P. 1
Urgensi Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Pegawai Pada Rs Bau-bau

Urgensi Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Pegawai Pada Rs Bau-bau

|Views: 134|Likes:
Published by Asdar Dar

More info:

Published by: Asdar Dar on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

URGENSI PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI DALAM RANGKA MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN (Studi Pada Puskesmas Meo-Meo

Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau) Haryati Failu )1 Akhyar Abdullah )2 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Haluoleo Kendari Jurusan Ilmu Administrasi Tahun 2012 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan utnuk mengetahui Urgensi Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Pada Puskemas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Negeri Sipil yang berada di Puskesmas MeoMeo berjumlah 25 orang dan Pasien yang sedang berobat di Puskesmas Meo-Meo berjumlah 10 orang. Kemudian ditambah 2 oran informan diantaranya Kepala Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau dan salah satu pasien yang dijadikan sebagai informan penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas : Studi Kepustakaan (Library Study), Penelitian Lapangan (Fiel Research) yang terdiri dari wawancara, observasi dan angket. Hasil penelitian menunjukan bahwa urgensi pelaksanaan pelayanan kesehatan pada puskesmas Meo-Meo sudah sangat urgen, namun masih perlu adanya peningkatan kinerja pegawai agar mutu pelayanan kesehatan dimata masyarakat/pasien dinilai baik lagi. PENDAHULUAN Dalam setiap organisasi terdapat unsur-unsur penting salah satunya adalah sumber daya manusia yang berfungsi sebagai tenaga penggerak jalannya organisasi menuju terciptanya tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Organisasi atau instansi, perlu mengetahui berbagai kelemahan dan kelebihan pegawai sebagai landasan untuk memperbaiki produktivitas dan pengembangan pegawai, sehingga kinerja pada setiap instansi harus dioptimalkan demi majunya instansi tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan penilaian kinerja secara periodik yang berorientasi pada masa lalu dan masa yang akan datang. Penilaian dimaksudkan untuk mengetahui apakah kerja para pegawai sudah memenuhi standar kerja. Salah satu sasaran utama dari pelaksanaan pembinaan pegawai adalah untuk meningkatkan kinerja. Kinerja menurut Mangkunegara (2000:67) bahwa kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sehingga evektifitas dan efisiensi kerja dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Setiap organisasi atau instansi dalam melakukan program diarahkan selalu berdaya guna mencapai tujuannya, salah satu faktor kelancaran tujuan suatu organisasi adalah mengidentifikasi dan mengukur kinerja pegawai. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan (Malthis, 2002:78). Kinerja pegawai mempengaruhi banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi. Setiap pekerjaan memiliki kriteria pekerjaan yang spesifik atau dimensi kerja yang pekerjaannya mengidentifikasi elemen-elemen yang penting dari suatu pekerjaan. Kinerja pegawai dalam suatu instansi sangat dipengaruhi oleh banyak hal khususnya pengelolaan yang dilakukan oleh pemimpin dalam mengatur dan mengevaluasi kinerja para pegawainya. Kebijakankebijakan yang dikeluarkan akan menjadi titik nadir dalam meningkatkan mutu Puskesmas di masyarakat. Manajemen pegawai yang kurang baik akan menghasilkan kinerja yang selaras dengannya misalnya rapat-rapat yang jarang bahkan tidak dibatasi kepada para pegawai menjadikannya kekeliruan dalam bertindak sehingga setiap pegawai dapat menyerempet bahkan mengambil kerja pegawai lainnya. Pelayanan kesehatan yang memadai merupakan dambaan masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar selain pangan dan juga pendidikan. Penduduk Indonesia yang jumlahnya melebihi 200 juta jiwa tidak mungkin harus bergantung dari rumah sakit yang jumlahnya sedikit dan tidak merata penyebarannya. Pelayanan kesehatan yang bermutu juga masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat. Maka UU kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 menekankan pentingnya upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan khususnya di tingkat puskesmas, selanjutnya dalam Undang-undang No 23 tahun 1999 Pasal 10 dinyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan(promotif, pencegahan penyakit (preventif), penyebuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif)) yang dilaksanakan secarah menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil oleh pemerintah serta masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan menitik beratkan pelayanan kepada masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Indonesia diamanatkan bahwa Kesehatan merupakan salah satu aspek dari hak asasi manusia, yaitu sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 H ayat (1) : “ setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Aturan di atas menjadi pengejawantahan dari tanggungjawab pemerintah untuk melindungi dan mengatur masyarakat melalui pelayanan kesehatan yang maksimal gunamenghasilkan mutu kesehatan yang optimal. Pembangunan Kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggitingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum sebagai yang dimaksud dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945. Pembangunan Kesehatan tersebut diselenggarakan dengan berdasarkan kepada

Sistem Kesehatan Nasional ( SKN ) yaitu suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sebagai pelaku dari pada penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalah masyarakat, pemerintah ( pusat, provinsi, kabupaten/kota ), badan legeslatif serta badan yudikatif. Dengan demikian dalam lingkungan pemerintah baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus saling bahu membahu secara sinergis melaksanakan pembangunan kesehatan yang terencana, terpadu dan berkesinambungan dalam upaya bersama-sama mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Keberhasilan Kesehatan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan bidang kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Dalam hal ini Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan merupakan penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang pertama di wilayah kerjanya masing-masing. Puskesmas sesuai dengan fungsinya (sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta pusat pelayanan kesehatan dasar) berkewajiban mengupayakan, menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan yang bermutu dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkwalitas dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan Nasional yaitu terwujudnya derajat kesehatan yang setinggitingginya bagi setiap orang. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagai wilayah kecamatan (KEPMENKES No. 128 th 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas). Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Puskesmas juga merupakan unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah. Puskesmas sering disebut sebagai primary care yaitu sebagai pelayanan kesehatan tingkat pertama karena ia letaknya paling dekat dengan masyarakat. Melihat fungsi dan tugas puskesmas yang sangat penting maka pengelolaan pegawai menjadi faktor yang tidak dapat dilupakan bahkan diabaikan merupakan salah satu dimensi jatuhnya kualitas puskesmas di tengah masyarakat. Kinerja pegawai sangat diharapkan untuk mendorong stabilitas tenaga kesehatan dalam melayani masyarakat dan menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Dilihat dari perkembangan kualitas kinerja pegawai di puskesmas, masih terdapat beberapa hal yang harus diperbaharui berdasarkan informasi yang diterima selama ini. Selaras dengan masalah-masalah puskesmas pada umumnya, Puskesmas Meo-meo yang terletak di Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau juga memiliki masalah yang sama. Proses pelayanan kesehatan masih kurang baik diselenggarakan guna menjalankan fungsinya sebagai primary care di masyarakat. Dimulai dari keterlambatan kerja pegawai

hingga ketersediaan dokter umum dan tenaga medis lainnya. Sarana dan prasarana yang belum memadai kerap kali membatasi ruang peningkatan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan terhadap pasien juga kerap dapat menimbulkan pertengkaran antar sesama karena pihak puskesmas tidak menyediakan nomor antrian yang justru hal ini dilakukan oleh klinik-klinik kecil yang ada di Kota Baubau. Berdasarkan uraian di atas maka calon peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih jauh untuk melakukan penelitian sehubungan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dengan mengangkat judul “Urgensi Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan (Studi Pada Puskesmas Meo-meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau)”. Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu Seberapa penting (Urgensi) peningkatan kinerja pegawai dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada Puskesmas Meo – Meo, Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Adapun tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui Seberapa pentingnya (Urgensi) Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Pada Puskesmas Meo – Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah (a) Sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Kota Baubau dalam mutu pelayanan kesehatan. (b) Sebagai bahan masukan bagi para petugas medis/kesehatan khususnya petugas Puskesmas Meo – Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau untuk meningkatkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai petugas kesehatan serta dapat mencari langkahlangkah konkrit untuk peningkatan/perbaikan mutu pelayanan Puskesmas Meo - Meo METOPE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Meomeo yang terletak di Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Pemilihan tempat dinilai cukup representatif dan relevan dengan obyek penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Dengan adanya indikasi mengenai belum maksimalnya kinerja pegawai sehingga berimbas pada pelayanan kesehatan yang belum maksimal pula. Populasi penelitian adalah keseluruhan obyek penelitian yang terdiri dari manusia sebagai sumber data yang memiliki karekteristik tertentu di dalam suatupenelitian (Hadari, 2001:141). Populasi dalam penelitian ini adalah 35 orang yakni seluruh pegawai negeri sipil yang berada di Puskesmas Meo-meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau dan pasien yang sedang berobat di Puskesmas MeoMeo sebagai responden. Mengingat populasi yang jumlahnya relatif kecil maka sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling yaitu menetapkan secara langsung keseluruhan populasi sebagai sampel penelitian, mengingat populasi penelitian masih terjangkau. Jadi peneliti menetapkan 25 orang tenaga kesehatan sebagai responden dan 10 orang pasien/pengunjung sebagai responden penelitian. Menurut Suharsimi (1993:107) bahwa dalam pengambilan sampel yang apabila sampelnya kurang dari 100, lebiih baik diambil seluruhnya sehingga penelitian tersebut merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, dengan demikian

metode pengambilan sampel menggunakan metode total Sampling. Untuk mendukung data dari responden maka peneliti menetapkan 2 informan peneliti yaitu kepala Puskessmas dan pasien yang sedang berobat di Puskesmas Meo-meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Jenis dan sumber data dala penelitian ini terdiri dari Data Primer, yaitu data yang bersumber dari informan penelitian, meliputi data atau informan tentang Urgensi Peningkatan Kinerja Pegawai Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan. Data Skunder, yaitu data yang bersumber dari Puskesmas Meo-meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau Untuk memperoleh data dalam penelitian penulis menggunakan tehnik pengumpulan data meliputi (a) Studi Kepustakaan (library study) merupakan suatu metode penggumpulan data, untuk memperoleh data teoritis melalui buku-buku, dokumen dan laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. (b) Penelitian lapangan (field rediarch) merupakan penggumpulan data secara langsung dari objek penelitian, dengan menggunakan tehnik Opservasi, yaitu pengamatan secara langsung di lapangan untuk melihat Urgensi peningkatan kinerja pegawai dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan.Angket, yaitu berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari responden yang telah di tetapkan. Wawancara (Interviu) yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan tatap muka dan Tanya jawab langsung untuk memperoleh informasi dari responden untuk memperoleh data yang diperlukan oleh peneliti. Analisis dan pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif, dimana data digabarkan dengan menjelaskan secara rinci dan sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. HASIL PENELITIAN Puskesmas Meo-Meo terletak dalam wilayah Kecamatan Murhum Kota Baubau dan merupakan salah satu dari 3 Puskesmas yang ada diwilayah Kecamatan Murhum Kota Baubau yang dapat ditempuh dengan kenderaan roda dua dan roda empat dan didirikan pada tahun 1993, dan merupakan Puskesmas induk di wilayah Kecamatan Murhum Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Jumlah penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Meo-Meo tahun 2011 adalah 14.871 jiwa. Data jumlah penduduk dalam wilayah Puskesmas Meo-Meo cenderung berubah-ubah karena adanya arus perpindahan yang sangat tinggi. Penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Meo-Meo sebahagian besar bermata pencaharian dalam sektor jasa seperti Pedagang, Buruh harian, dan Nelayan yang lainnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Penduduknya sebahagian besar memeluk agama Islam dan minoritas agama Kristen. Puskesmas Meo-Meo merupakan Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Murhum, dimana Puskesmas ini membina 1 unit Puskesmas Pembantu, 1 unit Polindes, 1 unit Poskesdes dan 11 unit Posyandu yang masing-masing tersebar di empat Kelurahan yang ada di Kecamatan Murhum ( Wilayah Kerja Puskesmas Meo-Meo) Sarana non pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Meo-Meo terdapat TK 1 unit, SD 1 unit, dan Masjid/Mushola 1 unit. Sedangkan di Kelurahan Kaobula TK 2 unit, SD 3 unit, dan Masjid/Mushola 1 unit, pada Kelurahan Lanto TK 2 unit, SD 2 unit, dan Masjid/Mushola 2

unit. Sementara Kelurahan Nganganaumala TK 2 unit, SD 1 unit, dan Masjid/Mushola 4 unit. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Moe-Meo adalah sebanyak 35 orang yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga sukarela/honorer. Tenaga Puskesmas Meo-Meo memiliki jumlah tenaga yang cukup kecil untuk standar Puskesmas, hal ini apabila diimbangi dengan mutu pelayanan yang baik maka akan dapat menimbulkan kesejahteraan di bidang kesehatan khususnya masyarakat Kecamatan Murhum dan Masyarakat Kota Baubau pada umumnya. Pada penelitian ini tenaga kesehatan yang dijadikan responden adalah tenaga kesehatan (PNS) di Puskesmas Meo-Meo, dan berdasarkan jenjang pendidikan terdiri dari 25 Orang tenaga kesehatan yang di jadikan sebagai responden, terdapat 2 orang sebagai dokter yaitu dokter gigi dan dokter umum, 2 orang sarjana kesehatan Masyarakat (SKM), 4 orang Sekolah Perawat (SPK), 5 orang Akademik Kebidanan (Akbid), 3 orang Akademik Keperawatan (Akper), 1 orang SKKA, 2 orang SPAG, 1 orang Akademik Kesehatan Lingkungan (AKL), 2 orang Farmasi, 1 orang Pekarya, 1 orang Apoteker, 1 orang YPG Usia responden dalam penelitian ini berkisar antara (25-55) tahun. Usia responden sebagian besar berumur 35-39 tanun sebanyak 8 orang (32,00%), 4044 tahun sebanyak 4 orang (16,00%), 25-29 tahun 4 orang (16,00%), 30-34 tahun 4 orang (16,00%), dan 45-49 tahun 3 orang (12,00%) serta 50-55 tahun 2 orang (8,00%). Dalam rangka kesuksesan tenaga yang dilaksanakan pada Puskesmas Meo-Meo, maka sangatlah tergantung pada manusianya yang menjalankan tugas-tugasnya karena bagaimanapun juga sebaiknya program yang telah disusun, akan tetapi bila manusia atau pegawainya yang menjalankan tugas tidak mampu maka tujuan organisasi sulit dicapai. Berikut ini merupakan distribusi responden Puskesmas Murhum menurut tingkat golongan/kepangkatan menunjukan bahwa sebesar 12 orang (48,00%) responden memiliki golongan II, 8 orang (32,00%) responden golongan III dan 5 orang (20,00) responden golongan IV yang kesemuanya terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pada penelitian ini pasien yang dijadikan responden adalah pasien yang sedang berobat di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau pada saat penelitian berlangsung sebanyak 10 orang yang dipilih secara total sampling dengan criteria-keriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Karakteristik pasien sebagai responden dibagi atas dua bagian yakni berdasarkan jenjang pendidikan dan faktor usia. Jenjang pendidikan responden untuk pasien menunjukan bahwa dari 10 orang responden, terdapat 2 orang (20,00%) jenjang pendidikan SMP, 7 orang (70,00%) jenjang pendidikan SMA dan 1 orang (10,00%) jenjang pendidikan perguruan tinggi. Untuk mengetahui rasio pasien yang datang berobat di Puskesmas Meo-Meo untuk mendapatkan Pelayanan kesehatan aka dengan ini penulis menggabarkan jumlah responden jika dilihat berdasarkan usia menunjukan bahwa 3 orang (30,00%) responden berusia 11 – 25 tahun, 4 orang (40,00%) responden berusia 26 – 35 tahun, dan 3 orang (30,00%) responden berusia 36-45 tahun. Dalam setiap instansi/unit pelayanan ada struktur organisasi yang mengatur jalur komando dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan. Struktur organisasi bertujuan meningkatkan efektifitas

dan efisiensi dalam upaya manajemen pelayanan. Bagan dan komponen dalam struktur organsiasi disesuaikan dengan jenis kegiatan yang dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi serta struktur organisasi induk sarana pelayanan kesehatan tersebut, untuk lebih jelasnya struktur organisasi Puskesmas Dalam melaksanakan tugasnya. Kepala instansi/unit dibantu oleh koordinator yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan guna meningkatkan unsur efisiensi dan efektifitas. Setiap tenaga yang berada dalam instansi tersebut mepunyai uraian tugas yang ditetapkan atau disahkan oleh penanggungjawab atau pimpinan secara pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas MeoMeo. Kedudukan Puskesmas Meo-Meo adalah sebagai Puskesmas induk yang mempunyai tugas dan kewenangan menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaan tugas, baik secara teknis, operasional maupun teknik administrasi bertanggungjawab kepada Dinas Kesehatan. Adapun tugas pokok Puskesmas Meo-Meo adalah (a) Melaksanakan sebagian urusan/tugas pokok Dinas Kesehatan di bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (b) Melaksanakan tugas-tugas pembantuan yang menyangkut bidang kesehatan pada Kecamatan yang diserahkan kepada Puskesmas MeoMeo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut diatas, Puskesmas Meo-Meo Kecamatan Murhum menyelenggarakan fungsi-fungsi (a) Melaksanakan perumusan rencana, program dan kebijaksanaan dan aturan-aturan pemerintah yang berlaku. (b) Melaksanakan tugas pokok berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. (c) Melaksanakan kegiatan pengendalian teknis dan pelaporan pelaksanaan/perkembangan tugasnya kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau. Pada dasarnya setiap proses pemikiran itu memerlukan suatu keputusan, maka planning atau perencanaan meliputi serangkaian keputusankeputusan termasuk keputusan dalam hal tujuan kebijakan, prosedur, program dan metode serta jadwal waktu pelaksanaan. Perencanaan merupakan dasar arah atau pedoman bagi manajemen dalam melaksanakan tugas. Oleh karena itu berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuannya ditentukan oleh rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada erah desentalisasi program Puskesmas dibedakan menjadi program kesehatan dasar dan program kesehatan pengembangan. Program kesehatan dasar di puskesmas Meo-Meo adalah program minimal yang telah di rencanakan dan harus dilaksanakan yaitu (a) Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat (b) Kesehatan lingkungan (c) Pencegahan pemberantasan penyakit menular (d) Kesehatan ibu dan anak termasuk KB (d) Perbaikan Gizi Masyarakat (e) Pelayanan kesehatan/Pengobatan. Responden tenaga kesehatan menunjukan bahwa 20 orang (80,00%) responden menyatakan bahwa perencanaan yang dilakukan sudah berjalan dengan baik namun ada juga 5 orang (20%) responden mengatakan cukup baik. Dengan demikian bahwa secara umum perencanaan program yang ada di Puskesmas Meo-Meo sudah bisa dikatakan baik untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Hal ini didukung dengan wawancara Mantan Kepala Puskesmas MeoMeo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau Namun perencanaan program yang ada dapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan sumber

daya manusia tenaga kesehatan yang baik serta ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Faktor utama yang menentukan kinerja pelayanan Puskesmas adalah mutu tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas tersebut. Mutu tenaga kesehatan di tentukan oleh kemampuan menetapkan sasaran kerja yang tepat dan terjangkau, rasa dan tanggungjawab yang tinggi, pendidikan dan latihan kerja serta lingkungan sosial dan pandangan hidup. Dilihat dari tingkat pendidikan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Meo-Meo terbilang cukup memadai untuk standar Puskesmas dimana terdapat 25 orang tenaga dalam pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau, dimana terdapat 2 orang sebagai dokter yaitu dokter gigi dan dokter umum, 2 orang sarjana kesehatan Masyarakat (SKM), 4 orang Sekolah Perawat (SPK), 5 orang Akademik Kebidanan (Akbid), 3 orang Akademik Keperawatan (Akper), 1 orang SKKA, 2 orang SPAG, 1 orang Akademik Kesehatan Lingkungan (AKL), 2 orang Farmasi, 1 orang Pekarya, 1 orang Apoteker dan 1 orang YPG Dalam melaksanakan program kesehatan, peran tenaga kesehatan harus sesuai dengan disiplin ilmu dan tingkat pendidikan, penempatan tenaga kesehatan di Puskesmas Meo-Meo sudah sesuai dengan keahlian dan tingkat pendidikannya sehingga pelaksanaan program dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang ada. Sarana dan prasarana sangat penting dalam peningkatan mutu pelayanan Puskesmas. Sarana dan prasarana Puskesmas Meo-Meo sudah memadai, sehingga pelayanan terhadap pasien semakin baik. Sarana dan prasarana meliputi bangunan fisik Puskesmas, perlengkapan Puskesmas, obat-obatan dan alat medis. Puskesmas Meo-Meo merupakan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Murhum. Puskesmas ini membina 1 buah Puskesmas pembantu dan 11 unit posyandu yang masing-masing tersebar di empat kelurahan yang ada di kecamatan murhum. Puskesmas Meo-Meo terdiri dari beberapa ruangan UGD, Ruang administrasi, Ruangan poli umum, ruangan pelayanan KIA, ruangan kepala Puskesmas, ruang perawatan gigi, dan ruang tunggu pasien. Bagunan lain adalah rumah dinas Dokter. Sarana penunjang Puskesmas Meo-Meo terdiri atas transportasi. Alat transportasi yang digunakan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Meo-Meo yaitu mobil ambulance dan kendaraan roda dua. Disamping itu untuk mengamati bagaimana ketersediaan sarana dan prasarana di Puskesmas MeoMeo, tanggapan dari responden tenaga kesehatan menyangkut sarana dan prasarana tentang ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di Puskesmas MeoMeo sudah memadai dimana sebanyak 7 orang (28,00%) responden menyatakan memadai sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (24,00%) responden mengatakan cukup memadai dan 12 orang (48,00%) mengatakan belum memadai. Hal ini di dukung dengan wawancara Mantan Kepala Puskesmas MeoMeo Kecamatan Murhum Kota Baubau sebagai berikut : “Sarana dan prasarana masih menjadi masalah karena belum sangat mendukung betul maksudnya terkadang kami ingin menindaki seorang pasien tetapi alat yang kami miliki belum memadai contoh kecilnya seperti tensi darah, timbangan berat badan itu sangat menentukan dalam hal pelayanan kemudian gedung Puskesmas Meo-Meo, proporsih antara pegawai dan yang di layani sangat banyak sedang gedung kami sedikit kecil jadi tidak sesuai

atau tidak seimbang jadi sarana dan prasarananya belu memadai”(Wawancara, dr. Nuraeni Djawa, 43 thn, 09 Februari 2012) Dari uraian diatas menunjukan bahwa sarana dan prasarana yang ada di Puskesas Meo-Meo belum memadai, terkadang kami ingin menindaki seorang pasien tetapi alat yang kami miliki belum memadai kemudian gedung Puskesmas Meo-Meo, proporsih antara pegawai dan yang di layani sangat banyak sedang gedung kami sedikit kecil jadi tidak sesuai atau tidak seimbang jadi sarana dan prasarananya belu memadai. Setelah melakukan penelitian pada Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau mengenai urgensi peningkatn kinerja pegawai, dengan menyebar Koesioner kepada pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 25 orang. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai keadaan tiap variabel penelitian yakni urgensi peningkatan kinerja pegawai dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Tinggi rendahnya kinerja pegawai tergantung seberapa besar tanggungjawabnya di dalam melakukan pekerjaannya. Hal tersebut di perkuat dengan wawancara mantan Kepala Puskesas MeoMeo sebagai berikut : “Kinerja pegawai dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sangatlah penting karena jika kinerja pegawai Puskesmas menurun otomatis mutu pelayanannya juga akan ikut menurun begitu pula dengan sebaliknya maka kinerjanya itu sangat penting sekali agar mutu pelayanan meningkat dan berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang di harapkan” (Wawancara, dr. Nuraeni Djawa, 43 Thn, 09 Februari 2012 Dari keterangan diatas menunjukan bahwa kinerja pegawai dala meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sangatlah penting dimana seluruh pegawai puskesmas Meo-Meo sangat memperhatikan mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien yang sedang berobat dipuskesmas dan menjalankan tugasnya dengan baik dan obtimal, sehingga pasien yang berobat merasa puas dengan mutu yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Kemampuan kerja sebagai hasil kerja (output) yang berasal dari adanya perilaku kerja serta lingkungan kerja tertentu yang kondusif. Dalam menentukan faktor penilaian individu pegawai, maka lingkungan kerja sebagai kesempatan untuk berprestasi yang dapat dipengaruhi oleh adanya peralatan kerja, bahan, lingkungan fiskal kerja, perilaku kerja pegawai yang lain, pola kepemimpinan, kebijakan organisasi, informasi serta penghasilan secara keseluruhan akan dianggap konstan karena bersifat pemberian, berasal dari luar diri pegawai dan bukan merupakan perilaku pegawai. Kemampuan kerja intelektuan merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dalam pemikir yang tidak harus menghasilkan sebuah pemikiran tetapi juga dapat merumuskan dan mengarahkan serta memberikan contoh pelaksanaan dari sosialisasinya ditengah masyarakat agar segala persoalan – persoalan kehidupan baik pribadi, masyarakat nasional maupun internasional dapat terpecahkan serta dapat menjawab tantangan-tantangan kehidupan di masa yang akan dating. Apabila dilihat dari sistematikanya, maka potensi atau kemampuan dapat dikategorikan sebagai faktor penilaian yang berasal dari kelompok masukan (input) dan ability bersama-sama motifasi sebagai suatu kesatuan dapat disebut sebagai faktor penilaian dalam kelompok proses dan performance merupakan faktor penilaian dari kelompok keluaran (output).

Kemampuan kerja pegawai yang ada di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau menunjukan bahwa 25 orang (80,00 %) responden menyatakan bahwa Kemampuan Kinerja Pegawai yang dilakukan sudah berjalan dengan baik namun ada juga 5 orang (20,00 %) responden mengatakan cukup baik. Dengan demikian bahwa secara umum Kemampuan Kinerja Pegawai yang ada di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau sangat baik untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Hal tersebut di dukung dengan wawancara mantan Kepala Puskesmas Meo-Meo Kecamatan Murhum Kota Baubau sebagai berikut “Saya rasa para pegawai Puskesmas memiliki kemampuan bekerja yang cukup baik, karena selama saya menjabat sebagai Kepala Puskesmas Meo-Meo seluruh laporan kegiatan tiap bulan dan pendataan, mereka selalu melaksanakannya dengan tepat waktu dan para pegawai selalu siap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak pernah lelah dalam menghadapi pasien dan segala keluhan mengenai sakit yang diderita”.(Wawancara, dr. Nuraeni Djawa, 43 thn, 09 Februari 2012) Dari keterangan diatas menunjukan bahwa kemapuan kerja pegawai pada puskesmas Meo-Meo sudah berjalan dengan baik, dimana setiap pegawai menjalankan semua tugas-tugasnya sesuai dengan pekerjaannya masing-masing. Dan para pegawai siap untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan tidak pernah lelah dalam menghadapi pasien Kemampuan kerja pegawai adalah pegawai yang bertanggung jawab, memiliki komitmen, integritas, motivasi, dan memiliki keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ia merasa mampu melakukan suatu pekerjaan tertentu, dan tidak membutuhkan dorongan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Sebaliknya, pegawai yang tidak bertanggung jawab, tidak memiliki komitmen, integritas, motivasi, dan tidak memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, bahwa ia merasa mempu melakukan suatu pekerjaan tertentu Untuk mendapatkan kinerja yang baik dan hasil kerja yang meningkat di suatu organisasi kerja pegawai harus memenuhi persyaratan atau memiliki keahlian dan kemampuan dasar. Kinerja pegawai yang baik, harus ditopang oleh kualitas professional dalam melaksanakan tugas. mewujudkan kualitas professional harus ditopang oleh jiwa professionalisme sebagai sikap mental pegawai yang senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan dirinya sebagai pegawai yang profesional dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kemauan kerja pegawai yang ada di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau semua menjawab baik yaitu sebanyak 25 orang (100,00%) . Pernyataan responden diatas diperjelas dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada mantan kepala Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum Kota Baubau sebagai berikut: “Kemauan bekerja pegawai di Puskesmas Meo-Meo ini sangat tinggi karena tuntutan dari yang di layani jadi berbicara masalah kemauan pegawai saya rasa semua pegawai yang ada di Puskesmas mau bekerja dengan baik dan teratur karena namanya kita kerja sosial mau tidak mau harus bekerja dengan baik dan giat tidak seperti kerja buku maksudnya bekerja hanya ketika kita sedang ingin bekerja jika lagi malas tidak

mau bekerja sama sekali”(Wawancara, dr. Nuraeni Djawa, 43 thn, 09 Februari 2012) Dari keterangan diatas menunjukan bahwa kemampuan kerja pegawai pada puskesmas Meo-Meo sangat tinggi dimana semua pegawai yang ada di Puskesmas bekerja dengan baik dan teratur dan siap untuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang membutuhkan. Pelayanan merupakan jembatan bagi terciptanya serta berfungsinya tugas puskesmas di masyarakat. Indicator keberhasilan Puskesmas terhadap masyarakat masih bersifat obyektif. Letak geografis hingga kondisi masyarakat menjadi indicator keberhasilan Puskesmas yang variatif. Penilaian terhadap pelayanan tetapi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Norma-norma yang harus dimunculkan agar tetap meberikan nilai-nilai tersedia bagi masyarakat. Kecepatan yang dimaksud adalah pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan waktu. Apabila terjadi gejala maka pihak Puskesmas dengan siap melakukan pelayanan terhadap pasien dan tidak mengulur-ulur waktu. Tanggapan responden tentang kecepatan pegawai Puskesmas Meo-Meo dalam pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa pernyataan responden tentang kecepatan adalah para pegawai selalu mengutamakan kecepatan dalam melaksanakan pelayanan dan mayoritas responden sebanyak 15 Orang (60,00 %) menyatakan baik, sedangkan 10 Orang responden (40,00 %) menyatakan cukup baik. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kecepatan dalam pelayanan sudah menjadi kewajiban pegawai, agar masyarakat merasa puas dengan pelayanan yang diberikan pihak Puskesmas Meo-Meo. Hal tersebut diatas didukung dengan wawancara kepada salah satu pasien yang sedang berobat di Puskesmas Meo-Meo menuturkan: “Bahwa Pelayanan di Puskesmas Meo-Meo pada dasarnya sudah sangat bagus, sebab para pasien dilayani dengan sebaik mungkin dan kami tidak kelamaan menunggu untuk dilayani. Jadi pelayanan di Puskesmas Meo-Meo dapat dikatakan cepat dan sudah maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien”.(Wawancara, Rini 30 Tahun, 06 Januari 2012). Dari keterangan diatas menunjukan bahwa kecepatan yang dilakukan oleh pegawai Puskesmas Meo-Meo sudah sangat bagus, dimana setiap pasien dilayanani dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Jadi pelayanan yang diberikan oleh pegawai Puskesmas sudah sangat cepat dan sudah maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang sedang berobat di Puskesmas Meo-Meo. Dalam pelayanan kesehatan ketepatan merupakan kunci utama dari pelayanan itu sendiri. Ketepatan yang dimaksud adalah sasaran dari sakit yang diberikan oleh pasien, apabila pelayanan yang dilakukan pihak puskesmas tidak tepat maka impasnya akan berdampak pada citra puskesmas itu sendiri diketahui bahwa pernyataan tentang ketepatan dalam pelayanan melalui adanya keluhan dari pasien mengenai ketepatan pelayanan adalah baik, sebanyak 28 Orang (80,00%) responden menyatakan baik dan sebanyak 7 Orang (20,00) responden mengatakan cukup baik. Data tersebut di atas didukung dengan hasil wawancara salah satu pasien Puskesmas Meo-Meo yang sedang berobat menuturkan: “Kalau menurut saya mengenai ketepatan pelayanan, saya merasa sudah pantas dikatakan baik. Dimana ketika saya datang berobat di Puskesmas Meo-Meo obat yang diberikan oleh dokter kepada saya entah itu dokter

gigi atau dokter umum selalu cocok dengan sakit yang saya rasakan”. (Wawancara, Rini 30 Tahun, 06 Januari 2012) Dari keterangan tersebut menunjukan bahwa ketepatan dalam pelayanan kesehatan yang diberikan sudah tepat dan baik, dimana salah satu pasien mengatakan bahwa setiap ia berobat di Puskesmas Meo-Meo dia selalu diberikan obat yang pas dengan penyakit yang ia rasakan atau yang ia derita oleh pasien. Kemudahan yang dimaksud dalam pelayanan ini adalah pelayanan yang diberikan tidak berbelitbelit, murah dan hasilnya baik. Di bawah ini adalah pernyataan responden mengenai kemudahan pelayanan Puskesmas Meo-Meo Kota Baubau selalu ada kemudahan di Puskesmas Meo-Meo Kota Baubau. Seluruh responden menyatakan bahwa kemudahan pelayanan selalu diberikan kepada masyarakat. Pernyataan di atas didukung dengan wawancara salah satu pasien yang sedang berobang di Puskesmas Meo-Meo menyatakan: “Kami selaku pasien selalu di layani dan diberikan kemudahan dalam pelayanan ditambah lagi saya memiliki kartu jamkesmas. Jadi ketika kami datang berobat di Puskesmas Meo-Meo gratis dan tidak ada biaya sedikitpun”. (Wawancara, Rini 30 Tahun, 06 Januari 2012) Dari keterangan tersebut menunjukan bahwa kemudahan yang diberikan kepada pasien selalu ada, dimana salah satu pasien yang sedang berobat selalu dilayani dengan baik dan diberikan kemudahan pelayanan kesehatan selama berobat di Puskesmas Meo-Meo dan tidak mebeda-bedakan status sosial. Dalam pelayanan arti dari keadilan adalah tidak membeda-bedakan baik suku, agama, ras, dan adat istiadat. Seluruh masyarakat harus mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan aturan yang berlaku di Puskesmas Meo-Meo. Tanggapan responden mengenai keadilan dalam pelayanan kesehatan adalah selalu adil dalam pelayanan tidak membeda-bedakan satu dengan lainnya. Di mana sebanyak 7 orang responden (28,00 %) menyatakan cukup baik dan 18 orang responden (72,00 %) menyatakan baik(adil). Pernyataan tersebut didukung dengan wawancara salah satu pasien yang datang berobat di Puskesmas Meo-Meo menyatakan: “Saya rasa pelayanan yang telah kami dapatkan di Puskesmas Meo-Meo selalu adil. Setiap pasien yang datang berobat kami dilayani dengan baik tanpa membeda-bedakan status sosialnya dan kami selalu diberikan keadilan dan kemudahan setiap kali kami berobat di Puskesmas Meo-Meo”. (Wawancara, Rini 30 Tahun, 06 Januari 2012) Dari keterangan tersebut menunjukan bahwa keadilan yang diberikan oleh pegawai Puskesmas selalu adil, dimana setiap pasien yang datang berobat selalu dilayani dengan baik tanpa membeda-bedakan status sosialnya dan adil dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasie yang membutuhkan. Pelayanan medis atau rekam medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam tentang identitas, penentuan fisik, laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien dan pengobatan. Rekam medis mempunyai pengertian sebagai suatu sistem penyelenggaraan rekam medis yang melalui pencatatan selama pasien mendapatkan pelayanan medis yang ada di Puskesmas Meo-Meo. Setelah itu dilanjutkan dengan penanganan berkas yang meliputi penyelenggaraan penyimpanan serta pengeluaran berkas dari tempat penyimpanan untuk melayani permintaan/peminjaman apabila dari pasien memiliki keperluan lainnya. Perkembangan pengunjung pada Puskesmas Meo-Meo untuk mendapatkan pelayanan umum

kesehatan senantiasa meningkat, yang mana pada bulan Novermber 2011 total jumlah pengunjung sebanyak 607 jiwa dan pada bulan desember meningkat menjadi 701 Jiwa, sedangkan pada bulan januari 2012 pengunjung lebih meningkat lagi hingga mencapai 1151 Jiwa. Sampai saat ini pasien di Puskesmas Meo-Meo Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum semakin meningkat. Tanggapan dari responden pasien atau penggunaan pelayanan kesehatan bahwa di Puskesmas Meo-Meo secara umum sudah baik, dimana sebanyak 7 orang (70,00%) responden pasien menyatakan baik sedangkan 3 orang (30,00%) responden mengatakan cukup baik. Hal ini di kuatkan dengan pendapat dari pasien bahwa pelayanan medis yang terdiri dari dokter umum maupun dokter gigi selalu memberikan pelayanan yang baik dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menanyakan tentang penyakit dan pencegahan penyakit yang diderita oleh pasien. Obat dan peralatan medis merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM). Kebijakan pemerintah terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan melalui beberapa strata kebijakan yaitu undang-undang sampai keputusan Menteri Kesehatan yang mengatur berbagai ketentuan yang berkaitan dengan obat. Secara ekonomis harga obat di Indonesia dinilai mahal dan struktur harga obat tidak transparan. Kebijakan obat yang ada di Puskesmas MeoMeo meliputi ketersediaan, keterjangkauan, mutu, keamanan dan khasiat. Kebijakan pengendalian harga obat generic di tetapkan oleh pemerintah dengan acuan harga obat terjangkau oleh daya beli masyarakat serta harga obat masih memberikan margin yang dapat menjamin kotuinitas pasokan obat. Dalam merawat pasien di Puskesmas Meo-Meo tenaga keseahtan memerlukan peralatan medis, peralatan medis tersebut sangat besar manfaatnya untuk melakukan tindakan medis demi keselamatan pasien. Tanggapan responden tenaga kesehatan tentang ketersediaan peralatan medis di Puskesmas Meo-Meo Kecamatan Murhum Kota Baubau sebanyak 20 Orang (80,00%) responden menyatakan baik atau tersedia untuk peralatan medis yang ada di Puskesmas. Dan di duga sebagian peralatan belum juga tersedia, dimana terdapat 5 orang (28,57%) responden menyatakan cukup baik dengan demikian berarti ketersediaan peralatan medis yang ada di Puskesmas Meo-Meo belum sepenuhnya memadai. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan yakni: (a) Urgensi peningkatan kineraja pegawai dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sangat urgen, karena jika kinerja pegawai Puskesmas menurun otomatis mutu pelayanannya juga akan ikut menurun begitu pula dengan sebaliknya, maka kinerja itu sangat penting sekali agar mutu pelayanan dapat meningkat dan berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang di harapkan (b) Pelaksanaan pelayanan kesehatan di puskesmas Meo-Meo pada dasarnya sudah cukup baik, namun masih perluh adanya peningkatan kinerja pegawai agar mutu pelayanan kesehatan di mata masyarakat/pasien dinilai lebih baik lagi. Adapun hal yang paling mempengaruhi kinerja pegawai pada Puskesmas MeoMeo adalah kemampuan untuk bekerja. (c) Semangat bekerja merupakan salah satu faktor terpenting dalam

menunjang kinerja pegawai yang baik, semangat bekerja dapat dipacu agar hasil-hasil kerja bisa lebih maksimal lagi dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. DAFTAR PUSTAKA AZWAR, Syaifuddin. 2001, Metode Penelitian. Pustaka Pelajar, Yokyakarta. Anonim. 1992. Undang-undang Republik Indonesia Tentang Kesehatan. Arkola. Surabaya Anonim. 2003. Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Bustami. 2011. Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan. Penerbit Erlangga. Jakarta. Dharma, Surya Dr, MPA. 2005. Manajemen Kinerja”Falsafah Teori dan Penerapannya”. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Foster, Bill dan Karen R seeker, 2001. Pembinaan untuk Meningkatkan Kinerja Karyawan. Penerbit PPM. Jakarta Hasibun. P.P. Malayu. 1996. Dasar-dasar Organisasi Manajemen. Jakarta. Indonesia Hartini, Sri. 2008. Hukum Kepegawaian Di Indonesia. Sinar Grafika .Jakarta. J. moleong, Lexy. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdayarkya. Bandung. Kenneth. N. Wexley dan Gary A. Yuki, 2005. Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, PT. Rineka Cipta, Jakarta. 1999. Konsep Mutu Pelayanan Kesehatan. Majalah Kesehatan. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Yayasan Penerbit IDI. Jakarta Mangkunegara, Anwar Prabu. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT. REmaja Rosdakarya, Bandung. Marohot Tua Effendi. 2002. Manajemen Sumber Daya Daya Manunia. Grasindo, Jakarta. Mathis. Robert L. dan John H. Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia PT. Salemba Empat, Jakarta. Musanef. 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE, Yogyakarta. Ndara, Taliziduhu. 2001. Ilmu Pemerintahan (Kybernology). Rineka Cipta. Jakarta. Paul J. Jerome. 2001. Mengevaluasi Kinerja Karyawan. Penerbit PPM. Jakarta. Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktifitas Kerja. Mandar Maju. Bandung. Suyuti, Moh. Yakub. 1999. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Gaya Media Pratama. Jakarta. 2007. Warta Kesehatan Indonesia. Edisi Oktober. Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->