F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

.................................................................................... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.................................................................................200 VI................. Permainan dan Kebudayaan..................... Ikhtisar.......................................................................................................272 III...226 III. S......................197 IV........... Jiwa Manusia Bersifat Kekal).........219 Historisitas Manusia...................................... Ikhtisar ............................................................................232 Modul XII...................................................................................................................208 II.......253 III.................................... Fungsi Permainan....................... "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II......................................................................250 II............... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?.........................................211 IV...................246 VI................................................................................................. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain".....................220 I................234 Kematian Manusia................. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?............................................................................. Kritik atas Kebudayaan Modern......................... 6 ............................................208 I....................................................................................235 II........... Korelasi.......................................... Perjuangan...................................... Pemikiran Timur sebagai Filsafat............................................198 V.......235 I...........................................................266 II...................212 V..................... Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek........ Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?........................................ Identitas...........................................266 I..................237 III... Lahirnya Manusia.................................................................... Aku Mengadakan Yang-Lain....... Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia...207 Sosialitas Manusia. Penindasan............. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas.......210 III.... dan Pembebasan Tubuh Perempuan...................247 Modul XIII................................................................................................196 III....II........................ Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ..................................................................................................................... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati................................................ Ikhtisar............. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"............................................217 Modul XI....................249 Filsafat Feminisme........265 Filsafat Timur.......265 Modul IX...239 IV...250 I....277 Lampiran I: Soal-soal.............................. Ikhtisar. Tubuh..261 V............Psi......................263 M.................... Arti Modern Istilah "Historisitas" ..................................................................................241 V....259 IV....228 IV.................. Permainan dan Pembebasan..... Ikhtisar.......201 VII........................285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman........ Permasalahan & Pandangan-pandangan....................................... Permainan dan Perlombaan...................212 VI..203 Modul X............................................................................................................................................................. Aku Diadakan oleh Yang-Lain................................................................

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. malu. yang berarti ”menampak”. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. S. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. 16 . Dengan demikian. bekerja. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. misalnya pada taraf biokimia. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. semua kegiatan.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. V. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin. Bukan berupa sifat atau gejala saja. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu.Psi. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). dan berarti ”yang dipikirkan”. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. Dengan demikian. cinta kasih. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. rasa takut. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. b. Dengan jalan ini. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. biologis saja. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. semua pengertian. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. seperti misalnya berjalan. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Namun. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu.

Jadi. VI.Psi. sebagai ”aku”. Nama ini menimbulkan keberatan. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam. S. Akan tetapi. Memang. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. misalnya menurut aspek budaya. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. turunan. 17 . VII. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. dan sebagainya. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. yaitu keunikan dan kesendiriannya. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. atau ”psikologi metafisis”. dengan segala sudutnya. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”.

Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. S. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. tentang dunia. sosiologi. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. kemampuannya dan cita-citanya. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. dan sebagainya. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. Misalnya. antropologi. Alasannya adalah karena. manusia dan Tuhan. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. alam semesta. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. waktu. seperti biologi. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri.Psi. etnologi. 18 . psikologi. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri.di muka kita. dan sebagainya. tentang makna kebebasan dan mencintai. menganal hakekat sifat dirinya. terutama pada masa kini. yang sampai batas-batas tertentu.

misalnya. strukturnya yang fundamental. Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. melainkan struktur metafisiknya. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan. Plato. digambar. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. alam kodratnya. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. alasan adanya (principe d’etre). Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain.Psi. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. S. 19 . Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. yaitu badan dan jiwa. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. Filsafat manusia. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. mengambil manusia sebagai obyek material. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. dibayangkan. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. diukur.

Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. S. serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. atau juga. eidetik. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. abstraktif. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. 20 . namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.Psi. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. fenomenologis. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. induktif. Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika. Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. metode filsafat adalah bersifat refleksif. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri.binasa. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. dan metode metafisik. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu.

S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman. S.Psi. juneman@gmail.P.. 21 .W.Psi. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

S. dsb. rantai penandaan terputus. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. jaksa. pengacara. cara tetapi struktural ini. dan sebagainya). Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. perancang iklan. Berdebat di ruang pengadilan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan.Psi. Nampaknya. psikoanalis Lacan. Apabila di dalam praktik bahasa. Pertama. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. penulis. yang Jacques menurut tertentu. belajar di bangku kuliah. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. . kelupaan akan nama. Para hakim. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. di toko.BAHASA I. di kantor. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. keseleo lidah. membeli tahu-tempe di pasar. dosen. di bengkel. atau di mal-mal. penyiar radio-televisi. wartawan. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. dengan bahasa. berbicara adalah suatu gejala yang terang.

S. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. misalnya dalam bentuk penilaian. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. Bahkan. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. terdapat tahapan evolusi yang luas.” (Langer).” kata Joseph Conrad (Brussell. the power of words. Maka itu. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. Kedua.Psi. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). Di dalam bahasa. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. Husserl. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. Inilah kekuatan bahasa. kekuatan kata-kata. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. aspek-aspek dunia terungkap. inti sesuatu hal. mendengarkan. Wittgenstein awal. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. cerita. pernyataan. bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. 1988). sejak dahulu. karenanya menyesuaikan diri. kata ataupun susunan. 23 . dan representasi. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. Kedua. seseorang dapat menggerakkan dunia. pada periode Frege. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. dan Carnap. 1996): Pertama. susunan alam raya). Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. Bahasa. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. menurut Gadamer.

tersangkut badan dan jiwa. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. Selain itu. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. II. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. dalam perbuatan berbicara. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). misalnya. yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Substansi adalah kata atau ungkapannya. maka suatu kata memperoleh arti dan makna. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). Ketiga. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. S. 24 . yaitu segi ekspresi dan segi isi. seluruh pribadi manusia itu. maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. retorika. Searle). dan roh. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. hermeneutika. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. yaitu manusia secara konkret. asap menandai adanya api. Di dalam Speech Acts. Ketiga.Psi. Tergambar jelas dari uraian ini. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. Secara berturut-turut. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. menurut van Zoest (1993). Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. strukturalisme. the act of doing something. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. Bagi Wittgenstein-tua.an. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Grice. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). contohnya. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. dan the act of affecting something. dan poetika.R. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. J. pancaindera. dan post-strukturalisme.

Keselamatan kita. sebagai ”hewan sosial”. kalimat. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. Perpustakaan. dan c untuk context atau conditions.Psi. merupakan khazanah pengetahuan insani. kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). jika disandingkan. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. c). tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. r. i untuk interpreter. Dalam penelitian sastra. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. sehingga bagi Cassirer. Maka itu. animal simbolicum. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka huruf. ia memperoleh sebutan baru. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Perhatikan rumusan berikut: S (s. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. misalnya. 25 . Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. r untuk reference. S. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. kata. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. e untuk effect. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. e. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. S adalah untuk semiotic relation. i. manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi.

” Dengan istilah teknis dan filosofis.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi. ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought). Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. 26 . Max Müler lebih jauh lagi. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. kita harus berpikir. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar.J.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa. di mana Müler menegaskan. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. Masing-masing merupakan produk biologis. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Agar bisa bernalar. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. ”Bahasa adalah busana pikiran. Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut. S. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan.Psi. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. No Language without Reason. mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. (2) pikiran adalah bahasa. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language. J.” Samuel Johnson mengatakan. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan).

Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. sekalipun sangat menyederhanakan. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. dan filsafat analitis. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. tetapi kesan pasti ini menyesatkan. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. samasekali tidak jelas begitu saja. dan abadi. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran. tetapi kata (word). seperti misalnya. kaitan pikiran dan kata. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. S. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound).Psi. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). 27 . Pikiran akan menimbulkan kalimat.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. strukturalisme. tetapi terkadang tidak. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. tetap. semiotika. hermeneutika. dan definisi arti. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu.

” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. S. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya.menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Sebagai contoh. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. Benarkah bahwa. bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru. itu samasekali tidak mengurangi nilainya. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. III. 28 . tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. dan mengakui keterbatasannya. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam.” atau bahwa. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. ”Bir lebih enak daripada anggur. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya.

.Psi. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa.” Pinker berpendapat. teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu. Bahasa manusia berbeda samasekali. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). Bila elang mengancam dari atas. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan. Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. dan sebagainya). David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. S. Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. 29 . yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa).. terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. Bila pemangsa terlihat di tanah. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja.

Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. S. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya.Psi. berbeda. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. 30 . Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. 2. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri. IV. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat.

Dalam dunia. S. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. 31 . bahasa tidak mempunyai arti atau makna. karena Ia bukan fakta. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. karena bukan pernyataan faktual. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. lebih baik diam. Oleh karena itu. Tanpa hubungan itu. Oleh karena itu. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. Semua ini bukannya tidak benar. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar.Psi. ini suatu mistik. Menurut Wittgenstein. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah.” 5. 6. 4. Pernyataan metafisika. estetika. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku.3. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. Oleh karena itu. Kita tidak dapat menjawabnya. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Tuhan menampakkan diri. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. Menurut teori gambar. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. Sungguh. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Di hadapan ketidakmampuan ini. melainkan tidak bermakna. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. harus dimasukkan. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. Dalam hal ini. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. Ini sudah merupakan dalil. Tetapi bagi Wittgenstein. sesuatu yang tak terkatakan. etika. Bahasa etika dan agama. Caranya ialah dengan gambaran logis. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. atau agama tidak mempunyai arti.

(c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. sebuah tanda menjadi mati. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. dalam kenyataannya.nilai itu ada. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein.Psi. dan. dan seterusnya. misalnya sudah. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. justru dalam penggunaan. menjadi bermakna. berterimakasih. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. juga mengenai hal itu kita perlu diam. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. S. Sebuah tanda menjadi hidup. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. Misalnya. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. Permainan bahasa (language games). Dalam hal ini. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. beroda. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. kuda. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. kambing. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. Ada banyak permainan bahasa. bernyanyi. pohon. Dalam permainan bahasa. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. boleh. Esensi setiap permainan berbeda. maka. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. menanyakan. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. memberi perintah. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. perlu dicari di luar dirinya. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. 32 . Karena itu. demikian pun bahasa. Dengan bahasa yang sama. (b) Akibatnya. kita dapat memaparkan sesuatu. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu.

Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. 2. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. Masih kita ketahui. 3. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. kita berbicara tentang apa. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. Dengan itu. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20.Psi. S. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru.menyatakan satu pernyataan tertentu. V. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. Terpaksa. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. karena bahasa lain tidak kita punya. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. 33 . bermakna atau tidak. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. kita menggunakan bahasa yang sama.

Pada G. “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak pada taraf ontologis. Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. Terutama di Inggris. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. Karena itu. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius. ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. misalnya. S. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. Bagi Russell.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. Bagi Wittgenstein.Psi.dengan dunia berhingga kita. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. 34 . baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. Moore. ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. Dalam periode pertama. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya.

S. Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. semuanya tidak bermakna. sebagaimana dikatakan Ayer juga. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. 35 .in silence” (Tractatus. nr. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. secara apriori tidak bermakna. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. tidak mempunyai nilai pengenalan. maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. Kalau dalam periode ketiga. Bila ada banyak permainan bahasa. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi). tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. 7). Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak mempunyai isi faktual. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. tidak berbicara tentang suatu fakta. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. emosional atau ekspresif. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan.Psi. Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya.

penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif.M. R. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan.M. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif. Ketiga dan yang terutama. apa saja merupakan being. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. J. 36 . langkah demi langkah. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. R.D. VI. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. Hanya saja harus ditambah. Hare. D.B.Psi. E. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. Pertama. Pada zaman kita ini. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan. Kedua. Tentu saja. Van Buren.T. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. J. I. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. Selanjutnya. S. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. Namun demikian. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. begitu luas. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. Ramsey. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. Mitchell. Evans. metode mereka adalah analisis bahasa. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. Smart. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal.J. Mascall.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka. Macquarrie. Namun demikian. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. Hick. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. Crombie. P. B. sudah sejak permulaannya di Yunani. Braithwaite.

Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). Pada gilirannya. Derrida. suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. yakni fungsi transformatif. yang tak pernah bulat selesai. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa.Psi. Demikianlah. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. kebakaan serta kebebasan jiwa. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. Pada akhirnya. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. memperoleh bentuknya yang dinamis. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. S. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada. dan peristiwaperistiwa. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. kebanyakan orang menjadi bingung. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. Tentu saja. sebagaimana sudah kita lihat. Dalam kata-kata. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. Fungsi inilah. Husserl. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. Heidegger. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. menurut pengamatan para linguis. barang-barang. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. Tetapi kami tidak bersalah. Dalam setiap kata. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. manusia. tentang eksistensi Tuhan. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. dilahirkan sesuatu rasa heran. Agaknya.” Pada pokoknya. Itulah sebabnya Frege. 37 .

Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 38 . S.Psi.mereka dipahami dengan berbagai cara.

W.Psi. juneman@gmail. C. S.Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 39 .P. S.. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. juridis. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Pengertian ini kompleks. dan juga berarti dengan sesama (sosial). Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. dan lain sebagainya. menghadapi kesukaran. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. dengan pandangannya. dia mengolah diri sendiri. Dalam bertanya tentang diri. banyak segi jika orang bertanya. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Jadi. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. bagaimana titik tolak manusia? Konkret.Psi. siapakah namamu?. Oleh karena itu. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. 40 . psikologis. S. melainkan metafisis atau hakiki. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. padat. dalam psikologinya tentang persona. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. Tidak hanya berhadapan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. antropologis. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. dalam pandangan tematis bisa salah.K E H I D U PAN I. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). dan lain sebagainya. ke manakah kamu. dan berbagai macam: sosiologis. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. dia melakukan. Ada yang eksperimental-ilmiah. Manusia bisa. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan emosinya.

bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. Masing-masing dari kita berkata: Aku. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. Dia tidak hanya berubah dalam. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. dan dengan demikian. jangan berkata tentang badan dan jiwa. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Jadi. Dengan ini dia menyejarah. situasi itu. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sesudah pendahuluan ini. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. mengambil tempat (posisi) dan sikap. Corak yang ketiga. menghadapi. 41 . Subjek artinya berdiri sendiri. Lihat saja. dan lain sebagainya. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. situasi itu berubah dan mengubah manusia.Psi. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. melainkan tentang aku! Kelak. Manusia tidak sadar tentang jiwa. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. Lihatlah. II. Dia berkata: aku sakit. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. bertindak. Jadi. tetapi juga berjarak. dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). tidak mempunyai distansi. dia bisa berjalan. dia menempatkan diri. Manusia selalu terlibat dalam situasi. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. tetapi tidak berhadapan dengan alam. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. jika manusia menguraikan kesadarannya. tetapi juga karena diubah oleh. manusia bangkit. dia tetaplah dia sendiri. bagaimana manusia itu menjadi sadar. Dia menghadapi. punya kemampuan. sebagai subjek. Kalau begitu. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Lihat saja. yang menyebabkan dia bisa seperti itu. berada dalam suatu "cahaya". Dia merupakan kesatuan dengan alam. tetapi juga bukan jiwa. Dia bisa memandangnya. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). manusia juga tidak bisa mengerti dunia. bisa mengubah dan mengolahnya. Hewan juga berada di dalam alam. Namun dalam berubah-ubah ini. atau badanku sakit. S. jadi punya daya. di sebelah sini atau sana.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. Karena badannya.

artinya tidak seperti barang-barang yang lain. kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. tetapi manusia. berdarah dan berdaging. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. tidak lepas dari barang materi. badan seolah-olah tidak ada. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. • Ada pandangan idealistis tentang badan. yang ada bukan badan. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. Dalam realitas. dengan sadar. artinya materi. seluruh manusia adalah jasmani. yang ada hanya roh.Psi. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. jadi tidak boleh pernah disendirikan. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. dalam semua itu tampak kerohaniannya. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. Tetapi. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. Roh adalah listrik. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. Dia berat atau ringan. Lihatlah. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. bisa dilihat secara anatomis. bisa menghadapi diri dan barang lain. S. tidak terlipat-lipat. manusia juga jasmani. Maka. manusia kita katakan bersifat rohani. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. badan adalah prinsip jasmani. Maka.maupun realitas. kebahagiaannya. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. badan cahayanya. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. Juga kesenangannya. Seluruh manusia adalah rohani. Bersama dengan itu. habis! Itulah salahnya. tidak terbentang. Jadi. 42 . sukacitanya. mirip dengan makhluk hidup lainnya. ada aspek jasmani. begitu juga dengan hewan. berdimensi tiga. kita katakan badan dan jiwa.

Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. melainkan sebagai dua. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). Samakah badan dengan aku? Tidak. cermin. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu.Psi. S. Yang tampak adalah Aku. Jika aku berkata aku. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. Yang ada bukan badan. dalam pemahaman awal. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Sekali lagi. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. Badan dianggap penarik ke bawah. dan lain sebagainya. Pendapat ini pun tidak riil. Badan tidak sama dengan aku. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. Pribadi. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. yang masih asli. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. 43 . Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. ke kejahatan. sedih. juga tidak sama dengan sepatu. Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. Persona (tidak dalam pengertian Jung). misalnya cinta. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. Yang ada hanya badan. maka di situ sudah termuat badanku. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. Lihatlah sepanjang itu. unsur aku-ku. habis perkara. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. sesuatu yang menempel. Selanjutnya.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. badan termuat dalam aku. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. Tetapi badan sebagai milik. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. tetapi tampak. Badan adalah unsur diriku. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sepanjang aku ini terlihat. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. tampak dalam alam jasmani. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani.

Menangkap suara berarti menangkap pikiran. aku memang sakit. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. tetapi menipu! Jika badanku sakit.. Karena badan itu menjadi penampakanku. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. Badanku bisa tidak berdaya. Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. Jika orang lain melihat badanku. yaitu badan itu. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. celaka.. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan.. Aku ada berarti aku ini manusia. Yang malang bukan badan. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. Minatilah caraku menampakkan. Dia berkata: awakku lagi susah. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita.Psi. awakku sedang malang. Kita tidak berkata: itulah badannya. tetapi belum tentu malang. Maka dari itu. Badan membatasi penampakanku. Orang akan berkata: aku melihat si A. Setelah semua ini dikatakan. Kita berkata: itulah orangnya. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu... 44 . Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi dalam berpikir tentang manusia. tetapi seluruh manusia. menunjuk badan. badanku termuat. Antara badan dan aku ada kesatuan. dan lain sebagainya. jarak. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. mengarang. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". Aku bisa berpura-pura marah. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir. S. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. tetapi juga ada distansi. . Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. maka dia melihat aku. maka di situ milikku tidak termuat.Kesamaan itu hanya sepanjang . jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). mengucapkan kata manis-manis. seperti orang-orang lain. jadi tidak sama saja dengan aku. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis. Tetapi.

keadaan geografis. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. yang berakhir dengan disintegrasi. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. Keadaan tanah.Psi. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga". 45 . ditentukan oleh hukum-hukum warisan. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. dan lain sebagainya. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. berproses menurut hukumhukum biologis. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. keadaan flora. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Maka. Dua itu tidak berdampingan. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". tetapi kesatuannya tidak sempurna. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia itu kesatuan.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. Untuk menyatakan kesatuan ini. ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. Bangunan itu selalu berubah. S. juga ditentukan oleh keadaan itu. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. Jadi. Setelah ini kita nyatakan. keadaan iklim.

Tetapi materia tidak menjadi rohani. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. Namun. sebentar hilang. masih memungkinkan kemenangan kerohanian. Artinya. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. Tentu saja. Sebelum kita lahir. Pandanglah sekarang badan yang normal. tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging).Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. yang sehat. pelajaran tari. demikianlah Dr. tidak menjadi jiwa. Semua keadaan badan. S. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). seperti api dalam banyak abu. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. Dengan membadan kita memanusia. maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. hanya menjadi badan. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya.Psi. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. asal sehat saja. jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. pembiakan sel). Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). kecil atau cukupan. Jika badan bertumbuh secara normal. 46 . kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. Maka. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. dan lain sebagainya. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. di situ ada pertumbuhan yang normal. sebentar tampak sedikit. Hidup badani adalah untuk memanusia.

artinya "kenistaan" dan "keagungan".. dan lain sebagainya. bisa mengurangi atau menambah tidur. Kita bisa mengurangi makan. mungkin dia luar biasa. seandainya tidak dibersihkan . sabun. Ambil untuk mudahnya.. hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. Manusia di situ sudah kuat.. Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kalau masih kecil (bayi). dengan mandi. . lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya.. bisa pilih makanan dan obat-obatan. biarpun sehat. seperti arloji). tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai. ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . S. perputaran darah. pembagian makanan dan gula. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan. dan lain sebagainya. dalam tubuh manusia. sedang kuat-kuatnya. Lihatlah anak kecil. tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. minum harus diminumi.. tetapi . dan seandainya ibu tidak bertindak.. Lihatlah tangan manusia.. macam apa saja yang dibisai. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. Ingat saja denyutan jantung.Psi. Di samping itu. lenyaplah semua kepandaiannya. dan lain sebagainya.. Jika pandangan ini masih statis..kedokteran). badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian.. misalnya denyutan jantung. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. Coba saja. 47 . .. misalnya disentri!). akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia.. . lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar.

Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. 48 . reaktor atom. Oleh sebab itu. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu.Psi.olahraga! Sungguh mengagumkan. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. Berdasarkan keluhuran ini. tangannya. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. Maka dari itu. anjing mendengar. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. dalam penampilannya dan penampakannya. dalam gerakgeriknya. pakaian. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. makanan. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. lidah-nya. kesemuanya itu. S. matanya. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. mesin hitung. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. bibirnya. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. Maka. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. dalam solah-bawa-nya. maka badan dalam sikap-sikapnya. tetapi itu tidak sama. Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. Jika pribadinya luhur. Lihatlah sekarang barang-barang seni. dan lain sebagainya. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar.

kebaktian. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. sebab ibu mengajar si anak makan. Pendek kata. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). S. Maka dari itu. Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. Oleh sebab itu. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. hormat. Jadi. dan lain sebagainya. Manusia hanya memanusia dalam badannya. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. Dia harus bersikap. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). bertindak. berjalan. 49 . Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu.Psi. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. Demikianlah tata sopan. Karena itu. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. tidur. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. minum. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. jadi dengan badan. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. Tetapi.akan mencerminkan keluhuran itu. pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. cinta kasih. Berdasarkan ini. semua hal insani badani juga. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). Tetapi sebaliknya. mengenakan pakaian.

juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. yang artinya seluruh manusia. Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. yang dilihat bukan badannya saja. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. jadi keadaan manusia. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. mental hygiene). Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan.rohani dijelmakan. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Jadi. Kejiwaan manusia diminati juga. tidak sakit. Jika kita mengingat psikoanalisis. kesehatan disebut whole-some. Orang melihat seluruh manusia. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. rumah sakit jiwa. Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. dan lain sebagainya. sakit jiwa. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng).Psi. 50 . Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. tetapi dilihat dari sudut psikis. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. S. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. Dalam bahasa Inggris misalnya. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Kalau orang bertemu. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit.

Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. didirikan oleh Epicurus. IV. Yang pertama. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus. didirikan oleh Orpheus. 51 . Dalam situasi yang konkret. sekaligus yang paling tidak populer. privat. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. baik jasmani maupun rohani. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). Meskipun tak populer. Socrates. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. dan Plato. Jika kita mengingat kesemuanya ini. S. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. dan sekuler. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah.Psi. bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata.sehat berarti tidak sakit. di sana hidupnya masih jalan baik. Aliran yang terakhir. Kekecewaan yang hebat. Sebaliknya. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). tetapi soal seluruh manusia. personal. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras. orang itu akan terganggu kesehatannya. badannya di situ tidak bisa berfungsi. bagus. tidak adanya penyakit apa pun. Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". Aliran yang kedua. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan.

misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. Persoalanpersoalan kosmologi. gender. 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). umur. dan hal-hal yang bersifat religius. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. silikon. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. 52 . dengan pandangan tentang tubuh yang baru. posisi keluarga. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social).Pada abad ke-20. dan psikologi. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. transplantasi mata dan telinga. sesekali memang dapat "rusak". antropologi. gender. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. Abad baru. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. dengan berkembangnya ilmu kedokteran. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. dengan alat pacu jantung. katup buatan. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing.Psi. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. S. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari.Psi. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. dan ukuran. keluasan. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. maupun dalam upacara pemakaman. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. Justru terhadap segi itulah. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia.lahir dari pikiran kreatifnya. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Nama itu adalah Spirit. 58 . dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. S. Jadi. masuk juga kategori afektivitas. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi.

lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. manusia agaknya masih belum lengkap. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. alteritas seorang lain. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. material.Psi. dia hanya berpaling pada dirinya. kultural. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. moral. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. untuk perkembangan ilmiah. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. 59 . Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. yaitu keinginan. Sebenarnya. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya.VI. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. Berkat karakter spiritualnya. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. Akibatnya. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. S. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. Akibatnya. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. dan lain-lain. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini.

hidup spiritual. Karena itu. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. 60 . Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. Suatu hari. Tiba-tiba.Psi. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. Dalam kesempatan itu. VII. kata salah seorang di antaranya. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa. yang meletakkannya di luar semua kategori. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. akibat ciri spiritual jiwanya. karena spiritualitasnya. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. S. melainkan dunia kebebasan batin. Persona manusiawi. Dia menyepak potongan roti itu. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. dan sekali lagi. kedinginan. Nah. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. Tetapi. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. meskipun perutnya lapar sekali. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. dan sebagainya. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. itulah artinya istilah “spiritual”. laksana gerombolan serigala. sebaliknya. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. kotoran. tutur temannya. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. “Lihatlah”. diucapkan dengan istilah “persona”. Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu.

dia bersifat imanen terhadapnya. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. Sebaliknya. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. yang saya sentuh dan rasakan itu. S.Psi. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai. Adapun jiwa. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. Itulah dasar martabatnya. yang terstruktur berkat jiwa. maksudnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dalam fungsi yang menstrukturnya. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam.merupakan panggilan sejati manusia. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka. Badan yang penuh dengan hidup. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis. 61 .

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. S. 62 .P. juneman@gmail.Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman.Psi. C..W.Psi.

Pengetahuan.P E N G E TA H U AN I. Alasannya. serta mengungkapkannya secara tepat. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. 1987: 29 50). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). orang harus mengambil jarak terhadapnya. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. misalnya M. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. berkat pengetahuanlah. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan.Psi. S. Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. Ketiga. Ia menunjukkan. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. di depan subjek. 63 . sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. Pertama. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar.

objek-subjek serta indrawi dan intelektif. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. Seterusnya. pembau. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. konsep. tingkah laku. ketika sambil muncul secara spontan.Psi. Pengungkapannya adalah. gerakan-gerakan. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. definisi. melalui penglihatan. perasaan. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. jernih bagi dirinya sendiri. pendengaran. sikap-sikap. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. sampai batas tertentu. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. mitos. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. baik dalam bentuk ide. dan sebagainya. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. 64 . serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. Pengetahuan disebut pula diskursif. serta jerit teriakan. atau karya-karya seni. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian. utuh. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. S. tindakan.

dan sebaliknya deduktif. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. organ-organnya. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. Praktis. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. Pengetahuan itu adalah induktif. S. tentang manusia. tentang luasnya. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. dan sebagainya. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. Bagi epistemologi. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. tentang hidup. keseluruhan dalam satu bagian. Pengetahuan tentang materi. Pengetahuan itu kontemplatif. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas.pengetahuan intuitif. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. konsekuensi dalam prinsip. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. tentang gerakan. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. 65 . Pendeknya. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. yang indrawi dan intelektif. menurut bagaimana cara diambil. Pengetahuan itu disebut spekulatif. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. Akhirnya. Pengetahuan itu sinergis.Psi. sebab dalam akibat. bila menarik yang universal dari yang individual. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). bila menarik yang individual dari yang universal. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. dan kemampuan-kemampuannya. berbeda sekali satu sama lainnya.

Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional. S. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. sedangkan lewat afektivitas. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy.Psi. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. 66 . Bagi kaum Nominalis. Artinya. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. Kegiatan-kegiatan afektif. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. represent no objective real existents. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. Tegasnya. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek.mengetahui suatu realitas. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. namun di dalam pertemuan tersebut. or universals. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. theory that abstract or general terms.

Menurutnya.Psi. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. 67 . (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. 1975: 61). that is to say. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. Pendeknya. but having no reality apart from them. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. ternyata tidak sederhana implikasinya. mere vocal utterances "flatus vocis". dan bukan hanya sekadar pertemuan. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. Universals exist only post res (Runes. Jelasnya. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. maka manusia adalah nama belaka. Nominalisme. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. dan aliran Idealisme di lain pihak. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. berbeda halnya dengan Nominalisme. S. 1975: 211). dan objek-subjek. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep.names. Reality is admitted only to actual physical particulars. (c) concepts refer to abstracts. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak.

68 . S. induksi dan deduksi. dan final. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Sontag. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pantheisme. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. 1970). pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. antara tingkat pengetahuan suatu pengada. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. mutlak. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen.Psi. Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". Sebenarnya. dimensi material dan dimensi spiritual. Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. objektif atau subjektif. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. II.

Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy.batas-batasnya. Aliran Idealisme. dengan mengetahui. dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. Ditinjau dari sisi subjek. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. Mempelajari pengetahuan. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. dan kalaupun keluar (transcendent). di pihak lain. 1993 & Bertens. S. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). 69 . dan berada di luar subjek. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam. Akhirnya. Akibatnya. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. Merleau-Ponty. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. berlainan. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Ditinjau dari sisi objek. Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut. Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata.Psi. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. 1983). Bila dianalisis lebih lanjut.

bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Menurutnya. tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum. 70 . Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. Walaupun demikian.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. Meskipun demikian. 1982:30 -31). S. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial.Psi. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. Penjelasan tersebut akhirnya. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu. Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia.

mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. 1983: 344). serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. Keterbatasannya itulah yang mendorong. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. menggerogoti. demikian juga pengetahuannya. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai. kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. lengkap. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. S. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. membakar. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. mereka adalah mereka. seutuhnya terwujudkan. 71 . Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. Akibatnya. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. manusia harus menjadi dirinya sendiri.Psi. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri. Jelasnya. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai.

Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. karena kita akan mempelajari. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. melampaui dirinya sendiri. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. Melalui pengetahuanlah. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya.Psi. daripada melalui bahasa dan seksualitas. 72 . Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali.(2 x 2 = 4). Terutama karena materi bukan jiwa. Akan tetapi. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. untuk menyelesaikan modul ini. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. manusia bisa berada secara lebih tinggi. dalam satu modul yang lain lagi. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. dan jiwa bukan materi. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. secara radikal. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. kendati semua penjelasan sudah diberikan. S. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. maka cukup sampai di sini. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. yaitu pengetahuan intelektif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. Melalui pengetahuanlah. maka demikian halnya dengan pengetahuan. Keberadaan manusia. IV. ia tidak tahu apa yang diketahuinya.

Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. Bahkan. S. seperti diisyaratkan Russel. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. Karenanya. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. menurut Heidegger. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis.Psi. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. mulai dari Yunani klasik sampai modern. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. Kelumpuhan ini. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. Oleh karena itu. nalar yang mewakili bukan menyingkap. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. 73 .V. modus bernalar biasa harus ditinggalkan. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif. yaitu Ada yang menopang segala adaan. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bagi Heidegger.

kata mereka. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. hamba sejarah. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. 74 . Nalar identik dengan universalisme. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. bukan eksplorasi. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Nalar pun sekadar kalkulasi. Fisika. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. S. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". seperti dikemukakan Whitehead. Padahal. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. filsafat. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. Ia menjadi ansilla historica. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif.Psi. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. misalnya. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. bukan pemikiran. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. bukan menciptakan. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Ia mentransendenkan semua metode.

melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. S. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. Kalaupun bertanya. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). bukan kebenaran baru. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Pengambilan jarak Dasein. apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. 75 . Namun. Namun. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. maka ia terjebak dalam epistemologi. Transendensi adalah modus epistemologis. menurut Nietzsche. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. Yang dikejar oleh nalar puitis. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. Yang baik dan yang jahat. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Selanjutnya. Beyond Good and Evil. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. sebaliknya. Berakar dari proyekproyek genealoginya. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. sementara "kelainan" adalah modus puitis. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya.transenden. yakni being in the world. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. Sementara "kelainan".Psi. gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada.

Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. sebaliknya. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche.tak berpuisi? Atau. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Manusia butuh kepastian. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche.Psi. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. Nietzsche. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Semua tanda tanya harus dipastikan. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Melampaui relativisme. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. Satu saja lolos. Kalau tidak. tertib kosmis akan mengalami gangguan. menurut Hegel. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Dan. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Semua tanda tanya harus dipastikan. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. kebaikan. S. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Padahal. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam. dan keindahan. 76 . Dan. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara.

filsuf sains termasyhur. 77 . Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. Baginya. Bagi Popper. Namun. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas. S. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. universalitas. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. ideologi. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan.Psi. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. menurut Popper. dan ketetapan. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. Ia tidak tunggal. kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. Paul Feyerabend. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. seorang anti-Popperian. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. Berkat falsifikasi. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. Daya transendensi nalar. Jurgen Habermas. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Budaya. sebaliknya. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. namun seperti digagas Wittgenstein. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. Thomas Kuhn. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. melainkan kehampiran.Karl Raimund Popper. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri.

Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. 78 . nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Begitu cibir para mistikus.Psi. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Namun. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. S. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. habis perkara. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. ingat dan sadar. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. Menggeser relativisme. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Namun. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Tuhan bekerja secara misterius. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Setelah nalar berhenti. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Nalar manusia terbatas. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Apa mendominasi apakah. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Namun.

Singkat kata. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Saatnya bagi sains. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. S. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. 79 . senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. dan filsafat. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis. Melainkan.Psi. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. teologis. teologi. dan filsafat untuk berhening sejenak. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. teologi. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan.

S.W. 80 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.P. C. S.Psi.Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman.. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi.

Dalam Serat Wedhatama misalnya. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil.” “Saya merasa khawatir. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri. manis pada lidah. S. dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). Jadi. rasa was was. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). 81 . jika seorang berkata: aku merasa dingin. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. Tetapi. Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. aspek apetitif. Orang mencium bau mangga. atau manusia sebagai trias-dinamika. rasa pada badan! Di samping itu. Di atas hal itu sudah kita mulai.” Di sini rasa mengandung pengertian. kita membedakan dua macam rasa. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". bisa menilai segala keadaan. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". karsa (konasi). bagaimana kedudukannya. rasa takut. kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. itulah trias-dinamika manusia. ada rasa yang lebih mendalam.A F E K T I V I TAS I. Bahkan. Dalam kalangan Jawa. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. Rasa khawatir. dan lain sebagainya). yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). rasa (afeksi).Psi. terutama kalangan kebatinan. Di samping itu. dirinya sendiri. tetapi toh lebih sedikit dari itu. minuman ini terasa manis. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. aspek pendekap.

Kita selalu mau sesuatu. kalau lidah hanya kangen bakmi. tetapi meruncing ke atas. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. Artinya. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". Lebih jelas lagi merasa haus. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). maka yang satu itu menjadi terbentang. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. jika dilahirkan. Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. 82 . dia mengambil buah itu. lantas menjadi banyak. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. Dengan ini dia mengalami mangga itu. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. artinya melalui indra kita. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. Tetapi sebaliknya. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebetulnya. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. yaitu karsa. manusia itu manusia. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. Nah. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. Orang pingsan tidak bisa menikmati. Gambar itu bisa kita balik juga. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. sebaliknya. S. Maka sesuai dengan kejasmanian. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani.Psi. menjadi terserak. menjadi bhinneka.merasakan mangga. di situ belum terjadi penikmatan bakmi. memakannya. Jika sesuatu kita "materikan". pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. yaitu dalam cinta. maka menjadi banyak kata. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. di bawah lebar. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. meskipun mulut dimasuki makanan. maka "membentang" berupa kalimat. yaitu di atas suatu titik. Tetapi. artinya "melalui" daya-daya sensitif. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. Jadi. Jika cinta dinyatakan. di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. Sebaliknya. Sejak muncul dalam alam realitas. Pikiran kita. Orang yang lidahnya sakit.

Dalam pikiran analitis. S. Untuk maksud kita sekarang. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. seperti rokok dan lain sebagainya). untuk lebih menyelami. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu.Psi. Jika dorongan dipenuhi. Hidup tidak hanya secara biologis. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. Selama kita hidup. maka dia marah atau putus asa. selalu terjun dari sintesis ke analisis. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. maka pada manusia ada harapan. Dia selalu berharapan. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. orang dipenjara seumur hidup. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. 83 . merasa gembira. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. Jika malapetaka mengancam. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. Perpanjangan suatu situasi. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). dorongan ke arah keindahan. terutama jika akhirnya tidak tampak. yaitu takut. penantian. Maka. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. maka manusia takut. dorongan sensitif untuk cinta. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. dia selalu menanti. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). segan. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. maka apakah puncaknya? Penikmatan. marah. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis. dengan isi yang lebih jelas. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. Jadi. dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. tetapi secara manusia. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. bagi manusia merupakan penderitaan. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

manusia tergerakkan hatinya. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. II. Yaitu cinta kasih suami-istri. 84 . dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. tetapi juga afektivitas. misalnya dalam memandang seksualitas. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. di samping pengetahuan. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. Pengertian ini sangat penting. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. keinginannya.Psi. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. lebih sentosa. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. tetapi seluruh manusia. Jelasnya. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. Jadi. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. Dalam dinamikanya. Yang lapar bukanlah perut. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. Yang ada bukan hanya rasa takut. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. S. tetapi seluruh pribadi manusia. Melalui peranan afektivitaslah. tetapi seluruh pribadilah yang takut.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. dan sanggup meluhurkan diri. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. mempelajari.

mengenai kritik atas rasio murni. S. misalnya Bergson dan Rudolf Otto.Psi. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. partisipasi. Prinsipnya. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. misalnya. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. Baginya. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. 85 . kepatuhan. Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. atau cinta. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif. komunikasi. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. Walaupun demikian. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi). Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai.

bukanlah mencintai. menguatkan. menggayakannya. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia.Psi. III. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. dan menjiwainya dengan mewarnainya. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. atau apa yang jasmaniah saja. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. mengembangkan. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. Jadi. untuk mencapai afektivitas. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. 86 . dan menjijikkan atau membosankan. kecenderungan. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. tanpa bobot.

S. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek.Psi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. mencintai. mengenal adalah kausa dari afektivitas. mempertahankan diri atau yang lainnya. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. IV. nilai (baik dan buruk). Keempat. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. kesenangan. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. Kelima. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. semangat. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). mempengaruhi bahkan membohongi. berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. dalam kondisi ini. Kedua. imajinasi. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. 87 . Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Ketiga. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. selera.

Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. jangan bersikap acuh tak acuh. buku-buku. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. 88 . Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. bioskop. dari generasi ke generasi. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. sekolah. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. S. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. Karena pengaruh semboyan ini. dengan bertindak demikian. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. V. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis.Psi. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun.

karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. Dalam perkembangan individu tersebut. dan sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. S. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. telah meresapi filsafat. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. 89 . teologi. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. dan pikiran populer. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”.kelihatannya begitu bertentangan.Psi. dengan segala daya intelektual. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. Pada bayi. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu.

Biasanya. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. S. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang. tanggungjawab dan pengetahuan. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. respek (rasa hormat). yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. hal ini berarti. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. Sebaliknya. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. 90 . yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. Gagasan yang terungkap dalam Injil.Psi. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri.

kebahagiaan. 91 .simpati terhadap ”orang asing”. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. bagaimana kita menerangkan egoisme. dan pengetahuan. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. pada prinsipnya. rasa hormat. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. Afirmasi terhadap hidup. tanggungjawab.Psi. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. S. tetapi hanya senang menerima. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. perkembangan. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. kebebasannya sendiri. tetapi justru merupakan alasannya. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. ia mencintai dirinya sendiri juga. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. yaitu: perhatian. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. ia samasekali tidak dapat mencintai. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri.

”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. S. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebagainya.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. 92 . kelelahan. Ia merasa prihatin yang berlebihan. bukan karena ia sangat mencintai anaknya. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. seperti: depresi. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. ia tidak dapat bahagia. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. kegagalan dalam relasi cinta. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus.Psi. ”hidup hanya untuk orang lain”. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi.

takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. mereka cemas. agar benci terhadap kehidupan. untuk adat istiadat kita. dan sangat sering. mereka diajar. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”. S. di bawah topeng kebajikan. 93 . sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. kaku. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. keriangan dan kebahagiaan. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri.Psi. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu.namun kuat. dapat diperbaiki. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai.

C. juneman@gmail.Psi. S..Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman.Psi.W. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 94 .P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.

S. entah nyata atau semu. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. walaupun masih sangat sederhana. Berkat indranya itu. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. namun selalu bersifat relasional. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang. Secara umum. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). kedua sumber pengetahuan ini berbeda. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.PENGERTIAN I. 95 . Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. Pengetahuan indrawi bersifat parsial. seperti juga pada binatang. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya.Psi.

seperti bunyi. dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. suara. atau bau. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. 96 . Warna. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. atau bentuk dengan keras-lunaknya. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. Mata peka terhadap cahaya. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. atau tanpa telinga yang mendengar suara. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. rasa. dan sebagainya. bau. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. S. cerah. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. Semua sensasi (warna.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. rasa. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh.Psi. Pengetahuan indrawi. Pendengaran hanya mampu menangkap suara. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. Menurut Realisme naif. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. rasa. atau hidung yang membau.

hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. bentuk. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. dan gerakan dari bagian-bagian. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. perang ataupun religius. 97 . Musik. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. pakaian. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. bau-bauan. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. yaitu kumpulan. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. Ketiga. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. tetapi juga warna subjektif. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima.Psi. namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. lebih kabur. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. Kedua. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif.

Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. sekaligus membentuk daya interpretasi. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya.samar-samar. Walaupun demikian. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. Akibatnya. Pengaruh cahaya. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. Arti. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Caranya. 98 . Pendeknya. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya.Psi. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. tujuan. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. melalui pengertian kelompok (komunal). Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". dan arti benda itu. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. kesehatan mata. melainkan saling melengkapi. sehingga di dalam situasi normal. S. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. dari bentuknya suatu benda menerima. kedua segi ini tidak saling bertentangan. tujuan. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. dan seterusnya.

Guna memahami jenis pengetahuan ini. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". Maksudnya. itulah artinya. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. II. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. A. C. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. menangkap bentuk pisau. tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung.dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis.Psi. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. mengurangi. 99 . secara fisik. Menurutnya. S. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. Misalnya. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam.

Psi. Demikianlah. mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. seleksi relasi. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi.mengalihkan. Setelah memasuki usia remaja. 100 . konseptual. ingatan. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. adat istiadat. kebiasaan. prediksi. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. atensi. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak. imajinasi. Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. Akibatnya. 1996: 359). Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. tradisi. III. memilih. atau membagi). abstraksi. Berbeda dengan naluri. kontrol (pengendalian). hafalan tanpa mempergunakan pikiran. Psikolog kontemporer (Piaget. ekstrapolasi. Namun demikian. analisis kritis. rencana. konsentrasi. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. S. mengarahkan. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang.

S. Melalui ini. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sesungguhnya. 1980). psikologis. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. sosial. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas.khas. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate). Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. politik. menurut volume serta berat-ringannya. Walaupun demikian. pada orang dewasa. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. Goenarsa. 101 . Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. serta religius melahirkan suatu peradaban.Psi. menurut ukuran besar-kecilnya. Dengan itu pula. tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya.

Pendeknya. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. maka semakin luaslah objeknya. tuntas. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). serta terartikulasikan. mengintegrasikan. tetapi berkembang secara acak. tetapi juga secara lebih mendalam. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. betapa pun tinggi dan banyaknya. mendalam. IV. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. abadi. menempatkan. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. objektif. Semakin mendalam refleksinya. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. 102 . Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. serta paripuma. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya.Psi. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. setotal mungkin. meski besar sekali pengetahuan seseorang. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. S. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. juga bersifat sosial.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. Pertama. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. cara merasa. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. Kedua. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Inteligensi bukanlah suatu substansi. 103 . Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. serta cara bereaksi.Psi. S. Ketiga. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. cara bertindak. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya.

Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. 1993: 312 313). Maksudnya. deduksi. tetapi roh itu bebas sifatnya. Persepsi ini.Psi. prasadar. 104 . Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Menurut J. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. dan sebagainya (Leahy. tampak pada refleksi spontan. bukan pikiran. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. "Saya pikir. 1993: 132). W. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. J. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. dan prapribadi. Eccles. misalnya. sebab insight diverifikasikan. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. subjektif-objektif. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. refleksi. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. 1987: 23). Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. S. misalnya pada waktu sedang melamun. di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting.

Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. V. bukan hanya kurang lebih dari itu. Putusan ini lebih bersifat reflektif. dan mencari alasan dari segala-galanya. S.logis dan ilmiah. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. Bila mendefinisikannya. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. yakni segala sesuatu yang ada. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. 105 . Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. Segala penegasan. Maksudnya. atau bagaimana objek itu bereksistensi. tertarik kepada segalagalanya.Psi. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Bilamana menilai. Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. yang pernah ada. dan segala sesuatu yang akan ada. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bila bernalar. 1994: 45-48).

Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran. non p bukan p). Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting.penilaian. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. dan "apa yang tidak ada. Artinya. Jelasnya.Psi. 106 . Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. S. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. kesimpulan. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. Secara epistemologis. Walaupun demikian. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. Sepintas lalu. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. Pertama. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. adalah tidak ada". yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. prinsip identitas. pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p.

sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. Pada bunyi lonceng. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Tetapi. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur.Prinsip cukup alasan menyatakan. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. dan mulai bergerak. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. Jadi. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk mulai dengan yang mudah. Jika dilihat dari sudut pola. maka bolehlah kita memandangnya. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. S. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. Artinya. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. lantas ingin. Pola itu tidak selalu disadari. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. anjing ingat (= mengerti) makanannya. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. tetapi ada. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. menghubungkan. VI. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. tertarik. tetapi proses ke tingkat itu. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. melainkan manusia.Psi. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. yaitu pengertian dan pengambilan. Unsur ini pun menyatukan. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. Pola adalah isi pengertian kita. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Yaitu unsur kognitif (cognitive). 107 . maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani.

kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. karena moralnya berantakan. Pengertian hanya satu unsur.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. yang susila. Sebaliknya dengan manusia. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. yang ada hanya "jarak". Maka. mengubah menjadi alam kebudayaan. Pada hewan tidak ada idea kesatuan. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. Lihatlah realitas infrahuman. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya.Psi. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. ada yang kurang ada yang lebih. Jadi. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Di situ manusia dan keindahan jadi satu. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". Lihatlah orang yang "kenal" piano. Dia mengerti secara formal. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". disatukan. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. 108 . Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). tidak diatur oleh suatu idea. bisa mundur. Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. Dia mengadakan objektivisasi. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. manusia itu bersatu dengan dunianya. Bisa maju. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. Ini pun bukan status yang selesai. Yang perlu diingat di sini hanyalah. tidak ada kesatuan. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. tidak ada objektivisasi. dan sesuatu itu diselami. S. atau dunia manusia. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. seperti tumbuhan. Tangan dan piano merupakan kesatuan. tidak ada idea susunan. Maka. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. Namun. Tentu saja.

pengertiannya itu saling memajukan. mengerti "asal usul". Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. Tetapi. tidak bei sich sein. Manusia mengerti nenek moyangnya. membedakan diri dan bukan diri. tanpa penyelaman. dia mempunyai interioritas. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. tidak "mendiami" diri sendiri. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. Jadi akhir-nya. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan.Psi. Interioritas artinya sadar diri. 109 . Bahkan. Dengan demikian. mempunyai semacam interioritas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. kesatuan antarbenua. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi. Berdasarkan kesatuan diri itu. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. mempunyai "kedalaman". dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. dia menyatukan dirinya sendiri. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. Pengertian bertambah sempurna. Eksterioritas artinya segi luar melulu. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". Lihat saja kesatuan tanah air. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. hewan pun "di luar diri sendiri". "jauh" dari diri sendiri.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Yang ada hanya eksterioritas. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. Misalnya. Hewan. menghasilkan teknologi. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. tidak in itself. dia "menghadiri" dirinya sendiri. kesatuan sudah termasuk. kayu. batu. Akibatnya. "Dia ada di dalamnya sendiri". Nah. jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. S. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. Berdasarkan pengertiannya.

Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. keduanya menemukan diri. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. Jadi. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. situasinya. Hal ini tidak berarti perbudakan. 110 . Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. menyatukan diri sepenuhnya. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. Dia adalah "mouvement de transcendence”.Akhirnya. Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti. Tetapi. memasuki diri lain. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". melebihi. Semua berkat transendensi. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. terus mencari. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. Bahkan.Psi. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. S. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. artinya keluar dari diri sendiri. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. Dan lagi. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. dari keadaan ke keadaan. Tetapi justru dengan saling menyerah. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. tidak mungkin puas. Jadi dia terus mencari. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. dari situasi ke situasi. Tetapi. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. perbuatannya yang sedang berjalan. Keduanya berkembang. mengatasi keadaannya. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita.

Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. keong tanpa cangkang tentu mati. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. Jadi. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi.praktek ada banyak kekecewaan. Barangnya harus mampu untuk arti itu. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. jadi ke arah Tuhan. Jadi. yaitu menentukan fungsi dari barang itu.Psi. Jadi. manusia menjadi kawan. dari perbuatannya. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. S. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Dengan kemampuannya mengerti. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. bagi hidupnya. misalnya dalam hubungan suami-istri. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. Tetapi. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. Barang an sich masih bersifat "netral“. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. spesialisasi semakin melembut. dikatakan bahwa kita menerima arti. 111 . Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. Dunianya berubah-ubah. VII. Maka. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. Misalnya bahan menjadi makanan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin.

sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. tampaknya. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. S. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. Spesialisme yang semula bersifat metodis. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. Walaupun demikian. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. 112 .Psi. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. 1987:41). Sikap kritis ini perlu. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. karena dalam pengalamannya. Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas.

dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. maka begitu juga pengertian kita: tersusun.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. 113 . 1982). Akhirnya. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. yaitu rohani-jasmani. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Sesuai dengan kodrat manusia. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. Menurutnya. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. S. ultimate dan absolut. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. VIII. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. Orang semakin dilanda kebingungan. Oleh sebab itu. ada unsur-unsurnya. berupa pengertian rohani-jasmani. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual.Psi. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Maka. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan.

Di sini tampak adanya momen-momen. dan lain sebagainya. Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. di mana manusia membuat idea. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif. Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. pengertian tentang "ada"."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. dia menangkap bau tuannya. dan lain sebagainya). Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. jadi sebagai persona. merasakan manis. tidak di luar konsep. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. Semua itu berasal dari pengertian rasional. Bahkan. Mencium bau. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. tentang persona. lantas muncul pengertian rohani. kita menangkap manusia sebagai engkau. pengertian tentang "aku". Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. Tetapi bersama dengan semua itu. Momen-momennya ialah pengertian indra. satu segi. Momen ini bisa disebut metakonseptual. secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat.Psi. Anjing hanya mempunyai momen indra. Jadi. Kita punya konsep rumah. mendengar suara. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. Itu adalah dan pengertian rasional. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. Jadi. dia sedih. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. yaitu keindraan kita. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). 114 . Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). atau buruk). S. dan pengertian metafisis. pengertian rasional. konsep perkumpulan. kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. Sebaliknya. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). artinya "di atas" konsep.

maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya.Psi. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Namun. Agar bisa mengetahui dengan jelas. Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. terspesialisasi dalam keanekaragamannya. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas. namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Dengan kata lain. pengetahuan selalu bisa berkembang. S.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. 115 . Akibatnya. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam.

Moral. dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. S. juneman@gmail. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.P.Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek. 116 . 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..Psi.Psi.W. Watak Kodrati. S.

Tetapi lihatlah. daya untuk mau. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu.KEBEBASAN I. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. Jadi. Karsa. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. Demikianlah kita mengalami adanya karsa. tidak mau. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. maka dia menolak. karena itu adalah dinamika yang menguasai. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. Kita mengerti dan mengalami karsa. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. mungkin dia merasa tertarik. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. Kalau seorang diajak menonton. 117 . Watak Kodrati. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". atau dia harus piket. kemecer. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). Tetapi bukan dinamika yang menentukan. misalnya. Tetapi. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. Dalam modul-modul terdahulu. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. dia mau atau tidak mau.Psi. menghendaki. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. kita lihat dua unsur. tidak selalu berarti will. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Objek. S. dia harus belajar untuk ujian. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. itu pun dinamika. Orang lain bisa ikut. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. untuk memenuhi keinginan. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. tetapi pikir-pikir dulu. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). yaitu karsa (will) atau kehendak. Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. Orang lain kita ajak menonton. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa.

118 . lihatlah dinamika pada status anak kecil. Manusia tumbuh. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. Janganlah munculnya karsa itu. yang masih akan ditentukan. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. tidak terdengar. yaitu karsa. lambat laun bisa mengkurep. bebas dari ini atau itu. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani. lantas bisa merangkak. meruncing ke ates. Merdeka menunjuk kedaulatan. Dalam pertumbuhannya. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. menguasai diri sendiri. dari bios ke logos. lantas setelah lahir. Semula yang ada "hanya" rangsang. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. Dia semula hanya melekat sebagai buah. S. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. tidak terus lepas saja. Untuk lebih menyelami hal ini. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. ke puncak. Merdeka berarti bebas. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. yang ada semula ialah level biologik.Akhir dinamika manusia itu satu. berdiri sendiri. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". Berbagai macam rangsang. bertakhta sendiri. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan. dari btosfera ke neosfera.Psi. Inilah arti yang pokok. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. Baru setelah beberapa waktu. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. Demikian juga munculnya karsa itu. Bebas artinya tidak terikat. seperti arus air. seperti munculnya pikiran. lantas mulai berdiri dan berjalan. Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. tidak ada selfness. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. Jadi. hanya bisa menggeletak. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Lambat laun muncullah kesadaran. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. demikian juga kemanusiannya. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. tetapi juga untuk ini atau itu. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak.

dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. dengan perjuangan. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jika manusia tidak berjuang. dia tidak lepas. itu pun batasan. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. artinya ke kesempumaan manusia. sementara manusia mau merdeka. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. S. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. mandiréng pribadi. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. kemerdekaan dalam proses penjadian. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. sungguh-sungguh berdaulat. Lagi pula. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. Jadi. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. 119 . Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. Maka setelah ada. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. mau bebas dan lepas. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun. Proses kelahiran ini bisa gagal.Psi. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. Dia cenderung untuk liar. Jadi. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. Jadi. Dengan demikian. Kalau sudah begitu. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri.personalah yang bersifat merdeka. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi.

hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. 120 . Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. Maka dia tunduk. Jadi. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. dia tidak berdaulat lagi. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya. J. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. masih laksana benih yang harus diperkembangkan.Psi. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya.dirinya. S. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Dia harus mau sesuai dengan arah itu. namun juga sering kali bertentangan.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. II. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. maka dia berantakan. Dia mengerti dan mau dirinya. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Maka. itulah kesatuan manusia. dan hal ini karena karsanya. terjerumus. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du.

Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak.Psi. Manusia adalah makhluk yang bebas. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. Namun pada masyarakat modern. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. 121 . Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. S. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. komunikasi. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. teknologi. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. dan sebagainya. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. tetapi secara mekanis. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. 122 . Lebih parah lagi. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. Moral. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak.Psi. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. seperti di bidang ekonomi. S. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik.

Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. 123 . Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. pengendalian diri. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. Manusia mempunyai kemampuan memilih. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. S. Sebagai eksistensi. pengaturan diri dan pengarahan diri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. yaitu situasi-situasi batas. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. paksaan. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. “Freedom is self-determination”.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Sebagai eksistensi. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri.Psi. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. beban atau kewajiban. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya.

namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 124 . Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia.Psi. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. Jangkauan itu terbatas. S. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. yaitu kebebasan fisik. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Misalnya dari lembaga atau orang lain. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya.

Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B.sungguh bebas. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. S. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. 125 . Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya. namun mereka tetap merasa bebas. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi.Psi. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif.

Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Saya mempunyai kebebasan psikologis. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. S. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu.Psi. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. Namun. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. 126 . Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral.Berbeda dari kebebasan fisik. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya.

Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. 127 . Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. yaitu suatu keadaan bebas. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. IV. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya.Psi. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Sebaliknya. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh.secara moral. S. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Ia dipaksa secara moral.

walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. dan argumen etis. S. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis.Psi. argumen psikologis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. 128 . sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. bahwa kita adalah bebas. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. yaitu berdasarkan pengalaman. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. yaitu dengan argumen persetujuan umum. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. melainkan praktis. Kita sendiri. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti.

baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. S. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri.Psi. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. 129 . Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman.

Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. Setelah menimbang-nimbang. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal.Psi. di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. yaitu "mengambil dompet itu". Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. S. Namun pada saat pikiran itu muncul. atau bertindak dengan cara begini atau begitu. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. Muncul pemikiran pada waktu itu. 130 . Karena jika tidak ada kebebasan. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan.Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. saya akan mengambil dompet itu". Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas.

manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Dengan kata lain. 131 . Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. S. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia.Psi. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral.

Psi. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. namun lebih dalam dari itu. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. sosial. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. seperti kebebasan fisik. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. S. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. malainkan juga kepada sesamanya. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. seksual. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. tetapi tujuan. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. politik dan sebagainya. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. finansial.V. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. 132 .

Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. Dengan kata lain manusia. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. maka manusia tidak bebas. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi.terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya.Psi. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. karena hukum sebab akibat itu. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 . Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. S. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak. Manusia merupakan bagian dari dunia. VI. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. Atau. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal.

Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. 134 . Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat. Akan tetapi. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini.manusia akan dikatakan bebas jika ia. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. dan bola itu menyentuh bola yang lain. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. S. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. secara bebas. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Artinya manusia itu bebas. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya.Psi. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena kemampuan itulah. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan.

S. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. dan lain sebagainya. untuk menyesuaikan diri. untuk mengontrol proses-proses organik.Psi. manusia tetap mempunyai kebebasan. Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. 135 . Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Dengan kalimat lain. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan.

Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. mengambil keputusan. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. suatu proses yang terus menjadi. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. masa depan. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia.Psi. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. S. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. dan merencanakan. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya. Manusia adalah makhluk yang sadar. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. 136 . Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta.bentuk dan kemampuan jasmani. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi.

Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. maka manusia adalah subyek. S. dan lain sebagainya. Karena manusia adalah suatu interioritas. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. hadir di dalam dirinya sendiri. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. 137 .Psi. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan. bebas memilih teman hidupnya. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. Atau.pribadi manusia. Inilah wujud kebebasan manusia itu. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya.

diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. kaki.Psi. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. dan semacamnya. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. Dalam posisinya itu. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. seperti tangan. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. dirinya. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. 138 . Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. pula Menyempurnakan sebaliknya. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia. Sebagai yang Maha-tahu. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya.

Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. 139 . Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Dia melihat. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. Misalnya. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Padahal Tuhan tidak terikat waktu. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan.Psi. S. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Tuhan itu bersifat transenden. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. Dia tidak berada dalam waktu.

Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Dan bukan Tuhan. Manusia adalah makhluk rohani.sikap terbuka terhadap Allah. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata.Psi. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. manusia tetap memiliki kebebasan. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Jadi meskipun tergantung pada Allah. 140 . Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri.

Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebaliknya. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri.Psi. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri. S. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. 141 . Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. menurut Leahy. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan.

Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. Memang. S. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. penafsiran mimpi. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. atau yang mengemudikannya. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. dan lain sebagainya. yang merangkainya. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran. dan lain sebagainya. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). 142 . Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran.Psi. dan kebebasan dari para pasien. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. misalnya sebuah mobil. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. kesadaran dan kebebasan manusia. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak.

Oleh karena pemikirannya itu. S. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. 143 . Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. VIII. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan.Psi. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri. Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain.VII.

Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. S. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. 144 .Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Argumen kedua adalah argumen psikologis. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral.Psi. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin.

maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik.Psi. Akhirnya. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. S. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain.dan sebagainya. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. padahal sebenarnya tidak demikian. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. melainkan juga kepada sesamanya. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Argumen ketiga adalah argumen etik. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan.

” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. sedangkan fenomen Y adalah consequens. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya. maka pasti ada pula fenomen Y”.Psi. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. S. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. 146 . kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. Menurut mereka. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Fenomen X adalah antecedens. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia.maka manusia tidak bebas. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. Lebih dari itu. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra.

Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan.Psi. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. Dan kerena dua sifat manusia inilah. Namun sebagai mahkluk jasmani. Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. Manusia adalah makhluk yang berbudi. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. S. Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Melainkan. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Sebagai eksistensi. 147 . yaitu situasi-situasi batas. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Sebagai makhluk yang berakal budi. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebagai eksistensi. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan.

Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Allah di surga. IX. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. Namun semua itu dapat saja dikorbankan. namun ia terpisah dari alam semesta. Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. bulan dan bintang-bintang.Psi. tentu saja dengan landasan kebebasannya. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. yaitu persatuan abadi dengan 148 . Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. S. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. Meskipun demikian. untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta.

Namun. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia. S. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. argumen psikologis dan argumen etis. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. 149 . melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. yaitu argumen persetujuan umum. menurut Louis leahy.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan.

2008 .Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman. juneman@gmail.Psi..W.P. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S.

seperti Gabriel Marcel. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. manusia yang bereksistensi. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. manusia memberi arti kepada segalanya. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. Jadi. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. Bagi Jasper. Gabriel Marcel. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Dengan kata lain. Camus dan Sartre. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. II. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. seperti Jean-Paul Sartre. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. Jika ilmu . Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Tetapi. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia.EKSISTENSIALISME I. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. 1985: 7-8). Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). Itulah sebabnya. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Sebaliknya.

Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. ahli ekonomi. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. antara lain melalui Max Weber. Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Karena itu. Namun. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). Jerman Utara. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. pada 1883. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. Philosophie (1932). setelah menerima gelar penghargaan itu. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Gottingen dan Heidelberg. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. ia menulis banyak sekali karya.

Bagi Jasper. Situasi-situasi Batas . Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Melalui keputusan ini eksistentis. pilihan. Jepang. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. 3. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. Katanya. Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. 2. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. dengan menerangi eksistensi. Dengan menerangi eksistensi.Karl Jaspers di Austria. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. berkembang. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. kita mencapai inti “aku”. Jerman. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. yakni Penerangan Eksistensi. komunikasi dan kebebasan. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Eksistensi membutuhkan komunikasi. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi.

Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. Kematian teman sekaligus musuh manusia. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. Namun. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. d. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . ia dapat berkembang. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. Penderitaan karena keterpisahan. Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Nasib Situasi batas yang paling umum. penderitaan. yaitu kematian. ini yang disebut nasib. jenis kelamin. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. perjuangan. a. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib.Sebagai Dasein. dan banyak hal yang merupakan fakta. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. b. yaitu faktisitas histories. dan kesalahan. latarbelakang sosial. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi . c. tergantung dari keputusan manusia sendiri. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. lepas dari pilihan manusia sendiri. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur.

Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. 4. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. hal. 57). . Tanpa itu yang ada kekosongan. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi. 5. hal. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956. 37). Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. 1949. asal dan makna kebenaran. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya.sendiri dari pada dalam keberuntungan. cacat. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. 453 dst. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi.. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. hal. e. hal. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius.. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada.3 dst.). Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. Jaspers: 1991. situasi kebohongan dan kejahatan politik. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. 3 dst. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. bdk.

melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. 35). “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. Itu artinya ontologi tidak mungkin. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. termasuk diriku yang kuobyekkan. Dengan demikian. Padahal. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Dengan kalimat lain. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. karena ia adalah pengada. “Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. karena tidak dapat diobyekkan. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. dia tidak akan mampu mendapatkannya. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. Horison itu selalu hadir. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. Meskipun manusia hendak menangkapnya.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. Dengannya. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. Ia tidak dapat diobyekkan. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. tetapi selalu . Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan.

hal. Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. K. 15): Das Umgreifende. 53). Welt. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. das wir sind Das Umgreifende. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. 48 dan 50. “manusia ada” (Jaspers: 1991. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991. Geist. Jasper K. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991.tak tercapai. Manusia termuat dalam Dasein. yaitu Dasein. 1991: hal. Manusia memiliki awal dan akhir. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers. hal. “kita ada”. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. lih. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. Bewusstsein Überhaupt. Existenz. Dasein das das Sein selbst ist. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi.. 53). “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati.1956: hal. karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. 62). hal.. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan .

Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. hal. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. tetapi sekaligus mengatasi waktu. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. hal. hal. 67). Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. 71). 63). Eksistensi termuat dalam waktu. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. 42). yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). Jiwa tidak dapat ditunjukkan. . Eksistensi adalah kebebasan yang diisi.dan menjauhinya. hal. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. 39. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. 76) . Existenz Eksistensi melingkupi manusia. 1991: hal. hal. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. hal. 71). tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia.

Manusia hidup dalam dunia. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. 114). Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. hal. hal. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. dunia bukanlah obyek. Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. hal 110). Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Menurut Jaspers. “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. Meski demikian. Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. Manusia bebas dalam dunia. Dunia melingkupi manusia. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. Dunia harus dapat dipikirkan. 93). Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia).Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. hal. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. hal. tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. dan juga bebas terhadap dunia. 85). dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. Manusia adalah bagian dari dunia. 110). Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. 99). Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. transendensi adalah “kenyataan asli“. hal. . Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein).

Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. hal. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. Pada tataran eksistensi ada iman.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. idealisme memutlakkan Geist. hal. positivisme memutlakkan Welt. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. hal. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. 120). tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. naturalisme memutlakkan Transzendenz. dan menjadi jiwa rasio. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. 119). Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. Dasar komunikasi itu adalah cinta. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. 118).

“Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. yang rendah. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). apalagi berpikir tentang solidaritas. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. yaitu Eksistensialisme. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. Dari pihak Katolik. Artinya. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. dalam pandangan kaum komunis. Namun. quietisme. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. Untuk mempopulerkan idenya itu. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme.” Eksistensialisme. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona. Dan ini. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. Lebih jauh lagi. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. Dari pihak Komunis. yang patut dicela. seperti Mlle Mercier. eksistensialisme itu melulu voluntary. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. Singkatnya.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. eksistensialisme dengan ego-nya. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti.

esensinya. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. Namun. disebut artisan. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Esensi dari pisau kertas itu. Contoh lain lagi: panah. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. Burung berkicau dan makan biji. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. Kedua. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife).punya arti apa-apa lagi. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. Ketiga. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. Contoh lain lagi: binatang. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. produksinya mendahului eksistensinya. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Di sini. Seorang pembuat pisau kertas. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. Dengan kata lain. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. Esensi mendahului eksistensi. Lebih jauh lagi. mendahului eksistensinya. Selain itu. pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin.

Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. Atau bisa jadi. ketika ia lulus. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Dengan begitu. Begitu seterusnya. Cara beradanya benda tak . Misalnya. entah itu animal rationale (Aristoteles). man in the state of nature (Thomas Hobbes). bahwa hadir). tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. esok hari ia kedapatan mencuri. Celakanya. atau wild man of the woods (Rousseau). seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. jika Allah tidak eksis. dan the bourgeois (Karl Marx). sampai ia mati.Allah menciptakan. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). muncul (Inggris: surges up. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Bagi Sartre. Oleh karenanya. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Dengan begitu. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Makhluk itu adalah manusia. di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia.

bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Sartre mengakuinya. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. ia memikul beban eksistensinya itu. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. Sementara manusia sebaliknya. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. katakanlah. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. Kita tentu bertanya. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. . maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). di pundaknya. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. batu atau meja. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. yaitu tanggungjawab. Pandangan ini mencengangkan. Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. dalam keluarga apa. sesuatu yang mendesak.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik.

Karena itu. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. because he did not create himself. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. he is responsible for everything he does]. "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. once thrown into the world. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Namun. Condemn. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Semuanya tergantung pada diri sendiri. . Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. because. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. Ada ketiadaan di tengah ada. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. yet.Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. karena membayangkan apa yang akan terjadi. in other respect is free. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat.

ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. dan sayalah subjeknya. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. ketika seseorang memergoki saya. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. hubungan antara aku dengan orang lain. Sementara. senantiasa berdasarkan konflik. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. être-en-soi. misalnya ketika si A. dll). Bisa jadi si A. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. atau mundur untuk menyelamatkan diri. dan menyerahkan diri sepenuhnya. sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. mau tahu urusan orang. kesadaran yang me-negasi. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip." kata Sartre. Padahal. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. Dalam hal ini. bertemu dengan jenis yang sama. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. Demikian kira. "adalah adanya orang lain". Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada.apakah akan terjun. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. Mengingat doktrin tersebut. dan C saling berselisih. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. Sekarang. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas." Ada juga kemungkinan lain. dan être-pour-soi. yakni kesadaran terhadap sesuatu. Karena kontroversinya. Ketika tengah mengintip. bayangkanlah jika "Aku". IV. B. "Dosa asal saya.

kata Kierkegaard. Konsekuensinya semakin berlaku umum. Dalam kondisi dunia semacam ini. Ia menilai. murah. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. tak berwajah dan tak bernama. menurut Kierkegaard. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Pada titik ini. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. konsep abstrak. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. dan efektif membentuk opini-opini publik. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. Menurutnya. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. Mengapa? Karena bagi dia. semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. Dalam masyarakat modern. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. Kierkegaard menegaskan. garang. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. bangsa. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. Publik itu identitas semu. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Artinya. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Publik bukanlah suatu generasi. cara pandang ini menyulut persoalan baru. Menurut Kierkegaard.

Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. ia tak punya arti. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer.mengikuti suara hatinya sendiri. Maka. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. menurut dia. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. Namun. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Ini. Persisnya. misalnya dalam pemerintahan. Akibatnya. Dalam ideal itu. nafsu). tapi dalam kenyataan konkret. Ironisnya. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. orang menjadi dangkal. semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama. Misalnya. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. Hidup adalah sebuah tugas. untuk mencapai subyek yang . Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Anehnya. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. tidak ada tempat untuk passi (gairah. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. Padahal. melainkan sekedar symbol prestasi. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. meski pada taraf non formal. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. Konsekuensinya. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Bagi Kierkegaard. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan.

Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Jadi. tapi harus melalui pilihan. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. Estetik. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . Etik. Konsekuensinya. Namun. semakin menjadi individu yang otentik.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. segala bentuk realitas. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. Proses ini. Maka. keputusan. tanpa arti. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. rasa. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. antusiasme. mereka tak berdaya. hanya menjadi medan kemungkinan. orang yang tidak berani mengambil keputusan. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. simpang siur budaya modern. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. dan kehendak bebas. Maka. Ciri pertama. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. dalam haru biru. Menurut Kierkegaard. tidak juga sekedar refleksi intelektual. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. Tanpa itu. Artinya. Dengan kata lain. bagi mereka. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia.

Ciri ketiga. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. hidup yang luluh-lantak berantakan. Dengan menikah. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. dan kering. kosong.dari bunga ke bunga. Pada titik inilah. Tahap Etik . pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Ironi tapi fakta. Artinya. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Dengan ini. Maka. yakni tahap etik. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. Dengan berorganisasi. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. dan sebagainya. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. Boleh jadi juga. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. Cepat atau lambat. Oleh karena itu. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. sejauh mereka masih tetap manusia. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. Ciri kedua. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis.

Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Sayangnya. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. bagi Kierkegaard. namun masih berada pada taraf “penonton”. Oleh karena itu. Bagi Kierkegaard. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata. Ciri ketiga. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. Untuk sampai ke peran pemain itu. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. Ciri kedua. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . tahap religius. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Bahkan kalau perlu. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. Ciri pertama. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. Ciri pertama. belum menjadi pemain. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. dalam hidup nyata.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. orang-orang seperti ini.

Ciri ketiga. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. Oleh karena itu. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. Dengan beriman. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. Singkatnya. damai dalam aneka ketegangan. Maka. Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. Ciri kedua. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. Ironisnya. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Pada tahap ini. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. beriman. Maka. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. orang harus kehilangan dirinya sendiri. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. Bagi Kierkegaard. orang dituntut untuk. Beriman berarti bertualang. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. Bahkan. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. Atau. Maka. Komitmen pada suatu paradoks. Mengapa? Karena pada tahap ini. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. orang justru diminta untuk bersikap enteng. pada tahap ini. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. Bagi mereka.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. kadangmenakutkan. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. Pokoknya. Oleh karena itu. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. justru ia harus diajak untuk bergembira. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual.

Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dengan demikian. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. mereka telah menjadi pendekar iman. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. bagi Kierkegaard. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. mereka telah menjadi manusia sejati. Schopenhauer. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya.tak berkesudahan. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah. Namun ia menerima beratnya . namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. Petersburg. Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . Ia membaca karya-karya Hegel. Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. manusia idaman sepanjang masa. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. V.

etika Kristen. atau moralitas-pedagogi). psikologi. berceramah. kebebasan tidak untuk dibuktikan. Secara keseluruhan. Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. diselidiki. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. perkembangan rohani. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. mengajar. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Secara ontologis. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. antara lain Berdyaev. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. Bagi Berdyaev. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada.masa revolusi.sebagian setelah kematiannya. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . Pada 1922. dekat Paris. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. pada Maret 1948. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . Bagi kaum eksistensialis. kebebasan adalah baseless. Berdyaev menulis 15 buku. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik.

Bentuk yang kedua dari kebebasan. Walaupun berisiko. Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. Kebebasan. Bila demikian. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. sekaligus akhir dan tujuan. kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. Alasannya. seperti halnya kecemasan. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. reasonable freedom. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. tapi juga untuk sesuatu. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom).” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. kreativitas harus diberi keleluasaan. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. demi martabat manusia.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. Dalam dirinya. . kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . tak ada manusia tanpa kebebasan. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. Kreativitas adalah misteri kebebasan. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. meski kebebasan itu berbahaya.

apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Pada titik itu. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. Demikianlah. Pada sisi yang lain. adalah waktu kesejarahan. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. Pada kondisi demikian. . misalnya. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. ia sangat mungkin goyah suatu saat. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. Dapat dipertanyakan. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. Maka. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. Dimensi kedua. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. apakah ini bulan Januari atau Desember. terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat.

Freud dan Darwin. Awalnya. Setelah buku pertamanya ini. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. The Wanderer and his Shadow. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Bismarck. Kakeknya. Ayah Nietzsche. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. The Birth of Tragedy.VI. Tahun 1796. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Karl Ludwig juga seorang pendeta. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. Selain itu. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. yaitu Apolline dan Dionysian. yang berisi tentang tragedy Yunani. Thus Spoke Zarathustra. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . The Gay Science. Namun. seperti Richard Wagner. antara lain The Birth of Tragedy. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. Human All-Too-Human. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. The Good and Evil . ia mulai menciptakan karya-karya filologis. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani.

Menurut Kant. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. Nietzsche menggarisbawahi. Sejarah Filsafat). . “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. Moralitas-lah. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. Bagi Nietzsche. bagi Kant. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. Aphorisma 9). atau dalam pengertian Deleuze. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. Menurut Deleuze.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). Filsafat Nietzsche). Dalam Prasangka Para Filsuf. Aphorisma 5. Prasangka Para Filsuf. Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik.Moral. Nietzsche. (lebih lanjut Deleuze. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. (lebih lanjut Solomon & Higgins. (Nietzsche. Critique of Practical Reason. yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru.

Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . Tetapi. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. Namun demikian. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. dan bukan suatu sistem. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak. dan kewelasasihan. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. cinta antar saudara. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya.

Lepas dari semua itu. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”.. ada kekuatan . Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya. Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. Namun demikian.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting.. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna.” (Die Morgenrote [The Dawn]. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. Yang kedua. tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi.

gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Paling tidak. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche.di dalamnya. Setelah ditinjau bolak-balik. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. betapapun kaburnya makna tersebut. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan. Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. Sesungguhnya. Di sisi lain. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. Jika kita tidak dapat mengingatnya. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Namun. Zarathustra.

melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. XXI. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. Di pihak lain. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam.” [Genealogy of Morals. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. apalagi kekanak-kanakan. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan.kesungguhan. bagian pertama. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. dan Goethe. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. Namun demikian. Prolog Zarathustra. 98] . Meskipun begitu. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. Pascal. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. Meditasi Kedua. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. Pada suatu bahasan.” [Thus Spoke Zarathustra. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. Namun. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. di dalam edisi Härtle. Di dalam Thus Spoke Zarathustra. “Ketika aku berbicara tentang Plato.

kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas. nyawa. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. udara. phenomenon. jiwa. berarti penampilan. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. nafas.Dalam pandangan Nietzsche. VII. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . darah orang Yunani. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. Prancis. namun demikian. sukma. warna-warni. Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. sejak Edmund Husserl (1859-1938).

Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. Franz Brentano. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. tertuju pada sesuatu). termasuk psikologi sebagai ilmu .sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. bracketing). maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Proses ini oleh Husserl disebut e poche. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan.

kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya. vital dan psikis.J.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. Mata belaka tidak melihat. Sebaliknya. Ultrech. namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). Buytendijk. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). namun demikian.J.J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E. Misalnya.J Bijleveld. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961). tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. yaitu masing-masing taraf fisik. guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda. Menurut pendapatnya. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda.

Narnun demikian.itu. Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976).

."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". atau . Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain. yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". "the other is the hidden death of my possibilities". Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya.. dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". terpandang oleh orang lain. atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. "Thus. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain. Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing. Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif.. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. . Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan.”man cannot pass beyond human subjectivity”. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas.

sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. being-allowed-to-be dan having-to-be. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. Mitwelt. namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. masing-masing being-able-to-be. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. dan Eigenwelt. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau.

Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi. Pada analisa akhirnya. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya.dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. yaitu kebersamaan yang secara sadar. 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. mereka yang tergabung . sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me".

Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. bahwa keberadaan sebagai . Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' . bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja.dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek. dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu. Demikianlah dalam modus 'Kami'. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan.

Di antara para eksistensialis. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. “Saya berpikir. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. seperti: psikologi. seni lukis. Sementara itu. lokal. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. ateis. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. Oleh karena itu. maka saya berpikir. dan sebagainya. drama. sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. Edmund Husserl. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme. lebih logis. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. . Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. sastra. dan bukan abstrak. kristiani. “Logical Investigations”. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. dengan karya pokoknya. VIII. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. universal. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. “Saya ada. konseptual. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. dll). muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret.

Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif.Ketiga aliran ini (eksistensialisme. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. . fenomenologi. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek. Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini.

juneman@gmail.P. S..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman.Psi. 2008 .W.

untuk adalah faber. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. Tapi tentu ia harus . Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. Jepang. I. Manusia sapiens.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. Prof. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. India. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Johan Huizinga. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. manusia yang bermain. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. dan Arab. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok.

Anak-anak yang main. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. baik menurut waktu maupun menurut ruang. Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . b. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. Antara awal dan akhir tersebut. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. Bermain selalu terjadi secara spontan. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. Dalam bahasa Indonesia. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". c. Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. Misalnya. dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. entah secara riil atau secara imajiner. Permainan termasuk suasana waktu luang. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. sebagai salah satu ciri khasnya. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. Dengan bermain. Keterbatasan menurut waktu tampak.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Permainan adalah "bebas". pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan.

Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. bioskop. permainan ditandai juga ketegangan. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. VIII). panggung sandiwara. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan.adalah sekelompok anak. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Di samping itu. dan sebagainya. Menurut Plato (Nomoi. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. permainan terutama mempunyai dua fungsi. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. layar putih. Menurut ajaran Tionghoa kuno. e. II. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. d. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. stadion. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. karena adanya aturan-aturan itu. Dalam konteks ini. Dua fungsi ini mudah digabungkan. misalnya. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. manusia dijadikan sebagai . Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. Dalam konteks permainan. Utamanya. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga.

kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. tapi juga di semua tempat lain. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. Bahasa Inggris. Untuk dua kata itu. Jacob Burckhardt (1818-1897). Di Yunani. di Yunani kuno. Menurut Huizinga. Menurut pendapat itu. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. yaitu ludus. bahasa Latin hanya memakai satu kata. 208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. dalam masyarakat Yunani. tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan.mainan para dewa dan dengan persembahan. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. dalam masyarakat Yunani kuno. Dan memang benar. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. III. Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". Menurut beberapa seginya. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. misalnya. mempunyai play dan game. nyanyian serta tarian.

Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. Dengan pengetahuan yang kita miliki. misalnya. seperti perburuan umpamanya. Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. Dengan cara demikian. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. Tidak dapat disangkal. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. Binatang pun bermain. Epos India Mahabharata. Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. permainan lebih tua dari kebudayaan. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. Marcel Mauss. Dalam masyarakat- . sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan." IV. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. Antropolog Prancis. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial.

dan kenegaraan. Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. artinya antara dua kelompok. Dalam hal ini. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". Permainan seolah- .masyarakat arkais. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. Dengan demikian. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. keadaannya berubah. misalnya. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. Tapi tentu saja. artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. Untuk itu. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Pada umumnya dapat dikatakan. Dengan perkembangan kebudayaan. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. ilmu pengetahuan. kesenian. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". Jadi. Tarian dan nyanyian. seperti halnya dalam perlombaan. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. tata susunan kehakiman.

Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. V. Dan dalam bidang ini pun. ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. Dipandang sepintas lalu. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. umpamanya. yaitu olahraga. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. Permainan-permainan bola . Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. Dalam sejarah Eropa. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. kebudayaan "dimainkan". dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. kebudayaan menjadi semakin serius. Dalam hal ini. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. Pada awal mula. Tapi sesudah itu. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. Tidak bisa diragukan lagi. Hukum berasal dari permainan sosial. perang pun berlangsung dalam suasana permainan. nasib seseorang ditentukan. misalnya. terbentuk dalam konteks permainan sakral. Kultus keagamaan. di mana dengan membuang dadu. Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan.

Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. seperti sepakbola. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. sama sekali tidak ada lagi. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. VI. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. Menurut Huizinga. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Olahraga menjadi sangat serius. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. Di situ . Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. Apalagi. Di sini. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. di mana pelbagai-isme silih berganti. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. Puisi. perkembangan rumit. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. dan permainan papan. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. Karena semua alasan itu. Dilihat dari segi itu. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal.yang besar. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. misalnya. Dalam seni rupa. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem.

Mereka hanya memerlukan permainan.manusia menghendaki. dia bebas-merdeka. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. kebebasan itu tidak mutlak. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. Dia harus membebaskan diri. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. Tetapi. Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. Akibatnya. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. tidak terpecah-pecah. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. Tak demikianlah halnya dalam permainan. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. . Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. Hasilnya adalah kebebasan. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. karena pamrihnya. secara integral. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. Dengan menyerah. at least selama murni. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. secara total. akibatnya dia merasa jengkel. merdeka. Kalau menang tidak dihitung. artinya pembebasan dari pamrih. manusia bebas. Dia mengalami bahagia. dari rasa yang mengganggu. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). di situ manusia melucuti diri dari nafsu. sebagai objektivitas. Itulah yang ”membahagiakan”. Bandingkan dengan situasi lain. yang menyebabkan disharmoni. Di situ manusia menjadi subjektif. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. dalam permainan. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. Maka. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dalam permainan yang murni. Sebaliknya. Dia menjadi diri sendiri. melainkan karena tujuannya. Misalnya. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. Dengan kata lain.

seperti berbagai macam permainan dengan bola. direndahkan. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. Pertama. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. orang juga bermain dengan senyuman. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Bersama dengan itu. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan.) Setelah melihat gejala permainan. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. jiwa manusia menjadi bangkit. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. dan lain sebagainya. dan alat yang lain. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). Jika kita menengok sejarah. kedua. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. kita harus melihat problemnya. Jika terang bulan. Seperti kekayaan yang lain. manusia menjadi manusia. dengan kartu. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. dan dengan fantasi. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. permainan tidak bisa dihindarkan. sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. mata. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . Tetapi lepas dari zaman dahulu. permainan adalah suatu human fenomen. dia menjadi kuasa. Dalam bermain. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. dan didevaluasikan. dalam Ganefo. Maka. VII. Dengan menyerah. bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. permainan sudah dikultivir. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. seperti misalnya dalam sandiwara). Jadi. dalam Asian Games.dia direbut sendiri. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam.

apakah bola masuk gawang atau tidak. Nah. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). agon adalah unsur "peperangan". Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. Hal ini sangat tampak dalam permainan. Tanpa agon tidak ada permainan. yaitu agon. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri.yang sewajarnya. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. dia melekatkan diri pada permainannya. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. Tanpa agon tidak ada permainan. dan keperwiraan. Agon artinya perjuangan. jadi . tetapi unsur yang luhur. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. jika dalam permainan. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan.. Berdasarkan agon. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. di mana manusia berkelahi dengan banteng. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. An sich tidak ada nilainya. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. unsur ini ada. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. itulah peranan eros. Untuk menyelami tabiat permainan. eros-pun tidak mungkin ada. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. orang mengejar nilai-nilai fiktif. tanpa lawan. maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. Berdasarkan agon pulalah. unsur perjuangan dalam permainan. Jadi. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. Di situ unsur agon sangat mencolok. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. Jadi. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. mengalahkan perlawanan. kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. Eros (kata Yunani) artinya cinta. membahagiakan karena penikmatan. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan.. menyatukan bersama dengan . Berdasarkan agon.

Tapi dalam politik internasional. Barang siapa mempermainkan permainan. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Penduduk sipil turut menjadi korban juga. suasana permainan telah hilang sama sekali. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. tetapi selamanya dalam permainan. Padahal. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Maka. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. akan menjadi permainan permainan. Selanjutnya. Bermainlah untuk bahagia. untuk permainan. Tapi. Di bidang politik dalam negeri. kesimpulan umum Huizinga adalah. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Eros harus seimbang dengan permainan. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. bahkan dengan hebat. Tapi dalam perang modem. bagaimanapun. tetapi permainan jangan dipersungguh. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. Dan bangsa-bangsa . Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan". Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. Mainlah dengan agon. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". Adanya eros adalah niscaya. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. sampai titik yang sangat menggelisahkan. Jangan dijadikan kesungguhan. umpamanya. dan tidak untuk nafsu. sehingga permainan yang dipersungguh. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu.

berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi. Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". "Seperti akan diakui setiap orang. penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. Di sini. .

Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman. juneman@gmail.. C.W. 2008 .P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi. S.

‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. jujur dan terbuka. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. dll. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . 1992: 114). Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. menurut hukum dan mekanisme sendiri). Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. psyke. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. human (Bakker. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. biotis. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. makhluk individu. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. termasuk manusia lainnya. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”.S O S I AL I TAS M A N U S I A I. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. ”berkorban”. Di dalam bahasa Indonesia. atau daripada pohon dan hewan. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam. yaitu fisis-kemis. Namun. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia.

yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. Kedua. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. kebersamaannya dengan yang lain. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar.salah satu aspek kehidupannya. manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. Pertama. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. alami. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. penuh dan lebih sempurna. makhluk sosial. individualitas-sosialitas. sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. yang dapat berkembang ke arah yang baik. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. yaitu materialitas-spiritualitas. transendensi-imanensi. Ketiga. religi atau budaya lainnya. Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. ikatan yang terjadi bersifat . Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. yang prospektif. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. 1989:55-56). Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. “no man is an island” kata sebuah pepatah. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. etnis. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa.

dan melibatkan yang-lain orang. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. maka saya juga (dapat) . Bukan. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. pedagang. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. guru. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. hewan. Jadi. Pada umumnya. tukang becak. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. Tidak ada ”aku” yang murni. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. toh saya pikirkan menurut aspek. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. misalnya dunia karyawan. misalnya dari dunia mahasiswa. rohaniwan. mendengar. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. anggota keluarga. Aku diartikan oleh yang-lain. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. Keempat. tukang kayu. kegiatan konkret. menyentuh. orang baik. II. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. Aku selalu di dalam situasi tertentu. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. Namun. diplomat. misalnya melihat. sikap. dan mengadakan hubungan. yang mengandaikan yang-lain itu. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. misalnya sebagai mahasiswa. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. pencuri. atau barang benda. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. menikmati. pelayan. Juga kegiatanku. penakut.

sebagai pemberian dan karunia. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. dan janganlah . mereka tidak keluar dari diri saya. rumah. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. atau sebagai hukuman dan kutukan. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. saya menjadi nol. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. dosen. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. Satu kesan pun tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. maka seluruh duniaku tidak ada juga. memberikan penghargaan dan fungsi. sudah mustahil. aku juga menerima ketertentuan. The world of persons). Saya ada. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Kalau tidak. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. mereka mendekati saya dari luar saya. Andaikata ”aku” tidak ada. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. III. Tanpa itu. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. ist keine Welt da”. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. maka saya ada. teman. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. saya tahu ketergantunganku itu. ”Wenn kein Dasein existiert. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. dunia tidak tampak. maka orangtuaku tidak ada. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). tanpa manusia. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. negara. Sebaliknya. dibayangkan saja keadaan seperti itu. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. ”Aku” berada dengan mutlak. Adanya dunia saya tentukan. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. Aku berusaha memahami beradaku. mereka tidak saya kuasai. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret.mengakui diri. Heidegger mengatakan. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. Andaikata aku tidak ada.

Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. walaupun aku tidak pernah ada. maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. Misalnya ”aku” tidak ada. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. sudah mustahil. “Yang Transenden”. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif.membayangkan ”aku” tidak ada. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. Kerangka ini . Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. dan menerima itu dari saya. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. V. 1995: 5-6). Fakta yang sungguh-sungguh ada. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. IV. Tanpa tubuh. yang tetap ada pula. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. yang tertutup pada diri sendiri. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. dan saling mengadakan. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. Tubuh manusia merupakan medium awal. paling primitif. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. juga memuat arti dan nilai bagiku. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. (2) Yang Transenden (Sudiarja. dengan saling memberikan arti dan nilai. Bertanya pun mengenai dunia itu. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. sejauh merupakan substansi yang berdikari.

personalisme. Gabriel Marcel menegaskan. selain alam manusia. yang mendasari. antara lain: Martin Buber. totalitarisme. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. 1993: 36-37). Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Perjumpaan. Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. 2001: 32). pertemuan merupakan permulaan. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. Kedua hubungan itu timbal-balik. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. dan lain sebagainya. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). liberalisme. awal hubungan yang sejati. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. kekhawatiran dan keputusannya. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. Gabriel Marcel. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. individualisme. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. Karena “engkau” hadir.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. . Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. alam dari subjektivitas manusia. sosialisme. Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme. kolektivisme. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. Jean-Paul Sartre. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. Emmanuel Levinas.

Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. tanpa syarat dan bebas. Jadi. Lebih lanjut ia mengatakan. Artinya. apabila manusia sampai pada cinta itu. 1993: 37).dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. dan (2) cinta. Hubungan ini bersifat asimetris. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. 1993: 36). yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Lévinas memberikan pandangan khas . cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . pada doktrinnya tentang situasi etis. Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Dalam hal ini. hidup di dunia adalah hidup bersama. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. Artinya. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. yang digerakkan oleh cinta. Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Hidup bersama itu mempunyai dua ciri.

Jadi “ada” berarti “ada bersama”. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. Namun. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. 1985: 322). Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. Singkatnya. suatu fenomen yang sama sekali unik. manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. yaitu Tuhan. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. Artinya. Dengan kata lain. yang merupakan dua pangkal. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. hakikat bersama. pertarungan yang terus-menerus. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. Jean-Paul Sartre (1905-1980). mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. sebagai suatu totalitas. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. 1956: 222). setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. permusuhan. Pendekatan . pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. bagi Sartre dasar. tampaklah suatu Transendental. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). Lebih lanjut Lévinas menyatakan. Pada orang lain. Dalam semua kebersamaan.

Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. yang saling mempengaruhi dari luar. Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. 1988: 307-308. Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. Sebagai konsekuensinya. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Konkritnya. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. saling memajukan dan saling memperkembangkan . Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). kesediaan membela kehormatan masyarakat. Dalam korelasi itu. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. 1993: 8). dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. Bakker. melainkan juga “kooperans”. terutama dengan manusia lain. untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). . Dengan kata lain. manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. dan atau keluarga.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. seperti rasa memiliki kelompok. Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif.

akan tetapi juga “trancendent”. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. Ketiga. negara dan berbagai bentuk kerjasama). Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. Seperti persona tidak ada di samping badan. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. solidaritas dan subsidiaritas. potensialitas dan keterbatasan. terpisah. . akan tetapi mem-badan. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. Semuanya ini menjadikannya khas. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. Kedua. Istilah transendental tidak berarti. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. organisasi sosial (masyarakat. pranata-pranata sosial. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Pertama.VI. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua.

Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. yaitu Tuhan. sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna. pemanusiaannya menjadi proses yang penting. Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. . Baginya. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. yang saling membenci.

2008 .Psi.P.W. S.Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman. juneman@gmail. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta..

Francis Bacon. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. Dan memang demikian. Filsuf Inggris.H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. dan historia. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. Dalam modul ini. artinya “menyelidiki. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. Sepanjang diketahui. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Demikian pada Plato. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. History berasal dari bahasa Yunani historein. umpamanya. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. I. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17.

Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. Atau dengan kata lain lagi. di samping “sastra”. tapi ia juga mengadakan sejarah. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Dalam peribahasa Prancis. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. melainkan juga subyeknya. Perlu diperhatikan. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah.historisitas. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. Manusia bukan saja obyek sejarah. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. dan sebagainya. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. “teknologi”. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. Ia bukan saja produk peredaran waktu. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. Ilmu sejarah hanya mungkin. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah.

Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. Disangka. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. Tentu saja. hanya ada perkembangan. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. Malah dapat dikatakan. bukan bermaksud menolak teori evolusi. dan waktu depan. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. Manusia ditandai historisitas. Kendati demikian. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. pada waktu tertentu matahari terbit. Tentu saja. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. besok dan lusa dan selama-lamanya. kesimpulan ini tidak benar. waktu sekarang. Karena. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja.baru. pada musim tertentu burung-burung bersarang. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. Tidak dapat disangkal. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. Jadi.

b. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. Itu semua tentu benar. umpamanya. telah terjadi. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. Misalnya. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. namun historisitas belum tampil ke muka. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. salah satu tujuan drama targedi. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina).a. yang banyak digemari orang Yunani. Menurut pendapat Mazhab Stoa. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. manusia adalah bijaksana. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. Apa yang telah terjadi. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak. Namun demikian. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. Untuk Oidipus. Di bidang filsafat. umpamanya. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. ya. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). Setelah pertunjukkan tragedi selesai.

Suatu bidang lain adalah filasafat. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. c. Karena tidak berdaya. Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. wabah. Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. dan sebagainya. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. Perlu tempo cukup lama.ciri yang berasal dari paham pertama. Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Tentu saja. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Proses itu tampak pada segala bidang. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Suatu bidang lain lagi adalah hukum. kelaparan. Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Maksudnya. sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan.

buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel.menandai pandangan dunia. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . misalnya penyakit. Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. harus menjadi praktis. Manusia adalah pelaku sejarah. dan Marx. Manusia dapat memainkan peranan aktif. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. yang penting ialah mengubah dunia”. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. kata Marx. Dan tidak kebetulan pula. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. d. Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia. Comte. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Mereka mengabaikan manusia sebagai individu.

000. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Pasti mesti ada sebabnya. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. ahli astronomi yang ternama.dijungkirbalikkan.000. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. Ahli fisika termasyhur.000 tahun. Tentu saja. Ia sampai pada 50.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. Mari kita memandang beberapa detail: a.000. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan. yaitu pengalaman manusia tentang waktu. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. 6. Isaac Newton (1642-1727). tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin.000 or 10. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. II. menarik kesimpulan begitu ekstrem. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi. Seorang sarjana Inggris. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia.000 years at the outside”. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi. Memang tidak dapat disangkal. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. bila dibandingkan dengan periode-periode lain.

Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi.000 tahun lalu. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan.miliar tahun lagi. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno.000 tahun. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam. “Laporan . Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.860. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat.000 tahun sebelum tarikh kita. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. Lagi pula. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. yaitu dengan teknologi itu sendiri. Contoh lain adalah masalah kependudukan. b. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan.

Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. dan intersubyektivitas. Tentu saja. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. Hal itu tentu selalu diketahui. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. Dan mungkin baru . Memang benar yang sudah dikatakan A. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. kita lihat tadi. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. kebebasan. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. kata Pascal. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. Tapi dalam sintesis filosofisnya. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. Dengan kata lain. III. temporalitas.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. a. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. Comte: “savoir c’est prévoir”. Karena namanya “implikasi”. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. Dan tidak dapat disangkal. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat.

walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. Tentu saja. Karena. Bila Picasso adalah seorang seniman. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. lisan atau tulisan. tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. Pada manusia. tidak lebih dan tidak kurang. manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. Namun benar juga. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. Sebuah batu adalah batu belaka.zaman kita sekarang mulai berhasil. b. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. Seorang manusia bukanlah seniman. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. Ia sendiri tidak merupakan sumber . walau bakat itu diberikan kepadanya. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. Manusia adalah pencipta. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. tapi juga tugas. Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Seniman “menciptakan” karya seninya. Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. Sebaliknya. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. Pendeknya. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. jika manusia tidak bebas. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. sebagai roh yang menjelma dalam materi. umpamanya. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin. sebagaimana batu adalah berat. seperti binatang (dan… malaikat). Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). dalam materi yang kasar. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas.

karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. c. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. Sedangkan manusia. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. seperti misalnya pada Sartre. binatang yang sakit. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. kata Merleau-Ponty. jatuh ke dalam ketiadaan dan . tapi segera hilang pula. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. Maksudnya. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini.mutlak dari bakat itu. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. benar dan matematis. Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). manusia betul-betul kreatif. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. adalah un mouvement de transcendance. kata Hegel. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. Atau dirumuskan dengan cara lain. Kalau begitu. Namun demikian. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. adalah ein krankes Tier. Manusia.

Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. membatasi. mendatang. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya.diganti dengan saat lain. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. maka masa muda masih hadir bagi saya. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. Dirumuskan sedikit karikatural. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. sebagaimana diandaikan oleh Newton. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. Itu bukan waktu yang “benar”. Bila saya seorang dewasa. arloji atau kalender. dengan salah satu cara hadir juga. meski dalam bentuk “yang akan datang”. sekarang) “kehadiran”. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. Bila saya seorang muda. Dengan kata lain. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. waktu antropologis. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. Jadi. Karena. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. bukan saja sejauh saya mengingatnya. bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. d. takuti atau nantikan. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang.

Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. ia hanya mempunyai sejarah”. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. Historisitas menjadi mustahil. seandainya setiap generasi (apalagi. etika.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. Manusia adalah makhluk historis. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. IV. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. Perlu diakui. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. Misalnya. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. . dan agama. “Manusia tidak mempunyai kodrat. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Manusia adalah makhluk historis. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. J. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. karena selalu ia meneruskan. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. Misalnya.

Demikian halnya juga di sini. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis. . Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Itulah kebenaran historisisme. Artinya. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah.

Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W. S.Psi. C. 2008 .P. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.

Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. dan lain-lain). mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. Kita. 2. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. padahal kita belum mengalaminya. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. kematian menjadi fakta. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). Pendek kata. paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. membicarakan kematian secara a priori. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). Bagaimana kita bicara ihwal kematian. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. dalam hal ini. Jaspers. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. Karena pengaruh teknologi media mutakhir.K E M AT I A N M A N U S I A I. tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. ia menjadi faktualitas. dan menjadi sekadar data. ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). Sartre. Dalam setiap ranah pemikiran. sementara kita belum . Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan.

yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. Namun. ‘filsafat hayat’. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. Pertanyaan selanjutnya. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. tetapi perlu melibatkan pengalaman. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi. Karena itu. seperti diketahui. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. Filsafat eksistensial. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. . Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern.

jiwa itu dipersatukan dengan badan. Bahkan. atau suatu fase dari substansi ilahi. (2) Dualisme. Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. menurut proses alamiah. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Menurut materialisme. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. Kemudian. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. maupun bagi anak yang mereka lahirkan. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. suatu bagian. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Badan itu hanya epifenomena saja. seluruh manusia itu melulu materi. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. II. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. dengan alasan . yaitu lahirnya substansi otonom baru. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya.

Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua.berwarna-warna (Kant. juga menentukan permulaan proses itu. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Jiwa itu subsisten. Menurut tradusianisme spiritual. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. badan dan jiwa. Menurut tradusianisme materiil. yang meliputi tradusianisme. Struktur hakiki. pada saat persiapan itu sudah cukup. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. kreasionisme. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. Dengan demikian. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. atau diberi-alih dari substansi mereka. Schelling). Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. mulai abad-abad pertengahan. Dengan demikian. Hominisasi. Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. dan transenden terhadap materi. (3) Usaha sintesis. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. Dari segi ontologis. dan hominisasi. Menurut Thomas. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). atau memberi-alih. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia.

Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. dan akhirnya busuk dan mati. melainkan sebaliknya. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak.kepada anaknya pula. Dia tidak masuk dunia abstraksi. Maka. III. justru bukan . Bunga menjadi pudar. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. destrukturisasi. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. tidak melampaui dunia material. Jadi. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. di dalam penyebaban manusia yang langsung. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. bersifat fana. Bukan permulaan itu yang paling penting. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. Semua ”ada” material. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk.

Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi). jiwa lepas dari hukum-hukum materi. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam. Paham materialis mencoba menghancurkannya. Karena spiritualitasnya.karena kehewanannya. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. kematian. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. tanpa keluasan dan kuantitas. Tanpa keluar dari dunia material. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani. sebagai berikut. jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. Ernst Bloch. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. ilmu-ilmu. degradasi. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. dan lain-lain. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. yaitu dunia manusiawi. Sampai di sini. seperti halnya dengan semua benda material. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. Namun dibedakan dari badan. Misalnya. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. seluruh dunia kebudayaan dan agama. dengan abstraksi. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis.

apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya). Menurutnya. Sesungguhnya. ”menghadiri pemakamannya sendiri.” Pengarang Inggris H. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum .” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu. artinya apa yang esensial dalam kepribadian. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis.H. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri.D. suatu kutub oposisi yang mutlak. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. sebuah lengan. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. Dalam beberapa riset yang lain. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. ia tahu bahwa ia adalah ia. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian. ingatan yang rusak itu. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan.definitif dari semua. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. self keakuannya. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya. kesadaran yang kosong itu.” IV. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. Pun pula dalam amnesia total. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. N.

sedangkan begitu banyak orang jahat. kesuksesan. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. terkadang menikmati kesehatan. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. Jadi dari dirinya sendiri. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. Tentu saja. maka tidak mesti mengandung kekekalan. sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. manusia tidak bisa keliru secara universal. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. bahkan bersifat absurd. argumen ini tidak berlaku.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. tak jujur. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. hormat dan kemakmuran. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. Dalam inti hati manusia. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. bahkan yang paling kuno. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus.

tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. Akan tetapi. Sebagai akibatnya. keakuan pribadi.van de Casteele setuju dengan beliau. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. Prof. argumen moral ini berbobot sekali. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. sebagai targetnya.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren. yang paling luhur dari semua daya evolusi. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. Akan tetapi. yakni pribadi manusia. salah satu kesulitan ini. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. kebajikan. astronomi. J. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia.J. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. terutama aspek cintakasih sejati. Ada sesuatu yang harus hidup terus. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. dan yang paling berat di antara semua yang ada. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. Tugas ini amat berat bagi manusia. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal). evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. teratur. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. Nah.

berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir. juga merupakan bagian dari pengalaman kita. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. ia betul. Hasrat untuk tetap hidup. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik.” Sebenarnya. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. bagi makhluk manusia itu. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian.harus membuktikannya. .

Jadi. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. . seolah-olah kita merasa kekal. Dalam diri kita. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. kalau tidak. kebahagiaan menjadi tak mungkin. sebaliknya. tanpa kekekalan pribadi. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. dan bukan kepada orang lain. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. Tuhan bukan Tuhan lagi. Pendeknya. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini.Evaluasi terhadap argumen di atas. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. Jika tidak. Karena. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. Secara formal. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan.

Van de Casteele. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. Sebaliknya. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan. dalam kesatuan ”kita”. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. Gabriel Marcel menulis. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof.” V. ”the here and now” quantified body. Kalau begini. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. Karl Rahner. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi. Ladislas Boros). Karena itu. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis .Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini. Dalam perspektif ini. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih.

kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. Rahner berkata. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. Bagi orang dewasa. satu-satunya yang kita hayati. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. Pada saat kelahiran. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. persaudaraan. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. Dalam waktu yang sama. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus.” Jadi. pada saat kematian biologis. Meninggalkan dunia ini. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. Tetapi pada saat yang sama. warna-warna. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. suatu kehadiran pan-kosmis. akrab dan enak. Manusia . makna-makna.kita. Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Namun. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. VI. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. bahwa pada saat kematian. dan cinta manusiawi. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi.

Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. atau suatu konflik tanpa jalan keluar. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). pribadi maupun sosial. melainkan sebuah drama.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan. akan dipenuhi. . tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. kebahagiaan. Kematian bukan suatu tragedi.” Namun seluruh analisis kita. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. semua saksi yang kita bicarakan.

W. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman. 2008 .Psi.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh. Penindasan. Perjuangan.P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail. C. Identitas. S..

Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. the Subjection of Women (1869).F I L S A F AT F E M I N I S M E I. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. the Second Sex. dan phalogosentrisme. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Dalam “the Laugh of the Medusa”. peran gender. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. penindasan perempuan. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. identitas gender dan seksualitas. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. Derrida. hak-hak perempuan. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. seksisme. hak berpolitik. stereotyping. hak reproduksi. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. dia menolak esensialisme yang sedang marak di .

meskipun tidak semua. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. adalah kemewahan. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja.Amerika pada waktu itu. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. agama. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. meliputi Afrika. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. Dengan asumsi ini. bagi perempuan kulit hitam. Secara lebih spesifik. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Asia dan Amerika Selatan. Dalam wacana ini. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. Dalam berbagai penelitian tersebut. dan relasi sosial. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. rasisme. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. Dalam berbagai diskursus. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Karena perempuan kulit . Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). banyak feminis-individualis-putih-barat. seksisme. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. Selama sebelum PD II. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus).

mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Dalam konsep objektifikasi ini. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. sekali lagi. bekerja keras. di sini. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. diam. para perempuan. banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. Sedang untuk persoalan kulit hitam.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. bisu. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Lagi-lagi. Dalam ranah antropologi. Dalam banyak kasus. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. dan menerima begitu saja. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. Hampir seluruh kasus penelitian . Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. Dalam persoalan pertama. dan lain-lain yang non-domestik. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Perempuan dunia ketiga. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat.

Perjuangan. Identitas. Penindasan. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. II. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. mencipta. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian.reproduksi. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. Tubuh. Sebab. Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. dia terkurung dalam sikap pasif dan . Dalam penelitian psikologi. melakukan revolusi. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki. konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. perempuan tidak berani bereksplorasi.

dan aktual. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. dalam hal ini rahim. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. sudah tetap. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. sekolah. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Dengan etika ambiguitas. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. Menurut Beauvoir. . Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. melalui fungsi tersebut pula. konstruktif.tidak berdaya. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Namun. dan pasti. Akibatnya. Dalam situasi yang demikian ini. Melalui fungsi tersebut. bahkan mungkin juga negara." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. Baginya. masyarakat. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. bahkan tidak 'dianggap'. Dengan cara demikian. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya.

Di level praktik. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. yaitu mengabdi kepada orang lain. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. Permasalahannya. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. budaya. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. Sebenarnya. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). Kehadiran perempuan sebagai manusia. Padahal. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. Melalui sikap diam dan pasrah. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. Pada tataran pemikiran. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. digerus begitu saja. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. Identitas perempuan tidak dianggap penting. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. yang dicapai melalui revolusi sosial. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. Tak heran. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. dan politik. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . diskriminasi jender terus lestari. yakni level pemikiran dan praktik. Oleh karena itu. Menurut de Beauvoir.

garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat. bukan cabul. misalnya. bentuk purdah. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. Dalam hubungannya dengan pornografi. Maria Marcus. Untuk para feminis. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. jilbab panjang. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik. Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. menggolongkan pornografi . Feminis yang lain. Arab. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. Perempuan dalam episteme agama Katolik. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. menuju keotentikan dan pembebasan. jubah hitam panjang. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia.

objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. seks dengan kekerasan. Pun di Barat. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. Dengan demikian. yaitu para produsen. gemulai.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. penulis skenario. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. Di dalam masyarakat patriarkhi. Tubuh Perempuan yang seksi. UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. Di sisi lain. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. cantik. Dengan adjektif itu. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. dan pembaca/penonton pornografi. konsumen. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. Tanpa kedua hal itu. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . Menurut Marcus. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. yang tersohor dengan liberalismenya. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. Bagi Kappeler.

Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. Perempuan seolah sebagai gangguan. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. Apa yang disebut santun. Jika UU itu ingin akomodatif. Sekali lagi. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. baik. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. Dengan kategori relativitas adjektif. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. Perempuan hanya sebagai subordinat. Namun. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. dan nonlinear. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. Penyebutan paha. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. pusar. . beragam. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. sopan. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks.

Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya.III. yang Lain (baca: Other). Pada kasus Jawa. Pada awal abad 17. Trinh T Minh-ha. Barat sebagai yang occidental. Subaltern. Uma Narayan. Center dan beradab. Said menulis Orientalism. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. seperti Gayatri Spivak. dan terakhir white-female-burden. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978. eksotik. Young. bell hooks. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. Chandra Talpade Mohanty. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Albert Memi. tidak beradab. maskulin.C. Sejak tahun 1920. Bali . Kreol India dan Eropa. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. dll. colored-man-burden. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. Ranajit Guha. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Dan secara kuliner. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Timur sebagai yang oriental. perempuan. rational. dan Homi Bhabha. irrational. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. Robert J. Frantz Fanon. dll. Achille Mbembe. traditional. Kwame Nkrumah. Anne McClintock. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Cina. Dalam era kolonialisasi. Melawan whiteman-burden. JanMuhammad. AijazAhmad.

penindasan terhadap perempuan adalah sama. status sosial rendah. penderitaan perempuan adalah sama. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). daerah bencana dan daerah konflik. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. Dengan perbedaan geografis. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. seks komersial. diperkirakan 100. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. budaya. Di Indonesia. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. lemahnya penegakan hukum. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. ras. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. buruh murah. ras.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. Negara dan bangsa. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. diskriminasi. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. universal sisterhood menjadi problematis. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. agama. dan relasi sosial tersebut. khususnya pantai Pattaya. Kehadiran esensi adalah . terkadang. Penemuan terhadap esensi. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. kelas. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. relasi sosial. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. budaya.

Dengan asumsi ini. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. Surabaya. dengan sebutan globalisasi. la parole / Jakarta. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. dalam konteks sekarang. Semarang. .kelahiran kesadaran. Jogjakarta. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. IV. Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Dalam banyak kasus. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. Bandung. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. Sebenarnya. Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. telah dirampas dengan daya global. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas.

Sejarah etnis. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Tidak dipungkiri. peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme.Dalam konteks media. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. Dalam berbagai sektor. submisif/tunduk. tapi secara mutilatif. ibu yang baik. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. anak perempuan yang kelas kedua. terutama Jakarta. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. Sejarah ras. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. kelas kedua. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). perlu dilakukan penelanjangan esensi. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). Dalam berbagai tayangan media. Pada titik ini. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. Sejarah tubuh. Motto para penjajah . merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. Dalam politik identitas. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. jelas terlihat. Dan sejarah sastra budaya. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni.

Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. sejarah dan agensi. Menjadi titik dan selesai. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. maka mereka akan mudah dijajah. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. uraian di atas lebih lanjut. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. identitas. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. V. semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. Dengan konstruksi. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. ras. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . Tanggung jawab terhadap Subyek. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Dalam politik dekonstruksi. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. Seperti yang terjadi sekarang. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan.

Meski banyak kaum positivis. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. . para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. sulit menerima metodologi ini. Intinya. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. terutama laki-laki.

W.P. C. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.. juneman@gmail.Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman.Psi. 2008 .

Dalam pemikiran Eropa. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. mempertanyakan. dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret.F I L S A F AT T I M U R I. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. Agama mengajarkan kepatuhan. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. Bertrand Russell . Dari khasanah Islam. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. dan tidak kritis. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. Selalu ada yang mesti dikorbankan. misalnya. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. Di Abad Pertengahan misalnya. Tetapi. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. filsafat adalah hamba bagi iman. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. tidak sistematis. dipertanyakan. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Exposed to attack from both sides. contohnya. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. jika pemikiran Timur dianggap agama. Sejak Socrates. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. Jadi. pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. dengan keutamaan pada praktiknya. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates. Plato. Hidup. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu. Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. Dalam pandangan lain. contohnya. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. . Di pihak lain. dan Islam. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. Di sisi lain. Buddha. . maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat.the no-man’s land between science and theology. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. dan Aristoteles. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. 1996). Plato. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. . Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. Pemikiran etis dari Confucius.

Confucius. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. Sebagai tambahan bagi Jaspers. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Socrates.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Cina.” Oleh Beck. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. bagi Jaspers. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. dan Israel. dapat kita temukan nama Muhammad saw. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. seorang pemikir psikologi besar. peradaban. . Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. yaitu India. Jung when he wrote. The Teaching of Wisdom. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. Namun. and their first and greatest ethical philosopher. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. but though he remained an “amateur” or informal teacher. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Yunani Kuno. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. Confucius disejajarkan dengan Socrates. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. Plato. dan Aristoteles. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. dan Jesus. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia.

atau ditangguhkan vonisnya. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. dan tampaknya akan terus berlanjut. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. Sebuah upaya adalah sebuah proses. sistematis. Pengertian kritis di sini. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. Sebagai produk. radikal. hingga menjadi makanan yang siap santap. ibarat resep masakan. Dengan demikian. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. dialektis. radikal. Dalam khasanah filsafat Barat. Secara lebih spesifik lagi. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. dan kritis. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. tak ada ujung. Sedang sebagai proses. sistematis.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. tak ada kata putus. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. filsafat terkesan sebagai barang jadi. bukan produk. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. (Disarikan dari . masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. yang memiliki sifat rasional. ditolak. sesuatu yang telah selesai. serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis.

Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”.Moore & Parker. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. Dengan begitu. radikal. Dengan kata lain. positivistik. dan filsafat analitik. positivisme. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. Dalam pemikiran Barat konvensional. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). 1990). positivistik. maka pernyataan itu salah. . Feldman & Schwartzberg. Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. Dengan pengertian kritis. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. pengertian sistematis. Jika kenyataan saat ini tidak hujan. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. para filsuf dari empirisme. Sebagai contoh. dan bertahap. sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. runut. serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. Mayer & Goodchild 1990. 1986. Pembatasan kaum empiris.

dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Dalam agama. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Berbeda dengan filsafat. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. Dalam filsafat. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional.

dan aksiologi. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. Mereka lebih sering menafsirkan. berusaha memahaminya.Tuhan tentang rahasia semesta. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. Berbeda dengan filsafat Barat. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. epistemologi. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. itu sudah sangat memadai bagi mitos. bagaimana cara mendapatkannya. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. II. Kalau kita bicara tentang sistematika. Quinne. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. Cukup percaya saja. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. tentang yang benar dan yang salah. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. tentang yang baik dan yang buruk. kemudian mengamalkannya. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. filsafat Barat mutakhir. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat.

maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar. since only God is worthy to be called wise. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. dan bahkan beberapa lebih mendalam. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. but are worthy of a higher name. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. Pengertian kebenaran atau . Lao Tze. when they are put to the test by spoken arguments. orators. Pendeknya. befitting the serious pursuit of their life. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. apalagi dalam ilmu dan filsafat. are to be called not merely poets. or legislators. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. we cannot give them the name of ‘wise’. dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. However. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran.

” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. Perasaan. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. Intuisi.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. kemudian mengkajinya secara rasional. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. gairah. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. 8. Beck menyimpulkan: .kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. Kedua. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. We have described awareness as the consciousness of life. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. Namun. Kata wisdom.

Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Confucius. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. sistematis. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. para filsuf Hindu dan Islam.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. tidak akan mencapai kebijaksanaan. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia.” Dalam pandangan Beck. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. bukan hanya rasio. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. Sidharta Gautama. Untuk mencapai kebijaksanaan. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat.

Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. dan ada solusi bagi masalah itu. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. adu argumentasi. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. Dalam pemikiran Cina misalnya. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Pada praktiknya. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. ada masalah yang jelas. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. The Teaching of Wisdom. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. diskusi. dan aksiologi. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya.modifikasi. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. epistemologi. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah.

Budhisme. Tetapi di akhir abad ke-20. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. yaitu orang Yahudi. lebih menyeluruh. Budhisme Chan. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. Daoisme. pemikiran Timur. III. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. dari sumber tulisan manakah. seperti Hinduisme. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. lebih universal. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. . kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. saya harus menunjuk ke India.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal.

” Syair karangan T. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. dia menulis sebagai berikut.S... sewaktu agama menggantikan tempat teknologi.. shantih. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur.. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis. akan menaklukkan para penakluknya. “Shantih.. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa. yang berarti Damai. shantih. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah.” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India. damai. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik.. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah. Arthur Schopenhauer misalnya.. pada abad ini..” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952.. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut. Tapi coba cermati India.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan.. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi. “Di seluruh dunia.. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu.. damai. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini.. Dengan . Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat. Dengan berkiblat kepada Barat. mungkin India yang telah ditaklukkan. Elliot yang berjudul The Waste Land. sekali lagi saya harus menunjuk ke India. namun dalam abad ke-21. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu.. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya....

Pada titik-titik tertentu. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. dan akhirnya sama sekali lenyap. kematian cita humanisme universal. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. Hasilnya. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. Aristoteles. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. dari Yoga. kematian kebenaran universal. kematian metafisika. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. Padahal jika diruntut ke belakang. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. lahir karena kebetulan. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. kita hanya mendapatkan . Lucunya lagi. Makanya. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri.kata lain. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Sebab. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. Di samping itu. Kendati bukan pelopor. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. Makanya. Semedi. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. Misalnya. Seiring dengan perkembangan zaman. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. yang juga menyelidiki manusia. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. Lalu. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat. 2. Modul II: Bahasa 1. 5. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. seperti misalnya psikologi. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. ringkaskanlah sifat dialektiknya. 4. 4. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. Modul III: Kehidupan 1. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Jika kita mengingat psikoanalisis. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. meskipun samasama menunjuk kepada manusia. yang dilihat bukan badannya saja. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2." Apakah implikasinya? 6.

Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. 4. 4. Perpanjangan suatu situasi. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. bagi manusia merupakan penderitaan. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. terutama jika akhirnya tidak tampak. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Modul IV: Pengetahuan 1. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. 3. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. 2. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? . 6. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3.3. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5.

3. 6. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. apakah mereka saling mengandaikan? 4. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. apa sajakah itu? 5. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. 5. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. Untuk mencapai afektivitas. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2. Dalam hal ini. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. Sebutkanlah dan jelaskanlah. 5. Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia.4. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. 3.

8. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. 4. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Mengapa. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. 6. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. 2. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Menurut penyelidikan Anda. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. . Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat.6. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. menurut Jean-Paul Sartre. 3. menurut Louis Leahy. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. menurut Kierkegaard. seperti psikologi. Jelaskanlah mengapa. 7. Mengapa. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada.

"Barang siapa mempermainkan permainan. Permainan Jelaskanlah. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. 2. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain"." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. Modul X: Sosialitas Manusia 1. 4. Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. akan menjadi permainan permainan. 3.10. Apakah yang dibebaskan? 3. Verifikasikanlah pernyataan ini. Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. 2. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. lalu toh tetap ada dunia. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel. Kalau "aku" tidak ada. 5. Berikanlah contoh-contoh. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. 5. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. 5). jika manusia tidak bebas? 4. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Menurut Anda. Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan.2. namun di lain pihak. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. 5. bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. 3. 4. Dalam konteks tersebut (no. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. Sebagai daya kebebasan.

Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1.. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan. 5. Homo Homini Lupus. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4. Ahli psikologi. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7.. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi. .) lagi. Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber.. 5. Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. gairah. Carl Gustav Jung.. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran.. perlu dilakukan penelanjangan esensi. Di manakah batasnya? Selanjutnya.dalam budaya patriarkat. 3. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Homo Economicus. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Dalam politik identitas. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful