F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

................................................................................................................ Arti Modern Istilah "Historisitas" .....................................................II..........272 III.... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.201 VII............................ Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?.....207 Sosialitas Manusia.......................................................................................................237 III.. Tubuh..................... Kritik atas Kebudayaan Modern.......... 6 .............212 VI.........247 Modul XIII...............220 I..................................277 Lampiran I: Soal-soal.............................................................. Fungsi Permainan. Aku Mengadakan Yang-Lain............................................... Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?.............................................. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia...................................235 I.......261 V..................................... Permasalahan & Pandangan-pandangan........................................................................................265 Modul IX................200 VI......234 Kematian Manusia......................... Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya".....................................197 IV..............................253 III..............232 Modul XII.....241 V............219 Historisitas Manusia............................................. Penindasan..... Permainan dan Perlombaan.................................................................................. Ikhtisar ...........................................................................210 III................................................... Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas............................ S........................................................................ Ikhtisar.........................208 II...............................................................................................................212 V...............235 II........................................... Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek... Aku Diadakan oleh Yang-Lain......263 M.............................249 Filsafat Feminisme........................... Identitas..........................................198 V...................................... dan Pembebasan Tubuh Perempuan.................................................266 II........................ Ikhtisar..........................196 III.. Pemikiran Timur sebagai Filsafat.............. Ikhtisar........... Perjuangan........................................... Permainan dan Pembebasan..................239 IV...............................203 Modul X..... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati............................ Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ..........................................................228 IV........................... Korelasi..................... Lahirnya Manusia................208 I......... Jiwa Manusia Bersifat Kekal)..........................................265 Filsafat Timur....................................................................................................246 VI.......... Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?............................................................................ "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II........................ Ikhtisar....217 Modul XI........................................259 IV..........................................Psi..................................................................................285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.........226 III...........266 I.250 II................. Permainan dan Kebudayaan.................... Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain"...............................211 IV..............................................................................250 I.....

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. semua kegiatan. misalnya pada taraf biokimia. biologis saja. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. semua pengertian. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. Dengan demikian. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu. cinta kasih. Namun. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. b. V. seperti misalnya berjalan. yang berarti ”menampak”.Psi. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. S. 16 . objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. Dengan jalan ini. rasa takut. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. malu. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. bekerja. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. Bukan berupa sifat atau gejala saja. Dengan demikian. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. dan berarti ”yang dipikirkan”.

entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. turunan. sebagai ”aku”. Jadi. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. dan sebagainya. S. misalnya menurut aspek budaya. 17 . nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. Nama ini menimbulkan keberatan. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”.Psi. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. yaitu keunikan dan kesendiriannya. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. VI. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. VII. Memang. Akan tetapi. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. atau ”psikologi metafisis”. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. dengan segala sudutnya. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya.

Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. waktu. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. menganal hakekat sifat dirinya. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. tentang makna kebebasan dan mencintai. 18 . manusia dan Tuhan. psikologi. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. alam semesta. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. sosiologi. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. Alasannya adalah karena. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebagainya. Misalnya.Psi. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat.di muka kita. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. antropologi. seperti biologi. kemampuannya dan cita-citanya. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. dan sebagainya. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. terutama pada masa kini. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. S. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. etnologi. tentang dunia. yang sampai batas-batas tertentu. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri.

digambar. Plato. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. alam kodratnya. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. melainkan struktur metafisiknya. Filsafat manusia. S. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. 19 . Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. yaitu badan dan jiwa. Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. diukur. strukturnya yang fundamental. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. mengambil manusia sebagai obyek material. misalnya. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). alasan adanya (principe d’etre). yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. dibayangkan. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik.Psi.

Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. induktif. fenomenologis. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. dengan apa yang melampaui yang “fisis”.Psi. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika. S. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. metode filsafat adalah bersifat refleksif. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.binasa. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. atau juga. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra. eidetik. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. 20 . abstraktif. dan metode metafisik.

P.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman.Psi.Psi. 21 . juneman@gmail. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.. S.W. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

jaksa. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. di bengkel. berbicara adalah suatu gejala yang terang. Apabila di dalam praktik bahasa. penyiar radio-televisi.Psi. . Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. perancang iklan. pengacara. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. yang Jacques menurut tertentu. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. di kantor. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. psikoanalis Lacan. Berdebat di ruang pengadilan. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. membeli tahu-tempe di pasar. wartawan. dengan bahasa. atau di mal-mal. rantai penandaan terputus. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. cara tetapi struktural ini. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. penulis. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. S. Pertama. dan sebagainya). belajar di bangku kuliah. Nampaknya. keseleo lidah. dosen. di toko. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. Para hakim.BAHASA I. dsb. kelupaan akan nama.

kekuatan kata-kata. misalnya dalam bentuk penilaian. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. terdapat tahapan evolusi yang luas. S. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. susunan alam raya). sejak dahulu. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia.Psi. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Kedua. 23 . Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. Wittgenstein awal. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini.” (Langer). Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya.” kata Joseph Conrad (Brussell. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. kata ataupun susunan. aspek-aspek dunia terungkap. Inilah kekuatan bahasa. seseorang dapat menggerakkan dunia. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti. Bahkan. Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. karenanya menyesuaikan diri. Husserl. dan Carnap. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). pada periode Frege. the power of words. mendengarkan. pernyataan. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. Maka itu. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. dan representasi. 1996): Pertama. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. menurut Gadamer. Kedua. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). inti sesuatu hal. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. Bahasa. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. Di dalam bahasa. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. cerita. 1988).

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dalam perbuatan berbicara. J. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. dan the act of affecting something. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika. dan roh. maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. Selain itu. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Bagi Wittgenstein-tua. yaitu manusia secara konkret. dan post-strukturalisme. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. Ketiga. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani. Grice. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. tersangkut badan dan jiwa. the act of doing something. pancaindera. Tergambar jelas dari uraian ini. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). S. yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). maka suatu kata memperoleh arti dan makna. 24 . dan poetika. Secara berturut-turut. II. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. Searle). Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. hermeneutika. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. contohnya. asap menandai adanya api. seluruh pribadi manusia itu.R. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Ketiga. strukturalisme. Di dalam Speech Acts. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh.an. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Substansi adalah kata atau ungkapannya. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. menurut van Zoest (1993). retorika. misalnya. yaitu segi ekspresi dan segi isi.Psi.

ia memperoleh sebutan baru. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. i. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. S adalah untuk semiotic relation. animal simbolicum. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. dan c untuk context atau conditions. kata. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. misalnya. r. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. Keselamatan kita. e untuk effect. r untuk reference. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Perhatikan rumusan berikut: S (s. i untuk interpreter.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. kalimat. e. jika disandingkan. Dalam penelitian sastra. maka huruf. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. Maka itu. sehingga bagi Cassirer. 25 . merupakan khazanah pengetahuan insani. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. c). dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Perpustakaan. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. S. sebagai ”hewan sosial”. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus.Psi.

mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. 26 . ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought). Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan.Psi. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa. di mana Müler menegaskan. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi. kita harus berpikir. No Language without Reason.” Dengan istilah teknis dan filosofis. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. S. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Agar bisa bernalar. Max Müler lebih jauh lagi. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa.” Samuel Johnson mengatakan. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. Masing-masing merupakan produk biologis. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. (2) pikiran adalah bahasa. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan). namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin.J. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. J.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). ”Bahasa adalah busana pikiran. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan.

dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn. samasekali tidak jelas begitu saja. S. kaitan pikiran dan kata. tetapi kesan pasti ini menyesatkan. tetap. Pikiran akan menimbulkan kalimat. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda.Psi. hermeneutika. jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. tetapi terkadang tidak. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. dan filsafat analitis. dan definisi arti. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran. tetapi kata (word). John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. strukturalisme. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. dan abadi. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. seperti misalnya. sekalipun sangat menyederhanakan.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. semiotika. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. 27 . Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal.

karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan.” atau bahwa. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. 28 .menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. Sebagai contoh. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. S. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. Benarkah bahwa.Psi. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru. ”Bir lebih enak daripada anggur.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. III. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya. dan mengakui keterbatasannya. bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. itu samasekali tidak mengurangi nilainya. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas.

Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan.” Pinker berpendapat.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). S. 29 .. terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain. teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa). yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. Bila pemangsa terlihat di tanah.. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu. Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka. Bila elang mengancam dari atas. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). Bahasa manusia berbeda samasekali. dan sebagainya). Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa.

Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. 30 .berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. S. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. berbeda.Psi. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri. Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. IV. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. 2. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama.

harus dimasukkan. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti.3. lebih baik diam. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. Semua ini bukannya tidak benar. Tanpa hubungan itu. Tuhan menampakkan diri. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. estetika. Tetapi bagi Wittgenstein. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Menurut Wittgenstein. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Kita tidak dapat menjawabnya. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. S. karena Ia bukan fakta. Oleh karena itu. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. bahasa tidak mempunyai arti atau makna. Bahasa etika dan agama. sesuatu yang tak terkatakan. Sungguh. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. Dalam dunia. Ini sudah merupakan dalil. melainkan tidak bermakna. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. 4. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. 6.” 5. Pernyataan metafisika. etika. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. Oleh karena itu. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. ini suatu mistik.Psi. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. 31 . karena bukan pernyataan faktual. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Di hadapan ketidakmampuan ini. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. Caranya ialah dengan gambaran logis. Menurut teori gambar. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. Oleh karena itu. Dalam hal ini. kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. atau agama tidak mempunyai arti. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku.

dan. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. Sebuah tanda menjadi hidup.Psi. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. sebuah tanda menjadi mati. menanyakan. Esensi setiap permainan berbeda. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. dalam kenyataannya. boleh. Karena itu. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu. Dalam permainan bahasa. perlu dicari di luar dirinya. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. demikian pun bahasa. memberi perintah. juga mengenai hal itu kita perlu diam. Permainan bahasa (language games). Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. Dalam hal ini. (b) Akibatnya. kita dapat memaparkan sesuatu. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. Misalnya. Dengan bahasa yang sama. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. bernyanyi. kuda. misalnya sudah. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. dan seterusnya. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. maka. S. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. Ada banyak permainan bahasa. kambing. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. pohon. 32 . tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia.nilai itu ada. justru dalam penggunaan. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. beroda. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. berterimakasih. menjadi bermakna.

Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami.Psi. bermakna atau tidak. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. Dengan itu. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. kita menggunakan bahasa yang sama. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. S. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Terpaksa. 3. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. kita berbicara tentang apa. 2. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. karena bahasa lain tidak kita punya. Masih kita ketahui. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 33 . V. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis.menyatakan satu pernyataan tertentu. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk.

Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. misalnya. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. Karena itu. sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. Bagi Russell. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius. tidak pada taraf ontologis. Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein. “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). Dalam periode pertama.Psi. Terutama di Inggris. S. 34 . ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. Moore. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. Bagi Wittgenstein. Pada G. tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being).dengan dunia berhingga kita.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya.

Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. tidak mempunyai isi faktual. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. sebagaimana dikatakan Ayer juga. maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. Bila ada banyak permainan bahasa. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. semuanya tidak bermakna.Psi. 7). Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya. Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi). Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius.in silence” (Tractatus. tidak berbicara tentang suatu fakta. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. tidak mempunyai nilai pengenalan. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. emosional atau ekspresif. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. nr. secara apriori tidak bermakna. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). S. Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. Kalau dalam periode ketiga. 35 .

Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan. P. Namun demikian. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. R. Braithwaite. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif. Van Buren. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. Evans. Smart. Hick. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu.B. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. metode mereka adalah analisis bahasa.D. Pertama. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. I. J. Mitchell. sudah sejak permulaannya di Yunani.M. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal. Ketiga dan yang terutama.J. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. Pada zaman kita ini. Hare. Macquarrie. langkah demi langkah. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif.M. Mascall. J. 36 . VI.Psi. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. begitu luas. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. Kedua. R. S.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka. apa saja merupakan being. Selanjutnya. E. B. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. Namun demikian. D.T. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. Tentu saja. Crombie. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. Hanya saja harus ditambah. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. Ramsey.

S. tentang eksistensi Tuhan. yang tak pernah bulat selesai. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. Tentu saja. Dalam kata-kata. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa. dilahirkan sesuatu rasa heran. Demikianlah. memperoleh bentuknya yang dinamis. dan peristiwaperistiwa. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. kebanyakan orang menjadi bingung. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. Husserl. Heidegger. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. sebagaimana sudah kita lihat. 37 . Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. Pada gilirannya. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. Fungsi inilah.Psi. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. yakni fungsi transformatif. kebakaan serta kebebasan jiwa. Dalam setiap kata. menurut pengamatan para linguis. Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. Agaknya. Pada akhirnya.” Pada pokoknya. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. Itulah sebabnya Frege. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. manusia. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. barang-barang. Tetapi kami tidak bersalah. Derrida.

Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. 38 . S.mereka dipahami dengan berbagai cara.

2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi.. juneman@gmail.P. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi. 39 .Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman. S.W. S.

antropologis. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. siapakah namamu?. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). dan juga berarti dengan sesama (sosial). situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. Ada yang eksperimental-ilmiah. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. dan lain sebagainya. Pengertian ini kompleks. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. melainkan metafisis atau hakiki. bagaimana titik tolak manusia? Konkret.Psi. banyak segi jika orang bertanya. Tidak hanya berhadapan. menghadapi kesukaran. Jadi. psikologis. dia melakukan. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. dan lain sebagainya. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri.K E H I D U PAN I. dan lain sebagainya. dan berbagai macam: sosiologis. dengan emosinya. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. dia mengolah diri sendiri. dan lain sebagainya. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. Manusia bisa. padat. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. Dalam bertanya tentang diri. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. dengan pandangannya. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. juridis. dalam psikologinya tentang persona. Oleh karena itu. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dalam pandangan tematis bisa salah. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. S. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. ke manakah kamu. 40 .

hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. punya kemampuan. dia tetaplah dia sendiri. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Lihatlah.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. Lihat saja. Karena badannya. Hewan juga berada di dalam alam. melainkan tentang aku! Kelak. jika manusia menguraikan kesadarannya. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. Masing-masing dari kita berkata: Aku. Namun dalam berubah-ubah ini. dia bisa berjalan. dia menempatkan diri. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. berada dalam suatu "cahaya". Jadi. Sesudah pendahuluan ini. dan dengan demikian. S. Manusia selalu terlibat dalam situasi. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. bisa mengubah dan mengolahnya. Manusia tidak sadar tentang jiwa. Dia menghadapi. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. tidak mempunyai distansi. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. manusia bangkit. dan lain sebagainya. menghadapi. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. di sebelah sini atau sana. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi tidak berhadapan dengan alam. bagaimana manusia itu menjadi sadar. Jadi. situasi itu berubah dan mengubah manusia. situasi itu. mengambil tempat (posisi) dan sikap. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Kalau begitu. Subjek artinya berdiri sendiri. Dengan ini dia menyejarah. Corak yang ketiga. jangan berkata tentang badan dan jiwa. yang menyebabkan dia bisa seperti itu. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. tetapi juga bukan jiwa. jadi punya daya.Psi. tetapi juga karena diubah oleh. Dia tidak hanya berubah dalam. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. 41 . tetapi juga berjarak. Dia berkata: aku sakit. atau badanku sakit. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. II. Dia bisa memandangnya. Lihat saja. sebagai subjek. bertindak. Dia merupakan kesatuan dengan alam.

tidak terlipat-lipat. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia. • Ada pandangan idealistis tentang badan. berdimensi tiga. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. badan adalah prinsip jasmani. Juga kesenangannya. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. Dia berat atau ringan. Dalam realitas. Maka. Maka.maupun realitas. seluruh manusia adalah jasmani. yang ada hanya roh. yang ada bukan badan. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. dalam semua itu tampak kerohaniannya. artinya tidak seperti barang-barang yang lain. manusia juga jasmani. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. berdarah dan berdaging. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. sukacitanya. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. badan cahayanya. tetapi manusia. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. Lihatlah. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. mirip dengan makhluk hidup lainnya. jadi tidak boleh pernah disendirikan. Jiwa adalah prinsip rohani tadi.Psi. bisa menghadapi diri dan barang lain. artinya materi. Maka. manusia kita katakan bersifat rohani. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 42 . kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. Roh adalah listrik. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. begitu juga dengan hewan. ada aspek jasmani. tidak terbentang. dengan sadar. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. kebahagiaannya. Tetapi. Jadi. habis! Itulah salahnya. bisa dilihat secara anatomis. tidak lepas dari barang materi. Bersama dengan itu. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Seluruh manusia adalah rohani. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. badan seolah-olah tidak ada. S. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. kita katakan badan dan jiwa. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia.

Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. melainkan sebagai dua. Lihatlah sepanjang itu. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. unsur aku-ku. Badan dianggap penarik ke bawah. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. Persona (tidak dalam pengertian Jung). Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika aku berkata aku. Pendapat ini pun tidak riil. tetapi tampak. misalnya cinta. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Pribadi. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. Selanjutnya. yang masih asli. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Yang ada bukan badan. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani.Psi. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. habis perkara. Badan adalah unsur diriku. 43 . juga tidak sama dengan sepatu. maka di situ sudah termuat badanku. Tetapi badan sebagai milik. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. Yang ada hanya badan. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. dalam pemahaman awal. sepanjang aku ini terlihat. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. cermin. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. S. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. Sekali lagi. Badan tidak sama dengan aku. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. tampak dalam alam jasmani. badan termuat dalam aku. sedih. Samakah badan dengan aku? Tidak. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. sesuatu yang menempel. Yang tampak adalah Aku. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis).• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. dan lain sebagainya. Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. ke kejahatan.

Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". celaka. Orang akan berkata: aku melihat si A. tetapi menipu! Jika badanku sakit. tetapi belum tentu malang. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. Tetapi. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. jarak. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". maka dia melihat aku. jadi tidak sama saja dengan aku. Dia berkata: awakku lagi susah. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. Yang malang bukan badan. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. seperti orang-orang lain. Aku bisa berpura-pura marah. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita.. Aku ada berarti aku ini manusia.. Kita berkata: itulah orangnya. S. tetapi juga ada distansi. . Menangkap suara berarti menangkap pikiran.. jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). Antara badan dan aku ada kesatuan. Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. mengarang. Minatilah caraku menampakkan. 44 . Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. Badanku bisa tidak berdaya. mengucapkan kata manis-manis. yaitu badan itu.Kesamaan itu hanya sepanjang . Setelah semua ini dikatakan. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. maka di situ milikku tidak termuat.. Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. Maka dari itu. tetapi seluruh manusia. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. badanku termuat. Karena badan itu menjadi penampakanku. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. menunjuk badan..Psi. Tetapi dalam berpikir tentang manusia. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. Kita tidak berkata: itulah badannya. Badan membatasi penampakanku. Jika orang lain melihat badanku. dan lain sebagainya. aku memang sakit. awakku sedang malang.

ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. Setelah ini kita nyatakan. keadaan iklim. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi kesatuannya tidak sempurna. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan".Psi. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. Untuk menyatakan kesatuan ini. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. Bangunan itu selalu berubah. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. juga ditentukan oleh keadaan itu. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. Manusia itu kesatuan. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. Dua itu tidak berdampingan. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. 45 . bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. Maka. dan lain sebagainya. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). Keadaan tanah. S. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. yang berakhir dengan disintegrasi. keadaan geografis. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. keadaan flora. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga". Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. Jadi. berproses menurut hukumhukum biologis. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air.

dan lain sebagainya. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). Namun. sebentar tampak sedikit. Tentu saja. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Maka.Psi. Tetapi materia tidak menjadi rohani. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. yang sehat. Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Semua keadaan badan. pelajaran tari. demikianlah Dr. S. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. Hidup badani adalah untuk memanusia. sebentar hilang. masih memungkinkan kemenangan kerohanian. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). kecil atau cukupan. 46 . jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. asal sehat saja. tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. di situ ada pertumbuhan yang normal. Dengan membadan kita memanusia. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. tidak menjadi jiwa. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. seperti api dalam banyak abu. Sebelum kita lahir. Jika badan bertumbuh secara normal. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. hanya menjadi badan. Pandanglah sekarang badan yang normal. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. pembiakan sel). maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga. Artinya.

misalnya disentri!). sedang kuat-kuatnya. biarpun sehat.. 47 . Di samping itu... bisa pilih makanan dan obat-obatan. tetapi . artinya "kenistaan" dan "keagungan". kalau masih kecil (bayi). Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sabun. seperti arloji). belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. dan lain sebagainya. mungkin dia luar biasa.. Coba saja. .. misalnya denyutan jantung. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. Jika pandangan ini masih statis.. pembagian makanan dan gula. dan lain sebagainya. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai.. dan lain sebagainya. seandainya tidak dibersihkan .. tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. dengan mandi. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. perputaran darah.. Ingat saja denyutan jantung. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. Lihatlah tangan manusia. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu.. dan seandainya ibu tidak bertindak. S. minum harus diminumi.kedokteran). Kita bisa mengurangi makan. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian. dalam tubuh manusia. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita.. macam apa saja yang dibisai. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . Ambil untuk mudahnya. hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. . Manusia di situ sudah kuat. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan.. Lihatlah anak kecil. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. bisa mengurangi atau menambah tidur. lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar.Psi. . lenyaplah semua kepandaiannya.

tangannya. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. mesin hitung. kesemuanya itu. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia.olahraga! Sungguh mengagumkan. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. Berdasarkan keluhuran ini. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). dalam penampilannya dan penampakannya. maka badan dalam sikap-sikapnya. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. reaktor atom. tetapi itu tidak sama. bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. lidah-nya. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. pakaian. dan lain sebagainya. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. dalam gerakgeriknya. Oleh sebab itu.Psi. 48 . kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. Lihatlah sekarang barang-barang seni. bibirnya. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. S. matanya. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. makanan. dalam solah-bawa-nya. Maka. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. Jika pribadinya luhur. Maka dari itu. anjing mendengar. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian.

Tetapi. jadi dengan badan. sebab ibu mengajar si anak makan. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. Demikianlah tata sopan. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. cinta kasih. Jadi.Psi. Tetapi sebaliknya. hormat. Karena itu. mengenakan pakaian. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. semua hal insani badani juga. tidur. Dia harus bersikap. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Oleh sebab itu. Manusia hanya memanusia dalam badannya. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. Berdasarkan ini. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. Pendek kata. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. kebaktian. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. dan lain sebagainya. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. minum. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. Maka dari itu. bertindak. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. berjalan. 49 . jika orang ingin menjadi pribadi luhur.akan mencerminkan keluhuran itu. S.

rohani dijelmakan. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. tetapi dilihat dari sudut psikis. Kejiwaan manusia diminati juga. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. dan lain sebagainya. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik. Jadi. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. Orang melihat seluruh manusia. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. yang dilihat bukan badannya saja. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. yang artinya seluruh manusia. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. rumah sakit jiwa. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. Dalam bahasa Inggris misalnya. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. sakit jiwa. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng). mental hygiene). Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Jika kita mengingat psikoanalisis. tidak sakit. jadi keadaan manusia. S. 50 .Psi. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. Kalau orang bertemu. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. kesehatan disebut whole-some. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya.

Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. baik jasmani maupun rohani. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental".sehat berarti tidak sakit. badannya di situ tidak bisa berfungsi. IV. bagus. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. 51 . Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. Aliran yang terakhir. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. Kekecewaan yang hebat. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus. Dalam situasi yang konkret. Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". orang itu akan terganggu kesehatannya. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. personal. Jika kita mengingat kesemuanya ini. tetapi soal seluruh manusia. dan sekuler. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. Socrates. didirikan oleh Orpheus. dan Plato. tidak adanya penyakit apa pun. Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Aliran yang kedua. di sana hidupnya masih jalan baik. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Yang pertama. S. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. privat. sekaligus yang paling tidak populer. Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi.Psi. Sebaliknya. bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. didirikan oleh Epicurus. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras. Meskipun tak populer. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". bagi orang yang datang dari lain kebudayaan.

dan hal-hal yang bersifat religius. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. silikon. pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. Persoalanpersoalan kosmologi. sesekali memang dapat "rusak". Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. dengan berkembangnya ilmu kedokteran.Pada abad ke-20. posisi keluarga. 52 . dan psikologi. antropologi. gender. umur. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?.Psi. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. katup buatan. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. gender. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. transplantasi mata dan telinga. dengan alat pacu jantung. Abad baru.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. maupun dalam upacara pemakaman. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya.Psi. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. dan ukuran. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. masuk juga kategori afektivitas. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. 58 . semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Justru terhadap segi itulah. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. S. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual.lahir dari pikiran kreatifnya. Nama itu adalah Spirit. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. keluasan. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. Jadi.

roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain.VI. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya. dan lain-lain. lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. 59 . Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain. Sebenarnya.Psi. Akibatnya. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. manusia agaknya masih belum lengkap. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. kultural. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. Berkat karakter spiritualnya. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. untuk perkembangan ilmiah. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya. yaitu keinginan. Akibatnya. material. S. dia hanya berpaling pada dirinya. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. alteritas seorang lain. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. moral. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis.

dan sekali lagi. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. Dalam kesempatan itu. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. akibat ciri spiritual jiwanya. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. melainkan dunia kebebasan batin. itulah artinya istilah “spiritual”. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. meskipun perutnya lapar sekali. Nah. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. hidup spiritual. kata salah seorang di antaranya. S. kedinginan. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. Karena itu. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. VII. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). diucapkan dengan istilah “persona”.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. kotoran. Tiba-tiba. Dia menyepak potongan roti itu. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. laksana gerombolan serigala. dan sebagainya. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. Suatu hari. “Lihatlah”. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. sebaliknya. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. 60 . Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu. yang meletakkannya di luar semua kategori. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa.Psi. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. karena spiritualitasnya. Persona manusiawi. Tetapi. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. tutur temannya.

seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. 61 . Itulah dasar martabatnya. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. dia bersifat imanen terhadapnya. yang saya sentuh dan rasakan itu. Badan yang penuh dengan hidup. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maksudnya. Sebaliknya.merupakan panggilan sejati manusia. yang terstruktur berkat jiwa. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. S.Psi. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis. dalam fungsi yang menstrukturnya. Adapun jiwa.

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 62 .Psi.. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. C. S. S. juneman@gmail.Psi.P.W.Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman.

1987: 29 50). seperti mengisyaratkan atau menginginkan. S.Psi. di depan subjek. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. Ia menunjukkan. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. serta mengungkapkannya secara tepat. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. orang harus mengambil jarak terhadapnya. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. Ketiga. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar. Pertama. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. Alasannya. Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun.P E N G E TA H U AN I. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. misalnya M. berkat pengetahuanlah. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). 63 . Pengetahuan. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan.

ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. pembau. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. atau karya-karya seni. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan. objek-subjek serta indrawi dan intelektif. tindakan. Pengungkapannya adalah. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian.Psi.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. baik dalam bentuk ide. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. sampai batas tertentu. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. serta jerit teriakan. ketika sambil muncul secara spontan. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. mitos. gerakan-gerakan. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. S. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. konsep. jernih bagi dirinya sendiri. perasaan. melalui penglihatan. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. dan sebagainya. tingkah laku. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. definisi. Seterusnya. utuh. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. pendengaran. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. sikap-sikap. 64 . Pengetahuan disebut pula diskursif. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif.

pengetahuan intuitif. bila menarik yang universal dari yang individual. S. 65 . Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. dan kemampuan-kemampuannya. Pengetahuan itu sinergis. Pengetahuan itu kontemplatif. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya.Psi. Akhirnya. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. dan sebagainya. tentang gerakan. konsekuensi dalam prinsip. organ-organnya. menurut bagaimana cara diambil. Praktis. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. tentang manusia. Pengetahuan tentang materi. berbeda sekali satu sama lainnya. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bila menarik yang individual dari yang universal. sebab dalam akibat. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. yang indrawi dan intelektif. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. dan sebaliknya deduktif. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. Pengetahuan itu disebut spekulatif. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas. tentang luasnya. Pengetahuan itu adalah induktif. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. tentang hidup. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. Pendeknya. Bagi epistemologi. keseluruhan dalam satu bagian. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya.

theory that abstract or general terms. Artinya. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. represent no objective real existents. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. Tegasnya. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. Kegiatan-kegiatan afektif. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. namun di dalam pertemuan tersebut. 66 . Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. sedangkan lewat afektivitas. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy. S. or universals. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. Bagi kaum Nominalis.mengetahui suatu realitas.

(c) concepts refer to abstracts. Nominalisme. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. dan bukan hanya sekadar pertemuan.names. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. maka manusia adalah nama belaka. Menurutnya. Universals exist only post res (Runes. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. 1975: 61). S. yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. dan aliran Idealisme di lain pihak. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. Jelasnya. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. 1975: 211). mere vocal utterances "flatus vocis". berbeda halnya dengan Nominalisme. ternyata tidak sederhana implikasinya.Psi. but having no reality apart from them. 67 . Reality is admitted only to actual physical particulars. that is to say. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. dan objek-subjek. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pendeknya. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal).

Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. mutlak. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. dimensi material dan dimensi spiritual.Psi. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. S. dan final. Sontag. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). objektif atau subjektif. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. pantheisme. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. II. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". induksi dan deduksi. 68 . antara tingkat pengetahuan suatu pengada. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). 1970). Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebenarnya. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia. Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen.

dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. Ditinjau dari sisi subjek. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Bila dianalisis lebih lanjut. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. dan kalaupun keluar (transcendent). Akibatnya. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. dengan mengetahui.Psi. Akhirnya. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. di pihak lain. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme.batas-batasnya. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. Aliran Idealisme. 1983). Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. 1993 & Bertens. Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. Ditinjau dari sisi objek. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. dan berada di luar subjek. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. berlainan. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam. 69 . dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Merleau-Ponty. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. S. Mempelajari pengetahuan. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam.

Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. Menurutnya. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum.Psi. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. Meskipun demikian. 70 . Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. Penjelasan tersebut akhirnya. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya. 1982:30 -31). mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka. Walaupun demikian. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. S. Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata.

Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. membakar.Psi. Keterbatasannya itulah yang mendorong. lengkap. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. manusia harus menjadi dirinya sendiri. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. 1983: 344). Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. S. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. mereka adalah mereka. menggerogoti. Akibatnya. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. demikian juga pengetahuannya. serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. seutuhnya terwujudkan. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. Jelasnya. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. 71 . kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens.

Psi. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. untuk menyelesaikan modul ini. maka demikian halnya dengan pengetahuan. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali.(2 x 2 = 4). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. manusia bisa berada secara lebih tinggi. Melalui pengetahuanlah. maka cukup sampai di sini. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. Akan tetapi. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. dan jiwa bukan materi. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. Melalui pengetahuanlah. kendati semua penjelasan sudah diberikan. S. dalam satu modul yang lain lagi. secara radikal. ia tidak tahu apa yang diketahuinya. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. melampaui dirinya sendiri. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. IV. Terutama karena materi bukan jiwa. Keberadaan manusia. 72 . watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. karena kita akan mempelajari. daripada melalui bahasa dan seksualitas. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. yaitu pengetahuan intelektif. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri.

Karenanya. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. Bahkan. menurut Heidegger. nalar yang mewakili bukan menyingkap. modus bernalar biasa harus ditinggalkan. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. Kelumpuhan ini. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. yaitu Ada yang menopang segala adaan.V. mulai dari Yunani klasik sampai modern. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan.Psi. seperti diisyaratkan Russel. Bagi Heidegger. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. S. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. Oleh karena itu. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. 73 . disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif.

74 . kata mereka. Padahal. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. bukan menciptakan. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. bukan pemikiran. Ia menjadi ansilla historica. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. S. hamba sejarah.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Nalar pun sekadar kalkulasi. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. bukan eksplorasi. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. Ia mentransendenkan semua metode. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi.Psi. Nalar identik dengan universalisme. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. seperti dikemukakan Whitehead. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. filsafat. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Fisika. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. misalnya.

gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju.transenden. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. sebaliknya. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. Yang baik dan yang jahat. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). sementara "kelainan" adalah modus puitis. Transendensi adalah modus epistemologis. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. Beyond Good and Evil. maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Kalaupun bertanya. maka ia terjebak dalam epistemologi. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. 75 . Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. S. Pengambilan jarak Dasein. Namun. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menurut Nietzsche. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Berakar dari proyekproyek genealoginya. bukan kebenaran baru. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman).Psi. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Namun. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. Selanjutnya. apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. Sementara "kelainan". yakni being in the world. Yang dikejar oleh nalar puitis. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan.

Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Padahal. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan.Psi. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. 76 . Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Manusia butuh kepastian. kebaikan. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Melampaui relativisme. Kalau tidak. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. S. Semua tanda tanya harus dipastikan. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Dan. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. dan keindahan. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Dan. tertib kosmis akan mengalami gangguan. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. sebaliknya.tak berpuisi? Atau. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. menurut Hegel. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Semua tanda tanya harus dipastikan. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Nietzsche. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. Satu saja lolos.

kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. 77 . Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. Berkat falsifikasi. Jurgen Habermas. dan ketetapan. S. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. Paul Feyerabend. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas.Psi. Daya transendensi nalar. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. universalitas. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Budaya. Thomas Kuhn. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. Kebenaran tidak bisa dipastikan. ideologi.Karl Raimund Popper. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. sebaliknya. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. namun seperti digagas Wittgenstein. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. melainkan kehampiran. filsuf sains termasyhur. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. menurut Popper. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. seorang anti-Popperian. Bagi Popper. Ia tidak tunggal. Baginya. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. Namun. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan.

Tuhan bekerja secara misterius. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. habis perkara. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. 78 . Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. ingat dan sadar. Menggeser relativisme.Psi. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Namun. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Begitu cibir para mistikus. Nalar manusia terbatas. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Namun. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Namun. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Setelah nalar berhenti. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. S.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. Apa mendominasi apakah.

belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. 79 .keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. teologi. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Singkat kata. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. dan filsafat. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah.Psi. teologis. Melainkan. S. teologi. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan filsafat untuk berhening sejenak. Saatnya bagi sains.

juneman@gmail. 80 . 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. S. S.P..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman.Psi.W. C.

Jadi. Bahkan. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. atau manusia sebagai trias-dinamika. dan lain sebagainya). Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. dan lain sebagainya. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. aspek pendekap. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. rasa (afeksi).Psi. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. Orang mencium bau mangga. Tetapi. 81 . rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". rasa was was. Di samping itu. bisa menilai segala keadaan. ada rasa yang lebih mendalam. Dalam kalangan Jawa. tetapi toh lebih sedikit dari itu. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa).” Di sini rasa mengandung pengertian. dan lain sebagainya. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. S. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". manis pada lidah. terutama kalangan kebatinan. jika seorang berkata: aku merasa dingin. rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. aspek apetitif. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). bagaimana kedudukannya. rasa takut.” “Saya merasa khawatir. karsa (konasi). Di atas hal itu sudah kita mulai. rasa pada badan! Di samping itu. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. itulah trias-dinamika manusia. dirinya sendiri. Rasa khawatir. Dalam Serat Wedhatama misalnya. kita membedakan dua macam rasa. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. minuman ini terasa manis. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek.A F E K T I V I TAS I.

Lebih jelas lagi merasa haus. menjadi bhinneka. Orang pingsan tidak bisa menikmati. maka yang satu itu menjadi terbentang. yaitu karsa. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). sebaliknya. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.merasakan mangga. menjadi terserak. memakannya. Maka sesuai dengan kejasmanian. maka menjadi banyak kata. Nah. 82 . Artinya. maka "membentang" berupa kalimat. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. Gambar itu bisa kita balik juga. Tetapi sebaliknya. Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. meskipun mulut dimasuki makanan. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". Pikiran kita. lantas menjadi banyak. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. dia mengambil buah itu. di situ belum terjadi penikmatan bakmi. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. Jadi. Dengan ini dia mengalami mangga itu. Jika cinta dinyatakan. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. Kita selalu mau sesuatu. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. yaitu dalam cinta. Sejak muncul dalam alam realitas. di bawah lebar. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. jika dilahirkan. Sebaliknya. Tetapi. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. Sebetulnya. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani.Psi. Jika sesuatu kita "materikan". artinya "melalui" daya-daya sensitif. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. tetapi meruncing ke atas. Orang yang lidahnya sakit. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. S. manusia itu manusia. yaitu di atas suatu titik. kalau lidah hanya kangen bakmi. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. artinya melalui indra kita. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika.

maka apakah puncaknya? Penikmatan. maka manusia takut. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. Selama kita hidup. segan.Psi. dan lain sebagainya. selalu terjun dari sintesis ke analisis. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. S. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. yaitu takut. dorongan ke arah keindahan. Jika dorongan dipenuhi. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). terutama jika akhirnya tidak tampak. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. bagi manusia merupakan penderitaan. Jika malapetaka mengancam. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis. Hidup tidak hanya secara biologis.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. tetapi secara manusia. untuk lebih menyelami. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. Untuk maksud kita sekarang. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. Dalam pikiran analitis. Dia selalu berharapan. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. 83 . baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. merasa gembira. dia selalu menanti. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. dengan isi yang lebih jelas. dan lain sebagainya. maka dia marah atau putus asa. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. Maka. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. penantian. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. orang dipenjara seumur hidup. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. Perpanjangan suatu situasi. seperti rokok dan lain sebagainya). Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. maka pada manusia ada harapan. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. Jadi. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. dorongan sensitif untuk cinta. marah.

84 . akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. II. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. Yaitu cinta kasih suami-istri. keinginannya. manusia tergerakkan hatinya. misalnya dalam memandang seksualitas. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. di samping pengetahuan. S. mempelajari. Jelasnya. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. tetapi seluruh manusia. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. lebih sentosa. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. tetapi juga afektivitas. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam dinamikanya. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. dan sanggup meluhurkan diri. Yang ada bukan hanya rasa takut.Psi. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. tetapi seluruh pribadi manusia. Pengertian ini sangat penting. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. Yang lapar bukanlah perut. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. Melalui peranan afektivitaslah. tetapi seluruh pribadilah yang takut. Jadi. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati.

Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. kepatuhan. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif.Psi. 85 . partisipasi. Walaupun demikian. Prinsipnya. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. komunikasi. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif.mengenai kritik atas rasio murni. mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. misalnya. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi). atau cinta. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. S. Baginya.

Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. tanpa bobot. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. menggayakannya. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif.bukanlah mencintai. untuk mencapai afektivitas. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. kecenderungan. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. atau apa yang jasmaniah saja. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. III. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. 86 . S. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia.Psi. menguatkan. dan menjijikkan atau membosankan. mengembangkan. dan menjiwainya dengan mewarnainya. Jadi.

imajinasi. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. mencintai. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Keempat. semangat. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). mempertahankan diri atau yang lainnya. Ketiga. mempengaruhi bahkan membohongi. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. nilai (baik dan buruk). karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. kesenangan. 87 . S. Kelima. Kedua.Psi. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. IV. mengenal adalah kausa dari afektivitas. selera. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. dalam kondisi ini.

sekolah. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. bioskop. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. dengan bertindak demikian. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”.Psi. S. jangan bersikap acuh tak acuh. Karena pengaruh semboyan ini. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. dari generasi ke generasi.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. 88 . V. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. buku-buku. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern.

kelihatannya begitu bertentangan. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. teologi. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. telah meresapi filsafat. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. 89 . libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. dan pikiran populer. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. dan sebaliknya. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri.Psi. Dalam perkembangan individu tersebut. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. S. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. dengan segala daya intelektual. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. Pada bayi.

dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. tanggungjawab dan pengetahuan. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain.Psi. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebaliknya. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. respek (rasa hormat). hal ini berarti. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. Biasanya. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. S. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. 90 . yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. Gagasan yang terungkap dalam Injil. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain.

Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi.simpati terhadap ”orang asing”. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. S. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. rasa hormat. tetapi justru merupakan alasannya. pada prinsipnya. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. ia samasekali tidak dapat mencintai. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. kebebasannya sendiri. 91 . yaitu: perhatian. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. ia mencintai dirinya sendiri juga. kebahagiaan. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. Afirmasi terhadap hidup. perkembangan. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. tetapi hanya senang menerima. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. dan pengetahuan.Psi. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. bagaimana kita menerangkan egoisme. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. tanggungjawab. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya.

Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. kelelahan. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. ia tidak dapat bahagia. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. 92 . Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. Ia merasa prihatin yang berlebihan. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebagainya.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. kegagalan dalam relasi cinta. ”hidup hanya untuk orang lain”. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. bukan karena ia sangat mencintai anaknya. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus. seperti: depresi. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. S. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu.Psi.

kaku. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. S. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”.Psi. di bawah topeng kebajikan. untuk adat istiadat kita. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. agar benci terhadap kehidupan. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. keriangan dan kebahagiaan. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. mereka cemas. 93 . Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. mereka diajar.namun kuat. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. dapat diperbaiki. dan sangat sering.

.Psi.W.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman.P. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 94 . 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. C.Psi. S. S.

Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan indrawi bersifat parsial. 95 . Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. walaupun masih sangat sederhana. Secara umum. S. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya.Psi. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. seperti juga pada binatang. entah nyata atau semu. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. namun selalu bersifat relasional. kedua sumber pengetahuan ini berbeda. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang. Berkat indranya itu. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya.PENGERTIAN I.

Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. Warna. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. Pendengaran hanya mampu menangkap suara. Mata peka terhadap cahaya. suara. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. bau. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. atau tanpa telinga yang mendengar suara. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. atau bentuk dengan keras-lunaknya. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. atau hidung yang membau. atau bau. Semua sensasi (warna. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. rasa. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. S. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh. Menurut Realisme naif. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seperti bunyi. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. 96 . rasa. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. cerah. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama.Psi. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. dan sebagainya. Pengetahuan indrawi. rasa.

namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. Musik. Kedua. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. Ketiga. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. bentuk. bau-bauan. dan gerakan dari bagian-bagian. yaitu kumpulan. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. 97 .Psi. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. S. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. tetapi juga warna subjektif. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. perang ataupun religius. hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. pakaian. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. lebih kabur. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting.

melainkan saling melengkapi. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. tujuan. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. kesehatan mata. Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda".samar-samar. melalui pengertian kelompok (komunal). Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah. dan arti benda itu. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. Caranya. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. kedua segi ini tidak saling bertentangan. sekaligus membentuk daya interpretasi. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. dari bentuknya suatu benda menerima. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. sehingga di dalam situasi normal. S. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. Walaupun demikian. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. Pengaruh cahaya. Pendeknya. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. 98 . dan seterusnya. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya.Psi. Akibatnya. Arti. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. tujuan. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan.

dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. 99 . II. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. itulah artinya. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. S. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. menangkap bentuk pisau. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. secara fisik. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. A. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal".dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. Maksudnya. C. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin).Psi. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. Guna memahami jenis pengetahuan ini. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. Misalnya. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. Menurutnya. mengurangi. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi.

ingatan. hafalan tanpa mempergunakan pikiran. Berbeda dengan naluri. abstraksi. Setelah memasuki usia remaja.Psi. Akibatnya.mengalihkan. adat istiadat. 1996: 359). mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. prediksi. kontrol (pengendalian). Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. analisis kritis. memilih. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. konseptual. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. imajinasi. seleksi relasi. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. III. S. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. ekstrapolasi. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang. Demikianlah. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. tradisi. atau membagi). Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. mengarahkan. kebiasaan. Psikolog kontemporer (Piaget. 100 . Namun demikian. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. atensi. konsentrasi. rencana. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak.

Dengan itu pula. 1980). S. serta religius melahirkan suatu peradaban. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. Goenarsa. Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu.khas. menurut ukuran besar-kecilnya. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. menurut volume serta berat-ringannya. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. psikologis. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. pada orang dewasa. Sesungguhnya. Walaupun demikian. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate).Psi. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. 101 . tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. Melalui ini. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. sosial. politik.

petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna.Psi. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. serta terartikulasikan. IV. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. serta paripuma. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. tetapi juga secara lebih mendalam. tetapi berkembang secara acak. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). 102 . Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. mendalam. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. mengintegrasikan. meski besar sekali pengetahuan seseorang. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas. betapa pun tinggi dan banyaknya. maka semakin luaslah objeknya. tuntas. menempatkan. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. setotal mungkin. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. objektif. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. abadi. Pendeknya. Semakin mendalam refleksinya. S.

Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. Inteligensi bukanlah suatu substansi. Ketiga. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. S. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. cara merasa.Psi. Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. serta cara bereaksi. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. Kedua. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. cara bertindak. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Pertama. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). 103 . inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. juga bersifat sosial. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya.

misalnya pada waktu sedang melamun. S. Persepsi ini. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy.Psi. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. tampak pada refleksi spontan.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. J. sebab insight diverifikasikan. prasadar. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif. 1993: 132). misalnya. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. Menurut J. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. Maksudnya. dan sebagainya (Leahy. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. "Saya pikir. subjektif-objektif. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. 1987: 23). deduksi. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. Eccles. bukan pikiran. W. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. refleksi. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. 104 . 1993: 312 313). tetapi roh itu bebas sifatnya. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. dan prapribadi.

Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. dan mencari alasan dari segala-galanya. Bila bernalar. bukan hanya kurang lebih dari itu. Maksudnya. Bila mendefinisikannya. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. V. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. yang pernah ada. S. tertarik kepada segalagalanya. yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. Putusan ini lebih bersifat reflektif. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. Segala penegasan. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal.logis dan ilmiah. 1994: 45-48). Bilamana menilai. 105 . maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yakni segala sesuatu yang ada. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. atau bagaimana objek itu bereksistensi. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan.Psi. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. dan segala sesuatu yang akan ada.

setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi. mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. prinsip identitas. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu.penilaian. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting. Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. Pertama. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Walaupun demikian. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. adalah tidak ada". yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. Secara epistemologis. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. Jelasnya. dan "apa yang tidak ada. pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. S. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. kesimpulan. non p bukan p). Sepintas lalu. Artinya. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. 106 .Psi.

Unsur ini pun menyatukan. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. VI. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. 107 . Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. Jika dilihat dari sudut pola. maka bolehlah kita memandangnya. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. Yaitu unsur kognitif (cognitive). menghubungkan. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. tetapi ada. Pola itu tidak selalu disadari. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. melainkan manusia. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. S. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. Artinya. lantas ingin. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. dan menyatukan objek itu dengan dirinya.Psi. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. Pada bunyi lonceng. Jadi. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. tetapi proses ke tingkat itu. tertarik. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. Baiklah sekarang kita lihat fungsinya.Prinsip cukup alasan menyatakan. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. anjing ingat (= mengerti) makanannya. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. Pola adalah isi pengertian kita. yaitu pengertian dan pengambilan. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani. dan mulai bergerak. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. Untuk mulai dengan yang mudah. Tetapi.

tidak diatur oleh suatu idea. Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). disatukan. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". Namun. Yang perlu diingat di sini hanyalah. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. tidak ada objektivisasi. mengubah menjadi alam kebudayaan. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. atau dunia manusia. Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. S. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. Di situ manusia dan keindahan jadi satu. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. Tangan dan piano merupakan kesatuan. Pada hewan tidak ada idea kesatuan. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. Sebaliknya dengan manusia. tidak ada idea susunan. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. karena moralnya berantakan. Lihatlah realitas infrahuman. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Pengertian hanya satu unsur. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. ada yang kurang ada yang lebih. yang susila. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. Bisa maju. 108 . Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". tidak ada kesatuan. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. bisa mundur. Lihatlah orang yang "kenal" piano. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". Maka. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. Maka. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". dan sesuatu itu diselami. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. Ini pun bukan status yang selesai. Jadi. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. seperti tumbuhan.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. manusia itu bersatu dengan dunianya. Tentu saja. yang ada hanya "jarak". Dia mengerti secara formal. Dia mengadakan objektivisasi.

Eksterioritas artinya segi luar melulu. tanpa penyelaman. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. Pengertian bertambah sempurna. manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Akibatnya. mempunyai "kedalaman". Bahkan. membedakan diri dan bukan diri. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. Misalnya. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. kayu. Tetapi. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. dia mempunyai interioritas. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. menghasilkan teknologi.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. hewan pun "di luar diri sendiri". tidak "mendiami" diri sendiri. dia "menghadiri" dirinya sendiri. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". 109 . Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri.Psi. Lihat saja kesatuan tanah air. Nah. Manusia mengerti nenek moyangnya. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. tidak in itself. mempunyai semacam interioritas. Hewan. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. kesatuan sudah termasuk. "jauh" dari diri sendiri. Jadi akhir-nya. mengerti "asal usul". Berdasarkan pengertiannya. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. dia menyatukan dirinya sendiri. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. Dengan demikian. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. S. kesatuan antarbenua. "Dia ada di dalamnya sendiri". jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. pengertiannya itu saling memajukan. tidak bei sich sein. Yang ada hanya eksterioritas. batu. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. Interioritas artinya sadar diri. sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. Berdasarkan kesatuan diri itu. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi.

Semua berkat transendensi. memasuki diri lain. Keduanya berkembang. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. Jadi dia terus mencari. Jadi. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. Dia adalah "mouvement de transcendence”. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. dari keadaan ke keadaan. terus mencari. Dan lagi. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hal ini tidak berarti perbudakan. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. situasinya. mengatasi keadaannya. tidak mungkin puas. S. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. Tetapi justru dengan saling menyerah. 110 . keduanya menemukan diri. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui.Akhirnya. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut.Psi. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. Tetapi. Tetapi. Bahkan. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. artinya keluar dari diri sendiri. perbuatannya yang sedang berjalan. menyatukan diri sepenuhnya. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. dari situasi ke situasi. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. melebihi.

Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. jadi ke arah Tuhan. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. Misalnya bahan menjadi makanan. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. manusia menjadi kawan. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. dikatakan bahwa kita menerima arti. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan.Psi. spesialisasi semakin melembut. Maka. Barang an sich masih bersifat "netral“. Jadi. misalnya dalam hubungan suami-istri. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin. Jadi. Jadi. Tetapi. Dunianya berubah-ubah. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. VII. S. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan kemampuannya mengerti. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. bagi hidupnya. keong tanpa cangkang tentu mati. 111 . Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. Barangnya harus mampu untuk arti itu. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. dari perbuatannya. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti.praktek ada banyak kekecewaan. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian.

Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. Walaupun demikian. tampaknya. dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. Spesialisme yang semula bersifat metodis. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. karena dalam pengalamannya. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. 112 . Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. 1987:41).Psi. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. Sikap kritis ini perlu. Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. S. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan.

113 . Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. ada unsur-unsurnya.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. Oleh sebab itu. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Sesuai dengan kodrat manusia. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. Maka. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. yaitu rohani-jasmani. Orang semakin dilanda kebingungan. maka begitu juga pengertian kita: tersusun. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. berupa pengertian rohani-jasmani. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. ultimate dan absolut. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. VIII. Akhirnya. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. 1982). Menurutnya. S. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi.Psi. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi.

Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. pengertian tentang "ada". juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. Momen-momennya ialah pengertian indra. Anjing hanya mempunyai momen indra. satu segi. dia menangkap bau tuannya. tidak di luar konsep. Jadi. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. kita menangkap manusia sebagai engkau. Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. pengertian rasional. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. S. mendengar suara. Sebaliknya. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif. Semua itu berasal dari pengertian rasional. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. jadi sebagai persona. dan pengertian metafisis. Bahkan. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. yaitu keindraan kita. konsep perkumpulan. atau buruk). secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mencium bau. dia sedih. Jadi. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. Momen ini bisa disebut metakonseptual. Tetapi bersama dengan semua itu. Kita punya konsep rumah.Psi. artinya "di atas" konsep. dan lain sebagainya. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. dan lain sebagainya). Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. merasakan manis. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. 114 . Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. Di sini tampak adanya momen-momen. Itu adalah dan pengertian rasional. lantas muncul pengertian rohani. di mana manusia membuat idea. tentang persona. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). pengertian tentang "aku". Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis).

Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar.Psi. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Agar bisa mengetahui dengan jelas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Namun. Dengan kata lain. Akibatnya. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. S. 115 . Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. terspesialisasi dalam keanekaragamannya. pengetahuan selalu bisa berkembang.

Psi. dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. juneman@gmail.P. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W.Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..Psi. S. Moral. S. Watak Kodrati. 116 . C.

karena itu adalah dinamika yang menguasai. Kita mengerti dan mengalami karsa. 117 .Psi. Dalam modul-modul terdahulu. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. tetapi pikir-pikir dulu. Watak Kodrati. Karsa. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. mungkin dia merasa tertarik. untuk memenuhi keinginan. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. dia mau atau tidak mau. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik.KEBEBASAN I. Tetapi bukan dinamika yang menentukan. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. tidak selalu berarti will. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. tidak mau. daya untuk mau. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. kemecer. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. atau dia harus piket. Kalau seorang diajak menonton. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. dia harus belajar untuk ujian. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. misalnya. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. Tetapi lihatlah. Jadi. yaitu karsa (will) atau kehendak. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. kita lihat dua unsur. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. Orang lain kita ajak menonton. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). Demikianlah kita mengalami adanya karsa. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. Objek. itu pun dinamika. maka dia menolak. Orang lain bisa ikut. menghendaki. Tetapi. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human.

bertakhta sendiri. dari bios ke logos. tidak terdengar. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. Berbagai macam rangsang. Janganlah munculnya karsa itu. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. dari btosfera ke neosfera. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. Bebas artinya tidak terikat. tetapi juga untuk ini atau itu. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. Inilah arti yang pokok. tidak ada selfness. meruncing ke ates. yang ada semula ialah level biologik. Jadi. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Merdeka menunjuk kedaulatan. Semula yang ada "hanya" rangsang. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. menguasai diri sendiri. Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. yaitu karsa. seperti arus air. Demikian juga munculnya karsa itu. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan. lambat laun bisa mengkurep. lantas mulai berdiri dan berjalan. lihatlah dinamika pada status anak kecil. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. Lambat laun muncullah kesadaran. Dia semula hanya melekat sebagai buah. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. bebas dari ini atau itu. Merdeka berarti bebas. lantas bisa merangkak. yang masih akan ditentukan. 118 . tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. tidak terus lepas saja. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. Dalam pertumbuhannya. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun.Psi. Untuk lebih menyelami hal ini. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani. demikian juga kemanusiannya. Manusia tumbuh. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. ke puncak. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. hanya bisa menggeletak. seperti munculnya pikiran. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". berdiri sendiri. Baru setelah beberapa waktu. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. lantas setelah lahir.Akhir dinamika manusia itu satu.

S. Dia cenderung untuk liar. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. jika manusia tidak berjuang. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. Dengan demikian. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. kemerdekaan dalam proses penjadian. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. dengan perjuangan. Jadi. itu pun batasan. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. sungguh-sungguh berdaulat. maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun.personalah yang bersifat merdeka. Jadi. dia tidak lepas. Proses kelahiran ini bisa gagal. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. mau bebas dan lepas. Jadi. Lagi pula. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. Maka setelah ada. sementara manusia mau merdeka. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. mandiréng pribadi. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. 119 . bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. Kalau sudah begitu. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. artinya ke kesempumaan manusia.Psi. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya.

S. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. maka dia berantakan. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. itulah kesatuan manusia. 120 . Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.Psi. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Jadi. namun juga sering kali bertentangan. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. dan hal ini karena karsanya. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Maka dia tunduk. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.dirinya. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Maka. Dia mengerti dan mau dirinya. II. dia tidak berdaulat lagi. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. J. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. terjerumus. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. Dia harus mau sesuai dengan arah itu.

Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. Namun pada masyarakat modern. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. 121 . Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Manusia adalah makhluk yang bebas.Psi. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak. Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. S. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah.

Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. dan sebagainya. seperti di bidang ekonomi. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia.Psi. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. S.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Lebih parah lagi. tetapi secara mekanis. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. teknologi. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Moral. komunikasi. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya. 122 .

Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. Sebagai eksistensi. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya.Psi. Manusia mempunyai kemampuan memilih. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. beban atau kewajiban. paksaan. S. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. “Freedom is self-determination”. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. pengaturan diri dan pengarahan diri. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. yaitu situasi-situasi batas. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. 123 . Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. Sebagai eksistensi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. pengendalian diri. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar.

Misalnya dari lembaga atau orang lain.Psi. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum. 124 . Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. S. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. yaitu kebebasan fisik. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Jangkauan itu terbatas. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik.

Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya.sungguh bebas. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. 125 . namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa.Psi. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. namun mereka tetap merasa bebas. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya.

Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. 126 . S. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis.Berbeda dari kebebasan fisik. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri.Psi. Namun. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Saya mempunyai kebebasan psikologis.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis.

yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. yaitu suatu keadaan bebas. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh.secara moral. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. 127 . Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. Ia dipaksa secara moral. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. IV. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. S. Sebaliknya. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya.

bahwa kita adalah bebas. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. melainkan praktis. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. yaitu dengan argumen persetujuan umum. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. 128 . Kita sendiri.Psi. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan argumen etis. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. yaitu berdasarkan pengalaman. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. S. argumen psikologis. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”.

Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. 129 . Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. S. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya.Psi.

Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. atau bertindak dengan cara begini atau begitu. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. 130 . ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Karena jika tidak ada kebebasan. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan.Psi. Setelah menimbang-nimbang. yaitu "mengambil dompet itu".Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Muncul pemikiran pada waktu itu. di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. saya akan mengambil dompet itu". Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Namun pada saat pikiran itu muncul. S.

mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. 131 . Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. S. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia.Psi. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. Dengan kata lain. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan.

Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. malainkan juga kepada sesamanya. politik dan sebagainya. seperti kebebasan fisik. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian.Psi. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. finansial. namun lebih dalam dari itu. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia. 132 . Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya.V. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral. tetapi tujuan. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. seksual. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. sosial. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal.

Atau. S. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. VI. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak. Manusia merupakan bagian dari dunia. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. maka manusia tidak bebas. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Dengan kata lain manusia. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. karena hukum sebab akibat itu. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri.Psi.terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 .

secara bebas. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik.manusia akan dikatakan bebas jika ia. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. S. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. Karena kemampuan itulah. Akan tetapi.Psi. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini. 134 . Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya. dan bola itu menyentuh bola yang lain. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. Artinya manusia itu bebas.

manusia tetap mempunyai kebebasan. Dengan kalimat lain. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. 135 . untuk mengontrol proses-proses organik. dan lain sebagainya. Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri.Psi. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. S. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. untuk menyesuaikan diri. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme.

Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan.Psi. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. dan merencanakan. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. Manusia adalah makhluk yang sadar. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. 136 . masa depan. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival.bentuk dan kemampuan jasmani. suatu proses yang terus menjadi. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. S. mengambil keputusan. melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan.

Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. bebas memilih teman hidupnya. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut.pribadi manusia. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. hadir di dalam dirinya sendiri. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Inilah wujud kebebasan manusia itu.Psi. maka manusia adalah subyek. 137 . dan lain sebagainya. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. Atau. Karena manusia adalah suatu interioritas. S. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan.

Sebagai yang Maha-tahu.Psi. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. S. dirinya. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. Dalam posisinya itu. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. kaki. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. seperti tangan. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. dan semacamnya. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya. 138 . Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pula Menyempurnakan sebaliknya.

Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Padahal Tuhan tidak terikat waktu. Dia tidak berada dalam waktu. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. 139 . Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan.Psi. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. Misalnya. Tuhan itu bersifat transenden. S. Dia melihat. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan.

Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. S. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. manusia tetap memiliki kebebasan. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia.sikap terbuka terhadap Allah. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis.Psi. Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Jadi meskipun tergantung pada Allah. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Dan bukan Tuhan. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Manusia adalah makhluk rohani. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. 140 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri.

Psi. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. menurut Leahy. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. Sebaliknya. 141 . S. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia.

misalnya sebuah mobil. kesadaran dan kebebasan manusia. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. yang merangkainya. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. dan lain sebagainya. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. S. dan kebebasan dari para pasien. Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. dan lain sebagainya. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud.Psi. atau yang mengemudikannya. Memang. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. 142 . Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. penafsiran mimpi.

Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan.VII. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri.Psi. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. Oleh karena pemikirannya itu. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. VIII. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan. Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. 143 . Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar.

Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Argumen kedua adalah argumen psikologis. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. 144 . yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. S. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas.Psi. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu.

Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati.Psi. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . melainkan juga kepada sesamanya. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Argumen ketiga adalah argumen etik. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. S. Akhirnya. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. padahal sebenarnya tidak demikian. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi.dan sebagainya. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan.

sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya. S.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. Lebih dari itu. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia.Psi. kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. Fenomen X adalah antecedens. Menurut mereka. 146 . Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sedangkan fenomen Y adalah consequens.maka manusia tidak bebas. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. maka pasti ada pula fenomen Y”.

manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Sebagai eksistensi. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Sebagai makhluk yang berakal budi. Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Namun sebagai mahkluk jasmani. Manusia adalah makhluk yang berbudi. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Melainkan. yaitu situasi-situasi batas.Psi. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. 147 . kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. S. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. Dan kerena dua sifat manusia inilah. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Sebagai eksistensi.

Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. namun ia terpisah dari alam semesta. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. Namun semua itu dapat saja dikorbankan. bulan dan bintang-bintang. tentu saja dengan landasan kebebasannya. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. yaitu persatuan abadi dengan 148 . melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta. IX. Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. Allah di surga. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. Meskipun demikian. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. S.Psi.

Namun. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. 149 . melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. argumen psikologis dan argumen etis. menurut Louis leahy.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. S. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. yaitu argumen persetujuan umum.Psi. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia.

S..Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman.P. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C. 2008 .W.Psi.

karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. 1985: 7-8). Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi.EKSISTENSIALISME I. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. Itulah sebabnya. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia. II. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. manusia memberi arti kepada segalanya. Camus dan Sartre. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Gabriel Marcel. Tetapi. Bagi Jasper. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Jika ilmu . la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. seperti Gabriel Marcel. seperti Jean-Paul Sartre. Dengan kata lain. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. Jadi. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. manusia yang bereksistensi. Sebaliknya. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.

sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. ia menulis banyak sekali karya. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Namun. antara lain melalui Max Weber. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Karena itu. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. setelah menerima gelar penghargaan itu. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). Philosophie (1932). Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. Gottingen dan Heidelberg. pada 1883. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. Jerman Utara. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. ahli ekonomi. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat.

Karl Jaspers di Austria. Jerman. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Melalui keputusan ini eksistentis. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. pilihan. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. komunikasi dan kebebasan. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. yakni Penerangan Eksistensi. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Katanya. Situasi-situasi Batas . Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. berkembang. Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Jepang. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. 3. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. Bagi Jasper. kita mencapai inti “aku”. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. 2. dengan menerangi eksistensi. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Dengan menerangi eksistensi. Eksistensi membutuhkan komunikasi. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa.

Mencintai hidup dan menilai hidup fana. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . b. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. Penderitaan karena keterpisahan. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Nasib Situasi batas yang paling umum. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. ini yang disebut nasib. Namun. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. ia dapat berkembang. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. penderitaan. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. dan kesalahan. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. tergantung dari keputusan manusia sendiri. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi . a. d.Sebagai Dasein. c. yaitu kematian. jenis kelamin. Kematian teman sekaligus musuh manusia. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. perjuangan. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. yaitu faktisitas histories. dan banyak hal yang merupakan fakta. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. lepas dari pilihan manusia sendiri. Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. latarbelakang sosial.

Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. 1949. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. 37). 453 dst. 5. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi. cacat. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai.. 4.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. . hal. hal. 57). Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius. asal dan makna kebenaran. hal. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956. e. Tanpa itu yang ada kekosongan. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. Jaspers: 1991.. bdk.3 dst. hal. situasi kebohongan dan kejahatan politik. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi. 3 dst.).

termasuk diriku yang kuobyekkan. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. tetapi selalu . periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). Dengan demikian. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. Ia tidak dapat diobyekkan. “Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala. Padahal. dia tidak akan mampu mendapatkannya. Meskipun manusia hendak menangkapnya. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. Dengannya. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. Itu artinya ontologi tidak mungkin. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. Horison itu selalu hadir. Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). karena ia adalah pengada. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. karena tidak dapat diobyekkan. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Dengan kalimat lain. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. 35). Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi.

. 1991: hal. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers. K. hal. Dasein das das Sein selbst ist. Manusia memiliki awal dan akhir. 15): Das Umgreifende. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. das wir sind Das Umgreifende.tak tercapai. Jasper K. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. Bewusstsein Überhaupt. hal. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. yaitu Dasein. Manusia termuat dalam Dasein. Existenz. Geist. Welt. 62). Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende.1956: hal. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. hal. 48 dan 50. “manusia ada” (Jaspers: 1991. “kita ada”. 53). lih. 53). untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi.. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991.

1991: hal. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. 67). 76) . hal. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. 63). Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. hal. Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. hal. . Existenz Eksistensi melingkupi manusia. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar.dan menjauhinya. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Eksistensi termuat dalam waktu. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. 39. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. 71). Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. tetapi sekaligus mengatasi waktu. 42). hal. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). 71). yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). hal. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. hal.

Manusia bebas dalam dunia. Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. 93). Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. Manusia adalah bagian dari dunia. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. Meski demikian. maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. 114). Rasio membuka jalan untuk penyatuan. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). . 85).Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. hal. hal. dan juga bebas terhadap dunia. transendensi adalah “kenyataan asli“. hal 110). Menurut Jaspers. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Manusia hidup dalam dunia. hal. dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. dunia bukanlah obyek. 99). Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. Dunia harus dapat dipikirkan. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. hal. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. Dunia melingkupi manusia. 110). “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. hal. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991.

Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. naturalisme memutlakkan Transzendenz. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. hal. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. Dasar komunikasi itu adalah cinta. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. positivisme memutlakkan Welt. 120).karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. hal. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. dan menjadi jiwa rasio. hal. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. 118). Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. idealisme memutlakkan Geist. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. 119). Pada tataran eksistensi ada iman. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan.

quietisme. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. eksistensialisme dengan ego-nya. Namun. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. yaitu Eksistensialisme. dalam pandangan kaum komunis. Lebih jauh lagi. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. Dan ini. apalagi berpikir tentang solidaritas. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit.” Eksistensialisme. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. Dari pihak Katolik. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . eksistensialisme itu melulu voluntary. yang rendah. seperti Mlle Mercier. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. yang patut dicela. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. Singkatnya. Artinya. Untuk mempopulerkan idenya itu. “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. Dari pihak Komunis.

pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. mendahului eksistensinya. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya. disebut artisan. produksinya mendahului eksistensinya. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi).” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). Burung berkicau dan makan biji. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Selain itu. Lebih jauh lagi. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. Namun. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. Esensi mendahului eksistensi. Dengan kata lain. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. Kedua. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. esensinya. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Seorang pembuat pisau kertas. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. Esensi dari pisau kertas itu. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. Contoh lain lagi: panah. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Di sini. kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Ketiga. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat.punya arti apa-apa lagi. Contoh lain lagi: binatang. Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah.

Dengan begitu. esok hari ia kedapatan mencuri. Begitu seterusnya. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre.Allah menciptakan. ketika ia lulus. Bagi Sartre. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). atau wild man of the woods (Rousseau). maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. jika Allah tidak eksis. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. entah itu animal rationale (Aristoteles). Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. Makhluk itu adalah manusia. dan the bourgeois (Karl Marx). Cara beradanya benda tak . Atau bisa jadi. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. sampai ia mati. Misalnya. Dengan begitu. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. man in the state of nature (Thomas Hobbes). Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. Oleh karenanya. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. bahwa hadir). sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Celakanya. muncul (Inggris: surges up. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya.

Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. katakanlah. maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Sartre mengakuinya. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Pandangan ini mencengangkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Kita tentu bertanya. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). yaitu tanggungjawab. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. di pundaknya. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. ia memikul beban eksistensinya itu. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. Sementara manusia sebaliknya. dalam keluarga apa. batu atau meja. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. . sesuatu yang mendesak. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain.

"Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. because. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. Namun. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. Condemn. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. he is responsible for everything he does]. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. because he did not create himself. Ada ketiadaan di tengah ada. . manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. yet. Karena itu. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. once thrown into the world. in other respect is free. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan.Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Semuanya tergantung pada diri sendiri. karena membayangkan apa yang akan terjadi. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia.

sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. kesadaran yang me-negasi. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. hubungan antara aku dengan orang lain. yakni kesadaran terhadap sesuatu. dll). Sementara. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. dan C saling berselisih. dan menyerahkan diri sepenuhnya. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci." Ada juga kemungkinan lain. "adalah adanya orang lain". Mengingat doktrin tersebut. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. Ketika tengah mengintip. dan sayalah subjeknya. Dalam hal ini. "Dosa asal saya. Bisa jadi si A." kata Sartre. IV. B. senantiasa berdasarkan konflik. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. bayangkanlah jika "Aku". bertemu dengan jenis yang sama. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas. misalnya ketika si A.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. Sekarang. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. atau mundur untuk menyelamatkan diri. mau tahu urusan orang. être-en-soi. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. dan être-pour-soi.apakah akan terjun. Karena kontroversinya. Padahal. ketika seseorang memergoki saya. Demikian kira.

kata Kierkegaard. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Artinya. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. bangsa. Menurut Kierkegaard. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. dan efektif membentuk opini-opini publik. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. Dalam masyarakat modern. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Publik bukanlah suatu generasi. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. tak berwajah dan tak bernama. Ia menilai. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. Menurutnya. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. konsep abstrak. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. garang. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. Konsekuensinya semakin berlaku umum. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Publik itu identitas semu. menurut Kierkegaard.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. Pada titik ini. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. Mengapa? Karena bagi dia. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. cara pandang ini menyulut persoalan baru. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. murah. Dalam kondisi dunia semacam ini. Kierkegaard menegaskan.

Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Ini. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. tapi dalam kenyataan konkret. Hidup adalah sebuah tugas. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. meski pada taraf non formal. Konsekuensinya. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Maka. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. orang menjadi dangkal. Bagi Kierkegaard. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. nafsu). Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. Misalnya. Persisnya. untuk mencapai subyek yang . semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. melainkan sekedar symbol prestasi. menurut dia. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Dalam ideal itu. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. tidak ada tempat untuk passi (gairah. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. misalnya dalam pemerintahan. Namun. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Anehnya. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. Ironisnya. Padahal. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer.mengikuti suara hatinya sendiri. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. ia tak punya arti. Akibatnya.

segala bentuk realitas. bagi mereka. Namun. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. antusiasme. rasa. tapi harus melalui pilihan. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. tidak juga sekedar refleksi intelektual. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. orang yang tidak berani mengambil keputusan. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu .otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. dalam haru biru. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. semakin menjadi individu yang otentik. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Estetik. Dengan kata lain. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. mereka tak berdaya. Konsekuensinya. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. dan kehendak bebas. Jadi. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Tanpa itu. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. Maka. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Ciri pertama. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. Etik. Proses ini. Maka. tanpa arti. Menurut Kierkegaard. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. simpang siur budaya modern. Artinya. hanya menjadi medan kemungkinan. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. keputusan.

mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Dengan menikah. Tahap Etik . Cepat atau lambat. hidup yang luluh-lantak berantakan. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. kosong. Artinya. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. Maka. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. dan sebagainya. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. Ironi tapi fakta. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. Ciri kedua. Dengan ini. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung.dari bunga ke bunga. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. yakni tahap etik. sejauh mereka masih tetap manusia. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Pada titik inilah. dan kering. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Oleh karena itu. Ciri ketiga. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Dengan berorganisasi. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Boleh jadi juga. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman.

mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. Bagi Kierkegaard. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata. Bahkan kalau perlu. Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. Ciri pertama.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. bagi Kierkegaard. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Untuk sampai ke peran pemain itu. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. tahap religius. orang-orang seperti ini. Oleh karena itu. Sayangnya. Ciri pertama. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. belum menjadi pemain. Ciri ketiga. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. Ciri kedua. namun masih berada pada taraf “penonton”. dalam hidup nyata. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya.

pada tahap ini. Maka. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. Pokoknya. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. Bagi Kierkegaard. Atau. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. orang justru diminta untuk bersikap enteng. Beriman berarti bertualang. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Bahkan. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. Ciri ketiga. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. kadangmenakutkan. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. beriman. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. Ironisnya. Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. damai dalam aneka ketegangan. Maka. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. Singkatnya. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. Oleh karena itu. Komitmen pada suatu paradoks. Pada tahap ini.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. orang dituntut untuk. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. orang harus kehilangan dirinya sendiri. Bagi mereka. Oleh karena itu. Ciri kedua. Maka. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. Dengan beriman. justru ia harus diajak untuk bergembira. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. Mengapa? Karena pada tahap ini.

Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. manusia idaman sepanjang masa.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. mereka telah menjadi pendekar iman. Dengan demikian. mereka telah menjadi manusia sejati. bagi Kierkegaard.tak berkesudahan. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. Ia membaca karya-karya Hegel. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. Schopenhauer. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . V. Petersburg. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. Namun ia menerima beratnya . Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat.

Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. atau moralitas-pedagogi). perkembangan rohani. mengajar.masa revolusi. diselidiki. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. pada Maret 1948. berceramah. psikologi. kebebasan adalah baseless. Pada 1922. Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. etika Kristen. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. kebebasan tidak untuk dibuktikan. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. Berdyaev menulis 15 buku. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. Secara ontologis. Secara keseluruhan. Bagi Berdyaev.sebagian setelah kematiannya. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. antara lain Berdyaev. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". Bagi kaum eksistensialis. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi. dekat Paris. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi.

Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya.” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. kreativitas harus diberi keleluasaan. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . demi martabat manusia.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. Kreativitas adalah misteri kebebasan. Alasannya. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). sekaligus akhir dan tujuan. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. Bentuk yang kedua dari kebebasan. tak ada manusia tanpa kebebasan. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. Dalam dirinya. meski kebebasan itu berbahaya. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. Kebebasan. tapi juga untuk sesuatu. Walaupun berisiko. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. Bila demikian. Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. reasonable freedom. . seperti halnya kecemasan.

Dapat dipertanyakan. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. Pada kondisi demikian. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. Demikianlah. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. Dimensi kedua. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. apakah ini bulan Januari atau Desember. ia sangat mungkin goyah suatu saat. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. Pada sisi yang lain. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Maka. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”. . Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. adalah waktu kesejarahan. Pada titik itu. misalnya. terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. Dimensi pertama adalah waktu kosmis.

antara lain The Birth of Tragedy. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Tahun 1796. ia mulai menciptakan karya-karya filologis. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. Namun. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. Bismarck. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani.VI. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . Thus Spoke Zarathustra. Ayah Nietzsche. yang berisi tentang tragedy Yunani. Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. Human All-Too-Human. Setelah buku pertamanya ini. yaitu Apolline dan Dionysian. The Good and Evil . Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. Awalnya. The Gay Science. Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. Kakeknya. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. The Wanderer and his Shadow. Selain itu. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Karl Ludwig juga seorang pendeta. The Birth of Tragedy. seperti Richard Wagner. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Freud dan Darwin.

Nietzsche. (lebih lanjut Solomon & Higgins. Nietzsche menggarisbawahi. Aphorisma 5.Moral. Filsafat Nietzsche). Dalam Prasangka Para Filsuf. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru. Sejarah Filsafat). Bagi Nietzsche. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). Menurut Kant. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. Prasangka Para Filsuf. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. bagi Kant. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. Critique of Practical Reason. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. (lebih lanjut Deleuze. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. atau dalam pengertian Deleuze. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. (Nietzsche. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. Moralitas-lah. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. Menurut Deleuze. . Aphorisma 9).

dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. dan bukan suatu sistem. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. Tetapi. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. cinta antar saudara. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. dan kewelasasihan. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Namun demikian. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri.

adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya.. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya.” (Die Morgenrote [The Dawn]. tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). Namun demikian. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik. ada kekuatan . Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. Lepas dari semua itu. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. Yang kedua. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia.. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran. konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya.

Setelah ditinjau bolak-balik. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Namun. Jika kita tidak dapat mengingatnya. gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . Paling tidak. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya.di dalamnya. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. betapapun kaburnya makna tersebut. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Zarathustra. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Sesungguhnya. Di sisi lain. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan.

Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. Meditasi Kedua. Namun demikian. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power.kesungguhan. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. Di dalam Thus Spoke Zarathustra. Namun. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. bagian pertama. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. Meskipun begitu. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. Pada suatu bahasan. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam.” [Genealogy of Morals. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. “Ketika aku berbicara tentang Plato.” [Thus Spoke Zarathustra. dan Goethe. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. di dalam edisi Härtle. Prolog Zarathustra. Di pihak lain. apalagi kekanak-kanakan. 98] . Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. XXI. Pascal.

phenomenon. Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. VII. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). udara. nafas. jiwa. namun demikian. sejak Edmund Husserl (1859-1938). darah orang Yunani. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. nyawa. Prancis. warna-warni.Dalam pandangan Nietzsche. Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. sukma. Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas. berarti penampilan.

pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. termasuk psikologi sebagai ilmu . Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif.sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. bracketing). Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. tertuju pada sesuatu). maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. Proses ini oleh Husserl disebut e poche. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan. Franz Brentano. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya.

disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia.J. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya. Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. Misalnya. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. Menurut pendapatnya. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda.J Bijleveld. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. Buytendijk. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda. Ultrech. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. Sebaliknya. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961). Mata belaka tidak melihat. yaitu masing-masing taraf fisik.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). vital dan psikis. namun demikian.J.J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E.

serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. Narnun demikian. dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976). Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu.itu. yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya. jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya.

peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. "the other is the hidden death of my possibilities". Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain.. . atau . terpandang oleh orang lain. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain. Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia.."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself".”man cannot pass beyond human subjectivity”. atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain. semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas.. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. "Thus. dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing.

Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. dan Eigenwelt. namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. Mitwelt.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse. masing-masing being-able-to-be. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. being-allowed-to-be dan having-to-be.

Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. Pada analisa akhirnya. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. yaitu kebersamaan yang secara sadar. Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi.dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me". mereka yang tergabung . Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya.

maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' .dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". bahwa keberadaan sebagai . agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu. dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". Demikianlah dalam modus 'Kami'. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek. Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”.

ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. dll).manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. VIII. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. Edmund Husserl. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. maka saya berpikir. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. dan bukan abstrak. lebih logis. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. . sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. seni lukis. Oleh karena itu. ateis. Di antara para eksistensialis. dengan karya pokoknya. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. “Logical Investigations”. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. universal. dan sebagainya. muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. lokal. drama. konseptual. sastra. “Saya ada. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. “Saya berpikir. Sementara itu. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. seperti: psikologi. muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. kristiani.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'.

Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. fenomenologi. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. . memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini. Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek.Ketiga aliran ini (eksistensialisme. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek.

.P.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman. S. 2008 .Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.W. juneman@gmail.

Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Johan Huizinga. manusia yang bermain. Manusia sapiens. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. India. Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). dan Arab. Jepang. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. untuk adalah faber. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. Tapi tentu ia harus . Prof. I.

c. Dengan bermain. pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. Anak-anak yang main. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Antara awal dan akhir tersebut. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. Permainan adalah "bebas". Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Dalam bahasa Indonesia. Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. b. Keterbatasan menurut waktu tampak. Bermain selalu terjadi secara spontan. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. Misalnya. sebagai salah satu ciri khasnya. Permainan termasuk suasana waktu luang. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. entah secara riil atau secara imajiner. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. baik menurut waktu maupun menurut ruang. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun.

Dalam konteks permainan. VIII). Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. II. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. Menurut ajaran Tionghoa kuno. permainan ditandai juga ketegangan. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. layar putih. Di samping itu. Utamanya. permainan terutama mempunyai dua fungsi. misalnya. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. manusia dijadikan sebagai . Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. bioskop. stadion. Menurut Plato (Nomoi. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. d. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. Dalam konteks ini. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Dua fungsi ini mudah digabungkan. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. panggung sandiwara. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia.adalah sekelompok anak. dan sebagainya. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. e. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. karena adanya aturan-aturan itu.

208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". mempunyai play dan game. yaitu ludus. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan. Di Yunani. Bahasa Inggris. tapi juga di semua tempat lain. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". nyanyian serta tarian. sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. Untuk dua kata itu. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan.mainan para dewa dan dengan persembahan. Menurut beberapa seginya. Menurut Huizinga. Jacob Burckhardt (1818-1897). seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. Dan memang benar. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. di Yunani kuno. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. dalam masyarakat Yunani. dalam masyarakat Yunani kuno. III. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. misalnya. bahasa Latin hanya memakai satu kata. Menurut pendapat itu. perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan.

Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. permainan lebih tua dari kebudayaan. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan. Dengan cara demikian. Epos India Mahabharata. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. Binatang pun bermain. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Dengan pengetahuan yang kita miliki.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. misalnya. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya." IV. Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. Dalam masyarakat- . untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. Tidak dapat disangkal. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. Antropolog Prancis. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. Marcel Mauss. seperti perburuan umpamanya. Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya.

Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. artinya antara dua kelompok. keadaannya berubah. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. Dengan demikian. Tarian dan nyanyian. Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. seperti halnya dalam perlombaan. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. dan kenegaraan. tata susunan kehakiman. Pada umumnya dapat dikatakan. Tapi tentu saja. Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis.masyarakat arkais. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. ilmu pengetahuan. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. misalnya. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. Dengan perkembangan kebudayaan. Untuk itu. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Dalam hal ini. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. Jadi. kesenian. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. Permainan seolah- .

kebudayaan menjadi semakin serius. Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. nasib seseorang ditentukan. umpamanya. Dipandang sepintas lalu. situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita. Dalam hal ini. Dan dalam bidang ini pun. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. Pada awal mula. misalnya. terbentuk dalam konteks permainan sakral.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. V. yaitu olahraga. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). di mana dengan membuang dadu. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. kebudayaan "dimainkan". Permainan-permainan bola . Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. Kultus keagamaan. Hukum berasal dari permainan sosial. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. perang pun berlangsung dalam suasana permainan. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. Tidak bisa diragukan lagi. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. Dalam sejarah Eropa. Tapi sesudah itu. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini.

Menurut Huizinga. perkembangan rumit. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. Apalagi. Olahraga menjadi sangat serius. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. Dilihat dari segi itu. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Karena semua alasan itu. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. sama sekali tidak ada lagi. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. VI. seperti sepakbola. Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. di mana pelbagai-isme silih berganti.yang besar. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. misalnya. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. Di situ . Puisi. dan permainan papan. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Di sini. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. Dalam seni rupa. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir.

sebagai objektivitas. Dia mengalami bahagia.manusia menghendaki. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. Di situ manusia menjadi subjektif. akibatnya dia merasa jengkel. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Dia harus membebaskan diri. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. secara integral. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. yang menyebabkan disharmoni. Itulah yang ”membahagiakan”. tidak terpecah-pecah. secara total. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. Kalau menang tidak dihitung. Sebaliknya. Akibatnya. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. melainkan karena tujuannya. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). Bandingkan dengan situasi lain. karena pamrihnya. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. Misalnya. Dengan kata lain. Tetapi. manusia bebas. at least selama murni. Dia menjadi diri sendiri. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. Dengan menyerah. Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. Mereka hanya memerlukan permainan. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. Maka. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. Hasilnya adalah kebebasan. kebebasan itu tidak mutlak. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. Dalam permainan yang murni. dalam permainan. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. dari rasa yang mengganggu. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. Tak demikianlah halnya dalam permainan. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. dia bebas-merdeka. artinya pembebasan dari pamrih. merdeka. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. . Setiap saat dia diancam "kejatuhan". maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya.

dan dengan fantasi. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. dan didevaluasikan. Dalam bermain. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan.) Setelah melihat gejala permainan. permainan sudah dikultivir. Jadi. orang juga bermain dengan senyuman. Pertama. permainan tidak bisa dihindarkan. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). seperti berbagai macam permainan dengan bola. dalam Ganefo. jiwa manusia menjadi bangkit. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. dengan kartu. dalam Asian Games. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. permainan adalah suatu human fenomen. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Dengan menyerah. VII. Jika terang bulan. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam. dia menjadi kuasa. karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. Maka. Tetapi lepas dari zaman dahulu. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. Bersama dengan itu. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. kedua. direndahkan. kita harus melihat problemnya. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. seperti misalnya dalam sandiwara). dan alat yang lain. Seperti kekayaan yang lain. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan.dia direbut sendiri. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. mata. manusia menjadi manusia. dan lain sebagainya. bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas. Jika kita menengok sejarah. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain.

maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. yaitu agon. Untuk menyelami tabiat permainan. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). mengalahkan perlawanan. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. unsur perjuangan dalam permainan. maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. dia melekatkan diri pada permainannya. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Di situ unsur agon sangat mencolok. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. An sich tidak ada nilainya. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya.yang sewajarnya. apakah bola masuk gawang atau tidak. Berdasarkan agon. Jadi. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. Jadi. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. Berdasarkan agon pulalah. tanpa lawan. kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. jadi . Tanpa agon tidak ada permainan. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. Berdasarkan agon. menyatukan bersama dengan . Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Hal ini sangat tampak dalam permainan. agon adalah unsur "peperangan". Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. Eros (kata Yunani) artinya cinta. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. tetapi unsur yang luhur. unsur ini ada. jika dalam permainan. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. Agon artinya perjuangan. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. Tanpa agon tidak ada permainan. eros-pun tidak mungkin ada. Nah. dan keperwiraan.. itulah peranan eros. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. orang mengejar nilai-nilai fiktif.. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. membahagiakan karena penikmatan. di mana manusia berkelahi dengan banteng.

Penduduk sipil turut menjadi korban juga. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. dan tidak untuk nafsu. Dan bangsa-bangsa . peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. Selanjutnya. Mainlah dengan agon. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. tetapi selamanya dalam permainan. Adanya eros adalah niscaya. Padahal. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. Jangan dijadikan kesungguhan. sehingga permainan yang dipersungguh. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan". tetapi permainan jangan dipersungguh. Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). sampai titik yang sangat menggelisahkan. Tapi dalam perang modem. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. Eros harus seimbang dengan permainan. bagaimanapun. Maka. sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia. Barang siapa mempermainkan permainan. untuk permainan. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. Di bidang politik dalam negeri. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. Tapi dalam politik internasional. Tapi. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. suasana permainan telah hilang sama sekali. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. bahkan dengan hebat. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. kesimpulan umum Huizinga adalah. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. umpamanya.

Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi. "Seperti akan diakui setiap orang.berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). . menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". Di sini.

C. S.W..Psi.P. 2008 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman. juneman@gmail.

Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. human (Bakker.S O S I AL I TAS M A N U S I A I. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam. Namun. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. biotis. makhluk individu. jujur dan terbuka. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. yaitu fisis-kemis. psyke. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. termasuk manusia lainnya. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. dll. Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. ”berkorban”. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. menurut hukum dan mekanisme sendiri). ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. atau daripada pohon dan hewan. Di dalam bahasa Indonesia. 1992: 114). ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”.

manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. Ketiga. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. transendensi-imanensi. ikatan yang terjadi bersifat . Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. penuh dan lebih sempurna. yang dapat berkembang ke arah yang baik. “no man is an island” kata sebuah pepatah. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. yaitu materialitas-spiritualitas. makhluk sosial. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari.salah satu aspek kehidupannya. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. individualitas-sosialitas. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. alami. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya. Pertama. 1989:55-56). religi atau budaya lainnya. Kedua. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . etnis. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. yang prospektif. kebersamaannya dengan yang lain. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain.

orang baik. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. misalnya sebagai mahasiswa. misalnya dari dunia mahasiswa. menyentuh. menikmati. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. diplomat. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. hewan. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. rohaniwan. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. Keempat. misalnya melihat. mendengar. atau barang benda. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. pencuri. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. guru. Aku selalu di dalam situasi tertentu. sikap. yang mengandaikan yang-lain itu. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. Jadi. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. anggota keluarga. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. pelayan. toh saya pikirkan menurut aspek. dan melibatkan yang-lain orang. II. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. Tidak ada ”aku” yang murni. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. pedagang. penakut. Namun. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. Bukan. misalnya dunia karyawan. kegiatan konkret. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. Aku diartikan oleh yang-lain. maka saya juga (dapat) . tukang becak. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. dan mengadakan hubungan. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. tukang kayu. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. Pada umumnya. Juga kegiatanku. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain.

Andaikata aku tidak ada. Adanya dunia saya tentukan. dan janganlah . Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. rumah. tanpa manusia. Tanpa itu. maka saya ada. ist keine Welt da”. maka seluruh duniaku tidak ada juga. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung.mengakui diri. memberikan penghargaan dan fungsi. aku juga menerima ketertentuan. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. Andaikata ”aku” tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. sudah mustahil. Kalau tidak. Aku berusaha memahami beradaku. ”Aku” berada dengan mutlak. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. saya tahu ketergantunganku itu. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. Satu kesan pun tidak ada. ”Wenn kein Dasein existiert. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. mereka tidak saya kuasai. Heidegger mengatakan. maka orangtuaku tidak ada. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. mereka mendekati saya dari luar saya. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). III. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Sebaliknya. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. mereka tidak keluar dari diri saya. saya menjadi nol. dosen. negara. dibayangkan saja keadaan seperti itu. Saya ada. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. atau sebagai hukuman dan kutukan. sebagai pemberian dan karunia. dunia tidak tampak. The world of persons). sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. teman. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya.

perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. “Yang Transenden”. 1995: 5-6).membayangkan ”aku” tidak ada. Kerangka ini . Fakta yang sungguh-sungguh ada. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. (2) Yang Transenden (Sudiarja. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. Tubuh manusia merupakan medium awal. yang tertutup pada diri sendiri. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. Misalnya ”aku” tidak ada. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. dengan saling memberikan arti dan nilai. Tanpa tubuh. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. yang tetap ada pula. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. Bertanya pun mengenai dunia itu. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. V. dan menerima itu dari saya. paling primitif. walaupun aku tidak pernah ada. sejauh merupakan substansi yang berdikari. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. dan saling mengadakan. juga memuat arti dan nilai bagiku. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. IV. sudah mustahil.

Gabriel Marcel. Perjumpaan. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. alam dari subjektivitas manusia.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. “Engkau” itu nyata dan dinamis. 1993: 36-37). yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. personalisme. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Kedua hubungan itu timbal-balik. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. sosialisme. individualisme. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. kolektivisme. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. antara lain: Martin Buber. awal hubungan yang sejati. Karena “engkau” hadir. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. Jean-Paul Sartre. pertemuan merupakan permulaan. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. kekhawatiran dan keputusannya. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek. totalitarisme. selain alam manusia. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. liberalisme. . 2001: 32). Emmanuel Levinas. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. yang mendasari. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme. Gabriel Marcel menegaskan. dan lain sebagainya.

Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. yang digerakkan oleh cinta. hidup di dunia adalah hidup bersama. Artinya. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. pada doktrinnya tentang situasi etis. 1993: 36). Dalam hal ini. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. Hubungan ini bersifat asimetris. yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. dan (2) cinta. tanpa syarat dan bebas. Jadi. apabila manusia sampai pada cinta itu. Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur. Artinya. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. 1993: 37).dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. Hidup bersama itu mempunyai dua ciri. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. Lévinas memberikan pandangan khas . Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. Lebih lanjut ia mengatakan.

yang merupakan dua pangkal. Jean-Paul Sartre (1905-1980). Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. sebagai suatu totalitas. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. Namun. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. tampaklah suatu Transendental. karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. 1985: 322). Pendekatan . pertarungan yang terus-menerus. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. Dalam semua kebersamaan. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). yaitu Tuhan. Singkatnya. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. Dengan kata lain.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. suatu fenomen yang sama sekali unik. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. bagi Sartre dasar. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. Artinya. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). hakikat bersama. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. permusuhan. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. Pada orang lain. 1956: 222). manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik.

dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. 1988: 307-308. Dengan kata lain.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Bakker. Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. melainkan juga “kooperans”. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). Sebagai konsekuensinya. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. Konkritnya. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). saling memajukan dan saling memperkembangkan . Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. terutama dengan manusia lain. dan atau keluarga. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. seperti rasa memiliki kelompok. Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. yang saling mempengaruhi dari luar. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. . manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Dalam korelasi itu. kesediaan membela kehormatan masyarakat. 1993: 8). Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno.

. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. Istilah transendental tidak berarti. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. organisasi sosial (masyarakat. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. solidaritas dan subsidiaritas. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi.VI. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. Seperti persona tidak ada di samping badan. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. negara dan berbagai bentuk kerjasama). Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. Semuanya ini menjadikannya khas. Ketiga. pranata-pranata sosial. terpisah. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. potensialitas dan keterbatasan. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. akan tetapi juga “trancendent”. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. akan tetapi mem-badan. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. Kedua. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. Pertama. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit.

yaitu Tuhan. yang saling membenci. Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. . yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik".Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. pemanusiaannya menjadi proses yang penting. sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna. Baginya.

2008 .P. S.Psi..W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman. juneman@gmail. C.

"Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. Sepanjang diketahui. I. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. Demikian pada Plato. umpamanya. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . Dan memang demikian. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. History berasal dari bahasa Yunani historein. Dalam modul ini. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. dan historia. berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976).H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. artinya “menyelidiki. Filsuf Inggris. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. Francis Bacon.

dan sebagainya. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Manusia bukan saja obyek sejarah. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. Ia bukan saja produk peredaran waktu. Atau dengan kata lain lagi. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. melainkan juga subyeknya. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini.historisitas. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. Dalam peribahasa Prancis. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. “teknologi”. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Ilmu sejarah hanya mungkin. di samping “sastra”. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”. Perlu diperhatikan. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. tapi ia juga mengadakan sejarah.

Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. Kendati demikian. pada musim tertentu burung-burung bersarang. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. bukan bermaksud menolak teori evolusi. Disangka.baru. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. Malah dapat dikatakan. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . waktu sekarang. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. kesimpulan ini tidak benar. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. Tentu saja. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. Karena. Manusia ditandai historisitas. dan waktu depan. pada waktu tertentu matahari terbit. Tidak dapat disangkal. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. hanya ada perkembangan. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. besok dan lusa dan selama-lamanya. Tentu saja. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Jadi. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi.

Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. namun historisitas belum tampil ke muka. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. umpamanya. b. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. Di bidang filsafat. ya. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. Menurut pendapat Mazhab Stoa. Misalnya. Untuk Oidipus. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. Namun demikian. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. Itu semua tentu benar. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. telah terjadi. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib.a. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. salah satu tujuan drama targedi. Apa yang telah terjadi. manusia adalah bijaksana. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). yang banyak digemari orang Yunani. umpamanya.

Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. Maksudnya. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. wabah. kelaparan. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Suatu bidang lain adalah filasafat. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan.ciri yang berasal dari paham pertama. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. Proses itu tampak pada segala bidang. c. Suatu bidang lain lagi adalah hukum. Tentu saja. Karena tidak berdaya. Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). Perlu tempo cukup lama. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. dan sebagainya.

Manusia adalah pelaku sejarah. Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel. kata Marx. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. Manusia dapat memainkan peranan aktif. dan Marx. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. Comte. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. d. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. yang penting ialah mengubah dunia”. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Dan tidak kebetulan pula. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode.menandai pandangan dunia. harus menjadi praktis. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. misalnya penyakit. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan.

Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu.000. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis.000. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin. yaitu pengalaman manusia tentang waktu. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Ahli fisika termasyhur. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. 6. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi.dijungkirbalikkan.000 years at the outside”. bila dibandingkan dengan periode-periode lain. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. menarik kesimpulan begitu ekstrem. ahli astronomi yang ternama. Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan. Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). Isaac Newton (1642-1727). Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. II.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Seorang sarjana Inggris. Ia sampai pada 50. Pasti mesti ada sebabnya. Memang tidak dapat disangkal. Mari kita memandang beberapa detail: a.000 or 10.000 tahun. Tentu saja.000. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia.

000 tahun. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan.miliar tahun lagi. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. “Laporan . manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. yaitu dengan teknologi itu sendiri.000 tahun lalu. b. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Contoh lain adalah masalah kependudukan. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. Lagi pula. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah.860. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern.000 tahun sebelum tarikh kita. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam.

Dengan kata lain. temporalitas. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. Dan tidak dapat disangkal. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. a. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. kata Pascal. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. Hal itu tentu selalu diketahui. kebebasan. III. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Tapi dalam sintesis filosofisnya. kita lihat tadi. Comte: “savoir c’est prévoir”. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. dan intersubyektivitas. Memang benar yang sudah dikatakan A. Dan mungkin baru . pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. Karena namanya “implikasi”. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. Tentu saja.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga.

tidak lebih dan tidak kurang. tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. umpamanya. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. Tentu saja. Bila Picasso adalah seorang seniman. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. b. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. Sebuah batu adalah batu belaka. Seniman “menciptakan” karya seninya. Karena. Pada manusia. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. Sebaliknya. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. tapi juga tugas. Ia sendiri tidak merupakan sumber . Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. walau bakat itu diberikan kepadanya. Namun benar juga. sebagaimana batu adalah berat. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin.zaman kita sekarang mulai berhasil. Manusia adalah pencipta. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. lisan atau tulisan. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. Seorang manusia bukanlah seniman. manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. dalam materi yang kasar. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. seperti binatang (dan… malaikat). Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). jika manusia tidak bebas. Pendeknya. Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. sebagai roh yang menjelma dalam materi.

Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. adalah un mouvement de transcendance. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. binatang yang sakit. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. kata Hegel. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. jatuh ke dalam ketiadaan dan . Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. Manusia. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. adalah ein krankes Tier. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. Namun demikian. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). tapi segera hilang pula. c. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. Sedangkan manusia. Maksudnya. Kalau begitu. manusia betul-betul kreatif. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. Atau dirumuskan dengan cara lain. kata Merleau-Ponty.mutlak dari bakat itu. seperti misalnya pada Sartre. Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. benar dan matematis.

Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. sekarang) “kehadiran”. membatasi. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. sebagaimana diandaikan oleh Newton. bukan saja sejauh saya mengingatnya. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. d. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. mendatang. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. arloji atau kalender. Dengan kata lain.diganti dengan saat lain. takuti atau nantikan. waktu antropologis. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. Karena. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. dengan salah satu cara hadir juga. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. maka masa muda masih hadir bagi saya. Bila saya seorang muda. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. Bila saya seorang dewasa. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. Jadi. Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. Itu bukan waktu yang “benar”. bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Dirumuskan sedikit karikatural. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. meski dalam bentuk “yang akan datang”.

. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem. Historisitas menjadi mustahil. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. “Manusia tidak mempunyai kodrat. etika. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. ia hanya mempunyai sejarah”. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. Misalnya. Manusia adalah makhluk historis. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. dan agama. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. karena selalu ia meneruskan. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Perlu diakui. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. seandainya setiap generasi (apalagi. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. Misalnya. Manusia adalah makhluk historis. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. J. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. IV. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang.

Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis. Demikian halnya juga di sini. . Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Itulah kebenaran historisisme. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Artinya. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem.

C.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.W.Psi. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman. juneman@gmail.. 2008 .

Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). Pendek kata. Kita. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. membicarakan kematian secara a priori. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. dalam hal ini. ia menjadi faktualitas. dan menjadi sekadar data. Bagaimana kita bicara ihwal kematian. walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa.K E M AT I A N M A N U S I A I. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. padahal kita belum mengalaminya. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. kematian menjadi fakta. 2. Sartre. Jaspers. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). dan lain-lain). Dalam setiap ranah pemikiran. mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. sementara kita belum . Karena pengaruh teknologi media mutakhir. pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought).

tetapi perlu melibatkan pengalaman. Namun. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. seperti diketahui. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. ‘filsafat hayat’. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. Filsafat eksistensial. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. Karena itu. Pertanyaan selanjutnya. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. . metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja.

Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu. (2) Dualisme. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. dengan alasan . maupun bagi anak yang mereka lahirkan. Bahkan. menurut proses alamiah. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. jiwa itu dipersatukan dengan badan. suatu bagian. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. Menurut materialisme. seluruh manusia itu melulu materi. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. Badan itu hanya epifenomena saja. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. atau suatu fase dari substansi ilahi. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. II. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. Kemudian. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. yaitu lahirnya substansi otonom baru. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua.

Dengan demikian. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. Jiwa itu subsisten. Dari segi ontologis. Schelling). orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . pada saat persiapan itu sudah cukup. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. (3) Usaha sintesis. atau diberi-alih dari substansi mereka. Struktur hakiki.berwarna-warna (Kant. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). badan dan jiwa. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. atau memberi-alih. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. kreasionisme. juga menentukan permulaan proses itu. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. mulai abad-abad pertengahan. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. dan transenden terhadap materi. Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. Dengan demikian. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. Menurut tradusianisme materiil. Hominisasi. Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. Menurut tradusianisme spiritual. yang meliputi tradusianisme. Menurut Thomas. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. dan hominisasi. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan.

Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. III. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. melainkan sebaliknya. tidak melampaui dunia material. Maka. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. di dalam penyebaban manusia yang langsung. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. destrukturisasi. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. bersifat fana. Bunga menjadi pudar. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. justru bukan . yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Dia tidak masuk dunia abstraksi. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi.kepada anaknya pula. Semua ”ada” material. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. dan akhirnya busuk dan mati. Jadi. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. Bukan permulaan itu yang paling penting.

yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. seperti halnya dengan semua benda material. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. dan lain-lain. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. Misalnya. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini.karena kehewanannya. Paham materialis mencoba menghancurkannya. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. Ernst Bloch. Karena spiritualitasnya. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. Sampai di sini. dengan abstraksi. kematian. degradasi. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. Namun dibedakan dari badan.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. seluruh dunia kebudayaan dan agama. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. Tanpa keluar dari dunia material. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi). sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. sebagai berikut. tanpa keluasan dan kuantitas. jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. yaitu dunia manusiawi. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. ilmu-ilmu. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit.

Sesungguhnya. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki.” Pengarang Inggris H.H. Pun pula dalam amnesia total. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. ia tahu bahwa ia adalah ia. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan.” IV.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis. kesadaran yang kosong itu. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . suatu kutub oposisi yang mutlak. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. ingatan yang rusak itu. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. N. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan. aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual. ”menghadiri pemakamannya sendiri. apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya). Menurutnya. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat.definitif dari semua. self keakuannya. Dalam beberapa riset yang lain.” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. sebuah lengan.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. artinya apa yang esensial dalam kepribadian.D.

sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. Jadi dari dirinya sendiri. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. manusia tidak bisa keliru secara universal. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. Dalam inti hati manusia. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. bahkan yang paling kuno. argumen ini tidak berlaku. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. bahkan bersifat absurd. sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. maka tidak mesti mengandung kekekalan. sedangkan begitu banyak orang jahat. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. kesuksesan. terkadang menikmati kesehatan. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. tak jujur. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. Tentu saja. hormat dan kemakmuran. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu.

sebagai targetnya. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. Akan tetapi. J. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. Nah. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal). tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. Akan tetapi. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. yakni pribadi manusia. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Tugas ini amat berat bagi manusia. argumen moral ini berbobot sekali. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. astronomi. terutama aspek cintakasih sejati. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. teratur.J. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. kebajikan. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga. salah satu kesulitan ini.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren.van de Casteele setuju dengan beliau. Ada sesuatu yang harus hidup terus. dan yang paling berat di antara semua yang ada. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. Prof. Sebagai akibatnya. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. yang paling luhur dari semua daya evolusi. keakuan pribadi. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu.

di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. ia betul. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. Hasrat untuk tetap hidup. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. juga merupakan bagian dari pengalaman kita. . Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal.harus membuktikannya. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. bagi makhluk manusia itu. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik.” Sebenarnya.

. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. tanpa kekekalan pribadi. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. Dalam diri kita. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. Pendeknya. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. dan bukan kepada orang lain. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. Secara formal. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita.Evaluasi terhadap argumen di atas. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. kalau tidak. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. Karena. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. kebahagiaan menjadi tak mungkin. Tuhan bukan Tuhan lagi. seolah-olah kita merasa kekal. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. Jika tidak. sebaliknya. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. Jadi. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna.

Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. Ladislas Boros). bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini.” V. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. Gabriel Marcel menulis. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. Dalam perspektif ini. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof. Sebaliknya. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . Van de Casteele. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. Kalau begini. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. ”the here and now” quantified body. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih. dalam kesatuan ”kita”. Karl Rahner. Karena itu.

Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Meninggalkan dunia ini. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. suatu kehadiran pan-kosmis. bahwa pada saat kematian. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. Namun. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. persaudaraan. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. warna-warna. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur.” Jadi. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. VI.kita. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. pada saat kematian biologis. Manusia . Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. Dalam waktu yang sama. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian. dan cinta manusiawi. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. akrab dan enak. Pada saat kelahiran. satu-satunya yang kita hayati. makna-makna. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. Tetapi pada saat yang sama. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. Bagi orang dewasa. Rahner berkata.

akan dipenuhi. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. atau suatu konflik tanpa jalan keluar. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal.” Namun seluruh analisis kita. tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. melainkan sebuah drama. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. . semua saksi yang kita bicarakan. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. Kematian bukan suatu tragedi. pribadi maupun sosial. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan. kebahagiaan.

S.. Identitas.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. Penindasan.W.P. Perjuangan. juneman@gmail.Psi.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman. 2008 . C.

Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). penindasan perempuan.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. peran gender. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. dan phalogosentrisme. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. identitas gender dan seksualitas. memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. hak-hak perempuan. the Subjection of Women (1869). Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. hak reproduksi. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. seksisme. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. Dalam “the Laugh of the Medusa”. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. hak berpolitik. lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. stereotyping. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. dia menolak esensialisme yang sedang marak di . Derrida. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. the Second Sex. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949).

Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). dan relasi sosial. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. meliputi Afrika. banyak feminis-individualis-putih-barat. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. Dengan asumsi ini. seksisme. Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. adalah kemewahan. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. rasisme. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. Selama sebelum PD II. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. Asia dan Amerika Selatan. Dalam berbagai diskursus. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). Dalam berbagai penelitian tersebut. bagi perempuan kulit hitam. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. agama. Dalam wacana ini. meskipun tidak semua. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih.Amerika pada waktu itu. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Secara lebih spesifik. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. Karena perempuan kulit . Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek.

“Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Dalam ranah antropologi. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. Dalam banyak kasus. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. diam. sekali lagi. di sini. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Lagi-lagi. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. para perempuan. Perempuan dunia ketiga. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Hampir seluruh kasus penelitian . banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. dan menerima begitu saja. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. bisu. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. dan lain-lain yang non-domestik. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Dalam persoalan pertama. bekerja keras. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. Sedang untuk persoalan kulit hitam. Dalam konsep objektifikasi ini.

[Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. melakukan revolusi. dia terkurung dalam sikap pasif dan . seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. Dalam penelitian psikologi. Perjuangan. Identitas. perempuan tidak berani bereksplorasi. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. Penindasan. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. II. Sebab. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. mencipta. Tubuh. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki.reproduksi.

Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Baginya. Melalui fungsi tersebut. Akibatnya. melalui fungsi tersebut pula. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek.tidak berdaya. masyarakat." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya. . sekolah. Menurut Beauvoir. dalam hal ini rahim. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. bahkan mungkin juga negara. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. dan pasti. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. sudah tetap. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Dalam situasi yang demikian ini. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. bahkan tidak 'dianggap'. dan aktual. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Dengan etika ambiguitas. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. Dengan cara demikian. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Namun. konstruktif. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut.

Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. Pada tataran pemikiran. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. yakni level pemikiran dan praktik.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. Di level praktik. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. diskriminasi jender terus lestari. dan politik. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. Tak heran. Melalui sikap diam dan pasrah. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). digerus begitu saja. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. Identitas perempuan tidak dianggap penting. yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. Oleh karena itu. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. yaitu mengabdi kepada orang lain. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. Sebenarnya. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. yang dicapai melalui revolusi sosial. Menurut de Beauvoir. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Permasalahannya. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. budaya. Kehadiran perempuan sebagai manusia. Padahal.

Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. jubah hitam panjang. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. bukan cabul. menuju keotentikan dan pembebasan. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. bentuk purdah. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. Dalam hubungannya dengan pornografi. Feminis yang lain. Perempuan dalam episteme agama Katolik. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. misalnya. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". menggolongkan pornografi . Untuk para feminis. jilbab panjang. Arab. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. Maria Marcus.

Tanpa kedua hal itu. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. Di sisi lain. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. Tubuh Perempuan yang seksi. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. dan pembaca/penonton pornografi. seks dengan kekerasan. gemulai. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. Dengan demikian. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. konsumen. Dengan adjektif itu. objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. Bagi Kappeler. Pun di Barat. UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . yaitu para produsen. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). penulis skenario. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. cantik. yang tersohor dengan liberalismenya. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. Menurut Marcus.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. Di dalam masyarakat patriarkhi.

Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. Dengan kategori relativitas adjektif. pusar. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. dan nonlinear. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. Penyebutan paha. Apa yang disebut santun. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. Perempuan seolah sebagai gangguan. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Perempuan hanya sebagai subordinat. beragam.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. Jika UU itu ingin akomodatif. sopan. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. Sekali lagi. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. baik. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme. . UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. Namun. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda.

Center dan beradab. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. Said menulis Orientalism. traditional. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Albert Memi. Achille Mbembe. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. dan terakhir white-female-burden. Uma Narayan. Trinh T Minh-ha. dll. Barat sebagai yang occidental. colored-man-burden. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. Dan secara kuliner. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. Ranajit Guha. Frantz Fanon. dll. Cina. Kwame Nkrumah. seperti Gayatri Spivak. perempuan. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978.C. Melawan whiteman-burden. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin.III. Timur sebagai yang oriental. yang Lain (baca: Other). feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. tidak beradab. Pada awal abad 17. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Robert J. irrational. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Anne McClintock. bell hooks. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. eksotik. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. dan Homi Bhabha. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. JanMuhammad. Pada kasus Jawa. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. Sejak tahun 1920. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. Bali . Kreol India dan Eropa. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. rational. Dalam era kolonialisasi. AijazAhmad. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. Chandra Talpade Mohanty. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. Young. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. maskulin. Subaltern. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire.

Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. ras. budaya. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. dan relasi sosial tersebut. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. agama.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. Negara dan bangsa. Di Indonesia. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. Kehadiran esensi adalah . universal sisterhood menjadi problematis. kelas.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. buruh murah. seks komersial. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. penderitaan perempuan adalah sama. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. daerah bencana dan daerah konflik. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. terkadang. Penemuan terhadap esensi. relasi sosial. lemahnya penegakan hukum. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. diperkirakan 100. budaya. ras. penindasan terhadap perempuan adalah sama. status sosial rendah. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). diskriminasi. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. khususnya pantai Pattaya. Dengan perbedaan geografis.

universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Dalam banyak kasus. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. Dengan asumsi ini. IV. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. Bandung. Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. la parole / Jakarta. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta. Jogjakarta. dengan sebutan globalisasi. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. . Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. dalam konteks sekarang. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Semarang.kelahiran kesadaran. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. telah dirampas dengan daya global. Surabaya. Sebenarnya. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini.

Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. perlu dilakukan penelanjangan esensi. Sejarah tubuh. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. Sejarah ras. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. tapi secara mutilatif. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). Dalam banyak kasus urusan kosmetika. Pada titik ini. Dalam politik identitas.Dalam konteks media. Sejarah etnis. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. Tidak dipungkiri. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. kelas kedua. Motto para penjajah . Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. anak perempuan yang kelas kedua. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. ibu yang baik. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme. terutama Jakarta. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. submisif/tunduk. Dalam berbagai sektor. Dan sejarah sastra budaya. Dalam berbagai tayangan media. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. jelas terlihat.

semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Tanggung jawab terhadap Subyek. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Menjadi titik dan selesai. maka mereka akan mudah dijajah. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. sejarah dan agensi. ras. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. uraian di atas lebih lanjut. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . Seperti yang terjadi sekarang. V. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Dengan konstruksi. identitas. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Dalam politik dekonstruksi. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas.

metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. Meski banyak kaum positivis. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. terutama laki-laki. para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. .(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. sulit menerima metodologi ini. Intinya.

2008 .W. C..P. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman.Psi. S.

Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. tidak sistematis. Di Abad Pertengahan misalnya. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Dari khasanah Islam. misalnya. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. keduanya memiliki perbedaan mendasar. Tetapi. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. dan tidak kritis. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. dipertanyakan. filsafat adalah hamba bagi iman. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. Bertrand Russell . Selalu ada yang mesti dikorbankan. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. Dalam pemikiran Eropa. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. mempertanyakan. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional.F I L S A F AT T I M U R I. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Agama mengajarkan kepatuhan. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima.

1996). pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu. Plato. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. . Pemikiran etis dari Confucius. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. dan Islam. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. Plato. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. Di pihak lain. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. . jika pemikiran Timur dianggap agama. Hidup. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan.the no-man’s land between science and theology. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. dengan keutamaan pada praktiknya. Dalam pandangan lain. Jadi. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian).memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. contohnya. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. Di sisi lain. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. Exposed to attack from both sides. Sejak Socrates. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. Buddha. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. . tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. dan Aristoteles. contohnya. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu.

bagi Jaspers. peradaban. Confucius disejajarkan dengan Socrates. dapat kita temukan nama Muhammad saw.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. Plato. The Teaching of Wisdom. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. Cina. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. Socrates. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. seorang pemikir psikologi besar. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. and their first and greatest ethical philosopher. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. . Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. dan Israel.” Oleh Beck.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. but though he remained an “amateur” or informal teacher. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. dan Aristoteles. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. Namun. dan Jesus. Yunani Kuno. Confucius. Sebagai tambahan bagi Jaspers. yaitu India. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. Jung when he wrote.

dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. filsafat terkesan sebagai barang jadi. Dalam khasanah filsafat Barat. radikal. Sedang sebagai proses. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. dialektis. tak ada kata putus.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. sistematis. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. Sebuah upaya adalah sebuah proses. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). tak ada ujung. dan kritis. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. atau ditangguhkan vonisnya. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. sistematis. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. Pengertian kritis di sini. ibarat resep masakan. sesuatu yang telah selesai. Dengan demikian. bukan produk. (Disarikan dari . Secara lebih spesifik lagi. yang memiliki sifat rasional. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. dan tampaknya akan terus berlanjut. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. radikal. Sebagai produk. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. hingga menjadi makanan yang siap santap. ditolak. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak.

1990). Dalam pemikiran Barat konvensional. Jika kenyataan saat ini tidak hujan.Moore & Parker. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). dan bertahap. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. dan filsafat analitik. Sebagai contoh. positivistik. positivisme. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. para filsuf dari empirisme. Dengan begitu. 1986. Pembatasan kaum empiris. Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. Dengan kata lain. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. runut. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. Mayer & Goodchild 1990. Feldman & Schwartzberg. positivistik. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. radikal. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. maka pernyataan itu salah. . Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. pengertian sistematis. Dengan pengertian kritis. sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain.

agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. Dalam filsafat. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Berbeda dengan filsafat. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. Dalam agama. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi).

Cukup percaya saja. tentang yang baik dan yang buruk. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. bagaimana cara mendapatkannya. dan aksiologi. Berbeda dengan filsafat Barat. epistemologi. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. itu sudah sangat memadai bagi mitos.Tuhan tentang rahasia semesta. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. berusaha memahaminya. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. kemudian mengamalkannya. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. Quinne. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. tentang yang benar dan yang salah. filsafat Barat mutakhir. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Kalau kita bicara tentang sistematika. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. II. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan. Mereka lebih sering menafsirkan. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat.

Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. dan bahkan beberapa lebih mendalam. since only God is worthy to be called wise. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. are to be called not merely poets. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar. or legislators. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. orators. However. dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. we cannot give them the name of ‘wise’. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. when they are put to the test by spoken arguments. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. Pengertian kebenaran atau . but are worthy of a higher name. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Lao Tze. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. Pendeknya. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. apalagi dalam ilmu dan filsafat. befitting the serious pursuit of their life.

yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. kemudian mengkajinya secara rasional. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. We have described awareness as the consciousness of life. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. Intuisi. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. Kata wisdom. Perasaan. Beck menyimpulkan: . gairah.kebijaksanaan di sini masih belum jelas. 8. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. Namun. Kedua. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment.

Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. Untuk mencapai kebijaksanaan. sistematis. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan. tidak akan mencapai kebijaksanaan.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Confucius. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . Sidharta Gautama. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. para filsuf Hindu dan Islam. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. bukan hanya rasio. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia.” Dalam pandangan Beck. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis.

dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. ada masalah yang jelas. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. dan aksiologi. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. diskusi. Dalam pemikiran Cina misalnya. Pada praktiknya. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. epistemologi. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. adu argumentasi. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya.modifikasi. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. The Teaching of Wisdom. dan ada solusi bagi masalah itu. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat.

Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. saya harus menunjuk ke India. yaitu orang Yahudi.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. lebih universal. III. Budhisme. kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Tetapi di akhir abad ke-20. Daoisme. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. dari sumber tulisan manakah. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. seperti Hinduisme. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. . pemikiran Timur. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. Budhisme Chan. lebih menyeluruh. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu.

. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. akan menaklukkan para penakluknya. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur.” Syair karangan T.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu. sekali lagi saya harus menunjuk ke India. namun dalam abad ke-21. pada abad ini.. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian... yang berarti Damai. Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat.. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. Tapi coba cermati India.. Elliot yang berjudul The Waste Land. “Di seluruh dunia. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku. Dengan berkiblat kepada Barat. Dengan . Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern. Arthur Schopenhauer misalnya...” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis..” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad.. damai. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini.” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi. shantih... Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. mungkin India yang telah ditaklukkan..S. damai. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi.. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah. dia menulis sebagai berikut. shantih. “Shantih.. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi... trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya.

Seiring dengan perkembangan zaman. kita hanya mendapatkan . plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. lahir karena kebetulan. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). Semedi. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. Lucunya lagi. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. Sebab. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. kematian cita humanisme universal. Misalnya. kematian kebenaran universal. Aristoteles. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. kematian metafisika. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. Pada titik-titik tertentu. dari Yoga. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. Hasilnya. Kendati bukan pelopor. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. Di samping itu. Makanya. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat.kata lain. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. Padahal jika diruntut ke belakang. dan akhirnya sama sekali lenyap. Makanya.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. meskipun samasama menunjuk kepada manusia. 2. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. yang juga menyelidiki manusia. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. Modul II: Bahasa 1. Lalu. Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. ringkaskanlah sifat dialektiknya. 4. Modul III: Kehidupan 1. 5. Jika kita mengingat psikoanalisis. 4. seperti misalnya psikologi. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara." Apakah implikasinya? 6. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. yang dilihat bukan badannya saja. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat.

2. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. 6. 3. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. 4. Modul IV: Pengetahuan 1. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano. Perpanjangan suatu situasi. bagi manusia merupakan penderitaan.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? . Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek.3. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. 4. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. terutama jika akhirnya tidak tampak.

Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4.4. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. Sebutkanlah dan jelaskanlah. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. Untuk mencapai afektivitas. 6. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. apakah mereka saling mengandaikan? 4. 3. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. apa sajakah itu? 5. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2. 3. 5. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. Dalam hal ini. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. 5.

Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. 3. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. 8. Mengapa. Jelaskanlah mengapa. seperti psikologi. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9.6. menurut Kierkegaard. 6. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. 2. menurut Jean-Paul Sartre. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. 7. 4. Mengapa. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. menurut Louis Leahy. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Menurut penyelidikan Anda. .

Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. 2. Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Kalau "aku" tidak ada. 5. 4. lalu toh tetap ada dunia. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel.10. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. 2. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). 5." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. akan menjadi permainan permainan. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. "Barang siapa mempermainkan permainan. Verifikasikanlah pernyataan ini. Permainan Jelaskanlah. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. Apakah yang dibebaskan? 3. Modul X: Sosialitas Manusia 1. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. 3. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain". Berikanlah contoh-contoh. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya.

Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. Dalam konteks tersebut (no. Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. Sebagai daya kebebasan. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Menurut Anda. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. 5. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". 5). Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini.2. jika manusia tidak bebas? 4. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. 3. bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. 4. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. namun di lain pihak.

Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4. Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran.. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. Homo Homini Lupus. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. Ahli psikologi.) lagi. gairah.. 5. . Dalam politik identitas. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3.dalam budaya patriarkat. Di manakah batasnya? Selanjutnya. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo .. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. Homo Economicus. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan. 5. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Carl Gustav Jung.. perlu dilakukan penelanjangan esensi. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. 3. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful