F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

266 I.........................................................277 Lampiran I: Soal-soal................................261 V..... S.......234 Kematian Manusia........................................................... Fungsi Permainan.................................................................... Permasalahan & Pandangan-pandangan...... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana............................ Ikhtisar........................... 6 ............................ Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek.............................................................................266 II...................................................................................................... Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia...........239 IV........................................ Identitas.................................. dan Pembebasan Tubuh Perempuan......................285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.................................265 Filsafat Timur....................................................... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati.....................196 III.............................249 Filsafat Feminisme.....................265 Modul IX.......247 Modul XIII..............226 III..........................II................................272 III..241 V..........................................................................197 IV..253 III............................................................................ Jiwa Manusia Bersifat Kekal)............................................................................................................................ Kritik atas Kebudayaan Modern.......................228 IV.............................................................................................................................................. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?.........................................246 VI..............250 II.......................235 II............. Ikhtisar............201 VII.... Ikhtisar ....................................................... Ikhtisar....... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?......................Psi.... Permainan dan Kebudayaan................................................................................................... Ikhtisar........................................... Pemikiran Timur sebagai Filsafat.....220 I....... Aku Mengadakan Yang-Lain............203 Modul X..208 I......... Permainan dan Pembebasan..........237 III........................................235 I....................................................... Perjuangan.........208 II................................................................ Tubuh............... Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain".....................217 Modul XI........... Penindasan.......... Permainan dan Perlombaan......210 III.......212 V................................................... Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ..200 VI........... Lahirnya Manusia.. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II................................. Aku Diadakan oleh Yang-Lain....211 IV....212 VI..................................................................................................................................................................... Arti Modern Istilah "Historisitas" .............219 Historisitas Manusia. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya".................................. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas....... Korelasi....... Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?....................................207 Sosialitas Manusia............................................................................250 I........................................................................................................263 M..........................................................................259 IV..........................232 Modul XII..198 V...

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

16 . Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. Dengan jalan ini. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. b. biologis saja. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. cinta kasih. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. misalnya pada taraf biokimia. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a.Psi. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. V. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. S. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. Namun. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). semua kegiatan. semua pengertian. Dengan demikian. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. malu. dan berarti ”yang dipikirkan”. Bukan berupa sifat atau gejala saja. rasa takut. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. Dengan demikian. yang berarti ”menampak”. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin. bekerja. seperti misalnya berjalan.

dengan segala sudutnya. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. yaitu keunikan dan kesendiriannya. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. Jadi. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. sebagai ”aku”. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. dan sebagainya. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. Memang. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. atau ”psikologi metafisis”. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. 17 . Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. Nama ini menimbulkan keberatan. misalnya menurut aspek budaya. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. turunan. VI. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia.Psi. Akan tetapi. VII.

S. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia.Psi. antropologi. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. yang sampai batas-batas tertentu. Alasannya adalah karena. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. tentang makna kebebasan dan mencintai. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. kemampuannya dan cita-citanya. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Misalnya. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. dan sebagainya. dan sebagainya. seperti biologi. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri. waktu. etnologi. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menganal hakekat sifat dirinya. terutama pada masa kini. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. sosiologi. alam semesta. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. tentang dunia. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. psikologi. manusia dan Tuhan. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia.di muka kita. 18 . Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia.Psi. Plato. yaitu badan dan jiwa. mengambil manusia sebagai obyek material. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). digambar. alam kodratnya. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan. Filsafat manusia. alasan adanya (principe d’etre). Marcel dan Buber memberi penegasan lain. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. misalnya. yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. dibayangkan. S. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 19 . diukur. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. strukturnya yang fundamental. melainkan struktur metafisiknya. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia.

Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. fenomenologis. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. eidetik. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra.binasa. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. S. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika.Psi. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. metode filsafat adalah bersifat refleksif. Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. abstraktif. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. induktif. 20 . atau juga. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. dan metode metafisik.

C.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. juneman@gmail. 21 .com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi.P.W. S..

penulis. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. kelupaan akan nama.Psi. di toko. pengacara. di kantor. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. penyiar radio-televisi. atau di mal-mal. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. belajar di bangku kuliah. Apabila di dalam praktik bahasa. jaksa. Para hakim. di bengkel. wartawan. keseleo lidah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. cara tetapi struktural ini. dengan bahasa. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. psikoanalis Lacan. Pertama. membeli tahu-tempe di pasar. yang Jacques menurut tertentu. . Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. dosen. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. dan sebagainya). sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. Berdebat di ruang pengadilan. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. rantai penandaan terputus. perancang iklan. dsb.BAHASA I. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. S. berbicara adalah suatu gejala yang terang. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. Nampaknya. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa.

Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 1988). Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. aspek-aspek dunia terungkap. pernyataan. seseorang dapat menggerakkan dunia. Maka itu. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen). misalnya dalam bentuk penilaian. susunan alam raya). mendengarkan. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. 1996): Pertama. S. Husserl. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. pada periode Frege. kata ataupun susunan. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. Wittgenstein awal. Di dalam bahasa. dan representasi. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. cerita.” kata Joseph Conrad (Brussell. kekuatan kata-kata. Bahkan. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. 23 . berhubung dengan bahasa bersifat simbolis.Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. Inilah kekuatan bahasa. sejak dahulu.” (Langer). the power of words. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. inti sesuatu hal. terdapat tahapan evolusi yang luas. dan Carnap. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. Kedua. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. karenanya menyesuaikan diri. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi).Psi. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. Bahasa. Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. Kedua. menurut Gadamer.

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bagi Wittgenstein-tua. Di dalam Speech Acts. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. Ketiga. Searle). Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. contohnya. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika.an. S. dan post-strukturalisme. II. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. misalnya. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. yaitu manusia secara konkret. dan roh. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara. Substansi adalah kata atau ungkapannya. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. strukturalisme. maka suatu kata memperoleh arti dan makna. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). dan the act of affecting something. the act of doing something. dan poetika. menurut van Zoest (1993).R. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. asap menandai adanya api. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. yaitu segi ekspresi dan segi isi. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. tersangkut badan dan jiwa. Tergambar jelas dari uraian ini. Selain itu. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. dalam perbuatan berbicara. seluruh pribadi manusia itu. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. Grice. 24 . dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. hermeneutika. pancaindera. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. Ketiga.Psi. retorika. J. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Secara berturut-turut. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani.

kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. kata. 25 .Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. r untuk reference. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. r. Dalam penelitian sastra. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi.Psi. Perhatikan rumusan berikut: S (s. misalnya. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. merupakan khazanah pengetahuan insani. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. sebagai ”hewan sosial”. sehingga bagi Cassirer. S adalah untuk semiotic relation. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. e untuk effect. manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. i. ia memperoleh sebutan baru. Perpustakaan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kalimat. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. maka huruf. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. i untuk interpreter. dan c untuk context atau conditions. Keselamatan kita. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. S. tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus. e. c). jika disandingkan. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. animal simbolicum. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda. Maka itu.

Bahasa terkait erat dengan proses nalar. Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan. agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). ”Bahasa adalah busana pikiran. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kita harus berpikir. ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought). mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya.J. J. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa. 26 . Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti.” Dengan istilah teknis dan filosofis. (2) pikiran adalah bahasa.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan). namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. di mana Müler menegaskan. Masing-masing merupakan produk biologis. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. No Language without Reason.” Samuel Johnson mengatakan. Max Müler lebih jauh lagi. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran.Psi. Agar bisa bernalar. S. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa.

dan abadi. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. S. jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. hermeneutika. 27 . sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. samasekali tidak jelas begitu saja.Psi. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. dan filsafat analitis. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. semiotika. strukturalisme. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). Pikiran akan menimbulkan kalimat. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. tetapi terkadang tidak. tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. tetapi kesan pasti ini menyesatkan. lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. tetapi kata (word). apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). seperti misalnya.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. kaitan pikiran dan kata. dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. dan definisi arti. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. tetap. sekalipun sangat menyederhanakan. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai.

itu samasekali tidak mengurangi nilainya. 28 .menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. ”Bir lebih enak daripada anggur. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. dan mengakui keterbatasannya. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat.Psi. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa.” atau bahwa. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru. III. Sebagai contoh. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. Benarkah bahwa. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini.

bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon. Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat.. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa.Psi. Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia.” Pinker berpendapat. 29 . Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa.. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. S. Bahasa manusia berbeda samasekali. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda. Bila elang mengancam dari atas. Bila pemangsa terlihat di tanah. dan sebagainya). Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka. pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan). tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut. yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa). Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu. Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain.

Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. 2. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. berbeda. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). 30 .Psi. Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri. seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri. S. IV. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa.

Kita tidak dapat menjawabnya.3. harus dimasukkan. karena bukan pernyataan faktual. Caranya ialah dengan gambaran logis. 6. sesuatu yang tak terkatakan. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. Pernyataan metafisika. Dalam hal ini. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. 31 . 4. ini suatu mistik. kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Semua ini bukannya tidak benar. Bahasa etika dan agama. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. atau agama tidak mempunyai arti. Menurut Wittgenstein. Di hadapan ketidakmampuan ini. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. Oleh karena itu.” 5. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. Tetapi bagi Wittgenstein. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Menurut teori gambar. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. etika. Ini sudah merupakan dalil. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. melainkan tidak bermakna. Oleh karena itu. bahasa tidak mempunyai arti atau makna. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. karena Ia bukan fakta. Tuhan menampakkan diri. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Sungguh. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. S. Dalam dunia.Psi. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. lebih baik diam. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. Tanpa hubungan itu. Oleh karena itu. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. estetika.

(b) Akibatnya. Dalam hal ini. dan seterusnya. Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. perlu dicari di luar dirinya. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. berterimakasih. Dalam permainan bahasa. Ada banyak permainan bahasa. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. kita dapat memaparkan sesuatu.Psi. beroda. sebuah tanda menjadi mati. menjadi bermakna. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. Karena itu. Permainan bahasa (language games). bernyanyi. demikian pun bahasa.nilai itu ada. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. Misalnya. justru dalam penggunaan. Esensi setiap permainan berbeda. 32 . dalam kenyataannya. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. Sebuah tanda menjadi hidup. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. kambing. Dengan bahasa yang sama. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. kuda. S. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. memberi perintah. menanyakan. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. pohon. maka. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. juga mengenai hal itu kita perlu diam. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. dan. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. boleh. misalnya sudah.

Masih kita ketahui. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. 3. 2. Terpaksa. kita berbicara tentang apa. Dengan itu. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis]. kita menggunakan bahasa yang sama. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20.menyatakan satu pernyataan tertentu. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula.Psi. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. karena bahasa lain tidak kita punya. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. 33 . tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. S. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. bermakna atau tidak. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. V.

”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. S. Bagi Wittgenstein. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. Karena itu. baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. banyak publikasi terbit mengenai tema ini. Dalam periode pertama.dengan dunia berhingga kita. tidak pada taraf ontologis. Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat). “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. Bagi Russell. sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius.Psi. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. misalnya. 34 . dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. Moore. Terutama di Inggris. Pada G. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis.

Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya. 7). Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. Kalau dalam periode ketiga. semuanya tidak bermakna. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. sebagaimana dikatakan Ayer juga. emosional atau ekspresif. tidak mempunyai nilai pengenalan. tidak berbicara tentang suatu fakta. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. tidak mempunyai isi faktual. maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis). Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi).in silence” (Tractatus. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. 35 . Bila ada banyak permainan bahasa. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. secara apriori tidak bermakna. S. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius.Psi. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. nr. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini.

I. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. langkah demi langkah. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. Pertama. Namun demikian. Namun demikian.M. Mitchell. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa.Psi.D.B. sudah sejak permulaannya di Yunani. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan.T. Pada zaman kita ini. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J. apa saja merupakan being. Van Buren. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. E. J. B. R. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal. Tentu saja. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. VI. Smart. D. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. J. sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. Kedua. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. Ramsey. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. R. Mascall. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. S. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. metode mereka adalah analisis bahasa. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. P. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. Braithwaite.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka. Selanjutnya. Hick. Macquarrie. 36 . Evans. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I.M. Hanya saja harus ditambah. Ketiga dan yang terutama. Crombie. Hare. begitu luas.J. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif.

suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. dilahirkan sesuatu rasa heran. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. Demikianlah. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada. Fungsi inilah. memperoleh bentuknya yang dinamis. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa. yang tak pernah bulat selesai. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. Agaknya. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. barang-barang. Derrida.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru. tentang eksistensi Tuhan. manusia. kebakaan serta kebebasan jiwa. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. Heidegger. S.Psi. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. Tetapi kami tidak bersalah. Pada akhirnya. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. Husserl.” Pada pokoknya. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. Dalam kata-kata. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam setiap kata. sebagaimana sudah kita lihat. menurut pengamatan para linguis. kebanyakan orang menjadi bingung. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. Itulah sebabnya Frege. dan peristiwaperistiwa. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. Tentu saja. yakni fungsi transformatif. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. Pada gilirannya. 37 . Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden).

mereka dipahami dengan berbagai cara.Psi. Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. 38 .

2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.. 39 . C. S. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Psi.P.Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.W.Psi. S.

Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan. melainkan metafisis atau hakiki. bagaimana titik tolak manusia? Konkret. menghadapi kesukaran. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri. dia mengolah diri sendiri. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. ke manakah kamu. S. banyak segi jika orang bertanya. dalam psikologinya tentang persona. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. dengan emosinya. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. dan juga berarti dengan sesama (sosial). Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. dengan pandangannya. juridis. dia melakukan. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. dan berbagai macam: sosiologis. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. Dalam bertanya tentang diri. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. Oleh karena itu. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). Manusia bisa. 40 . mengangkat dan merendahkan diri sendiri. dan lain sebagainya.K E H I D U PAN I. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. psikologis. Pengertian ini kompleks. dalam pandangan tematis bisa salah. padat. Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. antropologis. siapakah namamu?. dan lain sebagainya. Ada yang eksperimental-ilmiah. Jadi. Tidak hanya berhadapan. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. dan lain sebagainya. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. dan lain sebagainya.

berada dalam suatu "cahaya". Dengan ini dia menyejarah. Namun dalam berubah-ubah ini. jadi punya daya. Dia tidak hanya berubah dalam. Karena badannya. Jadi. Lihat saja. tetapi juga karena diubah oleh. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. sebagai subjek. manusia bangkit. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. Manusia selalu terlibat dalam situasi. Manusia tidak sadar tentang jiwa. dia bisa berjalan. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. atau badanku sakit. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. bertindak. S. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. Jadi. Corak yang ketiga. dia menempatkan diri. 41 . di sebelah sini atau sana. Subjek artinya berdiri sendiri. Masing-masing dari kita berkata: Aku. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. bagaimana manusia itu menjadi sadar. tetapi juga bukan jiwa. dia tetaplah dia sendiri. Lihatlah. Sesudah pendahuluan ini. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. Kalau begitu. melainkan tentang aku! Kelak. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. Lihat saja. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. jangan berkata tentang badan dan jiwa. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. dan lain sebagainya. Hewan juga berada di dalam alam. Dia berkata: aku sakit. jika manusia menguraikan kesadarannya. manusia juga tidak bisa mengerti dunia.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat.Psi. tetapi tidak berhadapan dengan alam. tetapi juga berjarak. punya kemampuan. II. bisa mengubah dan mengolahnya. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. Dia menghadapi. Dia bisa memandangnya. Dia merupakan kesatuan dengan alam. dan dengan demikian. mengambil tempat (posisi) dan sikap. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. situasi itu berubah dan mengubah manusia. menghadapi. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. tidak mempunyai distansi. situasi itu. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). yang menyebabkan dia bisa seperti itu. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret.

dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. yang ada bukan badan. 42 . Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. Jadi. badan cahayanya. bisa menghadapi diri dan barang lain. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. sukacitanya. artinya materi. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Maka.maupun realitas. dengan sadar. tetapi manusia. seluruh manusia adalah jasmani. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. tidak terlipat-lipat. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. Juga kesenangannya. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. jadi tidak boleh pernah disendirikan. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. Dia berat atau ringan. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. tidak terbentang. mirip dengan makhluk hidup lainnya.Psi. manusia juga jasmani. manusia kita katakan bersifat rohani. Dalam realitas. Tetapi. Lihatlah. Roh adalah listrik. kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. kebahagiaannya. bisa dilihat secara anatomis. • Ada pandangan idealistis tentang badan. habis! Itulah salahnya. dalam semua itu tampak kerohaniannya. Seluruh manusia adalah rohani. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. artinya tidak seperti barang-barang yang lain. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. S. badan adalah prinsip jasmani. Maka. badan seolah-olah tidak ada. berdarah dan berdaging. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. tidak lepas dari barang materi. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia. kita katakan badan dan jiwa. berdimensi tiga. Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. begitu juga dengan hewan. yang ada hanya roh. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. Bersama dengan itu. Maka. ada aspek jasmani. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh.

sedih. Samakah badan dengan aku? Tidak. maka di situ sudah termuat badanku. sesuatu yang menempel. dan lain sebagainya. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. Selanjutnya. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. cermin. misalnya cinta. yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. unsur aku-ku. Badan dianggap penarik ke bawah. Lihatlah sepanjang itu. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. Persona (tidak dalam pengertian Jung). dalam pemahaman awal. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. S. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. Pribadi. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. yang masih asli. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. 43 . Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. sepanjang aku ini terlihat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tampak dalam alam jasmani. Tetapi badan sebagai milik. Sekali lagi. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. Yang tampak adalah Aku. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. ke kejahatan. tetapi tampak. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. habis perkara. badan termuat dalam aku.Psi. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. Badan adalah unsur diriku. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Badan tidak sama dengan aku. Yang ada hanya badan.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. juga tidak sama dengan sepatu. Yang ada bukan badan. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. melainkan sebagai dua. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). Jika aku berkata aku. Pendapat ini pun tidak riil. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. atau adaku sepanjang aku ini jasmani. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku.

Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak. Maka dari itu.Psi. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. jadi tidak sama saja dengan aku. tetapi belum tentu malang. Karena badan itu menjadi penampakanku. seperti orang-orang lain. tetapi menipu! Jika badanku sakit. badanku termuat. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. maka dia melihat aku. Tetapi. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. Dia berkata: awakku lagi susah. Badan membatasi penampakanku. Badanku bisa tidak berdaya.. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita. dan lain sebagainya. Kita tidak berkata: itulah badannya. mengucapkan kata manis-manis. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. mengarang. yaitu badan itu. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. awakku sedang malang. Jika orang lain melihat badanku. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. 44 . Aku ada berarti aku ini manusia. tetapi seluruh manusia. aku memang sakit.Kesamaan itu hanya sepanjang . Setelah semua ini dikatakan. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). maka di situ milikku tidak termuat. jarak. Antara badan dan aku ada kesatuan. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis. maka bisa juga disebut ekspresi manusia. celaka. Orang akan berkata: aku melihat si A. Minatilah caraku menampakkan. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. maka boleh saja kita berbicara tentang badan. Yang malang bukan badan.. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku... Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan.. menunjuk badan. . Tetapi dalam berpikir tentang manusia. S. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi juga ada distansi. Menangkap suara berarti menangkap pikiran. Aku bisa berpura-pura marah. Kita berkata: itulah orangnya.

tetapi kesatuannya tidak sempurna. Setelah ini kita nyatakan. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. keadaan geografis. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. yang berakhir dengan disintegrasi. S. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. Untuk menyatakan kesatuan ini. Maka. berproses menurut hukumhukum biologis. juga ditentukan oleh keadaan itu. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). Manusia itu kesatuan. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga". asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. dan lain sebagainya. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. keadaan iklim. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Jadi. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. keadaan flora. Dua itu tidak berdampingan. Keadaan tanah. Bangunan itu selalu berubah. ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. 45 . Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua.Psi.

Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. pembiakan sel). jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. di situ ada pertumbuhan yang normal. Hidup badani adalah untuk memanusia. Maka. masih memungkinkan kemenangan kerohanian. dan lain sebagainya. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). 25-30 kestabilan tinggi-lebar. yang sehat. Dengan membadan kita memanusia. sebentar tampak sedikit. Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). Tentu saja. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. Sebelum kita lahir. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. Semua keadaan badan. seperti api dalam banyak abu. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. tidak menjadi jiwa. 46 . hanya menjadi badan. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. pelajaran tari. demikianlah Dr. Artinya. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. S.Psi. Namun. Jika badan bertumbuh secara normal. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. kecil atau cukupan. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. Tetapi materia tidak menjadi rohani. maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. sebentar hilang. asal sehat saja. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. Pandanglah sekarang badan yang normal. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah.

Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita. hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. Di samping itu. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. pembagian makanan dan gula. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai. minum harus diminumi. dan lain sebagainya. Ingat saja denyutan jantung.Psi. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian. Lihatlah tangan manusia. dan lain sebagainya. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu.. macam apa saja yang dibisai. lenyaplah semua kepandaiannya... . seandainya tidak dibersihkan . dan seandainya ibu tidak bertindak.. sedang kuat-kuatnya. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. perputaran darah. Coba saja. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. Ambil untuk mudahnya.. dengan mandi. 47 . tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan.. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik.. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia. S.. dalam tubuh manusia. tetapi .kedokteran). . tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. . misalnya disentri!).. bisa pilih makanan dan obat-obatan. bisa mengurangi atau menambah tidur. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit. biarpun sehat. artinya "kenistaan" dan "keagungan". misalnya denyutan jantung. dan lain sebagainya. Manusia di situ sudah kuat. Lihatlah anak kecil. kalau masih kecil (bayi). orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an... Jika pandangan ini masih statis. Kita bisa mengurangi makan. ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis.. sabun. seperti arloji). mungkin dia luar biasa. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar.

bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia.olahraga! Sungguh mengagumkan. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. Maka. pakaian. jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. makanan. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. anjing mendengar. Maka dari itu. Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. kesemuanya itu. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan.Psi. reaktor atom. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. dalam penampilannya dan penampakannya. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. bibirnya. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. mesin hitung. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. Oleh sebab itu. Jika pribadinya luhur. Lihatlah sekarang barang-barang seni. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. maka badan dalam sikap-sikapnya. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. dalam gerakgeriknya. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. 48 . tetapi itu tidak sama. S. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar. tangannya. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. dan lain sebagainya. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. matanya. lidah-nya. Berdasarkan keluhuran ini. atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. dalam solah-bawa-nya.

sebab ibu mengajar si anak makan. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an.akan mencerminkan keluhuran itu. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. cinta kasih. dan lain sebagainya. Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. hormat. Tetapi sebaliknya. Karena itu. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Oleh sebab itu. Berdasarkan ini. bertindak. mengenakan pakaian. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. Demikianlah tata sopan. kebaktian. S. semua hal insani badani juga. minum. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya. pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. jadi dengan badan. Tetapi. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya).Psi. Dia harus bersikap. tidur. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. Pendek kata. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. Manusia hanya memanusia dalam badannya. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. 49 . Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. Jadi. Maka dari itu. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). berjalan.

Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. yang artinya seluruh manusia. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). Dalam bahasa Inggris misalnya. Kalau orang bertemu. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng). Jadi. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. mental hygiene). Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Kejiwaan manusia diminati juga. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. kesehatan disebut whole-some. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita. tetapi dilihat dari sudut psikis. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya.rohani dijelmakan. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara. sakit jiwa. Jika kita mengingat psikoanalisis. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. rumah sakit jiwa. maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. S. tidak sakit. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan. Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik.Psi. yang dilihat bukan badannya saja. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. jadi keadaan manusia. Orang melihat seluruh manusia. 50 . dan lain sebagainya.

tetapi soal seluruh manusia. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". badannya di situ tidak bisa berfungsi. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis.Psi. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya.sehat berarti tidak sakit. didirikan oleh Orpheus. S. Aliran yang kedua. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. privat. Aliran yang terakhir. di sana hidupnya masih jalan baik. dan sekuler. baik jasmani maupun rohani. Jika kita mengingat kesemuanya ini. Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). tidak adanya penyakit apa pun. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. orang itu akan terganggu kesehatannya. personal. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras. Meskipun tak populer. Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. Dalam situasi yang konkret. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sekaligus yang paling tidak populer. dan Plato. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. Sebaliknya. Yang pertama. Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". Socrates. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. IV. Kekecewaan yang hebat. 51 . bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. bagus. didirikan oleh Epicurus. percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus.

gender. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). gender. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial.Psi. yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia. antropologi. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. posisi keluarga. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Abad baru. Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. katup buatan. sesekali memang dapat "rusak". transplantasi mata dan telinga. dengan alat pacu jantung. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. dengan berkembangnya ilmu kedokteran. silikon. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. 52 . tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik.Pada abad ke-20. Persoalanpersoalan kosmologi. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. dan psikologi. S. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. umur. dan hal-hal yang bersifat religius. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati.

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

dan ukuran. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual. Justru terhadap segi itulah. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis.Psi. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. masuk juga kategori afektivitas. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas.lahir dari pikiran kreatifnya. Nama itu adalah Spirit. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. 58 . Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Jadi. keluasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. maupun dalam upacara pemakaman. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. S. Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan.

59 . roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain. Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. manusia agaknya masih belum lengkap. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya.Psi. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya. dan lain-lain. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. yaitu keinginan. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. S. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. material. alteritas seorang lain. Sebenarnya. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Akibatnya. moral. lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan. dia hanya berpaling pada dirinya. untuk perkembangan ilmiah. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. kultural. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Akibatnya. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain.VI. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. Berkat karakter spiritualnya.

Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. kedinginan. Dalam kesempatan itu. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. sebaliknya. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. 60 . S.Psi. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa. itulah artinya istilah “spiritual”. Tiba-tiba. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. Karena itu. Persona manusiawi. “Lihatlah”. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. melainkan dunia kebebasan batin. akibat ciri spiritual jiwanya. Nah. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia. Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu. “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. Dia menyepak potongan roti itu. dan sekali lagi. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. tutur temannya.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. Suatu hari. yang meletakkannya di luar semua kategori. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kotoran. Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. meskipun perutnya lapar sekali. kata salah seorang di antaranya. diucapkan dengan istilah “persona”. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. karena spiritualitasnya. hidup spiritual. Tetapi. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman. laksana gerombolan serigala. VII. dan sebagainya. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi.

tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. dalam fungsi yang menstrukturnya. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. Badan yang penuh dengan hidup. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. maksudnya. Sebaliknya.Psi. Itulah dasar martabatnya. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. dia bersifat imanen terhadapnya. yang terstruktur berkat jiwa. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka.merupakan panggilan sejati manusia. Adapun jiwa. 61 . yang saya sentuh dan rasakan itu.

62 . C.Psi..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S.W.Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman.Psi.P. juneman@gmail. S.

Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. Alasannya. S. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). orang harus mengambil jarak terhadapnya. Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar. serta mengungkapkannya secara tepat. Ia menunjukkan.Psi. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. Ketiga. misalnya M. Pengetahuan. berkat pengetahuanlah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.P E N G E TA H U AN I. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. 1987: 29 50). Pertama. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. di depan subjek. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. 63 . yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini.

dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian. serta jerit teriakan. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. mitos. S. perasaan. jernih bagi dirinya sendiri. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. 64 . tindakan. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. ketika sambil muncul secara spontan. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. definisi. pembau. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. dan sebagainya. atau karya-karya seni. Pengungkapannya adalah. konsep. sampai batas tertentu. melalui penglihatan. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. pendengaran. objek-subjek serta indrawi dan intelektif. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. utuh. gerakan-gerakan. Seterusnya. tingkah laku. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. sikap-sikap. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. Pengetahuan disebut pula diskursif. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. baik dalam bentuk ide. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.Psi. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun.

satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. Praktis. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. Pengetahuan itu sinergis. Pengetahuan itu kontemplatif. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. Akhirnya. dan sebagainya. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. menurut bagaimana cara diambil. Bagi epistemologi. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. tentang manusia. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran.Psi. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. tentang luasnya. organ-organnya. sebab dalam akibat. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). tentang hidup. bila menarik yang individual dari yang universal. Pengetahuan itu adalah induktif. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. konsekuensi dalam prinsip. tentang gerakan. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. Pengetahuan tentang materi. dan kemampuan-kemampuannya. keseluruhan dalam satu bagian. dan sebaliknya deduktif. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. Pengetahuan itu disebut spekulatif. Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. 65 . Pendeknya. S. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. bila menarik yang universal dari yang individual. yang indrawi dan intelektif. berbeda sekali satu sama lainnya.pengetahuan intuitif.

S. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. represent no objective real existents. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. sedangkan lewat afektivitas. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. theory that abstract or general terms. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional. Artinya.Psi. Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. Bagi kaum Nominalis. or universals. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. 66 . Kegiatan-kegiatan afektif. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. namun di dalam pertemuan tersebut. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union.mengetahui suatu realitas. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy. Tegasnya.

tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda.Psi. ternyata tidak sederhana implikasinya. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. Menurutnya. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak. that is to say. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. dan bukan hanya sekadar pertemuan. 67 . Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. Universals exist only post res (Runes. 1975: 61). Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. Pendeknya. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran. dan aliran Idealisme di lain pihak. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. S. maka manusia adalah nama belaka. Nominalisme. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. berbeda halnya dengan Nominalisme. Jelasnya. mere vocal utterances "flatus vocis". (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. Reality is admitted only to actual physical particulars. dan objek-subjek. 1975: 211). Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. (c) concepts refer to abstracts.names. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. but having no reality apart from them.

kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. pantheisme. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary). suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya.Psi. antara tingkat pengetahuan suatu pengada. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. Sontag. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. Sebenarnya. mutlak. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). II. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. dimensi material dan dimensi spiritual. 1970). Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". dan final. Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. 68 . objektif atau subjektif. S. induksi dan deduksi.

Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Ditinjau dari sisi objek. Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. S. Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. Merleau-Ponty. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek.batas-batasnya. 1983). maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. 1993 & Bertens. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. berlainan. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Aliran Idealisme. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. dan kalaupun keluar (transcendent). di pihak lain. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. Bila dianalisis lebih lanjut. Mempelajari pengetahuan. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. Akibatnya. 69 . cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. dengan mengetahui. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Ditinjau dari sisi subjek. menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. Akhirnya. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. dan berada di luar subjek. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam.

Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. 1982:30 -31). Meskipun demikian. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. 70 . karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. S. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. Walaupun demikian. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka.Psi. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. Menurutnya. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. Penjelasan tersebut akhirnya. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya. pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum.

tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. mereka adalah mereka. demikian juga pengetahuannya. manusia harus menjadi dirinya sendiri. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. lengkap. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. S. 1983: 344). menggerogoti. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. seutuhnya terwujudkan. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. 71 . Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. Keterbatasannya itulah yang mendorong. kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya.Psi. membakar. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. Jelasnya. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Akibatnya.

Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. Melalui pengetahuanlah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. Terutama karena materi bukan jiwa. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. karena kita akan mempelajari. secara radikal. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. yaitu pengetahuan intelektif. kendati semua penjelasan sudah diberikan.(2 x 2 = 4). ia tidak tahu apa yang diketahuinya. dan jiwa bukan materi. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. IV. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. maka demikian halnya dengan pengetahuan. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. maka cukup sampai di sini. Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah. Melalui pengetahuanlah. untuk menyelesaikan modul ini. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. Keberadaan manusia. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. Akan tetapi. daripada melalui bahasa dan seksualitas. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. S. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. manusia bisa berada secara lebih tinggi. dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. melampaui dirinya sendiri. 72 . maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. dalam satu modul yang lain lagi. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali.

Kelumpuhan ini. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada. Bagi Heidegger. seperti diisyaratkan Russel. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. yaitu Ada yang menopang segala adaan. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. Oleh karena itu. Bahkan. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. mulai dari Yunani klasik sampai modern. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. 73 . Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. S. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. menurut Heidegger. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. modus bernalar biasa harus ditinggalkan.Psi. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif.V. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. Karenanya. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. nalar yang mewakili bukan menyingkap. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri.

Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. kata mereka. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. 74 . seperti dikemukakan Whitehead. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. S. Fisika. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. bukan pemikiran. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. hamba sejarah. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis.Psi. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Nalar pun sekadar kalkulasi. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan. bukan eksplorasi. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Ia mentransendenkan semua metode. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. Ia menjadi ansilla historica. Nalar identik dengan universalisme. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan. bukan menciptakan. misalnya. Padahal. filsafat. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan".

apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Berakar dari proyekproyek genealoginya. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik.transenden. yakni being in the world. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. S. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. Yang dikejar oleh nalar puitis. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. Pengambilan jarak Dasein. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). Namun. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas. Transendensi adalah modus epistemologis. Kalaupun bertanya. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). bukan kebenaran baru.Psi. 75 . Yang baik dan yang jahat. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. sebaliknya. menurut Nietzsche. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. Selanjutnya. Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. Sementara "kelainan". Beyond Good and Evil. sementara "kelainan" adalah modus puitis. maka ia terjebak dalam epistemologi. Namun.

sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan.Psi. Satu saja lolos. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. S. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. dan keindahan. Semua tanda tanya harus dipastikan. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Nietzsche. Dan. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. Melampaui relativisme. Dan. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. tertib kosmis akan mengalami gangguan. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar.tak berpuisi? Atau. Kalau tidak. Padahal. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. Manusia butuh kepastian. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. sebaliknya. Semua tanda tanya harus dipastikan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. menurut Hegel. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. kebaikan. 76 . Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam.

kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. seorang anti-Popperian.Karl Raimund Popper. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. Thomas Kuhn. Ia tidak tunggal. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Paul Feyerabend. S. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. Bagi Popper. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. Namun. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. sebaliknya. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. melainkan kehampiran. Daya transendensi nalar. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. namun seperti digagas Wittgenstein.Psi. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. 77 . menolak bentuk komunitarianisme macam itu. Jurgen Habermas. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Baginya. menurut Popper. universalitas. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. ideologi. Berkat falsifikasi. Budaya. filsuf sains termasyhur. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. dan ketetapan. harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas.

nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. Namun. Nalar manusia terbatas. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Namun. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. S. Namun. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 78 . Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme.Psi. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. Begitu cibir para mistikus. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. habis perkara. ingat dan sadar. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. Menggeser relativisme. Apa mendominasi apakah. yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Tuhan bekerja secara misterius. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Setelah nalar berhenti.

Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. S. teologi. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. teologis.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. 79 . Saatnya bagi sains. dan filsafat. teologi. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. dan filsafat untuk berhening sejenak. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis. Singkat kata.Psi. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Melainkan.

Psi.W.Psi. juneman@gmail. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 80 . S. C..Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman. S.P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

tetapi toh lebih sedikit dari itu. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa.Psi. rasa (afeksi). (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). Orang mencium bau mangga. dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). Di samping itu. Di atas hal itu sudah kita mulai.” Di sini rasa mengandung pengertian. dan lain sebagainya). S. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu.” “Saya merasa khawatir. Jadi. Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. dan lain sebagainya. dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. itulah trias-dinamika manusia. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". Rasa khawatir. Tetapi. dan lain sebagainya. bisa menilai segala keadaan. atau manusia sebagai trias-dinamika. Dalam Serat Wedhatama misalnya. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri. jika seorang berkata: aku merasa dingin. kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. 81 . tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. rasa pada badan! Di samping itu. rasa takut. rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". aspek apetitif. minuman ini terasa manis. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. manis pada lidah. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. kita membedakan dua macam rasa. karsa (konasi). Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. ada rasa yang lebih mendalam. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek. dirinya sendiri. Dalam kalangan Jawa.A F E K T I V I TAS I. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. bagaimana kedudukannya. rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. Bahkan. rasa was was. terutama kalangan kebatinan. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. aspek pendekap.

Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. dia mengambil buah itu. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". di situ belum terjadi penikmatan bakmi.merasakan mangga. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. Artinya. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". maka yang satu itu menjadi terbentang. lantas menjadi banyak. yaitu karsa. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. dan sesuatu itu datangnya dari bawah. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. jika dilahirkan. tetapi meruncing ke atas. artinya "melalui" daya-daya sensitif. manusia itu manusia. meskipun mulut dimasuki makanan.Psi. Jadi. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. sebaliknya. menjadi terserak. maka menjadi banyak kata. yaitu di atas suatu titik. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. Orang pingsan tidak bisa menikmati. S. Pikiran kita. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. Maka sesuai dengan kejasmanian. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. maka "membentang" berupa kalimat. Jika cinta dinyatakan. Tetapi sebaliknya. kalau lidah hanya kangen bakmi. Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. 82 . Gambar itu bisa kita balik juga. Orang yang lidahnya sakit. Kita selalu mau sesuatu. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. Tetapi. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). Sebetulnya. Sejak muncul dalam alam realitas. Lebih jelas lagi merasa haus. Jika sesuatu kita "materikan". Nah. di bawah lebar. artinya melalui indra kita. Dengan ini dia mengalami mangga itu. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. memakannya. Sebaliknya. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. yaitu dalam cinta. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. menjadi bhinneka.

seperti rokok dan lain sebagainya). Jika dorongan dipenuhi. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. Maka. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis. untuk lebih menyelami. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. selalu terjun dari sintesis ke analisis. bagi manusia merupakan penderitaan. dan lain sebagainya. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. Selama kita hidup. Jika malapetaka mengancam. Hidup tidak hanya secara biologis. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. maka dia marah atau putus asa. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. Dia selalu berharapan. dorongan sensitif untuk cinta. tetapi secara manusia. maka apakah puncaknya? Penikmatan. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. orang dipenjara seumur hidup. merasa gembira. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. maka pada manusia ada harapan. 83 . dia selalu menanti. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. dorongan ke arah keindahan. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. yaitu takut. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. dengan isi yang lebih jelas. artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. Untuk maksud kita sekarang. dan lain sebagainya. marah. penantian. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri.Psi. Perpanjangan suatu situasi. S. terutama jika akhirnya tidak tampak. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. segan. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. Jadi. Dalam pikiran analitis. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). maka manusia takut.

Jelasnya. Dalam dinamikanya.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. tetapi seluruh pribadilah yang takut. misalnya dalam memandang seksualitas. tetapi juga afektivitas. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. Yang ada bukan hanya rasa takut. Jadi. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. 84 . tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual.Psi. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. di samping pengetahuan. Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. tetapi seluruh pribadi manusia. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. Melalui peranan afektivitaslah. mempelajari. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. dan sanggup meluhurkan diri. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. lebih sentosa. tetapi seluruh manusia. keinginannya. Yang lapar bukanlah perut. II. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. S. manusia tergerakkan hatinya. Pengertian ini sangat penting. Yaitu cinta kasih suami-istri. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus.

misalnya. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. kepatuhan. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. partisipasi.mengenai kritik atas rasio murni. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. 85 . komunikasi. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan.Psi. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. Walaupun demikian. Prinsipnya. Baginya. atau cinta. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. S. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi).

Psi. 86 . dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. dan menjijikkan atau membosankan. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama. menguatkan. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan menjiwainya dengan mewarnainya. mengembangkan. untuk mencapai afektivitas. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. tanpa bobot.bukanlah mencintai. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. S. Jadi. III. atau apa yang jasmaniah saja. kecenderungan. menggayakannya. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya.

S. dalam kondisi ini. semangat. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. mencintai. kesenangan. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. nilai (baik dan buruk).objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong.Psi. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. mengenal adalah kausa dari afektivitas. Kedua. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. 87 . Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Kelima. imajinasi. Ketiga. mempertahankan diri atau yang lainnya. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. Keempat. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu. selera. IV. mempengaruhi bahkan membohongi.

boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. V. bioskop. itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. dengan bertindak demikian. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. Karena pengaruh semboyan ini. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri. dari generasi ke generasi. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang.Psi. 88 . Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. buku-buku. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. S. sekolah. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. jangan bersikap acuh tak acuh. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi.

Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Dalam perkembangan individu tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya. telah meresapi filsafat. dan sebaliknya. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi.kelihatannya begitu bertentangan. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia.Psi. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. dan pikiran populer. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. teologi. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. Pada bayi. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. dengan segala daya intelektual. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. 89 . Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan.

90 . Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. Gagasan yang terungkap dalam Injil. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. respek (rasa hormat). Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. hal ini berarti. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”. Sebaliknya.Psi. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Biasanya. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. tanggungjawab dan pengetahuan. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. S. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain.

ia samasekali tidak dapat mencintai. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. 91 . Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. jika ia hanya dapat mencintai orang lain. perkembangan. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. dan pengetahuan. pada prinsipnya. Afirmasi terhadap hidup. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. kebahagiaan. tetapi hanya senang menerima. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. kebebasannya sendiri. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. S. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. rasa hormat. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. tanggungjawab. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. bagaimana kita menerangkan egoisme. yaitu: perhatian. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan.Psi. ia mencintai dirinya sendiri juga.simpati terhadap ”orang asing”. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tetapi justru merupakan alasannya. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri.

tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kelelahan. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. seperti: depresi. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm). ia tidak dapat bahagia. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. ”hidup hanya untuk orang lain”. 92 . dan sebagainya. Ia merasa prihatin yang berlebihan. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu.mengalihkannya kepada dirinya sendiri. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. kegagalan dalam relasi cinta. melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”.Psi. bukan karena ia sangat mencintai anaknya. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. S. Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain. tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”.

kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. mereka diajar. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. dan sangat sering. di bawah topeng kebajikan. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. agar benci terhadap kehidupan. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. keriangan dan kebahagiaan. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. kaku. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.namun kuat. S.Psi. untuk adat istiadat kita. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. mereka cemas. takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. 93 . Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. dapat diperbaiki. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”.

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 94 . S.Psi. juneman@gmail. S.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..Psi.W. C.P.

sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik.PENGERTIAN I. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. S. seperti juga pada binatang. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional.Psi. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 95 . namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). Pengetahuan indrawi bersifat parsial. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. kedua sumber pengetahuan ini berbeda. disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. Berkat indranya itu. entah nyata atau semu. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang. namun selalu bersifat relasional. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. walaupun masih sangat sederhana. Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. Secara umum.

kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman.Psi. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Warna. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. suara. S. cerah. Pengetahuan indrawi. tanpa langit-langit mulut yang merasakan. 96 . Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. rasa. atau hidung yang membau. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. atau bau. rasa. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. rasa. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Mata peka terhadap cahaya. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. dan sebagainya. atau bentuk dengan keras-lunaknya. bau. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. Semua sensasi (warna. atau tanpa telinga yang mendengar suara. Menurut Realisme naif. seperti bunyi. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna. Pendengaran hanya mampu menangkap suara. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh.

penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. tetapi juga warna subjektif. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. Musik. bau-bauan. pakaian. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. S. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. Ketiga. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. bentuk. 97 . yaitu kumpulan. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. perang ataupun religius. Kedua. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. dan gerakan dari bagian-bagian. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. lebih kabur.Psi. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif.

S. dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". dari bentuknya suatu benda menerima. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. Walaupun demikian.Psi. Akibatnya. 98 . adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. tujuan. Pengaruh cahaya. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. dan seterusnya. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. melainkan saling melengkapi. Caranya. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan.samar-samar. Pendeknya. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. tujuan. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. melalui pengertian kelompok (komunal). Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. Arti. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. dan arti benda itu. kesehatan mata. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. kedua segi ini tidak saling bertentangan. sekaligus membentuk daya interpretasi. sehingga di dalam situasi normal. Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi.

dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. C. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. 99 . mengurangi. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. II. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. Guna memahami jenis pengetahuan ini. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. Misalnya. Menurutnya. tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas.Psi. S. maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". secara fisik. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. itulah artinya. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. A. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen. Maksudnya. menangkap bentuk pisau. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek.

hafalan tanpa mempergunakan pikiran. analisis kritis. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. adat istiadat. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. Setelah memasuki usia remaja. atau membagi).mengalihkan. S.Psi. Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. memilih. prediksi. imajinasi. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. Berbeda dengan naluri. Namun demikian. ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). seleksi relasi. 1996: 359). III. Psikolog kontemporer (Piaget. inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. kebiasaan. mengarahkan. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. Demikianlah. abstraksi. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. rencana. konseptual. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. tradisi. ekstrapolasi. atensi. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak. kontrol (pengendalian). mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. 100 . inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang. Akibatnya. konsentrasi. ingatan. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris.

Goenarsa. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi. Sesungguhnya. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. Melalui ini.Psi. 1980). serta religius melahirkan suatu peradaban. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. psikologis. Dengan itu pula. sosial. menurut volume serta berat-ringannya. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. menurut ukuran besar-kecilnya. Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate). Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. politik. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. pada orang dewasa. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. Walaupun demikian. la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. S. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya.khas. tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. 101 .

Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. Semakin mendalam refleksinya. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas. mendalam. S. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. abadi. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. setotal mungkin. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. tetapi berkembang secara acak.Psi. tuntas. meski besar sekali pengetahuan seseorang. objektif. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. IV. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. betapa pun tinggi dan banyaknya. menempatkan. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. 102 . serta terartikulasikan. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. serta paripuma. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. mengintegrasikan. maka semakin luaslah objeknya. Pendeknya. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. tetapi juga secara lebih mendalam. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan.

yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. 103 . atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. Kedua. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir.Psi. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. cara bertindak. semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. cara merasa. Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. Ketiga. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. serta cara bereaksi. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. S. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). Inteligensi bukanlah suatu substansi. juga bersifat sosial. Pertama. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya. Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi.

1993: 312 313). "Saya pikir. misalnya pada waktu sedang melamun. meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 1987: 23). Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. W. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. tetapi roh itu bebas sifatnya. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. Maksudnya. J. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. Menurut J. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. refleksi. 1993: 132). misalnya. Persepsi ini. S. bukan pikiran. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. tampak pada refleksi spontan.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. prasadar. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. sebab insight diverifikasikan. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. 104 . deduksi.Psi. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. dan prapribadi. Eccles. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. subjektif-objektif. dan sebagainya (Leahy.

dan mencari alasan dari segala-galanya. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. dan segala sesuatu yang akan ada. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. 1994: 45-48). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bukan hanya kurang lebih dari itu. Maksudnya. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. V. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. Bila bernalar. yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. 105 . Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. Putusan ini lebih bersifat reflektif. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. Bila mendefinisikannya. yang pernah ada. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Bilamana menilai. tertarik kepada segalagalanya. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. yakni segala sesuatu yang ada.Psi. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. atau bagaimana objek itu bereksistensi.logis dan ilmiah. S. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. Segala penegasan. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada.

pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Walaupun demikian. non p bukan p). Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. dan "apa yang tidak ada. prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran.penilaian. adalah tidak ada". Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. prinsip identitas. Sepintas lalu. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. Artinya. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi.Psi. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. kesimpulan. sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting. Jelasnya. S. Secara epistemologis. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. 106 . dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. Pertama. mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong.

muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human.Psi. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. Yaitu unsur kognitif (cognitive). Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. Pada bunyi lonceng. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. melainkan manusia. dan mulai bergerak. lantas ingin. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani. Jadi. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. Unsur ini pun menyatukan. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. Pola itu tidak selalu disadari. S. Jika dilihat dari sudut pola. 107 . tertarik. Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. Pola adalah isi pengertian kita. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. Artinya. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. menghubungkan. Untuk mulai dengan yang mudah. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. Tetapi.Prinsip cukup alasan menyatakan. anjing ingat (= mengerti) makanannya. Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. tetapi proses ke tingkat itu. VI. tetapi ada. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. yaitu pengertian dan pengambilan. maka bolehlah kita memandangnya. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian.

Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. Tangan dan piano merupakan kesatuan. mengubah menjadi alam kebudayaan. disatukan. manusia itu bersatu dengan dunianya. yang susila. artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. 108 . Di situ manusia dan keindahan jadi satu. bisa mundur. tidak ada objektivisasi. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. Pengertian hanya satu unsur. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. Maka. tidak diatur oleh suatu idea. S. Maka. tidak ada kesatuan. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. Namun. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ada yang kurang ada yang lebih. Bisa maju. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. seperti tumbuhan. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". Sebaliknya dengan manusia. Jadi. Dia mengadakan objektivisasi. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. Dia mengerti secara formal. karena moralnya berantakan. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. Lihatlah orang yang "kenal" piano. dan sesuatu itu diselami. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Lihatlah realitas infrahuman. Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). yang ada hanya "jarak". Tentu saja. Ini pun bukan status yang selesai. Pada hewan tidak ada idea kesatuan.Psi. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. tidak ada idea susunan. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. Yang perlu diingat di sini hanyalah. atau dunia manusia.

Bahkan. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. kesatuan sudah termasuk. S. mempunyai semacam interioritas. pengertiannya itu saling memajukan. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. tidak "mendiami" diri sendiri. dia "menghadiri" dirinya sendiri. Akibatnya. jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. mengerti "asal usul". "jauh" dari diri sendiri. batu. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". tidak bei sich sein. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. Manusia mengerti nenek moyangnya. menghasilkan teknologi. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. Misalnya. Lihat saja kesatuan tanah air. Berdasarkan pengertiannya. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. Yang ada hanya eksterioritas. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri. dia mempunyai interioritas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. membedakan diri dan bukan diri. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. Berdasarkan kesatuan diri itu. dia menyatukan dirinya sendiri. kesatuan antarbenua. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. Dengan demikian. Pengertian bertambah sempurna. sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. Eksterioritas artinya segi luar melulu. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. mempunyai "kedalaman". kayu. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. Jadi akhir-nya. hewan pun "di luar diri sendiri". Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. "Dia ada di dalamnya sendiri". Nah. tanpa penyelaman. 109 . Interioritas artinya sadar diri. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas.Psi. tidak in itself. Hewan. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri.

Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. situasinya. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. menyatukan diri sepenuhnya. Tetapi justru dengan saling menyerah. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. terus mencari. melebihi. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. Dan lagi. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. tidak mungkin puas. dari keadaan ke keadaan. Jadi. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. dari situasi ke situasi. perbuatannya yang sedang berjalan. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. Bahkan. Jadi dia terus mencari. Hal ini tidak berarti perbudakan. Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". Tetapi. mengatasi keadaannya.Akhirnya. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut.Psi. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. Dia adalah "mouvement de transcendence”. Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. Keduanya berkembang. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. keduanya menemukan diri. memasuki diri lain. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. 110 . S. Tetapi. artinya keluar dari diri sendiri. Semua berkat transendensi. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti.

keong tanpa cangkang tentu mati. spesialisasi semakin melembut. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. Misalnya bahan menjadi makanan. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. manusia menjadi kawan. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. bagi hidupnya. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. jadi ke arah Tuhan. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain.praktek ada banyak kekecewaan. 111 .Psi. Jadi. misalnya dalam hubungan suami-istri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin. Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. Jadi. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. Barang an sich masih bersifat "netral“. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Dengan kemampuannya mengerti. VII. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. dari perbuatannya. Tetapi. Dunianya berubah-ubah. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. Barangnya harus mampu untuk arti itu. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. dikatakan bahwa kita menerima arti. S. Maka. Jadi.

kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. 112 . Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. karena dalam pengalamannya. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). Walaupun demikian. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. 1987:41). Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. Spesialisme yang semula bersifat metodis. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan. makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. S. sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. tampaknya. Sikap kritis ini perlu.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia.

Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. maka begitu juga pengertian kita: tersusun. Maka. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. yaitu rohani-jasmani. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. S. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. Menurutnya.Psi. Orang semakin dilanda kebingungan. ultimate dan absolut. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. Sesuai dengan kodrat manusia. Oleh sebab itu. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ada unsur-unsurnya. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. 1982). berupa pengertian rohani-jasmani. VIII. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan. Akhirnya. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. 113 . Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan.

satu segi. Di sini tampak adanya momen-momen. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. kita menangkap manusia sebagai engkau. merasakan manis. Momen-momennya ialah pengertian indra. Mencium bau. Momen ini bisa disebut metakonseptual. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. dan lain sebagainya). Tetapi bersama dengan semua itu. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. Anjing hanya mempunyai momen indra. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik. secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pengertian tentang "ada". pengertian tentang "aku". lantas muncul pengertian rohani. dan pengertian metafisis. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. Jadi. konsep perkumpulan. mendengar suara. Itu adalah dan pengertian rasional. Jadi. dia menangkap bau tuannya. tidak di luar konsep. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. jadi sebagai persona. yaitu keindraan kita. momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. Sebaliknya. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. Bahkan.Psi. dia sedih. atau buruk). S. Semua itu berasal dari pengertian rasional. Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya. Kita punya konsep rumah. Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita. kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). 114 . semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. artinya "di atas" konsep. dan lain sebagainya. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). pengertian rasional."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. tentang persona. di mana manusia membuat idea. Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap.

115 . Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. terspesialisasi dalam keanekaragamannya.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. Agar bisa mengetahui dengan jelas. pengetahuan selalu bisa berkembang. Dengan kata lain. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. Akibatnya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. S. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek.Psi. Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar. Namun.

dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Watak Kodrati..Psi. Moral. S.Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek.P. S. juneman@gmail.W. 116 . C.Psi. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

atau dia harus piket. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. untuk memenuhi keinginan. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". Tetapi bukan dinamika yang menentukan. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. Tetapi lihatlah.Psi. Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. tetapi pikir-pikir dulu. menghendaki. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). Orang lain kita ajak menonton. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. mungkin dia merasa tertarik. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. 117 . Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. karena itu adalah dinamika yang menguasai. tidak selalu berarti will. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. Jadi. Dalam modul-modul terdahulu. Karsa. merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. Watak Kodrati. Tetapi. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. misalnya. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Kita mengerti dan mengalami karsa. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). S. Kalau seorang diajak menonton. Orang lain bisa ikut. tidak mau. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. dia mau atau tidak mau. kemecer.KEBEBASAN I. dia harus belajar untuk ujian. Demikianlah kita mengalami adanya karsa. itu pun dinamika. Objek. daya untuk mau. kita lihat dua unsur. maka dia menolak. yaitu karsa (will) atau kehendak.

lambat laun bisa mengkurep. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. tidak terus lepas saja. demikian juga kemanusiannya. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani. berdiri sendiri. Lambat laun muncullah kesadaran. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. meruncing ke ates. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. dari btosfera ke neosfera. dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. seperti arus air. yaitu karsa. seperti munculnya pikiran. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. lantas mulai berdiri dan berjalan. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. 118 . Merdeka menunjuk kedaulatan. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. yang ada semula ialah level biologik.Akhir dinamika manusia itu satu. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. bebas dari ini atau itu. Demikian juga munculnya karsa itu.Psi. lantas bisa merangkak. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. hanya bisa menggeletak. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. Merdeka berarti bebas. Berbagai macam rangsang. Janganlah munculnya karsa itu. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. tetapi juga untuk ini atau itu. Dia semula hanya melekat sebagai buah. bertakhta sendiri. Bebas artinya tidak terikat. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. dari bios ke logos. tidak terdengar. menguasai diri sendiri. S. Jadi. Baru setelah beberapa waktu. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. lihatlah dinamika pada status anak kecil. Inilah arti yang pokok. lantas setelah lahir. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. Dalam pertumbuhannya. Untuk lebih menyelami hal ini. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. ke puncak. yang masih akan ditentukan. Manusia tumbuh. tidak ada selfness. Semula yang ada "hanya" rangsang. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia.

artinya ke kesempumaan manusia. Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. S. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. Maka setelah ada.Psi. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. Kalau sudah begitu. mau bebas dan lepas. Jadi. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. sungguh-sungguh berdaulat. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. dia tidak lepas. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun. Proses kelahiran ini bisa gagal. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. Jadi. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. Dengan demikian. Lagi pula. jika manusia tidak berjuang. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. sementara manusia mau merdeka. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. Jadi. Dia cenderung untuk liar. dengan perjuangan. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. 119 . maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia.personalah yang bersifat merdeka. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. itu pun batasan. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. mandiréng pribadi. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. kemerdekaan dalam proses penjadian. Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. jika dia melaksanakan arah dinamika ini.

Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. S. dan hal ini karena karsanya. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. 120 . tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. maka dia berantakan. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. terjerumus. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Dia mengerti dan mau dirinya. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. ”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. Maka.dirinya. Dia harus mau sesuai dengan arah itu. namun juga sering kali bertentangan. Jadi. II. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du.Psi. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Maka dia tunduk. J. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya. dia tidak berdaulat lagi. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. itulah kesatuan manusia.

Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya.Psi. arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. 121 . Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. S. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. Manusia adalah makhluk yang bebas. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Namun pada masyarakat modern. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia.

Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. Moral. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. dan sebagainya. teknologi. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. 122 . komunikasi. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. seperti di bidang ekonomi. tetapi secara mekanis. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia.Psi. Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. Lebih parah lagi. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. S. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik.

Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. pengaturan diri dan pengarahan diri. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. S.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. beban atau kewajiban. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya. Sebagai eksistensi. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. “Freedom is self-determination”. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. paksaan. Manusia mempunyai kemampuan memilih. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri.Psi. 123 . Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. pengendalian diri. yaitu situasi-situasi batas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. Sebagai eksistensi. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati.

Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik. 124 .Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri. Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. S. Jangkauan itu terbatas. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum.Psi. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. yaitu kebebasan fisik.

Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B.sungguh bebas. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. namun mereka tetap merasa bebas. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya.Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. S. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. 125 . Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana.Psi. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya.

Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. S. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. Namun. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis.Psi. Saya mempunyai kebebasan psikologis. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh.Berbeda dari kebebasan fisik. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. 126 . Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya dalam peristiwa perampokan. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih.

Psi. 127 . Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. yaitu suatu keadaan bebas. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri.secara moral. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. S. Ia dipaksa secara moral. IV. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. Sebaliknya. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna.

Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin.Psi. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. 128 . argumen psikologis. yaitu dengan argumen persetujuan umum. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. yaitu berdasarkan pengalaman. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. bahwa kita adalah bebas. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. Kita sendiri. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. melainkan praktis. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. S. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. dan argumen etis.

S. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya.Psi. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. 129 . Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. ia tidak akan menyadari kebebasannya.

Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Muncul pemikiran pada waktu itu. yaitu "mengambil dompet itu". Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. Setelah menimbang-nimbang. Karena jika tidak ada kebebasan. ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas.Psi. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. 130 . Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. atau bertindak dengan cara begini atau begitu. Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Namun pada saat pikiran itu muncul. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya".Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. S. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. saya akan mengambil dompet itu".

Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. 131 . Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. Dengan kata lain. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. S. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan.Psi.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya.

Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia.Psi. finansial. seperti kebebasan fisik. 132 . Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. namun lebih dalam dari itu. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia.V. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. tetapi tujuan. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. S. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. sosial. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. malainkan juga kepada sesamanya. atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. politik dan sebagainya. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. seksual. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya.

S. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 . Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. VI. Dengan kata lain manusia. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri.Psi. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. maka manusia tidak bebas. karena hukum sebab akibat itu. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. Atau.terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Manusia merupakan bagian dari dunia. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak.

melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. 134 . Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya. Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. Artinya manusia itu bebas. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini.Psi. Karena kemampuan itulah.manusia akan dikatakan bebas jika ia. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. dan bola itu menyentuh bola yang lain. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. secara bebas. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Akan tetapi. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. S. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah.

Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. S. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. manusia tetap mempunyai kebebasan. untuk mengontrol proses-proses organik. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. dan lain sebagainya. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. Dengan kalimat lain. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. untuk menyesuaikan diri. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. 135 . Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas.Psi. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri.

Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. S. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya.Psi. Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. mengambil keputusan. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya.bentuk dan kemampuan jasmani. 136 . Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna. Manusia adalah makhluk yang sadar. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. dan merencanakan. suatu proses yang terus menjadi. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. masa depan. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan. Louis Leahy menolak pandangan tersebut.

Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. bebas memilih teman hidupnya. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. 137 . Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. dan lain sebagainya. Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. maka manusia adalah subyek. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. S. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia.pribadi manusia. hadir di dalam dirinya sendiri. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Atau. Karena manusia adalah suatu interioritas.Psi. Inilah wujud kebebasan manusia itu. Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri.

Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. S. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. Sebagai yang Maha-tahu. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. pula Menyempurnakan sebaliknya. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. dirinya. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. kaki. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya.Psi. dan semacamnya. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. Dalam posisinya itu. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. seperti tangan. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. 138 .Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya.

Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan. Padahal Tuhan tidak terikat waktu. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. 139 . Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Misalnya. Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. S. Tuhan itu bersifat transenden. Dia tidak berada dalam waktu. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan.Psi. Dia melihat.

Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan.Psi. Jadi meskipun tergantung pada Allah. Dan bukan Tuhan. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis. S. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata. 140 . Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.sikap terbuka terhadap Allah. Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Manusia adalah makhluk rohani. Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. manusia tetap memiliki kebebasan.

Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Sebaliknya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. menurut Leahy. 141 . Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total.Psi. melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu. kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. S. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat.

Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. yang merangkainya. S. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran. dan kebebasan dari para pasien. dan lain sebagainya.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. misalnya sebuah mobil. atau yang mengemudikannya. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. kesadaran dan kebebasan manusia. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. dan lain sebagainya. Memang. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh.Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. 142 . penafsiran mimpi. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan.

Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. S. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan. Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah. 143 . Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu.Psi. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme.VII. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Oleh karena pemikirannya itu. VIII.

Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. 144 . yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain.Psi. Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin. S. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Argumen kedua adalah argumen psikologis. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan.

secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. padahal sebenarnya tidak demikian. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. melainkan juga kepada sesamanya.dan sebagainya. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Argumen ketiga adalah argumen etik. melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. S. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Akhirnya. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain.Psi. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik.

Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. S. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya.Psi. 146 . Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. Menurut mereka. kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. Fenomen X adalah antecedens. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. maka pasti ada pula fenomen Y”. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. Lebih dari itu.maka manusia tidak bebas. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. sedangkan fenomen Y adalah consequens. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya.

Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Melainkan. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. S. yaitu situasi-situasi batas. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. Dan kerena dua sifat manusia inilah. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Sebagai eksistensi. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Sebagai makhluk yang berakal budi. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi.Psi. tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Namun sebagai mahkluk jasmani. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Manusia adalah makhluk yang berbudi. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. 147 . Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Sebagai eksistensi. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri.

Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. tentu saja dengan landasan kebebasannya. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Allah di surga. namun ia terpisah dari alam semesta. Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. IX. Manusia hidup dalam ruang dan waktu.Psi. S. Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. yaitu persatuan abadi dengan 148 . Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. bulan dan bintang-bintang. Meskipun demikian. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. Namun semua itu dapat saja dikorbankan.

yaitu argumen persetujuan umum. argumen psikologis dan argumen etis.Psi. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. 149 . Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia. menurut Louis leahy. melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. S. Namun.

Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta..Psi. juneman@gmail.P. S. 2008 .W.

Jika ilmu . Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan.EKSISTENSIALISME I. II. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya. manusia memberi arti kepada segalanya. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. seperti Jean-Paul Sartre. Dengan kata lain. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Tetapi. Sebaliknya. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. Camus dan Sartre. manusia yang bereksistensi. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. seperti Gabriel Marcel. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. Gabriel Marcel. 1985: 7-8). Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Jadi. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Itulah sebabnya. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Bagi Jasper. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia.

dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. Jerman Utara. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. ia menulis banyak sekali karya. Namun. Gottingen dan Heidelberg. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. pada 1883. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). ahli ekonomi. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. antara lain melalui Max Weber. Philosophie (1932). antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. setelah menerima gelar penghargaan itu. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . Karena itu. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat.

Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II.Karl Jaspers di Austria. yakni Penerangan Eksistensi. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Melalui keputusan ini eksistentis. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. Situasi-situasi Batas . Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. 3. Eksistensi membutuhkan komunikasi. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). komunikasi dan kebebasan. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. kita mencapai inti “aku”. Dengan menerangi eksistensi. dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. dengan menerangi eksistensi. 2. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Katanya. Jepang. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. berkembang. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Jerman. Bagi Jasper. pilihan. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya.

Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Kematian teman sekaligus musuh manusia. ia dapat berkembang. perjuangan. penderitaan. Penderitaan karena keterpisahan. Namun. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. d. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. dan banyak hal yang merupakan fakta. latarbelakang sosial. Nasib Situasi batas yang paling umum. c. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. tergantung dari keputusan manusia sendiri. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. jenis kelamin. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. a. dan kesalahan. yaitu kematian. b. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. ini yang disebut nasib. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas.Sebagai Dasein. lepas dari pilihan manusia sendiri. Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. yaitu faktisitas histories. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi .

asal dan makna kebenaran. Tanpa itu yang ada kekosongan. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. 57). 5. hal. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki.). situasi kebohongan dan kejahatan politik. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. 453 dst. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956. cacat. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. hal. Jaspers: 1991. melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius.. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. hal. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. hal. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. e. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. 1949. 37). bdk. 3 dst. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi.. .3 dst. 4.

“Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. Padahal. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. karena ia adalah pengada. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. Dengan demikian. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. Dengannya. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi). Horison itu selalu hadir. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan. Itu artinya ontologi tidak mungkin. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. Dengan kalimat lain. Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. Meskipun manusia hendak menangkapnya. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. Ia tidak dapat diobyekkan. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. tetapi selalu . kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. dia tidak akan mampu mendapatkannya. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. 35).Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. karena tidak dapat diobyekkan. melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. termasuk diriku yang kuobyekkan. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan.

Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991.. Bewusstsein Überhaupt. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. 15): Das Umgreifende. Jasper K. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. K. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers. “manusia ada” (Jaspers: 1991. hal. 53). hal.1956: hal. Welt. 62). Existenz. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. das wir sind Das Umgreifende. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi. Manusia memiliki awal dan akhir. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. Geist. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. “kita ada”. 1991: hal.tak tercapai. yaitu Dasein. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. 53). Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. hal. Manusia termuat dalam Dasein. Dasein das das Sein selbst ist. 48 dan 50. lih. karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. seperti kesadaran bahwa “saya ada”..

Existenz Eksistensi melingkupi manusia. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. tetapi sekaligus mengatasi waktu. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. 71). 63). dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. 1991: hal. hal. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. hal. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu. Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). 76) . 39. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. 67). hal. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. hal. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. hal. Eksistensi termuat dalam waktu. Bewusstsein Überhaupt dan Geist. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. 42).dan menjauhinya. hal. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. 71). . dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991.

Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. hal 110). tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). dunia bukanlah obyek. maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. hal. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. Dunia melingkupi manusia. Manusia hidup dalam dunia. hal. 110). dan juga bebas terhadap dunia. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami. Dunia harus dapat dipikirkan. Manusia adalah bagian dari dunia. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. . Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. hal. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi.Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. 85). Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. 99). dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. hal. Manusia bebas dalam dunia. hal. 93). Menurut Jaspers. transendensi adalah “kenyataan asli“. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. 114). “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. Meski demikian. tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi.

Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. naturalisme memutlakkan Transzendenz. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. eksistensialisme memutlakkan Existenz. idealisme memutlakkan Geist. Pada tataran eksistensi ada iman. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. positivisme memutlakkan Welt. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. dan menjadi jiwa rasio. Dasar komunikasi itu adalah cinta. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. 120). Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. 119). Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. hal. Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). hal. 118). Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. hal. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer.

yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona. “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. eksistensialisme itu melulu voluntary. dalam pandangan kaum komunis. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. yang patut dicela. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit. Artinya. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). yang rendah. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. quietisme. Lebih jauh lagi. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. seperti Mlle Mercier. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. eksistensialisme dengan ego-nya. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. yaitu Eksistensialisme. Namun. apalagi berpikir tentang solidaritas.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Dan ini.” Eksistensialisme. Untuk mempopulerkan idenya itu. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. Dari pihak Katolik. Singkatnya. Dari pihak Komunis.

esensinya. kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi mendahului eksistensi. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Kedua. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. disebut artisan. Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . Lebih jauh lagi. Esensi dari pisau kertas itu. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. produksinya mendahului eksistensinya. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana.punya arti apa-apa lagi. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Contoh lain lagi: panah. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam. Di sini. Contoh lain lagi: binatang. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. Namun. Burung berkicau dan makan biji. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). Selain itu. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. Ketiga. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. Dengan kata lain. Seorang pembuat pisau kertas. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. mendahului eksistensinya.

atau wild man of the woods (Rousseau). Begitu seterusnya. entah itu animal rationale (Aristoteles). Makhluk itu adalah manusia. Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. Cara beradanya benda tak . Celakanya. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Misalnya. dan the bourgeois (Karl Marx). karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. esok hari ia kedapatan mencuri. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya. di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. man in the state of nature (Thomas Hobbes). ketika ia lulus. Atau bisa jadi. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Dengan begitu. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). muncul (Inggris: surges up. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. jika Allah tidak eksis. maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. sampai ia mati. seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. Bagi Sartre. Oleh karenanya. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. Dengan begitu.Allah menciptakan. Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. bahwa hadir).

Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. . Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. ia memikul beban eksistensinya itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. batu atau meja. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. di pundaknya. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. Sementara manusia sebaliknya. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). katakanlah. Pandangan ini mencengangkan. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Kita tentu bertanya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). Sartre mengakuinya. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. yaitu tanggungjawab. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). dalam keluarga apa. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. sesuatu yang mendesak. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih.

Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere.Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. in other respect is free. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. because he did not create himself. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. Condemn. "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. Karena itu. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. Semuanya tergantung pada diri sendiri. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. karena membayangkan apa yang akan terjadi. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. he is responsible for everything he does]. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. yet. Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Ada ketiadaan di tengah ada. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. once thrown into the world. Namun. . because.

Bisa jadi si A. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. misalnya ketika si A. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. dan sayalah subjeknya. hubungan antara aku dengan orang lain. Dalam hal ini. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . dan menyerahkan diri sepenuhnya. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. Karena kontroversinya. tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. mau tahu urusan orang. Sementara. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas. B. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. "Dosa asal saya. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek.apakah akan terjun. Ketika tengah mengintip. kesadaran yang me-negasi." kata Sartre. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. dan C saling berselisih. yakni kesadaran terhadap sesuatu. senantiasa berdasarkan konflik. Sekarang. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. bayangkanlah jika "Aku". bertemu dengan jenis yang sama. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. Demikian kira. sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. être-en-soi. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya." Ada juga kemungkinan lain. dan être-pour-soi. Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. dll). ketika seseorang memergoki saya. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. IV. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. "adalah adanya orang lain". apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. Mengingat doktrin tersebut. Padahal. atau mundur untuk menyelamatkan diri.

murah. semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. Konsekuensinya semakin berlaku umum. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. Kierkegaard menegaskan. Dalam masyarakat modern. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Menurut Kierkegaard. Pada titik ini. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Artinya. dan efektif membentuk opini-opini publik. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. kata Kierkegaard. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . tak berwajah dan tak bernama. Mengapa? Karena bagi dia. menurut Kierkegaard. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. Dalam kondisi dunia semacam ini. Menurutnya. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. bangsa. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. konsep abstrak. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. Publik itu identitas semu. Publik bukanlah suatu generasi. Ia menilai. cara pandang ini menyulut persoalan baru. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. garang.

Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama.mengikuti suara hatinya sendiri. Padahal. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. melainkan sekedar symbol prestasi. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. meski pada taraf non formal. tidak ada tempat untuk passi (gairah. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Maka. Ironisnya. Konsekuensinya. Akibatnya. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. Ini. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. misalnya dalam pemerintahan. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Anehnya. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. Dalam ideal itu. publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. untuk mencapai subyek yang . Bagi Kierkegaard. Namun. menurut dia. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. orang menjadi dangkal. nafsu). ia tak punya arti. Persisnya. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Misalnya. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. Hidup adalah sebuah tugas. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. tapi dalam kenyataan konkret. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral.

menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. Maka. tidak juga sekedar refleksi intelektual. rasa. Maka. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. semakin menjadi individu yang otentik. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. tapi harus melalui pilihan. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. dan kehendak bebas. Etik. Konsekuensinya. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. Artinya. mereka tak berdaya. hanya menjadi medan kemungkinan. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. antusiasme. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Namun. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. bagi mereka. dalam haru biru. Jadi. tanpa arti.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Proses ini. Ciri pertama. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. keputusan. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Estetik. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. segala bentuk realitas. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. Dengan kata lain. simpang siur budaya modern. Menurut Kierkegaard. Tanpa itu. orang yang tidak berani mengambil keputusan.

soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. dan sebagainya. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. Dengan menikah. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. dan kering. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. Artinya. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Ironi tapi fakta. Dengan berorganisasi. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Ciri ketiga. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. Dengan ini. sejauh mereka masih tetap manusia. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Ciri kedua. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. kosong.dari bunga ke bunga. Pada titik inilah. yakni tahap etik. Boleh jadi juga. hidup yang luluh-lantak berantakan. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. Cepat atau lambat. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Maka. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. Oleh karena itu. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. Tahap Etik .

dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. dalam hidup nyata. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . tahap religius. Bahkan kalau perlu. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. Oleh karena itu. orang-orang seperti ini. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. Bagi Kierkegaard. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. Ciri pertama. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. Ciri kedua. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Ciri pertama. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. namun masih berada pada taraf “penonton”. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. Ciri ketiga. bagi Kierkegaard. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Untuk sampai ke peran pemain itu. Sayangnya. belum menjadi pemain.

Maka. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. pada tahap ini. Oleh karena itu. Pada tahap ini. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. Beriman berarti bertualang. orang justru diminta untuk bersikap enteng. Bagi mereka. orang dituntut untuk. Maka. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. damai dalam aneka ketegangan. Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. orang harus kehilangan dirinya sendiri. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. Bahkan. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. Singkatnya. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. Oleh karena itu. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. Atau. Komitmen pada suatu paradoks. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. Ciri kedua. Maka. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. Bagi Kierkegaard. Ironisnya. Pokoknya. Ciri ketiga. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. Mengapa? Karena pada tahap ini. beriman. Dengan beriman. kadangmenakutkan. justru ia harus diajak untuk bergembira. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius.

manusia idaman sepanjang masa. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. bagi Kierkegaard.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun .tak berkesudahan. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Namun ia menerima beratnya . Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. mereka telah menjadi manusia sejati. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. Ia membaca karya-karya Hegel. Petersburg. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah. Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. Schopenhauer. V. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Dengan demikian. mereka telah menjadi pendekar iman.

tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi. bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. Secara keseluruhan. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. antara lain Berdyaev. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas.masa revolusi. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923.sebagian setelah kematiannya. Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. diselidiki. pada Maret 1948. Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. Pada 1922. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . kebebasan adalah baseless. Bagi kaum eksistensialis. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. kebebasan tidak untuk dibuktikan. etika Kristen. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. dekat Paris. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. Secara ontologis. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. mengajar. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . berceramah. atau moralitas-pedagogi). Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. Bagi Berdyaev. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". perkembangan rohani. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. psikologi. Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. Berdyaev menulis 15 buku.

kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. seperti halnya kecemasan. Dalam dirinya. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. Bentuk yang kedua dari kebebasan. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . tak ada manusia tanpa kebebasan. Bila demikian. Alasannya. . Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. Kreativitas adalah misteri kebebasan.” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. Kebebasan. kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. demi martabat manusia. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. Walaupun berisiko.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. meski kebebasan itu berbahaya. tapi juga untuk sesuatu. Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. sekaligus akhir dan tujuan. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. reasonable freedom. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. kreativitas harus diberi keleluasaan. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya.

Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. Dapat dipertanyakan. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. Maka. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. adalah waktu kesejarahan. Demikianlah. apakah ini bulan Januari atau Desember. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. Dimensi kedua. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. misalnya. ia sangat mungkin goyah suatu saat. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. . Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. Pada titik itu. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. Pada sisi yang lain. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. Pada kondisi demikian. Manusia modern kebanyakan yang sibuk.

antara lain The Birth of Tragedy. Awalnya. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis.VI. Bismarck. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. The Gay Science. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. seperti Richard Wagner. Tahun 1796. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Freud dan Darwin. Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Karl Ludwig juga seorang pendeta. Human All-Too-Human. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . Ayah Nietzsche. Selain itu. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. yang berisi tentang tragedy Yunani. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Kakeknya. Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. Namun. Setelah buku pertamanya ini. Thus Spoke Zarathustra. ia mulai menciptakan karya-karya filologis. yaitu Apolline dan Dionysian. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. The Good and Evil . Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. The Birth of Tragedy. The Wanderer and his Shadow.

Nietzsche. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). Prasangka Para Filsuf. bagi Kant. Sejarah Filsafat). Menurut Kant. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. (lebih lanjut Deleuze. Menurut Deleuze. (lebih lanjut Solomon & Higgins. Nietzsche menggarisbawahi. atau dalam pengertian Deleuze. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru.Moral. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. Moralitas-lah. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. Aphorisma 5. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. . Critique of Practical Reason. Filsafat Nietzsche). Aphorisma 9). Bagi Nietzsche. (Nietzsche. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”.Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. Dalam Prasangka Para Filsuf.

dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. dan kewelasasihan. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . Namun demikian. Tetapi. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. cinta antar saudara. dan bukan suatu sistem. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati.

Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika.. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik.” (Die Morgenrote [The Dawn]. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. Yang kedua. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri.. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. Lepas dari semua itu. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. ada kekuatan . Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka. Namun demikian. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita.

Paling tidak. betapapun kaburnya makna tersebut. gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. Setelah ditinjau bolak-balik.di dalamnya. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. Di sisi lain. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. Sesungguhnya. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. Namun. Jika kita tidak dapat mengingatnya. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. Zarathustra. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut.

Namun. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. di dalam edisi Härtle.kesungguhan. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. Meskipun begitu. Di dalam Thus Spoke Zarathustra.” [Genealogy of Morals. Pascal. Namun demikian. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. Di pihak lain. 98] . ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. bagian pertama. dan Goethe. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. XXI. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan. Prolog Zarathustra. Pada suatu bahasan. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. Meditasi Kedua. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. apalagi kekanak-kanakan.” [Thus Spoke Zarathustra. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. “Ketika aku berbicara tentang Plato.

nyawa. phenomenon. udara. VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). nafas. sejak Edmund Husserl (1859-1938). Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya.Dalam pandangan Nietzsche. berarti penampilan. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. jiwa. darah orang Yunani. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. Prancis. warna-warni. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas. sukma. Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. namun demikian.

Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. termasuk psikologi sebagai ilmu . melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. Proses ini oleh Husserl disebut e poche. Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari.sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. tertuju pada sesuatu). maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. Franz Brentano. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. bracketing). Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated).

Mata belaka tidak melihat. Buytendijk. kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda. Misalnya. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). namun demikian. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan.J. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961).J.J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E. Ultrech. guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. karena sebagai proses melibatkan kedua taraf . tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. Sebaliknya. yaitu masing-masing taraf fisik. Menurut pendapatnya. vital dan psikis.J Bijleveld. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963).

yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul . filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. Narnun demikian. masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948).itu. Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976). dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya.

. atau . Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan. Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people".”man cannot pass beyond human subjectivity”. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". terpandang oleh orang lain. Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain. dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". .. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing. "the other is the hidden death of my possibilities". Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other"."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. "Thus. Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas.. Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain.

manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. being-allowed-to-be dan having-to-be. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. Mitwelt. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. masing-masing being-able-to-be. pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. dan Eigenwelt. Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif .

dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me". sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. 'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. Pada analisa akhirnya. sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. yaitu kebersamaan yang secara sadar. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. mereka yang tergabung . ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi.

Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. Demikianlah dalam modus 'Kami'. Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya. maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu.dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' . bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. bahwa keberadaan sebagai . dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek.

Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. maka saya berpikir. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. sastra. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. Edmund Husserl. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. dan sebagainya. seperti: psikologi. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. universal. kristiani. seni lukis. Di antara para eksistensialis. “Saya berpikir. ateis. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. Sementara itu. VIII. muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. “Saya ada. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. “Logical Investigations”. drama. dll). dengan karya pokoknya. lebih logis. sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. dan bukan abstrak. lokal. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. . Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya. Oleh karena itu. konseptual.

filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek. Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif.Ketiga aliran ini (eksistensialisme. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan. memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. . fenomenologi.

juneman@gmail.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman. 2008 .. S. C.Psi.P.W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.

Johan Huizinga. India. Jepang. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. untuk adalah faber. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. manusia yang bermain. Prof. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. I. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. dan Arab. Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. Tapi tentu ia harus . Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. Manusia sapiens. karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai.

Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. Permainan adalah "bebas". pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. Permainan termasuk suasana waktu luang. Bermain selalu terjadi secara spontan. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". Dalam bahasa Indonesia. dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. Keterbatasan menurut waktu tampak. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". sebagai salah satu ciri khasnya. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. c. Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Misalnya. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". b. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. baik menurut waktu maupun menurut ruang. Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . entah secara riil atau secara imajiner. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. Dengan bermain. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Anak-anak yang main. Antara awal dan akhir tersebut.

Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. VIII). Di samping itu. karena adanya aturan-aturan itu. d. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. panggung sandiwara. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. e. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. misalnya. Dua fungsi ini mudah digabungkan. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. Menurut ajaran Tionghoa kuno. Dalam konteks ini. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang.adalah sekelompok anak. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. Menurut Plato (Nomoi. stadion. layar putih. manusia dijadikan sebagai . II. Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. dan sebagainya. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. permainan ditandai juga ketegangan. Utamanya. Dalam konteks permainan. bioskop. permainan terutama mempunyai dua fungsi. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah.

Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan. sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. di Yunani kuno. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. Jacob Burckhardt (1818-1897). Untuk dua kata itu. yaitu ludus. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. tapi juga di semua tempat lain. 208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. Menurut Huizinga. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. Di Yunani.mainan para dewa dan dengan persembahan. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. bahasa Latin hanya memakai satu kata. dalam masyarakat Yunani. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". III. Bahasa Inggris. dalam masyarakat Yunani kuno. tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak. seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. misalnya. Menurut beberapa seginya. mempunyai play dan game. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. Dan memang benar. Menurut pendapat itu. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". nyanyian serta tarian.

Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain." IV. Tidak dapat disangkal.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. seperti perburuan umpamanya. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. Dengan pengetahuan yang kita miliki. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. permainan lebih tua dari kebudayaan. Epos India Mahabharata. Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. Dengan cara demikian. Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan. Antropolog Prancis. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia. Binatang pun bermain. Marcel Mauss. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. misalnya. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Dalam masyarakat- . Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup.

artinya antara dua kelompok. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. Dalam hal ini. misalnya. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. dan kenegaraan. Untuk itu. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Pada umumnya dapat dikatakan. Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. Jadi. Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. tata susunan kehakiman. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. ilmu pengetahuan. keadaannya berubah. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. Permainan seolah- . seperti halnya dalam perlombaan. Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. Tapi tentu saja. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. Tarian dan nyanyian. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. Dengan demikian. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan.masyarakat arkais. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. kesenian. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. Dengan perkembangan kebudayaan. Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok.

Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. kebudayaan menjadi semakin serius.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. nasib seseorang ditentukan. Dipandang sepintas lalu. Kultus keagamaan. umpamanya. Tapi sesudah itu. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. Tidak bisa diragukan lagi. ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. kebudayaan "dimainkan". rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. Dan dalam bidang ini pun. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. yaitu olahraga. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. perang pun berlangsung dalam suasana permainan. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. Pada awal mula. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. Dalam sejarah Eropa. Hukum berasal dari permainan sosial. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. V. misalnya. Permainan-permainan bola . Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. terbentuk dalam konteks permainan sakral. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. di mana dengan membuang dadu. Dalam hal ini. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita.

Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. Di situ . ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Karena semua alasan itu. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi. Olahraga menjadi sangat serius. seperti sepakbola. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. di mana pelbagai-isme silih berganti. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. VI. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). Dilihat dari segi itu. perkembangan rumit. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. Menurut Huizinga. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. misalnya. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian.yang besar. Dalam seni rupa. dan permainan papan. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. sama sekali tidak ada lagi. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Di sini. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. Puisi. Apalagi.

Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. secara total. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu).manusia menghendaki. Dia menjadi diri sendiri. Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. kebebasan itu tidak mutlak. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. Sebaliknya. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. manusia bebas. Kalau menang tidak dihitung. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. Mereka hanya memerlukan permainan. Akibatnya. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". Tak demikianlah halnya dalam permainan. secara integral. melainkan karena tujuannya. dalam permainan. Bandingkan dengan situasi lain. Dengan kata lain. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. artinya pembebasan dari pamrih. Dalam permainan yang murni. Tetapi. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. merdeka. akibatnya dia merasa jengkel. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. Itulah yang ”membahagiakan”. at least selama murni. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. dari rasa yang mengganggu. karena pamrihnya. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. Maka. tidak terpecah-pecah. . Hasilnya adalah kebebasan. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. Di situ manusia menjadi subjektif. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. yang menyebabkan disharmoni. Dia mengalami bahagia. Dengan menyerah. Misalnya. Dia harus membebaskan diri. dia bebas-merdeka. sebagai objektivitas.

dengan kartu. Seperti kekayaan yang lain. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. Dalam bermain.) Setelah melihat gejala permainan. Dengan menyerah.dia direbut sendiri. seperti misalnya dalam sandiwara). Jika terang bulan. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. Maka. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. seperti berbagai macam permainan dengan bola. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. orang juga bermain dengan senyuman. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. permainan sudah dikultivir. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. manusia menjadi manusia. dan alat yang lain. dalam Ganefo. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan. seperti yang kita lihat dalam Olympiad. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain. Jika kita menengok sejarah. jiwa manusia menjadi bangkit. dan lain sebagainya. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. Tetapi lepas dari zaman dahulu. dan dengan fantasi. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. permainan tidak bisa dihindarkan. dalam Asian Games. kita harus melihat problemnya. bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas. sekarang pun kita masih melihat banyak permainan. permainan adalah suatu human fenomen. Pertama. kedua. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. Bersama dengan itu. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). mata. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam. direndahkan. VII. dan didevaluasikan. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. dia menjadi kuasa. Jadi.

jadi . Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan.. Jadi. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). Tanpa agon tidak ada permainan. apakah bola masuk gawang atau tidak. yaitu agon. kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. Agon artinya perjuangan. Tanpa agon tidak ada permainan. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. di mana manusia berkelahi dengan banteng. membahagiakan karena penikmatan. menyatukan bersama dengan . maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. maka orang main dengan sungguh-sungguh.yang sewajarnya.. tanpa lawan. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Berdasarkan agon. Berdasarkan agon. orang mengejar nilai-nilai fiktif. An sich tidak ada nilainya. tetapi unsur yang luhur. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. itulah peranan eros. Nah. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. unsur ini ada. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan. dia melekatkan diri pada permainannya. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. Di situ unsur agon sangat mencolok. mengalahkan perlawanan. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. Untuk menyelami tabiat permainan. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. unsur perjuangan dalam permainan. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. Jadi. dan keperwiraan. Berdasarkan agon pulalah. jika dalam permainan. agon adalah unsur "peperangan". eros-pun tidak mungkin ada. Eros (kata Yunani) artinya cinta. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. Hal ini sangat tampak dalam permainan.

bagaimanapun. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Penduduk sipil turut menjadi korban juga. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. Selanjutnya. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. Dan bangsa-bangsa . sampai titik yang sangat menggelisahkan. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. untuk permainan. akan menjadi permainan permainan. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. dan tidak untuk nafsu. Maka. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Adanya eros adalah niscaya. Jangan dijadikan kesungguhan. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. suasana permainan telah hilang sama sekali. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. tetapi selamanya dalam permainan. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. Tapi. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. bahkan dengan hebat. sehingga permainan yang dipersungguh. Padahal. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. tetapi permainan jangan dipersungguh. Di bidang politik dalam negeri. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. Bermainlah untuk bahagia. Tapi dalam politik internasional. umpamanya.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. Tapi dalam perang modem. Eros harus seimbang dengan permainan. kesimpulan umum Huizinga adalah. sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. Mainlah dengan agon. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. Barang siapa mempermainkan permainan. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati). Kebudayaan tidak lagi "dimainkan".

berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. . Di sini. "Seperti akan diakui setiap orang. menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi.

P. 2008 .Psi. S..com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. C.W. juneman@gmail.Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman.

sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”.S O S I AL I TAS M A N U S I A I. termasuk manusia lainnya. Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. jujur dan terbuka. makhluk individu. Di dalam bahasa Indonesia. psyke. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. dll. ”berkorban”. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam. 1992: 114). Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. atau daripada pohon dan hewan. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh. yaitu fisis-kemis. ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. biotis. human (Bakker. Namun. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. menurut hukum dan mekanisme sendiri).

Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. Pertama. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. yang prospektif. “no man is an island” kata sebuah pepatah. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. transendensi-imanensi.salah satu aspek kehidupannya. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . Kedua. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. kebersamaannya dengan yang lain. alami. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. makhluk sosial. penuh dan lebih sempurna. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. religi atau budaya lainnya. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas. manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. 1989:55-56). Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. Ketiga. individualitas-sosialitas. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. etnis. yaitu materialitas-spiritualitas. tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. yang dapat berkembang ke arah yang baik. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. ikatan yang terjadi bersifat . bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya.

Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. toh saya pikirkan menurut aspek. maka saya juga (dapat) . pelayan. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. misalnya dari dunia mahasiswa. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. tukang kayu. misalnya sebagai mahasiswa. menikmati. pencuri. diplomat. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. Juga kegiatanku. Aku diartikan oleh yang-lain. Jadi. rohaniwan. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. misalnya dunia karyawan. tukang becak. dan melibatkan yang-lain orang. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. sikap. II. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain. Tidak ada ”aku” yang murni. Keempat. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain. menyentuh. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. misalnya melihat. kegiatan konkret. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. Bukan. guru. Aku selalu di dalam situasi tertentu. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. dan mengadakan hubungan.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. atau barang benda. Pada umumnya. orang baik. penakut. anggota keluarga. hewan. Namun. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. pedagang. mendengar. yang mengandaikan yang-lain itu.

III. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). Satu kesan pun tidak ada. ”Wenn kein Dasein existiert. rumah. maka saya ada. Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. Aku berusaha memahami beradaku. sudah mustahil. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. dan janganlah . Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. Tanpa itu.mengakui diri. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. Saya ada. atau sebagai hukuman dan kutukan. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. maka seluruh duniaku tidak ada juga. sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. memberikan penghargaan dan fungsi. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. aku juga menerima ketertentuan. Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. teman. Sebaliknya. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. mereka tidak keluar dari diri saya. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. Heidegger mengatakan. Andaikata aku tidak ada. Kalau tidak. Adanya dunia saya tentukan. saya tahu ketergantunganku itu. mereka tidak saya kuasai. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. sebagai pemberian dan karunia. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. dosen. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. negara. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. maka orangtuaku tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. ist keine Welt da”. mereka mendekati saya dari luar saya. ”Aku” berada dengan mutlak. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. The world of persons). Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). Andaikata ”aku” tidak ada. tanpa manusia. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. dibayangkan saja keadaan seperti itu. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. dunia tidak tampak. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. saya menjadi nol.

walaupun aku tidak pernah ada. sudah mustahil. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. “Yang Transenden”. Fakta yang sungguh-sungguh ada. IV. Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia. Kerangka ini . yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. paling primitif. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. juga memuat arti dan nilai bagiku. dan menerima itu dari saya. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. dan saling mengadakan. Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. V. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. Tubuh manusia merupakan medium awal. Tanpa tubuh. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. begitu jauh pula berhubungan timbal balik.membayangkan ”aku” tidak ada. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. dengan saling memberikan arti dan nilai. yang tetap ada pula. sejauh merupakan substansi yang berdikari. 1995: 5-6). Misalnya ”aku” tidak ada. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. yang tertutup pada diri sendiri. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. Bertanya pun mengenai dunia itu. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. (2) Yang Transenden (Sudiarja. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum.

antara lain: Martin Buber. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”. Gabriel Marcel. Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. totalitarisme. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). Emmanuel Levinas. yang mendasari. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. alam dari subjektivitas manusia. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. Gabriel Marcel menegaskan. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Perjumpaan. Kedua hubungan itu timbal-balik. personalisme. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. pertemuan merupakan permulaan. Karena “engkau” hadir. Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Jean-Paul Sartre. Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme. liberalisme. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. sosialisme. individualisme. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. 2001: 32). dan lain sebagainya. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. kekhawatiran dan keputusannya. selain alam manusia. . yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. kolektivisme. awal hubungan yang sejati. 1993: 36-37).menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”.

yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. dan (2) cinta. yang digerakkan oleh cinta. pada doktrinnya tentang situasi etis. tanpa syarat dan bebas. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. hidup di dunia adalah hidup bersama. 1993: 37). dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta.dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Dalam hal ini. apabila manusia sampai pada cinta itu. 1993: 36). Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. Jadi. Lebih lanjut ia mengatakan. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. Artinya. Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Hubungan ini bersifat asimetris. Lévinas memberikan pandangan khas . Hidup bersama itu mempunyai dua ciri. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Artinya. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur.

an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. permusuhan. pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). Dalam semua kebersamaan. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. pertarungan yang terus-menerus. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). yaitu Tuhan. Artinya. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain. Pada orang lain. Dengan kata lain. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. Singkatnya. suatu fenomen yang sama sekali unik. yang merupakan dua pangkal. 1985: 322). sebagai suatu totalitas.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. tampaklah suatu Transendental. bagi Sartre dasar. hakikat bersama. Namun. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. Pendekatan . 1956: 222). mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. Jean-Paul Sartre (1905-1980). manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain.

Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain. untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. kesediaan membela kehormatan masyarakat. yang saling mempengaruhi dari luar. terutama dengan manusia lain. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. seperti rasa memiliki kelompok. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. 1993: 8). kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. Dalam korelasi itu. . masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). saling memajukan dan saling memperkembangkan . melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. melainkan juga “kooperans”. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. Sebagai konsekuensinya. Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. dan atau keluarga. 1988: 307-308. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Dengan kata lain. Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. Konkritnya. Bakker.

Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. Ketiga. demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. solidaritas dan subsidiaritas. Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi. Pertama. Istilah transendental tidak berarti. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal.VI. Kedua. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. akan tetapi mem-badan. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. . potensialitas dan keterbatasan. organisasi sosial (masyarakat. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. Seperti persona tidak ada di samping badan. Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. Semuanya ini menjadikannya khas. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. negara dan berbagai bentuk kerjasama). terpisah. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. pranata-pranata sosial. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. akan tetapi juga “trancendent”. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental.

yaitu Tuhan.Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. yang saling membenci. pemanusiaannya menjadi proses yang penting. kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia. Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". Baginya. yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. . sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna.

W.Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman. juneman@gmail. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.P.Psi.. 2008 . C.

History berasal dari bahasa Yunani historein. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. Sepanjang diketahui. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. I. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. dan historia. Dalam modul ini. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari.H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . Filsuf Inggris. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. umpamanya. Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). Demikian pada Plato. artinya “menyelidiki. Francis Bacon. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. Dan memang demikian.

Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. “teknologi”. dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. Ilmu sejarah hanya mungkin. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. melainkan juga subyeknya. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Ia bukan saja produk peredaran waktu. dan sebagainya. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. Atau dengan kata lain lagi. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. Dalam peribahasa Prancis. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. Manusia bukan saja obyek sejarah. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan.historisitas. tapi ia juga mengadakan sejarah. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Perlu diperhatikan. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. di samping “sastra”. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung.

hanya ada perkembangan. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru. Tentu saja.baru. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. Tentu saja. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. kesimpulan ini tidak benar. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. pada musim tertentu burung-burung bersarang. pada waktu tertentu matahari terbit. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. Disangka. Karena. Kendati demikian. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. bukan bermaksud menolak teori evolusi. Malah dapat dikatakan. besok dan lusa dan selama-lamanya. dan waktu depan. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. Tidak dapat disangkal. waktu sekarang. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. Manusia ditandai historisitas. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. Jadi.

Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. telah terjadi. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. manusia adalah bijaksana. Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. Untuk Oidipus. b. ya. salah satu tujuan drama targedi. umpamanya. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak.a. Misalnya. Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. umpamanya. Di bidang filsafat. Menurut pendapat Mazhab Stoa. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. Apa yang telah terjadi. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah. Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . namun historisitas belum tampil ke muka. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. Itu semua tentu benar. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. Namun demikian. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. yang banyak digemari orang Yunani.

kelaparan. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam. dan sebagainya. Suatu bidang lain adalah filasafat. sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Mungkin sikap pasif itu disebabkan. Karena tidak berdaya. Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. Perlu tempo cukup lama. Proses itu tampak pada segala bidang. Suatu bidang lain lagi adalah hukum.ciri yang berasal dari paham pertama. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. Maksudnya. Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. c. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius. wabah. Tentu saja. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah.

Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. kata Marx. Comte. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). harus menjadi praktis. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. misalnya penyakit. Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri. Manusia dapat memainkan peranan aktif. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. Manusia adalah pelaku sejarah. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Dan tidak kebetulan pula. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai . Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. d.menandai pandangan dunia. dan Marx. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. yang penting ialah mengubah dunia”. Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia.

Ahli fisika termasyhur. Memang tidak dapat disangkal. Tentu saja. Ia sampai pada 50. 6. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun.000 years at the outside”.000. Mari kita memandang beberapa detail: a. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan.000. Isaac Newton (1642-1727). permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi. mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis. ahli astronomi yang ternama. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas. bila dibandingkan dengan periode-periode lain. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). yaitu pengalaman manusia tentang waktu. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Seorang sarjana Inggris.000 or 10. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu.000 tahun. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru. Pasti mesti ada sebabnya.000. Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan.dijungkirbalikkan. menarik kesimpulan begitu ekstrem. Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. II. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak .

Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Lagi pula. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.000 tahun lalu. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Contoh lain adalah masalah kependudukan. yaitu dengan teknologi itu sendiri. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya.000 tahun sebelum tarikh kita. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah.miliar tahun lagi. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. b. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1. “Laporan . Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri.000 tahun. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin.860. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern.

Dan tidak dapat disangkal. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. Dengan kata lain. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. dan intersubyektivitas. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. III. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. a. temporalitas. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Karena namanya “implikasi”. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. kata Pascal. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. Tapi dalam sintesis filosofisnya. Hal itu tentu selalu diketahui. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. Dan mungkin baru . Memang benar yang sudah dikatakan A. Tentu saja. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. kita lihat tadi. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. kebebasan. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. Comte: “savoir c’est prévoir”.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini.

Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. umpamanya. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. b. Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Sebuah batu adalah batu belaka. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. Pada manusia.zaman kita sekarang mulai berhasil. seperti binatang (dan… malaikat). tidak lebih dan tidak kurang. lisan atau tulisan. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Sebaliknya. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). Karena. Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. walau bakat itu diberikan kepadanya. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. Bila Picasso adalah seorang seniman. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. sebagaimana batu adalah berat. Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. Namun benar juga. manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus). sebagai roh yang menjelma dalam materi. tapi juga tugas. Manusia adalah pencipta. Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. Ia sendiri tidak merupakan sumber . seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. Pendeknya. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. jika manusia tidak bebas. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis. dalam materi yang kasar. Tentu saja. Seniman “menciptakan” karya seninya. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. Seorang manusia bukanlah seniman.

mutlak dari bakat itu. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. adalah ein krankes Tier. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). Sedangkan manusia. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). tapi segera hilang pula. seperti misalnya pada Sartre. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. adalah un mouvement de transcendance. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. manusia betul-betul kreatif. Manusia. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. Namun demikian. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. binatang yang sakit. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. Atau dirumuskan dengan cara lain. c. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. jatuh ke dalam ketiadaan dan . Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. benar dan matematis. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. Kalau begitu. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. Maksudnya. kata Hegel. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. kata Merleau-Ponty. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru.

Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. Bila saya seorang dewasa. Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. mendatang. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. waktu antropologis. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . dan mengorientasi keadaan saya sekarang. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. d. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). Bila saya seorang muda. Dengan kata lain. membatasi. Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. arloji atau kalender. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. maka masa muda masih hadir bagi saya. Itu bukan waktu yang “benar”. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). sekarang) “kehadiran”. Karena. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. takuti atau nantikan. Dirumuskan sedikit karikatural. tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. dengan salah satu cara hadir juga. bukan saja sejauh saya mengingatnya. meski dalam bentuk “yang akan datang”. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia.diganti dengan saat lain. sebagaimana diandaikan oleh Newton. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. Jadi. bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang.

Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. dan agama. etika. Manusia adalah makhluk historis. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. ia hanya mempunyai sejarah”. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Perlu diakui. karena selalu ia meneruskan. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. Manusia adalah makhluk historis. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. J. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. “Manusia tidak mempunyai kodrat. seandainya setiap generasi (apalagi. Historisitas menjadi mustahil. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. IV. . Misalnya. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. Misalnya. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia.

bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Demikian halnya juga di sini. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. . Artinya. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. Itulah kebenaran historisisme. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu.

.W. juneman@gmail.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 .Psi. C.P. S. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.

Pendek kata. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. Karena pengaruh teknologi media mutakhir. paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. dan lain-lain). walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. Kita. Dalam setiap ranah pemikiran.K E M AT I A N M A N U S I A I. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. Jaspers. tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. padahal kita belum mengalaminya. Bagaimana kita bicara ihwal kematian. mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. dan menjadi sekadar data. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting. sementara kita belum . Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. kematian menjadi fakta. 2. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. membicarakan kematian secara a priori. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. ia menjadi faktualitas. ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). Sartre. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). dalam hal ini.

Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern. Karena itu. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. tetapi perlu melibatkan pengalaman. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. seperti diketahui. Namun. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. Pertanyaan selanjutnya. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. ‘filsafat hayat’. . Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. Filsafat eksistensial.

Kemudian. Bahkan.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. atau suatu fase dari substansi ilahi. dengan alasan . Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. suatu bagian. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. II. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). maupun bagi anak yang mereka lahirkan. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. yaitu lahirnya substansi otonom baru. seluruh manusia itu melulu materi. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua. menurut proses alamiah. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. (2) Dualisme. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. jiwa itu dipersatukan dengan badan. Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Badan itu hanya epifenomena saja. Menurut materialisme. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia.

Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. yang meliputi tradusianisme. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. Dengan demikian. mulai abad-abad pertengahan. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. Schelling). Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. kreasionisme. Hominisasi. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. badan dan jiwa. atau memberi-alih. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. Menurut tradusianisme spiritual.berwarna-warna (Kant. dan transenden terhadap materi. Struktur hakiki. dan hominisasi. Menurut tradusianisme materiil. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). (3) Usaha sintesis. pada saat persiapan itu sudah cukup. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. Jiwa itu subsisten. Dari segi ontologis. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. juga menentukan permulaan proses itu. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. Menurut Thomas. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. atau diberi-alih dari substansi mereka. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. Dengan demikian.

Bunga menjadi pudar. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. tidak melampaui dunia material. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. Semua ”ada” material. melainkan sebaliknya. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia. demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. dan akhirnya busuk dan mati. Maka. III. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. Jadi. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. Bukan permulaan itu yang paling penting. di dalam penyebaban manusia yang langsung. justru bukan . destrukturisasi. Dia tidak masuk dunia abstraksi. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu.kepada anaknya pula. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. bersifat fana.

binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. Namun dibedakan dari badan. Karena spiritualitasnya. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi).karena kehewanannya.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . dengan abstraksi. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani. kematian. Misalnya. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. sebagai berikut. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. degradasi. dan lain-lain. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. Tanpa keluar dari dunia material. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. Sampai di sini. tanpa keluasan dan kuantitas. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. yaitu dunia manusiawi. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. Ernst Bloch. jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. ilmu-ilmu. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. seluruh dunia kebudayaan dan agama. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. Paham materialis mencoba menghancurkannya. seperti halnya dengan semua benda material. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam.

aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual. Sesungguhnya.” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. N. Pun pula dalam amnesia total.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . suatu kutub oposisi yang mutlak.definitif dari semua. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris. kesadaran yang kosong itu.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis. Dalam beberapa riset yang lain. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan. ”menghadiri pemakamannya sendiri. ingatan yang rusak itu. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya.” IV. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. Menurutnya.” Pengarang Inggris H. apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya). yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. sebuah lengan. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis.D. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya.H. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu. ia tahu bahwa ia adalah ia. self keakuannya.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa. artinya apa yang esensial dalam kepribadian.

sedangkan begitu banyak orang jahat. sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. Jadi dari dirinya sendiri. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini . tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. terkadang menikmati kesehatan. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. hormat dan kemakmuran. maka tidak mesti mengandung kekekalan. bahkan bersifat absurd. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. Dalam inti hati manusia. manusia tidak bisa keliru secara universal. Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. tak jujur. bahkan yang paling kuno. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. kesuksesan. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. Tentu saja. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. argumen ini tidak berlaku.

Tugas ini amat berat bagi manusia. salah satu kesulitan ini. astronomi. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. Akan tetapi. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. Ada sesuatu yang harus hidup terus. Sebagai akibatnya. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya.J. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. kebajikan. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga. sebagai targetnya. terutama aspek cintakasih sejati.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. argumen moral ini berbobot sekali. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. keakuan pribadi. J. teratur. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. Akan tetapi. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal). ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. yakni pribadi manusia. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman.van de Casteele setuju dengan beliau. Nah. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. Prof. yang paling luhur dari semua daya evolusi. dan yang paling berat di antara semua yang ada.

. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. bagi makhluk manusia itu. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini.” Sebenarnya. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. Hasrat untuk tetap hidup. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. ia betul. Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. juga merupakan bagian dari pengalaman kita. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik.harus membuktikannya. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri.

Karena. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. sebaliknya. Jadi. dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya.Evaluasi terhadap argumen di atas. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. kalau tidak. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. Pendeknya. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. Secara formal. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. kebahagiaan menjadi tak mungkin. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. seolah-olah kita merasa kekal. Jika tidak. Dalam diri kita. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. tanpa kekekalan pribadi. Tuhan bukan Tuhan lagi. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. . kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. dan bukan kepada orang lain. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan.

Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. Gabriel Marcel menulis. Sebaliknya. Karl Rahner. Kalau begini. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. Dalam perspektif ini. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. Karena itu. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. ”the here and now” quantified body. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik.” ”Apa pun maknanya yang terdalam. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. Ladislas Boros). maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan. Van de Casteele. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini.” V. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. dalam kesatuan ”kita”.

antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. Meninggalkan dunia ini. VI. persaudaraan.kita. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. Rahner berkata. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. Bagi orang dewasa. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. suatu kehadiran pan-kosmis. Tetapi pada saat yang sama. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. bahwa pada saat kematian. Manusia . ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. warna-warna. maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. Dalam waktu yang sama. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Pada saat kelahiran. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian.” Jadi. Namun. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. pada saat kematian biologis. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. akrab dan enak. satu-satunya yang kita hayati. dan cinta manusiawi. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. makna-makna. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman.

kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan. kebahagiaan. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. atau suatu konflik tanpa jalan keluar. Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. semua saksi yang kita bicarakan. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). . akan dipenuhi.” Namun seluruh analisis kita. Kematian bukan suatu tragedi. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. melainkan sebuah drama. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. pribadi maupun sosial. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita.

com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S. juneman@gmail. Identitas.P.Psi. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman. Penindasan. C.W.. Perjuangan.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh. 2008 .

dia menolak esensialisme yang sedang marak di . Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. hak berpolitik. seksisme. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). hak reproduksi. Derrida. Dalam “the Laugh of the Medusa”. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Setelah berakhirnya perang dunia kedua. peran gender. dan phalogosentrisme. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. the Second Sex. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. identitas gender dan seksualitas. penindasan perempuan. hak-hak perempuan. the Subjection of Women (1869). Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. stereotyping. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan.

Dalam berbagai diskursus. rasisme. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. dan relasi sosial. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Dalam wacana ini. bagi perempuan kulit hitam. Dengan asumsi ini. Secara lebih spesifik. Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. adalah kemewahan. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. Asia dan Amerika Selatan. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja.Amerika pada waktu itu. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). Selama sebelum PD II. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. seksisme. meliputi Afrika. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). Dalam berbagai penelitian tersebut. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. agama. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. banyak feminis-individualis-putih-barat. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. Karena perempuan kulit . meskipun tidak semua.

Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Dalam banyak kasus. diam. sekali lagi. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. Hampir seluruh kasus penelitian . dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Dalam konsep objektifikasi ini. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. Perempuan dunia ketiga. para perempuan. bekerja keras. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. dan menerima begitu saja. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. Sedang untuk persoalan kulit hitam. bisu. Dalam persoalan pertama. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan.hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Lagi-lagi. Dalam ranah antropologi. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. di sini. banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. dan lain-lain yang non-domestik.

mencipta. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. melakukan revolusi. Perjuangan. Identitas. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. perempuan tidak berani bereksplorasi. Tubuh. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. II. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. Dalam penelitian psikologi. dia terkurung dalam sikap pasif dan . Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. Sebab. Penindasan. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.reproduksi. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri.

Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. Namun. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan. sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial. sekolah. Akibatnya. masyarakat. dan aktual. sudah tetap. dalam hal ini rahim. Baginya. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Dengan cara demikian. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. bahkan tidak 'dianggap'." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. melalui fungsi tersebut pula. Melalui fungsi tersebut. konstruktif. . Dengan etika ambiguitas. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Menurut Beauvoir. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Dalam situasi yang demikian ini. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. bahkan mungkin juga negara.tidak berdaya. dan pasti.

yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. yaitu mengabdi kepada orang lain. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. Di level praktik. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . Melalui sikap diam dan pasrah. Sebenarnya. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. Menurut de Beauvoir. diskriminasi jender terus lestari. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Identitas perempuan tidak dianggap penting. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. Pada tataran pemikiran. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. Oleh karena itu. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. budaya. dan politik. Permasalahannya. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. Padahal. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. yang dicapai melalui revolusi sosial. yakni level pemikiran dan praktik. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. digerus begitu saja. Kehadiran perempuan sebagai manusia. Tak heran. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi.

Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. Untuk para feminis. misalnya. menggolongkan pornografi . interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". menuju keotentikan dan pembebasan. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia. Maria Marcus. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. jubah hitam panjang. Perempuan dalam episteme agama Katolik. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. Dalam hubungannya dengan pornografi. Arab. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. bukan cabul. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. jilbab panjang. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis. Feminis yang lain. bentuk purdah. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada.

Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. gemulai. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. penulis skenario. Bagi Kappeler. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. Tubuh Perempuan yang seksi. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang. khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. Dengan adjektif itu. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. Di sisi lain. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. Di dalam masyarakat patriarkhi. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. konsumen. Menurut Marcus. Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. yang tersohor dengan liberalismenya. cantik. seks dengan kekerasan. UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. yaitu para produsen. objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. dan pembaca/penonton pornografi. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dengan demikian. Tanpa kedua hal itu. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. Pun di Barat.

beragam. Penyebutan paha. pusar. Apa yang disebut santun. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. Jika UU itu ingin akomodatif. Sekali lagi. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. . dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. Dengan kategori relativitas adjektif. Namun. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. sopan. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan. baik. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. Perempuan seolah sebagai gangguan.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. dan nonlinear. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. Perempuan hanya sebagai subordinat. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu.

Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Bali . Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. seperti Gayatri Spivak. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. maskulin. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. Pada kasus Jawa. JanMuhammad. dll. Barat sebagai yang occidental. dan Homi Bhabha. Uma Narayan. Ranajit Guha. dan terakhir white-female-burden. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. Said menulis Orientalism. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Timur sebagai yang oriental. bell hooks. Kreol India dan Eropa. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. tidak beradab. Cina. colored-man-burden. Anne McClintock. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. perempuan.III. yang Lain (baca: Other). Frantz Fanon. Dan secara kuliner. Kwame Nkrumah. Trinh T Minh-ha. AijazAhmad. Dalam era kolonialisasi.C. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. Melawan whiteman-burden. traditional. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Albert Memi. rational. Pada awal abad 17. Sejak tahun 1920. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak. Center dan beradab. Chandra Talpade Mohanty. irrational. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Young. eksotik. dll. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. Achille Mbembe. Robert J. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. Subaltern. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978.

Di Indonesia. diperkirakan 100. daerah bencana dan daerah konflik. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. agama.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. ras. seks komersial. Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. budaya. diskriminasi. buruh murah. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. status sosial rendah. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. Kehadiran esensi adalah . sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. kelas. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. dan relasi sosial tersebut. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. terkadang. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. Penemuan terhadap esensi. relasi sosial. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. lemahnya penegakan hukum. universal sisterhood menjadi problematis. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. khususnya pantai Pattaya. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. ras. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. budaya.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. Negara dan bangsa. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). penindasan terhadap perempuan adalah sama. penderitaan perempuan adalah sama. Dengan perbedaan geografis. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin.

universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. Jogjakarta. Dalam banyak kasus. dengan sebutan globalisasi. Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. . Dengan asumsi ini. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. la parole / Jakarta. Bandung. Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. Sebenarnya. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. Surabaya.kelahiran kesadaran. terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. dalam konteks sekarang. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. telah dirampas dengan daya global. IV. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. Semarang. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya.

Pada titik ini. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. Dan sejarah sastra budaya. Dalam berbagai tayangan media. Dalam politik identitas. Sejarah etnis. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. ibu yang baik. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. submisif/tunduk. Dalam berbagai sektor. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. Sejarah tubuh. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. jelas terlihat. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. Sejarah ras. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme. anak perempuan yang kelas kedua. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. tapi secara mutilatif. perlu dilakukan penelanjangan esensi. terutama Jakarta. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. Motto para penjajah . kelas kedua. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. Tidak dipungkiri.Dalam konteks media. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh.

Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas. Tanggung jawab terhadap Subyek. semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. V. sejarah dan agensi. identitas. Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. Dengan konstruksi. Dalam politik dekonstruksi. maka mereka akan mudah dijajah. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. ras. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Seperti yang terjadi sekarang.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . uraian di atas lebih lanjut. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. Menjadi titik dan selesai. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi.

sulit menerima metodologi ini. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. . terutama laki-laki.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Intinya. metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. Meski banyak kaum positivis.

Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman.P.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 .W. C. juneman@gmail. S..Psi.

dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. Dalam pemikiran Eropa. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. dipertanyakan. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. mempertanyakan. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Agama mengajarkan kepatuhan. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. Tetapi. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. keduanya memiliki perbedaan mendasar. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. dan tidak kritis. misalnya. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. tidak sistematis. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani.F I L S A F AT T I M U R I. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama. Di Abad Pertengahan misalnya. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Dari khasanah Islam. filsafat adalah hamba bagi iman. Bertrand Russell . Selalu ada yang mesti dikorbankan. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur.

Plato. dengan keutamaan pada praktiknya. . Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. jika pemikiran Timur dianggap agama. dan Aristoteles. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. Hidup. Di sisi lain. Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. . (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). . Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu. dan Islam. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. Exposed to attack from both sides. Jadi. 1996). Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu. contohnya. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. Plato. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. contohnya. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. Dalam pandangan lain.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. Sejak Socrates. Buddha. Di pihak lain. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates.the no-man’s land between science and theology. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan. Pemikiran etis dari Confucius. tempat Pandawa dan Kurawa berperang.

Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Namun. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Plato. Yunani Kuno. . Confucius disejajarkan dengan Socrates. Confucius. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. but though he remained an “amateur” or informal teacher.Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. Cina. The Teaching of Wisdom. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. yaitu India. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat. seorang pemikir psikologi besar. dan Aristoteles. dan Jesus. dan Israel. Sebagai tambahan bagi Jaspers. and their first and greatest ethical philosopher. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. dapat kita temukan nama Muhammad saw. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G. Jung when he wrote. peradaban.” Oleh Beck. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. Socrates. bagi Jaspers. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China.

Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. sistematis. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. ditolak. masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. tak ada kata putus. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. Sebuah upaya adalah sebuah proses. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan. tak ada ujung. yang memiliki sifat rasional. dan tampaknya akan terus berlanjut. sesuatu yang telah selesai.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. Dalam khasanah filsafat Barat. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. Sebagai produk. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. hingga menjadi makanan yang siap santap. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. ibarat resep masakan. Pengertian kritis di sini. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. radikal. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. dialektis. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. (Disarikan dari . filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. radikal. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. Dengan demikian. Secara lebih spesifik lagi. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. Sedang sebagai proses. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. filsafat terkesan sebagai barang jadi. dan kritis. sistematis. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. bukan produk. atau ditangguhkan vonisnya.

serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. dan bertahap. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. Dengan begitu. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. Mayer & Goodchild 1990. Dalam pemikiran Barat konvensional. para filsuf dari empirisme. Feldman & Schwartzberg. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. Dengan kata lain. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. maka pernyataan itu salah. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Dengan pengertian kritis. Jika kenyataan saat ini tidak hujan. Sebagai contoh. 1986. dan filsafat analitik. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. 1990). sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). runut. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). radikal. positivisme. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. Pembatasan kaum empiris. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. positivistik. positivistik. pengertian sistematis.Moore & Parker. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. . Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat.

Dalam agama. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik. Dalam filsafat. Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung. baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. Berbeda dengan filsafat. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal.

Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. tentang yang benar dan yang salah. Cukup percaya saja. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Mereka lebih sering menafsirkan. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat. epistemologi. berusaha memahaminya. II. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . Berbeda dengan filsafat Barat. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. Kalau kita bicara tentang sistematika. filsafat Barat mutakhir. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan.Tuhan tentang rahasia semesta. kemudian mengamalkannya. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. tentang yang baik dan yang buruk. itu sudah sangat memadai bagi mitos. dan aksiologi. Quinne. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. bagaimana cara mendapatkannya. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan.

dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. when they are put to the test by spoken arguments. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. since only God is worthy to be called wise. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. we cannot give them the name of ‘wise’. namun filsafat bukanlah monopoli Barat.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. However. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. Pendeknya. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. Lao Tze. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. or legislators. dan bahkan beberapa lebih mendalam. but are worthy of a higher name. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. Pengertian kebenaran atau . dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’. befitting the serious pursuit of their life. are to be called not merely poets. apalagi dalam ilmu dan filsafat. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. orators. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat.

Kata wisdom. Intuisi. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. gairah. We have described awareness as the consciousness of life. Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. kemudian mengkajinya secara rasional.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. 8. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. Beck menyimpulkan: . to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya.kebijaksanaan di sini masih belum jelas. Perasaan. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. Kedua. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum.

Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan.“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. bukan hanya rasio. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. Untuk mencapai kebijaksanaan. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan.” Dalam pandangan Beck. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. tidak akan mencapai kebijaksanaan. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . Confucius. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. sistematis. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. para filsuf Hindu dan Islam. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good). Sidharta Gautama. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good). Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur.

Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Pada praktiknya.modifikasi. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. dan ada solusi bagi masalah itu. epistemologi. diskusi. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. The Teaching of Wisdom. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. adu argumentasi. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. ada masalah yang jelas. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. dan aksiologi. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Dalam pemikiran Cina misalnya. dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat.

III. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. lebih menyeluruh. yaitu orang Yahudi. Budhisme Chan. Budhisme. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. saya harus menunjuk ke India.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. seperti Hinduisme. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. Tetapi di akhir abad ke-20. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Daoisme. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. pemikiran Timur. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. . dari sumber tulisan manakah. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. lebih universal. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal.

S. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi. damai.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja..” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India. pada abad ini. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad. akan menaklukkan para penakluknya... Dengan . Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur. mungkin India yang telah ditaklukkan. “Di seluruh dunia. yang berarti Damai. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa. shantih..” Syair karangan T.. “Shantih. Tapi coba cermati India.. dia menulis sebagai berikut. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah. Arthur Schopenhauer misalnya. sekali lagi saya harus menunjuk ke India. Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut.. Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern.. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu..... Dengan berkiblat kepada Barat. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat. namun dalam abad ke-21.” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952.. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu... shantih.. Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku. Elliot yang berjudul The Waste Land. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan.. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi. damai.

Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. kita hanya mendapatkan . prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi. Pada titik-titik tertentu. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Padahal jika diruntut ke belakang. Di samping itu. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. dan akhirnya sama sekali lenyap. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). Seiring dengan perkembangan zaman. Kendati bukan pelopor. tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. lahir karena kebetulan. Lucunya lagi. Sebab. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. kematian kebenaran universal. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. Misalnya. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. kematian metafisika.kata lain. Semedi. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. Aristoteles. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. Makanya. Hasilnya. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. Makanya. dari Yoga. kematian cita humanisme universal.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. 4. yang dilihat bukan badannya saja. Modul III: Kehidupan 1. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. 5. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . meskipun samasama menunjuk kepada manusia." Apakah implikasinya? 6. Jika kita mengingat psikoanalisis. 4. seperti misalnya psikologi. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. yang juga menyelidiki manusia. 2. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. ringkaskanlah sifat dialektiknya. Modul II: Bahasa 1. Lalu. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya.

dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. 6. 4. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? . dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. terutama jika akhirnya tidak tampak. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Modul IV: Pengetahuan 1. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. Perpanjangan suatu situasi. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real.3. 4. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan. 3. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. bagi manusia merupakan penderitaan. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. 2.

apakah mereka saling mengandaikan? 4. 5. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Dalam hal ini. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? .4. 6. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. Untuk mencapai afektivitas. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. Sebutkanlah dan jelaskanlah. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. 3. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. 3. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. 5. apa sajakah itu? 5. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2.

8. 3. Mengapa. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Jelaskanlah mengapa. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. 7. 4. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. menurut Jean-Paul Sartre. Menurut penyelidikan Anda. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). menurut Kierkegaard. Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. seperti psikologi. Mengapa. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. 6. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. . Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. menurut Louis Leahy. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. 2. eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis.6.

Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Modul X: Sosialitas Manusia 1. akan menjadi permainan permainan. Apakah yang dibebaskan? 3. 5. Kalau "aku" tidak ada. berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. 3. Berikanlah contoh-contoh.10. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. lalu toh tetap ada dunia. 4. 2. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. 5. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel. Verifikasikanlah pernyataan ini." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. "Barang siapa mempermainkan permainan. Permainan Jelaskanlah. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain". Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. 2. Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil.

Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. jika manusia tidak bebas? 4. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. Menurut Anda. Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. Dalam konteks tersebut (no. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. 3. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. 5.2. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. 4. Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. Sebagai daya kebebasan. namun di lain pihak. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). 5).

dalam budaya patriarkat. Homo Economicus.. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1. perlu dilakukan penelanjangan esensi. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini. Dalam politik identitas. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2.) lagi. gairah. 5. 3. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . Carl Gustav Jung. Ahli psikologi. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Di manakah batasnya? Selanjutnya. Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4... Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda.. Homo Homini Lupus.. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. 5. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. . Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan.