P. 1
Hadis Nabi

Hadis Nabi

4.5

|Views: 4,924|Likes:
Published by Ahmad irfan
Hadits (bahasa arab: الحديث) secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an.
Hadits (bahasa arab: الحديث) secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an.

More info:

Published by: Ahmad irfan on Mar 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

HADITS Hadits (bahasa arab: ‫ )الحديث‬secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi  Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW.

 Namun sering kali kata ini  mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan  (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan  ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki  kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an. Struktur Hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan  (redaksi). Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari  Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman  seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya  sendiri" (Hadits riwayat Bukhari)  Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari  orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad,  memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits  bersangkutan adalah Al­Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW  Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan  sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam  tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada  klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait dengan sanadnya ialah :
• • •

Keutuhan sanadnya  Jumlahnya  Perawi akhirnya 

Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di  dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad  digunakan dalam mengutip hadits­hadits nabawi. Matan Matan ialah redaksi dari hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang  ia cinta untuk dirinya sendiri" 

Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadist ialah:
• •

Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,  Matan hadist itu sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat sanadnya  (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran  (apakah ada yang bertolak belakang). 

Klasifikasi Hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan  rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya  hadits bersangkutan) Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat), mauquf  (terhenti) dan maqtu' :
• •

Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW  (contoh:hadits sebelumnya)  Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda­ tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh: Al  Bukhari dalam kitab Al­Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas  dan Ibnu Al­Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Namun jika  ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...",  "Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf  melainkan setara dengan marfu'.  Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Contoh hadits  ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin  mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka berhati­hatilah kamu darimana  kamu mengambil agamamu". 

Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti  keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat  klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun  tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan, Science of  Hadits). Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Munqati',  Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap  tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para  sahabat) > Rasulullah SAW 

Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits  tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya  transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. 

• • •

Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan  langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah  berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).  Hadits Munqati' . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3  Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut­turut.  Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang  pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan...." tanpa ia  menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). 

Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau  ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini  hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.

Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad  dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal  itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan  (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits  mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir  sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap  riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap  riwayat)  Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan  mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain :  • Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu  penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)  • Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan)  • Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu  lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. 

Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan  terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi  ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da'if dan maudu'

• •

Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi  persyaratan sebagai berikut:  1. Sanadnya bersambung;  2. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik,  tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)­nya, dan kuat ingatannya.  3. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab  tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .  Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil  namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.  Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal,  mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau 

tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.  Hadits Maudu', bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur  yang memiliki kemungkinan berdusta. 

Jenis­jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:
• • •

• • •

Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh  seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.  Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang  bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.  Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya  terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah  hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga  disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)  Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang  perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan  yang dikompromikan  Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang  dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad  (silsilah) maupun matan (isi)  Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah  Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya  Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang  terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi­perawi yang  lain.  Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang  diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah­olah tidak ada cacatnya,  padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah  hadits yang ditutup­tutupi kelemahan sanadnya 

Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.   Shahih Bukhari  , disusun oleh Bukhari (194­256 H)    Shahih Muslim  , disusun oleh Muslim (204­262 H)    Sunan Abu Daud  , disusun oleh Abu Dawud (202­275 H)    Sunan at­Turmudzi  , disusun oleh At­Turmudzi (209­279 H)    Sunan an­Nasa'i  , disusun oleh an­Nasa'i (215­303 H)    Sunan Ibnu Majah  , disusun oleh Ibnu Majah (209­273).    Imam Ahmad bin Hambal      Imam Malik      Ad­Darimi   

Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw, melalui  Fatimah az­Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi'ah tidak  menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim  memusuhi Ali, seperti Aisyah, istri Muhammad saw, yang melawan Ali pada Perang Jamal. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, tetapi sebagian besar menggunakan:
• • • •

Ushul al­Kafi  Al­Istibshar  Al­Tahdzib  Man La Yahduruhu al­Faqih 

Pembentukan dan Sejarahnya Hadits sebagai kitab berisi berita tentang sabda, perbuatan dan sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul.  Berita tersebut didapat dari para sahabat pada saat bergaul dengan Nabi. Berita itu selanjutnya  disampaikan kepada sahabat lain yang tidak mengetahui berita itu, atau disampaikan kepada murid­ muridnya dan diteruskan kepada murid­murid berikutnya lagi hingga sampai kepada pembuku Hadits.  Itulah pembentukan Hadits. Masa Pembentukan Al Hadist Masa pembentukan Hadits tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, ialah lebih kurang 23  tahun. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis, dan hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat  saja. Masa Penggalian Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi'in, dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada  tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis ataupun dibukukan. Seiring dengan  perkembangan dakwah, mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para  sahabat saling bertukar Al Hadits dan menggali dari sumber­sumber utamanya. Masa Penggalian Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi'in, dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada  tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis ataupun dibukukan. Seiring dengan  perkembangan dakwah, mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para  sahabat saling bertukar Al Hadits dan menggali dari sumber­sumber utamanya. Masa Pendiwanan dan Penyusunan Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Al Hadits. Guna menghindari  salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka  para ulama mulai mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu'  (yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang  maqthu' (berisi prilaku tabi'in). Usaha pembukuan Al Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan 

(sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi­rawi pembawa beritanya  sebagai wujud tash­hih (koreksi/verifikasi) atas Al Hadits yang ada maupun yang dihafal. Selanjutnya  pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini  telah selesai melakukan pembinaan maghligai Al Hadits. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya  adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau  menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab­kitab Al Hadits abad  4 H. Kitab­kitab Hadits Berdasarkan masa penghimpunan Al Hadits Abad ke 2 H Beberapa kitab yang terkenal : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.   Al Muwaththa   oleh Malik bin Anas    Al Musnad   oleh As Syafi'i (tahun 150 ­ 204 H / 767 ­ 820 M)    Mukhtaliful Hadist   oleh As Syafi'i  Al Jami' oleh Abdurrazzaq Ash Shan'ani  Mushannaf Syu'bah oleh Syu'bah bin Hajjaj (tahun 82 ­ 160 H / 701 ­ 776 M)  Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (tahun 107 ­ 190 H / 725 ­ 814 M)  Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa'ad (tahun 94 ­ 175 / 713 ­ 792 M)  As Sunan Al Auza'i oleh Al Auza'i (tahun 88 ­ 157 / 707 ­ 773 M)  As Sunan Al Humaidi (wafat tahun 219 H / 834 M) 

Dari kesembilan kitab tersebut yang sangat mendapat perhatian para 'lama hanya tiga, yaitu Al  Muwaththa', Al Musnad dan Mukhtaliful Hadist. Sedangkan selebihnya kurang mendapat  perhatian akhirnya hilang ditelan zaman.  Abad ke 3 H

Musnadul Kabir oleh Ahmad bin Hambal dan 3 macam lainnya yaitu Kitab Shahih, Kitab Sunan  dan Kitab Musnad yang selengkapnya :    Al Jami'ush Shahih Bukhari   oleh Bukhari (194­256 H / 810­870 M)    Al Jami'ush Shahih Muslim   oleh Muslim (204­261 H / 820­875 M)    As Sunan Ibnu Majah   oleh Ibnu Majah (207­273 H / 824­887 M)    As Sunan Abu Dawud   oleh Abu Dawud (202­275 H / 817­889 M)    As Sunan At Tirmidzi   oleh At Tirmidzi (209­279 H / 825­892 M)    As Sunan Nasai   oleh An Nasai (225­303 H / 839­915 M)    As Sunan Darimi   oleh Darimi (181­255 H / 797­869 M) 

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Imam Malik imam Ahmad Abad ke 4 H 1. Al Mu'jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260­340 H / 873­952 M)  2. Al Mu'jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260­340 H / 873­952 M) 

3. Al Mu'jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260­340 H / 873­952 M)  4. Al Mustadrak oleh Al Hakim (321­405 H / 933­1014 M)  5. Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233­311 H / 838­924 M)  6. At Taqasim wal Anwa' oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)  7. As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)  8. Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)  9. As Sunan oleh Ad Daruquthni (306­385 H / 919­995 M)  10.Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239­321 H / 853­933 M)  11.Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)  Abad ke 5 H dan selanjutnya

Hasil penghimpunan  Bersumber dari kutubus sittah saja  1. Jami'ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556­630 H / 1160­1233 M)  2. Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (? ­ ? H / ? ­ 1084 M)  • Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami'ul Masanid oleh Ibnu Katsir  (706­774 H / 1302­1373 M)  • Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami'ush Shaghir oleh As Sayuthi (849­911 H /  1445­1505 M) 

Hasil pembidangan (mengelompokkan ke dalam bidang­bidang) 

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :  Sunan oleh Ad Daruquthni (306­385 H / 919­995 M)  As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384­458 H / 994­1066 M)  Al Imam oleh Ibnul Daqiqil 'Id (625­702 H / 1228­1302 M)  Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (? ­ 652 H / ? ­ 1254 M)  Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773­852 H / 1371­1448 M)  'Umdatul Ahkam oleh 'Abdul Ghani Al Maqdisi (541­600 H / 1146­1203 M)  Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675­744 H / 1276­1343 M) 

Kitab Al Hadits Akhlaq  1. At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581­656 H / 1185­1258 M)  2.   Riyadhus Shalihin   oleh Imam Nawawi (631­676 H / 1233­1277 M) 

Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadist)  1. Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773­852 H /  1371­1448 M)  2. Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631­676 H /  1233­1277 M)  3. Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu'allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M)  4. Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834  M)  5. Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan'ani (wafat 1099 H / 1687  M) 

Mukhtashar (ringkasan)  1. Untuk Shahih Bukhari diantaranya Tajridush Shahih oleh Al Husain bin Mubarrak  (546­631 H / 1152­1233 M)  2. Untuk Shahih Muslim diantaranya Mukhtashar oleh Al Mundziri (581­656 H / 1185­1258  M) 

Lain­lain  1. Kitab Al Kalimuth Thayyib oleh Ibnu Taimiyah (661­728 H / 1263­1328 M) berisi hadits­ hadits tentang doa.  2. Kitab Al Mustadrak oleh Al Hakim (321­405 H / 933­1014 M) berisi Al Hadits yang  dipandang shahih menurut syarat Bukhari atau Muslim dan menurut dirinya sendiri. 

Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan, terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara  lain:
• • • • • •

Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan  Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim  As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu  Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah  As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal  Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari  dan Imam Muslim  Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam  Bukhari dan Imam Muslim  Ats Tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam  Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah. 

Referensi
• • •

  Introduction to the Science of Hadith Classification by Shaikh (Dr.) Suhaib Hassan       [1]  Pengetahuan Dasar tentang Pokok­pokok Ajaran Islam (A/B) oleh Mh. Amin Jaiz  Metodologi Kritik Matan Hadis oleh Dr. Salahudin ibn Ahmad al­Adlabi, terjamahan, ISBN  979­578­047­6 

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Hadits

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->