F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

... Jiwa Manusia Bersifat Kekal)...253 III.....207 Sosialitas Manusia.................................................................208 I..........................................203 Modul X.............235 I.............226 III...........217 Modul XI.................................. Ikhtisar......................Psi.................... Ikhtisar.......211 IV..................234 Kematian Manusia................................................. Lahirnya Manusia..................II.................. Ikhtisar ...220 I..................................................................................................249 Filsafat Feminisme............... Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?.................................................................................................................................................................................................................................. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana..... Fungsi Permainan............................266 II...... Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ............................. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas............. Permasalahan & Pandangan-pandangan........................... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati......265 Filsafat Timur..................................... Permainan dan Perlombaan.......................................................285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman...212 VI...........................................250 II....210 III........................................................ Pemikiran Timur sebagai Filsafat..... 6 ....................247 Modul XIII..............................................................................................235 II..................228 IV........... Penindasan................................................. Tubuh................201 VII.................246 VI......198 V.......259 IV...........232 Modul XII..............196 III....... "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II...................................... Permainan dan Pembebasan.... Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain".................................. S..........237 III........ Aku Mengadakan Yang-Lain...............................................................................200 VI.................................................. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia......................................................................................................... Arti Modern Istilah "Historisitas" .............. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek.....212 V........................................................................................................................ Identitas............... Ikhtisar.........241 V...... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?....................................... Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?..........................................208 II.............219 Historisitas Manusia................................................................ dan Pembebasan Tubuh Perempuan.......266 I........ Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"...........250 I.......................................................239 IV......................................................263 M............................................................................................................................................265 Modul IX.... Korelasi........................272 III..................................................277 Lampiran I: Soal-soal................. Kritik atas Kebudayaan Modern... Ikhtisar........................... Aku Diadakan oleh Yang-Lain..........................261 V...............197 IV....................... Perjuangan............................................................................................................................ Permainan dan Kebudayaan..............................................

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

16 . rasa takut. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. malu. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. dan berarti ”yang dipikirkan”. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. yang berarti ”menampak”. misalnya pada taraf biokimia. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. Bukan berupa sifat atau gejala saja. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. biologis saja. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Dengan jalan ini. V. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat. semua kegiatan. seperti misalnya berjalan. Namun. S.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. Dengan demikian. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu.Psi. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. Dengan demikian. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. cinta kasih. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. bekerja. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). semua pengertian. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. b.

dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. Nama ini menimbulkan keberatan. turunan. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. VI. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. dengan segala sudutnya. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. atau ”psikologi metafisis”. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. 17 . Jadi. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. S. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. misalnya menurut aspek budaya. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. sebagai ”aku”. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib.Psi. Memang. yaitu keunikan dan kesendiriannya. VII. dan sebagainya. Akan tetapi. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam.

Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. waktu. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. 18 . Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri.di muka kita. dan sebagainya. menganal hakekat sifat dirinya. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. sosiologi. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. terutama pada masa kini. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. psikologi. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. dan sebagainya. etnologi. kemampuannya dan cita-citanya. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Misalnya. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia.Psi. alam semesta. antropologi. S. seperti biologi. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. tentang makna kebebasan dan mencintai. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. tentang dunia. yang sampai batas-batas tertentu. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Alasannya adalah karena. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. manusia dan Tuhan. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia.

Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dibayangkan. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Filsafat manusia. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. melainkan struktur metafisiknya. alasan adanya (principe d’etre). sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. strukturnya yang fundamental. yaitu badan dan jiwa.Psi. diukur. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. mengambil manusia sebagai obyek material. Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). alam kodratnya. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. misalnya. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. S. 19 .memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. Plato. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. digambar. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia.

Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel.binasa. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. 20 . serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. S. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. fenomenologis. dan metode metafisik. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). eidetik. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. atau juga. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. metode filsafat adalah bersifat refleksif. Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama.Psi. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. abstraktif. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. induktif.

S.Psi.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C..P. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 21 . S.W.Psi. juneman@gmail.

Pertama. Nampaknya. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. berbicara adalah suatu gejala yang terang. di toko. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. dan sebagainya). Berdebat di ruang pengadilan. pengacara.Psi. membeli tahu-tempe di pasar. di bengkel. atau di mal-mal. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. penulis. kelupaan akan nama. jaksa. dsb. yang Jacques menurut tertentu. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. . S. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. di kantor. rantai penandaan terputus. cara tetapi struktural ini. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Para hakim. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. perancang iklan. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. dosen. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. psikoanalis Lacan. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. penyiar radio-televisi. dengan bahasa. Apabila di dalam praktik bahasa. wartawan. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. keseleo lidah.BAHASA I. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. belajar di bangku kuliah.

Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. pada periode Frege. Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. 23 . Wittgenstein awal. seseorang dapat menggerakkan dunia. pernyataan. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). susunan alam raya). aspek-aspek dunia terungkap. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. Bahasa. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. Di dalam bahasa. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. dan representasi. misalnya dalam bentuk penilaian. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. sejak dahulu. karenanya menyesuaikan diri. terdapat tahapan evolusi yang luas. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. dan Carnap. kekuatan kata-kata. 1996): Pertama.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. Kedua.” kata Joseph Conrad (Brussell. inti sesuatu hal. Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. Kedua. mendengarkan. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. S. Maka itu. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. the power of words. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. 1988). inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Husserl. kata ataupun susunan. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan.” (Langer).Psi. Bahkan. cerita. Inilah kekuatan bahasa. menurut Gadamer.

Ketiga. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. menurut van Zoest (1993). strukturalisme. II. Grice. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu.an. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). Selain itu. misalnya. tersangkut badan dan jiwa. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). Di dalam Speech Acts. asap menandai adanya api. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani. 24 . contohnya. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Bagi Wittgenstein-tua. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. hermeneutika. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). retorika. pancaindera. dan roh. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. yaitu segi ekspresi dan segi isi. seluruh pribadi manusia itu. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. dan post-strukturalisme. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. dan poetika. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Ketiga. Searle). maka suatu kata memperoleh arti dan makna. Secara berturut-turut. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. dan the act of affecting something.Psi. the act of doing something. yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.R. Tergambar jelas dari uraian ini. dalam perbuatan berbicara. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. J. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. S. Substansi adalah kata atau ungkapannya. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. yaitu manusia secara konkret. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika.

Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. Perhatikan rumusan berikut: S (s. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. maka huruf.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. Keselamatan kita. i. kalimat. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. sebagai ”hewan sosial”. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. e untuk effect. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dalam penelitian sastra. animal simbolicum. ia memperoleh sebutan baru. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. i untuk interpreter. Perpustakaan. misalnya. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. c). r untuk reference. Maka itu. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. sehingga bagi Cassirer. 25 . r. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. merupakan khazanah pengetahuan insani. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. S adalah untuk semiotic relation. dan c untuk context atau conditions. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. e. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. kata. S. kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). jika disandingkan.

Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa.J. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. Masing-masing merupakan produk biologis. Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language. ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought).Psi. yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. kita harus berpikir. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). J.” Samuel Johnson mengatakan. 26 . dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. Max Müler lebih jauh lagi. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. di mana Müler menegaskan. Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut.” Dengan istilah teknis dan filosofis. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. No Language without Reason. S. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan). (2) pikiran adalah bahasa. mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Agar bisa bernalar. ”Bahasa adalah busana pikiran. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi.

semiotika. John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. samasekali tidak jelas begitu saja. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. tetap. dan abadi. seperti misalnya. tetapi terkadang tidak. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. tetapi kata (word). Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. kaitan pikiran dan kata. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. S. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. hermeneutika. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. dan definisi arti. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). Pikiran akan menimbulkan kalimat. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. dan filsafat analitis. tetapi kesan pasti ini menyesatkan. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. sekalipun sangat menyederhanakan.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. 27 . ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. strukturalisme.Psi. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai.

”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa. ”Bir lebih enak daripada anggur. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. Benarkah bahwa. Sebagai contoh. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak.menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. itu samasekali tidak mengurangi nilainya. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru. 28 . bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan.Psi.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa.” atau bahwa. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. III. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. S. dan mengakui keterbatasannya.

Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. 29 . Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa. Bila pemangsa terlihat di tanah.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. dan sebagainya). tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.” Pinker berpendapat. yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain.Psi. Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa). satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan. Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. Bila elang mengancam dari atas. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). S. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Bahasa manusia berbeda samasekali... terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu.

sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa.Psi. S. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. 2. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. berbeda. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. 30 . dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). IV. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan.

” 5. Pernyataan metafisika. 4. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. 31 . kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. S. etika. karena bukan pernyataan faktual. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Menurut Wittgenstein. Dalam hal ini. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. Semua ini bukannya tidak benar. Ini sudah merupakan dalil. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Kita tidak dapat menjawabnya. Oleh karena itu. 6. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. Tetapi bagi Wittgenstein. Bahasa etika dan agama. sesuatu yang tak terkatakan. Caranya ialah dengan gambaran logis.Psi. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. karena Ia bukan fakta. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. atau agama tidak mempunyai arti. ini suatu mistik. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. estetika. Di hadapan ketidakmampuan ini. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. Oleh karena itu. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. Tuhan menampakkan diri. Sungguh. harus dimasukkan. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Tanpa hubungan itu. melainkan tidak bermakna. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. Dalam dunia. lebih baik diam.3. Menurut teori gambar. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. bahasa tidak mempunyai arti atau makna. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. Oleh karena itu.

menanyakan. menjadi bermakna. kuda. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu.Psi. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. Karena itu. boleh. dan seterusnya. pohon. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu.nilai itu ada. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. perlu dicari di luar dirinya. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. sebuah tanda menjadi mati. maka. Ada banyak permainan bahasa. berterimakasih. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. bernyanyi. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. demikian pun bahasa. misalnya sudah. Dengan bahasa yang sama. beroda. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. dan. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. dalam kenyataannya. memberi perintah. Esensi setiap permainan berbeda. justru dalam penggunaan. Permainan bahasa (language games). Misalnya. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. S. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. kita dapat memaparkan sesuatu. Dalam hal ini. 32 . juga mengenai hal itu kita perlu diam. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. Dalam permainan bahasa. (b) Akibatnya. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. Sebuah tanda menjadi hidup. kambing. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya.

namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. Masih kita ketahui. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan.menyatakan satu pernyataan tertentu. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. bermakna atau tidak. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. 2. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. karena bahasa lain tidak kita punya. 3. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. Dengan itu. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. V. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. kita menggunakan bahasa yang sama. 33 . S. Terpaksa. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. kita berbicara tentang apa.Psi.

Terutama di Inggris. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. Karena itu. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. S. misalnya. ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. tidak pada taraf ontologis. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. Dalam periode pertama. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius.dengan dunia berhingga kita. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. Bagi Wittgenstein. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. Bagi Russell. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. Pada G. Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. Moore. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. 34 .Psi. Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein.

Kalau dalam periode ketiga. tidak mempunyai isi faktual. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi.Psi. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. emosional atau ekspresif. Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. tidak berbicara tentang suatu fakta. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. secara apriori tidak bermakna. S.in silence” (Tractatus. nr. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya. 35 . semuanya tidak bermakna. sebagaimana dikatakan Ayer juga. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi). 7). harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius. Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. Bila ada banyak permainan bahasa. tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. tidak mempunyai nilai pengenalan. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi.

Kedua. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. R. Tentu saja. Ketiga dan yang terutama. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. begitu luas. Namun demikian. Evans. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. Mascall. metode mereka adalah analisis bahasa. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. 36 .T. R. B. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. Mitchell. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan. Smart. D.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka.B. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. E. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. Pertama. VI.Psi. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. J. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. P. apa saja merupakan being. Hare. Namun demikian. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. Pada zaman kita ini. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. sudah sejak permulaannya di Yunani. Selanjutnya.D. Crombie. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal. Van Buren. Braithwaite. Hanya saja harus ditambah. Macquarrie. S. Hick. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. I. Ramsey. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. langkah demi langkah.J. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif.M.M. J.

dilahirkan sesuatu rasa heran. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi kami tidak bersalah. Agaknya. S. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. Heidegger. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. Itulah sebabnya Frege. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada.” Pada pokoknya. suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. Fungsi inilah. kebanyakan orang menjadi bingung. 37 . tentang eksistensi Tuhan. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. menurut pengamatan para linguis. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. Pada akhirnya. manusia. Dalam setiap kata. Pada gilirannya. dan peristiwaperistiwa. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. barang-barang. Husserl. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa. yang tak pernah bulat selesai. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. Demikianlah. Dalam kata-kata. Tentu saja.Psi. kebakaan serta kebebasan jiwa. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. Derrida. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. yakni fungsi transformatif. sebagaimana sudah kita lihat. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. memperoleh bentuknya yang dinamis.

Psi.mereka dipahami dengan berbagai cara. S. Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 38 .

S. juneman@gmail.Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.P.Psi. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 39 . 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S..W.Psi.

yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. bagaimana titik tolak manusia? Konkret. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu.K E H I D U PAN I. Oleh karena itu. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. ke manakah kamu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. S. banyak segi jika orang bertanya. Dalam bertanya tentang diri. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. Tidak hanya berhadapan. dan juga berarti dengan sesama (sosial). antropologis. 40 . Jadi. dan berbagai macam: sosiologis. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. dalam pandangan tematis bisa salah. dalam psikologinya tentang persona. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. melainkan metafisis atau hakiki. menghadapi kesukaran. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. dia melakukan. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. siapakah namamu?. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. dia mengolah diri sendiri. juridis. dengan emosinya. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. Ada yang eksperimental-ilmiah. padat. dengan pandangannya. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. Pengertian ini kompleks.Psi. dan lain sebagainya. psikologis. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). Manusia bisa. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental.

Lihatlah. manusia bangkit. Lihat saja. bagaimana manusia itu menjadi sadar. dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). Subjek artinya berdiri sendiri. Jadi. punya kemampuan. Dia menghadapi. tetapi juga bukan jiwa. jadi punya daya. Sesudah pendahuluan ini. sebagai subjek. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. Dia merupakan kesatuan dengan alam. dia bisa berjalan. dan dengan demikian. tetapi juga berjarak. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Dengan ini dia menyejarah. tetapi juga karena diubah oleh. menghadapi. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. S. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. mengambil tempat (posisi) dan sikap. II. Jadi. situasi itu berubah dan mengubah manusia. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Dia tidak hanya berubah dalam. Namun dalam berubah-ubah ini. Lihat saja. jika manusia menguraikan kesadarannya. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. Manusia selalu terlibat dalam situasi. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). dia tetaplah dia sendiri. Dia bisa memandangnya. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Corak yang ketiga. Manusia tidak sadar tentang jiwa. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. Masing-masing dari kita berkata: Aku. dan lain sebagainya. Karena badannya. Dengan ini yang dimaksud bukan badan.Psi. Kalau begitu. 41 . di sebelah sini atau sana. atau badanku sakit. tidak mempunyai distansi. tetapi tidak berhadapan dengan alam. manusia juga tidak bisa mengerti dunia. yang menyebabkan dia bisa seperti itu. dia menempatkan diri. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. berada dalam suatu "cahaya".Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. melainkan tentang aku! Kelak. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. jangan berkata tentang badan dan jiwa. Dia berkata: aku sakit. Hewan juga berada di dalam alam. situasi itu. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bisa mengubah dan mengolahnya. bertindak.

Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. badan cahayanya. 42 . Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. badan adalah prinsip jasmani. yang ada bukan badan. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. Lihatlah. tidak terlipat-lipat. begitu juga dengan hewan. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. bisa dilihat secara anatomis. Maka. yang ada hanya roh. artinya tidak seperti barang-barang yang lain. Dalam realitas. sukacitanya. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. Dia berat atau ringan. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. kita katakan badan dan jiwa. kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. kebahagiaannya. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Bersama dengan itu. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. mirip dengan makhluk hidup lainnya. S. bisa menghadapi diri dan barang lain. tidak terbentang. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. manusia juga jasmani. Maka. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. Tetapi. tetapi manusia. dengan sadar. Seluruh manusia adalah rohani. artinya materi. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.Psi. • Ada pandangan idealistis tentang badan. berdimensi tiga. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. dalam semua itu tampak kerohaniannya. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. tidak lepas dari barang materi. Roh adalah listrik. jadi tidak boleh pernah disendirikan. Jadi. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. seluruh manusia adalah jasmani. Maka.maupun realitas. berdarah dan berdaging. badan seolah-olah tidak ada. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. Juga kesenangannya. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. habis! Itulah salahnya. ada aspek jasmani. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. manusia kita katakan bersifat rohani. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia.

Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. dalam pemahaman awal. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. Pribadi. dan lain sebagainya. misalnya cinta. Lihatlah sepanjang itu. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan.Psi. habis perkara. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. sesuatu yang menempel. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. unsur aku-ku. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). Badan adalah unsur diriku. Yang tampak adalah Aku. Persona (tidak dalam pengertian Jung). Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. badan termuat dalam aku. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pendapat ini pun tidak riil. Yang ada bukan badan. yang masih asli. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. Selanjutnya. melainkan sebagai dua. 43 . tetapi tampak. S. Badan tidak sama dengan aku. cermin. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. Sekali lagi. Yang ada hanya badan.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. ke kejahatan. Samakah badan dengan aku? Tidak. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. Jika aku berkata aku. sepanjang aku ini terlihat. Tetapi badan sebagai milik. juga tidak sama dengan sepatu. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. tampak dalam alam jasmani. maka di situ sudah termuat badanku. Badan dianggap penarik ke bawah. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. sedih. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada.

Maka dari itu. Dia berkata: awakku lagi susah. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. maka dia melihat aku.. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. . S. 44 ... Menangkap suara berarti menangkap pikiran. menunjuk badan. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. tetapi menipu! Jika badanku sakit. tetapi belum tentu malang. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. Tetapi. maka di situ milikku tidak termuat. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. Badan membatasi penampakanku. jarak. Setelah semua ini dikatakan. mengarang. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita. awakku sedang malang. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir.Kesamaan itu hanya sepanjang . Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. Kita tidak berkata: itulah badannya. jadi tidak sama saja dengan aku. Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan.. yaitu badan itu. Tetapi dalam berpikir tentang manusia. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika orang lain melihat badanku. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). aku memang sakit. dan lain sebagainya. badanku termuat. jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). Antara badan dan aku ada kesatuan. Orang akan berkata: aku melihat si A. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis.. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. Badanku bisa tidak berdaya. Aku bisa berpura-pura marah. Kita berkata: itulah orangnya. Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". tetapi juga ada distansi. Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. seperti orang-orang lain. Karena badan itu menjadi penampakanku. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. Yang malang bukan badan. mengucapkan kata manis-manis. Minatilah caraku menampakkan. Aku ada berarti aku ini manusia. celaka. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". tetapi seluruh manusia.Psi. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang.

keadaan geografis. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). 45 . juga ditentukan oleh keadaan itu. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia. Dua itu tidak berdampingan. Manusia itu kesatuan.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. Setelah ini kita nyatakan. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. keadaan iklim. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. tetapi kesatuannya tidak sempurna. Maka. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. Jadi. berproses menurut hukumhukum biologis. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Keadaan tanah. dan lain sebagainya. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. S.Psi. ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. Bangunan itu selalu berubah. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. yang berakhir dengan disintegrasi. keadaan flora. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Untuk menyatakan kesatuan ini. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga".

kecil atau cukupan. seperti api dalam banyak abu. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. Artinya. yang sehat. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. Hidup badani adalah untuk memanusia. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. Tetapi materia tidak menjadi rohani. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. dan lain sebagainya. Dengan membadan kita memanusia. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Maka. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. Jika badan bertumbuh secara normal. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. tidak menjadi jiwa. masih memungkinkan kemenangan kerohanian. demikianlah Dr. Tentu saja. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). sebentar tampak sedikit. Semua keadaan badan.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. di situ ada pertumbuhan yang normal. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. sebentar hilang. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. hanya menjadi badan. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). pembiakan sel). Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. pelajaran tari. maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga. Sebelum kita lahir. Namun. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. asal sehat saja. S. tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). 46 . Pandanglah sekarang badan yang normal. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya.Psi.

. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. dan lain sebagainya. 47 . Manusia di situ sudah kuat. seperti arloji). bisa pilih makanan dan obat-obatan.... terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. dan seandainya ibu tidak bertindak. sabun. S. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. pembagian makanan dan gula.. Kita bisa mengurangi makan.. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. Lihatlah tangan manusia. minum harus diminumi. bisa mengurangi atau menambah tidur.. Jika pandangan ini masih statis. Di samping itu. biarpun sehat. dan lain sebagainya. . Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja.. misalnya disentri!). lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. Coba saja. lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar. dalam tubuh manusia. mungkin dia luar biasa. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. Ingat saja denyutan jantung. dengan mandi. Lihatlah anak kecil. kalau masih kecil (bayi). Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita.kedokteran). . macam apa saja yang dibisai.. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. artinya "kenistaan" dan "keagungan". misalnya denyutan jantung. tetapi . seandainya tidak dibersihkan . hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan. . akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. Ambil untuk mudahnya.. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. lenyaplah semua kepandaiannya. sedang kuat-kuatnya. ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis... perputaran darah. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai. dan lain sebagainya.Psi. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian.

Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. Jika pribadinya luhur. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan.Psi. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. Oleh sebab itu. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). Berdasarkan keluhuran ini. reaktor atom. 48 . bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. dalam penampilannya dan penampakannya. tangannya. mesin hitung. pakaian. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. matanya. anjing mendengar. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar. dan lain sebagainya. bibirnya. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. kesemuanya itu. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.olahraga! Sungguh mengagumkan. Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. Maka dari itu. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. Lihatlah sekarang barang-barang seni. Maka. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. tetapi itu tidak sama. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. dalam solah-bawa-nya. makanan. S. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. maka badan dalam sikap-sikapnya. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. dalam gerakgeriknya. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. lidah-nya. Kita bisa melihat pada wajah seseorang.

Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. Tetapi. jadi dengan badan.akan mencerminkan keluhuran itu. Tetapi sebaliknya. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Dia harus bersikap. sebab ibu mengajar si anak makan. Demikianlah tata sopan. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. 49 . anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. mengenakan pakaian. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan.Psi. Oleh sebab itu. Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. S. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. bertindak. Karena itu. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. berjalan. Pendek kata. hormat. minum. Maka dari itu. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. Jadi. Berdasarkan ini. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. Manusia hanya memanusia dalam badannya. kebaktian. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). cinta kasih. dan lain sebagainya. semua hal insani badani juga. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. tidur.

rohani dijelmakan.Psi. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan. Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. tidak sakit. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. yang dilihat bukan badannya saja. kesehatan disebut whole-some. tetapi dilihat dari sudut psikis. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. dan lain sebagainya. Jika kita mengingat psikoanalisis. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. mental hygiene). sakit jiwa. 50 . Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jadi keadaan manusia. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Jadi. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. S. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). Kejiwaan manusia diminati juga. Dalam bahasa Inggris misalnya. Kalau orang bertemu. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. rumah sakit jiwa. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). yang artinya seluruh manusia. Orang melihat seluruh manusia. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng). Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini.

Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. Meskipun tak populer. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. didirikan oleh Orpheus. tetapi soal seluruh manusia. dan Plato. didirikan oleh Epicurus. privat. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus. sekaligus yang paling tidak populer. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. badannya di situ tidak bisa berfungsi. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras. Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. orang itu akan terganggu kesehatannya. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. bagus. tidak adanya penyakit apa pun. S. IV. Dalam situasi yang konkret. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. Kekecewaan yang hebat. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. Aliran yang terakhir. bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. Sebaliknya. Jika kita mengingat kesemuanya ini. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan.sehat berarti tidak sakit. di sana hidupnya masih jalan baik. baik jasmani maupun rohani. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Yang pertama. personal. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. Aliran yang kedua. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. dan sekuler. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). 51 . maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. Socrates.Psi.

tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). Abad baru. antropologi. dengan berkembangnya ilmu kedokteran. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. transplantasi mata dan telinga. katup buatan. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. sesekali memang dapat "rusak". Persoalanpersoalan kosmologi. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. S. posisi keluarga. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. dan hal-hal yang bersifat religius. 52 . 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia. umur. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. dengan alat pacu jantung. silikon. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. gender.Psi. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan psikologi. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat.Pada abad ke-20. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. gender. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. maupun dalam upacara pemakaman. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. masuk juga kategori afektivitas.lahir dari pikiran kreatifnya. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. dan ukuran. Nama itu adalah Spirit. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. Jadi. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada.Psi. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. Justru terhadap segi itulah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 58 . Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. S. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. keluasan.

Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. moral. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. 59 . lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. Akibatnya. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. dan lain-lain. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. Berkat karakter spiritualnya. yaitu keinginan. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain. untuk perkembangan ilmiah. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. material. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. S. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Sebenarnya.VI. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya. manusia agaknya masih belum lengkap. kultural. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. Akibatnya. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain.Psi. dia hanya berpaling pada dirinya. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. alteritas seorang lain. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya.

60 . Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. S. sebaliknya. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. Karena itu. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. dan sekali lagi. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. kata salah seorang di antaranya. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan.Psi. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. diucapkan dengan istilah “persona”. Tetapi. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. Suatu hari. kotoran. meskipun perutnya lapar sekali. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. itulah artinya istilah “spiritual”. tutur temannya. melainkan dunia kebebasan batin. Persona manusiawi. Nah. Dia menyepak potongan roti itu. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. VII. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. yang meletakkannya di luar semua kategori. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. Dalam kesempatan itu. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. hidup spiritual. akibat ciri spiritual jiwanya. karena spiritualitasnya. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. Tiba-tiba. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. dan sebagainya. laksana gerombolan serigala. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. “Lihatlah”. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. kedinginan. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain.

yang terstruktur berkat jiwa. 61 . dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. yang saya sentuh dan rasakan itu. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. Badan yang penuh dengan hidup. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis.merupakan panggilan sejati manusia. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. dia bersifat imanen terhadapnya. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka. Itulah dasar martabatnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan.Psi. Sebaliknya. Adapun jiwa. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. dalam fungsi yang menstrukturnya. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. maksudnya.

Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman..P. S.W.Psi. C.Psi. 62 . juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

berkat pengetahuanlah. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. serta mengungkapkannya secara tepat. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar.P E N G E TA H U AN I. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. 63 . karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. 1987: 29 50). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. Alasannya. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. S. Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. Pertama. di depan subjek. misalnya M. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. Ia menunjukkan. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan.Psi. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. Ketiga. Pengetahuan. orang harus mengambil jarak terhadapnya. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks.

baik dalam bentuk ide. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. tingkah laku. mitos. ketika sambil muncul secara spontan. sampai batas tertentu. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. 64 . ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. dan sebagainya. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. gerakan-gerakan. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. serta jerit teriakan. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. utuh. Pengungkapannya adalah. Pengetahuan disebut pula diskursif. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. S. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. pembau. Seterusnya. sikap-sikap. melalui penglihatan. pendengaran. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. tindakan. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. atau karya-karya seni. definisi. konsep.Psi. perasaan. jernih bagi dirinya sendiri. objek-subjek serta indrawi dan intelektif.

ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. dan kemampuan-kemampuannya. Praktis. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. S. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. Bagi epistemologi.pengetahuan intuitif. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). Pengetahuan tentang materi. tentang hidup. dan sebagainya. yang indrawi dan intelektif. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. 65 . keseluruhan dalam satu bagian. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. Akhirnya. tentang luasnya. menurut bagaimana cara diambil. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. bila menarik yang individual dari yang universal. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. Pengetahuan itu adalah induktif.Psi. Pengetahuan itu disebut spekulatif. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. Pengetahuan itu kontemplatif. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. tentang manusia. Pendeknya. tentang gerakan. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. konsekuensi dalam prinsip. dan sebaliknya deduktif. sebab dalam akibat. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. Pengetahuan itu sinergis. organ-organnya. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bila menarik yang universal dari yang individual. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. berbeda sekali satu sama lainnya.

S. Artinya. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. Tegasnya. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy. sedangkan lewat afektivitas. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. represent no objective real existents. Kegiatan-kegiatan afektif. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek.mengetahui suatu realitas. or universals. Bagi kaum Nominalis. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia.Psi. 66 . namun di dalam pertemuan tersebut. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. theory that abstract or general terms.

Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. Menurutnya. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. but having no reality apart from them. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. Pendeknya. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. mere vocal utterances "flatus vocis". dan bukan hanya sekadar pertemuan. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). Universals exist only post res (Runes. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. that is to say. Nominalisme. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. ternyata tidak sederhana implikasinya. 67 . (c) concepts refer to abstracts.names. Reality is admitted only to actual physical particulars. dan aliran Idealisme di lain pihak. S. Jelasnya.Psi. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda. 1975: 211). berbeda halnya dengan Nominalisme. maka manusia adalah nama belaka. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan objek-subjek. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. 1975: 61). terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi.

Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. dimensi material dan dimensi spiritual. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. mutlak. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain.Psi. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). 68 . Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. objektif atau subjektif. induksi dan deduksi. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. pantheisme. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. dan final. suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. S. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. 1970). Sontag. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen. antara tingkat pengetahuan suatu pengada.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". II. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). Sebenarnya.

cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut. Bila dianalisis lebih lanjut. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. Akhirnya. Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. di pihak lain. 69 . Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. 1993 & Bertens. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. berlainan. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. dan berada di luar subjek. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. Aliran Idealisme. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. Ditinjau dari sisi objek. Merleau-Ponty. Ditinjau dari sisi subjek. S. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. dan kalaupun keluar (transcendent). Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. dengan mengetahui.Psi. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. Mempelajari pengetahuan. 1983). akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. Akibatnya.batas-batasnya. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek.

tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. 70 . mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. Walaupun demikian. Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. S. 1982:30 -31). Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Penjelasan tersebut akhirnya. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum. Meskipun demikian. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. Menurutnya. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui.Psi. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan.

karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. Akibatnya. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. Jelasnya. manusia harus menjadi dirinya sendiri.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. seutuhnya terwujudkan. demikian juga pengetahuannya. membakar. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. 71 . Keterbatasannya itulah yang mendorong. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. lengkap. mereka adalah mereka. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. 1983: 344). dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. S. Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya.Psi. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. menggerogoti.

Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. untuk menyelesaikan modul ini. dan jiwa bukan materi. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi.Psi. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. Keberadaan manusia.(2 x 2 = 4). tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. manusia bisa berada secara lebih tinggi. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. 72 . Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. karena kita akan mempelajari. IV. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. Terutama karena materi bukan jiwa. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. ia tidak tahu apa yang diketahuinya. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. Melalui pengetahuanlah. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. secara radikal. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. Melalui pengetahuanlah. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. melampaui dirinya sendiri. dalam satu modul yang lain lagi. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. kendati semua penjelasan sudah diberikan. Akan tetapi. yaitu pengetahuan intelektif. daripada melalui bahasa dan seksualitas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka demikian halnya dengan pengetahuan. maka cukup sampai di sini. S.

Psi. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Oleh karena itu. Bahkan. 73 . seperti diisyaratkan Russel. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Kelumpuhan ini. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. nalar yang mewakili bukan menyingkap. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. Bagi Heidegger. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. yaitu Ada yang menopang segala adaan. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. S. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif.V. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Karenanya. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. modus bernalar biasa harus ditinggalkan. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. menurut Heidegger. mulai dari Yunani klasik sampai modern.

bukan eksplorasi. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. Fisika. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Padahal. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. filsafat. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. Ia mentransendenkan semua metode. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. kata mereka.Psi. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. hamba sejarah. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Nalar pun sekadar kalkulasi. misalnya. 74 . Ia menjadi ansilla historica. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. S. Nalar identik dengan universalisme. bukan pemikiran. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bukan menciptakan. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. seperti dikemukakan Whitehead.

Kalaupun bertanya. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Transendensi adalah modus epistemologis. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Yang baik dan yang jahat. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. Selanjutnya. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. menurut Nietzsche. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. Pengambilan jarak Dasein.Psi. gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral.transenden. sementara "kelainan" adalah modus puitis. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. bukan kebenaran baru. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. S. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Sementara "kelainan". Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. yakni being in the world. Yang dikejar oleh nalar puitis. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. maka ia terjebak dalam epistemologi. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. sebaliknya. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Namun. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Beyond Good and Evil. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Berakar dari proyekproyek genealoginya. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. Namun. 75 . Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah.

tak berpuisi? Atau. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Nietzsche. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Kalau tidak. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. sebaliknya. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. tertib kosmis akan mengalami gangguan. 76 . Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. menurut Hegel. S. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. Semua tanda tanya harus dipastikan. Dan. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. Semua tanda tanya harus dipastikan. Dan. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Melampaui relativisme. kebaikan. Padahal. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. Manusia butuh kepastian. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. dan keindahan. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. Satu saja lolos.Psi.

Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. dan ketetapan. universalitas. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. melainkan kehampiran. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. Jurgen Habermas. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Baginya. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas.Karl Raimund Popper. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. namun seperti digagas Wittgenstein. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Namun. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. Thomas Kuhn. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Daya transendensi nalar. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. S. 77 . sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. Berkat falsifikasi. menurut Popper. Budaya. sebaliknya. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak.Psi. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. Paul Feyerabend. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. seorang anti-Popperian. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ia tidak tunggal. Bagi Popper. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. filsuf sains termasyhur. ideologi.

Tuhan bekerja secara misterius. Setelah nalar berhenti. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. Apa mendominasi apakah. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. Begitu cibir para mistikus. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Menggeser relativisme. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. 78 . "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. habis perkara.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. Namun. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. Nalar manusia terbatas. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. ingat dan sadar. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Namun.Psi. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Namun. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S.

S. teologi. dan filsafat untuk berhening sejenak. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. dan filsafat. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. teologi. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Singkat kata. Saatnya bagi sains. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Melainkan. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. teologis. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. 79 . atau filosofis yang mulai menua dan membosankan.

80 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S. C.Psi..Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.W.Psi.P. juneman@gmail.

Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. bagaimana kedudukannya. rasa (afeksi). dan lain sebagainya. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. Bahkan. tetapi toh lebih sedikit dari itu. 81 . Di samping itu. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri. ada rasa yang lebih mendalam. rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". dan lain sebagainya). tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). manis pada lidah. Dalam kalangan Jawa. Jadi. Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. dirinya sendiri. kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. itulah trias-dinamika manusia. aspek apetitif. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). terutama kalangan kebatinan.” Di sini rasa mengandung pengertian. kita membedakan dua macam rasa. rasa was was. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. bisa menilai segala keadaan. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. Orang mencium bau mangga. Tetapi. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. dan lain sebagainya.Psi.A F E K T I V I TAS I. rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. minuman ini terasa manis. S. jika seorang berkata: aku merasa dingin. karsa (konasi). rasa takut. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. Di atas hal itu sudah kita mulai.” “Saya merasa khawatir. Dalam Serat Wedhatama misalnya. Rasa khawatir. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). atau manusia sebagai trias-dinamika. rasa pada badan! Di samping itu. aspek pendekap.

yaitu di atas suatu titik. Sejak muncul dalam alam realitas. menjadi terserak. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. Sebetulnya. Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. artinya "melalui" daya-daya sensitif. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida.Psi. menjadi bhinneka. jika dilahirkan. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. dia mengambil buah itu. Tetapi. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika sesuatu kita "materikan". memakannya. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. artinya melalui indra kita. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. Jadi. yaitu karsa. manusia itu manusia. Nah. Orang pingsan tidak bisa menikmati. meskipun mulut dimasuki makanan. maka "membentang" berupa kalimat.merasakan mangga. di bawah lebar. Artinya. Lebih jelas lagi merasa haus. tetapi meruncing ke atas. Sebaliknya. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. lantas menjadi banyak. Kita selalu mau sesuatu. kalau lidah hanya kangen bakmi. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. S. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. di situ belum terjadi penikmatan bakmi. Dengan ini dia mengalami mangga itu. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. 82 . Pikiran kita. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. maka yang satu itu menjadi terbentang. yaitu dalam cinta. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. Tetapi sebaliknya. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. Gambar itu bisa kita balik juga. sebaliknya. Orang yang lidahnya sakit. Maka sesuai dengan kejasmanian. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. maka menjadi banyak kata. Jika cinta dinyatakan.

maka pada manusia ada harapan. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika).hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. Dia selalu berharapan. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. terutama jika akhirnya tidak tampak. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. bagi manusia merupakan penderitaan. dan lain sebagainya. selalu terjun dari sintesis ke analisis. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. S. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. yaitu takut. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. seperti rokok dan lain sebagainya). Dalam pikiran analitis. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. untuk lebih menyelami. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. segan. maka apakah puncaknya? Penikmatan. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. tetapi secara manusia.Psi. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. Selama kita hidup. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. maka dia marah atau putus asa. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. dengan isi yang lebih jelas. orang dipenjara seumur hidup. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. Jika malapetaka mengancam. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. maka manusia takut. Maka. merasa gembira. dorongan ke arah keindahan. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. Jika dorongan dipenuhi. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. marah. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. Perpanjangan suatu situasi. dorongan sensitif untuk cinta. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis. Jadi. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. dan lain sebagainya. Hidup tidak hanya secara biologis. 83 . Untuk maksud kita sekarang. penantian. dia selalu menanti.

namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia.Psi. misalnya dalam memandang seksualitas. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. S. Jadi.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. Melalui peranan afektivitaslah. Yaitu cinta kasih suami-istri. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. Yang ada bukan hanya rasa takut. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. tetapi seluruh pribadi manusia. dan sanggup meluhurkan diri. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. Yang lapar bukanlah perut. mempelajari. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. tetapi juga afektivitas. Dalam dinamikanya. Pengertian ini sangat penting. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. lebih sentosa. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. tetapi seluruh pribadilah yang takut. 84 . tetapi seluruh manusia. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. manusia tergerakkan hatinya. II. di samping pengetahuan. Jelasnya. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. keinginannya.

komunikasi. 85 . Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. Baginya. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. misalnya. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. atau cinta. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi). S.mengenai kritik atas rasio murni. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. kepatuhan.Psi. partisipasi. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. Prinsipnya. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. Walaupun demikian.

dan menjiwainya dengan mewarnainya. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. 86 . Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. menggayakannya. menguatkan. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. Jadi. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.Psi. kecenderungan. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. untuk mencapai afektivitas. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. mengembangkan.bukanlah mencintai. S. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. atau apa yang jasmaniah saja. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. III. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. tanpa bobot. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. dan menjijikkan atau membosankan.

sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. mempengaruhi bahkan membohongi.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak.Psi. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. mencintai. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. kesenangan. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. Ketiga. karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. selera. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. mengenal adalah kausa dari afektivitas. 87 . Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. Kedua. Keempat. S. dalam kondisi ini. IV. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. imajinasi. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Kelima. nilai (baik dan buruk). mempertahankan diri atau yang lainnya. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. semangat.

Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu.Psi. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. 88 . jangan bersikap acuh tak acuh. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sekolah. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. buku-buku. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. bioskop. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. V.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. dari generasi ke generasi. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. Karena pengaruh semboyan ini. dengan bertindak demikian. S. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun.

S. dengan segala daya intelektual. libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. dan pikiran populer. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Dalam perkembangan individu tersebut.kelihatannya begitu bertentangan. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. Pada bayi. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. 89 . Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu.Psi. telah meresapi filsafat. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. dan sebaliknya. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. teologi. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi.

melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. Gagasan yang terungkap dalam Injil. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. 90 . Sebaliknya. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. hal ini berarti. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. tanggungjawab dan pengetahuan. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. respek (rasa hormat). S.Psi. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. Biasanya.

kebahagiaan. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. tetapi justru merupakan alasannya.simpati terhadap ”orang asing”. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. dan pengetahuan. perkembangan. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. Afirmasi terhadap hidup. ia samasekali tidak dapat mencintai. ia mencintai dirinya sendiri juga. S. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. bagaimana kita menerangkan egoisme. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. tetapi hanya senang menerima. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. kebebasannya sendiri.Psi. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. yaitu: perhatian. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. 91 . Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. tanggungjawab. rasa hormat. pada prinsipnya. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri.

kelelahan. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri.Psi. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. ia tidak dapat bahagia. S. Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. Ia merasa prihatin yang berlebihan. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. bukan karena ia sangat mencintai anaknya.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. seperti: depresi. 92 . Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. kegagalan dalam relasi cinta. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. ”hidup hanya untuk orang lain”. dan sebagainya. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya.

takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. keriangan dan kebahagiaan. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. di bawah topeng kebajikan. mereka diajar. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. untuk adat istiadat kita.Psi. dapat diperbaiki. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. kaku. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. agar benci terhadap kehidupan. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan.namun kuat. mereka cemas. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. dan sangat sering. 93 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”.

Psi. S. C.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman..W. 94 .Psi. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.P. juneman@gmail.

disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya.PENGERTIAN I. walaupun masih sangat sederhana. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. S. Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. Pengetahuan indrawi bersifat parsial. Secara umum. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. entah nyata atau semu. 95 . maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. seperti juga pada binatang.Psi. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. Berkat indranya itu. kedua sumber pengetahuan ini berbeda. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. namun selalu bersifat relasional. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang.

begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. rasa. Pengetahuan indrawi. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. Pendengaran hanya mampu menangkap suara.Psi. Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. seperti bunyi. Menurut Realisme naif. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. cerah. Mata peka terhadap cahaya. S. Warna. dan sebagainya. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. 96 . atau bentuk dengan keras-lunaknya.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. atau tanpa telinga yang mendengar suara. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. atau hidung yang membau. atau bau. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. rasa. rasa. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. Semua sensasi (warna. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. bau. dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. suara.

Musik. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. lebih kabur. Kedua. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. S. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. pakaian. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. bau-bauan.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. bentuk. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya.Psi. perang ataupun religius. namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. dan gerakan dari bagian-bagian. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. tetapi juga warna subjektif. Ketiga. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. yaitu kumpulan. 97 .

antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. dari bentuknya suatu benda menerima. sekaligus membentuk daya interpretasi. tujuan.samar-samar. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. Akibatnya. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. Caranya. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah. tujuan. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. Arti. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini.Psi. 98 . Pendeknya. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. melalui pengertian kelompok (komunal). Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. dan arti benda itu. Walaupun demikian. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. kedua segi ini tidak saling bertentangan. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. melainkan saling melengkapi. Pengaruh cahaya. S. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. sehingga di dalam situasi normal. kesehatan mata. dan seterusnya.

itulah artinya. Guna memahami jenis pengetahuan ini. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. 99 . tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas. A. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. II. menangkap bentuk pisau. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. Misalnya.Psi. Maksudnya. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. C. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. mengurangi. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. S. secara fisik. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini.dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. Menurutnya.

mengalihkan. Namun demikian. rencana. Setelah memasuki usia remaja. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. Berbeda dengan naluri. seleksi relasi. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. atensi. konsentrasi. prediksi. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak. tradisi.Psi. Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. 100 . abstraksi. Demikianlah. 1996: 359). analisis kritis. kontrol (pengendalian). imajinasi. Akibatnya. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. Psikolog kontemporer (Piaget. mengarahkan. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ingatan. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. S. ekstrapolasi. konseptual. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). memilih. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. hafalan tanpa mempergunakan pikiran. Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang. Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. III. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. atau membagi). adat istiadat. kebiasaan.

S. Sesungguhnya. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate). menurut volume serta berat-ringannya. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris.Psi. Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. menurut ukuran besar-kecilnya. pada orang dewasa. tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. sosial. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya.khas. Dengan itu pula. serta religius melahirkan suatu peradaban. Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. 1980). Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. 101 . Goenarsa. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. Walaupun demikian. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. politik. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. psikologis. Melalui ini. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri.

setotal mungkin. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. serta paripuma. tuntas. serta terartikulasikan. IV. betapa pun tinggi dan banyaknya. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. abadi. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu.Psi. Pendeknya. menempatkan. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. tetapi juga secara lebih mendalam. Semakin mendalam refleksinya. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. 102 . la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. mengintegrasikan. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. maka semakin luaslah objeknya. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. S. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas. meski besar sekali pengetahuan seseorang. mendalam. tetapi berkembang secara acak. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. objektif. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia).

Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Kedua. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. S. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). cara merasa. Ketiga. serta cara bereaksi. 103 . cara bertindak. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. Pertama. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. juga bersifat sosial. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya.Psi. Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. Inteligensi bukanlah suatu substansi. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya.

Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. W. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. bukan pikiran. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. subjektif-objektif. dan prapribadi. 1993: 132). di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. sebab insight diverifikasikan. dan sebagainya (Leahy. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. tampak pada refleksi spontan. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. refleksi. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. Persepsi ini. S. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. deduksi. tetapi roh itu bebas sifatnya.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. misalnya. J. prasadar. 1987: 23). Maksudnya. Menurut J. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu.Psi. misalnya pada waktu sedang melamun. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. "Saya pikir. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Eccles. 1993: 312 313). Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. 104 . tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu.

Putusan ini lebih bersifat reflektif. atau bagaimana objek itu bereksistensi. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada.Psi. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. dan mencari alasan dari segala-galanya. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. tertarik kepada segalagalanya. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. bukan hanya kurang lebih dari itu. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. yang pernah ada. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. S. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. dan segala sesuatu yang akan ada. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. 1994: 45-48). Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. Segala penegasan. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Bilamana menilai. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal. Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. 105 . yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. Bila mendefinisikannya. yakni segala sesuatu yang ada.logis dan ilmiah. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. Maksudnya. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. V. Bila bernalar.

Sepintas lalu. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. 106 . non p bukan p). adalah tidak ada". tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. S. prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran. mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Artinya. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Walaupun demikian. Secara epistemologis. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut.penilaian. kesimpulan. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. dan "apa yang tidak ada. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). Jelasnya. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”.Psi. pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. prinsip identitas. Pertama. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi.

Artinya. Jika dilihat dari sudut pola. Jadi. yaitu pengertian dan pengambilan. Tetapi. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. melainkan manusia. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. tetapi proses ke tingkat itu. anjing ingat (= mengerti) makanannya. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia.Psi. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. Pola itu tidak selalu disadari. Pola adalah isi pengertian kita. lantas ingin. S. Yaitu unsur kognitif (cognitive). Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. Pada bunyi lonceng. VI. Unsur ini pun menyatukan. maka bolehlah kita memandangnya. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. menghubungkan.Prinsip cukup alasan menyatakan. dan mulai bergerak. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. Untuk mulai dengan yang mudah. tertarik. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. tetapi ada. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. 107 . Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani.

batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. Maka. dan sesuatu itu diselami. yang ada hanya "jarak". kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". Lihatlah orang yang "kenal" piano. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. Dia mengerti secara formal. Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). Yang perlu diingat di sini hanyalah. Tentu saja. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Bisa maju. ada yang kurang ada yang lebih. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. manusia itu bersatu dengan dunianya. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Namun. Sebaliknya dengan manusia. S. Lihatlah realitas infrahuman. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". atau dunia manusia. Pada hewan tidak ada idea kesatuan. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. tidak ada kesatuan. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. tidak ada idea susunan. Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. Ini pun bukan status yang selesai. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. disatukan. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. bisa mundur. Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. mengubah menjadi alam kebudayaan. tidak diatur oleh suatu idea. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. Maka. seperti tumbuhan. tidak ada objektivisasi. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. 108 . Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. yang susila. Di situ manusia dan keindahan jadi satu. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. Jadi. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. karena moralnya berantakan. Tangan dan piano merupakan kesatuan.Psi. Pengertian hanya satu unsur. Dia mengadakan objektivisasi.

manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Manusia mengerti nenek moyangnya. batu. kayu. kesatuan antarbenua. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". menghasilkan teknologi. Berdasarkan pengertiannya. dia mempunyai interioritas. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. Pengertian bertambah sempurna. tidak "mendiami" diri sendiri. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. hewan pun "di luar diri sendiri". terutama yang lebih tinggi inteligensinya. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. Akibatnya. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. Tetapi. 109 . sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. Misalnya. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Bahkan. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. Lihat saja kesatuan tanah air. Berdasarkan kesatuan diri itu. dia menyatukan dirinya sendiri. membedakan diri dan bukan diri. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. "jauh" dari diri sendiri. pengertiannya itu saling memajukan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi. Nah. S. Jadi akhir-nya. "Dia ada di dalamnya sendiri". Dengan demikian. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. kesatuan sudah termasuk. Hewan. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. dia "menghadiri" dirinya sendiri. tanpa penyelaman. Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. mengerti "asal usul". jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. Yang ada hanya eksterioritas. mempunyai "kedalaman". mempunyai semacam interioritas. tidak bei sich sein. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. tidak in itself. Eksterioritas artinya segi luar melulu. Interioritas artinya sadar diri.

dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. situasinya. Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. dari situasi ke situasi. Dan lagi. Tetapi. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut. memasuki diri lain.Psi. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. dari keadaan ke keadaan. Hal ini tidak berarti perbudakan. terus mencari. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. artinya keluar dari diri sendiri. menyatukan diri sepenuhnya. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. Tetapi. Tetapi justru dengan saling menyerah. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. 110 . Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. Keduanya berkembang. S. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. melebihi. mengatasi keadaannya. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. Jadi. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. perbuatannya yang sedang berjalan. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. tidak mungkin puas.Akhirnya. Jadi dia terus mencari. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. Semua berkat transendensi. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti. keduanya menemukan diri. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". Bahkan. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. Dia adalah "mouvement de transcendence”. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan.

ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Tetapi. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. jadi ke arah Tuhan. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. Maka. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. Jadi. Dengan kemampuannya mengerti. keong tanpa cangkang tentu mati. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin.Psi. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. Jadi. bagi hidupnya. S. Barang an sich masih bersifat "netral“. dari perbuatannya. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. Barangnya harus mampu untuk arti itu. 111 . manusia menjadi kawan. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. Jadi. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. VII. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. dikatakan bahwa kita menerima arti. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. Dunianya berubah-ubah. spesialisasi semakin melembut. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran.praktek ada banyak kekecewaan. Misalnya bahan menjadi makanan. misalnya dalam hubungan suami-istri.

Sikap kritis ini perlu. sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. karena dalam pengalamannya. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Walaupun demikian.Psi. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Spesialisme yang semula bersifat metodis. S. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. 1987:41). padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. tampaknya. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. 112 .

1982). Akhirnya. ada unsur-unsurnya. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. Menurutnya. Maka. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. maka begitu juga pengertian kita: tersusun. Sesuai dengan kodrat manusia. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. VIII. Oleh sebab itu. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. S. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. berupa pengertian rohani-jasmani. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu rohani-jasmani.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. Orang semakin dilanda kebingungan. 113 .Psi. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. ultimate dan absolut. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri.

momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. di mana manusia membuat idea. pengertian tentang "aku". bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). Di sini tampak adanya momen-momen. Momen-momennya ialah pengertian indra. pengertian tentang "ada". Itu adalah dan pengertian rasional. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. pengertian rasional. Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). 114 . tentang persona. Sebaliknya. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. merasakan manis. S. Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. dan lain sebagainya). Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. dan pengertian metafisis. Mencium bau. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. yaitu keindraan kita.Psi. Tetapi bersama dengan semua itu. Kita punya konsep rumah. konsep perkumpulan. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). Momen ini bisa disebut metakonseptual. atau buruk). Jadi. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. dia sedih. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. satu segi. mendengar suara. artinya "di atas" konsep. secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. lantas muncul pengertian rohani. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. Jadi. tidak di luar konsep. jadi sebagai persona. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. kita menangkap manusia sebagai engkau. Semua itu berasal dari pengertian rasional. Bahkan. kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. Anjing hanya mempunyai momen indra. dan lain sebagainya. dia menangkap bau tuannya.

maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. Dengan kata lain. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. 115 . namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. Agar bisa mengetahui dengan jelas. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Namun. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar.Psi. Akibatnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. terspesialisasi dalam keanekaragamannya.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. pengetahuan selalu bisa berkembang. S.

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.W. C. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi.Psi.. Watak Kodrati. Moral. S. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman. dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. S. 116 .P.Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek.

Kita mengerti dan mengalami karsa. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. Jadi. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. misalnya. atau dia harus piket. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. Dalam modul-modul terdahulu. Watak Kodrati. tetapi pikir-pikir dulu. Tetapi bukan dinamika yang menentukan. maka dia menolak. Karsa. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu karsa (will) atau kehendak. itu pun dinamika. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. dia harus belajar untuk ujian. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. menghendaki. tidak selalu berarti will. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Kalau seorang diajak menonton. Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. mungkin dia merasa tertarik. Objek. daya untuk mau. kita lihat dua unsur. Orang lain kita ajak menonton. Tetapi.KEBEBASAN I. tidak mau. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. Tetapi lihatlah. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. S. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. dia mau atau tidak mau. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. untuk memenuhi keinginan. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). 117 .Psi. Orang lain bisa ikut. karena itu adalah dinamika yang menguasai. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. kemecer. Demikianlah kita mengalami adanya karsa.

Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan. lambat laun bisa mengkurep. hanya bisa menggeletak. tidak terdengar. yang ada semula ialah level biologik. Demikian juga munculnya karsa itu. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. Janganlah munculnya karsa itu. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. Lambat laun muncullah kesadaran. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. demikian juga kemanusiannya. tetapi juga untuk ini atau itu. berdiri sendiri. dari bios ke logos. Untuk lebih menyelami hal ini. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. lantas mulai berdiri dan berjalan. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. seperti arus air. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. 118 . bertakhta sendiri. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani.Psi. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. lihatlah dinamika pada status anak kecil. Bebas artinya tidak terikat. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. Semula yang ada "hanya" rangsang. Merdeka berarti bebas. Manusia tumbuh. seperti munculnya pikiran. tidak terus lepas saja. Dalam pertumbuhannya. Berbagai macam rangsang. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. dari btosfera ke neosfera. meruncing ke ates. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu.Akhir dinamika manusia itu satu. Merdeka menunjuk kedaulatan. Dia semula hanya melekat sebagai buah. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. yang masih akan ditentukan. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". yaitu karsa. tidak ada selfness. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. menguasai diri sendiri. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. S. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. Jadi. Inilah arti yang pokok. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. bebas dari ini atau itu. Baru setelah beberapa waktu. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. lantas bisa merangkak. lantas setelah lahir. ke puncak.

sementara manusia mau merdeka. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun.personalah yang bersifat merdeka. sungguh-sungguh berdaulat. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. mau bebas dan lepas. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. Kalau sudah begitu. Lagi pula. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. Dia cenderung untuk liar. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya.Psi. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. itu pun batasan. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. 119 . Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. S. dengan perjuangan. Maka setelah ada. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. Proses kelahiran ini bisa gagal. maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. artinya ke kesempumaan manusia. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. jika manusia tidak berjuang. kemerdekaan dalam proses penjadian. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. Dengan demikian. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. dia tidak lepas. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. Jadi. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. mandiréng pribadi. Jadi. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. Jadi.

Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia.Psi. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. S.dirinya. 120 . Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. Maka. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. Maka dia tunduk. namun juga sering kali bertentangan. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Dia mengerti dan mau dirinya. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya. Dia harus mau sesuai dengan arah itu. terjerumus. dan hal ini karena karsanya. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. dia tidak berdaulat lagi. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. itulah kesatuan manusia. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. Jadi. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. J. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. maka dia berantakan. II. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut.

Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. 121 . kebebasan bersifat sensitif dan rapuh.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. S. Namun pada masyarakat modern. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. Manusia adalah makhluk yang bebas. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak.Psi. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia.

Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. seperti di bidang ekonomi. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya. teknologi. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Moral. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. dan sebagainya. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. S. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. Lebih parah lagi. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. komunikasi.Psi. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. 122 . semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. tetapi secara mekanis. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III.

paksaan. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu situasi-situasi batas. Sebagai eksistensi. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. beban atau kewajiban. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. Manusia mempunyai kemampuan memilih. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri.Psi. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Sebagai eksistensi. pengendalian diri. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. “Freedom is self-determination”. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. 123 . S. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. pengaturan diri dan pengarahan diri.

Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu.Psi. yaitu kebebasan fisik. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. 124 . Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Jangkauan itu terbatas. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. S. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum.

Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. 125 . atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih.Psi. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. namun mereka tetap merasa bebas. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis.sungguh bebas. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. S. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya.

Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai.Psi. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Namun. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. Saya mempunyai kebebasan psikologis. S. 126 .Berbeda dari kebebasan fisik. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu.

jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. IV. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. Sebaliknya. yaitu suatu keadaan bebas. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. 127 . merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. S. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil.secara moral. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Ia dipaksa secara moral.Psi. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. melainkan praktis. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. yaitu dengan argumen persetujuan umum. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. bahwa kita adalah bebas. S. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. dan argumen etis. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis.Psi. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. yaitu berdasarkan pengalaman. Kita sendiri. argumen psikologis. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. 128 .

Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. S.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan.Psi. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. 129 . Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya.

atau bertindak dengan cara begini atau begitu. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. yaitu "mengambil dompet itu". di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Setelah menimbang-nimbang. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. Muncul pemikiran pada waktu itu. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. Namun pada saat pikiran itu muncul. ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. S. 130 .Psi. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Karena jika tidak ada kebebasan. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak.Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. saya akan mengambil dompet itu". Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak.

Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Dengan kata lain. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. S. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. 131 . Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain.Psi.

132 . politik dan sebagainya. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. sosial. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. seksual. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas.V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. seperti kebebasan fisik. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya. finansial. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas.Psi. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. S. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. tetapi tujuan. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. namun lebih dalam dari itu. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. malainkan juga kepada sesamanya. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia.

terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. S. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka manusia tidak bebas. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 . Manusia merupakan bagian dari dunia. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. karena hukum sebab akibat itu. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Dengan kata lain manusia.Psi. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. VI. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak. Atau. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan.

dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. S. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini. Akan tetapi. Artinya manusia itu bebas. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. 134 . Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. secara bebas.manusia akan dikatakan bebas jika ia. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena kemampuan itulah. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat.Psi. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. dan bola itu menyentuh bola yang lain. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia.

135 . Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. S.Psi. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya. dan lain sebagainya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. Dengan kalimat lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. untuk mengontrol proses-proses organik. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri. manusia tetap mempunyai kebebasan.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. untuk menyesuaikan diri. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah.

melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. S. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. mengambil keputusan. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan.bentuk dan kemampuan jasmani. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya.Psi. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. 136 . Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. Manusia adalah makhluk yang sadar. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. suatu proses yang terus menjadi. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. masa depan. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan merencanakan. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri.

maka manusia adalah subyek. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. dan lain sebagainya.Psi. Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. hadir di dalam dirinya sendiri. bebas memilih teman hidupnya. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. Atau. 137 . Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. Inilah wujud kebebasan manusia itu.pribadi manusia. S. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. Karena manusia adalah suatu interioritas. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya.

yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. dirinya. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. 138 . Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. Sebagai yang Maha-tahu. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya. Dalam posisinya itu. dan semacamnya. S. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. seperti tangan. pula Menyempurnakan sebaliknya. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya.Psi. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. kaki. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu.

Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. 139 . Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan. Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Dia melihat. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Padahal Tuhan tidak terikat waktu. S. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Misalnya. Dia tidak berada dalam waktu.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Tuhan itu bersifat transenden. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia.Psi. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan.

Dan bukan Tuhan. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. Manusia adalah makhluk rohani. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia.Psi.sikap terbuka terhadap Allah. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata. S. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri. Jadi meskipun tergantung pada Allah. 140 . Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. manusia tetap memiliki kebebasan. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis.

Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total. Sebaliknya. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. 141 . melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. S.Psi. menurut Leahy. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri.

Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. S. penafsiran mimpi. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. dan lain sebagainya. Memang. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. kesadaran dan kebebasan manusia.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. misalnya sebuah mobil. Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. 142 . yang merangkainya. Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. dan lain sebagainya. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. atau yang mengemudikannya. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. dan kebebasan dari para pasien.Psi. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. VIII. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. 143 . S. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan.Psi. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. Oleh karena pemikirannya itu. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian.VII. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri.

Argumen kedua adalah argumen psikologis. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas. yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. S. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas.Psi. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. 144 . Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas.

Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. S. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. melainkan juga kepada sesamanya. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Akhirnya. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Argumen ketiga adalah argumen etik. padahal sebenarnya tidak demikian. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain.Psi.dan sebagainya. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme.

Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. Lebih dari itu. Menurut mereka. sedangkan fenomen Y adalah consequens. S. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya.maka manusia tidak bebas. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. maka pasti ada pula fenomen Y”. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. 146 .Psi. Fenomen X adalah antecedens. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya.

manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi.Psi. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. Sebagai makhluk yang berakal budi. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. Sebagai eksistensi. Dan kerena dua sifat manusia inilah. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Melainkan. 147 . Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. S. yaitu situasi-situasi batas. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Manusia adalah makhluk yang berbudi. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Namun sebagai mahkluk jasmani. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Sebagai eksistensi. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. Namun semua itu dapat saja dikorbankan. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. namun ia terpisah dari alam semesta. S. bulan dan bintang-bintang. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Meskipun demikian. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. Allah di surga. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. tentu saja dengan landasan kebebasannya. IX. yaitu persatuan abadi dengan 148 . Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu.Psi. untuk mencapai kebahagiaan sejati. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. seperti terbit dan tenggelamnya matahari.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia.

Namun. argumen psikologis dan argumen etis. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia.Psi. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. yaitu argumen persetujuan umum. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. S. 149 . menurut Louis leahy.

. 2008 .P.W. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail. C.Psi.Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman.

eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. 1985: 7-8). Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. II. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. manusia yang bereksistensi. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Tetapi. Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. seperti Gabriel Marcel. Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Dengan kata lain. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Camus dan Sartre. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. seperti Jean-Paul Sartre. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Itulah sebabnya. manusia memberi arti kepada segalanya. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. Bagi Jasper. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. Jadi. Gabriel Marcel. Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. Sebaliknya. Jika ilmu .EKSISTENSIALISME I.

Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. pada 1883. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Gottingen dan Heidelberg. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. antara lain melalui Max Weber. Namun. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Jerman Utara. setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. setelah menerima gelar penghargaan itu. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. ia menulis banyak sekali karya. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. ahli ekonomi. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. Philosophie (1932). Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Karena itu. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat. antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid.

berkembang. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya.Karl Jaspers di Austria. Jerman. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. kita mencapai inti “aku”. komunikasi dan kebebasan. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. 2. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. Dengan menerangi eksistensi. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. pilihan. Jepang. Katanya. Melalui keputusan ini eksistentis. Bagi Jasper. dengan menerangi eksistensi. Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. 3. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. yakni Penerangan Eksistensi. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Situasi-situasi Batas . Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. Eksistensi membutuhkan komunikasi. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat.

Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. lepas dari pilihan manusia sendiri. penderitaan. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. yaitu kematian. latarbelakang sosial. b. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi.Sebagai Dasein. tergantung dari keputusan manusia sendiri. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi . jenis kelamin. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. dan banyak hal yang merupakan fakta. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. yaitu faktisitas histories. perjuangan. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. dan kesalahan. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Penderitaan karena keterpisahan. ia dapat berkembang. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. c. Namun. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Nasib Situasi batas yang paling umum. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. ini yang disebut nasib. Kematian teman sekaligus musuh manusia. a. d.

hal. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. . hal. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. hal. Tanpa itu yang ada kekosongan. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi. 37). situasi kebohongan dan kejahatan politik. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. 453 dst. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991.. asal dan makna kebenaran.). hal. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. 57). tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. 1949. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. 5. Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. bdk.. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi. e. 4. Jaspers: 1991. cacat. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. 3 dst. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang.3 dst.

karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. Dengannya. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. Itu artinya ontologi tidak mungkin. Padahal. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. karena ia adalah pengada. Meskipun manusia hendak menangkapnya. Dengan demikian. “Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). Manusia berbeda dengan pengada lainnya.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. Dengan kalimat lain. dia tidak akan mampu mendapatkannya. karena tidak dapat diobyekkan. tetapi selalu . Horison itu selalu hadir. 35). “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala. termasuk diriku yang kuobyekkan. Ia tidak dapat diobyekkan. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri.

Transzendenz dan Vernunft (Jaspers.tak tercapai. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu.. Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya.1956: hal. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991. 1991: hal. 53). Manusia memiliki awal dan akhir.. Geist. karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. Existenz. “manusia ada” (Jaspers: 1991. K. 53). Bewusstsein Überhaupt. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. 15): Das Umgreifende. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. das wir sind Das Umgreifende. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. Dasein das das Sein selbst ist. Manusia termuat dalam Dasein. lih. Welt. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi. hal. Jasper K. yaitu Dasein. 62). “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. hal. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . “kita ada”. 48 dan 50. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. hal. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu.

1991: hal. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. 63). yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. hal. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. hal. 67). 39. hal. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). 71). dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. 42). hal. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. . hal. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. 71). hal. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. Eksistensi termuat dalam waktu. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas.dan menjauhinya. 76) . tetapi sekaligus mengatasi waktu. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. Existenz Eksistensi melingkupi manusia.

dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. hal. hal. dunia bukanlah obyek.Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. hal. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. 110). Manusia hidup dalam dunia. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. 114). . Menurut Jaspers. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. 99). hal 110). Dunia melingkupi manusia. 93). Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). dan juga bebas terhadap dunia. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. 85). hal. Meski demikian. hal. transendensi adalah “kenyataan asli“. Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. Dunia harus dapat dipikirkan. Manusia adalah bagian dari dunia. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. Manusia bebas dalam dunia.

naturalisme memutlakkan Transzendenz. 119). Cinta itu sama luasnya dengan rasio. dan menjadi jiwa rasio. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . 118). Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. positivisme memutlakkan Welt. Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. hal. Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. hal. idealisme memutlakkan Geist. Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. hal. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. Pada tataran eksistensi ada iman. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Dasar komunikasi itu adalah cinta. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. 120). Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran.

keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Artinya. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Dari pihak Katolik. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Namun. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). eksistensialisme itu melulu voluntary. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. Dan ini. seperti Mlle Mercier. dalam pandangan kaum komunis. yaitu Eksistensialisme. Dari pihak Komunis. yang patut dicela. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. yang rendah. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. Singkatnya. Untuk mempopulerkan idenya itu. apalagi berpikir tentang solidaritas. Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . quietisme. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama.” Eksistensialisme. Lebih jauh lagi. eksistensialisme dengan ego-nya. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit.

pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. esensinya. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. Kedua. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana. disebut artisan. Burung berkicau dan makan biji. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Di sini. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. Selain itu. kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi mendahului eksistensi. Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah. Namun. Contoh lain lagi: panah. Esensi dari pisau kertas itu. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. mendahului eksistensinya. Lebih jauh lagi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Dengan kata lain.punya arti apa-apa lagi. Seorang pembuat pisau kertas. produksinya mendahului eksistensinya. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. Contoh lain lagi: binatang. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. Ketiga.

Begitu seterusnya. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). atau wild man of the woods (Rousseau). Celakanya. Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). muncul (Inggris: surges up. Makhluk itu adalah manusia. Atau bisa jadi. man in the state of nature (Thomas Hobbes). ketika ia lulus. Dengan begitu. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Bagi Sartre. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. bahwa hadir). manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. Oleh karenanya. Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. entah itu animal rationale (Aristoteles). di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Cara beradanya benda tak . Misalnya. esok hari ia kedapatan mencuri.Allah menciptakan. Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. jika Allah tidak eksis. sampai ia mati. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya. dan the bourgeois (Karl Marx). Dengan begitu.

Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. katakanlah. sesuatu yang mendesak. Sartre mengakuinya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. batu atau meja. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. ia memikul beban eksistensinya itu. dalam keluarga apa. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. yaitu tanggungjawab. Kita tentu bertanya. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. . Pandangan ini mencengangkan. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. di pundaknya. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Sementara manusia sebaliknya. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri.

namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. he is responsible for everything he does]. karena membayangkan apa yang akan terjadi. once thrown into the world. Semuanya tergantung pada diri sendiri. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Condemn. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. because. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. . Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Namun. Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. Ada ketiadaan di tengah ada. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. Karena itu. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. in other respect is free.Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. yet. because he did not create himself.

" kata Sartre. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. Karena kontroversinya. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. hubungan antara aku dengan orang lain. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. IV. Sekarang. Padahal. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. "adalah adanya orang lain". bertemu dengan jenis yang sama. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. kesadaran yang me-negasi. dan menyerahkan diri sepenuhnya. ketika seseorang memergoki saya. Ketika tengah mengintip. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas. B. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. Bisa jadi si A. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. Demikian kira. tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. Mengingat doktrin tersebut. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. yakni kesadaran terhadap sesuatu. bayangkanlah jika "Aku"." Ada juga kemungkinan lain. mau tahu urusan orang. dan sayalah subjeknya. Sementara. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. "Dosa asal saya. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. Dalam hal ini. être-en-soi. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. atau mundur untuk menyelamatkan diri.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini.apakah akan terjun. senantiasa berdasarkan konflik. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. misalnya ketika si A. dll). dan C saling berselisih. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. dan être-pour-soi.

semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. tak berwajah dan tak bernama. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. murah. Kierkegaard menegaskan. Publik bukanlah suatu generasi. konsep abstrak. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. Publik itu identitas semu. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. bangsa. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Menurutnya. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . dan efektif membentuk opini-opini publik. Dalam kondisi dunia semacam ini. Menurut Kierkegaard. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. garang. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. menurut Kierkegaard. Konsekuensinya semakin berlaku umum. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. kata Kierkegaard. cara pandang ini menyulut persoalan baru. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. Mengapa? Karena bagi dia. Dalam masyarakat modern. Pada titik ini. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. Ia menilai. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Artinya. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik.

rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi.mengikuti suara hatinya sendiri. Hidup adalah sebuah tugas. Misalnya. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. untuk mencapai subyek yang . Namun. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. misalnya dalam pemerintahan. Bagi Kierkegaard. nafsu). seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. Ironisnya. menurut dia. Persisnya. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. meski pada taraf non formal. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Akibatnya. Anehnya. tapi dalam kenyataan konkret. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Padahal. Konsekuensinya. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. melainkan sekedar symbol prestasi. Dalam ideal itu. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama. Ini. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Maka. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. ia tak punya arti. orang menjadi dangkal. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. tidak ada tempat untuk passi (gairah. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali.

Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. orang yang tidak berani mengambil keputusan. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. simpang siur budaya modern. tapi harus melalui pilihan. Tanpa itu. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Konsekuensinya. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. antusiasme. Dengan kata lain. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. keputusan. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. mereka tak berdaya. Etik. Maka.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. Menurut Kierkegaard. tidak juga sekedar refleksi intelektual. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. Proses ini. tanpa arti. hanya menjadi medan kemungkinan. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. segala bentuk realitas. semakin menjadi individu yang otentik. Namun. bagi mereka. dan kehendak bebas. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Jadi. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. rasa. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . Artinya. Estetik. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Ciri pertama. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. dalam haru biru. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. Maka.

sejauh mereka masih tetap manusia. dan sebagainya. Ciri ketiga. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. Tahap Etik . hidup yang luluh-lantak berantakan. Ironi tapi fakta. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Boleh jadi juga. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. yakni tahap etik. Ciri kedua. Cepat atau lambat. Dengan menikah. dan kering. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. Artinya. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. Oleh karena itu. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. kosong. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Pada titik inilah. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Maka.dari bunga ke bunga. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Dengan berorganisasi. Dengan ini. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa.

Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. dalam hidup nyata. Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. Untuk sampai ke peran pemain itu. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Oleh karena itu. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. tahap religius. orang-orang seperti ini. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. namun masih berada pada taraf “penonton”. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. Bagi Kierkegaard. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. Ciri ketiga. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. Ciri pertama. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. Bahkan kalau perlu.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. bagi Kierkegaard. Ciri kedua. Ciri pertama. Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. belum menjadi pemain. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. Sayangnya. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja.

Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. Maka. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Beriman berarti bertualang. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. Pokoknya. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. Singkatnya. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. Bagi Kierkegaard. Ciri kedua. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. pada tahap ini. damai dalam aneka ketegangan. beriman. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. orang dituntut untuk. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. Pada tahap ini. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. Oleh karena itu. Ironisnya. Maka. Mengapa? Karena pada tahap ini. Komitmen pada suatu paradoks. Ciri ketiga. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen. orang harus kehilangan dirinya sendiri. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. Dengan beriman. Atau. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. Maka. orang justru diminta untuk bersikap enteng. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. Bagi mereka. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . Oleh karena itu. justru ia harus diajak untuk bergembira. Bahkan. kadangmenakutkan.

bagi Kierkegaard. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu.tak berkesudahan. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Ia membaca karya-karya Hegel. Petersburg. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. manusia idaman sepanjang masa. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. mereka telah menjadi pendekar iman. Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. Namun ia menerima beratnya . kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. Schopenhauer. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. V. mereka telah menjadi manusia sejati. Dengan demikian. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh.

bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. kebebasan adalah baseless. antara lain Berdyaev. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). dekat Paris. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. berceramah. Secara keseluruhan. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri.sebagian setelah kematiannya. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi. Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. pada Maret 1948. perkembangan rohani. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. Secara ontologis. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. etika Kristen. kebebasan tidak untuk dibuktikan. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. Bagi kaum eksistensialis. Bagi Berdyaev. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. Berdyaev menulis 15 buku. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. atau moralitas-pedagogi). psikologi. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin.masa revolusi. diselidiki. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. mengajar. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. Pada 1922.

maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). Bentuk yang kedua dari kebebasan. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. Alasannya. tapi juga untuk sesuatu. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. demi martabat manusia.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. sekaligus akhir dan tujuan. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. seperti halnya kecemasan.” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. kreativitas harus diberi keleluasaan. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. Kreativitas adalah misteri kebebasan. Dalam dirinya. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . reasonable freedom. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. Kebebasan. Bila demikian.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. . Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). Walaupun berisiko. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. meski kebebasan itu berbahaya. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. tak ada manusia tanpa kebebasan. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu.

kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. Dapat dipertanyakan. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. . terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. apakah ini bulan Januari atau Desember. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. misalnya. Dimensi kedua. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. adalah waktu kesejarahan. Pada sisi yang lain. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. ia sangat mungkin goyah suatu saat. Pada kondisi demikian. Demikianlah. Pada titik itu. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. Maka.

The Gay Science. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. Namun. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. Freud dan Darwin. Human All-Too-Human. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. Bismarck. yaitu Apolline dan Dionysian. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. seperti Richard Wagner. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. antara lain The Birth of Tragedy. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. The Good and Evil . Ayah Nietzsche. Awalnya. Kakeknya. yang berisi tentang tragedy Yunani. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Karl Ludwig juga seorang pendeta. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Selain itu. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . ia mulai menciptakan karya-karya filologis. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Setelah buku pertamanya ini. Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. The Wanderer and his Shadow. Thus Spoke Zarathustra. Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844.VI. The Birth of Tragedy. Tahun 1796. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer.

atau dalam pengertian Deleuze. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik. Sejarah Filsafat). Menurut Deleuze. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. bagi Kant. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. Nietzsche. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. . Dalam Prasangka Para Filsuf. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. (lebih lanjut Solomon & Higgins. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak.Moral. Moralitas-lah. Menurut Kant. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. (lebih lanjut Deleuze. Nietzsche menggarisbawahi. Prasangka Para Filsuf. (Nietzsche. Critique of Practical Reason. Aphorisma 5. yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. Bagi Nietzsche. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. Filsafat Nietzsche). yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. Aphorisma 9).

Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. Tetapi. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. dan bukan suatu sistem. dan kewelasasihan.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. cinta antar saudara. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. Namun demikian. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya.

di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita.. Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. Namun demikian. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan.. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya.” (Die Morgenrote [The Dawn]. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. Lepas dari semua itu. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. ada kekuatan . Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. Yang kedua. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika.

gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. Namun. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Setelah ditinjau bolak-balik. Di sisi lain. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal.di dalamnya. Sesungguhnya. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Zarathustra. betapapun kaburnya makna tersebut. Jika kita tidak dapat mengingatnya. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. Paling tidak. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan.

perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. Pada suatu bahasan. Di pihak lain. Meditasi Kedua. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. Di dalam Thus Spoke Zarathustra. 98] . Namun. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam. Pascal.” [Genealogy of Morals. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. bagian pertama. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power. dan Goethe. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. Namun demikian.kesungguhan. XXI.” [Thus Spoke Zarathustra. di dalam edisi Härtle. “Ketika aku berbicara tentang Plato. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. Prolog Zarathustra. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. apalagi kekanak-kanakan. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. Meskipun begitu. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan.

kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas.Dalam pandangan Nietzsche. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. jiwa. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . namun demikian. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. sukma. udara. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. nyawa. nafas. berarti penampilan. darah orang Yunani. VII. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. warna-warni. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. phenomenon. Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. sejak Edmund Husserl (1859-1938). Prancis.

analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan.sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. bracketing). Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Proses ini oleh Husserl disebut e poche. Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. tertuju pada sesuatu). Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. Franz Brentano. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. termasuk psikologi sebagai ilmu . sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu.

Sebaliknya. Mata belaka tidak melihat.J Bijleveld. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. Menurut pendapatnya. vital dan psikis. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya. Misalnya. namun demikian. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda.J. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948).J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. Buytendijk.J.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. Ultrech. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961). yaitu masing-masing taraf fisik.

Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. Narnun demikian. demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976). Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya.itu. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama.

"the other is the hidden death of my possibilities". "Thus. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain.. Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. atau . melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia. yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan.”man cannot pass beyond human subjectivity”. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. .. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka.. Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . terpandang oleh orang lain. Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas.

dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. dan Eigenwelt. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse. Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. being-allowed-to-be dan having-to-be. Mitwelt. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. masing-masing being-able-to-be. pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya.

'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya.dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. yaitu kebersamaan yang secara sadar. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. mereka yang tergabung . Pada analisa akhirnya. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me". hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi.

Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". Demikianlah dalam modus 'Kami'. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu.dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. bahwa keberadaan sebagai . Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' . maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek.

Di antara para eksistensialis. dan bukan abstrak. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. konseptual. seperti: psikologi. Edmund Husserl. lokal. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. kristiani. sastra. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. dll). sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. dengan karya pokoknya. “Saya ada. universal. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. “Logical Investigations”. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. VIII. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. “Saya berpikir. muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. Oleh karena itu. dan sebagainya. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. lebih logis. seni lukis. . Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. drama. Sementara itu. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. maka saya berpikir. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. ateis.

fenomenologi. Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. . memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek.Ketiga aliran ini (eksistensialisme.

juneman@gmail. C.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 .W.P.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman.. S.

untuk adalah faber. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. Manusia sapiens. Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. Jepang. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. Prof.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. I. India. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Johan Huizinga. manusia yang bermain. dan Arab. Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. Tapi tentu ia harus . Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok.

Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis. Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. Bermain selalu terjadi secara spontan. b. entah secara riil atau secara imajiner. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. Misalnya. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. Dalam bahasa Indonesia. bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan. baik menurut waktu maupun menurut ruang. Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. Permainan termasuk suasana waktu luang. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. Antara awal dan akhir tersebut. Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". Permainan adalah "bebas". Anak-anak yang main. Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. Dengan bermain. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. c. Keterbatasan menurut waktu tampak. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. sebagai salah satu ciri khasnya. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius.

Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. dan sebagainya. Dua fungsi ini mudah digabungkan. permainan ditandai juga ketegangan. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. d. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. e. VIII). Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. layar putih. panggung sandiwara. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. II. Utamanya. karena adanya aturan-aturan itu. Dalam konteks ini. Menurut ajaran Tionghoa kuno. permainan terutama mempunyai dua fungsi. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. bioskop. Di samping itu. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. misalnya. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. Dalam konteks permainan. stadion. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Menurut Plato (Nomoi. manusia dijadikan sebagai . Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia.adalah sekelompok anak.

yaitu ludus. Dan memang benar. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. tapi juga di semua tempat lain. Menurut beberapa seginya. di Yunani kuno. Menurut pendapat itu. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. dalam masyarakat Yunani kuno. Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak.mainan para dewa dan dengan persembahan. Bahasa Inggris. perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. misalnya. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. III. Menurut Huizinga. bahasa Latin hanya memakai satu kata. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". 208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. nyanyian serta tarian. Di Yunani. dalam masyarakat Yunani. mempunyai play dan game. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. Jacob Burckhardt (1818-1897). Untuk dua kata itu. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- .

Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. Binatang pun bermain. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. Dengan cara demikian." IV. Dengan pengetahuan yang kita miliki. Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. Epos India Mahabharata. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. Dalam masyarakat- . misalnya. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. permainan lebih tua dari kebudayaan. Tidak dapat disangkal. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. Antropolog Prancis. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. Marcel Mauss. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. seperti perburuan umpamanya. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka.

keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. Dalam hal ini. Jadi. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok. artinya antara dua kelompok. Tarian dan nyanyian. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. tata susunan kehakiman. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. kesenian. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Untuk itu. keadaannya berubah. Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. Permainan seolah- . ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. ilmu pengetahuan. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. misalnya. Dengan perkembangan kebudayaan. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. seperti halnya dalam perlombaan.masyarakat arkais. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. dan kenegaraan. artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. Tapi tentu saja. Pada umumnya dapat dikatakan. Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. Dengan demikian. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius".

ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. Tapi sesudah itu. kebudayaan "dimainkan". Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. Dalam hal ini. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. kebudayaan menjadi semakin serius. Pada awal mula. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. Dan dalam bidang ini pun. Kultus keagamaan. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. Dipandang sepintas lalu. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. V. Dalam sejarah Eropa. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. Hukum berasal dari permainan sosial. nasib seseorang ditentukan. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. Permainan-permainan bola . terbentuk dalam konteks permainan sakral. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. misalnya. di mana dengan membuang dadu. yaitu olahraga. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. Tidak bisa diragukan lagi. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. umpamanya. perang pun berlangsung dalam suasana permainan. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis.

diminati kelompok kecil yang agak tertutup. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. Menurut Huizinga. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. seperti sepakbola. Karena semua alasan itu. di mana pelbagai-isme silih berganti. sama sekali tidak ada lagi. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan.yang besar. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. perkembangan rumit. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. Olahraga menjadi sangat serius. Di situ . walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. VI. di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. Di sini. Dalam seni rupa. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. dan permainan papan. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. Apalagi. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. misalnya. Puisi. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. Dilihat dari segi itu. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris.

Tetapi. dalam permainan. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. Dengan menyerah. kebebasan itu tidak mutlak. secara total. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". sebagai objektivitas. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. Maka. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. Tak demikianlah halnya dalam permainan. Kalau menang tidak dihitung. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. Sebaliknya. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. dia bebas-merdeka. karena pamrihnya. tidak terpecah-pecah. Misalnya. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. yang menyebabkan disharmoni. . Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. dari rasa yang mengganggu. Hasilnya adalah kebebasan.manusia menghendaki. Dengan kata lain. Itulah yang ”membahagiakan”. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. at least selama murni. manusia bebas. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. Bandingkan dengan situasi lain. Dia mengalami bahagia. artinya pembebasan dari pamrih. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. akibatnya dia merasa jengkel. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. melainkan karena tujuannya. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. Mereka hanya memerlukan permainan. merdeka. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. Di situ manusia menjadi subjektif. Dalam permainan yang murni. Akibatnya. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. secara integral. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dia harus membebaskan diri. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. Dia menjadi diri sendiri.

VII. Maka. dan alat yang lain. seperti berbagai macam permainan dengan bola. jiwa manusia menjadi bangkit. sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. Bersama dengan itu. kedua. dan dengan fantasi. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas.) Setelah melihat gejala permainan. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). kita harus melihat problemnya. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). Tetapi lepas dari zaman dahulu. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Jadi. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. orang juga bermain dengan senyuman. permainan adalah suatu human fenomen. dia menjadi kuasa. permainan tidak bisa dihindarkan. mata. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. dalam Ganefo. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. permainan sudah dikultivir. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. seperti misalnya dalam sandiwara). dengan kartu. manusia menjadi manusia. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. Dalam bermain. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan. Dengan menyerah. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. Jika terang bulan. dalam Asian Games. direndahkan. dan didevaluasikan. Seperti kekayaan yang lain. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam.dia direbut sendiri. Jika kita menengok sejarah. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. Pertama. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. dan lain sebagainya. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan.

maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan. Tanpa agon tidak ada permainan. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. Berdasarkan agon pulalah. membahagiakan karena penikmatan. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. mengalahkan perlawanan. Hal ini sangat tampak dalam permainan. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. itulah peranan eros. jika dalam permainan. kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. Di situ unsur agon sangat mencolok. tanpa lawan. di mana manusia berkelahi dengan banteng. Berdasarkan agon.. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. dan keperwiraan. dia melekatkan diri pada permainannya. Untuk menyelami tabiat permainan. jadi . Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. menyatukan bersama dengan . eros-pun tidak mungkin ada. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. Berdasarkan agon. Jadi. Nah. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. unsur ini ada. tetapi unsur yang luhur. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Eros (kata Yunani) artinya cinta. Agon artinya perjuangan. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. agon adalah unsur "peperangan". Jadi. yaitu agon.. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. unsur perjuangan dalam permainan. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Tanpa agon tidak ada permainan. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance).yang sewajarnya. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. orang mengejar nilai-nilai fiktif. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. apakah bola masuk gawang atau tidak. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. An sich tidak ada nilainya.

Barang siapa mempermainkan permainan. akan menjadi permainan permainan. bagaimanapun. suasana permainan telah hilang sama sekali. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). Padahal. Mainlah dengan agon. sampai titik yang sangat menggelisahkan. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. Bermainlah untuk bahagia. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. kesimpulan umum Huizinga adalah. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. Di bidang politik dalam negeri. Tapi. Jangan dijadikan kesungguhan. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. Tapi dalam politik internasional. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. Selanjutnya. untuk permainan. Maka. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan". tetapi permainan jangan dipersungguh. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Tapi dalam perang modem.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. Adanya eros adalah niscaya. tetapi selamanya dalam permainan. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. bahkan dengan hebat. umpamanya. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. Eros harus seimbang dengan permainan. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. dan tidak untuk nafsu. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. sehingga permainan yang dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Dan bangsa-bangsa . demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Penduduk sipil turut menjadi korban juga. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros.

"Seperti akan diakui setiap orang. . Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. Di sini. analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi.berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan".

.W. C.P.Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman. S.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail. 2008 .

artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. Di dalam bahasa Indonesia. psyke. yaitu fisis-kemis. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. atau daripada pohon dan hewan. dll. makhluk individu. dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. biotis. Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. 1992: 114). termasuk manusia lainnya. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. menurut hukum dan mekanisme sendiri). dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. human (Bakker. ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. ”berkorban”. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. jujur dan terbuka. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja.S O S I AL I TAS M A N U S I A I. Namun. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam.

yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. penuh dan lebih sempurna. Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. kebersamaannya dengan yang lain. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. Kedua. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. Pertama. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. religi atau budaya lainnya. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. individualitas-sosialitas. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. yang dapat berkembang ke arah yang baik. ikatan yang terjadi bersifat . Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. yaitu materialitas-spiritualitas. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. alami. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. transendensi-imanensi. 1989:55-56).salah satu aspek kehidupannya. Ketiga. yang prospektif. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya. etnis. “no man is an island” kata sebuah pepatah. makhluk sosial.

selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. Tidak ada ”aku” yang murni. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. Juga kegiatanku. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. tukang becak. misalnya dari dunia mahasiswa. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. atau barang benda. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. anggota keluarga. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. Bukan. maka saya juga (dapat) .“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. diplomat. guru. Keempat. menikmati. dan mengadakan hubungan. Aku diartikan oleh yang-lain. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. Namun. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. pedagang. mendengar. II. menyentuh. yang mengandaikan yang-lain itu. hewan. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. toh saya pikirkan menurut aspek. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. kegiatan konkret. pencuri. rohaniwan. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. penakut. pelayan. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. misalnya sebagai mahasiswa. misalnya melihat. sikap. tukang kayu. dan melibatkan yang-lain orang. misalnya dunia karyawan. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. Pada umumnya. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. orang baik. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. Jadi. Aku selalu di dalam situasi tertentu. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain.

maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. memberikan penghargaan dan fungsi. ”Wenn kein Dasein existiert.mengakui diri. rumah. Andaikata ”aku” tidak ada. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. mereka tidak saya kuasai. saya menjadi nol. saya tahu ketergantunganku itu. sudah mustahil. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. maka seluruh duniaku tidak ada juga. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. The world of persons). aku juga menerima ketertentuan. dunia tidak tampak. Satu kesan pun tidak ada. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. ist keine Welt da”. atau sebagai hukuman dan kutukan. negara. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. teman. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. maka orangtuaku tidak ada. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. maka saya ada. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. ”Aku” berada dengan mutlak. dibayangkan saja keadaan seperti itu. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. Heidegger mengatakan. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. dan janganlah . dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. sebagai pemberian dan karunia. mereka mendekati saya dari luar saya. Saya ada. Sebaliknya. Adanya dunia saya tentukan. Aku berusaha memahami beradaku. mereka tidak keluar dari diri saya. Tanpa itu. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). Hanya sejauh saya mengakui orangtua. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. tanpa manusia. dosen. III. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. Andaikata aku tidak ada. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Kalau tidak.

Misalnya ”aku” tidak ada. 1995: 5-6). Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. dan menerima itu dari saya. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. dan saling mengadakan. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. dengan saling memberikan arti dan nilai. IV. V. paling primitif. sudah mustahil. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). sejauh merupakan substansi yang berdikari. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. Tubuh manusia merupakan medium awal.membayangkan ”aku” tidak ada. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. (2) Yang Transenden (Sudiarja. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. yang tertutup pada diri sendiri. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. Tanpa tubuh. yang tetap ada pula. “Yang Transenden”. Kerangka ini . Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. walaupun aku tidak pernah ada. juga memuat arti dan nilai bagiku. Bertanya pun mengenai dunia itu. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. Fakta yang sungguh-sungguh ada. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia.

Emmanuel Levinas. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. individualisme. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. kolektivisme. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Perjumpaan. Karena “engkau” hadir. yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. kekhawatiran dan keputusannya. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. awal hubungan yang sejati. sosialisme. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. Gabriel Marcel menegaskan. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. totalitarisme. antara lain: Martin Buber. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. 2001: 32). membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. 1993: 36-37). selain alam manusia. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. yang mendasari. . kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. dan lain sebagainya. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. personalisme. Jean-Paul Sartre. liberalisme. Kedua hubungan itu timbal-balik. Gabriel Marcel. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. alam dari subjektivitas manusia. pertemuan merupakan permulaan. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme.

Hubungan ini bersifat asimetris. Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. Hidup bersama itu mempunyai dua ciri. 1993: 37). Jadi. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur. Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. yang digerakkan oleh cinta. Artinya. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. apabila manusia sampai pada cinta itu. pada doktrinnya tentang situasi etis. Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Dalam hal ini. hidup di dunia adalah hidup bersama. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Lévinas memberikan pandangan khas . Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. 1993: 36). hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. tanpa syarat dan bebas. Artinya.dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. dan (2) cinta. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. Lebih lanjut ia mengatakan. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda.

Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. suatu fenomen yang sama sekali unik. pertarungan yang terus-menerus. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. Namun. 1985: 322). Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. bagi Sartre dasar. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. tampaklah suatu Transendental. Pada orang lain. yaitu Tuhan. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). permusuhan. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. Pendekatan . karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. Jean-Paul Sartre (1905-1980). Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. sebagai suatu totalitas. Dalam semua kebersamaan. 1956: 222). Dengan kata lain. yang merupakan dua pangkal. mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). Artinya. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. hakikat bersama. Singkatnya.

untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. 1993: 8). kesediaan membela kehormatan masyarakat. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. melainkan juga “kooperans”. Sebagai konsekuensinya. Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Dengan kata lain. Bakker. . melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. saling memajukan dan saling memperkembangkan . Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. seperti rasa memiliki kelompok. Dalam korelasi itu. Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. Konkritnya. yang saling mempengaruhi dari luar. dan atau keluarga. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. 1988: 307-308. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). terutama dengan manusia lain.

Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. Semuanya ini menjadikannya khas.VI. negara dan berbagai bentuk kerjasama). Seperti persona tidak ada di samping badan. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi. . Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. potensialitas dan keterbatasan. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. Pertama. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. Istilah transendental tidak berarti. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. akan tetapi juga “trancendent”. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. Ketiga. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. solidaritas dan subsidiaritas. pranata-pranata sosial. terpisah. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. akan tetapi mem-badan. Kedua. organisasi sosial (masyarakat. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain.

yaitu Tuhan.Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. . Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. pemanusiaannya menjadi proses yang penting. Baginya. yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. yang saling membenci. kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna.

P.W.Psi. S.. C.Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 .

Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. Francis Bacon. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. Dalam modul ini. Sepanjang diketahui. umpamanya. artinya “menyelidiki. Filsuf Inggris. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. I. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). dan historia. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. Demikian pada Plato. History berasal dari bahasa Yunani historein.H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. Dan memang demikian. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini.

l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. dan sebagainya. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. tapi ia juga mengadakan sejarah. Ia bukan saja produk peredaran waktu. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. Perlu diperhatikan. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. Atau dengan kata lain lagi. di samping “sastra”. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. melainkan juga subyeknya. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. Manusia bukan saja obyek sejarah. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. Dalam peribahasa Prancis. “teknologi”. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. Ilmu sejarah hanya mungkin. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah.historisitas. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”.

Karena. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. pada waktu tertentu matahari terbit. bukan bermaksud menolak teori evolusi. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. besok dan lusa dan selama-lamanya. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . Manusia ditandai historisitas. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. Tidak dapat disangkal. Disangka. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. waktu sekarang. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. Kendati demikian.baru. hanya ada perkembangan. kesimpulan ini tidak benar. Malah dapat dikatakan. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. Tentu saja. dan waktu depan. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. pada musim tertentu burung-burung bersarang. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. Tentu saja. Jadi.

Menurut pendapat Mazhab Stoa. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. b. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. telah terjadi. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). Misalnya. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. salah satu tujuan drama targedi. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya.a. Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. umpamanya. Untuk Oidipus. Namun demikian. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. umpamanya. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). ya. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. namun historisitas belum tampil ke muka. Di bidang filsafat. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. Itu semua tentu benar. Apa yang telah terjadi. manusia adalah bijaksana. yang banyak digemari orang Yunani. Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak.

maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. kelaparan. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. Suatu bidang lain lagi adalah hukum. Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam.ciri yang berasal dari paham pertama. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. Karena tidak berdaya. Maksudnya. Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Tentu saja. Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. c. wabah. dan sebagainya. Proses itu tampak pada segala bidang. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Perlu tempo cukup lama. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Suatu bidang lain adalah filasafat.

misalnya penyakit. Comte. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. dan Marx. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. d. harus menjadi praktis. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Manusia adalah pelaku sejarah. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. yang penting ialah mengubah dunia”. Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. kata Marx. Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. Manusia dapat memainkan peranan aktif. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Dan tidak kebetulan pula. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel.menandai pandangan dunia.

000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. Seorang sarjana Inggris.000. menarik kesimpulan begitu ekstrem. Memang tidak dapat disangkal. Mari kita memandang beberapa detail: a. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia. Tentu saja. Isaac Newton (1642-1727).000 tahun.000. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. Ahli fisika termasyhur. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. Pasti mesti ada sebabnya. bila dibandingkan dengan periode-periode lain. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi. Ia sampai pada 50.000 or 10. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi.000. Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. II. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin.dijungkirbalikkan. Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. yaitu pengalaman manusia tentang waktu. 6. ahli astronomi yang ternama.000 years at the outside”.

Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. “Laporan . Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi.000 tahun. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis.860. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah.000 tahun sebelum tarikh kita. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. yaitu dengan teknologi itu sendiri. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. Contoh lain adalah masalah kependudukan. b. Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri.000 tahun lalu. Lagi pula. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.miliar tahun lagi. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan.

Karena namanya “implikasi”. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. Tentu saja.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Comte: “savoir c’est prévoir”. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. temporalitas. kata Pascal. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. a. kita lihat tadi. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. dan intersubyektivitas. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. kebebasan. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. III. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. Memang benar yang sudah dikatakan A. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. Dan tidak dapat disangkal. Dan mungkin baru . Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. Hal itu tentu selalu diketahui. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. Dengan kata lain. Tapi dalam sintesis filosofisnya.

Ia sendiri tidak merupakan sumber . Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. walau bakat itu diberikan kepadanya. Karena. Seniman “menciptakan” karya seninya. Tentu saja. dalam materi yang kasar. Sebuah batu adalah batu belaka. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. tidak lebih dan tidak kurang. seperti binatang (dan… malaikat). Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. Pada manusia. tapi juga tugas. sebagaimana batu adalah berat. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. umpamanya. jika manusia tidak bebas. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin. Pendeknya. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. Sebaliknya. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. Manusia adalah pencipta. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. Hal itu perlu diakui kepada materialisme.zaman kita sekarang mulai berhasil. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. sebagai roh yang menjelma dalam materi. Seorang manusia bukanlah seniman. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. Bila Picasso adalah seorang seniman. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. b. Namun benar juga. lisan atau tulisan.

Hanya saat sekarang itu dianggap riil. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. binatang yang sakit. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). Atau dirumuskan dengan cara lain. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. kata Merleau-Ponty. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. tapi segera hilang pula. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. adalah un mouvement de transcendance. Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu.mutlak dari bakat itu. Sedangkan manusia. kata Hegel. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). seperti misalnya pada Sartre. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. jatuh ke dalam ketiadaan dan . Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. Kalau begitu. c. Namun demikian. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. benar dan matematis. adalah ein krankes Tier. Maksudnya. Manusia. manusia betul-betul kreatif. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa.

karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. Karena. arloji atau kalender. Jadi. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. mendatang. sebagaimana diandaikan oleh Newton. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. d. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. Itu bukan waktu yang “benar”. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. takuti atau nantikan. Bila saya seorang dewasa. bukan saja sejauh saya mengingatnya. bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. Dengan kata lain. Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. dengan salah satu cara hadir juga. meski dalam bentuk “yang akan datang”. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. Dirumuskan sedikit karikatural. sekarang) “kehadiran”. membatasi. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. waktu antropologis. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. maka masa muda masih hadir bagi saya. Bila saya seorang muda. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang.diganti dengan saat lain. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali.

Perlu diakui. ia hanya mempunyai sejarah”. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. . Manusia adalah makhluk historis. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. karena selalu ia meneruskan. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. seandainya setiap generasi (apalagi. IV. etika. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. J. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. “Manusia tidak mempunyai kodrat. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. Manusia adalah makhluk historis. dan agama. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. Historisitas menjadi mustahil. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Misalnya. Misalnya. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian.

Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. . itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. Itulah kebenaran historisisme. Artinya. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu. Demikian halnya juga di sini. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah.

S. 2008 . Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.P.Psi.W. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. juneman@gmail..

maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. dan menjadi sekadar data. padahal kita belum mengalaminya. Jaspers. Sartre. ia menjadi faktualitas. Pendek kata. Dalam setiap ranah pemikiran. dalam hal ini. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. Kita. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. sementara kita belum . pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. 2. membicarakan kematian secara a priori. Bagaimana kita bicara ihwal kematian. Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. Karena pengaruh teknologi media mutakhir. paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1.K E M AT I A N M A N U S I A I. dan lain-lain). tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). kematian menjadi fakta.

mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. . Pertanyaan selanjutnya. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. ‘filsafat hayat’. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. Filsafat eksistensial. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. tetapi perlu melibatkan pengalaman. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. Karena itu. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi. seperti diketahui. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. Namun. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b.

jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. dengan alasan . Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. atau suatu fase dari substansi ilahi. Bahkan. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. seluruh manusia itu melulu materi. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya. menurut proses alamiah. yaitu lahirnya substansi otonom baru. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. (2) Dualisme. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. suatu bagian. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Kemudian. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua. Badan itu hanya epifenomena saja. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. Menurut materialisme. maupun bagi anak yang mereka lahirkan. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. II. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia. jiwa itu dipersatukan dengan badan. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia.

Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. mulai abad-abad pertengahan. dan hominisasi. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. atau diberi-alih dari substansi mereka. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. Dengan demikian. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . Jiwa itu subsisten. Dari segi ontologis. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. pada saat persiapan itu sudah cukup. kreasionisme. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Menurut tradusianisme spiritual.berwarna-warna (Kant. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. juga menentukan permulaan proses itu. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. Struktur hakiki. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. yang meliputi tradusianisme. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. Schelling). (3) Usaha sintesis. Menurut Thomas. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. badan dan jiwa. dan transenden terhadap materi. atau memberi-alih. Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. Hominisasi. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. Dengan demikian. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. Menurut tradusianisme materiil. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya.

Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. bersifat fana. tidak melampaui dunia material. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. dan akhirnya busuk dan mati. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. III. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Bunga menjadi pudar. destrukturisasi. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. melainkan sebaliknya. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. justru bukan . Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. Jadi. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. Maka. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. di dalam penyebaban manusia yang langsung. Bukan permulaan itu yang paling penting.kepada anaknya pula. Dia tidak masuk dunia abstraksi. Semua ”ada” material.

jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. seluruh dunia kebudayaan dan agama. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. sebagai berikut. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi. yaitu dunia manusiawi. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. Ernst Bloch. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. dengan abstraksi. Namun dibedakan dari badan. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. Paham materialis mencoba menghancurkannya. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi).” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . Tanpa keluar dari dunia material. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. Karena spiritualitasnya. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam. degradasi. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain.karena kehewanannya. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. Misalnya. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. dan lain-lain. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. Sampai di sini. ilmu-ilmu. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. tanpa keluasan dan kuantitas. seperti halnya dengan semua benda material. kematian.

” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. sebuah lengan. apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya). ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. ingatan yang rusak itu. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. N. Menurutnya. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan. ”menghadiri pemakamannya sendiri. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. Dalam beberapa riset yang lain. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu. Pun pula dalam amnesia total. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. kesadaran yang kosong itu. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya.D.” IV. Sesungguhnya. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri. self keakuannya.definitif dari semua.” Pengarang Inggris H. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. suatu kutub oposisi yang mutlak. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya. aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual. artinya apa yang esensial dalam kepribadian. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . apakah seseorang bisa berada di luar badannya. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat. ia tahu bahwa ia adalah ia. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian.H. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis.

”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. maka tidak mesti mengandung kekekalan. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. hormat dan kemakmuran. sedangkan begitu banyak orang jahat. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. argumen ini tidak berlaku. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. kesuksesan. Jadi dari dirinya sendiri. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. tak jujur. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. Tentu saja. tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. bahkan yang paling kuno. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. terkadang menikmati kesehatan. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Dalam inti hati manusia. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. bahkan bersifat absurd. manusia tidak bisa keliru secara universal. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini.

yakni pribadi manusia.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. terutama aspek cintakasih sejati. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. Akan tetapi. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. dan yang paling berat di antara semua yang ada. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. Prof. J. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal).J. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. Nah. Akan tetapi. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari.van de Casteele setuju dengan beliau. yang paling luhur dari semua daya evolusi. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. Ada sesuatu yang harus hidup terus. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. kebajikan. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. teratur. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. salah satu kesulitan ini. argumen moral ini berbobot sekali. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. keakuan pribadi. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. astronomi. Tugas ini amat berat bagi manusia. Sebagai akibatnya. sebagai targetnya.

juga merupakan bagian dari pengalaman kita.harus membuktikannya. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran.” Sebenarnya. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. . bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. Hasrat untuk tetap hidup. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. bagi makhluk manusia itu. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. ia betul. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik.

Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. tanpa kekekalan pribadi. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. Karena. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. seolah-olah kita merasa kekal. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. . Jadi. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. Secara formal. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. Tuhan bukan Tuhan lagi. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali.Evaluasi terhadap argumen di atas. Dalam diri kita. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. dan bukan kepada orang lain. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. sebaliknya. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. kebahagiaan menjadi tak mungkin. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. Pendeknya. kalau tidak. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). Jika tidak.

Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. Van de Casteele. Ladislas Boros). Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini. Karena itu. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. Gabriel Marcel menulis. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. ”the here and now” quantified body. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. Karl Rahner. bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan.” V. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. Dalam perspektif ini. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . dalam kesatuan ”kita”. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. Kalau begini. Sebaliknya. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih.

organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. pada saat kematian biologis. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. Tetapi pada saat yang sama. Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Rahner berkata. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. Meninggalkan dunia ini. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. suatu kehadiran pan-kosmis. warna-warna. Pada saat kelahiran.kita. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. dan cinta manusiawi. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. Dalam waktu yang sama. persaudaraan. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. akrab dan enak. satu-satunya yang kita hayati. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. bahwa pada saat kematian. Bagi orang dewasa. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. Namun. VI. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. Manusia .” Jadi. makna-makna.

. semua saksi yang kita bicarakan. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. akan dipenuhi. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. pribadi maupun sosial. kebahagiaan. melainkan sebuah drama.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. atau suatu konflik tanpa jalan keluar.” Namun seluruh analisis kita. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita. Kematian bukan suatu tragedi.

dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman.W. S. juneman@gmail..P. Penindasan. Perjuangan. Identitas.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.Psi. 2008 .

peran gender. stereotyping. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). hak-hak perempuan. Dalam “the Laugh of the Medusa”. identitas gender dan seksualitas. Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. dan phalogosentrisme. memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. the Second Sex. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. penindasan perempuan. hak berpolitik. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. hak reproduksi. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. dia menolak esensialisme yang sedang marak di . Derrida. the Subjection of Women (1869). seksisme.

Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. Karena perempuan kulit . Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. agama. Dalam berbagai penelitian tersebut. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Dalam berbagai diskursus. rasisme. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. meskipun tidak semua. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. Secara lebih spesifik. bagi perempuan kulit hitam. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. Asia dan Amerika Selatan. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. Dalam wacana ini. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Dengan asumsi ini. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. adalah kemewahan. meliputi Afrika. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Selama sebelum PD II. seksisme. banyak feminis-individualis-putih-barat.Amerika pada waktu itu. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). dan relasi sosial.

Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain. bekerja keras. para perempuan. bisu. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Dalam ranah antropologi. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. dan menerima begitu saja. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. dan lain-lain yang non-domestik. Sedang untuk persoalan kulit hitam. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Perempuan dunia ketiga. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. diam. Hampir seluruh kasus penelitian . banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Dalam konsep objektifikasi ini. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. Dalam banyak kasus. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. di sini. Dalam persoalan pertama.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. Lagi-lagi. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. sekali lagi. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi.

konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. II. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. dia terkurung dalam sikap pasif dan . Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. perempuan tidak berani bereksplorasi. Sebab. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi.reproduksi. Tubuh. Dalam penelitian psikologi. Penindasan. Perjuangan. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri. melakukan revolusi. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. Identitas. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. mencipta. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki.

Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. Dengan cara demikian. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. konstruktif. bahkan tidak 'dianggap'. Dengan etika ambiguitas. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. masyarakat." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. Dalam situasi yang demikian ini. sudah tetap. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Baginya. sekolah. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan.tidak berdaya. dan pasti. bahkan mungkin juga negara. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. melalui fungsi tersebut pula. dan aktual. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. Menurut Beauvoir. Melalui fungsi tersebut. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. dalam hal ini rahim. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. . Namun. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'.

Permasalahannya. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). Oleh karena itu. Menurut de Beauvoir. Sebenarnya. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. yaitu mengabdi kepada orang lain. Padahal. yang dicapai melalui revolusi sosial. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. dan politik. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. budaya. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. Identitas perempuan tidak dianggap penting. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. Melalui sikap diam dan pasrah. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. diskriminasi jender terus lestari. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. Di level praktik. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Kehadiran perempuan sebagai manusia. digerus begitu saja. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. Tak heran. yakni level pemikiran dan praktik.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. Pada tataran pemikiran. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi.

pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Perempuan dalam episteme agama Katolik. bentuk purdah. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. bukan cabul. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis. jilbab panjang. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. Untuk para feminis.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. jubah hitam panjang. Feminis yang lain. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik. menuju keotentikan dan pembebasan. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. misalnya. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". Dalam hubungannya dengan pornografi. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. Maria Marcus. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia. Arab. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". menggolongkan pornografi . meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India.

Dengan demikian. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. Di sisi lain. Menurut Marcus. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. yang tersohor dengan liberalismenya. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. penulis skenario. Tanpa kedua hal itu. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dengan adjektif itu. Bagi Kappeler. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. yaitu para produsen. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. Di dalam masyarakat patriarkhi. Pun di Barat. dan pembaca/penonton pornografi. gemulai. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. cantik. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. Tubuh Perempuan yang seksi. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. seks dengan kekerasan. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. konsumen. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang.

Tubuh perempuan seolah sumber keresahan.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. dan nonlinear. Sekali lagi. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. sopan. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. Jika UU itu ingin akomodatif. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. Namun. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. pusar. Perempuan hanya sebagai subordinat. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks. beragam. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. Dengan kategori relativitas adjektif. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Penyebutan paha. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. baik. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. . Apa yang disebut santun. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. Perempuan seolah sebagai gangguan. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik.

colored-man-burden. feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. Center dan beradab. dan terakhir white-female-burden.C. bell hooks. Kwame Nkrumah. seperti Gayatri Spivak. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. Dalam era kolonialisasi. Albert Memi. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. Frantz Fanon. dll. Trinh T Minh-ha. dan Homi Bhabha. Pada kasus Jawa. Pada awal abad 17.III. AijazAhmad. tidak beradab. Young. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Barat sebagai yang occidental. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. Timur sebagai yang oriental. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin. Chandra Talpade Mohanty. Melawan whiteman-burden. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. Kreol India dan Eropa. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. Cina. perempuan. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. traditional. maskulin. Dan secara kuliner. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. yang Lain (baca: Other). Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. eksotik. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Subaltern. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. Ranajit Guha. Uma Narayan. JanMuhammad. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Sejak tahun 1920. Anne McClintock. dll. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Bali . rational. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978. Robert J. irrational. Said menulis Orientalism. Achille Mbembe. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft.

buruh murah. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. status sosial rendah. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. penderitaan perempuan adalah sama. Penemuan terhadap esensi. universal sisterhood menjadi problematis. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. kelas. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. Kehadiran esensi adalah . ras. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. budaya. relasi sosial. terkadang. agama. khususnya pantai Pattaya.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. daerah bencana dan daerah konflik. diskriminasi. Di Indonesia. Dengan perbedaan geografis. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. penindasan terhadap perempuan adalah sama. dan relasi sosial tersebut. budaya. lemahnya penegakan hukum. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. seks komersial. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. Negara dan bangsa. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. diperkirakan 100. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. ras. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi.

terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Jogjakarta. dalam konteks sekarang. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. IV. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Surabaya. Sebenarnya. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. Bandung.kelahiran kesadaran. Dalam banyak kasus. Semarang. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. . universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. la parole / Jakarta. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. Dengan asumsi ini. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. dengan sebutan globalisasi. telah dirampas dengan daya global. Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia.

baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). Dalam politik identitas. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). Sejarah tubuh. Dalam berbagai tayangan media. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. Dan sejarah sastra budaya. ibu yang baik. merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. perlu dilakukan penelanjangan esensi. terutama Jakarta. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. Sejarah etnis. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. submisif/tunduk. Tidak dipungkiri.Dalam konteks media. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme. Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. Sejarah ras. Motto para penjajah . anak perempuan yang kelas kedua. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. Dalam berbagai sektor. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. Pada titik ini. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). jelas terlihat. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. kelas kedua. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. tapi secara mutilatif. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah.

semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. Dalam politik dekonstruksi. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. identitas. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Menjadi titik dan selesai. sejarah dan agensi. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Dengan konstruksi. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Tanggung jawab terhadap Subyek. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. V. Seperti yang terjadi sekarang. maka mereka akan mudah dijajah. uraian di atas lebih lanjut. ras.

dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. sulit menerima metodologi ini. Meski banyak kaum positivis. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. . Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. terutama laki-laki.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. Intinya. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan.

S.Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman.P. juneman@gmail. C. 2008 .W..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi.

dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. dan tidak kritis. Tetapi. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. dipertanyakan. Dari khasanah Islam. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. mempertanyakan. misalnya. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Di Abad Pertengahan misalnya. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. Agama mengajarkan kepatuhan. filsafat adalah hamba bagi iman. Bertrand Russell . Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Dalam pemikiran Eropa. Selalu ada yang mesti dikorbankan. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. tidak sistematis. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. keduanya memiliki perbedaan mendasar. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat.F I L S A F AT T I M U R I. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran.

1996). Buddha. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. contohnya. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. contohnya. Jadi. dan Aristoteles. Di pihak lain. dengan keutamaan pada praktiknya. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Dalam pandangan lain. Di sisi lain.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. Exposed to attack from both sides.the no-man’s land between science and theology. Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. Plato. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. Plato. . . maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. jika pemikiran Timur dianggap agama. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. Hidup. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. dan Islam. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. Pemikiran etis dari Confucius. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. . pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu. Sejak Socrates. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya.

it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. The Teaching of Wisdom. yaitu India. bagi Jaspers. seorang pemikir psikologi besar. Sebagai tambahan bagi Jaspers. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. Socrates. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. Namun. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. Plato.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. and their first and greatest ethical philosopher. . Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. dan Israel. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Confucius disejajarkan dengan Socrates. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. Confucius. Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. but though he remained an “amateur” or informal teacher. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. dan Jesus. Yunani Kuno. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates.” Oleh Beck. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. dapat kita temukan nama Muhammad saw. Cina. peradaban. Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. Jung when he wrote. dan Aristoteles. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama.

masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. Sebagai produk. yang memiliki sifat rasional. dan tampaknya akan terus berlanjut. Pengertian kritis di sini. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. Dengan demikian. sistematis. dialektis. sesuatu yang telah selesai. radikal. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. Sebuah upaya adalah sebuah proses. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. Dalam khasanah filsafat Barat. tak ada ujung. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. ibarat resep masakan. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). sistematis. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. (Disarikan dari . dan kritis. hingga menjadi makanan yang siap santap. filsafat terkesan sebagai barang jadi. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. tak ada kata putus. atau ditangguhkan vonisnya. ditolak. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. bukan produk. Sedang sebagai proses. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. radikal. Secara lebih spesifik lagi.

serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. 1990). sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. Dalam pemikiran Barat konvensional. Mayer & Goodchild 1990. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). Pembatasan kaum empiris. Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. para filsuf dari empirisme. positivistik. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Sebagai contoh. Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. runut. positivistik. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. dan filsafat analitik. Dengan kata lain.Moore & Parker. Feldman & Schwartzberg. positivisme. Dengan pengertian kritis. Jika kenyataan saat ini tidak hujan. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. radikal. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. dan bertahap. . maka pernyataan itu salah. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. pengertian sistematis. 1986. Dengan begitu.

baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. Dalam agama. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Dalam filsafat. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Berbeda dengan filsafat.

Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. II. tentang yang baik dan yang buruk. dan aksiologi. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat. Quinne. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. kemudian mengamalkannya. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. berusaha memahaminya. bagaimana cara mendapatkannya.Tuhan tentang rahasia semesta. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. epistemologi. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. Mereka lebih sering menafsirkan. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. tentang yang benar dan yang salah. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Kalau kita bicara tentang sistematika. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. Cukup percaya saja. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. filsafat Barat mutakhir. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. itu sudah sangat memadai bagi mitos. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . Berbeda dengan filsafat Barat. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan.

Pengertian kebenaran atau . dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. Pendeknya. orators. apalagi dalam ilmu dan filsafat. dan bahkan beberapa lebih mendalam. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. we cannot give them the name of ‘wise’. However. Lao Tze. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. are to be called not merely poets. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. when they are put to the test by spoken arguments. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. or legislators.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. but are worthy of a higher name. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. since only God is worthy to be called wise. befitting the serious pursuit of their life. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum.

” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. kemudian mengkajinya secara rasional. Beck menyimpulkan: . Perasaan. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. 8. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. gairah. Kedua. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius.kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Intuisi. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. Kata wisdom. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. We have described awareness as the consciousness of life. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. Namun. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran.

Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. para filsuf Hindu dan Islam. Untuk mencapai kebijaksanaan. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. Confucius. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan.” Dalam pandangan Beck. Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. Sidharta Gautama. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. bukan hanya rasio. sistematis.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. tidak akan mencapai kebijaksanaan. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi.

Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. dan ada solusi bagi masalah itu. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal.modifikasi. ada masalah yang jelas. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Dalam pemikiran Cina misalnya. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. The Teaching of Wisdom. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Pada praktiknya. diskusi. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . epistemologi. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. adu argumentasi. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. dan aksiologi. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya.

dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. Budhisme. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. seperti Hinduisme. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. pemikiran Timur. yaitu orang Yahudi. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. saya harus menunjuk ke India.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. lebih universal. . Tetapi di akhir abad ke-20. III. Budhisme Chan. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. lebih menyeluruh. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. dari sumber tulisan manakah. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. Daoisme. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal.

.... “Di seluruh dunia. Arthur Schopenhauer misalnya.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah.” Syair karangan T.. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. damai. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa. Tapi coba cermati India.. damai. dia menulis sebagai berikut.” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India. pada abad ini. shantih. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku.. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. akan menaklukkan para penakluknya. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku.S. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi... Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut... Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi.. Dengan . salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini. sekali lagi saya harus menunjuk ke India. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. Dengan berkiblat kepada Barat. mungkin India yang telah ditaklukkan. Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya. “Shantih.. yang berarti Damai. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah. shantih. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian...” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952... tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat. Elliot yang berjudul The Waste Land.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja. namun dalam abad ke-21.

Makanya. dan akhirnya sama sekali lenyap. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Makanya. Aristoteles. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. dari Yoga. Sebab. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. Padahal jika diruntut ke belakang. Kendati bukan pelopor. Di samping itu.kata lain. kematian metafisika. Misalnya. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. lahir karena kebetulan. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. kematian cita humanisme universal. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). Pada titik-titik tertentu. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. Lucunya lagi. Semedi. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. kematian kebenaran universal. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. Hasilnya. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. kita hanya mendapatkan .

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

Jika kita mengingat psikoanalisis. 5. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. 4. 4.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. Modul II: Bahasa 1. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. meskipun samasama menunjuk kepada manusia. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. yang juga menyelidiki manusia. ringkaskanlah sifat dialektiknya. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. Lalu. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. yang dilihat bukan badannya saja." Apakah implikasinya? 6. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara. seperti misalnya psikologi. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah. Modul III: Kehidupan 1. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. 2.

Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3.3. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. 6. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. bagi manusia merupakan penderitaan. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. Perpanjangan suatu situasi. Modul IV: Pengetahuan 1. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. 4. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. 3. terutama jika akhirnya tidak tampak. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. 4. 2. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? .

Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2. 5. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. 6. apakah mereka saling mengandaikan? 4. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . 5. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. Dalam hal ini. Untuk mencapai afektivitas. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. 3. Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. apa sajakah itu? 5. Sebutkanlah dan jelaskanlah. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. 3. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty.4.

Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. menurut Louis Leahy. Jelaskanlah mengapa. Mengapa. menurut Kierkegaard. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Mengapa. 8. Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. 4. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. 6. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). 2. 7. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. menurut Jean-Paul Sartre. Menurut penyelidikan Anda. 3. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev.6. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. seperti psikologi. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. . Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan.

Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. Permainan Jelaskanlah. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. 2. Verifikasikanlah pernyataan ini. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. 5.10. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain". Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Berikanlah contoh-contoh. Kalau "aku" tidak ada. 3. Modul X: Sosialitas Manusia 1. Apakah yang dibebaskan? 3. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). 2. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. akan menjadi permainan permainan. Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. lalu toh tetap ada dunia. "Barang siapa mempermainkan permainan." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel. 5. 4.

Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Dalam konteks tersebut (no. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil.2. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. 4. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. namun di lain pihak. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. 5. Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. 3. Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. Menurut Anda. Sebagai daya kebebasan. jika manusia tidak bebas? 4. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". 5). bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda.

5. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Dalam politik identitas. Di manakah batasnya? Selanjutnya. Homo Economicus. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4.dalam budaya patriarkat. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . 5. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. gairah. Ahli psikologi..) lagi.... Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1. Homo Homini Lupus. Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. . Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. 3. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. perlu dilakukan penelanjangan esensi.. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan. Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. Carl Gustav Jung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful