F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

................................ Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain"............................................................234 Kematian Manusia............197 IV..............................239 IV.........................241 V.................212 VI...228 IV........261 V........................................................ "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II.......................................................................................................235 II................................................... dan Pembebasan Tubuh Perempuan..............................226 III........... Permainan dan Pembebasan........................................................................................ Ikhtisar.... Tubuh...................................................... Perjuangan.....................................................................................253 III...................266 I... Fungsi Permainan...............201 VII........... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati............................212 V.259 IV....................................................263 M...........................277 Lampiran I: Soal-soal.............................................................. Penindasan....................... Aku Diadakan oleh Yang-Lain..... Permainan dan Kebudayaan.................................. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"..........................Psi....... Arti Modern Istilah "Historisitas" ...................................................................................................... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana...........................................................200 VI....... Permasalahan & Pandangan-pandangan........................................................................... 6 ....... Ikhtisar...............237 III.....250 I.247 Modul XIII................................266 II.....................................................207 Sosialitas Manusia..............................211 IV...........................................................250 II.....................................................235 I.........................................................................................................................219 Historisitas Manusia......... Pemikiran Timur sebagai Filsafat................... Identitas..................... Lahirnya Manusia..........................249 Filsafat Feminisme......................................................................272 III...217 Modul XI................... Permainan dan Perlombaan.............................................................220 I.....285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman................................. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas............. Ikhtisar..265 Filsafat Timur................................ Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?.......................... Ikhtisar... Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?...........232 Modul XII...........203 Modul X........... Ikhtisar ...210 III................................................................................................................................. Jiwa Manusia Bersifat Kekal).............................................196 III............................................... Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ......... Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek....198 V.........................................................................................................208 I.................................II...... Aku Mengadakan Yang-Lain...............208 II......... S...... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?.... Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia.................................................................246 VI....265 Modul IX.............. Korelasi............................................................... Kritik atas Kebudayaan Modern......................

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

yang berarti ”menampak”. rasa takut. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. bekerja. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. Dengan demikian. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. misalnya pada taraf biokimia. Dengan demikian. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. cinta kasih. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. biologis saja. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin.Psi. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. Namun. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. semua kegiatan. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. seperti misalnya berjalan. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. 16 . dan berarti ”yang dipikirkan”. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. b. malu. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. S. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. semua pengertian. Bukan berupa sifat atau gejala saja. Dengan jalan ini. V.

sebagai ”aku”. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. 17 . Akan tetapi. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. dan sebagainya. Jadi. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. atau ”psikologi metafisis”. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. VI. misalnya menurut aspek budaya. entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. dengan segala sudutnya. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. S. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. turunan. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret.Psi. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Memang. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. Nama ini menimbulkan keberatan. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. yaitu keunikan dan kesendiriannya. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. VII. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam.

Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. manusia dan Tuhan. psikologi. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Misalnya. yang sampai batas-batas tertentu. menganal hakekat sifat dirinya. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. kemampuannya dan cita-citanya. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. terutama pada masa kini. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seperti biologi. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. tentang makna kebebasan dan mencintai. waktu. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. 18 . dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global.Psi. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. tentang dunia. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. etnologi. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. dan sebagainya. dan sebagainya. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. alam semesta. Alasannya adalah karena. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.di muka kita. S. antropologi. sosiologi.

Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. yaitu badan dan jiwa. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Plato. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”. alam kodratnya. digambar. melainkan struktur metafisiknya. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu.Psi. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. 19 . dibayangkan.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. strukturnya yang fundamental. diukur. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. misalnya. alasan adanya (principe d’etre). Filsafat manusia. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. S. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. mengambil manusia sebagai obyek material.

atau juga. Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. metode filsafat adalah bersifat refleksif. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. abstraktif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. S. Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. eidetik. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. induktif.binasa. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. dan metode metafisik. fenomenologis. 20 . Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra.

S. juneman@gmail. C. 21 .. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.P.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.Psi.W.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman.

tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. Berdebat di ruang pengadilan. dosen. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa.BAHASA I. dsb. jaksa. penulis. S. dengan bahasa. di toko. wartawan. rantai penandaan terputus.Psi. Nampaknya. keseleo lidah. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. membeli tahu-tempe di pasar. belajar di bangku kuliah. Pertama. atau di mal-mal. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. cara tetapi struktural ini. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. pengacara. kelupaan akan nama. . Para hakim. dan sebagainya). psikoanalis Lacan. perancang iklan. penyiar radio-televisi. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. berbicara adalah suatu gejala yang terang. Apabila di dalam praktik bahasa. di bengkel. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. yang Jacques menurut tertentu. di kantor. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan.” (Langer). dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. 23 . Maka itu. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya.Psi. seseorang dapat menggerakkan dunia. pada periode Frege. dan Carnap. misalnya dalam bentuk penilaian. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. susunan alam raya). Kedua. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. S. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan.” kata Joseph Conrad (Brussell. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. Inilah kekuatan bahasa. dan representasi. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. pernyataan. Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. inti sesuatu hal. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti. kekuatan kata-kata. Di dalam bahasa. cerita. menurut Gadamer. terdapat tahapan evolusi yang luas. sejak dahulu. Wittgenstein awal. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. karenanya menyesuaikan diri. Husserl. Bahkan. aspek-aspek dunia terungkap. kata ataupun susunan. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). 1988). Kedua. mendengarkan.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. the power of words. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. Bahasa. 1996): Pertama.

”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. dan roh. maka suatu kata memperoleh arti dan makna. yaitu segi ekspresi dan segi isi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Substansi adalah kata atau ungkapannya. contohnya. retorika. Ketiga. dan post-strukturalisme. misalnya. 24 . dalam perbuatan berbicara. Searle). yaitu manusia secara konkret. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika. the act of doing something. S. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Di dalam Speech Acts. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. menurut van Zoest (1993). Selain itu. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. Ketiga.R. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani.Psi. Grice. II. hermeneutika. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. J. Tergambar jelas dari uraian ini. asap menandai adanya api. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. dan poetika. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. Secara berturut-turut.an. tersangkut badan dan jiwa. Bagi Wittgenstein-tua. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. seluruh pribadi manusia itu. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. dan the act of affecting something. strukturalisme. pancaindera.

wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. i. sebagai ”hewan sosial”. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. Perpustakaan. maka huruf. ia memperoleh sebutan baru. Keselamatan kita. Perhatikan rumusan berikut: S (s. c). yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. jika disandingkan. 25 . kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. kata. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. r untuk reference. dan c untuk context atau conditions. S adalah untuk semiotic relation. e untuk effect. r.Psi. kalimat. S. Maka itu. animal simbolicum. kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. i untuk interpreter. sehingga bagi Cassirer. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. misalnya. Dalam penelitian sastra. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. merupakan khazanah pengetahuan insani. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. e.

Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. Masing-masing merupakan produk biologis. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan. (2) pikiran adalah bahasa. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa.” Samuel Johnson mengatakan. kita harus berpikir. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Max Müler lebih jauh lagi.J. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan. mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought). Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. ”Bahasa adalah busana pikiran.Psi. di mana Müler menegaskan. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. No Language without Reason. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. Agar bisa bernalar. J.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan). S.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language. 26 .” Dengan istilah teknis dan filosofis.

dan abadi. dan filsafat analitis.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). sekalipun sangat menyederhanakan. 27 . Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. dan definisi arti. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. strukturalisme. tetapi terkadang tidak. tetapi kata (word). seperti misalnya.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas. S. semiotika.Psi. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. hermeneutika. Pikiran akan menimbulkan kalimat. samasekali tidak jelas begitu saja. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. kaitan pikiran dan kata. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetap. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. tetapi kesan pasti ini menyesatkan.

bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya.” atau bahwa. III.Psi. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. ”Bir lebih enak daripada anggur. dan mengakui keterbatasannya.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong.menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. S. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Benarkah bahwa. itu samasekali tidak mengurangi nilainya. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru. 28 . Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. Sebagai contoh.

Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa).. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. dan sebagainya). teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja.Psi. Bahasa manusia berbeda samasekali. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. Bila pemangsa terlihat di tanah.” Pinker berpendapat. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bila elang mengancam dari atas.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. S. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. 29 . terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan.. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri.Psi. 2. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). berbeda. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. 30 . IV. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. S.

tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. Menurut Wittgenstein. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Di hadapan ketidakmampuan ini. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. ini suatu mistik. Oleh karena itu. Caranya ialah dengan gambaran logis. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. Pernyataan metafisika. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. atau agama tidak mempunyai arti.Psi.” 5. Menurut teori gambar. lebih baik diam. Dalam hal ini. 4. Semua ini bukannya tidak benar. Oleh karena itu. Ini sudah merupakan dalil.3. Tetapi bagi Wittgenstein. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. bahasa tidak mempunyai arti atau makna. estetika. 31 . etika. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Dalam dunia. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. S. karena bukan pernyataan faktual. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. harus dimasukkan. sesuatu yang tak terkatakan. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. Oleh karena itu. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. melainkan tidak bermakna. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Tuhan menampakkan diri. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. Sungguh. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. 6. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. karena Ia bukan fakta. Bahasa etika dan agama. Tanpa hubungan itu. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. Kita tidak dapat menjawabnya.

Permainan bahasa (language games). Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. kuda. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. menjadi bermakna. justru dalam penggunaan. Esensi setiap permainan berbeda. Karena itu. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. Dalam permainan bahasa. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. demikian pun bahasa. sebuah tanda menjadi mati. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. beroda. memberi perintah. dan. Dalam hal ini. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. Misalnya. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. berterimakasih. kambing. (b) Akibatnya. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. juga mengenai hal itu kita perlu diam. dalam kenyataannya. S. maka. Ada banyak permainan bahasa.Psi. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. menanyakan. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. Sebuah tanda menjadi hidup. kita dapat memaparkan sesuatu. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. 32 . perlu dicari di luar dirinya. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. pohon. dan seterusnya. Dengan bahasa yang sama.nilai itu ada. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. misalnya sudah. boleh. bernyanyi.

karena bahasa lain tidak kita punya. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. 2. kita berbicara tentang apa. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. 3. V. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. Masih kita ketahui. S. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. Dengan itu. 33 . Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita.Psi. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. Terpaksa. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. bermakna atau tidak. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak.menyatakan satu pernyataan tertentu. kita menggunakan bahasa yang sama.

supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. 34 . sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. Bagi Russell.Psi. misalnya. Moore.dengan dunia berhingga kita. baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius. tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. tidak pada taraf ontologis.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. Pada G. Bagi Wittgenstein. ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. Dalam periode pertama. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. Terutama di Inggris. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. S. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. Karena itu. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole.

maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. tidak berbicara tentang suatu fakta. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi). Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. 7). Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. emosional atau ekspresif. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif.in silence” (Tractatus. S. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa.Psi. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Kalau dalam periode ketiga. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. semuanya tidak bermakna. Bila ada banyak permainan bahasa. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. sebagaimana dikatakan Ayer juga. nr. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. secara apriori tidak bermakna. tidak mempunyai nilai pengenalan. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. 35 . tidak mempunyai isi faktual. Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya.

di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. VI. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. Macquarrie. Braithwaite.M. S. E. Hare. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal.J. Hick. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan.M.Psi. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. apa saja merupakan being. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu.T. I. metode mereka adalah analisis bahasa. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. Pada zaman kita ini. J. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif. langkah demi langkah. Kedua. Namun demikian. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. Crombie. R. begitu luas. D. Mascall.B. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Selanjutnya. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. Ketiga dan yang terutama. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. Hanya saja harus ditambah. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan. R. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. Evans. sudah sejak permulaannya di Yunani. Namun demikian. Pertama. P. 36 . Smart. Van Buren. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. B.D. Ramsey. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. Tentu saja. Mitchell. J. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa.

dan peristiwaperistiwa. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. Derrida.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. Dalam kata-kata. Pada akhirnya. Tentu saja. Tetapi kami tidak bersalah. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa.Psi. Pada gilirannya.” Pada pokoknya. Husserl. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. yang tak pernah bulat selesai. Itulah sebabnya Frege. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. Agaknya. yakni fungsi transformatif. kebanyakan orang menjadi bingung. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. kebakaan serta kebebasan jiwa. suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. memperoleh bentuknya yang dinamis. 37 . barang-barang. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. Heidegger. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. Dalam setiap kata. manusia. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada. dilahirkan sesuatu rasa heran. Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). sebagaimana sudah kita lihat. Fungsi inilah. menurut pengamatan para linguis. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. tentang eksistensi Tuhan. S. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. Demikianlah. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme.

S.mereka dipahami dengan berbagai cara. 38 . Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi.

Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.Psi.Psi. C. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail. S.W.P. 39 . S.

maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. juridis. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. psikologis. dan lain sebagainya. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. dan lain sebagainya. melainkan metafisis atau hakiki. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. siapakah namamu?. padat. bagaimana titik tolak manusia? Konkret. dan juga berarti dengan sesama (sosial). dalam psikologinya tentang persona. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. dan lain sebagainya. Oleh karena itu. dan berbagai macam: sosiologis. antropologis. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. Ada yang eksperimental-ilmiah.Psi. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. dengan emosinya. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. dengan pandangannya. ke manakah kamu. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. dia mengolah diri sendiri.K E H I D U PAN I. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. Jadi. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. S. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. 40 . Tidak hanya berhadapan. dalam pandangan tematis bisa salah. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. menghadapi kesukaran. Dalam bertanya tentang diri. dan lain sebagainya. banyak segi jika orang bertanya. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia bisa. dia melakukan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Pengertian ini kompleks.

Psi. Manusia selalu terlibat dalam situasi. jangan berkata tentang badan dan jiwa. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Jadi. atau badanku sakit. Lihatlah. tetapi juga berjarak. S. tetapi tidak berhadapan dengan alam. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. Dia merupakan kesatuan dengan alam. tetapi juga bukan jiwa. Dia tidak hanya berubah dalam. Hewan juga berada di dalam alam. Karena badannya. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). yang menyebabkan dia bisa seperti itu. dan dengan demikian. manusia juga tidak bisa mengerti dunia. dia menempatkan diri.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. mengambil tempat (posisi) dan sikap. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. Jadi. situasi itu berubah dan mengubah manusia. bertindak. Sesudah pendahuluan ini. tidak mempunyai distansi. jadi punya daya. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. bisa mengubah dan mengolahnya. Dengan ini dia menyejarah. bagaimana manusia itu menjadi sadar. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. melainkan tentang aku! Kelak. menghadapi. dia tetaplah dia sendiri. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berada dalam suatu "cahaya". II. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. punya kemampuan. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Kalau begitu. tetapi juga karena diubah oleh. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. manusia bangkit. Dia bisa memandangnya. dia bisa berjalan. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. Masing-masing dari kita berkata: Aku. Corak yang ketiga. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. situasi itu. Lihat saja. di sebelah sini atau sana. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. Lihat saja. 41 . Dia berkata: aku sakit. Manusia tidak sadar tentang jiwa. dan lain sebagainya. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. Dia menghadapi. sebagai subjek. Namun dalam berubah-ubah ini. Subjek artinya berdiri sendiri. jika manusia menguraikan kesadarannya.

berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. jadi tidak boleh pernah disendirikan. tetapi manusia. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. • Ada pandangan idealistis tentang badan. kita katakan badan dan jiwa. yang ada hanya roh. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. Maka. Roh adalah listrik. Lihatlah. sukacitanya.maupun realitas. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. dalam semua itu tampak kerohaniannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. manusia kita katakan bersifat rohani. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. badan adalah prinsip jasmani. badan seolah-olah tidak ada. Tetapi. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia. Dia berat atau ringan. artinya materi. 42 . tidak terlipat-lipat. dengan sadar. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. Bersama dengan itu. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. bisa menghadapi diri dan barang lain. begitu juga dengan hewan. tidak terbentang. berdarah dan berdaging. Dalam realitas. yang ada bukan badan. artinya tidak seperti barang-barang yang lain. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. badan cahayanya. tidak lepas dari barang materi. habis! Itulah salahnya. seluruh manusia adalah jasmani. Seluruh manusia adalah rohani. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. Juga kesenangannya. manusia juga jasmani. kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. kebahagiaannya. Jadi. mirip dengan makhluk hidup lainnya. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. bisa dilihat secara anatomis. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. Maka.Psi. S. ada aspek jasmani. Maka. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. berdimensi tiga.

sesuatu yang menempel. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. Pandangan ini biasanya juga dualistis.Psi. misalnya cinta. yang masih asli. maka di situ sudah termuat badanku. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. badan termuat dalam aku. 43 . Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. Samakah badan dengan aku? Tidak. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. unsur aku-ku. ke kejahatan. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. habis perkara. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. Tetapi badan sebagai milik. Yang ada hanya badan. melainkan sebagai dua. cermin. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. Selanjutnya. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. tampak dalam alam jasmani. dan lain sebagainya. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). Pendapat ini pun tidak riil.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. Badan adalah unsur diriku. sedih. Badan tidak sama dengan aku. Yang tampak adalah Aku. Persona (tidak dalam pengertian Jung). sepanjang aku ini terlihat. Badan dianggap penarik ke bawah. Lihatlah sepanjang itu. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. Jika aku berkata aku. juga tidak sama dengan sepatu. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Yang ada bukan badan. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani. Sekali lagi. tetapi tampak. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. dalam pemahaman awal. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. Pribadi.

Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. Orang akan berkata: aku melihat si A. Kita tidak berkata: itulah badannya. Badan membatasi penampakanku. tetapi seluruh manusia. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). mengucapkan kata manis-manis. Kita berkata: itulah orangnya. tetapi juga ada distansi. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. celaka. menunjuk badan. maka di situ milikku tidak termuat. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku.. tetapi menipu! Jika badanku sakit. awakku sedang malang. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. Yang malang bukan badan. . Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir. jadi tidak sama saja dengan aku. S. maka dia melihat aku. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita. tetapi belum tentu malang. badanku termuat. yaitu badan itu. Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu.. jarak. Menangkap suara berarti menangkap pikiran. Tetapi dalam berpikir tentang manusia..Kesamaan itu hanya sepanjang . Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. Maka dari itu. Aku bisa berpura-pura marah. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. Setelah semua ini dikatakan. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. Minatilah caraku menampakkan. Antara badan dan aku ada kesatuan. Aku ada berarti aku ini manusia. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. dan lain sebagainya. Badanku bisa tidak berdaya. 44 . aku memang sakit. seperti orang-orang lain.Psi. Dia berkata: awakku lagi susah. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan. mengarang. Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. Jika orang lain melihat badanku... Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Tetapi. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Karena badan itu menjadi penampakanku.

Manusia itu kesatuan. Setelah ini kita nyatakan. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. Untuk menyatakan kesatuan ini. bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. Maka. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. S. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga". Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. 45 . kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. Keadaan tanah. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. keadaan flora. Dua itu tidak berdampingan. tetapi kesatuannya tidak sempurna. ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani.Psi. yang berakhir dengan disintegrasi. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. juga ditentukan oleh keadaan itu. Bangunan itu selalu berubah. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". keadaan iklim. dan lain sebagainya. Jadi. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. berproses menurut hukumhukum biologis. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. keadaan geografis. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan.

Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. Maka. pembiakan sel). Namun. jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. asal sehat saja. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. Pandanglah sekarang badan yang normal. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. tidak menjadi jiwa. seperti api dalam banyak abu.Psi. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. kecil atau cukupan. demikianlah Dr. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. Tetapi materia tidak menjadi rohani. Tentu saja. hanya menjadi badan. pelajaran tari. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. sebentar tampak sedikit. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. di situ ada pertumbuhan yang normal. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga. Artinya. dan lain sebagainya. sebentar hilang. yang sehat. Jika badan bertumbuh secara normal. 46 . tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). Hidup badani adalah untuk memanusia. Semua keadaan badan. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. Sebelum kita lahir. S. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. Dengan membadan kita memanusia. masih memungkinkan kemenangan kerohanian.

Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. biarpun sehat. akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. Ambil untuk mudahnya. lenyaplah semua kepandaiannya. Kita bisa mengurangi makan. bisa mengurangi atau menambah tidur. dan lain sebagainya.. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian. macam apa saja yang dibisai. ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis.. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. misalnya disentri!). lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar. tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. 47 . . dan seandainya ibu tidak bertindak. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu. dalam tubuh manusia. Manusia di situ sudah kuat.. misalnya denyutan jantung. seperti arloji). Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar.. pembagian makanan dan gula. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. minum harus diminumi. S.. Di samping itu. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan. hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. mungkin dia luar biasa. Coba saja.kedokteran).. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja .. dan lain sebagainya. Ingat saja denyutan jantung. sabun. dan lain sebagainya. seandainya tidak dibersihkan . Jika pandangan ini masih statis. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya... Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. perputaran darah. . terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai.. kalau masih kecil (bayi). tetapi . Badan kita mempunyai misère dan grandeur.Psi.. bisa pilih makanan dan obat-obatan. . malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. sedang kuat-kuatnya. dengan mandi.. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. Lihatlah anak kecil. Lihatlah tangan manusia. artinya "kenistaan" dan "keagungan".

Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. reaktor atom. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. tangannya. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. dalam solah-bawa-nya. Maka dari itu. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. pakaian. S. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. anjing mendengar. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. tetapi itu tidak sama. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan.olahraga! Sungguh mengagumkan.Psi. 48 . Maka. kesemuanya itu. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. Jika pribadinya luhur. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. Lihatlah sekarang barang-barang seni. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. bibirnya. matanya. Oleh sebab itu. Berdasarkan keluhuran ini. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). maka badan dalam sikap-sikapnya. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. dalam penampilannya dan penampakannya. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. lidah-nya. makanan. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. dalam gerakgeriknya. mesin hitung. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. dan lain sebagainya. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga.

Jadi. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. Tetapi sebaliknya. Karena itu. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). mengenakan pakaian. tidur. Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. kebaktian. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). Berdasarkan ini. Dia harus bersikap. semua hal insani badani juga. sebab ibu mengajar si anak makan. S. berjalan. jadi dengan badan. cinta kasih. Maka dari itu. bertindak. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani.akan mencerminkan keluhuran itu. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Oleh sebab itu. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. Demikianlah tata sopan. dan lain sebagainya. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. Manusia hanya memanusia dalam badannya. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. Pendek kata. hormat. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. minum. Tetapi.Psi. 49 . Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya.

Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kejiwaan manusia diminati juga. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. mental hygiene). tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. Dalam bahasa Inggris misalnya. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. tetapi dilihat dari sudut psikis. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". yang artinya seluruh manusia. kesehatan disebut whole-some. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. 50 . sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. jadi keadaan manusia. Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. rumah sakit jiwa. dan lain sebagainya. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. yang dilihat bukan badannya saja. sakit jiwa. Jika kita mengingat psikoanalisis. S.Psi. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng).rohani dijelmakan. Orang melihat seluruh manusia. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. Jadi. tidak sakit. Kalau orang bertemu. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit.

dan Plato. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. di sana hidupnya masih jalan baik. Kekecewaan yang hebat. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. Aliran yang terakhir. Sebaliknya. didirikan oleh Epicurus. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). sekaligus yang paling tidak populer. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras. tetapi soal seluruh manusia. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. dan sekuler. bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. badannya di situ tidak bisa berfungsi. IV. orang itu akan terganggu kesehatannya. personal. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus. Dalam situasi yang konkret.sehat berarti tidak sakit. Aliran yang kedua.Psi. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. didirikan oleh Orpheus. Jika kita mengingat kesemuanya ini. bagus. Meskipun tak populer. S. Socrates. Yang pertama. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. baik jasmani maupun rohani. Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". 51 . bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. tidak adanya penyakit apa pun. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". privat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia.Psi. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. gender. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). silikon. posisi keluarga. 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. sesekali memang dapat "rusak". antropologi. dan psikologi. gender. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. transplantasi mata dan telinga. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. S. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. Persoalanpersoalan kosmologi.Pada abad ke-20. umur. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. dengan alat pacu jantung. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. 52 . dan hal-hal yang bersifat religius. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. dengan berkembangnya ilmu kedokteran. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. katup buatan. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. Abad baru. yang memberi kontribusi pada studi tubuh.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. 58 . Jadi. S.lahir dari pikiran kreatifnya. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. masuk juga kategori afektivitas. Nama itu adalah Spirit. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. keluasan. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. maupun dalam upacara pemakaman.Psi. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. Justru terhadap segi itulah. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas. dan ukuran.

“Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. material. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. Sebenarnya. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. alteritas seorang lain. kultural. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 59 .Psi. S. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. Akibatnya. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. manusia agaknya masih belum lengkap. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. untuk perkembangan ilmiah. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. moral. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. dan lain-lain. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. Akibatnya. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain. roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain.VI. yaitu keinginan. dia hanya berpaling pada dirinya. lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya. Berkat karakter spiritualnya. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya.

Persona manusiawi. dan sekali lagi. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. karena spiritualitasnya. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. S. yang meletakkannya di luar semua kategori. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. Nah. Dia menyepak potongan roti itu. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. sebaliknya. “Lihatlah”. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. Tiba-tiba. 60 . melainkan dunia kebebasan batin. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. Tetapi. Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu. Suatu hari. itulah artinya istilah “spiritual”. Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. Karena itu. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. kedinginan. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. VII. laksana gerombolan serigala. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kotoran.Psi. kata salah seorang di antaranya. meskipun perutnya lapar sekali. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa. diucapkan dengan istilah “persona”. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. Dalam kesempatan itu. akibat ciri spiritual jiwanya.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. hidup spiritual. tutur temannya. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. dan sebagainya.

yang saya sentuh dan rasakan itu.merupakan panggilan sejati manusia. Sebaliknya. dia bersifat imanen terhadapnya. Adapun jiwa. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dalam fungsi yang menstrukturnya. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai.Psi. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. Itulah dasar martabatnya. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. 61 . berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. maksudnya. yang terstruktur berkat jiwa. S. Badan yang penuh dengan hidup. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka.

W. 62 ..Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman. S.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.P. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. C.Psi. juneman@gmail.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. misalnya M.P E N G E TA H U AN I. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. Ketiga. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. 63 . S. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. Pertama. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. berkat pengetahuanlah. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. 1987: 29 50). orang harus mengambil jarak terhadapnya.Psi. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. serta mengungkapkannya secara tepat. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. Alasannya. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. Pengetahuan. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan. di depan subjek. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. Ia menunjukkan.

dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. utuh. Pengungkapannya adalah. pembau. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Seterusnya. pendengaran. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. gerakan-gerakan. melalui penglihatan. jernih bagi dirinya sendiri. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian. atau karya-karya seni. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. S. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. perasaan. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. definisi. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. tindakan. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. 64 . konsep. serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. objek-subjek serta indrawi dan intelektif. tingkah laku. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. sampai batas tertentu. mitos. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan disebut pula diskursif. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. serta jerit teriakan. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. sikap-sikap. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. dan sebagainya. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. baik dalam bentuk ide. ketika sambil muncul secara spontan.Psi.

bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. dan kemampuan-kemampuannya. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. berbeda sekali satu sama lainnya. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. sebab dalam akibat. konsekuensi dalam prinsip. Pengetahuan itu adalah induktif.pengetahuan intuitif. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. S. yang indrawi dan intelektif. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. keseluruhan dalam satu bagian. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas.Psi. Pengetahuan tentang materi. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. dan sebaliknya deduktif. menurut bagaimana cara diambil. Pengetahuan itu disebut spekulatif. bila menarik yang universal dari yang individual. organ-organnya. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. Pendeknya. Akhirnya. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). tentang manusia. Pengetahuan itu sinergis. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. tentang gerakan. bila menarik yang individual dari yang universal. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. tentang hidup. Bagi epistemologi. Praktis. 65 . Pengetahuan itu kontemplatif. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebagainya. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. tentang luasnya.

represent no objective real existents. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek. Bagi kaum Nominalis. Kegiatan-kegiatan afektif. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. namun di dalam pertemuan tersebut. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. theory that abstract or general terms. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja.mengetahui suatu realitas. S. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. 66 . di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. or universals. Tegasnya. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek.Psi. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. Artinya. sedangkan lewat afektivitas. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek.

Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. (c) concepts refer to abstracts. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. Menurutnya. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. dan objek-subjek. maka manusia adalah nama belaka. dan bukan hanya sekadar pertemuan. yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. but having no reality apart from them. 67 . karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. mere vocal utterances "flatus vocis". Pendeknya. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek.names. 1975: 61). Nominalisme. that is to say. (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. berbeda halnya dengan Nominalisme.Psi. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. dan aliran Idealisme di lain pihak. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. ternyata tidak sederhana implikasinya. Reality is admitted only to actual physical particulars. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. 1975: 211). to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. S. entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. Universals exist only post res (Runes. Jelasnya. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda.

objektif atau subjektif. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. II. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain.Psi. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. Sebenarnya. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. antara tingkat pengetahuan suatu pengada. 1970). karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen. dimensi material dan dimensi spiritual. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. 68 . kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. mutlak. Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. S. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. Sontag. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). dan final. pantheisme. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. induksi dan deduksi. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya.

maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. 1983). berlainan. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. dan kalaupun keluar (transcendent). dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut. Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif.batas-batasnya. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. Akhirnya. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. Merleau-Ponty. 1993 & Bertens. Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. dengan mengetahui. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. Mempelajari pengetahuan. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. dan berada di luar subjek. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. Akibatnya. Ditinjau dari sisi objek. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. di pihak lain. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. Ditinjau dari sisi subjek. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. Aliran Idealisme. Bila dianalisis lebih lanjut. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri.Psi. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. 69 . Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. S. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam.

S. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Penjelasan tersebut akhirnya. 1982:30 -31). Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. Meskipun demikian. Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. Walaupun demikian. mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu.Psi. 70 . Menurutnya. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan.

kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. 1983: 344). Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. membakar. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. S.Psi. seutuhnya terwujudkan. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. lengkap. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. 71 . demikian juga pengetahuannya. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. mereka adalah mereka. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. menggerogoti. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. Keterbatasannya itulah yang mendorong. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Jelasnya. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. manusia harus menjadi dirinya sendiri. Akibatnya. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri.

kendati semua penjelasan sudah diberikan. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. dan jiwa bukan materi. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah.Psi. ia tidak tahu apa yang diketahuinya. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. maka cukup sampai di sini. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. maka demikian halnya dengan pengetahuan. karena kita akan mempelajari.(2 x 2 = 4). ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. Melalui pengetahuanlah. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. Akan tetapi. manusia bisa berada secara lebih tinggi. Terutama karena materi bukan jiwa. 72 . daripada melalui bahasa dan seksualitas. melampaui dirinya sendiri. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. S. untuk menyelesaikan modul ini. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali. secara radikal. Melalui pengetahuanlah. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. dalam satu modul yang lain lagi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. IV. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. Keberadaan manusia. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. yaitu pengetahuan intelektif.

Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. menurut Heidegger. yaitu Ada yang menopang segala adaan. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Kelumpuhan ini. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. mulai dari Yunani klasik sampai modern. nalar yang mewakili bukan menyingkap. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. seperti diisyaratkan Russel. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. Bagi Heidegger. Bahkan. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. S. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Karenanya. Oleh karena itu. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan.Psi. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. modus bernalar biasa harus ditinggalkan.V. 73 . semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan.

Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Fisika. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. hamba sejarah. bukan eksplorasi. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. S. Ia mentransendenkan semua metode. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik.Psi. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. seperti dikemukakan Whitehead. Nalar pun sekadar kalkulasi. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. misalnya. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. bukan menciptakan. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Ia menjadi ansilla historica. 74 . bukan pemikiran. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. kata mereka. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. Nalar identik dengan universalisme. filsafat. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Padahal.

Yang baik dan yang jahat. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. Kalaupun bertanya. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. Transendensi adalah modus epistemologis. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Pengambilan jarak Dasein. Namun. Sementara "kelainan". Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. Selanjutnya. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Berakar dari proyekproyek genealoginya. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. S. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Yang dikejar oleh nalar puitis.transenden.Psi. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). menurut Nietzsche. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. sementara "kelainan" adalah modus puitis. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Namun. bukan kebenaran baru. apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. sebaliknya. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. 75 . yakni being in the world. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. maka ia terjebak dalam epistemologi. Beyond Good and Evil. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju.

S. Nietzsche. dan keindahan. kebaikan. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. Dan. Dan.Psi. tertib kosmis akan mengalami gangguan. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan.tak berpuisi? Atau. Melampaui relativisme. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Manusia butuh kepastian. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Semua tanda tanya harus dipastikan. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Kalau tidak. Semua tanda tanya harus dipastikan. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. menurut Hegel. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. 76 . Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. Satu saja lolos. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Padahal. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. sebaliknya. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh.

Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. Baginya. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. 77 . Bagi Popper. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya.Psi. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas.Karl Raimund Popper. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seorang anti-Popperian. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Thomas Kuhn. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. Daya transendensi nalar. Ia tidak tunggal. Paul Feyerabend. Namun. Jurgen Habermas. dan ketetapan. filsuf sains termasyhur. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. Budaya. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. menurut Popper. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Berkat falsifikasi. Kebenaran tidak bisa dipastikan. S. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. sebaliknya. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. namun seperti digagas Wittgenstein. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. ideologi. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. melainkan kehampiran. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. universalitas. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika.

Psi. Namun. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. Menggeser relativisme. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. habis perkara. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Setelah nalar berhenti. Nalar manusia terbatas. 78 . Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Namun. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. Apa mendominasi apakah. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Begitu cibir para mistikus. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. Namun. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. S. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. ingat dan sadar. Tuhan bekerja secara misterius.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan filsafat. Saatnya bagi sains. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. dan filsafat untuk berhening sejenak. Melainkan. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. teologi. 79 . Singkat kata.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. S. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. teologis. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah.Psi. teologi. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah.

S. C.Psi.Psi. 80 ..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.P.Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.W.

karsa (konasi). S. Di samping itu. tetapi toh lebih sedikit dari itu. dan lain sebagainya. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. Orang mencium bau mangga. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. bisa menilai segala keadaan.” “Saya merasa khawatir. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. Dalam kalangan Jawa. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. rasa (afeksi).” Di sini rasa mengandung pengertian. manis pada lidah. terutama kalangan kebatinan. ada rasa yang lebih mendalam.A F E K T I V I TAS I. bagaimana kedudukannya. dirinya sendiri. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. Jadi. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. dan lain sebagainya. kita membedakan dua macam rasa. Di atas hal itu sudah kita mulai. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rasa khawatir. Bahkan. aspek pendekap. aspek apetitif. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. jika seorang berkata: aku merasa dingin. rasa pada badan! Di samping itu. rasa takut. rasa was was. minuman ini terasa manis. rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". dan lain sebagainya). kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri.Psi. Dalam Serat Wedhatama misalnya. atau manusia sebagai trias-dinamika. dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). itulah trias-dinamika manusia. 81 . Tetapi.

yaitu karsa. meskipun mulut dimasuki makanan. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). Dengan ini dia mengalami mangga itu. artinya melalui indra kita.Psi. Sebaliknya. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. Tetapi. Jika sesuatu kita "materikan". Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. Kita selalu mau sesuatu. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. menjadi bhinneka. di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. yaitu di atas suatu titik. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. di bawah lebar. Lebih jelas lagi merasa haus. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". Sebetulnya. Maka sesuai dengan kejasmanian. tetapi meruncing ke atas. Sejak muncul dalam alam realitas. kalau lidah hanya kangen bakmi. Orang yang lidahnya sakit. dia mengambil buah itu. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. maka yang satu itu menjadi terbentang. Nah. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. artinya "melalui" daya-daya sensitif. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. jika dilahirkan. lantas menjadi banyak. maka menjadi banyak kata. memakannya. Jika cinta dinyatakan. S. yaitu dalam cinta. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. di situ belum terjadi penikmatan bakmi. Tetapi sebaliknya. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. 82 . Gambar itu bisa kita balik juga. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. manusia itu manusia. Pikiran kita. Jadi. sebaliknya. menjadi terserak. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. maka "membentang" berupa kalimat. Orang pingsan tidak bisa menikmati. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. Artinya. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan.merasakan mangga.

Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. Selama kita hidup. Maka. penantian. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. S. Perpanjangan suatu situasi. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. Dalam pikiran analitis. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. maka manusia takut. orang dipenjara seumur hidup. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). Jika malapetaka mengancam. seperti rokok dan lain sebagainya). dan lain sebagainya. Untuk maksud kita sekarang. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya.Psi. dia selalu menanti. dengan isi yang lebih jelas. segan. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. dan lain sebagainya. Jika dorongan dipenuhi. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. maka pada manusia ada harapan. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. bagi manusia merupakan penderitaan. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. maka apakah puncaknya? Penikmatan. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. merasa gembira. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. marah. untuk lebih menyelami. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. yaitu takut. maka dia marah atau putus asa. dorongan sensitif untuk cinta. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. Hidup tidak hanya secara biologis. selalu terjun dari sintesis ke analisis. Jadi. 83 . Dia selalu berharapan. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. terutama jika akhirnya tidak tampak. dorongan ke arah keindahan. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. tetapi secara manusia.

tetapi seluruh manusia. keinginannya. misalnya dalam memandang seksualitas. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. S. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. Yaitu cinta kasih suami-istri. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. tetapi seluruh pribadi manusia. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. II. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. tetapi juga afektivitas. Yang lapar bukanlah perut. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. dan sanggup meluhurkan diri. tetapi seluruh pribadilah yang takut. Dalam dinamikanya. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Jadi. Pengertian ini sangat penting. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. manusia tergerakkan hatinya. 84 . Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. lebih sentosa. Yang ada bukan hanya rasa takut. di samping pengetahuan. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. mempelajari. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita.Psi. Jelasnya. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. Melalui peranan afektivitaslah.

Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. Baginya. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. Prinsipnya. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. komunikasi. 85 . S. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual.mengenai kritik atas rasio murni. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. partisipasi. misalnya. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. kepatuhan. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. Walaupun demikian. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi). atau cinta.Psi.

dan menjijikkan atau membosankan. kecenderungan. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.bukanlah mencintai. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. untuk mencapai afektivitas. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. S. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. tanpa bobot. atau apa yang jasmaniah saja. Jadi. menguatkan. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. 86 . mengembangkan. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. dan menjiwainya dengan mewarnainya. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. menggayakannya. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. III.Psi. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain.

ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. S. imajinasi. mempengaruhi bahkan membohongi. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. Keempat. nilai (baik dan buruk). berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Kedua. kesenangan.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. mempertahankan diri atau yang lainnya. Ketiga. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. Kelima. 87 . Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. semangat. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. selera.Psi. dalam kondisi ini. mencintai. mengenal adalah kausa dari afektivitas. IV. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis.

Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. sekolah. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak.Psi. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. bioskop. V. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. dengan bertindak demikian. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. jangan bersikap acuh tak acuh. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. 88 . Terlepas dari pengertiannya yang nyata. S. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. Karena pengaruh semboyan ini. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. buku-buku. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. dari generasi ke generasi.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah.

Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. dan pikiran populer. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. teologi.kelihatannya begitu bertentangan. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. 89 . S. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. telah meresapi filsafat. Pada bayi. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. Dalam perkembangan individu tersebut. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri.Psi. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. dengan segala daya intelektual. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebaliknya.

Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. S. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”.Psi. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Biasanya. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. hal ini berarti. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. 90 . sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. Sebaliknya. tanggungjawab dan pengetahuan. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. Gagasan yang terungkap dalam Injil. yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. respek (rasa hormat). Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi.

yaitu: perhatian. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. dan pengetahuan. perkembangan. tanggungjawab. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. ia samasekali tidak dapat mencintai. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. ia mencintai dirinya sendiri juga. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. tetapi hanya senang menerima. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. kebahagiaan. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. bagaimana kita menerangkan egoisme. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. kebebasannya sendiri.Psi. pada prinsipnya.simpati terhadap ”orang asing”. rasa hormat. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. S. 91 . melainkan justru sangat kurang mencintai diri. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. Afirmasi terhadap hidup. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri. tetapi justru merupakan alasannya. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis.

Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. kegagalan dalam relasi cinta. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. ”hidup hanya untuk orang lain”. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. dan sebagainya. bukan karena ia sangat mencintai anaknya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus.Psi. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. kelelahan. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. seperti: depresi. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. ia tidak dapat bahagia. S. Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 92 . Ia merasa prihatin yang berlebihan. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya.

daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. keriangan dan kebahagiaan. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. S. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. di bawah topeng kebajikan. mereka diajar. mereka cemas. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai.namun kuat.Psi. agar benci terhadap kehidupan. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. dan sangat sering. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. 93 . untuk adat istiadat kita. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. kaku. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. dapat diperbaiki. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”.

S.W.Psi.Psi.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.P.. juneman@gmail. 94 . C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. namun selalu bersifat relasional. kedua sumber pengetahuan ini berbeda. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis.Psi. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. Berkat indranya itu.PENGERTIAN I. walaupun masih sangat sederhana. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. seperti juga pada binatang. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. 95 . S. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. Secara umum. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. entah nyata atau semu. Pengetahuan indrawi bersifat parsial.

Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. rasa. rasa. atau bau. atau bentuk dengan keras-lunaknya. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. bau. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. atau hidung yang membau. Menurut Realisme naif. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. Semua sensasi (warna. Mata peka terhadap cahaya.Psi. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. seperti bunyi. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. suara. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. rasa. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. cerah. Pengetahuan indrawi. S. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. Pendengaran hanya mampu menangkap suara.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. atau tanpa telinga yang mendengar suara. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. dan sebagainya. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. Warna. 96 . dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut.

hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. dan gerakan dari bagian-bagian. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. bentuk. 97 . bau-bauan. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. pakaian. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. Kedua. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. yaitu kumpulan. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. Ketiga. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. perang ataupun religius. Musik. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis.Psi. S. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. tetapi juga warna subjektif. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif. lebih kabur. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung.

Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan. melainkan saling melengkapi. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. tujuan. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. sekaligus membentuk daya interpretasi. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah. Arti. Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. kesehatan mata. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. Pengaruh cahaya. dari bentuknya suatu benda menerima.samar-samar. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. Pendeknya. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. 98 . S. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. melalui pengertian kelompok (komunal). sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. Akibatnya.Psi. dan arti benda itu. Caranya. kedua segi ini tidak saling bertentangan. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. Walaupun demikian. tujuan. Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. dan seterusnya. sehingga di dalam situasi normal.

pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. mengurangi. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. Menurutnya. C. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. itulah artinya. secara fisik. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas.Psi. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Maksudnya. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. Misalnya. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. II. menangkap bentuk pisau. 99 . A.dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. S. Guna memahami jenis pengetahuan ini. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis.

tradisi.Psi. konseptual. mengarahkan. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. atau membagi). Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. kontrol (pengendalian). Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. konsentrasi. hafalan tanpa mempergunakan pikiran. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. ingatan.mengalihkan. abstraksi. prediksi. Demikianlah. Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang. adat istiadat. memilih. mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. ekstrapolasi. analisis kritis. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. atensi. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. kebiasaan. rencana. Akibatnya. S. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. Berbeda dengan naluri. seleksi relasi. 1996: 359). ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 100 . imajinasi. Setelah memasuki usia remaja. Psikolog kontemporer (Piaget. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. Namun demikian. III. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak.

Melalui ini. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. Walaupun demikian. Goenarsa. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate).khas. serta religius melahirkan suatu peradaban. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya. 101 . menurut volume serta berat-ringannya. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. S. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. Sesungguhnya. 1980). Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. Dengan itu pula. pada orang dewasa.Psi. psikologis. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. menurut ukuran besar-kecilnya. politik. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. sosial. tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem.

Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. mendalam. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. betapa pun tinggi dan banyaknya. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. maka semakin luaslah objeknya. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. serta terartikulasikan. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. tuntas. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. tetapi juga secara lebih mendalam. mengintegrasikan. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. IV. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. menempatkan. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. abadi. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. objektif. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. setotal mungkin. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. serta paripuma. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. tetapi berkembang secara acak. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. 102 . S. Pendeknya. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). Semakin mendalam refleksinya.Psi. meski besar sekali pengetahuan seseorang.

serta cara bereaksi. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. cara bertindak. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. juga bersifat sosial. Ketiga. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. S. Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya.Psi. Inteligensi bukanlah suatu substansi. Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. Kedua.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). cara merasa. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. Pertama. 103 . pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain.

J. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. tampak pada refleksi spontan. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri.Psi. Eccles. 1993: 312 313). di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. 1987: 23). bukan pikiran. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. subjektif-objektif. misalnya. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. 104 . Menurut J. misalnya pada waktu sedang melamun. refleksi. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. deduksi. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. W. Maksudnya. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. tetapi roh itu bebas sifatnya. S. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. "Saya pikir. Persepsi ini. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. prasadar. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. dan prapribadi. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. dan sebagainya (Leahy. 1993: 132). Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. sebab insight diverifikasikan.

Bila mendefinisikannya. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. Segala penegasan.Psi. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. Bilamana menilai. 105 . Putusan ini lebih bersifat reflektif. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. dan segala sesuatu yang akan ada. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. 1994: 45-48). yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. V. Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. dan mencari alasan dari segala-galanya. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. yakni segala sesuatu yang ada. Bila bernalar. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. bukan hanya kurang lebih dari itu. S. yang pernah ada.logis dan ilmiah. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada. tertarik kepada segalagalanya. atau bagaimana objek itu bereksistensi. Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. Maksudnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran.Psi. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. 106 . Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. Pertama. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. Artinya. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting. kesimpulan. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. Sepintas lalu. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. prinsip identitas. Prinsip nonkontradiksi menyatakan.penilaian. Walaupun demikian. S. Jelasnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. adalah tidak ada". non p bukan p). Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Secara epistemologis. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. dan "apa yang tidak ada. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas.

Jadi. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. maka bolehlah kita memandangnya. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik.Prinsip cukup alasan menyatakan. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani. tetapi ada. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. melainkan manusia. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. Untuk mulai dengan yang mudah. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. dan mulai bergerak. yaitu pengertian dan pengambilan. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. 107 . maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. Jika dilihat dari sudut pola. menghubungkan. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. anjing ingat (= mengerti) makanannya. Pola adalah isi pengertian kita.Psi. tertarik. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. lantas ingin. Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. Tetapi. S. Pola itu tidak selalu disadari. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. Artinya. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. Yaitu unsur kognitif (cognitive). tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. Unsur ini pun menyatukan. Pada bunyi lonceng. VI. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. tetapi proses ke tingkat itu. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur.

tidak diatur oleh suatu idea. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. yang ada hanya "jarak". Pada hewan tidak ada idea kesatuan. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. Ini pun bukan status yang selesai. tidak ada kesatuan. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. Dia mengadakan objektivisasi. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. tidak ada idea susunan. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". Lihatlah realitas infrahuman. Maka. S. 108 . Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau dunia manusia. seperti tumbuhan. Di situ manusia dan keindahan jadi satu. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. ada yang kurang ada yang lebih. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. Namun. mengubah menjadi alam kebudayaan. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. dan sesuatu itu diselami. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. Pengertian hanya satu unsur. Jadi. Dia mengerti secara formal. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. Bisa maju. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. tidak ada objektivisasi. Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. disatukan.Psi. Tangan dan piano merupakan kesatuan. bisa mundur. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. Sebaliknya dengan manusia. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". Tentu saja. manusia itu bersatu dengan dunianya. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. Lihatlah orang yang "kenal" piano. Yang perlu diingat di sini hanyalah. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. karena moralnya berantakan. yang susila. Maka. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian.

membedakan diri dan bukan diri. S. Berdasarkan kesatuan diri itu. Manusia mengerti nenek moyangnya. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. mempunyai semacam interioritas. Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. dia menyatukan dirinya sendiri. Bahkan. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. Pengertian bertambah sempurna. "jauh" dari diri sendiri. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. Eksterioritas artinya segi luar melulu. batu. kayu. Lihat saja kesatuan tanah air. tidak bei sich sein. Berdasarkan pengertiannya. tanpa penyelaman. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. Nah. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. mempunyai "kedalaman". Jadi akhir-nya. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". tidak "mendiami" diri sendiri. Dengan demikian. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. dia mempunyai interioritas. dia "menghadiri" dirinya sendiri. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. Misalnya. menghasilkan teknologi. Yang ada hanya eksterioritas.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. pengertiannya itu saling memajukan. mengerti "asal usul".Psi. Hewan. kesatuan sudah termasuk. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. 109 . Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. kesatuan antarbenua. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. "Dia ada di dalamnya sendiri". tidak in itself. hewan pun "di luar diri sendiri". Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi. Interioritas artinya sadar diri. Tetapi. Akibatnya. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya.

Dia adalah "mouvement de transcendence”. S. Tetapi. terus mencari. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. dari keadaan ke keadaan. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan.Akhirnya. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. keduanya menemukan diri. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. artinya keluar dari diri sendiri. Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. situasinya. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. Jadi dia terus mencari.Psi. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. Jadi. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. 110 . dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. Bahkan. Keduanya berkembang. memasuki diri lain. melebihi. tidak mungkin puas. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. perbuatannya yang sedang berjalan. menyatukan diri sepenuhnya. dari situasi ke situasi. Dan lagi. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. Tetapi. mengatasi keadaannya. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi justru dengan saling menyerah. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. Semua berkat transendensi. Hal ini tidak berarti perbudakan. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti.

Jadi. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. dikatakan bahwa kita menerima arti. bagi hidupnya. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Tetapi. Maka. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. misalnya dalam hubungan suami-istri. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. 111 . Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Jadi. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. VII. Barang an sich masih bersifat "netral“. S. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. jadi ke arah Tuhan. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. manusia menjadi kawan. Barangnya harus mampu untuk arti itu.praktek ada banyak kekecewaan. Dengan kemampuannya mengerti. keong tanpa cangkang tentu mati. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin.Psi. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. spesialisasi semakin melembut. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. Jadi. Misalnya bahan menjadi makanan. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. dari perbuatannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dunianya berubah-ubah. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan.

Spesialisme yang semula bersifat metodis. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. tampaknya. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. Sikap kritis ini perlu. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. S. 112 . Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. karena dalam pengalamannya. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. 1987:41). Walaupun demikian. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel.Psi. Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. VIII. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. Akhirnya. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. maka begitu juga pengertian kita: tersusun. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. yaitu rohani-jasmani. ada unsur-unsurnya. Orang semakin dilanda kebingungan. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. 113 . Maka. berupa pengertian rohani-jasmani. Menurutnya. Oleh sebab itu. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia.Psi. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. Sesuai dengan kodrat manusia. ultimate dan absolut. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. S. 1982). Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

dan lain sebagainya. Bahkan. Di sini tampak adanya momen-momen. di mana manusia membuat idea. Jadi. 114 . satu segi. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. lantas muncul pengertian rohani. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. jadi sebagai persona. Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. S. Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. Anjing hanya mempunyai momen indra."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. pengertian tentang "aku".Psi. pengertian rasional. Sebaliknya. artinya "di atas" konsep. momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. mendengar suara. pengertian tentang "ada". dan pengertian metafisis. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. kita menangkap manusia sebagai engkau. Itu adalah dan pengertian rasional. Tetapi bersama dengan semua itu. Momen ini bisa disebut metakonseptual. tentang persona. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. Kita punya konsep rumah. Jadi. Semua itu berasal dari pengertian rasional. konsep perkumpulan. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. dia sedih. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. yaitu keindraan kita. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. dia menangkap bau tuannya. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). Momen-momennya ialah pengertian indra. atau buruk). secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. merasakan manis. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. tidak di luar konsep. dan lain sebagainya). Mencium bau.

terspesialisasi dalam keanekaragamannya.Psi. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Dengan kata lain. 115 . Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. pengetahuan selalu bisa berkembang. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. Agar bisa mengetahui dengan jelas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Akibatnya.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. Namun. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas.

Psi.. juneman@gmail. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Moral.W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C. S. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman. 116 . dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik.Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek.P.Psi. Watak Kodrati.

Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. Orang lain bisa ikut. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. 117 . Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. Watak Kodrati. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani.Psi. tetapi pikir-pikir dulu. Orang lain kita ajak menonton. mungkin dia merasa tertarik. atau dia harus piket. maka dia menolak. Karsa. Kita mengerti dan mengalami karsa. kita lihat dua unsur. untuk memenuhi keinginan. karena itu adalah dinamika yang menguasai. Dalam modul-modul terdahulu. tidak mau. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Jadi. Tetapi lihatlah. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. daya untuk mau. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. dia mau atau tidak mau. S.KEBEBASAN I. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi. itu pun dinamika. kemecer. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. Objek. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. Kalau seorang diajak menonton. menghendaki. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. dia harus belajar untuk ujian. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. Tetapi bukan dinamika yang menentukan. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. yaitu karsa (will) atau kehendak. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. tidak selalu berarti will. misalnya. Demikianlah kita mengalami adanya karsa. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik.

demikian juga kemanusiannya. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. Baru setelah beberapa waktu. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. seperti arus air. dari btosfera ke neosfera. dari bios ke logos. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. hanya bisa menggeletak. menguasai diri sendiri. tidak terdengar. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. bebas dari ini atau itu. tetapi juga untuk ini atau itu. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. S. yang masih akan ditentukan. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. yaitu karsa. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. lantas mulai berdiri dan berjalan. seperti munculnya pikiran.Psi. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. Merdeka menunjuk kedaulatan. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. Semula yang ada "hanya" rangsang. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan.Akhir dinamika manusia itu satu. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak terus lepas saja. berdiri sendiri. Untuk lebih menyelami hal ini. Bebas artinya tidak terikat. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. Dia semula hanya melekat sebagai buah. Janganlah munculnya karsa itu. 118 . Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. Lambat laun muncullah kesadaran. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. tidak ada selfness. Manusia tumbuh. Demikian juga munculnya karsa itu. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. lihatlah dinamika pada status anak kecil. ke puncak. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. Jadi. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. Merdeka berarti bebas. meruncing ke ates. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. lambat laun bisa mengkurep. Dalam pertumbuhannya. lantas bisa merangkak. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. lantas setelah lahir. bertakhta sendiri. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. Inilah arti yang pokok. Berbagai macam rangsang. yang ada semula ialah level biologik.

Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. itu pun batasan. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. Maka setelah ada. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. Proses kelahiran ini bisa gagal. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. dengan perjuangan. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. Lagi pula. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. Dia cenderung untuk liar. mandiréng pribadi. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. Jadi. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. Kalau sudah begitu. dia tidak lepas. Dengan demikian. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun.Psi. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. kemerdekaan dalam proses penjadian. S.personalah yang bersifat merdeka. mau bebas dan lepas. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. Jadi. sungguh-sungguh berdaulat. jika manusia tidak berjuang. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. sementara manusia mau merdeka. maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. 119 . Jadi. artinya ke kesempumaan manusia.

Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. S. Maka. maka dia berantakan. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du. Jadi. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan hal ini karena karsanya. terjerumus. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. itulah kesatuan manusia. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Maka dia tunduk. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.Psi. J. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. Dia mengerti dan mau dirinya. dia tidak berdaulat lagi. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. namun juga sering kali bertentangan. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. Dia harus mau sesuai dengan arah itu.dirinya. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. 120 . Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. II.

Namun pada masyarakat modern. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. Manusia adalah makhluk yang bebas. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. S. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme.Psi. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. 121 .konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern.

Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. S. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Lebih parah lagi.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. teknologi. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. dan sebagainya. tetapi secara mekanis. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. 122 .Psi. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. Moral. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. komunikasi. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. seperti di bidang ekonomi. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. “Freedom is self-determination”. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Manusia mempunyai kemampuan memilih. Sebagai eksistensi. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. 123 . S.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. yaitu situasi-situasi batas. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. pengendalian diri. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. paksaan. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. pengaturan diri dan pengarahan diri. beban atau kewajiban. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Sebagai eksistensi.

Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum. 124 . Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Jangkauan itu terbatas. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. yaitu kebebasan fisik.Psi. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. S. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi.

Psi. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya.sungguh bebas. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. 125 . Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. namun mereka tetap merasa bebas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. S. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya.

Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Saya mempunyai kebebasan psikologis. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. S. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. Namun. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya.Psi.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. 126 . Misalnya dalam peristiwa perampokan.Berbeda dari kebebasan fisik. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik.

Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. yaitu suatu keadaan bebas. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah.Psi. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. IV. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. S.secara moral. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna. merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. Sebaliknya. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. 127 . yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Ia dipaksa secara moral. Perempuan itu menjadi tidak berdaya.

Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. dan argumen etis. S. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu dengan argumen persetujuan umum. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas.Psi. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. bahwa kita adalah bebas. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. melainkan praktis. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain. argumen psikologis. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. yaitu berdasarkan pengalaman. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. 128 . Kita sendiri.

serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. S. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia.Psi. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. 129 . Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan.

atau bertindak dengan cara begini atau begitu. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Namun pada saat pikiran itu muncul.Psi. Muncul pemikiran pada waktu itu. yaitu "mengambil dompet itu". Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Karena jika tidak ada kebebasan. ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. S. Setelah menimbang-nimbang. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 130 .Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. saya akan mengambil dompet itu".

Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. 131 . Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. S. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Dengan kata lain. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya.Psi.

keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. 132 . Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. finansial. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi.Psi. namun lebih dalam dari itu. malainkan juga kepada sesamanya. seksual. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. sosial. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. politik dan sebagainya. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya. S. tetapi tujuan. seperti kebebasan fisik. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan.V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia.

Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada.Psi. Dengan kata lain manusia. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. maka manusia tidak bebas. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 . Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti.terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. S. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karena hukum sebab akibat itu. Manusia merupakan bagian dari dunia. VI. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Atau. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat.

134 . melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini.manusia akan dikatakan bebas jika ia. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini.Psi. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. Artinya manusia itu bebas. Karena kemampuan itulah. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. secara bebas. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. dan bola itu menyentuh bola yang lain. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. Akan tetapi. S. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat.

bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. dan lain sebagainya. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. 135 . Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat.Psi. untuk mengontrol proses-proses organik. S. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. untuk menyesuaikan diri. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Dengan kalimat lain. manusia tetap mempunyai kebebasan. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri.

melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. suatu proses yang terus menjadi. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Manusia adalah makhluk yang sadar. masa depan. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia.bentuk dan kemampuan jasmani. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. 136 . Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan. S. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. mengambil keputusan. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. dan merencanakan. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis.

Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. bebas memilih teman hidupnya.Psi. Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. 137 . Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. dan lain sebagainya. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Atau.pribadi manusia. S. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. Inilah wujud kebebasan manusia itu. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena manusia adalah suatu interioritas. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. maka manusia adalah subyek. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. hadir di dalam dirinya sendiri.

Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. dirinya. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia. Dalam posisinya itu. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. Sebagai yang Maha-tahu. 138 . Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. dan semacamnya. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. pula Menyempurnakan sebaliknya. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. kaki. seperti tangan.Psi. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. S. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan.

Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan itu bersifat transenden. Dia tidak berada dalam waktu.Psi. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Dia melihat. Misalnya. S. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan. Padahal Tuhan tidak terikat waktu. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. 139 . Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang.

Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. S. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. 140 . Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. manusia tetap memiliki kebebasan. Manusia adalah makhluk rohani. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jadi meskipun tergantung pada Allah. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Dan bukan Tuhan. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya.sikap terbuka terhadap Allah. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata.

S. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. 141 . Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total.Psi. melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Sebaliknya. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. menurut Leahy. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia.

penafsiran mimpi. Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. Manusia dimengerti seperti sebuah mesin.Psi. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. misalnya sebuah mobil. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. yang merangkainya. atau yang mengemudikannya. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri. Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. S. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. dan lain sebagainya. Memang. dan lain sebagainya. 142 . dan kebebasan dari para pasien. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. kesadaran dan kebebasan manusia.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan.

Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri.Psi. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan. Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Oleh karena pemikirannya itu. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. S. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. VIII. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. 143 . Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan.VII. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri.

Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. S. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas.Psi. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. 144 . ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin. yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. Argumen kedua adalah argumen psikologis. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Argumen ketiga adalah argumen etik. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Akhirnya. S. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. melainkan juga kepada sesamanya. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. padahal sebenarnya tidak demikian. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia.Psi. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan.dan sebagainya. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik.

Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. 146 . aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. sedangkan fenomen Y adalah consequens.maka manusia tidak bebas. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. Lebih dari itu. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. S. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. maka pasti ada pula fenomen Y”. Menurut mereka. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. Fenomen X adalah antecedens.

Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Sebagai eksistensi.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. yaitu situasi-situasi batas. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia.Psi. 147 . Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Sebagai makhluk yang berakal budi. Melainkan. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. Namun sebagai mahkluk jasmani. S. Manusia adalah makhluk yang berbudi. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Dan kerena dua sifat manusia inilah. Sebagai eksistensi. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. namun ia terpisah dari alam semesta. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya.Psi. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. yaitu persatuan abadi dengan 148 . tentu saja dengan landasan kebebasannya. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Namun semua itu dapat saja dikorbankan. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. untuk mencapai kebahagiaan sejati. bulan dan bintang-bintang. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. S. Meskipun demikian. Allah di surga. IX. Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah.

Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. S. melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. 149 . Namun. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia. yaitu argumen persetujuan umum. argumen psikologis dan argumen etis. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. menurut Louis leahy.Psi.

W.P. C.Psi.Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.. 2008 . S. juneman@gmail.

seperti Gabriel Marcel. Gabriel Marcel. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Sebaliknya. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Itulah sebabnya. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Bagi Jasper. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). manusia yang bereksistensi. Tetapi. manusia memberi arti kepada segalanya. tetapi ada yang tetap mengakui Allah.EKSISTENSIALISME I. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. II. Camus dan Sartre. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia. Jika ilmu . 1985: 7-8). Jadi. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. Dengan kata lain. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. seperti Jean-Paul Sartre. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.

Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Gottingen dan Heidelberg. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. Jerman Utara. setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). pada 1883. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. ia menulis banyak sekali karya. setelah menerima gelar penghargaan itu. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. ahli ekonomi. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Philosophie (1932). Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Karena itu. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Namun. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. antara lain melalui Max Weber. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit.

Eksistensi membutuhkan komunikasi.Karl Jaspers di Austria. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. kita mencapai inti “aku”. Katanya. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. dengan menerangi eksistensi. Jepang. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. 2. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Situasi-situasi Batas . nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). yakni Penerangan Eksistensi. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. berkembang. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. Jerman. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Bagi Jasper. Melalui keputusan ini eksistentis. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. pilihan. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. komunikasi dan kebebasan. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. Dengan menerangi eksistensi. 3.

Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. yaitu kematian. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Namun. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. jenis kelamin. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. Nasib Situasi batas yang paling umum. ini yang disebut nasib. Kematian teman sekaligus musuh manusia. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. lepas dari pilihan manusia sendiri. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . dan banyak hal yang merupakan fakta. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. Penderitaan karena keterpisahan. yaitu faktisitas histories. penderitaan. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. latarbelakang sosial. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi .Sebagai Dasein. d. b. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. dan kesalahan. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. tergantung dari keputusan manusia sendiri. perjuangan. a. ia dapat berkembang. c. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas.

3 dst. hal. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. 5. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. 4.). 37). Tanpa itu yang ada kekosongan.3 dst. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. 57). Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius.. situasi kebohongan dan kejahatan politik. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. e.. hal. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. 1949. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. Jaspers: 1991. hal. cacat. asal dan makna kebenaran. . Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956. 453 dst. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. hal. bdk.

Ia tidak dapat diobyekkan. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. karena tidak dapat diobyekkan. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). Dengannya. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. 35). ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. karena ia adalah pengada. Meskipun manusia hendak menangkapnya. Dengan demikian. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Padahal. “Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. tetapi selalu . Dengan kalimat lain. Horison itu selalu hadir. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. Itu artinya ontologi tidak mungkin. dia tidak akan mampu mendapatkannya. termasuk diriku yang kuobyekkan. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan.

karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. Manusia memiliki awal dan akhir. 53).1956: hal. Manusia termuat dalam Dasein. Jasper K. lih. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. Existenz. hal. das wir sind Das Umgreifende. “kita ada”. 48 dan 50. K. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . 1991: hal. hal. Bewusstsein Überhaupt. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. Dasein das das Sein selbst ist. Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. 15): Das Umgreifende. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. hal.. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. Welt. 62). 53). Geist. “manusia ada” (Jaspers: 1991. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers.tak tercapai. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi.. yaitu Dasein.

hal. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. hal. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). Existenz Eksistensi melingkupi manusia. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. hal. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. tetapi sekaligus mengatasi waktu. 63). Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. Eksistensi termuat dalam waktu.dan menjauhinya. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. 67). Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. hal. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. 76) . . 39. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. 71). tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. hal. 42). karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. hal. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. 71). Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. 1991: hal.

Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. hal. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. dunia bukanlah obyek. Manusia bebas dalam dunia. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. 114). 93). tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. transendensi adalah “kenyataan asli“. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. 85). Meski demikian. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. hal 110). maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. hal. Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. 110). “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. Dunia melingkupi manusia. hal. Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. hal. Menurut Jaspers. dan juga bebas terhadap dunia. Manusia hidup dalam dunia. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. 99). Manusia adalah bagian dari dunia. Dunia harus dapat dipikirkan. hal. .Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende.

Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. Pada tataran eksistensi ada iman. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. hal. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. idealisme memutlakkan Geist. Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. 119). Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. 118). Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. hal. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. positivisme memutlakkan Welt.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. Dasar komunikasi itu adalah cinta. Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. naturalisme memutlakkan Transzendenz. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. dan menjadi jiwa rasio. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. 120). Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. hal. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant.

yaitu Eksistensialisme. Namun. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. yang rendah. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. dalam pandangan kaum komunis. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). Dan ini. yang patut dicela. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit.” Eksistensialisme. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. Dari pihak Katolik. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. eksistensialisme dengan ego-nya. Dari pihak Komunis. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. Singkatnya. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. seperti Mlle Mercier. apalagi berpikir tentang solidaritas. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. quietisme. eksistensialisme itu melulu voluntary.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Untuk mempopulerkan idenya itu. Lebih jauh lagi. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti. Artinya. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.

kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Dengan kata lain. Namun. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. Seorang pembuat pisau kertas. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. Esensi dari pisau kertas itu. Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya. Lebih jauh lagi. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. mendahului eksistensinya. produksinya mendahului eksistensinya. Burung berkicau dan makan biji. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana. Ketiga. Contoh lain lagi: panah. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. Contoh lain lagi: binatang. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. esensinya.punya arti apa-apa lagi. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam. Di sini. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. Kedua. Esensi mendahului eksistensi. disebut artisan. Selain itu.

Allah menciptakan. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Bagi Sartre. jika Allah tidak eksis. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. bahwa hadir). Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. Cara beradanya benda tak . maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. man in the state of nature (Thomas Hobbes). Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. Oleh karenanya. Begitu seterusnya. di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. sampai ia mati. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. Makhluk itu adalah manusia. seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. Celakanya. esok hari ia kedapatan mencuri. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). muncul (Inggris: surges up. Dengan begitu. atau wild man of the woods (Rousseau). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. dan the bourgeois (Karl Marx). tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Atau bisa jadi. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya. entah itu animal rationale (Aristoteles). Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. Dengan begitu. ketika ia lulus. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. Misalnya. Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa.

Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. katakanlah. yaitu tanggungjawab. sesuatu yang mendesak. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Sementara manusia sebaliknya. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Pandangan ini mencengangkan. Sartre mengakuinya. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. dalam keluarga apa. . Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu. maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Kita tentu bertanya. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). di pundaknya. ia memikul beban eksistensinya itu. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. batu atau meja. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa.

karena membayangkan apa yang akan terjadi. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Condemn. Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. once thrown into the world. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. he is responsible for everything he does]. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. because he did not create himself. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Karena itu. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. Ada ketiadaan di tengah ada. . Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. because. Namun. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. in other respect is free. yet. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. Semuanya tergantung pada diri sendiri. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé.Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif.

dan C saling berselisih. "Dosa asal saya." Ada juga kemungkinan lain. atau mundur untuk menyelamatkan diri. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. dan menyerahkan diri sepenuhnya. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Demikian kira. Dalam hal ini. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. dan être-pour-soi. bayangkanlah jika "Aku". akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara." kata Sartre. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. IV. Sekarang. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard .menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. B. kesadaran yang me-negasi. hubungan antara aku dengan orang lain. Mengingat doktrin tersebut. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas.apakah akan terjun. Padahal. yakni kesadaran terhadap sesuatu. être-en-soi. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. Bisa jadi si A. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. misalnya ketika si A. ketika seseorang memergoki saya. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. Karena kontroversinya. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. dll). tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. dan sayalah subjeknya. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. senantiasa berdasarkan konflik. Sementara. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. Ketika tengah mengintip. "adalah adanya orang lain". mau tahu urusan orang. bertemu dengan jenis yang sama. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya.

Konsekuensinya semakin berlaku umum. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. tak berwajah dan tak bernama. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. Menurutnya. Kierkegaard menegaskan. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. Pada titik ini. semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. cara pandang ini menyulut persoalan baru. Artinya. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. bangsa. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. kata Kierkegaard. Mengapa? Karena bagi dia. garang. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. dan efektif membentuk opini-opini publik. Ia menilai. Dalam kondisi dunia semacam ini. konsep abstrak. Dalam masyarakat modern. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. murah. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. menurut Kierkegaard. Menurut Kierkegaard. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Publik itu identitas semu. Publik bukanlah suatu generasi. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855.

semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. misalnya dalam pemerintahan. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. orang menjadi dangkal. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Dalam ideal itu.mengikuti suara hatinya sendiri. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Misalnya. menurut dia. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Konsekuensinya. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. tidak ada tempat untuk passi (gairah. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Bagi Kierkegaard. Akibatnya. Maka. tapi dalam kenyataan konkret. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Padahal. ia tak punya arti. Persisnya. Namun. meski pada taraf non formal. nafsu). Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Ini. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. melainkan sekedar symbol prestasi. Hidup adalah sebuah tugas. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. untuk mencapai subyek yang . Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. Ironisnya. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. Anehnya. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa.

eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. tanpa arti. semakin menjadi individu yang otentik. hanya menjadi medan kemungkinan. dan kehendak bebas. Maka. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. segala bentuk realitas. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. Menurut Kierkegaard. Ciri pertama. rasa. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . orang yang tidak berani mengambil keputusan. Konsekuensinya. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. mereka tak berdaya. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. Proses ini. Namun.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. keputusan. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain. tidak juga sekedar refleksi intelektual. simpang siur budaya modern. Maka. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. Estetik. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Tanpa itu. Etik. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. bagi mereka. Artinya. antusiasme. tapi harus melalui pilihan. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. Jadi. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. dalam haru biru.

mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Ciri kedua. hidup yang luluh-lantak berantakan. Ciri ketiga. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. dan sebagainya. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Cepat atau lambat. kosong. yakni tahap etik. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. Oleh karena itu. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Ironi tapi fakta. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. dan kering. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. sejauh mereka masih tetap manusia. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. Pada titik inilah. Boleh jadi juga. Artinya. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. Dengan ini. pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu.dari bunga ke bunga. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. Dengan menikah. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. Tahap Etik . orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. Maka. Dengan berorganisasi.

Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. namun masih berada pada taraf “penonton”. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. dalam hidup nyata. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Untuk sampai ke peran pemain itu. Ciri pertama. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. Bahkan kalau perlu. Bagi Kierkegaard. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. Sayangnya. Ciri pertama. belum menjadi pemain. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. bagi Kierkegaard. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. Ciri ketiga.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. Oleh karena itu. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. Ciri kedua. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. orang-orang seperti ini. tahap religius. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’.

motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. Oleh karena itu. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. Maka. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. Ciri ketiga. Pada tahap ini. Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. Bagi Kierkegaard. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. Oleh karena itu. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. Dengan beriman. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. Atau. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. Singkatnya. orang justru diminta untuk bersikap enteng. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. kadangmenakutkan. Pokoknya. Beriman berarti bertualang. damai dalam aneka ketegangan. Ciri kedua. orang dituntut untuk. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. Mengapa? Karena pada tahap ini. beriman. Komitmen pada suatu paradoks. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. justru ia harus diajak untuk bergembira. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Ironisnya. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen. Maka. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . Bahkan. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. pada tahap ini. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. Bagi mereka. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. orang harus kehilangan dirinya sendiri. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. Maka.

sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. mereka telah menjadi manusia sejati. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. manusia idaman sepanjang masa. V. Petersburg. Schopenhauer. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . Ia membaca karya-karya Hegel.tak berkesudahan. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. mereka telah menjadi pendekar iman. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. Dengan demikian. bagi Kierkegaard. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. Namun ia menerima beratnya .

Bagi kaum eksistensialis. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. Pada 1922. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . Berdyaev menulis 15 buku. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. atau moralitas-pedagogi). Secara keseluruhan. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. berceramah. kebebasan adalah baseless. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. antara lain Berdyaev. mengajar.masa revolusi. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. psikologi. Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi. Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. dekat Paris. pada Maret 1948. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik.sebagian setelah kematiannya. Bagi Berdyaev. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. Secara ontologis. kebebasan tidak untuk dibuktikan. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. perkembangan rohani. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. etika Kristen. diselidiki. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman.

Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Walaupun berisiko. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. . Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). tak ada manusia tanpa kebebasan.” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. kreativitas harus diberi keleluasaan. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. seperti halnya kecemasan. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . Bila demikian. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. Bentuk yang kedua dari kebebasan. Kreativitas adalah misteri kebebasan. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). Dalam dirinya. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). Alasannya. meski kebebasan itu berbahaya. juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. sekaligus akhir dan tujuan. Kebebasan. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. tapi juga untuk sesuatu. reasonable freedom. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. demi martabat manusia.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya.

Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. Dapat dipertanyakan. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Dimensi kedua. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Pada titik itu. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. Pada sisi yang lain. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”. Maka. apakah ini bulan Januari atau Desember. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. ia sangat mungkin goyah suatu saat. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. . terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. adalah waktu kesejarahan. misalnya. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. Demikianlah. Pada kondisi demikian. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”.

Ayah Nietzsche. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Kakeknya. The Gay Science. Selain itu. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. yaitu Apolline dan Dionysian. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. Awalnya. Namun. yang berisi tentang tragedy Yunani. The Birth of Tragedy. The Good and Evil . Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. antara lain The Birth of Tragedy. Thus Spoke Zarathustra. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. Bismarck. Freud dan Darwin. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. ia mulai menciptakan karya-karya filologis. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. The Wanderer and his Shadow. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Human All-Too-Human. Karl Ludwig juga seorang pendeta. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. seperti Richard Wagner.VI. Setelah buku pertamanya ini. Tahun 1796.

imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. atau dalam pengertian Deleuze. . mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). Aphorisma 9). Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. bagi Kant. Aphorisma 5. Nietzsche. (lebih lanjut Deleuze. Moralitas-lah. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. Filsafat Nietzsche). yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. (Nietzsche. Dalam Prasangka Para Filsuf. Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. Bagi Nietzsche. Menurut Kant.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. Prasangka Para Filsuf. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru. Sejarah Filsafat). Critique of Practical Reason. Menurut Deleuze. (lebih lanjut Solomon & Higgins. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. Nietzsche menggarisbawahi. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”.Moral.

Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya. fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. cinta antar saudara. Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. dan kewelasasihan. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. dan bukan suatu sistem. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. Namun demikian. Tetapi. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain.

maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. Lepas dari semua itu. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. ada kekuatan . Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia. Namun demikian. Yang kedua. Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad. Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita.. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran.. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia.” (Die Morgenrote [The Dawn]. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan.

gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. Namun. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . betapapun kaburnya makna tersebut. Zarathustra. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. Sesungguhnya. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Paling tidak. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu.di dalamnya. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Setelah ditinjau bolak-balik. Di sisi lain. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. Jika kita tidak dapat mengingatnya.

Di dalam Thus Spoke Zarathustra. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam. di dalam edisi Härtle. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. Namun demikian. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. bagian pertama. 98] . Pada suatu bahasan. dan Goethe. Prolog Zarathustra.kesungguhan. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power. Namun. apalagi kekanak-kanakan. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. XXI. Di pihak lain. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. Meskipun begitu. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik.” [Thus Spoke Zarathustra. Pascal. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. Meditasi Kedua. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. “Ketika aku berbicara tentang Plato. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya.” [Genealogy of Morals. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul.

Prancis. sukma. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. VII. nafas. Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. jiwa. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. udara. nyawa. darah orang Yunani. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. namun demikian. Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). phenomenon. berarti penampilan. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas.Dalam pandangan Nietzsche. warna-warni. sejak Edmund Husserl (1859-1938). Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka.

yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah.sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. termasuk psikologi sebagai ilmu . Proses ini oleh Husserl disebut e poche. pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. bracketing). yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Franz Brentano. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan. Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. tertuju pada sesuatu). Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis.

Menurut pendapatnya. Mata belaka tidak melihat. tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. Ultrech. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961).J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. yaitu masing-masing taraf fisik. guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda. namun demikian. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda.J Bijleveld. Buytendijk. Misalnya.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya.J.J. namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya. Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. Sebaliknya. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. vital dan psikis.

Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . Narnun demikian. jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980).itu. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976). Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya. Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein).

Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. "Thus. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. atau . terpandang oleh orang lain. yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty.”man cannot pass beyond human subjectivity”. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. "the other is the hidden death of my possibilities". atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing... semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas.. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia. .

Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. being-allowed-to-be dan having-to-be. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). yaitu dunia fisik dan alamiahnya. Mitwelt. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. masing-masing being-able-to-be. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. dan Eigenwelt. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain.

yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi. 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". yaitu kebersamaan yang secara sadar. Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me". Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. Pada analisa akhirnya. Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'.dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. mereka yang tergabung . maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua.

dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu. Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. Demikianlah dalam modus 'Kami'. dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. bahwa keberadaan sebagai . maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' .

masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. drama. maka saya berpikir. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. seperti: psikologi. seni lukis. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. dll). muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme. Edmund Husserl. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. sastra. dan bukan abstrak. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. “Logical Investigations”. sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. Sementara itu. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. “Saya berpikir. lokal. muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. Oleh karena itu. universal. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. lebih logis. kristiani. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. . dengan karya pokoknya. “Saya ada. VIII. konseptual. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. Di antara para eksistensialis.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. dan sebagainya. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. ateis.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya.

fenomenologi. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. . filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan.Ketiga aliran ini (eksistensialisme. Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek. memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif.

W.P. juneman@gmail.Psi. C.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman.. 2008 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.

Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Jepang. Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. manusia yang bermain. dan Arab. Prof. Manusia sapiens. Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. Johan Huizinga. I. Tapi tentu ia harus . India. untuk adalah faber. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang.

Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Bila kita coba menganalisis arti "permainan". dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. Permainan termasuk suasana waktu luang. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. Permainan adalah "bebas". Antara awal dan akhir tersebut. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. sebagai salah satu ciri khasnya. bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. c. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. Dengan bermain. entah secara riil atau secara imajiner. pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. Misalnya. Bermain selalu terjadi secara spontan. Dalam bahasa Indonesia. baik menurut waktu maupun menurut ruang. Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". Keterbatasan menurut waktu tampak. b. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Anak-anak yang main. Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain .

mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. karena adanya aturan-aturan itu. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. stadion. permainan terutama mempunyai dua fungsi. Utamanya. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. manusia dijadikan sebagai . layar putih. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. Dalam konteks ini.adalah sekelompok anak. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. II. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. e. Menurut ajaran Tionghoa kuno. Menurut Plato (Nomoi. Di samping itu. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. panggung sandiwara. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Dalam konteks permainan. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. Dua fungsi ini mudah digabungkan. VIII). bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. bioskop. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. misalnya. dan sebagainya. d. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. permainan ditandai juga ketegangan. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi.

namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. tapi juga di semua tempat lain. di Yunani kuno. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan. Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". misalnya. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. Menurut Huizinga. dalam masyarakat Yunani. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. Menurut beberapa seginya. Jacob Burckhardt (1818-1897). perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. Bahasa Inggris. yaitu ludus. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. III. bahasa Latin hanya memakai satu kata. 208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. Menurut pendapat itu. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. dalam masyarakat Yunani kuno. nyanyian serta tarian. mempunyai play dan game. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. Untuk dua kata itu. Dan memang benar. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak. seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games.mainan para dewa dan dengan persembahan. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. Di Yunani.

Marcel Mauss. misalnya.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. Binatang pun bermain. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. Epos India Mahabharata. Dengan pengetahuan yang kita miliki. Dengan cara demikian. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. Dalam masyarakat- . Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. seperti perburuan umpamanya." IV. Tidak dapat disangkal. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. Antropolog Prancis. permainan lebih tua dari kebudayaan.

unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. seperti halnya dalam perlombaan. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. Dengan perkembangan kebudayaan. Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". artinya antara dua kelompok. Tapi tentu saja. dan kenegaraan. artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. tata susunan kehakiman. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. Permainan seolah- . Pada umumnya dapat dikatakan. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. Tarian dan nyanyian. keadaannya berubah. Dalam hal ini. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. Jadi. Dengan demikian. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. Untuk itu. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan.masyarakat arkais. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. ilmu pengetahuan. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. kesenian. misalnya. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok.

ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. kebudayaan "dimainkan". perang pun berlangsung dalam suasana permainan. Kultus keagamaan. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita. nasib seseorang ditentukan. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. kebudayaan menjadi semakin serius. Dalam hal ini. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. V.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. Dalam sejarah Eropa. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. yaitu olahraga. umpamanya. Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. Tapi sesudah itu. misalnya. Tidak bisa diragukan lagi. Dan dalam bidang ini pun. Hukum berasal dari permainan sosial. Pada awal mula. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. Dipandang sepintas lalu. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. Permainan-permainan bola . Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. terbentuk dalam konteks permainan sakral. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. di mana dengan membuang dadu. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan).

Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa.yang besar. di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. dan permainan papan. VI. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. Di situ . perkembangan rumit. Menurut Huizinga. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. misalnya. Apalagi. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. Olahraga menjadi sangat serius. Dilihat dari segi itu. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Di sini. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. Puisi. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. sama sekali tidak ada lagi. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. seperti sepakbola. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. Dalam seni rupa. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. di mana pelbagai-isme silih berganti. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. Karena semua alasan itu. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan.

Kalau menang tidak dihitung. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. Misalnya. dia bebas-merdeka. Tak demikianlah halnya dalam permainan. merdeka. kebebasan itu tidak mutlak. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Dengan kata lain. Itulah yang ”membahagiakan”. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. artinya pembebasan dari pamrih. Bandingkan dengan situasi lain. Di situ manusia menjadi subjektif. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. Tetapi. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. tidak terpecah-pecah. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. dari rasa yang mengganggu. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media.manusia menghendaki. sebagai objektivitas. Dia menjadi diri sendiri. secara total. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. Sebaliknya. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. melainkan karena tujuannya. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. karena pamrihnya. Dalam permainan yang murni. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". at least selama murni. Hasilnya adalah kebebasan. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. Dengan menyerah. Dia mengalami bahagia. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. dalam permainan. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. Maka. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. yang menyebabkan disharmoni. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. secara integral. . diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. Dia harus membebaskan diri. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. akibatnya dia merasa jengkel. manusia bebas. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). Akibatnya. Mereka hanya memerlukan permainan. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan.

permainan adalah suatu human fenomen. dan dengan fantasi. Tetapi lepas dari zaman dahulu. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan. dalam Ganefo. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional.) Setelah melihat gejala permainan. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. Pertama. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. dia menjadi kuasa. karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. Jadi. dan alat yang lain. Dalam bermain. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. orang juga bermain dengan senyuman. dalam Asian Games. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. seperti berbagai macam permainan dengan bola. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. seperti misalnya dalam sandiwara). manusia menjadi manusia. permainan tidak bisa dihindarkan. permainan sudah dikultivir. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. Bersama dengan itu. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). dan didevaluasikan. Jika kita menengok sejarah. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. Jika terang bulan. VII. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). dengan kartu. bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. mata. Dengan menyerah. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain.dia direbut sendiri. kita harus melihat problemnya. direndahkan. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. jiwa manusia menjadi bangkit. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Maka. Seperti kekayaan yang lain. dan lain sebagainya. kedua. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting.

Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. Tanpa agon tidak ada permainan. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan.yang sewajarnya. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan.. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). apakah bola masuk gawang atau tidak. yaitu agon. Jadi. Jadi. Berdasarkan agon. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. dan keperwiraan. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. Untuk menyelami tabiat permainan. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Berdasarkan agon pulalah. tanpa lawan. Hal ini sangat tampak dalam permainan. Berdasarkan agon. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. itulah peranan eros. Eros (kata Yunani) artinya cinta. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. menyatukan bersama dengan . kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan. tetapi unsur yang luhur. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Agon artinya perjuangan. maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai. unsur ini ada. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). unsur perjuangan dalam permainan. Nah. jadi .. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. mengalahkan perlawanan. membahagiakan karena penikmatan. An sich tidak ada nilainya. dia melekatkan diri pada permainannya. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. eros-pun tidak mungkin ada. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. di mana manusia berkelahi dengan banteng. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. jika dalam permainan. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. Di situ unsur agon sangat mencolok. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. Tanpa agon tidak ada permainan. agon adalah unsur "peperangan". orang mengejar nilai-nilai fiktif.

umpamanya. Dan bangsa-bangsa . tetapi permainan jangan dipersungguh. Di bidang politik dalam negeri. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. Bermainlah untuk bahagia. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. Tapi dalam perang modem. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. sehingga permainan yang dipersungguh. Jangan dijadikan kesungguhan. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. bahkan dengan hebat. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. Adanya eros adalah niscaya. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". Maka. Eros harus seimbang dengan permainan. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. Mainlah dengan agon. akan menjadi permainan permainan. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. sampai titik yang sangat menggelisahkan. Padahal. Tapi dalam politik internasional. Tapi. Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. suasana permainan telah hilang sama sekali. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. Barang siapa mempermainkan permainan. tetapi selamanya dalam permainan. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. untuk permainan. kesimpulan umum Huizinga adalah. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. Selanjutnya. Penduduk sipil turut menjadi korban juga. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan". Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. dan tidak untuk nafsu. bagaimanapun. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat.

Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. . menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. "Seperti akan diakui setiap orang. analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi. Di sini.berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati).

2008 .P. C. S.W.Psi. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman..

dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. jujur dan terbuka. Namun. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. atau daripada pohon dan hewan. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Di dalam bahasa Indonesia. human (Bakker. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. ”berkorban”. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. 1992: 114). Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. termasuk manusia lainnya. psyke. menurut hukum dan mekanisme sendiri). makhluk individu. dll. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. yaitu fisis-kemis. biotis. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya.S O S I AL I TAS M A N U S I A I. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam.

sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. “no man is an island” kata sebuah pepatah. etnis. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. yaitu materialitas-spiritualitas. ikatan yang terjadi bersifat . Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. religi atau budaya lainnya. individualitas-sosialitas. kebersamaannya dengan yang lain. 1989:55-56). Manusia tidak mungkin hidup sendirian. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . makhluk sosial. Kedua. alami. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. Pertama. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. transendensi-imanensi. yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya.salah satu aspek kehidupannya. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. yang dapat berkembang ke arah yang baik. Ketiga. penuh dan lebih sempurna. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. yang prospektif.

Pada umumnya. menikmati. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. pedagang. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. guru. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. II. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. diplomat. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. maka saya juga (dapat) . yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. pelayan. sikap. rohaniwan. orang baik. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. misalnya sebagai mahasiswa. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. misalnya dari dunia mahasiswa. atau barang benda. Bukan. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. misalnya melihat. penakut. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain. yang mengandaikan yang-lain itu. Aku diartikan oleh yang-lain. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. hewan. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. anggota keluarga. dan melibatkan yang-lain orang. Jadi. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. toh saya pikirkan menurut aspek. dan mengadakan hubungan. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. menyentuh. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. kegiatan konkret.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. Tidak ada ”aku” yang murni. misalnya dunia karyawan. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. tukang becak. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. pencuri. Keempat. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. mendengar. Aku selalu di dalam situasi tertentu. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. Namun. Juga kegiatanku. tukang kayu.

Adanya dunia saya tentukan. III. Satu kesan pun tidak ada. tanpa manusia. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). sebagai pemberian dan karunia. mereka mendekati saya dari luar saya. ”Wenn kein Dasein existiert.mengakui diri. saya tahu ketergantunganku itu. Aku berusaha memahami beradaku. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. maka orangtuaku tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. saya menjadi nol. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. teman. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. negara. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. dibayangkan saja keadaan seperti itu. rumah. dosen. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. dunia tidak tampak. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. atau sebagai hukuman dan kutukan. dan janganlah . The world of persons). Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. mereka tidak keluar dari diri saya. mereka tidak saya kuasai. maka seluruh duniaku tidak ada juga. aku juga menerima ketertentuan. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. Andaikata aku tidak ada. Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. Sebaliknya. Tanpa itu. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Saya ada. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. sudah mustahil. Heidegger mengatakan. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. maka saya ada. Kalau tidak. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. ist keine Welt da”. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. ”Aku” berada dengan mutlak. memberikan penghargaan dan fungsi. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu.

“Yang Transenden”. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. 1995: 5-6). V. Fakta yang sungguh-sungguh ada. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. dan saling mengadakan. yang tertutup pada diri sendiri. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. Misalnya ”aku” tidak ada. dengan saling memberikan arti dan nilai. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. Bertanya pun mengenai dunia itu. yang tetap ada pula. juga memuat arti dan nilai bagiku. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. IV.membayangkan ”aku” tidak ada. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). walaupun aku tidak pernah ada. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. Kerangka ini . Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. (2) Yang Transenden (Sudiarja. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. dan menerima itu dari saya. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. sejauh merupakan substansi yang berdikari. paling primitif. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. Tubuh manusia merupakan medium awal. Tanpa tubuh. sudah mustahil.

. Jean-Paul Sartre. dan lain sebagainya. pertemuan merupakan permulaan. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. liberalisme. personalisme. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). Emmanuel Levinas. Kedua hubungan itu timbal-balik. yang mendasari. kolektivisme. Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. 1993: 36-37). Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. Perjumpaan. Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. sosialisme. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Gabriel Marcel menegaskan. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. Karena “engkau” hadir. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. antara lain: Martin Buber. selain alam manusia. kekhawatiran dan keputusannya. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. 2001: 32). alam dari subjektivitas manusia. awal hubungan yang sejati. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. totalitarisme. individualisme. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. Gabriel Marcel. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek.

Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. 1993: 37). Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. apabila manusia sampai pada cinta itu. Lebih lanjut ia mengatakan. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur.dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. tanpa syarat dan bebas. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. 1993: 36). Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Jadi. Hubungan ini bersifat asimetris. yang digerakkan oleh cinta. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. hidup di dunia adalah hidup bersama. Dalam hal ini. Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. Lévinas memberikan pandangan khas . pada doktrinnya tentang situasi etis. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. Artinya. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. dan (2) cinta. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. Artinya. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. Hidup bersama itu mempunyai dua ciri.

mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. permusuhan. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. Namun. 1956: 222). setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. yaitu Tuhan. hakikat bersama. 1985: 322). manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. Dalam semua kebersamaan. tampaklah suatu Transendental. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. suatu fenomen yang sama sekali unik.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. Pada orang lain. Jean-Paul Sartre (1905-1980). Dengan kata lain. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. Artinya. pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. sebagai suatu totalitas. bagi Sartre dasar. Pendekatan . pertarungan yang terus-menerus. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. Singkatnya. Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). yang merupakan dua pangkal. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain.

Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. dan atau keluarga. Sebagai konsekuensinya.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. melainkan juga “kooperans”. manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. Dalam korelasi itu. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. 1988: 307-308. Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. . kesediaan membela kehormatan masyarakat. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. yang saling mempengaruhi dari luar. Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Dengan kata lain. saling memajukan dan saling memperkembangkan . Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). 1993: 8). yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. terutama dengan manusia lain. Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. Bakker. seperti rasa memiliki kelompok. Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. Konkritnya. Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. untuk menjadi manusia seoptimal mungkin.

seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. potensialitas dan keterbatasan. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. terpisah. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Kedua. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. Semuanya ini menjadikannya khas. Seperti persona tidak ada di samping badan. pranata-pranata sosial. Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. akan tetapi juga “trancendent”. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Istilah transendental tidak berarti. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. negara dan berbagai bentuk kerjasama). akan tetapi mem-badan. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. solidaritas dan subsidiaritas. Ketiga. . sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan.VI. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. Pertama. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. organisasi sosial (masyarakat. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua.

pemanusiaannya menjadi proses yang penting. sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. yaitu Tuhan. yang saling membenci. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". . yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa.Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. Baginya. Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna. Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan.

P.W. C.Psi. 2008 . S..Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.

berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. I. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. Demikian pada Plato.H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. History berasal dari bahasa Yunani historein. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. Filsuf Inggris. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. Francis Bacon. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. artinya “menyelidiki. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. Dalam modul ini. Sepanjang diketahui. Dan memang demikian. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. umpamanya. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. dan historia. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan.

Perlu diperhatikan. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”. Ilmu sejarah hanya mungkin. di samping “sastra”. Ia bukan saja produk peredaran waktu. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. tapi ia juga mengadakan sejarah. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini.historisitas. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. melainkan juga subyeknya. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. Manusia bukan saja obyek sejarah. “teknologi”. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. Atau dengan kata lain lagi. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. dan sebagainya. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. Dalam peribahasa Prancis. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri.

Jadi. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. Disangka. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. Manusia ditandai historisitas. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam.baru. besok dan lusa dan selama-lamanya. Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. pada waktu tertentu matahari terbit. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . Karena. bukan bermaksud menolak teori evolusi. waktu sekarang. pada musim tertentu burung-burung bersarang. Tidak dapat disangkal. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Tentu saja. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. Malah dapat dikatakan. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. hanya ada perkembangan. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. Kendati demikian. kesimpulan ini tidak benar. dan waktu depan. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. Tentu saja. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi.

Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. manusia adalah bijaksana. umpamanya. namun historisitas belum tampil ke muka. Untuk Oidipus. umpamanya. Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian.a. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. Menurut pendapat Mazhab Stoa. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. Apa yang telah terjadi. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. Itu semua tentu benar. Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. telah terjadi. Namun demikian. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Di bidang filsafat. ya. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). yang banyak digemari orang Yunani. Misalnya. b. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. salah satu tujuan drama targedi. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu.

Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. Maksudnya. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam.ciri yang berasal dari paham pertama. c. Tentu saja. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. kelaparan. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. Proses itu tampak pada segala bidang. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. Karena tidak berdaya. Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. dan sebagainya. Suatu bidang lain lagi adalah hukum. Perlu tempo cukup lama. wabah. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. Suatu bidang lain adalah filasafat. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu .

Dan tidak kebetulan pula. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. misalnya penyakit. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. d. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. harus menjadi praktis. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Manusia adalah pelaku sejarah. Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. dan Marx. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu.menandai pandangan dunia. kata Marx. Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. Manusia dapat memainkan peranan aktif. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Comte. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. yang penting ialah mengubah dunia”. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia.

Pasti mesti ada sebabnya.000 or 10. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. Isaac Newton (1642-1727). Ahli fisika termasyhur. yaitu pengalaman manusia tentang waktu.000.000 years at the outside”. ahli astronomi yang ternama. 6. Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas.dijungkirbalikkan. II.000. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi. Tentu saja. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . bila dibandingkan dengan periode-periode lain. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan.000. Seorang sarjana Inggris. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Mari kita memandang beberapa detail: a. Memang tidak dapat disangkal.000 tahun. Ia sampai pada 50. menarik kesimpulan begitu ekstrem. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin.

Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. b. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern.miliar tahun lagi. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang.000 tahun lalu. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri. Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100.000 tahun sebelum tarikh kita. Lagi pula. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. yaitu dengan teknologi itu sendiri. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Contoh lain adalah masalah kependudukan. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga.860. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor.000 tahun. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno. “Laporan . Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu.

temporalitas. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. Karena namanya “implikasi”. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. kita lihat tadi. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. III. Dengan kata lain. Comte: “savoir c’est prévoir”. Dan tidak dapat disangkal. Dan mungkin baru . Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. Tentu saja. Memang benar yang sudah dikatakan A. kata Pascal. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. Hal itu tentu selalu diketahui. Tapi dalam sintesis filosofisnya. a. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. kebebasan. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. dan intersubyektivitas. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia.

walau bakat itu diberikan kepadanya. tapi juga tugas. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. Ia sendiri tidak merupakan sumber . Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Manusia adalah pencipta. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. lisan atau tulisan. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. Namun benar juga. sebagai roh yang menjelma dalam materi. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). b. Pada manusia. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. Bila Picasso adalah seorang seniman. Sebaliknya.zaman kita sekarang mulai berhasil. seperti binatang (dan… malaikat). jika manusia tidak bebas. sebagaimana batu adalah berat. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. Pendeknya. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. dalam materi yang kasar. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. umpamanya. Karena. tidak lebih dan tidak kurang. Seorang manusia bukanlah seniman. Seniman “menciptakan” karya seninya. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. Tentu saja. tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. Sebuah batu adalah batu belaka. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin.

seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. manusia betul-betul kreatif. Sedangkan manusia. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. Atau dirumuskan dengan cara lain. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. kata Merleau-Ponty. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. tapi segera hilang pula. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. jatuh ke dalam ketiadaan dan . manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. benar dan matematis. Maksudnya. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. kata Hegel. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. Manusia. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. c. Namun demikian. binatang yang sakit. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. adalah un mouvement de transcendance. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). adalah ein krankes Tier. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. seperti misalnya pada Sartre. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam.mutlak dari bakat itu. Kalau begitu.

Dengan kata lain. waktu antropologis. Bila saya seorang muda. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. bukan saja sejauh saya mengingatnya. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. maka masa muda masih hadir bagi saya. Karena. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. Jadi. sekarang) “kehadiran”. Dirumuskan sedikit karikatural. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. d.diganti dengan saat lain. Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Bila saya seorang dewasa. Itu bukan waktu yang “benar”. mendatang. takuti atau nantikan. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. meski dalam bentuk “yang akan datang”. arloji atau kalender. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. membatasi. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. dengan salah satu cara hadir juga. Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. sebagaimana diandaikan oleh Newton.

Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. etika. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. Historisitas menjadi mustahil. J. . Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. Manusia adalah makhluk historis. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. Misalnya. Manusia adalah makhluk historis. Perlu diakui. karena selalu ia meneruskan. seandainya setiap generasi (apalagi. Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. dan agama. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. “Manusia tidak mempunyai kodrat. Misalnya. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. ia hanya mempunyai sejarah”. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. IV. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”.

. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. Demikian halnya juga di sini. Artinya. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Itulah kebenaran historisisme. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu.

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.Psi. juneman@gmail.. S.P. C.W. 2008 . Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.

walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. kematian menjadi fakta. Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sartre. tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. Jaspers. ia menjadi faktualitas. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. dalam hal ini. mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. padahal kita belum mengalaminya. pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. Pendek kata. Bagaimana kita bicara ihwal kematian. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. dan lain-lain). dan menjadi sekadar data. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. Karena pengaruh teknologi media mutakhir. sementara kita belum . ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. membicarakan kematian secara a priori. Kita.K E M AT I A N M A N U S I A I. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. Dalam setiap ranah pemikiran. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). 2. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian.

Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. Namun. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. ‘filsafat hayat’. tetapi perlu melibatkan pengalaman. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. Filsafat eksistensial. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. seperti diketahui. Pertanyaan selanjutnya. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Karena itu. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. . ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi.

tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). (2) Dualisme. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. atau suatu fase dari substansi ilahi. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. Menurut materialisme. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. maupun bagi anak yang mereka lahirkan. Bahkan. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. seluruh manusia itu melulu materi. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. II. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. menurut proses alamiah. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. suatu bagian. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. jiwa itu dipersatukan dengan badan. Kemudian. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. Badan itu hanya epifenomena saja. dengan alasan . yaitu lahirnya substansi otonom baru. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu.

yang meliputi tradusianisme. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. atau memberi-alih. Hominisasi. (3) Usaha sintesis. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. Jiwa itu subsisten. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. mulai abad-abad pertengahan. Menurut Thomas. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. kreasionisme. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. Dengan demikian. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Dari segi ontologis. dan transenden terhadap materi. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . Menurut tradusianisme spiritual. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). atau diberi-alih dari substansi mereka. juga menentukan permulaan proses itu. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. Struktur hakiki. Dengan demikian. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. badan dan jiwa. dan hominisasi. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. Menurut tradusianisme materiil.berwarna-warna (Kant. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. pada saat persiapan itu sudah cukup. Schelling). jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan.

bersifat fana. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. III. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. di dalam penyebaban manusia yang langsung. destrukturisasi. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja.kepada anaknya pula. Maka. Semua ”ada” material. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. tidak melampaui dunia material. Jadi. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. dan akhirnya busuk dan mati. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. justru bukan . Bukan permulaan itu yang paling penting. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. melainkan sebaliknya. Dia tidak masuk dunia abstraksi. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. Bunga menjadi pudar. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal.

Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. Tanpa keluar dari dunia material. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. Ernst Bloch. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. Karena spiritualitasnya. Namun dibedakan dari badan. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. Sampai di sini. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. Paham materialis mencoba menghancurkannya. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi). Dia lepas dari semua bentuk perceraian. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. kematian. sebagai berikut. yaitu dunia manusiawi. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani.karena kehewanannya. tanpa keluasan dan kuantitas. ilmu-ilmu. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. seperti halnya dengan semua benda material. dengan abstraksi. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. dan lain-lain. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. degradasi. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. Misalnya. seluruh dunia kebudayaan dan agama.

Menurutnya. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual. suatu kutub oposisi yang mutlak.H. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu.” Pengarang Inggris H.definitif dari semua. self keakuannya. Dalam beberapa riset yang lain. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya).” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. ia tahu bahwa ia adalah ia. artinya apa yang esensial dalam kepribadian. N.” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri. Sesungguhnya. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. kesadaran yang kosong itu. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya. Pun pula dalam amnesia total.D. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. sebuah lengan. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. ”menghadiri pemakamannya sendiri. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. ingatan yang rusak itu. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan.” IV.

tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. manusia tidak bisa keliru secara universal. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. tak jujur. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. terkadang menikmati kesehatan. Tentu saja. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. sedangkan begitu banyak orang jahat. Dalam inti hati manusia. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. argumen ini tidak berlaku. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. bahkan yang paling kuno. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. bahkan bersifat absurd. maka tidak mesti mengandung kekekalan. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. hormat dan kemakmuran. kesuksesan. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. Jadi dari dirinya sendiri. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman.

Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. astronomi. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. dan yang paling berat di antara semua yang ada. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. Nah. Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. Akan tetapi. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. Prof. Tugas ini amat berat bagi manusia.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren.J. salah satu kesulitan ini.van de Casteele setuju dengan beliau. sebagai targetnya. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. J. Ada sesuatu yang harus hidup terus. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal). Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . Akan tetapi. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. kebajikan. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. Sebagai akibatnya. yakni pribadi manusia. terutama aspek cintakasih sejati. argumen moral ini berbobot sekali. teratur. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. keakuan pribadi. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. yang paling luhur dari semua daya evolusi. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga.

yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. bagi makhluk manusia itu. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. Para ilmuwan yakin bahwa dunia.” Sebenarnya. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. ia betul. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja.harus membuktikannya. . juga merupakan bagian dari pengalaman kita. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. Hasrat untuk tetap hidup.

Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. Secara formal. Dalam diri kita. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. dan bukan kepada orang lain. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. . Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. kalau tidak. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. Tuhan bukan Tuhan lagi. seolah-olah kita merasa kekal. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. sebaliknya. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan. Jika tidak. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. Karena. Jadi. kebahagiaan menjadi tak mungkin.Evaluasi terhadap argumen di atas. tanpa kekekalan pribadi. Pendeknya. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung.

Sebaliknya. Ladislas Boros). Dalam perspektif ini. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. dalam kesatuan ”kita”. Van de Casteele. Kalau begini. bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. Karl Rahner. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi.” V. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. Karena itu. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. Gabriel Marcel menulis.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. ”the here and now” quantified body.

bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian. Pada saat kelahiran.kita. makna-makna. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. dan cinta manusiawi. akrab dan enak. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. Manusia . pada saat kematian biologis. persaudaraan. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. Meninggalkan dunia ini. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. satu-satunya yang kita hayati. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. VI. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. Bagi orang dewasa.” Jadi. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. warna-warna. Dalam waktu yang sama. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. Tetapi pada saat yang sama. Rahner berkata. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. suatu kehadiran pan-kosmis. bahwa pada saat kematian. Namun. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini.

Kematian bukan suatu tragedi. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan.” Namun seluruh analisis kita. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. melainkan sebuah drama. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. kebahagiaan. atau suatu konflik tanpa jalan keluar. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. . dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. akan dipenuhi. tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. semua saksi yang kita bicarakan. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. pribadi maupun sosial.

juneman@gmail.P. S.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh. C.Psi. Perjuangan. Identitas. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.. 2008 .W. Penindasan.

hak reproduksi. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). Derrida. peran gender. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. dan phalogosentrisme. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. stereotyping. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. seksisme. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). the Subjection of Women (1869). Dalam “the Laugh of the Medusa”. identitas gender dan seksualitas. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. hak berpolitik. the Second Sex. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. penindasan perempuan. memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. hak-hak perempuan. dia menolak esensialisme yang sedang marak di . Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.

Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. Secara lebih spesifik. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. agama. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Selama sebelum PD II. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. rasisme. Dalam berbagai penelitian tersebut. Dalam berbagai diskursus. bagi perempuan kulit hitam. meliputi Afrika. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. adalah kemewahan. Dengan asumsi ini. Karena perempuan kulit . seksisme. dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya.Amerika pada waktu itu. dan relasi sosial. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. Dalam wacana ini. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. banyak feminis-individualis-putih-barat. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. meskipun tidak semua. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Asia dan Amerika Selatan. Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini.

perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. bisu. Lagi-lagi. sekali lagi. diam. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. dan lain-lain yang non-domestik. dan menerima begitu saja. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. Perempuan dunia ketiga.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. Dalam ranah antropologi. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. bekerja keras. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. di sini. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. Dalam konsep objektifikasi ini. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Dalam banyak kasus. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Sedang untuk persoalan kulit hitam. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. Hampir seluruh kasus penelitian . dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Dalam persoalan pertama. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. para perempuan. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain.

II. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. Perjuangan. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri. Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. Sebab. melakukan revolusi.reproduksi. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. perempuan tidak berani bereksplorasi. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. dia terkurung dalam sikap pasif dan . konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. mencipta. Identitas. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. Dalam penelitian psikologi. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki. Penindasan. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. Tubuh.

Menurut Beauvoir. Baginya. Namun. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. Melalui fungsi tersebut. Dalam situasi yang demikian ini. bahkan tidak 'dianggap'. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. dan pasti. masyarakat. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. bahkan mungkin juga negara. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. dan aktual. Dengan etika ambiguitas. sekolah. sudah tetap. dalam hal ini rahim. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Akibatnya. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Dengan cara demikian. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. melalui fungsi tersebut pula. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. konstruktif. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja.tidak berdaya. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. . pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut.

digerus begitu saja. yakni level pemikiran dan praktik. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. Melalui sikap diam dan pasrah. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . dan politik. Di level praktik. yang dicapai melalui revolusi sosial. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman).Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Identitas perempuan tidak dianggap penting. Oleh karena itu. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. Permasalahannya. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Padahal. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. Kehadiran perempuan sebagai manusia. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Sebenarnya. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. Pada tataran pemikiran. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. Tak heran. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. Menurut de Beauvoir. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. budaya. yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. yaitu mengabdi kepada orang lain. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. diskriminasi jender terus lestari. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan.

jilbab panjang. menuju keotentikan dan pembebasan. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. Feminis yang lain. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. Dalam hubungannya dengan pornografi. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat. misalnya.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. menggolongkan pornografi . Untuk para feminis. bentuk purdah. Perempuan dalam episteme agama Katolik. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. jubah hitam panjang. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. bukan cabul. Maria Marcus. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". Arab. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia.

Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. Dengan demikian. Bagi Kappeler. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. Menurut Marcus. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. Dengan adjektif itu. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. Tubuh Perempuan yang seksi. objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. Tanpa kedua hal itu. penulis skenario. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. Di dalam masyarakat patriarkhi. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. cantik. Pun di Barat. gemulai. yang tersohor dengan liberalismenya. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. yaitu para produsen. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. seks dengan kekerasan. Di sisi lain. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. konsumen. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. dan pembaca/penonton pornografi. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang.

UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. dan nonlinear. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. . Apa yang disebut santun. Jika UU itu ingin akomodatif. beragam. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. pusar. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Penyebutan paha. baik. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Sekali lagi. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. Namun. sopan. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. Perempuan hanya sebagai subordinat. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. Dengan kategori relativitas adjektif. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. Perempuan seolah sebagai gangguan. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke.

perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Said menulis Orientalism. Ranajit Guha. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. Pada awal abad 17. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. Dan secara kuliner. Frantz Fanon. Robert J. Subaltern. AijazAhmad. feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. Anne McClintock. rational. dan Homi Bhabha. Trinh T Minh-ha. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. Timur sebagai yang oriental. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. seperti Gayatri Spivak. Cina. Uma Narayan. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Albert Memi. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. tidak beradab. colored-man-burden. yang Lain (baca: Other). Barat sebagai yang occidental. JanMuhammad. Melawan whiteman-burden. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. Pada kasus Jawa. traditional.C. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. eksotik. irrational. Kwame Nkrumah. Chandra Talpade Mohanty. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. maskulin. Center dan beradab. dll. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. Achille Mbembe. Kreol India dan Eropa. Bali . dan terakhir white-female-burden. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin.III. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. perempuan. Young. Sejak tahun 1920. dll. bell hooks. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Dalam era kolonialisasi. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978.

khususnya pantai Pattaya. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. universal sisterhood menjadi problematis.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. lemahnya penegakan hukum. budaya. Penemuan terhadap esensi. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. kelas. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. diperkirakan 100. buruh murah. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. Negara dan bangsa. dan relasi sosial tersebut. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. budaya. relasi sosial. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. penindasan terhadap perempuan adalah sama. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). agama. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. terkadang. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. status sosial rendah. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. daerah bencana dan daerah konflik. diskriminasi. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. penderitaan perempuan adalah sama. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. Kehadiran esensi adalah . ras. ras. seks komersial. Dengan perbedaan geografis. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. Di Indonesia.

IV. la parole / Jakarta. Dalam banyak kasus. universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. Bandung. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Sebenarnya. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. dengan sebutan globalisasi. Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta.kelahiran kesadaran. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. telah dirampas dengan daya global. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. Semarang. . Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Jogjakarta. di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. dalam konteks sekarang. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Dengan asumsi ini. Surabaya.

merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. Sejarah ras. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. terutama Jakarta. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Dalam berbagai sektor. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. Tidak dipungkiri. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an.Dalam konteks media. Sejarah tubuh. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. perlu dilakukan penelanjangan esensi. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. submisif/tunduk. tapi secara mutilatif. Dan sejarah sastra budaya. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. anak perempuan yang kelas kedua. Motto para penjajah . Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. kelas kedua. ibu yang baik. Dalam berbagai tayangan media. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme. Pada titik ini. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. jelas terlihat. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. Sejarah etnis. Dalam politik identitas.

Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. identitas. sejarah dan agensi. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . ras. Dengan konstruksi. Menjadi titik dan selesai. Tanggung jawab terhadap Subyek. V. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Seperti yang terjadi sekarang. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. maka mereka akan mudah dijajah. uraian di atas lebih lanjut. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Dalam politik dekonstruksi. Gelombang ini menentang universalisme perempuan.

metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. Intinya. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. . sulit menerima metodologi ini.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Meski banyak kaum positivis. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. terutama laki-laki.

Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi. S.P.W. 2008 .. juneman@gmail. C.

dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. dipertanyakan. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. misalnya. mempertanyakan. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. Dalam pemikiran Eropa. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. Di Abad Pertengahan misalnya. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. filsafat adalah hamba bagi iman. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. keduanya memiliki perbedaan mendasar. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. tidak sistematis. Tetapi.F I L S A F AT T I M U R I. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. dan tidak kritis. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. Agama mengajarkan kepatuhan. Selalu ada yang mesti dikorbankan. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Bertrand Russell . agama dan filsafat lebih sering dibedakan. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. Dari khasanah Islam. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya.

Sejak Socrates. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. Pemikiran etis dari Confucius. Buddha. . Di sisi lain. . Jadi. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. 1996). jika pemikiran Timur dianggap agama. Plato. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). dan Islam. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu.the no-man’s land between science and theology. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. contohnya. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. Di pihak lain. pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Exposed to attack from both sides. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. Dalam pandangan lain. contohnya. dengan keutamaan pada praktiknya. Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. . Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. Plato. Hidup. dan Aristoteles. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. Sebagai tambahan bagi Jaspers. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. bagi Jaspers. Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. Confucius. . seorang pemikir psikologi besar. dan Jesus. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. dan Aristoteles. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. The Teaching of Wisdom. dapat kita temukan nama Muhammad saw. Yunani Kuno. dan Israel. but though he remained an “amateur” or informal teacher. Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Jung when he wrote. and their first and greatest ethical philosopher.” Oleh Beck. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. yaitu India. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. Plato. Namun. peradaban. Cina. Socrates.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Confucius disejajarkan dengan Socrates.

Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. radikal. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. dialektis. serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. Pengertian kritis di sini. dan kritis. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. dan tampaknya akan terus berlanjut. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. tak ada kata putus. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). Dalam khasanah filsafat Barat. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. Sebagai produk. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. radikal. Sedang sebagai proses. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. yang memiliki sifat rasional. ibarat resep masakan. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. ditolak. Secara lebih spesifik lagi. hingga menjadi makanan yang siap santap. tak ada ujung. (Disarikan dari . sistematis. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. Dengan demikian. filsafat terkesan sebagai barang jadi. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. sesuatu yang telah selesai. bukan produk. Sebuah upaya adalah sebuah proses. sistematis. atau ditangguhkan vonisnya.

Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. Dengan begitu. Dalam pemikiran Barat konvensional. Mayer & Goodchild 1990. Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. Dengan pengertian kritis. Sebagai contoh. maka pernyataan itu salah. sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu.Moore & Parker. 1986. Pembatasan kaum empiris. . Jika kenyataan saat ini tidak hujan. pengertian sistematis. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. positivistik. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. runut. para filsuf dari empirisme. positivisme. dan bertahap. Dengan kata lain. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. dan filsafat analitik. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. positivistik. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. Feldman & Schwartzberg. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. 1990). radikal. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting.

Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. Dalam filsafat. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Berbeda dengan filsafat. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. Dalam agama.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir.

Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . Mereka lebih sering menafsirkan. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. Kalau kita bicara tentang sistematika.Tuhan tentang rahasia semesta. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. berusaha memahaminya. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. epistemologi. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. filsafat Barat mutakhir. itu sudah sangat memadai bagi mitos. tentang yang baik dan yang buruk. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. II. tentang yang benar dan yang salah. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat. Berbeda dengan filsafat Barat. Quinne. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. Cukup percaya saja. dan aksiologi. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. bagaimana cara mendapatkannya. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. kemudian mengamalkannya. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat.

Lao Tze. befitting the serious pursuit of their life. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. we cannot give them the name of ‘wise’. when they are put to the test by spoken arguments. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. but are worthy of a higher name. apalagi dalam ilmu dan filsafat. Pendeknya. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. orators. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. are to be called not merely poets. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. However. dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Pengertian kebenaran atau . dan bahkan beberapa lebih mendalam. since only God is worthy to be called wise. or legislators. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam.

Perasaan. gairah. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. Intuisi.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. Kata wisdom. Kedua. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. 8. Namun. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. kemudian mengkajinya secara rasional. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. Beck menyimpulkan: .kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. We have described awareness as the consciousness of life. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living.

Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Sidharta Gautama. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur.” Dalam pandangan Beck. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). bukan hanya rasio. para filsuf Hindu dan Islam. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. tidak akan mencapai kebijaksanaan. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. sistematis. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. Confucius. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Untuk mencapai kebijaksanaan.

diskusi. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . The Teaching of Wisdom. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Dalam pemikiran Cina misalnya. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. epistemologi. dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. dan ada solusi bagi masalah itu. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur.modifikasi. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. ada masalah yang jelas. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. Pada praktiknya. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. adu argumentasi. dan aksiologi. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika.

pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. saya harus menunjuk ke India. yaitu orang Yahudi. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. . di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. lebih menyeluruh. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. III. pemikiran Timur. Budhisme. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. lebih universal. Tetapi di akhir abad ke-20. seperti Hinduisme. dari sumber tulisan manakah.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. Budhisme Chan. kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. Daoisme.

Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku.. shantih. shantih. damai.. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa.. damai. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu. sekali lagi saya harus menunjuk ke India.... dia menulis sebagai berikut. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini.. Elliot yang berjudul The Waste Land.” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. Arthur Schopenhauer misalnya. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi.. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya.S..bukan banya untuk hidup sekarang ini saja.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis.... Dengan berkiblat kepada Barat. “Di seluruh dunia. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku.. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. “Shantih.. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian. akan menaklukkan para penakluknya..” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India.” Syair karangan T. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. mungkin India yang telah ditaklukkan. yang berarti Damai.. Tapi coba cermati India. namun dalam abad ke-21. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi. Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat. Dengan .. pada abad ini.

Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. Seiring dengan perkembangan zaman.kata lain. kematian metafisika. Makanya. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. kita hanya mendapatkan . dan akhirnya sama sekali lenyap. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. lahir karena kebetulan. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. Di samping itu. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. kematian cita humanisme universal. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. Padahal jika diruntut ke belakang. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. Kendati bukan pelopor. Aristoteles. Makanya. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Pada titik-titik tertentu. Hasilnya. Misalnya. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. kematian kebenaran universal. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). dari Yoga. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. Semedi. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. Sebab. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. Lucunya lagi.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

meskipun samasama menunjuk kepada manusia. yang dilihat bukan badannya saja. 4. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. Modul II: Bahasa 1. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. seperti misalnya psikologi.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. Modul III: Kehidupan 1. Jika kita mengingat psikoanalisis. yang juga menyelidiki manusia. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. ringkaskanlah sifat dialektiknya. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. Lalu. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah. 4. 2. 5." Apakah implikasinya? 6. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia.

“Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. 4. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. bagi manusia merupakan penderitaan. terutama jika akhirnya tidak tampak. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. 4. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. Perpanjangan suatu situasi.3. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. 3. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. 6.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? . Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. 2. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. Modul IV: Pengetahuan 1.

Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. Dalam hal ini. Sebutkanlah dan jelaskanlah. 5. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. apakah mereka saling mengandaikan? 4. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. 3. 3. apa sajakah itu? 5. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Untuk mencapai afektivitas. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. 5. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. 6. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2.4. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif.

Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. 7. seperti psikologi. 8. Menurut penyelidikan Anda. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. 4. Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. 6. 2.6. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. menurut Jean-Paul Sartre. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. menurut Kierkegaard. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada. 3. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Jelaskanlah mengapa. . eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. menurut Louis Leahy. Mengapa. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Mengapa. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9.

Verifikasikanlah pernyataan ini. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. lalu toh tetap ada dunia. Kalau "aku" tidak ada. Modul X: Sosialitas Manusia 1. Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. Apakah yang dibebaskan? 3. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. 5. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. 5. akan menjadi permainan permainan. Berikanlah contoh-contoh. "Barang siapa mempermainkan permainan.10." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. 2. Permainan Jelaskanlah. Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. 4. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. 2. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. 3. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain".

Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. 5. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. namun di lain pihak. jika manusia tidak bebas? 4. 4. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6.2. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Dalam konteks tersebut (no. bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. 5). Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. 3. Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. Menurut Anda. Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Sebagai daya kebebasan. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7.

..dalam budaya patriarkat. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. 5.) lagi. Carl Gustav Jung. Homo Economicus. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan.. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. Dalam politik identitas. Homo Homini Lupus. 3. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. . 5. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. Di manakah batasnya? Selanjutnya. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. perlu dilakukan penelanjangan esensi. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. gairah. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4. Ahli psikologi. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi.. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? ..