P. 1
61058-1-967954451662a

61058-1-967954451662a

|Views: 224|Likes:
Published by muhammadalfan

More info:

Published by: muhammadalfan on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • FILSAFAT MANUSIA: SAMPUL
  • Filsafat Manusia
  • KATA PENGANTAR
  • Modul I
  • PENDAHULUAN
  • I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?
  • II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia
  • III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?
  • IV. Metode Filsafat Manusia
  • V. Objek Filsafat Manusia
  • VI. Nama Filsafat Manusia
  • VII. Ikhtisar
  • Modul II
  • BAHASA
  • II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan?
  • III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia
  • IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein
  • V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa
  • VI. Ikhtisar
  • Modul III
  • KEHIDUPAN
  • I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup
  • II. Manusia dan Badannya
  • III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani
  • IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia
  • V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?
  • VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya
  • Modul IV
  • PENGETAHUAN
  • I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia
  • II. Apakah Pengetahuan Itu?
  • III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?
  • IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal
  • V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi
  • Modul V
  • AFEKTIVITAS
  • I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia
  • II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif
  • III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia
  • IV. Kesenangan Harus Dicurigai?
  • V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia
  • Modul VI
  • PENGERTIAN
  • I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia
  • II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia
  • III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi
  • IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia
  • V. Objek Inteligensi Manusia
  • VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia
  • VII. Spesialisasi dan Bahayanya
  • VIII. Ikhtisar
  • Modul VII
  • KEBEBASAN
  • I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak
  • II. Aktualitas Ide Kebebasan
  • III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis
  • IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan
  • V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal
  • VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme
  • VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya
  • VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan
  • IX. Ikhtisar
  • Modul VIII
  • EKSISTENSIALISME
  • I. Apakah Eksistensialisme Itu?
  • II. Karl Jaspers
  • III. Jean-Paul Sartre
  • IV. Søren Aabye Kierkegaard
  • V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev
  • VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche
  • Modul IX
  • PERMAINAN
  • I. Apakah Permainan Itu?
  • II. Fungsi Permainan
  • III. Permainan dan Perlombaan
  • IV. Permainan dan Kebudayaan
  • V. Kritik atas Kebudayaan Modern
  • VI. Permainan dan Pembebasan
  • Modul X
  • SOSIALITAS MANUSIA
  • I. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain"
  • II. Aku Diadakan oleh Yang-Lain
  • III. Aku Mengadakan Yang-Lain
  • IV. Korelasi
  • V. Permasalahan & Pandangan-pandangan
  • Modul XI
  • HISTORISITAS MANUSIA
  • I. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme"
  • II. Arti Modern Istilah "Historisitas"
  • III. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas
  • IV. Ikhtisar
  • Modul XII
  • KEMATIAN MANUSIA
  • I. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia
  • II. Lahirnya Manusia
  • IV. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati
  • V. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"
  • Modul XIII
  • FILSAFAT FEMINISME
  • I. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang
  • II. Tubuh, Identitas, Penindasan, Perjuangan, dan Pembebasan Tubuh Perempuan
  • III. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek
  • IV. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?
  • V. Ikhtisar
  • FILSAFAT TIMUR
  • I. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?
  • II. Pemikiran Timur sebagai Filsafat
  • III. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?
  • LAMPIRAN I: SOAL-SOAL

F I L S A F AT M A N U S I A : S A M P U L

Manusia dalam wacana filosofis

Filsafat Manusia
Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

1

K ATA P E N G A N TA R

F

ilsafat Manusia merupakan suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, sistematis, radikal, dan kritis, dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Filsafat manusia sesungguhnya ingin menegaskan bahwa manusia selalu bergerak atau hidup bersama refleksi. Dalam refleksi itu, manusia kembali kepada diri sendiri dan kepada pengalaman dan keyakinan yang bersemi dalam hidup kesehariannya. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Filsafat Manusia ini diharapkan pula dapat membantu mahasiswa fakultas psikologi untuk berfilsafat tentang manusia, tidak hanya sekadar belajar filsafat manusia; dan dengan demikian melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri kita pada saat kita merefleksikan pengalaman kita sendiri. Sebelum berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, psikologi mula-mula merupakan bagian dari filsafat, karena psikologi dibicarakan oleh filsuf-filsuf yang mempunyai minat terhadap gejala psyche atau jiwa. Dalam perkembangannya, psikologi kemudian memisahkan diri dari filsafat. Aliran-aliran psikologi modern yang kemudian muncul adalah behaviorisme dengan tokohnya John Watson, Gestalt dengan tokohnya Max Wertheimer, psikologi humanistik dengan tokohnya Maslow, psikologi kognitif dengan tokohnya George Miller, dan psikoanalisis dengan tokohnya Sigmund Freud. Sekalipun demikian, perkembangan psikologi dari masa lampau hingga kini tetap tidak terlepas dari pengaruh filsafat, utamanya filsafat manusia. Dalam modul ini banyak dianalisis lebih lanjut tentang aktualitas filsafat manusia dalam perkembangan psikologi. Tugas seorang ahli ilmu psikologi lebih berupa bertanya bagaimana suatu realitas psikis berfungsi, secara konkret, bagaimana sesuatu melakukan kegiatan, menurut aturan-aturan atau hukum tertentu. Misalnya, ia akan mencari hasil-hasil yang dapat diukur, seperti IQ inteligensi. Ukuran semacam itu tidak selalu mungkin, namun si ahli psikologi cenderung untuk mencarinya. Dalam hal psikologi “tidak mampu lagi”, ia harus menyajikan perkataan kepada metafisika seperti filsafat manusia. Sempat dicatat oleh Louis Leahy (2002), misalnya, bahwa Abraham Maslow adalah filsuf sekaligus ahli ilmu psikologi, namun mungkin derajat filsafatnya kurang dibandingkan dengan kompetensinya sebagai ahli psikologi. Menurut hemat saya, kemungkinan-kemungkinan semacam ini patut dipertimbangkan oleh seluruh mahasiswa fakultas psikologi, sarjana psikologi, dan psikolog. Modul Filsafat Manusia ini terdiri dari 14 (empat belas) bagian tematik. Modul ini pertama kali dipergunakan dalam Perkuliahan Kelas Karyawan Fakultas Psikologi Mercu Buana Angkatan Kedua Tahun 2009, dalam hal mana Satuan Acara Perkuliahan (SAP)nya sempat saya susun sendiri (lihat Lampiran II modul ini). Tujuan umum dan tujuan khusus tiap-tiap modul tematik terdapat dalam SAP terlampir. Selaku dosen mata kuliah dan penyusun modul ini, berdasarkan penelusuran dan penyelidikan yang cukup intensif dan ekstensif, menurut hemat saya, bila harus menentukan satu literatur dalam bentuk buku berbahasa Indonesia sebagai acuan utama (tanpa bermaksud untuk menjadi simplistis) bagi mahasiswa fakultas psikologi, maka sampai dengan saat ini di tanah airnya nampaknya belum ada literatur yang mampu mendekati dalam hal kualitas uraiannya seperti karangan filsuf Prof. Dr. Louis Leahy, S.J., yang berjudul Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia (Penerbit Kanisius, 2001). Pemikiran Louis Leahy tentang manusia sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Sebagai seorang pemikir, Leahy dan pandangan-pandangannya masih dipengaruhi oleh pola pemikiran para pemikir sebelumnya.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

2

Louis Leahy seringkali mengutip pemikiran-pemikiran para filsuf dan teoris sebelumnya sebagai dasar pemikirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Louis Leahy sebenarnya berusaha membangun filsafatnya di atas teori-teori atau di atas pemikiranpemikiran yang sudah ada sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti Louis Leahy mengambil alih begitu saja pemikiran para filsuf yang lain. Sebagai seorang pemikir, Leahy juga mempunyai posisi pemikiran sendiri. Dalam banyak hal ia memang mendasarkan pemikirannya pada gagasan para filsuf yang lain, namun dia juga tidak jarang mengkritik pendapat dan gagasan para pemikir yang lain. Menurut saya, Louis Leahy merupakan seorang pemikir yang tidak berat sebelah dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang melingkupi manusia. Hal itu terlihat dari sikap Louis Leahy yang tidak begitu saja menyetujui satu pendapat dan melawan pendapat yang lain. Sebaliknya, dalam menyikapi pelbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan manusia, Louis Leahy senantiasa berusaha meletakkan dirinya dalam posisi yang seimbang. Dalam menanggapi soal-soal tentang manusia, Louis Leahy sama sekali tidak mendasarkan diri pada teori-teori yang melangit dan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Melainkan, Louis Leahy berusaha memberi tanggapan yang praktis berdasarkan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Sehingga tanggapan-tanggapan yang dilontarkan dapat dengan mudah dicerna oleh semua orang. Selain itu, karena dasar pemikiran Louis Leahy terutama adalah pengalaman hidup manusia, maka pemikiran Leahy menjadi sesuatu yang konkret. Hal-hal ini sangat penting bagi mahasiswa fakultas psikologi yang tengah mempelajari filsafat manusia.

Walaupun telah berupaya, saya menyadari bahwa tidak semua tema dalam tiap-tiap modul dapat terbahas tuntas. Melalui modul ini saya berupaya mengelaborasi lebih dalam serta lebih luas lagi pokok-pokok yang disajikan Louis Leahy dalam bukunya, minimal dalam parafrase; menambahkan tema-tema, seperti: permainan, filsafat feminisme, dan filsafat timur; serta mengembangkan secara serius sejumlah angle pemikiran tertentu yang dirasa urgen dalam situasi dunia dewasa ini, untuk semakin memperkaya perspektif kajian. Kendati demikian, apabila kita ingin mendalami pemikiran para filsuf tentang manusia, mesti tiba waktunya di mana kita tidak puas lagi dengan hanya membaca tentang para mereka dan pemikirannya. Kita ingin membaca tulisan para filsuf itu sendiri. Berhadapan dengan tulisan mereka sendiri, baru dapat kita rasakan gaya dan nada khas mereka. Kita juga akan mengerti bahwa rangkuman terbaik pun yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan ungkapan para pemikir itu sendiri. Oleh karena itu, selaku partner belajar, saya menganjurkan dengan kuat kepada para mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menjalani perkuliahan filsafat manusia untuk melakukan eksplorasi, investigasi, dan analisis yang mendalam terhadap sebanyak mungkin teks-teks filsafat manusia dalam 14 (empat belas) kali tatap muka yang terbatas ini dalam suatu model proses pemecahan masalah bersama. Saya berterimakasih secara khusus kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Psi., atas kesempatan, motivasi, sikap-sikap yang membesarkan hati, serta kepemimpinan yang beliau berikan kepada saya, tidak saja yang berkaitan dengan perkuliahan filsafat manusia tetapi juga sejak saya mulai berkarya di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Untuk itu, saya berhutang budi pada beliau. Beberapa revisi yang tengah direncanakan adalah revisi atas soal-soal di akhir modul untuk memperkaya pemahaman. Soal-soal analisis akan jauh lebih diperbanyak. Di samping itu, saya memikirkan untuk membuat peta gagasan (mind map) terhadap seluruh isi modul ini sebagai semacam pegangan dan pemandu jalan, utamanya bagi yang baru pertama kali berkenalan dengan filsafat manusia. Ilustrasi-ilustrasi yang sudah ada pada modul kali ini akan pula ditambahkan. Segenap tegur sapa dan sumbang saran dari pembaca senantiasa saya nantikan dengan tangan terbuka. Selamat berfilsafat! Jakarta, Maret 2009 Juneman, S.Psi., C.W.P.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

3

D AF TAR I S I

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………. 2

FILSAFAT MANUSIA: Sampul..............................................................1 Filsafat Manusia.................................................................................1 Kata Pengantar..................................................................................2 Daftar Isi............................................................................................4 ..........................................................................................................7 Modul I........................................................................................7 Pendahuluan......................................................................................8 I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia?................................................8 II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia.....................................9 III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia?.........................................................................11 IV. Metode Filsafat Manusia..........................................................12 V. Objek Filsafat Manusia..............................................................16 VI. Nama Filsafat Manusia.............................................................17 VII. Ikhtisar....................................................................................17 Modul II.....................................................................................21 Bahasa.............................................................................................22 I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?...................................................................22 II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? ......................................................................................................24 III. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia.........................................................................................28 IV. Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein.....30 V. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis............................................................................33 VI. Ikhtisar.....................................................................................36 Modul III....................................................................................39 Kehidupan........................................................................................40 I. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup....................................40 II. Manusia dan Badannya.............................................................41 III. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani...................................................................................48 IV. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia.........................51 V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real?...........................55 VI. Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya.................59 VII. Ikhtisar....................................................................................60 Modul IV....................................................................................62 Pengetahuan....................................................................................63 I. Kompleksitas Pengetahuan Manusia..........................................63 II. Apakah Pengetahuan Itu?.........................................................68
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

4

III. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan?................................70 IV. Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal.......................................................................................72 V. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi............................................73 Modul V.....................................................................................80 Afektivitas........................................................................................81 I. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia......................81 II. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif................84 III. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia.........................................86 IV. Kesenangan Harus Dicurigai?..................................................87 V. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia.........................................................................................88 Modul VI....................................................................................94 Pengertian........................................................................................95 I. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia.........................................95 II. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia...........................99 III. Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi................................100 IV. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia..................................102 V. Objek Inteligensi Manusia.......................................................105 VI. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia............107 VII. Spesialisasi dan Bahayanya..................................................111 VIII. Ikhtisar.................................................................................113 Modul VII.................................................................................116 Kebebasan.....................................................................................117 I. Objek, Watak Kodrati, dan Keaslian Kehendak........................117 II. Aktualitas Ide Kebebasan........................................................120 III. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik, Moral, dan Psikologis ....................................................................................................122 IV. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan. 127 V. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal......................132 VI. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme............133 VII. Determinisme dan Ketidakkoherenannya.............................143 VIII. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan..................143 IX. Ikhtisar ..................................................................................148 Modul VIII................................................................................150 Eksistensialisme.............................................................................151 I. Apakah Eksistensialisme Itu?...................................................151 II. Karl Jaspers.............................................................................151 III. Jean-Paul Sartre.....................................................................160 IV. Søren Aabye Kierkegaard......................................................166 V. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev.........................................173 VI. Friedrich Wilhelm Nietzsche..................................................177 VII. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse...183 VIII. Ikhtisar.................................................................................191 Modul IX..................................................................................193 Permainan......................................................................................194 I. Apakah Permainan Itu?............................................................194
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

5

........................ Fungsi Permainan.......... Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia................. Aku Diadakan oleh Yang-Lain..................... Ikhtisar......................................................................................... Aku Mengadakan Yang-Lain..................................................208 II......................................265 Modul IX...............................249 Filsafat Feminisme......... Kritik atas Kebudayaan Modern........................234 Kematian Manusia........250 I...........................239 IV............ Permainan dan Perlombaan...........235 I.......... S..........................211 IV.............................................................198 V.......219 Historisitas Manusia.................................................. dan Pembebasan Tubuh Perempuan................ 6 ........... Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat?..........................................259 IV...... Permainan dan Pembebasan...... Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya"................................................. Ikhtisar.........246 VI.......232 Modul XII.................................... Pemikiran Timur sebagai Filsafat................................................... Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa?........... Ikhtisar..............................................................................................................................................................................201 VII................................203 Modul X....................247 Modul XIII.......................................................................197 IV....................................................212 V....................II...........................................................................................................................................266 I..285 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman........ Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan?...228 IV.................. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas...................241 V............................................265 Filsafat Timur.................................. Penindasan.................................. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" 220 II...............................196 III......................200 VI..................272 III.........226 III..................................208 I...............................................................................................................250 II....................... Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana........... Identitas.................... Ikhtisar .....................................................................................................................................................212 VI..............................................207 Sosialitas Manusia.....253 III............261 V........................................... Jiwa Manusia Bersifat Kekal)..........................263 M.............................................. Korelasi...........................................235 II......... Permainan dan Kebudayaan. Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain".................... Tubuh........................................................................237 III.........................220 I.................277 Lampiran I: Soal-soal...............................................266 II................ Ikhtisar.................. Perjuangan.............217 Modul XI...............................210 III............. Arti Modern Istilah "Historisitas" ............. Lahirnya Manusia............................................. Permasalahan & Pandangan-pandangan................ Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang ......................................... Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek.................................... Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati.........................Psi.............

Pendahuluan
Modul I

Sub Materi:
• • Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Metode Filsafat Manusia Objek Filsafat Manusia Nama Filsafat Manusia Ikhtisar

• • • •

Juneman, S.Psi., C.W.P.
juneman@gmail.com

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta, 2008

Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

7

PENDAHULUAN

I. Mengapa Suatu Filsafat Manusia? Dewasa ini makin luas pengetahuan mengenai manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyekproyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodissistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan halhal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmuilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia. Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret. Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

8

II. Kesulitan dan Perlunya Filsafat Manusia Sebagaimana tergambar sebelumnya, filsafat manusia adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan: Siapakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya. dualisme Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 9

suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut melainkan ajarannya organisme. sebagai materialisme, bahwa Ia menyatakan

manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi akuengkau. Sebagaimana kita lihat sepintas di atas, apa yang dikatakan oleh para filsuf hingga kini tentang manusia tidaklah tanpa menimbulkan keragu-raguan. Mereka telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling bertentangan, malahan di antara mereka itu telah melakukan banyak ”kesalahan” yang mengecewakan. Namun demikian, pertentangan-pertentangan ini dapat bermanfaat, asalkan saja orang mampu mengatasinya dan menemukan titik-titik
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

10

pandangan yang mendamaikannya: itulah salah satu tugas filsafat. Adapun ”kesalahan-kesalahan” para filsuf tidaklah begitu kasar seperti yang digambarkan oleh pengetahuan dangkal tentang sejarah filsafat. Bagaimanapun juga, kebanyakan telah dinuansakan, atau dikoreksi satu demi satu, sepanjang abad, oleh para filsuf yang lebih mendalam atau lebih cemerlang pengetahuannya daripada mereka yang dituduh ”bersalah tadi”. Sedemikian sehingga filsafat, seperti halnya dengan ilmuilmu pengetahuan lain serta sejarah, setapak demi setapak mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya, dan dari zaman ke zaman dapat mencapai suatu pengertian tentang manusia dan dunia yang selalu menjadi lebih berbobot dan mendalam. Alangkah sayangnya kalau orang tidak mau menerima pandangan-pandangan yang begitu banyak dan mendalam sekali, tentang manusia, yang tak henti-hentinya dikemukakan oleh para filsuf sejak zaman Plato dan Aristoteles, sampai MerleauPonty, Roicoeur, Heidegger, Lévinas, Marcel, Derrida, dan lain-lain.

III. Apa yang Membedakan Filsafat Manusia dari Ilmu-ilmu Lain tentang Manusia? Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropobiologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejalagejala itu dengan lebih dangkal. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri. Memang, jikalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu positif, filsafat manusia hampir tidak —atau mungkin samasekali tidak— memberikan informasi baru tentang manusia. Yang diberikan ialah insight yang radikal dan mutlak mengenai hakikat manusia sehingga semua data positif menerima kerangka dan latar belakang yang kukuh. Justru pemahaman sendiri itu lebih mendalam.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

11

Data-data positif dari ilmu-ilmu manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmuilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soalsoal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpulsimpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada ilmu-ilmu positif tentang halhal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, ilmu-ilmu itu berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

IV. Metode Filsafat Manusia Filsafat manusia tidak mampu menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Hanya berusaha memberikan insight radikal mengenai fenomen-fenomen. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya. Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret. Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Metode Kritis (Negatif)
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

12

Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsurunsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan. Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahanpemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis) Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic). Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri. Metode Fenomenologis Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab 13 fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:

a. Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan
spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.

b. Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang
dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas. Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami. Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis. Metode (Metafisik-) Transendental Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi. Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi. 14

hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”. Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan. Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan. Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis. Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena janganjangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin. Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keteranganketerangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

15

malu. semua pengertian. sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. noumenon berasal dari kata kerja noeoo (berpikir). Phainomenon berasal dari kata Yunani phainomai. Dengan jalan ini. untuk mencapai insight yang lebih mendalam. cinta kasih. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa. Namun. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. Penyelidikan demikian hanya bersifat ”regional”. bekerja. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahanpemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkupi semua sifat.Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche. objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian. semua gejala atau fenomena manusiawi merupakan objek material. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja. rasa takut. seperti misalnya berjalan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. Dengan demikian. Inti yang bersifat tetap dan mutlak itu disebut numin. Bukan berupa sifat atau gejala saja. yaitu sejauh ia serupa dengan hal atau makhluk bukan manusiawi lain. melainkan bermaksud menerobos mereka sampai pada dasarnya. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena itu. biologis saja. Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. semua kegiatan. kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari. yang berarti ”menampak”. V. S. b. Hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek: a. 16 . misalnya pada taraf biokimia. yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. Objek Filsafat Manusia Bagi filsafat manusia. dan berarti ”yang dipikirkan”. Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. Di bawah dan di dalam gejala yang beraneka warna dan yang berubah-ubah itu dicari akar-akar yang memungkinkan keanekaan dan perubahan itu. dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini. Semuanya perlu dipandang sebagai satu keseluruhan.Psi.

entah ”antropologi metafisik” agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan. dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. VI. Nama Filsafat Manusia Sampai baru-baru ini. Semua aspeknya perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia. Nama ini menimbulkan keberatan. VII. berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar dan hakiki dari pelbagai kenyataan yang tampil Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia. tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja. Objek filsafat manusia terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. 17 . S. turunan. Ikhtisar Filsafat adalah cara atau metode pemikiran yang tertib. masing-masing filsuf juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain. terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam.Psi. maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. dengan segala sudutnya. juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret. Jadi. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. atau ”psikologi metafisis”. Memang. sebagai ”aku”. dan sebagainya. Maka perlu diberi penjelasan tambahan. dan segala unsurnya ditinjau sekadar manusiawi. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum. Seorang filsuf terutama memikirkan kenyataannya sendiri. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok. Akan tetapi. yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. misalnya menurut aspek budaya. Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya. dan sekadar diresapi dengan berada-manusia itu. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif. maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”. sejauh berhubungan dengan inti sari manusia. yaitu keunikan dan kesendiriannya. nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif.Seluruh manusia harus dipandang sekadar manusia.

tentang dunia.Psi. Membentuk dan mengerjakan suatu sistem filsafat manusia merupakan usaha yang sulit dan berat. dan sebagainya. sosiologi. Alasan kedua adalah karena adanya kontroversi-kontroversi atau pertentangan-pertentangan solusi para pemikir dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Filsafat manusia mempunyai karakter yang lebih fundamental dan ontologis.di muka kita. antropologi. kemampuannya dan cita-citanya. Alasannya adalah karena. 18 . menganal hakekat sifat dirinya. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia berdaya-upaya untuk menemukan hukum-hukum perbuatan manusia. Sosiologi akan melihat manusia dalam kaitannya dengan segi sosialitas manusia. tentang makna kebebasan dan mencintai. sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi atau sejauh perbuatan itu dapat menjadi objek introspeksinya. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia hanya mempelajari manusia secara partial berdasarkan ruang gerak dan tujuan yang ingin mereka capai. Alasan yang ketiga adalah karena hakekat manusia sebagai pribadi. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan akal budi. Pertama-tama adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanya. mampu menyelidiki segala hal secara mendalam. Psikologi akan menyoroti manusia berdasarkan aspek jiwanya. manusia dan Tuhan. dan sebagainya. Filsafat manusia sebagai salah satu cabang filsafat mencoba mengupas secara mendalam arti menjadi manusia. Misalnya. dan sudut pandangnya lebih luas dan lebih mempersatukan serta lebih global. yang sampai batas-batas tertentu. Alasan kedua adalah karena hakekat manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Manusia mempunyai harga diri dan kehormatan yang membuatnya menolak untuk diperlakukan sebagai binatang atau benda. Manusia memikirkan dan mempertanyakan segala hal. semakin banyak bermunculan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang mencoba mendekati manusia dari sudut pandangnya sendiri. Antropologi filosofis (Philosophical anthropology) secara harafiah berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia. waktu. Filsafat manusia dalam arti ini berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. Modul ini memberikan beberapa pendasaran yang dapat membawa kita untuk memperhatikan filsafat manusia. Filsafat manusia berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia karena dia berusaha mengarahkan penyelidikan dan refleksinya pada segi yang lebih mendalam dari pribadi manusia. Filsafat mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat kehidupan dan kegiatan manusia. S. etnologi. Manusia mempunyai tugas untuk mengenal dirinya sendiri. Biologi hanya akan menggeluti manusia dari aspek biologisnya saja. psikologi. seperti biologi. alam semesta. terutama pada masa kini.

sebaliknya filsafatlah yang mengemukakan dan mengupas persoalan-persoalan itu. Namun demikian kita masih perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah makhluk itu? Apa arti keseluruhan aspek yang membentuk pribadi manusia itu? Apa yang membentuk kesatuan pribadi manusia? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini? Bagaimanakah struktur esensial manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak muncul dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. digambar. melihat manusia sebagai makhluk ilahi. yang sering kali menjadi faktor utama munculnya kekurangpercayaan manusia pada disiplin filsafat manusia. atau terdiri dari campuran dua bahan yang masing-masing dapat digambarkan dan diletakkan secara terpisah. yaitu sesuatu “yang oleh karenanya”.memberikan jawaban atas hakekat pribadi manusia. Marcel dan Buber memberi penegasan lain. 19 . Descartes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari campuran dua bahan. lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. tanpa konsistensi pribadi dari substansi Ilahi. Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang jahat (homo homini lupus). Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia memberi gambaran kepada kita mengenai aspekaspek manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Artinya adalah bahwa apa yang ingin dikatakan dan dimengerti oleh filsafat manusia ialah bukan bentuk fisiknya yang dapat diamati.Psi. Sedangkan obyek formal filsafat manusia adalah inti manusia. sedangkan Rousseau berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang secara kodrati baik. alam kodratnya. alasan adanya (principe d’etre). yang tanpa itu manusia tidak dapat dipikirkan. S. Filsafat manusia. Misalnya Plato berpendapat bahwa hidup manusia sudah ada dalam dunia abadi atau dunia idea sebelum eksistensinya di dunia ini. strukturnya yang fundamental. namun masih tetap ada kemungkinan untuk berfilsafat tentang manusia. Tetapi itu merupakan pengakuan bahwa manusia itu ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah material dan dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sebagaimana juga ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia. melainkan struktur metafisiknya. yaitu badan dan jiwa. mengambil manusia sebagai obyek material. diukur. Jadi kalau filsafat mengatakan bahwa manusia terdiri dari badan dan jiwa. misalnya. itu tidak berarti bahwa manusia seakan-akan terdiri dari dua hal yang dihubungkan. juga bukan bagian ini atau fungsi itu dari bentuk fisik ini. Spinoza menegaskan bahwa eksistensi manusia itu hanyalah suatu bayangan. Perbedaan-perbedaan itu juga muncul akibat perbedaan cara para pemikir dalam menggambarkan eksistensi manusia di dunia. yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang punya nilai unik. Meskipun muncul banyak perbedaan dari para pemikir dalam memandang dan menggambarkan manusia. sebaliknya bagi Epicuros manusia adalah makhluk hidup yang berumur pendek. dibayangkan. Plato.

Aristoteles menyebut metafisika dengan filsafat pertama. dan metode metafisik. metode filsafat adalah bersifat refleksif. Kata “fisis” di dalam konteks pembahasan kita berarti seluruh dunia pengalaman ragawi sejauh ia tunduk kepada alam. Oleh karena itulah seringkali filsafat disebut sebagai bersifat meradikalisasikan. dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan “after the things of nature”). eidetik. yaitu ia tunduk pada proses menjadi atau “dilahirkan” dengan cara tertentu. melainkan berusaha mengerti dan mengatakan bagaimana sesuatu itu harus dikonsepsikan sehingga ia inteligibel. tidak dapat berubah dan sedikit banyak bersifat rohani. Kata Metafisika berasal dari bahasa Yunani ”meta ta physika” (sesudah fisika. induktif. Metafisika membahas mengenai natura atau kodrat yang ada dalam dirinya sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Metode yang dipakai oleh filsafat selalu bersifat dialektik. 20 . fenomenologis. Maka istilah metafisis berarti apa yang secara hakiki tidak dapat dialami oleh pancaindra. serta ada sesuatu “yang oleh karenanya” dia adalah makhluk yang hidup dan berpikiran. abstraktif.binasa. dengan apa yang melampaui yang “fisis”. Ia menggunakan istilah ”pertama” karena menurut Aristoteles metafisika merupakan pengenalan mengenai yang mendasar tentang realitas. Sifat khas yang membedakan filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan adalah bahwa filsafat mempertanyakan “yang oleh karenanya” secara fundamental. Filsafat tidak berhenti pada sikap bertanya itu. yang dapat ditangkap oleh pancaindra. namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Metafisika bergelut dengan yang “metafisis”. Pada dasarnya filsafat itu bersifat interogatif. Objek matafisika adalah ada sejauh ada dengan segala atribut yang menyertainya. Disebut metode metafisik karena filsafat tidak bermaksud mencari struktur esensial apa yang fisik. dengan aspek-aspek yang fundamental dari kenyataan. S. kita tahu dalam perkembangan sejarah pemikiran. Tetapi apa yang disebut metafisis di sini bukan berarti tidak dapat diketahui. atau juga.Psi.

C. S.. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.B a h a s a Modul II Sub Materi: • Mengapa Mulai dengan Perbuatan Berbicara? Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Ikhtisar • • • • • Juneman.Psi. juneman@gmail.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W. 21 .P.

Apabila di dalam praktik bahasa. wartawan. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara? Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal. rantai penandaan terputus. dan sebagainya). penulis. tak-sadar rantai menghubungkan semiotika. psikoanalis Lacan. sehingga menghasilkan Jacques Lacan sebagai ”bahasa skizofrenia”—salah dominan posmodernisme. dengan bahasa. pengacara. cara tetapi struktural ini. yang Jacques menurut tertentu. bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. Para hakim. kelupaan akan nama. Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan keteraturan Dengan Perancis. jaksa. di toko. di kantor. penyiar radio-televisi.Psi.BAHASA I. berbicara adalah suatu gejala yang terang. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. membeli tahu-tempe di pasar. Pertama. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. di bengkel. Dalam perspektif bahasa adalah penandaan. dsb. dosen. perancang iklan. maka terjadi gangguan apa yang satu dalam disebut bahasa 22 proses reproduksi bahasa. mengisi teka-teki silang di kamar penjara. Bahasa meluber di tempat kita bekerja. Nampaknya. atau di mal-mal. . semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas. S. memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. belajar di bangku kuliah. keseleo lidah. Berdebat di ruang pengadilan.

Inilah kekuatan bahasa. Husserl. 1996): Pertama. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. dan Carnap. Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat. pada periode Frege. Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat. mendengarkan. Kedua. kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah ”logos” itu (van Peursen).Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. kata ataupun susunan. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan. S. terdapat tahapan evolusi yang luas. aspek-aspek dunia terungkap. Wittgenstein awal. bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto. seseorang dapat menggerakkan dunia. kekuatan kata-kata. selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. dan representasi. inti sesuatu hal. terpantul dalam pergeseran pemikiran Wittgenstein. Kedua. artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun. 23 . Maka itu. tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain. misalnya dalam bentuk penilaian.” kata Joseph Conrad (Brussell. berhubung dengan bahasa bersifat simbolis. Bahkan. karenanya menyesuaikan diri. bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. ”Melalui ’kata dan logat yang tepat’. dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti.” (Langer). 1988). pernyataan. dalam kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. susunan alam raya). menurut Gadamer. ”Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya. the power of words. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. Bahasa.Psi. cerita. inilah yang membedakan manusia dengan binatang. para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). sejak dahulu. akal budi) dan logos di dalam dunia (arti. Di dalam bahasa.

Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan? Manusia adalah homo semioticus.R. dan poetika. retorika. Ketiga. misalnya. tersangkut badan dan jiwa. Ketiga. Bagi Wittgenstein-tua.an. yaitu segi ekspresi dan segi isi. sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. hermeneutika. dikaji ulang hakikat dan fungsinya. yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act). Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika. maka suatu kata memperoleh arti dan makna. dalam perbuatan berbicara. Di dalam Speech Acts. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata. tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act). contohnya. pancaindera. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi. dan post-strukturalisme. dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). the act of doing something. Grice. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika. dan roh. ”Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. yaitu manusia secara konkret. bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. J. seluruh pribadi manusia itu. sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Searle). maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus. bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka ”bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain. yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. S. Secara berturut-turut.Psi. sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri. ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something. Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani. strukturalisme. dalam kategori ”speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin. semeion yang berarti ”tanda” atau seme yang berarti ”penafsir tanda”. Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya. II. asap menandai adanya api. Substansi adalah kata atau ungkapannya. dan the act of affecting something. menurut van Zoest (1993). Selain itu. 24 . yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya. Tergambar jelas dari uraian ini. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara.

manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti. merupakan khazanah pengetahuan insani. Keselamatan kita. Perpustakaan. kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. jika disandingkan. Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus. dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya. kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. kata. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. animal simbolicum.Psi. sebagai ”hewan sosial”. yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. r. 25 . ia memperoleh sebutan baru. misalnya. Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi ”tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda.Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa. terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam. maka huruf. Maka itu. S adalah untuk semiotic relation. c). Dalam penelitian sastra. sehingga bagi Cassirer. namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat. dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. dan c untuk context atau conditions. i. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. r untuk reference. Jelas bahwa perbedaan “animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika. S. e. Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja. sehingga dengan memperoleh sistem simbolis. e untuk effect. kalimat. i untuk interpreter. Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan. wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. Perhatikan rumusan berikut: S (s. apalagi teori evolusi menganggap sebutan “animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan.

26 . J. Isinya antara lain berjudul “Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan). agaknya berkembang memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. “Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.” Samuel Johnson mengatakan. namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. S. dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya. kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa. tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama.” Bila kita untuk membandingkan bahasa dan nalar. ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language.J. wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah ”bicara pada diri sendiri”. kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa ”sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy). Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut. Masing-masing merupakan produk biologis. dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah ”semua yang telah disebutkan itu. Bahasa terkait erat dengan proses nalar. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa. Max Müler lebih jauh lagi. (2) pikiran adalah bahasa.” Dengan istilah teknis dan filosofis. biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan. ”Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia. kita harus berpikir. dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan. tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar. Agar bisa bernalar. ”Bahasa adalah busana pikiran. atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darahdaging pikiran (the stuff of thought). ”Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought).Psi. Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban. No Language without Reason. yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain. di mana Müler menegaskan. namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya. dan (3) bahasa tergantung pada pikiran.Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi.

lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. Definisi yang bersifat bilangan memungkinkan kita merasa pasti mengenai arti ujaran seperti ”dua tambah tiga samadengan lima”. Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling. dan abadi.adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound). samasekali tidak jelas begitu saja.Psi. tetapi kesan pasti ini menyesatkan. sekalipun sangat menyederhanakan. dan definisi arti. apakah arti kata-kata seperti ”benar” dan ”salah”? Ujaran tentang dunia bendawi tentu saja bisa benar (seperti ”Es menutupi Kutub Selatan”) atau salah (seperti ”Kanada terletak di Khatulistiwa”). lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. jadi bukan pikiran bukan juga bunyi. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap ”arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran.” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. semiotika. Hilary Putnam mengatakan dengan cara yang meyakinkan bahwa kebudayaan kita Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. 27 . sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. John Locke menganggap katakata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran. kalimat ”berarti” pikiran yang ditimbulkannya. hermeneutika. tetapi kata (word). tetapi diluar sistem matematika yang bersifat khusus dan taat-asas. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif. Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa. dan filsafat analitis. Pendapat bahwa ”arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna. dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. Beberapa pertanyaan selanjutnya yang serta-merta muncul adalah bagaimana pikiran memperoleh arti. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn. tetapi terkadang tidak. “Tiada pikiran tanpa wicara (speech). dan apakah arti suatu pikiran? Dalam kajian filsafat. strukturalisme. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa. seperti misalnya. S. dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya. sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah. kaitan pikiran dan kata. ”Benar” dan ”salah” melantunkan arti yang universal. Pikiran akan menimbulkan kalimat. ”Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya. yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. tetap.

”Bir lebih enak daripada anggur. tetapi tidak ada bahasa yang tahan terhadap hantaman filsafat. Jauhnya jarak ke sumber makanan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. masih lebih besar lagi pengaruh yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat tidak taat-asas. Bahwa ”kebenaran” hanya berarti ”beyond reasonable doubt”.menentukan apa yang kita anggap benar dan salah. Benjamin Lee Whorf telah mengajukan suatu teori tentang relativitas linguistik. ”Dengan demikian kita diperkenalkan dengan suatu kaidah relativitas baru.Psi. dan bunyi keterangan di balik kertas itu persis sama dengan pesan tersebut? Barangkali para filsuf sedang membebani bahasa jauh lebih daripada kemampuannya sehingga bahasa patah persis seperti semua piranti lain yang dipaksa terlalu keras. karena lingkungan dan sikap membentuk serba patokan apakah suatu ujaran diterima atau ditolak. antara matahari dan arah sumber makanan itu terletak. S. Banyak bahasa berhasil memenuhi keperluan seni dan sains tanpa kesulitan.” atau bahwa.” Jika tafsiran atas peristiwa-peristiwa bendawi bisa dipengaruhi oleh bahasa. apakah arti yang terkandung dalam suatu pesan yang tertera pada secarik kertas yang mengatakan bahwa keterangan di balik kertas itu bohong. Jika beberapa ujaran tidak mungkin dikatakan sebagai ”benar” dalam pengertian ”beyond reasonable doubt” – kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ”benar” dan ”salah” tidak punya arti. Ia menekankan keberagaman isi konseptual dalam bermacam-macam bahasa dan menyarankan bahwa keberagaman itu timbul akibat ciri-ciri kebudayaan. dan mengakui keterbatasannya. Sebagai contoh. Lebah memberitahu sesamanya bahwa sari madu telah ditemukan dengan menari pada sudut tertentu dari atas ke sudut lain. Benarkah bahwa. ”Kebenaran” terbukti” telah menjadi wawasan yang sangat berguna dalam penelitian sains terhadap kodrat alam. ”Bach lebih hebat daripada Beethoven sebagai komponis?” Jika digunakan terhadap pernyataan seperti ini. 28 . kecuali jika latarbelakang linguistik mereka serupa. III. Para sarjana bahasa memeriksa bagaimana bahasa diperhalus dan diperindah agar mampu memainkan peran yang sangat khusus dan penting. Penyelidikan bersifat intelektual yang cerdik atas bahasa menyingkapkan banyak ke-tak-cocok-an (inconsistencies) dan ke-takrapi-an (incoherencies) dalam penggunaanya. wawasan ”benar” dan ”salah” tampak tidak berdaya. Kita hanya harus hati-hati menafsirkan kata. bahwa semua pengamat tidak dibimbing oleh kenyataan bendawi yang sama ke gambaran semesta yang sama. Berbicara dan Mengisyaratkan Menunjukkan Keunggulan Manusia Masa Evolusioner Bahasa. itu samasekali tidak mengurangi nilainya.

Bila elang mengancam dari atas. 29 . pertanda semakin melimpah sumber makanan yang ditemukan).” Pinker berpendapat. Bahasa manusia berbeda samasekali.. lebah bisa menghitung penyesuaian dengan informasi yang dikomunikasikan. Sistem penggabungan yang tersirat di dalam bahasa. Bahasa manusia memungkinkan jumlah informasi yang siap disampaikan meningkat luar biasa yang menopang kegiatan intelektual pada umumnya dan khususnya kemampuan nalar. Dalam analisis mereka yang mendalam atas serba perbedaan antara komunikasi binatang dan komunikasi manusia. Berbagai rombongan lebah mengembangkan perbedaan-perbedaan kecil pada tarian mereka.Psi. S. lebah akan membuat perubahan yang perlu pada sudut tarian untuk menyesuaikan letak matahari – yang tak bisa mereka lihat – sesuai dengan waktu. Ciri penting lain bahasa manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan. David dan Ann Premack menekankan pentingnya bertanya. yang bernama ”tatabahasa” membuat bahasa manusia itu tak terbatas (tak terhitung jumlah kata-kata atau kalimat rumit dalam suatu bahasa). teriakan jenis lain terdengar untuk menyuruh kelompok memanjat. Kita tidak menyadari kemampuan khusus kita memerikan abstraksi – seperti ”besok” – padahal abstraksi semacam itu hanya mungkin berkat bahasa. Bila pemangsa terlihat di tanah. Suatu lambang menjadi bahasa jika penggunanya dapat ditanya mengenai lambang itu. Binatang mengirim informasi dengan lambang (codes) yang punya ”kaitan antara tindakan tertentu pada pengirim dan beberapa hal di dunia. tanda analog yang berkepanjangan untuk menunjukkan gawatnya situasi (semakin gencar tari lebah. tatabahasa merupakan ciri unik bahasa manusia yang betulbetul membedakannya dari komunikasi pada binatang: Bahasa jelas berbeda dengan sistem komunikasi binatang seperti belalai gajah dari hidung binatang lain. satu jenis untuk mendaku wilayah kekuasaan. bersifat digital (jumlah yang tak terhitung itu timbul akibat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sistem komunikasi bukan-manusia berdasarkan satu dari tiga rancang-bangun: sejumlah terbatas jenis teriakan (satu jenis untuk mengingatkan bahaya pemangsa. atau beragam perbedaan dalam satu lambang (kicau burung yang berulang-ulang tapi setiap kali dengan cengkok baru). Jika langit mendung ketika kembali dari melanja. Kendati susunan sarafnya boleh disebut bersahaja. dan sebagainya). yang disebut ”dialek” oleh mereka yang menyamakan komunikasi serangga dengan bahasa manusia. Binatang lain bisa juga menyampaikan informasi yang teliti – bekantan punya teriakan khusus untuk menyatakan tanda bahaya yang menuntut jawaban kelompok yang berbeda-beda.. terdengar suara khusus menyuruh kelompok turun dari pohon.ditunjukkan dengan seberapa hebat goyangan lebah pada bagian perut.

seperti dikatakan oleh Wittgenstein sendiri.Psi. Kedua buku ini gaya secara esensial tidak saja. 2.berulangnya susunan atau penggabungan unsur-unsur yang terkandung dalam bahasa dengan urutan yang senantiasa berbeda. dengan buku yang kedua mau membuat koreksi terhadap buku pertama. hanya berbeda dalam filosofisnya Wittgenstein sendiri. dan bersifat komposisi (setiap susunan atau kombinasi yang jumlahnya tak terhitung itu punya arti masing-masing yang dapat diperkirakan dari arti setiap bagian serta aturan dan kaidah yang menjadi landasannya). Analisis bahasa (linguistic analysis) merupakan metode tepat bagi filsafat. IV. Semua masalah filsafat diselesaikan dengan analisis bahasa. tetapi keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. yaitu Tractatus Logico-Philosophicus. bukan sekadar bertambah banyak jumlah sinyalnya seperti bertambahnya panjang air raksa dalam tabung termometer). Masalah Bahasa dan Makna: Filsafat Bahasa Wittgenstein Ide dapat pokok ditemukan Wittgenstein dalam dua dalam karya besarnya. adalah untuk memberikan syarat umum bahasa bermakna. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Beberapa pokok penting dalam karya ini: 1. Tugas filsuf: metode filsafat ialah jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. berbeda. 30 . Ia mau menunjukkan bagaimana seharusnya dunia kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. Wittgenstein I: Tractatus Logico-Philosophicus Tujuan utama buku ini. S. Berbicara mengenai metafisika tidak ada artinya. Pada karya yang pertama kita menemukan pembicaraan mengenai bahasa pada umumnya. sedangkan dalam karya kedua ia berbicara secara khusus mengenai bahasa. Kedua buku itu mempunyai kesamaan topik pembahasan: bahasa dan makna.

Oleh karena itu. Tuhan menampakkan diri. yang ada hanya orang yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. kita hanya dapat menetapkan ketidakbermaknaan pernyataan itu. estetika. Teori mosaik atau teori gambar: bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. 4. S. etika dan agama tidak berbicara mengenai fakta atau data. Tanpa hubungan itu. sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan bentuk logis tertentu yang disusun sedemikian rupa. harus dimasukkan. Bahasa etika dan agama. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. Ini sudah merupakan dalil.Psi. atau agama tidak mempunyai arti. sesuatu yang tak terkatakan. Dalam dunia. Menurut teori gambar. Pernyataan metafisika. Kita tidak dapat menjawabnya. Di hadapan ketidakmampuan ini. bahasa tidak mempunyai arti atau makna. Positivisme menekankan hal ini sebagai sesuatu yang a priori. Hanya pernyataan yang berdasarkan eksperimen dan bersifat faktual atau dengan kata lain pernyataan ilmiahlah yang mempunyai arti/makna. Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Menurut Wittgenstein. lebih baik diam. Oleh karena itu. karena bukan pernyataan faktual. Tetapi bagi Wittgenstein. 31 .” 5. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alamiah yang mempunyai arti. ini suatu mistik. Hanya pernyataan ilmu pengetahuan alam yang mempunyai arti. Dalam hal ini. melainkan tidak bermakna. etika. Pernyataan menyatakan sesuatu hanya dalam ukuran gambar. Wittgenstein menandaskan pokok-pokok yang kuat: (a) Agar dapat menegaskan bahwa makna dunia mesti dicari di luar dirinya. tidak mengherankan kalau masalah yang paling mendalam tidak menjadi masalah. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. karena Ia bukan fakta. Manusia tidak mampu mengucapkan Tuhan. 6. Caranya ialah dengan gambaran logis. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Dalam hal ini Wittgenstein berbeda pendapat dengan positivisme logis. Tetapi Wittgenstein tidak berbicara jelas mengenai kriteria makna. seorang filsuf tidak perlu bimbang bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.3. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat biunivok dengan setiap objek yang difigurkan. ia mengatakan bahwa ”mengenai yang tidak dapat dikatakan. sehingga nama-nama (kata-kata) yang menyusun pernyataan itu benar. Tuhan tidak mewahyukan diri-Nya dalam dunia. pernyataan ini didasarkan pada kenyataan bahwa batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. pernyataan menyampaikan situasi kepada kita. Oleh karena itu. Sungguh. Semua ini bukannya tidak benar.

Wittgenstein beralih dari teori mosaik kepada teori makna dalam penggunaan dan permainan bahasa. Dengan bahasa yang sama.nilai itu ada. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tak terhitung. dalam kenyataannya. Bahasa bagaikan alat-alat pertukangan dalam tas seorang tukang. Philosophical Investigations merupakan sebuah koreksi atas karya yang pertama. menjadi bermakna. boleh. kambing. tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. bahwa sesuatu yang memberi makna kepada bendabenda yang berada di atas dunia. sebuah tanda menjadi mati. maka. kuda. bernyanyi. namun realitas Tuhan mewahyukan diri lewat dunia. Ada banyak permainan bahasa. dan. tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan itu.Psi. Esensi setiap permainan berbeda. S. Bahasa bukanlah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. misalnya sudah. (b) Akibatnya. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan. Dalam hal ini. memberi perintah. karena fakta dunia ada dan dari fakta tersebut ada bagian yang tak terkatakan. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata adalah objek dilambangkannya. berterimakasih. beberapa pikiran pokok ini perlu diperhatikan: 1. Permainan bahasa (language games). Wittgenstein II: Philosophical Investigations Nampaknya. masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. justru dalam penggunaan. demikian pun bahasa. menanyakan. beroda. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala arah. Setiap permainan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kata menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda. tidak ada penggunaan pasti dan ketat tiap-tiap kata. kursi bermakna karena menamakan sesuatu. Sebuah tanda menjadi hidup. (c) Kendati pun Tuhan sendiri tidak menyatakan diri dalam dunia. Teori makna dalam penggunaan (meaning in use): Bagi Wittgenstein. 32 . Misalnya. jangan ditanyakan apa arti sebuah kata. juga mengenai hal itu kita perlu diam. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. perlu dicari di luar dirinya. kita dapat memaparkan sesuatu. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat. Dalam permainan bahasa. pohon. dan seterusnya. Karena itu.

V. dapat digunakan begitu saja untuk menunjukkan Tuhan yang tak kelihatan? Apakah bahasa yang selalu berkaitan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa. Masih kita ketahui. cara manusia dapat berbicara tentang Tuhan merupakan tema yang penting. 2. Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan. Masalah Bahasa Religius: Filsafat Analitis terhadap Pemakaian Bahasa Teologis Dalam filsafat ketuhanan dapat kita saksikan the linguistic turn yang menandai seluruh filsafat abad ke-20. Tugas Filsafat atau Filsuf adalah mengadakan klasifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi. bila bahasa manusiawi itu kita pakai untuk menunjukkan Tuhan? Apakah bahasa yang kita gunakan dalam konteks pengalaman konkret kita. Batasbatas permainan itu sendiri kabur dan sulit dipahami. Dalam tradisi filosofis berbahasa Inggris. Dalam konteks filsafat ketuhanan zaman kita sekarang. bahkan menjadi terapi bagi pemakai bahasa yang berlebih-lebihan [bahasa metafisis].menyatakan satu pernyataan tertentu. S. Terpaksa. Bahasa kita berasal dari pengalaman manusiawi kita dan penggunaannya berlangsung di situ pula. tema itu tidak jarang diberi nama God-talk. apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru. bermakna atau tidak. Tetapi bila kita berbicara tentang Tuhan. Dengan itu. Tema itu dikenal juga sebagai masalah bahasa religius atau bahasa teologis. Dengan demikian timbul bermacammacam pertanyaan. kita menggunakan bahasa yang sama.Psi. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan keluarga. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda. 33 . kita berbicara tentang apa. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. 3. tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Kita tidak dapat tuntas menjelaskan konsep permainan. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu kesamaan keluarga. karena bahasa lain tidak kita punya. namun ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Soalnya ialah bahwa bahasa yang kita pakai selalu mengacu kepada cakrawala manusiawi dan kepada benda-benda yang terdapat dalam dunia di sekitar kita.

banyak publikasi terbit mengenai tema ini. Salah satu pengecualian adalah teks pendek berikut ini: ”On the whole. Terutama di Inggris. Oleh karena filsafat analitis hanya menerima bahasa sebagai objek penyelidikannya. 34 .dengan dunia berhingga kita. S. Tuhan dianggap oleh filsafat ketuhanan sebagai “Wujud yang mutlak perlu” (the necessary Being). Perhatian baru untuk bahasa religius itu tentu tidak kebetulan. maka sudah jelas bahwa pengikut-pengikutnya tidak menginjak problematik teologis itu sendiri (misalnya. I think it is fairest to say that common sense has no view on the question whether we do know that there is a God or not. tetapi bersangkut-paut dengan perkembangan filsafat analitis pada umumnya. Pada G. Kita akan memandang ketiga periode filsafat analitis dari segi sikapnya terhadap pemakaian bahasa teologis. ucapan-ucapan tentang Tuhan tidak mempunyai arti. Sejak kira-kira akhir dasawarsa 1950-an. ”What we cannot speak about we must pass over in silence: (yang tidak dapat dibicarakan harus didiamkan saja). tidak jarang dikatakan dalam tradisi monoteisme) dan bukankah hal itu mempunyai konsekuensinya juga bagi God-talk kita? Syarat-syarat mana harus terpenuhi. pemakaian bahasa teologis belum diperhatikan dan umumnya tidak dibicarakan tentang masalah-masalah teologis. semakin banyak pengikut filsafat analitis mengarahkan perhatiannya kepada permasalahan pemakaian bahasa religius. Demikian juga atomisme logis dari Russell dan Tractatus Logico-Philosophicus dari Wittgenstein. tetapi “mutlak perlu” hanya mempunyai arti pada taraf logis. mereka tidak mempersoalkan bagaimana adanya Tuhan dapat dibuktikan. Isilah ”pemakaian bahasa teologis” di sini digunakan dalam arti seluas-luasnya. baik dari segi filosofis belaka maupun dari segi teologis dalam arti kata yang sebenarnya. Bagi Wittgenstein. jarang sekali ditemukan perumusan yang menyinggung problematik religius. melainkan hanya memperhatikan pemakaian bahasa teologis. Tuhan termasuk apa yang disebutnya “yang mistis” (the mystical) dan tentang itu berlaku. “What we cannot speak about we must pass over Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. supaya bahasa religius itu mungkin? Ataukah di sini kita harus mempraktekkan perkataan Wittgenstein yang termasyur itu. suatu masalah yang ramai dibicarakan sepanjang sejarah filsafat).Psi. dapat diterapkan begitu saja pada Tuhan yang tak berhingga? Bukankah Tuhan itu unik. berlainan dengan segala sesuatu yang lain (the wholly Other. misalnya. Bagi Russell. sehingga mencakup setiap pembicaraan tentang Tuhan. tidak pada taraf ontologis.” Kita lihat bahwa pendirian yang diungkapkan dalam teks ini berkecenderungan untuk mengelak. Dalam periode pertama. Karena itu. Moore.

Tetapi dan karena konstatasi-konstatasi ucapan metafisis dan teologis tidak termasuk dua kelompok ini. Ucapanucapan yang bermakna hanya ada dua macam: norma-norma logis (tautologi-tautologi) empiris. Kalau diukur dengan prinsip verifikasi. prinsip verifikasi ditinggalkan dan orang mulai mengakui pluriformitas di bidang pemakaian bahasa. nr. tidak berbicara tentang suatu fakta. Bagaimanapun nilainya yang nonkognitif. Bahwa dalam hidup pribadi kedua filsuf ini. 7). maka masalah tentang hubungan antara filsafat analitis dengan ucapan-ucapan teologis mendapat perspektif yang samasekali baru. Dengan demikian terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki pemakaian bahasa teologis sama serius seperti pemakaian bahasa lainnya. Ada filsuf-filsuf analitis yang mengambil antara lain Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. semuanya tidak bermakna. tidak perlu diuraikan dalam konteks ini. 35 . tidak ada keberatan lagi untuk menerima pemakaian bahasa teologis sebagai permainan bahasa sendiri. sudah dapat diperkirakan dari pada yang dikatakan mengenai positivisme logis dalam periode kedua. Kita melihat betapa pentingnya peranan prinsip verifikasi dalam pandangan ini. namun ucapan-ucapan itu secara faktual tidak berarti sesuatu pun. Di antara pemikir-pemikir yang menaruh perhatian untuk analisis bahasa teologis dapat dibedakan dua tendensi. Ucapan semacam itu tidak mempunyai makna kognitif. tetapi ucapan-ucapan itu tidak mempunyai factual content. Ayer tentu tidak mengatakan bahwa ucapan teologis (dan ucapan metafisis pada umumnya) merupakan omong kosong saja. Kalau dalam periode ketiga. artinya ucapan yang melampaui data-data inderawi).in silence” (Tractatus.Psi. Ayer tidak menyangkal bahwa ucapan teologis dapat bernilai untuk hidup pribadi si penutur dan para pendengarnya. secara apriori tidak bermakna. tidak mempunyai nilai pengenalan. Seluruh teori positivisme logis bergantung pada jatuh bangunnya prinsip verifikasi. sikap mereka terhadap agama sangat berlainan. harus disimpulkan bahwa ucapan serupa itu tidak bermakna atau. Bila ada banyak permainan bahasa. S. Bagaimana pandangan Alfred Jules Ayer tentang bahasa religius. tidak mempunyai isi faktual. sebagaimana dikatakan Ayer juga. emosional atau ekspresif. maka semua ucapan teologis (dan pada umumnya semua ucapan metafisis).

sebagaimana filsafat analitis pada umumnya mengutamakan detail-detail dan tidak begitu meminati struktur-struktur menyeluruh. Bahasa adalah universal dari sudut subjektif. Yang penting dalam analisis seperti itu adalah penelitian yang terperinci. di mana satu unsur tidak dapat dilepaskan dari unsur lain. Suatu ikhtisar mau tidak mau menghilangkan sebagian dari kekayaan yang terperinci itu. Hanya saja harus ditambah. Tidak mudah untuk menyingkatkan usaha-usaha yang sudah dilancarkan guna menerapkan metode analisis bahasa atas pemakaian bahasa religius. perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum. bahasa tidak merupakan tema baru dalam filsafat. Pada zaman kita ini. Memang terdapat kemiripan tertentu: baik bahasa maupun being bersifat samasekali universal. begitu luas. Kesukarankesukaran muncul karena beberapa alasan. Macquarrie. Being adalah universal dari sudut objektif: ”ada” meliputi segala sesuatu. langkah demi langkah. R.T. metode mereka adalah analisis bahasa. ada pemikir-pemikir Kristen yang sebetulnya mempunyai minat teologis tetapi berharap dapat memanfaatkan penelitian analitis untuk maksud mereka. I. Braithwaite. sudah tersedia cukup banyak buku yang berusaha mengumpulkan dan menyingkatkan apa yang dikerjakan selama ini. E. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.M. S. Hick. D. sehingga sekarang masih terlalu prematur untuk memberikan evaluasi definitif. P. Ikhtisar Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. R. Smart. Tentu saja. J. filsuf-filsuf bersangkutan tidak bekerja sistematis. Tendensi pertama tampak pada tokoh-tokoh seperti: J.D. Van Buren. 36 . VI. Pertama. Hare. apa saja merupakan being. Tendensi kedua terlihat pada pemikir-pemikir seperti: I. Mitchell. B. Selanjutnya. dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. Mascall.pemakaian bahasa teologis sebagai objek penyelidikan mereka. makna atau arti hanya bisa timbul dalam hubungan dengan bahasa. penyelidikan-penyelidikan itu masih sedang berjalan. Crombie. Namun demikian.J. J. Minat untuk masalahmasalah yang menyangkut bahasa terlihat sepanjang sejarah filsafat. keuniversalan itu menyangkut sudut pandang yang berlainan. bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Namun demikian. Ketiga dan yang terutama. Ramsey. Evans.Psi. Kedua. sudah sejak permulaannya di Yunani.M. Bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan atau diungkapkan.B.

manusia. yakni fungsi transformatif.Psi. dan Carnap berbicara tentang bahasa yang dipahami secara logosentrisme. yaitu selama suara manusia meraba-raba dan memateriakan barang-barang. tentang arti dunia dan kaidah bagi perbuatan-perbuatan manusia. Demikianlah. yang menampilkan dasar-dasar logisnya. Gerakan ”kembali ke bahasa” itu sebetulnya merupakan gejala yang kompleks. Dalam setiap kata. Tetapi kami tidak tanyakan lain daripada. dan peristiwaperistiwa. dilahirkan sesuatu rasa heran. Tentu saja. suatu pembalikan besarbesaran ke arah bahasa. Fungsi inilah. Husserl. ”makna” dan juga ”bahasa” oleh Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. selama mulut kanak-kanak berulang kembali mengumandangkan penemuan-penemuan bahasa. Ia bertali-temali dengan sejumlah aliran pemikiran yang tidak begitu saja bisa diraup dalam satu kategori. Morizt Schlick pernah mengungkapkan: ”Dahulu kala filsafat mengajukan pertanyaan tentang dasar terdalam dari ”yang ada” (Seienden). kebanyakan orang menjadi bingung. yang terakhir inilah yang kini menjadi bidang kutat bagi filsafat posmodern. sebagaimana sudah kita lihat. Tetapi kami tidak bersalah. Itulah sebabnya Frege. Agaknya. Dalam kata-kata. yang tak pernah bulat selesai.Bahasa kini telah mendapatkan fungsi baru.” Pada pokoknya. 37 . Pada gilirannya. S. menurut pengamatan para linguis. Derrida. Heidegger. yang memungkinkan proses transformasi pemahaman manusia karena ia berbahasa. tentang eksistensi Tuhan. segi kontekstual dan pragmatik dalam filsafat bahasa kemudian menjadi perhatian Austin maupun Grice. barang-barang. ramai-ramai orang membawa kembali nuansa dan atmosfer filsafat kepada bahasa. ’Apakah yang Anda maksudkan sebenarnya?’ Kepada setiap orang. Mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada makna bahasa. kebakaan serta kebebasan jiwa. siapa pun dia dan apa pun yang ia katakan. Pada akhirnya. kami mengajukan pertanyaan berikut ini. memperoleh bentuknya yang dinamis. Kami bertanya dengan tulus hati dan tidak bermaksud memasang perangkap untuk siapapun. dan Ricoeur melahirkan ”bayi raksasa” dalam filsafat bahasa yang kemudian dikenal sebagai metafor. pengetahuan filsafat maupun pengetahuan tentang hidup seharihari tidak dapat digambarkan lepas dari bahasa. perumusan Schlick ini akan disetujui oleh kebanyakan pengikut filsafat analitis. ’Apakah artinya tuturan Anda?’ Karena cara bertanya itu.

38 .Psi. S. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.mereka dipahami dengan berbagai cara. Tetapi pertanyaan ”apakah makna bahasa” bagi mereka semua merupakan pertanyaan utama dalam filsafat.

39 .Psi. juneman@gmail.Kehidupan Modul III Sub Materi: • Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Manusia dan Badannya Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhan-nya Ikhtisar • • • • • • Juneman.P. C.W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. S. S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman..Psi.

dan berbagai macam: sosiologis. antropologis. yakni manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. padat. dan lain sebagainya. Dalam filsafat bagaimana pertanyaannya? Bukan eksperimental. banyak segi jika orang bertanya. Apakah yang memungkinkan ini? Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal. dia melakukan. S. Tidak hanya berhadapan. dengan pandangannya. Jadi. dan lain sebagainya. Yang ditanyakan adalah hakikat manusia yang jawabannya menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi. Dalam bertanya tentang diri. Contoh eksperimental-biasa lihatlah pertemuan Cakil dan Arjuna: Dari manakah kamu. Dasar pertanyaan ini ialah bahwa hewan tidak bisa bertanya tentang hewan ataupun diri sendiri. dengan emosinya. Pengertian ini kompleks. dalam pandangan tematis bisa salah. Oleh karena itu. psikologis. Manusia bisa. Dalam keadaan konkret itu dia bisa berada sebagai persona seperti yang dimaksud Jung. dalam psikologinya tentang persona. siapakah namamu?. bagaimana titik tolak manusia? Konkret. mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Dia mengalami diri dalam perlibatan itu. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri. 40 . Tampaklah pangkal yang bisa menjadi sumber kesalahan. ke manakah kamu. Ingatlah selalu gambaran yang sudah dikatakan tadi. melainkan metafisis atau hakiki. dan lain sebagainya. dia mengolah diri sendiri. Ini bisa eksperimental-biasa atau eksperimental-ilmiah. Manusia sudah tahu diri (secara operatif) sebelum bertanya (dengan ini: tematisasi). Untuk lebih jelasnya: lihatlah ini! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Diri manusia (lihat kata diri) bersatu dengan dunia. dan lain sebagainya. dan juga berarti dengan sesama (sosial).Psi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka dalam membuat jawaban bisa menitikberatkan ini atau itu. menghadapi kesukaran. situasi yang terlibat-libat dan berlibat-libat. Ada yang eksperimental-ilmiah. dari situlah dia bertanya tentang diri sendiri.K E H I D U PAN I. Ada pertanyaan-pertanyaan yang eksperimental. juridis. Kodrat Manusia sebagai Makhluk Hidup Tentang manusia bisa diajukan banyak pertanyaan.

tetapi juga karena diubah oleh. dia menempatkan diri. dia "melihat" dirinya dan barang-barang. tidak mempunyai distansi. jika manusia menguraikan kesadarannya. tetapi tidak berhadapan dengan alam. bisa mengubah dan mengolahnya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya. Jadi. Corak yang ketiga. Dalam pengalaman dan hidup sehari-hari. Namun dalam berubah-ubah ini. Manusia selalu terlibat dalam situasi. S.Psi. bertindak. kita bisa mencoba mengadakan eksplorasi tentang manusia. yang menyebabkan dia bisa seperti itu. Ingatlah dulu pengalaman kita yang asli. jangan berkata tentang badan dan jiwa. Lihatlah. manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Sesudah pendahuluan ini. mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan). Jadi. Dia tidak hanya berubah dalam. Manusia tidak sadar tentang jiwa. Barang material tidak bisa menghadapi diri sendiri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. berada dalam suatu "cahaya". Lihat saja. Dia berkata: aku sakit. yang kita tunjuk dalam gambaran yang pertama ini ialah bahwa manusia itu selalu hidup dan mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. menghadapi. bagaimana manusia itu menjadi sadar. jadi punya daya. cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. situasi itu. 41 . dia bisa berjalan. Di situ manusia tidak memandang badan dan jiwa. tetapi juga berjarak. Hewan juga berada di dalam alam. sebagai subjek. punya kemampuan. Subjek artinya berdiri sendiri. situasi itu berubah dan mengubah manusia. Manusia dan Badannya Yang jelas bagi semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Karena badannya. Dengan ini dia menyejarah. dia berkata tentang aku dan badan (bukan jiwa). Dia merupakan kesatuan dengan alam. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan. di sebelah sini atau sana. harus dipandang bagaimanakah badan? Yang pertama. Dengan ini yang dimaksud bukan badan. tetapi juga bukan jiwa. bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya. subjek pengalaman ialah dia-sendiri juga. Dia menghadapi.Bersama dengan itu manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alam kodrat. mengambil tempat (posisi) dan sikap. dan dengan demikian. apakah yang kita lihat? Manusia mengalami diri dan barang-barang. Dia bisa memandangnya. berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. melainkan tentang aku! Kelak. Masing-masing dari kita berkata: Aku. hewan tidak bisa memperbaiki alam dan tidak bisa menyerang alam dengan teknik. dan lain sebagainya. manusia bangkit. Yang dihadapi: diri sendiri dan realitas. dia tetaplah dia sendiri. II. Lihat saja. atau badanku sakit. Kalau begitu.

artinya tidak seperti barang-barang yang lain. dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. seluruh manusia adalah jasmani. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. Tetapi. berbeda dari muka monyet! Dalam seluruh Gestalt manusia. 42 . Kita boleh saja menggunakan kata "badan" dan berdiskusi tentang badan asalkan selalu ingat bahwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah aspek jasmani manusia. tetapi manusia. mirip dengan makhluk hidup lainnya. begitu juga dengan hewan. sukacitanya. Seluruh manusia adalah rohani. badan seolah-olah tidak ada. Kita bisa katakan: ada aspek rohani. manusia kita katakan bersifat rohani. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kemampuan manusia itu kita sebut kemampuan rohani. kebahagiaannya. Maka. dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani. Roh adalah listrik. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. berdimensi tiga. kita katakan badan dan jiwa. tidak terlipat-lipat. badan adalah prinsip jasmani. dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. Jiwa adalah prinsip rohani tadi. badan cahayanya. jadi tidak boleh pernah disendirikan. Dalam berbicara ada kecenderungan dan bahaya untuk memandang badan sebagai sesuatu yang bulat. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. tidak terbentang. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. kemampuan itu menyebabkan dia berdiri sendiri. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. seluruh subjek (manusia) itu bersifat rohani. Jadi. maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan. Maka. habis! Itulah salahnya. manusia juga jasmani. dalam semua itu tampak kerohaniannya. berdarah dan berdaging. berbeda dari mata hewan! Lihatlah wajah manusia. yang ada hanya roh. artinya materi. Juga kesenangannya. S. Berdasarkan pikiran ini kita bisa menunjuk pendapat-pendapat yang salah mengenai badan manusia. Bersama dengan itu. Lihatlah. yang ada bukan badan.maupun realitas. dengan sadar. bisa dilihat secara anatomis. Jangan katakan rohani itu ada di dalam! Tidak! Lihatlah mata manusia. Dalam realitas. Pikiran pun berkecimpungan dalam materi. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani.Psi. Maka. Kita bisa berkata bahwa seluruh manusia itu juga jasmani. Dia berat atau ringan. ada aspek jasmani. tidak lepas dari barang materi. bisa menghadapi diri dan barang lain. • Ada pandangan idealistis tentang badan.

yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku yang jasmani. badan termuat dalam aku. sedih. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis). unsur aku-ku. tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi. Badan adalah bentuk konkret dari kejasmanianku. maka di situ sudah termuat badanku. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. Badan adalah unsur diriku. ke kejahatan. Selanjutnya. Semua ini untuk menyatakan bahwa badan bukanlah sesuatu seperti sepatu atau topi. juga tidak sama dengan sepatu. Badan tidak sama dengan aku. Yang tampak adalah Aku. Sekali lagi. Pendapat ini pun tidak riil. cermin. Yang ada hanya badan. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (di dalam) dan badan juga. atau adaku sepanjang aku ini jasmani.• Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut.Psi. Manusia berbicara tentang dirinya sendiri. S. Badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. dalam pemahaman awal. Dasarnya adalah karena dia menangkap aspek rohani dan jasmani pada diri atau akunya. Badan dan Kesatuan Manusia (Aku) Yang jelas. Samakah badan dengan aku? Tidak. Untuk membenarkan katakan: aku ini ya rohani ya jasmani. Yang ada bukan badan. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku. melainkan sebagai dua. tidak dibedakan antara badan dan jiwa. 43 . Jika aku berkata aku. sepanjang aku ini terlihat. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Badan dianggap penarik ke bawah. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. yang masih asli. Persona (tidak dalam pengertian Jung). tampak dalam alam jasmani. artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada. tetapi tampak. Dalam berbicara ini dia berkata tentang jiwa dan badan. Pandangan ini biasanya juga dualistis. Lihatlah sepanjang itu. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Pribadi. dan lain sebagainya. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. misalnya cinta. Tetapi badan sebagai milik. • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. habis perkara. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani. sesuatu yang menempel.

44 . Kita tidak berkata: itulah badannya. Setelah semua ini dikatakan. Dalam pandangan yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis.. tetapi menipu! Jika badanku sakit. Orang tidak akan berkata: aku lihat badan. badan juga merupakan perintangku dalam penampakan. . tetapi juga ada distansi. Menangkap suara berarti menangkap pikiran.. tetapi aku mungkin masih bisa berpikir. Yang malang bukan badan. maka dia melihat aku. atau lebih konkret: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Sepanjang berarti badan merupakan caraku untuk tampak.Kesamaan itu hanya sepanjang . Badanku bisa tidak berdaya.. tetapi seluruh manusia. aku memang sakit. maka boleh saja kita berbicara tentang badan.Psi. Untuk mengerti hubungan antara aku dan badanku ingatlah bahwa manusia yang sedang diucapkan. tetapi belum tentu malang. Badan membatasi penampakanku. aku manusia tidak tampak seluruhnya dengan badanku. Ini bisa kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari aspek jasmani kita. Bolehkah kita berkata aku punya badan? Boleh juga asalkan (lagi) selalu diingat bahwa badan bukan milik seperti sepatu! Jika aku berkata aku "ada". maka bisa juga disebut ekspresi manusia. jadi tidak sama saja dengan aku. Kita berkata: itulah orangnya. Pikiran berbentuk suara (kata-kata). Setiap manusia juga sadar diri sebagai berbadan. badanku termuat... Antara badan dan aku ada kesatuan. Aku ada berarti aku ini manusia. Jika orang lain melihat badanku. Minatilah caraku menampakkan. mengucapkan kata manis-manis. yaitu badan itu. Sekarang kebadanian ini harus kita pandang. Atau: Aku tampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. Tetapi. Tetapi dalam berpikir tentang manusia. seperti orang-orang lain. jarak. awakku sedang malang. Aku bisa menyembunyikan diriku "di belakang badanku". Dia berkata: awakku lagi susah. dan lain sebagainya. Bolehkah badan kita sebut "alat"? Boleh asalkan jangan lupa bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa. Badan sebagai Bentuk dari Aspek Jasmani Manusia Seluruh manusia adalah badani atau bodily. S. Orang akan berkata: aku melihat si A. Tetapi antara pikiran dan suara tetap ada perbedaan. celaka. Di situ pikiran dan suara merupakan kesatuan. Aku bisa berpura-pura marah. maka di situ milikku tidak termuat. Di situ tampak suatu struktur Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka dari itu. mengarang. jadi berbadan (tetapi belum tentu bersepatu). Karena badan itu menjadi penampakanku. hal ini harus dikoreksi bahwa badan bukan suatu kebulatan yang ada sendiri. Aspek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkretnya berupa bentuk yang tertentu. menunjuk badan.

kesemuanya ini ikut serta menentukan seluruh manusia sebab jangan lupa bahwa badan selamanya adalah bentuk konkret dari aspek (jasmani) manusia. Dalam pandangan ini aspek jasmani adalah penuh dengan aspek rohani. Dua itu tidak berdampingan. Kita bisa berkata bahwa jiwa itu "dalam badan". lantas disusul dengan regresi atau peruntuhan. keadaan flora. keadaan iklim. tetapi bisa juga berkata badan atau tubuh itu ada dalam jiwa (warangka manjing curiga). S. bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berbentuk organ-organ dengan fungsinya. Bangunan itu selalu berubah. Akan tetapi menurut aspek rohaninya. tetapi kesatuannya tidak sempurna. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. Setelah ini kita nyatakan. ada ketegangan antara aspek rohani dan aspek jasmani. kita bisa berkata kesatuan tubuh dan jiwa itu seperti "curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga". dan lain sebagainya.yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. Maka tampak bahwa badan merupakan suatu struktur hidup. Sebetulnya kata "penuh" juga belum tepat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia itu tidak sebelah kiri jasmani dan sebelah kanan rohani. yaitu badan sebagai aspek (jasmani) dari manusia. asal dengan selalu mengingat kebenaran ini. 45 .Psi. Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. berproses menurut hukumhukum biologis. Dengan meminjam kata dari kalangan kesepuhan Jawa. manusia akan berusaha selalu mengalahkan penentuan dari dunia luar itu. Lihat juga dalam keadaannya dan pertumbuhannya yang konkret: badan di tengah-tengah keadaan yang konkret. juga ditentukan oleh keadaan itu. Gambaran yang lebih tepat dari penuh ini ialah kesatuan kata dan artinya. ditentukan oleh hukum-hukum warisan. Maka. keadaan geografis. Manusia itu kesatuan. tidak ada sesuatu yang hanya menentukan badan. kita boleh memandang badan atau tubuh dari sudut biologisnya. penuh di sini tidak seperti gelas penuh air. yang berakhir dengan disintegrasi. maka kita mengatakan bahwa aspek jasmani itu "penuh" atau dijiwai oleh aspek rohani. Keadaan tanah. padanya ada konflik antara rohani dan jasmani. Ada perkembangan yang memuncak sampai tingkat tertentu. Untuk menyatakan kesatuan ini. Di situ badan tampak sebagai bangunan dari sel-sel. Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dari pandangan yang kedua. Jadi.

Hidup badani adalah untuk memanusia. Dengan membadan kita memanusia.Akan selalu menangkah kerohanian dalam konflik ini? Belum tentu. pelajaran tari. asal sehat saja. Tetapi bisa ada keadaan yang sedemikian rupa sehingga kerohanian manusia seolah-olah terpendam. Charlotte Bühler dalam Psychologie der Puberteit). pertumbuhan yang normal itu masih bisa dan harus disempurnakan dengan olahraga. hukum-hukum ini sudah menentukan akan bagaimanakah cara kita berdiri dan bersikap terhadap dunia. Hal ini berarti bahwa manusia dalam hidup badani itu bisa melaksanakan kemanusiaannya. tidak menjadi jiwa. sesudah 25 tahun tidak tambah panjang atau tingginya. 50-70 regresi atau proses keruntuhan yang berakhir dengan mati. Tetapi ini pun masih bisa kita pengaruhi (ingat saja ilmu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Untuk sebagian badan kita bisa kita atur. demikianlah Dr. Mau tidak mau hukum warisan ini menentukan bentuk dan keadaan badan kita. S. tetap berproses dengan ditentukan oleh hukum-hukum materia (di sini hidup yang berdarah dan berdaging). Maka. kecil atau cukupan. Artinya. Demikianlah adanya manusia tidak sampai ke kemanusiaannya. Jika badan bertumbuh secara normal. 46 .Psi. dan lain sebagainya. mulai dari bayi sampai ke puncak perkembangannya (1-25 tahunan terus berkembang. Tentu saja. seolah-olah seperti pelita kecil dalam malam buta. 25-30 kestabilan tinggi-lebar. Namun. kerohanian manusia akan bisa muncul dan berkembang. pembiakan sel). seperti api dalam banyak abu. Semua keadaan badan. di situ ada pertumbuhan yang normal. Badan atau tubuh hanya hidup alas kekuatan jiwa. sebentar hilang. yang sehat. hanya menjadi badan. Tetapi materia tidak menjadi rohani. Sebelum kita lahir. Di situ ada hukum-hukum yang berjalan sendiri sekalipun seluruh hidup badan itu dari jiwa asalnya. jangan dilupakan bahwa badan atau tubuh mempunyai semacam otonomi sendiri. untuk sebagian tidak bisa dan syukur tidak bisa (tidak perlu) sebab sudah jalan dengan sendirinya (misalnya perputaran darah. Semua ini untuk lebih melancarkan berbagai macam fungsi. Sifat rohani hanya menggejala dengan lemah. sebentar tampak sedikit. Pandanglah sekarang badan yang normal. Ingatlah hukum warisan yang ada pada kita (Mendel). masih memungkinkan kemenangan kerohanian. Jika hukum-hukum warisan menentukan badan seorang sehingga badan ini hanya akan seperti Gareng maka si Gareng itu tidak akan berdiri dan berjalan seperti Wrekudara! Tetapi hal ini tidak jadi masalah. maka seluruh fungsinya dalam hidup manusia akan normal juga.

Di samping itu. tetapi sang kepala menjadi pusing! Lihatlah orang pandai. biarpun sehat. Jika pandangan ini masih statis. dan lain sebagainya. Coba saja. Lihatlah tangan manusia. ..kedokteran). ada juga fungsi-fungsi yang meskipun fisiologis.. sedang kuat-kuatnya. minum harus diminumi. tetapi jika dalam otaknya ada gangguan sedikit saja . hilanglah semua keindahan! Tetapi pandanglah juga sebentar grandeur atau keagungan badan kita! Lihatlah seluruh struktur yang berdiri itu! Dalam lingkungan hidup tidak ada struktur yang lebih sempurna! Ingatlah bagaimana seluruh tubuh itu merupakan kesatuan. artinya "kenistaan" dan "keagungan". seperti arloji). misalnya denyutan jantung.. pembagian makanan dan gula. mungkin dia luar biasa.. macam apa saja yang dibisai. lihatlah manusia dalam kemampuannya dengan badannya. Ingat saja denyutan jantung.. Dengan mengemukakan sudut fisik atau fisiologik ini kita sudah sedikit menunjuk apa yang dalam bahasa Prancis disebut misère dari badan manusia.. bisa mengurangi atau menambah tidur.. kalau masih kecil (bayi). terjadinya selalu dengan kemauan kita seperti ke kamar kecil dan lain sebagainya! Fungsi ini bisa juga diatur (kecuali kalau orang sakit... Lihatlah anak kecil. Dengan semua ini kita bisa mengatur alam fisik dan fisiologis kita.Psi. dan seandainya ibu tidak bertindak. tetapi jika hidungnya digigit monyet sedikit saja. malahan mungkin dia ditertawakan! Dalam bidang fisik. tetapi . dan lain sebagainya. . Ambil untuk mudahnya. lihatlah bagaimana badan mengikat dan merintangi kita! Mahasiswa mau belajar.. lihatlah orang yang sebagusbagusnya atau secantik-cantiknya. Memang ada fungsi-fungsi yang berjalan sendiri tanpa kemauan kita (tidak perlu kita putar. 47 . perputaran darah. bisa pilih makanan dan obat-obatan. belum bisa apa-apa! Makan harus disodori. Badan kita mempunyai misère dan grandeur. dengan mandi. S. dalam segala-galanya! Kecuali semua ini. dalam tubuh manusia. dan lain sebagainya. Lihatlah sebentar sedikit dari misère itu. sabun. badannya berontak! Ketekunan yang sebesar-besarnya sedang dituntut karena ujian. Lihatlah dalam tari-tarian bagaimana bagusnya badan manusia dalam aksi! Lihatlah ketangkasan-ketangkasan badan manusia dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. seandainya tidak dibersihkan .. orang yang sehat walafiat! Juga dalam keadaan yang demikian itu badan masih merupakan ke-nelangsa-an. si anak akan berkecimpungan dalam kotoran! Lihatlah juga pada usia yang dalam perkembangannya. lenyaplah semua kepandaiannya. akan bagaimanakah warna dan bau badan manusia! Manusia tidak bisa selalu bangga akan badannya. misalnya disentri!). Manusia di situ sudah kuat.. . Kita bisa mengurangi makan. Ingatlah susunan dan cara kerja mata manusia! Semua itu mengagumkan. Dalam arti tertentu proses-proses fisiologis pun ada di tangan kita.

atau dalam jasmani itu rohlah yang menjasmani (seperti arti dalam kata). daging manusia jangan dianggap sama saja dengan daging lembu. pakaian. Karenanya badan menjadi cerminan pribadi manusia. dalam aktivitas manusia yang tertinggi tidak mungkin menghilangkan fungsi badan. Badan sebagai Jasmani yang Dirohanikan atau Rohani yang Menjasmani Pandangan di atas sudah menunjukkan dengan lebih jelas bahwa badan itu tidak melulu materi atau kejasmanian. Lihatlah sekarang barang-barang seni. bibirnya. maka aspek jasmaninya pun turut serta! III. Jika pribadinya luhur. Lihatlah orang-orang yang sedang bersalat menyembah Tuhan! Badannya. kerendahan dan kehancuran itu tercermin pada wajah manusia. reaktor atom. maka badan dalam sikap-sikapnya. dalam gerakgeriknya. makanan. anjing mendengar. kesemuanya itu.Psi. dalam penampilannya dan penampakannya. Kedudukan badan yang sangat luhur itu nampak jika kita memandang persoalan tentang perumahan. Untuk sekarang cukup dikemukakan bahwa badan itu pengejawantahan rohani kita. mesin hitung. Darah manusia tidak sama dengan darah hewan. matanya. Maka.olahraga! Sungguh mengagumkan. maka badan juga hanya akan luhur secara sepenuhnya jika hidupnya untuk mengabdi roh. Maka dari itu. S. jika hidupnya (kesusilaannya) bejat sama sekali. Berdasarkan keluhuran ini. tetapi itu tidak sama. juga Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Seluruh kejasmanian manusia dalam segala-galanya. Mungkinkah itu tanpa badan manusia? Tidak! Akhirnya. Kita bisa melihat pada wajah seseorang. tangannya. dalam solah-bawa-nya. Semua itu hanya mungkin karena badan manusia. lidah-nya. 48 . jika dilihat dalam kedudukannya dalam keseluruhan manusia. dan lain sebagainya. Bisakah sarjana belajar tanpa badannya? Tidak! Lihatlah konstruksi-konstruksi teknik dari komputer. Di samping pandangan yang sangat sederhana ini. semuanya ikut serta! Dengan ini tampaklah sedikit keluhuran badan manusia. Sifat tuna susila atau kebubrahan moral berarti bubrah-nya aturan dalam kesatuan jiwa-raga. lihatlah peranan badan manusia dalam ilmu pengetahuan. lukisan yang indah-indah! Mungkinkah itu tanpa adanya badan manusia? Tidak! Dengarkan musik yang mengharukan. bisa juga disebut aspek luar dari pribadi manusia. Oleh sebab itu. Jika seluruh manusia menyembah Tlihan. tidak sama dengan kejasmanian hewan karena kejasmanian manusia itu jasmani yang dirohanikan. Pancaindra manusia tidak hanya sama dengan indra hewan! Manusia mendengar.

S. Dalam pendidikan manusia jasmani dirohanikan dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dia harus bersikap. mengenakan pakaian. semua ini dilaksanakan dalam kehidupan manusia. maka penyempurnaan manusia tidak dipisahkan dari penyempurnaan badannya.akan mencerminkan keluhuran itu. dan lain sebagainya.Psi. anak harus diajari hidup jasmani dan ini tidak bisa tidak berarti melatih melakukan badan dengan berbagai macam cara. Cara mengatakan ini boleh saja asalkan orang tidak mengira bahwa dua perkembangan itu hanya berjejer atau berdampingan! Yang bertumbuh dan berkembang ialah seluruh manusia dan bukan badan di samping roh sebab memang tidak ada badan di samping roh. Tetapi sebaliknya. bergerak dan bekerja (mengolah dunianya). pendidikan manusia sudah mempunyai segi jasmani. Manusia hanya memanusia dalam badannya. sebab ibu mengajar si anak makan. tetapi badan sebagai bentuk konkret dari manusia). Yang tidak bisa disangkal ialah adanya kesatuan itu. Oleh sebab itu. jika orang ingin menjadi pribadi luhur. Karena itu. bertindak. 49 . Dia hanya tampak sebagai ke-badan-an. jadi dengan badan. minum. berjalan. Badan dan Pendidikan Manusia adalah makhluk badani dan sebagai makhluk badani dia harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Pendek kata. mendidik selalu berarti "mendidik badan" (sebetulnya bukan hanya badan. Manusia hanya berkembang sebagai manusia jika badannya memungkinkan. kebaktian. Pada akhirnya kita tidak menangkap bagaimana perkembangan manusia itu merupakan kesatuan dalam kebhinnekaan. Mengingat hubungan antara pertumbuhan jasmani dan rohani ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa pertumbuhan badan itu merupakan prasarana atau infrastruktur perkembangan rohani. cinta kasih. hormat. kita melihat bahwa badan manusia itu semula tidak berdaya sehingga seluruh manusia pun tidak berdaya karenanya. Demikianlah tata sopan. maka dia juga harus mengatur segi-segi luar dari hidupnya itu. badan harus selalu dianggap supaya ada kemungkinan perkembangan yang sebesar-besarnya. Berdasarkan ini. dia juga belum bisa bertindak sebagai manusia. Maka dari itu. semua hal insani badani juga. Anak kecil belum bisa berpikir karena otaknya belum berkembang. Dalam semua ini belum dibicarakan secara khusus pendidikan jasmani dalam arti yang khusus itu. Tetapi. Karenanya bimbingan kepada anak juga harus memuat bimbingan menjalankan hidup jasmani. Semua ini hanya mungkin berkat badannya (=bentuk konkret dari kebadanian). Daya dan kemampuan insani hanya tumbuh lambat laun dengan dan dalam pertumbuhan badan. Dalam praktek biasa (juga dalam kalangan sederhana) kita melihat hal ini berjalan. tidur. Jadi.

mental hygiene). maka boleh saja kita berbicara tentang badan sehat dan jiwa sehat. Sekali lagi dalam hal ini pandangan manusia yang asli juga menyeluruh. kesehatan disebut whole-some. meskipun kita sudah mengerti bahwa jiwa tidak berdiam di badan seperti jangkrik dalam bumbung! Apakah kesehatan itu? Biasanya yang disebut sehat itu manusia dilihat melalui badannya. tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health. rumah sakit jiwa. 50 . Asalkan kita selalu mengingat kesatuan manusia ini. maka orang tanya apa kawannya wilujeng (sugeng). Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Kesehatan dalam Kehidupan Insani Dalam bagian ini kita akan melihat kedudukan dan fungsi kesehatan dalam kehidupan insani. Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang. Dalam istilah ini kita sudah menentukan sikap dalam memandang sakit dan sehat. Dalam bahasa Inggris misalnya. Yang dimaksud dengan wilujeng dan sugeng ialah seluruh manusia. Situasi badan harus dipandang menurut kedudukan badan yaitu bentuk konkret dari aspek kejasmanian kita.rohani dijelmakan. Kehidupan jasmani yang teratur itu adalah kehidupan jasmani yang dirohanikan dan penjelmaan kerohanian. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan. dan lain sebagainya. Dalam pikiran sekarang yang akan kita pandang hanya sehat atau sakit sebagai keadaan manusia seluruhnya dipandang dari sudut jasmaninya (konkret: badannya). sakit jiwa. malahan kita boleh berkata tentang jiwa sehat (mens sana) dalam badan sehat (in corpore sano). Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik.Psi. Jadi. Kejiwaan manusia diminati juga. sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. jadi keadaan manusia. Jika kita mengingat psikoanalisis. yang dilihat bukan badannya saja. Apakah sebetulnya arti sehat? Hal ini sulit dikatakan secara tepat. tidak sakit. Orang melihat seluruh manusia. Kalau orang bertemu. pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan. Dalam bahasa Jawa kita kenal kata wilujeng dan sugeng. yang artinya seluruh manusia. Sebab yang sebaliknya (sakit) juga sulit dibatasi artinya. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. artinya orang tidak pikir tentang badan yang sehat atau sakit. sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa. di mana kata whole menunjuk keseluruhan. S. Keadaan badan adalah keadaan dari aspek itu. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. tetapi dilihat dari sudut psikis. Secara negatif bisa dikatakan bahwa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hal ini tampak dalam berbagai macam orang yang bicara.

dan Plato. yang memungkinkan dia menjalankan hidupnya dengan menempatkan diri dalam keadaannya. sekaligus yang paling tidak populer. bagi manusia sehat dan sakit itu bukanlah soal badan semata-mata. tidak adanya penyakit apa pun. bagus. badannya di situ tidak bisa berfungsi. orang itu akan terganggu kesehatannya. mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". S. tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus. di sana hidupnya masih jalan baik. maka bagi manusia apa yang disebut sehat atau kesehatan ialah situasi total dari manusia sebagai totalitas. IV. Yang pertama. Keadaan kebudayaan yang konkret juga masuk dalam rumusan ini sebab menempatkan diri dalam keadaannya atau menyesuaikan diri dengan keadaannya menunjukkan keadaan yang konkret dan itu selalu berupa kebudayaan yang tertentu. Meskipun tak populer. Dalam rumusan ini tampak bahwa kesehatan bukan hanya soal badan. Socrates. Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Perkembangan Studi tentang Badan Manusia Ada tiga pandangan utama tentang tubuh yang berlaku di Yunani Kuno. Aliran yang terakhir. Aliran yang kedua. kesusahan yang mendalam bisa juga membuat badan sakit. Tetapi justru apakah sakit atau penyakit itu? Mana batasnya antara sakit dan sehat? Lagi. personal. baik jasmani maupun rohani. didirikan oleh Orpheus. aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras.Psi. sehat atau tidak itu juga berhubungan dengan kebudayaan. privat.sehat berarti tidak sakit. Sebaliknya. Kekecewaan yang hebat. Bagi orang di hutan rimba "perumahan" yang sangat primitif tidak masalah. Jika kita mengingat kesemuanya ini. dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah. aliran yang didirikan oleh Cyrenaic. didirikan oleh Epicurus. sehingga obat-obatan tidak berguna! Mengingat ini. bagi orang yang datang dari lain kebudayaan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kemudian tibalah zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh". Dalam situasi yang konkret. 51 . Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. maka sebetulnya masih kuranglah jika kita berkata bahwa sehat bagi manusia berarti tidak adanya penyakit-penyakit (badan). dan sekuler. tetapi soal seluruh manusia.

Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi: 1) Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. antropologi. tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. Studi Tubuh Modern Sebetulnya pada tahun 1970-an sudah mulai bermunculan buku-buku kajian tentang tubuh. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan?. 4) Karena dalam masyarakat pramodern tubuh adalah penanda penting bagi status sosial. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. dan psikologi. 2) Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. transplantasi mata dan telinga. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). dan hal-hal yang bersifat religius. posisi keluarga. tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi. gender. tetapi dianggap sebagai plastik dan bionik. dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. misalnya Touching karya Ashley Montagu (1971) atau Social Aspects Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. umur. 3) Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial). Tubuh manusia sudah jadi topik penting dalam kajian antropologi sejak awal abad ke-19. tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki.Pada abad ke-20. dengan berkembangnya ilmu kedokteran. silikon. S. Abad baru. sesekali memang dapat "rusak". yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. Persoalanpersoalan kosmologi. dengan alat pacu jantung. yang memberi kontribusi pada studi tubuh. dengan pandangan tentang tubuh yang baru. Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. gender. Pada perkembangannya yang terakhir tubuh tidak lagi bisa dianggap sebagai sekedar pemberian Tuhan. katup buatan. membuat para antropolog berhenti untuk melihat tubuh secara fisik dan mulai melihat tubuh sebagai alat untuk menganalisa masyarakat. pendeknya sesuatu yang dapat dibentuk sesuai keinginan manusia.Psi. 52 .

of the Human Body karya Ted Polhemus (1978). Tapi baru pada tahun 1980-an studi tubuh mulai populer dan berkembang secara sistematis. Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society [1984]). Konsep Ini lebih merupakan pemetaan persoalan tubuh empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu: masalah utamanya reproduksi; 2) Kesinambungan dalam ruang: masalah utamanya adalah regulasi dan kontrol populasi, ini yang sering disebut sebagai masalah "politik"; 3) Kemampuan untuk menahan hasrat: ini adalah persoalan internal tubuh; 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. Pemikiran Arthur W. Frank sedikit lebih kompleks ("For a Sociology of the Body: An Analytical Review" [1991]). Menurutnya ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan denga diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body. Michel Foucault: Bio-politics dan Bio-power Bagi Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

53

adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual. Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Biopower dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi. Banyak karya Foucault yang sangat fenomenal bagi studi tubuh: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1973), Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1978), The Use of Pleasure (1985), dan The Care of The Self (1986). Tubuh dalam Kebudayaan Konsumen Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

54

Persepsi tentang tubuh dalam

kebudayaan konsumen didominasi oleh

meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut.

V. Apakah Jiwa Merupakan Sesuatu yang Real? Penolakan gagasan “jiwa” dewasa ini oleh banyak ahli teologi Barat bukan seratus persen kebetulan. Itu bisa dimengerti, untuk sebagian, sebagai reaksi terhadap suatu representasi dari jiwa dalam konteks suatu “dualisme” yang dipopulerkan di Barat sejak abad ke-17, dan yang mendukung suatu spiritualitas yang nampak terlalu jauh dari dunia konkret dan material. Marilah melihat masalah itu dari lebih dekat. Penolakan Semua Jenis “Dualisme” dalam Manusia Mulai dengan Descartes, pikiran Barat diwarnai oleh suatu konsepsi dualistis tentang manusia, yang terdiri dari jiwa dan badan seperti dua realitas yang dijajarkan satu di samping yang lain (juxtaposition). Realitas pertama, jiwa, disamakan dengan pikiran refleksif dan hanya dialah yang sungguh-sungguh mendefinisikan esensi manusia. Yang kedua, badan, dianggap sebagai bagian dari dunia fisik yang terstruktur sedemikian rupa sehingga menjadi “hamba” jiwa; dan yang khas bagi badan adalah: keluasan, bagaikan semua benda lain. Jiwa yang “dilayani” oleh badan, dan badan itu berhubungan satu sama lain seperti si penunggang (jiwa) dengan tunggangannya (badan). Konsepsi dualistis ini ditolak oleh pikiran kontemporer yang ingin mempertahankan kesatuan kepribadian manusia; dan dalam perspektif kesatuan manusia real ini, wajah badaniahnya masuk kodrat manusia dan bukan sesuatu yang sekunder. Itulah yang dicatat baik oleh fenomenologi abad ini dengan gagasan badan-subjek (corps-sujet). Pengalaman seperti misalnya penyakit, penderitaan, penyiksaan, yang dihayati dalam kebatinan pribadi (persona) menyatakan bahwa karena badannyalah (badan yang dijiwai) subjek manusiawi, kepribadian itu, membuka diri akan benda-benda, akan dunia objek-objek. Kebadaniahan atau korporalitas, sebagai modalitas esensial dari subjek merupakan mediasi yang membuat kepribadian menghadiri dunia objektif, tetapi tanpa dikuasai olehnya. Pendekatan baru terhadap dunia material ini menjelaskan arti penting yang diberikan oleh orang zaman ini kepada hidup badaniah, yang dianggap sebagai
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

55

suatu dimensi esensial dari eksistensinya. Badan bukan sesuatu yang asing terhadap “keakuan”; terutama bukan penjara atau wadah saja bagi jiwa (konsepsi Plato). Badan itu adalah syarat suatu eksistensi manusiawi yang terstruktur untuk berkembang dalam suatu dunia yang pas sekali dengannya: dunia historis. Bisa dimengerti betapa penting re-evaluasi itu dari sudut moral: karena dengan demikian, kekhasan-kekhasan kepribadian manusia mencirikan hidup badaniah sendiri. Hidup badaniah mengambil bagian dalam martabat kepribadian, mengikutsertakan keputusan-keputusan, perjuangan-perjuangan, dan hak-haknya. Bagi orang zaman ini, semua ancaman akan hidup badaniah nampak sebagai ancaman akan kepribadian juga. Menyentuh badan atau menyerangnya berarti menyentuh dan menyerang manusia dalam globalitasnya. Sebaliknya, dalam konsepsi dualistis Descartes, hanya jiwa saja –yang disamakan dengan pikiran– yang merupakan realitas yang memang manusiawi; sedangkan badan hanya dianggap sebagai suatu realitas yang asing terhadap pikiran manusiawi itu, atau sebagai bagian dari dunia material saja di mana manusia termasuk. Karena Descartes mengintegrasikan dualisme badan-jiwa tersebut dalam konteks suatu spiritualitas hebat yang mengejar Allah, gagasan jiwa lalu terikat dengan sebuah spiritualitas keterlaluan yang memalingkan orang dari kegiatan konkret dalam dunia ini. Tentu saja dualisme itu –bersama dengan visi manikeisnya tentang dunia di mana “materi” dan “roh” dianggap saling bermusuhan satu sama lain– harus ditolak. Tetapi itu bukan alasan untuk menolak juga gagasan jiwa dan gagasan badan dengan dalih bahwa kedua kategori mental tersebut diambil dari lingkungan RomawiYunani di mana paham Kristen menemukan penyebarannya yang terbesar, sehingga distingsi jiwa dan badan, katanya, bukan sesuatu yang biblis… Jangan mengacaukan doktrin tradisional mengenai jiwa dan badan –seperti yang diterima dan dipelajari dalam monoteisme otentik– dengan dualisme Plato dan Descartes di mana jiwa dan badan merupakan dua realitas lengkap yang berlawanan satu sama lain. Sebelum kita berbicara tentang jiwa, kita akan mulai dengan memikirkan realitasrealitas yang disebut spiritual, untuk melihat apakah mereka adalah sesuatu yang real ataukah ilusi saja. Perjalanan ini akan berusaha untuk menghindari semua yang mirip dengan dualisme kuno, yang merupakan sumber pesimisme. Perhatian akan diberikan kepada kesatuan manusia real yang dinyatakan secara baik dengan istilah “persona manusiawi”. Tetapi sebelum realitas-realitas spiritual itu dibicarakan, marilah meringkaskan yang khas bagi dunia material.
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

56

Dunia Material, Bidang Kuantitas Materi adalah semua yang bisa dilihat, dirasakan, disentuh, diukur, dilokalisasikan; semua yang bisa disadari berkat perubahan apa pun atau modifikasi spasio-temporal; juga materi nampak sebagai sesuatu yang terkena perluasan, divisibilitas, dan lain sebagainya. Materi inilah yang merupakan objek langsung dan pertama dari pengetahuan manusia, entah umum atau ilmiah. Pengetahuan manusia, pun pula dalam derajatnya yang paling spiritual, selalu bertitik-tolak dengan pengetahuan indrawi, lewat kontak badan manusiawi dengan lingkungan: pertama terjadi modifikasi indrawi berdasarkan tanggapan pancaindra, lalu modifikasi tersebut dikerjakan oleh otak yang mengintegrasikan perasaan-perasaan. Dengan demikian dunia materi menyentuh manusia yang tenggelam di dalamnya. Dunia Spiritual dan Pikiran Refleksif Karena asal-usul pengetahuan kita terikat pada pancaindra, dia ini tidak terbuka langsung kepada dunia rohani. Dunia rohani itu, karena tidak bersifat material, hampir hanya bisa didefinisikan lewat deduksi dan dengan perlawanan dengan dunia material. Spirit atau inteligensi, misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tak tersentuh, tak tertangkap oleh pancaindra, tak terukur. Demikianlah pikiran manusiawi. Manusia bukan hanya organisasi, struktur pasif; artinya bukan hanya kodrat, seperti halnya dengan semua benda lain yang material. Manusia juga bersifat dinamisme yang mengorganisasikan dan menguasai materi, dan itu nampak kalau dia menemukan ide, gagasan, dan hukum-hukum yang mendiami materi sendiri untuk membuatnya dimengerti (itulah pengetahuan biasa atau ilmiah), atau jika dia mengerjakan materi itu untuk memberikan kepadanya suatu struktur baru (itulah kesenian, kerajinan, dan teknik). Bagaimanapun juga, manusia memberikan kepada materi signifikansinya. Dia menentukan inteligibilitas yang sudah ada dalam materi atau dia memberikan kepada materi suatu signifikansi atau makna baru. Pendeknya, manusia berkat pikirannya merupakan suatu jenis dinamisme dan terjelma dari spirit dalam materi. Dengan kata lain, manusia mampu memberikan kepada suatu bagian materi tertentu yang sudah mempunyai jenisnya (seperti kayu atau besi, misalnya), suatu struktur baru, suatu organisasi khusus untuk sebuah tujuan tertentu yang dia maksudkan (misalnya dengan membuat suatu patung, atau sebuah motor). Pendeknya, manusia berhasil menjelmakan dalam suatu bagian materi tertentu suatu representasi yang
Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman, S.Psi.

57

Jadi. keluasan. S. masuk juga kategori afektivitas. dan lalu menguasai dan mengorientasikan dunia material itu. maupun dalam upacara pemakaman. Biasanya bidang ini disebut dunia kesadaran psikologis. di mana manusia tahu bahwa dia membuat sesuatu atau merencanakan suatu proyek tertentu. 58 . Kapasitas abstraksi manusia tersebut terdapat pada semua kebudayaan. berdasarkan “kekurangan” manusia terhadap keinginan-keinginannya dapat dimengerti munculnya realitas spiritual manusia. baik dalam penciptaan alat-alat intensional oleh manusia. semacam sabda batin dengan mana manusia menyatakan kepada dirinya sendiri baik mengenai semua yang melibatkan hidupnya sehari-hari. maupun tentang keputusankeputusan yang paling penting. Dia mampu mengatasi kontingensi dan rasa-rasa indrawi itu. Inilah dunia batin yang tidak termasuk lagi dalam dunia kuantitatif dan ukuran. serta mengorientasikan mereka kepada suatu proyek: yaitu suatu tujuan yang belum ada. nampak sebuah pendekatan lain terhadap realitasrealitas spiritual: Manusia didiami oleh kebutuhan-kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk menjalankan eksistensinya. Kemampuan itu kita namakan –di luar paham dualisme Platonis– semacam “instansi yang memimpin” yang memungkinkan manusia mengambil jarak terhadap dunia material di mana dia berada di dalamnya berkat badan dan rasa-rasa indrawinya. Ide-ide itu adalah hasil abstraksi dari kondisi-kondisi konkret dan data-data indrawi yang merupakan basis semua bentuk pengetahuan manusiawi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Justru terhadap segi itulah. Dalam psikologi klasik dahulu dikatakan bahwa yang khas bagi manusia adalah menciptakan ide-ide dengan mana dia membayangkan dunia dan mempengaruhinya. di seberang kotingensi-kontingensi biologis. Spirit masuk dalam kategori kualitas yang tak terukur langsung. Pada kesempatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itulah juga terlihat kapasitas manusia untuk menyadari dunia spiritual.lahir dari pikiran kreatifnya. Nama itu adalah Spirit. Makhluk manusiawi mampu melampaui kontingensi-kontingensi saat sekarang serta rasa-rasa indrawi. dan ukuran. yaitu reaksi batin positif atau negatif terhadap realitas-realitas yang dihadirkan oleh pancaindra dan imajinasi. Manusia merasa perlu menemukan suatu nama khusus untuk menyebut bidang yang dimasuki manusia berkat pikiran refleksifnya. Spirit ini didefinisikan berdasarkan pembedaannya terhadap dunia materi yang ciri-ciri khasnya adalah kuantitas.

Manusia Mengatasi Batas-batas Kebertubuhannya Berlainan dengan semua makhluk hidup yang lain. Sebenarnya. material. alteritas seorang lain. “Ada”-nya yang sejati tetap berada di depannya sebagai tugas yang mesti dilaksanakan. sesuatu yang bersifat heterogen terhadap apa yang biologis semata-mata. hanya keinginanlah yang bisa membangkitkan di dalamnya suatu alteritas sejati. sesudah tentara Jerman menduduki Perancis. roh itu menduga-duga (membayangkan) realitas-realitas jenis lain. bahwa dia tidak puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih sempurna. Spiritualitas manusia bisa dilukiskan dengan cerita berikut: Dalam Perang Dunia II. Pemuasan sebuah kebutuhan sama sekali tidak menghentikan denyut dan gelora terhadap kebaikan yang diinginkan dan dihabiskan. sebaliknya malah menimbulkan suatu tegangan dan dorongan ke arah sesuatu yang lain. Tiap kebutuhan yang dipenuhi melahirkan suatu kebutuhan baru.Psi. yaitu keinginan. dengan memperluas cakrawala dari semua yang dapat diharapkannya. pemuasan tersebut mewahyukan suatu kekurangan lebih fundamental lagi. termasuk jenis hewan bertulang belakang tingkat tinggi. Gagasan “cakrawala” menyatakan dengan baik perluasan terus-menerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya. Akibatnya. pada manusia pemuasan suatu kebutuhan tertentu sama sekali tidak meredakannya. timbul kekecewaan dan pengejaran terus-menerus ke arah kepuasan-kepuasan yang baru. Ketidaksesuaian permanen yang tersisip di antara pemuasan kebutuhan dan terus-menerus munculnya keinginan baru tidak lain dan tak bukan merupakan konsekuensi dari kehadiran suatu pikiran dan afektivitas spiritual dalam diri manusia. moral. untuk perkembangan ilmiah. manusia agaknya masih belum lengkap. S. kultural. dan pada kesempatan hadirnya hal-hal ini. Yang khas bagi roh adalah mentransendensikan hal-hal yang bersifat kuantitatif. dan hanya menimbulkan suatu keinginan baru. para tawanan perang terpaksa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Situasi tersebut bisa diringkaskan begini: dalam makhluk manusia terdapat suatu cakrawala relasional yang keterbukaannya tak terbatas. dia hanya berpaling pada dirinya. “kekurangan” manusia membangkitkan sesuatu yang lain dan mewahyukan kodrat khas manusia. 59 . Begitulah keinginan yang muncul sebagai akibat dari pemuasan suatu kebutuhan. Bukankah benar bahwa manusia sering sedih sesudah suatu kebutuhan terpenuhi. Berkat karakter spiritualnya. suatu persona yang diakui dan dihormati untuk dirinya sendiri. lebih lengkap? Jika manusia tinggal di derajat kebutuhan.VI. Akibatnya. suatu sifat yang khas bagi manusia karena asalnya yang spiritual adalah: kecakapan untuk maju. dan lain-lain.

secara kebetulan dua potong roti jatuh di kaki dua teman yang sedang membicarakan dimensi spiritualitas manusia.hidup dalam kemiskinan luar bias: penuh dengan penderitaan akibat kelaparan. karena mencintai Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Nah. sebaliknya. “Lihatlah”. Kekayaan itu dirasakan seperti suatu misteri –misteri makhluk manusiawi. atau suatu kodrat pasif yang bisa diklasifikasi dan dimanipulasikan. Dia menyepak potongan roti itu. kata salah seorang di antaranya. kamu baru saja menunjukkan apa artinya jiwa atau dimensi nonmaterial manusia itu!” Sesungguhnya. dia juga tak pernah disentuh dalam intimitasnya. persona tak pernah boleh menjadi milik seorang lain. banyak orang kehilangan segala sesuatu yang dapat dikatakan humanitasnya. kecuali jika dia memberikan dirinya sendiri dengan bebas. juga banyak orang lain yang justru memperlihatkan kekuatannya dengan berusaha dan berhasil bertindak baik sekali. akibat ciri spiritual jiwanya. tutur temannya. VII. dan sebagainya. berdasarkan suatu cita-cita yang dipilih karena nilainya yang tinggi (yang sama sekali berbeda dengan latihan binatang sirkus). laksana gerombolan serigala. Itulah pertemuan batin dan terutama kegiatan cinta-kasih. yang meletakkannya di luar semua kategori. kedinginan. Banyak orang buru-buru lari dan berebut potongan roti itu secara liar. beberapa serdadu Jerman melemparkan beberapa potong roti ke dalam kamp tawanan perang sejenis itu. 60 . “Mereka mau memfilmkan keburukan kita!”. karena spiritualitasnya. Adegan buruk itu difilmkan oleh opsir-opsir Jerman. Dia mentransendensikan seluruh tata jenis itu. Persona manusiawi. Suatu hari. Tetapi. meskipun perutnya lapar sekali. tidak masuk lagi ke dalam bidang materi. Persona ini bukan merupakan sebuah objek atau benda. kemampuan manusia untuk menjawab “tidak” terhadap kebutuhan-kebutuhan material atau biologis. melainkan dunia kebebasan batin. Ikhtisar Kehidupan makhluk manusia itu. diucapkan dengan istilah “persona”. untuk kemudian diperlihatkan dan ditertawakan dalam rangka propaganda perang. karena semuanya diatur agar mereka terampas dari hormat terhadap dirinya sendiri. Orang itu tidak mau meniru keliaran orang lain. Karena itu. Tiba-tiba. S. penuh dengan kekayaan batin: pikiran dan kebebasan. “tadi kita bicara mengenai ada tidaknya jiwa. hidup spiritual. itulah artinya istilah “spiritual”. sesuai dengan keyakinan-keyakinannya yang superior.Psi. Jadi arti “persona” adalah “ada spiritual” yang mekar berkembang dalam dan lewat badan. dan sekali lagi. kotoran. Dalam kesempatan itu.

dengan membuka diri ke arah misteri-misteri pribadi lain dan bertukar kekayaan-kekayaan pribadi dengan mereka.Psi. yang terstruktur berkat jiwa. Ciri khas persona tersebut juga diucapkan dengan gagasan keunikan. maksudnya. tidak ada dua persona yang sama satu sama lain. seperti proliferasi kuman selama ada unsur-unsur yang bisa dipakai. Sebaliknya. Adapun jiwa. Itulah dasar martabatnya. 61 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya. dia bersifat imanen terhadapnya. Badan yang penuh dengan hidup. sudah merupakan suatu badan yang dijiwai.merupakan panggilan sejati manusia. S. makhluk spiritual bersifat unik dalam keanekaragaman sesamanya. dalam fungsi yang menstrukturnya. tidak bersifat lahiriah terhadap badan. berlainan dengan makhluk material saja yang bisa dilipatgandakan tanpa batas dari dalam. yang saya sentuh dan rasakan itu. dia adalah diri saya sendiri dari sudut pandang materialnya sebagai suatu makhluk yang masuk dunia material dan biologis.

P.W.Psi. C. 62 . juneman@gmail.. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Pengetahua n Modul IV Sub Materi: • Kompleksitas Pengetahuan Manusia Apakah Pengetahuan Itu? Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Ikhtisar dan Matinya Epistemologi • • • • Juneman.Psi. S.

di depan subjek. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam subjek dapat menjadi nyata. Pertama. berkat pengetahuanlah. serta mengungkapkannya secara tepat. Bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri? Analisis yang dilakukan oleh Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) akhirnya mengakui bahwa kesulitan ini memang mengandung alasan yang benar. orang harus mengambil jarak terhadapnya. Alasannya. Ia menunjukkan. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti. seperti mengisyaratkan atau menginginkan. karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan itu. Merleau-Ponty yang membicarakan mengenai persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan. jelas bukan merupakan usaha tanpa kesulitan. Benar bahwa manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar dengan lebih jelas. karena hal itu dianggap mustahil dan tidak berguna. Kompleksitas Pengetahuan Manusia Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan kompleks. maka akhirnya ia tidak jelas menampilkan diri untuk dapat diketahui Kondisi inilah yang oleh Kees Bertens digambarkan sebagai hal yang membuat para filsuf menghindar untuk mempelajari pengetahuan pada umumnya. Pengetahuan. Bertens menjelaskan bahwa biasanya para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan.P E N G E TA H U AN I. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. S. 1987: 29 50). 63 . atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni). Ada dua faktor kesulitan dalam hubungan dengan hal ini. Ketiga.Psi. misalnya M. Kesulitan ini disebabkan karena untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun. Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana. yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens.

Pengetahuan dalam arti ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab. daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas. Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. perasaan. pembau. pendengaran. serta jerit teriakan. ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian. pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. tingkah laku. Pengetahuan disebut pula diskursif. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan. Seterusnya. definisi. melalui penglihatan. ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. konsep. Bersamaan waktu dengan orang mengenai suatu objek apa pun. serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif. dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. mitos. ia dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya. utuh. S. Louis Leahy menjelaskan bahwa pengetahuan itu bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu ada. Pengetahuan dapat memahami dirinya makin lama makin baik karena pengetahuan itu dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri.Psi. baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif. tindakan. dan sebagainya. serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang. Hal itu kemudian dapat dikembalikan ke perbuatan itu (atau ke perbuatan yang mirip) selama diperlukan untuk mengerti secara pasti kodratnya dan mendefinisikannya secara memuaskan. jernih bagi dirinya sendiri. ketika sambil muncul secara spontan. sikap-sikap. dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke prinsip. baik dalam bentuk ide. atau karya-karya seni. sampai batas tertentu. gerakan-gerakan. ada pula yang disebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit. ketika pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang lain. namun pengetahuan bukan tidak bisa diketahui. Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan. dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pengungkapannya adalah. objek-subjek serta indrawi dan intelektif. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap. Kompleksitas pengetahuan itu dapat digambarkan demikian: pengetahuan itu karena dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging dan jiwa. maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek. 64 .

Pengetahuan tentang materi. Pendeknya. kalau merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui). tentang manusia. satusatunya definisi umum yang dapat menerangi fenomena pengetahuan manusia adalah mendefinisikan pengetahuan dari segi kemampuan pengetahuan manusia sebagai subjeknya. Praktis. dan sebagainya. pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka ragam sifat dan bentuknya. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan. Pengetahuan itu kontemplatif. yang indrawi dan intelektif. atau konsep-konsep tentang benda-benda itu. atau kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga merugikan lainnya. S. Subjek pengetahuan secara hakiki berupa subjek yang bereksistensi dalam hubungan dengan sebuah objek sehingga objek itu dengan eksistensi dan kodratnya menjadi hadir dan nyata pada subjek. Pengetahuan itu sinergis. berbeda sekali satu sama lainnya. Bagi epistemologi. tentang hidup. bila menarik yang individual dari yang universal.Psi. keseluruhan dalam satu bagian. Inti kesadarannya adalah kegiatan yang menjadi bersamaan waktu subjek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tentang luasnya. Pengetahuan pun tampak di dalam banyak bentuknya yang berbedabeda. Pengetahuan lebih merupakan hubungan subjek dengan objek yang berbeda darinya. bila mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan ide-ide. dan kemampuan-kemampuannya. Akhirnya. menurut bagaimana cara diambil. baik itu berupa objek maupun makhluk berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya. organ-organnya. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan. bila mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri. ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya. tentang gerakan. Pengetahuan itu adalah induktif. sebab dalam akibat. Perumusan tersebut menegaskan bahwa meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. kalau mempertimbangkan bendabenda menurut bagaimana mereka bisa dipergunakan. 65 . Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggotaanggotanya. tidak baik kalau pengetahuan manusia yang begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya. Pengetahuan itu disebut spekulatif. Kompleksitas pengetahuan membuat dirinya begitu terasa sulit didekati dengan sebuah rumusan definisi yang tetap (statis) dan terbatas. bila menarik yang universal dari yang individual.pengetahuan intuitif. konsekuensi dalam prinsip. dan sebaliknya deduktif.

namun di dalam pertemuan tersebut. apakah pengetahuan itu subjektif atau objektif? Persoalan ini telah menjadi debat epistemologis sejak zaman awal Abad Pertengahan sampai Abad Modern. or universals. melainkan suatu relasi intrinsik yang sifatnya mendasar dan mendalam. Artinya. sebab di sini orang harus menjelaskan hubungan antara ke-apa-an di satu pihak dengan ke-siapa-an di lain pihak. demikian juga problem antara esensi dan eksistensi. Pengetahuan bukan sekadar pertemuan antara subjek-objek. melainkan persatuan antara subjek-objek yang manunggal. represent no objective real existents. 66 . Kedua aliran ini berpendapat bahwa yang terjadi di dalam pengetahuan hanyalah suatu pertemuan. Kegiatan-kegiatan afektif. pengetahuan berada di dalam interaksi antara subjek-objek.mengetahui suatu realitas. Dalam Dictionary of Philosophy diberikan keterangan demikian: Nominalism: In "Scholastic philosophy. Secara historis dapat disebutkan dua aliran. di dalam pertemuan itu terjadi pengetahuan karena adanya objek dan subjek hanyalah pemberi nama (nomas) kepada objek-objek tersebut. sedangkan lewat afektivitas. Pertanyaan kritis yang muncul sehubungan dengan pokok ini adalah. yaitu Nominalisme dan Konseptualisme. sehingga dengannya terjadi suatu kesatuan yang mendalam (intrinsic union) dan bukan sekadar extrinsic union. S. Tegasnya. subjek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas itu.Psi. Bagi kaum Nominalis. jadi bukan persatuan antara subjek dan objek. Jelas di sini bahwa pengetahuan pada dirinya juga berbeda dengan kegiatankegiatan afektif yang menemaninya. but are mere words or Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Relasi ini bukan seperti relasi ekstrinsik yaitu relasi yang hanya sekadar tampak di permukaan saja. Kaum Konseptualis umumnya berpendapat bahwa pengetahuan adalah pertemuan. Pandangan ini menghadapi problem epistemologis yang tidak sederhana. theory that abstract or general terms. lewat pengetahuanlah benda-benda menjadi hadir pada subjek. baik yang mendahuluinya (yang menghidupkan keingintahuan dan mengatur cara mengetahui) maupun yang sesudahnya (misalnya kepuasan) yang muncul sebagai akibat spontan dari pengetahuan. Sejarah epistemologi telah memperlihatkan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan sekadar sebagai relasi ekstrinsik semata-mata dengan menerangkan adanya kehadiran objek di dalam subjek. yang sangat tegas mengakui tetapi sekaligus membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. yang menemukan adalah konsep-konsep dari intelek manusia. subjek menjadi tertarik atau terjijikan. Jelaslah bahwa pada hakikatnya pengetahuan selalu bersifat relasional.

Reality is admitted only to actual physical particulars. (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars. to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status (Runes. (c) concepts refer to abstracts. tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda. that is to say. Konseptualisme dalam pandangannya ini merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realisme. Dijelaskan di sini bahwa universalia bukanlah entitas-entitas riil. Permasalahan menyangkut pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek. karena itu merupakan teori yang menyatakan bahwa hal-hal tidak mempunyai esensi. maka manusia adalah nama belaka. Menurutnya. dan aliran Idealisme di lain pihak. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal bereksistensi hanya dalam konsep. Pendeknya. Universals exist only post res (Runes. Di balik ini Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme Logis di satu pihak.Psi.names. but having no reality apart from them. tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. dan objek-subjek. Pandangan ini telah memacu lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek. Sebab pokoknya adalah bahwa harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek tersebut. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. Runes lebih lanjut menjelaskan Konseptualisme demikian: Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak. S. mere vocal utterances "flatus vocis". ternyata tidak sederhana implikasinya. 1975: 61). Jelasnya. berbeda halnya dengan Nominalisme. Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars. Nominalisme. terdapat konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal partikular sebagai esensi. 67 . dan bukan hanya sekadar pertemuan. 1975: 211). entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran.

antara tingkat pengetahuan suatu pengada. Apakah Pengetahuan Itu? Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai sehingga rupanya ada semacam korelasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia. di mana subjek menjadi objek sepenuhnya dan objek menjadi subjek sepenuhnya. Jelaslah bahwa pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang berkualitas dari subjek. Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek. dimensi material dan dimensi spiritual. mutlak. karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen. Sebenarnya. Proses ini terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility). dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tidak seperti halnya dengan yang diajarkan oleh aliran monisme. atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Terjadi suasana yang membawa frustrasi dan bahkan suasana yang menuju kepada keirasionalan atau absurditas. Pandangan ini menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri. pantheisme. pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan akhirnya. S. Kemanunggalan ini dapat dipandang sebagai sebuah "proses" dari sekadar sebuah realitas bendawi yang statis dan pasif. kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri. dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada eksistensinya. dan final. Terlihat di sini juga bahwa kemanunggalan antara subjekobjek dan objek-subjek di dalam pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna. 68 . Kondisi itulah yang menyuburkan subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary).Psi. Kualitas itu termasuk jenis kegiatan intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain. 1970). objektif atau subjektif.terkandung permasalahan antara "Materialisme" dan "Immaterialisme". II. Sontag. Tidak ada kemanunggalan yang sempurna dan final. induksi dan deduksi. Pengetahuan sebagai kegiatan imanen yang bersifat intensional. Pengetahuan seperti itu hanya dapat terjadi apabila ada pembauran antara aspek material dan aspek immaterial (spiritual) di dalamnya. suatu ketentuan yang melengkapi keadaan substansial dari suatu subjek.

Pengetahuan adalah persatuan keberadaan antara subjek dan objek. maka ada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya. di pihak lain. akan tampak bahwa di dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. Kata intensional sudah dipakai oleh Thomas Aquinas. terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme. maka pengetahuan itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). menjadikan orang berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain. maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan. Melalui inilah orang lalu memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen sematamata. pengetahuan bukan sekadar penemuan antara subjek dan objek. berlainan. Inti penekanannya adalah bahwa mengetahui merupakan kegiatan yang menuntun subjek berkomunikasi secara dinamis dengan eksistensi dan kodrat dari hakikat diri objek benda-benda (Leahy. dan kalaupun keluar (transcendent). Akibatnya. 1993 & Bertens. S. untuk mempertimbangkan bagaimana dunia objek manusia dan objek benda lain membentuk pengetahuan itu sendiri. cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut.Psi. Mempelajari pengetahuan. Akhirnya. maka subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek menjadi manunggal dengan subjek. aliran ini mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda. Pandangan ini sekaligus hendak menunjukkan bahwa pengetahuan bersifat relasional karena lewat pengetahuanlah manusia masuk ke dalam keberhubungannya dengan hakikat adanya sesuatu objek yang lain. Merleau-Ponty. Suatu kemanunggalan subjek-objek yang sungguh mendalam.batas-batasnya. dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasanManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ditinjau dari sisi subjek. Ditinjau dari sisi objek. Bila dianalisis lebih lanjut. kemudian digunakan lagi oleh Edmund Husserl. 69 . Jelaslah bahwa pengetahuan akan selalu bersifat subjektif-objektif dan objektif-subjektif. akan tetapi sungguh merupakan suatu kemanunggalan dalam keberadaan yang mendalam. Pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. dan berada di luar subjek. dengan mengetahui. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif. Aliran Idealisme. Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. Kegiatan intensional ini mengakibatkan subjek berada dalam ketegangan ke arah objek. dan para filsuf fenomenologi lain seperti M. 1983).

pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai "yang mengobjektifkan". Persoalan metafisika mengenai "apa yang dapat diketahui atau mengenai apakah yang dimaksudkan dengan realitas?" merupakan segi-segi keprihatinan eksistensial manusia yang mendorong keingintahuannya. Pandangan ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan dan syarat-syaratnya. jangkauan dan batas-batas pengetahuan manusia. 1982:30 -31). Aime' Forest menegaskan pandangannya mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa cita-cita pengetahuan adalah suatu manifestasi. Apa yang Diandaikan oleh Pengetahuan? Pemahaman yang memadai tentang pengetahuan manusia yang bersifat eksistensialis mengantarkan kita pada analisis yang sangat mendasar tentang hakikat dan tujuan epistemologi. bagaimana manusia dapat meyakinkan diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. pikiran ke arah itu masih bisa diteruskan. namun epistemologi tidak boleh terbalas sampai di situ saja. epistemologi pada dasarnya bertujuan untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan manusia dapat tahu. Meskipun demikian. Jelaslah bahwa epistemologi dalam hal ini berfungsi membuat peta dan melukiskan jangkauan serta batas-batas pengetahuan manusia itu (Sindhunata. dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang diandaikan dari subjek yang berpengetahuan dan dari objek yang diketahui. Cita-cita ini tak pernah kita realisasikan secara sempurna. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. mengantarkan pada kesimpulan bahwa setiap percobaan untuk mendefinisikan pengetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subjek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu. Immanuel Kant dalam hal ini berpendapat "bahwa tujuan epistemologi bukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dapat tahu. supaya pengetahuan memang menjadi mungkin? III. S. karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum. dengan menarik perhatian kita terhadap mereka.Psi.keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. karena adanya kenyataan bahwa manusia lelah memikirkan kemungkinan untuk menanyakan hal-hal yang tak tertanyakan. Walaupun demikian. Jelaslah di sini bahwa manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata. 70 . Penjelasan tersebut akhirnya. tetapi rupanya ia terdiri dari membiarkan bendabenda berada di hadapan jiwanya. Menurutnya. Objectum mengandung arti bahwa apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya.

Manusia terbatas dalam seluruh keberadaannya. 1983: 344). Søren Kierkegaard maupun Jean-Paul Sartre menunjukkan adanya perspektif yang lain mengenai manusia. karena diri manusia memiliki keberadaannya sendiri.mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya? Keprihatinan ini telah memunculkan skeptisisme metodis atau keraguan metodis yang merupakan kemungkinan positif bagi pernyataan ontologis mengenai kodrat eksistensial manusia tersebut. 71 . S. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus. Jelasnya. mereka adalah mereka.Psi. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya. menggerogoti. Pengetahuan sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan: karenanya terbuka juga bagi masa sekarang. Ada benda-benda yang melulu identik dengan dirinya sendiri. dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Dasar keraguan manusia secara ontologis berada dalam keterbatasan kodratinya. Merleau Ponty sekurang-kurangnya sependapat dengan hal yang sama ketika ia berkata bahwa kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah definitif dan absolut (Bertens. Mereka menekankan bahwa manusia tidak identik dengan dirinya sendiri. lengkap. Pengetahuan sebagai ciri keberadaan manusia tidak sama seperti keberadaan batu atau benda-benda lainnya. Pengetahuan manusia sesaat pun tidak pernah seutuhnya identik dengan dirinya sendiri. manusia harus menjadi dirinya sendiri. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi. Sikap tersebut kiranya sangat relevan bagi pengembangan epistemologi yang memungkinkan adanya pengetahuan dan pengembangannya atas dasar tanggung jawab kultural. serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. Kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia adalah kebenaran dan kepastian dalam hidup dan kehidupan manusia yang tidak pernah selesai. Akibatnya. demikian juga pengetahuannya. kebenaran dan kepastian pengetahuan tidak pernah terhabiskan seperti sebuah kebenaran matematis yang terhabiskan misalnya. Menjadi manusia tidaklah hanya identik dengan dirinya sendiri sebagaimana sebuah batu atau meja. Keterbatasan manusia ini menjangkau pula alam pengetahuan yang dimilikinya. tegas tanpa cacat di dalam eksistensinya. Keterbatasannya itulah yang mendorong. dua kali dua sama dengan empat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. pengetahuan sebagai cara berada manusia merupakan suatu adaptasi akumulatif yang sangat terbuka dan dinamis. seutuhnya terwujudkan. membakar.

dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu. maka demikian pula halnya dengan pengetahuannya yang juga tidak pernah dapat melulu menjadi miliknya sendiri. untuk menyelesaikan modul ini. ia tidak tahu apa yang diketahuinya. manusia bisa berada secara lebih tinggi. daripada melalui bahasa dan seksualitas. maka pengetahuan pun demikian halnya merupakan pencapaian terus-menerus. secara radikal.Psi. Pengetahuan ibarat sebuah hadiah yang selalu dimenangkan kembali. melampaui dirinya sendiri. watak kodrati pengetahuan manusia yang paling tinggi. Apabila manusia tidak pas dengan dirinya sendiri. dalam satu modul yang lain lagi. karena kita akan mempelajari.(2 x 2 = 4). Kesesuaian (Konaturalitas) antara yang Diketahui dan Si Pengenal Melalui pengetahuanlah. benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal. dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. sebagaimana merupakan suatu perkembangan yang terus berlangsung sebagai suatu pencapaian. Keberadaan manusia. 72 . Kebenaran dan kepastian yang bercorak manusiawi selalu "bernuansa" dan berperspektif. Melalui pengetahuanlah. tetapi selalu berbeda dari dirinya sendiri. dan jiwa bukan materi. Sebagaimana manusia tidaklah sama dengan dirinya. Penegasan ini sekaligus menyatakan bahwa secara kultural pengetahuan manusia ada. yaitu pengetahuan intelektif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dengan mengingat betapa misterius fenomena pengetahuan itu. Tinggal pertanyaan: Bagaimana ”konaturalitas” itu mungkin? Bagaimana ia harus dipikirkan? Tentang itu. kita mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain. Akan tetapi. Terutama karena materi bukan jiwa. Melalui pengetahuanlah. kita akan melengkapi penyelidikan ini pada modul yang bertemakan ”Pengertian”. kendati semua penjelasan sudah diberikan. S. tetapi kebenarannya tetap berada di bawah syarat-syarat eksistensi manusia. tidak cukup kita berkata bahwa ada ”konaturalitas” antara mereka berdua. IV. yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi. maka cukup sampai di sini. Keprihatinan eksistensial manusia yang membakar dan mendorong pengembangan pengetahuannya ini terletak di dalam perjuangannya untuk melewati ketiadaan di dalam dirinya. ia mampu melampaui dan mengatasi kebenaran matematika yang statis dan tetap tak berubah itu. maka demikian halnya dengan pengetahuan.

Pelebaran yang sesekali harus melontarkan pertanyaan pada pertanyaan filosofis itu sendiri. disebabkan oleh filsafat yang masih berkutat dengan nalar epistemologis. mulai dari Yunani klasik sampai modern. sampai Descartes yang menelanjangi kodrat kognitif manusia sebagai dasar pengetahuannya tentang dunia. yakni modus yang tidak berkonsentrasi pada jawaban positif melainkan. Oleh karena itu. Karenanya. kidung bait-bait puisi dalam tubuhnya pun lamat-lamat menghilang. melulu prihatin pada pelebaran ruang imajinasi nalar kita sendiri. yaitu Ada yang menopang segala adaan. Saat nalar kehilangan kepekaannya pada yang transenden. nalar yang mewakili bukan menyingkap. Nietzsche yang dituduh pelbagai pihak antinalar sesungguhnya masih terjebak dalam sejarah nalar epistemologis saat menelanjangi kodrat manusia sebagai naluri untuk penguasaan. Bagi Heidegger. Kondisi ini diperparah lewat lahirnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. 73 . Sejarah filsafat adalah sejarah nalar epistemologis. Bernalar bagi Heidegger adalah keunggulan filsafat. tetapi pada pertanyaan-pertanyaan asali guna menemukan modus pengucapan baru. nalar yang mengejar keakuratan representasi antara benak dan kenyataan. filsafat harus memiliki modus bernalar yang melebihi ilmu-ilmu positif.Psi. menurut Heidegger. Para filsuf terlalu asyik bertanya sehingga melupakan perbedaan kentara antara Ada dan ada.V. Ini yang dilakukan Heidegger saat mengajukan pertanyaan terhadap seluruh pertanyaan filsafat. Ikhtisar dan Matinya Epistemologi Kapan manusia berhenti bertanya? Nalar puitis berhenti bersuara saat pertanyaan menjelma pengalaman yang pada gilirannya menukik pada pengetahuan. Modus bernalar yang mencari kodrat harus digeser oleh modus bernalar yang mencari modus pengucapan baru. Selalu ada yang bergentayangan di luar modus pengucapan yang dominan. Apakah nalar puitis itu? Nalar puitis tidak berkonsentrasi pada persoalan yang absolut-esoteris. Heidegger meletakkan fondasi awal bagi metafilsafat nalar puitis. semua pertanyaan itu harus dipertanyakan ulang karena tidak bertanya tentang Ada yang sesungguhnya. Bahkan. Mulai dari filsuf Milesian yang coba menalar kodrat semesta sesungguhnya. namun tidak juga mengalah pada jerat kebahasaan belaka. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang berlontaran dalam sejarah tak mampu menampung transendensi sang Ada. modus bernalar biasa harus ditinggalkan. Konsentrasinya bukan pada jawaban positif. Nalar puitis adalah nalar yang selalu peka terhadap yang transenden berdasarkan postulatnya akan kodrat semiotis kenyataan. Kelumpuhan ini. Itulah yang dikejar oleh nalar puitis. seperti diisyaratkan Russel.

Puisi sekadar metafora bagi kemampuan nalar membuka modus-modus pengucapan baru tentang jagat raya. Saat nalar terkurung oleh kategorikategori kultural. Kematian nalar puitis adalah saat nalar terjebak pada fungsi metodologisnya. "Kelainan" berbeda dengan yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pilihan antara relativisme dan universalisme adalah sebuah pilihan dikotomis. Kesia-siaan yang dituduhkan para pembela nalar kepada para neosofis yang antikebenaran tunggal. Sains membekukan geliat nalar pada pandangan dunia mekanisme yang telah menghilangkan dunia dari kemisteriusan. hamba sejarah. Nalar adalah naluri dasar manusia yang senantiasa merindu pada yang tak terbatas. dan teologi mengejar kebenaran bukan kelainan. Nalar puitis adalah nalar yang selalu terjaga pada "kelainan". kata mereka. Ini yang dimaksud Heidegger saat mengejek fisika sebagai semata-mata kalkulasi. Nalar identik dengan universalisme. spekulasi nalar tidak terjerat oleh metode. Ia menjadi ansilla historica. misalnya. Nalar yang melulu bersibuk dengan langkah-langkah menemukan kebenaran. Tuduhan yang berpijak pada sangkaan pengulangan gagasan aleitheia Heidegger dalam hipotesis Adian. filsafat. bukan pemikiran. Nalar puitis juga bukan sekadar keisengan yang antinalar. Pengeringan dunia dari yang asing ini membuat nalar kehilangan kemampuannya membawa kita ke tanah tak berjejak. Ini yang membuat sebuah kemajuan dimungkinkan.sains pada abad ke-17 sebagai wujud sempurna filsafat alam. Mengapa? Karena fisika tak bisa melepaskan diri dari pandangan dunia mekanistik. Ia mentransendenkan semua metode. Tuduhan-tuduhan itu cukup berdasar. Ia hanya berfokus menghitunghitung gerak-gerik semesta tanpa menghasilkan sebuah modus pengucapan alternatif. Pengejaran yang sadar atau tidak disadari menggendong sebuah pandangan dunia tertentu. jelajah nalar puitis pun mandek secara historis. Donny Gahral Adian (2004) menyodorkan hipotesis nalar puitis sebagai muara metamorfosis nalar manusia setelah pengejaran terhadap yang transenden dihentikan. bukan menciptakan. Sebagian menafsirkannya sebagai maklumat hukuman mati bagi nalar. bukan eksplorasi. Padahal. Sebuah kesia-siaan yang tak perlu. S. Hipotesis yang ternyata banyak mendapat reaksi keras pelbagai pihak. Fisika. Kemampuan yang lenyap saat ilmu pengetahuan.Psi. Metode dalam menentukan yang benar maupun yang baik. Naluri kerinduan nalar pada yang transenden redup saat nalar difungsikan semata-mata secara komunitarian. seperti dikemukakan Whitehead. Nalar pun sekadar kalkulasi. Adian dituduh memutlakkan jalan puisi. 74 . dicela Heidegger sebagai semata-mata kalkulasi bukan pemikiran. Sungguhkah demikian? Jelas tergurat bahwa nalar puitis bukanlah puisi.

Sejarah adalah hasil sedimentasi pengetahuan yang bercikal bakal pada lontaran pertanyaan nalar puitis. Yang dikejar oleh nalar puitis. melainkan membangun rumah-rumah Ada yang baru. Ia tak bisa menembus belenggu epistemologi yang dirajutnya sendiri. Ini semua menjadi kesulitan pokok Heidegger dari kacamata nalar puitis. tidak berurusan dengan kategori benar-salah. ketika itu semua diletakkan dalam proyek pencarian Ada. Semesta selalu sudah menampilkan dirinya secara kebahasaan. Ia adalah sebentuk fiksi etis-komunitarian yang diuniversalkan. Berpikir seharusnya bukan mencari Ada. Persoalan ini sepintas persoalan aksiologis (nilai). gagasan yang mendapatkan pembenaran dari hampir semua komentatornya. sebaliknya. Bahwa pengetahuan kita tentang yang baik dan yang buruk adalah buatan tangan sejarah. Yang baik dan yang jahat. adalah bentukan sejarah orang-orang yang kalah secara moral. Sementara "kelainan". Kalaupun bertanya. adalah sebuah momen kebenaran setelah ia tenggelam dalam kepalsuan publik. sesungguhnya ia adalah persoalan epistemologis (pengetahuan). Apakah Nietzsche sedang mempraktikkan nalar komunitaris yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka pertanyaan itu sekadar pertanyaan komunitaris. menurut Nietzsche.transenden. melainkan sebuah kosakata baru tanpa klaim epistemologis apa pun. maka ia terjebak dalam epistemologi. Namun. sementara "kelainan" adalah modus puitis. 75 . S. Beyond Good and Evil. Ia semata-mata sebuah kemungkinan baru dalam berbincang-bincang tentang semesta. Sedimentasi yang menebal itulah yang membuat kita tidak lagi bertanya. Nietzsche pun dituduh sebagai pendaur ulang klaim-klaim relativisme kaum sofis. Transendensi adalah modus epistemologis. bukan kebenaran baru. Namun. Berakar dari proyekproyek genealoginya. Kita bisa merajut fiksi baru untuk mendongkelnya. apakah nalar puitis sekadar pengulangan hipotesa "aleitheia" Martin Heidegger? Saat Heidegger menjelaskan panjang lebar tentang bahasa sebagai rumah Ada. Aroma epistemologis semakin jelas tercium saat Heidegger berbicara tentang Dasein otentik yang mengambil jarak dari "ke-mereka-an" (Dasman). Benarkah demikian? Nietzsche dalam bukunya. Kita sedang hidup di masa yang melupakan apakah. ia sesungguhnya sudah bersentuhan dengan apa yang dimaksud dalam uraian di atas. Selanjutnya. Konsekuensinya adalah itu bukan pilihan satusatunya. yakni being in the world. Pengambilan jarak Dasein. Tanah berjejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang kadar epistemologisnya lebih rendah ketimbang dataran kognitif baru yang dituju. Pertanyaan yang sudah diarahkan jawabannya oleh kesepakatan epistemik satu komunitas.Psi. Di mana letak perbedaannya? Modus epistemologis bekerja dengan kategori benar-salah. mempersoalkan klaim universalitas yang baik dan yang jahat.

Seperti jejaka yang menunggu jawaban pinangannya dari sang dara. Semua tanda tanya harus dipastikan. justru relativisme lahir dari rahim kecemasan sedemikian. Nalar harus bekerja tertib karena alam pun sesuatu yang tertib. Ikatan yang membuat moral seolah-olah bersimpuh pada satu metode. Tertib alam harus terpantul sempurna dalam kinerja nalar. Keliaran nalar pun harus dihentikan. Menjejakkan kaki kognitif di tanah tak berjejak. Satu saja lolos. Alam bekerja berdasarkan satu gramatika. tertib kosmis akan mengalami gangguan. kalau membuka halaman demi halaman buku-bukunya. Pengetahuan moral yang sudah tersedimentasi sejak lama itulah yang kemudian diruntuhkan Nietzsche. Melampaui relativisme. Ketika orang sudah tak lagi bertanya tentang legitimasi sebuah pengetahuan moral. Ribuan tanda tanya yang harus dipastikan supaya manusia hidup tanpa kejutan dan entakkan. Dan. Bergerak liar mencari kemungkinan-kemungkinan baru. manusia hidup dalam api kekalutan yang tak kunjung padam.Psi. Kalau tidak. Alam yang ternalar sempurna tidak boleh menyisakan ganjalan epistemologis yang mengganggu. Keberanian nalar dalam menjelajah pelbagai kemungkinan pengucapan pun dilibas oleh kecemasan epistemologis yang berlebihan. Nalar puitis Nietzsche jauh melompati sedimentasi sejarah. Sebuah kesadaran dalam lingkup komunitarian yang pekat. Dan. kita menemukan jarum-jarum aforisme yang tajam menghunjam indra. S. Yang nyata adalah rasional dan yang rasional adalah nyata. semuanya itu hanya mungkin karena dorongan naluri akan yang lain. Nietzsche. Suara purba itu sirna oleh tumpukan pengalaman yang menyejarah. Kecemasan untuk mengarungi ruang hampa di luar lingkungan komunitarisnya: lingkungan memberlakukan satu aturan bagi kebenaran. 76 . kebaikan. Itulah pagelaran nalar puitis yang dipertontonkan Nietzsche. Kesadaran bertindak dalam mana manusia tak harus berpikir keras untuknya. Manusia lebih suka hidup dalam –menyitir Giddens– kesadaran praktis. Manusia butuh kepastian. Tumpukan yang berakar dari kecemasan akan ribuan tanda tanya yang menyelimuti semesta. gramatika itu hanya bisa disibak oleh nalar yang patuh. Padahal. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. menurut Hegel. Nietzsche dengan lincah memainkan nalar puitis menembus yang benar dan salah. sebaliknya. sungguhkah Nietzsche bisa dijebloskan masuk pada barisan antitransenden? Padahal.tak berpuisi? Atau. Semua tanda tanya harus dipastikan. Jatuhnya nalar pada kesatuan gramatika membuat naluri akan yang lain lumpuh. justru menjalankan nalar puitis guna mencari gramatika epistemologi moral baru. Buku-bukunya adalah puisi panjang tentang kealpaan yang disahkan sejarah. dan keindahan. Nietzsche membebaskan moral dari ikatan nalar konvensional. Kondisi yang tentu saja tak mengenakkan.

harus dikembalikan pada permainan bahasa masing-masing komunitas. Namun. menggugat linieritas nalar falsifikasi Popper. Berkat falsifikasi. Ia tidak tunggal. Thomas Kuhn. Kuhn menjebak nalar pada kubah-kubah komunitas ilmiah yang memacetkan daya transendensinya. sebaliknya. S. Puitiskah nalar falsifikasi Popper? Sungguh tak dapat dimungkiri. sains pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. kemajuan yang dihasilkan bersifat linier dan monistik. Paul Feyerabend. universalitas. Bagi Popper. Teori yang paling tahan uji adalah teori yang paling dekat menghampiri kebenaran. Mereka tidak peduli dengan gramatika nalar masingmasing komunitas. Mereka memikirkan bagaimana sebuah gramatika nalar Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Kelompok penolak universalisme nalar berpegangan pada premis bahwa pengetahuan adalah konstruksi budaya. Bagaimana kemajemukan nalar bisa dipertanggungjawabkan dari kacamata politik? Atau dengan kata lain. dan John Rawls adalah sebagian dari mereka yang menggulati masalah ini. menolak bentuk komunitarianisme macam itu. sesuatu yang bergerak dan bercabang ke sana-sini seiring alun sejarah. namun seperti digagas Wittgenstein. Baginya. menurut Popper. Budaya adalah sesuatu yang berdiri diametral dengan pengetahuan. Kesatuan gramatika pengujian kebenaran masih menggayuti nalar falsifikasi Popper. bagaimana sebuah hidup bersama yang baik itu mungkin? Richard Rorty.Psi. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa nalar adalah majemuk. filsuf sains termasyhur. mengapa tak kita biarkan nalar bekerja dalam gramatikanya sendiri-sendiri. Ia hanya bisa dihampiri lewat uji falsifikasi terus-menerus. Pengetahuan berpegang pada obyektivitas. Kelincahan nalar seperti yang dipertontonkan Nietzsche tidak tampak. Kesatuan metode harus memberi jalan pada pluralisme. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Pergeseran dari obyektivitas menjadi komunalitas memperoleh tantangan politis. Ia berubah dan bercabang bersama sejarah. ideologi. Lahirlah nalar falsifikasi menggeser segala dogma. Sebuah teori secara logika dapat diruntuhkan hanya dengan satu fakta yang bertolak belakang. Jurgen Habermas. dan ketetapan. Pengumpulan fakta-fakta guna membenarkan sebuah teori cacat dari kacamata logika. Ia mencibir metode induksi yang dibakukan positivisme sebagai pembeda sains dan nirsains. adalah saat nalar induksi digantikan oleh nalar falsifikasi. Ia menyerang relativisme paradigma yang digagas rekannya. 77 . Mengatakan pengetahuan produk budaya sama artinya dengan mengatakan pengetahuan tidak seabsolut yang dikira orang. seorang anti-Popperian.Karl Raimund Popper. Budaya. Pandangan dunia sains pun masih mengeram pada lantai paling bawah pemikirannya. melainkan kehampiran. Daya transendensi nalar.

yang transenden didatangkan sebagai juru selamat. Setelah nalar berhenti. Ia adalah prosedur bagi masing-masing nalar komunitarian dalam memutuskan sebuah konsensus. Naluri kerinduan pada yang tak terbatas membuatnya senantiasa lincah bekerja mencari gramatika-gramatika baru. Yang transenden lalu dituduh sebagai ruang hampa kognisi.percakapan yang bisa membuat pelbagai kelompok memiliki kesatuan konsepsi tentang hidup bersama. Namun. Ini membuat agresivitas nalar puitis pun mandek. "segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam"/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebuah potret semesta yang digambarkan sebagai perlahan-lahan dilanda kegelapan. Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam. Ribuan tanda tanya pun terselimuti jawaban. Seolah-olah masing-masing gramatika diterima apa adanya. ketidakpeduliannya pada isi gramatika kultural itu sendiri menyimpan masalah. Nalar manusia terbatas. tidak ditatapkan pada gramatika kelompok itu sendiri. melainkan prosedur yang sehat percakapan antargramatika. Nalar percakapan hanya mengamini kemajemukan gramatika tanpa memeriksa sedimentasi pengalaman yang menua dalam masingmasing gramatika. habis perkara. Saat manusia berhadapan dengan teka-teki yang tak terpecahkan. Tuhan bekerja secara misterius. Tuduhan monisme pun akhirnya bisa dijatuhkan kepada para pembela nalar percakapan. Ia tidak berurusan dengan isi gramatika kultural itu sendiri. sekaligus senantiasa penuh selidik terhadap universalismeabsolutisme. kelompok nalar percakapan memang terdengar puitis. nalar puitis tak mengenal horizon seperti itu. Begitu cibir para mistikus. Apakah ini potret nalar puitis? Dari sisi ketidakterjebakannya pada gramatika. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo. Yang asing hanya dihadirkan sebagai obat kecemasan. Namun. intuisi bekerja meneruskan perjalanan spiritual menuju yang asing. Menggeser relativisme. Yang transenden hanya bisa dikenali lewat absennya nalar dan menguatnya hati. Tidak digerakkan secara lincah mencari gramatika-gramatika pengucapan baru untuk membuka lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam sedimentasi pengalaman tersebut. Apa mendominasi apakah. Namun. Nalar hanya diaksentuasikan dalam merumuskan prinsip-prinsip yang bisa diterima sebanyak mungkin kelompok. ingat dan sadar. Kemandekan upaya eksplorasi puitis nalar membuat sejarah menang telak atas pertanyaan. Pencarian yang menyeret yang transenden ke dalam terang pengetahuan. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijauhkan mereka dari sistem-sistem pemikiran kontemporer. Melampaui yang benar dan yang salah menurut sejarah. S. pada segurat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. 78 . Nalar percakapan sendiri adalah nalar yang tidak berpihak.

Psi. belajar merangkul kembali "kelainan" yang hilang. Pada masa yang mulai melupakan apakah ini. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. Melainkan. dan filsafat. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. ingat dan sadar akan "yang hening" dan "yang lain" sungguh menjanjikan sejumput cahaya. teologis. atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. dan filsafat untuk berhening sejenak. S. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. teologi. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Saatnya bagi sains. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah. Cahaya yang telah lama redup dalam sepak terjang sains. 79 . Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Singkat kata. teologi.

C. 80 . S. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S.W.Psi.Afektivitas Modul V Sub Materi: • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Kesenangan Harus Dicurigai? Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.Psi.P..

manis pada lidah. Baiklah kita coba menyelami apakah rasa itu. Bukan itu yang dimaksud di sini dengan kata "rasa". rasa "tersayat-sayat" bisa dikatakan dalam hati". Dalam kalangan Jawa. atau manusia sebagai trias-dinamika. yaitu aspek kognitif dan aspek pengambil. karsa (konasi). dan lain sebagainya). dan juga bisa mempunyai akibat lokal (misalnya orang takut githoknya mengkirig). Di atas hal itu sudah kita mulai. tetapi toh lebih sedikit dari itu. dan lain sebagainya. itulah trias-dinamika manusia. 81 . dengan rasa kadang-kadang yang dimaksud titik tertinggi dalam hidup rohani. ada rasa yang lebih mendalam.” “Saya merasa khawatir. rasa was was. Di samping itu. terutama kalangan kebatinan. Dalam Serat Wedhatama misalnya. Rasa ini akan kita sebut rasa rohani-jasmani. Tetapi.” Di sini rasa mengandung pengertian. Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia Cipta (kognisi). rasa (afeksi). Rasa jasmani mempunyai lokalisasi (sakit pada tempat luka. Rasa rohani-jasmani itu tidak mempunyai lokalisasi. jika seorang berkata: aku merasa dingin. Bahkan. bagaimana kedudukannya.Psi. bisa menilai segala keadaan. disebutkan: Mangka nadyan tuwa pikun (meskipun sudah tua) yén tan mikani rasa. Jadi. tetapi dengan demikian dia belum Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dirinya sendiri. Rasa khawatir. S. Aspek ini bisa juga disebut aspek perangsang. Di sini arti rasa sama dengan yang kita tangkap. Dalam kalangan itu rasa berarti kebijaksanaan (wisdom) yang sangat tinggi sehingga dengan rasa itu manusia mengerti tempatnya sendiri. (jika tidak memiliki rasa) yekti sepa sepi lir sepah samun (maka dia kosong sama sekali). aspek pendekap. yaitu di mana manusia sampai ke kesatuan dengan Tuhan yang seerateratnya. yaitu rasa yang bersifat jasmani (tetapi bagi manusia tidak ada hanya rasa). kita membedakan dua macam rasa. Baiklah sebentar kita meninjau kata "rasa" itu. kata "rasa" mempunyai arti yang berlainan dari yang kita maksud di sini. rasa pada badan! Di samping itu.A F E K T I V I TAS I. dan lain sebagainya. Orang mencium bau mangga. rasa takut. minuman ini terasa manis. aspek apetitif. sebetulnya tempat rasa-dalam itu adalah pada seluruh diri manusia. rasa juga kita jumpai dalam kalimat seperti: “Saya merasa tertarik. Dinamika manusia itu mempunyai dua aspek.

dan sesuatu itu datangnya dari bawah. tetapi bentuk kesatuannya melebar ke bawah. Orang pingsan tidak bisa menikmati. kesatuan itu menjadi kebhinnekaan. artinya melalui indra kita. pada prinsipnya pengertian dan kehendak itu merupakan satu realitas. manusia itu manusia. maka menjadi banyak kata. Persatuan yang sesempurna-sempurnanya itu berupa kesatuan yang dimengerti. meskipun mulut dimasuki makanan. Jika sesuatu kita "materikan". maka "membentang" berupa kalimat.Psi. Kesatuan yang tidak dimengerti bagi manusia bukanlah kesatuan. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? Bentuk-bentuk itu berupa berbagai macam dorongan. jadi sejak saat pertama sudah bhinneka-tunggal karena dia jasmani-rohani. Mengapa dinamika kita itu meskipun satu. Artinya. Menikmati sesuatu berarti ya bersatu ya mengerti. manusia itu tidak bisa mau kecuali jika objeknya datang dari bawah. Gambar itu bisa kita balik juga. seperti dorongan ke arah barang-barang untuk mempertahankan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Maka sesuai dengan kejasmanian. kalau lidah hanya kangen bakmi. Sebaliknya. yaitu karsa. tetapi berupa kesatuan dengan kejasmanian. Tetapi toh ada gambaran-gambaran yang bisa memberi kesan tentang kesatuan itu. toh tidak bisa menikmati karena lidahnya "tidak bisa mengerti" (lidah tidak bisa menangkap rasa karena sakit). Dengan ini hanya dinyatakan bahwa segala daya yang di bawah itu harus ditentukan oleh puncaknya. Objek kita bukanlah suatu kekosongan. Lebih jelas lagi merasa haus. 82 . tetapi meruncing ke atas. menjadi bhinneka. Sebetulnya. menjadi terserak. S. Pikiran kita. belum berarti minum! Contoh-contoh ini diambil dari lingkungan bawah. karsa juga tidak bisa bertindak tanpa "bawahan". di situ pengertian dan kehendak menjadi satu. Nah. lantas menjadi banyak. Tetapi. di bawah lebar. Sejak muncul dalam alam realitas. Tetapi sebaliknya. Jadi.merasakan mangga. pengertian saja juga belum kesatuan yang sesungguhnya. Orang yang lidahnya sakit. dia mengambil buah itu. artinya "melalui" daya-daya sensitif. jika dilahirkan. memakannya. Jangan dikatakan bahwa dinamika itu terlebih dahulu satu. yaitu dalam cinta. sebaliknya. tetapi berlaku juga untuk taraf rohani. Jika cinta dinyatakan. maka yang satu itu menjadi terbentang. Di atas telah dikatakan bahwa bentuk dinamika perangsang kita itu sebagai piramida. Mungkin kata yang agak bisa memberi kesan dari yang dimaksud di sini itu adalah kata "menikmati". di situ belum terjadi penikmatan bakmi. bagi kita hal itu terpecah dua atau dua aspek dari satu dinamika. yaitu di atas suatu titik. Kita selalu mau sesuatu. Dengan ini dia mengalami mangga itu.

manusia berbuat ini atau itu selalu berharap akan berbuat lainnya. Jika malapetaka mengancam. tetapi dari analisis kembali lagi ke sintesis. Demikianlah penderitaan orang sakit yang tidak bisa sembuh. Dalam kedua dorongan ini lebih tampak bahwa rasa tidak bisa dipisahkan dari kerohanian manusia sebab mengalami keindahan dan cinta bukan soal jasmani saja. Dalam pikiran analitis. lebih baik kata yang selalu kita gunakan yaitu dinamika. merasa gembira. selalu terjun dari sintesis ke analisis. tetapi secara manusia. Hidup tidak hanya secara biologis. dorongan sensitif untuk cinta. Catatan yang kedua ialah bahwa bentuk dinamika jangan dipandang lepas dari pribadi manusia. Sedang dalam situasi tertentu manusia menanti gantinya. Pikiran kita selalu bersifat analitis-sintetis dan sintetis-analitis.hidupnya (konkretnya makanan dan minuman tetapi juga Iain-Iain. kita boleh saja bicara tentang dorongan atau nafsu seolah-olah ada dorongan tersendiri. Dalam semua bentuk itu tampaklah dinamika. marah. penantian. Untuk maksud kita sekarang. Jika pemenuhan mungkin tetapi belum terlaksana. seperti rokok dan lain sebagainya). segan. Perbuatan atau situasi tentu disusul dengan yang berikutnya. Untuk lebih jelasnya ambillah harapan atau penantian. Dalam semua ini manusia berhadapan dengan barangbarang yang baginya bisa berupa malapetaka. Perpanjangan suatu situasi. bagi manusia merupakan penderitaan. jika dia terpaksa bersatu dengan malapetaka. 83 . dengan isi yang lebih jelas. Jadi. dan lain sebagainya. Yang pertama ialah bahwa dengan dinamika tersebut hiduplah manusia.Psi. Dengan menunjuk berbagai macam bentuk ini tampak bahwa istilah dorongan tidak begitu tepat. baik kalau dinyatakan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. terutama jika akhirnya tidak tampak. dorongan ke arah keindahan. dia selalu menanti. Paparan tentang rasa kita tambah dengan dua catatan. artinya menghadapkan manusia terhadap sesuatu. yaitu takut. Pada manusia terdapat juga dorongan negatif. Dia selalu berharapan. bisa kerja lebih baik dan lain sebagainya. Maka. Selama kita hidup. dan lain sebagainya. maka apakah puncaknya? Penikmatan. Dorongan-dorongan tersebut adalah dorongan positif. maka dia marah atau putus asa. maka pada manusia ada harapan. maka manusia takut. Tetapi salahlah pikiran kita jika hanya menganalisis saja. tidak ada perbuatan atau situasi yang terakhir. orang dipenjara seumur hidup. Manusia tidak bisa kita pikir tanpa harapannya. untuk lebih menyelami. Dengan adanya harapan manusia merasa berani (ini pun bentuk peruncingan dinamika). Jika dorongan dipenuhi. dorongan seksual (dorongan untuk mempertahankan dan melangsungkan bangsa atau spesiesnya). artinya yang menyebabkan manusia menolak sesuatu.

Hanya dengan demikian ada pandangan yang integral.bahwa semua dorongan manusia itu adalah peruncingan dari persona atau pribadi manusia. artinya realisasi yang sesungguhnya untuk kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohanijasmani. tetapi seluruh pribadilah yang takut. lebih sentosa. misalnya dalam memandang seksualitas. Uraian yang lebih lanjut tentang hal ini tidak diberikan dalam rangka kuliah ini. tetapi bisa meleset juga) bertemu sedalam-dalamnya sehingga lebih sempurna.Psi. Apa yang disebut dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. mempelajari. Yang menikmati keindahan bukanlah mata. dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati. tetapi juga afektivitas. Yang ada bukan hanya rasa takut. Untuk itulah momen yang disebut dorongan seksual. manusia itu terdorong untuk bercinta kasih dalam bentuk yang khusus. Cukuplah soal ini disinggung untuk memberi pengertian bahwa pada manusia dorongan atau bentuk dinamika tidak boleh dilepaskan dari seluruh manusia sebagai pribadi rohanijasmani. tetapi seluruh manusia. 84 . Jelasnya. tetapi seluruh pribadi manusia. Yaitu cinta kasih suami-istri. seluruh personalah yang hidup dalam bentuk-bentuk dinamika itu. namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. dan sanggup meluhurkan diri. di samping pengetahuan. manusia tergerakkan hatinya. Melalui peranan afektivitaslah. II. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah afektivitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakantindakan afektivitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. Pengertian ini sangat penting. Pandangan yang memisahkan seksualitas dari manusia adalah merendahkan manusia. Yang Bukan dan yang Merupakan Perbuatan Afektif Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual. Jadi. Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan. Dalam cinta kasih ini dua pribadi bisa (bisa dan harus. S. akibatnya akan merusak kesusilaan dan perkembangan pribadi manusia. dan berdasarkan pandangan inilah mungkin realisasi yang integral pula dari dinamika kita. Dalam dinamikanya. keinginannya. Yang lapar bukanlah perut.

yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan afektivitas seperti rasa cinta (intuisi). mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan. Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilahistilah yang sama. sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. misalnya. kegiatan-kegiatan afektivitas berada di luar kategori rasio murni.mengenai kritik atas rasio murni. berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. baik untuk pengetahuan maupun untuk cara-cara afektivitas. hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena halhal afektivitas bersifat nonkognitif.Psi. kepatuhan. karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. 85 . partisipasi. seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa. S. Prinsipnya. atau cinta. Cinta (disebut afektivitas positif) atau benci (disebut afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Baginya. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. komunikasi. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual. dengan demikian afektivitas merupakan bagian dari rasio praktis yang nonintelektual. Walaupun demikian. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. misalnya Bergson dan Rudolf Otto. orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai pengetahuan dan afektivitas. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus.

Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain. atau apa yang jasmaniah saja. jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. mengembangkan. III. Pengalaman-pengalaman afektivitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya. Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-afektivitas.bukanlah mencintai. menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut. tanpa bobot. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung. sesuatu yang ada pada diri Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah: Pertama.Psi. Jadi. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan. Kondisi-kondisi Afektivitas Manusia Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera. kecenderungan. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. untuk mencapai afektivitas. menggayakannya. Melalui ini tindakan afektivitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. menguatkan. 86 . Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya. dan menjijikkan atau membosankan. dan menjiwainya dengan mewarnainya. tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.

mencintai. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta. semangat. mengenal adalah kausa dari afektivitas. karena afektivitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang. IV. ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif. pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung.Psi. dalam kondisi ini.objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. Kedua. imajinasi. Kelima. mempengaruhi bahkan membohongi. mempertahankan diri atau yang lainnya. Keempat. menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya. maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalamanpengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu. Dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. S. 87 . nilai (baik dan buruk). berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek. Ketiga. Kesenangan Harus Dicurigai? Pada penjelasan terdahulu telah disebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. sifat dasariah dan kecenderungan kognitif. kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong. Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek. selera. kesenangan. Keinginankeinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu.

V. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak. kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. S. yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri. ”jangan menjadi dirimu sendiri”. boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis. ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. Mengherankan bahwa dua prinsip yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. bioskop. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri.memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasi-kan yang lain. tidak menaruh perhatian kepada orang lain. Karena pengaruh semboyan ini. Terlepas dari pengertiannya yang nyata. sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. 88 . itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”. jangan bersikap acuh tak acuh. sekolah. Catatan tentang Cinta Akan Diri Sendiri dan akan Sesama Manusia Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi. hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. dari generasi ke generasi. dengan bertindak demikian. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum.Psi. tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan seharihari yang disebarkan di rumah. buku-buku. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus hadir di sana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat. Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain.

libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. 89 . S. Jika seseorang dihalanghalangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya. maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya.Psi. Pada bayi. semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. dan pikiran populer. kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan. ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. Tidak ada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan. itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. telah meresapi filsafat. seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri? Sebelumnya. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern. Dalam perkembangan individu tersebut. dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain. dengan segala daya intelektual.kelihatannya begitu bertentangan. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang. teologi. Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”. apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu. dan sebaliknya. maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu.

dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. tanggungjawab dan pengetahuan. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai. yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai. Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian. 90 . Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu. melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita. antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”. sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. Sebaliknya. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang. S.Psi. Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai. melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai. Gagasan yang terungkap dalam Injil. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. respek (rasa hormat). Biasanya. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain. sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. hal ini berarti. sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis.

sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. rasa hormat. ia mencintai dirinya sendiri juga. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya. itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan. tetapi hanya senang menerima. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri. namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri. ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain.simpati terhadap ”orang asing”. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri. ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya. berakar pada kemampuannya untuk mencintai. karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik. ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu. Afirmasi terhadap hidup. tanggungjawab. melainkan justru sangat kurang mencintai diri. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri. kebebasannya sendiri. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri. Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan. ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi. bagaimana kita menerangkan egoisme. dan pengetahuan. kebahagiaan. S. ia samasekali tidak dapat mencintai. yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya. tetapi justru merupakan alasannya. 91 . jika ia hanya dapat mencintai orang lain. harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. pada prinsipnya. keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan.Psi. yaitu: perhatian. perkembangan. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri.

Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain.Psi. malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. misalnya pada seorang ibu yang menguasai anaknya (Erich Fromm).mengalihkannya kepada dirinya sendiri. bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”. 92 . melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya. ia tidak dapat bahagia. Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi. merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. ”hidup hanya untuk orang lain”. namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”. sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus. Ia merasa prihatin yang berlebihan. kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu. tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kegagalan dalam relasi cinta. Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya. S. namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom. kelelahan. tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu. dan sebagainya. bukan karena ia sangat mencintai anaknya. Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada terlalu orang prihatin lain dan sebagaimana suka kita temukan. dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu. seperti: depresi.

Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. mereka diajar.Psi. di bawah topeng kebajikan. dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya. S. kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta. 93 . Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati. dapat diperbaiki. daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri. mereka cemas. takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai. agar benci terhadap kehidupan. Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain. keriangan dan kebahagiaan. yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan. kaku. yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain. anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu. dan sangat sering.namun kuat. untuk adat istiadat kita.

P. juneman@gmail. S.Psi.W. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. C. S.Pengertian Modul VI Sub Materi: • • Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Kegiatan-kegiatan Inteligensi Objek Inteligensi Manusia Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Spesialisasi dan Bahayanya Ikhtisar • • • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 94 .Psi..

Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya. maka pertama-tama diingat bahwa inteligensi berbeda dari pengetahuan indrawi. Berkat indranya itu. Pengetahuan indrawi bersifat parsial.Psi. kedua sumber pengetahuan ini berbeda. entah nyata atau semu.PENGERTIAN I. S. Pengetahuan indrawi berhubungan dengan sifat khas fisiologis indra dan ciri objek Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. namun tidak melulu sebagai makhluk biotik. yaitu pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi intelektif manusia. Apa yang Bukan Inteligensi Manusia Mengenai apa yang bukan merupakan inteligensi. sebab makhluk biotik lainnya seperti pohon atau bunga tidak memilikinya. Hakikat Pengetahuan Indrawi Alexis Carrel (1987) sekurangkurangnya pengetahuan manusia menyetujui indrawi diperoleh kebenaran yang dimiliki melalui pendapat yang menunjukkan bahwa kemampuan indranya. 95 . Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makhluk biotik. seperti juga pada binatang. walaupun masih sangat sederhana. maka manusia mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional. namun tidak bersifat temporal parsial (terlepas-pisah). disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Para filsuf umum membedakan dua sumber pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh manusia karena ia juga mengandung tahap psikis atau indrawi biologis. Secara umum. namun selalu bersifat relasional. karena keduanya bersifat manunggal dan berjenjang.

Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual. kualitaskualitas primer yang mewakili apa yang terdapat dalam benda-benda material itu sendirilah yang mengintervensi atau menerobos subjek dengan tindakannya sendiri. menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. jelas bahwa ia hanya ditangkap oleh satu indra saja. Maksud uraian ini hendak menunjukkan bahwa secara epistemologis. dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. bau. oleh karena itu tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. atau bentuk dengan keras-lunaknya. dan hanya dalam batas-batas frekuensi tertentu. Pandangan tersebut merupakan suatu upaya klarifikasi epistemologis terhadap dua aliran pemikiran dalam epistemologi yang sifatnya deterministik dan saling mengabaikan yaitu "Determinasi Empiris indrawi" dan "Realisme naif”. atau bau. Mata peka terhadap cahaya. atau tanpa telinga yang mendengar suara. dan sebagainya. Semua sensasi (warna. tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. seperti bunyi. Menurut Realisme naif. Kesulitan itu disebabkan persepsi indrawi merupakan suatu penampakan yang pucat dan tidak lengkap dari kenyataan. S. Sisi berikut dari pandangan di atas adalah reaksi kritisnya terhadap Realisme naif yang secara tegas mengabaikan bipolaritas pengetahuan manusia dengan mempertahankan bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. cerah. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Pendengaran hanya mampu menangkap suara.Psi. rasa. rasa. 96 . tanpa langit-langit mulut yang merasakan. atau hidung yang membau. Jelas bahwa terdapat kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan indrawi yang sifatnya deterministik. seolah-olah pengetahuan yang asli di atas papan budi manusia adalah yang hanya ditulis oleh indra. begitu juga halnya dengan semua indra lainnya. suara. Empirisme indrawi dipelopori oleh John Locke berusaha untuk menentukan atau memaksakan suatu reduksi seluruh isi pikiran kepada pengalaman indrawi. Unsurunsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar objektif yang sama. betapapun objektifnya pengetahuan indrawi tersebut. Pengetahuan indrawi. sesuai dengan kepekaan indra pendengaran masing-masing orang. UnsurManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan tidak mampu menangkap bau yang merupakan tugas indra penciuman. Warna. rasa.yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Jenis pengetahuan indrawi ini belum mempunyai dasar objektif yang kokoh. serta suara) akan lenyap dan berhenti apabila tanpa mata yang melihat sinar atau warna.

Musik memberi contoh kapan harus diartikan sebagai perangsang emosi bagi semangat politik. lebih kabur. bentuk. bau-bauan. Semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif) sebab bila demikian. maka terdapat suatu hubungan yang benar antara kenyataan dan penangkapan subjektif. Hubungan ini hanya muncul dari kebiasaan si penerima. namun hubungan ini lebih bersifat tidak langsung. dan cukup kacau di dalam kekhususan hubungan antara objek dengan kesan. tetapi juga warna subjektif. Hal ini perlu ditekankan karena subjek tidak pernah hanya bersifat pasif. Musik. Kedua. Walaupun sifat kebenaran pengetahuan indrawi itu masih sangat terbatas. Pertanyaannya adalah apakah warna merah yang telah diolah oleh subjek dengan caranya sendiri tersebut benar-benar warna merahnya si objek? Kalau memang terjadi kesesuaian antara pengalaman subjektif dengan keadaan objektif. Jelaslah bahwa terdapat hubungan kebenaran yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. pakaian. Kodrat kesan tidak membawa kejelasan bagi objek dan objek tidak membawa kejelasan bagi kesan. Pandangan di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan mengenai hakikat pengetahuan indrawi: Pertama. kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman dari sekelompok penerima yang sudah dibentuk kemudian. hakikat kebenaran pengetahuan indrawi pada sisi yang lebih luas. karena jenis pengetahuan ini pun dapat bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh. penangkapan subjektif yang diterima sebagai kesan tersebut sudah mendapatkan pengolahannya dengan cara tertentu oleh si subjek di dalam menanggapi objeknya. Bahasa tidak hanya menyampaikan arti objektif. perang ataupun religius. serta gerakan-gerakan yang digunakan di dalam upacara tertentu juga mempunyai kebenaran atau kesalahan simbolis. maka pengetahuan hanya merupakan sebuah mitos saja. Bahasa dan artinya merupakan contoh paling jelas dari jenis antara suara-suara dan tanda-tanda visual di atas kertas dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan. yaitu kumpulan. Hal ini dikarenakan hubungan itu bersifat lebih luas. Ketiga.unsur tersebut akan direduksi ke dalam sebab-sebab mereka. 97 . namun demikian pengetahuan indrawi menjadi sangat penting. bila tidak ditangkap oleh indra subjek. S. walaupun ada hubungan kebenaran antara kesan dan kenyataan yang ditampilkan oleh hubungan antara persepsi indrawi dengan objek. menampakkan hubungan secara tidak langsung melalui kebenaran simbolis. dan gerakan dari bagian-bagian.

Bentuk dari suatu badan benda menunjuk pada orientasi. apakah yang ditangkap oleh indra subjek benar-benar sama dengan apa yang ditampilkan oleh objek. Masa lampau indra dan masa lampau objek memiliki titik singgung yang sangat besar. baik keberadaan hakikat dirinya maupun dinamisme dan tujuannya yang khas. 98 . Gabungan kompleks dari hubungan kebenaran dan kesalahan. mengerti bentuk suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan manfaatnya. sekaligus membentuk daya interpretasi. tujuan.Psi. Pendeknya. dan arti benda itu. sehingga di dalam situasi normal. Ada yang lebih menekankan pada bentuk dari-pada suatu "badan benda". kedua segi ini tidak saling bertentangan.samar-samar. adalah dengan korespondensi atau kesesuaian dari kesan-kesan yang jelas dengan kenyataan. melalui pengertian kelompok (komunal). dengan demikian dapat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. kesehatan mata. sementara ada (terutama para filsuf kontemporer) yang lebih menekankan pada tangkapan "arti dan signifikasi" suatu keadaan daripada bentuknya. Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. tujuan. Walaupun demikian. kesan-kesan sangat mungkin berkesesuaian dengan objek-objeknya. Kebenaran Pengetahuan Indrawi Satu-satunya kriteria untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan indrawi. menunjukkan bahwa kesan dari objek tertentu mungkin cukup tidak relevan bagi kejadian sebenarnya dengan objek yang bersangkutan. Badan mempunyai kesan dan objek yang membangkitkan kesan tersebut saling bertemu di dalam "datum" masa lampau. antara musik dengan kesan yang ditimbulkannya. tetapi juga yang memberi kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya. Kondisi ini disebabkan fungsi indra dan peristiwanya sendiri berasal dari suatu masa lampau yang nyata dan menjadi "datum" bersama bagi keduanya. Bentuk dari suatu benda adalah bukan hanya pada apa yang memberi kodrat. Arti. Akibatnya. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada dasar yang memungkinkan kebenaran di sini. Adakah dasar bagi keyakinan kita bahwa objek-objek tersebut benar-benar ditangkap oleh indra sebagaimana adanya? Adanya kesesuaian seperti ini tidak muncul dari keniscayaan kodrati. Caranya. Pengaruh cahaya. melainkan saling melengkapi. dan makna suatu benda akhirnya tergantung pada bentuknya. dan seterusnya. Kesan akhir dikontrol oleh fungsi badan. adalah kebenaran an sich atau kebenaran in itself tanpa kualifikasi. dari bentuknya suatu benda menerima. S. Persoalan epistemologis yang muncul di sini adalah.

maka perlu diselidiki bentuk kegiatan-kegiatan inteligensi ini. Walaupun demikian mereka merupakan dua tahap pengenalan yang berbeda. dan tetap menyimpannya di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga subjek dapat mempertimbangkan objek itu bagi dirinya sendiri. secara fisik. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini atau itu (menambah. pengetahuan lewat akal budi (intelektif) merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindra. menangkap bentuk pisau. mengurangi. Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal. Apa yang Bukan Seluruh Inteligensi Manusia Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif dalam diri manusia adalah tidak terpisahkan dan bersifat sinergis. Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu. A. 99 . itulah artinya. pengetahuan indrawi dan pengetahuan konseptual atau intelektif saling meliputi. van Peursen (1980:21 -22) cenderung menolak adanya pemisahan antara kedua jenis pengetahuan ini. jika objek tersebut tidak ditunjukkan secara langsung. tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas. Sifat khas dari pengetahuan intelektif ini adalah menangkap bentuk atau kodrat objek. Pengetahuan intelektif dengan ini berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. S. Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan) menyerupai inteligensi sejauh subjek tersebut mampu mengingat kembali atau membayangkan objeknya. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam.Psi. Hal ini berlangsung baik apabila benda konkret yang kodratnya telah ditangkap itu benar-benar masih ada atau sudah tidak ada lagi. berarti mengerti sekaligus untuk apa pisau dibuat.dimengerti mengapa dan untuk apa objek dibuat. Menurutnya. yang merupakan kemampuan intelektual manusia. berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. bahwa di dalam pengetahuan indrawi telah terlibat proses intelektual yang memberikan pengertian dan pemahaman menurut akal budi. C. II. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Istilah intelektual (bahasa Latin: intellectus) mengandung arti "dalam pikiran" atau "dalam akal". Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Maksudnya. Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini. Misalnya. Guna memahami jenis pengetahuan ini. Pengetahuan intelektif ini dicapai oleh rasio atau inteligen.

inteligensi mulai memperlihatkan dirinya dalam bentuk kemampuan berpikir yang menanjak pada kemampuan berpikir secara nalar atau secara abstrak daripada mengerti berdasarkan hal-hal konkret saja. kebiasaan. 1996: 359). Akibatnya. kemampuan inteligennya nyata seiring dengan pemunculannya dalam bentuk kemampuan anak untuk mengarahkan segala sesuatu pada dirinya dan menafsirkan segala sesuatu dalam hubungan dengan pemusatan pada diri (ego)-nya sendiri. Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi. konseptual. atensi. prediksi. inteligensi pada tahap kanak-kanak umumnya masih bersifat egosentris. hafalan tanpa mempergunakan pikiran. entah praktis atau teoretis (Lorens Bagus. Kemampuan inteligensi anak kecil hampir sedikit seperti binatang.Psi. Setelah memasuki usia remaja. adat istiadat. imajinasi. ekstrapolasi.mengalihkan. analisis kritis. III. dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait. Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak. hal-hal yang berada pada tiap-tiap tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai keseluruhan inteligensi itu sendiri. Louis Leahy (1993:122) secara garis besar memerinci setiap tahap perkembangan inteligensi (pengetahuan intelektif) manusia itu demikian: sebelum anak berumur tujuh tahun. Berbeda dengan naluri. inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak. rencana. tradisi. S. mengarahkan. Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi. 100 . Tahap-Tahap Perkembangan Inteligensi Secara epistemologis dapat dikemukakan suatu analisis mengenai tahap-tahap perkembangan pengetahuan intelektif manusia dalam rangka pengembangan pengetahuan secara utuh dam menyeluruh. abstraksi. dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi. kontrol (pengendalian). Demikianlah. ingatan. Tahap kemampuan inteligensi ini oleh para psikolog disebut sebagai usia metafisik yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. konsentrasi. mula-mula hanya tertarik pada apa yang akan memenuhi kebutuhankebutuhan pribadinya. atau membagi). ia tidak dapat disamakan dengan binatang karena pada anak perilakunya lebih bersifat intelektual yang melebihi suatu tindakan yang sekadar bersifat stimulus atau rangsangan dan reaksi (stimulus-respons). Namun demikian. memilih. ReimonRiver) antara lain menunjukkan bahwa ada tahap-tahap perkembangan inteligensi pada manusia. Psikolog kontemporer (Piaget. seleksi relasi.

sosial. ia terus mempertanyakan tentang bagaimana semua kejadian yang saling menyusul dalam waktu melukiskan suatu evolusi.khas. 1980). Inteligensi pada orang dewasa ini muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap pengidentifikasian hakikat kenyataan satu demi satu. Usia akil balik pada anak menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan intelektif melalui daya inteligensinya telah bertumbuh secara kompleks. menurut volume serta berat-ringannya. bahkan menggerakkan mereka secara tepat. serta religius melahirkan suatu peradaban. Berbeda dengan inteligensi tahap kanak-kanak yang bersifat sangat egosentris. Goenarsa. 101 . la tidak membatasi diri hanya pada analisis detail-nya. Walaupun demikian. S. Tahap ini diikuti oleh pikiran dewasa yang terdiri dari suatu rekonsiliasi antara pikiran yang formal dan realitas. Selain itu kemampuan inteligensi pada usia akil balik ini nyata pula dalam hal mengerti sistem-sistem dan golongan-golongan sistem. Melalui ini. psikologis. Hal ini ditandai dengan timbulnya kemampuan inteligensi mereka untuk menangkap hubungan-hubungan untuk menggolong-golongkan para individu menurut keluarganya. misalnya seperti dalam ilmu berhitung (bandingkan Singgih D. menurut ukuran besar-kecilnya. ciri inteligensinya lebih bersifat objektif. Dengan itu pula.Psi. ia bertanya-tanya sampai bertanya pada dirinya sendiri bagaimana semua realitas yang tersebar dalam ruang membentuk suatu alam semesta. tetapi berusaha untuk melihat bagaimana segala sesuatu mengkoordinir dan mempersatukan dirinya. pada orang dewasa. politik. Jelaslah bahwa tingkat kemampuan inteligensi pada manusia dewasa Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Ciri pengetahuan intelektif pada manusia dewasa adalah objektivitasnya. Sesungguhnya. Inteligensi pada manusia remaja ini telah meningkat pada kemampuan untuk menggambarkan lebih jauh mengenai apa yang mungkin dan yang ideal dari hal-hal yang aktual dan sekarang. kiranya belum cukup untuk mengatakan bahwa inteligensi mereka telah menjadi dewasa penuh secara objektif sebab mereka belum dapat melihat kenyataan sebagaimana adanya. Pengetahuan intelektif yang diperoleh melalui daya inteligen pada orang dewasa muncul secara kompleks dalam berbagai kemampuan untuk menanyakan kenyataan di balik realitas sebagai upayanya untuk mendapatkan realitas yang lebih tepat dan mendasar (ultimate). Bagaimana pengaruh yang saling berkaitan dari faktor-faktor ekonomis. orang dewasa dapat melihat hal-hal dalam diri mereka sendiri. dan bagaimana akhirnya urut-urutan peradaban itu menghasilkan sejarah. dan berusaha mengerti bagaimana kenyataan-kenyataan itu terkait satu sama Iain. lebih dari pada bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya.

namun makin besar juga kehausannya untuk meneruskannya. maka semakin luaslah objeknya. la juga berusaha menangkap hubungan antara satu gejala dengan penyebabnya. 102 .Psi. setotal mungkin. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner. menempatkan. Manusia dewasa mampu untuk menghubungkan yang ideal dengan kenyataan. IV. mendalam. Semakin mendalam refleksinya. betapa pun tinggi dan banyaknya. ia dengan semakin baik menyadari kemampuan-kemampuan roh inteligensinya. tuntas.sebegitu luas mengarah pada kemampuannya untuk dapat menempatkan setiap hal menurut hubungannya dengan hal-hal lain serta ikatannya dengan keseluruhan. Objek khas dari pengetahuan intelektif manusia dewasa menjadi begitu luas dan mendalam pula. atau melihat hubungan antara sebuah objek serta hal-hal yang dapat menerangkan kodratnya. Tingkat keluasan dan kedalaman pengetahuan intelektif pada orang dewasa tidak terbatas hanya pada suatu aspek khusus dari kenyataan atau pada suatu kategori khusus objek-objek tertentu. Van Melsen (1992: 5) menunjukkan bahwa pertumbuhan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. abadi. Tidak ada yang selesai (tidak ada yang terhabiskan dalam alam pengetahuan manusia). antara data-data sebuah masalah dan prinsip pemecahannya. tetapi berkembang secara acak. Pada waktu manusia menguasai rahasia-rahasia alam semesta. ia tidak henti-hentinya menciptakan dunia-dunia baru. serta paripuma. Pendeknya. Melalui ini akan dibicarakan mengenai hakikat perkembangan pengetahuan intelektif. Kompleksitas daya inteligensi menunjukkan pula bahwa ciri pengetahuan orang dewasa lebih bersifat luas. petualangan inteligensi manusia dewasa bukan hanya mencoba mengetahui lebih banyak. serta terartikulasikan. Alexis Carrel (1987:27) mengemukakan bahwa perkembangan pengetahuan manusia tidak melalui suatu rencana. Sejarah epistemologi menunjukkan bahwa hampir tidak ada batas-batas pada penyelidikan dan penaklukan dari inteligensi manusia dewasa. tetapi juga secara lebih mendalam. Kegiatan-kegiatan Inteligensi Manusia Manusia selalu mengalami bahwa semua yang diketahuinya tidak pernah sempurna. Manusia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. mengintegrasikan. Manusia dewasa sambil meneliti dengan semakin metodis. objektif. S. Ia memperhitungkan sekaligus pelajaran-pelajaran masa lampau. kemungkinan-kemungkinan masa kini serta urut-urutan hari depan. Ciri kemampuan inteligensi manusia dewasa berusaha untuk menangkap. meski besar sekali pengetahuan seseorang.

juga bersifat sosial. Kegiatan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kedua. Interaksi antarbidang pengetahuan justru semakin memacu perkembangan pengetahuan intelektif. sementara penampilan diri ditentukan oleh gerak maju inteligensi. yang menjadi prapengertian atau prapengetahuan bagi pengetahuan lanjut secara lebih mendalam dan meluas. Inteligensi hanya merupakan salah satu kemampuan manusia (tentu saja yang paling tinggi) dan hanya dapat beroperasi dengan melibatkan semua kemampuan lain yang lebih rendah sifatnya. sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa faktor penyebab yang mendorong sifat perkembangan yang begitu agresif dalam pengetahuan. Pertama. cara bertindak.yang agresif dari pengetahuan lebih dipacu oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan hidup sehari-hari menurut segala aspeknya. Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. pengetahuan inteligensi selalu didorong oleh pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.Psi. serta cara bereaksi. Dinamisme rasio yang didukung oleh kehendak dan keyakinan serta keberanian untuk bereksperimentasi. Perkembangan budi intelektif seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang Iain. Ketiga. atau suatu substansi yang bereksistensi dari dan bagi dirinya sendiri. Sifat sosial manusia tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pengetahuan manusia. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). semuanya akan menjadi dasar progresivitas pengetahuan intelektif manusia. tetapi hal ini berada dalam pengaruh dunia yang melingkupinya. S. sekalipun mengerti secara mendalam adalah suatu perbuatan yang bersifat pribadi sekali. Pengetahuan intelektif di samping bersifat progresif. Melalui ini dapat dilihat bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masyarakat sosialnya. Pengetahuan intelektif tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya. Hasil perkembangan dan kemajuan masyarakat selalu mendorong perkembangan dan kemajuan pengetahuan. Sementara pada aspek kebudayaan dapat dilihat bahwa cara berpikir. Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). 103 . inteligensi atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang didukung dan didorong oleh kemampuan-kemampuan bertahap rendah yang ada di bawahnya. cara merasa. Inteligensi bukanlah suatu substansi.

1987: 23). meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. Maksudnya. Bentuk pengetahuan intelektif berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran. "Saya pikir. tetapi berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu. Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. Jelaslah bahwa di dalam insight lebih banyak diandalkan adanya kegiatan abstraksi oleh budi. Penfield menyebutkan bahwa dasar pikiran adalah tindakan otak pada setiap individu. Menurut J. 1993: 132). S. tampak pada refleksi spontan. refleksi. Tindakan itu mengiringi kegiatan roh. Selanjutnya Penfield menjelaskan juga bahwa bila seandainya roh itu hanya mempunyai otak. Eccles. bahwa aprehensi adalah sebagai suatu tindakan membiarkan inteligensi melewati batas-batas memanifestasikan diri secara langsung. subjektif-objektif. dan prapribadi. tetapi roh itu bebas sifatnya. bukan pikiran. Heidegger dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan organis dan dan pemanifestasian (Bertens. Jenis pengetahuan intelektif ini lebih mendalam daripada sekadar insight yang ditangkap secara intuitif.intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. Eccles dalam hal yang sama mengatakan bahwa pikiran itu terjadi tanpa tergantung pada otak dan kemudian disampaikan kepada otak. misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi seorang seniman. Tahap berikutnya adalah jenis pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran yang memadai. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi. misalnya. J. Tekanan utama kegiatan berpikir atau bernalar ini lebih diutamakan pada budi intelektif itu sendiri. 1993: 312 313). Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi. misalnya pada waktu sedang melamun. W. prasadar.Psi. diterangkan dengan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. dan sebagainya (Leahy. Budi harus benar-benar mengetahui dengan penuh tanggung jawab. di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. deduksi. Persepsi ini. Roh mampu melakukan inisiatif hingga suatu tahap tertentu. sebab insight diverifikasikan. maka keputusan yang sulit itu tidak akan menjadi keputusannya sendiri. itu pertama-tama adalah pikiran yang sadar diri yang sedang menjelajahi sumber-sumber dayanya sendiri yang maha luas dan terbentang baginya" (Leahy. sambil berusaha mencari sebab-sebab dan sifat terdalamnya. Tahap berikutnya adalah insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. 104 .

S. yang pernah ada. yang pernah memanifestasikan diri dan yang mungkin memanifestasikan diri. Kaum Aristotelian umumnya mengakui bahwa intelek mencapai hal yang universal. tidak ada realitas apa pun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai. dan yang mungkin ada: segala sesuatu yang memanifestasikan diri. sedangkan pancaindra menyangkut hal-hal yang individual (Harun Hadiwijono. atau bagaimana objek itu bereksistensi.logis dan ilmiah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka inteligensi sama sekali mengenai segala-galanya. Tahap kegiatan intelektual yang lebih tinggi adalah tahap keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. Setiap kegiatan inteligensi dapat terjadi bila mencapai objek-objek sejauh objek itu ada. Bila mendefinisikannya. yakni segala sesuatu yang ada. tertarik kepada segalagalanya. sebab penguatan atau afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh didasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. pengetahuan ini juga merupakan kecakapan untuk menyelidiki segala-galanya. 105 . dan mencari alasan dari segala-galanya. maka daya pengetahuan inteligensi ini menegaskan bahwa objek itu ada seperti apa yang digambarkannya dan dikatakannya. Maksudnya. V. Pengetahuan intelektif dengan ini menjadi sulit didefinisikan karena selain merupakan kemampuan untuk mengenal segala-galanya. Objek Inteligensi Manusia Sebagaimana dikatakan semula bahwa secara ontologis objek pengetahuan intelektif adalah hakikat segala realitas. Kalau pancaindra hanya menjangkau realitas sejauh bersifat indrawi. bukan hanya kurang lebih dari itu.Psi. dan bahwa tidak ada apa pun yang sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya. Bila bernalar. maka daya pengetahuan ini menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya. 1994: 45-48). lebih-lebih segalagalanya secara sempurna. maka pengetahuan ini menempatkan objek itu dalam satu jenis tertentu. Hakikat keberadaan objek itulah yang dengan sendirinya menarik perhatian atau mendorong inteligensi terhadapnya. maka penyelidikannya mengenai hakikat ada yang bereksistensi. baik berupa kenyataan maupun khayalan. Segala penegasan. Bukan berarti bahwa jenis pengetahuan intelektif ini benar-benar memahami segala-galanya. Putusan ini juga lebih bersifat pasti karena pelakunya mengetahui bahwa ia tahu. Bilamana inteligensi (atau lebih baik manusia yang inteligen) ingin mengerti sesuatu. Objek pengetahuan intelektif meliputi segala sesuatu yang pernah ada. Bilamana menilai. dan segala sesuatu yang akan ada. Putusan ini lebih bersifat reflektif.

Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi. kesimpulan. bahwa sesuatu yang benar adalah yang korelatif dengan pikiran.Psi. tidak dapat menjadi anggota dua himpunan yang berlawanan penuh. S. tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. prinsip identitas. setiap pernyataan mengenai realitas eksistensial mengandung sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. Sepintas lalu.penilaian. Demikian mendasar sehingga meskipun kedengarannya hanya merupakan pengulangan. Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. adalah tidak ada". Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara dua himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya. Walaupun demikian. Secara epistemologis. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas. dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima. Jelasnya. dan "apa yang tidak ada. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda. ”Sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya. pernyataan ini menyatakan kebenaran bahwa sesuatu yang nyata benar adalah sesuatu yang intelligible (dapat diketahui). serta penalarannya didasarkan atas prinsip-prinsip pertama yang merupakan hukum yang memanifestasikan semua kenyataan itu. Prinsip nonkontradiksi menyatakan. 106 . prinsip ini sesungguhnya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal dan mendasari seluruh pemikiran. Pertama. Prinsip ini mengatakan "apa yang ada adalah ada". sehingga dapat dikatakan bahwa antara ada dan ketiadaan terdapat suatu perbedaan radikal. “Sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”. Secara tradisional ada tiga prinsip pertama yang merupakan hukum pemastian mengenai pengetahuan. yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut. kelihatannya pernyataan ini merupakan sesuatu tautologi (pengulangan) yang kosong. Prinsip eksklusi tertii menyatakan. pernyataan ini bersifat dasariah (p adalah p. Artinya. non p bukan p).

Baiklah sekarang kita lihat fungsinya. Sebelum itu dinamika masih bersifat infrahuman. Jika dilihat dari sudut pola. Tetapi dalam dinamikanya yang aktif itu kita melihat dua unsur. Dinamika yang ada pada manusia dalam status anak kecil itu belum mencapai tingkat human. tertarik. Pola adalah isi pengertian kita. Jadi. Hal ini tampak jelas dalam berbagai macam perbuatan yang memerlukan pola yang digambar seperti dalam membatik. dan menyatukan objek itu dengan dirinya. Hal ini bisa dijelaskan juga dengan berbagai macam percobaan dalam ilmu psikologi. Manusia mengerti dan melihat karena melihat. muncullah dinamika dengan munculnya pengertian. Pola itu tidak selalu disadari. S. Jika dipandang dari sudut bangkitnya dinamika. maka bisa dikatakan bahwa pengertian itu membangkitkan. Yaitu unsur kognitif (cognitive). Yang bertindak sebetulnya bukan unsur. maka di situ dinamika itu sungguh-sungguh dinamika insani. Dia menyatukan dirinya dengan apa yang ditangkap dalam pengertiannya. sebetulnya semua perbuatan kita berdasarkan pola. VI. maka bolehlah kita memandangnya. melainkan manusia. Pada bunyi lonceng. maka di situ pada pokoknya ada dua unsur. dengan unsur ini manusia mengambil apa yang dimengerti. Untuk mulai dengan yang mudah. Fungsi Inteligensi dalam Konteks Dinamika Manusia Bila kita melihat dinamika manusia. Unsur ini pun menyatukan.Psi.Prinsip cukup alasan menyatakan. tetapi proses ke tingkat itu. tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu. Bilamanakah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di sini yang akan kita lihat hanya unsur pengertian dulu. yaitu pengertian dan pengambilan. 107 . Unsur pengambilan tidak mungkin bertindak tanpa unsur pengertian. tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Tetapi. Jika dinamika itu dijiwai oleh pengertian rasional. lantas ingin. dan mulai bergerak. anjing ingat (= mengerti) makanannya. Artinya. lantas tertarik untuk makan sehingga keluar air liur. Asal kita ingat bahwa pengertian itu tidak tersendiri. tetapi ada. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah. tetapi bagi manusia proses itu menuju ke tingkat human. menghubungkan. dan unsur apetitif (appetitive) katakan saja unsur pengambil. maka bisa dikatakan bahwa perbuatan itu merupakan pelaksanaan pola atau pelaksanaan pengertian. “Suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup. lihatlah bahwa pengertian itu menjiwai kehidupan kita dan semua perbuatan kita.

atau dunia manusia. di-"masuki" dan di-"masukkan" ke dalam dirinya. yang susila. Jadi.Psi. Bisa maju. Harus juga ditambahkan bahwa pengertian itu mempersatukan manusia dengan dunianya. bisa mundur.batas infrahuman dilampaui dan human-level tercapai? Hal itu tidak bisa dikatakan seperti kita juga tidak bisa mengatakan batas antara tidak sadar dan sadar. Manusia masih bisa berantakan karena kelemahankelemahannya. Lihatlah realitas infrahuman. bahkan juga tidak bersatu dengan trubusnya karena tidak mengerti. Namun. Dalam praktek kesatuan ini tidak hanya berdasarkan pengertian. kesatuan di situ hanyalah kesatuan "material". tidak ada kesatuan. Tentu saja. tidak ada idea susunan. tidak ada objektivisasi. hewan tidak bisa berhadapan sebagai "aku" dan "engkau" atau sebagai "aku" terhadap "barang itu". Selama hidup kesatuan dinamika berupa perjuangan yang tidak pernah selesai. seperti tumbuhan. karena moralnya berantakan. ada yang kurang ada yang lebih. Dia mengerti secara formal. Di sini kita hanya melihat kesatuan pada umumnya. Pada hewan tidak ada idea kesatuan. dan diintegrasikan oleh dan dalam kepribadian. disatukan. kesatuan antara manusia dan realitas yang dimengerti itu macammacam. tidak ada idea kedudukan karena di situ tidak ada pengertian formal. yang ada hanya "jarak". Dengan dicapainya tingkat human itu kesatuan dinamika belum terjamin. Dia mengadakan objektivisasi. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas. S. manusia itu bersatu dengan dunianya. maka di situ integrasi dinamika juga tidak ada. Tidak mungkin pengertian menjiwai perbuatan. Sebaliknya dengan manusia. Sebetulnya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Yang perlu diingat di sini hanyalah. bahwa dengan mencapai tingkat insani itu dinamika manusia mencapai kesatuannya. Tumbuhan tidak bersatu dengan "tetangganya". artinya bukan integrasi di mana setiap anggota berkedudukan. Di mana tingkat itu tidak tercapai (misalnya karena status imbesil) atau hilang (karena skizofrenia). Maka. kita bisa berkata bahwa karena adanya pengertian. Dalam alam hewan yang lebih tinggi inteligensinya lebih tampak kesatuan dengan "sesama". Dia sungguh-sungguh sebagai subjek berhadapan dengan sesuatu. tidak diatur oleh suatu idea. Kesatuan yang lebih sempurna baru dicapai jika hidup manusia diharmoniskan. Lihatlah orang yang "kenal" piano. Maka. Pengertian hanya satu unsur. Ini pun bukan status yang selesai. Pengertian itu tidak hanya menjiwai perbuatan. mengubah menjadi alam kebudayaan. Kesatuan di situ hanya perkelompokan. Idea tidak ada karena tidak ada pengertian. Dalam praktek manusia mengolah dunianya. Tangan dan piano merupakan kesatuan. 108 . Di situ manusia dan keindahan jadi satu. Pandanglah seniman yang menikmati keindahan alam. dan sesuatu itu diselami.

Misalnya. Sebagai fungsi yang keempat kita nyatakan bahwa pengertian menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. Dengan pengertiannya dia mencakup dirinya sendiri. Bagaimanakah manusia? Dia sadar diri.Psi. Kesatuan manusia mengatasi batasan itu. Berdasarkan pengertiannya. Hewan. Dengan demikian. tidak bei sich sein. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. toh tidak sungguh-sungguh interioritas sebab hewan tidak menyelami dirinya sendiri. Yang ada hanya eksterioritas. Pertama ingatlah bahwa segala sesuatu yang tidak punya pengertian itu seolah-olah jauh dari dirinya sendiri. Kesadaran sejarah tanah air itu sebetulnya suatu aspek dari kesatuan manusia yang mengatasi waktu. Jadi akhir-nya. "jauh" dari diri sendiri. Lihat saja kesatuan tanah air. S. kesatuan antarbenua. dia mempunyai interioritas. Pengertian manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan kesatuan diri itu. dia mengalami dirinya sendiri sebagai kesatuan. sekarang ini kita melihat kesatuan yang meliputi seluruh bangsa manusia meskipun masih ada pertentangan. terutama yang lebih tinggi inteligensinya. kesatuan sudah termasuk. Kesatuan dalam dunia hewan adalah selalu kecil. Apakah dasar dari semuanya ini? Semua ini berdasarkan pengertiannya. tanpa penyelaman. Tetapi tidak mungkin ada pengolahan tanpa pengertian. dia memilih dan mengatur pakaian sehingga bersatu dengan dirinya. Pengertian juga menyatukan manusia dengan sesamanya. dia "menghadiri" dirinya sendiri. selalu terbatas pada ruang hidup bersama. Tetapi. hewan pun "di luar diri sendiri". Nah. Interioritas artinya sadar diri. menghasilkan teknologi.kalau kita berbicara tentang dunia manusia. jadi "menunggui dan menjagai" dirinya sendiri. Eksterioritas artinya segi luar melulu. tidak in itself. dia menyatukan dirinya sendiri. Kesatuan itu berdasarkan pengolahan. pengertiannya itu saling memajukan. "Dia ada di dalamnya sendiri". tidak "mendiami" diri sendiri. mempunyai semacam interioritas. dia juga menyatukan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirinya. mempunyai "kedalaman". manusia juga mempunyai kesatuan dengan sesama manusia yang mengatasi ruang. Dalam alam teknologi modern sudah tidak mungkin lagi isolasi. Di situ tidak ada apa yang kita sebut interioritas. mengerti "asal usul". kayu. menghormati dan merasa bersatu dengan asal keluarganya sehingga sadar keturunan. Demikian juga atas dasar pengertiannya dia mempunyai kesatuan yang mengatasi ruang dan waktu. Pengertian bertambah sempurna. membedakan diri dan bukan diri. dan semua barang yang tidak sadar itu hanya berupa eksterioritas. Akibatnya. Kesatuan yang berdasarkan pengertian itu bukan hanya sekadar "saling mengerti". batu. 109 . Bahkan. Manusia mengerti nenek moyangnya.

Bahkan. jika manusia didewa-dewakan menjadi subjek yang terakhir yang diserahi diri (misalnya suami yang seidealidealnya atau istri yang seideal-idealnya) toh akan gagal. tidak mungkin puas. menyatukan diri sepenuhnya. S. dengan persatuan dan penyerahan itu wanita lebih menjadi wanita. Tetapi. Jadi dia terus mencari.Akhirnya. Di atas sudah dikatakan bahwa manusia itu mencari Yang Mutlak. mengatasi keadaannya. keduanya menemukan diri. tentu saja pelaksanaan transendensi itu tidak hanya dalam hidup perkawinan. Penyerahan diri dan persatuan dengan sesama manusia saja belumlah cukup. situasinya. Dan lagi. dari keadaan ke keadaan. Di situ pria menjadi berkembang sebagai pria. di situ yang satu "untuk yang lain" secara penuh. Penyerahan dan pelekatan diri itu akhirnya harus terjadi terhadap Tuhan. terus mencari. Dia adalah "mouvement de transcendence”. Dengan ini kita tunjuk arti yang terakhir dari transendensi manusia. dia harus melakukannya dengan cinta kasih "untuk subjek" lain sepenuhnya. manusia bukanlah Yang Maha Tinggi. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tidak ada apa pun yang memenuhi dorongannya (dinamikanya) sepenuhnya sehingga dia berhenti. perbuatannya yang sedang berjalan.Psi. Apakah artinya transendensi? Artinya melampaui. Dia turut! Dia meluncur dari perbuatan ke perbuatan. 110 . Sebab manusia bukan tanpa berbagai macam cacat. Hal ini tampak misalnya (untuk lebih jelasnya) dalam kehidupan wanita dan pria dalam perkawinan. melebihi. bertransendensi bagi manusia berarti bahwa dia melampaui. dan wanita lebih berkembang sebagai wanita. Semua berkat transendensi. Tidak ada apa pun di mana dia berhenti. artinya keluar dari diri sendiri. Arti yang kedua dari transendensi ialah bahwa manusia itu untuk mencapai kesempurnaannya harus "menyeberang". Di situ wanita dan pria saling menyerahkan diri. kata seorang ahli pikir Prancis (Merleau-Ponty) Dengan ini tampak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh memuaskan bagi manusia. berdasarkan pengertiannya manusia menangkap transendensinya dan bisa menyempurnakan dirinya dengan memenuhi tuntutan transendensi itu. tidak mungkin dipenuhi habis-habisan dengan penyerahan diri dan pelekatan diri kepada manusia meskipun dalam bentuk yang sangat dalam seperti perkawinan. dari situasi ke situasi. Keduanya berkembang. Dalam uraian ini untuk lebih jelasnya kita tunjuk hidup perkawinan. Jadi. dengan menjadi satu itu pria tidak menjadi kurang sempurna. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dwitunggal itu adalah pelaksanaan dari penyerahan dan kesatuan tersebut. memasuki diri lain. Tetapi justru dengan saling menyerah. Tetapi. Memang gerak dinamikanya terutama dalam bentuk cintanya. artinya harus menyerahkan dirinya kepada subjek lain. Hal ini tidak berarti perbudakan.

Psi. Dengan kemampuannya mengerti. tampak bahwa manusia tidak mungkin dijadikan pemujaan yang mutlak. Arti atau fungsi itu tidak diberikan semau-maunya. Dunianya berubah-ubah. Bagaimanakah realitas (barang dan manusia) bersatu dengan kita dalam pengertian? Kesatuan ini terjadi karena manusia memberi dan menerima SINN atau arti. manusia menjadi kawan. ini harus dilaksanakan dalam dan dengan penyerahan dan pelekatan diri penuh cinta kasih dalam lingkungan dunia ini. memberi dengan menerima dan menerima dengan memberi. Pada dasarnya hanya ada satu pelaksanaan transendensi. misalnya dalam hubungan suami-istri. 111 . Perubahan yang mendalam kerap kali membawa kesukaran. Hubungan antarbidang pengetahuan semakin renggang karena setiap bidang pengetahuan semakin terkurung di dalam pengetahuan dan bahasa teknis sendiri-sendiri yang hampir tidak terjamahkan oleh bahasa umum ataupun bahasa pengetahuan yang lain. bagi hidupnya. dikatakan bahwa kita menerima arti. Jadi. Spesialisasi dan Bahayanya Pengetahuan intelektif manusia selalu mengenai segala yang ada secara menyeluruh. Misalnya bahan menjadi makanan. Dunia itu seperti cangkang bagi sang keong. semua penyerahan diri akan halal dan menyempurnakan. Maka. Dinamika manusia adalah ke arah Yang Mutlak. Tetapi. yaitu menentukan fungsi dari barang itu. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. jika dihubungkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Barang an sich masih bersifat "netral“. spesialisasi semakin melembut. Dengan penciptaan arti-arti itu manusia membangun dunianya. Dunia manusia adalah realitas sepanjang merupakan persekitaran arti-arti. jadi ke arah Tuhan. S. Tetapi manusia memberi arti kepadanya. Barangnya harus mampu untuk arti itu. Dengan ini tampak bahwa dinamika manusia itu tidak mungkin dipenuhi dengan apa atau siapa pun juga. dari perbuatannya. keong tanpa cangkang tentu mati. Semakin terbentuk berbagai rangkaian pengetahuan khusus. namun kenyataan itu selalu didekati pula secara khusus menurut keterbatasan perspektif budi manusia yang khas. Lihatlah hal yang sangat fundamental ini bisa kita temukan dan kita uraikan berkat adanya pengertian. yaitu penyerahan diri dan pelekatan diri kepada Tuhan. manusia harus mencari arti-arti dalam dunia baru itu sehingga dia tidak menghadapi khaos. ada (bahaya) kebosanan dan lain sebagainya. Jadi.praktek ada banyak kekecewaan. Jadi. VII. Manusia tanpa dunianya tidak mungkin.

sikap keterbukaan ini harus pula disertai dengan sikap kritis. 112 . Pengetahuan terus berkembang secara terpisahpisah (divergent) sementara ide-ide selalu merupakan alat kreatif yang dipergunakan oleh pikiran untuk menata dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Kondisi ini telah memacu berkembangnya spesialisasi dalam berbagai kemungkinan baru. Alexis Carrel justru lebih bersikap kritis dalam menanggapi adanya sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. yakni bahwa ia merasa memahami manusia secara keseluruhan. Alexis Carrel pada bagian lain menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang semakin spesialis itu tidak berkembang melalui suatu rencana. Sikap kritis ini perlu. Terjadilah "Saintifikasi" dan "Teknologisasi" pengetahuan secara meluas. padahal kenyataannya ia hanya memahami sebagian kecil saja dari manusia. Van Melsen menanggapi sifat agresif pengetahuan yang semakin terspesialisasi ini dengan sikapnya yang lebih terbuka. Sifat perkembangan pengetahuan tersebut bertautan erat dengan sifat eksperimentalnya dalam lingkup pengalamannya yang tidak selalu sama. Spesialisme dapat memunculkan sikap pemikiran yang berbeda-beda dan sangat berlainan tanpa didasari sifat sosial pengetahuan yang saling membutuhkan. memilih salah satu dan mencampakkan yang lain yang menyertai kepribadian manusia (Carrel. Aspek-aspek yang terpisahkan diambil secara acak. Spesialisasi akhirnya berkembang menjadi spesialisme yang terlepas-lepas. Spesialisme yang semula bersifat metodis. la menegaskan bahwa spesialisasi harus tumbuh supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversal dan menyatu dapat diwujudkan.Berkembangnya spesialisasi dengan dampaknya yang semakin hebat pada masyarakat merupakan hasil dari perkembangan lama yang mengungkapkan ciri fungsional pengetahuan manusia. la dengan tegasnya mengatakan bahwa setiap spesialisasi diikuti bias profesional yang lazim. kemajuannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. tampaknya.Psi. Setiap saat umat manusia hanya dapat merenungkan dirinya melalui lensa kehidupan yang diwarnai oleh doktrin-doktrin egois dari ilmu pengetahuan dan teknologi. karena dalam pengalamannya. Ilmu pengetahuan berkembang secara acak. S. beralih menjadi spesialisme ideologis yang ekstrem dan akhirnya bersifat egois dan tertutup (esoteric). makin terjadi unversalisasi dalam pengetahuan dan makin banyak bagian realitas yang terjangkau oleh pengetahuan manusia. Kenyataan ini disebabkan aspek kemajemukan dan keanekaragaman dari realitas itu dipersempit (direduksi) dalam satu dimensi yang terbatas. Walaupun demikian. spesialisasi dapat menimbulkan berbagai problem. 1987:41). dengan demikian banyak gejala yang beraneka ragam itu dapat disistematisasikan.

maka begitu juga pengertian kita: tersusun. rasio menjadi rasio instrumental (rasio teknologis) yang sempit dan menenggelamkan kehidupan manusia di dalam aspek kehidupan yang bersifat one dimensional (bandingkan Sindhunata. dari sekadar sebuah rumusan logis yang berlaku. Budi atau inteligensi semakin bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek yang tidak pernah lengkap dan selesai. Sesuai dengan kodrat manusia. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Selalu terdapat aspek yang terlepas dari genggaman pengetahuan. sementara pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berakhir. berupa pengertian rohani-jasmani. Maka. VIII. 113 . 1982). munculnya spesialisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak semata-mata diwujudkan sesuai dengan hasrat untuk memperbaiki keadaan manusia. serta terus menciptakan keterasingan dalam hidup manusia. Herbert Marcuse secara tegas menunjukkan adanya bahaya irasionalitas dalam situasi pengetahuan modern yang demikian mencemaskan. dan tersobek-sobek ke dalam keterpilahan dan keterpisahan aneka spesialisme pengetahuan yang mendeterminasi (membatasi) kehidupan manusia ke dalam partikularisme sempit. Kalau dipandang dari Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Bahkan ilmu-ilmu positif berkembang secara mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif) tanpa kompromi. Spesialisasi dan penganekaragaman pengetahuan yang saling terlepas dan cenderung pada sikap saling pengabaian di antara aliran-aliran epistemologi. ada unsur-unsurnya.bergantung pada kondisi-kondisi yang kebetulan muncul seperti seorang jenius. Akhirnya. untuk lebih menyelaminya kita harus melihat unsurunsur itu. Inti pendasaran dimaksud adalah pada kebenaran dan kepastian nilai-nilai kultural yang merupakan landasan ontologis maupun orientasi pengembangan pengetahuan itu sendiri. Orang semakin dilanda kebingungan. Secara epistemologis "kebenaran" selalu bersifat probiematis dan aktual. Pengetahuan tidak pernah sampai pada titik akhir yang pasti. Menurutnya. S. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah pengertian. Oleh sebab itu. Spesialisme telah menjadi kekuatan rasionalis yang semakin tajam dan menyempit. pada prinsipnya membutuhkan pendasaran mengenai hakikat kebenaran dan kepastian. yaitu rohani-jasmani. ultimate dan absolut. Ikhtisar Dinamika manusia seperti manusia sendiri adalah bhinneka-tunggal.Psi.

Mencium bau. Dalam menangkap persona (atau diri sendiri). Dengan pengertian rasional yang dimaksud ialah pengertian konseptual. pengertian tentang "aku". Pengertian indra adalah momen dari dan dalam keseluruhan pengertian kita."bawah" bisa disebut jasmani-rohani karena permulaannya pada periferia jasmani. dan lain sebagainya). satu segi. Kita tidak pernah melihat segi-segi melulu. Anjing hanya mempunyai momen indra. Tetapi bersama dengan semua itu. Jadi. S. semua itu jangan dianggap bahwa itu sudah bulat dahulu. yaitu keindraan kita. tentang persona. Tetapi tidak ada keindraan tersendiri tanpa kerohanian manusia. kita menangkap manusia sebagai engkau. hanya bisa dikatakan dengan gambaran yang berdasarkan keindraan. Manusia juga menangkap segi sensitif dari sesama. pengertian tentang "ada". Bahkan. secara eksternal budi ingin memperlakukan objek sebagai suatu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Tetapi jangan lupa bahwa semua momen itu saling memuat. kita tidak pernah melihat bundaran melulu. sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. atau buruk). kita juga menangkap segi psikologisnya (dia berbuat. Itu adalah dan pengertian rasional. Momen ini bisa disebut metakonseptual. Lebih dalam lagi (atau lebih atas!) ialah momen metafisik. merasakan manis. Sebagai contoh akhir pengertian metakonseptual kita tunjuk pengertian kesusilaan (perbuatan ini baik.Psi. dia menangkap bau tuannya. jadi sebagai persona. lantas muncul pengertian rohani. Di sini tampak adanya momen-momen. Sebaliknya. bersama itu dia punya konsep apakah manusia itu (misalnya konsep sosiologis). Apa yang disebut pengertian sensitif hanyalah satu sudut. Pandangan itu salah karena pengertian sensitif bukanlah pengertian tersendiri. mendengar suara. Hanya bisa kita nyatakan dengan konsep. dia sedih. Kita punya konsep rumah. dan lain sebagainya. Dalam pengertian kita momen-momen itu sating memuat. juga tidak mendahului tangkapan budi (intelek). konsep perkumpulan. 114 . di mana manusia membuat idea. momen yang kita sebut metakonseptual itu tidak ada tanpa konsep. juga tidak ada pengertian manusia yang hanya berupa pengertian sensitif. satu aspek atau momen dari seluruh pengertian insani. pengertian rasional. Budi manusia ingin mengetahui objek manusia dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut sekaligus berusaha menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terjalin. Jadi. Semua itu berasal dari pengertian rasional. Momen-momennya ialah pengertian indra. tidak di luar konsep. artinya "di atas" konsep. dan pengertian metafisis. Budi atau intelek sebagai fakultas manusia yang paling efektif selalu bertolak dari perspektif tertentu dari kenyataan sehingga tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap. Tetapi toh punya konsep bundaran dan lain sebagainya.

S. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar. Pengetahuan internal dan eksternal selanjutnya bersifat saling mengandaikan atau saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. maka budi juga harus bisa selalu bergerak dari perspektif satu ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Budi atau intelek manusia di sisi lain walaupun bersifat terbatas.kesatuan di dalam interaksi dengan lingkungannya. Namun. maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. tetapi justru semakin bercabang-cabang dan mendalam. Keterbatasan budi yang demikian inilah yang selalu membuatnya berpusat pada perspektif tertentu. Dengan kata lain. bila dihadapkan dengan objek yang bersifat kompleks dan bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas. budi harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan saling membentuk. 115 .Psi. terspesialisasi dalam keanekaragamannya. namun selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. bisa dimengerti kalau perkembangan pengetahuan manusia itu tidak semakin menyempit dan menyatu. pengetahuan selalu bisa berkembang. Tambahan lagi bahwa di dalam perspektif tertentu. Inilah sebabnya budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. Agar bisa mengetahui dengan jelas. Akibatnya.

Kebebasan Modul VII Sub Materi: • Objek.W. dan Psikologis Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan di Hadapan Determinismedeterminisme Determinisme dan Ketidakkoherenanny a Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Ikhtisar • • • • • • • • Juneman. juneman@gmail.Psi.. S.P. Watak Kodrati. 116 . S.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. 2008 Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. dan Keaslian Kehendak Aktualitas Ide Kebebasan Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. Moral. C.

Demikianlah kita mengalami adanya karsa. dan (2) dalam arti kemampuan untuk mau. Orang lain kita ajak menonton. Di sini kata karsa akan digunakan: (1) dalam arti mau. karena hubungannya dengan seluruh kemanusiaan kita. tidak selalu berarti will.KEBEBASAN I. maka dia menolak. tidak mau. Kita mengerti dan mengalami karsa. Watak Kodrati. maukah mas? Kersa punapa? Punapa kersanipun? Apakah yang kamu kehendaki?). S. yaitu afektivitas dan pengertian yang juga kompleks. Jelaslah sekarang pengalaman karsa. atau dia harus piket.Psi. tetapi pikir-pikir dulu. dia harus belajar untuk ujian. baik pada diri kita sendiri maupun pada diri orang lain. kita lihat dua unsur. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karsa adalah dinamika insani dalam arti penuh. Dalam contoh-contoh ini tampak perbedaan antara "tertarik" dan karsa. Dalam uraian di atas tampak bahwa karsa berupa dinamika insani dalam bentuknya yang menentukan. Objek. Biasanya karsa berarti mau atau juga "yang dikehendaki” (kersa mas. Dinamika yang lain itu (rasa tertarik. Dalam modul-modul terdahulu. daya untuk mau. Tetapi bukan dinamika yang menentukan. Jadi kalau dinamika yang di bawah karsa itu sebentar kita pandang lepas dari karsa. karena itu adalah dinamika yang menguasai. pada binatang (ingatlah contoh anjing di ates) terdapat juga rasa terdorongdorong itu. dia mau atau tidak mau. Kita bisa mau atau tidak mau terhadap suatu tawaran atau daya tarik. dan Keaslian Kehendak Dinamika manusia itu kompleks. Sekarang akan kita lihat unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan pengertian. Di situ tampak bahwa adanya rasa tertarik belum berarti adanya karsa karena belum karsa! Belum muncul kata "ya". yaitu karsa (will) atau kehendak. dan lain sebagainya) belumlah dinamika human. untuk memenuhi keinginan. misalnya. meskipun pada manusia tentu saja harus dikatakan human. 117 . merasa ada gerak pada dirinya untuk ikut. Karsa. Orang lain bisa ikut. mungkin dia merasa tertarik. Gerak yang terasa (tertarik) untuk ikut ini atau itu. Kalau seorang diajak menonton. Dalam bahasa kita istilah yang disebut will agak kabur. menghendaki. Tetapi. Akulah yang berkarsa dan dengan ini menentukan bentuk lain dinamika. seperti dalam kata "prakarsa" (inisiatif). itu pun dinamika. maka di situ dinamika itu belumlah dinamika insani. Jadi. kemecer. Tetapi lihatlah.

S. seperti letusan mercon! Manusia itu bertumbuh dan berkembang lambat laun. Inilah arti yang pokok. Lambat laun muncullah kesadaran. tidak terdengar. tidak terus lepas saja. Letak kesatuan bentuk-bentuk dinamika itu ialah dalam hubungannya dengan bentuk yang tertinggi itu. dari lingkungan biologik ke lingkungan logik. lantas bisa merangkak. Di situ belum ada kesatuan karena belum ada bentuk dinamika yang kiia sebut karsa itu. yang ada semula ialah level biologik. Untuk lebih menyelami hal ini. tidak tampak geraknya seperti berkembangnya padi juga tidak didengar atau tampak sebagai gerak. meruncing ke ates. dari btosfera ke neosfera. Sebab di situ tidak ada diri atau sich selbst sein. makhluk jasmani-rohani itu bangkit lambat laun. Dinamika rohani itu tidak terus menyerudug saja. Dalam pertumbuhannya. Bilamana munculnya karsa? Hal ini tidak dapat dijelaskan. Apakah sebetulnya kemerdekaan itu? Lihatlah dulu kata "bebas". lihatlah dinamika pada status anak kecil. Semula yang ada "hanya" rangsang. itulah bentuk-bentuk dinamika pada awalnya. lambat laun bisa mengkurep. Bentuk-bentuk dinamika manusia itu seolah-olah seperti piramid. hanya bisa menggeletak. berdiri sendiri. Untuk lebih jelasnya ingatlah bahwa manusia itu rohani-jasmani. lambat laun pula dia merambat sampai ke level intelektif atau rohani. seperti arus air. tetapi juga untuk ini atau itu. Baru pada tingkat inilah dinamika menjadi dinamika rohani. Baru dalam puncak itulah dinamika kita betul-betul menjadi dinamika manusia. Berbagai macam rangsang. dia bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam arti fisik! Dengan lambat bertumbuhlah badannya. Dengan sendirinya dalam alam infrahuman tidak ada kemerdekaan. Baru setelah beberapa waktu. Bebas artinya tidak terikat. demikian juga kemanusiannya. dianggap seperti sesuatu yang tiba-tiba ada. dari bios ke logos. tidak ada selfness. Manusia tumbuh. Bebas juga berarti bebas untuk ini atau itu. Merdeka menunjuk kedaulatan. Merdeka berarti bebas.Akhir dinamika manusia itu satu. Dinamika ini adalah dinamika dengan kemerdekaan.Psi. lantas mulai berdiri dan berjalan. lantas setelah lahir. yang masih akan ditentukan. Dia tidak pernah hanya jasmani dan tidak pernah hanya rohani. menguasai diri sendiri. Jadi. meskipun terperinci dalam macam-macam bentuk konkret. Tetapi toh isinya lebih daripada bebas. Hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ke puncak. bertakhta sendiri. Janganlah munculnya karsa itu. Kerohanian manusia pun mengikuti proses ini. Dia semula hanya melekat sebagai buah. yaitu karsa. Hanya lambat sekali dia bangkit dari kejasmanian. Di antara bebas berarti tidak ada ini atau itu yang mengikat. 118 . dan dengan itu bertumbuhlah dia sebagai manusia. Demikian juga munculnya karsa itu. bebas dari ini atau itu. seperti munculnya pikiran.

Ingatlah lagi bahwa yang pokok dari kemerdekaan itu bukanlah kebebasan. Sebab padanya—berkat kejasmanian dan kesalahan-kesalahan sendiri dan manusia lain— ada dorongan-dorongan untuk menentang arah itu. kemerdekaannya dilaksanakan dalam aktivitas-aktivitas (perbuatan) konkret dalam dan dengan kejasmaniannya. jika dia melaksanakan arah dinamika ini. "mau" berjalan sendiri! Dengan jalan ini muncullah berbagai macam kecenderungan (mun-cul dari perbuatan) yang sering mengganggu manusia. kebebasan hanyalah gejalanya ke luar. dan karena kesempurnaan ini akhirnya hanya terdapat pada pelekatan kepada Yang Mutlak. Dengan ini kemerdekaan "menjelma" dalam bentuk konkret. dia tidak lepas. Jadi. kemerdekaan manusia itu kemerdekaan yang selalu (harus) menjadi. bentuk itu bisa menyangkal kemerdekaan. Proses kelahiran ini bisa gagal. Yang pokok atau intinya ialah kedaulatan. Dia cenderung untuk liar. kemerdekaan dalam proses penjadian. Dinamika manusia itu seperti setiap dinamika adalah diarahkan ke diri sendiri. Jadi. Manusia tidak bisa mau semau-maunya! Dia dibatasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan dunianya.Psi. Maka setelah ada. Berdasarkan kejasmaniannya (dan juga karena makhluk terbatas) pribadi manusia itu kurang berdaulat. jika manusia tidak berjuang. Dengan ini teriunjuklah tabiat yang tertentu dari kemerdekaannya. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hanya personalah yang bisa berdiri sebagai subjek dengan menentukan sikap dan pendiriannya. jika manusia tidak berani membebaskan dirinya dari berbagai macam daya tarik yang terasa pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. manusia barulah sungguh-sungguh merdeka. Lagi pula. maka dinamika kita itu adalah ke arah Yang Mutlak atau Tuhan sendiri. Kalau sudah begitu. itu pun batasan. Tetapi ini tercapainya hanya lambat laun. Tetapi dalam usaha ini dia dipersulit. Pribadi manusia itu adalah pribadi rohani-jasmani. bentuk yang ditentukan kejasmaniannya. Untuk mengerti ini ingatlah lagi arah dinamika manusia. 119 . S. Tidak pernah akan tercapai dengan sempurna. Dia hanya berdaulat jika dia mengatur nafsunafsunya. muncullah suatu bentuk dinamika padanya. sungguh-sungguh berdaulat. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berarti keliaran. Dia hanya bisa berdaulat dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan itu. Dia dirintangi oleh nafsu-nafsunya. artinya ke kesempumaan manusia. mandiréng pribadi. Jadi. Demikian juga kemerdekaannya mempunyai cap kekurangan ini. maka dia bisa menentukan diri secara sungguhsungguh dan tidak ditentukan oleh nafsu-nafsunya.personalah yang bersifat merdeka. mau bebas dan lepas. dengan perjuangan. Dengan demikian. sementara manusia mau merdeka.

”Berhadapan” ini harus dicapai dalam hidup kita meskipun bentuknya masih belum sempurna. J. tampak bahwa manusia dengan karsanya bisa meninggi kepada Tuhan. Dengan ini tampak bahwa pribadi manusia itu menyatukan dirinya dengan karsanya. tetapi bisa juga menjerumuskan dirinya. Berdasarkan arah ini dia tidak boleh mau dirinya semau-maunya. Akibatnya manusia menjadi dibelenggu oleh nafsu-nafsunya. jika dia mengarahkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya. Dalam Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Tetapi pengertian hanyalah satu aspek. terjerumus. Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir. Dia hanya akan sungguh-sungguh mempunyai integrasi. namun juga sering kali bertentangan. Dengan karsanya dia memeluk dirinya. Dengan pengertiannya dia berhadapan dengan dirinya. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih tetap terbuka sampai dewasa ini. maka dia berantakan. Aktualitas Ide Kebebasan Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. dia tidak berdaulat lagi. hal ini berarti bahwa manusia hanya sungguh-sungguh bisa menjadi kesatuan dan kepribadian. Jika manusia tidak mencari dan mencapai bentuk integrasi ini. Maka. dan hal ini karena karsanya. Mengapa? Karena titik tolak yang digunakan untuk menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda. Dia harus mau sesuai dengan arah itu. Untuk utuhnya harus dikatakan bahwa dia menyatukan diri dengan karsanya. Di atas telah dikatakan bahwa manusia bersatu dengan dirinya sendiri karena pengertiannya. Maka dia tunduk. jika dia berhadapan dengan Penciptanya sebagai: Ich-Du. masih laksana benih yang harus diperkembangkan. S. Tetapi ingatlah arah manusia sebagai dinamika.Psi. Pengalaman Camus berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. itulah kesatuan manusia. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Jadi.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis.dirinya. II. Dia mengerti dan mau dirinya. 120 .

arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini. Dalam jaman modern segala tesis yang tidak dapat diterima secara logis akan ditolak. S. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang. Louis Leahy berpendapat bahwa kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Antara Pendewaan Kebebasan dan Situasi Teralienasi Dunia modern diwarnai oleh perkembangan pelbagai sektor kehidupan manusia. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di dunia. Sebelum jaman modern manusia percaya pada campur tangan Tuhan atau “dunia supra natural” dalam setiap peristiwa hidupnya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak.Psi. Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah. namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia. Pola pikir manusia semakin mengarah pada antroposentrisme. Manusia Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. namun di jaman modern manusia lebih percaya pada kemampuan intelektualnya sendiri dalam menafsirkan kehidupan. 121 . Namun pada masyarakat modern. sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara terus-menerus diperjuangkan. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah.konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile". Manusia adalah makhluk yang bebas.

kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Namun situasi dan kondisi manusia itu pada Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Faktor esensial kebebasan manusia inilah yang menyebabkan dan mendorong pelbagai tokoh untuk menyoroti masalah kebebasan. Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Dalam situasi seperti inilah sering kali muncul pertanyaan tentang kebebasan manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Dalam arti tertentu adanya perbedaan konsep itu dapat dimengerti karena kebebasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mutlak. Dalam situasi teralienasi seperti itu sangat mungkin kebebasan menjadi suatu yang absurd. Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. teknologi. Ide dan makna kebebasan manusia dipertanyakan kembali: Apa artinya bebas? Sejauh mana seseorang dapat dikatakan bebas? Kebebasan itu pada akhirnya ada atau tidak? III. tetapi secara mekanis. semakin melebar juga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin. Dan sebagai akibat penyelidikan yang variatif terhadap kebebasan maka muncul bermacam-macam anggapan. Caracara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional. dan sebagainya. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia.Psi. Karena itu Louis Leahy memasukan prinsip kebebasan ini dalam salah satu dimensi esensial pribadi manusia. Di tengah-tengah arus modernisasi dan industrialisasi. namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif. Konsekuensianya adalah kehidupan spiritul akan tidak lebih hanya sebagai pengakuan formal yang dangkal. dan Psikologis Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang sangat mendasar. pendapat dan pandangan yang sering kali berbeda satu sama lain. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. Apakah Kebebasan Itu? Kebebasan Fisik. S. dalam situasi seperti itu manusia lemah semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya.modern semakin tenggelam dalam pendewaan otonomi rasio. Lebih parah lagi. Moral. Kesediaan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan Ilahi hanya menjadi sekedar romantisme spiritual yang tidak mempunyai relevansi konkrit dengan kehidupan manusia. komunikasi. seperti di bidang ekonomi. 122 . Sebaliknya pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya.

Ia mempunyai kecenderungan dan kehendak yang bebas. S. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. Kebebasan sebagai penentuan diri mengandaikan peran akal budi dan kehendak bebas manusia. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. Hal itu juga berarti bahwa kebebasan mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri.Psi. tetapi juga dan serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan. 123 . beban atau kewajiban. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. paksaan. Sedang manusia mempunyai kemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Manusia disebut bebas kalau dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. yaitu situasi-situasi batas. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Dengan demikian kata bebas menunjuk kepada manusia sendiri yang mempunyai kemungkinan untuk memberi arah dan isi kepada perbuatannya. pengendalian diri. Sebagai eksistensi. Di dalam diri binatang tidak ada self-determination atau kemampuan internal untuk menentukan dirinya. Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. Sebagai eksistensi. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak ada kebebasan. Karena itu dikatakan bahwa manusia adalah tuan atas perbuatannya sendiri. Kebebesan sejati hanya terdapat di dalam diri manusia karena di dalam diri manusia ada akal budi dan kehendak bebas. pengaturan diri dan pengarahan diri. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Kata kebebasan sering diartikan sebagai suatu keadaan tiadanya penghalang. Manusia mempunyai kemampuan memilih. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas saya.dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. “Freedom is self-determination”. Oleh karena itu dalam kebebasan insani selalu terkandung berbagai aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Psi. Dalam merenungkan arti dan makna kebebasan kita tidak akan berhenti pada arti yang paling umum dan mendasar itu. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik. Jangkauan itu terbatas. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan justru mencirikan kebebasan manusia. Oleh karena itu pada bagian ini kita akan memperdalam arti kebebasan dalam arti-arti yang lebih khusus. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. S. Kebebasan Fisik Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik. Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau dangkal. Dia akan bebas jika masa tahanannya sudah lewat. bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Yang membedakan manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal budi manusia. 124 . Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang. Hal itu semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. yaitu kebebasan fisik. namun akar dari gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Sedangkan manusia bergerak karena dorongan kehendaknya. Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan. Misalnya dari lembaga atau orang lain. Kebebasan dalam arti khusus merupakan pengkhususan arti dari kebebasan dalam pengertian umum. Kebebasan dalam arti khusus ini tidak berarti lepas dari pengertian bebas secara umum. Jadi sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. namun ia merasa sungguhManusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material. Jangkaun kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya.Pengertian kebebasan yang diuraikan di atas merujuk pada pengertian kebebasan secara umum. Ia dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia kehendaki. kebebasan moral dan kebebasan psikologis. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri.

Psi. Ia hanya merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana. atau merupakan kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinankemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan psikologis. atau merupakan kemampuan untuk memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya. Tiadanya kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting. 125 .Namun demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang positif. atau kebebasan untuk berbuat dengan cara begini atau begitu. Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu keputusan untuk bertindak. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah ditahan atau bahkan disiksa. Kebebasan Psikologis Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Yang men-cirikhas-kan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Karena itu jika orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan tahu mengapa melakukannya.sungguh bebas. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Orang dikatakan bebas dalam pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A dan bukan B. namun demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan psikologis. Manusia bisa berpikir sebelum bertindak. Karena itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. S. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih merupakan aspek yang penting. Kebebasan memilih atau kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan yang sejati. namun mereka tetap merasa bebas. Ia menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya.

Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis. Namun.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan atau kebebasan untuk memilih. Saya telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya.Psi. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan tertentu. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Dan (mungkin) saya tidak bebas secara fisik. 126 . Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Di lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. Kebebasan Moral Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. S. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah. penyerahan itu saya lakukan atas kehendak saya. Pikiran yang muncul saat itu adalah “Saya mengambil dompet itu. atau saya mengambil dan tidak memberikan pada pemiliknya. namun ia tidak bebas Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “Atau dompet ini saya kembalikan pada pemiliknya. Contohnya suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan tanpa pemilik.” Memang kemudian saya mengambil dompet itu. Dalam pilihannya itu ia menjadi penentu atas dirinya sendiri. Seandainya saya terpaksa menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai. kebebasan psikologis tidak bisa secara langsung dibatasi dari luar. Alasannya adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan. karena dalam perampokan itu saya diancam untuk dibunuh. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung pulang setelah jam sekolah selesai. yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Meskipun perempuan itu bebas secara psikologis. Sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki sesuatu. Saya mempunyai kebebasan psikologis. Dalam pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya.Berbeda dari kebebasan fisik. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Contoh lain: Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan.

merupakan tanda bahwa kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Alasannya ialah karena perempuan itu memilih secara terpaksa. 127 . Ia dipaksa secara moral. Manusia selalu tergantung pada lingkungan fisik dan sosial. Jadi dalam pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Ia berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai konsekuensi negatif. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Argumen-argumen yang Membenarkan Adanya Kebebasan Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri sendiri.secara moral. yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri sendiri. Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh semua orang. Oleh karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan psikologis dan kebebasan fisik. S. jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul. yaitu suatu keadaan bebas. Manusia masih harus berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. IV. Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya. Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas. Manusia masih harus berhadapan dengan pelbagai hal yang tidak sempurna.Psi. Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia secara penuh. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan mengatur tanggung jawabnya sendiri. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. yaitu: Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas tindakannya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Orang yang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah bebas dalam arti moral. Seorang tuna rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Sebaliknya.

Namun ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis. sehingga seakan-akan tidak mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. argumen psikologis. melainkan praktis. Atas pelbagai cara banyak pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Argumen Persetujuan Umum Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen persetujuan umum. Karena pembuktian secara matematis tidaklah mungkin. Sistem pemikiran mereka dikenal dengan sebutan “Determinisme”. maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi kritis. apalagi kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. 128 . Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan kebebasan dalam diri manusia. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat. dan argumen etis.sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak pernah akan tercapai secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. yaitu berdasarkan pengalaman. Pembuktian selalu mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus diteliti. Mereka berkata bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bebas. bahwa kita adalah bebas. karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan orang lain adalah bebas. sebagai makluk yang bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang lain.Psi. Tiga jalan itu ditempuhnya terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia. yaitu dengan argumen persetujuan umum. Segala perbuatan manusia dalam hidupnya telah ditentukan. walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu. S. Setiap hari manusia mengalami bahwa dirinya adalah bebas. Kita sendiri.

Sebaliknya seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas. baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar diri manusia. ia tidak akan menyadari kebebasannya. Secara tidak langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai syarat untuk dimengertinya tindakan itu. Hal itu membuktikan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks hidup sesamanya. 129 . Dengan demikian dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan kebebasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Justru karena benturan-benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri. serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah bebas.Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan dan rintangan. Argumen Psikologis Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara psikologis. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk pengalaman. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh eksternal. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk rintangan dan halangan. Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan tenang. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di atas situasi yang mengelilinginya. maka juga tidak mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang menghalangi kebebasannya.Psi. Secara langsung artinya adalah pada saat manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. S. Perjuangan dalam pelbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan kebebasannya. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak langsung dapat menyadari hal itu.

ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah mengambil keputusan secara bebas. saya akan mengambil dompet itu". Karena jika tidak ada kebebasan. atau bertindak dengan cara begini atau begitu. S. yaitu "mengambil dompet itu". Di dalam berunding diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya. Pada saat mahasiswa itu memutuskan dengan menjawab ya atau tidak. maka pasti juga tidak ada suatu perundingan. Namun pada saat pikiran itu muncul. Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam atau dari kehendaknya yang bebas. Contohnya ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Muncul pemikiran pada waktu itu. Dan pengalaman itu Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. mahasiswa itu memutuskan: "Ya. Hal penting yang harus digaris-bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu. maka ia melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya". di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya. Kesadaran Tak Langsung Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas.Psi. Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal.Kesadaran Langsung akan Kebebasan Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Keputusan itu lahir dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk mengambil keputusan untuk melakukan tindakan. Kesadaran ini terjadi tatkala manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau itu. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Setelah menimbang-nimbang. 130 . Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa adanya pengaruh atau paksaan faktorfaktor eksternal. Artinya bahwa ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti bendabenda lain. atau bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak.

Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya. Maka tidak mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama. Dengan kata lain. Jadi jika orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga pasti mengakui adanya kebebasan. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati nurani manusia.Psi. Dalam sejarah perkembangan manusia hal itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan ketidak-sempurnaan moralnya. Dan kewajiban moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-rintangan. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam olah raga tinju. yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari lingkungan di luar dirinya.mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan kebebasannya. 131 . Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Hal itu karena kewajiban moral selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia. dan jarak yang memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai ketidak-sempurnaan manusiawi. S. Di dalam hidup manusia dikenal prinsip: “Harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap mengakui akan adanya kebebasan. Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang dalam prestasi akademis. Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi ketidak-sempurnaan moral manusiawi. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu. Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Argumen Etik Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Artinya bahwa orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan tindakan secara demikian.

Kebahagiaan juga dapat diartikan sebagai apa yang memberikan kesenangan terbesar padanya. Inilah yang disebut aspek horisontal kebebasan manusia. Dasar pemahaman ini adalah aspek moral dari kebebasan manusia. Kebebasan vertikal mempunyai pertimbanganpertimbangan yang lebih tinggi dari sekedar kepuasan egoisme. Namun kebebasan vertikal tidak diartikan secara demikian. atau soal untung atau tidak untung secara jasmani. S. Dasar pemikiran ini adalah karena hakekat manusia yang Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. sebagai keputusan yang tidak lagi menyangkut sarana-sarana. finansial. Keputusan kebebasan sejati biasanya tidak tergantung hanya pada soal puas atau tidak puas. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan yang sejati. Dengan kata lain kebebasan itu tidak dilakukan “hanya” demi “kepentingan-kepentingan” diri saya secara pribadi malainkan juga demi tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. keputusan itu di dasarkan pada pertimbangan pemuasan kodrat spiritual. Namun keputusan-keputusan kebebasan yang sejati biasanya senantiasa berhubungan dengan tanggung jawab moral. Jadi dalam pemahaman Louis Leahy kebebasan manusia yang sejati adalah kebebasan yang senantiasa terarah kepada sesama manusia. Tujuan manusia adalah kebahagiaan. Misalnya uang banyak atau harta berlimpah yang menguntungkan dirinya. Aspek lain dari kebebasan adalah aspek vertikal. namun lebih dalam dari itu.Psi.V. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. 132 . atau keuntungan-keuntungan pribadi yang sempit. malainkan juga kepada sesamanya. Louis Leahy mengartikan kebebasan vertikal sebagai keputusan yang menyangkut tingkatan di mana orang ingin membangun seluruh hidupnya. Artinya keputusan itu tidak didasarkan pada pemuasan aspek inferior manusia. Ada bentukbentuk kebebasan yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan bidang-bidang moral. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Inilah yang oleh Louis Leahy disebut kebebasan horisontal. seperti kebebasan fisik. politik dan sebagainya. atau tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati terhadap sesama manusia. sosial. Manusia yang bebas tidak hanya dutuntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Dalam semua kegiatan itu manusia memang bebas. Di sini muncul persoalan apa itu isi kebahagiaan manusia? Bisa saja orang mengartikan kebahagiaan itu dari mengejar keuntungan-keuntungan pribadi. atau tuntutan-tuntutan egoisme manusia. seksual. tetapi tujuan. Kebebasan Horisontal dan Kebebasan Vertikal Kebebasan yang ada dalam diri manusia memperlihatkan diri sebagai suatu kemampuan yang dengannya manusia membentuk diri secara moral.

tidak lagi mempunyai kemampuan otodeterminasi. Titik pangkal pendapat aliran determinisme untuk menyangkal kebebasan manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa “luput” dari hukum sebab akibat itu. Sebagai makhluk yang mempunyai keterbukaan vertikal secara moral manusia juga harus mengarahkan kebebasannya secara vertikal. maka manusia tidak bebas. S. Hukum sebab akibat berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kausal. Dalam pandangan para determinis naturalis persoalan-persoalan itu justru tidak mendapat tempat yang cukup berarti. Postulat dasar yang mereka kedepankan adalah jika manusia memang bebas. Dasar pendapat itu adalah realitas bahwa manusia hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh hukum-hukum alam semesta. Manusia merupakan bagian dari dunia. dalam arti otodeterminasi atau menentukan dirinya sendiri. Padahal manusia tidak bisa lepas dari determinasi dunia fisik itu. Atau. Mengapa? Karena dalam pandangan mereka sudah diandaikan bahwa hukum sebab akibat itu sudah ada. berpendapat demikian karena menurut mereka tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sebab-sebab 133 .terbuka baik secara horisontal maupun secara vertikal. Konsekuensinya adalah segala sesuatu itu tidak ada seandainya tidak ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Bukti bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat adalah adanya peristiwa-peristiwa. Kebebasan di Hadapan Determinisme-determinisme Determinisme Universal Determinisme naturalis berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan.Psi. VI. Jadi dalam pandangan determinisme naturalis Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Dengan kata lain manusia. maka ia luput dari determinasi dunia fisik. karena hukum sebab akibat itu. Yang lebih ekstim lagi hukum sebab akibat itu telah menguasai manusia sehingga manusia sama sekali tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Karena itu manusia juga tidak bisa menghindarkan dirinya dari hukum sebab akibat itu. Hukum-hukum itu merupakan rangkaian hukum sebab akibat. Dalam arti inilah determinisme naturalis mengartikan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. dapat juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus mempunyai sebab. Aliran determinisme naturalis yang mendahuluinya. Jadi gagasan dasar yang diterapkan oleh aliran determinisme naturalis untuk menyangkal kebebasan manusia bukanlah apakah sebab-sebab fisik atau hukum sebab akibat itu ada atau tidak.

Alasannya adalah karena determinisme universal menempatkan masalah kebebasan manusia secara salah. jika ia mempunyai kemampuan otodeterminasi di tengah-tengah hukum sebab akibat yang mengitarinya. di tengah dunia yang dikuasai oleh hukum sebab akibat ini. Di mana letak kesalahan itu? Aliran determinisme universal mengartikan kebebasan manusia sebagai yang menuntut pelanggaran terhadap hukum-hukum alam semesta. Di sini kita dapat menerima bahwa sentuhan-sentuhan bola bilyar yang kita sodok itu merupakan peragaan hukum sebab akibat. Akan tetapi. Contohnya kita ”menyodok” sebuah bola bilyar. 134 . Dengan berpendapatnya itu Leahy hendak mengatakan bahwa dia tetap mengakui adanya sebab-sebab fisik yang mengitari tindakan-tindakan manusia. Dan hal itu terjadi tanpa harus melanggar prinsip kausalitas universal. melainkan terletak dalam tingkat motifmotif tindakan manusia. Jadi yang ditolak oleh Louis Leahy bukanlah adanya hukum sebab akibat itu sendiri. Manusia itu bebas jika ia tidak terseret oleh hukum alam semesta ini. Bagaimanakah sikap Louis Leahy terhadap pemikiran determinisme ini? Kebebasan Terjadi Pada Tingkat Alasan-alasan dan Bukan Pada Tingkat Sebab Akibat Louis Leahy menolak kebenaran pandangan determinisme universal. kitalah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.manusia akan dikatakan bebas jika ia. secara bebas. dan bola itu menyentuh bola yang lain.Psi. Organisasi sebab-sebab itu sendiri juga sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan sarana-sarana yang akan kita gunakan. maka sebab-sebab itu juga akan menghasilkan akibat-akibat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh manusia. Padahal kebebasan manusia pada dasarnya tidak terletak dalam dimensi sebab-sebab fisik. melainkan Louis Leahy menolak pendapat bahwa adanya hukum sebab akibat itu merupakan bukti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Manusia Mempunyai Kemampuan Mengorganisir Hukum Sebab Akibat Titik tolak argumen penyangkalan Louis Leahy terhadap determinisme universal di atas adalah pengalaman bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dan menguasai sebab-sebab. Dalam hal ini berarti hukum sebab akibat itu menguasai bola-bola bilyar yang kita sodok. Karena kemampuan itulah. Artinya manusia itu bebas. yang seterusnya menyentuh bola-bola yang lain lagi. S. dapat melepaskan diri dari hukum sebab akibat itu. Atau dapat juga dikatakan bahwa manusia dikatakan bebas jika ia mampu menguasai hukum-hukum alam semesta ini. Atau dengan kata lain dia tetap mengakui adanya hukum sebab akibat.

135 . bahkan dapat dikatakan bahwa determinisme biologis bertentangan dengan pengalaman manusia sendiri. S.yang mengorientasikan atau mengatur bola-bola bilyar itu ke arah hasil semacam ini atau itu. Karena itu pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasan. Sebagai makhluk yang berdiri sendiri atau sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan melepaskan diri dari seleksi alamiah. kitalah yang menentukan terjadinya hukum sebab itu menurut motif-motif atau alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai.Psi. Karena itu Leahy berpendapat bahwa pada dasarnya determinisme biologis hanyalah merupakan suatu hipotesa yang belum terbukti kebenarannya. Perkembangan secara evolutif itu menyangkut tidak hanya Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. untuk menyesuaikan diri. Berkat kedua unsur ini manusia telah mampu melepaskan diri dari seleksi alamiah. Determinisme Biologis Menurut determinisme biologis hidup manusia telah diprogram sebelumnya oleh faktor-faktor hereditas. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Mengapa? Karena dalam aktivitas kehidupannya. Manusia adalah makhluk yang mempunyai peradaban dan kebudayaan. Determinisme Biologis Hanya Merupakan Hipotesa yang Tidak Diverifikasikan Kebenarannya Louis Leahy mengakui argumen yang mengatakan bahwa aktivitas roh dan kehendak manusia tergantung pada organisme. Dengan kalimat lain. manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menahan diri. Akan tetapi Leahy menolak bahwa sifat tergantung itu merupakan sesuatu yang absolut. Dasar pemahaman ini adalah pengalaman bahwa secara psikologis manusia tergantung secara mutlak pada keadaan biologis organismenya. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam lingkup hukum sebab akibat. manusia tetap mempunyai kebebasan. untuk mengontrol proses-proses organik. Misalnya Darwin sebagai salah seorang tokoh dalam disiplin ilmu biologi ini menitikberatkan pendapatnya tentang manusia pada segi perkembangan manusia secara evolutif. dan lain sebagainya. Atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa berkat kedua unsur tersebut manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi makhluk yang dapat berdiri sendiri. Evolusi Mengandaikan Kesadaran Para ahli biologi dalam memandang hakekat manusia cenderung menitikberatkan pendapatnya pada segi jasmani manusia dan pada segi perkembangannya.

Dalam proses ini unsur yang ada dalam diri manusia. 136 . Alam semesta ini merupakan produk dari rangkaian peristiwa dan pengalaman hidup manusia.Psi. Karena itulah harus dikatakan bahwa evolusi bukanlah merupakan sesuatu yang terjadi dan berkembang secara kebetulan. masa depan. Aktivitas menyempurnakan diri mengandaikan adanya perubahan atau evolusi. Manusia mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa lampau. Dalam arti ini perilaku manusia bukanlah bentuk ungkapan kebebasan. Hal itu tercermin dalam pandangannya tentang manusia. Makhluk jasmani itu dalam pemikiran Darwin dimengerti hanya sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam semesta. sekaligus sebagai unsur yang membedakannya dengan benda mati dan binatang adalah kesadaran. Dan alam semesta merupakan lingkungan sebagai keseluruhan di mana manusia hidup. Sebaliknya manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup. Alam semesta itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah jadi atau bukanlah sesuatu yang sempurna.bentuk dan kemampuan jasmani. Karena itulah Darwin mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang mempunyai nilai survival. Manusia dengan demikian juga mempunyai kemampuan untuk menciptakan perilaku yang baru dalam perjalanan hidupnya. Dengan pola pemikiran semacam itu akhirnya para ahli biologi memandang hakekat manusia sebagai mahkluk jasmani. mengambil keputusan. Dalam hubungan dengan ini manusia dilihat sebagai manusia secara utuh jika ia menyatukan diri dengan lingkungannya. melainkan evolusi merupakan sesuatu yang terjadi secara terarah berdasarkan kesadaran batin dan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya. Di sini ada semacam “keharusan” bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. suatu proses yang terus menjadi. melainkan juga menyangkut struktur dan ragam bagian dari jasmani manusia. Dalam hal ini lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembentukan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Jadi di dalam proses evolusi hakekat manusia terutama bukan dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Louis Leahy menolak pandangan tersebut. melainkan oleh bagaimana manusia itu menciptakan dan menyempurnakan dirinya. Louis Leahy memang mengakui ide evolusi dan adaptasi dari manusia. Mengapa? Karena manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya pasti akan musnah. S. Alam semesta merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis. dan merencanakan. Manusia adalah makhluk yang sadar. Pemikiran ini didasarkan pada realitas bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Manusia adalah pendorong aktivitas evolusi itu sendiri. Manusia menurut Louis Leahy adalah makhluk yang menyempurnakan diri.

Dalam istilah Interioritas ini terkandung arti bahwa manusia masuk di dalam dirinya sendiri. Manusia sebagai subyek dengan demikian merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya. Manusia sebagai makhluk yang utuh dan mandiri menurut Louis leahy merupakan suatu interioritas. Determinisme Sosiologis Tidak Absolut Terhadap pendapat ini Leahy mengatakan bahwa determinisme sosiologis bukanlah sesuatu yang absolut. Namun dalam arti lain pendapat itu bukanlah sesuatu yang sama sekali benar. Atau. Determinisme sosiologis hanya melihat realitas kehidupan bahwa masyarakat “menciptakan” manusia. Kebebasan manusia dalam konteks hidup sosial itu terlihat misalnya dalam keleluasaannya untuk menentukan tempat tinggalnya. Dengan kata lain pendapat determinisme sosiologis juga mengandung kelemahan-kelemahan. Inilah wujud kebebasan manusia itu. hadir di dalam dirinya sendiri. Di mana letak kelemahan argumennya? Dan di mana letak kebenaran argumennya? Kelemahan argumen aliran determinisme sosiologis terutama terletak dalam sikapnya yang memutlakkan peran sosial dalam menentukan hidup manusia. Menurut pandangan determinisme sosiologis manusia tidak memiliki kebebasan karena tindakan-tindakan dan keputusan-keputusannya selalu ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Sebaliknya determinisme sosiologis belum melihat bahwa manusia juga “menciptakan” masyarakat. bebas memilih teman hidupnya.pribadi manusia. Dengan demikian manusia dalam konsep determinisme sosiologi belum dilihat sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. S. Determinisme Sosiologis Determinisme sosiologis melihat manusia sebagai hasil hubungan-hubungan sosial. dapat juga dikatakan bahwa tindakan dan keputusan yang dibuat oleh manusia bukanlah sesuatu yang spontan atau yang lahir dari kebebasan menentukan dirinya sendiri. 137 . Itu berarti bahwa dalam arti tertentu argumen determinisme sosiologis mengandung kebenaran. Tidak Ada Pertentangan Antara Manusia Sebagai Pribadi dan Masyarakat Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. maka manusia adalah subyek. melainkan selalu sebagai hasil perhitungan dengan struktur sosial. Karena manusia adalah subyek maka dia tidak akan hanyut begitu saja dalam arus gerak masyarakat di mana dia hidup. Karena manusia adalah suatu interioritas. dan lain sebagainya.Psi. Meskipun demikian manusia tetap merupakan subyek utama yang berperanan besar dalam menentukan hidupnya.

pula Menyempurnakan sebaliknya. Dalam posisinya itu. S. kebebasan manusia sebagai pribadi terletak dalam keterbukaannya untuk senantiasa menyempurnakan dirinya dan menyempurnakan masyarakatnya. Hubungan timbal balik antara manusia sebagai pribadi dan masyarakat tersebut dalam arti tegas bukan berarti mencampurkan begitu saja antara pengertian manusia sebagai pribadi dan masyarakat. Tesis aliran ini didasarkan pada dua sifat Tuhan. Tuhan telah meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup manusia.Sekali lagi menurut Louis Leahy hakekat manusia adalah sebagai makhluk yang menyempurnakan diri.Psi. seperti tangan. Hal itu juga berarti bahwa manusia harus menyempurnakan masyarakat sekitarnya. Dan sebagai yang Maha-kuasa Tuhan adalah satu-satunya tempat manusia menggantungkan dirinya. Manusia tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengan menyempurnakan diri bersama-sama dengan sesamanya. 138 . Karena itu dinamika penyempurnaan diri manusia tidak bisa tidak juga merupakan penyempurnaan sesamanya. Maka manusia sebagai pribadi merupakan bagian-bagian tubuh itu. Determinisme Teologis Determinisme teologis berpendapat bahwa manusia tidak bebas karena telah dideterminasikan oleh Tuhan. Manusia yang menyempurnakan diri adalah manusia yang bebas. kaki. dan semacamnya. yaitu Tuhan sebagai yang Maha-tahu dan Tuhan sebagai yang Maha-kuasa. Jadi manusia merupakan bagian dari masyarakat. diri berarti menyempurnakan masyarakat berarti Begitu menyempurnakan menyempurnakan diri manusia sendiri. Maka pada dasarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara tujuan manusia sebagai pribadi dan tujuan masyarakat di mana dia hidup dan menyempurnakan masyarakat. Jika masyarakat itu dianalogikan dengan sebuah tubuh. Dalam hal ini juga harus dikatakan bahwa dinamika manusia itu adalah dinamika kearah penyempurnaan sesamanya. Masyarakat dalam konteks ini diartikan sebagai suatu asosiasi individu-individu yang mempunyai tugas menyempurnakan dirinya. Manusia selalu hidup bersama dan membentuk kesatuan dengan sesamanya. Di sinilah terkandung makna yang sangat jelas mengenai ide kebebasan manusia. Determinisme Teologis Meletakkan Masalah secara Salah Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Sebagai yang Maha-tahu. dirinya. Sedangkan manusia dipandang sebagai persona yang terbuka terhadap masyarakatnya. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial.

Padahal Tuhan tidak terikat waktu. Tuhan tetap memberi kebebasan pada manusia untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya. Dia tidak berada dalam waktu. Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kebebasan sama sekali di dalam dunia manusia karena semua sudah diramalkan dan ditentukan oleh Tuhan. Kebebasan manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kebebasan Tuhan.Psi. Kebebasan Manusia Tidak Berarti Ketidaktergantungan pada Tuhan Determinisme teologis juga mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan karena pada kenyataannya manusia tergantung pada Tuhan. Selanjutnya kehendak Tuhanlah yang harus direalisasikan. Dengan berpikir dan mengatakan bahwa Tuhan “meramalkan” maka determinisme teologis secara jelas telah meletakkan Tuhan dalam konteks waktu. Dan kehendak manusia harus tunduk pada kehendak Tuhan itu. Dia melihat. Misalnya. Itu berarti Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak atas hidup manusia. Dengan kata lain aliran determinisme teologis mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat konteks hubungan antara Tuhan dan manusia ini melulu berdasarkan kaca mata manusia. S. Penempatan masalah yang secara salah dilakukan oleh determinisme teologis terlihat juga dalam pola pemikirannya yang menyamakan begitu saja antara apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia. Sebaliknya kebebasan manusia lebih merupakan kebebasan yang diterima dari Tuhan. aliran determinisme teologis mengatakan bahwa Tuhan telah meramalkan dan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh manusia. Tuhan itu bersifat transenden. Dengan demikian semua tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia merupakan sesuatu yang lahir dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Terhadap tesis determinisme teologis itu Louis Leahy mengatakan bahwa Tuhan itu tidak meramalkan. Jadi pendapat itu sama dengan menyangkal keabadian Tuhan. Manusia dalam pandangan aliran ini sama seperti sebuah wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Partisipasi itu mengandaikan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Louis leahy mengatakan bahwa determinisme teologis menempatkan masalah secara salah. 139 . Apa saja yang ada dalam otak manusia dapat diwujudkan oleh Tuhan. Determinisme teologis berusaha meletakkan kehendak Allah yang berada dalam taraf transenden itu dalam taraf manusiawi. Mereka beranggapan seakan-akan Tuhan itu merupakan lawan bersaing dari manusia. Terhadap pendapat yang kedua ini Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia sama sekali tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan.

Determinisme Ketidaksadaran Detereminisme ketidaksadaran memandang manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kebebasan karena seluruh aktivitasnya pada dasarnya merupakan produk dorongan kecenderungan-kecenderungan instingtif yang tidak disadarinya. Manusia dengan kebebasannya telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan. Dan dalam hal ini keterbukaan manusia terhadap Allah merupakan keputusan yang bebas.sikap terbuka terhadap Allah. 140 . Dalam arti tertentu pemikiran semacam itu dapat kita terima karena memang dalam kenyataannya manusia banyak menemukan kesulitan untuk sungguh-sunguh memilih kebenaran yang sejati. Dalam relasi antar Tuhan dan manusia itu seringkali dijumpai fakta yang seolaholah mengatakan bahwa manusia “harus” taat kepada Tuhan. Realitas ini dalam hubungannya dengan antropologi filsafat dilihat sebagai bentuk keterbukaan manusia pada Tuhan. Jadi meskipun tergantung pada Allah. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Manusia adalah Makhluk yang Berdialog Dengan Allah Kebebasan manusia di hadapan Tuhan juga bisa direfleksikan dalam kerangka teologi biblis. Dalam konteks teologi biblis manusia dilihat sebagai makhluk yang berdialog dengan Allah. Keterbukaan semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja. manusia tetap memiliki kebebasan. Maka keterbukaan semacam ini lahir pertama-tama dari keyakinan manusia bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Komunikasi eksistensial artinya adalah relasi yang berdasarkan logika hati atau hubungan personal antara Tuhan dan manusia. Dengan melihat hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan manusia itu pertama-tama bukan ditentukan oleh Tuhan. S. Selain dibutuhkan pengakuan dari manusia bahwa Tuhan itu ada. Manusia adalah makhluk rohani. Dan bukan Tuhan.Psi. Artinya bahwa manusia tidak bisa menyandarkan diri pada Tuhan jika manusia tidak yakin akan Eksistensi Allah sendiri. Dosa itulah yang mengekang kebebasan manusia. Kesulitan manusia untuk memutuskan memilih sesuatu yang adalah benar itu secara teologis dilihat sebagai akibat dosa manusia sendiri. Bagi manusia Tuhan adalah realitas tertinggi yang sangat dicintai dan sungguh-sungguh nyata. juga dalam relasi yang penuh keterbukaan itu diperlukan komunikasi ekstistensial antara Allah dan Manusia. Mengapa? Karena keputusan untuk tergantung pada Tuhan itu pun dibuat oleh manusia dengan kebebasannya. Melainkan kebebasan manusia merupakan sesuatu yang ditentukan oleh manusia sendiri.

kebebasan manusia itu terdiri dari mengorientasikan mereka (alam) dengan mempergunakan kekuatan-kekuatan mereka sendiri. melainkan hanya merupakan produk dari masa lampau. Apapun yang terjadi pada masa sekarang ini secara teoritis dapat dimengerti dengan kembali melihat peristiwaperistiwa yang terjadi pada masa lampau. Jika pada masa sekarang seseorang membunuh yang lain. 141 . Dan sebab-sebab itu ada di masa lampau. Dalam konteks ini tugas manusia adalah menaklukkan kepada dirinya sendiri segala sesuatu yang bersifat irasional-instingtif dan menguasainya dengan bebas serta menurut keteraturan-keteraturannya sendiri. maka menurut Freud kita harus melihat masa lalu untuk mencari sebab-sebab tindakan itu. Kebebasan manusia selalu mempunyai batas-batas. menurut Leahy. Kebebasan manusia pun juga bukanlah sesuatu yang lengkap dan sempurna secara total. Sebaliknya.Sedangkan motif-motif yang sadar hanyalah merupakan suatu penipuan. S. Mengapa? Karena Leahy menyadari bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mengandung unsur-unsur sangat kompleks. Meskipun demikian bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan. Oleh karena itu motif-motif sadar itu sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk semu dari kebebasan. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Pribadi Manusia Mengandung Unsur yang Kompleks Di sini Leahy mengakui adanya kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh penyelidikan psikoanalisa dan psikologi pada umumnya. Sedangkan berkaitan dengan pendapat Freud mengenai hukum sebab akibat yang menguasai seluruh umat manusia. Freud juga berpendapat bahwa kaidah hukum sebab akibat yang ada dalam alam semesta ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Psikoanalisis Mengandaikan Kebebasan manusia Selanjutnya harus dikatakan bahwa penyangkalan kebebasan oleh dan berdasarkan psikoanalisa sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. Namun menurut Leahy akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa kebebasan manusia itu bukanlah sesuatu yang total. Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak terdiri dari penyangkalan terhadap hukum alam semesta itu.Psi. Mengatakan bahwa manusia tidak bebas sama sekali adalah tidak tepat. Dalam konteks inilah Freud berpendapat bahwa tindakan manusia pada masa sekarang sebenarnya bukan merupakan realisasi perbuatan yang bebas. Dengan cara itu Freud hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang pasti mempunyai sebabsebab.

Manusia dimengerti seperti sebuah mesin. dan kebebasan dari para pasien. Cara berpikir secara mekanistis seperti tersebut harus ditolak. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Atau dapat juga dikatakan bahwa dalam usaha penyembuhan itu Freud sangat menekankan peran kesadaran. Bagian-bagian dari sebuah mesin itu memang berada dalam keseluruhan. Tesis semacam ini sulit diterima pertama-tama karena masih belum jelas apa dan bagaimana ketidak-sadaran itu. Padahal mesin dan bagian-bagiannya bertindak tidak demi suatu tujuan. Dengan demikian kebebasan memainkan peranan yang sangat penting dalam psikoanalisa Freud. S. Unsur Ketidaksadaran Sulit Dijadikan Dasar Pendorong Tindakan Manusia Determinisme ketidak-sadaran berpendapat bahwa tindakan-tindakan manusia merupakan hasil dorongan unsur ketidaksadaran dalam diri manusia. dan lain sebagainya. Dan oleh karenanya unsur ketidak-sadaran juga tidak memberi keterangan yang berarti bagi kehendak. Manusia adalah makhluk yang secara bebas dapat menentukan tujuan-tujuan hidupnya sendiri. Dengan kata lain Freud ingin mengangkat unsur-unsur ketidaksadaran manusia ke dalam kesadaran.Psi. atau yang mengemudikannya. kesadaran dan kebebasan manusia. Hal itu terlihat secara jelas dalam metode-metode penyembuhan bagi pasien-pasien histeria. 142 . dan lain sebagainya. Dan karena itulah penyangkalan kebebasan manusia dalam hal ini sebenarnya tidak mempunyai dasar-dasar yang kokoh. misalnya sebuah mobil. Mengapa? Karena manusia berbeda dengan sebuah mesin yang harus diprogram oleh manusia sendiri. Memang. keinginan untuk hidup secara lebih baik. Alasan kedua mengapa determinisme ketidaksadaran harus ditolak adalah karena pandangannya yang terlalu mekanistis. Dalam perjuangan ini kerjasama dan keinginan yang kuat untuk sembuh dari para pasien merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan (kesembuhan). justru karena unsur itu merupakan unsur yang tidak disadari. Namun mereka berjalan menurut hukumnya masing-masing.Mengapa demikian? Karena pada dasarnya Freud sendiri mengakui dan bahkan menuntut adanya kebebasan dalam diri manusia. dari pihak Freud sendiri tujuan utama usaha penyembuhan itu adalah “membebaskan” pasien dari kecenderungankecenderungan instingtif yang menguasainya. Melainkan tujuan adanya sebuah mobil itu ditentukan oleh manusia. Dengan demikian sebuah mobil dari dalam dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan. yang merangkainya. Dan menurut Freud tujuan itu akan berhasil jika si pasien memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. penafsiran mimpi.

Dikatakan saling bertolak belakang karena gagasan kedua aliran itu. Artinya para determinis itu mengungkapkan buah pemikirannya bukan karena struktur alam semesta itu bersifat begini atau begitu secara objektif. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Di pihak lain mereka tidak menyadari bahwa kebebasan itu ada dalam diri mereka sendiri. Determinisme dan Ketidakkoherenannya Pemikiran yang dikedepankan oleh aliran determinisme tidak bisa diterima. Itu berarti kita membicarakan dua hal yang bertolak belakang satu dengan yang lain. S. Letak Persoalan Determinisme Dan Kebebasan Tema besar modul ini adalah kebebasan manusia dan determinisme. Hal itu terjadi karena para penganut aliran determinisme tidak mempertahankan pendapatnya karena pendapat itu in se adalah benar.VII. melainkan karena para determinis hanya mewarisi pola pemikiran tertentu. Di dalam konteks inilah terlihat secara jelas letak ketidak-koherenan pemikiran kaum determinisme. Namun mereka tidak sadar bahwa argumen itu sebenarnya merupakan bentuk kebebasan manusia untuk memutuskan dan memilih yang benar daripada yang salah.Psi. Di sinilah terlihat dengan jelas ketidak-koherenan pola pemikiran aliran determinisme. Artinya mereka merasa sangat yakin bahwa manusia itu tidak mempunyai kebebasan. VIII. Di satu pihak mereka menyangkal kebebasan. Aliran determinisme merasa bahwa pernyataanpernyataan yang mereka kedepankan adalah satu-satunya pernyataan yang benar. 143 . melainkan karena struktur otak para determinis yang terbentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang sifatnya deterministis. Alasannya adalah karena pemikiran para determinis mengandung banyak ketidakkoherenan. Oleh karena pemikirannya itu. Pendek kata para determinis tetap mempertahankan bahwa pendapat atau argumennya adalah yang paling benar. yaitu aliran yang berpihak pada kebebasan dan aliran yang berpihak pada determinisme saling bertentangan. Mengapa? Mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada kebebasan. Sebaliknya mereka kurang menyadari bahwa pada saat membuat pernyataan itu mereka telah mengeluarkan suatu keputusan yang kontradiktif. Suatu keputusan yang menyangkal keputusan atau argumen mereka sendiri. akal budi para determinis akan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran yang lain dan terhadap argumen-argumen baru yang mungkin akan terpikirkan kemudian. Lebih lagi mereka menginginkan pengakuan secara ilmiah bahwa gagasan-gagasannya juga bersifat rasional dan bersifat obyektif dan bukan hanya semacam propaganda-propaganda yang sama sekali tidak mengandung kebenaran.

Artinya bahwa sebagian besar manusia percaya bahwa mereka diperlengkapi dengan kehendak bebas. Argumen kedua adalah argumen psikologis. Orang bisa mengatakan bahwa dirinya adalah bebas dan bahwa orang lain juga bebas. Mengapa demikian? Karena manusia hanya mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika manusia itu bebas. Argumen ini mengatakan bahwa manusia bisa menyadari kebebasannya secara langsung dan secara tidak langsung. Kebebasan merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi oleh manusia. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. ketika manusia memuji keberhasilan orang lain. mengatakan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial pribadi manusia. Kebebasan Sebagai Unsur Esensial Pribadi Manusia Aliran kebebasan.Psi. Dan dengan realitas itu orang kemudian menyimpulkan baha kehendak manusia itu adalah bebas.Aliran yang berpihak pada paham kebebasan mengatakan bahwa manusia itu bebas. Itu sama artinya dengan pernyataan bahwa manusia secara mutlak ingin bahagia. Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan psikologis. S. 144 . Secara mutlak obyek dari kehendak manusia adalah kebaikan atau ada sebagai baik. Sebaliknya aliran yang berpihak pada paham determinisme tetap bertahan pada posisi pendapatnya bahwa manusia tidak bebas. Kata kebebasan itu sendiri pada umumnya diartikan sebagai ketiadaan paksaan. Secara langsung artinya tepat pada saat kita sedang bertindak secara bebas. ketika manusia mempertimbangkan pro dan kontra. ketika manusia menyesalkan keputusan-keputusan. Sedangkan kesadaran tak langsung terlihat ketika manusia berunding untuk suatu keputusan. atau ketika manusia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Kebebasan moral berarti ketiadaan paksaan moral. Kebebasan ini terjadi ketika manusia memilih atau memutuskan untuk melakukan tindakan ini atau tindakan itu. Karena itulah pada dasarnya manusia tidak dapat tidak bekehendak. secara langsung kita menyadari kebebasan itu. Kebebasan fisik berarti ketiadaan paksaan fisik. Kebebasan psikologis disebut juga kebebasan untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. yang dalam konteks ini diwakili oleh Louis Leahy. Berikut akan kita lihat rincian pendapat dari masing-masing aliran. Ada beberapa argumen yang menunjukkan adanya kebebasan. Kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Kebebasan psikologis memberi keleluasaan pada subyek untuk memilih antara pelbagai tindakan yang mungkin. Yang pertama adalah argumen persetujuan umum.

melainkan terutama terarah pada tuntutan-tuntutan cinta kasih dan kemurahan hati kepada sesama manusia. Dengan pemikiran seperti ini Louis Leahy hendak menyampaikan gagasan bahwa manusia yang bebas tidak hanya dituntut untuk mempertanggung-jawabkan kebebasannya kepada dirinya sendiri. Di dalam semua tindakan itu aspek ketidak-langsungan kesadaran manusia terletak dalam sikap "mengakui" adanya kebebasan. Dalam semua tindakan itu terkandung suatu arti bahwa manusia bisa berbuat lain. melainkan juga kepada sesamanya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Louis Leahy mengatakan bahwa kebebasan manusia mempunyai dua aspek mendasar. Absurditas Kebebasan Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran ada pemikir yang berpendapat bahwa manusia tidak bebas. Argumen ini mengatakan bahwa seandainya tidak ada kebebasan. Padahal manusia tidak luput dari determinisme dunia fisik. secara tidak langsung dia mengakui adanya kebebasan. menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Kebebasan dalam pandangan determinisme 145 . Dengan demikian kebebasan manusia merupakan suatu yang absurd. dalam arti menentukan dirinya sendiri atau otodeterminasi. Dan berbuat lain itu adalah wujud suatu kebebasan. Dan penguasaan kesulitan itu merupakan bentuk kebebasan manusia. Akhirnya. padahal sebenarnya tidak demikian. Mereka yakin bahwa manusia tidak bisa luput dai postulat determinime universal. Menurut para pemikir ini manusia hanya mengira bahwa dirinya bebas. Ketika manusia memuji dan mengagumi keberhasilan orang lain. S. Mereka itu adalah para penganut aliran determinisme. Jadi orang yang mengagumi keberhasilan orang lain secara tidak langsung juga mengakui ide kebebasan. maka ia akan luput dari determinisme dunia fisik. Mengapa? Karena keberhasilan mengandaikan adanya kemampuan mengatasi kesulitan-kesulitan.dan sebagainya. Jadi kebebasan vertikal adalah kebebasan yang tertuju pada Tuhan. Kebebasan vertikal merupakan kebebasan yang terarah kepada kebahagiaan sejati. Aspek kedua dari kebebasan manusia adalah aspek vertikal. Argumen ketiga adalah argumen etik. Mengapa? Karena tanggung jawab moral selalu mengandaikan adanya kebebasan. Pertama-tama kebebasan manusia mempunyai aspek horisontal. maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Artinya kebebasan manusia secara mendasar merupakan kebebasan yang tidak semata-mata terarah pada kepentingan-kenpentingan manusia secara pribadi. Dalam pemikiran Louis Leahy kebahagiaan sejati itu adalah Tuhan. Postulat dasar dari determinisme adalah “Kalau manusia bebas.Psi.

Menurut aliran determinisme gejala-gejala tertentu dapat dikatakan benar jika bisa dibuktikan dalam kaitannya dengan gejala-gejala lainya. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. aliran determinisme juga mengejar suatu inteligibilitas yang dapat dikontrol dan dapat diverifikasikan oleh pengalaman-pengalaman. Fenomen X adalah antecedens.Psi. S.maka manusia tidak bebas. Aliran determinisme sebenarnya mengakui adanya keputusan dan perbuatan yang muncul dari keinginan dan kehendak dalam diri manusia. maka manusia pun tidak bisa melepaskan diri dari determinisme-determinisme yang melingkupi dan menguasainya. Jadi jelaslah bahwa menurut kaum determinisme manusia benar-benar dikuasai oleh sesuatu yang di luar dirinya. Dan yang kedua adalah merupakan pengaruh lingkungan sosial di mana manusia itu hidup. Hubungan itu dapat diungkapkan dengan proposisi hipotetis ini: “Jika ada fenomen X. Dalam kaca mata aliran determinisme gejala Y dikaitkan sedemikian rupa dengan fenomen Y sehingga fenomen X dianggap sebagai penyebab fenomen Y. Misalnya kita harus bertanya: Dari mana munculnya keinginan dan kehendak itu? Dengan kata lain dari mana asal-usulnya keinginan dan kehendak itu? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akhirnya kita akan menemukan jawaban bahwa semua tindakan dan keputusan yang kita lakukan pertama-tama merupakan produk perlengkapan psiko-fisik yang merupakan warisan dari pendahulu manusia. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa antara fenomen yang satu dengan fenomen yang lain harus ada hubungan “antecedens” dan “consequens”. Namun mereka tetap menyangkal bahwa keputusan dan perbuatan macam itu merupakan sesuatu yang keluar dari kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Menurut mereka.” Logika semacam ini muncul dari para determinis berdasarkan dua alasan yang bersifat empiris. Karena itulah dalam pandangan kaum determinisme manusia sungguh-sungguh tidak memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya. sedangkan fenomen Y adalah consequens. Dikatakan bersifat empiris karena pertama-tama mereka bertolak dari fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indra. Melainkan kita harus berusaha menggali sebab-sebab terdalam dari keputusan dan perbuatan tersebut. sama seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini. Lebih dari itu. maka pasti ada pula fenomen Y”. 146 . kita tidak boleh hanya berhenti pada keinginan dan kehendak yang muncul dalam diri manusia. Di sini mereka mengatakan bahwa dalam melihat keputusan dan perbuatan manusia. Dan justru karena postulatnya itu kaum determinisme melihat bahwa kebebasan manusia itu merupakan sesuatu yang absurd.

tetapi juga serentak merupakan faktor yang memungkinkan kebebasan.Komplementaritas Determinisme dan Kebebasan Kebebasan merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Kebebasan mempunyai karakter relatif atau dibatasi oleh situasi dan kondisi manusia. Dan kerena dua sifat manusia inilah. Ketidakmutlakan Determinisme dan Kebebasan Manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda yang lain. yaitu situasi-situasi batas. Dalam konteks ini berarti harus dikatakan bahwa di samping diri manusia sendiri. manusia selalu termuat dalam situasi-situasi tertentu. manusia termasuk bagian dari dunia dengan segala hukum-hukumnya. Namun sebagai mahkluk jasmani. Namun faktor-faktor dari luar diri manusia ini pun pada dasarnya juga bukan merupakan sesuatu yang secara absolut mempengaruhi dan menentukan keputusan dan tindakan bebas manusia. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Namun situasi dan kondisi manusia semacam itu pada dasarnya bukan hanya merupakan faktor yang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia. Maka manusia sebenarnya tidak pernah bebas secara penuh. kebebasan manusia selalu bercampur dengan ketidak-bebasan. Dunia fisik dan kebebasan manusia merupakan dua sisi dari manusia yang tak terpisah dari pribadi manusia sendiri. manusia mempunyai karakter yang bersifat rohani dan bebas. walaupun dia hidup ditengah-tengah dunia yang bersifat deterministis. kebebasan manusia merupakan kebebasan yang bersituasi.Psi. Oleh karena itu dalam aspek atau komponen yang saling mempengaruhi dan yang saling terjalin satu sama lain situasisituasi batas dan kebebasan merupakan dua hal yang saling mengandaikan. Alasannya adalah karena di luar situasi yang sifatnya terbatas itu manusia tidak mungkin dapat bertindak. Melainkan. Sebagai makhluk yang berakal budi. 147 . Sebagai sesuatu yang relatif atau bersituasi. Manusia adalah makhluk yang berbudi. juga ada faktor-faktor di luar dirinya yang ikut menentukan hidupnya. Karena manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan bebasnya. maka kebebasan dan determinisme tidak saling meniadakan. Sebagai eksistensi. Sebagai eksistensi. manusia dapat menemukan dan merealisasikan dirinya sendiri di dunia ini. Namun demikian harus diakui bahwa kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang hidup di dalam dunia yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Meskipun demikian kebebasan manusia bukanlah sesuatu yang absolut. S. Berdasarkan Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman. Karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas.

S. tanpa harus melanggar hukum-hukum alam itu. Meskipun demikian. Manusia tidak bisa melawan dan menolak gejala-gejala alamiah. Manusia tetap merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan. Demikian juga manusia mempunyai keinginan untuk hidup bahagia dan sejahtera selama hidup di dunia. Dan atas nama akal budilah manusia menerima adanya sebuah eksistensi Allah Pencipta. Kontingensi dan keterbatasan dunia manusia ini menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh keberadaan manusia. Manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan-keinginan. seperti terbit dan tenggelamnya matahari. yaitu persatuan abadi dengan 148 . Artinya walaupun dalam kenyataannya manusia hidup di dalam alam semesta ini. IX. Ikhtisar Manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan serta benda-benda mati lainnya. Dia tidak bisa ditangkap secara langsung oleh akal budi manusia. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Namun hal tidak berarti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bebas. Namun dengan kebebasannya manusia mampu mengekang keinginan-keinginan yang muncul dalam dirinya untuk suatu tujuan yang lebih tinggi. melainkan Dia hanya bisa ditangkap melalui suatu analogi. Dalam konteks ini kebebasan manusia memang harus dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Kebebasan merupakan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang bertubuh.realitas semacam itu maka disimpulkan bahwa antara determinisme dan kebebasan manusia merupakan dua hal yang sama-sama terbatas. Dengan kata lain pada taraf konsep kita tidak pernah dapat memahami Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.Psi. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. untuk mencapai kebahagiaan sejati. Manusia sadar bahwa hidupnya tergantung pada kondisi-kondisi tertentu dari alam semesta. bahkan dengan mematuhi hukum-hukum itu. namun ia terpisah dari alam semesta. Allah di surga. Manusia mempunyai kemampuan untuk menyatukan. manusia dengan kebebasannya mampu mengubah dunia. tentu saja dengan landasan kebebasannya. Dia adalah yang Tak-Terbatas dan yang mengatasi segala kemampuan budi manusia. bulan dan bintang-bintang. namun manusia mempunyai kemampuan untuk tidak begitu saja ikut arus gerak alam semesta ini. sekaligus melepaskan diri dari semua pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Namun semua itu dapat saja dikorbankan.

melalui analogi manusia akan melihat bahwa Yang-Tak-terbatas itu bukannya meniadakan keaslian dari yang terbatas. 149 . menurut Louis leahy. Bagaimana suatu kebebasan dapat tetap nyata meskipun Allah mahakuasa dan meskipun tindakan-Nya meresapi segala-galanya. argumen psikologis dan argumen etis.bagaimana yang terbatas (manusia) dapat ber-koeksistensi dengan Yang-TakTerbatas. yaitu argumen persetujuan umum. Jadi Keberadaan Allah itu bukannya meniadakan kebebasan manusia. Melainkan keberadaan Allah itu merupakan sumber yang wajib dari kebebasan manusia. Namun. Secara garis besar Louis Leahy menyodorkan tiga alasan. S.Psi. Leahy juga berusaha memberikan alasan-alasan yang mendasar tentang kebebasan berdasarkan pengalaman hidup manusia sendiri. Manusia dalam Wacana Filosofis – Juneman.

Eksistensialism e Modul VIII Sub Materi: • • • • • Apakah Eksistensialisme Itu? Karl Jaspers Jean-Paul Sartre Søren Aabye Kierkegaard Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Friedrich Wilhelm Nietzsche Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse • • Juneman. 2008 . juneman@gmail.Psi.P. S.W.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.. C.

benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan. eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan. II. eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat). Ia lebih suka menyebut filsafat yang digelutinya sebagai filsafat eksistensi. la memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Gabriel Marcel. Camus dan Sartre. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. seperti Jean-Paul Sartre. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya.EKSISTENSIALISME I. Karl Jaspers Karl Jaspers sering digolongkan dalam kelompok filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Itulah sebabnya. tetapi ada yang tetap mengakui Allah. segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. karena hakikat itu justru dianggap sebagai sesuatu yang belum ada. “esensi“ manusia ditentukan dalam eksistensi manusia. manusia yang bereksistensi. Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis. Jaspers sendiri tidak senang dengan istilah eksistensialisme. Eksistensi adalah cara-berada-di-dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. manusia memberi arti kepada segalanya. Orang yang berfilsafat harus mulai dengan elaborasi ilmu-ilmu. tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia. Bagi Jasper. Apakah Eksistensialisme Itu? Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. seperti Gabriel Marcel. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret. 1985: 7-8). Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Jika ilmu . Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Jadi. Eksistensialisme tidak merenungkan “esensi“ atau hakekat abadi manusia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain. sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Dengan kata lain. Sebaliknya. Tetapi.

Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat. Philosophie (1932). Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. antara lain melalui Max Weber. tetapi menyoroti manusia yang sakit. Namun. setelah menerima gelar penghargaan itu. pada 1883. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Karena itu. Melalui karya-karyanya Jaspers memberi sumbangan besar pada khazanah filsafat.pengetahuan telah mencapai batas-batasnya dan jatuh pada ketidakberdayaan. Jerman Utara. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921. Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg. Gottingen dan Heidelberg. ia menulis banyak sekali karya. saat itulah filsafat eksistensi menjalankan tugasnya: menyelidiki dasar-dasar keputusan manusia dan keyakinan yang menjadi dasar hidupnya. Filsafatnya bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater. setelah ia menerima profesorat filsafat di Heidelberg. Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi dalam dunia). Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin. tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. Jilid II: Existenzerhellung (Penerangan eksistensi) dan Jilid III: Metaphysik (Metafisika). Di buku ini ia melukiskan pelbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Pada 1948 ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Sejak sekolah menengah ia sudah tertarik pada filsafat. Ia menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum) pada 1910. ahli ekonomi. tidak berlebihan kiranya jika Jaspers lantas mengajak manusia untuk menjadi dirinya sendiri. sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Tidak mengherankan kalau kini masih ada kelompok-kelompok pengagum . Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (psikologi tentang pandanganpandangan dunia). antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid. sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Di buku ini ia tidak melukiskan penyakit-penyakit. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan München.

Karl Jaspers di Austria. 3. Katanya. pilihan. keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filsuf. Eksistensi Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat. nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Bagi Jasper. kita mencapai inti “aku”. Swiss dan Amerika Utara yang terus mengelaborasi karya-karyanya. Melalui keputusan ini eksistentis. Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II. Pokokpokok penerangan eksistensi adalah sebagai berikut: 1. dengan menerangi eksistensi. Jerman. Jepang. berkembang. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan termuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta. komunikasi dan kebebasan. Di Swiss misalnya didirikan Karl-Jaspers-Stiftung yang berperan memberi beasiswa. Situasi-situasi Batas . karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Saat Keputusan Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Dengan menerangi eksistensi. Eksistensi membutuhkan komunikasi. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. yakni Penerangan Eksistensi. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. 2. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (being there). dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi). Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Filsafat Jaspers dikenal sebagai “filsafat eksistensi”.

Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya . Penderitaan karena keterpisahan. Penderitaan Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. jenis kelamin. dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak. Tetapi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. ia dapat berkembang. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. penderitaan. tergantung dari keputusan manusia sendiri. perjuangan. dan banyak hal yang merupakan fakta. b. lepas dari pilihan manusia sendiri. latarbelakang sosial. c. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya. ini yang disebut nasib. Semua situasi batas itu mendua karena kepada eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur. dan kesalahan. Namun.Sebagai Dasein. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus. Nasib Situasi batas yang paling umum. Kematian Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai atau kematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi. Kematian teman sekaligus musuh manusia. d. a. Mencintai hidup dan menilai hidup fana. yaitu faktisitas histories. tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Faktisitas Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karena banyak hal sudah ditentukan oleh historisitas. komunikasi terhenti membuka “retak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi . Bereksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. yaitu kematian. takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang.

Kesalahan Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. 3 dst. bdk. tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi. Secara intensif dia berkutat dengan penyelidikan ilmiah yang disebutnya Philosophische Logik – logika filosofis (Jasper: 1991. hal.). Jaspers: 1991. 37). melainkan pertanyaan bagaimana manusia bisa dan harus berpikir mengenai “ada” (Jaspers: 1991: hal. 1949. Kekurangan-kekurangan Dunia Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. Kegagalan Kegagalan merupakan tempat pertemuan dengan transendensi.sendiri dari pada dalam keberuntungan. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. situasi kebohongan dan kejahatan politik. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertanyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. 4. Dalam kegagalan manusia terdampar dalam pantai transendensi.. hal. hal. e. Manusia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. cacat.3 dst. Segala sesuatu yang termasuk Dasein penuh pertentangan. Manusia harus mau menerima tanggung jawabnya. dan kekurangan dan karena itu ketentraman tidak pernah tercapai. Dia terus-menerus mencari kebenaran di tengah situasi jaman perang dan Nazi yang kejam. . 5. Logika filosofis menyelidiki batas-batas. hal. Obyek penyelidikan bukanlah “ada”. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religius. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang. 57). Periechontologi Karl Jaspers adalah seorang filsuf yang haus kebenaran (Jaspers: 1956. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Tanpa itu yang ada kekosongan. 453 dst.. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batas yang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. asal dan makna kebenaran.

“Das Umgreifende“ atau “ Yang Melingkupi” mengatasi polarisasi antara ada-obyek dan ada-subyek. Hasil penyelidikan Jasper tentang kebenaran dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 1947 dengan judul Von der Wahrheit (mengenai kebenaran). Horison yang melingkupi pengetahuan manusia ini belum menjadi “das Umgreifende“ itu sendiri. Karakter khas “das Umgreifende“ adalah kegelapannya bagi kesadaran manusia. kukenal atau sesuatu yang diintensionalisasi. tidak pernah dapat ditangkap sebagai obyek. Dengan kalimat lain. Buku Von der Wahrheit bisa dikatakan sebagai tonggak bagi kebenaran. termasuk diriku yang kuobyekkan. Manusia berbeda dengan pengada lainnya. “Das Umgreifende” merupakan “horison” pemikiran. “Yang Melingkupi“ menurut Jaspers adalah “das Umgreifende“. dia tidak akan mampu mendapatkannya. karena ia adalah pengada. periechontologi adalah ajaran mengenai transendensi “Yang Melingkupi” manusia (Yunani: periechein berarti “melingkupi” atau “mengelilingi”). 35). Manusia yang sadar dalam situasi demikian ditantang untuk terus-menerus mencari “ada” sampai memperoleh kepastian tentang dirinya. Ia tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. manusia terbuka bagi berbagai kemungkinan. Itu artinya ontologi tidak mungkin. Orientasi dalam ruang tersebut tidak bersifat ontologis. ia adalah pokok dari apa yang kita pikirkan tatkala hendak berfilsafat. Dengannya. Horison itu selalu hadir. Padahal. Ia tidak dapat diobyekkan. karena akan terusmenerus mundur sampai ke batas cakrawala.Pertama-tama filsafat tidak mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu “ada” atau “siapakah saya” atau “apa yang sesungguhnya saya inginkan”. tetapi selalu . melainkan hanya ruang di mana “das Umgreifende“ mulai nyata (Jaspers: 1949: hal. Dalam buku itu dengan gamblang Jaspers menjelaskan dimensi-dimensi kenyataan “Yang Melingkupi“ manusia. karena “das Umgreifende“ atau “Yang Melingkupi” menorehkan dimensi-dimensi pengetahuan manusia. tetapi harus disadari dulu bahwa manusia berada dalam situasi yang tidak pasti. Ada-subyek dapat menyatakan: “akulah”. Meskipun “das Umgreifende“ tidak dapat dijadikan obyek. Meskipun manusia hendak menangkapnya. Dengan demikian. pengetahuan manusia sebenarnya dilingkupi suatu cakrawala atau horison. “Das Umgreifende“ hanya mengemukakan dirinya. segala hal yang dapat kita kenal hanya mampu dikenali dalam batas cakrawala atau pemandangan kita. Ada-obyek adalah ada yang hadir di depanku: semua hal yang kupikirkan. karena tidak dapat diobyekkan. Ada-subyek dalam bahasa Jaspers adalah eksistensi. karena yang mungkin hanyalah periechontologi: pengetahuan mengenai “das Umgreifende“ (Yang Melingkupi).

Manusia memiliki dan mengenali perasaan yang melingkupinya dan kemudian bisa mengatasinya. Kata Dasein dalam Bahasa Jerman dimaknai sebagai ada yang nyata dalam ruang dan waktu. seperti kesadaran bahwa “saya ada”. Kenyataan itu tidak seperti pada binatang yang hanya merasakan . lih. 62).1956: hal. Transzendenz dan Vernunft (Jaspers.tak tercapai. “manusia ada” (Jaspers: 1991. “kita ada”. 1991: hal. Jasper K. Dasein terumuskan dalam ungkapan manusia yang menyadari keberadaannya. hal. Ada dalam konteks itu adalah kehadiran. Dasein hadir dalam kesadaran (Jaspers: 1991. hal.. karena yang mungkin hanyalah penyelidikan dimensi-dimensinya. Dasein yang melingkupi manusia sudah memuat keinginan untuk mengatasi dirinya sendiri. Welt. 53). das wir sind Das Umgreifende. Dimensi-Dimensi Das Umgreifende Karl Jaspers memaparkan das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dalam tujuh dimensi. Manusia memiliki awal dan akhir. Manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. K. Welt (dunia) Bewusstsein Überhaupt Das Immanentzendent e (transenden) Geist (roh) Das Transzendente (transenden) Existenz (Eksistensi) Transzendenz (Transendensi) (Kesadaran Umum) Dasein Dasein adalah das Umgreifende. 15): Das Umgreifende. “Das Umgreifende“ merupakan batas terakhir yang tidak dapat dilewati. Manusia termuat dalam Dasein. hal. Geist. “Das Umgreifende“ tidak dapat dikenal. Manusia yang terus menyadari keberadaannya pada akhirnya akan sampai pada kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai awal dan akhir (Jaspers: 1991. 48 dan 50. 53).. untuk melompat ke dimensi yang lebih tinggi. Existenz. yaitu Dasein. Dasein das das Sein selbst ist. Bewusstsein Überhaupt.

Roh menciptakan kesatuan dalam pemikiran. tetapi eksistensi tanpa roh itu tanpa isi. karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Eksistensi adalah inti dari keberadaan manusia— “diri” manusia yang paling asli (Jaspers: 1991. hal. Bewusstsein Überhaupt Bewusstsein Überhaupt. Kesadaran umum tersebut tidak terbatas. Geist Geist yang berarti “roh” dipahami sebagai dimensi rohani. tetapi sekaligus mengatasi waktu. dimensi rahasia di mana manusia menemukan dirinya sendiri dalam kebebasannya (Jaspers: 1949. Kesadaran itu disebut umum karena berlaku untuk semua orang secara sama. hal. Ide jiwa memberi kesatuan kepada bermacam-macam gejala psikologis. dalam arti sejauh ia mencakup segala apa yang dapat dimengerti dan dimaksud oleh manusia (Jaspers: 1991. hal. Dimensi tersebut mengatasi tingkat Dasein dan Bewusstsein Überhaupt (Jaspers: 1991. hal. Jiwa tidak dapat ditunjukkan. karena ketiga das Umgreifende ini menciptakan ruang yang kemudian diisi dan dihayati oleh Existenz. yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kesadaran Umum” adalah proses pengalaman (hidup batin). “Diri” adalah dasar tersembunyi dari kepribadian. Existenz Eksistensi melingkupi manusia. hal. pemikiran obyektif (pengetahuan) dan refleksi atas dirinya sendiri (kesadaran diri). Setiap manusia memiliki kemampuan menyadari dan kemudian menyadari bahwa yang dia sadari itu sebagai satu kenyataan yang “ada”. Demikian pula segala yang belum disadari manusia belum ada bagi manusia. . 1991: hal. 71). Segala yang disadari oleh manusia menjadi “ada” bagi manusia. karena pada manusia ada kemampuan mengatasinya (Jaspers: 1991. 67). Eksistensi termuat dalam waktu. tetapi ide jiwa harus diandaikan agar pemikiran psikologis mendapat struktur. Eksistensí itu transenden terhadap Dasein. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi. Titik tolak ada adalah kesadaran subyek atau manusia. 76) . Contoh konkret kemampuan menciptakan kesatuan misalnya adalah ide tentang jiwa. Kesadaran itu berlaku umum bagi semua manusia. Roh membutuhkan eksistensi sebagai dasar. 42). 71). Pada dasarnya manusia memiliki kesadaran itu.dan menjauhinya. perasaan dan tindakan melalui ide-die (Jaspers: 1949. hal. 63). Bewusstsein Überhaupt dan Geist. 39.

110). tetapi sejauh manusia manusia hidup bersama transendensi. Menurut Jaspers. . 99). 93). Rasio tidak hanya menjelaskan pengertian-pengertian dalam dimensidimensi das Umgreifende. Dunia melingkupi manusia. dunia bukanlah obyek. Manusia mengenal suatu dunia tertentu dalam dunia kenyataan yang melingkupinya. Manusia bebas dalam dunia. Pernyataan itu berarti bahwa Transendensi adalah Yang Melingkupi segala sesuatu Yang Melingkupi. Chiffer adalah sandi atau simbol yang menjadi medium antara eksistensi dan transendensi. hal. Vernunft Vernunft atau rasio merupakan ikatan semua bentuk dari “Yang Melingkupi“. Dunia memiliki karakter dasar untuk dapat dipahami.Welt Welt atau dunia adalah keseluruhan gejala (Jasper: 1991. “Transzendenz adalah das Umgreifende alles Umgreifende“ (Jaspers: 1991. 85). Karakter dasar dari transendensi yaitu bahwa transendensi akan menghilang kalau manusia mencoba untuk memahaminya (Jaspers: 1991. transendensi adalah “kenyataan asli“. Itu berarti bahwa manusia memiliki kemampuan menemukan kemungkinan jawaban-jawaban atas persoalan dunia dalam elaborasi dunia (Jaspers: 1991. Dunia itu adalah “yang lain dari kita”. Dalam koridor pemikiran manusia transendensi adalah ada (das Sein). maka ia bisa disebut “keilahan“ dan sebagai pribadi transendensi pada saat tertentu boleh diberi nama “Allah“. Rasio membuka jalan untuk penyatuan. Dunia harus dapat dipikirkan. Chiffer-chiffer (sandi-sandi) merupakan suatu “teks” yang “ditulis” oleh transendensi dan “dibaca” oleh eksistensi (Jaspers: 1957. tetapi seakan-akan manusia mendekati dunia itu dari luar. Transzendenz Di satu sisi eksistensi manusia dibatasi oleh Welt (dunia). Meski demikian. dan di sisi lainnya manusia secara tak terbantahkan juga dibatasi oleh Transzendenz. karena rasio memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyatukan. 114). Rasio memiliki kemampuan menyatukan kembali segala hal yang tercerai-berai maupun segala hal yang tidak memiliki kesatuan. hal. Manusia adalah bagian dari dunia. dan juga bebas terhadap dunia. Manusia hidup dalam dunia. “Allah adalah chiffer untuk kenyataan yang tak ternamai. kenyataan yang berbicara kepada manusia dan memberikan perintah-perintah. Kalau kenyataan itu kemudian dimengerti sebagai kekuatan yang menuntun manusia. hal. hal. hal 110). tetapi juga menjadi pengikat di antara mereka (Jaspers: 1991. hal.

Dasar komunikasi itu adalah cinta. Pada tataran Dasein kebenaran ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sejati. hal. Periechontologi mau melindungi ruang di mana keilahian dapat berbicara. idealisme memutlakkan Geist. Pada tataran eksistensi ada iman. Kemampuan rasio tentu saja memungkinkan penyatuan. Periechontologi hanya memberi ruang dan jalan agar kesadaran tentang adanya transendensi berkembang melalui bacaan bahasa chiffer-chiffer. Akoisme (panteisme Spinoza) memutlakkan III. Kebenaran pada jelajah periechontologi adalah sesuatu yang tumbuh dari bentuk-bentuk yang das Umgreifende. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). 118). Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai . Pada tataran Bewusstsein Überhaupt kebenaran ada dalam ketepatan keputusan. Kebenaran tumbuh dalam komunikasi. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. Pada tataran Geist kebenaran ditemukan dalam keyakinan. naturalisme memutlakkan Transzendenz. positivisme memutlakkan Welt. hal. Jean-Paul Sartre Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Periechontologi tidak dimaksudkan sebagai suatu sistem yang bulat. karena rasio adalah sumber dari logika filosofis (Jaspers: 1991. Pada tataran transendensi ada kebenaran chiffer-chiffer yang merupakan simbol -simbol yang sesuai dari “ada“ sendiri. hal. Cinta itu sama luasnya dengan rasio. Cinta hadir dalam semua bentuk dari das Umgreifende. Rasio mengelaborasi segala sesuatu dengan nalar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan (Jaspers: 1991. Filsafat dalam konteks itu adalah cinta akan kebenaran. eksistensialisme memutlakkan Existenz. Ketujuh dimensi dari das Umgreifende merupakan satu-kesatuan dalam periechontologi. Periechontologi tidak memberikan kebenaran obyektif. dan menjadi jiwa rasio. Periechontologi tidak memutlakkan salah satu dimensi saja. Rasio tidak bisa dipisahkan dari pengertian-pemikiran segala pengetahuan. Rasionalisme pada kenyataannya Dasein memutlakkan dan Vernunft. Hal itu tentu saja berbeda dengan banyak bentuk ontologi yang hanya memilih salah satu dimensi dari ketujuh dimensi tersebut dan kemudian memutlakkannya. 120). tetapi hanya merupakan ruang di mana segala sesuatu yang hakiki mendapat tempatnya.karena dengan rasio manusia menemukan kehendaknya untuk mengutamakan kesatuan (Jaspers: 1991. 119).

dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya. Artinya. Lebih jauh lagi. Dan ini. sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak . Namun. apalagi berpikir tentang solidaritas. Dari pihak Katolik. Dari pihak Komunis. misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme. Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama. seperti Mlle Mercier. ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda dan radikal. maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu. yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona. tidak akan sanggup menjangkau sesamanya. keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya.” Eksistensialisme. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit. yang patut dicela.salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Untuk mempopulerkan idenya itu. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. eksistensialisme itu melulu voluntary. dalam pandangan kaum komunis. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam keterisolir-annya. quietisme. bahkan filsafat keputusasaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan. Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak. yang rendah. yaitu Eksistensialisme. khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Singkatnya. eksistensialisme dengan ego-nya. atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti. bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.

suatu panah bisa dikatakan bukanlah panah jika tidak dapat untuk memanah. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Esensi mendahului eksistensi. Nilai suatu benda ada patokan secara jelas oleh penciptanya. pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi. eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Contoh lain lagi: panah. Panah yang tidak dapat dipakai untuk memanah adalah buruk. Contoh lain lagi: binatang. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini. Namun.punya arti apa-apa lagi. eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi (être-en-soi). Seorang pembuat pisau kertas.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). Pertama panah muncul atau eksis karena sudah dipikirkan terlebih dahulu ide tentang panah. kita selalu mengandaikan bahwa tatkala . Kedua. Burung berkicau dan makan biji. Contoh lain: Sebuah komputer sebelum dirakit. disebut artisan. mendahului eksistensinya. Mereka memiliki sifat-sifat tertentu sejak lahir dan alur hidup yang jelas di alam. esensinya. Di sini. hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan pada-Nya kualitas “seorang” supernatural artisan. Dengan kata lain. macan hidup menyendiri sedangkan jerapah mengelompok. Ketiga. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya. tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran. Esensi dari pisau kertas itu. Lebih jauh lagi. Selain itu. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? Secara sederhana. telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. tak punya potensi untuk melampaui keadaannya yang sekarang. Sifat kodrati panah muncul dahulu sebelum eksistensi panah. produksinya mendahului eksistensinya. definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin. Nilai dari benda itu tergantung pada kesesuaian benda dengan idenya.

atau wild man of the woods (Rousseau).Allah menciptakan. Cara beradanya benda tak . muncul (Inggris: surges up. Dengan begitu. Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” (êtrepour-soi) eksis adalah (ada. entah itu animal rationale (Aristoteles). Jawa: méntas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya manusia eksistensialis itu siapa. Dengan begitu. sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Bagi Sartre. tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia. pertama-tama manusia itu menjumpai dirinya. Makhluk itu adalah manusia. jika Allah tidak eksis. Artinya konsepsi tentang esensi dirinya. tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Begitu seterusnya. manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda. Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Misalnya. setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya. hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. esok hari ia kedapatan mencuri. seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar. bahwa hadir). Jika sebagai melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia. maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. man in the state of nature (Thomas Hobbes). ketika ia lulus. manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Oleh karenanya. sampai ia mati. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda: mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya. sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. dan the bourgeois (Karl Marx). Atau bisa jadi. karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus.

ia memikul beban eksistensinya itu. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya. di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana. sesuatu yang mendesak. batu atau meja. di pundaknya. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif. yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu.punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada. Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. yaitu tanggungjawab. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. dan macam-macam hal lainnya? Mengenai subjektivitas ini. Kita tentu bertanya. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is). namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Sartre mengakuinya. dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa. dalam keluarga apa. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Pandangan ini mencengangkan. . Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik. karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain. dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. katakanlah. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Sementara manusia sebaliknya. bagaimana bisa demikian? Untuk menjawab ini.

Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Semuanya tergantung pada diri sendiri. filsuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif. karena membayangkan apa yang akan terjadi. because. once thrown into the world. Ada dan tiada ini juga menjadi pilihan mengambil keputusan. .Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia. Jika tanpa lubang ketiadaan itu berati kita seperti terperangkap dalam jerat dan terikat. tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Setelah tidak bertemu Piere apa yang akan dilakukan. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Mengapa? Kebebasan ini membawa tanggung jawab. "Manusia dikutuk dengan kebebasannya!" [We are condemned to be free. Namun. Dia memusatkan perhatian pada orang-orang tersebut satu demi satu. Orang yang ia perhatikan menjadi gambar sedangkan dasar yang tidak diperhatikan jatuh menuju ketiadaan. he is responsible for everything he does]. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh. yet. kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. apa yang akan dilakukan jika bertemu Piere. Jika ditilik lebih lanjut dasar dan gambar merupakan ciptaan dari kita. manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Dalam karya eksistensialismenya yang utama Being and Nothingness Sartre mendasarkan ide kebebasan dengan tiada dan ada. in other respect is free. namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain. Ketiadaan inilah ruang kosong yang memungkinkan adanya tindakan bebas. Sartre mengatakan ciri aneh dari realitas manusia adalah tanpa alasan. Condemn. Ketiadaan seperti lubang-lubang di tengah kepenuhan ada. dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi. Karena itu. Saat dia memperhatikan salah satu orang maka keadaan lingkungan dan orang yang lainya menjadi dasar. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya. Kita dipaksa menerima konsekuensi atas pilihan kita dan kita dipaksa memilih (tidak memilih sendiri merupakan suatu pilihan untuk tidak memilih). Ada ketiadaan di tengah ada. karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebagai contoh saat dia mencari temannya Piere di kafé. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas. because he did not create himself.

Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada. orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek. bertemu dengan jenis yang sama. Padahal. sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya. dan sayalah subjeknya. "Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku. bertemu dengan "Aku-Aku" yang lain. Sekarang. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya.menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas. dan menyerahkan diri sepenuhnya. dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. "adalah adanya orang lain". tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. Demikian kira. dll). ketika seseorang memergoki saya. kesadaran yang me-negasi. Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. Mengingat doktrin tersebut. karena dari sini muasalnya asumsi Sartre." kata Sartre. yakni kesadaran terhadap sesuatu. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip. IV. Bisa jadi si A. Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. dan être-pour-soi. segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Bagi filsuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini. bayangkanlah jika "Aku". Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal: Saya sedang mengintip pada lubang kunci. "Dosa asal saya. apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya. être-en-soi. akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara. sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. dan C saling berselisih.apakah akan terjun. Søren Aabye Kierkegaard Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard . misalnya ketika si A. atau mundur untuk menyelamatkan diri. Sementara. hubungan antara aku dengan orang lain. Karena kontroversinya. B. senantiasa berdasarkan konflik. Begitulah filsuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. Dalam hal ini. Ketika tengah mengintip." Ada juga kemungkinan lain. mau tahu urusan orang.

Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Mengapa? Karena bagi dia. orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. Menurutnya. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkretannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Konsekuensinya semakin berlaku umum. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. tak berwajah dan tak bernama. garang. murah. Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Pada titik ini. wajah publik yang paling konkrit itu adalah Pers. Publik bukanlah suatu generasi.Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. dan efektif membentuk opini-opini publik. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. konsep abstrak. menurut Kierkegaard. Ia menilai. budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. Dalam kondisi dunia semacam ini. semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar. Menurut Kierkegaard. kata Kierkegaard. budaya massa cenderung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. cara pandang ini menyulut persoalan baru. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi. budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang dianung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. Kierkegaard menegaskan. paguyuban atau pun masyarakat karena dlam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur. Artinya. Publik itu identitas semu. Dalam masyarakat modern. Ini berarti ia hidup dalam abad ke19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani . bangsa.

Ironisnya. melainkan sekedar symbol prestasi. Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Hidup adalah sebuah tugas. Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Ini. orang menjadi dangkal. Dalam ideal itu. Anehnya. ia tak punya arti. sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Namun. Persisnya. Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Bagi Kierkegaard. asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. misalnya dalam pemerintahan. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi. Akibatnya. menurut dia. diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Padahal. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. meski pada taraf non formal. semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama.mengikuti suara hatinya sendiri. Misalnya. nafsu). publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai. tapi dalam kenyataan konkret. rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. tidak ada tempat untuk passi (gairah. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. pahlawan jenis inilah yang lebih popular. untuk mencapai subyek yang . Maka. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomali. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif. Konsekuensinya. kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukkan kedangkalan hidup manusia modern. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual. Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral.

tapi harus melalui pilihan.otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual. realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia. Etik. Konsekuensinya. Artinya. keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. Sosok manusia dengan cirri dasar ini. Proses ini. dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. Dengan kata lain. Ciri pertama. menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. bagi mereka. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. dan kehendak bebas. eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Namun. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. dalam haru biru. keputusan. rasa. semakin menjadi individu yang otentik. itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. orang yang tidak berani mengambil keputusan. oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu . Tanpa itu. simpang siur budaya modern. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini. segala bentuk realitas. manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. dan komitmen yang dilandasi oleh passi. tidak juga sekedar refleksi intelektual. hanya menjadi medan kemungkinan. Maka. Tahap Estetik Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Menurut Kierkegaard. mereka tak berdaya. tanpa arti. Estetik. Jadi. Semakin otentik berarti semakin menjadi makhluk rohani. antusiasme. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri. motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Maka. mereka lebih mengutamakan kepuasan (pleasure) baik fisik maupun batin. hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya.

dari bunga ke bunga. sejauh mereka masih tetap manusia. Tahap Etik . pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. Ciri ketiga. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. ungkapanungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Dengan berorganisasi. Cepat atau lambat. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai. orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. kosong. hidup yang luluh-lantak berantakan. Oleh karena itu. Maka. mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. yakni tahap etik. Pada titik inilah. bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. soal nasib buruk yang menimpa umat manusia. terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa. mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Ironi tapi fakta. perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan. karena hidup tanpa standar moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna. Ciri kedua. mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. Artinya. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan. Dengan ini. mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. Dengan menikah. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Boleh jadi juga. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand. dan kering. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi. mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. dan sebagainya. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia.

Kehidupan orang yang masuk dalam tahap ini mulai lebih dikendalikan dari dalam pribadinya sendiri. bisa juga berupa hubungan pribadi yang semakin mendalam. bagi Kierkegaard. Pernikahan adalah simbol komitmen yang paling sederhana. belum menjadi pemain. Isyarat paling sederhana menuju tahap etis ini adalah keberanian untuk menikah. Suatu loncatan orientasi dari ego menuju ‘others’. motivasi dasar perilaku mereka adalah bagaimana mengubah dan mengarahkan kepribadiannya supaya sesuai dengan cita-cita moral itu. pada tahap ini orang mulai hidup sepenuhnya dalam iman. Ciri pertama. hidup mereka mulai diisi oleh komitmen. menurut Kierkegaard orang harus masuk ke dalam sebuah tahapan baru. Kierkegaard berkeinginan peran ini suatu ketika harus bergeser dari peran penonton ke peran pemain dalam kehidupan yang sesungguhnya. pernikahan adalah simbol institusi etis ini. dalam hidup nyata. namun masih berada pada taraf “penonton”. tahap religius. Ciri pertama. hidup mereka tidak lagi tergantung pada realitas di luar dirinya. orang mulai belajar untuk masuk dalam hidup yang nyata. Bagi Kierkegaard. Mereka tidak lagi banyak peduli pada spekulasi-spekulasi teoretik karena yang lebih dihargai adalah wujud usaha nyata. Mereka menganggap bahwa suatu kemungkinan itu baru menjadi berarti bila telah menjadi kenyataan. Ego diarahkan untuk keluar melihat keutamaan-keutamaan lain yang lebih luhur dan bersahaja. kepribadian mereka boleh dikatakan telah mencapai integritasnya. Untuk sampai ke peran pemain itu. orang-orang seperti ini. Ciri ketiga. Hidup mereka tidak lagi seenaknya demi diri sendiri tapi mulai terarah pada suatu patokan moral yang harus diraih. Tahap ini dengan sendirinya mengandaikan adanya transformasi hidup semacam pertobatan atau rekonsiliasi. oleh perbuatan-perbuatan konkret --yang sering penuh resiko-. Di dalam institusi pernikahan atau perkawinan.Orang-orang yang masuk dalam tahap etik ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. Kesadaran untuk melangkah dalam situasi iman ini biasanya diawali oleh rasa bersalah pada . Oleh karena itu. Sayangnya. mereka akan menentang arus umum dan menjadi “tragic hero” bagi nilai-nilai etis. untuk hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Tahap Religius Setiap orang yang masuk dalam tahap ini setidaknya memiliki tiga ciri khas juga. mereka mulai terarah pada keutamaan-keutamaan moral. dalam perspektif sebuah pentas memang telah mengambil peran. Ciri kedua.untuk mewujudkan nilai-nilai etis. Wujud ungkapan mereka tidak hanya verbal tapi mulai nyata dalam perbuatan konkret yang selanjutnya bisa berdampak pada perubahan social atau masyarakat. Kalau sudah sampai pada tingkat ini. Bahkan kalau perlu.

dapat paradoks-paradoks bahwa ini seringkali itu selalu menjungkirbalikkan nilai-nilai dalam kehidupan. yang penting bagi Kierkegaard bukan agama sebagai institusi melainkan sikap praksis individu itu sendiri. beriman atau berelasi dengan Tuhan merupakan puncak perealisasian diri sebagai makhluk rohani. Ironisnya. dalam suasana pekat perjalanan hidup yang menyesakkan. orang melihat kenyataan hidup secara baru sama sekali. orang meyakini bahwa iman adalah juga sebuah komitmen.tahap etis di mana pada tahap itu orang merasa tidak sempurna menjalankan norma etis secara ajeg dan berkesinambungan. hidup religius yang sejati adalah hidup yang tersenyum dalam duka. Allah itu Mahabaik sekaligus hakim yang siap mengganjar segala perbuatan manusia. beriman. symbol tahap religius ini memang Abraham itu. dikatakan beriman mengandung suatu perasaan was-was. Tuntutan dan paradoks Allah demikian mutlak hingga memang bisa saja terasa ‘brutal’ seperti ketika Ia menuntut Abraham untuk menyembelih anaknya. Oleh karena itu. pada saat orang sedang dalam suasana sedih. lompatan itu didasari oleh keyakinan bahwa Allah itu mutlak baik meskipun juga mutlak misterius. namun komitmen pada sesuatu yang tidak jelas. kadangmenakutkan. orang yang sudah masuk dalam tahap ini ditandai oleh kesanggupan untuk menderita. Singkatnya. hidup betapa pun bopengnya selalu merupakan perayaan yang . Beriman berarti orang dituntut untuk percaya pada dua hal yang bertentangan pada saat yang sama. orang harus kehilangan dirinya sendiri. bahkan berarti ‘meloncat’ ke dalam suatu kenyataan gelap penuh paradoks. Ia menjadi symbol petualangan religius yang berani dan tulus. Pada tahap ini. Maka. Ciri kedua. iman menuntut kita melawan arus manusiawi yang kadang terjal dan tajam. Rasa bersalah itu dalam konteks religius berkembang menjadi ‘dosa’. Bahkan. Oleh karena itu. Mereka menjadi sangat trampil menghargai hal-hal yang paling kecil dan sederhana dalam hidup. Mengapa? Karena pada tahap ini. Maka. melangkah ringan dalam saat-saat berat dan menyesakkan. misalnya lagi komitmen bahwa untuk menemukan inti diri. motivasi dasar orang-orang yang hidup dalam tahap ini adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. orang dituntut untuk. Bagi mereka. Pokoknya. damai dalam aneka ketegangan. Ini berarti juga bahwa masuk dalam tahap religius kita sudah bicara soal Rahmat. pada tahap ini. Beriman berarti bertualang. Maka. ada keyakinan dasar bahwa rasa bersalah itu tumbuh oleh adanya inisiatif Allah. orang justru diminta untuk bersikap enteng. Bagi Kierkegaard. Orang mulai hidup pada taraf yang sangat sublim dan spiritual. Komitmen pada suatu paradoks. Ciri ketiga. misalnya percaya bahwa Allah itu jauh sekaligus dekat. justru ia harus diajak untuk bergembira. Atau. soal Panggilan yang berarti di sana ada peran mutlak Tuhan. Dengan beriman.

dan akhirnya meninggalkan Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. Hidup menjadi suatu anugerah yang tiada taranya. Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah ke St. Dengan demikian. Sebuah artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh menghujat. Berdyaev adalah seorang Kristen yang saleh. Waktu itu semangat revolusioner mahasiswa menjadi dan berkembang dan kaum antara inteligensia. Petersburg.tak berkesudahan. dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya bahasa asing. kegiatan- ditangkap dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dikeluarkan Belakangan keterlibatannya kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama tiga tahun . Berdyaev ikut serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani. Berdyaev kariernya memutuskan intelektual di untuk dan menempuh masuk ke para sebagai banyak membaca. dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia menguasai berbagai Universitas Kiev pada 1894. Schopenhauer. Ia membaca karya-karya Hegel. Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan. dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. mereka telah menjadi pendekar iman. namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Berdyaev seorang Marxis dari dan pada 1898 ia Universitas dalam tersebut. manusia idaman sepanjang masa. Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik. bagi Kierkegaard. V. Namun ia menerima beratnya . Berdyaev dan Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. karena sifatnya yang otoriter dan dominasi negara terhadap kebebasan individu. ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. Nicholas Alexandrovitch Berdyaev Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di rumah.sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh revolusioner lainnya. mereka telah menjadi manusia sejati.

Pada tahun-tahun yang dilewatninya di prancis. dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman. antara lain Berdyaev.sebagian setelah kematiannya. karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. kebebasan adalah baseless. Secara keseluruhan. etika Kristen. diselidiki. pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka. Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin. pada Maret 1948. Kebebasan ada disana bahkan sebelum kita berpikir mengenai dunia. Berdyaev menulis 15 buku. Di antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi. dekat Paris. Berdyaev terus menulis bukubuku yang kemudian diterbitkan setelah perang . Dia juga mengatakan bahwa kebebasan beralih dari suatu yang tak terbatas yang mendahului ada. mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum Bolshevik. Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman. psikologi.masa revolusi. perkembangan rohani. berceramah. Karena itu ia menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan". Bagi kaum eksistensialis. Disitu terdapat kesulitan karena argumen-argumen tradisional mencoba untuk mengobjektivikasi kebebasan atau dengan menjadikan kebebasan suatu obyek yang bisa dirasakan. Berdyaev melihat kebebasan sebagai sebuah misteri itu sendiri. Di sana ia mendirikan sebuah Akademi. kebebasan tidak untuk dibuktikan. dan juga dibuktikan atau disangkal dari luar. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. namun kondisi ekonomi dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. bertukar pikiran dengan komunitas intelektual Prancis. Bagi Berdyaev. karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Dia sering mengatakan bahwa kebebasan memiliki kelebihan yang melampaui ada. Kebebasan memang meontic – sesuatu yang nothing daripada something. mengajar. pertanyaannya tidak terletak pada kebebasan kehendak sebagaimana biasanya terdapat pada pendapat-pendapat tradisional (sebagaimana yang dikatakan oleh para naturalis. termasuk sebagian dari karya-karyanya yang paling penting. Secara ontologis. atau moralitas-pedagogi). Kebebasan telah ada disana sebagai sebuah kondisi dari keberadaan kita (termasuk pikiran kita). Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart. Pada 1922. Tindakan kebebasan adalah primordial dan sepenuhnya irasional. sesuatu yang tak ada dibandingkan sebagai sesuatu . tetapi lebih merupakan sebuah postulat dari aksi.

” dan kata ‘untuk’ menunjuk pada kreativitas manusia. reasonable freedom. tak ada manusia tanpa kebebasan. dan yang menentukan pilihan di antara keduanya. “Kebebasan manusia bukan hanya dari sesuatu. meski kebebasan itu berbahaya. sekaligus akhir dan tujuan. Bentuk yang kedua dari kebebasan.yang ada karena lebih sebagai sebuah kemungkinan daripada sebuah keadaan aktualitas yang sebenarnya. maupun kebebasan yang final dan beralasan (final and reasonable freedom). Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus. Kebebasan (dalam dua bentuknya) diliputi dialektik dimana kebebasan mudah berpindah menjadi musuh (sisi berlawanan). juga dapat menuju kepada sebuah organisasi tirani dari kehidupan manusia. Kebebasan menyimpan dalam dirinya sebuah bibit pembinasaan. Berdyaev dan para eksistensialis lainnya selalu mengatakan bahwa kebebasan adalah untuk dipertahankan dan ditingkatkan dengan alasan bahwa kebebasan identik dengan eksistensi. demi martabat manusia. Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional purba (primordial irrational freedom) yang mendahului kebaikan dan kejahatan. kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran . Humanisasi tertinggi adalah kreativitas (creativity) yang merupakan suatu pemberian dari Tuhan Sang Pencipta (Creator). Alasannya.yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal (starting point) dan cara. Walaupun berisiko. Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. Kebebasan. kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan risiko yang ada mesti diambil. Kebebasan primordial dapat berpindah menjadi anarki. maka resiko dari kebebasan harus tetap ditanggung secara konstan. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya. tapi juga untuk sesuatu. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. Kreativitas adalah misteri kebebasan. Dalam dirinya. maka misteri dari kebebasan sejati berjalan bersama dengan misteri kejahatan sejati. seperti halnya kecemasan. kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi. Bila demikian. . kreativitas harus diberi keleluasaan. Walaupun kebebasan memiliki resikonya yang tak terelakkan. Kebebasan tidak dapat direngkuh melalui pikiran tetapi hanya diketahui melalui serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom).

Berdyaev tidak menjelaskan hal itu. kita kemudian melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. yakni waktu yang dihayati manusia sehubungan dengan gejala alam. Dapat dipertanyakan. Kesadaran demikian menuntut “pengabaian” pada hal-hal yang tak obyektif dan tak berdaya guna. semacam terbit dan tenggelamnya matahari. Demikianlah. Pada titik itu. Dimensi pertama adalah waktu kosmis. Ia memang masih menyadari waktu kosmis dan kesejarahan yang tak bakal bisa ditinggalkannya. Pada kondisi demikian. Dimensi kedua. walaupun sekalipun penghayatan tadi merupakan sesuatu yang pada awalnya “seimbang”. yaitu suatu penghayatan berkait dengan masa lampau dan masa depan. tapi waktu eksistensial memiliki peranan penting dalam pembentukan kesadarannya. waktu yang reguler beserta penanda waktu yang fisik—seperti jam dan kalender—hampir selalu dilihat dalam “kerangka eksistensial”. Dimensi waktu kesejarahan dan waktu eksistensial hanya akan muncul sesaat. ia sangat mungkin goyah suatu saat. Bersamaan dengan perkembangan rasionalitas yang oleh Habermas disebut sebagai “rasionalitas instrumental-bertujuan”. Manusia modern kebanyakan yang sibuk. manusia yang mengidap semacam “obsesi” pada waktu adalah mereka yang menaruh kesadarannya lebih banyak pada dimensi ketiga. kesadaran manusia akan lebih banyak tertuju pada hal-hal obyektif yang “berdaya guna”. manusia baru menyadari dirinya sendiri—mengambil kata-kata Drijarkara—sebagai “kehausan akan bahagia”. Pada sisi yang lain. apakah ini bulan Januari atau Desember. apakah ketiga dimensi itu akan dihayati manusia dalam posisi yang selalu “seimbang”. Dimensi yang ketiga adalah waktu eksistensial yang secara puitis disebut Berdyaev sebagai “waktu dari alam subyektivitas”. . misalnya. Maka. penghayatan waktu oleh manusia yang sangat memperhitungkan efisiensi waktu akan terarah pada waktu kosmis: mereka barangkali hanya akan peduli apakah hari sudah siang atau masih pagi. terutama saat mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu atau momen-momen penting dalam waktu. tapi akan sangat mungkin ia lebih menghayati dimensi yang pertama.Berdyaev menyebut penghayatan manusia atas waktu ada dalam berbagai dimensi. Ia memang masih punya penghayatan terhadap keseluruhan dimensi itu. adalah waktu kesejarahan.

Nietzsche adalah seorang mahasiswa fakultas Teologi. Nietzsche mulai banyak memunculkan pemikiran –pemikiran baru dan juga bukubuku baru. The Gay Science. antara lain The Birth of Tragedy. pada akhirnya ia keluar karena lebih tertarik pada filsafat. yaitu Apolline dan Dionysian. Tahun 1796. Berawal dari ketertarikannya terhadap Schopenhauer. The Birth of Tragedy. Setelah buku pertamanya ini. yang berisi tentang tragedy Yunani. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Pemikiran-pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sempat ia temui dalam hidupnya. Namun. Ayah Nietzsche. Freud dan Darwin. seperti Richard Wagner. Buku-buku yang telah ditulis oleh Nietzsche. Awalnya. Karl Ludwig juga seorang pendeta. Selain itu. Friedrich August Ludwig adalah seorang pendeta. Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Latar Belakang filsafat Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. ia mulai menciptakan karya-karya filologis. Sehingga Nietzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. The Wanderer and his Shadow. Thus Spoke Zarathustra. Human All-Too-Human.VI. Bismarck. Friedrich Wilhelm Nietzsche Latar Belakang Tokoh Friedrich Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844. Ia memulai dengan membaca filsafat Schopenhauer. Kakeknya. Beberapa tahun kemudian ia meluncurkan buku pertamanya. Nietzsche mengenalkan metode genealogi melalui karyanya Genealogy of . The Good and Evil . kakek Nietzsche dianugerahi gelar doktor kehormatan atas pembelaannya terhadap agama Kristen. filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani.

Filsafat Nietzsche). yang melihat bahasa rapuh terhadap realitas. (lebih lanjut Solomon & Higgins. (Nietzsche. Bagi Nietzsche filsafat tentang arti dan nilai haruslah menjadi sebuah kritik. “Dari persoalan tentang penderitaan atas jarak inilah. Menurut Kant. dengan cara mengantarkan konsep tentang arti dan nilai dalam filsafat. memunculkan bentuk-bentuk konformisme dan kepatuhan-kepatuhan baru. Prasangka Para Filsuf. Menurut Deleuze. Bagi Nietzsche. orang harus bertindak hanya berdasar suatu maksim yang bisa diinginkannya menjadi hukum universal. Dengan demikian Kant belum dapat menyelesaikan pertanyaan “bagaimana hidup bebas di dunia”. Sejarah Filsafat). Moralitas-lah. Critique of Practical Reason. Nietzsche. Nietzsche menyatakan “Kita selayaknya tersenyum pada tontonan kemunafikan Kant yang kaku dan dikatakan murni. bagi Kant. imperatif kategoris inilah yang membuat filsafat tidak bergerak. Aphorisma 5. Dalam Prasangka Para Filsuf. sasaran akhir genealogi adalah membuat filsafat jadi bergerak. atau dalam pengertian Deleuze. Empirisme dan Skeptisisme Inggris (Critique of Pure Reason. Dasar bagi hukum moral tersebut disebut sebagai Imperatif Kategoris. mereka pertama kali memperoleh hak untuk menciptakan nilai dan membuatkan namanya”. .Rene Descartes dan para pendahulu Kant mengatasi pertanyaan tentang “bagaimana kita dapat hidup bebas di dunia ini” dengan pemisahan diri dengan alam. manusia adalah bagian dari dunia fenomenal dan sanggup membuat pilihan-pilihan moral karena manusia mempunyai eksistensi nomenal. rahasia yang terdapat dalam seorang Kant adalah “das ding an sich” (benda dalam dirinya sendiri) seperti halnya rahasia filsafat kaum Stoic yang terdapat pada tesis “kembali ke alam” ( yang disebut Nietzsche sebagai ‘alam-nya Kaum Stoic’). untuk mengatasi Rasionalisme Prancis. yang menghendaki kita menghormati rasionalitas yang ada pada orang lain. saat dia membujuk kita menuju jalan rahasia dialektika yang mengarahkan (atau lebih tepatnya salah mengarahkan) kita pada perintah kategoris…”. Apakah filsuf sebelum Nietzsche belum melakukannya? Tidak cukupkan Emmanual Kant menyusun kritik. mengkritik universalisme yang ada dalam pendapat Kant sebagai “penderitaan atas jarak” dimana term universalisme/persamaan memang menafikan jarak. (lebih lanjut Deleuze. Critique of Judgement)? Dalam Beyond Good and Evil. Aphorisma 9). karena ia sendiri kemudian menciptakan kepatuhan filsafat (dan manusia) pada sesuatu yang dinamakannya ‘imperatif kategoris”. Nietzsche menggarisbawahi.Moral.

dan sama sekali tak bisa membebaskan dirinya dari mentalitas budak. fakta yang sebenarnya memperlihatkan bahwa hal ini tak lebih hanyalah suatu penyamaran yang cerdik dari Will to Power. Ia mengembangkan konsep ini dari dua sumber utama: Schopenhauer dan kehidupan Yunani kuno. cinta antar saudara. Nietzsche mengenali adanya kekuatan di dalam gagasan ini. Oleh karena itu kita dapat mendeteksi adanya suatu sistem di dalam karyanya. Will to Power yang dicanangkan oleh Nietzsche terbukti merupakan suatu alat yang ampuh ketika . dan bukan dari mereka yang memiliki kuasa. atau bahkan dialihkan ke bentuk lain. dan menerapkannya dalam kaitannya dengan kemanusiaan.Konsep-konsep Kunci Filsafat Nietzsche Filsafat Nietzsche terutama ditulis dalam bentuk aforisme dan tidak dilakukan dengan gaya metodis. dan bukan untuk mencari sesuatu yang lebih berguna atau yang memberikan manfaat segera. Seringkali kehendak untuk berkuasa ini di ubah dari ekspresinya yang semula. dan bukan suatu sistem. Filsafatnya adalah sebuah filsafat yang memiliki wawasan yang berdaya tembus. atau membiarkan dirinya terbuka terhadap berbagai interpretasi yang saling bertentangan. Ajaran beragama mengkhotbahkan sesuatu yang tampaknya sangat bertentangan dengan Will to Power. Tetapi. Will to Power Ini merupakan konsep terpenting di dalam filsafat Nietzsche. Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak ini. Nietzsche menyimpulkan bahwa kemanusiaan didorong oleh suatu Kehendak untuk Berkuasa (Will to Power). Schopenhauer mengadopsinya dari gagasan timur dan berkesimpulan bahwa alam semesta dikendalikan oleh suatu kehendak buta. tetapi tidak dapat dihindari semua itu selalu bermata air di tempat yang sama. tetapi pemikirannya secara terus menerus berkembang ke berbagai arah. ia menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong di dalam peradaban mereka semata-mata adalah bagaimana mencari kekuasaan. Hal ini berarti bahwa Nietzsche seringkali tampak bertentangan dengan dirinya sendiri. Ketika Nietzsche sedang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan Yunani kuno. dan kewelasasihan. Namun demikian. sejumlah kata dan konsep tertentu selalu muncul berulang-ulang di dalam karyanya. Ajaran Kristiani sendiri adalah suatu agama yang dilahirkan di tengah-tengah perbudakan di zaman Romawi. Sikapnya secara umum tetap saja konsisten. melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati. Ini tentu saja adalah suatu bentuk Will to Power dari para budak.

tetapi sumbernya tetap saja kawah yang sama. Tetapi Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipercaya.” Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita. sekarang ini kita lakukan “demi uang”. kita seharusnya bertindak seakan-akan hidup yang kita jalani ini akan terus berlanjut dalam satu pengulangan yang abadi. 204) Eternal Reccurence Menurut Nietzsche. Ia melukiskan hal ini sebagai sebuah “formula bagi keagungan umat manusia.di gunakan oleh Nietzsche untuk menganalisis motif umat manusia.” (Die Morgenrote [The Dawn]. Nietzsche gagal untuk memberikan jawaban bagi dua hal penting. Sesuatu yang pada zaman dahulu dilakukan orang “demi Tuhan”. Setiap momen yang telah kita jalani dalam kehidupan ini akan dijalani berulang-ulang untuk selamalamanya. Tindakantindakan yang sebelumnya tampak mulia atau terhormat. Ini tentu saja tak lebih dari sebuah dongeng moral metafisika. Jika Will to Power merupakan satu-satunya ukuran. adalah nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. kini tampak sebagai sesuatu yang dekaden bahkan memuakkan. Sebagai sebuah suguhan gagasan puitik. lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan yang sejak semula memang sama sekali tidak memiliki Will to Power di dalamnya? Ambillah sebagai contohnya kehidupan seorang santo atau seorang filsuf pertapa seperti Spinoza (filsuf yang dikagumi Nietzsche sendiri). Lepas dari semua itu.. maka tentunya konsep “kehendak untuk berkuasa” itu sendiri diilhami oleh upaya Nietzsche untuk memahami segala sesuatunya. hingga hampir bisa dikatakan bahwa konsep ini sama sekali tidak bermakna. konsep Will to Power ternyata adalah sesuatu yang bersifat sirkular: apabila upaya kita untuk memahami segala sesuatunya di alam semesta ini adalah sebuah upaya yang diilhami oleh “kehendak untuk berkuasa”. “Sikap mengidam-idamkan kekuasaan telah mengalami berbagai perubahan selama berabad-abad. sebagai kata akhir dari konsep yang memiliki daya tembus luar biasa tapi berbahaya ini.. Namun demikian. Inilah yang saat ini menciptakan kepuasan terutama atas kekuasaan. Mengatakan bahwa santo dan filsuf pertapa itu menerapkan Will to Power atas diri mereka sendiri jelas-jelas akan memperlakukan konsep ini sedemikian rupa luwesnya. ada kekuatan . Yang kedua. konsep itu seharusnya dikembalikan pada pernyataan Nietzsche sendiri. Orang-orang ini jelas-jelas berkeinginan untuk meredam “kehendak untuk berkuasa” dalam diri mereka.

bahkan bila gagasan Nietzsche ini ingin di anggap memiliki sebuah citra puitik.di dalamnya. Superman (Űbermensch) Tentu saja gagasan Superman Nietzsche ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tokoh komik Superman yang bisa terbang mengarungi angkasa. gagasan ini seharusnya memiliki lebih banyak substansi di dalamnya agar dapat dipandang sebagai sesuatu yang bukan semata-mata puisi kacangan. Prototipe Superman ciptaan Nietzsche itu adalah tokoh rekaannya sendiri. Sedangkan sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. Setelah ditinjau bolak-balik. Sesungguhnya. Satusatunya moralitas yang dimilikinya hanyalah Will to Power. Paling tidak. Adakah di antara kita yang memang mengingat setiap kehidupan pengulangan kita masing-masing? Jika kita betul mengingatnya. maka tak ada gunanya membicarakan hal itu. Ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” paling tidak cukup bermakna. gagasan tentang “Eternal Reccurence” tampaknya tak mempunyai makna. Clark Kent memiliki moralitas naif yang ia coba laksanakan untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. satu hal yang mengundang tanda tanya ialah deskripsinya tentang Superman menunjukkan bahwa Nietzsche justru sadar jika ia tinggal di sebuah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kenaifan. Di sisi lain. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. seperti halnya yang terdapat dalam komik-komik. maka niscaya kita akan sanggup melakukan perubahan dalam hidup kita. Superman ciptaan Nietzsche sama sekali tak mengenal moralitas. Gagasan ini benar-benar tidak mengandung pemikiran yang mendalam. Zarathustra. Ia adalah seorang tokoh yang penuh . Jika kita tidak dapat mengingatnya. betapapun kaburnya makna tersebut. Walau mungkin akan lebih baik jika tokoh ciptaan Nietzsche juga mempunyai ciri-ciri yang dimiliki tokoh komik tersebut. Gagasan ini terlalu buram untuk bisa di terapkan sebagai sebuah prinsip seperti yang dimaksudkan Nietzsche. Namun.

bagian pertama.” [Thus Spoke Zarathustra. Prolog Zarathustra. Pada suatu bahasan. Nietzsche menyatakan (melalui mulut tokoh ciptaannya ini) bahwa. ia tidak berbicara tentang ras dan kebangsawanan. Perumpamaan macam itu adalah sesuatu yang sangat mendalam. XXI. Namun. “Ketika aku berbicara tentang Plato. “Sasaran kemanusiaan tidak dapat dicapai di akhir kehidupannya. perumpamaan mengenai apa? Suatu perumpamaan tentang perilakukah? Perumpamaan yang diungkapkan para nabi tampaknya sederhana dan kekanak-kanakan.kesungguhan. 98] . Meskipun begitu. Superman ciptaan Nietzsche ini berkembang menjadi tokoh yang jauh lebih sakti daripada tokoh Superman yang ada di komik. catatan ini dibuang tanpa penjelasan] dan menyatakan dalam bagian lain. “Apa artinya monyet bagi manusia? Sebuah figur yang menyenangkan atau sesuatu yang memalukan? Manusia akan tampil persis seperti monyet di depan Superman. apalagi kekanak-kanakan. Di pihak lain. di dalam edisi Härtle. Harus diakui bahwa dongeng tentang Zarathustra itu adalah sebuah kisah perumpamaan. dan Goethe. aku tahu bahwa darah mereka mengalir dalam tubuhku” [Edisi Musarion (1920-1929) diambil dari Collected Works. Pascal. ia merujuk ke ‘the Almanac de Gotha: an enclosure for asses’ [Will to Power.” [Genealogy of Morals. Di dalam Thus Spoke Zarathustra. Bagian 3] Ditempat lain ia menyatakan. perumpamaanperumpamaan Zarathustra sangat kekanak-kanakan. melainkan pada jenis manusia yang paling unggul. 942-edisi revisi 1906 atau 1911. akan tetapi refleksi yang dipantulkannya sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. Namun demikian. Perilakunya memperlihatkan gejala-gejala kegagalan mental yang berbahaya. Bagian 9] Dalam konteks inilah Nietzsche mulai secara serampangan dan tanpa juntrungan menghubungkan Superman dengan maksud-maksud seperti kemuliaan dan asal keturunan. begitu pula dengan refleksi yang dipantulkannya. Meditasi Kedua. pesan yang disampaikan Zarathustra sangatlah mendalam.

Bagi Husserl fenomen ialah sesuatu (objek) sebagaimana kita alami dan menghadirkan diri dalam kesadaran kita. Prancis. Namun dari berbagai arti yang sering dipertautkan antara kata-kata itu dengan kata psyche terkesanlah betapa sulitnya membatasi muatan kata-kata tersebut Baru sejak Rene Descartes (1596-1650) psikologi lebih jelas batasannya. Kesadaran tentu lebih terbatas daripada kejiwaan. sukma. phenomenon. Kata psyche pun tidak tunggal artinya: rob. nyawa. berarti penampilan. Maka fenomenologi menurut Husserl ialah cara pendekatan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu (objek) . Fenomenologi secara umum adalah studi tentang kenyataan sebagaimana tampilnya (asal kata bahasa Yunani. Aristoteles (384322 SM) yang sering dianggap sebagai peletak dasar pemikiran ilmiah juga pernah menyatakan pendapatnya tentang kejiwaan dan baginya psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Pengaruh Fenomenologi dan Eksistensialisme Terhadap Perkembangan Psikoanalisis Eksistensial dan Daseinsanalyse Sejarah psikologi bisa dianggap sangat tua jika dihitung sejak para filsuf Yunani kuno berspekulasi tentang ihwal kejiwaan) atau masih muda sekali (jika diukur dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig). Filsuf Demokritos (460-370 SM) sudah mulai dengan spekulasi bahwa jiwa terdiri atas atom-atom dan dalam gerakannya atom-atom itu saling bersentuhan atau berbenturan sehingga menimbulkan kualitas penghayatan tertentu. Pada umumnya apa yang dikemukakan oleh para filsuf Yunani kuno itu memang masih bersifat spekulatif belaka. yaitu ilmu yang mempelajari gejala kesadaran. nafas. sejak Edmund Husserl (1859-1938). Dibanding dengan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles jelaslah bahwa definisi psikologi menurut Descartes lebih terbatas lingkupnya.Dalam pandangan Nietzsche. darah orang Yunani. namun demikian. kata itu menjadi istilah dengan batasan yang jelas. Meskipun kata fenomen telah digunakan oleh sejumlah filsuf sebelumnya. Yahudi dan Jerman itu adalah darah leluhur yang mengalir dalam tubuh Superman yang ia ciptakan. VII. udara. jiwa. sama sulitnya dengan usaha membatasinya dalam bahasa Indonesia: roh. tanpa merinci apa yang dimaksud dengan gejala kejiwaan. warna-warni. perhatian terhadap ihwal kejiwaan sudah mulai menjadi pusat perhatian mereka.

pre-judgment) sebelum melakukan pendekatan terhadap objek yang ingin kita ketahui atau pelajari. termasuk psikologi sebagai ilmu . analisis serta deskripsi dan yang hasil keseluruhannya berupa deskripsi fenomenologis. Bagi orang lain boleh jadi objek yang sama tidak tampil menakutkan sehingga tidak mungkin menimbulkan kesadaran 'takut'. Kesadaran manusia adalah kesadaran yang terjalin dengan kesadarannya tentang berbagai hal (dated) dan keberadaannya dalam berbagai situasi (situated). Proses ini oleh Husserl disebut e poche. maka tidak ada 'kesadaran' selalu tertuju pada objek yang mengisinya. tertuju pada sesuatu).sebagaimana tampilnya dan menjadi pengalaman kesadaran kita. Fenomenologi yang diajarkan Husserl ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi pada zamannya. Berbeda dengan dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek. Artinya ada keterarahan atau ketertujuan tertentu pada setiap tindakan mental. Husserl tidak bertujuan menciptakan aliran atau mazhab baru dalam lingkungan psikologi. Intuisi timbul secara langsung (direct) dan tanpa-antara (immediate) dari pemusatan perhatian terhadap fenomena dan analisis dilakukan terhadap unsur-unsur fenomena yang bersangkutan. bracketing). maka objek yang bersangkutan harus seolah-olah dikurung (einklammerung. Melalui intuisi juga terjadi reduksi gambaran (eidetic reduction) mengenai esensi (wesen) tentang sesuatu yang kita ketahui atau pelajari. sedangkan deskripsi ialah penjabaran dari apa yang tertangkap oleh intuisi dan muncul melalui analisis. kesadaran 'takut' merupakan pengalaman yang menyatu dengan objek yang tampil menakutkan itu. yaitu bahwa 'semua tindakan mental bersifat intensional' (terarah. Dunia manusia bukanlah sekedar kenyataan objektif melainkan merupakan lebenswelt. Bagi Husserl rumus ini kemudian diperluas dengan menyatakan bahwa 'semua kesadaran bersifat intensional'. Husserl memanfaatkan konsep intensionalitas yang diajarkan oleh gurunya. Franz Brentano. Metode yang digunakan dalam pendekatan fenomenologi terdiri atas tahap intuisi. yaitu dunia sebagaimana dialami dan dihayatinya secara subjektif. yang artinya 'membisukan suara' yang mungkin pernah mempengaruhi pengetahuan kita terhadap pengetahuan kita terhadap objek yang bersangkutan. sehingga segala praduga dan pra anggapan mengenai objek itu tidak mempengaruhi yang akan kita peroleh tentang objek itu. melainkan ingin menyempurnakan pendekatan yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang tergolong dalam humaniora. Husserl menambahkan perlunya kita membebaskan diri dari segala praduga (prejudice. Demikian tidak mungkin ada kesadaran tentang 'takut' tanpa diisi oleh sesuatu yang tampil menakutkan.

namun demikian. Karya utamanya "La phenomenologie de la perception" (1945) yang terjemahannya dalam bahasa (1962) dan Inggris of berjudul perception" du yang "Phenomenology comportemen" "Structure (1942) terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Structure of Behaviour" 1963). karena sebagai proses melibatkan kedua taraf .J. disusul karya murid-muridnya yang dihimpun J. 1953) berdampak luas terhadap perkembangan psikologi fenomenologi di negeri Belanda. tingkah laku pada taraf psikis memang terjalin pada kedua taraf lainnya namun tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kelanjutan dari berbagai proses pada taraf fisik dan vital belaka. yaitu masing-masing taraf fisik. Di Perancis terkenal pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty (19081961). Sebaliknya. tidak mungkin tingkah laku psikis dilepaskan kaitannya dengan kedua taraf lainnya. Salah seorang eksponen fenomenologi di Belanda ialah F. Ultrech. vital dan psikis. Buytendijk.J. Tidak ada gejala 'kepucatan' kecuali melalui penampilan seseorang yang sedang 'sakit gigi'. tingkah laku tampil melalui tiga taraf yang berbeda.J Linschoten (1925-1964) dalam "Person en Wereld" (E. Menurut pendapatnya. sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi fenomenologi. Karya Buytendijk yang terkenal berjudul "Algemene theorie der menselijke houding en beweging" (1948). guru besar fisiologi dan psikologi membangkitkan minatnya untuk lebih mendalami studi tentang perilaku manusia sebagaimana tampil melalui tingkah laku manusia. kemanunggalan yang bisa dibedakan (distinct) tapi tak terpisahkan (inseparable). Misalnya.yang mempelajari tingkah laku manusia dalam dunianya. kalau 'melihat' diuraikan melulu sebagai proses fisik-biologis dimulai dengan rangsangan terhadap retina hingga ke pusat visual melalui penyampaian masukan yang majemuk dan seterusnya.J Bijleveld. tingkah laku itu tidak bisa direduksikan sekedar sebagai proses fisiologis atau sejumlah refleks belaka. 'saya melihat' dengan segala kelanjutannya. namun tidak mungkin uraian itu menjelaskan kenyataan fundamental bahwa 'saya melihat'. Maka penjelasan itu secara empiris dapat dibenarkan. Mata belaka tidak melihat. Begitulah ketubuhan adalah kenyataan fisik yang menunggal dengan penghayatan psikologik.

dipandang sebagai keberadaan dalam dunia (in der welt sein). yaitu bahwa filsafat tentang manusia harus menjadikan manusia sebagai pusat orientasinya. Disamping "L'etre et Ie neant" (1943) dan "L'imaginaire. sebagaimana Dalam filsafat ini oleh manusia Martin dirumuskan Heidegger (1988-1976). Uraian Merleau-Ponty tentang manusia dan dunianya. jauh lebih terkenal nama Jean-Paul Sartre (1905-1980). masing-masing diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Being and Nothingness" (1956) dan "The psychology of imagination" (1948). Satu bab dari "Being and Nothingness" kemudian diterbitkan secara terpisah dengan judul .itu. Heidegger sering dijuluki sebagai filsuf yang' gelap" karena rumitnya uraiannya serta banyaknya pemikirannya yang diandalkan pada kata-kata yang khas diangkat dari bahasa Jerman. Dialektik tersebut berlangsung sebagai proses perseptual. filsafat yang mereka kembangkan beranjak dari cara pandang yang sama. psychologie phenomenomologique de l'imagination" (1940). Pengaruh fenomenologi terhadap psikologi semakin menguat sejak berjalan seiring dengan berkembangnya eksistensialisme sebagai filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi dan menjadikan perikehidupan manusia sebagai tema utama. demikianlah tidak mungkin berfikir atau berkhayal berlangsung tanpa keterlibatan taraf fisik-biologis. Karya utamanya "Sein und Zeit" (1927) baru berhasil diterbitkan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada tahun 1962. Perlu ditambahkan bahwa Merleau Ponty juga menerima konsep lebenswelt sebagaimana diartikan oleh Husserl. serta melalui persepsi pula dapat dipahami dialektik antara keduanya. Melalui persepsi terjadi keterjalinan antara manusia dan dunianya serta saling mempengaruhi antara keduanya. dunia manusia merupakan dunia bersama (mit-welt) karena dia barus berbagi dengan manusia lain untuk menghuni dunianya itu. maka eksistensialisme juga merupakan sebutan bagi serumpun filsuf dengan ragam pemikirannya masing-masing . Dibandingkan dengan Heidegger atau filsuf eksistensialis lainnya. Narnun demikian. Seperti halnya ada sejumlah filsuf dengan batasan masing-masing mengenai kata fenomena.

Baginya eksistensialisme bertolak dari asas pertama. bahkan tidak bisa menghindar dari pengamatan orang lain.”man cannot pass beyond human subjectivity”. Sartre pun memberikan perhatian besar pada kenyataan bahwa eksistensial manusia merupakan keberadaan secara bertubuh. melainkan sebagai tubuh yang dihayatinya secara subjektif. peragaan manusia bukanlah sekedar penampilannya sebagai badan yang objektif belaka. Sedangkan salah satu drama gubahannya (No exit) diakhiri dengan pernyataan "Hell is other people". Sartre cenderung menganggap pandangan orang lain menutup kemungkinan bagi perkembangan sebagai pribadi yang bebas. Ketubuhan itu juga menjadi sasaran pandangan orang lain yang seringkali bersifat distortif dan degradatif terhadap keberadaan saya sebagai pribadi. Saya tidak menyambut uluran tangan seseorang menjabat sebuah tangan belaka tanpa menyadari bahwa yang saya sambut seseorang dan jabatan tangan itu disertai oleh penghayatan subjektif kita masing-masing.. terpandang oleh orang lain. Segala yang menggejala melalui tubuh kita tidak mungkin diperlakukan sebagai kenyataan objektif belaka dan dipisahkan dari penghayatan kita sebagai keseluruhan subjektif. lebih dari kenyataan objektif belaka yang tertangkap oleh pandangan orang lain. Kita hadir sebagai ketubuhan dan melalui kenyataan bertubuh itu kita juga hadir bagi orang lain. and places the entire responsibility for his existence squarely upon his own shoulders” dan sebagai kelanjutannya . Banyak pernyataan Sartre yang menggambarkan pandangan pesimistik mengenai kehadiran orang lain."Existential Psychoanalysis" yang menyajikan pendekatan berbeda sekali dengan psikoanalis gaya Freud Seperti halnya Merleau-Ponty. karena oleh kehadiran bertubuh itu saya cenderung diperlukan sebagai objek oleh orang lain. yaitu: “Man is nothing else but that which he makes of himself". dan melalui tubuh pula saya mestinya ditemui orang lain sebagai kehadiran subjektif. semua itu menggambarkan pesimisme Sartre tentang orang lain sebagai sumber reduksi dan objektifikasi terhadap dirinya. atau . the first effect of existentialism is that it puts every man in possession of himself as he is. "the other is the hidden death of my possibilities".. Apa yang terungkap melalui tubuh saya adalah saya. Dari "Being and Nothingness" dapat diangkat kutipan-kutipan seperti: "My original fall is the existence of the other". "Thus.. . atau lainnya lagi "My being-for-theother is a fall through absolute emptiness towards being an object". Kalimat terakhir ini menegaskan betapa subjektivitas tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Dalam bukunya "Existentialism and Humanism" (terjemahan bahasa Inggris pertama terbit tahun 1948) dijelaskan apa arti 'subjektivitas'. Berbagai penghayatan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi atau yang menunggal dengan ketubuhan.

namun kemampuan itu terbuka keleluasaan baginya untuk mengembangkan diri sendiri sejatinya. sehingga alam pikirannya lebih mudah ditangkap dan difahami oleh khalayak yang lebih luas. transformasi itu terjadi manakala mereka menghayatinya sebagai dunia bersama (shared world). Bertolak dari formula Heidegger bahwa ”Mensch sein ist–der-weltsein” dan “Mensch sein ist–der-mit-sein” sehingga dunia manusia niscaya merupakan ”Mit– welt ” maka Biswanger merinci dunia manusia lebih lanjut berbagai Umwelt. yaitu dunia yang menjadi hunian bagi dirinya sendiri. dan dari pusat itulah dia menjalin dirinya dengan orang lain. Umwelt merupakan kenyataan sebagai lingkungan yang turut berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Betapapun juga setiap orang merupakan pusat bagi dunianya sendiri. Kalau dasein diartikan sebagai keberadaan (being) dalam arti luas maka terdapat modalitas keberadaan yang perlu diadakan. Dalam psikoterapi upaya terpenting ialah memahami Eigenwelt seseorang yaitu dia sebagai dasein dalam dialog dengan dunianya sendiri. dan Eigenwelt. Maka dibandingkan dengan berpikir eksistensialis lainnya. manusia dalam dunia yang dihuninya melalui nobel dan dramanya menunjukkan keberhasilan untuk secara konsisten memadukan metode fenomenologi dengan cara pandangnya sebagai eksistensialis. kesejatian dirinya makin tersembunyi apabila arah perkembangannya dipaksakan terhadap dirinya. kalau yang pertama berlangsung dalam kebebasan manusia untuk menentukan sendiri apa yang menjadi pilihannya. Ketajamannya menguraikan perilaku manusia dalam berbagai situasi atau. Kesadaran diri sebagai dasein menjadi dasar bagi kesadaran identitas diri untuk selanjutnya berkembang sebagai pribadi yang unik (being oneself in order become a unique person) setiap pribadi sadar akan kemampuannya berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Mitwelt. dari pusat itulah dia membangun suatu Mitwelt sebagai dunia bersama orang lain. Sartre juga seseorang sastrawan yang produktif menulis novel dan mengubah drama tentang berbagai masalah manusiawi.Di samping sebagai filsuf dengan berbagai karya utamanya. yaitu dunia fisik dan alamiahnya. yaitu dunia yang dihuninya bersama orang lain. Kebersamaan beberapa orang dalam sesuatu Umwelt belum tentu berarti terjadinya transformasi dunia itu sebagai Mitwelt. masing-masing being-able-to-be. dirinya menjadi pusat semua dialog yang dikembangkannya. maka yang ketiga dipaksakan sebagai imperatif . pengaruh alam pikiran Sartre lebih kentara dan meresapi berbagai bidang studi yang berurusan dengan perilaku dan penghayatan manusiawi. being-allowed-to-be dan having-to-be. Pengaruh eksistensialisme dalam psikoterapi menonjol melalui pendekatan Daseinsanalyse yang diajarkan oleh Ludwig Binswanger (18811966) berbagai konsep Heidegger dimanfaatkan oleh Binswager untuk mengembankan pemahaman mengenai Daseinsanalyse.

'Aku' dan 'Kau' bertahan sebagai pribadi dengan identitas diri masing-masing. tanpa adanya tuntutan 'Kau' dan menjadi 'Aku' atau sebaliknya. Sebagaimana diutarakan oleh Laing: "The fact that the other in his own actuality maintains his otherness by remaining to be the other is set against the equally real fact that may attachment to him makes him part of me".dan mengingkari kebebasannya untuk membuat pilihan sendiri. mereka yang tergabung . Ini berarti bahwa dalam modus 'Kita'. Tepat sekali apa yang dilukiskan oleh filsuf Feuerbach bahwa manusia menjadi manusia karena bersatunya Aku dan Kau (die einheit von Ich und Du). hanya kebersamaan yang tidak mengingkari setiap subjek sebagai konstituennya merupakan kebersamaan yang kondusif bagi menjelmanya kesejatian diri pribadi. yaitu kebersamaan yang secara sadar. yaitu sebagai pengalamannya dalam kebersamaan dengan orang lain. maka yang paling sering dihadapi seseorang ialah modalitas kedua. yaitu kebersamaan yang hanya bisa dihayati sebagai kebersamaan yang eksklusif. maka cirinya ialah sebagaimana yang oleh Jaspers disebut "lie bender struggle". Tidak semua modus kebersamaan memberikan keleluasaan bagi tampilnya kesejatian diri pribadi. sejauh kesertaan segenap subjek dalam kebersamaan itu tidak saling mengekang kebebasan masing-masing untuk tampil dengan kesejatian dirinya. Dalam 'ke-Kita-an' tidak terjadi kekangan terhadap 'Aku' sebagai akibat keterlibatannya dengan 'kau'. Pada analisa akhirnya. sedang yang kedua justru terbentuk dengan kesadaran eksklusif terhadap 'orang ketiga' ('Dia' atau 'Mereka'). 'menyingkirkan' mereka yang tidak termasuk di dalamnya. Karena keberadaan sebagai manusia adalah keberadaan dalam kebersamaan. ke-Kita-an tidak menyangkal kehadiran masing-masing subjek sebagai 'aku'. Inilah perbedaan utama antar modus 'Kita' dan 'Kami' yang pertama sebagai konfigurasi 'Aku' dan 'Kau' bertahan tanpa perlu disertai kesadaran adanya 'orang ketiga' di luarnya. Lain halnya modus kebersamaan yang kita sebut 'kami'. Andaikata pun keterlibatan dalam ke-Kita-an menimbulkan momenmomen sengketa. yang dalam keterlibatan itu mengada bersama dengan subjek lainnya sebagai 'kau'. demikian itulah kebersamaan yang bertahan justru karena masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya merasa berada dalam Suasana saling meleluasakan (in an atmosphere of mutual letting-be) untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri-sendiri. kebersamaan dalam modus 'Kami' di luarnya justru oleh saling objektifikasi. Kebersamaan dalam modus 'kita' tidak meniadakan kesadaran yang membedakan antara kehadiran 'Kau' dengan 'Aku' kendatipun keduanya saling terlibat. Modus 'Kami' selalu disertai kesadaran tentang adanya "Dia" atau "Mereka". Kebersamaan ini tepat sekali diwakili oleh kata 'Kita'.

Misalnya : suatu massa merupakan kebersamaan dengan modus 'Kami'. Buber: ”Through the Thou a man becomes I”. bahwa keberadaan sebagai . Keberadaan dalam 'Kami' menempatkan subjeknya dalam kondisi imperatif "having-to-be" bukan dalam keleluasaan "being-allowed-to-be'. Kesempatan itu tergantung pertama-tama dari kesiapan 'Aku' untuk meninggalkan ketenggelamannya dalam massa dan pembebasannya dari jeratan orang lain agar dapat memulihkan kesejatiannya sebagai eksistensi subjektif. Adanya dua modus kebersamaan tersebut justru menguatkan pendapat beberapa filsuf (Nietzsche: "The You is older than the I". bukankah dia harus berkelakuan sesuai dengan tuntutan golongannya sebagai suatu wujud 'Kami' yang berbeda dengan semua 'Mereka' di luarnya.dalam 'Kami' menghayati kebersamaannya sebagai objek dalam pandangan pihak di luarnya. Penghayatan tenggelamnya diri sendiri dalam kebersamaan dengan 'orang banyak' (Heidegger: Das Man) dan terhanyutnya 'Aku' menjadi seperti orang lain (Ortega Y Gasset: otheration) tentu bukan kondisi yang nyaman. Keterlibatan dalam 'Kami' menuntut kesediaan subjeknya masing-masing untuk berada dalam suasana anonim dan tanpa keleluasaan untuk aktualisasi-diri. Perhatikan juga misalnya perilaku seseorang dalam suatu kampanye politik. agar pulih keleluasaannya untuk tampil dengan kesejatian pribadinya sendiri. bahkan mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat boleh jadi pantang baginya jika dia seorang diri saja. dan pada kesempatan pertama niscaya cenderung ditinggalkan. dan sebaliknya merekapun memperlakukan pihak di luarnya dengan kecenderungan objektivikasi. karena semua orang di dalamnya dikenai oleh proses massivikasi. maka dalam suatu demonstrasi massa seseorang cenderung berkelakuan seperti anggota massa lainnya. 'Aku' terpasung dalam kebersamaan dengan orang-orang lain dan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan apa yang menjadi tuntutan dalam kebersamaan itu. Heidegger: "Mensch-sein is Mit-sein". setiap saat bisa timbul kecenderungan individu untuk 'melepaskan diri' dari jeratan 'Kami' . Demikianlah dalam modus 'Kami'. dalam massa dia (sementara) tidak berpedoman pada norma perilakunya sendiri melainkan harus menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dalam massa itu. Keberadaan individu dalam modus 'Kami' menjadikannya sebagai 'orang lain' seperti apa yang oleh Ortega Y Gasset disebut 'otheration' yang tentunya tidak dapat dipertahankan terlalu lama. kendatipun masing-masing subjek yang terlibat di dalamnya tidak kehilangan kesadaran "being-able-to-be". Oleh karenanya keberadaan dalam 'Kami' hanya bersifat sementara. Keberadaan dalam modus 'Kami' memaksa subjeknya masing-masing untuk berbagi kebersamaan yang diobjektivikasikan dan dengan demikian juga direduksikan kesejatiannya sebagai subjek.

muncul juga aliran filsafat bahasa yang menguraikan struktur dan pola pengetahuan. Pada analisis akhirnya dapat disimpulkan bahwa 'Aku' sadar diri oleh hadirnya 'Kau'. Demikianlah rumus dasar eksistensialisme yang diutarakan Heidegger "Mensch-sein ist Mit-sein" dan 'Mensch-welt ist Mit-welt" sesuai dengan kondisi manusia dalam dunianya.” Hampir dalam kurun waktu yang sama. ke gejala yang menampakkan diri dan ditangkap oleh intensionalitas subjek. VIII. Edmund Husserl. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. Aliran ini berhasil meninggalkan “menara gading“ filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. maka saya berpikir. sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-bad yang silam. 'Kami' bisa menjadi suaka yang memberikan rasa aman pada saat individu untuk melakukan refleksi dan mengalami metamorphosis guna menemukan kembali kesejatian diri pribadinya. mau mengembalikan pengenalan ke sesuatu yang lebih objektif. Di antara para eksistensialis. sastra. 'Kami' bisa merupakan kebersamaan sementara bagi 'Aku' yang sedang mengalami kekaburan identifikasi diri untuk tampil dengan kesejatiannya sendiri. Sementara itu. “Saya ada. muncul pula aliran fenomenologi yang juga bereaksi terhadap idealisme. Oleh karena itu. Aliran ini mau menghindari bahasa metafisis dan mengoreksi Descartes dengan mengatakan abhwa istilah ”pikiran” itu menunjuk pada kata kerja yang dipakai untuk kata benda. masih dapat kita beda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius humanis. dan bukan abstrak. dll). Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. kristiani. dengan karya pokoknya. sehingga dia terbebaskan dari keharusan untuk memikul tanggung jawab sendiri. 'Kami' bisa menjadi tempat individu berlindung dalam anonimitas. “Logical Investigations”. konseptual. dan sebagainya. lokal. Ikhtisar Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. lebih logis. maka saya ada” segera dibalikkan oleh para eksistensialis dengan pernyataan. yaitu dengan analisis hubungan antara subjek-objek dengan kembali ke hal-hal itu sendiri.manusia hanyalah mungkin dalam kebersamaan dengan manusia sesamanya. permenungan rasionalistis Descartes yang menegaskan. apakah modus kebersamaan itu 'Kita' atau 'Kami'. . “Saya berpikir. ateis. seni lukis. Eksistensialisme muncul sesudah Perang Dunia II. universal. seperti: psikologi. Sebab keberadaan dalam 'Kami' pun ada nilainya yang pada waktunya dapat dimanfaatkan oleh individu. drama.

Sementara fenomenologi menjelaskan hubungan subjek-objek dengan intensionalitas dan filsafat bahasa memberi batas-batas pada kecenderungan spekulatif. sedangkan filsafat bahasa menyoroti objek. memberi sumbangan khas bagi refleksi filosofis abad ini. filsafat bahasa) dipandang sebagai suatu keseluruhan. fenomenologi. Eksistensialisme justru memusatkan perhatiannya pada subjek. Fenomenologi meminati hubungan subjek dan objek pengetahuan.Ketiga aliran ini (eksistensialisme. eksistensialisme menandaskan pentingnya keterlibatan eksistensial dalam pengalaman manusiawi. .

juneman@gmail. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.. 2008 .P. S.Permainan Modul IX Sub Materi: • • • • • • • Apakah Permainan Itu? Fungsi Permainan Permainan dan Perlombaan Permainan dan Kebudayaan Kritik atas Kebudayaan Modern Permainan dan Pembebasan Ikhtisar Juneman.W.Psi.

karangan sejarawan Belanda terkenal yang mendapat pengakuan internasional. Berikut ini disampaikan garis-garis besar pemikirannya dan hanya satu dua kali menunjuk kepada material historis dan etnologis yang amat kaya itu. Pengertian kita yang biasa tentang permainan lebih kaya daripada yang dikatakan oleh teori-teori itu. Tapi tentu ia harus . Huizinga ingin mempelajari manusia sebagai homo ludens. Juga Proeve eener bepalinguon hetspel-element der cultuur (1938). India. Ia berbicara tentang berbagai aspek sejarah kebudayaan Eropa. mengungguli menunjukkan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan malah menciptakan alat-alatnya sendiri. Prof. Salah satu buku yang mulai menyoroti tema ini dan sekarang sudah dianggap sebagai karya klasik adalah Homo Ludens. manusia yang bermain. Johan Huizinga. Malah ia menyisihkan teori-teori yang pernah diberikan dari sudut pandang biologis dan psikologis karena dianggap tidak memadai. dilengkapi dengan banyak data antropologi budaya. Khususnya ia ingin menyelidiki kaitan antara permainan dan kebudayaan. I. tapi juga tentang kebudayaan Tiongkok. Apakah Permainan Itu? Huizinga tidak mengajukan teori khusus tentang permainan. Jepang.PERM AI N AN Sekarang ini tidak sedikit kita bisa menemukan buku yang berbicara tentang permainan dari pelbagai sudut pandang. Manusia sapiens. sudah manusia lama disebut homo arif yang memiliki akal budi sehingga dengan semua hidup Nama manusia homo demikian makhluk yang Iain lain. dan Arab. untuk adalah faber. Untuk itu ia dapat mempergunakan pengetahuannya yang sangat luas.

Bila kita coba menganalisis arti "permainan". Permainan adalah "bebas". Dalam bahasa Indonesia. karena permainan mulai pada saat tertentu dan selesai pada saat tertentu. Anak kecil sudah tahu bahwa permainan itu "cuma permainan" dan tidak sungguhan. kita sampai pada ciri-ciri berikut ini: a. Dengan bermain. Huizinga menganggap kata lnggris itu paling tepat. Permainan mengisi semacam selingan dalam kehidupan sehari-hari. terlepas dari kegiatan-kegiatan lain. Permainan tidak mempunyai "kegunaan". Gerak tersebut menuju puncak dan akhirnya selesai. barangkali dapat kita katakan bahwa fun menunjukkan semacam kombinasi dari "lucu" dan "menyenangkan". sebagai salah satu ciri khasnya. entah secara riil atau secara imajiner.mengeksplisitkan pengertian biasa tersebut. Permainan tidak mengejar kepentingan yang berada di luar permainan itu sendiri. Banyak pertentangan yang sering kita pakai di sini tidak pada tempatnya. Permainan melebihi pertentangan antara "lucu" dan "serius". Apa yang kita maksudkan dengan "permainan"? Apa ciri-ciri khasnya? Ternyata tidak gampang menganalisis pengertian itu. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa main itu tidak bisa serius. baik menurut waktu maupun menurut ruang. meski sukar diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Permainan melengkapi dan memperhiasi kehidupan yang nyata dan karena itu memang perlu. pemain-pemain sepakbola atau pemain-pemain catur sering kali sangat serius. tapi keperluan itu termasuk tahap lebih tinggi ketimbang kebutuhan material apa pun. dapat kita katakan bahwa permainan adalah fun. b. orang seolah-olah keluar dari kehidupan yang biasa atau kehidupan yang sebenarnya. Bermain selalu terjadi secara spontan. Yang terakhir sering dapat kita saksikan bila yang bermain . bukan suatu tugas dan karena itu setiap saat dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Keterbatasan itu mengakibatkan permainan berdiri sendiri. Antara awal dan akhir tersebut. Keterbatasan menurut waktu tampak. Permainan mempunyai batas-batasnya sendiri. permainan berlangsung sebagai gerak timbal balik antara beberapa kutub. c. seperti permainan melebihi juga pertentangan antara "benar" serta "tidak benar" dan "baik" serta "jelek". Permainan yang sesungguhnya tidak mungkin diperintahkan. Permainan termasuk suasana waktu luang. Misalnya. Permainan berlangsung dalam ruang lingkup yang dipatoki menjadi suatu wilayah tersendiri. Lebih mencolok lagi adalah keterbatasan menurut tempat. Anak-anak yang main. Permainan itu sendiri tidak berkualifikasi etis.

VIII). permainan ditandai juga ketegangan. Dalam konteks permainan. d. Yang pertama tampak misalnya dalam teater. Aturan-aturan itu mengikat sama sekali dan tidak mungkin ditawar-tawar. Ketegangan itu meliputi ketidakpastian dan peluang. permainan cenderung membentuk suatu "masyarakat bermain" yang melampaui waktu permainan saja. Dua fungsi ini mudah digabungkan. Kerap kali kelompok-kelompok itu diikat oleh suatu rahasia. layar putih. permainan terutama mempunyai dua fungsi. tarian dan musik bertujuan untuk mempertahankan dunia dan menaklukkan alam kepada manusia. Pertandingan bisa menjadi pertunjukan dan pertunjukan bisa menjadi perlombaan. Terjadi juga bahwa mereka dengan memakai topeng atau pakaian seragam melepaskan diri dari dunia biasa. Hal itu tampak jelas dalam perjudian dan pertandingan olahraga. Permainan mewujudkan kesempurnaan terbatas dalam dunia yang serba tak sempurna dan penuh kekacauan ini. Irama dan harmoni merupakan dua sifatnya yang paling luhur. Menurut ajaran Tionghoa kuno. Melanggar aturan-aturan itu berarti seluruh dunia permainan akan ambruk. Aturan-aturan itulah yang menentukan apa yang akan berlaku saat berlangsung permainan. dan sebagainya. misalnya. Fungsi Permainan Dalam bentuknya yang lebih tinggi. manusia dijadikan sebagai . Huizinga berbicara tentang kultus dalam kebudayaankebudayaan arkais. berfungsi untuk menjamin panen yang baik. bahkan ketegangan merupakan salah satu faktor penting dalam kebanyakan permainan. Di samping itu. Ciri lain adalah bahwa permainan menciptakan orde atau keteraturan. Permainan adalah pertandingan yang diadakan untuk merebutkan sesuatu atau permainan adalah pertunjukan yang diadakan untuk memperlihatkan sesuatu. Pertunjukan tersebut menunjukkan sesuatu yang mistis. stadion. Utamanya. Tentang hal itu dapat dikemukakan contoh-contoh yang berasal dari segala penjuru dunia. Di sini secara khusus kita teringat akan tarian. bioskop. II. karena adanya aturan-aturan itu. Ini semua mengantar kita ke ciri berikut: setiap permainan mempunyai aturanaturannya. Permainan cenderung ke arah estetis: mau menjadi indah. Kultus atau upacara-upacara suci sebagai pertunjukan jelas mempunyai ciri-ciri permainan.adalah sekelompok anak. Menurut Plato (Nomoi. panggung sandiwara. Pertandingan-pertandingan yang menyertai pesta-pesta musim baru. e. Yang mengambil bagian dalam kultus akan meyakini dapat memperoleh keselamatan. Dalam konteks ini. mudah tercipta klub-klub atau juga kelompok-kelompok yang tidak begitu formal.

Bahasa Inggris. Permainan dan Perlombaan Pengertian "permainan' yang dianalisis di atas. namun dengan itu sifat kudusnya tidak ditiadakan. tapi tidak hanya menunjukkan permainan-permainan anak. seperti dalam zaman kita sekarang masih diingatkan kembali setiap kali diadakan Olympic Games. mempunyai play dan game. rupanya nada umum kata ini adalah kegembiraan dan kesenangan) dan agon yang berarti lomba atau pertandingan. Yang paling penting adalah paidia (yang berkaitan dengan kata u anak". Dan memang benar. Jacob Burckhardt (1818-1897). lomba mempunyai fungsi kultural yang tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan: permainan—pesta—sakralitas. sudah dini sekali lomba memperoleh tempat yang amat sakral dan umum sehingga dianggap biasa saja dan tidak lagi disadari sebagai "permainan". di Yunani kuno. 208—merupakan cita-cita orang Yunani selama banyak abad. dalam masyarakat Yunani kuno. Di Yunani. nyanyian serta tarian. Kadang-kadang terdapat pelbagai kata yang menunjukkan pelbagai aspek dari "permainan". sebab dipakai juga untuk permainan-permainan sakral umpamanya. bahasa Latin hanya memakai satu kata. tapi juga di semua tempat lain. kebudayaan Yunani adalah kebudayaan pertama di dunia yang ditandai semangat berlomba dan tidak pernah terdapat kebudayaan di mana perlombaan menentukan semua aspek kehidupan seperti di Yunani. Tapi Burckhardt belum mengenal data-data etnologis tentang kebudayaan- . yaitu ludus. Huizinga menyelidiki cukup banyak bahasa dari sudut pandang ini.mainan para dewa dan dengan persembahan. misalnya. Untuk dua kata itu. ia harus bermain untuk memikat hati dewa-dewa. Tidak jarang dikatakan bahwa semangat berlomba adalah ciri khas kebudayaan Yunani kuno. Menurut Huizinga. terutama dalam bukunya Griechische Kulturgeschichte yang terbit sesudah ia meninggal. dalam semua bahasa tidak ditunjukkan dengan satu kata. dalam masyarakat Yunani. Bahasa Yunani kuno mengenal tiga kata. Ada sementara kritisi yang menandaskan bahwa dua kata Yunani tersebut menunjukkan dua hal yang tidak boleh dicampuradukkan. Huizinga menolak kritik itu: lomba adalah permainan. III. "Menjadi yang paling baik dan mengungguli semua orang lain"—seperti dikatakan Homeros dalam Mas VI. Di antara mereka yang menganggap semangat berlomba sebagai ciri kebudayaan Yunani yang paling penting termasuk juga sejarawan Swiss tersohor. Menurut beberapa seginya. perlombaan merupakan ciri yang sangat mencolok. Menurut pendapat itu. upacara suci selalu telah dianggap sebagai permainan.

Tesis yang dikemukakan Huizinga dalam bukunya adalah bahwa kebudayaan timbul dan berkembang dalam suasana permainan. Pesta itu mempunyai kedudukan sentral dalam kehidupan suku dan disertai rupa-rupa upacara. Dalam bentuk yang terdapat pada suku Kwakiutl.kebudayaan arkais lainnya yang dikumpulkan dan disistematisasi oleh ilmu seperti antropologi budaya. tapi pemberian hadiah dengan cara besar-besaran itu selalu merupakan unsurnya yang paling penting. Cukuplah kita mengobservasi dua anjing muda yang sedang bermain. Epos India Mahabharata." IV. permainan lebih tua dari kebudayaan. Apa yang oleh para antropolog disebut sebagai potlatch membuktikan bahwa dalam masyarakat-masyarakat arkais pun semangat berlomba memegang peranan penting. sekarang tidak dapat disangkal lagi bahwa perlombaan adalah salah satu unsur dalam hampir semua kebudayaan. misalnya. untuk dapat menentukan semua ciri hakiki permainan. Juga kegiatan-kegiatan manusia yang langsung ditujukan pada pemenuhan kebutuhan hidup. Antropolog Prancis. karena sudah ditemukan pada taraf bawah-manusiawi. pada awal mulanya timbul sebagai permainan. Dalam masyarakat- . Kelompok yang tidak membalas dengan kemurahan setimpal atau—kalau bisa— lebih besar lagi akan kehilangan nama baiknya bersama dengan semua haknya. barang milik suku terus-menerus beredar di antara klan-klan yang terkemuka. sehingga kelompok lain terpaksa harus menghancurkan bagian lebih besar lagi. Permainan dan Kebudayaan Permainan tidak merupakan monopoli manusia. Dengan pengetahuan yang kita miliki. Binatang pun bermain. ditafsirkannya sebagai "kisah tentang potlatch raksasa. Tidak dapat disangkal. Marcel Mauss. seperti perburuan umpamanya. potlatch adalah pesta meriah di mana satu kelompok dengan cara besar-besaran memberikan hadiah-hadiah kepada kelompok lain dengan maksud memperlihatkan keunggulannya. Variasi lain adalah bahwa satu kelompok menghancurkan sebagian harta bendanya. Potlatch adalah nama yang dipakai antropologi budaya untuk menunjukkan adat kebiasaan yang terdapat pada suku-suku Indian di Kolombia Inggris dalam pelbagai variasi. Dengan cara demikian. bukan saja sendiri melainkan juga dalam bentuk sosial. Satu-satunya kewajiban ialah bahwa kelompok kedua dalam jangka waktu tertentu harus membalasnya dengan pesta sejenis dan—kalau mungkin— berusaha mengungguli kelompok pertama. dalam bukunya Essai sur le don (1923) telah memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan sejenis membekas dalam kebudayaan-kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia.

keadaannya berubah. Tapi tentu saja. "antitesis" tidak perlu sinonim dengan "antagonistis". dan kenegaraan. kenyataan itu tampak dengan cara paling jelas dan paling menarik. Tarian dan nyanyian. tata susunan kehakiman. sampai menyeret pribadi-pribadi maupun massa. Huizinga tidak bermaksud mempelajari permainan sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan manusiawi di antara sekian banyak unsur lain. misalnya. Dualisme ini bisa juga diperluas sampai dalam ranah kosmis. permainan adalah suatu faktor yang sangat produktif. Dengan perkembangan kebudayaan.masyarakat arkais. Permainan dan kebudayaan membentuk keadaan dwi-tunggal. Dalam hal ini. Masyarakat primitif sering mengenal semacam dualisme sosial: suku terdiri dari dua kelompok atau klan yang di segala bidang memainkan peranan yang bertentangan. Dengan demikian. seperti halnya dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa. keadaan antitesis itu paling kentara bila menjadi antagonistis. Maksudnya adalah bahwa kebudayaan tumbuh dalam permainan dan—setidak-tidaknya pada mulanya—tetap tinggal dalam suasana permainan. Tetapi juga dalam kebudayaan tingkat tinggi selalu bisa terjadi bahwa permainan tampil lagi dengan hebatnya. Pada umumnya dapat dikatakan. Untuk itu. umumnya tidak bersifat antagonistis dalam arti bahwa yang satu hendak mengungguli yang lain. kesenian. Tendensi umum suatu kebudayaan adalah menjadi semakin "serius". seperti halnya dalam perlombaan. Dalam masyarakat-masyarakat arkais. makin maju suatu kebudayaan makin lemah peranan permainan di dalamnya. Jadi. artinya antara dua kelompok. Permainan seolah- . Tapi sepanjang perkembangan kebudayaan. permainan "melarut" ke dalam bentuk-bentuk kultural yang sudah menjadi mantap seperti agama. namun demikian umumnya dilakukan juga dalam bentuk "dialog" antara dua kelompok. Patut ditambahkan lagi bahwa permainan yang menandai permulaan kebudayaan hampir selalu berlangsung secara antitesis. la memperlihatkan bahwa dalam proses terbentuknya kehidupan kemasyarakatan menurut segala seginya. ilmu pengetahuan. unsur permainan hampir seluruhnya terpendam dalam gejala-gejala kultural tersebut. Ia juga tidak bermaksud mengatakan bahwa pada suatu saat permainan menjadi kebudayaan atau bahwa kebudayaan merupakan buah hasil permainan. ia mengemukakan dokumentasi etnologis dan historis yang sungguh mengesankan. kegiatan-kegiatan seperti itu "dimainkan". Sebagian besar isi buku Huizinga menguraikan bagaimana fungsi-fungsi kultural yang terpenting timbul dalam suasana permainan. artinya pertentangan yang berbentuk persaingan dalam usaha meraih kemenangan. Apa yang dari perspektif historis kita menilai sebagai kebudayaan secara konkret merupakan permainan.

Hukum berasal dari permainan sosial. Dipandang sepintas lalu. dalam bahasa Indonesia juga kita mengatakan bahwa seseorang "main" piano atau gitar. perang pun berlangsung dalam suasana permainan.olah merupakan ragi yang mengakibatkan pelbagai bentuk kebudayaan arkais dapat tumbuh. Pada awal mula. Tidak bisa diragukan lagi. abad ke-18 masih merupakan zaman di mana permainan menempati kedudukan penting. Fungsi sosial olahraga sekarang sangat diperluas dan menyangkut banyak aspek kehidupan modem. di zaman modern masih terlihat kecenderungan mempertahankan sifat permainan itu. Kebijaksanaan dan pengetahuan banyak bangsa dirumuskan pertama kali dalam permainan tanya jawab. Kultus keagamaan. Huizinga membahas seluruh sejarah Eropa secara singkat —dari periode Romawi hingga zaman modern—sub specie ludi (dari sudut pandang permainan). Tapi sesudah itu. Seperti halnya dalam banyak bahasa lain. Permainan-permainan bola . pandangan Huizinga tentang zaman modern sangatlah pesimistis. Puisi lahir dalam cakrawala permainan dan Huizinga mencatat bahwa—berbeda dengan kebanyakan fungsi kultural lain—puisilah yang paling jelas masih mempertahankan sifatnya sebagai permainan sampai sekarang. V. Dan ia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali: pada tahap-tahapnya yang pertama. Sebagai contoh yang tentu sudah tidak arkais lagi. Unsur permainan semakin menghilang dari kebudayaan kita. nasib seseorang ditentukan. Huizinga merujuk pada para Sofis di Yunani kuno dan dialog-dialog yang ditulis Plato. yaitu olahraga. sebab bukunya terbit pada tahun 1938. Permainan hampir tidak lagi menjalankan fungsi kreatifnya. kebudayaan menjadi semakin serius. Musik dan tarian pada awal mula tidak lain dari permainan. Dalam hal ini. misalnya. ia tentu berbekal cukup untuk dapat menyingkatkan pemikirannya tentang periode modern sekarang ini. Dan dalam bidang ini pun. Kritik atas Kebudayaan Modern Pada akhir bukunya. tetapi cara diselenggarakannya dengan klub-klub adalah hal baru. Macam-macam aturan menguasai pertempuran antara dua kelompok. rupanya dalam masyarakat modern sekurangkurangnya ada satu bidang unsur permainan sangat menonjol. terbentuk dalam konteks permainan sakral. Dalam sejarah Eropa. Sebagai sejarawan yang berpandangan luas. kebudayaan "dimainkan". situasi di Eropa menjelang pecah Perang Dunia II pasti memainkan peranannya. Kebanyakan fungsi sosial itu dibahas Huizinga dalam bab tersendiri. di mana dengan membuang dadu. Hanya perlu diinsafi bahwa dengan ”sekarang ini” di sini dimaksudkan untuk tahun 30-an. umpamanya. Setiap zaman mengenal berbagai perlombaan.

diikuti oleh sekelompok kecil peminat saja. praktek ilmiah yang modem mempunyai ciri-ciri permainan. Olahraga menjadi sangat serius. bridge dan catur adalah contoh-contoh yang mencolok. Tetapi permainan juga terbatas dalam waktu. pada saat tertentu berakhir dan tidak mempunyai tujuan di luar dirinya sendiri. Puisi. Kita lihat juga bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat serius. di mana pelbagai-isme silih berganti. dengan sistematisasi olahraga dan peningkatan prestasi.yang besar. VI. Dilihat dari segi itu. Menurut Huizinga. Dalam seni rupa. seperti sepakbola. Kesenian diatur dari luar: menjadi obyek kebijakan pemerintah atau mangsa media massa. perkembangan rumit. yang menandai perlombaanperlombaan dalam masyarakat-masyarakat kuno. Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu. karena telah dijadikan unsur kebudayaan yang paling istimewa. yang memerlukan tim-tim yang dilatih baik dan mempraktekkan kerja sama yang optimal. dan permainan papan. Aturan-aturan menjadi semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan. Dan semua ciri itu pasti tidak berlaku untuk ilmu pengetahuan. baru berasal dari akhir abad ke-19 dan untuk pertama kalinya mulai berkembang di Inggris. sama sekali tidak ada lagi. diminati kelompok kecil yang agak tertutup. di mana unsur "kebetulan" tidak pernah absen. Dan bagaimana halnya dengan ilmu pengetahuan? Permainan—kita lihat pada permulaan—berlangsung dalam lingkup permainan yang terbatas dan mengikuti aturan-aturan. Faktor kegunaan yang sebenarnya asing dari setiap permainan semakin kuat menguasai olahraga modem. sedangkan aturan-aturan ilmu pengetahuan senantiasa harus disesuaikan. walaupun sering diusahakan untuk "memasyarakatkan" kesenian. Lihatlah lain-lain kesibukan manusia. Di sini. aturan-aturan bagi permainan tidak dapat diubah (meskipun dapat divariasi). Di sini letaknya paralel dengan kekompakan "masyarakat bermain" yang merupakan syarat bagi setiap permainan. misalnya. suasana permainan menghilang dari olahraga modem. Di situ . Permainan dan Pembebasan Inti dan arti permainan menurut Driyarkara adalah (penikmatan) kebebasan karena dan dalam pembebasan. ilmu pengetahuan modem jauh dari sikap bermain yang sejati. Hal itu tampak antara Iain dengan munculnya pemain-pemain profesional di samping amatir. Di lain pihak kesenian semakin ditandai esoterisme. Di satu pihak kesenian kehilangan sifat spontannya. Apalagi. Lebih sulit untuk menentukan unsur permainan dalam kesenian modem. Dan keterkaitan dengan dimensi sakral. Karena semua alasan itu.

kebebasan itu tidak mutlak. dia bisa kehilangan pembebasannya itu. Sebabnya justru karena dia menerima dan mengakui objektivitas: objektivitas dari permainan. Dia mengalami bahagia. karena pamrihnya. Maka. Sepanjang dia bebas (karena membebaskan diri). Dia tidak membelokkan objektivitas ke arah kepentingannya. tidak menghendaki sesuatu di luar kesibukannya. Hasilnya adalah kebebasan. Di situ anak-anak itu senang dengan aktivitasnya. Kalau menang tidak dihitung. manusia bebas. dari rasa yang mengganggu. Dia dalam suatu arti menyerahkan diri kepada objektivitas. dari suatu tujuan di luar aktivitas itu sendiri. tidak terpecah-pecah. secara integral. Dalam permainan (selama tidak dirusak) manusia tidak menghendaki suatu pamrih. mengalami gembira justru karena menyerah kepada objektivitas. diakui seperti apa adanya dan diserahkan sebagai objektivitas. artinya yang diperlukan bagi manusia dan sesuai dengan kodratnya. Mereka hanya memerlukan permainan. dalam permainan. Lihatlah kalau anak-anak bermain sepak bola. Usaha ini bisa patah dan selalu cenderung untuk patah. Di situ manusia menghendaki aktivitasnya itu sendiri. misalnya di mana manusia mencari kehormatan. Tampak di sini bagaimana sebenamya manusia itu. Dengan kata lain. Membebaskan din adalah suatu usaha yang berat karena manusia selalu cenderung untuk mencari pamrih. Pandangannya menjadi dikabuti oleh pamrih yang berupa kehormatan itu. artinya pembebasan dari pamrih. Dalam permainan yang murni. . Sebab itu di situ manusia mengikat diri dengan dan oleh pamrih itu. secara total. Dia harus membebaskan diri. at least selama murni. Manusia hanya bebas sepanjang dia membebaskan dirinya. Manusia itu tidak dengan sendirinya bebas dari pamrih. pun dirinya sendiri tidak diterima dan diakui sebagai apa adanya. Di situ manusia menjadi subjektif. akibatnya dia merasa jengkel. Akibatnya. dia bebas-merdeka. Sebaliknya. Dengan menyerah. Pun dirinya sendiri dalam bermain diterima. Maka dikatakan bahwa permainan itu pembebasan. di situ manusia melucuti diri dari nafsu. manusia bisa "tergoda" oleh rasa tidak mau mengakui kekalahannya meskipun temyata kalah. Bandingkan dengan situasi lain. merdeka. sebagai objektivitas.manusia menghendaki. Aktivitas tidak dikehendaki sebagai aktivitas. Misalnya. Atau lihatlah anak-anak yang berlari-lari dalam hujan. maka dalam permainan manusia menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Tak demikianlah halnya dalam permainan. dalam bermain manusia mengalami diri secara utuh (karena tidak dibagi-bagi oleh kepentingan ini atau itu). Tetapi. melainkan karena tujuannya. Setiap saat dia diancam "kejatuhan". menuju sesuatu dan aktivitas menjadi media. Itulah yang ”membahagiakan”. yang menyebabkan disharmoni. Dia menjadi diri sendiri.

seperti yang kita lihat dalam Olympiad. Dalam masyarakat kita ada banyak macam permainan. dan alat yang lain. Dalam bermain. kedua.) Setelah melihat gejala permainan. dan lain sebagainya. Jika kita menengok sejarah. dan dengan fantasi. permainan tidak bisa dihindarkan. dan didevaluasikan. (Main mata dan main tahu sama tahu bukanlah permainan. Dalam arti inilah harus kita terima pernyataan bahwa permainan itu merupakan awal dari kebudayaan. Yang dimaksud ialah bahwa dengan bermain. tetapi juga dengan kata-kata (pantun). dengan logika (dagelan kerap kali untuk melihatkan kelucuan karena tidak ada logika). bahwa unsur permainan dalam hidup kita merupakan syarat kebudayaan karena dengan dan dalam unsur itu manusia mengalami diri sebagai totalitas dan bebas. orang juga bermain dengan senyuman. karena oleh banyak ahli pikir permainan itu disebut permulaan kebudayaan. Bersama dengan itu. manusia menjadi manusia. dalam Ganefo. kita harus melihat problemnya. dalam Asian Games. Jadi. VII. Tetapi lepas dari zaman dahulu. dibudayakan sehingga sulit dilihat bahwa permainan merupakan awal kebudayaan. Dengan menyerah. begitu juga permainan kerap kali disalahgunakan. seperti berbagai macam permainan dengan bola. Sebetulnya dalam bentuk-bentuk permainan. Gagasan ini tidak berarti bahwa permainan berkembang menjadi kebudayaan (meskipun ini terjadi juga. Maka. permainan adalah suatu human fenomen. mengenai hal ini kita harus mempunyai pandangan yang mendalam dan sehat. direndahkan. anakanak di pedesaan (dahulu) berkumpul dan bermain-main bersama sampai jauh malam. seperti misalnya dalam sandiwara). jiwa manusia menjadi bangkit.dia direbut sendiri. karena permainan mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Seperti kekayaan yang lain. yang sekarang hidup kembali dalam olimpiade internasional. Di manakah letak inti dan arti permainan? Lihatlah. Pertama. untuk menanggulangi devaluasi dan untuk memberi evaluasi . dengan kartu. yang menjadi syarat munculnya kebudayaan. maka ingatlah kita pada Olimpiade Yunani. Manusia tidak hanya bermain dengan gerak badan. mata. dia menjadi kuasa. Hal ini tampak dalam sejarah dan dalam kehidupan sehari-hari. permainan sudah dikultivir. Ikhtisar Fenomen insani permainan dibahas sekurang-kurangnya karena dua alasan penting. Jika terang bulan. sekarang pun kita masih melihat banyak permainan.

dan keperwiraan. jika dua unsur itu dilebih-lebihkan atau dihilangkan. Eros (kata Yunani) artinya cinta. yaitu agon. orang membuat nilai-nilai fiktif untuk mengukur kemenangan. eros-pun tidak mungkin ada. Di mana manusia mencari pamrih di situ rusaklah permainan. Agon menuntut juga supaya lawan bisa melawan. Di situ unsur agon sangat mencolok. maka orang main dengan sungguh-sungguh. Hanya kebenaranlah yang mampu membuat kita bebas dan merdeka. Berdasarkan agon. Eros tidak pernah terpisah dari kebesarannya. Untuk menyelami tabiat permainan. menyatukan bersama dengan . Tanpa agon tidak ada permainan. jadi . Jadi. maka kita bisa menentukan pedoman bagaimana seharusnya permainan itu supaya tetap permainan dan sungguh-sungguh bernilai... mengalahkan perlawanan. di mana manusia berkelahi dengan banteng. Nilai permainan tidak terletak di luar permainan. Jadi. Dua unsur ini kita sebut Eros dan Agon. untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. An sich tidak ada nilainya. toh tidak sungguh juga! Berdasarkan uraian di atas. Hal ini sangat tampak dalam permainan. Lihatlah manusia yang sedang asyik bermain (misalnya catur). unsur perjuangan dalam permainan. Berdasarkan agon. tanpa lawan. tetapi unsur yang luhur. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan. Agon-lah juga yang menjadi prinsip pembelahan para pemain menjadi dua partai. Berdasarkan agon pulalah. Eros-lah yang menyatukan manusia dengan permainannya. Juga dalam permainan yang dilakukan sendiri. maka setiap permainan berarti usaha mengalahkan perlawanan (resistance). Di situ manusia bisa ikut serta dan menikmati pertandingan dengan bahaya yang hanya fiktif. Di situ pemain itu bersatu dengan permainannya. Unsur agon inilah juga yang menyebabkan sepak bola sangat digemari. Tetapi masuknya bola dalam gawang itu dalam sepak bola dinyatakan sebagai nilai sehingga dikejar dengan mati-matian. Tanpa agon tidak ada permainan. dan dia merasa bahagia dalam kesatuan yang erat itu. agon adalah unsur "peperangan". kita harus melihat dua unsur pokok yang ada di dalamnya yang menyebabkan permainan menjadi permainan dan mengurangi/menghilangkan kemurnian permainan. permainan yang digunakan untuk judi bukan permainan lagi. dia melekatkan diri pada permainannya. itulah peranan eros. Agon artinya perjuangan. jika dalam permainan. membahagiakan karena penikmatan. Makin seimbang kekuatan lawan makin baiklah permainan.yang sewajarnya. kita memerlukan pandangan yang benar tentang permainan. Dalam permainan manusia harus tetap membebaskan diri. orang mengejar nilai-nilai fiktif. unsur ini ada. Nah. apakah bola masuk gawang atau tidak.

Di mana ketenggelaman itu terjadi di situ rusaklah permainan eros. orang boleh dan harus menggunakan kekuatan. Memang masih terdapat sisa-sisa dari suasana permainan dulu. sebab permainan bisa juga kejam dan berdarah. Mainlah dengan agon. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak-sungguhannya. Di bidang politik dalam negeri. bahkan dengan hebat. tetapi janganlah mempermainkan bahagia. umpamanya. Tapi dalam politik internasional. Nilai fiktif dalam permainan harus dipertahankan. tidaklah sungguh lagi Mainlah dengan eros. tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh. kesimpulan umum Huizinga adalah. Bermainlah untuk bahagia. Perang tidak lagi dinyatakan dulu. Adanya eros adalah niscaya. tetapi permainan jangan dipersungguh. Eros harus seimbang dengan permainan. peranan permainan dalam periode modern adalah sangat kecil. Propaganda dikerahkan untuk menyesatkan dan menipu bangsanya sendiri. Bukan karena agresi yang dilihat di mana-mana. dan tidak untuk nafsu. tetapi selamanya dalam permainan. Dan bangsa-bangsa . Padahal. Eros yang dilebih-lebihkan bukan lagi eros dari permainan yang murni. Di mana dua poin sama dengan dua ratus ribu rupiah di situ hilanglah permainan. masyarakat internasional haruslah suatu "masyarakat bermain". suasana permainan telah hilang sama sekali. akan menjadi permainan permainan. untuk permainan. sampai titik yang sangat menggelisahkan. Tapi dalam perang modem. ciri-ciri permainan sudah tidak ada lagi. tetapi janganlah mau dipermainkan agon. sebagaimana dibuktikan oleh sejarah. tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Barang siapa mempermainkan permainan. Demikian juga agon tidak boleh dibesar-besarkan menjadi kekerasan. Selanjutnya. Tetapi manusia tidak boleh tenggelam dalam eros. Huizinga masih melihat unsur-unsur permainan dalam sistem parlementer Inggris dan sistem dua partai di Amerika Serikat. Maka. Sistem hukum internasional harus didasarkan pada prinsip-prinsip dan ketetapanketetapan yang berfungsi sebagai aturan-aturan permainan. kebudayaan sejati berakar dalam permainan dan untuk dapat berkembang sampai kualitas yang tinggi dan luhur harus tetap bertautan dengan permainan. Agon adalah untuk memperkembangkan permainan. Tapi. Kebudayaan tidak lagi "dimainkan". Penduduk sipil turut menjadi korban juga. sehingga permainan yang dipersungguh.Permainan akan membantu manusia dalam mencari dan melaksanakan yang lain asal bernilai sebagai permainan. bagaimanapun. Jangan dijadikan kesungguhan. demikianlah pedomannya: Bermainlah dalam permainan. Salah satu yang terpenting adalah pacta sunt servanda (perjanjian-perjanjian harus ditepati).

berkebudayaan tinggi menarik diri dari masyarakat bangsa-bangsa dan tanpa tahu malu bertindak menurut prinsip pacta non sunt servanda (perjanjian-perjanjian tidak perlu ditepati). analisisnya pasti akan berakhir dengan nada lebih pesimistis lagi. Seandainya Huizinga pada waktu itu dapat menduga terjadinya perlombaan persenjataan nuklir yang timbul beberapa tahun kemudian dan cenderung meluas sampai mencakup angkasa luar. "Seperti akan diakui setiap orang. Di sini. menghilangnya unsur permainan dalam perang berarti bahwa mutu kebudayaan sangat menurun dan serentak juga berarti pelarian ke arah jurang kebinasaan". penulis tentu memaksudkan nasional-sosialisme Jerman. .

P.Psi..Sosialitas Modul X Sub Materi: • • • • • Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku Mengadakan Yang-Lain Korelasi Permasalahan & Pandanganpandangan Ikhtisar • Juneman. juneman@gmail.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W. S. C. 2008 .

Manusia Bekorelasi dengan "Yang-Lain" Istilah ”sosial” perlu ditepatkan artinya. artinya mempunyai dua aspek realitas yang tidak dapat diekstrimkan. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya. makhluk individu. 1992: 114).S O S I AL I TAS M A N U S I A I. Namun. Manusia sebagai realitas di samping sebagai makhluk yang multidimensional dan memiliki taraf yang bertingkat juga berstruktur bipolaritas. menurut hukum dan mekanisme sendiri). Sedangkan ‘yang tinggi’ mewarnai dan menatar yang rendah. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya. yaitu fisis-kemis. atau sebaliknya: berupa gaya/intensitas yang menghayati diri dalam wujud tertentu. Namun yang tinggi tidak dapat mengabaikan yang rendah begitu saja. jujur dan terbuka. Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi. Hubungan keempat taraf di dalam manusia ini dari satu pihak memiliki kesesuaian relatif (berkegiatan sendiri. atau daripada pohon dan hewan. Manusia di dalam kebaikan dan keburukan secara hakiki bersifat sosial. Namun juga memberikan ruang gerak dan kuasa penentuan bagi yang lebih tinggi. ‘Yang rendah’ mendasari yang tinggi dan mengarahkannya. termasuk manusia lainnya. ”berkorban”. sebenarnya di dalam bahasa-bahasa asing artinya netral saja. Keempat taraf itu semuanya mengambil bagian dalam kerohanian-kejasmanian manusia. biotis. Hal ini sejalan dengan suatu pemikiran yang mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang multidimensional (monopluralis) dan memiliki taraf yang bertingkat atau berjenjang. dan penyakit pun disebut sosial sebab selalu mempengaruhi dunia sekitar. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. psyke. Di dalam bahasa Indonesia. yang tidak dilihat secara sektoral dalam . human (Bakker. Ia akan atau diperingati oleh taraf yang lebih rendah. Semua taraf itu berupa dimensi-dimensi yang digayakan dan diorganisasi dari dalam. dll. tanpa terikat pada penghayatan ”baik” atau ”jahat”. Sesuai dengan pengartian strukturalnetral itu juga kejahatan bersifat ”sosial” sebab melibatkan ”yang-lain”. ”Sosial” berarti: ”melibatkan yang-lain”. kata ”sosial” hampir sama artinya dengan ”baik”. sehingga dalam manusia sendiri taraf rendah itu sudah lain daripada bahan pembangunan. Mereka merupakan bagian tinggi dan rendah. Istilah itu hanya menerangkan struktur hakiki saja. dari lain pihak mereka juga ‘berhubungan’ erat satu sama lain untuk mewujudkan satu manusia yang utuh.

religi atau budaya lainnya. Yang menjadi pertanyaan di sini: Apakah ada hubungan kausal (sebab-akibat) antara keduanya? Apakah masyarakat berkembang secara evolutif dari yang sederhana menuju yang kompleks? Sampai saat ini terdapat beberapa teori yang sulit didamaikan. Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politicon”. Ketiga. alami. Hubungan sosial ini terjadi lebih karena naluri primordial. yang dapat berkembang ke arah yang baik. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. yang prospektif. individualitas-sosialitas. Pertama. hubungan sosial yang terjadi ada dua sebab. manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. “no man is an island” kata sebuah pepatah. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. Sosialitas manusia merupakan salah satu unsur yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. eksteriorisasi-interiorisasi (Soerjanto. Contoh: hubungan yang dialami anak-anak berlainan dengan orang dewasa. sedang para filsuf eksistensialis pun menegaskan kembali secara baru eksistensi manusia sebagai Mitsein (Heidegger) atau Coexistence (Gabriel Marcel). tetapi secara integral dengan mengikutsertakan dan memperhatikan segala segi yang membentuk pribadi manusia dan yang mempengaruhinya. yaitu materialitas-spiritualitas. melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahirnya . kebersamaannya dengan yang lain. bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar. ikatan yang terjadi bersifat . transendensi-imanensi. Sosialitas manusia adalah sosialitas yang terbuka. makhluk sosial. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan filsafat sosial yang penting. Adapun ciri-ciri dasar sosialitas manusia oleh Sudiarja dalam Filsafat Sosial (1995: 4-5) itu dapat dijelaskan sebagai berikut. etnis. Meskipun demikian sebagaimana penjelasan di atas perlu diketahui bahwa hubungan sosial itu sangat kompleks dan meliputi taraf-taraf yang berbeda. sejauh anggota-anggota masyarakat menyadari prospek dan bertanggungjawab atasnya. penuh dan lebih sempurna. Kedua. Manusia tidak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya. Oleh karena itu hubungan sosial ini lebih bersifat emosional. sosialitas yang terkait dengan kodrat manusia mengarah pada kemanusiaan yang lebih luas. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak teringkari. demikian juga pengalaman sosial orang-orang primitif berlainan dengan orang-orang modern. 1989:55-56). Memang dapat dikatakan bahwa dalam pengalaman hidupnya. Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia.salah satu aspek kehidupannya. sosialitas manusia atau hubungan antarmanusia mempunyai dimensi yang sangat luas. yaitu : (1) hubungan sosial terjadi karena ikatan yang akrab entah karena kesamaan kelas.

menikmati. penakut. tukang becak. Baru di dalam situasi dan dalam relasi dengan yang-lain. rohaniwan. pelayan. pedagang. pencuri. selalu merupakan bagian dari dunia-dunia tertentu. tukang kayu. atau barang benda. toh saya pikirkan menurut aspek. dan menerima mereka menurut arti khusus yang-lain itu. Andaikata saya hanya memikirkan diri sendiri. anggota keluarga. Memang ”aku” dapat mengundurkan diri dari salah satu ”dunia” tertentu. Aku diartikan oleh yang-lain. Aku memahami diri sebagai mahasiswa. mendengar. diplomat. misalnya dari dunia mahasiswa. Bukan aku berada dulu dan menjadi manusia dulu baru kemudian aku masuk dunia. Tidak ada ”aku” yang murni. yang mengandaikan yang-lain itu. guru. aku mendapat kedudukan dan arti dan peranan. kesadaranku tentang diriku sebagai substansi dan subjek tertentu juga menuntut sebagai syarat mutlak (untuk kesadaran itu) adanya yang-lain yang tertentu pula. ikatan yang terjadi bersifat “dari luar”. Juga kegiatanku. dan melibatkan yang-lain orang. Jadi. Pada umumnya. Aku Diadakan oleh Yang-Lain Aku tidak lepas dari yang lain. hewan. II. maka saya juga (dapat) . Pemahamanku akan artiku tergantung pada yang-lain. hanya sejauh saya mengakui dan mengamini yang lain. Dalam sosiologi kelompok sosial yang pertama disebut “Paguyuban” dan kelompok sosial yang kedua disebut “Patembayan”. Semua aspek itu menghubungkan saya dengan lingkungan yang lebih luas. Aku selalu di dalam situasi tertentu. sikap. misalnya melihat. orang baik. Aku hanya memahami diri begini-begitu di dalam konfrontasi dengan ”yang-lain”. yang dari dirinya masih memungkinkan berbagai macam bentuk hubungan sosial. kegiatan konkret. misalnya dunia karyawan. (2) Hubungan sosial terjadi karena saling berkebutuhan satu terhadap yang lain. Semua kesadaranku adalah kesadaran-bersama-dengan-yang-lain. Bukan. Sebentar saja memikirkan diri lepas atu tersekat dari yang-lain itu tidak mungkin. merasa – itu semua mengarahkan saya kepada yang-lain. Semua fenomen konkret yang saya sadari (nyata atau khayalan) menghubungkan saya dengan yang-lain. aku dapat memahami diri dan mengakui diri. Hubungan sosial ini lebih bersifat rasional dan menghasilkan pembagian sosial dalam fungsi-fungsi yang teratur. hanya karena saya masuk suatu kalangan atau ”dunia” tertentu.“dari dalam” anggota-anggota kelompok sosial itu. Hanya karena mempunyai arti untuk yang-lain. kodrat sosial manusia sebagai kenyataan kebersamaan harus tetap dipandang dalam kerangka “otonomi dan kebebasan” manusia. dan mengadakan hubungan. misalnya sebagai mahasiswa. Namun. Keempat. menyentuh. seketika itu juga saya ditampung oleh ”dunia” lain.

Mereka memiliki diri sesuai dengan tempat dan peranan yang saya berikan kepadanya. Saya seluruhnya dicap oleh pengakuan terhadap yang-lain dan oleh pengakuan yang-lain terhadap aku. Tanpa itu. sudah mustahil. Andaikata aku tidak ada. ist keine Welt da”. Aku berusaha memahami beradaku. mereka tidak saya kuasai. suasana rumah seperti sekarang tidak ada. Jikalau saya sebagai mahasiswa tidak mengakui dosen. menurut arti tepat dan menurut kelainannya. mereka mendekati saya dari luar saya. tanpa manusia. Mengakui itu ialah sifat rendah hati (antropologis). Sevav mereka memberikan nama dan tempat kepadaku. aku juga menerima ketertentuan. saya tahu ketergantunganku itu. dan oleh ”respons” dari ”yang-lain” terhadap saya ini. Jikalau aku bukan mahasiswa dan/atau pelayan dan/atau penonton dan/atau pekerja – jadi jika saya bukan apa-apa – maka saya tidak ada. Andaikata ”aku” tidak ada. dosen. dunia tidak tampak. Adanya dunia saya tentukan. ”Wenn kein Dasein existiert. maka saya ada. Andaikata ”aku” tidak ada. Sebaliknya. atau dosen tidak mengakui saya sebagai mahasiswa. dibayangkan saja keadaan seperti itu. saya menjadi nol. rumah. lalu toh ada dunia? Hipotesis ini tanpa guna dan terarah pada die naturliche Einstellung. sebagai pemberian dan karunia. Yang-lain tergantung pada ”aku” menurut adanya yang konkret. maka saya juga tidak dapat memberi diri gelar mahasiswa. aku justru yang bertanya kini-sini (hic et nunc). maka orangtuaku tidak ada. Aku Mengadakan Yang-Lain Tanpa ”aku” tidak ada yang-lain. maka seluruh duniaku tidak ada juga. Hanya sejauh saya mengakui orangtua. memberikan penghargaan dan fungsi. ”Aku” berada dengan mutlak. Kalau tidak.mengakui diri. Hanya dengan menerima ketertentuan di dalam yang-lain. Dapat diajukan keberatan kalau ”aku” tidak ada. ”The world exists in the measure in which I have relations with it” (Einckelmans de Cletu. Satu kesan pun tidak ada. sebab seluruhnya diwarnai dan diresapi oleh kehadiranku. sejauh saya menerima manusia dan semua sekitar saya justru sebagai yang-lain. Mereka seakan-akan menciptakan aku dengan pengakuan mereka yang otonom. negara. atau sebagai hukuman dan kutukan. Saya ada. mereka menerima kesendiriannya dan pengakuan-diri dari saya. pengakuan mereka memberikan kepadaku ”aku” ada. The world of persons). dan janganlah . pengakuan akan ”aku” atau identitasku mengabur dan kehilangan batas-batasnya yang jelas dan yang dapat ditangkap. saya tidak sadar akan diriku sebagai mahasiswa. pertanyaan ini tidak saya pedulikan. Adaku saya terima dari adanya yang-lain itu. mereka tidak keluar dari diri saya. teman. III. Heidegger mengatakan.

Kerangka ini . Tidak ada dunia yang dapat berfungsi sebagai wasit netral dan serba objektif. sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. begitu jauh pula berhubungan timbal balik. perjumpaan manusia satu dengan manusia yang lain terjadi berkat adanya perantara atau medium. dan saling mengadakan. IV. yang tertutup pada diri sendiri. Bertanya pun mengenai dunia itu. Tidak ada suatu dunia ”an-sich”. yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkauan manusia. maka apakah yang saya ketahui tentang suatu dunia? Tidak terdapat dunia umum. dengan saling memberikan arti dan nilai. Keterbukaan sosialitas manusia sejalan dengan ciri-ciri sosialitas sebagaimana tersebut di atas sebenarnya juga mengundang persoalan mengenai kemungkinan adanya “sesuatu” di luar dunia ini. walaupun aku tidak pernah ada. V. “Yang Transenden”. Fakta yang sungguh-sungguh ada. bukan hanya sebagai “yang lain” (dari dunia ini) melainkan sebagai sesuatu “Yang Lain sama sekali” yang tak teraih oleh persepsi inderawi atau kemampuan fisik manusia. Terdapat 2 (dua) medium perjumpaan manusia: (1) medium tubuh/dunia fisik. juga memuat arti dan nilai bagiku. Sosialitas manusia dalam pengertian kerangka medium kedua dapat dijelaskan sebagai berikut. 1995: 5-6). Yanglain selalu telah ada-untuk-aku. manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan yang lain. paling primitif. Tanpa tubuh. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia. atau alamnya dimana manusia hidup dan bergaul. Tubuh manusia merupakan medium awal. Medium pertama merupakan medium yang teraih langsung oleh manusia. yang dapat dipakai sebagai patokan mutlak untuk segala macam pengertian dan penghargaan. Atau dengan mengungkapkannya secara lebih radikal lagi: yang identik-di-dalam-distingsi dan disting-di-dalam-identitas. memiliki arti dan nilai ”untuk-aku”. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia. yaitu “sesuatu” yang merangkum dunia ini. (2) Yang Transenden (Sudiarja. Bersama-sama merupakan keseluruhan pusat-pusat yang berotonomi-di-dalam-korelasi dan berkorelasi-didalam-otonomi. sejauh merupakan substansi yang berdikari. Misalnya ”aku” tidak ada. Korelasi ”Aku” dan yang-lain (entah manusia entah bukan). sudah mustahil. yang tetap ada pula. dan menerima itu dari saya. Permasalahan & Pandangan-pandangan Berdasarkan pengalaman konkrit yang dapat kita lihat dan alami sebagai manusia.membayangkan ”aku” tidak ada.

1993: 36-37). Emmanuel Levinas. Hubungan yang sejati adalah hubungan aku-engkau (subjek-subjek). Sosialitas sebagaimana diterangkan di atas menggambarkan bahwa secara hakiki manusia selalu hidup dalam kebersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. yaitu sebagaimana yang diekspresikan dalam sains modern dan masyarakat industri (Dwi Siswanto. liberalisme. ia menempatkan hubungan dengan orang lain dalam situasi konkrit. yaitu hubungan subjek-subjek dan hubungan subjek-objek. . Gabriel Marcel (1889-1973): Titik pangkal pemikirannya. Kedua hubungan itu timbal-balik. dan lain sebagainya. kehadiran “engkau” menandai hubungan “aku-engkau”.menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya. kolektivisme. Aliran-aliran itu antara lain: Eksistensialisme. Inti kehidupan manusia itu mencakup keadaan hati. Berdasarkan dua kata itu muncullah dua bentuk hubungan. awal hubungan yang sejati. Namun kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. aktif dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut. personalisme. Perjumpaan. Karena “engkau” hadir. Aliran ini memberi tekanan kepada inti kehidupan manusia dan pengalamannya. antara lain: Martin Buber. membaharui serta mengabdikan hubungan “akuengkau” di antara manusia (Lanur. Filsuf eksistensialis yang secara menonjol berbicara masalah sosialitas (hubungan antar manusia). Dalam uraian berikut secara khusus dibahas sosialitas manusia itu dari tinjauan eksistensialisme. yang mendasari. totalitarisme. 2001: 32). Jean-Paul Sartre. Namun bagaimanakah sifat kebersamaan itu? Dalam sejarah pemikiran filsafat terdapat pelbagai jawaban yang diberikan oleh para pemikir (filsuf) dan jawaban itu tak jarang terjadi kontroversi antara yang satu dengan yang lain oleh karena titik tolak dan anggapan yang sangat berbeda. kekhawatiran dan keputusannya. yakni kesadarannya yang langsung dan subjektif. Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menegaskan bahwa tidak ada alam. alam dari subjektivitas manusia. Gabriel Marcel menegaskan. pertemuan merupakan permulaan. Untuk itu aliran ini menentang segala bentuk objektivitas dan impersonalitas dalam bidang yang mengenai manusia. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai aliran. maka terbinalah hubungan “aku-engkau”. “Engkau” itu nyata dan dinamis. Di dalam hubungan yang sejati itu “engkau” hadir. Di antara para filsuf eksistensialis pun dalam merumuskan juga tak jarang terjadi kontroversi. Martin Buber (1878-1965): Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah dua kata dasar “aku-engkau” dan “aku-itu”. Aliran ini merumuskan hubungan manusia secara radikal. sosialisme. selain alam manusia. Gabriel Marcel. individualisme. “Engkau” yang demikian mengacu kepada “engkau yang abadi”.

Namun eksistensi itu lebih dari sekedar pengalaman bertubuh saja. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Hubungan ini bersifat asimetris. Artinya. 1993: 37). apabila manusia sampai pada cinta itu. Hidup bersama itu mempunyai dua ciri. Tetapi hubungan itu tidak bersifat “badani” belaka. Eksistensi merupakan suatu bentuk keadaan berdiri sendiri. bahkan merangkum hubungan dengan alam dan Allah. Jadi. Pandangan antara Martin Buber dan Gabriel Marcel di atas pada prinsipnya tidak jauh berbeda. pada doktrinnya tentang situasi etis. Dalam hal ini. cinta dalam pandangan Gabriel Marcel ini “mengkonstitusikan” hubungan yang sejati antara dua pribadi. Eksistensi yang demikian memungkinkan adanya hubungan. Hubungan itu harus ada dasar yang lebih dalam. Hubungan manusia yang sejati itu dilukiskan sebagai perjumpaan antara dua pribadi yang terbuka . Sebaliknya hubungan tersebut lebih dari itu. yang digerakkan oleh cinta. maka eksistensinya mencapai puncaknya (Lanur. Lévinas memberikan pandangan khas . Mereka dalam pandangannya menggambarkan bahwa hubungan AkuEngkau yang akrab dan saling percaya merupakan dasar sosialitas yang sejati. 1993: 36). tanpa syarat dan bebas. dan (2) cinta. Pelaksanaan cinta juga merupakan perwujudan eksistensi manusia sendiri. hanya terarah kepada yang lain saja dan bukan timbal-balik (Lanur. Emmanuel Lévinas: Pandangan Lévinas tentang sosialitas atau hubungan antar manusia berdasarkan pada keaslian filsafatnya wajah yang terletak wajah. Pengalaman dasar yang dapat menjadi titik pangkal ajaran tentang hubungan dengan orang lain ialah berada di dunia ini. dalam dengan Hubungan dengan Yang lain adalah hubungan etis.dengan menerima situasi konkrit itu pemikiran filsafati tidak boleh dilepaskan dari pengalaman dasar manusia. Ciri eksistensi manusia ialah kenyataan bahwa manusia bertubuh. Lebih lanjut ia mengatakan. Artinya. yaitu: (1) eksistensi manusia sendiri. Pendekatan pandangan kedua filsuf tersebut lebih bersifat metafisik dengan kepentingan pada sifat keterbukaan sosialitas manusia. hidup di dunia adalah hidup bersama.

yaitu Tuhan. manusia pun “ada untuk yang lain” (Being-for-others). Atau berdiri sebagai subjek berarti berada terhadap orang lain. Ia serta merta merasakan kejatuhannya dalam tatapan orang lain yang tampil di depannya. bahwa hubungan dengan orang lain sekaligus adalah peristiwa pewahyuan dari “dia yang sama sekali lain”. Pendekatan . pergaulan dengan orang lain itu adalah konflik. Konflik adalah inti setiap relasi intersubjektif (Bertens. 1985: 322). Singkatnya. mengobjektivikasikan dirinya ke dalam pandangan subjek yang menatapnya. Dengan kata lain. permusuhan. hakikat bersama. tampaklah suatu Transendental. 1956: 222). Jean-Paul Sartre (1905-1980). selalu tinggal tersendiri mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. yang merupakan dua pangkal. Artinya. Ia berpendapat kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. Pada orang lain. manusia selalu (berusaha) merendahkan orang lain. sebagai suatu totalitas. mau menjadikan benda demi kepentingan dan kepuasannya sendiri. Jadi “ada” berarti “ada bersama”. dengan demikian hubungan antar manusia merupakan interface. Namun. yang tidak dapat diasalkan dari totalitas. manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia. Manusia yang sedang menghayati kesadaran dan kebebasannya sebagai subjek sekaligus objek bagi orang lain. suatu fenomen yang sama sekali unik. Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. manusia senantiasa berusaha menciptakan orang lain sebagai objek bagi dirinya. Kita memerlukan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain” (Sartre. Lévinas menolak segala sesuatu yang berbau “menguasai” orang lain. Ia juga menolak usaha merangkum orang lain dalam bentuk keseluruhan. Kedudukan orang tidak dapat lepas dari yang lain. Namun masing-masing subjek berusaha mempertahankan diri tetap tidak mau menjadi objek. hanya dengan mengalami kebersamaan dengan manusia lain. bahwa manusia dalam kesadaran dan kebebasannya senantiasa (mau tak mau tetap) akan berhadapan dengan orang lain sesamanya. an Essay on Phenomenological Ontology (1956) menegaskan. pertarungan yang terus-menerus. karena bagi Sartre komunikasi atau setiap pertemuan dengan orang lain itu merupakan ancaman bagi eksistensinya. setiap pergaulan dan pertemuan dengan orang lain.tentang orang lain sebagai suatu fenomen sui generis. terlebih-lebih anggapan yang menganggap orang lain sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri. Bagi Sartre sarana terjadinya konflik adalah tatapan (le regard). bagi Sartre dasar. Lebih lanjut Lévinas menyatakan. ialah hubungan antar wajah dengan wajah yang saling bertatapan. “Kita hanyalah kita karena hubungan kita dengan orang lain. Setiap subjek berusaha hendak menjadikan yang lain sebagai objek (benda-yang-tak-sadar). Dalam semua kebersamaan.

Sebagai konsekuensinya. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis. Konkritnya. Kesejahteraan umum itu merupakan aspek formal dari setiap kehidupan sosial. Fungsi itu wajar dan sebaik mungkin (moral). setiap pribadi individu harus mempromosikan kemanusiaan orang lain.pandangan Sartre tersebut lebih bersifat empiris-positif dan memberatkan pada kenyataan sosialitas yang dirasakan tetapi lebih menyempit pada hubungan manusia belaka. Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain. melainkan juga “kooperans”. Solidaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya kepedulian setiap pribadi individu (keluarga wajib) untuk memberikan sumbangan kepada kelompok (masyarakat). untuk menjadi manusia seoptimal mungkin. . Subsidiaritas dirumuskan sebagai keadilan distributif. yang saling mempengaruhi dari luar. kesediaan membela kehormatan masyarakat. manusia hanya menjadi diri sejauh ia dalam korelasi dengan yang-lain. dalam kehidupan bersama (masyarakat) harus terdapat keteraturan antara anggota masyarakat. terutama dengan manusia lain. Dalam korelasi itu. masing-masing anggota menurut kemampuan dan kesanggupannya. yang dapat dilaksanakannya dengan tanggung jawab dan inisiatif (Suseno. 1988: 307-308. 1993: 8). saling memajukan dan saling memperkembangkan . Pelaksanaan prinsip solidaritas dan subsidiaritas itu akan menjadikan seluruh warga dalam masyarakat mencapai kesejahteraan umum. seperti rasa memiliki kelompok. Kesejahteraan umum merupakan aspirasi dan inspirasi persona-individu dan kelompok yang selalu diusahakan dalam masyarakat. Keteraturan itu diatur dengan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas”. Bakker. Sumbangan itu berwujud tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama (umum). melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. kesejahteraan seluruh warga hidup bersama. Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer. berarti pengembangan persona-individu (keluarga) dan kelompok (masyarakat). Solidaritas dirumuskan sebagai keadilan sosial. Setiap manusia menjadi bertanggung jawab bagi sesama. Manusia itu pada dasarnya tidak hanya “ko-eksistens”. Pelaksanaan prinsip-prinsip itu. dan atau keluarga. rasa wajib berpartisipasi di dalamnya. Subsidiaritas adalah prinsip yang menggambarkan sikap adanya rasa wajib bagi kelompok (masyarakat) untuk mengakui dan memberikan tempat dan fungsi kepada masing-masing anggota (pribadi-individu). Jadi otonomi dari masing-masing pribadi individu (keluarga) yang merupakan bagian dari masyarakat tidak akan hilang. Dengan kata lain.

demikianlah juga sosialitas transendental itu tidak ada di luar atau di samping fenomen atau konkritisasinya. Sosialitas fenomenal atau sosialitas-sebagai-fenomen itu adalah dialektik dari sosialitas transendental. kesosialan yang secara kodrati melekat pada setiap manusia menggambarkan bahwa pada saat yang sama manusia adalah makhluk yang berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain. akan tetapi terlaksana dalam tiap-tiap realisasi dialektis. apakah sosialitas itu? Sosialitas dapat dibedakan menjadi dua. dengan mana kita menjalankan sosialitas transendental. bahwa sosialitas transendental itu ada tersendiri. Ikhtisar Berdasarkan paparan di atas dapatlah ditunjuk hakikat dan dasar yang terdalam dari sosialitas. seperti persona juga tidak terbatas dalam caranya menampakkan diri. organisasi sosial (masyarakat. artinya tidak mungkin dihabiskan dengan ekspresi mana atau berapapun juga. Ia mempunyai “nama” sendiri-sendiri. Sedangkan sosialitas fenomenal adalah pengejawantahan dari sosialitas transendental. akan tetapi mem-badan. potensialitas dan keterbatasan. Sosialitas transendental adalah “di atas” segala fenomen. Hal ini dapat disamakan dengan cintakasih manusia. Tetapi dalam pelaksanaan yang konkrit setiap manusia (orang) memiliki keunikan sendiri sebagai individu: ia memiliki kemampuan. Kesosialan manusia mewujudkan diri dalam kebudayaan: bahasa sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Sosialitas transendental adalah persona-sebagai-peng-ada-bersama. Sosialitas fenomenal adalah bentuk-bentuk konkrit. Pertama. atau sepanjang bersatu dengan lain-lain pribadi. sejalan dengan paparan kedua dan tujuan hidup manusia dalam masyarakat-negara dapatlah disimpulkan. Ketiga. Seperti persona tidak ada di samping badan. Yang juga “immanent” (artinya terlaksana) dalam tiap-tiap ekspresinya. Sosialitas transendental jangan dipandang seolah-olah di samping sosialitas fenomenal. terpisah. Kedua.VI. Manusia mampu mengetahui dirinya lewat manusia lain. pranata-pranata sosial. negara dan berbagai bentuk kerjasama). solidaritas dan subsidiaritas. akan tetapi juga “trancendent”. dan hanya dapat mewujudkan dirinya dengan bekerjasama dengan manusia lain. bahwa prinsip dasar yang ideal dalam sosialitas (hubungan antarmanusia) adalah cinta-kasih. Akan tetapi tidak pernahlah akan habis dengan seribu satu realisasi. Semuanya ini menjadikannya khas. Istilah transendental tidak berarti. yakni sosialitas transendental dan sosialitas fenomenal. . Dengan kata lain dapat dikatakan sosialitas transendental adalah persona atau pribadi sendiri dipandang menurut hubungannya dengan sesama pribadi.

kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkan menuju ke pusat hidup manusia.Perlu dicatat di sini bahwa Driyarkara menyoroti eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: Manusia adalah kawan bagi sesamanya. sebuah sosialitas homo homini lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. yang saling membenci. Karena manusia dalam eksistensinya merupakan titik sentral pemikiran Driyarkara. Hal ini hanya mungkin kalau bersumberkan pada "cinta mendidik". pemanusiaannya menjadi proses yang penting. Baginya. pendidikan memang merupakan proses pemanusiaan manusia muda agar bisa bertumbuh menjadi subjek paripurna. . Sosialitas manusia ini oleh Driyarkara dicantumkan sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan. yaitu cinta yang mau turun ke bawah dari pendidik ke pendidik (Driyarkara tidak memakai istilah "terdidik") untuk mengangkat pendidik yang muda (yang sedang menjadi) itu menjadi subjek dewasa. yaitu Tuhan.

S. 2008 ..Psi.P. C.Historisitas Modul XI Sub Materi: • "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Arti Modern Istilah "Historisitas" Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Ikhtisar • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.W. juneman@gmail.

H I S TO R I S I TAS M A N U S I A Kata “sejarah” ternyata mempunyai sejarah juga. Dari situ berkembang sebagai arti berikut “pengetahuan”. hendak diperkenalkan paham yang khas modern ini. Aristoteles menggunakan historia dalam judul salah satu bukunya dalam arti “kumpulan bahanbahan tentang tema tertentu”. Tapi dalam kamus yang sama istilah historisitas belum dicantumkan. Ini sudah pertanda bahwa di sini kita berjumpa dengan sebuah pengertian yang masih agak baru. sejarah itu belum dituliskan secara mendalam dan lengkap untuk kata Indonesia “sejarah”. berbeda dengan philosophia (filsafat) yang berbicara tentang yang umum. Dan tendensi terakhir ini menjadi semakin kuat. Bertentangan dengan uraian yang memberi penjelasan sistematis. Dalam abad ke18 arti yang sama masih dapat ditemukan. I. "Histori" dan "Historisitas" Melawan "Nasib" dan "Fatalisme" Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa “historisitas” (Inggris: historicity) merupakan prerogatif manusia. artinya “penyelidikan” atau pemeriksaan”. Paham ini diintroduksi dalam filsafat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan dikembangkan lebih lanjut terutama oleh Martin Heidegger (1889-1976). Demikian pada Plato. Ia membedakan antara historia naturalis yang mempelajari data-data alamiah seperti yang menyangkut tumbuhan serta binatang dan historia civilis yang membahas tentang masyarakat dan negara. dan historia. tapi di situ sudah tampak tekanan lebih jelas pada sifat kronologis dari data-data yang dipelajari. sehingga kata history dalam zaman modern secara umum dikaitkan dengan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di masa silam. Dalam modul ini. Francis Bacon. tapi untuk kata Inggris history (dan kata-kata yang berkaitan dengannya seperti histoire dalam bahasa Prancis atau storia dalam bahasa Italia) sejarah itu sudah sering dilukiskan. Informasi tentang perkembangan yang dilukiskan secara singkat ini diperoleh dari sebuah kamus filsafat berbahasa Prancis yang kenamaan. umpamanya. Bagi filsuffilsuf seperti mereka historisitas merupakan salah satu ciri khas eksistensi manusia. Hanya eksistensi manusialah yang ditandai oleh . masih melanjutkan pengertian Aristoteles itu dengan mengatakan bahwa historia (ia menulis dalam bahasa Latin) menyangkut pengetahuan tentang yang individual. Dan memang demikian. Filsuf Inggris. artinya “menyelidiki. Sepanjang diketahui. yang hidup akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. History berasal dari bahasa Yunani historein.

di samping “sastra”. Hanya manusia merupakan suatu makhluk historis. pada bidang infrahuman tidak pernah terjadi sesuatu yang . dalam kalimat terakhir kata “sejarah” dipakai dalam dua arti. Buku-buku tentang sejarah Indonesia hanya mungkin karena bangsa Indonesia telah mengalami sejarah yang kemudian dapat dituliskan. Di situ tidak ada peristiwa-peristiwa menurut arti sepenuhnya. Ia bukan saja produk peredaran waktu. namun akhirnya sejarah adalah buah hasil proyek-proyek dan rancanganrancangan manusia. Manusia bukan saja obyek sejarah. ia berperanan sebagai pelaku dan pejuang dalam sejarah. Di lain pihak kata yang sama menunjuk kepada peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung itu sendiri. Tapi sama sekali tidak mustahil untuk mempelajari sejarah arsitektur. Tentang cara manusia membuat tempat tinggalnya. Tentang binatang atau alam jasmani tidak ada sejarah. Untuk itu dipakai juga istilah “historiografi”. melainkan juga subyeknya. Dan justru karena manusia adalah subyek sejarah. Mustahillah mengadakan studi sejarah tentang cara lebah atau burung membuat sarangnya di abad-abad silam. Arti kedua ini lebih fundamental daripada arti pertama. Dalam peribahasa Prancis. bila tema ini ditelusuri sepanjang sejarah. Arti ini dimaksudkan bila dalam toko buku atau perpustakaan kita melihat rak-rak buku dengan papan “sejarah”. Ilmu sejarah hanya mungkin. Manusia tidak selalu membangun rumahnya dengan cara yang sama. Hanya tentang manusia sejarah dituliskan. ia dapat menjadi juga obyek sejarah. Kalau dalam filsafat modern banyak dibicarakan tentang historisitas manusia. Lebah sudah ribuan tahun lamanya membangun sarangnya dengan cara yang selalu sama. kita melihat perkembangan-perkembangan yang mencolok. Perlu diperhatikan. l’historie se répéte (sejarah terulang kembali) kata “sejarah” jelas tidak berarti “ilmu sejarah”. tapi ia juga mengadakan sejarah. bila ada kejadian-kejadian yang pernah berlangsung.historisitas. Hanya tentang manusia dilukiskan suatu sejarah. Di satu pihak kata itu menunjuk kepada “sejarah yang dicatat” atau “sejarah yang tersurat”. Sejarah dalam arti ini adalah pencatatan atau studi tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung dalam waktu lampau. Ilmu sejarah merupakan pengolahan metodis dan sistematis dari sejarah dalam arti ini. karena hanya dialah yang mengadakan sejarah. Yang dimaksudkan dengannya ialah bahwa kejadian-kejadian dari masa silam sering terulang kembali menurut pola-pola yang sama. Atau dengan kata lain lagi. Dalam sejarah tentu juga terdapat banyak faktor yang tidak bergantung pada kehendak manusia. Manusia tidak hidup pasif di tengah peristiwa-peristiwa bersejarah. dan sebagainya. maka yang dimaksudkan adalah unsur subyektif ini. “teknologi”. Mengapa tidak mungkin sejarah tentang binatang atau alam jasmani? Karena dalam bidang infrahuman atau bawah-manusiawi sebenarnya tidak ada sesuatu yang “terjadi”.

Sekarang mungkin ada yang menyatakan: Tetapi bagaimana halnya dengan evolusi dalam alam? Kalau dipandang dari segi evolusi. Tentu saja. bukankah harus diakui bahwa juga di bidang infrahuman betul-betul terjadi sesuatu yang baru? Sebagaimana telah diperlihatkan oleh teori evolusi. sudah jelas dalam alam infrahuman pun terjadi sesuatu yang baru.baru. di bidang infrahuman tidak ada historisitas. hanya obyek dari penyelidikan ilmu alam saja. pernah tidak ada makhluk hidup dan pada saat tertentu makhluk hidup timbul. hanya ada perkembangan. Hal itu dapat menjadi lebih jelas. Karena. belum pernah manusia begitu peka untuk dimensi historis dalam eksistensinya seperti sekarang ini. Tentu saja. Hal-hal semacam itu ditandai suatu keajekan yang dapat dipastikan. Air pasti akan mendidih pada 100 derajat. Ini bukan sesuatu yang khusus bagi zaman kita saja. Tentang hal serupa itu bisa diadakan ramalan yang tidak pernah meleset. Dalam dunia binatang dan dunia jasmani pada umumnya segalanya bereaksi dengan cara yang sama. waktu sekarang. Disangka. Dia satu-satunya makhluk yang sanggup menghasilkan sesuatu yang baru. besok dan lusa dan selama-lamanya. Evolusi itu tidak lain daripada bertumbuh dan berkembang dari sesuatu yang sudah ada secara virtual. Dalam bidang ini kita dapat mengabstraksikan waktu lampau. Hal-hal infrahuman tidak merupakan obyek dari ilmu sejarah. Jadi. kesimpulan ini tidak benar. pada waktu tertentu matahari terbit. Manusia ditandai historisitas. pada zaman kita sekarang manusia lebih insaf akan historisitas itu daripada di masa silam. pada musim tertentu burung-burung bersarang. teori yang dalam ilmu pengetahuan sudah diterima secara umum (kendatipun tidak boleh dilupakan bahwa teori itu sendiri masih dalam proses evolusi). Historisitas berkaitan erat dengan kreativitas dan inventivitas. Di situ segalanya berlangsung secara deterministis. Manusia bisa mengambil sikap otonom terhadap dunia sekitarnya dan situasi di mana ia berada. Tidak dapat disangkal. historisitas tidak selalu dialami dengan cara yang sama dalam setiap periode sejarah. bila menyoroti – meski dengan selayang pandang saja – beberapa periode yang berkaitan dengan sejarah filsafat Barat: . bukan bermaksud menolak teori evolusi. Kendati demikian. Air selalu mendidih bila dipanaskan sampai 100 derajat. Malah dapat dikatakan. dan waktu depan. seperti bunga sudah mengandung buah yang akan datang atau dalam biji sudah terkandung pohon mangga yang akan tumbuh daripadanya. Kiranya sudah jelas bahwa kebebasan adalah kunci untuk memahami keistimewaan manusia itu. historisitas selalu sudah merupakan ciri khas eksistensi manusiawi.

Pandangan Yahudi tentang sejarah itu disebarluaskan oleh kebudayaan Kristiani dan dalam Abad Pertengahan sudah mendarah daging. sebagaimana telah mereka saksikan mengenai pahlawan-pahlawan mitologi di pentas. telah terjadi. adalah mendamaikan dia dengan nasibnya. Karena itu tidak ada alasan untuk menakuti kematian. Para penonton harus sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain daripada menerima nasib serupa itu dengan ketenangan hati. yang banyak digemari orang Yunani. ditakdirkan begitu saja nasib malang yang telah menimpa dirinya. manusia adalah bijaksana. ya. Paham “Suratan nasib” yang kafir itu pada waktu itu sudah diganti oleh “Penyelenggaraan Ilahi” (Providentia Divina). Seluruh panadangan kuno itu agaknya dilatarbelakangi kecenderungan spontan manusia untuk menerapkan pada masa depan yang berlaku pada masa lampau. Keyakinan itu meresapi seluruh masyarakat dan kebudayaan Yunani kuno. Tidak ada orang yang dapat mengubah hal itu. Tapi salahnya ialah bahwa hal yang sama tidak berlaku bagi kejadian-kejadian yang akan datang. namun paham kedua ini masih sering memperlihatkan ciri- . Walaupun dalam Abad Pertengahan perspektif tentang sejarah sudah menjadi lain sama sekali. Tinggal saja ia menerima nasibnya dengan hati yang tenang dan tabah. bila melepaskan diri dari emosi serta nafsu dan mengakui bahwa segala-galanya berlangsung dengan keharusan mutlak. diharapkan para penonton telah mencapai catharsis (pembersihan batin) dengan menerima nasib mereka tanpa memberontak. Orang bijaksana akan menghadapi maut dengan sikap tak acuh. Yang terjadi harus terjadi demikian dan tidak ada orang yang dapat meloloskan diri dari Suratan Nasib. Pandangan siklis tentang sejarah yang menandai semua kebudayaan kuno (termasuk juga kebudayaan Yunani). karena kepercayaan akan Moira (Suratan Nasib) begitu kuat. Pada masa Yunani kuno keinsafan akan historisitas belum dapat tampil ke permukaan. Untuk Oidipus. Setelah pertunjukkan tragedi selesai. Menurut pendapat Mazhab Stoa. Mereka menarik konsekuensi etis dari kepercayaan itu. umpamanya. b. Namun demikian. Apa yang telah terjadi. Misalnya. umpamanya. Di bidang filsafat. salah satu tujuan drama targedi. Peristiwa-peristiwa dari masa lampau tidak dapat dihindarkan lagi. manusia tidak diberi peranan betul-betul aktif dalam sejarah.a. namun historisitas belum tampil ke muka. kepercayaan Yunani kuno akan Suratan Nasib itu diungkapkan paling jelas dalam aliran Stoa. Segala sesuatu yang terjadi ditakdirkan bagi manusia dengan suatu keharusan mutlak. pada waktu itu sudah diganti dengan konsepsi linear: sejarah mempunyai titik tolak (penciptaan) dan titik akhir (hari kaiamat). Itu semua tentu benar.

Ia menegaskan bahwa hukum berlaku etsi Deus non daretur (seakan Allah tidak ada). sehingga astronomi modern menjadi model bagi seluruh ilmu alam baru. Salah satu ciri khas zaman modern ialah diakuinya otonomi tahap profan terhadap tahap sakral. Ilmuwan Italia itu mengalami kesulitan-kesulitan dengan Gereja karena pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi pusat jagat raya dan bukan bumi. Suatu bidang lain lagi adalah hukum. Mungkin sikap pasif itu disebabkan. Kesadaran akan otonomi rasio manusiawi dan otonomi bidang profan pada umumnya membuka kemungkinan untuk mengatasi fatalisme yang selama itu . Perlu tempo cukup lama. Apa yang dialami manusia tidak jarang langsung ditafsirkan sebagai hukuman atau pahala dari Tuhan. Karena tidak berdaya. Dan apa yag berlaku bagi planet-planet berlaku juga bagi seluruh alam. Keyakinan itu tentu tidak tercapai dalam satu dua hari. Hukum harus mengikat terlepas dari setiap kepercayaan religius.ciri yang berasal dari paham pertama. maka pada zaman modern timbul keyakinan bahwa gerak planet-planet dan badan-badan jagat raya lainnya terjadi menurut hukum-hukum tetap. Maksudnya. tapi merupakan buah hasil suatu proses lama yang sudah berlangsung sejak Renaissance (abad ke-15 dan ke-16). Salah satu bidang yang sangat mencolok adalah ilmu alam yang modern. c. Kalau pada Abad Pertengahan masih terdapat kepercayaan bahwa gerak badan-badan jagat raya diatur oleh malaikat. Proses itu tampak pada segala bidang. dan sebagainya. terpaksa ia menerima saja keadaan seperti itu. Tentu saja. Dengan berpikir secara mandiri Descartes (abad ke-17) menciptakan filsafat baru untuk menggantikan filsafat lama yang sangat mengutamakan otoritas (otoritas Aristoteles umpamanya atau pemikir besar lainnya). Filsafat baru ciptaan Descartes adalah langkah penting dalam memperjuangkan otonomi rasio. karena dasarnya adalah kodrat yang dimiliki setiap manusia. hukum tidak mengikat bangsa-bangsa karena dianggap berasal dari Tuhan. Berulang kali ia menjadi korban bencana alam: banjir. wabah. karena manusia Abad Pertengahan pun hampir tidak dapat mempengaruhi alam. hingga akhirnya diakui secara umum (juga oleh agama) bahwa ilmu pengetahuan mempunyai otonomi sendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Dalam hal ini ia masih senasib dengan manusia dari zaman kuno. contoh termasyhur adalah kasus Galileo Galilei (1564-1642). kelaparan. Hugo Grotius (abad ke-17) merancang hukum internasional yang didasarkan atas kodrat manusia. Manusia Abad Pertengahan sering mengatakan: “Itulah kehendak Tuhan” dan dengan demikian ia pasrah. Suatu bidang lain adalah filasafat.

Bagi kita yang penting ialah reaksi yang menunjukkan historisitas sebagai unsur dan struktur eksistensi manusia. bila dalam buku yang sama ia mengucapkan harapan bahwa berkat pendekatan ilmiah yang baru kita manusia dapat menjadi maitres et possesseurs du monde (tuan dan pemilik dunia). Abad ke-19 oleh beberapa komentator telah diberi nama “abad sejarah”. Ia dapat membebaskan dirinya dari macam-macam ketidakberesan. Praksis justru menunjukkan peran aktif umat manusia dalam sejarah. Tapi kita harus menunggu sampai abad ke-19 untuk dapat menyaksikan bagaimana kesadaran historis sungguh-sungguh merebut dunia intelektual. Sejarah mempunyai arti karena manusia perorangan adalah makhluk historis. Sekarang manusia dapat memperbaiki nasibnya sendiri. buku kecil yang menjelaskan metode filsafat dan ilmu penegtahuan baru. Manusia adalah pelaku sejarah. Dan Comte mendasarkan pandangannya atas pengetahuan positif tentang kemajuan umat manusia. Filsuf terakhir itu menekankan perlunya “praksis”. harus menjadi praktis. Juga filsafat tidak merupakan teori belaka tapi harus melaksanakan sesuatu. Pada mereka semua “manusia” adalah umat manusia yang dianggap sebagai subyek umum. Dan tidak kebetulan pula. Untuk itu cukup kita ingat saja nama-nama seperti Hegel. “Para filsuf dulu hanya menginterpretasikan dunia dengan cara berbeda-beda. kata Marx. Descartes menyebut secara eksplisit ilmu kedokteran sebagai salah satu lapangan di mana ia mengharapkan banyak manfaat dari ilmu pengetahuan yang baru. dan Marx. d. Comte. yang penting ialah mengubah dunia”. Hal itu antara lain mengakibatkan bahwa filsafat mereka berakhir dengan konsepsi totaliter tentang negara (Hegel dan Marx) atau tentang ilmu pengetahuan (Comte. Tidak kebetulan bahwa pada akhir uraiannya dalam Discours de la methode. Dalam abad ke-20 kita melihat pelbagai reaksi terhadap pandangan abad ke-19 mengenai sejarah itu. Manusia dapat memainkan peranan aktif. Dengan demikian fatalisme yang menandai zaman kuno akhirnya sampai .menandai pandangan dunia. Bagi mereka sejarah adalah realitas yang melebihi manusia-manusia perorangan. Dan filsafat juga sebagian besar menjadi “filsafat sejarah”. Mereka mengabaikan manusia sebagai individu. Dalam struktur eksistensinya sendiri terdapat orientasi ke masa lampau dan masa depan. yang melukiskan ilmu pengetahuan sebagai agama baru). Tapi Hegel dan Marx memandang sejarah sebgai buah hasil dialektika yang berlangsung dengan mutlak perlu. misalnya penyakit. Bagi tema kita di sini tidaklah berguna menyoroti semua reaksi itu. Belum pernah terdapat begitu banyak sejarawan berkaliber besar seperti pada abad itu. Pada Sartre pendirian itu bahkan dirumuskan ekstrem sekali: manusia menciptakan dirinya sendiri.

mengadakan eksperimen dengan bola-bola besi pijar untuk dapat menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan bumi hingga menjadi dingin. karena angka itu dianggap terlalu tinggi. Toulmin telah menandaskan bahwa sampai pada abad ke-18 orang mempunyai anggapan yang hampir sama dengan abad ke-4 (Augustinus) tentang kurun waktu yang mencakup sejarah manusia dan perkembangan semesta alam. Tentu saja. bila dibandingkan dengan teman-temannya di zaman dulu. yaitu pengalaman manusia tentang waktu.000 tahun. permulaan penciptaan berlangsung pada hari Minggu tanggal 24-44977 sebelum Masehi.000 or 10. Ia sampai pada 50. Pada Abad Pertengahan orang berpikir bahwa dunia berumur kirakira 6000 tahun. ahli astronomi yang ternama. Ahli fisika termasyhur. tapi segera ia berkesimpulan bahwa dalam perhitungannya pasti terjadi kesalahan tersembunyi. Pasti mesti ada sebabnya. Menurut perhitungan Kepler (1571-1630). Menurut ilmu pengetahuan modern umur bumi mesti ditaksir sekitar 4 miliar (4. 6. Tetapi untuk mencari sebab-sebab itu. perlu diadakan semacam “anatomi” mendalam dan lengkap tentang zaman kita yang tidak munkin diusahakan di sini. menarik kesimpulan begitu ekstrem.000 years at the outside”.000. Seorang sarjana Inggris. pengetahuan kita sekarang tentang masa lampau jauh lebih luas. Kita membatasi diri pada satu aspek saja yang jelas berbeda bagi manusia sekarang. Memang tidak dapat disangkal.000. bila dibandingkan dengan periode-periode lain.dijungkirbalikkan. Dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Pengalaman itu menyangkut hubungan manusia dengan masa lampau maupun dengan masa depan. II. Uskup Bossuet (1627-1704) menulis sebuah buku sejarah bagi Pangeran Louis XV dari Prancis.000) tahun dan merupakan hasil perkembangan yang meliputi banyak . Katanya: “The overall time-span embracing all that had happened since the creation covered… some 5. Mari kita memandang beberapa detail: a. di mana ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tahun 4004 sebelum Masehi. tidak semua filsuf yang menekankan historisitas manusia. Arti Modern Istilah "Historisitas" Mengapa justru dalam masa modern historisitas begitu diutamakan? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Isaac Newton (1642-1727). Hal itu adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan. keinsafan akan historisitas manusia merupakan sesuatu yang baru.000.

b. Menggunakan teknologi yang canggih hanya mungkin dengan melihat jauh ke depan.860. Manusia modern insaf bahwa masa depannya sebagian besar terletak dalam tangannya sendiri. Kiranya sudah jelas bahwa luas waktu lampau sekarang ini dipandang dengan cara yang sama sekali berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Lagi pula. yaitu dengan teknologi itu sendiri. pada manusia sekarang terdapat sikap lain juga terhadap waktu depan. penggunaan teknologi sering kali mempunyai efek-efek yang harus ditangani oleh teknologi juga. Timbulnya homo sapiens dari Cro-Magnon (Prancis Selatan) ditaksir pada 100. “Laporan . Sejak waktu itu ada perkembangan baru lagi. Sesudah Zinyanthropos (homo habilis) ditemukan oleh Louis Leaky di Tanzania tanggal 17 Juli 1959. Sekitar tahun 1950 para ilmuwan menyangka bahwa manusia pertama berumur kira-kira 900. Keadaan itu disebabkan karena peranan dominan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern. Sejarah hanya goresan kecil yang ditarik manusia dalam lautan waktu yang mendahuluinya. Dan dengan demikian seluruh pandangan dunia berbeda pula. Dia sendirilah bertanggungjawab atas masa depannya. Hari esok tidak otomatis lagi sama dengan hari ini atau hari kemarin. Angka-angka ini hampir tidak mungkin dibayangkan. Kita sudah jauh dari fatalisme yang menandai zaman kuno. Di samping menjaga agar persediaan yang masih ada akan digunakan seefisien mungkin. manusia harus memikirkan juga sumber-sumber energi baru. Minyak bumi misalnya jauh lebih banyak digunakan manusia daripada dapat bertambah melalui proses alamiah. Bila jumlah penduduk di bumi kita bertambah terus dan tidak ada usaha mengendalikan laju pertumbuhannya. dapat ditentukan dengan metode yang cukup safe bahwa manusia pertama hidup sekitar 1.000 tahun lalu.000 tahun sebelum tarikh kita. Hal yang sejenis berlaku juga tentang eksploitasi sumbersumber daya alam.miliar tahun lagi. tidak dapat dihindarkan kita akan menuju ke suatu keadaan yang sangat gawat. Wajah hari esok untuk sebagian ditentukan oleh manusia sekarang. Dengan industrialisasi besar-besaran dan banyaknya kendaraan bermotor. Contoh lain adalah masalah kependudukan. Masalah polusi lingkungan merupakan contoh yang jelas. Sumber-sumber daya alam itu terbatas dan kalau dipakai terus sesudah sekian waktu akan habis. Bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. lingkungan di negara-negara yang sudah maju mencapai titik rawan dan hanya ada satu jalan untuk mengatasi efek-efek negatif teknologi. Sikap manusia terhadap waktu depan itu sekarang sekali-kali bukan sikap menanti saja.000 tahun. Juga umur manusia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan dulu.

Inkarnasi Historisitas tidak mungkin. Keterarahan ke masa depan belum pernah begitu besar seperti sekarang. Dan tidak dapat disangkal. menjalankan ilmu pengetahuan berarti melihat ke depan. Tentu saja. tapi para filsuf tidak selalu berhasil untuk mengungkapkan kebenaran itu secara refleksif dan sintesis filosofis yang mereka ciptakan. Karena namanya “implikasi”. pada permulaan filsafat modern pemikiran tentang manusia amat didominasi oleh konsepsi dualistis. manusia muncul sebagai Cogito (kesadaran atau roh) yang terisolasi. Yang dimaksudkan adalah filsafat Descartes. III. Segi-segi dan Implikasi-Implikasi Historisitas Historisitas termasuk struktur eksistensi manusia sendiri. Comte: “savoir c’est prévoir”. Maka dari itu menganalisis historisitas adalah suatu cara untuk mempelajari manusia. empat hal itu merupakan aspek-aspek dari realitas yang tak terpisahkan. manusia adalah makhluk historis menurut kodratnya. Dengan menyebut yang satu orang sebenarnya turut menyebut yang lain juga. Empat impliksi itu adalah berturutturut inkarnasi. Hal itu tentu selalu diketahui. temporalitas. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa empat implikasi itu tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Dengan kata lain. kita lihat tadi. Manusia bukan binatang dan bukan malaikat. a. seandainya manusia itu atau roh murni atau materi belaka. filsuf Prancis itu tahu bahwa manusia buka malaikat. pandangan yang tidak sanggup mempersatukan secara harmonis segi rohani dan segi jasmani dalam diri manusia. kata Pascal. Dan mungkin baru . Bila kita mempunyai penegertian lebih konkret tentang historisitas. kita juga akan mengerti lebih baik apa itu hidup sebagai manusia. Tapi dalam sintesis filosofisnya.Klub Roma” yang termasyhur itu merupakan contoh jelas tentang cara pendekatan yang khusus bagi zaman dewasa ini. dan intersubyektivitas. Dualisme Descartes itu merupakan suatu hipotek berat yang cukup lama membebani pemikiran tentang manusia. kebebasan. Seluruh filsafat modern sesudahnya bergumul untuk dapat mengatasi pandangan dualisitis tentang manusia itu. Memang benar yang sudah dikatakan A. seperti juga ilmu baru yang disebut “planologi”. Planning atau “perencanaan” merupakan fenomena modern yang khas. Dalam bagian terakhir ini kita akan melihat bahwa historisitas sebagai paham modern sekurang-kurangnya membawa empat implikasi. sehingga memang ada benarnya bila orang di kemudian hari berbicara tentang “angelisme” dalam pemikiran Descartes.

tidak mungkin dikerjakan tanpa bahan tertentu. kebudayaan itu tidak lain dari manusia yang mengungkapkan diri dalam alam. Manusia adalah pencipta. Manusia itu tidak pernah merupakan suatu data alamiah. Sebaliknya. Seniman dan setiap orang yang menyumbangkan untuk memajukan kebudayaan adalah “kreatif”. Puisi tidak mungkin tanpa kata-kata. Tapi manusia tidak pernah merupakan suatu data begitu saja . seluruh kebudayaan baru menjadi mungkin. Tidak kebetulan bahwa dalam perspektif filsafat Descartes sama sekali belum ada tempat untuk historisitas. Seniman “menciptakan” karya seninya. Namun benar juga. Hal ini berkaitan erat dengan yang dibahas tadi. Jika memang benar bahwa manusia selalu merealisasikan diri dalam materi dan dengan materi. aktivitas yang paling rohani pun tidak mungkin tanpa materi (misalnya proses-proses dalam otak). Hanya Tuhan adalah “pencipta” dalam arti sepenuhnya. sebagai roh yang menjelma dalam materi. umpamanya. Mengakui historisitas dalam eksistensi manusia dengan sendirinya berarti juga mengakui manusia sebagai roh-yang-diinkarnasi. Dalam arti itu dapat dikatakan tentangnya: ”he never is what he is”. Kejasmanian tidak merupakan rintangan bagi roh manusiawi. seperti binatang (dan… malaikat). Karena. walaupun tidak perlu kita setujui semua kesimpulan yang mereka tarik dari kenyataan itu. bila manusia adalah roh-yang-diinkarnasi. tapi juga tugas. Pada manusia. Ciptaan manusia yang paling luhur seperti kesenian. jadi materi pula (meski bahasa barangkali dapat dianggap sebagai materi yang paling halus).zaman kita sekarang mulai berhasil. Hal itu perlu diakui kepada materialisme. Di sini harus dikatakan: “it just is what it is”. Bagi dia manusia sebetulnya semacam makhluk ahistoris. Tentu saja. Ia sendiri tidak merupakan sumber . manusia sepatutnya merasa segan menggunakan kata-kata itu tentang dirinya sendiri. b. dalam materi yang kasar. walau bakat itu diberikan kepadanya. itu berarti bahwa ia merealisasikan diri sebagai seniman. maka sudah diandaikan bahwa manusia itu bebas. Kultur atau kebudayaan adalah materi yang dihumanisasikan. Kebebasan Historisitas tidak mungkin juga. tidak lebih dan tidak kurang. Sebuah batu adalah batu belaka. Dalam kaitannya dengan kebudayaan dan khususnya dalam hubungan dengan kesenian sering diapakai kata “menciptakan”. Pendeknya. Seorang manusia bukanlah seniman. materialitas adalah satu-satunya jalan bagi roh manusiawi untuk mengekspresikan diri. sebagaimana batu adalah berat. lisan atau tulisan. manusia diciptakan sebagai seorang pencipta. jika manusia tidak bebas. Bila Picasso adalah seorang seniman. seperti pernah dikatakan filsuf Prancis.

Manusia. kata Merleau-Ponty. Eksistensinya tidak pernah selesai dan ia insaf akan hal itu. c. Historisitas mengandaikan bahwa eksistensi manusia dijalankan dalam waktu. Manusia selalu ingin melampaui keadaan yang disajikan kepadanya oleh alam. binatang yang sakit. Namun demikian.mutlak dari bakat itu. Namun mereka tidak pernah mengemukakan sesuatu yang baru. Kalau begitu. eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. Hal itu harus dipertahankan melawan pandangan-pandangan ekstrem mengenai kebebasan. verum et mathematicum in se natura sua sine relatione ad externum quodvis aequabiliter fluit alioque nomine dicitur duration” (Waktu yang absolut. jatuh ke dalam ketiadaan dan . adalah un mouvement de transcendance. Maksudnya. sampai-sampai manusia sering kalah terhadap mereka. gerak yang senantiasa mengatasi dirinya sendiri. menurut kodratnya mengalir terus dengan cara yang sama tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar dan dengan nama lain disebut durasi). manusia betul-betul kreatif. Yang penting bagi tema kita ialah bahwa pada zaman modern konsepsi tentang waktu cukup lama didominasi oleh pandangan fisika. Binatang tidak jarang memiliki bakat istimewa. waktu dimengerti sebagai semacam rentetan saat-saat yang lewat secara kontinyu: ada saat-saat yang sudah lewat dan karena itu tidak riil lagi (waktu lampau). Isaac Newton yang menulis sintesis besar tentang ilmu alam baru. Bagi kita tidak mungkin mendalami bagian sejarah filsafat itu. Pada tahap binatang tidak pernah terjadi sesuatu yang baru. manusia tidak pernah puas dengan keaadaan alamiahnya. Bakat itu sendiri tidak diciptakan olehnya. mendefinisikan waktu sebagai berikut: “Tempus absolutum. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali dibahas tentang waktu. Ia menjalankan kemungkinan-kemungkinannya terus-menerus. adalah ein krankes Tier. Atau dirumuskan dengan cara lain. seandainya manusia itu makhluk abadi yang terangkat di atas peredaran waktu. Temporalitas Historisitas tidak mungkin juga. Hanya saat sekarang itu dianggap riil. Selalu ia mempunyai aspirasi untuk maju. tapi segera hilang pula. karena ia dapat menghasilkan sesuatu yang baru. ada saat-saat yang belum lewat dan karena itu belum riil (waktu depan) dan di antaranya terdapat saat sekarang sebagai semacam titik potong antara waktu lampau dan waktu depan. Kebebasannya adalah kebebasan-yang-disituasikan. Sedangkan manusia. seperti misalnya pada Sartre. kata Hegel. Pada Aristoteles dan Augustinus sudah terdapat uraian-uraian tentang masalah waktu yang masih sempat merangsang pemikiran sampai pada hari ini. benar dan matematis.

Waktu pada dasarnya adalah waktu sekarang. tapi tidak dalam arti titik potong yang timbul lalu segera hilang ke dalam ketiadaan. Hal yang sejenis harus dikatakan tentang waktu mendatang. Di antara tiga bagian waktu itu waktu sekarang menduduki tempat istimewa. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam. Waktu mendatang adalah hadir bagi saya dalam bentuk “belum”. Dalam konteks waktu mendatang ini Husserl berbicara tentang Protention. sebagaimana dikatakan oleh Newton sendiri. waktu mengambil asalnya dari dalam manusia (bandingkan dengan Newton: “… tanpa hubungan apa pun dengan sesuatu di luar”). Waktu lampau hanya bisa menjadi lampau bagi saya. Waktu sekarang adalah “kehadiran” (presence). tapi juga sejauh masa muda saya membentuk. Dengan demikian tiga “dimensi” waktu (lampau. sekarang) “kehadiran”. d. Itu bukan waktu yang “benar”. Dirumuskan sedikit karikatural. Intersubyektivitas Temporalitas tadi masih harus dilengkapi dengan implikasi lain lagi. dan mengorientasi keadaan saya sekarang. Dengan kata lain. Para eksistensialis memang benar dengan menekankan bahwa pada setiap saat kematian sudah hadir dalam eksistensi seorang manusia. maka masa muda masih hadir bagi saya. bukan saja sejauh saya mengingatnya. Karena. waktu sekarang dan waktu mendatang tidak merupakan tiga bagian waktu yang homogen. Kematian yang tak terelakkan mempengaruhi dan mengorientasi eksistensi saya sekarang. Dalam konteks ini Husserl dan pengikutpengikutnya menggunakan istilah Retention. Waktu lampau adalah hadir bagi saya dalam bentuk “tidak lagi”. waktu antropologis. takuti atau nantikan. hal itu masih dapat mengambil asalnya dari subyek dan dipersatukan berdasarkan . Masa depan mengorientasi dan mempengaruhi keadaan saya sekarang. Tapi itu bukan waktu dalam arti yang asali. maka masa dewasa saya sudah hadir bagi saya sejauh saya rencanakan. Jadi. sebagaimana diandaikan oleh Newton. Bila saya seorang muda. Waktu fisis adalah waktu artifisial yang diturunkan dari waktu yang dihayati manusia. dengan salah satu cara hadir juga. Bagaimana waktu dihayati secara asali? Waktu lampau. meski dalam bentuk “yang akan datang”. arloji atau kalender. waktu lewat bagaikan kereta api kilat dan setiap saat kita berhadapan dengan satu gerbong saja yang terusmenerus diganti. bila dikatakan bahwa eksistensi mempunyai struktur temporal. Bila saya seorang dewasa.diganti dengan saat lain. mendatang. Konsepsi tentang waktu serupa itu berlaku bagi waktu fisis atau waktu matematis. karena saya dapat mengakuinya sebagai lampau. membatasi.

istilah ini (dan sebenarnya hal yang sama berlaku juga untuk “naturalisme”) kerap kali kurang jelas karena digunakan dalam pelbagai arti. J. Historisitas menjadi mustahil. sebagian besar tergantung pada kesigapan kita sekarang. Hal itu harus dipahami dengan cara seluas munkin: juga di bidang kesenian. setiap individu!) harus menemukan segalanya bagi dirinya sendiri. Bila ucapan ini harus dipahami secara harfiah dan bukan sebagai paradoks saja. norma-norma etis dianggap semata-mata sebagai produk perkembangan historis sehingga norma-norma itu tidak pernah mungkin berlaku secara mutlak. Menurut pandangan ini manusia dianggap sebagai substansi yang tak terubahkan. Ortega Y Gasset pernah mengatakan. “Manusia tidak mempunyai kodrat. seandainya setiap generasi (apalagi. Misalnya. bagaimana keadaan lingkungan hidup sesudah satu atau dua abad lagi. . bukan saja kawan-kawan sewaktu melainkan juga generasi-generasi sebelumnya. Di satu pihak terdapat apa yang boleh disebut “naturalisme”. Manusia adalah makhluk historis. karena ia merealisasikan dirinya dan menghumanisasikan dunia bersama dengan orang lain. ia hanya mempunyai sejarah”. dan agama. Manusia mempunyai kodrat yang tidak pernah berubah. Kita hidup dalam dunia yang telah dihumanisasikan oleh jerih payah banyak angkatan sebelum kita. Perlu diakui. Tapi dengan cara yang sama kita sekarang juga merealisasikan dunia di mana kita hidup. IV. karena selalu ia meneruskan. Hidup sebagai manusia berarti hidup sebagai ahli waris: memanfaatkan pekerjaan dan pemikiran banyak sekali orang dari masa silam. Tentang hubungan itu terdapat dua pandangan ekstrem. di sini secara jelas kita berjumpa dengan konsepsi historisistis tentang manusia. Manusia dianggap selalu sama dalam setiap periode perkembangan historisnya.dimengerti tentang eksistensi perorangan saja. tidak mungkin lagi dia “makhluk historis”. Ikhtisar Paham “historisitas” ini mengizinkan kita untuk mencapai posisi yang cukup seimbang tentang hubungan manusia dengan sejarah. Dengan “historisisme” di sini dimaksudkan usaha untuk mengerti sesuatu dengan mengasalkannya kepada perkembangan historisnya. Manusia adalah makhluk historis. Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Tapi historisitas mengandaikan juga bahwa manusia hidup dan berkarya bersama dengan manusia lain. Historisisme dalam arti ini menganggap juga manusia sendiri sebagai produk perkembangan historis. etika. Di lain pihak terdapat “historisisme” (historicism). Misalnya. bukan saja bagi kita sendiri melainkan juga bagi generasi-generasi yang akan datang sesudah kita.

terdapat perkaitan timbal balik antara manusia dan sejarah. Manusia adalah subyek dan serentak juga obyek sejarah. Bila ia subyek atau pelaku sejarah. Ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh sejarah. Itulah kebenaran historisisme.Bila dua pandangan tentang pokok yang sama berlawanan secara ekstrem. Itulah kebenaran yang terpendam dalam naturalisme. . Artinya. Ia tidak sama dalam setiap periode dalam sejarah. Dan paham “historisitas” dapat membantu untuk mencarikan jalan tengah antara dua posisi ekstrem tadi dan dengan demikian mensintesis kebenaran yang terdapat dalam kedua-duanya. Seandainya manusia tidak mempunyai identitas yang jelas. Karena itu perlu diakui bahwa manusia mempunyai kodrat tertentu. tidak mungkin ia memainkan peranan kreatif dengan menjadi pelaku sejarah. Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa hubungan antara manusia dan sejarah bersifat dialektis. Tapi manusia tidak mempunyai kodrat yang masif dan monolitis. itu berarti bahwa naturalisme untuk sebagian benar. bila kita mengerti historisitas sebagai struktur fundamental dalam eksistensi manusia. kerap kali kedua-duanya mengandung unsur kebenaran. Kenyataan itu tidak lagi merupakan kontradiksi. Manusia mengubah atau mentransformasi dunia dan sejarah adalah justru proses transformasi itu. Demikian halnya juga di sini. Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan serentak juga ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah.

S.Kematian Modul XII Sub Materi: • Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Lahirnya Manusia Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. C.Psi.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta..P. 2008 .W. juneman@gmail. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Ikhtisar • • • • • Juneman.

Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian. Dalam setiap ranah pemikiran. ‘yang tak boleh dipikirkan’ (the unthinkable). paradoks) menggetarkan yang harus kita hadapi: a. 2. pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’. gagasan terbagi ke dalam tiga wilayah: ‘yang terpikirkan’ (the thought). pertanyaan kedua adalah: Mungkinkah kita bicara tentang kematian? Di sini ada dua aporia (keganjilan. mungkin kita akan mengajukan jawaban berikut: 1. membicarakan kematian secara a priori. ‘yang tak terpikirkan’ (the unthought). Aporia paling muskil adalah fakta bahwa kini kita bicara tentang kematian. Karena pengaruh teknologi media mutakhir. ia menjadi faktualitas. dan menjadi sekadar data. tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas. maka—dalam kaitannya dengan tema yang sedang kita bahas sekarang ini—hendak didiskusikan beberapa pertanyaan pokok ini: Pertanyaan pertama: Mengapa kita berbicara tentang kematian? Apa alasan epistemologis kita harus berbicara tentang kematian? Juga. dalam hal ini. Karena ‘kematian’ sering kali dimaknai secara dangkal—dan ini yang terpenting.K E M AT I A N M A N U S I A I. baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger. Karena ‘kematian’ adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. kematian menjadi fakta. apa relevansi eksistensialnya bagi kita? Atas pertanyaan-pertanyaan ini. walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa. Tema ‘kematian’ barangkali termasuk dalam wilayah ‘yang tak terpikirkan’. dan lain-lain). Bagaimana kita bicara ihwal kematian. Jaspers. Setelah sedikit mengerti alasan kenapa kita bicara tentang kematian. Dunia Akhirat: Persoalan yang Konstan dan Umum bagi Umat Manusia Karena filsafat adalah pertanyaan. Pendek kata. Kita. sehingga tugas kita menjadikannya sesuatu yang ‘terpikirkan’. kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas. Sartre. padahal kita belum mengalaminya. sementara kita belum .

Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’. Hal ini tidak kita peroleh dari pengetahuan saintifik-medis yang mungkin melihat ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ seseorang dari sisi biologis-fisikalnya saja. metode filosofis apa yang paling dekat pada kemungkinan untuk memikirkan kematian? Ada beragam perspektif. sehingga bagaimana kita bicara tentang ‘ketiadaan’ dalam ‘kemengadaan’ kita? Mungkin. . yang dalam beberapa literatur disebut juga Lebenphilosophie. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. ‘filsafat hayat’. sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern. seperti diketahui. yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya. tetapi perlu melibatkan pengalaman. (Aporia II): Kita adalah makhluk ‘mengada’. jika secara a posteriori kita belum mengetahuinya? (Aporia I) b. tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut. Namun. namun metode yang paling dekat pada kemungkinan (dan sekaligus ketidakmungkinan) untuk memikirkan kematian dan menghayatinya adalah dengan ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie. ‘filsafat-kehidupan’)-yang berangkat dari ontologi. Krisis itu coba dipulihkan kembali (direstorasi) oleh filsafat eksistensial. setidaknya filsafat bisa mendekatkan kita pada kemungkinan itu. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial ingin melihat pengalamanpengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tak cukup didekati dengan ilmu. atau bahkan mungkin ‘ketiadaan’ itu sendiri. muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia.mengalaminya? Bagaimana kita bicara kematian secara a priori. membicarakan kematian—mewacanakannya dalam batas-batas pemikiran yang diskursif—tidak sepenuhnya mungkin. dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Pertanyaan selanjutnya. Filsafat eksistensial. Karena itu. atau ‘intesionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti.

Berikut ini adalah pendapat-pendapat filosofis yang ada mengenai kelahiran manusia: (1) Dua ekstrem. maupun bagi anak yang mereka lahirkan. sebab dibutuhkan keterangan tambahan bagi kerohanian manusia. lahirnya hewan atau pohon justru menimbulkan soal metafisis pokok yang sama seperti berlaku bagi manusia.Wacana mengenai ‘kematian’ akan sangat menarik bila mengontraskan berbagai paradigma yang bertentangan. Diandaikan bahwa substansi infrahuman itu (sebab hanya ”jasmani”) dengan lebih mudah dipahami daripada manusia. seluruh manusia itu melulu materi. Tak ada paradoks yang paling membuat dahi berkernyit dan perasaan kita bergetar hebat selain fakta bahwa kita semua akan mati. II. dan seluruhnya ia dilahirkan oleh orangtuanya. Tetapi dualisme dalam hal asal-usul materiil dan spiritual demikian menjadi mustahil oleh karena kesatuan jiwa-badan di dalam manusia. Kematian barangkali adalah misteri—dan filsafat mungkin adalah secercah lilin yang bisa menerangi kegelapan misteri itu. Rupanya kelahiran manusia dapat dijelaskan dengan pengertian akan kelahiran substansi-substansi infrahuman yang dianggap ”materiil”: hewan atau pohon. Bagaimana itu dapat dipahami? Bukan lahirnya substansi infrahuman yang dapat memberikan ”insight” hakiki mengenai soal itu. baru dipersoalkan sebagai ”penciptaan” pada filsafat ketuhanan. Hanya pemahaman akan hakikat manusia dapat membuka jalan bagi pengertian kelahiran yang fundamental. Sedangkan menurut spiritualisme panteistis. Lahirnya Manusia Filsafat manusia hanya mencari hakikat manusia pada taraf horizontal. tetapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. yaitu lahirnya substansi otonom baru. Pengaruh Tuhan didiamkan dulu. Menurut materialisme. (2) Dualisme. jiwa manusia diemanasikan dari substansi ilahi. Jiwa telah diciptakan sebagai substansi utuh sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi). suatu bagian. Badan itu hanya epifenomena saja. dan itu berlaku baik bagi kegiatan orangtua. dengan alasan . menurut proses alamiah. Bahkan. jiwa itu dipersatukan dengan badan. Maka diselidiki ialah (kemungkinan) penyebaban terhadap manusia baru hanya pada taraf manusiawi saja. Tidak ada segi yang mempunyai prioritas. entah dengan telah berada sebelum kehidupan duniawi (pre eksistensi) atau belum. Kemudian. Jiwa itu merupakan suatu modifikasi. atau suatu fase dari substansi ilahi.

Hominisasi. Jiwa itu subsisten. Orangtua menghasilkan seluruh manusia baru. atau diberi-alih dari substansi mereka. yang meliputi tradusianisme. Schelling). Seperti manusia hanya berkembang di dalam komunikasi. Dengan demikian. Struktur hakiki. Tradusianisme berasal dari kata Latin ”traducere” yang berarti: menyerahkan. dan hominisasi.berwarna-warna (Kant. Tuhan menjadi sumber satu-satunya bagi adanya jiwa. mereka ”mengatasi” diri sendiri pula (”Selbstuberbietung”). sedangkan kegiatan orangtua pada kelahiran hanya terbatas pada bidang materiil saja. atau memberi-alih. dan transenden terhadap materi. dan lahir dari substansi badaniah orangtua. Baik badan maupun jiwa dilahirkan oleh orangtua. Kreasionisme adalah ajaran skolastik yang tradisional. Menurut Thomas. badan dan jiwa. Sambil berkomunikasi satu sama lain dan sambil saling memanusiakan. Suatu pertanyaan penting yang harus dijawab ialah: sejauh mana manusia dapat melahirkan manusia. Maka orangtua menyediakan materi bagi manusia baru. maka jiwa – dengan diciptakan sekaligus – dimasukkan ke dalam materi sebagai prinsip formal (”forma”) manusiawi. Teilhard berpendapat bahwa ajaran skolastik mengenai penciptaan jiwa yang langsung dapat disesuaikan dengan teorinya tentang evolusi itu. tetapi pada ketika itu juga baru diciptakan oleh Tuhan secara langsung. orangtua mengkomunikasikan kemanusiaan . jiwa dikembangbiakkan langsung melalui mani badaniah. juga menentukan permulaan proses itu. kiranya juga dalam kelahiran manusia unik. Karl Rahner menolak ajaran skolastik klasik itu. maka ia juga dapat melahirkan manusia baru. (3) Usaha sintesis. Dari segi ontologis. permulaan proses itu lebih sederhana dan lebih mudah daripada perlangsungannya. mulai abad-abad pertengahan. pada saat persiapan itu sudah cukup. atau jiwa itu lahir dari semacam mani spiritual yang dihasilkan oleh jiwa orangtua. jiwa manusia baru tidak dapat dengan langsung berasal (dilahirkan oleh) orangtua. kreasionisme. Menurut tradusianisme materiil. Jiwa itu dipersatukan secara substansial dengan badan. Menurut tradusianisme spiritual. begitu juga manusia baru lahir hanya di dalam dan karena komunikasi. yang termuat di dalam antarkomunikasi manusia selama proses perkembangannya. menurut teori Teilhard de Chardin mengenai kesatuan kompleksifikasi dan interiorisasi di dalam satu substansi sepanjang seluruh evolusi. atau mani badaniah hanya merupakan semacam alat pengantara untuk mencurahkan jiwa orangtua kepada manusia baru. Kelebihan itu hanya mungkin sebagai partisipasi akan kegiatan kreatif yang tak terbatas: Tuhan. Dengan demikian. Jikalau manusia (dapat) ”mengadakan” manusia lain menurut keunikannya dan sekadar manusia. baik badan maupun jiwa dihasilkan oleh orangtua.

demikian pula anak menerima diri seluruhnya dari orangtua sebagai manusia yang utuh. Jiwa Manusia Tidak Dapat Direduksikan kepada Badan (Jiwa Manusia Bersifat Spiritual dan Sederhana. tidak melampaui dunia material. Tidak bisa diragukan bahwa banyak jenis binatang menunjukkan semacam afektivitas. dan juga harus terus dilihat dalam hubungan dengan seluruh pendidikan sesudah kelahiran. Pembentukan pribadi anak di dalam antarkomunikasi pendidikan itu jauh lebih penting daripada saat kelahiran aktual. melainkan sebaliknya. Kelahiran sendiri memuat janji dan tekad untuk bertanggungjawab bagi seluruh perkembangan anak. ”Penciptaan” anak baru mempunyai arti bagi orangtua sejauh itu sekaligus mengandung kesediaan untuk melahirkannya dan mendidiknya. Maka. Semua ”ada” material. hewan mati kena kebusukan karena jiwa mereka ini (yang menstruktur adanya) secara intrinsik tergantung dari tubuhnya. dan akhirnya busuk dan mati. Semua benda material bernasib sama: bertahan sementara saja. Jadi. kelahiran manusia bukan suatu penyebaban serba luar biasa. Bukan permulaan itu yang paling penting. Jiwa Manusia Bersifat Kekal) Oleh karena jiwa spiritual berbeda secara radikal dengan semua yang berbentuk material. Perlu dicatat bahwa pengandungan pertama (”conceptio”) tidak boleh dilepaskan dari perkembangan pertama selama sembilan bulan sampai pada kelahiran anak. biarpun bukan jiwa sendiri dari hewan yang busuk. Mengapa? Karena mereka terdiri dari bagian-bagian yang pelepasannya satu dari yang lain memuat degradasi dan kebusukan. Jadi afektivitas seekor anjing terhadap tuannya tidak sejenis afektivitas manusiawi. apakah mineral atau hidup (seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang) mengalami dekomposisi. Nasib manusia akan sama seandainya seluruh fungsinya tidak melampaui fungsi pertama itu.kepada anaknya pula. tetapi yang ini tinggal di derajat sensorial. destrukturisasi. ia juga mempunyai suatu sifat lain yang dekat dengan transendensi. Itu tidak berarti bahwa binatang dapat diperlakukan seperti benda-benda saja. terutama karena banyak binatang yang hidup dengan manusia dan dipelihara dengan perhatian memang ”dimanusiakan” sampai batas tertentu. Dia tidak masuk dunia abstraksi. yaitu sama sekali terserap oleh fungsi-fungsi material dan perasaannya. Hewan terbatas pada dunia sensitif dan panca indera. Bunga menjadi pudar. namun dia musnah bila tubuh hewan itu direduksi sampai hancur. melainkan merupakan permulaan normal dari suatu proses manusiawi yang normal. III. di dalam penyebaban manusia yang langsung. justru bukan . bersifat fana. Seperti orangtua saling membuat lebih manusia.

yaitu dunia manusiawi. binatang sampai batas tertentu bisa masuk ke dalam dunia manusiawi.” Kepada mereka yang berkeberatan dan menyatakan bahwa kematian adalah akhir . tanpa keluasan dan kuantitas. jiwa lepas dari hukum-hukum materi. tanpa bagian-bagian yang bisa diceraikan satu dari yang lain. Dia lepas dari semua bentuk perceraian. karena jiwa merupakan realitas spiritual yang dinamis. Ernst Bloch. Paham materialis mencoba menghancurkannya. Karena spiritualitasnya. meskipun dia tinggal dalam perspektif utopia sosialis. jiwa manusia dibicarakan di luar perspektif dualistis yang melawankannya dengan badan. ”Tidak akan mungkin bahwa kita menderita demikian untuk sesuatu yang bersifat fana saja. Kepercayaan universal akan hidup sesudah mati merupakan semacam protes dari kuburan-kuburan dan peti mati yang menyatakan betapa kuat keyakinan ini. Namun dibedakan dari badan. Adapun mengenai prestasi-prestasi yang disebut ”inteligen” pada beberapa jenis binatang. Beliau mengucapkan pendapatnya tentang keinginan akan hidup sesudah mati. sesuatu yang bergema di dalam kebatinan kita yang paling dalam. Pengakuan tersebut sama dengan pengakuan bahwa jiwa manusia hidup terus sesudah korupsi badan. kematian. yang lebih daripada insting tetapi sama sekali di bawah inteligensi yang khas bagi manusia. tidak ikut pembusukan badan yang dijiwainya dan yang dikuasai oleh determinisme biologis yang nampak dalam penyakit. Sampai di sini. ilmu-ilmu. Tanpa keluar dari dunia material. Misalnya. jadi tidak terdiri dari bagian-bagian dan karenanya tidak bisa kena pembusukan (dekomposisi). tetapi dewasa ini kepercayaan ini muncul lagi secara besar-besaran dalam berbagai bentuk yang sering mengherankan sekali. dia tidak dapat menjadi korban dari korupsi. karena jiwa itu bersifat ”sederhana”. dengan abstraksi. dapat dipahami pendapat kebanyakan ahli psikologi binatang yang mengakui practical intelligence pada dunia hewani. seandainya tidak berdenyut di dalam kita sesuatu yang terus-menerus berkembang. sebagai berikut. usia lanjut dan berhentinya fungsi-fungsi fisiologis esensial. dan lain-lain. yang mendorong kita untuk pergi lebih jauh dan membawa kita ke atas semua yang material saja. degradasi. seluruh dunia kebudayaan dan agama. Kepercayaan akan kekekalan jiwa mengucapkan keyakinan bahwa dimensi spiritual kepribadian manusiawi hidup lagi sesudah kematian. seperti halnya dengan semua benda material. seorang filsuf neo-Marxis dari aliran yang disebut ”Mazhab Frankfurt” – berlainan dengan paham Marxisme resmi dan banyak teolog yang melihat dalam kematian penghapusan total dari manusia – menegaskan dengan keras kepercayaannya akan suatu realitas spiritual di dalam manusia. tetapi karena kontaknya dengan sesuatu yang lebih tinggi.karena kehewanannya.

” Pengarang Inggris H.” Bukankah aneh bahwa seorang Marxis mengingatkan kepada kita kekayaan dan relevansi paham tradisional itu. yang disangkal oleh beberapa aliran filosofis dan teologis aktual? Perlu disinyalir di sini bahwa ”alergi” terhadap gagasan jiwa.definitif dari semua. Sesungguhnya. Kita merasa bahwa kita bukan tamu saja dalam badan kita. ingatan yang rusak itu. Kematian adalah tidur yang terakhir dan istirahat tidur adalah gambar dari kematian. Pun pula dalam amnesia total. Batas antara keadaan jaga dan tidur tidak tertangkap seperti halnya dengan batas antara kehidupan dan kematian.” Pembicaraan-pembicaraan mengenai identitas pribadi. yaitu apa yang tetap tinggal identik dalam intinya sebelum dan sesudah kematian. Dalam beberapa riset yang lain. Price sebagai komentator dan kritikus yang paling termasyur menulis bahwa ”analogi yang kuno antara kematian dan tidur tetap bermanfaat. Argumen-argumen Pokok mengenai Hidup Sesudah Mati Argumen Kesepakatan Umum . ”menghadiri pemakamannya sendiri. ”yang bisa dipertentangkan dengan sebuah hipotesis yang sebaliknya. apakah seseorang bisa berada di luar badannya. ia tahu bahwa ia adalah ia. ”terdapat suatu titik yang tak bisa direduksikan. self keakuannya. Itulah sebabnya mengapa kita dapat diamputasi dari sebuah kaki. Menurutnya.” Lalu beliau menggarisbawahi ”superioritas psikis. ialah kepribadian sebagai ’ada’ yang tak terbinasakan. yang diorientasikan ke arah analogi antara kematian dan tidur. di samping penelitian cermat tentang kematian dan aspek-aspek sosialnya. apalagi terhadap ide kekekalan struktural (kodrati) terbatas pada teologi Eropa Kontinenatal (terutama Jerman dan tiruan Perancisnya).H. ”diskusi tradisional di Inggris dan Amerika Serikat mengenai hidup sesudah mati atau dunia akhirat terus asyik dilukan. Bloch menjawab: itu merupakan suatu pernyataan tanpa basis. si subjek tidak berhenti berkata ’aku’. suatu kutub oposisi yang mutlak. N.” Dan apa pun yang bisa dikatakan oleh para sarjana dari ”sientisme” tetap tinggal suatu fakta bahwa ”benih dari transendensi tidak dapat diletakkan dalam debu laboratorium. sebuah lengan. Pada umumnya fobia tersebut tidak masuk negara-negara berbahasa Inggris.D. kesadaran yang kosong itu. aspek tak tersaingi dan akhirnya tak tersentuh dari ’ada’ spiritual.” IV. artinya apa yang esensial dalam kepribadian. Lewis menganalisis dengan baik diskusi-diskusi itu. tanpa mengalami bahwa keakuan kita kehilangan satu butir pun dari diri kita sendiri.

Itulah batas argumen ini: ia mengandaikan kepercayaan akan nilai dan signifikasi positif dari dunia ini. Jika alam semesta diarahkan ke adanya mahlukmakhluk yang bermoral. tetapi tidak mesti kehidupan terus tanpa akhir. tetapi ini tidak mungkin jika tidak ada suatu kehidupan lain setelah kematian–suatu kehidupan di mana pahala dan hukuman diberikan kepada semua orang sesuai dengan tindakan moral mereka. jika argumen itu tidak dilengkapi dengan refleksi tentang struktur ontologis manusia. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan akan suatu pahala atau suatu hukuman. maka tidak mesti mengandung kekekalan. sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal itu. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa. kesuksesan. argumen ini tidak berlaku. Evaluasi terhadap argumen ini: Jika kehidupan mempunyai arti. Mereka tertimpa kesusahan dan hambatanhambatan. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara khusus. bahkan yang paling kuno. terkadang menikmati kesehatan. ”Suatu dunia yang teratur untuk mengakibatkan dan mencerminkan nilainilai moral akan kurang koheren-konsisten. seandainya nilai moral itu tidak bertahan sesudah kematian individual. sulitlah untuk menganggap bahwa sebagian terbesar umat manusia itu keliru dalam kepercayaan akan kehidupan terus. Spirit yang bertanggungjawab akan target ini tak mau bahwa hidup orang-orang kudus dipotong begitu saja. manusia tidak bisa keliru secara universal. Tentu saja. seolaholah muncul suatu protes terhadap ide bahwa keadaan ”tidak adil” ini tidak akan diperbaiki. bagi mereka yang mengira bahwa hidup ini tidak berarti apa-apa. Seharusnya ada suatu sanksi terhadap hukum moral. Suatu batas lain dari argumen ini adalah bahwa. strito sensu (dalam arti ketat) ia hanya mencerminkan kepercayaan akan suatu hidup terus. Sekali lagi suatu teleologi (finalitas) kosmis yang memproduksikan cinta menunjuk lebih jauh dari dirinya sendiri ke arah penyempurnaan/perwujudan cinta. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. Argumen yang Disimpulkan dari Etika Argumen ini mulai dengan kenyataan bahwa orang yang jujur dan baik sering kali mengalami kemalangan dalam hidup ini. sedangkan begitu banyak orang jahat. sehingga mengenai kebenaran-kebenaran dengan dampak eksistensial sebesar nasib terakhir manusia. sebab tuntutan dari etika itu hampir tidak pernah direalisasikan dalam dunia ini. Jadi dari dirinya sendiri. Dalam inti hati manusia. bahkan bersifat absurd.Manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan akan kelangsungan hidup sesudah kematian. tak jujur. hormat dan kemakmuran. Evaluasi terhadap argumen ini: Di sini .

Pierre Teilhard de Chardin selalu melihat dalam pendapat pesimis tersebut semacam visi yang tidak sesuai dengan pengalaman. J. Lagi pula argumen ini tidak menuntut suatu hidup tanpa akhir (kekal). kejujuran itu sendiri sudah merupakan pahalanya. Mereka pikir dengan sebenarnya bahwa justru orang yang menyatakan pendapat itulah yang . Prof. evolusi itu telah menjadi sadar akan dirinya sendiri dan akan bisa berlangsung hanya dalam dan melalui aktivitas bebas dari manusia. tetapi tidak akan meyakinkan mereka yang menolak ide bahwa evolusi harus berhasil. Sebagai akibatnya. dan biologi) yang sejak lama menyelidiki secara konkret dan pribadi semua dimensi spasial dan temporal dari alam semesta. keakuan pribadi. dan ”sesuatu” itu hanya dapat berupa hasil yang paling berharga.van de Casteele setuju dengan beliau. Akan tetapi. Argumen Teilhard de Chardin Argumen yang relatif baru itu berpangkal pada evolusi. Tetapi argumen ini kurang kuat bagi mereka yang berpendapat bahwa kebaikan moral. melainkan hanya suatu kehidupan lain yang mungkin akan berakhir bila keseimbangan keadilan telah dipulihkan dan puncak cinta dicapai. Tugas ini amat berat bagi manusia. evolusi itu terus maju selama berjuta-juta tahun. teratur. yakni pribadi manusia. yang paling luhur dari semua daya evolusi.pun argumen ini hanya berlaku bagi mereka yang mengakui bahwa hidup itu koheren. para ahli sains (terutama ilmu-ilmu fisika. dan hanya suatu motivasi yang kuat sekali dapat membuatnya mampu untuk menyelesaikannya. sebagai targetnya. Ada sesuatu yang harus hidup terus. Akan tetapi. terutama aspek cintakasih sejati. Biarpun terdapat banyak sekali halangan. pendeknya mempunyai arti positif dengan nilai-nilai moral terutama dalam bentuk cinta. Namun apakah memang mungkin mempertahankan hipotesis bahwa alam semesta bersifat absurd? Dunia akan absurd jika alam semesta bernasib kembali ke kegelapan dari materi sesudah diterangi oleh kesadaran manusiawi sebagai puncak bermiliar-miliar tahun evolusi. ia akan kehilangan segala motivasi untuk melaksanakan usaha raksasa tersebut jika ia yakin bahwa setelah jangka waktu tertentu. Nah. salah satu kesulitan ini. kebajikan. tiada bekas apa pun dari usahausahanya yang tersisa. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen ini punya pengaruh yang kuat. argumen moral ini berbobot sekali. Maka kita dapat menduga bahwa evolusi itu tetap akan mengatasi kesulitan-kesulitan di kemudian hari. evolusi menuntut kekekalan jiwa manusia. berasal dari kenyataan bahwa di dalam manusia. ”Berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh pelbagai pemikir yang terlepas dari realitas. dan yang paling berat di antara semua yang ada. kalau ditambahkan struktur ontologis manusia sebagai basisnya.J. tahu bahwa hipotesis ”absurditas” hanya omong kosong saja. astronomi.

Di dalam diri kita terdapat sesuatu yang tidak dapat menerima nasib itu. yang mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kehancuran? Mengapa. karena bagi pikiran hal itu bukan sesuatu yang bersifat normal saja. Hal itu tidak dapat luput dari perhatian pikiran. Tetapi apakah kita memang hanya itu? Seandainya begini. berkembang dan mati – tidak pernah mau menerima kematian dirinya sendiri sebagai suatu kejadian normal. Koherensi waktu lampau adalah jaminan koherensi waktu yang akan datang. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kehidupan Argumen ini merupakan suatu konsekuensi yang perlu dari struktur jiwa. . Tetapi kita tahu bahwa kenyataannya memang lain. Dan takdir itu menyangkut semua dinamisme manusia yang diarahkan kepada kekekalan. di mana-mana dan di segala zaman hidup itu selalu nampak ”terlalu singkat? Mengapa kematian tak pernah diterima sebagai sesuatu yang normal dan biasa saja? Jika seorang fisikawan atau seorang penyelidik alam semesta mengakui bahwa kematian itu normal. keinginan untuk menyelamatkan suatu kasih yang dalam ataupun suatu saat keindahan yang istimewa dari amukan badai waktu. Hasrat untuk tetap hidup. Alam semesta sanggup merealisasikan takdir yang tergores dalam kodratnya. Proses kelahiran dan kematian menyangkut manusia sendiri. juga merupakan bagian dari pengalaman kita.harus membuktikannya. hasrat natural manusia untuk hidup akan merasa puas sesudah sekian banyak tahun. bagi makhluk manusia itu. dengan suatu firasat bahwa hal itu semestinya tidak perlu dialaminya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih biasa daripada kematian. Tidak mungkin bahwa struktur manusiawi kita yang cemerlang itu – yang dasarnya tak lain dan tak bukan adalah jiwa – disia-siakan saja dalam ”kependekan suatu hidup (hidup di atas bumi ini) yang begitu tak sesuai dengan kemampuan-kemampuannya. Keterbatasan sendiri merupakan sesuatu yang problematik. dalam keseluruhannya merupakan suatu ”mesin” yang tersusun dengan baik dan maju ke suatu arah tertentu. Para ilmuwan yakin bahwa dunia. bagi individu-individu yang merupakan anggota-anggota dari suatu spesies biologis yang memerlukan materi mereka untuk menciptakan anggotaanggota baru. bagi semua makhluk yang bersifat kompleks dan berevolusi.” Sebenarnya. Mengapa ia menolak siklus perputaran hidup tertutup itu. dan setuju dengan kematian sebagai nasib yang tak perlu menimbulkan masalah. ia betul. Tetapi ternyata – dan inilah suatu fakta pengalaman lain lagi – fakta ini selalu datang dengan mengejutkan. hanya struktur itulah yang bisa menjelaskan bahwa manusia – meskipun ia hidup di dalam suatu alam raya di mana semua makhluk lahir.

. situasi akan sama dengan yang dikatakan tadi: kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan Penciptalah yang akan dipersalahkan. perspektif bahwa saat-saat yang begitu berharga dan istimewa itu tidak akan bertahan. Juga kalau manusia merasa bahagia sekali. tidak dapat dihilangkan oleh suatu pukulan material.Evaluasi terhadap argumen di atas. Evaluasi terhadap argumen ini: Nilai dan arti argumen ini mirip sekali dengan argumen yang langsung mendahuluinya (hasrat akan kehidupan). dan bukan bahwa ia bersifat kekal dalam kodratnya. dan bukan kepada orang lain. Walaupun kita berjalan terus-menerus dalam hidup ini. Namun argumen ini tidak kena lagi pembatasan itu jika ia terikat dengan yang lain. Jika tidak. Secara formal. Seandainya manusia tidak bersifat kekal. kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya. harus diakui di dalam penciptaan suatu kekeliruan radikal yang pertanggungjawabannya akan jatuh pada Tuhan sendiri sebagai pencipta. tanpa kekekalan pribadi. Pendeknya. Tuhan bukan Tuhan lagi. sudah cukup untuk menghancurkan integritas atau kesempurnaannya. kalau tidak. Dia akan lebih mirip dengan semacam raja lalim yang sadis. namun kita tak pernah merasa seakan-akan kita sudah melewati jalan sehingga sudah tiba waktu untuk meninggalkannya. Karena. pada kesempatan-kesempatan tertentu yang menerangi secara intensif hidup di atas bumi ini. kebahagiaan menjadi tak mungkin. Kita tahu pada apakah fenomen itu tergantung. Seandainya hasrat untuk hidup kekal itu tidak dapat dipuaskan. Hasrat yang bersifat natural dan kodrati itu harus dapat dipuaskan. yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun yang terbatas. hasrat kepada hidup akan kehilangan seluruh artinya. Sekarang bisa ditarik dari hal tersebut suatu makna yang berarti banyak. argumentasi ini hanya membuktikan bahwa jiwa harus diperlengkapi dengan kemungkinan hidup lagi sesudah mati. Tuhan akan bisa menganugerahkan kebahagiaan total (jadi kekal juga) hanya kepada mereka yang patut memperolehnya saja. itu karena pengarahan (impuls) yang kita terima dan yang bersifat fisik dari segi badan. seolah-olah kita merasa kekal. Cita-cita itu hanya dapat tercapai melalui kebaikan sempurna. di mana struktur manusialah yang menimbulkan hasrat-hasrat tak terbatas itu di dalam inteligensi dan hati manusia. sebaliknya. Dalam diri kita. Analisis kita tentang dinamisme spiritual manusia telah menerangkan hal itu. Argumen berdasarkan Hasrat akan Kebahagiaan Kesimpulan yang sama dengan yang baru dibicarakan harus ditarik dari hasrat manusia akan kebahagiaan. Jika kematian adalah semacam skandal bagi kita. Jadi. tetapi spiritual dari segi jiwa rohani kita. dengan akibat bahwa Tuhan bukan Tuhan lagi.

” ”Apa pun maknanya yang terdalam. Evaluasi terhadap argumen ini: Argumen tersebut amat kuat bagi mereka yang telah mengalami hubungan spiritual erat dan otentik dengan sesama. Kalau begini. yaitu hubungan dengan Yang Mutlak. Karena Tuhan tidak bisa menciptakan apa pun kecuali berdasarkan cinta kasih dan untuk cinta kasih. Pengalaman itu dapat dianggap sebagai semacam prafigurasi dan keinginan dari satu-satunya hubungan yang dapat sempurna. bisa dimengerti bahwa mereka yang menghayatinya tidak peduli untuk mencari alasan yang lebih baik. ”Tidak ada dan tidak mungkin ada keselamatan dalam suatu dunia yang berdasarkan strukturnya sendiri terhamba kepada kematian. Van de Casteele.” Jika pengalaman membuktikan bahwa manusia memang berlaku sebagai manusia hanya dalam dan melalui hubungan erat dengan sesamanya. Mencintai seseorang berarti mengharapkan dia kekal. pemisahan jiwa dari badan hanya berarti suatu pemisahan dari badan kuantitatif ini. cinta kasih merupakan ”dimensi eksistensial yang tak dapat diragukan”. karena Sang Pencipta yang sempurna dan berbahagia total tak memerlukan apa pun dan siapa pun untuk memperlengkapi Diri-Nya. maka Tuhan tidak bisa menciptakan kita tanpa kekekalan. ”Perpisahan dalam arti ini akhirnya terjadi terus-menerus sepanjang hidup biologis . Dalam perspektif ini. Hidup Sesudah Mati: Masalah "Caranya" Bila kematian terjadi.” V. maka kekekalan kita nampak sebagai hasil dari kebaikan dan kebijaksanaan ilahi. Gabriel Marcel menulis. Ladislas Boros). Karl Rahner. ”Kepercayaan akan cinta kasih Tuhan merupakan fundamen yang paling kuat dari kepercayaan manusia akan kekekalannya. dalam kesatuan ”kita”. Karena itu. bagaimana situasi jiwa tanpa badan bisa dibayangkan atau dimengerti sebelum kebangkitan daging? Kita dapat menemukan suatu solusi yang dengan caranya sendiri menerangkan bagaimana aktivitas jiwa masih dilaksanakan. Sebaliknya. ”the here and now” quantified body. hubungan biasa antara jiwa dan badan tentu saja tidak bertahan. yang di dalam-Nya semua subjek diperbolehkan bereksistensi dalam keakraban maksimal. alam semesta ke mana kita telah dilemparkan tidak mampu memuaskan kita. Kita bisa menarik kesimpulan sesuai dengan pernyataan Prof.Argumen berdasarkan Tuntutan Cinta Kasih Dimensi manusia yang disebut cinta-kasih itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional saja. Solusi ini dinamakan solusi ”kosmis” (Teilhard de Chardin. jika hanya cinta-kasihlah yang dapat menjelaskan mengapa kita berada dan bukannya tidak berada.

Ikhtisar Dari seluruh uraian di atas. Manusia . maka jiwa kita masih tidak akan kehilangan relasinya dengan materi. kepercayaan akan dunia akhirat itu tidak merampas kematian dari sifat gawat dan dramatisnya. ia mencapai sebuah relasi baru dan esensial dengan dunia yang mengikatkannya dengan seluruh keluasan dari realitas kosmis. bayi terpaksa dikeluarkan dari batas-batas rahim ibunya dan dengan demikian ia harus meninggalkan sesuatu yang baginya bersifat protektif. satu-satunya yang kita hayati.kita.” Jadi. Ia tak terlindung lagi dan terancam hancur. Manusia dirampas dengan paksa dari ikatanikatan sempit hasil dari hubungan-hubungan sebelumnya dengan dunia ini. VI. Bagi orang dewasa. Dalam waktu yang sama. Mungkin seluruh paham mengenai apa yang terjadi waktu kematian itu bisa disejajarkan dengan apa yang terjadi pada saat kelahiran. seakan-akan kita diamputasi dari semua yang memberikan otentisitas kepada diri kita. pada saat kematian biologis. suatu kehadiran pan-kosmis. berarti merasa ditinggalkan oleh semua yang penting bagi kita. bahwa pada saat kematian. Meninggalkan dunia ini. warna-warna. suatu dunia baru yang luas menampakkan diri di depannya dengan suatu relasi baru dengan dunia cahaya. yaitu suatu ikatan dengan kosmos dalam koneksi-koneksinya yang paling fundamental dan krusial yang merupakan dasar dari organisasi rasional dari materi. manusia dimasukkan ke dalam akar-akat dunia itu sendiri dan dengan demikian ia memperoleh suatu relasi kosmis dengan realitas. makna-makna. dan yang mencintai kita maupun merupakan bagian dari keakuan kita. dan cinta manusiawi. antara jiwa dan kosmos akan muncul suatu ikatan jauh lebih erat daripada ikatan sebagai hasil dari asimilasi makanan. kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup di atas bumi ini menuju ke arah hidup kekal. ketakutan akan kehilangan relasi-relasinya dengan orang-prang yang penting baginya lebih besar daripada ketakutan akan kehilangan hidupnya sendiri. ”Keberangkatan” yang definitif ini dilaksanakan tanpa bagasi dan tanpa teman. akrab dan enak. organisasi yang nampak dalam pikiran manusiawi dalam bentuk hukum-hukum. berarti merasa direnggut dari orang-orang yang kita cintai dan kita andalkan. Namun. untuk dilemparkan ke dalam kegelapan dan kesunyian. ketika materi badan – yaitu materi yang lebih bersifat individual itu – dipisahkan secara total dan sekaligus. Tetapi pada saat yang sama. karena jiwa tidak bisa kehilangan relasi itu. persaudaraan. Pada saat kelahiran. Sesudah dirampas dari realitas jasmaniahnya. Rahner berkata. Sesuatu yang sama terjadi pada saat kematian.

kebahagiaan. semua saksi yang kita bicarakan. cinta kasih dan harmoni di mana semua kecenderungan dan aspirasi eksistensial kita. akan dipenuhi. Tetapi rasa spontan yang mewarnai afektivitas atau subjektivitas kita. pendeknya semua garis yang diuraikan di atas menuju ke arah yang sama: hidup sesudah mati nampak penuh dengan damai. Mungkin itulah faktor yang paling mengkhawatirkan kita: konfrontasi dengan ”yang tak dikenal. dan juga sama sekali tidak cocok dengan rasa kegembiraan dan semangat yang membanjiri hati orang-orang yang melewati NDE (near death experience) dan OBE (out of the body experience). tiap kali kita mengantisipasi kematian kita itu. artinya peralihan jiwa dari dunia spasio-temporal seperti dihayati dalam ikatan dengan badan ini. Kematian bukan suatu tragedi.adalah suatu makhluk yang tidak bisa menjadi sadar tentang martabat dan kekayaan keakuannya kecuali lewat kegiatan-kegiatan tukar-menukar dengan orang lain. . atau suatu konflik tanpa jalan keluar.” Namun seluruh analisis kita. melainkan sebuah drama. pribadi maupun sosial. harus dilangkahi karena tidak mencerminkan realitas objektif yang menanti kita di seberang kematian. kepada suatu hidup baru yang bentuk konkretnya tak bisa dibayangkan.

Psi. Perjuangan. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Ikhtisar • • • • Juneman.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta.Feminisme Modul XIII Sub Materi: • Feminismus: Kelahiran "Universalisme Perempuan" yang Timpang Tubuh. C. juneman@gmail. Identitas. Penindasan..P. S. 2008 .W.

Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya membongkar glass-ceiling logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan. identitas gender dan seksualitas. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality. penindasan perempuan. Derrida. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme. sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe (1949). hak reproduksi. memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808). Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg . seksisme. hak berpolitik. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. the Second Sex. hak-hak perempuan. Feminismus: Kelahiran ”Universalisme Perempuan” yang Timpang Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.F I L S A F AT F E M I N I S M E I. Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgaria kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist. peran gender. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis. Dalam “the Laugh of the Medusa”. dia menolak esensialisme yang sedang marak di . dan phalogosentrisme. ditandai dengan lahirnya negaranegara baru yang terbebas dari penjajah Eropa. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan-putih di Eropa. stereotyping. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. the Subjection of Women (1869). lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Setelah berakhirnya perang dunia kedua.

dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. adalah kemewahan. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam. banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus). Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. Dalam berbagai diskursus. agama. menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja. perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga. Secara lebih spesifik.Amerika pada waktu itu. Dalam wacana ini. Karena perempuan kulit . bagi perempuan kulit hitam. ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan dunia ketiga sebagai “objek” per se). Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai subaltern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. banyak feminis-individualis-putih-barat. Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. seksisme. banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu. meliputi Afrika. Asia dan Amerika Selatan. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya. politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. para feminis ini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik. Dengan asumsi ini. perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi. banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwa tinggal di rumah dan tidak bekerja. rasisme. dan relasi sosial. telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial. Selama sebelum PD II. meskipun tidak semua. Dalam berbagai penelitian tersebut. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana posstrukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida.

hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama. Perempuan dilarang bekerja di luar rumah. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yang membiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulit hitam. Hampir seluruh kasus penelitian . Misi peradaban berubah menjadi misi developmentalis. Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktualisasi universal sisterhood dalam objektifikasi. Dalam banyak kasus. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. juga memiliki pujangga-pujangga yang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Dalam ranah antropologi. Domestikasi bagi perempuan kulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralel membuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu saja tanpa menimbang aspek-aspek lain. Walhasil perempuan melengkapi perannya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Mereka adalah padang tempat benih disemaikan. dan menerima begitu saja. diam. di sini. dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasan nafsu “ingin tahu” a la ilmu ilmiah Barat. perempuan dunia ketiga mengalami efek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yang tidak simetris. bisu. maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengan kontrasepsi dan lain-lain. dan lain-lain yang non-domestik. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmu tentang yang lain. Ada paradoks dalam istilah domestikasi sebagai alat propaganda. Mereka mengambil bentuk rahim yang siap menampung orok. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketiga dianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpa ada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga. dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. mereka kebanyakan harus berada di luar rumah. Lagi-lagi. Dalam konsep objektifikasi ini. Penelitianpenelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis (baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakan menangani perempuan. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak berpendidikan dan tidak beradab. Dalam persoalan pertama. sekali lagi. banyak studi diarahkan pada dunia ketiga yang Obyek. Sedang untuk persoalan kulit hitam. bekerja keras. para perempuan. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanya dalam tataran obyek. Perempuan dunia ketiga. domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi.

mencipta. Penindasan. Sebab. Perjuangan. perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya. melakukan revolusi. De Beauvoir menegaskan "Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri. seorang feminis Giligan dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembangan moral. dan Pembebasan Tubuh Perempuan Bagi filsuf perempuan Simone de Beauvoir. usaha semua diupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek. Identitas. Lebih jauh dia mengkritik persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian. Tubuh. melalui fungsi tubuhlah identitas jender diciptakan. II.reproduksi. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum. konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan jender. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki. dia terkurung dalam sikap pasif dan . perempuan tidak berani bereksplorasi. yang rela tidak rela harus menjalani peran kontrasepsi. dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Dalam penelitian psikologi. Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya.

sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial." Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya. Perempuan diakui 'ada' dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. dan pasti. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. dalam hal ini rahim. masyarakat. Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguitas menjadi penting dikemukakan. Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan relasi tersebut. Dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. Dengan etika ambiguitas. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. konstruktif. Akibatnya. bahkan mungkin juga negara. keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Dengan cara demikian. Dalam situasi yang demikian ini. dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain absolut. perempuan dibelenggu dalam sebuah 'kodrat'. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Baginya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga. segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan.tidak berdaya. bahkan tidak 'dianggap'. ketegangan antara “kebutuhan akan orang lain” dan “kekhawatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih proporsional dan manusiawi. melalui fungsi tersebut pula. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya. Menurut Beauvoir. perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif. sudah tetap. . sekolah. Melalui fungsi tersebut. dan aktual. Namun.

yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati. digerus begitu saja. Kehadiran perempuan sebagai manusia. kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. Tak heran. tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut. Di level praktik. peran perempuan mempertahankan dominasi lakilaki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia. Oleh karena itu. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Sebenarnya. Permasalahannya. yang dicapai melalui revolusi sosial. Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama. Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu. sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi. Padahal. Melalui sikap diam dan pasrah. budaya. Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambigu. Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan. perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan . Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. De Beauvoir menyerukan kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman). yaitu mengabdi kepada orang lain. ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ”berat-berat” karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. diskriminasi jender terus lestari. kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Menurut de Beauvoir. perjuangan jender tidak bisa berhenti pada level individu.Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban. yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial. Pada tataran pemikiran. Identitas perempuan tidak dianggap penting. Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis. sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. yakni level pemikiran dan praktik. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa. dan politik.

sehingga jilbab sendiri sebagai sistem penutup aurat juga mengambil bentuk cukup beraneka ragam. UU itu hanya terbatas pada ruang episteme salah satu penggagas ide UU yang tidak memerhatikan kemajemukan realitas tubuh perempuan Indonesia yang lain. Perempuan Bali dalam episteme Hindu-Bali juga mengejawantahkan teks-teks dan kode etik keagamaan dengan cara transformatif dibandingkan dengan asal agama itu di India. pornografi adalah grafis berbentuk gambar atau kata-kata yang eksplisit secara seksual menyubordinasi perempuan. penulis menyebutkan bahwa para feminis membedakan antara pornografi dengan erotika. meskipun kedua istilah itu juga sulit diidentifikasikan atau dijelaskan dalam satu paragraf penjelasan. Maksud dan niat baik UU itu seyogianya berfokus pada perlindungan terhadap tubuh perempuan yang dieksploitasi dalam tindakan pornografi dan pornoaksi. Perempuan Indonesia adalah perempuan dengan penjelasan nonmonolitik. jilbab pendek dan warna-warni ala Muslim Indonesia. Dalam hubungannya dengan pornografi. jilbab panjang. bukan cabul. Untuk para feminis. Demikian juga perempuan dalam ranah episteme berbagai suku dan etnis budaya di seluruh Indonesia. Sedangkan "pornografi lebih cenderung merupakan representasi yang merangsang birahi melalui ketidakabsahan seksual dari apa yang direpresentasikan". jubah hitam panjang. bentuk purdah. juga menerjemahkan tubuh perempuan dengan penanda berbeda. menuju keotentikan dan pembebasan. Perempuan dalam episteme Islam akan mengetahui apa itu arti aurat.garis moral dan sampai pada definisi "erotika mengandung muatan yang lebih bersifat seksual. dan condong membangkitkan minat seksual pihak penatap". Perempuan Indonesia adalah perempuan yang berada dalam kompleksitas dan kemajemukan ruang episteme yang sangat berbeda dan bahkan paradoksal satu sama lain. Eilen O’Neill mencoba mendefinisikan erotika menurut garis. Maria Marcus. menggolongkan pornografi . misalnya. Perempuan sendiri mengidentifikasikan dirinya bergantung pada episteme di mana dia berada. Arab. Berangkat dari realitas dasar being Indonesian women. Dan makna dari jilbab juga mengalami transformasi dari kreator asalnya. UU Antipornografi dan Pornoaksi (UU APP) adalah bentuk simplifikasi tubuh perempuan Indonesia. Perempuan dalam episteme agama Katolik. interpretasi terhadap perempuan juga tidak monolitik.tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga. Perlu ditambahkan pula bahwa ketika tubuh perempuan mengalami perbedaan makna dalam ruang episteme berbeda-beda. antara lain disuarakan oleh Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Feminis yang lain.

Tubuh Perempuan yang seksi. dan pembaca/penonton pornografi. tidak ada pornografi yang terlepas dari sikap masyarakat terhadap perempuan. objektivikasi perempuan dalam representasi pornografi merupakan peruntuhan status epistemologi perempuan karena cara dia mengada dalam dunia sama sekali tidak benda. dan dengan demikian perempuan juga dianggap hanya sebagai barang. Adjektif itu menjadi penanda absolut bagi tubuh perempuan. merujuk pada "ada-bagi-dirinya-sendiri" (manusia). Bisa dipahami keresahan sebagian masyarakat yang idenya naik menjadi UU ini. cantik. Yang sebenarnya menjadi prioritas utama bangsa ini adalah good governance dan penegakan hukum. tubuh perempuan merupakan fokus tatapan mata dan di dalam pandangan penatapnya tubuh atau bagian tubuh diberi makna tertentu secara kultural hanya sebagai seks. maka pornografi bukan sekadar grafis praktik seks perempuan yang dilacurkan. melainkan obyek yang sebenarnya adalah korban. Unsur yang diperlukan untuk citra atau representasi pornografis menurut Kappeler bukan seks maupun kekerasan. UU macam apa pun hanya akan tersimpan dengan baik di lemari dokumentasi. masih membatasi pornografi dan pornoaksi. tubuh perempuan bisa menjadi obyek per se. seks dengan kekerasan. konsumen. Di dalam masyarakat patriarkhi. adegan pornografis tidak tidak selalu membutuhkan praktik seks eksplisit. batu loncatan masuk ke dunia selebriti yang gemerlap. penulis skenario. pornografi adalah representasi kekuasaan yang implisit menyatakan pemegang kekuasaan adalah subyek representasi. gemulai. Pandangan penting lain dari feminis adalah apa yang disampaikan Susanne Kappeler. Melalui pemahaman mengenai representasi subyek tentang obyek. Gambar pornografis seolah menyampaikan pesan bahwa seksualitas tidak lebih dari sekadar barang. yang tersohor dengan liberalismenya. Dengan demikian. Keresahan UU itu lahir karena adjektif yang disematkan pada tubuh perempuan. Bagi Kappeler. Dengan adjektif itu. Pun di Barat. tetapi dijadikan "perempuannya laki-laki" atau "ada-dalam-dirinya-sendiri" atau dipandang sebagai . khayalan tentang seks yang berfungsi sebagai barang hiburan. Tanpa kedua hal itu. atau lapangan kerja berbayaran menggiurkan untuk modelnya. Di sisi lain. seks yang terang-terangan menggambarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dengan menggunakan cara berpikir Sartre. yaitu para produsen.menurut selera seks penggunanya sebab inilah yang mendorong pornografi ke dunia industri karena konsumen pornografi berkepentingan memenuhi kebutuhan seksnya. ada ketidak-kuasaan yang dimunculkan pada kelas atau jender yang direpresentasikan tanpa akses terhadap sarana produksi barang pornografis itu. Menurut Marcus.

Namun. menjadi tidak menentu dan terperangkap pada ruang waktu dan tempat berbeda. Satu penggeneralisasian atau satu adjektif untuk tubuh perempuan Indonesia tidak cukup. beragam. dan tidak porno telah diambil alih salah satu pihak yang mengangkangi ranah episteme tertentu. Perempuan seolah sebagai gangguan. UU itu telah berangkat dari logika ilmiah bahwa tubuh perempuan adalah ”bahan” atau ”obyek”. Misalnya ruang episteme Islam: bahwa perempuan harus menutup auratnya. Perempuan Indonesia memiliki penjelasan sangat kompleks. Perempuan hanya dipenjara dalam salah satu ruang episteme itu. UU itu telah menjadikan perempuan Indonesia ”masih” di kelas kedua. . Penyebutan paha. dalam ruang episteme negara di Arab yang mewajibkan perempuan menutup tubuh dan rambutnya. kaki perempuan mungkin tidak membuat laki-laki terangsang. serta payudara perempuan sebagai sesuatu yang seksi dan perlu dilarang untuk dipertontonkan adalah masih terperangkap dalam salah satu ruang episteme. Sekali lagi. Metodenya telah terperangkap pada obyektivikasi perempuan. Atau hanya dalam episteme dari salah satu agama. Tubuh perempuan seolah sumber keresahan. Tubuh perempuan digambarkan dengan adjektif-adjektif yang minor dan negatif. Perempuan Indonesia hanyalah cantolan bagi tubuh perempuan sendiri. UU itu hendaknya berbicara kepada perempuan Indonesia. Apa yang disebut sebagai cantik dan seksi. atau apa yang disebut sebagai merangsang atau tidak merangsang. yang akan terjadi hanyalah kolonisasi internal antara satu hegemoni episteme terhadap minoritas partikular episteme lain yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. dan nonlinear. UU itu tidak memiliki kemampuan mengakomodasi kemajemukan ruang episteme adjektif yang berkisar dari Sabang sampai Merauke. Seharusnya UU itu berbicara ”kepada” (speak to) perempuan. Dalam ruang episteme negara Barat liberal. bisa jadi kaki perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik. Sifat untuk perempuan Indonesia sangat kontekstual. Jika UU itu ingin akomodatif. UU ini telah menyederhanakan ruang adjektif bagi tubuh perempuan. baik.Kategori adjektif juga bergantung di mana dia berada dalam ruang episteme. Perempuan Indonesia adalah perempuan yang tidak bisa hanya diidentifikasikan dalam salah satu ruang episteme. UU itu berbicara ”tentang” (speak about) perempuan. Dengan kategori relativitas adjektif. Bila satu adjektif ini dipaksakan dalam bentuk UU. Perempuan hanya sebagai subordinat. pusar. sopan. Apa yang disebut santun. Kerangka filosofis yang melahirkan UU itu terbukti gagal melihat perempuan sebagai subyek dan paradigmanya dibangun untuk memenjarakan tubuh perempuan.

feminisme poskolonial atau feminisme dunia ketiga. Dekonstruksi ini adalah perjuangan untuk menjadi subyek. Albert Memi. Meskipun sebelum usaha Said ini dilakukan. Dan sejak itu setidaknya 2000 orang. kebanyakan perempuan dan anak-anak dari Bali diperjualbelikan di pasar budak setiap tahunnya . Said menulis Orientalism. Achille Mbembe. maskulin. Tulisannya menandai kelahiran gerakan poskolonialisme. Chandra Talpade Mohanty. Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek Pada tahun 1978. perempuan-perempuan ini banyak yang menjadi budak dan konkubin. tidak beradab. seperti Gayatri Spivak. irrational. Barat sebagai yang occidental. Dalam era kolonialisasi.C. Robert J. Cina. Sejak tahun 1920. colored-man-burden. dan terakhir white-female-burden. dan Homi Bhabha. AijazAhmad. VOC telah berhasil menjadikan Batavia (baca: Jakarta) sebagai pusat perdagangan. Masih dalam penelitian Kraan disebutkan bahwa perempuan Bali sangat diminati karena mereka bisa makan daging babi. Uma Narayan. Kreol India dan Eropa. Ide dasarnya adalah bahwa telah ada kesalahan interpretasi terhadap Timur oleh Barat. Frantz Fanon. dll. Anne McClintock.III. telah banyak aktivis-theorist-praktisi poskolonial lain seperti Aime Cesaire. Trinh T Minh-ha. dan adalah usaha untuk menentang white man’s burden to civilize Others. Melawan whiteman-burden. Sedangkan perempuan Jawa yang kebanyakan Muslim tidak bisa makan babi. Ini adalah proses dekonstruksi terhadap bagaimana Barat melihat Timur. Yang kemudian berkembang lebih lanjut sampai sekarang berkat usahausaha Bill Ashcroft. Young. Perempuan-perempuan Jawa pada waktu itu juga tidak luput dari praktik konkubinase dari penjajah Belanda. traditional. Gerakan ini mengalami quadruple hermeneutics karena harus melawan dari arus postcolonial-male-contemporary dan white-feminist-contemporary. Dan secara kuliner. budak-budak Jawa diekspor untuk membangun Suriname. Pada kasus Jawa. perempuan dari dunia ketiga telah lama menjadi obyek dari penjajahan. Bali . bell hooks. Gerakan ini mendapatkan re-dekonstruksi lebih lanjut dari para feminisnya. Subaltern. Sekarang terdapat sekitar 80 ribu orang Jawa di Suriname di samping dari Hindustan. Kwame Nkrumah. yang Lain (baca: Other). Pada awal abad 17. JanMuhammad. Selama peralihan dari masa terjajah dan merdeka. Pada tahun 1890 (baca: lebih dari 115 tahun yang lalu) buruh kontrak Jawa (baca: budak) pertama tiba di Suriname yang merupakan daerah kekuasaan Belanda. perempuan. Ranajit Guha. Timur sebagai yang oriental. rational. Center dan beradab. eksotik. dll. perempuan Bali juga dianggap lebih pintar memasak.

Universalisme ini di satu sisi telah melibas adanya partikularisasi dan difference yang melekat pada tubuh. Dan perempuanperempuan dunia ketiga secara massal bekerja sebagai penjaja seksual. Kehadiran esensi adalah . budaya. Negara dan bangsa. diskriminasi. Dalam wacana dekonstruksi sangat diperlukan pengetahuan tentang dekonstruksi esensi. Esensi ini berkaitan erat dengan jenis kelamin. daerah bencana dan daerah konflik. ras.diproyeksikan sebagai pusat pariwisata sampai dengan sekarang. Dengan perbedaan geografis. kelas. seks komersial. membuat si pencari terpenjara dalam esensi tersebut tanpa mampu merekonstruksi kembali dengan menggunakan perspektif yang berkeadilan jender. Perjalanan dari dunia teori ke praxis ini adalah perjalanan panjang yang tidak hanya melibatkan kesadaran politik global tetapi juga sejarah kolonialisme yang melanda dunia ketiga. Ini adalah proses akumulasi politik yang asimetris dan tidak diskursif. ras. Definisi perempuan sebagai “semua perempuan adalah sama. diperkirakan 100. Proses ini menjerat perempuan Asia dalam industri transnasional prostitusi. Sepertiga dari jumlah itu adalah remaja di bawah 18 tahun. dan relasi sosial tersebut. penjajahan terhadap perempuan adalah sama”. lemahnya penegakan hukum. hal ini akan menggeret kepada situasi hilangnya tanggung jawab. Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. terkadang. Persoalan auxiliary/adjective yang berbeda posisi-nya. penindasan terhadap perempuan adalah sama. budaya. Ketika suara peneliti hilang dalam obyektifitas ilmiah. Terperangkap dalam tubuh perempuan dan esensi-nya sebagai makhluk kedua tanpa bisa melihat konsepsi lebih inti dari maksud menemukan esensi. sebagai pusat prostitusi di Thailand (baca: proses ini dibentuk oleh penjajah Inggris mulai awal abad 19 bersamaan dengan Bali). agama. di mana Bali berada dalam posisi sebagai obyek dalam jaringan turisme dunia. Penyebab trafficking itu adalah kemiskinan. relasi sosial. Subyek dalam banyak diskursus merujuk pada berbagai rasionalisasi dalam diskursus pengetahuan yang beretika. Di Indonesia. khususnya pantai Pattaya. penderitaan perempuan adalah sama. buruh murah. Penemuan terhadap esensi.000 anak diperjualbelikan setiap tahun-nya sebagai pekerja seks. universal sisterhood menjadi problematis. Salah satu NGO yang gigih bergerak melindungi anak-anak adalah KAKAK yang bekerjasama dengan UNICEF dan berpusat di Surakarta. sekali lagi perlu dipertanyakan kembali. Hal ini tidak lepas dari pembentukan image yang telah dibangun dua ratus tahun sebelumnya sebagai konkubinasi bagi penjajah Eropa yang datang ke Asia Tenggara. Fenomena ini sama dengan dibentuknya Thailand. status sosial rendah.

di sini memang terletak kelemahannya tapi juga kekuatannya. Sebenarnya. Tetapi perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang tidak terdidik a la barat dan kesadaran politik identitas-nya. representasi mereka tidak mampu mewakili luasnya aras persoalan yang masih membebani mereka. Di sini penemuan terhadap esensi mengacu pada politik identitas. kebanyakan aktivis adalah perempuan Jawa yang berdiam di Jawa. Banyak intelektual perempuan dunia ketiga adalah produk pencerabutan ini. Usahausaha ini dipelopori oleh banyak perempuan Jawa dan banyak dipimpin oleh perempuan Jawa.kelahiran kesadaran. Jadi politik identitas mereka menjadi kabur dan semu (baca: tidak semua intelektual perempuan dunia ketiga). Dengan asumsi ini. Jawa memang telah menjadi pusat bagi Indonesia. Jogjakarta. universalisme perempuan menjadi sangat problematis dan harus dipertanyakan kembali. Surabaya. . Jawa-sentrisme dalam gerakan feminisme Indonesia. telah dirampas dengan daya global. Meski ada banyak usaha dari perempuan luar jawa untuk dapat masuk ke dalam center. Bandung. Perempuan dunia pertama adalah perempuan terdidik a la barat dengan kesadaran akan politik identitas dan politik agensi. Perempuan Indonesia: Perempuan Jawa? Dalam banyak kancah pertunjukkan feminisme a la Indonesia. Perempuan harus dikaitkan dengan partikular yang melekat dalam dirinya sebelum dia memasuki wacana diskursus. Perempuan dunia ketiga harus mencari role model yang ditampilkan dalam banyak tabung kaca yang berpusat pada diskursus barat. la parole / Jakarta. Kelahiran esensi bukanlah kelahiran perbedaan. bahwa resistensi yang dialami perempuan dunia ketiga adalah jenis resistensi yang jauh berbeda dengan resistensi yang dialami perempuan dunia pertama. Len Ang (Feminis asal Indonesia yang menetap di Belanda kemudian di Australia) menyebutnya sebagai “identity panics” . Banyak perempuan dunia ketiga menjadi terserap daya global ini dan tercerabut dari akarnya. Politik identitas membimbing seseorang untuk memiliki politik agensi. Semarang. dengan sebutan globalisasi. dalam konteks sekarang. Perbedaan diakui sebagai sebuah perbedaan tanpa terjerembab dalam perbedaan per se. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menerobos akses hegemoni yang menindas. Perempuan dunia ketiga adalah perempuan yang mengalami krisis politik identitas yang akhirnya membimbing mereka mengalami kesulitan dalam meng-aktual-kan daya agensi-nya. Dalam banyak kasus. Jawa menjadi tempat kelahiran dialektika feminisme. IV. terutama di pusat-pusat peradaban seperti Jakarta.

Dalam berbagai tayangan media. tapi secara mutilatif. Dan sejarah sastra budaya. Sebagai Indonesia adalah penting sebagai Jawa. Dalam khasanah pembentukan hegemoni politik resistensi tumbuh karena adanya hegemoni. Penelanjangan esensi adalah proses pembukaan kembali arsip sejarah bangsa. dalam upaya generalisasi dan developmentalisasi. kelas kedua. Sebagai lambang pakaian kebangsaan Indonesian pada waktu itu juga hanya mempromosikan baju kebaya (baju perempuan Jawa). Bahwa perempuan yang cantik adalah yang putih (baca: Barat) dan lembut (baca: Jawa). peran Jakarta sebagai la parole Indonesia belum bergeser. Meskipun usaha desentralisasi ini telah dilakukan dengan hadirnya otonomi daerah. Ini adalah perpaduan Barat-Jawa. Pada titik ini. Dalam pembentukan image dan stereotyping beauty adalah stereotyping a la Barat yang ‘putih’. Hegemoni pusat (baca Jakarta) ke pada partikular-nya (luar Jawa). Sejarah tubuh. Dalam politik identitas. persoalan desentralisasi pusat kekuasaan dalam ranah image-setting dan bidang lain adalah proses langsung dikte Jawa ke luar Jawa. perempuan Indonesia digambarkan sebagai perempuan Jawa yang halus/lembut. Sejarah ras. Dalam berbagai sektor. terutama Jakarta. La parole ini harus dipertanyakan dan dipersoalkan selama dia masih bertendensi untuk memusatkan dan men-generalisasikan partikularisme melalui politik identitas yang menuju politik agensi melalui resistensi. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian melalui kehadiran iklan dalam televisi. anak perempuan yang kelas kedua. telah terjadi mutilasi terhadap para partikular. merujuk ke budaya keraton Jawa atau Jogjakarta. Tapi ini adalah sebenarnya mutilasi dari aspek lain yang lebih penting. saudara perempuan yang mengalah pada saudara laki-lakinya. Aspek ini sebenarnya mewarisi kebijakan struktur sosial dari penjajahan Belanda yang masih hidup terpelihara dengan bagus sampai sekarang. perlu dilakukan penelanjangan esensi. baik itu bersifat tubuh/etnis dan bahasa/budaya. ibu yang baik. semua stasiun televisi di Indonesian berpusat di Jawa. Motto para penjajah . submisif/tunduk. Penampilan Indonesia telah direkayasa bagaimana bisa merepresentasikan semuanya. Sejarah etnis. jelas terlihat. Tidak dipungkiri. Dalam banyak kasus urusan kosmetika. Semua dikontekskan dalam situasi ke-Jawa-an. Ini membawa proses negoisasi menjadi tersumbat.Dalam konteks media. Persoalan ketersumbatan ini adalah persoalan mutilasi. Perempuan bukan-Jawa mengalami kolonialisasi ganda dengan harus menjadi Barat dan menjadi Jawa. Lebih jauh ada usaha akomodasi dari berbagai etnis untuk bisa menjadi satu dalam satu tubuh. perempuan Jawa identik dengan image perempuan Indonesia. Penayangan iklan-iklan juga hanya berbasis pada budaya konsumerisme.

Hal ini menggeser posisi Belanda oleh elit Jawa. dekonstruksi bukan menjadi akhir dari perjalanan. bahwa representasi Jawa masih dominan dalam berbagai aspek. Dengan konstruksi. Apabila politik identitas setiap etnis telah berhasil dipecah. Menjadi “Jawa kamu” sangat berbeda dengan “bukan Jawa kamu” dalam konteks ke-Indonesia-an. Elit-elite strategis harus mampu melihat persoalan ini tidak sekadar persoalan pemerataan. Rekonstruksi ini berangkat dari politik tanggung jawab. ras. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. Perempuan Indonesia perlu melakukan penolakan terhadap politik mutilasi dalam proses identifikasi ini. semangat dekonstruksi bukan semangat nihilisme dan pesimisme. V. Menjadi titik dan selesai. sejarah dan agensi. Seperti yang terjadi sekarang. Karena proses identifikasi sendiri tidak lepas dari politik mutilasi. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikan sebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. Dalam politik dekonstruksi. Keberangkatan Subyek adalah keberangkatan dari dalam diri sendiri.pada waktu itu sebagai “pecah dan jajah”. identitas. Tetapi bagaimana pengetahuan Subyek bisa membiarkan politik agensi berperan dalam aktualisasi politik identitas. Tetapi perlu ada rekonstruksi yang memiliki kesadaran esensi. Ini mengandung implikasi yang jauh berbeda. Ikhtisar Uraian di atas membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahan Eropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajah memperjuangkan kemerdekaannya. Kesadaran kritis ini adalah sikap reflektif bagaimana rasanya menjadi: “perempuan Jawa kamu” dan “perempuan bukan Jawa kamu”. Semangat dekonstruksi adalah semangat optimisme. Dengan pengetahuan politik esensi melahirkan kembali kesadaran kritis. Mengeksplorasi kehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek . Tulisan ini sangat terbatas dan tidak terbebas dari politik mutilasi dalam politik identifikasi. membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga. Permberdayaan diri lebih penting dari segala proses identifikasi tersebut. ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Tanggung jawab terhadap Subyek. uraian di atas lebih lanjut. Yang menjadi pusat perhatian adalah penolakan terhadap identifikasi monolitik terhadap Perempuan Indonesia. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme. maka mereka akan mudah dijajah. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial.

sulit menerima metodologi ini. metode baru ini harus mengizinkan subjektivitas di mana perempuan mempelajari perempuan dalam proses interaktif tanpa kesenjangan subjek / objek yang dimunculkan antara peneliti dan yang diteliti. terutama laki-laki. Sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi. para tokoh feminis tetap sepakat bahwa metodologi feminis akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Meski banyak kaum positivis. Intinya. Judith Lorber menekankan bahwa metodologi feminis lalu menjadi satu-satunya cara untuk mengetuk masuk dan memahami kenyataan yang dialami perempuan.(baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. yang berangkat dari keprihatinan atas banyaknya penelitian tentang hubungan jender yang pada akhirnya bias jender—dan ini memang sangat berkaitan dengan pandangan ilmu sosial yang seksis. dan dengan ini kaum feminis memberikan kontribusi unik pada ilmu sosial tentang pola keterkaitan antar sebab dan akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terlihat oleh peneliti nonfeminis. Patut ditambahkan di sini bahwa para tokoh feminis telah menawarkan metode penelitian feminis. .

P. S.Filsafat Timur M Modul IX Sub Materi: • Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sebagai Filsafat Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? • • Juneman..Psi. 2008 .W. C.com Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta. juneman@gmail.

misalnya. Selalu ada yang mesti dikorbankan. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu menjelaskan permasalahan teologi. Pemikiran Timur: Filsafat atau Kepercayaan? Pemikiran Timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional. pada praktiknya sangat sulit untuk mempersandingkan keduanya. filsafat mengandalkan kemampuan berpikir kritis yang sering tampil dalam perilaku meragukan. maka pemikiran itu tidak dapat disebut filsafat. Semboyan “faith over reason” (iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidaksejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan konkret. Dalam khasanah pemikiran Islam pun. untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang dianggap lebih masuk akal. berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. dan tidak kritis. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat. Jika pemikiran Timur dianggap sebagai agama.F I L S A F AT T I M U R I. mengingat keduanya memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Memang ada pemikir yang melihat agama dan filsafat sebagai dua bidang yang sejalan. Agama mengajarkan kepatuhan. pertentangan agama dengan filsafat masih berlangsung hingga akhir penghujung abad ke-21. Memang banyak dari para penganutnya yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai agama. Dalam pemikiran Eropa. Filsafat juga sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science). Dari khasanah Islam. yang satu harus menjadi subordinat yang lain. Iqbal menegaskan bahwa agama Islam dan filsafat semestinya beriringan untuk mencapai kebenaran. Pengetahuan yang oleh agama wajib diterima. filsafat adalah hamba bagi iman. Santo Agustinus dan Thomas Aquinas sebagai filsuf dan agamawan Kristiani. Tetapi. seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran Timur. dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Ini yang menyebabkan pemikiran Timur dianggap bukan filsafat. agama dan filsafat lebih sering dibedakan. Bertrand Russell . dan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Di Abad Pertengahan misalnya. keduanya memiliki perbedaan mendasar. tidak sistematis. Pemikiranpemikiran tersebut lebih dianggap sebagai agama ketimbang filsafat. mempertanyakan. sehingga cukup bukti bahwa apa yang sering disebut sebagai filsafat Timur adalah kepercayaan religius atau agama. dalam filsafat seringkali (hampir selalu) diragukan. Meskipun sama-sama bertujuan menemukan kebenaran. dipertanyakan.

Ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan. Dalam pandangan lain. contohnya. Buddha. contohnya. (Faktor-faktor itu akan dibahas kemudian). Plato. Pemikiran filosofis ditegaskan bukan hanya monopoli Barat. filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerang ilmu dan teologi. filsafat juga dapat diibaratkan padang Kurusetra dalam cerita Mahabharata. seperti ilmu pengetahuan dengan agama. pertikaian antar-agama dan pertikaian antar-ilmu. maka hal yang sama juga dapat kita kenakan bagi ajaran Socrates. Di sisi lain. Manusia akan bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan keutamaan. Di pihak lain. . tetapi juga menjadi bahan pergulatan manusia Timur dalam hidupnya. maka wajar saja pemikiran itu digolongkan sebagai bukan filsafat. tidak sedikit pula yang memperlakukan pemikiran Timur sebagai suatu pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis. banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Jika kita memandang ajaran Confucius lebih sebagai satu kepercayaan yang menyerupai agama karena pengikutnya menganggap demikian. bahkan mereka mengembangkannya dengan menggunakan sistematika berpikir yang filosofis. Filsafat dimanfaatkan oleh banyak bidang yang bertikai. Pemikiran semacam itu juga menjadi topik etika yang hangat dalam pemikiran Barat. adalah hidup di mana manusia bias mengatur perbuatannya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atas dorongan-dorongan instingtif yang menyesatkan (MacIntyre. Pemikiran etis dari Confucius. dan Aristoteles mengingat tidak sedikit orang yang ‘percaya buta’ pada ajaran filsuf-filsuf Yunani ini. Plato. dan Islam.” Filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya. Sebuah tempat tak bertuan yang jadi ajang pertempuran sekaligus pertemuan yang mengharukan antara dua pihak yang bertikai. Hidup. Hal yang sama juga dapat kita kenakan pada pemikiran Hindu. dan Aristoteles. tempat Pandawa dan Kurawa berperang. 1996). Confucius pun mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagiaan. Penentuan apakah serangkaian pemikiran adalah agama atau filsafat bukan didasarkan pada apakah pengikutnya memandangnya sebagai agama atau bukan.memberikan pengertian metaforis terhadap filsafat sebagai “. Sejak Socrates. dengan keutamaan pada praktiknya.the no-man’s land between science and theology. jika pemikiran Timur dianggap agama. . . Jadi. mengemukakan bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila seseorang menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. Exposed to attack from both sides.

seorang pemikir psikologi besar. Sebagai tambahan bagi Jaspers. yaitu India. Confucius is credited with being the first professional teacher of higher education in China. The Teaching of Wisdom. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. Pengakuan semacam itu diungkapkan pula oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. keempatnya memiliki kesamaan dalam besarnya pengaruh mereka pada pemikiran manusia. dan Israel. Namun. Plato.” Oleh Beck. Cina. dapat kita temukan nama Muhammad saw. In Greece the professional sophists sprang up during Socrates’s lifetime. and their first and greatest ethical philosopher. Masing-masing memiliki keunikan dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Empat orang yang oleh Jaspers disebut: “four paradigmatic individuals” adalah Buddha. Ungkapan Jaspers tersebut menunjukkan satu pengakuan bahwa pemikiran Timur juga merupakan bagian dari khasanah filsafat.” Appeared at key transitional periods in the evolution of culture when their fellow humans were ready for educational methods of self-improvement and discussions on ethical questions. “Confucius and Socrates compete for first place as reasonableness and a pedagogic attitude to life are concerned. but though he remained an “amateur” or informal teacher. Jung when he wrote. Confucius disejajarkan dengan Socrates. it was Socrates who was recognized by Aristotle for introducing the study of ethics in addition to the use of inductive logic and universal definitions. dan Aristoteles. Socrates. dari Timur Tengah yang juga memiliki pengaruh besar dan menjadi pelopor bagi agama. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradaban manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemonstrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh para pengikut mereka yang tak terhitung jumlahnya. Ia juga menunjukkan betapa Carl Gustav Jung. dan kebudayaan Islam yang saat ini merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. Confucius. .Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialis Karl Jaspers. Yunani Kuno. bagi Jaspers. Beck bahkan menyatakan sulit membayangkan bagaimana sejarah dunia Timur tanpa pemikiran Confusius. dan Jesus. Beck menuliskan: “That both Confucius and Socrates pre-eminently represent rationality and a concentration on educational pursuits was recognized by Carl G. peradaban. Ia membandingkan Confucius dengan Socrates dan memberikan penghargaan sangat besar bagi pemikir Cina itu. sebagaimana halnya sulit membayangkan Barat tanpa Socrates.

serta selalu hati-hati dan waspada terhadap berbagai segala kemungkinan kebekuan pikiran. Dalam bagian ini kita mencoba menjawabnya dengan terlebih dahulu membahas pengertian filsafat. ibarat resep masakan. Sebagai produk. hingga menjadi makanan yang siap santap. tetap saja ada yang memandangnya sebgai kepercayaan. Pengertian kritis di sini. dialektis. Sedang sebagai proses. Kalimat-kalimat dalam filsafat tampil sebagai resep. masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20. sistematis. dan mengikuti prinsip-prinsip logika1 untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu dapat diterima. Kalau dilihat dari asal katanya dalam bahasa Yunani Kuno yaitu philos dan sophia maka artinya adalah cinta akan kebenaran atau kebijaksanaan (wisdom). Dengan demikian. tinggal diikuti petunjuknya mulai dari bahan sampai cara memasak. Sebuah upaya adalah sebuah proses. kritis di sini diartikan sebagai terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. yang memiliki sifat rasional. dan kritis. radikal. bukan produk. Berfilsafat berarti juga melakukan berpikir kritis. tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang sudah ada. Filsafat yang memiliki sifat kritis tidak mungkin merupakan barang yang jadi. secara umum kita mengetahui pengertian filsafat yaitu upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. atau ditangguhkan vonisnya. Pengertian ini belum jelas karena pengertian kebenaran atau kebijaksanaan sangat kabur. Yang dimaksud dengan berpikir kritis di sini adalah: “…usaha secara aktif. filsafat terkesan sebagai barang jadi. tak ada ujung.Meskipun cukup banyak pihak mengakui pemikiran Timur sebagai filsafat yang penting. secara kasar dapat dikatakan tidak menerima sesuatu begitu saja. Jika filsafat dianggap sebagai sebuah produk yang sudah selesai. dan tampaknya akan terus berlanjut. Apa itu filsafat? Ada banyak sekali definisi filsafat yang satu dengan lainnya cukup bertentangan. maka akan terjadi kontradiksi dalam pengertian filsafat. filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung. Dalam khasanah filsafat Barat. radikal. sistematis. sesuatu yang telah selesai. Dari definisi tersebut kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah upaya. Secara lebih spesifik lagi. Perdebatanperdebatan yang mempertanyakan apakah pemikiran Timur dapat disebut filsafat atau hanya kepercayaan religius. ditolak. (Disarikan dari . tak ada kata putus. dan kritis adalah proses perolehan pengetahuan bukan produk pengetahuan.

sangat mungkin apa yang sudah diperoleh dan diketahui oleh filsafat akan berubah dan terus berubah sampai satu titik yang tak tertentu. Dalam pemikiran Barat konvensional. Dari definisi filsafat yang secara umum disetujui. para filsuf dari empirisme. Sebagai contoh. dan filsafat analitik. Dengan begitu. Setiap kriteria dibuat sedemikian sempitnya sehingga menutup kemungkinan masuknya berbagai pemikiran penting. Feldman & Schwartzberg. Di atas sudah dikemukakan pengertian kritis. dan filsafat analitik memberikan kriteria bahwa pemikiran yang dianggap filosofis harus mengandung kebenaran korespondensi dan koherensi.Moore & Parker. pernyataan itu dapat diuji dengan menggunakan logika barat (di antaranya logika tradisional dan logika formal yang dirintis oleh Aristoteles dan logika modern yang dikemukakan tokoh seperti Leibniz dan Bertrand Russell). positivistik. dan kritis seringkali merujuk pada satu pengertian yang ketat. namun tidak memiliki kriteria yang ditetapkan. Kriteria kebenaran koherensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu menunjukkan adanya koherensi logis. Jika kenyataan saat ini tidak hujan. Sistematis disini memiliki pengertian bahwa upaya memahami segala sesuatu itu dilakukan menurut suatu aturan tertentu. positivisme. Dengan pengertian kritis. positivistik. Mayer & Goodchild 1990. sudah jelas bahwa keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran merupakan sifat filsafat. serta hasilnya dituliskan mengikuti suatu aturan tertentu pula. Padahal kalau kita melihat sejarah filsafat. runut. 1986. pengertian filsafat tidak sesempit dan seketat yang dikemukakan oleh Barat. dan bertahap. . dapat dianalisis bahwa masing-masing kriteria memiliki kemungkinan yang lebih luas dari sekedar yang diajukan para filsuf empirik. pengertian sistematis. radikal. dan filsafat analitik terkesan membekukan satu kriteria kebenaran dan menutup kemungkinan kebenaran yang lain. Selain itu ada pula tambahantambahan kriteria misalnya filsafat harus mengandung kebenaran logis. Sifat filsafat berikutnya adalah sistematis. maka pernyataan itu salah. Dengan kata lain. Contoh: pernyataan “saat ini hujan turun” adalah benar jika indra kita juga menangkap kenyataan bahwa “saat ini hujan turun”. Kriteria kebenaran korespondensi memiliki pengertian bahwa sebuah pernyataan (pengetahuan) dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. 1990). Filsafat biasanya secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar: 1) bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being). Pembatasan kaum empiris.

Jika kita ingin membedakan antara filsafat dan agama maka jawaban paling sering kita temukan adalah: filsafat diperoleh melalui aktivitas berpikir atau aktivitas rasional sedangkan agama diperoleh melalui aktivitas suprarasional. agama tidak hanya menggunakan kegiatan berpikir manusia. Agama juga melibatkan sumber pengetahuan lain berupa wahyu. Filsafat menghindari sumber-sumber pengetahuan selain kegiatan berpikir. kegiatan berpikir yang dilakukan bersifat reflektif dan caranya bersifat spekulatif dalam arti materi-materi yang dijadikan objek berpikir hanya berupa konsep. Filsafat memanfaatkan sepenuhnya kemampuan berpikir manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan. Sistematika filsafat ini seringkali dibakukan sebagai satu patokan yang menentukan dalam menilai satu sistem pemikiran. Sifat yang tidak bisa tidak harus ada dalam filsafat adalah radikal. Menggunakan hasil-hasil dari kegiatan berpikir saja tidak memadai bagi agama karena manusia dianggap memiliki keterbatasan pikiran. Radikal berarti mendalam sampai ke akarakarnya (mengakar). Keduanya dibedakan dari mitos yang diperoleh melalui aktivitas irasional. Kegiatan berpikir dalam ilmu pengetahuan menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung.2) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas). baik wahyu yang dipercaya diturunkan langsung oleh Tuhan maupun wahyu kosmik yang diperoleh dari tanda-tanda keagungan Tuhan yang tersebar di alam semesta. Pemahaman yang ingin diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki filsafat itu juga menjadi kriteria yang digunakan untuk menentukan apa suatu pemikiran dapat disebut filsafat atau tidak. wahyu adalah pelengkap pengetahuan manusia. sebuah ‘bocoran’ atau ‘contekan’ dari . Sifat rasional dari filsafat mengindikasikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terangkum di dalamnya merupakan hasil dari kegiatan berpikir manusia. Pemikiran yang sistematikanya tidak memenuhi kriteria ini cenderung dianggap bukan filsafat. Berbeda dengan filsafat. Dalam filsafat. setidaknya dalam aktivitas berpikir itu objek yang dipikirkan berinteraksi secara langsung dengan subjek yang berpikir. Radikal di sini berasal dari kata radix yang berarti akar. dan 3) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi). Sedangkan filsafat tidak membutuhkan objek material yang langsung bersinggungan secara jasmaniah dengan subjek yang berpikir. Dalam agama. Ilmu pengetahuan diperoleh dari kegiatan berpikir yang disertai dengan pembuktian-pembuktian empirik.

bagaimana cara mendapatkannya. Mereka lebih sering menafsirkan. dan Derrida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kajian filsafat lagi. Dari sini terkesan pemikiran Timur haya seperangkat tuntunan praktis untuk menjalani hidup. pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat. kemudian mengamalkannya. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran Timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak. Rorty bahkan menyatakan epistemologi – bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asalusulnya. Berbeda dengan filsafat Barat. Agama berbeda dengan mitos yang sifatnya irasional. Pemikiran Timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan filsafat Barat. seperti filsafat yang ditampilkan oleh Richart Rorty. sampai pengujian benar-salahnya – sudah mati. Dalam mempertanyakan kriteria Barat dalam penilaian kualitas sebuah pemikiran filosofis. Di Barat sendiri pengertian filsafat sudah makin bergeser. Kalau kita bicara tentang sistematika. sehingga banyak pemikir filsafat yang mengklaim pemikiran Timur sebagai agama. Pemikiran Timur sebagai Filsafat Memang kalau kita beranggapan bahwa filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat Barat. Mitos hanya membutuhkan kepercayaan. Foucault mengajukan tesis yang menarik tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Quinne. berusaha memahaminya. dan aksiologi. Kegiatan berpikir tidak diperkenankan terlibat untuk memperoleh pengetahuan mistik. Cukup percaya saja. Selain itu pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu. itu sudah sangat memadai bagi mitos. atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran Timur bukanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. II. tentang yang benar dan yang salah. Beberapa kajian terhadap pemikiran Timur juga menunjukkan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran Timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya.Tuhan tentang rahasia semesta. epistemologi. tentang yang baik dan yang buruk. seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika. filsafat Barat mutakhir. Foucault melihat bahwa suatu patokan keilmuan atau filosofis . maka sulit diterima untuk menggolongkan pemikiran Timur adalah filsafat.

Pengertian kebenaran atau . Mengingat asal kata filsafat (philosophy) adalah philos dan sophis. Penentuan pemikiran Timur sebagai ‘bukan filsafat’ tak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menjejalkan kriteria-kriteria mereka kepada pemikiran Timur. Pemikiran Timur adalah proses dan hasil usaha manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka kepada kebenaran. Pendeknya. Batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan yang sejalan dengan Socrates dan Plato ini sering dianggap masih terlalu umum. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. dengan arti ‘cinta kepada kebenaran’.” Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau wisdom. However. Lao Tze. Dengan dasar ini pemikir-pemikir Timur seperti Confucius. dan Sidharta Gautama layak disebut filsuf. sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh kecintaannya pada kebenaran dapat disebut filsafat. namun filsafat bukanlah monopoli Barat. Timur juga punya begitu banyak pemikiran yang tak kalah dalam. lebih analitis dan kritis daripada pemikiran Barat. Therefore we call these lovers of wisdom ‘philosophers’. maka pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat.tertentu sangat dipengaruhi (kalau tidak bisa disebut ‘ditentukan’) oleh kekuasaan yang dimiliki pihak-pihak penyampai patokan-patokan itu. are to be called not merely poets. orators. selama ini Barat-lah yang berperan secara dominan. Memang secara etimologis (asalusul kata) istilah filsafat muncul di Barat. since only God is worthy to be called wise. but are worthy of a higher name. we cannot give them the name of ‘wise’. or legislators. Tesis Foucault ini dapat membantu kita memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. Kita tahu bahwa dominasi Barat atas Timur sangat besar. apalagi dalam ilmu dan filsafat. Dalam penentuan apakah pemikiran Timur merupakan filsafat atau bukan filsafat. Dengan demikian buah pikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran filosofis. dan bahkan beberapa lebih mendalam. when they are put to the test by spoken arguments. befitting the serious pursuit of their life. Pendapat Fung Yu lan ini jauh-jauh hari sudah dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip Plato dalam Phaedrus: “…those whose ideas are based on the knowledge of the truth and who can defend or prove them.

menurut Brand Blanshard dalam The Encyclopedia of Philosophy (Vol. Justru manusia akan jadi timpang jika hanya menggunakan rasio saja. Namun. penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis. By ‘self’ is meant our subjective identity as an individual. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap batasan pengertian tersebut. gairah dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk. hal:322-324) diartikan sebagai: “…a practical knowledge based on reflection and judgment concerned with the art of living. Batasan pengertian wisdom memang masih sangat luas dan umum. 8. Perasaan. Manusia diperkaya oleh kemampuankemampuan nonrasional itu untuk menjalani hidupnya. dan intuisi merupakan sesuatu yang manusiawi. Kata wisdom. Kedua. Rasio kemudian membantu memperjelas dan mempertajam pemahaman itu. Pengertian kebijaksanaan atau wisdom perlu kita perjelas di sini. Intuisi. menurut Sanderson Beck penggunaan perasaan. gairah. Beck menunjukkan hal itu dengan percobaannya menemukan pengertian wisdom secara intuitif. informasi-informasi yang diperoleh lewat perasaan dan gairah merupakan modal awal manusia untuk memahami lingkungannya. Berikut ini batasan pengertian wisdom yang ia peroleh secara intuitif: “Wisdom is the awareness used by the self to relate successfully to the environment.” Wisdom sebagai pengetahuan praktis yang didasari oleh refleksi dan penilaian disertai dengan kepedulian terhadap seni kehidupan tampil pula dalam pemikiran para pemikir Timur seperti Sidharta Gautama dan Confucius. to be practical in acting upon the environment it must include both knowledge and action.” Kemudian ia mengevaluasi pengertian tersebut. Beck menyimpulkan: . Blanshard menilai banyak filsuf modern mengabaikan pencapaian kebijaksanaan dengan dua kemungkinan alasan: pertama karena merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari oleh perasaan (feelings) dan keinginan/nafsu/gairah (desires atau passion) ketimbang pengetahuan. We have described awareness as the consciousness of life.kebijaksanaan di sini masih belum jelas. yang kadang diterjemahkan sebagai kebijaksanaan dan kadang sebagai kebenaran. and we might describe ‘environment’ as the field of experience for the self. kemudian mengkajinya secara rasional.

Confucius. para filsuf Hindu dan Islam. Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar saja bukanlah kebijaksanaan. kebijaksanaan atau wisdom adalah pengetahuan tentang dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi dalam segala aspek. Inilah filsafat dalam pengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze. Mereka yang mengamalkan saja ajaran-ajaran pemikir Timur. Sidharta Gautama. sistematis. dan radikal tetap perlu dipenuhi oleh pemikiran Timur agar pemikiran Timur terbuka pada pengembangan yang lebih luas lagi. tidak akan mencapai kebijaksanaan. mereka harus melibatkan keseluruhan dirinya. Untuk dapat menilai seseorang sebagai orang bijaksana.” Dalam pandangan Beck. dalam tindakan tanpa mengetahui secara mendasar kebaikan tertinggi. Hanya batasan pengertiannya perlu diklarifikasi dan dilepaskan dari ‘wacana’ filsafat Barat. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secara intensif dalam pencapaian kebijaksanaan. Keseluruhan sistem psikofisik manusia terlibat di sini. Selain batasan yang dikemukakan Fung Yu Lan. Dengan begitu juga dapat dihindari terjadinya pembekuan pemikiran Timur menjadi ajaran dogmatis. Untuk mencapai kebijaksanaan. Begitu pula mengerjakan sesuatu yang benar tanpa tahu bahwa itu benar. kriteria-kriteria yang tercakup dalam pengertian filsafat sebagai upaya memahami segala sesuatu secara kritis. Perolehan pengetahuan tentang kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapainya melibatkan keseluruhan manusia. Dua kondisi niscaya yang terkandung dalam kebijaksanaan inilah yang kemungkinan luput dari pemahaman para pengikut pemikir Timur. bukan hanya rasio. seperti Confucius dan Sidharta Gautama. Pembahasan yang hanya membicarakan pengetahuan tertinggi tanpa menjalankannya dalam tindakan juga tidak akan membawa kita kepada kebijaksanaan. Pelibatan keseluruhan diri manusia inilah yang terlihat kental dalam pemikiran-pemikiran Timur. keduanya harus tampil sekaligus pada diri orang itu. Di sisi lain pemikiran timur sendiri perlu mawas diri dan membuka diri pada berbagai . dan 2) tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi (action for the highest good).“Wisdom is the knowledge of and action for the highest good of all concerned. Ada dua kondisi yang niscaya (necessary conditions) yang harus ada dalam pengertian kebijaksanaan dan keduanya tak bisa berdiri sendiri: 1) pengetahuan tentang kebaikan tertinggi (knowledge of the highest good).

diskusi. ada masalah yang jelas. Sifat radikal dalam arti mendalam sampai ke akar-akarnya pada filsafat Timur sudah tampak sejak para pemikir Timur mengemukakan buah pikirannya. Yang penting ada alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. Ia mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya. Ia bahkan mencabut akar-akar kehidupan yang lama di India waktu itu dan mengembangkan sistem . Iqbal secara kritis menilai pemikiran Barat memiliki banyak keunggulan dan di sisi lain menentang pengagungan rasionalisme Barat dengan argumentasi-argumentasi tajam dan masuk akal. Pemikiran Timur yang sudah ada merupakan bahan material yang perlu diolah sedemikian rupa secara kritis dan terbuka terhadap berbagai modifikasi. bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Perbandingan-perbandingan pemikiran dari para pemikir Timur juga sudah banyak yang diperbandingkan. Pada praktiknya. Dalam pemikiran Cina misalnya. menilai baik-buruk pemikiran itu berdasarkan kualitas isinya. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog. Apa yang dilakukan Sidharta Gautama adalah sesuatu yang sangat radikal pada masanya. Kriteria sistematis bukan berarti filsafat Timur harus memiliki bagian-bagian seperti yang dimiliki filsafat Barat yang secara umum mencakup metafisika. Apa yang dilakukan Iqbal perlu dilakukan oleh para pengembang pemikiran Timur.modifikasi. Iqbal mengajak orang-orang Timur untuk menilai secara objektif isi dari pemikiran Barat. Ini merupakan pengertian yang paling penting bagi berkembangnya pemikiran filsafat. dan aksiologi. ada proses pengolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah. Pengolahan yang kritis dan sifat terbuka terhadap perbaikan akan memberikan kualitas filosofis yang kental pada pemikiran Timur. The Teaching of Wisdom. Pendapat Iqbal dapat dijadikan bahan introspeksi diri bagi pemikiran Timur. dan ada solusi bagi masalah itu. adu argumentasi. belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterakan pada filsafat. epistemologi. mulai dari proses penciptaan alam hingga meninggalnya manusia yang dijalin secara runut. Sebagai contoh perbandingan antara pemikiran Confucius dan Socrates yang dilakukan oleh Sanderson Beck dalam karyanya Confucius and Socrates. Yang pertama kali perlu dijadikan patokan adalah kriteria “filsafat sebagai usaha yang kritis”. Untuk itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan. dan kesiapan membuka diri terhadap berbagai pemikiran. Untuk mempertegas kehadirannya sebagai filsafat. sistematikanya bisa berdasarkan pada konstruksi kronologis. Pemenuhan kriteria sistematis bagi pemikiran Timur bisa berbeda-beda antara satu sistem pemikiran dengan lainnya. kajian-kajian kritis terhadap pemikiran Timur sudah banyak dilakukan.

lebih menyeluruh. Tetapi di akhir abad ke-20. Sifat radikal dari pemikiran Timur mungkin tidak banyak ditampilkan oleh para pengikut pemikir-pemikir besar seperti Buddha dan Confucius sehingga terkesan dogmatis dan tidak mendalam. Dan jika saya menanyakan kepada diri saya sendiri. Budhisme. bahkan lebih merupakan hidup yang sungguh-sungguh manusiawi. saya harus menunjuk ke India. dapat memperoleh dasar-dasar perbaikan yang amat diperlukan untuk membuat kehidupan rohani kita lebih sempurna. pemikiran Timur. di bawah langit manakah pikiran manusia telah merenungkan sangat masalah-masalah dan telah terbesar dalam kehidupan ini secara mendalam. lebih universal. yaitu orang Yahudi. Dengan mendasarkan pada pengertian-pengertian itu. Pengertian-pengertian itu memungkinkan berbagai pemikiran lain di luar pemikiran filsafat Barat masuk dalam kategori filsafat. III. mengenai menemukan jawaban yang pantas diperhatikan beberapa masalah terbesar tersebut. Filsafat Timur Selangkah Lebih Maju Dari Filsafat Barat? Max Müler suatu saat pernah mengungkapkan: ”Jika saya ditanya. terbuka kepada berbagai kemungkinan modifikasi sampai ke akar-akarnya. Daoisme.pemikiran baru yang kini kita kenal dengan Budhisme. Budhisme Chan. seperti Hinduisme. dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat. bahkan oleh mereka yang telah mempelajari Plato dan Kant. . kita yang hampir secara khusus dibesarkan dalam pemikiran orang Yunani dan Romawi serta dalam alam pikiran ras Semit. Pengertian ketiga kriteria yang diajukan di atas menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran Timur. Budhisme dan Confucianisme siap untuk membedah dan dibedah habis-habisan. pengkajian Budhisme dan Confucianisme sudah menampilkan sifat-sifat radikal. dari sumber tulisan manakah.

.” Pernyataan yang diungkapkan Muller di atas bukan ungkapan klise yang utopis.. ketika mengulas mengenai kitab-kitab suci utama agama Hindu. tidak ada naskah yang demikian indah dan demikian luhurnya daripada Upanishad. shantih. Jadi wajar jika Max Muller bukan satu-satunya orang yang terkesima di depan kearifan dan kebijaksanaan negeri yang dalam setahun mampu memproduksi seribu judul film tersebut. Buku itu dimulai dengan keyakinan yang sungguh menarik bahwa “Kita di Barat baru akan mencapai persimpangan jalan.. Benar bahwa Barat saat ini masih menempati peringkat teratas dalam hal ekonomi dan teknologi. Muller berkata demikian karena mendapati bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pemikiran India sangat anggun dan luhur. tapi dalam hal kebijaksanaan belum tentu demikian.” Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Arnold Toynbee di Universitas Edinburg tahun 1952.. Keyakinan Toynbee sekarang sudah mulai terasa.. berakhir dengan kalimat pemberkatan Hindu yang klasik yaitu.. tidak ada budaya yang lebih tinggi dan tidak ada budaya yang lebih rendah.” Syair karangan T.. sekali lagi saya harus menunjuk ke India. Elliot yang berjudul The Waste Land... “Di seluruh dunia. trend pemikiran Barat sudah mulai mengalami pergeseran dari yang bercorak modern menjadi postmodern yang corak khasnya adalah egelitarianisme budaya. Kendati penghasilan penduduknya tidak mencapai angga 6 ribu US dollar—bahkan mungkin tidak sampai separuhnya—tapi demokrasi berhasil ditegakkan di negara itu. “Shantih. ia berkata bahwa dalam 50 tahun dunia akan dikuasai oleh Amerika Serikat. damai. suatu buku yang membahas gemuruh rimba kearifan India yang menggetarkan dunia. damai. Ia tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan tradisi India yang selama ini diabaikan dan kurang begitu diperhitungkan dalam percaturan pemikiran modern. salah satu syair yang paling banyak dipuji dalam generasi kita sekarang ini... mungkin India yang telah ditaklukkan.” Heinrich Zimmer dari Universitas Columbia menulis buku Philosophies of India. Tapi coba cermati India. shantih.S.. yang berarti Damai. dia menulis sebagai berikut.. Arthur Schopenhauer misalnya. Kitab tersebut merupakan hiburan kehidupanku. pada abad ini. sewaktu agama menggantikan tempat teknologi. yang telah dilalui oleh para pemikir India kira-kira tujuh ratus ratus sebelum masehi.. Dengan .. dan akan menjadi hiburan dalam kematianku... Barat kini mengakui bahwa kebudayan mereka bukanlah kebudayaan yang paling baik. Budiono boleh mengatakan bahwa hanya negara yang penduduknya berpenghasilan 6 ribu US dollar perbulan yang bisa berdemokrasi. namun dalam abad ke-21. Dengan berkiblat kepada Barat.bukan banya untuk hidup sekarang ini saja. tetapi juga untuk hidup abadi dan yang telah diubah. akan menaklukkan para penakluknya.

tidak heran kalau ada anekdot yang menyatakan bahwa filsafat Barat adalah filsafat kuburan yang berbau kematian. Epikuros memandang manusia sebagai makhluk yang berumur pendek. dari Yoga. Padahal jika diruntut ke belakang. akan tetapi Frederich Nietzsche adalah orang yang memiliki peranan besar dalam mempopulerkan istilah ini dalam ranah filsafat. dan akhirnya sama sekali lenyap. Kegandrungan terhadap kebijaksanaan Timur semakin menjadi setelah corak pemikiran filsafat Barat kontemporer kerap menggunakan terminologi kematian sebagai ikonnya. Kendati bukan pelopor. mendefinisikan manusia sebagai logos ezzoz (hewan yang berpikir). kematian cita humanisme universal. lahir karena kebetulan. Makanya. Sebab. kajian mengenai manusia sudah dimulai sejak masa Yunani. Seiring dengan perkembangan zaman. pemikiran Timur klasik sudah mengulas semua masalah itu secara indah dan elegan ratusan tahun sebelum pemikiran Barat berkembang pesat seperti sekarang ini. kematian kebenaran universal. tapi tak satu pun yang mampu untuk menerangkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. Sudah banyak literatur Barat yang coba untuk membahas mengenai manusia. Hasilnya. Salah satu contohnya adalah dalam bidang filsafat manusia yang menjadi bahasan utama tulisan ini. tidak heran kalau akhir-akhir ini ajaran Hindu dan Budha menjadi trend yang sangat digemari oleh masyarakat Barat. plesetan terhadap filsafat Barat ini bisa dibenarkan. Aristoteles. Misalnya. kajian tentang manusia juga semakin beragam dan semakin spesifik berdasarkan sudut pandang tertentu. Di samping itu. Semedi. kita hanya mendapatkan . Pada titik-titik tertentu. Lucunya lagi. Fenomena ini terjadi karena peradaban Barat saat ini secara serampangan telah mereduksi manusia sebagai moral and religious being menjadi sekadar makhluk-makhluk dengan sejuta profesi dan ambisi.kata lain. Makanya. hingga seni kontemplasi sufistik mulai banyak diminati di negara-negara maju. pernyataan bahwa dirinya telah membunuh Tuhan juga dimaksudkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai universal yang saat itu masih dipegang secara kukuh oleh para pemikir. belakangan ini kita lihat masyarakat Barat sudah mulai merasakan kejenuhan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang ternyata berdampak pada teraliniasinya manusia dari dirinya sendiri. kematian metafisika. Mengapa? Karena pada kenyataanya banyak masalah-masalah besar yang sangat vital nan krusial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemikiran Barat. Plato mendefinsikan manusia sebagai suatu makhluk Ilahi. prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran.

‘kosa kata’ baru yang diklaim sebagai definisi manusia yang paling tepat. Ada Homo Faber, Homo Economicus, Homo Homini Lupus, dan lain sebagainya. Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu ilmu pengetahuan dan berkembangnya diferensiasi profesi dalam kehidupan, praktis, konsep tentang realitas manusia semakin terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit untuk dihadirkan secara komprehensif. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi, dan lain sebagainya menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Spesialisasi metodologis setiap ilmu, meskipun objek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan mengundang kegelisahan intelektual para ahli pikir modern untuk berlomba menjawabnya. Semakin seorang pemikir mendalmi satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman utuh tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan oleh Ernst Cassirer, misalnya: “Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, and Marx enthrones the economic instinct. Each theory become a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought.” Pernyataan Cessirer ini menyiratkan bahwa untuk mendefinisikan manusia tidaklah semudah mendefinisikan organisme lain yang turut meramaikan planet bumi ini. Bahkan kalau dicermati secara mendalam, para pemikir Barat—sejak era modernisme hingga post modernisme—telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan landasan filosofis tentang hakikat manusia. Sayangnya, teori-teori mereka berbeda jauh satu sama lain sehingga sulit untuk ditenun menjadi satu kain utuh yang mampu menyelimuti pengertian manusia. Descartes misalnya, meyakini bahwa kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, padahal Voltaire yakin bahwa manusia itu tidak berbeda secara esensial dengan binatang-binatang yang paling tinggi. Hobbes yang memang hidup dalam pergolakan zaman berpendapat bahwa manusia itu dalam geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya sebagai baik dalam kodratnya. Pada abad kita ini, Buber, Marcel,

Lévinas, dan Mounier menegaskan dengan kuat bahwa setiap otang merupakan suati nilai unik, sedangkan para ahli pikir lainnya mengatakan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau suatu ‘keinginan’ yang sia-sia. Berdasarkan potret sekilas ide tokoh-tokoh di atas tentang manusia, kita semua pasti menginsafi betapa ide-ide itu bukan hanya berbeda, tapi malah paradoks! Kalau sudah demikian, seberapa pun hebatnya kita melakukan akrobat intelektual untuk mendamaikan ide-ide tersebut dalam sebuah simphoni yang indah dan saling melengkapi akan sia-sia. Ironi memang, ketika pada zaman ini manusia sudah menikmati indahnya kemajuan ilmu pengetahuan sehingga nyaris tak satu pun fenomena alam yang belum bisa diterangkan secara detil dan ilmiah, tapi tidak bisa menerangkan hakikat dirinya sendiri. Saat ini, manusia sudah mengetahui kedalaman samudera atlantik, ketinggian puncak everest, serta jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai planet terjauh; Pluto, tapi tidak bisa mengetahui kedalaman pribadi, ketinggian potensi, serta waktu yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan dirinya secara utuh dan menyeluruh. Viktor E. Frankl, seorang psikiater terkenal asal Austria mencoba untuk ‘menasihati’ para peminat filsafat manusia sebagai berikut; Tantangan adalah bagaimana mencapai, mempertahankan, dan membangun kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia di hadapan data-data dan penemuan-penemuan yang terpencar-pencar yang disajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan. Sedangkan Y. Ledure, seorang pemikir Perancis modern melampiaskan kekecewaannya terhadap hasil kajian filsafat manusia yang dikemukakan oleh para filsuf besar sebagai berikut; Tugas dan fungsi fisafat tidaklah tunduk kepada pengolongan-penggolongan serta pengkhusus-khususan yang merupakan ciri khas setiap ilmu. Tugas filsafat adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya sebagaii suatu keseluruhan yang bukanlah himpunan dari cabang-cabang ilmu yang berbeda-beda itu. Ketidakmampuan pemikiran Barat dalam mengulas filsafat manusia sudah disadari oleh Kierkegaard seorang tokoh eksistensialis yang hidup pada abad ke-19. dengan rendah hati dia berkata; Memang, ditinjau secara logis, orang dapat memberikan definisi mengenai apakah manusia itu. Tetapi apabila orang melakukan definisi semacam itu, berarti ia telah menutup-nutupi kenyataan yang jika dia ketahui dengan benar, dia pasti terkejut.

Mengapa pemikiran Barat yang selama ini dianggap kaya itu demikian miskin dan tak berdaya ketika dihadapkan pada kajian filsafat manusia? Dengan melihat fakta ini, masih relevankah kita mendengarkan dengan kepercayaan yang utuh semua teori dan gagasan tentang manusia yang dikatakan para filsuf Barat? Apabila kebijaksaan (baca: filsafat) Barat terbukti tidak mampu untuk memetakan manusia secara utuh dan menyeluruh, mengapa kita tidak berpaling dan coba menelusuri koridor-koridor kebijaksanaan Timur? Sejenak, mari kita tinggalkan semua konsepsi pemikiran Barat yang mungkin sudah berurat akar dalam benak kita. Kita lupakan metode-metode Barat yang materialistik, mendewakan pendekatan ilmiah, dan hanya membenarkan sesuatu yang dapat diindra atau dapat diamati gejalanya. Metode yang langsung percaya pada hasil analisi laboratorium dan penelitian empiris dalam memecahkan masalah, dan enggan menerima pendekatan yang bersifat mistis keruhanian—ciri khas ilmu pengetahuan yang berkembang di Timur. Mengapa? Karena metode Barat yang positivistik itu kerapkali mereduksi kompleksitas manusia secara sederhana. Sartre misalnya, salah satu tokoh eksistensialis ini secara angkuh menolak adanya unsur ruhani atau jiwa dalam diri manusia, dan menganggapnya sebagai sifat materi belaka!? Timur tidaklah demikian. Dalam tradisi yang berkembang dalam Hindu India misalnya, unsur mistik berikut keruhanian tetap diterima dan diyakini mampu memperkaya dimensi ilmu pengetahuan. Bahkan, Hindu bukan hanya menerima keruhanian sebagai salah satu intrumen ilmu pengetahuan, lebih dari itu, keruhanuan juga diyakini bisa ditelaah melalui pengalaman—sama seperti masalah alamiah lainnya. Dalam memotret sosok yang bernama manusia; dalam tradisi pemikiran Barat bisa digolongkan pada dua aliran. Pertama, para pemikir yang setuju dengan pendapat Deskartes bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi; jiwa dan materi. Kedua, para pemikir aliran ampiris-materialis yang menolak adanya ruh dalam diri manusia dan menganggai manusia semata-mata terdiri dari materi. Para penganut aliran pertama termasuk juga Deskartes terbentur pada kesukaran yang besar untuk menjawab pertanyaan; bagaimana mungkin jiwa yang bersifat imateri dapat menggerakkan raga yang bersifat materi. Benar, menurut pengalaman dapat juga kita terlebih dahulu mengambil suatu keputusan secara batiniah untuk mengangkat tangan, dan baru kemudian kita benar-benar menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah. Tapi apabila demikian kenyataannya, apakah keputusan yang kita ambil tersebut benar-benar secara murni bersifat ruhani; artinya terlepas dari keadaan yang bersangkutan dengan raga kita (umpamanya terlepas dari kinerja

otak, atau terlepas dari hasil-hasil pengalaman yang merupakan akibat dari proses kimiawi yang berhubungan dengan syaraf kita?). Sedangkan kelompk kedua terbentur pada kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita acapkali sedih, senang, gembira. Mungkin mereka masih bisa beralasan dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan akibat dari interaksi dengan benda-benda materi yang ada di sekitar kita. Masalahnya, perasaan-perasaan itu kadang datang saat kita sedang sendiri dan menyepi dan tidak sedang berinteraksi dengan apa pun dan siapa pun. Ketika menghayalkan kesuksesan misalnya; mendadak kita bahagia. Atau kala membayangkan kepiluan, kita tiba-tiba berduka. Siapakah yang berhayal dan membahayngkan itu? Bukankah hayalan atau bayangan itu bersifat imateri? Ketika tubuh terluka, secara fisis-bilogis memang dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit akibat luka itu? Secara klinis, apa perbedaan antara orang yang dibius ketika dioperasi dengan tidak? Bukankah organ-organ tubuhnya sama-sama bekerja secara mekanis? Tapi mengapa orang yang pertama merasa sakit dan orang yang kedua tidak? Untuk lebih jelasnya lagi, bagaimana kalangan empiris-materialis dan para pengikut Deskartes menjelaskan fenomena Ramakrishna ketika penyakitnya didiagnosa oleh seorang dokter bedah tanpa dibius terlebih dahulu. Seperti kita ketahui, Ramakrishna—orang suci agama Hindu abad ke-19 tersebut meninggal karena kangker kerongkongan. Seorang dokter yang memeriksanya menjelang tahap-tahap terakhir dari penyakit yang menakutkan itu meneliti jaringan yang sudah mulai merusak sehingga Ramakrishna merasa kesakitan. Sejurus kemudian, dia berkata, “Tunggu sebentar,” kemudian “Teruskan.” Setelah itu, dokter yang bersangkutan dapat melanjutkan tugasnya tanpa reaksi lagi. Konsep manusia dalam agama Hindu dilandaskan pada tesis dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas lapisan-lapisan itu secara terperinci. Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, uraian itu lebih bersifat teknis sekali, berbelit-belit, dan ternyata lebih bersifat kiasan daripada bersifat ilmiah secara harfiah. Untuk kepentingan kita, cukuplah kiranya jika hipotesis tentang adanya lapisan-lapisan pokok tersebut kita ringkas menjadi empat saja. Lapisan pertama dan yang paling jelas adalah, manusia mempunyai suatu tubuh jasmani. Berikutnya adalah bagian alam pikiran serta pengalaman yang disadarinya, yaitu pribadinya yang sadar. Mendasari kedua lapisan ini adalah lapisan ketiga, yaitu kawasan bawah sadar pribadi. Lapisan ini terdiri dari pengalaman pribadi di masa lampau, yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Walaupun lapisan tersebut secara mendasar

membentuk kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu mulai dibahas oleh psikoanalisa dewasa ini. Tiga bagian manusia ini sejajar dengan pandangan orang Barat sekarang ini. Hal yang khusus pada pandangan Hindu adalah dalilnya tentang bagian yang keempat. Bagian ini adalah hakikat-hakikat itu sendiri, yang tak berhingga, tidak dapat dibatasi, dan abadi. Ia mendasari tiga lapisan lainnya., dan lebih tidak terlihat lagi oleh pikiran sadar dibanding dengan alam bawah sadar pribadinya sendiri, walaupun keduanya sama-sama berhubungan erat dengan alam bawah sadar tersebut. “Aku lebih kecil dari atom yang paling kecil, namun lebih besar dari yang terbesar. Aku adalah ketuntasan, jagad raya yang beragam warna-warni, indah, dan aneh. Aku adalah Sang Purba. Aku adalah Manusia, Sang Penguasa. Aku adalah Emasnya Kehidupan Aku adalah hakikat dari keindahan Ilahi.” Agama Hindu sepakat dengan psikoanalisa, bahwa seandainya kita bisa memanfaatkan sebagian kecil saja dari keseluruhan pribadi kita yang “hilang” itu, yaitu bagian ketiga dari diri kita, akan kita alami suatu perluasan kekuatan diri yang luar biasa, yakni suatu penyegaran hidup yang amat menyolok. Namun, ini baru awal dari hipotesis Hindu tersebut. Seandainya kita bisa membangkitkan kembali sesuatu yang telah terlupakan oleh semua manusia secara keseluruhan, yang bukan saja akan memberikan petunjuk untuk menerangkan sifat-sifat pribadi serta kekhususan kita, melainkan juga akan menerangkan watak seluruh kehidupan serta semua yang ada. Dengan pemetaan substansi manusia semacam ini, filsafat Timur (baca: kebijaksanaan Hindu) bisa menerangkan ihwal ‘kehebatan’ Ramakrishna yang tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis ‘menari-nari’ di tenggorokannya yang dioperasi. Ramakrishna berhasil menemukan lapisan keempat sekaligus yang paling dalam nan esensial pada manusia. Itulah inti dari ‘Aku’ yang ada dalam diri manusia. Setelah menemukan hakikat yang terdalam ini, Ramakrishna bisa menempatkan ‘diri’-nya pada posisi yang takkan bisa dijelaskan oleh semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat. Ia mampu menempatkan dirinya pada suatu tahap kesadaran di mana perasaan urat-urat syarafnya sama sekali tidak dapat menerobos kesadarannya, ataupun sedikit sekali menerobos kesadarannya. Wal hasil, semua hukum kausalitas saling mempengaruhi antara jiwa dan raga atau teori reaksi simultan karena adanya eksternal stimulus benar-benar mentah. Ramakrishna benar-benar tidak merasa sakit ketika dioperasi.

seperti misalnya psikologi. maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit. Apakah terminologi homo semioticus dapat dibandingkan dengan animal simbolicum? Jelaskanlah nuansa-nuansa perbedaannya. Apakah yang digarisbawahi psikoanalis Jacques Lacan tentang bahasa? 3. apakah yang diminati? Mengapa hal itu diminati? . Apakah arti penting pernyataan ini dalam konteks kodratnya sebagai manusia? 2. Jelaskanlah perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. yang juga menyelidiki manusia. 4. Di antara semua sifat yang merupakan metode yang khas bagi filsafat. juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Terangkanlah pula metode filsafat manusia yang bagaimanakah yang Anda gunakan beserta alasan menggunakannya. meskipun samasama menunjuk kepada manusia. yang dilihat bukan badannya saja. Mengapa dikatakan bahwa bahasa manusia berbeda samasekali dengan bahasa binatang? 5. Apakah Alfred Jules Ayer berposisi bahwa ucapan teologis merupakan omong kosong saja? Terangkanlah." Apakah implikasinya? 6. 5. Modul II: Bahasa 1. Gambarkanlah satu fakta yang akan Anda selidiki dengan filsafat manusia. Di antara metode filsafat yang digunakan Ludwig Wittgenstein adalah "Jangan katakan kalau hal itu tidak dapat dikatakan. Mengapa istilah "filsafat manusia" lebih baik daripada "psikologi rasional"? 2. 4. Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri. 2. ringkaskanlah sifat dialektiknya. Modul III: Kehidupan 1. Bilamanakah pertentangan-pertentangan pemikiran dalam kegiatan berfilsafat tentang manusia dapat bermanfaat? 3. Jika kita mengingat psikoanalisis. Di antara alasan-alasan mengapa kita mulai filsafat manusia dengan kegiatan berbicara.LAMPIRAN I: SOAL-SOAL Modul I: Pendahuluan 1. jelaskanlah alasan yang berikut: Perbuatan berbicara memperlihatkan keseluruhan manusia dalam kesatuan dinamiknya. Lalu.

Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Modul IV: Pengetahuan 1. Keinginan manusia untuk tahu bukan saja merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal. Terangkanlah bagaimana nominalisme dan konseptualisme sangat tegas mengakui tetapi sekaligus juga membedakan sifat interaksi subjek-objek dalam pengetahuan. “Dorongan seksual adalah suatu momen dari dinamika manusia. Gagasan apakah yang mampu menyatakan dengan baik perluasan terusmenerus menjauh ketika orang mengira sedang mendekatinya? Berikanlah contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari Anda. Kapankah epistemologi itu mati? Bagaimanakah Anda menyikapinya. dan sebaliknya ada pula pasivitas subjek maupun pasivitas objek. Bagaimanakah manusia mungkin menjalaninya bahkan dengan penikmatan? 3. 2. Jelaskanlah kendala epistemologis dalam pernyataan mens sana in corpore sano.3. karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. 4. 6. terutama jika akhirnya tidak tampak. 3. dengan mempertimbangkan "nalar puitis" yang diberikan fondasinya oleh Martin Heidegger? Modul V: Afektivitas 1. Analisislah lebih lanjut: dalam pengetahuan sekaligus terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek. 4. Perpanjangan suatu situasi. Mengapa? Tunjukkanlah concreto-nya dalam pengalaman hidup sehari-hari Anda! 5. Terangkanlah pernyataan ini dalam kerangka pemikiran Michel Foucault! 5. Manakah bentuk-bentuk konkret atau peruncingan dari dinamika kita dalam bidang apetitif atau yang berupa rasa? 2. bagi manusia merupakan penderitaan. Jelaskanlah argumen-argumen filsofis yang hendak mencoba menunjukkan bahwa jiwa itu merupakan sesuatu yang tidak real atau real. Perbedaan apakah yang ada antara pengetahuan diskursif dan pengetahuan intuitif? Jelaskanlah pula arti dari sifat otoperfektif pengetahuan.” Apakah maksudnya dalam konteks peluhuran diri manusia? .

subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Fakta-fakta pengalaman sehari-hari manakah yang dapat membuktikan adanya kehendak (sebagai kemampuan yang tak bisa direduksikan kepada kecenderungan-kecenderungan lain)? 2. Mengapa istilah "kebebasan yang bertanggungjawab" memiliki kendala epistemologis dalam filsafat manusia? . Bandingkanlah pengetahuan diskursif dengan insight. Untuk mencapai afektivitas. Mungkinkah pengertian menjiwai perbuatan. kita ingat ungkapan "mouvement de transcendence" dari filsuf Merleau-Ponty. Jelaskanlah kesulitan epistemologis dari hal pengetahuan inderawi yang sifatnya deterministik. Apakah psikologi membenarkan pendapat bahwa ada perlawanan antara cinta akan diri sendiri dan cinta akan sesama? Modul VI: Pengertian 1. Dalam memadang fungsi inteligensi dalam konteks dinamika manusia. Jelaskanlah arti dari "menjadi inteligen" ditinjau dari etimologi kata "inteligensi" itu sendiri. Sebutkanlah dan jelaskanlah. 6. apakah mereka saling mengandaikan? 4. Terangkanlah arti dan batas dari argumen yang disebut persetujuan umum tentang adanya kebebasan. Jelaskanlah arti pentingnya bagi penyempurnaan diri manusia. Dalam hal ini. Berikanlah contoh-contoh bilamana kebebasan psikologis tidak senatiasa berarti kebebasan moral. seandainya tidak mempersatukan kita dengan realitas? Jelaskanlah. apa sajakah itu? 5. Bagaiamanakah status kebenaran pengetahuan inderawi di mata para filsuf? 2.4. Dalam arti apakah nilai argumen itu juga terbatas? 4. Jelaskanlah argumen psikologis berdasarkan kesadaran tak langsung akan kebebasan. Apakah kritik Alexis Carrel terhadap sifat spesialisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern? Modul VII: Kebebasan 1. 3. 5. 5. 3.

menurut Kierkegaard. hal ini adalah bukti bahwa orang yang demikian itu tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. menurut Louis Leahy. eksistensialisme nyaris tidak punya arti apa-apa lagi? Bagaimanakah jalan keluar Sartre terhadap problem ini. Tunjukkanlah bahwa sebagai suatu gagasan moral atau filosofis. mengapakah manusia merasakan kegelisahan? Apakah manusia memang "dikutuk" dengan kebebasannya? 5. 4. kebebasan manusia tidak berarti ketidaktergantungan pada Tuhan? Modul VIII: Eksistensialisme 1. Jelaskanlah masing-masing ketujuh dimensi das Umgreifende (Yang Melingkupi) manusia dari Karl Jaspers. . Mengapa. Mengapa. Kierkegaard mengingatkan bahwa orang seringkali berusaha untuk diperhitungkan dengan jalan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok atau menggalang kekuatan dengan mengumpulkan tandatangan. Berdyaev sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Tuhan yang bagaimanakah yang dibenci dan dimatikan oleh Nietzsche? 9. Menurut penyelidikan Anda. gagasan ini secara hakiki merupakan suatu yang dangkal. Jelaskanlah mengapa. beserta contoh-contohnya dalam dinamika manusia. 7. 3. 8. Jelaskanlah hubungan kebebasan dengan kreativitas menurut Berdyaev. seperti psikologi. menurut Jean-Paul Sartre. Tunjukkanlah fakta-fakta bahwa eksistensialisme berhasil meninggalkan "menara gading" filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat. 6. Penegasan romantik yang luar biasa sekaligus mustahil akan pentingnya setiap momen dalam hidup kita merupakan nasihat Nietzsche agar kita menikmati hidup ini sampai pada kepenuhannya. Nietzsche adalah pewarta kematian Tuhan. Kita melihat banyak manusia sibuk yang akhirnya berhenti sesaat untuk merenung tiap tahun baru atau saat ulang tahun. Apabila manusia adalah kebebasan itu sendiri (Sartre). 2. Jelaskanlah fenomen ini dalam kerangka pemikiran Berdyaev mengenai penghayatan manusia atas waktu-ada.6.

berlainan dengan semua jenis makhluk yang lain? . Bandingkanlah konsep dualisme Descartes tentang manusia dan dunianya sebagai dikotomi subjek-objek dengan konsep intensionalitas Franz Brentano. lalu toh tetap ada dunia. 5. "Barang siapa mempermainkan permainan. 2. 3. Verifikasikanlah pernyataan ini.10. 5. 2. Permainan Jelaskanlah. Kalau "aku" tidak ada. Berikanlah persetujuan atau penolakan Anda beserta argumentasinya. 4. Terangkanlah hakikat sejati dari sosialitas manusia menurut Gabriel Marcel." Berikanlah refleksi kritis Anda terhadap pernyataan ini. Apakah implikasinya jika aku mengundurkan diri dari salah satu "dunia" tertentu? 4. Modul X: Sosialitas Manusia 1. Bukankah ini kontradiktif dengan tesis bahwa "Aku Mengadakan Yang-Lain". Dalam permainan manusia menyerah pada objektivitas. akan menjadi permainan permainan. Mengapa hanya manusialah yang bersejarah. Terapkanlah dalam satu persoalan kehidupan sehari-hari Anda! Modul IX: Permainan 1. Aku selalu berada di dalam situasi tertentu. Apakah maksudnya? adalah suatu pembebasan. Jelaskanlah mengapa peranan permainan dalam periode modern sangatlah kecil. Apakah yang dibebaskan? 3. Berikanlah contoh-contoh. dalam hal mana kebudayaan tidak lagi "dimainkan" (Huizinga). Sosialitas manusia itu suatu unsur yang tidak dapat tidak ada pada kodrat manusia. Bagaimanakah "sosialitas yang memakan" dapat ditransformasi menjadi "sosialitas yang bersahabat" apabila dihubungkan dengan upaya pendidikan. Apakah arti agôn dan eros sebagai dua unsur pokok permainan manusia sebagai homo ludens? Tunjukkanlah eksisnya unsur-unsur itu dalam salah satu permainan yang Anda mainkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. menurut Driyarkara? Modul XI: Historisitas Manusia 1.

Seandainya manusia seorang Robinson Crusoe yang hidup seorang diri di pulau terpencil. Sebagai daya kebebasan. di manakah perbedaan antara "manusia dahulu" dan "manusia masa kini" terhadap sejarah? 3. 5).2. apakah yang paling menarik dalam pendekatan-pendekatan empiris kontemporer tentang transendensi pikiran terhadap materi ("mindbody" relation) dan tentang perspektif hidup baru sesudah mati? 6. Mengapakah jenis feminisme yang diperjuangkan oleh para feminis Barat masih kurang memuaskan. Berikanlah sejumlah keberatan terhadap argumen reinkarnasi. Apakah implikasi argumen ini terhadap kekekalan manusia? Sertakan pula evaluasi terhadap argumen ini! 5. Apakah "dualisme" itu sama dengan platonisme? 7. Bandingkanlah "waktu fisis" dengan "waktu antropologis" dengan menggunakan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari Anda. Jikalau historisitas memang menegaskan cara bereksistensi manusia. Jelaskanlah argumen filsofis dari evolusionis Teilhard de Chardin mengenai hidup sesudah mati. 5. namun di lain pihak. Menurut Anda. Jelaskanlah-dalam pandangan Simone de Beauvoir-sejumlah argumen yang menunjukkan bahwa perempuan telah "dimandulkan" untuk menjadi subjek . Modul XIII: Filsafat Feminisme 1. cita-cita itu tidak bisa dicapai di dunia ini. khususnya bagi perempuan Indonesia? Apakah kekurangannya? 2. apakah dia menjadi "makhluk ahistoris"? Modul XII: Kematian Manusia 1. Jelaskanlah mengapa jiwa manusia tidak dapat terkena pembusukan. disinyalir ada semacam "kembalinya dualisme". Karena apakah historisitas tidak mungkin juga. bagaimanakah kehendak kita tampak sebagai kemampuan yang melampaui keinginan-keinginan badaniah? Kaitkan tema Kematian ini dengan tema Kehidupan (Modul III). jika manusia tidak bebas? 4. 3. utamanya yang mendasari bahwa reinkarnasi merupakan solusi semu terhadap persoalan kematian. Mengapa argumen ini masih kurang memuaskan? 2. 4. Hasrat akan kebahagiaan total dan definitif termasuk kodrat manusia. Dalam konteks tersebut (no.

. Ahli psikologi... Filsafat Barat menghasilkan: Homo Faber. Apa arti penting dari kenyataan ini dalam perkembangan filsafat manusia dan psikologi itu sendiri? 4. menghargai Confusius sebagai pemikir besar dari Timur. apakah insight yang dapat kita ambil dari cara pemikir-pemikir Barat tersebut memandang manusia? 7. 3. Prestasi di bidang tekonologi tidak secara otomatis menandakan prestasi di bidang pemikiran. Mengapakah ilmu pengetahuan Barat tidak mampu menerangkan hal ini? . Apakah implikasi pernyataan ini terhadap pencarian Timur dan Barat terhadap "kebijaksanaan/kebenaran" sebagaimana terkandung dalam etimologi perkataan "philosophia" itu sendiri? 6. 5. dan intuisi dalam proses memahami sesuatu bukanlah hal yang buruk.) lagi. (dan kita masih dapat mendaftar lebih banyak homo . Mengapa tubuh perempuan dalam hal ini mesti “dibebaskan”? 3.. Fung Yu Lan menunjukkan bahwa pengertian filsafat tidak selalu seperti pengertian yang digunakan oleh filsafat Barat. Bilamanakah pemikiran Timur memungkinkan untuk dipandang sebagai suatu filsafat daripada suatu kepercayaan/agama? 2. . Fakta teori dalam poskolonial adalah fakta praxis atas diperjualbelikannya perempuan-perempuan dunia ketiga dalam pasar seks transnasional. gairah. Jelaskanlah argumen Fung Yu Lan ini.. Ramakrishna tidak bergeming kendati sejumlah peralatan medis "menarinari" di tenggorokannya yang dioperasi. Terangkanlah pernyataan Sanderson Beck bahwa penggunaan perasaan. Apakah yang dimaksudkan dengan pernyataan ini? Modul XIV: Filsafat Timur 1. Homo Economicus. Bagaimanakah redekonstruksi perjuangan feminisme dapat berupaya mengatasi fakta ini? 4. 5. Homo Homini Lupus. Dalam politik identitas. Carl Gustav Jung. Di manakah batasnya? Selanjutnya. Apa arti dari "identity panics" menurut Len Ang? Berikanlah contoh-contohnya dalam pengalaman sehari-hari kehidupan Anda. perlu dilakukan penelanjangan esensi.dalam budaya patriarkat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->