai disiplin ilmu untuk menganalisis berbagai masalah 15 .1: Elemen-elemen Ilmu Regional Selanjutnya disebutkan bahwa ilmu regional memiliki nama lain seperti geografi ekonomi. demografi. analisis dampak regional.

Penyebaran pengetahuan dan gagasan inovasi baru dalam suatu wilayah atau kota merupakan suatu jenis proteksi dalam menghadapi kompetisi eksternal. pendekatan dalam penelitian ini menggunakan kategori kedua yaitu pendekatan pengembangan wilayah endogen. Kopsep modal manusia menjadi salah satu arah teoritis utama dalam bidang ekonomi. nasional dan bahkan kelompok multinasional. peran komunitas lokal dan aktivitas mereka dalam pengembangan wilayah. sosiologi dan manajemen (Abeltina. Pendidikan adalah mesin pertumbuhan (Olaniyan dan Okemankinde. Modal manusia adalah penggerak pembangunan ekonomi (Florida. Berdasarkan hal itu. 2008).Bab II. Pembangunan manusia tidak terlepas dari aspek pendidikan atau modal manusia. Di sisi lain. regional. Szajnowska-Wisocka (2009) menyebutkan bahwa fitur karakteristik pendekatan ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi didasarkan pada penciptaan. 2007). peningkatan dan penggunaan sumber daya internal pada setiap tingkat: lokal. Pendekaan teoritis dapat menggunakan baik teori-teori klasik yang lazim digunakan maupun pendekatan konsep endogen yang lebih menekankan pada pembangunan sosial. pertumbuhan modal manusia. Mellander dan Stolarick. Khususnya wilayah dan kota dengan konsentrasi produksi yang tinggi menciptakan kondisi untuk inovasi dan arus pengetahuan dalam “pembelajaran” masyarakat. 2008). perpustakaan umum sebagai institusi publik berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan 16 . Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan wilayah.

dengan hasil yang lebih baik dan sebagainya. Kebutuhan untuk meraih hasil atau prestasi disebut oleh McClelland (1981) sebagai virus mental dengan nama n Ach karena ditemukan pada suatu macam pikiran yang berhubungan dengan “melakukan sesuatu dengan baik atau lebih baik” dari pada yang pernah dibuat sebelumnya sehingga lebih efisien dan lebih cepat.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan menciptakan modal sosial (Varheim. Aksesiblitas masyarakat terhadap fasilitas perpustakaan pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan untuk meraih hasil atau prestasi (need for achievement). Dengan kata lain. untuk menjadikan fasilitas perpustakaan memiliki aksesibilitas yang tinggi di dalam masyarakat. Untuk meningkatkan peran perpustakaan umum dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. kurang mempergunakan tenaga. yang merupakan salah satu ciri manusia modern. 2008). ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. 17 . ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan.

tetapi pada prinsipnya merupakan berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup di suatu wilayah (Sasmojo. No. Wilayah administratif terdiri dari wilayah nasional. kegiatan kawasan. Di sisi lain. Setiap wilayah tersebut merupakan subsistem ruang menurut batasan administratif. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.Bab III. Hal senada juga dikemukan oleh Miraza (2005) bahwa perencanaan wilayah 18 .I. wilayah kabupaten. fungsi utama kawasan. pengembangan wilayah mengandung arti yang luas. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus uraian sesuai dengan topik penelitian adalah wilayah dengan batasan administratif yaitu wilayah kota Medan. wilayah provinsi. wilayah administratif. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa penataan ruang dalam undang-undang tersebut didasarkan pada pendekatan sistem. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia BAB III PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Pengertian wilayah dalam Undang-undang R. dan nilai strategis kawasan. dan wilayah kota. 2001).

Salah satu definisi pengembangan wilayah dikemukan oleh Jayadinata (1992) yaitu suatu tindakan mengembangkan wilayah atau membangun daerah atau kawasan dalam rangka usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat. Hal yang sama juga dikemukan oleh Zen (2001) bahwa pengembangan wilayah merupakan usaha memberdayakan suatu masyarakat yang berada di suatu daerah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di sekeliling mereka dengan menggunakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang bersangkutan. Seperti dikemukakan oleh Nachrowi dan Suhandojo (2001) bahwa sumber daya manusia dengan kemampuan yang cukup akan mampu menggerakkan seluruh sumber daya wilayah yang ada. dapat dikemukakan bahwa sumber daya manusia memegang peranan strategis dalam pengembangan wilayah. Sebagai obyek pembangunan. yang semuanya bermuara pada upaya meningkatkan kehidupan masyarakat. Berdasarkan berbagai pengertian di atas. sumber 19 . Teknologi dimaksud adalah cara-cara yang dimiliki atau dikuasai oleh masyarakat. atau memajukan dan memperbaiki serta meningkatkan sesuatu yang sudah ada. Selanjutnya disebutkan bahwa sumber daya manusia mempunyai peran ganda dalam sebuah proses pembangunan yaitu sebagai obyek dan sekaligus sebagai subyek pembangunan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan menyangkut berbagai segi kehidupan yang komprehensif dan satu sama lain saling bersentuhan.

sedangkan pendidikan dan akses terhadap pengetahuan biasanya dikelompokkan pada kebutuhan sekunder. perpustakaan umum memiliki peran kunci dalam mengumpulkan. Perpustakaan umum 20 . Selanjutnya disebutkan bahwa pengetahuan adalah pemahaman yang meyakinkan tentang suatu hal dan kemampuan untuk menggunakannya untuk tujuan tertentu yang sesuai. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia daya manusia merupakan sasaran pembangunan untuk disejahterakan. mengorganisasikan. Lebih lanjut disebutkan bahwa konsep pembangunan itu sesungguhnya adalah pembangunan manusia yaitu pembangunan yang berorientasi kepada manusia. Kemampuan mengakses dan mengerti informasi dan pengetahuan merupakan hak dasar manusia seperti juga mereka membutuhkan sandang pangan dan rumah sebagai kebutuhan pokok. Kemampuan sumber daya manusia sangat tergantung pada pengetahuan yang dimilikinya. Sebagai layanan umum yang terbuka bagi semua kalangan. Pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia dikemukakan oleh Winardi (2005) yang menyebutkan bahwa satu-satunya sumber yang dapat diandalkan bagi tercapainya keunggulan kompetitif adalah pengetahuan. 2009).Bab III. Pengetahuan adalah keahlian dan keterampilan yang diperoleh oleh seseorang melalui pengalaman atau pendidikan (Oxford English Dictionary. dan sebagai subyek pembangunan sumber daya manusia berperan sebagai pelaku pembangunan. dan memanfaatkan informasi dan pengetahuan.

dan pengembangan kebudayaan individu dan kelompok sosial. Zen (2001) menyebutkan bahwa pembangunan atau pengembangan dalam arti development. Selanjutnya disebutkan bahwa pengembangan harus diartikan sebagai keinginan untuk memperoleh perbaikan. Pada dasarnya 21 . semua jenis institusi tersebut juga harus diperkuat agar dapat berperan lebih besar dalam pemberdayaan masyarakat.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan menyediakan akses terhadap sumber daya informasi dan pengetahuan yang sangat luas. bukanlah suatu kondisi atau suatu keadaan yang ditentukan oleh apa yang dimiliki oleh manusianya. Dengan kata lain. pengambilan keputusan independen. institusi yang tidak memiliki kekuatan tentu tidak dapat melakukan pemberdayaan masyarakat seperti yang diharapkan. menyediakan kondisi atau lingkungan dasar untuk belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Oleh karena itu. Hal ini juga ditegaskan oleh UNESCO (1994) yang menyebutkan bahwa perpustakaan umum berperan sebagai gerbang terhadap pengetahuan. upaya untuk memberdayakan manusia harus difasilitasi oleh institusi yang berperan untuk memberdayakan mereka seperti institusi pendidikan dalam semua tingkatan dan bentuk termasuk institusi pendidikan non formal seperti perpustakaan umum. Dalam kaitan antara pembangunan dan sumber daya manusia. tetapi adalah kemampuan yang ditentukan oleh apa yang dapat mereka lakukan dengan apa yang mereka miliki untuk meningkatkan kualitas manusia. Di sisi lain. serta kemampuan untuk merealisasikannya.

pengertian sumber daya tidak mengacu kepada benda atau suatu substansi. Dan salah satu pilar yang sangat penting adalah sumber daya manusia karena dengan 22 . ada tiga faktor penting yang harus diperhatikan yaitu sumber daya alam. sumber daya manusia dan teknologi yang dikenal sebagai tiga pilar pengembangan wilayah. Selanjutnya disebutkan bahwa pengembangan wilayah merupakan interaksi dari ketiga pilar tersebut.Bab III. 2001). Dalam konteks pengembangan wilayah. Hal senada juga dikemukakan oleh Nachrowi dan Suhandojo (2001) bahwa dalam pengembangan wilayah. manusianya harus dikembangkan. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia pengembangan juga merupakan proses belajar. Manusia mencari alat atau cara-cara untuk memenuhi kebutuhannya sehingga mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan untuk keluar dari kesukaran-kesurakan yang dihadapinya. melainkan mengacu kepada suatu fungsi yang mana suatu fungsi atau substansi tadi dapat berbuat dalam suatu kegiatan atau suatu operasi (Zen. Selanjutnya disebutkan bahwa sumber daya tersebut muncul dari interaksi antara manusia dan alam. tetapi seseorang dapat membantu orang lain belajar untuk dirinya. Zen (2001) juga menyebutkan bahwa pengembangan wilayah harus disertai pembangunan masyarakat. Pernyataan ini bermakna bahwa seseorang tidak dapat mengembangkan orang lain. Selain memanfaatkan sumber daya alam melalui teknologi. Dari penjelesan yang bersifat filosofis ini dapat dimaknai bahwa sesungguhnya fokus utama pengembangan wilayah adalah manusia.

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan

kemampuan yang cukup akan mampu menggerakkan sumber daya wilayah yang ada. Suatu wilayah yang memiliki sumber daya alam yang kaya dan sumber daya manusia yang unggul yang memiliki kapasitas di bidang teknologi akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan wilayah lainnya yang tidak memiliki kedua unsur tersebut. Selanjutnya disebutkan bahwa hasil interaksi ketiga pilar atau elemen tersebut mencerminkan kinerja dari suatu wilayah. Kinerja tersebut akan berbeda dengan kinerja wilayah lainnya, sehingga mendorong terciptanya spesialisasi spesifik wilayah. Dengan demikian akan terjadi persaingan antar wilayah untuk menjadi pusat jejaring spasial dari wilayah-wilayah lain secara nasional. Namun pendekatan ini mempunyai kelemahan yang antara lain apabila salah dalam mengelola jejaring spasial tersebut tidak mustahil menjadi awal dari proses disintegrasi. Untuk itu harus diterapkan konsep pareto pertumbuhan yang bisa mengendalikan keseimbangan pertumbuhan dan dikelola oleh Pemerintah. Konsep pareto ini diharapkan mampu memberikan keserasian pertumbuhan antar wilayah dengan penerapan insentif-insentif kepada wilayah yang kurang berkembang. Ada tiga indikator keberhasilan pengembangan wilayah yang dapat dilihat sebagai kesuksesan pembangunan daerah. Indikator pertama adalah produktivitas, yang dapat diukur dari perkembangan kinerja suatu institusi beserta aparatnya. Indikator kedua adalah efisiensi, yang terkait dengan meningkatnya kemampuan
23

Bab III. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

tekhnologi/sistem dan kualitas sumber daya manusia dalam pelaksanaan pembangunan. Terakhir adalah partisipasi masyarakat, yang dapat menjamin kesinambungan pelaksanaan suatu program di suatu wilayah. Ketiga indikator keberhasilan tersebut terkait erat dengan faktor-faktor yang menjadi ciri suatu wilayah dan membedakannya dengan wilayah lainnya seperti kondisi politik dan sosial, struktur kelembagaan, komitmen aparat dan masyarakat, dan tingkat kemampuan/pendidikan aparat dan masyarakat. Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan suatu wilayah bergantung pula pada kemampuan berkoordinasi, mengakomodasikan dan memfasilitasi semua kepentingan, serta kreativitas yang inovatif untuk terlaksananya pembangunan yang aspiratif dan berkelanjutan. Bertitik-tolak dari pengertian bahwa posisi sumber daya manusia merupakan titik sentral dalam pembangunan atau pengembangan wilayah, maka sudah sewajarnya fokus perhatian yang lebih besar ditujukan kepada upaya-upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti disebutkan di atas, tidak terlepas dari ketersediaan fasilitas pendidikan baik institusi pendidikan formal seperti perguruan tinggi atau sekolah maupun institusi lainnya seperti pusat-pusat pelatihan dan perpustakaan di mana anggota masyarakat dapat memperoleh informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi mereka

24

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan

dalam berbagai bidang atau pekerjaan yang mereka tekuni masing-masing. Pentingnya peran perpustakaan dalam kaitannnya dengan pengembangan wilayah juga dikemukan oleh Hoover dan Giarratani (2009) dalam artikelnya berjudul Some Spatial Aspects of Urban Problems dalam Web Book of Regional Science berjudul An Introduction to Regional Economics, yang menyebutkan bahwa perpustakaan seharusnya dimasukkan ke dalam daftar pelayanan publik sebagai kebutuhan kawasan metropolitan yang harus disediakan oleh suatu pemerintah kota. Pernyataan tersebut diungkapan seperti berikut: “Since some services that are typically provided by central-city governments are important to the metropolitan area as a whole, their planning, operation, and financing should be carried out with that perspective in mind. Water and sewer systems, intrametropolitan highways and transit, airports, large metropolitan outdoor recreation areas, and some types of local environmental protection seem to fit this category. Fairly strong arguments could be made for adding to the list such services as police and fire protection, libraries, and museums”. Hoover dan Giarratani (2009) selanjutnya mengatakan bahwa kota-kota besar memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi regional dan nasional, dalam kapasitasnya sebagai pemancar (transmitter) berbagai
25

Wilayah seperti diuraikan sebelumnya adalah suatu unit geografi yang membentuk suatu kesatuan (Wibowo dan Soetriono. Industri baru dan aktivitas lain yang memulainya dari kota-kota besar secara historis cenderung mendesentralisasi pada tahap berikutnya untuk berperan dalam pengembangan wilayah atau bagian dari wilayah lain. Bidang terkait dengan perencanaan kota adalah yang berkenaan dengan isu-isu spesifik perencanaan kota. Pengertian unit geografi tidak hanya aspek fisik tanah saja. Inovasi telah berkembang bagai kecambah. Kedua konsep tersebut dibungkus dalam perencanaan. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia gagasan dan praktek dari dunia luar dan juga sebagai tempat orang-orang dari berbagai wilayah atau negara bertemu dan terbuka bagi berbagai pranata dan tantangan baru dan berbagai peluang yang lebih luas. Selanjutnya disebutkan bahwa wilayah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga macam pengertian yaitu wilayah homogen. wilayah polarisasi atau nodal. sosial dan budaya. infrastruktur. Bukti menunjukkan bahwa desentralisasi terjadi lebih cepat dalam beberapa tahun belakangan ini dan kapasitas tempat yang lebih kecil untuk mendukung industri inovatif telah meningkat. tetapi meliputi aspek lainnya seperti biologi. ekonomi. dan pertumbuhan pemukiman di sepanjang suatu daerah penting yang lebih luas dari lahan suatu kota. Wilayah 26 .Bab III. dan wilayah perencanaan atau program. Pengertian perencanaan wilayah disebutkan sebagai cabang dari perencanaan tata guna lahan dan berkaitan dengan penempatan yang efisien dari aktivitas. 2004).

misalnya kota Bogor sebagai inti dan daerah sekelilingnya seperti Cibinong dan Puncak sebagai wilayah pinggirannya. Wilayah polariasi atau wilayah nodal diartikan sebagai wilayah berkutub yang secara fungsional terdapat wilayah inti dan wilayah pinggiran. berdasarkan wilayah administratif terdiri dari wilayah nasional. berdasarkan kegiatan kawasan terdiri dari kawasan perkotaan dan perdesaan. No. pendekatan penataan ruang dalam Undang-undang R. dan kota. berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri dari kawasan lindung dan kawasan budi daya. dan berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri dari kawasan strategis nasional. kabupaten/kota. misalnya wilayah nasional provinsi.I. pembinaan. Selanjutnya diatur bahwa wewenang penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah yang mencakup pengaturan. 27 . dan nilai strategis kawasan. fungsi utama kawasan. dan kabupaten/kota. 26 Tahun 2007 seperti dikemukakan sebelumnya. Di sisi lain. kabupaten.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan homogen diartikan sebagai wilayah dengan karakteristik yang serupa dipandang sebagai sebuah wilayah tunggal misalnya wilayah perkebunan karet di Sumatera Utara. didasarkan pada pendekatan sistem. Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan. provinsi. Dalam proses perencanaan. wilayah administratif. wilayah perencanaan atau program atau sering juga disebut sebagai wilayah administratif adalah berkaitan dengan persoalan kebijaksanaan dan perencanaan wilayah. provinsi. kegiatan kawasan.

dan berkelanjutan (Undang-undang R. 26/2007). Sementara berkelanjutan mengandung pengertian kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia pelaksanaan. No. tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini. Dengan demikian. Selanjutnya disebutkan bahwa terdapat beberapa landasan teori yang digunakan. Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing.Bab III. setiap wilayah merupakan subsistem ruang menurut batasan administratif. Pertama. salah satu tujuan pembangunan yang hendak dicapai adalah mewujudkan ruang kehidupan yang aman. nyaman. namun juga generasi yang akan datang (Amron. 2003). dan pengawasan yang didasarkan pada pendekatan wilayah dengan batasan administratif. Walter Isard yang mengkaji terjadinya hubungan sebab akibat dari faktor-faktor utama pembentuk 28 . konsep pengembangan wilayah di Indonesia merupakan penggabungan dari berbagai teori dan model yang senantiasa berkembang yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pembangunan di Indonesia (Direktur Jenderal Penataan Ruang. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. produktif. 2007). Dilihat dari sudut pandang penataan ruang.I. Sementara itu.

yang dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. dan di mana lokasinya. 29 . seluruh kegiatan ekonomi di dalam wilayah perencanaan dikelompokkan atas sektorsektor. dan budaya. Keempat. Dalam perencanaan pembangunan wilayah dikenal dua pendekatan yaitu pendekatan sektoral dan pendekatan regional (Tarigan. Terakhir adalah Douglass yang memperkenalkan model keterkaitan kota-desa dalam pengembangan wilayah. Hirschmann dengan teori polarization effect dan trickling-down effect dengan argumentasi bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan. sosial-ekonomi. 2008). Kedua pendekatan tersebut memiliki sasaran akhir yang sama yaitu kegiatan apa dan di lokasi mana. dalam pendekatan regional selain memperhatikan penggunaan ruang untuk kegiatan produksi/jasa juga memprediksi arah konsentrasi kegiatan dan memperkirakan kebutuhan fasilitas untuk setiap konsentrasi dan merencanakan jaringan untuk menghubungkan berbagai konsentasi kegiatan tersebut. Myrdal dengan teori yang menjelaskan hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya. Di sisi lain. Selanjutnya disebutkan bahwa dalam pendekatan sektoral. Setiap sektor dapat dibagi ke dalam sejumlah subsektor. Setiap sektor dianalisis potensi dan peluangnya. ditetapkan apa yang dapat ditingkatkan. Friedman yang menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan. Ketiga. perbedaannya adalah cara memulai dan sifat analisisnya.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan ruang wilayah yakni faktor fisik. Kedua.

usulan lokasi berdasarkan pertimbangan sektoral dapat diuji apakah masih sesuai atau perlu diubah (Tarigan. Bahkan perencana sektoral pun mungkin sudah mengajukan lokasinya. dan penyediaan air bersih) yang seimbang pada pusat-pusat permukiman dan pusat berbagai 30 . (4) Perlunya penyediaan berbagai fasilitas sosial (sekolah. jaringan listrik. 2008). rumah sakit. rumah sakit. jaringan listrik. penyediaan air bersih. Dengan demikian. Setelah melakukan pendekatan regional maka sudah dapat diprediksi berbagai lokasi yang akan berkembang. (3) Adanya perubahan pada struktur ruang wilayah dan prasarana yang perlu dibangun untuk mendukung perubahan struktur ruang tersebut. (2) Penyebaran penduduk di masa yang akan datang dan kemungkinan munculnya pusat-pusat permukiman. kebutuhan berbagai fasilitas sosial seperti: sekolah. Namun. pada waktu itu lokasi proyek yang disarankan ditinjau dari sudut kepentingan sektor itu sendiri. jaringan telepon. jaringan telepon. Hal ini perlu dibahas secara lebih konkret pada waktu pendekatan regional.Bab III. Selanjutnya disebutkan bahwa pendekatan regional semestinya dapat menjawab berbagai pertanyaan yang belum terjawab apabila menggunakan pendekatan sektoral seperti berikut ini: (1) Lokasi dari berbagai kegiatan ekonomi yang akan berkembang. dan lain-lain dibahas sesuai dengan sektornya masing-masing. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Dalam pendekatan sektoral.

Pendekatan sektoral dipandang tidak komprehensif karena bersifat parsial. dan (5) Perencanaan jaringan penghubung (prasarana dan moda transportasi) yang akan menghubungkan berbagai pusat kegiatan atau permukiman secara efisien. selaras.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan kegiatan ekonomi yang berkembang. tetapi juga untuk memenuhi tujuan pengembangan wilayah yang komprehensif dan holistik dengan mempertimbangkan keserasian di antara berbagai sumber daya sebagai unsur utama pembentuk ruang (sumber daya alam. manusia dan sistem aktivitas) yang didukung oleh sistem hukum dan kelembagaan yang melingkupinya. Selanjutnya disebutkan bahwa untuk mewujudkan konsep pengembangan wilayah yang memuat tujuan dan sasaran yang bersifat kewilayahan. yang menghasilkan rencana tata ruang wilayah. buatan. seperti disebutkan oleh Direktur Jenderal Penataan Ruang (2003) bahwa pembangunan seyogianya tidak hanya untuk memenuhi tujuan sektoral yang bersifat parsial. yaitu: (1) Proses perencanaan tata ruang wilayah. Selain sebagai panduan ke depan. 31 . upaya penataan ruang seharusnya ditempuh melalui tiga proses utama. rencana tata ruang wilayah merupakan bentuk intervensi agar interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan serasi. seimbang untuk mencapai kesejahteraan serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan.

Bab III. dan (3) Proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme perizinan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan RTRW dan tujuan penataan ruang wilayahnya. yang menyebutkan berdasarkan hasil penelitiannya bahwa terdapat hubungan dua arah antara pembangunan manusia dan pembangunan ekonomi regional di Indonesia. pembangunan ekonomi haruslah tidak mengabaikan pembangunan manusia. Kaitan antara pembangunan ekonomi regional dengan pembangunan manusia dikemukakan oleh Brata (2002). Oleh karena itu. Pembangunan ekonomi yang hanya mengejar pertumbuhan tinggi dengan mengandalkan keunggulan komparatif berupa kekayaan alam berlimpah. Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (2) Proses pemanfaatan ruang yang merupakan wujud operasionalisasi rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Pembangunan manusia yang berkualitas mendukung pembangunan ekonomi dan sebaliknya kinerja ekonomi yang baik mendukung pembangunan manusia. upah murah 32 . Namun dalam masing-masing hubungan ini juga disertai dengan berperannya variabel-variabel lainnya. tetapi juga karena pertumbuhan ekonomi sendiri belumlah memadai untuk secara otomatis meningkatkan kualitas modal manusia. Hal ini penting bukan hanya untuk mengurangi disparitas regional baik dalam hal pembangunan manusia maupun kinerja ekonomi regional itu sendiri.

Dalam kehidupan suatu kota. Kota harus 33 . suatu kawasan yang secara administratif berdiri sendiri. Oleh karena itu. ternyata daya saing tidak lagi terletak pada faktor tersebut (Alkadri. sudah usang karena terbukti tak tahan terhadap gelombang krisis. Mengenai hubungan antara sumber daya manusia dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Ary (2001) yang mengatakan bahwa faktor sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam pembangunan ekonomi. 1999). pendidikan dan pembelajaran merupakan komponen penting. Pendidikan memegang peranan penting dalam mempromosikan pengetahuan dan mendidik masyarakat untuk menjadikan lingkungan perkotaan lebih nyaman untuk generasi mendatang. Walaupun teori keunggulan komparatif tersebut telah bermetamorfose dari hanya memperhitungkan faktor produksi menjadi berkembangnya kebijaksanaan pemerintah dalam bidang fiskal dan moneter. Pendidikan dipandang sebagai suatu strategi untuk memungkinkan setiap individu untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada pengetahuan dan bertanggung-jawab pada semua tingkatan kehidupan kota baik sekarang maupun masa yang akan datang. Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa wilayah yang menjadi fokus tulisan ini adalah wilayah perencanaan administratif.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan atau yang dikenal dengan bubble economics. kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan wilayah perlu ditingkatkan. Bahkan disebutkan bahwa adanya kaitan erat antara pendidikan dan penghasilan yang diperoleh seorang tenaga kerja.

dan mengurangi kemiskinan. Kota juga menjadi suatu penghubung penting antara anggota masyarakat dengan pemerintah. antara kewarganegaraan dan demokrasi. keadilan bagi semua. Keberlanjutan perkotaan (urban sustainability) mencakup perbaikan kualitas hidup penduduk kota. 34 . Pengembangan Wilayah dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia menjadi suatu tempat bagi masyarakat untuk memperoleh sarana dan keterampilan untuk kehidupan yang berkelanjutan. (Brigitte Colin.Bab III. 2009).

pengambilan keputusan independen. sumber daya untuk kebudayaan dan imajinasi. dan sumber daya untuk anakanak dan orang-orang muda. Di dalam Manifesto Perpustakaan Umum yang dikeluarkan oleh UNESCO (1994) disebutkan bahwa perpustakaan umum berperan sebagai gerbang terhadap pengetahuan. Seperti kata seorang filsuf: 35 . Selanjutnya disebutkan bahwa perpustakaan bukanlah sebagai bangunan atau institusi. NESF (2006) mengidentifikasi 3 pilar perpustakaan umum yaitu sumber daya untuk informasi dan pembelajaran. tetapi sebagai sumber daya untuk digunakan oleh masyarakat. Peran perpustakaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia terjadi ketika pengguna atau anggota masyarakat menggunakan koleksi perpustakaan terutama dalam kegiatan membaca. dan pengembangan kebudayaan individu dan kelompok sosial. menyediakan kondisi atau lingkungan dasar untuk belajar sepanjang hayat.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan BAB IV PERAN PERPUSTAKAAN DALAM PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Perpustakaan umum telah lama dikenal sebagai salah satu institusi penting pelayanan publik terutama di wilayah perkotaan di negara-negara maju.

Oleh karenanya. (4) Membaca berarti memberdayakan. memberikan peluang bagi pembaca untuk mengeksplorasi isu-isu personal dan pengalaman sesuai dengan waktu mereka sendiri. dan jenis komunitas apa yang akan kita bangun (Grayling. (3) Membaca dapat membantu membangun pemahaman yang lebih luas tentang diri sendiri dan orang lain. The Art Council (2003) di Inggris dalam laporan penelitiannya tentang membaca dan kesehatan.Bab IV. membaca bisa menjadi pengobatan. 2006). (2) Pembaca adalah pembelajar independen. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia membaca adalah sesuatu yang penting dari kehidupan yang baik. dengan memberikan akses terhadap perbedaan perspektif dan situasi. bukan hanya kesenangan yang diperoleh dari membaca responsif. penghargaan 36 . Berkaitan dengan kegiatan membaca sebagai salah satu peran perpustakaan umum. menyebutkan temuannya antara lain sebagai berikut: (1) Membaca adalah tindakan kreatif yang menggunakan imajinasi untuk membawa teks yang dibaca menjadi hidup. dengan kecepatan sendiri. dan melalui pengalaman orang lain. Membaca mendukung keseimbangan mental. Hal ini membuat pembaca merasa baik dan rileks dan dapat menghilangkan ketegangan. dengan membaca memungkinkan pembaca untuk mendapatkan sesuatu dan membangun literasi dan keterampilan interpretatif dan ekspresif. tetapi dampaknya terhadap bagaimana kita menghidupkan kehidupan kita.

peran perpustakaan umum menjadi semakin penting untuk menjembatani kesenjangan antara yang kaya (memiliki akses Internet) dan mereka yang tergolong miskin (tidak memiliki akses Internet). Internet dan Web memiliki kapasitas untuk mentransformasikan budaya masyarakat. dengan menyediakan pengalaman yang lebih kaya dan bervariasi bagi masyarakat. Perhatian 37 . dan pengambilan keputusan terinformasi. (5) Membaca sering membawa kebersamaan masyarakat untuk membicarakan tentang apa yang mereka baca dan mengeksplorasi berbagai isu dan titik pandang terkait.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan terhadap diri sendiri. Dengan perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. perpustakaan juga menyediakan akses talian terhadap bahan-bahan non cetak. Hal ini tentu saja tergantung pada ketersediaan akses individu terhadap Internet. Hal ini tidak terjadi di negara-negara yang telah memiliki infrastruktur perpustakaan umum yang tersebar terutama di negara-negara maju. timbul masalah bagaimana sumber daya tersebut dapat difasilitasi bagi mereka yang tidak memiliki akses Internet agar tidak terjadi kesenjangan informasi dan pengetahuan di antara masyarakat. Perpustakaan umum selain menyediakan bahan-bahan dalam bentuk cetak. penduduk dapat memanfaatkan fasilitas akses yang disediakan pada perpustakaan umum. Ketika sumber daya informasi dan pengetahuan tersedia secara luas melalui Internet.

Perpustakaan umum didefinisikan sebagai suatu organisasi yang didirikan. Walaupun perpustakaan umum dijalankan dalam konteks yang beragam dan menghasilkan perbedaan dalam hal pelayanan yang disediakannya dan cara pelayanan tersebut disampaikan. 1993). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap sumber daya Internet karena berdasarkan suatu survei yang dilakukan di sana ternyata hanya 45% rumah tangga yang memiliki akses Internet. terdapat dalam berbagai masyarakat. regional maupun nasional atau melalui berbagai bentuk organisasi masyarakat. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia terhadap kemungkinan kesenjangan yang terjadi di antara masyarakat dapat dilihat dari berbagai respons yang dilakukan oleh perpustakaan umum di banyak negara. dan pada tingkat perkembangan yang berbeda. di dalam budaya yang berbeda. Seperti dikemukakan oleh The Art Council (2003). di Irlandia Utara terdapat 1.400 PC yang terkoneksi ke Internet yang terdapat pada perpustakaan umum. tetapi pada dasarnya perpustakaan umum memiliki karakteristik yang bersifat umum. informasi dan karya-karya imajinasi mencakup sumber daya dan pelayanan dan tersedia secara 38 . Perpustakaaan umum menyediakan akses terhadap pengetahuan. didukung dan didanai oleh masyarakat baik melalui pemerintah lokal.Bab IV. Perpustakaan umum adalah suatu fenomena dunia. Selama berabad-abad keberadaan perpustakaan di tengahtengah masyarakat tetap dipertahankan karena fungsinya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat (SulistyoBasuki.

usia. UNESCO (1994) merinci peran perpustakaan umum sebagai berikut: (1) pendidikan. informasi.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan adil bagi semua anggota masyarakat tanpa memandang suku. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa peran 39 . (4) anak-anak dan remaja. agama. termasuk rekreasi dan mengisi waktu luang. ide. Perpustakaan umum memiliki peran penting di dalam pembangunan dan pemeliharaan masyarakat demokratis dengan memberikan akses individual terhadap khasanah pengetahuan. (6) peran sosial – tempat bertemu. status ekonomi dan pekerjaan. Tujuan utama perpustakaan umum adalah memberikan sumberdaya dan pelayanan dalam berbagai bentuk media kepada penduduk yang membutuhkan. (2) fungsi informasi. dan opini yang cukup luas (Gill. bahasa. kebangsaan. (3) pengembangan diri. (2) pusat informasi lokal. 2001). (3) fungsi rekreasi. (4) fungsi pendidikan. 2001). dan pengembangan individu/pribadi. disability. dan tingkat pendidikan (Gill. Sulistyo-Basuki (1993) membagi fungsi perpustakaan ke dalam lima kategori yaitu: (1) sebagai sarana simpan karya manusia. (5) pengembangan kebudayaan. Peran perpustakaan dalam bidang pendidikan telah terbukti melalui berbagai penelitian yang pernah dilakukan seperti yang dilakukan oleh University of Minnessota dan Gallup Organization di Amerika Serikat pada tahun 1994. dan (7) agen perubahan – pengembangan individu dan sosial. baik untuk kebutuhan pendidikan. gender. dan (5) fungsi kultural.

dan (8) Sebagai pusat membaca yang bersifat rekreasi (51%). yang memberi akses kepada pengetahuan pada format cetak. bagi banyak orang.Bab IV. antara lain: sekolah dan perguruan tinggi. (6) Sebagai suatu pusat informasi untuk masyarakat bisnis (55%). Kebutuhan untuk satu organisasi yang siap tersedia bagi semua penduduk. Banyak orang sepanjang hidupnya tetap belajar baik melalui pendidikan di institusi formal. (3) Sebagai pusat belajar dan penemuan bagi anak-anak pra-sekolah (83%). berpikir atau bekerja (52%). (7) Sebagai suatu tempat yang menyenangkan untuk membaca. belajar juga bisa melalui kegiatan hidup sehari-hari. seseorang akan membutuhkan 40 . Peran utama perpustakaan umum tersebut dibuat dalam peringkat berdasarkan jawaban para responden. (5) Sebagai suatu pusat untuk informasi masyarakat (66%). maupun yang kurang formal terkait dengan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari seseorang. (4) Sebagai pusat penelitian bagi ilmuwan dan peneliti (68%). dan lain-lain untuk mendukung pendidikan formal dan informal. (2) Sebagai pusat belajar bagi orang dewasa (85%). adalah alasan untuk penyediaan perpustakaan umum dan menjadi tujuan utama perpustakaan umum. Belajar tidak berhenti pada pendidikan formal saja. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia perpustakaan umum dalam pendidikan semakin penting pada masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih rendah dan berpenghasilan rendah. sebagai berikut: (1) Sebagai pusat dukungan pendidikan bagi siswa semua umur (88%). Pada suatu masyarakat yang maju dan kompleks.

Di Trafford. perpustakaan umum juga sebaiknya bekerjasama dengan institusi atau organisasi pendidikan lainnya yang mengajarkan tentang penggunaan sumberdaya informasi. dan jika memungkinkan. sebuah cabang perpustakaan umum telah digabungkan dengan perpustakaan sekolah.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan keterampilan baru pada berbagai tahapan dan langkah hidupnya. Literasi adalah kunci untuk pendidikan dan pengetahuan. Di beberapa negara. Perpustakaan umum berperan sebagai pusat informasi lokal. Perpustakaan juga harus membantu pengguna untuk membuat pembelajaran tersebut menjadi sumberdaya yang efektif. dan untuk menggunakan perpustakaan dan layanan informasi. Perpustakaan umum harus menyediakan bahan dan media yang sesuai untuk mendukung proses pembelajaran formal maupun informal. Perpustakaan umum juga harus aktif dalam mendukung kampanye literasi. Hal tersebut merupakan hal yang penting untuk keberhasilan pendidikan. perpustakaan menjalankan fungsi baik sebagai perpustakaan sekolah maupun perpustakaan umum. Inggris. Setiap orang yang memerlukan informasi 41 . kebutuhan untuk pengembangan pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting dan menjadi fokus perpustakaan umum untuk mendukung pendidikan formal. Perpustakaan umum memiliki peran penting dalam membantu hal tersebut. Di beberapa negara. seperti menyediakan fasilitas yang memungkinkan orang untuk belajar.

Apabila hal ini terjadi di lingkungan tertentu. Pertanyaan biasanya tergolong pada pertanyaan sederhana dan informasi yang lebih kompleks yang harus dijawab dengan koleksi rujukan yang tersedia. dan 42 . Fungsi utama dari perpustakaan umum adalah untuk membantu orang. Banyak pemerintahan negara menugaskan perpustakaan umum untuk melakukan peran seperti itu. menjadi literat informasi. Perpustakaan umum berperan sebagai perantara pendemokratisasian penyebaran informasi. maka perpustakaan umum diharapkan tetap dapat menawarkan akses gratis atau murah terhadap berbagai sumber informasi seperti yang tersedia melalui Internet dan sumber lainnya. Perpustakaan umum juga berperan dalam memelihara dan mempromosikan kebudayaan. Perpustakaan umum membantu orang dewasa untuk belajar sepanjang hayat dan belajar kembali untuk perubahan karir. Dalam hal ini termasuk memberitahu mereka bagaimana menemukan informasi. pada saat informasi menjadi komoditas yang harus dibeli. terutama orang-orang muda dan anakanak. Abad informasi sekarang telah memperlebar jurang antara orang-orang yang kaya dan miskin informasi.Bab IV. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dapat memintanya atau menanyakannya kepada perpustakaan baik yang berkenaan dengan pekerjaan maupun pelajaran. Perpustakaan menyediakan pelayanan rujukan untuk menjawab berbagai kebutuhan informasi yang diperlukan oleh masyarakat. dan juga untuk mengembangkan kebiasaan membaca.

perpustakaan umum menyediakan akses terhadap sumber informasi yang sangat luas. Perpustakaan juga bertindak sebagai memori masa lalu dengan cara mengumpulkan. Sebagai layanan umum yang terbuka bagi semua kalangan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan memberikan pelatihan gratis untuk memelihara literasi informasi kepada mereka yang belum mendapatkan kesempatan sebelumnya. Untuk mencapai hal tersebut. Kesempatan untuk mengembangkan kreativitas personal dan menggapai minat baru adalah penting untuk pembangunan manusia. Mampu mengakses dan mengerti informasi adalah merupakan hak dasar manusia. Perpustakaan umum dapat menyediakan akses dalam berbagai bentuk media untuk pencapaian kreativitas yang cukup sulit untuk diperoleh jika dilakukan sendiri oleh orang per orang. perpustakaan umum memiliki peran kunci dalam mengumpulkan. dan memanfaatkan informasi. dan memberi akses terhadap bahan yang terkait dengan sejarah komunitas maupun individu. Perpustakaan umum bertanggung jawab untuk mengumpulkan informasi lokal dan membuatnya siaptersedia untuk diakses. termasuk literatur 43 . Peran lain dari perpustakaan umum adalah untuk pengembangan diri. Menyediakan akses terhadap sejumlah besar koleksi literatur dan ilmu pengetahuan dunia. dan saat ini memang sangat banyak tersedia informasi dari yang pernah ada dalam sejarah dunia. masyarakat membutuhkan akses terhadap ilmu pengetahuan maupun karya imajinasi. mengorganisasikan. melindungi.

Akses terhadap karya imajinasi dan ilmu pengetahuan adalah kontribusi penting terhadap pendidikan individu dan kegiatan rekreasi yang bermakna. Anak-anak juga dapat mendorong orangtuanya atau orang dewasa untuk menggunakan perpustakaan umum. Peran lainnya dari perpustakaan umum adalah pengembangan kebudayaan. inspirasi tersebut kemungkinan besar akan memberi manfaat pada pengembangan diri anak-anak dalam menjalani kehidupan mereka.Bab IV. tanpa membedakan usia dan fisiknya. Perpustakaan umum juga dapat memberikan kontribusi yang mendasar terhadap kelangsungan hidup maupun pengembangan sosial dan ekonomi dengan secara langsung terlibat dalam penyediaan informasi kepada masyarakat dalam pembangunan komunitas. Namun. misalnya: keterampilan hidup dasar. telah menjadi kontribusi yang khas dari perpustakaan umum dan hal tersebut masih tetap menjadi fungsi yang sangat penting. AIDS. baik memperkaya mereka maupun meningkatkan kontribusi mereka terhadap masyarakat. dan program-program kesadaran lainnya. perpustakaan umum memiliki tanggung jawab khusus memenuhi kebutuhan anak-anak dan orang muda. Jika anak-anak dapat diinspirasikan oleh ketakjuban terhadap ilmu pengetahuan dan karya imajinasi pada usia dininya. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia komunitas. Perpustakaan umum seharusnya berusaha untuk memenuhi kebutuhan semua kelompok dalam suatu komunitas. ekonomi dan kondisi sosial lainnya. Perpustakaan memiliki tugas 44 . pendidikan dasar untuk orang dewasa.

mengorganisir program-program kebudayaan dan memastikan bahwa minat kebudayaan direpresentasikan di dalam material/bahan perpustakaan. Hal tersebut dapat dicapai dengan bekerja sama dengan organisasi lokal dan regional yang tepat.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan publik untuk melindungi atau memelihara bukti-bukti dokumenter peradaban. melalui penyediaan ruang untuk kegiatan kebudayaan. Perpustakaan umum seharusnya menyediakan bahan perpustakaan dalam bahasa komunitas lokal dan mendukung tradisi kebudayaan lokal. Tanpa sumber rekaman masa lalu. walaupun sering dikecilkan. dalam memberikan sumbangan pada pengembangan masyarakat kita. Pelajaran sejarah tidak akan dipelajari dan pengabaian ini akan berlaku dalam setiap bidang usaha manusia. Perpustakaan umum seharusnya mencerminkan keberagaman budaya yang ada di dalam komunitas. Undang-undang deposit seharusnya melindungi berbagai koleksi seperti Indonesiana dan provinsiana di daerah-daerah. 45 . serta membantu untuk membentuk dan mendukung identitas kebudayaan komunitas. Koleksi seperti itu merupakan bukti pentingnya masa lalu seperti halnya masa sekarang dan bahkan untuk memprediksi masa yang akan datang. Sebuah peran penting perpustakaan umum adalah sebagai sebuah fokus atau pusat untuk pengembangan kebudayaan dan artistik dalam komunitas. ilmu pengetahuan dan pembelajaran modern tidak akan pernah ada dan riset dalam beberapa disiplin tidak mungkin dilakukan. Perpustakaan memegang peranan penting.

membawa orang pada kontak/hubungan informal terhadap anggota komunitas lainnya. Perpustakaan umum memiliki sebuah peran penting sebagai ruang publik dan tempat pertemuan. yang menyebutkan bahwa terjadi pergeseran peran perpustakaan umum dari institusi pasif menjadi perantara aktif dalam pengembangan ekonomi lokal. Selanjutnya disebutkan bahwa dengan struktur terbuka disertai dengan kekuatan baru koleksi digital atau elektronik dan fungsi pendidikan yang diembannya. Penggunaan perpustakaan untuk penelitian dan pencarian informasi terkait dengan pendidikan pengguna dan minat kegiatan pada waktu luang. perpustakaan umumnya juga memiliki peran sosial. Peran lainnya dari perpustakaan umum yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai agen perubahan. Perpustakaan umum menjadi tempat bertemunya para warga kota dan melalui tempat ini mereka mengetahui banyak hal tentang kebijakan yang diambil oleh para pemimpin mereka. Menggunakan perpustakaan umum dapat menjadi pengalaman sosial yang positif. Peran tersebut terutama penting di dalam komunitas yang hanya memiliki sedikit ruang/tempat bagi orang-orang untuk bertemu.Bab IV. dan juga berbagai hal yang diperjuangkan oleh para wakil mereka di parlemen. Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Selain itu. Perpustakaan yang demikian terkadang disebut “ruang gambaran komunitas”. perpustakaan umum memposisikan diri membantu 46 . Peran perpustakaan umum dalam mengembangkan kapasitas masyarakat untuk pemicu kegiatan ekonomi dikemukakan oleh Urban Institute (2007).

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan

masyarakat melakukan transisi dari ekonomi manufaktur dan jasa ke ekonomi teknologi tinggi dan informasi. Hal senada juga dikemukakan oleh Japzon and Gong (2005) bahwa peran perpustakaan umum menjadi penting tidak hanya karena koleksi yang dimilikinya tetapi juga karena perpustakaan menjadi tempat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan melalui Internet. Peran ini semakin bernilai tinggi terutama bagi suatu lingkungan masyarakat yang secara ekonomi tergolong tidak mampu. Penghematan urbanisasi (urbanization economies) juga akan terjadi apabila perpustakaan umum dapat berperan sebagai penunjang aglomerasi pada berbagai lokasi (Adisasmita, 2005). Melalui muatan koleksi buku-buku, jurnal, dan bahan perpustakaan lainnya kapasitas para pekerja dan profesional dapat ditingkatkan.

47

Bab V. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum

BAB V

PENENTUAN LOKASI FASILITAS DAN PERPUSTAKAAN UMUM
Berdasarkan literatur yang ada diketahui bahwa salah satu faktor penting untuk meningkatkan peran perpustakaan adalah dengan mendekatkan pelayanan atau fasilitas perpustakaan kepada penduduk. Kedekatan ini telah terbukti berdampak pada peningkatan penggunaan perpustakaan yang pada akhirnya berdampak pula pada peningkatan kualitas sumber daya manusia atau penduduk sebagai penggunanya. Dengan kata lain, lokasi menjadi faktor utama penentu tingkat penggunaan perpustakaan umum, selain faktor lainnya seperti prasarana pendukung lokasi, karakteristik demografi, daya tarik, dan motivasi pengguna. Faktor lokasi menjadi semakin penting dalam perencanaan pembangunan perpustakaan umum, ketika fasilitas perpustakaan yang tersedia di suatu wilayah dipandang tidak dapat berfungsi optimal karena alasan keterjangkauan baik karena jarak maupun waktu tempuh yang tidak akseptabel bagi sebagian besar penduduk. Pada bagian berikutnya dielaborasi lebih lanjut berbagai faktor berkaitan dengan lokasi fasilitas publik dan perpustakaan umum. Karena obyek penelitian ini adalah wilayah perkotaan khususnya kota metropolitan, maka
48

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan

uraiannya akan lebih difokuskan pada fasilitas publik di wilayah perkotaan. Lokasi fasilitas berkaitan dengan pemodelan dan solusi masalah tentang penempatan berbagai fasilitas terutama untuk meminimalkan biaya transportasi dan faktor-faktor lainnya. Masalah lokasi fasilitas menyangkut keputusan tentang jumlah dan lokasi dari suatu fasilitas (Seppala, 1997). Lokasi fasilitas tersebut dapat berupa letak pabrik, gudang, toko eceran, fasilitas pendidikan seperti sekolah dan perpustakaan, dan sebagainya. Penempatan fasilitas pada umumnya dilakukan dalam kaitannya dengan ihwal titik permintaan, titik penawaran, dan/atau dengan respek terhadap satu sama lain. Teori lokasi adalah suatu penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dari kegiatan ekonomi, yang selalu dikaitkan dengan alokasi geografis sumber daya yang terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi berbagai aktivitas baik ekonomi maupun sosial (Sirojuzilam, 2006). Teori lokasi secara formal diperkenalkan pertama kali pada abad ke-19 oleh Von Thunen, ahli geografi Jerman yang berkonsentrasi terutama pada lokasi berbagai jenis pertanian yang berbeda. Kemudian pada awal abad ke-20, Alfred Weber mengupas masalah lokasi gudang tunggal untuk meminimalisasi total jarak perjalanan antara gudang dengan sejumlah pelanggan yang tersebar secara spasial. Setelah itu, teori lokasi mengikuti dua jalur. Para ahli ekonomi mengikuti Von Thunen dan berkonsentrasi pada penjelasan
49

yang pada umumnya diselenggarakan oleh pemerintah. Lokasi fasilitas juga dapat dikelompokkan kepada lokasi sektor swasta dan lokasi sektor publik. dan model normatif memberikan panduan kepada para pengambil keputusan untuk keputusan lokasi. para peneliti di bidang riset operasi mengikuti Weber.Bab V. kedua jalur tersebut dapat dipandang sebagai pendekatan deskriptif dan normatif. Model deskriptif menjelaskan mengapa suatu jenis perilaku spasial tertentu berlangsung. Lokasi perpustakaan umum dapat dikelompokkan ke dalam lokasi sektor publik. Keadilan dalam hal ini terkait dengan siapa yang diuntungkan dari suatu pelayanan yang disediakan. Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang lokasi sektor publik dan lokasi perpustakaan umum. Pengelompokan ini didasarkan pada tujuan. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum perilaku spasial aktivitas ekonomi. Di jalur lainnya. di mana tujuan lokasi sektor swasta adalah untuk efisiensi dan keuntungan dalam berbagai bentuk. seperti perumahan atau arus barang hingga perihal konsumsi. Perbedaan ini sebenarnya tidak seluruhnya eksklusif karena ada beberapa model yang digunakan dalam kedua aspek tersebut. Menurut Seppala (1997). lebih dahulu akan diuraikan tentang teori atau model lokasi fasilitas secara umum. sedangkan lokasi sektor publik tujuannya adalah untuk keadilan dan efisiensi. 50 .

Church and Revelle (1976) menyatakan salah satu faktor penting dalam mengukur keefektifan sebuah lokasi fasilitas ditentukan oleh jarak rata-rata antara lokasi pengguna terhadap lokasi fasilitas. yaitu: (1) median problem. Fenomena hubungan tersebut terjadi pada fasilitas seperti perpustakaan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Model Lokasi Fasilitas Para praktisi dan peneliti dalam bidang riset operasi telah banyak mengembangkan berbagai model pemrograman linier seperti simpleks. Cara yang kurang lebih sama dalam mengukur keefektifan. ketika permintaan (terhadap) suatu layanan 51 . dan (3) lokasi stokastik. selanjutnya membagi lokasi statis dan deterministik ke dalam empat pembahasan dalam fungsi yang berbeda. Jika rata-rata jarak perjalanan pengguna ke lokasi suatu fasilitas meningkat maka aksesibilitas terhadap fasilitas tersebut akan menurun sehingga efektifitas pemakaian fasilitas akan menurun. formulasi model integer dalam menentukan lokasi fasilitas. Beberapa perbedaan fungsi tujuan telah diformulasikan untuk membuat model yang bisa mengakomodasi kondisi lokasi. yaitu: (1) lokasi statis dan deterministik. Daskin dan Owen (1998) menyebutkan bahwa terdapat beberapa masalah dalam permodelan lokasi fasilitas. Current. (2) lokasi dinamis. dan (4) travel distance. Min. (2) covering problem. sekolah. dan Schilling (1990). (3) center problem. pusat layanan kedaruratan yang mana letaknya diinginkan dekat dengan pengguna.

Untuk beberapa kasus tertentu P-median tidak cocok digunakan misalnya penempatan fasilitas kedaruratan seperi stasiun pemadam kebakaran dan ambulans. P-median menggunakan ukuran keefektifan ini. Batasan (5) dan (6) adalah ketentuan untuk variabel. P-median tidak cocok digunakan karena hanya mengukur jarak ratarata. Batasan (2) menetapkan bahwa sejumlah p fasilitas harus diletakkan. Tujuan (1) adalah untuk meminimalkan total jarak antara pengguna dan fasilitas. Masalah keterjangkauan terbagi dalam dua bagian utama. untuk kasus kedaruratan yang ingin ditentukan adalah jarak/waktu maksimal yang bisa ditempuh. dan dijelaskan sebagai: cari lokasi dari sejumlah “p” fasilitas sedemikian rupa sehingga total jarak perjalanan antara pengguna dan fasilitas menjadi minimal. Dua masalah keterjangkauan ini 52 .Bab V. Sementara. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum fasilitas tidak sensitif terhadap tingkat dari layanan adalah mengukur jarak antara titik pengguna dengan fasilitas untuk tiap pengguna dan menghitung total jumlah jarak perjalanan antara pengguna dan fasilitas. yang satu membahas tentang wilayah mana yang butuh untuk dijangkau dan lainnya tentang pengoptimalannya. Permintaan disebut akan tercakup jika suatu fasilitas tersebut dapat menjangkau penggunanya dalam sejumlah waktu tertentu. Untuk menentukan lokasi fasilitas yang seperti itu. sedangkan batasan (4) keterlayanan hanya pada lokasi yang fasilitasnya telah ditentukan. Batasan (3) menetapkan bahwa tiap permintaan pengguna harus terlayani oleh fasilitas. kata kuncinya adalah “keterjangkauan”.

Dalam artikel ini Ballou menjelaskan bagaimana meletakkan satu gudang untuk memaksimalkan keuntungan melalui perencanaan tertentu. Pendekataan Ballou 53 . Semua model dalam covering problem secara implisit menyatakan bahwa jika permintaan dipenuhi oleh fasilitas maka fasilitas akan tesedia untuk melayani permintaan. Tujuan set covering problem adalah untuk meminimalkan biaya lokasi fasilitas. Ballou meggunakan solusi dynamic optimal deterministik. membagi lokasi dinamis ke dalam dua ketagori yaitu (1) model lokasi fasilitas tunggal dinamis.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan dibedakan menjadi location set covering problem dan maximal covering problem. Berkaitan dengan lokasi dinamis. Daskin dan Owen (1998) dalam tulisannya berjudul “Strategic facility location: A review” dalam European Journal of Operational Research. dan (2) model lokasi multi-fasilitas dinamis. Pendekatan ini berguna jika untuk mendekatkan jarak antara pelanggan yang letaknya terjauh dengan fasilitas yang terdekat. Center problem berguna untuk meminimalkan jarak maksimal antara permintaan dan fasilitas yang terdekat dengan permintaan tersebut. Selain covering problem dan P-median problem bentuk lainnya adalah center problem atau yang dikenal dengan minimax location problem. Model lokasi fasilitas tunggal dinamis pertama kali diperkenalkan oleh Ballou tahun 1968 dalam artikelnya yang berjudul “Dynamic Warehouse Location Analysis”. Minimax location problem adalah bentuk klasik kombinasi dari optimasi dalam riset operasi dan lokasi fasilitas.

dan kuantitas pengiriman antara fasilitas dan permintaan (Tapiero. Welowsky dan Truscott (1976) menganalisis lebih jauh bahwa model lokasi fasilitas tunggal dinamis dapat memprediksi perubahan permintaan di masa yang akan datang melalui model pemrograman integer dengan kendala yang terbatas pada perubahan lokasi di setiap periode. Pada lokasi fasilitas tunggal. kegiatan harus tetap berjalan sehingga jika terjadi realokasi akan menyulitkan karena fasilitas harus tetap beroperasi. Solusi optimal pada masalah alokasi lokasi transportasi akan dibuktikan pada lokasi fasilitas. apalagi dalam sebuah wilayah yang berkembang di mana terjadi peningkatan jumlah penduduk.Bab V. lokasi fasilitas yang ada harus memiliki biaya yang minimal (Drezner dan Welowsky. Welowsky (1976) menyarankan dalam membuat dan memutuskan relokasi fasilitas harus memasukkan faktor biaya sebagai variabel constraint. yang mana metode mereka menemukan rank order (Rt) solusi terbaik setiap periode t melalui prosedur iteracy pada pemrograman integer dengan dekomposisi benders. Model lokasi multi-fasilitas dinamis disebutkan oleh Scott (1991) sebagai perluasan dari bentuk model lokasi fasilitas tunggal dinamis. 1971). Tetapi Ballou serta Sweeney dan Thatam tidak mempertimbangkan biaya sebagai variabel kendala. 1991). 54 . Dengan demikian. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum dioptimalkan oleh Sweeney and Thatam (1976). masalah dinamic location allocation termasuk kemungkinan kapabilitas fasilitas dan biaya pengiriman dapat diatasi. alokasi sumber permintaan.

antara lain melibatkan teori lokasi fasilitas publik dan model optimisasi lokasi fasilitas publik perkotaan. Probabilistic approach adalah lokasi fasilitas dengan mempertimbangkan distribusi kemungkinan dengan model kuantitas acak. Lokasi stokastik terbagi dalam dua bagian yakni probabilistic approach dan scenario planning approach. 1974).Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Selain lokasi statis deterministik dan lokasi dinamis. 1989). Model probabilitas terbagi dua yakni formulasi standar yang dikembangkan oleh Manne (1961) dan model antrian yang diperkenalkan oleh Larson (1974). Sebuah keputusan untuk menempatkan fasilitas umum apa pun sebenarnya adalah satu keputusan untuk mendistribusikan manfaat dan biaya tertentu di antara kelompok berbeda dari masyarakat. Untuk itu perlu dibuat sebuah perencanaan masa depan dalam bentuk scenario planning melalui analisis kecenderungan (Mobasheri dan Sioshansi. dikenal lokasi stokastik. Lokasi Fasilitas Publik Ada beberapa pendekatan penelitian dalam penyediaan jasa perkotaan. Isu yang mendasar dalam lokasi fasilitas publik adalah sifat alami dan penyebab hubungan antara lokasi dan konsekuensi distributifnya (Dear. sedangkan scenario planning adalah model yang dikembangkan yang mana pengambilan keputusan diambil berdasarkan ketidakpastian masa depan. Manfaat dan kerugian tersebut sering terkait 55 .

1974). Ahli geografi telah meneliti masalah lokasi mempergunakan alat normatif berdasarkan pada efisiensi yang diperoleh dari teori lokasi klasik. rendahnya kompetisi dalam penyediaan pelayanan dan kebutuhan untuk akuntabilitas publik. dan keterlibatan publik pada pengambilan keputusan. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum dengan kedekatan jarak. yang sama pentingnya seperti halnya efisiensi pada dampak pemilihan lokasi. sementara teori sektor publik berkonsentrasi pada kesepakatan umumnya dengan beberapa sistem lokasi pada satu kerangka dinamis (Dear.Bab V. 1973). adalah sifat alami hirarkis dari sistem fasilitas publik. Karakteristik kedua. Ciri dari masalah lokasi fasilitas publik dijumpai pada kebutuhan akan keadilan. 1974). Hirarki ini mungkin terwujud dalam kaitan dengan bangunan (satu perpustakaan induk/pusat besar dan beberapa perpustakaan cabang lebih kecil) atau dalam 56 . yaitu pareto optimal (Harvey. Dear (1974) mengidentifikasi beberapa karakteristik umum terkait dengan masalah lokasi fasilitas adalah: pertama. Konteks perbedaan model lokasi fasilitas publik adalah bahwa persyaratan model tersebut dinilai oleh kriteria yang berbeda dari padanannya pada sektor swasta (Dear. 1973). Masalah sektor swasta berkonsentrasi pada struktur dan lokasi dari unit individu. yang membuat manfaat dan kerugian menjadi fungsi jarak titik permintaan terhadap fasilitas (Harvey. pentingnya perhatian pada public goods atau pada prinsip “kesejahteraan” dari satu redistribusi sumber daya kepada masyarakat. Selanjutnya.

