F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

......................196 III............200 VI.........................................................................................285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman............................ Aku Mengadakan Yang-Lain...........................................................198 V..................................... Permainan dan Kebudayaan....249 Filsafat Feminisme...............................................................220 I....................207 Sosialitas Manusia.......................................263 M.. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"....................266 I................. Permainan dan Perlombaan................................... Korelasi......................................232 Modul XII............................................................. Arti Modern Istilah "Historisitas" .................................. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia...... Jiwa Manusia Bersifat Kekal)............................................................................... Ikhtisar. Penindasan.............208 II..212 V...................................II..... Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?..208 I.............. Fungsi Permainan..................................................................226 III........ Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas..................235 I...................................... dan Pembebasan Tubuh Perempuan.....................................................253 III...................246 VI..................197 IV.........259 IV.............................................................................................277 Lampiran I: Soal-soal............234 Kematian Manusia...................239 IV....................217 Modul XI............. Permainan dan Pembebasan.........203 Modul X........................... Perjuangan.........250 I..................... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana... Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?... S....................................................201 VII........... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?.......... Ikhtisar..................... Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ............................ Permasalahan & Pandangan-pandangan........237 III....................................... Ikhtisar.................... Kritik atas Kebudayaan Modern...........................Psi.........265 Modul IX...................... "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II..................................................................................................................... Ikhtisar ......................... Pemikiran Timur sebagai Filsafat.......................................247 Modul XIII............................................................................................................ Ikhtisar...........................................................................................................228 IV.......................................................................................................... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati.......................................................................................................................................................................235 II.......................................... Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek..... Tubuh............219 Historisitas Manusia.................................................................................................. 6 ..............261 V..............266 II.... Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain"...212 VI............................... Aku Diadakan oleh Yang-Lain.................... Identitas.....................................................250 II........................211 IV.................. Lahirnya Manusia.........241 V........................................272 III...........210 III...265 Filsafat Timur...............................................

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. misalnya pada taraf biokimia. Namun. dan berarti ”yang dipikirkan”. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. semua kegiatan. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin.Psi. rasa takut. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. Dengan demikian. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. bekerja. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. V. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. yang berarti ”menampak”. cinta kasih. 16 . noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. semua pengertian. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. Dengan jalan ini. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. malu. Bukan berupa sifat atau gejala saja. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. Dengan demikian. biologis saja. S. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. b. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu. seperti misalnya berjalan. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin.

Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. dan sebagainya. Nama ini menimbulkan keberatan. 17 . karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. Memang. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. turunan. sebagai ”aku”. Jadi. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. misalnya menurut aspek budaya. VI. yaitu keunikan dan kesendiriannya. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. dengan segala sudutnya. Akan tetapi. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. atau ”psikologi metafisis”. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. VII. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. S. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok.

Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. alam semesta. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. dan sebagainya. tentang makna kebebasan dan mencintai. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. Alasannya adalah karena. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. sosiologi. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. dan sebagainya. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. kemampuannya dan cita-citanya. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. S. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menganal hakekat sifat dirinya. seperti biologi. psikologi. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. etnologi. antropologi. yang sampai batas-batas tertentu. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. Misalnya.Psi. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. tentang dunia.di muka kita. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. terutama pada masa kini. 18 . sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. manusia dan Tuhan. waktu. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia.

tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. misalnya. Plato. yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. digambar. S. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu. strukturnya yang fundamental. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. alasan adanya (principe d’etre). melainkan struktur metafisiknya. dibayangkan. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. yaitu badan dan jiwa. mengambil manusia sebagai obyek material. diukur. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. 19 . Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. alam kodratnya. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”. Filsafat manusia.Psi. Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan.

dan metode metafisik. fenomenologis. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. S. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. metode filsafat adalah bersifat refleksif.Psi. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. induktif. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. eidetik. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. 20 . Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam.binasa. atau juga. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra. abstraktif. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika.

Psi. S. juneman@gmail..B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman.Psi.P. 21 . C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S.W.

. atau di mal-mal. di bengkel. rantai penandaan terputus. perancang iklan. Apabila di dalam praktik bahasa. Para hakim. psikoanalis Lacan. Pertama. dan sebagainya). Berdebat di ruang pengadilan. penyiar radio-televisi. penulis. membeli tahu-tempe di pasar. cara tetapi struktural ini. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis.BAHASA I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. berbicara adalah suatu gejala yang terang. di toko. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. Nampaknya. kelupaan akan nama. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. belajar di bangku kuliah. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. dosen. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. di kantor. dengan bahasa. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. dsb. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. yang Jacques menurut tertentu. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika.Psi. S. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. jaksa. keseleo lidah. wartawan. pengacara.

the power of words. sejak dahulu. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. Di dalam bahasa. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. kata ataupun susunan. inti sesuatu hal. Wittgenstein awal.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. susunan alam raya). dan representasi. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan Carnap. pernyataan. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti.Psi. terdapat tahapan evolusi yang luas. Bahasa. Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. mendengarkan. Husserl. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. seseorang dapat menggerakkan dunia. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. Kedua. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). Bahkan. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. 1988). Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. pada periode Frege. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. Maka itu. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. Kedua. 1996): Pertama. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. 23 . bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. S. Inilah kekuatan bahasa. karenanya menyesuaikan diri. cerita. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. menurut Gadamer. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. misalnya dalam bentuk penilaian. aspek-aspek dunia terungkap. kekuatan kata-kata.” (Langer).” kata Joseph Conrad (Brussell. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa.

Substansi adalah kata atau ungkapannya. maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. Tergambar jelas dari uraian ini. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. hermeneutika. Grice. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. yaitu manusia secara konkret. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. S. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. dan roh. Secara berturut-turut. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. asap menandai adanya api. pancaindera. yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. contohnya. Bagi Wittgenstein-tua. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). yaitu segi ekspresi dan segi isi.R. retorika. Searle).Psi. menurut van Zoest (1993). bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 24 . dan post-strukturalisme. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. II. Selain itu. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. Ketiga. misalnya. J. Di dalam Speech Acts. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. strukturalisme. dalam perbuatan berbicara. seluruh pribadi manusia itu. maka suatu kata memperoleh arti dan makna.an. dan the act of affecting something. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). dan poetika. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. the act of doing something. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani. Ketiga. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. tersangkut badan dan jiwa.

kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). Dalam penelitian sastra. Perhatikan rumusan berikut: S (s. maka huruf. dan c untuk context atau conditions. c). Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. ia memperoleh sebutan baru. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. 25 . sebagai ”hewan sosial”. manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. S adalah untuk semiotic relation. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. S. Maka itu. Keselamatan kita. sehingga bagi Cassirer. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. jika disandingkan. e untuk effect. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. Perpustakaan. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. animal simbolicum. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. merupakan khazanah pengetahuan insani. misalnya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. kata. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus. r untuk reference. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. r. i. i untuk interpreter. kalimat. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. e.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa.

dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. (2) pikiran adalah bahasa. Agar bisa bernalar. Max Müler lebih jauh lagi. Masing-masing merupakan produk biologis. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. No Language without Reason. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan. J. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa. S. mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought). Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. ”Bahasa adalah busana pikiran. kita harus berpikir. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). 26 .Psi. di mana Müler menegaskan. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought).” Dengan istilah teknis dan filosofis.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi.J. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan).” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi.” Samuel Johnson mengatakan.

tetapi kesan pasti ini menyesatkan. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). seperti misalnya. sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. samasekali tidak jelas begitu saja. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. tetap. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran. semiotika. dan abadi. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa.Psi. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. tetapi terkadang tidak. sekalipun sangat menyederhanakan. dan definisi arti. S. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. Pikiran akan menimbulkan kalimat. hermeneutika. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. kaitan pikiran dan kata. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. dan filsafat analitis. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai. strukturalisme. tetapi kata (word). jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas. 27 .

Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru.Psi. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Benarkah bahwa. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. dan mengakui keterbatasannya.menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. itu samasekali tidak mengurangi nilainya. 28 . S. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. III. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. ”Bir lebih enak daripada anggur. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. Sebagai contoh. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa.” atau bahwa.

lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Bila pemangsa terlihat di tanah. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. Bila elang mengancam dari atas. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. 29 . tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa). David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu.. Bahasa manusia berbeda samasekali.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah.” Pinker berpendapat. Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan.Psi. teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. S. Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon. yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa. dan sebagainya). atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru).

30 . hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. S. Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. IV. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. 2. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. berbeda. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja.Psi. sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa.

Dalam dunia. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. ini suatu mistik. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. lebih baik diam. bahasa tidak mempunyai arti atau makna.Psi. Oleh karena itu. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. Tetapi bagi Wittgenstein. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karena bukan pernyataan faktual. Caranya ialah dengan gambaran logis. 31 . kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. Sungguh. Ini sudah merupakan dalil. melainkan tidak bermakna. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. Menurut teori gambar. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. Tuhan menampakkan diri. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. harus dimasukkan. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. Tanpa hubungan itu. Pernyataan metafisika. atau agama tidak mempunyai arti. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Semua ini bukannya tidak benar. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna.” 5. etika. Bahasa etika dan agama. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. 4. 6. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. sesuatu yang tak terkatakan. Oleh karena itu. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. Oleh karena itu. Dalam hal ini. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. Menurut Wittgenstein. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Di hadapan ketidakmampuan ini.3. karena Ia bukan fakta. Kita tidak dapat menjawabnya. estetika. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. S.

misalnya sudah. bernyanyi. Dengan bahasa yang sama. Dalam hal ini. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. Esensi setiap permainan berbeda.nilai itu ada. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah.Psi. demikian pun bahasa. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. Karena itu. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. kita dapat memaparkan sesuatu. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. Misalnya. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. 32 . kuda. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. pohon. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dalam kenyataannya. menanyakan. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. menjadi bermakna. Sebuah tanda menjadi hidup. S. justru dalam penggunaan. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu. beroda. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. dan seterusnya. kambing. juga mengenai hal itu kita perlu diam. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. perlu dicari di luar dirinya. Ada banyak permainan bahasa. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. boleh. dan. memberi perintah. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. Dalam permainan bahasa. sebuah tanda menjadi mati. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. Permainan bahasa (language games). (b) Akibatnya. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. berterimakasih. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. maka. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. kursi bermakna karena menamakan sesuatu.

Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. bermakna atau tidak. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. 2.menyatakan satu pernyataan tertentu. Masih kita ketahui. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. 3. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. Dengan itu. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. S. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. V. kita menggunakan bahasa yang sama. kita berbicara tentang apa.Psi. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. karena bahasa lain tidak kita punya. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Terpaksa. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita. 33 .

jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. Dalam periode pertama. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). S. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik.Psi. misalnya. Terutama di Inggris. Karena itu. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius. sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. Pada G. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein. Bagi Russell. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. tidak pada taraf ontologis. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. 34 . ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja).dengan dunia berhingga kita. tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. Bagi Wittgenstein. Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. Moore. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis.

sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. nr. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius. semuanya tidak bermakna. secara apriori tidak bermakna. 7). Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. tidak mempunyai nilai pengenalan. tidak mempunyai isi faktual. Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi). Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya. Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content.in silence” (Tractatus. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. Kalau dalam periode ketiga. 35 . Bila ada banyak permainan bahasa. tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. emosional atau ekspresif. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. sebagaimana dikatakan Ayer juga.Psi. tidak berbicara tentang suatu fakta.

Pada zaman kita ini. J. Macquarrie. Braithwaite. 36 . J. Van Buren. D. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. Ramsey. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. sudah sejak permulaannya di Yunani. Namun demikian. Tentu saja.J.M. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. I. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Namun demikian. E. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. Hanya saja harus ditambah.B. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif. Mitchell. B. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh.T. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. Evans. S. Kedua. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. Mascall. R. Pertama.D. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan. begitu luas. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. apa saja merupakan being. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan.M. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. Selanjutnya. R. Smart. P. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. Ketiga dan yang terutama. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. metode mereka adalah analisis bahasa. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif. Hare. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. Crombie. Hick.Psi. VI. langkah demi langkah.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka.

yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. dan peristiwaperistiwa. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. Demikianlah. manusia.Psi. suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. Tetapi kami tidak bersalah. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pada gilirannya. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. Tentu saja. memperoleh bentuknya yang dinamis. Fungsi inilah. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. kebakaan serta kebebasan jiwa. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. Itulah sebabnya Frege. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. S. Pada akhirnya. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. kebanyakan orang menjadi bingung. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. tentang eksistensi Tuhan. Dalam setiap kata. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. menurut pengamatan para linguis. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. Agaknya. Dalam kata-kata. Derrida. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada.” Pada pokoknya. Husserl. barang-barang. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. Heidegger. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. 37 . yakni fungsi transformatif. Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). dilahirkan sesuatu rasa heran. yang tak pernah bulat selesai. sebagaimana sudah kita lihat.

38 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. S.mereka dipahami dengan berbagai cara.

S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.P.Psi. juneman@gmail. S.Psi.W.. C. 39 .Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

dengan pandangannya. Ada yang eksperimental-ilmiah. psikologis. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. S. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. dan lain sebagainya. melainkan metafisis atau hakiki. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. siapakah namamu?. juridis. Oleh karena itu. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. banyak segi jika orang bertanya.Psi. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. dan juga berarti dengan sesama (sosial). Jadi. Manusia bisa. menghadapi kesukaran. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. 40 . Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. dan lain sebagainya.K E H I D U PAN I. Dalam bertanya tentang diri. dan berbagai macam: sosiologis. Tidak hanya berhadapan. Pengertian ini kompleks. dia mengolah diri sendiri. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). dengan emosinya. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. dia melakukan. ke manakah kamu. bagaimana titik tolak manusia? Konkret. dalam pandangan tematis bisa salah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. antropologis. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. padat. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. dan lain sebagainya. dalam psikologinya tentang persona. dan lain sebagainya.

Sesudah pendahuluan ini. Dia menghadapi. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. melainkan tentang aku! Kelak. Dia bisa memandangnya. II. Dengan ini dia menyejarah. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. tidak mempunyai distansi. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. manusia juga tidak bisa mengerti dunia. tetapi juga bukan jiwa. menghadapi. Jadi. Lihatlah. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. punya kemampuan. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Hewan juga berada di dalam alam. Kalau begitu. bisa mengubah dan mengolahnya. di sebelah sini atau sana. dan dengan demikian. situasi itu. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. dan lain sebagainya. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. situasi itu berubah dan mengubah manusia. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. Dia merupakan kesatuan dengan alam. tetapi juga karena diubah oleh. mengambil tempat (posisi) dan sikap. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. tetapi juga berjarak. tetapi tidak berhadapan dengan alam. jangan berkata tentang badan dan jiwa. Lihat saja. Manusia selalu terlibat dalam situasi.Psi. jika manusia menguraikan kesadarannya. jadi punya daya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. Manusia tidak sadar tentang jiwa. dia bisa berjalan. dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). atau badanku sakit. Jadi. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. Corak yang ketiga. Lihat saja. S. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. bertindak. berada dalam suatu "cahaya". Dia tidak hanya berubah dalam. sebagai subjek. Karena badannya. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bagaimana manusia itu menjadi sadar. manusia bangkit. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. Dia berkata: aku sakit.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. Namun dalam berubah-ubah ini. Subjek artinya berdiri sendiri. dia tetaplah dia sendiri. 41 . mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. Masing-masing dari kita berkata: Aku. dia menempatkan diri. yang menyebabkan dia bisa seperti itu.

kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. dengan sadar. badan adalah prinsip jasmani. tetapi manusia. Lihatlah. berdarah dan berdaging. badan seolah-olah tidak ada. Dalam realitas. artinya materi. berdimensi tiga. Dia berat atau ringan. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. • Ada pandangan idealistis tentang badan. Maka. tidak lepas dari barang materi. yang ada hanya roh. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. 42 . Seluruh manusia adalah rohani. yang ada bukan badan. habis! Itulah salahnya. manusia juga jasmani. manusia kita katakan bersifat rohani. seluruh manusia adalah jasmani. kebahagiaannya. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani.maupun realitas. sukacitanya. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. bisa menghadapi diri dan barang lain. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. Maka.Psi. bisa dilihat secara anatomis. tidak terbentang. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. jadi tidak boleh pernah disendirikan. dalam semua itu tampak kerohaniannya. Juga kesenangannya. tidak terlipat-lipat. S. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. Jadi. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. artinya tidak seperti barang-barang yang lain. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. ada aspek jasmani. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. Bersama dengan itu. Maka. begitu juga dengan hewan. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. badan cahayanya. Roh adalah listrik. Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. Tetapi. kita katakan badan dan jiwa. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. mirip dengan makhluk hidup lainnya. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia.

Pendapat ini pun tidak riil. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. sepanjang aku ini terlihat. Badan adalah unsur diriku. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. yang masih asli. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. maka di situ sudah termuat badanku. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. unsur aku-ku. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. sesuatu yang menempel. tampak dalam alam jasmani. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. Lihatlah sepanjang itu. sedih. tetapi tampak.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. S. Pribadi. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani. Sekali lagi. Persona (tidak dalam pengertian Jung). melainkan sebagai dua. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. juga tidak sama dengan sepatu. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. Jika aku berkata aku. misalnya cinta. Selanjutnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Badan tidak sama dengan aku. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. Tetapi badan sebagai milik. badan termuat dalam aku. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. ke kejahatan. Yang ada hanya badan. dan lain sebagainya. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. Yang ada bukan badan. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. dalam pemahaman awal. Badan dianggap penarik ke bawah. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. Samakah badan dengan aku? Tidak. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. 43 .Psi. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. Yang tampak adalah Aku. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. habis perkara. cermin.

tetapi belum tentu malang. mengucapkan kata manis-manis. Antara badan dan aku ada kesatuan. Tetapi dalam berpikir tentang manusia. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. Karena badan itu menjadi penampakanku. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. aku memang sakit. Jika orang lain melihat badanku. Kita tidak berkata: itulah badannya.. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan. Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. seperti orang-orang lain. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. badanku termuat. jadi tidak sama saja dengan aku. Kita berkata: itulah orangnya. Tetapi. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. S. menunjuk badan. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir... Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. Aku bisa berpura-pura marah.Kesamaan itu hanya sepanjang . Yang malang bukan badan. Minatilah caraku menampakkan. tetapi menipu! Jika badanku sakit. Badan membatasi penampakanku. Maka dari itu. tetapi juga ada distansi. Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. Menangkap suara berarti menangkap pikiran. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Aku ada berarti aku ini manusia. Setelah semua ini dikatakan.Psi. Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". awakku sedang malang. yaitu badan itu. Dia berkata: awakku lagi susah. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. Badanku bisa tidak berdaya. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis.. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita. maka di situ milikku tidak termuat. mengarang. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". dan lain sebagainya. celaka. jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). . tetapi seluruh manusia. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. 44 . Orang akan berkata: aku melihat si A. jarak. maka dia melihat aku.

Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. keadaan flora. Keadaan tanah. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. Bangunan itu selalu berubah. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. Manusia itu kesatuan. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. juga ditentukan oleh keadaan itu. S.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. Untuk menyatakan kesatuan ini. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). berproses menurut hukumhukum biologis. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. Maka. 45 . tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. dan lain sebagainya. Jadi. bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. keadaan geografis. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. yang berakhir dengan disintegrasi. tetapi kesatuannya tidak sempurna. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. Dua itu tidak berdampingan. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. Setelah ini kita nyatakan.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. keadaan iklim. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga".

demikianlah Dr. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. sebentar hilang. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. Tetapi materia tidak menjadi rohani. pelajaran tari. Maka. asal sehat saja. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. 46 . Pandanglah sekarang badan yang normal. Tentu saja. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. Sebelum kita lahir. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Artinya. Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hidup badani adalah untuk memanusia. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). hanya menjadi badan. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. masih memungkinkan kemenangan kerohanian. di situ ada pertumbuhan yang normal. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. Dengan membadan kita memanusia. seperti api dalam banyak abu. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. S.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. dan lain sebagainya. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. pembiakan sel). tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). kecil atau cukupan. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. tidak menjadi jiwa. yang sehat. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. Semua keadaan badan. Namun. Jika badan bertumbuh secara normal. sebentar tampak sedikit.Psi. maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga.

Di samping itu. misalnya disentri!). Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. bisa pilih makanan dan obat-obatan. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini.. seandainya tidak dibersihkan . tetapi . ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis. Jika pandangan ini masih statis... tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. artinya "kenistaan" dan "keagungan". dan lain sebagainya. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita...kedokteran). Lihatlah tangan manusia.. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. lenyaplah semua kepandaiannya. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai. akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . 47 .. mungkin dia luar biasa.Psi.. . misalnya denyutan jantung. dan lain sebagainya. S. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. macam apa saja yang dibisai. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. Kita bisa mengurangi makan. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. pembagian makanan dan gula. . Coba saja.. kalau masih kecil (bayi). minum harus diminumi. seperti arloji). bisa mengurangi atau menambah tidur. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. dan seandainya ibu tidak bertindak. Ambil untuk mudahnya. Manusia di situ sudah kuat. Ingat saja denyutan jantung.. perputaran darah. dalam tubuh manusia... hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. biarpun sehat. sedang kuat-kuatnya. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia. dan lain sebagainya. lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar. . Lihatlah anak kecil. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan. dengan mandi. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. sabun.

Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar. dalam gerakgeriknya. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. maka badan dalam sikap-sikapnya. S. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. Berdasarkan keluhuran ini. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. kesemuanya itu. Oleh sebab itu. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. tetapi itu tidak sama. tangannya. Lihatlah sekarang barang-barang seni. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. makanan. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. reaktor atom. lidah-nya. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. dalam solah-bawa-nya. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. pakaian. Maka dari itu. Maka. anjing mendengar. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. Jika pribadinya luhur.Psi. mesin hitung. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. bibirnya.olahraga! Sungguh mengagumkan. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. dalam penampilannya dan penampakannya. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. 48 . lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. dan lain sebagainya. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. matanya.

Berdasarkan ini. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka dari itu. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. Tetapi sebaliknya. bertindak. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. minum. Manusia hanya memanusia dalam badannya. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. kebaktian. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. cinta kasih.Psi. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). berjalan. sebab ibu mengajar si anak makan. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. S.akan mencerminkan keluhuran itu. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. hormat. Karena itu. semua hal insani badani juga. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. mengenakan pakaian. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. Oleh sebab itu. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. dan lain sebagainya. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. 49 . Dia harus bersikap. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. Pendek kata. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Jadi. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Demikianlah tata sopan. tidur. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. jadi dengan badan. Tetapi.

Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. Orang melihat seluruh manusia. 50 . Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. tetapi dilihat dari sudut psikis. S. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kejiwaan manusia diminati juga. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. kesehatan disebut whole-some. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. dan lain sebagainya. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. yang dilihat bukan badannya saja. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit.Psi. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. jadi keadaan manusia. yang artinya seluruh manusia. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng). malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. mental hygiene). sakit jiwa. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan.rohani dijelmakan. rumah sakit jiwa. Jika kita mengingat psikoanalisis. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. tidak sakit. Dalam bahasa Inggris misalnya. Kalau orang bertemu. Jadi.

Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". Socrates. Meskipun tak populer. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. Kekecewaan yang hebat. 51 . sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan. tidak adanya penyakit apa pun. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. orang itu akan terganggu kesehatannya. Sebaliknya. baik jasmani maupun rohani. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". sekaligus yang paling tidak populer. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. Aliran yang terakhir. bagus. Jika kita mengingat kesemuanya ini. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. di sana hidupnya masih jalan baik. IV. badannya di situ tidak bisa berfungsi. Dalam situasi yang konkret. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). didirikan oleh Orpheus. dan Plato. Aliran yang kedua. S. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras.sehat berarti tidak sakit. Yang pertama. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. dan sekuler. bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. personal. tetapi soal seluruh manusia. bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. didirikan oleh Epicurus. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. privat. Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus.

dan hal-hal yang bersifat religius. 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). dengan berkembangnya ilmu kedokteran. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia. 52 . gender. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia.Pada abad ke-20. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. antropologi. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). transplantasi mata dan telinga. sesekali memang dapat "rusak". Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. S. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. Persoalanpersoalan kosmologi. posisi keluarga. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. dengan alat pacu jantung. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. gender. umur. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. dan psikologi. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial.Psi. katup buatan. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. silikon. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Abad baru.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

58 . Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. maupun dalam upacara pemakaman. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Jadi.lahir dari pikiran kreatifnya. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. Nama itu adalah Spirit. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. dan ukuran. masuk juga kategori afektivitas. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. Justru terhadap segi itulah. keluasan.Psi. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. S. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan.VI. roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. moral. lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. kultural. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif.Psi. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. dan lain-lain. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. Akibatnya. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya. yaitu keinginan. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. Sebenarnya. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. S. untuk perkembangan ilmiah. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. Berkat karakter spiritualnya. Akibatnya. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. material. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. dia hanya berpaling pada dirinya. alteritas seorang lain. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. 59 . Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. manusia agaknya masih belum lengkap.

kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan.Psi. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. karena spiritualitasnya. laksana gerombolan serigala. tutur temannya. S. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. Dia menyepak potongan roti itu. hidup spiritual. dan sebagainya. kotoran. Suatu hari. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. kedinginan. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. sebaliknya. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. Dalam kesempatan itu. Karena itu. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. Nah. “Lihatlah”. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa. itulah artinya istilah “spiritual”. melainkan dunia kebebasan batin. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. diucapkan dengan istilah “persona”. kata salah seorang di antaranya. 60 . Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. Persona manusiawi. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. Tetapi. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. yang meletakkannya di luar semua kategori. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. Tiba-tiba. meskipun perutnya lapar sekali. VII. dan sekali lagi. akibat ciri spiritual jiwanya. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman.

maksudnya. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai.Psi. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. Badan yang penuh dengan hidup. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka. Itulah dasar martabatnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yang saya sentuh dan rasakan itu. yang terstruktur berkat jiwa. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. Sebaliknya. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis. Adapun jiwa. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. dalam fungsi yang menstrukturnya. S. dia bersifat imanen terhadapnya.merupakan panggilan sejati manusia. 61 .

S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. juneman@gmail. S. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi.P..Psi.W. 62 .Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman.

Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan. Pertama. serta mengungkapkannya secara tepat. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. Ketiga.P E N G E TA H U AN I. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. di depan subjek. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. Alasannya. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. orang harus mengambil jarak terhadapnya. S. 63 . Ia menunjukkan. berkat pengetahuanlah. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. misalnya M. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. 1987: 29 50).Psi. Pengetahuan.

tindakan. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. baik dalam bentuk ide. sampai batas tertentu. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. jernih bagi dirinya sendiri.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. pembau. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan. melalui penglihatan. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. sikap-sikap. Pengetahuan disebut pula diskursif. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. S. ketika sambil muncul secara spontan. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian.Psi. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. objek-subjek serta indrawi dan intelektif. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. serta jerit teriakan. konsep. definisi. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. Pengungkapannya adalah. dan sebagainya. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. atau karya-karya seni. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. mitos. tingkah laku. pendengaran. utuh. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. Seterusnya. gerakan-gerakan. 64 . serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. perasaan.

Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. tentang luasnya. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. Pengetahuan itu kontemplatif. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya.pengetahuan intuitif. konsekuensi dalam prinsip. Pendeknya. sebab dalam akibat. Pengetahuan tentang materi. tentang hidup. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya.Psi. dan sebaliknya deduktif. Bagi epistemologi. keseluruhan dalam satu bagian. dan kemampuan-kemampuannya. berbeda sekali satu sama lainnya. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. tentang gerakan. 65 . kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). dan sebagainya. Praktis. organ-organnya. S. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas. tentang manusia. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. Pengetahuan itu sinergis. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. Pengetahuan itu disebut spekulatif. yang indrawi dan intelektif. Akhirnya. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. bila menarik yang individual dari yang universal. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. bila menarik yang universal dari yang individual. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menurut bagaimana cara diambil. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. Pengetahuan itu adalah induktif. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya.

Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. Artinya.mengetahui suatu realitas. or universals. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. sedangkan lewat afektivitas. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. Bagi kaum Nominalis. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. theory that abstract or general terms. namun di dalam pertemuan tersebut. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. represent no objective real existents. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. Tegasnya. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. 66 . S. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. Kegiatan-kegiatan afektif. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional.Psi. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy.

but having no reality apart from them. that is to say. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. berbeda halnya dengan Nominalisme. Universals exist only post res (Runes. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pendeknya. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. Jelasnya. S. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. dan bukan hanya sekadar pertemuan. 67 . (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi.names. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. dan objek-subjek. maka manusia adalah nama belaka. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. Reality is admitted only to actual physical particulars. ternyata tidak sederhana implikasinya. dan aliran Idealisme di lain pihak. entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual.Psi. Nominalisme. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. 1975: 61). yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. (c) concepts refer to abstracts. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. Menurutnya. 1975: 211). mere vocal utterances "flatus vocis". Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal).

di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. objektif atau subjektif. Sontag. 1970). Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. 68 .terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). dimensi material dan dimensi spiritual. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. induksi dan deduksi. mutlak. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). S. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. antara tingkat pengetahuan suatu pengada. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen. II. Sebenarnya. pantheisme. dan final. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri.Psi. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia.

pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. Ditinjau dari sisi objek. 1993 & Bertens. Ditinjau dari sisi subjek. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. di pihak lain. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut.Psi. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam. Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. dan kalaupun keluar (transcendent). dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. Akibatnya. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. Akhirnya. Mempelajari pengetahuan. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. S. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. Bila dianalisis lebih lanjut. Merleau-Ponty. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. dan berada di luar subjek. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. 69 . Aliran Idealisme. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. dengan mengetahui. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. 1983). berlainan. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda.batas-batasnya.

S. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. Meskipun demikian. 70 . dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. 1982:30 -31). Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. Walaupun demikian. Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. Menurutnya. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi.Psi. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu. Penjelasan tersebut akhirnya. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu.

1983: 344). serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. S. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. seutuhnya terwujudkan. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. manusia harus menjadi dirinya sendiri. lengkap. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri. 71 . Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. mereka adalah mereka. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. demikian juga pengetahuannya. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. Keterbatasannya itulah yang mendorong. kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. membakar. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. menggerogoti. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Jelasnya. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. Akibatnya.

yaitu pengetahuan intelektif. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. kendati semua penjelasan sudah diberikan. ia tidak tahu apa yang diketahuinya. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karena kita akan mempelajari. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya.(2 x 2 = 4). Melalui pengetahuanlah. Melalui pengetahuanlah. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. Akan tetapi. untuk menyelesaikan modul ini. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. maka cukup sampai di sini. melampaui dirinya sendiri. S. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. 72 . benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. Keberadaan manusia. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. manusia bisa berada secara lebih tinggi. dan jiwa bukan materi. secara radikal. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. dalam satu modul yang lain lagi. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. maka demikian halnya dengan pengetahuan. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. daripada melalui bahasa dan seksualitas. Terutama karena materi bukan jiwa. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. IV.Psi. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah.

mulai dari Yunani klasik sampai modern. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. Bahkan. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Bagi Heidegger. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif. modus bernalar biasa harus ditinggalkan. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. seperti diisyaratkan Russel. Karenanya. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. nalar yang mewakili bukan menyingkap. Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat.V. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Kelumpuhan ini. Oleh karena itu. 73 . menurut Heidegger. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif.Psi. yaitu Ada yang menopang segala adaan. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. S.

Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. bukan eksplorasi. Padahal. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. seperti dikemukakan Whitehead. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. hamba sejarah. Ia mentransendenkan semua metode. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar.Psi. kata mereka. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. 74 . Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Nalar identik dengan universalisme. S. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. misalnya. Ia menjadi ansilla historica. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. filsafat. Fisika. bukan menciptakan. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Nalar pun sekadar kalkulasi. bukan pemikiran. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan.

adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Kalaupun bertanya. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Selanjutnya. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. sebaliknya. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Beyond Good and Evil. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. S. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). Berakar dari proyekproyek genealoginya. sementara "kelainan" adalah modus puitis. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. Namun. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Yang baik dan yang jahat. 75 . Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. maka ia terjebak dalam epistemologi. menurut Nietzsche. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya.Psi. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.transenden. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. Sementara "kelainan". melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Namun. bukan kebenaran baru. Pengambilan jarak Dasein. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. Transendensi adalah modus epistemologis. yakni being in the world. Yang dikejar oleh nalar puitis. apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada.

Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. Semua tanda tanya harus dipastikan. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Dan. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Melampaui relativisme. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Kalau tidak. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Keliaran nalar pun harus dihentikan. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. Satu saja lolos. menurut Hegel. Manusia butuh kepastian. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Semua tanda tanya harus dipastikan. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. Dan. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. sebaliknya. kebaikan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. 76 . Nietzsche. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. dan keindahan. Padahal. S.tak berpuisi? Atau. tertib kosmis akan mengalami gangguan.Psi. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh.

Berkat falsifikasi. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi.Psi. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. sebaliknya. ideologi. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. filsuf sains termasyhur. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Ia tidak tunggal. Baginya. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. namun seperti digagas Wittgenstein. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Namun. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. melainkan kehampiran. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. Thomas Kuhn. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. seorang anti-Popperian. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. Bagi Popper. 77 . sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Daya transendensi nalar. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. Paul Feyerabend. menurut Popper. universalitas. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Jurgen Habermas. kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. Budaya. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis.Karl Raimund Popper. dan ketetapan.

Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. Nalar manusia terbatas. Apa mendominasi apakah. S. Setelah nalar berhenti. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Tuhan bekerja secara misterius. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati.Psi. Namun. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. habis perkara. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. Namun. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Menggeser relativisme. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Namun. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. ingat dan sadar. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Begitu cibir para mistikus. 78 . nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. dan filsafat. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. dan filsafat untuk berhening sejenak. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Saatnya bagi sains. S. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. 79 . teologi. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. teologi. Singkat kata. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Melainkan. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. teologis.Psi.

C. juneman@gmail. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.. S. S.Psi.Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W.P. 80 .Psi.

kita membedakan dua macam rasa. 81 . kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. Di samping itu. atau manusia sebagai trias-dinamika. terutama kalangan kebatinan. dan lain sebagainya). rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". dan lain sebagainya. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri.” “Saya merasa khawatir. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. manis pada lidah.” Di sini rasa mengandung pengertian. rasa was was. dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. rasa (afeksi).Psi. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. dan lain sebagainya. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". aspek pendekap. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. ada rasa yang lebih mendalam. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). jika seorang berkata: aku merasa dingin. bagaimana kedudukannya.A F E K T I V I TAS I. minuman ini terasa manis. tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karsa (konasi). tetapi toh lebih sedikit dari itu. Bahkan. Dalam Serat Wedhatama misalnya. itulah trias-dinamika manusia. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. Di atas hal itu sudah kita mulai. dirinya sendiri. rasa pada badan! Di samping itu. Orang mencium bau mangga. Jadi. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). bisa menilai segala keadaan. S. Rasa khawatir. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. Tetapi. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. rasa takut. Dalam kalangan Jawa. aspek apetitif.

yaitu dalam cinta. Nah. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. yaitu karsa. sebaliknya. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. Tetapi sebaliknya. Artinya. Sejak muncul dalam alam realitas. Orang pingsan tidak bisa menikmati. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. Tetapi. artinya "melalui" daya-daya sensitif. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. Pikiran kita. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. memakannya. menjadi bhinneka.merasakan mangga. 82 . Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. artinya melalui indra kita. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. maka yang satu itu menjadi terbentang. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. tetapi meruncing ke atas. Kita selalu mau sesuatu. yaitu di atas suatu titik. di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. kalau lidah hanya kangen bakmi. S. di bawah lebar. manusia itu manusia.Psi. Sebetulnya. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. Maka sesuai dengan kejasmanian. Lebih jelas lagi merasa haus. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. Jika cinta dinyatakan. maka "membentang" berupa kalimat. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. Sebaliknya. maka menjadi banyak kata. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. Jadi. jika dilahirkan. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). dia mengambil buah itu. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. Orang yang lidahnya sakit. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". di situ belum terjadi penikmatan bakmi. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. Gambar itu bisa kita balik juga. Jika sesuatu kita "materikan". jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. menjadi terserak. meskipun mulut dimasuki makanan. Dengan ini dia mengalami mangga itu. lantas menjadi banyak.

maka dia marah atau putus asa. Hidup tidak hanya secara biologis. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. Dia selalu berharapan. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis. Perpanjangan suatu situasi. untuk lebih menyelami. yaitu takut. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. Jadi. dan lain sebagainya. dorongan ke arah keindahan. bagi manusia merupakan penderitaan. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika.Psi. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. maka manusia takut. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). 83 . dengan isi yang lebih jelas. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. dorongan sensitif untuk cinta. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. penantian. Maka. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. maka pada manusia ada harapan. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. Dalam pikiran analitis. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. Jika malapetaka mengancam. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. merasa gembira. orang dipenjara seumur hidup. dia selalu menanti. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. Untuk maksud kita sekarang. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. dan lain sebagainya. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. segan. maka apakah puncaknya? Penikmatan. terutama jika akhirnya tidak tampak. marah. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. S. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. Jika dorongan dipenuhi. seperti rokok dan lain sebagainya). selalu terjun dari sintesis ke analisis. Selama kita hidup. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. tetapi secara manusia.

tetapi seluruh manusia. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. Jadi. Pengertian ini sangat penting. II. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. dan sanggup meluhurkan diri. Yang ada bukan hanya rasa takut. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. Dalam dinamikanya. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. misalnya dalam memandang seksualitas. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. 84 . Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. Jelasnya. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. Yang lapar bukanlah perut. S. mempelajari. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. tetapi seluruh pribadilah yang takut. keinginannya. tetapi juga afektivitas. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. tetapi seluruh pribadi manusia. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. lebih sentosa. manusia tergerakkan hatinya. Melalui peranan afektivitaslah. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan.Psi. Yaitu cinta kasih suami-istri. di samping pengetahuan.

mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif. komunikasi. Walaupun demikian. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas.Psi. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. atau cinta. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. misalnya.mengenai kritik atas rasio murni. Baginya. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. kepatuhan. 85 . karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. partisipasi. Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. Prinsipnya. S. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi).

86 . dan menjiwainya dengan mewarnainya.Psi. atau apa yang jasmaniah saja.bukanlah mencintai. untuk mencapai afektivitas. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. III. S. Jadi. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. kecenderungan. tanpa bobot. dan menjijikkan atau membosankan. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. menguatkan. mengembangkan. menggayakannya. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

imajinasi.Psi.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. Kelima. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. IV. kesenangan. dalam kondisi ini. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. mengenal adalah kausa dari afektivitas. Keempat. 87 . Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. semangat. mempertahankan diri atau yang lainnya. S. mencintai. nilai (baik dan buruk). Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. mempengaruhi bahkan membohongi. Kedua. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. selera. Ketiga. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya.

88 . tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. sekolah. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. V. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. jangan bersikap acuh tak acuh. S. dari generasi ke generasi. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. bioskop.Psi. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. dengan bertindak demikian. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. buku-buku. Karena pengaruh semboyan ini.

maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. S. Dalam perkembangan individu tersebut. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. dan pikiran populer.kelihatannya begitu bertentangan. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri.Psi. teologi. dengan segala daya intelektual. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Pada bayi. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. dan sebaliknya. 89 . Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. telah meresapi filsafat. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi.

alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. 90 . sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. Gagasan yang terungkap dalam Injil. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. Biasanya. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. hal ini berarti. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi.Psi. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. tanggungjawab dan pengetahuan. Sebaliknya. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. S. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. respek (rasa hormat). Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik.

91 . Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. ia samasekali tidak dapat mencintai.Psi. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. tetapi justru merupakan alasannya. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. ia mencintai dirinya sendiri juga. bagaimana kita menerangkan egoisme. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. pada prinsipnya. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri. tanggungjawab. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. kebahagiaan. dan pengetahuan. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. perkembangan. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. Afirmasi terhadap hidup. S. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. yaitu: perhatian. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. tetapi hanya senang menerima. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. kebebasannya sendiri. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. rasa hormat. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri.simpati terhadap ”orang asing”. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis.

Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus. dan sebagainya. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. 92 . malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting.Psi. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. kelelahan. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. seperti: depresi. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. bukan karena ia sangat mencintai anaknya.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. S. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). ia tidak dapat bahagia. Ia merasa prihatin yang berlebihan. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. kegagalan dalam relasi cinta. ”hidup hanya untuk orang lain”.

keriangan dan kebahagiaan. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. agar benci terhadap kehidupan.namun kuat. dapat diperbaiki. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. mereka diajar.Psi. mereka cemas. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. di bawah topeng kebajikan. untuk adat istiadat kita. S. 93 . kaku. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. dan sangat sering. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta.

2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.W.Psi.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman. 94 ..Psi. S.P. C. S. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. Berkat indranya itu.PENGERTIAN I. entah nyata atau semu. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). Pengetahuan indrawi bersifat parsial. seperti juga pada binatang. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. Secara umum. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. walaupun masih sangat sederhana. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 95 . namun selalu bersifat relasional. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. S. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan.Psi. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. kedua sumber pengetahuan ini berbeda.

dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. 96 . rasa. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. rasa. Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. atau tanpa telinga yang mendengar suara. atau bentuk dengan keras-lunaknya. suara. Menurut Realisme naif. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. dan sebagainya. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. bau. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. atau hidung yang membau. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja.Psi. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan indrawi. atau bau. cerah. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Pendengaran hanya mampu menangkap suara. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. S. Mata peka terhadap cahaya. Semua sensasi (warna. seperti bunyi. Warna. rasa. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja.yang dapat ditangkap sesuai dengannya.

namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. Musik. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. Ketiga. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. Kedua. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bau-bauan. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. perang ataupun religius. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. pakaian. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. tetapi juga warna subjektif. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. lebih kabur.Psi. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif. S. hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. bentuk. dan gerakan dari bagian-bagian. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. 97 .unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. yaitu kumpulan. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan.

baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. Walaupun demikian. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. sekaligus membentuk daya interpretasi. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. dan arti benda itu. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. kesehatan mata. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. S. dari bentuknya suatu benda menerima. kedua segi ini tidak saling bertentangan. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. tujuan.Psi. sehingga di dalam situasi normal. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. melainkan saling melengkapi. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. Arti. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. tujuan. melalui pengertian kelompok (komunal). Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah.samar-samar. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. 98 . Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. Caranya. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. dan seterusnya. Akibatnya. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pendeknya. Pengaruh cahaya.

menangkap bentuk pisau. Guna memahami jenis pengetahuan ini. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. Menurutnya. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. mengurangi. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. A. Misalnya. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. 99 . van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. S. Maksudnya. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. secara fisik. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi.Psi. II. C. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas.dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. itulah artinya. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala.

Setelah memasuki usia remaja. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. III. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. imajinasi. tradisi. konsentrasi. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. atensi.mengalihkan. mengarahkan. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. Berbeda dengan naluri. 1996: 359). hafalan tanpa mempergunakan pikiran. S. Psikolog kontemporer (Piaget. ingatan. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. atau membagi). 100 . hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. Akibatnya. kontrol (pengendalian). Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang.Psi. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. konseptual. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. ekstrapolasi. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. seleksi relasi. rencana. Demikianlah. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak. analisis kritis. kebiasaan. Namun demikian. memilih. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. adat istiadat. mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. prediksi. abstraksi.

tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. menurut volume serta berat-ringannya. S. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. menurut ukuran besar-kecilnya. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. 101 . serta religius melahirkan suatu peradaban.Psi. Walaupun demikian. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. pada orang dewasa. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. sosial. Dengan itu pula. Goenarsa. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. politik. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. psikologis. Sesungguhnya. Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem.khas. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. 1980). Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate). ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Melalui ini.

Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. mendalam. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. abadi. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. maka semakin luaslah objeknya. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. meski besar sekali pengetahuan seseorang. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. tetapi berkembang secara acak. betapa pun tinggi dan banyaknya. 102 . mengintegrasikan. menempatkan. Semakin mendalam refleksinya. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. IV. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. Pendeknya. setotal mungkin. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis.Psi. tetapi juga secara lebih mendalam. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. S. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. objektif. serta paripuma. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. tuntas. serta terartikulasikan. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak.

Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. juga bersifat sosial. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. Pertama. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. S. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. serta cara bereaksi. Inteligensi bukanlah suatu substansi. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Kedua. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. cara merasa.Psi. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. 103 . Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. Ketiga. Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. cara bertindak.

Persepsi ini. W. misalnya. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif. 1987: 23). 1993: 132).Psi. dan sebagainya (Leahy. di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. J. 1993: 312 313). tampak pada refleksi spontan. sebab insight diverifikasikan. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. bukan pikiran. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. prasadar. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. Eccles. 104 . misalnya pada waktu sedang melamun. tetapi roh itu bebas sifatnya. Menurut J. dan prapribadi. Maksudnya. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. subjektif-objektif. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. refleksi. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. S. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. deduksi. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. "Saya pikir.

Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. Segala penegasan. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. atau bagaimana objek itu bereksistensi. Putusan ini lebih bersifat reflektif. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada. Maksudnya. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. dan mencari alasan dari segala-galanya. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu.Psi. S. Bila mendefinisikannya. yang pernah ada. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. 105 . maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. bukan hanya kurang lebih dari itu. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal.logis dan ilmiah. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. Bila bernalar. baik berupa kenyataan maupun khayalan. dan segala sesuatu yang akan ada. Bilamana menilai. V. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. 1994: 45-48). yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. yakni segala sesuatu yang ada. tertarik kepada segalagalanya. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada.

Secara epistemologis. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi. Sepintas lalu. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. S. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. Pertama. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. 106 . tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. Walaupun demikian. kesimpulan. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. prinsip identitas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. non p bukan p). Artinya. adalah tidak ada". “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. dan "apa yang tidak ada.Psi.penilaian. mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Jelasnya. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting.

Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. Unsur ini pun menyatukan. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani. melainkan manusia. Pada bunyi lonceng. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. 107 . tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Tetapi. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. VI. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. dan mulai bergerak. Untuk mulai dengan yang mudah. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. Artinya. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. yaitu pengertian dan pengambilan. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti.Psi. tertarik. menghubungkan. anjing ingat (= mengerti) makanannya.Prinsip cukup alasan menyatakan. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. lantas ingin. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. S. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. tetapi ada. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. Jika dilihat dari sudut pola. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. Yaitu unsur kognitif (cognitive). Pola adalah isi pengertian kita. Pola itu tidak selalu disadari. Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. Jadi. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. maka bolehlah kita memandangnya. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. tetapi proses ke tingkat itu.

Bisa maju. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". Maka. bisa mundur. Dia mengadakan objektivisasi. Ini pun bukan status yang selesai. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". tidak ada objektivisasi. Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. 108 . seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. S. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. Yang perlu diingat di sini hanyalah. mengubah menjadi alam kebudayaan. Jadi. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. dan sesuatu itu diselami. karena moralnya berantakan. tidak ada kesatuan. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Dia mengerti secara formal. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. Tangan dan piano merupakan kesatuan. Lihatlah realitas infrahuman. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. ada yang kurang ada yang lebih. Maka.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. Namun. yang susila. seperti tumbuhan. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. manusia itu bersatu dengan dunianya. Sebaliknya dengan manusia. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. Tentu saja. disatukan. Pada hewan tidak ada idea kesatuan. Di situ manusia dan keindahan jadi satu. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. yang ada hanya "jarak". di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. tidak ada idea susunan. Pengertian hanya satu unsur. tidak diatur oleh suatu idea.Psi. Lihatlah orang yang "kenal" piano. Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. atau dunia manusia. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama".

Nah. dia menyatukan dirinya sendiri. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. kesatuan antarbenua. Interioritas artinya sadar diri. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. 109 . kesatuan sudah termasuk. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. Manusia mengerti nenek moyangnya. S. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. Jadi akhir-nya. pengertiannya itu saling memajukan. tidak "mendiami" diri sendiri. tidak bei sich sein. mempunyai semacam interioritas. manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Eksterioritas artinya segi luar melulu. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. membedakan diri dan bukan diri. jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. Berdasarkan pengertiannya. Misalnya. menghasilkan teknologi. batu. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. kayu. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. dia "menghadiri" dirinya sendiri. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. Hewan. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. hewan pun "di luar diri sendiri". Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. "jauh" dari diri sendiri. Yang ada hanya eksterioritas. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi. Dengan demikian. Tetapi. "Dia ada di dalamnya sendiri". Akibatnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak in itself. dia mempunyai interioritas. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. mempunyai "kedalaman". Bahkan.Psi. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. Lihat saja kesatuan tanah air. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. Pengertian bertambah sempurna. mengerti "asal usul". Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. Berdasarkan kesatuan diri itu. tanpa penyelaman.

Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. Tetapi justru dengan saling menyerah. tidak mungkin puas. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. S. keduanya menemukan diri. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. situasinya. artinya keluar dari diri sendiri. Hal ini tidak berarti perbudakan. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. Tetapi. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. dari situasi ke situasi. Keduanya berkembang. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. terus mencari. Dia adalah "mouvement de transcendence”. Tetapi. mengatasi keadaannya. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya.Akhirnya. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. Jadi dia terus mencari. perbuatannya yang sedang berjalan. Jadi. Semua berkat transendensi. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. menyatukan diri sepenuhnya. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. memasuki diri lain. melebihi. Bahkan. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. Dan lagi. dari keadaan ke keadaan. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui.Psi. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. 110 .

Manusia tanpa dunianya tidak mungkin. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. Tetapi. Barangnya harus mampu untuk arti itu. dikatakan bahwa kita menerima arti. Maka. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak.praktek ada banyak kekecewaan. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. VII. S. keong tanpa cangkang tentu mati. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. misalnya dalam hubungan suami-istri. jadi ke arah Tuhan. 111 . manusia menjadi kawan. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. Jadi. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos.Psi. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. bagi hidupnya. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. spesialisasi semakin melembut. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. Jadi. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Misalnya bahan menjadi makanan. dari perbuatannya. Dunianya berubah-ubah. Jadi. Dengan kemampuannya mengerti. Barang an sich masih bersifat "netral“.

Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. Spesialisme yang semula bersifat metodis. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. 1987:41). 112 . Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. Walaupun demikian. S. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan.Psi. Sikap kritis ini perlu. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. karena dalam pengalamannya. tampaknya. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

VIII. Akhirnya. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. 1982). dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. Maka. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. ada unsur-unsurnya. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan. ultimate dan absolut. Sesuai dengan kodrat manusia. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. 113 .Psi. maka begitu juga pengertian kita: tersusun. Oleh sebab itu. Orang semakin dilanda kebingungan. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. S. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. berupa pengertian rohani-jasmani. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. yaitu rohani-jasmani. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. Menurutnya.

Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. dan lain sebagainya). Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. merasakan manis. secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dia sedih. pengertian tentang "ada". Momen-momennya ialah pengertian indra. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. konsep perkumpulan. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. tentang persona. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). dia menangkap bau tuannya. Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. dan pengertian metafisis. Bahkan. Jadi. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. Itu adalah dan pengertian rasional. Anjing hanya mempunyai momen indra. Sebaliknya. pengertian rasional. Momen ini bisa disebut metakonseptual. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia.Psi. tidak di luar konsep. artinya "di atas" konsep. S. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. kita menangkap manusia sebagai engkau. atau buruk). pengertian tentang "aku". Di sini tampak adanya momen-momen. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. lantas muncul pengertian rohani. Semua itu berasal dari pengertian rasional. 114 . Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. Tetapi bersama dengan semua itu. dan lain sebagainya. mendengar suara. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). yaitu keindraan kita. jadi sebagai persona. Jadi. kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. satu segi. Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. Mencium bau. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. di mana manusia membuat idea. Kita punya konsep rumah. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani.

namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. pengetahuan selalu bisa berkembang. terspesialisasi dalam keanekaragamannya. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. 115 .Psi.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. Dengan kata lain. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Agar bisa mengetahui dengan jelas. Akibatnya. Namun. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu.

juneman@gmail. dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek. 116 . C. Moral. S.P.Psi. Watak Kodrati. S.W. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi.

KEBEBASAN I. Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). 117 . seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. yaitu karsa (will) atau kehendak. atau dia harus piket. Watak Kodrati. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. itu pun dinamika. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. S. kita lihat dua unsur. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Orang lain kita ajak menonton. misalnya. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. Tetapi. mungkin dia merasa tertarik. Dalam modul-modul terdahulu. Tetapi lihatlah. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. maka dia menolak. Karsa. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. Jadi. daya untuk mau.Psi. Demikianlah kita mengalami adanya karsa. Orang lain bisa ikut. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. menghendaki. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". Kita mengerti dan mengalami karsa. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. Objek. tidak selalu berarti will. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik. untuk memenuhi keinginan. dia harus belajar untuk ujian. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. Tetapi bukan dinamika yang menentukan. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. kemecer. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. dia mau atau tidak mau. Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. tidak mau. karena itu adalah dinamika yang menguasai. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. tetapi pikir-pikir dulu. Kalau seorang diajak menonton.

Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. yaitu karsa. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. seperti munculnya pikiran. seperti arus air. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. tidak terus lepas saja. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Manusia tumbuh. Merdeka berarti bebas. lantas setelah lahir.Akhir dinamika manusia itu satu. dari bios ke logos. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. Jadi. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. Semula yang ada "hanya" rangsang. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. tidak ada selfness. Dalam pertumbuhannya. hanya bisa menggeletak. Lambat laun muncullah kesadaran. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. Baru setelah beberapa waktu. Untuk lebih menyelami hal ini. Berbagai macam rangsang. lambat laun bisa mengkurep. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. Inilah arti yang pokok. bertakhta sendiri. dari btosfera ke neosfera. lantas mulai berdiri dan berjalan. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ke puncak. lantas bisa merangkak. Dia semula hanya melekat sebagai buah. Demikian juga munculnya karsa itu. berdiri sendiri. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. bebas dari ini atau itu. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. lihatlah dinamika pada status anak kecil. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. S.Psi. yang masih akan ditentukan. yang ada semula ialah level biologik. tidak terdengar. Merdeka menunjuk kedaulatan. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. menguasai diri sendiri. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. Bebas artinya tidak terikat. demikian juga kemanusiannya. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. tetapi juga untuk ini atau itu. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. meruncing ke ates. 118 . Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. Janganlah munculnya karsa itu. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani.

maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. artinya ke kesempumaan manusia. Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya.personalah yang bersifat merdeka. Proses kelahiran ini bisa gagal. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. sementara manusia mau merdeka. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sungguh-sungguh berdaulat. dia tidak lepas. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Dengan demikian. S. jika manusia tidak berjuang. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan.Psi. kemerdekaan dalam proses penjadian. Maka setelah ada. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. dengan perjuangan. 119 . Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. mandiréng pribadi. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. Kalau sudah begitu. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. Jadi. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. Dia cenderung untuk liar. Jadi. Jadi. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. mau bebas dan lepas. Lagi pula. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. itu pun batasan.

dirinya. S. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir.Psi. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. namun juga sering kali bertentangan. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. dan hal ini karena karsanya. Jadi. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. maka dia berantakan. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Maka dia tunduk. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. Maka. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Dia mengerti dan mau dirinya. 120 . Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Dia harus mau sesuai dengan arah itu. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du. itulah kesatuan manusia. II. terjerumus. J. dia tidak berdaulat lagi.

Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia.Psi. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. 121 . Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Namun pada masyarakat modern. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. S.

namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia. Moral. tetapi secara mekanis. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. S. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. dan sebagainya. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. teknologi. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. Lebih parah lagi. 122 . kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. komunikasi. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. seperti di bidang ekonomi.Psi.

paksaan. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Manusia mempunyai kemampuan memilih.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. 123 . Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. Sebagai eksistensi. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. yaitu situasi-situasi batas. Sebagai eksistensi. pengendalian diri. beban atau kewajiban. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. “Freedom is self-determination”. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. pengaturan diri dan pengarahan diri. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas.Psi. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. S. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak.

Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. 124 . Jangkauan itu terbatas. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. yaitu kebebasan fisik. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya.Psi. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. S.

Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. namun mereka tetap merasa bebas. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya.Psi. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas.sungguh bebas. S. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. 125 . Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya.

Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. Saya mempunyai kebebasan psikologis. 126 . karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. S.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai.Berbeda dari kebebasan fisik. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Namun. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat.Psi. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu.

Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri.secara moral. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. 127 . yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. yaitu suatu keadaan bebas. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Sebaliknya. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. S. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. IV. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Ia dipaksa secara moral. Manusia adalah makhluk yang bertubuh.

sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. melainkan praktis. argumen psikologis.Psi. yaitu berdasarkan pengalaman. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. S. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain. dan argumen etis. bahwa kita adalah bebas. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. yaitu dengan argumen persetujuan umum. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. 128 . Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. Kita sendiri.

Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. S. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. 129 . baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas.Psi. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya.

Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. yaitu "mengambil dompet itu". Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Muncul pemikiran pada waktu itu. ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. S. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. 130 . Namun pada saat pikiran itu muncul. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". saya akan mengambil dompet itu". atau bertindak dengan cara begini atau begitu. Karena jika tidak ada kebebasan. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Setelah menimbang-nimbang. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan.Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. mahasiswa itu memutuskan: "Ya.Psi.

Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. S. Dengan kata lain. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. 131 . Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan.Psi. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi.

Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. tetapi tujuan. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. politik dan sebagainya. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. finansial. namun lebih dalam dari itu.Psi. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seksual. seperti kebebasan fisik.V. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. 132 . Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. malainkan juga kepada sesamanya. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. sosial. S. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral.

S.Psi. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Manusia merupakan bagian dari dunia. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. maka manusia tidak bebas. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya.terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Dengan kata lain manusia. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Atau. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 . Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. karena hukum sebab akibat itu.

Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab.manusia akan dikatakan bebas jika ia. Karena kemampuan itulah. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. S. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. 134 . Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. secara bebas. Akan tetapi. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Artinya manusia itu bebas. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya.Psi. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. dan bola itu menyentuh bola yang lain. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu.

Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Dengan kalimat lain. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. manusia tetap mempunyai kebebasan. 135 . Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. S. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. dan lain sebagainya.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. untuk menyesuaikan diri. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. untuk mengontrol proses-proses organik.Psi.

mengambil keputusan. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. dan merencanakan. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. masa depan. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. Manusia adalah makhluk yang sadar. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya. 136 . S. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri.bentuk dan kemampuan jasmani. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya.Psi. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. suatu proses yang terus menjadi.

Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. Karena manusia adalah suatu interioritas. hadir di dalam dirinya sendiri. Atau. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut.pribadi manusia. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. S. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. maka manusia adalah subyek. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. 137 . Inilah wujud kebebasan manusia itu. Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. bebas memilih teman hidupnya. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan.Psi. dan lain sebagainya. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup.

Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. pula Menyempurnakan sebaliknya.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. 138 . S. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya. dan semacamnya. seperti tangan. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. kaki. Dalam posisinya itu. Sebagai yang Maha-tahu. dirinya. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri.Psi. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia.

Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan.Psi.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. 139 . Padahal Tuhan tidak terikat waktu. S. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan. Dia melihat. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Misalnya. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. Dia tidak berada dalam waktu. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Tuhan itu bersifat transenden.

Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. 140 . Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia.sikap terbuka terhadap Allah. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. manusia tetap memiliki kebebasan. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Dan bukan Tuhan. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Jadi meskipun tergantung pada Allah. Manusia adalah makhluk rohani. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis. S.Psi. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri. menurut Leahy. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain.Psi. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Sebaliknya. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. S. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 141 . melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas.

Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. yang merangkainya. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. penafsiran mimpi. dan kebebasan dari para pasien. dan lain sebagainya. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. atau yang mengemudikannya. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. S. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. dan lain sebagainya. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. 142 . Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Memang. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. misalnya sebuah mobil. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari.Psi. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. kesadaran dan kebebasan manusia. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri.

Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan.VII. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. VIII. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. S. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 143 . Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Oleh karena pemikirannya itu. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis.

mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. 144 . Argumen kedua adalah argumen psikologis. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung.Psi. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. S. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi.dan sebagainya. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. Argumen ketiga adalah argumen etik. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar.Psi. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. padahal sebenarnya tidak demikian. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Akhirnya. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. S. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. melainkan juga kepada sesamanya. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri.

maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya.Psi. maka pasti ada pula fenomen Y”. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris.maka manusia tidak bebas. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. Lebih dari itu. Menurut mereka. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Fenomen X adalah antecedens. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. sedangkan fenomen Y adalah consequens. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. S. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. 146 .

juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. S. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh.Psi. Namun sebagai mahkluk jasmani. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan. Manusia adalah makhluk yang berbudi. 147 . Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. Dan kerena dua sifat manusia inilah. Sebagai eksistensi. Melainkan. Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. Sebagai makhluk yang berakal budi. Sebagai eksistensi. yaitu situasi-situasi batas. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan.

Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. untuk mencapai kebahagiaan sejati. Manusia merupakan bagian dari alam semesta.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. tentu saja dengan landasan kebebasannya. namun ia terpisah dari alam semesta. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. S. IX. Allah di surga. Namun semua itu dapat saja dikorbankan. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. bulan dan bintang-bintang. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. yaitu persatuan abadi dengan 148 . Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. Meskipun demikian. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu.Psi.

Psi. Namun. S. yaitu argumen persetujuan umum. argumen psikologis dan argumen etis. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia. menurut Louis leahy. 149 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya.

Psi. 2008 .W.P.Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.. C. S.

eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. Jika ilmu . Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. manusia memberi arti kepada segalanya. Dengan kata lain. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Itulah sebabnya. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. II. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. 1985: 7-8). seperti Gabriel Marcel. Gabriel Marcel. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Jadi. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia.EKSISTENSIALISME I. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. seperti Jean-Paul Sartre. Sebaliknya. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Tetapi. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Camus dan Sartre. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. manusia yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. Bagi Jasper. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia.

setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. Philosophie (1932). Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). Gottingen dan Heidelberg. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. ahli ekonomi. ia menulis banyak sekali karya. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). Namun. tetapi menyoroti manusia yang sakit. pada 1883. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. setelah menerima gelar penghargaan itu. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. antara lain melalui Max Weber.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. Jerman Utara. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Karena itu. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg.

2. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Dengan menerangi eksistensi. Melalui keputusan ini eksistentis. yakni Penerangan Eksistensi. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. pilihan. dengan menerangi eksistensi. kita mencapai inti “aku”. berkembang. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Jerman. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. 3. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. Bagi Jasper. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Eksistensi membutuhkan komunikasi. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. komunikasi dan kebebasan. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. Katanya.Karl Jaspers di Austria. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. Jepang. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Situasi-situasi Batas .

takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. perjuangan. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. c. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. Kematian teman sekaligus musuh manusia. ini yang disebut nasib. ia dapat berkembang. yaitu kematian. a. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . dan kesalahan. latarbelakang sosial. b. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. tergantung dari keputusan manusia sendiri. Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Namun. lepas dari pilihan manusia sendiri. Nasib Situasi batas yang paling umum. penderitaan. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. Penderitaan karena keterpisahan. d. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. yaitu faktisitas histories.Sebagai Dasein. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi . dan banyak hal yang merupakan fakta. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. jenis kelamin. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas.

Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. asal dan makna kebenaran. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. 3 dst. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. hal. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi.3 dst. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki.).. cacat. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. 57). Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. 5. Tanpa itu yang ada kekosongan.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. hal. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. bdk. 37). . situasi kebohongan dan kejahatan politik. 453 dst. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. hal. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Jaspers: 1991. e. 4. 1949. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. hal. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang.. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956.

karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). Dengan demikian. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. dia tidak akan mampu mendapatkannya. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. karena ia adalah pengada. Horison itu selalu hadir. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala. Ia tidak dapat diobyekkan. ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. Meskipun manusia hendak menangkapnya. 35). tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. Dengannya. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. karena tidak dapat diobyekkan. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. Padahal. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. tetapi selalu . Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. termasuk diriku yang kuobyekkan. “Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. Dengan kalimat lain. Itu artinya ontologi tidak mungkin.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan.

Bewusstsein Überhaupt. 15): Das Umgreifende. yaitu Dasein. 53). Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. hal. Geist. “kita ada”. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. “manusia ada” (Jaspers: 1991. hal. 1991: hal. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991. 48 dan 50. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi. karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. Jasper K. Existenz. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. K.. Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers.1956: hal. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. hal. Welt. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. Manusia memiliki awal dan akhir. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . Manusia termuat dalam Dasein. 62). lih. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran.tak tercapai. 53).. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. Dasein das das Sein selbst ist. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. das wir sind Das Umgreifende.

karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. . 67). Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. hal. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. 63). tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. 39. Existenz Eksistensi melingkupi manusia. tetapi sekaligus mengatasi waktu. hal. Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. hal. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. 1991: hal. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). hal. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian.dan menjauhinya. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. 71). Eksistensi termuat dalam waktu. 42). karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. hal. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. hal. 71). dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. 76) . karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz.

Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. Manusia hidup dalam dunia. . Manusia bebas dalam dunia. Meski demikian. 110). transendensi adalah “kenyataan asli“. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. hal. hal. Manusia adalah bagian dari dunia. dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. dan juga bebas terhadap dunia. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. 114). Menurut Jaspers. Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. hal. “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. hal 110). Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. 85). Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. 99). Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). hal. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. Dunia harus dapat dipikirkan. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. dunia bukanlah obyek. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. Dunia melingkupi manusia. hal. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. 93).Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar.

Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. Pada tataran eksistensi ada iman. hal. Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. idealisme memutlakkan Geist. Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. positivisme memutlakkan Welt. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. Dasar komunikasi itu adalah cinta. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). 118). Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. 120). Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. dan menjadi jiwa rasio. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. hal. hal. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. 119). naturalisme memutlakkan Transzendenz.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft.

ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. yaitu Eksistensialisme. Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti. Artinya. eksistensialisme itu melulu voluntary. Dari pihak Komunis. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. Untuk mempopulerkan idenya itu. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Dan ini. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. Namun. yang patut dicela. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. eksistensialisme dengan ego-nya. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. dalam pandangan kaum komunis. Dari pihak Katolik. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Singkatnya.” Eksistensialisme. quietisme. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. yang rendah. apalagi berpikir tentang solidaritas. Lebih jauh lagi. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. seperti Mlle Mercier. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak .

Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Burung berkicau dan makan biji. Namun. Ketiga. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . Kedua. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya. Dengan kata lain. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. Lebih jauh lagi. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. disebut artisan. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). esensinya. Esensi mendahului eksistensi. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. produksinya mendahului eksistensinya. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. Esensi dari pisau kertas itu. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Seorang pembuat pisau kertas. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk.punya arti apa-apa lagi. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. Contoh lain lagi: panah. mendahului eksistensinya. pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Di sini. Selain itu. Contoh lain lagi: binatang. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam.

Begitu seterusnya. Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. esok hari ia kedapatan mencuri. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. man in the state of nature (Thomas Hobbes). Oleh karenanya. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. bahwa hadir). Dengan begitu. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Dengan begitu. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. ketika ia lulus. entah itu animal rationale (Aristoteles). Misalnya. Cara beradanya benda tak . Makhluk itu adalah manusia. Celakanya. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Atau bisa jadi.Allah menciptakan. dan the bourgeois (Karl Marx). Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. muncul (Inggris: surges up. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. jika Allah tidak eksis. Bagi Sartre. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. sampai ia mati. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. atau wild man of the woods (Rousseau). Artinya konsepsi tentang esensi dirinya.

maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). katakanlah. di pundaknya. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). Sementara manusia sebaliknya. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. Kita tentu bertanya. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. dalam keluarga apa. yaitu tanggungjawab. . Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. sesuatu yang mendesak. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu. Sartre mengakuinya. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. batu atau meja. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. Pandangan ini mencengangkan. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. ia memikul beban eksistensinya itu. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain.

Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. karena membayangkan apa yang akan terjadi. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Condemn. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. Namun. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. yet. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. Ada ketiadaan di tengah ada. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. because he did not create himself. "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Semuanya tergantung pada diri sendiri. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. he is responsible for everything he does]. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. . dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. in other respect is free. Karena itu. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. because. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. once thrown into the world.

Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. Karena kontroversinya. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. misalnya ketika si A. Ketika tengah mengintip. dan être-pour-soi. tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya.apakah akan terjun. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. dll). mau tahu urusan orang. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. hubungan antara aku dengan orang lain. senantiasa berdasarkan konflik." kata Sartre. Dalam hal ini. Sekarang. dan sayalah subjeknya. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya." Ada juga kemungkinan lain. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. ketika seseorang memergoki saya. "Dosa asal saya. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. dan C saling berselisih. Bisa jadi si A. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. Mengingat doktrin tersebut. kesadaran yang me-negasi. Demikian kira. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. IV. bayangkanlah jika "Aku". être-en-soi. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. B. Padahal. yakni kesadaran terhadap sesuatu. dan menyerahkan diri sepenuhnya. atau mundur untuk menyelamatkan diri. "adalah adanya orang lain". sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. bertemu dengan jenis yang sama. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. Sementara.

Konsekuensinya semakin berlaku umum. Artinya. Publik itu identitas semu. semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. kata Kierkegaard. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. Ia menilai. dan efektif membentuk opini-opini publik. Dalam kondisi dunia semacam ini. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. menurut Kierkegaard. cara pandang ini menyulut persoalan baru. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. bangsa. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. murah. Menurut Kierkegaard. tak berwajah dan tak bernama. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. konsep abstrak. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. garang. Kierkegaard menegaskan. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Menurutnya. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. Dalam masyarakat modern. Publik bukanlah suatu generasi. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Pada titik ini. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . Mengapa? Karena bagi dia. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik.

Maka. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. Namun. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Ironisnya. Persisnya. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. ia tak punya arti. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. Misalnya. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. untuk mencapai subyek yang . kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer.mengikuti suara hatinya sendiri. Dalam ideal itu. Ini. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Akibatnya. Hidup adalah sebuah tugas. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama. nafsu). Anehnya. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. tapi dalam kenyataan konkret. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. meski pada taraf non formal. Konsekuensinya. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Padahal. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. menurut dia. orang menjadi dangkal. misalnya dalam pemerintahan. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. tidak ada tempat untuk passi (gairah. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. Bagi Kierkegaard. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. melainkan sekedar symbol prestasi. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik.

bagi mereka. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. segala bentuk realitas. Tanpa itu. keputusan. semakin menjadi individu yang otentik. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. rasa. orang yang tidak berani mengambil keputusan.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. tanpa arti. simpang siur budaya modern. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. antusiasme. dan kehendak bebas. dalam haru biru. Menurut Kierkegaard. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Etik. mereka tak berdaya. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. Ciri pertama. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Estetik. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. Namun. Konsekuensinya. Maka. tapi harus melalui pilihan. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . hanya menjadi medan kemungkinan. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Jadi. tidak juga sekedar refleksi intelektual. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Artinya. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Maka. Proses ini. Dengan kata lain.

ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. Oleh karena itu. Dengan ini. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. Ironi tapi fakta. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. dan sebagainya. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. Dengan menikah.dari bunga ke bunga. Tahap Etik . karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. Boleh jadi juga. kosong. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Maka. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. Cepat atau lambat. Ciri kedua. Dengan berorganisasi. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. Ciri ketiga. yakni tahap etik. pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Artinya. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. dan kering. hidup yang luluh-lantak berantakan. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. Pada titik inilah. sejauh mereka masih tetap manusia. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret.

Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. Ciri ketiga. Ciri pertama. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. tahap religius. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. belum menjadi pemain. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. Bahkan kalau perlu. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. orang-orang seperti ini. Oleh karena itu. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. Untuk sampai ke peran pemain itu. bagi Kierkegaard. Bagi Kierkegaard.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Sayangnya. namun masih berada pada taraf “penonton”. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. Ciri kedua. Ciri pertama. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. dalam hidup nyata. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata.

Maka. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. Bagi mereka. Atau. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. damai dalam aneka ketegangan. Ironisnya. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. Dengan beriman. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. Ciri ketiga. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. Pokoknya. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. Maka. Bagi Kierkegaard. Bahkan. Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. Oleh karena itu. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. Oleh karena itu. pada tahap ini. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. kadangmenakutkan. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. orang dituntut untuk. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. Maka. justru ia harus diajak untuk bergembira. Singkatnya. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. Ciri kedua. orang justru diminta untuk bersikap enteng. Beriman berarti bertualang. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. Mengapa? Karena pada tahap ini. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. Komitmen pada suatu paradoks. orang harus kehilangan dirinya sendiri. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . Pada tahap ini. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen. beriman.

V. Dengan demikian. Schopenhauer. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. manusia idaman sepanjang masa.tak berkesudahan. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Ia membaca karya-karya Hegel. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. mereka telah menjadi pendekar iman. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. mereka telah menjadi manusia sejati. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. Namun ia menerima beratnya . ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. bagi Kierkegaard. Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Petersburg.

Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. kebebasan adalah baseless. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. Berdyaev menulis 15 buku. diselidiki. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. Pada 1922. antara lain Berdyaev. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . Bagi Berdyaev. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. Secara ontologis. atau moralitas-pedagogi).masa revolusi. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. perkembangan rohani. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. berceramah. Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. mengajar. Bagi kaum eksistensialis. pada Maret 1948. dekat Paris. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. Secara keseluruhan. kebebasan tidak untuk dibuktikan. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi.sebagian setelah kematiannya. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. psikologi. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. etika Kristen. Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan".

“Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. Walaupun berisiko. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. . dan yang menentukan pilihan di antara keduanya. kreativitas harus diberi keleluasaan. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). sekaligus akhir dan tujuan. reasonable freedom.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. Dalam dirinya. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. Kebebasan. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. Bentuk yang kedua dari kebebasan. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus.” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. tapi juga untuk sesuatu. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. tak ada manusia tanpa kebebasan. demi martabat manusia. meski kebebasan itu berbahaya. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. Bila demikian. Kreativitas adalah misteri kebebasan. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. seperti halnya kecemasan. Alasannya.

manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. Pada sisi yang lain. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. ia sangat mungkin goyah suatu saat. Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. misalnya. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. Maka. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. adalah waktu kesejarahan. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. apakah ini bulan Januari atau Desember. Pada kondisi demikian. terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Dimensi kedua. Pada titik itu. Dapat dipertanyakan. . Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. Demikianlah. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”.

Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . Ayah Nietzsche. Thus Spoke Zarathustra. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. antara lain The Birth of Tragedy. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. Setelah buku pertamanya ini. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat.VI. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. Bismarck. yang berisi tentang tragedy Yunani. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Namun. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. Kakeknya. Karl Ludwig juga seorang pendeta. The Gay Science. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. Tahun 1796. Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. The Birth of Tragedy. yaitu Apolline dan Dionysian. seperti Richard Wagner. Human All-Too-Human. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. The Good and Evil . Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. The Wanderer and his Shadow. ia mulai menciptakan karya-karya filologis. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Awalnya. Selain itu. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Freud dan Darwin. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi.

Dalam Prasangka Para Filsuf. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. Menurut Kant. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. Prasangka Para Filsuf. atau dalam pengertian Deleuze. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. Menurut Deleuze. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. Bagi Nietzsche. Nietzsche menggarisbawahi. Filsafat Nietzsche). Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. Aphorisma 9). mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. Nietzsche. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak.Moral. Aphorisma 5. bagi Kant. (lebih lanjut Deleuze. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. Moralitas-lah. . Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. (Nietzsche. Critique of Practical Reason. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. (lebih lanjut Solomon & Higgins. Sejarah Filsafat).

sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. Tetapi. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya. Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. dan kewelasasihan. fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). dan bukan suatu sistem. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. cinta antar saudara. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. Namun demikian.

konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia. Yang kedua. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik.. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. Lepas dari semua itu. ada kekuatan . tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad. Namun demikian.” (Die Morgenrote [The Dawn]. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”.. Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat.

Namun. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Zarathustra. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. Setelah ditinjau bolak-balik. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Jika kita tidak dapat mengingatnya. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. Di sisi lain. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . betapapun kaburnya makna tersebut. Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. Paling tidak. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. Sesungguhnya.di dalamnya. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis.

Pascal. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. 942-edisi revisi 1906 atau 1911.” [Genealogy of Morals. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. Namun demikian. Di dalam Thus Spoke Zarathustra. Pada suatu bahasan. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. 98] . Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. Di pihak lain. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. Meskipun begitu. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power. Namun. “Ketika aku berbicara tentang Plato. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. Prolog Zarathustra. bagian pertama. XXI. dan Goethe.kesungguhan. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. di dalam edisi Härtle. apalagi kekanak-kanakan. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. Meditasi Kedua. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya.” [Thus Spoke Zarathustra.

yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. warna-warni. phenomenon. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. nafas. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . nyawa. Prancis. kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas. sejak Edmund Husserl (1859-1938).Dalam pandangan Nietzsche. berarti penampilan. udara. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. sukma. namun demikian. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. VII. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. darah orang Yunani. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. jiwa.

Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek.sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan. tertuju pada sesuatu). yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. Franz Brentano. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. termasuk psikologi sebagai ilmu . maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. bracketing). Proses ini oleh Husserl disebut e poche. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'.

kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya.J. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961). Buytendijk. Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). Ultrech. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. Menurut pendapatnya. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda.J Bijleveld. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. Sebaliknya. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda. namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. Misalnya.J. tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. yaitu masing-masing taraf fisik. disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. vital dan psikis. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). Mata belaka tidak melihat. namun demikian.J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E.

filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. Narnun demikian. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976).itu. Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940).

”man cannot pass beyond human subjectivity”.. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain. atau . Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain. . Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas. lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. "Thus. Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. terpandang oleh orang lain. Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya.. "the other is the hidden death of my possibilities". yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia.."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing.

Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. being-allowed-to-be dan having-to-be. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. masing-masing being-able-to-be. Mitwelt. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. dan Eigenwelt.

kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. yaitu kebersamaan yang secara sadar. mereka yang tergabung . 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. Pada analisa akhirnya. Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'.dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me". Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du).

bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' . dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. Demikianlah dalam modus 'Kami'. Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. bahwa keberadaan sebagai . kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be".dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi.

dengan karya pokoknya. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. “Logical Investigations”. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. kristiani. universal. Edmund Husserl. lebih logis. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. “Saya ada. Oleh karena itu. muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. seperti: psikologi. dan sebagainya. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. drama. Sementara itu. sastra. dll). muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme. VIII. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. . maka saya berpikir.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. seni lukis. Di antara para eksistensialis. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. ateis. lokal. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. dan bukan abstrak. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. “Saya berpikir. konseptual.

Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. .Ketiga aliran ini (eksistensialisme. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif. fenomenologi. memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini.

2008 . C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman. S..Psi.W. juneman@gmail.P.

Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. manusia yang bermain. Jepang. Tapi tentu ia harus . untuk adalah faber. Manusia sapiens. Prof. Johan Huizinga. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. I. India. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai. Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. dan Arab.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa.

meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. b. Dalam bahasa Indonesia. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. sebagai salah satu ciri khasnya. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. Dengan bermain. bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan. baik menurut waktu maupun menurut ruang. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". Anak-anak yang main. Bermain selalu terjadi secara spontan.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. Keterbatasan menurut waktu tampak. Antara awal dan akhir tersebut. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. entah secara riil atau secara imajiner. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Permainan adalah "bebas". Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis. Permainan termasuk suasana waktu luang. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. Misalnya. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Permainan tidak mempunyai "kegunaan". c. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat.

Dalam konteks permainan. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. VIII). manusia dijadikan sebagai . Dua fungsi ini mudah digabungkan. e. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. Dalam konteks ini. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. misalnya. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. d. Menurut ajaran Tionghoa kuno. dan sebagainya. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. stadion. karena adanya aturan-aturan itu.adalah sekelompok anak. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. Menurut Plato (Nomoi. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. Di samping itu. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. bioskop. II. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. panggung sandiwara. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. layar putih. permainan terutama mempunyai dua fungsi. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. permainan ditandai juga ketegangan. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. Utamanya. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan.

208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. Bahasa Inggris. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. Untuk dua kata itu. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. Jacob Burckhardt (1818-1897). Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak".mainan para dewa dan dengan persembahan. yaitu ludus. Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. Menurut pendapat itu. bahasa Latin hanya memakai satu kata. nyanyian serta tarian. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". di Yunani kuno. misalnya. Di Yunani. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. dalam masyarakat Yunani kuno. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. mempunyai play dan game. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. III. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. Dan memang benar. dalam masyarakat Yunani. tapi juga di semua tempat lain. seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan. Menurut beberapa seginya. Menurut Huizinga. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak.

Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. seperti perburuan umpamanya. Antropolog Prancis. Dengan pengetahuan yang kita miliki. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. Dengan cara demikian. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan. permainan lebih tua dari kebudayaan. misalnya. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. Binatang pun bermain. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. Epos India Mahabharata. Marcel Mauss. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Dalam masyarakat- .kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya." IV. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. Tidak dapat disangkal.

permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. keadaannya berubah. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". Jadi. Permainan seolah- . Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan.masyarakat arkais. Dengan perkembangan kebudayaan. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. misalnya. ilmu pengetahuan. Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. tata susunan kehakiman. Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. seperti halnya dalam perlombaan. Untuk itu. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. kesenian. Dengan demikian. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. Tapi tentu saja. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. dan kenegaraan. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". Pada umumnya dapat dikatakan. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok. artinya antara dua kelompok. Dalam hal ini. Tarian dan nyanyian.

Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. Tapi sesudah itu. V. Dan dalam bidang ini pun. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. di mana dengan membuang dadu. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. Hukum berasal dari permainan sosial. kebudayaan menjadi semakin serius. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. terbentuk dalam konteks permainan sakral. Tidak bisa diragukan lagi. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. yaitu olahraga. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. nasib seseorang ditentukan. Dalam sejarah Eropa. Dipandang sepintas lalu. Permainan-permainan bola . kebudayaan "dimainkan". misalnya. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. Kultus keagamaan. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. Dalam hal ini. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. Pada awal mula. umpamanya. perang pun berlangsung dalam suasana permainan.

Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. sama sekali tidak ada lagi. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. misalnya. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. Apalagi. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. Di sini. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. perkembangan rumit. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. Menurut Huizinga. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. seperti sepakbola. Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Puisi. Karena semua alasan itu. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. dan permainan papan. Dilihat dari segi itu. VI. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. di mana pelbagai-isme silih berganti. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. Dalam seni rupa. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. Olahraga menjadi sangat serius. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu.yang besar. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. Di situ . bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan.

Di situ manusia menjadi subjektif. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. . dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. merdeka. Hasilnya adalah kebebasan. kebebasan itu tidak mutlak. Bandingkan dengan situasi lain. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". Misalnya. Kalau menang tidak dihitung. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. melainkan karena tujuannya. Dia mengalami bahagia. secara integral. Dalam permainan yang murni. Dengan kata lain. dari rasa yang mengganggu. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. Mereka hanya memerlukan permainan. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. yang menyebabkan disharmoni. Tak demikianlah halnya dalam permainan. Dia menjadi diri sendiri. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. Tetapi. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. sebagai objektivitas. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. Dia harus membebaskan diri. Itulah yang ”membahagiakan”. dalam permainan. karena pamrihnya. dia bebas-merdeka. Dengan menyerah. manusia bebas. at least selama murni. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. Maka. Akibatnya. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. tidak terpecah-pecah. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. secara total. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. akibatnya dia merasa jengkel. Sebaliknya. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. artinya pembebasan dari pamrih. Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya.manusia menghendaki.

begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. seperti berbagai macam permainan dengan bola. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Jika terang bulan. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. dia menjadi kuasa. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. Seperti kekayaan yang lain. mata. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. dan didevaluasikan. VII. manusia menjadi manusia. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Bersama dengan itu. karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. direndahkan. dengan kartu. Dengan menyerah. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. jiwa manusia menjadi bangkit. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain. kita harus melihat problemnya. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. permainan adalah suatu human fenomen.dia direbut sendiri. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. dalam Ganefo. Tetapi lepas dari zaman dahulu. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. dalam Asian Games. dan alat yang lain. bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas.) Setelah melihat gejala permainan. Jika kita menengok sejarah. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. permainan tidak bisa dihindarkan. dan dengan fantasi. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . orang juga bermain dengan senyuman. Jadi. seperti misalnya dalam sandiwara). permainan sudah dikultivir. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. Dalam bermain. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). Pertama. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. kedua. Maka. dan lain sebagainya.

yang sewajarnya. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. An sich tidak ada nilainya. Berdasarkan agon. orang mengejar nilai-nilai fiktif. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. Nah. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. jika dalam permainan.. di mana manusia berkelahi dengan banteng. eros-pun tidak mungkin ada. tanpa lawan. Eros (kata Yunani) artinya cinta. Hal ini sangat tampak dalam permainan. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. unsur perjuangan dalam permainan. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. Berdasarkan agon pulalah. mengalahkan perlawanan. menyatukan bersama dengan . Tanpa agon tidak ada permainan. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. Jadi. membahagiakan karena penikmatan. itulah peranan eros. dan keperwiraan. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. dia melekatkan diri pada permainannya. Di situ unsur agon sangat mencolok. Jadi. tetapi unsur yang luhur. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. Berdasarkan agon. unsur ini ada. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. yaitu agon. agon adalah unsur "peperangan". Tanpa agon tidak ada permainan. Untuk menyelami tabiat permainan. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. apakah bola masuk gawang atau tidak. jadi . Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan.. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. Agon artinya perjuangan. kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai.

tetapi janganlah mempermainkan bahagia. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. Tapi dalam perang modem. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. sehingga permainan yang dipersungguh. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". Barang siapa mempermainkan permainan. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan".Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. sampai titik yang sangat menggelisahkan. tetapi selamanya dalam permainan. Maka. untuk permainan. Tapi. tetapi permainan jangan dipersungguh. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. Eros harus seimbang dengan permainan. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. Adanya eros adalah niscaya. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. Selanjutnya. bahkan dengan hebat. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Mainlah dengan agon. suasana permainan telah hilang sama sekali. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. Di bidang politik dalam negeri. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. kesimpulan umum Huizinga adalah. umpamanya. Dan bangsa-bangsa . Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). Padahal. Tapi dalam politik internasional. akan menjadi permainan permainan. dan tidak untuk nafsu. Penduduk sipil turut menjadi korban juga. bagaimanapun. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. Jangan dijadikan kesungguhan. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. Bermainlah untuk bahagia.

Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi.berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). Di sini. . "Seperti akan diakui setiap orang.

.Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman.Psi.P.W. juneman@gmail. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 . C.

psyke. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. yaitu fisis-kemis. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. Namun. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. dll. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. termasuk manusia lainnya. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. menurut hukum dan mekanisme sendiri). Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. jujur dan terbuka. biotis. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. ”berkorban”. 1992: 114). Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. makhluk individu. atau daripada pohon dan hewan. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. Di dalam bahasa Indonesia. human (Bakker. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”.S O S I AL I TAS M A N U S I A I.

individualitas-sosialitas. etnis. sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. kebersamaannya dengan yang lain. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. religi atau budaya lainnya. “no man is an island” kata sebuah pepatah. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketiga. Pertama. Kedua. Manusia tidak mungkin hidup sendirian.salah satu aspek kehidupannya. yaitu materialitas-spiritualitas. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. alami. yang dapat berkembang ke arah yang baik. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. 1989:55-56). Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. transendensi-imanensi. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. yang prospektif. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. ikatan yang terjadi bersifat . manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. penuh dan lebih sempurna. makhluk sosial. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya.

pencuri. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. misalnya dunia karyawan. orang baik. misalnya dari dunia mahasiswa. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. pedagang. rohaniwan.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. misalnya melihat. Bukan. sikap. tukang kayu. menikmati. Aku selalu di dalam situasi tertentu. maka saya juga (dapat) . Aku diartikan oleh yang-lain. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. pelayan. yang mengandaikan yang-lain itu. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. Jadi. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. Namun. mendengar. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. tukang becak. misalnya sebagai mahasiswa. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. dan melibatkan yang-lain orang. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. guru. diplomat. toh saya pikirkan menurut aspek. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. hewan. dan mengadakan hubungan. Pada umumnya. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. II. Tidak ada ”aku” yang murni. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. menyentuh. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. Juga kegiatanku. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. penakut. kegiatan konkret. Keempat. anggota keluarga. atau barang benda. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu.

Aku berusaha memahami beradaku. Heidegger mengatakan. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. dosen. Sebaliknya. The world of persons). Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. Saya ada. saya menjadi nol. Andaikata ”aku” tidak ada. mereka tidak keluar dari diri saya. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. memberikan penghargaan dan fungsi. maka orangtuaku tidak ada. rumah. ”Wenn kein Dasein existiert. sebagai pemberian dan karunia. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis).mengakui diri. Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. aku juga menerima ketertentuan. sudah mustahil. Adanya dunia saya tentukan. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Andaikata ”aku” tidak ada. negara. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. ist keine Welt da”. sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. Kalau tidak. ”Aku” berada dengan mutlak. Andaikata aku tidak ada. atau sebagai hukuman dan kutukan. Tanpa itu. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. teman. maka seluruh duniaku tidak ada juga. mereka mendekati saya dari luar saya. Satu kesan pun tidak ada. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. dunia tidak tampak. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. dibayangkan saja keadaan seperti itu. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. saya tahu ketergantunganku itu. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. dan janganlah . tanpa manusia. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. maka saya ada. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. mereka tidak saya kuasai. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. III. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc).

atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. sudah mustahil. IV. Tanpa tubuh. dengan saling memberikan arti dan nilai. (2) Yang Transenden (Sudiarja. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. walaupun aku tidak pernah ada. paling primitif. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). 1995: 5-6). yang tertutup pada diri sendiri. Misalnya ”aku” tidak ada. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. Fakta yang sungguh-sungguh ada. juga memuat arti dan nilai bagiku. sejauh merupakan substansi yang berdikari. Kerangka ini . dan menerima itu dari saya. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. “Yang Transenden”. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. V. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas.membayangkan ”aku” tidak ada. dan saling mengadakan. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. yang tetap ada pula. Bertanya pun mengenai dunia itu. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. Tubuh manusia merupakan medium awal. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini.

liberalisme. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. selain alam manusia. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. dan lain sebagainya. yang mendasari. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. Jean-Paul Sartre. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. 2001: 32). Gabriel Marcel menegaskan. Perjumpaan. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. sosialisme. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme. Kedua hubungan itu timbal-balik. pertemuan merupakan permulaan. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). . individualisme. totalitarisme. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. kekhawatiran dan keputusannya. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. kolektivisme. alam dari subjektivitas manusia. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. Gabriel Marcel. antara lain: Martin Buber. 1993: 36-37). Karena “engkau” hadir. awal hubungan yang sejati. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. personalisme. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Emmanuel Levinas.

Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. yang digerakkan oleh cinta. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. tanpa syarat dan bebas. hidup di dunia adalah hidup bersama. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. pada doktrinnya tentang situasi etis. Artinya. yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. 1993: 36). apabila manusia sampai pada cinta itu. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Artinya. Jadi. Lévinas memberikan pandangan khas . Hidup bersama itu mempunyai dua ciri. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . dan (2) cinta. Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. Hubungan ini bersifat asimetris. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. 1993: 37). Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. Dalam hal ini. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam.dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah.

permusuhan. 1956: 222). Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). yang merupakan dua pangkal. selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. Artinya. yaitu Tuhan. pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. Dengan kata lain. Pendekatan . Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. Namun. setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. bagi Sartre dasar. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. Singkatnya. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. Pada orang lain. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. sebagai suatu totalitas. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. tampaklah suatu Transendental. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. Dalam semua kebersamaan. an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). Jean-Paul Sartre (1905-1980). Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. suatu fenomen yang sama sekali unik. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. hakikat bersama. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. pertarungan yang terus-menerus. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. 1985: 322).tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek.

terutama dengan manusia lain. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. kesediaan membela kehormatan masyarakat. dan atau keluarga. saling memajukan dan saling memperkembangkan . Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. Dengan kata lain. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. Sebagai konsekuensinya. Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. . Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. 1988: 307-308.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. Konkritnya. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). melainkan juga “kooperans”. Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. Dalam korelasi itu. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. yang saling mempengaruhi dari luar. seperti rasa memiliki kelompok. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). Bakker. 1993: 8).

Seperti persona tidak ada di samping badan. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga.VI. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. Ketiga. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. negara dan berbagai bentuk kerjasama). dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. Semuanya ini menjadikannya khas. organisasi sosial (masyarakat. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. . yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. terpisah. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. akan tetapi juga “trancendent”. Pertama. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. akan tetapi mem-badan. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. Istilah transendental tidak berarti. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. potensialitas dan keterbatasan. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. pranata-pranata sosial. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Kedua. solidaritas dan subsidiaritas. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi.

yaitu Tuhan. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna. kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Baginya. Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. . Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara.Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. pemanusiaannya menjadi proses yang penting. yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. yang saling membenci.

Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman.Psi.P.W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 .. S. juneman@gmail. C.

Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. Dan memang demikian. umpamanya.H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). Francis Bacon. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. Dalam modul ini. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. Sepanjang diketahui. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Demikian pada Plato. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. History berasal dari bahasa Yunani historein. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. artinya “menyelidiki. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. Filsuf Inggris. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. dan historia. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. I. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan.

Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. tapi ia juga mengadakan sejarah. dan sebagainya. Manusia bukan saja obyek sejarah. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. “teknologi”. melainkan juga subyeknya. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . Ilmu sejarah hanya mungkin. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. Perlu diperhatikan. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. di samping “sastra”. Ia bukan saja produk peredaran waktu. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia.historisitas. Dalam peribahasa Prancis. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Atau dengan kata lain lagi. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”.

Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Jadi. pada waktu tertentu matahari terbit. Malah dapat dikatakan. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. Disangka. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. kesimpulan ini tidak benar. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. dan waktu depan. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . Karena. hanya ada perkembangan. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. Hal itu dapat menjadi lebih jelas.baru. Manusia ditandai historisitas. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. Tidak dapat disangkal. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. bukan bermaksud menolak teori evolusi. Tentu saja. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. Tentu saja. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. besok dan lusa dan selama-lamanya. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. Kendati demikian. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. waktu sekarang. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. pada musim tertentu burung-burung bersarang.

Itu semua tentu benar. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. Di bidang filsafat. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. Menurut pendapat Mazhab Stoa. ya. Apa yang telah terjadi. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. telah terjadi. yang banyak digemari orang Yunani. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). salah satu tujuan drama targedi. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. b. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- .a. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. umpamanya. Misalnya. Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. umpamanya. Untuk Oidipus. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. namun historisitas belum tampil ke muka. Namun demikian. Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. manusia adalah bijaksana. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani).

Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). Proses itu tampak pada segala bidang. Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. dan sebagainya. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. kelaparan. Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Perlu tempo cukup lama. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Karena tidak berdaya. Suatu bidang lain lagi adalah hukum. Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno.ciri yang berasal dari paham pertama. Tentu saja. wabah. Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. Maksudnya. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. c. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Suatu bidang lain adalah filasafat.

Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel. Dan tidak kebetulan pula. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru.menandai pandangan dunia. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. misalnya penyakit. Manusia dapat memainkan peranan aktif. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. d. Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. kata Marx. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. harus menjadi praktis. Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. dan Marx. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. yang penting ialah mengubah dunia”. Comte. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. Manusia adalah pelaku sejarah.

Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . bila dibandingkan dengan periode-periode lain. ahli astronomi yang ternama. Pasti mesti ada sebabnya. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan.000 tahun. Ia sampai pada 50. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia. Ahli fisika termasyhur. Isaac Newton (1642-1727).000. menarik kesimpulan begitu ekstrem. Mari kita memandang beberapa detail: a. Seorang sarjana Inggris. Tentu saja. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas.000 years at the outside”. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630).dijungkirbalikkan.000. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi. Memang tidak dapat disangkal. II. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi.000. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. yaitu pengalaman manusia tentang waktu. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin.000 or 10. 6. Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. karena angka itu dianggap terlalu tinggi.

Contoh lain adalah masalah kependudukan. “Laporan .000 tahun sebelum tarikh kita. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu.miliar tahun lagi. yaitu dengan teknologi itu sendiri.000 tahun lalu. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. Lagi pula. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern. Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno.860. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. b. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri.000 tahun. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam.

Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. kita lihat tadi. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. Tentu saja. dan intersubyektivitas. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. Hal itu tentu selalu diketahui. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. Tapi dalam sintesis filosofisnya. Dan mungkin baru . Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. Karena namanya “implikasi”. temporalitas. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. a. Dan tidak dapat disangkal.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. Dengan kata lain. kebebasan. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. Comte: “savoir c’est prévoir”. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. III. kata Pascal. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. Memang benar yang sudah dikatakan A.

manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. tidak lebih dan tidak kurang. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. Tentu saja. seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin. Seniman “menciptakan” karya seninya. Bila Picasso adalah seorang seniman. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. dalam materi yang kasar. umpamanya. b. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”.zaman kita sekarang mulai berhasil. Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. Namun benar juga. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. tapi juga tugas. Manusia adalah pencipta. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). Pendeknya. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. sebagaimana batu adalah berat. Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. Seorang manusia bukanlah seniman. Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. Sebuah batu adalah batu belaka. Ia sendiri tidak merupakan sumber . bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. jika manusia tidak bebas. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . Sebaliknya. Pada manusia. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. seperti binatang (dan… malaikat). manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. sebagai roh yang menjelma dalam materi. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. Karena. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. walau bakat itu diberikan kepadanya. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). lisan atau tulisan. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya.

verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. Sedangkan manusia. Namun demikian. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. tapi segera hilang pula. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Atau dirumuskan dengan cara lain. kata Hegel. Kalau begitu. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. Maksudnya.mutlak dari bakat itu. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. adalah ein krankes Tier. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. binatang yang sakit. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. kata Merleau-Ponty. jatuh ke dalam ketiadaan dan . Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. seperti misalnya pada Sartre. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. c. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. manusia betul-betul kreatif. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. adalah un mouvement de transcendance. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. Manusia. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. benar dan matematis. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya.

hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . sekarang) “kehadiran”. sebagaimana diandaikan oleh Newton. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. Bila saya seorang muda. Itu bukan waktu yang “benar”. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. mendatang.diganti dengan saat lain. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. meski dalam bentuk “yang akan datang”. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. d. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. takuti atau nantikan. Jadi. Dengan kata lain. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. Karena. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. arloji atau kalender. dengan salah satu cara hadir juga. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Dirumuskan sedikit karikatural. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. Bila saya seorang dewasa. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. waktu antropologis. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). maka masa muda masih hadir bagi saya. tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. membatasi. Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang. bukan saja sejauh saya mengingatnya.

bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita. Misalnya.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. dan agama. J. seandainya setiap generasi (apalagi. “Manusia tidak mempunyai kodrat. etika. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. Perlu diakui. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. IV. Historisitas menjadi mustahil. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. . Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. Misalnya. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. Manusia adalah makhluk historis. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem. Manusia adalah makhluk historis. karena selalu ia meneruskan. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. ia hanya mempunyai sejarah”.

Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu. Itulah kebenaran historisisme. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. . Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Artinya. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Demikian halnya juga di sini. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah.

W.Psi.P.. C. juneman@gmail. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. 2008 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.

tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. 2. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). Sartre. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. ia menjadi faktualitas. Karena pengaruh teknologi media mutakhir. kematian menjadi fakta. Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. dalam hal ini.K E M AT I A N M A N U S I A I. membicarakan kematian secara a priori. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. Pendek kata. Dalam setiap ranah pemikiran. padahal kita belum mengalaminya. dan menjadi sekadar data. Jaspers. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. dan lain-lain). kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). Kita. mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. sementara kita belum . paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. Bagaimana kita bicara ihwal kematian.

namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. Filsafat eksistensial. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. tetapi perlu melibatkan pengalaman. Namun. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Karena itu. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. seperti diketahui. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. ‘filsafat hayat’. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. . Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi. Pertanyaan selanjutnya. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b.

Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. menurut proses alamiah. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. atau suatu fase dari substansi ilahi. Kemudian. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi).Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. (2) Dualisme. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua. jiwa itu dipersatukan dengan badan. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Bahkan. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. II. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. maupun bagi anak yang mereka lahirkan. seluruh manusia itu melulu materi. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. Menurut materialisme. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu. suatu bagian. Badan itu hanya epifenomena saja. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. yaitu lahirnya substansi otonom baru. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. dengan alasan .

atau diberi-alih dari substansi mereka. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. Schelling). Struktur hakiki. dan transenden terhadap materi. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. Dengan demikian. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. Menurut tradusianisme spiritual. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. juga menentukan permulaan proses itu. mulai abad-abad pertengahan. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. Menurut Thomas. Dengan demikian. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. Dari segi ontologis. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan .berwarna-warna (Kant. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. pada saat persiapan itu sudah cukup. dan hominisasi. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. Menurut tradusianisme materiil. kreasionisme. Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. (3) Usaha sintesis. yang meliputi tradusianisme. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. Jiwa itu subsisten. atau memberi-alih. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. Hominisasi. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. badan dan jiwa. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia.

apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi.kepada anaknya pula. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Semua ”ada” material. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. Bukan permulaan itu yang paling penting. Bunga menjadi pudar. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. melainkan sebaliknya. Jadi. III. tidak melampaui dunia material. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. destrukturisasi. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. bersifat fana. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. dan akhirnya busuk dan mati. justru bukan . dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. di dalam penyebaban manusia yang langsung. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. Dia tidak masuk dunia abstraksi. Maka.

jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. seperti halnya dengan semua benda material. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi). meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi. sebagai berikut. Misalnya. Sampai di sini. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. dengan abstraksi. yaitu dunia manusiawi. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. degradasi. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. Karena spiritualitasnya.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . Tanpa keluar dari dunia material. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. ilmu-ilmu. Namun dibedakan dari badan. tanpa keluasan dan kuantitas. kematian. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani.karena kehewanannya. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. Ernst Bloch. dan lain-lain. seluruh dunia kebudayaan dan agama. Paham materialis mencoba menghancurkannya.

Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’.D. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. self keakuannya.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis. Sesungguhnya. Menurutnya. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan.” Pengarang Inggris H. ”menghadiri pemakamannya sendiri. suatu kutub oposisi yang mutlak.” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan.definitif dari semua. Dalam beberapa riset yang lain.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. ia tahu bahwa ia adalah ia. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya. ingatan yang rusak itu.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya). aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual. N. artinya apa yang esensial dalam kepribadian.” IV. Pun pula dalam amnesia total. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri.H. kesadaran yang kosong itu. sebuah lengan.

maka tidak mesti mengandung kekekalan. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. terkadang menikmati kesehatan. tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. bahkan yang paling kuno. tak jujur. Dalam inti hati manusia. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. manusia tidak bisa keliru secara universal. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. argumen ini tidak berlaku. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. Jadi dari dirinya sendiri. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. bahkan bersifat absurd. sedangkan begitu banyak orang jahat. Tentu saja. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. hormat dan kemakmuran. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. kesuksesan. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia.

Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Akan tetapi. kebajikan. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. dan yang paling berat di antara semua yang ada. terutama aspek cintakasih sejati. keakuan pribadi. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. astronomi. J. Tugas ini amat berat bagi manusia. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya.van de Casteele setuju dengan beliau. argumen moral ini berbobot sekali. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. Akan tetapi. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. Prof. yakni pribadi manusia. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. sebagai targetnya. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . Sebagai akibatnya. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. Nah. Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. yang paling luhur dari semua daya evolusi. teratur. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. salah satu kesulitan ini. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. Ada sesuatu yang harus hidup terus. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal).J.

karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. Hasrat untuk tetap hidup. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu.” Sebenarnya. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. juga merupakan bagian dari pengalaman kita. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. . Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik. ia betul. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. bagi makhluk manusia itu. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir.harus membuktikannya. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun.

Pendeknya. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. Dalam diri kita. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. Secara formal. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. sebaliknya. Jika tidak. Karena. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. seolah-olah kita merasa kekal. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu.Evaluasi terhadap argumen di atas. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. . Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. tanpa kekekalan pribadi. Jadi. dan bukan kepada orang lain. kalau tidak. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. Tuhan bukan Tuhan lagi. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. kebahagiaan menjadi tak mungkin.

Ladislas Boros). alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. Karl Rahner.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi. ”the here and now” quantified body.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya.” V. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof. Kalau begini. dalam kesatuan ”kita”. Sebaliknya. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. Dalam perspektif ini. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. Gabriel Marcel menulis. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama. Karena itu. Van de Casteele.

suatu kehadiran pan-kosmis. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. pada saat kematian biologis. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. persaudaraan. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. akrab dan enak. VI. warna-warna. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. Meninggalkan dunia ini. Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. Namun. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. Pada saat kelahiran. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. Manusia . ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. bahwa pada saat kematian. Dalam waktu yang sama. Tetapi pada saat yang sama. Bagi orang dewasa. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. makna-makna. Rahner berkata. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya.” Jadi. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. satu-satunya yang kita hayati. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. dan cinta manusiawi. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya.kita.

harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. pribadi maupun sosial. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita. akan dipenuhi. semua saksi yang kita bicarakan. melainkan sebuah drama. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience).adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini.” Namun seluruh analisis kita. . kebahagiaan. atau suatu konflik tanpa jalan keluar. Kematian bukan suatu tragedi. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita.

C. Penindasan.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh.P. 2008 . Perjuangan..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.Psi.W. S. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman. Identitas.

hak-hak perempuan. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Derrida. stereotyping. seksisme. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. identitas gender dan seksualitas. the Second Sex. peran gender. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. Dalam “the Laugh of the Medusa”.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. dan phalogosentrisme. penindasan perempuan. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. the Subjection of Women (1869). dia menolak esensialisme yang sedang marak di . Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. hak berpolitik. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. hak reproduksi.

dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. agama. Dalam berbagai penelitian tersebut. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). rasisme.Amerika pada waktu itu. Dengan asumsi ini. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. Selama sebelum PD II. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. bagi perempuan kulit hitam. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. Dalam berbagai diskursus. meliputi Afrika. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). banyak feminis-individualis-putih-barat. Dalam wacana ini. Karena perempuan kulit . Asia dan Amerika Selatan. adalah kemewahan. dan relasi sosial. Secara lebih spesifik. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. meskipun tidak semua. seksisme. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”.

perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. Lagi-lagi. dan menerima begitu saja. Dalam persoalan pertama. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Dalam konsep objektifikasi ini. Dalam ranah antropologi. bisu. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. dan lain-lain yang non-domestik. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. Sedang untuk persoalan kulit hitam. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. bekerja keras. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. diam. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. Dalam banyak kasus.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. Perempuan dunia ketiga. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. sekali lagi. di sini. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Hampir seluruh kasus penelitian . para perempuan. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain.

Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. mencipta. Perjuangan. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Identitas. Penindasan. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. Dalam penelitian psikologi. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. Tubuh. melakukan revolusi. Sebab. dia terkurung dalam sikap pasif dan . dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki. II. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum.reproduksi. perempuan tidak berani bereksplorasi. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri.

tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. . Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. Akibatnya. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. sudah tetap. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Dengan cara demikian. bahkan mungkin juga negara. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. dan pasti.tidak berdaya." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Menurut Beauvoir. konstruktif. melalui fungsi tersebut pula. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. dan aktual. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. sekolah. Namun. bahkan tidak 'dianggap'. Dalam situasi yang demikian ini. dalam hal ini rahim. Baginya. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. masyarakat. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Dengan etika ambiguitas. Melalui fungsi tersebut. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan.

Menurut de Beauvoir. Padahal. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. Oleh karena itu. yaitu mengabdi kepada orang lain. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. Kehadiran perempuan sebagai manusia. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. Permasalahannya. Pada tataran pemikiran. budaya. diskriminasi jender terus lestari. yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. Identitas perempuan tidak dianggap penting. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . dan politik. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. Sebenarnya. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Melalui sikap diam dan pasrah. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. yang dicapai melalui revolusi sosial. Di level praktik. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. digerus begitu saja. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. yakni level pemikiran dan praktik. Tak heran. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya.

penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. bukan cabul. Arab. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. menggolongkan pornografi . Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. jubah hitam panjang. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". bentuk purdah. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. Maria Marcus. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. menuju keotentikan dan pembebasan. Feminis yang lain. Perempuan dalam episteme agama Katolik. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. Untuk para feminis. misalnya. jilbab panjang. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Dalam hubungannya dengan pornografi. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam.

objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. Pun di Barat. yaitu para produsen. Dengan demikian. Di sisi lain. Bagi Kappeler. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. Di dalam masyarakat patriarkhi. seks dengan kekerasan. penulis skenario. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. Tubuh Perempuan yang seksi. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. cantik. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. gemulai. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. konsumen. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang. Tanpa kedua hal itu. Dengan adjektif itu.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. dan pembaca/penonton pornografi. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. Menurut Marcus. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. yang tersohor dengan liberalismenya. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan.

UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. beragam. Penyebutan paha. sopan. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. Apa yang disebut santun. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. baik. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. Namun. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Perempuan seolah sebagai gangguan. Dengan kategori relativitas adjektif. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. Perempuan hanya sebagai subordinat. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. Jika UU itu ingin akomodatif. pusar. dan nonlinear. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. Sekali lagi. . serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme.

Kwame Nkrumah. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. Pada kasus Jawa.III. Dalam era kolonialisasi. JanMuhammad.C. dll. irrational. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. yang Lain (baca: Other). Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. Chandra Talpade Mohanty. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. Center dan beradab. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin. Barat sebagai yang occidental. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Timur sebagai yang oriental. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. perempuan. Subaltern. rational. bell hooks. Albert Memi. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. Achille Mbembe. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Pada awal abad 17. Kreol India dan Eropa. Said menulis Orientalism. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. Trinh T Minh-ha. seperti Gayatri Spivak. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. Dan secara kuliner. dan terakhir white-female-burden. dll. colored-man-burden. Uma Narayan. Frantz Fanon. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Sejak tahun 1920. Cina. Ranajit Guha. maskulin. traditional. Melawan whiteman-burden. dan Homi Bhabha. eksotik. feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. Robert J. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. tidak beradab. Bali . Young. Anne McClintock. AijazAhmad. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda.

dan relasi sosial tersebut. kelas. diperkirakan 100. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. terkadang. daerah bencana dan daerah konflik. diskriminasi. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. Penemuan terhadap esensi. Kehadiran esensi adalah . Dengan perbedaan geografis. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. budaya. status sosial rendah. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. buruh murah. penindasan terhadap perempuan adalah sama. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. Negara dan bangsa. universal sisterhood menjadi problematis. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. Di Indonesia. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. budaya. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. relasi sosial.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. seks komersial. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. khususnya pantai Pattaya. lemahnya penegakan hukum. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. penderitaan perempuan adalah sama. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. ras. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. agama. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. ras. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta.

Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. . Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa.kelahiran kesadaran. telah dirampas dengan daya global. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. IV. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. Dalam banyak kasus. terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. dengan sebutan globalisasi. Jogjakarta. Semarang. Dengan asumsi ini. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Surabaya. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. dalam konteks sekarang. Bandung. Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. la parole / Jakarta. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. Sebenarnya.

Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. Sejarah ras. tapi secara mutilatif. merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. Pada titik ini. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). Dalam berbagai tayangan media. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. kelas kedua. perlu dilakukan penelanjangan esensi. Dalam berbagai sektor. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. anak perempuan yang kelas kedua. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. jelas terlihat. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. Tidak dipungkiri. submisif/tunduk.Dalam konteks media. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. Sejarah tubuh. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. ibu yang baik. Sejarah etnis. Dalam politik identitas. Motto para penjajah . Dan sejarah sastra budaya. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. terutama Jakarta. peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa.

sejarah dan agensi.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Dengan konstruksi. uraian di atas lebih lanjut. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . Seperti yang terjadi sekarang. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Tanggung jawab terhadap Subyek. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Menjadi titik dan selesai. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. maka mereka akan mudah dijajah. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. identitas. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. ras. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Dalam politik dekonstruksi. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. V. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa.

para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. terutama laki-laki. sulit menerima metodologi ini. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. Intinya. metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. . Meski banyak kaum positivis.

C. juneman@gmail. S.Psi.P..W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman. 2008 .

mempertanyakan. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Dari khasanah Islam. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. Di Abad Pertengahan misalnya. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Tetapi. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). filsafat adalah hamba bagi iman. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. Selalu ada yang mesti dikorbankan. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. keduanya memiliki perbedaan mendasar. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. Dalam pemikiran Eropa. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. tidak sistematis. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. Bertrand Russell .F I L S A F AT T I M U R I. Agama mengajarkan kepatuhan. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. misalnya. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. dipertanyakan. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. dan tidak kritis. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat.

Jadi. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. 1996). contohnya. Sejak Socrates. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. Pemikiran etis dari Confucius. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. . maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. Hidup. contohnya. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. Di sisi lain. Exposed to attack from both sides. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. dengan keutamaan pada praktiknya.the no-man’s land between science and theology. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. jika pemikiran Timur dianggap agama. Dalam pandangan lain. dan Islam.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. Buddha. Plato. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. Di pihak lain. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. dan Aristoteles. Plato. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). . pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu. .

dapat kita temukan nama Muhammad saw. Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. yaitu India. but though he remained an “amateur” or informal teacher. dan Jesus. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. and their first and greatest ethical philosopher. Plato. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. dan Israel. Socrates. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. peradaban. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Cina. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. The Teaching of Wisdom. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G. Confucius.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions.” Oleh Beck. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. Yunani Kuno. . Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Sebagai tambahan bagi Jaspers. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. Namun. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. seorang pemikir psikologi besar. Confucius disejajarkan dengan Socrates. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. bagi Jaspers. dan Aristoteles. Jung when he wrote.

ditolak. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. tak ada ujung. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. Pengertian kritis di sini. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. Dengan demikian. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). dan tampaknya akan terus berlanjut. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. radikal. dan kritis. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. Sebuah upaya adalah sebuah proses. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. (Disarikan dari . radikal. sistematis. dialektis.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. tak ada kata putus. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. sistematis. Sebagai produk. hingga menjadi makanan yang siap santap. filsafat terkesan sebagai barang jadi. serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. ibarat resep masakan. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. sesuatu yang telah selesai. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. yang memiliki sifat rasional. Sedang sebagai proses. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. atau ditangguhkan vonisnya. Dalam khasanah filsafat Barat. bukan produk. Secara lebih spesifik lagi.

Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. dan bertahap. para filsuf dari empirisme. Pembatasan kaum empiris. Dengan begitu. positivistik. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. . Dalam pemikiran Barat konvensional. Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being).Moore & Parker. 1990). pengertian sistematis. positivisme. Dengan kata lain. serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. Jika kenyataan saat ini tidak hujan. runut. radikal. Sebagai contoh. Dengan pengertian kritis. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). dan filsafat analitik. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. positivistik. maka pernyataan itu salah. sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. Feldman & Schwartzberg. Mayer & Goodchild 1990. 1986.

Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. Dalam agama. Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Berbeda dengan filsafat. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar).2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. Dalam filsafat. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam.

Mereka lebih sering menafsirkan. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. dan aksiologi.Tuhan tentang rahasia semesta. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Quinne. berusaha memahaminya. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. epistemologi. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. tentang yang benar dan yang salah. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. filsafat Barat mutakhir. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. Berbeda dengan filsafat Barat. II. Cukup percaya saja. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. itu sudah sangat memadai bagi mitos. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan. Kalau kita bicara tentang sistematika. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. tentang yang baik dan yang buruk. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. kemudian mengamalkannya. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. bagaimana cara mendapatkannya. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis.

apalagi dalam ilmu dan filsafat. are to be called not merely poets. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. or legislators. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. but are worthy of a higher name. we cannot give them the name of ‘wise’. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. Lao Tze. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. However. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. dan bahkan beberapa lebih mendalam. when they are put to the test by spoken arguments. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Pengertian kebenaran atau . Pendeknya. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. since only God is worthy to be called wise. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. befitting the serious pursuit of their life. orators.

and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. Kata wisdom. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. gairah. We have described awareness as the consciousness of life. Intuisi. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. Kedua.kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Perasaan. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. 8. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment. kemudian mengkajinya secara rasional. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. Beck menyimpulkan: . Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. Namun. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi.

Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. seperti Confucius dan Sidharta Gautama.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. para filsuf Hindu dan Islam. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). sistematis. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Untuk mencapai kebijaksanaan. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek.” Dalam pandangan Beck. Confucius. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. tidak akan mencapai kebijaksanaan. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. bukan hanya rasio. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). Sidharta Gautama. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis.

modifikasi. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. The Teaching of Wisdom. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. dan ada solusi bagi masalah itu. Pada praktiknya. Dalam pemikiran Cina misalnya. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. diskusi. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. adu argumentasi. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya. dan aksiologi. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. epistemologi. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. ada masalah yang jelas. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran.

Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. saya harus menunjuk ke India. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. lebih universal. III.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. yaitu orang Yahudi. Daoisme. dari sumber tulisan manakah. . Budhisme. Tetapi di akhir abad ke-20. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. lebih menyeluruh. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. Budhisme Chan. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. seperti Hinduisme. pemikiran Timur. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur.

” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India.. dia menulis sebagai berikut. Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian.S. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi. akan menaklukkan para penakluknya.” Syair karangan T. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu.. mungkin India yang telah ditaklukkan. “Di seluruh dunia. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa.. Arthur Schopenhauer misalnya.. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan.. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat.. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi... Dengan berkiblat kepada Barat. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah.. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu.. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu. yang berarti Damai.. namun dalam abad ke-21. Elliot yang berjudul The Waste Land.. shantih.. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi. sekali lagi saya harus menunjuk ke India.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis. Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja. pada abad ini. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi... shantih. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku. “Shantih. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya. damai... Tapi coba cermati India. Dengan .” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur. damai. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah.

kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. dan akhirnya sama sekali lenyap. Seiring dengan perkembangan zaman. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. lahir karena kebetulan. Makanya. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. Sebab. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. Misalnya. Makanya. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). kematian cita humanisme universal. Semedi. Kendati bukan pelopor. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. dari Yoga. Aristoteles. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Padahal jika diruntut ke belakang. Lucunya lagi. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. kita hanya mendapatkan . Hasilnya. Di samping itu. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat.kata lain. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. kematian kebenaran universal. Pada titik-titik tertentu. kematian metafisika. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

yang dilihat bukan badannya saja. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. 4. 2. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. Modul III: Kehidupan 1. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. Jika kita mengingat psikoanalisis. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. Modul II: Bahasa 1. meskipun samasama menunjuk kepada manusia. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit." Apakah implikasinya? 6. yang juga menyelidiki manusia. 5. 4. Lalu. seperti misalnya psikologi. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. ringkaskanlah sifat dialektiknya.

3. 6. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3. 4.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? . terutama jika akhirnya tidak tampak. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. bagi manusia merupakan penderitaan. Perpanjangan suatu situasi. 4. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. Modul IV: Pengetahuan 1. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. 2. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek.3. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power.

apakah mereka saling mengandaikan? 4. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. 3. apa sajakah itu? 5. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. 3. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2. Dalam hal ini. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. 5. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. 5. Sebutkanlah dan jelaskanlah. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. 6. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan.4. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. Untuk mencapai afektivitas. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik.

menurut Kierkegaard. menurut Louis Leahy. Menurut penyelidikan Anda. 2. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada. . seperti psikologi. 3. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. menurut Jean-Paul Sartre. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Mengapa. 7. 8. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Mengapa. eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre).6. 6. 4. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9. Jelaskanlah mengapa. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun.

2. Verifikasikanlah pernyataan ini. Modul X: Sosialitas Manusia 1.10. 4. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain". Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel. 5. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. Berikanlah contoh-contoh. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Permainan Jelaskanlah. 2. "Barang siapa mempermainkan permainan. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. Apakah yang dibebaskan? 3. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Kalau "aku" tidak ada. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. 5. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. 3. lalu toh tetap ada dunia." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. akan menjadi permainan permainan.

Sebagai daya kebebasan. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. Menurut Anda. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. 5). Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. Dalam konteks tersebut (no. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. 4. jika manusia tidak bebas? 4. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. 3. bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. namun di lain pihak. 5.2. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1.

Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . Homo Homini Lupus. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur.) lagi. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. 3... Di manakah batasnya? Selanjutnya. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. perlu dilakukan penelanjangan esensi.. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . gairah.. 5. Homo Economicus. Dalam politik identitas.. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. 5. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. Carl Gustav Jung. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1. . Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional.dalam budaya patriarkat. Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3. Ahli psikologi. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful