P. 1
ushul fiqh

ushul fiqh

|Views: 329|Likes:
Published by NW Nurwiqoyah
peNGERTAN mUJMAL DAN MUBAYYAN
peNGERTAN mUJMAL DAN MUBAYYAN

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: NW Nurwiqoyah on Mar 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2015

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Mujmal

Secara etimologi ada beberapa arti yang diberikan kepada lafaz Mujmal. Pertama, Mujmal diartikan sebagai global/ umum atau dalam bahasa Arab disebut ‫ . ال جمع‬Kedua, Mujmal diartikan dengan ‘samar’ atau dalam bahasa Arab disebut ‫ . ال ش بهة‬Ketiga, ada pula yang memberi arti Mujmal dengan ‘yang tidak diketahui arti’ atau dalam bahasa Arab disebut dengan ‫.ال م بهم‬ Sedangkan secara terminologi atau secara pengertian istilah Mujmal diartikan sebagai berikut :

1.) Prof.DR. Abdul Wahhab Khallaf mendefinisikan al-Mujmal sebagai berikut, “al- Mujmal menurut istilah ulama Ushul, ialah lafazh yang shighotnya tidak dapat menunjukan kepada pengertian yang dikandung olehnya, dan tidak terdapat qorinah-qorinah lafazh atau keadaan yang dapat menjelaskannya. Maka sebab itu kesamaran di dalam al-Mujmal ini bersifat lafzhi bukan sifat yang baru datang”.

2.) Wahbah al-Zuhaili mendefinisian Mujmal sebagai berikut : “ Lafaz yang samar maksudnya, yang tidak dapat diketahui kecuali dengan penjelasan dari pembicara sendiri. Tidak dapat diketahui dengan akal karena hanya bisa diketahui dengan dalil naqli dari pembicara itu. Maksudnya lafaz itu tidak dapat diketahui kecuali dengan adanya penjelasan dari yang memujmalkan atau alMujmil atau Syari’.

Dari definisi di atas dapat kita tangkap pengertian bahwa, Pertama, al-Mujmal adalah lafazh atau kata yang tidak jelas ( global ) artinya. Kedua, disamping tidak jelas artinya, tidak pula terdapat petunjuk atau qorinah yang menjelaskan arti global dari kata tersebut. Jadi ketidak jelasan atau kesamaran arti kata alMujmal berasal dari kata itu sendiri bukan karena faktor eksternal dari luar kata tersebut. Ketiga, jalan untuk mengetahui maksud Mujmal tidak dalam batas kemampuan akal manusia, tetapi satu-satunya jalan untuk memahami adalah melalui penjelesan dari yang me-mujmalkan atau dalam hal ini Syari’. 2. Sebab-Sebab Adanya Mujmal Ijmal terdapat dalam : 1.) kata-kata tunggal, contoh ; a.) isim : Qur’un dengan pengertian suci atau datang bulan. Jaun dengan pengertian hitam atau putih

b.) fii l : qaala dengan pengertian berkata atau tidur siang. Khataba dengan pengertian berpidato atau meminang. c.) huruf : wawu yang m,enunjukkan huruf athaf ( penghubung) atu huruf isti’naf ( menunjukkan permulaan kata ), atau sebagai hal. Ilaa yang menunjukkan ghayah atau berarti beserta ( ma’a ) 2. ) Susunan kata-kata ( jumlah atau tarkib ), contoh ; Artinya : “ atau memaafkan orang yang mempunyai ikatan perkawinan”. (QS. Al Baqarah : 237) Menurut Abdul Wahhab Khallaf, ada beberapa kategori dari suatu lafaz yang Mujmal tersebut. Kategorikategori yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Termasuk Mujmal ialah lafaz-lafaz yang pengertian bahasa dipindahkan oleh Syari’ dari pengertian aslinya kepada pengertian-pengertian khusus menurut istilah syara’. Seperti lafaz sholat , zakat, shiyam. Haji, riba dan lafaz-lafaz lain yang oleh Syari’ dikehendaki dengannya makna syara’ secara khusus, bukanmakna yang lughawi (menurut etimologi). Maka apabila di dalam nash syara’ terdapat lafaz diantara lafaz-lafaz tersebut diatas, lafaz itu adalah mujmal (global) pengertiannya, sampai ada penafsiran terhadap lafaz itu oleh Syari’ sendiri. Karena itu datanglah Sunnah yang berbentuk amal perbuatan dan ucapan untuk menafsir atau menjelaskan arti sholat dan menjelaskan rukun-rukunnya serta syarat-syaratnya dan hai’ahnya ( bentuk pelaksanaannya). Rasulullah SAW bersabda : ‫أ ص لى راي تمون ى ك ما ص لوا‬ “ Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sedang shalat (seperti shalatku)” Begitu juga beliau telah menafsir zakat, shiyam, haji, riba dan setiap lafaz yang mujmal (global) di dalam nash-nash al-Qur’an.

2. Termasuk al-Mujmal ialah lafaz asing yang ditafsir oleh nash itu sendiri dengan arti yang khusus, seperti lafaz (‫ )ال قارعة‬dalam firman Allah (Q.S al-Qari’ah: 1- 4 ) ‫ال م ب ثوث ك ال فراش ال ناس ي كون ي وم ال قارعة ما ادرئ ك ما و ال قارعة ما ال قارعة‬ “Hari kiamat, apakah hari kiamat itu ?. Tahukah kamu apakah hari kiamat itu ? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran

Dan lafaz (‫ ) ال ه لوع‬di dalam firman-Nya Q.S al-Ma’arij : 19 – 21 yang artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia bekeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir”.

3.

Hukum Lafal Mujmal

Apabila terdapat perkataan mujmal baik dalam qur’an maupun hadits, maka kita tidak menggunakannya, sehingga dating penjelasan. Seperti kata salay, zakat, haji, dan lain-lain yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Tentang cara-cara melakukannya. Demikian pula tentang batas-batas harta yang terkena zakat. B. Mubayyan

1. Pengertian Mubayyan secara bahasa (etimologi) : (‫ )وال مو ضح ال مظهر‬yang ditampakkan dan yang dijelaskan. Sedangkan secara terminologi Mubayyan adalah seperti yang didefinisikan oleh al-Asnawi sebagai berikut : “Mubayyan adalah lafaz yang jelas (maknanya) dengan sendirinya atau dengan lafaz lainya”. Ada yang mendifinisikan Mubayyan sebagai berikut: ‫ال ت ب ي ين ب عد أو ال و ضع ب أ صل إما م نه، ال مراد ي فهم ما‬ “Apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.” Contoh yang dapat difahami maksudnya dengan asal peletakannya : lafadz langit (‫ ,) سماء‬bumi (‫,)أرض‬ gunung (‫ ,)ج بل‬adil (‫ ,)عدل‬dholim (‫ ,)ظ لم‬jujur (‫ .) صدق‬Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat difahami dengan asal peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan maknanya. Contoh yang dapat difahami maksudnya setelah adanya penjelasan : Firman Alloh ta’ala : ‫ال كاة و توا ال ص الة اق يمو‬ “Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat” (Al-Baqoroh : 43) Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal, tetapi pembuat syari’at (Allah ta’ala) telah menjelaskannya, maka lafadz keduanya menjadi jelas setelah adanya penjelasan.

Dalam hubungannya dengan Mubayyan , maka dapat kita pahami ada tiga hal disini. Pertama adanya lafaz yang mujmal yang memerlukan penjelasan atau disebut Mubayan (yang dijelaskan). Kedua ada lafaz lain yang menjelaskan lafaz yang Mujmal tadi atau disebut Mubayyin (yang menjelaskan. Dan yang ketiga adanya penjelasana atau disebut Bayan. 2. Macam-Macam Bayan ( Penjelasan )

Dalam pembahasan selanjutnya, para Ulama Ushul membuat kategori daripada penjelasan atau Bayan

tersebut. Ulama Syafiiyah membagi bayan kepada 7 macam sebagai berikut :

1.) Penjelasan dengan perkataan , contohnya, Allah SWT menjelaskan lafaz ‫ ( ة س بع‬tujuh ) pada surat alBaqarah ayat 196, tentang jumlah hari puasa bagi yang tidak mampu membayar dam (hadyu) pada haji Tamattu’. Dalam bahasa Arab lafaz tujuh sering ditujukan kepada arti ‘banyak’ yang bisa lebih dari tujuh. Untuk menjelaskan ‘tujuh’ itu betul-betul tujuh maka Allah SWT mengiringi dengan firman-Nya “itu sepuluh hari yang sempurna”.

2.) Penjelasan dengan mafhum perkataan, contohnya, firman Allah SWT dalam surat al-Isra’ ayat 23, tentang larangan mengatakan ‫”اف‬ah” kepada kedua orang tua. Mafhum dari ayat tersebut adalah melarang seseorang anak menyakiti orang tuanya, seperti memukul dan lain-lain, karena mengucapkan “ah” saja tidak boleh, apalagi memukul.

3.) Penjelasan dengan perbuatan,contoh. Rasulullah SAW menjelaskan perintah mendirikan shalat, dalam ayat al-Quran, lalu Rasulullah SAW mencontohkan cara melakukan shalat tersebut.

4.) Penjelasan dengan Iqrar “pengakuan” contohnya, Rasulullah melihat Qayis shalat dua raka’at sesudah shalat Subuh, maka Rasulullah bertanya kepada Qayis, lalu Qayis menjawab dua raka’at itu adalah shalat sunat fajar. Rasulullah tidak melarang. Ini menunjukkan dibolehkan shalat sunat sesudah shalat Subuh.

5.) Penjelasan dengan Isyarat, contohnya penjelasan Rasulullah SAW tentang jumlah hari dalam satu bulan. Beliau mengangkat kesepuluh jarinya tiga kali, yakni 30 hari. Kemudian mengulanginya sambil membenamkan ibu jarinya pada kali yang terakhir. Maksdunya bahwa bulan itu kadang-kadang 30 hari atau kadang-kadang 29 hari.

6.) Penjelasan dengan tulisan, contohnya Rasulullah SAW menyuruh juru tulis beliau menuliskan hukumhukum mengenai pembagian harta warisan dan lain-lain.

7.) Penjelasan dengan qiyas, contohnya Rasulullah SAW menjawab seorang penanya melakukan haji untuk ibunya yang sudah meninggal. Rasullullah bertanya, ‘bagaimana kalau ibumu punya hutang, apa kamu bisa membayarnya?. Hadits tersebut menqiyaskan mengganti haji orang tua dengan membayar hutangnya.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Mujmal secara bahasa : (‫ )وال مجموع ال م بهم‬mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul.

2. Mujmal dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, al-Mujmal adalah lafazh atau kata yang tidak jelas ( global ) artinya. Kedua disamping tidak jelas artinya, tidak pula terdapat petunjuk atau qorinah yang menjelaskan arti global dari kata tersebut. Jadi ketidak jelasan atau kesamaran arti kata al-Mujmal berasal dari kata itu sendiri bukan karena factor eksternal dari luar kata tersebut. Ketiga, jalan untuk mengetahui maksud Mujmal tidak dalam batas kemampuan akal manusia, tetapi satu-satunya jalan untuk memahami adalah melalui penjelesan dari yang me-mujmalkan atau dalam hal ini Syari’.

3. Ulama Ushul fiqih sependapat bahwa lafaz yang Mujmal tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, sebelum ada dalil lain yang menjelaskannya.

4. Mubayyan secara bahasa : (‫ )وال مو ضح ال مظهر‬yang ditampakkan dan yang dijelaskan.

5. Menurut istilah Ulama Ushul fiqih Mubayyan adalah apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.

6. Ulama Ushul fiqh sependapat bahwa tidak boleh ada penundaan bayan dari waktu pelaksanaannya. Alasannya, tidak mungkin Allah SWT mengungkap suatu hukum yang mujmal kemudian masuk waktu pelaksanaannya, sementara bayan terhadap hukum yang mujmal itu belum ada. Hal ini tidak pernah dan tidak akan dijumpai dalam syari’at Islam.

7. Lafaz Mujmal yang telah diberi penjelasan tidak lagi dikategorikan lafaz yang mubham.

B. Kata Penutup Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT. Yang telah melimpahkan Taufik, Hidayah serta Inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan harapan, semoga usaha kami yang kecil ini diridloi oleh Allah SWT. Dan bermanfat bagi nusa, bangsa dan agama. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, namun

kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan yang terbaik. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan supaya ke depannya nanti akan menjadi lebih baik. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini,semoga Allah SWT. Akan membalas di hari kelak dan hanya kepada Allah SWT. Kami berlindung serta mengharapkan taufiq da hidayah-Nya. Amin ya robbal ’alamin.. DAFTAR PUSTAKA

• • •

Drs. H. A. Syafi’i karim, Fiqih ushul figh,CV. Pustaka Setia Bandung, 2006. Http:///F:/Mujmal-Dan-Mubayyan.htm Prof.DR.Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, tahun 1998.

- See more at: /024http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/mujmal-danmubayyan.html#sthash.0D2KwEO4.dpuf

MUJMAL DAN MUBAYYAN

1. MUJMAL Mujmal adalah bentuk ungkapan yang dalam maknanya tersimpan banyak ketentuan dan berbagai keadaan yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui pernyataan lain yang menjelaskan (mubayyin). Al- Bazdawi dalam kitab ushul fiqihnya mengajukan definisi sebagai berikut : Mujmal ialah

ungkapan yang di dalamnya terkandung banyak makna, namun makna mana yang dimaksud di antara makna-makna tersebut tidak jelas (kabur). Artinya, apa yang dimaksud tidak bisa diketahui begitu saja dari ungkapan itu sendiri, tapi harus ditafsiri, diteliti dan dipikir secara mendalam.

Untuk memahami mujmal dan menemukan bagian-bagian dan berbagai bentuknya mutlaq diperlukan adanya penjelas (mubayyin) yang menerangkan makna secara rinci. Tapi sesudah keterangan dan rincian ini, orang masih perlu merenung dan berpikir sebelum sampai pada kesimpulan.

Banyak ungkapan Al-Qur’an mengenai hukum-hukum taklifi yang berbentuk mujmal, yang kemudian oleh Sunnah dijelaskan dan dirinci ketentuan-ketentuannya. Perintah shalat, misalnya, berbentuk mujmal, lalu datanglah Sunnah Nabi dalam bentuk ucapan dan sekaligus tindakan.

Nabi bersabda : ‫. ا ص لى راي تمون ى ك ما ص لوا‬

Artinya : “Lakukanlah shalat, (dengan cara) sebagaimana kalian lihat ketika aku shalat”.

Demikian pula ibadah haji, Sunnahlah yang menjalankan seperti terdapat pada sabda Nabi :

‫. م نا س ك كم ع نى خذوا‬ Artinya :

“Ambillah dari ku amalan-amalan haji kalian”.

Soal zakat dan jual beli juga begitu, disebut secara mujmal kemudian Sunnah pula yang menguraikan secara rinci mengenai batasan dan ketentuan-ketentuannya, untuk mengatur tata pergaulan antar manusia.

Contoh lain adalah jinayat (hukum pidana). Al-Qur‟an mula-mula menentukan tentang wajibnya diyat, lalu Sunnah merinci berapa besarnya dan menerangkan ketentuan-ketentuannya. AlQur‟an juga menetapkan, terhadap kasus pencideraan wajib dikenakan qishash, lantas Sunnah menguraikan ketentuan-ketentuan mengenai tindak pencideraan ini; dirinci perihal kapan diperbolehkan mengenakan sanksi qishash yang penuh dan kapan mengenakan sanksi qishash yang kurang berupa diyat berikut jumlahnya.

Demikianlah, tak pernah kita temukan satu mujmal pun kecuali dijelaskan oleh Sunnah dengan merinci ketentuan-ketentuannya hukumnya sedemikian rupa sehingga tak ada lagi kekaburan (ibham).

Menurut buku ushul fiqih karangan Moh. Riva‟i dijelaskan bahwa Mujmal ialah suatu lafadz yang belum jelas, yang tidak dapat menunjukkan arti yang sebenarnya, apabila tidak ada keterangan lain yang menjelaskannya. Penjelasan ini disebut “Al-Bayan”. Ketidakjelasan ini disebut “Ijmal”.

Mubayyan ialah suatu lafadz yang terang maksudnya, tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya.

Contoh lafadz yang mujmal, sebagaimana firman Allah :

Artinya : “ Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. (Al-Baqarah : 228)

Lafadz “quru” ini disebut mujmal, karena mempunyai dua arti yaitu “haidl” atau “suci”. Kemudian mana di antara dua macam arti yang dikehendaki oleh ayat tersebut, maka diperlukan penjelasan yaitu bayan. Itulah suatu contoh ijmal dalam lafadz tunggal.

Contoh dalam lafadz yang murakkab (susunan kata-kata) sebagai berikut:

Artinya : “Atau orang yang memegang ikatan pernikahan memaafkan”. (Q.S. Al-Baqarah : 237)

Dalam ayat tersebut masih terdapat ijmal tentang menentukan siapakah yang dimaksud orang yang memegang kekuasaan atas ikatan pernikahan itu, mungkin yang dimaksud “suami” atau “wali”. Kemudian untuk menentukan siapa di antara kedua itu yang dimaksud pemegang ikatan nikah, maka diperlukan bayan.

Selain tersebut di atas, ada lagi mujmal pada tempat kembalinya “dlamir” yang ihtimal (layak) menunjukkan dua segi, sebagaimana sabda Nabi s.a.w. sebagai berikut :

‫. جداره ف ى خ ش بة ي ضع ان جاره احدك م ي م نع ال‬ Artinya : “Janganlah salah seorang di antara kamu menghargai tetangganya untuk meletakkan kayu pada dindingnya”.

Kata-kata”nya” pada dindingnya, masih mujmal artinya belum jelas, apakah kembalinya itu kepada dinding orang itu atau kepada tetangga.

Keterangan : Mujmal ini hampir sama dengan „Am (umum) dan muthlaq. Karena itu perlu mengetahui perbedaan antara ketiga tersebut, agar tidak salah menentukan masalahnya.

2. AL-BAYAN

Al-Bayan artinya ialah penjelasan; di sini maksudnya ialah menjelaskan lafadz atau susunan yang mujmal.

Jelasnya ialah :

‫. ال تج لى ح يز ال ى اال ش كال ح يز من ال ش يئ اخراج ال ب يان‬

“Bayan ialah mengeluarkan sesuatu dari tempat yang sulit kepada tempat yang jelas”.

a. Macam-macam bayan :

1) Bayan dengan perkataan ; Sebagaimana Firman Allah s.w.t. :

“Barangsiapa tidak mendapat (beli binatang qurban), hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam masa haji, dan tujuh hari apabila kamu kembali; yang demikian itu sepuluh hari sempurna”. ( AlBaqarah : 196 )

Lafadz “tujuh” dalam bahasa Arab sering ditujukan kepada banyak yang diartikan lebih dari tujuh. Untuk menjelaskan “tujuh betul-betul”, maka Allah iringi dengan firmanNya “sepuluh” hari yang sempurna. Penjelasan “tujuh betul-betul” dalam ayat ini adalah dengan ucapan.

2) Bayan dengan perbuatan ; seperti penjelasan Nabi s.a.w. pada cara-cara shalat dan haji :

‫. ا ص لى راي تمون ى ك ما ص لوا‬ “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku menjalankan shalat”. ( HR. Bukhari ) Cara shalat ini dijelaskan dengan perbuatan oleh Nabi s.a.w. yakni beliau mengerjakan sebagaimana cara beliau mengerjakan, sambil menyuruh orang menirunya.

3) Bayan dengan isyarat ; misalnya penjelasan Nabi s.a.w. tentang jumlah hari dalam satu bulan. Penjelasan ini diberikan kepada sahabat beliau mengangkat kesepuluh jarinya tiga kali, yakni 30 hari. Kemudian mengulanginya sambil membenamkan ibu jarinya pada kali yang terakhir. Maksudnya bahwa bulan Arab itu kadang-kadang 30 hari atau 29 hari.

4) Bayan dengan meninggalkan sesuatu ; Misalnya hadits Ibnu Hibban yang menerangkan :

‫) ح بان اب ن روه ( . ال نار م ست مما ال و ضوء عدم . م ص م نه االم ري ن اخر ك ان‬

“Adalah akhir dua perkara pada Nabi s.a.w. tidak berwudlu‟ karena makan apa yang dipanaskan oleh api”.

Hadits ini sebagai penjelasan yang menyatakan bahwa Nabi s.a.w. tidak berwudlu‟ lagi setiap kali selesai makan daging yang dimasak.

5) Bayan dengan diam ; Misalnya tatkala Nabi s.a.w. menerangkan wajibnya ibadah haji, ada orang yang bertanya “apakah setiap tahun ya Rasulullah ?” Rasulullah berdiam tidak menjawab. Diamnya Rasulullah ini berarti menetapkan bahwa kewajiban haji itu tidak tiap –tiap tahun.

3. TAKHIRUL BAYAN ( mengundurkan Bayan )

Mengundurkan bayan ini ada dua macam : (1) Mengundurkan dari waktu yang dibutuhkan, dan (2) Mengundurkan bayan dari waktu turunnya perintah/khithab.

a. Mengundurkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan :

‫. ي جوز ال ال حاجة وق ت عن ال ب يان ت اخ ير‬

Artinya : “Mengundurkan penjelasan dari waktu dibutuhkan itu tidak dibolehkan”.

Kalau mengundurkan penjelasan ini terjadi, berarti membolehkan mengamalkan sesuatu yang mujmal sebelum ada bayan, tegasnya mengamalkan sesuatu dengan cara yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki syara‟. Misalnya Fatimah binti Hubaisy datang kepada Rasulullah s.a.w. kemudian bertanya :

‫ذال ك ان ما ال . م ص ل ها ف قال ة ال ص ال اف ادع اطهر ف ال ا س تحاض امراة ان ئ هلل ا ر سول ي ا‬ ‫( , ص لى و ال دم ع نك ف اغ س لى ادب رت اذا و ال ص الة ف دعى ال ح ي ضة اق ب لت ف اذا ب ال ح ي ضة ل ي ست و عرق‬ ‫) ع ل يه م ت فق‬

Artinya : ”Wahai Rasulullah, saya ini perempuan yang mengeluarkan darah istihadlah, berarti saya tidak dalam keadaan suci terus-menerus, bolehkah saya meninggalkan shalat ? Nabi bersabda : “Jangan, karena hal itu hanya penyakit saja ( „irqun = keringat ) dan bukan haidl. Apabila datang waktu haidl tinggalkanlah shalat, dan apabila habis waktunya cucilah darah itu dari kamu ( mandilah ) dan shalatlah”. ( HR Bukhari dan Muslim )

Dari hadits ini tidak ada penjelasan ( bayan ) bahwa perempuan yang istihadlah itu wajib bersuci untuk setiap kali shalat. Sebab kalau mereka diwajibkan bersuci setiap kali shalat, niscaya Rasulullah s.a.w. telah memberikan penjelasan di waktu itu juga, karena pada saat itulah penjelasan dibutuhkan.

b. Mengundurkan bayan dari waktu khithab :

‫. ي جوز ال خطاب وق ت عن ال ب يان ت اخ ير‬

“Mengundurkan penjelasan dari waktu khithab dibolehkan”.

Artinya, pada waktu turunnya perintah belum ada penjelasan, misalnya firman Allah :

Artinya : “Apabila Kami bacakan (Al- Qur‟an ) ikutilah bacaannya. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. ( Al-Qiyamah : 18-19 )

Lafadz “tsumma = kemudian” berarti kemudian dengan ada jarak waktu antara khithab dan penjelasan. Dengan demikian mengundurkan bayan itu boleh, baik mubayyannya dhahir atau tidak. Misalnya menerangkan cara shalat sesudah badanya khithab “aqiimush shalata = dirikanlah olehmu akan shalat” dengan bayan yang datangnya kemudian dari Nabi s.a.w. yang disabdakan dalam hadits “shalluu kamaa ra-aitumuuni ushalli”.

4. Pendapat para Ulama tentang pembagian Bayan.

A. Menurut pendapat ahlur Ra‟yi, penerangan Al-Hadits terhadap Al-Qur‟an terbagi tiga : 1 . Bayan Taqrir, yaitu “keterangan yang didatangkan oleh As-Sunnah untuk menambah kokoh apa yang telah diterangkan oleh Al-Qur‟an. Contohnya adalah sabda Nabi s.a.w. : ‫.ل رؤي ته اف طروا و ل رؤي ته صوموا‬

Artinya : “Berpuasalah kamu sesudah melihat bulan dan berbukalah kamu sesudah melihatnya”.

Hadits ini menguatkan firman Allah s.w.t. Yaitu : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Q.S. Al-Baqarah : 185)

2. Bayan Tafsir, yaitu “Menerangkan apa yang kira-kira tak mudah diketahui (tersembunyi pengertiannya), seperti ayat-ayat yang mujmal dan yang musytarak fihi.

Diantara contoh bayan tafsir bagi mujmal, ialah : seperti hadits yang menerangkan kemujmalan Ayat-ayat shalat, Ayat-ayat zakat, Ayat-ayat haji. Dalam ibadat-ibadat ini, Ayat Al-Qur‟an, mujmal. Diperintahkan kita bershalat, tetapi tidak diterangkan tata caranya; tidak diterangkan rukun-rukunnya, tidak diterangkan waktu-waktunya. Semua yang tersebut ini diterangkan Nabi dengan sabdanya : ‫. ا ص لى راي تمون ى ك ما ص لوا‬

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku menjalankan shalat”. ( HR. Bukhari )

Allah memerintahkan zakat. Maka As-Sunnah menerangkan detail-detailnya. Nabi bersabda terhadap zakat emas dan perak : ‫. اموال كم ع شر رب ع ا ت و ها‬

“Berikanlah dua setengah persen dari harta-hartamu”.

Dan Nabi menerangkan zakat binatang, tumbuh-tumbuhan dengan berbagai surat yang dikirimkan kepada pegawai zakat dan dengan beberapa hadits yang ma‟tsur. Demikian juga Haji. Al-Qur‟an memujmalkannya. As-Sunnah menjelaskannya dengan sabda Nabi : ‫. م نا س ك كم ع نى خذوا‬ “Ambillah dari ku amalan-amalan haji kalian”.

Di antara contoh-contoh bayan tafsier bagi yang musytarak fihi. Ayat quru‟ . Berfirman Allah s.w.t. : “ Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. (Al-Baqarah : 228) Perkataan quru‟ berarti suci dan berarti haidl sendiri. Maka datang hadits yang menerangkan “. ‫. ح ي ض تان عدت ها و ث ن تان االمة ط الق‬ “Thalaq budak dua kali dan iddahnya dua haidl”

Dan seperti lafadz „ain . Dia bermakna : mata, mata air dan bermakna zat sesuatu.

Kata An-Nawawy dalam Tahziebul Asma‟i : “Lafadh „ain, dipersekutukan pada banyak makna. Dia bermakna : mata (pancaindera lihat), mata air, mata-mata, hujan yang terus-menerus turun, mata uang dinas, zat sesuatu barang dan ketua dari sesuatu golongan”.

Keterangan yang serupa ini yakni bayan mujmal, boleh bersambungan dengan ayat yang dijelaskan, boleh bercerai, boleh pula datang di belakang, atau sama-sama datangnya. Akan tetapi tak boleh ditelatkan hingga waktu dilaksanakan pekerjaan itu.

Mengenai takhshish „am, maka dia tidak boleh datang terlambat dari „am itu. Ke dalam bayan tafsier ini, masuk bayan mujmal-bayan musytarak (yakni bayan tafsier bagi mujmal dan bayan tafsier bagi musytarak) dan bayan takhshish ( menerangkan sesuatu yang tidak dimaksudkan dari umum) .

Perbedaan antara bayan mujmal, bayan musytarak dengan bayan takhshish, ialah : Bayan mujmal berarti menerangkan : Tafsier atau tafsiel, atau ta‟yien. Adapun bayan takhshish, maka ia suatu penjelasan ditinjau dari suatu sudut dan suatu pertentangan ditinjau dari sudut yang lain.

3. Bayan Tabdiel, bayan nasakh, yakni : “Mengganti sesuatu hukum, atau menasakhkannya”.

Menasakhkan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an menurut ulama ahlul ra‟yi, boleh. Menasakhkan AlQur‟an dengan As-Sunnah, boleh; kalau As-Sunnah itu mutawatir, masyhur, atau mustafidl.

Mengkhususkan umum Al-Qur‟an dengan hadits, mereka tidak membolehkannya; terkecuali kalau hadits itu mutawatir atau masyhur.

Abu Haniefah berpendapat, bahwa : „am yang disepakati menerimanya lebih utama kita amalkan daripada khash yang diperselisihkan menerimanya.

Demikian pendapat Abu Haniefah menurut penjelasan Kasyful Asrar.

Karena itu, Abu Haniefah memegangi umum hadits :

‫ف يه ال سماء ما س ق ته‬

‫. ال ع شر ف‬

“Apa yang disiraminya oleh hujan, maka padanya satu persepuluh”.

Beliau mendahulukan hadits atas hadits :

‫. صدق ة او سق خم سة دون ف يما ي سل‬

“Tak ada pada yang kurang dari lima wasaq, zakatnya”.

B. Malik berpendirian, bahwa bayan Al-hadits itu terbagi kepada :

1) Bayan Taqrier, yaitu : menetapkan dan mengokohkan hokum-hukum Al-Qur‟an; bukan mentaudliehkan, bukan mentaqyidkan mutlaq dan bukan mentakhshiskan „am, seperti : ‫.ل رؤي ته اف طروا و ل رؤي ته صوموا‬

“Berpuasalah kamu sesudah melihat bulan dan berbukalah kamu sesudah melihatnya”.

2) Bayan Taudlieh (Tafsir), yaitu : menerangkan maksud-maksud ayat, seperti : hadits-hadits yang menerangkan maksud-maksud ayat yang difahamkan oleh para sahabat berlainan dengan yang dimaksudkan oleh ayat sendiri. Contohnya :

“Dan segala mereka yang membendaharakan emas dan perak dan mereka tidak membelanjakan pada jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan azab yang amat pedih”. (Q.S. At-Taubah : 34)

Manakala ayat ini diturunkan, para sahabat merasa sangat berat melaksanakan kandungan ayat. Mereka bertanya kepada Nabi s.a.w., maka Nabi menjawab : “Allah tidak memfardlukan zakat, melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah kamu zakati “. Mendengar itu Umar r.a. mengucapkan takbir.

3). Bayanut Tafshil, yaitu : menjelaskan mujmal Al-Qur‟an, sebagai hadits yang mentafshilkan kemujmalan firman Allah : ‫. اق يمواال ص لوة‬ “Dirikanlah olehmu akan sholat”.

4). Bayanul basthy (tabsiet bayan takwiel), yakni : memanjangkan keterangan bagi apa yang diringkaskan keterangannya oleh Al-Qur‟an, seperti ayat :

“Dan atas tiga orang yg tidak mau pergi, yang tinggal di tempat, tidak turut pergi ke medan peperangan”. ( Q.S. At-Taubah : 118 )

Kisah yang dimaksudkan oleh Ayat ini telah direntang panjang oleh hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim, Abu Dawud, An Nasa‟I, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah dengan mensyarahkan sebab Nabi s.a.w. menegah orang yang berbicara dengan orang yang ketiga itu.

Masuk ke dalam bayan taudlieh, menentukkan salah satu kemuhtamilan, mengqaidkan yang mutlak dan mentakhshiskan yang umum.

Malik dalam soal ini (soal mentakhshiskan Ayat dengan hadits ahad) dekat pendiriannya Ahlul ra‟yi.

Menurut Ibnu Qutaibah dalam Al Ma‟rifah, Malik dimasukkan ke dalam golongan ahlur ra‟yi.

Beliau mendahulukan Sunnah di ketika dikuatkan Sunnah itu oleh Qiyas dan „amal ahli madinah. Kalau demikian barulah Sunnah dipandang mentakhshiskan Al-Qur‟an dan mentaqyidkannya.

Malik menolak hadits yang mengharamkan segala burung yang bercakar karena berlawanan dengan dhahir Al-Qur‟an.

“Katakanlah olehmu : Aku tiada mendapati di dalam wahyu yang telah diturunkan kepadaku, makanan yang diharamkan, untuk seseorang memakannya, selain daripada bangkai, darah yang terpencar,daging babi”, dia itu kotor, dan yang disembelih untuk yang selain Allah. (Q.S. al-An‟am : 145 )

Beliau mendla‟ifkan hadits; karena berlawanan dengan umum ayat ini. Tapi beliau mengharamkan juga binatang buas dan yang bertaring, karena yang demikian dikuatkan oleh amalan ahli Madinah, padahal dhahir ayat menghalalkannya.

Malik menolak hadits, menurut uraian Asy Syathiby dalam Al Muwafaqat, apabila menyalahi AlQur‟an, atau dasar yang qat‟i, atau dasar yang umum. Karena itu, beliau menolak hadits : ‫. ول يه ع نه صام , ص يام ع ل يه و مات من‬

“Barang siapa mati dan atasnya ada puasa, dipuasakan untuknya oleh walinya”.

Sebagaimana beliau menolak pula hadits yang menerangkan, bahwa anak boleh mengerjakan haji untuk orang tuanya; karena berlawanan dengan Ayat :

“Dan bahwa tak ada bagi manusia, melainkan apa yang ia telah usahakan” (Q.S. An-Najm : 39) Dan Malik menolak hadits jilatan anjing dengan alasan, bahwa hadits itu berlawanan dengan dua dasar yang umum :

Pertama, firman Allah s.w.t. : “Maka makan olehmu dari apa (binatang) yang dipegang oleh anjing-anjing itu untukmu”. (Q.S. Al-Maidah : 4)

Kedua, Illat suci binatang, ialah : hidupnya. Hidup itu terdapat pada anjing.

5) Bayan Tasyrie‟, yakni : mewujudkan sesuatu hokum yang tidak tersebut dalam Al-Qur‟an, seperti menghukum dengan bersandar pada seorang saksi dan sumpah apabila simudda‟i tiada mempunyai dua orang saksi; dan seperti ridla‟ mengharamkan pernikahan mengingat hadits :

‫. ال ن سب من ماي حرم ال ر ضاعة من ي حرم‬

“Haram lantaran ridla‟ apa yang haram lantaran nasab(keturunan)”.

Sebagian Ulama berpendapat, bahwa segala hukum yang dilengkapi Sunnah, kembali kepada Al-Qur‟an, tidak ada yang berdiri sendiri.

C. AsySyafi‟y di antara ulama ahlil atsar menetapkan, bahwa penjelasan Al-Hadits terhadap AlQur‟an terbagi lima, yaitu :

1) Bayan Tafshiel, yaitu menjelaskan ayat-ayat yang mujmal (yang sangat ringkas petunjuknya) 2) Bayan Takhshish, yaitu menentukkan sesuatu dari umum ayat. 3) Bayan Ta‟yin, yaitu menentukan mana yang dimaksud dari dua tiga perkara yang mungkin dimaksudkan. 4) Bayan Tasyri‟, yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak didapati dalam Al-Qur‟an. 5) Bayan Nasakh, yaitu menentukan mana yang dinasikhkan dan mana yang dimansukhkan dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang kelihatan berlawanan.

13 D. Ahmad ibn Hanbal dalam soal ini sepaham dengan gurunya Asy-Syafi‟y, bahkan lebih keras lagi pendiriannya dalam menentukan garis-garis penerangan As-Sunnah.

Ibnul Qaiyim telah menerangkan pendapat Ahmad dalam soal ini dalam kitabnya I‟lamul Muwaqqi‟ien, sebagai berikut :

Keterangan As-Sunnah terhadap Al-Qur‟an terbagi tiga : 1) Bayan Ta‟kied (bayan taqrier), yaitu di kala As-Sunnah itu bersesuaian benar petunjuknya dengan petunjuk Al-Qur‟an, yakni menerangkan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur‟an.

2) Bayan tafsier, yaitu menjelaskan sesuatu hukum Al-Qur‟an, yakni menerangkan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur‟an.

3) Bayan Tasyrie‟, yaitu Mendatangkan sesuatu hukum yang didiamkan Al-Qur‟an ( yang tidak diterangkan hukumnya)

4) Bayan Takhshish dan Taqyid, yakni mengkhususkan Al-Qur‟an dan mengqaidkannya. Apabila didapati hadits yang mengkhususkan Al-Qur‟an, dikhususkanlah umum itu, baik hadits yang mengkhususkan itu mutawatir, masyhur, mustafidl ataupun ahad.

Tegasnya, Sunnah itu , menurut pendapat Ahmad, mentakhshiskan Al-Qur‟an, mengqaidkannya dan mentafshilkannya. Ringkasnya, Ahmad berpendapat, bahwa As Sunnah mentafsirkan dhahir Al-Qur‟an dan bahwa hadits ahad itu dapat mentakhshiskan Al-Qur‟an.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Qur‟anul Karim, Departemen Agama RI. 2. Bulughul Maraam, terjemahan A. Hassan, Diponegoro : Bandung. 3. Ushul Fiqih, Drs. Moh. Riva‟i, PT. Al-Ma‟arif : Bandung. 4. Ushul Fikih, Prof. Muhamad Abu Zahrah, Pustaka Firdaus : Jakarta. 5. Studi Ilmu Al-Qur‟an, Manna Khalil al-Qathan, Litera Antar Nusa : Bogor. 6. Sejarah dan pengantar Ilmu Hadits, M. Hasbi Ash Shiddieqy, Bulan bintang : Jakarta. http://zie89.blogspot.com/2010/02/mujmal-dan-mubayyan.html

Makalah Mutlaq, Muqoyyad, Mujmal & Mubayyan

PENDAHULUAN

. Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur‟an, terlebih dahulu harus tahu dan memahami dulu beberapa kaidah-kaidah yang erat kaitannya dengan pemahaman makna kalimat yang hendak ditafsirkan. maka dalam hal ini terdapat Qawaid Tafsir. Qawaid Tafsir itu sendiri adalah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufasir dalam memahami ayat-ayat AlQur‟an, sedangkan Mutlaq, Muqoyyat, Mujmal dan Mubayyan ini merupakan salah satu inti materi yang akan kami jelaskan lebih jauh dalam makalah ini. Kritik dan saran yang membangun kami harapkan dari pembaca semoga makalah ini dapat menambah manfaat bagi kita.

PEMBAHASAN

A.

MUTLAQ DAN MUQOYYAD

1.

Pengertian Mutlak dan Muqoyyad

Mutlak adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang tidak dibatasi oleh suatu batasan yang akan mengurangi jangkauan maknanya secara keseluruhan.Contohnya‫ رقبة فتحرير‬Kata yang digaris bawahi adalah kata mutlak.Artinya mencakup budak secara mutlak.Tidak terbatas satu atau lebih dan tidak dibatasi apakah budak mu‟min ataupun bukan mu‟min[1]. Kaidah yang berhubungan dengan mutlaq: ‫تقييده على دليل يقم مالم طالقه على يبقى المطلق‬ Artinya:Hukum mutlaq ditetakan berdasarkan kemutlakannya sebelum ada dalil yang membatasinya. Contoh:Q.S. An-Nisa:23‟‟Dan ibu-ibu dari istri-istrimu‟‟ Ayat ini mengandung kemutlakannya.Ibu mertua tidak boleh dinikahi,baik istrinya sudah dicampuri atau belum. Sedangkan muqoyyad adalah lafadz yang menunjukkan suatu yang sudah dibatasi baik oleh sifat,syarat dan ghayah. Contoh: ‫مؤمنة رقبة فتحرير‬ Kata budak dalam ayat di atas tidak lagi bersifat mutlak karena sudah dibatasi oleh kata mu‟min.

2.

Beberapa Ketentuan dalam Hukum Mutlaq dan Muqoyyad

Dalam dalil syara‟ sering terjadi ada dalil syara‟ yang ditemukan dimana di satu tempat ia menunjukkan kemutlakannya,sedang ditempat lain ia menunjukkan kemuqayyadannya.Kemudian masalah yang muncul ialah apakah muqayyad diikutkan kepada yang mutlaq ataukah mutlaq diikutkan kepada muqoyyad,Ataukah masing-masing berdiri sendiri. Maka untuk mengatasinya setidaknya ada empat alternative pemecahannya yaitu:

1) ‫والحكم السبب فى اتفقا ذا المقيد على يحمل المطلق‬ Artinya:mutlak itu dibawa ke muqoyyad jika sebab dan hukumnya sama Jika antara mutlak dan muqoyyad sama dalam materi dan hukumnya maka hukum mutlaq disandarkan kepada muqoyyad. Contoh: ‫والدم الميتة عليكم حرمة‬ “Allah mengharamkan kepada kamu semua makan Bangkai dan darah ” (Q.S. Al Maidah : 3) Kemudian keharaman makan darah itu dibatasi oleh darah yang mengalir(Q.S.alan‟am:145)Karena materi dan hukumnya sama maka hukum mutlaq disandarkan kepada hukum muqoyyad,yaitu hanya darah yang mengalir yang diharamkan.Sedangkan hati ataupun limpa yang tidak mengalir itu diperbolehkan. Firman Allah SWt Q.S. Al-An‟am 145 @è% Hw ߉É`r& ‟Îû !$tB zÓÇrré& ¥‟n<Î) $·B¤ptèC 4‟n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB †rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B †rr& zNóss9 9ƒÍ”\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_Í„ †rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ÎŢötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4 Ç`yJsù ¤äÜôÊ$# uŢöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã ¨bÎ*sù š­/u„ Ö„qàÿxî ÒO‹Ïm¤„ ÇÊÍÎÈ Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang". 2) ‫السبب فى اختلفا ن المقيد على يحمل المطالق‬ Artinya:mutlaq itu dibawa kemuqoyyad jika sebabnya berbeda.

Berbeda sebabnya namun sama hukumnya. Maka menurut jumhur ulama mutlaq dibawa kepada muqoyyad. Contoh: ‫مؤمنة رقبة فتحرير خط ا مؤمنا قتل ومن‬ Barangsiap membunuh seorang mu‟min kerena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman (Q.S An-Nisa 92).

Selanjutnya kafarat zhihar”memerdekakan budak‟‟ tanpa dibatasi mu‟min atau tidak(lihat Q.S.alMujadillah:3).Maka berdasarkan kaidah tersebut di atas kafarat zhihar harus memerdekakan budak yang mu‟min karena kafarat itu bersifat mutlaq. 3) ‫الحكم فى ختلفا ذا المقيد على اليحمل المطلق‬ Artinya:mutlaq itu tidak dibawa ke muqoyyad jika yang berbeda hanya hukumnya. Jika antara mutlaq dan muqoyyad berbeda dalam hukum tapi sama dalam sebab maka mutlaq tidak dapat dibawa kepada muqoyyad. Contohnya hukum wudhu dan tayammum,dalam wudhu wajib membasuh tangan sampai mata siku. $pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ‟n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰†ƒr&ur ‟n<Î) È,Ïù#t•yJø9$# Artinya:Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku(Q.S.Al-maidah:5). Sedang pada tayamum tidak dijelaskan pada siku(Q.S.an-Nisa:43) (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ‰†ƒr&ur 3 Artinya:Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik(bersih),sapulah mukamu dan tangan mu dengan tanah itu. Materi dua ayat di atas sama tapi hukumnya berbeda yaitu membasuh tangan sampai mata siku dalam wudhu dan menyapu tangan pada tayamum.Dengan demikian harus diamalkan secara masing-masing tidak saling membatasi. 4) ‫والحكم السبب فى اختلفا ذا المقيد على يحمل ال المطلق‬ Artinya:Mutlaq tidak dibawa ke muqoyyad jika sebab dan hukumnya berbeda. Berbeda sebab dan hukumnya.Maka mutlaq tidak dapat disandarkan kepada muqoyyad.Masing-masing berdiri sendiri.Misalnya hukum potong tangan bagi pencuri laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT. Q.S Al Maidah 38) ä-Í„$¡¡9$#ur èps%Í„$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰†ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͥtã ÒOŠÅ3ym “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Selanjutnya kewajiban wudhu ketika akan shalat yakni salah satunya membasuh tangan sampai siku-siku. Lafadz potong tangan itu mutlaq sedangkan membasuh tangan sampai sikusiku itu muqoyyad.Karena sebab dan hukumnya berbeda maka masing-masing ditempatkan pada posisinya masing-masing.

B. 1.

MUJMAL DAN MUBAYYAN Definisi Mujmal (‫: )ال مجمل‬

Mujmal secara bahasa : (‫ )وال مجموع ال م بهم‬mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul.[2] Pendapat yang lain mengatakan bahwa Mujmal Bahasa berasal dari kata ( ‫ ) الجمل‬yang artinya rancau atau bercampur aduk atau berarti global atau tidak terperinci.[3] Secara istilah : ‫م قداره أو ف تهص ب يان أو ت ع ي ي نه ف ي ما غ يره، ع لى م نه ال مراد ف هم ي توق ف ما‬ “Apa yang dimaksud darinya ditawaqqufkan terhadap yang selainnya, baik dalam ta‟yinnya (penentuannya) atau penjelasan sifatnya atau ukurannya.” ‫الجمل من باالستفسار اال منه المراد المعنى اليفهم الذ اللفظ هو المجمل‬ Mujmal adalah lafadz yang belum jelas bias dipaham makna yang dikehendaki kecuali jika ada keterangan lain yang menentukannya.[4] Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam ta‟yinnya : Firman Alloh ta‟ala : ‫قروء ثالثة فسهنب ن يتربصن والمطلقات‬ “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru‟” (Al-Baqoroh : 228) Quru‟ (‫ )ال قرء‬adalah lafadz yang musytarok (memiliki beberapa makna,) antara haidh dan suci, maka menta‟yin salah satunya membutuhkan dalil. Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan sifatnya: Firman Alloh ta‟ala : ‫الصالة وأقيموا‬ “Dan dirikanlah sholat” (Al-Baqoroh : 43) Maka tata cara mendirikan sholat tidak diketahui, membutuhkan penjelasan. Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan ukurannya : Firman Alloh ta‟ala : ‫الزكاة و توا‬ “Dan tunaikanlah zakat” (Al-Baqoroh : 43)

Ukuran zakat yang wajib tidak diketahui maka membutuhkan penjelasan. 2. Definisi Mubayyan (‫: )المبين‬

Mubayyan adalah kebalikan dari mujmal, yaitu : ‫عليه يدل بنص وفهمه معناه ايضا حال وهو التجلى الى معناه فهم وعدم اشكاله حال من الشيئ خراج هو المبين‬ “ mubayyan adalah mengeluarkan suatu lafadz dari kerancauan dan tidak adanya arti yang dapat dipahami dengan menggunakan dalil-dalil yang bias menunjukkan pada arti yang dikehendaki.” Contoh ayat tentang “iddah wanita yang ditalak suaminya : ‫قروء ثالثة بانفسهن نيتربص والمطلقات‬ Dalam ayat ini ditemukan lafadz Quru‟ yang artinya belum jelas, sebab memiliki dua arti yaitu Haid (Datang Bulan), dan Tuhrun (Suci). Oleh karena itu harus ada penjelas.[5] 3. a. Kaidah yang berhubungan dengan mujmal dan mubayyan ‫اليجوز الحاجة وقت عن البيان ت خير‬

Artinya‟‟Mengakhirkan penjasan pada saat dibutuhkan tidak dibolehkan‟‟ Contoh:Ketika Fatimah binti hubaisy bertanya kepada rosululloh:‟‟ya rosululloh saya ini wanita yang berpenyakit(istihadhoh) yang belum mandi.apakah saya harus sholat‟‟nabi menjawab:Darah itu hannya keringat biasa bukan haid.Dari hadits ini dapat dipahami darah istikhadhoh tidak mewajibkan mandi besar.[6] b. ‫خير‬ ‫يجوز الخطاب وقت عن البيان تا‬

Artinya‟‟Mengahirkan penjelasan pada saat diperintahkan sesuatu dibolehkan‟‟ Contoh:perintah tentang sholat,puasa,zakat,dan haji.Semuanya dijelaskan secara bertahap dan mendetail.Tidak langsung dijelaskan tapi penjelasannya diakhirkan.

Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul),

Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.”

Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. 2. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li)

Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan, batas-batas yang dibasuh, Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji, dsb. 3. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus

Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud, maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna, lalu bersabda : “Sholatlah kalian, sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). 4. Penjelasan dengan tulisan

Penjelasan tentang ukuran zakat, yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya, kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. 5. Penjelasan dengan isyarat

Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan, yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan cara isyarat, yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya, yang maksudnya dua puluh sembilan hari. 6. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan

Contohnya seperti Qunut pada shalat. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama, yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. 7. Penjelasan dengan diam (taqrir).

Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian, atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang), itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan, itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. 8. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan).

Mufassar (sudah ditafsirkan)

Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas, maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan), seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat, zakat, haji dan lainnya.

PENUTUP

Hukum mutlak ditetapkan berdasarkan kemutlakannya sebelum ada dalil yang membatasinya, adapun lafadz muqoyyad tetap dihukumi muqoyyad sebalum ada bukti yang memutlaknnya. Sedangkan mujmal suatu lafadz yang belum jelas, dan perlu penjelasan dari dalil-dalil lain sehingga bias disebut dengan mubayyan. Semoga dari penjelasan diatas dapat memberikan banyak sedikitnya penjelasan tetang hukum mutlak, muqoyyad, mujmal dan mubayyan, sehingga kelak hukum tersebut biasa bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3.

Syarifudin, Prof.Dr.H. Amir. Ushul Fiqih Jilid 2. 2001. Jakarta : Logos Wacana Ilmu Zein MA, Drs. Zubdah Ushul Fiqh, 2008. Jawa Timur : Darul Hikmah. http://tholib.wordpress.com/2007/03/07/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->