1974). 1993). 1973). Keputusan penentuan lokasi memiliki masukan yang bervariasi (kelompok-kelompok yang berbeda saling berinteraksi dengan tujuan dan motivasi yang berbeda) yang mana konflik merupakan bagiannya. Sementara pada sektor publik. sedangkan keadilan terkait dengan siapa yang diuntungkan dari suatu pelayanan yang disediakan. Dengan kata lain. satu lokasi yang memperkecil perjalanan terpanjang dari konsumen mungkin bisa menjadi pertimbangan. Beberapa ketidak-merataan dalam akses tidak bisa diabaikan seperti sebagian orang selalu lebih dekat dengan titik layanan dibandingkan orang lain (Hodgart. 1993). 1978). efisiensi berkenaan dengan distribusi layanan kepada masyarakat dan keadilan berkenaan dengan distribusi dari akibat layanan tersebut (Truelove. Untuk memperkecil ketidak-merataan ini. prinsip keadilan dan efisiensi sebagai tujuan dari sistem fasilitas umum sering menimbulkan konflik (Truelove. yang mana efisiensi dan keuntungan dalam berbagai bentuk merupakan tujuannya. Efisiensi di sini berkaitan dengan kuantitas agregat dari pelayanan yang disediakan. Dengan demikian lokasi optimal dari sebuah penambahan fasilitas dari sisi perspektif 57 .Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan kaitannya dengan organisasi. Efisiensi dalam hal ini adalah sejumlah nilai untuk memperkecil agregat biaya pergerakan pada satu sistem ruang tertentu (Harvey. Model lokasi sektor swasta pada umumnya ditetapkan untuk memperkecil besar ongkos angkutan dan fasilitas (Dear.

Semakin jauh jaraknya maka semakin menurun kualitas layanan tersebut. Standar yang diinginkan dari layanan tersebut didefinisikan sebagai waktu maksimal atau jarak tertentu S terhadap fasilitas ditempatkan untuk memastikan bahwa keseluruhan populasi pada jarak S dari tempat fasilitas. Referensi dari keadilan (equity). Untuk layanan tertentu.Bab V. 1973). Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum efisiensi mungkin berbeda dari lokasi optimal dari sebuah tambahan fasilitas dari sudut pandang keadilan. Salah satu cara untuk menggabungkan elemen keadilan ke dalam solusi dalam model optimasi adalah dengan penggunaan covering model (Hodgart. Toregas dan ReVelle (1972) telah memelopori aplikasi dari covering model dalam permasalahan lokasi fasilitas. Sementara dari sisi tujuan keadilan. kewajaran dan keadilan. satu fasilitas tambahan mungkin ditempatkan pada satu wilayah kepadatan populasi yang rendah dan jauh sehingga ketika untuk memperkecil jarak maksimum tersebut orang-orang harus melakukan perjalanan. lokasi yang memperkecil rata-rata biaya bepergian merupakan lokasi optimal. 58 . Dari sisi tujuan efisiensi. terutama pemadam kebakaran dan layanan medis. kewajaran (fairness) dan keadilan (justice) adalah satu tema pada literatur geografi (Harvey. 1978). satu tambahan fasilitas pada suatu wilayah populasi dengan kepadatan yang tinggi. Hay (1995) mengidentifikasi delapan konsep kunci dari equity. kualitas layanan tersebut nilainya proporsional dengan jarak titik layanan/fasilitas terhadap titik pengguna.

keadilan wilayah. kesetaraan spasial terkait dengan alokasi dari suatu sumberdaya atau suatu hasil. Keadilan wilayah merujuk kepada distribusi yang sesuai di antara wilayah. adalah timbulnya di luar masalah korelasi ekologis. Konsep operasionalisasi geografis dari equity. 1995). untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhan dari populasi di wilayah itu. misalnya ukuran dan bentuk yang berubahubah dari unit geografis akan sering membuat perbedaan dari yang telah ditetapkan. pada prakteknya sering dikombinasikan lebih dari satu konsep di atas. dan standar minimal. Aplikasi dari konsep equity di dalam ketentuan suatu pelayanan di dalam ilmu geografi sering menemui masalah. Pendekatan geografis ketiga adalah standar minimal. Meskipun demikian. atau jumlah perpustakaan yang disediakan sebanding dengan yang diperlukan. Contohnya. Salah satu masalah fundamental adalah perhatian pada akses ke ruang seberang (Hay. kesetaraan spasial. Hal ini mencakup spesifikasi minimal tertentu yang harus diwujudkan jika tidak ingin disebut tidak adil. adalah “masalah batas”. 1995). Masalah ketiga. Masalah kedua. kewajaran. Dengan kata lain kesesuaian antara distribusi klien populasi dan ketentuan pelayanan dari suatu pelayanan tidak menjamin bahwa pelayanan tersebut telah sesuai atau tersedia mencukupi kebutuhan (Hay.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Lucy (1981) mengungkapkan lima konsep equity yang dapat berlaku dalam proses perencanaan. dan keadilan terdiri dari tiga bentuk yaitu. 59 .

universalitas pelayanan. bukan didasarkan pada jumlah populasi. Tujuannya adalah untuk menempatkan fasilitas dalam memenuhi permintaan yang ada (Daskin. 2005). Memaksimalkan keuntungan dan perebutan bagian dari pasar yang lebih luas oleh kompetitor merupakan kriteria utama dalam aplikasi sektor swasta. dan sebagainya (Antunes dan Bigotte. misalnya peringkat satu dekat dengan sekolah dasar. 2003). efisiensi 60 . Marianov dan Serra (2004) menyebutkan jawabannya terletak pada sifat dasar dari sasaran atau sasaran-sasaran yang menjadi pertimbangan pengambil keputusan. Apakah perbedaan antara lokasi fasilitas publik dan lokasi sektor swasta. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum Dalam pendekatan klasik lokasi fasilitas publik. minimalisasi biaya sosial. Keputusan lokasi fasilitas biasanya terdiri dari penilaian fasilitas ke pusat populasi menurut peringkat dalam sistem perkotaan. peringkat dua dekat dengan rumah sakit. ReVelle dan Eiselt. peringkat tiga dekat dengan universitas. Keputusan dalam menempatkan lokasi didasarkan pada distribusi spasial populasi. 1995. Sebaliknya. Selanjutnya disebutkan bahwa aplikasi sektor publik dan swasta adalah berbeda karena kriteria optimasi yang digunakan pada kedua kasus tersebut. diasumsikan bahwa permintaan terhadap layanan yang ditawarkan oleh fasilitas telah tersedia.Bab V. 1990. Keputusan penentuan lokasi fasilitas berdasarkan karakter demografi boleh diabaikan ketika keputusan yang dibuat untuk satu fasilitas pada saat tersebut tidak memiliki dampak yang besar. Current dan Schilling.

fasilitas penunjang. daya serap pasar lokal. jaminan keamanan. dan memaksimalkan keuntungan bagi pemilik swasta. meminimalkan biaya pelayanan. Berbagai faktor yang ikut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi. dan 61 . keuntungan biasanya diterjemahkan ke dalam bentuk jumlah atau tingkat penggunaan pelayanan (jasa) yang diberikan. Berhubung karena kedua sasaran tersebut sulit untuk diukur. antara lain ketersediaan bahan baku. Manfaat dari biaya yang dikeluarkan dalam sektor publik jarang sekali dihitung dalam bentuk uang. Hal senada juga dikemukakan oleh Wibowo dan Soetriono (2004). merespon berbagai kategori pemangku kepentingan yang berbeda (masyarakat). sasaran tersebut biasanya diwakilkan dengan minimalisasi biaya lokasional dan operasional yang diperlukan bagi keseluruhan pelayanan tersebut. meminimalkan biaya pelayanan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan dan keadilan merupakan sasaran pada sektor publik. Tidak ada sebuah teori tunggal yang bisa menetapkan di mana lokasi suatu kegiatan produksi (industri) itu sebaiknya dipilih. upah buruh. atau mencari cakupan maksimal yang dapat diberikan oleh sejumlah tertentu sumber daya yang tersedia. Untuk menetapkan lokasi suatu industri (skala besar) secara komprehensif diperlukan gabungan dari berbagai pengetahuan dan disiplin. bahwa sasaran keputusan lokasi industri adalah memaksimalkan kepuasan pelanggan. sedangkan sasaran dari keputusan lokasi sektor publik adalah berupaya untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan. Untuk perpustakaan umum.

Marianov dan Serra (2004) meneliti tentang lokasi fasilitas atau pelayanan dalam ruang atau jaringan dengan karakteristik yang berbeda. dan gudang) untuk mengoptimasi satu atau beberapa sasaran yang biasanya berkaitan dengan efisiensi sistem atau pengalokasian sumber daya. Banyak model yang mencari untuk meminimalkan jarak dan waktu tempuh antara pelanggan dan fasilitas di mana suatu pelayanan dapat diperoleh. stabilitas politik suatu negara dan kebijakan daerah. yang berkaitan dengan sektor publik seperti pelayanan gawat darurat (ambulans. Model lokasi-alokasi adalah mencari lokasi fasilitas dan/atau pelayanan (seperti sekolah. Kedekatan atau proximity (jarak dan waktu tempuh) merupakan satu aspek fundamental analisis lokasi. dan berbagai respons mungkin diberikan terhadap pertanyaan sederhana tentang konfigurasi lokasional “terbaik” sejumlah pelayanan. atau untuk melindungi penduduk dari resiko dalam suatu waktu dan jarak yang ditetapkan. Sebagai tandingan terhadap model tersebut adalah model cakupan (covering models) 62 . ketika menempatkan ambulans pada suatu lokasi dengan dasar pertimbangan agar dapat meminimalkan waktu respons rata-rata yang menguntungkan dari sistem tersebut. dan unit polisi). Sebagai contoh.Bab V. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum aksesibilitas dari tempat produksi ke wilayah pemasaran yang dituju. pemadam kebakaran. Lebih lanjut Marianov dan Serra (2004) menyebutkan bahwa dalam model lokasi sektor publik tidak ada satu pun sasaran yang dikesampingkan. rumah sakit.

Dalam model ini nilai maksimum ditetapkan (preset) baik untuk jarak maupun waktu tempuh. Untuk kasus perpustakaan umum. dan ketika panggilan diterima. maka pelayanan tersebut dianggap memadai atau dapat diterima. Selain itu.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan yang didasarkan pada konsep kedekatan yang dapat diterima (acceptable proximity). Model cakupan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria (Marianov dan Serra. yang memungkinkan untuk membedakan dua jenis formulasi: meminimalkan jumlah fasilitas yang dibutuhkan untuk mencakup secara penuh populasi (set covering models). rumah sakit. adakalanya menggunakan kedua pendekatan tersebut. dengan jumlah terbatas fasilitas atau penghidang atau servers (maximum covering models). Selain adanya sejumlah perpustakaan dengan lokasi tetap. Pertama adalah kriteria jenis sasaran. 2004). dan pelanggan tercakup. Apabila suatu pelayanan yang disediakan oleh suatu fasilitas berlokasi dalam batas maksimal tersebut. model cakupan dapat juga diklasifikasikan dalam formulasi untuk sistem dengan penghidang tetap (fixed servers) dan sistem dengan penghidang bergerak (mobile servers). Contoh untuk yang kedua adalah pelayanan gawat darurat di mana penghidang ditempatkan di suatu pos atau depo. Kedua adalah memaksimalkan populasi yang tercakup. juga tersedia 63 . mereka akan menuju lokasi pemanggil dan kemudian kembali ke pos. dan sistem lain di mana pelanggan bepergian ke fasilitas tersebut untuk mendapatkan pelayanan. Contoh untuk bentuk yang pertama adalah sekolah.

Untuk perpustakaan umum. Keadilan dalam konteks ini berarti pelayanan yang terdistribusi secara adil. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum perpustakaan keliling (mobile library) yang mendatangi tempat-tempat tertentu sesuai jadwal yang ditentukan. Dalam keputusan lokasi sektor publik terdapat kebutuhan terhadap rasa keadilan pada hasil lokasi. yang memberikan peluang yang sama 64 . sedangkan sektor publik berurusan dengan suatu kerangka hirarkis dinamis. yang didukung oleh dana yang bersumber dari pajak. klub buku. atau sejumlah unit seperti chain store atau franchise.Bab V. kios surat kabar dan majalah. Sektor swasta sering tidak berusaha untuk mendapatkan lokasi tempat yang optimal. Sektor swasta membangun model lokasi berdasarkan pengetahuan tentang lokasi bisnis yang kompetitif. Sektor swasta sering berfokus pada struktur dan lokasi unit secara individual. Untuk perpustakaan umum. dan mungkin juga pelayanan teater atau sarana rekreasi. Keterbatasan biaya menyebabkan keharusan untuk menggunakan lahan milik pemerintah atau lahan bantuan dari pihak lain. Keputusan lokasi sektor publik sering tidak optimal karena keterbatasan biaya untuk mendapatkan lokasi utama yang lebih baik atau terjamin. hal ini direpresentasikan oleh suatu perpustakaan pusat atau induk dengan sejumlah sub unit yang lebih dikenal dengan cabang. pelayanan kompetitifnya termasuk toko buku. Sektor publik lebih sering mendasarkannya pada kompetisi penyampaian pelayanan dan oleh karenanya secara historis tidak berusaha untuk mengidentifikasi lokasi dengan pelayanan serupa.

1998). seperti perpustakaan umum atau toko eceran. pemerintah memilih lokasi untuk fasilitas publik termasuk lokasi perpustakaan umum. Sebaliknya. Dunia usaha memilih lokasi untuk fasilitas toko penjualan. Kesalahan dalam pemilihan lokasi fasilitas menyebabkan berkurangnya potensi maksimal. adalah keputusan paling penting yang harus dibuat oleh para perencana dan manajer. dan keadilan 65 . efektivitas. Lokasi Fasilitas Perpustakaan Dapat dikemukakan bahwa lokasi fasilitas untuk kinerja fungsi sosial dan ekonomi. sektor publik bertanggung-jawab kepada publik yang berkaitan dengan masalah diskriminasi atau kesenjangan dalam pelayanan atau manfaat yang ditimbulkannya. Memilih lokasi untuk menyediakan suatu pelayanan dengan sejumlah keterbatasan yang ada adalah suatu kegiatan logistik yang penting dalam berbagai konteks. meminimalkan biaya pelayanan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan yang harus disediakan bagi semua warganegara. Oleh sebab itu. dan karena itu memaksimalkan keuntungan bagi pemilik swasta tanpa suatu kebutuhan untuk mempertimbangkan rasa keadilan tersebut. Keputusan tentang lokasi fasilitas merupakan elemen penting dalam perencanaan strategis baik pada institusi swasta maupun publik (Daskin dan Owen. toko eceran memilih tempat didasarkan pada memaksimalkan kepuasan pelanggan.

Tidak banyak yang diketahui tentang penentuan lokasi perpustakaan umum di Indonesia. bukan dengan penelitian empiris. memandang bahwa karakteristik dan lokasi fasilitas umum seperti perpustakaan umum. Untuk toko eceran. kriteria Wheeler semestinya dievaluasi dan dibandingkan dengan literatur deskriptif lainnya tentang lokasi perpustakaan (Koontz. Sejak tahun 1920. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum pelayanan. perencana. Namun Wheeler mengembangkan pandangannya menggunakan penilaian/perkiraaan subyektif para pustakawan. kehilangan pendapatan bahkan akhirnya kegagalan bisnis. 1997). terdapat perbedaan sifat dalam tujuan lokasi sektor publik dan swasta yang harus diperhatikan (Revelle. penulis yang paling dikenal namanya dan paling banyak dikutip tulisannya adalah Joseph Wheeler. Sebagian besar literatur tentang lokasi perpustakaan dapat dikategorikan sebagai esai. Untuk perpustakaan umum. museum.Bab V. sekolah. Wheeler gigih menggagas ide penentuan lokasi gedung perpustakaan umum yang optimal di lokasi eceran terbaik. lokasi yang tidak optimal dapat berarti penurunan akses dan penurunan penggunaan. Artikel tersebut pada umumnya membicarakan tentang pembangunan gedung 66 . taman merupakan refleksi sederhana keputusan sektor swasta tentang lokasi bisnis dan perumahan. Karena alasan tersebut. 1970). lokasi yang tidak tepat dapat berarti kehilangan potensi lalu lintas toko. dan manajer. bukan hasil penelitian yang menyajikan informasi yang bersifat analitis. Beberapa pembuat teori (teoris) lokasi. Padahal. Dalam literatur Barat.

museum. Koontz menawarkan penggunaan teori lokasi eceran untuk memecahkan dilema lokasi perpustakaan umum. misalnya cabang (seperti cabang-cabang bank). termasuk teknik checklist atau deskripsi (Koontz. Kedua. dan taman merupakan refleksi keputusan sektor swasta tentang lokasi pemukiman dan usaha. Koontz (1994) menyebutkan bahwa karakteristik dan lokasi fasilitas publik seperti perpustakaan umum. Sejumlah literatur adalah bersifat deskriptif yang pada umumnya ditulis oleh para pustakawan yang terlibat dalam proses pemilihan lokasi. orang harus bepergian ke toko eceran dan 67 . dan upaya penataan-ulang yang sudah ada. dan beberapa diantaranya membicarakan kemungkinan penggunaan pendekatan lokasi untuk pengembangan perpustakaan umum.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan baru tunggal. Ketiga. hambatan topografis. Selanjutnya Koontz (2002) menyebutkan bahwa perpustakaan dan toko eceran bersama-sama memiliki karakteristik yang unik yang mengindikasikan kemungkinan solusi yang didasarkan pada teori lokasi eceran. 1997). Dari berbagai literatur diketahui bahwa banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan pemilihan lokasi terutama lokasi industri atau usaha. penambahan. Pertama. sekolah. Sejumlah literatur membicarakan tentang lokasi fasilitas publik. perpustakaan umum biasanya merupakan bagian dari suatu sistem yang mana tahap akhir dari distribusi adalah berlainan. terdapat pola lokasional yang berpengaruh terhadap penjualan dan penggunaan perpustakaan yaitu: jarak di antara outlet. dan karakteristik populasi.

Pada kasus masalah lokasi fasilitas perpustakaan. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum perpustakaan. di mana lokasi berpengaruh terhadap pelanggan. pendapatan. Banyak masalah lokasi fasilitas perpustakaan telah diselesaikan oleh teori lokasi eceran. 1997). 1997). 1997). Penelitian telah menunjukkan hubungan kegiatan berbelanja dengan perpustakaan yang memperkuat alasan untuk menempatkan perpustakaan di pusat perbelanjaan (Koontz. jabatan. 1972). Sebagai tambahan. jenis kelamin. Terdapat beberapa perbedaan nyata dan substantif antara retail dan 68 . masyarakat memilih bepergian untuk mendapatkan barang.Bab V. Karakteristik demografis yang mempengaruhi perilaku konsumen seperti umur. pola lokasional dari satu sistem perpustakaan mempengaruhi secara signifikan penggunaan perpustakaan (Koontz. Perpustakaan umum adalah bagian dari satu sistem fasilitas yang mana tahap akhir dari distribusi adalah terpisah (buku berbeda dengan air pada saluran air minum maupun drainase) (Koontz. Ini adalah faktor penting. masih diperdebatkan bahwa membuat analogi dari perpustakaan dengan toko eceran cukup beralasan sebab konsumen mendatangi perpustakaan atau toko eceran untuk memperoleh buku atau barang jualan yang berguna bagi mereka. 1997. gaya hidup juga mempengaruhi pola penggunaan perpustakaan (Koontz. Coughlin. pendidikan. Perpustakaan umum dengan lingkungan eceran tidak dapat dipersamakan terlalu jauh. Kedatangan ke perpustakaan juga menunjukkan pola perjalanan multi tujuan.

dan berada pada lingkungan kompetitif yang sangat tinggi. Eceran dicirikan oleh kepemilikan swasta. 1997): 69 . pada awal 1924. Wheeler. motivasi keuntungan. dan dengan kompetisi yang rendah. tidak untuk mendapatkan keuntungan (nirlaba). menawarkan penentuan letak perpustakaan pusat di pusat kota yang ramai dan banyak persimpangan jalan. 1978). Dalam dokumen yang dikeluarkan ALA diketahui bahwa kepadatan penduduk pada suatu area seharusnya mempengaruhi jumlah cabang perpustakaan umum. Wheeler menawarkan letak tersebut seperti halnya para pemilik toko eceran yang cenderung mencari letak pertokoannya di wilayah yang padat/ramai lalu lintas sehingga banyak orang yang berbelanja. untuk pertama kali. Dalam konteks perpustakaan umum. penelitian telah menunjukkan bahwa jarak antar perpustakaan adalah penting dalam penentuan lokasi perpustakaan sehubungan dengan pengaruhnya terhadap penggunaan perpustakaan (Getz. Pada tahun 1933. tingginya arus lalu lintas tersebut menggambarkan tingginya penggunaan perpustakaan. American Library Association (1956) mengeluarkan standar kuantitatif berkaitan dengan lokasi perpustakaan umum. Namun demikian. Joeckel dan Carnovsky pada tahun 1940 menawarkan beberapa prinsip mengenai lokasi perpustakaan sebagai berikut (Koontz.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan perpustakaan. Sementara perpustakaan umum adalah merupakan kepemilikan publik.

Laporan penelitian Wheeler (1958) tentang perpustakaan umum di Amerika Serikat. sehingga penduduk yang tinggal hanya berjarak satu mil dari perpustakaan kurang termotivasi untuk melintasi berbagai penghalang tersebut. tipe dan ukuran gedungnya. (2) Jumlah dan lokasi cabang perpustakaan. penggunaan perpustakaan bisa jadi akan menurun secara dramatis jika wilayah yang dilayani tingkat pendidikan penduduknya rendah. layanan dan koleksi bukunya harus dipelajari secara serius jika ingin dana publik dipergunakan dengan sebaik-baiknya. menyatakan bahwa lokasi perpustakaan umum. taman. dan lokasi gedung lainnya harus diubah. dan (5) Meskipun telah disediakan fasilitas yang cukup memuaskan di perpustakaan. ruang serbaguna. (4) Cabang perpustakaan yang ditempatkan di toko pengecer. baik perpustakaan pusat 70 . kompleks industri. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum (1) Lama waktu seseorang tinggal di suatu area akan mempengaruhi pengetahuan dan perhatiannya pada suatu badan pemerintah. Perpustakaan harus ditempatkan di gedung sendiri agar penggunannya semakin tinggi. jumlah penduduk dan anak-anaknya sedikit.Bab V. (3) Lingkungan pengaruh suatu perpustakaan umum sering dibatasi oleh penghalang seperti persimpangan rel kereta api.

tingkah laku konsumen. area perdagangan. dalam penelitiannya. Leonard Grundt (Koontz. Tiap cabang melayani 30. Wheeler dan Herbert Goldhor merekomendasikan kriteria dalam penentuan letak lokasi cabang perpustakaan umum. yang sedikitnya setengah dari jumlah tersebut adalah buku untuk orang dewasa. 1997). 71 . konsep nilai lahan. segmentasi pasar. Berdasarkan rekomendasi mereka. Pada tahun 1963. Letak cabang perpustakaan haruslah di persimpangan utama toko pengecer dan berjarak tiga atau empat mil dari perpustakaan lainnya (Koontz. dan maksimum 20 menit perjalanan kaki bagi anak-anak. Pada tahun 1962.000 buku.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan maupun cabang harus secara strategis berlokasi di pusat perdagangan atau tempat orang berkumpul/terkonsentrasi. warga menghabiskan maksimum waktu perjalanan adalah 20 menit menggunakan angkutan umum. pandangan Wheeler tersebut tidak mempertimbangkan pertumbuhan di wilayah pinggiran kota. yang disebutkannya sebagai “pusat gravitasi” dari pusat perdagangan (pusat kota) dan trotoar perkantoran. Perpustakaan juga ternyata berada pada posisi 2 mil dari tempat orang dewasa. Namun menurut Koontz (1997). setiap cabang perpustakaan menawarkan sirkulasi minimum setiap tahun sebesar 75.000 atau lebih penduduk. dan lain-lain. namun dipengaruhi oleh fasilitas dan kebiasaan/pola perjalanan. Lokasi seperti itu biasanya tidak berhubungan langsung dengan sebaran penduduk atau permukiman. 1997) menentukan bahwa untuk melakukan perjalanan ke perpustakaan umum cabang.

Bab V.1 persen berjarak 5 mil dari perpustakaan (Palmer. Dalam tinjauan literaturnya. Pada tahun 1970.4 persen pengguna perpustakaan umum bertempat tinggal di wilayah yang jauhnya 2 mil dari perpustakaan. 27. menganjurkan para pustakawan untuk mempertimbangkan penggunaan metode dan kriteria letak toko eceran dalam penentuan lokasi perpustakaan di kota besar metropolitan. dan New Jersey untuk mengetahui pengaruh waktu perjalanan dan jarak terhadap penggunaan perpustakaan. Shaughnessy membuat ringkasan penelitian terdahulu dan melaporkan 72 . termasuk juga populasi potensial dan area perdagangannya (Koontz. dan 5. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum namun anak-anak yang berkunjung ke perpustakaan tersebut maksimal bertempat tinggal pada jarak 1. Pengaruh jarak antara pengguna dengan fasilitas perpustakaan memiliki konsekuensi terhadap penggunaan perpustakaan di suatu wilayah. Pennsylvania. Wetzel menekankan bahwa langkah pertama dalam analisis letak perpustakaan seharusnya adalah survei ekonomi terhadap letak perpustakaan yang diusulkan. Pada tahun 1965. Frank Wetzel. Jarak yang dimaksud adalah jarak perpustakaan dengan pengguna maupun perpustakaan lainnnya. Beberapa hasil studi pada tahun 1970-an menunjukkan bahwa 57.5 mil dari perpustakaan. dalam tesis magisternya.2 persen bertempat tinggal antara 2 hingga 4 mil dari perpustakaan. 1981). 1997). Thomas Shaughnessy melakukan survei para pengguna perpustakaan umum pusat di New York.

sekitar 73% pengguna perpustakaan menyatakan bahwa tempat tinggal mereka kurang dari 1 mil dari perpustakan umum cabang yang terdekat (Koontz. (2) lokasi perpustakaan umum yang optimal seharusnya dapat diakses sebanyak mungkin oleh pengguna perpustakaan. dan (3) bagi mayoritas pustakawan. 1997). Analisis kependudukan adalah suatu keharusan dalam penentuan lokasi perpustakaan yang tepat agar penggunaan perpustakaan menjadi maksimal.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan bahwa kira-kira 50 persen pengguna yang disurvei bertempat tinggal 2 mil jaraknya dari perpustakaan pusat. Persebaran perpustakaan antara suatu wilayah dengan wilayah lain akan berbeda sesuai dengan karakteristik penduduk wilayah tersebut. dan 92 persen berjarak 10 mil. Shaughnessy menyimpulkan bahwa jarak 10 hingga 15 mil atau 20 hingga 30 menit jarak perjalanan adalah angka batas praktis dari wilayah pelayanan perpustakaan pusat. Dalam penelitiannya. 75 persen dalam jarak 5 mil. 73 . metode seleksi penentuan lokasi eceran cukup berguna dalam menentukan lokasi perpustakaan. Survei secara nasional yang dilakukan Gallup pada tahun 1985 menanyakan berapa jarak antara tempat tinggal pengguna perpustakaan terhadap perpustakaan terdekat. Dari berbagai literatur telah lama disadari oleh orang-orang yang berprofesi di bidang perpustakaan bahwa (1) lokasi perpustakaan merupakan faktor yang menentukan (determinan) dalam pemanfaatan/penggunaan perpustakaan.

(3) meramalkan tingkat penggunaan pada lokasi lain baik untuk fasilitas baru maupun relokasi fasilitas lama. (3) Waktu pelayanan adalah variabel paling penting bagi pengguna dalam memilih di antara dua perpustakaan.Bab V. penggunaan perpustakaan dan daya tarik (attractiveness) perpustakaan. dan 74 . Sebelumnya. kebanyakan pengguna akan memilih cabang yang lebih besar. (2) menghitung tingkat penggunaan pada lokasi fasilitas yang sekarang (existing) berdasarkan estimasi area pasar. (2) Jika beberapa cabang perpustakaan berjarak sama terhadap pengguna. dan (4) mengestimasi tingkat pengguna potensial pasar target dalam populasi untuk mengembangkan pelayanan baru atau untuk memastikan tingkat pelayanan pada suatu lokasi tertentu atau baru. spasial. Koontz (1992) menguraikan beberapa prinsip yang penting dalam penentuan lokasi perpustakaan yang diperoleh dari berbagai penelitian lokasi yang berkaitan dengan perpustakaan. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum Koontz (1992) meneliti 6 sistem perpustakaan yang terdapat di 6 negara bagian di Amerika Serikat untuk: (1) mengestimasi sebaran populasi dan ukuran besarnya area pasar. Penelitian tersebut menggunakan variabel populasi. di antaranya adalah sebagai berikut: (1) Kedekatan terhadap fasilitas perpustakaan dapat meningkatkan penggunaan. (4) Usia dan pendidikan mempengaruhi tingkat penggunaan perpustakaan.

75 . dan non-institusional. perpustakaan harus terhubung ke masyarakat yang dilayaninya dengan sambutan dan undangan yang hangat. 1992). Oleh karena itu. Dalam penelitian lokasi perpustakaan umum. Perpustakaan harus menyediakan ruang yang aman untuk anggota masyarakat yang berbeda untuk berintekasi dengan aman. Perpustakaan harus menyadari dan menghargai keragaman anggota masyarakat.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan (5) Keluarga yang mempunyai anak lebih sering menggunakan perpustakaan daripada yang tidak mempunyai anak. Dalam laporan City of Sydney Library Network Strategy (2005) disebutkan bahwa perpustakaan merupakan focal point untuk komunitas. yaitu pelayanan yang disediakannya dan kesan yang ditimbulkannya. Perpustakaan memiliki dua fungsi sekaligus. dan konsekuensinya pada penggunaan perpustakaan sudah lama menjadi perhatian orang-orang yang berprofesi di bidang perpustakaan umum. Pada masalah lokasi fasilitas perpustakaan umum yang diteliti dan didiskusikan. jarak merupakan variabel yang paling sering dipertimbangkan (Koontz. Masyarakat harus mendapat akses yang sama terhadap lokasi perpustakaan. termasuk anggota masyarakat yang cacat maupun yang sudah lanjut usia. pengaruh jarak yang memisahkan antara pengguna perpustakaan dan fasilitas perpustakaan. Perpustakaan seharusnya merupakan gambaran ekspresi dari komunitas yang dilayaninya.

diketahui bahwa pelayanan perpustakaan umum di kota-kota besar terutama di negara-negara maju diselenggarakan dalam bentuk jaringan sistem perpustakaan umum kota di mana cabang-cabang atau outlet perpustakaan tersebar pada berbagai lokasi. Jarak dan pengaruhnya pada penggunaan telah menjadi fokus utama (Coughlin. 1972). Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum Seperti dikemukakan sebelumnya. Di sisi lain. Rendahnya penelitian yang berkaitan dengan penentuan lokasi perpustakaan umum menurut Koontz (2005) disebabkan oleh karena: (1) pustakawan miskin pendidikan atau pelatihan dalam bidang ini. Bennett dan Smith. 1975). belum banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan penentuan lokasi perpustakaan umum sebagai bagian dari fasilitas publik. Pola penggunaan telah diteliti 76 . 1972. Penentuan letak perpustakaan dalam konteks teori lokasi fasilitas umum adalah topik yang cukup banyak dibahas pada tahun 1970 hingga 1980-an (Koontz. 1997). Perpustakaan merupakan salah satu layanan umum kota yang termasuk dalam penelitian geografis dalam penyediaan layanan perkotaan. Penentuan letak fasilitas dan perencanaan sistem perpustakaan telah cukup berkembang pada masa lalu (Coughlin. (2) penyandang dana dan orang-orang berpengaruh mendasarkan keputusannya tentang lokasi bergantung pada struktur pemerintahan. dan (3) adanya ketergantungan historis pada pendekatan ceklis dekriptif yang dipublikasikan secara luas yang digunakan oleh para konsultan bangunan gedung perpustakaan yang miskin pengalaman dalam bidang ini.Bab V.

Pendekatan lokasi fasilitas optimal dalam analisis lokasi memberi gambaran kepada kita bahwa keoptimalan lokasi fasilitas secara alami sepertinya merupakan persoalan ruang metrik (Goldman. Dalam tinjauan dimensi wilayah. seperti yang tergambar pada 77 . pendapatan. setiap penduduk kota memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan/mengakses fasilitas tersebut. Di samping memberikan pelayanan secara maksimal. Ada sejumlah pendekatan penelitian yang digunakan dalam melakukan studi tentang penyampaian pelayanan kota (urban service delivery) terhadap penduduk kota.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan dengan melihat hubungan karakteristik demografis dan sosio-ekonomi dengan pengguna perpustakaan. 1972). dalam penelitian ini bagaimana menentukan lokasi perpustakaan umum sehingga seluruh penduduk kota terlayani. 2006). Beberapa karakteristik penting adalah pendidikan. Analisis lokasi membahas bagaimana meletakkan fasilitas pelayanan pada lokasi tertentu (ReVelle dan Eiselt. tujuan inilah yang menjadi persoalan dalam menentukan lokasi fasilitas publik. yaitu melayani dengan maksimal seluruh penduduk kota. persoalan penyampaian pelayanan ditinjau dengan pendekatan analisis lokasi. Salah satunya adalah dimensi wilayah. 2005). dan pekerjaan (Coughlin. Lokasi fasilitas pelayanan kota (fasilitas publik) seperti perpustakaan umum mempertimbangkan tujuan dari fasilitas publik itu sendiri. Dampak ketersebaran perpustakaan telah dikaji dalam kaitannya dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

suku. pemilikan kendaraan) dengan penggunaan perpustakaan (sirkulasi. belum ada satu penelitian pun tentang penyampaian pelayanan perpustakaan umum terhadap penduduk kota dalam dimensi wilayah. penggunaan bahan di perpustakaan) dan hubungan daya tarik atau kualitas perpustakaan (waktu pelayanan. Terutama di Indonesia. Beberapa hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut: 78 .1. kehadiran dalam program. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum “persoalan Weber” (Weber Problem) dan pendekatan analisis lokasi lainnya. belum banyak mendapat perhatian dalam berbagai penelitian. penduduk yang dilayani) dengan jumlah penduduk pada wilayah pelayanan tertentu. jenis kelamin. usia. Koontz (1992) dalam tulisannya berjudul “Public library site evaluation and location: Past and present market-based modelling tools for the future” telah meneliti hubungan variabel demografi (jumlah penduduk. pendapatan. namun tidak mampu menjelaskan di mana persisnya suatu fasilitas diletakkan sesuai kebutuhan pengguna sehingga fasilitas tersebut berfungsi memberikan pelayanan dengan maksimal. pendidikan. luas gedung. perpustakaan umum sebagai salah satu fasilitas publik. Beberapa penelitian terdahulu tentang lokasi dan penggunaan perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 2. transaksi referensi.Bab V. Sejauh ini. Pendekatan analisis lokasi memang memberikan kordinat titik tertentu yang optimal ditinjau dari aspek jarak (metrik).

Lokasi memaksimalkan penggunaan. 1941 Wheeler Lokasi dan penggunaan perpustakaan 79 .1. cukup bernilai dalam mengestimasi penggunaan perpustakaan. Dari berbagai penelitian yang dijelaskan di atas. Tabel 5. belum ada penelitian yang membahas bagaimana menentukan lokasi perpustakaan umum kota yang optimal dari tinjauan keruangan/kewilayahan dan layanannya berfungsi maksimal (meningkatkan kualitas sumber daya manusia). dan (3) Dalam wilayah pelayanan yang luas (metropolitan) seperti dalam penelitiannya. luas perpustakaan per jumlah penduduk yang dilayani. jika dikombinasikan dengan karakteristik penduduk lainnya. waktu pelayanan.1: Penelitian Terdahulu tentang Lokasi Perpustakaan Umum Tahun Pengarang 1924 Wheeler Tujuan/Isi Lokasi perpustakaan Hasil Penelitian Perpustakaan pusat seharusnya berlokasi di pusat kota. Berbagai hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan berkaitan dengan lokasi perpustakaan umum dapat dilihat pada Tabel 5.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan (1) Karakteristik penduduk tertentu pada wilayah pelayanan perpustakaan mempengaruhi penggunaan perpustakaan. (2) Variabel demografi saja tidak dapat memprediksi penggunaan perpustakaan secara sempurna.

2 mil untuk anak-anak). Batas praktis antara pengguna dengan perpustakaan pusat adalah 10 hingga 15 mil atau waktu perjalanan 20 hingga 30 menit.4 dan 1. Jumlah koleksi. Jarak perjalanan pengguna cabang 1. jumlah tempat duduk. Kualitas pelayanan diukur menggunakan jam pelayanan. jumlah kursi. 88 mil (0.13 1.Bab V. luas lantai merupakan daya tarik dan dijadikan sebagai variabel independen. Area pelayanan efektif dalam jarak 2 mil untuk orang dewasa. dan jumlah koleksi.000 penduduk dengan jarak 3-4 mil jauhnya dari cabang lain. jumlah optimal fasilitas 80 . anggaran. luas lantai. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum Tahun Pengarang 1956 1962 ALA Wheeler and Goldhor Tujuan/Isi Standar perpustakaan umum Jarak dan kapasitas perpustakaan Hasil Penelitian Lokasi harus dekat dengan angkutan umum. 1968 Grundt Analisis ruang dan aksesibilitas fasilitas perpustakaan untuk menetapkan area pelayanan 1970 Shaughnessy Mensurvei 3 perpustakaan pusat di 3 negara bagian Amerika Serikat 1972 1977 Coughlin et al Analisis komprehensif penggunaan/pelayanan cabang Philadelphia untuk rencana perbaikan Revelle and Menentukan ukuran dan Church. Menggunakan variabel pengguna dan koleksi. Perpustakaan cabang seharusnya melayani 30.

Analisis 31 sistem Survei pada sistem perpustakaan Amerika perkotaan.1% tinggal dalam 5 mil mengembangkan estimasi 90% tinggal dalam 2 mil rata-rata berkaitan zone di area perkotaan dengan jarak tempat yang padat penduduk. Lokasi setiap perpustakaan relatif terhadap yang lain. tinggal pengguna dengan Pengguna perpustakaan perpustakaan cabang pusat melakukan 81 . 4 perpustakaan metropolitan berada pada radius 2.4 % tinggal dalam 2 berkaitan dengan mil pengaruh jarak terhadap 57.2% tinggal dalam 2-4 penggunaan mil perpustakaan dan 5.8 mil.7 mil. 3 perpustakaan di pinggiran kota berada pada setiap radius 3. sebanyak 32 Serikat untuk mengukur perpustakaan berada persegi mil per lokasi pada setiap radius 1 mil. dan perilaku perjalanan. Mereview penelitian 57.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Tahun Pengarang Profeessor Urban Planning 1978 Getz Tujuan/Isi untuk mencakup suatu area dalam batasan perilaku perjalanan pelanggan Analisis efisiensi 59 perpustakaan umum New York Hasil Penelitian jarak antar fasilitas. 1980 Getz 1981 Palmer Waktu pelayanan adalah variabel paling penting dalam memilih di antara dua fasilitas. anggaran.

belajar sendiri. Kedekatan ke fasilitas meningkatan penggunaan Mempelajari Usia dan pendidikan perpustakaan umum Los pengguna mempengaruhi Anggeles untuk penggunaan.Bab V. Kualitas dengan jumlah penduduk dikombinasikan dengan pada wilayah tertentu karakteristik penduduk bernilai untuk mengestimasi penggunaan. sedangkan di atas 18 tahun bisa beberapa mil Meneliti hubungan Karakteristik penduduk variabel demografi mempengaruhi dengan penggunaan penggunaan. memastikah apakah Di bawah kelompok 18 pengguna lebih sensitive tahun memiliki terhadap jarak dari faktor permintaan pelayanan lain dalam radius 1 mil. Mengeksaminasi Menggunakan frekuensi kunjungan perpustakaan untuk mahasiswa internasional membaca pada waktu pada perpustakaan luang. Penentuan Lokasi Fasilitas dan Perpustakaan Umum Tahun Pengarang Tujuan/Isi Hasil Penelitian 1983 Hayes dan Palmer 1992 Koontz 1996 Alaqeeli perjalanan 20 menit untuk memperoleh pelayanan khusus. umum Ohio dan untuk kebutuhan keluarga 82 . perpustakaan dan Variabel demografi saja hubungan daya tarik dan tidak dapat memprediksi kualitas perpustakaan penggunaan.

Terdapat signifikansi antara kepuasan dan penggunaan perpustakaan. Mereka yang tumbuh di Amerika memiliki akses yang lebih banyak pada pelayanan perpustakaan. Tergantung pada pelayanan perpustakaan untuk menyediakan bahan bacaan yang dibaca. 2007 LovatoGassman Mengekplorasi kepuasan pengguna sebagai motivasi menggunakan perpustakaan fisik 83 . 92% partisipan menggunakan perpustakaan fisik.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Tahun Pengarang 1996 Forde Tujuan/Isi Mengeksaminasi penggunaan perpustakaan dan kebiasaan membaca pemenang Nobel Hasil Penelitian Menikmati membaca pada masa anak-anak.

Percepatan 84 .Bab VI. Sumber daya manusia berkualitas mampu menggerakkan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah. Peran ganda ini menjadikan sumber daya manusia memiliki kedudukan yang penting dan strategis dalam konteks pengembangan wilayah. Suatu wilayah yang berkembang dan maju akan meningkatkan kesejahteraan manusia yang berada di wilayah tersebut. sumber daya manusia memiliki peran ganda yaitu selain sebagai sasaran akhir pengembangan wilayah (manusia yang sejahtera). diketahui bahwa manusia berkualitas adalah merupakan hasil dari suatu proses pendidikan atau pembelajaran baik melalui kegiatan formal maupun nonformal. Dalam hal ini. juga sekaligus sebagai penggerak pengembangan wilayah (bertindak mensejahterakan manusia). Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum BAB VI FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PERPUSTAKAAN UMUM Salah satu faktor penting yang berperan dalam pengembangan wilayah adalah sumber daya manusia. Di sisi lain. Proses pendidikan atau pembelajaran merupakan bagian dari pembangunan manusia (human development) atau dalam cakupan yang lebih luas disebut pembangunan komunitas (community development).

Perpustakaan umum sebagai institusi publik menciptakan model sosial (menyediakan manfaat yang sama bagi semua) karena kedudukannya sebagai institusi universal dan tempat pertemuan sosial (Vanheim. dan menyediakan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. peran yang optimal dapat dicapai apabila memiliki aksesibilitas yang tinggi dari suatu komunitas yang menjadi market area-nya. prasarana pendukung lokasi. institusi pendidikan nonformal seperti perpustakaan umum juga memiliki peran penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran masyarakat. diasumsikan bahwa perpustakaan akan berperan lebih besar atau optimal dalam pemberdayaan manusia atau pembangunan komunitas. spesifikasi fisik fasilitas. Dengan kata lain.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan pembangunan manusia harus didukung oleh institusi pendidikan yang memadai baik daya tampung maupun relevansi (sesuai kebutuhan) untuk melayani semua anggota masyarakat. Dampak dari pembangunan 85 . motivasi pengguna. dan operasional perpustakaan. karakteristik demografi. Aksesiblitas yang tinggi tergantung pada berbagai faktor. Perpustakaan umum dapat berperan lebih besar untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia apabila fasilitas ini mudah dijangkau. Berdasarkan literatur. Apabila persyaratan tersebut dapat dipenuhi. Selain institusi pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. memiliki daya tarik. 2008). faktor-faktor yang menjadi persyaratan perencanaan fasilitas perpustakaan umum dapat diidentifikasi antara lain: faktor lokasi.

dan dependen seperti terlihat pada Gambar 6. pertumbuhan modal manusia. Variabel tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis yaitu variabel independen. kajian atau analisis tentang lokasi memperoleh penekanan khusus dalam penelitian ini. 2009). peran komunitas lokal dan aktivitas mereka dalam pengembangan wilayah. mediasi. pendekatan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan pengembangan wilayah endogen (Szajnowska-Wisocka. Selain itu. yaitu suatu pendekatan yang tumbuh dari dalam dan lebih menekankan pada pembangunan sosial. berdasarkan literatur juga dapat dikemukakan bahwa dari sejumlah variabel penentu keberhasilan pemberdayaan manusia melalui penggunaan fasilitas perpustakaan seperti disebutkan di atas. Variabel dan Indikator Ada sejumlah variabel yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan perpustakaan umum di wilayah perkotaan. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas. Aspek lokasi semakin penting perannya dalam perencanaan perpustakaan umum terutama di kota-kota besar yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Oleh karena itu. faktor lokasi merupakan variabel utama yang paling menentukan. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum komunitas ini pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kapasitas penduduk atau masyarakat untuk menggerakkan potensi pengembangan wilayah.Bab VI.1 86 .

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Gambar 6.1: Variabel dan Indikator 87 .

Bab VI. Variabel operasional perpustakaan diukur dengan indikator: sistem pelayanan. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum Variabel independen terdiri dari: variabel lokasi. dan ras. parkir. bahasa. taman dan halaman. prasarana pendukung lokasi. perabotan. jenis pekerjaan dan keterbatasan fisik. Variabel lokasi diukur dengan indikator: jarak antara pengguna dengan lokasi perpustakaan. jumlah halaman bahan perpustakaan difotokopi. fasilitas umum dan fasilitas bagi pengguna yang memiliki keterbatasan fisik. suku. jumlah pinjaman buku. operasional perpustakaan. Variabel prasarana pendukung lokasi diukur dengan indikator: transportasi (angkutan umum). 88 . lobby gedung. Variabel motivasi pengguna diukur dengan indikator: motivasi yang bersumber dari dalam diri pengguna dan motivasi yang bersumber dari luar diri pengguna. jenis pelayanan. spesifikasi fisik. tata letak ruangan. lama kunjungan. peraturan perpustakaan. kapasistas ruangan. Variabel mediasi yaitu penggunaan perpustakaan diukur dengan indikator: frekuensi kunjungan. dan motivasi pengguna. koleksi. karakteristik demografi. Variabel spesifikasi fisik perpustakaan diukur dengan indikator: kondisi gedung. dan waktu yang digunakan untuk akses Internet. kondisi prasarana jalan dan peta lokasi. Variabel karakteristik demografi diukur dengan indikator: umur. pendapatan. pendidikan. waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau perpustakaan umum. agama. jenis kelamin. sistem temu balik dan program perpustakaan.

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Variabel dependen yaitu pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang diukur dengan indikator: peningkatan pengetahuan. daya nalar. minat baca. Ketersediaan trayek angkutan umum dari tempat tinggal atau tempat bekerja/sekolah/kampus untuk menjangkau lokasi 2 Prasarana Pendukung Lokasi Perpustakaan 89 . dan kepedulian sosial. kemampuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tabel 6.1 Daftar Variabel dan Indikator No 1 Variabel Lokasi Perpustakaan Indikator a. Waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau lokasi dari tempat tinggal d. kemandirian. Jarak tempat tinggal pengguna dengan lokasi b. kemampuan berinteraksi. prestasi belajar/kerja. apresiasi seni budaya. keterampilan. penguasaan informasi. literasi informasi. kreativitas. Waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau lokasi dari tempat bekerja/sekolah/kampus a. emotional quotient (EQ). Jarak tempat bekerja/sekolah/kampus pengguna dengan lokasi c.

Suku. Ketersediaan fasilitas jalan utama menuju lokasi dari tempat tinggal atau tempat bekerja/sekolah/kampus c. Jenis kelamin pengguna c. Luas lantai dan keadaan fisik bangunan b. Petunjuk jalan untuk menjangkau lokasi a. Ketersediaan pedestrian d. agama. Kondisi prasaran jalan untuk menjangkau lokasi f. Kapasitas ruangan: ruang baca. 90 . Tingkat pendidikan pengguna d. Kemampuan bahasa pengguna e. dan ras pengguna f. Ketersediaan fasilitas koridor penghubung dari tempat pemberhentian kenderaan umum dan pribadi menuju lokasi e. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum No Variabel Indikator b.Bab VI. Usia pengguna b. Cacat fisik dan keterbatasan fisik 3 Karakteristik Demografi Penduduk 4 Spesifikasi Fisik Gedung Perpustakaan a. Tingkat ekonomi pengguna g.

Koleksi e. Lobby gedung h. Fasilitas bagi keterbatasan fisik 5 Operasional Perpustakaan a. Taman atau halaman f. Tata letak ruangan d. Perabotan e. Sistem pelayanan menyangkut jam buka dan waktu pelayanan b. Fasilitas umum i. Sistem temu balik f. Mencapai prestasi c.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan No Variabel Indikator ruang diskusi. Jenis-jenis pelayanan c. Fasilitas parker g. Peraturan d. ruang referensi dan ruang akses internet c. Pengembangan diri 91 . ruang koleksi. Program 6 Motivasi Pengguna a. Pemenuhan kebutuhan informasi b.

Lama kunjungan c. Emotional Quotient d. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum No Variabel Indikator d. Menyelesaikan tugas-tugas h. Kreativitas f.Bab VI. Keterampilan c. Daya nalar 92 . Penguasaan informasi g. Waktu akses internet 7 Penggunaan Perpustakaan 8 Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia a. Mencapai harapan yang lebih baik g. Mencapai tujuan kegiatan bersama a. Kegemaran mebaca f. Literasi informasi h. Jumlah halaman difotokopi e. Kesadaran sendiri e. Frekuensi kunjungan b. Peningkatan pengetahuan b. Jumlah pinjaman d. Apresiasi seni budaya e. Minat baca i.

dan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi. Kepedulian sosial Definisi Operasional Variabel dan Indikator (1) Lokasi adalah letak perpustakaan yang berkaitan dengan jarak tempat tinggal. (2) Prasarana pendukung lokasi adalah seluruh prasarana yang mendukung pencapaian lokasi perpustakaan dalam rangka penggunaan perpustakaan. a.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan No Variabel Indikator j. Prestasi belajar/kerja k. tempat bekerja/sekolah/ kampus pengguna dengan lokasi perpustakaan. Kemampuan teknologi informasi dan komunikasi l. Waktu tempuh adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau lokasi perpustakaan dari tempat tinggal. Kemampuan berinteraksi m. tempat bekerja/sekolah/ kampus pengguna. 93 . b. Jarak adalah jarak dalam kilometer dari tempat tinggal. tempat bekerja/sekolah/kampus pengguna. Kemandirian n.

Petunjuk jalan adalah sistem petunjuk (sign system) yang dapat digunakan untuk memandu pengguna menjangkau lokasi perpustakaan. Kondisi prasarana jalan adalah kualitas prasarana jalan untuk menjangkau lokasi perpustakaan. g. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum (3) a. Peta lokasi adalah petunjuk yang dapat memudahkan pengguna untuk mengetahui lokasi perpustakaan. Karakteristik demografi adalah ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh pengguna perpustakaan umum seperti: umur. Trotoar adalah fasiltas bagi pengguna yang berjalan kaki untuk menjangkau lokasi Perpustakaan. jenis kelamin. b. e. Koridor adalah bangunan penghubung dari tempat pemberhentian kenderaan umum dan pribadi menuju lokasi perpustakaan. bahasa. Trayek angkutan umum adalah moda transpotasi yang tersedia dari tempat tinggal atau tempat bekerja/sekolah/kampus pengguna untuk menjangkau lokasi perpustakaan c.Bab VI. Fasilitas jalan utama adalah jalan yang langsung menuju lokasi dari tempat tinggal atau tempat bekerja/sekolah/kampus pengguna. 94 . d. f. pendidikan.

Agama adalah agama yang dianut oleh pengguna. taman dan halaman.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan (4) suku. Keterbatasan fisik adalah cacat fisik dan keterbatasan fisik pengguna perpustakaan. jenis pekerjaan. dan keterbatasan fisik. ruangan. Umur adalah usia pengguna. fasilitas umum dan sebagainya. i. d. c. Bahasa adalah bahasa yang digunakan oleh pengguna sehari-hari dalam berkomunikasi di dalam masyarakat. e. tata letak ruangan. parkir. sekolah lanjutan tingkat pertama. Jenis kelamin adalah gender pengguna yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. gaya hidup. f. Pendapatan adalah tingkat ekonomi pengguna. Suku adalah suku yang dimiliki oleh pengguna. dan perguruan tinggi. a. Spesifikasi fisik adalah hal-hal yang menyangkut keadaan fisik gedung perpustakaan umum seperti kondisi gedung. h. b. agama. sekolah lanjutan tingkat atas. Pendidikan adalah tingkat pendidikan pengguna yang terdiri dari tingkat sekolah dasar. lobby. perabotan. kebangsaan. pendapatan. Ras adalah kelompok etnik pengguna. sekuriti. 95 . g. penerangan.

Parkir adalah areal untuk pengguna menempatkan kenderaannya. h. Perabotan adalah segala peralatan dan perabotan yang digunakan oleh perpustakaan dan pengguna dalam melakukan kegiatan perpustakaan. keadaan fisik bangunan.Bab VI. c. dan sebagainya. Kapasitas ruangan adalah daya tampung ruangan untuk mengakomodasi kegiatan dan pelayanan perpustakaan mencakup: kapasitas ruang baca. ruang koleksi. Taman dan halaman adalah areal di luar gedung yang termasuk lingkungan yang mendukung kegiatan perpustakaan. Fasilitas umum adalah fasilitas perpustakaan yang dapat digunakan oleh pengguna untuk 96 . Lobby perpustakaan adalah ruangan di dalam gedung yang letaknya sebelum memasuki ruang pelayanan perpustakaan. d. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum a. e. g. Kondisi gedung adalah hal-hal yang berkaitan dengan keadaan dan bentuk fisik perpustakaan umum seperti luas lantai. f. Tata letak ruangan adalah penataan peralatan dan perabotan yang terdapat pada perpustakaan sehingga sesuai dengan fungsi dan kebutuhan pengguna. ruang referensi dan ruang akses internet. b. ruang diskusi.

i. peraturan. dan bantuan penggunaan perpustakaan. Peraturan adalah tata tertib penggunaan perpustakaan yang dirumuskan secara tertulis dan telah mendapat pengesahan dari 97 . toilet. Sistem pelayanan adalah prosedur atau mekanisme kerja yang diterapkan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. a. sistem temu balik. referensi/rujukan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan (5) kegiatan di luar kegiatan perpustakaan seperti kantin. tempat ibadah. fotokopi. ATM bank. Fasilitas bagi pengguna yang memiliki keterbatasan fisik adalah fasilitas yang memungkinkan seseorang dengan keterbatasan fisik dapat menggunakan perpustakaan seperti orang lainnya yang tidak memiliki keterbatasan fisik. jenis pelayanan. Operasional adalah seluruh proses pelaksanaan kegiatan pelayanan perpustakaan yang mencakup sistem pelayanan. Aspek ini mencakup jam buka dan waktu pelayanan perpustakaan umum. program perpustakaan. c. Jenis ini biasanya terdiri dari pelayanan sirkulasi. Jenis pelayanan adalah ragam pelayanan yang diberikan perpustakaan umum kepada pengguna. koleksi. dan sebagainya. dan bantuan pengguna (pendidikan pemakai). audiovisual. akses internet. b.

Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum (6) lembaga induk perpustakaan. d. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari diri pengguna sangat berperan dalam penggunaan perpustakaan umum. Motivasi ekstrinsik adalah yang bersumber dari luar diri pengguna adalah dorongan menggunakan perpustakaan karena faktor dari luar diri pengguna. Motivasi adalah dorongan atau kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmenya dalam menggunakan perpustakaan. Sistem temu balik adalah alat yang digunakan oleh pengguna perpustakaan dalam rangka pencarian dan penemuan kembali koleksi di rak koleksi. diberlakukan bagi semua pengguna. e.Bab VI. Koleksi adalah seluruh sumber daya informasi yang dimiliki oleh perpustakaan dan dilayankan kepada pengguna. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). 98 . a. b. f. Program adalah seluruh program yang ditawarkan oleh perpustakaan umum dalam rangka diseminasi informasi dan sosialisasi penggunaan fasilitas.

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan (7) (8) Penggunaan adalah seluruh aktivitas yang dilakukan oleh pengguna dalam rangka memanfaatkan seluruh fasilitas layanan perpustakaan umum. d. Frekuensi kunjungan adalah jumlah kunjungan yang dilakukan seorang pengguna ke perpustakaan umum setiap bulannnya. Kualitas sumber daya manusia adalah menyangkut kemampuan intelektual pengguna perpustakaan 99 . Jumlah halaman difotokopi adalah jumlah halaman dokumen atau bahan yang difotokopi oleh pengguna di dalam gedung perpustakaan. Waktu akses Internet adalah waktu yang digunakan setiap pengguna untuk mengakses Internet di dalam gedung perpustakaan dalam setiap kali melakukan akses atau menggunakan Internet. Lama kunjungan adalah jumlah waktu yang diluangkan atau digunakan oleh pengguna untuk setiap kali melakukan kunjungan ke perpustakaan. e. a. c. Peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah mutu sumber daya manusia yang menyangkut kemampuan intelektual dan spiritual. Jumlah pinjaman adalah banyaknya buku yang dipinjam oleh setiap pengguna dalam kurun waktu satu bulan. b.

Bab VI. sehingga mampu menikmati dan menilai karya seni budaya tersebut secara semestinya. Keterampilan pengguna adalah kemampuan pengguna untuk melakukan pola tingkah laku yang kompleks baik yang bersifat psikomotorik maupun yang bersifat kognitif untuk mencapai hasil tertentu. a. EQ pengguna diasumsikan dapat meningkat dan berkembang apabila menggunakan perpustakaan umum dengan baik. b. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum umum yang dapat meningkat karena penggunaan perpustakaan umum. Kreativitas adalah daya cipta pengguna untuk menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat. Peningkatan pengetahuan adalah bertambah dan berkembangnya pengetahuan pengguna karena menggunakan perpustakaan dengan baik. d. e. Emotional quotient (EQ) adalah keterampilan pengguna perpustakaan untuk mengenali dan mengelola perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain. c. Apresiasi seni budaya adalah upaya pengguna dalam mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni budaya serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik dari karya seni budaya. Penggunaan seluruh fasilitas perpustakaan 100 .

Penguasaan informasi adalah penguasaan pengetahuan atau informasi mutakhir pengguna tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan bidang pekerjaan atau profesinya. mencari dan menentukan informasi yang dibutuhkannya. h. Kemampuan berinteraksi adalah kemampuan melakukan hubungan timbal balik antara individu. l. Minat baca adalah hasrat pengguna terhadap bahan bacaan yang mendorong munculnya keinginan atau kemampuan untuk membaca dan diikuti oleh kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Literasi informasi adalah kemampuan pengguna untuk memahami kebutuhan informasi. individu dengan kelompok. maupun antar kelompok yang saling mempengaruhi sehingga memiliki efek satu sama lain. j. g. Kemampuan menggunakan perangkat TIK adalah kemampuan menggunakan komputer baik sebagai peralatan stand alone maupun sebagai terminal dalam suatu jaringan. i. f. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan. Daya nalar adalah kecerdasan yang dimiliki pengguna dalam proses berpikir secara rasional atau secara logis. k. 101 .Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan diasumsikan dapat meningkatkan kreativitas pengguna untuk berbagai bidang.

Kemandirian adalah sikap yang mengutamakan kemampuan diri sendiri dalam mengatasi berbagai masalah demi mencapai suatu tujuan. tanpa menutup diri terhadap berbagai kemungkinan kerjasama yang saling menguntungkan. n. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perpustakaan Umum m. 102 . Kepedulian sosial adalah minat atau ketertarikan seseorang untuk membantu orang lain. sikap peduli dengan orang-orang yang secara ekonomi adalah lemah dan perlu dibantu tidak lepas dari budi pekerti yang luhur.Bab VI.

karakteristik demografi pengguna. Untuk tujuan tersebut telah dirumuskan dua pertanyaan utama yaitu: (1) Apakah lokasi. Lima dari enam variabel tersebut memiliki pengaruh yang 103 . prasarana pendukung lokasi. spesifikasi fisik dan operasional perpustakaan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan BAB VII PENGEMBANGAN MODEL LOKASI PERPUSTAKAAN UMUM SPASIAL Seperti dikemukan sebelumnya bahwa untuk mengetahui berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan lokasi perpustakaan umum yang dapat meningkatkan partisipasi penduduk dalam penggunaannya sehingga memiliki peran yang lebih besar dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi pengembangan wilayah di suatu kota. prasarana pendukung lokasi. serta motivasi pengguna berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan umum. dan (2) Apakah penggunaan perpustakaan berpengaruh terhadap pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. dan motivasi pengguna yang diuji untuk menjawab pertanyaan pertama terbukti berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap enam variabel independen yaitu lokasi. spesifikasi fisik. operasional perpustakaan.

dan motivasi pengguna merupakan faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan suatu sistem perpustakaan umum kota agar optimalisasi tujuan penyediaan fasilitas tersebut dapat tercapai. Selanjutnya. operasional perpustakaan. Pengaruh keenam vaiabel independen terhadap penggunaan perpustakaan yang didukung oleh data empiris berdampak pada frekuensi kunjungan. lama kunjungan. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial signifikan. jumlah halaman bahan perpustakaan yang difotokopi. sesuatu yang baru dalam pengujian untuk menjawab pertanyaan pertama ini adalah teridentifikasinya sejumlah variabel disertai indikator masing-masing yang berperan dalam penggunaan perpustakaan. Hal ini berarti bahwa lokasi. spesifikasi fisik. dan satu variabel yaitu karakteristik demografi pengguna memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan. penggunaan perpustakaan yang diuji untuk menjawab pertanyaan kedua juga terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dampak dari penggunaan perpustakaan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sebenarnya sudah merupakan sesuatu yang umum 104 .Bab VII. Selain itu. prasarana pendukung lokasi. jumlah pinjaman. Pengaruh penggunaan perpustakaan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia menunjukkan bahwa perpustakaan umum memiliki peran penting dalam pengembangan wilayah di mana salah satu pilarnya adalah sumber daya manusia. dan waktu yang dipakai untuk penggunaan Internet.

2001). Model dimaksud adalah bahwa pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas 105 . Model dan Konsep Melalui sebuah penelitian yang dilakukan dibangun dan dihasilkan sebuah model untuk mengetahui apakah perpustakaan umum di suatu wilayah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menggerakkan potensi pengembangan wilayah. 1981). literasi informasi. minat baca. daya nalar. apresiasi seni budaya. Sumber daya manusia atau penduduk suatu wilayah memegang peranan strategis dalam pengembangan wilayah (Nachrowi dan Suhandojo. pengetahuan. dan kepedulian sosial. kemampuan berinteraksi. kreativitas. kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Sesuatu yang baru dari hasil pengujian terhadap pertanyaan kedua ini adalah apa saja dampak yang dihasilkan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan diketahui karena salah satu tujuan penyediaan fasilitas ini adalah untuk tujuan tersebut. Dampak dari pengaruh penggunaan perpustakaan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia yang didukung oleh data empiris adalah dalam hal peningkatan: kemandirian. prestasi belajar. Dampak tersebut merupakan bagian dari capacity building untuk memenuhi kebutuhan meraih hasil dan prestasi seseorang dan merupakan ciri dari manusia modern (McClelland. keseimbangan emosi. keterampilan. penguasaan informasi.

operasional perpustakaan (OP). Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial sumber daya manusia PSDM dapat ditingkatkan atau dipengaruhi oleh penggunaan perpustakaan (PP). prasarana pendukung lokasi (PL). prasarana pendukung lokasi (PL). maka lokasi (L). operasional perpustakaan (OP).Bab VII. harus menjadi prioritas dalam perencanaan perpustakaan umum. dan motivasi pengguna (MP). spesifikasi fisik perpustakaan (SF). Oleh karena itu. dengan model sebagai berikut: PP = α1L1 + α2PL2 + α3KD3 + α4SF4 + α5OP5 + α6MP6 + e46 Berdasarkan model di atas. dapat dikatakan bahwa apabila kualitas sumber daya manusia (PSDM) ingin ditingkatkan maka penggunaan perpustakaan (PP) harus dioptimalkan. karakteristik demografi pengguna (KD). Selanjutnya apabila optimalisasi ingin dicapai. dan motivasi pengguna (MP). jika pemerintah suatu kota ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia. dan harus dimasukkan sebagai salah satu komponen dalam perencanaan wilayah kota. 106 . maka optimalisasi penggunaan perpustakaan umum harus mendapat perhatian. spesifikasi fisik perpustakaan (SF). Hal ini didukung dengan pernyataan Hoover dan Giarratani (2009). karakteristik demografi pengguna (KD). dengan model matematis sebagai berikut: PSDM = α1PP + e47 Akan tetapi penggunaan perpustakaan (PP) dapat ditingkatkan atau dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu lokasi (L).

yaitu (1) lokasi dan prasarana pendukung lokasi perpustakaan. Kedudukan ketiga faktor tersebut dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka pengembangan wilayah dapat digambarkan seperti terlihat pada Gambar 7. Apabila institusi perpustakan umum diharapkan dapat lebih berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka pengembangan wilayah perkotaan. maka ketiga aspek tersebut harus menjadi perhatian para perencana kota. 107 . Ketiga faktor tersebut dapat dikatakan sebagai inti (core) peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan. dan (3) motivasi dan karakteristik demografi pengguna potensial atau penduduk.1.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan pakar regional science yang menyatakan bahwa pentingnya komponen perpustakaan umum untuk dimasukkan dalam perencanaan wilayah perkotaan. Berdasarkan variabel yang diteliti dapat diringkaskan bahwa ada tiga faktor utama yang berperan dalam keberhasilan peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah kota besar melalui pemanfaatan institusi perpustakaan umum. (2) daya tarik fisik dan operasional perpustakaan.

Bab VII.1 menunjukkan bahwa tiga faktor yaitu lokasi dan prasarana pendukung lokasi perpustakaan. Sumber daya manusia merupakan satu dari tiga pilar pengembangan wilayah. daya tarik fisik dan operasional perpustakaan.1: Tiga Faktor Berperan dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia melalui Penggunaan Perpustakaan Umum Gambar 5. Dua pilar lainnya adalah sumber daya alam dan teknologi. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial Gambar 7. dan motivasi dan karakteristik demografi penduduk berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. 108 .

Walaupun perpustakaan memiliki daya tarik yang kuat dengan fasilitas yang disediakannya. maka penggunaannya sulit diharapkan optimal. yang tidak kalah pentingnya adalah koleksi dan fasilitas yang disediakan harus sesuai dengan kebutuhan kelompok penduduk. Sebaliknya. Daya tarik selain spesifikasi fisik gedung dan operasional perpustakaan. maka upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perpustakaan tidak akan tercapai secara maksimal. Temuan tersebut 109 . daya tarik fisik dan operasional menjadi tanggung jawab manajemen perpustakaan. Aspek lokasi dan prasarana lokasi perpustakaan seharusnya menjadi domain dari perencanaan perkotaan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya pemanfaatan fasilitas perpustakaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. walaupun lokasi perpustakaan tersebar dalam kedekatan yang dapat diterima oleh penduduk tetapi tidak memiliki daya tarik. Di sisi lain. penelitian ini juga memunculkan beberapa temuan spesifik yang bermakna untuk diuraikan selanjutnya. motivasi dan karakteristik demografi penduduk adalah menjadi dasar pertimbangan untuk mengembangkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan penduduk sebagai pengguna potensial pelayanan perpustakaan umum. tetapi jika perpustakaan tidak berlokasi dalam jarak yang akseptabel bagi penduduk. Selain menghasilkan sebuah model. dan penduduk termotivasi untuk menggunakannya.

Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial dapat dijadikan sebagai masukan atau dasar pertimbangan baik dalam perencanaan fasilitas perpustakaan umum maupun sebagai pertimbangan dalam penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini.Bab VII. jalan utama. dan tanda petunjuk. Penelitian sebelumnya yang dilakukan dan banyak diterapkan di negara maju seperti Amerika Serikat bahwa jarak ideal adalah ≤ 3 mil atau 5.5 Km (Koontz. Lokasi dan Prasarana Pendukung Lokasi Ada dua hal yang sangat berpengaruh berkaitan dengan lokasi yaitu jarak (distance) dan waktu tempuh (travel time) untuk mencapai lokasi. Kedua faktor ini disebut dengan kedekatan (proximity). pedestrian. Perbedaan ini dapat dipahami kemungkinan selain disebabkan oleh faktor kondisi transportasi juga karena tingkat mobilitas yang berbeda di antara kedua wilayah tersebut. Berdasarkan harapan pengguna dapat dinyatakan bahwa jarak yang ideal yang diinginkan adalah ≤ 3 Km. 110 . Faktor tersebut akan dibahas berikut ini. Jarak Temuan baru yang sekaligus membedakannya dengan penelitian sebelumnya adalah jarak antara tempat tinggal pengguna dan waktu tempuh untuk mencapai lokasi perpustakaan umum. 1997). Hal-hal penting berkaitan dengan prasarana pendukung lokasi adalah ketersediaan angkutan umum.

Jumlah berdasarkan jarak ini dipandang lebih rasional dibandingkan dengan hasil perhitungan 67 unit berdasarkan standar minimal 1 unit untuk setiap 30. 111 . standar yang dibuat oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah tersebut yang perhitungannya didasarkan pada jumlah penduduk bukan pada jarak atau waktu tempuh harus dikoreksi. Seyogianya jumlah penduduk tidak digunakan untuk mengestimasi jumlah unit fasilitas tetapi dapat digunakan untuk mengestimasi luas atau kapasitas suatu unit di suatu market area yang menjadi wilayah target suatu perpustakaan cabang. Misalnya di suatu wilayah dalam radius 6 Km terdapat jumlah penduduk sebanyak 90.000 penduduk seperti dikemukakan oleh Wheeler and Goldhor (1962) dan ditetapkan oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (2001). maka tidak perlu dibangun 3 unit perpustakaan tetapi cukup 1 unit dengan kapasitas yang lebih luas (tiga kali kapasitas minimal) karena pilihan ini dipandang lebih efisien baik dari sisi manajemen maupun pengguna.000 jiwa.2). Jika sebuah kota berpenduduk sekitar 2 juta jiwa.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Jarak 3 Km bermakna bahwa di suatu kota idealnya terdapat perpustakaan umum sebagai fasilitas publik pada setiap radius 6 Km atau jarak antara satu titik fasilitas dengan fasilitas lainnya adalah 6 Km. Sehubungan dengan itu. maka dibutuhkan fasilitas perpustakaan yang terdapat minimal di 10 lokasi (lihat Gambar 6.

Bab VII. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial Gambar 7.2: Ilustrasi Distribusi Lokasi Fasilitas dan Market Area Perpustakaan Umum Kota 112 .

Trayek angkutan umum merupakan indikator yang terkuat untuk 113 . demikian juga halnya bagi pengguna perpustakaan umum. faktor jarak dapat diabaikan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Waktu Tempuh Waktu tempuh yang diinginkan oleh pengguna untuk menjangkau fasilitas perpustakaan adalah maksimal 30 menit. jalur kereta api. Faktor jarak dan waktu tempuh dapat dikombinasikan dalam perencanaan perpustakaan umum kota berdimensi spasial. dan arah arus lalu lintas yang dapat menyebabkan waktu tempuh lebih penting dari pada jarak. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Leonard Grundt pada tahun 1963 yang menemukan bahwa waktu tempuh ideal adalah 20 menit dengan menggunakan angkutan umum (Koontz. Angkutan Umum Angkutan umum merupakan moda transportasi paling banyak digunakan di wilayah perkotaan. Hal ini perlu dipertimbangkan berkaitan dengan faktor-faktor penghalang yang biasanya terdapat di kota-kota besar seperti keberadaan komplek industri. 1997). Pennsylvania dan New Jersey yaitu 20 hingga 30 menit waktu tempuh (Koontz. Dengan kata lain. Temuan ini juga mendukung penelitian yang dilakukan oleh Thomas Shaughnessy terhadap penggunaan perpustakaan umum di New York. apabila waktu tempuh dapat dipenuhi maksimal 30 menit menggunakan kenderaaan umum. jalan tol. 1997).

parkir kendaraan. semua perpustakaan umum kota termasuk cabangnya seharusnya berada pada jalur angkutan umum. perabotan. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial mengukur variabel prasarana pendukung lokasi.Bab VII.). tata letak ruangan. taman. fasilitas umum (kafe. telepon umum. spesifikasi fisik gedung menjadi hal penting yang harus diperhatikan untuk meningkatkan penggunaan perpustakaan. Kedua hal ini turut menentukan apakah sebuah fasilitas perpustakaan diminati atau tidak oleh penduduk. dan akses bagi penyandang cacat dan keterbatasan 114 . Hal ini sesuai dengan pernyataan ALA (1956) yang menyatakan bahwa lokasi perpustakaan umum harus dekat dengan angkutan umum. Daya Tarik Fisik dan Operasional Terdapat dua faktor yang berpengaruh dalam penggunaan perpustakaan dari sisi manajemen dan operasional perpustakaan yang menjadi daya tarik bagi penduduk yaitu spesifikasi fisik gedung dan operasional perpustakaan. Oleh karena itu. toilet. dsb. Hal ini berarti bahwa dalam perencanaan fasilitas perpustakaan umum. lobby gedung. Spesifikasi fisik dalam perencanaan gedung mencakup kapasitas ruangan. Spesifikasi Fisik Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spesifikasi fisik gedung berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan perpustakaan.

Hal ini sudah terbukti di negara-negara lebih maju. koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Operasional Operasional perpustakaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan perpustakaan.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan fisik. dapat dipastikan bahwa perpustakaan akan menarik minat lebih banyak penduduk untuk menggunakannya. Penyediaan fasilitas akses Internet terutama bagi anggota masyarakat yang tidak memilikinya di rumah dan bahan perpustakaan bagi yang tidak mampu membelinya menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan teknologi dan pengetahuan yang terjadi di dalam masyarakat. jenis-jenis pelayanan termasuk fasilitas akses Internet. di mana perpustakaan menjadi salah satu tujuan perjalanan penduduk seperti halnya mereka mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan dan tempattempat hiburan. dan program atau event yang ditawarkan oleh perpustakaan kepada masyarakat. dalam merencanakan pelayanan perpustakaan harus diperhatikan indikator-indikator pendukung operasional seperti waktu pelayanan. sistem temu balik koleksi. Pajak yang dikumpulkan terutama dari 115 . maka akan semakin meningkatkan penggunaan perpustakaan. Oleh karena itu. Apabila kenyamanan gedung perpustakaan tidak kalah dengan gedung-gedung penting lainnya. peraturan penggunaan. Hal ini menunjukkan bahwa apabila semakin baik operasional perpustakaan.

Bab VII. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial

para pembayar pajak sudah seharusnya berperan lebih besar untuk mengurangi kesenjangan yang terdapat di dalam masyarakat. Motivasi dan Demografi Penduduk Motivasi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan Sementara, karakteristik demografi penduduk bukanlah merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan, namun bukan faktor negatif. Motivasi Hasil analisis menggunakan model struktural membuktikan bahwa motivasi berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi pengguna, maka akan semakin tinggi penggunaan perpustakaan. Oleh karena itu, motivasi mempunyai peran dalam peningkatan penggunaan perpustakaan. Motivasi dapat dibangun baik secara intrinsik (dari dalam diri) maupun ekstrinsik (dari luar diri) seseorang. Pemerintah kota dapat berperan membangun motivasi ekstrinsik penduduk melalui berbagai kegiatan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti institusi pendidikan, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat dan lainnya. Dengan membangun motivasi ekstrinsik akan terbangun motivasi intrinsik penduduk. Hasil ini mendukung penelitian Berg (2009) tentang dorongan untuk
116

Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan

penggunaan perpustakaan adalah keinginan dari dalam diri sendiri seperti motivasi untuk membaca dan menulis dan kebutuhan untuk mandiri. Demografi Penduduk Karakteristik demografi pengaruhnya tidak signifikan terhadap penggunaan perpustakaan umum. Karakteristik demografi penduduk meliputi usia, pendidikan, jenis kelamin, tingkat ekonomi, kemampuan bahasa, cacat fisik, suku, agama dan ras pengguna. Penelitian yang pernah dilakukan di negara maju menunjukkan bahwa faktor demografi berpengaruh signifikan terhadap penggunaan perpustakaan (Koonzt, 1992). Perbedaan ini kemungkinan disebabkan kondisi demografi penduduk yang berbeda antara negara maju dan negara berkembang seperti masalah bahasa, ras dan agama. Sekalipun secara teoritis bahwa karakteristik demografi berpengaruh terhadap penggunaan perpustakaan, akan tetapi dengan melihat data kategori karakteristik demografi pengguna di kota Medan, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada hambatan demografi dalam penggunaan perpustakaan. Hal ini sesuai dengan Public Library Manifesto (1994) yang menyatakan bahwa perpustakaan umum harus terbuka bagi semua orang tanpa membedakan warna kulit, jenis kelamin, usia, kepercayaan, dan ras.

117

Bab VII. Pengembangan Model Lokasi Perpustakaan Umum Spasial

Kesimpulan Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa lokasi, prasarana pendukung lokasi, karakteristik demografi pengguna, spesifikasi fisik, operasional perpustakaan, dan motivasi pengguna berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Penggunaan perpustakaan berpengaruh nyata terhadap pengembangan wilayah melalui peningkatkan kualitas sumber daya manusia. Lokasi berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Prasarana pendukung lokasi berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Karakteristik demografi berpengaruh tidak nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Spesifikasi fisik gedung perpustakaan berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Operasional perpustakaan berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Motivasi pengguna berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan perpustakaan umum. Sehubungan dengan itu, disarankan beberapa hal berkaitan dengan penggunaan perpustakaan umum untuk

118

Motivasi intrinsik pengguna harus ditingkatkan melalui kerja sama dengan berbagai pihak seperti keluarga. Selain itu. Operasional perpustakaan perlu diperluas agar memberikan fleksibilitas waktu pelayanan yang lebih besar bagi pengguna perpustakaan umum. Spesifikasi fisik setiap bangunan gedung perpustakaan umum harus memberikan kenyamanan dan dapat menampung pengguna potensial di suatu wilayah kerja yang menjadi market area masing-masing. Pemerintah kota disarankan untuk membangun sejumlah fasilitas perpustakaan umum di wilayah kota dalam satu sistem manajemen dan pelayanan terintegrasi. pemerintah kota seharusnya melibatkan dan memanfaatkan peran institusi perpustakaan umum untuk menggerakkan potensi wilayah kota sehingga kota dapat lebih berkembang dan maju dengan partisipasi yang lebih besar dari penduduknya. kelurahan. Prasarana pendukung lokasi perpustakaan umum sebaiknya dibangun atau difasilitasi agar aksesibilitas masyarakat terhadap perpustakaan tinggi.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah perkotaan. dan institusi pendidikan. 119 . Karakteristik demografi pengguna atau penduduk dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengembangkan koleksi dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Lokasi perpustakaan umum harus tersebar di wilayah kota agar dekat dengan tempat tinggal penduduk dan/atau waktu tempuh yang akseptabel bagi masyarakat.

“Kajian lingkungan hidup dalam pembangunan wilayah dalam konteks pembangunan infrastruktur pekerjaan umum”.vgtu. Mochammad (2007). Jamal Abdullah (1996). “The role of human capital in regional development. (17/2/2010). Adisasmita. Public library standards: A guide to evaluation with minimum standards. Amron. <http://www. Anna (2008).Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Abeltina.lt/leidiniai/leidykla/BUS_AND_MA NA_2008/soc-economical/483-489-G-ArtAbeltina. Rahardjo (2005). American Library Association. 120 . Chicago: American Library Association. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. “Perencanaan pembangunan berbasis teknologi: Sebuah pengantar”. sumber daya manusia. PhD Dissertation. dan teknologi. Alaqeeli. Dasar-dasar ekonomi wilayah. Dalam: Muchdie et al (Ed) Tiga pilar pengembangan wilayah: Sumber daya alam. Alkadri (2001). Yogyakarta: Graha Ilmu.pdf>. International students and public library use: An exploratory study. 5th International Scientific Conference Business and Management”. Indiana University. Coordinating Committee on Revision of Public Library Standards (1956).

University of Kansas. Jakarta: Pradya Paramita. <http://www. Brata.com/doc/19f4d27f-f951-4772834a-1fa017193351/comprehensive-public-facilitylocation-modeling>. Ary. No. Vol 7. Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Ekonomi Negara Berkembang. Teknik analisis pembangunan wilayah pesisir dan lanjutan. Budiharsono (2005). 2002.esnips. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktek. dan teknologi. Aloysius Gunadi (2002).” East Lakes Geographer 10. William D. and Bruce W. Dalam: Muchdie et al (Ed) Tiga pilar pengembangan wilayah: Sumber daya alam. (2003) “Comprehensive Public Facility Location Modeling”. Margaret A. “Pembangunan manusia dan kinerja ekonomi regional di Indonesia”. Suharsimi (1998). Arikunto. Bennet. Smith (1975). Subroto (2001). (17/09/2008). Motivation and discourse in a literate environment: A case study of a young adult library. PhD Dissertation. 2.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Makalah disampaikan dalam Dies Natalis Universitas Gadjah Mada Ke-58. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. 121 . Yogyakarta: 27 Oktober. “Peranan sumber daya manusia dalam pengembanan wilayah di Indonesia”. sumber daya manusia. (2009). Berg. “The correlates of library patronage distance decay. Antunes and Bigotte. Jakarta: Rineka Cipta. Faculty of the Graduate School.

T. L. 6 (3). R. PhD Dissertation. J. R. algorithms. Coughlin. “A paradigm for public facility location theory”. European Journal of Operational Research. Church. Network and discrete location: Models. (1972). “Theoretical and computational links between the p-median location set-covering and the maximal covering location problem”. 111: 423-447. ReVelle (1976). J. Chruch. City of Sydney (2005).Daftar Pustaka Calcuttawala. IFLA Newsletter. (1974). Sydney: CRED Community Planning. E. (1995). M. Connecticut: Greenwood Publishing. R. Min. Murray (2009). Business site selection. dan A. and D. and applications. and C. Urban Analysis for branch library system planning. 80. Daskin. Daskin. Knowledge stores: The spatial dynamics of public library accessibility and consumption in Calcutta. University of Cincinnati. Geographical Analysis. S. European Journal of Operational Research. (January 2009). 46-50. <www. “Multiobjective analysis of facility location decisions”. “Strategic facility location: A review”.org/shs/urban>. and GIS. H. Library network strategy.unesco. Current. Brigitte (2009). location analysis. “Building up education towards sustainable urban development”. Antipode. M. New York: Wiley Interscience.. Colin. S. Schilling (1990). Zohra (2004). Mark S. 8: 406-415. 49: 295-307. Dear. and Susan Hesse Owen (1998). 122 .L. Toronto: John Wiley and Sons.

(2006). “Facility location when demand is time dependent”. Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum. Structural equation modelling dalam penelitian manajemen: Aplikasi model-model rumit dalam penelitian untuk tesis S-2 dan disertasi S-3. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro. L. K. dan program strategis. 59(5). and G. Z.. O. Edmunds. 38: 763-777. <http://www. 123 . 414-424. Ferdinand. “What teachers can learn about reading motivation through conservation with children”. kebijakan. Naval Research Logistics. Direktorat Jenderal Penataan Ruang (2005). 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang.creativeclass. tantangan. strategi. the creative class and tolerance.com/rfcgdb/articles/Insid e_the_Black_Box_of_Regional_Development. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. & Bauserman. Drezner. Florida. The Reading Teacher. M. Penyelenggaraan penataan ruang: Permasalahan. Inside the balck box of regional development: human capital. Charlotta Mellander dan Kevin Stolarick (2007). K. Richard. Jakarta: Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum.pdf>. (2002). A. Welowsky (1991).Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2001). Jakarta: Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

Structural Equation Modeling: Teori. T. “Motivating students to read: Evidence for classroom practices that increace reading motivation and achievement”. Imam dan Fuad (2005). and M. M. N. Guthrie. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 59-85.54. Janet Lynch (1996). Analisis multivariat dengan program SPSS. Model persamaan struktural. Florida State University. The public library service: IFLA/UNESCO Guidelines for Development. (2004). T. and Humenick. Imam (2004). The Joint Center for Urban Studies of M. Working Paper No. München: K. A study of reading and library use among Nobel Laureates. Brookes Publishing.Daftar Pustaka (17/2/2010). and Harvard University Gill. Getz. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Davis (2003). “The efficient level of public library services”. dan aplikasi dengan program Lisrel 8. Reading and Writing Quarterly. G. Forde. Imam (2004). “Motivating struggling readers in middle school through an engagement model for classroom practice”. In P. Philip et al. Baltimore: Paul H. Gozali.). Guthrie. T. 19. J. Chhabra (Eds. Saur Verlag. Gozali. H. The voice of evidence in reading research. McCardle and V. Gozali. (1978). konsep. 55 (October). (2001). Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro. J. 124 . PhD Dissertation. I.

P.regionalscience> (27/12/2009). A. al (1998). 12: 450-459. Hodgart. Broaddus (2001). (1973). “Just plain reading: A survey of what makes student want to read in the middle school classroom”. “Concepts of equity. Social justice and the city. Mahmah. 20: 500-508. III. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. (1995). P. L. NJ: Lawrence. In M. “Engagement and motivation in reading”. “Optimizing access to public services”. Hoover and Giarratani (2009). L. Ivey. A. Progress in Human Geography. J. Hakimi. et. D. Handbook of Reading Research (Vol. Hay. (1978). Transactions of the Institute of British Geographers. “Optimum locations of switching centers and the absolute centers and medians of a graph”. Indonesia (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.). Reading Research Quarterly. 2: 17-48. Kamil. pp. Operations Research. G. R. <www. And K. New Jersey: Prentice Hall. (2000). (1964). 125 . “Some spatial aspects of urban problems” In: Web Book of Regional Science: An introduction to regional economics. S. Maryland: John Hopkins University Press. Pearson and R. B. Harvey. D. fairness and justice in geographical studies”. Hair. Indonesia (2007). T. L.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Guthrie. 403-422). Multivariate data analysis. Barr (Eds. M. and Wigfield. Mosenthal.

“A neighborhood analysis of public library use in New York City”. dan wilayah. (1992). Bandung: Penerbit ITB. and Hongmian Gong (2005). 350-377. “Public library site evaluation and location: past and present market-based modelling tools for the future”. 14: 379-409. (1994).14: 379-409. Andrea C. Tata guna tanah dalam perencanaan pedesaan. Amsterdam: Vrije University. Westport: Greenwood Press. “Chapter 10: Retail location theory: Can it help solve the public library location dilemma?” in Geiner. Koontz. Christine M. Koomen. (1992). Koontz. (1992). 126 . Spatial analysis in support of physical planning. (2008). Christine M. M. Library and Information Science Research.Daftar Pustaka 36(4). Koontz. 75(4): 446-463. Koontz. Japzon. An investigation of the relationship between public library use pattern and local economic conditions in twenty urban areas: 19601979. Research Issues in Public Librarianship. perkotaan. Library Quarterly. Christine M. University of Wisconsin Madison. (Ed. E. Westport: Greenwood Press. Stephen Elisa (1983). “Public library site evaluation and location: past and present market-based modelling tools for the future” Library and Information Science Research.). James. Library facility siting and location handbook. Jayadinata. Johara T. PhD Dissertation. Christine M. (1997). J.

Christine M. “Capacity expansion and probabilistic growth”. 29 (4): 632-649. Lucy. 19 (3). 607-610. W. Econometrica. “Place: The fourth ‘p’ of marketing. Barbara (2007). 30. Scott (2000). In: Web Book of Regional Science: An introduction to regional economics. (1961). PhD Dissertation. Lovato-Gassman. Larson. Vladimir and Daniel Serra (2004).Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Koontz. W. A. 16 (1). The physical community college library: A single institution study of the relationship between user satisfaction and library use. C. Morgan (1970). “Equity and planning for local services”. Koontz. Marianov.edu/loveridgeintroregsci. “Introduction to regional science”. (2005). (2002).wvu. <http://www. R.htm>.” Marketing Library Service. (17/2/2010). 1: 6795. New Mexico State University. Journal of the American Planning Association. Christine M.” Marketing Library Service. (1981). “A hypercube queuing model for facility location and redistricting in urban emergency services”. V. and D.rri. 47: 447457. Manne. R. Jan-Feb. S. Computers and Operations Research. “Determining sample size for research activities”. Educational and Psychological Measurement. Loveridge. “Stores and libraries: both serve customers. Krejcie. (1974). “New trends in 127 . MayJune.

L. “Scenario planning at Southern California Edison” . Bandung: Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Bandung – Koordinator Jawa Barat.Daftar Pustaka public facility location modelling”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 30. Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (2003). Sioshansi. Orren. Makalah disampaikan dalam: Konferensi Nasional Ekonomi Indonesia Putaran Ketiga. “Children’s attitudes toward reading: A national survey”.upf. McKenna.econ. Interfaces. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. “Strategi pengembangan wilayah dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional yang lebih merata dan lebih adil”. 111-125.. Makasar: 9-11 Desember.pdf >. (1989). Bachtiar Hassan (2005). McClelland.. 36. (1997). Kear. Miraza. Muchdie (2001). Mobasheri. Reading Research Quarterly. M. P. A. (1995). (12/04/2008). McQuillan. <www.edu/docs/papers/downloads/755. J. “The effects of incentives on reading”. D. H. F. Dalam: Myron Weyner (ed). David C.. Reading Research and Instruction. “Dampak kebijaksanaan pengembangan wilayah KTI terhadap perekonomian nasional: Kajian 128 . Modernisasi: Dinamika pertumbuhan. 19 (5): 31-44. (1981) “Dorongan hati menuju modernisasi”. and F. & Ellworth. 934-956.

NESF (2006). & Dahl. sumber daya manusia. dan teknologi. European Journal of Scientific Research. K. Analisis data penelitian dengan SPSS.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan input-output antar daerah. P. Yogyakarta: Penerbit Andi. “Toward a social constructivist reconceptualization of intrinsic motivation for literacy learning”. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. P. dan teknologi.sg>. Olaniyan. T (2008). dan Okemankinde. (25/11/2008).nlb. National Library Board Singapore (2008). Nijkamp. Narmawati (2007). “Information technology and urban planning”.gov.. D. “Human capital: Implications for educational development”. “Analisis sumber daya manusia.eurojournals. (1989). sumber daya manusia. “Realising potential: The public library service and cultural inclusion”. Oldfather. dan pengembangan wilayah” Dalam: Muchdie et al (Ed) Tiga pilar pengembangan wilayah: Sumber daya alam. <www.. otonomi daerah. Perspective in 129 . < http://www. London: Routledge. 24: 157-162. A. Nachrowi dan Suhandojo (2001).com/ejsr_24_2_01. (1995). In: John Brotchie et al (Eds) The future of urban form.” Dalam: Muchdie et al (Ed) Tiga pilar pengembangan wilayah: Sumber daya alam.pdf> (17/2/2010). Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT.

” European Journal of Operational Research.al. Pannen. et.Daftar Pustaka Reading Research. E. Medan: Badan Pusat Statistik Kota Medan. 378-396. Palmer. (2007). Singgih (2007). 6. 165. The Graduate School of Education. Picther. Program Pascasarjana.. “The utility of retail site selection for the public library”. 50(5). Prosiding Seminar Sehari Layanan Pusdokinfo Berorientasi Pemakai di Era Informasi: Pandangan Akademisi dan Praktisi. University of Illinois Graduate School of Library Science. PhD Dissertation. Universitas Indonesia. Santoso. “Location analysis: A synthetis and survey. Structural Equation Modelling: 130 . Pemerintah Kota Medan (2008). “Assessing adolescent’s motivation to read”. 1-19. (1975). Robinson. Occasional Papers. S. ReVelle and Eiselt (2005). 3. M. Robinson. Journals of Adolescent and Adult Literacy. “The queens public library adult learning center’s role in providing literacy services to adult population”. “The effect of distance on public library use: A literature survey. Susan (1981). “Sense making sebagai pendekatan kognitif dalam perancangan dan pemanfaatan jasa Pusdokinfo”. Pauline (1996). Depok: Program Studi Ilmu Perpustakaan. Fordham University. Medan dalam Angka/Medan in Figures 2007. Alice Annmarie (2000).” Library Research. William C.

Bandung: Alfabeta. G. Interim Reports on work of International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA). Sunardi (2004). J. Sirojuzilam (2006). Singarimbun. London: John Wiley & Sons. Seppala. Medan: USU Press.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan Konsep dan aplikasi dengan AMOS. Makalah dalam Workshop dan Temu Alumni Magister 131 . Sulistyo-Basuki (1993). A. Metode penelitian administrasi. Applied GIS and spatial analysis. dan ekonomi. “An evolutionary model for spatial location of economic facilities”. Regional: Pembangunan. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang. Sugiyono (2002). Jakarta: LP3ES. Solimun (2002). Metode penelitian survai. Ulla (2003). ke-8. Effendi (1998). Sirojuzilam dan Kasyfull Mahalli (2010). Environment and Planning. Uma (2003). cet. Teori Lokasi. (1991) “Dynamic location-allocation systems: some basic planning strategies”. 4th ed. M. and Clarke. New York: John Wiley & Sons. perencanaan. Jakarta: Elex Media Komputindo. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Research method for business: A skillbuilding approach. Stillwell. dan S. Structural Equation Modelling (SEM) LISREL dan Amos. (2004). J. “Reformasi perencanaan tata ruang kota”. Sekarar. Scott. 3: 73-82. Medan: USU Press.

Andreas (2008). 22 (7): 748-758. 11: 19-34.bulletinofgeography.Daftar Pustaka Perencanaan Kota dan Daerah UGM. Alicja (2009). 12. “An improved longrun model for multiple warehouse location”. L. Perencanaan pembangunan wilayah.pdf>. (1993). C. “Transportation-location-allocation problems over time”. (1971). 11 (3): 377-384. World 132 . ed. Truelove M. and ReVelle. Papers of the Regional Science Association. “Measurement of spatial equity”. Journal of Regional Science. <http://www. Sweeney. ke-2. Tapiero. Tarigan. Varheim. S. “Optimal location under time or distance constraints”. Yogyakarta: 9-11 September. “Theoretical approaches on public libraries as places creating social capital”.urbanlibraries. <www. Szajnowska-Wisocka. “Thories of regional and local development: Abridged review”. and R. “Making cities stronger: Public library contributions to local economic development”. Toregas. C. Tatham (1976). (1972).pl/12_2009/0 5_szajnowska. (12/2/2010). C. Urban Institute (2007). Jakarta: Bumi Aksara. D.umk. J. Robinson (2008). Management Science. Environment and Planning: Government and Policy. 28: 133-143. Bulletin of Geography: Socio-economic Series No. org/files/making_ cities>. (12/08/2008).

L.htm>. and Hofe. (2001). R. (31/12/2009). X. Zen. G. sumber daya manusia. The effective location of public library buildings. Zweizig. Malang: Bayumedia. Illinois: University of Illinois Library School. Quebec. teori. Beijing: Tsinghua University Press. <http://www. (1958). “Falsafah dasar pengembangan wilayah: Memberdayakan manusia”. <http://wordnetweb. Wheler.Perencanaan Lokasi Perpustakaan Umum Spasial di Wilayah Perkotaan library and information congress: 74th IFLA General Conference and Council. 22 (1): 57-65. 345-346. T. (1982). 43. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. Management Science. (17/2/2010).princeton. (1989). WordNet (2009). and W. Welowsky. (2007). Rudi dan Soetriono (2004). Douglas L. dan teknologi. “Children’s view of motivation”. Joseph L. and Bader. Wibowo. Research methods in urban and regional planning. K. M. Wiesendanger. Konsep. Wang. O.edu/perl/ webwn?s=development>. 133 . Dalam: Muchdie et al (Ed) Tiga pilar pengembangan wilayah: Sumber daya alam. Truscott (1976). G. “The multiperiod location-allocation problem with relocation of facilities”. Chicago: American Library Association. The Reading Teacher. dan landasan analisis wilayah.org/IV/ifla74/index. Output measure for public libraries: A Manual of standarized procedures.ifla.

.

Salah satu faktor penting dalam aspek kewilayahan adalah kajian berkaitan dengan lokasi termasuk lokasi untuk perpustakaan umum. Perpustakaan umum memiliki arti penting sebagai infrastruktur pengetahuan karena posisinya yang unik untuk menjembatani jurang pemisah di antara penduduk. Kesalahan dalam pemilihan lokasi perpustakaan dapat berarti penurunan akses sehingga kinerja tidak optimal. Perpustakaan sebagai salah satu pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah kota tidak cukup hanya tersedia di satu lokasi tetapi harus tersebar di beberapa lokasi agar dapat menjangkau semua penduduk. Buku ini memaparkan beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan lokasi perpustakaan umum. ISBN 979-458-583-1 9 789 794 58 583 2 90000 . Perpustakaan menyediakan akses universal terhadap informasi dan pengetahuan bagi semua penduduk terutama yang berpenghasilan rendah.P erencanaan Lokasi DI WILAYAH PERKOTAAN PERPUSTAKAAN UMUM SPASIAL Pertumbuhan pesat kawasan perkotaan menyebabkan banyak kebutuhan pelayanan umum penduduk yang tidak dapat terpenuhi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->